1 KARAKTERISTIK BAHASA INDONESIA

advertisement
KARAKTERISTIK BAHASA INDONESIA TUTURAN SISWA KELAS I
SDN KESATRIAN 1 MALANG
DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR
Erni Surya Irawati*)
Imam Suyitno
Widodo Hs.
Email: [email protected]
Universitas Negeri Malang
Jalan Semarang 5 Malang
ABSTRAK: Fokus penelitian ini adalah karakteristik bahasa Indonesia tuturan
siswa kelas I SD dalam interaksi belajar mengajar yang meliputi karakteristik kelas
kata, bentukan kata, dan struktur kalimat yang digunakan siswa. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan kajian morfosintaksis. Data berupa
transkrip rekaman tuturan siswa yang dianalisis menggunakan tabel klasifikasi.
Hasil penelitian ini adalah kelas kata yang paling banyak digunakan siswa adalah
nomina, terutama nomina konkret. Pemilihan bentukan kata banyak menggunakan
kata serapan bahasa daerah dan bentuk kata yang lain diperoleh dengan proses
meniru. Struktur kalimat yang digunakan siswa berupa kalimat tunggal yang
sederhana dan berupa kalimat elips.
Kata Kunci: kelas kata, bentukan kata, struktur kalimat
ABSTRACT: The focus of this research is the characteristics of Indonesian of
first grade elementary school students‟ speech in teaching and learning interactions
that include the characteristics of classes of words, word formation and sentence
structure are used by students. This research is a qualitative descriptive and study
morphosyntax. The data are transcripts of recorded students‟ speech that were
analyzed using the classification table. The results of this research are the class of
word the mostly used by students are nouns, especially concrete nouns. The
selection of the word many use the words formed by absorption of the local
language and other forms of words obtained by imitating process. Sentence
structure that used by students are single, simple sentences, and ellipse sentences.
Keywords: class of words, word formation, sentence structure
Bahasa digunakan pada semua aspek kehidupan, baik di lingkungan formal
maupun informal. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahasa menjadi
dasar berlangsungnya proses tersebut. Bahasa, terutama bahasa lisan atau yang
biasa disebut tuturan, digunakan untuk berinteraksi antara siswa dengan guru
maupun siswa dengan siswa lain. Penggunaan bahasa Indonesia dalam tuturan
siswa inilah yang dikaji dalam penelitian ini. Fokus dalam penelitian ini yaitu
karakteristik kelas kata, karakteristik bentukan kata, dan karakteristik struktur
kalimat dalam tuturan siswa. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan oleh guru
untuk memperhatikan perkembangan tuturan siswa dengan tujuan menciptakan
karakteristik bahasa siswa yang berkualitas.
Kelas kata dalam bahasa Indonesia menurut Alwi, dkk. (2010:91 – 316)
terbagi menjadi lima, yaitu verba, nomina, ajektiva, adverbia, dan kata tugas.
Kelas kata verba atau kata kerja mengandung makna perbuatan, proses, atau
*
Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang
1
2
keadaan yang bukan sifat atau kualitas. Dalam kelompok kelas kata nomina atau
kata benda, ada kelompok pronomina atau kata ganti, dan numeralia atau kata
bilangan. Kelas kata ajektiva atau kata sifat adalah kata yang memberikan
keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam
kalimat. Adverbia atau kata keterangan adalah kata yang memberi keterangan
pada verba, ajektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Kata tugas dibagi menjadi
lima kelompok yakni (1) preposisi, (2) konjungsi, (3) interjeksi, (4) artikula, dan
(5) partikel penegas.
Bentukan kata merupakan hasil dari proses pembentukan kata.
Pembentukan kata merupakan sebuah proses morfologis dengan „kata‟ sebagai
hasil dari proses tersebut. Proses membentuk kata terdiri dari proses afiksasi,
reduplikasi, komposisi, dan abreviasi (Kridalaksana, 2007:12). Afiksasi adalah
proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks (Kridalaksana, 2007:28).
Reduplikasi adalah peristiwa pembentukan kata dengan jalan mengulang bentuk
dasar, baik seluruhnya maupun sebagian, baik bervariasi fonem maupun tidak,
baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak (Muslich, 2008:48). Komposisi
atau pemajemukan adalah proses penggabungan dua leksem atau lebih yang
membentuk kata (Kridalaksana, 2007:104). Abreviasi adalah proses penanggalan
satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga jadilah bentuk
baru yang berstatus kata. Istilah lain untuk abreviasi ialah pemendekan, sedangkan
hasil prosesnya disebut kependekan (Kridalaksana, 2007:159).
Putrayasa (2010a:25) menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat
lima struktur (pola) kalimat dasar, yaitu (1) KB+KB (Kata Benda+Kata Benda),
(2) KB+KK (Kata Benda+Kata Kerja), (3) KB+KS (Kata Benda+Kata Sifat), (4)
KB+Kbil (Kata Benda+Kata Bilangan), dan (5) KB+Kdep (Kata Benda+Kata
Depan). Pada pola tersebut, kata benda pertama menunjukkan subjek, sedangkan
kata benda kedua, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan kata depan sebagai
predikat kalimat.
Untuk menganalisis struktur kalimat, perlu diketahui unsur-unsur dari
kalimat, yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Untuk
menentukan subjek, kita dapat bertanya dengan memakai kata tanya apa atau
siapa di hadapan predikat. Predikat biasanya berupa kata kerja atau kata keadaan.
Objek adalah konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang
berupa verba transitif pada kalimat aktif. Objek pada kalimat aktif transitif dapat
menjadi subjek jika kalimat itu dipasifkan. Pelengkap seringkali disalahartikan
sebagai objek. Pelengkap tidak dapat menjadi subjek jika sebuah kalimat aktif
diubah menjadi kalimat pasif. Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling
beragam dan paling mudah berpindah letaknya karena keterangan dapat berada di
akhir, awal, dan bahkan di tengah kalimat.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik bahasa
Indonesia tuturan siswa kelas I SD dalam interaksi belajar mengajar. Karakteristik
bahasa Indonesia tuturan siswa tersebut dapat dilihat dari tiga aspek, yakni (1)
kelas kata tuturan siswa dalam interaksi belajar mengajar, (2) bentukan kata
tuturan siswa dalam interaksi belajar mengajar, dan (3) struktur kalimat tuturan
siswa dalam interaksi belajar mengajar.
3
METODE
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan metode
pendekatan kualitatif dan kajian morfosintaksis. Penelitian deskriptif merupakan
penelitian yang meneliti sesuatu yang tampak, yakni tuturan siswa SD dalam
interaksi belajar mengajar. Tuturan siswa SD ini merupakan sesuatu yang tampak
karena bisa diterima indra pendengaran manusia dan merupakan fakta (kenyataan)
yang memang benar adanya.
Penelitian ini memiliki karakteristik seperti ciri-ciri yang disebutkan
Arikunto (2006:15), yaitu (1) mengembangkan konsep yang didasarkan atas data
yang ada yakni teori morfologi dan sintaksis bahasa Indonesia, (2) menekankan
pada setting alami, yakni interaksi belajar mengajar yang terjadi antara siswa
dengan guru, (3) peneliti sebagai instrumen utama dan alat perekam elektronik,
tabel klasifikasi yang telah dibaca oleh pakar, serta catatan lapangan sebagai
instrumen pembantu, (4) mengadakan analisis data sejak awal melakukan
penelitian, dan (5) penelitian ini menggambarkan fenomena yang ada, data yang
diolah merupakan data asli yang diperoleh dari hasil rekaman audio yang
ditranskripsikan.
Data penelitian berwujud data verbal berupa rekaman tuturan siswa dalam
interaksi belajar mengajar yang ditranskripsikan ke dalam korpus data. Tuturan
siswa itu direkam dan dibuatkan transkripnya, sehingga transkrip itu merupakan
korpus data yang berisi data verbal yang dapat dijadikan objek penelitian. Sumber
data adalah siswa kelas IA dan IB SDN Kesatrian 1 Kota Malang tahun ajaran
2011/2012.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik observasi nonpartisipasi. Peneliti mengamati dan merekam interaksi
komunikasi siswa dalam interaksi belajar mengajar di kelas. Hasil rekaman
tuturan siswa itu kemudian ditranskripsikan menjadi data verbal untuk dianalisis
lebih lanjut. Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui pengamatan terhadap
proses interaksi siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung di kelas.
Peneliti merekam dan mencatat semua tuturan yang diucapkan oleh siswa. Datadata tersebut dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti.
Tahap analisis data pada penelitian ini adalah (1) identifikasi data, (2)
paparan data, dan (3) penyimpulan. Tahap identifikasi data meliputi pengecekan
hasil rekaman, transkripsi hasil rekaman, pengecekan hasil catatan pengamatan
penelitian, pemilihan data-data hasil transkripsi dan hasil catatan penelitian yang
dimasukkan ke dalam data yang dianalisis. Tahap paparan data adalah kegiatan
pengklasifikasian data, meliputi tahap pemilihan karakteristik kelas kata,
karakteristik bentukan kata, dan karakteristik struktur kalimatnya. Setelah tahap
paparan data, tahap selanjutnya adalah tahap penyimpulan.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini mencakup tiga aspek, yaitu (1) kelas kata, (2) bentukan
kata, dan (3) struktur kalimat tuturan siswa dalam interaksi belajar mengajar.
Setiap aspek tersebut dipaparkan sebagai berikut.
Kelas Kata
Pada aspek kelas kata ditemukan kelas kata yang paling banyak digunakan
oleh siswa kelas I adalah nomina atau kata benda dengan jumlah 201 kata, diikuti
verba atau kata kerja dengan jumlah 70 kata, kemudian adverbia atau kata
4
keterangan dengan jumlah 53 kata, kata tugas dengan jumlah 41 kata, dan yang
paling sedikit digunakan adalah kelompok ajektiva atau kata sifat yakni dengan
jumlah 19 kata. Setelah diadakan analisis dan reduksi data, terjadi perubahan
jumlah kata yang digunakan siswa. Kelas kata yang paling banyak digunakan
siswa kelas I adalah kelompok nomina, termasuk pronomina dan numeralia,
sebanyak 83 kata. Kemudian diikuti kelas kata verba sebanyak 38 kata, adverbia
sebanyak 16 kata, ajektiva sebanyak 15 kata, dan kata tugas sebanyak 13 kata.
Kata-kata dalam kelompok nomina yang paling banyak digunakan siswa
adalah kata benda yang berwujud. Siswa kelas I lebih sering mengucapkan namanama benda yang ada di sekitar mereka daripada nama-nama benda yang jarang
mereka jumpai dalam kehidupan nyata. Beberapa kata benda tak berwujud yang
mereka gunakan banyak diperoleh dari buku bacaan, misalnya energi, gerak,
suara, cahaya, dan panas. Siswa kelas I SD sering menggunakan pronomina
persona Bu untuk menarik perhatian guru. Pronomina penunjuk yang banyak
dipilih siswa adalah ini dan itu. Siswa kelas I SD kurang menggunakan pronomina
penanya. Numeralia yang digunakan siswa adalah numeralia pokok tentu yang
berupa bilangan pokok sederhana.
Kelas kata verba yang digunakan siswa kelas I SD dalam tuturan selama
berinteraksi dengan guru memiliki karakteristik yang sederhana. Kata-kata yang
digunakan adalah kata dasar yang bersifat umum. Kata yang telah mengalami
proses morfologis yang digunakan siswa pun sederhana, hanya menggunakan
proses afiksasi meN-, ke-, di-, pelesapan prefiks meN-, dan proses lainnya seperti
reduplikasi pada kata bedek-bedekan (tebak-tebakan) dan hujan-hujanan, dan
komposisi pada kata naik kelas. Prefiks ber- digunakan pada kata belajar dengan
kata dasar ajar dan bentuknya berubah dari berajar menjadi belajar. Ada
beberapa karakteristik kelas kata ajektiva yang digunakan dalam tuturan siswa
selama interaksi belajar mengajar. Karakteristik yang pertama, kata sifat
digunakan oleh siswa untuk menjelaskan kondisi di sekitar mereka dengan bahasa
yang sederhana. Kedua, kata yang digunakan siswa masih menggunakan kata
serapan dari bahasa daerah yakni pada kata padangan. Ketiga, untuk menyatakan
apa yang mereka sukai, siswa memilih kata sifat yang sederhana seperti enak,
manis, sedap, dan segar yang penggunaannya mengikuti ucapan teman
sebelumnya.
Tidak ditemukan kata yang termasuk dalam kelompok adverbia berafiks
dan adverbia reduplikasi karena siswa kelas I SD masih berada pada tahap
permulaan belajar bahasa. Dari 14 kata yang ditemukan dalam adverbia dasar,
yang paling banyak digunakan siswa adalah kata yang dan tidak. Kata tidak pun
memiliki beberapa variasi bentuk tidak baku yaitu gak, nggak, dan ndak. Adverbia
gabungan yang digunakan siswa hanya adverbia tidak boleh dan gak apa-apa.
kata tidak boleh digunakan untuk menyatakan perbuatan yang tidak diizinkan
untuk dilakukan. Kata gak apa-apa digunakan untuk menyatakan keadaan baikbaik saja, menyatakan izin atau diperbolehkannya sesuatu, dan untuk memastikan
sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui.
Pada kelas kata tugas ditemukan tiga macam jenis kata, yakni preposisi,
konjungsi, dan partikel. Dari paparan data, dapat disimpulkan bahwa siswa kelas I
SD menggunakan preposisi di sebagai penanda keberadaan sesuatu. Konjungsi
yang ditemukan pada data adalah karena, untuk, terus, sama,supaya, agar, dan
dan. Secara umum penggunaan konjungsi-konjungsi ini sudah tepat. Namun, ada
5
yang perlu diperhatikan yakni pemilihan konjungsi terus untuk menggantikan kata
kemudian dan pemilihan kata sama sebagai variasi kata dan. Pemilihan kedua kata
ini merupakan serapan dari bahasa daerah yang digunakan siswa sehari-hari.
Jenis kata tugas yang lain adalah partikel. Partikel yang ditemukan pada
data tuturan siswa, yaitu kok, a, ya, dan tok. Partikel kok menyatakan keheranan.
Partikel ya untuk meminta konfirmasi atau klarifikasi. Partikel a adalah bentuk
lain dari kah yang merupakan serapan dari bahasa daerah dialek Malang. Partikel
tok berasal dari bahasa Jawa yang artinya saja. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa penggunaan partikel dalam tuturan siswa masih banyak
menggunakan serapan dari bahasa daerah dan penggunaannya masih belum
optimal.
Bentukan Kata
Pada aspek bentukan kata ditemukan bahwa bentukan kata yang digunakan
siswa dibentuk melalui proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Kata-kata
yang mengalami proses afiksasi paling banyak digunakan siswa, sedangkan proses
yang lain hanya digunakan sebanyak satu sampai dua kali saja. Proses
pembentukan kata ini menyebabkan pergeseran kelas kata, namun ada juga yang
tidak mengalami pergeseran kelas kata.
Jenis afiks yang digunakan siswa dalam tuturannya, yaitu prefiks, sufiks,
dan kombinasi afiks. Penggunaan afiks dalam proses pembentukan kata pada
tuturan siswa secara umum sama dengan orang dewasa. Namun, ada beberapa
kata yang perlu diperhatikan, yakni kata mainan, padangan, mbawa, ketutup,
ngerjakan, mbawa, nulis, nyari, dan nata. Beberapa dari kata-kata tersebut
merupakan serapan dari bahasa daerah, ada juga yang mengalami pelesapan
morfem, dan ada kata yang kurang tepat penggunaan afiksnya.
Bentukan kata dari hasil reduplikasi hanya ditemukan pada kata hujanhujanan dan bedek-bedekan. Jenis reduplikasi yang digunakan pada kedua kata
tersebut adalah jenis reduplikasi pembentuk verba yang bentuknya merupakan
pengulangan berkombinasi dengan afiks. Kata hujan-hujanan merupakan bentuk
tidak baku dari kata berhujan-hujanan. Kata bedek-bedekan maksudnya adalah
tebak-tebakan, kata tersebut menggunakan bahasa Jawa. Bentukan kata dari hasil
komposisi yang digunakan siswa dalam tuturannya tidak memiliki karakteristik
khusus. Pemilihan bentukan kata tersebut karena intensitas siswa mendengar atau
menjumpai orang lain mengucapkan kata-kata majemuk.
Struktur Kalimat
Pada aspek struktur kalimat, ditemukan bahwa siswa lebih banyak
menggunakan struktur kalimat dengan beberapa unsur yang dilesapkan. Struktur
kalimat yang digunakan pun sangat bervariasi, ditemukan 29 kalimat dengan
pelesapan unsur dan 11 kalimat tanpa pelesapan unsur. Struktur kalimat pun lebih
banyak berupa kalimat tunggal. Kalimat majemuk digunakan siswa hanya ketika
guru meminta siswa membuat kalimat yang panjang, bukan untuk berinteraksi
dengan guru maupun siswa yang lain.
Beberapa kalimat siswa strukturnya seperti struktur kalimat pada bahasa
daerah, dalam hal ini bahasa Jawa sebagai bahasa pertama yang diperoleh siswa.
Penggunaan struktur kalimat pun seringkali mengikuti struktur kalimat teman
yang bertutur sebelumnya. Dari beberapa karakteristik yang ditemukan, struktur
kalimat dengan pelesapan unsur-unsur adalah yang paling terlihat. Tujuan
penggunaan kalimat dengan pelesapan unsur adalah untuk efisiensi dan efektivitas
6
pengucapan. Dalam interaksi belajar mengajar, dibutuhkan efisiensi pengucapan
karena untuk menciptakan pembelajaran yang efektif harus tercipta interaksi yang
terarah.
Penggunaan kalimat dengan pelesapan unsur dalam tuturan bukanlah
kesalahan berbahasa karena disesuaikan dengan konteks keadaan dan situasi yang
terjadi. Tuturan siswa ini tidak bisa dianggap sebagai bahasa Indonesia yang tidak
baik dan tidak benar hanya karena ketidaklengkapan unsurnya. Pada dasarnya
struktur kalimat yang digunakan sudah baik dan komunikatif, hanya ditemukan
beberapa kesalahan dalam penggunaannya.
PEMBAHASAN
Karakteristik Kelas Kata dalam Tuturan Siswa
Kelas kata yang paling banyak digunakan siswa kelas I SD adalah kelas
kata nomina, termasuk juga pronomina dan numeralia. Berikutnya adalah kelas
kata verba, diikuti adverbia, ajektiva, dan kata tugas. Sebagaimana diungkapkan
Gentner dalam Dardjowidjojo (2000:305), yakni anak menggunakan nomina lebih
dahulu dan jumlahnya paling banyak daripada kelas kata lainnya. Kelas kata
nomina lebih banyak digunakan siswa dalam tuturannya karena kelas kata nomina
sering ditemukan di lingkungan sekitar. Sumarsono dan Partana (2002:138)
mengungkapkan pendapatnya bahwa kosakata anak kecil akan berkisar pada
“yang ada di sini dan yang ada sekarang” (here and now). Oleh karena itu, nomina
yang banyak digunakan siswa adalah nomina yang berwujud (konkret). Dari
jumlah 66 nomina, tidak termasuk pronomina dan numeralia, kata benda yang
berwujud ada sebanyak 38 kata. Siswa belajar makna kata dan bahasa sesuai
dengan apa yang mereka dengar, lihat, dan mereka hayati dalam hidupnya seharihari (Sunarto dan Hartono, 2008:141).
Karakteristik bahasa siswa tidak lepas dari peran orang tua dan guru.
Orang tua sebagai pengajar bahasa pertama seharusnya mulai memperkenalkan
anak pada kata-kata sejak dini guna menambah pengetahuan anak terhadap bendabenda yang ada di sekitar mereka. Anak dapat lebih mudah belajar bahasa,
khususnya kata benda. Seperti pendapat seorang ahli psikolinguistik, pada anak
nomina secara tipikal merujuk pada benda konkret dan yang dapat dipegang atau
yang kasad mata (Dardjowidjojo, 2000:36).
Siswa sering menggunakan pronomina persona Bu untuk memulai atau
mengakhiri suatu tuturan. Pronomina persona Bu digunakan siswa untuk menarik
perhatian guru karena anak usia enam sampai sepuluh tahun pada dasarnya suka
mencari perhatian orang lain. Hurlock (1980:154) menyatakan bahwa masa akhir
anak-anak, yakni usia enam sampai sepuluh tahun, adalah masa peer group. Masa
peer group adalah masa anak mulai berkelompok dengan teman sebayanya dan
ingin menjadi “ketua” dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu, anak sering
mencari perhatian guru supaya dianggap aktif dan pintar oleh teman-temannya.
Siswa masih menggunakan jenis numeralia pokok tentu. Jenis numeralia
yang digunakan siswa masih berupa bilangan pokok. Siswa belum menggunakan
jenis bilangan lain seperti pecahan, ukuran (lusin, kodi, dan lain-lain), urutan (eka,
panca, dan lain-lain), maupun numeralia tingkat. Hal ini dikarenakan, siswa kelas
I SD berada pada fase awal pembelajaran bahasa Indonesia. Penggunaan verba
atau kata kerja masih dominan menggunakan jenis verba dasar. Pendapat ini
didukung oleh Sumarsono dan Partana (2002:136) yang menyatakan bahwa kata-
7
kata yang bertahan dalam tuturan anak adalah kata-kata yang penuh, yaitu kata
yang mempunyai makna sendiri jika berdiri sendiri.
Pemilihan kata banyak menggunakan kata serapan bahasa daerah. Bahasa
ibu, yaitu bahasa pertama yang diperoleh anak, sangat berpengaruh terhadap
karakteristik bahasa anak. Ketika anak mempelajari bahasa Indonesia sebagai
bahasa kedua, secara tidak langsung bahasa ibu juga mempengaruhi
penggunaannya. Bahasa Indonesia yang digunakan siswa dalam tuturan formal
masih diwarnai dialek-dialek bahasa ibu yang diperoleh anak sebagai bahasa
pertama.
Pada hasil analisis data, diketahui siswa mengucapkan sebuah kalimat
yang jika dilihat secara struktur kalimat sudah benar, namun pilihan katanya
kurang tepat. Dapat dilihat pada data A1, seorang siswa berkata “Bu, ada yang
mainan”. Kata mainan perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan
pilihan kata yang kurang tepat. Kata mainan berasal dari kata dasar main yang
mendapat sufiks –an. Menurut Muslich (2008:95), morfem imbuhan (afiks) dalam
bahasa Indonesia yang mampu membentuk kelas kata benda salah satunya adalah
sufiks –an.
Kata mainan, bentuknya sama seperti kata tulisan, bacaan, atau makanan.
Kata-kata ini termasuk kategori kata benda atau nomina. Alwi, dkk. (2010:333)
menyatakan bahwa predikat kalimat biasanya berupa frasa verbal atau frasa
ajektival, namun pada kalimat yang berpola SP, predikat dapat pula berupa frasa
nominal, frasa numeral, atau frasa preposisional. Kalimat berpola SP yang
dimaksud Alwi, dkk. contohnya pada kalimat “Saya mahasiswa”. Kata
mahasiswa yang berupa nomina menempati fungsi predikat, sedangkan kalimat
pada data A1 tidak demikian walaupun pola kalimatnya pun SP.
Kalimat pada data A1, yakni “Bu, ada yang mainan” berpola SP dengan
kata mainan menempati fungsi predikat. Kata mainan pada data A1 merupakan
pilihan kata yang kurang tepat dari kata bermain. Kata mainan ini merupakan
serapan dari bahasa Jawa yang sehari-hari digunakan siswa. Siswa
menyepadankan kata mainan dengan kata dulinan atau dolanan yang maknanya
„bermain‟. Kesalahan-kesalahan seperti ini pada hakikatnya bersifat
perkembangan (development). Artinya, kesalahan itu terjadi dalam hubungan
dengan perkembangan belajar, dalam hubungan dengan usaha untuk
menggunakan keterampilan berikutnya (Sumarsono dan Partana, 2002:149).
Siswa kelas I SD memiliki banyak variasi bahasa dan pilihan kata. Pada
data yang telah dianalisis, ditemukan beberapa variasi untuk satu kata yang sama,
yakni kata tidak. Variasi kata tidak yang digunakan siswa, yaitu gak, nggak, dan
ndak. Siswa cukup kreatif menciptakan bentuk-bentuk baru yang menyimpang
dari ragam baku atau yang dipelajari. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
tuturan anak bersifat inovatif (Sumarsono dan Partana, 2002:150).
Karakteristik Bentukan Kata dalam Tuturan Siswa
Proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia ada tiga, yakni afiksasi,
reduplikasi, dan komposisi. Proses pembentukan kata yang paling banyak
digunakan siswa adalah proses afiksasi. Dari beberapa jenis afiks dalam bahasa
Indonesia, yang digunakan siswa dalam tuturannya hanya tiga macam, yakni
prefiks,sufiks, dan kombinasi afiks. Prefiks yang ditemukan dari data hasil
penelitian, yaitu prefiks meN-, di-, (meN-), ke-, dan be-. Penggunaan prefiks pada
umumnya sudah benar, namun masih ada beberapa bentukan kata yang dibentuk
8
dari serapan bahasa daerah. Selain kata serapan bahasa daerah, ada juga
karakteristik lain yang dimiliki siswa, yakni adanya pelesapan morfem meNuntuk mempersingkat pengucapan suatu kata. Dardjowidjojo (2000:306)
berpendapat, prefiks akan muncul bersamaan atau lebih awal daripada sufiks
apabila prefiks tersebut bersifat wajib dan dalam bahasa yang bersangkutan pola
kalimat yang diwakili oleh prefiks tersebut adalah predominan.
Pada kata mbawa, nata, nyari, nulis, dan ngerjakan, terjadi pelesapan
morfem meN- dari bentuk asal membawa, menata, mencari,menulis, dan
mengerjakan. Siswa sering menggunakan kata-kata semacam ini dalam tuturannya
dengan tujuan mempersingkat pengucapan dan memberi kesan akrab antara guru
dan siswa. Bentukan kata semacam ini hanya ditemukan pada ragam lisan bahasa
Indonesia, sedangkan pada ragam tulis tidak ditemukan penggunaan bentuk
pelesapan meN-.
Selain pelesapan prefiks meN-, siswa juga sering menggunakan bentukan
kata dari pembubuhan prefiks di- pada tuturannya. Kata-kata yang berprefiks dipada tuturan siswa yaitu ditempel, diwarna,ditukar,dilatin, diberi, diminum,
ditulis, dan digaris. Kata berprefiks di- yang terlihat menarik karena hampir tidak
pernah dijumpai pada tuturan formal adalah kata diwarna, dilatin, dan digaris.
Ketiga kata ini tidak dijumpai pada ragam formal maupun ragam informal orang
dewasa. Bentukan kata seperti inilah yang menjadi karakteristik khusus tuturan
anak.
Kata diwarna dalam konteks data B14 adalah siswa bertanya pada guru
apakah gambar diberi warna. Bentuk yang biasa digunakan dalam tuturan formal
adalah diberi warna atau diwarnai. Kata dilatin pada data F13, H2, dan H4
maksudnya adalah ditulis dengan huruf tegak bersambung. Siswa biasa menyebut
tulisan tegak bersambung dengan kata tulisan latin. Untuk mempermudah
pengucapan, siswa menyingkat ditulis dengan huruf latin menjadi kata dilatin.
Kata digaris pada data H22 maksudnya adalah diberi garis bawah atau
digarisbawahi. Pengucapan yang kurang tepat ini dipilih siswa untuk
mempermudah interaksi dengan guru.
Bentukan kata dalam tuturan siswa juga terbentuk dari serapan bahasa
daerah, khususnya bahasa Jawa. Seperti pendapat Sawardi (1981:48), awalan,
akhiran, sisipan, kombinasi awalan dan akhiran sudah digunakan oleh para siswa,
dan pada umumnya bentuk-bentuk kata itu digunakan sesuai dengan fungsi
imbuhan itu. Beberapa kesalahan yang terdapat dalam penggunaan bentuk-bentuk
itu disebabkan oleh pengaruh bahasa daerah dan akibat kontaminasi.
Sumarsono dan Partana (2002:149) menjelaskan bahwa anak-anak di
Indonesia umumnya menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pertama (B1)
dan bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah adalah bahasa kedua (B2).
Mereka yang belajar B2 ini tutur B2-nya bisa dipengaruhi oleh B1-nya, meskipun
tidak selamanya seperti itu. Pendapat ini sesuai dengan hasil temuan penelitian,
yakni siswa banyak menggunakan kata serapan bahasa daerah.
Contoh penggunaan serapan bahasa daerah pada bentukan kata siswa,
yakni pada kata mainan, padangan, ketutup, dan bedek-bedekan. Kata padangan
dan bedek-bedekan adalah murni bahasa Jawa, bentukan kata ini dipilih karena
siswa kesulitan menemukan padanan kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Kata
mainan yang dimaksud siswa adalah kegiatan bermain, bukan benda yang
dimainkan. Kata mainan ini dipengaruhi oleh adanya padanan kata dolanan atau
9
dulinan yang bermakna „bermain‟ pada bahasa Jawa. Kata ketutup yang dimaksud
siswa adalah tertutup. Penggunaan kata ketutup ini dipengaruhi padanan kata
ketutupan pada bahasa Jawa yang artinya „tidak sengaja ditutup‟.
Bentukan kata dari proses reduplikasi dan komposisi yang digunakan
siswa tidak memiliki karakteristik khusus. Kata hujan-hujanan, bedek-bedekan,
naik kelas, dan orang tua, merupakan bentukan kata dari proses reduplikasi dan
komposisi. Kata-kata yang terbentuk dari kedua proses ini umumnya digunakan
siswa karena kata-kata tersebut sering mereka dengar dalam tuturan sehari-hari
oleh orang-orang di sekitar mereka. Seperti diungkapkan Sunarto dan Hartono
(2008:141), bahasa berkembang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karena
kekayaan lingkungan merupakan pendukung bagi perkembangan peristilahan
yang sebagian besar dicapai dengan proses meniru.
Karakteristik Struktur Kalimat dalam Tuturan Siswa
Kalimat yang diucapkan siswa dalam interaksi belajar mengajar memiliki
karakteristik tertentu yang berbeda dengan struktur kalimat orang dewasa.
Kalimat yang digunakan siswa dalam tuturan interaksi dengan guru berupa
kalimat tunggal. Siswa seringkali melesapkan unsur-unsur pembentuk kalimat dan
hanya memunculkan satu atau dua unsur saja sehingga unsurnya tidak lengkap.
Kalimat tidak lengkap yang terjadi karena pelesapan beberapa bagian dari klausa
dan diturunkan dari kalimat tunggal disebut kalimat elips (Cook dalam Putrayasa,
2009:106).
Struktur kalimat anak ini dipengaruhi oleh komunikasi yang sering
dilakukan anak dengan orang-orang di sekitarnya. Bahasa orang dewasa ketika
berkomunikasi dengan anak pastinya berbeda dengan bahasa yang digunakan
ketika berkomunikasi dengan sesama orang dewasa. Menurut Moskowitz, Pine,
Barton, dan Tomasello (dalam Dardjowidjojo, 2000:49), bahasa yang dipakai
untuk anak mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu (1) kalimatnya pendek-pendek, (2)
tidak mengandung kalimat majemuk, (3) nada suara biasanya tinggi, (4)
intonasinya agak berlebihan, (5) laju ujaran tidak cepat, (6) banyak redundansi,
dan (7) banyak memakai sapaan.
Ciri-ciri yang sesuai dengan tuturan siswa dari data yang diperoleh, yakni
kalimatnya pendek, tidak mengandung kalimat majemuk, dan banyak memakai
sapaan. Ciri-ciri bahasa orang dewasa inilah yang kemudian ditiru oleh anak.
Ditemukan tiga kalimat majemuk pada data, namun penggunaan kalimat tersebut
hanya untuk memenuhi perintah guru, bukan untuk berinteraksi. Kata sapaan
banyak digunakan siswa dalam tuturannya. Hampir semua data tuturan siswa yang
telah dianalisis mengandung kata sapaan, yakni kata “Bu”. Pada beberapa data
ditemukan penggunaan kata sapaan “Bu” lebih dari satu kali pada satu kalimat.
Struktur kalimat yang singkat dan banyak mengalami pelesapan unsur,
bukan berarti siswa tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Pada dasarnya siswa sudah mampu menggunakan kalimat dengan benar.
Sebagaimana diungkapkan Hurlock (1980:152), anak usia enam tahun harus
sudah menggunakan hampir semua jenis struktur kalimat. Dari enam sampai
sembilan atau sepuluh tahun, panjang kalimat akan bertambah. Kalimat panjang
biasanya tidak teratur dan terpotong-potong. Berdasarkan pendapat Hurlock ini,
dapat disimpulkan bahwa kemampuan tata kalimat siswa dapat berkembang
seiring pertambahan usia. Jika saat ini struktur kalimat siswa cenderung singkat,
10
tiga atau empat tahun mendatang siswa diperkirakan sudah mampu menggunakan
kalimat yang lebih kompleks.
Abe (2006) menjelaskan, anak-anak pada umumnya memiliki kosakata
yang cukup banyak. Mereka dapat berkomunikasi dengan sesamanya melalui
bentuk kalimat berita, kalimat tanya, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk
kalimat lainnya. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena siswa hanya
menggunakan kalimat majemuk ketika guru meminta siswa membuat kalimat.
Jadi, kalimat majemuk tidak digunakan siswa untuk berkomunikasi dengan
sesamanya, namun hanya digunakan untuk memenuhi tugas guru. Kalimat
majemuk yang terdapat pada data, yakni pada data F4, F5, dan F6.
Penggunaan struktur kalimat yang sederhana dalam proses belajar
mengajar bukanlah sebuah kesalahan. Penggunaan bahasa siswa yang banyak
melesapkan unsur, bukan berarti siswa tidak berbahasa Indonesia dengan baik dan
benar. Putrayasa (2010b:81) menjelaskan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan
benar adalah bahasa Indonesia yang penggunaannya sesuai dengan situasi
pemakaiannya dan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Jadi, jika dalam sebuah
tuturan lisan antara guru dan siswa digunakan struktur kalimat yang utuh,
komunikasi yang terjalin terkesan kaku dan aneh. Seperti halnya interaksi antara
penjual dan pembeli di pasar, penggunaan kalimat baku dalam situasi yang tidak
tepat justru menjadi tidak baik walaupun secara kaidah sudah benar. Hal yang
terpenting adalah komunikasi terjalin dengan baik. Sebagaimana diungkapkan
Putrayasa (2010b:82), kesalahan ucapan, atau kesalahan pilihan kata, atau struktur
kalimat yang salah asal komunikasi masih bisa berjalan, bahasa seseorang sudah
tergolong baik.
SIMPULAN DAN SARAN
Secara umum dapat disimpulkan bahwa karakteristik bahasa Indonesia
tuturan siswa kelas I SD dalam interaksi belajar mengajar bersifat sederhana dan
mengacu pada hal-hal yang konkret. Tuturan siswa juga banyak menggunakan
kata serapan bahasa daerah sehingga banyak kata atau kalimat yang berpola
seperti bahasa daerah. Simpulan khusus dari penelitian ini ditinjau dari aspek
kelas kata, bentukan kata, dan struktur kalimat.
Tuturan siswa kelas I SD banyak menggunakan kelas kata nomina,
terutama nomina yang berwujud (konkret). Siswa juga sering menggunakan
pronomina “Bu” dalam interaksi dengan tujuan menarik perhatian guru.
Karakteristik bahasa siswa yang masih sederhana terdeskripsikan dari penggunaan
kelas kata numeralia yang masih terbatas pada jenis numeralia pokok tentu,
khususnya kategori bilangan pokok. Kelas kata verba yang banyak digunakan
siswa adalah jenis verba dasar, sedangkan penggunaan verba turunan pada tuturan
siswa masih belum optimal. Bahasa daerah sebagai bahasa pertama siswa
mempengaruhi penggunaan pilihan kata dalam tuturan siswa. Siswa memiliki
banyak variasi bahasa dan pilihan kata dalam tuturannya. Variasi bahasa tersebut
termasuk ragam lisan yang tidak baku.
Tuturan siswa dalam interaksi belajar mengajar kebanyakan terbentuk dari
proses afiksasi, walaupun ada beberapa kata yang merupakan bentukan dari proses
pembentukan kata yang lain, yaitu reduplikasi dan komposisi. Bentukan kata yang
membentuk kata kerja yang digunakan siswa cenderung mengalami pelesapan
morfem meN- untuk mempermudah pengucapan. Afiks yang paling sering
11
digunakan siswa adalah prefiks. Prefiks di- paling banyak dipakai siswa dengan
tujuan untuk bertanya pada guru. Seperti pada kelas kata, penggunaan bentukan
kata pun masih menggunakan serapan bahasa daerah, walaupun tidak semua kata
diserap dari bahasa daerah. Bentukan kata baru yang diperoleh siswa sebagian
besar dicapai dengan proses meniru, baik meniru orang lain maupun meniru dari
buku.
Tuturan siswa dalam interaksi belajar mengajar kalimatnya cenderung
berupa kalimat tunggal atau kalimat yang tidak utuh. Pada beberapa data, struktur
kalimat siswa cenderung mengikuti struktur kalimat teman yang lebih dahulu
bertutur. Selain itu siswa juga banyak menggunakan struktur kalimat elips, yakni
kalimat dengan pelesapan unsur. Siswa juga banyak menggunakan sapaan dalam
tuturannya. Kalimat majemuk hanya digunakan siswa untuk memenuhi tugas
guru, bukan untuk interaksi.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diajukan tiga saran. Pertama, para guru
yang mengajar di kelas I SD disarankan untuk lebih memperhatikan karakteristik
tuturan siswa dalam situasi formal, yakni dalam kegiatan belajar mengajar supaya
penggunaan bahasa daerah dalam situasi formal dapat dikurangi. Kedua, peneliti
lain diharapkan mengadakan penelitian pada aspek kebahasaan yang lain,
misalnya pada aspek fonologi, semantis, dan lain sebagainya untuk memperkaya
hasil penelitian tentang kebahasaan. Ketiga, para penulis buku teks dan
pengembang media disarankan membuat buku teks dan media pembelajaran
dengan memperhatikan karakteristik bahasa hasil penelitian ini, misalnya dengan
kata dan kalimat yang sederhana, sehingga isinya dapat dipahami oleh siswa.
DAFTAR RUJUKAN
Abe. 2006. Perkembangan Bahasa Anak, (online), (http://abe231.multiply.com),
diakses 11 Oktober 2011.
Alwi, Hassan. Dardjowidjojo, Soenjono. Lapoliwa, Hans. Moeliono, Anton M.
2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. ECHA: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak
Indonesia. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Hurlock, Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Putrayasa, Ida Bagus. 2009. Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Bandung:
Refika Aditama.
Putrayasa, Ida Bagus. 2010a. Analisis Kalimat: Fungsi, Kategori, dan Peran.
Bandung: Refika Aditama.
Putrayasa, Ida Bagus. 2010b. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, dan Logika).
Bandung: Refika Aditama.
Sawardi. 1981. Penguasaan Kosa Kata Bahasa Indonesia Murid Kelas VI Sekolah
Dasar di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta:
Depdikbud.
12
Sumarsono dan Partana, Paina. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Sunarto dan Hartono, Agung. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
Rhineka Cipta.
Download