BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Australia merupakan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Australia merupakan benua yang berbentuk pulau yang terletak diantara
samudra Hindia dan Pasifik dan diapit oleh kepulauan Asia Tenggara dan daratan
Kutub Selatan. Australia juga merupakan sebuah negara monarkhi konstitusional
serta mempunyai sistem pemerintahan parlementer. Secara geografis Australia satusatunya tetangga terdekat Papua New Guinea dan Timor-Timur. Jika Australia dan
negara tetangga seperti Indonesia dapat membangun hubungan dengan baik maka
kedua negara akan dapat menstabilkan kawasan. Perbedaan budaya dan kebijakan
politik dalam negeri dan luar negeri kedua negara sangat mempengaruhi hubungan
kedua belah pihak.
Australia adalah sebuah regenerasi dalam menciptakan beberapa politisi ulung
dan handal, hal tersebut sudah merupakan hal yang biasa. Partai buruh merupakan
salah satu partai politik yang besar di Australia yang selalu berusaha mencetak partai
politisi tersebut.1 Australia juga memakai paham demokrasi yang didasarkan atas
pemilihan umum, maka Australia adalah salah satu dari sejumlah kecil negara di
1
Zulkifli Hamid, Sistem Politik Australia. Bandung : Remaja Rosdakrya, 1999,
hlm.188.
1
2
dunia ini yang rakyatnya diwajibkan untuk menggunakan hak-hak demokrasi
mereka, cara pemilihan adalah preferential.2
Timor-Timur selalu membuat Indonesia bingung, terutama sejak Indonesia
menggabungkan Timor-Timur sebagai propinsi ke-27 Republik Indonesia, pada
tahun 1976.
Akan tetapi soal Timor-Timur menimbulkan ketegangan antara
Australia dan Indonesia, jauh sebelum Timor-Timur bergabung dengan Indonesia.
Ada banyak peristiwa yang menyoroti perbedaan pendapat antara Australia dan
Indonesia berkenaan dengan soal Timor-Timur. Misalnya, integrasi Timor-Timur ke
dalam Republik Indonesia, kematian lima (5) wartawan Australia yang dianggap
tidak wajar, Laporan Dunn, artikel di koran Sydney Morning Herald (yang ditulis
oleh Peter Jenkins), dan akhirnya Insiden Dili.
Hubungan Australia-Indonesia selama ini pada umumnya berlangsung cukup
baik walaupun sering mengalami pasang surut akibat adanya perbedaan persepsi
mengenai berbagai masalah serta sikap negatif media massa dan kalangan tertentu
Australia terhadap Indonesia. Perbedaan-perbedaan ini sering disebut sebagai
perbedaan nilai dan sering menyebabkan perbenturan antara kedua negara,
2
Dalam sistem pemilahan preferential: para pemilih diharuskan mencatumkan
nomor urut disamping nama setiap calon sesuai dengan urutan pilihan masingmasing. Jumlah suara dengan pilihan pertama kemudian dihitung, bila tidak ada calon
dengan pilihan pertama yang memperoleh suara mayoritas, calon dengan jumlah
suara yang paling kecil dihapuskan dari daftar calon, dan suara-suara dengan urutan
kedua bagi calon yang dihapuskan itu dibagikan kepada calon-calon yang masih ada.
Proses ini berjalan terus sampai seorang calon memperoleh mayoritas suara. Richard
H. Chauvel, Politics Down Under: Kehidupan Politik dalam Negeri Australia, Jurnal
Ilmu Politik, Vol 6, 1990. hlm. 67.
3
khususnya mengenai masalah-masalah seperti pelaksanaan hak-hak asasi manusia,
dan masalah perikemanusiaan.3
Sejak pertengahan tahun 1970an, agenda utama konflik Australia-Indonesia
beralih pada masalah Timor-Timur. Baik Australia maupun Indonesia pada
prinsipnya mempunyai persamaan kepentingan di Timor-Timur, yakni kepentingan
akan keamanan wilayah serta kepentingan ekonomi. Australia menganut sistem
demokrasi parlementer yang sangat kompetitif, debat politik yang terjadi didalam
negerinya selalu terpantul pada politik luar negerinya. Kebijakan pemerintah
Australia kepada Indonesia selalu berubah-ubah sesuai dengan situasi politik dalam
negerinya, yang berarti juga sangat tergantung pada kebijakan partai politik yang
memerintah.4
Hubungan antara Australia dan Indonesia sering kali mengalami pasang surut,
tetapi tidak dalam keadaan kritis. Pada masa pemerintahan Soeharto, yang menjadi
isu dalam hubungan diplomatik antara Australia dengan Indonesia adalah TimorTimur (Pemberontakan Fretilin) 1974-1982. Hubungan diplomatik sepanjang 1974
antara pemerintahan Soeharto dan PM Australia, Gough Whitlam tercermin dalam
sikap kooperatif Australia pada saat Timor-Timur akan diintegrasikan ke dalam
wilayah Indonesia secara damai.
3
Muslim Edib, “Politik Luar Negeri Australia terhadap Indonesia : Dari
Whitlam sampai Hawke”, Journal Ilmu Politik, No 06,1986. hlm. 78-89.
4
Ibid, hlm. 60
4
Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Gough Whitlam pernah bertemu dan
bebincang-bincang pada tahun 1975, di dalam pembicaraan itu dikatakan bahwa
Australia telah setuju untuk mendukung Indonesia dalam mengambil kembali
wilayah Timor-Timur dengan syarat integrasi Timor-Timur dengan Indonesia
tersebut juga mendapat dukungan Internasional. Pada tahun 1978 Australia menjadi
Negara Barat pertama dan satu-satunya yang memberi pengakuan de facto terhadap
pengintegrasian Timor-Timur ke Indonesia
melalui perdana menteri Malcolm
Fraser.5
Perubahan sikap Malcolm Fraser terhadap masalah Timor-Timur banyak
dipengaruhi oleh tekanan-tekanan AS, yang tidak menginginkan rusaknya hubungan
Australia dengan Indonesia. Amerika Serikat mendesak Malcolm Fraser untuk tidak
mempermasalahkan integrasi Timor-Timur ke dalam Indonesia. Disamping itu
perubahan sikap Malcolm Fraser terhadap masalah Timor-Timur juga dipengaruhi
oleh beberapa faktor dari dalam negerinya. Menguatnya posisi Malcolm Fraser
setelah pemilihan umum 1977, membuatnya tidak perlu mempertahankan gantungan
politik dari kelompok yang mempermasalahkan integrasi Timor-Timur. Demikian
juga membaiknya ekonomi dalam negeri dimana inflasi dan defisit anggaran belanja
berhasil ditekan semakin memperkuat kedudukan Malcolm Fraser pada pertengahan
1978.
5
Hilman Adil, Beberapa Segi Politik Bertetangga Baik antara Indonesia dan
Australia, Prisma, Vol. V No. 9, 1977. hlm. 21.
5
Tindakan Indonesia yang melakukan pendudukan agresif di Timor-Timur
dikritik publik Australia dan akhirnya pemerintah Australia juga mengkritiknya
kembali di PBB. Kritik ini diyakini muncul akibat aksi invasi Indonesia terhadap
Timor-Timur yang mengakibatkan lima wartawan Australia tewas dalam peristiwa
Balibo pada tahun 1975. Sejak saat itu, pers Australia banyak melakukan
pemberitaan yang konfrontatif dan kritis terhadap Indonesia.
Pada saat Australia di bawah Perdana Menteri Malcolm Fraser pada tahun
1976, Indonesia masih sering mendapat kritikan tajam dari Australia, antara lain
Malcolm Fraser dan James Dunn, mantan konsul Australia di Timor-Timur mulai
meninggalkan masalah Timor-Timur. Pada saat inilah masalah Timor-Timur tidak
dibahas lagi oleh pemerintahan Australia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan
dibahas adalah sebagai berikut:
1. Siapakah Malcolm Fraser ?
2. Bagaimana hubungan Australia dengan Indonesia Sebelum masa pemerintahan
Malcolm Fraser ?
3. Bagaimanakah kebijakan Australia terhadap Indonesia pada saat Malcolm Fraser?
4. Masalah-masalah apa yang mempengaruhi hubungan antara Australia dengan
Indonesia pada masa Malcolm Fraser ?
6
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
a. Melatih daya pikir yang kritis, analitis, sistematis, dan objektif serta peka
terhadap fenomena yang terjadi dimasa lampau.
b. Mengembangkan serta menambah karya penulisan ilmiah, terutama
dalam bidang penulisan sejarah Australia.
c. Meningkatkan kepekaan terhadap peristiwa pada masa lampau untuk
dijadikan bahan pertimbangan dalam melangkah ke masa depan dengan
landasan pemahaman isi dan nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa
sejarah.
d. Sebagai salah satu untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di
Universitas Negeri Yogyakarta.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui Profil Perdana Menteri Malcolm Fraser.
b. Mengetahui hubungan Australia dengan Indonesia sebelum Malcolm
Fraser .
c. Mengetahui kebijakan Australia terhadap Indonesia pada masa Malcolm
Fraser
d. Mengetahui Masalah-masalah yang mempengaruhi hubungan antara
Australia dengan Indonesia pada masa Malcolm Fraser.
7
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pembaca
a. Memberikan tambahan pengetahuan kepada pembaca mengenai siapa itu
Malcolm Fraser dan apa saja yang dilakukannya dalam kerjasamanya
dengan Indonesia;
b. Memperluas wawasan kesejahteraan terutama yang terkait dengan sejarah
Australia khususnya Sejarah Hubungan Australia dengan Indonesia;
c. Dengan adanya skripsi ini diharapkan dapat menambah referensi untuk
penelitian-penelitian sejenis dimasa yang akan datang.
2. Bagi Penulis
a. Sebagai tolok ukur akan kemampuan penulis dalam menganalisis dan
merekonstruksi peristiwa sejarah.
b. Guna memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana pendidikan di
Universitas Negeri Yogyakarta.
c. Sebagai sarana untuk memperkaya pengetahuan sejarah di Australia,
terutama mengenai benua Australia sendiri dan Dinamika hubungan
Australia pada masa Perdana Menteri Malcolm Fraser.
8
E. Kajian Pustaka
Malcolm Fraser dilahirkan 21 mei 1930, dari keluarga petani dan peternak
domba yang kaya , sebelum menjadi perdana menteri Malcolm Fraser merupakan
pemimpin dari partai Liberal. Perjalanan Malcolm Fraser kedalam dunia politik
banyak mengalami hambata-hambatan akan tetapi Malcolm Fraser ini tidak
membuat dirinya putus asa karena sejak kecil Malcolm Fraser berniat untuk terjun
ke dunia politik. Dalam pembahasan profil Malcolm Fraser ini penulis tidak
menggunakan buku, tetapi penulis hanya menggunakan surat kabar yakni Kompas
20 Desember 1975 dan surat kabar Tempo 9 Oktober 1976. Malcolm Fraser lahir
pada tanggal 21 Mei 1930 di daerah Wannon, Australia, anak kedua dari 2
bersaudara, kakak perempuannya bernama Lorainne.6 Sir Simon Fraser kakeknya
Malcolm Fraser adalah salah satu yang pertama dipilih sebagai senator mewakili
Negara bagian Victoria. Malcolm Fraser menempuh pendidikan terakhirnya di
Universtas Oxford di Inggris, Selama jadi mahasiswa di Oxford, Fraser selalu
mengelak kalau ada malam diskusi. Pada saat Malcolm Fraser berumur 22 tahun,
Malcolm Fraser pernah mengirimkan surat pada ibunya mengatakan bahwa dia
ingin terjun didunia politik, tetapi ibunya tidak yakin karena dia mengetahui
bagaimnan sifat dan kepribadian Fraser, pemalu dan pendiam. Setelah lulus
6
Malcolm Fraser, Perdana Menteri Australia. Dalam Kompas, Sabtu 20
Desember 1975, Hlm. 6.
9
Malcolm Fraser kembali ke Wannon tanah kelahirannya. Di Wannon Malcolm
Fraser menempuh hidupnya sebagai peternak domba yang kaya, tetapi itu
berlangsung tidak lama, Malcolm Fraser ikut mencoba mencalonkan diri sebagai
wakil rakyat dari Wannon pada tahun 1954, akan tetapi dia gagal. Kegagalan
Malcolm Fraser untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat ternyata tidak
membuat dia putus asa, di tahun 1955 Malcolm Fraser kembali mencalonkan diri
hingga akhirnya dia memenangkan pemilu tersebut. Malcolm Fraser menikah dan
dikaruniai tiga orang anak.
Malcolm Fraser terpilih menjadi Perdana Menteri Australia pada tanggal 11
November 1975, menggantikan Gough Whitlam yang dipecat langsung oleh Jendral
Sir John Kerr, karena krisis politik di Australia. Perubahan, pembaharuan,
idealisme, bukan sosialisme adalah semboyan yang dipakai Malcolm Fraser selama
kampanye pemilihan umum.7
Dalam pembahasan hubungan Australia-Indonesia sebelum Malcolm Fraser
yakni pada masa Gough Whitlam penulis menggunakan buku “Hubungan Australia
dengan Indonesia : Faktor Geografi, Politik dan Strategi Keamanan”, karangan
Sugiarti Sriwibawa, tahun 1995, penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Buku ini
menjelaskan tentang, pada era pemerintahan Gough Whitlam hubungan AustraliaIndonesia sangat baik terlebih pada saat Indonesia dibawah presiden Soeharto lebih
banyak memusatkan diri pada pembangunan ekonomi dari pada pembangunan
7
Kompas, op.cit., hlm 6.
10
kemampuan militernya. Lebih dari pada itu, Australia sendiri mempunyai
kemampuan militer dan teknologi yang relative lebih dari cukup untuk melakukan
preemptive terhadap Indonesia. karena itu Gough Whitlam tidak ada halangan
untuk menjalin hubungan baik dengan Indonesia.
Dalam masalah Timor-Timur Gough Whitlam tidak memilki perbedaan
mendasar dengan Soeharto. Integrasi wilayah tersebut kedalam wilayah Indonesia
dilihatnya sebagai pilihan yang paling realitis. Bagi Gough Whitlam, ketidakpastian
yang terjadi dalam wilayah tersebut nanti tidak hanya membahayakan kepentingan
Indonesia atau Australia saja, tetapi lebih jauh lagi membahayakan stabilitas
kawasan Asia Tenggara.
Penulis juga menggunakan buku karangan Dewi Fortuna Anwar,
yang berjudul Implementasi Kebanyakan Luar Negeri dan Pertahanan Australia
Terhadap
Indonesia,
Studi
Kasus
Timor-Timur
(1966-2000)
yang
diterbitkan oleh Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI Jakarta, Tahun 2001. Dalam
buku ini dibahas tentang Bentuk-bentuk Hubungan Australia dengan Indonesia
antara lain dalam Bidang Ekonomi dimana pada tahun 1977-1978 ekspor Australia
ke Indonesia berjumlah 196.000 juta dolar Australia, sedangkan impor
Australia hanya 84.000 juta dolar Australia, Dalam Bidang
sosial.
Indonesia merupakan negara penerima bantuan nomor dua terbesar dari
Australia, Sedangkan pada Bidang pendidikan, Australia memperkenalkan
pelajaran bahasa Indonesia yang diperkenalkan pada sekolah menengah atas.
11
Selain itu Australia memiliki studi, studi yang mantap dan bergava, tentang
Asia Tenggara di berbagai perguruan tinggi seperti Monash University di
Melbourne.
Buku yang berjudul “Indonesia dan Australia: Tantangan dan Kesempatan
dalam Hubungan Politik Bilateral, yang ditulis oleh Chusnul Mariyah diterbitkan
oleh Granit, Jakarta pada tahun 2005. Buku ini dapat menjadi acuan dalam
memahami hubungan Politik Luar Negeri diantara keduanya.
Australia pada masa pemerintahan Malcolm Fraser telah mengakui dan
membela kedaulatan Indonesia atas Timor-Timur dengan resiko biaya domestik dan
cemohan internasional atas keputusannya. Pemerintah Australia telah mencoba
meski tidak berhasil, untuk menyembunyikan hubungannya dengan Jakarta dari
kontrovensi domestik dan internasional seputar masalah Timor-Timur. Bersatunya
Timor-Timur dengan Indonesia merupakan prioritas pilihan strategis pemerintahan
Canberra sejak awal 1960an.
Malcolm Fraser menjadi Perdana Menteri Australia menggantikan Gough
Whitlam yang dipecat oleh Gubernur Jenderal Sir John Kerr pada bulan November
tahun 1975. Pola politik luar negeri Malcolm Fraser banyak dipengaruhi oleh
perubahan-perubahan yang terjadi pada tata perimbangan kekuatan di Asia
Tenggara. Hubungan Australia dengan Indonesia sebelum kemerdekaan TimorTimur juga ditandai dinamika pasang surut.
Kebanyakan pasang surut terjadi
dalam secara politik. Sebelum Perang Dunia II hubungan antara Australia dan
12
Hindia Belanda (nama jajahan untuk Indonesia) bercirikan saling pengabaian dan
ketidaktahuan. Waktu Jepang menyerbu Hindia Belanda dalam PDII Australia
megakui pentingnya Indonesia untuk keamanan Australia.8
Buku yang berjudul “Ikhtisar Hubungan-Hubungan Australia Indonesia”,
yang disusun oleh kantor Penerangan, Kedutaan Besar Australia, Jakarta. Buku ini
dapat dijadikan salah satu literature, tulisan ini memberi gambaran umum tentang
hubungan-hubungan Australia dengan Indonesia baik dalam bidang diplomatik
maupun dalam bidang Pertahanan.
Setiap hubungan antar negara banyak komponen-komponen sebuah
kerjasama diantaranya kerjasama dalam bidang politik, militer, diplomatik,
ekonomik dan sosial-budaya. Sebagian ini difokuskan tiga komponen; politik yang
termasuk diplomatik dan militer, ekonomi dan sosial-budaya. Pada umumnya,
kebijakan luar negeri Australia dan kebijakan luar negeri Indonesia memang tidak
cocok karena kedua negara ini mempunyai kepentingan yang berbeda.
Hubungan Australia dengan Indonesia tidak akan terjalin apabila tidak ada
sebab-sebabnya, adapun masalah-masalah yang dapat mempengaruhi hubungan
keduanya antaralain yakni, Revolusi Anyelir, Hilangnya wartawan Australia di
Balibo, Integrasi Timor-Timur kedalam Wilayah NKRI, dan Insiden Dili. Revolusi
Anyelir terjadi pada tanggal 24 April 1974, revolusi ini terjadi pada saat pemerintah
8
George Margaret, Australian and The Indonesian Revolution. Jakarta :
Pantja Simpati, 1986, hlm. 25.
13
Caetano di jatuhkan. Sedangkan Integrasi Timor-Timur terjadi pada saat
dibacakannya Deklarasi Balibo, dan di akui secara de facto oleh Perdana Menteri
Malcolm Fraser tahun 1975.
F. Historiografi yang Relevan
Penyajian suatu rekonstruksi peristiwa masa lampau memerlukan sumber
sebagai modal dasar terciptanya karya tulis. Historiografi yang relevan merupakan
hal yang pokok diantara tugas-tugas yang lain yang harus dikerjakan sebelum
penulisan sejarah. Secara harfiah historiografi berarti pelukisan sejarah, gambaran
tentang peristiwa yang terjadi pada waktu yang lampau.9
Historiografi adalah rekonstruksi sejarah melalui proses menguji dan
menganalisis secara kritis rekaman masa lampau. Menurut Louis Gottschalk,
historiografi adalah rekonstruksi imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang
diperoleh dengan menempuh proses menguji dan menganalisis secara kritis semua
rekaman dan peninggalan masa lampau.10
Dalam penulisan Skripsi ini, penulis menggunakan skripsi yang ditulis oleh
Warjo dengan judul Analisis Hubungan Australia Indonesia (1945-1992)
dari Jurusan Pendidikan Sejarah FISE Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam
skripsi ini diperoleh informasi bahwa pasang surut hubungan yang terjalin
9
Helius Sjamsuddin, Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Depdikbud, 1996,
hlm.16.
10
Louis Gottschalk, ”Understanding History : A Primer of Historical Method”,
a.b, Nugroho Notosusanto, Mengerti Sejarah, Jakarta: Universitas Indonesia Press,
1975, hlm.35.
14
antara Australia dengan Indonesia dari tahun 1945-1992 serta upaya-upaya yang
ditempuh untuk memperbaiki hubungan diantara keduanya. Australia dan Indonesia
sudah lama menjalin hubungan sebelum Inggris meletakkan kakinya di Australia.
Penulis juga menggunakan skripsi yang ditulis oleh Irvan Dwi
Rohmawan yang berjudul
Kebijakan Politik Australia : Analisis Terhadap
Peranan Australia dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia
(1945-1949). Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, 2010. Dalam
skripsi dapat diperoleh informasi bahwa kebijakan politik luar negeri Australia
dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yakni mengakui
integritas territorial Hindia Belanda, dan semua pembicaraan antara Hindia Belanda
dilakukan atas dasar keuntungan timbal balik. Pembicaraan pada pertemuanpertemuan tersebut mengungkapkan tujuan Australia untuk menghasilkan suatu
persetujuan resmi (sesuai dengan garis kebijakan pakta ANZAC) yang menutupi
kembalinya pemerintahan Hindia Belanda di Australia.
Tulisan-tulisan yang ada sebelumnya ini sangat berguna sebagai pendukung
skripsi ataupun menjadi sumber yang saling melengkapi, namun tulisan-tulisan
tersebut masing-masing memiliki perbedaan dengan skripsi yang berjudul
Hubungan Australia-Indonesia pada masa Malcolm Fraser karena skripsi-skripsi
yang sebelumnya hanya menuliskan pokok-pokok materi tertentu, tidak membahas
satu paket secara utuh tentang skripsi yang berjudul Hubungan Australia-Indonesia
pada masa Malcolm Fraser Tahun 1975-1983.
15
G. Metode Penelitian dan Pendekatan Penelitian
1. Metode Penelitian
Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari ruang dan waktu. Peristiwa dimasa
lalu merupakan hal terpenting, karena dapat digunakan sebagai bahan pelajaran
yang berharga untuk kita dimasa yang akan datang. Sejarah tidak hanya
mempelajari peristiwa dimasa lalu, tetapi mempelajari sekarang dan masa yang
akan datang. Oleh karena itu, sebuah peristiwa bersejarah sangat penting bagi
manusia untuk diungkap kembali dan dituangkan dalam bentuk karya sejarah.
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan empat tahap untuk
merekonstruksi suatu peristiwa sejarah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh
Nugroho Notosusanto, metode sejarah mempunyai empat langkah kegiatan, yaitu
Heuristik, Kritik Sumber (verifikasi), Interpretasi dan Historiografi11.
a.
Heuristik
Heuristik berasal dari kata Heuriskein yang berarti memperoleh atau
menemukan. Pada tahap ini penulis harus melakukan pengumpulan sumbersumber sejarah yang berkaitan dengan judul. Heuristik diperoleh dari sumber
primer dan sekunder.12
11
Nugroho Notosusanto, Norma-norma Dasar Penelitian Penulisan Sejarah.
Jakarta : Dephankam, 1971, hlm.35.
12
I Gde Widja. Sejarah Lokal Suatu Perspektif dalam Pengajaran Sejarah.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta, 1989, hlm.18.
16
penulis berusaha mencari sumber-sumber yang relevan sebagai bahan kajian
untuk menyusun skripsi ini. Heuristik (pengumpulan data) merupakan kegiatan
untuk menemukan sumber-sumber yang digunakan dalam penulisan skripsi ini,
seperti; buku, jurnal, majalah, koran dan foto-foto. Untuk menjadikan historiografi,
perlu dicari sumber-sumbernya (bukti-bukti), baik sumber primer, sekunder,
tersier maupun historis.
Sumber Sejarah menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer dan sekunder yang
digunakan dalam penulisan ini berupa buku-buku, dokumen dimana buku
tersebut ditulis oleh orang yang menyaksikan peristiwa tersebut kemudian
dituangkan dalam bentuk tulisan. Sumber Primer, menurut Louis Gottschalk,
sumber primer adalah kesaksian dari seseorang saksi mata dengan mata
kepalanya sendiri. Selain itu juga kesaksian menggunakan panca indera yang lain
atau juga saksi dengan alai mekanis yang selanjutnya disebut saksi pandang
mata. Arti lain sumber primer adalah sumber yang disampaikan oleh saksi
mata. Disini penulis
keterbatasan sumber.
tidak menggunakan
sumber primer karena
17
Sumber sekunder, sumber sekunder adalah kesaksian dari siapapun yang
bukan merupakan saksi pandang mata, yakni dari seorang yang tidak hadir dalam
peristiwa yang dikisahkan.13 Menurut Winarno Surahmad sendiri mengatakan
bahwa sumber sekunder adalah sumber yang mengutip sumber lain. Jadi
dikatakan bahwa sumber sekunder adalah sumber yang berasal dari orang kedua.
Sumber sekunder yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
sebagai berikut.
Azwar Dzalil. (1997). Proyek Kerjasama Keamanan Indonesia
Australia dalam rangka Memantapkan Stabilitas Regional.
Jakarta: Lemhanas
Chusnul Mariyah. (2005). Indonesia-Australia : Tantangan dan
Kesempatan dalam hubungan Politik Bilateral. Jakarta: Granit.
Dafri.
(1997). Hubungan Indonesia-Australia, Kendala dan
Propeknya. Laporan Penelitian Tidak Di Terbitkan.UGM.
Leo Suryadinata. (1998). Politik Luar Negeri Indonesia di bawah
Soeharto: Hubungan Indonesia dengan Australia dan
Papua New Guinea. Jakarta: LP3S.
Gregor Neonbasu P. (1997). Peta Politik dan Dinamika Pembangunan
Timor-Timur. Jakarta : Yanense Mitra Sejat.
13
Ibid.
18
b. Kritik Sumber
Kritik sumber dilalakukan sebagai upaya untuk menentukan apakah
sumber atau data yang didapat valid dan dapat dipertanggung jawabkan
kebenarannya baik secara substansial maupun secara fisik. 14 Kritik sumber
terdiri dari kritik ekstern (otentisitas) dan kritik intern (kredibilitas).15 Kritik
ekstern dilakukan untuk mengetahui dokumen itu otentik apa tidak jika
dilihat dari segi bentuk, bahan, tulisan dan sebagainya. Sedangkan kritik
intern dilakukan untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan persoalan
apakah isi sumber dapat dipercaya atau tidak.
Dalam kegiatan kritik surnber, penulis berusaha mencari sumber-sumber
yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Pada tahap ini penulis juga
melakukan kritik terhadap sumber-sumber yang telah didapat. Tujuan kritik
sumber adalah untuk memberikan penelitian terhadap
validitas dan
reliabilitas sumber yang dilakukan dengan cara membandingkan sumbersumber yang terkumpul. Kritik sumber sendiri berarti usaha untuk menilai,
menguji, serta menyeleksi sumber-sumber yang telah dikumpulkan untuk
mendapatkan sumber yang autentik (asli). Kritik sumber terdid atas kritik
intern dan kritik ekstern.
14
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2001,
hlm.99.
15
Helius Sjamsuddin, op. cit., hlm. 132
19
1). Kritik intern
Kritik Intern adalah kritik sumber yang digunakan untuk meneliti
kebenaran isi dokumen atau tulisan tersebut. Sedangkan kritik ekstern adalah kritik
sumber yang digunakan untuk mengetahui keaslian sumber yang digunakan untuk
mengetahui keaslian sumber yang digunakan dalam penulisan.
Contoh kritik sumber khususnya kritik Intern yang digunakan dalam skripsi
yang berjudul “Hubungan Australia-Indonesia Pada Masa Malcolm Fraser Tahun
1975-1983” adalah buku yang disusun oleh kantor penerangan, kedutaan besar
Australia yang berjudul “Ikhtisar Hubungan-Hubungan Australia-Indonesia”,
sebagai pembanding, penulis juga melakukan kritik intern terhadap surat kabar
tempo, 9 Oktober 1976 yang berjudul “Apa yang Bisa (dan Tidak Bisa) Dilakukan
Malcolm Fraser”. Dari buku yang disusun oleh kantor penerangan kedutaan besar
Australia dengan surat kabar tempo terdapat kesamaan informasi hubungan
Australia-Indonesia pada saat Malcolm Fraser menjabat sebagai Perdana Menteri.
2). Kritik Ektern
Kritik eksern merupakan kritik yang dilakukan untuk menguji keaslian
sumber. Kritik ekstern dilakukan dengan melihat aspek-aspek ekstrinsik dari
sumber. Kritik ekstern sangat penting dilakukan untuk memastikan bahwa peneliti
sejarah menggunakan sumber asli dan bukan rekayasa.
20
Kritik ekstern dapat dilakukan dengan melihat apakah sumber tersebut
sesuai dengan kebutuhan, merupakan sumber asli atau salinan, dan apakah terjadi
penambahan atau perubahan pada sumber-sumber tersebut.
c. Analisis Sumber (Interpretasi)
Interpretasi adalah menafsirkan fakta-fakta yang telah diuji kebenarannya,
kemudian menganalisa sumber yang pada akhirya akan menghasilkan suatu
rangkaian peristiwa. Menurut I Gde Widja, dalam melakukan interpretasi bahwa
rangkaian fakta-fakta itu harus menunjukkan sebagai suatu rangkaian ”bermakna”.
Dalam tahap ini penulis dituntut untuk mencermati dan mengungkapkan data-data
yang diperoleh. Dalam interpretasi perlu dilakukan analisis sumber untuk
mengurangi unsur subyektivitas dalam kajian sejarah, karena unsur subyektivitas
dalam suatu penulisan sejarah selalu ada yang dipengaruhi oleh jiwa, zaman,
kebudayaan, pendidikan, lingkungan sosial, dan agama yang melingkupi
penulisannya.16
Analisis sumber perlu dilakukan dengan menjelaskan data-data yang ada atau
menguraikan informasi dan mengkaitkannya antara satu sumber dengan sumber
lainnya.17 Contoh analisis sumber-sumber dari penulisan skripsi ini adalah setelah
memenangkan pemilu Bulan Oktober tahun 1977, Fraser pun mencanangkan
16
17
Kuntowijoyo, op.cit., hlm.100-110
Ibid., hlm. 22
21
kembali pemilu yang jatuh di bulan Desember tahun 1977. Diadakannya pemilu
tersebut membuat pihak oposisi yang dipimpin mantan Perdana Menteri Gough
Whitlam ini menentang Fraser mengadakan kampanye besar-besaran.
d. Historiografi (Penulisan Sejarah)
Historiografi merupakan sebuah kegiatan menyusun fakta-fakta menjadi
sejarah, setelah
melakukan
pencarian
sumber,
penilaian
sumber,
penafsiran kemudian dituangkan menjadi suatu kisah sejarah dalam bentuk
tulisan. Aspek kronologis sangat penting dalam penulisan sejarah karena dapat
mengetahui perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam suatu peristiwa
sejarah.
Menulis sejarah merupakan suatu kegiatan intelektual dan hal tersebut
merupakan cara yang utama untuk memahami sejarah. Ketika sejarawan
memasuki tahap menulis, maka sejarawan akan mengerahkan seluruh daya
pikirannya, bukan saja keterampilan teknis penggunaan kutipan-kutipan dan
catatan-catatan, tetapi hal yang terutama adalah penggunaan pikiran-pikiran kritis
dan analisinya karena sejarawan pada akhirnya harus menghasilkan suatu sintesis
dari seluruh hasil penelitiannya dalam suatu penulisan utuh.18
18
Helius Sjamsuddin, op.cit., hlm.153.
22
2. Pendekatan Penelitian
Segi peninjauan pendekatan dalam skripsi ini difokuskan pada pendekatan
sosiologis, politik dan ekonomi. Menurut Sartono Kartodirdjo pendekatan
sosiologis adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk meneropong segi-segi
sosial berkaitan dengan peristiwa yang dikaji, misalnya golongan sosial yang
berperan, nilai-nilai yang berlaku, hubungan dengan golongan lain, konflik
berdasarkan kepentingan, ideologi, dan lainnya.19
Penelitian ini menggunakan tiga pendekatan yakni ekonomi, politik, dan
sosiologis. Pendekatan ekonomi merupakan pendekatan yang dilakukan untuk
melihat bagaimana manusia dan masyarakat melakukan berbagai aktivitas untuk
memenuhi kebutuhannya. Aktivitas ini meliputi aktivitas pemanfaatan sumber daya
dan pemberian nilai tambah pada barang kemudian mendistribusikannya sehingga
dapat dikonsumsi. Pendekatan ekonomi dalam penulisan sejarah diperlukan untuk
memahami proses-proses kegiatan ekonomi dan adanya motif ekonomi di balik
suatu tindakan dan peristiwa. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekonomi
untuk memahami aktivitas dan motif ekonomi yang mempengaruhi kebijakan
politik Australia terhadap Indonesia dibawah kepemimpinan Malcolm Fraser, dan
perkembangan-perkembangan ekonomi Australia pada saat pemerintahan Malcolm
Fraser.
19
Sartono Kartodirdjo, Pemikiran Dan Perkembangan Historiografi
Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1982, hlm.71.
23
Menurut Sartono Kartodirdjo bahwa pendekatan politik dimaksudkan untuk
menyoroti struktur kekuasaan, jenis kepemimpinan, hirarkhi sosial, pertentangan
kekuasaan dan sebagainya.20 Pendekatan politik dalam skripsi ini ditujukan untuk
memahami latar belakang politik yang mempengaruhi kebijakan pemerintahan
Australia dalam menyelesaikan masalah-masalah Timor-Timur.
Pendekatan sosiologis dalam skripsi ini dimaksudkan untuk menggambarkan
peristiwa masa lalu yang didalamnya mengandung segi-segi sosial dari peristiwa
yang dikaji. Pembahasannya mencakup golongan sosial yang berperan, jenis
hubungan sosial, konflik berdasarkan kepentingan. Pendekatan ini berperan untuk
menjelaskan kondisi sosial di masyarakat Australia saat dibawah kepemimpinan
Perdana Menteri Malcolm Fraser.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan menyeluruh mengenai
skripsi ini, maka penulis akan memberikan gambaran secara ringkas. Skripsi
yang berjudul
“Dinamika Hubungan Australia-Indonesia Pada Masa
Malcolm Fraser Tahun 1975-1983 ini memiliki Sistematika pembahasan
sebagai berikut :
20
Ibid., hlm. 63.
24
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, histroriografi yang relevan,
metode dan pendekatan penelitian serta Sistematika pembahasan.
BAB II SEJARAH SINGKAT TENTANG MALCOLM FRASER
Pada
bab
ini
dibahas
mengenai
Malcolm
Fraser,
seperti
kehidupan keluarganya, latar belakang pendidikan, kemudian seputar pemilu
yang menjadikannya sebagai Perdana Menteri, serta kehidupan politiknya yakni
dalam partai Liberal, hingga Malcolm Fraser keluar dari partai Liberal.
BAB III HUBUNGAN AUSTRALIA-INDONESIA SEBELUM
PEMERINTAHAN MALCOLM FRASER
Dalam bab ini akan dibahas, tentang bagaimana hubungan AustraliaIndonesia sebelum Malcolm Fraser. Peranan Perdana Menteri Australia
sebelum Malcolm Fraser yakni pada saat Gough Whitlam, dalam menjalin
hubungan diplomatik dengan Indonesia yang dinilai sangat akomodatif dan
kooperatif.
BAB IV KEBIJAKAN AUSTRALIA TERHADAP INDONESIA PADA MASA
MALCOLM FRASER
Dalam bab ini membahas tentang kebijakan-kebijakan dari Australia
terhadap pemerintahan di Indonesia, baik dalam bidang ekonomi, bidang social, dan
bidang pendidikan.
25
BAB V MASALAH YANG MEMPENGARUHI HUBUNGAN
AUSTRALIA-INDONESIA PADA MASA MALCOL FRASER
Pada bab ini akan dibahas mengenai, hubungan Australia dengan Indonesia
pada saat Malcolm Fraser memerintah sebagai perdana menteri Australia,
dimana Australia terlibat langsung dalam permasalahan-permasalahan di TimorTimur dan akan dibahas juga seperti apa penyelesaiannya.
BAB VI KESIMPULAN
Pada bab terakhir ini berisi tentang kesimpulan yang merupakan jawaban
dari rumusan masalah serta isi dari semua pokok pembahasan penulisan skripsi
yang berjudul "Hubungan Australia- Indonesia Pada Masa Malcolm Fraser Tahun
1975-1983".
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Download