Regenerasi Pepaya melalui Kultur In Vitro (PDF Available)

advertisement
Jurnal AgroBiogen 3(2):49-54
Regenerasi Pepaya melalui Kultur In Vitro
Diani Damayanti1, Sudarsono2, Ika Mariska1 dan M. Herman1
1
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Jl. Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111
2
Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga, Bogor
ABSTRACT
Papaya Regeneration by In Vitro Culture. Diani
Damayanti, Sudarsono, Ika Mariska, and M. Herman.
A study was conducted in the Indonesian Center for
Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research
and Development to optimize papaya regeneration systems
through in vitro culture. Four steps were done, i.e., callus
induction, callus regeneration, root formation, and acclimatization. Explant materials used were immature embryos of
papaya cv. Burung. Immature papaya embryos were cultured on different media. The best medium for embryogenic
callus development was ½ MS + 10 mg/l 2.4-D + 60% sucrose + 143 mg/l adenine sulphate + 50 mg/l myo inositol +
400 mg/l glutamine, while that for callus embryo regeneration was MS + 0.5 mg/l GA3 + 0.1 mg/l kinetin + Morel and
Wetmore Vitamin. Using this medium, the average of shoot
formation was three shoots per explant of embriogenic
callus, and the percentage of regenerated callus was 80%.
The color of shoot derived from this treatment was green.
Eighty percent of plants formed a complete root development using ½ MS + 0.5 mg/l paclobutrazol media. Media hull
of rice and compost was the best medium for papaya plant
acclimatization. The percentage of survival on that acclimatization step was 65%.
Key words: Papaya, callus induction, callus regeneration, in
vitro culture.
PENDAHULUAN
Pepaya (Carica papaya L.) merupakan buah yang
banyak dikonsumsi dan termasuk buah klimaterik di
mana buah cepat masak setelah dipanen. Perbaikan
sifat tanaman dapat dilakukan melalui modifikasi genetik, baik dengan persilangan konvensional maupun
dengan bioteknologi melalui rekayasa genetika. Kehadiran teknologi transformasi genetik memberikan wahana baru bagi pemulia tanaman untuk memperoleh
tanaman transgenik yang memiliki sifat baru sesuai
dengan sifat yang diinginkan seperti peningkatan mutu
kualitas buah.
kultur in vitro dan sistem transformasi yang kompeten, yaitu kemampuan materi genetik untuk mentrasfer gen ke dalam genom tanaman secara efisien dan
stabil.
Regenerasi tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui induksi tunas (organogenesis) atau induksi embrio somatik (embriogenesis somatik). Teknik
kultur jaringan yang dapat menginduksi embrio somatik lebih diinginkan karena dapat berasal dari satu sel
pada jaringan somatik yang perkembangannya serupa
dengan embrio normal. Regenerasi melalui jalur embriogenesis somatik mudah diregenerasikan menjadi
embrio bipolar, yaitu mempunyai dua kutub yang langsung sebagai bakal tunas dan akar.
Faktor yang mempengaruhi regenerasi tanaman
secara in vitro telah dilaporkan antara lain: spesies tanaman, tekanan osmotik pada medium (konsentrasi
sukrosa), intensitas cahaya, dan konsentrasi zat pengatur tumbuh pada medium (Lai et al. 2000, Prahardini
dan Sudaryono 1992, Sunyoto et al. 2002). Menurut
Ritchie dan Hodges (1993) komposisi media merupakan kondisi yang penting dalam kultur tanaman secara in vitro. Komponen media meliputi unsur hara makro, mikro, sumber karbon, vitamin, dan zat pengatur
tumbuh. Setiap genotipe tanaman memiliki respon
pertumbuhan yang berbeda meskipun ditumbuhkan
pada media kultur yang sama, demikian juga dengan
sumber eksplan tanaman sehingga diperlukan optimasi kondisi yang sesuai untuk masing-masing genotipe
dan sumber eksplan.
Di dalam perakitan tanaman transgenik, kompetensi untuk beregenerasi, yaitu kemampuan kalus
membentuk tanaman lengkap dan kompetensi untuk
ditransformasi merupakan dua kunci penting. Transformasi genetik akan berhasil dan bermanfaat apabila
sudah diperoleh sistem regenerasi tanaman secara
Teknik regenerasi pepaya secara in vitro dapat
dilakukan dengan berbagai sumber eksplan, di antaranya embrio zigotik muda (Fitch et al. 1990), kalus hipokotil (Fitch et al. 1992, 1993) dan kalus petiol (Yang et
al. 1996). Dalam penelitian tersebut efisiensi induksi
embrio somatik berbeda-beda antara beberapa penelitian. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan variasi
umur eksplan dan genotipe yang digunakan. Namun
pada umumnya, media yang digunakan adalah media
dasar MS (Murashige dan Skoog 1962), dengan penambahan zat pengatur tumbuh 2,4-D (2,4-dichlorophenoxyacetic acid) untuk induksi pembentukan kalus, sedangkan untuk regenerasinya diperkaya dengan
BAP dan GA3.
Hak Cipta © 2007, BB-Biogen
Regenerasi secara in vitro menggunakan jaringan
muda (embrionik) sangat mudah untuk menghasilkan
50
JURNAL AGROBIOGEN
kalus. Fitch et al. (1993) melaporkan bahwa faktorfaktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan regenerasi kalus antara lain adalah spesies tanaman, asal
eksplan, macam dan konsentrasi zat pengatur tumbuh. Kenaikan konsentrasi sukrosa pada media induksi yang diperkaya 2,4-D 4,5 μM dapat meningkatkan
persentase pembentukan kalus embriogenik pepaya
Kapoho. Komposisi tersebut mempunyai pengaruh
yang berbeda terhadap spesies pepaya lain serta macam eksplan yang diregenerasikan (Ollitrault et al.
1996).
Di Indonesia, Mariska (2002) telah melaporkan
tentang kultur jaringan pepaya menggunakan varietas
pepaya hasil persilangan pepaya Hawai dengan pepaya Bangkok, sebagai eksplan dengan 86 formulasi medium, namun menghadapi masalah, yaitu tunas tidak
dapat tumbuh memanjang, roset, daun cepat menguning, dan akhirnya gugur. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media dasar yang kaya
mineral, penambahan sitokinin konsentrasi rendah,
beberapa asam amino, serta anti auksin menyebabkan
tunas dapat memanjang dan daun tidak menguning.
Hutami et al. (2001) melaporkan formulasi media
terbaik untuk induksi kalus embriogenik pepaya pada
sistem regenerasi beberapa varietas pepaya adalah MS
+ sukrosa 30% + vitamin B5 + 2,4-D 20 mg/l, sedangkan untuk produksi embrio somatik dewasa dan bibit
somatik adalah MS + sukrosa 2% + BA 0,4 mg/l +
thiamin 0,1 mg/l.
Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh sistim regenerasi tanaman pepaya secara kultur in vitro
yang optimal dengan mendapatkan media terbaik untuk (1) induksi kalus embriogenik, (2) regenerasi kalus
membentuk struktur embrio somatik, (3) sistem perakaran tunas in vitro, dan (4) aklimatisasi tanaman di
rumah kaca.
BAHAN DAN METODE
Persiapan Eksplan
Bahan penelitian yang digunakan sebagai eksplan untuk induksi kalus embriogenik adalah embrio
muda dari biji pepaya muda varietas Burung. Biji diambil dari buah pepaya muda, kemudian biji direndam dalam larutan fungisida (benlate 0,5 mg/l), digojok selama 1 jam. Setelah itu, di dalam laminar air
flow, biji direndam dalam larutan clorox 30% dan 20%
masing-masing selama 10 menit dan dilanjutkan dengan alkohol 70% selama 10 menit, kemudian biji dibilas 4-5 kali dengan akuades steril masing-masing 10
menit dan ditiriskan di kertas saring.
VOL. 3 NO. 2
Induksi Kalus Embriogenik
Embrio zigotik diisolasi dengan membelah biji pepaya dalam laminar air flow dan ditanam pada media
induksi kalus. Embrio zigotik muda dikulturkan pada
empat perlakuan media, yaitu media dasar MS dengan
dua taraf formula (½ dan 1 formula) dan dua taraf 2,4D (5 dan 10 mg/l). Masing-masing perlakuan media
dikombinasikan dengan penambahan sukrosa 6% +
adenin sulfat 143 mg/l + myo inositol 50 mg/l + glutamin 400 mg/l. Pada setiap botol media ditanam 10
embrio zigotik muda dan diulang 10 kali setiap perlakuan. Kultur disimpan di tempat gelap. Kalus yang terbentuk disubkultur setiap 2 minggu sekali sebanyak
dua kali. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan populasi kalus yang lebih banyak. Untuk pengujian kemampuan regenerasi kalus embriogenik, pengamatan dilakukan terhadap persentase embrio zigotik yang membentuk kalus dan persentase pembentukan kalus embriogenik. Persentase eksplan berkalus adalah jumlah
embrio zigotik yang berkalus dibagi dengan jumlah
total eksplan yang ditanam dikalikan 100%. Persentase
pembentukan kalus embriogenik adalah jumlah embrio zigotik yang membentuk kalus embriogenik dibagi
dengan jumlah embrio zigotik yang berkalus dikalikan
100%.
Regenerasi Kalus Membentuk
Struktur Embrio Somatik
Regenerasi kalus membentuk struktur embrio somatik menggunakan tiga perlakuan media regenerasi,
yaitu menggunakan media dasar MS yang dikombinasikan dengan tiga jenis vitamin (tanpa vitamin, vitamin
MS dan vitamin Morel dan Wetmore). Masing-masing
media diperkaya dengan penambahan GA3 0,5 mg/l +
kinetin 0,1 mg/l. Kultur diinkubasi pada temperatur
24oC di bawah intensitas cahaya 800 lux per 16 jam/
hari sampai menghasilkan tunas. Pada setiap botol ditanam lima kalus dan diulang 20 kali setiap perlakuan.
Subkultur dilakukan setiap 2 minggu. Pengamatan dilakukan terhadap persentase kalus embriogenik yang
membentuk embrio somatik dan planlet.
Perakaran Tunas In Vitro
Tunas in vitro dikulturkan menggunakan empat
perlakukan media perakaran, yaitu menggunakan media dasar MS dengan 2 taraf formula (½ dan 1 formula)
dan diperkaya dengan 2 kombinasi penambahan yaitu
paclobutrazol 0,5 mg/l dan IAA 0,1 mg/l + AgNO3 5
mg/l + arginin 100 mg/l. Pada setiap botol ditanam
satu planlet dan diulang sebanyak 50 kali setiap perlakuan. Kultur diinkubasi pada temperatur 24oC di bawah intensitas cahaya 800 lux per 16 jam/hari sampai
planlet menghasilkan akar yang cukup kuat untuk di-
2007
DAMAYANTI ET AL.: Regenerasi Pepaya melalui Kultur In Vitro
aklimatisasi. Pengamatan dilakukan terhadap persentase pembentukan akar.
51
inositol 50 mg/l + glutamine 400 mg/l menghasilkan
persentase pembentukan kalus tertinggi, yaitu 100%
kalus dan persentase kalus embriogenik tertinggi, yaitu
80% (Tabel 1). Penggunaan media dasar MS yang diturunkan formulanya dari 1 menjadi ½ dan dikombinasikan dengan penambahan 2,4-D 10 mg/l mampu meningkatkan 2 kali lipat terhadap pembentukan kalus
embriogenik. Penampilan kalus secara visual menunjukkan bahwa kalus yang terbentuk dari media ini bersifat embriogenik, globular, dan berwarna kuning kehijauan (Gambar 1b).
Aklimatisasi Tanaman di Rumah Kaca
Media yang digunakan untuk aklimatisasi dicampur dengan perbandingan 1 : 1 pada empat perlakuan
media, yaitu (1) arang sekam dan kompos, (2) tanah,
arang sekam, dan kompos, (3) tanah dan pasir, (4) tanah, pasir, dan kompos. Setiap planlet ditanam dalam
polybag dan diulang 20 kali setiap perlakuan. Planlet
dikeluarkan dari botol kultur, kemudian dicuci bersih
dan ditanam di media dalam polybag plastik. Polybag
ditutup dengan sungkup plastik dan dipelihara selama
1 minggu. Setelah tanaman cukup kuat sungkup dibuka secara bertahap dan tanaman dipindahkan ke pot
berukuran besar diisi campuran tanah dan pupuk kandang serta tanaman diletakkan di rumah kaca Fasilitas
Uji Terbatas (FUT).
Penambahan 2,4-D sebanyak 10 mg/l mampu
meningkatkan dua kali lipat pembentukan kalus
embriogenik dibandingkan dengan penambahan 2,4-D
sebanyak 5 mg/l. Bhojwani dan Razdan (1989) melaporkan bahwa auksin 2,4-D merupakan auksin yang
efektif untuk induksi kalus embriogenik. Hal serupa dilaporkan oleh Fitch et al. (1993) bahwa media induksi
kalus yang diperkaya dengan 2,4-D dapat meningkatkan persentase kalus embriogenik pepaya Kapoho.
Hutami et al. (2001) melaporkan bahwa dari penelitian
regenerasi pepaya Bangkok dan pepaya Burung diperoleh induksi kalus embriogenik tertinggi (72,16%) dan
media terbaik adalah MS + sukrosa 3% + vitamin B5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Induksi Kalus Embriogenik
Hasil menunjukkan bahwa media ½ MS + 2,4-D
10 mg/l + sukrosa 6% + adenin sulfat 143 mg/l + myo
Tabel 1. Persentase embrio zigotik pepaya yang membentuk kalus dan kalus embriogenik.
Perlakuan
Persentase eksplan
berkalus (%)
Persentase pembentukan
kalus embriogenik (%)
85
100
63
42
58,8
80
63,4
23
½ MS + 2,4-D 5 mg/l
½ MS + 2,4-D 10 mg/l
MS + 2,4-D 5 mg/l
MS + 2,4-D 10 mg/l
a
e
b
f
c
g
h
d
i
a = biji pepaya muda (sumber eksplan embrio muda), b = kalus embriogenik, c = kalus non embriogenik, d = kalus
yang membentuk tunas, e = perakaran tunas in vitro, f = tunas in vitro yang berakar sempurna, g = aklimatisasi
tanaman dengan sungkup plastik, h = tanaman di media aklimatisasi, i = tanaman hasil aklimatisasi di rumah kaca.
Gambar 1. Tahapan regenerasi tanaman pepaya.
52
JURNAL AGROBIOGEN
+ 2,4-D 20 mg/l. Sunyoto et al. (2002) melaporkan bahwa media terbaik untuk pembentukan kalus embriogenik pepaya Dampit dan Sari Rona adalah media MS
yang ditambah zat pengatur tumbuh 2,4-D 0,5 ppm +
BAP 1 ppm + adenosin sulfat 160 mg/l dan mampu
merangsang pertumbuhan kalus embriogenik lebih cepat. Menurut Yusnita (2004), penambahan auksin yang
mempunyai daya aktivitas kuat seperti 2,4-D sangat dibutuhkan untuk merangsang pembelahan sel dan
pembentukan kalus. Konsentrasi dan auksin yang dipilih ditentukan antara lain oleh tipe pertumbuhan dan
perkembangan eksplan yang diinginkan. Penggunaan
auksin dengan daya aktivitas kuat seperti 2,4-D dengan
konsentrasi 10 mg/l pada penelitian ini merupakan
formula terbaik, efektif, dan sangat dibutuhkan untuk
pembentukan induksi kalus embriogenik pepaya.
VOL. 3 NO. 2
vitamin Morel dan Wetmore. Vitamin Morel dan
Wetmore merupakan vitamin yang komposisinya paling lengkap dibandingkan dengan vitamin MS, yaitu
mengandung kalsium pantotenat dan biotin yang dapat memacu pertumbuhan jaringan dan merupakan
komponen media yang berpengaruh baik terhadap
pertumbuhan kultur.
Pengaruh vitamin Morel dan Wetmore dilaporkan
oleh Hutami et al. (1999) pada perbanyakan in vitro tanaman nilam khimera melalui proliferasi tunas aksiler.
Media dasar yang digunakan adalah media MS yang ditambah dengan vitamin Morel dan Wetmore. Media ini
merupakan media optimum yang dapat memacu proliferasi tunas tanaman nilam.
Penelitian ini menggunakan media dasar MS penuh yang ditambah IAA 0,1 mg/l dan AgNO3 5 mg/l, pada media perakaran menghasilkan planlet berakar
66%. Penggunaan media dasar MS penuh dan penambahan IAA dan AgNO3 dapat meningkatkan pertumbuhan meristem jaringan akar. Sedangkan pada penggunaan media ½ MS yang ditambah IAA 0,1 mg/l dan
AgNO3 5 mg/l tidak menghasilkan tunas yang berakar.
Regenerasi Kalus Membentuk
Struktur Embrio Somatik
Tanda bahwa kalus yang diregenerasikan dapat
membentuk tunas antara lain terjadinya perubahan
warna dari kecoklatan atau kuning menjadi putih kekuningan selanjutnya menjadi kehijauan. Perubahan
warna tersebut merupakan tanda adanya morfogenesis (George 1993). Perubahan warna ini mulai tampak
pada umur kalus 30 hari di media regenerasi kalus.
Gambar 1 menunjukkan regenerasi pepaya secara
kultur in vitro dimulai dengan pembentukan kalus
embriogenik sampai mendapatkan tanaman. Adanya
warna hijau pada kalus embriogenik diharapkan merupakan awal dari pembentukan struktur embrio somatik, akan tetapi pada beberapa kalus ada yang berubah warnanya menjadi coklat dan kemudian mati.
Perakaran Tunas In Vitro
Hasil penelitian perakaran tunas in vitro disajikan
pada Tabel 3. Persentase perakaran paling tinggi 80%
(40/50) dihasilkan pada media P8, yaitu menggunakan
media dasar ½ MS ditambah paclobutrazol 0,5 mg/l.
George dan Sherington (1984) menyatakan bahwa
akar dan batang menjadi kuat bila ada anti giberelin.
Ancymidol dan paclobutrazol dengan konsentrasi kecil
dapat meningkatkan perakaran dan kualitas planlet.
Paclobutrazol merupakan inhibitor yang dapat merangsang pembentukan perakaran pada berbagai tanaman (Davies et al. 1985). Kultur dengan paclobutrazol menjadikan tunas dan daun lebih hijau dibandingkan dengan kultur pada perlakuan media yang lain.
Klorofil yang dihasilkan meningkat dengan penambahan paclobutrazol telah dilaporkan oleh Pinhero dan
Fletcher (1994).
Biasanya struktur kalus menggambarkan daya
regenerasi membentuk tunas dan akar. Kalus yang
embriogenik berwarna hijau akan membentuk fase
globular (nodul-nodul), hati, torpedo, dan akhirnya
menjadi embrio somatik yang berkecambah dan
umumnya mempunyai kemampuan yang tinggi untuk
membentuk tunas.
Tabel 2 menunjukkan bahwa kalus dengan regenerasi tertinggi 63%, jumlah kalus bertunas terbanyak
(60), dan rata-rata planlet per kalus (3,3), dihasilkan
dari perlakuan media regenerasi, yaitu media yang
menggunakan media dasar MS dengan penambahan
hormon tumbuh GA3 0,5 mg/l + kinetin 0,1 mg/l +
Penggunaan media ½ MS ditambah paclobutrazol 0,5 mg/l pada penelitian ini meningkatkan pembentukan akar kurang lebih tiga kali lipat dibandingkan
dengan penggunaan media MS (Tabel 3). Pengenceran kandungan formula sampai dengan setengahnya
dari media dasar MS memberikan hasil lebih baik di-
Tabel 2. Persentase kalus beregenerasi dan jumlah planlet setiap kalus pepaya.
Jenis vitamin
Tanpa vitamin MS
Vitamin MS
Vitamin Morel dan Wetmore
Persentase kalus beregenerasi (%)
Jumlah planlet setiap kalus
2
44
63
2,80
2,95
3,30
2007
DAMAYANTI ET AL.: Regenerasi Pepaya melalui Kultur In Vitro
53
Tabel 3. Perakaran tunas pepaya in vitro pada empat macam media.
Jumlah tunas
yang diamati
Media
MS + paclobutrazol 0,5 mg/l
½ MS + paclobutrazol 0,5 mg/l
MS+ IAA 0,1 mg/l + AgNO3 5 mg/l + arginin 100 mg/l
½ MS + IAA 0,1 mg/l + AgNO3 5 mg/l + arginin 100 mg/l
50
50
50
50
Tunas yang berakar
Jumlah
Persentase (%)
15
40
33
0
30
80
66
0
Organ yang diamati
secara visual
Akar, kalus
Akar
Akar
Kalus
Tabel 4. Jumlah eksplan pepaya yang hidup pada setiap tahapan aklimatisasi pada empat macam media.
Media aklimatisasi
Arang sekam + kompos
Tanah + arang sekam + kompos
Tanah dan pasir
Tanah + pasir + kompos
Jumlah
eksplan awal
Jumlah eksplan yang
berakar sempurna
Jumlah eksplan yang
hidup dalam sungkup
20
20
20
20
20
20
20
20
15
5
4
3
bandingkan dengan media yang menggunakan media
dasar MS penuh. Unsur N yang tinggi pada media MS
(NH4+ dan NO3-) dapat menginduksi biosintesis sitokinin yang banyak berperan dalam pembentukan kalus,
seperti yang terlihat pada penggunaan media perakaran MS + 0,5 mg/l paclobutrazol. Hasil penelitian
Rajeevan dan Pandey (1985) menunjukkan bahwa
pengenceran kandungan garam-garam mineral makro, mikro dari basal media MS dapat menghasilkan
perakaran yang lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi penuh.
Aklimatisasi Tanaman di Rumah Kaca
Pada pengujian aklimatisasi tanaman di rumah
kaca diperoleh bahwa tingkat keberhasilan tumbuh
terbaik 65%, pada media, yaitu media campuran arang
sekam dan kompos (Tabel 4). Menurut Murbandono
(2005), Prihmantoro dan Indriani (2003) bahwa media
campuran antara arang sekam dan kompos dapat bermanfaat menggemburkan, meningkatkan porositas,
aerasi, dan memudahkan pertumbuhan akar tanaman.
Hal ini dapat meningkatkan keberhasilan aklimatisasi
tanaman.
Kelembaban yang tinggi umumnya diperlukan
hampir semua tanaman yang berasal dari kultur jaringan karena lapisan kutikula pada daun masih tipis, stomata belum berfungsi secara normal, serta hubungan
jaringan pembuluh batang dan akar yang belum sempurna. Keadaan ini menyebabkan pada tahap aklimatisasi, tingkat kelembaban yang tinggi sangat diperlukan bagi planlet yang baru ditanam. Pada penelitian ini
untuk menjaga agar kelembaban tinggi pada planlet
yang baru ditanam, dilakukan dengan mengkondisikan media tumbuh dan menyungkup planlet dengan
sungkup plastik (Gambar 1g).
Eksplan hidup di rumah kaca
Jumlah
Persentase (%)
13
4
3
2
65
29
15
10
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, semakin besar batang tanaman yang akan diaklimatisasi semakin besar pula kemungkinan tanaman dapat tumbuh baik dan sehat di rumah kaca. Tahapan yang paling penting yang harus diperhatikan adalah pada saat
pemindahan tanaman dari media kultur ke media tanah, akar harus dicuci bersih dari media yang menempel pada akar karena apabila masih ada media agar
yang menempel pada akar dapat menyebabkan tanaman busuk, sehingga tanaman mati.
KESIMPULAN
Media induksi kalus pepaya varietas Burung terbaik adalah ½ MS + 2,4-D 10 mg/l + sukrosa 6% +
adenin sulfat 143 mg/l + myo inositol 50 mg/l + glutamin 400 mg/l menghasilkan kalus embriogenik tertinggi, yaitu 80%. Media regenerasi kalus MS + GA3 0,5
mg/l + kinetin 0,1 mg/l + vitamin Morel dan Wetmore
mempunyai respon yang lebih baik, rata-rata 3,3 planlet per kalus. Media perakaran ½ MS + paclobutrazol
0,5 mg/l merupakan media perakaran terbaik yang
menghasilkan 80% tanaman berakar. Media aklimatisasi terbaik adalah media campuran antara arang sekam dan kompos, dapat menghasilkan 65% tanaman
hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Bhojwani, M.K. and Razdan. 1989. Plant Tissue Culture.
Theory and Practice. Elsevier, New York.
Davies, T.D., N. Sankhala, R.H. Walser, and A. Upadhyaya. 1985. Promotion of adventitious root formation on
cuttings by paclobutrazol. Hort. Sci. 20(5):883-884.
Fitch, M.M.M., R.M. Manshardt, and D. Gonsalves. 1990.
Stable transformation of papaya via microprojectile
bombardment. Plant Cell Rep. 9:189-194.
54
JURNAL AGROBIOGEN
Fitch, M.M.M., R.M. Manshardt, D. Gonsalves, J.L.
Slightom, and John C. Sanford. 1992. Virus resistant
papaya plants derived from tissues bombarded with the
coat protein gene of papaya ringspot virus.
Bio/Technology 10. p. 1466-1472.
Fitch, J.H., R.M. Manshardt, D. Gonsalves, J.L. Sligh-tom,
and John C. Sanford. 1993. High frequency somatic
embryogenesis and plant regeneration from papaya
hipokotil callus. Plant Cell Tiss. and Org. Cult. 32:205212.
George, E.F. and P.D. Sherrington. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture. Eastern Press, Reading.
England.
George, E.F. 1993. Plant propagation by tissue culture. Part
2 in Practice. Exegetic. Lim. England. p. 1361.
Hutami, S., N. Sunarlim, dan I. Mariska. 1999. Perbanyakan in vitro tanaman nilam Khimera melalui proliferasi
tunas aksiler. Jurnal Bioteknologi Pertanian 3(2):47-52.
Hutami, S., I. Mariska, R. Purnamaningsih, M. Herman, D.
Damayanti, and T.I.R. Utami. 2001. Regeneration of
papaya (Carica papaya L.) through somatic embryond
genesis. Proc. of the 2 Indonesian Biotechnology Conference. Indonesian Biotechnology Consortium. Jakarta.
Lai Chuo-Chun, Shyi-Dong Yeh, and Jiu-Sherng Yang.
2000. Enhancement of papaya axillary shoot proliferation in vitro by controlling the available ethylene.
Botanical Bull.f Acad. Sinica 41:203-212.
Mariska, I. 2002. Perkembangan penelitian kultur in vitro
pada tanaman industri, pangan, dan hortikultura. Buletin
Agrobio 5(2):45-50.
Murashige, T. dan F. Skoog. 1962. A revised medium for
rapid growth and bioassay with tobacco tissue culture.
Plant Physiol. 15:473-497.
VOL. 3 NO. 2
Murbandono, L.H.S. 2005. Membuat Kompos. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Ollitrault, P., V. Allent, and F. Luro. 1996. Production of
haploid embryogenic calli of clementine (Citrus reticulate Blanco) affer in situ parthenogenesis induction by
irradiated pollen. Proc. Int. Soc. Citriculture. p. 913-917.
Pinhero, R.G. and R.A. Fletcher. 1994. Paclobutrazol and
ancimidol protect corn seedling from high and low
temperature stress. Plant Growth Reg. 15:47-53.
Prahardini, P.E.R. dan T. Sudaryono. 1992. Pengaruh
kombinasi asam naftalen asetat dan benzyl adenine
terhadap kultur pepaya kultivar dampit secara in vitro.
Jurnal Hotikultura 2(4):6-12.
Prihmantoro, H. dan Y.H. Indriani. 2003. Hidroponik
Tanaman Sayuran Semusim untuk Hobi dan Bisnis.
Jakarta. Penebar Swadaya.
Rajeevan, M.S. and R.M. Pandey. 1985. Rooting and planlet development in vitro from papaya (Carica papaya L.)
shoot culture. Indian J. Plant Physiol. XXIX(3):187-195.
Ritchie, S.W. and T.K. Hodges. 1993. Cell culture and
regeneration of transgenic plants. In Kung, S.D. (Ed.).
Transgenic Plant I:147-173.
Sunyoto, S. Purnono, R.T. Agus, dan T. Dedi. 2002.
Regenerasi kalus embrio pepaya secara kultur in vitro.
Jurnal Hortikultura 12(2):71-90.
Yang, J.S., T.A. Yu, Y.H. Cheng, and S.D. Yeh. 1996.
Transgenic papaya plant from Agrobacterium mediated
transformation of petioles of in vitro propagated multishoot. Plant Cell Rep. 15:459-464.
Yusnita. 2004. Kultur Jaringan. Cara Memperbanyak
Tanaman secara Efisien. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Download