TB - ETD UGM

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis umumnya menyerang paru-paru (TB
paru), namun juga dapat menyerang organ yang lainnya (TB ekstra paru). Seorang
penderita TB paru dapat menularkan penyakit ini melalui udara, misalkan ketika
ia batuk. Tuberkulosis biasanya cenderung diderita oleh laki-laki daripada
perempuan pada usia dewasa dalam kelompok usia produktif (WHO, 2012).
Penyakit TB apabila tidak diobati akan meningkatkan angka kematian. Studi
menunjukkan sebanyak 70% kematian dalam kurun waktu 10 tahun pada
penderita TB paru BTA positif dan HIV negatif, sedangkan untuk penderita TB
paru BTA negatif kultur positif sebanyak 20% kematian dalam kurun waktu 10
tahun (Tiemersma, et al., 2011).
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi
masalah kesehatan dunia, khususnya di negara-negara berkembang. Berdasarkan
laporan WHO tahun 2007 jumlah kasus TB di Indonesia (528.000 kasus)
menempati peringkat ketiga terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Sebagian
besar penderita TB adalah penduduk yang berusia produktif antara 15-55 tahun,
dan penyakit ini merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit
jantung dan penyakit pernafasan akut pada semua kalangan usia (Depkes RI,
2005). Indonesia mengalami peningkatan dalam hal penanggulangan kasus
1
2
tuberkulosis, hal ini dibuktikan dengan turunnya jumlah kasus TB di Indonesia
pada tahun 2011 menjadi peringkat keempat di dunia setelah India, China, dan
Afrika Selatan (WHO, 2012). Angka ini bahkan terus mengalami penurunan
hingga tahun 2013 Indonesia menempati peringkat kelima di dunia setelah India,
China, Nigeria, dan Pakistan (WHO, 2014).
Upaya pengendalian penyakit TB terus dikembangkan setiap tahunnya,
salah satunya dengan adanya strategi pengendalian TB yang dikenal sebagai
Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) yang direkomendasikan oleh
WHO sejak tahun 1995. Strategi DOTS memiliki 5 komponen kunci yaitu
komitmen politis dengan peningkatan dan kesinambungan pendanaan, penemuan
kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya,
pengobatan yang standar, sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif,
serta sistem monitoring pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan
penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program (Kemenkes RI,
2011).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2013, keberhasilan
pengobatan TB di seluruh Indonesia yaitu 90,5%, angka ini sudah berhasil
melampaui target angka keberhasilan pengobatan yang ditetapkan oleh Kemenkes
RI yaitu sebesar 87%. Angka keberhasilan pengobatan TB di DI Yogyakarta
sendiri adalah 83,9%, sehingga angka ini masih belum memenuhi target minimal
yang ditetapkan Kemenkes (Kemenkes RI, 2013). Angka keberhasilan pengobatan
penyakit TB erat kaitannya dengan kepatuhan pengobatan. Kepatuhan pasien
dalam
menjalankan
pengobatan
turut
berkontribusi
dalam
pencapaian
3
keberhasilan terapi karena TB merupakan penyakit yang membutuhkan terapi
pengobatan dalam jangka waktu yang tidak sebentar yaitu minimal selama 6
bulan.
Kepatuhan didefinisikan sebagai hubungan saling percaya dimana pasien
dan tenaga medis berdiskusi untuk memutuskan pilihan pengobatan yang paling
tepat untuk pasien (CMSA, 2006). Tingkat kepatuhan diketahui lebih tinggi pada
pasien penyakit akut dibandingkan dengan pasien penyakit kronis. Ketekunan
pasien untuk tetap menjalani pengobatan pada kondisi penyakit kronis masih
rendah, dan ketekunan tersebut akan makin menurun setelah 6 bulan pengobatan
(Osteberg and Blaschke, 2005).
Kepatuhan merupakan suatu perilaku yang kompleks dan sangat
dipengaruhi oleh lingkungan antara lain faktor pasien, pelayanan tenaga
kesehatan, serta penyedia jasa pelayanan kesehatan. Hal ini berkaitan dengan cara
pandang pasien mengenai pengobatan yang ia butuhkan. Pada kenyataannya,
pasien bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kepatuhan. Penyedia jasa
pelayanan kesehatan, regimen terapi yang kompleks, dan akses pasien menuju
tempat pelayanan kesehatan dapat berkontribusi dalam kepatuhan pengobatan. Hal
lain yang penting adalah mengetahui kemungkinan pasien memiliki faktor resiko
untuk tidak patuh, dan juga perlu diingat bahwa faktor yang mempengaruhi
kepatuhan pengobatan pasien dapat berubah seiring berjalannya waktu. Efek
samping yang timbul akibat pengobatan kemungkinan juga dapat mengurangi
keinginan pasien untuk tetap rutin menjalani pengobatannya (CMSA, 2006).
4
Jangka waktu pengobatan TB yang cukup lama menyebabkan terjadinya
beberapa kemungkinan pola kepatuhan penderita yaitu penderita berobat teratur
dan memakai obat secara teratur, penderita tidak berobat secara teratur
(defaulting), dan penderita sama sekali tidak patuh dalam pengobatan atau putus
berobat (drop out). Ketidakpatuhan pengobatan akan mengakibatkan tingginya
angka kegagalan pengobatan penderita TB paru dengan BTA yang resisten
dengan pengobatan standar. Oleh karena kepatuhan adalah faktor yang penting
dalam pengobatan TB, maka permasalahan mengenai kepatuhan merupakan hal
yang penting untuk dikaji (Hutapea, 2006).
Penelitian dilakukan di Puskesmas yang berada di wilayah Kabupaten
Sleman sebab Puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan primer menjadi
tempat rujukan untuk pasien TB menjalani pengobatan rawat jalan hingga
pengobatannya tuntas, selain itu belum ada penelitian sebelumnya mengenai
kajian kepatuhan dan faktor pendukung kepatuhan terapi pasien TB di Puskesmas
Kabupaten Sleman, sehingga penelitian ini dirasa perlu dilakukan. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi rujukan informasi terkait kualitas pengobatan TB
sehingga angka keberhasilan pengobatan dapat meningkat dan prevalensi TB
dapat ditekan.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana pola pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Kabupaten
Sleman?
2. Bagaimana gambaran kepatuhan pengobatan pada pasien TB paru di
Puskesmas Kabupaten Sleman?
5
3. Apa saja faktor-faktor yang mendukung kepatuhan pengobatan pasien TB
paru?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pola pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Kabupaten
Sleman, Yogyakarta.
2. Mengetahui gambaran kepatuhan pengobatan pasien TB paru di Puskesmas
Kabupaten Sleman.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mendukung kepatuhan pengobatan pasien TB
paru.
D. Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi terkini mengenai kepatuhan terapi OAT pada pasien
TB paru dewasa di Puskesmas di wilayah Kabupaten Sleman.
2. Menyediakan rujukan informasi dalam upaya peningkatan kualitas terapi OAT
melalui peningkatan kepatuhan terapi pasien TB paru.
3. Menjadi dasar penelitian selanjutnya di bidang kepatuhan terapi pasien TB
paru.
E. Tinjauan Pustaka
1. Penyakit Tuberkulosis
a. Definisi
Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit infeksi
menular yang menyebabkan angka kematian yang tinggi di seluruh dunia.
Penyakit TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis,
6
Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, namun dapat juga
menyerang organ yang lainnya (Depkes RI, 2007).
b. Epidemiologi
Pada tahun 1995, diperkirakan terdapat 9 juta kasus TB baru dan 3
juta kematian akibat TB di seluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan
98% kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara-negara berkembang.
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara
ekonomis (15-55 tahun). Seorang pasien TB dewasa diperkirakan akan
kehilangan waktu kerja rata-rata 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat
pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%.
Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar
15 tahun (Depkes RI, 2005).
Pada tahun 1990-an, situasi TB di dunia makin memburuk, jumlah
kasus TB meningkat, dan banyak kasus TB yang tidak berhasil
disembuhkan, termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara
dari 22 negara yang termasuk dalam negara dengan masalah TB besar
(high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993 WHO
mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency) (Depkes
RI, 2007).
c. Etiologi
M. tuberculosis adalah bakteri berbentuk batang (basil) berukuran
1 sampai 4 mikron dengan lapisan dinding luar yang sangat tebal (Iseman,
2000). Bakteri ini tidak dapat terwarnai dengan baik menggunakan
7
pewarna Gram, sehingga harus digunakan pewarna Ziehl-Neelsen (ZN)
atau pewarna fluorochrome untuk mewarnainya. Setelah ZN staining
menggunakan carbol-fuchsin, mycobacteria tetap berwarna merah
meskipun telah dibilas menggunakan alkohol-asam, maka dari itu ia
disebut bakteri tahan asam (BTA) (Heifets, 1997). Setelah pewarnaan,
pengamatan mikroskopis (smear) menunjukkan 8000 sampai 10.000
organisme per milimeter spesimen. Hasil spesimen milik pasien bisa
negatif, namun tetap dapat menumbuhkan M. tuberculosis pada kultur. M.
tuberculosis pada kultur mengganda tiap 20 jam, jauh lebih lambat
dibandingkan dengan bakteri gram-positif maupun bakteri gram-negatif
lain yang mengganda tiap 30 menit (Dipiro et al., 2008).
d. Patofisiologi
Seseorang dapat terinfeksi tuberkulosis karena menghirup partikel
udara yang di dalamnya tercemar bakteri M. tuberculosis. Partikel udara
ini dikenal dengan droplet nuclei yang mengandung 1 sampai 3 basili dan
cukup kecil ukurannya (1 – 5 mm) untuk mencapai permukaan alveoli.
Jalur infeksi yang lainnya adalah lewat ingesti dan luka, namun cukup
jarang terjadi (Piessens and Nardell, 2000).
Pada permukaan alveoli, basili yang berada dalam droplet nuclei
akan ditelan oleh makrofag. Apabila makrofag ini dapat membunuh basili,
infeksi tidak akan terjadi, namun apabila gagal, basili akan terus
berkembang biak. Makrofag tersebut akhirnya akan pecah dan melepaskan
banyak basili, dan basili ini akan ditelan kembali oleh makrofag lain.
8
Siklus fagositosis ini akan terus terjadi selama beberapa minggu. Pada fase
infeksi awal, M. tuberculosis mengganda secara logaritmik (Piessens and
Nardell, 2000).
M. tuberculosis akan dibawa oleh makrofag ke dalam kelenjar
getah bening regional di hilar, mediastinal, dan retoperitoneal, dimana
proses fagositosis tadi terus berkembang. Lebih lanjut lagi, M. tuberculosis
dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah, dan menginfeksi
jaringan atau organ tubuh lain. Umumnya M. tuberculosis menginfeksi
area apical posterior paru-paru, hal ini kemungkinan terjadi karena
tingginya kandungan oksigen dan rendahnya ekspresi respon imun di area
tersebut (Dipiro et al., 2008).
e. Transmisi
Penyakit TB ditularkan dari satu orang ke yang lainnya melalui
batuk atau bersin, yang membuat M. tuberculosis tersebar di udara dalam
bentuk percikan dahak (droplet nuclei) (Daley and Chambers, 2002).
Sumber penularan TB adalah pasien TB dengan BTA positif. Pasien
dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif yang tinggi memiliki daya
penularan yang lebih besar pula. Penularan umumnya terjadi apabila
percikan dahak bertahan dalam suatu ruangan dalam waktu yang lama.
Percikan dahak dapat bertahan dalam waktu yang lama pada kondisi
ruangan yang gelap dan lembab, namun adanya paparan sinar matahari
langsung dapat membunuh M. tuberculosis yang terdapat dalam percikan
dahak tersebut (Depkes RI, 2007).
9
f. Tanda dan Gejala Klinis
Tanda dan gejala penyakit TB tergantung pada bagian tubuh mana
yang menjadi tempat tumbuh bakteri TB tersebut. Pada TB paru, gejala
yang biasanya muncul antara lain batuk lebih dari 3 minggu, rasa nyeri di
dada, serta betuk disertai darah. Gejala lain yang mungkin juga timbul
adalah perasaan lemas, penurunan berat badan, penurunan nafsu makan,
demam, dan berkeringat di malam hari (CDC, 2014).
2. Tata Laksana Terapi Tuberkulosis
a. Diagnosis
Penemuan kasus TB pada orang dewasa dilakukan secara pasif, yang
berarti penjaringan tersangka penderita dilakukan pada mereka yang
memepriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). Penemuan
secara pasif tersebut didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh
petugas maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan
angka penderita. Pemeriksaan kontak serumah juga dilakukan pada
anggota keluarga yang tinggal bersama dengan seseorang yang sudah
didiagnosis TB paru BTA positif (Depkes RI, 2007).
Diagnosis terhadap pasien tuberkulosis dapat ditegakkan dengan 3 cara,
yaitu pemeriksaan dahak, radiologi, dan tes mantoux (Kemenkes RI,
2011).
1) Pemeriksaan dahak
Pemeriksaan dahak dilakukan dengan cara mengumpulkan 3 spesimen
dahak dalam kurun waktu 2 hari yang berurutan yaitu sewaktu-pagi-
10
sewaktu (SPS). Hasil pemeriksaan dahak dikatakan positif apabila
setidaknya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif, apabila
hanya ditemukan 1 spesimen yang positif maka pemeriksaan dahak
SPS diulang atau pasien melanjutkan dengan pemeriksaan radiologi
berupa rontgen dada.
2) Radiologi
Pemeriksaan radiologi untuk penegakan diagnosis TB adalah rontgen
dada (toraks). Pada hasil foto toraks posterior anterior (PA) lateral
akan terlihat gambar infiltrat atau nodular terutama pada lapangan atas
paru, terlihat kavitas, serta terlihat tuberkuloma atau tampak seperti
bayangan (coin lesion).
3) Skin Testing
TB skin test disebut juga test Mantoux, menggunakan tuberkulin
purified protein derivative (PPD). Sebanyak 5 unit dosis tuberkulin
PPD disuntikkan secara intra kutan pada lengan. Hasil dari uji
tuberkulin biasanya dapat dilihat 48-72 jam setelah uji dilakukan. Uji
tuberkulin dinyatakan positif apabila pada tempat penyuntikan timbul
diameter durasi yang berukuran ≥10 mm (Iseman, 2000; Haas, 2000)
11
Suspek TB Paru1)
Pemeriksaan dahak mikroskopis – Sewaktu, Pagi, Sewaktu (SPS)
Hasil BTA
+++
---
Hasil BTA
Hasil BTA
++-
--Antibiotik Non OAT 2)
Tidak
adaperbaik
an
Foto toraks dan
Pemeriksaan dahak
pertimbangan dokter
mikroskopis
Hasil BTA
+++
++---
Ada
perbaikan
Hasil BTA
---
Foto toraks dan
pertimbangan dokter
TB
BUKAN TB
Gambar 1. Alur Diagnosis TB Paru (Kemenkes RI, 2011)
b. Klasifikasi Tuberkulosis
Menurut Depkes RI (2007) penyakit TB dapat diklasifikasikan
berdasarkan organ tubuh yang terkena, yaitu TB paru dan TB ekstra paru.
1) Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
perenkim paru, tidak termasuk pleura dan kelenjar pada hilus.
12
2) Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ
selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung, kelenjar
limfe, tulang, persendian, ginjal, saluran kemih, dan lain lain.
c. Kategori Tuberkulosis
Pasien TB dapat dikategorikan menurut hasil diagnosisnya menjadi
Kategori 1, Kategori 2, dan Kategori 3
1) Kategori 1
Pasien TB yang termasuk dalam kategori ini adalah pasien TB baru
BTA positif, pasien TB paru BTA negatif rontgen positif yang sakit
berat, serta pasien TB ekstra paru berat.
2) Kategori 2
Pasien TB yang termasuk dalam kategori ini adalah pasien TB
kambuh, pasien TB gagal, dan pasien TB yang berobat setelah lalai
(after default).
3) Kategori 3
Pasien TB yang termasuk dalam kategori ini adalah pasien baru TB
paru BTA negatif rontgen positif dan pasien baru TB ekstra paru sakit
ringan.
d. Tipe Pasien
Pasien dikategorikan menurut riwayat pengobatan sebelumnya, yaitu:
13
1) Pasien baru
Pasien baru adalah pasien belum pernah diobati dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari 4 minggu. Kategori ini bisa
untuk pasien dengan pemeriksaan BTA positif ataupun negatif.
2) Pasien kambuh
Pasien baru adalah pasien yang sebelumnya pernah mendapatkan
terapi OAT dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
namun didiagnosis kembali dengan BTA positif.
3) Pasien gagal
Pasien gagal adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap
positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih
selama menjalani pengobatan.
4) Pasien putus berobat
Pasien putus berobat adalah pasien yang telah berobat sebelumnya dan
putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
5) Pasien pindahan
Pasien pindahan adalah pasien yang dipindahkan ke register lain untuk
melanjutkan pengobatannya.
e. Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutus mata rantai penularan, dan
mencegah resistensi bakteri terhadap OAT. Salah satu prinsip pengobatan
TB yaitu OAT tidak boleh diberikan dalam bentuk monoterapi, namun
14
harus dalam bentuk kombinasi beberapa OAT dalam jumlah dan dosis
yang cukup sesuai dengan kategori pengobatan (Depkes RI, 2007).
Pengobatan TB umumnya berlangsung selama 6 bulan dan
diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan (WHO,
2008).
1) Tahap intensif
Pengobatan TB tahap intensif merupakan tahap yang krusial karena
apabila pengobatan tahap ini diberikan secara tepat, pasien biasanya
menjadi tidak menular dalam waktu 2 minggu. Pada pengobatan tahap
ini, pasien diharuskan untuk meminum OAT setiap hari selama 2 bulan
untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri terhadap OAT. Sebagian
besar pasien TB dengan diagnosis awal BTA positif akan berubah
menjadi BTA negatif dalam waktu 2 bulan.
2) Tahap lanjutan
Tahap lanjutan diberikan dalam jangka waktu yang lebih lama
daripada tahap intensif, yaitu selama 4 bulan. Tahap ini bertujuan
untuk membunuh bakteri persister (dormant) sehingga dapat
mencegah terjadinya kekambuhan. Pada tahap ini, pasien mendapatkan
OAT dengan jumlah yang lebih sedikit daripada tahap intensif.
3. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
a. Jenis OAT
Obat anti tuberkulosis (OAT) adalah obat-obatan berupa antibiotik khusus
yang digunakan untuk membunuh kuman Mycobacterium. Obat anti
15
tuberkulosis yang umum digunakan sebagai lini pertama pada terapi
tuberkulosis adalah Isoniazid, Rifampisin, Ethambutol, Pirazinamid, dan
Streptomisin (Depkes RI, 2005).
Tabel I. Pengelompokan OAT menurut WHO (WHO, 2008)
Golongan obat
Golongan-1
/
Obat
lini 

Obat
pertama
Golongan-2
Obat 
/





Pyrazinamide (Z)
Rifampicin (R)
Streptomycin (S)
Amikacin (Am)
Capreomycin (Cm)
Ofloxacin (Ofx)
Levofloxacin (Lfx)

Moxifloxacin (Mfx)
Ethionamide (Eto)
Prothionamide (Pto)
Cycloserine (Cs)
Clofamizine (Cfz)
Linezolide (Lzd)
Amoxilin – Clavulanate
(Amx-Clv)

Para amino salisilat
(PAS)
Terizidone (Trd)
Thioacetazone (Thz)
Clarithromycin (Clr)
Imipenem (Ipm)
Isoniazid (H)
Ethambutol (E)
Kanamycin (Km)
suntik/suntikan lini kedua
Golongan-3
Golongan 

/
Floroquinolone
Obat 

bakteriostatik lini kedua

Golongan-5 / Obat yang 

belum terbukti efikasinya dan

tidak direkomendasikan oleh
Golongan-4
/




WHO
1) Isoniazid
Isoniazid atau yang juga dikenal dengan INH adalah satu dari dua
OAT yang paling penting. Obat ini sangat spesifik untuk
mycobacteria, dengan kadar hambat minimum (KHM) untuk M.
tuberculosis sebesar 0,01 – 0,25 µg/ml (Dipiro et al., 2008).
Mekanisme kerja isoniazid belum diketahui, namun ada yang
berpendapat bahwa isoniazid menghambat biosintesis asam mikolat
yang merupakan unsur penting penyusun dinding sel mikobakterium
(Istiantoro dkk, 2009).
Efek samping penggunaan isoniazid pada dosis normal (200 – 300 mg
per hari) adalah jarang dan ringan (gatal-gatal, ikterus), tetapi efek
16
samping lebih sering terjadi bila dosis melebihi 400 mg, yaitu
polyneuritis (radang saraf dengan gejala kejang dan gangguan
penglihatan). Perasaan tidak sehat, letih, dan lemah merupakan efek
samping yang juga lazim terjadi. Pemberian vitamin B6 (piridoksin) 10
mg sehari bersama vitamin B1 (aneurin) 100 mg sehari berfungsi
untuk menghindari reaksi toksis isoniazid (Tan dan Rahardja, 2007).
2) Rifampisin
Rifampisin bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi dormant
(persister) yang tidak dapat dibunuh oleh isoniazid. Rifampisin
utamanya aktif membunuh sel yang sedang tumbuh. Rifampisin
bekerja dengan cara menghambat DNA-dependent RNA polymerase
dari mikobakteria dan mikroorganisme lain dengan menekan mula
terbentuknya rantai dalam sintesis RNA (Istiantoro dkk, 2009).
Dosis oral rifampisin pada penderita TB adalah Efek samping dari
rifampisin jarang terjadi jika diberikan sesuai dosis yang dianjurkan.
Konsumsi
rifampisin
bersama-sama
dengan
isoniazid
dapat
menyebabkan penyakit kuning (ikterus). Pemantauan fungsi hati secara
periodik
sangat
dianjurkan
untuk
pasien
yang
menggunakan
rifampisisn dalam waktu yang lama. Rifampisin agak sering
menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, sakit ulu
hati, kejang perut dan diare. Gejala gangguan SSP dan reaksi
hipersensitivitas juga merupakan efek samping lain penggunaan
rifampisin (Tan dan Rahardja, 2007).
17
3) Etambutol
Etambutol bersifat sebagai bakteriostatik. Obat ini bekerja dengan cara
menghambat pemasukan (incorporation) asam mikolat ke dalam
dinding sel bakteri (Istiantoro dkk, 2009).
Efek samping yang terpenting adala neuritis optica yang menyebabkan
gangguan penglihatan, yaitu kurang tajamnya penglihatan dan buta
warna terhadap merah – hijau. Reaksi toksis akan timbul pada dosis
besar yaitu di atas 50 mg/kgBB/hari, dan bersifat reversible apabila
pengobatan dihentikan. Etambutol tidak diberikan pada anak-anak
karena dapat mempengaruhi penglihatan yang sulit dideteksi.
Etambutol juga dapat menaikkan kadar asam urat dalam plasma akibat
penurunan ekskresinya oleh ginjal (Tan dan Rahardja, 2007).
4) Pirazinamid
Pirazinamid bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada
dalam sel dengan suasana asam. Mekanisme kerja obat ini belum
diketahui secara pasti (Istiantoro dkk, 2009).
Dosis oral pirazinamid adalah 30 mg/kgBB per hari selama 2 – 4
bulan, dan memiliki dosis maksimal 2000 mg per hari. Pada
pengobatan meningitis TB, digunakan dosis 50 mg/kgBB.
Efek samping pirazinamid yang sering terjadi dan cukup berbahaya
adalah kerusakan hati dengan ikterus (hepatotoksisitas), terutama pada
dosis di atas 2000 mg per hari. Pirazinamid menghambat pengeluaran
asam urat dalam darah (hiperurisemia) dan menimbulkan serangan
18
encok (gout). Pirazinamid juga dapat menyebabkan gangguan lambung
– usus, fotosensibilitas dengan reaksi kulit (menjadi merah - coklat),
artralgia, demam, malaise, dan anemia, juga menurunkan kadar gula
darah. Resistensi dapat terjadi dengan cepat apabila obat ini digunakan
sebagai monoterapi (Tan dan Rahardja, 2007).
5) Streptomisin
Streptomisin bersifat bakterisid dengan mekanisme kerja menghambat
sintesis protein sel mikroba, yaitu mengubah bentuk bagian 30s
ribosomal, sehingga mengakibatkan salah baca kode mRNA (Istiantoro
dkk, 2009).
Resorpsi streptomisin di usus sangat buruk, maka obat ini hanya
diberikan lewat intra muscular (i.m.). Dosis streptomisin intra
muscular 9 (i.m.) adalah 500 – 1000 mg tergantung dari usia dan berat
badan. Streptomisin digunakan maksimal selama 2 bulan (Tan dan
Rahardja, 2007).
Efek samping dari streptomisin adalah toksik untuk organ pendengaran
dan keseimbangan, oleh karena itu sebaiknya streptomisin jangan
digunakan dalam jangka waktu yang lama karena dapat menyebabkan
ketulian permanen (Tan dan Rahardja, 2007).
19
Tabel II. OAT lini pertama menurut Depkes RI (Depkes RI, 2007)
Dosis yang direkomendasikan
(mg/kg BB)
Jenis OAT
Sifat
Harian
3x seminggu
5
10
Isoniazid (H)
Bakterisid
(4-6)
(8-12)
10
10
Rifampisin (R)
Bakterisid
(8-12)
(8-12)
25
35
Pirazinamid (Z)
Bakterisid
(20-30)
(30-40)
15
15
Streptomisin (S)
Bakterisid
(12-18)
(12-18)
15
30
Ethambutol (E)
Bakteriostatik
(15-20)
(20-35)
b. Paduan OAT
Paduan pengobatan yang digunakan oleh Program Pengendalian
TB Nasional di Indonesia adalah paduan pengobatan standar yang
direkomendasikan oleh WHO dan IUATLD (International Union Against
Tuberculosis and Lung Disease).
Program Pengendalian Tuberkulosis Nasional di Indonesia
menggunakan 2 jenis paduan OAT, yaitu OAT fixed dose combination
(FDC) dan OAT Kombipak. Paduan OAT FDC merupakan OAT yang
berisi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet dan dosisnya telah disesuaikan
dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk
satu pasien. Selain paduan OAT FDC, juga terdapat paduan OAT
kombipak yaitu paket OAT berupa obat lepas yang terdiri dari Isoniazid,
Rifampisin, Etambutol, dan Pirazinamid. Paduan OAT
kombipak
disediakan untuk digunakan oleh pasien yang mengalami efek samping
akibat penggunaan OAT FDC (Depkes RI, 2007).
1) Kategori 1 (2HRZE/4H3R3)
20
Pada pasien TB kategori 1, pengobatan tahap intensif diberikan HRZE
selama 2 bulan kemudian diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri
dari HR yang diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan.
Tabel III. Dosis untuk Paduan OAT FDC Kategori 1 (Kemenkes RI, 2011)
Tahap intensif tiap
Berat badan
hari selama 56 hari
Tahap lanjutan 3 kali seminggu
selama 16 minggu RH
RHZE
(150/150)
(150/75/400/275)
30 – 37 kg
2 tablet 4FDC
2 tablet 2FDC
38 – 54 kg
3 tablet 4FDC
3 tablet 2FDC
55 – 70 kg
4 tablet 4FDC
4 tablet 2FDC
71 kg
5 tablet 4FDC
5 tablet 2FDC
Tabel IV. Dosis untuk Paduan OAT-Kombipak Kategori 1 (Kemenkes RI, 2011)
Dosis per hari/kali
Jumlah
Tablet
Kaplet
Tablet
Tablet
Tahap
Lama
hari/kali
Isoniazid Rifampisin Pirazinamid Etambutol
Pengobatan Pengobatan
menelan
@ 300
@ 450 mg
@ 500 mg
@ 500 mg
obat
mg
Intensif
2 bulan
1
1
3
3
56
Lanjutan
4 bulan
2
1
-
-
48
2) Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
Pada pasien TB kategori 2, tahap intensif diberikan selama 3 bulan,
yang terdiri dari 2 bulan dengan pemberian HRZES setiap hari,
dilanjutkan 1 bulan dengan pemberian HRZE setiap hari. Setelah itu
diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang
diberikan 3 kali dalam seminggu.
21
Tabel V. Dosis untuk Paduan OAT FDC Kategori 2 (Kemenkes RI, 2011)
Tahap Lanjutan
Tahap Intensif
3 kali seminggu
tiap hari
Berat
RH (150/150) + E
RHZE (150/75/400/275) + S
Badan
(400)
Selama 56 hari
Selama 28 hari
Selama 20 minggu
2 tab 4FDC
2 tab 2FDC
30 – 37 kg
2 tab 4FDC
+ 500 mg streptomisin inj.
+ 2 tab etambutol
3 tab 4FDC
3 tab 2FDC
38 – 54 kg
3 tab 4FDC
+ 750 mg streptomisin inj
+ 3 tab etambutol
4 tab 4FDC
4 tab 2FDC
55 – 70 kg
4 tab 4FDC
+ 1000 mg streptomisin inj.
+ 4 tab etambutol
5 tab 4FDC
5 tab 2FDC
71 kg
5 tab 4FDC
+ 1000 mg streptomisin inj.
+ 5 tab etambutol
Tabel VI. Dosis untuk Paduan OAT-Kombipak Kategori 2 (Kemenkes RI, 2011)
Tahap
pengobata
n
Tahap
intensif
(dosis
harian)
Tahap
lanjutan
(dosis 3x
seminggu)
Etambutol
Table Table
t@
t@
250
400
mg
mg
Lama
pengobata
n
Tablet
Isoniasi
d @ 300
mg
Kaplet
Rifampisi
n @ 450
mg
Tablet
Pirazinami
d @ 500
mg
2 bulan
1 bulan
1
1
1
1
3
3
3
3
4 bulan
2
1
-
1
Streptomisi
n inj
Jumlah
hari/kal
i
menela
n obat
-
750 mg
-
56
28
2
-
60
3) Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan.,
diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan
diberikan 3 kali seminggu.
4) OAT sisipan (HRZE)
Tahap sisipan selama 1 bulan diberikan apabila pada akhir tahap
intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau
penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil
pemeriksaan dahaknya masih BTA positif (Depkes RI, 2005).
22
Tabel VII. Dosis untuk Paduan OAT sisipan (Kemenkes RI, 2011)
Berat badan
30 – 37 kg
38 – 54 kg
55 – 70 kg
71 kg
Tahap intensif tiap hari selama 28 hari
RHZE (150/75/400/275)
2 tablet 4FDC
3 tablet 4FDC
4 tablet 4FDC
5 tablet 4FDC
4. Hasil Terapi
Menurut Depkes RI dalam Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis
(2005), hasil terapi yang pasien tuberkulosis BTA positif adalah sebagai
berikut:
a. Sembuh
Pasien sembuh adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya
secara lengkap dan pemeriksaan apusan dahak ulang (follow-up) hasilnya
negatif pada akhir pengobatan dan pada satu pemeriksaan sebelumnya.
b. Meninggal
Pasien meninggal adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan
karena sebab apapun.
c. Putus Berobat (Default)
Pasien putus berobat adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturutturut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
d. Gagal (Failure)
Pasien gagal adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif
atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama
pengobatan.
23
e. Pindah (Transfer Out)
Pasien pindah adalah pasien yang dipindah ke unit pencatatan dan
pelaporan (register) lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.
f. Keberhasilan pengobatan (Treatment Success)
Pasien yang sembuh dan pengobatan lengkap. Digunakan pada pasien
dengan BTA positif atau biakan positif.
5. Puskesmas
Menurut
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
(Permenkes) Nomor 75 tahun 2014 yang dimaksud dengan Pusat Kesehatan
Masyarakat
(Puskesmas)
adalah
fasilitas
pelayanan
kesehatan
yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif
dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya.
Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas merupakan palayanan
yang menyeluruh, meliputi pelayanan kuratif (pengobatan), preventif
(pencegahan), promotif (peningkatan kesehatan) dan rehabilitatif (pemulihan
kesehatan). Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk dengan
tidak membedakan jenis kelamin dan golongan umur, sejak dari pembuahan
dalam kandungan sampai tutup usia (Efendi, 2009).
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas
adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional, yakni
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi orang
24
yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya (Trihono, 2005).
Puskesmas memiliki wilayah kerja yang meliputi satu kecamatan atau
sebagian dari kecamatan. Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan
geografi, dan keadaan infrastuktur lainnya merupakan bahan pertimbangan
dalam menentukan wilayah kerja Puskesmas. Puskesmas juga perlu ditunjang
dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana yang disebut
Puskesmas Pembantu dan Puskesmas keliling untuk perluasan jangkauan
pelayanan kesehatan. Khusus kota besar dengan penduduk satu juta jiwa atau
lebih, wilayah kerja Puskesmas dapat meliputi satu kelurahan. Puskesmas di
ibukota kecamatan dengan jumlah penduduk 150.000 jiwa atau lebih,
merupakan Puskesmas Pembina yang berfungsi sebgai pusat rujukan bagi
Puskesmas Kelurahan dan juga mempunyai fungsi koordinasi (Efendi, 2009).
Tiga fungsi Puskesmas yaitu: pusat penggerak pembangunan
berwawasan kesehatan yang berarti Puskesmas selalu berupaya menggerakkan
dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh
masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta
mendukung pembangunan kesehatan. Puskesmas juga harus aktif memantau
dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program
pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan,
upaya yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan
penyakit dan pemulihan kesehatan (Trihono, 2005).
25
Menurut Efendi (2009) Puskesmas mempunyai peran yang sangat vital
sebagai institusi pelaksana teknis, Puskesmas dituntut untuk memiliki
kemampuan manajerial dan wawasan jauh ke depan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan. Peran tersebut ditunjukkan dalam bentuk
keikutsertaan dalam menentukan kebijakan daerah melalui sistem perencanaan
yang matang dan realistis, tata laksana kegiatan yang tersusun rapi, serta
sistem evaluasi dan pemantauan yang akurat. Puskesmas juga dituntut
berperan dalam pemanfaatan teknologi informasi terkait upaya peningkatan
pelayanan kesehatan secara komprehensif dan terpadu pada masa mendatang.
Puskesmas di Kabupaten Sleman berjumlah 25 unit dan 5 diantaranya
telah dilengkapi fasilitas rawat inap, yaitu Puskesmas Mlati II, Puskesmas
Ngemplak I, Puskesmas Minggir, Puskesmas Kalasan, dan Puskesmas Sleman
yang telah siap operasional tahun 2013. Puskesmas pembantu sebanyak 71
unit juga tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sleman, dengan jumlah
sarana pelayanan kesehatan tersebut, seluruh desa sudah memiliki sarana
pelayanan kesehatan (Dinkes Sleman, 2013).
6. Kepatuhan
Kepatuhan (adherence) didefinisikan sebagai perilaku pasien yang
menaati semua nasihat dan petunjuk yang dianjurkan oleh tenaga medis.
Istilah “adherence” lebih banyak disukai, karena jika menggunakan istilah
“compliance” akan merujuk pada perilaku pasien yang secara pasif mengikuti
keinginan dokter dan perencanaan terapinya, bukan berdasarkan kesepakatan
atau kontrak antara pasien dengan tenaga kesehatan. Tingkat kepatuhan
26
individu pasien dilaporkan sebagai persentase dosis pengobatan yang
digunakan oleh pasien dalam periode tertentu (Osteberg and Blaschke, 2005).
Ketekunan (persistence) dideskripsikan sebagai kemampuan pasien
untuk terus melanjutkan pengobatannya seperti yang dianjurkan. Pada kasus
penyakit kronis, lama pengobatan yang dianjurkan bisa selama berbulanbulan, bertahun-tahun, atau bahkan sepanjang hidup pasien. Pada beberapa
kasus, pasien mengambil obat yang diresepkan pertama kali, namun pasien
tidak kembali mengambil obat ketika obat yang diresepkan sebelumya telah
habis. Diskusi antara tenaga kesehatan dengan pasien mengenai pengobatan
yang akan dijalani oleh pasien pada saat pasien pertama kali memulai
terapinya merupakan faktor yang sangat penting untuk menjaga agar pasien
tetap tekun menjalani regimen pengobatannya (CMSA, 2006).
Menurut Niven (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan
pasien adalah:
a. Faktor pasien atau individu
1) Motivasi pasien untuk sembuh
Motivasi atau sikap pasien yang paling kuat ada dalam diri pasien itu
sendiri. Motivasi pasien untuk sembuh atau keinginan pasien untuk
tetap mempertahankan kesehatannya sangat berpengaruh terhadap
faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pasien dalam kontrol
penyakitnya.
27
2) Keyakinan pasien
Keyakinan yang dimaksud disini adalah dimensi spiritual pasien.
Pasien yang berpegang teguh pada keyakinannya akan memiliki sikap
yang tabah dan tidak mudah putus asa serta dapat menerima
keadaannya, sehingga pasien memiliki perilaku yang lebih baik.
b. Dukungan keluarga
Dukungan keluarga merupakan faktor yang paling dekat dan tidak bisa
dipisahkan dari pasien. Pasien akan merasa senang dan tenteram apabila
mendapat perhatian dan dukungan dari keluarganya, karena dukungan
tersebut akan menimbulkan kepercayaan diri pasien untuk menghadapi
atau mengelola penyakitnya dengan lebih baik. Pasien juga lebih
cenderung menuruti saran-saran yang diberikan oleh keluarga untuk
menunjang pengelolaan penyakitnya.
c. Dukungan sosial
Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari orang-orang
terdekat selain keluarga juga merupakan faktor penting yang dapat
mempengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Dukungan
orang terdekat dapat mengurangi kecemasan yang diakibatkan oleh
penyakit tertentu dan dapat mengurangi kecenderungan pasien untuk tidak
patuh dalam pengobatannya.
d. Dukungan petugas kesehatan
Dukungan petugas kesehatan merupakan faktor lain yang dapat
mempengaruhi perilaku kepatuhan pasien. Dukungan petugas kesehatan
28
berguna terutama saat pasien pertama kali memulai pengobatannya.
Petugas kesehatan juga dapat mempengaruhi perilaku pasien melalui cara
penyampaian informasi dan pemberian apresiasi maupun reward kepada
pasien yang telah menjalankan program pengobatannya dengan baik.
Kepatuhan dapat diukur dengan berbagai metode yang secara umum
dibagi menjadi metode pengukuran langsung (direct methods) dan metode
pengukuran tidak langsung (indirect methods). Metode pengukuran langsung
dapat berupa pengamatan langsung (directly observed therapy), pengukuran
konsentrasi obat atau metabolitnya di dalam darah, dan deteksi konsentrasi
obat di dalam darah menggunakan biological markers. Metode pengukuran
tidak langsung dapat berupa patient self-reports (kuesioner), pill counts,
jadwal refill obat, asesmen respon klinis pasien, electronic medication
monitors, pengukuran respon fisiologis pasien (misal pengukuran denyut
jantung pada pasien yang diberi beta-blocker), serta catatan sehari-hari pasien
(Osteberg and Blaschke, 2005).
7. Modified Morisky Scale
Pertengahan tahun 1980 an, Morisky dan tim risetnya mengembangkan
sebuah kuesioner untuk dapat memprediksi kepatuhan pasien terhadap
pengobatan antihipertensi. Instrumen ini telah divalidasi dalam berbagai studi
dan menunjukkan hasil psikometri yang baik. Sejak saat itu, para peneliti di
seluruh dunia telah mengembangkan penggunaan instrumen ini terhadap
berbagai penyakit seperti diabetes dan penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).
Kuesioner tersebut dapat dilihat pada tabel VIII.
29
1.
Tabel VIII. Original Morisky Scale (CMSA, 2006)
Do you ever forget to take your medicine?
Yes
No
2.
Are you careless at times about taking your medicine?
Yes
No
3.
When you feel better do you sometimes stop taking your medicine?
Yes
No
4.
Sometimes if you feel worse when you take your medicine, do you
stop taking it?
Yes
No
Penilaian Morisky Scale yaitu setiap pertanyaan yang dijawab “tidak”
mendapat nilai 1, maka dari itu total nilai ada pada rentang 0 sampai 4. Pasien
dengan total nilai yang tinggi diasumsikan lebih patuh dibandingkan pasien
dengan nilai total yang lebih rendah. Pasien dengan nilai yang lebih rendah
memiliki resiko yang lebih besar untuk berperilaku tidak patuh (CMSA,
2006).
Saat pengaplikasian Original Morisky Scale pada Case Adherence
Management Guidelines (CMAG), tercatat beberapa kekurangan yang
potensial. Salah satu kekurangannya yaitu Original Morisky Scale tidak dapat
menjelaskan ketekunan (kelanjutan jangka panjang terapi pasien), yang
merupakan faktor penting dalam manajemen terapi jangka panjang penyakit
kronis. Kuesioner ini juga tidak didesain untuk mengklasifikasikan pasien
dalam tinggi/rendahnya tingkat motivasi dan pengetahuan. Kuesioner tersebut
akhirnya dikembangkan dengan cara menambahkan 2 buah pertanyaan,
sehingga disebut Modified Morisky Scale (MMS). Kuesioner MMS yang
belum diterjemahkan dapat dilihat pada tabel IX.
30
Tabel IX. The Modified Morisky Scale (MMS) dalam CMAG (CMSA, 2006)
Question
Motivation
Knowledge
1.
Do you ever forget to take your medicine?
Yes (0) No (1)
2.
Are you careless at times about taking your
Yes (0) No (1)
medicine?
3.
When you feel better do you stop taking your
Yes (0) No (1)
medicine?
4.
Sometimes if you feel worse when you taking your
Yes (0) No (1)
medicine, do you stop taking it?
5.
Do you know the long-term benefit of taking your
Yes (1) No (0)
medicine as told to you by your doctor or
pharmacist?
6.
Sometimes do you forget to refill your prescription
Yes (0) No (1)
medicine on time?
Kuesioner MMS seluruhnya dinilai dengan skala “Ya” atau “Tidak”. Pada
domain motivasi, setiap jawaban “Tidak” (pertanyaan 1, 2, 6) mendapat skor 1
dan setiap jawaban “Ya” mendapat skor 0, sehingga total skor domain
motivasi ada pada rentang 0 – 3. Apabila skor total yang didapat pasien
bernilai 0 – 1, maka pasien dinyatakan memiliki motivasi yang rendah,
sedangkan untuk total skor >1 pasien dinyatakan memiliki motivasi yang
tinggi. Pada domain pengetahuan, jawaban “Tidak” untuk pertanyaan 3 dan 4
mendapatkan skor 1, dan jawaban “Ya” mendapat skor 0. Pada pertanyaan 5,
jawaban „Tidak” mendapat skor 0, dan jawaban “Ya” mendapat skor 1. Total
skor yang didapat ada pada rentang 0 – 3. Apabila skor total yang didapat
pasien bernilai 0 – 1, maka pasien dinyatakan memiliki pengetahuan yang
rendah, sedangkan untuk total skor >1 pasien dinyatakan memiliki
pengetahuan yang tinggi (CMSA, 2006).
31
Penilaian kuesioner MMS kemudian digunakan untuk menentukan
kuadran kepatuhan pasien yaitu:
Kuadran 1
Motivasi rendah, pengetahuan rendah. Pasien dinyatakan tidak
patuh.
Kuadran 2
Motivasi tinggi, pengetahuan rendah. Pasien dinyatakan memiliki
kepatuhan yang tidak tetap atau berubah-ubah.
Kuadran 3
Motivasi rendah, pengetahuan tinggi. Pasien dinyatakan memiliki
kepatuhan yang tidak tetap atau berubah-ubah.
Kuadran 4
Motivasi tinggi, pengetahuan tinggi. Pasien dinyatakan patuh.
Kuesioner MMS merupakan metode self-reported evaluation sehingga
memiliki keterbatasan yaitu kemungkinan terjadinya personal bias dan
perbedaan interpretasi pertanyaan dalam kuesioner tersebut. Penelitian yang
dilakukan selama pasien menjalani pengobatan juga dapat menghasilkan
“Hawthrone Effect”, yaitu kecenderungan pasien untuk meningkatkan
kepatuhannya karena pasien tahu bahwa mereka sedang diobservasi (Fairman
and Motheral, 2000).
F. Keterangan Empiris
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola pengobatan, gambaran
kepatuhan, dan faktor pendukung kepatuhan terapi OAT pada pasien tuberkulosis
paru di Puskesmas Kabupaten Sleman. Kepatuhan pasien diukur dengan kuesioner
Modified Morisky Scale (MMS), sedangkan faktor pendukung kepatuhan
diperoleh melalui wawancara langsung dengan pasien.
Download