BAB II KAJIAN TEORITIK A. Deskripsi Konseptual 1. Koneksi

advertisement
7
BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. Deskripsi Konseptual
1.
Koneksi Matematis
Dalam pembelajaran matematika, materi yang satu
mungkin
merupakan prasyarat bagi materi lainnya, atau konsep yang satu diperlukan
untuk menjelaskan konsep yang lainnya. Sebagai ilmu yang saling berkaitan,
dalam hal ini siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk memecahkan
persoalan-persoalan matematika yang memiliki kaitan terhadap materi yang
dipelajari sebelumnya.
Menurut National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) bahwa
matematika bukan kumpulan dari topik dan kemampuan yang terpisah-pisah,
walaupun dalam kenyataan pelajaran matematika sering dipartisi dan
diajarkan dalam beberapa cabang. Matematika merupakan ilmu yang
terintegrasi. Memandang matematika secara keseluruhan sangat penting
dalam belajar dan berfikir tentang koneksi di antara topik-topik dalam
matematika. Koneksi matematis merupakan dua kata yang berasal dari
Mathematical Conection, yang dipopulerkan oleh NCTM dan dijadikan
sebagai standar kurikulum pembelajaran matematika sekolah dasar dan
menengah. Untuk dapat melakukan koneksi, terlebih dahulu harus mengerti
permasalahannya, dan untuk dapat mengerti permasalahan harus mampu
membuat koneksi dengan topik-topik yang terkait. Menurut Lappan (2002)
8
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
8
koneksi matematis merupakan suatu kegiatan pembelajaran dimana siswa
dapat
mendefinisikan
bagaimana
cara
untuk
menyelesaikan
suatu
permasalahan, situasi dan ide matematika yang saling berhubungan ke dalam
bentuk model matematika, serta siswa dapat menerapkan pengetahuan yang
diperoleh untuk memecahkan satu masalah ke masalah lain.
Koneksi matematis yaitu mencari hubungan berbagai representasi
konsep dan prosedur, memahami hubungan antar topik matematika,
menggunakan matematika dalam bidang studi lain atau kehidupan seharihari, memahami representasi ekuivalen konsep yang sama, mencari koneksi
satu prosedur ke prosedur lain dalam representasi yang ekuivalen,
menggunakan koneksi antar topik matematika, dan antara topik matematika
dengan topik lain. (Sumarmo, 2004)
Konsep-konsep matematika tersusun secara hierarkis, terstruktur, logis
dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep
yang paling kompleks. Dalam matematika terdapat topik atau konsep
prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya.
Ibarat membangun sebuah gedung bertingkat, lantai kedua dan selanjutnya
tidak akan terwujud apabila fondasi dan lantai sebelumnya yang menjadi
prasyarat benar-benar tidak kuat untuk menopang bangunan di atasnya.
Ketika
siswa
mampu
mengkoneksikan
ide
matematika,
pemahamannya terhadap matematika menjadi lebih tahan lama. Siswa dapat
melihat bahwa koneksi matematis sangat berperan dalam topik-topik
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
9
matematika, dalam konteks yang menghubungkan matematika dan pelajaran
lain, dan dalam kehidupannya. Melalui pembelajaran yang menekankan
keterhubungan ide-ide dalam matematika, siswa tidak hanya belajar
matematika namun juga belajar menggunakan matematika. (NCTM, 2000)
Berdasarkan uraian para ahli di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
indikator kemampuan koneksi matematis yang akan digunakan dalam
penelitian ini yaitu:
a.
Memahami dan menghubungkan antar sub materi dalam materi pokok
matematika.
Pada indikator ini siswa dapat memanfaatkan antar sub materi
yang telah mereka pelajari dengan konteks baru yang akan dipelajari
oleh siswa dengan cara menghubungkan antar sub materi dengan sub
materi lainnya sehingga siswa dapat mengingat kembali tentang sub
materi sebelumnya yang telah siswa pelajari. Siswa juga dapat
memandang gagasan-gagasan baru tersebut sebagai perluasan dari
materi matematika yang sudah dipelajari.
b.
Memahami dan menghubungkan antar konsep dalam matematika.
Pada indikator ini siswa dapat melihat konsep-konsep matematika
yang saling berhubungan sehingga terjadi peningkatan pemahaman antar
suatu konsep dengan konsep lainnya. Selain itu, pada indikator ini juga
siswa dapat
melihat bagaimana ide-ide dalam matematika saling
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
10
berhubungan dan mendasari satu sama lain dengan ilmu lain untuk
menghasilkan suatu hubungan secara keseluruhan.
c.
Memahami dan menghubungkan matematika dalam kehidupan seharihari.
Pada indikator ini, siswa dapat mengkoneksikan antara kejadian yang
ada pada kehidupan sehari-hari ke dalam model matematika.
2.
Self Regulated
Setiap orang akan berusaha untuk meregulasi fungsi dirinya dengan
berbagai cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada waktu
seseorang mampu mengembangkan kemampuan self regulated secara optimal,
maka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal.
Sebaliknya, pada saat seseorang kurang mampu mengembangkan kemampuan
self regulated dalam dirinya, maka pencapaian tujuan yang telah
ditetapkannya tidak dapat dicapai secara optimal.
Self regulated digambarkan sebagai sebuah siklus karena feedback dari
tingkah laku sebelumnya digunakan untuk membuat penyesuaian dalam
usahanya saat ini. Ketidakefektifan dalam kemampuan self regulated ini bisa
disebabkan oleh kurang berkembangnya salah satu fase dalam proses self
regulated terutama pada fase forethought dan performance ckontrol yang
tidak efektif. Terdapat dua kategori yang saling berkaitan erat dalam fase
Forethought: (a) Task Analysis yang menjadi inti task analysis meliputi
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
11
penentuan tujuan (goal setting) dan strategic planning. Goal Setting dapat
diartikan sebagai penetapan / penentuan hasil belajar yang ingin dicapai oleh
seorang siswa, misalnya memecahkan persoalan matematika selama proses
belajar berlangsung. Bentuk kedua dari task analysis adalah strategic
planning. Strategi ini merupakan suatu proses dan tindakan seseorang yang
bertujuan dan diarahkan untuk memperoleh dan menunjukkan suatu
keterampilan yang dapat digunakannya untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkannya. (b) Self Motivation Beliefs yang menjadi dasar task analysis
dan strategic planning adalah self motivation beliefs yang meliputi self
eficacy, outcome expectation, intrinsic interest or valuing, dan goal
orientation. Self eficacy merujuk pada keyakinan seseorang terhadap
kemampuannya untuk memiliki performance yang optimal untuk mencapai
tujuannya, sementara outcomes expectation merujuk pada harapan seseorang
tentang pencapaian suatu hasil dari upaya yang telah dilakukannya. Sebagai
contoh, self eficacy yang mempengaruhi goal setting adalah sebagai berikut:
semakin mampu seseorang meyakini kemampuan mereka sendiri, maka akan
semakin tinggi tujuan yang mereka tetapkan dan semakin mantap ia akan
bertahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Sedangkan Fase
Performance / Volitional ckontrol meliputi (a) Self Ckontrol seperti self
instruction, imagery, attention focusing, dan task strategies, membantu siswa
menfokuskan pada tugas yangdihadapinya dan mengoptimalkan usaha untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Salah satu perilaku yang dapat
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
12
diamati pada saat seseorang sedang berada di fase ini adalah saat anak
mencoba untuk memecahkan persoalan matematika, anak memperlihatkan
verbalisasi dalam mengingat rumus-rumus matematika (self instruction),
mencoba untuk membentuk suatu gambaran mental secara utuh misalnya
dengan cara melakukan proses encoding (imagery) ataupun mencoba berbagai
teknik untuk melatih konsentrasi agar dapat dengan mudah menghapalkan
rumus-rumus matematika tersebut (attention focusing). (b)Self Observation
mengacu pada penelusuran seseorang terhadap aspek-aspek yang spesifik dari
performance yang mereka tampilkan, kondisi sekelilingnya, dan akibat yang
dihasilkannya. Penetapan tujuan yang dilakukan pada fase forethought
mempermudah self observation, karena tujuannya terfokus pada proses yang
spesifik dan terhadap kejadian di sekelilingnya.(Susanto, 2006).
Dalam bahasa Indonesia self regulated learning sering disama artikan
dengan kemandirian belajar, regulasi diri pembelajaran dan pengolahan diri
dalam belajar (Melinda, 2015). Menurut Fitria (2009) Self Regulated Learning
adalah faktor internal individu yang memiliki pengaruh terhadap prestasi
belajar. Hasil belajar yang optimal dan prestasi dapat dicapai salah satunya
melalui kemampuan siswa untuk mengatur dirinya. Siswa perlu mengorganisir
dirinya agar mereka mampu menjalani aktifitas dan bahkan bisa mencapai
hasil yang optimal. Begitu juga dalam sebuah proses belajar, seseorang akan
memperoleh prestasi belajar yang baik bila ia menyadari, bertanggung jawab
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
13
dan mengetahui cara belajar. Hal ini tentunya membutuhkan pengaturan diri
yang baik pada siswa atau dengan kata lain regulasi diri siswa.
Keberhasilan seorang anak dalam menjalani proses pendidikannya
terdapat banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah self
regulated. Kemampuan self regulated meliputi kemampuan siswa dalam
mengikuti proses kegiatan belajar mengajar di sekolah, membagi waktu antara
belajar dan bermain, kemampuan mempersiapkan diri dalam menghadapi
ulangan. Kemampuan ini tidak dapat berkembang dengan sendirinya.
Dibutuhkan suatu lingkungan yang kondusif agar anak dapat mengembangkan
kemampuan self regulated. Lingkungan yang kondusif seperti hubungan yang
baik antar orang tua dan anak atau guru dan murid akan mendukung
perkembangan self regulated karena dalam hubungan yang kondusif, maka
akan tercipta suatu keterbukaan yang diperlukan untuk melaksanakan proses
diskusi dan evaluasi.
Menurut Ormrod (2008) untuk menjadi pembelajar yang benar-benar
efektif, siswa harus terlibat dalam beberapa aktivitas mengatur diri (self
regulated). Secara khusus self regulated mencakup proses-proses berikut:
a.
Penetapan tujuan
Pembelajar yang mengatur diri tahu apa yang ingin mereka capai ketika
belajar.
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
14
b. Perencanaan
Pembelajar yang mengatur diri sebelumnya sudah menentukan bagaimana
baiknya menggunakan waktu dan sumber daya yang tersedia untuk tugastugas belajar.
c.
Motivasi diri
Pembelajar yang mengatur diri biasanya memiliki keyakinan diri yang
tinggi akan kemampuan mereka menyelesaikan suatu tugas belajar
dengan sukses.
d. Kontrol atensi
Pembelajar yang mengatur diri berusaha memfokuskan perhatian mereka
pada pelajaran yang sedang berlangsung dan menghilangkan dari pikiran
mereka hal-hal lain yang mengganggu.
e.
Penggunaan strategi belajar yang fleksibel
Pembelajar yang mengatur diri memiliki strategi belajar yang berbeda
tergantung tujuan-tujuan spesifik yang ingin mereka capai.
f.
Monitor diri
Pembelajar yang mengatur diri terus memonitor kemajuan
mereka dalam kerangka tujuan yang telah ditetapkan.
g. Mencari bantuan yang tepat
Pembelajar yang benar-benar mengatur diri tidak selalu harus
berusaha sendiri. Sebaliknya, mereka menyadari bahwa
mereka
membutuhkan bantuan orang lain dan mencari bantuan.
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
15
h. Evaluasi diri
Pembelajar yang mampu mengatur diri menentukan apakah
yang
mereka pelajari itu telah memenuhi tujuan awal mereka.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa self
regulated merupakan usaha individu yang dilakukan secara sistematis
untuk memfokuskan pikiran, perasaan, dan perilaku pada pencapaian
tujuan. Kemampuan self regulated dibutuhkan siswa agar mampu
mengatur dan mengarahkan dirinya sendiri, mampu mengendalikan diri
dalam menghadapi tugas-tugas pembelajaran. Kemampuan self regulated
berkaitan dengan bagaimana seorang siswa mengaktualisasikan dirinya
dengan menampilkan serangkaian tindakan yang ditunjukan pada
pencapaian target. Kemampuan self regulated meliputi kemampuan siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah, membagi waktu antar
belajar dan bermain, kemampuan mempersiapkan diri dalam menghadapi
ulangan. Oleh karena itu, dengan adanya self regulated siswa diharapkan
lebih bisa menunjukkan perilaku-perilaku atau usaha yang dapat
menunjang keberhasilannya dalam proses belajar. Dalam penelitian ini,
self regulated yang akan di ukur meliputi:
a. Kemampuan menetapkan tujuan belajarnya.
b. Kemampuan merencanakan belajarnya.
c. Kemampuan memotivasi diri.
d. Kemampuan mengkontrol belajarnya.
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
16
e. Kemampuan menggunakan strategi belajar yang fleksibel.
f. Kemampuan memonitor diri dalam belajarnya.
g. Kemampuan mencari bantuan yang tepat.
h. Kemampuan mengevaluasi hasil belajarnya.
3.
Materi Segitiga dan Segiempat
Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), salah
satu pokok bahasan matematika di SMP adalah bangun datar. Pokok
bahasan ini diajarkan pada kelas VII semester II. Pada pokok bahasan
bangun datar, indikator-indikator yang akan dipelajari dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
Standar Kompetensi :
6.
Memahami konsep segiempat dan segitiga serta menentukan
ukurannya.
Kompetensi Dasar :
6.3 Menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat serta
menggunakannya dalam pemecahan masalah.
B. Penelitian Yang Relevan
Berikut ini adalah beberapa penelitian yang relevan terkait dengan
koneksi matematis. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kurniasari tahun
pelajaran 2012/2013 di SMP Negeri 17 Purworejo dengan 12 siswa kelas IX
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
17
menunjukkan hasil bahwa kemampuan siswa dalam melakukan koneksi
interkonsep matematika belum dimiliki secara penuh, siswa tidak dapat
melakuan koneksi antara konsep luas permukaan dan volume dengan konsep
matematika lainnya, siswa dapat melakukan koneksi matematis dengan mata
pelajaran ekonomi, dan siswa dapat melakukan koneksi matematis dengan
kehidupan sehari-hari. Adapun persamaan penelitian ini dengan penelitian yang
akan dilakukan yaitu sama-sama mengacu pada koneksi matematis. Perbedaan
terdapat pada materi, subjek yang diteliti dan tempat penelitian. Pada penelitian
yang akan dilakukan terdapat tinjauan yang digunakan adalah koneksi matematis.
Tempat penelitiannya dilakukan di SMP Negeri 5 Purwokerto dengan subjek
penelitiannya adalah siswa kelas VIII tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini akan
terfokus untuk mendeskripsikan kemampuan koneksi matematis siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Vivik Shofiah dan Raudatussalamah
menunjukkan hasil terdapat perbedaan antara self efficacy dan self regulation
pada mahasiswa UIN Suska Riau sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran
akhlak tasawuf. Self efficacy dan self regulation pada mahasiswa UIN Suska
Riau tergolong tinggi dan sangat tinggi. Adapun persamaan penelitian ini dengan
penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-sama mengacu pada self regulated.
Perbedaan terdapat pada jenis penelitian, subjek penelitian, tempat dan waktu
penelitian. Pada penelitian yang akan dilakukan terdapat tinjauan yang digunakan
adalah self regulated. Sedangkan tempat penelitiannya dilakukan di SMP Negeri
5 Purwokerto dengan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VIII tahun ajaran
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
18
2016/2017. Penelitian ini akan terfokus untuk mendeskripsikan self regulated
siswa.
C. Kerangka Pikir
Berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil beberapa penelitian diatas,
tampak bahwa perilaku self regulated dalam belajar sangat mempengaruhi
terhadap prestasi belajar seseorang salah satunya kemampuan koneksi matematis,
maka dari itu siswa harus memiliki self regulated atau pengaturan diri yang baik.
Dimana self regulated menuntut siswa mengatur strategi belajarnya sendiri untuk
mencapai tujuan yang ingin dicapai siswa serta mengembangkan potensi
akademiknya sendiri.
Ketika siswa memeiliki self regulated, siswa akan menjadi pembelajar
yang benar-benar efektif dalam mengatur aktivitas belajarnya seperti menetapkan
tujuan, perencanaan, motivasi diri, kontrol atensi, penggunaan strategi belajar
yang fleksibel, monitor diri, mencari bantuan yang tepat dan evaluasi diri. Jadi
dapat dikatakan semakin tinggi self regulated siswa dalam belajar, maka semakin
tinggi pula hasil prestasi belajar yang diperolehnya. Dan sebaliknya jika siswa
memilki self regulated yang rendah, maka hasil prestasi belajarnyapun kurang
baik.
Dalam pembelajaran matematika mempunyai tujuan dan salah satu
tujuan adalah memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar
konsep, dan mengaplikasikan konsep atau logaritma secara luwes, akurat, efisien
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
19
dan tepat dalam pemecahan masalah. Kemampuan untuk menjelaskan keterkaitan
antar konsep merupakan bagian dari kemampuan koneksi matematis.
Kemampuan koneksi matematis merupakan keterampilan yang harus dibangun
dan dipelajari supaya kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan dalam
menghadapi permasalahan kehidupan individu sehari-hari. Kemampuan koneksi
matematis merupakan salah satu faktor penting dalam melakukan pemahaman
konsep matematika. Dengan melakukan koneksi, konsep-konsep matematika
yang telah dipelajari tidak ditinggalkan begitu saja sebagai bagian yang terpisah,
tetapi digunakan sebagai pengetahuan dasar untuk memahami konsep yang baru.
Tanpa koneksi matematis siswa harus belajar dan mengingat terlalu banyak
konsep dan prosedur matematika yang saling terpisah. Oleh karena itu
kemampuan koneksi perlu dimiliki oleh siswa untuk mencapai pemahaman
matematika, sehingga siswa perlu memiliki kemampuan self regulated yang baik,
dan diharapkan dalam pembelajaran matematika terutama dalam menyelesaikan
soal kemampuan koneksi matematis, siswa dapat menyelesaikannya dengan baik
pula. Sehingga dimungkinkan ada keterkaitan antara kemampuan komunikasi
matematis dengan self regulated siswa.
Deskripsi Kemampuan Koneksi..., Diah Nurlaeli M, FKIP, UMP, 2017
Download