6 BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Konsep Persepsi 1. Pengertian

advertisement
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Persepsi
1.
Pengertian persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penginderaan yang diawali
dengan suatu stimulus yang kemudian diorganisasikan dan di interprestasikan
Sobur (2010, dalam Oktarina, 2011). Persepsi disebut inti komunikasi, karena
jika persepsi tidak akurat, kita tidak mungkin berkomunikasi dengan efektif.
Persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan
pesan yang lain. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi antar individu,
semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi dan sebagai
konsekuensinya, semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau
kelompok identitas Sobur (2010, dalam Oktarina, 2011).
Asmita (2008) menjelaskan proses pembentukan persepsi dipengaruhi oleh tiga
hal yaitu:
1. Karakteristik dari stimuli (rangsangan) dimana stimulus merupakan hal
diluar individu yang dapat berbentuk fisik, visual atau komunikasi verbal
yang dapat mempengaruhi tanggapan individu.
2. Hubungan stimuli dengan sekelilingnya. Persepsi yang dibentuk oleh
seseorang dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya, oleh karena
itu persepsi memiliki sifat subjektif. Hal tersebut berarti bahwa setiap orang
dapat memiliki persepsi yang berbeda terhadap satu objek yang sama.
3. Kondisi yang ada dalam diri individu yang bersangkutan.
2.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Menurut Asmita (2008), dengan melihat satu objek yang sama, orang dapat
mempunyai persepsi yang berbeda, karena persepsi dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti berikut:
6
7
1. Faktor Pelaku Persepsi
Bila seseorang memandang suatu objek dan mencoba, maka penafsiran itu
sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari orang yang berpersepsi
yang mencakup sikap, motif, kepentingan, pengalaman dan pengharapan.
2. Faktor Objek
Karakteristik-karakteristik dari target yang diamati dapat mempengaruhi apa
yang dipersepsikan karena target tidak dipandang dalam keadaan terisolasi,
namun objek yang berdekatan akan cenderung dipersepsikan bersama-sama.
Faktor target mencakup hal-hal baru yakni gerakan, bunyi, ukuran, latar
belakang, dan kedekatan.
3. Faktor Situasi
Faktor situasi ini mencakup waktu, keadaan/tempat kerja, dan keadaan
social. Persepsi pasien terhadap mutu pelayanan selain dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang telah disebutkan diatas juga dipengaruhi oleh harapan
terhadap pelayanan yang diinginkan. Harapan ini dibentuk oleh apa yang
konsumen dengar dari konsumen lain dari mulut ke mulut, kebutuhan
pasien, pengalaman masa lalu dan pengaruh komunikasi eksternal.
Pelayanan yang diterima dan harapan yang ada mempengaruhi konsumen
terhadap mutu pelayanan (Asmita, 2008).
B. Konsep Pelayanan Keperawatan
1.
Pengertian Pelayanan Keperawatan
Pelayanan keperawatan adalah bagian integral dari pelayanankesehatan di
Rumah Sakit di mana mutu pelayanan keperawatan harusdikelola dengan
sebaik-baiknya karena pelayanan keperawatan utamanyadi Instalasi Rawat
Inap dapat menjadi indikator mutu pelayanan RumahSakit. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Sitorus (2000, dalam Wahyuni, 2007)
menunjukkan bahwa gambaran mutu pelayanan keperawatan di berbagai
Rumah Sakit Pemerintah di Indonesia belum memuaskan, dan terdapat
8
beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya mutu asuhankeperawatan, jika
ditinjau dari aspek struktur dan proses (sistem) pemberian asuhan keperawatan.
Sistem pemberian asuhan keperawatan (care delivery system) merupakan
metode yang digunakan dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada
klien (Wahyuni, 2007).
Pelayanan keperawatan, pasien berhak memperoleh pelayanan keperawatan
berupa pemeriksaan/anamnesis keperawatan: biologi, psikologis dan sosial
(BIOPSIKOSOSIAL),
merencanakan
diagnosa
keperawatan,
tindakan
keperawatan mandiri maupun tindakan delegasi dari medis, mengevaluasi
tindakan keperawatan maupun tindakan pendelegasian dari medis melakukan
rehabilitasi, mencegah infeksi nasokomial, mencegah dekubitus, mencegah
pneumonia akibat bedrest yang lama, mencegah jatuh dari tempat tidur
(memberikan rasa aman dan nyaman), pendidikan kesehatan serta perawatan
rumah (home care) jika diperlukan follow up pelayanan keperawatan
diorganisasikan dan dikelolah agar dapat memberikan asuhan keperawatan
yang optimal (Limbong, 2010).
Pasien berhak atas pelayanan pemeriksaan penunjang seperti laboratorium,
ronsen, USG, EKG dan pemeriksaan lainya untuk membantu menegakkan
diagnosa medis dan keperawatan, pasien berhak untuk mendapatkan pelayanan
pemberian obat-obatan sesuai dengan prinsip teraupetik, aman, tepat sasaran,
efektif dan mudah untuk mendapatkan (ketersediaan obat) (Limbong, 2010).
2.
Bagian-bagian pelayanan keperawatan
Ahmad (2010) menjelaskan bahwa bagian-bagian pelayanan keperawatan
terdiri dari:
1.
Asuhan keperawatan
a.
Pengkajian/Anamneses
Pengumpulan data yang berhubungan dengan pasien secara sistematis,
meliputi fisik, psikologi, sosiokultural, spiritual, kognitif, kemampuan
9
fungsional, perkembangan ekonomi dan gaya hidup. Pengkajian
mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara, pengumpulan
riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, laboratorium dan diagnosa serta
melihat kembali catatan sebelumnya.
1) Pengumpulan data Tujuan : Diperoleh data dan informasi
mengenai masalah kesehatan yang ada pada pasien sehingga
dapat ditentukan tindakan yang harus di ambil untuk mengatasi
masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, mental, sosial
dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
Data tersebut harus akurat dan mudah di analisis.
Jenis data antara lain data objektif, yaitu data yang diperoleh
melalui suatu pengukuran, pemeriksaan, dan pengamatan,
misalnya suhu tubuh, tekanan darah, serta warna kulit. Data
subjektif yaitu data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan
pasien, atau dari keluarga pasien/saksi lain misalnya, kepala
pusing, nyeri dan mual. Adapun fokus dalam pengumpulan data
meliputi:
a.
Status kesehatan sebelumnya dan sekarang
b.
Pola koping sebelumnya dan sekarang
c.
Fungsi status sebelumnya dan sekarang
d.
Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan
e.
Resiko untuk masalah potensial
f.
Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien
2) Analisa data
Analisa
data
adalah
kemampuan
dalam
mengembangkan
kemampuan berpikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu
pengetahuan.
10
3) Perumusan masalah
Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa
masalah kesehatan.Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat
diintervensi dengan asuhan keperawatan (masalah keperawatan)
tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan
medis.Selanjutnya disusun diagnosis keperawatan sesuai dengan
prioritas.Prioritas masalah ditentukan berdasarkan kriteriapenting
dan segera. Penting mencakup kegawatan dan apabila tidak
diatasi
akan
menimbulkan
komplikasi,
sedangkan
segera
mencakup waktu misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar
maka tindakan harus
segera dilakukan untuk mencegah
komplikasi yang lebih parah atau kematian. Prioritas masalah
juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut
Maslow, yaitu: Keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan
yang mengancam kesehatan, persepsi tentang kesehatan dan
keperawatan.
b.
Diagnosa keperawatan
Adalah analisa data yang telah dikumpulkan untuk mengidentifikasi,
memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon
terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Ahmad, 2010). Perumusan
diagnosa keperawatan:
1) Aktual : menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data
klinik yang ditemukan.
2) Resiko : menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika
tidak di lakukan intervensi.
3) Kemungkinan: menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan
untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan.
11
4) Wellness : keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga,
atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu
ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
5) Sindroma : diagnosa yang terdiri dar kelompok diagnosa
keperawatan aktual dan resiko tinggi yang diperkirakan
muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.
c.
Intervensi
Proses dua bagian yaitu pertama adalah identifikasi tujuan dan hasil
yang diinginkan dari pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan
atau kebutuhan yang telah dikaji, hasil yang diharapkan harus spesifik,
realistik, dapat diukur, menunjukkan kerangka waktu yang pasti,
mempertimbangkan keinginan dan sumber pasien. Kedua adalah
pemilihan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien
dalam mencapai hasil yang diharapkan.Semua tindakan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status
kesehatan saat ini status kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di
harapkan Gordon (1994, dalam Ahmad, 2010). Merupakan pedoman
tertulis untuk perawatan klien.Rencana perawatan terorganisasi
sehingga setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan
perawatan yang diberikan. Rencana asuhan keperawatan yang di
rumuskan dengan tepat memfasilitasi kontinuitas asuhan perawatan
dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat
mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas
tinggi dan konsisten. Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur
pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas.
Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka
panjang Potter (1997, dalam Ahmad, 2010).
d.
Implementasi
12
Impelementasi adalah melakukan tindakan dan mendokumentasikan
proses keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan. Oleh karena
itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. Adapun
tahap - tahap dalam tindakan keperawatan adalah sebagai berikut :
Tahap 1 : Persiapan
Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk
mengevaluasi yang diidentifikasi pada tahap perencanaan.
Tahap 2 : Intervensi
Fokus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan
pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan
fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi
tindakan : independen, dependen dan interdependen.
Tahap 3 : Dokumentasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang
lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.
e.
Evaluasi
Menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang
diharapkan dan respon pasien terhadap keefektifan intervensi
keperawatan.
Kemudian mengganti
rencana
keperawatan jika
diperlukan. Sasaran evaluasi adalah sebagai berikut:
1.
Proses asuhan keperawatan,berdasarkan kriteria/rencana yang
telah disusun.
2.
Hasil tindakan keperawatan, berdasarkan kriteria keberhasilan
yang telah di rumuskan dalam rencana evaluasi.
Hasil evaluasi
Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu :
13
1.
Tujuan
tercapai
apabila
pasien
telah
menunjukan
perbaikan/kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah di tetapkan.
2.
Tujuan tercapai sebagian, apabila tujuan itu tidak tercapai secara
maksimal,
sehingga
perlu
di
cari
penyebab
dan
cara
mengatasinya.
Tujuan tidak tercapai,
apabila pasien tidak menunjukan
perubahan/kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru.
Dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih
mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan
faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak
tercapainya tujuan. Setelah seorang perawat melakukan seluruh
proses
keperawatan dari pengkajian sampai dengan evaluasi
kepada pasien, seluruh tindakannya harus di dokumentasikan
dengan benar dalam dokumentasi keperawatan (Ahmad, 2010).
f. Dokumentasi keperawatan
Dokumentasi adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang
dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang
berwenang Potter (2005, dalam Ahmad, 2010). Potter (2005, dalam
Ahmad,
2010)
juga
menjelaskan
tentang
tujuan
dalam
pendokumentasian yaitu :
a.
Komunikasi
Sebagai cara bagi tim kesehatan untuk mengkomunikasikan
(menjelaskan) perawatan klien termasuk perawatan individual,
edukasi
klien
dan
penggunaan
rujukan
untuk
rencana
pemulangan.
b.
Tagihan finansial
Dokumentasi dapat menjelaskan sejauhmana lembaga perawatan
mendapatkan ganti rugi (reimburse) atas pelayanan yang
diberikan bagi klien.
14
c.
Edukasi
Dengan catatan ini peserta didik belajar tentang pola yang harus
ditemui dalam berbagai masalah kesehatan dan menjadi mampu
untuk mengantisipasi tipe perawatan yang dibutuhkan klien.
d.
Pengkajian
Catatan memberikan data yang digunakan perawat untuk
mengidentifikasi dan mendukung diagnosa keperawatan dan
merencanakan intervensi yang sesuai.
e.
Riset
Perawat dapat menggunakan catatan klien selama studi riset untuk
mengumpulkan informasi tentang faktor-faktor tertentu.
f.
Audit dan pemantauan
Tinjauan teratur tentang informasi pada catatan klienmemberi
dasar untuk evaluasi tentang kualitas dan ketepatan perawatan
yang diberikan dalam suatu institusi.
g.
Dokumentasi legal
Pendokumentasian yang akurat adalah salah satu pertahanan diri
terbaik terhadap tuntutan yang berkaitan dengan asuhan
keperawatan
3. Pelayanan Keperawatan yang Bermutu
Menurut Nurahmah (2005, dalam Ahmad, 2010), pelayanan keperawatan yang
bermutu dipersepsikan perawat akan dapat dipenuhi dari beberapa faktor yaitu:
15
a.
Apabila perawat memberikan kewenangan utuh untuk mendesain,
mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi pelayanan keperawatan yang
diberikan.
b.
Pelayanan keperawatan diberikan dalam lingkungan kerja praktek
keperawatan profesional.
c.
Tersedia sarana dan prasarana yang dapat memperlancar kegiatan
keperawatan seperti peralatan medik (obat-obatan, set infus, keteter, dll),
keperalatan keperawatan (alat tenuncukup, materi pencegahan infeksi
nosokomial, dll), peralatan pendukung keperawatan (formulir rencana
keperawatan, dll).
d.
Diberlakukan sistem penghargaan (promosi dan kompotensi) memadai
yang memungkinkan perawat tidak harus berpikir tentang keperawatan
diri, pendidikan dan masa depan karirnya.
4. Aspek-aspek Kualitas Pelayanan Keperawatan
Aspek-aspek kualitas pelayanan keperawatan menurut Tjiptono (1997, dalam
Ahmad, 2010) adalah :
1.
Keandalan (reliability) yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang
dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan, jujur, aman, tepat waktu,
ketersediaan. Keseluruhan ini berhubungan dengan kepercayaan terhadap
pelayanan dalam kaitannya dengan waktu.
2.
Ketanggapan (responsiveness) yaitu keinginan para pegawai atau
karyawan.
3.
Membantu konsumen dan memberikan pelayanan itu dengan tanggap
terhadap kebutuhan konsumen, cepat memperhatikan dan mengatasi
kebutuhan-kebutuhan.
4.
Jaminan (assurance) mencangkup kemampuan, pengetahuan, kesopanan
dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki pada karyawan, bebas dari bahaya,
16
resiko,
keragu-raguan,
memiliki
kompetensi,
percaya
diri
dan
menimbulkan keyakinan kebenaran (objektif).
5.
Empati atau kepedulian (emphaty) meliputi kemudahan dalam melakukan
hubungan komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan konsumen
yang terwujud dalam penuh perhatian terhadap setiap konsumen, melayani
konsumen dengan ramah dan menarik, memahami aspirasi konsumen,
berkomunikasi yang baik dan benar serta bersikap dengan penuh simpati.
6.
Bukti langsung atau berujud (tangibles) meliputi fasilitas fisik, peralatan
pegawai, kebersihan (kesehatan), ruangan baik teratur rapi, berpakaian rapi
dan harmonis, penampilan karyawan atau peralatannya dan alat
komunikasi.
Sedangkan menurut Depkes RI (dalam Kohitmah, 2009) telah menetapkan
bahwa pelayanan perawatan dikatakan berkualitas baik apabila perawat
dalam memberikan pelayanan kepada pasien sesuai dengan aspek-aspek
dasar perawatan. Aspek dasar tersebut meliputi aspek penerimaan,
perhatian, tanggung jawab, komuniksi dan kerjasama. Selanjutnya masingmasing aspek dijelaskan sebagai berikut:
1.
Aspek penerimaan aspek ini meliputi sikap perawat yang selalu
ramah, periang, selalu tersenyum, menyapa semua pasien. Perawat
perlu memiliki minat terhadap orang lain, menerima pasien tanpa
membedakan golongan, pangkat, latar belakang sosial ekonomi dan
budaya, sehingga pribadi utuh. Agar dapat melakukan pelayanan
sesuai aspek penerimaan perawat harus memiliki minat terhadap orang
lain dan memiliki wawasan luas.
2.
Aspek perhatian aspek ini meliputi sikap perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan perlu bersikap sabar, murah hati dalam arti
bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada pasien dengan
17
sukarela tanpa mengharapkan imbalan, memiliki sensitivitas dan peka
terhadap setiap perubahan pasien, mau mengerti terhadap kecemasan
dan ketakutan pasien.
3.
Aspek komunikasi aspek ini meliputi sikap perawat yang harus bisa
melakukan komunikasi yang baik dengan pasien, dan keluarga pasien.
Adanya komunikasi yang saling berinteraksi antara pasien dengan
perawat, dan adanya hubungan yang baik dengan keluarga pasien.
4.
Aspek kerjasama Aspek ini meliputi sikap perawat yang harus mampu
melakukan kerjasama yang baik dengan pasien dan keluarga pasien.
5.
Aspek tanggung jawab aspek ini meliputi sikap perawat yang jujur,
tekun dalam tugas, mampu mencurahkan waktu dan perhatian, sportif
dalam tugas, konsisten serta tepat dalam bertindak.
C. Kepuasan Pasien
1.
Pengertian Kepuasan Pasien
Pelayanan kesehatan yang berkualitas adalah pelayanan kesehatan yangdapat
memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengantingkat
kepuasan rata-rata penduduk serta penyelenggaraannya sesuaidengan kode etik
dan standar pelayanan profesi yang ada.Pemuasan pelanggan atau pasien
adalah prinsip dasarmanajemen mutu kualitas (Anjaryani, 2009).
Kepuasan pasien dipengaruhi oleh baik atau buruknya pelayanan keperawatan
yang diberikan perawat.Pelayanan keperawatan tidak lepas kaitannya dari
kinerja perawat yang salah satunya dipengaruhi oleh pelaksanaan asuhan
keperawatan. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi tingkat kepuasan pasien,
sehingga pasien yang merasa tidak puas terhadap pelayanan keperawatan yang
diberikan akan enggan untuk memanfaatkan kembali pelayanan di rumah sakit
tersebut sehingga berdampak pula pada penurunan nilai BOR di rumah sakit
Rimaswari (2011, dalam Laniah, 2012 ).
18
Komunikasi memegang peranan sangat penting dalam pelayanan keperawatan,
bahkan dapat dikatanan komunikasi merupakan kegiatan mutlak dan
menentukan bagi hubungan/interaksi perawat-pasien untuk menunjang
kesembuhan pasien.Sehingga hubungan komunikasi interpersonal perawatpasien menentukan kepuasan terhadap pelayanan keperawatan yang dirasakan
oleh pasien (Kohitmah, 2012).
2.
Prinsip-prinsip Dasar Kepuasan Pasien
Prinsip-prinsip dasar kepuasan pasien menurut Irwan yang dikutip oleh
Saludung (2002), yaitu :
1.
Mulailah dengan percaya akan pentingnya kepuasan pasien
2.
Pilihlah pelanggan dengan benar untuk membangun kepuasan pasien
3.
Memahami dan mengontrol serta menggali harapan pasien adalah kunci
4.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien
5.
Faktor emosional adalah faktor yang tidak boleh dilupakan, karena faktor
penting yang mempengaruhi kepuasan pasien
6.
Peserta jamkesmas yang banyak komplain harus ditanggapi positif, karena
mereka sebenarnya adalah pasien yang loyal.
7.
Garansi adalah lompatan yang besar dalam kepuasan pasien.
8.
Dengarkanlah suara pasien
9.
Peran petugas kesehatan amat penting dalam kepuasan pasien.
10. Kepuasan adalah teladan dalam kepuasan pasien.
3.
Dimensi Kepuasan Pasien
Menurut Azwar (2011, dalam Bowo, 2013 ), secara umum dimensi kepuasan
pasien dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
1.
Kepuasan mengacu hanya pada penerapan standar dan kode etik profesi
Ukuran kepuasan pemakai jasa pelayanan kesehatan berbatas hanya pada
kesucian dengan standar serta kode etik pada profesi saja. Ukuran-ukuran
19
yang dimaksud pada dasarnya mencakup penilaian terhadap kepuasan
pasien mengenai hal-hal berikut :
a.
Hubungan
tenaga
kesehatan-pasien
(Health
personal-patient
relationship)
Terbinanya hubungan tenaga kesehatan yang baik, adalah salah satu
kewajiban etik. Untuk dapat terselenggaranya pelayanan kesehatan
yang bermutu,hubungan tenaga kesehatan – pasien yang baik harus
dipertahankan.
b.
Kenyamanan Pelayanan (Amenities)
Mengupayakan terselenggaranya pelayanan yang nyaman juga
merupakan kewajiban etik. Kenyamanan yang dimaksud disini tidak
hanya menyangkut fasilitas yang disediakan, tetapi yang terpenting
lagi menyangkut sikap dan tindakan para pemberi pelayanan ketika
menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
c.
Kebebasan Melakukan Pilihan (Choise)
Memberikan
kebebasan
kepada
pasien
untuk
memilih
serta
menentukan pelayanan kesehatan juga merupakan kewajiban etik.
d.
Pengetahuan dan Kompetensi Teknis (Scientific Knowledge And
Technical Skill)
Menyelenggarakan
pelayanan
kesehatan
yang
didukung
oleh
pengetahuan dan kompetensi teknis bukan saja merupakan bagian dari
kewajiban etik, tetapi juga merupakan bagian prinsip pokok penerapan
standar pelayanan profesi.
e.
Efektifitas Pelayanan (Effectiveness)
Secara umum disebutkan makin efektif pelayanan kesehatan makin
tinggi pula mutu pelayanan kesehatan.
20
f.
Keamanan Tindakan (Safety)
Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu,
aspek keamanan tindakan ini haruslah mendapatkan perhatian yang
sungguh-sungguh. Pelayanan kesehatan yang membahayakan pasien,
bukanlah pelayanan kesehatan yang baik, sehingga tidak boleh
dilakukan.
2.
Kepuasan mengacu pada penerapan semua persyaratan pelayanan
kesehatan
Suatu pelayanan kesehatan disebut juga pelayanan kesehatan yang
bermutu apabila penerapan semua persyaratan pelayanan kesehatan dapat
memuaskan pasien. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ukuranukuran pelayanan kesehatan yang bermutu lebih bersifat luas, karena
didalamnya tercakup penilaian terhadap pasien mengenai :
a.
Ketersediaan Pelayanan Kesehatan (Available)
Karena kepuasan mempunyai hubungan yang erat dengan mutu
pelayanan, maka sering disebut bahwa suatu pelayanan kesehatan
bermutu apabila pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan
kesehatan tersebut tersedia di masyarakat.
b.
Kewajaran pelayanan Kesehatan (Appropriate)
Suatu pelayanan kesehatan yang bermutu,apabila pelayanan tersebut
bersifat wajar, dalam arti dapat mengatasi masalah kesehatan yang
dihadapi.
c.
Kesinambungan Pelayanan Kesehatan (Continue)
Karena bersifat berkesinambungan, dalam arti tersedia setiap saat,baik
menurut waktu dan ataupun kebutuhan pelayanan kesehatan.
21
d.
Penerimaan Pelayanan Kesehatan (Acceptable)
Dapat atau tidaknya diterima pelayanan kesehatan sangat menentukan
puas atau tidaknya diterima pelayanan kesehatan .
e.
Ketercapaian Pelayanan Kesehatan (Accesible)
Pelayanan kesehatan yang lokasinya terlalu jauh dari daerah tempat
tinggal tentu tidak mudah dicapai, apabila keadaan ini sampai terjadi,
tentu tidak akan memuaskan pasien.
f.
Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan (Affordable)
Pelayanan kesehatan yang terlalu mahal tidak dapat dijangkau oleh
semua pemakai jasa pelayanan kesehatan, dan karenanya tidak akan
memuaskan pasien.
g.
Effesiensi Pelayanan Kesehatan (Efficient)
Mempunyai hubungan yang erat dengan kepuasan pemakaian jasa
pelayanan.
h.
Mutu Pelayanan Kesehatan (Quality)
Menunjukkan kepada kesembuhan penyakit serta keamanan tindakan,
apabila berhasil diwujudkan pasti akan memuaskan pasien.
Kepuasan pelanggan dapat membentuk persepsi dan selanjutnya dapat
memposisikan produk perusahaan di mata pelanggannya.Kepuasan
pelanggan merupakan respons pelanggan terhadap ketidaksesuaian
antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja aktual yang
dirasakannya setelah pemakaian Rangkuti (2002, dalam Nurhalimah,
2008). Rangkuti (2006, dalam Nurhalimah, 2008) mengungkapakan
bahwa kepuasan pelanggan/pasien merupakan respon pelanggan /
pasien terhadap kesesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya
dan kinerja aktual yang dirasakan setelah pemakaian. Kepuasan
22
Pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang atau masyarakat setelah
membandingkan hasil yang dirasakannya dengan harapannya, apabila
hasil yang dirasakannya sama atau melebihi harapannya, akan timbul
perasaan puas, sebaliknya Pohan (2007, dalam Nurhalimah, 2008).
Tingkat kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang
timbul
sebagai
akibat
dari
kinerja layanan kesehatan
yang
diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan yang
diharapkan. Kepuasan pasien menjadi bagian yang integral dan
menyeluruh dari kegiatan jaminan mutu pelayanan kesehatan.Artinya,
pengukuran tingkat kepuasan pasien harus menjadi kegiatan yang
tidak dapat dipisahkan dari pengukuran mutu pelayanan kesehatan.
Konsekuensi dari pola pikir yang demikian adalah dimensi kepuasan
pasien menjadi salah satu dimensi mutu pelayanan kesehatan yang
penting Pohan (2002, dalam Nurhalimah, 2008).
Menciptakan kepuasan pasien bukanlah suatu hal yang mudah bagi
pengelola pelayanan kesehatan, mengingat pelayanan yang diberikan
salah satunya menyangkut hidup para pasien/pelanggannya. Kepuasan
pasien sebagai konsumen tidak hanya ditentukan oleh tindakan medis
saja akan tetapi juga ada dimensi mutu lain seperti layanan
administratif, keramahan dan ketanggapan para staf medis dan non
medis tetapi juga kemudahan, kecepatan dan ketepatan waktu layanan.
Oleh karena itu, perlu diperhatikan keseriusan, ketepatan dan
kecermatan petugas kesehatan dalam melayani pasien AIMS News
(2005, dalam Nurhalimah, 2008).
Kepuasan atau ketidakpuasan terhadap jasa pelayanan yang didapat
akan memberikan pengaruh terhadap tingkat keputusan kunjungan
berikutnya Kotler (2000, dalam Budi, 2009). Pasien dan keluarga akan
mengulangi kunjungan bila mereka merasa puas, sebaliknya akan
kecewa, marah dan sakit hati apabila merasa tidak puas. Wilkie, dkk.
23
(2004, dalam Supriyono, 2009) mendefinisikan kepuasan pelanggan
sebagai
suatu
tanggapan
emosional
pada
evaluasi
terhadap
pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa. Apabila harapan dapat
terpenuhi atau terlampui maka pelanggan akan merasakan adanya
kepuasan dalam dirinya, namun jika harapan tersebut tidak terpenuhi
maka terjadilah ketidakpuasan.
Dengan pelayanan yang sama untuk kasus yang sama bisa terjadi
tingkat kepuasan yang dirasakan pasien akan berbeda-beda. Hal ini
tergantung dari latar belakang pasien itu sendiri, karakteristik individu
yang sudah ada sebelum timbulnya penyakit yang disebut dengan
predisposing factor. Faktor-faktor tersebut antara lain : pangkat,
tingkat ekonomi, kedudukan sosial, pendidikan, latar belakang sosial
budaya, sifat umum kesukuan, jenis kelamin, sikap mental dan
kepribadian seseorang Anderson (2009, dalam Nova, 2010).
Dipandang dari sudut pelayananan yang diberikan oleh rumah sakit
dapat dibedakan atas medis dan non medis. Aspek medis termasuk
penunjangnya mulai dari sumber daya manusia baik kuantitas maupun
kualitas serta peralatan untuk menunjang keperluan diagnosa atau
pengobatan suatu penyakit. Masalah yang menyangkut non medis
adalah pelayanan informasi, administrasi, keuangan, gizi, apotek,
kebersihan, keamanan serta keadaan lingkungan rumah sakit. Dalam
memberikan pelayanan kepada pasien, pelayan harus benar-benar
menyadari bahwa penyembuhan seseorang bukan hanya ditentukan
oleh obat-obatan yang diberikannya, tetapi juga dipengaruhi oleh cara
pelayanan yang diperlihatkan para petugas kesehatan seperti sikap,
ketrampilan serta pengetahuannya Gonzales (2007, dalam Nova,
2010). Kepuasan pasien mempunyai peranan penting dalam perkiraan
kualitas pelayanan rumah sakit. Kepuasan dapat dianggap sebagai
pertimbangan dan keputusan penilaian pasien terhadap keberhasilan
24
pelayanan Donabedian (2000, dalam Nova, 2010). Kepuasan pasien
adalah salah satu ukuran kualitas pelayanan perawatan dan merupakan
alat yang dapat dipercaya dalam membantu menyusun suatu
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dari sistem pelayanan di rumah
sakit.
Gibson (1987, dalam Eko, 2010) mendefinisikan bahwa kepuasan
seseorang (pasien atau pelanggan) berarti terpenuhinya kebutuhan
yang diinginkan dan diperoleh dari pengalaman melakukan sesuatu
pekerjaan, atau memperoleh perlakuan tertentu sesuai dengan
kebutuhan
yang
diinginkan.
Istilah
kepuasan
dipakai
untuk
menganalisis atau mengevaluasi hasil, membandingkan kebutuhan
yang diinginkan yang ditetapkan individu dengan kebutuhan yang
telah diperolehnya Supranto (2000, dalam Eko, 2010). Kepuasan
pasien merupakan nilai subyektif terhadap kualitas pelayanan yang
diberikan dan ini dipengeruhi oleh pengalaman masa lalu, pendidikan,
situasi psikis waktu itu dan pengaruh lingkungan waktu itu Sabarguna
(2004, dalam Iqbal, 2009).
Beberapa karakteristik individu yang diduga menjadi faktor yang
mempengaruhi tingkat kepuasan pasien adalah: pendidikan, umur,
jenis kelamin, pekerjaan, kondisi ekonomi yang berhubungan dengan
pemilihan kelas perawatan, lokasi rumah sakit terhadap pasien,
jenis/diagnosa
penyakit
yang berhubungan
dengan
keparahan
penyakit, lama perawatan, dan alasan memilih rumah sakit. Faktor
paling dominan yang menentukan kepuasan pasien adalah pendidikan,
umur, jenis kelamin dan status ekonomi yang berhubungan dengan
kelas perawatan Rachmadi, dkk (2008, dalam Iqbal, 2009).
Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan
kesehatan. Sabarguna (2004, dalam Iqbal, 2009) mengemukakan
25
bahwa kepuasan pasien merupakan nilai subyektif terhadap kualitas
pelayanan yang diberikan.Walaupun subyektif, penilaian tersebut
tetap didasari oleh kebenaran dan kenyataan obyektif yang
ada.Kepuasan pasien
dapat
dinilai
dari
empat
aspek,
yaitu
kenyamanan, hubungan pasien dengan petugas, kompetensi teknis
petugas, dan biaya Sabarguna (2004, dalam Iqbal, 2009). Penilaian
kepuasan pasien penting untuk dilakukan, karena merupakan bagian
dari mutu pelayanan, berhubungan dengan pemasaran, dan prioritas
peningkatan pelayanan (Iqbal, 2009).
Suriatin (2010, dalam Laniah, 2012) Kepuasan pelanggan adalah
perbedaan antara harapan pelanggan dan persepsi pelanggan terhadap
apa yang diberikan perusahaan kepada mereka. Kepuasan pasien
merupakan hasil timbal balik antara semua layanan, keterampilan,
pengetahuan dan sarana layanan yang diterima pasien dari petugas
rumah sakit. Pengukuran kepuasan pasien sebagai indikator menjadi
penting karena akan diketahui kondisi layanan yang ada, sehingga
dapat
digunakan
sebagai
alat
intropeksi
diri
dalam
usaha
meningkatkan mutu pelayanan.
D. Hubungan Persepsi Pasien Tentang
Pelayanan Keperawatan dengan
Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap
Penelitian Hufron dan Supratman (2008) menunjukkan bahwa ada hubungan yang
positif antara persepsi pasien tentang mutu pelayan kesehatan dengan tingkat
kepuasan pasien (p=0,008; p<0,05). Pelayanan keperawatan yang diberikan kepada
pasien menimbulkan adanya interaksi antara perawat dan pasien.Kozier et al (2004,
dalam Sunaryo, 2011) mengatakan bahwa hubungan perawat – pasien menjadi inti
dalam pemberian asuhan keperawatan, karena keberhasilan penyembuhan dan
meningkatkan kesehatan pasien sangat dipengaruhi oleh hubungan perawat –
pasien.
26
Penelitian dibeberapa rumah sakit Indonesia terkait kepuasan pasien antara lain
yang oleh Mustofa (2008, dalam Ariyanti, 2013) tentang hubungan antara persepsi
pasien tentang dimensi mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien rawat
inap, menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara persepsi pasien
terhadap dimensi mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien. Salah satu
cara untuk mengevaluasi mutu pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat
di rumah sakit adalah melakuan survei kepuasan pasien terhadap layanan
keperawatan.
Penelitian Molachele (2004, dalam Suryawati, 2004) di RSU Fatmawati, Jakarta
menunjukkan bahwa ada hubungan yang cukup berarti antara kepuasan pasien
dengan pelayanan dokter, pelayanan perawat, fasilitas medis, lingkungan rumah
sakit dan makanan yang disediakan untuk pasien, sementara itu penelitian Shirley
dkk (2012, dalam Ariyanti, 2013) tentang tingkat kepuasan pasien dibangsal
orthopedi dengan kepedulian perawat di Rumah Sakit Universitas Sains Malaysia,
didapatkan bahwa 82,7% merasa puas dengan pelayanan perawat seperti
menghargai pasien, tenang, lemah lembut, perhatian, kasih sayang dan empati.
E. Kerangka Konsep
Bagan 2.4 Hubungan Persepsi pasien tentang pelayanan keperawatan
dengan
kepuasan pasien di ruang rawat inap Asoka II RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun
2014.
Persepsi Pasien tentang
Pelayanan Keperawatan
Ha
Kepuasan Pasien
: Ada hubungan signifikan antara persepsi pasien tentang pelayanan
keperawatan dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap Asoka II RSUD
Dr. Pirngadi Medan Tahun 2014.
Download