BAB III STATUS HUKUM WALI TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR

advertisement
65
BAB III
STATUS HUKUM WALI TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR DALAM
PENDAFTARAN TANAH
A. Status Wali Terhadap Anak di Bawah Umur Dalam Pendaftaran Tanah.
Dalam KUHPerdata ada juga disebutkan pengertian dari Perwalian itu, yaitu
pada pasal 330 ayat (3) yang menyatakan :
“Mereka yang belum dewasa dan tidak berada di bawah kekuasaan orang
tua, berada di bawah perwalian atas dasar dan cara sebagaimana teratur
dalam bagian ketiga, keempat, kelima dan keenam bab ini”.
Pengaturan tentang perwalian dalam KUHPerdata sangat mendetail tidak
seperti dalam Undang-Undang Perkawinan yang sangat sederhana, walaupun dengan
tegas dikatakan dalam pasal 50 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan bahwa anak yang
belum berumur 18 (delapan belas) tahun bila tidak di bawah kekuasaan orang tua,
harus berada di bawah perwalian.111
Perwalian adalah pengawasan terhadap anak yang masih berada di bawah
kekuasaan orang tua serta pengurusan benda atau kekayaan anak tersebut,
sebagaimana diatur dalam undang-undang.112
Perwalian adalah pengawasan terhadap pribadi anak dan pengurusan harta
kekayaan seorang anak yang belum dewasa, jika anak itu tidak berada di bawah
kekuasaan orang tua.
111
Rusdi Malik, Memahami Undang-Undang Perkawinan, Universitas Trisakti, Jakarta, 2009,
Hal 87.
112
Ali Afandi, Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian, Rineka Cipta, Jakarta,
2004, Hal 156 .
65
Universitas Sumatera Utara
66
Perwalian adalah pengawasan terhadap anak yang masih di bawah kekuasaan
orang tua serta pengurusan benda atau kekayaan anak tersebut, sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang.113
Perwalian (Voogdij) adalah pengawasan tehadap anak yang di bawah umur,
yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua serta pengurusan benda atau
kekayaan anak tersebut diatas oleh undang-undang.
Dalam hal apabila wali menyebabkan kerugian pada si anak maka menurut
ketentuan pasal 54 UU No.1 tahun 1974 menyatakan, wali yang telah menyebabkan
kerugian pada harta benda anak yang berada di bawah kekuasaannya, atas tuntutan
anak atau keluarga anak tersebut dengan keputusan pengadilan, yang bersangkutan
dapat diwajibkan untuk mengganti kerugian tersebut.
Pengaturan perwalian dalam Undang-Undang Perkawinan tidak secara jelas
menerangkan jika salah seorang orang tua meninggal atau terjadi perceraian
mengenai berpindahnya perwalian anak dan siapa yang menjadi walinya sehingga
perlu peranan yurisprudensi sebagai bagian dari mengisi kekosongan hukum sistim
hukum Indonesia yang menganut civil law yaitu bentuk hukum yang tertulis dan
kodifikasi seperti Undang-undang Perkawinan, yang memungkinkan dengan
kodifikasi hukum belum mampu untuk menampung semua permasalahan dalam
masyarakat termasuk didalamnya permasalahan mengenai perwalian. Oleh sebab itu
pengisian mengenai kekosongan hukum perlu dilakukan yang salah satu dapat
113
Arif Masdoeki dan M.H Tirta Hamidjaja, Masalah Perlindungan Anak, Akademika
Persindo, Jakarta, 1963, Hal 156.
Universitas Sumatera Utara
67
melakukannya yaitu hakim, karena bila di telaah lebih lanjut mengenai
perwaliandalam Udang-Undang Perkawinan, kekuasaan orang tua itu dapat
dilaksanakan hanya oleh satu orang tua dari saja baik Ayah maupun hanya Ibu.114
Perwalian diperlukan dalam hal ditinjau dari kedudukan (status) anak, yaitu
terhadap anak sah, anak yang diakui sah dan pada anak alam atau anak Sumbang.
Dalam perkawinan campuran bahwa perwalian hanya dapat diberikan jika anak yang
lahir dari perkawinan tersebut adalah anak sah ataupun anak yang diakui sah. Untuk
anak sah maka perwalian diperlukan apabila : 115
Salah seorang atau kedua-duanya orang tua meninggal dunia;
Diantara kedua orang tuanya terjadi perceraian;
Orang tuanya dibebaskan atau dipecat dari kekuasaan orang tua;
Salah seorang atau kedua-duanya dari orangtuanya berada dalam keadaan tidak
hadir (afwezig).
Dengan timbulnya perwalian, maka wali dapat dibedakan menjadi 5 (macam)
macam yaitu : 116
Wali Menurut hukum ialah seorang yang dengan sendirinya menjadi wali dari
anak-anak yang di bawah umur. Atas kedudukan sebagai wali tersebut tidak
diperlukan keputusan atau penetapan Pengadilan Negeri, tetapi kedudukan itu
diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang.
114
Rusdi Malik, Op. Cit., Hal 87
Syahril Sofyan, Makalah Kuliah Hukum Keluarga, Hal 42.
116
Ibit
115
Universitas Sumatera Utara
68
Wali yang diangkat berdasarkan keputusan/penetapan Pengadilan Negeri, hal
ini diberikan karena terjadinya perceraian, dibebaskan atau dipecat dari
kekuasaan orang tua dan karena ketidak-hadiran (afwezig).
Wali yang ditunjuk berdasarkan surat wasiat. Seseorang dapat mengangkat atau
menunjuk seorang lainnya menjadi wali dari anak di bawah umur yang berada
di bawah kekuasaannya sebagai orang tua atau perwaliaannya sesuai dengan
ketentuan pasal 355 KUHPerdata.
Perwalian yang diperintahkan kepada perkumpulan-perkumpulan, yayasanyayasan atau badan sosial yang telah berstatus sebagai badan hukum. Untuk
wali ini diangkat berdasarkan keputusan/ketetapan Pengadilan Negeri karena
untuk berfungsinya suatu perkumpulan, yayasan atau badan sosial yang
berstatus badan hukum sebagai wali memerlukan keputusan atau ketetapan dari
Pengadilan Negeri, yang membedakannya bahwa yang diangkat bukan
manusia, tetapi adalah suatu badan hukum yang oleh hukum dianggap sebagai
pendukung hak dan kewajiban.
Wali sementara, yaitu wali yang berfungsi sebelum wali definitif ditentukan
atau diangkat oleh Pengadilan Negeri dengan tujuan supaya anak di bawah
umur jangan sampai berada dalam keadaan ketiadaan wali, yang mengakibatkan
tidak terselenggaranya kepengurusan yang berhubungan dengan kepentingan
dari anak yang di bawah umur.
Seperti halnya diatas dapat diketahui bahwa status wali terhadap anak adanya
bermacam-macam dan untuk melakukan pendaftaran tanah terhadap anak di bawah
Universitas Sumatera Utara
69
umur peran wali sangat diperlukan dalam memudahkan melakukan pendaftaran
tanah.
B. Usaha Untuk Mendapatkan Status Pendaftaran Tanah Yang di Lakukan
Wali Terhadap Anak di Bawah Umur.
Sebelum menjawab status pendaftaran tanah yang dilakukan oleh wali
terhadap anak di bawah umur, ada baiknya dilihat dari syarat-syarat perwalian
dimana, dasar persyaratan sebagai penerima hak perwalian yang dirangkum dari
ketentuan perwalian yang dirumuskan dalam KUHPerdata dan Undang-Undang
Perkawinan yaitu : 117
Berkelakuan baik dan mempunyai itikad baik untuk menjadi seorang wali
Cakap melakukan perbuatan hukum, karena seorang wali akan mewakili
kepentingan anak dalam hal melakukan perbuatan hukum.
Mempunyai hubungan keluarga yang dekat dengan anak, sehingga anak tidak
akan mempunyai rasa takut dan merasa aman.
Berpikiran sehat, adil, jujur sehingga diharapkan tidak akan merugikan anak
baik secara lahir maupun batin.
Mampu memberikan pelayanan pendidikan dan pemeliharaan demi masa
depan anak.
Mampu memenuhi kebutuhan anak, baik sandang, pangan dan papan.
Kemampuan dalam hal keuangan juga menjadi salah satu persyaratan yang
harus dipenuhi karena terkait dengan kepentingan anak tersebut dalam hal untuk
117
Pasal 382 KUHPerdata dan Pasal 51 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974
Universitas Sumatera Utara
70
mendapatkan kehidupan yang layak serta juga bisa mendapatkan kesempatan
pendidikan yang bagus untuk masa depan anak terutama jika anak tersebut harus
mengikuti domisili yang menerima perwalian dimana masih sangat asing bagi anak
tersebut serta perbedaan kultur dan budaya sehingga anak merasa terasing, hal ini
pastinya akan dapat mempengaruhi faktor perkembangan anak kelak. Apabila
penerima perwalian tidak mampu memberikan serta menjamin kehidupan layak bagi
anak di bawah umur maka akan sulit diberikan hak wali tersebut.118
Sebagaimana dalam Aql-Qur’an beberapa ayat yang dapat dirujuk untuk
menjelaskan keberadaan wali. Firman Allah :
Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya)
atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaknya walinya
mengimlakkan dengan jujur... (QS. Al Baqarah (2): 282)
Juga ada dalam firma Allah :
dan janganlah engkau serahkan kepada orang orang sebelum sempurna
akalnya, harta (mereka yang ada didalam kuasamu) yang dijadikan Allah
sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil itu)
dan ucapkanlah kepada mereka kata kata yang baik (QS. Al Nisaa’ (4): 5)
Dan ujilah anak yatim tersebut sampai mereka cukup umur untuk kawin.,
kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara
harta) maka serahkanlah harta harta mereka. Dan janganlah kamu makan
118
Linda Alfi Luftinda, Makalah Hukum, Masalah Perceraian dan Hak Asuh Anak, STAIN,
Kudus, 2011, Hal 5.
Universitas Sumatera Utara
71
harta anak yatim lebih dari kepatutan dan (janganlah kamu tergesa gesa
membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (diantara para
pemelihara itu) mampu, mak hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta
anak yatim)itu. Dan barang siapa yang miskin maka bolehlah ia memakan
harta itu menurut yang patut, kemudian kamu menyerahkan harta kepada
mereka, maka hendaklah kamu menjadi saksi saksi (tentang penyerahan
tersebut bagi mereka ) dan cukuplah Allah sebagai pengawas(atas persaksian
itu). (QS. An Nisaa’ (4):6)
Ayat ayat tersebut membuktikan peran, kewajiban dan hak hak wali terhadap
anak dan harta yang dibawah perwalliannya.
Dalam hadis nabi juga diterangkan hal dalam perwalian yakni sebagai berikut:
Dari riwayat al Barra’ ibn ‘Azib:
Sesungguhnya Nabi Saw. Memutuskan wali bagi anak perempuan hamzah
kepada perempuan ibuu (khalah)nya, dan beliau bersabda: “saudara
perempuan ibu (menempati) kedudukan ibu.” (Riwayat Al Bukhari)
Dan hadis Nabi yang artinya :
“Rasulullah Saw bersabda : bagi anak perempuan ( jariyah ) perwaliannya
paad saudara perempuan ibunya, karena ia adalh orangtua perempuan
(walidah)nya” (Riwayat Ahmad dari Ali Ra)
Sebagaimana uraian Al-Qur’an diatas diketahui bahwa perwalian ini sudah
adanya pada 1400 Tahun yang lalu dimana sudah diaturnya tentang perwalian,
bagaimana hakikat perwalian didalam islam yang telah diatur dan untuk demi
Universitas Sumatera Utara
72
keadilan bagi anak yang ingin di walikan oleh orang yang terdekat dari mahzabnya,
sehingga tidak akan terjadi permasalahan dikemudian hari.
Berdasarkan Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan (UU No.1 Tahun 1974), orang tua dengan sendirinya menurut hukum
berkedudukan dan berkapasitas sebagai wali anak-anak sampai mereka dewasa. Oleh
karena itu, orang tua adalah kuasa yang mewakili kepentingan anak-anak yang belum
dewasa kepada pihak ketiga maupun di depan pengadilan tanpa memerlukan surat
kuasa khusus dari anak tersebut. Hal ini juga secara tegas disebutkan dalam Pasal 48
UU No.1 Tahun 1974, orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau
menggadaikan barang-barang tetap, misalnya tanah yang dimiliki anaknya yang
belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan
perkawinan, kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya. Demikian juga
terhadap wali sesuai dengan Pasal 52 UU No.1 Tahun 1974 berlaku ketentuan di atas.
Jadi, dari ketentuan Pasal 48 dan Pasal 52 UU No.1 Tahun 1974 tersebut tidak ada
ditentukan harus dengan penetapan pengadilan.
Kewajiban melakukan penetapan pengadilan ini sering dipermasalahkan
terutama ketika orang tua atau saudara kandung sebagai pemilik hak atas tanah
bersama anak di bawah umur yang memperoleh warisan dari peninggalan orang
tuanya, suami atau orang tua anak-anak tersebut yang akan menjual tanah milik
bersama itu.
Walaupun orang tua (si ayah) sudah layak sebagai subyek hukum untuk
melakukan jual beli atas tanah milik bersama anak di bawah umur itu, tetapi si anak
Universitas Sumatera Utara
73
yang masih di bawah umur tidak layak sebagai subyek hukum untuk bertindak atas
jual beli tanah tersebut.
Seorang ayah melakukan penjualan atas tanah milik bersama anak di bawah
umur salah satu alasannya adalah demi kepentingan si anak, karena anak yang masih
di bawah umur dan belum cakap melakukan perbuatan hukum itu membutuhkan
biaya hidup dan/atau pendidikan.
Sebagaimana uraian terdahulu bahwa anak di bawah umur, yaitu anak yang
belum berumur 21 tahun maka kepengurusan terhadap harta kekayaan anak bawah
umur tersebut dapat dilakukan melalui perwakilan orang tua atau perwalian anak di
bawah umur, baik menurut undang-undang ataupun berdasarkan penetapan
pengadilan, maka berarti bahwa apabila para ahli waris yang seluruhnya bebas
bertindak akan mengalihkan hak atas tanah kepada orang lain, hal tersebut tidak
menjadi masalah, namun apabila ternyata diantara para ahli waris terdapat orangorang yang tidak bebas menyatakan kehendaknya maka permasalahan pengalihan hak
atas tanahnya menjadi lebih rumit, karena ada ketentuan perundang-undangan yang
mengatur tentang penyelesaian pembagian harta warisan yang atasnya turut berhak
ahli waris yang berstatus sebagai orang-orang yang tidak bebas menyatakan
kehendaknya. Khususnya untuk ahli waris di bawah umur bagi warga Negara
Indonesia yang tunduk atau menundukkan diri secara sukarela kepada KUHPerdata,
maka kehadiran instansi Balai Harta Peninggalan merupakan suatu keharusan.119
119
Syahril Sofyan, Beberapa Dasar Teknik Pembuatan Akta (Khusus Warisan), Pustaka
Bangsa Press, Medan, 2010, Hal 55.
Universitas Sumatera Utara
74
Oleh karena itu dalam prakteknya atas dasar pertimbangan kemanusiaan karena
orang tua si anak yang masih di bawah umur tersebut memang beritikad baik dalam
menjual tanah milik bersama anak di bawah umur untuk kebutuhan hidup si anak,
maka Kantor Pertanahan tetap melakukan pendaftaran peralihan atas tanah milik
bersama anak di bawah umur itu walaupun tanpa dilakukan Penetapan Pengadilan,
tetapi cukup hanya dengan Surat Pernyataan. Pasal 35 dan Pasal 37 KUHPerdata
mengatur perihal pemberian izin, yaitu anak di bawah umur masih juga harus
mendapat izin dari orang tuanya, atau dari hakim dalam hal izin orang tua itu dapat
diganti dengan perizinan hakim.
Sehubungan dengan analisi diatas apabila kegiatan pendaftaran tanah yang
dilakukan oleh wali terhadap anak dibawah umur pada Badan Pertanahan Nasional
haruslah mengisi formulir yang sudah diisi dan ditandatangani pemohon atau
kuasanya diatas materai cukup, surat kuasa apabila diperlukan, fotocopy identitas diri
dan seterusnya, dengan persyaratan ini biasanya kantor pertanahan sudah
mempersiapkan formulir setelah semua permohonan lengkap maka akan disampaikan
pada kantor pertanahan dimana letak tanah yang bersangkutan berlokasi.
C. Prosedur Pendaftaran Tanah Oleh Wali Terhadap Anak di Bawah Umur
pada Badan Pertanahan Nasional
Dalam ketentuan Pasal 37 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
tentang Pendaftaran Tanah, diatur bahwa setiap peralihan hak atas tanah melalui jualbeli hanya dapat didaftarkan jika dapat dibuktikan dengan akta yang dibuat Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT). Di mana pendaftaran hak atas tanah ini menurut
Universitas Sumatera Utara
75
ketentuan Pasal 19 ayat (1) UUPA yang merupakan pembuktian yang kuat mengenai
hapusnya hak milik serta sahnya peralihan atas tanah tersebut. Dari ketentuan tersebut
maka dalam peralihan hak dengan jual beli atas tanah harus dilihat kedudukan hak
atas tanah itu, jika hak atas tanah tersebut sebagai milik bersama, maka semua yang
berhak atas tanah itu harus setuju baru bisa dilakukan jual beli.
Dalam prektek menurut Abd. Rahim Lubis120 dalam proses Pendaftaran Tanah
khususnya dalam pendaftaran pertama kali apabila permohonannya untuk anak di
bawah umur haruslah diwakili oleh orang tua atau walinya karena dalam ketentuan
pasal 10, pasal 19 dan pasal 34 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional (PMNA/KaBPN) Nomor 9 Tahun 1999 dipersyaratkan bahwa
pemohon haruslah melampirkan foto kopi identitas (Kartu Tanda Penduduk) sesuai
dengan ketentuan Undang-Undang Kewarganegaraan (UU No.12 Tahun 2006),
sementara orang yang dapat mempunyai KTP haruslah orang yang sudah dewasa
(umur 17 tahun ke atas).
Syarat- syarat permohonan hak atas tanah berdasarkan PMNA/Ka BPN No. 9
Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara
dan Hak Pengelolaan, menurut pasal 10 yaitu : Permohonan hak milik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dilampiri dengan :
1. Keterangan mengenai permohonan :
a.
jika perorangan : foto copy surat bukti identitas, surat bukti
kewarganegaraan Republik Indonesia;
120
Wawancara dengan Abd. Rahim Lubis, Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah,
atas nama Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Asahan pada tanggal 2 Maret 2016.
Universitas Sumatera Utara
76
b.
Jika badan hukum : Foto copy akta atau peraturan pendiriannya dan
salinan surat keputusan penunjukannya sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Mengenai tanahnya :
a.
Data yuridis, sertipikat, girik, surat kapling, surat-surat bukti pelepasan
hak dan pelunasan tanah dan rumah dan atau tanah yang telah dibeli dari
pemerintah, putusan pengadilan, akta PPAT, akta pelepasan hak, dan
surat-surat bukti perolehan tanah lainnya;
b.
Data fisik, Surat Ukur atau Gambar Situasi dan IMB apabila ada;
c.
Surat lain yang dianggap perlu;
3. Surat pernyataan pemohon mengenai jumlah bidang, luas dan status tanahtanah yang dimiliki oleh permohonan termasuk bidang tanah yang dimohon,
sesuai contoh lampiran 3.
Untuk permohonan hak baru atau pendaftaran pertama kali maka pemohon
haruslah :
Mengajukan permohonan hak yang ditujukan kepada Kepala Kantor
Pertanahan; Mengisi dan menandatangani formulir “Lampiran 2 Formulir
Isian 402” yang tersedia pada Kantor Pertanahan Kabupaten Asahan ;
Mengisi dan menandatangani Surat Pernyataan Fisik Bidang Tanah diatas
materai 6000 yang diketahui oleh Lurah/Kepala Desa yang disaksikan jiran
sempadan batas ;
Universitas Sumatera Utara
77
Mendampingi Petugas Ukur dari Kantor Pertanahan dalam mengukur bidang
tanah yang dimohonkan.
Sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat
pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan
data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan. Artinya
hukum hanya memberikan jaminan atas bukti hak kepemilikan tersebut kepada
seseorang.
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 hal yang diatur didalam pasal 37
ayat 1 dan pasal 45 sebagai berikut :
“Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual
beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum
pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat
didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang
berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan”.
Menurut Budianto Kwek121, PPAT menolong untuk membuat akta jika salah
satu atau para pihak yang melakukan perbuatan hukum yang bersangkutan atau salah
satu saksi sebagai mana dimaksud dalam pasal 38 PP 24 Tahun 1997 yaitu tidak
berhak atau memenuhi syarat untuk bertindak yakni adalah anak di bawah umur,
maka harus diwakili oleh orang tua atau walinya begitu juga halnya dalam proses
mendaftarkan peraalihan haknya.
121
Wawancara dengan Budianto Kwek, Notaris dan PPAT Kabupaten Asahan di Kisaran,
pada tanggal 15 Maret 2016
Universitas Sumatera Utara
78
BAB IV
KEPASTIAN HUKUM TERHADAP PENDAFTARAN TANAH YANG
DILAKUKAN ANAK DIBAWAH UMUR BERDASARKAN SURAT EDARAN
MENTERI ATR/KaBPN NOMOR 4/SE/I/2015
Kepastian Hukum Dalam Perolehan Pendaftaran Tanah Milik Terhadap
Anak Di Bawah Umur
Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang penting untuk
kelansungan hidup umat manusia, karena bagi bangsa Indonesia tanah adalah karunia
Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan kekayaan nasional, serta hubungan antara
bangsa Indonesia dengan tanah yang bersifat abadi.
Menurut Abdurrahman menyatakan, tanah dapat dinilai sebagai harta yang
bersifat permanen karena tanah dapat dicadangkan untuk kehidupan mendatang, dan
tanah pula sebagai tempat persemayaman terakhir bagi seseorang yang meninggal
dunia.122
Pandangan konsep hak atas tanah ditinjau dari sudut objektif, maka tanah itu
terbatas, tak mungkin terdapat hubungan antara tanah dengan semua manusia.
Sedangkan dari sudut subjektif manusia mempunyai sifat dwi tunggal, yakni sebagai
individu dan sebagai mahluk sosial. Maka berdasarkan sifat dwi tunggal itu dalam
prinsipnya hubungan manusia dengan tanah hanya mempunyai sifat yang relative,
artinya kekuasaan manusia dengan tanah tidak dapat tanpa batas, tetapi harus juga
mengingat sifat sosial sebagai anggota masyarakat. Kalau dihubungkan dengan sifat
122
Abdurrahman, Aneka Masalah Hukum Agraria dalam Pembangunan di Indonesia,
Bandung, Alumni. 1978. Hlm 1
78
Universitas Sumatera Utara
79
yang objektif tadi, dapat diketahui bahwa tidak semua manusia dapat berhubungan
dengan tanah, akan tetapi orang membutuhkan tanah untuk hidup. Meskipun orang
tidak mempunyai hubungan dengan tanah, tetapi ia mempunyai hak untuk menerima
manfaat atas tanah tersebut.123
Tujuan dilakukannya pendaftaran tanah menurut Pasal 3 Peraturan Pemerintah
No. 24 Tahun 1997 adalah sebagai berikut:
. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada
pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain
yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai
pemegang hak yang bersangkutan. Pemberian kepastian hukum dan
perlindungan hukum tersebut dilakukan dengan cara memberikan sertipikat
hak atas tanah kepada pemegang hak yang bersangkutan. Adapun jaminan
kepastian hukum yang menjadi tujuan pendaftaran tanah adalah kepastian
mengenai status tanah yang didaftar, kepastian mengenai subyek hak dan
kepastian mengenai obyek hak.124
. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan
termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang
diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang
tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar. Wujud dari
123
Syafruddin Kalo, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, Jakarta, Pustaka Bangsa
Press, 2004. Hlm 122.
124
Urip Santoso, Op. Cit., Hal 19.
Universitas Sumatera Utara
80
pelaksanaan fungsi informasi ini adalah data fisik dan data yuridis dari bidang
tanah dan satuan rumah susun yang sudah terdaftar terbuka untuk umum.
. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan. Hal ini dilakukan
dengan pendaftaran setiap bidang tanah dan satuan rumah susun, termasuk
pendaftaran apabila terjadi peralihan, pembebanan dan hapusnya hak tersebut.
Tujuan pendaftaran tanah meliputi pendaftaran untuk pertama kali, maupun
untuk pendaftaran peralihan hak atas tanah, pelaksanaan pendaftaran tanah pertama
kali diatur dalam Bab III Pasal 12 Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961,
sedangkan yang berlaku pada saat sekarang ini, diatur dalam Pasal 11 Peraturan
Pemerintah No. 24 Tahun 1997, dan untuk pendaftaran peralihan hak atas tanah
diatur dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997.125
Jaminan kepastian hukum memiliki beberapa manfaat, di antaranya
memajukan perekonomian nasional (karena sertipikat hak atas tanah dapat dijadikan
agunan untuk memperoleh kredit perbankan), melestarikan lingkungan (karena
hubungan yang pasti antara pemegang hak dengan obyek hak memberikan motivasi
pemegang hak untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pelestarian
lingkungan),
meningkatkan
penerimaan
negara
(karena
pendaftaran
tanah
memungkinkan adanya penertiban administrasi peralihan hak dan itu memungkinkan
adanya pemasukan dari bea balik nama), melindungi kepentingan masyarakat
terutama golongan ekonomi lemah (karena jika tanah pemegang hak dibebaskan
untuk kepentingan tertentu, pemegang hak akan memperoleh kompensasi yang
125
Ilhamsyah, Op. Cit., Hal 3.
Universitas Sumatera Utara
81
wajar), mencegah atau mengurangi sengketa pertanahan, dan mendukung
perencanaan tata ruang untuk pembangunan126.
Untuk memberikan kepastian hukum bagi pemegang hak yang bersangkutan dan
agar dapat dengan mudah membuktikan haknya maka diberikanlah suatu sertipakat hak atas
tanah. Untuk menyediakan informasi sebagaimana dalam Pasal 3 huruf b Kantor Pertanahan
bersifat terbuka, sehingga pihak-pihak yang berkepentingan dapat dengan mudah mencari
data fisik dan data yuridis tentang suatu bidang tanah yang sudah terdaftar. Sedangkan untuk
tertib administrasi pertanahan maka pendaftaran tanah tidak hanya dilakukan sekali tapi
secara terus-menerus mengikuti perbuatan hukum dan peristiwa hukum yang mengakibatkan
data fisik maupun data yuridis pada suatu bidang tanah mengalami suatu perubahan127.
Menurut J.B. Soesanto, dalam diktatnya Hukum Agraria I menyatakan bahwa
tujuan pendaftaran tanah adalah128 :
Memberikan kepastian hukum, yaitu kepastian mengenai bidang teknis
(kepastian mengenai letak, luas dan batas-batas tanah yang bersangkutan). Hal
ini diperlukan untuk menghindarkan sengketa dikemudian hari, baik dengan
pihak yang menyerahkan maupun pihak-pihak yang mempunyai tanah.
Memberikan kepastian hak, yaitu ditinjau dari segi yuridis mengenai status
hukum, siapa yang berhak atasnya (siapa yang mempunyai) dan ada tidaknya
hak-hak dan kepentingan pihak lain (pihak ketiga). Kepastian mengenai status
hukum dari tanah yang bersangkutan diperlukan, karena dikenal tanah-tanah
126
Dasawarsa Bhumibhakti Adhiguna, Badan Pertanahan Nasional, Jakarta, 1988-1998, Hal 182.
Erpinka Aprini, Op.Cit., Hal 10-11.
128
J.B. Soesanto, Hukum Agraria I, Semarang, Penerbit Fakultas Hukum Universitas 17
Agustus 1945 Semarang, Hal 90.
127
Universitas Sumatera Utara
82
dengan bermacam-macam status hukum, yang masing-masing memberikan
wewenang dan meletakan kewajiban-kewajiban yang berlainan kepada pihak
yang mempunyai hal mana akan terpengaruh pada harga tanah.
Memberikan kepastian subyek, yaitu kepastian mengenai siapa yang
mempunyai
diperlukan
untuk mengetahui
dengan
siapa kita harus
berhubungan untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum secara sah
mengenai ada atau tidak adanya hak-hak dan kepentingan pihak ketiga,
diperlukan untuk mengetahui perlu atau tidaknya diadakan tindakan-tindakan
tertentu
untuk
menjamin
penguasaan
dan
penggunaan
tanah
yang
bersangkutan secara efektif dan aman.
Jadi dengan Pendaftaran Tanah akan diperoleh kepastian hukum tentang hakhak atas tanah yang diakui di Indonesia dan untuk si pemegang hak akan diterbitkan
sertifikat sebagai alat bukti kuat sebagai pemegang hak atas tanah. Pasal 4 Peraturan
Pemerintah No. 24 Tahun 1997 sertifikat bertujuan yaitu :
(1) Untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum, sebagaimana
dimaksud pada Pasal 3 huruf a, kepada si pemegang Hak atas Tanah yang
bersangkutan diberikan Sertifikat Hak atas Tanah.
(2) Untuk melaksanakan fungsi informasi sebagaimana dimaksud Pasal 3 huruf b
data Fisik dan Data Yuridis bidang tanah terdaftar terbuka untuk umum.
(3) Untuk mencapai tertib administrasi sebagaimana dimaksud Pasal 3 huruf c
setiap bidang tanah dan satuan rumah susun, termasuk peralihan, pembebanan
Universitas Sumatera Utara
83
dan hak atas tanah hak milik dan hak milik atas satuan rumah susun wajib
didaftar.
Jadi dengan pendaftaran tanah pemegang hak memperoleh sertifikat sebagai
alat bukti yang kuat bahwa ia sebagai pemegang hak atas tanah, kemudian akan
tercapai tertib administrasi dalam bidang pertanahan sehingga orang yang
berkepentingan akan mudah memperoleh informasi yang benar.
Selanjutnya A.P Parlindungan mengatakan bahwa : “Pendaftaran ini melalui
suatu ketentuan yang sangat teliti dan terarah, sehingga tidak mungkin asal saja,
lebih-lebih lagi bukan tujuan pendaftaran tanah tersebut untuk sekedar diterbitkannya
bukti pendaftaran tanah saja (sertifikat hak atas tanah)129.
Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah merupakan tugas dari Pemerintah dalam
hal ini adalah Kemeterian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional yang
mempunyai tugas pokok dengan tujuan sebagai berikut : (lihat Perpres No. 17 Tahun
2015 dan Perpres No.20 Tahun 2015)
Melaksanakan inventarisasi pertanahan lengkap di seluruh Wilayah Republik
Indonesia dengan melaksanakan pengukuran desa demi desa.
Menyelenggarakan pemberian tanda bukti hak sebagai jaminan kepastian
hukum atas tanah dengan melaksanakan pendaftaran hak atas tanah meliputi
setiap peralihannya, penghapusannya dan pembebanannya jika ada dengan
memberikan tanda bukti berupa sertifikat tanah.
129
A.P Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Berdasarkan PP. No.24 Tahun 1994,
Mandar Maju, Bandung, 1999, Hal 8.
Universitas Sumatera Utara
84
Pemasukan keuangan Negara dengan memungut biaya pendaftaran tanah.
Pendaftaran Tanah dalam rangka Recht Kadaster yang bertujuan memberikan
kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas tanah,
dengan alat bukti yang dihasilkan pada akhir proses pendaftaran tersebut
berupa buku tanah dan sertifikat yang terdiri dari buku tanah dan surat ukur. 130
Tugas untuk melakukan pendaftaran tanah di seluruh Indonesia dibebankan
kepada Pemerintah yang oleh pasal 19 ayat (1) UUPA ditentukan bertujuan tunggal
yaitu untuk menjamin kepastian hukum. Menurut penjelasan dari UUPA pelaksanaan
kegiatan pendaftaran tanah merupakan kewajiban dari Pemerintah bertujuan
menjamin kepastian hukum yang bersifat Rechtscadaster artinya untuk kepentingan
pendaftaran tanah saja dan hanya mempermasalahkan haknya apa dan siapa
pemiliknya, bukan untuk kepentingan lain seperti perpajakan.131
Pendaftaran tanah selain berfungsi untuk melindungi si pemilik, juga
berfungsi untuk mengatahui status bidang tanah, siapa pemiliknya, apa haknya,
berapa luasnya, untuk apa dipergunakan dan sebagainya.132
Sebagaimana hasil penelitian melalui wawancara khusus dengan Abdul Rahim
Lubis133 dalam pelayanan pertanahan, sudah ada kemajuan dengan terbitnya Surat
Edaran Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor
4/SE/I/2015 tanggal 26 Januari 2015, yang telah menetapkan batas usia dewasa
130
Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah Dan Pendaftarannya, Sinar Grafika, Jakarta,
2007, Hal 112.
131
AP. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1999, Hal 13.
132
Chadidjah Dalimunthe, Pelaksanaan Landreform di Indonesia dan Permasalahannya, FH
USU Press, Medan, 2000, Hal 132.
133
Wawancara Abd. Rahim Lubis, Op.Cit.
Universitas Sumatera Utara
85
adalah 18 tahun atau sudah kawin sebagaimana telah diuraikan terdahulu hanya saja,
dalam praktek terutama dilembaga perbankan, penetapan usia dewasa masih mengacu
kepada KUHPerdata yaitu 21 tahun, hal ini dibuktikan dengan tetap adanya
persyaratan ijin pengadilan apabila pihak pemegang hak dibawah umur 21 tahun
hendak mengajukan permohonan mendapatkan kredit dengan sertipikat tanah sebagai
agunan (Hak Tanggungan). Ketentuan ini diketahui ketika berkas pendaftaran Hak
Tanggungan ke Kantor Pertanahan masih melampirkan ijin pengadilan tersebut.
Menurut Abd. Rahim lubis134 syarat tidak berhak salah satunya adalah anak di
bawah umur namun demikian anak di bawah umur masih bisa diberikan hak atas
tanah dengan catatan persyaratan yang mengajukan permohonan tersebut adalah
orang tua atau walinya dan haruslah tanah tersebut berdasarkan pemberian atau
warisan orang tuanya bukan berdasarkan pembelian dari orang lain sebab anak di
bawah umur belum berhak sebagai pihak melakukan perjanjian atau kontrak
sebagaimana dalam Pasal 1320 dan 1338 KUHPerdata sesuai ketentuan Pasal 1320
KUHPerdata. Apabila tidak memenuhi ketentuan tersebut maka permohonan hak atas
anak di bawah umur akan ditolak.
Dengan demikian anak di bawah umur tidak dapat mengajukan permohonan
pendaftaran tanah begitu juga tidak dapat melakukan perbuatan hukum tanpa
diwakilkan oleh orang tua atau walinya. Apabila anak di bawah umur tetap
mengajukan permohonan hak atas tanah, melakukan perbuatan hukum atas tanah,
134
Ibit
Universitas Sumatera Utara
86
maka akan ditolak oleh Kantor Pertanahan atau Notris/PPAT kecuali diwakilkan oleh
orang tua atau walinya.
Sedang orang tua atau walinya hendak memindahkan/mengalihkan hak,
termasuk mengagunkan tanah yang pemilik/pemegang haknya termasuk anak di
bawah umur, baik pemilikan sendiri atau pemilikan bersama, maka haruslah terlebih
dahulu mendapatkan ijin pengadilan, tanpa ijin tersebut pendaftaran peralihan,
pemindahan hak atau pembebanannya akan ditolak oleh Kantor Pertanahan.
Peran Pengadilan Agama Dalam Penetapkan Wali Terhadap Anak di
Bawah Umur Dalam Pendaftaran tanah.
Pengadilan Agama merupakan kerangka sistem dan tata hukum Nasional yang
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar, untuk mewujudkan peradilan yang
sederhana,cepat dan biaya ringan. Peradilan Agama merupakan salah satu pelaksana
kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama islam mengenai
perkara perdata tertentu yang diatur oleh Undang-Undang ini.135
Pengadilan dan hukum memiliki kaitan yang erat. Demikian Pengadilan Agama
memiliki kaitan lansung dengan hukum islam di Indonesia.136 Hukum tidak ada
artinya kalau tidak dilaksanakan. Hukum tidak ada artinya kalau tidak ditegakkan.
Pengadilan Agama di Indonesia hanya dikhususkan bagi orang yang beragama Islam.
Pengadilan Agama
merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi
135
Tim Redaksi Sinar Grafika, Undang-Undang No.7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama,
Jakarta :Sinar Grafika,2012, Hlm 43.
136
Maksudnya dalam menegakkan hukumberdasarkan hukum islam bagi pencari keadilan
yang beragama islam.
Universitas Sumatera Utara
87
rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang
diatur dalam Pasal 2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989.137
Sebagai peradilan khusus, Pengadilan Agama mempunyai tugas dan
kewenangan tertentu seperti pada pasal 49 Undang-Undang nomor 7 Tahun 1989
sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 yang menyatakan Pengadilan
Agama bertugas memeriksa, memutuskan, dan menyelesaikan perkara ditingkat
pertama antara orang-orang yang beragama islam. Sebagaimana pada hal point
kewarisan adanya permohonan perwalian untuk anak dibawah umur untuk melakukan
perbuatan hukum lainnya yakni pendaftaran tanah.
Sebagaimana wawancara dengan Ketua Pengadilan Agama Kisaran138, yang
menyatakan bahwa penetapan wali haruslah memenuhi syarat dalam mendaftarkan
pada Pengadilan Agama, yakni :
Fotocopy KTP 1 Lembar folio yang dimaterai;
Fotocopy akta nikah/ akta cerai apabila bercerai yang dimaterai, dan distempel
Kantor Pos Besar;
Fotocopy akte kelahiran anak-anak yang belum dewasa yang dimaterai dan
distempel Kantor Pos Besar;
Fotocopy sertipikat tanah/ surat lain yang dimaterai ;
137
Pengadilan Agama Tinggi Medan, hukum Islam Dua Negara Indonesia dan Malaysia,
bekerja sama dengan Univesiti Malaya, Kuala Lumpur Malaysia, 2012. Hlm 12-13.
138
Wawanca dengan Bapak Drs. Muhammad Ihsan SH., MH pada tanggal 21 Desember
2016, Pukul 10.34 WIB.
Universitas Sumatera Utara
88
Membayar biaya panjar sebesar perkara sebesar Rp. 491.000.
Tanggung jawab wali dalam hal ini berkenaan dengan
kewajibannya,
terhadap anak yang berada di bawah perwalian diatur pada Pasal 51 ayat (3) sampai
dengan ayat (5) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Perkawinan. Pada ayat
(3), wali wajib mengurus anak yang di bawah penguasaannya dan harta bendanya
dengan sebaik-baiknya dengan menghormati agama dan kepercayaan anak itu,
sedangkan ayat (4) mengatur bahwa wali wajib membuat harta benda anak yang
berada di bawah kekeuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua
perubahan-perubahan harta benda anak atau anak-anak itu. Pada ayat (5) juga
ditentukan bahwa wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di
bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau
kelalaiannya. Ketentuan Pasal 52 selanjutnya mengatur, bahwa wali tidak boleh
memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya
yang belum berumur 18 tahun atau belum pernah kawin, kecuali apabila kepentingan
anak menghendaki. Sedang kewajiban Wali menurut pasal 51 UU No.1 tahun 1974
yakni :
1. Wali wajib mengurus anak yang berada di bawah kekuasaannya dan harta
bendanya sebaik-baiknya dengan menghormati agama kepercayaan anak itu.
2. Wali wajib membuat daftar harta benda anak yang berada di bawah
kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua
perubahan-perubahan harta benda anak tersebut.
Universitas Sumatera Utara
89
3. Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah
perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan kesalahan dan kelalaiannya.
Dalam UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan juga menyatakan bahwa
seorang wali bertanggungjawab atas pengelolaan aset (harta) dan harus membayar
jika dalam pengelolaan harta tersebut menjadi hilang atau rusak, baik karena segaja
maupun karena kelalaian.139
Larangan Bagi Wali : Pasal 52 UU No.1 tahun 1974 menyatakan terhadap
wali berlaku pasal 48 Undang-undang ini, yakni orang tua dalam hal ini wali tidak
diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang
dimiliki anaknya yang belum berumur 18 tahun atau belum melakukan perkawinan
kecuali apabila kepentingan anak tersebut memaksa.
Sementara dalam Undang-Undang Nomor 23/2002 Tentang Perlindungan
Anak telah mengatur bahwa wali mengelola kekayaan lingkungan mereka untuk
kepentingan yang anak tersebut.
Pada awal penetapan perwalian, maka diperlukan upaya inventarisasi semua
aset (harta) dari anak yatim tersebut, dan wali wajib mendokumentasikan semua
perubahan terhadap asset tersebut.140
Begitu juga harta tersebut harus di audit secara annual (tahunan) untuk
mengetahui nilai dari aset dari anak yang diperwalikan itu, dan untuk memastikan
bahwa hartanya tetap terjaga. Selain itu, wali dilarang menjual, mengalihkan atau
139
140
Pasal 51(5) UU No. 1 Tahun 1974.
Pasal 51 (4) UU No.1 Tahun 1974
Universitas Sumatera Utara
90
menggadaikan aset anak perwalian, kecuali dalam keadaan yang darurat
(memaksa).141
Peran Badan Pertanahan Nasional (BPN) Dalam Menghadapi
Permasalahan Pendaftaran Tanah Milik Oleh Anak di Bawah Umur.
Kegiatan pendaftaran tanah yang menformalkan pemilikan tanah baik
berdasarkan bukti-bukti pemilikan maupun penguasaan atas tanah selain menyangkut
aspek yuridis dan aspek teknis.142 Badan Pertanahan Nasional (BPN) sangat berperan
dalam mendaftarkan tanah didaerahnya masing-masing, setiap menghadapi
permasalahan termasuk pendaftaran tanah yang disampaikan kepada Badan
Pertanahan Nasional maka dilakukkan pengelolaan pengkajian dan penanganan kasus
pertanahan karena hal tersebut merupakan salah satu fungsi Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia dalam rangka menanggulangi sengketa, konflik dan
perkara pertanahan guna mewujudkan kebijakan pertanahan bagi keadilan dan
kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan pengkajian dan penangan kasus pertanahan
merupakan sarana untuk menyelesaikan sengketa, konflik dan perkara pertanahan dan
memperkecil potensi timbulnya masalah pertanahan.143
Demi terlansungnya kepastian hukum dan perlindungan hukum terhadap anak
yang telah mendaftarkan hak kepada Kantor Pertanahan dalam hal ini Badan
Pertanahan Nasional telah memiliki kepastian hukum dan jika adanya permasalahan
141
Art 52 Law No. 1 Tahun 1974.
Muhammad Yamin Lubis dan Abdul Rahim, Op.cit. Hlm 209.
143
Thesis Bambang Edrianto., SH., MK.n, Status Tanah Wakaf Yang Belum Terdaftar Bila
Terjadi Gugatan Ahli Waris(Studi Di Kecamatan Ujung Batu Kabupaten Rokan Hulu Riau)Fakultas
Hukum Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara. 2015.
142
Universitas Sumatera Utara
91
dikemudian hari adanya tugas dan wewenang Badan Pertanahan Nasional dalam
penyelesaian sengketa, khususnya terhadap konflik atau perkara pertanahan.
Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nomor 4 Tahun 2006,
tentang Seksi Konflik Sengketa dan Perkara mempunyai fungsi144 :
Pelaksanaan penanganan sengketa, konflik dan perkara pertanahan.
Pengkajian masalah sengketa dan konflik pertanahan.
Penyiapan bahan dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan secara
hukum dan nonhukum, penanganan dan penyelesaian perkara, pelaksanaan
alternatif penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan melalui bentuk
mediasi, fasilitas dan lainnya, usulan dan rekomendasi pelaksanaan putusanputusan lembaga peradilan serta usulan rekomendasi pembatalan dan
penghentian hubungan hukum antara orang dan/atau badan hukum dengan
tanah.
Pengkoordinasian penanganan sengketa, konflik dan perkara pertanahan.
Pelapor penanganan dan penyelesaian konflik, sengketa dan perkara
pertanahan. Seksi konflik, sengketa dan perkara terdiri dari :
Subseksi sengketa dan konflik pertanahan
Tugas dan subseksi ini adalah menyiapkan pengkajian hukum sosial, budaya,
ekonomi dan politik terhadap sengketa dan konflik pertanahan, usulan
rekomendasi pembatalan dan penghentian hubungan hukum antara orang
144
Ibid
Universitas Sumatera Utara
92
antara orangdan/atau badan hukum dengan tanah, pelaksanaan alternatif
penyelesaian sengketa melalui mediasi.
Subseksi Perkara Pertanahan
Tugas dari Subseksi ini adalah menyiapkan penanganan dan penyelesaian
perkara, koordinasi penanganan perkara, usulan rekomendasi pembatalan
dan penghentian hubungan hukum antar orang dan/atau badan hukum
dengan tanah sebagai pelaksanaan putusan lembaga peradilan.145
Usaha untuk menghindari terjadinya sengketa sertifikat hak atas tanah yang
didaftarakan oleh wali terhadap anak dibawah umur sebenarnya dapat dilakukan sejak
awal, dan secara preventifi146 pada saat permohonan pemberian hak dalam proses
pendaftaran tanah milik. Tindakan ini bersifat pencegahan ini sebenarnya lebih efektif
dibandingkan dengan usaha penyelesaian sengketa apabila masalah tersebut telah
menjadi kasus (reprensif), dengan tidak mengesampingkan usaha teknis lain berupa
pembinaan peraturan serta ketentuan yang ada.147
Proses pemberian sertipikat melalui pendaftaran tidak semata-mata hanya
dilihat dengan segi prosedurnya saja. Suatu permohonan penerbitan sertipikat tidak
cukup hanya dianalisa dengan apakah sipemohon memenuhi syarat, permohonan
tersebut diumumkan, diperiksa secara fisik, diukur dibuatkan fatwa dan lain
sebagainya yang bersifat prosedur seperti pesertipikatan tanah, melainkan dikaji dari
145
http://www.academia.edu/3826862/hukum_tanah_wakaf oleh Ariz Riza, Di Akses pada
tanggal 10 Mei 2015.
146
Preventif adalah bersifat pencegahan, dalam Charkie Rudyat, Kamus Hukum, Pustaka
Mahardika.
147
Adrian Sutedi, Op.cit, Hlm 262.
Universitas Sumatera Utara
93
segi hukumnya. Suatu permohonan dapat dinilai menurut hukum layak untuk
diproses, apabila subyek permohonan dapat membuktikan secara hukum bahwa ia
adalah pihak yang satu-satunya berhak atas yang dimohonnya.148
Penilaian terhadap pembuktian yang dilakukan oleh aparat Badan Pertanahan
nasional/ Kantor Pertanahan terhadap permohonan tersebut, adalah dari segi riwayat
perolehan
tanah
kepada
yang
bersangkutan
secara
sah
dan
dapat
dipertanggungjawabkan. Di sinilah diperlukan aspek perdata di dalam suatu
permohonan
penerbitan
sertipikat
balik
nama.
Pejabat
Badan
Pertanahan
Nasional/Kantor Pertanahan yang berwenang harus menerapkan ketentuan-ketentuan
peraturan maupun hukum yang mengatur, misalnya pesertipikatan tanah hak milik,
tanah hak milik yang dilakukan dihadapan PPAT.149
Untuk menyelesaikan kasus-kasus pertanahan maka Badan Pertanahan
Nasional akan melakukan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan meliputi150 :
Pelayanan pengaduan dan informasi kasus pertanahan tanah hak milik.
Pelayanan, pengaduan dan informasi kasus pertanahan di Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia dilaksanakan dan dikoordinasi oleh Deputi, untuk
wilayah Badan Pertanahan Nasional dilaksanakan oleh Kepala Bidang dan
dikoordinasikan oleh Kepala Kantor Wilayah dan untuk Kantor Pertanahan
dilaksanakan oleh Kepala Seksi dan dikoordinasikan oleh Kepala Kantor Pertahanan.
148
Ibid
Ibid
150
Ibid
149
Universitas Sumatera Utara
94
Pengaduan kasus pertanahan disampaikan kepada kepala Badan Pertanahan
Nasional, Kepala Kantor Wilayah/atau Kepala Kantor Pertanahan baik secara lisan
maupun tertulis. Pengaduan yang diajukan secara lisan harus ditindak lanjuti dengan
pembuatan permohonan secara tertulis. Surat pengaduan kasus pertanahan paling
sedikit membuat identitas pengadu, objek yang diperselisihkan, posisi kasus dan
maksud pengaduan dengan dilampiri fotocopy identitas pengadu. Surat pengaduan
yang diterima melalui loket pengaduan dicatat dalam register penerimaan pengaduan
dan kepada pengadu diberikan surat tanda penerimaan pengaduan kemudian
diteruskan ke satuan organisasi yang tugas dan fungsinya menangani sengketa,
konflik dan perkara pertanahan.
Pihak pemohon atau pengadu dan termohon dapat menanyakan informasi
tentang perkembangan penanganan kasus pertanahan kepada kantor Badan
Pertanahan Nasional Republik Indonesia mengenai kasusnya. Informasi mengenai
perkembangan
secara
tertulis
disampaikan
dalam
bentuk
surat
informasi
perkembangan penanganan kasus pertanahan yang berisi tentang penjelasan pokok
masalah, posisi kasus dan tindakan yang dilaksanakan dalam hal ini tanah hak milik.
Surat informasi perkembangan penanganan kasus pertanahan disampaikan paling
lambat 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya permintaan. Informasi kasus pertanahan
yang diminta oleh instansi pemerintah atau lembaga terkait yang berwenang meminta
informasi kasus pertanahan, diberikan Badan Pertanahan Nasional Republik
Universitas Sumatera Utara
95
Indonesia, kantor wilayah badan pertanahan nasional atau kantor pertanahan paling
lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permintaan.151
Pemberian informasi kasus pertanahan dilakukan berupa jawaban mengenai
pokok perkara dan permasalahan, atau penjelasan lengkap yang sesuai data yang ada
di Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Kantor Wilayah Badan
pertanahan Nasional atau Kantor pertahanan dan hasil penangananya. Dalam hal
yang diperlukan, pejabat dari instansi yang meminta penjelasan mengenai kasus
pertanahan dapat diundang untuk menghadiri gelar kasus agar dapat memperoleh
keterangan lebih jelas dalam hal ini termasuk pada persengketaan tanah hak milik.
Pengkajian kasus pertanahan tanah hak milik.
Kepala Kantor Pertanahan, Kepala Kantor Wilayah atau Deputi baik bersamasama atau sendiri-sendiri melaksanakan pengkajian secara sistematik terhadap akar
dan sejarah kasus pertanahan. Hasil kajian dituangkan dalam peta kasus pertanahan
yang menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan umum atau kebijakan teknis
penanganan kasus pertanahan dengan acuan bersifat strategis atau mempunyai
dampak luas.
Pengadministrasian data dilaksanakan melalui pencatatan, pengelolaan dan
penyajian data yang diselenggarakan dengan sistem informasi di bidang pengkajian
dan penanganan kasus pertanahan yang dibangun secara terintegrasi antara Badan
Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Kantor Wilayah Badan pertanahan Nasional
151
lihat Pasal 12 dan 13 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia
Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan.
Universitas Sumatera Utara
96
dan Kantor Pertanahan. Dengan demikian tugas pendaftaran tanah merupakan tugas
administrasi hak yang dilakukan oleh negara dalam memberikan kepastian hak atas
tanah di Indonesia. Artinya negara mempunyai tugas untuk melakukan administrasi
tanah. Sistem administrasi pertanahan yang baik akan dapat memberikan jaminan
keamanan penggunaan bagi pemiliknya.152
Sebagaimana wawancara dengan Bapak
Kasi HTPT Badan Pertanahan
Nasional Kabupaten Asahan mengatakan : dalam memberikan upaya kepastian
hukum dalam kepemilikan tanah hak milik Badan Pertanahan Nasional melalui
Kantor Pertanahan tentu menjadikan pensertifikatan tanah sebagai salah satu dalam
prioritas pelayanan guna turut serta dalam upaya memberikan kepastian hukum
kepada tanah-tanah hak milik yang hingga saat ini masih banyak menimbulkan
polemik masyarakat.
Hasil penelitian dan analisa data menghasilkan pokok permasalahan sengketa
dan potensi penyelesaian sengketa. Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 3 Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997153 :
Dengan diterbitkannya sertipikat hak atas tanah maka kepada pemiliknya
diberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum;
Di zaman reformasi ini maka Kantor Pertanahan sebagai kantor di garis depan
haruslah memelihara dengan baik setiap informasi yang diperlukan untuk
suatu bidang tanah baik pemerintah sendiri sehingga dapat merencanakan
152
Novi Sri Wahyuni, Mengenal Sistem Pendaftaran Tanah, Medan, Pustaka Bangsa Press,
2011, Hlm 122.
153
Supriadi, Hukum Agraria, Cetakan Kedua, Jakarta, Sinar Grafika, 2008. Hlm 165
Universitas Sumatera Utara
97
pembangunan negara dan juga bagi masyarakat sendiri. Informasi itu penting
untuk dapat memutuskan sesuatu yang diperlukan di mana terlibat tanah, yaitu
data fisik dan yuridisnya, termasuk untuk satuan rumah susun, informasi
tersebut bersifat terbuka untuk umum artinya dapat diberikan informasi apa
yang saja yang diperlukan atas sebidang tanah/ bangunan yang ada;
Sehingga untuk itu perlulah tertib administrasi pertanahan dijadikan sesuatu
yang wajar.
Sesuai dengan penjelasan dari pasal tersebut, Badan Pertanahan Indonesia
atau Kantor Pertanahan dalam hal ini yang telah melaksanakan perbuatan hukum
pertanahan dalam rangka melaksanakan putusan pengadilan wajib segera melaporkan
kepada Kepala BPN RI, dan memberi tahukan kepada pemohon serta pihak lain yang
terkait dalam penerbitan hak atas tanah tersebut. Karena pengkajian dan penanganan
kasus pertanahan merupakan salah satu fungsi Badan Pertanahan Nasional Republik
Indonesia dalam rangka menanggulangi sengketa, konflik dan perkara pertanahan
guna mewujudkan kebijakan pertanahan bagi keadilan dan kesejahteraan masyarakat.
Universitas Sumatera Utara
98
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kedudukan anak di bawah umur sebagai subjek hukum dalam pendaftaran tanah
merupakan subjek hukum yang sama dalam hal ini sebagai seorang manusia
karena persamaan hak dan kewajiban dimana seorang anak mempunyai hak dan
kewajiban yang sama dengan orang dewasa yang diberikan oleh ketentuan
perundang-undangan
dalam
melakukan
perbuatan
hukumnya.
Sehingga
berlakunya Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 Jo. Surat Edaran
Menteri ATR/KaBPN nomor 4/SE/I/2015 terhadap pendaftaran tanah yang
dilakukan oleh anak yang dibawah umur, karena dalam keseragaman terhadap
peraturan yang lain dalam mengatur batasan usia dewasa yang dapat melakukan
perbuatan hukum dalam rangka pelayanan pertanahan kepada masyarakat.
Status Hukum wali terhadap anak di bawah umur dalam pendaftaran tanah
tentang perwalian menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang
menerima perwalian adalah anak-anak yang belum mencapai umur 18 Tahun
atau belum kawin, karena wali wajib mengurus anak yang berada dibawah
kekuasaannya dan harta bendanya sebaik-baiknya. Sehingga dapat dipercaya
memegang amanah dan dapat menjamin pemeliharaan anak
Mendapatkan kepastian hukum terhadap pendaftaran tanah yang dilakukan anak
dibawah umur setelah adanya Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997
98
Universitas Sumatera Utara
99
tentang pendaftaran tanah terhadap penetapan batas usia yang diatur dalam Surat
Edaran Menteri ATR/KaBPN Nomor 4/SE/I/2015 tentang batas usia yang
dilakukan terhadap anak dibawah umur, dengan adanya kepastian hukum serta
jaminan hukum sesuai dengan tujuan pendaftaran tanah atas perlindungnan
hukum terhadap subjek hukum dalam memperoleh kepastian hukum atas tanah
hak milik terhadap anak dibawah umur. Dengan setelah memperoleh sertipikat
dalam hal ini sertipikat hak milik guna untuk menjamin segala haknya.
Saran
1.
Disarankan kepada anak yang dibawah umur agar melaksanakan mendaftarkan
wali terhadap dirinya dalam guna melakukan perbuatan hukum dalam
pendaftaran tanah hak milik atas harta kekayaan yang diperoleh atas kewarisan
terhadap anak yang mati tinggal oleh orang tuanya.
2.
Disarankan
kepada
setiap
wali
harus
melaksanakan/menyelenggarakan
pemeliharan dan pendidikan serta perlindungan terhadap anak dibawah umur
dalam mendaftarkan tanah bagi anak yang belum dewasa sesuai dengan harta
kekayaannya dan wali harus mewakilinya dalam segala tindakan-tindakan
khususnya dalam pendaftaran tanah pada Kantor Pertanahan terhadap anak
dibawah umur.
3.
Disarankan kepada setiap wali terhadap anak dibawah umur agar segera
mendaftarkan tanah anak dibawah umur tersebut berdasarkan Peraturan
Pemerintah dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional serta memperoleh
kepastian hukum terhadap pendaftaran tanah setelah adanya Peraturan
Universitas Sumatera Utara
100
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah serta Surat Edaran
Menteri ATR/Ka.BPN Nomor 4/SE/I/2015 tentang batas usia anak dewasa dalam
peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Universitas Sumatera Utara
Download