ANALISIS LOKASI CABANG TERBAIK

advertisement
Prosiding SeminarNasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III
Yogyakarta, 3 November 2012
ISSN:1979-911X
ANALISIS LOKASI CABANG TERBAIK MENGGUNAKAN
METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS
Muhammad Yusuf
Teknik Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND
Email : [email protected]
ABSTRAK
Pemilihan lokasi yang tepat sangat penting karena pendirian cabang baru BPR X ditujukan untuk
memberikan pelayanan kepada nasabah dan calon nasabah yang ada di lokasi tersebut. Untuk mengurangi risiko
kesalahan dalam memilih lokasi maka penting untuk mengetahui kriteria-kriteria lokasi yang potensial untuk
usaha bisnis perbankan sebagai dasar dalam menentukan lokasi terbaik, selain itu diperlukan metode yang tepat
yaitu metode pengambilan keputusan yang dapat mengkuantitatifkan data kualitatif dan metode yang
mempertimbangkan kriteria-kriteria dalam pengambilan keputusannya. Metode Analytic Hierarchy Process
(AHP) yang digunakan dalam penelitian ini menyelesaikan masalah dengan memecah ke dalam kelompokkelompoknya kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki. Metode AHP memakai persepsi manusia yang
dianggap ahli sebagai input utamanya, selain itu metode ini memperhitungkan hal-hal kuantitatif dan kualitatif
serta memiliki skala perbandingan yang jelas, bersifat resiprokal dan hasil keputusan mudah dianalisis. Kriteria
yang didapat untuk dasar penentuan pembukaan kantor cabang dengan bobot tertinggi adalah kriteria
kriminalitas sebesar 0,542 dan bobot terendah adalah kriteria jumlah bank sebesar 0,047. Berdasarkan
perhitungan nilai performansi, lokasi terbaik adalah Kecamatan Bantul mendapatkan nilai sebesar 3,798
sedangkan Kecamatan Banguntapan nilainya 3,207 merupakan pilihan kedua.
Kata kunci : AHP, nilai performansi, kriteria, keputusan
PENDAHULUAN
Berkembangnya kegiatan usaha dari suatu industri, dirasakan perlu adanya sumber-sumber
penyediaan dana guna membiayai usaha yang semakin berkembang. Oleh karena itu hubungan antara
pertumbuhan suatu kegiatan perekonomian ataupun pertumbuhan dengan suatu kegiatan usaha dari
perusahaan dengan eksistensi perkreditan mempunyai koefisien korelasi yang sangat erat, baik bersifat
negatif maupun dalam sifatnya yang positif.
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang menerima simpanan dalam bentuk deposito
berjangka, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana
sebagai usaha Bank Perkreditan Rakyat. Keberadaan BPR X di Kabupaten Bantul baru satu buah yaitu
di Kecamatan Sewon, untuk memberikan pelayanan yang baik kepada nasabah dan calon nasabah
dalam hal ini pengusaha di daerah yang terhimpun dalam kegiatan kelompok industri seperti
perusahaan maupun perorangan maka BPR X berencana akan membuka kantor cabangnya di Bantul.
Pemilihan lokasi yang tepat tentu saja sangat penting karena pendirian cabang baru ditujukan
untuk memberikan pelayanan kepada nasabah dan calon nasabah yang ada di lokasi tersebut.
Kedekatan lokasi dengan konsumen akan mempermudah pelayanan dan promosi dari BPR X yang
akan dibuka, sehingga pemilihan lokasi yang tepat sangatlah penting dalam pembukaan sebuah cabang
BPR baru. Untuk mengurangi risiko kesalahan dalam memilih lokasi maka penting untuk mengetahui
kriteria-kriteria lokasi yang potensial untuk usaha bisnis perbankan sebagai dasar dalam menentukan
lokasi terbaik, selain itu diperlukan metode yang tepat yaitu metode pengambilan keputusan yang
dapat mengkuantitatifkan data kualitatif dan metode yang mempertimbangkan kriteria-kriteria dalam
pengambilan keputusannya.
Prinsip Analytic Hierarchy Process, Metode AHP (Analytic Hierarchy Process)
menyelesaikan masalah dengan memecah ke dalam kelompok-kelompoknya kemudian diatur menjadi
suatu bentuk hirarki. Metode ini memperhitungkan hal-hal kuantitatif dan kualitatif serta memiliki
skala perbandingan yang jelas, bersifat resiprokal dan hasil keputusan mudah dianalisis (Brodjonegoro
dan Utama, 1992). Pengambilan keputusan dalam AHP didasarkan atas 3 (tiga) prinsip dasar (Saaty,
T.L. and Vargas, L.G. 2006):
A-102
Prosiding SeminarNasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III
Yogyakarta, 3 November 2012
ISSN:1979-911X
a. Penyusunan hirarki, merupakan langkah untuk mendefinisikan masalah yang rumit dan kompleks,
sehingga menjadi jelas dan rinci. Keputusan yang diambil ditetapkan sebagai tujuan, yang
dijabarkan menjadi kriteria-kriteria yang lebih rinci hingga mencapai suatu tahapan yang paling
terukur. Hirarki tersebut memudahkan pengambil keputusan untuk memvisualisasikan
permasalahan dan faktor-faktor terkendali dari permasalahan tersebut, serta disusun berdasarkan
pandangan dari pihak yang memiliki keahlian dan pengetahuan di bidang yang bersangkutan.
b. Penentuan prioritas adalah melalui penentuan suatu nilai yang relatif pada suatu level yang
mempunyai dampak pada nilai level diatasnya. Pada dasarnya formulasi matematis pada model
AHP dilakukan dengan menggunakan suatu matriks. Perbandingan berpasangan dimulai dari
tingkat hirarki paling tinggi, dimana suatu kriteria digunakan sebagai dasar pembuatan
perbandingan. formula, matriks perbandingan berpasangan pada suatu level (gambar 1) adalah
sebagai berikut :
A1
A2
...
An
A=
A1
w1/w1
w1/w2
...
w1/wn
A2
w2/w1
w2/w2
...
w2/wn
...
...
...
...
...
An
w3/w1
w3/w2
...
wn/wn
Gambar 1. Format Matriks Perbandingan Berpasangan
Proses yang paling mudah adalah membandingkan dua hal dengan keakuratan perbandingan
tersebut sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Untuk itu Saaty (2006) menetapkan
skala kuantitatif 1 sampai dengan 9 untuk menilai perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen
terhadap elemen lainnya. Skala penilaian perbandingan pasangan tersebut diperlihatkan pada tabel
1.
Tabel 1. Skala Penilaian Perbandingan Pasangan
Nilai (n)
Definisi
1
3
5
7
9
2, 4, 6, 8
Kebalikan
(1/n)
Kedua elemen sama pentingnya.
Elemen yang satu sedikit lebih penting dibanding yang lainnya.
Elemen yang satu esensial atau sangat penting dibanding elemen yang lainnya.
Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lainnya.
Satu elemen mutlak lebih penting ketimbang elemen yang lainnya.
Nilai-nilai kompromi diantara dua pertimbangan yang ber- dekatan.
Jika untuk aktivitas i dibandingkan dengan aktivitas j mempunyai nilai tertentu,
aktivitas j dibandingkan aktivitas i mempunyai nilai kebalikannya.
c. Konsistensi logika, prinsip pokok yang menentukan kesesuaian antara definisi konseptual dengan
operasional data dan proses pengambilan keputusan adalah konsistensi jawaban dari para
responden. Konsistensi tersebut tercermin dari penilaian kriteria dari perbandingan berpasangan.
Jawaban para responden dalam menentukan prioritas merupakan prisip pokok yang akan
menentukan validitas data dan hasil pengembilan keputusan. Untuk dapat membandingkan nilai
berpasangan antar kriteria atau alternatif suatu pengukuran yang menyatakan kekonsistensian dari
nilai berpasangan tersebut dengan menghitung suatu nilai ketidak konsistensian. Suatu matriks
dapat dikatakan konsisten jika:
  n ………………………………………………………………………. (1)
dimana: : Eigenvalue; n : Dimensi dari matriks. dan
Consistency index ( CI ) = (  - n ) / ( n – 1 )……………………. (2)
Consistency Ratio ( CR ) = CI / RI………………………………. (3)
A-103
Prosiding SeminarNasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III
Yogyakarta, 3 November 2012
ISSN:1979-911X
Perhitungan AHP dapat diterima jika nilai CR dibawah 10%, namun jika melebihi diatas nilai
tersebut tidak dapat diterima, dengan kata lain bahwa telah tejadi ketidakkonsistenan suatu nilai pada
saat penentuan prioritas. Karena terjadi ketidakkonsistenan maka akan dilakukan pengisian ulang atau
dengan cara membuat suatu hirarki baru dibawah kriteria tersebut agar pengambilan keputusan akan
semakin konsisten.
AHP banyak digunakan untuk pengambilan keputusan dalam menyelesaikan masalah-masalah
dalam hal perencanaan, penentuan alternatif, penyusunan prioritas, pemilihan kebijakan, alokasi
sumber daya, penentuan kebutuhan, peramalan hasil, perancangan sistem, pengukuran performansi,
kelebihan dari metode AHP dalam pengambilan keputusan adalah:
a. Dapat menyelesaikan permasalahan yang kompleks, dan strukturnya tidak beraturan, bahkan
permasalahan yang sama sekali tidak terstruktur.
b. Kurang lengkapnya data tertulis atau data kuantitatif mengenai permasalahan tidak mempengaruhi
kelancaran proses pengambilan keputusan karena penilaian merupakan sintesis pemikiran berbagai
sudut pandang responden.
c. Sesuai dengan kemampuan dasar manusia dalam menilai suatu hal sehingga memudahkan
penilaian dan pengukuran kriteria.
d. Metode dilengkapi dengan pengujian konsistensi sehingga dapat memberikan jaminan keputusan
yang diambil.
METODE
Pengumpulan informasi awal diperoleh melalui ketua tim survey pembukaan kantor cabang
baru di Kabupaten Bantul dari BPR X. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan
pemberian kuesioner tentang hal yang berkaitan dengan penentuan lokasi kantor cabang baru BPR X.
Kuesioner pertama digunakan untuk menjaring kriteria-kriteria dasar penentuan lokasi kantor cabang
BPR X, kuesioner diberikan kepada pihak pengambil keputusan BPR X melalui tim survei. Selain itu
kuesioner pertama juga diberikan kepada Bappeda Bantul dan nasabah BPR X.
Kuesioner kedua digunakan untuk mendapatkan kriteria secara rinci, diberikan kepada pihak
BPR X, Bappeda Bantul, dan nasabah, selain itu digunakan data yang diperoleh dari Badan Pusat
Statistik Bantul, Bappeda Bantul, Polres Bantul.
Bappeda Bantul menetapkan 4 (empat) kecamatan dari 11 (sebelas) kecamatan yang ada di
Kabupaten Bantul sebagai wilayah unggulan. Empat lokasi tersebut adalah: Kecamatan Sewon,
Kecamatan Banguntapan, Kecamatan Bantul, dan Kecamatan Kasihan. Keempat lokasi di atas sebagai
objek yang akan diseleksi lebih lanjut untuk menentukan lokasi yang tepat sebagai kantor cabang baru
BPR X di Kabupaten Bantul.
Hasil pengisian kuesioner ketiga yang dilakukan oleh pihak BPR X, tim Bappeda dan nasabah
berupa matrik perbandingan berpasangan untuk tujuan (antar kriteria) pada penentuan lokasi kantor
cabang baru BPR X di Kabupaten Bantul setelah dilakukan rataan geometrik diperoleh hasil seperti
ditunjukkan Tabel 2.
Tabel 2. Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan
KRITERIA
A
A. Kriminalitas
B. Sarana prasarana
C. Pertumbuhan ekonomi
D. Jumlah Bank
E. Sosial ekonomi
B
C
D
E
5,10
5,43
3,49
5,43
3,83
3,08
5,67
5,10
3,08
2,32
Dengan bantuan program Expert Choice Nilai Rasio Konsistensi pada tabel 2 adalah 0,1.
Karena Nilai Rasio Konsistensinya  0,1 maka perbandingan berpasangan untuk tujuan penentuan
lokasi kantor cabang BPR X berada dalam batas konsisten. Untuk bobot setiap kriteria penentuan
lokasi kantor cabang BPR X ditunjukkan pada Tabel 3.
A-104
Prosiding SeminarNasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III
Yogyakarta, 3 November 2012
ISSN:1979-911X
Tabel 3 Hasil Bobot Kriteria
KRITERIA
BOBOT
A. Kriminalitas
B. Sarana Prasarana
C. Pertumbuhan Ekonomi
D. Jumlah Bank
E. Sosial Ekonomi
0,542
0,226
0,116
0,047
0,069
Selain matriks perbandingan kriteria tujuan seperti pada Tabel 3, matriks perbandingan juga
dijabarkan pada sub kriteria tujuan yang juga dirata-rata dengan rataan geometrik, sedangkan bobot
sub kriteria tujuan dicari dengan bantuan program Expert Choice. Matriks perbandingan sub kriteria
tujuan dan bobotnya sebagai berikut:
a. Kriminalitas
Untuk kuesioner perbandingan sub kriteria kriminalitas diberikan kepada delapan responden yaitu:
Pihak BPR X, Polres dan nasabah. Nilai Rasio Konsistensi (lihat tabel 4) adalah 0,1. Karena
Nilai Rasio Konsistensinya  0,1 maka perbandingan berpasangan untuk sub kriteria kriminalitas
penentuan lokasi kantor cabang baru BPR X masih berada dalam batas konsisten.
Tabel 4. Matriks Perbandingan Berpasangan Sub Kriteria Kriminalitas
SUB KRITERIA
Kriminalitas
A
A. Perampokan
B. Pecurian
C. Penganiayaan
D. Pencopetan
B
C
D
5,10
5,67
3,49
5,43
3,08
2,57
b. Matriks perbandingan berpasangan kriteria sarana prasarana meliputi: jalan, listrik, telepon,
angkutan. Kuesioner untuk matriks perbandingan kriteria sarana prasarana diberikan kepada
delapan responden yaitu: Bappeda Bantul, pihak BPR X, nasabah.
Nilai Rasio Konsistensi pada tabel 5 adalah 0,1. Karena Nilai Rasio Konsistensinya  0,1 maka
perbandingan berpasangan untuk sub kriteria dari faktor sarana prasarana penentuan lokasi kantor
cabang baru BPR X masih berada dalam batas konsisten.
Tabel 5. Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria Sarana Prasarana
KRITERIA Sarana
prasarana
A
A. Jalan
B. Listrik
C. Telepon
D. Angkutan
B
C
D
5,67
5,10
3,24
5,10
3,08
0,43
c. Matriks perbandingan berpasangan kriteria pertumbuhan ekonomi meliputi: usaha kecil menengah
dan perdagangan & jasa. Kuesioner untuk pembandingan kriteria pertumbuhan ekonomi diberikan
kepada delapan responden yaitu: Pihak BPR X, Bappeda dan nasabah.
Nilai Rasio Konsistensi pada tabel 6 adalah 0,0. Karena Nilai Rasio Konsistensinya  0,1 maka
perbandingan berpasangan untuk sub kriteria dari faktor pertumbuhan ekonomi penentuan lokasi
kantor cabang baru masih berada dalam batas konsisten.
A-105
Prosiding SeminarNasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III
Yogyakarta, 3 November 2012
ISSN:1979-911X
Tabel 6 Matriks Perbandingan Berpasangan Faktor Pertumbuhan Ekonomi
KRITERIA
Pertumbuhan ekonomi
A
A. Usaha kecil menengah
B. Perdagangan & jasa
B
5,10
d. Matriks perbandingan berpasangan kriteria sosial ekonomi meliputi: jenis mata pencaharian,
jumlah penduduk, tingkat pendidikan. Kuesioner perbandingan kriteria sosial ekonomi diberikan
kepada delapan responden yaitu: Pihak BPR X, Bappeda dan nasabah.
Tabel 7 Matriks Perbandingan Berpasangan Faktor Sosial Ekonomi
KRITERIA
Sosial ekonomi
A
A. Jumlah penduduk
B. Jenis mata pencaharian
C. Tingkat pendidikan
B
C
3,83
3,08
5,67
Nilai Rasio Konsistensi matriks pada tabel 7 adalah 0,05. Karena Nilai Rasio Konsistensinya 
0,05 maka perbandingan berpasangan untuk sub kriteria dari faktor sosial ekonomi penentuan
lokasi kantor cabang baru BPR X masih berada dalam batas konsisten.
e. Bobot kriteria dan sub kriteria tujuan penentuan lokasi kantor cabang baru BPR X di Kabupaten
Bantul, dengnan menggunakan program Expert Choice, bobot dari kriteria dan sub kriteria tujuan
matriks perbandingan berpasangan pada tabel 1 - tabel 7 ditunjukkan seperti pada tabel 8.
Tujuan
Tabel 8. Struktur Bobot Kriteria dan Sub Kriteria Terhadap Tujuan
KRITERIA
Bobot Sub Kriteria
Bobot
A. Kriminalitas
0,542
B. Sarana Prasarana
0,226
C. Pertumbuhan Ekonomi
0,116
D. Jumlah Bank
0,047
E. Sosial Ekonomi
0,069
Tujuan
Perampokan
0,617
Pencurian
0,209
Pencopetan/perampasan
0,609
penganiayaan
Jalan
Listrik
Telepon
Angkutan
Usaha kecil menengah
Perdagangan&jasa
0,105
0,621
0,201
0,071
0,107
0,836
0,164
Jenis mata pencaharian
Jumlah penduduk
Tingkat pendidikan
0,226
0,676
0,098
PEMBAHASAN
Bobot kriteria penentuan lokasi kantor cabang baru menggunakan bobot relatif antar kriteria
dalam satu set perbandingan matriks. Kriteria-kriteria penentuan lokasi kantor cabang BPR X meliputi
kriteria kriminalitas, sarana prasarana, pertumbuhan ekonomi, sosial ekonomi, jumlah bank. Untuk
A-106
Prosiding SeminarNasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III
Yogyakarta, 3 November 2012
ISSN:1979-911X
analisis bobot kriteria dan nilai performansi calon lokasi dengan menggunakan program Expert Choice
dapat dilihat pada tabel 9
Tabel 9 Bobot Kriteria dan Nilai Performansi Calon Lokasi
Kriteria
Bobot
Kriminalitas
0,542
Sarana
Prasarana
0,226
Pertumbuhan
Ekonomi
0,116
Jumlah Bank
0,047
Sosial
Ekonomi
0,069
Subkriteria
Bobot
Perampokan
Pencurian
Pencopetan/
perampasan
Pembunuhan/
penganiayaan
Jalan
Listrik
Telepon
Angkutan
Usaha kecil menengah
Perdagangan&jasa
Jenis mata pencaharian
Jumlah penduduk
Tingkat pendidikan
Nilai Performansi Calon Lokasi
0,617
0,209
Sewon
1,34
0,226
Bantul
1,34
0,452
Bgntapan
1,34
0,226
Kasihan
0,335
0,339
0,609
0,228
0,228
0,228
0,228
0,105
0,074
0,148
0,074
0,148
0,621
0,201
0,071
0,107
0,836
0,164
0,420
0,090
0,016
0,048
0,291
0,057
0,56
0,135
0,048
0,048
0,388
0,076
0,28
0,18
0,064
0,096
0,194
0,038
0,140
0,09
0,048
0,024
0,388
0,057
0,276
0,138
0,207
0,207
0,032
0,094
0,007
0,048
0,141
0,021
0,064
0,188
0,028
0,016
0,047
0,007
0,226
0,676
0,098
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa kriteria kriminalitas memiliki bobot terbesar yaitu
0,542 disusul berturut-turut kriteria sarana prasarana dengan bobot 0,226; pertumbuhan ekonomi
dengan bobot 0,116; sosial ekonomi dengan bobot 0,047; jumlah bank dengan bobot 0,069. Hal ini
menunjukkan bahwa para responden dalam penentuan lokasi kantor cabang mengutamakan kriteria
kriminalitas sebagai kriteria terpenting agar dapat menimbulkan rasa aman bagi para pengusaha
perbankan dalam menginvestasikan aset yang dimilikinya, demikian pula dengan calon nasabah dan
nasabah akan merasa tenang dalam menyimpan uang ataupun investasi lainnya.
Kriteria sarana prasarana menjadi kriteria kedua terpenting setelah kriteria keamanan
menunjukkan bahwa para responden dalam penentuan lokasi kantor cabang mengutamakan kondisi
kriteria sarana prasarana setelah kriteria kriminal. Sarana prasarana yang baik akan menguntungkan
bagi pihak perbankan dalam menjalankan usahanya, beberapa hal yaitu jalan, listrik, telepon dan
angkutan.
Kriteria pertumbuhan ekonomi menjadi kriteria ketiga terpenting setelah kriteria sarana
prasarana hal ini menunjukkan bahwa para responden dalam penentuan lokasi kantor cabang
mengutamakan kondisi kriteria pertumbuhan ekonomi setelah sarana prasarana, kriteria ini
dipengaruhi dua hal yaitu kondisi usaha kecil menengah dan perdagangan. Hasil pembobotan untuk
kriteria usaha kecil menengah dan perdagangan menunjukkan bahwa kriteria usaha kecil menengah
dengan bobot 0,836 memiliki bobot kepentingan lebih tinggi dibanding kriteria perdagangan dan jasa
yang memiliki bobot sebesar 0,164.
Kriteria usaha kecil menengah dengan bobot lebih tinggi menunjukkan bahwa para responden
dalam penentuan lokasi kantor cabang untuk kriteria pertumbuhan ekonomi memprioritaskan pada
kriteria usaha kecil menengah. Kriteria sosial ekonomi menjadi kriteria terpenting setelah kriteria
jumlah bank. Kriteria sosial ekonomi dipengaruhi tiga hal yaitu jenis mata pencaharian, jumlah
penduduk dan tingkat pendidikan. Hasil pembobotan untuk kriteria jumlah penduduk menunjukkan
bahwa kriteria jumlah penduduk dengan bobot 0,676 memiliki bobot kepentingan lebih tinggi
dibanding kriteria yang berpengaruh pada kriteria sosial ekonomi lainnya
Kriteria terakhir yang dipertimbangkan dalam penentuan lokasi untuk pembukaan bank baru
adalah keberadaan jumlah bank di wilayah tersebut. Hal ini penting karena akan menentukan tingkat
persaingan dalam menghimpun nasabah di wilayah tersebut. Semakin banyak jumlah bank yang
tersedia semakin ketat persaingan yang muncul.
A-107
Prosiding SeminarNasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III
Yogyakarta, 3 November 2012
ISSN:1979-911X
Rekapitulasi yang diperoleh dari data tabel 9, dapat ditentukan nilai performansi 4 (empat)
calon lokasi cabang baru yang diusulkan kepada BPR X. Dari tabel 10 diperoleh hasil bahwa
Kecamatan Bantul memperoleh nilai tertinggi sebesar 3,798 dan terendah adalah kecamatan Kasihan
sebesar 2,074.
Tabel 10 Nilai Performansi Calon Lokasi
Nilai Performansi Calon Lokasi
Sewon
Bantul
Banguntapan
Kasihan
3,162
3,798
3,207
2,074
KESIMPULAN
Hasil penelitian atas rencana pembukaan kantor cabang baru BPR X di Kabupaten Bantul
dengan menggunakan metode AHP adalah sebagai berikut:
1. Kriteria-kriteria yang menjadi dasar penentuan pembukaan kantor cabang mencakup kriteria
kriminalitas, sarana prasarana, pertumbuhan ekonomi, jumlah bank, sosial ekonomi dengan bobot
tertinggi adalah kriteria kriminalitas sebesar 0,542 dan bobot terendah adalah kriteria jumlah bank
sebesar 0,047.
2. Berdasarkan perhitungan nilai performansi, lokasi Kecamatan Bantul mendapatkan nilai terbesar
diantara lokasi lainnya yaitu sebesar 3,798 sedangkan Kecamatan Banguntapan menempati urutan
kedua dengan nilai 3,207.
DAFTAR PUSTAKA
Brodjonegoro, Bambang P. S & B. S . Utama. (1992). AHP. Jakarta: PAU–EK– UI.
Kotler, Philip. (1997). Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prenhallindo.
Saaty, T.L. (1994). Fundamentals of Decision Making. RWS Publications.
Saaty, T.L. (1991). Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Pustaka Binaman Pressindo.
Saaty, T.L. and Vargas, L.G. (2006) Decision Making with the Analytic Network Process:Economic,
Political, Social and Technological Applications with Benefits, Opportunities,Costs and Risks,
New York: Springer
A-108
Download