9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan teori medis A. Kehamilan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan teori medis
A. Kehamilan
1. Definisi Kehamilan
Kehamilan adalah masa mulai dari ovulasi sampai dengan partus
lamanya 280 hari atau (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43
minggu). Pembagian kehamilan dibagi dalam 3 trimester yaitu :
Trimester pertama, mulai dari konsepsi sampai 3 bulan (0-12 minggu);
trimester kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan (13-28 minggu);
trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (29-42 minggu). (Ai
yeyeh rukiyah, 2009).
Masa Kehamilan adalah masa yang dimulai dari konsepsi sampai
lahirnya janin, lamanya hamil normal 280 hari (40 minggu atau 9
bulan 7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakhir (Saifuddin,
2006).
Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implansi. Bila dihitung dari
saat fertilisasi sampai lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan
menurut kalender inernasional (Prawirihardjo, 2009).
2. Fisiologi Kehamilan
a. Rahim atau Uterus
Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan
melindungi hasil konsepsi (janin, plasenta amnion) sampai persalinan.
Uterus mempunyai kemampuan yang laur biasa untuk bertambah besar
dengan cepat selama kehamilan dan pulih kembali seperti keadaan
semula dalam beberapa minggu setelah persalinan. Pada perempuan
tidak hamil uterus mempunyai berat berat 70 gram dan kapasitas 10 ml
atau kurang. Selama kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu
organ yang mampu menampung janin, plasenta, dan cairan amnion ratarata pada akhir kehamilan volume totalnya mencapai 5 liter bahkan dapai
9
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
mencapai 20 liter atau lebih, dengan berat rata-rata 1100 gram
(Prawirohardjo, 2009).
Pada bulan-bulan pertama kehamilan uterus masih seperti bentuk
aslinya seperti buah alpukat. Pada kehamilan 4 bulan berbentuk bulat,
dan akhir kehamilan akan seperti bujur telur. Rahim yang tidak hamil kirakira sebesar telur ayam, pada kehamilan 2 bulan sebesar telur bebek, dan
kehamilan 3 bulan sebesar telur angsa. Pada minggu pertama, isthmus
Rahim mengadakan hipertrofi dan bertambah panjang, sehingga bila
diraba terasa lunak (soft), pelunakan isthmus disebut tanda Hegar. Pada
kehamilan 5 bulan, Rahim teraba seperti berisi air ketuban, dinding Rahim
terasa tipis. Karena itu, bagian-bagian janin dapat diraba melelui dinding
perut dan dinding Rahim (Mochtar, 2002).
Pertumbuhan Rahim ternyata tidak sama ke semua arah, tetapi
terjadi pertumbuhan yang cepat di daerah implantasi plasenta, sehingga
Rahim bentuknya tidak sama. Bentuk Rahim yang tidak sama disebut
tanda
Dan
Piscaseck.
perubahan
konsentrasi
yang
hormonal
mempengaruhi Rahim, yaitu estrogen dan progesterone menyebabkan
progesterone mengalami penurunan dan menimbulkan kontraksi Rahim
yang disebut Braxton Hicks. Terjadinya kontraksi Braxton Hicks, tidak
dirasakan nyeri dan terjadi bersamaan diseluruh Rahim. Kontraksi
Braxton Hicks akan berlanjut menjadi kontraksi untuk persalinan
(Manuaba, 2010).
Table 2.1 Usia Kehamilan Berdasarkan Tinggi Fundus
Usia Kehamilan
Tinggi Fundus
Dalam cm
Menggunakan petunjuk badan
12 minggu
-
Teraba di atas simpisis pubis
16 minggu
-
Di tengah antara simpisis pubis
dan umbilicus
20 minggu
20 cm (±2 cm)
22 - 27 minggu
Usia
kehamilan
⅔ di atas simpisis
dalam
Setinggi umbilicus
minggu = cm (±2 cm)
28 minggu
28 cm (±2 cm)
29 - 35 minggu
Usia
kehamilan
minggu = cm (±2 cm)
⅓ di atas umbilicus
dalam
½
antara
umbilicus
dan
prosesus xifoideus
10
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
36 minggu
36 cm (±2 cm)
Setinggi prosesus xifoideus
40 minggu
38 cm (±2cm)
Dua
jari
(4
cm)
dibawah
prosesus xifoideus
(Prawirohardjo 2010; h.203)
b.
Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan
folikel baru juga ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan
di Ovarium dan akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya
plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu.
c. Vulva Dan Vagina
Vulva Dan Vagina mengalami peningkatan pembuluh darah karena
pengaruh estrogen sehingga tampak makinn berwarna merah dan kebirubiruan yang dikenal dengan tanda Chadwicks...
d. Payudara
Pada awal kehamilan perempuan akan merasakan payudaranya
menjadi lebih lunak. Setelah bukan kedua payudara akan bertambah
ukurannya dan vena-vena di bawah kulit akan lebih terlihat. Puting
payudara akan lebih besar, kehitaman, dan tegak. Pada kehamilan 12
minggu ke atas suatu cairan berwarna kekuningan yang disebut
Kolostrum dapat keluar dari puting susu. Kolostrum ini berasal dari
kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi.Ukuran payudara sebelum
hamil tidak mempunyai hubungan dengan banyaknya air susu yang akan
dihasilkan.
e.
Kulit
Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi
kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah
payudara dan paha. Perubahan ini dikenal dengan nama striae
gravidarum.
Pada banyak perempuan kulit di garis pertengahan perutnya (linea
alba) akan berubah menjadi hitam kecokelatan yang disebut dengan linea
nigra. Kadang-kadang akan muncul dalam ukuran yang bervariasi pada
wajah dan leher yang disebut dengan chloasma atau melasma
gravidarum. Selain itu, pada areola dan daerah genital juga akan terlihat
11
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Pigmentasi yang berlebihan. Pigmentasi yang berlebihan itu biasanya
akan hilang atau sangat jauh berkurang setelah persalinan.
f.
Sirkulasi Darah Ibu
Peredaran darah ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1)
Meningkatnya
kebutuhan
sirkulasi
darah
sehingga
dapat
memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin
dalam Rahim.
2)
Terjadinya hubungan langsung antara arteri dan vena pada
sirkulasi retro-plasenter.
3)
Pengaruh
hormone
estrogen
dan
progesterone
makin
meningkat
akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran darah,
yaitu :
a) Volume Darah
Volume darah semn meningkat dimana jumlah serum dalam
darah besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi
semacam pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya
pada usia kehamilan 23 minggu. Serum darah (volume darah)
bertambah sebesar 25 sampai 30 % sedangkan sel darah
bertambah sekitar 20 %. Curah jantung akan bertambah sekitar 30
%. Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak sekitar usia
kehamilan 16 minggu, sehingga penderita penyakitt jantung harus
berhati-hati
untuk
hamil
beberapa
kali.
Kehamilan
selalu
memberatkan kerja jantung sehingga wanita hamil dengan sakit
jantung dapat jatuh dalam dekompensasi kordis.
b)
Sel Darah
Sel
darah
merah
makinn
meningkat
jumlahnya
untuk
mengimbangi pertumbuhan janin dalam Rahim, tetapi pertambahan
sel drah tidak seimbang dengan peningkatan voleme darah sehingga
terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologi. Jumlah sel darah
putih meningkat hingga mencapai 10.000/ml. Dengan hemodilusi dan
fisiologi maka laju endap darah semakin tinggi dan dapat mencapai 4
kali dari angka normal.
12
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Protein darah dalam bentuk albumin dan hemaglobin dapat
menurun pada triwulan pertama, sedangkan fibrinogen meningkat.
g. Sistem Pernapasan
Pada kehamilan, terjadi perubahan sistem pernapasan untuk dapat
memenuhi kebutuhan O2. Disamping itu, terjadi desakan diafragma
karena dengan dorongan Rahim yang membesar pada usia kehamilan
32 minggu. Sebagai kompensasi terjadinya desakan Rahim dan
kebutuhan O2 yang meningkat, ibu hamil akan bernafas lebih dalam
sekitar 20 sampai 25 % dari pada biasanya.
h. Sistem Pencernaan (Traktus Digestivus)
Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat
dan dapat menyebabkan :
1) Pengeluaran air liur berlebihan (hipersalivasi)
2) Daerah lambung terasa panas
3) Terjadi mual dan sakit / pusing kepala terutama pagi hari, yang
disebut morning sickness
4) Muntah, yang terjadi disebut emesis gravidarum
5) Muntah berlebihan sering menggangu kehidupan sehari-hari,
disebut hiperemesis gravidarum
6) Progesterone menimbulkan gerak usus makin berkurang.
i.
Sistem Perkemihan (Truktus Urinarius)
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan
oleh uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering
berkemih. Keadaan ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan bila
uterus keluar dari panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin
sudah mulai turun ke pintu atas panggul, keluhan ini akan timbul
kembali.
Dalam kehamilan, ureter kanan dan kiri membesar karena pengaruh
progesterone. Akan tetapi ureter kanan lebih membesar dibandingkan
dengan
ureter
kiri,
karena
mengalami
lebih
banyak
tekanan
dibandingkan dengan ureter kiri.
13
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
j.
Metabolisme
Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh akan mengalami
perubahan yang mendasar, di mana kebutuhan nutrisi makin tinggi
untuk pertumbuhan janin dan persiapan pemberian ASI
Perubahan metabolisme pada kehamilan berupa :
1)
Metabolisme basal (basal metabolic rate, BMR) naik sebesar 15
% sampai 20 % dari semula, terutama pada trimester ketiga
2)
Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 mEq
per liter menjadi 145 mEq per liter disebabkan oleh hemodilusi
darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan janin
3)
Kebutuhan
protein
wanita
hamil
makin
tinggi
untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ
kehamilan, dan persiapan laktasi. Dalam makanan diperlukan
protein tinggi sekitar ½ gr/kg berat badan atau sebutir telur
ayam sehari
4)
Kebutuhan kalori didapat dari karbohidrat, lemak, dan protein
5)
Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil
a)
Kalsium, 1,5 gram setiap hari, 30 sampai 40 gram untuk
pembentukan tulang janin
b) Fosfor, rata-rata 2 gram dalam sehari
c) Air, ibu memerlukan air cukup banyak dan dapat terjadi
retensi air
d) Berat badan ibu hamil bertambah
Berat badan ibu akan bertambah antara 6,5 sampai 16,5
kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan sekitar ½
kg/minggu (Manuaba, 2010).
B. Antenatal Care
1. Definisi
Antenatal Care adalah pengawasan sebelum persalinan
terutama ditunjukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam Rahim (Manuaba, 2010).
14
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Antenatal Care adalah cara penting untuk memonitor dan
mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu
dalam kehamilan normal.
a. Tujuan Asuhan Antenatal.
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan
ibu dan tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental
dan sosial ibu dan bayi.
3) Mengenali
secara
dini
adanya
ketidaknormalan
atau
komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk
riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan
selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal
mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima
kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal
b. Kebijakan Program
Pemeriksaan kehamilan dilaksanakan minimal 4 kali selama
kehamilan,yaitu
1) Satu kali pada triwulan pertama
2) Satu kali pada triwulan kedua
3) Dua kali pada teriwulan ketiga.
c. Pelayanan atau Asuhan Standar minimal termasuk “14T”
1) Timbang berat badan (T1)
Ukur berat badan dalam kilo gram tiap kali kunjungan.
Kenaikan berat badan normal pada waktu hamil 0,5 kg per minggu
mulai trimester kedua.
2) Ukur tekanan darah (T2)
Tekanan darah yang normal 110/80 – 140/90 mmHg, bila
melebihi dari 140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya preeklamsi.
3) Ukur tinggi fundus uteri (T3)
4) Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4)
5) Pemberian imunisasi TT (T5)
15
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
6) Pemeriksaan Hb (T6)
7) Pemeriksaan VDRL (T7)
8) Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara
(T8)
9) Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil (T9)
10) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (T10)
11) Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11)
12) Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12)
13) Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis
gondok
(T13)
14) Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria
(T14)
(Sulistyawati : 2009)
2.
Penilaian Klinik
1) Anamnesa terdiri dari informasi biodata, riwayat kehamilan
sekarang, riwayat kehamilan yang lalu, riwayat kesehatan dan penyakit
yang diderita, riwayat sosial ekonomi.
2) Pemeriksaan Fisik
a)
Pemeriksaan Fisik Umum meliputi pemeriksaan tinggi
badan, berat badan, serta tanda-tanda vital.
b)
Kepala dan Leher meliputi pemeriksaan rambut dan kulit
kepala, kebersihannya, benjolan abnormal pada kepala,
oEdema pada wajah, konjungtiva dan sklera, keadaan mulut
dan gigi, pembengkakan pada kelenjar tiroid, lymfe dan vena
jugularis serta reflek menelannya.
c)
Payudara meliputi ukuran dan bentuk payudara, puting
menonjol atau tidak, pengeluaran Kolostrum, ada massa
atau tidak, adakah pembesaran nodul axilla, adakah retraksi
atau dimpling.
d)
Abdomen meliputi Inspeksi luka bekas operasi, Palpasi TFU,
Palpasi bagaimana, presentasi dan penurunan kepala (kalau
lebih dari 36 minggu), Auskultasi DJJ (jika > 18 minggu).
16
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
e)
Tangan dan kakI meliputi kepucatan pada kuku, reflek
daerah bisep dan trisep, oEdema. Pada ektremitas bagian
bawah memeriksa varices, kepucatan pada kuku, dan
oEdema pada kaki, reflek patella.
f)
Genetal
Genetal Luar (Eksternal) : varises, oEdema, lesi,
perdarahan, cairan yang keluar, Palpasi uretra adakah
pembengkakkan kelenjar skene dan kelenjar bartholini
serta adakah pengeluaran cairan.
Genetalia Dalam (internal) : Servik meliputi cairan yang
keluar, luka (lesi), kelunakan posisi, mobilitas, tertutup atau
membuka, Vagina meliputi cairan yang keluar, luka. darah
dan adakah massa.
3) Kebijakan Teknis
a) Mengupayakan kehamilan yang sehat
b) Melakukan
deteksi
dini
komplikasi,
melakukan
penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan
c) Persiapan persalinan yang sehat dan aman
d) Perencanaan antisipatif dan persiapan dini untuk melakukan
rujukan jika terjadi komplikasi
4) Jadwal Imunisasi TT
Tabel 2.2 : Jadwal Imunisasi TT
Antigen
Interval
Lama Perlindungan
% Perlindungan
TT1
Kunjungan Antenatal pertama
-
_
TT2
4 minggu setelah TT1
3 tahun
90
TT3
6 bulan setelah TT1
5 tahun
95
TT4
1 tahun setelah TT3
10 tahun
99
TT5
1 tahun setelah TT4
25 tahun/ seumur hidup
99
(Prawirohardjo, 2006).
5) Ketidaknyamanan Pada Kehamilan
Selama kehamilan ibu mengalami ketidaknyamanan yang fisiologis.
Penyebab
utamanya
adalah
karena
pengaruh
hormonal.
17
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Ketidaknyamanan ini merupakan bagian dari perubahan yang terjadi
pada tubuh ibu selama kehamilan:
a) Edema
Pertumbuhan bayi akan meningkatkan tekanan pada
daerah pergelangan kaki terkadang juga mengenai daerah
tangan,
hal
ini
disebut
yang
oedema
disebabkan
oleh
pertumbuhan hormonal yang menyebabkan retensi cairan.
b) Hemoroid
Hemoroid sering terjadi karena konstipasi. Maka dari itu,
semua yang menyebebkan konstipasi merupakan pemicu bagi
terjadinya Hemoroid. Progesteron juga menyebebkan relaksasi
dinding vena dan usus besar. Ada sejumlah tindakan untuk
mengurangi Hemoroid.
Berikut adalah daftar yang yang dicatat untuk mengurangi
Hemoroid :
(1) Menghindari konstipasi tindakan pencegahan paling efektif
(2) Menghindari ketegangan selama defekasi
(3) Mandi air hangat, air panas tidak hanya memberikan
kenyamanan tetapi juga meningkatkan sirkulasi
(4) Kantong es untuk meredakan
(5) Istirahat di tempat tidur dengan panggul diturunkan dan
dinaikan
(6) Salep analgesic dan anastetik local
c) Insomnia
Insomnia
pada
wanita
hamil
dapat
disebabkan
oleh
ketidaknyamanan secara fisik karena pembesarkan uterus / Rahim
dan pergerakan janin. Pengangan insomnia dapat terjadi secara
efektif / tidak efektif.
Ada beberapa hal yang sedikitnya perlu dilakukan oleh wanita
hamil yang mengalami insomnia, yaitu :
(1) Mandi air hangat
(2) Minum air hangat
18
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(3) Sebelum
tidur
tidak
melakukan
aktifitas
yang
dapat
merangsang penyebab insomnia
(4) Tidur dengan posisi relaksasi / rileks
(5) Gunakan cara-cara yang dapat meningkatkan relaksasi /
rileks
d) Keputihan (Leukorhoe)
Leukorhoe marupakan sekresi Vagina yang bermula
selama trimester pertama pertama. Sekresi bersifat asam karena
perubahan peningkatan sejumlah glikogen pada sel epitel Vagina
menjadi asam laktat doderlin basillus. Meskipun ini memberikan
fungsi perlindungan ibu dan fetus dari kemunginan infeksi yang
merugikan,
ini
pemtumbuhan
menghasilkan
organisme
media
pada
yang
vaginitis.
memungkin
Tindakan
penguranganya adalah perhatian yang lebih pada kebersihan
tubuh pada daerah tertentu sering mengganti celana dalam.
e) Nyeri punggung
Umum dirasakan ketika kehamilan lanjut. Disebabkan oleh
progesteron dan relaksin (yang melunakan jaringan ikat) dan
postur tubuh yang berubah serta meningkatnya beban berat
yang dibawa dalam Rahim. Cara mengatasinya yaitu gunakan
body mekanik yang baik untuk mengangkat benda, hindari
sepatu atau sandal hak tinggi, hindari mengangkat beban yang
berat, gunakan kasur yang keras untuk tidur, gunakan bantal
waktu tidur untuk meluruskan punggung, Hindari tidur terlentang
terlalu lama karena dapat menyebabkan sirkulasi darah menjadi
terhambat, lakukan pemanasan pada bagian yang sAKIt, dan
istirahat yang cukup (Yeyeh, 2009).
f)
Kram otot betis
Umum dirasakan pada kehamilan lanjut. Untuk penyebab
tidak jelas, bias dikarenakan iskemia transient setempat,
kebutuhan akan kalsium dalam tubuh rendah atau karena
perubahan sirkulasi darah. Cara mengatasinnya yaitu dengan
memperbanyak makan makanan yang mengandung kalsium,
19
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
menaikan kaki keatas, pengobatan dengan simtomatik dengan
kompres air hangat, masase, menarik kaki ke atas (Yeyeh,
2009).
g) Buang air kecil yang sering
Biasanya keluhan dirasakan saat kehamilan dini, kemudian
kehamilan lanjut. Disebabkan karena progesteron dan tekanan
pada kandung kemih karena pembesaran Rahim atau kepala bayi
yang turun ke rongga panggul. Cara mengatasinya yaitu
mengurangi minum setelah makan malam atau minimal 2 jam
sebelum tidur, menghindari minuman yang mengandung kafein,
jangan mengurangi kebutuhan air minum (minimal 8 gelas perhari)
perbanyak disiang hari, dan lakukan senam kegel (Yeyeh, 2009).
6)
Tanda Bahaya Kehamilan
Selama periode Antenatal bidan harus mampu mewaspadai
terhadap tanda-tanda dalam kehamilan. Jika tanda bahaya tidak
mampu terdeteksi dapat menyebabkan kematian ibu. Ada 6 tanda
bahaya dalam kehamilan diantaranya:
a) Perdarahan vagina
Pada
beberapa
kasus
perdarahan
dapat
dijumpai
perdarahan ringan yang terjadi akibat Serviks yang rapuh
akibat erosi. Perdarahan semacam ini mungkin normal,
namun bisa juga merupakan tanda terjadinya infeksi.
Perdarahan melalui jalan lahir pada usia kehamilan tua (usia
kehamilan 7-9 bulan) yang tidak normal yaitu berwarna
merah, banyak, berulang, dan disertai nyeri merupakan tanda
adanya plasenta previa (plasenta yang menutupi jalan lahir).
Perdarahan pada kehamilan tua meskipun hanya sedikit,
dapat membahayakan keselamatan ibu dan janin dalam
kandungannya.
b) Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala yang bisa terjadi selama kehamilan, dan
sering kali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam
kehamilan. Sakit kepala yang menunjukan suatu masalah
20
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
serius dalam kehamilan adalah sakit kepala yang hebat,
menetap dan tidak hilang dengan beristirahat. Terkadang
sakitkepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan
bahwa penglihatanya menjadi kabur atau terbayang. Hal ini
merupakan gejala dari pre-eklamsia dan jika tidak diatasi
dapat menyebabkan kejang Maternal, stroke, koagulopati dan
kematian (Uswhaaya, 2009).
Penatalaksanaan dengan cara menanyakan kepada ibu
apakah ia mengalami pembengkakan pada wajah/tangan atau
terjadi masalah penglihatan. Periksa tekanan darah, protein
urine, refleks dan Edema.
c) Gangguan penglihatan
Penglihatan
menjadi
kabur
atau
berbayang
dapat
disebabkan oleh sakit kepala yang hebat, sehingga terjadi
oEdema pada otak dan meningkatkan resistensi otak yang
mempengaruhi sistem saraf pusat, yang dapat menimbulkan
kelainan serebral (nyeri kepala, kejang), dan gangguan
penglihatan.
Perubahan penglihatan atau pandangan kabur, dapat
menjadi
tanda
preeklampsia.
Masalah
visual
yang
mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah
perubahan visual yang mendadak, misalnya penglihatan
kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot), berkunangkunang.
Selain itu adanya skotama, diplopia dan ambiliopia
merupakan tanda-tanda yang menujukkan adanya preeklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini
disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat
penglihatan di korteks cerebri atau didalam retina (oEdema
retina dan spasme pembuluh darah) (Uswhaaja, 2009).
Penanganannya yaitu melakukan pemeriksaan tekanan
darah, protein urin, refleks dan Edema.
21
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
d) Nyeri abdomen yang hebat
Nyeri
abdomen
yang
tidak
berhubungan
dengan
persalinan normal adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang
mungkin
menunjukkan
masalah
yang
mengancam
keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap dan tidak
hilang setelah beristirahat. Hal ini bisa berarti apendisitis,
kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang pelviks, persalinan
preterm, gastritis, penyakit kantong empedu, iritasi uterus,
abrupsi plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya), infeksi
saluran kemih. Penanganan yang dilakukan pemeriksaan luar
dan dalam, dan periksa urin untuk mengetahui kadar
proteinnya.
e) Bengkak pada wajah, tangan dan kaki
OEdema yaitu penimbunan cairan yang berlebih dalam
jaringan tubuh, dan dapat diketahui dari kenaikan berat badan
serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. OEdema
pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa,
sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis
pre-eklampsia. Hampir separuh dari ibu-ibu akan mengalami
bengkak yang normal pada kaki yang biasanya hilang setelah
beristirahat
atau
meninggikan
kaki.
OEdema
yang
mengkhawatirkan ialah oEdema yang muncul mendadak dan
cenderung meluas. OEdema biasa menjadi menunjukkan
adanya masalah serius dengan tanda-tanda antara lain: jika
muncul pada muka dan tangan, bengkak tidak hilang setelah
beristirahat, bengkak disertai dengan keluhan fisik lainnya,
seperti: sakit kepala yang hebat, pandangan mata kabur dll.
Hal ini dapat merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau
pre-eklampsia (Uswhaaja, 2009).
Penanganan yang dilakukan, tanyakan kepada ibu
apakah ia mengalami sakit kepala dan gangguan penglihatan,
lalu dilihat konjungtivanya pucat atau tidak, kemudian lakuakn
pemeriksaan hemoglobin (Hb).
22
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
f)
Gerakan janin tidak seperti biasanya.
Ibu mulai merasakan gerakan bayinya pada bulan ke-5
atau ke-6, beberapa ibu merasakan gerakan bayinya lebih
awal. Jika bayi tidur gerakannya akan melemah. Bayi harus
bergerak sedikitnya 3 kali dalam periode 3 jam, gerakan akan
lebih terasa jika ibu berbaring atau beristirahat dan jika ibu
makan atau minum dengan baik. Tapi jika bayi tidak bergerak
sama sekali, hal ini merupakan tanda bahaya pada janin
(Yeyeh, 2009)
C. Persalinan
1. Definisi persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasl konsepsi, yang
mampu hidup, dari dalam uterus melalui Vagina ke dunia luar
(Wiknjosastro,2008).
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan
pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan
kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif
pada Serviks, dan diakhiri dengan pelahiran plasenta. Penyebab
awitan persalinan spontan tidak diketahui, walaupun sejumlah teori
menarik telah dikembangkan dan profesional perawatan kesehatan
mengetahui cara menginduksi pada kondisi tertentu. (Varney,
2007).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yan telah
cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir
atau jalan laindengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan
sendiri). (Sulistiyawati : 2013)
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan
pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses iini dimulai dengan
kontraksi persalinan sejati, yang di tandai oleh perubahan progresif
pada Serviks, dan diakhiri dengan pelahiran plasenta. (varney’s vol
2 : 2007)
23
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Ada lima aspek dasar atau lima benang merah yang penting dan
saling terkait dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman.
Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik
normal maupun patologis yaitu : membuat keputusan klinik, asuhan
sayang ibu dan sayang bayi, pencegahan infeksi, pencatatan
asuhan persalinan rujukan.
a. Klasifikasi atau jenis persalinan
Ada 2 klasifikasi persalinan, yaitu berdasarkan cara dan usia
kehamilan.
Jenis persalinan berdasarkan cara persalinan
1) Persalinan normal ( spontan )
Persalinan normal adalah proses lahirnya bayi pada letak
belakang kepala (LBK) dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan
alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya
berlangsung kurang dari 24 jam.
2) Persalinan buatan
Persalinan buatan adalah proses persalinan dengan bantuan
dari tenaga luar.
3) Persalinan anjuran
Persalinan anjuran adalah bila kekutan yang diperlukan untuk
persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan rangsangan.
b. Jenis persalinan menurut usia kehamilan dan berat janin yang
dilahirkan
1) Abortus
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan pada atau
sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah
kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.
Abortus spontan adalah suatu usaha mengakhiri kehamilan
dengan mengeluarkan hasil pembuahan secara paksa sebelum
janin mampu bertahan hidup, jika dilahirkan. (varney vol 1 : 2006)
Abortus dibagi menjadi beberapa macam yaitu :
a) Abortus iminen
Abortus yang mengancam,perdarahannya bisa berlanjut
beberapa hari atau dapat berulang atau dipertahankan.
24
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Beberapa kepustakan menyebutkan beberapa resiko untuk
terjadinya
prematuritas atau
gangguan
pertumbuhan
dalam Rahim. Perdarahan yang sedikit pada hamil muda
mungkin juga disebabkan oleh hal – hal lain misalnya
placelta sign yaitu perdarahan dari pembuluh – pembuluh
darah sekitar plasenta.
b) Abortus insipien
Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil
ditemukan perdarahan banyak, kadang – kadang keluar
gumpalan darah disertai nyeri karena kontraksi Rahim kuat
dan ditemukan adanya dilatasi Serviks sehingga jari
pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat diraba. Kadang
–
kadang
perdarahan
dapat
menyebabkan
infeksi
sehingga evakuasi harus segera dilakukan. Janin biasanya
sudah mati dan mempertahankan kehamilan pada keadan
ini merupakan kontraindikasi.
c) Abortus inkomplitus
Didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah
lahir atau teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal
(biasanya jaringan plasenta). Perdarahan biasanya terus
berlangsung, banyak dan membahayakan ibu. Serviks
terbuka karena masih ada benda didalam Rahim yang
dianggap sebagai benda asing. Oleh karena itu, uterus
akan
berusaha
mengeluarkan
dengan
mengadakan
kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri namun tidak
sehebat insipiens. Pada beberapa kasus perdarahan tidak
banyak dan bila dibiarkan Serviks akan menutup kembali.
Bila perdarahan banyak akan terjadi syok.
d) Abortus komplitus
Hasil konsepsi lahir dengan lengkap. Pada keadaan ini
kuretase tidak diperlukan. Perdarahan segera berkurang
setelah isi Rahim dna dikeluarkan dan selambat –
lambatnya dalam 10 hari perdarahan akan berhenti sama
sekali, karena dalam masa ini luka Rahim telah sembuh
25
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
dan epitelisasai telah selesai. Serviks dengan segera
menutup kembali. Kalau 10 hari setelah Abortus masih ada
perdarhan, Abortus inkomplitus atau endometritis pasca
Abortus harus dipikirkan.
e) Abortus tertunda (Missed abortion)
Istilah ini berlaku jika embrio mati walaupun terdapat
plasenta yang hidup, dan kantong tertahan di dalam karna
servixs yang tetap tertutup. Kematian embrio biasanya
terjadi sebelum usia gestasi 8 minggu tetapi tubuh ibu tidak
mengetahui kematiannya. Apabial buah kehamilan yang
tertahan dalam Rahim selama 8 minggu atau lebih. Sekitar
kematian
janin
kadang
–
kadang
ada
perdarahan
pervaginam sedikit sehingga menimbulkan gambaran
Abortus imminens. Selanjutnya, Rahim tidak membesar
bahkan mengecil karena absorpsi air ketuban dan
maserasi
janin.
Abortus
spontan
biasanya
berakhir
selambat – lambatnya 6 minggu stelah janin mati, klau
janin mati padakehamilan yang maih muda sekali, janin
akan lebih sehat dikeluarkan, namun sebaliknya jika
kematian janin terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut,
maka retensi janin akan berlangsung labih lama.
f)
Abortus habitualis
Abortus ini adalah istilah yang diberikan kepada wanita
yang mengalami aborsi spontan sebanyak tiga kali atau
lebih secara berturut – turut. (varney vol 1 : 2006)
2) Persalinan prematur
Persalinan prematur adalah persalinan dengan usia kehamilan
28-36 minggu dengan berat janin kurang dari 2499 gram.
3)
Persalinan mature ( aterm )
Persalinan mature adalah persalinan dengan usia kehamilan
37-42 minggu dan berat janin di atas 2500 gram.
26
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
4)
Persalinan serotinus
Persalinan
serotinus
adalah
persalinan
dengan
usia
kehamilan lebih dari 42 minggu atau 2 minggu lebih dari waktu
partus yang di taksir.
c. Sebab-sebab mulainya persalinan
1) Teori kerenggangan
Otot Rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu. Setelah melewati batas tertentu terjadi kontraksi
sehingga persalinan dimulai.
2) Teori penurunan progesteron
Progesteron menurun menjadikan otot Rahim sensitif sehingga
menimbulkan HIS atau kontraksi.
3) Teori oksitosin
Pada akhir kehamilan kadar oksitosin bertambah sehingga
dapat mengAKIbatkan HIS.
4) Teori pengaruh prostaglandin
Konsentrasi prostaglandin meningkat pada usia kehamilan 15
minggu yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin
pada saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot Rahim
sehingga hasil konsepsi dikeluarkan.
5) Teori plasenta menjadi tua
Dengan bertambahnya usia kehamilan, plasenta menjadi tua
dan menyebabkan villi corialis mengalami perubahan sehingga
kadar esterogen dan progesteron turun. Hal ini menimbulkan
kekejangan pembuluh darah dan menyebabkan kontraksi Rahim.
6) Teori distensi Rahim
Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang
mengakibatkan iskemia otot – otot uterus sehingga mengganggu
sirkulasi uteroplasenter.
7) Teori berkurangnya nutrisi
Teori ini ditemukan pertama kali oleh Hipokrates. Bila
nutrisi pada janin berkurang, maka hasil konsepsi akan segera
dikeluarkan. Tanda-tanda persalinan
27
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
d. Tanda-tanda persalinan sudah dekat
1) Lightening
Pada minggu ke 36 pada primigravida terjadi penurunan
fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul
yang disebabkan oleh :
a) Kontraksi Braxton Hicks
b) Ketegangan otot perut
c) Ketegangan ligamentum rotundum
d) Gaya berat janin ke arah bawah.
2) Terjadinya HIS permulaan
Dengan makin tua pada usia kehamilan, pengeluaran
esterogen dan progesteron semakin berkurang sehingga
oksitosin dapat menimbulkan kontraksi, yang lebih sering
sebagai HIS palsu.
Sifat HIS palsu :
a) Rasa nyeri ringan di bagian bawah
b) Datangnya tidak teratur
c) Tidak ada perubahan pada Serviks atau pembawa tanda
d) Durasinya pendek
e) Tidak bertambah jika beraktifitas
f)
Tanda-tanda persalinan
g) Terjadinya HIS persalinan
HIS persalinan mempunyai sifat :
a)
Pinggang terasa sakit, yang menjalar ke depan
b)
Sifatnya
teratur,
intervalnya
makin
pendek
dan
kekuatannya makin besar
c)
Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan uterus
d)
Makin beraktifitas (jalan), kekuatan makin bertambah
3) Bloody Show (pengeluaran lendir disertai darah melalui
vagina)
Dengan HIS permulaan, terjadi perubahan pada Serviks
yang menimbulkan pendataranan dan pembukaan, lendir
yang terdapat pada kanalis Servikalis lepas, kapiler pembuluh
darah pecah, yang menjadikan perdarahan sedikit.
28
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
4) Pengeluaran cairan
Keluar banyak cairan dari jalan lahir, ini terjadiakibat
pecahnya ketuban atau selaput ketuban robek. Sebagian
besar ketuban baru pecah menjelang pembukaan lengkap
tetapi kadang-kadang ketuban pecah pada pembukaan kecil.
Dengan
pecahnya
ketuban
diharapkan
persalinan
berlangsung dalam waktu 24 jam.
e. Komplikasi atau penyulit dalam persalinan
1) Kelainan pada power atau HIS
a) Inersia uteri adalah hid yang sifatnya lemah, pendek dan
jarang dari HIS normal yang terbagi menjadi :
(1) Inersia uteri primer adalah apabila sejak semula
kekuatan HISnya sudah lemah.
(2) Inersia uteri sekunder, HIS pernah cukup kuat tetapi
kemudian melemah
b) Tetania uteri adalah HIS yang terlalu kuat dan terlalu
sering, sehingga tidak ada wakttu untuk relaksasi otot
Rahim.
c) Inkoordinasi kontraksi otot Rahim dapat menyebabkan
sulitnya kekuatan otot Rahim untuk dapat meningkatkan
pembukaan.
2) Kelainan pada passage atau jalan lahir
a) Panggul
sempit,
menyebabkan
persalinan
akan
berlangsung lama.
b) Serviks kaku, adalah suatu keadaan dimana Serviks kaku.
c) Edema Serviks.
3) Kelainan pada passeger
a) Letak defleksi (letak kepala tengadah), pada ibu dapat
partus menjadi lama atau robekan jalan lahir yang luas.
Pada bayi dapat menyebabkan moulage dan kematian.
b) Letak sungsang
29
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
f.
Tahapan persalinan
1) Kala I ( Satu ) persalinan
Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi
yang
uterus
teratur
dan
meningkat
(
frekuensi
dan
kekuatannya ), hingga Serviks membuka lengkap ( 10 cm ).
Kala I (satu) persalinan terdiri atas dua fase, yaitu fase laten
dan fase aktif. Pada primi, berlangsung selama 12 jam dan
pada multigravida, sekitar 8 jam. Kecepatan pembukaan
Serviks 1 cm hingga 2 cm ( multipara ).
a) Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi, yang menyebabkan
penipisan, dan pembukaan Serviks membuka 3 cm.
Berlangsung hingga Serviks membuka 3 cm. Pada
umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8
jam.
b) Fase aktif, dibagi dalam 3 fase yakni :
(1) Fase akselarasi : Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm
menjadi 4 cm.
(2) Fase dilatasi maksimal
: Dalam waktu 2 jam
pembukaan Serviks berlangsung sangat cepat, dari 4
cm menjadi 9 cm.
(3) Fase deselerasi (Pembukaan Serviks menjadi lambat,
dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi
lengkap atau 10 cm)
2) Kala II ( dua ) persalinan
Persalinan kala II ( dua ) dimulai ketika pembukaan Serviks
sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi.
Kala II (dua) juga disebut sebagai kala pengeluaran bayi.
Tanda pasti kala II (dua) ditentukan melalui pemeriksaan
dalam dan hasilnya adalah : Pembukaan Serviks telah lengkap
(10cm), atau terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus
vagina.
30
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
3) Kala III (tiga) persalinan
Persalinan kala III dimulai segera setelah bayi lahir dan
berakhir dengan lahirnya plasenta serta selaput ketuban.
Biasanya berlangsung antara 5 – 10 menit. Partus kala III
disebut pula kala uri. Kelainan pada kala III ini bisa
menyebabkan perdarahan. Waktu yang paling kritis untuk
mencegah perdarahan postpartum adalah ketika plasenta lahir
dan segera setelah iu. Akan tetapi, kisaran normal kala III
sampai 30 menit. Resiko perdarahan meningkat apabila kala
III lebih dari 30 menit, terutama 30 – 60 menit.
4) Kala IV (empat) persalinan
Kala IV persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta
sampai 2 jam post partum.
g. Tujuan asuhan persalinan
1) Memberikan dukungan fisik maupun emosional kepada ibu
dan keluarga selama persalinan dan kelahiran.
2) Melakukan
pengkajian,
membuat
diagnosa,
mencegah,
menangani komplikasi – komplikasi dengan cara pemantauan
ketat dan deteksi dini selama persalinan dan kelahiran.
3) Melakukan rujukan – rujukan pada kasus – kasus yang tidak
bisa ditangani sendiri unuk mendapatkan asuhan spesialis jika
perlu.
4) Memberikan asuhan yang adekuat kepada ibu, dengan
intervensi minimal, sesuai dengan tahapan persalinan.
5) Memperkecil resiko infeksi dengan melaksanakan pencegahan
infeksi yang aman.
6) Selalu memberitahukan kepada ibu dan keluarga mengenai
kemajuan persalinan, adanya penyulit maupun intervensi yang
akan dilakukan dalam persalinan
D. NIFAS
1. Definisi Nifas
Masa nifas ( puerperium ) dimulai setelah kelahiran plasenta
dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan
31
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
sebelum hamil. Masa nifas ( puerperium ) dimulai sejak 2 jam
setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu ( 42 hari )
setelah itu dalam bahasa latin waktu mulai tertentu setelah
melahirkan anak ini disebut puerperium yaitu dari kala puer ( bayi )
dan parous ( melahirkan ). Puerperium berarti masa setelah
melahirkan bayi. Puerperium adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan, selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti
pra hamil. Sekitar 50% kematian ibu terjadi dalam 24 jam pertama
postpartum sehingga pelayanan pasca persalinan yang berkualitas
harus terselenggara pada masa itu untuk mememnuhi kebutuhan
ibu dan bayi . ( Vivian, dkk. 2011, hal. 1 )
Masa nifas adalah masa yang dimulai sesaat setelah keluarnya
plasenta dan selaput janin serta berlanjut hingga 6 minggu. (Myles :
2009).
Masa nifas atau puerperium adalah masa dimulai sejak 1 jam
setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah
itu. Pelayanan passca persalinan harus di selenggara pada masa
itu untuk memenuhi kebutuuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya
pencegahan, deteksi dini dan pencegahan, deteksi dini dan
pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta
penyediaan
pelayanan
ASI,
cara
menjarangkan
kehamilan,
imunisasi dan nutrisi bagi ibu. Pada akhir kunjungan nnifas ke 6
minggu
memberikan
konseling
tentang
alat
kontrasepsi.
(Prawirohardjo 2010; h.356)
Masa ini merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga
kesehatan
untuk
selalu
melakukan
pemantauan
karena
pelaksanaan yang kurang maksimal dapat menyebabkan ibu
mengalami berbagai masalah, bahkan dapat berlanjut pada
komplikasi nifas, seperti sepsis puerperalis.
a. Nifas dibagi dalam 3 periode:
1)
Puerperium
dini
yaitu
kepulihan
dimana
ibu
telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam,
dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
32
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
2)
Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat
genitalia yang lamanya 6-8 minggu.
3)
Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih
dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu
persalinan
mempunyai
komplikasi.
Waktu
untuk
sehat
sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.
(Asrinah 2009)
b. Fisiologi nifas
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologis menurut
Hanifa, W, 2005: 237 yaitu :
1)
Perubahan fisik
Suatu keadaan dimana tubuh ibu kembali ke keadaan
semula, seperti sebelum hamil.
a) Involusi uterus
Proses Involusi atau pengerutan uterus merupakan
suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum
hamil dengan bobot hanya 60 gram
b) Pengeluaran lochea
Lochea merupakan eksresi cairan Rahim selama
masa nifas. Lochea dibagi menjadi tiga yaitu: lochea rubra
yang muncul pada hari pertama sampai hari ke empat
masa post partum. Lochea serosa berwarna kuning, cairan
tidak berdarah lagi yang muncul pada hari kelima sampai
hari ke sembilan masa post partum. Lochea alba yang
warnanya lebih pucat mengandung leukosit dan selaput
lender Serviks serta serabut jaringan yang mati.
c) Laktasi atau pengeluaran air susu ibu
Pengeluaran ASI terjadi karena adanya rengsangan
dari isapan bayi yang dapat mengeluarkan hormone
prolaktin dan oksitosin.
d) Perubahan system tubuh lainnya.
Perubahan system organ lain meliputi perubahan
Vagina saluran kencing, system kardiovaskuler, system
hematology dsb.
33
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
e) Perubahan psikologi
Wanita mengalami banyak perubahan emosi selama
masa nifas, sementara ia menyesuaikan diri menjadi
seorang ibu.
c. Tujuan Asuhan
1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun
psikologik
2) Melaksanakan
skrining
yang
komprehensif,
mendeteksi
masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada
ibu maupun bayi.
3) Memberikan
kesehatan
pendidikan
diri,
nutrisi,
kesehatan
keluarga
tentang
perawatan
berencana,
menyusui,
pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi
sehat.
4) Memberikan pelayanan keluarga berencana.
d. Program dan kebijakan teknis
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk
menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah,
mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang sering terjadi.
1) Kunjungan Pertama, 6-8 Jam setelah persalinan bertujuan
untuk :
a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan :
rujuk bila perdarahan berlanjut.
c) Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu
anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan
masa nifas karena atonia uteri.
d) Pemberian ASI awal.
e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
f)
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah
hipotermia.
g) Jika petugas kesehatan menolong peasalinan, ia harus
tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam
34
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi
dalam keadaan stabil. (Suuherni, 2009; h.3)
2) Kunjungan kedua 6 hari setelah persalinan bertujuan untuk;
a) Memastikan Involusi uterus berjalan normal : uterus
berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau
perdarahan abnormal.
c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan
dan istirahat.
d) Memastikan bayi menyusui dengan baik dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada
bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat
bayi sehari-hari. (Suherni, 2009; h.4)
3) Kunjungan ketiga, 2 minggu setelah persalinan bertujuan
untuk:
a) Memastikan Involusi uterus berjalan normal : uterus
berkontraksi, fundus dibawah umbilikus,
tidak
ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b) Menilai
adanya
tanda-tanda
demam,
infeksi
atau
perdarahan abnormal.
c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan
dan istirahat.
d) Memastikan bayi menyusui dengan baik dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada
bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat
bayi sehari-hari. (Suherni, 2009; h.4)
4) Kunjungan keempat, 6 minggu setelah persalinan bertujuan
untuk:
1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu
atau bayi alami.
35
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
2) Memberikan konseling untuk KB secara dini (Suherni,
2009; h.4)
e. Penanganan masa nifas
1) Kebersihan diri
a) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
b) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah
kelamin dengan sabun dan air. Membersihkan daerah
disekitar vulva dulu, dari depan ke belakang, baru
kemudian membersihkan daerah sekitar anus.
c) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain
pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat
digunakan
ulang
jika
dicuci
dengan
baik,
dan
dikeringkan dibawah matahari atau disetrika.
d) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan
air sebelum dan sesudah membersihkan daerah
kelaminnya.
e) Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi,
sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh
daerah luka
2) Istirahat
a) Anjurkan ibu beristirahat cukup guna mencegah
kelelahan yang berlebihan.
b) Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah tangga
biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau
beristirahat selagi bayi tidur.
c) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam
beberapa hal yaitu : mengurangi jumlah ASI yang
diproduksi, memperlambat proses Involusi uterus dan
memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi
dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya
sendiri
3)
Latihan
a) Mobilisasi dini yaitu kebijaksanaan untuk selekas
mungkin membimbing parturient turun dari tempat
36
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
tidurnya. Pada persalinan normal sebaiknya dikerjakan
6 jam.
b) Senam nifas untuk mengembalikan otot-otot perut dan
panggul kembali normal. Otot perut menjadi kuat
sehingga mengurangi rasa nyeri pada punggung.
4)
Gizi
Ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori
tiap hari, Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan
protein, mineral dan vitamin yang cukup, Minum ± 3 liter/hari,
zat besi diminum ± 40 hari pasca persalinan, minum kapsul vit
A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada
bayinya melalui ASI.
5)
Perawatan payudara.
a) Menjaga payudara tetap bersih dan kering.
b) Menggunakan BH yang menyokong payudara.
c) Apabila puting susu lecet oleskan Kolostrum atau ASI
yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali
selesai menyusui.
d) Apabila lecet sampai berat
dapat diistirahatkan
selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan
dengan menggunakan sendok.
e) Untuk menghilangkan nyeri minum parasetamol 1
tablet setiap 4-6 jam.
f)
Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI,
lakukan
:
pengompresan
payudara
dengan
menggunakan kain basah hangat selama 5 menit, urut
payudara dari arah pangkal menuju puting dengan
arah “Z”, keluarkan ASI sebagian dari bagian depan
payudara sehingga puting susu menjadi lunak.
6)
Hubungan seksual
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri
begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu
atau dua jarinya kedalam Vagina tanpa rasa nyeri.
37
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
7)
Keluarga Berencana
a)
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya
2 tahun sebelum ibu hamil kembali.
b)
Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi)
sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki.
Oleh karena itu metode amenore laktasi dapat dipakai
sebelum
haid
pertama
kembali
untuk
mencegah
terjadinya kehamilan baru.
c)
Sebelum menggunakan KB, sebaiknya dijelaskan terlebih
dahulu bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan
dan
efektifitasnya,keuntungan,
kekurangan,
efek
samping, bagaimana menggunakannya, kapan metode itu
dapat mulai digunakan untuk wanita pascasalin yang
menyusui ( Saifuddin, : 127-129).
f.
Komplikasi Masa Nifas
1) Infeksi Nifas
Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada
semua alat genetalia pada masa nifas oleh sebab apapun
dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi
380C tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut
selama 2 (dua) hari.(Manuaba,: 312).
2) Keadaan Abnormal pada Rahim
Menurut Manuaba keadaan abnormal pada Rahim yaitu:
a) SubInvolusi uteri
b) Flegmasia alba dolens
3) Masalah payudara
a) Payudara Bengkak (Engorgement)
b) Kelainan putting susu
c) Putting susu nyeri (Sore Nipple) dan Lecet (Crecked
Nipple)
d) Saluran Air susu tersumbat (Obstructive Duct)
e) Mastitis
f)
Abses Payudara
g) Air susu ibu kurang (Myles : 2009)
38
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
E. BAYI BARU LAHIR
1. Definisi
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada kehamilan
usia kehamilan normal 37 – 42 minggu dengan berat lahir antara
2500-4000 gram. (Sondakh,2013 hal: 150).
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi
belakang kepala melalui Vagina tanpa memakai alat, pada usia
kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu dengan
berat badan antara 2500 gram sampai 4000 gram nilai apgar >7
dan tanpa cacat bawaan (Rukiyah, 2010)
1) Penanganan Bayi Baru Lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah:
a) Membersihkan jalan nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera
setelah lahir, apabila bayi tidak langsun menangis
segeralah membersihkan jalan nafas.
b) Memotong dan merawat tali pusa
Tali pusat dipotong sebelim atau sesudah plasenta
lahir
tidak
begitu
menentukan
dan
tidak
akan
mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang bulan.
c) Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada
waktu
bayi
lahir,
bayi
belum
mampu
mengatur suhu badannya dan membutuhkan pengaturan
dari luar untuk membuatnya tetap hangat, bayi baru lahir
harus dibungkus hangat
d) Pencegahan infeksi
Cara pencegahan infeksi pada bayi yaitu dengan
cara mencegah terjadinya perdarahan pada bayi dengan
memberikan vitamin K parenteral dengan dosis 0,5-1 mg
diberikan secara IM (intra muscular). Dan diberikan obat
tetes mata atau salep mata. (Prawirohardjo 2009)
39
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
2) Penatalaksanaan Awal Bayi Baru Lahir.
Penatalaksanaan awal dimulai sejak proses persalinan
hingga kelahiran bayi, dikenal sebagai asuhan essensial
neonatal yang meliputi :
a) Persalinan bersih dan aman.
Melaksanakan
persalinan
selalu
menerapkan
upaya pencegahan infeksi dan ditatalaksana sesuai
dengan ketentuan atau indikasi yang tepat.
b) Memulai Pernafasan Spontan
Segera lakukan penilaian awal 0 – 30 detik. Nilai
kondisi
bayi
baru
lahir
secara
cepat
dengan
mempertimbangkan atau menanyakan 5 pertanyaaan
sebagai berikut :
(1) Apakah
air
ketuban
jernih,
tidak
bercampur
mekonium?
(2) Apakah bayi bernafas spontan ?
(3) Apakah kulit bayi berwarna kemerahan?
(4) Apakah tonus / kekuatan otot bayi cukup ?
(5) Apakah ini kehamilan cukup bulan ?
c) Stabilisasi temperatur tubuh bayi / menjaga agar bayi tetap
hangat.
Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperature
tubuhnya secara memadai, dan dapat dengan cepat
kedinginan jika kehilangan panas tidak dapat dicegah. Bayi
yang kehilangan panas (hipotermia) beresiko tinggi jatuh
sakit atau meninggigil. (APN, 2008; h.127)
d) ASI dini dan eksklusif
Anjurkan ibu memberikan ASI dalam waktu 30
menit setelah bayi lahir dan berikan ASI saja selama 6
bulan pertama. (Prawirohardjo; 2010)
e) Pencegahan Infeksi.
Tetes mata profilaksis (larutan perak nitrat 1 %)
atau salep antibiotik (tetrasiklin 1 % atau eritromisin 0,5 %)
harus diberikan dalam waktu 1 jam pertama setelah bayi
40
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
lahir. Upaya profilaksis untuk gangguan pada mata tidak
akan efektif jika tidak diberikan dalam waktu satu jam
pertama kehidupan. (sarwono : 2010)
f)
Pemberian Imunisasi
Rekomendasi
jadwal
imunisai
PPI
(program
pengembangan imunisasi) (Mikrobiologi dan parasitologi
2003, 35).
(1) Hepatitis B 0 ( uniject) 0 – 7 hari dan polio 1
(2) BCG pada 1 bulan.
(3) Hb I dan DPT 1 ( combo 1 ) pada 2 bulan dan polio 2,
(4) Hb 2 dan DPT 2 ( combo 2 ) pada 3 bulan dan polio 3
(5) Hb 3 dan DPT 3 ( combo 3 ) pada 4 bulan dan polio 4
(6) Campak 9 bulan.
g) Memberi vitamin K
Kejadian perdarahan karena defisiensi vitamin K
pada BBL dilaporkan cukup tinggi, berkisar 0,25 – 0,5 %.
Untuk mencegah terjadinya perdarahan tersebut, semua
bayi lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K
peroral dengan dosis 1 mg / hari selama 3 hari, sedangkan
bayi resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosisi
0,5-1 mg I.M (Sarwono, 2010)
h) Perawatan tali pusat
Selama tali pusat belum lepas, perlu dilakukan
perawatan secara cermat agar tidak terjadi infeksi.
Beberapa cara merawat tali pusat, diantaranya:
(1) mengusahakan setiap kali akan dan setelah merawat
tali pusat harus mencuci tangan terlebih dahulu.
(2) menjaga kebersihan tali pusat dan sekitarnya, dan
diupayakan tali pusat selalu dalam keadaan kering.
(3) menggunakan kapas baru pada setiap basuhan.
(4) Tali pusat tidak di tutup oleh kasa steril ataupun oleh
kasa alkohol atau kasa betadine sehingga mendapat
udara cukup biarkan kering dengan sendirinya.
41
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(5) Saat membersihkan, memastikan suhu kamar tidak
terlalu dingin.
(6) Mengenakan popok dan atasan dari bahan kaos yang
longgar.
(7) Membersihkan tali pusat minimal 1–2 kali sehari.
(Muslihatun, 2010; h.20)
i)
Penilaian Untuk Tanda-tanda Kegawatan
Semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tandatanda kegawatan atau kelainan yang menunjukan suatu
penyakit.
Bayi
baru
lahir
dinyatakan
sakit
apabila
mempunyai salah satu atau beberapa tanda-tanda sebagai
berikiut:
(1) Sesak napas
(2) Frekwensi pernafasan 60 kali/menit
(3) Gerak retraksi di dada
(4) Malas minum
(5) Panas atau suhu tubuh badan bayi rendah
(6) Kurang aktif
(7) Berat lahir rendah (1500-2500 gr) dengan kesulitan
minum (Muslihatun, 2010; h.7)
3) Adapun tanda bayi sakit berat yaitu sebagai berikut:
a) Sulit minum
b) Sianosis sentral (lidah Biru)
c) Perut kembung
d) Kejang
e) Merintih
f)
Perdarahan
g) Sangat kuning
h) Berat badan lahir < 1500 gr (Muslihatun, 2010; h.7)
4) Yang perlu dipantau pada bayi baru lahir
a)
Suhu badan bayi dan suhu lingkungan
b)
Tanda-tanda vital
c)
Berat badan
d)
Mandi dan perawatan kulit
42
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
e)
Pakaian
f)
Perawatan tali pusat (Varney, 2007; h.915)
5) Kegawat daruratan pada bayi baru lahir
a) Perdarahan tali pusat
Perdarahan talipusat dapat disebabkan oleh trauma, ikatan
talipusat yang longgar. Perdarahan talipusat dapat disesabkan
oleh robekan umbilicus, tersayatnya dinding umbilicus atau
plasenta sewaktu seksio sesaria.
b) Asfiksia neonatorum
Adalah keadaan bayi dimana bayi baru lahir tidak bisa
bernafas spontan dan teratur segera setelah lahir. Asfiksia akan
bertambah buruk apabila tidak dilakukan penanganan secara
sempurna. (Manuaba, 2007; h.349)
Penyebab
dari
asfiksia
adalah
adanya
gangguan
pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin,
pada massa kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi
baru lahir. Tanda dan gejalanya adalah pernafasan cuping
hidung, nadi cepat, dan sianosis.
6) Jadwal kunjunagn neonatal
Menurut Muslihatun dalam bukunya yang berjudul asuhan
neonatus bayi dan balita (2010) dan APN (2008; h.140) jadwal
kunjungan neonatal adalah sebagai berikut :
a) 1 kali pada umur 6 jam sampai 48 jam
(1) Memastikan bayi telah diberikan injeksi vit.k
(2) Memastikan bayi telah diberikan salep mata
(3) Pemberian imunisasi Hb.0
(4) Menjaga kehangatan bayi
(5) Memberikan ASI ekslusif
(6) Mencegah infeksi
(7) Merawat talipusat
b) 1 kali pada umur 4-7 hari
(1) Menjaga kehangatan tubuh bayi
43
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(2) Memeriksa tanda bahaya yang mungkin terjadi seperti
infeksi bakteri, ikterus, diare, berat badan rendah, dan
masalah pemberian ASI
(3) Memberikan ASI ekslusif
(4) Merawat tali pusat
(5) Memberikan imunisasi Hb.0 apabila belum diberikan
pada saat bayi baru lahir
(6) Konseling
terhadap
ibu
dan
keluarga
untuk
memberikan ASI ekslusif pencegahan hipotermi dan
melaksanakan perawatan bayi baru lahir dirumah
c) 1 kali pada umur 8-28 hari
(1) Memeriksa ada tidaknya tanda bahaya atau gejala
sakit
(2) Memeriksa kenaikan berat badan bayi
(3) Memantau aktifitas bayi
(4) Menjaga kehangatan bayi
(5) Beri Asi ekslusif
F. KELUARGA BERENCANA
1. Definisi
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan
jarak anak yang diinginkan. Untuk dapat mencapai hal tersebut maka
dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah ataupun
menunda kehamilan. Cara-cara tersebut termasuk kontrasepsi atau
pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga. (Saifudin, 2010)
Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma
laki – laki
mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau
mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat)
dan berkembang di dalam Rahim. Kontrasepsi dapat reversible
(kembali) atau permanen (tetap). Kontrasepsi yang reversible adalah
metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek
lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk
punya anak lagi. Metode kontrasepsi permanen atau yang kita sebut
44
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
sterilisasi
adalah
metode
kontrasepsi
yang
tidak
dapat
mengembalikan kesuburan dikarenakan melibatkan tindakan operasi.
2. Penapisan KB hormonal dan nonhormonal.
b.
Non hormonal (AKDR)
Menanyakan hari pertama hadi terakhir 7 hari atau
lebih, menanyakan apakah klien mempunyai pasangan seks
lain dan menanyakan apakah klien mempunya penyAKIt
menular seksual (PMS)
c.
Hormonal ( pil, suntik, implant)
Menanyakan hari pertama haid terakhir 7 hari atau
lebih, menyanyakan apakah klien sedang menyusui dan
kurang dari 6 minggu pasca salin, menanyakan pada klien
setelah senggama adakah perdarahan atau bercak antara
haid. Memeriksa klien untuk mengetahui apakah ada tanda –
tanda ikterus pada kulit dan sklera mata, menayakan kepada
klien apakah klien mengalami nyeri hebat pada betis,
pahaataupun dada, tungkai bengkak (oEdema), tekanan
darah klien diatas 160 mmHg (sisitolik) atau 90 mmHg
(sisitolik), memastikan pada klien tidak ada massa atau
benjolan pada payudara, dan menanyakan apakah klien
sedang minum obat – obatan.
3. Macam – macam metode kontrasepsi
a. Metode Alamiah
a)
Coitus Interruptus (Sanggama Terputus)
Senggama terputus adalah penarikan penis dari Vagina
sebelum terjadinya ejakulasi. ( ilmu kandungan : 2011 )
Senggama terputus adalah metode kontrasepsi tradisional,
dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari Vagina
sebelum mencapai ejakulasi. (Saifudin, 2011; h.MK-15)
Cara kerja :
Alat kelamin di keluarkan sebelum ejakulasi sehingga
sperma tidak masuk ke dalam Vagina sehingga tidak ada
pertemuan antara sperma dan ovum, dan kehamilan dapat di
cegah.
45
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Manfaat :
1.
Kontrsepsi :
a.
Efektif bila dilaksanakan dengan benar
b.
Tidak mengganggu produksi ASI.
c.
Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB
lainnya.
2.
d.
Tidak ada efek samping.
e.
Dapat digunakan setiap waktu.
f.
Tidak membutuhkan biaya.
Non kontrasepsi :
a.
Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga
berencana.
b.
Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat
dan pengertian yang sangat dalam.
b)
Sistem Kelender (Pantang Berkala)
Metode ini disebut juga dengan The Rhythm Method. Jika
cara ini jadi pilihan maka pengetahuan Anda tentang masa
subur atau fertility awareness harus tinggi. Anda harus
mengetahui dengan tepat masa subur atau saat yang paling
memungkinkan
Anda
mengalami
kehamilan.
Bila
Anda
memang ingin menunda kehamilan, maka pada saat tubuh
memasuki masa subur tundalah keinginan berhubungan intim
dengan pasangan. Atau Anda dan pasangan tetap melakukan
hubungan seksual tapi menggunakan kondom. "Perhatikan
terlebih dahulu siklus mentruasi Anda selama 3 bulan kalau
perlu 6 bulan guna mendapatkan perhitungan waktu siklus
mentruasi yang tepat, masa "aman" seorang wanita adalah 2
hari setelah mentruasi hingga 14 hari menjelang mentruasi
berikutnya buat yang memiliki siklus haid pendek. Jika siklus
menstruasi Anda panjang, maka masa "aman" 2 hari setelah
haid hingga 16 hari menjelang menstruasi yang akan datang.
Namun perlu di ingat sebenarnya masa subur sangat sulit
ditebak dengan pasti jadi masih ada kemungkinan mengalami
"kebobolan"
46
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
EFEKTIF: Bagi wanita dengan siklus mentruasi teratur. Buat
mereka yang siklus haidnya tidak teratur akan sulit untuk
menggunakan metode ini, karena kesulitan menentukan masa
subur.
b. Metode Perlindungan (Barrier)
a) Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat
terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik
(vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang
pada penis saat berhubungan seksual. Kondom terbuat dari
karet sintesis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya
berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau
mempunyai bentuk seperti puting susu. Ada 2 macam jenis
kondom yaitu kondom pria dan kondom wanita. (Saifudin,
2011; h.MK-17).
Cara kerja :
1.
Kondom
menghalangi
terjadinya
pertemuan
antara
sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di
ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga
sperma
tersebut
tidak
tercurah
kedalam
saluran
reproduksi perempuan.
2.
Mencegah
penularan
mikroorganisme
dari
satu
passangan ke pasangan yang lain.
Efektifitas :
Kondom cukup efektif jika dipakai secara benar pada
setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan,
pemakaian kondom tidak efektif karna tidak dipakai secara
konsisten. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit angka
kegagalan kondom yaitu 2 – 12 kehamilan per 100
perempuan per tahun.
Manfaat :
(1) Kontrasepsi :
(a) Efektif bila digunakan dengan benar.
(b) Tidak mengganggu produksi ASI.
47
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(c) Tidak mengganggu kesehatan klien.
(d) Tidak mempunya pengaruh sistematik.
(e) Murah dan dapat dibeli secara umum.
(f) Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan secara
khusus
(g) Metode
kontrasepsi
sementara
bila
metode
kontrasepsi lainnya harus ditunda.
(2) Non kontrasepsi :
(a) Memberi dorongan kepada suami untuk ikut ber KB.
(b) Dapat mencegah penularan IMS.
(c) Mencegah ejakulasi dini.
(d) Membantu mencegah terjadinya kanker Serviks.
(e) Saling berinteraksi sesama pasangan.
(f) Mencegah imuno infertilitas.
Keterbatasan :
(1) Efektifitasnya tidak terlalu tinggi.
(2) Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan
kontrasepsi.
(3) Agak mengganggu hubungan seksual.
(4) Pada beberapa klien menyebabkan kesulitan untuk
mempertahankan ereksi.
(5) Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan.
(6) Bebrapa klien malu untuk membeli kondom di tempat
umum.
(7) Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan
masalah dalam hal limbah.
b) Spermatisida
Spermisida adalah bahan kimia ( biasanya non oksinol-9)
digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma.
Dikemass dalam bentuk : aerosol (busa), tablet vagina,
supositoria atau dissolvabel film. (saifudin, 2011; h.MK-24)
Cara kerja :
Menyebabkan
memperlambat
sel
membran
pergerakan
sperma,
sperma
dan
terpecah,
menurunkan
48
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
kemampuan pembuahan sel telur.
Manfaat :
(1) Kontrasepsi
(a) Efektif seketika busa dan krim.
(b) Tidak mengganggu produksi ASI.
(c) Bissa digunakan sebagai pendukung metode lain.
(d) Tidak mengganggu kesehatan klien.
(e) Tiak mempunyai pengaruh sistematik.
(f) Mudah digunakan.
(g) Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.
(h) Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan khusus.
(2) Nonkontrasepsi
Merupakan suatu perlindungan terhadap IMS termasuk
HBV dan HIV/AIDS.
Keterbatasan :
(1) Efektivitasnya lkurang.
(2) Efektivitas sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan
mengikuti cara penggunaan.
(3) Ketergantungan pengguna dari motivasi berkelanjutan
dengan memakai setiap melakukan hubungan seksual.
(4) Pengguna harus menunggu 10 – 15 menit setelah aplikasi
sebelum melakukan hubungan seksual.
(5) Efektivitas aplikasi hanya 1 – 2 jam.
c) Vagina Diafragma
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat
dari lateks (karet) yang diinsersikan ke dalam Vagina sebelum
berhubungan seksual dan menutup Serviks. (Saifudin, 2011;
MK-21).
Cara kerja :
Menahan
sperma
agar
tidak
mendapatkan
akses
mencapai saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba
falopii) dan sebagai alat tempat spermisida.
Manfaat :
(1) Kontrasepsi :
49
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(a) Efektif bila digunakan dengan benar.
(b) Tidak mengganggu produksi ASI.
(c) Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah
terpasang sampai 6 jam sebelumnya.
(d) Tidak mengganggu kesehatan klien.
(e) Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
(2) Nonkontrasepsi :
(a) Salah satu perlindungan terhadap HIV/AIDS/IMS,
khususnya apabila digunakan dengan spermisida.
(b) Bila digunakan pada saat haid, menampung darah
menstruasi.
Keterbatasan :
(1) Efetifitasnya sedang.
(2) Keberhasilan
sebagai
kontrasepsibergantung
pada
kepatuhan mengikuti cara penggunaan.
(3) Motivasi
diperlukan
berkesinambungan
dengan
menggunakannya setiap berhubungan seksual.
(4) Pemeriksaan pelvik oleh petugas kesehatan terlatih perlu
untuk memastikan ketepatan pemasangan.
(5) Pada beberapa pengguna menjadi penyebab infeksi
saluran uretra.
(6) Pada 6 jam pasca hubungan seksual, alat harus masih
beradda di posisinya.
c. Kontrasepsi kombinasi (hormon estrogen dan progesteron)
a)
Pil KB kombinasi
Jenis :
1.
Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron
dalam dosis yang sama, dengan 7 tabel tanpa hormoin
aktif.
2.
Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengandung hormon estrogen dan progesteron dengan
dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon
aktif.
50
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
3.
:
Trifasik
pil
yang
tabletmengandung
tersedia
hormon
dalam
aktif
kemasan
estrogen
21
dan
progesteron dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7
tablet tanpa bahan hormon aktif. (Saifudin, 2011; h.MK28)
Cara kerja :
(1) Menekan ovulasi
(2) Mencegah implantasi.
(3) Lendir Serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh
sperma
(4) Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur
dengan sendirinya akan terganggu pula.
Manfaat :
(1) Memiliki efektifitas yang tinggi
(2) Resikko terhadap kesehatan sangat kecil
(3) Tidak mengganggu hubungan seksual
(4) Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid
berkurang, tidak terjadi nyeri haid
(5) Dapat digunakan dalam jangka penjang
(6) Dapat digunakan sejak usia remaja sampai menopouse
(7) Mudah dihentikan setiap saat
(8) Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil
dihentikan
(9) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
(10)
ektopik,
Membantu mencegah penyakit seperti : kehamilan
kanker
Ovarium,
kanker
endometrium,
kista
Ovarium, penyakit radang panggul, kelainan jinak pada
payudara, dismenorhea, akne.
d) Suntik Kombinasi
Jenis
suntikan
kombinasi
adalah
25
mg
Depo
Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg estradol sipionat yang
diberikan injeksi I.M. sebulan sekali (cyclofem), dan 50mg
Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan
injeksi I.M sebulan sekali. (Saifudin, 2010; h.41)
51
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Cara kerja :
(1) Menekan ovulasi
(2) Membuat lendir Serviks menjadi kental sehingga penetrasi
sperma terganggu.
(3) Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi
terganggu.
(4) Menghambat transportasi gamet oleh tuba.
Keuntungan :
(1) Kontrasepsi
a.
Resiko terhadap kesehatan kecil.
b.
Tidak berpengaruuh pada hubungan suami istri
c.
Tidak diperlukan pemeriksaan dalam
d.
Jangka panjang
e.
Efek samping sangat kecil
f.
Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
(2) Nonkontrasepsi
(a) Mengurangi jumlah perdarahan
(b) Mengurangi nyeri saat haid
(c) Mencegah anemia
(d) Khasiat pencegahan terhadap kanker Ovarium dan
kanker endometrium
(e) Mengurangig
penyakit
payudara
jinak
dan
kista
Ovarium
(f) Mencegah kehamilan ektopik
(g) Melindungi pasien dari jenis – jenis penykit tertentu
penyakit raddang panggul
(h) Pada
keadaan
tertentu
dapat
diberikan
pada
perempuan usia perimenopouse.
Kerugian :
(1) Terjadi perubahan pada pola haid seperti tidak teratur,
perdarahan bercak/spoting, atau perdarahan sela
sampai 10 hari
(2) Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan
ini akan menghilang pada suntikan kedua atau ketiga
52
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(3) Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan.
(4) Efektifitasnya berkurang apabila di gunakan bersamaan
dengan obat – obatan epilepsi atau obat tuberkulosis.
(5) Penambahan berat badan.
(6) Kemungkinan
terlambatnya
pemulihan
kesuburan
setelah penghentian pemakaian.
e) Suntik progesteron
Tersedia dua jenis kontrasepsi suntikan yang hanya
mengandung progesteron yaitu :
(1) Depo
medroksiprogesteron
asetat
(Depoprovera),
mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan
dengan cara disuntikan I.M di daerah bokong.
(2) Depo
Noretisteron
enantat
(Depo
Noristerat),
yang
mengandung 200 mg Noretindron Enantat, diberikan setiap
2 bulan dengan cara suntikan I.M.
Cara kerja :
(1) Mencegah ovulasi.
(2) Menegntalkan
lendir
Serviks
sehingga
menurunkan
kemampuan penetrasi sperma
(3) Menjadikan selaput lendir Rahim tipis dan atrofi
(4) Menghambat transportasi gamet dan tuba
Keuntungan :
(1) Sangat efektif.
(2) Pencegahan kehamilan jangka panjang
(3) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
(4) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak
serius
(5) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI.
(6) Sedikit efek samping.
(7) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
(8) Dapat digunakan oleh perempuan usia >35 tahun
(9) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan
ektopik
(10)
Menurunkan kejadian penyAKIt jinak payudara
53
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(11)
Mencegah beberapa penyebab penyAKIt radang
panggul
(12)
f)
Menurunkan krisis anemia bulan sabit
Pil progestin (minipil)
Jenis minipil :
(1) Kemasan dengan isi 35 pil : 300 μg levonorgestrol atau
350 μg noretindron.
(2) Kemasan dengan isi 28 pil : 75 μg desogestrel
Cara kerja :
(1) Menekan sekresi gonadopropin dan sintesis steroid seks
di Ovarium (tiak begitu kuat)
(2) Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga
implantasi lebih sulit.
(3) Mengentalkan lendir Serviks
(4) Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma
terganggu.
Keuntungan :
(1) Kontrasepsi :
(a) Sanga6t efektif bila digunakan secara benar
(b) Tidak mengganggu hubungan seksual
(c) Tidak mempengaruhi ASI
(d) Kesuburan cepat kembali
(e) Nyaman dan mudah di gunakan
(f) Sedikit efek samping
(g) Dapat dihentikan setiap saat
(h) Tidak mengandung estrogen
(2) Nonkontrasepsi :
(a) Mengurangi nyerri haid
(b) Mengurangi jumlah darah haid
(c) Menurunkan tingkat anemia
(d) Mencegah kanker endometrium
(e) Melindungi dari penyakit radang panggul
(f) Tidak meningkatkan pembekuan darah
(g) Dapat diberikan pada penderita endometriosis
54
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(h) Kurang menyebabkan tekanan darah, nyeri kepala
(i) Dapat mengurangi keluhan premenstruasi sindrom.
(Saifudin, 2010; h.48)
g) Susuk KB
Implant/susuk
KB
adalah
kontrasepsi
dengan
cara
memasukkan tabung kecil di bawah kulit pada bagian tangan
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Tabung kecil berisi
hormon tersebut akan terlepas sedikit-sedikit, sehingga
mencegah kehamilan. (Saifudin, 2010; h.53)
Macam implant :
(1) Norplant : terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga
denagn panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang
diisi 36 mg Levonorgestrol dan lama kerjanya 5 tahun.
(2) Implanon : terdiri dari 1 batang putih dengan pannjang kira
– kira 40 mm dan diameter 2 mm, yang diisi 68 mg 3-ketodesogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
(3) Indoplant : terdiri dari 2 batang yang terisi dengan 75 mg
Levonorgestrol dengan lama kerja 3 tahun.
Cara kerja :
(1) Lendir Serviks menjadi kental
(2) Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga
sulit terjadi implantasi
(3) Mengurangi transportasi sperma
(4) Menekan ovulasi
Keuntungan :
(1) Kontrasepsi :
(a) Daya guna tinggi
(b) Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun)
(c) Pengembalian kesuburan yang cepat
(d) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
(e) Bebas dari pengaruh estrogen
(f) Tidak mengganggu kegiatan senggama
(g) Tidak menggangu ASI
55
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(h) Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan
(i) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan
(2) Nonkontrasepsi :
(a) Mengurangi nyeri haid
(b) Mengurangi jumlah darah haid
(c) Mengurangi atau memperbaiki anemia
(d) Melindungi terjadinya kenker endometrium
(e) Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara
(f) Melindungi diri dari beberapa penyebab radang
panggul
(g) Menurunkan angka kejadian endometriosis
Efek samping :
(1) Amenorea
(2) Perdarahan bercak (spoting)
(3) Ekspulsi
(4) Infeksi pada daerah insersi
(5) Berat badan naik atau turun
h)
IUD
Intrauterine Device atau biasa juga disebut spiral karena
bentuknya memang seperti spiral.(Saifudin, 2010; h.63)
Jenisnya :
(1) AKDR CuT-380A
Kecil, kerangka dari plastik yang fleksibel, terbentuk huruf
T diselubung oleh kawat halus yang terbuat dari tembaga
(Cu).
(2) AKDR lain yang beredar diindonesia adalah NOVA T
(schering)
(3) Selanjutnya yang akan dibahas adalah khusus CuT-380A.
Cara kerja :
(1) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba
valopi
(2) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum
uteri
56
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
(3) Mencegah sperma dan ovum bertemu
(4) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam
uterus.
Keuntungan :
(1) Evektifitasnya tinggi
(2) Metode jangka panjang
(3) Sangat efektif karna tidak perlu mengingat – ingat
(4) Tidak mempengaruhi hubungan seksual
(5) Meningkatkan kenyamanan seksual
(6) Tidak ada efek samping hormonal
(7) Tidak mempengaruhi produksi ASI
(8) Membantu mencegah kehamilan ektopik
Kerugian :
(1) Perubahan yang umum : perubahan siklus haid, haid lebih
lama dan banyak, saat haid lebih sakit
(2) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
(3) Tidak baik digunakan oleh perempuan yang mengidap
penyakit IMS atau perempuan yang sering berganti
pasangan.
(4) Perempuan dengan penyakit IMS beresiko mengalami
radang panggul setelah pemasangan.
i)
Kontrasepsi Mantap
(1) Tubektomi
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk
menghentikan fertilitas (kesuburan) seorang perempuan.
Mekanisme kerja :
Dengan mengoklusi tuba falopii (mengikat dan
memotong atau memasang cincin) sehingga sperma tidak
dapat bertemu dengan ovum. (Saifudin 2011; h.MK-81)
Manfaat :
(a) Sangat efektif
(b) Tidak mempengaruhi proses menyusui
(c) Tidak bergantung pada proses senggama
(d) Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi resiko
57
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
kesehatan bagi klien.
(e) Pembedahan
sederhana
dapat
dilakukan
dngan
anastesi lokal
(f) Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
(g) Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual.
Komplikassi :
(a) Infeksi luka
(b) Demam pasca operasi (>38)
(c) Luka pada kandung kemih intestinal (jarang terjadi)
(d) Hematoma (subkutan)
(e) Emboli gas yang diakibatkan oleh laparoskopi
(f) Rasa sakit pada lokasi pembedahan
(g) Perdarahan superfisial (Hartanto 2004; h.243)
(2) Vasektomi
Vasektomi
adalah
prosedur
klinik
untuk
menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan
melakukan
oklusi
vasa
deferensia
sehingga
alur
transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi
(penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.
Indikasi :
Vasektomi merupakan suatu metode kontrasepsi
operatif minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan
sangat efektif. (Hartanto, 2004; h.307)
Komplikasi :
(a) Hematoma skrotalis
(b) Infeksi atau abses pada testis
(c) Atrofi testis
(d) Epididimitis kongestif
(e) Peradangan kronik granuloma di tempat insisi
B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan
1. Asuhan kebidanan manajemen dengan metode 7 langkah varney
58
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Manajemen kebidanan adalah suatu metode pendekatan
pemecahan
masalah
dalam
pemberian
pelayanan
asuhan
kebidanan, atau merupakan proses pemecahan masalah yang
digunakan oleh bidan serta merupakan metode yang terorganisasi
melalui tindakan yang logikal dalam memberi pelayanan.
Tahapan Manajemen Kebidanan
a. Langkah pertama adalah pengumpulan dan analisa data dasar
Pengumpulan
merupakan
dan
langkah
analisa
awal
dari
data
dasar
manajemen
(pengkajian)
kebidanan.
Pengumpulan data dasar utuk menilai kondisi klien. Yang
termasuk data dasar : riwayat kesehatan klien, pemeriksaan fisik
dan
pemeriksaan
atas
indikasi
tertentu,
catatan
riwayat
kesehatan yang lalu dan sekarang serta hasil pemeriksaan
penunjang.
Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan
langkah – langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai
dengan kasus yang dihadapi yang akan menentukan proses
interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya.
Sehingga dalam pendekatan ini harus komprehensif meliputi
data subyektif, obyektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat
menggambarkan kondisi pasien yang sebenarnya dan valid.
Kaji ulang data yang sudah di kumpulkan apakah sudah
lengkap dan akurat.
b. Langkah kedua adalah Interpretasi Data
Menginterpretasikan data secara fisik kedalam rumusan
dignosa dan masalah kebidanan. Kata masalah dan diagnosa
digunakan kedua-duanya dan mempunyai pengertian yang
berbeda-beda.
Masalah
tidak
dapat
didefinisikan
sebagai
diagnosa, tetapi memerlukan suatu pengembangan rencana
keperawatan secara menyeluruh pada klien. Masalah lebih
sering berhubungan dengan bagaimana klien menguraikan
keadaan yang dirasakan, sedangkan diagnosa lebih sering
59
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
didefinisikan oleh bidan yang difokuskan pada apa yang dialami
oleh kllien.
c. Langkah ketiga adalah identifikasi diagnosa/masalah potensial
Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah potensial
berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi.
Langkah ini membutuhkan
antisipasi,
bila memungkinkan
dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan
bersiap – siap mencegah diagnosa atau masalh potensail ini
menjadi benar – benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam
melakukan asuhan yang aman.
d. Langkah keempat adalah evaluasi perlunya tindakan segera
(emergency dan konsultasi).
Proses manajemen kebidanan dilakukan secara terus
menerus selama klien dalam perawatan bidan. Proses terus
menerus ini menghasilkan data baru segera dinilai. Beberapa
data menunjukkan adanya suatu situasi yang menutut tindakan
segera selagi menunggu instruksi dari dokter seperti prolapsus
tali pusat. Situasi lain yang bukan merupakan keadaan darurat
tetapi boleh memerlikan konsultasi dokter atau manajemen
kolaborasi.
e. Langkah kelima adalah perencanaan asuhan kebidanan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh
ditentukan oleh langkah – langkah sebelumnya. Langkah ini
merupakan kelanjutan manajemen
diagnosa
terhadap
masalh
atau
yang telah diidentifikasi atau diantisipasi . pada
langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya multiputi
apa –apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari
setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka
pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang
diperkirakan
akan
terjadi
berikutnya,
apakah
dibutuhkan
penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk pasien bila
ada masalah – masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomikultural atau masalah psikologis. Dengan perkataan lain, asuhan
60
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang
berkaitan dengan setiap aspek asuhan kesehatan. Setiap
rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua pihak.
f. Langkah keenam pelaksanaan asuhan kebidanan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh yang telah
diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan
aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan
atau sebagian lain oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.
Walau bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul
tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya, misalnya
memastikan langkah – langkah tersebut benar – benar
terlaksana.
Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter
untuk menangani klien yang mengalamin komplikasi, maka
keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah
tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana
asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang
efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan
mutu dan asuhan klien. Kaji ulang apakah semua rencana
asuhan telah terlaksana.
g. Langkah ketujuh evaluasi hasil tindakan asuhan kebidanan
Mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan asuhan
yang diberikan kepada klien. Pada tahap evaluasi ini bidan harus
melakukan pengamatan dan observasi terhadap masalah yang
dihadapi oleh klien, apakah masalah diatasi seluruhnya,
sebagian telah dipecahkan atau mungkin timbul masalah baru.
Selain terhadap permasalahan klien, bidan juga harus
mengenal apakah rencana yang telah ditetapkan dapat dilakukan
dengan baik, apakah perlu disusun kembali rencana intervensi
yang lain sehingga maslah dapat dipecahkan dengan cepat.
Pada prinsipnya tahap evaluasi adalah pengkajian kembali
terhadap klien untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh
tercapainya rencana yang dilakukan.
61
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
2. Metode pendokumentasian SOAP
SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis
dan tertulis. Pencatatan ini dipakai untuk mendokumentasikan
asuhan kebidanan. 4 (empat) langkah dalam metode ini adalah ini
secara rinci adalah sebagai berikut:
a. S Data Subjektif :
Merupakan informasi yang diperoleh langsung dari klien.
Informasi
tersebut
dicatat
sebagai
kutipan
langsung
atau
ringkasan yang berhubungan dengan diagnosa.
b. O Data Objektif :
Data yang diperoleh dari apa yang dilihat dan dirasakan
oleh bidan pada waktu pemeriksaan termasuk juga hasil
pemeriksaan laboratorium, USG, dll. Apa yang dapat diobservasi
oleh bidan akan menjadi komponen yang berarti dari diagnosa
yang akan ditegakkan.
c. A Analisa/assessment :
Merupakan kesimpulan yang dibuat berdasarkan data
subjektif dan data objektif yang didapatkan.
Merupakan suatu proses yang dinamik, meliputi:
1)
Diagnosa
2)
Antisipasi diagnosa/masalah potensial
3)
Perlunya tindakan segera
(Langkah 2,3,4 dalam manajemen varney)
d. P Plan/Planning = perencanaan :
Merupakan perencanaan pelaksanaan dan evaluasi sesuai
dengan kesimpulan yang dibuat ( berdasarkan langkah 5,6,7 pada
manajemen varney)
Alasan pemakaian SOAP dalam pendokumentaian Asuhan
kebidanan, yaitu:
1) SOAP
merupakan pencatatan yang
memuat
kemajuan
informasi yang sistematis, mengorganisasikan penemuam
kesimpulan sehingga terbentuk suatu rencana asuhan.
2) SOAP merupakan intisari dari manajemen kebidanan untuk
penyediaan pendokumentasian.
62
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
3)
SOAP merupakan urutan-urutan yang dapat embantu bidan
mengorganisasikan pikiran dalam pemberian asuhan yang
bersifat komprehensif.
C. LANDASAN HUKUM KEWENANGAN BIDAN DAN KOMPETENSI
BIDAN
A. Landasan hukum kewenangan bidan
Peraturan
Mentri
Kesehatan
Republik
indonesia
nomor
1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan
praktek bidan
Pasal 1
a. Dalam peraturan menteri ini yang dimaksud dengan bidan adalah
seorang perempuan yang lulus darai pendidikan bidan yang telah
teregistrasi sesuai dengan peraturan perundang undangan
b. Fasilitas pelayanna kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative
c. Surat izin praktek bidan yang selanjutnya disingkat SIPB adalah
bukti tertulis yang diberikan kepada bidan yang sudah memenuhi
persyaratan untuk menjalankan praktek kebidanan
d. Standar adalah pedoman yang harus dipergunakan sesuai petunjuk
dalam menjalankan profesi yang meliputi standar pelayanan, standar
profesi dan standar operasional prosedur.
e. Surat tanda registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti
tertulis yang diberikan oleh pemerintah kepada tenaga kesehatan
yang memiliki sertifikat kompetensi sesuai ketentuan peraturan
perundang – undanagn
f.
Obat bebas dalah obat yang berlogo bulatan berwarna hijau yang
dapat diperoleh tanpa resep dokter
g. Obat bebas terbatas adalah obat yang berlogo bulatan berwarna
biru yang dapat diperoleh tanpa resep dokter
h. Organisasai profesi adalah Ikatan Bidan Indonesia
63
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Pasal 2
a. Bidan
dapat
menjalankan
praktek
pada
fasilitas
pelayanan
kesehatan
b. Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana yang dimaksud dalam
ayat (1) meliputi fasilitas pelayanna kesehatan diluar praktek mandiri
dan atau praktek mandiri
c. Bidan yang menjalankan praktik mandiri sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) berpendidikan minimal Diploma III (DIII) kebidanna
Pasal 3
a. Setiap bidan yang menjalankan praktek wajib memiliki SIPB
b. Kewajiban memiliki SIPB dikecualikan bagi bidan yan menjalankan
praktik pada fasilitas pelayanan kesehatan diluar praktik mandiri
atau bidan yang menjalankan tugas pemerintah sebagai Bidan Desa
Pasal 4
1. SIPB sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dikeluarkan
oleh Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota
2. SIPB berlaku selama STR masih berlaku
Pasal 5
1. Untuk memperoleh SIPB sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 4,
bidan harus mengajukan permohonan kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten / Kota dengan melampirkan :
a. Fotokopi STR yang masih berlaku dan dilegalisir
b. Surat keteranagn sehat fisik dari dokter yang memiliki Surat Izin
Praktik
c. Surat pernyataan memiliki tempat praktik
d. Pasfoto berwarna terbaru ukuran 4 x 6 sebanyak 3 (tiga) lembar
e. Rekomendasi dari organisasi profesi
2. Surat permohonan memperoleh SIPB sebagaimaan dimaksud pada
ayat (1) sebagaimana tercantum dalam formulir I terlampir
64
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
3. SIPB sebagaimaan dimaksudkan pada ayat (1) hanya diberikan untuk
1 ( satu ) tempat praktik
4. SIPB sebagaimana dimaksudkan pada ayat (3) sebagaimana
tercantum dalam formulir II terlampir.
Pasal 6
1. Bidan
dalam
menjalankaan
praktik
mandiri
harus
memenuhi
persayratan meliputi tempat praktik dan peralatan untuk tindakan
asuhan kebidanan
2. Ketentuan persyaratan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1)
tercantum dalam lampiran peraturan ini
3. Dalam menjalankan praktek sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1)
bidan wajib memasang nama praktik kebidanan
Pasal 7
SIPB dinyatakan tidak berlaku karena :
a. Tempat praktik tidak sesuai lagi denagn SIPB
b. Masa berlakunya habis dan tidak diperpanjang
c. Dicabut atas perintah pengadilan
d. Dicabut atas rekomendasi organisasi profesi
e. Yang bersangkutan meninggal dunia
Pasal 8
Bidan
dalam
menjalankan praktik
berwenang
untuk
memberikan
pelayanan meliputi :
a. Pelayanan kebidanan
b. Pelayanan reproduksi perempuan
c. Pelayanan kesehatan masyarakat
65
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Pasal 9
1. Pelayanan kebidanan sebagaimaan dimaksud dalam pasal 8 huruf a
ditunjukan kepada ibu dan bayi.
2. Pelayanna kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diberikan pada maas kehamilan, masa persalianan, masa nifas
dan masa menyusui
3. Pelayanan kebidanan pada bayi sebagaimaan dimaksud pada ayat
(1) diberikan pada bayi baru lahir normal sampai usia 28 ( dua puluh
delapan ) hari
Pasal 10
1. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksudkan dalam
pasal 9 ayat (2) meliputi :
a. Penyuluhan dan konseling
b. Pemeriksaan fisik
c. Pelayanan Antenatal pada kehamilan
d. Pertolongan persalinan normal
e. Pelayanan ibu nifas normal
2. Pelayanan kebidanan kepada bayi sebagaimana dimaksud dalam
pasal 9 ayat (3) meliputi :
a.
Pemeriksaan bayi baru lahir
b.
Perawatan tali pusat
c.
Perawatan bayi
d.
Resusitasi pada bayi baru lahir
e.
Pemberian imunisasi bayi dalam rangka menjalankan tugas
pemerintah
f.
Pemberian penyuluhan
Pasal 11
Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 8 huruf a berwenang untuk :
a. Memberikan imunisasi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah
b. Bimbingan senam hamil
66
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
c. Episiotomy
d. Penjahitan luka episiotomy
e. Kompresi bimanual dalam rangka kegawatdaruratan, dilanjutkan
dengan perujukan
f. Pencegahan anemia
g. Inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu eksklusif
h. Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia
i. Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
j. Pemberian minum dengan sonde/pipet
k. Pemberian obat bebas, uterotonika untuk postpartum dan manajemen
aktif kala III
l. Pemberian surat keterangan kelahiran
m. Pemberian surat keterangan hamil untuk keperluan cuti melahirkan
Pasal 12
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf b, berwenang untuk :
a. Memberikan alat kontrasepsi oral, suntikan dan alat kontrasepsi dalam
Rahim dalam rangka menjalankan tugas pemerintah dan kondom
b. Memasang alat kontrasepsi dalam Rahim difasilitas pelayanan
kesehatan pemerintah dengan supervise dokter
c. Memberikan penyuluhan/konseling pemilihan kontrasepsi
d. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi dalam Rahim difasilitas
pelayanan kesehatan pemerintah
e. Memberikan konseling dan tindakan pencegahan kepada perempuan
pada masa pranikah dan prahamil.
Pasal 13
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 8 huruf c, berwenang untuk :
a. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat dibidang kesehatan ibu
dan bayi
b. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
67
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
c. Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan
infeksi menular seksual (IMS), penyalahgunaan Narkotika Psikotropika
dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) serta penyAKIt lainnya,
Pasal 14
1. Dalam keadaan darurat untuk penyelamatan nyawa seseorang/pasien
dan tidak ada dokter ditempat kejadian, bidan dapat melakukan
pelayanan kesehatan diluar kewenangan sebagimana dimaksud pasal
8
2. Bagi bidan yang menjalankan tugas pemerintah dapat melakukan
pelayanan kesehatan diluar kewenangan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 8
3. Daerah yang tidak memiliki dokter sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) adalah kecamatan atau kelurahan/desa yang di tetapkan oleh
kepala dinas kesehatan kabupaten/kota
4. Dalam hal daeah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tlaqh terdapat
dokter, kewenangan bidan sebaigaimana dimaksud pada ayat(2) tidak
berlaku.
Pasal 15
1. Pemerintah daerah menyelenggarakan pelatihan bagi bidan yang
memberikan pelayanan didaerah yang tidak memiliki dokter
2. Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan
sesuai dengan modul, pelatihan yang ditetapkan oleh Menteri
3. Bidan yang lulus pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
memperoleh sertifikat.
Pasal 16
Pada daerah yang tidak memiliki dokter, pemerintah daerah hanya
menempatkan bidan dengan pendidikan Diploma III atau bidan dengan
Diploma I kebidanan yang telah mengikuti pelatihan.
68
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Pasal 17
Bidan dalam menjalankan praktik harus membantu progam pemerintah
dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pasal 18
1. Dalam menjalankan praktik, bidan berkewajiban untuk :
a. Menghormati hak pasien
b. Merujuk kasus yang tidak ditangani dengan tepat waktu
c. Menyimpan
rahasia
kedokteran
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan perundang-undangan
d. Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien dan
pelayanan yang di butuhkan
e. Meminta persetujuan tindakan kebidanan yang telah dilakukan
f.
Melakukan pencatatan asuhan kebidanan secara sistematis
g. Mematuhi satndar
h. Melakukan
pelaporan
penyelenggaraan
praktik
kebidanan
termasuk pelaporan kelahiran dan kematian.
2. Bidan dalam menjalankan praktik senantiasa meningkatkan mutu
pelayanan
profesinya,
dengan
mengikuti
perkembangan
ilmu
pengetahuan dan teknlogi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai
dengan bidang tugasnya.
Pasal 19
Dalam melaksanakan praktik, bidan mempunyai hak :
a. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik
sepanjang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan.
b. Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari pasien dan/atau
keluarganya
c. Melaksanakan tugas sesuai dengan kewenangan, standar profesi dan
standar pelayanan
d. Menerima imbalan jasa profesi
69
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Pasal 20
1. Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan
pengawasn dan mengikutseratkan organisasi profesi
2. Pembinaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien
dan melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat
menimbulkan bahaya bagi kesehatan.
Pasal 21
1. Dalam rangka melaksanakan pengawasn sebagaimana dimaksud
dalm pasal 20, pemerintah dan pemerintah daerah dapat memberikan
tindakan
administrative
kepada
bidan
yang
melakukan
penyelenggaraan praktik dalam peraturan ini
2. Tindakan administrative sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan melalui :
a. Teguran lisan
b. Teguran tertulis
c. Pencabutan SIPB untuk sementara paling lama 1 tahun
d. Pencabutan SIPB selamany
Pasal 22
1. SIPB yang dimiliki bidan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan
masih tetap berlaku sampai masa SIPB berakhir
2. Pada saat peraturan ini mulai berlaku, SIPB yang sedang dalam
proses perizinan, dilaksanakan sesuai ketentuan Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 900/Menkes/SK/VII2002 tentang registrasi dan
praktek bidan
Pasal 23
Pada saat Peraturan Menteri ini berlaku, Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan
70
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
sepanjang yang berkaitan dengan perizinan dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.
Pasal 24
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang
mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan ini dengan
penempatannya dalam berita Negara Republik Indonesia
B. Landasan hukum kompetensi bidan
Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor : 369/Menkes/SK/III/2007 tentang standar
profesi bidan, salah satu komponen di dalamnya berisi mengenai
standar kompetensi bidan di Indonesia, sebagai acuan untuk
melakukan asuhan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Jenis-jenis kompetensi bidan :
a.
Standar kompetensi 1 : bidan mempunyai persyaratan
pengetahuan dan ketrampilan dari ilmu-ilmu sosial, kesehatan
masyarakat dan kode etik yang membentuk dasar dari asuhan
yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi
baru lahir dan keluarganya.
b.
Pra konsepsi, KB dan Ginekologi
Bidan
memberikan
asuhan
yang
bermutu
tinggi,
pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan
pelayanan
menyeluruh
di
masyarakat
dalam
rangka
meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan
kehamilan dan kesiapan menjadi orang tua.
c. Asuhan dan konseling selama kehamilan
Bidan memberi asuhan Antenatal bermutu tinggi untuk
mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi :
deteksi dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.
d. Asuhan selama persalinan dan kelahiran
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap
terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin
selama persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi
71
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan
wanita dan bayinya yang baru lahir.
e. Asuhan pada ibu nifas dan menyusui
Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui
yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.
f. Asuhan pada bayi dan balita
Bidan
memberikan
asuhan
yang
bermutu
tinggi,
komprehensif pada bayi dan balita sehat (1 bulan -5 tahun)
g. Kebidanan komunitas
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan
komprehensif pada keluarga, kelompok dan masyarakat
sesuai dengan budaya setempat
h. Gangguan system reproduksi dan menopause
Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan
gangguan sistem reproduksi.
72
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Diane Prisila Purnawan, Kebidanan DIII UMP, 2015
Download