BAB I - STIKES Muhammadiyah Gombong

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak
dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual
yaitu antara 11-12 sampai 20 tahun yang menjelang masa dewasa muda.
Remaja tidak mempunyai tempat yang jelas yaitu bahwa mereka tidak
termasuk golongan orang dewasa (Soetjiningsih, 2004). Dalam periode ini
terjadi perubahan yang sangat pesat dalam dimensi fisik, mental dan
sosial. Masa ini juga merupakan periode pencarian identitas diri, sehingga
remaja sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Umumnya proses
pematangan fisik lebih cepat dari pematangan psikososialnya. Karena itu
seringkali terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan remaja sangat
sensitif dan rawan terhadap stres.
Wanita mulai dari usia remaja hingga dewasa normalnya akan
mengalami periode menstruasi atau haid dalam perjalanan hidupnya, yaitu
pengeluaran darah yang terjadi secara periodik melalui vagina yang
berasal dari dinding rahim wanita. Keluarnya darah tersebut disebabkan
karena sel telur tidak dibuahi sehingga terjadi peluruhan lapisan dalam
rahim yang banyak mengandung pembuluh darah (Mochtar, 1989).
Beberapa saat sebelum menstruasi, sejumlah gadis dan wanita
biasanya mengalami rasa tidak enak. Mereka biasanya merasakan satu atau
beberapa gejala yang disebut dengan kumpulan gejala sebelum datang
1
2
bulan atau istilah populernya premenstrual
syndrome (PMS). Hal-hal
yang sering dirasakan adalah nyeri payudara, rasa penuh atau kembung di
perut bagian bawah, merasa sangat lelah, nyeri otot, terutama di punggung
bagian bawah atau perut, perubahan kebasahan vagina atau tumbuh
jerawat dan emosi yang sangat kuat atau sukar di kontrol. Banyak wanita
setiap bulan mengalami sekurang-kurangnya satu dari gejala-gejala diatas
dan sejumlah wanita lain mengalami semua gejala. Seorang wanita bisa
merasakan gejala yang berbeda-beda dari satu bulan ke bulan berikutnya
(Burns, 2000). Banyak wanita tidak terpengaruh sama sekali, sementara
yang lainnya mengalami gejala yang hebat dan sangat melemahkan
(Brunner & Suddarth, 2001). Ciri khas dari kelainan ini adalah keluhan
muncul saat menjelang haid dan akan hilang dengan sendirinya begitu haid
datang (Karyadi, 1999).
Pada perempuan-perempuan yang sedang mengalami perdarahan
haid, biasanya mengeluhkan gejala-gejalanya yang terjadi dalam dua hari
pertama, yang mungkin pada awal perdarahan haid tidak menampakkan
gejala-gejala PMS-nya. Gejala fisik yang paling umum adalah rasa tidak
nyaman, nyeri dan kembung di daerah perut, rasa tertekan pada daerah
kemaluannya, dan dismenore. Sifat dan itensitas dari gejala PMS tersebut
mungkin bervariasi pada setiap sikus haidnya (Hendrik, 2006).
Menstruasi
yang berulang setiap bulan tersebut
akhirnya
membentuk siklus menstruasi. Siklus menstruasi dihitung dari hari
pertama menstruasi sampai tepat satu hari sebelum menstruasi bulan
3
berikutnya. Siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari, dan hanya sekitar
10-15 % wanita memeliki siklus 28 hari. Siklus menstruasi dipengaruhi
oleh serangkaian hormon yang diproduksi oleh tubuh yaitu Luteinizing
Hormon, Follicle Stimulating Hormone dan estrogen. Selain itu siklus
juga di pengaruhi oleh kondisi psikis perempuan sehingga sehinga bisa
maju dan mundur (Fitria, 2007). Perempuan kadang mengalami menstruasi
yang tidak teratur ini dapat disebabkan oleh perubahan kadar hormon
akibat setres atau sedang dalam keadaan emosi. Di samping itu perubahan
drastis dalam porsi olahraga atau perubahan berat badan yang drastis juga
dapat menyebabkan menstruasi yang tidak teratur (Nita, 2008).
Gangguan menstruasi dapat terjadi pada sebagian perempuan dari
negara industri maupun negara berkembang. Gangguan-gangguan proses
menstruasi seperti lamanya siklus menstruasi dapat menimbulkan resiko
penyakit kronis. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan siklus
menstruasi seperti fungsi hormon terganggu, kelainan sistemik, cemas,
kelenjar gondok, setres, aktivitas fisik, kelainan fisik (alat reproduksi) dan
diet Hestiantoro (2009). Diantara beberapa faktor tersebut yang sangat
berhubungan dengan gangguan menstruasi adalah fungsi hormon
terganggu, cemas, aktivitas fisik.
4
Berdasarkan studi pendahuluan tanggal 26 September 2013, di
STIKES Muhamadiyah Gombong jumlah seluruh mahasiswi angkatan
2010 adalah 41 mahasiswi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan
peneliti terhadap 5 mahasiswi diketahui 3 diantaranya mengalami siklus
menstruasi yang tidak teratur. Mahasiswa semester 8 memiliki aktivitas
fisik yang tinggi karena disibukkan dengan rutinitas kegiatan perkualihan
dan praktek klinik. Mahasiswa semester 8 juga disibukkan dengan tugas
akhir yang terkadang menimbulkan kecemasan. Maka dari itu peneliti
tertarik untuk meneliti “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ganguan
Menstruasi pada Mahasiswi S1 Keperawatan STIKES Muhamadiyah
Gombong”.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka terdapat rumusan masalah
“Faktor apa saja yang mempengaruhi ganguan menstruasi pada Mahasiswi
S1 Keperawatan STIKES Muhamadiyah Gombong ?”.
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan umum
Untuk megetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ganguan
menstruasi
pada
mahasiswi
Muhamadiyah Gombong.
S1
keperawatan
STIKES
5
2.
Tujuan khusus
1.
Untuk mengetahui pengaruh kecemasan terhadap ganguan
menstruasi
pada
mahasiswi
S1
Keperawatan
STIKES
Muhamadiyah Gombong .
2.
Untuk mengetahui pengaruh aktifitas fisik terhadap ganguan
menstruasi
pada
Mahasiswi
S1
Keperawatan
STIKES
Muhamadiyah Gombong.
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi Pengembang Ilmu pengetahuan
Bagi pengembang ilmu pengetahuan penelitian ini dapat berguna
untuk menambah informasi tentang menstruasi.
2.
Bagi Keperawatan
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bukti dan acuan dalam
memberikan pendidikan kesehatan pada remaja putri tentang
ganguan menstruasi.
3.
Bagi Peneliti
Sebagai suatu pengalaman penelitian bidang kesehatan untuk
melengkapi tugas akhir pembelajaran dan memberikan wawasan
mengenai betapa pentingnya ganguan menstruasi
dan menjaga
kesehatan reproduksi pada umumnya.
4.
Bagi Siswa
Dapat meningkatkan kesehatan menstruasi, dan memberikan
Informasi yang berkenaan tentang bagaimana berperilaku yang
6
baik pada saat menstruasi sehingga angka kejadian penyakit
reproduksi dapat berkurang.
E. Keaslian Penelitian
1.
Dewi (2008) meneliti tentang “Efektifitas Pendidikan Hygiene
menstruasi
Terhadap
Pengetahuan
Remaja
Putri
Tentang
Kebersihan Diri Saat Menstruasi di SMP Negeri Kerambitan “.
Metode penelitian yang digunakan pra eksperimen one group pre
test post test design. Hasil penelitian sebelum dilakukan sebanyak
1 orang (0,9%) memiliki pengetahuan sangat baik, sebanyak 3
orang (2,7%) memiliki pengetahuan, 6 orang (5,41%) memiliki
pengetahuan cukup, 13 orang (11,71%) memiliki mpengetahuan
sangat kurang dan 88 orang (79,28%) berpengetahuan sangat
kurang. Setelah dilakukan penyuluhan maka diperoleh tingkat
pengetahuan remaja putri tentang hygiene yakni : sebanyak 47
orang (42,34%) memiliki pengetahuan sangat baik, sebanyak 58
orang (52,25%) memiliki pengetahuan baik, 1 orang (0,90%)
memiliki
pengetahuan
cukup,
2
orang
(1,80%)
memiliki
pengetahuan kurang dan 3 orang (2,70%) berpengetahuan sangat
kurang. Kesamaan penelitian ini dengan penelitian Dewi yaitu
kesamaan tema tentang menstrusi sedangkan perbedaanya pada
sampel dan tempat penelitian.
7
2.
Penelitiann yang dilakukan oleh Pancawati 2007, dengan judul
“hubungan tingkat pengetahuan tentang menstruasi yang berkaitan
dengan kecemasan siswa SMP Muhammadiyah Gombong”.
Pengetahuan siswa tentang menstruasi dalam kategori cukup (86,
66%), sedangkan kecemasan dalam kategori berat (43,33%).
Kecemasan dapat terjadi pada setiap orang,termasuk pada remaja
yang belum mengalami menstruasi. Pengetahuan yang cukup akan
membantu remaja dalam memahami dan mempersiapkan mental
dalam menghadapi menstruasi.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
adalah, terletak pada subjek, lokasi, dan tempat penelitian yaitu
subyeknya
terletak pada
penelitiannya
pada
ganguan menstruasi
Mahasiswi
Muhamadiyah Gombong.
S1
dan tempat
Keperawatan
STIKES
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Mentruasi / Haid
a. Menstruasi
Ciri khas kedewasaan manusia ialah adanya perubahanperubahan siklik pada alat kandungannya sebagai persiapan untuk
kehamilan. Pada wanita ditandai dengan menstruasi pertama
(menarche), uterus dan vagina membesar, buah dada membesar
serta jaringan ikat dan saluran darah bertambah, sifat kelamin
sekunder tampil, lengkung tubuh berkembang, adanya bulu-bulu
ketiak dan pubis pelvis melebar. Dan pada umumnya remaja putri
belajar tentang menstruasi dari ibunya (Liwellyn, 2007).
Menstruasi adalah secret fisiologik darah dan jaringan
mukosa serta bersiklus yang melalui vagina dari uterus tidak hamil,
dibawah pengendalian hormone dan pada keadaan normal timbul
kembali, biasanya dalam interval sekitar empat minggu, kecuali
dalam kehamilan dan laktasi selama reproduktif (Danis, 2007).
Menstruasi atau haid ialah pendarahan secara periodic dan
siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium.
8
9
b. Siklus menstruasi
Siklus menstruasi matang adalah kejadian berulang-ulang
yang melibatkan hipofisis, hipotalamus, ovarium, dan uterus
(Handerson, 2006).
Menstruasi terjadi pada usia sekitar 10-15 tahun yang
disebut dengan menarche (menstruasi petama). Hormone penting
yang mengendalikan siklus menstruasi matur adalah estrogen,
progesterone, gonodotropin, dan GnRh (Handerson, 2006).
Pengaruh hormone FSH (Folikel Stimulating Hormone)
kedua indung telur memilih satu sel telur untuk dimatangkan. Sel
telur yang matang ini dilapisi selaput yang sangat tipis, kemudian
sel
ini
akan mendekat
permukaan indung telur, selaput
pembungkusnya pecah dan sel telur ke luar. Dan peristiwa ini
disebut ovulasi. Sel telur yang bebas dan menuju rahim dan lebih
kurang dalam seminggu sampai rahim.
Sebelum ovulasi terjadi penebalan dinding rahim jaringan
pembuluh darahnya bertambah, hal ini dimaksudkan untuk
memberi makanan bagi calon bayi, bila tidak terjadi pembuahan
persiapan ini tidak terpakai dan dinding rahim menebal itu akan
lepas dan keluar sebagai menstruasi. Satu siklus dihitung dari hari
pertama menstruasi sampai menstruasi berikutnya. Umumnya jarak
siklus menstruasi berkisar dari 15-45 hari, dengan rata-rata 4-6
hari. Darah menstruasi tidak membeku. Jumlah kehilangan darah
10
tiap siklus berkisar dari 50-60-ml. pada tiap siklus dikenal tiga
masa utama, ialah sebagai berikut :
1) Masa haid selama 2-8 hari, pada waktu endometrium dilepas,
sedangkan
hormon-hormon
ovarium
paling
rendah
(minimum).
2) Masa proliferasi sampai hari ke-14, maka pada waktu
endometrium tumbuh kembali, disebut juga endometrium
mengadakan proliferasi. Antara hari ke-12 sampai ke-14
dapat terjadi pelepasan ovum dari ovarium yang disebut
ovulasi.
3) Masa sekresi, pada waktu korpus rubrum menjadi korpus
luteum yang mengeluarkan progesterone. Dibawah pengaruh
progesterone kelenjar endometrium mulai bersekresi dan
mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak.
Pada akhir masa ini stroma endometriuym berubah kearah
desidua, terutama berada diseputar pembuluh-pembuluh
arterial,
sehingga
memudahkan
adanya
nidasi(Ilmu
kebidanan, 2004).
Mentruasi dimulai saat pubertas dan menandai kemampuan
seorang wanita untuk mengandung anak. Menstruasi berlangsung
kira-kira sekali sebulan sampai wanita mencapai umur 45-50 tahun.
Panjang rata-rata daur menstruasi adalah 28 hari, namun berkisar
antara 21 hingga 40 hari. Daur menstruasi tergantung berbagai hal
11
termasuk kesehatan fisik, emosi,dan nutrisi wanita tersebut. Daur
ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh interakasi
hormone yang dikeluarkan hipotalamus, kelenjar dibawah otak
depan, dan indung telur.
Anak-anak perempuan yang tidak mengenal tubuh mereka
dan proses reproduksi dapat mengira bahwa menstruasi merupakan
bukti adanya penyakit atau bahkan hukuman akan tingkah laku
yang buruk. Anak-anak perempuan yang tidak diajari untuk
menganggap menstruasi sebagai fungsi tubuh normal dapat
mengalami rasa malu yang amat dan perasaan kotor saat
menstruasi mereka. Bahkan saat menstruasi akhirnya dikenali
sebagai proses normal, perasaan kotor dapat tinggal sampai masa
dewasa.
c. Pola Menstruasi
Pola menstruasi merupakan serangkaian proses menstruasi
yang meliputi siklus menstruasi, lama perdarahan menstruasi dan
dismenorea. Siklus menstruasi merupakan waktu sejak hari
pertama
menstruasi
sampai
datangnya
menstruasi
periode
berikutnya. Sedangkan panjang siklus menstruasi adalah jarak
antara tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya
menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi pada wanita normalnya
berkisar antara 21-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki siklus
menstruasi 28 hari dengan lama menstruasi 3-5 hari, ada yang 7-8
12
hari. Setiap hari ganti pembalut 2-5 kali. Panjangnya siklus
menstruasi ini dipengaruhi oleh usia, berat badan, aktivitas fisik,
tingkat stres, genetik dan gizi (Wiknjosastro;2005, Octaria;2009).
Siklus menstruasi dipengaruhi oleh serangkaian hormon
yang diproduksi oleh tubuh yaitu Luteinizing Hormon , Follicle
Stimulating Hormone dan estrogen. Selain itu siklus juga
dipengaruhi oleh kondisi psikis sehingga bisa maju dan mundur.
Masa subur ditandai oleh kenaikan luteinizing hormone secara
signifikan sesaat sebelum terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur
dari ovarium). Kenaikan LH akan mendorong sel telur keluar dari
ovarium menuju tuba falopi. Didalam tuba falopi ini bisa terjadi
pembuahan oleh sperma. Masa-masa inilah yang disebut masa
subur, yaitu bila sel telur ada dan siap untuk dibuahi. Sel telur
berada dalam tuba falopi selama kurang lebih 3-4 hari namun
hanya sampai umur 2 hari masa yang paling baik untuk dibuahi,
setelah itu mati. LH surge yaitu kenaikan LH secara tiba-tiba akan
mendorong sel telur keluar dari ovarium. Sel telur biasanya
dilepaskan dalam waktu 16-32 jam setelah terjadi peningkatan LH.
Beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada bagian perut
bawah pada saat hal ini terjadi. Lama keluarnya darah menstruasi
juga bervariasi, pada umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi
antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal. Pengeluaran
darah
menstruasi
terdiri
dari
fragmen-fragmen
kelupasan
13
endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak
tentu. Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran
darahnya terlalu besar, bekuan dengan berbagai ukuran sangat
mungkin ditemukan.
Ketidakbekuan darah menstruasi yang biasa ini disebabkan
oleh suatu sistem fibrinolitik lokal yang aktif di dalam
endometrium. Rata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita
normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh
beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb
normal 14 gr per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume
darah ini mengandung 12-29 mg besi dan menggambarkan
kehilangan darah yang sama dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi untuk
setiap hari siklus tersebut atau 150 sampai 400 mg per tahun
(Heffner; 2008).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi ganguan pola menstruasi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan gangguan pola
menstruasi dalam Hestiantoro (2009) adalah:
1) Fungsi hormon terganggu.
Menstruasi terkait erat dengan sistem hormon yang
diatur di otak, tepatnya di kelenjar hipofisis. System hormonal
ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk memproduksi
sel telur. Bila sistem pengaturan ini terganggu otomatis siklus
menstruasi pun akan terganggu.
14
2) Kelainan sistemik.
Wanita yang tubuhnya sangat gemuk atau kurus bisa
mempengaruhi siklus menstruasinya karena sistem metabolism
didalam tubuh tidak bekerja dengan baik. Wanita penderita
penyakit
diabetes
juga
akan
mempengaruhi
sistem
metabolismenya sehingga siklus menstruasinya tidak teratur.
3) Cemas.
Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan
yang tidak jelas dan gelisah disertai dengan respon otonom
(sumber terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh
individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi bahaya
(Nanda, 2005). Kecemasan atau ansietas adalah suatu keadaan
aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa
sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid, 2005). Kecemasan
adalah perasaan tidak nyaman yang biasanya berupa perasaan
gelisah, takut, khawatir yang merupakan manifestasi dari faktor
psikologi dan fisiologi (Mansjoer, 2005). Kecemasan atau
ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar,
yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya
(Stuart, 2007)
Cemas juga dapat mengganggu sistem metabolisme
didalam tubuh, bisa saja karena stress/ cemas wanita jadi mulai
lelah, berat badan turun drastis, sakit-sakitan, sehingga
15
metabolismenya terganggu. Bila metabolismenya terganggu,
siklus menstruasinya pun ikut terganggu.
4) Kelenjar gondok.
Terganggu fungsi kelenjar gondok/ tiroid juga bisa
menjadi penyebab tidak teraturnya siklus mentruasi. Gangguan
bisa berupa produksi kelenjar gondok yang terlalu tinggi
(hipertiroid) maupun terlalu rendah (hipotiroid), pasalnya
sistem hormonal tubuh terganggu.
5) Hormon prolaktin berlebihan.
Pada wanita menyusui produksi hormon prolaktin cukup
tinggi. Hormon prolaktin ini sering kali membuat wanita tak
kunjung menstruasi karena memang hormon ini menekan
tingkat kesuburan. Pada kasus ini tidak masalah, justru sangat
baik untuk memberikan kesempatan guna memelihara organ
reproduksinya. Sebaliknya, tidak sedang menyusui, hormon
prolaktin juga bisa tinggi. Biasanya disebabkan kelainan pada
kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala.
6) Kelainan fisik (alat reproduksi)
Kelainan
fisik
yang
dapat
menyebabkan
tidak
mengalami menstruasi (aminorea primer) pada wanita adalah:
a) Selaput dara tertutup sehingga perlu operasi untuk
membuka selaput dara.
b) Indung telur tidak memproduksi ovum.
16
c) Tidak mempunyai ovarium
e. Gangguan menstruasi
Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara
periodik darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal dari
dinding rahim wanita. Banyak wanita
yang tidak mengalami
kenyamanan fisik selama beberapa hari sebelum menstruasi mereka
datang. Kira–kira setengah dari seluruh wanita menderita akibat
menstruasi. Beberapa gangguan pada menstruasi:
1) Amenore
Amenore primer adalah tidak terjadinya menarche
sampai usia 17 tahun, dengan atau tanpa perkembangan
seksual sekunder.
Amenore sekunder berarti tidak terjadinya menstruasi
selama bulan atau lebih pada orang yang mengalami siklus
menstruasi. Amenore merupakan gejala atau bukan suatu
penyakit. Penyebab amenore dapat fisiologik, organik, atau
akibat gangguan perkembangan.
2) Disminore
Disminore adalah nyeri selama menstruasi yang
disebabkan oleh kejang otot uterus. Penyebabnya adalah
adanya jumlah prostaglandin F2 yang berlebihan pada
menstruasi yang merangsang hiperaktivitas uterus. Gejalagejalanya antara lain: nyeri (dapat tajam, tumpul, siklik,
17
menetap) dapat berlangsung dalam beberapa jam sampai 1
hari, mual, diare, sakit kepala, dan perubahan emosional.
Selain gangguan-gangguan yang disebutkan diatas gangguangangguan lain yang dapat mucul antara lain: payudara yang
melunak, putting susu nyeri, bengkak, mudah tersinggung, keram
yang disebabkan kontraksi otot-otot halus rahim, sakit pada bagian
perut tengah, gelisah, letih, hidung tersumbat, dan ingin menangis.
Dalam bentuk yang berat sering melibatkan depressi dan
kemarahan berat (Dani, 2007). Biasanya gangguan menstruasi yang
sering terjadi adalah siklus menstruasi tidak teratur atau jarang dan
perdarahan yang lama atau abnormal, termasuk akibat sampingan
yang ditimbulkannya, seperti nyeri perut, pusing, mual atau
muntah.
Adapun beberapa ganguan menstruasi berdasarkan sebabsebabnya yaitu (Prawirohardjo, 2008):
1) Menurut Jumlah Perdarahan
a) Hipomenorea
Perdarahan menstruasi yang lebih pendek atau lebih sedikit
dari biasanya.
b) Hipermenorea
Perdarahan menstruasi yang lebih lama atau lebih banyak
dari biasanya (lebih dari 8 hari).
18
2) Menurut Siklus atau Durasi Perdarahan.
a) Polimenore
Siklus menstruasi tidak normal, lebih pendek dari biasanya
atau kurang dari 21 hari.
b) Oligomenorea
Siklus menstruasi lebih panjang atau lebih dari 35 hari.
c) Amenorea
Amenorea adalah keadaan tidak ada menstruasi untuk
sedikitnya 3 bulan berturut-turut.
3) Gangguan
lain
yang
berhubungan
dengan
menstruasi,
diantaranya:
a) Premenstrual tension
Gangguan ini berupa ketegangan emosional sebelum haid,
seperti gangguan tidur, mudah tersinggung, gelisah, sakit
kepala.
b) Mastadinia.
Nyeri pada payudara dan pembesaran payudara sebelum
menstruasi.
c) Mittelschmerz
Rasa nyeri saat ovulasi, akibat pecahnya folikel de Graff
dapat juga disertai dengan perdarahan/ bercak.
d) Dismenorea.
Rasa nyeri saat menstruasi yang berupa kram ringan pada
19
bagian kemaluan sampai terjadi gangguan dalam tugas
seharihari
Mansjoer (1999) mengatakan beberapa gangguan haid adalah :
1) Premenstrual tension (ketegangan prahaid) Ketegangan
pra haid adalah keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu
minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid dan
menghilang sesudah haid datang walaupun kadang-kadang
berlangsung terus sampai haid berhenti.
2) Mastodinia Mastodinia adalah nyeri pada payudara dan
pembesaran payudara sebelum menstruasi.
3) Mittleschmerz (rasa nyeri pada ovulasi) Mittleschmerz
adalah rasa nyeri saat ovulasi, akibat pecahnya folikel de
Graff dapat juga disertai dengan perdarahan/bercak.
4) Dismenore Dismenore adalah nyeri haid menjelang atau
selama haid sampai membuat perempuan tersebut tidak
dapat bekerja dan harus tidur. Nyeri sering bersamaan
dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan,
lekas marah.
f. Fase menstruasi
Hari pertama haid dianggap sebagai permulaan dari siklus
haid, 4 hari pertama siklus didefinisikan sebagai fase haid sebagai
fase haid, dalam fase ini terdapat gangguan dan perontokan
20
kelenjar
endometriun
dan
stroma,
infiltrasi
leukosit,
dan
ekstravasasi sel darah merah.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi ganguan menstruasi
a. Aktifitas Fisik
Aktivitas fisik merupakan pergerakan anggota tubuh yang
menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi
pemeliharaan kesehatan fisik dan mental, serta mempertahankan
kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Penelitian
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa gaya hidup
duduk terus-menerus dalam bekerja menjadi penyebab 1 dari 10
kematian dan kecacatan lebih dari 2 juta kematian setiap tahun di
sebabkan kurangnya bergerak atau aktivitas fisik (Giriwijoyo,
2010).
1) Macam –macam aktivitas fisik
Macam –macam aktivitas fisik menurut Giriwijoyo (2010)
meliputi:
a)
Ketahanan (endurance)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk ketahanan, dapat
membantu jantung, paru-paru, otot, dan sistem sirkulasi
darah tetap sehat dan membuat kita lebih bertenaga. Untuk
mendapatkan
ketahanan
maka
aktivitas
fisik
yang
dilakukan selama 30 menit (4-7 minggu perhari). Contoh
beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti: Berjalan kaki,
21
misalnya turunlah dari bus lebih awal menuju tempat kerja
kira-kira menghabiskan 20 menit berjalan kaki dan saat
pulang berhenti di halte yang menghabiskan 10 menit
berjalan kaki menuju rumah, lari ringan,berenang, senam,
bulu tangkis , bermain tenis, berkebun dan kerja di taman.
b)
Kelenturan (flexibility)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk kelenturan dapat
membantu pergerakan lebih mudah, mempertahankan otot
tubuh tetap lemas (lentur) dan sendi berfungsi dengan baik.
Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik yang
dilakukan selama 30 menit (4-7 hari per minggu) contoh
beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti: Peregangan,
mulai dengan perlahan-lahan tanpa kekuatan atau sentakan,
lakukan secara teratur untuk 10-30 detik, bisa mulai dari
tangan dan kaki , Senam taichi, yoga, mencuci pakaian,
mobil, Mengepel lantai.
c)
Kekuatan (strength)
Aktifitas fisik yang bersifat untuk kekuatan dapat
membantu kerja otot tubuh dalam menahan sesuatu beban
yang diterima, tulang tetap kuat, dan mempertahankan
bentuk tubuh serta membantu meningkatkan pencegahan
terhadap penyakit seperti osteoporosis (keropos pada
tulang). Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik
22
yang dilakukan selama 30 menit (2-4 hari per minggu)
Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti: Pushup, pelajari teknik yang benar untuk mencegah otot dan
sendi dari kecelakaan. Naik turun tangga, Angkat
berat/beban, Membawa belanjaan, Mengikuti kelas senam
terstruktur dan terukur (fitness).
Aktivitas fisik tersebut akan meningkatkan pengeluaran
tenaga dan energi (pembakaran kalori), misalnya:
(1) Berjalan kaki (5,6-7 kkal/menit)
(2) Berkebun (5,6 kkal/menit)
(3) Menyetrika (4,2 kkal/menit)
(4) Menyapu rumah (3,9 kkal/menit)
(5) Membersihkan jendela (3,7 kkal/menit)
(6) Mencuci baju (3,56 kkal/menit)
(7) Mengemudi mobil (2,8 kkal/menit)
b. Kecemasan
Kecemasan atau ansietas adalah suatu keadaan aprehensi
atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang
buruk akan terjadi (Nevid, 2011). Kecemasan adalah perasaan tidak
nyaman yang biasanya berupa perasaan gelisah, takut, khawatir
yang merupakan manifestasi dari faktor psikologi dan fisiologi
(Mansjoer, 2009). Kriteria cemas menurut rosidy (2012)
1) Cemas Ringan
23
Hubungannya dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari
dan
menyebabkan
seseorang
menjadi
waspada
dan
meningkatkan lahan persepsinya. Cemas dapat memotivasi
belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
2) Cemas Sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang
penting dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang
mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan
sesuatu yang lebih terarah. Memusatkan pada hal-hal yang
penting dengan mengesampingkangkan hal yang lain.
3) Cemas Berat
Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang, seseorang
cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik
dan tidak dapat berfikir tentang hal lain. Semua perilaku
ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut
memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada
suatu area lain. Dengan kata lain lapangan persepsi sangat
menurun.
24
B. Kerangka Teori
Faktor yang mempengaruhi ganguan
menstruasi :
1. Cemas
2. Aktifitas fisik
3. Fungsi hormon terganggu
4. Kelainan sistemik
5. Hormon prolaktin berlebihan
6. Kelainan fisik (alat reproduksi)
7. Kelenjar gondok
Ganguan Menstruasi
Gangguan menstruasi
1. Menurut Jumlah Perdarahan
a) Hipomenorea
b) Hipermenorea
2. Menurut Siklus atau Durasi
Perdarahan.
a) Polimenore
b) Oligomenorea
c) Amenorea
3. Gangguan lain yang berhubungan
dengan menstruasi, diantaranya:
a) Premenstrual tension
b) Mastadinia.
c) Mittelschmerz
d) Dismenorea
Gambar : 2.1
Kerangka Teori Menurut:
Giriwijoyo (2010), Rosidy (2012), Kusmiran (2011) dan Hestiantoro (2009)
25
C. Kerangka Konsep
Berdasarkan tinjauan teori diatas dapat dikemukakan oleh penulis,
maka dapat disusun kerangka konsep sebagai berikut :
Variabel Bebas
Variabel Terikat
Faktor yang mempengaruhi ganguan
menstruasi :
1. Cemas
2. Aktifitas fisik
3.
4.
5.
6.
7.
Fungsi hormon terganggu
Kelainan sistemik
Hormon prolaktin berlebihan
Kelainan fisik (alat reproduksi)
Kelenjar gondok
Keterangan
:
: diteliti
: tidak diteliti
Gambar : 2.2
Kerangka Konsep
Ganguan Menstruasi
26
D. Hipotesa Penelitian
Beberapa hipotesa yang dipakai dalam penelitian (ha) tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Ada pengaruh kecemasan terhadap ganguan menstruasi pada mahasiswi
S1 Keperawatan STIKES Muhamadiyah Gombong.
2. Ada pengaruh aktifitas fisik terhadap ganguan menstruasi pada Mahasiswi
S1 Keperawatan STIKES Muhamadiyah Gombong.
27
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode penelitian yang digunakan
Metode penelitian ini adalah survey yang bersifat analitik dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif (Nursalam, 2003). Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas (variabel
resiko) yaitu cemas dan aktifitas fisik terhadap variabel terikat (efek) yaitu
ganguan
menstruasi
pada
Mahasiswi
S1
Keperawatan
STIKES
Muhamadiyah Gombong.
B. Populasi dan sampel penelitian
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2006).
Atau menurut Sugiyono (2003) populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah
Mahasiswi S1 Keperawatan STIKES Muhamadiyah Gombong dengan
jumlah populasi sebanyak 41 mahasiswi.
2. Sampel penelitian
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti
(Arikunto, 2006) atau menurut Nursalam (2003) sampel adalah bagian
dari populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai obyek
27
28
peneliti melalui sampling. Pengambilan sampel menggunakan teknik
sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota
populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2006). Sampel dalam
penelitian ini adalah 41 mahasiswi.
Dalam penelitian ini, kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan
eksklusi dimana kriteria tersebut menentukan dapat atau tidaknya
sampel tersebut digunakan.
a. Mahasiswi STIKES Muhamadiyah Gombong.
b. Mahasiswi semester akhir angkatan tahun 2010.
c. Mahasiswi yang bersedia menjadi responden
Sedangkan kriteria ekslusi :
a. Mahasiswi yang tidak menjadi responden
b. Mahasiswi yang bukan semester akhir.
C. Variabel Penelitian
Variabel merupakan gejala yang menjadi fokus peneliiti untuk
diamati sebagai atribut dari sekelompok orang atau objek yang mempunyai
variasi antara satu dengan yang lainnya dalam sekelompok itu (Sugiyono,
2006). Sesuai dengan rumusan masalah maka variabel ini dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Variabel independen (variabel bebas): adalah variabel yang menjadi
sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat dengan kata lain
variabel yang mempengaruhi (Sugiyono, 2006). Adapun variabel
independen pada penelitian ini yaitu: cemas dan aktifitas fisik.
29
2. Variabel dependen (variabel terikat): adalah variabel yang dipengaruhi
atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2006).
Dalam hal ini variabel terikat yaitu ganguan menstruasi pada
Mahasiswi S1 Keperawatan STIKES Muhamadiyah Gombong.
D. Definisi Operasional
Varibel
Cemas
Aktifitas
fisik
Tabel : 3.1
Definisi Operasional variable-variabel penelitian
Alat Ukur
Hasil Ukur
Definisi
Operasional
Kecemasan atau
ansietas adalah
suatu keadaan
aprehensi atau
keadaan khawatir
yang mengeluhkan
bahwa sesuatu yang
buruk akan terjadi
Pergerakan
anggota
tubuh
yang menyebabkan
pengeluaran tenaga
yang meliputi 3
aspek yaitu :
2. Ketahanan
3. Kelenturan
4. Kekuatan
Ganguan Adalah
suatu
menstruasi keadaan yang tidak
seharusnya
atau
suatu
keadaan
yang terjadi suatu
ganguan
system
siklus menstruasi.
Menggunakan
kuesioner
sebanyak 21 soal
dengan
pengukuran likert,
skor untuk tiap
jawaban 0-3
berdasarkan
Depression
Anxiety Stres Scale
21 (DASS 21)
Menggunakan
kuesioner
sebanyak 15 soal
dengan
pengukuran skala
likert
3 = Selalu
2
=
KadangKadang
1 = Tidak Pernah
Menggunakan
kuesioner
sebanyak 1 soal
Diperoleh nilai minimal 0
dan nilai maksimal 63
Nilai kemudian
dikategorikan:
1. 0-12 (normal)
2. 13-25 (ringan)
3. 26-38 (sedang)
4. 39-51 (berat)
5. 52-63(Sangat berat)
Skala
Ordinal
Diperoleh nilai minimal 15 Ordinal
dan nilai maksimal 45
Nilai kemudian
dikategorikan:
1. 15-25 : Rendah
2. 26-35 : Sedang
3. 36-45 : Tinggi
Jawaban Ya : jika siklus Nominal
menstruasi teratur 20-25
hari tetap, 28-32 hari tetap,
32-35 hari tetap diberi skor
(0), jawaban tidak : jika
siklus menstruasi tidak
tentu atau tidak teratur
diberi skor (1)
30
E. Intsrumen Penelitian
Instrumen
penelitian
merupakan
alat
yang
digunakan
untuk
mengumpulkan data dalam penelitian. Dalam penelitian instrumen yang
digunakan merupakan
kuesioner tertutup dengan bentuk pilihan yang
terdiri dari beberapa alternatif jawaban karena diharapkan bahwa
responden lebih cermat menentukan jawaban (Arikunto, 2006). Dalam
penelitian ini instrument menggunakan kuesioner/angket.
1. Cemas
Tingkat kecemasan dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan angket yang diadaptasi dari model kuesioner baku
Depression Anxiety Stres Scale 21 (DASS 21),
angket langsung
diberikan kepada responden untuk langsung diisi selanjutnya setelah
angket diisi langsung diserahkan kepada peneliti, jenis angket yang
digunakan juga merupakan angket tertutup dimana jawaban dari tiap
pertanyaan sudah disediakan dan responden tinggal memilih jawaban
yang sudah disediakan. Angket kecemasan tidak dilakukan uji validitas
dan reliabilitas dikarenakan Depression Anxiety Stres Scale 21 (DASS
21) merupakan skala baku untuk mengukur tingkat kecemasan yang
sudah diukur nilai validitas dan reliabilitasnya.
Depression Anxiety Stres Scale 21 (DASS 21) merupakan
kuesioner tentang kecemasan sebanyak 21 soal dengan pengukuran
likert, skor untuk tiap jawaban 0-3, sehingga nilai minimal 0 dan nilai
31
maksimal 63. Nilai kemudian dikategorikan: 0-12 (normal); 13-25
(ringan); 26-38 (sedang); 39-51 (berat); dan 52-63 (Sangat berat)
2. Aktifitas Fisik
Untuk mengukur aktivitas fisik yang dilakukan sehari hari
menggunakan kuesioner, responden diminta untuk memilih 3 jawaban
dari 15 item pertanyaan dengan pengukuran skala linkert yaitu jawaban
selalu dengan nilai 3, kadang-kadang dengan nilai 2 dan tidak pernah
dengan nilai 1. Berikut ini adalah tabel kisi-kisi kuesioner yang akan
digunakan untuk pengumpulan data aktivitas fisik.
No
1
2
4
Tabel 3.2
Kisi-Kisi Kuesioner Aktivitas Fisik
Indikator
Butir Pertanyaan
Ketahanan (Endurance)
Kelenturan (Flexibility)
Kekuatan (Strength)
1,2,3,4,5
6,7,8,9,10
11,12,13,14,15
Total
Jumlah item
5
5
5
15
Aktivitas Fisik terdiri dari 15 item pertanyaan, setiap jawaban
diberi bobot nilai 3 sampai 1. Diperoleh nilai minimal 15 dan nilai
maksimal 45. Nilai kemudian dikategorikan: 15-25 : Rendah, 26-35 :
Sedang, 36-45 : Tinggi. Angket aktifitas fisik tidak dilakukan uji
validitas dan reliabilitas dikarenakan diadopsi dari angket penelitian
Hana prastiana (2012) dengan judul hubungan aktivitas fisik seharihari dengan kejadian dismenore pada remaja siswi kelas X SMK Batik
Sakti 1 Kebumen yang sudah diukur nilai validitas dan reliabilitasnya.
32
F. Analisa data
Dalam pengelolaan data peneliti menggunakan beberapa cara:
1. Analisa Univariat
Analisa univariat adalah pengelolaan data yang dilakukan
dengan cara mendekripsikan semua hasil survei sesuai dengan tujuan
penelitian dalam bentuk variasi dan tabel frekuensi.
2. Analisa Bivariat atau analisis tabel silang (cross tabulation), (Basirun,
2009). Analisa bivariat dilakukan dengan membuat tabel untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel terikat dan variabel
bebas yaitu “Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi ganguan
menstruasi pada Mahasiswi S1 Keperawatan STIKES Muhamadiyah
Gombong”. Dengan menggunakan rumus uji Chi- Kuadrat (chisquare). Rumus chi-square :
Keterangan :
X2 = chi-square
f0 = frekuensi berdasarkan data
fh = frekuensi yang diharapkan
Apabila dari perhitungan ternyata bahwa harga X2 atau lebih besar
dari harga X2 yang tertera dalam tabel, sesuai dengan taraf signifikan
yang telah ditetapkan, maka kesimpulan kita adalah ada perbedaan
antara fo dengan fh. Akan tetapi bila dari perhitungan ternyata nilai X2
lebih kecil dari harga kritik dalam tabel menurut taraf signifikan yang
33
telah ditentukan, maka kesimpulannya tidak ada perbedaan yang
meyakinkan antara fo dan fh.
G. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penelitian telah mendapatkan
rekomendasi dari prodi S1 STIKES Muhammadiyah Gombong untuk
mengajukan permohonan ijin kepada Ketua STIKES Muhammadiyah
Gombong untuk melakukan penelitian. Setelah peneliti memperoleh ijin
dari Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong, penelitian dimulai.
Masalah etika dalam penelitian keperawatan merupakan masalah yang
sangat penting mengingat keperawatan akan berhubungan langsung
dengan manusia, maka peneliti menjamin hak asasi responden dalam
penelitian ini.
Masalah etika dalam penelitian keperawatan meliputi :
1. Informed consent
Merupakan cara persetujuan anatara peneliti dengan responden.
Peneliti menjelaskan maksud atau tujuan penelitian dan dampak atau
akibat dari penelitian ini. Setelah mendapat penjelasan ,
2. Anomity (tanpa nama)
Peneliti tidak akan menuliskan nama responden pada lembar
kuisioner hanya menuliskan kode saja. Kode ini merupakan pemberian
nomor untuk dalam analisa data.
34
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Peneliti menjamin kerahasiaan dari hasil peneliti baik informasi
maupun masalah-masalah lainnya, semua informasi yang telah
dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, kemudian akan
dimusnahkan apabila keseluruhan proses penelitian telah selesai.
Hanya kelompok skor dan hasil analisa data saja yang akan dilaporkan
pada hasil riset.
H. Jalannya penelitian
Jalannya penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap sebagai berikut :
1. Tahap persiapan
a. Membuat proposal untuk rencana penelitian
b. Melakukan perijinan untuk melaksanakan penelitian
2. Tahap pelaksanaan
a. Melakukan pengumpulan data primer dengan memberikan
kuisioner kepada siswa.
b. Melakukan pengolahan data dan analisa data secara manual.
3. Tahap penyelesaian
Tahap penyelesaian adalah penyusunan skripsi dan dilanjutkan seminar
hasil penelitian.
Download