perbaikan ringan pada rangkaian kelistrikan dan

advertisement
KODE MODUL
OPKR 50-002B
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN
PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK MEKANIK OTOMOTIF
PERBAIKAN RINGAN PADA
RANGKAIAN KELISTRIKAN DAN
SISTEM KELISTRIKAN
BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM
DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2005
-0-
KATA PENGANTAR
Modul
Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan kode
OPKR 50-002B berisi materi dan informasi tentang dasar listrik, arus,
tegangan, tahanan, hukum Ohm, daya listrik. Pada modul ini juga
mengungkap tentang rangkaian kelistrikan yaitu rangkaian seri, parelel
dan kombinasi, serta metode pemeriksaan dan perbaikan gangguan.
Materai diuraikan dengan pendekatan praktis disertai ilustrasi yang cukup
agar siswa mudah memahami bahasan yang disampaikan.
Modul ini disusun dalam 7 kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1:
Mengukur tegangan, arus dan tahanan, kegiatan belajar 2: Merangkai
hubungan seri, parallel dan kombinasi,
kegiatan belajar 3: Memeriksa
kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan
4 : menggunakan
Electric Wire 5: Menggunakan electrical wire conector, kegiatan belajar 6:
Multimeter, kegiatan belajar 7: Perbaikan ringan pada rangkaian.
Uji kompetensi dilakukan secara teroritis dan praktik.
Uji teoritis
dengan siswa menjawab pertanyaan yang pada soal evaluasi, sedangkan
uji praktik dengan meminta siswa mendemontrasikan kompetensi yang
harus dimiliki dan guru/instruktur menilainya. Siswa dapat melanjutkan ke
modul berikutnya bila memenuhi criteria kelulusan.
Penyusun menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan modul
ini, sehingga saran dan masukan yang konstruktif sangat penyusun
harapkan. Harapannya semoga modul ini dapat dipergunakan sebaikbaiknya dan banyak memberikan manfaat.
Sidoarjo, Juli 2005
Penyusun,
i
DAFTAR ISI MODUL
Halaman
HALAMAN SAMPUL ……………………………………………….……………………………
i
HALAMAN FRANCIS ……………………………………………….……………………………
ii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………
iii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………
iv
PETA KEDUDUKAN MODUL …………………………………………………………………
vii
PERISTILAHAN/GLOSARIUM ………………………………………………………………
ix
I. PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………
1
A. DESKRIPSI JUDUL …………………………………………………………………………
1
B. PRASYARAT ……………………………………………………………………………………
2
C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ……………………………………………………
2
1. Petunjuk Bagi Siswa …………………………………………………………………
2
2. Petunjuk Bagi Guru ………………………………………………………………………………
3
D. TUJUAN AKHIR ………………………………………………………………………………
3
E. KOMPETENSI …………………………………………………………………………………
4
F. CEK KEMAMPUAN …………………………………………………………………………
6
II. PEMELAJARAN ………………………………………………………………………………
9
A. RENCANA BELAJAR SISWA……………………………………………………………
9
B. KEGIATAN BELAJAR ………………………………………………………………………
9
1. Kegiatan Belajar 1 : Jenis-jenis dan ...........……………………… 9
a. Tujuan kegiatan belajar 1
………………………………………… 9
b. Uraian materi 1 …………………………………………………………………
10
c. Rangkuman 1 ………………………………………………………………………
23
d. Tugas 1 ………………………………………………………………………………
23
e. Tes formatif 1 …………………………………………………………… 24
f. Kunci jawaban formatif 1 ……………………………………………………
25
g. Lembar kerja 1 …………………………………………………………………
33
2. Kegiatan Belajar 2 : Merangkai,
a. Tujuan kegiatan belajar 2
ii
..........................…………35
…………………………………………35
b. Uraian materi 2 ……………………………………………………………………
35
c. Rangkuman 2 ………………………………………………………………………
44
d. Tugas 2 ………………………………………………………………………………
45
e. Tes formatif 2 ……………………………………………………………………
46
f. Kunci jawaban formatif 2 ……………………………………………………
47
g. Lembar kerja 2 ………………………………………………………………
49
3. Kegiatan Belajar 3 : Memeriksa
a. Tujuan kegiatan belajar 3
..........................…………50
…………………………………………50
b. Uraian materi 3 ……………………………………………………………………
50
c. Rangkuman 3 ………………………………………………………………………
58
d. Tugas 3 ………………………………………………………………………………
58
e. Tes formatif 3 ……………………………………………………………………
58
f. Kunci jawaban formatif 3 ……………………………………………………
58
g. Lembar kerja 3 …………………………………………………………………
59
4. Kegiatan Belajar 4 : Menggunakan, ..........................…………61
a. Tujuan kegiatan belajar 4
…………………………………………61
b. Uraian materi 4 ……………………………………………………………………
61
c. Rangkuman 4 ………………………………………………………………………
70
d. Tugas 4 ………………………………………………………………………………
71
e. Tes formatif 4 ……………………………………………………………………
71
f. Kunci jawaban formatif 4 ……………………………………………………
72
g. Lembar kerja 4 …………………………………………………………………
73
5. Kegiatan Belajar 5 : Menggunakan, ..........................…………75
a. Tujuan kegiatan belajar 5
…………………………………………75
b. Uraian materi 5 ……………………………………………………………………
75
c. Rangkuman 5 ………………………………………………………………………
81
d. Tugas 5 ………………………………………………………………………………
81
e. Tes formatif 5 ……………………………………………………………………
81
f. Kunci jawaban formatif 5 ……………………………………………………
82
g. Lembar kerja 5 …………………………………………………………………
83
6. Kegiatan Belajar 6 : Menggunakan, ..........................…………85
iii
a. Tujuan kegiatan belajar 6
…………………………………………85
b. Uraian materi 6 ……………………………………………………………………
85
c. Rangkuman 6 ………………………………………………………………………
92
d. Tugas 6 ………………………………………………………………………………
93
e. Tes formatif 6 ……………………………………………………………………
93
f. Kunci jawaban formatif 6 ……………………………………………………
94
g. Lembar kerja 6 …………………………………………………………………
96
III. EVALUASI ………………………………………………………………………………………
99
A. PERTANYAAN …………………………………………………………………………………
99
B. KUNCI JAWABAN ……………………………………………………………………………
101
C. KRITERIA KELULUSAN ……………………………………………………………………
104
IV.PENUTUP …………………………………………………………………………………………
105
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………
106
iv
PETA KEDUDUKAN MODUL
A. Diagram Pencapaian Kompetensi
Diagram ini menunjukkan tahapan atau tata urutan pencapaian kompetensi yang dilatihkan pada peserta diklat
dalam kurun waktu tiga tahun, serta kemungkinan multi entry–multi exit yang dapat diterapkan.
vii
B. Kedudukan Modul
Modul dengan kode OPKR 50-002 B tentang “PERBAIKAN RINGAN
PADA RANGKAIAN / SISTEM KELISTRIKAN” ini merupakan prasyarat
untuk menempuh modul OPKR 50-007 B.
vi
PERISTILAHAN / GLOSSARY
Nukleus adalah inti atom.
Ampere adalah satuan arus listrik yang dinamakan menurut ahli fisika
berbangsa Perancis, Andre Marie Ampere (1775 – 1836).
Ohm
adalah Satuan tahanan listrik. Dinamakan menurut ahli fisika
berbangsa Jerman, Georg Simon Ohm (1789 – 1854).
Volt adalah Satuan tegangan listrik. Dinamakan menurut ahli fisika
berbangsa italia, Alexandro Volta (1745 – 1827).
Frame adalah tempat penopang dan menempelnya body
Link adalah sambungan yang menghubungkan bagian satu dengan
bagian lain dalam suatu sistem
Pin adalah bagian yang berfungsi sebagai pengunci agar lingk tidak
terlepas
Pitch adalah jarak antara puncak satu dengan puncak yang lainnya
Shoe adalah sepatu yang langsung berhubungan dengan tanah
Shoe Bolt adalah baut untuk pengikat shoe
Toe-In adalah suatu keadaan perubahan kelurusan track frame kiri dan
kanan ketika permukaan idler menuju kedalam mendekati center
line of tractor
Toe-Out adalah suatu keadaan perubahan kelurusan track frame kiri dan
kanan ketika permukaan idler menuju keluar menjauhi center line
of tractor
Torque adalah momen puntir yang diberikan untuk mengencangkan
benda
Underrcariage adalah kerangka bawah dari crawler tractor yang
berfungsi sebagai pembawa dan pendukung unit
-0-
BAB I
PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI
Modul Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan dengan kode
OPKR 50-002 B berisi
materi
dan informasi tentang dasar listrik,
pemeriksaan kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan,
pengkabelan, conector, dan multi tester. Materai diuraikan dengan
pendekatan praktis disertai ilustrasi yang cukup agar siswa mudah
memahami bahasan yang disampaikan.
Modul ini disusun dalam 7 kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1:
Mengukur tegangan, arus dan tahanan, kegiatan belajar 2: Merangkai
hubungan seri, parallel dan kombinasi, kegiatan belajar 3: Memeriksa
kerusakan ringan pada rangkaian/system kelistrikan, Kegiatan belajar
4: menggunakan
Electric Wire, kegiatan belajar 5: Menggunakan
electrical wire conector dan kegiatan belajar 6: Multimeter, Kegiatan
belajar 7: Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan.
Setiap kegiatan belajar berisi tujuan, materi, dan diakhir materi
disampaikan rangkuman yang memuat intisari materai, dilanjutkan test
formatif. Setiap siswa harus mengerjakan test tersebut sebagai
indicator penguasaan materi, jawaban test kemudian diklarifikasi
dengan kunci jawaban. Guna melatih keterampilan dan sikap kerja yang
benar setiap siswa dapat berlatih dengan pedoman lembar kerja yang
ada.
Diakhir modul terdapat evaluasi sebagai uji kompetensi siswa. Uji
kompetensi dilakukan secara teroritis dan praktik. Uji teoritis dengan
siswa menjawab pertanyaan yang pada soal evaluasi, sedangkan uji
praktik dengan meminta siswa mendemontrasikan kompetensi yang
harus dimiliki dan guru/instruktur menilai berdasarkan lembar observasi
yang ada. Melalui evaluasi tersebut dapat diketahui
-1-
B. PRASYARAT
Sebelum mempelajari modul ini diharapkan siswa telah berhasil
mencapai kompetensi tentang Pengujian, Pemeliharaan/Servis dan
Penggantian Baterai kode OPKR 50-001 B.
C. PETUNJUK PENGGUNAAN
1. Petunjuk Bagi Siswa
a. Lakukan cek kemampuan untuk mengetahui kemampuan awal
yang anda kuasai, sebelum membaca modul lebih lengkap.
b. Bacalah modul secara seksama pada setiap kegiatan belajar, bila
ada uraian yang kurang jelas silakan bertanya pada guru/
instruktur.
c. Kerjakan setiap test formatif pada setiap kegiatan belajar, untuk
mengetahui seberapa besar pemahaman saudara terhadap materi
yang disampaikan, klarifikasi hasil jawaban saudara pada
kumpulan lembar jawaban yang ada.
d. Lakukan latihan setiap sub kompetensi sesuai dengan lembar
kerja yang ada.
e. Perhatikan petujuk keselamatan kerja dan pertolongan pertama
bila terjadi kecelakaan kerja yang termuat pada lembar kerja.
f. Lakukan latihan dengan cermat, teliti dan hati-hati. Jangan
melakukan pekerjaan yang belum anda pahami dengan benar.
g. Bila saudara merasa siap mintalah guru/intruktur untuk menguji
kompetensi saudara.
2. Petunjuk Bagi Guru/Istruktur
Guru/ intruktur bertindak sebagai fasilitator, motivator, organisator
dan evaluator. Jadi guru/intruktur berperan:
-2-
a. Fasititator yaitu menyediakan fasilitas berupa informasi, bahan,
alat, training obyek dan media yang cukup bagi siswa sehingga
kompetensi siswa cepat tercapai.
b. Motivator yaitu memotivasi siswa untuk belajar dengan giat, dan
mencapai kompetensi dengan sempurna
c. Organisator yaitu bersama siswa menyusun kegiatan belajar
dalam mempelajari modul, berlatih keterampilan, memanfaatkan
fasilitas dan sumber lain untuk mendukung terpenuhinya
kompetensi siswa.
d. Evaluator yaitu mengevaluasi kegiatan dan perkembangan
kompetensi yang dicapai siswa, sehingga dapat menentukan
kegiatan selanjutnya.
D. TUJUAN AKHIR
Tujuan akhir dari modul ini adalah siswa mempunyai kompetensi:
1. Merangkai hubungan seri, parallel dan gabungan .
2. Mengukur tegangan, tahanan dan arus
3. Memeriksa kerusakan ringan pada rangkaian/system kelistrikan
4. Menggunakan electric wire
5. Menggunakan electric wire connector
6. Menggunakan multimeter
7. Memperbaiki kerusakan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan
-3-
E. KOMPETENSI
KOMPETENSI
KODE
: Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan
: OPKR 50-002B
MATERI POKOK PEMELAJARAN
B KOMPETENSI
1. Menguji dan
mengiden-tifikasi
kesalahan
sistem/komponen.
KRITERIA KINERJA
LINGKUP BELAJAR
 Sistem/komponen diuji
tanpa menyebabkan
kerusakan terhadap
komponen atau sistem
lainnya.
 Informasi yang benar
di-akses dari spesifikasi
pabrik dan dipahami.
 Tes/pengujian
dilakukan untuk
menentukan kesalahan/kerusakan dengan
meng-gunakan
peralatan dan teKnik
yang sesuai.
 Mengidentifikasi
kesalahan dan
menentukan langkah
perbaikan yang
diperlukan.
 Seluruh kegiatan
pengujian dilaksanakan
berdasarkan SOP
(Standard Operation
Procedures), undangundang K 3
(Keselamatan dan
Kese-hatan Kerja),
peraturan perundangundangan dan
prosedur/kebijakan
perusa-haan.
 Prinsip kerja sistem kelistrikan otomotif.
 Prosedur pengukuran
dan pengujian
kelistrikan.
 Jenis kerusakan sistem
ke-listrikan dan metoda
per-baikannya.
 Standar prosedur
keselamat-an kerja.
SIKAP
PENGETAHUAN
KETERAMPILAN
 Cermat dan teliti
dalam penggunaan
alat ukur elektronik
 Cermat dan teliti
dalam proses
penyambungan
kabel
 Undang-undang K 3
 Prinsip-prinsip
kelistrikan
 Prosedur perbaikan.
 Pengukuran kelistrikan
dan prosedur
pengujian.
 Persyaratan
keselamatan
kendaraan.
 Prosedur untuk
menghindari kerusakan
pada ECU (Electrical
Control Unit) = unit
pengontrol listrik.
 Melepas,
membongkar,
memeriksa dan
mengu-kur
komponen sistem
kelistrikan serta
merakit kembali
hingga sistem dapat
berfungsi normal
tanpa adanya
kerusakan pada
komponen
 Melaksanakan
pengujian
sistem/komponen
ke-listrikan
 Mengidentifikasi
kesalahan/kerusakan sistem/
komponen untuk
menen-tukan
perbaikan yang diperlukan
MATERI POKOK PEMELAJARAN
B KOMPETENSI
2. Perbaikan ringan
pada rangkaian
kabel.
5
KRITERIA KINERJA
LINGKUP BELAJAR
 Perbaikan ringan pada
rang-kaian kabel
dilaksanakan dengan
tanpa menyebabkan
kerusakan terhadap
kompo-nen atau sistem
lainnya.
 Informasi yang benar
di-akses dari spesifikasi
pabrik dan dipahami.
 Perbaikan yang
diperlukan,
penggantian komponen
dan penyetelan
dilaksanakan dengan
menggunakan peralatan, tehnik dan
material yang sesuai.
 Seluruh kegiatan
perbaikan dilaksanakan
berdasarkan SOP
(Standard Operation
Procedures), undangundang K 3
(Keselamatan dan
Kese-hatan Kerja),
peraturan perundangundangan dan
prosedur/kebijakan
perusa-haan.
 Prinsip kerja sistem
kelistrik-an otomotif.
 Prosedur pengukuran
dan pengujian
kelistrikan.
 Jenis kerusakan sistem
ke-listrikan dan metoda
per-baikannya.
 Standart prosedur
kesela-matan kerja
SIKAP
PENGETAHUAN
 Cermat dan teliti
dalam penggunaan
alat ukur elektronik
 Cermat dan teliti
dalam proses
penyambungan
kabel
 Undang-undang K 3
 Prinsip-prinsip
kelistrikan
 Prosedur perbaikan.
 Pengukuran kelistrikan
dan prosedur
pengujian.
 Persyaratan
keselamatan
kendaraan.
 Prosedur untuk
menghindari kerusakan
pada ECU (Electrical
Control Unit) = unit
pengontrol listrik.
KETERAMPILAN
 Memperbaiki
rangkaian kabel
sistem kelistrikan
serta merakit
kembali hingga
sistem dapat
berfungsi normal
tanpa adanya
kerusakan pada
komponen
F. CHEK KEMAMPUAN
vi
Jawaban
Y B. Ti
a
d
a
k
C.
D.
A.
Sub Kompetensi
V. Pernyataan
1. Mengukur
tegangan,
tahanan dan arus
1) Saya dapat mengganbarkan struktur benda dan
electron bebas dengan benar
2) Saya dapat menjelaskan perbedaan listrik statis
dengan listrik dinamis dengan benar
3) Saya dapat menjelaskan teori aliran listrik
dengan benar
4) Saya dapat menjelaskan pengertian arus listrik
dan cara mengukurnya dengan benar
5) Saya dapat menjelaskan pengertian tegangan
listrik dan cara mengukurnya dengan benar
6) Saya dapat menjelaskan pengertian tahanan
listrik dan cara mengukurnya dengan benar
7) Saya dapat menjelaskan Hukum Ohm dengan
benar
8) Saya dapat menjelaskan daya listrik dengan
benar
Bila jawaban
“Ya” kerjakan
Test Formatif 1
Sub Kompetensi
2. Merangkai
hubungan seri,
parallel dan
gabungan
vii
Jawaban
Y B. Ti
a
d
a
k
E.
F.
A.
V. Pernyataan
1) Saya dapat merangkai seri dua atau lebih
kompenen dan menentukan tahanan, arus dan
tegangannya
2) Saya dapat merangkai paralel dua atau lebih
kompenen dan menentukan tahanan, arus dan
tegangannya
3) Saya dapat merangkai kombinasi tiga atau lebih
kompenen dan menentukan tahanan, arus dan
tegangannya
4) Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian
seri
5) Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian
paralel
6) Saya dapat menjelaskan karakteristik rangkaian
kombinasi
Bila jawaban
“Ya” kerjakan
Test Formatif 2
G.
H.
Sub Kompetensi
3. Memeriksa
kerusakan ringan
pada
rangkaian/system
kelistrikan
4.Menggunakan
electric wire
viii
A.
V. Pernyataan
I.
1) saya dapat menyebutkan tiga type gangguan
pada rangkaian/system kelistrikan
2) Saya dapat menjelaskan penyebab nilai tahan
dalam rangkaian menjadi bertambah
3) Saya dapat menyebutkan peralatan yang dapat
digunakan untuk memeriksa gangguan pada
rangkaian
4) Saya dapat menggunakan jumper wires
5) Saya dapat menggunakan tes lamp
6) Saya dapat menyebutkan keuntungan
menggunakan tes lamp disbanding jumper
1) Saya dapat menyebutkan macam kabel yang K.
digunakan pada kendaraan
2) Saya dapat mengidentifikasi kode warna yang
digunakan pada kabel
3) Saya dapat menentukan ukuran kabel yang
digunakan
4) Saya dapat menjelaskan metode memperbaiki
kabel
Jawaban
Y B. Ti
a
d
a
k
J.
Bila jawaban
“Ya” kerjakan
Test formatif 3
L.
Test formatif 4
Sub Kompetensi
ix
V. Pernyataan
Saya dapat menyebutkan macam Electric wire
connector
2) Saya dapat melepas dan memasang Electric
wire connector
3) Saya dapat memelihara Electric wire connector
4) Saya dapat mengganti Electric wire connector
5.Menggunakan
electric wire
connector
1)
6.Menggunakan
multimeter
1) Saya dapat menentukan jenis multimeter
2) Saya dapat menyebutkan bagian dan fungsi
multi meter
3) Saya dapat menggunakan multi meter untuk
mengukur tahanan, tegangan dan arus listrik
1) Saya dapat membedakan kondisi sekering putus
dan baik
2) Saya dapat menentukan ukuran ampere dari
sekering
3) Saya dapat mengganti sekering putus dengan
sekering baik
4) Saya dapat membedakan bohlam putus dan
baik
5) Saya dapat menentukan ukuran bohlam
6) Saya dapat mengganti bohlam
7.Perbaikan ringan
pada
rangkaian/sistem
kelistrikan
Jawaban
Y B. Ti
a
d
a
k
M.
N.
A.
Bila jawaban
“Ya” kerjakan
Test formatif 5
O.
P.
Test formatif 6
Q.
R.
Test formatif 7
3. Kegiatan Belajar 3 : Memeriksa kerusakan ringan pada
rangkaian/system kelistrikan
a. Tujuan kegiatan belajar 3
Setelah mempelajari modul ini, siswa dapat:
1) Menyebutkan penyebab terjadinya nilai tahanan membesar
2) Menyebutkan penyebab terjadinya hubung singkat
3) Menyebutkan peralatan yang biasa digunakan memeriksa
gangguan pada rangkaian kelistrikan
4) Menggunakan peralatan untuk memeriksa gangguan pada
rangkaian kelistrikan
b. Uraian materi kegiatan belajar
Gangguan pada rangkaian kelistrikan yang umum terjadi ada tiga
macam yaitu:
1) Gangguan pada rangkaian karena nilai tahanan membesar
2) Gangguan karena hubung singkat
3) Ganguan dari komponen-komponen kelistrikan itu sendiri.
Gangguan – gangguan ini jika tidak ditangani dengan benar,
maka akan menyebabkan rangkaian kelistrikan tidak bekerja
dengan normal atau bahkan akan berpotensi menimbulkan
kerusakan yang lebih parah pada komponen – komponen
rangkaian.
Agar rangkaian kelistrikan tersebut dapat bekerja secara normal
kembali,
maka
diperlukan
pemeriksaan
pada
komponen–
komponen rangkaian. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan
dimana gangguan itu terjadi dan penyebabnya. Jika letak dan
penyebab gangguan sudah diketahui maka langkah berikutnya
adalah melakukan perbaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan.
Gangguan rangkaian kelistrikan karena nilai tahanan
membesar
Gangguan ini biasanya disebabkan Karena rangkaian terbuka atau
terjadinya korosi pada bagian–bagian tertentu dari rangkaian,
dapat
juga disebabkan karena kontak saklar yang tidak baik/kotor.
Gambar 23. Gangguan yang disebabkan nilai tahanan membesar
Gambar 23.a menunjukkan bahwa, lampu tidak menyala akibat
rangkaian terputus atau terbuka, dan arus tidak dapat mengalir.
Sedangkan gambar b lampu tidak menyala/redup diakibatkan
arus yang mengalir ke lampu terlalu kecil, karena nilai tahanan
membesar. Nilai tahanan dapat membesar karena saklar kotor
atau sambungan kabel berkarat/korosi.
Gangguan karena hubung singkat
Hubung singkat dapat terjadi apabila ada kabel penghantar yang
berhubungan langsung dengan penghantar lain atau pada ground.
Gambar 24. Gangguan karena hubung singkat
Gambar 24.a
menunjukkan adanya hubung singkat diantara
dua kabel penghantar. Lampu A seharusnya tidak menyala,
sedangkan lampu B menyala. Akibat adanya hubung singkat
antara kabel lampu A dan kabel lampu B, maka lampu A ikut
menyala.
Sedangkan gambar 24.b lampu pada rangkaian tidak menyala
akibat adanya hubung singkat antara kabel dengan ground,
sekering pada rangkaian dapat terputus karena arus yang
mengalir terlalu besar.
Gangguan karena kerusakan komponen
Kerusakan pada komponen kelistrikan adalah penyebab utama
rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja.
Gambar 25. Gangguan akibat kerusakan komponen
Gambar 25.a menerangkan lampu tidak menyala karena filamen
lampu terputus.
Gambar 25.b menunjukan adanya kerusakan pada batere baik
pada kotak batere ataupun korosi pada terminal–terminalnya dan
ini menjadikan batere tidak dapat mensuplai kebutuhan energi
pada rangkaian dan pada akhirnya rangkaian kelistrikan tidak
dapat bekerja.
Peralatan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian /
system kelistrikan.
Macam-macam peralatan yang dapat digunakan untuk memeriksa
gangguan pada rangkaian kelistrikan seperti pada gambar
dibawah.
Peralatan
ini
biasa
digunakan
untuk
memeriksa
kontinuitas dari suatu rangkaian dan mengukur nilai tahanan,
arus atau tegangan dari suatu rangkaian kelistrikan.
n
g
g
u
n
a
k
a
n
A
m
p
e
r
Gambar 26. Macam-macam peralatan pemeriksa rangkaian
Peralatan-peralatan yang biasa digunakan antara lain:
a) Jumper wire
b) Test lamp
c) Self-Powered test light
d) AVO Digital
e) AVO Analog
f) VOLT – AMP Tester
g) Combination meter/Digital probe
Menggunakan
Jumper
wires
kontinuitas rangkaian kelistrikan.
untuk
memeriksa
Sering kali rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja karena tidak
adanya kontinuitas pada rangkaian tersebut, untuk memeriksa
kontinutas dapat digunakan jumper wires seperti yang terlihat
pada gambar 27.
Keselamatan
kerja
yang
harus
diperhatikan
selama
menggunakan jumper wires untuk memeriksa kontinuitas
adalah:
Jangan pernah melakukan by-pass pada lampu, motor, coil atau
beban kelistrikan lainnya. Karena hal ini dapat menyebabkan
kerusakan pada komponen lainnya.
Langkah pemeriksaan:
1). Pastikan saklar dalam posisi ON
2). Memby-pass rangkaian dari titik/bagian yang paling dekat
dengan sumber
3).Jika dengan langkah ini rangkaian sudah bekerja, maka dapat
dipastikan bahwa gangguan itu terjadi pada daerah yang
kita periksa tadi (tidak ada kontinuitas pada posisi ini).
4). Jika pada langkah no.2 telah dikerjakan dan rangkaian tetap
tidak bekerja maka, mulailah melakukan by-pass pada posisi
selanjutnya. Begitu seterusnya sampai ditemukan dimana
letak gangguannya.
G
a
m
b
a
r
2
7
.
B
y
p
a
s
s
d
engan Jumper wires
Menggunakan Tes lamp
Selain dengan jumper wires pemeriksaan kontinuitas dapat
dilakukan
dengan
tes
lamp,
penggunaan
tes
lamp
lebih
menguntungkan dibandingkan jumper karena penggunaan tes
lamp tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pada komponen
kelistrikan yang sedang diperiksa.
Gambar dibawah menunjukkan cara pemeriksaan kontinuitas
pada rangkaian, jika tes lamp nyala berarti ada kontinuitas antara
titik yang diperiksa dengan sumber arus/positip batere, sebaliknya
jika tes lamp tidak nyala berarti tidak ada kontinuitas.
Gambar 28. Pemeriksaan kontinuitas dengan tes lamp
Langkah pemeriksaan :
1). Pastikan bahwa batere dalam kondisi baik
2). Pastikan saklar pada posisi ON
2).
Hubungkan
penjepit
dari
tes
lamp
dengan
negatip
batere/ground
3). Hubungkan colok tes lamp pada terminal sekring, jika lampu
tes menyala berarti ada kontinuitas antara positip batere
dengan kaki depan sekring jika lampu tidak nyala berarti
jaringan kabel antara positip batere dengan kaki sekring
terputus.
4). Lakukan pemeriksaan tahap berikutnya pada saklar, konektor
seperti
gambar
29.
sampai
menemukan
tidak
kontinuitas dengan ditandai tes lamp tidak nyala.
adanya
c. Rangkuman kegiatan belajar 3
Tiga tipe gangguan yang sering terjadi pada rangkaian/system
kelistrikan yaitu: Gangguan karena nilai tahanan naik, hubung
singkat dan kerusakan komponen.
Ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk memeriksa
gangguan rangkaian diantaranya jumper wires, tes lamp, AVO
digital ataupun analog. Pada saat pemeriksaan ganguan harus
diperhatikan cara penggunaan alat yang digunakan sebab jika
salah menggunakan alat dapat menyebabkan kerusakan pada
komponen yang diperiksa.
d. Tugas kegiatan belajar 3
Buatlah tes lamp dari komponen-komponen yang mudah didapat
e. Test formatif kegiatan belajar 3
1) Faktor apa saja yang menyebabkan nilai tahanan pada
rangakaian kelistrikan bertambah.
2) Jelaskan apa yang tidak boleh dilakukan saat pemeriksaan
kontinuitas rangkaian menggunakan jumper wire.
3) Bagamana cara menggunakan tes lamp untuk memeriksa
kontinuitas rangkaian kelistrikan
4) Jelaskan keuntungan menggunakan tes lamp disbanding
jumper wire.
f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar 3
1) - Gangguan karena nilai tahanan membesar.
- Gangguan karena hubung singkat
- Gangguan karena kerusakan komponen
2) Faktor penyebab nilai tahanan bertambah antara lain:
a) Adanya rangkaian yang terbuka/terputus
b) Timbulnya korosi/karatan pada sambungan
3) Hal yang tidak diperbolehkan dalam pemerikaan kontinuitas
dangan jumper wire adalah:
Membay-pass beban kelistrikan baik lampu,motor atau beban
lain
4) Cara menggunakan tes lamp untuk pemeriksaan kontinuitas
rangkaian, adalah:
a) Menghubungkan jepit tes lamp dengan negatip batere atau
ground
b) Menghubungkan colok tes lamp dengan titik pada rangkaian
yang akan diperiksa.
5) Keuntungan menggunakan tes lamp dibandingkan jumper wire
adalah: tes lamp tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pada
komponen rangkaian yang diperiksa.
g. Lembar kerja kegiatan belajar 3
Tujuan :
Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :
1) Menggunakan jumper wire
2) Menggunakan tes lamp
3) Menentukan letak gangguan dari hasil pemeriksaan.
4) Menyimpulkan hasil pemeriksaan
Alat dan Bahan
1) Trainer kelistrikan body standart
2) Baterai 12V
3) Jumper wire
4) Tes lamp
Keselamatan Kerja
1) Tidak
diperkenankan
Memby-pass
batere
karena
dapat
menyebakan kerusakan pada batere.
2) Tidak diperkenankan memby-pass beban kelistrikan.
Langkah Kerja
1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2) Lakukan pemeriksaan kontinuitas dengan jumper dan tes lamp.
Memeriksa kontinuitas dengan jumper:
1) Rangkaikan kelistrikan body standart yang akan diperiksa
2) By-pass dengan jumper pada bagian titik kabel yang terdekat
dengan sumber arus.
3) Perhatikan hasil pemeriksaan ada perubahan kerja atau tidak,
4) Lanjutkan pemeriksaan pada titik–titik berikutnya.
Mengukur kontinuitas dengan tes lamp:
1) Rangkaikan kelistrikan body standart yang akan diperiksa
2) Hubungkan jepit tes lamp dengan negatip sumber arus.
3) Hubungkan colok tes lamp pada titik yang terdekat dengan
sumber arus positip.
4) Perhatikan hasil pemeriksaan apakah lampu tes menyala atau
tidak.
5) Tarik kesimpulan dari hasil pemeriksaan
6) Lanjutkan pemeriksaan pada titik berikutnya.
7) Ambil kesimpulan akhir, tentukan letak gangguan rangkaian
8)Bersikah alat dan tempat kerja, kembalikan alat dan bahan ke
tempat semula
Tugas:
Analisisa data hasil pemeriksaan, buatlah laporan
4. Kegiatan Belajar 4
: Menggunakan electric wire
a. Tujuan Kegiatan Belajar 4
Setelah mempelajari modul ini siswa dapat:
5) Menyebutkan macam kabel yang digunakan pada kendaraan
6) Mengidentifikasi kode warna yang digunakan pada kabel
7) Menentukan ukuran kabel yang digunakan
8) Menjelaskan fungsi dan macam konektor
9) Menjelaskan metode memperbaiki kabel
b. Uraian materi kegiatan belajar 4
Kabel (Wires)
Kabel merupakan konduktor digunakan sebagai media
mengalirkan listrik. Terdapat beberapa tipe kabel, diataranya:
1) Kabel yang terbungkus isolator tipe pejal dan tipe serabut.
Kabel tipe serabut yang paling banyak digunakan pada
kelistrikan otomotif.
2) Kabel tanpa isolator, kabel jenis ini digunakan sebagai kabel
bodi/ ground. Kabel ini menghubungkan antara blok mesin
dengan bodi/ rangka kendaraan.
Gambar 30. Macam kabel
Berdasarkan besar arus mengalir kabel dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1) Kabel diameter kecil yaitui kabel yang digunakan untuk beban lampu
dan asesoris lainnya.
2) Kabel diameter besar yaitu kabel yang digunakan untuk kabel baterai.
Kode Warna Kabel
Guna mempermudah identifikasi maupun penelusuran bila terjadi
kerusakan pada rangkaian kelistrikan maka isolator kabel dibuat warna.
Pada wiring diagrams warna kabel ditunjukkan dalam kode abjad, karena
terbatasnya warna maka warna isolator kabel ada yang model diberi garis
strip. Pengkode kabel model ini warna kabel yang dominan diletakan
depan sedangkan strip diletakkan dibelakang. Contoh: kabel satu warna
dengan kode “B” berarti warna kabel adalah hitam (black), sedangkan
kode “B-W” berarti warna kabel adalah hitam strip putih (white).
Tabel 1
Kode Warna Kabel
Warna
Black (hitam)
Brown (coklat)
Green (hijau)
Gray (abu-abu)
Blue (biru)
Light Blue
(hijau muda)
Kode
B
BR
G
GR
L
LG
Warna
Orange (oranye)
Pink(merah muda)
Red (merah)
Violet (ungu)
White (putih)
Yellow (kuning)
Kode
O
P
R
V
W
Y
Hubungan Antara Diameter dan Panjang Kabel dengan Tahanan
Listrik
Tahanan listrik berbanding lurus dengan panjang kabel tetapi berbanding
terbalik dengan diameter kabel. Ini berarti semakin panjang kabel listrik,
semakin besar pula tahanannya, tetapi semakin besar diameter kabel
listrik semakin kecil tahanannya. Berdasarkan pengertian diatas tahanan
suatu kabel listrik dapat dihitung dengan rumus berikut :
R=.
R

l
A
=
=
=
=
l
A
Tahanan listrik ………………. 
Tahanan jenis ………………. m
Panjang kabel ………………. m
Luas penampang kabel …….. m2
Tabel 2. Tahanan jenis pada temperature 20 ºC
Bahan
Almunium
Besi
Emas
Perak
Platina
Tembaga
 /m
2,75 x 10-8
9,68 x 10-8
2,44 x 10-8
1,62 x 10-8
10,6 x 10-8
1,69 x 10-8
 /m
5,25 x 10-8
48,2 x 10-8
3 x 10-5
5 x 10-1
0,1 - 60
109 - 1012
Bahan
Tungsten
Mangan
Karbon
Germanium
Silikon
Kaca
Menentukan Ukuran Kabel
Dari rumus di atas dapat dilihat bahwa semakin panjang
kabel
semakin besar tahanan listriknya, dan semakin kecil kabel
tahanan semakin besar. Guna memudahkan pemakaian maka SAE
( Society of Automotive Engineer) mengeluarkan pedoman AWG
(American Wire Gauge) seperti table berikut ini:
Tabel 3. Ukuran Kabel
Metric
SAE
AWG
Ohm
(mm2)
(gage)
0,5
20
10,0
0,8
18
6,9
1,0
16
4,7
2,0
14
2,8
3,0
12
1,8
5,0
10
1,1
8,0
8
0,7
13,0
6
0,4
19,0
4
0,3
feet
per
1000
32,0
2
0,2
40,0
1
0,14
50,0
0
0,11
62,0
00
0,09
Contoh :
Tentukan besar tahanan untuk kabel 14 gage, dengan
panjang 18 feet.
Dari table diatas dapat diketahui tahanan kabel 14 gage
adalah 2,8 Ohm tiap 1000 feet atau 0,0028 ohm per feet,
sehingga besar tahanan = 0,0028 x 18 = 0,05 Ohm.
Pemilihan kabel yang digunakan pada sistem kelistrikan
tergantung dari besar arus yang akan mengalir atau beban.
Semakin besar arus yang mengalir atau semakin besar beban
semakin kesar ukuran kabel yang digunakan. Selain besar arus
dan beban juga dipengaruhi jarak antara sumber dengan beban.
Guna mempermudah pemilihan SAE mengeluarkan pedoman
pemilihan kabel seperti tabel berikut ini
Tabel 4. Pedoman Pemilihan Ukuran Kabel (Wire Gage)
Arus
Daya
Panjang Kabel (feet)
Amp
Watt
3
5
7
10
15
20
25
30
1
12
20
20
20
20
20
20
20
20
1,5
18
20
20
20
20
20
20
20
20
2
24
20
20
20
20
20
20
20
20
3
36
20
20
20
20
20
20
20
20
4
48
20
20
20
20
20
20
20
18
5
60
20
20
20
20
20
20
18
18
6
72
20
20
20
20
20
18
18
18
7
84
20
20
20
20
18
18
18
16
8
96
20
20
20
18
18
18
16
16
10
120
20
20
20
18
18
16
16
16
11
132
20
20
20
18
16
16
16
14
12
144
20
20
20
18
16
16
14
14
15
180
20
20
20
18
16
14
14
12
18
216
20
20
18
16
14
14
12
12
20
240
20
20
18
16
14
12
12
10
22
264
20
18
16
14
12
12
10
10
Contoh :
Tentukan ukuran kabel untuk lampu penerangan dengan daya 200 W, bila jarak lampu sampai sumber listrik sejauh 18 feet.
Tentukan pula penurunan tegangan akibat panjang kabel.
Besar arus yang mengalir adalah I = P / V = 200 /12 = 16,6 A
Ukuran kabel untuk daya 200W dengan jarak 18 feet dari table diatas adalah 14 gage atau luas penampang 2,0 mm2 .
Dari table diatas dapat diketahui tahanan kabel 14 gage adalah 2,8 Ohm tiap 1000 feet atau 0,0028 ohm per feet, sehingga
besar tahanan = 0,0028 x 18 = 0,05 Ohm. Dengan demikian besar voltage drop sebesar V = I x R = 16,6 x 0,05 = 0, 83
Volt.
Hubungan Antara Temperatur dan Tahanan Listrik
Tahanan listrik pada konduktor akan berubah dengan adanya perubahan
temperatur konduktor/kabel. Biasanya tahanan listrik akan naik bila
temperatur naik. Hal tersebut dapat dipahami dengan cara berikut. Bila
sebuah lampu yang dihubungkan denga baterai dengan sebuah kawat
tembaga, kemudian kawat tersebut dipanaskan dengan api maka lampu
tersebut semakin lama akan semakin redup.
Gambar 31. Beberapa FaKtor Yang Mempengaruhi Nilai Tahanan
Tahanan Sambungan
Tahanan sambungan adalah tahanan yang diakibatkan oleh sambungan
yang kendor atau kotor. Bila arus listrik melewati sambungan yang
kendor akan menyebabkan sambungan menjadi panas. Panas ini akan
memperbesar tahanan dan mempercepat timbulnya korosi. Tahanan
sambungan dapat diperkecil dengan membersihkan sambungan dan
mengeraskan sambungan.
Terminal baterai merupakan terminal yang paling sering kendor dan
kotor akibat korosi yang disebabkan asam sulfar dari uap elektrolit
baterai. Akibat terminal kendor dan kotor menyebabkan tahanan
meningkat sehingga menyebabkan gangguan suplai listrik terutama saat
mesin distarter, oleh karena itu terminal ini harus sering diperiksa dan
dibersihkan
Gambar 32. Membersihkan terminal baterai
Tahanan Isolator
Seperti telah dijelaskan bahwa karet, vynil, plastik dan porselin dapat
digunakan untuk menghalangi arus listrik antara konduktor. Sifat dari
bahan-bahan ini disebut kemampuan tahanan isolator dan dinyatakan
dengan nilai tahanan. Dalam kondisi tertentu isolator dapat berubah
menjadi penghantar listrik/ konduktor, misalnya karena retak, bocoran
arus listrik yang akan menimbulkan percikan bunga api dan
menimbulkan kotoran, menempelnya air atau kotoran lain pada isolator.
Gambar 33. Kerusakan isolator kabel listrik
Wire Harness
Wire harness merupakan sekumpulan kabel yang digunakan
pada rangkaian kelistrikan, dimana sekumpulan kabel tersebut
dijadikan satu dengan isolator, agar kabel lebih rapih. Pada ujung
wire harness dipasang konektor sehingga pemasangan sistem
perkabelan lebih mudah.
Gambar 34. Wire Harnes
Memperbaiki Kabel
1) Potong kabel yang rusak, kemudian
kupas kabel dengan tang pengupas
dengan panjang 10 mm
Gambar 35. Mengupas kabel
2) Ukur
diameter
menentukan
kabel
ukuran
untuk
kabel
penyambung yang akan digunakan.
Gambar 36. Mengukur diameter
3) Buat kabel penyambung yang akan
digunakan, masukkan heat shrink
tube ke kabel penyambung.
Gambar 37. Memasukkan heat shrink
4) Sambung
Crimp
kedua
mark,
kabel
kemudian
dengan
solder
sambungan
Gambar 38. Menyolder sambungan
5) Geser heat shrink tube ke kabel
yang disambung, kemudian panasi
heat shrink tube dengan heater.
Gambar 39. Memanaskan heat shrink
c. Rangkuman kegiatan belajar 4
Kabel merupakan konduktor digunakan sebagai media mengalirkan
listrik. Terdapat beberapa tipe kabel diantaranya :
1) Kabel berisolator, contoh kabel yang umum digunakan
2) Kabel tanpa isolator, contoh kabel massa
3) Kabel kecil, contoh kabel yang digunakan secara umum
4) Kabel besar , contoh kabel baterai
Pada wiring diagrams warna kabel ditunjukkan dalam kode abjad, karena
terbatasnya warna maka warna isolator kabel ada yang model diberi garis
strip. Pengkode kabel model ini warna kabel yang dominan diletakan
depan sedangkan strip diletakkan dibelakang. Contoh: kabel satu warna
dengan kode “B” berarti warna kabel adalah hitam (black), sedangkan
kode “B-W” berarti warna kabel adalah hitam strip putih (white).
Guna memudahkan menentukan ukuran kabel yang akan digunakan SAE
( Society of Automotive Engineer) mengeluarkan pedoman AWG
(American Wire Gauge) yang berisi nomor gage, ukuran kabel dan
tahanan tiap 1000 feet. Selain itu juga ada pedoman yang memuat
hubungan arus, panjang kabel dan nomor gage yang digunakan.
Tiap ujung kabel dipasang konektor, bentuk konektor ada bebarapa
macam diantara bentuk bulat maupun bentuk kotak. Jumlah kabel dalam
satu konektor sangat bervariasi mulai dari satu kabel sampai puluhan
kabel.
d. Tugas kegiatan belajar 4
Cari wiring diagram salah satu tipe kendaraan :
1) Identifikasi ukuran dan warna kabel yang digunakan
2) Identifikasi jenis konektor yang digunakan
e. Test formatif kegiatan belajar 4
1) Sebutkan macam kabel yang digunakan pada kendaraaan
2) Tentukan ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn 12V/ 36
W dirangkai paralel, jarak antara horn dengan sumber 3 m.
3) Sebutkan bahan yang sering digunakan untuk isolator kabel
4) Dimana titik-titik yang menjadi sumber gangguan pada kabel
5) Apa yang dimaksud heat shrink tube ?
6) Bagaimana cara menyambung kabel yang putus?
f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar 4
1) Macam kabel yang digunakan pada kendaraan yaitu dilihat dari
serabutnya ada dua yaitu kabel serabut dan kabel pejal, dari
penggunaan isolator yaitu kabel tanpa isolator dan kabel dengan
isolator, dilihat dari ukurannya maka ada kabel kecil dan kabel besar.
2) Ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn
12V/ 36 W
dirangkai paralel, jarak antara horn dengan sumber 3 m.
Panjang kabel : 1 meter= 3,28 feet untuk 3 m = 3 x 3,28 =
feet
9,84
beban : 12 V/ 36 W dirangkai paralel sehingga beban 12 V/ 36 W
+12 V/ 36 W = 12V/ 72 W . Dari data tersebut diklarifikasi dengan
tabel diperoleh ukuran kabel 20, yaitu kabel dengan luasan 0,5 mm2
3) Bahan yang sering digunakan untuk isolator kabel antara lain karet,
vynil, atau plastik.
4) Titik-titik yang menjadi sumber gangguan pada kabel antara lain pada
sambungan, ujung konektor, klem kabel pada bodi dan terminal kabel
5) Heat shrink tube merupakan salah satu model isolator sambungan
kabel dengan metode pemanasan untuk menyusutkan isolator
sehingga isolator dapat mengikat dengan kuat sambungan yang
diisolasi.
6) Cara menyambung kabel yang putus adalah :
a) Putus bagian kabel yang rusak dan kupas isolator pada ujung kabel
kurang lebih 10 mm.
b) Ukur diameter kabel untuk menentukan diameter kabel penyambung.
c) Ukur panjang kabel yang dibutuhkan dengan diameter sama dengan
kabel yang disambung.
d) Masukkan dua heat shrink tube pada kabel penyambung.
e) Sambung kabel yang putus, dan solder sambungan kabel.
f) Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder dan panasi
heat shrink tube.
g. Lembar kerja kegiatan belajar 4
Tujuan :
Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :
1) Menyambungkabel yang putus
2) Memasang terminal kabel
Alat dan Bahan
5) Solder
6) Tang pengupas kabel
7) Kabel, tenol, terminal kabel, heat shring tube
Keselamatan Kerja
Hati-hati terhadap ujung solder saat panas, tempatkan iujung solder pada
tempatnya, hindari ujung solder mengenai kabel listrik.
Jangan memegang ujung solder untuk memastikan solder berfungsi atau
tidak.
Langkah Kerja
3) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
4) Latihan menyambung kabel
a) Potong dua buah kabel dengan panjang 100 mm, kupas isolator
pada ujung kabel kurang lebih 10 mm.
b) Masukkan heat shrink tube pada salah satu kabel.
c) Sambung kabel, kemudian solder sambungan kabel.
d) Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder.
e) Panasi heat shrink tube.
Menyolder sambungan
Memanasi heat shrink
5) Latihan memasang terminal
a) Potong kabel dengan panjang 100 mm, kupas isolator pada ujung
kabel kurang lebih 10 mm.
b) Masukkan heat shrink tube pada kabel.
c) Pasang kabel pada terminal kabel, cepit dengan tang penjepit
terminal, solder sambungan kabel.
d) Geser heat shrink pada sambungan kabel yang telah disolder.
e) Panasi heat shrink tube.
4) Bersikan alat dan tempat kerja, kembalikan ketempat semula.
Tugas
Apa dampak kualitas sambungan kabel yang buruk pada sistem kelistrikan.
5. Kegiatan 5: Menggunakan Wire Conector
a. Tujuan Kegiatan Belajar 5
Setelah membaca modul ini siswa dapat:
1) Menyebutkan macam wire conector
2) Menjelaskan model penguncian wire conector
3) Melepas dan memasang wire conector
4) Memperbaiki wire conector yang rusak
b. Uraian Materi 5
Konektor kabel (Wire conector)
Konektor berfungsi tempat penyambungan kabel pada
sistem kelistrikan, melindungi sambungan dari karat dan
kotoran, dan memungkinkan sambungan dipisah lagi dengan
mudah.
Konektor terdiri dari konektor laki-laki dan konektor
perempuan, rumah konektor terbuat dari plastic, dalam rumah
tersebut terdapat lubang untuk memasukkan terminal kabel.
Jumlah terminal pada konektor sangat beragam mulai dari satu
terminal sampai puluhan terminal.
Agar penyambungan
konektor lebih mudah dan tidak salah maka pada konektor
terdapat nok sehingga bila posisi tidak tepat maka konektor
tidak
dapat
masuk,
sedangkan
untuk
menjamin
agar
sambungan lebih kuat maka dipasang pengunci.
Bentuk Konektor
Bentuk konektor ada bebarapa macam diantara bentuk bulat maupun
bentuk kotak. Jumlah kabel dalam satu konektor sangat bervariasi mulai
dari satu kabel sampai puluhan terminal.
Konektor
perempuan
Konektor
laki-laki
Nok
Gambar 40. Kontruksi Konektor
Saat melepas konektor harus memperhatikan teknik penguncikan yang
digunakan, dan saat menarik konektor tidak boleh menarik kabelnya.
Bagian yang ditarik adalah bagian konektornya. Teknik melepas
penguncian terminal ada beberapa macam diantaranya:
1) Mengangkat pengunci kemudian rumah konektor ditarik
2) Menekan pengunci kemudian rumah konektor ditarik
3) Langsung menarik rumah konektor
Lokasi pengunci :
1) Di tengah
2) Disamping
Gambar 41. Bentuk dan Teknik Penguncian Pada Konektor Kabel.
Gambar 42. Macam Bentuk Konektor dan Jumlah Terminalnya
Melepas dan memasang konektor kabel
Melepas konektor harus hati-hati, cara melepas yang salah dapat
meyebabkan kabel putus. Perhatikan metode penguncian yang
digunakan oleh konektor, jangan menarik kabel saat melepas.
Langkah melepas konektor kabel adalah sebagai berikut
1) Tekan pengunci badan soket konektor dan pisahkan badan konektor
laki dan perempuan (Male dan Famale)
2) Jika sulit terlepas, angkat anti-back comb dari badan konektor dengan
menggunakan obeng, lihat gambar 63.
3) Menggunakan obeng, masukkan obeng ke dalam bagian depan badan
konektor, angkat pengunci penahan dari terminal dan tarik kabelnya
dari konektor.
Gambar 43. Melepas Terminal dari Konektor
Langkah memasang
1) Perhatikan posisi pengunci maupun posisi nok
2) Masukkan terminal konektor sampai pengunci bunyi klik.
3) Pastikan konektor telah terkunci dengan baik dengan cara menarik
konektor tanpa menekan pengunci, konektor tidak boleh terlepas.
Memperbaiki Kerusakan Konektor Kabel
Terminal konektor maupun kabel pada sambungan terminal sering
mengalami gangguan. Gangguan pada terminal adalah karat dan terbakar,
sedangkan pasa sambungan sering kabelnya putus, untuk mengatasi hal
tersebut maka perlu perbaikan konektor kabel.
Langkah perbaikan adalah sebagai berikut:
1) Keluarkan terminal konektor dari rumah konenektor dengan cara
menekan pengunci menggunakan kawat atau obeng (-) ukuran kecil.
Gambar 44 . Melepas Terminal Konektor
2) Dorong terminal konektor keluar.
3) Potong kabel yang rusak, dan kupas isolatornya kurang lebih 10 mm.
4) Ukur diameter kabel untuk menentukan ukuran kabel penyambung yang
akan digunakan.
5) Buat kabel penyambung dengan ukuran kabel yang sama, kupas ujung
kabel, pasang terminal konektor.
Gambar 45. Menyambung Kabel Yang Putus
6) Potong kabel penyambung dengan panjang sesuai kabel yang dibutuhkan,
kupas isolator pada ujung kabel, sambung kedua kabel dengan Crimp
mark, kemudian solder sambungan
7) Geser heat shrink tube ke kabel yang disambung, kemudian panasi heat
shrink tube dengan heater.
8) Ungkit pengunci pada terminal konektor, masukkan terminal konektor ke
rumah konektor sampai bunyi klik, kemudian tarik kabel untuk menguci
apakah terminal konektor sudah terpasang dengan baik.
Gambar 46. Memasang Terminal Konektor
c. Rangkuman 5
Sepasang konektor kabel terdiri dari dua buah, yaitu konektor laki-laki
dan konektor perempuan. Bentuk konektor ada berberapa macam
diantaranya bentuk bulat dan persegi. Jumlah terminal mulai dari satu
buah sampai puluhan buah. Teknik penguncian dengan menekan
maupun mengungkit.
Membuka konektor harus memperhatikan metode penguncianya, jangan
menarik konektor pada kabelnya karena dapat menyebabkan kabel putus.
d. Tugas 5
Cari buku pedoman perawatan salah satu alat berat, rangkum bentuk
konektornya dan teknik penguncian yang diaplikasikan.
e. Test Formatif 5
1) Sebutkan macam bentuk wire conector
2) Jelaskan metode melepas penguncian pada wire conector
3) Jelaskan yang harus diperhatikan saat melepas dan memasang wire
conector.
4) Bagaimana cara mengatasi bila terdapat satu atau lebih terminal
konektor yang rusak?
f. Kunci Jawaban Formatif 5
1) Bentuk konektor kabel ada berberapa macam diantaranya bentuk
bulat dan persegi. Jumlah terminal mulai dari satu buah sampai
puluhan buah
2) Metode
melepas
penguncian
terminal
ada
beberapa
macam
diantaranya:
a) Mengangkat pengunci kemudian rumah konektor ditarik
b) Menekan pengunci kemudian rumah konektor ditarik
c) Langsung menarik rumah konektor
Lokasi pengunci : Di tengah konektor dan disamping rumah konektor
3) Yang harus diperhatikan saat melepas adalah melepas penguncian,
menarik rumah konektor kabel dan tidak boleh menarik kabel.
Sedangkan saat memasang perhatikan bentuk, posisi nok dan posisi
pengunci.
4) Mengatasi terminal konektor yang rusak adalah dengan mengganti
terminal baru, dengan cara mengeluarkan terminal konektor lama,
memotong kabel terminal yang rusak, membuat sambungan kabel
dengan terminal konektor, menyambung kabel dan memasang
terminal konektor pada rumahnya sampai bunyi klik.
g. Lembar Kerja 5
Tujuan :
Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :
3) Menyambung kabel yang putus
4) Memasang terminal konektor
5) Memperbaiki terminal kabel
Alat dan Bahan
8) Solder
9) Tang pengupas kabel
10)
Kabel, tenol, terminal kabel, heat shring tube
11)
Konektor kabel
Keselamatan Kerja
Hati-hati terhadap ujung solder saat panas, tempatkan iujung solder pada
tempatnya, hindari ujung solder mengenai kabel listrik.
Jangan memegang ujung solder untuk memastikan solder berfungsi atau
tidak.
Langkah Kerja
Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
1) Keluarkan terminal konektor dari rumah konenektor dengan cara
menekan pengunci menggunakan kawat atau obeng (-) ukuran kecil
dan dorong terminal konektor keluar.
2) Potong kabel yang rusak, dan kupas isolatornya ± 10 mm.
3) Buat kabel penyambung dengan ukuran kabel yang sama, kupas ujung
kabel, pasang terminal konektor.
4) Potong kabel penyambung dengan panjang sesuai kabel yang dibutuhkan,
kupas isolator pada ujung kabel, sambung kedua kabel dengan Crimp
mark, kemudian solder sambungan.
5) Geser heat shrink tube ke kabel yang disambung, kemudian panasi heat
shrink tube dengan heater.
6) Ungkit pengunci pada terminal konektor, masukkan terminal konektor ke
rumah konektor sampai bunyi klik, kemudian tarik kabel untuk
memastikan apakah terminal konektor sudah terpasang dengan baik.
7) Bersihkan tempat kerja, kembalikan alat yang digunakan ke tempat
semula.
Tugas:
1) Identifikasi jenis dan penyebab kerusakan pada konektor kabel.
2) Buatlah laporan kerja.
6. Kegiatan Belajar 6 : Menggunakan Multi Meter
a. Tujuan kegiatan belajar 6
Setelah mempelajari modul ini, siswa dapat:
5) Menyebutkan bagian-bagian multi meter
6) Menggunakan multi meter untuk mengukur tahanan
7) Menggunakan multi meter untuk mengukur arus
8) Menggunakan multi meter untuk mengukur tegangan
b. Uraian materi kegiatan belajar 6
Multi meter merupakan alat sistem kelistrikan yang mempunyai
multi fungsi yaitu untuk
1) Mengukur arus atau Amper meter
2) Mengukur tegangan atau Volt meter
3) Mengukur tahanan atau Ohm meter
Karena kemampuan sebagai Amper meter (A) , Volt meter (V)
dan Ohm meter (O) maka alat ini juga sering disebut AVO meter.
Model multi meter yang banyak digunakan ada dua, yaitu model
analag dan model digital. Model analog menggunakan jarum
penunjuk, sedangkan model digital langsung menujukkan angka
hasil pengukuran.
Analog
Gambar 47. Model Multi Meter
Multimeter Analog
Digital
Multi meter analog merupakan multi meter dengan penunjukan
jarum ukur, multi meter jenis ini pada saat ini banyak digunakan
karena harganya lebih murah, namum pembacaan hasil ukur lebih
sulit karena sekala ukur pada display cukup banyak.
Bagian-bagian multi meter analog dapat dilihat pada gambar
dibawah ini:
Gambar 48. Multi Meter Analog
Menggunakan Multi meter Analog
1) Mengukur arus listrik
Sebelum menggunakan Amper meter untuk mengukur arus
listrik perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a) Pastikan bahwa arus yang diukur lebih rendah dari skala
ukur yang dipilih, beberapa multi meter mempunyai batas
maksimal 500 mA atau 0,5 A.
b) Metode memasang amper meter pada rangkaian adalah
secara seri, pengukuran secara parallel dapat menyebabkan
multimeter terbakar
c) Pastikan pemasangan colok ukur (test lead) tepat.
Sekala ukur amper meter pada multi meter sangat beragam,
diantara 250 mA dan 20 A. Contoh melakukan pengukuran arus
kurang dari 250 mA.
Langkah mengukur
a) Putar selector ukur kearah 250 mA
b) Pasang alat amper meter secara seri, yaitu colok ukur merah
(+) ke beban atau lampu dan colok ukur hitam (negatip) ke
arah negatip baterai
c) Baca hasil pengukuran pada angka maksimal 25, kemudian
hasilnya kalikan dengan 10.
Gambar 49. Menggunakan Amper Meter
Dari penunjukan alat ukur di atas menunjukkan angka 3, maka
besar arus yang mengalir adalah 3 x 10 = 30 mA.
2) Mengukur tegangan
a) Mengukur tegangan DC
Baterai merupakan salah satu sumber listrik tegangan DC.
Besar tegangan DC yang mampu diukur adalah 0 – 500 Volt
DC. Posisi pengukuran terdiri dari 2,5 V, 10 V, 25 V, 50 V
dan 500 V. Sebelum menggunakan Volt meter untuk
mengukur arus listrik perlu diperhatikan beberapa hal
sebagai berikut:
(1) Pastikan bahwa tegangan yang diukur lebih rendah dari
skala ukur yang dipilih, misal mengukur tegangan baterai
12V DC maka pilih skala 25V DC.
(2) Metode memasang Volt meter pada rangkaian adalah
secara
paralel,
pengukuran
secara
seri
dapat
menyebabkan multimeter terbakar.
(3) Pastikan pemasangan colok ukur (test lead) tepat.
Langkah mengukur tegangan baterai pada rangkaian
(1) Putar selector ukur kearah 25 V DC.
(2) Pasang alat volt meter secara paralel, yaitu colok ukur
merah (+) ke positip baterai dan colok ukur hitam
(negatip) ke arah negatip baterai.
(3) Baca hasil pengukuran pada angka maksimal 25.
Gambar 50 . Menggunakan Volt Meter
Dari penunjukan alat ukur di atas menunjukkan angka 12 V
DC
b) Mengukur tegangan AC
Multi meter mampu mengukur tegangan AC sebesar 0 –
1000 Volt. Posisi pengukuran terdiri dari 10 V, 25 V, 250 V
dan 1000 V.
Sebelum menggunakan Volt meter untuk
mengukur arus listrik perlu diperhatikan beberapa hal
sebagai berikut:
(1) Pastikan bahwa tegangan yang diukur lebih rendah dari
skala ukur yang dipilih, misal mengukur tegangan listrik
sebesar 220 V maka pilih skala 250V AC.
(2) Metode memasang Volt meter pada rangkaian adalah
secara
paralel,
pengukuran
secara
seri
dapat
menyebabkan multimeter terbakar
(3) Pemasangan colok ukur (test lead) dapat dibolak-balik.
Langkah mengukur tegangan listrik
(1) Putar selector ukur kearah 250 V AC
(2) Pasang alat volt meter secara paralel, yaitu memasukkan
colok ukur merah (+)dan colok ukur hitam (-)
pada
lubang sumber listrik.
(3) Baca hasil pengukuran pada angka maksimal 25, kalikan
hasil pengukuran dengan 10.
Gambar 51 . Menggunakan Volt Meter Mengukur Tegangan AC
Dari penunjukan alat ukur di atas menunjukkan angka 10,
maka besar tegangan sumber listrik adalah 10x 10 = 100
Volt AC.
Bila tegangan jaringan seharusnya 220 V, maka
terjadi penurunan tegangan pada sumber listrik.
3) Mengukur tahanan
Sebelum menggunakan Ohm meter untuk mengukur tahanan
perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a) Pastikan bahwa tahanan yang diukur dalam rentang
pengukuran efektif tahanan yang diukur, misal mengukur
tahanan 220 Ω maka pilih skala 1 X, tahanan 800 Ω
menggunakan 10 X, tahanan 8 K Ω menggunakan 1 x 1K.
b) Kalibrasi alat ukur sebelum
digunakan,
dengan
menghubungkan
cara
singkat
colok ukur, dan mengatur
jarum pada posisi 0 (nol).
c) Pengukuran
tidak
boleh
pada rangkian uyang dialiri
listrik, jadi matikan sumber Gambar 52. Mengukur Tahanan Lampu
dan lepas komponen saat
melakukan pengukuran.
Langkah mengukur tahanan
a) Putar selector ukur kearah 1X Ω.
b) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat
colok ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol)
dengan memutar Ohm calibration.
c) Hubungkan colok ukur ke tahanan yang diukur.
d) Baca hasil pengukuran.
Gambar 53. Mengukur Tahanan
Hasil pengukuran menunjukan besar tahanan adalah 9 Ω
Bila posisi pengukuran pada 10 X, maka hasil diatas dikalikan
10, sehingga 9 x 10 = 90 Ω.
Multi Meter Digital
Multi meter digital pada saat ini lebih banyak digunakan karena
hasil lebih akurat dan pembcaan lebih mudah. Pada multi meter
digital terdapat sekala ukur dengan tulisan M (Mega), K (Kilo), m
(milli), U (mikro).
Cara menggunakan multimeter digital sama
dengan multi meter analog. Contoh penggunaan dapat dilihat
pada gambar dibawah ini:
Mengukur kebocoran listrik rangkaian
Mengukur kebocoran tegangan baterai
Mengukur tegangan output terminal relay
Mengukur tahanan terminal relay
Gambar 54. Menggunakan Multimeter Digital
c. Rangkuman kegiatan belajar 7
Multi meter berfungsi untuk mengukur arus atau Amper meter,
mengukur tegangan atau Volt meter, mengukur tahanan
atau
Ohm meter, karena kemampuan tersebut maka alat ini juga sering
disebut AVO meter.
Hal yang harus diperhatikan dlam menggunakan multi meter
antara lain:
1) Posisi skala ukur harus lebih tinggi dari beban yang diukur
2) Melakukan kalibrasi alat
3) Mengukur arus posisi Amper, secara seri
4) Mengukur Tegangan posisi Volt AC atau DC secara parallel
5) Mengukur tahanan tidak boleh ada sumber listrik atau posisi
terlepas.
Penggunakan multi meter analog maupun digital pada dasarnya
sama saja, untuk multi meter digital pembacaan hasilm ukur lebih
mudah.
d. Tugas kegiatan belajar 6
Cari artikel dari internet tentang multi meter Analog dan multi
meter digital
e. Test formatif kegiatan belajar 6
5) Sebutkan fungsi multi meter ?
6) Faktor apa saja yang perlu diperhatikan saat menggunakan
multi meter.
7) Bagamana cara melakukan kalibrasi ohm meter.
8) Jelaskan langkah mengukur tahanan koil pengapian bila
diketahui standard tahanan primer 2 Ω dan tahanan skunder 8
KΩ.
9) Jelaskan dampak mengukur arus listrik dengan cara parallel.
f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar 6
5) Multi meter berfungsi untuk mengukur arus atau Amper meter,
mengukur tegangan atau Volt meter, mengukur tahanan atau
Ohm meter, karena kemampuan tersebut maka alat ini juga
sering disebut AVO meter.
6) Hal yang harus diperhatikan dlam menggunakan multi meter
antara lain:
c) Posisi skala ukur harus lebih tinggi dari beban yang diukur
d) Melakukan kalibrasi alat
e) Mengukur arus posisi Amper, secara seri
f) Mengukur Tegangan posisi Volt AC atau DC secara parallel
g) Mengukur tahanan tidak boleh ada sumber listrik atau posisi
terlepas
7) Kalibrasi alat ukur adalah dengan cara:
a) Menghubungkan singkat colok ukur,
b) Melihat apakah jarum ukur pada posisi 0 (nol), bila tidak
tepat
c) Atur jarum dengan memutar Ohm calibration sampai jarum
pada posisi 0 (nol), bila tidak bias periksa baterai multi meter
8) Langkah mengukur tahanan koil pengapian bila diketahui
standard tahanan primer 2 Ω dan tahanan skunder 8 KΩ, adalah:
Mengukur tahanan primer:
a) Putar selector ukur kearah 1X Ω
b) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat
colok ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan
memutar Ohm calibration.
c) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal
negatip koil pengapian.
d) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan spesifikasi
Mengukur tahanan skunder:
a) Putar selector ukur kearah 1XkΩ
b) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat
colok ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan
memutar Ohm calibration.
c) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal
tegangan tinggi koil pengapian
d) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan sepesifikasi
5) Dampak mengukur arus listrik dengan cara parallel adalah multi
meter akan terbakar karena arus listrik akan mengalir langsung
ke multi meter dengan besar arus tak terhingga.
g. Lembar kerja kegiatan belajar 6
Tujuan :
Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :
5) Menggunakan multi meter untuk mengukur tahanan
6) Menggunakan multi meter untuk mengukur arus
7) Menggunakan multi meter untuk mengukur tegangan
Alat dan Bahan
12) Koil pengapian, baterai 12V, lampu 12V/12W
13) Multimeter
Keselamatan Kerja
3) Posisi skala ukur harus lebih tinggi dari beban yang diukur.
4) Melakukan kalibrasi alat.
5) Mengukur arus posisi Amper, secara seri.
6) Mengukur Tegangan posisi Volt AC atau DC secara parallel.
7) Mengukur tahanan tidak boleh ada sumber listrik atau posisi
terlepas.
Langkah Kerja
6) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
7) Lakukan pengukuran tahanan koil pengapian
Mengukur tahanan primer:
5) Putar selector ukur kearah 1X Ω
6) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat colok
ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan memutar
Ohm calibration.
7) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal negatip
koil pengapian
8) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan spesifikasi
Mengukur tahanan skunder:
8) Putar selector ukur kearah 1XkΩ
9) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat colok
ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan memutar
Ohm calibration.
10) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal
tegangan tinggi koil pengapian
11) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan sepesifikasi
Bagian yang diukur
Posisi selektor
Hasil Pengukuran
Spesifikasi
Primer
2Ω
Skunder
8 KΩ
8) Ukur arus yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu seperti
dibawah ini
a) Putar selector ukur kearah 20 A.
b) Pasang alat amper meter secara seri, yaitu colok ukur merah
(+) ke beban atau lampu dan colok ukur hitam (negatip) ke
arah negatip baterai.
c) Baca hasil pengukuran.
Beban
Arus Teoritis
12V / 12 W
Hasil Pengukuran
A
A
9) Mengukur tegangan baterai
a) Putar selector ukur kearah 25 V DC
b) Pasang alat volt meter secara paralel, yaitu colok ukur merah
(+) ke positip baterai dan colok ukur hitam (negatip) ke arah
negatip baterai
c) Baca hasil pengukuran pada angka maksimal 25
Data Beterai
Hasil Pengukuran
10) Mengukur tegangan sumber listrik
a) Putar selector ukur kearah 250 V AC
b) Pasang alat volt meter secara paralel, yaitu memasukkan
colok ukur merah (+)dan colok ukur hitam (-) pada lubang
sumber listrik.
c) Baca hasil pengukuran pada angka maksimal 25, kalikan
hasil pengukuran dengan 10.
Lokasi sumber listrik
Hasil Pengukuran
11) Bersikah alat dantempat kerja, kembalikan alat dan bahan ke
tempat semula
Tugas:
Analisis data hasil pengukuran saudara, buatlah laporan
f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar 6
9) Multi meter berfungsi untuk mengukur arus atau Amper meter,
mengukur tegangan atau Volt meter, mengukur tahanan atau
Ohm meter, karena kemampuan tersebut maka alat ini juga
sering disebut AVO meter.
10)
Hal yang harus diperhatikan dlam menggunakan multi meter
antara lain:
h) Posisi skala ukur harus lebih tinggi dari beban yang diukur
i) Melakukan kalibrasi alat
j) Mengukur arus posisi Amper, secara seri
k) Mengukur Tegangan posisi Volt AC atau DC secara parallel
l) Mengukur tahanan tidak boleh ada sumber listrik atau posisi
terlepas
11)
Kalibrasi alat ukur adalah dengan cara:
a) Menghubungkan singkat colok ukur,
b) Melihat apakah jarum ukur pada posisi 0 (nol), bila tidak
tepat
c) Atur jarum dengan memutar Ohm calibration sampai jarum
pada posisi 0 (nol), bila tidak bias periksa baterai multi meter
12)
Langkah mengukur tahanan koil pengapian bila diketahui
standard tahanan primer 2 Ω dan tahanan skunder 8 KΩ, adalah:
Mengukur tahanan primer:
a) Putar selector ukur kearah 1X Ω
b) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat
colok ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan
memutar Ohm calibration.
c) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal
negatip koil pengapian.
d) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan spesifikasi
Mengukur tahanan skunder:
a) Putar selector ukur kearah 1XkΩ
b) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat
colok ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan
memutar Ohm calibration.
c) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal
tegangan tinggi koil pengapian
d) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan sepesifikasi
5) Dampak mengukur arus listrik dengan cara parallel adalah multi
meter akan terbakar karena arus listrik akan mengalir langsung
ke multi meter dengan besar arus tak terhingga.
g. Lembar kerja kegiatan belajar 6
Tujuan :
Setelah mencobah lembar kerja ini maka siswa harus dapat :
8) Menggunakan multi meter untuk mengukur tahanan
9) Menggunakan multi meter untuk mengukur arus
10) Menggunakan multi meter untuk mengukur tegangan
Alat dan Bahan
14) Koil pengapian, baterai 12V, lampu 12V/12W
15) Multimeter
Keselamatan Kerja
8) Posisi skala ukur harus lebih tinggi dari beban yang diukur.
9) Melakukan kalibrasi alat.
10) Mengukur arus posisi Amper, secara seri.
11) Mengukur Tegangan posisi Volt AC atau DC secara parallel.
12) Mengukur tahanan tidak boleh ada sumber listrik atau posisi
terlepas.
Langkah Kerja
12) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
13) Lakukan pengukuran tahanan koil pengapian
Mengukur tahanan primer:
9) Putar selector ukur kearah 1X Ω
10) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat
colok ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan
memutar Ohm calibration.
11) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal
negatip koil pengapian
12) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan spesifikasi
Mengukur tahanan skunder:
12) Putar selector ukur kearah 1XkΩ
13) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat
colok ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan
memutar Ohm calibration.
14) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal
tegangan tinggi koil pengapian
15) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan sepesifikasi
Bagian yang diukur
Posisi selektor
Hasil Pengukuran
Spesifikasi
Primer
2Ω
Skunder
8 KΩ
14) Ukur arus yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu seperti
dibawah ini
d) Putar selector ukur kearah 20 A.
e) Pasang alat amper meter secara seri, yaitu colok ukur merah
(+) ke beban atau lampu dan colok ukur hitam (negatip) ke
arah negatip baterai.
f) Baca hasil pengukuran.
Beban
Arus Teoritis
12V / 12 W
Hasil Pengukuran
A
A
15) Mengukur tegangan baterai
d) Putar selector ukur kearah 25 V DC
e) Pasang alat volt meter secara paralel, yaitu colok ukur merah
(+) ke positip baterai dan colok ukur hitam (negatip) ke arah
negatip baterai
f) Baca hasil pengukuran pada angka maksimal 25
Data Beterai
Hasil Pengukuran
16) Mengukur tegangan sumber listrik
d) Putar selector ukur kearah 250 V AC
e) Pasang alat volt meter secara paralel, yaitu memasukkan
colok ukur merah (+)dan colok ukur hitam (-) pada lubang
sumber listrik.
f) Baca hasil pengukuran pada angka maksimal 25, kalikan
hasil pengukuran dengan 10.
Lokasi sumber listrik
Hasil Pengukuran
17) Bersikah alat dantempat kerja, kembalikan alat dan bahan ke
tempat semula
Tugas:
Analisis data hasil pengukuran saudara, buatlah laporan
7. Kegiatan Belajar 7 : Perbaikan ringan pada
rangkaian/sistem kelistrikan
a. Tujuan kegiatan belajar 7
Setelah mempelajari modul ini, siswa dapat:
9) Mengerjakan penggantian bohlam lampu kepala dengan benar
10)Memeriksa kerja lampu kepala
11)Mengerjakan penggantian lampu belakang, lampu rem dan
lampu mundur dengan benar.
12)Memeriksa kerja lampu belakang, lampu rem dan lampu
mundur.
13)Menggunakan multi meter untuk mengukur tegangan
b. Uraian materi kegiatan belajar 7
Mengganti fuse yang putus
Cara Memperbaiki Sekering
Sekering melindungi semua alat elektrik di dalam mobil: Pada
saat aliran arus berlebih, sekering akan " putus" sedemikian
sehingga arus listrik yang berlebih tidak mengalir pada peralatan.
Karena arus yang berlebih itu dapat merusakkan peralatan atau
menimbulkan percikan api. Dengan mengganti sekering yang
putus akan mengembalikan kerja peralatan seperti semula
(sebagai contoh sekering klakson putus akibatnya klakson tidak
bunyi, setelah sekering diganti klakson kembali bunyi). Jika
sekering putus berulang-kali, itu menandakan adanya suatu
masalah dalam rangkaian dan ini memerlukan penanganan lebih
serius.
Langkah-langkah memperbaiki sekering
1).
Matikan mesin sebelum bekerja
periksa
2.
Kotak sekring pada umumnya
sekering
berupa plastik segi-empat.
yang
Beberapamobil mempunyai
menanga
kotak sekring lebih dari satu
ni alat
dan biasanya kotak sekerig
itu. Pada
tambahan berada di dalam
kotak
ruang mesin. Jika sekering
sekering
yang putus tidak berada di
biasanya
bawah dasboard, kemungkinan
dilengka
sekering itu berada pada kotak
pia label
sekering tambahan. ( Gambar
untuk
55)
masingm
a
3.
Bukalah tutup kotak sekring.
s
Ada dua cara untuk
i
menemukan sekering yang
n
tidak baik: Melihat elemen
g alat
sekering apakah putus atau
(Gambar
tidak ( Gambar 56). Atau, jika
5
kamu mengetahui alat yang
7
tidak bekerja contoh, radio
)
, atau lihatlah pada buku
5.
Pe
manual.
riksalah
nomor/u
kuran
sekering
yang
terletak
dibagian
Gambar 55. Lokasi
atas atau
kotak sekering
sisinya.
Dari sini
kita akan
Gambar 56. Sekering
tahu
ukuran
Gambar 57. Kotak sekering
arus dari
sekering
itu. (
Gambar
59 )
4.
Lepaslah sekering yang putus
dengan cara menarik dari kotak
dengan pengungkit sekering
atau dapat juga menggunakan
obeng kecil jika kita tidak dapat
melepaskannya dengan jari (
Gambaran 58).
6.
Pasang
sekering
baru,
dengan
jari
tekanlah
sekering masuk kedalam slot
yang ada dikotak sekering.
Gambar 58. Melepas sekering
Gambar 59. ukuran sekering
Keselamatan kerja:
1. Jangan pernah mengganti sekering dengan ukuran amper yang
lebih besar. Ini dapat merusakan peralatan yang seharusnya
diamankan oleh sekering itu.
2. Pada jenis tertentu sekering mudah pecah, hati-hati saat
melepas atau memasangnya, karena pecahan kacanya dapat
melukai tangan.
1). Mengganti bohlam lampu kepala
Mengganti bohlam lampu kepala yang putus relatif gampang.
Mobil-mobil sekarang pada umumnya menggunakan bohlam type
halogen yang dapat dengan mudah dilepas dari bagian belakang
lampu kepala. Tetapi masih ada juga yang menggunakan model
sealed beam (khususnya pada mobil-mobil tua), pada lampu jenis
ini penggantiannya harus satu set antara bola lampu dan kaca
biasnya.
Gambar 60. Contoh bohlam lampu kepala
Mengganti Bohlam Halogen.
Langkah-Langkah:
1. Tentukanlah bagian mana bohlam yang diganti (kiri/kanan),
2. Lepas soket lampu kepala, buka karet pelindung. Setelah karet
terbuka anda akan melihat klip pengikat dari kawat kemudian
lanjutkan pada langkkah ke 3. (Gambar 1)
3. Lepaskan klip pengikat dengan cara menekannya,. ( Gambar 2)
4. Keluarkan bohlam dari dudukannya, dan siapkan bohlam yang
baru.
(Gambar 3)
5. Hindari menyentuh gelas/kaca pada bohlam halogen yang baru
dengan jari mu. Minyak dari jari mu akan merusak bohlam dan
menyebabkan bohlam mudah terputus.
6. Pasang bohlam halogen Yang baru, pastikan tepat pada
dudukannya.
7. Pasang kembali klip pengikat pada tempatnya.
8. Pasang karet pelindung pada dudukannya.
9. Pasang soket lampu kepala (pastikan menancap dengan kuat).
10.
Nyalakanlah lampu kepala untuk menguji bahwa itu bekerja.
2
1
3
Gambar 61. Penggantian lampu kepala
Keselamatan kerja :
1. Sebelum penggantian bohlam, lepaskanlah terminal negatip
batere.
2. Pastikan kunci kontak off, pada saat terminal batere dilepas
khususnya pada mobil yang dilengkapi dengan ecu. (melepas
terminal batere pada saat kunci kontak ON pada mobil yang
dilengkapi dengan ecu akan menyebabkan kerusakan)
3. Jangan pernah menyentuh kaca pada bohlam halogen.
4. Daya pada bohlam baru harus sama dengan bohlam lama.
2) Mengganti bohlam lampu belakang, lampu rem dan
mundur
Lampu yang dipasang pada mobil mempunyai fungsi yang penting
bagi keselamatan berkendaraan di jalan raya. Jika ada salah satu
lampu yang mati, maka segera harus diganti.
Gambar 62. Bohlam mati karena terbakar
a. Langkah-Langkah:
1. Tentukan bagian bohlam yang akan diganti: Pada beberapa
type lampu belakang, cover lampu dibuka dari luar dengan
melepas sekerup pengikatnya.
2. Lepaskan sekerup pengikat. ( Gambar 63)
3. Lepas bohlam dengan cara menekan dan diputar. ( Gambar 64)
4. Periksa bohlam berapa ukuran daya yang dipakai.
5. Bersihkanlah konektor dengan sikat kawat atau lap dari kotoran
atau karatan. (Gambar 65)
6. Ambil bohlam baru dengan ukuran sama dengan bohlam lama.
7. Pasang bohlam baru dengan cara menekan masuk lalu diputar.
( Gambar 66)
8. Pasang cover lampu belakang.
9. Uji kerja lampu dengan menginjak pedal rem dan memutar
saklar lampu kota (Gambar 67)
Gambar 63. Melepas Cover
Gambar 65. Membersihkan
dudukan bohlam
Gambar 64. Melepas Bohlam
Gambar 66. Memasang Bohlam
Gambar 67. Memeriksa kerja lampu rem
Keselamatan kerja:
1. Lepaslah
terminal
batere
sebelum
memulai
penggantian
bohlam.
2. Pastikan kunci kontak dalam posisi off saat terminal batere
dilepas.
3. Selalu gunakan ukuran bohlam yang sama dengan aslinya saat
penggantian.
c. Rangkuman kegiatan belajar 7
Sekering berfungsi untuk mengamankan jaringan dari kerusakan
akibat, aliran arus yang berlebih. Sekering yang rusak/putus harus
diganti agar peralatan kelistrikan yang ada pada rangkaian bekerja
kembali. Sekering mempunyai ukuran kapasita arus yang boleh
melewatinya, apabila ukuran arus pada sekering diganti lebih
besar maka hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan
kelistrikan yang ada.
Rangkaian sistem kelistrikan diantaranya adalah lampu kepala,
lampu rem, lampu mundur, lampu kota. Apabila bohlam putus
maka lampu tidak menyala, dengan mengganti bohlam baru maka
rangkaian lampu akan menyala kembali.
Pasanglah bohlam baru dengan ukuran yang sama dengan aslinya
agar tidak mengakibatkan gangguan pada rangakaian kelistrikan
yang ada.
d. Tugas kegiatan belajar 7
Mencari contoh bohlam type sealed-beam dan bohlam halogen
yang digunakan pada lampu kepala.
e. Test formatif kegiatan belajar 7
10) Sebutkan ciri-ciri sekering putus ?
11) Faktor apa saja yang perlu diperhatikan saat mengganti
sekering.
12) Sebutkan ciri-ciri bohlam mati?.
13) Jelaskan langkah perbaikan bohlam lampu rem.
14) Apa yang harus diperhatikan saat memegang bohlam
halogen.
f. Kunci jawaban formatif kegiatan belajar 7
13)
Ciri sekering putus, filamen kelihatan putus dan apabila
dilakukan pemeriksaan kontinuitas diantara ke dua ujung
sekering tidak ada kontinuitas.
14)
Faktor yang perlu diperhatikan saat mengganti sekering:
m) Ukuran sekering harus sama dengan sekering yang asli
n) Pemasangan harus benar pada tempatnya.
15)
Ciri-ciri bohlam mati:
a) Filament putus,
b) Dari warna kelihatan hitam habis terbakar
16)
Langkah perbaikan lampu rem:
a) Pastikan terminal batere terlepas
b) Pastikan posisi bohlam lampu rem yang akan diganti.
c) Buka cover penutup bohlam.
d) Lepas bohlam
e) Periksa ukuran bohlam
f) Bersihkan dudukan bohlam dari karat/kotoran
g) Pasang bohlam baru
h) Pasang kembali cover bohlam
i) Pasang terminal batere
j) Cek kerja lampu rem dengan menginjak pedal rem
5) Yang harus diperhatikan saat memegang bohlam halogen adalah
tidak boleh memegang pada kacanya karena dapat
menyebabkab cepat putus.
g. Lembar kerja kegiatan belajar 8
Tujuan :
Setelah mencoba lembar kerja ini maka siswa harus dapat :
11) Menentukan kondisi sekering baik atau rusak
12) Menentukan ukuran sekering
13) Mengganti sekering
14) Menentukan ukuran bohlam
15) Mengganti bohlam
Alat dan Bahan
16) Mobil instruksi
17) Test lamp
Keselamatan Kerja
13) Lepas terminal batere sebelum pekerjaan penggantian
dilakukan.
14) Pastikan kunci kontak OFF saat melepas terminal batere.
15) Hati-hati waktu melepas sekering atau bohlam, karena
mudah pecah.
16) Selalu gunakan ukuran yang sama saat penggantian
sekering dan bohlam.
17) Selalu dilakukan pemeriksaan kerja, saat selesai
penggantian.
Langkah Kerja
18) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
19) Lakukan Penggantian sekering
20) Lakukan penggantian bohlam
Mengganti sekering:
13) Pastikan kunci kontak off dan lepas terminal batere
14) Lepas sekering dengan hati.
15) Periksa ukuran sekering
16) Pasang sekering baru dengan ukuran yang sama
17) Pasang kembali terminal batere, cek kerja sekering dengan
test lamp
Mengganti bohlam lampu rem:
16) Pastikan letak bohlam yang akan ganti
17) Lepas terminal batere
18) Pada kendaraan yang dilengkapi dengan ECU posisi kunci
kontak harus OFF saat terminal batere dilepas
19) Lepas cover lampu rem
20) Lepas bohlam lampu rem
21) Periksa ukuran daya lampu rem
22) Bersihkan dudukan bohlam dari kotoran ataupun karat
23) Pasang bohlam baru dengan ukuran sama dengan yang
diganti
24) Pasang cover lampu rem
25) Pasang terminal batere
26) Periksa kerja lampu rem dengan menginjak pedal rem
Tugas:
Cari jenis-jenis sekering dan analisa ukuran yang dipakai untuk
masing-masing komponen kelistrikan.
BAB III
EVALUASI
A. EVALUASI
1. Uji Kompetensi Pengetahuan (Waktu 120 menit)
15)
Bagaimana mengukur arus listrik?, apa nama alat ukurnya?,
apa satuan ukurannya ?, apa yang dimaksud dengan 1 amper?
16)
Jelaskan karakteristik rangkaian seri, parallel dan kombinasi
17)
Dua resistor dirangkai secara seri. Harga R1= 60 Ω dan R2 =
180Ω, tentukan
besar arus
listrik yang mengalir dan besar
tegangan pada masing masing resistor bila tegangan sumber
sebesar 12V
18)
Sebutkan
tiga
type
gangguan
pada
rangkaian/system
kelistrikan?
19)
Sebutkan peralatan yang biasa digunakan untuk memeriksa
gangguan pada rangkaian/system kelistrikan?
20)
Jelaskan langkah mengukur tahanan koil pengapian bila
diketahui standard tahanan primer 2 Ω dan tahanan skunder 8 KΩ
21)
Tentukan ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya
lampu 12V/60 W dirangkai paralel, jarak antara lampu dengan
sumber 3 m.
22)
Jelaskan metode melepas penguncian pada wire conector
2. Uji Kompetensi Sikap dan Keterampilan
Demonstrasikan dihadapan guru/ instruktur kompetensi saudara
dalam waktu yang telah ditentukan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Total
Kompetensi
Merangkai seri 2 resistor dan mengukur arus dan
tegangannya.
Merangkai paralel 2 resistor dan mengukur arus dan
tegangannya.
Merangkai kombinasi 3 resistor dan mengukur arus dan
tegangannya.
Merangkai selenoid
Mengidentifikasi komponen generator
Mengidentifikasi komponen motor
Membuat sambungan kabel
Menggunakan multimeter
Waktu
15 menit
15 menit
15 menit
5 menit
5 menit
5 menit
10 menit
10 menit
80 menit
B. KUNCI JAWABAN
17) Rangkaian seri mempunyai karakteristik
a) Tahanan total (Rt) merupakan penjumlahan semua tahanan
( Rt = R1 + R2)
b) Arus yang mengalir pada rangkaian sama besar
(It = I1 = I2)
c) Tegangan total (Vt) merupakan penjumlahan tegangan
(Vt = V1 +V2)
Karakteristik rangkaian parallel:
a) Tegangan pada rangkaian sama ,
V = V1 = V2
b) Besar arus yang mengalir tergantung bebannya.
c) Besar arus mengalir merupakan total arus yang mengalir setiap
percabangannya
I = I1
+
I2
d) Besar tahanan total (Rt) atau tahanan pengganti adalah:
R1 x R2
Rt =
R1 + R2
Karakteristik rangkaian Seri Paralel atau kombinasi
a) Tahanan total (Rt)
merupakan penjumlahan tahanan dengan
tahanan pengganti.
Rt = R1 + Rp
b) Tegangan total
pada rangkaian
merupakan
tegangan pada tahanan dan tahanan pengganti.
penjumlahan
(V
=
V1
+ VRp)
c) Besar arus pada rangkaian adalah tegangan dibagi tahanan total
(I = V/ Rt )
18) Besar arus yang mengalir I = V/Rt = 12 / (60+180) = 0,05 A =
50 mA Tegangan pada R1 yaitu V1 = R1 x I = 60 x 50 = 3000 mV
= 3 V .Tegangan pada R2 yaitu
V2 = R2 x I = 180 x 50 = 9000
mV = 9 V.
19) Mengukur arus dengan merangkai secara seri, alat ukur arus listrik
adalah Amper meter,
satuan amper, dan pengertian
adalah Perpindahan elektron sebanyak 6,25 x 1018
1 Ampere
suatu titik
konduktor dalam waktu satu detik
20) Tiga
hal
yang
sering
menyebabkan
gangguan
pada
rangkaian/system kelistrikan adalah:
a). Nilai tahanan dalam rangkaian membesar
b). Terjadinya hubung singkat
c). Kerusakan pada komponen kelistrikan.
21) Macam
peralatan
yang
dapat
digunakan
untuk
memeriksa
gangguan pada rangkaian/sistem kelistrikan:
a) Jumper wires
b) Tes lamp
c) AVO
d) Self-powered tes
22) Langkah mengukur tahanan koil pengapian bila diketahui standard
tahanan primer 2 Ω dan tahanan skunder 8 KΩ, adalah:
Mengukur tahanan primer:
a) Putar selector ukur kearah 1X Ω
b) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat colok
ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan memutar
Ohm calibration.
c) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal negatip
koil pengapian
d) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan spesifikasi
Mengukur tahanan skunder:
a) Putar selector ukur kearah 1XkΩ
b) Kalibrasi alat ukur dengan cara menghubungkan singkat colok
ukur, dan mengatur jarum pada posisi 0 (nol) dengan memutar
Ohm calibration.
c) Hubungkan colok ukur ke terminal positip dan terminal tegangan
tinggi koil pengapian
d) Baca hasil pengukuran bandingkan dengan sepesifikasi
23) Ukuran kabel untuk horn, bila diketahui daya horn
12V/ 36 W
dirangkai paralel, jarak antara horn dengan sumber 3 m. Panjang
kabel : 1 meter= 3,28 feet
untuk 3 m = 3 x 3,28 =
9,84 feet.
Beban lampu adalah 12 V/ 60 W dirangkai paralel sehingga beban
12 V/ 60 W +12 V/ 60 W = 12V/ 120 W . Dari data tersebut
diklarifikasi dengan tabel diperoleh ukuran kabel SAE 18, yaitu kabel
dengan luasan 0,8 mm2
24) Metode melepas penguncian terminal antara lain adalah :
a) Mengangkat pengunci kemudian rumah konektor ditarik
b) Menekan pengunci kemudian rumah konektor ditarik
c) Langsung menarik rumah konektor
Lokasi pengunci : Di tengah konektor dan disamping rumah
konektor
C. KRITERIA KELULUSAN
Aspek
Skor (0-10)
Bobot
Sikap
2
Pengetahuan
4
Keterampilan
4
Nilai
Keterangan
Syarat kelulusan
nilai minimal 70,
dengan skor
setiap aspek
minimal 7
Nilai Akhir
Kisi-Kisi Penilaian Sikap
Komponen yang dinilai
Skor (0-10)
Bobot
Kelengkapan pakaian kerja
0,1
Penataan alat dan kelengkapan yang
memperhatikan pekerja dan alat
0,2
Menggunakan alat sesuai fungsinya
0,6
Membersihkan alat dan tempat kerja
0,1
Nilai
Nilai akhir
Kisi-Kisi Penilaian Keterampilan
Komponen yang dinilai
Skor (0-10)
Bobot
Ketepatan Alat
0,1
Ketepatan Prosedur Kerja
0,3
Ketepatan Hasil Kerja
0,4
Ketepatan waktu
0,2
Nilai akhir
Nilai
BAB IV
PENUTUP
Kompetensi perbaikan ringan pada rangkaian/system kelistrikan dengan
kode OPKR 50-002B terdiri dari 6 sub kompetensi dengan durasi 108 jam
pelajaran @ 45 menit. Sub kompetensi tersebut, yaitu :
1) Merangkai hubungan seri, parallel dan gabungan .
2) Mengukur tegangan, tahanan dan arus
3) Memeriksa dan memperbaiki kerusakan ringan pada rangkaian/system
kelistrikan
4) Menggunakan electric wire
5) Menggunakan electric wire connector
6) Menggunakan multimeter
Kompetensi ini merupakan kompetensi dasar guna mempelajari sistem
kelistrikan sehingga harus dikuasai dengan baik.
Setelah siswa merasa menguasai sub kompetensi yang ada, siswa dapat
melaksanakan uji kompetensi, uji kompetensi dilakukan secara teroritis
dan praktik. Uji teoritis dengan cara siswa menjawab pertanyaan soal
evaluasi, sedangkan uji praktik dengan mendemontrasikan kompetensi
yang
dimiliki
pada
guru/instruktur.
Guru/instruktur
akan
menilai
berdasarkan lembar observasi yang ada, dari sini kompetensi siswa dapat
diketahui.
Bagi siswa yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat
melanjutkan ke modul berikutnya, namun bila syarat minimal kelulusan
belum tercapai maka harus mengulang modul ini, atau bagian yang tidak
lulus dan karena tidak diperkenankan mengambil modul berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Sullivan`s Kalvin R. (2004),
101. com
Sullivan`s Kalvin R. (2004),
Autoshop 101. com
Diagnosis & Testing, WWW. Autoshop
Analog and Digital Meter,
WWW.
Sullivan`s Kalvin R. (2004), Electric Circuit, WWW. Autoshop 101. com
Sullivan`s Kalvin R. (2004),
101. com
Wire and Conectors, WWW. Autoshop
Sullivan`s Kalvin R. (2004), Electric Fundamentals, WWW. Autoshop
101. com
Sullivan`s Kalvin R. (2004), Wiring Diagrams, WWW. Autoshop 101.
com
Toyota Astra Motor (t.th). Materi engine group step 2,
Toyota Astra Motor
Jakarta ,
TEAM (1995), New Step 1 Training Manual, Jakarta, Toyota Astra
Motor
TEAM (1996), Electrical Group Step 2, Jakarta, Toyota Astra Motor
Download