KONFLIK SOSIAL TOKOH MARYAM DALAM

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KONFLIK SOSIAL TOKOH MARYAM
DALAM NOVEL MARYAM
KARYA OKKY MADASARI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA
Tugas Akhir
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia
Oleh
Margaretha Ervina Sipayung
NIM: 124114024
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2016
i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
iii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PERSEMBAHAN
Pertolongan-Mu begitu ajaib
Kau telah memikat hatiku disaat aku tak sanggup lagi
Disitu tangan-Mu bekerja
(Citra Scholastika)
Karya sederhana ini kupersembahkan kepada:
Bapakku T. Sipayung,
Mamaku E. BoruTurnip,
Abang pertamaku Antonius Sipayung,
Abang keduaku Albertus Ronitua Sipayung,
Kakak perempuanku Tio Maria Sipayung,
Adik perempuanku Tiodora Panca Sipayung,
Prodi Sastra Indonesia USD, dan
Segenap pembaca karya sederhana ini
vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya hadiratkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya tugas akhir ini yang berjudul “Konflik Sosial Tokoh
Maryam dalam Novel Maryam karya Okky Madasari: Kajian Sosiologi Sastra”
dapat diselesaikan dengan baik dan merupakan salah satu persyaratan untuk
mencapai gelar Sarjana S1 Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra,
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Dalam penyusunan laporan penyelesaian skripsi ini juga tidak lupa juga
mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. selaku dosen pembimbing I yang telah
bersedia memberikan bimbingan, waktu, masukan, dukungan, dan
kesabaran, sehingga tugas akhir ini dapat berjalan dengan baik.
2.
Drs. B. Rahmanto, M.Hum. selaku dosen pembimbing II yang telah
mendampingi dan memberikan waktu serta kesabarannya dalam
menyelesaikan tugas akhir.
3.
Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum. selaku Dekan Fakultas Sastra dan Dosen
Pembimbing Akademik yang tak pernah berhenti memberikan dukungan
dan mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan tugas akhir ini.
4.
Seluruh staf pengajar Jurusan Sastra Indonesia S.E Peni Adji, S.S., M.
Hum.; Drs. Hery Antono, M.Hum.; Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum.;
Drs. F.X. Santosa.; Dra. Fransisca Adji, M.Hum. yang telah memberikan
materi selama kuliah di Universitas Sanata Dharma.; dan Sony Christian
vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Sudarsono, M.A. yang telah memberikan dukungan semangat kepada
penulis dalam menyelesaikan tugas akhir.
5.
Seluruh staf dan karyawan perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang
telah membantu dalam menyediakan buku-buku referensi yang dibutuhkan
oleh penulis.
6.
Orangtuaku tercinta yang telah memberikan motivasi paling kuat, selalu
mendoakan penulis, dan membiayai penulis dalam menyelesaikan kuliah
dan tugas akhir ini.
7.
Keempat saudara saya: Antonius Sipayung, Albertus Ronitua Sipayung, Tio
Maria Sipayung, Tiodora Panca Sipayung yang telah mendukung dan
memberikan semangat kepada penulis.
8.
Ibu Agnes Triana Sulistyaningsih yang selalu memberikan dukungan dan
semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir.
9.
Mba Bety dan Kakak A. Ria Puji Utami yang selalu memberikan doa dan
dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
10. Teman-teman Sastra Indonesia Angkatan 2012: Bella, Roby, Gaby, Dorce,
Patrick, Silvy, Shanty, Carlos, Wily, Lina, Ovi, Venta, Peng, dan Mei atas
kebersamaannya dari tahun 2012 dan turut memberikan dukungan pada
penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
11. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah
memberikan dorongan dan bantuan dalam wujud apa pun selama
penyusunan tugas akhir ini.
viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRAK
Sipayung, Margaretha Ervina. 2016. Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam
Novel Maryam Karya Okky Madasari: Kajian Sosiologi Sastra.
Skripsi Strata Satu (S1). Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas
Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Penelitian ini mengangkat topik konflik sosial yang dialami oleh tokoh
Maryam dalam novel Maryam. Konflik merupakan dilema sosial ketika orangperorangan atau kelompok manusia yang ingin memenuhi tujuannya dengan cara
menentang pihak lawan yang disertai ancaman dan kekerasan. Tujuan penelitian
ini (i) menganalisis dan mendeskripsikan struktur novel Maryam yang meliputi
tokoh dan penokohan, alur, dan latar, (ii) menganalisis dan memaparkan bentukbentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam dalam novel Maryam.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian struktural dan pendekatan
sosiologi sastra dengan teori konflik sosial Soerjono Soekanto. Kajian struktural
digunakan untuk menganalisis struktur novel dan untuk melihat permasalahan
yang berhubungan dengan tokoh Maryam. Kajian sosiologi sastra digunakan
untuk menganalisis bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam
yang meliputi konflik karena perbedaan orang-perorangan dan konflik karena
perbedaan kebudayaan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan tiga teknik, yaitu, teknik studi pustaka, teknik baca, dan teknik
catat. Sementara itu, dalam metode analisis data, menggunakan metode
berdasarkan isi laten dan isi komunikasi. Selanjutnya, dalam metode penyajian
data, menggunakan deskriptif analisis.
Hasil kajian dalam novel ini dibagi menjadi dua, yaitu analisis struktur
novel dan sosiologi sastra. Struktur novel berisi tokoh dan penokohan, tokoh
protagonis dalam novel ini adalah Maryam, Umar, Pak Khairuddin, dan Zulkhair;
dan tokoh antagonis yaitu Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, dan Gubernur.
Maryam adalah tokoh yang memiliki permasalahan sosiologis. Alur yang
digunakan, yaitu: tahap penyituasian, tahap pemunculan konflik, tahap
peningkatan konflik tahap klimaks, dan tahap penyelesaian. Latar terbagi menjadi
tiga bagian, yaitu latar tempat (Lombok, Gerupuk, Gegerung, dan Gedung
Transito), latar waktu (tahun 1999, tahun 2001, tahun 2003), dan latar sosial (segi
kebiasaan hidup, segi tradisi, segi cara berpikir dan bersikap).
Hasil kajian sosiologi sastra dengan teori Soerjono Soekanto terhadap
tokoh Maryam mengungkap bentuk-bentuk konflik sosial sebagai berikut. 1)
Konflik karena perbedaan orang-perorangan dalam novel Maryam yang meliputi:
perbedaan antara individu dengan individu, perbedaan antara individu dengan
kelompok, dan perbedaan antara kelompok dengan kelompok. 2) Konflik karena
perbedaan kebudayaan dalam novel Maryam meliputi: kebudayaan khusus atas
dasar kedaerahan, kebudayaan khusus atas dasar agama, dan kebudayaan khusus
atas dasar kelas sosial.
x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRACT
Sipayung, Margaretha Ervina. 2016. Social Conflicts that Experienced in
Maryam Novel by Okky Madasari: Literature Sociology Study. An
Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Indonesian Literature Study
Program. Faculty of Letter, Sanata Dharma University.
This research raised theme of social conflict that experienced by Maryam
in Maryam novel. Conflict is a social dilemma when the individuals or human
groups who wants to meet objectivies in away against the opposition with the
threats and violence. Research purposes (1) analyzing and describing the structure
of Maryam novel includes character and characterization, plot, and background,
(ii) analyzing and to exposing forms of the sosial conflicts that experienced by
Maryam in Maryam novel. This research using structural approach and sociology
approach with Soerjono Soekanto’s social conflict theory. Structural approach is
using to analyze the novel structure and to see of problems associated with
Maryam. Literature sociology approach is using to exposing forms of the social
conflicts that experienced by Maryam which including conflicts due to difference
of individuals and conflicts due to cultural differences. The technique of using
literature review technique, reading technique, and writting tchnique. Meanwhile,
the techniques to analyze data using the method based on laten contents and
communication contents. After that, the method of data presentation using the
descriptive analysis.
The resut of the study in this novel is divided into two parts, analysis of
novel structure and literature sociology. The novel structure contains about
character and charaterization, the protagonists character in this novel are Maryam,
Umar, Pak Khairuddin, dan Zulkhair; while the antagonist figure are Alam, Ibu
Alam, Pak Haji, Pak RT, dan Gubernur. Maryam is a character who has a
sociology problems. The plot used are situation phase, generating circumstances
phase, rising action phase, climax, and denouement phase. Background is divided
into three parts, place (Lombok, Gerupuk, Gegerung, dan Gedung Transito), time
(1999, 2001, 2003), and social (aspect of common life, aspect of tradition, aspect
of fashion, and aspect thought and attitude).
Sociology result of the study with Soerjono Soekanto’s social conflict
theory on Maryam character reveals to forms of social conflict as follows. 1)
conflict due to difference of individuals in the novel Maryam which cover: the
difference between individual and individual, the difference between individuals
and groups, and the differences between groups and groups. 2) conflict due to
cultural differences distribution of conflict based on individuals in the novel
Maryam are: distribution of conflict based on the basis of regionalism, special
culture on the basis of religion, and special culture on the basis of social class.
xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ......................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ................................................... iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................................... iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. vi
KATA PENGANTAR ................................................................................. vii
ABSTRAK .................................................................................................... x
ABSTRACT ................................................................................................... xi
DAFTAR ISI ................................................................................................ xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 7
1.3 Tujuan Penelitian............................................................................ 7
1.4 Manfaat Penelitian.......................................................................... 7
1.5 Tinjauan Pustaka ............................................................................ 8
1.6 Landasan Teori ............................................................................... 10
1.6.1 Kajian Struktural .................................................................... 10
1.6.1.1 Tokoh ............................................................................ 11
1.6.1.2 Penokohan .................................................................... 15
1.6.1.3 Alur atau Plot ............................................................... 20
1.6.1.4 Latar atau Setting .......................................................... 22
1.6.2 Kajian Sosiologi Sastra........................................................... 25
xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
1.6.3 Konflik Sosial Menurut Soerjono Soekanto ........................... 26
1.7 Metode Penelitian ........................................................................... 34
1.7.1 Pendekatan .............................................................................. 35
1.7.2 Metode Pengumpulan Data .................................................... 35
1.7.3 Metode Analisis Data ............................................................. 36
1.7.4 Metode Penyajian Data ........................................................... 36
1.8 Sumber Data ................................................................................... 37
1.9 Sistematikan Penyajian .................................................................. 37
BAB II STRUKTUR NOVEL MARYAM KARYA OKKY MADASARI
2.1 Pengantar ........................................................................................ 39
2.2 Tokoh dan Penokohan .................................................................... 39
2.2.1 Tokoh Protagonis dalam Novel Maryam .................................. 39
2.2.1.1 Tokoh dan Penokohan Maryam ...................................... 40
2.2.1.2 Tokoh dan Penokohan Umar .......................................... 47
2.2.1.3 Tokoh dan Penokohan Pak Khairuddin .......................... 49
2.2.1.4 Tokoh dan Penokohan Zulkhair ...................................... 52
2.2.2 Tokoh Antagonis dalam Novel Maryam ................................ 54
2.2.2.1 Tokoh dan Penokohan Alam........................................... 54
2.2.2.2 Tokoh dan Penokohan Ibu Alam .................................... 57
2.2.2.3 Tokoh dan Penokohan Pak RT ....................................... 59
2.2.2.4 Tokoh dan Penokohan Pak Haji...................................... 61
2.2.2.5 Tokoh dan Penokohan Gubernur .................................... 62
xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2.3 Alur atau Plot ................................................................................. 66
2.3.1 Tahap Penyituasian (Tahap Situation).................................... 66
2.3.2 Tahap Pemunculan Konflik
(Tahap Generating Circumstances) ....................................... 67
2.3.3 Tahap Peningkatan Konflik
(Tahap Rising Action) ............................................................ 71
2.3.4 Tahap Klimaks (Tahap Climax) ............................................. 75
2.3.5 Tahap Penyelesaian (Tahap Denouement) ............................. 76
2.4 Latar atau Setting ............................................................................ 78
2.4.1 Latar Tempat........................................................................... 78
2.4.2 Latar Waktu ............................................................................ 82
2.4.3 Latar Sosial ............................................................................. 84
2.5 Rangkuman ..................................................................................... 86
BAB III BENTUK-BENTUK KONFLIK SOSIAL TOKOH MARYAM
DALAM NOVEL MARYAM
3.1 Pengantar ........................................................................................ 89
3.2 Konflik karena Perbedaan Orang-perorangan ................................ 92
3.2.1 Perbedaan Antara Individu dengan Individu .......................... 92
3.2.2 Perbedaan Antara Indivu dengan Kelompok .......................... 97
3.2.3 Perbedaan Antara Kelompok dengan Kelompok ................... 100
3.3 Konflik karena Perbedaan Kebudayaan ......................................... 105
3.3.1 Kebudayaan Khusus Atas Dasar Faktor Kedaerahan ............. 106
xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3.3.2 Kebudayaan Khusus Atas Dasar Agama ................................ 110
3.3.3 Kebudayaan Khusus Atas Dasar Kelas Sosial ........................ 113
3.4 Rangkuman ..................................................................................... 117
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan..................................................................................... 120
4.2 Saran ............................................................................................... 123
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 124
BIODATA PENULIS .................................................................................. 126
xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan
dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat,
ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang
menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa itu sendiri merupakan ciptaan
sosial. Maka dari itu, sastra menampilkan gambaran kehidupan. Gambaran
kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini,
kehidupan mencakup hubungan-antarmasyarakat, antara masyarakat dengan
orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin
seseorang. Hal inilah yang menjadi pantulan hubungan seseorang dengan orang
lain atau dengan masyarakat (Damono, 1978: 1).
Karya sastra selalu berusaha menemukan dimensi-dimensi tersembunyi
dalam kehidupan manusia, dimensi-dimensi yang tidak terjangkau oleh kualitas
evidensi empiris. Tujuan karya sastra adalah melukiskan konfigurasi struktur
perilaku, struktur ide, dan berbagai kecenderungan sosial (Ratna, 2003: 214).
Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu keseluruhan yang bersifat
artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur
yang saling menggantungkan. Jika novel dikatakan sebagai sebuah totalitas, unsur
kata, bahasa, misalnya merupakan salah satu bagian dari totalitas (Nurgiyantoro,
2007: 22).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2
Novel mampu menghadirkan perkembangan satu karakter, situasi sosial
yang rumit, hubungan yang melibatkan banyak atau sedikit karakter, dan berbagai
peristiwa ruwet yang terjadi beberapa tahun silam secara lebih mendetail. Ciri
khas novel ada pada kemampuannya untuk menciptakan satu semesta yang
lengkap sekaligus rumit (Stanton, 2007: 90).
Kita dapat menemukan keunikan-keunikan dalam novel karangan siapa
pun. Keunikan tersebut dapat berupa prinsip-prinsip etnis, konflik-konflik, tipetipe latar, karakter-karakter, dan tindakan. Elemen-elemen tersebut merupakan
dunia ‘pengarang’ (Stanton, 2007: 106).
George Lukacs adalah tokoh sosiologi sastra yang mempergunakan istilah
“cermin” sebagai ciri khas dalam keseluruhan karya. Mencerminkan menurut dia,
berarti menyusun sebuah struktur mental. Sebuah novel tidak hanya
mencerminkan “realitas” melainkan lebih dari itu memberikan kepada kita
“sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih
dinamik” yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak
hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup melainkan lebih
merupakan sebuah “proses yang hidup.” Sastra tidak mencerminkan realitas
seperti fotografi, melainkan lebih sebagai bentuk khusus yang mencerminkan
realitas (Endraswara, 2013: 89).
Dalam novel Maryam karya Okky Madasari, merupakan karyanya yang
ketiga yang diterbitkan pada tahun 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama.
Pengarang novel tersebut pernah mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary
Award tahun 2012. Maka dari itu, penulis akan menyoroti tokoh Maryam. Tokoh
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3
Maryam digambarkan sebagai tokoh wanita yang mengalami banyak konflik,
khususnya konflik sosial yang dialami oleh dirinya untuk bisa berusaha melawan
ketidakadilan yang ia dapat selama hidupnya sebagai seorang wanita yang terlahir
dari Ahmadiyah. Maryam merupakan seorang wanita yang cerdas, ramah, taat
beribadah. Namun dari itu semua, Maryam justru mendapatkan pertentangan dari
keluarga sang suami dan lingkungan sekitarnya yang menilai bahwa ia merupakan
seorang yang terlahir dari Ahmadiyah yang dinilai sesat, karena memiliki ajaran
sendiri dengan menganggap nabi terakhir adalah Mirza Ghulam Ahmad bukan
Nabi Muhammad s.a.w. meskipun sebenarnya ia merasa bahwa dirinya beragama
Islam, hal tersebut tidaklah menutup hati mereka (bukan kelompok Ahmadiyah
atau kelompok penentang) untuk bisa berdamai dengan dirinya.
Hal ini juga disampaikan oleh pengarang novel Maryam, Okky Madasari,
yang mengungkapkan pendapatnya akan pengusiran warga penganut Islam
Ahmadiyah oleh kelompok penentangnya dari Nusa Tenggara Barat, Lombok.
Jemaah Ahmadiyah dianggap bertentangan karena mengakui Mirza Ghulam
Ahmad adalah nabi mereka, sedangkan menurut Islam secara umum menganggap
bahwa nabi terakhir mereka adalah Nabi Muhammad s.a.w. sehingga membuat
kelompok bukan Ahmadiyah atau kelompok penentang pun memusuhi dan
menjauhi kelompok Ahmadiyah dengan melarang dan menganggap kelompok
Ahmadiyah bukanlah Islam.
Melalui novel ini, pengarang mengekspresikan pada perjuangan hidup
tokoh Maryam, seorang perempuan Lombok yang menderita akibat dirinya
dilahirkan menjadi seorang Ahmadiyah. Maryam memberanikan dirinya untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4
berontak terhadap tata nilai keluarga, berontak terhadap perilaku masyarakat yang
beragama, dan berontak atas ketidakberdayaan rasa aman terhadap negaranya
akibat banyaknya pertentangan-pertentangan sehingga menimbulkan konflik.
Menurut Coser melalui Saifuddin (1986: 7), konflik adalah gejala yang
wajar terjadi dalam setiap masyarakat yang selalu mengalami perubahan sosial
dan kebudayaan. Menurut Nurgiyantoro (2007: 124), konflik sosial merupakan
konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalahmasalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia.
Menurut Boulding (1962: 166), yang paling menarik dari konflik adalah
ketika mereka berada dalam satu pihak, menganggap bahwa adalah orangperseorangan dan pihak lain adalah kelompok atau organisasi. Konflik seperti itu
timbul di mana peran yang dikenakan pada individu dengan alasan
keanggotaannya dalam kelompok atau organisasi berbeda dari beberapa peran
atau pola perilaku yang ia suka dan berpikir mampu melakukannya. Untuk
beberapa konflik ini tak terelakkan lagi; mereka diciptakan oleh fakta keanggotaan
individu dalam suatu kelompok atau organisasi pembentukan yang tidak bisa
dikendalikan. Saling berhubungan antara individu, kelompok, dan organisasi.
Penelitian konflik sosial dikembangkan oleh Soerjono Soekanto. Ia lahir
di Jakarta, 30 Januari 1942. Ia menamatkan Sarjana Hukum di Universitas
Indonesia, M.A. di Universitity of California, Berkeley, dan memperoleh gelar
Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia dengan disertasi “Kesadaran Hukum
dan Kepatuhan Hukum.” Bulan Juli 1983, ia dikukuhkan sebagai guru besar
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan pidato pengukuhan “Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Penegakan Hukum” (Soekanto, 1982: tanpa halaman).
Sejak lahir di dunia, dia sudah berhubungan dengan orang tuanya
misalnya, dan semakin meningkat usianya, bertambah luas pula pergaulannya
dengan manusia lain di dalam masyarakat. Dia juga menyadari, bahwa
kebudayaan dan peradaban dewasa ini, merupakan hasil perkembangan masamasa yang silam. Sosiologi merupakan suatu ilmu yang masih muda usianya,
walaupun telah mengalami perkembangan yang cukup lama. Sejak manusia
mengenal kebudayaan dan peradaban, masyarakat manusia sebagai proses
pergaulan hidup telah menarik perhatian (Soekanto, 1982: 1).
Penelitian ini membahas konflik sosial dengan menggunakan pendekatan
sosiologi sastra. Pendekatan sosiologi sastra merupakan perkembangan dari
perkembangan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan
realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (Wiyatmi, 2005: 97).
Menurut Ratna (2003: 1), sosiologi adalah mengenai asal-usul,
pertumbuhan masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan
jaringan hubungan antarmanusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan
empiris. Sosiologi meneliti hubungan individu dengan kelompok dan budayawan
sebagai unsur yang bersama-sama membentuk kenyataan hidup masyarakat dan
kenyataan sosial. Hal ini terlihat pada novel Maryam karya Okky Madasari
sebagai cerminan dari pelbagai kehidupannya.
Tujuan sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap sastra
dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
dengan kenyataan. Karya sastra jelas dikonstruksikan secara imajinatif, tetapi
kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar kerangka empirisnya. Karya
sastra bukan semata-mata gejala individual, tetapi juga gejala sosial (Ratna, 2003:
11).
Novel Maryam karya Okky Madasari menarik untuk diteliti karena adanya
beberapa alasan. Pertama, novel ini memaparkan sebuah kisah perjuangan seorang
perempuan yang menghadapi kehidupan yang penuh lika-liku dan mengharukan.
Terlihat pada perjuangan Maryam yang berusaha melewati masa hidupnya yang
merasa gagal dalam membina rumah tangga. Kedua, novel Maryam karya Okky
Madasari menceritakan tragedi pengusiran yang dilakukan oleh kelompok bukan
Ahmadiyah
(kelompok
penentang)
sehingga
mengharuskan
kelompok
Ahmadiyah untuk mengungsi. Ketiga, novel ini menyajikan berbagai konflik
sosial yang dialami oleh tokoh Maryam itu sendiri dalam novel Maryam karya
Okky Madasari yang cocok dikaji dengan kajian sosiologi sastra.
Berdasarkan penjelasan di atas, dalam novel Maryam karya Okky
Madasari, penulis terlebih dahulu memberikan makna terhadap sebuah karya
sastra. Langkah awal memahami karya sastra adalah menganalisis struktur novel
yang meliputi tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Selanjutnya, akan diteruskan
lagi oleh penulis dalam bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam
melalui teori konflik dari Soerjono Soekanto.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimanakah struktur novel Maryam karya Okky Madasari?
1.2.2 Bagaimana bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam
dalam novel Maryam karya Okky Madasari?
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk
mencapai tujuan sebagai berikut.
1.3.1 Menganalisis dan mendeskripsikan struktur novel Maryam karya
Okky Madasari. Hal ini akan dipaparkan dalam Bab II.
1.3.2 Menganalisis dan memaparkan bentuk-bentuk konflik sosial yang
dialami tokoh Maryam karya Okky Madasari. Kajian tentang konflik
sosial tokoh Maryam karya Okky Madasari akan dibahas dalam Bab
III.
1.4
Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat sebagai berikut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
1.4.1 Manfaat Teoretis
Penelitian ini bermanfaat sebagai contoh penerapan kajian struktural yang
meliputi tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Serta kajian sosiologi sastra untuk
memahami konflik sosial yang dialami oleh tokoh Maryam karya Okky Madasari
dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Soerjono Soekanto.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan tentang karya sastra
dan pemahaman tentang novel Maryam karya Okky Madasari. Selain itu, melalui
penelitian ini diharapkan pengetahuan pembaca mengenai sosiologi sastra yang
lebih luas sehingga ilmu yang dirasakan bermanfaat bagi pembaca dapat
diaplikasikan dalam kehidupan.
1.5
Tinjauan Pustaka
Novel Maryam merupakan novel ketiga Okky Madasari. Sebelumnya
Okky Madasari menulis novelnya yang berjudul Entrok. Novel Entrok ini
merupakan novel pertamanya yang mengkisahkan pertentangan keyakinan antara
dua generasi dan kesewenangan militer pada masa Orde Baru (Orba). Novel
ketiganya adalah novel yang dibahas oleh penulis, yaitu Maryam. Novel ini
mengkisahkan tentang pengusiran terhadap Ahmadiyah yang dipandang sebagai
“aliran sesat.” Orang-orang ini mengalami diskriminatif dari kumpulan kelompok
penentang yang tidak berperasaan karena keimanannya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
9
Novel Maryam ini pernah dikaji oleh Susi Lailatul Musarrofah (2013)
seorang mahasiswa Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dalam pendekatan
sosiologi sastra, dengan judul “Konflik Sosial Dalam Novel Maryam Karya Okky
Madasari.” Sementara itu, topik permasalahan “konflik sosial” juga dikaji oleh
mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Mereka diantaranya ialah:
Lucia Intan Suharti (USD-2006). Penelitian yang berjudul Konflik Sosial Antar
Tokoh Novel Berjuta-juta dari Deli Satoe Hikajat Koeli Contract Karya Emil W.
Aulia: Suatu Pendekatan Sosiologi Sastra. Permasalahan yang akan dibahas
dalam penelitian Lucia Intan Suharti adalah (1) Bagaimana tokoh dan penokohan,
alur, dan latar serta keadaan sosial novel Berjuta-juta dari Deli Satoe Hikajat
Koeli Contract karya Emil W. Aulia: Suatu Pendekatan Sosiologi Sastra, (2)
Bagaimana konflik sosial novel Berjuta-juta dari Deli Satoe Hikajat Koeli
Contract karya Emil W. Aulia.
Penelitian yang dilakukan oleh Maria Yuliana Kusrini (USD-2003).
Penelitian yang berjudul Konflik Sosial dalam Novel Orang-orang Malioboro
karya Eko Susanto Pendekatan Sosiologi Sastra. Penelitian tersebut membahas
masalah (1) Bagaimana tokoh dan penokohan serta keadaan sosial dalam Orangorang Malioboro karya Eko Susanto, (2) Bagaimana konflik sosial yang ada
dalam Orang-orang Malioboro karya Eko Susanto.
Berdasarkan tinjauan di atas, penulis menggunakan bahan-bahan kajian
tersebut untuk menambahkan dan mengembangkan wawasan kajian penelitian ini.
Penulis belum menemukan penelitian dengan pendekatan subyek yang sama yaitu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
10
mengkaji “Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam karya Okky
Madasari dengan Kajian Sosiologi Sastra.”
1.6
Landasan Teori
Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi (i) kajian
struktural, (ii) kajian sosiologi sastra, (iii) bentuk-bentuk konflik sosial yang
dialami tokoh Maryam dalam novel Maryam karya Okky Madasari. Kajian
struktural digunakan untuk menganalisis tokoh dan penokohan, alur, dan latar.
Kajian sosiologi sastra digunakan sebagai pendekatan yang digunakan penulis.
Kajian konflik sosial menggunakan teori yang dikembangkan oleh Soerjono
Soekanto dalam memahami bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami oleh tokoh
Maryam.
1.6.1 Kajian Struktural
Dalam penelitian ini, kajian struktural dibatasi pada tokoh dan penokohan,
alur, dan latar. Untuk kepentingan adanya tokoh dan penokohan, alur, dan latar
akan digunakan penulis untuk dapat lebih mengenal dan memahami tokoh
Maryam serta konflik sosial yang dialaminya dalam novel Maryam karya Okky
Madasari.
Kajian struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan
secermat, seteliti, semenditel, serta mendalam akan keterkaitan dan keterjalinan
semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna
menyeluruh. Setiap karya sastra memerlukan metode analisis yang sesuai dengan
sifat dan strukturnya (Teeuw, 1984: 135-136).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
11
Kajian struktural karya sastra dalam fiksi, dapat dilakukan dengan
mengidentifikasi, mengkaji, mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur
instrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan,
misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan,
latar, sudut pandang, dan lain-lain. Setelah dicoba jelaskan bagaimana fungsi
masing-masing unsur itu dalam menunjang makna keseluruhannya, dan
bagaimana fungsi masing-masing unsur itu sehingga secara bersama membentuk
sebuah totalitas kemaknaan yang padu (Nurgiyantoro, 2007: 37).
Dalam penelitian ini, penulis menganalisis masalah tokoh dan penokohan,
alur, dan latar. Ketiga analisis ini sangat penting bagi penulis karena berperan
penting pada perkembangan konflik.
1.6.1.1 Tokoh
Menurut Abrams melalui Nurgiyantoro (2007: 165), tokoh adalah orangorang yang ditampilkan dalam karya naratif atau drama yang oleh pembaca
ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang
diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.
Menurut Stanton melalui Nurgiyantoro (2007: 165), tokoh (character)
menyarankan pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh-tokoh cerita
yang ditampilkan sebagai sikap, ketertarikan, keinginan, emosi, dan prinsip moral
yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut.
Tema ‘karakter’ biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama,
karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks
kedua, karakter merujuk pada pencampuran dari berbagai kepentingan, keinginan,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
12
emosi, dan prinsip moral dari invidu-individu tersebut. Sebagian besar cerita dapat
ditemukan satu ‘karakter utama’ yaitu karakter yang terkait dengan semua
peristiwa yang berlangsung dalam cerita (Stanton, 2007:33).
Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai
pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada
pembaca. Keadaan ini dapat berakibat kurang menguntungkan para tokoh cerita
itu sendiri dilihat dari segi kewajarannya dalam bersikap dan bertindak. Tokoh
cerita seolah-olah hanya sebagai corong penyampai pesan atau bahkan mungkin
merupakan refleksi pikiran, sikap, pendirian, dan keinginan-keinginan pengarang
(Nurgiyantoro, 2007: 167-168).
Walaupun tokoh cerita “hanya” merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia
haruslah merupakan seorang tokoh yang hidup secara wajar, sewajar bagaimana
kehidupan manusia yang terdiri dari darah dan daging, mempunyai pikiran dan
perasaan. Kehidupan tokoh cerita adalah kehidupan dalam dunia fiksi, maka ia
harus bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan cerita dengan perwatakan
yang disandangnya (Nurgiyantoro, 2007: 167).
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan dalam beberapa
jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Menurut
Nurgiyantoro, dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya, dibedakan
menjadi tokoh utama (sentral) dan tokoh tambahan (periferal). Tokoh utama
adalah tokoh yang paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan
tokoh-tokoh lain. Ia selalu hadir sebagai pelaku atau yang dikenai kejadian dan
konflik penting yang mempengaruhi perkembangan plot. Tokoh tambahan adalah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
tokoh yang dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tak dipentingkan, dan
kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama secara langsung
(Nurgiyantoro, 2007: 177-178).
Berdasarkan fungsi penampilan tokoh, dibedakan ke dalam tokoh
protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang selalu
menjadi tokoh yang sentral dalam cerita. Ia bahkan menjadi pusat sorotan dalam
kisahan. Protagonis juga ditentukan dengan memperhatikan hubungan antar
tokoh. Protagonis berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, sedangkan tokoh-tokoh
itu sendiri tidak semua berhubungan satu dengan yang lain (Sudjiman, 1987: 18).
Menurut Altenbernd dan Lewis melalui Nugiyantoro (2007: 178), tokoh
protagonis adalah tokoh yang kita kagumi yang salah satu jenisnya secara populer
disebut hero, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai,
yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan
pandangan pembaca, harapan-harapan pembaca. Tokoh protagonis mewakili yang
baik dan terpuji karena biasanya menarik simpati pembaca.
Tokoh antagonis adalah tokoh penyebab terjadinya konflik. Tokoh
antagonis, beroposisi dengan tokoh protagonis, secara langsung atau pun tidak
langsung, bersifat fisik atau pun batin. Tokoh antagonis cenderung menjadi tokoh
yang menyakiti tokoh protagonis. Dia adalah tokoh yang jahat sehingga akan
menimbulkan rasa benci. Tokoh antagonis tidak hanya pada individu atau
sekelompok orang, namun dapat berupa pada bencana alam, kecelakaan,
lingkungan alam dan sosial, aturan-aturan sosial, nilai-nilai moral, kekuasaan dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
14
kekuatan yang lebih tinggi, dan sebagainya. Hal ini dapat dikatakan sebagai
kekuatan antagonistis (Nurgiyantoro, 2007: 179).
Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam tokoh
sederhana (simple atau flat character) dan tokoh kompleks atau tokoh bulat
(complex atau round character). Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya
memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja. Tokoh
bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi
kehidupannya, sisi kepribadiannya, dan jati dirinya (Nurgiyantoro, 2007: 182183).
Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan, tokoh cerita
dapat dibedakan ke dalam tokoh statis atau tokoh tak berkembang (static
character) dan tokoh berkembang (developing character). Tokoh statis adalah
tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan
perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tokoh
berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan
perwatakan sejalan dengan perkembangan (dan perubahan) peristiwa dan plot
yang dikisahkan (Nurgiyantoro, 2007: 188).
Berdasarkan kemungkinan pencerminan, tokoh cerita dapat dibedakan
menjadi tokoh tipikal dan tokoh netral. Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya
sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan
kualitas pekerjaan dan kebangsaannya atau sesuatu yang lain yang lebih bersifat
mewakili. Tokoh tipikal merupakan penggambaran, pencerminan, dan
penunjukkan terhadap orang atau sekelompok orang yang terikat dalam sebuah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
lembaga, atau seorang individu sebagai bagian dari suatu lembaga yang ada di
dunia nyata (Nurgiyantoro, 2007: 190).
Dalam penelitian novel Maryam karya Okky Madasari, jika dilihat dari
fungsi penampilan tokoh cerita, penulis manganalisis tokoh cerita tersebut dalam
tokoh protagonis dan antagonis.
1.6.1.2 Penokohan
Menurut Jones melalui Nurgiyantoro (2007: 165), penokohan adalah
gambaran tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Menurut
Nurgiyantoro (2007: 166), istilah dari “penokohan” lebih luas pengertiannya
daripada “tokoh” dan “perwatakan” sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa
tokoh cerita, bagaimana perwatakan, bagaimana penempatan, dan pelukisannya
dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada
pembaca. Penokohan sekaligus menyaran pada teknik perwujudan dan
pengembangan tokoh dalam sebuah cerita. Dengan demikian, istilah penokohan
ini sekaligus terkandung dalam dua aspek, yaitu: isi dan bentuk.
Secara garis besar teknik pelukisan tokoh dalam suatu karya atau
lengkapnya: pelukisan sifat, sikap, watak, tingkah laku, dan berbagai hal lain yang
berhubungan dengan jati diri tokoh, dapat dibedakan ke dalam dua cara atau
teknik, yaitu teknik pelukisan secara langsung (teknik ekspositori) dan teknik
pelukisan secara tidak langsung (teknik dramatik). Berikut akan dibicarakan
kedua teknik tersebut sebagai berikut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
1.6.1.2.1
Teknik Ekspositori
Teknik ekspositori sering juga disebut sebagai teknik analitis. Pelukisan
tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan
secara langsung. Tokoh cerita dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca
secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi
kehadirannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan
juga ciri fisiknya (Nurgiyantoro, 2007: 195).
Deskripsi kedirian tokoh yang dilakukan secara langsung oleh pengarang
akan berwujud penuturan yang bersifat deskriptif pula. Artinya, ia tak akan
berwujud penuturan yang bersifat dialog, walau bukan merupakan suatu
pantangan atau pelanggaran jika dalam dialog pun tercermin watak para tokoh
yang terlibat (Nurgiyantoro, 2007: 197).
1.6.1.2.2
Teknik Dramatik
Teknik dramatik atau pelukisan tokoh cerita yang dilakukan secara tidak
langsung. Artinya, pengarang tak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap
serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk
menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik
secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan
juga melalui peristiwa yang terjadi (Nurgiyantoro, 2007: 198).
Kelebihan teknik dramatik yang lain adalah sifatnya yang lebih sesuai
dengan situasi kehidupan nyata. Dalam situasi kehidupan sehari-hari, jika kita
berkenalan dengan orang lain, kita tak mungkin menanyakan sifat kedirian orang
itu apalagi kepada yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2007: 199).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
17
Wujud penggambaran teknik dramatik, penampilan tokoh secara dramatik
dapat dilakukan dengan sejumlah teknik. Dalam sebuah karya fiksi, biasanya
pengarang mempergunakan berbagai teknik itu secara bergantian dan saling
mengisi, walau ada perbedaan frekuensi penggunaan masing-masing teknik.
Berbagai teknik yang dimaksud sebagian di antaranya akan dikemukakan di
bawah ini.
(a)
Teknik Cakapan
Percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita biasanya juga
dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan. Tidak
semua percakapan mencerminkan kedirian tokoh atau tidak mudah untuk
menafsirkannya sebagai demikian. Namun, percakapan yang baik, yang efektif,
yang lebih fungsional, adalah yang menunjukkan perkembangan plot dan
sekaligus mencerminkan sifat kedirian tokoh pelakunya (Nurgiyantoro, 2007:
201).
(b)
Teknik Tingkah Laku
Teknik tingkah laku menyaran pada tindakan yang bersifat nonverbal,
fisik. Apa yang dilakukan orang dalam wujud tindakan dan tingkah laku dapat
dipandang sebagai penunjukkan reaksi, tanggapan, sifat, dan sikap yang
mencerminkan sifat-sifat kediriannya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
18
(c)
Teknik Pikiran dan Perasaan
Bagaimana keadaan dan jalan pikiran serta perasaan, apa yang melintas di
dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh,
dalam banyak hal akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya juga. Perbuatan dan
kata-kata merupakan perwujudan konkret tingkah laku pikiran dan perasaan.
Dengan demikian, teknik pikiran dan perasaan dapat ditemukan dalam teknik
cakapan dan tingkah laku. Artinya, penuturan itu sekaligus untuk menggambarkan
pikiran dan perasaan tokoh (Nurgiyantoro, 2007: 204).
(d)
Teknik Arus Kesadaran
Teknik arus kesadaran berkaitan erat dengan teknik pikiran dan perasaan.
Menurut Abrams melalui Nurgiyantoro (2007: 206), arus kesadaran merupakan
sebuah teknik narasi yang berusaha menangkap pandangan dan aliran proses
mental tokoh, ketika tanggapan indera bercampur dengan kesadaran dan
ketidaksadaran pikiran, perasaan, ingatan, harapan, dan asosiasi-asosiasi acak.
Aliran kesadaran berusaha menangkap dan mengungkapkan proses
kehidupan batin, yang memang hanya terjadi di batin, baik yang berada di ambang
kesadaran
maupun
ketidaksadaran,
termasuk
kehidupan
bawah
sadar
(Nurgiyantoro, 2007: 206).
(e)
Teknik Reaksi Tokoh
Teknik reaksi tokoh dimaksudkan sebagai reaksi tokoh terhadap suatu
kejadian, masalah, keadaan, kata, dan sikap tingkah laku orang lain, dan
sebagainya yang berupa “rangsang” dari luar diri tokoh yang bersangkutan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
Bagaimana reaksi tokoh terhadap hal-hal tersebut dapat dipandang sebagai suatu
bentuk penampilan yang mencerminkan sifat-sifat kediriannya (Nurgiyantoro,
2007: 207).
(f)
Teknik Reaksi Tokoh Lain
Reaksi tokoh lain dimaksudkan sebagai reaksi yang diberikan oleh tokoh
lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa
pandangan, pendapat, sikap, komentar, dan lain-lain. Pendek kata: penilaian
kedirian tokoh (utama) cerita oleh tokoh-tokoh cerita yang lain dalam sebuah
karya (Nurgiyantoro, 2007: 209).
(g)
Teknik Pelukisan Latar
Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh
seperti yang telah diungkapkan dengan berbagai teknik yang lain. Keadaan latar
tertentu, dapat menimbulkan kesan yang tertentu pula di pihak pembaca.
Pelukisan keadaan latar sekitar tokoh secara tepat akan mampu mendukung teknik
penokohan secara kuat walau latar itu sendiri sebenarnya merupakan sesuatu yang
berada di luar kedirian tokoh (Nurgiyantoro, 2007: 210).
(h)
Teknik Pelukisan Fisik
Keadaan fisik seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaannya,
atau paling tidak, pengarang sengaja mencari dan memperhubungkan adanya
keterkaitan itu. Pelukisan keadaan fisik tokoh, dalam kaitannya dengan
penokohan, kadang-kadang memang terasa penting. Keadaan fisik tokoh perlu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
dilukiskan, terutama jika ia memiliki bentuk fisik khas sehingga pembaca dapat
menggambarkan secara imajinatif (Nurgiyantoro, 2007: 210).
1.6.1.3 Alur atau Plot
Menurut Stanton (2007: 26), alur merupakan rangkaian peristiwaperistiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwaperistiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan
peristiwa yang menyebabkan atau menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain
dan tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya.
Alur merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-elemen
lain, alur dapat membuktikan dirinya sendiri meskipun jarang diulas panjang lebar
dalam sebuah analisis. Alur memiliki hukum-hukum sendiri, alur hendaknya
memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinkan dan logis, dapat
menciptakan bermacam kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri
ketegangan-ketegangan (Stanton. 2007: 28).
Dua elemen dasar yang membangun alur adalah ‘konflik’ dan ‘klimaks’.
Setiap karya fiksi setidak-tidaknya memiliki ‘konflik internal’ yang hadir melalui
hasrat dua orang karakter atau hasrat seorang karakter dengan lingkungannya
(Stanton, 2007: 31).
Menurut Nurgiyantoro (2007: 149), tahapan alur dapat dibagi menjadi
lima bagian yaitu, (i) tahap peyituasian atau tahap situation, (ii) tahap pemunculan
konflik atau tahap generating circumstances, (iii) tahap peningkatan konflik atau
tahap rising action, (iv) tahap klimaks atau tahap climax, (v) tahap penyelesaian
atau tahap denouement.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
21
Tahap penyituasian merupakan tahapan yang berisi pelukisan dan
pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahapan ini merupakan tahap
pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain yang terutama
berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya
(Nurgiyantoro, 2007: 149).
Tahap pemunculan konflik merupakan tahapan ketika masalah-masalah
dan peristiwa-peristiwa menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Tahapan
ini merupakan tahapan awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan
berkembang dan dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya
(Nurgiyantoro, 2007: 149).
Tahap peningkatan konflik merupakan tahapan konflik yang telah
dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan
kadar intensitasnya. Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita bersifat
semakin mencengkam dan menegangkan (Nurgiyantoro, 2007: 149-150).
Tahap klimaks merupakan tahapan-tahapan konflik dan atau pertentanganpertentangan yang terjadi, yang dilakui dan atau ditimpakan kepada para tokoh
cerita mencapai titik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh
tokoh-tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik
utama (Nurgiyantoro, 2007: 150).
Tahap penyelesaian merupakan tahapan konflik yang telah mencapai
klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik yang lain,
sub-sub konflik, atau konflik-konflik tambahan, jika ada, juga diberi jalan keluar,
cerita diakhiri (Nurgiyantoro, 2007: 150).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
1.6.1.4 Latar atau Setting
Cerita berkisah tentang seorang atau beberapa orang tokoh. Peristiwaperistiwa dalam cerita tentulah terjadi pada suatu waktu atau suatu rentang waktu
tertentu dan pada suatu tempat tertentu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
segala keterangan, petunjuk, pengacungan yang berkaitan dengan waktu, ruang,
dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra membangun alur cerita
(Sudjiman, 1987: 44).
Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita,
semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung.
Latar dapat berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bulan, dan tahun), cuaca, atau
satu periode sejarah (Stanton, 2007: 35).
Menurut Abrams melalui Nurgiyantoro (2007: 216), latar atau setting
disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan
waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang
diceritakan.
Unsur latar dapat dibedakan menjadi tiga unsur, yaitu tempat, waktu, dan
sosial. Ketiga unsur ini walau masing-masing menawarkan permasalahan yang
berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan
dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Dalam penelitian ini, latar berfungsi untuk menganalisis latar tempat pada
lokasi peristiwa yang terjadi, latar waktu yang digunakan untuk menganalisis
waktu peristiwa yang terjadi, sedangkan latar sosial digunakan untuk
menganalisis keadaan sosial masyarakat tertentu.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
1.6.1.4.1
Latar Tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan
dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan berupa tempat-tempat
dengan nama tertentu atau inisial tertentu, dan lokasi tertentu tanpa nama jelas.
Tempat-tempat yang bernama adalah tempat yang dijumpai dalam dunia nyata
(Nurgiyantoro, 2007: 227).
Penggunaan
latar
tempat
dengan
nama-nama
tertentu
haruslah
mencerminkan atau paling tidak tak bertentangan dengan sifat dan keadaan
geografis tempat yang bersangkutan. Deskripsi tempat secara teliti dan realistis
ini penting untuk mengesankan pembaca seolah-olah hal yang diceritakan
sungguh-sungguh ada dan terjadi, yaitu di tempat (dan waktu) seperti yang
diceritakan itu (Nurgiyantoro, 2007: 227).
Latar tempat berfungsi untuk menjelaskan tempat terjadinya cerita dalam
novel Maryam dengan demikian memudahkan penelitian. Latar tempat
memberikan gambaran mengenai keadaan suatu tempat, wilayah, dan keadaan
masyarakat. Setelah mengetahui dengan jelas latar tempat, maka akan membantu
dalam menganalisis proses yang terjadi dalam novel Maryam.
1.6.1.4.2
Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut
biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat
dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Namun, hal itu membawa sebuah
konsekuensi: sesuatu yang diceritakan harus sesuai dengan perkembangan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
sejarah. Segala sesuatu yang menyangkut hubungan waktu, langsung atau tidak
langsung, harus berkesesuaian dengan waktu sejarah yang menjadi acuannya
(Nurgiyantoro, 2007: 231).
Menurut Genette melalui Nurgiyantoro (2007: 231), masalah waktu dalam
karya naratif bermakna ganda di satu pihak menyaran pada waktu penceritaan,
waktu penulisan cerita, dan di pihak lain menunjuk pada waktu dan urutan waktu
yang terjadi dan dikisahkan dalam cerita.
Latar waktu berfungsi untuk menjelaskan kapan terjadinya peristiwa
dalam novel Maryam, sehingga penulis dapat dengan mudah menganalisisnya.
Latar waktu dapat memberikan gambaran waktu terjadinya cerita karena waktu
terjadinya peristiwa sangat membantu.
1.6.1.4.3
Latar Sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku
kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.
Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup
yang cukup kompleks. Dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi,
keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain yang
tergolong latar spiritual seperti dikemukakan sebelumnya (Nurgiyantoro, 2007:
233-234).
Latar sosial berfungsi untuk memberikan gambaran sosial yang terjadi
dalam novel Maryam. Hal ini sangat dibutuhkan dalam penelitian dengan adanya
latar sosial, penulis dapat dengan mudah dalam menemukan proses yang terjadi
dalam novel Maryam tersebut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
25
1.6.2 Kajian Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra berkembang dengan pesat sejak penelitian-penelitian
dengan memanfaatkan teori strukturalisme dianggap mengalami kemunduran,
stagnasi, bahkan dianggap sebagai involusi (Ratna, 2013: 332).
Menurut Swingewood melalui Faruk (2005: 1), sosiologi sastra merupakan
studi ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai
lembaga-lembaga dan proses sosial.
Menurut Gebstein melalui Endraswara (2013: 25), mengungkapkan
konsep tentang sosiologi sastra, yaitu: (i) karya sastra tidak dapat dipahami
selengkapnya tanpa dihubungkan dengan kebudayaan dan peradaban yang
menghasilkannya, (ii) gagasan yang ada dalam karya sastra sama pentingnya
dengan bentuk teknik pelukisannya, (iii) karya sastra bisa bertahan lama pada
hakikatnya adalah suatu prestasi, (iv) masyarakat dapat mendekati sastra dari dua
arah: pertama, sebagai kekuatan atau faktor material istimewa, dan kedua, sebagai
tradisi.
Pendekatan
terhadap
sastra
yang
mempertimbangkan
segi-segi
kemasyarakatan ini oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra. Istilah itu pada
dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan sosio sastra, pendekatan sosiologis
atau pendekatan sosiokultural terhadap sastra. Sosiologi sastra dalam penelitian
ini mencakup pelbagai pendekatan, masing-masing didasarkan pada sikap dan
pandangan teoritis tertentu (Damono, 1978: 2).
Menurut Damono (1978: 2), ada dua kecenderungan utama dalam telaah
sosiologi terhadap sastra. Pertama, pendekatan yang berdasarkan pada anggapan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
bahwa sastra merupakan cermin proses sosial-ekonomis belaka. Pendekatan ini
bergerak dari faktor-faktor di luar sastra untuk membicarakan sastra, sastra hanya
berharga dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar sastra itu sendiri.
Dalam pendekatan ini, teks sastra tidak dianggap utama, ia hanya merupakan
epiphenomenon (gejala kedua). Kedua, pendekatan yang mengutamakan teks
sastra sebagai bahan penelaahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah analisis teks untuk mengetahui strukturnya, untuk kemudian dipergunakan
memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang di luar sastra.
Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini
menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra dengan
landasannya adalah sebagai gagasan bahwa sastra merupakan cermin jamannya.
Pandangan ini beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari
pelbagai segi struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan
lain-lain. Dalam hal ini, tugas ahli sosiologi sastra adalah menghubungkan
pengalaman tokoh-tokoh khayali dan situasi ciptaan pengarang itu dengan
keadaan sejarah yang merupakan asal-usulnya. Tema dan gaya yang ada dalam
karya sastra yang bersifat pribadi itu, harus diubah menjadi hal-hal yang sosial
sifatnya (Damono, 1978: 8-9).
1.6.3 Konflik Sosial Menurut Soejono Soekanto
Menurut Soekanto (1982: 94), konflik merupakan dilema sosial ketika
orang-perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya
dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan
kekerasan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
Walaupun konflik merupakan suatu proses yang disosiatif, akan tetapi
konflik sebagai salah satu bentuk proses sosial mempunyai fungsinya bagi
masyarakat. Dalam artian, mempunyai akibat-akibat yang positif. Apakah suatu
konflik membawa akibat-akibat yang positif atau negatif, tergantung dari
persoalan yang dipertentangkan dan juga dari struktur sosial di mana konflik
menyangkut suatu tujuan, nilai-nilai atau kepentingan-kepentingan. Salah satu
faktor yang dapat membatasi akibat-akibat negatif dari suatu konflik adalah sikap
toleransi yang institutionalized. Dalam kelompok-kelompok di mana wargawarganya dalam frekuensi yang tinggi mengadakan interaksi sosial kemungkinan
terjadinya konflik dapat ditekan (Soekanto, 1982: 95).
Asal struktural konflik sosial terletak pada relasi-relasi hirarkis berupa
kuasa/wewenang, yang berlaku di dalam kelompok-kelompok dan organisasiorganisasi sosial. Tiap kesatuan itu menunjukkan pembagian yang sama, yakni
antara sejumlah orang yang berada di dalam posisi memegang kuasa dan
wewenang, dan sejumlah besar lain yang berada di posisi bawahan (Veeger, 1992:
93).
Teori konflik bukanlah suatu teori terpadu atau komprehensif. Mungkin
karena alasan inilah, istilah “teori konflik” merupakan suatu istilah yang tidak
cocok. Perhatian yang utama umumnya terhadap pelbagai teori konflik adalah
mengenal dan menganalisa kehadiran konflik dalam kehidupan sosial, sebab dan
bentuknya, dan dalam banyak hal, akibatnya dapat menimbulkan perubahan sosial
(Johnson, 1986: 162).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
28
Teori konflik menerangkan kehidupan sosial dengan mengambil
dampaknya struktur-struktur kekuasaan dan kepentingan kelompok sebagai
masalah pokok. Prinsip dasar yang menerangkan kehidupan sosial ialah dominasi
pihak kuat atas pihak lemah. Penekanan hidup rakyat, manipulasi pendapat umum,
intimidasi, dan penindasan merupakan mekanisme-mekanisme yang diharapkan
membawa “kestabilan”. Akan tetapi, masyarakat sebenarnya pada dasarnya
bersifat goyah karena menjadi arena persaingan dan penabrakan kepentingan yang
berbeda-beda. Misalnya, pelapisan sosial yang dimengerti sebagai akibat objektif
dari dominasi pihak kuat (Veeger, 1992: 31).
Soekanto memandang konflik terjadi pada perilaku pribadi-pribadi
maupun kelompok-kelompok manusia yang menyadari adanya perbedaanperbedaan yang dapat mengakibatkan perbedaan tersebut menjadi suatu
pertentangan atau pertikaian atau kita juga sering menyebutnya sebagai konflik.
Perasaan memegang peranan yang penting dalam mempertajam perbedaanperbedaan sedemikian rupa, sehingga masing-masing pihak berusaha untuk saling
menghancurkan. Perasaan tersebut biasanya berwujud amarah dan rasa benci yang
menyebabkan dorongan-dorongan untuk melukai atau menyerang pihak lain, atau
untuk menekan dan menghancurkan orang perorangan atau kelompok manusia
yang menjadi lawan (Soekanto, 1982: 94).
Soekanto lebih menekankan pada akar penyebab permasalahannya
sehingga menimbulkan pribadi-pribadi ataupun kelompok-kelompok menjadi
pecah dan menimbulkan konflik akibat adanya perbedaan-perbedaan yang terdiri
dari: (i) konflik karena perbedaan orang-perorangan, (ii) konflik karena perbedaan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
kebudayaan, (iii) konflik karena perbedaan kepentingan, dan (iv) konflik karena
perubahan-perubahan sosial.
1.6.3.1 Konflik karena Perbedaan Orang-perorangan
Perbedaan orang-perorangan merupakan perbedaan pendirian dan
perasaan yang akan setiap orang biasanya menjadi pemicu utama dalam konflik
soisal. Sebab dalam menjalin hubungan sosial yang baik, seseorang tidaklah selalu
sejalan dengan kelompoknya. Perbedaan ini mampu menimbulkan konflik sosial
(Soekanto, 1982: 94).
Di dalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, agaknya paling
penting adalah rekasi, entah yang berwujud pujian atau celaan yang kemudian
merupakan dorongan bagi tindakan-tindakan selanjutnya dalam memberikan
rekasi tersebut ada suatu kecenderungan manusia untuk memberikan keserasian
dengan tindakan-tindakan orang-orang lain (Soekanto, 1982: 110).
Kelompok-kelomok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuankesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karena adanya hubungan antara
mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut kaitan timbal balik yang
saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling tolong menolong
(Soekanto, 1982: 111).
Suatu konflik mungkin terjadi karena persaingan untuk mendapatkan mata
pencaharian hidup yang sama, atau terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan
itu. Suatu contoh adalah hubungan antara mayoritas dengan minoritas. Reaksi
golongan minoritas cenderung dalam bentuk sikap tidak bisa menerima, agresif,
menghindar, dan lain-lain.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
Konflik karena adanya perbedaan orang-perorangan akan dibagi oleh
penulis dalam penelitian ini menjadi beberapa bagian, yakni: (i) perbedaan antara
individu dengan individu, (ii) perbedaan antara individu dengan kelompok, dan
(iii) perbedaan antara kelompok dengan kelompok.
1.6.3.2 Konfik karena Perbedaan Kebudayaan
Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sansekerta buddhayah yang
merupakan bentuk jamak dari kata “buddhi” yang berarti budi dan akal. Dengan
demikian, kebudayaan dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan
budi dan akal.” Dengan kata lain, kebudayaan mencakup kesemuanya,
kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perikelakuan
normatif, yaitu mencakup segala cara-cara atau pola-pola berpikir, merasakan dan
bertindak (Soekanto, 1982: 166-167).
Konflik karena adanya perbedaan kebudayaan merupakan perbedaan
kepribadian dari orang-perorangan yang tergantung dari pola-pola kebudayaan
yang menjadi latar belakang pembentukan serta perkembangan kepribadian
tersebut. Seseorang secara sadar maupun tidak sadar, sedikit banyaknya akan
terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya
(Soekanto, 1982: 94).
Kebudayaan sebagaimana diterangkan di atas, dimiliki oleh setiap
masyarakat; bedanya hanyalah bahwa kebudayaan masyarakat yang satu lebih
sempurna daripada kebudayaan masyarakat lain di dalam perkembangannya
untuk memenuhi segala keperluan masyarakatnya. Di dalam hubungan di atas,
maka biasanya diberikan nama “peradaban” kepada kebudayaan yang telah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi. Dalam suatu
masyarakat yang mempunyai jumlah anggota yang besar serta menempati daerah
yang luas, biasanya terdapat perbedaan-perbedaan kebudayan dalam beberapa
bidang (Soekanto, 1982: 168).
Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat.
Bermacam-macam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggotaanggota masyarakat, seperti misalnya kekuatan alam di mana dia bertempat
tinggal, maupun kekuatan-kekuatan lainnya di dalam masyarakat itu sendiri, yang
tidak selalu baik baginya. Kecuali daripada itu, manusia dan masyarakat
memerlukan pula kepuasan, baik di bidang spiritual maupun bidang materiil
(Soekanto, 1982: 172).
Konflik karena adanya perbedaan kebudayaan akan dibagi menjadi
beberapa bagian oleh penulis melalui penelitian tersebut, yakni: kebudayaan
khusus atas dasar faktor kedaerahan, kebudayaan khusus atas dasar agama, dan
kebudayaan khusus atas dasar kelas sosial.
1.6.3.3 Konflik karena Perbedaan Kepentingan
Bentrokan-bentrokan kepentingan individu-individu maupun kelompokkelompok manusia merupakan sumber lain dari pertentangan. Kepentingan
tersebut dapat bermacam-macam perwujudannya, misalnya kepentingan dalam
bidang ekonomi politik, dan lain sebagainya (Soekanto, 1982: 94).
Perbedaan bentrokan kepentingan inilah yang dapat disebabkan karena
adanya kekuasaan dan wewenang yang menyebabkan perbedaan kepentingan dari
kedua
belah
pihak.
Kekuasaan
merupakan
setiap
kemampuan
untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
mempengaruhi pihak lain yang dapat dinamakan kekuasaan, sedangkan
wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang,
yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat (Soekanto,
1982: 260).
Adanya kekuasaan cenderung tergantung dari hubungan antara yang
berkuasa dan yang dikuasai, atau dengan kata lain, antara pihak yang memiliki
kemampuan untuk melancarkan pengaruh dari pihak lain yang menerima
pengaruh ini dengan rela atau karena terpaksa (Soekanto, 1982: 259-260).
Adanya wewenang hanya dapat menjadi efektif bila didukung dengan
kekuasaan yang nyata. Acapkali terjadi letaknya wewenang yang diakui oleh
masyarakat dan letaknya kekuasaan yang nyata, tidak di satu tempat atau tidak di
dalam satu tangan. Dalam masyarakat kecil dan susunannya sederhana, pada
umumnya kekuasaan yang dipegang oleh seseorang atau kelompok meliputi
bermacam bidang, sehingga terdapat gejala yang kuat, bahwa kekuasaan itu
lambat laun diidentifikasikan dengan orang yang memegangnya (Soekanto, 1982:
260).
Adanya kekuasaan dan wewenang pada setiap masyarakat, merupakan
gejala yang wajar, walaupun wujudnya kadang-kadang tidak disukai oleh
masyarakat itu sendiri, oleh karena sifatnya yang mungkin abnormal menurut
pandangan masyarakat yang bersangkutan. Setiap masyarakat memerlukan suatu
faktor pengikat atau pemersatu yang terwujud dalam diri seseorang atau
sekelompok orang yang memiliki kekuasaan dan wewenang yang sekaligus
mempertahankan integritas masyarakat (Soekanto, 1982: 262).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
33
1.6.3.4 Konflik karena Perubahan Sosial
Perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat, untuk
sementara waktu merubah nilai-nilai dalam masyarakat dan menyebabkan
terjadinya golongan-golongan yang berbeda dari pendiriannya mengenai
reorganisasi dari sistem nilai-nilai yang sebagai akibat perubahan-perubahan
sosial menyebabkan suatu disorganisasi dalam masyarakat (Soekanto, 1982: 95).
Perubahan-perubahan di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai
sosial, norma-norma sosial, pola-pola perikelakuan, organisasi, susunan lembagalembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan
wewenang, interaksi sosial, dan lain sebagainya (Soekanto, 1982: 304).
Perubahan-perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak zaman
dahulu, namun dewasa ini perubahan-perubahan tersebut berjalan dengan sangat
cepat, sehingga seolah-olah membingungkan manusia yang menghadapinya,
sehingga di dalam masyarakat-masyarakat di dunia ini sering terjadi perubahanperubahan atau suatu keadaan ketika perubahan-perubahan tersebut berjalan
secara konstan (1982: 305).
Konflik karena perubahan sosial ini terdiri dari: (i) perubahan-perubahan
yang terjadi secara lambat dan cepat, (ii) perubahan-perubahan yang pengaruhnya
kecil dan pengaruhnya besar, dan (iii) perubahan yang dikehendaki dan tidak
dikehendaki.
Berdasarkan analisis di atas, konflik sosial merupakan pertentangan atau
konflik yang berdasarkan pada tindakan yang disertai dengan adanya kekerasan
dan ancaman terhadap tokoh Maryam dalam konflik yang menjadi permasalahan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
34
dalam hidupnya, yakni: (i) pertama, konflik karena perbedaan orang perorangan
yang terdiri dari: perbedaan antara individu dengan individu, perbedaan antara
individu dengan kelompok, dan perbedaan antara kelompok dengan kelompok,
(ii) kedua, konflik karena perbedaan kebudayaan yang terdiri dari: kebudayaan
khusus atas dasar faktor kedaerahan, kebudayaan khusus atas dasar agama, dan
kebudayaan khusus atas dasar kelas sosial, (iii) ketiga, konflik karena perbedaan
kepentingan yang melibatkan adanya bentrokan-bentrokan kepenntingan yang
terdiri dari: kekuasaan dan wewenang, (iv) keempat, konflik karena perubahan
sosial yang terdiri dari: perubahan-perubahan yang terjadi secara lambat dan
cepat, perubahan-perubahan yang pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar, dan
perubahan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.
Berdasarkan gagasan di atas, penulis hanya memfokuskannya pada dua
teori konflik, yaitu konflik karena perbedaan orang-perorangan dan konflik karena
perbedaan kebudayaan. Alasan penulis tidak memasukan perbedaan kepentingan
dan perubahan sosial ke dalam Bab III, yakni: pertama, konflik karena perbedaan
kepentingan, penulis memasukkannya menjadi satu bagian ke dalam konflik
karena perbedaan orang-perorangan, kedua, konflik karena perubahan sosial,
penulis menempatkan konflik perubahan tersebut ke dalam konflik karena
perbedaan kebudayaan.
1.7
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap, yakni (i) pendekatan, (ii)
pengumpulan data, (iii) analisis data, dan (iv) penyajian hasil analisis data. Berikut
akan diuraikan masing-masing tahapan dalam penelitian ini.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
35
1.7.1 Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tentang Konflik Sosial Tokoh
Maryam dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari adalah pendekatan
struktural dan pendekatan sosiologi sastra.
Pendekatan struktural merupakan pendekatan yang bertumpu pada karya
sastra dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan
hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi
dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh
dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2007: 37).
Dalam pendekatan struktural tersebut, penulis akan membatasi pendekatan
tersebut pada kajian yang terdiri dari: tokoh dan penokohan, alur, dan latar.
Pendekatan sosiologi sastra adalah pendekatan yang menganggap karya
sastra sebagai milik masyarakat dengan menganalisis manusia dalam masyarakat,
dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu (Ratna, 2013: 59).
Dalam penelitian ini, pendekatan sosiologi sastra lebih sesuai untuk menganalisis
bentuk-bentuk konflik sosial dalam novel Maryam karya Okky Madasari.
1.7.2 Metode Pengumpulan Data
Penulis menggunakan metode pengumpulan data melalui studi pustaka.
Metode ini dipakai untuk mendapatkan data pada novel Maryam, buku-buku
referensi, artikel, dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan objek tersebut.
Teknik yang digunakan dalam metode pengumpulan data adalah teknik
baca dan teknik catat. Teknik baca digunakan untuk mengumpulkan data dengan
jalan membaca seluruh cerita novel secara berulang-ulang. Teknik catat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
digunakan untuk mencatat hal-hal yang dianggap sesuai dan mendukung penulis
dalam memecahkan masalah.
1.7.3 Metode Analisis Data
Pada tahap analisis data, penulis menggunakan metode analisis isi untuk
menganalisis data-data yang telah dikumpulkan. Isi dalam metode analisis isi
terdiri atas dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi. Isi laten adalah isi yang
terkandung dalam dokumen dan naskah, sedangkan isi komunikasi adalah pesan
yang terkandung sebagai akibat komunikasi yang terjadi. Isi laten adalah isi yang
dimaksudkan oleh penulis, sedangkan isi komunikasi adalah isi sebagaimana
terwujud dalam hubungan naskah dengan konsumen. Analisis terhadap isi laten
akan menghasilkan arti, sedangkan analisis terhadap isi komunikasi akan
menghasilkan makna (Ratna, 2013: 48).
Dasar pelaksanaan metode analisis isi adalah penafsiran. Oleh karena itu,
metode analisis isi dilakukan dalam novel Maryam karya Okky Madasari untuk
memaknakan isi pesan komunikasi dalam novel sehingga dapat mendukung
penelitian ini.
1.7.4 Metode Penyajian Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis.
Metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta
yang kemudian disusul dengan analisis (Ratna, 2013: 53).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
37
Metode deskriptif analisis digunakan oleh penulis untuk mendeskripsikan
hasil penelitian tentang tokoh dan penokohan, alur, dan latar, serta kajian sosiologi
sastra dalam novel Maryam karya Okky Madasari.
1.8
Sumber Data
Sumber data terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder.
1.8.1 Sumber Data Primer
Judul Buku : Maryam
Pengarang
:Okky Madasari
Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2012
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 275 halaman
1.8.2 Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder yang mendukung penulis berupa kumpulan bukubuku cetak perpustakaan, artikel-artikel dari internet, dan sumber-sumber lain
yang akan menjadi sasaran yang berhubungan dengan objek penelitian.
1.9
Sistematika Penyajian
Untuk mempermudah pemahaman terhadap proses dan hasil penelitian ini,
dibutuhkan suatu sistematika yang jelas. Sistematika penyajian dari penelitian ini
dapat dirinci dalam empat bab. Bab I berisi pendahuluan yang berisi latar
belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan
pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
38
Latar belakang dalam penelitian ini menguraikan analisis penulis
melakukan penelitian terhadap novel Maryam karya Okky Madasari dengan teori
konflik sosial. Rumusan masalah menjelaskan beberapa permasalahan yang
ditemukan dalam penelitian ini. Tujuan penelitian mendeskripsikan tujuan dalam
penelitian ini. Manfaat penelitian memaparkan manfaat yang dapat diambil dari
hasil penelitian ini. Landasan teori berisi teori-teori yang digunakan dalam
landasan penelitian ini. Metode penelitian ini berisi tentang pendekatan, metode
pengumpulan data, metode analisis data, metode penyajian data, sumber data yang
digunakan penulis dalam penelitian ini. Sistematika penyajian menguraikan
urutan hasil penelitian dalam penelitian ini.
Bab II berisi tentang struktur novel Maryam yang meliputi tokoh dan
penokohan, alur, dan latar. Bab III berisi tentang kajian novel Maryam karya Okky
Madasari dengan menggunakan teori konflik sosial menurut Soerjono Soekanto
dalam kajian sosiologi sastra. Bab IV berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan
dan saran untuk penelitian selanjutnya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB II
STRUKTUR NOVEL MARYAM
KARYA OKKY MADASARI
2.1
Pengantar
Pada bab ini, penulis akan menganalisis struktur novel Maryam karya
Okky Madasari yang akan difokuskan pada tokoh dan penokohan, alur, dan latar.
Alasan penulis menganalisis struktur novel tersebut karena berhubungan dengan
konflik sosial pada tokoh Maryam dengan melihat bagaimana keadaan para tokoh
cerita, bagaimana peristiwa itu dibangun, dan bagaimana latar dalam cerita
tersebut.
2.2
Tokoh dan Penokohan
Dalam novel Maryam, terdapat banyak tokoh dalam penelitian ini. Penulis
hanya akan memfokuskan pada tokoh Maryam, Umar, Pak Khairuddin, Zulkhair,
Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, Gubernur. Dalam novel ini, akan dibahas
tokoh dan penokohan yang memfokuskan penulis pada tokoh protagonis dan
tokoh antagonis.
2.2.1 Tokoh Protagonis dalam Novel Maryam
Tokoh protagonis merupakan pelaku yang memegang karakter tertentu
dengan membawa ide-ide kebenaran (jujur, setia, baik hati, cerdas, cantik,
berkarismatik, berlapang dada, bertanggung jawab, dan lain-lain). Tokoh
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
protagonis dalam novel Maryam adalah Maryam, Umar, Pak Khairuddin, dan
Zulkhair.
2.2.1.1 Tokoh dan Penokohan Maryam
Maryam merupakan gadis yang sangat cantik di daerah itu. Kulitnya yang
sawo matang, matanya yang bulat dan tajam, alis tebal, dan bibir agak tebal,
rambutnya yang lurus dan hitam. Namun, dari kecantikannya itulah ia tak juga
mempunyai pacar. Meskipun banyak laki-laki yang menyukainya. Justru banyak
dari mereka memandang Maryam sebagai perempuan yang sombong dan tak suka
bergaul dengan orang lain. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(1)
Maryam memiliki kecantikan khas perempuan dari daerah timur. Kulit
sawo matang yang bersih dan segar. Mata bulat dan tajam, alis tebal, dan
bibir agak tebal yang selalu kemerahan. Rambutnya yang lurus dan hitam
sejak kecil selalu dibiarkan panjang melebihi punggung dan lebih sering
dibiarkan tergerai. Di luar segala kelebihan fisiknya, Maryam gadis yang
cerdas dan ramah. Apalagi yang kurang ketika semuanya telah dibungkus
dalam kesamaan iman?
(Madasari, 2012: 24)
(2)
Karena itu, sampai tamat SMA di pulau kelahirannya, Maryam tak pernah
punya pacar. Ia sudah tahu mana orang yang sejalan dengannya, mana
yang bukan. Sejak awal ia membatasi diri ketika ada laki-laki yang berbeda
darinya mulai mendekati. Maryam yang ketus, Maryam yang sombong,
Maryam yang tak mau bergaul. Begitu pikir laki-laki yang mencoba
merayunya. Tapi ketika ada laki-laki Ahmadi mendekatinya, ternyata
sikap Maryam pun tak jauh berbeda. Ya, laki-laki Ahmadi tak ada yang
terlihat menarik di matanya.
(Madasari, 2012: 21)
Berdasarkan kutipan (1) dan (2) digambarkan bahwa Maryam sebagai
seorang perempuan yang cantik sehingga banyak laki-laki yang terpikat olehnya
untuk dijadikan pacar maupun istri. Di luar dari kecantikan fisiknya, Maryam
merupakan gadis yang cerdas dan ramah. Maryam adalah seorang anak muda yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
41
telah lulus SMA pada tahun 1993. Setelah ia lulus SMA, ia sangat ingin sekali
kuliah demi menggapai cita-citanya. Ia memilih kota Surabaya sebagai perguruan
tinggi yang ia inginkan. Maryam pun tinggal bersama saudaranya yang tak lain
adalah Pak dan Bu Zul, teman dekat ayahnya. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(3)
Lulus SMA pada tahun 1993, Maryam berangkat ke Surabaya. Mengikuti
ujian masuk ke perguruan tinggi negeri. Ia diterima di Universitas
Airlangga Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi. Ia tinggal bersama
keluarga yang sudah seperti saudara, kenalan orangtuanya. Sama-sama
Ahmadi. Pasangan suami-istri dengan dua anak yang masih SMA dan
SMP, Pak dan Bu Zazuli, yang kemudian biasa dipanggil Maryam dengan
sebutan Pak dan Bu Zul. Keduanya berasal dari pulau yang sama dengan
Maryam, hanya beda kampung. Tepatnya dari Praya, hampir dua puluh
kilometer di sebelah utara rumah keluarga Maryam. Pak Zul teman bapak
Maryam. Mereka satu sekolah sampai SMP. Lulus SMP Pak Zul merantau
ke Surabaya, menumpang hidup pada keluarga Ahmadi yang mau
membiayainya sekolah sampai lulus SMA. Bapak Maryam juga mendapat
tawaran serupa. Tapi ia enggan. Memilih tetap tinggal di kampung, di
antara ikan-ikan. Toh keduanya sama-sama berhasil. Pak Zul yang
disekolahkan di Sekolah Pendidikan Guru menjadi guru SD di Surabaya.
(Madasari, 2012: 21)
(4)
Begitu juga Maryam. Tinggal di kota besar justru makin menguatkan
iman. Ia kuliah dan bergaul dengan teman-teman seperti biasa tiap hari.
Tapi begitu pulang, hari-harinya dipenuhi dengan ibadah, pembicaraanpembicaraan tentang keyakinan bersama Pak dan Bu Zul, lalu pengajian
di rumah salah satu keluarga Ahmadi seminggu sekali.
(Madasari, 2012: 22)
Berdasarkan kutipan (3) dan (4) digambarkan bahwa Maryam merupakan
seorang perempuan yang tak mudah berputus asa begitu saja terlihat dengan
usahanya bisa kuliah di Universitas Airlangga. Diterimanya Maryam di
Universitas Airlangga, tak menutup hati Maryam begitu saja. Ia semakin
mendalami keimanannya dengan taat beribadah.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
Maryam semakin merasa terpukul dalam kesedihannya. Mendengar
Gamal telah pergi dari rumahnya, membuat Maryam semakin tak henti-hentinya
menangisi kepergian Gamal, kekasihnya itu. Ia tak mengetahui kepergian Gamal.
Namun ia memikirkan kembali akankah ia melupakan Gamal begitu saja dan
mencari penggantinya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(5)
Semua orang di pengajian terdiam mendengar cerita bapak dan ibu Gamal.
Beberapa orang ikut menangis. Di balik punggung Bu Zul, air mata
Maryam tak berhenti mengalir. Ia kemudian berlari ke kamarnya.
Membenamkan muka di bantal hanya untuk meredam tangisnya. Maryam
kehilangan semua harapannya. Kehilangan orang yang dicintainya. Tapi ia
tak tahu harus bagaimana. Ia hanya ingin menangis.
(Madasari, 2012: 29)
(6)
Sesekali Bu Zul masuk ke kamar Maryam, mengelus punggung Maryam
dan berbicara lembut. Berulang kali ia mengatakan agar Maryam
mengikhlaskan Gamal. Jangan terus bersedih, jangan patah hati terlalu
lama, jangan pula sampai marah pada Tuhan. Kata Bu Zul, inilah bagian
dari ujian keimanan. Mendengar itu, air mata Maryam pelan-pelan
mengalir. Tapi ia buru-buru menghapus, memalingkan wajah, menahan
suara isakan agar Bu Zul tak mendengarnya.
(Madasari, 2012: 30)
(7)
Maryam merindukan Gamal dengan ragu. Tak tahu apakah rasa seperti ini
masih boleh dipelihara sementara Gamal sendiri entah di mana. Tak tahu
apakah rasa rindu ini punya wujud nyata, atau hanya serupa godaangodaan kecil yang datang saat ia dalam sepi. Apakah ia berhak merawat
cintanya setelah Gamal terang-terangan menanggalkan iman? Maryam tak
pernah mendapatkan jawaban dari segala kerisauan, sebagaimana ia juga
selalu gagal menyingkirkan rasa rindunya pada Gamal. Bayangan Gamal
senantiasa menyertainya. Mimpi-mimpi tentang Gamal menjadi hiburan
tidurnya. Bayangan tentang kepulangan Gamal yang telah menemukan
kembali iman menjadi doa-doanya. Maryam tak tahu lagi bagaimana ia
bisa mendapatkan rasa yang serupa pada orang lain. Ia ingin, tapi tak
pernah bisa.
(Madasari, 2012: 31)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
Berdasarkan kutipan (5), (6), dan (7) digambarkan bahwa Maryam telah
kehilangan orang yang dicintainya. Ia tak sanggup lagi menahan kesedihannya
atas kepergian Gamal yang meninggalkannya yang pergi entah ke mana. Ia
berusaha menghapuskan semua ingatannya tentang Gamal meskipun ia benarbenar masih merindukan kekasihnya itu.
Setelah lulus kuliah pada tahun 1997, Maryam bekerja di salah satu bank
besar Jakarta. Saat itulah Maryam dan Alam berkenalan dan menjalin hubungan.
Setelah kepedihannya waktu itu bersama Gamal, ia telah menemukan sisi baiknya
Gamal pada diri Alam. Hal itu semakin membuat Maryam jatuh cinta pada Alam,
kekasihnya itu. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(8)
Pada awal tahun 1997, Maryam lulus kuliah dengan terengah-engah.
Menyelesaikan segala kewajiban sambil tetap harus mengatur segenap
rasa gundah. Bayangan Gamal masih tetap mengiringinya. Bahkan ketika
ia berhasil mendapat pekerjaan di sebuah bank besar di Jakarta. Baru
kemudian, ketika Alam datang, Maryam kembali merasakan apa yang dulu
dirasakannya saat mulai dekat dengan Gamal. Maryam juga sengaja
membanding-bandingkan keduanya. Wajah mereka yang hampir mirip,
sifat dan perilaku yang serupa, dan nama mereka yang tak jauh berbeda:
Gamal dan Alam. Maryam jatuh cinta. Satu-satunya yang dipikirkan
adalah jangan sampai yang baru didapatkannya ini terlepas. Ia tak mau lagi
mengulang masa-masa kehampaan yang melelahkan ketika kehilangan
Gamal. Dengan Alam ia tak berpikir apa-apa lagi, selain ingin berdua
selamanya.
(Madasari, 2012: 32)
(9)
Delapan tahun lalu, tak lama setelah Maryam mulai bekerja di bank,
mereka berdua berkenalan dalam sebuah pertemuan. Dua puluh empat
tahun usia Maryam saat itu. Ia pindah ke Jakarta setelah tamat kuliah di
Surabaya. Baru menikmati punya penghasilan sendiri, yang jumlahnya
paling besar dibanding teman-teman kuliah seangkatan, dua juta rupiah.
Sedang senang-senangnya berbelanja baju-baju baru, memoles wajah tiap
pagi, pergi ke salon sebulan sekali. Punya penghasilan sendiri membuat
Maryam jauh lebih percaya diri. Punya penghasilan sendiri membuatnya
tak perlu bergantung pada orangtuanya lagi.
(Madasari, 2012: 16)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
Berdasarkan kutipan (8) dan (9) digambarkan bahwa Maryam bekerja di
salah satu bank terbesar di kota Jakarta. Di kota itulah Maryam dan Alam bertemu,
dan mereka pun berpacaran setelah Maryam berhasil move on dari Gamal mantan
kekasihnya itu. Selain hubungannya bersama Alam berjalan lancar, pekerjaannya
pun membuahkan hasil yang baik untuknya. Maryam mempunyai penghasilan
sendiri tanpa bergantung lagi pada kedua orangtuanya.
Maryam merupakan seorang yang telah menjadi janda. Ia menceraikan
suaminya, Alam. Meskipun ia tahu segala usahanya untuk bahagia bersama Alam,
kini telah sirna. Namun, ia bisa bebas keluar dari kehidupannya yang karam
dengan bekerja dan bekerja tanpa kenal lelah. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(10)
Perkawinan yang belum genap lima tahun itu karam. Maryam yang
memilih keluar. Ia sendiri heran, bagaimana ia bisa selama itu bertahan.
Berusaha membangun kebahagiaan di tengah-tengah kecurigaan dan
kepalsuan. Ia selalu berpikir, yang penting Alam, suaminya itu, tulus
mencintainya tanpa prasangka. Tapi siapa yang menyangka nyali laki-laki
yang dicintainya hanya sebatas bualan?
(Madasari, 2012: 15)
Berdasarkan kutipan (10) digambarkan bahwa Maryam telah menjadi
janda. Perkawinannya yang belum genap lima tahun. Baginya, cinta Alam
hanyalah sebagai bualan saja, tak ada cinta, tak ada kebahagiaan, yang ada
hanyalah kepalsuan. Itulah yang membuatnya mengambil keputusan, yaitu
berpisah dari suaminya yang tak pernah bisa mengerti akan dirinya. Di samping
itu, Maryam tetap menjadi dirinya yang bisa bekerja seperti biasanya tanpa
memperlihatkan penderitaannya kepada orang lain.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
45
Maryam pun kembali dilamar oleh laki-laki yang dijodohkan oleh
orangtuanya. Umar namanya. Maryam merasa menjadi pusat perhatian di tempat
itu. Maryam semakin diperlakukan seperti anak yang baru pertama kali menikah.
Meskipun ia tahu, ia dulu pernah terbuai dengan mengorbankan keluarganya
hanya demi laki-laki yang tak bisa berbuat apa-apa untuknya. Hal tersebut seperti
dalam kutipan berikut:
(11)
Maryam merasa menjadi pusat perhatian. Ia merasa dihargai. Merasa
dicintai dan dikasihi. Sesaat ia sibuk mengurai sesal. Kenapa dulu terbuai
oleh impian bahagia yang ia sendiri pun tak tahu wujudnya seperti apa?
Kenapa mau-maunya ia mengorbankan keluarganya hanya demi laki-laki
yang tak bisa berbuat apa-apa? Kenapa ia bisa begitu bodoh? Air mata
Maryam berdesakan di sudut matanya. Maryam sebisa mungkin berusaha
menahan. Tapi mata yang berkaca-kaca dan memerah tak bisa
disembunyikan dari penglihatan semua orang yang ada di situ. Sesaat
semuanya diam. Merasa tak enak untuk berkata-kata.
(Madasari, 2012: 157)
(12)
Dalam hatinya timbul sedikit heran, kenapa bapak dan ibunya
memperlakukannya seperti anak gadis yang baru pertama kali menikah.
Mungkin ini karena begitu takut yang dulu terjadi pada pernikahanku
dengan Umar, sisi hati Maryam yang lain menjawab pertanyannya sendiri.
(Madasari, 2012: 159)
(13)
Umar memberikan alat salat dan Al Quran sebagai mas kawin. Saat suara
“sah” diucapkan berkali-kali, air mata Maryam menetes. Bayangan
pernikahannya dengan Alam kembali datang. Sangat jelas dan terasa
nyata. Maryam bahkan merasa semuanya hanya pengulangan. Peristiwa
yang sama. Hanya waktu dan tempatnya yang berbeda. Namun saat
pandangannya bertemu dengan bapak dan ibunya, Maryam tahu ini
bukanlah pernikahannya yang dulu. Ada bahagia yang mengintip pelanpelan dari balik hatinya. Bahagia karena telah membuat orangtuanya
bahagia. Rasa yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
(Madasari, 2012: 164)
Berdasarkan kutipan (11), (12), dan (13) digambarkan bahwa Maryam
merasa dihargai, menjadi pusat perhatian. Dalam hatinya, Maryam yang bangga
meskipun ia sedikit heran akan perlakuan orangtuanya di hari pernikahan yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
46
kedua kalinya. Maryam pun kembali meneteskan air mata, ia tahu bahwa ini
bukanlah pernikahannya seperti yang dulu. Ada rasa bahagia dibalik hatinya, ia
pun bahagia telah membuat orangtuanya bahagia.
Maryam pun melahirkan anak pertamanya. Anak perempuan yang sehat
dan sempurna. Inilah yang membuat Umar dan Maryam sama-sama bahagia.
Tidak hanya mereka saja yang berbahagia, keluarga dan kerabat keluarganya pun
ikut berbahagia menyambut kedatangan satu orang lagi dalam keluarga mereka.
Maryam pun berencana menamakan anaknya Mandalika. Hal tersebut seperti
dalam kutipan berikut:
(14)
Dalam duka, anak Umar dan Maryam lahir. Bayi perempuan. Sehat dan
sempurna. Mandalika. Begitu mereka memberinya nama. Di hari-hari
terakhir kehamilannya, Maryam berkata pada Umar ingin memberi nama
yang berasal dari Lombok untuk anaknya. Bukan nama Arab, seperti ayah
dan ibunya. Bagi Maryam, itu langkah paling awal sekaligus langkah
paling mudah dilakukan untuk menjauhkan anaknya dari segala kepedihan
yang dialami keluarganya. “Biarlah anak ini jauh dari agama tapi dekat
dengan kebaikan,” kata Maryam berulang kali. Umar mengiyakan. Dalam
soal iman, ia selalu sepaham dengan Maryam. Semua yang mereka
lakukan selama ini adalah bentuk cinta pada keluarga dan orang-orang
yang teraniaya. Bukan untuk iman keluarga.
(Madasari, 2012: 241)
(15)
Maryam dan Umar mulai memikirkan nama. Mereka membeli buku, juga
membuka-buka internet. Lalu nama itu diingat Maryam begitu saja:
Mandalika. Cerita yang sering didengarnya sejak kecil di Gerupuk.
Tentang seorang putri cantik yang diperebutkan dua raja dari dua kerajaan
besar. Perang besar akan terjadi. Tapi Mandalika memilih pergi.
Mengorbankan diri agar perang tak terjadi. Ia menenggelamkan diri di
pantai indah yang berbukit-bukit di wilayah selatan. Tak jauh dari
Gerupuk, hanya beberapa langkah kaki dari hotel tempat menginap
Maryam dan Umar dulu. Semua warga di daerah selatan akrab dengan
cerita ini. Barangkali kisah Mandalika inilah yang pertama menyapa
mereka di dunia dongeng. Demikian juga Maryam.
(Madasari, 2012: 242)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
47
Berdasarkan kutipan (14) dan (15) digambarkan bahwa Maryam telah
melahirkan seorang anak perempuan yang cantik, sehat, dan sempurna. Mereka
memberikan nama anaknya, Mandalika. Maryam yang menginginkan nama itu
agar dapat menjauhkan anaknya dari segala kepedihan yang dialami oleh keluarga
dan dirinya yang nantinya Mandalika mengorbankan diri agar perang takkan
terjadi lagi.
2.2.1.2 Tokoh dan Penokohan Umar
Umar merupakan anak dari Pak Ali dan Bu Ali. Umar adalah anak satusatunya keluarga Pak Ali. Umar kuliah di Universitas Udayana, Bali, Jurusan
Sastra Inggris. Umar yang belum lulus juga masih terpesona pada kehidupannya
dengan berkuliah yang membuatnya belum juga lulus. Hal tersebut seperti dalam
kutipan berikut:
(16)
Anak mereka kuliah sastra Inggris di Universitas Udayana. Kata Pak Ali,
ia ingin anaknya segera lulus hanya karena satu alasan, agar anaknya cepat
pulang dan kembali hidup bersama mereka. Umar nama anak itu, akan
melanjutkan usaha bapak dan ibunya itu. “Biarlah dia dagang madu dan
susu saja, yang penting tidak terpengaruh orang-orang luar,” kata Pak Ali.
(Madasari, 2012: 94)
(17)
Pak Ali dan Bu Ali hanya punya satu anak laki-laki. Sekarang kuliah di
Bali. Sudah tahun kelima. “Harusnya sudah lulus dan bekerja. Tapi
biasalah anak muda,” kata Bu Ali. Mereka semua tertawa.
(Madasari, 2012: 94)
Berdasarkan kutipan (16) dan (17) digambarkan bahwa Umar merupakan
anak dari Ibu dan Pak Ali. Ia kuliah di Universitas Udayana, Bali. Mengambil
Jurusan Sastra Inggris. Umar diharapkan kedua orangtuanya untuk segera cepat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
menyelesaikan kuliahnya agar bisa melanjutkan usaha orangtuanya dengan
menjualkan susu dan madu.
Setelah kematian ayahnya, Umar tidak pernah lagi kembali ke Bali. Kuliah
pun tidak lagi. Kekasihnya pun tidak. Umar meneruskan usaha yang dijalankan
oleh bapaknya dengan mengurus susu dan madu milik orangtuanya dulu. Ia
melanjutkan semuanya dari apa yang dilakukan oleh ayahnya sebelum meninggal.
Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(18)
Umar tak kembali lagi ke Bali. Ia meninggalkan semua begitu saja. Demi
ibunya. Tak sampai hati ia meningalkan ibunya sendirian. Lebih dari itu,
hanya dialah satu-satunya harapan untuk meneruskan usaha yang telah
puluhan tahun dijalankan bapaknya. Umar kini yang mengurus susu dan
madu. Ia melanjutkan semua yang dulu dilakukan bapaknya. Pada bulanbulan awal, agar lebih tahu semuanya, ia berangkat ke Sumbawa setiap
minggu. Mendatangi tempat-tempat yang biasa memasok susu untuk
mereka. Membandingkan satu dengan yang lain, mengenali kualitas,
mengingat harga. Ia juga pergi ke tempat madu-madu dihasilkan. Mencari
tahu dari proses awal hingga akhirnya siap dikirim ke Lombok. Umar
belajar dengan cepat. Ia merasakan bagaimana pundaknya kini membawa
sesuatu yang dinamai “tanggung jawab”. Ia harus melanjutkan semuanya,
membesarkan, melakukan yang lebih baik. Demi kebahagiaan ibunya.
Juga demi kebanggaan dan nama bapaknya.
(Madasari, 2012: 101)
Berdasarkan kutipan (18) digambarkan bahwa Umar tak pernah lagi
kembali ke Bali. Ia meneruskan usaha bapaknya yang diwariskan untuknya. Ia
juga yang menjaga ibunya setelah ayahnya meninggal. Ia sangat tak ingin
meninggalkan ibunya hidup sendirian. Maka dari itu, ia belajar menjadi orang
yang lebih bertanggung jawab lagi. Ia harus melanjutkan semuanya,
membesarkan, dan melakukan yang lebih baik demi membahagiakan ibunya dan
juga demi kebanggaan dan nama bapaknya tersebut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
49
Umar menunjukkan sikap lembutnya kepada Maryam, istrinya. Hal itu
juga yang membuat Maryam merasa senang. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(19)
Umar selalu sopan dan lembut pada Maryam. Setiap pulang dalam keadaan
lelah karena baru berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, ia mendekati
Maryam dan berkata pelan, “Sabar ya, sampai besok Jumat semua selesai.”
Maryam tersenyum. Ia tahu maksud Umar. Dan ia memang tak
mempermasalahkan apa-apa. Semua begitu mudah dipahami.
(Madasari, 2012: 166)
Berdasarkan kutipan (19) digambarkan bahwa Umar benar-benar seorang
suami yang bersikap sopan dan lembut pada Maryam. Ia berusaha menenangkan
Maryam agar tak bosan. Terlihat jelas juga bahwa Maryam sangat menyukai sikap
Umar dibandingkan dengan mantan suaminya, Alam.
2.2.1.3 Tokoh dan Penokohan Pak Khairuddin
Pak Khairuddin merupakan ayah dari Maryam. Pak Khairuddin bekerja
sebagai tengkulak ikan. Dapat dikatakan, Pak Khairuddin merupakan seorang
kepala keluarga yang dapat menghidupi keluarganya dengan baik. Dari hasil
itulah bapak Maryam bisa membangun rumah serta membiayai kuliah Maryam,
anaknya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(20)
Bapak Maryam menjadi tengkulak ikan. Membeli hasil tangkapan
nelayan-nelayan, lalu menjualnya ke pasar kecamatan dan rumah-rumah
makan. Dengan hasil dari ikan itulah bapak Maryam bisa membangun
rumah yang layak, punya satu pikap, dan menyekolahkan dua anaknya.
Kuliah Maryam di Surabaya dibiayai orangtuanya sendiri. Dia hanya
menumpang tinggal di rumah Pak Zul, demi keamanan, juga karena tradisi
persaudaraan sesama mereka.
(Madasari, 2012: 21)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
(21)
Gerupuk adalah deretan perahu-perahu nelayan, bau amis ikan, dan
nelayan-nelayan berkulit legam. Setiap orang hidup dari tangkapan ikan,
udang, atau teripang. Bapak Maryam satu dari sedikit orang yang
beruntung. Ia hidup dari ikan-ikan itu tanpa perlu lagi melaut sendiri. Ia
hanya perlu menunggu orang-orang, membelinya sesuai kesepakatan, lalu
menjualnya di Pasar Sengkol, dua puluh kilometer ke arah barat dari
Gerupuk.
(Madasari, 2012: 42)
Berdasarkan kutipan (20) dan (21) digambarkan bahwa Pak Khairuddin
bekerja sebagai tengkulak ikan. Ia mempunyai usaha yang bagus di desa itu
dengan hasil dari tangkapan ikan itulah Pak Khairuddin bisa membangun rumah
yang layak, mempunyai satu pikap, dan dapat menyekolahkan dua anaknya,
Maryam dan Fatimah, namanya.
Pak Khairuddin seorang ayah yang sangat tegas terhadap anak-anaknya.
Ia selalu mendidik keras anak-anaknya dari kecil. Dari situ terlihat jelas bahwa ia
sangat menyayangi anak-anaknya. Ia tak ingin anaknya lupa akan agama. Pak
Khairuddin juga begitu gembira melihat anaknya, Maryam, bisa kuliah di
Surabaya. Ia juga percaya bahwa Maryam juga sedang mendalami agama saat
berada di Surabaya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(22)
Bagi Pak Khairuddin, untuk urusan keyakinan anak-anak harus dididik
keras sejak kecil. Mereka harus menjadi orang-orang Ahmadi yang sejati.
Yang bisa menjadi penerus dan penyiar ketika generasi-generasi lama
mati. Karena itu, Pak Khairuddin begitu gembira ketika mendengar kabar
tentang Maryam saat masih tinggal di rumah Pak Zu dan Bu Zul. Ia
percaya, di Surabaya Maryam tak hanya mencari gelar sarjana tapi juga
sedang mendalami agama.
(Madasari, 2012: 88)
Berdasarkan kutipan (22) digambarkan bahwa Pak Khairuddin sangat
tegas sekali terhadap anak-anaknya. Di mana urusan keyakinan anak-anaknya
harus dididik sejak kecil. Bagi Pak Khairuddin, anaknya haruslah menjadi orang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
51
Ahmadiyah yang sejati yang bisa menjadi generasi selanjutnya. Di situlah ia
sangat percaya anaknya akan mendalami agama lagi di Surabaya selain mencari
gelar sarjana.
Pak Khairuddin menemukan laki-laki yang tepat untuk dijadikannya
sebagai menantu. Umar, namanya. Pak Khairudin benar-benar merasa bahwa
pilihannya ini adalah yang tepat. Pak Khairuddin pun mengenal baik dengan
orangtua Umar. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(23)
Bagi Pak Khairuddin, Umar sudah menjadi menantu dalam hatinya. Tidak
ada lagi yang kurang dari pemuda itu. Selain seorang Ahmadi, ia mandiri
dengan usahanya, bahkan menjadikannya lebih besar daripada saat
dipegang bapaknya. Apalagi keluarga Bu Ali banyak membantu saat
mereka berada di pengungsian.
(Madasari, 2012: 136)
(24)
Pada malam terakhir sebelum pernikahan digelar, Maryam diajak bicara
oleh kedua orangtuanya. Berbagai nasihat disampaikan Pak Khairuddin.
Ada kata-kata tertentu yang diulang berkali-kali. Yakni ikhlas, setia, dan
Ahmadi.
(Madasari, 2012: 159)
Berdasarkan kutipan (23) dan (24) digambarkan bahwa Pak Khairuddin
benar-benar menemukan pemuda yang tepat untuk Maryam. Selain dikenal samasama menjadi Ahmadiyah, Pak Khairuddin menilai Umar adalah laki-laki yang
mandiri dengan usahanya itu. Pak Khairuddin tambah yakin lagi dengan mengenal
orangtua Umar adalah keluarga yang membantu keluarga Pak Khairuddin saat
berada di pengungsian.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
52
2.2.1.4 Tokoh dan Penokohan Zulkhair
Zulkhair merupakan ketua organisasi. Zulkhair adalah orang yang ditemui
Maryam saat kembalinya Maryam ke kampung halamannya yang sedang mencari
keluarganya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(25)
Laki-laki itu diam beberapa saat. Sampai kemudian tersenyum, seolah
ingin memberi tanda ia sudah paham maksud Maryam. Laki-laki itu
mengajak Maryam keluar dari masjid, menuju rumah di samping yang
menjadi kantor pengurus organisasi. Ternyata laki-laki itulah yang ia cari.
Ketua organisasi yang sekarang, menggantikan ketua yang diingat
Maryam. Namanya Zulkhair. Lebih muda sedikit dari bapak Maryam.
berpakaian rapi, berbicara santun. Ia berpendidikan tinggi. Sarjana lulusan
Universitas Mataram. Sekarang pegawai negeri di kantor provinsi. Tiap
hari, sepulang kerja, Zulkhair datang ke kantor ini. Kadang ada pertemuan,
kadang hanya sekadar memantau keadaan. Ada seorang penjaga yang
setiap hari tinggal di tempat ini.
(Madasari, 2012: 66)
Berdasarkan kutipan (25) digambarkan bahwa Zulkhair merupakan lakilaki yang bertemu dengan Maryam. Zulkhair merupakan ketua organisasi. Ia
berpendidikan tinggi lulusan Universitas Mataram. Dan sekarang ia juga bekerja
sebagai pegawai negeri di kantor provinsi.
Zulkhair berusaha meyakinkan Maryam untuk bisa mempertahankan
segala keyakinan yang dimilikinya yaitu menjadi Ahmadiyah seutuhnya. Zulkhair
berusaha menasihati Maryam untuk tidak pernah meninggalkan iman. Hal
tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(26)
“Meski demikian, dalam segala keputusasaan, tak ada satu pun yang
berpikir untuk meninggalkan keimanan,” kata Zulkhair. Ia mengulang
kalimat itu berkali-kali. Ada nada syukur dan bangga. Seolah ia ingin
meyakinkan pada Maryam bahwa iman orang-orang Ahmadi tak bisa
dikalahkan hanya sekadar oleh penderitaan.
(Madasari, 2012: 77)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
53
Berdasarkan
kutipan (26) digambarkan bahwa Zulkhair berusaha
memperingatkan Maryam untuk jangan lagi meninggalkan iman yang mereka
miliki. Ia selalu menunjukkan sikap rasa bersyukur dan bangga menjadi
Ahmadiyah secara utuh. Zulkhair pun meyakinkan Maryam bahwa iman orangorang Ahmadiyah tak bisa dikalahkan hanya sekadar oleh penderitaan.
Zulkhair semakin menelan kekecewaan dan tak ada harapan lagi. Namun,
melihat kegigihan Maryam yang sangat ingin mempertahankan keluarganya, dan
kaum Ahmadiyah lainnya membuat Zulkhair menjadi semangat untuk menindak
keadilan. Zulkhair pun merasa tertantang. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(27)
“Tak ada salahnya mencoba lagi, Pak. Saya dan Umar kalau boleh ingin
ikut juga ke sana,” kata Maryam sambil melirik suaminya. Umar
mengangguk. Bagi Maryam, inilah saatnya ia melakukan sesuatu lebih dari
sekadar memasok makanan dan pakaian. Selama hamil, ia memang
sengaja membatasi diri untuk tidak terlibat dalam banyak hal. Tapi
sekarang sudah tak ada lagi yang perlu dirisaukan.
(Madasari, 2012: 246)
(28)
Melihat niat Maryam dan Umar, Zulkhair kembali bersemangat. Dengan
pengurus organisasi yang telah tua dan lelah, ia kehabisan semua
kegigihan.
Bersama-sama
mereka,
Zulkhair
akhirnya
ikut
menenggelamkan diri dalam keyakinan akan kesabaran dan kepasrahan
diri. Tapi sekarang tidak lagi. Ia tertantang oleh jiwa-jiwa penuh energi
dan sorot mata penuh keyakinan dan kegigihan.
(Madasari, 2012: 247)
Berdasarkan kutipan (27) dan (28) digambarkan bahwa Zulkhair sedikit
putus asa. Zulkhair pun bertambah semangat lagi dengan melihat semangat
Maryam. Ia ikut menenggelamkan diri dalam keyakinan akan kesabaran dan
kepasrahan diri. Ia merasa tertantang oleh jiwa-jiwa penuh energi dan sorot mata
penuh keyakinan dan kegigihan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
54
2.2.2 Tokoh Antagonis dalam Novel Maryam
Tokoh antagonis adalah tokoh yang beroposisi dengan tokoh protagonis,
secara langsung ataupun tak langsung, bersifat fisik maupun batin. Tokoh
antagonis juga dapat dikatakan sebagai pelaku yang menentang pelaku protagonis.
Dalam novel Maryam karya Okky Madasari, yang termasuk pada tokoh antagonis
adalah Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, dan Gubernur. Mereka disebut tokoh
antagonis karena mereka merupakan sebagai pelaku yang menentang tokoh
Maryam sebagai tokoh protagonis.
2.2.2.1 Tokoh dan Penokohan Alam
Alam Syah biasa dipanggil Alam. Ia merupakan seorang karyawan di
perusahaan konstruksi Jakarta. Alam menjalin hubungannya bersama Maryam
yang kini membuatnya bingung dengan pilihan yang harus ditentukannya. Ketika
orangtua Maryam akan merestui Alam, bila ia menjadi bagian dari Ahmadiyah.
Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(29)
Maryam menyebut namanya Alam Syah. Karyawan di perusahaan
konstruksi.
(Madasri, 2012: 16)
(30)
Lalu ibu Maryam dengan lembut bertanya, “Apa itu berarti Nak Alam
sudah siap menjadi seorang Ahmadi?”
Alam kebingungan. Maryam yang terkejut berseru memanggil ibunya.
Beberapa detik ruangan senyap, masing-masing menahan napas penuh
ketegangan.
(Madasari, 2012: 18)
Berdasarkan kutipan (29) dan (30) digambarkan bahwa Alam merupakan
seorang yang telah bekerja di salah satu perusahaan konstruksi di Jakarta. Ia
bertemu dengan Maryam di Jakrta, lalu menjalin hubungan dengan Maryam,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
55
perempuan Ahmadiyah. Saat ia bertemu dengan orangtua Maryam, Alam merasa
bingung akan pernyataan ibu Maryam yang baru ditemui di rumah Maryam,
Lombok.
Alam adalah seorang laki-laki yang tak bisa mengambil keputusan dengan
tepat. Seringkali ia mencari alasan untuk mempertemukan Maryam kepada
keluarganya, yang ditakuti adalah orangtuanya akan memarahi dirinya bila
berhubungan dengan orang yang tak satu keyakinan dengannya. Hal tersebut
seperti dalam kutipan berikut:
(31)
Alam masih ragu mengenalkan Maryam ke orangtuanya. Pikirnya, ia baru
akan mengenalkan kalau Maryam memang sudah pasti akan dinikahinya.
Ia memilih menunda sampai keyakinan itu datang, daripada semuanya
berantakan setelah dikenalkan. Apalagi sejak pertemuan Alam dengan
orangtua Maryam. Meskipun di depan Maryam ia selalu pura-pura tak
menjadikan semua itu persoalan, diam-diam ia memikirkannya dalamdalam.
(Madasari, 2012: 37)
Berdasarkan kutipan (31) digambarkan bahwa Alam masih sedikit raguragu memperkenalkan Maryam pada keluarganya. Ia tak ingin semuanya
berantakan untuk membawa Maryam ke ajaran agamanya yaitu menjadi Islam
yang dinilainya sah oleh hukum dan negara.
Dari sedikit keraguannya, Alam berusaha memberanikan dirinya untuk
memberitahukan latar belakang Maryam kepada orangtuanya tersebut. Alam
berusaha meyakinkan orangtuanya untuk bisa menerima Maryam yang ingin ia
nikahi itu. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(32)
Maka Alam memberanikan diri bercerita pada ibunya tentang latar
belakang Maryam. Tak bisa ia hanya diam, menyembunyikan apa yang
sebenarnya diketahui dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Bukan karena apaapa, tapi hanya ia tak bisa seperti itu. Sejak kecil begitulah Alam dibentuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
56
ibunya. Tak akan ada satu keputusan pun ia ambil tanpa ibunya. Apalagi
untuk urusan sebesar ini: soal jodoh dan pernikahan. Alam ingin
menceritakan semuanya, membuat ibunya paham dan mengerti, lalu
sepenuh hati merestui rencananya menikahi Maryam.
(Madasari, 2012: 38)
Berdasarkan kutipan (32) digambarkan bahwa Alam masih meragukan
dirinya menceritakan tentang Maryam kapada keluarganya. Saat ia sudah yakin,
ia pun menceritakan siapa sebenarnya Maryam itu. Ia berusaha membuat
orangtuanya bisa mengerti dan merestui hubungannya bersama Maryam.
Alam
menceraikan
Maryam.
Alam
lebih
mempercayai
ibunya
dibandingkan dengan Maryam istrinya yang selalu menjadi istri yang penurut
kepadanya, Maryam yang selalu menerima siksaan dari ibunya. Hal tersebut
seperti dalam kutipan berikut:
(33)
Dari kisah yang paling lama hingga yang paling baru. Sambil ia sedikit
menyisipkan harapan, agar Alam mempertahankannya. Juga agar Alam
bisa memahaminya setelah mendengar bagaimana selama ini Maryam
merasa begitu tertekan. Maryam diam-diam berdoa agar Alam mau
menukar perceraian dengan keputusan besar untuk kembali
mempertahankan pernikahan ini sesuai dengan yang diharapkan Maryam.
Tapi ternyata Alam hanya diam.
(Madasari, 2012: 128)
Berdasarkan kutipan (33) digambarkan bahwa Alam benar-benar bukan
merupakan seorang suami yang baik dan pengertian terhadap istrinya. Maryam
yang selalu tersiksa akan siksaan yang dilakukan oleh Alam dan keluarganya. Ia
lepaskan Maryam begitu saja.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
57
2.2.2.2 Tokoh dan Penokohan Ibu Alam
Ibu Alam merupakan ibu dari Alam. Ibu Alam memiliki tiga anak, Alam
anak laki-laki satu-satunya dan dua lainnya perempuan. Ibu Alam terlihat lebih
muda dibandingkan dengan ibu Maryam dan Bi Zul. Hal tersebut seperti dalam
kutipan berikut:
(34)
Ibu Alam guru SMA. Dua adik Alam, keduanya perempuan, satu baru
lulus kuliah dan yang satunya masih SMA.
(Madasari, 2012: 35)
(35)
Ibu Alam kelihatan masih muda, lebih muda daripada ibu Maryam atau Bu
Zul.
(Madasari, 2012: 36)
Berdasarkan kutipan (34) dan (35) digambarkan bahwa Ibu Alam
merupakan seorang guru SMA. Ia memiliki tiga anak. Anak pertamanya Alam,
anak keduanya baru lulus kuliah dan yang satunya masih SMA. Selain itu, Ibu
Alam juga terihat jauh lebih muda dibandingkan oleh Ibu Maryam dan Ibu Zul,
saudaranya.
Ibu Alam merupakan seorang yang tak begitu menyukai Maryam. Saat
mengetahui latar belakang Maryam, Ibu Alam melarang anaknya berhubungan
dengan Maryam. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(36)
Ibunya berteriak menyerukan nama Alam, saat Alam mengatakan bahwa
Maryam seorang Ahmadi. Semuanya di luar yang dibayangkan Alam.
Ibunya kecewa dan marah. Tanpa memberi kesempatan Alam berbicara,
ibunya terus menyesalkan kenapa Alam mau berhubungan dengan orang
seperti Maryam. Ibunya berkata tegas, “Tinggalkan Maryam sekarang
juga.” Setiap bantahan dari Alam membuat ibunya semakin gusar. Setiap
kata Alam dibalas ibunya dengan rentetan kalimat. Pembicaraan itu
berakhir dengan tangisan ibunya. Alam diam. Ia bingung sekaligus merasa
bersalah.
(Madasari, 2012: 38)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
Berdasarkan kutipan (36) digambarkan bahwa Ibu Alam sebagai orang
yang selalu mengekang hubungan anaknya bersama Maryam. Ia marah dan
kecewa. Tanpa memberikan kesempatan pada Alam untuk berbicara, ia
menyesalkan atas segala hubungan Maryam dengan anaknya, Alam. Ibunya yang
tak terima mengenai Maryam, meminta pada Alam untuk meninggalkan Maryam.
Pernikahan yang dijalankan oleh Maryam dan Alam tidak cukup sampai
di situ saja, Ibu Alam selalu menyiapkan rencana untuk membuat Maryam tak bisa
bertahan dalam rumah itu dengan menyinggung Maryam dengan mengatakan
menambahkan ibadah. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(37)
Tragedi pernikahannya sebenarnya sudah diawali sejak bulan-bulan awal.
Ketika ibu Alam tak henti-henti berkata, “Ibadahnya ditambah. Biar
tobatnya semakin bisa diterima.” Setiap saat, setiap ada kesempatan, ibu
Alam selalu menjadikan kata-kata itu sebagai hal wajib yang harus
disampaikan.
(Madasari, 2012: 113)
(38)
Pada Sabtu pagi, ibu Alam mengundang seluruh keluarga besar. Pengajian
sekaligus syukuran hari kelahiran bapak Alam. Ustaz langganan diundang.
Di tengah acara, ibu Alam tiba-tiba berseru, “Pak Ustaz, tolong anak saya
ini didoakan agar segera punya keturunan. Tolong dimintakan ampun
kalau memang dulu pernah sesat.”
(Madasari, 2012: 121)
Berdasarkan kutipan (37) dan (38) digambarkan bahwa Ibu Alam selalu
menyinggung-nyinggung tentang iman. Ia memperingati Maryam untuk selalu
menambahi ibadahnya agar dapat diterima tobatnya. Bagi Ibu Alam, itu
merupakan hal yang wajib disampaikan pada Maryam. Lain dari itu, Ibu Alam
mengundang keluarga besar dan seorang Ustaz sambil meminta tolong untuk
mendoakan menantunya agar kembali ke jalan yang benar supaya tak sesat lagi
dan bisa memiliki keturunan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
59
Ibu Alam masih saja belum bisa menerima Maryam sepenuhnya menjadi
menantunya. Ibu Alam selalu menyimpan dendam dan menganggap Maryam
adalah menantu yang sangat kurang ajar. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(39)
Rumah itu jauh dari kata nyaman. Ibu Alam masih menyimpan dendam.
Ia menganggap Maryam sudah kelewatan. Menantu yang kurang ajar.
(Madasari, 2012: 125)
(40)
Ibu Alam pun semakin kecewa. Belum pulih hatinya setelah dilawan
Maryam, kini ia merasa anaknya telah meninggalkannya. Segala ketakutan
datang. Bayangan bahwa Alam telah dikendalikan istrinya, kekhawatiran
bahwa Alam akan ikut terseret ke dalam kesesatan. Ketakutan yang
sebenarnya diciptakan oleh pikiran-pikirannya sendiri. Ibu jatuh sakit.
Sakit yang berpangkal dari pikiran lalu menyerang ke organ-organ.
Banyak keluhan, mulai dari kepala, perut, hingga dada. Dokter bilang tak
ada penyebab apa-apa selain karena terlalu banyak pikiran.
(Madasari, 2012: 126)
Berdasarkan kutipan (39) dan (40) digambarkan bahwa Ibu Alam sebagai
mertua yang pendendam pada menantunya. Ia menganggap Maryam sebagai
menantu yang kurang ajar. Ia merasa Alam telah berubah dan bersikap kasar
kepadanya disebabkan karena ulah Maryam. Ia merasa bahwa Alam telah
dikendalikan oleh istrinya dan takut akan terseret ke dalam kesesatan. Hal itulah
yang membuatnya jatuh sakit akibat ia banyak pikiran yang selalu memikirkan
Maryam.
2.2.2.3 Tokoh dan Penokohan Pak RT
Pak RT atau Rohmat ini adalah ketua RT di daerah Gerupuk. Ia berlaku
kasar kepada Maryam. Ia sangat tak menyambut kedatangan Maryam dan Umar
di rumah Nur, teman semasa kecilnya tersebut. Rohmat sangat tak menginginkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
60
orang-orang yang merupakan bagian dari keluarga Ahmadiyah datang di daerah
tempat ia tinggal. Ia pun mengusir Maryam dengan kata-katanya yang lancang.
Sampai-sampai membuat Maryam marah. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(41)
Tapi Rohmat tak menyambut hangat. Wajah dan sikapnya masih dingin
dan kaku seperti berbicara dengan orang yang sebelumnya tak pernah
bertemu. “Sebelumnya maaf...” kata Rohmat. “Sebagai RT, yang saya
inginkan hanya warga saya tenang, lingkungan aman.” Semua orang diam.
Maryam makin berdebar. Raut muka Umar mendadak tak tenang. Nur dan
ibunya tak menunjukkan perubahan. Entah apa yang mereka berdua
pikirkan. “Kampung ini sudah tenang sekarang. Semua rukun, semuanya
damai. Saya minta tolong, jangan lagi diganggu-ganggu,” kata Rohmat.
(Madasari, 2012: 207)
(42)
Rohmat menunjuk ke arah orang-orang yang baru datang. “Jangan sampai
tambah banyak warga yang datang ke sini lalu terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan,” katanya.
(Madasari, 2012: 209)
Berdasarkan kutipan (41) dan (42) digambarkan bahwa Rohmat
merupakan ketua RT di kampung Gerupuk tersebut. Kedatangan Maryam tak
disambutnya dengan hangat. Ia bersikap dingin dengan menunjukkan
kesombongannya yang tak menyukai kehadiran Maryam di tempat itu. Ia pun
mengusir Maryam sambil mengatakan kampung yang mereka tempati sudah
tenang. Semua rukun, semua damai sambil memberikan peringatan dengan kata
kasar sambil berkata “Jangan sampai tambah banyak orang yang datang agar tak
terjadi hal-hal yang tak diinginkan.”
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
61
2.2.2.4 Tokoh dan Penokohan Pak Haji
Pak Haji mendatangi rumah Nur, teman Maryam, ia dan pak RT. Maryam
mengenal pria ini adalah seorang haji. Pak haji pun tak segan-segan menegur
Maryam seraya memperingati Maryam agar tak datang ke kampungnya lagi.
Dengan semena-menanya pak haji membentak Maryam. Selain itu, ia juga
langsung mengusir Maryam dan Umar secara tidak hormat. Hal tersebut seperti
dalam kutipan berikut:
(43)
Laki-laki yang satu terlihat tua. Berjenggot putih, berbaju putih, berpeci
putih bahan rajut. Di bagian bawah ia kenakan sarung warna cokelat.
Maryam masih bisa mengenal laki-laki yang lebih tua itu. Dia dulu guru
mengaji anak-anak di masjid Gerupuk. Meski tak pernah ikut mengaji di
masjid itu, Maryam sering melihat laki-laki itu pulang bersama temantemannya. Sekarang laki-laki itu tampak tua. Maryam menebak ia pasti
sudah menjadi imam di masjid kampung, menggantikan imam sebelumnya
yang pasti sudah meninggal. Apalagi orang itu sudah mengenakan peci
putih. Tanda bahwa dia sudah menjadi haji. Penanda yang masih tetap
diteruskan di kampung ini sampai sekarang.
(Madasari, 2012: 206)
(44)
“Sudahlah, Nak... tak ada gunanya meributkan hal yang sudah jelas. Masih
banyak kesempatan untuk bertobat,” potong Pak Haji. Masih dengan nada
lembut.
(Madasari, 2012: 208)
Berdasarkan kutipan (43) dan (44) digambarkan bahwa Pak Haji dikenal
sebagai Ustaz di masjid tempat Maryam dan keluarganya tinggal dulu. Jenggotnya
yang berwarna putih, jubahnya berwarna putih, berpeci putih, dan bahan rajut. Ia
juga yang pernah mengajar anak-anak mengaji di masjid Gerupuk. Pak haji
bertindak sesukanya dengan mengusir Maryam dari kampung itu.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
62
2.2.2.5 Tokoh dan Penokohan Gubernur
Gubernur seharusnya merupakan seorang yang dapat bertanggung jawab
pada rakyatnya bila rakyatnya menderita. Gubernur justru tak pernah membantu
Maryam dan keluarganya untuk keluar dari pengusiran yang dilakukan oleh
kelompok penentang. Ia selalu mencari berbagai alasan untuk menghindari orangorang Ahmadiyah yang sedang mengungsi akibat pengusiran. Hal tersebut seperti
dalam kutipan berikut:
(45)
Zulkhair bersama pengurus lainnya telah beberapa kali datang ke kantor
Gubernur. Katanya, mereka seperti mengulang apa yang terjadi empat
tahun lalu. Datang ke Gubernur, meminta penjelasan kapan mereka bisa
kembali ke rumah masing-masing. Gubernur tak pernah bisa memberi
jawaban pasti. Pada kedatangan terakhir, Zulkhair dan pengurus lain
marah besar. Mereka tak mau lagi datang ke kantor Gubernur sampai
sekarang. “Gubernur macam apa, malah menyalahkan kita,” kata Zulkhair
berulang kali.
(Madasari, 2012: 246)
Berdasarkan kutipan (45) digambarkan bahwa Gubernur merupakan
seorang pemimpin yang tak pernah peduli pada rakyatnya. Ia selalu menyalahkan
kelompok Ahmadiyah karena telah membentuk organisasi sendiri. Banyak yang
marah kepadanya karena tak tegas menjadi seorang Gubernur dan tak pernah
membela kelompok Ahmadiyah untuk bisa kembali ke rumah mereka masingmasing.
Saat Gubernur membicarakan tentang pimpinannya, pembicaraannya
bersama Zul, Maryam, dan Umar dipotong langsung oleh Maryam. Wajah
Gubernur ini menunjukkan bahwa ia sedang kesal pada sikap Maryam. Hal
tersebut seperti dalam kutipan berikut:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
63
(46)
“Maaf, Pak Gub, jadi bagaimana nasib kami yang di Transito ini? Kapan
bisa kembali ke rumah kami?” tanya Maryam. Ia memotong cerita
Gubernur. Gubernur mengernyitkan dahi. Raut mukanya mendadak
berubah. Antara sedang berpikir dan merasa tak suka. Seolah sedang purapura tak mendengar apa yang ditanyakan Maryam. Baru saat Gubernur
mengeluarkan suara, mereka sama-sama mengangkat muka, memandang
ke arah Gubernur, berusaha menunjukkan benar-benar sedang
mendengarkan.
(Madasari, 2012: 248)
Berdasarkan kutipan (46) digambarkan bahwa Gubernur begitu tak
menyukai sikap Maryam yang berani-beraninya memotong pembicaraannya di
tengah-tengah ia sedang mengatakan atas tanggung jawabnya sebagai pemimpin
di wilayah Lombok dan NTB. Raut mukanya berubah, kemudian ia menunjukkan
antara sedang berpikir dan merasa tak suka. Seolah-olah sedang berpura-pura tak
mendengar apa yang ditanyakan Maryam.
Gubernur pun menegaskan pendapatnya kepada Maryam, Zulhair, dan
Umar bahwa ini adalah demi kebaikan bersama, jadi seharusnya membiarkan
mereka mengungsi saja. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(47)
“Saya ini harus bagaimana lagi,” kata Gubernur. “Sudah berkali-kali saya
jelaskan, semua ini demi kebaikan bersama. Mau kembali ke sana
sekarang lalu ada kerusuhan?” tanyanya sambil menatap muka Maryam.
“Tapi itu rumah kami, Pak. Bukankah kita punya hukum? Siapa yang
mengganggu dan siapa yang diganggu?” Maryam balik bertanya.
(Madasari, 2012: 248)
Beradasarkan kutipan (47) digambarkan bahwa Pak Gubernur marah.
Marah pada Maryam. Baginya, ia sudah berkali-kali menyatakan bahwa ini semua
adalah demi kebaikan mereka secara bersama. Ia tak ingin bila mereka kembali
ke rumah masing-masing yang nantinya akan menimbulkan kerusuhan lagi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
64
Menanggapi
hal
itu,
Gubernur
memberikan
pernyataan
sambil
mengingatkan Zulkhair sebagai ketua organisasi untuk bisa memahami akan itu
semua. Ia tahu betul tentang Ahmadiyah itu, karena ia merasa bahwa ia telah
bertanggung jawab kepada keluarga-keluarga Ahmadiyah. Hal tersebut seperti
dalam kutipan berikut:
(48)
“Pak Zul,” kata Gubernur. Kini pandangannya beralih ke arah Zulkhair.
“Anda ketua organisasi. Juga pegawai pemerintah. Tahu mana yang benar
dan mana yang salah...” Gubernur memenggal kalimatnya, seperti
menunggu tanggapan dari Zulkhair. Tapi Zulkhair hanya diam. “Semua
hal tentang Ahmadiyah itu sudah saya pegang,” lanjutnya.
(Madasari, 2012: 249)
Berdasarkan kutipan (48) digambarkan bahwa Gubernur benar-benar
marah. Ia menyatakan pada Zulkhair sebagai ketua organisasi bahwa sebagai
ketua, ia tahu betul mana yang salah dan mana yang benar. Ia memberikan
pernyataan bahwa semua hal yang mengenai Ahmadiyah telah diatur olehnya
untuk ke depannya.
Pak Gubernur tak bisa memahami Maryam dan keluarganya hidup dalam
tempat pengungsian menyinggung mereka dengan kata-kata yang tak seharusnya
dikatakan sebagai orang yang mempunyai jiwa kepemimpinan. Hal tersebut
seperti dalam kutipan berikut:
(49)
Ruangan itu kembali sunyi. Muka Gubernur memerah. Kerutan di
keningnya bertambah. Ia sedang memikirkan kata-kata yang paling tepat.
“Sekarang mau kembali ke Gegerung. Tapi kenapa selalu mau ekslusif?
Apa-apa sendiri. Tidak mau berbaur. Salat Jumat sendiri. Siapa yang tidak
marah?”
(Madasari, 2012: 249)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
65
(50)
“Itu urusan kami, Pak, mau salat Jumat di mana,” jawab Umar. “Ini soal
rumah kami yang dirampas. Kami diusir dari rumah sendiri!”
”Bukan soal pengusiran! Bantah Gubernur. Suaranya meninggi. “Ini soal
bagaimana agar kita damai. Tak ada kekerasan. Kalian cuma ratusan.
Orang-orang itu ribuan. Bisa jadi puluhan ribu kalau datang juga dari
mana-mana. Lebih mudah mana, mengungsikan kalian atau mengungsikan
mereka?”
(Madasari, 2012: 249)
Berdasarkan kutipan (49) dan (50) digambarkan bahwa Pak Gubernur
yang semula wajahnya tak memerah, kini memerah. Ia menyatakan pada Maryam
buat apa harus kembali ke Gegerung, kalian sudah cukup aman berada di
pengungsian. Ia semakin marah sambil berkata dengan nada tinggi. Sekali lagi ia
katakan bahwa agar semua ini bisa tenang dan damai tak ada kekerasan.
Gubernur pun semakin tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia menyatakan
kepada Maryam, bila ingin kembali ke rumah masing-masing harus meninggalkan
Ahmadiyah, dan ia akan mengatur itu semua. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(51)
“Jadi hanya karena mereka banyak, lalu kami yang harus mengalah?”
tanya Maryam.
Gubernur berdecak sambil menggeleng. “Sudahlah. Tak ada ujungnya
kalau bicara seperti ini,” katanya. “Pilih saja. Keluar dari Ahmadiyah lalu
pulang ke Gegerung atau tetap di Transito sampai kita temukan jalan
keluarnya.
(Madasari, 2012: 249)
Berdasarkan kutipan (51) digambarkan bahwa Gubernur menyudahi
pembicaraan dengan begitu saja. Ia langsung berkata bila ingin kembali harus
meninggalkan Ahmadiyah dan akan mencari jalan keluarnya nanti.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
66
2.3
Alur atau Plot
Menurut Nurgiyantoro (2007: 149), tahapan alur dibagi menjadi lima
bagian, yaitu (i) tahap penyituasian atau tahap situation, (ii) tahap pemunculan
konflik atau tahap generating circumstances, (iii) tahap peningkatan konflik atau
tahap rising action, (iv) tahap klimaks atau tahap klimax, dan (v) tahap
penyelesaian atau tahap denouement.
2.3.1 Tahap Penyituasian (tahap situation)
Pada tahap penyituasian dalam novel Maryam, awal cerita diawali dengan
flashback (kilas balik) mengenai kehidupan Maryam yang telah menjadi seorang
janda semenjak ia bercerai dengan suaminya, Alam. Maryam yang tak tahan akan
kehidupannya sebagai istri yang sudah cukup banyak bersabar akan kecurigaan
dan kepalsuan. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(52)
Perkawinan yang umurnya belum genap lima tahun itu karam. Maryam
yang memilih keluar. Ia sendiri heran, bagaimana ia bisa selama itu
bertahan. Berusaha membangun kebahagiaan di tengah-tengah kecurigaan
dan kepalsuan. Ia selalu berpikir, yang penting Alam, suaminya itu, tulus
mencintainya tanpa prasangka. Tapi siapa yang menyangka nyali laki-laki
yang dicintainya hanya sebatas bualan?
Sepenuh hati Maryam datang ke pengadilan agama meminta perceraian.
Tak butuh waktu terlalu lama, dua minggu saja, permohonannya
dikabulkan. Alam melepasnya begitu saja, mertuanya ikut melancarkan
segala urusan. Menjadi saksi yang menunjukkan perpisahan inilah yang
terbaik untuk keduanya.
(Madasari, 2012: 15)
Selanjutnya dipaparkan bahwa Maryam merupakan keluarga yang berasal
dari Ahmadiyah. Di mana kakek dan nenek Maryam menurunkannya pada
anaknya yang sekarang menjadi bapak dari Maryam, yaitu Pak Khairuddin. Kakek
Maryam bukanlah seorang yang tak mengenal agama. Kakek Maryam menjadi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
67
pemeluk agama yang sangat taat menjadi Islam. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(53)
Keluarga Maryam menjadi Ahmadi tidak tiba-tiba. Pak Khairuddin sudah
menjadi Ahmadi sejak lahir. Kakek dan nenek Maryam-lah yang menjadi
pemula, lebih dari tujuh puluh tahun lalu.
(Madasari, 2012: 53)
(54)
Kakek Maryam bukan orang yang belum kenal agama. Ia pemeluk Islam
yang taat, membaca Al Quran dengan indah, hafal banyak surat, dan tahu
banyak cerita tentang malaikat-malaikat dan nabi-nabi. Semua diajarkan
oleh bapaknya, kakek buyut Maryam. Meski tak pernah sekolah dan tak
tahu huruf Latin, mereka menguasai ilmu agama dengan baik. Karena
dianggap orang yang paling tahu di Gerupuk, kakek Maryam sering
diminta menjadi imam dan khatib di masjid kampung. Ada tanda hitam di
keningnya. Bekas terlalu banyak sujud. Tanda hitam itu juga yang
membuat orang-orang memercayainya untuk jadi imam atau khatib.
(Madasari, 2012: 53)
(55)
Kakek Maryam kini sudah memilih jalan yang berbeda. Islam-nya tak lagi
sama. Orang-orang pun mengerti. Entah benar-benar paham atau sekadar
tak mau pusing. Tak ada yang menjadikan semua itu masalah. Semua
orang masih menghormati kakek Maryam sebagai sesepuh kampung ini.
(Madasari, 2012: 54)
Dalam novel Maryam, tahap penyituasian diawali dengan kilas balik (flash
back) mengenai kehidupan Maryam yang telah menjadi janda setelah bercerai
dengan Alam. Selanjutnya diketahui bahwa Maryam berasal dari bagian keluarga
Ahmadiyah.
2.3.2 Tahap Pemunculan Konflik (tahap generating circumstances)
Pada tahap pemunculan konflik dalam novel Maryam, menceritakan
perjalanan kembalinya Maryam kepada orangtuanya. Penyesalan Maryam pun
semakin mendera. Mengetahui orangtuanya telah diusir dari kampungnya sendiri,
ia merasa sedih dan merasa telah menyakiti hati kedua orangtuanya. Kepulangan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
68
Maryam dimaksudkan bukan untuk menolong jemaahnya melainkan menebus
rasa bersalahnya terhadap ibunya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(56)
Maryam memang malu. Malu karena tak tahu apa-apa yang terjadi pada
keluarganya. Malu karena tidak melakukan apa-apa, ketika keluarganya
terusir karena mempertahankan iman. Maryam juga menyesal. Menyesal
atas semua yang dilakukannya demi Alam. Menyesali segala
keputusannya untuk menikah dengan Alam, tanpa memedulikan apa yang
dikatakan orangtuanya. Tapi entah kenapa, Maryam sama sekali tak malu
dan menyesal telah jauh meninggalkan keimanannya. Ia juga tak tahu
kenapa tak ada ruang lagi dalam hatinya untuk kembali meyakini apa yang
sejak kecil diperkenalkan, yang beberapa tahun lalu telah ia tinggalkan. Ia
pulang sama sekali bukan untuk iman. Ia pulang hanya untuk keluarganya.
Ia terharu, ia bangga, ia menitikkan air mata atas kegigihan dan kekokohan
keluarganya mempertahankan iman. Ia marah, ia dendam, ia tak bisa
memaafkan orang-orang yang merongrong keluarganya karena dianggap
tak benar. Tapi tidak, Maryam sama sekali tak pulang untuk iman.
(Madasari, 2012: 77-78)
Tidak hanya diusir dari rumah saja. Orang-orang telah berpikir bahwa
nama Pak Khairuddin sudah tak ada lagi. Setelah mendengarkan cerita Zulkhair,
Maryam memikirkan apa yang diungkapkan oleh laki-laki bernama Jamil. Lakilaki yang pernah bekerja menjadi bawahan Pak Khairuddin. Mereka menjadikan
Pak Khairuddin dan keluarganya sebagai keluarga yang mengundang aib untuk
kampung mereka sehingga akan menjadi malapetaka untuk orang-orang yang
tinggal di daerah tersebut. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(57)
Mendengar cerita Zulkhair seperti melanjutkan potongan kisah yang
terpenggal dari Jamil. Yang diketahui Jamil berakhir seiring laju roda
pikap meninggalkan Gerupuk. Begitu pikap menghilang di tikungan jalan,
lenyap pula segala yang diketahui Jamil tentang keluarga Maryam. Pak
Khairuddin dan keluarganya telah dianggap tidak ada. Tak seorang pun
berani mneyebut tentang keluarga itu. Pak Khairuddin dan keluarganya
seperti telah menjadi aib Gerupuk yang harus ditimbun dalam-dalam.
(Madasari, 2012: 68)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
69
Pak Khairuddin bukanlah orang yang sembarangan. Dalam kesehariannya
Pak Khairuddin dipandang sebagai orang yang peduli terhadap sesama. Ia
merupakan orang terpandang secara ekonomi dari sebagian jemaah lainnya.
Maryam mempertanyakan apa yang menyebabkan orang-orang berubah menjadi
beringas dengan seenaknya mengusir keluarganya dari rumah yang dimiliki dari
kakeknya dan tanah yang dibeli dari hasil bekerja. Ia tidak pernah melihat ini
sebelumnya namun saat mengetahui orangtuanya diusir, ia bisa merasakan
kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh keluarganya. Hal tersebut seperti
dalam kutipan berikut:
(58)
Maryam mengangguk-angguk mengerti. Di pulau ini, orang-orang
Ahmadi yang berhasil secara ekonomi bisa dihitung dengan jari. Dan
bapaknya adalah satu-satunya Ahmadi dari desa yang punya usaha dan
selalu punya kelebihan rezeki. Orang-orang Ahmadi lain yang mampu
tinggal di pusat kota ini. Tak ada kerusuhan di kota. Tak ada satu pun orang
Ahmadi di kota yang terusir. Maryam bertanya penuh keheranan, kenapa
tidak semua tempat bisa damai seperti ini?
(Madasari, 2012: 70)
(59)
Maryam menarik napas panjang. Ia menggerutu dalam hati. Memaki-maki
orang-orang desa yang mau dibodohi. Tidakkah mereka bisa berpikir
sejenak, menimbang-nimbang mana yang benar dan mana yang hanya
hasutan? Tapi Maryam kemudian disadarkan oleh kata-kata Zulkhair.
“Kalau di pusat kota seperti ini kebanyakan orang-orangnya lulus sekolah.
Punya pekerjaan. Tak ada waktu mengurus begituan,” kata Zulkhair.
Lalu Maryam bertanya, kenapa tiba-tiba orang-orang desa bisa berubah
beringas seperti itu? Sejak lahir ia tinggal di Gerupuk, kata Maryam, tak
pernah seorang pun yang meributkan soal keyakinan keluarganya. Semua
rukun, semua damai, bahkan tak pernah peduli kenapa keluarga
Khairuddin tak pernah ikut salat di masjid mereka. Zulkhair tak menjawab.
Ia hanya mengangkat pundaknya, seolah ingin berkata, “Entahlah.”
(Madasari, 2012: 70-71)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
70
Mendengar cerita Zulkhair, Maryam merasa malu. Ia tahu akan perkataan
Zulkhair yang menyinggung tentang dirinya, ketika Zulkhair berusaha
meyakinkan Maryam bahwa iman orang-orang Ahmadiyah, tak bisa dikalahkan
hanya sekadar oleh penderitaan. Namun, ia sendiri tidak merasakan sedikit
penyesalan meninggalkan keimanannya. Baginya, ia kembali bukan untuk iman
melainkan untuk keluarganya. Ia bisa merasakan ketangguhan keluarganya
menghadapi peristiwa ini. Ia kembali menitikkan air mata dan bangga. Hal
tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(60)
“Meski demikian, dalam segala keputusasaan, tak ada satu pun yang
berpikir untuk meninggalkan keimanan,” kata Zulkhair. Ia mengulang
kalimat itu berkali-kali. Ada nada syukur dan bangga. Seolah ia ingin
meyakinkan pada Maryam bahwa iman orang-orang Ahmadi tak bisa
dikalahkan hanya sekadar oleh penderitaan. Tapi dalam telinga Maryam,
pengulangan itu seperti sindiran. Ia merasa Zulkhair sedang membicarakan
dirinya, ingin membuatnya malu dan menyesal atas apa yang dilakukan.
Maryam memang malu. Malu karena tak tahu apa-apa yang terjadi pada
keluarganya. Malu karena tidak melakukan apa-apa, ketika keluarganya
terusir karena mempertahankan iman. Maryam juga menyesal. Menyesal
atas semua yang dilakukannya demi bersama Alam. Menyesali segala
keputusannya untuk menikah dengan Alam, tanpa memedulikan apa yang
dikatakan orangtuanya. Tapi entah kenapa, Maryam sama sekali tak malu
dan menyesal telah jauh meninggalkan keimanannya. Ia juga tak tahu
kenapa tak ada ruang lagi dalam hatinya untuk kembali meyakini apa yang
sejak kecil diperkenalkan, yang beberapa tahun lalu telah ia tinggalkan. Ia
pulang sama sekali bukan untuk iman. Ia pulang hanya untuk keluarganya.
Ia terharu, ia bangga, ia menitikkan air mata atas kegigihan dan kekokohan
keluarganya mempertahankan iman. Ia marah, ia dendam, ia tak bisa
memaafkan orang-orang yang merongrong keuarganya karena dianggap
tak benar. Tapi tidak, Maryam sama sekali tak pulang untuk iman.
Kesadaran itu membuat Maryam mendapatkan kembali seluruh
kepercayaan dirinya. Kata-kata Zulkhair tak lagi terdengar seperti
sindiran. Ia kembali menyimak cerita Zulkhair sepenuhnya, merekam
dalam ingatannya, ia ingin menyimpan semuanya, seolah-olah ia sendiri
ikut melihat dan mengalaminya.
(Madasari, 2012: 78)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
71
Dalam novel Maryam, tahap pemunculan konflik menceritakan perjalanan
pulang Maryam yang ingin mencari kedua orangtuanya. Saat tahu keluarganya
diusir dan telah dianggap aib di kampung itu, tak ada seorang pun yang berusaha
mempertahankan keluarga Pak Khairuddin untuk tidak diusir. Mengetahui hal itu,
Maryam dari dulu tak pernah tahu akan kejadian ini sebelumnya namun saat
mengetahui orangtuanya diusir, ia bisa merasakan kesakitan dan penderitaan yang
dialami oleh keluarganya. Meskipun Maryam bisa merasakan penyesalan yang
mendalam tak mengalami kejadian yang menimpa keluarganya yang bisa
menahan penderitaan dan kesakitan ia tak pernah menyesal yang pernah
meninggalkan iman.
2.3.3 Tahap Peningkatan Konflik (tahap rising action)
Pada tahap peningkatan konflik dalam novel Maryam, diawali dengan
kemarahan Maryam terhadap orang-orang yang mengusir keluarganya. Ia tak
pernah menyangka peristiwa ini terjadi. Di saat ia tak ada di sisi keluarganya, ia
tak bisa menerima dengan semua perbuatan mereka terhadap keluarganya. Hal
tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(61)
“Aku masih tak terima. Tapi harus pura-pura ikhlas karena Bapak dan Ibu
pun sudah merelakannya. Tak mau megungkit-ungkit karena itu akan
membuat mereka sedih,” kata Maryam dengan suara lebih keras dan nada
lebih tegas. Tapi air matanya masih tetap mengalir.
(Madasari, 2012: 170)
(62)
“Aku masih tak bisa menerima orangtua dan adikku pernah hidup di
pengungsian. Sementara rumah yang dibangun susah payah tak boleh
digunakan...” Suara Maryam mulai memelan. Isakannya juga melemah.
Maryam terlihat sudah lebih tenang.
(Madasari, 2012: 170-171)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
72
Peningkatan konflik selanjutnya, Maryam dan Umar mencari tahu lakilaki yang ternyata mencabuli beberapa perempuan adalah seorang dukun. Hal ini
yang mengundang tanya pada Maryam, sambil mengingat seperti inikah
keluarganya diusir waktu itu dan mengapa mereka main hakim sendiri tanpa
melaporkannya pada polisi. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(63)
“Guru mengaji ternyata dukun. Dukun sesat. Cabul!” kata laki-laki itu
dengan suara lantang. Laki-laki itu menyebut nama Abah Aziz, pemilik
rumah yang baru saja dibakar. “Ite7 pikir iye8 orang baik. Guru mengaji.
Muridnya sudah banyak. Delapan puluh orang ada. Tiap hari mengaji di
sini.”
“Kenapa bisa sesat?” tanya Maryam. Ia disekap. Iye laporan ke ite.”
“Abah Aziz mati dibakar?” tanya Umar.
“Ndeq9. Sudah kabur. Ite mau lapor polisi. Biar diburu. Dipenjara.”
(Madasari, 2012: 177)
(64)
“Mungkin seperti itu juga waktu Bapak dan Ibu diusir,” kata Maryam tibatiba.
“Tidak ada pembakaran...” jawab umar.
“Hanya belum kejadian saja. Karena Bapak cepat-cepat mengalah dan
pergi...”
“Tapi ini berbeda, Maryam,” Umar memotong dengan cepat. “Dukun itu
salah. Dia menyekap orang, mencabuli seenaknya...”
“Kenapa tidak lapor polisi?” Maryam menyambar dengan suara tinggi.
Umar tersentak mendengar pertanyaan Maryam. Ia tak bisa buru-buru
menjawab. “Ya, memang harusnya lapor polisi... tapi mungkin orangorang sudah tak bisa lagi menahan marah,” kata Umar setelah diam agak
lama.
“Ya kalau yang dikatakan orang-orang itu memang benar. Bagaimana
kalau ternyata hanya fitnah? Bagaimana juga kalau yang tak salah nanti
terbakar?” lagi-lagi Maryam bicara dengan suara tinggi. Meski nadanya
menyerupai pertanyaan, ia sama sekali tak butuh jawaban.
(Madasari, 2012: 178)
Dalam novel Maryam diceritakan bahwa adanya pertemuan Maryam dan
Nuraini, teman kecilnya dulu. Setelah bercerita dan bercanda, Maryam dan Umar
dikejutkan dengan kondisi yang menyesakkan, mereka diusir dari kampung itu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
73
yang dulu pernah menjadi tempat tinggal Maryam sebelum diusir. Hal tersebut
seperti dalam kutipan berikut:
(65)
Maryam merangkul Nur. Entah kenapa tiba-tiba air mata berdesakan ingin
keluar dari matanya. Maryam menahan sekuat tenaga. Perjumpaan tak
sengaja ini menghadirkan rasa haru dalam dirinya. Betapa masa lalu,
apalagi masa-masa yang membahagiakan, tetapi punya ruang sendiri di
hatinya. Tak bisa tergusur dan hilang meski ia berkeras tak mau
megingatnya.
(Madasari, 2012: 192)
(66)
“Tolong pulang saja... jangan sampai ada apa-apa di rumah ini,” katanya
pelan.
Maryam membelalak tak percaya. Ia marah pada Nur yang ternyata sama
saja dengan orang-orang. Umar bergerak cepat. Menyentuh pundak
Maryam dan memberinya isyarat untuk meninggalkan tempat ini. Muka
Maryam merah padam. Matanya berkaca-kaca. Sambil mengikuti langkah
Umar ia berteriak-teriak.
“Kalian semua bukan manusia!”
“Yang sesat itu kalian, bukan kami!”
“Rumah itu milik kami. Kalian semua perampok!”
(Madasari, 2012: 211)
Tahap peningkatan konflik pun terjadi ketika pengajian empat bulanan
kehamilan Maryam. Ketegangan memuncak dan mencekam ketika polisi datang
dengan tegas meminta kaum Ahmadiyah untuk meninggalkan rumah mereka.
Ketakutan, kesedihan, dan rasa marah mencuat yang didramatisir dengan
rubuhnya seorang wanita tua serta isak tangis para ibu Ahmadiyah dan anak-anak.
Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(67)
Orangtua Maryam sudah memilih hari pada pertengahan Ramadan untuk
menggelar pengajian empat bulan kehamilan Maryam. Pengajian akan
diakhiri dengan buka puasa bersama. Persiapan sudah dilakukan sejak tiga
hari sebelumnya. Ibu Umar ikut berbelanja sesuai bagian yang telah
mereka atur bersama. Pengajian ini akan mengundang seluruh anggota
organisasi. Sekaligus menggantikan pengajian rutin yang diadakan
organisasi seminggu sekali.
(Madasari, 2012: 220)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
74
(68)
Komandan mulai kehilangan kesabaran. “Semua terserah kalian!”
teriaknya. “Kalau memang mau mati semua di sini, silakan! Kami sudah
menawarkan jalan keluar terbaik! Mengungsi dulu biar semuanya
selamat!”
(Madasari, 2012: 227)
(69)
Tiba-tiba seorang perempuan tua roboh. Tamu yang datang dari jauh. Satu
daerah di bagian timur Lombok. Dia datang bersama anak laki-laki satusatunya dengan menggunakan angkutan umum. Selama ini mereka
memang rajin datang ke pengajian. Meski tak seminggu sekali, setidaknya
mereka selalu muncul sekali sebulan. Ibu tua itu sudah lama menjadi
Ahmadi. Semua orang di dalam berteriak saat tubuh itu terkulai. Anak lakilakinya yang berada di luar langsung lari ke dalam, sambil berseru
memanggil ibunya. Yang lainnya juga ikut bergerak. Mendekat ke pintu
rumah. Salah satu dari mereka memberi aba-aba, menunjuk Umar dan dua
laki-laki lain yang terihat masih muda untuk menggotong tubuh
perempuan tua itu dan membawa mereka ke rumah sakit.
(Madasari, 2012: 227-228)
Dalam novel Maryam, tahap peningkatan konflik diawali dengan
kemarahan Maryam yang semakin tak bisa menerima dengan kejadian yang
dialami oleh keluarganya di saat ia tak ada bersama mereka waktu itu. Kemudian,
peristiwa adanya dukun cabul yaang menambahkan permasalahan di tempat itu,
sehingga Maryam pun memandang bahwa peristiwa tersebut tak jauh berbeda
dengan peristiwa pengusiran terhadap kedua orangtuanya. Sementara itu, tahap
peningkatan konflik juga terjadi ketika pertemuan Maryam dan Nuraini, Maryam
tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan dua laki-laki yang berniat mengusir
Maryam dari rumah Nuraini. Hal itu membuat Maryam marah besar pada semua
orang terutama Nur yang awalnya mengatakan bahwa ia akan mempercayai
Maryam. Selanjutnya, tahapan peningkatan konflik terjadi lagi ketika adanya
pengajian empat bulanan pada kehamilan Maryam. Maryam dan lainnya yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
75
terkejut akan sikap polisi yang anarkis. Hal itu pula yang membuat seorang
perempuan tua roboh akibat peristiwa yang terjadi di hari itu.
2.3.4 Tahap Klimaks (tahap climax)
Peningkatan konflik berupa penolakan kelompok penentang terhadap
Maryam yang mencapai puncaknya pada penolakan kelompok Ahmadiyah.
Adanya penolakan yang dilakukan oleh kelompok penentang terhadap kelompok
Ahmadiyah yang tak menginginkan kelompok Ahmadiyah memasuki wilayah
yang menjadi perebutan mereka. Terlihat bahwa klimaks dalam novel ini adalah
penolakan yang dilakukan oleh kelompok penentang yang tak menginginkan Pak
Khairuddin yang telah meninggal dimakamkan di tempat pemakaman umum.
Bagi kelompok penentang, yang berhak dimakamkan di pemakaman tersebut
adalah orang yang suci. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(70)
(71)
Tempat pemakaman yang ada di Gerupuk adalah pemakaman umum.
Berada di ujung kampung, berbatasan dengan laut. Rombongan mobil itu
melewati jalan utama Gerupuk. Orang-orang yang ada di depan rumah
memandang iring-iringan itu penuh tanya. “Siapa yang meninggal?” tanya
setiap orang ke orang di dekatnya yang juga sama-sama tak tahu
jawabannya.
(Madasari, 2012: 262)
“Warga tidak mengizinkan Pak Khairuddin dimakamkan di sini.”
“Kenapa? Apa dasarnya tidak mengizinkan?” Maryam berteriak dari
kejauhan. Kini ia berjalan mendekat kerumunan laki-laki itu.
“Makam ini milik warga Gerupuk. Mereka bisa menentukan siapa yang
boleh dimakamkan di sini dan siapa yang tidak,” jawab Rohmat. Suaranya
tenang. Seolah yakin apa yang dikatakannya benar dan akan didengar.
(Madasari, 2012: 263)
Pada tahapan klimaks ini, terlihat bahwa orang-orang yang berkelakuan
sebagai kelompok penentang sangat menginginkan menjadi penentang untuk
melawan kelompok Ahmadiyah. Mereka akan melakukan segala cara untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
76
menghancurkan kelompok Ahmadiyah, yang dinilai sebagai “aliran sesat” bagi
mereka. Seperti pada klimaks yang terjadi pada saat kematian Pak Khairuddin
yang akan direncanakan dimakamkan di pemakaman umum, kelompok penentang
sangat menolak kehadiran orang-orang yang datang ke tempat itu, mereka masih
saja menganggap Ahmadiyah adalah sesat yang tak bisa dipandang sebagai ajaran
yang benar.
2.3.5 Tahap Penyelesaian (tahap denouement)
Pada tahap penyelesaian dalam novel Maryam, diawali dengan usaha
Maryam yang tak tahan lagi berada dalam pengungsian, berusaha mencari
keadilan kepada pemerintah untuk bisa mempercayai mereka. Bahwa mereka
tidak pernah mencari keributan. Mereka diusir dari rumah yang sebenarnya rumah
itu masih menjadi milik mereka. Orang-orang Ahmadiyah selalu mencari uang
dengan bekerja. Bagi Maryam, ini sangatlah tidak adil. Tak seharusnya
kepercayaan mereka dikatakan “sesat”. Maryam pun menulis sebuah surat.
Maryam berharap surat yang kali ini bisa ditanggapi. Mereka tak bisa menahan
lagi dengan hidup yang bersesakan. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(72)
Januari 2011
Saya Maryam Hayati. Ini surat yang saya kirim ke Bapak. Semoga surat
saya kali ini bisa mendapat tanggapan. Hampir enam tahun keluarga dan
saudara-saudara kami terpaksa tinggal di pengungsian, di Gedung
Transito, Lombok. Selama itu kami berbagi ruangan dengan membuat
kamar-kamar bersekat kain. Lebih dari dua ratus orang hidup bersama di
situ.
Setiap hari kami memasak di dapur umum, yang sebenarnya juga tak layak
disebut dapur. Hanya karena kami meletakkan kompor di situ dan
memasak di situ setiap hari, tempat sempit di sebelah kamar mandi itu
menjadi dapur. Setiap pagi kami mengantri untuk buang air besar, anak-
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
77
anak yang mau sekolah mandi di luar kamar mandi, dengan ember besar
berisi air.
(Madasari, 2012: 273)
(73)
Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli
dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan
susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami.
Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar
di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apaapa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki
sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa
pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada
lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam
pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang
penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.
(Madasari, 2012: 274)
Usaha Maryam tak cukup sampai di situ saja, ia tetap memohon dan
memohon pada pemerintah untuk bisa melindungi dirinya yang diusir dari
rumahnya sendiri. Ia tak meminta lebih, yang terpenting baginya adalah ia bisa
kembali ke rumah dan hidup dengan damai. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(74)
Bapak yang terhormat, kami tidak meminta lebih. Hanya minta dibantu
agar bisa pulang ke rumah dan hidup aman. Kami tidak minta bantuan
uang atau macam-macam. Kami hanya ingin hidup normal. Agar anakanak kami juga bisa tumbuh normal, seperti anak-anak lainnya. Agar kelak
kami juga bisa mati dengan tenang, di rumah kami sendiri.
Sekali lagi, Bapak, itu rumah kami. Kami beli dengan uang kami sendiri,
kami punya surat-surat resmi. Kami tak pernah melakukan kejahatan, tak
pernah mengganggu siapa-siapa. Adakah alasan yang bisa diterima akal,
sehingga kami, lebih dari dua ratus orang, harus hidup di pengungsian
seperti ini?
Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?
Salam hormat,
Atas nama warga Gegerung yang diusir
Maryam Hayati
(Madasari, 2012: 274-275)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
78
2.4
Latar atau Setting
Latar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan terjadinya suatu
peristiwa. Unsur latar dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: latar tempat, latar
waktu, dan latar sosial. Ketiga unsur tersebut akan diuraikan di bawah ini.
2.4.1 Latar Tempat
Dalam novel Maryam karya Okky Madasari terdapat beberapa lokasi
sebagai landasan tempat penceritaan, antara lain: Lombok, Gerupuk, Gegerung,
dan Gedung Transito.
2.4.1.1 Lombok
Lombok merupakan wilayah kampung halaman Maryam. Ia kembali ke
Lombok untuk mencari kedua orangtuanya yang telah ia tinggali selama beberapa
tahun lamanya hanya demi laki-laki yang ia cintai, ternyata memberikannya
harapan palsu. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(75)
Hari itu juga Maryam meninggalkan daerah selatan. Menyusuri jalan raya,
menuju utara. Melewati pusat Kecamatan Sengkol, tempat ia bersekolah
SMP dan SMA, juga tempat bapaknya dulu tiap hari membawa keranjangkeranjang berisi ikan untuk dijual di pasar. Terus berjalan melalui kotakota kecamatan lain: Panujak, Kediri, Cakranegara, hingga Mataram, dari
pusat Lombok itulah ia akan mencari di mana bapak, ibu, dan adiknya
berada.
(Madasari, 2012: 60)
Berdasarkan kutipan (75) digambarkan bahwa Lombok merupakan
wilayah tempat tinggal Maryam beserta keluarganya. Ia kembali ke Lombok
tersebut setelah ia lama tak pernah mendatangi kota dan menemui kedua
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
79
orangtuanya tersebut setelah ia tinggalkan demi laki-laki yang tak bertanggung
jawab kepadanya.
2.4.1.2 Gerupuk
Gerupuk merupakan kampung kecil yang berada di pesisir selatan
Lombok. Kampungnya para nelayan untuk mencari ikan di laut. Di tempat inilah,
Maryam bersama orangtua dan adiknya tinggal sebelum ia diusir dari tempat itu.
Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(76)
Gerupuk hanyalah kampung kecil di sudut timur pesisir selatan Lombok.
Nyaris tak dikenal. Peta-peta wisata menggambarkan hanya Kuta sebagai
satu-satunya nama tempat di sepanjang garis pantai itu. Baru tahun-tahun
belakangan, ketika orang-orang asing mulai mengetahui ada ombak tinggi
di kampung ini, Gerupuk mulai didatangi. Itu pun hanya oleh mereka yang
ingin mencari kepuasan berdiri di papan selancar, menaklukkan ombak
yang bergulang tinggi. Semuanya orang asing.
(Madasari, 2012: 41)
(77)
Pikiran Maryam langsung menerawang ke masa-masa ia masih tinggal di
Gerupuk bersama keluarganya. Masa-maasa jauh sebelum ia datang ke
Jakarta, dan jauh sebelum keluarganya terusir dari rumah yang telah
puluhan tahun mereka tinggali.
(Madasari, 2012: 169)
Berdasarkan kutipan (76) dan (77) digambarakan bahwa keindahan
Gerupuk yang merupakan tempat para nelayan mencari uang di sebuah pesisir
pantai, Lombok. Gerupuk juga merupakan kenangan manis bagi Maryam. Ia
mengingat kembali masa-masa ia dan keluarga di tempat itu dan sampai pada
akhirnya ia dan keluarga harus pergi dari tempat itu.
Kampung Gerupuk juga merupakan peristiwa terjadinya pengusiran yang
dialami oleh keluarga Maryam. Orang-orang tersebut marah pada keluarga
Maryam karena masih saja berpegang teguh pada kepercayaannya yang dinilai
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
80
sesat oleh jemaah kelompok penentang. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(78)
Gerupuk pun tak mau ketinggalan. Seluruh laki-laki bergerak ke arah
rumah Pak Khairuddin. Yang perempuan berdiri di sepanjang jalan. Empat
kali lemparan batu dan teriakan orang-orang sudah cukup untuk Pak
Khairuddin mengambil keputusan. Tanpa ada perlawanan. Tanpa perlu
perusakan dan pembakaran.
(Madasari, 2012: 52)
Berdasarkan kutipan (78) digambarkan bahwa Gerupuk juga merupakan
peristiwa pengusiran. Di mana semua orang yang tinggal di Gerupuk itu, dan
kelompok penentang Ahmadiyah langsung mengusir keluarga Pak Khairuddin
dari rumahnya dan kelompok Ahmadiyah.
2.4.1.2 Gegerung
Gegerung merupakan tempat keluarga Maryam tempati setelah diusir dari
Gerupuk. Rumah yang ia dan keluarganya tempati di waktu itu. Gegerung inilah
masih menjadi tempat tinggal jemaah Ahmadiyah yang pernah diusir. Hal tersebut
seperti dalam kutipan berikut:
(79)
Meski terpisah dari rumah-rumah penduduk lain, tanah yang dihuni orangorang Ahmadi itu termasuk kampung Gegerung. Sekitar satu setengah
kilometer jauhnya dari perkampungan utama Gegerung, dipisahkan oleh
sawah-sawah padi dan sungai.
(Madasari, 2012: 83)
Berdasarkan kutipan (79) digambarkan bahwa Gegerung merupakan
tempat yang kebanyakan dihuni oleh orang-orang Ahmadiyah di kampung
Gegerung tersebut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
81
Tempat ini juga menjadi harapan mereka tempati setelah Gerupuk.
Gegerung menjadi incaran kerusuhan setelah apa yang terjadi di Gerupuk juga
menjadi tempat perlawanan bagi kelompok penentang Ahmadiyah. Kelompok
Ahmadiyah diserang, dan orang-orang itu melakukan tindakan kekerasan dan
kerusuhan dengan merusak rumah-rumah. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(80)
Dalam perjalanan pulang, Maryam membeli beberapa koran. Satu koran
lokal menjadikan peristiwa Gegerung sebagai berita utama. Gambar
barisan rumah Gegerung yang rusak dipasang dengan ukuran besar di
halaman pertama. Rumah-rumah itu rusak parah. Lebih parah
dibandingkan dengan saat ditinggalkan. Beberapa bagian hangus terbakar.
“Lihat!” seru Maryam sambil mengangkat koran yang dipegangnya agar
semua yang di mobil bisa melihat foto itu. “Mereka merusaknya saat kita
pergi!”
(Madasari, 2012: 232)
Berdasarkan kutipan (80) digambarkan bahwa Gegerung menjadi tempat
peristiwa terjadinya kerusuhan lagi setelah sebelumnya Gerupuk. Orang-orang
yang beringas itu pun kembali mengincar orang-orang Ahmadiyah yang tinggal
di tempat itu sambil merusak tempat itu seperti tempat yang tak layak untuk
ditinggalkan.
2.4.1.3 Gedung Transito
Gedung Transito merupakan tempat keluarga Maryam mengungsi.
Keluarganya yang diusir dari Gerupuk dan kini tinggal di Gedung Transito
sebelum pindah ke Gegerung. Di mana Pak Khairuddin beserta keluarga lainnya
hidup dalam kesesakan. Tempat ini dipergunakan mereka sebagai tempat kegiatan
agama mereka. Di mana mereka menjadikan tempat ini sebagai masjid tempat
mereka beribadah. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
82
(81)
Gedung Transito sekarang juga menjadi pusat kegiatan keagamaan
mereka. Menggantikan masjid organisasi yang sampai kini tak bisa
digunakan. Di sini setiap Jumat orang-orang Ahmadi salat bersama.
Seminggu sekali ada pengajian, yang juga diikuti orang-orang Ahmadi
dari daerah lain. Anak-anak kecil belajar mengaji bersama setiap sore.
Diajar seorang ustaz yang baru datang dari Jawa. Ditugaskan organisasi
untuk memberikan bimbingan khusus di Gedung Transito.
(Madasari, 2012: 252)
Berdasarkan kutipan (81) digambarkan bahwa Gedung Transito menjadi
tempat tinggal bagi para pengungsi yang diungsikan di tempat tersebut khususnya
bagi keluarga yang merupakan Ahmadiyah diungsikan ke tempat tersebut.
Gedung Transito ini juga merupakan tempat pengajian bagi mereka.
2.4.2 Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi antara lain: tahun 1999, tahun
2001, dan tahun 2003.
2.4.2.1 Tahun 1999
Tahun 1999 menjadi tahun pertama kalinya terjadi peristiwa keributan
yang terjadi di Jakarta dan kota-kota lainnya. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(82)
Memang pernah sekali terjadi ribut-ribut, tambah Zulkhair. Tapi itu dulu
sekali. “Semua orang sudah memaklumi. Pasti saat itu karena negara kita
sedang kacau. Ribut di mana-mana.” Zulkhair menyebut peristiwa itu
terjadi pada tahun 1999. Tak lama setelah televisi menayangkan peristiwa
kerusuhan di Jakarta dan di banyak kota. Seorang Ahmadi dibunuh di
daerah utara. Seorang lagi luka parah.
(Madasari, 2012: 69)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
83
Berdasarkan kutipan (82) digambarkan bahwa tahun pada 1999
merupakan tahun terjadinya pembunuhan terhadap orang Ahmadiyah yang mati
dibunuh oleh kelompok penentang sehingga membuat kelompok Ahmadiyah ini
marah. Tak hanya di situ saja kelompok penentang pun melawan kelompok
Ahmadiyah tersebut.
2.4.2.2 Tahun 2001
Tahun 2001 merupakan tahun terjadinya pengusiran terhadap Pak
Khairuddin beserta keluarganya. Entah apa yang membuat orang-orang mengusir
orang-orang Ahmadiyah, padahal sebelumnya hidup rukun-rukun saja. Hal
tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(83)
(84)
Zulkhair mengawali ceritanya dari kedatangan Khairuddin dan
keluarganya menjelang magrib, pada sutau hari di pertengahan tahun 2001.
Zulkhair lupa tanggal dan bulan pastinya. Tapi katanya semua ada di
catatan organisasi. Akan diambilkan kalau Maryam memang mau tahu.
Maryam menggeleng katanya tidak perlu. Tanggal kejadian itu tidak
terlalu penting baginya dibandingkan dengan kejadian itu sendiri. Maka
Zulkhair pun melanjutkan ceritanya.
(Madasari, 2012: 68)
Saat keluarga Maryam datang, orang-orang itu sudah dua minggu berada
di masjid ini. Zulkhair juga masih heran, apa yang membuat mereka terusir
hampir bersamaan. Dimulai di satu desa, lalu menular ke desa-desa lain.
Tetangga yang dulu selalu rukun walau sama-sama tahu ada Ahmadi di
kampung mereka, tiba-tiba berubah beringas. Semua tanpa sebab dan
terjadi begitu cepat. “Seperti ada orang yang sengaja memengaruhi. Entah
apa maunya, kita sama-sama tidak tahu...” kata Zulkhair.
(Madasari, 2012: 69)
Berdasarkan kutipan (83) dan (84) digambarkan bahwa pada tahun 2001
merupakan tahun pengusiran terhadap keluarga Pak Khairuddin. Entah apa yang
membuat orang-orang itu mengusir orang-orang Ahmadiyah secara bersamaan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
84
2.4.2.3 Tahun 2003
Tahun 2003 menjadi tahun di mana keluarga Pak Khairuddin pindah dari
pengungsian dengan berusaha mencari rumah agar bisa tinggal, dan mencari
penghasilan demi keluarga. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(85)
Pada awal tahun 2003, kata Zulkhair, keluarga Maryam pindah dari
pengungsian. Pikapnya dijual. Sebagian hasil penjualan digunakan untuk
mengontrak rumah. Sisanya untuk terus mempertahankan hidup, sambil
mencari-cari cara untuk bisa punya penghasilan. Sebuah rumah kecil tak
jauh dari tempat Zulkhair, di gang kecil di pinggiran. Mataram, menjadi
tempat tinggal keluarga Maryam.
(Madasari, 2012: 78)
Berdasarkan kutipan (85) digambarkan bahwa pada tahun 2003, Pak
Khairuddin beserta anak dan istrinya pindah dari pengungsian dengan menjual
mobil pikap, Pak Khairuddin bisa mengontrak rumah dan bisa mencari pekerjaan
lain.
2.4.3 Latar Sosial
Dalam novel ini, latar sosial akan dibedakan menjadi beberapa bagian,
diantaranya: (i) latar sosial dari segi kebiasaan hidup, (ii) latar sosial dari segi
tradisi, dan (iii) latar sosial dari segi cara berpikir dan bersikap.
2.4.3.1 Latar Sosial dari Segi Kebiasaan Hidup
Dalam novel Maryam, terdapat latar sosial dari segi kebiasaan hidup
masyarakat yang tinggal di kampung Gerupuk. Keindahan kampung Gerupuk
merupakan kampung kecil di timur pesisir pantai selatan Lombok. Gerupuk
adalah tanah yang berdebu saat cuaca panas dan becek penuh kubangan selepas
hujan juga deretan perahu-perahu nelayan, bau amis ikan, dan nelayan-nelayan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
85
berkulit legam menjadi kebiasaan hidup mereka dengan mendapatkan ikan,
udang, teripang, dan lain-lain. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(86)
Gerupuk hanyalah kampung kecil di sudut timur pesisir selatan Lombok.
Nyaris tak dikenal. Peta-peta wisata menggambarkan hanya Kuta sebagai
satu-satunya nama tempat di sepanjang garis pantai itu. Baru tahun-tahun
belakangan, ketika orang-orang asing mulai didatangi. Itu pun hanya oleh
mereka yang ingin mencari kepuasan berdiri di papan selancar,
menaklukkan ombak yang bergulung tinggi.
Tak ada keistimewaan lain yang ditawarkan Gerupuk selain ombak tinggi
itu. Ia tak punya pantai indah berpasir putih, sebagaimana pantai-pantai
lain yang berjajar di pesisir ini. Gerupuk adalah deretan perahu-perahu
nelayan, bau amis ikan, dan nelayan-nelayan berkulit legam. Setiap orang
hidup dari tangkapan ikan, udang, atau teripang.
(Madasari, 2012: 41)
2.4.3.2 Latar Sosial dari Segi Tradisi
Dalam novel Maryam, terdapat latar sosial dari segi tradisi yang
membedakan antara Ahmadiyah dan penentangnya. Di mana kegiatan organisasi
Ahmadiyah dan kelompok penentang berbeda. Hal tersebut seperti dalam kutipan
berikut:
(87)
Semua orang tahu keluarga Maryam tak pernah mau ikut pengajian
bersama mereka. Semua anak Pak Khairuddin disekolahkan di sekolah
negeri, bukan di madrasah seperti anak tetangga.
Mereka semua juga tahu, Pak Khairuddin punya kelompok pengajian
sendiri. Beberapa kali ada pengajian di rumah Pak Khairuddin, didatangi
oleh orang-orang jauh. Mereka semua juga sudah paham, keluarga Pak
Khairuddin punya musala kecil di belakang rumah. Pada hari Jumat,
menjelang zuhur, Pak Khairuddin pergi dengan sepeda motornya, salat
Jumat entah di mana. Semua tahu mereka berbeda. Tapi mereka juga sadar
mereka punya satu nama agama. Maka biasa saja ketika satu-dua kali
dalam obrolan ada yang berkata, “Itu beda, itu Islamnya Pak Khairuddin,”
atau, “Itu masjid kelompoknya Pak Khairuddin.”
(Madasari, 2012: 56)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
86
2.4.3.3 Latar Sosial dari Segi Cara Berpikir dan Bersikap
Dalam novel Maryam, terdapat latar sosial dari segi cara berpikir dan
bersikap. Cara berpikir kelompok penentang yang ingin merusak kelompok
Ahmadiyah. Semula yang bisa hidup rukun sebagai tetangga, tidak ada lagi yang
berkelakuan seperti itu lagi. Pikiran mereka telah dirusak oleh pendapatnya yang
menganggap bila Ahmadiyah telah menduakan nabi sudah tak bisa ditolerir lagi.
Maka kehidupan semula yang menjadi aman dan tenteram, kini mereka tak bisa
berdiam diri lagi. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(88)
Orang-orang yang mereka anggap telah menduakan nabi mereka dan telah
memperlakukan agama sesuai keinginan mereka. Bukan lagi berdasar
yang seharusnya.
(Madasari, 2012: 51)
(89)
Mereka marah pada orang-orang yang selama puluhan tahun hidup rukun
sebagai tetangga. Mereka melempar batu ke genteng, memecahkan kaca
jendela, merusak pagar dengan parang dan cangkul. Laki-laki dewasa
semuanya siaga. Mengepung rumah orang-orang yang mereka anggap
telah menyimpang.
(Madasari, 2012: 51)
Semuanya diawali sekitar seminggu sebelumnya. Saat ribut-ribut besar
terjadi di sebuah desa, sepuluh kilometer dari Gerupuk ke arah timur utara.
Orang-orang Gerupuk sering datang ke desa itu. Di sana mereka biasa
mendengarkan ceramah dari para tuan guru4. Di sana juga banyak anak
Gerupuk bersekolah. Tempat itu memang sudah menjadi tempat sekolah
agama. Banyak madrasah berdiri di sana. Mulai dari yang setingkat SD
hingga SMA. Tanpa ada yang bisa menjelaskan asal mulanya, tiba-tiba
semua orang di desa itu menjadi beringas.
(Madasari, 2012: 51)
(90)
2.5
Rangkuman
Berdasarkan analisis tokoh dan penokohan di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa tokoh protagonis dalam novel Maryam adalah Maryam, Umar,
Pak Khairuddin, dan Zulkhair. Dalam novel tersebut diceritakan sosok Maryam
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
87
yang cantik khas perempuan dari perempuan daerah timur. Maryam adalah wanita
yang dikagumi oleh laki-laki. Tak heran bila Maryam bersikap cuek pada mereka.
Di luar dari itu semua Maryam merupakan seorang yang cerdas dan ramah.
Umar merupakan suami dari Maryam. Umar digambarkan sebagai lakilaki yang bersikap sopan yang tidak hanya pada orangtuanya saja, ia juga sopan
terhadap istrinya dan juga peduli terhadap sesamanya. Pak Khairuddin
digambarkan sebagai kepala keluarga yang tegas dan juga bertanggung jawab
pada keluarganya. Zulkhair merupakan ketua organisasi, ia juga merupakan
kerabat dari Pak Khairuddin dan juga banyak membantu keluarga maryam untuk
keluar dari permasalahan yang rumit itu.
Tokoh antagonis dalam novel Maryam adalah Alam, Ibu Alam, Pak RT,
Pak Haji, Gubernur. Tokoh antagonis tersebut menjadi penyebab konflik pada
tokoh protagonis baik secara langsung maupun tidak langsung. Alam
digambarkan sebagai suami yang sama sekali tak menyayangi istrinya. Ia
menceraikan Maryam begitu saja. Ibu Alam digambarkan sebagai ibu mertua yang
memiliki dendam pada Maryam, menantunya. Pak RT digambarkan sebagai
seorang yang angkuh terhadap Maryam. Ia tak menyukai kedatangan Maryam ke
kampungnya di Gerupuk. Ia berusaha melakukan segala cara untuk menjelekjelekkan Maryam. Pak Haji digambarkan sebagai orang yang sangat sombong. Ia
dan Pak RT sama-sama berkomplotan untuk menghancurkan Maryam. Gubernur
digambarkan sebagai seorang pemimpin yang seharusnya bertanggung jawab dan
peduli terhadap rakyatnya, ia justru memikirkan dirinya sendiri dan tak pernah
melihat penderitaan orang lain.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
88
Berdasarkan analisis tahapan alur di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
alur dalam novel Maryam adalah alur maju atau plot progresif. Sebab pada plot
ini fokus pada permasalahan Maryam yang mengalami konflik dengan orang lain.
Selain menyajikan tokoh dan penokohan dan alur, Okky Madasari juga
menyajikan latar cerita yang lengkap dalam novel ini. Mulai dari latar tempat,
latar waktu, dan latar sosialnya. Ketiga latar ini merupakan penggambaran dari
jalannya cerita dalam novel Maryam tersebut. Latar tempat dalam kaitannya
dengan penelitian ini berfungsi untuk menggambarkan tempat terjadinya
peristiwa itu dan juga pembentukan watak Maryam. Latar waktu dalam kaitannya
dengan penelitian ini berfungsi untuk menyaran pada yang berhubungan dengan
“kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan tersebut. Latar sosial
dalam kaitannya dengan penelitian ini berfungsi untuk menyaran pada hal-hal
yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat.
Kajian struktural dalam novel ini mencakup tokoh dan penokohan, alur,
dan latar. Dalam Bab II ini memperlihatkan secara jelas adanya berbagai bentukbentuk konflik sosial, terutama yang dialami tokoh Maryam. Persoalan bentukbentuk konflik sosial ini akan dibahas dalam Bab III.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB III
BENTUK-BENTUK KONFIK SOSIAL TOKOH MARYAM
DALAM NOVEL MARYAM
3.1
Pengantar
Setelah menganalisis struktur tokoh dan penokohan, alur, dan latar dalam
novel Maryam karya Okky Madasari, langkah selanjutnya adalah pembahasan
mengenai konflik sosial yang terdapat dalam novel tersebut. Pemikiran, sikap, dan
tindakan tokoh Maryam dalam cerita novel tersebut menjadi cerminan dalam
gambaran konflik. Konflik yang tercermin dalam novel Maryam tersebut adalah
konflik sosial.
Sesuai dengan landasan teori yang sudah dikemukakan di dalam Bab I,
peneliti menggunakan teori konflik yang dikembangkan oleh Soerjono Soekanto
untuk menganalisis tokoh Maryam dengan melihat permasalahan konflik sosial
yang dialaminya. Analisis sosiologi konflik berdasarkan akar-akar atau sebabmusabab konflik menurut Soerjono Soekanto mencakup: perbedaan antara orang
perorangan dan perbedaan kebudayaan.
Kajian tentang konflik cukup menyita perhatian. Hal ini dapat dimengerti
karena konflik tersebut memiliki konsekuensi kemanusiaan yang besar. Telah
banyak nyawa korban yang mati sia-sia. Belum lagi kerugian materi, hilangnya
masa depan sebagaimana dialami oleh anak-anak di kawasan konflik. Apa yang
terjadi di Indonesia pada kenyataannya juga terjadi di kawasan lain, di dunia
bahkan tidak jarang dengan kondisi yang lebih tragis (Susetyo, 2010: 13).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
90
Perhatian terhadap konflik dalam pemikiran keagamaan berakar dalam
pemikiran manusia yang aktif terlibat dalam peristiwa sosial dan politik. Kita
hampir tak perlu diyakinkan lagi bahwa konflik merupakan fakta yang sering
terjadi di mana-mana dalam kehidupan kita. Konflik itu sendiri sangat
berpengaruh terhadap seluruh tingkat realitas sosial.
Pada prinsipnya, Ahmadiyah bukanlah merupakan agama baru meskipun
mempunyai nama tersendiri. Syahadatnya sama dengan syahadat kaum Muslimin,
dan keyakinannya pun sama, yakni mengakui keesaan Allah dan kenabian
Muhammad s.a.w. Dengan demikian, Ahmadiyah adalah Islam yang benar
sebagaimana aliran-aliran Islam yang lain, walaupun ajarannya tentang kenabian
bertentangan dengan keyakinan ummat Islam sebelumnya (Al-Badry, 1981: 32).
Ahmadiyah berbeda dengan aliran-aliran Islam, bahkan ia telah terlepas
dari ikatan Islam yang disebabkan oleh dua hal, yaitu: pertama, ajarannya tentang
berlangsungnya kenabian secara terus-menerus sesudah Muhammad s.a.w. kedua,
ialah ajarannya tentang khalifah kerohanian serta pergerakannya. Dari segi
ajarannya mengenai kenabian, Ahmadiyah tidak percaya bahwa Muhammad
s.a.w. adalah nabi yang terakhir. Menurut mereka ada banyak nabi yang akan
datang sesudah Muhammad s.a.w. yang berfungsi sebagai pelanjut syariat beliau,
sebagaimana Isa al-Masih melanjutkan syariat musa a.s. oleh karena pada nabi
yang akan datang itu berfungsi sebagai pelanjut syariat Muhammad s.a.w. maka
mereka juga diberi gelar al-Masih, yakni al-Masih dalam kalangan ummat Islam
sendiri (Al-Badry, 1981: 33).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
91
Dengan sistem kekhalifaan rohani, Ahmadiyah merupakan suatu
organisasi yang bergerak secara sistematis di atas landasan ideologi tersendiri.
Khalifah sebagai pemimpin rohani secara hirarkis memimpin segenap ummat atau
pengikut yang loyal setelah berbai’at kepadanya. Hal-hal serupa ini tidak terdapat
pada aliran-aliran Islam. Ahmadiyah tidak saja merupakan kesatuan organisasi
yang rapi, tetapi ia juga merupakan golongan yang mempunyai ideologi tersendiri.
Gerakan Ahmadiyah senantiasa diarahkan untuk mengembangkan ideologinya,
sehingga ia harus menghadapi tantangan yang berat dari ummat Islam. Akibatnya
adalah bahwa ia terisolir dari dunia Islam, sebab ideologi yang dikembangkan itu
bertentangan dengan ideologi ummat Islam (Al-Badry, 1981: 34).
Melihat ajaran serta bentuk organisasi dan pergerakannya, Ahmadiyah
dapat dikatakan sebagai suatu aliran keagamaan yang senantiasa berjuang
mempertahankan eksistensinya yang terlepas dari ikatan dunia Islam. Bahkan
lebih dari itu, Ahmadiyah dapat dikatakan sebagai aliran yang merupakan agama
tersendiri yang berbeda dari lingkungan agama Islam. Dikatakan sebagai agama
baru, oleh karena Ahmadiyah percaya akan kedatangan seorang nabi sesudah
Muhammad s.a.w. Oleh karena itu, Ahmadiyah mengingkari status Muhammad
s.a.w. sebagai penutup kenabian. Kepercayaan Ahmadiyah akan kenabian Mirza
Ghulam Ahmad, sebagai nabi yang datang sesudah Muhammad s.a.w., bukan
hanya mengingkari kedudukan Muhammad s.a.w. sebagai penutup kenabian,
tetapi mengandung pula pengertian bahwa Ghulam Ahmad itulah pemimpin dan
ikutan langsung mereka, sehingga orang-orang Ahmadiyah sendiri telah menjadi
ummat tersendiri bagi Ghulam Ahmad. Kelanjutan daripada masalah itu, bahwa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
92
Ahmadiyah tidak menetapkan Muhammad s.a.w. sebagai ikutan langsung mereka,
sehingga dengan demikian maka jelas orang-orang Ahmadiyah tidak merupakan
bahagian dari ummat Islam yang setia menjadi ummat Muhammad s.a.w. (AlBadry, 1981: 35).
3.2
Konflik karena Perbedaan Orang-perorangan
Menurut Soekanto (1986: 94), perbedaan orang-perorangan merupakan
perbedaan pendirian dan perasaan yang secara mungkin dapat menyebabkan
bentrokan antara orang-perorangan. Konflik sosial akibat adanya perbedaan
orang-perorangan akan dibagi menjadi beberapa pembagian yang mencakup:
perbedaan antara individu dengan individu, perbedaan antara individu dengan
kelompok, dan perbedaan antara kelompok dengan kelompok.
Pembagian konflik sosial pada perbedaan orang-perorangan di atas,
meliputi konflik sosial pada perbedaan antara Maryam dengan Ibu Alam, konflik
sosial pada perbedaan antara Maryam dengan Alam, konflik sosial pada
perbedaan antara Maryam dengan Tuan Guru Ahmad Rizki, konflik sosial pada
perbedaan antara Maryam dengan Gubernur. Analisis konflik sosial pada
perbedaan orang-perorangan seperti yang disebutkan di atas akan dijelaskan di
bawah ini.
3.2.1 Perbedaan Antara Individu dengan Individu
Konflik sosial pada perbedaan antara individu dengan individu terjadi
perbedaan antara Maryam dengan Ibu Alam, perbedaan antara Maryam dengan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
93
Alam,
perbedaan antara Maryam dengan Gubernur, dan perbedaan antara
Maryam dengan Tuan Guru Ahmad Rizki.
3.2.1.1 Perbedaan antara Maryam dengan Ibu Alam
Perbedaan antara Maryam dengan Ibu Alam disebabkan karena Maryam
merupakan anak yang dilahirkan oleh keluarga Ahmadiyah yang dipandang
sebagai keluarga ‘sesat’. Selain itu, Maryam berani menikahi anaknya yang
bernama Alam. Maka perkelahian antara menantu dan mertua pun tak dapat
terelakkan lagi. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(1)
Rumah itu jauh dari kata nyaman. Ibu Alam masih menyimpan dendam.
Ia menganggap Maryam sudah kelewatan. Menantu yang kurang ajar.
Demikian pula Maryam. Semua penerimaan dan kesabarannya telah
usang. Ia telah menggunakan topeng: berpura-pura baik, berpura-pura
menjadi penurut. Bagi Maryam, semua yang dilakukannya selama ini
sudah lebih dari cukup. Telah ia ikuti semua kata-kata ibu Alam, hanya
agar ia bisa diterima sepenuhnya sebagai bagian keluarga ini. Sekarang,
saat berpapasan, keduanya hanya diam. Ibu Alam malah sengaja
memalingkan muka. Tak pernah lagi ada pertanyaan tentang anak.
Perubahan yang diam-diam disyukuri Maryam.
(Madasari, 2012: 125)
(2)
Di tengah acara, ibu Alam tiba-tiba berseru, “Pak Ustaz, tolong anak saya
ini didoakan agar segera punya keturunan. Tolong dimintakan ampun
kalau memang dulu pernah sesat.”
Emosi Maryam memuncak. Ia merasa kalimat ibu Alam sengaja ditujukan
untuknya. Semua yang terjadi ini karena ia penuh dosa, pernah hidup
dalam kesesatan. Hal itu dikatakan di depan banyak orang. Seperti sengaja
membuat Maryam malu dan jadi bahan gunjingan.
(Madasari, 2012: 123)
Berdasarkan kutipan (1) dan (2) terlihat jelas perkelahian antara Maryam
dan Ibu Alam. Ibu Alam, sejak awal tak menyukai kehadiran Maryam di
keluarganya, ia menilai Maryam memiliki kesesatan dan hidup penuh dosa.
Disebabkan karena Maryam setelah menikah dengan anaknya, Alam, Maryam
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
94
masih saja belum mengandung, baginya hal itu terjadi karena ia lahir dalam
kesesatan dan penuh dosa.
3.2.1.2 Perbedaan antara Maryam dengan Alam
Perbedaan antara Maryam dan Alam disebabkan karena adanya
perkelahian antara keduanya. Hal ini disebabkan karena ibu Alamlah yang
menjadi perusak dalam rumah tangga Maryam dan Alam. Keduanya pun
mengakhiri rumah tangganya pada perceraian. Meskipun Maryam tak
menginginkan perceraian itu terjadi. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(3)
Maryam semakin tersedu. Ia kecewa dengan kata-kata yang baru
didengarnya. Ia ingin suaminya membelanya, memahami apa yang
menjadi ganjalannya. Maryam ingin sekali marah. Mengungkapkan semua
yang ada di hatinya dengan suara tinggi agar suaminya benar-benar bisa
mengerti. Tapi Maryam benar-benar lelah. Ia hanya bisa berujar pelan,
bahkan mirip bisikan.
(Madasari, 2012: 124)
(4)
Sambil ia sedikit menyisipkan harapan, agar Alam mempertahankannya.
Juga agar Alam bisa memahaminya setelah mendengar bagaimana selama
ini merasa begitu tertekan. Maryam diam-diam berdoa agar Alam mau
menukar perceraian dengan keputusan besar untuk kembali
mempertahankan pernikahan ini sesuai dengan yang diharapkan Maryam.
Tapi ternyata Alam hanya diam. Bahkan tak berkata apa-apa. Di ujung
percakapan, ia hanya berkata pelan, “Kalau memang itu yang kamu mau,
ya bagaimana lagi.”
(Madasari, 2012: 128)
Berdasarkan kutipan (3) dan (4) terlihat jelas bahwa perbedaan antara
Maryam dengan Alam menyebabkan keduanya berpisah. Tak ada pembelaan dari
sang suami kepadanya. Alam jauh lebih mempercayai ibunya dibandingkan
Maryam, istrinya, yang selalu mendapatkan tuduhan serta hinaan dari ibu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
95
mertuanya, sehingga membuat Maryam tak kuat lagi mempertahankan rumah
tangganya dan ia memilih keluar dari rumah Alam dan menceraikan Alam.
3.2.1.3 Perbedaan antara Maryam dengan Gubernur
Perbedaan antara Maryam dengan Gubernur disebabkan karena
kedatangan Maryam, Umar, dan Zulkhair yang bertemu dengan Gubernur.
Gubernur datang membawa kabar yang tak menyenangkan hati rakyatnya. Hal ini
digambarkan dalam kutipan berikut:
(5)
“Maaf, Pak Gub, jadi bagaimana nasib kami yang di Transito ini? Kapan
bisa kembali ke rumah kami?” tanya Maryam. Ia memotong cerita
Gubernur.
Gubernur mengernyitkan dahi. Raut mukanya mendadak berubah. Antara
sedang berpikir dan merasa tak suka. Diam beberapa saat. Semua
bawahannya menunduk. Seolah sedang pura-pura tak mendengar apa yang
ditanyakan Maryam. Baru saat Gubernur mengeluarkan suara, mereka
sama-sama mengangkat muka, memandnag ke arah Gubernur, berusaha
menunjukkan benar-benar sedang mendengarkan.
“Saya ini harus bagaimana lagi,” kata Gubernur. “Sudah berkali-kali saya
jelaskan, semua ini demi kebaikan bersama. Mau kembali ke sana
sekarang lalu ada kerusuhan?” tanyanya sambil menatap muka Maryam.
“Tapi itu rumah kami, Pak. Bukankah kita punya hukum? Siapa yang
mengganggu dan siapa yang diganggu?” Maryam balik bertanya.
(Madasari, 2012: 248-249)
Berdasarkan kutipan (5) terlihat jelas bahwa perbedaan antara Maryam
dengan Gubernur menyebabkan perbedaan pandangan antara keduanya. Maryam
menginginkan bantuan pada Gubernur, namun tindakan Gubernur ini benar-benar
tidak terbantu sama sekali. Yang ada, Gubernur sama sekali tak peduli pada orangorang Ahmadiyah yang diusir dari kampung halamannya sendiri, justru Gubernur
ini menceritakan kebahagiaan sang Gubernur.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
96
3.2.1.4 Perbedaan antara Maryam dengan Tuan Guru Ahmad Rizki
Perbedaan antara Maryam dengan Tuan Guru Ahmad Rizki disebabkan
karena Tuan Guru Ahmad Rizki sebagai penghasut warga Gerupuk dengan
memerintahkan orang-orang ikut melakukan penyerangan bersamanya terhadap
Maryam dengan menyatakan bahwa Gegerung tak pantas menjadi tempat bagi
orang-orang Ahmadiyah untuk melakukan kegiatan. Hal ini digambarkan dalam
kutipan berikut:
(6)
Maryam menenggelamkan pikirannya dalam huruf-huruf koran yang ia
pegang. Di bawah gambar rumah Gegerung yang dirusak, ada foto kecil
seorang laki-laki. Berpeci putih dan berjenggot tak terlalu tebal. Di
bawahnya tertulis nama: Tuan Guru Ahmad Rizki. Di dalam berita tertulis
Tuan Guru Ahmad Rizki yang memerintahkan penyerangan itu.
Sebagaimana yang telah Maryam dengar sendiri lewat suara keras dari
masjid. Seperti orang yang ditontonnya di televisi beberapa waktu lalu,
Tuan Guru Ahmad Rizki juga menyebut fatwa sesat sebagai alasan ia
memerintahkan penyerangan. “Gegerung tak boleh dijadikan markas
Ahmadiyah,” kata Tuan Guru Ahmad Rizki yang tertulis di koran.
Maryam menggerutu pelan. Tak ada juga yang berniat menjadikan
Gegerung sebagai markas, katanya. Ia lanjutkan membaca. Di bagian
selanjutnya disebut Gegerung adalah permukiman dengan penghuni
Ahmadiyah terbesar di Lombok. Semua yang ada di kompleks perumahan
itu Ahmadiyah. Begitu koran menulis. “Ya jelas saja semua Ahmadiyah.
Ini kan rumah yang dibeli bersama setelah dulu sama-sama diusir!” kata
Maryam dengan suara keras yang mengejutkan semua yang ada di dalam
mobil tapi tak ada yang menanggapi. Semuanya diam dan kembali sibuk
dengan pikiran masing-masing.
(Madasari, 2012: 233-234)
Berdasarkan kutipan (6) terlihat jelas bahwa perbedaan antara Maryam
dengan Tuan Guru Ahmad Rizki menyebabkan terjadinya konflik. Maryam
dituduh-tuduh sebagai “sesat.” Dengan demikian, Tuan Guru Ahmad Rizki
berusaha menghasuti orang-orang supaya mereka membantunya melakukan
penyerangan kepada Maryam sambil mengatakan wilayah Gegerung bukanlah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
97
tempat untuk menjadi markas bagi kelompok Ahmadiyah. Hal itu membuat
Maryam marah akan pemberitaan yang ia baca di mana ia mengutarakan “fatwa
sesat sebagai alasan ia memerintahkan penyerangan.” “Gegerung tak pantas untuk
dijadikan sebagai markas Ahmadiyah,” kata Tuan Guru Ahmad Rizki yang tertulis
di koran.
3.2.2 Perbedaan Antara Individu dengan Kelompok
Konflik sosial pada perbedaan antara individu dengan kelompok di atas,
meliputi konflik sosial perbedaan antara Maryam dengan dua laki-laki dan konflik
antara Maryam dengan warga Gerupuk. Analisis konflik sosial pada perbedaan
antara individu dengan kelompok seperti di atas adalah sebagai berikut.
3.2.2.1 Perbedaan antara Maryam dengan Dua Laki-laki
Perbedaan antara Maryam dengan dua laki-laki disebabkan karena
kedatangan Maryam ke rumah teman lamanya, mengundang kemarahan pada dua
laki-laki di rumah itu. Hal ini tak terelakkan lagi, sehingga terjadilah adu mulut
antara Maryam dengan dua laki-laki yang berbeda profesi tersebut. Hal ini
digambarkan dalam kutipan berikut:
(7)
“Mereka yang sesat tak boleh lagi berada di kampung ini,” Pak Haji
sekarang ikut berbicara.
“Siapa yang sesat?” Nada bicara Maryam tidak lagi menyerupai
pertanyaan, tapi bentakan.
“Siapa saja yang mengingkari agamanya,” jawab Pak Haji dengan tenang.
“Bagaimana kalian semua tahu kami mengingkari agama kami?” Maryam
makin tak memperhatikan kesopanan. Ia sengaja menyebut dua orang itu
dengan “kalian” untuk menunjukkan kemarahan.
“Siapa yang tidak tahu kalian orang Ahmadiyah?” balas Rohmat.
“Itu bukan berarti kami ingkar...” “Sudahlah, Nak... tak ada gunanya
meributkan hal yang sudah jelas. Masih banyak kesempatan untuk
bertobat,” potong Pak Haji. Masih dengan nada lembut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
98
Maryam semakin meradang. “Pak Haji, siapa yang perlu bertobat? Saya
dan keluarga saya atau orang-orang yang sudah mengusir kami dari rumah
kami sendiri?”
Umar mengangguk. Ingin menunjukkan ia mendukung apa yang dikatakan
istrinya.
“Kami warga Gerupuk, hanya sedang membela agama kami...” jawab Pak
Haji.
“Sudah... sudah... tidak usah terlalu panjang,” potong Rohmat. “Akan lebih
tidak enak kalau nanti semua orang datang ke sini karena dengar orang
teriak-teriak. Kita cari jalan yang paling enak, Bu Maryam. tinggalkan saja
kampung ini sekarang.”
Maryam bangkit dari duduk. Setengah berteriak dia berkata, “Saya masih
punya hak di kampung ini. Rumah itu masih milik keluarga kami. Saya
akan lapor ke polisi. Ke pengadilan. Semua yang mengusir kami harus
mendapat hukuman!”
(Madasari, 2012: 208-209)
Berdasarkan kutipan (7) terlihat jelas bahwa perbedaan antara Maryam
dengan dua laki-laki terjadi di kampung Gerupuk. Maryam diusir dan
diperintahkan untuk tidak menginjak wilayah itu lagi, sehingga membuat Maryam
marah. Ia tak menyukai dengan tudingan-tudingan kelompok penentang yang
selalu menyebutkan bahwa Maryam harus bertobat dari jalan yang ia yakini
sebelumnya.
3.2.2.2 Perbedaan antara Maryam dengan Warga Gerupuk
Perbedaan antara Maryam dengan Warga Gerupuk disebabkan karena
kemunculan Maryam di wilayah itu mengundang kebencian dan kemarahan pada
Maryam. Mereka tak bisa menerima bapak Maryam, Pak Khairuddin,
dimakamkan di wilayah itu. Hal ini tak terelakkan lagi, sehingga terjadi
perkelahian di antara keduanya. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(8)
Tempat pemakaman yang ada di Gerupuk adalah pemakaman umum.
Berada di ujung kampung, berbatasan dengan laut. Rombongan mobil itu
melewati jalan utama Gerupuk. Orang-orang yang ada di depan rumah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
99
memandang iring-iringan itu penuh tanya. “Siapa yang meninggal?” tanya
setiap orang ke orang-orang di dekatnya yang juga sama-sama tak tahu
jawabannya.
(Madasari, 2012: 262)
(9)
Saat itulah, tiba-tiba beberapa laki-laki datang. Maryam langsung tak
tenang. Mereka orang-orang Gerupuk. Satu di antaranya adalah orang
yang dulu mengusir Maryam saat berada di rumah Nur. Rohmat, teman
semasa kecilnya yang waktu ia bertandang ke rumah Nur menjabat sebagai
ketua RT. Rohmat yang sekarang mengucapkan salam, menyapa orangorang yang mengerumuni makam. “Siapa yang meninggal?” tanyanya.
“Pak Khairuddin. Orang asli kampung ini,” jawab Zulkhair.
“Tapi Pak Khairuddin bukan orang kampung ini lagi,” kata Rohmat.
(Madasri, 2012: 263)
(10)
“Makam ini milik warga Gerupuk. Mereka bisa menentukan siapa yang
tidak,” jawab Rohmat. Suaranya tenang. Seolah yakin apa yang
dikatakannya benar dan akan didengar.
“Kami juga warga Gerupuk!” Maryam kembali berteriak. “Itu di sana
masih ada rumah kami,” katanya sambil menunjuk ke arah jalan.
(Madasari, 2012: 264)
(11)
Dari kejauhan terlihat orang-orang Gerupuk datang. Jumlahnya lebih
banyak lagi. Maryam ketakutan. Ia lari ke arah orang-orang yang sedang
berkelahi. Berteriak sekerasnya memanggil nama Umar lalu, “Sudaaaah,
berhentiiii!”
(Madasari, 2012: 264)
Berdasarkan kutipan (8), (9), (10) dan (11) terlihat jelas bahwa perbedaan
antara Maryam dengan warga Gerupuk menimbulkan konflik. Maryam tak bisa
menerima bila ayahnya yang telah meninggal tak diperbolehkan dimakamkan di
Kampung Gerupuk, kampung yang dulu ia dan keluarga tempati sebelum terusir.
Akibat perbuatan Rohmat, orang-orang di Gerupuk ikut melihat serta membela
Rohmat yang merupakan RT di wilayah itu. Maryam akhirnya ketakutan akan
perbuatan orang di Gerupuk dan Maryam pun akhirnya lebih memilih mundur dan
mencari tempat pemakaman lain.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
100
3.2.3 Perbedaan Antara Kelompok dengan Kelompok
Konflik sosial pada perbedaan antara kelompok dengan kelompok terjadi
antara kelompok Ahmadiyah dengan kelompok bukan Ahmadiyah atau kelompok
penentang. Analisis konflik sosial pada perbedaan antara kelompok dengan
kelompok tersebut adalah sebagai berikut.
3.2.3.1 Perbedaan antara Kelompok Ahmadiyah dengan Kelompok bukan
Ahmadiyah atau Kelompok Penentang
Dari berbagai data dan informasi yang dikemukakan di luar teks sastra,
ditemukan fakta bahwa kelompok Ahmadiyah masuk ke Indonesia pada tahun
1925. Di Indonesia para pengikut Ahmadiyah terbagi menjadi dua kelompok,
yaitu Ahmadiyah Qadian dan Ahmadi Lahore. Pertama, kelompok Ahmadiyah
Qadian, di Indonesia membentuk organisasi bernama Jemaat Ahmadiyah
Indonesia, yang telah berbadan hukum sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI
No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953). Kedua, kelompok Ahmadiyah Lahore, di
Indonesia pengikut kelompok ini membentuk organisasi bernama Gerakan
Ahmadiyah Indonesia yang mendapat Badan Hukum Nomor IX tanggal 30 April
1930 (http://duniabaca.com/asal-usul-sejarah-ahmadiyah-di-indonesia.html).
Konflik antara kelompok Ahmadiyah dan kelompok penentang telah tejadi
berkali-kali. Pengusiran dan penganiayaan dimulai pada tahun 1999. Kelompok
penentang pun membakar masjid yang menjadi milik kaum Ahmadiyah di Bayan,
Kabupaten Lombok Barat. Sebagian dari mereka terluka dan meninggal akibat
bacokan yang dilakukan oleh kelompok penentang. Dengan pembakaran masjid
Ahmadiyah di Bayan, Kabupaten Lombok Barat. Ironisnya, pemerintah Lombok
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
101
Timur memberikan dua opsi: warga Ahmadiyah boleh tetap di Pancor tapi keluar
dari Ahmadiyah atau tetap di Ahmadiyah dan keluar dari Pancor
(http://www.andreasharsono.net/2010/02/ahmadiyah-rechtstaat-dan-hak
asasi_18.html).
Periode 90-an menjadi periode pesat perkembangan Ahmadiyah di
Indonesia bersamaan dengan diluncurkannya Moslem Television Ahmadiyya
(MTA). Ketika Pengungsi Timor Timur yang membanjiri wilayah Indonesia
setelah jajak pendapat dan menyatakan bahwa Timor Timur ingin lepas dari
Indonesia, hal ini memberikan kesempatan kepada Majelis Khuddamul
Ahmadiyah Indonesia untuk mengirimkan tim Khidmat Khalq untuk berkhidmat
secara terbuka. Ketika Tahun 2000, tibalah Hadhrat Mirza Tahir Ahmad ke
Indonesia datang dari London menuju Indonesia. Ketika itu beliau sempat
bertemu dan mendapat sambuatan baik dari Presiden Republik Indonesia,
Abdurahman Wahid dan Ketua MPR, Amin Rais (http://duniabaca.com/asal-usulsejarah-ahmadiyah-di-indonesia.html).
Dalam teks sastra, yaitu novel Maryam pun terungkap adanya konflik
tersebut, yaitu adanya perbedaan antara kelompok Ahmadiyah dengan kelompok
penentang disebabkan karena adanya kemarahan kelompok penentang terhadap
kelompok Ahmadiyah. Kelompok penentang sangat tak menyukai kehadiran
Ahmadiyah di wilayah itu. Ketika salah seorang Ustaz memimpin pengajian
dengan berusaha menghasut ummatnya untuk ikut terlibat mengusir keluarga
Ahmadiyah. Mereka pun percaya sekali akan pembicaraan sang Ustaz dan ikut
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
102
memilih mengusir kelompok Ahmadiyah. Hal ini digambarkan dalam kutipan
berikut:
(12)
Sayup-sayup terdengar suara dari masjid di seberang jalan utama. Sekitar
tiga ratus meter dari rumah ini. Masjid utama di Ketapang, tempat
kampung Gegerung berada. Seseorang sedang berceramah. Hal yang biasa
dilakukan pada bulan Ramadan seperti ini. Suara bapak Maryam beradu
dengan suara yang menggunakan pengeras itu. Diam-diam bapak Maryam
menyesal memilih mengadakan pengajian hari ini. Kenapa tidak besok
atau lusa saat tak bersamaan dengan ceramah di masjid itu. Tapi, ah, siapa
yang bisa menjamin besok tak ada ceramah? Pikirnya. Maka segera ia
tuntaskan sambutannya diserahkannya acara selanjutnya pada Ustaz.
Ustaz itu yang akan memimpin pengajian dan memberi ceramah hingga
buka puasa tiba.
Saat menunggu Ustaz mulai memimpin pengajian, suara dari masjid jelas
terdengar. Orang itu sedang bicara soal kelompok aliran sesat. Nama
Ahmadiyah berkali-kali disebut. Semua yang ada di rumah Pak
Khairuddin mulai tak tenang. Masing-masing berbicara dengan orang di
sebelahnya. Berbisik-bisik, saling bertanya. Raut muka penuh kemarahan,
sekaligus rasa resah dan takut. Umar pun berbisik kepada bapak
mertuanya. Bertanya itu suara siapa. “Tuan Guru Ahmad Rizki,” jawab
bapak Maryam. “Dua bulan ini sering sekali ada pengajian seperti itu.
Tidak tahu apa maksudnya,” lanjutnya tetap sambil berbisik.
(Madasari, 2012: 221-222)
(13)
“Usir orang Ahmadiyah dari Gegerung. Kalau masyarakat di sini tidak
mampu mengusir, saya akan mendatangkan masyarakat dari tempat lain
untuk mengusir mereka... Darah Ahmadiyah itu halal!”
Suara isakan terdengar dari dalam rumah. Perempuan-perempuan itu
menangis. Awalnya hanya satu, lalu menular ke yang lain. Dan akhirnya
mereka semua sama-sama menangis. Tidak semuanya tangis karena
ketakutan. Ada yang menangis hanya karena melihat temannya yang
menangis. Ada yang menangis karena bingung dan sudah tak tahu lagi
harus berbuat apa. Para laki-laki yang berada di luar rumah itu terhanyut
oleh suara tangis itu. Mereka yang semula menunjukkan wajah marah kini
luluh dengan mata berkaca-kaca yang memerah. Tangis yang ditahan agar
tak keluar lebih menyakitkan dibanding tangis yang tersedu-sedu. Mereka
harus menahan untuk tak menangis agar perempuan-perempuan itu masih
percaya ada yang bisa melindungi mereka di depan rumah jika terjadi apaapa.
(Madasari, 2012: 223)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
103
Berdasarkan kutipan (12) dan (13) terlihat jelas bahwa perbedaan antara
kelompok Ahmadiyah dengan kelompok penentang yang disebabkan karena
adanya hubungan tak baik antara kedua kelompok tersebut. Kelompok
Ahmadiyah selalu dipandang rendah dan sebagai aliran ‘sesat’ oleh kelompok
penentang. Terlihat bahwa seorang Ustaz bukan Islam Ahmadiyah memimpin
pengajian, di tengah-tengah pengajian tersebut, sang Ustaz membicarakan soal
kelompok Ahmadiyah sambil menjelek-jelekkan kelompok Ahmadiyah dengan
mengatakan kelompok Ahmadiyah merupakan ‘aliran yang sesat’. Hal inilah yang
membuat Maryam sebagai keluarga Ahmadiyah dan keluarga lainnya marah besar
dan tak terima dengan pernyataan sang Ustaz kepada ummatnya di dalam
pengajian tersebut. Banyak dari mereka kelompok Ahmadiyah menangis dan
merasa sakit atas apa yang didengar dari salah satu masjid di tempat itu.
Kemarahan penentang Ahmadiyah pun terjadi saat mereka sudah tak bisa
bersabar lagi untuk menerima kehadiran keluarga Ahmadiyah di kampung
Gerupuk itu. Terjadilah pengusiran terhadap kelompok Ahmadiyah. Kelompokkelompok yang bukan merupakan kelompok Ahmadiyah melakukan penyerangan
dengan melempari batu-batu, merusak rumah-rumah, dan lain-lain. Hal ini
digambarkan sebagai berikut:
(14)
Semuanya diawali sekitar seminggu sebelumnya. Saat ribut-ribut besar
terjadi di sebuah desa, sepuluh kilometer dari Gerupuk ke arah timur utara.
Orang-orang Gerupuk sering datang ke desa itu. Di sana mereka biasa
mendengarkan ceramah dari para tuan guru4. Di sana juga banyak anak
Gerupuk bersekolah. Tempat itu memang sudah menjadi tempat sekolah
agama. Banyak madrasah berdiri di sana. Mulai dari yang setingkat SD
hingga SMA. Tanpa ada yang bisa menjelaskan asal mulanya, tiba-tiba
semua orang di desa itu menjadi beringas. Mengangkat cangkul dan
parang, membawa batu-batu besar, menuju rumah orang-orang yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
104
mereka anggap berbeda dari yang kebanyakan. Orang-orang yang mereka
anggap telah menduakan nabi mereka dan telah memperlakukan agama
sesuai keinginan mereka. Bukan lagi berdasar yang seharusnya.
(Madasari, 2012: 51)
(15)
Mereka marah pada orang-orang yang selama puluhan tahun hidup rukun
sebagai tetangga. Mereka melempar batu ke genteng, memecahkan kaca
jendela, merusak pagar dengan parang dan cangkul. Laki-laki dewasa
semuanya siaga. Mengepung rumah orang-orang yang mereka anggap
telah menyimpang. Mereka memberikan dua pilihan: kembali ke jalan
yang benar atau segera meninggalkan tempat ini. Pada hari ketiga, dalam
puncak ketegangan dan ketidaksabaran, api-api pun dilemparkan. Tujuh
belas rumah dibakar. Penghuninya memilih pergi. Meninggalkan semua
yang mereka miliki. Melepaskan kehidupan yang telah bertahun-tahun
mereka miliki. Orang-orang desa itu mendapatkan apa yang mereka
inginkan. Tapi api kemarahan terlanjur berkobar. Di desa-desa lain di
seluruh Lombok, orang-orang mulai membersihkan iman dalam
lingkungan mereka. Mengangkat parang dan cangkul, melempari dengan
batu. Membakar ketika tak segera didengarkan. Gerupuk pun tak mau
ketinggalan. Seluruh laki-laki bergerak ke arah rumah Pak Khairuddin.
Yang perempuan berdiri di sepanjang jalan. Empat kali lemparan batu dan
teriakan orang-orang sudah cukup untuk Pak Khairuddin mengambil
keputusan. Tanpa ada perlawanan. Tanpa perlu perusakan dan
pembakaran.
(Madasari, 2012: 51-52)
(16)
Maryam menangis. Cerita Jamil tergambar jelas dalam pikirannya. Ia tak
melihat peristiwa itu langsung, tapi ia merasa cukup tahu bagaimana menit
demi menit peristiwa itu terjadi. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan
orangtua dan adiknya saat itu. Sakitnya, pedihnya, dukanya, takutnya,
semua bisa ia rasakan saat itu. Tapi kemudian buru-buru ia mengoreksi
pikirannya sendiri. Tahu apa dia tentang perasaan keluarga saat itu?
Bagaimana mungkin dia bisa menakar segala duka saat itu dengan duka
yang baru saja dirasakannya saat ini? Duka yang datang dari cerita Jamil,
tanpa merasakan langsung. Duka yang dirasakan sambil duduk tenang di
berugak, bukan dalam ketergesaan dan ketakutan di tengah kepungan
banyak orang.
(Madasari, 2012: 52)
Berdasarkan kutipan (14), (15), dan (16) terlihat jelas bahwa kelompok
penentang Ahmadiyah tak bisa lagi bersabar, mereka berkelompok merencanakan
perlawanan terhadap kelompok Ahmadiyah. Dengan melempar batu-batu,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
105
memecahkan kaca jendela, merusak pagar dengan parang dan cangkul. Kelompok
penentang akan bisa menerima kelompok Ahmadiyah, jika mereka bisa bertobat
menuju jalan yang benar jika tidak mereka harus pergi dari kampung yang sudah
lama ditempati tersebut. Hal inilah yang membuat Maryam marah pada kelompok
penentang Ahmadiyah. Meskipun Maryam tak berada dalam peristiwa itu, ia bisa
merasakan luka, sakit, dan derita yang dialami kelompok Ahmadiyah dan
keluarganya.
3.3
Konflik karena Perbedaan Kebudayaan
Konflik perbedaan kebudayaan adalah perbedaan kepribadian dari orang
perorangan tergantung pula dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar
belakang pembentukan serta perkembangan kepribadian tersebut. Seorang secara
sadar maupun tidak sadar, sedikit banyaknya akan terpengaruh oleh pola-pola
pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya (Soekanto, 1986: 94).
Perubahan daripada kepribadian orang-perorangan yaitu dalam konflik
yang berlangsung di dalam kelompok atau antar kelompok selalu ada orang yang
menaruh simpati kepada kedua belah pihak. Ada pribadi-pribadi yang tahan untuk
menghadapi situasi demikian, akan tetapi banyak pula yang merasa dirinya
tertekan, sehingga mengakibatkan suatu penyiksaan terhadap mentalnya
(Soekanto, 1986: 99). Pembagian perbedaan kebudayaan tersebut akan dibagi
menjadi: kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan dan kebudayaan khusus
atas dasar agama, dan kebudayaan khusus kelas sosial. Hal ini akan terlihat jelas
di bawah ini.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
106
3.3.1
Kebudayaan Khusus Atas Dasar Faktor Kedaerahan
Seperti yang diungkapkan oleh Soerjono Soekanto, dalam bukunya yang
berjudul Sosiologi Suatu Pengantar, bahwa kebudayaan khusus atas dasar faktor
kedaerahan dijumpai kepribadian yang berbeda dari individu-individu yang
merupakan anggota suatu masyarakat tertentu, oleh karena masing-masing tinggal
di daerah-daerah yang berlainan dengan kebudayaan-kebudayaan khusus yang
berbeda pula (Soekanto, 1986: 184).
Maryam adalah anak yang dilahirkan dari keluarga Ahmadiyah. Ia
berwajah cantik dan menjadi salah satu idaman laki-laki di kampungnya. Dilihat
dari faktor kedaerahannya, Maryam taat sekali dalam beribadah. Kedua
orangtuanya selalu mengajak Maryam ke pengajian apabila di tempat itu
mengadakan pengajian. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(17)
Maryam memiliki kecantikan khas perempuan dari daerah timur. Kulit
sawo matang yang bersih dan segar. Mata bulat dan tajam, alis tebal, dan
bibir agak tebal yang selalu kemerahan. Rambutnya yang lurus dan hitam
sejak kecil selalu dibiarkan panjang melebihi punggung dan lebih sering
dibiarkan tergerai. Di luar segala kelebihan fisiknya, Maryam gadis yang
cerdas dan ramah. Apalagi yang kurang ketika semuanya telah dibungkus
dalam kesamaan iman?
(Madasari, 2012: 24)
Berdasarkan kutipan (17) terlihat jelas bahwa Maryam merupakan gadis
dari daerah timur yang memiliki kecantikan khas timur dari tempat tinggalnya.
Selain dikenal gadis yang cantik, ia juga dikenal sebagai orang cerdas sekaligus
ramah.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
107
Dilihat dari latar belakang sosialnya, Maryam hidup dengan penghasilan
orangtua yang mencukupi hidupnya. Ayahnya bekerja sebagai tengkulak ikan.
Dari hasil menjadi tengkulak ikan itulah Maryam dapat berkuliah di universitas
yang ia inginkan. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(18)
Bapak Maryam menjadi tengkulak ikan. Membeli hasil tangkapan
nelayan-nelayan, lalu menjualnya ke pasar kecamatan dan rumah-rumah
makan. Dengan hasil dari ikan itulah bapak Maryam bisa membangun
rumah yang layak, punya satu pikap, dan menyekolahkan dua anaknya.
Kuliah Maryam di Surabaya dibiayai orangtuanya sendiri. Dia hanya
menumpang tinggal di rumah Pak Zul, demi keamanan, juga karena tradisi
persaudaraan sesama mereka.
(Madasari, 2012: 21-22)
(19)
Tak ada keistimewaan lain yang ditawarkan Gerupuk selain ombak tinggi
itu. Ia tak punya pantai indah berpasir putih, sebagaimana pantai-pantai
lain yang berjajar di pesisir ini. Gerupuk adalah deretan perahu-perahu
nelayan, bau amis ikan, dan nelayan-nelayan berkulit legam. Setiap orang
hidup dari tangkapan ikan, udang, atau teripang. Bapak Maryam satu dari
sedikit orang yang beruntung. Ia hidup dari ikan itu tanpa perlu lagi melaut
sendiri. Ia hanya perlu menunggu setoran orang-orang, membelinya sesuai
kesepakatan, lalu menjualnya di Pasar Sengkol, dua puluh kilometer ke
arah barat dari Gerupuk.
(Madasari, 2012: 41-42)
Berdasarkan kutipan (18) dan (19) terlihat jelas bahwa secara sosial,
Maryam berasal dari keluarga yang berpenghasilan cukup. Bapak Maryam
bekerja sebagai tengkulak ikan dari hasil tangkapan ikan daripada nelayannelayan. Maryam pun dapat berkuliah di Surabaya berkat hasil kerja keras
ayahnya tersebut.
Maryam selalu dituntun oleh orangtuanya untuk menikah dengan laki-laki
yang berasal dari Ahmadiyah yang sama dengannya. Di sisi lain, Maryam merasa
heran akan aturan yang diberikan oleh orangtuanya mengenai pernikahan yang
harus dilaksanakan pada orang-orang yang benar-benar memiliki kepercayaan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
108
yang sama. Meskipun begitu, Maryam telah memiliki kekasih yang sangat ia
cintai, tetapi bukan dari keluarga Ahmadiyah. Hal ini digambarkan dalam kutipan
berikut:
(20)
Maryam menjadi gusar. Ia merasa kepulangan dan segala upayanya untuk
meredam segala kemarahan sia-sia. Tapi Maryam masih mencoba
bertahan. Ia merasa masih punya harapan. Bapak dan ibunya mungkin
masih menyimpan pengertian. Maka pelan-pelan Maryam menyampaikan
apa yang dipikirkannya. Tentang pernikahan yang tak mengungkit-ungkit
keyakinan. Tentang hidup bersama dalam bahagia dengan membiarkan
satu sama lain memelihara apa yang sejak kecil telah mereka percayai.
Maryam juga menambahkan cerita-cerita tentang keluarga Ahmadi di
Kampung Gondrong. Maryam ingin menunjukkan ia tak akan melupakan
akarnya, ia akan sering-sering datang ke sana, ia akan makin rajin datang
ke pengajian Ahmadi setelah menikah dengan Alam. Sampai pada cerita
ini Maryam berkaca-kaca. Ia menyembunyikan kenyataan bahwa Alam
dan keluarganya telah memintanya menanggalkan semua yang jadi
keyakinannya, menjauhi orang-orang yang jadi keyakinannya, menjauhi
orang-orang yang sekelompok dengannya, setelah nanti menjadi istri
Alam.
(Madasari, 2012: 34-35)
Berdasarkan kutipan (20) terlihat jelas bahwa Maryam berusaha
meyakinkan kedua orangtuanya untuk selalu ingat bahwa ia akan selalu ingat
bahwa ia adalah Ahmadiyah. Di sisi lain, ia tak bisa menepati janjinya terhadap
kedua orangtuanya. Meskipun ia tahu, orangtuanya selalu mengingatkannya untuk
menikah dengan sesama Ahmadiyah. Maryam justru diminta oleh Alam dan
keluarga Alam untuk meninggalkan keyakinannya, dan mengikuti keyakinan
Alam beserta keluarga Alam nantinya.
Sikap dan tindakan Maryam sangat berbeda saat berada di rumah Alam.
Maryam digambarkan sebagai sosok wanita yang sabar dan pasrah dalam keadaan
yang ia jalani kepada keluarga Alam. Meskipun segala kekecewaan pun bisa ia
terima. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
109
(21)
“Aku capek. Aku bosan disalahkan terus. Kenapa semua hal gara-gara
aku? Kenapa semuanya karena dulu aku Ahmadi?” jawab Maryam penuh
emosi, meski tidak dengan nada tinggi. Setiap kata diucapkan dengan
penuh tekanan, untuk menggantikan suara tinggi yang sengaja dikekang.
“Siapa yang menyalahkan kamu?” Tidak ada yang mengatakan seperti
itu.”
“Ah... sudahlah. Nggak usah pura-pura bodoh. Selama ini aku sudah
banyak mengalah. Tapi jangan terus-terusan aku dijadikan sumber
masalah. Kalau memang aku belum hamil mau diapakan lagi?”
“Tapi memang tidak ada yang menyalahkan kamu...”
“Kamu nggak dengar, tadi Ibu kamu bilang apa di depan banyak orang?”
“Cuma minta didoakan. Nggak ada yang salah, kan?”
“Dia bilang ‘sesat’! Apa lagi maksudnya kalau bukan Aku?”
“Maryam, kamu terlalu sensitif. Tersinggung terhadap sesuatu yang jelasjelas bukan ditujukan ke kamu...”
(Madasari, 2012: 123)
Berdasarkan kutipan (21) terlihat jelas bahwa Maryam selalu disalahkan
terus-menerus oleh Alam. Alam yang tak peka terhadap penderitaan Maryam,
menganggap bahwa tak ada hinaan ibunya kepada Maryam. Maryam justru dinilai
terlalu sensitif menganggap perkataan ibunya. Padahal Maryam tahu selain ia
masih keturunan Ahmadiyah, ia juga masih belum bisa dikaruniai seorang anak.
Kehidupan rumah tangga antara Maryam dan Alam pun tak berjalan
semulus yang ia inginkan. Ia mengakhiri hubungannya bersama Alam, dan
memilih pergi dari rumah Alam. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(22)
Perkawinan yang umurnya belum genap lima tahun itu karam. Maryam
memilih keluar. Ia sendiri heran, bagaimana ia bisa selama itu bertahan.
Berusaha membangun kebahagiaan di tengah-tengah kecurigaan dan
kepalsuan. Ia selalu berpikir, yang penting Alam, suaminya itu, tulus
mencintainya tanpa prasangka. Tapi siapa yang menyangka nyali laki-laki
yang dicintainya hanya sebatas bualan?
(Madasari, 2012: 15)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
110
Berdasarkan kutipan (22) terlihat jelas bahwa Maryam telah memilih
pilihan yang tepat dengan mengambil tindakan bercerai dengan Alam, suaminya,
yang selama hampir lima tahun dibangun. Meskipun ia berusaha membangun
kebahagiaan ditengah-tengah kesedihannya. Maryam yang merasa Alam tulus
mencintainya, namun ia salah, Alam juga tak bisa mempertahankan rumah
tangganya.
3.3.2 Kebudayaan Khusus Atas Dasar Agama
Seperti yang diungkapkan oleh Soerjono Soekanto (1986: 185), agama
juga mempunyai pengaruh besar untuk membentuk kepribadian seorang individu.
Adanya madzhab dalam agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda pula.
Maryam merupakan anak dari keluarga Ahmadiyah. Ia menjadi
Ahmadiyah tidak terjadi begitu saja. Dimulai dari kakek Maryam yang memilih
perjalanan yang berbeda. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(23)
Keluarga Maryam menjadi Ahmadi tidak tiba-tiba. Pak Khairuddin sudah
Ahmadi sejak lahir. Kakek dan nenek Maryam-lah yang menjadi pemula,
lebih dari tujuh puluh tahun lalu. Kakek Maryam bertemu dengan seorang
dai saat pergi ke Praya. Tanpa sengaja, hanya pertemuan biasa. Awalnya
ia juga tak tahu laki-laki itu dai. Sekali bertemu, mereka langsung akrab
tanpa bisa dijelaskan kenapa dan bagaimana. Kakek Maryam diajak ke
pengajian kecil di Praya, pengajian orang-orang Ahmadi yang saat itu
pengikutnya hanya enam orang. Salah satu di antara mereka ayah Pak Zul.
Memang, persahabatan kedua keluarga itu bukan diawali dari Pak Zul dan
Pak Khairuddin, tapi dari orangtua mereka. Generasi pertama yang masuk
Ahmadi di Praya.
(Madasari, 2012: 53)
(24)
Rasa ingin tahu lebih banyak tentang agamanya membuat kakek Maryam
tak ragu-ragu saat diajak ikut pengajian. Baginya, apa pun yang bermuara
pada keberadaan Tuhannya adalah jalan kebaikan. Ia banyak
mendengarkan ceramah-ceramah dari orang-orang baru. Bukan hanya dai
yang pertama kali ditemuinya, tapi juga dai-dai lain yang bergiliran
didatangkan dari Jawa dan Sumatra. Kakek Maryam sekaligus merasa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
111
punya teman-teman bicara yang setara, yang sama-sama tahu tentang
agama, yang membicarakannya bersama untuk kebenaran dan kebaikan
manusia. Hal yang tak bisa didapatkannya di Gerupuk. Yang orangorangnya hanya menurut tanpa pernah bertanya. Yang hanya mengikuti
tanpa memahami.
(Madasari, 2012: 53-54)
Berdasarkan kutipan (23) dan (24) terlihat jelas bahwa kakek Maryam
memilih jalan yang berbeda dengan memasuki Ahmadiyah. Tidak hanya kakek
Maryam, ayah Pak Zul, sahabat Pak Khairuddin, ikut menjadi Ahmadiyah
bersama kakek Maryam. Kakek Maryam merasa dengan kedatangan para dai dari
Jawa dan Sumatra. Kakek Maryam merasa memiliki banyak teman. Dari situlah
Pak Khairuddin, bapak Maryam, menjadi Ahmadiyah yang awal mulanya berasal
dari Kakek Maryam tersebut.
Pada novel ini, digambarkan Maryam sebagai orang yang dapat marah di
depan orang-orang di Gerupuk itu. Ia juga menganggap Nur, temannya, tak lebih
dari seorang penghianat. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(25)
Rohmat memandang ke arah Nur dan ibunya. Tanpa kata-kata. Seolah
yakin Nur akan paham maksudnya. Maryam ikut menatap Nur. Ada
keyakinan Nur akan membelanya di depan orang-orang. Mengulang
semua yang tadi ia katakan saat bertemu Maryam di Kuta. Pandangan Nur
bertemu dengan pandangan Maryam. Lalu Nur melirik ibunya. Perempuan
itu memainkan bibirnya tanpa ada yang bisa menebak apa artinya. Nur
menunduk sebentar. Lalu beranjak mendekati Maryam.
“Tolong pulang saja... jangan sampai ada apa-apa di rumah ini,” katanya
pelan.
Maryam membelalak tak percaya. Ia marah pada Nur yang ternyata sama
saja dengan orang-orang. umar bergerak cepat. Menyentuh pundak
Maryam dan memberinya isyarat untuk meninggalkan tempat ini. Muka
Maryam merah padam. Matanya berkaca-kaca. Sambil mengikuti langkah
Umar ia berteriak-teriak.
“Kalian semua bukan manusia!”
“Yang sesat itu kalian, bukan kami!”
“Rumah itu milik kami. Kalian semua perampok!”
(Madasari, 2012: 210-211)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
112
Berdasarkan kutipan (25) terlihat jelas bahwa kemarahan Maryam pada
mereka dinilai buruk oleh Maryam. Maryam yang diusir tak dapat terima dengan
pengusiran itu. Ia pun menilai bahwa orang-orang itu adalah orang yang sesat dan
bukan Maryam, meskipun ia adalah bagian dari Ahmadiyah. Ia tak percaya akan
tindakan Nur, ia merasa yakin akan ada pembelaan dari Nur, tapi Nur ikut-ikutan
mengusir Maryam dan juga Umar, suaminya.
Maryam tahu betul bahwa keyakinan yang ia miliki akan menimbulkan
masalah. Tapi ia begitu bangga terhadap orangtuanya, mereka masih
mempertahankan iman walaupun terusir dari rumah. Maryam tak malu dan
menyesali atas iman yang dilahirkan untuknya. Meskipun ada sedikit penyesalan
menikahi Alam, Maryam yang lebih memilih meninggalkan keyakinannya dan tak
mempedulikan kedua orangtuanya. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(26)
Maryam memang malu. Malu karena tak tahu apa-apa yang terjadi pada
keluarganya. Malu karena tidak melakukan apa-apa, ketika keluarganya
terusir karena mempertahankan iman. Maryam juga menyesal. Menyesal
atas semua yang dilakukannya demi bersama Alam. Menyesali segala
keputusannya untuk menikah dengan Alam, tanpa memedulikan apa yang
dikatakan orangtuanya. Tapi entah kenapa, Maryam sama sekali tak malu
dan menyesal telah jauh meninggalkan keimanannya. Ia juga tak tahu
kenapa tak ada ruang lagi dalam hatinya untuk kembali meyakini apa yang
sejak kecil diperkenalkan, yang beberapa tahun lalu telah ia tinggalkan. Ia
pulang sama sekali bukan untuk iman. Ia pulang hanya untuk keluarganya.
Ia terharu, ia bangga, ia menitikkan air mata atas kegigihan dan kekokohan
keluarganya mempertahankan iman. Ia marah, ia dendam, ia tak bisa
memaafkan orang-orang yang merongrong keluarganya karena dianggap
tak benar. Tapi tidak, Maryam sama sekali tak pulang untuk iman.
(Madasari, 2012: 77-78)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
113
Berdasarkan kutipan (26) terlihat jelas bahwa Maryam memang malu dan
menyesali atas semua yang ia lakukan sebelumnya. Maryam begitu bangga akan
kegigihan orangtuanya dengan berani mempertahankan imannya. Walaupun ia
marah dan dendam pada orang-orang yang berani mengusir keluarganya dari
kampung halamannya sendiri, namun ia tahu ia tak bisa mempertahankan
imannya.
3.3.3
Kebudayaan Khusus Atas Dasar Kelas Sosial
Menurut Soekanto (1986: 185), kebudayaan khusus kelas sosial di dalam
setiap masyarakat akan dijumpai lapisan-lapisan sosial oleh karena setiap
masyarakat mempunyai sikap menghargai terhadap bidang kehidupan tertentu.
Dengan demikian, kita mengenal lapisan sosial yag tinggi, rendah dan menengah.
Himpunan orang-orang yang merasa dirinya tergolong pada lapisan sosial
tertentu, hal mana diakui masyarakat, itu dinamakan kelas sosial.
Maryam tak tahu-menahu tentang pengusiran yang terjadi padanya dan
keluarga lainnya. Ia menganggap bahwa tanah di wilayah itu merupakan tanah
milik kakeknya. Ia bisa berpura-pura ikhlas dan tak menangis dihadapan
orangtuanya meskipun ia tak bisa terima akan pengusiran yang terjadi oleh
kelompok penentang. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(27)
Pikiran Maryam langsung menerawang ke masa-masa ia masih tinggal di
Gerupuk bersama keluarganya. Masa-masa jauh sebelum ia datang ke
Jakarta, dan jauh sebelum keluarganya terusir dari rumah yang telah
puluhan tahun mereka tinggali. Semuanya berulang dalam kepalanya.
Seperti rekaman video yang sewaktu-waktu bisa diputar ulang. Ada yang
membuat Naryam tertawa, ada bagian yang membuatnya terharu, lalu ada
bagian lain yang kembali menghadirkan rasa bersalah. Ketika yang hadir
adalah gambaran pengusiran yang didapatnya dari Jamil, amarah Maryam
menggelegak. (Madasari, 2012: 169-170)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
114
(28)
“Rumah itu milik kakekku. Dibangun dengan uangnya sendiri. Tanahnya
warisan dari buyut-buyutku. Lalu diwariskan ke bapakku. Dibangun
sampai bisa seperti yang sekarang dari hasil keringat bapak. Aku dan
Fatimah lahir dan besar di sana. Dan sekarang kami diusir begitu saja?”
gugat Maryam. Suara Maryam bergetar. Air matanya jatuh. Ia terisak.
Umar kaget dan bingung. Ia tak menyangka emosi Maryam bisa berubah
begitu cepat. Digenggamnya tangan Maryam. Dielusnya. Sambil dari
mulutnya keluarkan desis “ssssh”. “Sabar, Maryam...” katanya.
“Aku masih tak terima. Tapi harus pura-pura ikhlas karena Bapak dan Ibu
pun sudah merelakannya. Tak mau mengungkit-ungkit karena itu akan
membuat mereka sedih,” kata Maryam dengan suara lebih keras dan nada
lebih tegas. Tapi air matanya masih tetap mengalir.
(Madasari, 2012: 170)
(29)
“Kita semua marah,” kata Umar. “Kita semua tak terima. Tapi apa gunanya
sekarang? Yang penting bagaimana kita kedepannya bisa hidup lebih baik.
Lebih aman.”
“Aku masih tak bisa menerima orangtua dan adikku pernah hidup di
pengungsian. Sementara rumah yang dibangun susah payah tak boleh
digunakan...” Suara Maryam mulai memelan. Isakannya juga melemah.
Maryam terlihat sudah lebih tenang. Tangan kiri Umar menggenggam erat
tangan istrinya sementara tangan kanan terus mengendalikan setir.
(Madasari, 2012: 170-171)
(30)
“Namanya juga cobaan. Bagian dari ujian iman, Maryam. Juga bukti
bahwa kita memang benar...” kalimat Umar terdengar menggantung. Ia
ingin menenangkan Maryam dengan cara terbaik. Meredam kemarahan
dan menumbuhkan keikhlasan. Kata-kata itu keluar begitu saja dari
mulutnya. Sepanjang umurnya, inilah pertama kalinya Umar bicara
tentang iman dengan begitu bijak. Umar seorang Ahmadi. Beribadah
bersama-sama orang Ahmadi. Mengaji bersama orang-orang Ahmadi. Ia
hafal di luar kepala tentang sejarah keyakinannya. Tapi tak satu alasan pun
baginya untuk menjadi bagian dari Ahmadiyah selain karena memang
sejak lahir ia telah dijadikan seorang Ahmadi oleh kedua orangtuanya.
Karenanya ketika tiba-tiba saja kata-kata tentang iman keluar dari
mulutnya, ia sendiri menjadi ragu atas apa yang dikatakannya. Apalagi
yang baru ia katakan sebenarnya hanya pengulangan atas apa yang
dikatakan orang-orang Ahmadi lainnya atas kepedihan yang telah mereka
alami.
(Madasari, 2012: 171)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
115
Berdasarkan kutipan (27), (28), (29) dan (30) terlihat jelas bahwa Maryam
merasakan kesakitan atas derita yang ia dan keluarganya alami. Ia tak bisa
menerima pegusiran yang terjadi di waktu itu. Ia memang dilahirkan dari bagian
Ahmadiyah oleh kedua orangtuanya. Di sisi lain, Maryam juga berusaha
menyembunyikan kesedihannya dari kedua orangtuanya. Namun, ia sama sekali
tak bisa menerima pengusiran itu.
Kebudayaan kelas sosial selanjutnya berada pada tempat pengungsian
yang terjadi pada anak-anak yang tak bersekolah, langsung dinikahkan di tempat
mereka tinggal. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(31)
Gedung Transito kian hari terasa kian sesak. Barang-barang bertambah:
baju dan aneka perkakas. Kamar sempit yang disekat dengan kain itu kini
terlihat penuh tumpukan barang. Enam bayi telah lahir di pengungsian ini.
Anak-anak bertambah besar. Beberapa anak remaja yang remaja yang
sudah di bangku SMP dikirim ke Surabaya dan Kuningan. Tinggal
bersama keluarga Ahmadi dan disekolahkan seperti anak sendiri. Ada
yang masih betah sampai sekarang. Ada yang minta pulang setelah tiga
bulan. Di pengungsian ini juga, pemuda-pemudi yang sudah tak sekolah
langsung dikawinkan. Berumah tangga dan tinggal di sini juga. Lalu
lahirlah lagi generasi-generasi baru Ahmadi. Ada yang lahir, ada yang
pergi. Selama di pengungsian ini, empat orang telah meninggal. Pak
Khairuddin salah satunya.
(Madasari, 2012: 266)
Berdasarkan kutipan (31) terlihat jelas bahwa kelas sosial yang terjadi
semenjak pengusiran dan pengungsian itu terjadi. Tidur dalam kamar yang sempit,
anak-anak yang bertumbuh remaja, tak dapat bersekolah lagi. Anak-anak ini pun
dinikahi di tempat ini. Sampai pada akhirnya melahirkan anak dan menjadikan
anak tersebut sebagai Ahmadiyah. Namun, tak sedikit dari mereka dapat bertahan
hidup akibat hidup dalam kesesakan yang dipenuhi banyak pengungsi di tempat
tersebut dan kurangnya kebutuhan sehari-hari mereka untuk bisa bertahan hidup.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
116
Kegigihan Maryam
membulatkan tekadnya untuk menghentikan
ketidakadilan yang ia alami selama ini. Berusaha meminta keadilan atas tindakan
pengusiran yang dilakukan oleh kelompok penentang kepadanya. Dengan
berusaha menulis sebuah surat agar dapat diterima dan dapat membantunya keluar
dari kejahatan kelompok penentang. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:
(32)
Ini surat ketiga yang saya kirimkan ke Bapak. Semoga surat saya kali ini
bisa mendapat tanggapan.
Hampir enam tahun keluarga dan saudara-saudara kami terpaksa tinggal
di pengungsian, di Gedung Transito, Lombok. Selama itu kami berbagi
ruangan dengan membuat kamar-kamar bersekat kain. Lebih dari dua ratus
orang hidup bersama di situ.
(Madasari, 2012: 273)
(33)
Bapak yang terhormat, kami tidak meminta lebih. Hanya minta dibantu
agar bisa pulang ke rumah dan hidup aman. Kami tidak minta bantuan
uang atau macam-macam. Kami hanya ingin hidup normal. Agar anakanak kami juga bisa tumbuh normal, seperti anak-anak lainnya. Agar kelak
kami juga bisa mati dengan tenang, di rumah kami sendiri.
Sekali lagi, Bapak, itu rumah kami. Kami beli dengan uang kami sendiri,
kami punya surat-surat resmi. Kami tak pernah melakukan kejahatan, tak
pernah mengganggu siapa-siapa. Adakah alasan yang bisa diterima akal,
sehingga kami, lebih dari dua ratus orang, harus hidup di pengungsian
seperti ini?
Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?
(Madasari, 2012: 274-275)
Berdasarkan kutipan (32) dan (33) terlihat jelas bahwa Maryam tak tahan
lagi dengan hidupnya yang diharuskan mengungsi di tempat yang benar-benar tak
luas karena banyaknya mereka diusir dari rumah mereka. Meskipun mereka
membeli rumah itu dengan usaha dan hasil kerja keras mereka, Maryam sungguh
tak bisa menerima perbuatan ini. Maryam sangat membutuhkan bantuan dari
atasan supaya bisa membantunya keluar dari ketidakadilan, kejahatan, dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
117
penderitaan ini. Maryam tahu perbuatannya ini sudah tak bisa ditolerir lagi karena
ia juga sudah tak bisa bersabar lagi.
3.4 Rangkuman
Berdasarkan analisis di atas, terlihat bahwa konflik sosial dalam novel
Maryam mencakup perbedaan orang-perorangan dan perbedaan kebudayaan.
Pertama, perbedaan orang-perorangan yang terdiri dari: (i) perbedaan antara
individu dengan individu, (ii) perbedaan antara individu dengan kelompok, dan
(iii) perbedaan antara kelompok dengan kelompok. Kedua, perbedaan kebudayaan
yang terdiri dari: (i) kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan dan (ii)
kebudayaan khusus atas dasar agama, dan (iii) kebudayaan khusus atas dasar kelas
sosial.
Ahmadiyah merupakan aliran keagamaan yang berjuang mempertahankan
eksistensinya dari dunia Islam. Ahmadiyah sendiri dapat dikatakan sebagai aliran
yang merupakan agama tersendiri yang berbeda dari lingkungan agama Islam.
Dikatakan sebagai agama baru, oleh karena Ahmadiyah percaya akan kedatangan
seorang nabi sesudah Muhammad s.a.w. Oleh karena itu, Ahmadiyah mengingkari
status Muhammad s.a.w. sebagai penutup kenabian.
Perbedaan antara individu dan individu terjadi antara: (i) Maryam dengan
Ibu Alam disebabkan karena Maryam merupakan anak yang dilahirkan oleh
keluarga Ahmadiyah yang dinilai ‘sesat’, (ii) perbedaan antara Maryam dan Alam
disebabkan karena adanya perkelahian antara keduanya, (iii) perbedaan antara
Maryam dengan Tuan Guru Ahmad Rizki disebabkan karena Tuan Guru Ahmad
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
118
sebagai penghasut warga Gerupuk, dan (iv) perbedaan antara Maryam dengan
Gubernur disebabkan karena Gubernur datang membawa kabar yang tak
menyenangkan hati dari keluarga-keluarga Ahmadiyah.
Perbedaan orang-perorangan yang terjadi adalah perbedaan antara
individu dengan kelompok terjadi antara: (i) Perbedaan antara Maryam dengan
dua laki-laki disebabkan karena kedatangan Maryam ke rumah teman lamanya,
Nur mengundang kemarahan pada dua laki-laki yang bernama Rohmat sebagai
Pak RT dan satunya Pak Haji, (ii) perbedaan antara Maryam dengan Warga
Gerupuk disebabkan karena kebencian dan kemarahan pada Maryam. Mereka tak
bisa menerima bapak Maryam, Pak Khairuddin, dimakamkan di wilayah itu.
Perbedaan antara kelompok dengan kelompok terjadi pada perbedaan
antara kelompok Ahmadiyah dengan kelompok penentang yang menyebabkan
kemarahan kelompok penentang yang terlalu tak menyukai kelompok
Ahmadiyah.
Perbedaan selanjutnya berada pada perbedaan kebudayaan yang terdiri
dari: (i) kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan dijumpai kepribadian
yang berbeda dari individu-individu yang merupakan anggota suatu masyarakat
tertentu, (ii) kebudayaan khusus atas dasar agama mempunyai pengaruh yang
besar untuk membentuk kepribadian seorang individu, dan (iii) kebudayaan
khusus kelas sosial dijumpai lapisan sosial oleh karena masyarakat memiliki sikap
menghargai terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
119
Dapat dipahami bahwa Maryam mengalami konflik sosial yang berat.
Maryam berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan keadilan yang ia
harapkan. Ia ingin lepas dari penderitaan yang menimpanya. Ia memberikan
sebuah tulisan surat yang berisikan permintaan kepada pemerintah supaya bisa
lebih memperdulikan keluarga Ahmadiyah supaya tak terusir dari kampung
halamannya sendiri. Mereka dapat hidup dengan usaha mereka diwaktu itu. Itulah
yang benar-benar diharapkan Maryam. Tak ada lagi yang dapat membedabedakan agama baik Islam Ahmadiyah maupun bukan Islam Ahmadiyah, karena
yang kita tahu akan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Studi ini membahas Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam
dengan menggunakan pendekatan struktural dan pendekatan sosiologi sastra.
Pendekatan struktural berkaitan dengan tokoh dan penokohan, alur, dan latar.
Pendekatan sosiologi sastra berkaitan dengan bentuk-bentuk konflik sosial yang
dialami oleh tokoh Maryam.
Penulis menyimpulkan bahwa dalam struktur novel berdasarkan fungsi
penampilan tokoh dalam cerita yang terdapat dalam novel Maryam karya Okky
Madasari, dibedakan menjadi dua bagian, yaitu, tokoh protagonis dan tokoh
antagonis. Pada tokoh protagonis terdapat empat tokoh, yaitu: Maryam, Umar,
Pak Khairuddin, dan Zulkhair. Keempat tokoh tersebut merupakan tokoh yang
dapat disikapi sebagai tokoh protagonis yang dilihat dari tokoh-tokoh tersebut
yang memberikan rasa simpati dan empati serta melibatkan dalam berbagai
permasalahan konflik sosial.
Tokoh Maryam digambarkan sebagai tokoh wanita yang memiliki
kecantikan khas dari daerah timur. Selain itu, ia merupakan seorang yang cerdas,
ramah, dan taat beribadah. Di sisi lain, Maryam mempunyai kesalahan di masa
lalunya terhadap kedua orangtuanya. Ia terhasut oleh Alam, mantan suaminya
untuk meninggalkan keimanan yang dipelajarinya sejak kecil dari ayahnya.
Maryam pun meninggalkan orangtuanya dan tak pernah kembali. Setelah
beberapa tahun meningglkan keluarganya, Maryam pun kembali mencari
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
121
orangtuanya. Ia menyadari perbuatannya yang menjadi anak pemberontak yang
tak pernah mendengarkan nasihat orangtua.
Tokoh Umar digambarkan sebagai seorang suami yang baik. Ia sangat
bersikap lembut pada Maryam, istrinya. Meskipun ia tahu, Maryam adalah
seorang janda. Tokoh Pak Khairuddin merupakan seorang kepala keluarga yang
mampu bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ia merupakan seorang bapak
yang tegas terhadap anak-anaknya. Ia berusaha mencarikan laki-laki yang terbaik
untuk anaknya dengan mencari laki-laki yang seiman yaitu sama-sama
Ahmadiyah. Tokoh Zulkhair digambarkan seorang ketua organisasi yang
bertanggung jawab. Selain itu, ia merupakan sahabat dari bapak Maryam. Ia
membantu keluarga Pak Khairuddin untuk bisa kembali ke rumahnya dulu.
Untuk tokoh antagonis, terdapat lima tokoh antagonis dalam novel
Maryam karya Okky Madasari, yaitu Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, dan
Gubernur. Tokoh Alam merupakan mantan suami dari Maryam. Alam
digambarkan sebagai seorang yang sama sekali tidak bisa bertanggung jawab pada
keluarganya. Ia rela berpisah dengan Maryam dan memilih hidup bersama ibunya.
Tokoh Ibu Alam merupakan ibu mertua dari Maryam. Ibu Alam sangat tak
menyukai kehadiran Maryam dalam rumah mereka. Ia benar-benar sangat
membenci Maryam. Ia berusaha memisahkan anaknya dari Maryam yang
dinilainya sesat.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
122
Tokoh Pak RT atau Rohmat merupakan seorang laki-laki yang bersikap
angkuh sekali. Sebagai RT, ia sama sekali tak bersikap ramah pada kedatangan
Maryam yang hanya ingin mengunjungi kampung halamannya dulu. Tokoh Pak
Haji merupakan seorang yang datang bersamaan dengan Rohmat. Dengan
penampilan yang menunjukkannya dirinya seorang Haji. Ia mengikuti tingkah
Rohmat dengan ikut-ikutan mengusir Maryam dari kampung Gerupuk tersebut.
Tokoh Gubernur merupakan seorang pemimpin yang tak bisa bertanggung jawab
dan tak bisa berpegang pada ucapannya. Ia menganggap tak ada urusannya
terhadap orang-orang yang diusir yang mengungsi di tempat pengungsian. Ia sama
sekali tak membantu Maryam dan jemaah lainnya untuk bisa kembali ke
rumahnya masing-masing.
Teknik pelukisan tokoh yang digunakan dalam novel Maryam karya Okky
Madasari adalah teknik ekspositori dan teknik dramatik. Teknik ekspositori
digunakan untuk menggambarkan tokoh Maryam, Umar, Pak Khairuddin,
Zulkhair, Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, dan Gubernur. Namun, beberapa
penggambaran fisik para tokoh diperjelas dengan penggambaran dramatik.
Sementara penggambaran keadaan psikis dan sosialnya, pengarang menggunakan
teknik dramatik. Hal ini terlihat pada penggambaran tokoh Maryam.
Kajian sosiologi sastra dalam studi ini difokuskan pada bentuk-bentuk
konflik sosial yang dialami tokoh Maryam. Dari keseluruhan cerita dalam novel
Maryam karya Okky Madasari dengan kajian sosiologi sastra dapat ditarik
kesimpulan bahwa terdapatnya konflik sosial tokoh Maryam. Konflik merupakan
dilema sosial ketika orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
123
memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan
ancaman dan atau kekerasan. Konflik yang mencakup dua aspek permasalahan,
yaitu, konflik karena perbedaan orang perorangan dan konflik karena perbedaan
kebudayaan.
Okky Madasari mengangkat sebuah persoalan yang sensitif dan kompleks
dalam masyarakat Indonesia. Konflik Ahmadiyah merupakan konflik yang tidak
mudah diatasi oleh pemerintah.
4.2
Saran
Semua permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini telah dibahas.
Namun, masih ada beberapa saran yang dapat diajukan perihal penelitian yang
bersumber pada novel Maryam karya Okky Madasari. Penelitian dengan sumber
data novel Maryam masih dapat diteliti jauh dengan sudut pandang yang berbeda,
misalnya dengan kajian psikologi sastra, kajian kritik sosial, kajian kritik
feminisme, dan kajian kritik psikoanalisis.
Kajian-kajian dengan perspektif tersebut dapat memperkaya pemahaman
kita terhadap perjuangan Maryam dan kaum Ahmadiyah dalam menegakkan
eksistensi kemanusiaannya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR PUSTAKA
Al-Badry, Hamka Haq. 1981. Koreksi Total terhadap Ahmadiyah. Jakarta:
Yayasan Nurul Islam
Boulding, Keneth A. 1962. Conflict and Defense A General Theory. Michigan:
Torchbooks
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra; Sebuah Pengantar Ringkas.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra (Epistemologi, Model,
Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: CAPS
Faruk. 2005. Pengantar Sosiologi Sastra dari Struturaisme Genetik sampai PostModernisme. Jakarta: Pustaka Jaya
Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. (Terjemahan:
Robert M. Z. Lawang). Jakarta: Gramedia
Kusrini, Yuliana Maria, 2003. “Konflik Sosial dalam Novel Orang-orang
Malioboro Karya Eko Susanto: Pendekatan Sosiologi Sastra.” Skripsi:
Yogyakarta: Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma
Madasari, Okky. 2012. Maryam. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Musarrofah, Susi Lailatul. 2013. Konflik Sosial dalam Novel Maryam.
(http://www.susinyainal.blogspot.co.id). diunduh pada tanggal 22 Januari
2016, pukul 13.30
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Denpasar: Pustaka
Pelajar
. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Denpasar: Pustaka
Pelajar
Saifuddin, Achmad Fedyani. 1986. Konflik dan Integrasi; Perbedaan Faham
dalam Agama Islam. Jakarta: Rajawali
Santosa, Heru Wijaya dan Sri Wahyunngtyas. 2011. Sastra: Teori dan
Implementasi. Surakarta: Yuma Pustaka
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
125
Soekanto, Soerjono, 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali
Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sudjiman, Panuti. 1987. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya
Suharti, Lucia Intan. 2006. “Konflik sosial antar tokoh Novel Berjuta-juta dari
Deli Satoe Hikajat Koeli Contract Karya Emil W. Aulia: Suatu Pendekatan
Sosiologi Sastra.” Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia-Daerah, Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, Universitas
Sanata Dharma
Susetyo, D.P.B. 2010. Stereotip dan Relasi Antarkelompok. Yogyakarta: Graha
Ilmu
Tania, Ulfa Rahma. 2012. “Kajian Feminisme dalam Novel Maryam Karya Okky
Madasari.” Skripsi. Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayattulah
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Dunia
Pustaka Jaya
Veeger, K.J. 1992. Pengantar Sosiologi: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Wiyatmi. 2005. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publishing
Sumber Internet:
http://www.andreasharsono.net/2010/02/ahmadiyah-dan-hakasasi_18.html.
diunduh pada 2 Maret 2016, pukul 13:57
http://www.duniabaca.com/asal-usul-sejarah-ahmadiyah-di-indonesia.html.
diunduh pada 6 Juni 2016, pukul 10:05
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
126
PROFIL PENULIS
Margaretha Ervina Sipayung lahir di
Batu Langka, 24 Juni 1994. Mengawali
pendidikan tingkat Sekolah Dasar Negeri I
Dwi Warga Tunggal Jaya, Lampung, Tulang
Bawang,
pada
melanjutkan
studi
tahun
ke
2000-2006.
tingkat
Ia
Sekolah
Menengah Pertama di Sekolah Lentera
Harapan Banjar Agung, Lampung, Tulang
Bawang, pada tahun 2006-2009. Kemudian, melanjutkan ke Sekolah Menengah
Atas Sekolah Lentera Harapan Banjar Agung, Lampung, Tulang Bawang, pada
tahun 2009-2012. Pada tahun 2012 menempuh gelar Sarjana di Program Studi
Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Pada tahun 2012, menjadi pengurus “Bengkel Sastra” periode 2012-2013.
Selama masa aktifnya, ia terlibat dalam acara pementasan drama “Bunga Rumah
Makan” Produksi Bengkel Sastra Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra,
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Sanggar Babaran Segara Gunung.
Proses produksi berlangsung pada 10 September 2013 - 3 Desember 2013 yang di
sutradarai oleh Untung Basuki.
Pada tahun 2016, ia mengakhiri masa studinya dengan menyelesaikan
tugas akhir yang berjudul “Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam
Karya Okky Madasari: Kajian Sosiologi Sastra.”
Download