this PDF file - Jurnal Ilmiah Mahasiswa

advertisement
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
Perubahan Sosial Masyarakat Kota Banda Aceh Dalam Mitigasi Bencana :
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami
Putra Rizki Youlan Radhianto1, Khairulyadi2
Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unsyiah
Email : [email protected]
ABSTRAK
Perubahan sosial masyarakat dalam menghadai bencana merupakan suatu persoalan
yang muncul didaerah rawan bencana. Perubahan yang dimaksud berupa perubahan
sikap dalam menghadapi bencana sehingga sebisa mungkin dikemudian hari dapat
meminimalisir resiko yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana perubahan sosial masyarakat Kota Banda Aceh dalam menghadapi
bencana, pra tsunami, tsunami, dan pasca tsunami yang ditinjau dari pengetahuan,
kepercayaan, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis
penelitian deskriptif, dimana yang menjadi informan diperoleh dengan metode
purposive sampling. Untuk menganalisis penelitian ini, peneliti menggunakan Teori
Kontruksi Sosial. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dan studi kepustakaan,
serta selanjutnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil dari
penelitian ini adalah perubahan sosial masyarakat Kota Banda Aceh pra tsunami,
tsunami, pasca tsunami dalam menghadapi bencana terjadi sangat dinamis. Perubahan
tersebut terlihat pada bagaimana pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan masyarakat
dalam cara menghadapi bencana yang terus berubah mulai dari periode pra tsunami,
saat terjadi tsunami, dan pasca tsunami. Pada saat periode pra tsunami, pengetahuan,
kepercayaan, tindakan masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor agamis dan doktrin
kultural yang turun temurun. Sehingga pada saat terjadinya bencana masyarakat
cenderung menggunakan kontruksi sosial yang ada sebagai suatu cara mereka dalam
menghadapi bencana. Hasilnya, akibat dari minimnya pengetahuan dalam hal
menghadapi bencana khususnya tsunami, maka bencana tersebut menelan banyak
korban jiwa. Namun pasca tsunami pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan
masyarakat dalam menghadapi bencana berubah, hal ini dikarenakan proses dealektis
yang terjadi dengan masuknya pemahaman baru tentang cara menghadapi bencana
yang bersifat sekuler dan berbasiskan ilmu pengetahuan empiris. Hal ini
mempengaruhi pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan mereka dalam menghadapi
bencana. Sehingga masyarakat meninggalkan cara-cara lama mereka yang sangat
beresiko dan mengkontruksikan cara baru tersebut kedalam diri mereka sehingga hal
ini membawa sebuah perubahan sosial masyarakat dalam menghadapi bencana.
Kata kunci: Perubahan Sosial, Masyarakat, Bencana
Corresponding Author : [email protected]
JIM FISIP Unsyiah: AGB, Vol. 1. №. 1, Januari 2017: 1-18
1
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
ABSTRACT
Social change of society in the face of disaster is an emerging issue of disaster-prone
areas. Change is in the form of a change in attitude in the face of natural disasters so
that as much as possible in the future to minimize the risk may occur. This study aimed
to determine how social change of society in Banda Aceh in the face of disaster such
as pre-tsunami, tsunami, and post-tsunami in terms of knowledge, beliefs, and actions.
This study used qualitative descriptive research which the informants were attained
by applying purposive sampling method. To analyze this study, the researcher used
the Social Construction Theory. Data were collected through conducting interviews
and literature study, and then data were analyzed by using a qualitative approach.
Results from this study were the social change of Banda Aceh society in pre-tsunami,
tsunami and post-tsunami in dealing with disaster is very dynamic. These changes are
reflected in how knowledge, beliefs, and actions of the society in a way that continues
to change the face of disaster ranging from pre-tsunami period, when the tsunami
hit, and after the tsunami happened. At the time of the pre-tsunami period,
knowledge, trust, and society actions are greatly influenced by religious and cultural
doctrine in hereditary. So that at the time of the disaster, the society tends to use social
construction as a way they deal with disasters. As a result, having poor knowledge of
the particular tsunami disaster was claimed that it gets many victims. But after getting
tsunami knowledge, beliefs, and actions of society for disasters have changed, it is
because the dialectic process happened with the inclusion of a new understanding on
how to face disasters in secular and based on empirical science. This influences on
knowledge, beliefs, and their actions in the face of disaster. So that people leave their
old and very risky ways and construct new way into them in order to bring a social
change of society in the face of disaster.
Keywords: Social Change, Society, Disaster
PENDAHULUAN
Bencana merupakan sebuah fenomena yang kerap terjadi di abad modern,
bencana sering kali datang tanpa tanda-tanda apapun. Bencana dapat disebabkan oleh
kejadian yang bersifat alamiah (natural disaster) maupun oleh ulah tangan manusia
(man-made disaster). Oleh karenanya bencana menjadi momok yang cukup
menakutkan bagi keberlangsungan peradaban umat manusia, dan juga memaksa
manusia untuk bertahan (survive) dalam menghadapi bencana.
Secara geografis Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terletak pada
pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng benua Asia, Benua Australia,
lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
2
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari pulau
Sumatera- jawa- Nusa Tenggara- Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik
tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa- rawa. Kondisi tersebut
sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti, letusan gunung berapi, gempa
bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor (http://dibi.bnpb.go.id). Posisi ini sangat tidak
menguntungkan bagi Indonesia yang tercatat sebagai salah satu Negara paling tinggi
tingkat kegempaannya bahkan 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat
(Arnold, 1986).
Sepanjang tahun 2015 saja tercatat ada 1.116 kejadian bencana yang terjadi
dengan korban jiwa mencapai 168 orang, dan 636.205 jiwa harus menderita dan
mengungsi (http://dibi.bnpb.go.id/). Diantara daerah paling rawan bencana di
Indonesia, Aceh merupakan salah satunya. Sebagai provinsi yang baru saja dilanda
gempa bumi yang berkekuatan 9,3 Skala Richter (SR) dan disusul gelombang Tsunami
setinggi 30 meter 98ft). Menurut U.S Geological Survey, korban meninggal dunia di
Aceh saat bencana gempa bumi dan gelombang tsunami dipastikan sebanyak 130.736
jiwa, dan puluhan ribu lainnya dinyatakan hilang, (Wikipedia.org). Ini menunjukkan
rendahnya kesiapan dalam menghadapi bencana dan juga tidak adanya system
peringatan dini dalam penanggulangan bencana (Early Warning Disaster System) di
Aceh yang menjadi salah satu penyebab banyaknya korban jiwa saat bencana gempa
dan tsunami pada 2004 silam.
Kota Banda Aceh sebagai Ibukota dari Provinsi Pemerintah Aceh memiliki
kondisi geografis, hidrologi dan demografis yang rawan terhadap bencana. Sebagai
salah satu kota dengan tingat kerawanan bencana yang tinggi, maka masyarakat kota
Banda Aceh memiliki sebuah keharusan dalam mempelajari bagaimana memanajemen
bencana sehingga sebisa mungkin untuk mengurangi resiko dan korban saat bencana
terjadi.
Dalam kajian Sosiologi, bencana sebenarnya telah lama menjadi objek
penelitian para Sosiolog misalnya Burton, Kates and White (1993). Meskipun ada
banyak definisi Sosiologi, sebahagian besar ilmuan akan setuju bahwa fokus disiplin
ilmu sosiologi adalah tentang interaksi manusia. Oleh karena itu, ketika terjadi
bencana, sosiolog akan bertanya, “bagaimana masyarakat menanggapinya?”.
Perkembangan aktual dari sosiologi bencana berkonsentrasi pada kajian tentang risiko
dengan pendekatan pada kemampuan untuk berkompromi dengan situasi yang tidak
diharapkan, dengan penekanan pada fleksibilitas, adaptabilitas, resiliensi dan kapasitas.
Dengan kata lain sosiologi bencana berfokus pada bagaimana masyarakat menghadapi
bencana, dan bagaimana masyarakat tetap teguh terhadap situasi sulit saat bencana.
Pemahaman risiko dalam studi bencana sebenarnya berangkat dari pola yang
sama yakni untuk menyelaraskan kembali hubungan alam dan manusia. Hanya saja
risiko lebih mengarah pada aspek antroposentrisme yakni berorientasi kepada
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
3
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
keselamatan manusia (human security) sendiri dari bencana yang ditimbulkan oleh
alam.
Masyarakat dalam menyelamatkan diri (survive) cenderung memiliki pola dan
budaya tersendiri yang terbentuk oleh berbagai faktor seperti kepercayaan (religusitas),
kebiasaan/tindakan (behaviour) dan pengetahuan (Knowledge). Menurut Soerjono
Soekanto (1990), budaya berguna bagi manusia yaitu untuk melindungi diri terhadap
alam, mengatur hubungan antar manusia dan sebagai wadah dari segenap perasaan
manusia. Penekanan terhadap aspek sosial terhadap skema penanggulangan bencana
sendiri dikarenakan adanya perubahan paradigma ilmu bencana.
Jauh sebelum Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami terjadi pada 2004 silam,
masyarakat Aceh khususnya kota Banda Aceh tentunya telah memilki konsep
penanganan bencana sesuai dengan pengetahuan lokal (local wisdom). Mercer et al.,
(2009) mendefinisikan pengetahuan lokal sebagai seperangkat pengetahuan yang ada
dan diyakini masyarakat lokal dalam suatu jangka waktu tertentu melalui akumulasi
pengalaman, relasi masyarakat dengan alam, praktik dan institusi masyarakat dan
diteruskan antar generasi (Ma’arif, S, 2010). Seluruh pengetahuan bersifat dinamis,
terus berubah, berkembang dan beradaptasi karena respon masyarakat pada perubahan
lingkungannya.
Menurut hipotesa awal yang peneliti dapat dilapangan pada 23 Januari 2016 di
Gampong Deah Geulumpang yang termasuk daerah paling parah terkena dampak
Tsunami, masyarakat sekitar memiliki kepercaayan ketika terjadi bencana sebagai
contoh gempa bumi, maka sesuai dengan petuah leluhur setiap terjadi gempa
diharuskan untuk beristigfar ataupun memanjatkan doa pada Tuhan. Dalam Hal ini
peneliti melihat terbentuknya pemahaman tersebut sesuai dengan intepretasi
masyarakat terhadap bencana. Pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan terhadap
bencana yang melalui proses panjang yang akhirnya membentuk sebuah struktur
didalam masyarakat. Hal ini juga senada dengan yang dikatakan (Agrawal 1995),
bahwa selama bertahun- tahun masyarakat lokal telah memberikan tanggapan pada
lingkungan mereka dan menyesuaikannya dengan perubahan, menggunakan baik ilmu
pengetahuan modern maupun pengetahuan lokal. (Maarif, 2015)
Tetapi sayangnya kepercayaan yang dianut oleh masyarakat desa tersebut tidak
menjawab permasalahan ketika bencana gempa bumi dan tsunami terjadi pada 26
desember 2004 silam, dimana gelombang Tsunami telah meluluh-lantakkan desa
tersebut dan menewaskan banyak penduduk setempat. Oleh karena itu pasca terjadinya
tsunami, masyarakat mulai disugukan dengan cara-cara baru dalam penanganan
bencana khususnya Tsunami, melalui program intervensi yang dilakukan NGO
Nasional maupun Internasional yang bekerja sama dengan pemerintah setempat.
Program Manajemen bencana yang dilakukan oleh NGO maupun pemerintah
merupakan upaya dan tindakan yang dilakukan untuk pencegahan, penjinakan atau
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
4
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
mitigasi, penyelamatan, rehabilitasi dan rekonstruksi, baik sebelum, pada saat, maupun
setelah kejadian bencana (Pribadi dan Merati, 1996).
Tentunya pogram-program tersebut telah membetuk suatu paradigma baru
dalam masyarakat dalam menghadapi bencana, yang dulunya berbasis lokal dan
digantikan dengan pendekatan yang baru yang merupakan hasil pengalaman
(experience) daerah atau pun Negara lainnya yang dianggap lebih efektif.
Adapun program yang telah dilaksanakan dalam mitigasi bencana seperti,
pendidikan mitigasi bencana kepada masyarakat, siswa/i sekolah, intansi
pemerintahan, dan penyandang cacat. Selain itu dari segi infrastruktur Pemerintah
Jepang melalui Japan Intenational Cooperation System (JICS) memberikan bantuan 3
unit Escape Building (gedung penyelamatan) sebagai wujud kepedulian kemanusian.
Gedung ini berguna sebagai tempat evakuasi saat terjadinya bencana, dan juga
pemasangan alarm tsunami dan papan petunjuk jalur evakuasi bencana di jalan-jalan
seputaran Kota Banda Aceh. Hal ini bertujuan untuk mempengaruhi pola perilaku
masyarakat dalam melakukan evakuasi saat terjadinya bencana.
Bencana kini bukan lagi dianggap sebagai fenomena yang sporadis, namun
sebisa mungkin bencana tersebut dikelola dan direduksi. Namun demikian, semakin
meningkatnya kesadaran sosial masyarakat tentang pengurangan risiko bencana dan
kerentanan menghadapi ancaman bencana, telah dikembangkan upaya untuk
membangun hubungan baru dan berkelanjutan berdasarkan kekuatan masing- masing
pengetahuan yang berlandaskan pada masyarakat.
Setelah 11 tahun bencana tsunami terjadi, perubahan apasaja yang telah terjadi
pada masyarakat kota Banda Aceh dalam melihat bencana, apakah masyarakat sudah
lebih peka dengan bencana baik tsunami, banjir, maupun kebakaran, dan bencana
lainnya. Perubahan apa yang timbul dari pengalaman bencana gempa dan tsunami 2004
silam yang menjadi kearifan baru bagi masyarakat kota Banda Aceh dalam menghadapi
bencana. Oleh karenanya peneliti tartarik untuk meneliti hal tersebut, melihat
bagaimana proses perubahan sosial masyarakat kota Banda Aceh baik sebelum
terjadinya gempa dan tsunami, saat terjadi tsunami, dan pasca terjadinya tsunami dalam
hal cara menghadapi bencana.
TINJAUAN PUSTAKA
Perubahan Sosial Sebagai Hasil Kontruksi Sosial
Perubahan sosial secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran
atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih
inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih
bermartabat. Pada tingkat makro, terjadi perubahan ekonomi, politik, sedangkan
ditingkat mezo terjadi perubahan kelompok, komunitas, dan organisasi, dan ditingkat
mikro sendiri terjadi perubahan interaksi, dan perilaku individual. Masyarakat bukan
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
5
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
sebuah kekuatan fisik (entity), tetapi seperangkat proses yang saling terkait bertingkat
ganda (Sztompka, 2008).
Proses perubahan dalam masyarakat itu terjadi karena manusia adalah mahkluk
yang berfikir dan bekerja, disamping itu selalu berusaha untuk memperbaiki nasib serta
kekurang-kekurangnya untuk mempertahankan hidup (survive). Namun ada juga yang
berpendapat bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu, karena keinginan manusia
untuk menyesuaikan diri dengan keadaan disekelilingnya atau disebabkan oleh
ekologi.
Perubahan sosial pada tingkat mikro dalam hal ini dapat dijelaskan sebagai hasil
dari kontruksi sosial individu terhadap dunia sosialnya. Ini sejalan dengan prinsip
kontruksi sosial yang melihat individu sebagai refleksi dari dunia sosialnya yang
kemudian melalui proses dan membentuk sebuah kontruksi sosial. Kontrusi sosial
tebentuk dengan adanya dorongan terhadap individu untuk survive terhadap dunia
sosialnya, hal ini yang kemudian mendorong individu berinovasi kedalam dirinya yang
dimanifestasikan kedalam dunia sosialnya sehingga memunculkan perubahan sosial.
Kontruksi sosial terbentuk atas tiga hal dasar yaitu ekternalisasi, objektifasi dan
internalisasi. Ketiga proses yang dilalui individu ini menjelaskan bagaimana seorang
individu melalui proses sosialnya, dimulai dari refleksi dunia sosial kedalam dirinya
yang merupakan pengamalan terhadap apa yang ditemukan melalui proses mental
maupun fisik. Proses fisik maupun mental yang didapat melalui proses eksetnalisasi ini
kemudian dijadikan referensi bagi individu untuk menghadapi dunia sosialnya,
sehingga sebisa mungkin individu menciptakan temuan-temuan baru berupa alat
maupun kebudayaan non materil untuk memudahkan hidupnya.
Temuan-temuan tersebut kemudian menjadi indikator yang mendukung
perubahan terhadap individu tersebut yang merupakan sub dari masyarakat. Sehingga
jika diteruskan perubahan akan bergerak pada tingkat makro yaitu masyarakat secara
umum. Pada proses terakhir dari kontruksi sosial adalah ketika individu mulai
merefleksikan seluruh hasil dari penyerapan kembali dunia objektif ke dalam
kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia
sosial. Pada bagian ini individu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari terbentuknya
sebuah realitas sosial yang mempengaruhi perubahan sosial dalam masyarakat. Pada
tingkat ini hasil objektifasi kemudian ditafsirkan kedalam bentuk kesadaran yang
memperngaruhi individu dalam dunia sosialnya.
Pengetahuan, Tindakan Dan Keprcayaan Dalam Kontruksi Sosial
Dalam teori kontruksi sosial terdapat tiga proses dealektis yang dijelaskan oleh
Luckman dan Peter L. Berger, ketiga proses dealetkis itu meliputi eksternalisasi,
objektivasi, dan internalisasi. Proses dealetkis tersebut tentunya berjalan sebagaimana
masyarakat terus bergerak, proses ini merupakan proses yang didalamnya melibatkan
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
6
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
masyarakat sebagai subjek. Masyarakat sebagai sebuah realitas subjektif merupakan
sebuah institusional yang didalamnya terdapat nilai-nilai budaya yang telah tertanam,
baik itu pengetahuan, kepercayaan, dan cara bertindak (tindakan), ketiga nilai-nilai ini
sangat berpengaruh dalam proses dealektis masyarakat.
Pada proses eksternalisasi dimana masyarakat dipengaruhi oleh pengetahuanpengetahuan yang didalamnya terkandung nilai-nilai lokal yang telah mengakar dan
menjadi sebuah kearifan, pengetahuan ini kemudian menjadi sebuah anutan dasar yang
menjadi sebuah standar pada masyarakat tersebut. Setelah itu masyarakat melakukan
objektivikasi terhadap pengetahuan yang telah diketahuainya, disini masyarakat mulai
melakukan pemaknaan terhadap realitas yang ada sebagai bahan kepercayaan yang
sesuai dengan pemaknaan yang tertanam dalam dirinya. Kepercayaan itu meliputi
produk hasil pemaknaan terhadap realitas eksternalnya yaitu proses sosialisasi didalam
diri yang menghasilkan alat untuk keberlngsungan hidupnya. Pada proses Internalisasi
masyarakat memahami atau menafsirkan langsung menjadi tindakan objektifnya
sebagai suatu pengungkapkan makna.
PELAJARAN SOSIAL DAN MITIGASI BENCANA
-
-
Pelajaran Sosial dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk pembelajaran
masyarakat tentang suatu kejadian. Dalam penelitian ini, bencana tsunami
dilihat sebagai suatu pendorong terjadinya pelajaran sosial dalam masyarakat.
Pelajaran sosial dalam penelitian ini ditinjau dari pengetahuan, kepercayaan,
dan tindakan masyarakat yang dilihat dari waktu ke waktu, baik saat sebelum
bencana tsunami terjadi, saat kejadian, dan pasca kejadian bencana. Halini
dikarenakan pelajaran sosial sangat terkait dengan pengalaman masyarakat
terkait dengan apa yang dialaminya secara historis yang membentuk suatu
kontruksi sosial. Sehingga pelajaran sosial kemudian menjadi dorongan yang
mengarahkan masyarakat pada perubahan sosial secara makro.
Mitigasi Bencana dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai suatu upaya
sistematis untuk mengurangi resiko saat terjadi bencana, yang dilakukan baik
secara fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat
dalam menghadapi ancaman bencana. Bencana dalam perspektif sosiologis
dipahami sebagai bentuk perasaan masyarakat terkait dengan pengalaman
emosional pada kejadian-kejadian yang mengancam keberlangsungan hidup.
Bencana juga dilihat sebagai suatu bagian dari definisi yang disusun dalam
konteks sosial budaya hidup masyarakat yang mengalami bencana.
Olehkarennya mitigasi bencana sangat berkaitan dengan pelajaran sosial
masyarakat yang terbentuk melalui pengalaman masyarakat dalam mengatasi
bencana.
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
7
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi deskriptif dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dapat diartikan sebagai
pendekatan yang menghasilkan data, tulisan, dan tingkah laku yang diamati dari orangorang (Taylor dan Bogdan, 1984:5 dalam Bagong Suyanto dan Sutinah, 2008: 166).
Lokasi penelitian dilakukan di Gampong Lambung, dan Gampong Alue Deah
Teungoh Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh. Adapun alasan pemilihan lokasi
penelitian disebabkan oleh semua gampong-gampong tersebut berada di kecamatan
yang paling parah terkena dampak bencana tsunami, dan juga gampong-gampong
tersebut merupakan sasaran Pemerintah maupun LSM/NGO dalam melakukan
program intervensi guna memberikan pemahaman baru bagi masyarakat setempat.
Subyek penelitian adalah orang, tempat, atau benda yang diamati dalam rangka
pembumbutan sebagai sasaran (Kamus Bahasa Indonesia, 1989: 862). Adapun
subyek penelitian dalam tulisan ini, adalah tokoh kunci masyarakat setempat (Geuchik
ataupun tuha peut), dan juga masyarakat korban tsunami. Subjek penelitian ini menjadi
informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses
penelitian. Adapun yang dipakai untuk menentukan informan dalam penelitian ini
menggunakan metode purposive sampling adalah sebagai berikut:
1. Tokoh Masyarakat Gampong setempat;
2. Masyarakat, terdiri dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan;
Kemudian dalam penelitian ini peneliti mengambi 2 sumber data diantaranya:
1. Data primer adalah data yang di dapat dari sumber pertama baik individu
maupun perseorangan seperti hasil dari wawancara, observasi maupun
dokumentasi seperti yang dikatakan Umar (2009: 42).Data yang diperoleh
langsung dari 12 informan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah
disiapkan untuk wawancara langsung.
2. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek
penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini berupa keadaan
geografis, demografi, kegiatan sosial masyarakat didapat dari data atau profil
gampong. Dan data lainnya yang berkaitan dengan penelitian didapat dari
instansi terkait (Badan Pusat Statistik, Kantor Geuchik), surat kabar, dokumen,
buku-buku/ studi kepustakaan (Library Research), dan internet.
- Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai cara, sumber dan
pengaturan. Dalam penelitian perolehan data sangat luas serta mendalam, maka perlu
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
8
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
diklasifikasikan upaya yag dilakukan dalam penelitian ini melalui wawancara
mendalam, observasi, studi kepustakaan.
Dalam rangka menjawab perumusan masalah yang ditetapkan penulis maka
analisis data yang menjadi acuan dalam penelitian ini mengacu pada beberapa tahapan
yang dijelaskan oleh Miles dan Huberman (Sugiyono2010;91) yang terdiri dari
beberapa tahapan yaitu:
1. Pengumpulan informasi melalui wawancara terhadap keyinforman yang
compatible
terhadap penelitian kemudian observasi langsung di lapangan
untuk menunjang penelitian yang dilakukan agar mendapatkan sumber data
yang diharapkan.
2. Reduksi data yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan di
lapangan selama meneliti. Tujuan diadakan transkrip data (transformasi data)
untuk memilih informasi mana yang dianggap sesuai dengan masalah yang
menjadi pusat penelitian dilapangan.
3. Penyajian data (data display) yaitu kegiatan sekumpulan informasi dalam
bentuk teks naratif, grafik jaringan, tabel dan bagan yang bertujuan
mempertajam pemahaman penelitian terhadap informasi yang dipilih
kemudian disajikan dalam table ataupun uraian
penjelasan. Namun yang
akan paling sering digunakan untuk penyajian data penelitian kualitatif adalah
teks yang bersifat naratif.
4. Pada tahap akhir adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi, yang mencari
arti pola-pola penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat dan
proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan melakukan
verifikasi berupa tinjauan ulang pada catatan-catatan dilapangan sehingga datadata teruji validasinya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kondisi Masyarakat Saat Terjadi Tsunami 2004
Kondisi masyarakat saat terjadi bencana tsunami pada tahun 2004 lalu,
merupakan suatu faktor penting untuk dapat memahami bagaimana dinamika yang
dihadapi pada saat itu. Dalam pengertian umum kondisi merupakan suatu keadaan yang
sedang dihadapi baik itu oleh individu maupun masyarakat. kondisi sangat dipengaruhi
oleh faktor-faktor lingkungannya sehingga memberikan dampak pada yang
menghadapinya.
Kondisi masyarakat Kota Banda Aceh pada saat terjadi tsunami merupakan
suatu proses sosial, dimana masyarakat menghadapi bencana yang bagi mereka
merupakan suatu bencana baru yang sama sekali tidak pernah mereka hadapi yaitu
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
9
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
tsunami, sehingga menciptakan kondisi yang sangat tidak kondusif. Kondisi tersebut
tidak lain disebabkan oleh ketidakpekaan maupun ketidakberdayaan masyarakat dalam
hal penanggulangan bencana. Padahal masyarakat memiliki pengetahuan lokal tentang
cara menghadapi bencana, namun hal tersebut tidak begitu solutif dikarenakan betuk
mitigasi bencana lebih berbasis pada hal-hal yang bersifat kultural yang merupakan
hasil warisan kontruksi sosial para leluhur. Hal ini tentunya juga disebabkan oleh
kondisi masyarakat yang tidak memiliki pengalaman maupun pengetahuan terkait
bagaimana cara menanggulangi bencana secara modern khususnya tentang bagaimana
menanggulangi tsunami. Selain itu tata letak kota juga menjadi salah satu penyebab
banyaknya korban jiwa ketika bencana tsunami terjadi, dikarenakan oleh tata letak
yang sangat tidak responsif terhadap bencana menyebabkan alur evakuasi menjadi
sangat tidak terarah.
Dalam tinjauan teori kontruksi sosial, kondisi yang dialami masyarakat ketika
tsunami dilihat sebagai suatu realitas yang bersifat pradisposisi (kecenderungan),
dimana faktor subjektifitas akan selalu memberikan pengaruh terhadap bagaimana
masyarakat kemudian bertindak dengan pengetahuan seadanya dalam menghadapi
tsunami. Kondisi tersebut menjadi suatu proses yang memberikan pengaruh bagi
masyarakat dalam hal mengartikan kondisi darurat tsunami.
Pada tataran subjektif, masyarakat kemudian sebisa mungkin untuk dapat
menyelamatkan diri, walaupun mereka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang
mereka lakukan pada saat itu. Tsunami dianggap sebagai suatu ancaman bagi mereka,
sehingga sebisa mungkin harus dapat menyelamatkan diri. Hal ini menjadi dorongan
besar mengapa masyarakat dapat bertahan dalam kondisi tersebut..
Proses Perubahan Sosial Pada Masyarakat Kota Banda Aceh Pra Tsunami, Dan
Pasca Tsunami Dalam Mitigasi Bencana
Perubahan sosial merupakan suatu kepastian yang akan dialami oleh setiap masyarakat,
hal ini merujuk pada dinamisitas struktur masyarakat yang akan mengikuti arus nilai
maupun temuan-temuan baru. Menurut John Lewin Gillin dan John Phillip Gillin,
perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang diterima yang
disebabkan oleh perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materii,
komposisi penduduk, ideologi, maupun karena adanya difusi dan penemuaan baru
dalam masyarakat tersebut.
Bencana alam seperti yang gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kota banda Aceh
pada 2004 lalu, menjadi sebuah indikator yang disebut sebagai sebab geografis yang
menyebabkan terjadinya sebuah perubahan sosial. Korelasi antara bencana dan
perubahan sosial dilihat dari bagaimana masyarakat sebelum terjadinya bencana gempa
dan tsunami, saat kejadian, dan pasca kejadian tersebut bergerak menuju perubahan.
Perubahan-perubahan tersebut lihat melalui bagaimana cara menghadapi bencana saat
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
10
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
sebelum dan sesudah terjadi bencana gempa dan tsunami hingga membuat masyarakat
benar-benar berubah kearah yang lebih baik dalam hal penaggulangan bencana.
Perubahan sosial dalam pemahaman teori kontruksi sosial, dilihat sebagai suatu
proses dealektis yang dialami oleh masyarakat yang melibatkan realitas sosial yang
berkembang didunia sosialnya. Teori kotruksi sosial akan menjelaskan bagaimana
proses eksternalisasi (pengetahuan), objektivasi (kepercayaan), dan internalisasi
(tindakan) berperan mewujudkan sebuah perubahan sosial masyarakat dalam cara
menghadapi bencana mulai sejak pra tsunami, tsunami, dan pasca tsunami. Bencana
dalam hal ini merupakan sesuatu realitas yang berkembang didalam dunia sosial yang
kemudian akan mendorong masyarakat untuk lebih waspada dan mengubah maindset
mereka dalam hal penanggulangan bencana. Hal ini dilakukan melalui proses
interpretasi masyarakat terhadap apa yang telah dialami pada saat bencana gempa dan
tsunami menimpa Kota Banda Aceh. Oleh karenanya masyarakat kemudian akan
kembali menyimak dan belajar dari kejadian tersebut sehingga menciptakan ataupun
menemukan cara baru dalam menghadapi bencana agar dapat sebisa mungkin
mengurangi resiko yang mereka alami.
- Pengetahuan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Pra Tsunami dan
Pasca Tsunami
Pengetahuan masyarakat dalam menghadapi bencana merupakan suatu tahapan
dimana masyarakat sebagai suatu proses kontruksi sosial dipengaruhi oleh apa yang
bereda didunia sekitarnya. Proses peredaran pengetahuan dimasyarakat juga sangat
berpengaruh pada pengalaman dan juga pelajaran yang didapat melalui proses formal
maupun informal.
Dalam pemahaman kontruksi sosial, pengetahuan dilihat sebgai suatu yang
bersifat eksternalisasi, dimana pengetahuan disuatu masyarakat merupakan suatu
pengaruh yang kemudian didapat dari komunitas masyarakat disekitarnya.
Eksetrnalisasi merupakan suatu realitas dimana individu berusaha mencurahkan atau
mengeksprekspresikan diri ke dalam dunia sosialnya, baik dalam kegiatan mental
maupun fisik. Dalam hal ini pengetahuan dilihat sebagai suatu hasil dari proses
eksternalisasi yang terjadi pada individu, sehingga menemukan suatu dunia yang
dipengaruhi oleh berbagai pengetahuan yang beredar disekitarnya.
Pengetahuan kemudian berpengaruh penting bagi pemaknaan apa yang yang
dimaksud dengan bencana didalam masyarakat, sehingga pada proses ini masyarakat
akan selalu memaknai bencana sesuai dengan pengetahuan yang ia miliki. Pengetahuan
masyarakat saat sebelum tsunami sangatlah dipengaruhi oleh faktor religusitas dan juga
doktrin kultural. Hal ini menjadi legacy (wairsan) mitigasi bencana yang telah
terkontruksi dari pengalaman para leluhur menghadapi bencana. pengetahuan ini
kemudian yang sangat mempengaruhi pikiran masyarakat saat menghadapi bencana
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
11
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
tsunami lalu.Pada kasus bencana gempa dan tsunami 2004 silam, tsunami dianggap
sebagai suatu kejadian kiamat oleh masyarakat, hal ini disebabkan oleh pengetahuan
yang mereka miliki.
Proses ini kemudian pasca tsunami coba dikontruksikan kembali oleh NGO
Nasional maupun Internasional bahwa tsunami bukanlah suatu kejadian kiamat seperti
yang masyarakat ketahui selama ini, namun tsunami merupakan kejadian ataupun
bencana yang disebabkan oleh aktivitas tektonik seperti gempa maupun vulkanik yang
disebabkan oleh ledakan gunung api di bawah laut. Proses kontruksi pengetahuan baru
ini dalam masyarakat, kemudian melahirkan suatu perubahan cara pandang masyarakat
dalam melihat bencana tsunami, hal ini juga dibarengi dengan berubahnya cara tanggap
bencana ketika suatu waktu mereka dihadapkan dengan kondisi yang sama seperti yang
terjadi pada tahun 2004 silam.
Pada dasarnya, proses ekseternalisasi dalam hal ini pemaknaan pengetahuan
umum kedalam dunia sosial masyarakat bukanlah suatu yang bersifaat stagnan, namun
proses ini terus mengalami dealektika tergantung dengan pengetahuan-pengetahuan
yang dikemudian hari bereda. Proses katalisasi dari sebuah pengetahuan baru
dimasyarakat dilakukan melalui metode-metode ilmiah yang kemudian dapat diterima
sebagai suatu pengetahuan yang bersifat komperhensif dan aktual.
Bencana tsunami telah menjadi suatu pelajaran sosial yang membentuk suatu
pengetahuan baru ditengah masyarakat, sehingga perubahan sosial tidak dapat
dihindari dan menjadi suatu keharusan dalam hal menghadapi bencana. Sehingga
dikemudian hari menjadi ketika bencana terjadi kembali, pengetahuan yang telah
dimiliki dari proses eksternalisasi menjadi berguna dalam pengurangan resiko.
- Kepercayaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Pra Tsunami dan
Pasca Tsunami
Kepercayaan masyarakat dalam menghadapi bencana merupakan suatu
indikator yang diukur dalam melihat sebuah perubahan sosial yang terjadi.
Kepercayaan merupakan salah satu unsur dari nilai-nilai kebudayaan yang
mengkontruksikan diri didalam keyakinan masyarakat, baik itu terhadap kepercayaan
yang bersifat agamis, maupun kepercayaan kepada leluhur.
Kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk bertumpu pada orang lain
dimana kita memiliki keyakinan padanya. Kepercayaan merupakan kondisi mental
yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya. Ketika seseorang
mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan dari
orang- orang yang lebih dapat ia percaya dari pada yang kurang dipercayai (Moorman,
1993).
Dalam pemahaman kontruksi sosial, kepercayaan dilihat sebagai suatu hasil
dari objektivasi diri manusia yang melibatkan faktor-faktor yang bersifat subjektif
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
12
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
ddidalam dirinya. Objektivasi yaitu hasil yang telah dicapai baik mental maupun fisik
dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Hasil itu menghasilkan realitas objektif
yang bisa jadi akan menghadapi si penghasil itu sendiri sebagai suatu faktisitas yang
berada di luar dan berlainan dari manusia yang menghasilkannya. Lewat proses
objektivasi ini, masyarakat menjadi suatu realitas suigeneris.
Pada proses terbentuknya kepercayaan tidak terlepas dari kenyataan dunia
sosial yang telah dipengaruhi oleh faktor pengetahuan yang bereda dimasyarakat.
Pengetahuan-pengetahuan tersebut kemudian coba diobjektivasikan dalam bentuk
suatu kepercayaan yang membuat individu yakin bahwa apa yang telah diketahui
sebagai suatu hasil dari pengamalan dan berguna bagi dirinya.
Dalam kejadian tsunami lalu,masyarakat dapat dilihat sebagai suatu dunia yang
dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan yang berlaku didalam. Hal ini dapat dilihat
pada bagaimana masyarakat melakukan ritual keagamaannya seperti mengucapkan
kalimat zikir maupun doa, sebagai bentuk kepercayan mereka terhadap nilai-nilai
agama yang mampu mengatasi sebuah bencana. Kepercayaan yang beredar pada
masyarakat Aceh umumnya dan Banda Aceh khususnya, bencana merupakan sesuatu
yang diberikan tuhan akibat dari dosa yang dilakukan oleh manusia, sehingga ritualritual doa maupun ucapan-ucapan keagamaan kemudian menjadi suatu yang pasti akan
coba ditempuh sesuai dengan tuntunan dan kepercayan yang berlaku untuk sedemikian
rupa dapat mengatasi bencana.
Pasca tsunami, seiring dengan berkembangnya pengetahuan baru dimasyarakat
terkait dengan mitigasi bencana dan juga pengalaman yang telah dirasakan, kemudian
melahirkan sebuah kepercayaan baru yang mengkontruksi sebagai proses objektivasi
terhadap pengetahuan yang ada. Kepercayaan baru ini kemudian lebih bersifat sekuler,
dimana keterlibatan kepercayaan religus bergeser kepada kepercayaan yang bersifat
ilmiah (saintifik). Kepercayaan ini kemudian menjadi sebuah pendorong masyarakat
lebih inovatif dalam hal penanggulangan bencana. Dalam kontruksi sosial proses ini
dianggap sebagai suatu bentuk hirarkis dari sebuah model terbentunya perubahan
sosial.
- Tindakan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Pra Tsunami dan Pasca
Tsunami
Tindakan meurupakan suatu bentuk aktualisasi suatu pikiran kedalam suatu
perbuatan. Tindakan pada waktu tertentu juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku yang
terdorong oleh adanya pemahaman maupun nilai kepercayaan didalamnya. Tindakan
masyarakat dalam menghadapi bencana khususnya tsunami, dapat digolongkan sebagai
suatu proses yang telah mengalami pengaruh dari pikiran maupun nilai-nilai yang
terkandung pada masyarakat tersebut.
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
13
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
Pada tataran teoritis tindakan dapat dilihat sebagai sebuah pemaknaan dari
suatu realita dunia sosial yang telah teraktualisasi kedalam suatu bentuk. Dalam
pendekatan kontruksi sosial, tindakan bisa dilihat sebagai suatu bagian dari proses
internalisasi yang sangat berkaitan erat dengan proses eksternalisasi dan objektivasi
dan merupakan suatu kesatuan dealektis yang tidak dapat dipisahkan.
Sesuai dengan penjelasan teoritis diatas, tindakan masyarakat Kota Banda Aceh
yang dilakukan baik pra tsunami, tsunami, dan pasca tsunami sangat dipengaruhi oleh
pengetahuan dan juga kepercayaan yang berkembang dilingkungannya. Hal ini dapat
dilihat ketika bencana tsunami terjadi, masyarakat menyimpulkan bahwa tindakan
yang dipengaruhi oleh nila-nilai keagaman sangat memungkinkan dapat
menyelamatkan mereka dari bencana, sehingga saat tsunami terjadi banyak masyarakat
yang melarikan diri ke tempat-tempat ibadah atau pun melakukan ritual-ritual
keagamaan seperti azan, berzikir, dan juga berdoa.
Tetapi berbeda halnya ketika pasca tsunami, seiring dengan munculnya
pengetahuan baru dan pengalaman yang dihadpi pada masa lalu. Tindakan masyarakat
kemudian lebih teraktualisasikan kedalam tindakan-tindakan yang lebih terukur. Hal
ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kepercayaan yang beredar pasca tsunami
dengan dibentuknya program-program intervensi seperti mitigasi bencana oleh pihak
NGO Nasional maupun Internasional. Ini menunjukkan bahwa tindakan sangat
dipengaruhi oleh faktor- faktor eksternal dan objektifitas maupun subjektifitas
masyarakat. seluruh proses tersebut memiliki korelasi ilmiah sehingga terbentuknya
suatu tindakan yang bersifat empiris.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dan analisa data penelitian perubahan sosial
masyarakat Kota Banda Aceh dalam mitigasi bencana: pelajaran sosial dari bencana
tsunami, maka dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan terjadinya
perubahan sosial dimasyarakat kota Banda Aceh dalam hal mitigasi bencana
disebabkan oleh tiga faktor yaitu: pengetahuan (eksternalisasi), kepercayaan
(objektivasi), dan tindakan (internalisasi). Ketiga hal tersebut merupakan suatu proses
dealektis yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Faktor pengetahuan (eksternalisasi) yang dimaksud adalah dimana masyarakat
dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh dunia sosialnya yang berupa pengetahuan yang
ia dapatkan dari proses formal maupun non formalnya. Hal tersebut yang kemudian
menjadi berpengaruh pada pengetahuan yang berkembang dimasyarakat dalam hal ini
terkait dengan mitigasi bencana. Pengetahuan pra tsunami dan pasca tsunami tentunya
memiliki perbedaan yang signifikan, dimana pengetahuan tentang cara menghadapi
bencana pra tsunami lebih dipengaruhi oleh nilai yang berkembang ditingkat lokal
dalam hal ini nilai-nilai religusitas dan doktrin kultural. Namun pasca tsunami hal itu
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
14
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
bergeser, seiring dengan pengetahuan baru yang didapat melalu mitigasi bencana
maupun pengalaman masa lalu, maka pengetahuan yang berkembang sangat bersifat
sekuler dan terukur tanpa namun tetap dipengaruhi oleh nilai-nilai religusitas.
Faktor selanjutnya adalah kepercayaan (objektifasi), faktor ini sangat
dipengaruhi oleh pengetahuan (eksternalisasi), dimana pengetahuan yang berkembang
ditengah masyarakat kemudian sebisa mungkin diobjektivasikan untuk mempengaruhi
subjektifitasnya dalam melihat bencana. Dalam proses objektivasi ini masyarakat
kemudian menerjemahkan pengetahuan yang mereka dapatkan menjadi suatu
kepercayaan dalam dirinya. Pada proses pra tsunami, kepercayaan yang diratifikasi
oleh masyarakat sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki, yang erat kaitannya
dengan religusitas dan nilai-nilai lokal. Pasca tsunami seiring dengan berkembangnya
pengetahuan-pengetahun mengenai bencana yang bersifat universal, maka
kepercayaan masyarakat pun sangat dipengaruhi pengetahuan tersebut. Hal ini dapat
dilihat dari bagaimana kemudian masyarakat melihat bencana tidak hanya sebagai
suatu yang bersifat musibah, namuan bencana kemudian dipercayai sebagai suatu
proses gejala alamiah yang disebabkan oleh pergerakan bumi.
Faktor terakhir yang menentukan terbentuknya suatu kontruksi sosial yang
kemudian melahirkan perubahan sosial adalah faktor tindakan (internalisasi). Faktor
yang merupakan suatu hasil dari proses pengetahuan dan kepercayaan ini kemudian
melahirkan suatu perilakunya dalam menghadapi bencana. Pada saat pra tsunami,
tindakan yang dilakukan sangat bersifat ritual dan tidak terukur. Namun pasca tsunami
seiring dengan pengetahuan yang berkembang dan memperngaruhi kepercayaan
masyarakat, maka tindakan yang dilakukan dalam menghadapi bencana lebih terukur
dan mengalami perubahan yang sangat signifikan. Hal ini tidak terlepas dari proses
dealektis yang saling berpengaruh satu dengan lainnya.
Dari semua hal yang dijelaskan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan sampai
saat ini memang belum ada suatu pengetahuan, kepercayaan, maupun tindakan yang
baku dalam hal mitigasi bencana. Namun segala bentuk yang hadir hari ini merupakan
suatu proses yang cukup dinamis dan universal terkait dengan pengalaman dalam
menghadapi bencana. Hal ini sangat terkait dengan pelajaran sosial yang dapat diambil
oleh masyarakat pada bencana tsunami silam, yang mana bencana tersebut membentuk
suatu kontruksi baru pada masyarakat sehingga terjadinya suatu perubahan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Arikunto, Suharsimi. (2006). Metode Penelitian.Jakarta: Rineka Cipta.
Daymont, Cristine. (2008). Metode Riset Kualitatif. Jakarta: Bentang.
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
15
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
James Midgley, (2013). Social Development : Theory and Practice. Los Angeles :
SAGA.
Johnson, Sociological Theory, II (1986). terj. Robert M.Z. Lawang, Teori
Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid II, Jakarta: Gramedia.
Kinloch, Graham C (2005). Perkembangan dan Paradigma Utama Teori Sosiologi,
Bandung: Pustaka Setia.
Lexy J Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Luckman, Peter. L. Berger. (2012). Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Risalah tentang
Sosiologi Pengetahuan. Jakara : LP3ES
Martono, Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta; Rajawali Pers.
Permana, C.E. (2010). Kearifan Lokal Masyarakat Baduy dalam Mitigasi Bencana.
Jakarta: Wedatama Widya Sastra
Poloma, M. Margareth (1987). Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Rajawali Pers.
Pribadi, K. S., & Merati, G. W. (1996). Mitigasi Bencana.
Rudito, Bambang dan Famiola, Melia. (2013). Social Mapping Metode Pemetaan
Sosial : Teknik Memahami Suatu Masyarakat atau Komuniti. Bandung.
RekayasaSains
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. (2009). Teori Sosiologi Modern. Jakarta:
Kencana.
Ritzer, George & Goodman, Douglas J (2004). Modern Sociological Theory, 6th
edition, terj. Alimandan, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Prenada Media.
Soekanto, Soerjono (1990). Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers
Sugiyono. (2010). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Alfabeta.
Suyanto, Bagong, and Sutinah. (2005) Metode Penelitian Sosial. Kencana.
Suwarsono, Suwarsono, dan Y. SO, (1994) Perubahan Sosial dan Pembangunan.
LP3ES, Jakarta
Sztompka, Piötr. (2008). Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada.
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
16
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
Umar, Husein. (2009). Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.
Undang-Undang
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
Qanun No.3 Tahun 2011 tentang susunan organisasi dan tata kerja badan
penanggulangan bencana daerah Kota Banda Aceh.
Tulisan Ilmiah/Jurnal
Aguirre, B. E. (2002). Can sustainable development sustain us? International
Journal of Mass Emergencies and Disasters, 20(2), 111-125
Albala-Bertrand, J. M. (2000). Responses to complex humanitarian emergencies
and natural disasters: An analytical comparison. Third World Quarterly, 2,
215-227
Arnold, C. (1986). Occupant behavior related to seismic performance in a highrise office building. Earthquake Engineering Research Institute.
Bates, F.L. and Pelanda, C. (1994) “An Ecological Approach to Disasters” in
Dynes, R.R., and Tierney K. (Eds.). (1994). Disasters, collective behavior
and social organization. Newark, DE: University of Delaware Press: 145159
Cecep,Raden, et al. (2011). Kearifan Lokal Tentang Mitigasi Bencana Pada
Masyarakat Badu. Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 15, No. 1, Juli
2011: 67-76
Kreps, G.A. 1984. Sociological Inquiry and Disaster Research. Annual Review of
Sociology, Vol. 10. No.1, hal. 309-330.
Ma’arif, S. (2010). Bencana dan Penanggulangannya: Tinjauan dari Aspek
Sosiologi. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana, Vol. 1, 1-17.
Maarif, Syamsul, et al. (2015). Kontestasi Pengetahuan Dan Pemaknaan Tentang
Ancaman Bencana Alam. ISSN 2087636X: 1.
Moorman, Christine, Rohit Deshpande, and Gerald Zaltman. (1993). Factors
affecting trust in market research relationships. The Journal of Marketin,
hal. 81-101.
Prelog. J Andrew, (2010). Social Change and Disaster. Annotated Bibliography
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
17
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1 Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/fisip
Subiyantoro, I. (2010). Selayang Pandang tentang Bencana. Jurnal Dialog
Penanggulangan Bencana, Vol. 1, 43-46.
Siasah. Dr. Muhsinatun et al. (2010). Sosialisasi Pendidikan Mitigasi Pada
Lingkungan Rawan Bencana. Karya Ilmiah Kebencanaan.
Skripsi
Haiqal, Muhammad. (2015). Efektivitas Bangunan Penyelamat Sebagai Upaya
Mitigasi Bencana Tsunami Di Kota Banda Aceh. Pasca Sarjana Universitas
Gajah Mada.
Internet
ASEAN, “ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Respone”,
http://www.aseansec.org/17579. (diakses 10 September 2015)
(http://regional.kompas.com/read/2014/12/25/20093411/Aceh.Tidak.Siap.jika.Ada.Be
ncana.Lagi).htm, diakses 10 September 2015
(http://nasional.tempo.co/read/news/2012/04/16/058397416/gedung-penyelamatdiabaikan-warga-aceh-saat-gempa). (diakses 10 September 2015)
(http://dibi.bnpb.go.id/). (diakses 10 September 2015)
(http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004)(dia
kses 10 September 2015)
Perubahan Sosial Maysyarakat Kota Banda Aceh dalam Mitigasi Bencana:
Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami (Putra Rizki Youlan Radhianto,
Khairulyadi) Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari
2017 1-18
18
Download