PERILAKU BERISIKO dan FAKTOR RISIKO KEJADIAN SEKS

advertisement
PERILAKU BERISIKO dan FAKTOR RISIKO
KEJADIAN SEKS PRANNIKAH
PADA SISWA/SISWI SMA SEDERAJAT
DI KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2015
Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA KEDOKTERAN
Oleh:
RENI DWI PARIHAT
NIM: 1112103000087
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436H/ 2015 M
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, karunia, kasih saying dan ridho-Nya kepada kita semua. Sholawat beserta salam
semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang karena rahmat dan
ridho-Nya saya dapat menyelesaikan penelitian dan laporan penelitian dengan judul
“Perilaku Berisiko Dan Faktor Risiko Kejadian Seks Pranikah Pada Siswa/Siswi
SMA Sederajat Di Kota Tangerang Selatan Tahun 2015.”
Penyusunan laporan penelitian ini dapat terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, saya ingiin mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. H. Arif Sumantri,M.Kes. Selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Jakarta yang selalu membimbing kami dalam segala hal untuk
menjadi lebih baik.
2. dr. Achmad Zaki, M.Epid., SpOT selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dokter
beserta segenap dosen program studi pendidikan dokter yang selalu memberikan
bimbingan dan ilmu kepada saya selama menjalani masa pendidikan di Program
Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. dr. Nouval Shahab, SpU, PhD, FICS,FACS selaku penanggung jawab Modul Riset
Program Studi Pendidikan Dokter 2012 yang selalu membimbing dan memberikan
motivasi dalam pelaksaan penelitian ini.
4. dr. Risahmawati, PhD selaku pembimbing pertama yang telah banyak sekali
memberikan ilmu dan waktu beliau serta memberikan arahan, motivasi dan
semangatkepada saya untuk selalu membimbing dengan penuh kesabaran dan kasih
sayang sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.
5. dr. Mustika Anggiane Putri, M. Biomed selaku pembimbing kedua saya yang selalu
memberikan waktu, tenaga dan ilmu untuk selalu memeberikan bimbingan, arahan
dan semangat sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.
6. dr. Khalimah, MARS, SPKJ dandrg. Laifa Hendarmin, PhD selaku penguji siding
saya yang telah menyempatkan waktu dan ruangnya untuk menguji skripsi saya,
v
memberikan masukan berupa kritik dan saran untuk menyempurnakan penelitian
ini dan telah memberikan Ilmu baru.
7. Kedua orang tua saya tercinta, H. Kurma Kurniawan dan Hj. Iyos Rosyadah, kakak
kandung saya Ridzal Hudzaeni, adik kandung saya Fihris Sa’adah serta seluruh
keluarga besar saya yang telah turut serta dan selalu memberikan dorongan ,
motivasi, do’a dan kasih sayang yang tak terhingga selama penelitian ini. Tanpa
do’a dan dukungan mereka penelitian ini tidak akan berjalan lancar.
8. Teman riset seperjuangan saya, Khairunnisa Dewi Adawiyah, Amelia Rosita, Irma
Sari Muliadi yang telah memberikan semangat dan motivasi sukacita, bahagia telah
kita lalui bersama hingga terselesaikannya penelitian ini.
9. Imas Maspupah , Sari Dewi Apriana Nst yang telah memberikan bantuan, do’a,
semangat dan senyuman sehingga penelitian ini dapat berjalan sebaik-baiknya.
10. Seluruh siswa/siswi dan pihak sekolah SMA sederajat di kota tangerang selatan
yang telah bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk menjadi responden
dalam penelitian ini.
11. Teman – Teman keluarga besar PSPD 2012 dan CSS Mora UIN Syarif
Hidayatullah untuk waktu yang telah dilalui bersama selama masa pendidikan saya
di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
12. Semua pihak yang telah memebrikan dukungan dan do’a kepada saya yang tidak
dapat saya sebutkan satu persatu.
Laporan penelitian ini kemungkinan besar masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu
saya mengharapkan kritik dan saran untuk dapat memperbaiki laporan penelitian ini
menjadi lebih baik lagi. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti, masyarakat
serta yang membaca penelitian ini. Segala bentuk bantuan dan kebaikan yang telah
dilakukan demi selesainya laporan penelitian ini, semoga mendapatkan balasan dari Allah
SWT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 14 September 2015
Penulis
vi
ABSTRAK
Reni Dwi Parihat. Program Studi Pendidikan Dokter. Perilaku Berisiko dan Faktor
Risiko Kejadian Seks Pranikah pada Siswa/Sisiwi SMA sedrajat di Kota Tangerang
Selatan Tahun 2015.
Kejadian seks pranikah dikalangan remaja dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, seiring
dengan meningkatnya kejadian seks pranikah kita perlu mengetahui faktor yang
mempengaruhinya. Tujuan penelitian: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku
berisiko serta faktor risiko kejadian seks pranikah pada siswa/siswi SMA , MA dan SMK
di kota Tangerang selatan. Metode Penelitian :Penelitian ini adalah penelitian analitik
observasional yang dilakukan dengan metode cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan
dari bulan April sampai Mei 2015. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi SMA,
MA dan SMK di wilayah Kota Tangerang Selatan dengan sampel penelitian sebanyak 983
responden dari total
16 sekolah yang diambil secara multistage random sampling.
Instrumen penelitian ini adalah Kuesioner. Hasil penelitian ini dianalisis menggunakan uji
chi-square. Hasil Penelitian :Dari data penilitian ini diketahui responden yang pernah
berkontak fisik ( pegangan tangan, memeluk atau mencium pipi) sebesar (58,3%),
mencium bibir (22,4%), memegang payudara kekasih (8,4%), memegang alat kelamin
kekasih dengan tangan (5,8%), mengelus kelamin kekasih sehingga terangsang (5,6%),
kekasih memegang kelamin (6,2%), kekasih memegang kelamin hingga terangsang (6,5%),
pernah bersetubuh (2,8%), melakukan bersetubuh 1 kali seminggu (1,0%), dan melakukan
aborsi (0,4%), pernah hamil setelah melakukan hubungan seksual (0,6%), takut terinfeksi
HIV atau penyakit menular seksual lainnya (18,3%). Terdapat hubungan antara jenis
kelamin dengan kejadian seks pranikah (p = 0,030). Terdapat hubungan antara riwayat
hubungan heteroseksual dengan kejadian seks pranikah (p = 0,000). Terdapat hubungan
antara media mengakses film porno dengan kejadian seks pranikah (p = 0,063). Tidak
terdapat hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan kejadian seks pranikah
(p = 0,247). Tidak terdapat hubungan antara pemahaman agama dengan kejadian seks
pranikah (p = 0,892). Tidak terdapat hubungan antara norma dan gender dengan kejadian
seks pranikah (p = 0,417). Terdapat hubungan antara peran keluarga dengan kejadian seks
pranikah (p = 0,000). Terdapat hubungan antara lingkungan sosial dengan kejadian seks
vii
pranikah (p = 0,000). Terdapat hubungan antara pendidikan dengan kejadian seks pranikah
(p = 0,000). Terdapat hubungan antara usia dengan kejadian seks pranikah (p = 0,026).
Terdapat
hubungan
antara
uang saku
dengan
kejadian
seks
pranikah
(p
=
0,000).Kesimpulan :Kejadian seks pranikah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti jenis kelamin, riwayat hubungan heteroseksual, media mengakses film porno, peran
keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, dan usia, uang saku.
Kata Kunci: Seks, Pranikah, Jenis Kelamin, pacaran, film porno, keluarga, uang
saku,interaksikeluarga.
viii
ABSTRACT
Reni DwiParihat. Doctor Education Program. The RiskBehaviour and Risk FactorOf
Incidence Unmarriage Sex in SMA, MA and SMK School Students in South
Tangerang City. 2015
Unmarriage sex among teenagers is affected by several factors, because of the high rate of
unmarriage sex, we have to understand what factor that leads to this.Tujuan:The purpose
of this research is to identify the behaviour and risk factor that lead to unmarriage sex in
SMA,MA, and SMK in south tangerang.Methods: The method of this research was
analytical observation with a cross-sectional data collection (cross sectional). The research
was conducted from March to May 2015. The study population is all high school students
and vocational schools in South Tangerang City areaas much as 983 students from a total
of 16 schools taken as research sample. The research instrument in this research is
questionnaire. The Results study by using the chi-square test.Results:The data that we
collect from our respondent that have done some physical contact (holding hands,kiss on
the cheek,hugging) is 58,3%. Kissing mouth-to-mouth 22,4%, touching and grabbing
girlfriend’s breast 8,4%. Touch the girlfriend’s genitalia with his own hand 5,8%. Touch
the girlfriend’s genitalia until she get turned on 5,6%. Touching boyfriend’s genitalia
6,2%. Touching boyfriend’s genitalia until turned on 6,5%.Have done sexual intercouse
2,8%. Did a regular intercourse once a week 1,0%. Did an abortion 0,4%. Got pregnant
after sexual intercourse 0,6%. Afraid to be infected by HIV or STD 18,3%. There are
correlation between gender and unmarriage sex (p=0,030). History of heterosexual course
with unarriage sex (p=0,000). There is a correlation between the availability to access porn
with unarriage sex (p=0,063). There are no correlation between reproduction knowledge
with unmarriage sex(p=0,247). There are no correlation between intellectual capacity of
religion to unmarriage sex(p=0,892). There are no correlation between gender and norm to
umarriage sex(p=0,417). There are correlation between family’s factor and unmarriage
sex(p=0,000). There are correlation between social environment and unmarriage
sex(p=0,000). There are correlation between education and umarriage sex(p=0,000). There
are correlation between age and unmarriage sex(p=0,026). There are correlation between
pocket money and unmarriage sex (p=0,000).Conclusion:Unmarriage sex is affected by
some factors, such as gender,availability media to access porn, family’s factor, social
environment, education, age and pocket money
Key words: unmarriage sex, gender,porn movies,being in a relationship,family,pocket
money, interaction of family.
ix
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL ................................................................................................................. i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. ii
LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ...........................................................................................................v
ABSTRAK .......................................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................................xv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................4
1.3 Hipotesis...............................................................................................................4
1.4 Tujuan Penelitian .................................................................................................5
1.5 Manfaat Penelitian ...............................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori ....................................................................................................7
2.1.1 Remaja...............................................................................................................7
2.1.1.1 Definisi Remaja………………………………………………….. 7
2.1.1.2 Epidemiologi Remaja di Indonesia………………..………..……………. 8
2.1.1.3 Tahap-Tahap Masa Remaja. ………………………………………………8
2.1.2 Perilaku Seksual. .............................................................................................13
2.1.2.1 Pengertian Perilaku Seksual Pra Nikah………………………………..…13
2.1.2.2 Bentuk-Bentuk Tingkah Laku Seksual…………………………………..15
2.1.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkah Laku Seksual. .........................16
2.1.4 Masalah - Masalah Yang Diakibatkan Perilaku Seksual Remaja………...….20
2.2 Kerangka Konsep ...............................................................................................22
2.3Definisi Operasional ............................................................................................23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
x
3.1 Desain Penelitian ................................................................................................26
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................................25
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian .........................................................................28
3.3.1 Populasi dan Sampel .......................................................................................28
3.3.2 Kriteria Sampel ...............................................................................................28
3.3.3 Tehnik Pemilihan Sampel ...............................................................................29
3.3.4 Besar Sampel. ..................................................................................................30
3.4 Cara Kerja Penelitian. ........................................................................................32
3.5 Manajemen Data ................................................................................................33
3.5.1 Pengumpulan Data ..........................................................................................33
3.5.2 Instrumen Penelitian........................................................................................33
3.5.3 Pengolahan Data..............................................................................................34
3.5.4 Analisis Statistik .............................................................................................34
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1 Karakteristik Responden ....................................................................................35
4.2 Hasil Penelitian ..................................................................................................38
4.2.1 Riwayat Hubungan Heteroseksual ..................................................................38
4.2.2 Aktivitas Saat Berkencan ................................................................................39
4.2.3 Lingkungan Sosial. ..........................................................................................43
4.2.4 Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi. ................................................45
4.3 Analisis Bivariat. ...............................................................................................46
4.3.1 Hubungan Antara Jenis kelamin Dengan Perilaku Seks Pra Nikah. ..............46
4.3.2 Hubungan Antara Riwayat hubungan Heteroseksual Dengan Perilaku Seksual
Pra Nikah. ........................................................................................................46
4.3.3 Hubungan Antara Media Informasi Mengakses Film Porno Dengan Perilaku
Seksual Pra NIkah. ..........................................................................................47
4.3.4 Hubungan Antara Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Dengan Perilaku
Seksual Pra Nikah. ..........................................................................................48
4.3.5 Hubungan Antara Pemahaman Agama Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah. 49
4.3.6 Hubungan Antara Persepsi Tentang Gender Dengan Norma Dan Perilaku
Seksual Pra Nikah. ..........................................................................................50
4.3.7Hubungan Antara Peran Keluarga Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah. .......51
4.3.8 Hubungan Antara Lingkungan Sosial Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah ...52
4.3.9 Hubungan Antara Pendidikan Dan Perilaku Seksual Pra Nikah. ....................53
4.3.10 Hubungan Antara Umur Dan Perilaku Seksual Pra Nikah. ..........................54
xi
4.3.11 Hubungan Antara Uang Saku Dan Perilaku Seksual Pra Nikah. ..................54
4.4 Pembahasan. .......................................................................................................55
4.4.1 Gambaran perilaku seks pra nikah ..................................................................55
4.4.2 Hubungan Antara Jenis kelamin Dengan Perilaku Seks Pra Nika. .................56
4.4.3 Hubungan Antara Riwayat Pacaran Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah.. ....57
4.4.4Hubungan Antara Media Informasi Mengakses Film Porno Dengan Perilaku
Seksual Pra NIkah. ..........................................................................................58
4.4.5 Hubungan Antara Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Dengan Perilaku
Seksual Pra Nikah.. .........................................................................................59
4.4.6 Hubungan Antara Pemahaman Agama Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah..
..................................................................................................................................60
4.4.7 Hubungan Antara Persepsi Tentang Gender Dengan Norma Dan Perilaku
Seksual pranikah. ............................................................................................61
4.4.8 Hubungan Antara Peran Keluarga Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah. .......62
4.4.9 Hubungan Antara Lingkungan Sosial Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah. ..63
4.4.10 Hubungan Antara Pendidikan Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah. ............64
4.4.11 Hubungan Antara Umur Daengn Perilaku Seksual Pra Nikah......................65
4.4.12 Hubungan Antara Uang Saku Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah. ............66
4.5
Keterbatasan Penelitian. ..................................................................................67
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ........................................................................................................68
5.2 Saran ...................................................................................................................69
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................77
LAMPIRAN .........................................................................................................................78
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1Proses perkembangan fisik pada remaja .................................................................9
Tabel 2.2Proses perkembangan psikologis remaja ..............................................................10
Tabel 4.1Daftar Sekolah Terpilih .........................................................................................34
Tabel 4.2Distribusi responden berdasarkan Sekolah ...........................................................35
Tabel 4.3Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ..........................................36
Tabel 4.4Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ...............................................36
Tabel 4.5Karakteristik Responden Berdasarkan Agama .....................................................37
Tabel 4.6Karakteristik Responden Berdasarkan Umur .......................................................37
Tabel 4.7Distribusi frekuensi riwayat pacaran dengan lawan jenis .....................................38
Tabel 4.8Distribusi frekuensi aktivitas saat berkencan ........................................................40
Tabel 4.9Distribusi frekuensi aktivitas saat berkencan berdasarkan jenis kelamin .............41
Tabel 4.10Distribusi frekuensi lingkungan sosial ................................................................43
Tabel 4.11Distribusi frekuensi pengetahuan tentang kesehatan reproduksi ........................44
Tabel 4.12Hubungan antara jenis kelamin dan perilaku seksual pra nikah .........................47
Tabel 4.13Hubungan antara riwayat pacaran dengan lawan jenis dan perilaku seks pra
nikah. ..................................................................................................................48
Tabel 4.14Hubungan antara media informasi mengakses film porno dengan perilaku
seksual pra nikah. ...............................................................................................52
Tabel 4.15Hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual pra
nikah, ..................................................................................................................53
Tabel 4.16Hubungan antara aspek religi dengan perilaku seksual pranikah. ........................3
Tabel 4.17 Hubungan antara persepsi tentang norma, gender dengan perilaku seksual pra
nikah . .................................................................................................................54
Tabel 4.18 Hubungan antara riwayat hubungan heteroseksual dengan perilaku seksual pra
nikaH. .................................................................................................................55
Tabel 4.19 Hubungan antara peran keluarga dengan perilaku seksual pra nikah. ...............56
Tabel 4.20 Hubungan antara lingkungan sosial dengan perilaku seks pra nikah.................57
Tabel 4. 21 Hubungan antara pendidikan dan perilaku seksual pranikah.. ..........................58
Tabel 4.21Hubungan antara pendidikan dan perilaku seksual pranikah. .............................59
Tabel 4.22 Hubungan antara umur dengan perilaku seksual pra nikah. ..............................60
Tabel 4.23Hubungan antara uang saku dengan perilaku seksual pranikah. .........................61
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup .......................................................................................74
xiv
xv
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja merupakan peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa
dewasa.
Untuk
dipertimbangkan
menyempurnakan
definisi
mengenai
remaja
harus
definisi remaja menurut faktor biologis, psikologis dan
perubahan sosial. Secara biologis remaja dapat didefinisikan sebagai masa
pubertas yaitu masa peralihan fungsi tubuh secara seksual dan fisik menjadi
fungsi dewasa yang sudah matang. Secara psikologis remaja didefinisikan
dilihat dari bentuk sudah tercapainya tugas-tugas pembangunan yang
berhubungan dengan terciptanya identitas diri. Secara sosiologis remaja dapat
didefinisikan sebagai bentuk dari status dan lingkungan yang secara spesifik
merupakan periode transisi diantara masa kanak-kanak dan masa dewasa. 1
Remaja didefinisikan WHO sebagai seseorang yang berusia 10-19
tahun, tetapi Kementrian Kesehatan Indonesia mendefinisikan remaja sebagai
seseorang yang belum menikah dan berusia 10-19 tahun. Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendefinisikan remaja sebagai
seseorang yang belum menikah yang berusia 10-21 tahun..2
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk
Indonesia sebesar 237,6 juta jiwa, 63,4 juta jiwa diantaranya adalah remaja
yang terdiri dari laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa (50,7 %) dan perempuan
sebanyak 31.279.012 jiwa (49,3%).3 Besarnya angka populasi remaja
membutuhkan perhatian khusus karena kemajuan masa depan bangsa
ditentukan oleh kualitas remaja saat ini. Mereka memasuki masa sekolah dan
angkatan kerja yang harus dipersiapakan secara jasmani, rohani, mental dan
spiritual dengan baik, termasuk kesehatan reproduksi untuk menentukan
kualitas generasi penerus bangsa yang baik. 2
2
Perilaku seksual adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja
berhubungan dengan dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya
maupun dari luar dirinya yang meliputi Awakening Exponation misal
berfantasi, membaca buku porno, masturbasi atau onani, pacaran dengan
berkunjung ke rumah, bercanda, cium pipi, leher (petting) cium bibir,
memegang buah dada, memegang alat kelamin, berhubungan seks (kopulasi).4
Perilaku
seksual
pranikah
pada
remaja
dapat
menimbulkan
permasalahan dari banyak aspek. Permasalahan yang timbul dari sisi
kesehatan antara lain dapat menyebabkan remaja tertular HIV (Human
Acquired Virus) /AIDS (Acquired Immunodeficiency Virus)
dan penyakit
menular seksual (PMS) lainnya. Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia yang dikeluarkan pada juni 2013, menyebutkan bahwa
jumlah penderita positif HIV/ AIDS di Indonesia berjumlah 103.759 orang
dan sebanyak 14.527 remaja terdiagnosis positif HIV.5
Selain itu risiko sosial yang didapat akibat perilaku seksual pranikah
adalah kehamilan remaja yang tidak diharapkan. Remaja yang hamil
cenderung mengalami anemia dan mengalami komplikasi prematuritas,
dibandingkan ibu dengan usia 20 hingga 24 tahun. Remaja ibu yang terpaksa
menjadi seorang ibu cenderung putus sekolah akibat dari beban moral, sosiobudaya, dan peran sebagai ibu.
Meskipun banyak remaja yang melanjutkan pendidikan kembali di
sekolah formal maupun program persamaan, umumnnya mereka tidak
mencapai taraf ekonomi yang setara dengn perempuan lainnya yang tidak
mengalami hal serupa.6 Hal tersebut akan mempengaruhi kualitas hidup
remaja Indonesia di masa yang akan datang, didukung dengan data yang
menunjukkan tingginya risiko Kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita
subur usia 15-49 tahun secara nasional sebanyak 24,2 % dan tingginya angka
prevalensi anemia.7 KEK dan anemia akan mempengaruhi kesiapan remaja
puteri untuk mengahadapi kehamilan usia dini.10
3
Pada tahun 2011 Greater Jakarta Transition to Adulthood survey
(GTAS) mengadakan survey pada remaja di daerah Jakarta, Bekasi, dan
Tangerang dan didapatkan hasil bahwa 11% dari responden yang belum
menikah pernah melakukan seks, dengan perbandingan 16% pada laki-laki
dan 5 % pada perempuan.8
Berdasarkan data penelitian The 2012 Indonesia Demographic and
Health Survey (IDHS) menunjukkan sebanyak 8,3 % remaja laki-laki dan
sebanyak 0,9% remaja perempuan usia 15-19 tahun yang belum pernah
menikah pernah melakukan hubungan seks. Presentasi terbanyak saat pertama
kali melakukan seks pada umur 17 tahun dan 16 tahun. Perempuan yang
memiliki latar belakang pendidikan yang lebih rendah empat kali lebih banyak
melakukan seks dibandingkan perempuan yang memiliki pendidikan yang
lebih tinggi, hal ini berbanding terbalik pada laki-laki.9
Penelitian IDHS (2012) juga menunjukkan alasan pertama kali
melakukan seks pada laki-laki dan perempuan usia 15-24 tahun yang belum
pernah menikah. Rasa penasaran sebanyak 54% (laki-laki 58%,perempuan
11%), reaksi spontan sebanyak 24%(laki-laki 22%, perempuan 38 %) dan
paksaan oleh pasangan sebanyak 2,6% (laki-laki 2%,perempuan 13%), alasan
lainnya sebanyak 16%, tidak ingat 1% dan missing 0,3%. (9)Sangat tingginya
pengaruh pengetahuan reproduksi, perilaku seksual berisiko , lingkungan
keluarga serta media sosial terhadap terjadinya hubungan seks diluar nikah
dan kehamilan yang tidak diinginkan.8
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah remaja
cukup banyak dan sangat kompleks. Penelitian ini hanya membatasi pada
beberapa faktor, yaitu keluarga, sosio-ekonomi, riwayat pacaran dengan
lawan jenis, norma dan gender, lingkungan sosial, pengetahuan reproduksi
dan aspek religi.
4
Berdasarkan
latar
belakang
tersebut,
penulis
tertarik
untuk
mengadakan penelitian mengenai PERILAKU BERISIKO DAN FAKTOR
RISIKO KEJADIAN SEKS DILUAR NIKAH pada SISWA/SISWI SMA
SEDERAJAT DI KOTA TANGERANG SELATAN.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Diketahui
gambaran
perilaku
seks
pranikah
pada
siswa/siswi SMA sederajat di kota Tangerang Selatan.
1.2.2
Apakah peran keluarga mempengaruhi perilaku seks
pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di Kota
Tangerang Selatan ?
1.2.3
Apakah
sosio-ekonomi
mempengaruhi
perilaku
seks
pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di Kota
Tangerang Selatan ?
1.2.4
Apakah pengetahuan kesehatan reproduksi mempengaruhi
perilaku seks pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di
Kota Tangerang Selatan?
1.2.5
Apakah
riwayat
pacaran
dengan
lawan
jenis
mempengaruhi perilaku seks pranikah pada siswa/siswi
SMA sederajat di Kota Tangerang Selatan ?
1.2.6
Apakah pemahaman agama mempengaruhi perilaku seks
pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di Kota
Tangerang Selatan ?
1.2.7
Apakah lingkungan sosial mempengaruhi perilaku seks
pranikah pada remaja SMA sederajat di Kota Tangerang
Selatan ?
1.2.8
Apakah norma dan gender mempengaruhi perilaku seks
pranikah pada remaja SMA sederajat di Kota Tangerang
Selatan ?
5
1.3 Hipotesis
1.3.1
Keluarga, Sosio-ekonomi, lingkungan sosial, riwayat
pacaran dengan lawan jenis, pengetahuan reproduksi dan
aspek religi, norma dan gender sangat berpengaruh
terhadap terjadinya seks pranikah pada siswa/siswi SMA
sederajat di Kota Tangerang Selatan.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1
Tujuan umum
1.4.1.1 Untuk mengetahui perilaku siswa/siswi SMA sederajat di
Kota Tangerang Selatan mengenai seks pranikah.
1.4.1.2 Untuk mengetahui faktor risiko terjadinya perilaku seks
pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di Kota Tangerang
Selatan.
1.4.2
Tujuan khusus
1.4.2.1 Menganalisa pengaruh peran keluarga sebagai faktor risiko
terjadinya seks pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di
Kota Tangerang Selatan.
1.4.2.2 Menganalisa pengaruh sosio-ekonomi sebagai faktor risiko
terjadinya seks pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di
Kota Tangerang Selatan.
1.4.2.3 Menganalisa pengaruh pengetahuan kesehatan reproduksi
sebagai faktor risiko terjadinya seks pranikah pada
siswa/siswi SMA sederajat di Kota Tangerang Selatan.
1.4.2.4 Menganalisa pengaruh riwayat pacaran dengan lawan jenis
sebagai faktor risiko terjadinya seks pranikah pada
siswa/siswi SMA sederajat di Kota Tangerang Selatan.
6
1.4.2.5 Menganalisa pengaruh aspek religi sebagai faktor risiko
terjadinya seks pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di
Kota Tangerang Selatan.
1.4.2.6 Menganalisa pengaruh lingkungan sosial sebagai faktor
risiko terjadinya seks pranikah pada siswa/siswi SMA
sederajat di Kota Tangerang Selatan.
1.4.2.7 Menganalisa pengaruh norma dan gender sebagai faktor
risiko terjadinya seks pranikah pada siswa/siswi SMA
sederajat di Kota Tangerang Selatan.
1.5 Manfaat Penelitian
1.
Bagi Subjek Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber
informasi
yang valid mengenai perilaku seks diluar nikah
beserta faktor apa saja berperan dalam meningkatkan perilaku
seks diluar nikah yang diwakili oleh sampel.
2.
Bagi Institusi
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan
bermanfaat untuk institusi pendidikan terkait perilaku seks
diluar nikah beserta faktor apa saja berperan dalam
meningkatkan perilaku seks diluar nikah. Sehingga dapat
dilakukan tindakan promotif dan preventif dan edukatif dalam
lingkungan sekolah.
3.
Bagi Peneliti
Melalui penelitian ini diharpakan dapat menerapkan dan
memanfaatkan ilmu yang didapat selama pendidikan sebagai
sarana dalam meningkatkan kemampuan menganalisi hasil
penelitian.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Remaja
2.1.1.1 Definisi remaja
Remaja merupakan perpindahan dari masa kanak-kanak
menuju masa dewasa. Untuk menyempurkan definisi mengenai remaja
harus dipertimbangkan
definisi remaja menurut faktor biologis,
psikologis dan perubahan sosial. Secara biologis remaja dapat
didefinisikan sebagai masa pubertas yaitu masa
peralihan
fungsi
tubuh secara seksual dan fisik menjadi fungsi dewasa yang sudah
matang. Secara psikologis remaja didefinisikan dilihat dari bentuk
sudah tercapainya tugas-tugas pembangunan yang berhubungan
dengan terciptanya identitas diri. Secara sosiologis remaja dapat
didefinisikan sebagai bentuk dari status dan lingkungan yang secara
spesifik merupakan periode transisi diantara masa kanak-kanak dan
masa dewasa.1
Remaja juga didefinisikan berdasarkan usia dan norma
sosiokultural yang ada dalam wilayah tersebut. WHO mendefinisikan
remaja sebagai seseorang yang berusia 10-19 tahun, akan tetapi
Kementrian Kesehatan Indonesia mendefinisikan remaja sebagai
seseorang yang belum menikah dan berusia 10-19 tahun. BKKBN
mengkatagorikan remaja ke dalam seseorang yang belum menikah
yang berusia 10-21 tahun.2
Masa remaja menurut Larson (2002) didefinisikan sebagai
periode transisi perkembangan dari masa kanak-kanak dengan masa
dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan bilogis, kognitif, dan
sosioemosional.6
8
2.1.1.1 Epidemiologi remaja di Indonesia
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah
penduduk Indonesia sebesar 237,6 juta jiwa, 63,4 juta jiwa diantaranya
adalah remaja yang terdiri dari laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa
(50,7 %) dan perempuan sebanyak 31.279.012 jiwa (49,3%).3
Data Sensus Penduduk tahun 2010 juga menggambarkan
bahwa 55 dari 100 remaja kelompok umur 10-14 tahun ada yang sudah
kawin, 10 dari 1000 remaja umur 10-14 tahun berstatus cerai hidup
serta 1 dari 100 remaja umur 10-14 tahun pernah melahirkan hidup
antara 1-2 anak. Kejadian kawin muda pada remaja umur 15-19 tahun
lebih besar pada remaja pedesaan sebesar 3,53% di bandingkan di
perkotaan sebanyak 2,81%.3
Hasil survey RPJM tahun 2010 Secara nasional remaja yang
mengetahui masa subur dengan benar sebesar 21,6%. Remaja yang
terpapar informasi PIK-Remaja (Pusat Informasi dan Konseling
Remaja) hanya mencapai 28%, hal tersebut menjelaskan bahwasannya
hanya 28 dari 100 remaja yang mengakses informasi yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi. 11
2.1.1.2 Tahap-tahap masa remaja
a. Masa remaja awal12
Masa transisi setelah melewati masa anak dan baru memulai
pubertas. Pada anak perempuan biasanya terjadi antara umur 10-13
tahun sedangkan pada anak laki-laki 10,5 – 15 tahun. Pada masa ini
terjadi perubahan pubertal terbesar.6
9
b. Masa remaja menengah
Masa remaja menengah adalah masa pertumbuhan yang paling
dramatis. Umur kronolgis dari masa ini bervariasi, dapat berkisar
antara umur 11-14 tahun pada anak perempuan dan 12-15,5 tahun pada
anak laki-laki
c. Masa remaja akhir
Masa
remaja
akhir
merupakan
tahap
terakhir
dari
perkembangan remaja, seperti perkembanganan di tahap-tahap
sebelumnya, umur pada tahap ini bervariasi. Pada anak laki-laki antara
14-16 tahun dan pada anak perempuan berkisar antara 13-17 tahun.
Pada masa ini seringkali lebih menonjol minat karir, pacaran dan
eksplorasi identitas.6
Tabel 2.1. Proses perkembangan fisik pada remaja
Tahap
perkembang
an remaja
Masa remaja
awal
Sexual
maturi
ty
rating
1-2
Laki-laki
Ciri seks
primer16
Ciri seks
sekunder12,16
Perempuan
Ciri seks
primer16
Ciri seks
sekunder12,1
6
pembesaran
testis
munculnya
rambut pubis
Bahu
melebar,pinggul
menyempit
pertumbuhan
rambut disekitar
alat
kelamin,ketiak,da
da, tangan, dan
kaki
kulit menjadi
lebih kasar dan
tebal
produksi keringat
menjadi lebih
banyak
perkembangan
payudara
berfungsinya
organ
reproduksi
wanita menjadi
matur
pinggul
melebar,
bulat,
membesar,
putting susu
membesar
dan
menonjol,
payudara
menjadi
besar dan
lebih bulat
perubahan
tampilan
genitalia
eksterna
menjadi lebih
dewasa.
kulit
menjadi
kasar, lebih
tebal, agak
pucat,lubang
pori kulit
uterus dan
serviks
membesar
10
Masa remaja
menengah
3-5
volume testis
berkisar 1014 ml
Endometrium
berkembang
serviks dan
korpus uteri
membesar
terjadi
percepatan
pertumbuhan
dalam
vesikula
seminalis,
epididimis
dan prostat
Masa remaja
akhir
5
kelenjar
serviks mulai
mensekresikan
cairan, pH
mucus menjadi
asam
kemampuan
ejakulasi
sebagian besar
mengalami
menarche
fungsi organ
reproduksi
seperti orang
dewasa
fungsi organ
reproduksi
seperti orang
dewasa
bertambah
besar,
kelenjar
lemak dan
kelenjar
keringat
menjadi
lebih aktif
otot semakin
besar dan
kuat
suara
menjadi
lenting
Tabel 2.2. Proses perkembangan psikologis pada remaja 16
Variable
Masa remaja awal
Masa remaja menegah
Masa remaja akhir
Somatik
Karakteristik seks
sekunder
Awal dari
pertumbuhan yang
sangat cepat
Penampilan terlihat
gugup
Puncak pertumbuhan
tinggi badan
Bentuk dan komposisi
tubuh berubah
Timbul jerawat dan bau
badan
Menarche/spermache
Secara fisik terlihat
matur
Pertumbuhan lebih
lambat
Kognitif dan
moral
Mampu
mengoperasikan
konsentrasi
Mampu menolak
peraturan yang sudah
ada
Moral yang masih
konvensional
Pemikiran yang abstrak
belum mampu membuat
keputusan sendiri
Lebih banyak bertanya
Mempunyai idealism
untuk masa depan
Mampu berpikir secara
mandiri
Konsep diri/
Sadar akan perubahan
Focus pada ketertarikan
Bentuk tubuh yang lebih
11
pembentukan
identitas
yang sedang terjadi
dalam diri dan senang
dengan perubahan
tersebut, lebih suka
berfantasi
meningkatkan mawas
diri “Stereotypical
adolescent”
stabil
Terbentuk identitas yang
lebih mantap
Emansipasi mulai
sempurna
Keluarga
Peningkatan
kebutuhan privasi diri
Peningkatan
penawaran untuk lebih
mandiri
Konflik antara kontrol
dan kemandirian
Perjuangan untuk
menerima kemandirian
Meningkatkan
kemandirian
Pemisahan emosional
dan fisik dari keluarga
Grup/teman
sekelompok
Mencari jalinan teman
yang berjenis kelamin
sama sebagai wadah
ekspresi
Lebih suka berteman
secara grup
Asyik dengan budaya
kelompok
Mulai kurang
menyenangi teman
berkelompok, lebih suka
secara kedekatan
Seksual
Meningkatnya
ketertarikan terhadap
anatomi seksual
Merasa gelisah dan
banyak bertanya
mengenai anatomi
seksual
Keterbatasan dalam
berkencan.
Mencoba untuk menarik
perhatian patner
Bertanya mengenai
seksual
Mulai menginisiasi
hubungan dan aktivitas
seksual
Fokus pada hubungan
dengan lawan jenis yang
stabil
konsolidasi dari identitas
seksual
perencanaan masa depan
dan komitmen
Pergaulan
dengan
masyarakat
Penyesuaian sekolah
Mengukur kemampuan
dan kesempatan
Memutuskan karir
2.1.1.4 Teori perkembangan psikososial anak
Banyak teori mengenai perkembangan psikososial mengenai
anak salah satunya adalah teori Erik Erikson yang meliputi delapan
tahap – tahap yang saling berurutan sepanjang hidup. Berikut adalah
delapan tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson :
1. Tahap I : Trust versus Mistrust (0-1 tahun)
Pada tahap ini, bayi berusaha untuk mendapatkan pengasuhan
dan kehangatan, jika sang ibu memenuhi kebutuhan anaknya, maka
sang anak akan mengembangkan kemampuannya untuk dapat
mempercayai dan mengembangkan asa.
12
2. Tahap II : Auotonomy versus Shame and Doubt (1-3 tahun)
Pada tahap ini anak belajar bahwa dirinya memiliki control atas
tubuhnya, sehingga diharapkan orang tuanya menuntun anaknya,
mengajarkan untuk mengontrol keinginan atau implus-implusnya,
namun tidak dengan perlakuan yang kasar. Harapan idealnya, anak
bisa belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial tanpa
banyak kehilangan pemahaman awal mereka mengenai otonomi.
3. Tahap III : Initiative versus Guilt (3-6 tahun)
Pada tahap ini anak belajar bagaimana merencanakan dan
melaksanakan tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan
ini akan membuat sang anak takut mengambil inisiatif, memiliki rasa
percaya diri yang rendah dan tidak mau mengembangkan harapan. Bila
tahap ini terselesaikan dengan baik maka anak mempunyai tujuan
dalam hidupnya.
4. Tahap IV : Industry versus Inferiority (6-12 tahun)
Pada saat ini, anak belajar memperoleh kesenangan dan
kepuasan
dari
menyelesaikan
tugas,
khususnya
tugas-tugas
akademik.penyelesaian yang baik dari tahap ini akan menciptakan
anak yang dapat memecahkan maslah dan bangga akan prestasi dan
hasil resolusi ego berupa kompetensi.sebalaiknya, apabila gagal maka
anak akan merasa inferior.
5. Tahap V : Identity versus Role Confusion (12-18 tahun)
Pada tahap ini, terjadi perubahan baik pada fisik maupun jiwa
di masa biologis seperti orang dewasa, tetapi disisi lain dia dianggap
belum dewasa. Pada masa ini anak mencari identitas dalam bidang
seksual, umur dan kegiatan. Peran sebaya dan kelompok lebih tinggi
pengaruhnya ketimbang peran orang tua.
13
6. Tahap VI : Intimacy versus Isolation ( masa dewasa muda)
Pada masa dewasa muda, lebih mempelajari cara berinteraksi
dengan orang lain secara lebih mendalam.apabila proses ini berhasil
maka akan timbul resolusi ego berupa cimta.
7. Tahap VII : Generativity versus dtagnation ( masa dewasa
menengah)
Pada tahap ini, individu berusaha memberikan balasan kepada
dunia atasa apa yang telah diberikan, juga melakukan sesuatu yang
dapat memastikan kelangsungan generasi penerus di masa depan.
8. Tahap VIII : Ego Integrity versus Despair (masa dewasa akhir)
Pada masa dewasaakhir ini, mereka mengingat kembali masa
lalu dan melihat makna, ketentraman, dan integritas. Refleksi ke masa
lalu akan sangat menyenangkan dan pencarian saat ini adalah unntuk
mengintegrasikan tujuan hidup yang telah dikejar selama bertahuntahun. Kegagalan tahap ini akan membuat putus asa.
2.1.2 Perilaku seksual
2.1.2.1 Pengertian perilaku seksual pranikah
a. Perilaku
Menurut Lewit yang dikutip oleh Notoatmodjo (1993), perilaku
merupakan
hasil
pengalaman
dan
proses
interaksi
dengan
lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan
tindakan sehingga diperoleh keadaan seimbang antara kekuatan
pendorong dan kekuatan penahan. 13
Suatu perilaku yang merupakan respon terhadap beberapa
stimulus dapat dibagi menjadi beberapa aspek yang terdiri dari: 13
14
1. Perilaku tertutup ( convert behavior)
Perilaku yang sifatnya masih tertutup dan masih berbentuk
seperti perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran dan sikap
seseorang dalam menerima stimulus.
2. Perilaku terbuka ( overt behavior)
Suatu respon yang bersifat terbuka dan sudah berbentuk
sebagai tindakan nyata terhadap suatu stimulus yang sudah
diterimanya serta mudah dipahami dan dapat dilihat oleh orang lain.
b. Seksual
Menurut stenzel dan Krigiss (2003), seks adalah suatu ekspresi
fisik diatas komitmen, kepercayaan dan saling ketergantungan yang
membentuk pernikahan. Ketika seseorang tersenyum, memeluk,
meremas tangan dengan pasangannya maka pada dasarnya ia tengah
melakukan aktivitas seksual. 17
Menurut KBBI (2014) seksual adalah berkenaan dengan seks
( jenis kelamin); berkenaan dengan perkara persetubuhan antara lakilaki dan perempuan.19
c. Pranikah
Menurut KBBI (2014) pra artinya sebelum; di depan. Nikah
artinya ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan
ketentuan hukum dan ajaran agama. Dapat disimpulkan bahwa pra
nikah adalah sebelum terjadi ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai
dengan hukum agama.19
15
d. Perilaku seksual pra nikah
Menurut Notoatmodjo (2007) perilaku seksual pra nikah adalah
tindakan yang dilakukan oleh remaja berhubungan dengan dorongan
seksual yang datang baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya
yang meliputi Awakening Exponation misal berfantasi, membaca buku
porno, masturbasi atau onani, pacaran dengan berkunjung ke rumah,
bercanda, cium pipi, leher, petting, cium bibir, memegang buah dada,
memegang alat kelamin, berhubungan seks (kopulasi).4
2.1.2.2 Bentuk-bentuk tingkah laku seksual
Menurut Sarwono (2007) bentuk tingkah laku seks bermacammacam mulai dari perasaan tertarik, pacaran, kissing, kemudian sampai
intercourse meliputi: 18
a. Kissing
Ciuman yang dilakukan untuk menimbulkan rangsangan
seksual, seperti di bibir disertai dengan rabaan pada bagian-bagian
sensitif yang dapat menimbulkan rangsangan seksual. Berciuman
dengan bibir tertutup merupakan ciuman yang umum dilakukan.
Berciuman dengan mulut dan bibir terbuka, serta menggunakan lidah
itulah yang disebut french kiss. Kadang ciuman ini juga dinamakan
ciuman mendalam/ soul kiss.
b. Necking
Berciuman di sekitar leher ke bawah. Necking merupakan
istilah yang digunakan untuk menggambarkan ciuman disekitar leher
dan pelukan yang lebih mendalam.
c. Petting
Perilaku menggesek-gesekkan bagian tubuh yang sensitif,
seperti payudara dan organ kelamin. Merupakan langkah yang lebih
mendalam dari necking.Ini termasuk merasakan dan mengusap-usap
16
tubuh pasangan termasuk lengan, dada, buah dada, kaki, dan kadangkadang daerah kemaluan, baik di dalam atau di luar pakaian.
d. Intercouse
Bersatunya dua orang secara seksual yang dilakukan oleh
pasangan pria dan wanita yang ditandai dengan penis pria yang ereksi
masuk ke dalam vagina untuk mendapatkan kepuasan seksual
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual
Menurut Santrock (2007) beberapa faktor yang mempengaruhi
perilaku seksual antara lain:6
a. Status Sosioekonomi
Menurut Miller, Benson & Gallbraith (2001) Tinggal didalam
lingkungan berbahaya dan/atau tergolong sosio-ekonomi rendah akan
memberikan risiko untuk mengalami kehamilan di masa remaja.
b. Lingkungan keluarga
Menurut Miller Benson & Gallbraith (2001) kedekatan atau
keterjalinan, pengawasan atau pengaturan terhadap aktivitas remaja
oleh orangtuanya, serta nilai-nilai yang ditanamkan orang tua untuk
menentang hubungan seksual di masa remaja akan mengurangi risiko
kehamilan di masa remaja.
Menurut Williams & Schmidt (2003) hubungan yang sangat
jauh atau saling mengindari didalam keluaraga sangat erat kaitannya
dengan hubungan seksual dini. Selain itu memiliki kakak atau saudara
yang aktif seksual atau saudara perempuan yang hamil/menjadi orang
tua dapat meningkatkan risiko remaja untuk hamil.
c. Regulasi diri (self regulation)
Menurut Lombardo (2005) regulasi diri adalah kemampuan
seseorang untuk mengatur emosi-emosi dan perilakunya. Sebuah
17
penelitian yang dilakukan oleh Raffaelli & Crockett pada tahun 2003
menyebutkan bahwa rendahnya regulasi diri pada usia 12 hingga 13
tahun berkaitan dengan meningkatkan risiko seksual empat tahun
sesudahnya. Penelitian yang dilakukan oleh Vesely dkk, pada tahun
2004 juga menyebutkan adanya kaitan antara regulasi diri yang rendah
dengan tingginya risiko seksual. Para remaja yang belum pernah
melakukan hubungan seksual cenderung lebih memiliki orang tua yang
positif, kawan sebya yang positif, yang terlibat dalm aktivitas agama,
dan memiliki aspirasi yang positif.
Modifikasi dari santrock (2007) yang mengutip Bandura (1998)
dan menurut Suryoputro, dkk (2007) faktor yang berpengaruh pada
perilaku seksual antara lain:
a. Umur Pubertas
Pubertas adalah masa ketika seseorang mengalami perubahan
fisk, psikis dan pematangan fusngsi seksual. Perubahan – perubahan
hormonal yang meningkatkan hasrat seksual ( libido seksualitas).18
b. Pengetahuan Reproduksi
Menurut notoatmodjo (2007) pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi adalah mencangkup apa yang diketahui seseorang terhadap
kesehatan reproduksi meliputi: sistem reproduksi, fungsi, prosesnya
dan cara-cara pencegahan/penanggulangan terhadap kehamilan, aborsi,
penyakit-penyakit kelamin. Pengetahuan yang salah mengenai
kesehatan reproduksi dan perilaku seksual maka akan membawa
remaja kedalam kerugian seperti kehamilan, Penyakit menular seksual
serta kerusakan moral.
18
c. Sikap
Menurut Bungin (2001) Sikap seksual merupakan respon
seksual yang diberikan seseorang setelah melihat, mendengar, atau
membaca informasi serta pemberitaan, gambar-gambar yang berbau
porno dalam wujud orientasi atau kecenderungan dalam bertindak.
d. Harga diri
Harga diri cenderung menurun pada masa remaja, terutama
pada remaja perempuan berumur 12-17 tahun. Menurunnya harga diri
remaja perempuan adalah karena mmereka memiliki citra tubuh yang
lebih negatif selama mengalami perubahan pubertas, dibandingkan
remaja laki-laki. 20
e. Meningkatnya Perilaku Seksual
Meningkatnya perilaku seksual membuat remaja selalu
berusaha lebih banyak mencari informasi mengenai seks. Media
elektronik dapat menjadi wadah untuk menarik perhatian dan
meningkatkan
kesadaran
berbagai
pihak
terhadap
berbagai
perkembangan situasi yang terjadi dewasa ini. Kecenderungan
pelanggaran terhadap perilaku seksual remaja makin meningkat oleh
karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan teknologi
canggih (video cassette, DVD, telepon genggam, internet, dan lain
lain) menjadi tak terbendung lagi, akan meniru apa yang dilihat atau
didengar dari media massa, khususnya karena mereka pada umumnya
belum pernah mengetahuai masalah seksual secara lengkap dari orang
tuanya.22
e. Peran Orang Tua
Ketidaktahuan orang tua atau sikap yang masih mengaggap
pembicaraan tentang seks kepada anak masih tabu cenderung
membuat jarak dengan anak. Peran orang tua sangat besar
pengaruhnya terhadap remaja, orang tua yang sibuk, pengasuhan yang
19
buruk, dan perceraian orang tua akan menyebabkan remaja
mengalami depresi, kebingungan, dan ketidakmantapan emosi yang
menghambat mereka untuk bersikap tanggap sehingga remaja dapat
dengan mudah terjerumus pada perilaku yang menyimpang seperti
seks pranikah.21
f. Teman Sebaya
Remaja mulai belajar mengenai pola hubungan timbal balik
dan setara melalui interaksi dengan teman sebaya. Mereka juga belajar
untuk mengamati minat dan pandangan teman sebaya supaya
memudahkan proses penyatuan ke dalam kelompok aktifitas teman
sebaya. Sullivan berangggapan bahwa teman memainkan peran
penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan
remaja.20
g. Peluang/ waktu luang
Dengan adanya waktu luang yang tidak bermanfaat akan
cenderung menimbulkan pergaulan bebas. Karena sifat dasar remaja
yang masih mementingkan hidup bersenang-senang, bernalas-malasan,
berkumpul-kumpul sampai larut malam sehingga akan membawa
remaja kedalam pergaulan bebas.15
h. Budaya
Budaya memiliki peranan penting dalam membentuk suatu
pola berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti juga
membentuk kepribadian dan pola pikir masyarakat tertantu.
Peran budaya dalam masyarakat dapat dijadikan titik acuan
dalam membentuk kepribadian seseorang atau kelompok. Masyarakat
sering kali menerima langsung kebudayaan negatif yang menentang
norma-norma
sehingga
remaja
dengan
proses
perkembangan
pembentukan identitas yang masih dini dapat menerima begitu saja
budaya yang negatif.18
20
i. Gender
Peran gender pada beberapa penelitian menyebutkan bahwa
perubahan pubertas mendorong laki-laki dan perempuan untuk
menyesuaikan diri berperilaku masukilin dan feminin. Harga diri
cenderung menurun di masa remaja , terutama pada remaja perempuan
berumur 12 – 17 tahun. Pada umumnya laki laki menunjukkan harga
diri yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Menurunnya harga diri
remaja perempuan adalah karena mereka memiliki citra tubuh yang
lebih negatif selama mengalami perubahan pubertas, dibandingkan
remaja laki laki.6
Sebuah studi yang dilakukan oleh Hyde & DeLamater (2005)
menyatakan bahwa dibandingkan remaja laki-laki terdapat lebih
banyak remaja perempuan yang menyatakan jatuh cinta sebagai alasan
mereka aktif secara seksual.
2.1.4
Masalah-masalah yang diakibatkan perilaku seksual
remaja
a. Kehamilan Remaja6
Kehamilan remaja mengandung risiko kesehatan bagi ibu dan
bayi, umumnya bayi yang lahir cenderung memiliki berat badan lahir
yang rendah, Kematian pada bayi, maupun masalah neurologis dan
penyakit pada masa kanak-kanak. Hanya 1 dari 5 kehamilan remaja
perempuan yang memperoleh perawatan pra kelahiran selama periode
kehamilan.
Remaja yang hamil cenderung mengalami anemia dan
mengalami komplikasi prematuritas, dibandingkan ibu dengan usia 20
hingga 24 tahun. Selain itu para ibu cenderung putus sekolah akibat
dari beban moral, sosio-budaya, dan peran sebagai ibu, meskipun
banyak remaja yang melanjutkan pendidikan kembali di sekolah
21
formal maupun program persamaan, umumnnya mereka tidak
mencapai taraf ekonomi yang setara dengn perempuan lainnya yang
tidak mengalami hal serupa.
Sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh Hofferth & Reith
(2002) mendapatkan bahwa anak yang lahir dari ibu remaja memiliki
skor tes yang lebih rendah dan memperlihatkan perilaku yang
bermasalah.
Menurut Resnick,Wattenberg & Brewer (1992) masalah yang
ditimbulkan bukan hanya dari masalah ibu dan bayinya tetapi
berpengaruh juga terhadap para ayah yang masih remaja. Umumnya
para ayah yang masih remaja memiliki penghasilan yang lebih rendah,
kurang berpendidikan dan memiliki banyak anak dibandingkan pria
lain yang tidak mengalami hal serupa. Hal ini terjadi dikarenakan
mereka harus putus sekolah setelah menikahi pasangannya yang hamil.
Remaja putri yang hamil pada usia 15-19 tahun memiliki risiko
2 kali meninggal yang tinggi dibandingkan dengan yang berusia 20
tahun keatas, sementara remaja yang hamil dibawah usia 14 tahun
memiliki risiko 5 kali lebih besar untuk meninggal. Hal ini
dikarenakan panggul perempuan belum berkembang secara sempurna.
Setelah dua tahun menstruasi, seorang remaja puteri masih mengalami
perkembangan 2% - 9%, sehingga remaja yang hamil di bawah usia 14
tahun berisiko terjadinya disproporsi kepala bayi dan panggul ibu atau
disproporsi sefalopelvik.
b. Infeksi yang menular secara seksual
Diantara Penyakit Menular seksual (PMS) yang banyak dialami
remaja, terdapat tiga penyakit yang disebabkan oleh virus yakni AIDS
(acquired immune deficiency syndrome), herpes genital dan kutil
genital, serta tiga PMS yang disebabkan oleh infeksi bakteri, yakni,
Gonorrhea, Sifilis, dan Chlamydia.
22
2.2 Kerangka Teori
2.3 Kerangka Konsep
Variabel Bebas
1. Pengetahuan
2. Karakteristik keluarga
dan sosio-ekonomi
3. Riwayat pacaran
dengan lawan jenis
4. Lingkungan sosial
5. Pemahaman agama
6. Gender, dan normanorma .
Variabel Terikat
Perilaku seks pranikah remaja
23
2.3 Definisi Operasional
No
Nama Variable
Definisi
Skala Ukur
Hasil Ukur
Alat dan cara ukur
Nominal
Jenis
Menyebarkan
Operasional
1.
Sosio-ekonomi
Mengetahui
tingkat
ekonomi
dan
aktivitas
kelamin,
umur, uang saku.
kuisioner
Tinggi,
Menyebarkan
sosial remaja.
2.
Pengetahuan
Kemampuan
seks pranikah
siswa
Ordinal
dalam
Nilai
Mean dari Skor
memahami
tentang
>
kuisioner
pengetahuan seks
ciri-ciri
pra nikah.
seks primer dan
sekunder
beserta
fungsinya
untuk
Rendah,≤
Nilai
seksual,
fungsi
Median
Skor
fisiologis
tubuh
pengetahuan seks
dalam
pra nikah
bereproduksi dan
dampak
seks
pranikah.
3.
Sumber
Media
informasi
Internet,
Tv,
Smartphone, jika
Menyebarkan
radio,
menggunakan
kuisioner
media
cetak,
gadget
teman,
seminar,
Nominal
dan
smartphone.
petugas
kesehatan,
yang
menyediakan
Komputer,
pengetahuan
menggunakan
mengenai
seksualitas
warnet
dan
jika
dan
computer rumah.
lingkup
reproduksi.
4.
Peran keluarga
Ada, ≤ nilai Mean
Menyebarkan
dalam mengawasi,
skor
kuisioner
megasuh,
keluarga
Peran orang tua
komunikasi,
Ordinal
peran
24
orangtua
yang
Tidak ada, > nilai
bercerai
atau
Mean
tidak,
tunggal,
tinggal
bersama
orang
tua
peran
keluarga
atau
tidak.
5.
Baik,
≤
Nilai
Peran
Peran lingkungan
lingkungan(tem
sekolah,
Mean skor peran
an)dan budaya
lingkungan
lingkungan.
Ordinal
Menyebarkan
kuisioner
rumah,
yangmempengaru
hi
perilaku
seksual,
Buruk,
seperti
Nilai
Mean skor peran
banyaknya teman
yang
>
lingkungan.
sudah
melakukan
hubungan seksual
pranikah.
6.
Aspek religi
Pengetahuan,
Ordinal
Tinggi,
>
Nilai
Menyebarkan
skor
kuisioner
ketaatan
Median
beragama,
pemaham agama.
wawasan
mengenai agama
serta
agama
rendah,
≤
sebagai indikator
skor
mawas diri dalam
pemahaman
berperilaku
agama
nilai
Median
seksual.
7.
Gender
dan
norma-norma.
Aturan
yang
terkait
dengan
perilaku
seksual
yang
diperoleh
Ordinal
Positif,
>
Nilai
Menyebarkan
Median
skor
kuisioner
gender,
dan
norma-norma
oleh remaja.
Tanggapan
mengenai
peran
Negatif,≤
Nilai
gender
Median
skor
terhadap perilaku
gender,
dan
seksual.
norma-norma.
utama
Seperti
25
kewajiabn
menggunakan alat
kontrasepsi,
kekerasan
terhadap
seksual
dll.
8.
Perilaku
seks
pranikah remaja
Aktivitas
remaja
Ordinal
Berisiko, apabila
Menyebarkan
kuisioner
yang
didorong
Pernah melakukan
oleh
hasrat
salah satu perilaku
seksual baik yang
seks pranikah
dilakukan sendiri.
Dengan
jenis
lawan
maupun
sesama jenis tanpa
adanya
ikatan
apabila
agama,
misalnya
berpegangan
tangan, mencium
pipi, berpelukan,
dll selama atau
pernah pacaran.
Berisiko,
tidak
pernah melakukan
perilaku
pranikah
pernikahan
menurut
Tidak
seks
26
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional yang
menggunakan
desain
cross
sectional
(potong
lintang)
untuk
mengetahui perilaku berisiko dengan faktor risiko kejadian seks diluar
nikah pada siswa/siswi SMA sederajat di kota Tangerang Selatan.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di 16 Sekolah SMA, SMK, dan MA
yang ada di wilayah kota Tangerang Selatan. Waktu penelitian adalah
bulan April hingga Mei 2015. Lokasi penelitian tersebar di 4
kecamatan di kota Tangerang Selatan.
Total SMA, SMK, MA dan MAN
di wilayah koya Tangerang Selatan
terdapat 138 sekolah.
Dilakukan multistage random
sampling sehingga didapatkan 16
sekolah target di 4 kecamatan
terpilih.
Satu sekolah di kocok untuk
mewakili satu kecamatan, sisa
sekolah lainnya di ambil dari
sekolah yang berjarak paling
dekat dengan sekolah
sebelumnya di masingmasing kecamatan.
27
Tabel 3.1. Daftar sekolah terpilih
No
1.
Kecamatan
Ciputat
Nama Sekolah/Cluster
Tanggal Penelitian
Sekolah A
Senin, 20 April 2015
2.
Sekolah B
Senin, 20 April 2015
3.
Sekolah C
Selasa,21 April 2015
4.
Sekolah D
Jum’at, 24 April 2015
5.
Sekolah E
Rabu, 22 April 2015
Sekolah F
Selasa, 21 April 2015
7.
Sekolah G
Selasa, 21 April 2015
8.
Sekolah H
Selasa, 21 April 2015
Sekolah I
Rabu, 22 April 2015
10.
Sekolah J
Selasa, 28 April 2015
11.
Sekolah K
Selasa, 28 April 2015
12.
Sekolah L
Senin, 11 Mei 2015
Sekolah M
Rabu, 14 Mei 2015
Sekolah N
Rabu, 14 Mei 2015
15.
Sekolah O
Senin, 18 Mei 2015
16.
Sekolah P
Senin, 18 Mei 2015
6.
Pamulang
9.
Serpong
3
13.
Pondok Aren
.
14.
3
28
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah 138 sekolah SMA sederajat
baik negeri maupun swasta yang ada di Kota Tangerang Selatan, yang
tersebar di 7 Kecamatan, yakni Kecamatan Ciputat sebanyak 40
sekolah, Kecamatan Ciputat Timur sebanyak 4 sekolah, Kecamatan
Pondok Aren sebanyak 31 sekolah, Kecamatan Serpong Utara
sebanyak 3 sekolah, Kecamatan Serpong sebanyak 33 sekolah,
Kecamatan Pamulang sebanyak 21 sekolah, Kecamatan Setu sebanyak
6 sekolah.
3.3.2 Kriteria Sample
i. Kriteria Inklusi
a.
Siswa/siswi SMA sederajat di Kota Tangerang
Selatan
b.
Siswa/Siswi yang belum menikah
c.
Siswa/siswi yang melakukan seks dengan lawan
jenis
ii.
Kriteria Eksklusi
a.
Siswa/siswi yang menolak jadi responden
b.
Siswa/siswi yang tidak hadir
29
3.3.3 Pemilihan Sampel
Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah jenis
probability sampling dengan metode multistage random sampling.
Izin penelitian ke Dinas
Pendidikan Kota
Tangerang Selatan
Mendapatkan
surat izin
penelitian
Izin penelitian ke
Fakultas dan Program
studi
Dilakukan pendataan jumlah sekolah (SMA,
SMK, MA, MAN) di kota Tangerang Selatan
melalui website kementrian dan kebudayaan
Indonesia dan sejumlah websiter resmi
lainnyahttp://www.psma.kemdikbud.go.id
Didapatkan jumlah sekolah sebanyak 138
sekolah dan jumlah total murid sebanyak
47.707 siswa di 7 kecamatan
Dilakukan pemilihan sampel
kelas di masing-masing
sekolah dengan menggunakan
simple random sampling
Satu sekolah di kocok untuk
mewakili satu kecamatan, sisa
sekolah lainnya di ambil dari
sekolah yang berjarak paling
dekat dengan sekolah
sebelumnya di masing-masing
kecamatan.
Dengan jumlah sekolah
perkecamatan diambil sesuai
dengan proporsi jumlah
sekolah yang ada.Didapatkan
hasil:
Kec. Ciputat: 5 sekolah
kec. Pondok aren: 4 sekolah
Kec.Serpong: 4 sekolah
kec. Pamulang: 3 sekolah
Dilakukan pengambilan sampel sebanyak 886
sampel dari populasi dengan membagi jumlah
seluruh murid ditangerang selatan dengan
jumlah sampel yang akan di ambil
Di dapatkan hasil 53 siswa/sekolah,
dikarenakan ada sekolah dengan jumlah siswa
yang tidak lebih dari 50 siswa, maka target
sampel yang dipilih adalah 50 siswa/ sekolah
Dilakukan penghitungan untuk memilih
sekolah terpilih dengan membagi jumlah
seluruh sampel dibagi dengan jumlah sampel
per sekolah di dapatkan hasil sebanyak 16
sekolah terpilih
Selanjutnya dilakukan penghitungan untuk
mencari jumlah sekolah per kecamatan, di
dapatkan sebanyak 4 kecamatn terpilih;
Ciputat, Pondok Aren, Serpong, Pamulang.
30
3.3.4 Besar Sampel
Pada penelitian ini, penentuan besar sampel minimum yang
diperlukan dapat dihitung dengan menggunakan rumus analisis
kategorik tidak berpasangan
atau hipotesis dua proporsi tidak
berpasangan karena variabel dependen dan independen merupakan
data kategorik, yaitu:
Zα = 1,96
P1 = 0,50
P2 = 0,60
P = (P1+P2) / 2 = 0,55
Q = 1 – P = 0,40
Q1 = 1 – P1 = 0,50
Q2 = 1 – P2 = 0,482
Zβ = 1,282
Keterangan :
Zα
= deviat baku normal untuk α
Zβ
= deviat baku normal untuk β
α
= tingkat kemaknaan sebesar 5%
β
= power penelitian sebesar 90%
P1
= Proporsi efek standar (proporsi responden dengan
pengetahuan dan perilaku berisiko terhadap kejadian
seks pranikah remaja di kecamatan ciputat timur)
31
P2
= Proporsi efek yang diteliti / clinical judgment (proporsi
responden dengan pengetahuan dan perilaku tidak
berisiko terhadap kejadian seks pranikah remaja di
kecamatan ciputat timur)
√
√
√
√
Jumlah minimal sampel sebanyak 443 responden, kemudian
sampel dikalikan dengan Deff 2 karena penelitian ini termasuk
penelitian survei. Untuk meminimalisir adanya bias, maka 443x2 =
886 orang. Kemudian ditambah 10% untuk mengantisipasi adanya
sampel yang rusak (drop out) yaitu 886 x 10% = 89. 886+89= 975
responden, namun pada penelitian ini di ambil sampel yang berjumlah
983 responden.
32
3.4 Cara Kerja Penelitian
Melakukan perizinan kepada dinas
pendidikan KotaTangerang Selatan dan
pihak kampus
Sumber kuisioner
didapatkan dari kuisioner
WHO mengenai perilaku
seksual pada remaja.
Mendata seluruh SMA sederajat di Kota
Tangerang Selatan
Dilakukan validasi
kuisioner kepada 30
siswa/siswi SMA
Memilih sampel penelitian
Datang ke sekolah yang terpilih sebagai
sampel
Hasil
Permintaan izin kepada kepala sekolah dan
melakukan perjanjian
Diskusi
Randomisasi kelas
Siswa/siswi kelas X dan
XI yang hadir di kelas
pada saat pengambilan
data
Informed consent
kesediaan untuk
pengisian kuisioner
Bersedia
Kuisioner akhir
Tidak
bersedia
Penjelasan tentang pengisian kuisioner
Pengisian kuisioner
Clearing data
Pengumpulan dan pengolahan data dengan
SPSS 18
Drop out 16
kuisioner
33
3.5 Manajemen Data
3.5.1 Pengumpulan Data
Penelitian ini akan dilaksanakan bila telah memperoleh
persetujuan setelah penjelasan atau informed consent dari responden.
Data dikumpulkan dengan cara menyebarkan kuesioner. Data primer
diperoleh dari hasil kuisioner yang di bagikan kepada semua
responden. Kuisioner berisi beberapa pertanyaan yang telah dijawab
oleh responden berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pribadi
responden.
3.5.2 Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat dari penelitian ini adalah sejumlah
kuisioner yang akan dibagikan kepada responden yang berisi:
a. Sebelas pertanyaan mengenai karakteristik keluarga dan
sosioekonomi responden.
b. Tujuh belas pertanyaan mengenai sumber informasi dan
pengetahuan responden terhadap kesehatan reproduksi
yang bersangkutan dengan kehamilan, PMS dan alat
kontrasepsi.
c. Tujuh pertanyaan mengenai riwayat pacaran dengan
lawan jenis.
d. Delapan belas pertanyaan mengenai aktivitas saat
berkencan.
e. Tujuh pertanyaan mengenai keadaan lingkungan sosial.
f. Sepuluh pertanyaan mengenai aspek religi.
g. Dua puluh empat pertanyaan mengenai seksualitas
gender dan norma-norma.
34
3.5.3 Pengolahan Data
Kuisioner penelitian yang telah di isi oleh siswa dan siswi
SMA di kota Tangerang Selatan dikumpulkan berdasarkan nama
sekolah, kemudian dilakukan pengecekan jumlah dan isi kuisioner.
Setelah itu dilakukan input data kuisioner menggunakan excel dan
dilakukan pengecekan terhadap data yang hilang atau input yang tidak
benar. Setelah di dapatkan data yang lengkap kemudian dilakukan
pengolahan data menggunakan program SPSS 18.
3.5.4 Analisis Statistik
Analisis data dilakukan dengan menggunakan komputer dan
software SPSS versi 18. Analisis statistik menggunakan uji non
parametrik dikarenakan data berskala pengukuran kategorikal atau
kualitatif. Uji statistik yang dipilih adalah Chi-Square.
3.5.4.1
Analisis Univariat
Analisa univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran atau
distribusi frekuensi secara umum masing-masing variabel baik variabel
dependen maupun variabel independen. Pada penelitian ini analisis
univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran perilaku seksual
pranikah beserta gambaran faktor-faktor risiko perilaku seks pra nikah
pada anak SMA sederajat di Kota Tangerang Selatan.
3.5.4.2
Analisis
Analisis Bivariat
bivariat
pada
penelitian
ini
dilakukan
untuk
mengetahui hubungan antara variabel dependen dengan variabel
independen. Pada penelitian ini analisis bivariat digunakan untuk
mengetahui hubungan faktor risiko dengan perilaku seks pranikah.
35
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Karakteristik Responden
Tabel 4.1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan sekolah
No.
Nama Sekolah/Cluster
Jumlah Responden
Persentase (%)
1.
Sekolah A
50
5,08
2.
Sekolah B
50
5,08
3.
Sekolah C
50
5,08
4.
Sekolah D
50
5,08
5.
Sekolah E
50
5,08
6.
Sekolah F
50
5,08
7.
Sekolah G
49
4,98
8.
Sekolah H
57
5,79
9.
Sekolah I
51
5,18
10.
Sekolah J
124
12,61
11.
Sekolah K
50
5,08
12.
Sekolah L
61
6,20
13.
Sekolah M
80
8,13
14.
Sekolah N
80
8,13
15.
Sekolah O
76
7,73
16.
Sekolah P
60
6,10
983
100%
Total
36
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa responden terbanyak
dari Sekolah J yaitu sebanyak 124 responden (12,61%) dan responden
dengan jumlah paling sedikit dari Sekolah G sebanyak 49 responden
(4,98%). Perbedaan jumlah pengambilan responden didasarkan pada
kebijakan sekolah mengenai proses jam pembelajaran sekolah yang
berbeda-beda tiap sekolah. Hampir seluruh sekolah mengizinkan
peneliti mengambil data pada jam pembelajaran tertentu dengan waktu
yang telah ditentukkan oleh sekolah. Sehingga sampel yang di
dapatkan tidak merata di semua sekolah.
Tabel 4.3. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin
N
Persentase(%)
Laki-laki
445
46,0
Perempuan
522
54,0
Total
967
100
Berdasarkan tabel diatas diketahui jumlah responden sebanyak
967 responden , dengan perbandingan antara jumlah laki-laki dan
perempuan hampir sama. Jumlah responden terbanyak berjenis
kelamin laki-laki sebanyak 522 orang (54,0%).
Tabel 4.4. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan
Riwayat Pendidikan
N
Persentase(%)
SMP
705
72.9
MTSN
90
9.3
Pondok Pesantren
66
6.8
Tidak Menjawab
106
11.0
967
100
Total
37
Berdasarkan tabel diatas diketahui jumlah responden yang
mengisi pertanyaan mengenai riwayat pendidikan sebanyak 930 orang.
Responden paling banyak berasal dari SMP sebanyak 705 orang
(72,9%) dan paling sedikit berasal dari pondok pesantren sebanyak 66
orang (6,8%). Sebanyak 106 responden tidak menjawab.
Tabel 4.5. Karakteristik responden berdasarkan agama
Agama
N
Persentase (%)
Islam
868
89.8
Protestan
58
6.0
Katolik
19
2.0
Hindu
4
0.4
Budha
5
0.5
Konghucu
7
0.7
Yahudi
2
0.2
Tidak menjawab
4
0.4
967
100.0
Total
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa responden paling
banyak memeluk agama islam sebanyak 868 orang (89,8 %) dan
protestan sebanyak 58 orang (6,0%).
Tabel 4.6. Karakteristik responden berdasarkan umur
Umur
N
Presentase (%)
< 16 Tahun
741
76.6
≥ 16 tahun
226
23.4
Total
967
100.0
38
Pada penelitian ini usia dikategorikan menjadi dua kelompok
yaitu umur dibawah 16 tahun dan diatas 16 tahun. Berdasarkan tabel
diatas diketahui bahwa responden paling banyak berumur kurang dari
umur 16 tahun sebanyak 741 orang (76,6%).
4.2 Perilaku Berisiko
4.2.1 Riwayat Hubungan Dengan Lawan Jenis
Karakteristik hubungan dengan lawan jenis digambarkan
dengan memiliki pacar dan jumlahnya, intensitas berkencan dan
kategori hubungan pacaran. Berikut distribusi frekuensi riwayat
pacaran dengan lawan jenis.
Tabel 4.6. Distribusi frekuensi riwayat pacaran dengan lawan jenis
Riwayat Hubungan dengan Lawan Jenis
Persentase (%)
Memiliki pacar
Pernah mempunyai pacar (n=983)
Jumlah pacar (n=967)
Hubungan telah berakhir (n=967)
Ya
82,1
Tidak
17,9
Satu
43.4
Dua
22.8
Tiga
0.6
Lebih dari Tiga
3.6
Tidak Ada
29.6
Ya
42,0
Tidak
58.0
Setiap hari
4.3
Satu kali dalam seminggu
55.0
Satu kali dalam sebulan
18.1
Intensitas berkencan
Berkencan dengan pacar (n=967)
39
Satu kali dalam setahun
4.9
Tidak pernah
17.7
Biasa saja
75,6
Serius
24,0
Penting,akan menikah segera
0,4
Kategori hubungan pacaran
Kategori (n=967)
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa mayoritas responden
memiliki pacar (82,1%), berkencan seminggu satu kali (55,0%) dan
hubungan pacaran kategori biasa saja (75,6%).
4.2.2 Aktivitas Saat Berkencan
Aktivitas saat berkencan responden terdiri dari kontak fisik
ringan, mencium bibir, dan pernah bersetubuh.
Tabel 4.7.Distribusi frekuensi aktivitas saat berkencan
Aktivitas Saat Berkencan
Kontak fisik ringan (pegangan
tangan, memeluk atau mencium
pipi) (n=967)
Mencium bibir (n=967)
Memegang payudara kekasih
N
Persentase (%)
Ya
564
58.3
Tidak
358
37.0
Tidak
menjawab
45
4.7
Ya
217
22.4
Tidak
710
73.4
Tidak
menjawab
40
4.1
Ya
81
8.4
40
(n=967)
Memegang alat kelamin kekasih
dengan tangan (n=967)
Mengelus kelamin kekasih
sehingga terangsang (n=967)
Kekasih memegang kelamin anda
(n=967)
Kekasih mengelus kelamin anda
sehingga terangsang (n=967)
Pernah bersetubuh (n=967)
Tidak
449
46.4
Tidak
menjawab
437
45.2
Ya
56
5.8
Tidak
843
87.2
Tidak
menjawab
68
7.0
Ya
54
5.6
Tidak
846
87.5
Tidak
menjawab
67
6.9
Ya
60
6.2
Tidak
842
87.1
Tidak
menjawab
65
6.7
Ya
63
6.5
Tidak
835
86.3
Tidak
menjawab
69
7.1
Ya
27
2.8
Tidak
878
90.8
Tidak
menjawab
62
6.4
Pasangan melakukan hubungan intim (n=33)
41
Kekasih
14
42.4
Teman
1
3.0
Kenalan
2
6.0
Pekerja seks komersial
6
18.2
Tidak menjawab
10
30.3
4
.4
Tidak Pernah
184
19.0
Tidak menjawab
779
80.6
> 2 kali per minggu
5
.5
1 kali seminggu
10
1.0
1 kali sebulan
6
.6
Tidak pernah
159
16.4
Tidak menjawab
787
81.4
6
.6
Tidak Pernah
170
17.6
Tidak Tahu
19
2.0
Tidak menjawab
772
79.8
Melakukan aborsi (n=967)
Pernah
Intensitas melakukan hubungan seksual (n=967)
Mengalami Hamil (n=967)
Pernah
Dari tabel diatas diketahui responden yang pernah berkontak
fisik ( pegangan tangan, memeluk atau mencium pipi) sebesar (58,3%),
mencium bibir (22,4%), memegang payudara kekasih (8,4%),
memegang alat kelamin kekasih dengan tangan (5,8%), mengelus
kelamin kekasih sehingga terangsang (5,6%), kekasih memegang
42
kelamin (6,2%), kekasih memegang kelamin hingga terangsang
(6,5%), pernah bersetubuh (2,8%), melakukan bersetubuh 1 kali
seminggu (1,0%), dan melakukan aborsi (0,4%), pernah hamil setelah
melakukan hubungan seksual (0,6%), takut terinfeksi HIV atau
penyakit menular seksual lainnya (18,3%).
Tabel 4.8. Distribusi frekuensi aktivitas saat berkencan berdasarkan
jenis kelamin
Aktivitas saat berkencan
N total
Presentase
Perempuan
Laki-laki
Total (%)
(%)
(%)
Kontak fisik
(Pegangan tangan,
memeluk atau
mencium pipi)
(n=967)
Ya
564
58.3
51.1
48.9
Tidak
358
37.0
57.3
42.7
Tidak
menjawab
45
4.7
64.4
35.6
Mencium bibir
(n=967)
Ya
217
22.4
40.6
59.4
Tidak
710
73.4
57.6
42.4
Tidak
menjawab
40
4.1
62.5
37.5
Ya
81
8.4
6.2
93.8
Tidak
449
46.4
22.9
77.1
Tidak
menjawab
437
45.2
94.3
5.3
Memegang alat
kelamin kekasih
dengan tangan
(n=967)
Ya
56
5.8
25.0
75.0
Tidak
843
87.2
54.2
45.8
Tidak
menjawab
68
7.0
75.0
25.0
Mengelus kelamin
kekasih sehingga
terangsang
Ya
54
5.6
24.1
75.9
Tidak
846
87.5
54.4
45.6
Memegang
ayudara kekasih
(n=967)
43
(n=967)
Tidak
menjawab
67
6.9
73.1
26.9
Kekasih
memegang
kelamin anda
(n=967)
Ya
60
6.2
30.0
70.0
Tidak
842
87.1
54.2
45.8
Tidak
menjawab
65
6.7
73.8
26.2
Kekasih mengelus
kelamin anda
sehingga
terangsang
(n=967)
Ya
63
6.5
28.6
71.4
Tidak
835
86.3
54.6
45.4
Tidak
menjawab
69
7.1
69.6
30.4
Pernah
bersetubuh(n=967)
Ya
27
2.8
40.7
59.3
Tidak
878
90.8
53.2
46.8
Tidak
menjawab
62
6.4
71.0
29.0
4.2.3 Lingkungan Sosial
Variabel penelitian ini berisi tentang ijin orang tua tentang
anaknya yang berpacaran, lingkungan sosial responden yang telah
berpacaran, berhubungan seksual dan aborsi.
Tabel 4.9. Distribusi frekuensi lingkungan sosial
Lingkungan Sosial
Orang tua mengijinkan
berpacaran/berkencan/keluar
bersama lawan jenis (n=967)
N
Persentase (%)
Iya
374
38.7
Tidak
307
31.7
Tidak Tahu
244
25.2
Tidak
menjawab
42
4.3
44
Teman yang sudah memiliki pacar
(n=967)
Sedikit
282
29,2
Sebagian besar
685
70.8
Teman yang pernah mengaku
sudah kontak fisik
(berciuman,berpegangan tangan,
memeluk) walaupun belum
menikah (n=967)
Ada, 1-3 orang
418
43,4
Ada lebih dari 3
orang
291
30.1
Tidak ada
258
26,5
Teman yang mengaku sudah
pernah berhubungan suami istri
walaupun belum menikah (n=967)
Ada, 1-3 orang
255
26.2
Ada lebih dari 3
orang
65
6,8
Tidak ada
647
66.9
Ada, 1-3 orang
323
37,7
Ada lebih dari 3
orang
64
6,8
Tidak ada
590
66.5
Ada, 1-3 orang
77
8,1
Ada lebih dari 3
orang
35
3,7
Tidak ada
855
88,2
Ada, 1-3 orang
324
33,9
Ada lebih dari 3
orang
62
6,5
Tidak ada
581
59,6
Teman yang hamil sebelum
menikah (n=967)
Teman yang pernah aborsi
(n=967)
Lingkungan rumah (saudara
kandung/saudara
sepupu/tetangga/teman Sebaya)
pernah hamil sebelum menikah
(n=967)
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa (38,7%) responden
diijinkan berpacaran oleh orang tua, sebagian besar teman responden
memiliki pacar (70,8%), dari masing-masing responden mengaku lebih
45
dari tiga orang temannya telah melakukan kontak fisik (30,1%), ada
teman yang pernah melakukan hubungan suami istri diluar pernikahan
(26,2%) dan hamil sebelum menikah sebanyak (37,7%).
4.2.4 Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi
Pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi dibagi
menjadi pengetahuan rendah dan pengetahuan tinggi. Dasar dari
pengelompokkan tersebut adalah responden yang menjawab benar
pertanyaan diatas nilai mean, sebaliknya responden yang menjawab
benar sama dengan dibawah nilai mean di kategorikan pengetahuan
rendah. Berikut distribusi frekuensi pengetahuan responden.
Tabel 4.10. Distribusi frekuensi pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi
Pengetahuan Tentang Kesehatan
Reproduksi
N
Persentase
(%)
Rendah
495
51,2
Tinggi
472
48,8
Total
967
100
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa pengetahuan
responden berimbang antara responden yang memiliki pengetahuan
rendah sebanyak 495 (51,2%) dengan responden yang memiliki
pengetahuan tinggi sebanyak 472 (48,8%).
46
4.3 Hubungan Faktor Risiko Dengan Kejadian Seks Pranikah
4.3.1 Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Perilaku Seksual
Pra Nikah
Tabel 4.11. Hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku seksual
pra nikah
Perempuan
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
227
58.4
295
51.0
Laki-Laki
162
41.6
283
49.0
Total
389
100
578
100
Jenis
Kelamin
P Value
0,030
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa perempuan yang
memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 58,2% sedangkan
laki-laki yang memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar
41,6%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P value
sebesar 0,030 yang berarti bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan
bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku seksual pra
nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang Selatan.
4.3.2
Hubungan Antara Riwayat Pacaran dengan Lawan Jenis
Dan Perilaku Seksual Pra Nikah
Tabel 4.12. Hubungan antara riwayat pacaran dengan lawan jenis dan
perilaku seksual pra nikah
Riwayat
pacaran
dengan lawan
jenis
Iya
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
251
64.5
543
93.9
Tidak
138
35.5
35
6.1
Total
389
100,0
578
100,0
P Value
0,000
47
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
memiliki riwayat pacaran dengan lawan jenis yang memiliki perilaku
seksual pra nikah berisiko sebesar 64,5% sedangkan responden yang
tidak memiliki riwayat pacaran dengan lawan jenis yang memiliki
perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 35,5%. Berdasarkan hasil
analisis statistik diketahui bahwa P value sebesar 0,000 yang berarti
bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan bahwa ada hubungan antara
riwayat pacaran dengan lawan jenis dengan perilaku seksual pra nikah.
4.3.3
Hubungan Antara Media Informasi Mengakses Film
Porno dengan Perilaku Seksual Pra Nikah
Media
informasi
dikategorikan
kedalam
handphone
(smartphone dan gadget) dan komputer (warung internet dan computer
pribadi).
Tabel 4.13. Hubungan antara media informasi mengakses film porno
dengan perilaku seksual pra nikah
Media
N
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
%
N
%
P
Value
Handphone
(Smartphone dan
101
63.9
249
72.6
Gadget)
Komputer
(Warung Internet
dan
0,063
57
36.1
94
158
100,0
343
27.4
Komputer Pribadi)
Total
100
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
memiliki media handphone dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 63,9% sedangkan responden yang memiliki komputer
dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 36,1%.
Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P value sebesar
0,063 yang berarti bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan bahwa
48
tidak ada hubungan antara media informasi mengakses film porno
dengan perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
4.3.4
Hubungan Antara Pengetahuan Kesehatan Reproduksi
dengan Perilaku Seksual Pra Nikah
Pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi dibagi
menjadi pengetahuan rendah dan pengetahuan tinggi. Dasar dari
pengelompokkan tersebut adalah responden yang menjawab benar
pertanyaan diatas nilai mean, sebaliknya responden yang menjawab
benar sama dengan dibawah nilai mean di kategorikan pengetahuan
rendah. Berikut distribusi frekuensi pengetahuan responden.
Tabel 4.14. Hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi
dengan perilaku seksual pra nikah
Rendah
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
189
48.6
304
52.6
Tinggi
200
51.4
274
47.4
Total
389
100,0
578
100,0
Pengetahuan
P Value
0,247
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa pengetahuan
responden yang rendah dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 48,6% sedangkan responden yang pengetahuan tinggi
dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 51,4%.
Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P value sebesar
0,247 yang berarti bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan bahwa
tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
dengan perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
49
4.3.5
Hubungan Antara Aspek Religi Dengan Perilaku Seksual
Pra Nikah
Aspek
religi
dibagi
menjadi
pemahaman
rendah
dan
pemahaman tinggi. Dasar dari pengelompokkan tersebut adalah
dikatakan tinggi apabila skor responden diatas nilai mean, sebaliknya
skor sama dengan dibawah nilai mean di kategorikan rendah.
Tabel 4.15. Hubungan antara pemahaman agama dengan perilaku
seksual pranikah
Rendah
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
228
58.6
335
58.0
Tinggi
161
41.4
243
42.0
Total
389
100
578
100
Aspek Religi
P Value
0,892
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
memiliki religius rendah dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 58,6% sedangkan responden yang memiliki religius
tinggi dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 41,4%.
Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P value sebesar
0,892 yang berarti bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan bahwa
tidak ada hubungan antara aspek religi dengan perilaku seksual pra
nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang Selatan.
4.3.6
Hubungan Antara Persepsi tentang Norma dan Gender
dengan Perilaku Seksual Pra Nikah
Tabel 4.16. Hubungan antara persepsi tentang norma, gender dan
perilaku seksual pra nikah
Negatif
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
213
54.8
333
57.6
Positif
176
45.2
245
42.4
Total
389
100
578
100
Persepsi
P Value
0,417
50
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
memiliki persepsi negatif tentang seksual, norma dan gender dan
memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 54,8% sedangkan
responden yang memiliki persepsi positif tapi memiliki perilaku
seksual pra nikah berisiko sebesar 45,2%. Berdasarkan hasil analisis
statistik diketahui bahwa P value sebesar 0,417 yang berarti bahwa
pada signifikansi 5% disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara
persepsi tentang seksualitas, gender dan norma dengan perilaku
seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang Selatan.
4.3.7
Hubungan Antara Peran Keluarga dengan Perilaku
Seksual Pra Nikah
Peran keluarga di kelompokan kedalam dua kategori, yakni
Ada dan Tidak ada, Responden dikategorikan memiliki peran keluarga
yang baik apabila skor pertanyaan peran keluarga ≤ nilai mean skor
peran keluarga. Sebaliknya Responden dikategorikan tidak memiliki
peran keluarga, apabila skor pertanyaan peran keluarga > Nilai Mean
skor peran keluarga.
Tabel 4.17. Hubungan antara peran keluarga dengan perilaku seksual
pranikah
Peran Keluarga
Ada
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
49
12,6
34
5.9
P
Value
0,000
Tidak Ada
340
87,4
544
94,1
Total
389
100,0
587
100,0
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
memiliki peran keluarga dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 12,6% sedangkan responden yang tidak memiliki
51
peran keluarga dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko
sebesar 87,4%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P
value sebesar 0,000 yang berarti bahwa pada signifikansi 5%
disimpulkan bahwa ada hubungan antara peran keluarga dengan
perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
4.3.8
Hubungan Antara Lingkungan Sosial dengan Perilaku
Seksual Pra Nikah
Lingkungan sosial di kelompokkan kedalam dua kategori,
yakni baik dan buruk. responden dikategorikan memiliki lingkungan
sosial yang baik apabila skor pertanyaan lingkungan sosial < nilai
mean skor peran lingkungan. Sebaliknya responden dikategorikan
memiliki lingkungan sosial yang buruk ,apabila skor peran lingkungan
sosial ≤ nilai mean skor peran lingkungan.
Tabel 4.18. Hubungan antara lingkungan sosial dengan perilaku
seksual pra nikah
Lingkungan
Sosial
Baik
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
149
38,3
356
61.6
Buruk
240
61,7
222
38,4
Total
389
100,0
587
100,0
P
Value
0,000
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
lingkungan sosial baikk dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 38,3% sedangkan responden yang memiliki
lingkungan sosial buruk dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 61,7%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui
bahwa P value sebesar 0,000 yang berarti bahwa pada signifikansi 5%
disimpulkan bahwa ada hubungan antara lingkungan sosial dengan
52
perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
4.3.9
Hubungan Antara Pendidikan dengan Perilaku Seksual
Pra Nikah
Tabel 4.19. Hubungan antara pendidikan dengan perilaku seksual pra
nikah
SMP
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
261
75,8
444
85,7
MTS
37
11,0
53
10,3
Pondok
46
13,3
20
4,0
344
100,0
517
100,0
Pendidikan
P Value
0,000
Pesantren
Total
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
pendidikan SMP dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko
sebesar 75,8% sedangkan responden yang memiliki pendidikan
pondok pesantren dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko
sebesar 13,3%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P
value sebesar 0,000 yang berarti bahwa pada signifikansi 5%
disimpulkan bahwa ada hubungan antara pendidikan responden dengan
perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
53
4.3.10
Hubungan Antara Umur dengan Perilaku Seksual Pra
Nikah
Tabel 4.20. Hubungan antara umur dengan perilaku seksual pra nikah
≤ 16 tahun
Perilaku Seksual Pra nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
N
%
N
%
313
80.5
428
74.0
> 16 tahun
76
19.5
150
26.0
Total
389
100,0
578
100,0
Umur
P Value
0,026
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
berusia kurang dari 16 tahun dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 80,5% sedangkan responden yang berusia lebih dari
16 tahun dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar
19,5%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P value
sebesar 0,026 yang berarti bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan
bahwa ada hubungan antara umur dengan perilaku seksual pra nikah
pada siswa SMA di Kota Tangerang Selatan.
4.3.11
Hubungan Antara Uang Saku dengan Perilaku Seksual
Pra Nikah
Tabel 4.21. Hubungan antara uang saku dengan perilaku seksual pra
nikah
Uang Saku
Perilaku Seksual Pra Nikah
Berisiko
Tidak Berisiko
%
N
%
6,8
26
4,6
< Rp 10.000/hari
N
26
Rp 11.000 - Rp
288
75.0
355
62,3
> Rp 21.000
70
18.2
189
33,2
Total
384
100,0
570
100,0
20.000/hari
P Value
0,000
54
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden memiliki
uang saku kurang dari Rp 10.000 dan memiliki perilaku seksual pra
nikah berisiko sebesar 6,8% sedangkan responden yang memiliki uang
saku lebih besar dari Rp 21.000 dan memiliki perilaku seksual pra
nikah berisiko sebesar 18,2%. Berdasarkan hasil analisis statistik
diketahui bahwa P value sebesar 0,000 yang berarti bahwa pada
signifikansi 5% disimpulkan bahwa ada hubungan antara uang saku
dengan perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
4.4 Pembahasan
4.4.1 Gambaran perilaku seks pranikah
Responden
yang memiliki
pacar (82,1%),
aktivitas
berkencan dengan pacar sebanyak satu kali dalam seminggu
merupakan
presentasi
terbesar
sebanyak
(55,0%).
Responden
menganggap kategori hubungannya termasuk dalam kategori biasa saja
(hanya mengisi waktu luang, tidak ada target menikah) sebanyak
(75,6%).
Berkontak fisik ( pegangan tangan, memeluk atau mencium
pipi) sebesar (58,3%), mencium bibir (22,4%), memegang payudara
kekasih (8,4%), memegang alat kelamin kekasih dengan tangan
(5,8%), mengelus kelamin kekasih sehingga terangsang (5,6%),
kekasih memegang kelamin (6,2%), kekasih memegang kelamin
hingga terangsang (6,5%), pernah bersetubuh (2,8%), melakukan
bersetubuh 1 kali seminggu (29,2%), dan melakukan aborsi (0,4%),
pernah hamil setelah melakukan hubungan seksual (0,6%), Presentase
alasan terbanyak adalah mau sama mau sebanyak (30,3%), jumlah
pasangan yang melakukan hubungan suami isteri dengan kekasih
sebanyak(42,4%). Takut terinfeksi HIV atau penyakit menular seksual
lainnya (18,3%).
55
Hasil penelitian ini kontradiktif dengan penelitian yang
dilakukan oleh Ririn (2009) di Surakarta yang menyatakan bahwa
perilaku seksual terbanyak yang dilakukan oleh remaja SMA adalah
ciuman bibir (61,6%). Hal ini kontradiksi disebabkan oleh perbedaan
bentuk pertanyaan kuisioner masing-masing peneliti dan perbedaan
sosiokultural di masing – masing daerah. 37
Budaya memiliki peranan penting dalam membentuk suatu
pola berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti juga
membentuk kepribadian dan pola pikir masyarakat tertentu. 18
Peran budaya dalam masyarakat dapat dijadikan titik acuan
dalam membentuk kepribadian seseorang atau kelompok. Masyarakat
sering kali menerima langsung kebudayaan negatif yang menentang
norma-norma
sehingga
remaja
dengan
proses
perkembangan
pembentukan identitas yang masih dini dapat menerima begitu saja
budaya yang negatif.18
4.4.2 Hubungan Antara Jenis Kelamin Dan Perilaku Seksual Pra
Nikah
Berdasarkan penelitian diatas diketahui bahwa perempuan
memiliki proporsi terhadap perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar
58,4% sedangkan laki-laki memiliki proporsi sebesar 41,6% terhadap
perilaku seksual pra nikah berisiko. Berdasarkan hasil analisis statistik
diketahui bahwa P value sebesar 0,030 yang berarti pada signifikansi
5% disimpulkan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan
perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
Hal ini kontradiksi dengan penelitian yang dilakukan oleh
Christiana di daerah Yogyakarta yang menyatakan bahwa tingkat
56
perilaku seksual pranikah remaja laki-laki lebih tinggi dari pada
perempuan.23
Menurut teori, Peran gender pada beberapa penelitian
menyebutkan bahwa perubahan pubertas mendorong laki-laki dan
perempuan untuk menyesuaikan diri berperilaku masukilin dan
feminin. Harga diri cenderung menurun di masa remaja , terutama
pada remaja perempuan berumur 12 – 17 tahun. Pada umumnya lakilaki menunjukkan harga diri yang lebih tinggi dibandingkan
perempuan. Menurunnya harga diri remaja perempuan adalah karena
mereka memiliki citra tubuh yang lebih negatif selama mengalami
perubahan pubertas, dibandingkan remaja laki laki.6
Sebuah studi yang dilakukan oleh Hyde & DeLamater (2005)
menyatakan bahwa dibandingkan remaja laki-laki terdapat lebih
banyak remaja perempuan yang menyatakan jatuh cinta sebagai alasan
mereka aktif secara seksual di Amerika.6
4.4.3 Hubungan Antara Riwayat Hubungan Heteroseksual Dan
Perilaku Seksual Pra Nikah
Responden yang memiliki riwayat hubungan heteroseksual
yang memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 64,5%
sedangkan responden yang tidak memiliki riwayat hubungan
heteroseksual yang memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko
sebesar 35,5%. Analisis statistik diketahui bahwa P value sebesar
0,000 yang berarti bahwa ada hubungan antara riwayat hubungan
heteroseksual dengan perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di
Kota Tangerang Selatan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rony
setiawan & Siti Nurhidayah (2008) yang menyebutkan ada hubungan
positif antara pacaran dengan perilaku seksual pranikah.24
57
Menurut teori, pengalaman seksual yang menyenangkan
selama pacaran akan menyebabkan sepasang kekasih menganggap
bahwa perilaku seksual sebagai suatu hal yang menyenangkan untuk
dilakukan dengan pasangannya karena perilaku seksual mereka anggap
sebagai perilaku yang normal dilakukan oleh orang yang telah dewasa
dan kebanyakan remaja tidak ingin dianggap sebagai anak kecil.25
Akhirnya proses pacaran yang dilakukan remaja dipengaruhi oleh
faktor imitasi dan kematangan usia yang tidak dibarengi oleh
kematangan psikologisnya maka perilaku seksual pranikah akan
mudah terjadi.26
4.4.4 Hubungan Antara Media Informasi Mengakses Film Porno
Dan Perilaku Seksual Pra Nikah
Responden yang memiliki media handphone dan memiliki
perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 63,9% sedangkan
responden yang memiliki komputer dan memiliki perilaku seksual pra
nikah berisiko sebesar 36,1%. Berdasarkan hasil analisis statistik
diketahui bahwa P value sebesar 0,063 yang berarti bahwa pada
signifikansi 5% disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara media
informasi mengakses film porno dengan perilaku seksual pra nikah
pada siswa SMA di Kota Tangerang Selatan.
Data dari penelitian yang dilakukan oleh Ririn pada pelajar
SMA Surakarta tahun 2009 yang menyatakan bahwa 88,6% remaja
SMA disurakarta menonton video porno yang lebih banyak bersumber
dari Handphone dan internet (P value=0,022). 37
Hal ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang didilakukan
oleh Christiana yang dilakukan pada remaja usia 15-18 tahun di kota
yogyakarta yang menyebutkan bahwa makin tinggi eksposur media
pornografi makin tinggi pula perilaku seksual pranikah.23
Meningkatnya perilaku seksual membuat remaja selalu
berusaha untuk mendapatkan lebih banyak informasi mengenai seks.
58
Media elektronik dapat menjadi wadah untuk menarik perhatian dan
meningkatkan
kesadaran
berbagai
pihak
terhadap
berbagai
perkembangan situasi yang terjadi dewasa ini. Kecenderungan
pelanggaran terhadap perilaku seksual remaja makin meningkat oleh
karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan teknologi
canggih (video cassette, DVD, telepon genggam, internet, dan lain
lain) menjadi tak terbendung lagi, akan meniru apa yang dilihat atau
didengar dari media massa, khususnya karena mereka pada umumnya
belum pernah mengetahuai masalah seksual secara lengkap dari orang
tuanya.22Penelitian ini kontradiksi diakibatkan oleh karena responden
menjawab pertanyaan lebih dari satu jawaban yaitu smarthphone dan
komputer sehingga menyulitkan peneliti untuk mengolah data.
4.4.5 Hubungan Antara Pengetahuan Kesehatan Reproduksi
dengan Perilaku Seksual Pra Nikah
pengetahuan responden yang rendah dan memiliki perilaku
seksual pranikah berisiko sebesar 48,6% sedangkan responden yang
pengetahuan tinggi dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko
sebesar 51,4%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P
value sebesar 0,247 yang berarti bahwa pada signifikansi 5%
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual pra nikah pada siswa
SMA di Kota Tangerang Selatan.
Faktor pengetahuan tidak berhubungan dengan perilaku seks
pra nikah pada remaja SMA se derajat di Kota Tangerang Selatan
tahun 2015. Berbeda halnya dengan penelitian Yuli, Tri, dkk (2010)
yang menyakatakan ada hubungan antara pengetahuan dan perilaku
seks pranikah. Secara teori, pengetahuan dan perilaku seksual
memikiki hubungan yang positif, semakin baik pengetahuan remaja
maka semakin rendah perilaku seks pranikah dan sebaliknya.27
59
Apabila terdapat kontradiksi terhadap suatu faktor maka ada
faktor lain yang lebih besar pengaruhnya yang mengendalikan faktor,
karena perilaku dipengaruhi oleh banyak hal.28 Pada penelitian ini
terjadi kontradiksi mungkin disebabkan oleh belum mendapat
informasi pelajaran dari sekolah dikarenakan pada saat penelitian
responden belum melewati pelajaran reproduksi. Disamping itu
responden yang memiliki perilaku seks pra nikah bisa jadi sangat
paham akan pengetahuan reproduksi, karena informasi yang didapat
bukan hanya sekedar pengetahuan tapi juga pengalaman.
4.4.6 Hubungan Antara Pemahaman Agama Dengan Perilaku
Seksual Pra Nikah
Responden yang memiliki pemahaman agama rendah dan
memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 58,6% sedangkan
responden yang memiliki pemahaman agama tinggi dan memiliki
perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 41,4%. Berdasarkan hasil
analisis statistik diketahui bahwa P value sebesar 0,892 yang berarti
bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan bahwa tidak ada hubungan
antara pemahaman agama dengan perilaku seksual pra nikah pada
siswa SMA di Kota Tangerang Selatan.
Penelitian ini kontradiksi dengan penelitian yang dilakukan
oleh Ririn (2009) yang menyebutkan adanya pengaruh agama terhadap
perilaku seks pranikah.37
Secara teori pemahaman agama yang baik akan menumbuhkan
perilaku yang baik. Seseorang yang memilki keimanan yang kuat akan
senantiasa merasakn bahwa Tuhan mengawasi setiap apa yang
dilakukan baik yang sembunyi-sembunyi maupun yang terangterangan.29
Menurut Hurlock banyak remaja yang menyelidiki agama
sebagai suatu sumber
dari rangsangan emosional dan intelektual.
Mereka tidak mau menerima agama begitu saja, melainkan mereka
60
ingin menerima agama sebagai suatu yang bermakna berdasarkan
keinginan mereka untuk mandiri dan bebas menentukan keputusan
sendiri dimana terdapat perubahan minat religius dan salah satunya
adalah keraguan meyakini nilai religius sehingga membuat mereka
kurang taat, selanjutnya remaja tersebut mencari kepercayaan lain
yang dapat lebih memenuhi kebutuhan.25
Banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku
manusia dan salah satunya faktor personal. Agama bagian dari sistem
nilai yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku
sosial, sehingga dapat terwujud dalam perbuatan nyata, meskipun tidak
selamanya tingkat religius mempengaruhi perilaku sosial seseorang. 25
4.4.7 Hubungan Antara Persepsi tentang Norma dan Gender Dan
Perilaku Seksual Pra Nikah
Bahwa responden yang memiliki persepsi negatif tentang
seksual, norma dan gender dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 58,4% sedangkan responden yang memiliki persepsi
positif tapi memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar
45,2%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P value
sebesar 0,417 yang berarti bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan
bahwa tidak ada hubungan antara persepsi tentang seksualitas, gender
dan norma dengan perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota
Tangerang Selatan.
Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang
dilakukan oleh
Desinta tahun 2014 yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan
antara pemahan norma dalam masyarakat dengan perilaku seks pra
nikah (P value=0,439). Didukung dengan penelitian Ilvia Rahma
(2010) Yang menyatakan Bahwa tidak ada hubungan antara persepsi
norma sosial dengan perilaku seks pra nikah. Semakin tinggi atau
61
tidaknya pemahaman pada norma sosila dalam masyarakat tidak
berpengaruh terhadap perilaku seksual.30
Sarwono (2012) mengatakan, walaupun pada zaman sekarang
ini marak terjadi perilaku seks bebas tetapi sebenarnya dalam
masyarakat Indonesia masih menjungjung tinggi nilai tradisional. Nilai
tradisional dalam perilaku seksual yang paling utama adalah tidak
melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Nilai ini tercermin
dalam bentuk keinginan mempertahankan kegadisan seseorang
sebelum menikah. Akan tetapi saat ini nilai moral dan norma sosial
dalam masyarakat cenderung menurun. Banyak sekali remaja yang
melakukan aktivitas seksual di depan umum, mereka terkesan acuh dan
tidak memperdulikan norma sosial yang ada dalam masyarakat.18
4.4.8 Hubungan Antara Peran Keluarga dengan Perilaku Seksual
Pra Nikah
Responden yang memiliki peran keluarga dan memiliki
perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 12,6% sedangkan
responden yang tidak memiliki peran keluarga dan memiliki perilaku
seksual pra nikah berisiko sebesar 87,4%. Berdasarkan hasil analisis
statistik diketahui bahwa P value sebesar 0,000 yang berarti bahwa
pada signifikansi 5% disimpulkan bahwa ada hubungan antara peran
keluarga dengan perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota
Tangerang Selatan.
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Ika,dkk, (2013) yang menunjukkan tidak ada hubungan antara peran
orang tua dengan perilaku seks pranikah (P value=0,720).31
Menurut Santrock (2007) Lingkungan keluarga dan sosial
memberikan dorongan dan suasana untuk menggiring perilaku seksual.
Pada lingkungan keluarga hubungan yang tidak harmonis dalam
keluarga atau kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak akan
menimbulkan masalah-masalah pada remaja.6 Sebaliknya, apabila
62
relasi dengan orangtua terjalin baik maka akan berkolerasi dengan
kecenderungan menunda keterlibatan dalam hubungan seksual,
kurangnya frekuensi melakukan hubungan seksual, dan lebih
sedikitnya
partner.6
Pada
remaja
umumnya
sangat
kurang
mendapatkan pengetahuan seks dari orangtuanya dan antara orang tua
dan anak sangat jarang membicarakan masalah seputar seks.
Kedekatan atau keterjalinan, pengawasan atau pengaturan
terhadap aktivitas remaja oleh orangtuanya, serta nilai-nilai yang
ditanamkan orang tua untuk menentang hubungan seksual di masa
remaja akan mengurangi risiko kehamilan di masa remaja.6
Hubungan yang sangat jauh atau saling mengindari di dalam
keluarga sangat erat kaitannya dengan hubungan seksual dini. Selain
itu memiliki kakak atau saudara yang aktif seksual atau saudara
perempuan yang hamil/menjadi orang tua dapat meningkatkan risiko
remaja untuk hamil..6
4.4.9 Hubungan Antara Lingkungan Sosial dengan Perilaku
Seksual Pra Nikah
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang
lingkungan sosial baik dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 38,3% sedangkan responden yang memiliki
lingkungan sosial buruk dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 61,7%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui
bahwa P value sebesar 0,000 yang berarti bahwa pada signifikansi 5%
disimpulkan bahwa ada hubungan antara lingkungan sosial dengan
perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuli, dkk
(2010) tentang pengaruh kelompok teman sebaya, yang menyatakan
63
ada
hubungan
antara
perilaku
seksual
dan
teman
sebaya
(Pvalue=0,045).32 Penelitian Christiana pada remaja usia 15-18 di kota
Yogyakarta menyebutkan bahwa tekanan teman sebaya berpengaruh
langsung terhadap perilaku seksual pranikah, makin tinggi tekanan
untuk berperilaku negatif dari teman sebayanya untuk melakukan
perilaku seksual pranikah.23
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukkan oleh
Ika,dkk (2013) yang menyebutkan tidak ada hubungan antara
lingkungan tempat tinggal dengan perilaku seks pra nikah dengan nilai
(P=0,398).31
Menurut teori perilaku sosial seseorang dipengaruhi dari
lingkungan keluarga dan sekitarnya. Seseorang akan berperilaku
dengan baik dan positif apabila lingkungannya memberikan pengaruh
positif pula.34 Menurut teori lingkungan fisiko-bio-psiko-sosial
merupakan lingkungan yang sangat mempengaruhi tumbuh kembang
seorang anak dalam menuju kedewasaan dengan kualitas hidup yang
baik. Dengan terjaminnya pemenuhan kebutuhan fisiko-bio-psikososial yang merupakan kebutuhan dasar tumbuh kembang yang
adekuat maka diharapkan tumbuh kembang anak dapat berjalan secara
optimal dan mencapai potensi bawaannya menuju dewasa.12
4.4.10 Hubungan Antara Pendidikan dengan Perilaku Seksual Pra
Nikah
Dari hasil Penelitian diatas dapat diketahui bahwa responden
yang pendidikan SMP dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 75,8% sedangkan responden yang memiliki
pendidikan pondok pesantren dan memiliki perilaku seksual pra nikah
berisiko sebesar 13,3%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui
bahwa P value sebesar 0,000 yang berarti bahwa pada signifikansi 5%
disimpulkan bahwa ada hubungan antara pendidikan responden dengan
64
perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang
Selatan.
Hal ini dibuktikan oleh penelitian Minah, dkk pada tahun 2014
dimana terdapat hubungan tingkat pemahaman agama dengan perilaku
seksual pranikah, ada hubungan positif antara kecerdasan spiritual
dengan
kemampuan
pemecahan
masalah
pada
remaja
(Pvalue=0,002).33
Menurut teori perilaku sosial seseorang dipengaruhi dari
lingkungan keluarga dan sekitarnya. Seseorang akan berperilaku
dengan baik dan positif apabila lingkungannya memberikan pengaruh
positif pula dan apabila masyarakat di sekelilingnya religius dalam
agama akan memberikan pengaruh pula pada perilaku
sosial
seseorang. Agama sendiri memiliki tiga peran penting dalam agama
itu sendiri, yaitu fungsi agama dalam masyarakat yakni kebudayaan,
sistem sosial dan kepribadian.34
4.4.11 Hubungan Antara Umur dengan Perilaku Seksual Pra Nikah
Responden yang berusia lebih dari 16 tahun dan memiliki
perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 80,5%. Berdasarkan hasil
analisis statistik diketahui bahwa P value sebesar 0,026 yang berarti
bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan bahwa ada hubungan antara
umur dengan perilaku seksual pra nikah pada siswa SMA di Kota
Tangerang Selatan.
Berdasarkan data penelitian The 2012 Indonesia Demographic
and Health Survey (IDHS) menunjukkan sebanyak 8,3 % remaja lakilaki dan sebanyak 0,9% remaja perempuan usia 15-19 tahun yang
belum pernah menikah pernah melakukan seks. Presentase terbanyak
saat pertama kali melakukan seks pada umur 17 tahun dan 16 tahun. 5
65
Menurut Teori pubertas adalah masa ketika seseorang
mengalami perubahan fisk, psikis dan pematangan fungsi seksual.
Perubahan – perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual
(libido seksualitas).18
4.4.12 Hubungan Antara Uang Saku dengan Perilaku Seksual Pra
Nikah
Diketahui bahwa responden memiliki uang saku kurang dari Rp
10.000 dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar 6,8%
sedangkan responden yang memiliki uang saku lebih besar dari Rp
21.000 dan memiliki perilaku seksual pra nikah berisiko sebesar
18,2%. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa P value
sebesar 0,000 yang berarti bahwa pada signifikansi 5% disimpulkan
bahwa ada hubungan antara uang saku dengan perilaku seksual pra
nikah pada siswa SMA di Kota Tangerang Selatan.
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ika
(2013) yang menyebutkan tidak ada hubungan antara status ekonomi (
uang saku) dengan perilaku seks pranikah dengan nilai (p=0,976).31
Serta penelitian yang dilakukan oleh Anjarwati (2009) yang
menyebutkan bahwa prevalensi remaja dengan status sosial ekonomi
yang rendah memiliki perilaku seksual pra nikah yang lebih tinggi
dibandingkan dengan remaja dengan status sosial ekonomi yang tinggi.
35
Hal ini dikarenakan dengan meningkatnya status ekonomi
maka akan meningkatkan pula daya beli remaja, dan semakin membuat
peluang bagi remaja untuk melakukan keingininanya. Remaja dengan
sosial Ekonomi tinggi cenderung melakukan kenakalan seperti
berjudi,merokok, menonton film porno, membaca buku porno, kebutkebutan, minum-minuman beralkohol, melakukan hubungan seksual
dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
66
4.5. Keterbatasan Penelitian
1. Kuisioner berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bagi
sebagian siswa dianggap tabu sehingga kemungkinan besar malu
untuk menjawabnya.
2. Penelitian ini dilakukan hanya dengan kuisioner sehingga kurang
kuat untuk menyatakan perilaku.
67
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1.
Responden yang melakukan berkontak fisik ( pegangan
tangan, memeluk atau mencium pipi) sebesar (58,3%),
mencium bibir (22,4%), memegang payudara kekasih (8,4%),
memegang alat kelamin kekasih dengan tangan (5,8%),
mengelus kelamin kekasih sehingga terangsang (5,6%), kekasih
memegang kelamin (6,2%), kekasih memegang kelamin hingga
terangsang (6,5%), pernah bersetubuh (2,8%), melakukan
bersetubuh 1 kali seminggu (1,0%), dan melakukan aborsi
(0,4%), pernah hamil setelah melakukan hubungan seksual
(0,6%), takut terinfeksi HIV atau penyakit menular seksual
lainnya (18,3%).
2.
Ada pengaruh secara signifikan antara jenis kelamin, riwayat
pacaran dengan lawan jenis, peran keluarga, lingkungan sosial,
latar pendidikan, usia dan uang saku terhadap perilaku seks
pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di Kota tangerang
selatan.
3.
Tidak ada pengaruh secara signifikan antara Pengetahuan
Kesehatan Reproduksi, Pemahaman Agama, Persepsi Norma
dan Gender, dan media informasi akses film porno terhadap
perilaku seks pranikah pada siswa/siswi SMA sederajat di Kota
tangerang selatan.
68
5.2. Saran
1. Bagi siswa/siswi (remaja)
Siswa perempuan maupun laki-laki dapat lebih berhati-hati lagi
dalam menjaga pergaulan agar tidak terjerumus kedalam perilaku
seksual pranikah, siswa diharapkan mampu menjalin komunikasi yang
baik dengan orang tua, memiliki latar pendidikan yang baik,
menghindari akses film porno, mampu beradaptasi dalam lingkungan
sosial dengan hati-hati, memanfaatkan uang saku dengan baik dan
benar dan menghindari hubungan seksual sedini mungkin.
2. Bagi Sekolah
Sekolah mampu memberikan edukasi, mendidik moral dan
menghadirkan lingkungan sosial yang baik, serta mengadakan banyak
kegiatan positif yang bermanfaat bagi para murid. Penelitian ini juga
dapat menjadi pertimbangan untuk memasukan kurikulum kesehatan
reproduksi.
3. Bagi orang tua
Orang tua dapat menjalin hubungan yang baik dan harmonis
dengan anaknya, serta mengawasi proses sosial anak.
4. Bagi peneliti lain
Diharapkan mampu meneliti faktor lain yang mempengaruhi
perilaku seks pranikah dan mengembangkan penelitian yang sudah
ada.
69
DAFTAR PUSTAKA
1. Statistic Indonesia(Badan Pusat Statistisk-BPS); (BKKBN), National
Population and Family Planning Broad; Kementrian Kesehatan, (KemenkesMOH); ICF International. Indonesia Demographic and Health Survey 2012:
Adolescent Reproductive Health. Jakarta: Indonesia:BPS,BKKBN,Kemenkes
and ICF International; 2013.
2. (BKKBN) NPaFPB. Adolescent and Youth; Status,Challenges
Programmes. Jakarta: BKKBN, indonesia country report; 2012.
and
3. RI DK. Program kesehatan reproduksi dan pelayanan integratif. Jakarta:
Departemen Kesehtan RI, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat,Direktorat Bina Kesehatan Ibu; 2008.
4. Kemenkes. Statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia dilaporkan sampai juni
2013. Jakarta:, Ditjen PP & PL 2013; 2013.
5. Santrock JW. Remaja. 11th ed. Wibi Hardani MM, editor. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2007.
6. Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku Jakarta: Rineka Cipta;
2007.
7. Survei indikator kinerja rencana pembangunan jangka menengah nasional
(RPJM) Program Kependudukan dan Kb Nasional Tahun 2010. Jakarta:
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Keluarga Berencana; 2010.
8. Badan penelitian dan pengembangan. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS
2013). Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2013.
9. Wahyuni, Dwi; , Rahmadewi. Kajian profil penduduk remaja (10-24 thn).
Jakarta: BKKBN, Puslitbang Kependudukan-BKKBN; 2011.
10. Utomo, Dr.Iwu Dwisetyani; Utomo, Dr. Ariane. Adolescent pregnancy in
indonesia:A literature review. literature review. The Australian National
70
University, Australian Demographic and Social Research Institute; 2013.
11. Psychiatry, The academy of child and adolescent. 2010 Sinauer
Associates,Inc. [Online].; 2008 [cited 2010 april 3. Available from:
http://sites.sinauer.com/cobb/chapter01.html.
12. IDAI. Tumbuh kembang anak dan remaja. 1st ed. Jakarta: Sagung seto; 2005.
13. Gunarsa. Psikologi praktis; anak, remaja dan keluarga .Jakarta: Gunung mulia;
1995.
14. Hartley F. Romantic mood induction and attraction to dissimiliar other: Love
is blind. Personality and Social Psychology Buletin. 2004.
15. Maulana. Promosi kesehatan .Yudha , editor. Jakarta: EGC; 2009.
16. Nelson WE. Nelson textbook of pediatrics. 19th ed. Robert M. BF,JWRE,
editor: Elsevier.
17. Santrock. Adolescence .Jakarta: Erlangga; 2003.
18. Sarwono SW. Psikologi remaja .Jakarta: Grafindo persada; 2012.
19. Setiawan E. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online].; 2014 [cited
2015 August 8. Available from: http://kbbi.web.id/pustaka.
20. Sarwono SW. Psikologi remaja .Jakarta: Grafindo persada; 2007.
21. Sarwono sw. Psikologi Sosial: psikologi kelompok dan psikologi terapan.
Jakarta: Balai Pustaka; 2005.
22. Sarwono SW. Psikologi remaja .Jakarta: PT. Grafindo Persada; 2011.
23. Christiana HS. Disertasi Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pranikah
pada remaja. Yogyakarta: UGM; 2008.
24. Rony SSN. Pengaruh pacaran terhadap perilaku seks pranikah. Jurnal Portal
Garuda. 2008 September; 1 No. 2.
25. Hurlock EB. Psikologi perkembangan.Jakarta: Erlangga; 1999.
26. Imran I. Modul dua: Perkembangan seksuallitas remaja: Perkumpulan
Keluarga Berencana Indonesia; 2000.
71
27. Yuli Trisnawati d. Perilaku seksual remaja SMA di Purwokerto dan faktorfaktor yag mempenngaruhinya. Jurnal Ilmiah Kebidanan. 2010 Desember; 1
No. 1.
28. Suryoputro A. Faktor -faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di
Jawa Tengah: implikasinya terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual
dan reproduksi. MAKARA UI; 2006.
29. Yahya. AA. Bahaya seks bebas pada remaja: suatu tinjauan aspek medis dan
islam. [Online].; 2006 [cited 2015 Juli 26. Available from:
http://www.dokumen.org/ppt/5917.
30. Rahma I. Faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di
Jawa Tengah:implikasinya terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual
dan reproduksi. 2010 Juni; 1.
31. Ika Ayu Lestari d. Faktor - faktor yang berhubungan dengan perilaku seks
pranikah pada mahasiswa UNNES tahun 2013. UNNEs Journal of Public
Health. 2013.
32. Yuli Trisnawati d. Perilaku seksual remaja SMA di Purwokerto dan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Bidan Prada: Jurnal Ilmiah Kebidanan. 2010
Desember; 1 No. 1.
33. Minah d. Faktor- faktor yang berhubungan dengan perilaku seks pranikah
pada remaja di desa susukan kecamatan sumbang. Bidan Prada: Jurnal Ilmiah
Kebidanan. 2014 Juni; 5 No. 1.
34. Nata A. Metodologi studi islam. Jakarta: Jakarta Rajawali Pers; 2001.
35. Anjarwati. Hubungan status sosial ekonomi dengan perilaku seksual remaja
pada siswa SMA negeri di kabupaten gunung kidul. Yogyakarta: Universitas
Gajah Mada; 2009.
36. Barus CP. Sosial ekonomi keluarga dan hubungnya dengan kenakalan remaja
di desa lantasan baru kecamatan patumblak kabupaten deli serdang. Medan:
Universitas Sumatera Utara; 2012.
37. Darmasih R. Faktor yang mempengaruhi perilaku seks pranikah pada remaja
SMA di surakarta. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2009.
38. Crain W. Teori perkembangan, konsep dan aplikasi.Jakarta: Pustaka Pelajar;
2007.
72
39. Jahja Y. Psikologi perkembangan.Jakarta: Kencana Media Group; 2011.
40. L Z. Psikologi perkembangan.Bandung: Remaja Karya CV; 2008.
LAMPIRAN 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Reni Dwi Parihat
Tempat, tanggal lahir : Bekasi, 15 Januari 1994
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama: Islam
Alamat : Kp. Kaum Lebak 004/002 Ds. Simpangan Kec. Cikarang Utara Kab.
Bekasi
Telepon : 081297598949
e-mail : [email protected]/[email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. Taman Kanak- Kanak (TK) Al- Barkah, lulus tahun 2000
2. Sekolah Dasar (SD) Negeri 01 Simpangan, lulus tahun 2006
3. Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Cikarang Utara, lulus tahun 2009
73
4. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Cipasung, lulus tahun 2012
5. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ( FKIK) jurusan Pendidikan dokter,
2012 hingga saat ini.
Download