01 coverx - Perpustakaan UNISBA

advertisement
PERINGATAN !!!
Bismillaahirrahmaanirraahiim
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
1. Skripsi digital ini hanya digunakan sebagai bahan
referensi
2. Cantumkanlah sumber referensi secara lengkap bila
Anda mengutip dari Dokumen ini
3. Plagiarisme dalam bentuk apapun merupakan
pelanggaran keras terhadap etika moral penyusunan
karya ilmiah
4. Patuhilah etika penulisan karya ilmiah
Selamat membaca !!!
Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
UPT PERPUSTAKAAN UNISBA
GAYA KOMUNIKASI PEMIMPIN DALAM MEMBERIKAN
MOTIVASI DI PT. NUGRAHA TEKSTIL
Studi Deskriptif mengenai Gaya Komunikasi Pemimpin dalam Pemberian
Motivasi Kepada Karyawan di PT. Nugraha Tekstil
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Ilmu Komunikasi
Oleh :
Lingga Bhakti Nugraha
10080009191
Bidang Kajian Public Relations
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2014
LEMBAR PENGESAHAN
Judul
: Gaya Komunikasi Pemimpin dalam Memberikan Motivasi di
PT. Nugrah Tekstil
Sub Judul
: Studi
Deskriptif
Gaya
Komunikasi
Pemimpin
dalam
Pemberian Motivasi Kepada Karyawan di PT. Nugraha
Tekstil.
Nama
: Lingga Bhakti Nugraha
NPM
: 10080009191
Bidang Kajian
: Public Relations
Tanggal Lulus
: 29 Januari 2014
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Dr. Hj. Ani Yuningsih, Dra., M.Si
Mengetahui,
Ketua Bidang Kajian Public Relations
Dr. Hj. Ani Yuningsih, Dra., M.Si.
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2014
MOTTO
∩⊂∪ ãΠtø.F{$# y7š/u‘uρ ù&tø%$# ∩⊄∪ @,n=tã ôÏΒ z≈|¡ΣM}$# t,n=y{ ∩⊇∪ t,n=y{ “Ï%©!$# y7În/u‘ ÉΟó™$$Î/ ù&tø%$#
∩∈∪ ÷Λs>÷ètƒ óΟs9 $tΒ z≈|¡ΣM}$# zΟ‾=tæ ∩⊆∪ ÉΟn=s)ø9$$Î/ zΟ‾=tæ “Ï%©!$#
Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
(Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca). Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Q.S. Al-‘Alaq : 1-5)
ABSTRAK
Gaya komunikasi pemimpin meliputi proses mempengaruhi dalam
menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai
tujuan, mempengaruhi untuk memperbaki kelompok dan budayanya. Gaya
komunikasi pemimpin mempunyai kaitan erat dengan motivasi. PT. Nugraha
Tekstil adalah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil, di mana perusahaan ini
didirikan oleh H. Dindin SK pada tahun 1985. Sebelum pabrik ini dinamakan PT.
Nugraha, perusahaan ini berawal dari industri rumahan yang dijalankan oleh
keluarga, yang kemudian beralih kepada H. Dindin SK, beliau sekarang
memimpin perusahaan PT. Nugraha Tekstil.
Dalam meneliti gaya komunikasi pemimpin dalam memberikan motivasi
di PT. Nugraha Tesktil, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif
dengan pendekatan deskrpitif. Analisis deskriptif dalam bentuk tabel tunggal,
dengan data frekuensi (f) dan presentase (%). Selain itu, agar mendapatkan hasil
yang valid peneliti menggunakan angket, wawancara, dokumentasi, dan observasi
dalam pengumpulan data.
Di dalam penelitian ini populasi karyawan yang bekerja di PT. Nugraha
tekstil berjumlah 113 karyawan, peneliti akan mengambil sampel karyawan untuk
dimintai keterangan mengenai gaya komunikasi yang dilakukan direktur utama
PT. Nugraha dalam pemberian motivasi. Untuk itu peneliti mengambil sampel
sebanyak 113 orang karyawan secara non probability atau ditentukan sendiri oleh
peneliti. Untuk mengetahui seberapa tahu karyawan yang bekerja tentang gaya
komunikasi pemimpin yang ada di PT. Nugraha Tekstil.
Hasil penelitian bahwa Gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin
dalam memberikan motivasi dengan gaya kesamaan (the equalitarian style) PT.
Nugraha Tekstil mayoritas ditanggapi sangat baik oleh karyawan sebesar 52%.
Selain itu, dalam hal ini dapat dilihat bahwa buruh yang bekerja di PT. Nugraha
merasa termotivasi di dalam bekerja, karena buruh merasa cocok dengan gaya
komunikasi yang diterapkan oleh direktur PT. Nugraha, hal itu bisa dilihat dari
buruh merasa seluruh aspirasinya didengarkan. Buruh merasa nyaman, dan
semangat dalam mencapai target produksi.
Pemberian motivasi dengan gaya kesamaan (equalitarian style) di PT.
Nugraha mengakibatkan buruh lebih serius dalam mencapai target, karena sistem
kekeluargaan yang dterapkan oleh direktur berdampak positif bagi buruh untuk
bersungguh-sungguh dalam bekerja.
i
KATA PENGANTAR
Bismilaahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Syukur Alhamdulilah, peneliti panjatkan kepada penguasa alam jagad raya
dan pemilik seluruh kehidupan yaitu Maha Besar Allah SWT karena rahmat dan
karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gaya
Komunikasi Pemimpin dalam Pemberian Motivasi di PT. Nugraha Tekstil ”.
Tak lupa juga peneliti untuk mengucapkan shlawat dan salam kepada baginda
besar, revolusioner seluruh umat manusia, Nabi serta Rasul kita Nabi Muhammad
SAW.
Skripsi ini disusun selain untuk memenuhi syarat kelengkapan
menyelesaikan pendidikan sarjana, juga didorong oleh ketertarikan penulis dalam
melakukan penelitian mengenai gaya komunikasi yang ada di PT. Nugraha
Tekstil.
Peneliti sepenuhnya menyadari bahwa penelitian yang dilakukan masih
sangat jauh dari kata sempurna. Masih sangat banyak kekurangan mengenai
skripsi ini, untuk itu dengan segala kerendahan hati peneliti meminta kritik beserta
saran kepada pembaca skripsi ini. Agar di kemudian hari peneliti bisa
menghasilkan suatu peneliti yang jauh lebih baik.
Dalam perjalanan skripsi ini tidak akan mungkin rampung tanpa adanya
doa, semangat, motivasi dari berbagai pihak yang membantu baik itu secara
materi maupun moral. Maka dalam kesempatan kali ini dengan kesungguhan hati
ii
dan kerendahan diri peneliti ingin memberikan apresiasi masif dan sebesarbesarnya kepada :
1.
Bapak Dr. H. O. Hasbiansyah, Drs., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu
Komunikasi Unisba. “Terima kasih atas segala pengalaman dan
ilmunya.”
2.
Ibu Santi Indra Astuti, S.Sos., M.Si., selaku Wakil Dekan 1 Fakultas
Ilmu Komunikasi Unisba. “Terima kasih atas segala pengalaman,
ilmu, serta arahannya selama ini.”
3.
Ibu Dr. Hj. Rini Rinawati, Dra., M.Si., selaku Wakil Dekan 2 Fakultas
Ilmu Komunikasi Unisba. “Terima kasih atas segala pengalaman,
ilmu, serta arahannya selama ini.”
4.
Ibu Dr. Hj. Ani Yuningsih, Dra., M.Si., selaku Ketua Bidang Kajian
Public Relations
dan
pembimbing
yang telah
membimbing,
mengarahkan dan memotivasi saya untuk menyelesaikan skripsi ini.
5.
Bapak Maman Suherman, Drs, M.Si., Selaku pembimbing awal
skripsi “Terimakasih atas waktunya yang selalu ada untuk saya
bimbingan, kesabaran, pengarahan, serta pengetahuan yang telah
bapak berikan untuk saya dan motivasi yang selalu bapak berikan
kepada saya.
6.
Ibu Indri Rachmawati, S.Sos., selaku dosen wali. “Terima kasih telah
memberikan bimbingan, pengarahan, semangat dan motivasi kepada
saya untuk mendapatkan terbaik di dalam setiap perkuliahan selama
ini.”
iii
7.
Segenap dosen dan staff akademik Fikom Unisba yang secara tidak
langsung telah membimbing dan membantu peneliti dalam setiap
perkuliahan.
8.
Kedua orang tua tercinta. Ibu, Papah tersayang. “Terima kasih atas
doa, senyum, semangat, tangis, serta keringat ibu dan ayah yang selalu
ingin memberikan yang terbaik kepada anaknya, yang selalu
memberikan semangat kepada saya untuk tetap berusaha dalam
menyelesaikan penelitian ini dan tak henti-hentinya mendoakan yang
terbaik untuk anaknya.
9.
Teteh dan Ade Yossie Sri Andiani dan Galih Swarghani“ Terimakasih
atas doa, senyum, semangat dan motivasi yang selalu diberikan
kepada saya.”
10. Sahabat Tercinta saya Abay L, Irman LPS, Abay , Tommy, Rakai,
Japet, Egi Boma, Indro dan semuanya teman-teman saya yang sudah
memberikan doa dan support nya, serta masukannya kalian kepada
saya dan Terimakasih karena kalian selalu ada di saat senang, sedih,
maupun susah”
11. Keluarga besar Segitiga Unisba, Aryuda, Rico, Angga, Sena, Kurnia,
Gia, Raka, Unang, dll. “Terimakasih untuk kebersamaan suka dan
duka selama kita pertama kali menginjakkan kaki di kampus UNISBA
sampai saat ini”
12. Terima kasih kepada orang-orang yang tidak dapat ditulis satu persatu.
iv
Harapan peneliti semoga penelitian ini dapat berguna bagi semua orang
yang membacanya. Terima kasih atas semuanya. Semoga Allah SWT membalas
segala kebaikan kalian berkali-kali lipat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Bandung, Januari 2014
Lingga Bhakti Nugraha
v
DAFTAR ISI
Uraian
Halaman
ABSTRAK ......................................................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................
BAB I
BAB II
i
ii
vi
viii
ix
x
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ......................................................
1.2 Rumusan Masalah ................................................................
1.3 Identifikasi Masalah .............................................................
1.4 Tujuan Penelitian .................................................................
1.5 Kegunaan penelitian ............................................................
1.5.1 Kegunaan Teoritis ....................................................
1.5.2 Kegunaan Praktis .....................................................
1.6 Pembatasan Masalah dan Pengertian Istilah ........................
1.6.1 Pembatasan Masalah ................................................
1.6.2 Pengertian Istilah .....................................................
1.7 Kerangka Pemikiran ............................................................
1.8 Operasional Variabel ...........................................................
1.9 Metode Penelitian ................................................................
1.9.1 Populasi Sampel .......................................................
1.9.1.1 Populasi......................................................
1.9.1.2 Sampel .......................................................
1.9.2 Teknik Pengumpulan Data . .........................................
1
10
10
11
11
11
12
12
12
13
14
18
20
21
21
21
22
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................
2.2 Komunikasi Organisasi ........................................................
2.2.1 Definisi Komunikasi Organisasi ..............................
2.2.2 Pendekatan Komunikasi Organisasi ........................
2.2.2.1 Pendekatan Makro .......................................
2.2.2.2 Pendekatan Mikro ........................................
2.2.2.3 Pendekatan Individual ..................................
2.2.3 Iklim Komunikasi Organisasi ..................................
2.2.4 Arah Aliran Komunikasi ..........................................
2.2.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Keatas .........................
2.3 Fungsi Komunikasi ..............................................................
2.4 Konseptualisasi Gaya Komunikasi (Pimpinan) ...................
2.4.1 Pengertian Gaya Komunikasi (Pimpinan) ...............
2.4.2 Arti Penting Gaya Komunikasi (Pimpinan) .............
25
28
29
30
30
32
33
35
36
39
40
41
41
43
vi
Uraian
Halaman
2.4.2 Gaya komunikasi (pimpinan) Motivasi dan
Komunikasi Organisasi ............................................
Definisi Pemimpin ...............................................................
2.5.1 Fungsi Pemimpin .....................................................
2.5.2 Tipe Pemimpin .........................................................
Motivasi ...............................................................................
2.6.1 Teori Tentang Motivasi (A.H Maslow.....................
2.6.2 Peranan Motivasi .....................................................
44
47
48
51
52
54
56
METODELOGI DAN OBJEK PENELITIAN
3.1 Jenis Dan Pendekatan Penelitian .........................................
3.2 Teknik Pengumpulan Data ..................................................
3.3 Objek Penelitian ..................................................................
3.4 Gambaran Umum PT. Nugraha Tekstil ...............................
3.5 Subjek Penelitian .................................................................
3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian ...............................................
3.7 Teknik Analisis Data ...........................................................
3.7.1 Teknik Analisis Data Deskriptif ..............................
3.8 Komunikasi Pemimpin dan Karyawan ................................
3.9 Tugas Pemimpin ..................................................................
3.10 Gaya Komunikasi Pemimpin ...............................................
58
59
62
62
67
68
69
69
69
70
71
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Responden ......................................................
4.2 Analisis Data Penelitian .......................................................
4.2.1 Indikator Gaya Komunikasi Mengendalikan ...........
4.2.2 Indikator Gaya Komunikasi Kesaman .....................
4.2.3 Indikator Gaya Komunikasi Terstruktur ..................
4.2.4 Indikator Gaya Komunikasi Dinamis ......................
4.2.5 Indikator Gaya Komunikasi Mengikuti ...................
4.2.6 Indikator Gaya Komunikasi Memelas .....................
4.3 Pembahasan ............................................................................
73
76
79
86
92
98
104
108
112
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ..........................................................................
5.2 Saran ....................................................................................
118
119
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
LAMPIRAN ....................................................................................................
121
123
2.5
2.6
BAB III
BAB IV
BAB V
vii
DAFTAR TABEL
Tabel
Tabel 2.1
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 4.4
Tabel 4.5
Tabel 4.6
Tabel 4.7
Tabel 4.8
Tabel 4.9
Tabel 4.10
Tabel 4.11
Tabel 4.12
Tabel 4.13
Tabel 4.14
Tabel 4.15
Tabel 4.16
Tabel 4.17
Tabel 4.18
Halaman
Perbedaan Penelitian ...............................................................
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden .......................
Distribusi Frekuensi Usia Responden ......................................
Distribusi Frekuensi Lama Bekerja ..........................................
Distribusi Frekuensi Pendidikan Terkahir ................................
Distribusi Frekuensi Bagian Kerja ...........................................
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada Variabel Gaya Komunikasi..............................................
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Mengendalikan ...................
Persepsi Responden Gaya Mengendalikan ...............................
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Kesamaan ...........................
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Kesamaan ....
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Terstruktur ..........................
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Terstruktur ...
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Dinamis ..............................
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Dinamis .......
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Mengikuti ...........................
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Mengikuti ....
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Memelas .............................
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Memelas ......
viii
27
73
74
75
76
76
77
79
84
86
91
92
97
98
103
104
107
108
111
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Gambar 1.1
Gambar 3.1
Gambar 3.2
Gambar 3.3
Gambar 3.4
Gambar 4.1
Gambar 4.2
Gambar 4.3
Gambar 4.4
Gambar 4.5
Gambar 4.6
Halaman
Kerangka Pemikiran ................................................................
18
Lambang PT. Nugraha..............................................................
64
Mesin Falet ...............................................................................
65
Mesin Falet Boom .....................................................................
65
Mesin Tenun .............................................................................
66
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi
Mengendalikan .........................................................................
85
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi
Kesamaan .................................................................................
92
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi
Terstruktur ................................................................................
98
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi
Dinamis..................................................................................... 104
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi
Mengikuti ................................................................................. 108
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi
Memelas ................................................................................... 112
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Halaman
Angket Penelitian .....................................................................
Draft Wawancara .....................................................................
Coding Sheet ............................................................................
Hasil lUji Validitas dan Reliabilitas .........................................
Daftar Riwayat Hidup...............................................................
x
124
129
132
137
139
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Pada hakekatnya, setiap orang saling berkomunikasi dan saling bekerja
sama di dalam suatu organisasi formal, perlu dirahkan tujuan atau target yang
diinginan. Wadah formal guna menghimpun proses komunikasi dan kerjasama
kelompok atau himpunan orang-orang yang bergerak di bidang bisnis baik berupa
barang ataupun jasa, disebut Badan Usaha Niaga, termasuk di dalamnya :
Perseroan Terbatas (PT), Command Itaire Vernon Shaft (CV), Firma, Koperasi,
Perushaan Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan lain
sebagainya.
Sebagai upaya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai setiap Badan
Usaha Niaga tersebut diperlukan adanya suatu komunikasi yang baik antar
masing-masing pegawai, terutama antara atasan dan bawahan. Proses komunikasi
tersebut harus berjalan secara tepat, efektif, dan efisien sehingga sasaran yang
telah ditetapkan dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.
Gaya komunikasi pemimpin meliputi proses mempengaruhi dalam
menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai
tujuan, mempengaruhi untuk memperbaki kelompok dan budayanya. Gaya
komunikasi pemimpin mempunyai kaitan erat dengan motivasi. Hal tersebut dapat
dilihat dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakan orang lain dalam
1
2
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan dan
juga pimpinan itu dalam menciptakan motivasi dalam diri setiap bawahan.
PT. Nugraha Tekstil adalah perusahaan yang bergerak di bidang Tekstil, di
mana perusahaan ini berdiri pada tahun 1985, yang didirikan oleh H. Dindin SK.
Sebelum pabrik ini dinamakan PT. Nugraha, perusahaan ini berawal dari industri
rumahan yang dijalankan oleh keluarga, yang kemudian beralih kepada H. Dindin
SK, beliau sekarang memimpin perusahaan PT. Nugraha Tekstil. PT. Nugraha
Tekstil berusaha membuat produk kain yang kualitasnya baik, dan dapat diminati
oleh konsumennya. Kualitas bahan baku sangat diperhatikan di PT. Nugraha,
karena bahan baku yang baik akan menghasilkan kualitas kain yang baik pula,
walaupun pada kenyataannya tidak semua bahan baku berkualitas sama baiknya.
Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi pemimpin terhadap karyawannya untuk
selalu memilih bahan baku yang baik, tidak memakai bahan baku yang
kualitasnya rendah karena bahan baku yang kurang baik akan berpengaruh
terhadap hasil produksi kain nantinya.
Banyak hambatan yang dialami oleh PT. Nugraha terutama pada saat
perusahaan ini baru berkembang di antaranya seperti kurangnya minat konsumen
yang disebabkan kurang percayanya dengan produk hasil PT. Nugraha karena
pada saat itu PT. Nugraha belum begitu dikenal oleh orang banyak yang membuat
0perusahaan harus berusaha mencari calon konsumen yang ingin menggunakan
produk tekstil dari PT. Nugraha. Selain itu dari faktor kinerja karyawan yang
masih kurang sadar atas tugasnya masing-masing yang berakibat kurang
maksimalnya hasil produksi di PT. Nugraha Tekstil. Kendala karyawan yang
3
menjadi persoalan yang klasik sampai pada saat ini, karena masih banyaknya
karyawan yang kurang atas kesadaran dan tanggung jawabnya, seperti sering
bolosnya
karyawan
tanpa
keterangan,
kurang
maksimalnya
di
dalam
memproduksi kain, dan khususnya di shif malam yang masih banyak karyawan
tertidur pada saat bekerja. Itu menjadi faktor yang dapat meruginya perusahaan
karena target produksi setiap minggunya menjadi berkurang dan berakibat kurang
baik bagi perusahaan khususnya di PT. Nugraha Tekstil. Untuk itu komunikasi
sangat penting dilakukan oleh direktur kepada buruhnya, demi terjalinnya rasa
kepercayaan
dan
mengerti
satu
sama
lain.
Pemimpin
dituntut
untuk
membangkitkan semangat karyawan dalam bekerja melalui gaya komunikasi
seorang direktur. Gaya komunikasi sangat penting dilakukan karena gaya
komunikasi seseorang mencerminkan bagaimana pemimpin itu dapat dituruti atau
tidaknya suatu keputusan. Dalam hal ini gaya komunikasi pemimpin dalam
memberikan motivasi kepada karyawan menjadi factor utama yang menjadi target
di PT. Nugraha Tekstil demi terciptanya perusahaan yang lebih baik.
Untuk itu H. Dindin SK sebagai pemimpin perusahaan di PT. Nugraha
Tekstil membuat beberapa terobosan untuk membuat karyawan merasa nyaman
pada saat bekerja, dengan menerapkan cara yang cukup unik dan berbeda dengan
perusahaan tekstil pada umumnya. Di perusahaan ini karyawan bebas
menyampaikan aspirasi atau pendapatnya dengan berkomunikasi dengan
pemimpin tanpa adanya batasan. Pemimpin PT. Nugraha Tekstil menyediakan
kotak saran, di mana kotak saran tersebut diwajibkan untuk diisi oleh karyawan
setelah karyawan selesai bekerja. Karyawan diberi kebebasan untuk menulis apa
4
saja sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Seperti keluhan karyawan akan
kualitas bahan baku yang kurang baik, ataupun keluhan laiinya misalkan
keterlambatan bahan baku, dan lain sebagainya.
Maka diharapkan dengan tersedianya kotak saran tersebut, lebih
memudahkan karyawan dalam berkomunikasi dengan pemimpin tanpa adanya
batasan dengan pemimpinnya. Gaya komunikasi ini dipilih dalam memimpin
perusahaanya dan pemimpin merasa terbantu dengan keluhan-keluhan dari
karyawannya, sehingga pemimpin dapat mengevaluasi segala kekurangan di
perusahaannya yang nantinya dapat berakibat buruk bagi perkembangan
perusahaan. Pemimpin PT. Nugraha menggunakan komunikasi secara verbal dan
non verbal.
Komunikasi verbal berarti “melalui penggunaan kata-kata,” baik tertulis
maupun lisan. Menurut Pitfield, komunikasi verbal dapat berupa kontak
tatap muka, wawancara, konsultasi bersama, dan pidato. Sedangkan
komunikasi secara nonverbal berarti tanpa menggunakan kata-kata. Orangorang tidak henti-hentinya menyampaikan pesan nonverbal melalui
gerakan badan, penampilan, bau harum, pakaian, dan ekspresi wajah.
(William C. Himstreet dan Wayne Murlin Baty:6 dalam Moekijat,
1993:137 dan 141)
Selain gaya komunikasi tersebut, pemimpin juga mempunyai keunikan
lainnya dalam memimpin perusahaan, yaitu dengan terjun langsung ke dalam
runag lingkup pekerjaan, misalnya dengan ikut serta membantu karyawan dalm
mengerjakan
tugas-tugasnya.
Jadi
pemimpin
tidak
hanya
mengontrol
karyawannya saja tetapi juga ikut berpartisipasi dalam beberapa pekerjaan
karyawannya. Pemimpin menganggap karyawannya adalah teman
yang
membantu pekerjaannya. Tidak jarang pemimpin dan karyawan berada dalam satu
obrolan yang nonformal karena karyawan mengganggap pemimpinnya adalah
5
temannya, ketika karyawan mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh
pemimpin, mereka merasa seolah-olah membantu temannya. Dengan melakukan
hal tersebut, pemimpin PT. Nugraha mampu menganalisa sendiri situasi kerja
yang tercipta di perusahaannya, sehingga pemimpin mampu mencari sendiri
solusi yang diperlukan bagi perusahaannya.
Pemimpin di PT. Nugraha mempunyai prinsip kedisiplinan pada dirinya
sendiri, misalnya kedisiplinan waktu, dan objektif dalam pengambilan keputusan
terhadap karyawannya. Menurutnya dengan dia terjun langsung dan ikut
membantu karyawannya, diharapkan karyawan akan merasa dihargai dan
karyawan akan mencontoh apa yang dilakukan oleh pemimpinnya. Ini yang
menjadi konsep awal dari bapak H. Dindin SK sebagai pemimpin di PT. Nugraha
Tekstil agar karyawan merasa lebih semangat lagi untuk menjalankan tugastuigasnya yang akan berdampak positif bagi keuntungan perusahaan.
Karena pemimpin PT. Nugraha sadar bahwa pemimpin hanya sebutan
untuk orang yang berkuasa. Di balik kekuasaannya ada dua hal yang paling pokok
dan sangat mempengaruhi sifat mekanisme kepemimpinannya. Siapa yang
memimpin dan siapa yang dipimpin, adalah simulasi kehidupan. Manusia tidak
akan bisa menalar, ke mana dia berjalan setiap waktu, dan siapa yang
memimpinnya untuk melakukan hal itu. “Seorang bisa mempimpin banyak orang
tetapi tidak bisa mengatur (kehidupan) banyak orang.” Waktu dan perjalanan akan
memimpin di barisan depan pengikutnya adalah perbuatan dan sikap.
Keunikan komunikasi pemimpin lainnya yaitu dengan cara kekeluargaan.
Kekeluargaan yang dimaksud yaitu pemberdayaan yang dilakukan oleh pemimpin
6
PT. Nugraha terhadap karyawan di luar ruang lingkup pekerjaan misalnya
pemimpin memberdayakan karyawannya di setiap acara keluarga Bapak H.
Dindin di mana pada saat acara keluarga tertentu karyawan selalu dilibatkan
dalam acara untuk mempersiapkan dan mengerjakan segala sesuatu yang
dibutuhkan. Hal itu dilakukan agar timbul rasa kekeluargaan di mana pemimpin
bukan hanya berinteraksi di ruang lingkup pekerjaan saja, namun di luar konteks
pekerjaan pun karyawan merasa dibutuhkan dan membangun rasa percaya di
antara keduanya.
Kepemimpinan pada dasarnya merupakan kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi bawahan dalam melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan
tujuan yang telah direncanakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemimpin
merupakan salah satu bagian terpenting yang ikut menentukan keberhasilan suatu
organisasi atau perusahaan. Keberhasilan tersebut pada hakikatnya merupakan
keberhasilan bersama, karena pemimpin selalu dibantu oleh karyawan yang
menjadi bagian terbesar dari unsur pelaksana organisasi dalam mencapai tujuan
organisasi atau perusahaan. “Kepemimpinan adalah sebuah style atau gaya dari
pada sebuah paradigma, karena kepemimpinan adalah sesuatu yang bermakna
apabila dipraktekan dari pada diwacanakan” (Dr. Djokosantoso Moeljono,
2003:32).
Dengan demikian, kepemimpinan seorang pemimpin harus dapat menjalin
hubungan pribadi yang baik antara yang dipimpin dengan yang memimpin,
sehingga timbul rasa saling hormat-menghormati, percaya-mempercayai, saling
tolong-menolong, dan rasa senasip sepenanggungan. Jadi, seorang pemimpin
7
harus mampu berpikir secara sistematis dan teratur, mempunyai pengalaman dan
pengetahuan serta mampu menyusun rencana tentang apa yang akan dilakukan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui
kesuksesan pemimpin ialah dengan mempelajari gayanya, karena gaya
kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam
mempengaruhi perilaku bawahannya. Pentingnya gaya kepemimpinan diterapkan
kepada bawahan sesuai dengan kedewasaan atau kematangan bawahan
merupakan persyaratan mutlak keefektifan kepemimpinan dalam keberhasilan
organisasi.
Kemampuan
seorang
pemimpin
untuk
mengerti
dan
mendalami
kemampuan bawahan sangat berpengaruh pada gaya yang dipilih dalam
memimpin, yang selanjutnya akan mempengaruhi tercapainya tujuan yang
dikehendaki.
Gaya komunikasi organisasi dua arah adalah proses komunikasi yang
dilakukan secara terbuka, artinya setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan
gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam
suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai
kesepakatan dan pengertian bersama. Aspek penting gaya komunikasi ini ialah
adanya landasan kesamaan. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi
yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian
yang tinggi serta kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain
baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja.
8
Sumber daya manusia mempunyai peranan penting dalam setiap
perusahaan, karyawan yang dipekerjakan di perusahaan diprioritaskan adalah
penduduk sekitar karena selain mensejahterakan masyarakat sekitar perusahaan
juga meminimalisir pelanggaran pada peraturan perusahaan di mana karyawan
harus datang tepat waktu. Sumber daya manusia sebagai potensi penggerak
seluruh aktifitas perusahaan dan menentukan dalam pencapaian tujuan
perusahaan. Karyawan dan pimpinan sebagai sumber daya manusia merupakan
faktor yang paling banyak berperan dalam aktifitas perusahaan. Pemanfaatan
sumber daya manusia dalam perusahaan secara efektif tergantung pada cara-cara
pemimpin bertindak.
Seperti pemimpin lainnya, H. Dindin juga memiliki sifat tegas, tetapi ada
cara tersendiri di mana karyawan tidak merasa tertekan akan sifat tegas tersebut
yaitu dengan cara seringnya interaksi yang dilakukan oleh pemimpin dan
karyawan. Segala ketegasan yang dilakukan oleh pemimpin bisa dipahami oleh
karyawannya karena ketegasan tersebut memang untuk kebaikan bersama.
Seseorang yang berusaha untuk merubah perilaku orang lain, berarti secara
tidak langsung telah melibatkan diri ke dalam aktivitas kepemimpinan. Oleh
karena itu, pemimpin perlu memikirkan gaya komunikasinya, sehingga dapat
memotivasi kerja karyawan. Tujuan perusahaan akan mudah dicapai apabila ada
kerjasama antara pemimpin dengan karyawan.
Untuk mencapai tujuan perusahaan, PT Nugraha Tekstil berusaha
menghindari hal-hal yang merugikan bagi perusahaan. Oleh karena itu,
perusahaan PT Nugraha Tekstil ini selalu terus membenahi faktor produksi dan
9
kedisiplinan terhadap karyawan, khususnya dengan cara menciptakan sumber
daya manusia yang produktif yang mampu memberikan pelayanan terbaik kepada
konsumen.
Menurut Redding dan Sanborn (dalam Muhammad Arni, 2004: 65) bahwa
komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi
dalam organisasi yang komplek. Yang termasuk dalam bidang ini adalah
komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola,
komunikasi downward atau komunikasi dari atasan kepada bawahan,
komunikasi upward atau komunikasi dari bawahan kepada atasan,
komunikasi horizontal atau komunikasi dari orang-orang yang sama
level/tingkatannya dalam organisasi, keterampilan berkomunikasi dan
berbicara, mendengarkan, menulis dan komunikasi evaluasi program.
Membangun komunikasi dengan karyawan bukan pekerjaan yang mudah
bagi seorang pemimpin. Komunikasi antara pemimpin dengan karyawan
mempunyai fungsi yang penting untuk kelangsungan perusahaan. Adapun
komunikasi yang terjadi dalam perusahaan dikatakan sebagai komunikasi
organisasi. Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai “petunjuk dan
penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu
organisasi tertentu” (Pace, 1998:31).
Gaya komunikasi pemimpin dan motivasi merupakan sebagian dari
masalah-masalah yang paling sering dibahas dalam kebanyakan organisasi.
Motivasi berhubungan dengan mengapa manusia melakukan apa yang mereka
lakukan. Produktivitas yang rendah, kemangkiran, moral yang rendah,
ketidakpuasan, dan kemunduran merupakan gejala-gejala tidak adanya motivasi.
Dari pernyataan di atas, peneliti tertarik membahas permasalahan yang
timbul di dalam perusahaan PT. Nugraha Tekstil, maka dari itu peneliti
10
mengangkat tema “Gaya Komunikasi Pemimpin dalam Memberikan Motivasi di
PT. Nugraha Tekstil”.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang
yang telah
dijelaskan
oleh
peneliti
sebelumnya, maka peneliti memfokuskan penelitian sebagai berikut, “Bagaimana
gaya komunikasi pemimpin dalam pemberian motivasi di PT. Nugraha Tekstil.”
1.3
Identifikasi Masalah
1.
Bagaimana gaya mengendalikan (the controlling style) yang
dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha
Tekstil?
2.
Bagaimana gaya kesamaan (the equalitarian style) yang dilakukan
oleh pemimpin dalam memberikan motivasi PT. Nugraha Tekstil?
3.
Bagaimana gaya dinamis (the dynamic style) yang dilakukan oleh
pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha Tekstil?
4.
Bagaimana gaya mengikuti (the relinquising style) yang dilakukan
oleh pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha Tekstil?
5.
Bagaimana gaya terstruktur (the structuring style) yang dilakukan
oleh pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha Tekstil?
6.
Bagaimana gaya memalas (thewithdrawal style) yang dilakukan oleh
pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha Tekstil?
11
1.4
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengetahui gaya mengendalikan (the controlling style) yang
dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha
Tekstil.
2.
Untuk mengetahui gaya kesamaan (the equalitarian style) yang
dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan motivasi PT. Nugraha
Tekstil.
3.
Untuk mengetahui gaya dinamis (the dynamic style) yang dilakukan
oleh pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha Tekstil.
4.
Untuk mengetahui gaya mengikuti (the relinquising style) yang
dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha
Tekstil.
5.
Untuk mengetahui gaya terstruktur (the structuring style) yang
dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha
Tekstil.
6.
Untuk mengetahui gaya memalas (thewithdrawal style) yang
dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan motivasi di PT. Nugraha
Tekstil.
1.5
Kegunaan Penelitian
1.5.1 Kegunaan Teoritis
Penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pikiran bagi pengembangan ilmu
komunikasi, khususnya dalam komunikasi organisasi pada gaya komunikasi
12
pemimpin dalam pemberian motivasi sehingga dapat mengetahui bagaimana
komunikasi yang baik dan tepat bagi perusahaan ataupun suatu lembaga tersebut.
1.5.2
Kegunaan Praktis
Penelitian ini dapat berguna secara praktis sebagai bahan masukan bagi
perusahaan terkait, yaitu PT. Nugraha Tekstil, khususnya bagi pemimpin agar
menjalin komunikasi yang baik yang berdampak pada motivasi karyawan serta
tercapainya tujuan perusahaan.
Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat sebagai masukan
bagi pihak-pihak lain yang terkait dengan tema penelitian yang penulis lakukan,
dan menjadi referensi bagi pihak-pihak yang tertarik untuk mengangkat masalah
yang sama dengan yang diteliti oleh penulis.
1.6
Pembatasan Masalah dan Pengertian Istilah
1.6.1 Pembatasan Masalah
Untuk mempermudah pembahasan dan penelitian sehingga terarah pada
tujuan dan agar masalah yang diteliti tidak terlalu luas, maka perlu kiranya
peneliti membuat pembatasan masalah. Dalam penelitian ini batasan masalahnya
adalah :
1.
Pada penelitian ini, penulis akan meneliti gaya komunikasi yang
dilakukan oleh pemimpin di PT. Nugraha Tekstil
2.
Penelitian meneliti bagaimana interaksi yang dilakukan pimpinan
kepada bawahan dalam memberikan motivasi.
13
3.
Penelitian ini dilakukan di PT. Nugraha Tekstil, yang berada di Jl.
Rancajigang Majalaya, Kabupaten Bandung.
1.6.2 Pengertian Istilah
1.
Komunikasi
Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah
tingkah laku mereka (Rogers dalam Mulyana 2007: 69).
2.
Motivasi
Motivasi adalah rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga
yang dimiliki seseorang atau sekolompok masyarakat yang mau
berbuat dan bekerjasama secara optimal dalam melaksanakan sesuatu
yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Azwar, 2000: 15).
3.
Komunikasi Organisai
Komunikasi Organisasi adalah suatu proses penyampaian informasi,
ide-ide di antara para anggota organisasi secara timbal-balik dalam
rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Wursanto, 2005:158).
4.
Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah sebuah style atau gaya dari pada sebuah
paradigma, karena kepemimpinan adalah sesuatu yang bermakna
apabila dipraktekkan daripada diwacanakan (Moeljono, 2003:32).
14
5.
Deskriptif
Metode yang hanya memberikan gambaran atau deskripsi tentang
variabel dari sebuah fenomena yang diteliti. Penelitian deskriptif
hanya memaparkan situasi atau peristiwa, tidak mencari atau
menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat
prediksi” (Ardianto, 2011 :48).
1.7
Kerangka Pemikiran
Dalam
melakukan
penelitian
ini,
peneliti merumuskan
kerangka
pemikiran. Kerangka pemikiran dibutuhkan dalam suatu penelitian karena
kerangka pemikiran adalah suatu pondasi dasar untuk melakukan suatu penelitian.
Berikut adalah teori-teori yang peneliti gunakan sebagai pondasi dasar penelitian.
Penelitian ini berusaha untuk mengetahui bagaimana gaya komunikasi yang
dilakukan pemimpin, khususnya di PT. Nugraha Tekstil.
“Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi
dalam organisasi yang komplek. Yang termasuk dalam bidang ini adalah
komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola,
komunikasi downward atau komunikasi dari atasan kepada bawahan,
komunikasi upward atau komunikasi dari bawahan kepada atasan,
komunikasi horizontal atau komunikasi dari orang-orang yang sama
level/tingkatannya dalam organisasi, keterampilan berkomunikasi dan
berbicara, mendengarkan, menulis dan komunikasi evaluasi program”.
Redding dan Sanborn (dalam Muhammad, 2009: 65).
Komunikasi downward (komunikasi ke bawah) dalam sebuah organisasi
berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada
mereka yang berotoritas lebih rendah. Biasanya beranggapan bahwa informasi
yang bergerak dari pimpinan kepada bawahan. Antara lain informasi bagaimana
15
melakukan pekerjaan informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan
pekerjaan, informasi mengenai kebijakan dan praktek-praktek organisasi,
informasi mengenai kinerja pegawai dan informasi untuk mengembangkan rasa
memiliki tugas.
Komunikasi upward (komunikasi ke atas) dalam sebuah organisasi berarti
bahwa informasi dari tingkat lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi
(atasan). Semua pegawai dalam sebuah organisasi mungkin berkomunikasi ke
atas, yaitu setiap bawahan dapat mempunyai alasan yang baik untuk meminta
informasi kepada seseorang yang otoritasnya lebih tinggi.
Maksud dari definisi tersebut adalah komunikasi organisasi sangat penting
dilakukan khususnya di dalam perusahaan karena melibatkan pemimpin dan
karyawannya agar tujuan dari perusahaan di PT. Nugraha dapat tercapai.
Komunikasi upward dan downward sering terjadi di PT. Nugraha, dengan adanya
intensitas tersebut pesan yang disampaikan dari atasan ke bawahan atau
sebaliknya dapat mudah dipahami satu sama lainnya.
Gaya komunikasi atau (communication style) yaitu seperangkat perilaku
antar pribadi yang terspesialisasi yang digunakan dalam suatu situasi tertentu (a
spespecialized set of interpersonal behaviors that are used in a given situation).
Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi
yang dipakai untuk mendapatkan respons atau tanggapan tertentu dalam situasi
tertentu pula.
16
Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss dalam buku Teori Komunikasi
Perspektif, Ragam, & Aplikasi (Rohim, 2009: 115-116) ada enam gaya
komunikasi, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
The Controling Style
The Equalitarian Style
The Structuring Style
The Dynamic Style
The Reliquising Style
The Withdrawal Style
Berbicara tentang gaya komunikasi, maka peneliti akan membahas tentang
kepribadian diri seseorang yang dalam hal ini pimpinan yang tentunya akan
berkaitan erat dengan motivasi kerja bawahan itu sendiri dalam konteks
komunikasi organisasi. Melalui suatu gaya komunikasi, maka pimpinan akan
menciptakan suatu sikap yang tentu saja bersifat postif. Misalkan saja dalam suatu
organisasi terdapat pimpinan yang bersifat demokratis dan yang lainnya bersifat
otoritas. Pimpinan yang demokratis tentu saja akan bersifat terbuka baik di dalam
memberikan informasi maupun menerima berbagai pendapat, ide ataupun saran,
tanpa mempertimbangkan jenjang jabatan secara formal, sementara pimpinan
otoriter justru melakukan hal yang sebaliknya. Tentu saja hal tersebut akan
menciptakan dampak yang berbeda terhadap bawahan yang terdapat di dalam
organisasi itu sendiri dan dampak terbesar tentunya yang berhubungan dengan
motivasi kerja.
Motivasi mewakili proses-proses psikologikal, yang menyebabkan
timbulnya, diarahkannya, dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela
(volunter) yang diarahkan ke arah tujuan tertentu” (Mitchell, 1982). Sedangkan
menurut Uno (2007), “motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan
17
eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya hasrat dan minat
dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan.”
Dalam proses kepemimpinan, motivasi merupakan sesuatu yang esensial
dalam kepemimpinan, karena memimpin adalah memotivasi. Seorang pemimpin
harus bekerja bersama-sama dengan orang lain atau bawahannya, untuk itu
diperlukan kemampuan memberikan motivasi kepada bawahan.
Menurut Wahjosumidjo (1984), kepemimpinan mempunyai kaitan yang
erat dengan motivasi, sebab keberhasilan seorang pemimpin dalam
menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sangat bergantung kepada kewibawaan, dan juga pemimpin itu di dalam
menciptakan motivasi di dalam diri setiap orang bawahan, kolega maupun
atasan pemimpin itu sendiri.
Dengan kata lain, peneliti mencari tahu bagaimana gaya komunikasi yang
dilakukan pemimpin dalam pemberian motivasi khususnya di PT. Nugraha Tekstil
dengan menggunkan teori gaya komunikasi yang dikemukakan Menurut Stewart
L. Tubbs dan Sylvia Moss dalam buku Teori Komunikasi Perspektif, Ragam, &
Aplikasi (Rohim, 2009: 115-116) bahwa gaya komunikasi mempunyai enam
kategori yang meliputi The Controling Style,The Equalitarian Style, The
Structuring Style, The Dynamic Style, The Reliquising Style, dan The Withdrawal
Style.
18
Pemimpin
(PT. NUGRAHA)
Gaya Komunikasi
Controling
Style
Equalitarian
Style
Reliquishing
Style
Withdrawal
Style
Stucturing
Style
Dynamic
Style
Motivasi
1. Mengarahkan
2. Membangkitkan
3. Mempengaruhi
Sumber: Peneliti 2013
Gambar 1.1
Kerangka Pemikiran
1.8
Operasional Variabel
Variabel 1 : Gaya Komunikasi Pemimpin
Indikator 1 : Gaya mengendalikan (controling style)
Alat ukur :
a.
direktur membatasi berkomunikasi informal dengan buruh
b.
pemimpin mempengaruhiburuh untuk menuruti semua keinginannya
c.
direktur mengatur semua pekerjaan para buruh
19
Indikator 2 : Gaya kesamaan (equalitarian style)
Alat ukur :
a.
karyawan lebih rileks berhubungan langsung dengan pemimpin
b.
karyawan merasa santai di dalam bekerja
c.
komunikasi antara pemimpin dan karyawan dilakukan secara informal
Indikator 3 : Gaya terstruktur (structuring style)
Alat ukur :
a.
pemimpin memberikan penjadwalan tugas secara sistematis
b.
pemimpin mengatur pekerjaan karyawan sesuai dengan keahliannya
c.
pemimpin menyusun struktur organisasi untuk kelacaran karyawan di
dalam bekerja
Indikator 4 : Gaya dinamis (dynamic style)
Alat ukur :
a.
pemimpin menstimulasi karyawan agar timbul motivasi dalam bekerja
b.
pemimpin merangsang karyawan agar bekerja secara kreatif
c.
pemimpin dapat mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis.
Indikator 5 : Gaya mengikut (Reliquising Style)
Alat Ukur :
a.
Pemimpin bersesedia menerima saran-saran dari karyawan
b.
pemimpin selalu setuju dengan pendapat yang diutarakan oleh
karyawan
c.
pemimpin tidak ada keinginan di dalam memberi perintah kepada
karyawan.
20
Indikator 6 : Gaya memelas (Withdrawal Style),
Alat ukur :
a.
Lemahnya pemimpin dalam berkomunikasi dengan karyawan.
b.
Kesulitan antarpribadi yang dihadapi pemimpin dalam menyampaikan
pendapat atau perintahnya.
c.
pemimpin menghindari berkomunikasi dengan orang lain.
Indikator Motivasi :
Alat ukur :
1.9
a.
Kemampuan direktur dalam mengarahkan buruh pada tujuan tertentu
b.
Sikap antusias direktur dalam membangkitkan semangat para buruh
c.
Direktur mempengaruhi buruh untuk mengatur perilaku
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, metode ini
hanya memberikan gambaran atau deskripsi tentang variabel dari sebuah
fenomena yang diteliti. Sedangkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang
sarat dengan nuansa angka-angka dalam teknik pengumpulan data di lapangan.
Dalam analisis data, metode penelitian kuantitatif memerlukan bantuan
perhitungan ilmu statistik, baik statistik deskriptif maupun inferensial.
Menurut Ardianto (2011: 47 dan 48) dalam buku Metodelogi Penelitian
untuk Public Relations menebutkan bahwa:
“Di dalam penelitian deskriptif, variabel yang diteliti bisa satu, dua, tiga,
atau lebih. Setiap variabel yang diteliti tidak dilakukan pengujian untuk
mengetahui adanya hubungan dari variabel-variabel yang diteliti atau
dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus statistik.
21
Analisis yang digunakan dalam metode deskriptif kuantitatif hanya
menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk tabel tunggal dan tabel
silang, dengan data frekuensi (f) dan presentase (%)”.
Metode deskriptif lebih mengupayakan pemaparan mengenai berbagai
pandangan, sikap, dan proses pembentukan fenomena serta permasalahannya
berdasarkan pada perilaku para pelakunya yang kemudian digambarkan peneliti
secara faktual. Bentuk fakta yang digambarkan pada metode desktiptif ini dapat
dilakukan melalui angket ataupun wawancara, di mana peneliti secara langsung
menggali ke dalam informasi penelitian langsung dari para pelaku fenomena
penelitian di dalamnya. Metode deskriptif digunakan karena memberikan
perangkat yang tepat bagi peneliti untuk dapat menyampaikan fenomena
penelitian secara utuh. Penelitian ini berusaha untuk dapat mendeskripsikan
peristiwa terutama Gaya komunikasi pemimpin dalam pemberian motivasi di PT.
Nugraha Tekstil.
1.9.1
Populasi dan Sampel
1.9.1.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, Menurut Jalaluddin
Rakhmat (2009:78) menyebutkan bahwa “populasi adalah kumpulan objek
penelitian yang dapat berupa orang, organisasi, kelompok, lembaga, buku-buku,
kata-kata, surat kabar dan lain-lain.” Di dalam penelitian ini populasi karyawan
yang bekerja di PT. Nugraha tekstil berjumlah 113 karyawan.
1.9.1.2 Sampel
Menurut Jalaluddin Rakhmat (2009 : 78) “sampel adalah bagian populasi
yang dipelajari dan diamati untuk diteliti”. Dari populasi yang berjumlah 113
22
karyawan yang bekerja di PT. Nugraha tekstil, peneliti akan mengambil sampel
karyawan untuk dimintai keterangan mengenai gaya komunikasi yang dilakukan
direktur utama PT. Nugraha dalam pemberian motivasi. Untuk itu peneliti
mengambil sampel sebanyak 113 orang karyawan atau menggunakan total
sampling. Untuk mengetahui seberapa tahu karyawan yang bekerja tentang gaya
komunikasi pemimpin yang ada di PT. Nugraha Tekstil.
1.9.2
Teknik Pengumpulan Data
1.
Angket
Angket adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang
memungkinkan peneliti mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku,
dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa
terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau sistem yang sudah ada.
Dengan menggunakan Angket/kuesioner analisis berupaya mengukur
apa yang ditemukan dalam wawancara, selain itu juga menentukan
seberapa luas atau terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam
suatu wawancara. (Ardianto, 2011: 162)
Dalam
angket/kuesioner
penelitian
kepada
ini
peneliti
karyawan
di
akan
PT.
membagikan
Nugraha,
guna
mendapatkan informasi yang lengkap mengenai masalah di penelitian
ini, data dari responden dapat melengkapi data apa yang dibutuhkan
oleh peneliti.
2.
Wawancara
Menurut
Prabowo
(1996)
wawancara
adalah
metode
pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang
responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini, wawancara akan dilakukan dengan menggunakan
23
pedoman wawancara. Menurut Patton (Poerwandari, 1998) dalam
proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara
ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum,
serta mencantukam isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan
urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan
eksplisit.1
Dalam pnelitian ini, peneliti akan mewawancarai karyawan
yang bekerja di PT. Nugraha Tekstil yang dianggap memiliki
kredibilitas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti
guna mendapatkan data-data pendukung mengenai motivasi yang
dilakukan oleh direktur untuk memperkuat data dari angket penelitian.
3.
Observasi
Observasi atau pengamatan meliputi kegiatan pemusatan
perhatian terhadap sesuatau obyek yang menggunakan alat indera
(Arikunto, 2002:133). Dengan demikian observasi merupakan
pengamatan langsung terhadap fenomena yang dikaji. Observasi dapat
dilakukan dengan rekaman gambar maupun rekaman suara. Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpulan data yang
berupa pedoman pengamatan dan observasi partisipasi dengan tujuan
untuk mengetahui bagaimana gaya komunikasi yang dilakukan di PT.
Nugraha Tekstil Jl. Rancajigang, Desa Padamulya No. 41 Majalaya,
Kabupaten
1
Bandung.
Adapun
cara
yang
http://tithagalz.wordpress.com/2011/03/27/pengertian-pengumpulan-data
digunakan
adalah
24
mengadakan pengamatan langsung di PT. Nugraha dengan cara
melihat, mendengar dan penginderaan lainnya.
Observasi
secara
langsung
mempunyai
maksud
untuk
mengamati dan melihat langsung kegiatan-kegiatan pemimpin
memberikan arahan atau berinteraksi dengan bawahannya. Dalam
penelitian ini yang diobservasi antara lain aktifitas sehari-hari yang
dilakukan oleh pemimpin PT. Nugraha. Secara khusus mengamati
kegiatan-kegiatan pemimpindalam memberikan motivasi kepada
bawahannya.
4.
Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002:148).
Dokumentasi diperlukan untuk memperkuat data-data yang diperoleh
melalui sumber-sumber tersebut di atas.
Dokumentasi
dalam
penelitian
ini
diperlukan
untuk
memperkuat data-data yang diperoleh dari lapangan yaitu dengan cara
mengumpulkan data yang berupa catatan tertulis dari PT. Nugraha
Tekstil. Peneliti juga merekam hasil penelitian dalam bentuk foto-foto
mengenai kegiatan-kegiatan dan kondisi di PT. Nugraha Tekstil.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1
Penelitian Terdahulu
Banyak sekali penelitian yang telah dilakukan sebelumnya mengenai studi
deskriptif, terutama mengenai gaya komunikasi pemimpin, gaya komunikasi
general manager, ataupun mengenai hubungan gaya komunikasi pemimpin dan
motivasi. Untuk mendukung penelitian ini, penelitian yang sudah dilakukan
sebelumnya menjadi sebuah referensi bagi peneliti. Di bawah ini adalah hasil
penelitian terdahulu yang sudah dilakukan oleh Olivia Thiopilus dan Nandita
Previa, yaitu:
1.
Penelitian yang dilakukan oleh Olivia Thiopilus, yaitu dengan judul
“gaya komunikasi general manager di Novotel Surabaya Hotel dan
Suites”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gaya Komunikasi
General Manager di Novotel Surabaya Hotel dan Suites, metode yang
digunakan oleh peneliti adalah metode studi kasus dengan
menggunakan teori komunikasi organisasi, kemudian hasil penelitian
yaitu Melalui tahapan analisis data dengan pendekatan kualitatif maka
dapat dijelaskan komunikasi di Novotel Surabaya Hotel dan Suites
adalah gaya komunikasi asertif.
2.
Penelitian yang dilakukan oleh Nandita Previa dengan judul
“hubungan antara gaya komunikasi dan motivasi kerja karyawan
RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar (studi komunikasi
25
26
organnisasi)”. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan
antara gaya komunikasi pimpinan dan motivasi kerja karyawan yang
ada di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar, metode yang
digunakan yaitu menggunakan metode kuantitatif, analisis data, dan
menggunakan teori komunikasi organisasi. Kemudian hasil penelitian
yaitu dari analisis dan pembahasan, menunjukkan bahwa :
a. Gaya komunikasi antara pimpinan dan bawahan masih bersifat
kondusif walaupun tidak ada hubungan di dalamnya.
b. Motivasi kerja karyawan lebih berpusat pada kebutuhan akan
potensi kerja sehingga tidak berhubungan dengan komunikasi
pimpinan.
c. Tidak terdapat hubungan antara gaya komunikasi pimpinan dengan
motivasi kerja karyawan.
27
Tabel 2.1
Perbedaan Penelitian
Keterangan
Judul penelitian
Olivia Thiopilus
Gaya Komunikasi
General Manager di
Novotel Surabaya
Hotel dan Suites
Tujuan
Penelitian
Untuk mengetahui
Gaya Komunikasi
General Manager di
Novotel Surabaya
Hotel dan Suites
Metode Dan
Teori Penelitian
Kualitatif , pendekatan
studi kasus, teori
komunikasi organisasi
Melalui tahapan
analisis data dengan
pendekatan kualitatif
maka dapat dijelaskan
komunikasidi Novotel
Surabaya Hotel dan
Suites adalah gaya
komunikasi asertif
Hasil Penelitian
Perbedaan
Kritik
Menggunakan
penelitian kualitatif
tentang bagaimana
gaya komunikasi yang
dilakukan General
Manager di Novotel
Surabaya hotel dan
suites
Kerangka pemikiran
kurang jelas.
Nandita Previa
Hubungan antara Gaya
Komunikasi Pimpinan Dan
Motivasi kerja Karyawan
RSUP.Dr.Wahidin
Sudirohusodo Makasar (Studi
Komunikasi Organisasi)
Untuk mengetahui Hubungan
antara Gaya Komunikasi
Pimpinan Dan Motivasi kerja
Karyawan RSUP. Dr.Wahidin
Sudirohusodo Makasar .
Kuantitatif, analisis data, teori
komunikasi organisasi
Dari analisis dan
pembahasan, menunjukkan
bahwa :
1. Gaya komunikasi
antara pimpinan dan
bawahan masih
bersifat kondusif
walaupun tidak ada
hubungan di
dalamnya.
2. Motivasi kerja
karyawan lebih
berpusat pada
kebutuhan akan
potensi kerja sehingga
tidak berhubungan
dengan komunikasi
pimpinan.
3. Tidak terdapat
hubungan antara gaya
komunikasi pimpinan
dengan motivasi kerja
karyawan.
Menggunakan metode
kuantitatif, meneliti hubungan
gaya komunikasi pimpinan
dan motivasi karyawan
Kerangka pemikiran kurang
menjelaskan teori yang
digunakan.
Sumber: Penulis/Peneliti Terdahulu, 2013
Lingga Bhakti Nugraha
Gaya Komunikasi
Pemimpin Dalam
Meningkatkan Motivasi
Karyawan di PT. Nugraha
Tekstil
Untuk mengetahui Gaya
Komunikasi Pemimpin
Dalam Pemberian Motivasi
di PT. Nugraha Tekstil.
Deskriptif kuantitatif
menggunakan teori gaya
komunikasi
Hasil dari penelitian ini
yaitu gaya komunikasi yang
cenderung dipakai di PT.
Nugraha yaitu gaya
komunikasi kesamaan (the
equalitarian style) di mana
pada gaya komunikasi
kesamaan ini buruh
cenderung lebih suka
dengan direktur yang
memerhatikan, mengerti
satu sama lain, dan direktur
di PT. Nugraha pun
menerapkan gaya
komunikasi yang sesuai
dengan kebanyakan buruh
menanggapi dengan setuju,
atau dengan kata lain buruh
menyukai pemimpin di PT.
Nugraha yang menerapkan
gaya komunikasi kesamaan
ini.
Meneliti hanya bagaimana
gaya komunikasi yang
dilakukan pemimpin dalam
pemberian motivasi di PT.
Nugraha Tekstil
-
28
2.2
Komunikasi Organisasi
Di dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berrkomunikasi, baik
berkomunikasi dengan individu ataupun dengan kelompok. Manusia sebagai
makhluk sosial pasti perlu berkomunikasi. Manusia adalah makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial, jalan hidup manusia dilakukan tentu saja dengan cara
berkelompok. Pada hakikatnya, bila manusia berada dalam keadaan sendiri atau
hidup sendiri, yang akan terjadi adalah perasaan tidak berarti yang membuat hidup
terasa sulit, terutama untuk dapat bertahan hidup dalam atmosfer dunia yang
penuh dengan saling keterkaitan. Manusia dalam hidupnya, memiliki kepentingan
untuk selalu memenuhi kebutuhannya. Misalnya kebutuhan sehari-hari yang
selalu kita perlukan setiap harinya misalnya dengan mengetahui beberapa kejadian
yang dikemukakan orang lain kepada kita, banyaknya informasi penting yang
mungkin akan kita butuhkan untuk kepentingan pribadi, untuk dapat memenuhi
kebutuhan biologis seperti makan dan minum, serta memenuhi kebutuhan
psikologis
seperti
kesuksesan
dan
kebahagiaan,
manusia
membutuhkan
komunikasi antara yang satu dengan yang lainnya.
Komunikasi berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan
pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek ataupun tujuan jangka panjang.
Tunjuan jangka pendek misalnya untuk mendapat pujian, menumbuhkan kesan
yang baik, memperoleh simpati, empati, dan lain-lain. Sedangkan tujuan jangka
panjang dapat diraih lewat keahlian komunikasi seperti : berpidato, berunding,
atau keahlian menulis. John Callen berpendapat bahwa “hal terpenting bagi
29
seorang pemimpin sesudah keahliannya adalah kemampuan berkomuunikasi”
(Mulyana, 2005:34).
Kemampuan berkomunikasi seorang pemimpin dapat memberi dampak
tercapai atau tidaknya tujuan dari organisasi yang dipimpinnya. Hubungan baik
antara pemimpin dengan karyawan akan berdampak baik pula bagi perusahaan.
Ide-ide baru dari karyawan bisa menyelesaikan masalah yang terdapat dalam
perusahaan tersebut. Produktivitas pun juga meningkat karena karyawan dengan
suka rela memberikan tenaga dan pikiran pada perusahaan. Di antara kedua belah
pihak terjadi komunikasi timbal balik. Sehingga diperlukan kerja sama yang
diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik pribadi maupun perusahaan yang
memungkinkan akan berdampak baik pula untuk pemimpin, karyawan, ataupun
perusahaan.
2.2.1
Definisi Komunikasi Organisasi
Goldhaber (1986) memberikan definisi komunikasi organisasi berikut,
“Organizazional communications is the proces of creating and exchanging
massage within a network of interdependen relationship to cope with
environmental uncertainty” atau dengan kata lain komunikasi organisasi adalah
proses menciptakan dan menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling
tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang
selalu berubah-ubah. Secara fungsional komunikasi organisasi juga dapat
didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit
komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi.
30
Barnard (1938) mengatakan bahwa “organisasi adalah system orang
struktur yang direkayasa secara mekanis. Suatu struktur mekanis yang
jelas dan baik tidaklah cukup. Kelompok-kelompok alamiah dalam
struktur birokratik dipengaruhi oleh apa yang terjadi, komunikasi ke atas
adalah penting kewenangan, berasal dari bawah alih-alih dari atas, dan
pemimpin perlu berfungsi sebagai kekuatan yang padu”.
Komunikasi organisai adalah perilaku pengorganisasian yang terjadi dan
bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu bertransaksi dan memberi
makna atas apa yang sedang terjadi. Konsep makna relevan dan penting untuk
membedakan antara perspektif fungsionalis (objektif) dan perspektif interpretif
(subjektif) mengenai komunikasi organisasi. Makna muncul dan berkembang
dalam interaksi yang berlangsung. Stewart dan Thomas (1990) menyebut proses
interaksi tersebut sebagai “memahat makna bersama”. Makna tersebut tidak hanya
pada orang, namun juga dalam “Transaksi” itu sendiri.
Ketika organisasi dianggap sebagai orang-orang yang berinteraksi dan
memberi makna kepada interaksi tersebut, komunikasi menjadi suatu fungsi
pembentuk organisasi.
2.2.2
Pendekatan Komunikasi Organisasi
Untuk melihat komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi dapat
digunakan tiga pendekatan yaitu :
2.2.2.1 Pendekatan Makro
Dalam pendekatan makro organisasi dipandang sebagai struktur global
yang berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam berinteraksi ini organisasi
melakukan aktivitas tertentu seperti memproses informasi dari lingkungan,
mengadakan identifikasi, melakukan integrasi, dan menentukan tujuan organisasi.
31
a. Memproses informasi dan lingkungan
Agar organisasi tetap hidup organisasi perlu memproses informasi dari
lingkungannya. Memproses infromasi dalam hal ini maksudnya adalah
menyesuaikan apa yang terjadi pada lingkungan dengan jalan mentransfer
informasi yang relevan dengan keadaan dalam organisasi, kemudian merumuskan
suatu respons yang tepat terhadap input informasi tersebut untuk tujuan
perusahaan.
b. Identifikasi
Suatu organisasi menggunakan informasi yang telah diproses dari
lingkungan untuk mencapai beberapa macam negosiasi, persetujuan dengan
relasi-relasi yang potensial dari langganannya. Proses penyesuaian diri dinamakan
dengan identifikasi.
c. Integrasi dengan organisasi lain
Tidak ada organisasi bergerak dalam keadaan terisolasi. Setiap organiasai
dipengaruhi oleh aktivitas organisasi lain dalam lingkungannya. Organisasi mesti
memonitor aktivitas ini, menentukan apa pengaruh aktivitas-aktivitas itu
kepadanya. Jika saingan organisasinya menghasilkan dengan cara yang sama
tetapi dengan kualitas yang lebih baik dan biaya yang lebih murah maka hal itu
akan membawa kesulitan bagi organisasinya.
d. Penentuan Tujuan
Dari semua kegiatan organisasi secara makro yang memerlukan
komunikasi yang sangat penting adalah menentukan tujuan organisasi. Organisasi
seharusnya tidaklah menentukan tujuannya sebelum memperoleh informasi
32
mengenai lingkungan memprosesnya, melakukan identifikasi dengan langganan
yang potensial dan melakukan integraasi yang cukup dengan organisasi lain untuk
memperjelas tujuannya.
Pada beberapa organisasi biasanya pimpinan tingkat tinggi banyak
melakukan
perumusan
tujuan
organisasinya
sehingga
bawahan
hanya
menjalankan kebijaksanaan yang telah ditetapkan. Bila perumusan tujuan
mengikut sertakan orang hierarki bawah, maka komunikasi sangat diperlukan
karena orang-orang yang terlibat dalam merumuskan tujuan ini saling bertukar ide
dan informasi untuk merumuskan tujuan yang baik.
2.2.2.2 Pendekatan Mikro
Pendekatan ini memfokuskan pada komunikasi dalam unit dan sub unit
pada suatu organisasi. Komunikasi yang diperlukan pada tingkat ini adalah
komunikasi antara anggota kelompok, komunikasi untuk pemberian orientasi dan
latihan, komunikasi untuk melibatkan anggota kelompok dalam tugas, komunikasi
untuk menjaga iklim organisasi, komunikasi dalam mensupervisi dan pengarahan
pekerjaan dan komunikasi untuk mengetahui kepuasan kerja dalam organisasi.
Dalam organisasi biasanya terdapat bermacam-macam kelompok sosial.
Masing-masing kelompok ini mempunyai tujuan masing-masing. Dalam hal ini
diperlukan keterampilan berkomunikasi dari pemimpin sehingga anggota
kelompok mempunyai motivasi dalam bekerja dengan baik.
33
a. Orientasi dan Latihan
Kadang-kadang organisasi perlu memberikan orientasi dan latihan untuk
melatih orang-orang dalam suatu organisasi agar dapat melakukan suatu pekerjaan
tertentu.
Orientasi adalah proses yang terus menerus yang menghendaki
komunikasi untuk membawa orang lain melihat apa yang sedang berlangsung
dalam suatu organisasi. Tugas memberi orientasi ini dapat dilakukan oleh
pimpinan unit-unit organisasi maupun oleh anggota unit lainnya.
b. Keterlibatan anggota
Dalam organisasi sangat diperlukan keterlibatan anggota dalam unitunitnya masing-masing untuk menjaga kelancaran tugas organisasi. Sebab bila
suatu unit kerja organisasi macet akan mempengaruhi kepada keseluruhan tugastugas organisasi. Untuk mengajar atau mendorong anggota unit organisasi mau
bekerja adalah dengan menggunakan komunikasi dan itu adalah merupakan tugas
dari pimpinan perusahaan. Karena setiap anggota mempunyai karakteristik
tertentu dan dalam hal ini perlu diperhatikan agar berhasil dalam melibatkan
mereka dalam pekerjaan kelompoknya.
c. Penentuan Iklim Organisasi
Iklim organisasi ditentukan oleh bermacam-macam oleh di antaranya
tingkah laku pimpinan, tingkah laku pekerja, dan tingkah laku dari organisasi.
Tetapi pada umumnya iklim organisasi ditentukan oleh tingkah laku komunikasi
dari pimpinan kepada kelompoknya.
34
d. Supervisi dan Pengarahan
Tugas-tugas dalam organisasi perlu diawasi dikontrol serta diarahkan
sesuai kriteria yang telah ditentukan. Tugas ini dilakukan oleh beberapa pimpinan
organisasi terhadap orang-orang dibawah hierarki. Supervisor bertanggung jawab
terhadap orang-orang yang dibawahnya dan membantu orang tersebut agar dapat
melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. Semua kegiatan supervisi dilakukan
dengan menggunakan supervisi.
e. Kepuasan Kerja
Bila orang tidak merasa senang dengan situasi kerjanya biasanya mereka
mengatakan bahwa tidak puas dengan pekerjaanya. Ada dua hal yang mungkin
menyebabkan orang tidak puas dengan pekerjaanya ini. Hal yang pertama, apabila
orang tersebut tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkannya untuk
melakukan pekerjaanya. Yang kedua, apabila hubungan sesama teman kerja
kurang baik atau dengan kata lain ketidakpuasan kerja ini berhubungan dengan
masalah komunikasi.
2.2.2.3 Pendekatan Individual
Pendekatan individual berpusat kepada tingkah laku komunikasi
individual dalam organisasi. Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada kedua
pendekatan yang terdahulu akhirnya diselesaikan oleh komunikasi individual satu
sama lainnya. Komunikasi individual ini ada beberapa bentuknya di antaranya
berbicara dalam kelompok kerja, mengunjungi dan berinteraksi dalam rapat,
menulis dan mengonsep surat, memperdebatkan suatu usulan dan sebagainya.
35
Di dalam organisasi keputusan penting dibuat dalam rapat-rapat kecil di
mana orang saling berdebat satu sama lain sebelum memilih satu tindakan
tertentu. Orang dalam organisasi harus membuat suatu usulan atau program baru
mengenai aktivitas yang akan dilakukan. Agar usulan ini berhasil atau dapat
diterima orang perlu keteranmpilan berkomunikasi untuk meyakinkan dan
membujuk orang lain untuk menerima usulan programnya.
2.2.3 Iklim Komunikasi Organisasi
Iklim komunikasi organisasi terdiri dari persepsi-persepsi atas unsur-unsur
organisasi dan pengaruh unsur-unsur tersebut terhadap komunikasi. Pengaruh ini
didefinisikan, disepakati, dikembangkan dan dikokohkan secara bersinambungan
melalui interaksi dengan anggota organisasi lainnya. Persepsi atas kondisi-kondisi
kerja, kepenyeliaan, upah, kenaikan pangkat, hubungan dengan rekan-rekan,
hukum-hukum dan peraturan, hukum-hukum dan peraturan organisasi, praktikpraktik pengambilan keputusan, sumber daya yang tersedia, dan cara-cara
memotivasi anggota organisasi semuanya membentuk suatu badan organisasi
yang membangun iklim komunikasi organisasi.
“Iklim komunikasi organisasi merupakan fungsi kegiatan yang terdapat
dalam organisasi untuk menunjukkan kepada anggota organisasi bahwa
organisasi tersebut mempercayai mereka dan memberi mereka kebebasan
dalam mengambil resiko; mendorong mereka dan memberi mereka
tanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas mereka; menyediakan
informasi yang terbuka dan cukup tentang organisasi; mendengarkan
dengan penuh perhatian serta memperoleh informasi yang dapat dipercaya
dan terus terang dari anggota organisasi; secara aktif dapat melihat bahwa
keterlibatan mereka penting bagi keputusan-keputusan dalam organisasi;
dan menaruh perhatian pada pekerjaan yang bermutu tinggi dan memberi
tantangan (Redding, (1972) dalam Pace, 2010 : 154).
36
Pengaruh-pengaruh komunikasi bergabung dalam beberapa cara yang
berbeda untuk mengembangkan suatu kepercayaan dan sistem nilai yang dikenali
oleh anggota organisasi sebagai iklim organisasi. Setiap iklim dapat ditandai oleh
gabungan yang berbeda dari pengaruh-pengaruh komunikasi sehingga iklim
tersebut dapat disebut dengan berbagai nama yang berlainan, seperti
keikutsertaan, acuh tak acuh, mendukung, bermusuhan, menghidupkan, bertahan,
positif, atau negatif.
Proses-proses interaksi
yang terlibat dalam
perkembangan iklim
komunikasi organisasi juga memberi andil pada beberapa pengaruh penting dalam
retrukturisasi, reorganisasi, dan dalam menghidupkan kembali unsur-unsur dasar
organisasi. Iklim komunikasi yang kuat dan positif seringkali meghasilkan
praktik-praktik pengelolaan dan pedoman organisasi yang lebih mendukung.
Penggunaan mekanisme untuk meningkatkan iklim, kenyataanya tidak sekedar
mempengaruhi iklim melainkan menyebabkan perubahan mendasar yang lebih
banyak dalam proses-proses mendasar yang membentuk bahan dan substansi
organisasi.
2.2.4 Arah Aliran Komunikasi
Dalam komunikasi organisasi kita berbicara tentang informasi yang
berpindah secara formal dari seseorang yang otoritasnya lebih tinggi kepada orang
yang otoritasnya lebih rendah. Komunikasi ke bawah; informasi yang bergerak
dari suatu jabatan yang otoritasnya lebih rendah kepada orang yang otoritasnya
lebih tinggi. Komunikasi ke atas; informasi yang bergerak di antara orang-orang
dan jabatan-jabatan yang sama tingkat otoritasnya. Komunikasi horisontal; atau
37
informasi yang bergerak di antara orang-orang atau jabatan-jabatan yang tidak
menjadi atasan ataupun bawahan satu sama lainnya dan mereka menempati bagian
fungsional yang berbeda, komunikasi lintas saluran. Berikut penjelasan tentang
komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas, dan komunikasi horisontal:
1. Komunikasi ke Bawah
Komunikasi ke bawah dalam sebuah organisasi bahwa informasi mengalir
dari jabatan yang berotoritas lebih tinggi kepada mereka yang berotoritas lebih
rendah. Biasanya yang beranggapan bahwa informasi bergerak dari manajemen
kepada para pegawai; namun, dalam organisasi kebanyakan hubungan pada
kelompok manajemen (Davis (1967) dalam Pace, 2010 : 184). Komunikasi
organisasi sering kali bergerak ke arah komunikasi manajerial yang perhatian
utamanya adalah komunikasi ke bawah, membawa informasi melalui kelompok
manajemen dan pada kelompok operatif. Ada dua masalah utama; (1) jenis
informasi apa yang disebarkan dari tingkat manajemen kepada para pegawai dan
(2) bagaimana informasi tersebut disediakan.
Ada lima jenis informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan kepada
bawahan (Katz & Kahn 1996 dalam Pace, 2010 :185 ):
a)
b)
c)
d)
e)
Informasi mengenai bagaimana melakukan pekerjaan.
Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan pekerjaan.
Informasi mengenai kebijakan dan praktik-praktik organisasi.
Informasi mengenai kinerja pegawai, dan
Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas (sense of
mission).
2. Komunikasi ke Atas
Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi bahwa berarti informasi
mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi
38
(penyelia). Semua pegawai dalam sebuah organisasi, kecuali mungkin mereka
yang menduduki posisi puncak, mungkin berkomunikasi ke atas yaitu, setiap
bawahan dapat mempunyai alasan yang baik atau meminta informasi dari atau
memberi informasi kepada seseorang yang otoritasnya lebih tinggi daripada dia.
Pentingnya Komunikasi ke atas karena beberapa alasan seperti:
1) Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk
pembuatan keputusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi dan
mengawasi kegiatan orang-orang lainnya (Sharma,1979).
2) Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan bawahan
mereka siap menerima informasi dari mereka dan seberapa baik
bawahan menerima apa yang dikatakan kepada mereka (Planty 7
Machaver, 1952).
3) Komunikasi ke atas memungkinkan bahkan mendorong omelan dan
keluh kesah muncul ke permukaan sehingga penyelia tahu apa yang
mengganggu mereka yang paling dekat dengan operasi-operasi
sebenarnya (Conboy,1976)
4) Komunikasi ke atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas kepada
organisasi dengan memberi kesempatan kepada pegawai untuk
mengajukan pertanyaan dan menyumbang gagasan serta saran-saran
mengenai operasi organisasi (Planty & Machaver, 1952).
5) Komunikasi ke atas mengizinkan penyelia untuk menentukan apakah
bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke
bawah (Planty & Machaver, 1952).
6) Komunikasi ke atas membantu pegawai mengatasi masalah pekerjaan
mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan
mereka dan dengan organisasi tersebut (Harriman,1974).
Kesulitan memperoleh aliran informasi dari bawah disinggung oleh
Davis (1967) ketika mengemukakan bahwa seorang manager berbeda
status martabatnya di pabrik dari para pekerja. (Pace, 2010 : 190).
Jackson (1959) menyatakan bahwa, secara keseluruhan, kekuatan yang
mengarahkan komunikasi dalam sebuah organisasi adalah motivasi, pegawai
cenderung berkomunikasi untuk mencapai beberapa tujuan, untuk memuaskan
kebutuhan pribadinya, atau untuk mencoba memperbaiki lingkungan barunya.
Pentingnya penciptaan dan pemeliharaan iklim kepercayaan tidak dapat
39
dikemukakan terlalu sering. Komunikasi tidak akan terjadi bila penyelia merasa
harus menjaga agar pegawai tidak berbicara kepada manager di atas mereka.
Untuk memperlancar komunikasi ke atas, organisasi Wendlinger
menciptakan sebuah program “saluran ke atas” yang memungkinkan pegawai
mengemukakan masalah, keluhan, atau pendapat kepada manajemen puncak
sementara identitas mereka benar-benar dirahasiakan, hanya diketahui oleh
koodinator saluran terbuka, dengan jaminan memperoleh jawaban tertulis yang
jujur dari manajer yang dikirimkan ke rumah pegawai tersebut. Keberhasilan
program ini disebabkan oleh dua faktor: identitas pegawai dirahasiakan, dan
jawabannya jujur. Koordinator saluran terbuka mengemban satu misi: membuat
pekerjaan itu sendiri menjadi tidak perlu, yang berarti tiba pada suatu waktu
ketika komunikasi bebas dan terbuka, tidak membutuhkan lagi saluran terbuka
sebagai tempat kepercayaan dan pemahaman bersama, yang menjadikan
komunikasi ke atas sebagai suatu pekerjaan yang mudah.
2.2.5
Prinsip-Prinsip Komunikasi Ke Atas
Planty dan Machaver (1952) mengemukakan ada beberapa prinsip sebagai
pedoman program komunikasi ke atas. Diantaranya :
1) Program komunikasi ke atas yang efektif harus direncanakan.
Meskipun kerahasiaan dan keterusterangan memperkokoh semua
program komunikasi efektif, penyelia dan manager harus merangsang,
mendorong, dan mencari jalan untuk mengembangkan komunikasi ke
atas.
2) Program komunikasi ke atas yang efektif berlangsung secara
berkesinambungan. Bawahan harus memberi dan meminta informasi
dari tingkat yang lebih tinggi terlepas dari bagaimana segala sesuatu
berjalan.
3) Program komunikasi ke atas yang efektif menggunakan saluran rutin.
Tanpa menghilangkan kesempatan bagi setiap pegawai untuk
40
4)
5)
6)
7)
2.3
melakukan kontak dengan dan didengar oleh manager di setiap
tingkat, informasi harus mengalir ke atas melalui organisasi mengikuti
tahap-tahap yang biasa dan rutin. Masalah dan permohonan informasi
harus berjalan ke atas melalui organisasi sampai menemui orang yang
dapat melakukan tindakan.
Program komunikasi ke atas yang efektif menitikberatkan kepekaan
dan penerimaan dalam pemasukan gagasan dari tingkat yang lebih
rendah. Perbedaan dalam interpretasi dan persepsi atas peristiwa harus
diperhitungkan. Jabatan seseorang dalam organisasi mendorongnya
untuk memandang segala sesuatu secara berbeda dan memberi makna
yang berlainan pula atas yang dilihatnya itu. Berbedaan dalam nilainilai dan prioritas menghasilkan perbedaan dalam dugaan dan
kesimpulan. Mendengarkan dengan tujuan untuk memahami apa yang
dimaksud oleh seseorang adalah dasar bagi komunikasi ke atas yang
efektif.
Program komunikasi ke atas yang efektif mencakup mendengarkan
secara objektif. Penyelia dan manager harus menyediakan waktu
untuk mendengarkan bawahan secara objektif. Kebiasaan
mendengarkan dengan jengkel, menunjukkan bahwa komunikasi ke
atas sebenarnya tidak dikehendaki. Mendengarkan yang disampaikan
bawahan memudahkan dan mengurangi ketegangan bawahan,
menunjukkan maksud menerima dan kesediaan untuk mendengarkan
pendapat yang bertentangan, kritik-kritik dan cara pandang yang
berlainan.
Program komunikasi ke atas yang efektif mencakup tindakan untuk
menanggapi masalah.
Program komunikasi ke atas yang efektif menggunakan berbagai
media dan metode untuk meningkatkan aliran informasi.
(Pace, 2010: 193-194).
Fungsi Komunikasi
Fungsi komunikasi seperti dikemukakan Willian I Gorden 1978 (dalam
Mulyana, 2007 : 5) adalah sebagai berikut:
1.
Komunikasi sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial mengisyaratkan
bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi
diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, terhindar dari
tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi menghibur dan
memupuk hubungan dengan orang lain. Pada suatu sisi, komunikasi
merupakan mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya
masyarakat, baik secara horizontal ataupun secara vertikal. Melalui
41
komunikasi kita bekerjasama dengan anggota masyarakat untuk
mencapai tujuan bersama.
2. Sebagai komunikasi ekspresif
Komunikasi berfungsi untuk menyampaikan perasaanperasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan tersebut terutama
dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang,
peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci
dapat disampaikan lewat kata-kata, namun bisa disampaikan secara
lebih ekpresif lewat perilaku nonverbal. Seorang ibu menunjukkan
kasih sayangnya dengan membelai kepala anaknya. Orang dapat
menyalurkan kemarahannya dengan mengumpat, mengepalkan tangan
seraya melototkan matanya, mahasiswa memprotes kebijakan
penguasa negara atau penguasa kampus dengan melakukan
demontrasi.
3. Sebagai komunikasi instrumental
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum,
yaitu: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap,
menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Komunikasi berfungsi
sebagi instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan,
baik tujuan jangka pendek ataupun tujuan jangka panjang.
(Willian I Gorden dalam Mulyana, 2007:5).
2.4
Konseptualisasi Gaya Komunikasi (Pimpinan)
2.4.1 Pengertian Gaya Komunikasi (Pimpinan)
Gaya komunikasi merupakan kepribadian sehingga sukar berubah.
Keterampilan berkomunikasi melalui ”gaya komunikasi” mengisyaratkan
kesadaran diri pada level paling tinggi. Untuk memahami gaya komunikasi maka
setiap orang harus berusaha menciptakan dan mempertahankan gaya komunikasi
personal sebagai ciri khas pribadinya, gaya adalah kepribadian.
Gaya Komunikasi(communication style) didefinisikan sebagai seperangkat
perilaku antar pribadi yang terspesialisasi yang digunakan dalam suatu situasi
tertentu (a spesialized set of interpersonal behaviors that are used in a given
situation). Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku
42
komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respons atau tanggapan tertentu
dalam situasi yang tertentu pula.
Gaya komunikasi antarpersonal berbeda dengan gaya komunikasi melalui
media massa (komunikasi massa), perbedaan itu karena komunikasi antarpersonal
mempunyai aspek-aspek teknis yang berkaitan dengan pengaruh faktor-faktor
psikologi seperti faktor kognitif maupun afektif. .
Berarti setiap individu memiliki variasi preferensi “gaya komunikasi” dan
orang lain yang dalam prakteknya manusia tidak hanya mengandalkan satu gaya
berkomunikasi tetapi lebih dari satu (Liliweri, 2011 : 308).
Seperti yang telah dijelaskan pada pemaparan gaya komunikasi
sebelumnya di mana secara umum gaya merupakan sikap, gerakan, tingkah laku,
gerak-gerik yang terangkum di dalam kepribadian diri manusia dalam hal ini
seorang pimpinan di suatu organisasi. Seorang pimpinan akan memiliki
sekumpulan gaya yang digunakan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran
organisasi tercapai. Gaya komunikasi yang digunakan oleh seorang pimpinan di
sini menggambarkan kombinasi perilaku antara gaya yang telah menjadi
kepribadiannya dan gaya seorang pimpinan.
Bentuk gaya komunikasi yang pada dasarnya dilakukan oleh seorang
pimpinan secara umum yakni sebagai berikut:
a.
Mengarahkan
Gaya ini sama dengan gaya otokratis di mana bawahan mengetahui
secara persis apa yang diharapkan dari mereka.
43
b.
Mendukung
Pimpinan bersifat ramah terhadap bawahan sehingga tidak adanya
kecanggungan mengenai jenjang jabatan atau hirarki.
c.
Berpartisipasi
Pimpinan selalu berusaha untuk menanyakan hasi kerja karyawan dan
memberikan kebebasan untuk menerima ide ataupun saran yang
berhubungan dengan pencapaian tujuan organisasi.
d.
Berorientasi Terhadap Tugas
Pimpinan menyusun serangkain tujuan yang menantang bawahannya,
sehingga dari keempat tipe di atas pada akhirnya gaya kepemimpinan
dibagi dalam dua dimensi, yaitu dimensi tugas dan dimensi manusia.
Pandangan ini mensyaratkan agar seorang pimpinan mampu membedakan
gaya seperti apa yang harus dilakukan yang tentunya melihat dari situasi tertentu
dan mampu menggunakan gaya tersebut secara benar.
2.4.2
Arti Penting Gaya Komunikasi (pimpinan)
Dalam suatu organisasi yang di antaranya terdapat pimpinan dan bawahan
tentunya memiliki peranan yang sangat kuat di dalam menjalankan fungsi dari
organisasi tersebut. Gaya komunikasi seorang pimpinan tentu sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan suatu organisasi.
Dalam hubungan kerja, adanya suatu perhatian terhadap apa yang menjadi
pemikiran dan keresahan bawahannya merupakan suatu akibat dari gaya
komunikasi yang digunakan pemimpin yaitu gaya komunikasi demokratis.
Sehingga dengan begitu adanya penghargaan hak untuk menyadari bahwa
44
bawahan mempunyai masalah yang bisa saja mempengaruhi hubungan kerja.
Selanjutnya selain sikap demokratis, adanya kesadaran akan kepentingan bersama
antara bawahan maupun atasan harus diadakan demi keberhasilan pekerjaan yang
dijelaskan sebagai berikut:
a.
Komunikasi yang jelas tentang kepentingan organisasi, kepentingan
atasan dan bawahan dalam keberhasilan mencapai tujuan,
b.
Motivasi berprestasi dan berhasil,
c.
Perlunya dihindari berbagai konflik atau pertentangan antara pihakpihak yang berkepentingan, dan
d.
Adanya kecekatan dalam menyesuaikan diri, terutama dari pihak
atasan.
Gaya komunikasi pemimpin merupakan satu hal yang berpengaruh penting
pada kinerja bawahan yang akan tercipta. Selain sikap kepemimpinan pemimpin
tersebut, karyawan juga membutuhkan beberapa perlakuan komunikasi yang baik
dari atasannya. Seperti yang kita ketahui bahwa komunikasi merupakan aspek
terpenting dalam suatu organisasi, tanpa adanya komunikasi antara atasan dan
bawahan, rasanya kecil kemungkinan mereka untuk mampu mencapai tujuan
organisasi secara bersama-sama.
2.4.3
Gaya komunikasi (pimpinan), motivasi dan komunikasi organisasi
Berbicara tentang gaya komunikasi maka kita akan membahas tentang
kepribadian diri seseorang yang dalam hal ini pimpinan yang tentunya akan
berkaitan erat dengan motivasi kerja bawahan itu sendiri dalam konteks
komunikasi organisasi. Melalui suatu gaya komunikasi, maka pimpinan akan
45
menciptakan suatu sikap yang tentu saja bersifat positif. Misalnya ketika seorang
pemimpin memiliki gaya komunikasi yang cenderung mengarahkan, maka lama
kelamaan karyawan akan keluar dari zona nyaman mereka. Mungkin pada
awalnya karyawan menerima dengan semua arahan yang diperintahkan atasan
karena mereka memahami kedudukan mereka hanya sebagai bawahan, namun
dalam jangka waktu yang lama, gaya komunikasi seperti ini tidak akan efektif
karena sebenarnya tanpa diarahkan kembali karyawan sudah paham harus
melakukan apa. Hal demikianlah yang dapat menurunkan motivasi kerja
karyawan. Dengan kata lain, gaya komunikasi pemimpin sangat mempengaruhi
tinggi rendahnya motivasi kerja karyawan.
Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss Dalam buku Teori
Komunikasi Perspektif, Ragam, & Aplikasi (Rohim, 2009: 115-116) ada enam
Gaya Komunikasi yaitu:
a. The Controling Style, gaya mengendalikan ini, ditandai dengan
adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa, dan
mengatur perilaku, pikiran, dan tanggapan orang lain. Orang-orang
yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama
komunikator satu arah atau one way communicators.
b. The Equalitarian Style, Gaya komunikasi ini ialah adanya landasan
kesamaan. The Equalitarian style of communication ini ditandai
dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan
maupun tulisan yang bersifat dua arah (two way traffic of
communication). Dalam Gaya komunikasi ini tidak komunikasi
dilakukan secara terbuka. Artinya setiap anggota organisasi dapat
mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang
rileks, santai, dan informal. Dalam suasana demikian, memungkinkan
setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian
bersama.
c. The Structuring Style, Gaya komunikasi yang terstruktur ini,
memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna
memantapkan perintah yang harus dilaksanakan. Pengirim pesan
(sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk
mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang
46
tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku
dalam organisasi.
d. The Dynamic Style, Gaya komunikasi yang dinamis memiliki
kecenderungan agresif, karena pengiriman pesan aatau sender
memahami bahwa lingkungan pekerjaanya berorientasi pada tindakan.
Gaya komunikasi yang agresif ini adalah menstimulasi atau
merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja lebih cepat dan lebih
baik. Gaya komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi
persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan
bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup
untuk mengatasi masalah yang kritis itu.
e. The Reliquising Style, Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan
kesediaan untuk menerima saran, pendapat, ataupun gagasan orang
lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim
pesan mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang
lain.
f. The Withdrawal Style, gaya komunikasi kurang efektif bila dilakukan,
karena akan melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada
keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk
berkomunikasi dengan orang lain, karena ada persoalan atau kesulitan
antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut (Stewart L.
Tubbs dan Sylvia Moss dalam Rohim, 2009: 115-116).
Pada dasarnya dari keenam gaya komunikasi di atas, masing-masing
memilki esensi yang berbeda-beda yakni bersifat mengendalikan, kesamaan,
terstruktur, dinamis, dan gaya yang menerima pendapat dari siapapun yang sesuai
dengan realitas kepribadian seseorang pada umumnya terutama untuk memajukan
perusahaan ataupun dalam memberikan motivasi kepada karyawan.
Motivasi, dapat dikatakan sebagai suatu perangsang keinginan dan daya
penggerak kemauan bekerja seseorang. Dengan kata lain motivasi merupakan
akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Oleh
karena itu, terdapat perbedaan dalam kekuatan motivasi yang ditunjukkan oleh
seseorang dalam menghadapi situasi tertentu dibandingkan dengan orang-orang
lain yang menghadapi situasi yang sama. Bahkan, seseorang akan menunjukkan
dorongan tertentu dalam menghadapi situasi yang berbeda dan dalam waktu yang
47
berlainan. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor-faktor pendukung lain yakni
seperti ;
a.
Kepribadian dan kehidupan emosional
b.
Faktor lingkungan kerja yang harmonis dan mendukung.
Mungkin sudah banyak pemimpin yang memahami gaya komunikasi
seperti apa yang harus ia terapkan dalam organisasinya, namun terkadang
pemimpin belum paham akan pelaksanaannya. Konsistensi pemimpin juga
diperlukan dalam penerapan gaya komunikasi di organisasi atau perusahaannya.
2.5
Definisi Pemimpin
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan
khususnya kecakapan dan kclebihan disatu bidang, sehingga dia mampu
mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitasaktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartono, 1994:33).
Saat menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin, waktu yang dimiliki
setiap hari sepertinya tak pernah cukup dan cenderung kurang. Memanfaatkan
kekuatan di pagi hari dapat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas
kinerja seorang pemimpin, khususnya dalam menjalankan tugas kepemimpinan.
“Pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, dan
pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermat akan
akan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat” (C. N. Cooley, 1902).
48
2.5.1
Fungsi Pemimpin
Peranan pimpinan dalam suatu organisasi sangat sentral dalam usaha
pencapaian tujuam dan berbagai sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Efektifitas kepemimpinan dari pemimpin bersangkutan merupakan suatu hal yang
sangat didambakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam keberhasilan
organisasi tersebut.
Kemampuan pemimpin berintikan kemampuan mengambil keputusan. Hal
tersebut berarti bahwa fungsi-fungsi pemimpin berangkat dan bermuara pada satu
titik sentral, yaitu pengambilan keputusan. Ada lima fungsi pemimpin, di
antaranya:
1) Pimpinan Sebagai Penentu Arah
Arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuannya
harus sedemikian rupa sehingga mengoptimalkan pemanfaatan dari
segala sarana dan prasarana yang tersedia. Arah yang dimaksud
tertuang dalam strategi dan taktik yang disusun dan dijalankan oleh
organisasi dalam organisasi tersebut. Tergantung pada jengjang
hierarki jabatan pimpinan yang diduduki oleh seseorang dalam
organisasi,
keputusan
yang
digolongkan sebagai berikut:
a. Keputusan strategik
b. Keputusan taktis
c. Keputusan teknis
d. Keputusan operasional
diambil
dalam
organisasi
dapat
49
Perlu ditekankan bahwa pada tingkat kepemimpinan puncak
sekali
pun
seseorang
tetapmengambil
keputusan
operasional,
meskipun dalam jumlah yang sangat kecil. Sebaliknya, seorag
pimpinan tingkat rendah mengambil pula keputusan yang sifatnya
strategik, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.
2) Pimpinan Sebagai Wakil dan Juru Bicara Organisasi
Pengertian yang tepat diharapkan bermuara pada pemahaman
dan pemberian dukungan yang diberikan, bertolak dari kepercayaan
berbagai pihak tersebut terhadap kemampuan organisasi memenuhi
berbagai
kepentingan
yang
diwakili
oleh
pihak-pihak
yang
berkepentingan itu. Yang paling bertanggung jawab untuk berperan
sebagai wakil dan juru bicara perusahaan dalam hubungan dengan
berbagai pihak tersebut adalah pimpinan perusahaan.
Salah satu konsekuensi logis dari fungsi tersebut adalah bahwa
seorang pemimpin adalah mutlak perlu mengetahui bukan saja
bagaimana merumuskan kebijaksanaan strategik, akan tetapi juga
berbagai keputusan lain yang telah diambil oleh para pejabat pimpinan
yang lebih rendah. Bahkan lebih dari itu. Dituntut pula pengetahuan
yang memadai tentang berbagai keputusan yang telah diambil.
Pengetahuan demikian akan memungkinkannya memberikan kita
penjelasan yang diperlukan sedemikian rupa sehingga berbagai
sasaran yang telah disinggung di muka tercapai.
50
3) Pimpinan Sebagai Komunikator Yang Efektif
Pemeliharaan hubungan baik ke dalam maupun keluar
dilakukan melalui proses komunikasi, baik secara lisan maupun
tulisan. Berbagai kategori keputusan yang telah diambil disampaikan
kepada para pelaksana melalui jalur komunikasi yang terdapat dalam
organisasi.
Yang dimaksud dengan penerima pesan (komunikan) adalah
orang atau pihak kepada siapa pesan ditujukan. Yang sangat penting
mendapat perhatian dalam hubungan ini ialah bahwa sebelum pesan
yang hendak disampaikan diterima oleh penerima, “kode” dan simbolsimbol yang digunakan perlu diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam
sesuatu bentuk yang dipahami oleh penerima.
Keterbatasan pengetahuan penerima adalah akibat tingkat
pendidikan yang pernah ditempuhnya. Semakin rendah tingkat
pendidikannya, semakin rendah pula tingkat kognitifnya yang
cenderung mengakibatkannya melihat sesuatu secar simplistik. Karena
itu simbol-simbol penerjemahan yang digunakannya pun biasanya
akan bersifat sederhana pula.
Jika sasaran disampaikannya pesan adalah agar pihak-pihak
tertentu di luar organisasi memberikan dukungan terhadap kegiatan
operasional organisasi dan dukungan tersebut diterima, berarti telah
terjadi proses komunikasi yang efektif. Jika tidak, berarti ada sesuatu
hal yang tidak terjadi sebagaimana diharapkan.
51
4) Pemimpin Sebagai Mediator
Pembahasan
tentang
fungsi
pimpinan
sebagi
mediator
difokuskan pada penyelesaian situasi konflik yang mungkin timbul
dalam satu organisasi, tanpa mengurangi pentingnya situasi konflik
yang mungkin timbul dalam hubungan keluar dan diatasi.
Dalam satu organisasi dapat timbul situasi kinflik dan faktorfaktor penyebabnya pun dapat beraneka ragam. Situasi konflik
biasanya timbul karena tiga faktor utama, yaitu:
a. Persepsi subjektif tentang kemungkinan timbulnya tantangan dari
pihak lain dalam organisasi
b. Kelangkaan sumberdaya dan dana
c. Adanya asumsi bahwa dalam organisasi tersebut berbagai
kepntingan yang diperkirakan tidak dapat atau sulit diserasikan.
2.5.2
Tipe Pemimpin
Seseorang yang menduduki jabatan pimpinan mempunyai kapasitas untuk
mebaca situasi yang dihadapinya secara tepat dan menyesuaikan gaya
kepemimpinannya agar sesuai dengan tuntutan situasi yang dihadapinya,
meskipun penyesuaian itu mungkin hanya bersifat sementara.
Meski belum terdapat kesepakatan bulat tentang tipologi kepemimpinan
yang secara luas dikenal dewasa ini, lima tipe pemimpin yang diakui
keberadaaanya diantaranya Tipe otokratik, Tipe paternalistik, Tipe kharisma, Tipe
Laissez faire, Tipe demokratik.
52
Biasanya karyawan lebih menyukai pemimpin yang demokratis atau
menerapkan sistem musyawarah, di mana aspirasi dari karyawan dan kebijakan
dari pemimpin dirundingkan dalam situasi tertentu.
“Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan
bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi
pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung
jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan
kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi
terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. Kepemimpinan
demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan
nasehat dan sugesti bawahan”. (Siagian, 2010 : 40)
Pemimpin mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masingmasing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada
saat-saat dan kondisi yang tepat.
“Seorang pemimpin yang demokratik dihormati dan disegani dan bukan
ditakuti karena perilakunya dalam kehidupan organisasional perilakunya
mendorong para bawahannya menumbuhkan dan mengembangkan daya inovasi
dan kreativitasnya”. (Siagian, 2010 : 43)
2.6
Motivasi
Istilah motivasi (motivation) berasal dari bahasa latin, yakni movere, yang
berarti “menggerakkan” (to move). Ada macam-macam rumusan untuk istilah
motivasi,
seperti:
“motivasi
mewakili
proses-proses
psikologikal,
yang
menyebabkan timbulnya, diarahkannya, dan terjadinya persistensi kegiatankegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke arah tujuan tertentu” (Mitchell,
1982) Definisi lain tentang motivasi menyatakan bahwa “motivasi merupakan
hasil sejumlah proses yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang individu,
53
yang menyebabkan timbulnya sikap entusiasme dan persistensi dalam hal
melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu” (Gray, (1984) dalam Winardi, 2011 :
2).
Rumusan tersebut menanggapi perbincangan yang berlangsung dalam
bidang riset motivasional, tentang mengapa kiranya seseorang dapat bersikap
entusias dan persisten, dalam hal melaksanakan tugas. Salah satu pandangan
mengatakan,
bahwa
kebutuhan-kebutuhan
yang
tidak
dapat
diobservasi
memotivasi perilaku.
Motivasi merupakan sebuah determinan penting bagi kinerja individual.
Jelas kiranya, bahwa ia bukan satu-satunya determinan, karena masih ada
variabel-variabel lain yang turut mempengaruhinya seperti :
a.
Upaya (kerja) yang dikerahkan
b.
Kemampuan orang yang bersangkutan.
c.
Pengalaman kerja sebelumnya
Menurut James L. Gibson, apabila mempelajari berbagai macam
pandangan dan pendapat tentang persoalan motivasi, maka dapatlah kita tarik
kesimpulan tentang komunikasi yaitu:
a.
b.
c.
d.
Para teoritisi menyajikan penafsiran-penafsiran yang sedikit berbeda
tentang motivasi dan mereka menitikberatkan faktor-faktor yang
berbeda.
Motivasi berkaitan dengan perilaku dan kinerja.
Motivasi mencakup pengarahan ke arah tujuan.
Dalam hal mempertimbangkan motivasi, perlu kita perhatikan faktor
faktor: Fisiologikal, psikologikal, dan lingkungan (environtmental),
sebagai faktor-faktor penting (Gibson (1985) dalam Winardi, 2011 :
4).
54
Masing-masing tipe (motivasi) memiliki tempatnya sendiri di dalam
organisasi, hal mana tergantung dari situasi dan kondisi yang berkembang (MC
Gregor, 1960).
2.6.1
Teori Tentang Motivasi Dari A. H Maslow
Sejumlah proporsisi Maslow tentang perilaku manusia (Maslow 1954)
dalam Winardi, 2011 :12-13). A. H Maslow mengemukakan sejumlah proposisi
penting tentang perilaku manusia diantaranya:
a.
b.
c.
Manusia merupakan mahluk yang serba berkeinginan. Ia senantiasa
menginginkan sesuatu dan ia senantiasa menginginkan lebih banyak.
Tetapi, apa yang diinginkannya tergantung pada apa yang sudah
dimiliki olehnya. Maka sekalipun kebutuhan tertentu telah terpenuhi,
kebutuhan-kebutuhannya pada umumnya tidak mungkin terpuaskan
seluruhnya.
Sebuah kebutuhan yang dipenuhi, bukanlah sebuah motivator
perilaku. Hanya kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi
memotivasi perilaku dan menyebabkan timbulnya kekuatan-kekuatan
besar atas apa yang dilakukan oleh seorang individu.
Kebutuhan manusia diatur dalam suatu seri tingkatan –suatu hierarki
menurut pentingnya masing-masing kebutuhan. Segera setelah
kebutuhan-kebutuhan pada tingkatan lebih rendah kurang lebih
terpenuhi, maka munculah kebutuhan-kebutuhan pada tingkat berikut
yang lebih tinggi dan menuntut pemuasan.
Jadi Maslow memandang motivasi seorang individu sehubungan dengan
urutan kebutuhan yang dipredeterminasi, yang masing-masing memiliki
peringkatnya sendiri.
1) Kebutuhan-Kebutuhan Fisiologikal
Pada tingkatan terendah hierarki yang ada dan pada titik awal
teori motivasi, terdapat kebutuhan-kebutuhan fisiologikal. Kebutuhan
inilah yang perlu dipenuhi untuk mempertahankan hidup.
55
Apabila kebutuhan-kebutuhan fisiologikal tiddak dipenuhi,
maka mereka akan lebih terasa dibandingkan dengan kebutuhankebutuhan lainnya.
2) Kebutuhan akan Keamanan
Apabila kebutuhan fisiologikal cukup terpenuhi, maka
kebutuhan pada tingkatan berikut yang lebih tinggi yakni kebutuhan
akan keamanan, mulai mendominasi perilaku manusia. Kebutuhan
akan keamanan juga mencakup keinginan untuk mengetahui batasbatas perilaku yang diperkenankan –maksudnya keinginan akan
kebebasan di dalam batasan tertentu. Seseorang yang tidak memiliki
pengetahuan lengkap tentang batasan-batasan perilaku yang diterima
bagi dirinya sendiri dapat mempunya perasaan yang sangat terancam.
Hampir
setiap
karyawan
industrial
tergantung
pada
organisasinya sehubungan dengan ketentraman, supervisi, keputusankeputusan
dengan
pekerjaanya,
dan
peluang
kerja
yang
berkesinambungan.
3) Kebutuhan-kebutuhan sosial
Sewaktu kebutuhan fiosiologikal manusia dan kebutuhan akan
keamanan relatif terpenuhi, maka kebutuhan-kebutuhan sosial yang
merupakan kebutuhan pada tingkatan berikutnya menjadi motivator
penting bagi perilakunya. Seorang individu tergolong pada kelompokkelompok tertentu, ia ingin bersosialisasi dengan pihak lain, ia ingin
56
diterima oleh rekan-rekannya, dan ia ingin berbagi dan menerima
sikap berkawan dan afeksi.
4) Kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan
Dalam hierarki Maslow, pada tingkatan berikutnya, terlihat
adanya kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan atau kebutuhankebutuhan
egoistik-untuk
penghargaan
diri
maupun
untuk
penghargaan dari pihak lain. Kebutuhan akan penghargaan diri
mencakup kebutuhan untuk mencapai kepercayaan diri, prestasi,
kompetensi, pengetahuan, penghargaan diri, dan kebebasan serta
independensi (ketidak ketergantungan). Keinginan atau hasrat
kompetitif untuk menonjol dan untuk melampaui prestasi orang-orang
lain boleh dikatakan suatu sifat universal manusia. Kebutuhan pokok
akan penghargaan ini apabila dimanfaatkan secara tepat dapat
menyebabkan timbulnya kinerja keorganisasian luar biasa. Tidak
seperti halnya kebutuhan-kebutuhan tingkat lebih rendah, kebutuhan
akan penghargaan jarang sekali terpenuhi secara sempurna. Bahkan,
kita dapat mengatakan bahwa mereka tidak pernah terpuaskan.
2.6.2
Peranan Motivasi (Hellriegel, dkk, 1979: 388-389)
Motivasi mempengaruhi jenis penyesuaian yang dilakukan oleh para
karyawan terhadap suatu organisasi. Produktivitas dipengaruhi oleh motiv-motiv
khusus yang dimiliki oleh para karyawan dalam hal bekerja pada tempat tertentu,
dan dalam hal melakukan pekerjaan dalam hal tertentu.
57
Setiap organisasi perlu memenuhi tiga macam syarat behavioral sebagai
berikut:
a.
Orang-orang bukan saja harus tertarik untuk turut berpartisipasi
dengan organisasi, tetapi tetap berada di sana.
b. Orang-orang harus melaksanakan tugas-tugas untuk apa mereka
dipekerjakan.
c. Orang-orang harus melampaui kinerja rutin dan melibatkan diri dalam
perilaku yang bersifat kreatif dan inovatif dalam pekerjaan mereka.
(Katz, 1978).
Dengan kata lain agar organisasi menjadi efektif, maka organisasi tersebut
perlu menangani masalah-masalah motivasional dengan menstimulasi keputusankeputusan untuk turut serta dengan organisasi yang bersangkutan dan keputusan
untuk berproduksi pada tempat kerja. Sewaktu teknologi meningkatkan
kompleksitas proses-proses produksi, maka mesin-mesin saja tidak dapat
meningkatkan produksi. Manusia turut serta meningkatkan produksi.
Membentuk suatu pemahaman tentang motivasi karyawan akan membantu
upaya menarik dan mempertahankan pekerja-pekerja terbaik, hal tersebut akan
merangsang para pekerja untuk melaksanakan pekerjaan mereka pada tingkattingkat yang paling terampil dan kreatif (Winardi, 2011 :131).
BAB III
METODELOGI DAN OBJEK PENELITIAN
3.1
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, metode ini
hanya memberikan gambaran atau deskripsi tentang variabel dari sebuah
fenomena yang diteliti. Sedangkan penelitian Kuantitatif adalah penelitian yang
sarat dengan nuansa angka-angka dalam teknik pengumpulan data di lapangan.
Dalam analisis data, metode penelitian kuantitatif memerlukan bantuan
perhitungan ilmu statistik, baik statistik deskriptif maupun inferensial.
Menurut Elvinaro Ardianto dalam buku Metodelogi Penelitian untuk
Public Relations menebutkan bahwa:
“Di dalam penelitian deskriptif, variabel yang diteliti bisa satu, dua, tiga,
atau lebih. Setiap variabel yang diteliti tidak dilakukan pengujian untuk
mengetahui adanya hubungan dari variabel-variabel yang diteliti atau
dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus statistik.
Analisis yang digunakan dalam metode deskriptif kuantitatif hanya
menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk tabel tunggal dan tabel
silang, dengan data frekuensi (f) dan presentase (%)”. (Ardianto, 2011: 47
dan 48)
Penelitian deskriptif hanya memaparkan situasi atau peristiwa, tidak
mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat
prediksi. Metode deskriptif dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang
keadaan-keadaan nyata yang sekarang berlangsung. Metode deskriptif lebih
mengupayakan pemaparan mengenai berbagai pandangan, sikap, dan proses
pembentukan fenomena serta permasalahannya berdasarkan pada perilaku para
58
59
pelakunya yang kemudian digambarkan peneliti secara faktual. Bentuk fakta yang
digambarkan pada metode desktiptif ini dapat dilakukan melalui angket ataupun
wawancara, di mana peneliti secara langsung menggali ke dalam informasi
penelitian langsung dari para pelaku fenomena penelitian di dalamnya. Metode
deskriptif digunakan karena memberikan perangkat yang tepat bagi peneliti untuk
dapat menyampaikan fenomena penelitian secara utuh.
Menurut Suryabrata (1983:18) di dalam bukunya “Metodelogi Penelitian”
penelitian deskriptif ini memiliki tujuan yaitu untuk membuat pencandraan
(deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam arti
penelitian deskriptif adalah akumulasi data dasar dalam cara deskriptif
semata, tidak perlu mencari atau menerangkan saling berhubungan dan
menentukan hipotesis secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai
fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu..
Data kuantitatif berbentuk angka, yang mana suatu pernyataan atau
pertanyaan yang memerlukan alternatif jawaban di antaranya: sangat setuju (SS)
diberi angka 4, setuju (S) diberi angka 3, kurang setuju (KS) diber angka 2, dan
tidak setuju (TS) diberi angka 1 (Sugiyono, 2002:7). Penelitian ini berusaha untuk
dapat mendeskripsikan peristiwa terutama Gaya komunikasi pemimpin dalam
pemberian motivasi di PT. Nugraha Tekstil.
3.2
Teknik Pengumpulan Data
1.
Angket
Angket adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang
memungkinkan peneliti mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku,
dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa
terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau sistem yang sudah ada.
Dengan menggunakan angket/kuesioner analisis berupaya mengukur
apa yang ditemukan dalam wawancara, selain itu juga menentukan
seberapa luas atau terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam
suatu wawancara. (Ardianto 2011: 162)
60
Dalam penelitian ini peneliti akan membagikan angket/
kuesioner kepada karyawan di PT. Nugraha, guna mendapatkan
informasi yang lengkap mengenai masalah di penelitian ini, data dari
responden dapat melengkapi data apa yang dibutuhkan oleh peneliti.
2.
Wawancara
Menurut
Prabowo
(1996)
wawancara
adalah
metode
pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang
responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini, wawancara akandilakukan dengan menggunakan
pedoman wawancara.
Menurut Patton (Poerwandari, 1998) dalam proses wawancara
dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini,
interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum,
serta mencantukam isu-isu yang harus diliput tanpa
menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak
terbentuk pertanyaan eksplisit.2
Dalam pnelitian ini, peneliti akan mewawancarai karyawan
yang bekerja di PT. Nugraha Tekstil yang dianggap memiliki
kredibilitas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti
guna mendapatkan data-data pendukung mengenai motivasi yang
dilakukan oleh direktur untuk memperkuat data dari angket penelitian.
3.
Observasi
Observasi atau pengamatan meliputi kegiatan pemusatan
perhatian terhadap sesuatau obyek yang menggunakan alat indera
(Arikunto, 2002:133). Dengan demikian observasi merupakan
2
ibid
61
pengamatan langsung terhadap fenomena yang dikaji. Observasi dapat
dilakukan dengan rekaman gambar maupun rekaman suara. Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpulan data yang
berupa pedoman pengamatan dan observasi partisipasi dengan tujuan
untuk mengetahui bagaimana gaya komunikasi yang dilakukan di PT.
Nugraha Tekstil Jl. Rancajigang, Desa Padamulya No. 41 Majalaya,
Kabupaten
Bandung.
Adapun
cara
yang
digunakan
adalah
mengadakan pengamatan langsung di PT. Nugraha dengan cara
melihat, mendengar dan penginderaan lainnya.
Observasi
secara
langsung
mempunyai
maksud
untuk
mengamati dan melihat langsung kegiatan-kegiatan pemimpin
memberikan arahan atau berinteraksi dengan bawahannya. Dalam
penelitian ini yang diobservasi antara lain aktifitas sehari-hari yang
dilakukan oleh pemimpin PT. Nugraha. Secara khusus mengamati
kegiatan-kegiatan pemimpindalam memberikan motivasi kepada
bawahannya.
4.
Dokumentasi
Dokumentasi
Metode
dokumentasi
yaitu
mencari
data
mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku,
surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya
(Arikunto, 2002:148). Dokumentasi diperlukan untuk memperkuat
data-data yang diperoleh melalui sumber-sumber tersebut di atas.
62
Dokumentasi
dalam
penelitian
ini
diperlukan
untuk
memperkuat data-data yang diperoleh dari lapangan yaitu dengan cara
mengumpulkan data yang berupa catatan tertulis dari PT. Nugraha
Tekstil. Peneliti juga merekam hasil penelitian dalam bentuk foto-foto
mengenai kegiatan-kegiatan dan kondisi di PT. Nugraha Tekstil.
3.3
Objek Penelitian
Sesuai dengan judul penelitian ini yang berjudul Gaya Komunikasi
Pemimpin dalam Pemberian Motivasi di PT. Nugraha Tekstil, maka Objek dalam
penelitian ini adalah Gaya Komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin di PT.
Nugraha Tekstil itu sendiri. Diharapkan apa yang ingin digali oleh peneliti dapat
tercapai menegenai gaya komunikasi pimpinan kepada bawahan dalam pemberian
motivasi.
3.4
Gambaran Umum PT. Nugraha Tekstil
PT. Nugraha adalah suatu perusahaan di bidang Tekstil yang berlokasi di
Majalaya. Perusahaan ini berdiri tahun 1985, didirikan oleh Bapak H. Dindin S.K.
nama nugraha sendiri diambil karena dengan diberi nama Nugraha, berharap
perusahaan dapat mendapat anugrah yang baik. Perusahaan ini dibuat untuk
memajukan hasil produksi dalam negeri, membuktikan bahwa hasil produksi
dalam negeri kualitas tekstilnya mampu bersaing dengan hasil produksi tekstil di
luar negeri. PT. Nugraha ini mencoba memberikan kepuasan kepada konsumen
nantinya dengan cara memberikan kualitas kain yang baik serta ditunjang dengan
63
harga yang relatif murah serta membuka lapangan kerja khususnya warga di
sekitar pabrik. Sekarang ini sudah banyak beredar kain tekstil dari luar yang
masuk ke Indonesia khususnya dari cina dan korea, padahal kualitas kain yang
berasal dari luar itu sama bagusnya dengan kualitas produksi di dalam negri
sendiri. Begitupun dengan direktur perusahaan di Majalaya yang sekarang
didominasi oleh orang asing, khususnya orang Korea dan Cina. Banyaknya
masyarakat menganggap bahwa tekstil dari luar lebih bergengsi dari tekstil dalam
negeri.
PT. Nugraha mempunyai “VISI” Mensejahterakan karyawan, serta
membuka lapangan kerja sebanyak banyaknya bagi calon karyawan serta
mempertahankan hasil produksi kain di Indonesia agar tidak didominasi oleh
pihak luar, adapun MISI yang dilakukan yakni “Memajukan hasil produksi dalam
negri untuk diakui oleh perusahaan tekstil lain, menghasilkan produksi yang baik
sehingga
dapat
bermanfaat
bagi
konsumen,
serta
membangun
dan
mempertahankan PT. Nugraha agar tetap maju dan makin berkembang setiap
tahunnya”. Selain itu PT. Nugraha mempunyai Budaya yang selalu diterapkan
oleh pemimpinnya seperti Sedikit bicara dan banyak bekerja serta memupuk
saling menghormati dan saling kekeluargaan di antara sesama pekerja, itulah
kata–kata yang terkandung di dalam PT. Nugraha ini, yang berharap agar semua
yang berhubungan dengan PT. Nugraha ini bekerja dengan semaksimal mungkin
dan penuh tanggung jawab. Jika kita melakukan kegiatan apapun dengan hati dan
tanggung jawab, percayalah semuanya akan mendapatkan hasil yang maksimal.
64
Itulah penggalan budaya yang selalu diterapkan oleh direktur PT. Nugraha
Tekstil.
Sumber: PT. Nugraha
Gambar 3.1
Lambang PT. Nugraha
Persaingan pasti akan selalu ada sampai kapanpun. Tetapi PT. Nugraha
sebuah perusahaan tekstil yang selalu melakukan evaluasi terhadap kinerja
perusahaan, dan hasil produksi. Dengan adanya evaluasi akan memperbaiki
kekurangan-kekurangan yang ada di perusahaan. Selain itu atasan dan para
pengurus pabrik pun terjun ke lapangan sehingga dapat memantau kinerja
karyawan secara langsung. dengan cara yang dilakukan, pihak perusahaan
semakin memahami apa kebutuhan dan relita-realita yang terjadi di dalam parik
itu sendiri untuk dapat mengantisipasi kendala-kendala yang dialami. Hal ini
diharapkan membuat perusahaan tekstil semakin maju dan berkembang dari
perusahaan tekstil lainnya.
Adapun mesin-mesin yang digunakan untuk memproduksi kain, serta
proses dari pembuatan kain tekstil itu sendiri di antaranya :
65
Gambar 3.2
Mesin Falet
Falet ini berfungsi untuk menggulung benang dari kones yang besar ke
sisir yang lebih kecil, proses memindahkan gulungan benang ke sisir yang lebih
kecil diperlukan waktu kurang lebih 10 menit dari satu kones besar ke sisir yang
lebih kecil. Proses ini bertujuan agar benang yang sudah digulung ke sisir yang
lebih kecil, dapat masuk ke dalam mesin falet boom. Kemudian sisir-sisir yang
sudah tergulung kemudian dipindahkan ke mesin falet boom yang akan
memproses dari benang sisir kecil ke boom yang nantinya akan dimasukkan ke
mesin tenun yang akan memproses dari benang ke kain putih atau kain hitam.
Gambar 3.3
Mesin Falet Boom
66
Setelah dari mesin falet yang memindahkan benang dari kones yang besar
ke sisir yang lebih kecil, langkah selanjutnya yaitu dengan memasukan sisir yang
terisi benang ke mesin falet boom. Mesin falet boom ini berfungsi untuk
memindahkan benang ke boom. Boom ini yaitu alat untuk menggulung benang
dari falet boom yang berfungsi untuk merajut benang menjadi kain. Proses
memindahkan benang ke boom ini terbilang cukup lama, karena benang yang
harus dipindahkan dari falet boom ke boom itu sendiri harus mencapai 60 meter
panjangnya, yang dapat ditempuh oleh mesin ini kurang lebih 60 menit
Gambar 3.4
Mesin Tenun
Setelah proses benang dari mesin falet dan mesin falet boom, proses yang
terakhir yaitu proses tenun dari benang menjadi kain. Proses tenun ini
67
menggunakan mesin tenun. Sepertti gambar di atas bahwa mesin tenun bekerja
dengan menggabungkan kain yang berasal dari boom dan kain yang berasal dari
mesin itu sendiri. Di mana sebelumnya mesin sudah dilengkapi dengan benang
rajut yang nantinya menggabungkan antara benang rajut dari mesin dan benang
dari boom. Proses tenun ini terbilang cukup cepat karena menggunakan mesin
yang terbaru dan di dalam pengoperasiannya lebih efisien karena karyawan
mampu memegang mesin tenun lebih dari satu unit.
3.5
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah individu, benda, atau organisme yang dijadikan
sumber informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian. Istilah
lain yang digunakan untuk menyebut subjek penelitian adalah responden, yaitu
orang yang memberi respon atas suatu perlakuan yang diberikan kepadanya. Di
dalam penelitian kualitatif, istilah responden atau subjek penelitiaan disebut
dengan informan, yaitu orang yang member informasi tentang data yang
diinginkan peneliti berkaitan dengan penelitian yang sedang dilaksanakannya.
Subjek penelitian merupakan bagian dari kelengkapan informasi yang dibutuhkan
bagi penelitian. Subjek penelitian lebih menunjukkan pada adanya keterlibatan
para pelaku dalam fenomena penelitian. Pengertian subjek penelitian diungkapkan
Arikunto menyatakan bahwa “Subjek adalah suatu hal yang menjadi sumber data
berupa, person (sumber data berupa orang).” (Arikunto, 2002: 107).
Dalam penelitian ini subjek penelitiannya yaitu karyawan (buruh) yang
bekerja di PT. Nugraha. Berdasarkan kutipan di atas, maka peneliti dapat
68
menentukan informan sesuai dengan kebutuhan yang disesuaikan menurut ke
dalaman penelitian yang dibutuhkan. Maka subjek penelitian yang ditentukan
adalah karyawan yang bekerja di PT. Nugraha (buruh). Subjek tersebut dipilih
karena buruh yang bekerja merupakan target utama bagi peneliti untuk dimintai
keterangan tentang gaya komunikasi direkturnya dan mengetahui kondisi yang
ada di PT. Nugraha. Karyawan ini dirasa telah cukup memnuhi kebutuhan
penelitian, karena metode deskriptif memaparkan dan memberikan gambaran
mengenai sebuah variabel dari sebuah fenomena yang diteliti, sehingga angket
yang dibagikan kepada karyawan dijadikan sebagai pendukung penelitian.
3.6
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Nugraha Tekstil Jalan rancajigang no 41,
RT. 1, RW 6, Desa Padamulya Majalaya pada bulan Desember 2013. Alasan
memilih penelitian di Majalaya karena daerah Majalaya ini banyak terdapat
industri tekstil. selain itu banyaknya warga asing yang mendirikan pabrik tekstil
yang berdampak berkurangnya pabrik tekstil yang dimiliki warga pribumi karena
persaingan industri yang semakin ketat. Penelitian dilakukan di PT. Nugraha
karena di sini pemilik dan direkturnya masih dimiliki dan dipimpin oleh orang
pribumi, peneliti ingin mengetahui bagaimana gaya komunikasi yang dilakukan
oleh direktur dalam pemberian motivasi kepada karyawan karena komunikasi di
PT Nugraha terlihat solid di dalam melakukan visi misinya. Selain itu direktur PT.
Nugraha mempermudah saya untuk mengumpulkan data dari karyawan, sebab
penyebaran angket dilakukan pada jam pulang kerja dan semua karyawan
69
diinstruksikan tidak boleh dipersilahkan pulang sebelum semuanya selesai
mengisi angket.
3.7
Teknik Analisis Data
3.7.1
Teknik Analisis Data Deskriptif
Memaparkan data/jawaban yang diberikan oleh responden atas sejumlah
pertanyaan yang diajukan dalam bentuk angket yang nantinya akan dimuat dalam
bentuk tabel tunggal, sehingga hasil yang didapat akan memperjelas masalah yang
diteliti.
Secara urut analisis dilakukan sebagai berikut:
a. Peneliti menjumlahkan tanda centang yang ada pada setiap kolom
untuk kemudian dicari besarnya prosentase untuk masing-masing
kategori.
b. Menjumlahkan banyaknya tanda centang pada setiap kolom yang
terdapat pada matriks alat bantu. Jumlah tersebut dibandingkan dengan
jumlah seluruh uraian materi kemudian dicari prosentasenya
c. Menuliskan besarnya prosentase dalam setiap kolom (Arikunto,
1990:348).
3.8
Komunikasi pemimpin dan karyawan
Komunikasi sangat dibutuhkan dalam pengembangan perusahaan. Bahkan
secanggih tektonogi saat inipun belum tentu membantu di dalam menjalin
hubungan satu sama lainnya. Komunikasi memegang peranan penting bagi setiap
manusia, apalagi komunikasi yang dilakukan pemimpin dan karyawannya, karena
di dalam perusahaan komunikasi secara langsung adalah hal yang paling efektif
untuk menyampaikan pesan penting baikpemberian motivasi, untuk membangun
kepercayaan ataupun pencapaian visi misi perusahaan yang akan dicapai yang
70
disampaikan oleh pemimpin kepada karyawannya. Selain itu komunikasi atasan
dengan karyawan dapat membantu atasan untuk memahami dan mengerti
kesulitan karyawannya di dalam bekerja. Hal ini akan membantu terciptanya
kinerja secara optimal.
Komunikasi atasan bawahan dalam organisasi merupakan hal yang sangat
penting. Untuk itu pemimpin di PT. Nugraha berusaha semaksimal mungkin
memberikan keleluasaan untuk berkomunikasi secara langsung tanpa ada batasan,
mengenai keluhan karyawan, kondisi internal perusahaan, ataupun hal-hal yang
menyangkut kepentingan karyawan ataupun perusahaan. Komunikasi tanpa ada
batasan inilah yang akan menjalin kepercayaan antara pemimpin dan karyawan
karena dengan seringnya menjalin komunikasi satu sama lainnya pemimpin dan
karyawan akan merasa lebih dekat dan akan mengenal karakter satu sama lainnya.
Untuk itu di PT. Nugraha komunikasi antara pimpinan dan karyawan menjadi
faktor utama di dalam membangun perusahaan agar visi dan misi perusahaan
dapat tercapai, dan menciptakan suatu organisasi yang lebih baik dan efektif.
3.9
Tugas Pemimpin
Tugas pemimpin yaitu melaksanakan fungsi-fungsi manajement yang di
antaranya :
a.
Merencanakan,
b.
Mengorganisasikan,
c.
Menggerakan dan,
d.
Mengawasi
71
Selain itu pemimpin mempunyai tugas-tugas pokok yang dilakukan
pemimpin di antaranya:
a.
b.
c.
d.
3.10
Pengambilan keputusan, menetapkan sasaran dan menyusun
kebijaksanaan.
Mengordinasikan kegiatan-kegiatan baik secara vertikal (antara
bawahan dan atasan) maupun secara horisontal (antar bagian unit).
Memimpin dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan
Mengorganisasikan dan menempatkan pekerja.3
Gaya Komunikasi Pemimpin
Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan sebagai seperangkat
perilaku antar pribadi yang terspesialisasi yang digunakan dalam suatu situasi
tertentu(a spesialized set of interpersonal behaviors that are used in a given
situation). Masing-masing gaya Komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku
komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respons atau tanggapan tertentu
dalam situasi yang tertentu. Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang
digunakan,bergantung pada maksud dari pengiriman (sender) dan harapan dari
penerima (receiver).
Gaya komunikasi pemimpin merupakan satu hal yang berpengaruh penting
pada kinerja bawahan yang akan tercipta. Selain sikap kepemimpinan pemimpin
tersebut, karyawan juga membutuhkan beberapa perlakuan komunikasi yang baik
dari atasannya. Seperti yang kita ketahui bahwa komunikasi merupakan aspek
terpenting dalam suatu organisasi, tanpa adanya komunikasi antara atasan dan
bawahan, rasanya kecil kemungkinan mereka untuk mampu mencapai tujuan
organisasi secara bersama-sama. Di PT. Nugraha terdapat gaya komunikasi yang
3
http://fairuzhr06.blogspot.com/2013/11/fungsi-perusahaan-atau-organisasi.html
72
dilakukan oleh pemimpinnya di mana gaya komunikasi yang terdapat dalam
pemimpinnya, secara keseluruhan gaya komunikasi pemimpin PT. Nugraha sesuai
dengan esensi yang dikemukakan oleh Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia
Moss Dalam buku Teori Komunikasi Perspektif, Ragam, & Aplikasi (Syaiful
Rohim, 2009: 115-116) ada enam Gaya Komunikasi yaitu:The Controling Style,
The Equalitarian Style, The Structuring Style, The Dynamic Style, The Reliquising
Style, The Withdrawal Style.
Dengan Gaya komunikasi yang dikemukakan oleh Stewart L. Tubbs dan
Sylvia Moss inilah yang menjadi patokan peneliti untuk mengetahui lebih dalam
lagi tentang bagaimana gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin PT.
Nugraha di dalam pemberian motivasi kepada karyawan sehingga apa yang
diinginkan oleh pemimpin di dalam mencapai tujuannya dapat tercapai.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Untuk mengungkapkan hasil penelitian digunakan pendekatan statistik
secara deskriptif di mana statistik deskriptif digunakan untuk mendapatkan skor
ukuran proporsi atau prosentase pendapat mengenai gaya komunikasi pemimpin
dalam pemberian motivasi di PT. Nugraha Tekstil. Data penelitian ini merupakan
hasil jawaban responden dalam mengisi angket penelitian yang disebarkan kepada
113 responden.
Selanjutnya akan dilakukan analisis deskriptif terhadap masing-masing
pertanyaan. Analisis data kuantitatif yang menggunakan metode analisis desriptif
dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi dari tiap-tiap tanggapan responden
untuk mengetahui apakah tingkat perolehan nilai (skor) variabel penilaian dalam
kategori sesuai dengan masing-masing pertanyaan.
4.1
Karakteristik Responden
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Total
N: 113
Frekuensi
Persen
67
59%
46
41%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Berdasarkan hasil tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jawaban responden
berdasarkan jenis kelamin, yaitu 113 orang atau 67 adalah laki-laki, dan 46 orang
73
74
adalah perempuan. Sehingga diketahui bahwa responden yang menjawab
pertanyaan yang diberikan adalah mayoritas laki-laki.
Seperti halnya dikatakan oleh direktur PT. Nugraha pada saat wawancara,
pada tanggal 15 Desember 2013, beliau mengatakan bahwa buruh yang bekerja di
PT. Nugraha mayoritas adalah laki-laki. Karena mayoritas yang dibutuhkan
adalah buruh laki-laki. Beliau berpendapat bahwa di PT. Nugraha banyaknya
mesin yang dipakai adalah mesin tenun, di mana mayoritas buruh yang bekerja di
bagian tenun cenderung lebih berat dibandingkan buruh yang bekerja di bagian
falet ataupun hane. Untuk itulah kebanyakan mayoritas buruh yang bekerja di
bagian tenun itu didominasi oleh buruh laki-laki.
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Usia Responden
Usia
≤19 tahun
20-30 tahun
>30 tahun
Total
N: 113
Frekuensi
Persen
22
19%
68
60%
23
20%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Berdasarkan hasil tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jawaban responden
berdasarkan usia, sebanyak 113 orang atau 22 berusia ≤ 19 tahun, kemudian
sebanyak 68 berusia 20-30 tahun dan lebih dari 30 tahun sebanyak 23 orang.
Dengan demikian mayoritas responden berusia 20-30 tahun.
Tabel di atas menunjukkan bahwa responden yang berusia 20-30 tahun
lebih banyak dibandingkan dengan dibawah 19 tahun dan di atas 30 tahun. Hasil
data itu menunjukkan bahwa karyawan yang dibutuhkan cenderung berusia 20-30
75
tahun karena usia tersebut adalah usia produktif, karena biasanya di umur 20-30
tahun buruh cenderung lebih semangat di dalam bekerja.
Seperti wawancara yang dilakukan dengan Direktur PT. Nugraha pada
tanggal 15 Desember 2013, beliau mengungkapkan bahwa mayoritas buruh yang
bekerja di PT. Nugraha berusia antara 20 sampai 30 tahun karena usia tersebut
lebih produktif dan semangat kerja pun masih tinggi dibandingkan dengan buruh
yang berusia di bawah 19 tahun yang mayoritas kurang memiliki pengalaman di
dalam bekerja. Sedangkan buruh yang berusia di atas 30 tahun, mayoritas
cenderung memiliki pengalaman namun semangat kerja sudah mulai berkurang.
Jadi direktur PT. Nugraha cenderung lebih menerima karyawan yang berusia
antara 20-30 tahun.
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Lama Bekerja
Lama bekerja
1-2 tahun
2-5 tahun
Lebih dari 5 tahun
Total
N: 113
Frekuensi
Persen
28
25%
34
30%
51
45%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Berdasarkan hasil tabel 4.3 dapat diketahui bahwa Frekuensi lama bekerja
karyawan adalah sebanyak 113 orang atau 28 responden telah bekerja selama 1
sampai dengan 2 tahun, sebanyak 34 orang responden telah bekerja selama 2
sampai dengan 5 tahun, dan 51 orang responden telah bekerja selama lebih dari 5
tahun.
76
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Pendidikan Terkahir
Pendidikan Terakhir
Frekuensi
SMP
SMA
Sarjana
Total
N: 113
Persen
35
31%
78
69%
0
0%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Berdasarkan hasil tabel 4.4 dapat diketahui bahwa Frekuensi Pendidikan
terakhir karyawan adalah sebanyak 113 orang atau 35 responden memiliki tingkat
pendidikan terakhir SMP, sebanyak 78 responden memiliki tingkat pendidikan
terahir SMA, dan 0 responden memiliki tingkat pendidikan terakhir Sarjana.
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Bagian kerja
Bagian Kerja
Tenun
Falet
Hane
Total
N: 113
Frekuensi
Persen
53
47%
28
25%
32
28%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Berdasarkan hasil tabel 4.5 dapat diketahui bahwa Frekuensi bagian kerja
karyawan adalah sebanyak 113 orang atau 53 responden bekerja di bagian tenun,
sebanyak 28 responden bekerja di bagian falet, dan 32 responden bekerja di
bagian hane.
4.2
Analisis Data Penelitian
Data penelitian ini merupakan hasil jawaban responden dalam mengisi
angket penelitian yang disebarkan. Pada analisa penelitian, penulis uraikan
berdasar kepada operasionalisasi variabel penelitian untuk menjawab identifikasi
77
masalah yang ingin diketahui oleh penulis. Data yang telah dikumpulkan akan
diklasifikasikan dan dianalisa dengan menggunakan teknik analisis deskriptif.
Data dikumpulkan dengan menggunakan alat ukur angket. Deskripsi dan
operasionalisasi konsep-konsep dalam angket ini dilakukan berdasarkan
pengamatan terhadap gejala-gejala di lapangan. Teknik analisis statistik deskriptif
bertujuan untuk menjelaskan mengenai keseluruhan data yang dikumpulkan
dengan memaparkan, mengelompokkan dan mengklasifikasikan ke dalam tabel
distribusi frekuensi yang kemudian diberikan penjelasan.
Hasil penelitian angket yang disebarkan dapat dijelaskan melalui penyajian
sebaran jawaban dari 113 responden untuk item-item pertanyaan variabel gaya
komunikasi di bawah ini.
Tabel 4.6
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada Variabel Gaya Komunikasi
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Pernyataan
Direktur membatasi berkomunikasi
informal terhadap buruh.
Direktur mempengaruhi karyawan
untuk
menuruti
semua
yang
diinginkannya
Direktur mengatur semua pekerjaan
para buruh
Saya mengerjakan apa yang diarahkan
oleh direktur
Saya sepakat dengan keputusan yang
diambil
oleh
direktur
dalam
pengambilan keputusan
Saya
merasa
nyaman
ketika
berkomunikasi dengan direktur
Saya merasa tidak terbebani dalam
melakukan pekerjaan
Direktur mendengarkan keluhan dari
buruh
Jawaban responden
Jumlah
1
2
3
4
7
23
54
29
113
6% 20% 48% 26%
100%
1
13
67
32
113
1% 12% 59% 28%
6
29
57
21
5% 26% 50% 19%
5
29
70
9
4% 26% 62% 8%
6
41
56
10
100%
113
100%
113
100%
113
5%
0
0%
1
1%
0
0%
100%
113
100%
113
100%
113
100%
36%
31
27%
14
12%
15
13%
50% 9%
45
37
40% 33%
62
36
55% 32%
53
45
47% 40%
78
No
Pernyataan
Saya merasakan suasana kekeluargaan
di dalam bekerja
Direktur memperhatikan kebutuhan
10
buruh dalam bekerja
Direktur membagi pekerjaan buruh
11
sesuai dengan keahliannya
Direktur membuat penjadwalan tugas
12
secara tepat
Aturan yang berlaku harus dipatuhi
13
oleh setiap buruh
Prosedur perusahaan yang dibuat
14 direktur membuat bapak/ibu menjadi
giat dalam bekerja
Saya merasa terbebani atas aturan yang
15
dibuat oleh direktur
Direktur mendorong buruh untuk
16
bekerja secara maksimal
Buruh dituntut untuk mencapai target
17
produksi
Direktur terjun langsung melihat
18
pekerjaan para buruh
Direktur
dapat
menyelesaikan
19 persoalan yang kritis di internal
perusahaan
Saya selalu berupaya mencapai target
20
yang diinginkan oleh direktur
Direktur termasuk yang sering
21
menerima saran dari buruh
Direktur terbuka dengan buruh yang
22 menyampaikan
gagasan
untuk
perusahaan
Direktur setuju dengan saran buruh
23
dibanding memberi perintah
Direktur kurang terbuka dengan buruh
24
dalam berkomunikasi
Saya merasa kurangnya diberikan
25
motivasi oleh direktur
Saya merasa kurang memahami tujuan
26 perusahaan yang diberikan oleh
direktur
N: 113
9
Jawaban responden
Jumlah
1
2
3
4
0
20
54
39
113
0% 18% 48% 35%
100%
0
22
44
47
113
0% 19% 39% 42%
100%
19
22
53
19
113
17% 19% 47% 17%
100%
16
24
58
15
113
14% 21% 51% 13%
100%
21
32
52
8
113
19% 28% 46% 7%
100%
36
43
15
113
19
17% 32% 38% 13%
100%
28
25%
1
1%
18
16%
3
3%
14
32
17
28% 15%
64
20
57% 18%
38
7
34% 6%
67
19
59% 17%
40
11
113
100%
113
100%
113
100%
113
100%
113
12% 42% 35% 10%
7
19
48
39
6% 17% 42% 35%
20
44
24
25
18% 39% 21% 22%
1
29
63
20
100%
113
100%
113
100%
113
1%
18
16%
65
58%
62
55%
71
100%
113
100%
113
100%
113
100%
113
63%
36
32%
28
25%
50
44%
24
21%
48
26%
51
45%
17
15%
21
19%
9
56% 18%
37
7
33% 6%
26
5
23% 4%
25
5
22% 4%
28
5
8% 25% 4%
100%
Sumber: Angket Penelitian
79
4.2.1
Gaya Komunikasi Mengendalikan
Tabel 4.7
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Mengendalikan
No
Pernyataan
Jawaban responden
Jumlah
1
2
3
4
7
23
54
29
113
6% 20% 48% 26%
100%
13
67
32
113
1
1% 12% 59% 28%
100%
6
29
57
21
113
5% 26% 50% 19%
100%
5
29
70
9
113
4% 26% 62% 8%
100%
6
41
56
10
113
Direktur membatasi berkomunikasi
informal terhadap buruh.
Direktur mempengaruhi buruh untuk
2
menuruti semua yang diinginkannya
Direktur mengatur semua pekerjaanpara
3
buruh
Saya mengerjakan apa yang diarahkan
4
oleh direktur
Saya sepakat dengan keputusan yang
5 diambil
oleh
direktur
dalam
pengambilan keputusan
5% 36% 50% 9%
100%
N: 113
Sumber: Angket Penelitian
1
Pada tabel sebaran jawaban responden tentang item-item pernyataan pada
indikator gaya komunikasi mengedalikan dapat diketahui bahwa:
1. Untuk pertanyaan 1 sebesar 48% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 6%,20% dan 26% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan jawaban responden pada pertanyaan nomor 1
yaitu “direktur membatasi berkomunikasi informal dengan buruh” hal
ini terlihat dari responden yang setuju bahwa direktur membatasi
berkomunikasi informal terhadap buruh karena komunikasi secara
informal dapat berdampak kurang baik pada kinerja buruh dalam
bekerja. Komunikasi yang bersifat informal hanya membuang buang
waktu saja. Karena percakapan informal lebih baik dilakukan pada
saat di luar jam kerja, seperti saat istirahat, ataupun pada saat jam
80
kerja sudah selesai. hal Ini dilakukan agar meningkatkan efektivitas
kerja bila karyawan fokus terhadap pekerjaanya.
Menurut Katz dan Kahn (1996) dalam Pace 2010:185) ada
lima jenis informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan
kepada bawahan: informasi mengenai bagaimana melakukan
pekerjaan, informasi mengenai dasar pemikiran untuk
melakukan pekerjaan, informasi mengenai kebijakan dan
partek-praktek organisasi, informasi mengenai kinerja
pegawai, dan informasi untuk mengembangkan rasa memiliki
tugas.
2.
Untuk pertanyaan 2 sebesar 59% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 1%,12% dan 28% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan jawaban responden pada pertanyaan nomor 2
“direktur mempengaruhi
buruh
untuk
menuruti
semua
yang
diinginkan” hal ini dilihat dari data responden yang menjawab setuju
lebih banyak dibanding jawaban yang lainnya. Karena direktur
memberi arahan yang tepat kepada buruh. Dalam hal ini keputusan
sepenuhnya ada di tangan direktur, keputusan tersebut dilakukan
untuk memaksimalkan kinerja buruh agar termotivasi dalam mencapai
target perusahaan. “motivasi mewakili proses-proses psikologikal,
yang
menyebabkan
timbulnya,
diarahkannya,
dan
terjadinya
persistensi kegiatan-kegiatan sukarela (Volunter) yang diarahkan ke
arah tujuan tertentu” (Mitchell (1982) dalam Winardi, 2011:1)
Teori itu membuktikan bahwa buruh mengerti maksud dan
tujuan yang dilakukan oleh direktur dalam mempengaruhi buruh agar
81
melakukan apa yang diinginkan sesuai dengan keinginan oleh
direktur.
3.
Untuk pertanyaan 3 sebesar 50% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 5%,26% dan 19% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan jawaban responden pada pertanyaan nomor 3
“direktur mengatur semua pekerjaan para buruh” hal ini membuktikan
bahwa direktur mengatur semua pekerjaan dengan baik. Karena
memang tugas direktur untuk mengatur semua pekerjaan dengan tepat,
agar kinerja buruh menjadi lebih efektif dan maksimal. Pengalaman
direktur sangat dibutuhkan untuk mencari keputusan yang sesuai
seperti halnya penempatan buruh di posisi pekerjaan yang tepat.
Dari wawancara tanggal 15 Desember 2013, Darso setuju
bahwa direktur mengatur semua pekerjaan para buruh dilihat dari
ketelitian dan kejelian direktur sehingga mengetahui bagaimana cara
direktur menempatkan buruh sesuai dengan keahliannya.
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Suejono
Trimo (1986) :
“kordinasi melalui rencana yang dibuat (By Plan) yang dapat
dikatakan koordinasi itu mencapai bentuk komunikasi yang
akhirnya berjalan ke bawah. Komunikasi ini bersifat satu arah
dari pemimpin ke bawahannya. Informasi yang disampaikan
meliputi antara lain, kebijaksanaan pemimpin, peraturan,
ketentuan yang harus diikuti oleh pekerja. Jadwal kegiatan
atau program dan alokasi sumber-sumber.
82
Jadi suatu pekerjaan butuh bimbingan dan proses informasi
yang dilakukan oleh pemimpin untuk mengkordinasikan pekerjaan
bawahan melalui ketelitian seorang direktur menempatkan buruh
sesuai dengan pengalamannya.
4.
Untuk pertanyaan 4 sebesar 62% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 4%,26% dan 8% berturut-turut menjawab
tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan data yang didapat mengenai “saya mengerjakan
apa yang diarahkan oleh direktur” buruh mayoritas setuju karena apa
yang diarahkan oleh direktur dapat dimengerti oleh kebanyakan
buruh, selain itu keahlian pemimpin dalam memberikan pengarahan
cukup membuat buruh merasa bersemangat dalam melakukan tugastugas yang diberikan. Serta membuat buruh bertanggung jawab
melakukan pekerjaan tersebut. Di sini karyawan menganggap intruksi
dari direktur adalah sebuah proses dalam kemajuan di ruang lingkup
pekerjaanya. Di PT. Nugraha tidak ditemukan karyawan mengeluh
karena intruksi yang diberikan oleh direkturnya.
Redding (1972) dalam Pace 2010:154) mendefinisikan bahwa
iklim komunikasi organisasi merupakan fungsi kegiatan yang
terdapat dalam organisasi untuk menunjukkan kepada anggota
organisasi bahwa organisasi tersebut mempercayai mereka dan
memberikan kebebasan dalam mengambil resiko, mendorong
mereka, dan memberi mereka tanggung jawab dalam
mengerjakan tugas-tugas mereka.
83
5.
Untuk pertanyaan 5 sebesar 50% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 5%,36% dan 9% berturut-turut menjawab
tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan data yang didapat mengenai “saya sepakat dengan
keputusan yang diambil oleh direktur dalam pengambilan keputusan”.
Hal ini dapat menunjukkan bahwa keputusan yang diambil oleh
pemimpin sesuai dengan keinginan mayoritas buruh. Terbukti dengan
hasil angket yang banyak memilih setuju dengan pengambilan
keputusan oleh direktur. Buruh menilai direktur mempunyai kejelian
dalam pengambilan keputusan yang bersifat objektif serta tidak
membebani para buruh dalam melakukan pekerjaanya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang karyawan:
“Direktur di sini mempunyai keputusan yang bisa membuat
saya tidak terbebani dan keputusan itu menjadi kebaikan
bersama, karena menurut saya keputusan yang diambil gak
berat sebelah, jadi menguntungkan buat saya juga”.4
Dari hasil wawancara tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa
pemimpin selalu menimbang mana yang baik dan buruk sebelum
mengambil keputusan agar keputusan tersebut menjadi win-win
solution bagi dirinya dan buruh.
Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana tanggapan responden tentang
gaya
4
komunikasi
mengendalikan
secara
keseluruhan,
maka
dilakukan
Hasil wawaancara dengan Darso, salah seorang karyawan PT. Nugraha, pada tanggal 15
Desember 2013.
84
pengkategorian dengan cara menjumlahkan skor dari 5 pertanyaan, kemudian
dicari panjang interval setiap kelas dengan rumus sebagai berikut:
c=
X n − X1
k
, di mana
c
= panjang interval kelas
Xn
= Nilai terbesar
X1
= Nilai terkecil
K
= banyaknya kelas, dalam hal ini adalah 3 kelas
Indikator gaya mengendalikan terdiri atas 5 pernyataan. Setiap pernyataan
terdiri atas 4 alternatif jawaban yang diberi nilai. Nilai skor terbesar adalah 20,
sedangkan skor terendah adalah 6. Untuk menentukan interval setiap kategori (3
kelas), maka dilakukan perhitungan berikut:
c=
20 − 6
= 4,66
3
Dengan demikian, maka interval skor untuk menentukan masing-masing
kategori adalah sebagai berikut:
Jumlah skor 6– 10,66
: Kurang Baik
Jumlah skor 10,67-15,33
: Cukup Baik
Jumlah skor 15,34-20
: Sangat Baik
Tabel 4.8
Persepsi Responden Gaya Mengendalikan
Indikator
Gaya Mengendalikan
Total
N: 113
Kategori
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Frekuensi
Persentase
25
22%
81
72%
7
6%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
85
Dari tabel 4.8, dapat diketahui tanggapan responden tentang Gaya
Komunikasi Mengendalikan mayoritas responden sebanyak 81 orang atau 72%
adalah
responden
yang
memiliki
persepsi
tentang
gaya
komunikasi
mengendalikan yang termasuk dalam kategori penilaian “Cukup Baik” dan paling
sedikit sebanyak 7 orang atau 6% adalah responden yang memiliki persepsi
tentang gaya komunikasi mengendalikanyang termasuk dalam kategori penilaian
“Kurang Baik”.
Dari hasil data di atas menunjukkan bahwa pengendalian sangat penting
dilakukan oleh direktur. Buruh dapat lebih mengerti apa yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan perusahaan di mana pengarahan yang dilakukan oleh
pemimpin
dapat
dimengerti
oleh
buruh,
selain
itu
gaya
komunikasi
mengendalikan ini sangat penting bagi perusahaan untuk mengatur buruh agar
bekerja secara maksimal dan teratur. Gaya komunikasi mengendalikan termasuk
ke dalam kategori “cukup baik” di mana menurut buruh, bahwa direktur di dalam
pemberian pengarahan tugas-tugas telah sesuai dengan yang diharapkan oleh
buruh.
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Gambar 4.1
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Mengendalikan
86
Pada gambar juga dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden
merespon Cukup baik tentang gaya komunikasi mengendalikan.
4.2.2
Indikator Gaya Komunikasi Kesamaan
Tabel 4.9
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada Indikator Gaya Komunikasi Kesamaan
Pernyataan
No
Saya
merasa
nyaman
ketika
berkomunikasi dengan direktur
Saya merasa tidak terbebani dalam
2
melakukan pekerjaan
Direktur mendengarkan keluhan dari
3
buruh
Saya merasakan suasana kekeluargaan
4
di dalam bekerja
Direktur memperhatikan kebutuhan
5
buruh dalam bekerja
N: 113
1
Jawaban responden
Jumlah
1
2
3
4
0
31
45
37
113
0% 27% 40% 33%
100%
1
14
62
36
113
1% 12% 55% 32%
100%
0
15
53
45
113
0% 13% 47% 40%
100%
0
20
54
39
113
0% 18% 48% 35%
100%
22
44
47
113
0
0% 19% 39% 42%
100%
Sumber: Angket Penelitian
Pada tabel sebaran jawaban responden tentang item-item pernyataan pada
indikator gaya komunikasi kesamaan dapat diketahui bahwa:
1.
Untuk pertanyaan 1 sebesar 40% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 0%,27% dan 33% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan data yang didapat mengenai “saya merasa
nyaman ketika berkomunikasi dengan direktur” direktur PT. Nugraha
memberikan pendekatan yang sangat baik kepada buruh, dilihat pada
responden yang menjawab setuju paling banyak di antara jawaban
yang lainnya. Hal tersebut membuat buruh tidak canggung saat
87
melakukan interaksi dengan direktur. Buruh merasa bahwa direktur
memiliki sifat yang terbuka di dalam ruang lingkup pekerjaan dan
menampung aspirasi dari buruh yang bekerja. Maka dari dilihat dari
responden yang menjawab kemungkinan besar buruh merasa senang
jika aspirasi atau pendapatnya diterima oleh direktur.
“Seorang pemimpin yang demokratik dihormati dan disegani
dan bukan ditakuti karena perilakunya dalam kehidupan
organisasional perilakunya mendorong para bawahannya
menumbuhkan dan mengembangkan daya inovasi dan
kreativitasnya” (Siagian, 2010 : 43).
Jadi direktur di mata buruh adalah sebagai pembina yang
membimbing untuk tercapainya tujuan perusahaan bukan sebagai
pemimpin yang tidak menerima masukan dari buruhnya.
2.
Untuk pertanyaan 2 sebesar 55% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 1%,12% dan 32% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan data yang didapat mengenai “saya merasa tidak
terbebani dalam melakukan pekerjaan” berdasarkan data di atas, buruh
menyadari akan tanggung jawabnya dalam melakukan pekerjaan,
mayoritas buruh berpendapat bahwa pekerjaannya tidak membebani
bagi dirinya, karena pemimpin melakukan pendekatan dengan buruh
dengan baik yang menurutnya akan menguntungkan satu dengan yang
lainnya.
“pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakupan
dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihann disatu
bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain
untuk bersama-sama melakukan aktivitasaktivitas tertentu,
88
demi pencapaian satu atau beberapa tujuan”. (Kartono,
1994:33)
Pemimpin PT. Nugraha mampu menyampaikan tugas atau
aktivitas tertentu kepada buruh dengan baik sehingga buruh merasa
nyaman dan tidak terbebani di dalam melaksanakan tugas dan
pekerjaannya.
3.
Untuk pertanyaan 3 sebesar 47% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 0%, 13% dan 40% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan
data
yang
didapat
mengenai
“direktur
mendengarkan keluhan dari buruh” pemimpin terlihat memiliki sifat
keterbukaan dalam menerima aspirasi dari buruh baik dalam internal
perusahaan seperti keluhan maupun masukan dari buruh untuk
perusahaan. Direktur selalu mendengarkan kritik yang disampaikan
dan membuat solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Dari data di atas terlihat bahwa pemimpin ingin memajukan
perusahaan memalui kepentingan bersama di antaranya keputusan
yang diambil berdasarkan kesepakatan bersama.
“kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan
memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya.
Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan
penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri
sendiri) dan kerjasama yang baik. Kekuatan kepemimpinan
demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi
terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu,
mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan.
(Siagian, 2010: 40)
89
4.
Untuk pertanyaan 4 sebesar 48% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 0%,18% dan 35% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan data yang didapat mengenai “saya merasakan
suasana kekeluargaan di dalam pekerjaan” analisis data di atas
menunjukkan bahwa suasana kekeluargaan di PT. Nugraha berjalan
dengan baik. Dilihat dari jawaban tidak setuju atas pertanyaan di
angka 0% yang artinya tidak semua buruh merasakan suasana
kekeluargaan di dalam bekerja. Hal ini dapat meningkatkan
produktivitas karena memiliki kerjasama antara buruh dengan direktur
ataupun dengan sesama buruh. Dengan adanya susana kekeluargaan
tersebut, buruh merasa dihargai keberadaanya. Direktur mencoba
menghasilkan suasana kekeluargaan agar para buruh menjadi focus
dan nyaman dalam mencapai target perusahaan. Menurut Willian I
Gorden (1978) fungsi komunikasi sosial adalah:
“Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial mengisyaratkan
bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri,
aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan,
terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat
komunikasi menghibur dan memupuk hubungan dengan orang
lain. Pada suatu sisi, komunikasi merupakan mekanisme untuk
mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik
secara horizontal ataupun secara vertikal. Melalui komunikasi
kita bekerjasama dengan anggota masyarakat untuk mencapai
tujuan bersama”.
5.
Untuk pertanyaan 5 sebesar 42% responden menjawab sangat setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 0%, 19% dan 39% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan setuju.
90
Berdasarkan
data
yang
didapat
mengenai
”Direktur
memperhatikan kebutuhan buruh dalam bekerja” analisis data di atas
menunjukkan bahwa direktur selalu berusaha membuat buruh nyaman
di dalam bekerja serta, dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan
buruh, untuk kenyamanan pada saat bekerja. misalnya kondisi mesin
yang prima. Dengan mesin yang kualitasnya baik, buruh lebih
bersemangat dalam bekerja, karena buruh akan lebih tenang untuk
memproduksi kain tenun. Selain itu direktur selalu menanyakan
kebutuhan apa saja yang dibutuhkan oleh buruh demi terciptanya
motivasi lebih dalam bekerja.
Seperti wawancara dengan salah seorang karyawan,
“kualitas mesin-mesin di PT. Nugraha mempunyai kualitas yang
baik, saya pun tidak usah repot-repot untuk mengecek satu-satu
hasil produksi, cukup dengan melihat hasilnya saja. Jadi saya
bisa meninggalkan mesin tenun yang sedang berjalan tanpa
harus terus dilihat satu-persatu. Saya nyaman dengan mesinmesin di sini, karena kualitas mesin yang ada di PT. Nugraha
cukup membantu para buruh untuk bekerja menjadi tidak terlalu
lelah.”5
Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana tanggapan responden tentang
gaya komunikasi kesamaan secara kseluruhan, maka dilakukan pengkategorian.
Gaya Komunikasi Kesamaan terdiri atas 5 pernyataan. Setiap pernyataan terdiri
atas 4 alternatif jawaban yang diberi nilai. Nilai skor terbesar adalah 20,
sedangkan skor terendah adalah 9. Untuk menentukan interval setiap kategori (3
kelas), maka dilakukan perhitungan berikut:
5
Ibid
91
c=
20 − 9
= 3,666
3
Dengan demikian, maka interval skor untuk menentukan masing-masing
kategori adalah sebagai berikut:
Jumlah skor 9– 12,66
: Kurang Baik
Jumlah skor 12,67-16,33
: Cukup Baik
Jumlah skor 16,34-20
: Sangat Baik
Tabel 4.10
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Kesamaan
Indikator
Gaya Komunikasi Kesamaan
Kategori
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Total
N: 113
Frekuensi
Persentase
59
52%
44
39%
10
9%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Dari tabel 4.10, dapat diketahui tanggapan responden tentang Gaya
Komunikasi Kesamaan mayoritas responden sebanyak 59 orang atau 52% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi kesamaanyang
termasuk dalam kategori penilaian “Sangat Baik” dan paling sedikit sebanyak 10
orang atau 9% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi
kesamaan yang termasuk dalam kategori penilaian “Kurang Baik”, sedangkan
sebanyal 44 orang atau 39% adalah responden yang memiliki persepsi tentang
gaya komunikasi kesamaan yang termasuk dalam kategori “Cukup Baik”.
Berdasarkan data yang didapat gaya komunikasi kesamaan yang dilakukan
oleh direktur dapat disimpulkan gaya komunikasi ini paling menonjol di PT.
Nugraha, karena dilihat dari responden merasakan kenyamanan pada gaya
kesamaan yang dilakukan oleh direktur.
92
70
60
50
40
30
20
10
0
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Gambar 4.2
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Kesamaan
Pada gambar juga dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden
merespon Sangat baik terhadap gaya komunikasi Kesamaan.
4.2.3
Gaya Komunikasi Terstruktur
Tabel 4.11
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Terstruktur
No
Pernyataan
Jawaban responden
Jumlah
1
2
3
4
19
22
53
19
113
17% 19% 47% 17%
100%
16
24
58
15
113
14% 21% 51% 13%
100%
32
52
8
113
21
19% 28% 46% 7%
100%
19
36
43
15
113
Direktur membagi pekerjaan buruh
sesuai dengan keahliannya
Direktur membuat penjadwalan tugas
2
secara tepat
Aturan yang berlaku harus dipatuhi
3
oleh setiap buruh
Prosedur perusahaan yang dibuat
4 direktur membuat bapak/ibu menjadi
giat dalam bekerja
17% 32% 38% 13%
100%
28
36
32
17
113
Saya merasa terbebani atas aturan yang
5
dibuat oleh direktur
25% 32% 28% 15%
100%
N: 113
Sumber: Angket Penelitian
1
Pada tabel sebaran jawaban responden tentang item-item pernyataan pada
indikator gaya komunikasi terstruktur dapat diketahui bahwa:
93
1.
Untuk pertanyaan 1 sebesar 47% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 17%, 19% dan 17% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan data yang didapat mengenai “Direktur membagi
pekerjaan buruh sesuai dengan keahliannya” mayoritas buruh setuju
dalam pembagian pekerjaan yang dilakukan oleh direktur, seperti
halnya penempatan posisi pekerjaan dan pembagian tugas merata
sesuai dengan kemampuan buruh. Dengan hal ini pekerjaan buruh
akan lebih maksimal dibandingkan apabila buruh bekerja tidak sesuai
karena buruh ditepatkan di bagian pekerjaan yang salah. Kemampuan
direktur dalam menempatkan buruh harus sangat selektif, hal ini
tergambar sosok direktur di PT. Nugraha.
“arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuannya
harus sedemikian rupa sehingga mengoptimalkan pemanfaatan
dari segala sarana dan prasarana yang tersedia itu. Arah yang
dimaksud tertuang dalam strategi dan taktik yang disusun dan
dijalankan oleh organisasi yang bersangkutan. Perumus dan
penentu strategi dan taktik tersebut adalah pimpinan dalam
organisasi tersebut. (Siagian, 2010: 49)
2.
Untuk pertanyaan 2 sebesar 51% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 14%,21% dan 13% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Berdasarkan data yang didapat mengenai “Direktur membuat
penjadwalan tugas secara tepat” buruh menilai direktur bisa membuat
penjadwalan tugas dengan baik, misalnya seperti pembagian tugas di
jam kerja dilakukan secara tidak memaksa, namun apabila ada
94
pegawai yang menginginkan upah tambahan direktur memfasilitasi
buruh untuk melakukan lembur. Tentu saja hal ini akan mempercepat
tujuan perusahaan di mana target bisa melebihi dari yang sudah
ditetapkan oleh perusahaan.
Maslow (1954) menjelaskan manusia merupakan mahluk yang
serba berkeinginan. Ia senantiasa menginginkan sesuatu dan ia
senantiasa menginginkan lebih banyak. Tetapi, apa yang
diinginkannya tergantung pada apa yang sudah dimiliki
olehnya. Maka sekalipun kebutuhan tertentu telah terpenuhi,
kebutuhan-kebutuhannya pada umumnya tidak mungkin
terpuaskan seluruhnya.
3.
Untuk pertanyaan 3 sebesar 46% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 19%, 28% dan 7% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju. Berdasarkan
data yang didapat mengenai “Aturan yang berlaku harus dipatuhi oleh
setiap buruh” mayoritas buruh setuju karena aturan yang dibuat oleh
direktur sudah menjadi kontrak kerja buruh yang sudah disepakati
buruh dan direktur.
Berikut hasil wawancara dengan salah seorang karyawan,
“Darso selalu mematuhi aturan perusahaan, karena menurut
saya aturan itu sudah menjadi tanggung jawab dan aturan itu
sama sekali tidak memberatkan karena direktur sudah
memberikan arahan tentang aturan yang ada.”6
Ini membuktian bahwa aturan yang ada di PT. Nugraha telah
disepakati
6
Ibid
oleh
direktur
dan
buruh,
sehingga
buruh
harus
95
mematuhinya, dan juga buruh bersedia menerima konsekuensi sanksi
apabila melanggar peraturan yang sudah ada.
4.
Untuk pertanyaan 4 sebesar 38% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 17%,32% dan 13% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “Prosedur perusahaan yang
dibuat direktur membuat bapak/ibu menjadi giat dalam bekerja” buruh
menilai prosedur perusahaan tidak selalu membuat buruh menjadi giat
dalam bekerja, karena hal tersebut tidak membangkitkan motivasi
dalam bekerja walaupun jawaban setuju 38% dan jawaban kurang
setuju hampir sama yaitu 32%. Yang artinya prosedur perusahaan ini
tidak selalu berpengaruh pada buruh untuk lebih giat lagi dalam
bekerja.
Barnard (1938) mengatakan bahwa organisasi adalah system
orang struktur yang direkayasa secara mekanis. Suatu struktur
mekanis yang jelas dan baik tidaklah cukup. Kelompokkelompok alamiah dalam struktur birokratik dipengaruhi oleh
apa yang terjadi, komunikasi ke atas adalah penting
kewenangan, berasal dari bawah alih-alih dari atas, dan
pemimpin perlu berfungsi sebagai kekuatan yang padu.
5.
Untuk pertanyaan 5 sebesar 32% responden menjawab kurang setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 25%,28% dan 15% berturutturut menjawab sangat tidak setuju, setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “Saya merasa terbebani atas
aturan yang dibuat oleh direktur” mayoritas buruh tidak setuju karena
96
aturan yang dibuat sudah menjadi kesepakatan bersama yang dibuat
oleh direktur.
Para buruhpun menilai peraturan tersebut tidak berat sebelah
dan membebani buruh dalam bekerja karena aturan yang disepakati
sudah menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh buruh.
Dari hasil wawancara dengan salah seorang karyawan,
“Saya selalu mematuhi aturan perusahaan, karena menurut
saya aturan itu sudah menjadi tanggung jawab dan aturan itu
sama sekali tidak memberatkan karena direktur sudah
memberikan arahan tentang aturan yang ada.”7
Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana tanggapan responden tentang
gaya komunikasi terstruktur secara kseluruhan, maka dilakukan pengkategorian.
Indikator gaya komunikasi terstruktur terdiri atas 5 pernyataan. Setiap pernyataan
terdiri atas 4 alternatif jawaban yang diberi nilai. Nilai skor terbesar adalah 20,
sedangkan skor terendah adalah 6. Untuk menentukan interval setiap kategori (3
kelas), maka dilakukan perhitungan berikut:
c=
20 − 6
= 4,666
3
Dengan demikian, maka interval skor untuk menentukan masing-masing
kategori adalah sebagai berikut:
Jumlah skor 6– 10,66
: Kurang Baik
Jumlah skor 10,67-15,33
: Cukup Baik
Jumlah skor 15,34-20
: Sangat Baik
7
Ibid
97
Tabel 4.12
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Terstruktur
Indikator
Gaya Komunikasi Terstruktur
Total
N: 113
Kategori
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Frekuensi
Persentase
19
17%
67
59%
27
24%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Dari tabel 4.12, dapat diketahui tanggapan responden tentang Gaya
Komunikasi Terstruktur mayoritas responden sebanyak 67 orang atau 59% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi terstruktur yang
termasuk dalam kategori penilaian “Cukup Baik” dan paling sedikit sebanyak 27
orang atau 24% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya
komunikasi terstruktur yang termasuk dalam kategori penilaian “Kurang Baik”,
sedangkan sebanyal 19 orang atau 17% adalah responden yang memiliki persepsi
tentang gaya komunikasi terstruktur yang termasuk dalam kategori “Sangat Baik”.
Berdasarkan data yang didapat gaya komunikasi terstruktur yang dilakukan oleh
direktur dapat disimpulkan gaya komunikasi yang diterapkan ini dinilai cukup
baik di PT. Nugraha, karena dilihat dari responden mayoritas merasakan jika
pembagian pekerjaan yang diberikan sesuai dengan keinginan dan keahlian buruh
masing-masing. Terlihat dari 59% buruh menilai cukup baik dengan gaya
pemimpin terstruktur ini.
98
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Gambar 4.3
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Terstruktur
Pada gambar juga dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden
merespon cukup baik terhadap gaya komunikasi Kesamaan.
4.2.4
Indikator Gaya Komunikasi Dinamis
Tabel 4.13
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Dinamis
No
Pernyataan
Jawaban responden
Jumlah
1
2
3
4
1
28
64
20
113
1% 25% 57% 18%
100%
18
50
38
7
113
16% 44% 34% 6%
100%
24
67
19
113
3
3% 21% 59% 17%
100%
14
48
40
11
113
Direktur mendorong buruh untuk
bekerja secara maksimal
Buruh dituntut untuk mencapai target
2
produksi
Direktur terjun langsung melihat
3
pekerjaan para buruh
Direktur
dapat
menyelesaikan
4 persoalan yang kritis di internal
perusahaan
12% 42% 35% 10%
100%
7
19
48
39
113
Saya selalu berupaya mencapai target
5
yang diinginkan oleh direktur
6% 17% 42% 35%
100%
N: 113
Sumber: Angket Penelitian
1
99
Pada tabel sebaran jawaban responden tentang item-item pernyataan pada
indikator gaya komunikasi dinamis dapat diketahui bahwa:
1.
Untuk pertanyaan 1 sebesar 57% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 1%,25% dan 18% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “Direktur mendorong buruh
untuk bekerja secara maksimal” direktur selalu membangkitkan
semangat buruh untuk bekerja secara maksimal, seperti halnya
pemberian masukan kepada buruh sehingga buruh bekerja efektif dan
mengingatkan tentang pencapaian target yang menghasilkan reward
tersendiri bagi buruh. Hal ini menjadi pendorong semangat untuk
bekerja secara maksimal. Gray (1984) mengungkapkan “motivasi
merupakan hasil sejumlah proses yang bersifat eksternal dan internal
bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap entusiasme
dan persistensi dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
2.
Untuk pertanyaan 2 sebesar 44% responden menjawab kurang setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 16%, 34% dan 6% berturut-turut
menjawab tidak setuju, setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “Buruh dituntut untuk
mencapai target produksi” sebesar 44% buruh kurang setuju dengan
tuntutan pemimpin untuk terus mencapai target produksi, terlalu
seringnya pemimpin menuntut agar target produksi terus stabil dapat
mengakibatkan buruh menjadi tertekan karena menurutnya jika
100
direktur terus menuntut untuk mendapatkan target produksi, itu
membuat buruh menjadi stress dalam bekerja.
Seperti wawancara tanggal 15 Desember 2013, Darso menilai
bahwa “saya sering mengeluh dengan tuntutan direktur untuk
pencapaian target produksi, karena tidak jarang saya sering merasa
terbebani dengan target itu.
3.
Untuk pertanyaan 3 sebesar 59% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 3%,21% dan 17% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “Direktur terjun langsung
melihat pekerjaan para buruh” direktur melihat atau mengecek
pekerjaan
secara
langsung,
baik
untuk
memotivasi
ataupun
memberikan pengalamannya kepada buruh, terlihat dari data sebesar
59% merasakan bahwa direktur selalu terjun langsung dan secara
tidak langsung melihat kekurangan dan kendala apa saja yang ada di
dalam ruang lingkup pekerjaan. Analisis di atas sesuai dengan teori
yang dikemukakan oleh Peter Drucker (1996) “pemimpin adalah
mereka yang sangat tampak, oleh karena itu mereka harus
memberikan contoh”.
Seperti hasil wawancara dengan salah seorang karyawan,
Darso membenarkan bahwa “tidak jarang direktur datang
menghampiri saya untuk sekedar mengecek pekerjaan saya,
bukan hanya itu direktur suka menanyakan tentang mesin
101
apakah ada yang kurang nyaman, dan direktur tidak jarang
memberi motivasi kepada saya untuk bekerja lebih giat lagi”.8
4.
Untuk pertanyaan 4 sebesar 42% responden menjawab kurang setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 12%,35% dan 10% berturutturut menjawab tidak setuju, setuju dan sangat setuju.
Dari
data
yang
didapat
mengenai
“Direktur
dapat
menyelesaikan persoalan yang kritis di internal perusahaan” dilihat
dari data di atas, buruh melihat bahwa direktur kuarang dapat
menyelesaikan persoalan di internal perusahaan. Ini diakibatkan
karena direktur bisa saja membuat keputusan atau mengatur alur kerja
buruhnya, tetapi direktur harus membatasi mana persoalan pribadi
antar buruh, karena bukan pada jalurnya direktur untuk mengatur
semua kehidupan para buruhnya.
John Callen berpendapat bahwa “hal terpenting bagi seorang
pemimpin sesudah keahliannya adalah kemampuan berkomunikasi”
(Mulyana, 2005:34).
5.
Untuk pertanyaan 5 sebesar 42% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 6%,17% dan 35% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “saya selalu berupaya
mencapai target yang diinginkan” dari analisis di atas, hal ini
dilakukan agar produksi tetap stabil selain itu direktur membolehkan
buruh untuk bekerja melebihi jam kerja, karena selain produksi lebih
8
Ibid
102
meningkat buruhpun akan mendapat penghasilan lebih sebanding
dengan berapa lama pendapatan buruh dalam memproduksi kain di
luar jam yang bukan semestinya. Buruh menjadi lebih bersemangat
karena dengan tercapainya target mereka akan mendapatkan bonus
dan apabila bekerja lembur buruh juga akan mendapatkan tambahan
sesuai dengan berapa produksi yang didapat buruh. Hal itu yang
membuat buruh giat bekerja dan ingin mendapatkan tambahan bonus
dari perusahaan.
Maslow (1954) dalam Winardi, 2011:12-13) mengatakan
“sebuah kebutuhan yang dipenuhi, bukan sebuah motivator perilaku”.
Banyak kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi memotivasi
perilaku dan menyebabkan timbulnya kekuatan-kekuatan besar atas
apa yang dilakukan oleh seorang individu
Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana tanggapan responden tentang
gaya komunikasi dinamis secara keseluruhan, maka dilakukan pengkategorian.
Indikator Gaya Komunikasi Dinamis terdiri atas 5 pernyataan. Setiap pernyataan
terdiri atas 4 alternatif jawaban yang diberi nilai. Nilai skor terbesar adalah 20,
sedangkan skor terendah adalah 7. Untuk menentukan interval setiap kategori (3
kelas), maka dilakukan perhitungan berikut:
c=
19 − 7
=4
3
Dengan demikian, maka interval skor untuk menentukan masing-masing
kategori adalah sebagai berikut:
Jumlah skor 7– 11
: Kurang Baik
103
Jumlah skor 11-15
: Cukup Baik
Jumlah skor 15-20
: Sangat Baik
Tabel 4.14
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Dinamis
Indikator
Gaya Komunikasi Dinamis
Total
N: 113
Kategori
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Frekuensi
Persentase
37
33%
58
51%
18
16%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Dari tabel 4.14, dapat diketahui tanggapan responden tentang Gaya
Komunikasi Dinamis, mayoritas responden sebanyak 58 orang atau 51% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi dinamis yang
termasuk dalam kategori penilaian “Cukup Baik” dan paling sedikit sebanyak 18
orang atau 16% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya
komunikasi dinamis yang termasuk dalam kategori penilaian “Kurang Baik”,
sedangkan sebanyal 37 orang atau 33% adalah responden yang memiliki persepsi
tentang gaya komunikasi dinamis yang termasuk dalam kategori “Cukup Baik”.
Berdasarkan data yang didapat gaya komunikasi dinamis yang dilakukan
oleh direktur dapat disimpulkan gaya komunikasi yang diterapkan ini dinilai
cukup baik di PT. Nugraha, karena motivasi yang dilakukan oleh direktur cukup
baik. Seperti halnya memotivasi dalam pencapaian target berdasarkan masukanmasukan yang membantu karyawan dalam bekerja. Terlihat dari 51% buruh
menilai cukup baik dengan gaya pemimpin dinamis ini.
104
70
60
50
40
30
20
10
0
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Gambar 4.4
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Dinamis
Pada gambar juga dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden
merespon Cukup baik terhadap gaya komunikasi Dinamis.
4.2.5
Indikator Gaya Komunikasi Mengikuti
Tabel 4.15
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Mengikuti
Jawaban responden
Jumlah
1
2
3
4
20
44
24
25
113
Direktur termasuk yang sering
1
menerima saran dari buruh
18% 39% 21% 22%
100%
Direktur terbuka dengan buruh yang
1
29
63
20
113
2 menyampaikan
gagasan
untuk
perusahaan
1% 26% 56% 18%
100%
18
51
37
7
113
Direktur setuju dengan saran buruh
3
dibanding memberi perintah
16% 45% 33% 6%
100%
N: 113
Sumber: Angket Penelitian
No
Pernyataan
Pada tabel sebaran jawaban responden tentang item-item pernyataan pada
indikator gaya komunikasi mengedalikan dapat diketahui bahwa:
105
1.
Untuk pertanyaan 1 sebesar 39% responden menjawab kurang setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 18%,21% dan 22% berturutturut menjawab tidak setuju, setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “direktur termasuk yang
sering menerima saran dari buruh” Responden menjawab kurang
setuju karena saran dari buruh memang didengarkan, tetapi hanya
beberapa saran yang diterima oleh direktur disebabkan saran yang
kurang tepat sehingga direktur tidak menerima saran tersebut.
Dari hasil wawancara dengan salah seorang karyawan,
Darso menilai bahwa “apa yang dilakukan pemimpin sudah
berjalan baik, sehingga saran yang dianggap kurang baik tidak
diterima namun direktur mendengarkan lebih dahulu untuk
mempertimbangkan”.9
2.
Untuk pertanyaan 2 sebesar 56% responden menjawab setuju terhadap
gaya ini dan sisanya sebesar 1%,26% dan 18% berturut-turut
menjawab tidak setuju, kurang setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “Direktur terbuka dengan
buruh yang menyampaikan gagasan untuk perusahaan” direktur
memberi kebebasan kepada buruh untuk menyampaikan keluhan atau
ide bagi direktur ataupun perusahaan. Hal ini dilakukan direktur untuk
kemajuan perusahaan lebih cepat tercapai, dan keinginan buruhpun
dapat terpenuhi demi terciptanya motivasi kerja yang baik. (Planty &
9
Ibid
106
Mac Haver 1952) dalam Pace 2010:193) mengatakan “komunikasi ke
atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas pada organisasi dengan
member kesempatan kepada pegawai untuk mengajukan pertanyaan
dan menyumbang gagasan serta saran-saran mengenai operasi
organisasi.
3.
Untuk pertanyaan 3 sebesar 45% responden menjawab kurang setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 16%,33% dan 6% berturut-turut
menjawab tidak setuju, setuju dan sangat setuju.
Dari data yang didapat mengenai “Direktur setuju dengan
saran buruh dibanding memberi perintah” Di sini direktur kurang
menerima saran yang belum pasti efektivitasnya, ini dikarenakan
pemimpin terlihat efektif jika memberi perintah langsung karena
pemimpin tahu bagaimana keputusan yang baik dan mana keputusan
yang kurang baik. Berdasarkan pengalamannya sendiri, namun apabila
ada saran yang dinilai baik untuk perusahaan akan dipertimbangkan
kembali oleh direktur. Stewart & Thomas (1990) menyebut “ proses
interaksi tersebut sebagai “mamahat makna bersama. Makna tersebut
tidak hanya pada orang, namun juga dalam “transaksi” itu sendiri”.
Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana tanggapan responden tentang
gaya komunikasi mengikuti secara kseluruhan, maka dilakukan pengkategorian.
Indikator gaya komunikasi mengikuti terdiri atas 3 pernyataan. Setiap pernyataan
terdiri atas 4 alternatif jawaban yang diberi nilai. Nilai skor terbesar adalah 20,
107
sedangkan skor terendah adalah 9. Untuk menentukan interval setiap kategori (3
kelas), maka dilakukan perhitungan berikut:
c=
12 − 3
=3
3
Dengan demikian, maka interval skor untuk menentukan masing-masing
kategori adalah sebagai berikut:
Jumlah skor 3– 6
: Kurang Baik
Jumlah skor 6-9
: Cukup Baik
Jumlah skor 9-12
: Sangat Baik
Tabel 4.16
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Mengikuti
Indikator
Gaya Komunikasi Mengikuti
Total
N: 113
Kategori
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Frekuensi
Persentase
36
32%
44
39%
33
29%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Dari tabel 4.16, dapat diketahui tanggapan responden tentang Gaya
Komunikasi Mengikuti mayoritas responden sebanyak 44 orang atau 39% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi mengikuti yang
termasuk dalam kategori penilaian “Cukup Baik” dan paling sedikit sebanyak 33
orang atau 29% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya
komunikasi mengikutiyang termasuk dalam kategori penilaian “Kurang Baik”,
sedangkan sebanyal 36 orang atau 32% adalah responden yang memiliki persepsi
tentang gaya komunikasi mengikuti yang termasuk dalam kategori “Sangat Baik”.
108
Berdasarkan data yang didapat pemimpin di PT. Nugraha termasuk ke
dalam golongan pemimpin yang terbuka, seperti menerima saran, kritik, dan
masukan dari buruh untuk kemajuan perusahaan. Dalam hal ini buruh juga
berpartisipasi secara aktif dan merasa keluh kesah mereka ditanggapi oleh
direktur.
50
40
30
20
10
0
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Gambar 4.5
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Mengikuti
Pada gambar juga dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden
merespon Cukup baik terhadap gaya komunikasi Mengikuti.
4.2.6
Indikator gaya Komunikasi Memelas
Tabel 4.17
Sebaran Jawaban Responden Tentang Item-item Pernyataan
Pada indikator Gaya Komunikasi Memelas
Jawaban responden
Jumlah
1
2
3
4
65
17
26
5
113
Direktur kurang terbuka dengan buruh
1
dalam berkomunikasi
58% 15% 23% 4%
100%
62
21
25
5
113
Saya merasa kurangnya diberikan
2
motivasi oleh direktur
55% 19% 22% 4%
100%
71
9
28
5
113
Direktur selalu ingin mencoba melepas
3
diri dari tanggung jaawab
63% 8% 25% 4%
100%
N: 113
Sumber: Angket Penelitian
No
Pernyataan
109
Pada tabel sebaran jawaban responden tentang item-item pernyataan pada
indikator gaya komunikasi memelas dapat diketahui bahwa:
1.
Untuk pertanyaan 1 sebesar 58% responden menjawab tidak setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 15%, 23% dan 4% berturut-turut
menjawab kurang setuju,setuju dan sangat setuju.
Dari data di atas mengenai “Direktur kurang terbuka dengan
buruh dalam berkomunikasi” analisis di atas memperkuat konsistensi
dari responden tentang keterbukaan direktur dalam berkomunikasi,
namun ada batasan-batasan di mana batasan tersebut dibatasi oleh
komunikasi yang bersifat formal saja. Dari konsistensi pertanyaan
tentang keterbukaan direktur dalam berkomunikasi, bahwa responden
membenarkan direktur di PT. Nugraha menerima saran, masukan, dan
kritik untuk kemajuan perusahaan. Seperti halnya pada indikator
pertanyaan gaya komunikasi mengikuti pada pertanyaan nomor 2.
2.
Untuk pertanyaan 2 sebesar 55% responden menjawab tidak setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 19%, 22% dan 4% berturut-turut
menjawab kurang setuju, setuju dan sangat setuju.
Dari data di atas mengenai “saya merasa kurangnya diberikan
motivasi oleh direktur” analisis di atas menunjukkan konsistensi juga
ditampilkan pada hal motivasi yang diberikan kepada buruh untuk
mencapai target perusahaan. Hal ini dikuatkan dengan jawaban
responden tentang pertanyaan pada indikator gaya komunikasi
dinamis pertanyaan nomor 1.
110
3.
Untuk pertanyaan 3 sebesar 63% responden menjawab tidak setuju
terhadap gaya ini dan sisanya sebesar 8%, 25% dan 4% berturut-turut
menjawab kurang setuju, setuju dan sangat setuju.
Dari data di atas mengenai “direktur selalu ingin melepas diri
dari tanggung jawab” analisis dari data di atas responden menjawab
tidak setuju bahwa pemimpin selalu ingin melepas diri dari tanggung
jawab. Fungsi utama seorang direktur adalah penanggung jawab dari
segala sesuatu yang berhubungan dengan ruang lingkup pekerjaan
dengan cara memberikan motivasi, pemberian arahan yang tepat, dan
membina hubungan kekeluargaan. Hal tersebut menguatkan tentang
pertanyaan pada indikator pada gaya komunikasi kesamaan.
“pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku
coordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen
organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas (Siagian, 2010 :
40).
Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana tanggapan responden tentang
gaya komunikasi memelas secara kseluruhan, maka dilakukan pengkategorian.
Indikator gaya komunikasi Memelas terdiri atas 3 pernyataan. Setiap pernyataan
terdiri atas 3 alternatif jawaban yang diberi nilai. Nilai skor terbesar adalah 12,
sedangkan skor terendah adalah 4. Untuk menentukan interval setiap kategori (3
kelas), maka dilakukan perhitungan berikut:
c=
12 − 4
= 2,66
3
111
Dengan demikian, maka interval skor untuk menentukan masing-masing
kategori adalah sebagai berikut:
Jumlah skor 4– 6,66
: Kurang Baik
Jumlah skor 6,67-9,33
: Cukup Baik
Jumlah skor 9,34-12
: Sangat Baik
Tabel 4.18
Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Memelas
Indikator
Gaya Komunikasi Memelas
Total
N: 113
Kategori
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Frekuensi
Persentase
6
5%
37
33%
70
62%
113
100%
Sumber: Angket Penelitian
Dari tabel 4.18, dapat diketahui tanggapan responden tentang Gaya
Komunikasi memelas mayoritas responden sebanyak 70 orang atau 62% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi memelas yang
termasuk dalam kategori penilaian “Kurang Baik” dan paling sedikit sebanyak 6
orang atau 5% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi
memelas yang termasuk dalam kategori penilaian “Sangat Baik”, sedangkan
sebanyal 37 orang atau 33% adalah responden yang memiliki persepsi tentang
gaya komunikasi memelas yang termasuk dalam kategori “Sangat Baik”.
Berdasarkan data yang didapat, gaya komunikasi memelas ini termasuk ke
dalam kategori yang rendah, dilihat dari responden yang berpendapat bahwa gaya
komunikasi ini kurang baik, atau bisa dikatakan bahwa gaya komunikasi memelas
ini tidak tercermin dari direktur PT. Nugraha. Dapat dilihat persentase jawaban
dari kurang baik, cukup baik, dan sangat baik jauh perbandingannya.
112
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Gambar 4.6
Diagram Persepsi Responden Tentang Gaya Komunikasi Memelas
Pada gambar juga dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden
merespon Kurang baik terhadap gaya komunikasi memelas.
4.3
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui kategorisasi data,
penulis melihat bahwa gaya komunikasi yang ada di PT. Nugraha relatif memilih
gaya kesamaan (equalitarian style). Dilihat dari hasil karyawan yang menjadi
responden setuju dengan pertanyaan angket yang berkaitan dengan gaya kesamaan
ini di antaranya karyawan cenderung lebih nyaman ketika berkomunikasi dengan
direkturnya dan begitupun direktur yang terbuka dengan karyawan yang ingin
mendengarkan keluhan dari karyawan. Terbukti dari pendapat yang dikemukakan
oleh John Callen dalam (Mulyana 2005:34), dirinya berpendapat bahwa “ hal
terpenting bagi seorang pemimpin sesudah keahlianya adalah kemampuan
berkomunikasi”.
113
Kemudian penulis melihat bahwa karyawan merasa tidak terbebani dengan
tugas yang diberikan oleh direkturnya, dilihat dari hasil angket penelitian yang
disebar kepada buruh terutama pada gaya kesamaan (equalitarian style) bahwa
buruh menjawab setuju dan mereka merasa tidak terbebani dalam melakukan
pekerjaanya, dilihat dari buruh yang menjawab setuju yakni 62 orang atau 55%
dan yang menjawab sangat setuju yakni 36 orang atau 32%. Dibandingkan dengan
yang menjawab kurang setuju dan tidak setuju yang berada dibawahnya. Hal ini
mencerminkan bahwa komunikasi di antara direktur dan buruh berjalan dengan
baik sesuai dengan keinginan di antara keduanya. Jadi setiap buruh dapat
mengungkapkan pendapat dalam suasana rileks dan santai, suasana yang
demikianlah yang memungkinkan setiap buruh mencapai kesepakatan dan
pengertian bersama.
Dengan terjalinnya hal-hal positif pada perusahaan target yang ditetapkan
oleh direktur kepada buruh akan lebih cepat tercapai berdasarkan motivasi yang
diberikan seperti bonus pencapaian target dan upah tambahan bagi buruh yang
bekerja di luar jam kerjanya.
Dengan gaya komunikasi yang diterapkan direktur dengan menggunakan
gaya komunikasi equalitarian style (gaya kesamaan). Ditandai dengan berlakunya
pesan-pesan verbal maupun tulisan yang bersifat dua arah. Dalam gaya
komunikasi yang dilakukan direkur tindak komunikasi dilakukan secara terbuka,
artinya setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun
pendapat yang rileks, santai, dan informal. Dalam suasana demikian,
memungkinkan setiap buruh akan mencapai kesepakatan dan pengertian bersama,
114
karena adanya rasa kekeluargaan di antara keduanya. Buruh merasa dihargai oleh
direktur karena pendapatnya didengarkan.
Seperti halnya yang dikatakan oleh salah seorang karyawan,
“Beliau mengungkapkan sangat antusias dalam bekerja, karena aspirasi
atau pendapat buruh selalu didengarkan oleh atasan. Untuk itu buruh lebih
termotivasi dalam bekerja dan berusaha memenuhi target produksi yang
diinginkan oleh direktur.”10
Dalam hal ini dapat dilihat bahwa buruh yang bekerja di PT. Nugraha
merasa termotivasi di dalam bekerja, karena buruh merasa cocok dengan gaya
komunikasi yang diterapkan oleh direktur PT. Nugraha, hal itu bisa dilihat dari
pernyatan di atas yang merasa seluruh aspirasinya didengarkan. Buruh merasa
nyaman, dan semangat dalam mencapai target produksi.
Pemberian motivasi dengan gaya kesamaan (equalitarian style) di PT.
Nugraha mengakibatkan buruh lebih serius dalam mencapai target, karena sistem
kekeluargaan yang dterapkan oleh direktur berdampak positif bagi buruh untuk
bersungguh-sungguh dalam bekerja.
Seperti wawancara dengan salah seorang karyawan mengatakan:
“Direktur memberikan motivasi dengan cara pemberian masukan-masukan
kepada buruh sangat membantu dalam pekerjaanya. Hal tersebut
memberikan semangat kerja yang baik di mana direktur dinilai peduli akan
kepentingan bersama serta pemberian bonus sesuai dengan hasil kerja”.11
10
11
Ibid
Ibid
115
Dari sebaran data penelitian, tanggapan responden tentang Gaya
Komunikasi Mengendalikan mayoritas responden sebanyak 81 orang atau 72%
adalah
responden
yang
memiliki
persepsi
tentang
gaya
komunikasi
mengendalikan yang termasuk dalam kategori penilaian “Cukup Baik” dan paling
sedikit sebanyak 7 orang atau 6% adalah responden yang memiliki persepsi
tentang gaya komunikasi mengendalikanyang termasuk dalam kategori penilaian
“Kurang Baik”. Untuk Gaya Komunikasi Kesamaan mayoritas responden
sebanyak 59 orang atau 52% adalah responden yang memiliki persepsi tentang
gaya komunikasi kesamaanyang termasuk dalam kategori penilaian “Sangat Baik”
dan paling sedikit sebanyak 10 orang atau 9% adalah responden yang memiliki
persepsi tentang gaya komunikasi kesamaan yang termasuk dalam kategori
penilaian “Kurang Baik”, sedangkan sebanyal 44 orang atau 39% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi kesamaan yang
termasuk dalam kategori “Cukup Baik”. Untuk Gaya Komunikasi Terstruktur
mayoritas responden sebanyak 67 orang atau 59% adalah responden yang
memiliki persepsi tentang gaya komunikasi terstruktur yang termasuk dalam
kategori penilaian “Cukup Baik” dan paling sedikit sebanyak 27 orang atau 24%
adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi terstruktur
yang termasuk dalam kategori penilaian “Kurang Baik”, sedangkan sebanyal 19
orang atau 17% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya
komunikasi terstruktur yang termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Untuk Gaya
Komunikasi Dinamis, mayoritas responden sebanyak 58 orang atau 51% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi dinamis yang
116
termasuk dalam kategori penilaian “Cukup Baik” dan paling sedikit sebanyak 18
orang atau 16% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya
komunikasi dinamis yang termasuk dalam kategori penilaian “Kurang Baik”,
sedangkan
sebanyal 37 orang atau 33% adalah responden
yang
memiliki
persepsi tentang gaya komunikasi dinamis yang termasuk dalam kategori “Cukup
Baik”. Untuk Gaya Komunikasi Mengikuti mayoritas responden sebanyak 44
orang atau 39% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya
komunikasi mengikuti yang termasuk dalam kategori penilaian “Cukup Baik” dan
paling sedikit sebanyak 33 orang atau 29% adalah responden yang memiliki
persepsi tentang gaya komunikasi mengikutiyang termasuk dalam kategori
penilaian “Kurang Baik”, sedangkan sebanyal 36 orang atau 32% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi mengikuti yang
termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Dan yang terakhir untuk Gaya
Komunikasi memelas mayoritas responden sebanyak 70 orang atau 62% adalah
responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi memelas yang
termasuk dalam kategori penilaian “Kurang Baik” dan paling sedikit sebanyak 6
orang atau 5% adalah responden yang memiliki persepsi tentang gaya komunikasi
memelas yang termasuk dalam kategori penilaian “Sangat Baik”, sedangkan
sebanyal 37 orang atau 33% adalah responden yang memiliki persepsi tentang
gaya komunikasi memelas yang termasuk dalam kategori “Sangat Baik”.
Untuk itu dari hasil data penelitian dapat disimpulkan bahwa gaya
komunikasi yang di pakai oleh direktur PT. Nugraha yaitu gaya komunikasi
kesamaan (equalitarian style). Dengan dilihat dari hasil penelitian yang mayoritas
117
responden menjawab sangat setuju bahwa gaya komunikasi kesamaan adalah gaya
komunikasi yang digunakan oleh direktur PT. Nugraha.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Kesimpulan merupakan uraian tentang jawaban penulis atas rumusan
masalah dan tujuan penelitian. Kesimpulan yang diperoleh setelah melakukan
penelitian dan menganalisis data dari hasil penelitian adalah sebagai berikut :
1.
Gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan
motivasi dengan gaya mengendalikan (the controlling style) di PT.
Nugraha Tekstil mayoritas ditanggapi cukup baik oleh karyawan
sebesar 72%.
2.
Gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan
motivasi dengan gaya kesamaan (the equalitarian style) PT. Nugraha
Tekstil mayoritas ditanggapi sangat baik oleh karyawan sebesar 52%.
3.
Gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan
motivasi dengan gaya terstruktur (the structuring style) di PT.
Nugraha Tekstil mayoritas ditanggapi cukup baik oleh karyawan
sebesar 59%.
4.
Gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan
motivasi dengan gaya dinamis (the dynamic style) di PT. Nugraha
Tekstil mayoritas ditanggapi Cukup baik oleh karyawan sebesar 51%.
5.
Gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan
motivasi dengan gaya mengikuti (the relinquising style) di PT.
118
119
Nugraha Tekstil mayoritas ditanggapi cukup baik oleh karyawan
sebesar 39%.
6.
Gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin dalam memberikan
motivasi dengan gaya memalas (thewithdrawal style) di PT. Nugraha
Tekstil mayoritas ditanggapi kuang baik oleh karyawan sebesar 62%.
5.2
Saran
Berdasarkan hasil dari penelitian ini, maka peneliti mengungkapkan
beberapa saran sebagai masukan dan pertimbangan agar lebih bermanfaat serta
dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Adapun saran-saran yang
dikemukakan sebagai berikut ini.
1.
Sebaiknya pemimpin lebih longgar dengan ukuran target yang harus
dicapai buruh agar buruh tidak merasa stress atau tertekan karena
pemberian materi tidak sepenuhnya memberikan dampak pemikiran
untuk fokus terhadap pekerjaanya.
2.
Direktur
sebaiknya
memberikan
pelatihan
lebih
agar
mengembangkan kemampuan dalam mengerjakan pekerjaanya.
3.
Direktur sebaiknya memberikan pengertian lebih kepada buruh yang
sarannya tidak diterima, karena ada data yang menunjukkan bahwa
buruh tidak setuju jika sarannya tidak diterima.
4.
Direktur sebaiknya harus lebih sering memberikan semangat kepada
buruh untuk bekerja lebih giat lagi, agar produksi tetap stabil, bukan
lebih kepada memaksa buruh agar supaya produksi hasil tetap stabil.
120
Ini akan membuat para buruh akan merasa tertekan sehingga hasil
produksi akan menjadi kurang maksimal nantinya.
5.
Direktur sebaiknya lebih selektif lagi di dalam pengambilan
keputusan, terutama pendapat dari buruh. Karena bagaimanapun
direktur adalah pemimpin perusahaan yang segala keputusan atau
tindakan semuanya ada pada direktur.
6.
Saran untuk gaya memelas ini sebaiknya direktur tidak memakai gaya
komunikasi ini, karena dilihat dari data responden yang menjawab
banyak yang kurang setuju dengan gaya memelas ini. Karena
kebanyakan buruh lebih senang jika pemimpin atau direkturnya lebih
memperhatikan dan ingin didengarkan segala ide atau gagasannya.
DAFTAR PUSTAKA
Alo, Liliweri. 2011. Komunikasi Serba ada Serba Makna. Jakarta: Kencana
Pradana Media Group.
Ardianto, Elvinaro. 2011. Metodelogi Penelitian Untuk Public Relations.
Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Kartono, Kartini. 1994. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Muhammad, Arni. 2009. Komunikasi Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara.
Moekijat. 1993. Teori Komunikasi. Bandung: Mandar Maju.
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin, 2009. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Siagian, Sondang. 2010. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumardi, 1983. Metodelogi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Rohim, Syaiful. 2009. Teori Komunikasi : Perspektif, Ragam, dan Aplikasi.
Jakarta: Rineka Cipta.
Pace, Wayne & Faules. 2010. Komunikasi Organisasi : Strategi Meningkatkan
Kinerja Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Winardi. 2011. Motivasi dan Pemotivasian dalam Management. Jakarta: Raja
Grafindo Persada,
Wursanto. 2005. Etika Komunikasi Kantor. Yogyakarta : PT. Kanisius.
121
122
Sumber Lain:
http://tithagalz.wordpress.com/2011/03/27/pengertian-pengumpulan-data
http://fairuzhr06.blogspot.com/2013/11/fungsi-perusahaan-atau-organisasi.html
LAMPIRAN
123
LAMPIRAN 1
ANGKET PENELITIAN
Data Responden
1. JenisKelamin
a. Pria
b. Wanita
2. Usia
a. 17-19 Tahun
b. 20-30Tahun
c. 30-40Tahun
3. Lama Bekerja
a. 1 – 2 Tahun
b. 2 – 5 Tahun
c. Lebih dari 5 Tahun
4. Pendidikan terakhir
a. SMP
b. SMA
c. Sarjana
5. Bekerja di Bagian
a. Tenun
b. Falet
c. Hane
Gaya mengendalikan (controling style)
1. Direktur membatasi berkomunikasi informal terhadap buruh.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
2. Direktur mempengaruhi buruh untuk menuruti semua yang diinginkannya.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
124
125
3. Direktur mengatur semua pekerjaan para buruh.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
4. Bapak/ibu mengerjakan apa yang di arahkan oleh direktur.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
5. Bapak/ibu sepakat dengan keputusan yaang diambil oleh direktur dalam
pengambilan keputusan.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
Gaya Kesamaan (Equalitarian Style)
6. Saya merasa nyaman ketika berkomunikasi dengan direktur.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
7. Saya merasa tidak terbebani dalam melakukan pekerjaan.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
8. Direktur mendengarkan keluhan dari buruh.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
9. Adanya suasana kekeluargaan di dalam bekerja.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
126
10. Direktur memperhatikan kebutuhan buruh dalam bekerja.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
Gaya Terstruktur (Strukturing Style)
11. Direktur membagi pekerjaan buruh sesuai dengan keahliannya.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
12. Direktur membuat penjadwalan tugas secara tepat.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
13. Aturan yang berlaku harus dipatuhi oleh setiap pekerja.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
14. Prosedur perusahaan yang dibuat direktur membuat bapak/ibu menjadi
giat dalam bekerja.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
15. Saya merasa terbebani atas aturan yang dibuat oleh direktur.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
Gaya Dinamis (Dinamic Style)
16. Direktur mendorong karyawan untuk bekerja secara maksimal.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
127
17. Buruh dituntut untuk mencapai target produksi.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
18. Direktur terjun langsung melihat pekerjaan para buruh.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
19. Direktur dapat menyelesaikan persoalan yang kritis di internal perusahaan.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
20. Saya selalu berupaya mencapai target yang diinginkan oleh direktur.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
Gaya Mengikuti (Reliquishing Style)
21. Direktur bersedia menerima saran dari buruh.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
22. Direktur terbuka dengan buruh yang menyampaikan gagasan untuk
perusahaan.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
23. Direktur setuju dengan saran buruh dibanding memberi perintah.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
128
Gaya Memelas (Withdrawal Style)
24. Adanya batasan direktur dan buruh dalam berkomunikasi.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
25. Saya merasa kurangnya diberikan motivasi oleh direktur
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
26. Direktur menghindari berkomunikasi secara tatap muka dengan buruh.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak Setuju
LAMPIRAN 2
DRAFT WAWANCARA
Nama
: Darso
Pekerjaan : Karyawan PT. Nugraha
1. Siapa nama anda?
Jawab : Darso
2. Sudah berapa lama anda bekerja di PT. Nugraha?
Jawab : saya bekerja kira-kira sudah 15 tahun
3. Bagaimana direktur memimpin anda di perusahaan ini?
Jawab : direktur mempinpin dengan objektif, dia dapat menempatkan
karyawan dengan tepat. Misalnya saya di tepatkan dengan keahlian saya,
bukan hanya itu, saya sangat betah bekerja di sini karena direktur sering
memberikan bonus jika saya bekerja melebihi target, dan baik dari segi
member tahu saya tentang kesalahan saya.
4. Bagaimana cara direktur membangkitkan semangat anda untuk
bekerja lebih giat?
Jawab : ya seperti direktur memberikan motivasi dengan cara member
masukan-masukan. Itu membuat saya terbantu untuk pekerjaan saya. Itu
salah satunya yang membuat saya semangat kerja, karena saya merasa
diperhatikan dan diakui. Bukan hanya itu direktur memberikan bonus jam
kerja sesuai dengan hasil produksi yang melebihi target, walaupun hanya
sedikit target yang didapat
129
130
5. Apakah direktur sering mempengaruhi anda untuk mengatur
perilaku?
Jawab : Direktur biasanya memberikan contoh, mulai dari cara bekerja,
atau sering mengobrol tentang pengalaman beliau bagaimana berperilaku
baik dalam bekerja untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan hanya
itu direktur selalu datang tepat waktu ke pabrik.
6.
Menurut anda, bagaimana suasana pekerjaan yang ada disini?
Jawab : Suasananya nyaman, disini kita seperti keluarga, bukan hanya
saya dan pekerja lainnya, tapi juga direktur. Gak jarang direktur sering
ngobrol dengan saya atau pekerja lainya.
7. Selain itu, hal apa lagi yang membuat anda nyaman bekerja disini?
Jawab : Saya nyaman dengan kualitas mesin-mesin tenun disini, jarang
sekali saya mengalaami kendala mesin yang kadang-kadang suka
membuat saya harus bolak-balik untuk mengecek apakah hasil tenun
sudah rapi tidak ada benang-benang yang putus. Itu membuat saya bisa
sedikit santai.
8. Apakah anda selalu mematuhi aturan yang ada disini?
Jawab : Ya jelas, gimanapun kan saya bekerja, ya wajib harus mematuhi
semua aturan yang ada. Aturan itu sudah menjadi tanggung jawab saya
dalam bekerja, bagaimanapun setiap perusahaan punya aturan masingmasing ytang harus dipatuhi oleh setiap pekerjanya.
9. Apakah anda merasa terbebani dengan aturan itu?
Jawab : Tidak juga, itu sudah menjadi tanggung jawab pekerjaan saya
selain memproduksi kain. Menurut saya aturan itu sudah disepakati dari
awal dimulai dari pertama bekerja. Direktur sudah memberitahu aturan di
sini dan ada sanksi juga jika melanggarnya.
131
10. Menurut anda apakah direktur sudah tepat dalam meberikan
pendapat atau pengambilan keputusan?
Jawab : Yaya, direktur tidak jarang mengambil keputusan yang membuat
saya atau pekerja lainnya merasa senang, seperti halnya penempatan
bekerja sesuai dengan keahliannya masing-masing.
11. Apa tanggapan anda tentang keputusan yang diambil oleh direktur?
Jawab :
Keputusan direktur membuat saya tidak terbebani dengan
pekerjaan, karena menurut saya keputusan yang
sebelah,
jadi
menguntungkan
juga
untuk
saya
diambil gak berat
karena
direktur
menempatkan saya dan buruh yang lain di posisi yang tepat sesuai dengan
keahliannya.
12. Apakah direktur sering terjun langsung melihat pekerjaan?
Jawab : Ya, tidak jarang direktur menghampiri saya untuk sekedar
mengecek pekerjaan saya, menanyakan tentang apakah ada masalah
dengan mesin, bukan hanya itu direktur selalu memberikan semangatnya
kepada saya agar bekerja lebih giat.
13. Apakah anda pernah memberikan saran atau gagasan anda kepada
direktur?
Jawab : Pernah, direktur terbuka dengan saran atau pendapat dari pekerja,
tetapi tidak semua pendapat atau gagasan diterima oleh direktur.
Sepertinya direktur lebih tahu keputusan mana yang harus diambil.
CODING SHEET
DATA RESPONDEN
Resp.
Reps 1
Reps 2
Reps 3
Reps 4
Reps 5
Reps 6
Reps 7
Reps 8
Reps 9
Reps 10
Reps 11
Reps 12
Reps 13
Reps 14
Reps 15
Reps 16
Reps 17
Reps 18
Reps 19
Reps 20
Reps 21
Reps 22
Reps 23
Reps 24
Reps 25
Reps 26
Reps 27
Reps 28
Reps 29
Reps 30
Reps 31
Reps 32
Reps 33
Reps 34
Reps 35
JenisKelamin
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Usia
20
18
18
23
25
24
17
31
35
27
38
32
19
25
26
18
27
28
33
26
22
22
32
25
19
27
37
18
18
19
26
17
18
27
28
132
Lama
kerja
5
1
6
7
3
6
4
7
1
4
2
5
5
4
6
5
2.5
5
4
1
5
1
6
7
2.5
6
4
7
1.5
4
2
5
5
4
6
Pendidikan Bagiankerja
SMA
SMA
SMP
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA
SMP
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMP
tenun
falet
tenun
tenun
tenun
hane
tenun
hane
falet
hane
falet
tenun
tenun
hane
tenun
falet
tenun
hane
tenun
hane
tenun
falet
tenun
tenun
tenun
hane
tenun
hane
falet
hane
falet
tenun
tenun
hane
tenun
133
Resp.
Reps 36
Reps 37
Reps 38
Reps 39
Reps 40
Reps 41
Reps 42
Reps 43
Reps 44
Reps 45
Reps 46
Reps 47
Reps 48
Reps 49
Reps 50
Reps 51
Reps 52
Reps 53
Reps 54
Reps 55
Reps 56
Reps 57
Reps 58
Reps 59
Reps 60
Reps 61
Reps 62
Reps 63
Reps 64
Reps 65
Reps 66
Reps 67
Reps 68
Reps 69
Reps 70
Reps 71
Reps 72
Reps 73
Reps 74
JenisKelamin
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Usia
33
17
21
21
20
20
20
17
18
35
45
22
44
43
23
23
25
21
44
20
42
20
39
24
38
26
27
24
33
21
22
21
20
20
19
25
19
26
19
Lama
kerja
5
3
5
4
2.5
5
1
6
7
3
6
4
7
1
4
2
5
5
4
6
5.5
3.5
5
4
1
5
1
6
7
2.5
6
4
7
1
3.5
2
5
5
4
Pendidikan Bagiankerja
SMA
SMA
SMP
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA
SMP
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMA
falet
tenun
hane
tenun
hane
tenun
falet
tenun
tenun
tenun
hane
tenun
hane
falet
hane
falet
tenun
tenun
hane
tenun
falet
tenun
hane
tenun
hane
tenun
falet
tenun
tenun
tenun
hane
tenun
hane
falet
hane
falet
falet
falet
hane
134
Resp.
Reps 75
Reps 76
Reps 77
Reps 78
Reps 79
Reps 80
Reps 81
Reps 82
Reps 83
Reps 84
Reps 85
Reps 86
Reps 87
Reps 88
Reps 89
Reps 90
Reps 91
Reps 92
Reps 93
Reps 94
Reps 95
Reps 96
Reps 97
Reps 98
Reps 99
Reps 100
Reps 101
Reps 102
Reps 103
Reps 104
Reps 105
Reps 106
Reps 107
Reps 108
Reps 109
Reps 110
Reps 111
Reps 112
Reps 113
JenisKelamin
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Usia
28
18
16
29
24
17
26
21
41
27
34
33
25
23
22
25
34
28
31
28
33
29
30
33
25
22
25
27
26
21
20
18
19
30
22
23
21
25
27
Lama
kerja
6
5
3
5
3.5
1
5
1
6
7
3
6
4
6.5
1
4.5
2
5
5
4
1.5
1
3
5
4
1
2
1
1.5
3
5
5
4
7
3
1
2
3
1
Pendidikan Bagiankerja
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA
SMP
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMP
SMP
SMA
SMP
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
SMP
SMA
SMP
SMP
SMA
SMP
falet
falet
tenun
hane
tenun
hane
tenun
falet
tenun
tenun
tenun
hane
tenun
hane
falet
hane
falet
tenun
tenun
hane
tenun
falet
tenun
hane
tenun
falet
falet
tenun
tenun
falet
tenun
falet
tenun
hane
tenun
hane
tenun
hane
falet
135
DATA PENELITIAN
Responden
Res 1
Res 2
Res 3
Res 4
Res 5
Res 6
Res 7
Res 8
Res 9
Res 10
Res 11
Res 12
Res 13
Res 14
Res 15
Res 16
Res 17
Res 18
Res 19
Res 20
Res 21
Res 22
Res 23
Res 24
Res 25
Res 26
Res 27
Res 28
Res 29
Res 30
Res 31
Res 32
Res 33
Res 34
Res 35
Res 36
Res 37
Res 38
Res 39
Res 40
Res 41
Res 42
Res 43
Res 44
Res 45
Res 46
Res 47
Res 48
Res 49
Res 50
Res 51
Res 52
Res 53
Res 54
Res 55
Res 56
Res 57
P1
2
3
2
1
3
3
4
3
3
3
4
2
2
3
4
3
3
3
3
4
4
4
2
3
3
3
4
4
4
2
4
4
3
3
3
4
3
3
3
4
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
P2
3
4
3
1
4
3
3
4
3
3
4
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
4
3
4
2
4
3
4
4
3
4
4
3
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
Gaya Mengendalikan
P3
P4
P5
4
3
3
3
3
3
3
4
4
1
1
1
3
2
3
3
3
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
4
3
3
2
3
2
2
2
2
2
2
2
2
3
2
2
3
2
3
3
3
2
2
2
2
4
2
3
4
3
3
3
3
4
4
4
3
3
2
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
2
2
2
3
3
3
4
2
2
4
3
3
3
2
2
4
1
2
2
2
2
3
2
3
4
2
2
4
3
2
3
3
2
4
2
3
4
3
2
3
2
3
3
2
3
3
3
2
3
3
3
3
3
2
3
3
2
3
2
3
3
3
2
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
2
2
3
3
2
3
3
2
3
3
Total
15
16
16
5
15
14
15
16
15
14
18
12
11
12
14
14
15
12
14
17
16
20
13
15
15
14
17
16
18
10
17
15
17
14
13
14
15
14
15
15
15
15
15
14
14
15
14
14
14
14
15
14
15
14
14
14
14
P6
4
2
3
2
4
2
2
4
2
3
3
3
2
2
2
4
2
3
3
3
3
4
3
3
3
3
4
3
3
4
4
2
3
2
4
2
2
4
2
3
3
3
2
2
2
4
2
3
3
3
3
4
3
3
3
3
4
P7
3
3
3
4
3
2
3
3
3
3
3
2
2
2
2
4
3
2
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
2
3
3
3
3
3
2
2
2
2
4
3
2
3
3
4
4
3
3
3
3
3
Gaya Kesamaan
P8
P9
P10
4
4
3
2
3
2
3
3
3
4
3
3
4
4
4
3
3
2
2
3
2
4
4
3
3
2
2
3
3
3
3
2
2
3
2
2
3
3
2
2
2
3
3
3
2
4
3
3
3
3
2
3
2
3
4
3
2
3
4
3
4
3
3
4
4
4
2
3
2
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
2
3
3
3
2
4
4
3
2
3
2
3
3
3
4
3
3
4
4
4
3
3
2
2
3
2
4
4
3
3
2
2
3
3
3
3
2
2
3
2
2
3
3
2
2
2
3
3
3
2
4
3
3
3
3
2
3
2
3
4
3
2
3
4
3
4
3
3
4
4
4
2
3
2
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
4
4
Total
18
12
15
16
19
12
12
18
12
15
13
12
12
11
12
18
13
13
15
16
17
20
13
15
13
15
18
15
14
15
18
12
15
16
19
12
12
18
12
15
13
12
12
11
12
18
13
13
15
16
17
20
13
15
13
15
18
P11
3
3
3
3
4
4
3
4
2
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
4
3
3
2
2
3
3
3
3
4
2
1
2
3
3
2
2
2
4
3
2
4
3
2
3
3
2
3
3
4
P12
3
3
3
3
3
4
3
4
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
4
3
1
3
3
3
2
2
3
3
3
4
2
3
3
3
3
2
2
3
4
Gaya Terstruktur
P13
P14
3
3
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
3
3
2
3
3
4
2
4
3
3
3
2
3
4
3
4
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
3
3
3
3
2
2
2
2
1
4
2
3
2
2
3
2
2
1
3
1
4
1
2
3
1
2
2
2
2
3
3
2
3
3
3
2
2
3
2
2
2
3
4
3
3
3
2
3
3
2
3
4
3
3
3
2
3
3
3
3
3
2
P15
3
3
2
3
3
3
2
4
3
2
3
4
3
2
4
4
2
2
3
2
2
4
2
2
2
3
4
3
2
2
2
2
2
2
3
1
2
3
1
3
2
3
3
2
3
2
2
2
4
4
3
2
2
3
3
3
2
Total
15
13
14
15
16
17
14
20
14
13
16
16
15
13
18
18
14
14
13
15
16
16
14
14
13
14
16
16
12
12
11
12
12
13
12
11
15
13
6
12
13
14
13
11
13
13
13
15
16
15
13
15
14
12
14
15
15
P16
3
2
3
2
4
3
2
3
3
2
3
2
3
2
2
3
3
2
2
4
3
4
3
3
3
3
2
3
2
3
2
3
3
2
3
3
2
2
3
3
3
2
3
3
3
3
3
4
3
2
3
2
2
4
3
3
3
P17
2
2
2
3
2
2
2
4
2
2
2
2
3
2
1
2
2
2
3
2
2
3
3
2
2
3
3
3
2
2
3
2
1
2
3
2
3
1
2
2
3
2
2
3
3
2
2
2
2
3
3
3
3
3
2
2
2
Gaya Dinamis
P18
P19
3
2
3
2
3
2
3
2
3
2
3
2
3
2
4
3
3
1
3
2
3
2
4
2
4
3
2
2
4
2
3
2
2
2
2
2
3
2
3
3
4
3
3
3
4
2
2
3
2
2
3
3
3
2
3
2
2
2
2
1
3
1
2
3
3
3
2
2
3
1
3
1
2
2
3
1
2
3
2
4
4
1
2
2
3
3
3
2
3
2
3
2
3
1
3
1
3
2
3
1
3
2
3
2
3
2
3
2
2
2
3
2
4
1
P20
3
2
3
1
4
3
4
4
1
2
2
3
3
3
4
4
3
3
4
3
4
2
3
1
3
3
4
3
3
2
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
4
4
2
4
4
1
1
4
4
4
3
4
4
3
2
total
13
11
13
11
15
13
13
18
10
11
12
13
16
11
13
14
12
11
14
15
16
15
15
11
12
15
14
14
11
10
12
14
13
11
13
12
12
10
13
14
14
10
15
15
13
14
13
11
11
13
15
14
13
16
13
13
12
P21
2
2
2
1
2
3
2
4
2
2
1
2
3
2
1
4
2
2
1
2
3
3
2
2
1
4
4
3
1
1
2
1
2
2
2
3
1
1
4
2
3
2
2
2
1
1
2
2
1
1
2
2
2
4
2
2
3
Gaya mengikuti
P22
P23
3
2
2
2
3
2
2
2
3
2
3
3
2
2
4
4
3
2
2
2
3
2
2
2
3
3
2
2
2
1
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2
3
2
4
3
2
2
3
2
3
2
3
3
4
3
3
3
2
2
3
2
2
2
3
2
3
1
2
2
3
2
3
3
2
3
2
1
3
3
3
2
3
3
2
2
3
2
3
3
3
3
3
2
3
2
4
2
3
2
2
3
3
3
2
3
2
2
4
3
3
2
3
2
3
3
total
7
6
7
5
7
9
6
12
7
6
6
6
9
6
4
10
7
6
5
6
8
10
6
7
6
10
11
9
5
6
6
6
6
6
7
9
6
5
10
7
9
6
7
8
7
6
7
8
6
6
8
7
6
11
7
7
9
P24
1
1
1
1
1
2
1
2
1
4
1
4
4
1
1
2
1
3
4
1
1
2
1
1
1
3
1
1
1
3
4
3
3
1
3
1
2
3
1
3
3
1
1
1
3
3
3
2
1
3
1
1
3
1
1
1
1
Gaya memelas
P25
P26
2
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
3
1
1
1
1
1
3
3
2
1
3
4
3
3
3
3
3
1
3
1
1
1
3
3
3
2
1
2
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
3
1
1
1
1
1
2
1
1
3
1
1
2
3
2
1
1
3
2
4
3
3
1
3
2
3
2
1
1
1
2
3
2
1
1
3
1
3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
3
1
3
1
3
1
total
4
3
4
4
3
4
5
4
3
10
4
10
10
7
5
6
3
9
9
4
3
6
3
3
3
7
3
3
4
7
6
8
6
5
9
7
6
8
4
5
8
4
5
5
5
5
5
4
5
5
3
3
5
3
5
5
5
136
Responden
Res 58
Res 59
Res 60
Res 61
Res 62
Res 63
Res 64
Res 65
Res 66
Res 67
Res 68
Res 69
Res 70
Res 71
Res 72
Res 73
Res 74
Res 75
Res 76
Res 77
Res 78
Res 79
Res 80
Res 81
Res 82
Res 83
Res 84
Res 85
Res 86
Res 87
Res 88
Res 89
Res 90
Res 91
Res 92
Res 93
Res 94
Res 95
Res 96
Res 97
Res 98
Res 99
Res 100
Res 101
Res 102
Res 103
Res 104
Res 105
Res 106
Res 107
Res 108
Res 109
Res 110
Res 111
Res 112
Res 113
P1
2
1
2
2
3
2
2
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
3
3
3
3
4
2
3
2
3
2
2
3
2
3
2
4
4
3
1
2
2
1
2
4
4
2
4
3
3
3
4
3
3
3
1
2
3
1
1
P2
2
3
3
2
4
2
2
4
3
4
4
4
3
4
3
3
3
3
3
2
3
3
4
3
4
3
3
3
2
3
3
2
3
4
4
4
2
4
3
3
4
4
3
3
3
3
4
4
3
4
3
2
2
3
2
2
Gaya Mengendalikan
P3
P4
P5
2
2
3
1
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
4
3
4
3
2
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
3
3
4
4
2
3
4
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
2
4
3
3
3
3
2
4
3
3
3
3
3
2
3
3
3
2
3
3
3
2
3
4
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
2
3
3
3
4
4
4
4
4
2
1
1
4
4
4
2
1
1
2
3
2
1
3
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
3
3
2
4
2
3
4
3
2
3
2
3
3
2
3
3
3
2
2
3
3
3
3
2
1
1
1
2
2
2
3
3
2
1
2
2
1
2
1
Total
11
11
14
13
18
14
13
18
16
18
18
18
16
15
16
16
15
16
14
15
15
15
14
14
16
14
14
14
14
14
13
12
18
20
11
17
8
13
10
11
13
14
11
15
15
15
15
16
14
15
14
6
10
14
8
7
P6
3
3
4
4
2
3
2
4
2
2
4
2
3
3
3
2
2
2
4
2
3
3
3
3
4
3
3
3
3
4
3
3
4
4
2
3
2
4
2
2
4
2
3
3
3
2
2
2
4
2
3
3
3
3
4
3
P7
3
3
3
3
3
3
4
3
2
3
3
3
3
3
2
2
2
2
4
3
2
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
2
3
3
3
3
3
2
2
2
2
4
3
2
3
3
4
4
3
Gaya Kesamaan
P8
P9
P10
3
3
3
3
2
3
3
3
2
4
4
3
2
3
2
3
3
3
4
3
3
4
4
4
3
3
2
2
3
2
4
4
3
3
2
2
3
3
3
3
2
2
3
2
2
3
3
2
2
2
3
3
3
2
4
3
3
3
3
2
3
2
3
4
3
2
3
4
3
4
3
3
4
4
4
2
3
2
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
2
3
3
3
2
4
4
3
2
3
2
3
3
3
4
3
3
4
4
4
3
3
2
2
3
2
4
4
3
3
2
2
3
3
3
3
2
2
3
2
2
3
3
2
2
2
3
3
3
2
4
3
3
3
3
2
3
2
3
4
3
2
3
4
3
4
3
3
4
4
4
2
3
2
Total
15
14
15
18
12
15
16
19
12
12
18
12
15
13
12
12
11
12
18
13
13
15
16
17
20
13
15
13
15
18
15
14
15
18
12
15
16
19
12
12
18
12
15
13
12
12
11
12
18
13
13
15
16
17
20
13
P11
3
4
3
3
3
2
3
3
3
4
3
2
3
3
3
4
3
3
3
3
3
4
4
4
1
1
1
1
2
1
1
1
2
2
1
1
2
4
4
2
1
1
1
2
3
1
4
2
2
2
1
1
1
1
3
1
P12
3
3
3
3
3
2
3
4
2
3
3
2
3
3
4
4
3
4
3
3
4
2
3
2
2
2
1
2
1
1
2
2
1
1
1
2
3
2
4
1
1
2
2
3
2
1
1
1
1
1
1
2
2
2
4
1
Gaya Terstruktur
P13
P14
2
2
3
2
1
2
3
2
2
3
2
3
3
4
3
3
4
2
4
4
3
2
1
2
3
3
3
2
2
3
4
2
3
3
4
4
3
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
4
1
2
1
2
2
1
2
1
2
1
1
2
2
1
3
2
2
1
1
1
1
1
2
1
1
1
2
4
2
4
2
1
1
2
2
1
1
2
3
3
2
4
1
2
3
3
1
1
1
2
1
1
1
2
1
2
1
1
1
1
1
3
2
1
P15
4
3
2
1
3
4
2
1
2
1
4
3
1
2
2
1
4
4
3
3
4
3
3
4
1
1
2
2
1
1
1
4
1
1
4
1
1
1
1
1
1
1
1
2
3
1
3
2
1
3
1
1
1
2
3
1
Total
14
15
11
12
14
13
15
14
13
16
15
10
13
13
14
15
16
19
15
15
18
16
16
17
7
7
7
8
7
6
7
12
7
6
8
7
8
13
15
7
6
7
7
13
14
6
14
7
7
8
6
7
6
7
14
6
P16
4
3
3
3
3
2
2
3
3
2
3
3
4
4
3
3
2
3
3
3
3
2
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
4
2
1
4
4
3
4
3
2
4
3
4
3
4
4
4
3
3
3
3
2
P17
1
3
2
1
4
3
3
1
3
1
3
2
2
1
3
2
3
2
3
3
2
3
3
3
3
2
2
3
2
3
3
4
4
4
1
4
1
1
1
4
2
1
2
2
1
1
2
3
2
3
2
1
2
3
1
1
Gaya Dinamis
P18
P19
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
4
2
4
3
3
4
3
3
4
4
3
3
2
2
4
2
3
4
3
2
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
2
4
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
2
4
4
3
1
4
3
3
1
2
1
4
4
1
3
4
4
2
3
1
4
2
3
4
2
3
3
4
2
3
2
2
2
3
3
2
2
3
4
2
3
3
4
4
3
2
2
1
P20
3
3
4
4
3
4
4
4
3
3
2
4
4
4
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
3
3
4
4
4
4
1
4
4
2
2
4
4
1
2
4
2
3
2
2
3
2
4
3
2
2
total
14
14
15
14
16
15
16
15
15
14
14
13
16
16
14
14
13
13
15
15
13
15
14
14
15
14
14
15
15
16
15
16
18
19
14
18
7
11
14
17
13
13
15
12
12
15
13
13
13
14
14
12
15
17
11
8
P21
2
3
4
4
1
3
4
4
3
2
4
4
2
4
4
3
3
2
3
3
4
3
4
3
2
3
4
4
4
3
4
4
4
3
2
4
2
1
1
4
1
1
2
1
3
2
3
2
3
2
2
2
2
4
3
2
Gaya mengikuti
P22
P23
4
1
3
3
3
2
3
4
2
1
3
3
2
3
3
1
3
3
2
1
3
3
3
2
4
2
4
1
3
3
3
2
4
3
3
2
3
3
3
3
3
2
4
3
3
3
4
3
3
3
3
2
3
2
3
3
3
2
3
3
3
3
3
4
4
4
4
4
2
1
4
4
2
1
1
1
4
1
4
4
3
2
2
1
3
2
2
2
4
1
3
1
4
3
3
2
4
3
4
2
2
2
3
1
3
2
3
3
3
1
2
1
total
7
9
9
11
4
9
9
8
9
5
10
9
8
9
10
8
10
7
9
9
9
10
10
10
8
8
9
10
9
9
10
11
12
11
5
12
5
3
6
12
6
4
7
5
8
6
10
7
10
8
6
6
7
10
7
5
P24
3
1
4
1
3
3
1
3
2
2
1
1
1
3
2
2
1
2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
4
1
4
3
3
3
4
3
3
1
3
1
1
2
1
3
1
2
1
2
1
1
Gaya memelas
P25
P26
2
3
2
1
1
1
1
1
3
3
1
2
3
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
3
2
3
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
2
1
1
1
3
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
3
1
3
1
1
2
4
2
3
4
2
2
3
4
4
3
4
3
4
3
4
3
3
3
3
3
1
1
2
3
2
1
1
1
1
1
1
1
3
3
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
total
8
4
6
3
9
6
5
6
4
4
3
3
6
8
4
4
3
5
3
4
3
6
3
3
4
3
3
3
3
3
5
5
5
8
11
5
11
10
10
10
11
9
9
3
8
4
3
4
3
9
3
4
4
4
3
3
LAMPIRAN 4
HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS
HASIL UJI VALIDITAS
Indikator
Pertanyaan
P1
P2
Gaya
P3
Mengendalikan
P4
P5
P6
P7
Gaya
P8
Kesamaan
P9
P10
P11
P12
Gaya
P13
Terstruktur
P14
P15
P16
P17
P18
Gaya Dinamis
P19
P20
P21
Gaya
P22
Mengikuti
P23
P24
P25
Gaya Memelas
P26
rs
0,659
0,538
0,688
0,479
0,665
0,802
0,697
0,759
0,703
0,750
0,799
0,698
0,744
0,747
0,635
0,686
0,618
0,637
0,657
0,702
0,882
0,724
0,770
0,774
0,738
0,746
137
rs kritis
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
Kesimpulan
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
138
HASIL UJI RELIABILITAS
Indikator
Alpha
Cronbach
0,708
Kesimpulan
Interpretasi
Reliabilitas
Tinggi
Gaya Kesamaan
0,811
Reliabilitas
Tinggi
Gaya Terstruktur
0,811
Reliabilitas
Tinggi
Gaya Dinamis
0,716
Reliabilitas
Tinggi
Gaya Mengikuti
0,708
Reliabilitas
Tinggi
Gaya Memelas
0,715
Reliabilitas
Tinggi
Pertanyaan
dapat
digunakan
untuk
penelitian berikutnya
Pertanyaan
dapat
digunakan
untuk
penelitian berikutnya
Pertanyaan
dapat
digunakan
untuk
penelitian berikutnya
Pertanyaan
dapat
digunakan
untuk
penelitian berikutnya
Pertanyaan
dapat
digunakan
untuk
penelitian berikutnya
Pertanyaan
dapat
digunakan
untuk
penelitian berikutnya
Gaya
Mengendalikan
LAMPIRAN 5
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. Data Pribadi
Nama Lengkap
: Lingga Bhakti Nugraha
Tempat Tanggal Lahir
: Bandung, 19 Maret1991
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Alamat
: Jl. Raya Pacet No. 50 Andir Ciparay
No Telepon / HP
: 081214777714
Email
: [email protected]
B. Pendidikan Formal
2009 s/d Sekarang
: S1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam
Bandung Program Studi Public Relations
2006 s/d 2009
: SMA 25 Bandung
2003 s/d 2006
: SMP 1 Ciparay
1997 s/d 2002
: SD Gadis 1 Ciparay
1996
: TK Islamiyah
C. Pengalaman Organisasi
2012 – Sekarang
: Anggota Otomotif Modifikasi Car Jawa Barat
2010 – 2011
: Komisi C DAM Fikom Unisba
2009 – 2010
: BKC Karate Ciparay
2006 – 2009
: Wakil Ketua Drifting Car Ciparay
2005
: Pemain Persikab Haornas
139
Download