cover ok! - Repository Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

advertisement
SERANGAN HAMA DAUN TANAMAN
ULIN (Eusideroxylon zwageri T.et.B)
DI ARBORETUM POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
Oleh
Rahman Piara
NIM. 120500017
PROGRAM STUDI PENGELOLAAN HUTAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2015
SERANGAN HAMA DAUN TANAMAN
ULIN (Eusideroxylon zwageri T.et.B)
DI ARBORETUM POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
Oleh
Rahman Piara
NIM. 120500017
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya pada Program Diploma III
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI PENGELOLAAN HUTAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2015
SERANGAN HAMA DAUN TANAMAN
ULIN (Eusideroxylon zwageri T.et.B)
DI ARBORETUM POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
Oleh
Rahman Piara
NIM. 120500017
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya pada Program Diploma III
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI PENGELOLAAN HUTAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2015
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Karya Ilmiah
:
Serangan Hama Daun Tanaman Ulin
(Eusideroxylon zwageri T.et.B) Di Arboretum
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Nama
:
Rahman Piara
NIM
:
120500017
Program Studi
:
Pengelolaan Hutan
Jurusan
:
Manajemen Pertanian
Pembimbing,
Penguji I,
Ir. Emi Malaysia, MP
NIP. 196501011992032002
Ir. M. Nasir, MP
NIP. 196112201988031002
Menyetujui,
Ketua Program Studi Pengelolaan Hutan
Agustina Murniyati, S.Hut.MP
NIP. 197208031998022001
Lulus ujian pada tanggal.......................................
Penguji II,
Dwinita Aquastini, S.Hut, MP
NIP. 197002141997032002
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Manajemen Pertanian
Ir. M. Masrudy, MP
NIP. 196008051988031003
ABSTRAK
RAHMAN PIARA. Serangan Hama Daun Tanaman Ulin (Eusideroxylon zwageri
T.et.B) Di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (di bawah
bimbingan Emi Malaysia).
Latar belakang dari penelitian ini adalah timbulnya hama merupakan salah
satu permasalahan yang serius dalam pembangunan hutan, untuk jenis asli
hutan Kalimantan misalnya jenis Ulin (Eusideroxylon zwageri T.et.B) masih
sedikit sekali diketahui tentang hama yang menyerang, berdasarkan hal ini maka
dilakukan penelitian.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis hama, gejala dan
tanda serangan hama, frekuensi dan intensitas serangan hama yang dapat
merusak daun tanaman Ulin di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda.
Penelitian ini dilaksanakan di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda dan di Laboratorium Konservasi. Waktu penelitian selama 2 bulan
mulai 3 Juni 2015 sampai tanggal 3 Agustus 2015. Pengambilan data sebanyak
dua kali yaitu pagi hari pukul 07.00 – 11.00 dan siang hari pukul 13.00 – 17.00.
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak yaitu dengan mengundi,
mengambil 50 tanaman sebagai sampel pengamatan dari 80 tanaman Ulin yang
ada, umur tanaman Ulin ± 4 tahun.
Hasil penelitian serangan hama daun tanaman Ulin di Arboretum Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda adalah:
1. Hama daun yang ditemukan ada 2 jenis, satu jenis hama dapat diidentifikasi
yaitu ulat kantong Thyridopteryx sp. dengan gejala kerusakan yang
ditimbulkan adalah daun berlubang-lubang dan satu jenis hama belum dapat
diidentifikasi yaitu Ulat kantong A dengan gejala kerusakan yang ditimbulkan
adalah daun dan tulang daun dimakan sebagian dan daun berlubang-lubang.
2. Frekuensi tanaman yang sehat adalah 38,0 %, frekuensi kerusakan ringan
adalah 46,0 %, frenkuensi kerusakan sedang adalah 12,0 %, frekuensi
kerusakan berat adalah 4,0 %, dan frekuensi tanaman mati adalah 0,0 %.
3. Intensitas kerusakan adalah 20,5 % termaksuk ke dalam kategori kerusakan
ringan.
Kata kunci:
Jenis hama, gejala dan tanda hama, frekuensi dan intensitas
serangan hama
RIWAYAT HIDUP
RAHMAN PIARA. Lahir pada tanggal 31 Desember 1992 di
Buton Kabupaten Pasar Wajo Provinsi Sulawesi Tenggara.
Merupakan anak ke 6 dari enam bersaudara pasangan dari
Bapak Piara dan Ibu Syaria. Mulai pendidikan pada tahun
1999 di SDN 01 Waole Kecamatan Wolowa Kabupaten
Pasar Wajo
dan lulus pada tahun
2005, kemudian
melanjutkan pendidikan di SMPN Waole Kecamatan
Wolowa Kabupaten Pasar Wajo dan lulus pada tahun 2008. Tahun 2008
melanjutkan ke SMAN 01 Waole Kecamatan Wolowa Kabupaten Pasar Wajo dan
lulus pada tahun 2011.
Tahun 2011 sampai bulan Agustus 2012 bekerja di Rumah Sakit Darjat
Samarinda sebagai Koordinator Lapangan Bagian Kebersihan Taman.
Pendidikan tinggi dimulai pada bulan September tahun 2012 di Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda pada Program Studi Manajemen Hutan
Jurusan
Manajemen Pertanian.
Selama mengikuti
pendidikan telah mengikuti Praktik Kerja Lapangan
(PKL) di PT. INHUTANI I Wilayah Tarakan UMH Kunyit selama 2 bulan mulai
tanggal 9 Maret 2015 sampai tanggal 4 Mei 2015.
KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya Penulis dapat menyelesaikan
Karya Ilmiah.
Penulisan Karya Ilmiah ini banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak.
Untuk itu, Penulis menyampaikan terima kasih secara tulus kepada semua pihak
yang telah memberikan kesempatan dan berbagai kemudahan dalam rangka
menyelesaikan penulisan Karya Ilmiah ini.
Pada kesempatan ini tak lupa Penulis menyampaikan ucapan terima kasih
setulus hati kepada :
1.
Ir. Emi Malaysia, MP selaku Dosen Pembimbing.
2.
Ir. M. Nasir, MP selaku Dosen Penguji I dan Dwinita Aquastini, S.Hut. MP
selaku Dosen Penguji II.
3.
Agustina Murniyati, S.Hut, MP selaku Ketua Program Studi Pengelolaan
Hutan.
4.
Ir. M. Masrudy, MP selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian
5.
Ir. Hasanudin, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
6.
Orang tua tercinta yang telah banyak memberikan dukungan, baik dari doa,
secara moral maupun materil kepada Penulis
7.
Teman-teman Manajemen Hutan angkatan 2012 Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda,
teman-teman
kampus,
teman-teman
kost
yang
selalu
memberikan dukungan.
8.
Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan Karya ilmiah ini
kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata, manusia adalah tempat
segala kekhilafan. Penulis mengharapkan adanya masukan berupa kritik dan
saran untuk perbaikan Karya Ilmia ini.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
RAHMAN PIARA
Kampus Sei Keledang, Agustus 2015
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... iv
DAFTAR ISI .................................................................................................... v
DAFTAR TABEL............................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... viii
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................. 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Hama .......................................................................... 3
B. Penggolongan Hama Hutan.......................................................... 3
C. Tinjauan Umum Serangga………………………………………… . 6
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Serangga….21
E. Tinjauan Umum Ulin (Eusideroxylon Zwageri T.et.B)…………...29
BAB III . METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................... 30
B. Alat dan Bahan ............................................................................ 30
C. Prosedur Penelitian ..................................................................... 31
D. Pengolahan Data ......................................................................... 33
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil ............................................................................................. 36
B. Pembahasan ............................................................................... 39
BAB V. KESIMPILAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .................................................................................. 42
B. Saran ........................................................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 43
LAMPIRAN ................................................................................................... 44
DAFTAR TABEL
Nomor
Tubuh Utama
Halaman
1. Tally Sheet Pengamatan ................................................................... 32
2. Klafikasi Derajat Kerusakan .. ............................................................ 34
3. Cara Penentuan Tingkat Kerusakan Tanaman ................................ 35
4. Jenis Hama Daun dan Gejala Kerusakan Daun Tanaman Ulin Di
Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda........................... 36
5. Frekuensi Kerusakan dan Intensitas Kerusakan Daun Tanaman Ulin
Di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda ........................................ 39
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Tubuh Utama
Halaman
1. Ulat Kantong Thyridopteryx sp. dan Gejala Kerusakan Daun
Berlubang-lubang .............................................................................. 37
2. Ulat Kantong A dan Gejala Kerusakan yang ditimbulkan
Ditimbulkan ........................................................................................ 38
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1. Pengamatan Hama Daun Tanaman Ulin di Arboretum Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda............................................................. ..45
2. Suhu Dan Kelembapan Di Arboretum Politeknik Pertanian
Negeri Samarinda ............................................................................ 47
3. Cara Perhitungan Frekuensi kerusakan daun Tanaman Ulin
Di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda ....................................... 48
4. Cara Perhitungan Intensitas Kerusakan daun Tanaman Ulin
Di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda ........................................ 49
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut Sumardi dan Widyastuti (2004), banyak faktor yang diketahui
dapat menyebabkan kerusakan hutan, baik yang dari luar hutan maupun faktorfaktor yang berhubungan dengan perkembangan hutan itu sendiri. Faktor-faktor
penyebab kerusakan hutan dapat terdiri atas organisme hidup atau. fraktor-faktor
lingkungan fisik. Penyebab kerusakan hutan digolongkan dalam kelompok:
patogen menyebabkan penyakit, serangga dan hewan hama, faktor lingkungan
abiotik, tumbuhan pengganggu, kebakaran,
satwa liar dan penggembalaan
ternak.
Selanjutnya dinyatakan bahwa kerusakan hutan dapat terjadi oleh adanya
aktivitas berbagai serangga yang hidup di dalamnya dengan pemanfaatkan
tanaman hutan sebagai tempat perkembang dan sumber makanan. Tetapi
banyak pula jenis serangga yang hidup terus-menerus di dalam hutan tanpa
menimbulkan kerusakan yang berat. Banyak dari jenis-jenis serangga tersebut
pada waktu-waktu tertentu berkembang dalam jumlah yang sangat banyak
sehingga menimbulkan kerusakan yang serius.
Kerusakan oleh serangga hama dapat terjadi pada semua tumbuhan
penyusun hutan, pada semua tingkat pertumbuhan dan organ tumbuhan (akar,
batang, daun, buah dan biji). Besarnya kerusakan yang terjadi ditentukan oleh
banyak faktor, termaksuk jumlah serangga hama, cara serangga merusak,
bagian tanaman dan tingkat pertumbuhan tanaman serta luas bagian hutan yang
dirusak. Karena kebutuhan serangga akan makan dan tempat tinggal, maka
bentuk kerusakan yang terjadi banyak
ditentukan oleh tipe alat mulut dan
kebiasaan hidup serangga penyebab. Adanya gejala alam yang menyebabkan
2
keseimbangan ekosistem terganggu, serangga dapat berubah statusnya dari
non-hama menjadi hama (Sumardi dan Widyastuti, 2004).
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dilaksanakan olahan tentang
penelitian serangan hama daun tanaman Ulin (Eusideroxylon zwageri T.et.B) di
Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis hama, gejala dan
tanda serangan hama, frekuensi dan intensitas serangan hama yang dapat
merusak daun tanaman Ulin di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
jenis-jenis hama, gejala dan tanda serangan hama, frekuensi dan intensitas
serangan hama yang dapat merusak daun tanaman Ulin di Arboretum Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Hama
Menurut Darma dkk (1986) dalam Aquastini (2007) menyatakan, bahwa
yang dimaksud dengan hama adalah semua binatang yang dapat menimbulkan
kerusakan pada pohon atau tegakan dan juga hasil hutan yang secara ekonomis.
Hama adalah semua organisme hidup yang tergolong pada jenis
satwa/serangga yang dapat menimbulkan kerusakan pada biji, bibit, tanaman
muda dan tua yang secara ekonomis berarti atau sangat merugikan karena
barada di atas ambang ekonomi (Natawiria dkk., 1991 dalam Aquastini, 2007).
Selanjutnya
menurut
Oemijati
(1991)
dalam
Aquastini
(2007)
menyatakan, hama hutan adalah semua binatang yang merusak pohon, tegakan
hutan, bagian pohon serta hasil hutan (80 %) dari binatang yang menimbulkan
kerusakan adalah serangga, selain itu tupai, tikus, babi hutan, bekicot berperan
sebagai hama, tetapi orang utan, rusa, gajah dan sebagainya tidak berperan
sebagai hama tetapi berpotensi sebagai hama.
B. Penggolongan Hama Hutan
Menurut Suratmo (1982), menyatakan bahwa ahli hama hutan membagi
hama
hutan diantaranya berdasarkan bagian pohon yang dirusak/diserang
diantaranya adalah :
1. Serangga Perusak Daun (Depoliating Insects)
Akibat dari serangan serangga sebagian atau seluruh bagian daun rusak
karena dimakan. Serangga perusak daun biasanya termasuk di dalam ordoordo Lepidoptera (larva), Hymenoptera (dewasa) dan Diptera (hanya stadium
larva yang merusak daun, sedangkan dan ordo Coleoptera (dewasa) dan
Orthoptera (nimfa dan dewasa) dapat merusak daun.
4
2. Serangga Pengebor Kulit Pohon (Inner Bark Boring Insects)
Bagian yang dirusak adalah kulit pohon bagian dalam sampai ke
kambium. Lubang gerekan serangga dapat merusak atau menutup jalan
pengiriman bahan makanan dari daun ke akar. Apabila kerusakan yang
ditimbulkan sampai melingkari pohon, maka pohon seperti diteres yang
mengakibatkan terhalangnya pengiriman makanan dari daun ke akar. Apabila
akar pohon sampai mati, maka pohonnya pun menjadi mati. Serangga
pengebor kulit pohon biasanya termasuk dalam ordo Coleoptera (larva).
3. Serangga Pengebor Batang Pohon Dan Kayu (Wood Boring insects)
Kerusakan yang berbentuk lubang-lubang yang mempunyai bermacam macam ukuran dan bentuk. Lubang-lubang dapat dijumpai baik pada batang
dan cabang pohon yang masih hidup ataupun pada balok-balok ataupun pada
kayu-kayu kering. Tiap-tiap serangga pengebor kayu mempunyai spesifikasi
sendiri, ada yang tinggal di dalam kayu sebagai tempat tinggalnya saja, tetapi
kebanyakan hidup dengan makan batang/ kayu. Beberapa serangga hanya
merusak pohon yang sehat, ada yang merusak pohon yang sedang merana
atau hanya merusak pohon yang sudah mati. Sebagian besar dan pengebor
batang/ kayu termasuk ke dalam ordo Coleoptera (larva), beberapa
Lepidoptera (larva) dan isoptera (nimfa dan dewasa).
4. Serangga Penghisap Cairan Pohon (Sap Sucking Insects)
Kerusakan yang ditimbulkan berbentuk noda-noda, perubahan warna
(discoloration), bentuk yang membesar (malformation) atau terhentinya
pertumbuhan dan bagian-bagian tertentu misalnya daun-daun atau cabangcabang, serangga penghisap cairan pohon hampir semuanya dari ordo-ordo
Homoptera (nimfa dan dewasa), Hemiptera (nimfa dan dewasa) dan Mites.
5
5. Serangga Perusak Pucuk dan Cabang (Bud and Twig Insects)
Kerusakan yang timbul pucuk dan cabang berlubang-lubang dan seperti
diteres. Mengingat pucuk adalah tempat pertumbuhan pohon, maka serangga
perusak pucuk dan cabang sangat merugikan. Penderitaan paling berat
apabila serangga mengebor di dalam pucuk pohon. Serangga yang merusak
pucuk biasanya termasuk di dalam ordo Lepidoptera (larva), Coleoptera
(dewasa/ larva), Hemiptera dan Homoptera (nimfa dan dewasa), Diptera
(larva).
6. Serangga Perusak Anakan (Seedling Insects)
Pada umumnya seluruh bagian dari anakan merupakan makanan yang
digemari oleh bermacam-macam serangga karena bagian-bagiannya masih
muda dan lunak. Pada umumnya serangga atau binatang perusak anakan
merusak pada waktu malam hari, sehingga pada waktu siang hari anakan
telah putus-putus batang, akar, atau daunnya sedang kalau dicari perusaknya
sudah tidak ada. Serangga perusak anakan adalah ordo Isoptera (dewasa),
Lepidoptera (larva), Orthoptera (nimfa dan dewasa), Homoptera dan
Hemiptera (nimfa dan dewasa).
7. Serangga Perusak Akar (Root Insect)
Pada umumnya bagian dari akar yang dirusak adalah ujung akar tanaman
muda yang merupakan bagian yang sangat lunak. Anakan-anakan yang
dirusak biasanya anakan yang masih berada di tempat persemaian. Di
samping serangga perusak akar yang sering dijumpai adalah Nematoda.
Serangga perusak akar biasanya masuk dalam ordo Coleoptera (larva),
Isoptera (dewasa).
6
C. Tinjauan Umum Serangga
1. Anatomi Tubuh Serangga
Menurut Partosoedjono (1985) dan Natawegena (1990),
tubuh
serangga mernpunyai tiga bagian tubuh yang berbeda, yaitu kepala (caput),
dada (thorax) dan perut (abdomen).
a.
Kepala (Caput)
Pada kepala terdapat alat mulut dan sejumlah organ indera, yaitu
terdapat mata, antena dan alat mulut.
1) Mata
Sebagian besar serangga dewasa dan banyak nimfa rnempunyai
sepasang mata majemuk dan tiga ocelli (ocellus = mata sederhana).
Mata majemuk adalah kompleks dan berubah-ubah atau bervariasi.
Secara umum, mata majemuk ini adalah besar dan terletak secara
dorsal lateral (bagian atas samping) pada kepala. Masing-masing
mata majemuk tersusun oleh suatu unit indera individual yang disebut
ommatidia (um). Jurnlah ommatidia bervariasi, misalnya satu pada
beberapa semut, sampai 30.000 atau Iebih pada lalat, kumbang dan
capung. Masing-masing ommatidium terdiri atas satu Iensa dan selsel perasa. Ommatidium secara tunggal hanya dapat merasakan
sebagian kecil dan Iingkungan, namun demikian suatu bayangan
(imajinasi) gambar dari semua ommatidia memberikan pandangan
mozaik dari Iingkungan serangga. Sistem ini dapat merasakan
getaran yang lebih cepat apabila dibandingkan dengan mata
manusia.
7
Sebagian besar serangga dewasa dan nimfa mempunyai mata
sederhana disebut ocelli (us), terletak pada bagian dorsal kepala.
Jumlah ocelli pada masing-masing serangga bervariasi dari 0 - 3
(tidak ada sampai tiga). Fungsi ocelli belum seluruhnya diketahui.
Mata ini tidak penting sebagai pembantu imajinasi tetapi sensitif
terhadap cahaya (gelap/terang) dan bertindak sebagai organ
stimulasi dalam reaksinya terhadap perubahan-perubahan utama
pada iluminasi.
2) Antenna
Semua serangga dewasa dan nimfa kecuali Protura memiliki
sepasang antenna yang terletak pada bagian anterior kepala, dekat
dengan mata majemuk, narnun demikian pada beberapa serangga
misal pada bentuk larva, antenna sangat tereduksi. Fungsi utama
antenna adalah indera (sensory). Berbagai tipe-tipe rambut kecil
(sensilla) yang terletak pada antenna bertindak sebagai rangsangan
fisik (tactile), pembau, suhu, kelembaban dan penerima suara.
Antenna sering memainkan suatu bagian yang penting pada proses
birahi (mating), pada banyak serangga, sebagai contoh antenna yang
menyerupai sisir pada menyengat (moth) jantan, merasakan bau
(feromon), yang dipancarkan oleh ngengat betina pada species yang
sama. Dimorfisme seksual pada antenna adalah umum, antenna
serangga jantan sering lebih kompleks rumit dibandingkan yang
betina.
Antenna secara umum digunakan sebagai suatu ciri taksonomi dalam
identifikasi serangga karena variasi yang dapat dibedakan dalam
8
ukurannya maupun. Tipe-tipe antenna yang paling umum dapat
dibedakan menjadi 12 bentuk yaitu filiform, setaceus, moniliform,
clavatus, serratus, capitatus, geniculatus, lamellatus, pectinatus,
anistatus, stylatus dan plumose.
3) Alat mulut
Suatu pengetahuan dasar tentang tipe alat mulut adalah penting
sebab ia menunjukkan tipe makanan dan kerusakan yang
disebabkan oleh serangga dalam lingkungan. Adalah juga sangat
penting untuk mengenal tipe alat mulut karena mereka cukup
bervariasi. Umumnya dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu tipe alat
mulut menggigit mengunyah, tipe alat mulut mengunyah mengisap,
tipe alat mulut menjlay mengisap, tipe alat mulut mengisa dan tipe
alat mulut menusuk mengisap,
b. Dada (Thorax)
Merupakan bagian tubuh serangga yang tengah, terdiri atas tiga
bagian, yaitu: prothorax (pronotum), mesothorax (mesonotum) dan
metathorax (metanotum). Masing- masing thorax memiliki sepasang kaki.
Sebagian besar serangga mempunyai sepasang sayap yang melekat
pada mesothorax dan sepasang sayap yang kedua melekat pada
metathorax. Dua buah spirakulum, yang merupakan lubang luar yang
menyerupai celah dan sistem pernafasan berada pada masing-masing
sisi thorax. Sebuah terletak di antara prothorax dan mesothorax yang lain
terletak di antara mesothorax dan metathorax. Fungsi utama dari thorax
ini adalah untuk pergerakan. Masing-masing ruas thorax terdiri atas
empat kelompok utama sklerit, yaitu notum (dorsal), sternum (ventral) dan
9
sepasang pleura samping (tunggal pleuron). Masing-masing kelompok
sering dibagi ke dalam dua sklerit atau lebih. Suatu sklerit yang khas
ditunjukkan oleh melekatnya awalan yang sebenarnya (misalnya pro,
meso, meta). Dalam kata lain pronotum berhubungan dengan puncak
sklerit pada prothorax.
1) Kaki
Kaki untuk berjalan merupakan bentuk kaki yang umum dari semua
tipe yang akan berkembang lebih lanjut. Masing-masing kaki terdiri
atas sebuah coxa (ruas pangkal), trochanter (ruas kecil, sering dua
ruas, ujung dan ruas kaki pertama yang panjang), tibia (ruas kaki
kedua yang panjang), tarsus (satu sampai lima ruas kecil di bawah
tibia) dan pretarsus (ruas kaki terakhir, secara normal terdiri atas claw
dan satu atau lebih bangunan menyerupai tapak kaki). Seranggaserangga memiliki kaki yang diadaptasikan untuk meloncat,
memegang, berenang dan menggali. Ciri-ciri pada kaki sering
digunakan untuk identifikasi serangga yang begitu luas oleh karena
variasi-variasi jumlah ruas tarsus dan jumlah, bentuk serta letak duriduri.
2) Sayap
Kebanyakan serangga dewasa memiliki sepasang yang membraneus
terletak secara dorsolateral pada mesothorax dan metathorax. Sayap
digunakan dalam identifikasi serangga sebab mereka bervariasi
dalam jumlahnya, ukuran, venasi dan posisi menggantung pada waktu
istirahat.
10
c. Perut (Abdomen)
Merupakan bagian posterior tubuh serangga. Abdomen serangga
secara umum terdiri atas sebelas ruas yang agak serupa (uniform)
dengan ruas paling akhir membentuk alat-alat tubuh/genetalia.
2. Metamorfosis Serangga
Menurut Partosoedjono (1985) dan Natawegena (1990), metamorfosis
adalah perubahan bentuk yang dialam oleh serangga mulai dar telur sampai
serangga dewasa. Ada tiga tipe metamorfsis pada serangga yaitu tanpa
metamorfsis, metamorfsis sederhana dan metamorfsis sempurna.
a. Tanpa Metamorfosis
Tanpa metamorfosis termasuk species yang tanpa/sangat sedikit
perubahan dalam bentuk dan individu setelah menetas. Ekor pegas
(Collembola), Thysanura, Protura dan Diplura merupakan contohcontohnya. Serangga-serangga ini tidak memiliki sayap dan celah sayap
(calon sayap). Kebanyakan adalah berukuran kecil dan dijumpai pada
tanah atau sisa-sisa (bahan) organik. Kurang dan 1 % dan species-species
serangga yang telah dideskripsi tidak mengalami metamorfosis.
b. Metamorfosis Sederhana
Serangga dengan metamorfosis sederhana perkembangan atau
pertumbuhan tipe serangga ini berubah secara bertahap dalam bentuk
luarnya mulai dari telur sampai bentuk serangga dewasa. Bentuk-bentuk
pradewasa disebut nymfa mempunyai kebiasaan serupa dengan yang
dewasa.
11
c. Metamorfosis Sempurna
Metamorfosis sempurna terjadi pada ordo-ordo serangga yang lebih
lanjut (advance). Serangga-serangga dengan metamorfosis sempuma
berkembang dari satu telur menjadi larva, dan larva ke pupa dan akhirnya
dari pupa keserangga dewasa. Semua pertumbuhan yang nyata dan
perkembangannya dihasilkan dan larva yang makan. Stadium pupa tidak
makan, merupakan stadium transformasi (peralihan). Serangga dewasa
makan, berbiak dan memencar di dalam lingkungan.
3. Serangga Mengguntungkan Dan Merugikan
Menurut Partosoedjono (1985), Natawegena (1990) dan Jumar
(1997), masalah penggolongan apakah serangga tersebut berguna atau
merugikan adalah berdasarkan dari sisi kepentingan manusia itu sendiri, atau
sering dikenal dengan istilah antroposentris. Hampir lebih dari 90% serangga
itu menguntungkan bagi manusia, baik disadari atau tidak. Peran serangga
antara lain dan 10 % merugikan :
a. Serangga Mengguntungkan
1) Penyerbuk Tanaman (Polinator)
Banyak tanaman budidaya maupun tanaman liar yang polinasinya
dibantu serangga. Jika dikonversi nilainya mencapai $ 20 miliyar di USA.
Salah satu serangga yang terkenal sebagai penyerbuk adalah Lebah
Madu (Apis mellifera).
2) Penghasil Produk Komersial
Lebah Madu (Apis mellifera) menghasilkan madu, ulat sutera (Bombyx
mori) dapat menghasilkan benang sutera, kutu lac
(scale insects)
sebagai bahan pewarna, Lalat Spanyol digunakan sebagai obat kuat.
12
3) Pemakan Serangga (Entomophagous)
Contoh yang terkenal adalah kutu yang menyerang tanaman Jeruk Iceria
purchasi pada tahun 1868. Selama 15 tahun, hama tersebut telah
merusak produksi Jeruk di California. Tahun 1888 diimport kutu
tempurung Rodolia cardinalis dari Australia, yang dalam waktu 2 tahun
dapat mengendalikan populasi hama tersebut.
4) Serangga Pengurai
Serangga pengurai adalah pemakan bahan organik: sisa tanaman,
binatang, dan kotoran binatang. Antara lain serangga pengurai adalah
Kumbang tai (dung beetles), serangga tanah juga dapat membuat tanah
lebih subur dan mendapat oksigen lebih baik. Jumlah Kolembola dalam
satu hektar dapat mencapai jutaan dan jenisnya juga bervariasi.
5) Serangga Pemakan Gulma
Tanaman dianggap gulma jika tumbuhnya tidak diharapkan ditempat
tersebut. Serangga pemakan gulma antara lain adalah Larva Cactobalctis
cactorum melubangi kaktus (Opuntia spp). Awalnya tanaman kaktus ini
diimport ke Australia, tetapi akhirnya tumbuh merajalela pada areal seluas
lebih dari 25 juta hektar. Kumbang ini akhirnya dapat mengurangi
populasi kaktus tersebut. Tetapi kadang kala hama pemakan gulma ini
dapat menjadi hama pada tanaman utama misalnya kumbang Colorado
yang menjadi hama pada tanaman kentang.
6) Serangga sebagai Makanan Manusia dan Hewan.
Serangga sebagai makanan manusia dan hewan nilai gizi serangga
sangat tinggi (protein dan lemak), namun dapat menyebabkan alergi.
Manusia di beberapa daerah tertentu makan serangga diantara adalah di
13
Indonesia Ulat Jati, Ulat Turi, Laron, Belalang; di Meksiko: ulat dijual
dalam kaleng, di Thailan dibikin bumbu (Belostomatidae), di Afrika Laron
dan Belalang.
7) Serangga di Bidang Kedokteran
Lalat Spanyol telah lama dianggap sebagai ‘obat’ bagi lelaki di Meksiko.
Sengat lebah digunakan untuk mengobati sakit reumatik. Belatung (blow
fly) pada perang dunia I digunakan untuk menyembuhkan luka yang
dalam. Setelah diselidiki ternyata lalat tersebut mengeluarkan allantoin,
zat yang dapat membantu penyembuhan luka.
8) Serangga di Bidang Ilmu Pengetahuan
Sebagai model dalam mempelajari perilaku, gerak, biologi, dan genetik.
Populasi serangga tertentu digunakan untuk indikator keadaan ekologi.
Misalnya Anggang-anggang sebagai indikator air bersih.
9) Serangga di Bidang Estetika
Banyak serangga digunakan sebagai model untuk seni dan pola warna
dari pakaian. Koleksi serangga karena keindahannya menjadi hobby bagi
orang tertentu. Serangga termahal adalah kumbang dari Australia,
seharga $4 0000 US, di Indonesia banyak serangga dikumpulkan hidup
dan dijual ke Jepang.
b. Serangga Merugikan
di Indonesia sangat banyak serangga yang merugikan terutama yang
merugikan
dibidang
pertanian
termasuk
di
dalamnya
peternakan,
kehutanan, perkebunan dan kesehatan baik manusia maupun hewan.
Contoh pada bidang perkebunan banyak sekali jenis serangga yang
menyerang tanaman sepertinya ngengat kubis Crocidolomia binotalis, serta
14
ngengat Plutella spp., untuk tanaman buah-buahan ada hama perusak
buah salak Nedodemia sp., dan untuk tanaman kelapa ada juga jenis
kumbang yang disebut Kumbang Badak. Dibidang kehutanan, rayap yang
termaksuk family Kalotermitidae, sering merusak pohon dan akar dari
pohon Jati.
Hampir semua tanaman yang berguna bagi manusia dapat dirusak
oleh serangga. Serangga merusak tanaman dengan cara :
1) Memakan bagian tanaman dengan cara menggerek batang cabang,
cabang, ranting, buah atau biji.
2) Mengisap cairan daun, sehingga daun menjadi keriting.
3) Menyebabkan puru pada tanaman.
4) Mengorok daun, yaitu membuat terowongan di antara epidermis atas
dan bawah daun.
5) Membawa serangga lain ke pertanaman, dan serangga tersebut lalu
berkembang biak serta merusak tanaman.
6) Menularkan organisme penyebab penyakit tanaman, atau membuat luka
pada tanaman sehingga organisme sekunder masuk ke dalam tanaman.
Selain merusak tanaman, sehingga juga dapat merusak bahan
simpanan. Di tempat penyimpanan atau gudang merupakan lingkungan
yang baik untuk perkembangan serangga hama gudang karena tidak ada
musuh lainnya. Di samping itu perkembangan serangga di dalam gudang
berlangsung lama tampa diketahui oleh manusia.
15
4. Beberapa-berapa Ordo Serangga
Menurut Anonim (1991), sifat morfologi tersebut juga menyangkut
morfologi serangga stadia muda, karena bentuk-bentuk serangga muda
tersebut juga memiliki ciri yang khas yang juga dapat digunakan dalam
identifikasi, ada beberapa contoh ordo yaitu sebagai berikut:
a.
Ordo Orthoptera
Ciri-ciri Orthoptera adalah sebagai berikut:
1) Berasal dari kata orthos yang artinya lurus dan pteron artinya sayap.
2) Golongan serangga ini sebagian anggotanya dikenal sebagai
pemakan tumbuhan.
3) Ada beberapa diantaranya yang bertindak sebagai predator.
4) Sewaktu istirahat sayap bagian belakangnya dilipat secara lurus di
bawah sayap depan.
5) Sayap depan mempunyai ukuran lebih sempit daripada ukuran sayap
belakang.
6) Alat mulut nimfa dan imagonya menggigit-mengunyah yang ditandai
adanya labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan
masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan
palpus labialisnya.Tipe metamorfosis ordo ini adalah paurometabola
yaitu terdiri dari 3 stadia (telur, nimfa dan imago).
Beberapa contoh serangga jenis ordo Orthoptera:
1)
Belalang kayu (Valanga nigricornis Burn.);
2)
Belalang pedang (Sexava spp.);
3)
Jangkrik (Gryllus mitratus Burn dan Gryllus bimaculatus De G.);
4)
Anjing tanah (Gryllotalpa africana Pal.).
16
b. Ordo Hemiptera
Ciri-ciri Hemiptera adalah sebagai berikut:
1) Hemi artinya setengah dan pteron artinya sayap. Beberapa jenis
serangga dari ordo ini pemakan tumbuhan dan adapula sebagai
predator yang mengisap tubuh serangga lain.
2) Serangga ini mempunyai ukuran tubuh yang besar serta sayap
depannya mengalami modifikasi, yaitu setengah di daerah pangkal
menebal, sebagiannya mirip selaput, dan sayap belakang seperti
selaput tipis.
3) Paurometabola merupakan tipe perkembangan hidup dari ordo ini
yang terdiri dari 3 stadia yaitu telur, nimfa dan imago.
4) Tipe mulut menusuk-mengisap yang terdiri atas moncong (rostum)
dan dilengkapi dengan stylet yang berfungsi sebagai alat pengisap.
Nimfa dan imago merupakan stadium yang bisa merusak tanaman.
Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah:
1)
Kepik buah jeruk (Rynchocoris poseidon Kirk),
2)
Hama pengisap daun teh, kina, dan buah kakao (Helopeltis antonii);
3)
Walang sangit (Leptocorixa acuta Thumb);
4)
Kepik buah lada (Dasynus viridula).
c. Ordo Homoptera
Ciri-ciri Homoptera adalah sebagai berikut :
1) Homo artinya sama dan pteron artinya sayap serangga golongan ini
mempunyai sayap depan bertekstur homogen.
2) Sebagian dari serangga ini mempunyai dua bentuk, yaitu serangga
bersayap dan tidak bersayap. Misalnya Kutu daun (Aphis sp.) sejak
17
menetas sampai dewasa tidak bersayap namun bila populasinya
tinggi sebagian serangga tadi membentuk sayap untuk memudahkan
untuk berpindah habitat.
3) Tipe perkembangan hidup serangga ini adalah paurometabola (telur,
nimfa dan imago).
Jenis serangga ini, antara lain;
1)
Wereng Coklat (Nilaparvta Lugens);
2)
Wereng Hijau (Nephotettix Apicalis);
3)
Kutu Loncat (Heteropsylla);
4)
Kutu Daun (Myzus Persicae).
d. Ordo Lepidoptera
Ciri-ciri Ordo Lepidoptera adalah sebagai berikut:
1) Berasal dari kata lepidos sisik dan pteron artinya sayap.
2) Tipe alat mulut dari ordo lepidoptera menggigit-mengunyah tetapi
pada imagonya bertipe mulut menghisap.
3) Perkembangbiakannya bertipe holometebola (telur-larva-pupa-imago).
4) Larva sangat berpotensi sebagai
hama tanaman, sedangkan
imagonya (kupu-kupu dan ngengat) hanya mengisap madu dari
tanaman jenis bunga-bungaan. Sepasang sayapnya mirip membran
yang dipenuhi sisik yang merupakan modifikasi dari rambut.
Jenis serangga dari ordo ini antara lain:
1)
Ulat daun Kubis (Plutella Xyllostella);
2)
Kupu-kupu Pastur (Papilio Memnon L);
3)
Ulat penggulung daun melintang pada teh (Catoptilia Theivora Wls);
4)
Penggerek padi putih (Tryporyza innotata Walker).
18
e. Ordo Coleoptera
Ciri-ciri Ordo Coleoptera adalah sebagai berikut:
1) Coleos artinya seludang pteron sayap.
2) Tipe serangga ini memiliki sayap depan yang mengeras dan tebal
seperti seludang berfungsi untuk menutup sayap belakang dan bagian
tubuh.
3) Sayap
bagian
belakang
mempunyai
struktur
yang
tipis.
Perkembangbiakan ordo ini bertipe “holometabola” atau metamorfosis
sempurna yang perkembangannya melalui stadia : telur, larva,
kepompong (pupa) dan dewasa (imago).
4) Tipe alat mulut nyaris sama pada larva dan imago (menggigitmengunyah) jenisnya bentuk tubuh yang beragam dan ukuran
tubuhnya lebih besar dari jenis serangga lain. Anggota-anggotanya
sebagian sebagai pengganggu tanaman, namun ada juga yang
bertindak sebagai pemangsa serangga jenis yang berbeda.
Jenis serangga yang yang merusak tanaman antara lain:
1)
Kumbang Kelapa (Oryctes rhinoceros L.);
2)
Kumbang daun Kangkung, semangka, dan terung (Epilachna sp.);
3)
Kumbang daun Keledai (Phaedonia inclusa Stal.);
4)
Penggerek batang Cengkih (Nothopeus fasciatipennis Wat. ).
f. Ordo Diptera
Ciri-ciri Ordo Diptera adalah sebagai berikut:
1) Di artinya dua dan pteron artinya sayap merupakan bangsa lalat,
nyamuk meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah,
predator dan parasitoid.
19
2) Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan,
sedangkan sayap belakang telah berubah menjadi halter yang
multifungsi sebagai alat keseimbangan, untuk mengetahui arah angin,
dan alat pendengaran. Metamorfosisnya “holometabola” (telur, larva,
kepompong dan imago).
3) Larva tidak punya tungkai, dan meyukai tempat yang lembab. Tipe
mulutnya menggigit-mengunyah, sedangkan imago bertipe mulut
menusuk-mengisap atau menjilat-mengisap.
Jenis serangga golongan ini, antara lain:
1)
Lalat buah (Bactrocera sp.);
2)
Lalat bibit Kedelai (Agromyza phaseoli Tryon);
3)
Lalat bibit Padi (Hydrellia philippina);
4)
Hama Ganjur (Orseolia oryzae Wood Mason).
g. Ordo Hymenoptera
Ciri-ciri ordo Hymenoptera:
1) Mempunyai dua pasang sayap, tipis seperti selaput.
2) Tipe mulut menggigit dan menjilat.
Jenis serangga ini contoh antara lain:
1)
Apis indica (Lebah Madu, biasa dipelihara manusia)
2)
Apis dorsata (Lebah Madu yang hidup di lubang kayu)
3)
Apis melifera (Lebah Madu terbesar, biasa disebut lebah gung)
4)
Oecophyla smaragdina (Semut Rangrang)
Pembagian
tugas
dalam
masyarakat Hymenoptera adalah sebagai
berikut:
1)
Ratu, hewan betina fertil tugasnya bertelur.
20
2)
Raja, hewan jantan terjadi karena partenogenesis (telur yang tak
dibuahi oleh sperma jantan) dan bertugas mengawini ratu. Setelah
kawin lebah jantan diusir dari sarang dan kemudian mati. Sementara
itu ratu telah menyimpan spermatozoid di dalam spermateka.
3)
Pekerja, adalah betina mandul yang berasal dari telur yang dibuahi
sperma. Tugasnya menyediakan makanan, memberi makan larva
ratu, membuat sarang dan membersihkan sarang.
h. Ordo Isoptera
Ciri-ciri ordo Isoptera
1) Metamorfosis tidak sempurna.
2) Mempunyai satu pasang sayap yang hampir sama bentuknya. Kedua
sayap tipis seperti jaringan.
3) Tipe mulut menggigit. Contoh: Reticulitermis flavipes (rayap atau anaianai).
Pada rayap terjadi polimorfisme, artinya di dalam satu spesies terdapat
bermacam -macam bentuk dengan tugas yang berbeda. Rayap hidup
berkoloni, dalam koloni ini terjadi pembagian tugas kerja, yaitu:
1) Ratu, yakni laron (rayap betina fertil). Biasanya tubuh gemuk dan
tugasnya adalah bertelur.Raja, yaitu laron (rayap jantan fertil),
tugasnya melestarikan keturunan.
2) Serdadu, rayap yang bertugas mempertahankan sarang dan koloni
dari gangguan hewan lain.
3) Pekerja, rayap yang bertugas memberi makan ratu dan raja, serta
menjaga sarang dari kerusakan. Sifat rayap pekerja dan rayap
serdadu bersifat steril.
21
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Serangga
Menurut Natawigena (1990) dan Jumar (1997), secara umum faktor yang
mempengaruhi perkembangan serangga yaitu faktor dalam dan faktor luar.
1. Faktor Dalam (Internal)
a. Kemampuan berkembang biak
Kemampuan berkembang biak dipengaruhi oleh:
1). Kecepatan Berkembang Biak
Lebih
cepat
berkembang
biak,
akan
lebih
tinggi
kemampuan
berkembang biaknya. Waktu berkembang biak tergantung dari lamanya
siklus hidup atau daur hidup (jangka wakyu yang dibutuhkan sejak
terjadinya telur sampai serangga menjadi dewasa yang siap untuk
berkembang biak).
2). Keperidian (Natalitas) atau Kelahiran dan Kesuburan (Fekunditas):
Natalitas adalah kelahiran individu-individu baru baik, secara dilahirkan
(ovovivipar) atau menetas dalam telur (vivipar). Kesuburan (fekunditas)
merupakan salah satu faktor kemampuan yang bertalian dengan yang
dimiliki oleh seekor serangga betina yang memproduksi telur. Lebih
banyak jumlah telur yang dihasilkan, akan lebih tinggi kemampuan untuk
berkembang biak. Pada umumnya lebih kecil ukuran serangga akan
lebih besar keperidianya. Kematian (mortalitas) menyatakan banyaknya
individu yang mati dalam jangka waktu tertentu.
b. Perbandingan Kelamin
Perbandingan antara jumlah serangga jantan dan betina, yang
diturunkan serangga betina kadang-kadang berbeda, misalnya antara jenis
22
jantang dan jenis betina dari keturunan penggerek batang (Tryporyza
innotata ) adalah 2 : 1, lebih banyak jenis betinanya.
Suatu perbandingan yang menunjukkan jumlah betinanya lebih besar
dari jumlah yang jantan, diharapkan akan menghasilkan populasi keturunan
berikutnya yang bebih besar, bila dibandingkan dengan suatu populasi
yang memiliki perbandingan jenis kelamin yang sebaliknya. Perbandingan
mengenai jenis kelamin ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, di
antaranya yaitu: keadaan masim dan kepadatan populasi.
c. Sifat Mempertahankan Diri
Untuk mempertahankan kelansungan hidupnya, serangga memiliki
alat atau kemampuan untuk melindungi diri dari serangan musuhnya.
Misalnya ulat melindungi diri dengan bulu atau selubungnya. Beberapa
spesies serangga dapat mengeluarkan racun atau bau untuk menghindari
serangga musuhnya, atau memiliki alat penusuk untuk membunuh lawan
atau mangsanya.
Di antaranya ada beberapa jenis ulat yang memiliki mata palsu yang
besar dan diarahkannya seandainya mendapat gangguan, sedangkan
kupu-kupu memiliki warna yang mirip dengan tempat dimana ia berada.
d. Daur Hidup (Siklus Hidup)
Daur hidup adalah waktu yang dibutuhkan semenjak terjadinnya
telur sampai serangga menjadi dewasa yang siap untuk berkembangbiak.
Serangga yang memiliki daur hidup yang pendek akan memiliki
frekuensi bertelur yang lebih tinggi atau lebih sering bila dibandingkan
dengan serangga lainnya yang memiliki daur hiduplebih lama.
23
e. Umur Imago (Serangga Dewasa)
Pada umumnya imago dari serangga berumur pendek, misalnya
Ngengat (imago) Tryporyza innotata berumur antara 4 – 14 hari. Umur
imago yang lebih lama, misalnya kumbang betina Sitophilus oryzae
umurnya dapat mencapai antara 3 - 5 bulan, sehingga akan mempunyai
kesempatan untuk bertelur lebih sering.
2. Faktor Luar
Merupakan faktor yang berhubungan dengan lingkungan tempat hidup
serangga. Terdapat tiga faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan hama,
yaitu faktor fisik, hayati, dan makanan.
a. Faktor Fisik
1) Suhu/Temperatur
Setiap spesies serangga mempunyai jangkauan suhu masing-masing
dimana ia dapat hidup, dan pada umumnya jangkauan suhu yang
efektif adalah suhu minimum. Serangga memiliki kisaran suhu tertentu
untuk kehidupannya. Di luar kisaran suhu tersebut serangga dapat
mengalami kematian. Umumnya kisaran suhu yang efektif adalah 15ºC
(suhu minimum), 25ºC suhu optimum dan 45ºC (suhu maksimum).
Pada suhu yang optimum kemampuan serangga untuk melahirkan
keturunan akan besar dan kematian (mortalitas) sebelum batas umur.
2) Kelembaban Udara
Kelembaban udara mempengaruhi kehidupan serangga langsung atau
tidak langsung. Serangga yang hidup di lingkungan yang kering
mempunyai cara tersendiri untuk mengenfisienkan penggunaan air
seperti menyerap kembali air yang terdapat pada feces yang akan
24
dibuang dan menggunakan kembali air metabolik tersebut, contohnya
serangga rayap. Oleh karena itu kelembapan harus dilihat sebagai
keadaan lingkungan dan kelembapan sebagai bahan yang dibutuhkan
organisme untuk melangsungkan proses fisiologis dalam tubuh.
Sebagai unsur lingkungan, kelembaban sangat menonjol sebagai
faktor modifikasi suhu lewat reduksi evapotranspirasi. Selanjutnya
tidak ada organisme yang dapat hidup tanpa air karena sebagian
besar jaringan tubuh dan kesempurnaan seluruh proses vital dalam
tubuh akan membutuhkan air. Serangga akan selalu mengkonsumsi
air dari lingkungannya dan sebaliknya secara terus menerus akan
melepaskan air tubuhnya melalui proses penguapan dan ekskresi.
Dalam hal ini kebutuhan air bagi serangga sangat dipengaruhi oleh
lingkungan hidupnya terutama kelembaban udara.
Beberapa
penelitian
mengenai
beberapa
ketahanan
serangga
terhadap kekeringan menunjukkan korelasi yang tinggi dengan
keadaan lembab tempat hidupnya. Secara umum kelembaban udara
dapat mempengaruhi pembiakan, pertumbuhan, perkembangan dan
keaktifan
serangga
baik
langsung
maupun
tidak
langsung.
Kemampuan serangga bertahan terhadap keadaan kelembaban udara
sekitarnya sangat berbeda menurut jenisnya. Dalam hal ini kisaran
toleransi terhadap kelembaban udara berubah untuk setiap spesies
maupun stadia perkembangannya, tetapi kisaran toleransi ini tidak
jelas seperti pada suhu. Bagi serangga pada umumnya kisaran
toleransi terhadap kelembaban udara yang optimum terletak didalam
titik maksimum 73-100 persen. Cuaca yang lembab merangsang
25
pertumbuhan populasi, sedang cuaca yang sangat kering atau
keadaan yang banyak hujan menghambat pertumbuhan tersebut.
Kebanyakan air, seperti banjir dan hujan lebat merupakan bahaya bagi
kehidupan beberapa jenis serangga, termasuk juga berbagai jenis
kupu-kupu yang sedang beterbangan, serta dapat menghanyutkan
larva yang baru menetas.
3) Cahaya, Warna dan Bau
Cahaya adalah faktor ekologi yang besar pengaruhnya bagi serangga,
diantaranya lamanya hidup, cara bertelur dan berubahnya arah
terbang. Banyak jenis serangga yang memilki reaksi positif terhadap
cahaya dan tertarik oleh sesuatu warna, misalnya oleh warna kuning
atau
hijau.
Beberapa
jenis
serangga
diantaranya
mempunyai
ketertarikan tersendiri terhadap suatu warna dan bau, misalnya
terhadap warna-warna bunga. Akan tetapi ada juga yang tidak
menyukai bau tertentu.
Sumber cahaya dan panas yang utama di alam adalah radiasi surya.
Radiasi dalam hal ini radiasi langsung yang bersumber dari surya dan
radiasi baur yang berasal dari atmosfir secara keseluruhan. Untuk
menjelaskan sifat radiasi di bedakan antara panjang gelombang
cahaya dan intensitas cahaya atau radiasi. Pengaruh cahaya terhadap
perilaku serangga berbeda antara serangga yang aktif siang hari
dengan yang aktif pada malam hari. Pada siang hari keaktifan
serangga dirangsang oleh keadaan intensitas maupun panjang
gelombang cahaya di sekitarnya. Sebaliknya ada serangga pada
keadaan cahaya tertentu justru menghambat keaktifannya. Pada
26
umumnya radiasi yang berpengaruh terhadap serangga adalah radiasi
infra merah, dalam hal ini berpengaruh untuk memanaskan tubuh
serangga.
4) Angin
Angin dapat berpengaruh secara langsung terhadap kelembaban dan
proses penguapan badan serangga dan juga berperan besar dalam
penyebaran suatu serangga dari tempat yang satu ke tempat lainnya.
Baik memiliki ukuran sayap besar maupun yang kecil, dapat membawa
beberapa ratus meter di udara bahkan ribuan kilometer Angin
mempengaruhi mobilitas serangga. Serangga kecil mobilitasnya
dipengaruhi oleh angin, artinya serangga yang demikian dapat terbawa
sejauh mungkin oleh gerakan angin.
b. Faktor Hayati
Komponen terpenting dari faktor biotik adalah parasitoid, predator,
dan entomopatogen.
1) Parasitoid
Parasitoid berukuran kecil dan mempunyai waktu perkembangan lebih
pendek dari inangnya dengan cara menumpang hidup pada atau di
dalam tubuh serangga hama. Dalam tubuh host/inang tersebut,
parasitoid mengisap cairan tubuh atau memakan jaringan bagian
dalam tubuh inang. Parasitoid yang hidup di dalam tubuh inang disebut
endoparasitoid dan yang menempel di luar tubuh inang disebut
ectoparasitoid. Parasitoid umumnya mempunyai inang yang lebih
spesifik, sehingga dalam keadaan tertentu parasitoid lebih efektif
mengendalikan hama. Kelemahan dari parasitoid itu karena adanya
27
parasitoid tertentu yang dapat terkena parasit lagi oleh parasitoid lain.
Kejadian seperti diatas disebut hiperparasitisme dan parasitoid lain
tersebut disebut parasit sekunder. Bila parasit sekunder ini terkena
parasit lagi disebut parasit tersier. Parasit sekunder dan parasit tersier
disebut sebagai hyperparasit.
2) Predator
Predator yaitu binatang atau serangga yang memangsa binatang atau
serangga lain. Predator biasanya berukuran lebih besar dari parasit
dan perkembangannya lebih lama inangnya. Predator tidak spesifik
terhadap pemilihan mangsa. Oleh karena itu predator adalah serangga
atau hewan lain yang memakan serangga hama secara langsung.
Untuk perkembangan larva menjadi dewasa dibutuhkan banyak
mangsa. Predator yang monophagous (mempunyai satu inang)
menggunakan serangga hama sebagai makanan utamanya. Predator
seperti ini biasanya efektif tetapi mempunyai kelemahan, yaitu apabila
populasi hama yang rnenjadi hama mangsanya berkurang, biasanya
predator tidak dapat bertahan hidup lama. Pada umumnya predator
tidak bersifat monophagous, contoh: kumbang famili Coccinellidae,
belalang sembah dan lain sebagainya.
3) Entomopatogen
Entomopatogen dapat menimbulkan penyakit, meliputi cendawan,
bakteri, virus, nematoda atau hewan mikro lainnya yang dapat
mempengaruhi kehidupan serangga hama. Entomopatogen sudah
mulai dikembangkan sebagai pestisida alami untuk mengendalikan
serangga
hama.
Sebagai
contoh Bacillus
thuringiensissudah
28
diformulasikan dengan berbagai merek dagang. Bakteri ini akan
menginfeksi larva sehingga tidak mau makan dan akhirnya larva mati.
Demikian pula dengan cendawan sudah dikembangkan untuk
mengendalikan serangga hama, seperti Metarhiziumanisopliae yang
digunakan
untuk
mengendalikan
larva
Oryctes
rhinoceros.
Entomopatogenlain seperti virus Nuclear Polyhidrosis Virus (NPV)
yang mempunyai prospek cukup baik untuk mengendalikan larva
Lepidoptera, seperti ulat grayak.
c. Faktor Makanan
Faktor makanan sangat penting bagi kehidupan serangga hama.
Keberadaan faktor makanan akan dipengaruhi oleh suhu, kelembaban,
curah hujan dan tindakan manusia. Pada musim hujan, orang banyak
menanam lahannya dengan berbagai tanaman. Apabila semua faktor lain
sangat mendukung perkembangan serangga maka pertambahan populasi
serangga akan sejalan dengan makin bertambahnya makanan. Keadaan
sebaliknya akan menurunkan populasi serangga hama. Hubungan faktor
makanan dengan populasi serangga itu disebut hubungan bertautan
padat atau density independent. Oleh karena itu faktor makanan dapat
digunakan untuk menekan populasi serangga hama, baik dalam bentuk
tidak memahami lahan pertanian dengan tanaman yang merupakan
makanan serangga hama, bisa juga menanami lahan pertanian dengan
tanaman yang tidak disukai serangga hama tertentu atau dengan
tanaman resistens. Misal makin luasnya tanaman kelapa akan
meningkatkan, populasi Artona sp. walaupun demikian Artona sp.lebih
menyukai daun tua dan bukan daun muda yang baru terbuka ataupun
29
daun yang belum terbuka kurang disukai. Walang sangit hanya
menghisap butir padi dalam keadaan matang susu. Jelaslah tersedianya
kualitas makanan dalam jumlah yang memadai akan meningkatkan
populasi hama dengan cepat.
E. Tinjauan Umum Ulin (Eusideroxylon Zwageri T.et.B)
Menurut Kebler dan Kade (1999), Ulin termasuk ke dalam family
Lauraceae. Pohon Ulin ini juga dengan nama kayu besi yang merupakan
tanaman khas Kalimantan yang keberadaannya saat ini sudah mulai langka dan
jarang ditemui, pohon ulin dapat tumbuh tinggi hingga 40 meter dengan diameter
± 80 cm.
Pohon Ulin kadang-kadang berakar dangkal. Ranting menggalah,
menjuntai, tangkai daun panjang ± 1 cm. Daun spiral melonjong bundar telur atau
menjorong dengan panjang 20-30 cm, pangkal membundar, ujung runcing
hingga melancip, tulang daun sekunder 8-12. Bunga merapat, berkelamin ganda,
tabung tajuk pendek, bercuping 6 hampir sama, benang sari 12 dan mempunyai
benang sari semu, bakal buah membulat. Buah melonjong, menyelinder, panjang
hingga 15 cm, garis tengah hingga 8 cm.
Habitat dan ekologi adalah dalam hutan primer dan sekunder, hingga
ketinggian 500 m dpl, di tanah berpasir yang berdrainase baik. Sering dijumpai
sepanjang aliran sungai dan bukit-bukit di dekatnya, kadang-kadang membentuk
tegakan murni. Daerah penyebaran pohon Ulin adalah bagian Asia Tenggara
meliputi Sumatra, Kalimantan, dan negara Filipina.
Jenis Ulin menghasilkan kayu yang sangat bertahan (kayu besi Borneo)
yang dimanfaatkan untuk konstruksi berat, balok dan sirap.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Arboretum dan laboratorium Konservasi
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Waktu penelitian kurang lebih selama 2
bulan mulai 3 Juni 2015 sampai 3 Agustus 2015 meliputi kegiatan orientasi
lapangan, persiapan alat dan bahan, pengamatan
dan pengambilan data,
pengolahan data dan penyusunan karya ilmiah.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada pengamatan ini terdiri dari :
a. Higrometer, untuk mengukur suhu dan kelembapan.
b. Pinset, untuk menjepit hama.
c. Toples, untuk tempat penyimpanan hama yang ditemukan.. .
d. Kamera, untuk dokumentasi.
e. Mistar, untuk mengukur besar kecilnya hama yang ditemukan .
f.
Kalkulator, untuk mengolah data.
g. Alat tulis menulis, untuk mencatat.
2. Bahan
Bahan- bahan yang digunakan pada pengamatan ini adalah :
a. Tanaman Ulin (Eusideroxylon zwageri T.et.B) lebih kurang umur 4 tahun.
b. Kertas milimeter, untuk latar belakang dokumentasi hama dan untuk
mengetahui ukuran hama.
c. Label plastik, untuk pemberian nomor tanaman.
d. Benang tukang, untuk menggantungkan label plastik.
e. Buku literatur tentang hama, untuk identifikasi hama.
31
C. Prosedur Penelitian
1. Orientasi Lapangan
Orientasi lapangan dilakukan untuk mengetahui lokasi pengamatan dan
keadaan tanaman Ulin di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
yang akan dijadikan sampel pengamatan.
2. Persiapan Alat dan Bahan
Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan selama kegiatan
pengamatan baik di lapangan maupun di laboratorium, sehingga pengamatan
dapat berjalan dengan lancar.
3. Persiapan Sampel Pengamatan
Menyiapkan
sampel
pengamatan
dilakukan
dengan
cara
membersihkan tanaman penganggu di sekitar tanaman yang dijadikan
sampel pengamatan.
4. Pemberian Nomor Sampel Pengamatan
Pemberian nomor pada sampel pengamatan dengan menggunakan
label plastik, dengan cara menggantungkan label plastik menggunakan
benang tukang pada tanaman Ulin untuk memudahkan dalam pemberian
nomor pada sampel pengamatan.
5. Pengamatan dan Pengambilan Data
Pengamatan dan pengambilan dapat pada gejala serangan hama
dilakukan dengan cara:
a. Pengambilan data dapat dilakukan dengan cara acak yaitu dengan
cara mengundi, mengambil 50 tanaman Ulin sebagai sampel
pengamatan dari 80 tanaman ulin yang ada.
32
b. Melakukan pengamatan dan penangkapan hama yang ditemukan,
pengamatan hama pada pagi hari yaitu pukul 07.00 - 11.00, dan siang
hari pukul 13.00 – 17.00, penangkapan hama dilakukan dengan cara
manual yaitu menggunakan tangan atau pinset dan dimasukkan ke
dalam toples berisi kapas yang telah diberi alkohol 70% untuk
mematikan hama kemudian dimasukkan ke dalam oven untuk
diawetkan.
c. Pengamatan pada gejala serangan hama dilakukan dengan cara
melihat perubahan fisik yang ditimbulkan oleh tanaman seperti daun
berlubang, daun sebagian atau seluruh dimakan, pucuk terpotong,
batang berlubang, dan lain-lain.
d. Pengamatan pada tanda serangan hama dilakukan dengan cara
melihat tanda serangan hama seperi telur ulat, serangan dewasa,
cairan , sarang dan lain-lain
6. Pencatatan data Pengamatan
Data yang diperoleh pada pengamatan dicatat dalam Tally Sheet
sebagai berikut :
Tabel 1. Tally Sheet Pengamatan
No.
Tanaman
Gejala
Kerusakan
Daun
Tingkat
Kerusakan
Nilai
Suhu (°C)
Pagi
Siang
07.30
13.30
Kelembapan ( %)
Pagi
Siang
07.30
13.30
Ket
7. Mengambil Gambar
Melakukan pengambilan gambar terhadap hama dan gejala kerusakan
yang ditemukan pada daun Ulin untuk dokumentasi penelitian.
8. Pengukuran Suhu dan Kelembapan
Melakukan pengukuran suhu dan kelembapan menggunakan alat
Higrometer, pengukuran pada pagi hari pukul 07.30 dan siang hari pukul
33
13.30,
pengukuran
suhu
lembapan
dan
dilakukan
dengan
cara
menghidupkan hidrometer, meletakkan hidrometer pada tempat yang
dianggap mewakili lokasi penelitian dan mencatat suhu dan kelembapan
yang ada di higrometer.
9. Mengidentifikasi Hama
Membawa hama yang ditemukan ke Laboratorium Konservasi untuk
diidentifikasi, identifikasi dilakukan cara membandingkan hama yang
ditemukan dengan buku literatur dan koleksi yang ada.
D. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menghitung frekuensi serangan hama
dan intensitas serangan hama terhadap kerusakan daun Ulin umur lebih kurang
4 tahun di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
1. Frekuensi Serangan Hama
Menurut Sharma dan Sangkaran (1988) dalam Safari (2012),
frekuensi
serangan
hama
pada
tanaman
dapat
dihitung
dengan
menggunakan rumus :
F = n/N X 100%
Keterangan :
F = Frekuensi serangan hama
N = Jumlah tanaman seluruhnya
n = Jumlah tanaman yang rusak pada masing-masing tingkat
kerusakan
2. Intensitas Serangan Hama
Menurut Sharma dan Sangkaran (1988) dalam Safari (2012), kriteria
derajat kerusakan pada tanaman dapat dilihat pada Tabel 2.
34
Tabel 2. Klasifikasi Derajat Kerusakan
Tingkat
Tanda kerusakan terlihat pada tanaman
Kerusakan
Tidak ada gejala serangan atau jumlah daun yang
Sehat
terserang sangat sedikit
Jumlah yang terserang relatif sedikit dan jumlah
serangan masing-masing daun yang terserang sedikit
Ringan
atau daun rontok atau klorosis atau berlubang sedikit
atau tanaman tampak sehat tetapi ada gejala lain seperti
kanker batang atau batang berlubang.
Jumlah daun yang terserang dan jumlah masing-masing
daun relatif agak banyak atau daun rontok disertai
Sedang
dengan gejala lain seperti kanker batang atau batang
berlubang.
Jumlah daun yang terserang dan jumlah serangan pada
masing-masing daun relatif sangat banyak atau daun
Berat
rontok atau klorosis atau berlubang sangat banyak atau
disertai dengan gejala lain seperti kanker batang atau
batang berlubang.
Seluruh daun layu atau rontok atau tidak ada tandaMati
tanda kehidupan.
Skor
0
1
2
3
4
Menurut Sharma dan Sankaran (1988) dalam Safari (2012), untuk
mengetahui intensitas serangan dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
I=
X1Y1+X2Y2+X3Y3+X4Y4
XY4
X 100 %
Keterangan :
I = Intensitas serangan
X = Jumlah seluruh tanaman yang diamati
X1 = Jumlah tanaman yang diserang ringan
X2 = Jumlah tanaman yang diserang sedang
X3 = Jumlah tanaman yang diserang berat
X4 = Jumlah tanaman yang mati
Y1 = Skor 1
Y2 = Skor 2
Y3 = Skor 3
Y4 = Skor 4
35
Menurut Sharman dan Sankaran (1988) dalam Safari (2012), cara
menghitung tingkat kerusakan tanaman dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Cara Penentuan Tingkat Kerusakan Tanaman
Intensitas Serangan %
Tingkat Kerusakan
0-1
Sehat
1,1-25
Ringan
25,1-50
Sedang
50,1-75
Berat
=75
Mati
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Jenis Hama dan Gejala Kerusakan
Hasil pengamatan jenis hama dan gejala kerusakan dapat diketahui
bahwa ada 2 jenis hama
daun dan gejala kerusakan daun tanaman Ulin
(Eusideroxylon zwageri T.et.B), lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4 di
bawah ini.
Tabel 4. Jenis Hama Daun dan Gejala Kerusakan Daun Tanaman Ulin Di
Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
No Jenis Hama Perusak Daun
Gejala Kerusakan Daun
Daun dimakan sehingga daun berlubang1
Ulat kantong Thyridopteryx sp.
lubang
Daun dan tulang daun dimakan sebagian
2
Ulat kantong A
serta daun berlubang-lubang
Berdasarkan Tabel 4 di atas, ditemukan 2 jenis hama yang merusak
daun tanaman Ulin, satu jenis hama dapat diidentifikasi dan satu jenis hama
belum dapat diidentifikasi.
Jenis hama yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
a.
Ulat kantong Tryidopteryx sp.
Ulat kantong Tryidopteryx sp. yang ditemukan
pada saat
pengamatan mempunyai ciri-ciri yaitu kantong berwarna coklat terbuat
dari ranting-ranting kecil, panjang kantong 3,5 cm dan lebar 1,7 cm. Ulat
kantong Tryidopteryx sp. memakan daun
sehingga daun berlubang-
lubang. Lebih jelasnya Ulat kantong Tryidopteryx sp dan gejala kerusakan
daun berlubang-lubang pada daun tanaman Ulin dapat dilihat pada
Gambar 1.
37
Gambar 1. Ulat kantong Thyridoptera sp. dan Gejala Kerusakan Daun
Berlubang – lubang
Menurut Suhyanto dan Sulthono (1991) dalam Aquastini (2007),
ulat kantong Tyridopteryx sp dari family Psyhidae termasuk family dengan
karakter
yang unik, larva dari family ini tinggal dalam kantong yang
mudah dibawa. Kantonnya menyerupai ranting yang berwarna coklat
dengan saling berhimpitan dan melekat satu sama lainnya. Dari waktu
ke waktu kantong ulatnya semakin membesar. Larva dan kantong
mengantung pada ranting Klafikasi ulat kantong Thyridopteryx sp sebagai
berikut :
Golongan
: Animalia
Phylum
: Arthropoda
Kelas
: Insekta
Ordo
: Lepidoptera
Famili
: Psychidae
Genus
: Thyridopteryx
Spesies
: Thyridopteryx sp
38
Jenis hama yang belum dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut
a.
Ulat Kantong A
Ulat kantong A yang ditemukan saat pengamatan mempunyai
ciri – ciri kantong berwarna coklat terbuat dari daun-daun kering,
panjang kantong 2 cm dan lebar 1,0 cm. Ulat kantong A merusak
daun dan tulang daun dimakan sebagian, daun dimakan sehingga
daun berlubang-lubang. Lebih jelas mengenai ulat kantong A dan
gejala kerusakan daun yang ditimbulkan pada daun tanaman Ulin
dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Ulat Kantong A dan Gejala Kerusakan yang Ditimbulkan
2.
Frekuensi dan Intensitas Kerusakan
Data pengamatan serangan hama daun tanaman Ulin dapat dilihat
pada Lampiran 1. Hasil perhitungan frekuensi kerusakan dan intensitas
kerusakan pada daun tanaman Ulin umur 4 tahun di Arboretum Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda dapat dilihat pada Tabel 5.
39
Tabel 5. Frekuensi Kerusakan dan Intensitas Kerusakan Daun Tanaman
Ulin. Di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Tingkat
Jumlah Tanaman
Frekuensi
Intensitas
Kerusakan
Kerusakan
Kerusakan
(%)
(%)
Sehat
19
38,0
Ringan
23
46,0
20,5
Sedang
6
12,0
Berat
2
4,0
Mati
0
0,0
Jumlah
50
100,0
Berdasarkan Tabel
5 di atas dapat diketahui bahwa frekuensi
tanaman yang sehat adalah 38,0 %, frekuensinya kerusakan ringan adalah
46,0 %, frekuensi kerusakan sedang adalah 12,0 % dan frekuensi kerusakan
berat adalah 4,0 % serta frekuensi tanaman yang mati 0,0 %.
Intensitas
kerusakan adalah 20,5 % termaksuk ke dalam kategori kerusakan ringan.
B. Pembahasan
1.
Jenis Hama dan Gejala Kerusakan
Hama yang menyerang daun tanaman Ulin di Arboretum Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda ada 2 jenis, satu jenis hama dapat diidentifikasi
yaitu ulat kantong Thyridopteryx sp. dan
satu jenis hama belum dapat
diidentifikasi yaitu ulat kantong A.
Gejala
kerusakan
daun
yang disebabkan
oleh
ulat
kantong
Thyridopteryx sp. adalah daun dimakan sehingga daun berlubang-lubang
dan gejala kerusakan daun yang disebabkan oleh ulat kantong A adalah
daun dan tulang dimakan sebagian serta daun berlubang-lubang.
Hasil pengamatan Safari (2012), tentang serangan hama daun pada
tanaman Ulin umur 2 tahun di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda,
ditemukan 6 jenis hama, ada 4 jenis yang dapat diidentifikasi yaitu
kantong Thyridopteryx sp., Ulat Euthalia sp., Jangkrik
Ulat
(Brachytrypes sp)
40
dan bekicot (Achatina fulica) sedangkan
2 jenis yang belum dapat
diidentifikasi yaitu Ulat kantong A dan Ulat B.
Hasil pengamatan Ramlah (2014), tentang serangan hama daun
pada tanaman Ulin di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, ditemukan 5
jenis hama, ada 3 jenis yang dapat diidentifikasi yaitu
Ulat Graphium
sarpedon, Ulat kantong Thyridopteryx sp. dan ulat kantong Mahasena sp.
sedangkan 2 jenis yang belum dapat diidentifikasi yaitu Ulat A dan Ulat B.
Berdasarkan dari 3 hasil pengamatan tersebut di atas ada hama
daun yang sama yaitu ulat kantong Thyridopteryx sp. yang dapat
menyerang daun tanaman Ulin. Hal ini menunjukan bahwa ulat kantong
Thyridopteryx sp. menyukai
daun tanaman Ulin karena daun tanaman
merupakan bagian tanaman yang lunak. Menurut Anonim (1992) dalam
Prianto (1998), daun disukai oleh bermacam – macam serangga karena
bagian – bagian daun masih muda dan lunak
2.
Frekuensi dan Intensitas Kerusakan
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan dapat diketahui frekuensi
tanaman yang sehat adalah 38,0 %, frekuensi kerusakan ringan adalah 46,0
%, frekuensi kerusakan sedang adalah 12,0 %, frekuensi kerusakan berat
4,0 %, serta tanaman yang mati adalah
0,0
%. Intensitas kerusakan
tanaman Ulin di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda adalah
20,5 %, termasuk ke dalam kerusakan katagori ringan, walaupun termasuk
kategori ringan dan tidak menimbulkan kematian pada tanaman namun
harus mendapatkan pengawasan yang cukup intensif karena
ada
kemungkinan tingkat kerusakan dapat meningkat menjadi kategori sedang,
berat atau mati, hal ini karena adanya faktor-faktor yang dapat
41
mempengaruhi perkembangan hidup dari serangga yaitu faktor dalam dan
faktor luar.
Menurut Natawigena (1990) dan Jumar (1997), secara umum faktor
yang mempengaruhi perkembangan serangga yaitu faktor dalam dan faktor
luar. Faktor dalam terdiri dari kemampuan berkembang biak, perbandingan
jenis kelamin, sifat mempertahankan diri, daur hidup dan umur imago.
Sedangkan faktor luar terdiri dari faktor fisik, faktor hayati dan faktor
makanan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian serangan hama daun tanaman Ulin
(Eusideroxylon zwageri T.et.B) di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.
Hama daun yang ditemukan ada 2 jenis, satu jenis hama dapat diidentifikasi
yaitu ulat kantong Thyridopteryx sp. dengan gejala kerusakan yang
ditimbulkan adalah daun berlubang-lubang dan satu jenis belum dapat
diidentifikasi yaitu Ulat
kantong A dengan gejala kerusakan yang
ditimbulkan adalah daun dan tulang daun dimakan sebagian dan daun
berlubang-lubang.
2.
Frekuensi tanaman yang sehat adalah 38,0 %, frekuensi kerusakan ringan
adalah 46,0 %, frenkuensi kerusakan sedang adalah 12,0 %, frekuensi
kerusakan berat adalah 4,0 %, dan frekuensi tanaman mati adalah 0,0 %.
3.
Intensitas kerusakan adalah 20,5 % termaksuk ke dalam kategori kerusakan
ringan.
B. Saran
Perlu adanya pengamatan lanjutan tentang serangan hama perusak
tanaman Ulin yang lainnya seperti hama perusak akar dan batang di areal
Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Aquastini, D. 2007. Identifikasi dan Pemberantasan Penyakit Pada Semai 3
Jenis Dipterocarpaceae Di Persemaian Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda. Tesis Pasca Sarjana Universitas Mulawarman.
Jumar. 1997. Entomologi Pertanian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Kebler dan Kade Sidiyasa. 1999. Pohon-pohon Hutan Kalimantan Timur.
MOFEC-Tropenbos-Kalimantan Project, Wanariset Samboja. Balikpapan.
Indonesia.
Natawegenia, H. 1990. Entomologi Pertanian. Penerbit Orba Shakti. Bandung.
Partosoedjono, S. 1985. Mengenal Serangga. Penerbit Agromedia. Bogor.
Pracaya. 1991. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.
Prianto, A. 1998. Pengamatan Serangan perusak Daun. Acacia mangium Umur
15 Bulan Di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Karya
Ilmiah Manajemen Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Ramlah, A. 2014. Pengamatan Hama Daun Pada Tanaman Ulin (Eusideroxylon
Zwageri T.et.B) Di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Karya Ilmiah
Manajemen Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Safari. 2012. Serangan Hama Pada Tanaman Ulin (Eusideroxylon zwageri T.et.
B) Umur 2 Tahun Di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Karya Ilmiah
Manajemen Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Sumardi dan Widyastuti. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
LAMPIRAN
45
Lampiran 1. Pengamatan Hama Daun Tanaman Ulin Di Arboretum Politeknik Pertanian
Negeri Samarinda
No
1
2
3
No
Tanaman
2
6
7
4
5
6
8
9
10
7
8
9
10
13
14
15
20
11
22
12
13
14
15
16
23
24
26
27
30
17
18
19
20
21
22
31
32
33
34
35
36
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
37
38
41
42
43
45
47
50
51
52
Gejala Kerusakan Daun
Daun berlubang -lubang
Daun berlubang-lubang
Daun dan tulang daun dimakan
sebagian
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun dan tulang daun dimakan
sebagian dan daun berlubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun dan tulang daun dimakan
sebagian
Daun dimakan sehingga daun
berlubang – lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun dan tulang daun dimakan
sebagian dan daun berlubang lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun dan tulang daun dimakan
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun dimakan sehingga daun
berlubang – lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Tingkat
kerusakan
sehat
sehat
Sedang
Nilai
ringan
ringan
sedang
2
1
2
ringan
sehat
Ringan
sehat
1
0
1
0
berat
3
sehat
ringan
ringan
sehat
sehat
0
1
1
0
0
sehat
ringan
sedang
ringan
sehat
berat
0
1
2
1
0
3
sehat
ringan
ringan
ringan
sehat
ringan
sehat
ringan
ringan
sedang
0
1
1
1
0
1
0
1
1
2
Keterangan
0
0
1
Ulat kantong A
Ulat kantong A
Ulat kantong
Thyridopteryx sp
Ulat kantong A
Ulat kantong
Thyridopteryx sp
Ulat kantong A
46
Lampiran 1. Lanjutan
No
33
34
No
Tanaman
53
54
35
36
37
38
39
40
1
42
43
44
45
46
47
48
49
50
57
58
59
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
72
74
80
Gejala Kerusakan Daun
Daun berlubang-lubang
Daun dimakan sehingga daun
berlubang – lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Daun berlubang-lubang
Tingkat
kerusakan
sehat
ringan
Nilai
sehat
sehat
ringan
ringan
sehat
ringan
ringan
sehat
sehat
ringan
rinagn
sehat
ringan
sedang
ringan
sedang
0
0
1
1
0
1
1
0
0
1
1
0
1
2
1
2
0
1
Keterangan
Ulat kantong
Thyridopteryx sp
Ulat kantong A
Ulat kantong A
47
Lampiran 2. Suhu dan Kelembaban Di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda
No
Tgl/Bln/Thn
1
09/06/2015
2
10/06/2015
3
11/06/2015
4
12/06/2015
5
13/06/2015
6
14/06/2015
7
15/06/2015
8
16/06/2015
9
17/06/2015
10
18/06/2015
11
19/06/2015
12
20/06/2015
13
21/06/2015
14
22/06/2015
15
23/06/2015
16
24/06/2015
17
25/06/2015
18
26/06/2015
19
27/06/2015
20
28/06/2015
21
29/06/2015
22
30/06/2015
23
01/07/2015
24
02/17/2015
25
03/07/2015
26
04/07/2015
27
05/07/2015
28
06/07/2015
29
07/07/2015
30
08/07/2015
31
09/07/2015
Kisaran
Keterangan :
Pagi : 07.30
Siang : 13.30
Suhu0C
Pagi
Siang
27
29
26
31
24
26
26
28
25
26
26
27
26
25
25
26
26
24
25
27
25
26
26
27
23
27
25
26
26
27
24
26
26
24
22
21
25
26
23
28
21
24
24
27
23
25
22
23
21
22
24
26
23
26
21
24
23
26
24
27
21
25
21-27
21-31
Kelembapan%
Pagi
Siang
44
41
45
40
46
45
45
44
45
45
44
45
46
45
44
46
46
44
44
43
46
45
45
46
44
45
45
44
44
45
43
45
43
46
42
47
42
48
46
45
44
42
46
48
44
46
42
45
43
46
46
44
45
47
46
48
47
49
47
49
46
47
42-47
40-49
Download