1 BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Masalah

advertisement
1
BAB I
PENGANTAR
1.1.
Latar Belakang Masalah
Investasi merupakan faktor penting dalam perekonomian. Dalam pandangan
teori ekonomi klasik, investasi ditentukan oleh tingkat suku bunga. Berbeda
dengan pandangan teori ekonomi klasik, menurut teori neoklasik, investasi
merupakan akumulasi kapital optimal. Teori neoklasik didasarkan pada pemikiran
mengenai penentuan keseimbangan faktor-faktor produksi oleh produsen atau
perusahaan. Dalam upaya untuk memaksimumkan keuntungannya, perusahaan
akan menggunakan suatu faktor produksi hingga mencapai tingkat dimana nilai
produksi marginalnya sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
satu unit faktor produksi tersebut.
Dalam pandangan Keynesian, investasi dipengaruhi oleh beberapa
variabel ekonomi utama antara lain suku bunga dan Marginal Efficiency of
Capital (MEC). MEC merupakan variabel penting yang mempengaruhi keputusan
investasi pelaku ekonomi karena MEC adalah ekspektasi keuntungan dari suatu
keputusan investasi. Jika suku bunga merupakan syarat perlu yang mempengaruhi
keputusan investasi, maka MEC menjadi syarat cukup. Sebagai syarat cukup,
beberapa variabel yang menentukan besaran tingkat MEC adalah biaya tenaga
kerja, perubahan teknologi dan kualitas iklim berusaha. Faktor-faktor tersebut
merupakan faktor yang menentukan ekspektasi profit dari investasi.
Kualitas iklim usaha di suatu negara dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah
satu faktor penting yang dapat menentukan kualitas iklim usaha adalah tinggi
2
rendahnya biaya perekonomian. Menurut Stern (2006) iklim investasi adalah
semua kebijakan, kelembagaan dan lingkungan, baik yang sedang berlangsung
maupun yang diharapkan terjadi dimasa datang, yang bisa mempengaruhi tingkat
pengembalian dan resiko suatu investasi. Hasil penelitian yang dilakukan
bersama-sama antara Asian Development Bank dan World Bank (2005)
menunjukkan bahwa iklim investasi di Indonesia dipengaruhi oleh infrastruktur,
tata kelola pemerintahan, beban pembiayaan perusahaan serta perpajakan. Upaya
yang dapat ditempuh untuk memperbaiki iklim investasi agar dapat meningkatkan
daya saing investasi dengan negara lain antara lain adalah melalui kebijakan
reformasi pajak. Oleh karena itu, reformasi perpajakan merupakan kebijakan yang
dapat meningkatkan kualitas MEC atau dapat dikatakan bahwa sistem perpajakan
merupakan faktor yang memiliki dampak terhadap ekspektasi keuntungan dari
suatu keputusan investasi.
Dampak reformasi pajak terhadap perekonomian dapat dicermati dari
keputusan investasi perusahaan. Penelitian-penelitian tentang dampak reformasi
perpajakan terhadap investasi merupakan perkembangan dari penelitian-penelitian
tentang perilaku investasi perusahaan. Oleh karena itu, sebagian besar penelitian
yang mengidentifikasi hubungan dampak reformasi perpajakan dengan investasi
menggunakan model dengan mendasarkan pada teori ekonomika mikro sebagai
kerangka teoritisnya. Meskipun demikian perkembangan ekonomika makro yang
menggunakan dasar-dasar ekonomika mikro juga ikut mendukung perkembangan
penelitian-penelitian tersebut.
3
Penelitian perilaku investasi perusahaan khususnya yang berhubungan
dengan pajak, pada awal perkembangannya dipelopori oleh dua pendekatan utama
yaitu pendekatan neoklasik dengan menggunakan kerangka teori ekonomika
mikro dan pendekatan teori q dengan menggunakan kerangka teori ekonomika
makro. Penelitian yang menggunakan kerangka teori ekonomika mikro sebagai
landasannya adalah penelitian teori perilaku investasi perusahaan dengan
pendekatan neoklasik yang dipelopori oleh Brown (1962), Smith (1963) dan
Jorgenson (1963). Model utama yang kemudian dikembangkan untuk mengetahui
hubungan pajak terhadap perilaku investasi adalah model yang dikembangkan
oleh Jorgenson (1963). Model lain yang dikembangkan oleh Smith (1963) tentang
hubungan perilaku antara investasi perusahaan dengan pajak mempunyai
keterbatasan dalam menjelaskan dampak pajak terhadap biaya modal. Oleh karena
itu, model yang dikembangkan oleh Jorgenson (1963) kemudian menjadi model
dengan pendekatan neoklasik yang mampu secara baik menjelaskan hubungan
pajak terhadap perilaku investasi perusahaan. Model Jorgenson (1963) dan
pengembangannya tersebut dikelompokkan dalam pendekatan neoklasik karena
model tersebut tetap mempertahankan asumsi-asumsi ekonomi dalam pandangan
neoklasik secara konsisten.
Model penelitian dengan landasan pemahaman ekonomi neoklasik
(neoclassical economics) menggunakan asumsi dasar perilaku agen ekonomi yang
rasional. Ciri khas model neoklasik adalah penggunaan model optimasi ekonomi
mikro dalam menganalisis perilaku ekonomi (Snowdown dan Vane, 2005). Dasar
asumsi utama model ini adalah perilaku rasional yang didefinisikan sebagai
4
perilaku yang memaksimalkan utilitas atau keuntungan terhadap pendapatan yang
terbatas. Dalam konteks ini aspek yang dibahas adalah sisi perusahaan sehingga
dalam model ini asumsi dasarnya adalah memaksimalkan keuntungan terhadap
biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.
Model awal yang berdasarkan pada model nilai bersih perusahaan dari
Jorgenson (1963) implementasinya kemudian dikembangkan kembali dalam
penelitian selanjutnya oleh Jorgenson (1965) serta Hall dan Jorgenson (1967),
menunjukkan tingkat permintaan modal untuk investasi merupakan faktor penentu
tingkat pendapatan perusahaan pada tingkat pajak tertentu. Tingkat pendapatan
merupakan hubungan neto antara penjualan output produksi terhadap biaya tenaga
kerja dan biaya modal. Sehingga optimasi laba perusahaan yang dikembangkan
oleh Hall dan Jorgenson (1967) dengan asumsi ekspektasi statis dipengaruhi oleh
tingkat pajak, rasio penggantian (replacement) modal terhadap pendapatan, rasio
biaya bunga terhadap pendapatan dan rasio kerugian terhadap pendapatan (capital
losses). Berdasarkan tingkat modal optimum tersebut, maka investasi ditentukan
oleh tingkat modal yang diharapkan serta tingkat depresiasi atau penyusutan.
Penelitian dengan pendekatan neoklasik selanjutnya dilakukan oleh
Auerbach (1988) namun terdapat perbedaan dengan pendekatan sebelumnya.
Perbedaan tersebut terletak pada faktor penentu investasi perusahaan. Pada
pendekatan ini, Auerbach (1988) menekankan pada aspek nilai perusahaan serta
aspek optimasi nilai perusahaan yang dilakukan oleh manajemen melalui
kebijakan keuangannya. Optimasi ini selanjutnya berdampak terhadap keputusan
investasi yang dilakukan oleh perusahaan.
5
Asumsi utama yang digunakan oleh Auerbach (1988) sangat terbatas.
Asumsi kepastian dan ekspektasi sempurna (perfect foresight) menjadi asumsi
dasar dalam model ini. Meskipun model ini dikelompokkan dalam model
neoklasik namun Auerbach (1988) mampu membuktikan bahwa efek biaya modal
terhadap investasi dalam model ini serupa dengan efek langsung q terhadap
investasi. Dalam melakukan penelitiannya tersebut Auerbach (1988) tidak
menggunakan data empiris namun hanya terbatas pada simulasi dengan
menggunakan model matematika untuk melakukan kalibrasi dampak reformasi
perpajakan terhadap tingkat investasi.
Penelitian dengan landasan menggunakan kerangka teori ekonomika mikro
selanjutnya dilakukan oleh King dan Fullerton (1984). Pendekatan King dan
Fullerton (1984) dalam meneliti dampak perubahan sistem perpajakan terhadap
keputusan investasi dengan menghitung tingkat pajak marjinal efektif. Pendekatan
ini merupakan pendekatan deterministik. Pengembangan lebih lanjut penelitian
dengan konsep tersebut kemudian disebut sebagai pendekatan tingkat pajak
marginal efektif atau Marginal Effective Tax Rate (METR). Konsep ini
mengimplementasikan konsep yang telah digunakan sebelumnya pada pengenaan
pajak terhadap orang pribadi atau individu yaitu konsep tingkat pajak marginal
(Marginal Tax Rate). Prinsip elastisitas yang digunakan dalam konsep ini dapat
menjelaskan dampak insentif pajak terhadap perilaku perusahaan khususnya
investasi seperti yang dikembangkan oleh Estache dan Gaspar (1995), Altshuler
dkk. (1998), Chalk (2001), Chen dan Martinez-Vazquez (2003), Sosa (2006) serta
Lin dan Zeng (2008).
6
Model penelitian tentang hubungan sistim perpajakan dengan investasi
yang
berbeda
yaitu
menggunakan
kerangka
teori
ekonomika
makro
dikembangkan oleh Summers (1981) dan Hayashi (1982) mengacu pada model
Tobin. Model Summers (1981) meneliti dampak reformasi pajak terhadap tingkat
investasi dengan menggunakan model q yang menghubungkan nilai saham
perusahaan
dengan
keputusan
investasi
perusahaan.
Insentif
untuk
mempertahankan nilai saham yang dipegang oleh pemegang saham dipengaruhi
oleh tingkat pengembalian yang tetap (fixed rate of return). Nilai saham tersebut
antara lain dipengaruhi oleh resiko sistematis. Berdasarkan nilai saham yang
dimiliki investor dapat dihitung tingkat pengembalian tetap setelah pajak.
Optimasi saham yang dimiliki oleh investor dipengaruhi oleh tingkat dividen
perusahaan. Tingkat dividen perusahaan merupakan tingkat keuntungan
perusahaan yang diperoleh dari proses produksi perusahaan.
Faktor penting dalam penelitian Summers (1981) adalah integrasi antara
faktor keputusan investor melalui saham dengan perilaku produksi perusahaan. Di
sisi lain, perilaku produksi perusahaan melibatkan perilaku keputusan investasi
perusahaan. Dengan demikian terdapat hubungan antara investasi dengan perilaku
perusahaan. Menurut Romer (2006) selanjutnya model ini dikenal dengan
Summer’s Test. Dalam estimasi empirisnya, Summer (1981) menemukan bahwa
dengan standar eror 0,005, koefisien q pada keputusan investasi data perusahaanperusahaan di Amerika sangat kecil, yaitu hanya sebesar 0,031. Kondisi ini
menggambarkan bahwa dampak perubahan sistem perpajakan melalui reformasi
perpajakan terhadap investasi sangat kecil. Penelitian yang dilakukan oleh
7
Goolsbee (1998) menunjukkan bahwa dampak keputusan investasi akibat
perubahan sistem perpajakan hasilnya rendah. Hal ini disebabkan oleh kenaikan
tingkat harga barang-barang investasi sebagai respon terhadap reformasi
perpajakan yang dilakukan oleh pemerintah. Meskipun data empiris kurang
mendukung hipotesis, namun bangunan teori dan hipotesis yang dibuat oleh
Summer (1981) menjadikan penelitian tersebut menjadi salah satu pendekatan
yang digunakan sebagai model dasar bagi penelitian sejenis dalam meneliti
hubungan perubahan sistem perpajakan terhadap keputusan investasi perusahaan.
Kesimpulan penelitian dari model Summer (1981) secara empiris kurang
menjelaskan hubungan antara perubahan sistem perpajakan terhadap keputusan
investasi perusahaan disebabkan oleh masalah spesifikasi model estimasi
ekonometrikanya (Romer, 2006). Masalah spesifikasi tersebut secara umum
disebabkan oleh potensi kesalahan dalam perhitungan q serta simultanitas
persamaan yang diestimasi. Oleh karena itu, kemudian Cummins, Hasset dan
Hubbard (1994) melakukan beberapa penyesuaian terhadap perhitungan yang
dilakukan oleh Summers (1981). Cummins, Hasset dan Hubbard (1994) tetap
menggunakan konsep teori q yang digunakan oleh Summers namun dengan
memasukkan unsur hubungan besaran q yang dapat dipengaruhi dari waktu ke
waktu untuk setiap perusahaan sampel. Hal tersebut untuk menghindari kesalahan
perhitungan dengan menggunakan model nilai perusahaan yang dikembangkan
Poterba dan Summers (1983; 1985).
Cummins dkk. (1996) selanjutnya mengembangkan penelitian dengan
menggunakan optimasi dinamis yang kemudian diestimasi dengan data antar
8
beberapa negara di dunia pada jenis sampel berbeda untuk menunjukkan tingkat
kekuatan (robustness) estimasi ini. Persamaan ini kemudian dikenal dengan model
teori q disesuaikan (Adjusted q). Pengujian terhadap kekuatan (robustness) model
estimasi Cummins dkk. (1996) dilakukan oleh Devereux dan Freeman (1995)
yang menunjukkan netralitas pajak terhadap tingkat investasi perusahaan.
Ketiga model yang berlandaskan konsep teori ekonomika makro yang
meneliti dampak tingkat pajak terhadap investasi tersebut menggunakan asumsi
ekspektasi statis. Hal tersebut ditunjukkan oleh penggunaan asumsi perfect
foresight yang digunakan dalam membentuk model estimasinya. Pendekatan
alternatif dilakukan oleh Chirinko (1988) dan Chirinko (1993) namun masih
dalam pengembangan yang terbatas dengan menyesuaikan asumsi ekspektasi
statis menjadi ekspektasi rasional. Dalam perkembangannya ketiga pendekatan ini
juga diimplementasikan dalam perspektif aspek manajemen keuangan perusahaan
dengan menggunakan data ekonomika mikro seperti pendekatan yang dilakukan
oleh Auerbach dan Hines (1988), Nadeu (1988), Staderini (2001) dan Funke
(2002).
Penelitian lain yang juga menggunakan data ekonomika makro selanjutnya
memperluas obyek dan tujuan penelitian dengan meneliti dampak perubahan
sistem perpajakan dengan tidak hanya mempertimbangkan dampaknya terhadap
investasi namun juga terhadap beberapa variabel ekonomi lainnya seperti arus kas
(Bond dkk, 1997). Pendekatan yang lebih baru yang meneliti hubungan antara
tingkat pajak terhadap investasi dengan mengestimasi persamaan Euler (Euler
Equation) dari optimasi dilakukan oleh Becker dan Sivadasan (2006). Persamaan
9
Euler dengan optimasi selanjutnya diimplementasikan oleh Arnold (2008) dengan
meneliti dampak pajak terhadap pertumbuhan. Schwellnus dan Arnold (2008)
kemudian memperluas cakupan penelitian hubungan pajak dan produktivitas
dalam kasus negara-negara OECD.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian terhadap hubungan antara reformasi
pajak dengan investasi yang sudah dilakukan sejauh ini menggunakan pendekatan
model ekonomi yang beragam, yaitu model dengan kerangka teoritis atau data
ekonomika mikro yang meliputi model neoklasik dan model METR serta model
dengan kerangka teori atau data ekonomika makro yaitu model Tobin’s q theory,
model penyesuaian teori q dan model faktor keuangan. Perkembangan penelitian
tentang dampak pajak terhadap investasi tersebut apabila dikelompokkan
berdasarkan pada jenis data yang digunakannya adalah sebagaimana ditunjukkan
tabel 1.1.
Di Indonesia penelitian yang membahas dampak reformasi perpajakan
terhadap investasi ataupun perekonomian dilakukan dengan tinjauan dan cakupan
pembahasan yang luas. Penelitian tentang reformasi perpajakan terkait dengan
administrasi dalam upaya meningkatkan penerimaan pajak dan tax ratio dilakukan
oleh Ikhsan dkk. (2005). Penelitian sejenis yang dilakukan oleh Ikhsan (2006),
Ninawati (2008) dan Ramli (2008) menggunakan analisis deskriptif kualitatif
dengan pendekatan historis terhadap peraturan perpajakan di Indonesia.
Njit (2006) meneliti dampak insentif pajak penghasilan terhadap investasi
modal asing menggunakan data ekonomika makro yang bersumber dari data
sekunder dan analisis statistik deskriptif dengan metode evaluasi komparatif.
10
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian insentif pajak penghasilan tidak
mempunyai dampak yang signifikan terhadap investasi modal asing atau dapat
dikatakan bahwa insentif pajak penghasilan bukan merupakan faktor utama dalam
keputusan investasi.
Tabel 1.1. Perkembangan Penelitian Hubungan Pajak dan Investasi
Ekonomika Mikro
Ekonomika Makro
Data
Investasi
Mikro
Neo-Klasik
METR
1. Jorgensen
(1963)
2. Hall dan
Jorgensen (1967)
3. Auerbach
(1988)
4. Nadeu (1988)
5. Auerbach dan
Hines (1987)
6. Staderini
(2001)
7. Funke (2002)
1. King dan
Fullerton (1984)
2. Altshuler dkk.
(1998)
3. Chalk (2001)
4. Chen dan
MartinezVazquez
(2003)
5. Sosa (2006)
6. Lin dan Zeng
(2008)
Tobin’s qTheory
1. Summers et. al.
(1981)
2. Hayashi (1982)
3. Chirinko (1988
dan 1993)
4. Devereux dan
Freeman (1991)
5. Romer (2006)
Adjusted qTheory
1. Cummins dan
Hasset (1992)
2. Cummins dkk
(1994)
3. Cummins,
Hasset dan
Hubbard
(1996)
Faktor
Keuangan
Data
Investasi
Makro
1. Bean (1981)
2. Bond dan
Meghir (1994)
3. Bond dkk (1997)
4. Becker dan
Sivadasan (2006)
5. Arnold (2008)
6. Schwellnus dan
Arnold (2008)
7. Vartia (2008)
Penelitian lain yang dilakukan oleh Hartono (2007) meneliti dampak
insentif pajak terhadap iklim investasi bagi perusahaan Penanaman Modal Asing
(PMA) pada industri tekstil dengan
menggunakan pendekatan statistik non-
parametrik. Beberapa penelitian lain di Indonesia membahas dampak perubahan
11
Undang-Undang Perpajakan sebagian besar menitik beratkan pada salah satu
aspek perubahan yang diatur didalam Undang-Undang PPh yaitu perubahan
besarnya tarif, seperti yang dilakukan oleh Subagyo dan Oktavia (2010), Wijaya
dan Martani (2011). Sedangkan Putri (2013), Rini (2013), Suwardi (2013) dan
Dwimulyani (2014) meneliti dampak perubahan tarif Pajak Penghasilan atas
Badan berdasarkan Undang-Undang PPh Nomor 36 tahun 2008 terhadap
manajemen laba.
Sari (2008) meneliti dampak perubahan tarif Pajak Penghasilan
perusahaan atau Badan menjadi tarif tunggal terhadap investasi dan penerimaan
negara secara kualitatif dengan melakukan wawancara. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa penetapan tarif tunggal sesuai Undang-Undang PPh tahun
2008 belum memberikan insentif yang atraktif untuk menarik investasi asing.
Faktor yang berdampak signifikan terhadap minat investasi di Indonesia lebih
banyak disebabkan oleh faktor keamanan, stabilitas politik Indonesia sebagai
negara dengan sumber daya alam yang besar dan penduduk yang besar sebagai
pangsa pasar maupun tenaga kerja yang tersedia dalam jumlah besar.
Selain penelitian di atas, dampak pajak terhadap investasi juga diteliti
dengan menggunakan pendekatan evaluasi proyek sektoral. Salah satu penelitian
yang menerapkan pendekatan tersebut dilakukan oleh Danar dan Subiyantoro
(2003). Penelitian tersebut mengaitkan dampak reformasi sistem perpajakan
dengan investasi di sektor panas bumi. Kesimpulan penelitian tersebut adalah
meskipun perubahan peraturan perpajakan memberikan insentif berupa penurunan
besarnya tarif Pajak Penghasilan, namun hal tersebut tidak dapat memperbaiki
12
keekonomian proyek secara optimal karena beberapa insentif perpajakan pada
peraturan yang lama antara lain metode depresiasi atau penyusutan dan investment
allowance diganti atau dihilangkan.
Astuti (2011) meneliti dampak perubahan Undang-Undang PPh terhadap
laba rugi perusahaan. Penelitian tersebut menggunakan data ekonomika mikro
dengan mengambil sampel data laporan keuangan pada suatu perusahaan. Analisis
yang digunakan adalah metode analisis deskriptif komparatif dengan hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa perubahan Undang-Undang PPh berdampak
signifikan terhadap jumlah laba yang diperoleh perusahaan.
Perubahan peraturan pajak dilakukan dengan tujuan untuk mencapai
keseimbangan antara penerimaan atau tingkat pendapatan pemerintah yang akan
digunakan untuk pembiayaan pembangunan terutama pelayanan publik, dengan
meminimumkan beban pajak terhadap perekonomian dari waktu ke waktu.
Dampak pengurangan biaya perekonomian akibat perubahan suatu sistem
perpajakan ditentukan oleh dua faktor yaitu potensi perubahan tingkat konsumsi
masyarakat jika terjadi perubahan terkait peraturan Pajak Penghasilan Orang
Pribadi (PPh OP) atau pajak perorangan (individu) dan perubahan tingkat
investasi jika terjadi perubahan peraturan terkait Pajak Penghasilan perusahaan
atau Badan (PPh Badan).
Reformasi pajak khususnya yang terkait Wajib Pajak perusahaan meliputi
perubahan peraturan perpajakan sebagai landasan penetapan pajak dan perbaikan
sistem pemungutan pajak. Menurut Sinn (1988), reformasi perpajakan tahun 1986
di Amerika Serikat, antara lain dilakukan atas ketentuan terhadap pajak
13
perusahaan dan mencakup struktur pajak dan insentif untuk investasi. Di
Indonesia, setelah reformasi pajak pertama pada tahun 1983, lingkup reformasi
pajak kedua dimulai pada tahun 2002 dilakukan secara bertahap dalam kurun
waktu beberapa tahun dan mencakup beberapa aspek teknis yang lebih luas. Hal
tersebut ditunjukkan oleh cakupan reformasi yang juga melingkupi aspek struktur
organisasi, sumber daya manusia (SDM), manajemen, renumerasi serta sistem
administrasi yang didalamnya didukung oleh teknologi informasi dan komunikasi.
Reformasi pajak kedua tersebut kemudian dikenal dengan modernisasi sistem
administrasi perpajakan, antara lain meliputi perubahan struktur organisasi
berubah dari struktur organisasi berdasarkan jenis pajak menjadi struktur
organisasi berdasarkan pada fungsi. Reformasi sistem pemungutan pajak terus
disempurnakan dan terus membenahi manajemen sumber daya manusia dan
teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi.
Dalam upaya untuk meningkatkan dan mencapai efisiensi dan efektifitas
pemungutan pajak serta meningkatkan tax ratio agar mencapai 16 persen,
dicanangkan program intensifikasi dan ekstensifikasi pajak serta perubahan dan
penyempurnaan Undang-Undang perpajakan baik Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan (KUP), Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN,
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Materai serta peraturan pelaksanaan
Undang-Undang tersebut. Undang-Undang KUP merupakan Undang-Undang
yang mengatur ketentuan formal dari pemungutan dan pengadministrasian semua
pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat. Undang-Undang KUP sejak
diundangkan pertama kali pada tahun 1983 sudah 3 (tiga) kali mengalami
14
perubahan. Pada tahun 2015 ini direncanakan untuk dilakukan perubahan
Undang-Undang KUP yang keempat kalinya. Perubahan peraturan perpajakan
dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan agar perubahan peraturan
tersebut tidak direspon secara negatif oleh masyarakat. Perubahan yang dilakukan
sebagai langkah adaptif terhadap perkembangan sistem perekonomian domestik
maupun internasional antara lain dengan membandingkan peraturan perpajakan
yang berlaku secara umum dinegara-negara lain.
Undang-Undang PPh mengatur tentang ketentuan material pemungutan
PPh. Perubahan pengaturan dalam Undang-Undang PPh adalah terkait dengan
subjek pajak, objek pajak, pengecualian dari objek pajak, biaya pengurang
penghasilan bruto, isteri yang memilih untuk memiliki NPWP sendiri, norma
penghitungan penghasilan neto, penghasilan tidak kena pajak, tarif, lapisan
penghasilan kena pajak, pencegahan penghindaran pajak, pemotongan dan/atau
pemungutan, kredit pajak luar negeri, angsuran pajak tahun berjalan, ketentuan
perpajakan pertambangan dan syariah serta fasilitas perpajakan bagi Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (UMKM). Perubahan-perubahan pengaturan dalam UndangUndang PPh yang berkaitan dengan penghasilan bruto dan neto serta besarnya
pajak yang terutang Wajib Pajak Badan antara lain yaitu tarif, lapisan penghasilan
kena pajak dan biaya pengurang penghasilan bruto.
Perubahan-perubahan
atas
Undang-Undang
perpajakan
khususnya
Undang-Undang PPh tersebut dilakukan karena pemungutan pajak harus
mempertimbangkan sisi keadilan dan keabsahan pelaksanaan pemungutannya
(Judisseno, 1999) dengan memperhatikan asas-asas pemungutan pajak yaitu: asas
15
persamaan, kepastian, kemudahan pembayaran dan efisiensi. Perubahan UndangUndang perpajakan sebagai dasar pemungutan pajak sebagaimana diatur dalam
pasal 23 Undang-Undang Dasar 1945, merupakan titik tolak utama dalam
pembenahan sistem perpajakan secara keseluruhan.
Menurut Rosdiana (2004) peranan pemungutan pajak sebagai instrumen
dari fungsi distribusi pemerintah sering diterapkan dalam kebijakan yang
menggunakan landasan teori Supply-Side Policies. Supply-Side Policies
merupakan kebijakan yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja pasar dengan
meningkatkan kapasitas perekonomian dalam berproduksi sehingga menambah
jumlah penawaran barang dan jasa. Dengan tercukupinya jumlah penawaran
barang dan jasa tersebut maka memungkinkan perekonomian untuk tumbuh dalam
kondisi non-inflationary. Penerapan kebijakan Supply-Side antara lain meliputi
peningkatan pendidikan dan pelatihan, penurunan kekuatan serikat pekerja
perdagangan, perubahan peraturan dan lain-lain. Salah satu contoh penerapan
kebijakan Supply-Side yang sering diimplementasikan yaitu pengurangan beban
pajak melalui penurunan tarif pajak. Richardson dan Lanis (2007) dalam
penelitiannya menyimpulkan perlunya penurunan tarif pajak dalam reformasi
perpajakan dan hal tersebut diterapkan dalam reformasi perpajakan di Australia
pada tahun 1997. Kebijakan penurunan tarif pajak tidak selalu berdampak atau
mengakibatkan penurunan penerimaan negara. Dengan adanya penurunan tarif
pajak maka bagi Wajib Pajak Orang Pribadi atau perseorangan akan dapat
menabung atau menggunakannya untuk menambah konsumsi atau digunakan
untuk menambah investasi. Bagi Wajib Badan atau perusahaan, penurunan tarif
16
dapat mengurangi biaya produksi/operasi atau menambah laba sehingga dapat
digunakan untuk menambah barang modal atau investasi. Tambahan tabungan,
laba dan investasi akan meningkatkan jumlah penerimaan Pajak Penghasilan
secara keseluruhan.Tambahan konsumsi akan meningkatkan jumlah penerimaan
Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Oleh karena itu dalam jangka panjang,
pengurangan tarif pajak dapat mengakibatkan kenaikan penerimaan negara
melalui penerimaan pajak. Dengan tarif pajak yang relatif rendah diharapkan juga
dapat menjadi daya tarik bagi investor asing maupun investor dalam negeri untuk
melakukan investasi.
Perubahan-perubahan ketentuan dalam Undang-Undang PPh tahun 1983,
tahun1991, tahun 1994, tahun 2000 dan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008
yang terkait dengan besarnya tarif dan pengelompokan tarif atau lapisan
Penghasilan Kena Pajak (PKP) diatur pada pasal 17. Perbedaan-perbedaan dan
perubahan-perubahan pengaturan tentang tarif dan pengelompokan tarif lebih
lengkap adalah sebagaimana tabel dalam lampiran 1.
Berdasarkan lampiran 1, tersebut diketahui bahwa perubahan yang
signifikan adalah perubahan tarif dan pengelompokan tarif dari Undang-Undang
PPh No 10 tahun 1994 menjadi Undang-Undang PPh No 17 tahun 2000 serta
Undang-Undang PPh No 17 tahun 2000 menjadi Undang-Undang PPh No 36
tahun 2008. Perubahan Undang-Undang PPh No 10 tahun 1994 menjadi UndangUndang PPh No 17 tahun 2000 meliputi adanya pemisahan dan pembedaan
besarnya tarif dan pengelompokan tarif antara Wajib Pajak Orang Pribadi dan
Wajib Pajak Badan serta besarnya tarif dan pengelompokan tarif dalam
17
penghasilan kena pajak yang diperoleh Wajib Pajak Badan itu sendiri. Perubahan
Undang-Undang PPh No 17 tahun 2000 menjadi Undang-Undang Nomor 36
tahun 2008, terkait tarif dan pengelompokan tarif lebih struktural karena tidak
lagi menerapkan tarif progresif bagi Wajib Pajak Badan namun menerapkan tarif
tunggal sebesar 28 persen pada tahun 2009 dan sebesar 25 persen mulai tahun
2010.
Perubahan-perubahan Undang-Undang PPh selanjutnya ditelaah dalam
kaitannya dengan penerimaan pajak. Penerimaan pajak dari pajak penghasilan
dibedakan menjadi dua yaitu PPh Non Migas dan PPh Migas. PPh Non Migas
sendiri terdiri dari beberapa jenis pajak penghasilan yaitu PPh atas
pemungutan/pemotongan yang dilakukan oleh bendaharawan, PPh atas impor,
PPh atas karyawan, PPh atas penghasilan yang diperoleh dari dividen, bunga,
royalti, hadiah, sewa, imbalan atas jasa-jasa tertentu, PPh dari Orang Pribadi
selain karyawan, PPh atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
luar negeri dari Indonesia, PPh dari penghasilan yang bersifat final dan PPh dari
Wajib Pajak Badan atau perusahaan. Berdasarkan data empiris yang ada, sampai
saat ini peran penerimaan pajak perusahaan atau penerimaan Pajak Penghasilan
Badan memegang peranan penting dalam menyumbang penerimaan pajak di
Indonesia. Secara umum peran penerimaan total Pajak Penghasilan terhadap total
penerimaan pajak nasional rata-rata tahun 2001-2013 mencapai 54,98 persen
dengan kisaran 55,65 persen sampai dengan 59.63 persen, sehingga dapat
dikatakan tidak mempunyai perbedaan yang signifikan. Di sisi lain peran
penerimaan pajak penghasilan badan terhadap total penerimaan pajak nasional
18
sepanjang tahun 2001-2013 secara rata-rata mencapai 18,20 persen setiap tahun.
Data pada tabel 1.2. menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan setiap tahun
peran Pajak Penghasilan Badan terhadap total penerimaan pajak nasional yaitu
dimulai tahun 2001 sebesar 8.14 persen dan terus naik sampai pada puncaknya
tahun 2009 sebesar 22.10 persen. Namun peran tersebut mengalami penurunan
setelah berlakunya tarif tunggal untuk Wajib Pajak Badan pada tahun 2010 dan
mengalami kenaikan kembali pada tahun 2013.
Tabel 1.2. Peran Penerimaan PPh Badan dalam
Struktur Penerimaan Pajak Nasional
(1)
Penerimaan PPh
Badan /Total PPh
(2)
Penerimaan PPh
Badan/Total
Pajak
(3)
Penerimaan Total
PPh/Total Pajak
(4)
2001
13.64%
8.14%
59.63%
2002
27.28%
15.72%
57.61%
2003
26.85%
15.10%
56.25%
2004
27.97%
15.80%
56.47%
2005
29.30%
17.23%
58.79%
2006
31.16%
18.17%
58.33%
2007
33.99%
19.04%
56.03%
2008
32.47%
18.63%
57.37%
2009
37.88%
22.10%
58.33%
2010
36.95%
21.02%
56.87%
2011
36.07%
20.94%
58.06%
2012
32.83%
18.27%
55.65%
2013
48.00%
26.39%
54.98%
Tahun
Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Data Diolah
19
Apabila kita telaah dengan lebih terinci, peran penerimaan Pajak
Penghasilan Badan terhadap total penerimaan Pajak Penghasilan, tabel 1.2. di atas
menunjukkan peran tersebut mempunyai kecenderungan kenaikan dan mencapai
puncaknya pada tahun 2009 yaitu sebesar 37.88 persen. Peran penerimaan Pajak
Penghasilan Badan terhadap total penerimaan Pajak Penghasilan mulai mengalami
penurunan pada tahun 2010 sejak diberlakukannya tarif tunggal untuk Wajib
Pajak Badan. Sesuai dengan tabel 1.2., secara keseluruhan menunjukkan bahwa
penerimaan PPh mempunyai peran yang dominan dalam total penerimaan pajak
nasional dan penerimaan PPh Badan mempunyai peran yang cukup signifikan
dalam penerimaan total PPh dengan rata-rata jumlah penerimaan mencapai 31,88
persen.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerimaan pajak yang berasal
dari Pajak Penghasilan Badan mempunyai peran yang utama dan cukup penting
terhadap sumber pembiayaan pembangunan dan dalam perekonomian nasional.
Oleh karena itu, peraturan terkait pemungutan PPh atas Wajib Pajak Badan yang
efektif merupakan bagian yang penting agar pemungutan pajak tidak menjadi
faktor kontraproduktif terhadap peran swasta dalam perekonomian Indonesia,
khususnya melalui jalur investasi. Penelitian tentang topik ini diharapkan dapat
melihat dampak langsung dan dalam jangka waktu yang relatif pendek atas
perubahan peraturan Pajak Penghasilan yang diusulkan oleh pemerintah dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terhadap perekonomian melalui
investasi badan usaha khususnya badan usaha swasta. Variabel-variabel dan
komponen-komponen yang menentukan dalam penghitungan besarnya pajak yang
20
terutang menjadi salah satu perhatian dan pertimbangan utama dalam penyusunan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
Investasi di Indonesia secara umum berkembang sejak tahun 1968. Sejalan
dengan reformasi perpajakan yang berlangsung pada dekade 1980-an, investasi
khususnya investasi Penanaman Modal Asing (PMA) terus meningkat dan
mencapai puncaknya pada tahun 1995. Kondisi yang hampir sama juga terjadi
pada Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Meskipun faktor yang
menyebabkan peningkatan investasi bukan semata berasal dari reformasi
perpajakan, namun pola kecenderungan di bawah ini menunjukkan bahwa
beberapa tahun setelah perubahan Undang-Undang Perpajakan dilakukan yaitu
pada tahun 1983, 1994, 2000, 2007 dan 2008, jumlah investasi meningkat dengan
cukup signifikan. Apabila besarnya realisasi investasi tersebut dihitung secara
nominal, maka besarnya realisasi investasi pada tahun 2007 telah berada pada
situasi seperti saat sebelum terjadinya krisis tahun 1998.
Gambar 1.1.
menunjukkan realisasi investasi dimaksud.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian dengan topik dampak dari
perubahan sistem perpajakan cukup beragam. Perkembangan pembahasan dan
penelitian dampak reformasi pajak terhadap perusahaan dalam perekonomian
berkembang pesat, sehingga topik ini menjadi salah satu topik yang menarik dan
kemudian dipilih dalam penelitian ini dengan mengambil salah satu bagian,
khususnya dampak perubahan peraturan terkait PPh atas badan terhadap investasi.
Perubahan tingkat investasi merupakan salah satu bagian yang terkena dampak
langsung atas reformasi pajak atau perubahan sistem perpajakan.
21
Realisasi Investasi PMA dan PMDN
tahun 2009 - 2013
140
120
100
80
60
40
20
0
2001
2002
2003
2004
2005
2006
Realisasi PMDN (Rp. Trilyun)
2007
2008
2009
2010
2011
2012
Realisasi PMA (US$ Milyar)
Gambar 1.1. Realisasi Penanaman Modal Asing dan Dalam Negeri
Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal
Penelitian ini akan mengidentifikasi dampak perubahan peraturan dalam
Undang-Undang PPh terkait Wajib Pajak Badan terhadap keputusan investasi
pada perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Indonesia melalui variabel yang
bersifat mikro. Perubahan peraturan Pajak Penghasilan terkait Wajib Pajak Badan
adalah yang terdapat dalam Undang-Undang PPh No 10 tahun 1994, UndangUndang PPh No 17 tahun 2000 dan Undang-Undang PPh No 36 tahun 2008.
Variabel dan data mikro dipilih dalam penelitian ini karena dengan menggunakan
data mikro masing-masing perusahaan akan dapat diketahui dampak langsung
besarnya perubahan beban pajak yang ditanggung perusahaan akibat adanya
perubahan ketentuan pajak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
2013
22
masukan dan bahan pertimbangan bagi perbaikan penyusunan ketentuan terkait
pajak penghasilan di masa mendatang.
Dampak perubahan peraturan dalam Undang-Undang PPh terkait Wajib
Pajak Badan terhadap investasi di setiap perusahaan lebih lanjut akan diteliti
secara kualitatif. Apakah ada perbedaan pengaruh terhadap 3 (tiga) kategori jenis
industri manufaktur yang berbeda. Untuk mengetahui perbedaan dampak
perubahan Undang-Undang PPh terhadap investasi pada ketiga jenis industri
manufaktur digunakan variabel terikat yang bersifat kuantitatif (investasi) dan
menambahkan variabel bebas yang bersifat kualitatif dengan membuat kategori
berupa variabel dummy pada data panel. Pada penelitian Schwellnus dan Arnold
(2008) digunakan variabel dummy sektor perusahaan, umur perusahaan dan
negara. Variabel dummy juga digunakan dalam penelitian Bond, dkk. (1997) yaitu
variabel dummy waktu. Becker dan Sivadasan (2006) dalam penelitiannya juga
menambahkan variabel dummy konglomerasi. Model tersebut diharapkan
memenuhi model data panel yang merupakan salah satu metode terkuat yang
digunakan dalam penelitian tentang dampak perubahan peraturan terkait UndangUndang PPh terhadap keputusan-keputusan ekonomis yang penting bagi
perusahaan, meskipun asumsi yang digunakan dalam pendekatan ini masih terlalu
ketat (Judd, 2006).
Penelitian ini mengambil topik dampak perubahan Undang-Undang Pajak
Penghasilan di Bursa Efek Indonesia khususnya dengan pendekatan ekonomika
mikro. Belum dijumpai penelitian yang membahas perbandingan dampak
perubahan 3 (tiga) Undang-Undang PPh terhadap investasi yang dilakukan
23
menggunakan data internal perusahaan dengan dua metode analisis yaitu
pendekatan deterministik (MRPK dan METR) dan metode ekonometrika dengan
melakukan regresi pada data panel dengan variabel bebas arus kas, laba setelah
pajak (Earning After Tax) dan tingkat pajak atau tarif pajak efektif. Sejauh ini
belum ditemukan penelitian yang memberikan kontribusi terhadap topik ini di
Indonesia.
1.2.
Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, dapat disimpulkan bahwa
reformasi perpajakan khususnya perubahan peraturan yang terkait pajak
penghasilan mempunyai dampak terhadap investasi. Secara teoritis dampak
perubahan peraturan pajak terhadap investasi dapat dilihat dari dua perspektif
yaitu perspektif ekonomika makro dan ekonomika mikro. Namun disisi lain, data
investasi juga mengandung konsekuensi berbeda dalam ekonomika mikro dan
ekonomika makro. Kedua hal tersebut menjadi pertimbangan utama penelitian ini.
Data investasi dalam perspektif ekonomi mikro adalah perubahan pembentukan
modal perusahaan. Sementara dalam perspektif ekonomi makro data investasi
adalah perubahan pembentukan modal bruto di Indonesia. Perbedaan pendekatan
teoritis dalam mengidentifikasi dampak perubahan peraturan perpajakan terhadap
investasi juga memiliki konsekuensi yang berbeda karena penggunaan data yang
berbeda.
Menurut Schreiber dkk. (2002) pajak mempengaruhi investasi dan
keputusan keuangan. Pembuat keputusan harus menguasai kompleksitas sistem
24
pajak yang ada. Jika salah dalam memahami ketentuan pajak yang ada maka akan
membuat perencanaan, kebijakan dan keputusan perusahaan yang salah. Untuk
mengukur beban pajak efektif sebagai dampak pajak atas keputusan investasi
memerlukan sebuah ukuran standar untuk memisahkan dampak-dampak yang
berasal dari tarif pajak menurut ketentuan perpajakan (dan saling dampak dari
pajak Orang Pribadi dan Badan); dan dampak yang diakibatkan oleh definisi yang
ada dalam peraturan perpajakan yang digunakan dalam pengenaan pajak.
Adanya
dampak
pajak
terhadap
keputusan-keputusan
keuangan
perusahaan juga diungkapkan dari penelitian Atkinson dan Stiglitz (1980) dan
Auerbach (2002). Namun Palomba (2002) dengan menggunakan analisis dinamik
menunjukkan bahwa dampak dari pajak terhadap perusahaan adalah berbeda-beda
sepanjang waktu. Suatu peningkatan tarif pajak pada laba perusahaan awalnya
akan menurunkan investasi, tetapi dampak ini berkebalikan sepanjang waktu
karena perusahaan menyesuaikan kebijakan keuangannya terhadap tarif pajak
baru. Dalam penelitian ini, level investasi tidak hanya dipengaruhi oleh marginal
cost of capital tetapi juga oleh tersedianya keuangan (seperti contoh dalam Fazzari
et al., 1988). Pajak atas keuntungan atau laba perusahaan mungkin mempengaruhi
investasi meskipun hal tersebut cenderung akan tidak signifikan jika perusahaan
menerapkan pengaturan pengelolaan dan sumber-sumber keuangan dari internal
dan eksternal secara proporsional. Pandangan intertemporal membuat beberapa
perbedaan pendapat tentang dampak pajak penghasilan badan terhadap keputusan
keuangan dan investasi. Penurunan tarif pajak penghasilan atas laba perusahaan
akan dapat meningkatkan investasi, tetapi hal tersebut hanya mempengaruhi
25
secara temporer. Jadi tarif pajak yang lebih rendah hanya mempengaruhi secara
terbatas pada akumulasi kapital perusahaan-perusahaan domestik. Dengan
demikian, aspek-aspek intertemporal dapat membuat beberapa perbedaan
pendapat terhadap kebijakan pajak penghasilan perusahaan.
Oleh karena itu, dalam perspektif perekonomian Indonesia konsep yang
menempatkan dampak perubahan peraturan perpajakan khususnya pajak Badan
yang dilakukan pemerintah terhadap tingkat investasi di Indonesia menjadi
penting untuk dilakukan penelitian lebih mendalam. Dengan latar belakang dan
uraian di atas maka penelitian ini meneliti dampak langsung dan jangka pendek
dari reformasi perpajakan di Indonesia.
Evaluasi dampak peraturan perpajakan secara langsung dilakukan dalam
kerangka melihat dampak langsung peraturan perpajakan terhadap tingkat
investasi. Mengingat fokus penelitian dalam penelitian untuk meneliti dampak
langsung perubahan peraturan perpajakan dan dalam jangka waktu yang pendek,
maka lingkup penelitian dibatasi pada kajian dampak perubahan peraturan dalam
Undang-Undang PPh terkait Wajib Pajak Badan khususnya terhadap perubahan
tingkat investasi perusahaan. Dalam perspektif tersebut, pendekatan-pendekatan
yang biasa digunakan dalam penelitian terkait topik tersebut akan digunakan
dalam penelitian ini.
Berdasarkan batasan penelitian di atas, untuk mendukung analisis tentang dampak
perubahan peraturan dalam Undang-Undang PPh terkait Wajib Pajak Badan
terhadap investasi, penelitian ini membatasi lingkup sampel meliputi perusahaan
atau badan usaha swasta di Indonesia. Sampel penelitian yaitu perusahaan atau
26
badan usaha swasta dibatasi hanya merupakan perusahaan atau badan usaha
swasta terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu perusahaanperusahaan yang termasuk dalam sektor industri manufaktur. Pemilihan sektor
industri manufaktur sebagai sektor yang dijadikan sampel penelitian adalah
dengan pertimbangan karena sektor industri manufaktur adalah sektor yang
menyumbangkan penerimaan pajak terbesar dibandingkan dengan sektor yang
lain. Data sesuai dengan tabel 1.3. menunjukkan bahwa industri manufaktur
(dalam pengelompokan sektor yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak,
Kementerian Keuangan disebut sebagai industri pengolahan) mempunyai
kontribusi rata-rata sekitar 31 persen bagi penerimaan pajak secara nasional. Tabel
1.3. juga menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur atau pengolahan
merupakan satu-satunya sektor yang berkontribusi secara dominan atau lebih dari
25 persen dari total penerimaan pajak nasional. Penggunaan sampel perusahaan
yang terdaftar di BEI merepresentasikan perusahaan yang memenuhi asumsi dasar
dalam pendekatan yang akan digunakan dalam model ini.
Asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah produsen yang
rasional secara ekonomi yaitu berusaha untuk memaksimalkan keuntungan.
Secara prosedural, ciri tersebut tercermin melalui laporan keuangan khususnya
laporan rugi/laba perusahaan. Perusahaan yang terdaftar di BEI merupakan
perusahaan yang wajib menyampaikan laporan keuangan terstandarisasi.
Berdasarkan Laporan Keuangan antara lain neraca, laporan rugi/laba dan arus kas
dapat kita ketahui gambaran bagaimana alur perusahaan yang rasional secara
ekonomi bekerja.
27
Tabel 1.3.. Kontribusi Sektor Usaha pada Penerimaan Pajak Nasional
1. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
2%
% Kontribusi
2010 2011 2012
2%
2%
2%
2. Pertambangan dan Penggalian
8%
15%
10%
8%
15%
3. Industri Pengolahan
31%
31%
30%
31%
31%
4. Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara
Dingin
1%
2%
1%
1%
2%
0%
0%
0%
0%
0%
4%
5%
4%
4%
5%
13%
14%
13%
13%
14%
8. Transportasi dan Pergudangan
9. Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan
Minum
10. Informasi dan Komunikasi
3%
3%
2%
3%
3%
0%
0%
0%
0%
0%
3%
3%
3%
3%
3%
11. Jasa Keuangan dan Asuransi
10%
11%
10%
10%
11%
12. Real Estat
2%
2%
2%
2%
2%
13. Jasa Profesional, Ilmiah dan Teknis
2%
2%
2%
2%
2%
14. Jasa Persewaan, Ketenagakerjaan, Agen
Perjalanan dan Penunjang Usaha Lainnya
1%
1%
1%
1%
1%
15. Administrasi Pemerintahan dan Jaminan Sosial
Wajib
16. Jasa Pendidikan
3%
3%
2%
3%
3%
0%
0%
0%
0%
0%
17. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
0%
0%
0%
0%
0%
18. Kebudayaan, Hiburan dan Rekreasi
0%
0%
0%
0%
0%
19. Kegiatan Jasa Lainnya
20. Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga;
Kegiatan yang Menghasilkan Barang dan Jasa
oleh Rumah Tangga yang digunakan Memenuhi
Kebutuhan
1%
1%
1%
1%
1%
0%
0%
0%
0%
0%
21. Kegiatan Badan Internasional dan Badan Ikstra
International lainnya
0%
0%
0%
0%
0%
22 . KLU Error
12%
2%
13%
12%
2%
23. Kategori PBB
3%
3%
4%
3%
3%
Sektor Usaha
5 .Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah dan Daur
Ulang, Pembuangan dan PembersihanLimbah dan
Sampah
6. Konstruksi
7. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan
Perawatan Mobil dan Sepeda Motor
2009
Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara, Data Diolah
2013
2%
28
Berdasarkan batasan-batasan tersebut di atas, pertanyaan penelitian yang
merupakan permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Apakah perubahan Undang-Undang PPh Nomor 17 Tahun 2000 dan UndangUndang PPh Nomor 36 Tahun 2008 berdampak terhadap investasi perusahaan
pada 3 (tiga) jenis industri manufaktur di Bursa Efek Indonesia?”
1.3.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, penelitian ini dilakukan agar dapat
mengetahui seberapa besar dampak perubahan penerapan Undang-Undang PPh
Nomor 17 tahun 2000 dan Undang-Undang PPh Nomor 36 tahun 2008 terhadap
tingkat investasi di Bursa Efek Indonesia. Secara spesifik, tujuan yang diharapkan
dapat dicapai oleh penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Menganalisis hubungan dan dampak perubahan penerapan Undang-Undang
PPh Nomor 17 tahun 2000 dan Undang-Undang PPh Nomor 36 tahun 2008
terhadap investasi perusahaan industri manufaktur di Bursa Efek Indonesia;
b. Menganalisis apakah penerapan Undang-Undang PPh Nomor 17 tahun 2000
dan Undang-Undang PPh Nomor 36 tahun 2008 mempunyai dampak yang
sama atau berbeda terhadap ke-tiga jenis industri manufaktur di Bursa Efek
Indonesia?
1.4. Keaslian Penelitian
Secara umum sebagian besar penelitian sebelumnya yang mengukur
dampak perubahan peraturan perpajakan terhadap
investasi perusahaan,
29
khususnya dengan model dinamis, menggunakan data investasi yang biasa
digunakan dalam ekonomi mikro. Penelitian dengan landasan kerangka teori
ekonomika mikro dilakukan oleh King dan Fullerton (1984). Pendekatan King
dan Fullerton (1984) dalam meneliti dampak perubahan sistem perpajakan
terhadap keputusan investasi dengan menghitung tingkat pajak marjinal efektif
yang kemudian disebut sebagai pendekatan tingkat pajak marginal efektif atau
METR. Konsep ini selanjutnya digunakan dan dikembangkan oleh Altshuler dkk.
(1998), Chalk (2001), Chen dan Martinez-Vazquez (2003), Sosa (2006) serta Lin
dan Zeng (2008). Ringkasan hasil penelitian-penelitian sebelumnya mengenai
dampak perubahan peraturan perpajakan terhadap investasi dengan menggunakan
analisis deterministik METR selengkapnya adalah sebagaimana tercantum dalam
tabel 1.4. berikut.
Tabel 1.4. Ringkasan Hasil Penelitian Sebelumnya yang Menggunakan
Pendekatan METR
No
(1)
1.
2.
Peneliti/
Tahun
(2)
King dan
Fullerton
(1984)
Altshuller
(1998)
Judul
Metode dan Estimasi
(3)
The Taxation
of Income
from Capital
(4)
METR agregat dengan
mengenerate rata-rata tertimbang
dari portofolio kombinasi
pembiayaan dan kepemilikan aset.
Model menggunakan variabel
bebas discount rate, tingkat
penyusutan barang modal, tarif
PPh perusahaan, pengurangan dari
penyusutan atas biaya akuisisi per
dollar dan tarif PPh individual dari
penghasilan atas bunga
Penghitungan METR dipengaruhi
oleh inflasi karena inflasi
mempengaruhi besarnya
penyusutan. Penghitungan
besarnya penyusutan didasarkan
Has U.S.
Investment
Abroad
Become More
Sensitive to
Kesimpulan
(5)
METR rata tertimbang
adalah proporsi dari
stock modal sekarang
merupakan kombinasi
dari jenis aset, industri,
sumber keuangan dan
karakteristik
kepemilikan
Heterogenitas besarnya
penyusutan bunga
tergantung pada pajak
perusahaan dan status
perpajakannya. Pajak
30
No
(1)
Peneliti/
Tahun
(2)
Judul
Metode dan Estimasi
(3)
Tax Rates?
(4)
pada biaya-biaya untuk
mengurangi nilai aset secara
historis.
3.
Chalk
(2001)
Tax
Incentives in
Philippines: A
Regional
Perspective
Insentif untuk meningkatkan
investasi di Philipina dengan
memberikan penyusutan,
kompensasi kerugian selama 10
tahun, pengakuan sebagai kredit
pada barang modal dalam proses
produksi manufaktur dan produk
lain yang diekspor
4.
Sebastian
Sosa
(2006)
Tax
Incentives
and
Investment in
Eastern
Carribean
5.
HornChern Lin
dan Tao
Zeng
(2008)
Marginal
Effective Tax
Rate For
Inventory and
Capital
Investment
Menggunakan perhitungan
determinsitik METR dengan pajak,
depresiasi dan tax credit. Variabel
pembanding dalam perhitungan
METR menggunakan variabel
return bebas risiko r.
Model METR total terhadap
keputusan investasi perusahaan
dan rumah tangga.
METR dihitung dengan
memasukkan unsur pajak pada
pembelian barang-barang investasi
dan persediaan.
Kesimpulan
(5)
yang tidak simetris tidak
sepenuhnya memberikan
sumber variasi dalam
pemberian insentif.
Insentif pajak yang
diberikan pada beberapa
negara ASEAN
meningkatkan distorsi
dalam upaya pencapaian
penerimaan pajak
METR sangat tinggi
terutama jika
ditambahkan pajak tidak
langsung pada barangbarang tersebut.
Terdapat dispersi yang
besar pada METR setiap
sektor.
METR di Kanada
memasukkan semua
aspek yang terkait
dengan investasi
perusahaan. Pajak atas
barang-barang
persediaan dan investasi
termasuk aspek pajak
yang berdampak
terhadap keputusan
investasi.
Penelitian ini selain menggunakan model METR, juga akan menggunakan
pendekatan faktor keuangan yang diharapkan dapat mengidentifikasi dampak dari
faktor-faktor atau variabel-variabel penjelas dengan pendekatan ekonometrika.
Ringkasan hasil penelitian-penelitian sebelumnya mengenai dampak perubahan
peraturan perpajakan terhadap investasi dengan menggunakan faktor keuangan
tersebut selanjutnya dituangkan dalam tabel 1.5. berikut:
31
Tabel 1.5. Ringkasan Hasil Penelitian Sebelumnya
yang Menggunakan Pendekatan Faktor Keuangan
No
(1)
1.
Peneliti
(Tahun)
(2)
Bean
(1981)
Judul
Metode dan Estimasi
Kesimpulan
(3)
An Econometric Model
of Manufacturing Investment in The
UK
(4)
Menggunakan spesifikasi koreksi kesalahan
jangka panjang menggunakan pendekatan
bahwa Δ Kitᵙ Iit / Ki,t-1–δ.
(5)
Persediaan
modal dibawah
tingkat yang
diharapkan
berhubungan
dengan
investasi
dimasa datang
yang lebih
rendah
Persamaan
Euler tidak
konsisten
dengan asumsi
CES yang
digunakan
dalam
menjelaskan
ECM
Beberapa rasio
keuangan yang
kemudian
disebut dengan
faktor
keuangan
memiliki
dampak
signifikan
terhadap
tingkat
investasi
perusahaan
kecuali arus
kas
perusahaan.
2.
Bond dan Dynamic
Meghir
Investment
(1994)
Models and
the Firm’s
Financial
Policy
Menggunakan spesifikasi model persamaan
Euler yang dapat mengontrol dampak
ekspektasi dalam keputusan investasi.
Perusahaan diasumsikan memaksimalkan
present discounted value dari arus kas bersih
sekarang dan masa datang dan penyesuaian
biaya yang simetris dan kuadratis.
3.
Stephen
Bond,
Julie Ann
Elston,
Jacques
Mairesse
dan
Benoit
Mulkay
(1997)
Financial
Factors and
Investment in
Belgium,
France,
Germany, and
The United
Kingdom: A
Comprison
Using
Company
Panel Data
Persamaan ini merupakan dasar aplikasi
persamaan model keuangan yang lain.
Model faktor keuangan ini adalah persamaan
Euler dari kalkulus variasi optimasi
persamaan profit perusahaan dengan kendala
investasi perusahaan. Persamaan Euler
ditunjukkan oleh fungsi berikut:
Becker
dan
Sivadasan
(2006)
The Effect of
Financial
Developmen
t on The
InvestmentCash Flow
Relationship
Variabel tidak bebas adalah investasi
bruto.Variabel ROA merepresentasikan arus
kas. Cakupan obyek penelitian seluruh
Eropa menggunakan model persamaan
empiris sebagai berikut:
4.
C  PQ 
 I 
 I
, , ,
  f 

K
 K t 1 K K K 
Dimana: I adalah investasi
C adalah arus kas
 adalah profit perusahaan
termasuk pajak
PQ adalah total penjualan
Estimasi dilakukan dengan metode Error
Correction Model untukmengestimasinya.
Ii,t  1Ii,t 1  2 Ii2,t 1  3 lnYi,t 1  ln Ki,t 1 
Perusahaan
cenderung
menambah
investasi jika
mereka
 memiliki
4 ROAi,t lebih
1   i ,t
banyak sumber
daya internal.
32
No
(1)
Peneliti
(Tahun)
(2)
Judul
Metode dan Estimasi
(3)
(4)
Cross
Country
Evidence
from Europe
5.
Cyrille
Schwell
nus dan
Jens
Arnold
(2008)
Do Corporate
Taxes Reduce
Producti
vity and
Investment at
The Firm
Level?
Kesimpulan
(5)
Pengembangan
sistem
pendanaan
mengurangi
dampak
kendala
keuangan.
Mengestimasi dampak fraksi pajak dari laba Terdapat
perusahaan terhadap perubahan investasi dan hubungan
produktivitas.  ln TFPt  f TFPt 1 ,  t , t  negatif yang
kuat antara
 t adalah tingkat pajak
tingkat pajak
terhadap
Regresi dilakukan dengan metode
tingkat
Autoregressive Distributive Lag antara
produktivitas
tingkat pajak perusahaan terhadap tingkat
negara-negara
TFP. Analisis menggunakan data panel
di OECD yang
dengan fixed effect untuk setiap sektor
direpresentasikan oleh
variabel TFP.
Penelitian sejenis sebelumnya yang pernah dilakukan di Indonesia dengan
topik reformasi perpajakan atau perubahan peraturan perpajakan khususnya
Undang-Undang PPh dan dampaknya terhadap investasi menggunakan tinjauan
dan cakupan pembahasan yang berbeda-beda. Ringkasan hasil penelitianpenelitian sebelumnya mengenai dampak perubahan peraturan perpajakan
terhadap investasi yang sudah pernah dilakukan di Indonesia adalah sebagaimana
dalam tabel 1.6. berikut:
Tabel 1.6. Ringkasan Hasil Penelitian Sebelumnya tentang Perubahan Pajak
yang Dilakukan di Indonesia
No
(1)
1.
Peneliti
Judul
(Tahun)
(2)
(3)
Danar dan Dampak
Subiyan
Sistem
Metode dan Estimasi
Kesimpulan
(4)
(5)
Studi kelayakan proyek, yang terdiri dari Perubahan
identifikasi proyek, analisis pasar peraturan
33
No
(1)
Peneliti
(Tahun)
(2)
toro
(2003)
2.
Njit
(2006)
3.
Hartono
(2007)
Judul
Metode dan Estimasi
Kesimpulan
(3)
Perpajakan
terhadap
Keputusan
Investasi
Proyek Panas
Bumi
(4)
(market analysis) dan analisis teknoekonomi yang terdiri dari beberapa
tahapan sebagai berikut:
1) Penyusunan Model Reservoir Panasbumi
2) Perencanaan
dan
Penjadualan
Proyek
3) Estimasi Biaya
4) Analisis Cash Flow
5) Penilaian Kelayakan Proyek
Insentif Pajak
Penghasilan
dan Dampak
nya terhadap
Investasi
Modal Asing:
Studi
Kawasan
Pengemba
ngan
Ekonomi
Terpadu di
Kawasan
Timur
Indonesia
Kebijakan
Pemberian
Insentif Pajak
Dalam
Hubungan
nya dengan
Iklim
Investasi bagi
Perusahaan
Penanaman
Modal Asing
di Sektor
Industri Kecil
Menggunakan data ekonomika makro
yang bersumber dari data sekunder dan
analisis statistik deskriptif dengan
metode evaluasi komparatif
(5)
perpajakan dengan
insentif penurunan
tarif PPh, tidak
dapat
memperbaiki
keekonomian
proyek secara
optimal karena
beberapa insentif
perpajakan pada
peraturan
sebelumnya antara
lain metode
depresiasi dan
investment
allowance diganti
Pemberian insentif
pajak penghasilan
tidak mempunyai
dampak yang
signifikan
terhadap investasi
modal asing (FDI)
Menggunakan pendekatan statistik nonparametrik iklim investasi bagi
perusahaan Penanaman Modal Asing
(PMA). Pendekatan kuantitatif, dengan
teknik pengumpulan data menggunakan
metode survei. Sedangkan teknik analisis
data menggunakan analisis korelasi
Pearson Product Moment (PPM).
Kebijakan insentif
pajak hanya
memberikan
dampak 4%
terhadap iklim
investasi bagi
perusahaan PMA
di sektor industri
tekstil. Faktor
pendorong bagi
perusahaan PMA
di sektor industri
tekstil untuk
berinvestasi di
Indonesia, 96%nya lebih berkaitan
34
No
(1)
Peneliti
(Tahun)
(2)
4.
Sari
(2008)
5.
Astuti
(2011)
Judul
Metode dan Estimasi
Kesimpulan
(3)
(4)
(5)
dengan faktor lain
selain insentif
pajak
Penetapan tarif
tunggal sesuai
Undang-Undang
PPh tahun 2008
belum
memberikan
insentif yang
atraktif untuk
menarik investasi
asing (FDI)
Terdapat selisih
jumlah PPh
terutang yang
disusun oleh
perusahaan dengan
hasil penelitian
penulis. Perubahan
UU Perpajakan
berdampak cukup
signifikan
terhadap jumlah
laba yang
diperoleh
perusahaan.
Dampak
Perubahan
Tarif PPh
Badan
menjadi Tarif
Tunggal
terhadap
Investasi dan
Penerimaan
Negara
Analisis
Besarnya PPh
Terutang
akibat
Perubahan
Regulasi
Perpajakan
serta Dampak
nya terhadap
Laba Rugi
Perusahaan
(Studi pada
CV. Bagus
Karya di
Sorowako)
Menggunakan data kualitatif maupun
kuantitatif yang diambil dari hasil
wawancara. Metode pengumpulan data
adalah metode kepustakaan dengan
menggunakan metode deskriptf.
Analisis deskriptif komparatif, yaitu
membandingkan perhitungan PPh
terutang yang dihitung sendiri oleh
perusahaan dengan hasil pengolahan data
yang dibuat oleh penulis. Menggunakan
data laporan keuangan perusahaan tahun
2009
Penelitian ini akan mengkaji dampak perubahan peraturan dalam UndangUndang PPh No 10 tahun 1994 menjadi Undang-Undang PPh No 17 tahun 2000
dan Undang-Undang PPh No 17 tahun 2000 menjadi Undang-Undang PPh Nomor
36 tahun 2008 yang terkait Wajib Pajak Badan terhadap tingkat investasi
perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri manufaktur di Bursa Efek
Indonesia, dengan menggunakan pendekatan METR dan faktor keuangan.
Penelitian ini mempunyai perbedaan-perbedaan dengan penelitian-penelitian
35
sebelumnya yang diharapkan dapat menambah cakrawala penelitian dalam bidang
yang sama yaitu:
1.
Penelitian ini menggunakan dua metode sekaligus dalam menguji data
empiris yang digunakan yaitu metode deterministik melalui perhitungan
MRPK serta METR dan metode ekonometrika estimasi regresi melalui
pendekatan teori faktor keuangan dengan melakukan regresi pada data panel.
Perbedaan yang signifikan antara METR pada penelitian ini dibandingkan
METR penelitian sebelumnya terletak pada metode perhitungan METR yaitu
dalam menghitung biaya modal, penelitian ini menggunakan metode teori
ekonomi keuangan dengan konsep Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Penggunaan pendekatan CAPM dalam perhitungan METR tersebut bertujuan
agar dapat memperoleh hasil perhitungan METR yang optimal. Setelah
dilakukan studi kepustakaan, diketahui bahwa penelitian tentang dampak
perubahan peraturan perpajakan terhadap investasi dengan pendekatan METR
ini, belum pernah dilakukan di Indonesia. Dengan demikian, hasil penelitian
ini diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian dampak perubahan
peraturan perpajakan terhadap investasi di Indonesia.
2.
Penelitian ini menganalisis perbedaan dampak perubahan Undang-Undang
PPh dari tiga Undang-Undang PPh yaitu perbedaan Undang-Undang PPh No
10 tahun 1994 dengan Undang-Undang PPh No 17 tahun 2000 serta UndangUndang PPh No 17 tahun 2000 dengan Undang-Undang PPh Nomor 36 tahun
2008 menggunakan metode análisis varian. Metode statistik inferensi dasar
yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dan uji beda dua rata-rata
36
terhadap variabel-variabel deterministik MRPK dan METR yang dihitung
terlebih dahulu menggunakan konsep CAPM.
3.
Dalam analisis ekonometrika metode faktor keuangan, meskipun penelitian
ini serupa dengan pendekatan faktor keuangan yang dilakukan oleh Bond dkk
(1997) namun pendekatan yang dilakukan tetap mempunyai perbedaan
dengan pendekatan sebelumnya. Proses dekomposisi terhadap faktor
keuangan total penjualan menjadi perbedaan yang mendasar dibandingkan
dengan pendekatan sebelumnya. Selain menjadi faktor pembeda, dekomposisi
dalam penelitian ini juga berfungsi sebagai faktor penjaga konsistensi antara
fakta empiris dengan kajian teoritis yang telah dilakukan sebelumnya. Pada
penelitian ini terdapat fasilitas-fasilitas perpajakan yang berbeda dengan
fasilitas perpajakan yang diterapkan di negara lain yang dilakukan penelitian.
Fasilitas perpajakan tersebut mempengaruhi besarnya arus kas dan
mempengaruhi besarnya biaya-biaya sebagai pengurangan penghasilan kena
pajak yang selanjutnya mempengaruhi besarnya penghasilan kena pajak dan
besarnya pajak yang terutang. Oleh karena itu, pada penelitian ini dalam
analisis ekonometrika data panel dipilih variabel bebas arus kas, tarif efektif
dan variabel Earning After Tax. Perbedaan lain antara penelitian ini dengan
penelitian sebelumnya adalah pada variabel independen investment tax credit
yang digunakan pada penelitian-penelitian sebelumnya dalam penelitian ini
sudah tercakup dalam komponen fasilitas perpajakan. Penggunaan analisis
ekonometrika data panel dalam penelitian ini adalah untuk melengkapi
analisis deterministik uji perbedaan dua rata-rata nilai MRPK dan METR
37
rata-rata. Diharapkan penelitian ini dapat memperbaiki penelitian sejenis yang
sudah pernah dilakukan.
1.5. Kontribusi Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris
terkait dampak kebijakan perubahan peraturan perpajakan yaitu perubahan
Undang-Undang PPh khususnya perubahan Undang-Undang PPh Nomor 10 tahun
1994 menjadi Undang-Undang PPh Nomor 17 tahun 2000 serta Undang-Undang
PPh No 17 tahun 2000 menjadi Undang-Undang PPh Nomor 36 tahun 2008
terhadap tingkat investasi. Dengan menggunakan dua pendekatan analisis, hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi:
1. bagi pengambil kebijakan, dapat digunakan sebagai salah satu bahan analisis
kajian akademik untuk menentukan arah dan jangkauan pengaturan dalam
pembuatan usulan dan rancangan perubahan Undang-Undang Pajak
Penghasilan terkait Wajib Pajak Badan atau perusahaan. Data besaran tingkat
biaya ekuitas, tingkat imbal hasil bersih, nilai MRPK rata-rata dan nilai
METR rata-rata serta model estimasi regresi data panel perusahaan yang
bergerak di sektor industri manufaktur, dapat digunakan sebagai salah satu
pertimbangan pengaturan di dalam Rancangan Undang-Undang Pajak
Penghasilan meliputi pengaturan definisi penghasilan, pengakuan biaya
sebagai pengurang laba bersih kena pajak, tarif pajak (lapisan tarif), laporan
rugi sebagai kondisi tidak kena pajak penghasilan, kompensasi kerugian,
38
fasilitas penyusutan dan fasilitas atau insentif lain yang dapat menurunkan
user cost of capital.
2. data besaran tingkat biaya ekuitas, tingkat imbal hasil bersih, nilai rata-rata
MRPK dan nilai rata-rata METR perusahaan yang bergerak di sektor industri
manufaktur yang digunakan sebagai sampel penelitian, periode tahun 19951999, tahun 2001-2005 dan tahun 2009-2013. Dengan diketahuinya MRPK
dan METR merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan sebagai
bahan analisis bagi manajemen perusahaan untuk mempertimbangkan
keputusan keuangan perusahaan apakah perusahaan akan meningkatkan
investasi barang modal atau aset tetap atau menundanya.
3. konfrmasi teoritis mengenai kebijakan publik terkait dampak ketentuan pajak
terhadap investasi yang memerlukan dukungan kebijakan dibidang lain antara
lain bidang ketenagakerjaan, pengembangan teknologi, perijinan dan
kepastian hukum serta kebijakan makroekonomi meliputi tingkat inflasi, suku
bunga pinjaman, tingkat suku bunga SUN dan SBI serta kebijakan di bidang
sistem pasar keuangan/modal.
Download