Mendidik Anak Menuju Surga

advertisement
Mendidik Anak Menuju Surga
Written by Admin
Selasa, 19 Mei 2015
Mendidik Anak Menuju Surga
Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA
Tugas Mendidik Generasi Unggulan
Pendidikan merupakan unsur terpenting dalam proses perubahan dan pertumbuhan manusia.
Perubahan dan pertumbuhan kepada yang lebih baik membutuhkan pendidikan yang “baik”
pula. Pendidikan yang “baik” akan menghasilkan “output” yang baik. Untuk misi membangun
Umat Islam, salah satu tugas yang diemban oleh Rasulullah saw adalah ta’lim
(mendidik).Firman Allah berbunyi:
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka
kitab dan Hikmah (As Sunnah)”.
(QS. Al Jumu’ah: 2).
Dari pendidikan yang dilakukan Rasulullah Saw. lahir pribadi-pribadi unggul sebagai output,
yang kemudian pada akhirnya membentuk peradaban unggul ketika itu.
1/7
Mendidik Anak Menuju Surga
Written by Admin
Selasa, 19 Mei 2015
Umat Islam diproyeksikan untuk menjadi pemimpin peradaban. Sebagai Umat yang menebar
kebaikan bagi sekalian alam. Sebuah misi yang tidak ringan dan membutuhkan pribadi-pribadi
unggulan. "Kalian adalah Umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya
ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik
." (QS. Ali Imran: 110).
Upaya untuk menghasilkan pribadi-pribadi Muslim unggulan merupakan tanggungjawab kita
semua sebagai Umat Islam. Merupakan tanggungjawab setiap pihak, apakah lembaga
pendidikan, keluarga orang tua, sosial, dan seterusnya.
Orang tua adalah pihak yang paling berperan dan bertanggungjawab dalam pendidikan
anak-anak mereka agar menjadi pribadi-pribadi unggul. Anak yang saleh akan menjadi amal
jariah bagi kedua orang tuanya. Betapa besar pahala yang diraih lantaran kesalehan atau
bahkan kontribusi anak bagi masyarakat dan agamanya yang juga akan berbuah pahala bagi
kedua orang tuanya.
Realitanya, seringkali terdapat berbagai kendala dalam upaya pendidikan anak. Mulai dari
kendala finansial, kendala lingkungan sosial atau bahkan kendala keluarga. Diantara kendala
yang bisa merusak pendidikan anak adalah kendala lingkungan dalam berbagai bentuknya. Di
era informasi ini siapapun dengan sangat mudah untuk mengakses informasi lewat berbagai
sarana. Media cetak dan elektronik sedemikian menggurita. Media bisa lebih efektif dan
berhasil dalam mendidik anak-anak kita, baik pendidikan positif ataupun sebaliknya. Media
mendidik cara berfikir, gaya hidup, cara bergaul dan seterusnya.
2/7
Mendidik Anak Menuju Surga
Written by Admin
Selasa, 19 Mei 2015
Permasalahannya adalah jika anak-anak kita dididik oleh media dengan berbagai materi
negatif dan destruktif. Mengarahkan pemikiran, gaya hidup dan seterusnya ke arah negatif dan
menyimpang dari Islam. Media merupakan salah satu sarana perang pemikiran (alghazwu
alfikry
)
musuh-musuh Islam untuk melumpuhkan Umat ini. Dan sarana ini efektif bagi mereka.
Lingkungan yang berarti teman dan komunitas bergaul juga bisa mempengaruhi pendidikan
anak kita. Rasulullah Saw menjadikan sahabat sebagai pihak yang bisa mempengaruhi moral
dan kebiasaan seseorang. Sabdanya berbunyi: “Seseorang itu tergantung kepada kebiasaan
cara hidup dan akhlak sahabatnya, maka setiap kalian perhatikanlah siapa teman yang
digaulinya”
. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Persahabatan dan pergaulan bisa mempengaruhi seseorang sebagaimana pepatah Arab: Sia
pa yang berteman dengan tukang minyak wangi Ia bisa mendapatkannya cuma-cuma, dan
siapa berteman dengan tukang besi, ia akan kecipratan baunya
.
3/7
Mendidik Anak Menuju Surga
Written by Admin
Selasa, 19 Mei 2015
Keteladanan Pendidikan Anak
Ismail seorang anak yang menjadi tauladan sepanjang sejarah dalam ketaatan kepada Allah
SWT dan orang tua. Kisah yang sangat masyhur, ketika Ibrahim as. sang bapak, bermaksud
menyembelihnya atas perintah Allah SWT, ia merespon dengan jawaban kesiapan dan
ketaatannya. Begitulah ketaatan dan kesalehan Ismail menjadi bukti bermutunya pendidikan
yang diberikan sang ayah, Ibrahim as. Metode pendidikan ala Ibrahim dirumuskan dalam
sebuah doa yang beliau ucapkan ketika akan meningalkan istri dan anaknya di lembah yang
tandus. Beliau as berdoa kepada Allah SWT: “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah
menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di
dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar
mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka
dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.
(QS. Ibrahim: 37).
Ada beberapa nilai luhur yang bisa kita gali dari firman Allah SWT lewat lisan Nabi Ibrahim as.
terkait persepsi dalam mendidik anak.
Pertama, Nabi Ibrahim tahu betul bahwa beliau meninggalkan anak dan istrinya di lembah
yang tandus tanpa makanan. Dalam kondisi tersebut, permohonan yang pertama kali diminta
menurut logika umum adalah agar mereka dianugerahkan rizki yang bisa membuat mereka
tetap hidup. Namun permohonan pertama yang diminta Nabi Ibrahim as adalah agar mereka
mendirikan shalat. Dan orang yang mendirikan shalat dengan sebebnarnya adalah orang
bertaqwa yang telah dijamin Allah SWT.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya”.
(QS. Athalaq: 2-3).
4/7
Mendidik Anak Menuju Surga
Written by Admin
Selasa, 19 Mei 2015
Sama halnya, ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz dinasehati agar mengumpulkan hartanya
dalam masa yang cukup untuk diberikan kepada anak-keturunannya. Umar menolak nasehat
itu dan berkata: “Jika seandaninya mereka (anak cucuku) adalah orang yang bertakwa, maka
sesungguhnya Allah SWT yang akan menanggung rizkinya., dan jika mereka orang-orang yang
fasik maka aku tidak akan membantu mereka dalam kefasikannya dengan harta yang aku
wariskan“.
Kedua, permohonan Ibrahim as selanjutnya juga bukan berupa rezeki yang berbentuk materi,
namun beliau memohon agar anak, istri serta cucu-cucu beliau kelak menjadi orang yang
dicintai manusia. Permohonan yang begitu mulia, dan permohonan mulia seperti itu hanya bisa
dicapai dengan akhlak yang mulia. Akhlak yang menentukan seseorang dibenci atau dicintai.
Ketiga, pada petikan doa yang terakhir Nabi Ibrahim memohon rezeki dalam bentuk materi. “
beri rezekilah mereka dari buah-buahan agar mereka bersyukur”.
(QS. Ibrahim: 37). Namun permohonan ini tidak untuk tujuan mereka kaya materi, tetapi lebih
daripada itu agar mereka mampu bersyukur. Bukan kekayaan yang menyebabkan mereka lupa
dan kufur.
Dari pendidikan Ibrahim as bisa dipahami bahwa orientasi dalam pendidikan anak bukan
semata karena materi yang akan diraih. Bukan karena “akan kerja dimana setelah lulus”, atau
“dapat posisi apa nanti”. Maka dalam orientasi pendidikan anak perlu keseimbangan antara
aspek ilmu pengetahuan dan akhlak.
5/7
Mendidik Anak Menuju Surga
Written by Admin
Selasa, 19 Mei 2015
Pendidikan yang pertama kali diberikan kepada anak adalah pendidikan akidah, ibadah dan
akhlak. Pendidikan ini menurut imam Gazali hukumnya fardhu ‘ain, setiap Muslim harus
menadpatkannya. Adapun pendidikan yang bersifat skill dan ketrampilan Duniawi yang
selanjutnya berbentuk profesi seperti dokter, insinyur dan sebagainya hukumnya fardhu kifayah.
Seorang Muslim boleh berprofesi apa saja, namun ia harus terlebih dahulu menjadi Muslim
yang sebenarnya, yang memiliki akidah, ibadah dan akhlak yang baik dan tidak menyimpang
adri ajaran Islam.
Pendidikan yang Integral
Pendidikan manusia sejatinya bersifat integral. Tidak ada terjadi ketimpangan antara satu
aspek dengan yang lainnya. Kita pernah mengenal konsep IMTAK dan IPTEK yang merupakan
sebuah upaya integrasi untuk menghasilkan SDM unggulan. Unggul secara moral spiritual
maupun sains dan teknologi. Keterpaduan dalam pendidikan seperti ini bila berjalan dengan
baik akan mampu menghasilkan orang-orang pintar yang baik, atau orang-orang baik yang
pintar. Dua tipe inilah yang diharapkan mampu menebar rahmat kebaikan. Dan dua tipe ini
secara tersirat adalah harapan dalam doa yang seringkali kita baca: “Ya Allah karuniakanlah
kami kebaikan baik di Dunia maupun di Akhirat”.
Mendapat kebaikan di Dunia dengan kepintaran, dan mendapat kebaikan di Akhirat dengan
ketakwaan.Banyak orang pintar yang tidak baik atau orang baik yang tidak pintar. Dua tipe ini
sulit diharapkan untuk bisa menebar kebaikan dan manfaat bagi sesama, bahkan malah bisa
berpotensi menjadi masalah(trouble maker). Orang pintar yang tidak baik bisa berpotensi
merugikan orang lain. Sederet contoh kasus dalam hal ini, kasus para pejabat korup,
kebohongan publik, mafia dan seterusnya. Adapun tipe orang baik yang tidak pintar dan tidak
paham, berpotensi dimanfaatkan, dirugikan, atau bahkan dianiaya pihak lain.
6/7
Mendidik Anak Menuju Surga
Written by Admin
Selasa, 19 Mei 2015
Wallahu a’lam.
7/7
Download