ANALISIS ASPEK BIOLOGI IKAN TERBANG Cheilopogon katoptron

advertisement
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS ASPEK BIOLOGI IKAN TERBANG Cheilopogon
katoptron Bleeker, 1865, DI PERAIRAN
PEMUTERAN, BALI BARAT
TESIS
DONY ARMANTO
0906577034
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM MAGISTER ILMU KELAUTAN
DEPOK
JANUARI 2012
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
2
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS ASPEK BIOLOGI IKAN TERBANG Cheilopogon
katoptron Bleeker, 1865, DI PERAIRAN
PEMUTERAN, BALI BARAT
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
DONY ARMANTO
0906577034
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM MAGISTER ILMU KELAUTAN
DEPOK
JANUARI 2012
ii
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
3
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Tesis ini adalah hasil karya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip
maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Nama
: Dony Armanto
NPM
: 0906577034
Tanda Tangan
: ..............................
Tanggal
: 3 Januari 2012
iii
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
4
HALAMAN PENGESAHAN
Tesis ini diajukan oleh:
Nama
: Dony Armanto
NPM
: 0906577034
Program Studi
: Magister Ilmu Kelautan
Judul Tesis
: Analisis Aspek Biologi Ikan Terbang Cheilopogon
katoptron Bleeker, 1865, di Perairan Pemuteran, Bali
Barat
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Magister Sains (M.Si) pada Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing I
:
Prof. Dr. Ir. Ono K. Sumadhiharga
(....................................)
Pembimbing II
:
Drs. Sundowo Harminto, M.Sc
(....................................)
Penguji I
:
Prof. Dr. Ir. Asikin Djamali
(....................................)
Penguji II
:
Dr. rer. nat. Yasman, S.Si., M.Sc
(....................................)
Ditetapkan
Tanggal
: Depok
: 3 Januari 2012
iv
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
5
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga tesis “ANALISIS ASPEK BIOLOGI IKAN TERBANG
Cheilopogon katoptron Bleeker, 1865, DI PERAIRAN PEMUTERAN, BALI
BARAT” ini berhasil diselesaikan. Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Magister Ilmu Kelautan,
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Indonesia.
Ikan terbang Cheilopogon katoptron merupakan hasil tangkapan utama
yang banyak tertangkap dengan pengoperasian jaring insang (gillnet) di perairan
Pemuteran Bali Barat. Pemanfaatan ikan terbang yang tidak terkendali dapat
mengancam kelestarian ikan terbang. Salah satu informasi ilmiah yang dibutuhkan
dalam merumuskan kebijakan pengelolaan dan konservasi ikan terbang antara lain
adalah biologi reproduksi dan parameter lingkungan perairan. Maka itu, muncul
pemikiran yang mendorong penulis untuk meneliti aspek biologi reproduksi,
parameter lingkungan perairan dan jenis makanan utama ikan terbang di perairan
Bali Barat.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada:
1.
Prof. Dr. Ir. Ono Kurnaen Sumadhiharga, M.Sc., dan Bapak Drs. Sundowo
Harminto, M.Sc., selaku pembimbing I dan pembimbing II, yang telah
memberikan bimbingan mulai dari awal penyusunan proposal penelitian
hingga selesainya tesis ini.
2.
Prof. Dr. Ir. Asikin Djamali (Dosen pengajar Pascasarjana di F-MIPA UI),
yang telah memberikan informasi tambahan, saran, dan studi literatur.
3.
Bapak Parino (mantan Teknisi Litkayasa Penyelia di Pusat Penelitian
Oseanografi, LIPI-Jakarta), yang telah membantu dalam proses
pengumpulan data parameter fisik air laut dan identifikasi spesies ikan
terbang, mulai dari April 2011 hingga Juni 2011.
4.
Ibu Sugestiningsih (Teknisi Litkayasa Penyelia di Pusat Penelitian
Oseanografi, LIPI-Jakarta), yang telah membantu dalam proses
v
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
6
pengumpulan data dan identifikasi plankton, mulai dari April 2011 hingga
Juni 2011.
5.
Prof. Dr. Harianti (Peneliti Utama di Balai Besar Riset dan Penelitian
Budidaya Laut, Gondol-Bali), yang telah membantu dalam proses analisis
isi perut dan gonad ikan terbang, mulai dari April 2011 hingga Juni 2011.
6.
Dr. A. Harsono, M.Sc., dan Dra. Tuty Handayani, M.S., selaku Ketua dan
Sekretaris Program Magister Ilmu Kelautan, Fakultas MIPA, Universitas
Indonesia.
7.
Bapak Miazwir dan segenap pimpinan di Direktorat Jenderal Perikanan
Tangkap, yang telah memberikan bantuan dan dukungan non-teknis,
sehingga penulis dapat menyelesaikan tahapan perkuliahan hingga
penyusunan laporan akhir pada Program Magister Ilmu Kelautan, Fakultas
MIPA, Universitas Indonesia.
8.
Isteriku (Arik Sulandari) dan anak-anakku tercinta (Azim Asshidiq Rama
Dhani & Qaisara Shifa Batrishyadhani), yang telah memberikan semangat
dan motivasi yang luar biasa, sehingga ayah dapat menyelesaikan
penulisan tesis ini tepat pada waktunya.
9.
Para sahabat dan teman-teman se-angkatan pada Program Magister Ilmu
Kelautan, Fakultas MIPA, Universitas Indonesia, yang telah memberi
teladan yang baik.
Demikian tulisan ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Penulis sadar masih
banyak kekurangan dalam penulisan karya ilmiah ini, maka itu penulis berharap
adanya masukan dan saran dari para dosen, para ahli dan pemerhati yang
membaca tesis ini, demi penyempurnaannya di kemudian hari.
Depok,
Januari 2012
Penulis
vi
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
7
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS
AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertandatangan di
bawah ini:
Nama
: Dony Armanto
NPM
: 0906577034
Program Studi
: Magister Ilmu Kelautan
Fakultas
: Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jenis Karya
: Tesis
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan
kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Nonekslusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul
“Analisis Aspek Biologi Ikan Terbang Cheilopogon katoptron Bleeker, 1865,
di Perairan Pemuteran, Bali Barat”, beserta perangkat yang ada (jika
diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif ini Universitas Indonesia
berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk
pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya
selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai
pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di
: Depok
Pada tanggal : 3 Januari 201220
Yang menyatakan:
(Dony Armanto)
vii
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
8
ABSTRAK
Nama
Program Studi
Judul
: Dony Armanto
: Magister Ilmu Kelautan
: Analisis Aspek Biologi Ikan Terbang Cheilopogon
katoptron Bleeker, 1865, di Perairan Pemuteran,
Bali Barat
Aspek biologi ikan terbang merupakan salah satu informasi ilmiah yang
dibutuhkan dalam merumuskan kebijakan pengelolaannya. Aspek ini diuji pada
ikan terbang Cheilopogon katoptron yang merupakan hasil tangkapan utama
nelayan di perairan Pemuteran Bali Barat, dengan pengoperasian drift gillnet
selama bulan April-Juni 2011. Aspek biologi merupakan permasalahan utama
yang dibahas dalam penelitian, dengan tujuan untuk memperoleh informasi nisbah
kelamin, pola pertumbuhan, kondisi, masa pemijahan, kondisi lingkungan, dan
makanan. Pengumpulan sampel meliputi data panjang-berat, kematangan gonad,
isi perut, data parameter fisik air dan populasi plankton. Data dianalisis dengan
fungsi regresi, uji-t dan koefisien determinasi. Data sebaran panjang untuk ikan
terbang jantan pada 168-231 mm dan betina 158-284 mm, dengan perbandingan
sex ratio jantan-betina sebesar 1,8:1,0. Kondisi ikan terbang jenis ini dinyatakan
sebagai ikan yang kurus dan belum memasuki masa pemijahan. Pertambahan
ukuran panjang ikan memberikan pengaruh yang nyata dan keeratan yang tinggi
terhadap pertambahan berat ikan terbang Cheilopogon katoptron jantan (2,6 %)
dan betina (1,8 %). Pertambahan panjang ikan juga memberikan pengaruh yang
nyata terhadap volume isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron, yakni pada
kisaran 1,7 - 2,8 %. Pada bulan Juni 2011, perairan Pemuteran Bali Barat diduga
terjadi upwelling, yang didukung oleh data parameter fisik air laut dan adanya
lonjakan pertumbuhan fitoplankton.
Kata kunci: biologi reproduksi, Bali Barat, Cheilopogon katoptron, drift
gillnet, upwelling
viii
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
9
ABSTRACT
Name
Studied Programme
Title
: Dony Armanto
: Magister Ilmu Kelautan
: Analysis of Biological Aspects on Flying Fish
Cheilopogon katoptron Bleeker, 1865, in Pemuteran
Waters, West Bali
Biological aspects of flying fish is one of the scientific information needed
to formulate management policy. This aspect was tested on Cheilopogon
katoptron which the main catches of fishermen in the waters of Pemuteran Bali
Barat, with the operation of drift gillnet during of April to June 2011. Biologycal
aspect is the main issue discussed in the research, with the aim to obtain
information sex ratio, growth patterns, conditions, spawning time, food and
environmental conditions. Samples collection was cover of length-weight data,
gonad maturity, stomach contents, physical water parameters and plankton
populations. Data were analyzed with regression, t-test and determination
coefficient. Data on the distribution of the length on male was 168-231 mm and
female was 158-284 mm, with a sex ratio of male-female were 1.8:1.0. The
condition of fish flying fish species is expressed as a skinny and have not entered
the spawning period. Added fish length gives a real impact and high closeness of
flying fish weight Cheilopogon katoptron, males (2.6 %) and females (1.8 %).
Fish length also provide a noticeable effect on the stomach contents volume of, in
the range of 1.7 % to 2.8 %. In June 2011, the waters of Pemuteran Bali Barat is
suspected upwelling, which is supported by the data of physical water parameters
and occurrence of phytoplankton blooming.
Keywords: Cheilopogon katoptron, drift gillnet, reproductive biology,
upwelling, West Bali
ix
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
10
DAFTAR ISI
halaman
SAMPUL ..............................................................................................................
HALAMAN JUDUL ...........................................................................................
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .............................................
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................
KATA PENGANTAR ......................................................................................
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .......................
ABSTRAK ..........................................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................
DAFTAR TABEL ..............................................................................................
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................
DAFTAR RUMUS .............................................................................................
i
ii
iii
iv
v
vii
viii
x
xiii
xiv
xvi
I.
PENDAHULUAN .......................................................................................
1.1 Latar belakang ..................................................................................... 16
1.2 Perumusan masalah ............................................................................. 18
1.3 Jenis penelitian .................................................................................... 20
1.4 Tujuan penelitian ................................................................................. 20
1.5 Batasan penelitian ................................................................................ 20
17
17
19
21
21
21
II. TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................
2.1 Pengertian umum perikanan ................................................................ 22
2.2 Sumberdaya ikan terbang .................................................................... 22
2.2.1 Taksonomi dan ciri-ciri ikan terbang ....................................... 22
2.2.2 Habitat dan sebaran geografis ikan terbang ............................. 24
2.2.3 Keragaman spesies ikan terbang .............................................. 26
2.2.4 Tingkah laku ikan terbang ....................................................... 27
2.2.5 Struktur populasi ikan terbang ................................................. 28
2.2.6 Musim dan kelimpahan ikan terbang ....................................... 29
2.2.7 Makanan dan predator ikan terbang ......................................... 29
2.3 Biologi reproduksi ikan terbang .......................................................... 31
2.3.1 Nisbah kelamin ikan terbang ................................................... 32
2.3.2 Faktor kondisi ikan terbang ..................................................... 32
2.3.3 Tingkat kematangan gonad ikan terbang ................................. 32
2.3.4 Indeks kematangan gonad ikan terbang ................................... 34
2.3.5 Fekunditas ikan terbang ........................................................... 35
2.3.6 Diameter telur .......................................................................... 35
2.4 Plankton ...............................................................................................
2.4.1 Distribusi dan peranan plankton .............................................. 35
2.4.2 Struktur komunitas dan kelimpahan ........................................
23
23
23
23
25
27
28
29
30
30
32
33
33
33
35
35
36
36
36
37
x
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
11
2.4.2.1 Indeks keanekaragaman .............................................. 37
2.4.2.2 Indeks keseragaman .................................................... 39
2.4.2.3 Indeks dominansi ........................................................ 37
2.4.3 Keanekaragaman plankton ....................................................... 37
2.4.3.1 Fitoplankton ................................................................ 37
2.4.3.2 Zooplankton ................................................................ 39
Potensi dan tingkat pemanfaatan ikan terbang .................................... 40
Kapal dan alat alat tangkap jaring insang ............................................ 42
Baku mutu air laut ............................................................................... 44
2.7.1 Suhu air laut ............................................................................. 45
2.7.2 Derajat keasaman (pH) air laut ................................................ 45
2.7.3 Salinitas ...................................................................................
2.7.4 Oksigen terlarut ....................................................................... 47
2.7.5 Kecerahan ................................................................................ 47
Fenomena upwelling .............................................................................
37
38
38
38
38
39
40
42
44
45
45
46
47
47
48
III. METODE PENELITIAN ...........................................................................
3.1 Lokasi penelitian ................................................................................. 49
3.2 Bahan dan alat ..................................................................................... 49
3.3 Pengumpulan data ............................................................................... 50
3.3.1 Data sampel ikan terbang ........................................................ 50
3.3.2 Data parameter fisik air .......................................................... 51
3.3.3 Data plankton .......................................................................... 51
3.4 Uji laboratorium ................................................................................. 51
3.4.1 Pengamatan isi perut ikan terbang .......................................... 51
3.4.2 Pengamatan gonad ikan terbang ............................................. 52
3.5 Pengolahan data ................................................................................... 52
3.5.1 Nisbah kelamin ....................................................................... 52
3.5.2 Faktor kondisi ......................................................................... 53
3.5.3 Tingkat kematangan gonad .................................................... 53
3.5.4 Indeks kematangan gonad ....................................................... 53
3.5.5 Fekunditas ............................................................................... 54
3.6 Analisis Hubungan panjang dengan berat ikan terbang ...................... 54
51
51
51
52
52
53
53
53
53
54
54
54
54
55
55
55
56
2.5
2.6
2.7
2.8
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 59
4.1 Kondisi umum ikan terbang Cheilopogon katoptron .......................... 59
4.2 Hasil dan Pembahasan ......................................................................... 63
4.2.1 Sebaran panjang-berat ikan terbang Cheilopogon katoptron .. 59 63
4.2.2 Nisbah kelamin ikan terbang Cheilopogon katoptron ............. 6 1 65
4.2.3 Faktor kondisi ikan terbang Cheilopogon katoptron ............... 66
4.2.4 Tingkat kematangan gonad ikan terbang Cheilopogon
katoptron .................................................................................. 67
4.2.5 Parameter fisik air laut ............................................................. 65 69
4.2.6 Komposisi plankton ................................................................. 67 71
4.2.6.1 Fitoplankton ............................................................... 67 71
4.2.6.2 Zooplankton ............................................................... 69 73
xi
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
46
12
4.2.7 Komposisi isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron ....... 70 76
4.2.8 Hubungan panjang dan berat ikan terbang Cheilopogon
katoptron .................................................................................. 78
4.2.9 Hubungan isi perut dan panjang ikan terbang Cheilopogon
katoptron ................................................................................... 82
V. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................
5.1 Kesimpulan ..........................................................................................
5.2 Saran ....................................................................................................
86
86
87
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................................
88
LAMPIRAN ..........................................................................................................................................
96
xii
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
13
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Tingkat kematangan gonad ikan terbang Hirundichthys
oxycephalus .......................................................................................
Tabel 2.2. Kriteria kualitas air berdasarkan indeks keanekaragaman
Shannon-Wiener ................................................................................
Tabel 2.3 Beberapa parameter baku mutu air laut .............................................
Tabel 4.1. Tingkat kematangan gonad ikan terbang Cheilopogon katoptron ....
Tabel 4.2. Kondisi rata-rata kualitas air laut di perairan Pemuteran Bali Barat,
bulan April-Juni 2011 ........................................................................
Tabel 4.3. Indeks keanekaragaman dan kemerataan Shannon-Wiener
fitoplankton di perairan Pemuteran, bulan April-Juni 2011 ..............
Tabel 4.4. Indeks keanekaragaman dan kemerataan Shannon-Wiener
zooplankton di perairan Pemuteran, bulan April-Juni 2011 ..............
Tabel 4.5. Hasil analisis pengaruh panjang terhadap berat ikan terbang
Cheilopogon katoptron, bulan April-Juni 2011 ................................
Tabel 4.6. Sebaran data isi perut dan panjang ikan terbang Cheilopogon
katoptron, bulan April-Juni 2011 ......................................................
Tabel 4.7. Hasil analisis pengaruh panjang terhadap isi perut ikan terbang
Cheilopogon katoptron, bulan April-Juni 2011 ................................
34
38
44
68
70
72
75
80
82
84
xiii
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
14
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1. Kerangka pikir penelitian tentang ikan terbang Cheilopogon
katoptron di perairan Pemuteran, Bali Barat ...............................
Gambar 2.1. Taksonomi ikan terbang Cheilopogon katoptron .........................
Gambar 2.2. Sebaran geografis ikan terbang di Indonesia ................................
Gambar 2.3. Jenis-jenis plankton makanan ikan terbang ..................................
Gambar 2.4. Ikan terbang yang diasap di Desa Sririt, Pemuteran,
Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali ..............................................
Gambar 2.5. Konstruksi alat tangkap jarring insang .........................................
Gambar 2.6. Sistem operasi jaring insang hanyut ............................................
Gambar 3.1. Lokasi penelitian di perairan Pemuteran, Bali Barat ....................
Gambar 4.1 Kapal penangkap ikan terbang di perairan Pemuteran .................
Gambar 4.2. Beberapa spesies ikan terbang yang tertangkap di perairan
Pemuteran, Bali Barat ...................................................................
Gambar 4.3. Sebaran frekuensi ikan terbang Cheilopogon katoptron
berdasarkan selang panjang total (mm), April-Juni 2011 ............
Gambar 4.4. Perbedaan ukuran panjang rata-rata ikan terbang Cheilopogon
katoptron di perairan Pemuteran, Bali Barat, April-Juni 2011 ....
Gambar 4.5. Nisbah kelamin ikan terbang Cheilopogon katoptron per
selang panjang total (mm) ............................................................
Gambar 4.6. Nisbah kelamin ikan terbang Cheilopogon katoptron ...................
Gambar 4.7. Sebaran faktor kondisi ikan terbang Cheilopogon katoptron
jantan dan betina per bulan ...........................................................
Gambar 4.8. Struktur histologis gonad ikan terbang C. katoptron betina .........
Gambar 4.9. Tingkat kematangan gonad ikan terbang Cheilopogon
katoptron per bulan .......................................................................
Gambar 4.10. Jumlah rata-rata fitoplankton per spesies (sel/m3), April-Juni
2011 ..............................................................................................
Gambar 4.11. Jumlah rata-rata individu fitoplankton (sel/m3) per bulan ............
Gambar 4.12. Komposisi jumlah rata-rata zooplankton per genus
(ind/103 m3), April-Juni 2011 .....................................................
Gambar 4.13. Komposisi isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron
berdasarkan kelompok makanan per bulan ..................................
Gambar 4.14. Makanan Utama ikan terbang Cheilopogon katoptron di
perairan Pemuteran, Bali Barat, April-Juni 2011 .........................
Gambar 4.15. Komposisi isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron
per selang panjang, April-Juni 2011 .............................................
Gambar 4.16. Hubungan panjang dan berat ikan terbang Cheilopogon
katoptron, April 2011 ...................................................................
Gambar 4.17. Hubungan panjang dan berat ikan terbang Cheilopogon
katoptron, Mei 2011 .....................................................................
xiv
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
20
25
26
32
42
43
44
51
59
60
64
64
65
66
67
68
69
73
73
75
76
77
77
78
79
15
Gambar 4.18. Hubungan panjang dan berat ikan terbang Cheilopogon
katoptron, Juni 2011 .....................................................................
Gambar 4.19. Hubungan ukuran panjang ikan dengan isi perut ikan terbang
Cheilopogon katoptron, April-Juni 2011 .....................................
xv
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
80
83
16
DAFTAR RUMUS
Halaman
Rumus 3.1.
Rumus 3.2.
Rumus 3.3.
Rumus 3.4.
Rumus 3.5.
Rumus 3.6.
Rumus 3.7.
Persamaan nisbah kelamin ..............................................................
Persamaan faktor kondisi allometrik ..............................................
Persamaan faktor kondisi isometrik ................................................
Persamaan indeks kematangan gonad .............................................
Persamaan fekunditas .....................................................................
Persamaan hubungan panjang dengan berat ...................................
Persamaan fungsi regresi ................................................................
54
55
55
55
56
56
57
xvi
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
17
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan terbang (Exocoetidae) merupakan salah satu sumberdaya ikan pelagis
kecil yang mempunyai ciri khusus berupa kemampuan untuk dapat terbang di atas
permukaan air. Ikan terbang menghuni lapisan permukaan perairan tropis dan
subtropis dari samudera Pasifik, Hindia, Atlantik dan laut-laut disekitarnya. Paling
sedikit telah diketahui 18 species ikan terbang yang tersebar di perairan Indonesia
(Weber & De Beaufort,1992).
Ikan terbang banyak dijumpai di perairan timur Indonesia, di antaranya
adalah Selat Makassar, Laut Flores, Laut Natuna, Laut Aru, Laut Arafura Papua,
bagian utara Sulawesi Utara, perairan Bali dan Jawa Timur, pantai barat Sumatera
Barat, Laut Halmahera, Laut Banda, perairan Sabang (Banda Aceh) dan laut utara
Papua (Syahailatua, 2006).
Ikan terbang di perairan Bali masuk dalam kelompok sumberdaya ikan
pelagis kecil di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 713 dengan jangkauan
wilayah perairan mulai dari Selat Makassar hingga ke Laut Flores. Pada tahun
2010, potensi lestari ikan terbang di WPP 713 mencapai 605.400 ton per tahun.
Namun dengan tingkat pengusahaan yang sangat tinggi, ikan terbang di beberapa
wilayah perairan Indonesia, khususnya di WPP 713 telah mengalami overfishing.
Tingkat pengusahaan/eksploitasi ikan terbang di Indonesia secara total mulai dari
tahun 2000-2010 mengalami penurunan sebesar 3,01% (Direktorat Jenderal
Perikanan Tangkap, 2010).
Pemanfaatan ikan terbang yang tidak terkendali telah mengancam
kelestarian ikan terbang (Nessa et al., 1977; Nessa 1978; Ali 1981; Nessa et al.,
1993; Ali et al., 2004a; 2004b; 2005), sehingga dalam rangka pemulihannya
diperlukan suatu rencana pengelolaan dan konservasi agar pemanfaatan ikan
terbang dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pada tahun 1980, peneliti dari Universitas Hasanuddin memulai riset yang
lebih mendalam untuk aspek reproduksi (Ali, 1981), namun lokasi penelitian
17
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
18
sangat terbatas hanya di perairan Selat Makassar dan Laut Flores. Tahun 1990,
penelitian perikanan ikan terbang tetap dilakukan namun secara sporadik di
beberapa lokasi dengan berbagai aspek, antara lain Peristiwady (1991); Nessa et
al. (1992); Wijanarko (1994); Ali (1994); Andamari dan Zubaidi (1994); Nessa et
al. (2005); dan Rizal (1996). Selanjutnya, pada awal abad-21, penelitian ikan
terbang di Selat Makassar dan Laut Flores kembali semarak dengan sedikitnya ada
empat kajian yang mendalam (Baso, 2004; Sihotang, 2005; Ali, 2005; dan Yahya,
2006). Dalam kurun waktu yang sama (2004-2006), LIPI melalui program Sensus
Biota Laut mencoba untuk mengkaji kembali ikan terbang sebagai salah satu
komoditi perikanan yang dapat diunggulkan (Syahailatua, 2004b & 2005).
Informasi ilmiah yang dibutuhkan dalam merumuskan kebijakan
pengelolaan dan konservasi ikan terbang antara lain adalah distribusi dan
keragaman, musim dan kelimpahan, ekologi, biologi dan reproduksi, dinamika
populasi, struktur populasi, teknologi penangkapan, pasca-panen dan sosial
ekonomi. Informasi tentang komposisi ukuran merupakan aspek penting dalam
mempelajari biologi ikan, fisiologi, ekologi dan dasar yang digunakan untuk
mengetahui tentang faktor kondisi ikan serta mendeterminasi sifat pertumbuhan
ikan apakah isometrik atau alometrik melalui analisis hubungan panjang dan
bobot ikan (Ricker, 1975). Informasi kebiasaan makanan ikan juga merupakan
faktor yang menentukan bagi populasi pertumbuhan dan kondisi ikan (Effendie,
2002). Jumlah sediaan ikan di suatu lokasi merupakan fungsi dari potensialitas
makanan, sehingga pengetahuan yang benar dari hubungan antara ikan dan
organisme makanannya sangat penting untuk prediksi dan eksploitasi dari ikan
tersebut (Nikolsky, 1963).
Ketersediaan makanan di suatu perairan, meliputi jumlah dan kualitas
makanan serta kemudahan mendapatkan makanan tersebut, merupakan faktor
yang memengaruhi besarnya populasi ikan di perairan tersebut. Makanan yang
diambil oleh ikan dan dimanfaatkan dalam siklus metabolisme tubuhnya akan
berpengaruh perubahan pertumbuhan, reproduksi, dan tingkat keberhasilan hidup
untuk tiap-tiap individu ikan diperairan tersebut. Ketersediaan makanan disuatu
perairan dipengaruhi oleh kondisi biotik dan abiotik lingkungan, seperti suhu,
cahaya, ruang dan luas permukaan (Effendie, 2002).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
19
Beberapa kawasan penghasil ikan terbang mungkin dapat dijadikan
alternatif pilihan untuk penelitian ikan terbang, diantaranya adalah kawasan
perairan Bali Barat. Kawasan Bali dan sekitarnya (sepanjang Laut Flores bagian
selatan) merupakan salah satu penghasil ikan terbang setelah kawasan Sulawesi
Selatan (sepanjang pantai timur Selat Makasar). Namun demikian, ikan terbang di
kawasan Bali dan sekitarnya belum dikelola dengan baik dan optimal. Kawasan
Bali dan sekitarnya juga mendukung upaya pengembangan ekonomi ikan terbang,
karena kedekatan akses kepada pembeli dan pusat teknologi.
Berdasarkan berbagai isu dan permasalahan diatas, maka informasi ilmiah
terkait aspek biologi reproduksi ikan terbang di perairan Pemuteran Bali Barat
sangat diperlukan, dalam rangka pengelolaan ikan terbang Cheilopogon katoptron
di perairan Pemuteran Bali Barat secara berkelanjutan, serta bermanfaat dalam
menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang perikanan ikan terbang di
Indonesia pada umumnya.
1.2 Perumusan Masalah
Salah satu aspek untuk mendukung upaya pengelolaan sumberdaya ikan
adalah pengetahuan dasar mengenai aspek biologi, lingkungan dan makanan.
Maka itu, untuk menambah pengetahuan dasar dalam rangka pengelolaan ikan
terbang Cheilopogon katoptron di perairan Pemuteran Bali Barat, dirumuskan
beberapa masalah yang menjadi faktor keberlanjutan potensi perikanan ikan
terbang sebagai berikut:
a. Bagaimana kondisi aspek biologi reproduksi dan lingkungan ikan terbang
Cheilopogon katoptron di perairan Pemuteran, Bali Barat?
b. Apa jenis makanan utama ikan terbang Cheilopogon katoptron di
perairan Pemuteran, Bali Barat?
c. Berapa besar pengaruh pertambahan panjang terhadap berat ikan
Cheilopogon katoptron di perairan Pemuteran, Bali Barat?
d. Berapa besar pengaruh pertambahan panjang terhadap tingkat nafsu
makan ikan Cheilopogon katoptron di perairan Pemuteran, Bali Barat?
Rumusan masalah tersebut menjadi landasan pemikiran dalam mengambil
topik dan tema penelitian, sehingga diperoleh judul “Analisis Aspek Biologi Ikan
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
20
Terbang Cheilopogon katoptron Bleeker, 1865, di Perairan Pemuteran, Bali
Barat”, sebagaimana diilustrasikan dalam kerangka pikir penelitian di bawah ini
(Gambar 1.1).
Pengelolaan
Sumberdaya
Ikan Terbang
Perairan Pemuteran,
Bali Barat
Daerah Penangkapan
Kapal katinting
dengan alat
tangkap drift
gillnet
Penangkapan
Utama
Dinamika
Populasi
Penelitian Ikan
Terbang
Aspek Biologi
-
Sebaran panjang-berat
Nisbah kelamin
Faktor kondisi
Tingkat kematangan gonad
Suhu,
Salinitas,
pH, DO,
kecerahan
Plankton
Makanan utama
ikan terbang
Informasi biologi reproduksi, parameter
fisik air laut dan makanan utama ikan
terbang Cheilopogon katoptron di
perairan Bali Barat
Gambar 1.1. Kerangka pikir penelitian tentang ikan terbang Cheilopogon
katoptron di perairan Pemuteran Bali Barat
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
21
1.3 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan survei.
Pada penelitian ini, dideskripsikan aspek biologi reproduksi ikan terbang
Cheilopogon katoptron, parameter fisik air laut perairan Pemuteran dan isi perut
ikan terbang Cheilopogon katoptron yang tertangkap di perairan Pemuteran, Bali
Barat pada bulan April-Juni 2011.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
a.
Menganalisis kondisi aspek biologi, parameter fisik air dan jenis
makanan utama ikan terbang Cheilopogon katoptron di perairan
Pemuteran-Bali Barat.
b.
Menganalisis pengaruh dan keeratan hubungan pertambahan panjang
terhadap berat ikan terbang Cheilopogon katoptron.
c.
Menganalisis pengaruh dan keeratan hubungan ukuran panjang
terhadap volume isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah untuk menambah khasanah ilmu
pengetahuan tentang ikan terbang Cheilopogon katoptron, khususnya di perairan
Pemuteran Bali Barat, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Informasi biologi yang
diperoleh dari penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan
informasi dalam pengambilan kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan ikan
terbang secara berkelanjutan di perairan Bali pada umumnya.
1.5 Batasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada ikan terbang dari spesies Cheilopogon
katoptron, yang tertangkap dengan alat tangkap drift gillnet. Wilayah penelitian
dilakukan di perairan Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, pada bulan
April 2011 hingga Juni 2011. Aspek yang diteliti dalam penelitian ini meliputi
beberapa aspek biologi reproduksi (sebaran panjang-berat, nisbah kelamin, tingkat
kematangan gonad, faktor kondisi), parameter fisik air laut (suhu, salinitas, pH,
DO, kecerahan), populasi plankton (fitoplankton dan zooplankton), serta jenis
makanan utama ikan terbang Cheilopogon katoptron di perairan Pemuteran Bali
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
22
Barat. Analisis data dilakukan pada variabel panjang, berat dan isi perut ikan
terbang Cheilopogon katoptron, guna mengukur persentase pengaruh dan keeratan
hubungan antar variabel.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
23
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Umum Perikanan
Perikanan adalah suatu usaha yang menghasilkan atau mengeksploitasi
semua benda-benda yang hidup dan berada di suatu perairan (aquatic resources).
Sumberdaya perikanan adalah seluruh binatang dan tumbuhan yang hidup di
perairan (baik di darat maupun di laut). Oleh sebab itu, perikanan dibedakan
menjadi perikanan darat dan perikanan laut. Perikanan sebagai suatu usaha
dimulai dengan usaha melakukan penangkapan ikan (fishing), budidaya ikan, dan
kegiatan pengelolaan hingga pemasaran hasil (Mubyarto, 1995).
Sumberdaya perikanan di perairan Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga
golongan besar yaitu sumberdaya ikan pelagis, sumberdaya ikan demersal, dan
biota non-ikan. Sumberdaya ikan pelagis adalah spesies ikan yang hidup/berada di
sekitar permukaan. Ikan pelagis terdiri dari dua kelompok besar yaitu ikan pelagis
besar dan ikan pelagis kecil. Sumberdaya ikan demersal adalah spesies ikan atau
biota lain yang hidup di dasar perairan. Biota non-ikan yang mempunyai nilai
ekonomis penting antara lain cumi-cumi, teripang, kekerangan, dan rumput laut
(Direktorat Jenderal Perikanan, 1979).
2.2 Sumberdaya Ikan Terbang
2.2.1 Taksonomi dan Ciri-Ciri Ikan Terbang
Sistematika ikan terbang pertama kali ditulis oleh Linneaus pada tahun
1758, khususnya spesies Exocoetus volitans. Sampai pada pertengahan abad-19,
penelitian lebih banyak pada aspek taksonomi dan anatomi, setelah itu mulai
dipelajari aspek biologi lainnya dari ikan terbang (Davenport, 1994).
Ikan terbang (Exocoetidae) mempunyai delapan genus, yaitu Cheilopogon
(30 spesies), Cypselurus (11 spesies), Exocoetus (2 spesies), Fodiator (2 spesies),
Hirundichthys (7 spesies), Oxyporhampus (3 spesies), Parexocoetus (3 spesies),
dan Prognichthys (4 spesies) (Delsman & Hardenberg, 1931; Saanin, 1984;
Hutomo et al., 1985; Parin, 1999; Froese & Pauly, 2006).
23
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
24
Namun, revisi taksonomi ikan terbang memisahkan genus Cypselurus dan
Cheilopogon (Parin, 1999; Syahailatua, 2004a & 2006), serta memindahkan
beberapa spesies ke genus yang lain, sehingga spesies-spesies yang umum dikenal
di Indonesia mengalami pergantian nama ilmiahnya, seperti Cypselurus
oxycephalus menjadi Hirundichthys oxycephalus (Syahailatua, 2006).
Ikan terbang berdasarkan jumlah sayapnya dikelompokkan dalam dua
kategori, yaitu (a) kelompok dua sayap yaitu mempunyai satu pasang sayap dada
seperti Exocoetus dan Vodiator, dan (b) kelompok empat sayap yaitu mempunyai
satu pasang sayap dada dan satu pasang sayap ventral yang panjang seperti
Cypselurus dan Hirundichthys. Ikan terbang yang bersayap empat ukurannya
lebih besar daripada ikan yang bersayap dua. Ikan terbang dewasa dapat mencapai
panjang 150-500 mm (Davenport, 1994). Di Indonesia ukuran paling umum 200
mm (Hirundichthys oxycephalus), dan yang paling panjang 300 mm (Cypselurus
poecilopterus) (Hutomo et al., 1985).
Spesies ikan terbang secara umum memiliki ciri berupa bentuk tubuh yang
bulat memanjang seperti cerutu (oblong), agak mampat pada bagian samping.
Bagian atas tubuh dan kepala berwarna gelap, bagian bawah tubuh mengilap, hal
ini dimaksudkan untuk menghindari pemangsa baik dari air seperti ikan lumbalumba maupun dari udara, yaitu burung pemakan ikan. Kedua rahangnya sama
panjang. Memiliki duri-duri lemah pada sirip dorsal berjumlah 10-12, sirip anal
berjumlah 11-12, dan sirip pektoral sebanyak 14-15, dengan sirip pertama tidak
bercabang (Parin, 1999). Sirip pektoral panjang yang diadaptasikan untuk
melayang. Sirip ventral panjang atau pendek, tertancap pada bagian abdominal
dengan enam buah duri lemah yang bercabang. Sirip ekor bercagak dengan bagian
bawah lebih panjang. Garis lateral terletak pada bagian bawah tubuh (Hutomo et
al., 1985).
Menurut Syahailatua (2004a), ikan terbang memiliki beberapa nama lokal,
di antaranya adalah ikan siloar (Binuangeun), ikan terbang (Ternate dan
Palabuhanratu), antoni (Minahasa, Sangir, Talaud, Bitung), tuing-tuing (Bugis),
torani (Makassar), tourani (Mandar). Klasifikasi taksonomi ikan terbang
Cheilopogon katoptron Bleeker, 1865 dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
25
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Beloniformes
Famili : Exocoetidae
Genus : Cheilopogon
Spesies : Cheilopogon katoptron
Gambar 2.1. Taksonomi ikan terbang Cheilopogon katoptron Bleeker, 1865
2.2.2 Habitat dan Sebaran Geografis Ikan Terbang
Ikan terbang merupakan ikan pelagis kecil yang menghuni lapisan
permukaan perairan (laut) tropis dan subtropis pada kedalaman 0-20 m. Ikan ini
tersebar pada Samudera Pasifik, Hindia, Atlantik dan laut di sekitarnya. Sebaran
dari ikan ini dibatasi oleh isotherm 20°C. Jumlah spesies terbanyak terdapat di
wilayah khatulistiwa, makin ke utara dan selatan makin sedikit spesiesnya.
Terdapat 5 hingga >20 spesies ikan terbang ditemukan di bagian tengah Samudera
Pasifik (Oseania), 12-13 spesies ditemukan di perairan pulau-pulau Hawaii,
perairan pantai Australia dihuni oleh 10 spesies, perairan Selandia Baru oleh 6
spesies, sedangkan di pantai Amerika bagian Samudera Pasifik dilaporkan
ditemukan lebih dari 12 spesies (Hutomo et al.,1985).
Samudera Pasifik merupakan daerah yang kaya ikan terbang dengan sekitar
40 spesies yang menghuninya, terutama di perairan Indonesia, Filipina, Jepang
bagian selatan dan Oseania. Dengan kata lain, perairan ini merupakan pusat
penyebaran ikan terbang (Hutomo et al.,1985).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
26
Ikan terbang banyak dijumpai di perairan timur Indonesia, di antaranya
adalah Selat Makassar, Laut Flores, Laut Natuna, Laut Aru, Laut Arafura Papua,
bagian utara Sulawesi Utara, perairan selatan Bali dan Jawa Timur, pantai barat
Sumatera Barat, Laut Halmahera, Laut Banda, perairan Sabang (Banda Aceh) dan
laut utara Papua.
Menurut Sihotang (2004), ikan terbang di Sulawesi Selatan melakukan
ruaya untuk keberhasilan penetasan telur dan ketersediaan makanan anaknya.
Ruaya pemijahan ini memiliki pengaruh langsung terhadap proses rekruitmen dan
mortalitas. Ikan terbang bukan tipe ikan peruaya jarak jauh, ikan ini hanya
beruaya dekat pantai dan kearah laut. Ikan terbang merupakan spesies ikan
oseanodrom, artinya ikan yang seluruh daur hidupnya berada di laut, memijah di
laut, mulai dari telur, kemudian menetas menjadi larva, lalu juvenil, dan dewasa di
laut. Gambar 2.2 menyajikan sebaran geografi ikan terbang di Indonesia
(Syahailatua, 2006).
2
1
3
11
3
8
4
Gambar 2.2. Sebaran geografis ikan terbang di Indonesia [Sumber: Syahailatua, 2006]
Menurut Hutomo et al. (1985), distribusi ikan terbang di perairan
Indonesia terdapat di wilayah perairan bagian barat maupun bagian timur
Indonesia. Beberapa wilayah perairan yang merupakan wilayah distribusi ikan
terbang di Indonesia antara lain Selat Makassar, Laut Flores, Laut Banda, Laut
Sulawesi, Laut Maluku, Laut Sawu, Teluk Tomini dan Laut Jawa.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
27
2.2.3 Keragaman Spesies Ikan Terbang
Hutomo et al. (1985) pernah merangkum sekitar 53 spesies ikan terbang di
dunia, masing-masing 17 spesies di Samudera Atlantik, 11 spesies di Samudera
Hindia dan 40 spesies di Samudera Pasifik. Di Samudera Pasifik, Nelson (1994)
mencatat sekitar 50-60 spesies. Publikasi terakhir yang dilaporkan Parin (1999) di
bagian tengah Pasifik terdapat 6 genus-genus dan 31 spesies, yaitu Cheilopogon
14 spesies, Cypselurus 7 spesies, Exocoetus 3 spesies, Hirundichthys 3 spesies
dan Prognichthys 2 spesies. Wilayah khatulistiwa mempunyai jumlah spesies
lebih banyak dan semakin ke selatan atau ke utara jumlah spesiesnya semakin
sedikit (Hutomo et al., 1985). Di sebelah barat Luzon (Filipina) ikan terbang
didominasi oleh Hirundichthys oxcycephalus (Dalzell, 1993) dan beberapa spesies
lain, yaitu Cypselurus poecilopterus, Cheilopogon nigricans, Cheilopogon
cyanopterus, Paraexocoetus brachypterus, dan Hirundichthys rondeletti.
Dari 18 spesies ikan terbang yang ada diperairan Indonesia, 15 diantaranya
telah dikoleksi oleh Lembaga Oseonologi Nasional-LIPI. Dari 15 spesies ini 12
spesies berada di genus Cypselurus (Hutomo et al., 1985). Khusus diperairan
Selat Makassar dan Laut Flores diidentifikasi 3 genus dan 11 spesies, yaitu
Cypselurus oxycephalus, C. oligolepis, C. poecilopterus, C. altipennis, C.
speculiger, C. ophisthopus, C. nigricans, C. swainson, Cypselurus sp, Evolantia
micropterus, dan Proghnichthys sealei (Nessa et al., 1977). Menurut Ali (1981),
yang paling dominan di Laut Flores Sulawesi Selatan adalah C. oxycephalus dan
C. poecilopterus.
Informasi tentang keragaman spesies ikan terbang di beberapa wilayah
perairan atau wilayah penangkapan di Indonesia sangat kurang. Di seluruh
Indonesia, Hutomo et al. (1985) pernah merangkum jumlah spesies ikan terbang
di Indonesia sekitar 18 spesies namun belum menunjukkan keragaman
berdasarkan wilayah penyebaran atau wilayah penangkapan. Di Selat Makassar
dan Laut Flores (Sulawesi Selatan), Nessa et al. (1977) mengidentifikasi sekitar
11 spesies ikan terbang yaitu Hirundichthys oxycephalus, Cypselurus altipennis,
Cypselurus speculiger, Cypselurus oligolepis, Cypselurus ophisthopus,
Cypselurus nigricans, Cypselurus poecilopterus, Cypselurus swainson,
Cypselurus sp. Evolantia micropterus, dan Proghnithys sealei. Di Laut Flores dan
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
28
Selat Makassar didominasi oleh spesies ikan terbang Hirundichthys oxycephalus
atau Cypselurus oxycephalus yang dikenal dengan nama lokal torani atau tuingtuing (Nessa et al., 1977; Ali, 1981).
2.2.4 Tingkah Laku Ikan Terbang
Ikan terbang tergolong ikan pelagis kecil, hidup di permukaan laut,
termasuk perenang cepat, dapat tertarik oleh cahaya pada malam hari, dan mampu
meluncur keluar dari permukaan air dan melayang di udara (Munro, 1967;
Davenport, 1994; Parin, 1999). Kecepatan renang ikan terbang 35-40 mil per jam
dan dapat mencapai 100 m dalam waktu kurang lebih 10 detik (Nikolsky, 1963).
Penelitian mekanisme terbang ikan ini telah diteliti dengan bantuan alat
fotografi (stroboscopic filming) untuk pengembangan ilmu pengetahuan
aerodinamika. Tingkah laku ikan terbang diuraikan oleh Davenport (1994), bahwa
sirip dan gelembung gas mempunyai peranan keseimbangan di udara. Sirip dada
(pectoral fin) yang lebar berfungsi sebagai alat keseimbangan terutama pengaruh
grativasi. Sirip ekor sebagai alat pendorong ketika akan mulai terbang (taxing
flight). Sirip dada dikendalikan oleh otot-otot aerobik masing-masing, otot lateral
membuka sayap dan otot medial melipat sayap.
Dalam proses terbang, pertama-tama ikan berenang mendekati permukaan
air dengan sayap terlipat, kemudian keluar dari permukaan laut dengan dengan
sudut 30o dari permukaan air, sayap dibuka lalu melakukan taxing flight sekitar 525 m. Pada saat taxing flight, sirip ekor berputar setengah lingkaran sebanyak 5070 kali/detik untuk menimbulkan dorongan, kemudian ikan lepas dari permukaan
air dan terbang dengan kecepatan sekitar 72 km/jam. Setelah mencapai jarak 50 m
dengan ketinggian sekitar 8 m ikan mulai turun dan ekornya masuk terlebih
dahulu ke dalam air. Kemudian ekor kembali mendorong untuk melakukan
terbang ulang. Dalam waktu 30 detik akan menempuh jarak sekitar 400 m setelah
melalui beberapa kali terbang. Tingkah laku ini bertujuan untuk menghindar dari
predator dan gangguan kapal, serta untuk menghemat energi dalam pencarian
makanan (Davenport, 1994). Berdasarkan kemampuan terbang ini, maka ikan
terbang dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok monoplanes dan
biplanes. Kelompok monoplanes seperti genus Exocoetus, terbang ke udara tanpa
meluncur di permukaan air terlebih dahulu dan dapat menempuh jarak kurang
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
29
lebih 20 m. Ikan terbang monoplanes ini memiliki kemampuan terbang yang
relatif lebih rendah dibandingkan kelompok ikan terbang bersayap empat
(biplanes). Kelompok biplanes memiliki cara terbang lebih sempurna
sebagaimana ditemukan pada spesies-spesies dari genus Cypselurus (Hutomo et
al., 1985).
2.2.5 Struktur Populasi Ikan Terbang
Hasil penelitian struktur populasi ikan terbang masih sangat terbatas
termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Fahri (2001) melaporkan ikan terbang Selat
Makassar, Teluk Manado, dan Teluk Tomini masing-masing terpisah secara
genetik sehingga ikan terbang digolongkan bukan peruaya jauh.
Informasi terakhir dilaporkan oleh Ali (2005), ikan terbang Laut Flores
dengan ikan terbang Selat Makassar secara fenotipe (morfometrik) masing-masing
merupakan sub-populasi yang berbeda. Kelompok ikan terbang Laut Flores dan
Selat Makassar mempunyai hubungan kekerabatan atau jarak genetik yang jauh.
Ikan terbang Laut Flores mempunyai keragaman morfometrik individu lebih
rendah dibanding Selat Makassar. Penangkapan berlebihan ikan terbang di Laut
Flores kemungkinan menyebabkan kehilangan individu dan potensi genetik lebih
besar, sehingga mempunyai heterozigositas lebih rendah dibanding ikan terbang
Selat Makassar.
Selanjutnya, Ali (2005) melaporkan adanya perbedaan fenotipe antara
kelompok ikan terbang yang tertangkap di sekitar perairan Takalar, Pare-Pare dan
Majene. Sifat segregasi sub-populasi ikan terbang Laut Flores dan Selat Makassar
sangat berbahaya terhadap risiko overfishing dan kepunahan, karena penangkapan
berlebihan pada satu sub-populasi daerah tertentu sulit digantikan oleh rekrutmen
dari sub-populasi daerah lain, karena ikan terbang tergolong bukan peruaya jarak
jauh. Penurunan populasi ikan terbang di Selat Makassar akibat kelebihan
penangkapan menyebabkan beberapa nelayan berhenti atau mencari daerah
penangkapan lain di luar Selat Makassar, seperti di perairan Maluku dan Papua.
Sifat segregasi sub-populasi ikan terbang pada wilayah perairan tertentu perlu
dipertimbangkan di dalam perencanaan dan pengelolaan, seperti sub-populasi ikan
terbang di Selat Makassar dan sub-populasi ikan terbang di Laut Flores
memerlukan perencanaan dan pengelolaan terpisah. Pemisahan sub-populasi ikan
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
30
terbang Hirundichthys affinis di wilayah perairan tengah barat Atlantik juga
dilaporkan oleh Gomes et al. (1998) secara genetik. Melalui analisis DNA,
terdapat tiga sub-populasi ikan terbang Hirundichthys affinis yang berbeda, yaitu
satu sub-populasi berlokasi di sebelah timur Karibia, satu di sebelah selatan
Antilen Belanda, dan satu lagi di sebelah timur laut Brazil.
2.2.6 Musim dan Kelimpahan Ikan Terbang
Di Laut Flores dan Selat Makassar (Sulawesi Selatan), musim
penangkapan berlangsung antara Januari-Oktober setiap tahun. Musim
penangkapan induk ikan terbang antara Maret-Juli, sedangkan penangkapan telur
ikan terbang antara Mei-September (Ali, 2005).
Berdasarkan analisis distribusi hasil tangkapan setiap bulan menunjukkan
adanya dua puncak musim, pertama pada bulan Februari dan kedua antara bulan
Mei-Juni. Puncak pertama digolongkan puncak sekunder, puncak kedua adalah
puncak primer karena kelimpahannya lebih tinggi (Ali et al., 2004b). Kejadian
yang sama pada ikan terbang Hirundichthys affinis di perairan Barbados yang
terdiri dari dua puncak musim, yaitu antara Desember-Januari dan antara AprilMei (Khokiattiwong et al., 2000), begitu pula ikan terbang Hirundichthys affinis
di perairan sebelah timur Karibia (Oxenford et al., 1995).
Apabila dibandingkan musim ikan terbang di sekitar perairan Selat
Makassar pada tahun 1977 yang berlangsung mulai April hingga September
(Nessa et al., 1977) dan di Laut Flores mulai Mei hingga Oktober (Ali, 1981),
maka pada tahun-tahun terakhir ini (2002-2004) ikan terbang mengalami
pergeseran musim lebih cepat 2-3 bulan dibanding tahun 1997 dan 1981.
Daerah penangkapan ikan terbang di Selat Makassar terletak pada 117o119o BT dan 1o s/d 6o LS dan di Laut Flores 117o-121o BT dan 6o-8o LS. Ikan
terbang memiliki single cohort dalam siklus hidupnya sekitar 18 bulan hanya
dapat melakukan satu kali pemijahan. Tipe pemijahan Tipe B, yaitu memijah satu
kali dalam periode yang relatif lama (5-6 bulan) pada musim kemarau.
2.2.7 Makanan dan Predator Ikan Terbang
Menurut Effendie (2002), ikan dikelompokkan berdasarkan makanannya,
yaitu sebagai pemakan plankton, pemakan tumbuhan air, pemakan dasar,
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
31
pemakan detritus, pemakan daging dan pemakan campuran. Berdasarkan kepada
jumlah variasi dari macam-macam makanan tadi, ikan dapat dibagi menjadi
euryphagic yaitu ikan pemakan bermacam-macam makanan, stenophagic yaitu
ikan pemakan makanan yang macamnya sedikit atau sempit dan monophagic,
yaitu ikan yang makanannya terdiri dari satu macam makanan saja.
Ketersediaan makanan di suatu perairan (meliputi jumlah dan kualitas
makanan serta kemudahan mendapatkan makanan tersebut) merupakan faktor
yang memengaruhi besarnya populasi ikan di perairan tersebut. Ketersediaan
makanan di suatu perairan dipengaruhi oleh kondisi biotik dan abiotik lingkungan,
seperti suhu, cahaya, ruang hidup dan luas permukaan (Effendie, 2002).
Menurut Febyanty dan Syahailatua (2008), komposisi makanan ikan terbang
Hirundicthys oxycephalus dan Cheilopogon cyanopterus di Laut Flores terdiri
kopepoda sebagai makanan utama, alga sebagai makanan pelengkap, beberapa
spesies Chaetognatha dan Malacostraca sebagai makanan tambahan. Ali (1981)
mengatakan bahwa ikan terbang dari spesies Hirundichthys oxycephalus di Laut
Flores memakan plankton yang dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu algae,
Crustacea dan Chaetognatha. Kelompok makanan yang mempunyai nilai indeks
bagian terbesar (index of preponderance) adalah krustasea (70,93%) yang terdiri
dari Copepod, Cladocera, Decapoda, Mysidacea dan Amphipoda yang merupakan
makanan utama, kemudian kelompok makanan algae (20,69%) yang terdiri dari
Coscinodiscus, Chaetoceros, Rhizosolenia, Thalassiosira, dan Planktoniella, serta
kelompok Chaetognatha (8,38%) terdiri dari Sagitta (Gambar 2.3). Predator yang
banyak memangsa ikan terbang di antaranya lumba-lumba, ikan tuna, ikan
cakalang, dan ikan layaran (Moyle & Cech, 1982).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
32
1
2
3
4
5
a
2
1
3
4
5
b
1
2
c
Gambar 2.3. Jenis-jenis plankton makanan ikan terbang [Sumber: Ali, 1981]
a. Crustacea (1. Copepoda, 2. Cladocera, 3. Decapoda,
4. Mysidacea, 5. Amphipoda)
b. Algae (1. Coscinodiscus, 2. Chaetoceros, 3. Rhizosolenia,
4. Thalassiosira, 5. Planktoniella)
c. Chaetognatha (1. Sagitta elegans, 2. Sagitta maxima)
2.3 Biologi Reproduksi Ikan Terbang
Dalam proses mempertahankan eksistensinya, masing-masing spesies
mempunyai strategi reproduksi. Strategi reproduksi adalah semua pola dan ciri
khas reproduksi yang diperlihatkan oleh individu dari suatu spesies termasuk sifat
bawaan yang kompleks, misalnya ukuran atau umur pertama matang gonad,
fekunditas, diameter telur, ukuran gamet, dan sebagainya (Kamler, 1992). Tingkat
kematangan gonad dapat diketahui melalui pengamatan morfologi dan histologi
gonad.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
33
2.3.1 Nisbah Kelamin Ikan Terbang
Nisbah kelamin atau sex rasio merupakan perbandingan jumlah ikan
jantan dengan ikan betina dalam suatu populasi dan kondisi ideal untuk
mempertahankan suatu spesies adalah 1:1 (50 % jantan & 50 % betina), namun
seringkali terjadi penyimpangan dari pola 1:1, hal ini disebabkan oleh adanya
perbedaan tingkah laku ikan yang suka bergerombol, perbedaan laju mortalitas
dan pertumbuhan (Ball & Rao, 1984). Nikolsky (1963), menyatakan bahwa dalam
ruaya ikan untuk memijah, perubahan nisbah kelamin terjadi secara teratur. Pada
awalnya ikan jantan lebih dominan kemudian berubah menjadi 1:1 diikuti dengan
dominansi ikan betina. Perubahan ini terjadi pada saat menjelang dan selama
pemijahan.
2.3.2 Faktor Kondisi Ikan Terbang
Faktor kondisi merupakan keadaan yang menyatakan kemontokan ikan
dengan angka (Royce, 1972). Faktor kondisi berkorelasi dengan panjang, spesies
kelamin, makanan, tingkat kematangan gonad dan umur ikan. Selain itu, faktor
kondisi juga digunakan untuk menentukan kecocokan lingkungan (kondisi
perairan dan kualitas air) dengan ikan dan membandingkan berbagai tempat
hidup.
Perhitungan faktor kondisi didasarkan pada panjang dan berat ikan,
sehingga dapat digunakan sebagai indikator kondisi bagi pertumbuhan ikan
perairan (Effendie, 2002). Menurut Hermawati (2006), nilai faktor kondisi
dipengaruhi oleh aktivitas pemijahan dan kepadatan ikan di suatu perairan.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi ukuran,
umur, genetik, spesies kelamin, ketahanan tubuh dan tingkat kematangan gonad.
Sedangkan faktor luar adalah ketersediaan makanan di alam, stok ikan yang ada di
perairan dan faktor lingkungan seperti kondisi perairan dan kualitas perairan
(Effendie, 2002). Menurut Barnham dan Baxter (1998), nilai faktor kondisi <1,20
tergolong ikan yang kurus dan panjang.
2.3.3 Tingkat Kematangan Gonad Ikan Terbang
Menurut Effendie (2002), Tingkat Kematangan Gonad (TKG) adalah
tahap-tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
34
Dalam proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan, sebagian hasil metabolisme
tertuju untuk perkembangan gonad. Gonad akan bertambah besar dengan semakin
bertambah besar ukurannya. Ukuran panjang ikan saat pertama kali matang gonad
berhubungan dengan pertumbuhan ikan dan faktor lingkungan yang
memengaruhinya terutama ketersediaan makanan, oleh karena itu ukuran ikan
pada saat pertama kali matang gonad tidak selalu sama (Effendie, 2002). Menurut
Nikolsky (1969), akibat adanya kecepatan tumbuh ikan muda yang berasal dari
telur yang menetas pada waktu yang bersamaan akan mencapai matang gonad
pada umur yang berlainan. Pada umumnya ikan jantan mencapai matang gonad
lebih awal daripada betina, baik selama hidupnya maupun satu kali musim
pemijahan.
Menurut Lagler et al. (1977), faktor yang memengaruhi ikan pertama kali
matang gonad adalah spesies, umur, ukuran dan sifat fisiologis ikan dalam hal
kemampuan adaptasi. TKG dapat ditentukan melalui 2 cara, yaitu secara
morfologis dan histologis. Secara morfologis, yaitu dilihat dari bentuk, panjang,
berat, warna dan perkembangan isi gonad. Secara histologis, yaitu dengan melihat
anatomi perkembangan gonadnya.
Secara morfologis, Hermawati (2006) mendeskripsikan perkembangan
kematangan gonad ikan terbang mulai dari TKG I, TKG II, TKG III, TKG IV sampai
TKG V (Tabel 2.1).
Tabel 2.1. Tingkat kematangan gonad ikan terbang Hirundichthys oxycephalus
TKG
I
Jantan
Ukuran kecil dan pendek,
warna putih krem, gonad
terbungkus selaput hitam
II
Ukuran lebih besar dari TKG
I, warna putih susu dan
terbungkus selaput hitam
III
Ukuran mulai membesar dan
selaput pembungkus masih
ada, gonad mulai memudar,
warna makin putih
Betina
Ukuran gonad pendek dan terbungkus
selaput warna hitam, warna cokelat
muda, mengisi 1/3 rongga tubuh, butiran
telur masih sangat kecil
Ukuran lebih besar dari TKG I dan
selaput pembungkus warna hitam masih
ada dan mulai tampak butiran berwarna
kuning
Ukuran mulai membesar dan mengisi ¾
rongga tubuh, warna gonad kuning
butiran telur lebih banyak
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
35
Tabel 2.1. (Lanjutan)
TKG
IV
V
Jantan
Ukuran lebih besar dari TKG
III, permukaan testes tampak
bergerigi, warna makin putih
dan mengisi seluruh rongga
tubuh
Gonad mengempis dan
keriput bila diawetkan
Betina
Butiran Nampak jelas dan makin
banyak, gonad mengisi seluruh bagian
rongga tubuh dan berwarna kuning tua
Gonad mengempis dan keriput bila
diawetkan dan di bagian pelepasan
terlihat sisa-sisa telur
[Sumber: Hermawati, 2006]
2.3.4 Indeks Kematangan Gonad Ikan Terbang
Indeks Kematangan Gonad (IKG) merupakan perbandingan antara berat
gonad dengan berat tubuh yang nilainya dinyatakan dalam persen (%). Gonad
akan semakin bertambah berat dengan semakin bertambahnya ukuran gonad dan
diameter telur. Berat gonad akan mencapai maksimum sesaat sebelum ikan
memijah, kemudian menurun dengan cepat selama pemijahan berlangsung hingga
selesai (Effendie, 2002). Siregar (2003), menyatakan bahwa ikan yang memiliki
TKG rendah IKG-nya pun rendah, sebaliknya ikan yang memiliki TKG tinggi
maka nilai IKG-nya pun tinggi.
Menurut Royce (1972), ikan betina akan memijah dengan nilai IKG
berkisar antara 10-25 %, sedangkan ikan jantan akan memijah pada nilai IKG
berkisar antara 5-10 %. Ikan jantan umumnya memiliki nilai IKG yang lebih kecil
dibandingkan dengan ikan betina.
2.3.5 Fekunditas Ikan Terbang
Fekunditas adalah jumlah telur yang dikeluarkan ikan pada saat memijah.
Fekunditas secara tidak langsung dapat dipergunakan untuk memperkirakan
banyaknya ikan yang akan dihasilkan. Untuk menghitung jumlah telur dalam
gonad ikan biasanya diambil yang tingkat kematangan gonadnya sudah tinggi atau
bisa dilihat secara visual dapat terlihat butiran-butiran telur yang terpisah
(Effendie, 2002). Menurut Moyle et. al. (1982), secara umum fekunditas
meningkat sesuai dengan ukuran berat tubuh ikan betina.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
36
Ikan yang memiliki fekunditas yang besar umumnya memijah di
permukaan dan mempunyai kebiasaan tidak menjaga telurnya, sedangkan ikan
yang memiliki fekunditas yang kecil memiliki kebiasaan menempelkan telurnya
pada substrat dan menjaga telurnya dari pemangsa. Terdapat kecenderungan
bahwa semakin kecil ukuran telur, maka fekunditasnya semakin tinggi begitupun
sebaliknya (Nikolsky, 1969).
2.3.6 Diameter Telur
Menurut Hoar (1957), ovarium yang mengandung telur masak berukuran
sama semua (merata) menunjukkan waktu pemijahan yang pendek, sebaliknya
waktu pemijahan yang panjang dan terus menerus ditandai oleh banyaknya ukuran
yang berbeda di dalam ovarium.
Semakin meningkatnya TKG menyebabkan semakin besar pula diameter
telurnya (Effendie, 2002). Menurut Tamsil (2000), telur yang berukuran besar
mempunyai kemampuan untuk menyangga kehidupan embrio yang ada di
dalamnya dan menopang kehidupan larva sebelum mendapatkan makanan dari
luar.
2.4 Plankton
2.4.1 Distribusi dan Peranan Plankton
Plankton merupakan organisme berukuran sangat kecil yang hidupnya
mengapung atau melayang di dalam air dan berperan sangat penting untuk
kelangsungan hidup biota dalam ekosistem perairan. Plankton terdiri atas
fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton tergolong kelompok plankton
tumbuhan dengan ukuran sangat kecil (mikroskopis). Meskipun ukurannya sangat
kecil, namun bila populasinya bertumbuh sangat cepat (outbreak) dapat
menyebabkan perubahan pada warna air laut (discolorisation) yang biasa dikenal
dengan fenonema “red tide”. Fitoplankton merupakan tumpuan bagi hampir
semua kehidupan di laut, baik secara langsung maupun tak langsung, melalui
rantai makanan (food chain) (Davis, 1955).
Penyebaran plankton tidak merata dalam suatu perairan karena
dipengaruhi faktor, baik kimia maupun fisika, antara lain suhu, salinitas, derajat
keasaman (pH), kecerahan, dan oksigen terlarut (DO) (Arinardi, 1997). Menurut
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
37
Nybakken (1992), distribusi plankton secara horisontal lebih banyak dipengaruhi
oleh faktor fisik berupa pergerakan arus. Oleh karena itu, pengelompokkan
plankton lebih banyak terjadi pada daerah neritik terutama yang dipengaruhi
estuaria dibandingkan dengan oseanik. Ketersedian nutrien pada setiap perairan
yang berbeda juga menyebabkan perbedaan kelimpahan plankton. Distribusi
vertikal plankton sangat berhubungan dengan dimensi waktu, faktor cahaya, dan
suhu. Perpindahan vertikal juga dipengaruhi oleh kemampuan pergerakan
plankton dan adaptasi fisiologisnya. Perpaduan kondisi fisik air laut dan
mekanisme mengapung menyebabkan plankton mampu bermigrasi secara
vertikal, sehingga distribusinya berbeda secara vertikal.
Menurut Odum (1979), fitoplankton dapat berperan sebagai salah satu dari
parameter ekologi yang dapat menggambarkan bagaimana kondisi suatu perairan
dan merupakan salah satu parameter tingkat kesuburan suatu perairan.
Kelimpahan fitoplankton mempunyai hubungan yang positif dengan kesuburan
perairan, apabila kelimpahan fitoplankton tinggi maka perairan tersebut cenderung
memiliki produktivitas yang tinggi pula. Demikian juga distribusi horisontal
plankton sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya seperti suhu,
salinitas, dan arus. Oleh sebab itu, kehadiran plankton spesies tertentu dapat
digunakan sebagai indikator massa air atau arus laut.
2.4.2 Struktur Komunitas dan Kelimpahan
2.4.2.1 Indeks Keanekaragaman
Indeks keanekaragaman atau “Diversity Index” diartikan sebagai suatu
gambaran secara matematik tentang jumlah spesies suatu organisme dalam
populasi. Indeks keanekaragaman akan mempermudah dalam menganalisi
informasi-informasi mengenai jumlah individu dan jumlah spesies suatu
organisme. Suatu cara yang paling sederhana untuk menyatakan indeks
keanekaragaman, yaitu dengan menetukan persentase komposisi dari spesies di
dalam sampel. Semakin banyak spesies yang terdapat dalam suatu sampel,
semakin besar keanekaragaman, meskipun harga ini juga sangat tergantung dari
jumlah total individu masing-masing spesies (Kaswadji et. al., 1993).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
38
Indeks keanekaragaman dapat dijadikan petunjuk seberapa besar tingkat
pencemaran suatu perairan. Dasar penilaian kualitas air berdasarkan nilai indeks
keanekaragaman dapat dilihat dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Kriteria kualitas air berdasarkan indeks keanekaragaman
Shannon-Wiener
Nilai Indeks
3,0 - 4,5
2,0 - 3,0
1,0 - 2,0
0,0 - 1,0
Kualitas Air
Tercemar sangat ringan
Tercemar ringan
Tercemar sedang
Tercemar berat
[Sumber: Wardoyo, 1974]
2.4.2.2 Indeks Keseragaman
Dalam suatu komunitas, kemerataan individu tiap spesies dapat diketahui
dengan menghitung indeks keseragaman. Indeks keseragaman ini merupakan
suatu angka yang tidak bersatuan, yang besarnya antara 0 – 1, semakin kecil nilai
indeks keseragaman, semakin kecil pula keseragaman suatu populasi, berarti
penyebaran jumlah individu tiap spesies tidak sama dan kecenderungan bahwa
suatu spesies mendominasi populasi tersebut. Sebaliknya semakin besar nilai
indeks keseagaman, maka populasi menunjukan keseragaman, yang berarti bahwa
jumlah individu tiap spesies boleh dikatakan sama atau merata (Odum, 1979).
2.4.2.3 Indeks Dominansi
Dominasi jenis fitoplankton dapat diketahui dengan menghitung Indeks
Dominansi (C). Nilai indeks dominansi mendekati satu jika suatu komunitas
didominasi oleh jenis atau spesies tertentu dan jika tidak ada jenis yang dominan,
maka nilai indeks dominansinya mendekati nol (Odum, 1979).
2.4.3 Keanekaragaman Plankton
2.4.3.1 Fitoplankton
Fitoplankton merupakan nama umum untuk plankton tumbuhan atau
plankton nabati dan terdiri dari beberapa kelas. Menurut Arinardi et al. (1994)
beberapa kelas diuraikan sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
39
a. Diatom (Kelas Bacillariophyceae)
Spesies yang umum dijumpai di perairan lepas pantai Indonesia antara lain
adalah Chaetoceros sp., Rhizosolenia sp., Thalassiothrix sp. dan Bacteriastrum
sp. Di perairan pantai atau mulut sungai biasanya banyak terdapat Skeletonema sp.
dan kadang-kadang Coscinodiscus sp. Melimpahnya Skeletonema ini karena ia
dapat memanfaatkan zat hara lebih cepat daripada diatom lainnya.
b. Dinoflagellata (Kelas Dinophyceae)
Genus-genus yang umum dijumpai di laut, antara lain Noctiluca,
Ceratium, Peridinium dan Dinophysis.
c. Kokolitofor (Coccolithophore, Kelas Haptophyceae)
Di perairan tropis, fitoplankton ini sering didapatkan dalam jumlah besar
sehingga peranannya dianggap penting. Phaecyctis pouchetii mempunyai sebaran
luas tetapi jumlah yang besar biasanya ditemukan di perairan dingin. Spesies
fitoplankton ini dapat mengeluarkan racun asam akrilik (acrylic acid).
d. Ganggang biru (Blue-green algae, Kelas Cyanophyceae)
Ganggang ini tersebar luas dan merupakan makanan zooplankton.
Gerombolan Trichodesmium umum dijumpai di Laut Jawa dan Samudera Hindia,
kadang-kadang hanyut beberapa kilometer sejajar pantai.
e. Ganggang Hijau (Green-coloured algae, Kelas Chlorophyceae)
Salah satu contoh ganggang ini adalah Chlorella sp. Menurut Arinardi et
al. (1994), di Teluk Banten yang predominan, yaitu Ceratium, Rhizosolenia,
Chaetoceros, Noctiluca, Thalassiothrix, Bacillaria dan Coscinodiscus. Menurut
Sidabutar (2008) di Teluk Jakarta yang predominan, yaitu Skeletonema,
Chaetoceros, Noctiluca, Dynophysis, Thalassiothrix dan Ceratium, dan di mulut
Kali Cimanuk yang predominan, yaitu Chaetoceros, Dynophysis, Thalassiothrix,
Skeletonema, Ceratium dan Coscinodiscus.
2.4.3.2 Zooplankton
Zooplankton atau plankton hewani berbeda dari fitoplankton baik dalam
jumlah filum maupun dalam daur hidupnya. Semua filum hewan terwakili di
dalam kelompok zooplankton, yaitu mulai dari filum Protozoa (hewan bersel
tunggal) sampai ke filum Chordata (hewan bertulang belakang). Dilihat dari cara
menjalani hidupnya, zooplankton dibedakan atas holoplankton dan meroplankton.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
40
Holoplankton adalah plankton hewani yang seluruh masa hidupnya dilalui sebagai
plankton, seperti Chaetognatha dan Copepoda. Meroplankton adalah plankton
hewani yang masa awal dari siklus hidupnya dilalui sebagai plankton dan sesudah
dewasa akan hidup menjadi nekton atau bentos. Pada kelompok meroplankton
terdapat larva berbagai spesies avertebrata penghuni dasar perairan seperti larva
bintang laut (Echinodermata), larva keong dan kerang (Mollusca), larva teritip
(Cirripedia), larva udang-kepiting (Crustacea), berbagai spesies cacing
(Polychaeta) dan larva biota lainnya. Termasuk di dalam kelompok ini juga telur
dan larva sebagian besar ikan yang apabila dewasa akan merupakan anggota
nekton (Arinardi et al., 1994).
Zooplankton dijumpai hampir di seluruh habitat akuatik tetapi kelimpahan
dan komposisinya bervariasi bergantung kepada keadaan lingkungan dan biasanya
terkait erat dengan perubahan musim. Faktor fisik-kimia seperti suhu, intensitas
cahaya, salinitas, pH, dan zat cemaran memegang peranan penting dalam
menentukan keberadaan spesies zooplankton di perairan, sedangkan faktor biotik
seperti tersedianya pakan, banyaknya predator dan adanya pesaing dapat
menentukan komposisi spesies.
Menurut Arinardi (1997), di Laut Jawa volume dan kelimpahan
zooplankton tertinggi didapatkan di perairan dekat pantai Jawa dan Kalimantan
dengan rata-rata volume sebesar 0,04 ml/m3 dan kelimpahan 0,23 x 103 ekor/m3.
Copepoda merupakan zooplankton predominan dan umumnya terdiri dari
Acrocalanus, Paracalanus, Candacia, Eucalamus, Pleuromamma, Corycaeus dan
Oithona. Di perairan Kalimantan Selatan, musim barat menyebabkan tingginya
kadar nutrisi dan zooplankton. Perairan sekeliling Pulau Jawa telah pula diamati
pada 2 musim berbeda. Volume zooplankton di Laut Jawa umumnya lebih tinggi
daripada yang ada di Samudera Hindia (selatan Jawa). Di barat Laut Jawa banyak
terdapat Thaliacea, sedangkan di Selat Bali Foraminifera lebih melimpah.
2.5 Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Ikan Terbang
Hasil penelitian tentang potensi dan tingkat pemanfaatan ikan terbang di
Indonesia juga masih terbatas pada wilayah perairan Sulawesi Selatan (Selat
Makassar dan Laut Flores). Di perairan Sulawesi Selatan potensi hasil maksimum
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
41
lestari (MSY) telah mengalami penurunan (Ali et al., 2004a). Penurunan potensi
lestari dari tahun ke tahun menjadi indikator terjadinya overfishing akibat tidak
adanya pengelolaan.
Penurunan potensi MSY ikan terbang di perairan Sulawesi Selatan juga
ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian terdahulu yaitu antara tahun 1975-1979
sebesar 12.293 ton (Dwiponggo et al., 1983), kemudian antara tahun 1987-1991
sebesar 6.066 ton/tahun (Nessa et al., 1993), dan antara tahun 1991-2002 sebesar
5.770 ton/tahun. Kejadian ini menunjukkan antara tahun 1975-1979 dan 19912002 terjadi penurunan potensi lestari sekitar 47 %. Penurunan potensi MSY
dalam tempo 27 tahun adalah merupakan refleksi dari kemerosotan populasi ikan
terbang akibat penangkapan berlebihan.
Menurut Musick (1999), penurunan secara kuantitatif seperti potensi
lestari dapat menjadi kriteria kategori resiko ancaman kepunahan spesies. Kriteria
kemerosotan secara kuantitatif populasi populasi 50 % dalam tempo 10 tahun
dapat dikategorikan berbahaya (endangered), penurunan ini tidak termasuk
pengurangan 50 % dari populasi virtual sebagai pemanfaatan MSY dalam
manajemen perikanan.
Produksi ikan terbang di Provinsi Bali yang dilaporkan oleh Dinas
Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali (2006) dari tahun 1998-2004 secara
berurutan, yaitu 983 ton; 1.790 ton; 969 ton; 426 ton; 468 ton; 5.111 ton dan
4.990 ton, dengan kenaikan produksi rata-rata per tahun 163,3 %. Daerah
penangkapan ikan terbang mulai dari bagian utara Bali sampai ke Selat Bali.
Nelayan jaring ikan terbang terkonsentrasi di perairan Pemuteran, Kabupaten
Buleleng. Di Bali, pada umumnya hasil tangkapan ikan terbang hanya
dimanfaatkan dan dipasarkan oleh penduduk sekitar (non-ekspor), baik dalam
kondisi segar maupun yang dibuat ikan asap (Gambar 2.4).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
42
Gambar 2.4. Ikan terbang yang diasap di Desa Sririt, Pemuteran, Kabupaten
Buleleng, Provinsi Bali [Sumber: Hasil pengamatan lapangan]
2.6 Kapal dan Alat Alat Tangkap Jaring Insang
Berdasarkan metode pengoperasiannya kapal ikan dapat digolongkan ke
dalam empat kelompok, yaitu pengoperasian alat tangkap yang dilingkarkan
(encircling gear), pengoperasian alat tangkap yang ditarik (towing gear),
pengoperasian alat tangkap yang pasif (static gear), dan pengoperasian lebih dari
satu alat tangkap (multipurpose gear) (Fyson, 1985).
Kapal dengan alat tangkap jaring insang (gillnet) termasuk kedalam
kelompok kapal ikan dengan metode pengoperasian static gear sehingga
kecepatan kapal bukanlah suatu faktor yang penting karena alat tangkap ini
bekerja secara statis melainkan stabilitas kapal yang tinggi lebih diperlukan agar
saat pengoperasian alat tangkap dapat berjalan dengan baik (Rahman & Novita,
2006).
Jaring insang merupakan alat tangkap ikan berupa jaring yang pada
umumnya berbentuk empat persegi panjang yang mempunyai ukuran mata jaring
(mesh size) yang sama pada seluruh badan jaring, dimana jumlah mata jaring ke
arah panjangnya lebih banyak daripada jumlah mata jaring ke arah lebarnya.
Gillnet dikenal dengan sebutan jaring insang, hal ini karena ikan-ikan yang
tertangkap oleh gillnet adalah bagian operkulumnya terjerat atau terpuntal pada
mata jaring.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
43
Menurut Martasuganda (2005), jaring insang adalah satu jenis alat
penangkap ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang dengan
ukuran mata jaring (mesh size) sama, jumlah mata jaring ke arah horisontal (mesh
length/ML) jauh lebih banyak dari jumlah mata jaring ke arah vertikal (mesh
depth/MD). Pada lembaran jaring bagian atas diletakkan pelampung (floats) dan
pada bagian bawah diletakkan pemberat (sinkers). Menurut Ayodhyoa (1981),
cara kerja jaring insang dengan menggunakan dua gaya yang berlawanan arah,
yaitu bouyancy dari floats yang bergerak ke atas dan sinking force dari sinkers
ditambah berat jaring dalam air yang bergerak ke bawah, maka jaring akan
terentang (Gambar 2.5).
Gambar 2.5. Konstruksi jaring insang (gillnet) [Sumber: Ayodhyoa, 1981]
Jaring insang dipasang menghadang arah dan jalan ikan yang sedang
melakukan ruaya (Brandt, 1972). Stewart dan Ferro (1985) mengatakan bahwa
gillnet dapat dipasang menghadang atau sejalan arah arus, dimana posisi ini dapat
mengubah bentuk alat oleh karena tekanan dinamika air yang kemudian dapat
memengaruhi kapasitas hasil tangkapan (Rahman & Novita, 2006).
Berdasarkan kedudukan jaring di dalam perairan dan metode
pengoperasiannya, jaring insang dibedakan menjadi empat, yaitu jaring insang
permukaan (surface gillnet), jaring insang dasar (bottom gillnet), jaring insang
hanyut (drift gillnet), dan jaring insang lingkar (encircling gillnet/surrounding
gillnet) (Ayodhyoa, 1981). Menurut Subani dan Barus (1989), dalam
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
44
pengoperasian jaring insang dibedakan menjadi lima, yaitu jaring insang hanyut
(drift gillnet), jaring insang labuh (set gillnet), jaring insang karang (coral reef
gillnet), jaring insang lingkar (encircling gillnet), dan jaring insang tiga lapis
(trammel net) (Gambar 2.6).
Gambar 2.6. Sistem operasi jaring insang hanyut (drifting gillnet)
[Sumber: Ayodhyoa, 1981]
2.7 Baku Mutu Air Laut
Baku mutu air laut adalah ukuran batas atau kadar mahluk hidup, zat,
energi atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya di dalam air laut (Menteri Lingkungan Hidup, 2004).
Diantara ketentuan standar baku mutu air laut yang ditetapkan sebagaimana
tertuang dalam Tabel 2.3.
Tabel 2.3. Beberapa parameter baku mutu air laut
No
Parameter
Satuan
o
1.
Suhu
C
2.
pH
3.
Salinitas
4.
DO
5.
Kecerahan
o
/oo
mg/l
Baku Mutu
koral: 28-30
mangrove: 28-32
lamun: 28-30
7 – 8,5
koral: 33-34
mangrove: s/d 34
lamun: 33-34
>5
m
koral: >5
mangrove: lamun: >3
[Sumber: Menteri Lingkungan Hidup, 2004]
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
45
Menurut Balon (1984), parameter fisik lingkungan perairan misalnya
intensitas cahaya matahari, salinitas, dan oksigen terlarut, memiliki pengaruh
terhadap pemijahan ikan.
2.7.1 Suhu Air laut
Perubahan suhu memengaruhi tingkat kesesuaian perairan sebagai habitat
organisme akuatik, sehingga setiap organisme akuatik mempunyai batas kisaran
maksimum dan minimum (Effendie, 2002). Ikan merupakan hewan poikiloterm,
yang suhu tubuhnya naik turun sesuai dengan suhu lingkungan (Brotowidjoyo et
al., 1995), sebab semua proses fisiologis ikan dipengaruhi oleh suhu lingkungan
(Hoar et al., 1979). Suhu perairan berpengaruh terhadap respon tingkah laku ikan
(Bal & Rao, 1984), proses metabolisme, reproduksi (Hutabarat & Evans, 1985;
Effendie, 2002), ekskresi amonia dan resistensi terhadap penyakit (Nabib &
Pasaribu, 1989). Boyd dan Lichtkoppler (1982), menyatakan bahwa suhu yang
optimal bagi pertumbuhan ikan tropis berkisar antara 25-32 ºC. Semakin tinggi
suhu semakin cepat perairan mengalami kejenuhan yang mendorong terjadinya
difusi oksigen dari air ke udara, sehingga konsentrasi oksigen terlarut dalam
perairan semakin menurun.
Peningkatan suhu perairan sebesar 10 ºC, menyebabkan terjadinya
peningkatan pengeluaran energi untuk mendapatkan oksigen oleh organisme
akuatik sebanyak dua sampai tiga kali lipat. Perubahan suhu juga berakibat pada
peningkatan dekomposisi bahan-bahan organik oleh mikroba (Effendie, 2002).
2.7.2 Derajat Keasaman (pH) Air Laut
Derajat keasaman (pH) menunjukkan aktivitas ion hidrogen dalam larutan
tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hidrogen (mol/l) pada suhu
tertentu atau pH = - log (H+). Konsentrasi pH mempengaruhi tingkat kesuburan
perairan karena memengaruhi kehidupan jazad renik. Perairan yang asam
cenderung menyebabkan kematian pada ikan. Hal ini disebabkan karena
konsentrasi oksigen akan rendah, sehingga aktivitas pernapasan tinggi dan selera
makan berkurang (Ghufron & Kordi, 2005). Derajat keasaman (pH) air laut
umumnya berkisar antara 7,6-8,3 (Brotowidjoyo et al., 1995) dan berpengaruh
terhadap ikan (Ball & Rao, 1984).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
46
Derajat keasaman (pH) air laut relatif konstan karena adanya penyangga
dari hasil keseimbangan karbondioksida, asam karbonat, karbonat dan bikarbonat
yang disebut buffer (Shepherd & Bromage, 1988). Nilai pH, biasanya dipengaruhi
oleh laju fotosintesis, buangan industri serta limbah rumah tangga (Sastrawijaya,
1991). Kisaran pH dalam perairan alami, sangat dipengaruhi oleh konsentrasi
karbondioksida yang merupakan substansi asam. Fitoplankton dan vegetasi
perairan lainnya menyerap karbondioksida dari perairan selama proses fotosintesis
berlangsung sehingga pH cenderung meningkat pada siang hari dan menurun pada
malam hari. Menurunnya pH oleh karbondioksida tidak lebih dari 4,5 (Boyd,
1982).
Proses nitrifikasi oleh bakteri dapat mengurangi nilai pH perairan karena
adanya konsumsi karbonat dan pelepasan ion hidrogen selama proses berlangsung
(Soderberg, 1995). Proses penguraian bahan organik menjadi garam mineral,
seperti, amonia, nitrat dan fosfat berguna bagi fitoplankton dan tumbuhan air.
Proses akan lebih cepat jika kisaran pH basa (Afriyanto & Liviawaty, 1991). Pada
pH diatas 7, amonia dalam bentuk molekul NH3 akan lebih dominan dari ion NH4,
pada tingkatan tertentu dapat menembus membran sel atau juga menyebabkan
rusaknya jaringan insang (hiperplasia branchia) (Purnomo, 1992).
2.7.3 Salinitas
Salinitas menggambarkan padatan total di air setelah semua karbonat
dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan dengan klorida
dan semua bahan organik telah dioksidasi (Effendie, 2002).
Salinitas air laut bebas mempunyai kisaran 30-36 ppt (Brotowidjoyo et al.,
1995), sedangkan daerah pantai mempunyai variasi salinitas yang lebih besar.
Semua organisme dalam perairan dapat hidup pada perairan yang mempunyai
perubahan salinitas kecil (Hutabarat & Evans, 1985).Toleransi terhadap salinitas
tergantung pada umur stadium ikan. Salinitas berpengaruh terhadap reproduksi,
distribusi, lama hidup serta orientasi migrasi.Variasi salinitas pada perairan yang
jauh dari pantai akan relatif kecil dibandingkan dengan variasi salinitas di dekat
pantai. Perubahan salinitas tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku ikan
atau distribusi ikan tetapi pada perubahan sifat kimia air laut (Brotowidjoyo et
al.,1995). Ikan air laut mengatasi kekurangan air dengan mengonsumsi air laut
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
47
sehingga kadar garam dalam cairan tubuh bertambah. Dalam mencegah terjadinya
dehidrasi akibat proses ini kelebihan garam dibatasi dengan cara mengekskresi
klorida lebih banyak lewat insang dan ekskresi lewat urin yang isotonik (Hoar et
al., 1979).
2.7.4 Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut dalam air merupakan parameter kualitas air laut yang
sangat vital bagi kehidupan organisme perairan. Konsentrasi oksigen terlarut
cenderung berubah-ubah seusai dengan kondisi atmosfer. Sumber utama oksigen
terlarut dalam air adalah difusi dari udara dan hasil fotosintesis organisme yang
mempunyai klorofil yang hidup di perairan. Kecepatan difusi oksigen dari udara
ke dalam air berlangsung sangat lambat, oleh sebab itu fitoplankton merupakan
sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan. Kelarutan
oksigen dalam air dipengaruhi banyak faktor, antara lain adalah suhu, salinitas,
arus permukaan, luas area permukaan perairan yang terbuka, tekanan atmosfer
dan persentase oksigen di sekitarnya. Berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam
air dapat disebabkan antara lain oleh naiknya temperatur dan salinitas, proses
respirasi organisme perairan, dan proses dekomposisi bahan organik oleh
mikroorganisme (Muhajir et al., 2004).
2.7.5 Kecerahan
Cahaya merupakan faktor penting bagi kehidupan ikan dalam rantai
makanan, tingkah laku reproduksi, mencari perlindungan, orientasi migrasi, pola
pertumbuhan (Bal & Rao, 1984; Brotowidjoyo et al., 1995), dan fase metabolisme
ikan (Brown & Gratzek, 1980). Kemampuan sinar matahari pada kondisi cerah
dapat diabsorbsi sebanyak 1% pada kedalaman 100 m, sedangkan pada perairan
yang keruh hanya mencapai kedalaman 10-30 m dan tiga meter pada perairan
estuari (Brotowidjoyo et al., 1995). Penetrasi cahaya menjadi rendah apabila
tingginya kandungan partikel tersuspensi di perairan dekat pantai, akibat aktivitas
pasang surut dan juga tingkat kedalaman (Hutabarat & Evans, 1985; Sastrawijaya,
1991). Berkas cahaya yang jatuh ke permukaan air, sebagiannya akan dipantulkan
dan sebagian lagi akan diteruskan ke dalam air. Jumlah cahaya yang dipantulkan
bergantung pada sudut jatuh dari sinar dan keadaan perairan. Air yang senantiasa
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
48
bergerak menyebabkan pantulan sinar menyebar ke segala arah. Sinar yang
melewati media air sebagian diabsorbsi dan sebagian discatter (Sidjabat, 1976).
Dalam hubungannya dengan fotosintesisa, intensitas dan panjang gelombang
sangat penting. Sebagian besar kehidupan di laut cenderung menyukai sinar-sinar
dengan spektrum hijau dan biru (Romimohtarto, 2001).
2.8 Fenomena Upwelling
Upwelling merupakan fenomena oseanografi yang melibatkan wind-driven
motion yang kuat, dingin dan biasanya membawa massa air yang kaya akan
nutrien ke arah permukaan laut. Air bawah permukaan yang dibawa ke permukaan
dari kedalaman 100-200 meter kaya akan nutrien, yang mendukung pertumbuhan.
Banyak upwelling terjadi di dekat pantai hingga beberapa kilometer. Bagian air
yang terbawa naik memiliki plume air dingin yang terbentang ke arah laut hingga
beberapa kilometer dari pantai (Gross, 1991).
Upwelling adalah fenoma atau kejadian yang berkaitan dengan gerakan
naiknya massa air laut. Gerakan vertikal ini adalah bagian integrasi dari sirkulasi
laut tetapi ribuan sampai jutaan kali lebih kecil dari arus horizontal. Gerakan
vertikal ini terjadi akibat adanya stratifikasi densitas air laut karena dengan
penambahan kedalaman mengakibatkan suhu menurun dan densitas meningkat
yang menimbulkan energi untuk menggerakkan massa air secara vertikal. Adanya
gerakan massa air vertikal akan menimbulkan efek yang signifikan terhadap
kandungan nutrien pada lapisan kedalaman tertentu. Gerakan naik dari massa air
laut ini membawa serta suhu yang lebih dingin, salinitas yang tinggi, dan zat-zat
hara yang kaya ke permukaan (Nontji, 1993). Lokasi upwelling merupakan daerah
yang subur dan ideal bagi ikan-ikan pelagis kecil untuk memperoleh pakan, yang
pada gilirannya akan dimangsa oleh ikan-ikan yang berukuran besar. Hubungan
yang saling berkesinambungan ini menjadikan lokasi upwelling sebagai area yang
sangat ideal untuk menangkap ikan (fishing ground).
Sebaran suhu permukaan laut merupakan salah satu parameter yang dapat
dipergunakan untuk mengetahui terjadinya proses upwelling di suatu perairan
(Birowo & Arief, 1983). Dalam proses upwelling ini terjadi penurunan suhu
permukaan laut dan tingginya zat hara dibandingkan daerah sekitarnya. Tingginya
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
49
kadar zat hara tersebut merangsang perkembangan fitoplankton di permukaan.
Perkembangan fitoplankton sangat erat kaitannya dengan tingkat kesuburan
perairan, maka proses upwelling ini selalu dihubungkan dengan meningkatnya
produktivitas primer di suatu perairan dan selalu diikuti dengan meningkatnya
populasi ikan di perairan tersebut (Pariwono, 1988).
Beberapa jenis kopepoda biasa digunakan sebagai bio-indikator dalam
menentukan lokasi upwelling di perairan dunia. Calanus pacificus dan Calanus
marshallae merupakan bio-indikator upwelling di perairan lepas pantai California
dan Oregon, Amerika Serikat. Dilaporkan bahwa pada saat upwelling sedang
berlangsung kelimpahan anakan (kopepodit V) dari jenis ini di permukaan
perairan mencapai 26 juta individu per meter kubik, dan kadar fosfat di
permukaan air mencapai 2 µg atom per liter.
Di perairan Indonesia, dua jenis kopepoda laut dalam yang dikenal sebagai
bio-indikator upwelling adalah Calanoides philippinensis dan Rhincalanus
nasutus. Mereka menimbun lemak sebanyak mungkin dari fitoplankton, nauplius
maupun detritus yang dimakannya untuk pertumbuhan dan cadangan makanan
pada saat downwelling. Menjelang berakhirnya musim upwelling, pada saat stok
makanan di permukaan mulai menipis, sebagian besar anakan (kopepodit V) dari
kedua jenis kopepoda tersebut akan menyelam ke kedalaman 300-500 meter atau
lebih.
Perairan Indonesia sangat dipengaruhi oleh tipe iklim Muson yang terdiri
dari musim barat (Desember-Februari), musim peralihan I (Maret-Mei), musim
timur (Juni-Agustus), dan musim peralihan II (September-November). Pada
gilirannya tipe iklim ini akan berpengaruh terhadap kehidupan, kekayaan jenis,
kelimpahan, sebaran biota maupun sifat-sifat dan fenomena oseanografi yang
terjadi, misalnya proses upwelling.
Hingga saat ini diketahui ada tujuh lokasi upwelling di perairan Indonesia.
Sebagian besar lokasi upwelling ini terletak di Wallace area, yaitu suatu kawasan
perairan yang dibatasi oleh garis Wallacea di bagian barat dan garis Lydekker di
bagian timur. Daerah ini dikenal memiliki keanekaragaman jenis dan kelimpahan
biota yang tinggi, beberapa jenis di antaranya bersifat unik dan endemik, yang
merupakan sumbangan besar bagi keanekaragaman biota global. Selain Selat
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
50
Makassar dan Laut Banda, upwelling juga terjadi di Laut Seram, Laut Maluku,
Laut Arafura, dan perairan utara kepala burung dan perairan timur Papua. Satusatunya lokasi upwelling di luar kawasan Wallacea adalah di perairan selatan Jawa
hingga Sumbawa.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
51
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan, mulai bulan April sampai bulan
Juni 2011. Sampel ikan didapatkan dari hasil penangkapan ikan oleh nelayan di
perairan Pemuteran-Bali Barat, Kabupaten Buleleng. Analisis ikan contoh
dilakukan di Laboratorium Balai Besar Riset Perikanan Budi Daya Laut
(BBRPBL) Gondol-Bali, sedangkan analisis plankton dilakukan di Laboratorium
Planktonologi, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (P2O-LIPI), Jakarta. Wilayah pengambilan sampel berkisar pada
koordinat 08005'31'' - 08007'43'' LS dan 114038'13'' - 114039'58'' BT (Gambar 3.1).
Gambar 3.1. Lokasi penelitian di perairan Pemuteran, Bali Barat
[Sumber: Bakosurtanal, 2011]
3.2 Bahan dan Alat
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tangkapan
ikan terbang dari spesies Cheilopogon katoptron, fitoplankton dan zooplankton.
Bahan-bahan lainnya adalah air laut sampel dan larutan formalin yang telah
51
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
52
dinetralkan dengan boraks, untuk mengawetkan ikan sampel dengan perbandingan
1 : 10 (10 %), dan untuk mengawetkan plankton sampel dengan perbandingan
1 : 25 (4 %).
Adapun alat-alat yang digunakan selama pengambilan sampel adalah kapal
penangkap ikan ukuran <1 Gross Tonnage (GT), alat tangkap drift gillnet, DOmeter, termometer, pH-meter digital, refraktometer, kite current meter, sechidish,
timbangan digital, kaliper, GPS portable, kamera digital, buku identifikasi ikan
terbang dan plankton, serta plankton net yang terdiri dari jaring Kitahara (mata
jaring berukuran 80 , diameter mulut jaring 0,3 m, panjang jaring 100 cm dan
jaring Norpac (mata jaring berukuran 300 , diameter mulut jaring 0,45 m,
panjang jaring 180 cm).
3.3 Pengumpulan Data
3.3.1 Data Sampel Ikan Terbang
Pengambilan ikan contoh dilakukan di perairan Bali dengan menggunakan
drift gillnet yang dioperasikan dengan menggunakan kapal penangkap ikan ukuran
<1 GT pada waktu pagi hari. Ikan terbang yang tertangkap ditampung sementara
di atas geladak kapal. Setelah sampai di darat, ikan hasil tangkapan dihitung dan
dipisahkan berdasarkan spesies yang tertangkap. Identifikasi ikan untuk
membedakan spesies dilakukan secara visual di tempat pendaratan kapal dengan
mengamati bentuk tubuh, sirip pektoral, sirip dorsal, sirip anal, sirip ventral,
bentuk mulut dan letak gigi yang mengacu pada Hutomo et al. (1985) dan Parin
(1999). Identifikasi ini dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Asikin Djamali (akademisi dan
mantan Peneliti Utama P2O-LIPI) dan Parino (mantan Teknisi Litkayasa Penyelia
P2O LIPI).
Setelah melakukan identifikasi, selanjutnya ikan-ikan tersebut dimasukkan
ke dalam jerigen yang telah berisi formalin 10 %. Analisis isi perut, jenis kelamin
dan tingkat kematangan gonad dilakukan dengan melakukan pembedahan. Sampel
ikan terbang tersebut dibawa ke Laboratorium Balai Besar Riset Perikanan
Budidaya Laut (BBRPBL), Gondol-Bali, dan identifikasi dilakukan oleh Prof. Dr.
Harianti (Peneliti Utama BBRPBL Gondol-Bali).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
53
3.3.2 Data Parameter Fisik Air
Pengukuran kualitas air, yaitu oksigen terlarut dengan DO-meter, suhu
dengan termometer, derajat keasaman (pH) dengan pH-meter digital, salinitas
dengan refraktometer, kecepatan arus dan arah arus dengan kite current meter, dan
kecerahan dengan sechidish. Selanjutnya posisi pengambilan sampel (sampling)
ditentukan dengan GPS portable. Pengukuran parameter fisik air laut dilakukan
dengan bantuan Parino (mantan Teknisi Litkayasa Penyelia P2O LIPI).
3.3.3 Data Plankton
Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan pada 20 stasiun di perairan
Bali Barat, Kabupaten Buleleng dengan jaring kitahara yang ditarik secara vertikal
pada kedalaman hingga 26 m. Pengambilan sampel zooplankton dilakukan pada
20 stasiun di perairan Pemuteran-Bali Barat, Kabupaten Buleleng dengan jaring
norpac yang ditarik secara horisontal selama 5-10 menit. Pada mulut jaring
norpac, dilekatkan masing-masing sebuah flowmeter untuk mengukur volume air
tersaring. Setelah pengambilan sampel, kemudian sampel diawetkan dengan
formalin 4 % yang telah dinetralkan dengan borax. Identifikasi jenis-jenis, indeks
keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks kekayaan jenis plankton
dilakukan oleh Sugestiningsih (Teknisi Litkayasa Penyelia P2O-LIPI) di
Laboratorium Planktonologi, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI), dengan mengacu pada Davis (1955),
Wickstead (1965), Yamaji (1966), Taylor (1978), dan Hallegraeff (1991).
3.4 Uji Laboratorium
Pada analisis laboratorium, ikan terbang yang telah diawetkan dengan
formalin 10 % diukur panjang total dan beratnya. Panjang total diukur dari ujung
kepala terdepan sampai dengan ujung sirip ekor yang paling belakang
menggunakan kaliper dengan ketelitian 0,1 cm. Berat ikan contoh ditimbang
dengan menggunakan timbangan digital O’haus dengan ketelitian 0,01 g.
3.4.1 Pengamatan Isi Perut Ikan Terbang
Pembagian kelompok makanan berdasarkan kelas ukuran panjang sesuai
dengan contoh yang mewakili pada panjang berkisar antara 150-290 mm terbagi
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
54
dalam selang 10 mm. Ikan dibedah dengan gunting bedah, dimulai dari anus
menuju bagian dorsal di bawah linea lateralis dan menyusuri garis tersebut
sampai ke bagian belakang operkulum kemudian ke arah ventral hingga ke dasar
perut. Bagian tubuh yang telah dibedah dibuka sehingga organ dalam ikan dapat
terlihat dan jenis kelamin dapat ditentukan dengan melihat morfologi gonadnya.
Saluran pencernaan dipisahkan dari organ dalam lainnya. Lambung dan usus ikan
diukur panjangnya menggunakan kaliper, kemudian dimasukkan ke dalam botol
untuk diawetkan dengan menggunakan formalin 4 %. Bagian lambung yang
diawetkan itu dibedah dan isinya dipisahkan untuk diukur volumenya. Isi
lambung kemudian ditempatkan pada cawan menggunakan pipet tetes lalu diamati
dan diidentifikasi dengan mikroskop.
3.4.2 Pengamatan Gonad Ikan Terbang
Pengukuran tingkat perkembangan gonad dilakukan dalam tiga tahap.
Tahap pertama, gonad diangkat dari dalam perut ikan lalu diawetkan dengan
formalin 4 %. Tahap kedua, diambil tiga bagian dari gonad tersebut, yaitu bagian
posterior, median dan anterior sebagai gonad contoh. Tahap ketiga, gonad contoh
diamati dengan menggunakan mikroskop yang dilengkapi dengan mikrometer
dengan pembesaran 100 µ.
3.5 Pengolahan Data
3.5.1 Nisbah Kelamin
Nisbah kelamin ikan terbang dihitung dengan menggunakan persamaan
sesuai Effendie (2002) :
NK =
M
F
(3.1)
Keterangan :
M = Jumlah ikan jantan (ekor)
F
= Jumlah ikan betina (ekor)
3.5.2 Faktor Kondisi
Faktor kondisi ikan terbang dihitung berdasarkan panjang dan berat ikan
contoh dengan menggunakan persamaan sesuai Effendie (2002). Untuk pola
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
55
pertumbuhan yang bersifat allometrik (b ≠ 3), faktor kondisi dihitung dengan
menggunakan persamaan:
K=
W
aLb
(3.2)
Untuk pola pertumbuhan yang bersifat isometrik (b = 3), faktor kondisi
dihitung dengan menggunakan persamaan :
K=
105W
L3
(3.3)
Keterangan :
K
= Faktor kondisi
W
= Berat ikan contoh (g)
L
= Panjang ikan contoh (mm)
a dan b = Konstanta
3.5.3 Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
Penentuan TKG secara morfologis dilakukan di laboratorium berdasarkan
tanda-tanda umum serta ukuran gonad, sedangkan penentuan histologisnya
dengan mengamati gonad di laboratorium secara mikrokopis.
3.5.4 Indeks Kematangan Gonad (IKG)
Indeks kematangan gonad ikan terbang dihitung dengan menggunakan
persamaan sesuai Effendie (2002) :
Bg
IKG = B x 100%
t
(3.4)
Keterangan :
IKG
= Indeks kematangan gonad
Bg
= Berat gonad (g)
Bt
= Berat total (g)
3.5.5 Fekunditas
Fekunditas ikan terbang diamati, kemudian dianalisis dengan
menggunakan persamaan Effendie (2002) sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
56
F=
GxVxX
Q
(3.5)
Keterangan :
F
= Fekunditas
G
= Berat gonad (g)
V
= Isi pengenceran (cc)
X
= Jumlah telur tiap cc
Q
= Berat telur contoh (g)
3.6 Analisis Hubungan variabel dependent dengan variabel independent
Beberapa variabel dalam aspek biologi yang dianalisis dengan fungsi
regresi, uji t dan koefisien determinasi adalah panjang dengan berat dan panjang
dengan isi perut. Ukuran berat dan isi perut menjadi variabel dependent,
sedangkan ukuran panjang sebagai variabel independent. Penghitungan korelasi
panjang dengan berat dengan menggunakan persamaan Hile (1936) :
W = aLb
(3.6)
Keterangan:
W
= Berat ikan
L
= Panjang ikan
a dan b = Konstanta
Transformasi kedalam logaritma dengan persamaan Walpole (1995):
 LogW x  (LogL)2 -  LogL x  (LogL x LogW)
Log a =
N x Σ (LogL)2 – (Σ LogL)2
 LogW – (N x Log a)
b
=
Σ LogL
Keterangan:
N
= Jumlah ikan
W
= Berat total (g)
L
= Panjang total (mm)
a dan b = Konstanta
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
57
Dari persamaan tersebut dapat diketahui pola pertumbuhan panjang dan
bobot ikan. Nilai b yang diperoleh digunakan untuk menentukan pola
pertumbuhan dengan kriteria :
1.
Jika b = 3, pertumbuhan bersifat isometrik, yaitu pertumbuhan panjang sama
dengan pertumbuhan bobot.
2.
Jika b > 3 maka pola pertumbuhan bersifat allometrik positif, yaitu
pertambahan bobot lebih cepat dari pertambahan panjang.
3.
Jika b < 3 maka pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif, yaitu
pertambahan panjang lebih cepat dari pertambahan bobot.
Untuk mengetahui keeratan hubungan antara panjang dengan berat
digunakan koefisien korelasi (r) dengan rumus :
r=
 ( Log L x Log W )
 ( Log L) x  ( Log W )
2
2
Besaran pengaruh dan keeratan hubungan pertambahan variabel
independent yang mengakibatkan adanya pertambahan variabel dependent
dianalisis dengan fungsi regresi, uji t, dan koefisien determinasi (R2) dengan
bantuan aplikasi SPSS.
1.
Fungsi regresi
Analisis ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari
variabel independent (X) terhadap variabel dependent (Y), dengan persamaan
sebagai berikut:
Y = a+bX
(3.7)
Keterangan :
Y = variabel dependent
X = variabel independent
a = konstanta
b = koefisien determinasi
Nilai koefisien variabel independent mengandung arti bahwa setiap
kenaikan satu satuan, maka variabel dependent (Y) akan naik sebesar X satuan,
dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model adalah tetap.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
58
2.
Koefisien determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar
hubungan antar variabel dalam pengertian yang lebih jelas. Koefisien determinasi
akan menjelaskan seberapa besar perubahan atau variasi suatu variabel bisa
dijelaskan oleh perubahan atau variasi pada variabel yang lain (Santosa & Ashari,
2005).
Nilai R2 antara 0 - 1, jika hasil lebih mendekati angka 0 berarti
kemampuan variabel independent dalam menjelaskan variasi variabel berat amat
terbatas. Tapi jika hasil mendekati angka 1 berarti variabel panjang memberikan
hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel
dependent.
3.
Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independent secara
parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependent. Derajat
signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai signifikan lebih kecil dari
derajat kepercayaan maka kita menerima hipotesis alternatif, yang menyatakan
bahwa suatu variabel independent secara parsial mempengaruhi variabel
dependent.
Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05, maka H1 diterima dan Ho
ditolak. Apabila thitung > ttabel dapat disimpulkan bahwa variabel X memiliki
kontribusi terhadap Y. Nilai t yang positif menunjukkan bahwa variabel X
mempunyai hubungan yang searah dengan Y. Jadi dapat disimpulkan
pertambahan variabel independent memiliki pengaruh signifikan atau tidak
terhadap pertambahan variabel dependent.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
59
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Umum Ikan Terbang Cheilopogon katoptron
Ikan terbang merupakan salah satu komoditas komersial penting di
beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya di perairan Pemuteran, Bali Barat.
Ikan terbang di perairan ini juga merupakan sumber mata pencaharian utama
masyarakat nelayan di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Penangkapan ikan
terbang di perairan Pemuteran, Bali Barat didominasi oleh kapal penangkap ikan
skala kecil yang menggunakan kapal motor tempel, dengan ukuran kapal <5 GT
dan alat tangkap drift gillnet 100-150 piece (Gambar 4.1).
Gambar 4.1. Kapal penangkap ikan terbang di perairan Pemuteran, Bali Barat
[Sumber: Hasil pengamatan lapangan]
Berdasarkan data pengamatan lapangan, diketahui ikan terbang
Cheilopogon katoptron mendominasi hasil tangkapan nelayan di perairan
Pemuteran, Bali Barat. Ikan terbang dari spesies yang lain, seperti Cheilopogon
59
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
60
artisignis, Cheilopogon suttoni, Cheilopogon papilio juga tertangkap dalam
jumlah yang sedikit (Gambar 4.2).
Cheilopogon katoptron
Cheilopogon atrisignis
Cheilopogon suttoni
Cheilopogon papilio
Gambar 4.2. Beberapa spesies ikan terbang yang tertangkap di perairan
Pemuteran, Bali Barat [Sumber: Hasil pengamatan lapangan]
Pada bulan Juni 2011, saat operasi penangkapan ikan terbang di perairan
Pemuteran, diketahui ikan lumba-lumba (Tursiops truncatus) dan ikan layaran
(Istiophorus platypterus) melintas di sekitar daerah penebaran jaring, bahkan ikan
layaran (Istiophorus platypterus) dalam jumlah kecil tertangkap oleh jaring. Ikanikan tersebut, diduga mengejar gerombolan ikan terbang yang ada di perairan ini.
Dugaan tersebut, diperkuat oleh pustaka dan penelitian terdahulu bahwa ikan
lumba-lumba dan ikan layaran merupakan salah satu predator ikan terbang.
Ikan terbang Cheilopogon katoptron di perairan Pemuteran Bali Barat
April-Juni 2011 memiliki ukuran yang bervariasi antara ikan jantan dan betina.
Ikan terbang Cheilopogon katoptron jantan memiliki rentang panjang yang lebih
pendek daripada ikan terbang Cheilopogon katoptron betina. Perbedaan selang
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
61
panjang yang terdapat pada populasi ikan terbang Cheilopogon katoptron di
perairan Pemuteran Bali Barat ini dapat terjadi, karena adanya perbedaan dalam
tingkatan umur/generasi dan strategi reproduksi. Berdasarkan hasil operasi
penangkapan ikan dengan menggunakan jaring insang hanyut (drift gillnet),
diperoleh ikan terbang Cheilopogon katoptron dengan ukuran terkecil (<160 mm)
dengan persentase dibawah 2 % dari total hasil tangkapan. Artinya, alat tangkap
yang digunakan telah selektif meloloskan ikan berukuran kecil agar tidak
terjaring.
Ikan terbang Cheilopogon katoptron yang tertangkap di perairan
Pemuteran Bali Barat pada bulan April-Juni 2011 juga diketahui belum memasuki
masa pemijahan. Hal ini dapat diindikasikan dari berbagai faktor, diantaranya
adalah perbandingan jenis kelamin (sex ratio) dan tingkat kematangan gonad ikan
terbang Cheilopogon katoptron yang tertangkap. Dominasi ikan terbang
Cheilopogon katoptron jantan dinyatakan hampir dua kali lipat (1,8 kali) dari ikan
terbang Cheilopogon katoptron betina. Selain itu, gonad yang berisi sel kelamin
hanya ditemukan pada ikan terbang Cheilopogon katoptron betina dengan
frekuensi yang rendah (2,7 %) dari keseluruhan hasil tangkapan pada bulan AprilJuni 2011, serta hanya memiliki kematangan gonad yang berada pada tingkat I
dan II. Menurut Nikolsky (1963), perubahan nisbah kelamin terjadi secara teratur.
Pada awalnya ikan jantan lebih dominan kemudian berubah menjadi 1:1 diikuti
dengan dominasi ikan betina. Perubahan ini terjadi pada saat menjelang dan
selama pemijahan.
Pertumbuhan ikan terbang Cheilopogon katoptron memiliki pola yang
berbeda antara jantan dengan betina. Ikan terbang Cheilopogon katoptron betina
memiliki pola pertumbuhan yang lebih cepat daripada ikan terbang Cheilopogon
katoptron jantan, dalam hal peningkatan berat. Secara umum, pola pertumbuhan
ikan terbang Cheilopogon katoptron pada April-Juni 2011 memiliki
kecenderungan meningkat, dengan peningkatan tertinggi pada bulan Juni 2011.
Hal ini diduga karena adanya strategi reproduksi dan ketersediaan makanan yang
melimpah pada bulan tersebut. Dari hasil pengamatan lapangan, diketahui bahwa
ketersediaan plankton pada bulan April-Juni 2011 terjadi peningkatan jumlah
sel/individu plankton per m3 yang fluktuatif. Pada bulan Juni 2011 terjadi ledakan
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
62
populasi (blooming) fitoplankton, yang diketahui populasinya meningkat lebih
dari 4.000 % dari bulan April 2011. Fenomena blooming ini memperkuat dugaan
telah terjadinya upwelling di perairan Pemuteran pada bulan tersebut.
Data parameter fisik air laut juga mengindikasikan upwelling telah terjadi
di perairan ini. Suhu air laut menunjukkan penurunan yang signifikan (9,3 %)
pada bulan Juni 2011, hal ini dapat diakibatkan karena bercampurnya massa air
dari dasar laut yang lebih dingin dengan air yang ada di permukaan. Derajat
keasaman (pH) juga mengalami kecenderungan menurun. Pada bulan Mei 2011,
terjadi penurunan pH sebesar 6 %, sedangkan pada bulan Juni 2011 terjadi
penurunan 1,3 %. Penurunan pH ini dapat diakibatkan oleh banyak faktor,
diantaranya adalah adanya konsumsi karbonat dan ion hidrogen dalam proses
nitrifikasi oleh bakteri. Meningkatnya kadar karbondioksida di perairan
Pemuteran Bali Barat juga menjadi penyebab menurunnya pH. Konsentrasi
karbondioksida meningkat karena tingginya laju pernapasan yang tidak seimbang
dengan laju fotosintesis untuk menghasilkan oksigen terlarut (DO) dalam
perairan.
Penurunan DO pada bulan Juni 2011 sebesar 14 % dari bulan Mei 2011,
memperkuat indikasi adanya penurunan produksi oksigen dari proses fotosintesis
oleh produsen di dalam perairan, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida di
perairan menjadi lebih tinggi. Penurunan tingkat kecerahan air laut pada bulan
Juni 2011 (31,4 %), juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya
laju fotosintesis di perairan. Penurunan tingkat kecerahan perairan ini dapat terjadi
karena masuknya sinar matahari terhalang oleh substrat yang naik ke permukaan
perairan, sehingga laju fotosintesis juga menurun.
Peningkatan ketersediaan makanan ikan terbang Cheilopogon katoptron
dari kelompok zooplankton juga terjadi di perairan Pemuteran Bali Barat pada
bulan Mei-Juni 2011. Populasi individu zooplankton per m3 rata-rata meningkat
180 % setiap bulan, dan didominasi oleh genus Copepoda. Pada bulan April 2011
komposisi Copepoda mencapai 44,9 %, bulan Mei 2011 komposisi Copepoda
mencapai 58,8 %, dan bulan Juni 2011 komposisi Copepoda mencapai 62,8 %
dari total populasi individu zooplankton per m3 yang ada di perairan Pemuteran
Bali Barat. Hal ini berbanding lurus dengan ditemukannya Copepoda dalam isi
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
63
perut ikan terbang Cheilopogon katoptron sebagai makanan utamanya, dengan
persentase rata-rata paling tinggi (45-74 %), sedangkan sisanya diisi oleh jenis
makanan lainnya terdiri dari kelompok fitoplankton, cacing dan telur ikan.
4.2 Hasil dan Pembahasan
4.2.1 Sebaran Panjang-Berat Ikan Terbang Cheilopogon katoptron
Ikan terbang Cheilopogon katoptron yang dijadikan sampel penelitian
dengan kurun waktu 3 bulan (April-Juni 2011) adalah 262 ekor, terdiri dari ikan
jantan sebanyak 168 ekor dan ikan betina sebanyak 94 ekor. Pada bulan April
jumlah ikan jantan yang tertangkap 32 ekor, ikan betina 30 ekor. Pada bulan Mei
jumlah ikan jantan 60 ekor, ikan betina 40 ekor. Pada bulan Juni jumlah ikan
jantan 76 ekor, ikan betina 24 ekor. Ukuran panjang ikan terbang Cheilopogon
katoptron di perairan Pemuteran Bali Barat berkisar 168-231 mm untuk ikan
jantan, sedangkan ikan betina ukuran panjangnya berkisar 158-284 mm. Menurut
Hermawati (2006), panjang total ikan terbang di perairan Binuangeun untuk ikan
jantan adalah 220-277 mm, sedangkan ikan betina 215-275 mm. Ukuran panjang
ikan terbang di perairan Binuangeun lebih panjang dibandingkan dengan ikan
terbang yang ada di perairan Bali Barat. Perbedaan ini dapat terjadi karena ikan
terbang di perairan Pemuteran-Bali Barat berbeda spesies dengan yang ada di
perairan Binuangeun. Selain itu, ikan terbang di perairan Pemuteran Bali Barat
merupakan hasil utama usaha perikanan tangkap skala kecil dengan frekuensi
tangkapan yang tinggi, sehingga banyak ikan tertangkap dalam ukuran yang kecil.
Berdasarkan ukuran panjang, ikan terbang ini dikelompokkan menjadi 14
kelompok selang panjang, dengan kisaran selang panjang 150-289 mm. Selang
kelas ini dibuat untuk mengelompokkan ikan berdasarkan perbedaan
generasi/umur. Pada ikan betina, frekuensi tertinggi pada selang panjang >179189 mm sebanyak 28 ekor (29,8 %), sedangkan untuk ikan jantan frekuensi
tertinggi terdapat pada selang panjang >199-209 mm sebanyak 52 ekor (31,0 %).
Ukuran paling kecil ikan terbang Cheilopogon katoptron yang tertangkap terdapat
pada selang panjang >159-169 mm (0,6 %) untuk ikan jantan, sedangkan ikan
betina paling kecil pada selang panjang 150-159 mm (1,1 %). Hasil ini
menunjukkan bahwa ikan terbang Cheilopogon katoptron yang tertangkap
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
64
dengan ukuran kecil persentasenya rendah (Gambar 4.3). Artinya, nelayan
setempat telah melakukan penangkapan ikan terbang dengan menggunakan alat
tangkap yang selektif, sehingga ikan yang berukuran kecil bukan menjadi target
Frekuensi (ekor)
utama penangkapan.
57
Selang panjang (mm)
Gambar 4.3. Sebaran frekuensi ikan terbang Cheilopogon katoptron
berdasarkan selang panjang total (mm), April-Juni 2011
Pada bulan April, panjang rata-rata diketahui 209,97 mm, bulan Mei
diketahui 199,76 mm, dan bulan Juni 2011 diketahui 195,53 mm. Perbedaan
ukuran panjang rata-rata pada setiap bulan dapat terjadi karena adanya perbedaan
generasi/tingkat kesamaan umur dalam sub populasi ikan terbang Cheilopogon
katoptron yang terdapat di perairan Pemuteran Bali Barat (Gambar 4.4).
Gambar 4.4. Perbedaan ukuran panjang rata-rata ikan terbang Cheilopogon
katoptron di perairan Pemuteran Bali Barat, April-Juni 2011
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
65
4.2.2 Nisbah Kelamin Ikan Terbang Cheilopogon katoptron
Berdasarkan selang ukuran panjang, nisbah kelamin mengalami fluktuasi.
Nisbah kelamin yang paling tinggi terdapat pada selang kelas >219-229 mm. Pada
selang kelas >229-239 mm nisbah kelamin seimbang dengan ikan jantan dan
betina masing-masing 1 ekor (Gambar 4.5). Menurut Hermawati (2006) nisbah
kelamin yang paling tinggi terdapat pada selang panjang 222-228 mm dan yang
Nisbah kelamin (J/B)
terkecil terdapat pada selang panjang 271-277 mm.
Selang panjang (mm)
Gambar 4.5. Nisbah kelamin ikan terbang Cheilopogon katoptron per selang
panjang total (mm)
Dari hasil tangkapan ikan terbang dengan drift gillnet diperoleh
komposisi rata-rata ikan jantan adalah 64,1 % dan ikan betina 35,9 %, sehingga
diperoleh sex ratio tidak seimbang, yakni jantan-betina pada perbandingan 1,8:1
(Gambar 4.6). Secara keseluruhan maupun tiap bulan perbandingan ikan terbang
yang tertangkap tidak seimbang, yaitu ikan jantan lebih banyak dibandingkan ikan
betina. Menurut Hermawati (2006), nisbah kelamin ikan terbang di perairan
Binuangeun yang tertangkap dengan menggunakan gill net adalah 2:1 (tidak
seimbang). Menurut Ali (1981), ikan terbang di Laut Flores yang ditangkap
dengan bubu hanyut memiliki nisbah kelamin 1:1. Perbedaan dari ketiga hasil
penelitian ini akibat perbedaan alat tangkap yang digunakan, perbedaan tingkah
laku antara ikan jantan dan betina, mortalitas dan pertumbuhan (Ball & Rao,
1984).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
66
Perbedaan jumlah ikan jantan dan betina pada penelitian bulan April-Juni
2011, juga dapat terjadi karena adanya strategi reproduksi. Populasi ikan
Cheilopogon katoptron jantan berjumlah lebih banyak (mendominasi)
dibandingkan dengan ikan Cheilopogon katoptron betina sebelum masa memijah.
Diperkirakan, nisbah kelamin akan berubah secara teratur diikuti dengan dominasi
ikan betina pada saat menjelang dan selama pemijahan. Hasil ini dapat menjadi
salah satu indikator untuk mengambil kesimpulan bahwa ikan terbang
Cheilopogon katoptron di perairan Pemuteran Bali Barat pada bulan April-Juni
belum memasuki masa pemijahan.
Gambar 4.6. Nisbah kelamin ikan terbang Cheilopogon katoptron
4.2.3 Faktor Kondisi Ikan Terbang Cheilopogon katoptron
Faktor kondisi ikan jantan dan ikan betina berfluktuatif. Pada ikan jantan
memiliki kisaran faktor kondisi 0,86-1,30, sedangkan kisaran faktor kondisi pada
ikan betina adalah 0,78-1,26 (Gambar 4.7). Menurut Hermawati (2006), nilai
faktor kondisi berfluktuasi tiap bulannya dengan kisaran nilai tertinggi 1,05-1,18
pada bulan Juni untuk ikan jantan dan 0,97-1,10 pada bulan Agustus untuk ikan
betina. Faktor kondisi rata-rata ikan terbang Cheilopogon katoptron pada bulan
April-Juni 2011 adalah sebesar 1,00 (Lampiran 1). Nilai rata-rata faktor kondisi
pada penelitian selama April-Juni ini adalah 1,00 untuk ikan jantan dan ikan
betina, artinya rata-rata ikan terbang Cheilopogon katoptron di perairan
Pemuteran merupakan ikan yang kurus dan panjang.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
67
Gambar 4.7. Faktor kondisi ikan terbang Cheilopogon katoptron
jantan dan betina per bulan
4.2.4 Tingkat Kematangan Gonad Ikan Terbang Cheilopogon katoptron
Tingkat perkembangan gonad dapat diketahui dari hasil pengamatan
morfologi dan histologi dari sampel gonad ikan terbang Cheilopogon katoptron.
Tanda-tanda yang diamati untuk mengidentifikasi TKG adalah warna, bentuk dan
ukuran gonad, serta volume sel kelamin yang terdapat di dalam gonad (Tabel 4.1).
Hasil histologis gonad ikan terbang, diketahui bahwa tingkat kematangan
gonad ikan terbang Cheilopogon katoptron masih berada pada level I dan II. Pada
TKG I, dapat dilihat ukuran telur yang sangat kecil, tidak memiliki kuning telur
dan nukleus yang terlihat dengan jelas. Pada TKG II, oogonia telah terlihat
membelah secara mitosis menjadi oosit dan mulai terjadi pengendapan kuning
telur (Gambar 4.8).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
68
Tabel 4.1. Tingkat kematangan gonad ikan terbang Cheilopogon katoptron
TKG
Jantan
I
Tidak ditemukan
II
Betina
Ukuran kecil, panjang dan
transparan, butir telur tidak terlihat
dengan mata telanjang
Ukuran gonad lebih besar dari TKG
I, warna putih kekuningan, mulai
terlihat butir telurnya, pada ujung
gonad anterior lebih besar daripada
median dan posterior, warna
kekuningan
Tidak ditemukan
[Sumber: Hasil pengamatan data lapangan]
Nu
Os
Og
Yg
100 µm
100 µm
TKG I
TKG II
Gambar 4.8. Struktur histologis gonad ikan terbang Cheilopogon katoptron betina
(Keterangan: Og = Oogonium; Os = Oosit; Nu = Nukleus; dan
Yg = Kuning telur) [Sumber: Hasil pengamatan data lapangan]
Berdasarkan pengamatan sampel (April-Juni 2011), gonad berisi telur
hanya ditemukan pada ikan betina. TKG I pada ikan betina 1,06 %, sedangkan
TKG II pada ikan betina 5,32 % dari total 94 ekor ikan terbang betina sampel
(Gambar 4.9). Pada ikan jantan tidak ditemukan. Maka dapat dinyatakan, bahwa
kelompok ikan terbang Cheilopogon katoptron yang tertangkap pada bulan AprilJuni belum memasuki masa memijah.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
69
Frekuensi (ekor)
Betina
Gambar 4.9. Tingkat kematangan gonad ikan terbang Cheilopogon
katoptron per bulan
Pada penelitian ini, diperoleh ukuran ikan pertama kali matang gonad
pada ukuran 213 mm untuk ikan betina. Menurut Hermawati (2006), di perairan
Binuangeun ikan jantan pertama kali matang gonad pada ukuran 237 mm dan ikan
betina 238 mm. Pada penelitian Ali (1981), di perairan Sulawesi Selatan ikan
jantan pertama kali matang gonad pada ukuran 180 mm dan betina 170 mm.
Perbedaan ukuran pertama kali matang gonad antara perairan Binuangeun,
perairan Sulawesi Selatan dan perairan Pemuteran Bali Barat dapat terjadi akibat
adanya
perbedaan
spesies
dan
adanya
indikasi
penangkapan
berlebih
(overfishing), yang menyebabkan kelompok ikan yang terdapat di perairan
tersebut memiliki ukuran panjang total yang lebih pendek, sehingga ikan ini
memiliki strategi reproduksi untuk bertahan hidup, yaitu dengan mempercepat
matang gonad pada ukuran panjang yang lebih pendek dibandingkan di perairan
Binuangeun.
4.2.5 Parameter Fisik Air Laut
Dalam penelitian ini parameter fisik air laut yang diuji meliputi suhu air
laut, kadar pH air laut, salinitas, DO dan kecerahan air laut di perairan Pemuteran
Bali Barat (Lampiran 2). Pada pengambilan sampel selama 3 bulan di 20 titik,
diketahui rata-rata kualitas air laut di perairan Bali Barat sebagaimana Tabel 4.2
dibawah ini.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
70
Tabel 4.2. Kondisi rata-rata kualitas air laut di perairan Pemuteran Bali Barat,
April-Juni 2011
Suhu air (°C)
pH
Salinitas (o/oo)
DO (mg/l)
Kecerahan (m)
April
Mei
Juni
30,1
8,3
35,5
22,0
30,7
7,8
33,0
5,7
20,4
27,9
7,7
33,5
4,9
14,0
[Sumber: Hasil pengamatan data lapangan]
Dari Tabel 4.2, diketahui indikator suhu air laut menunjukkan penurunan
yang cukup signifikan pada bulan Juni 2011 (9,3 %). Turunnya suhu air laut ini
dapat terjadi karena berbagai faktor, salah satunya adalah adanya percampuran air
dari dasar laut ke permukaan. Berdasarkan indikator parameter air laut lainnya,
diperkirakan telah terjadi naiknya masa air dari dasar ke permukaan (upwelling) di
perairan Pemuteran Bali Barat. Ledakan populasi fitoplankton juga memperkuat
adanya upwelling telah terjadi pada bulan Juni 2011 (lihat Gambar 4.9).
Derajat keasaman (pH) juga terlihat kecenderungan menurun. Pada bulan
Mei 2011, terjadi penurunan sebesar 6 %, sedangkan pada bulan Juni terjadi
penurunan 1,3 %. Penurunan pH ini dapat diakibatkan oleh banyak faktor,
diantaranya adalah adanya konsumsi karbonat dan ion hidrogen dalam proses
nitrifikasi oleh bakteri. Meningkatnya kadar karbondioksida di perairan
Pemuteran Bali Barat juga menjadi penyebab menurunnya pH. Konsentrasi
karbondioksida meningkat karena tingginya laju pernapasan dan rendahnya laju
fotosintesis yang menghasilkan oksigen terlarut.
Menurunnya kadar oksigen terlarut pada bulan Juni sebesar 14 %, juga
memperkuat indikasi terjadinya upwelling di perairan Pemuteran Bali Barat, yang
menyebabkan meningkatnya kadar karbondioksida di perairan. Tingkat kecerahan
air laut yang cenderung menurun pada bulan Juni 2011 (31,4 %), menjadi salah
satu faktor yang menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut (DO) di perairan.
Menurunnya tingkat kecerahan perairan ini dapat terjadi karena masuknya sinar
matahari terhalang oleh substrat yang naik ke permukaan perairan, sehingga
menyebabkan laju fotosintesis juga menurun.
Selanjutnya, pada bulan April-Juni 2011 juga terjadi penurunan salinintas
di perairan Pemuteran Bali Barat. Pada bulan Juni 2011, salinitas menurun sebesar
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
71
(6,1 %) dari bulan April 2011. Penurunan salinitas ini dapat terjadi karena daerah
pengambilan sampel berada dekat dengan pantai yang memiliki tingkat variasi
salinitas yang tinggi. Diduga, tingkat salinitas di dasar perairan lebih rendah dari
yang ada di permukaan, sehingga saat terjadi pengadukan air laut dapat
menurunkan tingkat salinitasnya.
Secara umum, berdasarkan parameter fisik air laut dan indeks
keanekaragaman plankton Shannon-Wiener dengan nilai indeks berkisar 1,54 1,65, dapat dinyatakan bahwa perairan Pemuteran telah mengalami pencemaran
pada tingkat sedang, namun masih dalam batasan toleransi baku mutu air laut.
Artinya, kondisi perairan Pemuteran dapat diindikasikan telah terjadi pencemaran
yang mengarah kepada penurunan kualitas lingkungan perairan. Hal ini menjadi
catatan penting, bahwa dalam rangka pengelolaan ikan terbang di perairan
Pemuteran, pencemaran lingkungan yang terus meningkat dapat berdampak
negatif terhadap kelangsungan sumberdaya ikan terbang pada khususnya.
4.2.6 Komposisi Plankton
4.2.6.1 Fitoplankton
Hasil pencacahan dan identifikasi fitoplankton dari perairan Pemuteran
Bali Barat, Kabupaten Buleleng sebanyak 20 stasiun pada bulan April-Juni 2011
disajikan dalam Tabel 4.3 dan Gambar 4.10. Menurut Sidabutar (2008), di
perairan estuari Cisadane, Teluk Jakarta ditemukan sebanyak 11 genus yaitu
Amphizolenia, Ceratium, Dynophysis, Dictyocha, Gymnodinium, Gonyaulax,
Noctiluca, Ornithoceros, Prorocentrum, Protoperidinium dan Pyrophacus.
Pada bulan April (8 stasiun), berhasil dilakukan identifikasi 15 spesies
fitoplankton, terdiri dari 9 spesies Diatomae dan 6 spesies Dinoflagellata.
Diatomae yang terindentifikasi, yaitu Chaetoceros, Coscinodiscus, Hemiaulus,
Nitzschia, Odontela, Rhizosolenia, Skeletonema, Thalassiothrix dan
Thalassiosira, sedangkan Dinoflagellata yang terindentifikasi, yaitu Ceratium,
Dinophysis, Noctiluca, Ornithocerus, Prorocentrum dan Protoperidinium. Jumlah
sel fitoplankton per m3 diketahui 8.989 sel/m3, dengan indeks keanekaragaman
1,54, indeks kemerataan 0,93 dan indeks kekayaan jenis 0,48.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
72
Pada bulan Mei (8 stasiun), berhasil dilakukan identifikasi 13 spesies
fitoplankton, terdiri dari 9 spesies Diatomae dan 4 spesies Dinoflagellata.
Diatomae yang terindentifikasi, yaitu Asterolampra, Bacteriastrum, Chaetoceros,
Coscinodiscus, Hemiaulus, Nitzschia, Rhizosolenia, Thalassiothrix dan
Thalassiosira, sedangkan Dinoflagellata yang terindentifikasi, yaitu Ceratium,
Ornithoceros, Podolampas dan Protoperidinium. Jumlah sel fitoplankton per m3
diketahui 9.158 sel/m3, dengan indeks keanekaragaman 1,34, indeks kemerataan
0,87 dan indeks kekayaan jenis 0,45.
Pada bulan Juni (4 stasiun), berhasil dilakukan identifikasi 16 spesies
fitoplankton sebanyak 16 spesies, terdiri dari 14 spesies Diatomae dan 2 spesies
Dinoflagellata. Diatomae yang terindentifikasi, yaitu Bacteriastrum, Chaetoceros,
Coscinodiscus, Eucampia, Guinardia, Hemiaulus, Lauderia, Leptocylindrus,
Nitzschia, Rhizosolenia, Skeletonema, Stephanopyxis, Thalassiosira dan
Thalassiothrix, sedangkan Dinoflagellata yang terindentifikasi, yaitu Ceratium,
dan Protoperidinium. Jumlah sel fitoplankton per m3 diketahui 401.324 sel/m3,
dengan indeks keanekaragaman 1,65, indeks kemerataan 0,69 dan indeks
kekayaan jenis 0,80.
Berdasarkan perbedaan jumlah sel fitoplankton per m3 pada bulan AprilJuni 2011 (Gambar 4.11), diketahui bahwa telah terjadi ledakan populasi
fitoplankton di perairan Pemuteran-Bali Barat pada bulan Juni 2011. Hal ini
diperkuat dengan adanya indikasi penurunan suhu air laut, kadar oksigen terlarut,
dan kecerahan perairan pada bulan Juni 2011.
Tabel 4.3. Indeks keanekaragaman dan kemerataan Shannon-Wiener fitoplankton
di perairan Pemuteran, bulan April-Juni 2011
Bulan
Jumlah sel/m3
April 2011
Mei 2011
Juni 2011
8.989
9.158
401.324
Indeks
Keanekaragaman
1,54
1,34
1,65
Indeks
Kemerataan
0,93
0,87
0,69
[Sumber: Hasil pengamatan lapangan]
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
73
Gambar 4.10. Jumlah rata-rata fitoplankton per spesies (sel/m3), April-Juni 2011
Rata-rata:
Indeks keragaman = 1,51
Indeks kemerataan = 0,83
Indeks kekayaan spesies = 0,57
Gambar 4.11. Jumlah rata-rata individu fitoplankton (sel/m3) per bulan
4.2.6.2 Zooplankton
Hasil pencacahan dan identifikasi zooplankton dari perairan Pemuteran
Bali Barat, Kabupaten Buleleng berasal dai 20 stasiun pengambilan sampel pada
bulan April-Juni 2011 ditampilkan dalam Tabel 4.4 dan Gambar 4.12.
Pada bulan April 2011 (8 stasiun), zooplankton hasil identifikasi
sebanyak 37 macam, yaitu Medusa, Nectophore, Siphonophora, Stenophores,
Tornaria, Chaetognatha, Evadne, Penelia, Ostracoda, Calanoida (Copepoda),
Cyclopoida (Copepoda), Harpacticoida (Copepoda), Amphipoda, Brachiopoda,
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
74
Cephalopoda, Isopoda, Oikopleura, Luciferidae (mysis), Luciferidae (dewasa),
Mysidacea (larvae), Euphausiacea (larvae), Thaliacea, Brachyura (zoea),
Brachyura (megalopa), Caridea (larvae), Penaeidae (larvae), Polychaeta,
Porcelanid (larvae), Stomatopoda, Sargestidae (zoea), Bipinnaria, Echinopluteus,
Ophiopluteus, Creseis, Gastropoda, telur-telur ikan dan larva ikan. Jumlah
populasi zooplankton per m3 diketahui 70,00 ind/103m3, dengan indeks
keanekaragaman 1,79, indeks kemerataan 0,62 dan indeks kekayaan jenis 0,61.
Pada bulan ini, genus Copepoda adalah yang dominan. Komposisinya mencapai
44,9 % dari total populasi individu zooplankton per m3 yang ada di perairan
Pemuteran, Bali Barat.
Pada bulan Mei 2011 (8 stasiun), zooplankton hasil identifikasi sebanyak
31 macam, yaitu Medusa, Nectophore, Siphonophora, Stenophores, Chaetognatha,
Evadne, Ostracoda, Calanoida (Copepoda), Cyclopoida (Copepoda),
Harpacticoida (Copepoda), Amphipoda, Clionina, Cyphonautes, Euphausiacea
(zoea), Fritillaria, Oikopleura, Phoronis, Thaliacea, Tornaria, Brachyura (zoea),
Cirripedia, Polychaeta, Sargestidae (larvae), Bipinnaria (larvae), Echinopluteus,
Ophiopluteus, Bivalvia, Creseis, Gastropoda, telur-telur ikan dan larva ikan.
Jumlah populasi zooplankton per m3 diketahui 271,68 ind/103m3, dengan indeks
keanekaragaman 1,65, indeks kemerataan 0,58 dan indeks kekayaan jenis 0,31.
Pada bulan ini, genus Copepoda adalah yang dominan. Komposisinya mencapai
58,8 % dari total populasi individu zooplankton per m3 yang ada di perairan
Pemuteran, Bali Barat.
Pada bulan Juni 2011 (4 stasiun), zooplankton hasil identifikasi sebanyak
30 macam, yaitu Medusa, Nectophore, Siphonophora, Chaetognatha, Ostracoda,
Calanoida (Copepoda), Cyclopoida (Copepoda), Harpacticoida (Copepoda),
Amphipoda, Desmopterus papilio, Euphausiacea zoea, Euphausiacea (dewasa),
Fritillaria, Isopoda, Oikopleura, Luciferidae (zoea), Luciferidae (mysis),
Luciferidae (dewasa), Thaliacea, Brachyura (zoea), Cirripedia, Cypris,
Polychaeta, Bipinnaria, Ophiopluteus, Bivalvia, Creseis, Gastropoda, telur-telur
ikan dan larva ikan. Jumlah populasi zooplankton per m3 diketahui 124,52
ind/103m3, dengan indeks keanekaragaman 1,80, indeks kemerataan 0,60 dan
indeks kekayaan jenis 0,41. Pada bulan ini, genus Copepoda adalah yang
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
75
dominan. Komposisinya mencapai 62,8 % dari total populasi individu
zooplankton per 103 m3 yang ada di perairan Pemuteran, Bali Barat (Gambar
4.12).
Gambar 4.12. Komposisi jumlah rata-rata zooplankton per genus (ind/103 m3),
April-Juni 2011
Dari Gambar 4.12 dapat dilihat dominasi populasi zooplankton dari genus
Copepoda berada pada setiap bulan, kisarannya mencapai 44-63 % dari
keseluruhan populasi zooplankton yang ada di perairan Pemuteran Bali Barat.
Dengan demikian, Copepoda diduga akan menjadi menu utama makanan ikan
terbang Cheilopogon katoptron di perairan Pemuteran, Bali Barat.
Berdasarkan perbedaan jumlah individu zooplankton per 103m3 pada
bulan April-Juni 2011 (Gambar 4.12), diketahui bahwa telah terjadi peningkatan
populasi zooplankton di perairan Pemuteran-Bali Barat pada bulan Juni 2011,
akibat adanya blooming fitoplankton pada bulan yang sama.
Tabel 4.4. Indeks keanekaragaman dan kemerataan Shannon-Wiener zooplankton
di perairan Pemuteran, bulan April-Juni 2011
Bulan
April 2011
Mei 2011
Juni 2011
Jumlah
ind/103 m3
70,00
271,68
124,52
Indeks
Keanekaragaman
1,79
1,65
1,80
Indeks
Kemerataan
0,62
0,58
0,60
[Sumber: Hasil pengamatan lapangan]
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
76
4.2.7 Komposisi Isi Perut Ikan Terbang Cheilopogon katoptron
Dalam penelitian ini, makanan yang terdapat dalam isi perut ikan terbang
Cheilopogon katoptron dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu krustasea,
cacing, fitoplankton dan kelompok lain-lain. Berdasarkan hasil analisis isi perut
ikan terbang yang dijadikan sampel, diketahui bahwa komposisi isi perut ikan
terbang Cheilopogon katoptron didominasi oleh kelompok makanan dari kelas
krustasea. Pada bulan April 2011, krustasea komposisinya mencapai 50,5 %, pada
bulan Mei 2011 mencapai 82,8 %, dan pada bulan Juni 2011 jumlahnya mencapai
87,6 % (Gambar 4.13).
Gambar 4.13. Komposisi isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron
berdasarkan kelompok makanan per bulan
Berdasarkan analisis makanan dari kelas krustasea, diketahui Genus
Copepoda mendominasi isi perut sebagai makanan utama ikan terbang
Cheilopogon katoptron pada bulan April-Juni 2011, komposisinya mencapai 8289 % dari keseluruhan krustasea yang ada di dalam isi perut ikan terbang
Cheilopogon katoptron (Gambar 4.14). Hasil ini berbanding lurus dengan
kenyataan di lapangan bahwa Genus Copepoda mendominasi populasi
zooplankton yang ada di perairan Pemuteran, Bali Barat.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
77
Gambar 4.14. Makanan Utama ikan terbang Cheilopogon katoptron di perairan
Pemuteran, Bali Barat, bulan April-Juni 2011
Komposisi isi perut ikan terbang berfluktuatif setiap (Gambar 4.15). Pada
bulan April 2011, diketahui nafsu makan tertinggi pada rentang ukuran 279-289
mm dan yang terendah pada ukuran 189-199 mm. Pada bulan Mei dan Juni 2011,
nafsu makan tertinggi pada rentang ukuran 219-229 dan terendah pada ukuran
159-179 mm. Dari hasil analisis, perbedaan volume isi perut ini sangat
berhubungan dengan adanya perbedaan ukuran panjang ikan terbang Cheilopogon
katoptron. Semakin panjang ukuran ikan akan semakin tinggi tingkat nafsu
makan, yang diindikasikan melalui makanan yang ada di dalam isi perut ikan.
Artinya, kebutuhan akan energi lebih banyak pada ikan-ikan yang berukuran lebih
besar, sehingga untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut pola makan ikan
terbang juga bertambah.
Gambar 4.15. Volume isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron
(sel-ind) per selang panjang, April-Juni 2011
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
78
4.2.8 Hubungan Panjang dan Berat Ikan Terbang Cheilopogon katoptron
Hubungan panjang-berat ikan terbang Cheilopogon katoptron jantan dan
betina menunjukkan hubungan yang erat dengan koefisien korelasi (r) ikan jantan
dan betina mendekati 1 yaitu sebesar 0,99. Pada bulan April 2011, model
pertumbuhan ikan terbang Cheilopogon katoptron jantan W = 0,0003L2,3370,
sedangkan ikan terbang Cheilopogon katoptron betina W = 0,0001L2,5903. Dari
model pertumbuhan tersebut diperoleh nilai b sebesar 2,3370 untuk jantan dan
2,5903 untuk betina. Hal ini menunjukkan bahwa ikan terbang Cheilopogon
katoptron (jantan-betina) mempunyai pola pertumbuhan allometrik negatif (b<3)
yang berarti pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan
berat (Gambar 4.16).
Gambar 4.16. Hubungan panjang dan berat ikan terbang Cheilopogon katoptron,
April 2011
Pada bulan Mei 2011, model pertumbuhan ikan terbang Cheilopogon
katoptron jantan W = 0,0003L2,3863, sedangkan ikan terbang Cheilopogon
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
79
katoptron betina W = 0,00002L2,8240. Dari model pertumbuhan tersebut diperoleh
nilai b sebesar 2,3863 untuk jantan dan 2,8240 untuk betina. Hal ini menunjukkan
bahwa ikan terbang Cheilopogon katoptron (jantan-betina) mempunyai pola
pertumbuhan allometrik negatif (b<3) (Gambar 4.17).
Gambar 4.17. Hubungan panjang dan berat ikan terbang Cheilopogon katoptron,
Mei 2011
Pada bulan Juni 2011, model pertumbuhan ikan terbang Cheilopogon
katoptron jantan W = 0,0004L2,6828, sedangkan ikan terbang Cheilopogon
katoptron betina W = 0,0002L3,2198. Dari model pertumbuhan tersebut diperoleh
nilai b sebesar 2,6828 untuk jantan dan 3,2198 untuk betina. Hal ini menunjukkan
bahwa ikan terbang Cheilopogon katoptron jantan mempunyai pola pertumbuhan
allometrik negatif (b<3), dan allometrik positif (b>3) untuk ikan terbang
Cheilopogon katoptron betina (Gambar 4.18). Artinya, ikan terbang Cheilopogon
katoptron betina memiliki strategi pemijahan untuk persiapan kematangan gonad
dengan meningkatkan berat lebih cepat daripada ikan terbang Cheilopogon
katoptron jantan.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
80
Gambar 4.18. Hubungan panjang dan berat ikan terbang Cheilopogon katoptron,
Juni 2011
Pengaruh pertambahan panjang terhadap pertambahan berat dianalisis
dengan mengunakan SPSS, untuk mengetahui persentase pengaruh dan keeratan
korelasi antara panjang dengan berat ikan terbang Cheilopogon katoptron (Tabel
4.5 dan Lampiran 3).
Tabel 4.5. Hasil analisis pengaruh panjang terhadap berat ikan terbang
Cheilopogon katoptron, April-Juni 2011
No
Variabel
April
1.
2.
3.
4.
5.
Panjang
Konstanta (a)
Fhitung
Ftabel
R2
Koef. Regresi
thitung
ttabel
Jantan
Betina
Jantan Betina
Jantan
Betina
2,338
-3,586
69,675
4,149
0,699
2,590
-4,187
253,244
4,196
0,907
8,347 15,914
2,037
2,0484
Fhitung > Ftabel : Variabel bebas secara
simultan berpengaruh terhadap
variabel terikat
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
81
Tabel 4.3. (Lanjutan)
No
Mei
1.
2.
3.
4.
5.
Juni
1.
2.
3.
4.
5.
Variabel
Koef. Regresi
Jantan
Betina
thitung
Jantan Betina
ttabel
Jantan
Betina
Panjang
2,387
2,823
Konstanta (a) -3,702
-4,716
Fhitung
184,105 151,154
4,001
Ftabel
4,085
2
R
0,760
0,799
13,569 12,294
2,000
2,021
Fhitung > Ftabel : Variabel bebas secara
simultan berpengaruh terhadap
variabel terikat
Panjang
Konstanta (a)
Fhitung
Ftabel
R2
18,929 9,778
1,992
2,064
Fhitung > Ftabel : Variabel bebas secara
simultan berpengaruh terhadap
variabel terikat
2,683
3,218
-4,400
358,300
3,967
0,829
-5,624
95,602
4,260
0,813
Dari hasil analisis data, dengan menggunakan fungsi regresi diperoleh
persamaan sebagai berikut:
 Persamaan hubungan panjang-berat pada bulan April 2011:
Yjantan = 3E-04X2,338;Ybetina = 7E-05X2,590
 Persamaan hubungan panjang-berat pada bulan Mei 2011:
Yjantan = 2E-04X2,387;Ybetina = 2E-05X2,823
 Persamaan hubungan panjang-berat pada bulan Juni 2011:
Yjantan = 4E-05X2,683;Ybetina = 2E-06X3,218
Keterangan : Y = berat ikan (g)
X = panjang ikan (mm)
Dari persamaan diatas dapat dijelaskan bahwa dalam keadaan cateris
paribus (seimbang) dengan selang kepercayaan 95 %, perubahan berat ikan
terbang Cheilopogon katoptron dapat dijelaskan sebagai berikut:
 Berat bertambah sebesar 2,338 % pada ikan jantan dan 2,590 % pada ikan
betina. Setiap perubahan berat ikan terbang Cheilopogon katoptron
disebabkan karena pertambahan panjang memiliki pengaruh keeratan
sebesar 69,9 % untuk jantan dan 90,7 % untuk betina. Artinya,
pertambahan ukuran panjang ikan memberikan pengaruh yang nyata
terhadap pertambahan berat ikan terbang Chelopogon katoptron.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
82
 Berat bertambah sebesar 2,387 % pada ikan jantan dan 2,823 % pada ikan
betina. Setiap perubahan berat ikan terbang Cheilopogon katoptron
disebabkan karena pertambahan panjang memiliki pengaruh keeratan
sebesar 76,0 % untuk jantan dan 79,9 % untuk betina. Artinya,
pertambahan ukuran panjang ikan memberikan pengaruh yang nyata
terhadap pertambahan berat ikan terbang Chelopogon katoptron.
 Berat bertambah sebesar 2,683 % pada ikan jantan dan 3,218 % pada ikan
betina. Setiap perubahan berat ikan terbang Cheilopogon katoptron
disebabkan karena pertambahan panjang memiliki pengaruh keeratan
sebesar 82,9 % untuk jantan dan 81,3 % untuk betina. Artinya,
pertambahan ukuran panjang ikan memberikan pengaruh yang nyata
terhadap pertambahan berat ikan terbang Chelopogon katoptron.
4.2.9 Hubungan Isi Perut dan Panjang Ikan Terbang Cheilopogon katoptron
Sebaran data isi perut berdasarkan nilai tengah kelas panjang ikan
terbang Cheilopogon katoptron ditabulasikan dalam Tabel 4.6, sedangkan
hubungan antara keduanya dapat dilihat dalam Gambar 4.19.
Tabel 4.6. Sebaran data isi perut dan panjang ikan terbang Cheilopogon katoptron,
bulan April-Juni 2011
Selang
Tengah
Panjang (mm) Kelas
150-159
155 mm
>159-169
164 mm
>169-179
174 mm
>179-189
184 mm
>189-199
194 mm
>199-209
204 mm
>209-219
214 mm
>219-229
224 mm
>229-239
234 mm
>239-249
244 mm
>249-259
254 mm
>259-269
264 mm
>269-279
274 mm
>279-289
284 mm
Jumlah:
April
25 ind 5,0 %
27 ind 5,4 %
22 ind 4,4 %
20 ind 4,0 %
16 ind 3,2 %
28 ind 5,6 %
28 ind 5,6 %
46 ind 9,2 %
41 ind 8,2 %
46 ind 9,2 %
41 ind 8,2 %
52 ind 10,4 %
50 ind 10,0 %
57 ind 11,4 %
499 Ind
Isi Perut (%)
Mei
0,0 %
21 ind 4,2 %
29 ind 5,8 %
44 ind 8,8 %
34 ind 6,8 %
32 ind 6,4 %
35 ind 7,0 %
44 ind 8,8 %
0,0 %
0,0 %
0,0 %
0,0 %
0,0 %
0,0 %
239 Ind
Juni
0,0 %
0,0 %
27 ind 5,4 %
33 ind 6,6 %
47 ind 9,4 %
54 ind 10,8 %
47 ind 9,4 %
56 ind 11,2 %
0,0 %
0,0 %
0,0 %
0,0 %
0,0 %
0,0 %
264 Ind
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
83
Gambar 4.19. Hubungan ukuran panjang ikan dengan isi perut ikan terbang
Cheilopogon katoptron, April-Juni 2011
Pengaruh ukuran panjang terhadap isi perut ikan dianalisis dengan
mengunakan SPSS, untuk mengetahui persentase pengaruh dan keeratan korelasi
antara panjang dengan isi perut ikan terbang Cheilpopogon katoptron (Tabel 4.7
dan Lampiran 3).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
84
Tabel 4.7. Hasil analisis pengaruh panjang terhadap isi perut ikan terbang
Cheilopogon katoptron, bulan April-Juni 2011
No
Variabel
April
1. Panjang
2. Konstanta (a)
3. Fhitung
4. Ftabel
5. R2
Mei
1. Panjang
2. Konstanta (a)
3. Fhitung
4. Ftabel
5. R2
Juni
1. Panjang
2. Konstanta (a)
3. Fhitung
4. Ftabel
5. R2
Koef. Regresi
thitung
ttabel
Kesimpulan
1,719
-2,490
27,234
4,600
0,694
5,219
2,145
Signifikan
1,974
-2,988
25,440
5,591
0,836
2,781
-4,759
17,629
5,987
0,815
Fhitung > Ftabel : Variabel bebas secara
simultan berpengaruh terhadap variabel
terikat
5,044
2,365
Signifikan
Fhitung > Ftabel : Variabel bebas secara
simultan berpengaruh terhadap variabel
terikat
4,199
2,447
Signifikan
Fhitung > Ftabel : Variabel bebas secara
simultan berpengaruh terhadap variabel
terikat
Dari hasil analisis, dengan menggunakan fungsi Cobb Douglas diperoleh
persamaan regresi sebagai berikut:
YApril = 0,003X1,719; dan YMei = 0,001X1,974; dan YJuni = 0,00002X2,781
Keterangan : Y = isi perut (sel-individu)
X = panjang ikan (mm)
Dari persamaan diatas dapat dijelaskan bahwa dalam keadaan cateris
paribus (seimbang), dengan selang kepercayaan 95 % setiap perubahan satu
satuan panjang ikan terbang Cheilopogon katoptron bertambah 1 % akan
mengakibatkan peningkatan isi perut sebagai berikut:
 Isi perut meningkat sebesar 1,719 % pada bulan April 2011. Setiap
peningkatan isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron disebabkan
karena pertambahan panjang memiliki pengaruh keeratan sebesar 69,4 %.
Artinya, pertambahan ukuran panjang ikan memberikan pengaruh yang
nyata terhadap volume isi perut ikan terbang Chelopogon katoptron.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
85
 Isi perut meningkat sebesar 1,974 % pada bulan Mei 2011. Setiap
peningkatan isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron disebabkan
karena pertambahan panjang memiliki pengaruh keeratan sebesar 83,6 %.
Artinya, pertambahan ukuran panjang ikan memberikan pengaruh yang
nyata terhadap volume isi perut ikan terbang Chelopogon katoptron.
 Isi perut meningkat sebesar 2,781 % pada bulan April 2011. Setiap
peningkatan isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron disebabkan
karena pertambahan panjang memiliki pengaruh keeratan sebesar 81,5 %.
Artinya, pertambahan ukuran panjang ikan memberikan pengaruh yang
nyata terhadap volume isi perut ikan terbang Chelopogon katoptron.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
86
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Ikan terbang Cheilopogon katoptron yang tertangkap di perairan
Pemuteran-Bali Barat pada bulan April-Juni 2011 belum memasuki masa
pemijahan, karena sex ratio masih didominasi oleh ikan jantan dan gonad yang
berisi sel kelamin/telur hanya terdapat pada ikan terbang Cheilopogon katoptron
betina dengan persentase yang rendah pada tingkat kematangan gonad I dan II.
Ikan terbang Cheilopogon katoptron pada penelitian bulan April-Juni 2011
memiliki pola pertumbuhan allometrik. Ikan terbang Cheilopogon katoptron
betina memiliki strategi reproduksi yang lebih cepat daripada ikan terbang
Cheilopogon katoptron jantan. Hal ini didukung dengan pertumbuhan berat ikan
terbang Cheilopogon katoptron lebih besar daripada ikan terbang Cheilopogon
katoptron jantan. Secara umum, ikan terbang Cheilopogon katoptron pada
penelitian ini dinyatakan sebagai ikan yang kurus.
Pada bulan Juni 2011, perairan Pemuteran, Bali Barat yang dijadikan
lokasi penelitian diduga mengalami upwelling. Hal ini diperkuat dengan adanya
penurunan suhu perairan, penurunan oksigen terlarut, penurunan tingkat
kecerahan dan adanya ledakan populasi (blooming) fitoplankton di perairan ini.
Makanan utama ikan terbang Cheilopogon katoptron di perairan
Pemuteran, Bali barat adalah dari Genus Copepoda, komposisinya mencapai 74 %
dari keseluruhan makanan yang dimakan. Hal ini berbanding lurus dengan
kenyataan di lapangan bahwa Genus Copepoda mendominasi populasi
zooplankton yang ada di perairan (45-63 %).
Pertambahan ukuran panjang memberikan pengaruh yang nyata terhadap
ukuran berat dan volume isi perut ikan terbang Cheilopogon katoptron. Artinya,
setiap ukuran panjang ikan terbang Cheilopogon katoptron bertambah Y-satuan,
maka beratnya akan bertambah sebesar X-satuan. Selanjutnya, setiap ukuran
panjang ikan terbang Cheilopogon katoptron bertambah Y-satuan, maka nafsu
makan yang diindikasikan dengan volume isi perut ikan terbang Cheilopogon
katoptron juga bertambah sebesar X-satuan.
86
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
87
5.2 Saran
Dalam rangka pengelolaan perikanan ikan terbang yang berkelanjutan di
perairan Pemuteran Bali Barat, penelitian ini masih harus dilanjutkan untuk
mendapatkan informasi ilmiah tentang ikan terbang secara lengkap, mulai dari
informasi tentang spesies, sub populasi, aspek biologi reproduksi, parameter
lingkungan, ketersediaan makanan, hingga informasi Catch Per Unit Effort
(CPUE).
Diharapkan pada penelitian selanjutnya, pengujian beberapa aspek perlu
dilakukan secara komprehensif dan kontinyu, guna mengetahui korelasi dan
pengaruh antar aspek yang diuji. Waktu penelitian perlu dilakukan sepanjang
tahun, guna mengetahui pola pertumbuhan dan musim memijah yang lebih akurat.
Uji sampel DNA juga perlu dilakukan untuk mengetahui sub populasi ikan
terbang, guna menjaga keberlangsungan populasi ikan terbang dari kepunahan.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
88
DAFTAR PUSTAKA
Afriyanto, E dan E. Liviawaty. (1991). Teknik Pembuatan Tambak Udang.
Yogyakarta. Penerbit Kanisius.
Ali, S. A. (1981). Kebiasaan Makan, Pemijahan, Hubungan Berat Panjang dan
Faktor Kondisi Ikan Terbang, Cypselurus oxycephalus (Bleeker) di Laut
Flores, Sulawesi Selatan. Makassar. Tesis Pascasarjana UNHAS : 49 hlm.
Ali, S.A. (1994). Pengaruh Suhu dan Fotoperiode Terhadap Perkembangan Larva
Ikan Terbang, Cypselurus spp. Makassar. Tesis Pascasarjana UNHAS :
109 hlm.
Ali, S.A. (2005). Kondisi Sediaan dan Keragaman Populasi Ikan Terbang,
Hirundichthys oxycephalus (Bleeker, 1852) di Laut Flores dan Selat
Makassar. Makassar. Disertasi Pascasarjana UNHAS.
Ali, S. A., dan M. N. Nessa. (2005). Status Ilmu Pengetahuan Ikan Terbang di
Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Perikanan Ikan Terbang : 22
hlm.
Ali, S. A., M. N. Nessa, M. I. Djawad, dan S. B. A. Omar. (2004a). Analisis
Fluktuasi Hasil Tangkapan dan Hasil Maksimum Lestari Ikan Terbang
(Exocoeitidae) di Sulawesi Selatan. Torani. Jurnal Ilmu Kelautan dan
Perikanan, 2 (14) : 104-112.
Ali, S. A., M. N. Nessa, M. I. Djawad, dan S. B. A. Omar. (2004b). Musim dan
Kelimpahan Ikan Terbang (Exocoetidae) di Sekitar Kabupaten Takalar
(Laut Flores) Sulawesi Selatan. Torani. Jurnal Ilmu Kelautan dan
Perikanan, 3 (14) : 165-172.
Ali, S. A. (2005). Kondisi Sediaan dan Keragaman Populasi Ikan Terbang
(Hirundichthys oxycephalus Bleeker, 1852) di Laut Flores dan Selat
Makassar. Makassar. Disertasi Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu
Pertanian. Universitas Hasanuddin : 282 hlm.
Ali, S. A. (2005). Perkembangan Kematangan Gonad dan Musim Pemijahan Ikan
Terbang (Hirundicthys oxycephalus Bleeker, 1852) di Laut Flores,
Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan : 416-424.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
89
Andamari, R., dan T. Zubaidi. (1994). Aspek Reproduksi Ikan Terbang di Desa
Rangas, Kabupaten Majene, Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Perikanan
Laut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian : 11-22.
Arinardi, O. H., Trimaningsih dan Sudirdjo. (1994). Pengantar tentang Plankton
serta Kelimpahan Plankton Predominan di Sekitar Pulau Jawa dan Bali.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia : 108 hlm.
Arinardi, O. H. (1997). Status Pengetahuan Plankton di Indonesia. Oseanologi dan
Limnologi di Indonesia, 30 : 63-95.
Ayodhyoa. (1981). Metoda Penangkapan Ikan. Bogor. Yayasan Dewi Sri : 97
hlm.
Ball, D. V., dan K.V. Rao. (1984). Marine fisheries. Tata Megraw – Hill
Publishing Company, Limited. New Delhi : 470 hlm.
Balon, E. K. (1984). Reflection on Some Decisive Events in The Early Life of
Fishes. Soc, 113 : 178-185.
Barnham, C., dan A. Baxter. (1998). Condition Factor K for Salmonid Fish. State
of Victoria, Department of Natural Resources and Environment.Fisheries
Notes : 1-4.
Baso, A. (2004). Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Ikan Terbang (Cypselurus
spp.) Berkelanjutan di Perairan Selat Makassar dan Laut Flores (Suatu
Kajian Bioteknis dan Sosial Ekonomi). Desertasi Pascasarjana Universitas
Hasanudin.
Birowo, dan Arief. (1983). Upwelling atau Penaikan Massa Air. Jurnal Pewarta
Oceana. LON-LIPI. Jakarta, vol. 2 (3): 12-21.
Boyd, C. E. (1982). Water Quality Management for Pond for Fish Culture.
Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam.
Boyd, C. E. dan F. Lichtkoppler. (1982).Water Quality Management in Pond Fish
Culture. Auburn University, Auburn.
Brandt, A. V., (1972). Fish Catching Methods of the World. London, Fishing
News (Books) Ltd. : 240 pp.
Brotowijoyo, M. D., Dj. Tribawono., dan E. Mulbyantoro. (1995). Pengantar
Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
90
Brown, E. E., dan J. B. Gratzek. (1980). Fish Farming Handbook. AVI Publishing
Company INC, New York.
Dalzell, P. (1993). The Fisheries Biology of Flying Fishes (families : Exocoetidae
and hemirhamphidae) from the Camotes Sea, Central Philipines. Journal
of Fish Biology, 43 : 19-32.
Davenport, J. (1994). How and Why Flyingfish Fly (review). Journal Fish
Biology and Fisheries, 4 : 184-214.
Davis, C. C. (1955). The Marine and Freshwater Plankton. Michigan State Univ.
Press : 562 pp.
Delsman, H. C. dan J. D. F. Hardenberg. (1931). De Indische Zeevisschen en
Zeevissherij. N.V. Boekhandel en Drukkerij dan Co. Batavia Centrum :
388 pp.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali. (2006). Laporan Tahunan Program
Pengembangan Sumberdaya Perikanan Tangkap. Denpasar : 76 hlm.
Direktorat Jenderal Perikanan. (1979). Buku Pedoman Pengenalan Sumber
Perikanan Laut Bagian-1 (Jenis-Jenis Ikan Ekonomis Penting). Jakarta :
Departemen Pertanian.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. (2010). Buku Statistik Perikanan
Tangkap. Jakarta. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Dwiponggo., A. T. Sujastami., dan S. Nurhakim. (1983). Pengkajian Potensi dan
Tingkat Pengusahaan Perikanan Torani di Perairan Sulawesi Selatan.
Laporan Penelitian Perikanan Laut, 25 : 1-12.
Effendie, M. I. (2002). Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka
Nusantara : 163 hlm.
Fahri, S. (2001). Keragaman Genetik Ikan Terbang, Cypselurus poisthopus di
Perairan Teluk Mandar, Teluk Manado, dan Teluk Tomini Sulawesi
Selatan. Bogor: Program Pasca Sarjana IPB : 53 hlm.
Febyanty, F., dan A. Syahailatua. (2008). Kebiasaan Makan Ikan Terbang,
Hirundicthys oxycephalus dan Cheilopogon cyanopterus, di Perairan Selat
Makassar. Jurnal. Pen. Perik. Indonesia, 14 (1) : 123-131.
Froese, R., dan D. Pauly (2006). FishBase : World wide web electronic
publication. www.fishbase.org, version (05/2006).
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
91
Fyson, J. (1985). Design of Small Fishing Vessels. Fishing News (Books) Ltd.
England.
Ghufron, dan Kordi. (2005). Budidaya Ikan Laut di Karamba. Jakarta. Penerbit
Rineka Cipta.
Gomes, C., R. B. Dales., dan H. A. Oxendford. (1998). The Application of Rapd
Market in Stock Discrimination of the Four Wing Flyingfish,
Hirundichthys affinis in the Central Western Atlantic. Molecular ecology,
7 : 1029-1039 pp.
Gross, G.A. (19921). Genetic Concepts for Iron Formation. Economic Geology
Monograph, Vol. 8: 51-81.
Hallegraeff, G. M. (1991). Aquaculturist’s Guide to Harmful Australian
Microalgae. Fishing Industry Training Board of Tasmania Inc. Hobart.
CSIRO Division of Fisheries.
Hermawati, L. (2006). Aspek Biologi Reproduksi Ikan Terbang (Hirundichthys
oxycephalus) di Perairan Binuangeun Kecamatan Malingping, Kabupaten
Lebak, Banten. Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
Hile, R. (1936). Age and Growth of the Ciseo Leucichthys artedi (Lesueur), in the
Lakes of the Northeastern Highland, Wisconsin. U.S. Dept. of Comm.
Bur. Fish. Bull : No. 19.
Hoar, W. S. (1957). Gonads and Reproduction. In: The physiology of fishes. New
York. Margaret Brown (Ed.), Academic Press Inc.
Hoar, W. S., D. J. Randall, dan J. R. Brett. (1979). In Fish Physiology, vol. 8.
Bioenergetics and Growth. London: Academic Press.
Hutabarat, S., dan S. Evans. (1985). Pengantar Oseanografi. Jakarta. Penerbit UIPress.
Hutomo, M., Burhanuddin, dan S. Martosewojo. (1985). Sumberdaya Ikan
Terbang. Jakarta : Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI.
Kamler, E. (1992). Early Life History of Fish an Energetics Approach. London :
Chapman and Hall.
Kaswadji, R. F., F. Widjaja, dan Y. Wardiatno. (1993). Phytoplankton Primary
Productivity and Growth Rate in the Coastal Waters of Bekasi Regency.
Jakarta. Aq. Sci. Fish, 1(2) : 1-15.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
92
Khokiattiwong, W. R. Mahon, dan W. Hunte. (2000). Seasonal Abundance and
Reproduction of the Four Wing Flyingfish Hirundichthys affinis of
Barbados. Environmental Biology of Fishes, 59 : 43-60.
Lagler, K. F., J. E. Bardach, R. R. Miller, dan D. Passino. (1977). New York :
Ichtiology. John Willey and Sons. Inc : 545 pp.
Martasuganda, S. (2005). Jaring Insang (Gillnet). Serial Teknologi Penangkapan
Ikan Berwawasan Lingkungan (Edisi Baru). Bogor: Jurusan Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor.
Menteri Lingkungan Hidup. (2004). Standar Baku Mutu Air Laut. Jakarta :
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup : No. 51.
Moyle, P. B., dan J. J. Cech, Jr. (1982). Fishes: An Introduction to Ichthyology,
(2nd Edition, 1988). New Jersey. Prentice-Hall, Englewood Cliffs : 593
pp.
Mubyarto. (1995). Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta. LP3ES, 305 hlm.
Muhajir, F. Ahmad, dan Edward. (2004). Variasi Kadar Oksigen Terlarut di
Perairan Tanimbar Bagian Utara dan Selatan, Maluku Tenggara. Jurnal
ilmiah Sorihi, 3 : 1-9.
Munro, I. S. R. (1967). The fishes of New Guinea. New Guinea. Departement of
Agriculture, Stock and Fisheries, Port Moresby, 2 : 356 pp.
Musick, J. A. (1999). Criteria of Define Extinction Risk in Marine Fishes, The
American Fisheries Society Initiative. Fisheries, 24(12) : 6-14.
Nabib, R., dan F. H. Pasaribu. (1989). Patologi dan Penyakit Ikan. Bogor: PAU
Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.
Nelson, J. S. (1994). The Fishes of the World. New York : John Wiley and Sons.
Nessa, M. N., H. Sugondo, J. Andarias dan A. Rotentondok. (1977). Studi
Pendahuluan Terhadap Perikanan Ikan Terbang di Selat Makassar.
Lontara: Lembaga Pengabelat Makassar, 13 : 643-669.
Nessa, M. N., S. A. Ali., dan A. Rachman. (1993). Penelitian Pengembangan
Potensi Sumberdaya Laut Selat Makassar, Laut Flores dan Selat Makassar,
Sulawesi Selatan. Lontara: Lembaga Pengabelat Makassar, 13 : 643-669 p.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
93
Nikolsky, G. V. (1963). The Ecology of Fishes. Translated by. L. Birkett. London
and New York. Academic Press : 352 pp.
Nikolsky, G. V. (1969). Theory of Fish Population Dynamic as the Biological
Background of Rational Exploitation and the Management of Fisheries
Resources. Translate by Bradly, Oliver and Boyd : 323 pp.
Nontji, A. (1993). Laut Nusantara. Jakarta. PT. Djambatan.
Nybakken. (1992). Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Penerjemah : H.
Muhammad Eidman. Jakarta. PT.Gramedia.
Odum, E. P. (1979). Fundamental of Ecology (3rd edition). Original English
Edition.W. B. Sounders Co. Philadelphia.
Oxenford, H. A., W. Hunte., dan R. Mahon. (1995). Distribution and Relative
Abundance of Flyingfish (Exocoetidae) in the Eastern Caribbian (adult).
Mar. Ecol. Prog. Ser, 117 : 11-23.
Parin, N. V. (1999). Exocoetidae (flyingfish). In K.E. Carpenter and V.H. Nien.
The Living Marine Resources of the Wettern Central Pacific. FAO, 4 :
2162-2179.
Pariwono, J.I. (1988). Studi upwelling di Perairan Selatan Pulau Jawa. Bogor.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Purnomo, A. (1992). Site Selection for Sustainable Coastal Shrimp Ponds. Central
Reseach Institute for Fishery. Agency for Agriculture and Development
Ministry of Agriculture. Jakarta.
Rahman dan Novita. 2006. Studi Tentang Bentuk Kasko Kapal Ikan di Beberapa
Daerah di Indonesia. Torani Jurnal, 16(4) : 240-249.
Ricker, W. E. (1975). Computation and Interpretation of Biological Statistics of
Fish Populations. Bull. Fish. Res. Board Can. No. 119 : 382 pp.
Romimohtarto, K. (2001). Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut.
Jakarta. Penerbit : Djambatan.
Royce, W. F. (1972). Introduction to the Fishery Science. New York. Academik
Press : 315 pp.
Saanin, H. (1984). Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan (Jilid I). Bogor : Bina
Cipta : 245 hlm.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
94
Sastrawijaya, A. T. (1991). Pencemaran Lingkungan. Jakarta. Penerbit Rineka
Cipta, 35 : 83-87.
Sidabutar, T. (2008). Kondisi Plankton di Teluk Jakarta. Kajian Perubahan
Ekosistem Perairan Teluk Jakarta. Dalam : Ruyitno, Suyarso dan
A.Budiyanto (eds.) Kajian Perubahan Ekologis Perairan Teluk Jakarta.
P2O-LIPI : 113-130 p.
Sidjabat, M. M. (1976). Pengantar Oseanografi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sihotang, S. (2004). Pengembangan Perikanan Ikan Terbang (Cypselurus spp.) di
Sulawesi Selatan. Bogor : Disertasi Program Pasca Sarjana-IPB : 286 hlm.
Siregar, R. (2003). Biologi Reproduksi Ikan Giligan (Panna mircodon) di
Perairan Mayangan, Subang, Jawa Barat. Bogor : Skripsi. Departemen
Manajemen Sumberdaya Perikanan. FPIK. IPB : 58 hlm.
Shephered, J., dan N. Bromage. (1988). Intensive Fish Farming. BSP Profesional
Books Oxford London. Edinburgh, Boston Palo Alio Melbourne.
Soderberg, R. W. (1995). Flowing Water Fish Culture. Florida. U. S. Lewis
Publisher.
Stewart, P. A. M., dan R. S. T. Ferro. (1985). Measurements on Gillnets in a
Flume Tank. Fisheries Research, 3 : 29-46.
Subani,W. dan H. R. Barus. (1989). Alat Penangkapan Ikan dan Udang laut di
Indonesia. Jurnal Penelitian Perkanan Laut. ISSN 0216-7727.
Syahailatua, A. (2004a). Ikan Terbang Antar Marga Cypselurus dan Cheilopogon.
Oseana, 19 : 1-7.
Syahailatua, A. (2004b). Perikanan Ikan Terbang dan Prospek Pengembangannya
di Indonesia. Jakarta : Laporan Akhir Penelitian. Program Riset
Kompetitif LIPI : 43 hlm.
Syahailatua, A. (2005). Perikanan Ikan Terbang dan Prospek Pengembangannya
di Indonesia. Jakarta : Laporan Akhir Penelitian. Program Riset
Kompetitif LIPI : 68 hlm.
Syahailatua, A. (2006). Perikanan Ikan Terbang di Indonesia : Riset Menuju
Pengelolaan. Oseana, 19 : 21-31.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
95
Tamsil, A. (2000). Studi Beberapa Karakteristik Reproduksi Prapemijahan dan
Kemungkinan Pemijahan Ikan Bungo (Glossogobius efaureus) di Danau
Tempe dan Sidenreng, Sulawesi Selatan. Bogor : Disertasi Program Pasca
Sarjana. IPB : 130 hlm.
Taylor, F. J. R. (1976). Dinoflagellates from the International Indian Ocean
Expedition. Biblioteca Botanica, 132 : 1-234.
Walpole, R. V. E. (1992). Pengantar Statistika (edisi ke-3). Alih bahasa oleh
Sumantri, B. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama : 515 hlm.
Wardoyo. (1974). Manajemen Kualitas Air di Dalam Lingkungan Perairan dan
Manajemen Ekosistem Perairan. Bogor. Institut Pertanian Bogor : 38 hlm.
Weber, M., dan L. F. De Beaufort. (1992). The Fishes of the Indo – Australian
Archipelago. E.J. Brill. Leiden, 4 : 410 pp.
Wickstead, J. H. (1965). An Introduction to the Study of Tropical Plankton.
Hutchinson Tropical Monographs. London. Hutchinson dan Co. (Pub.)
Ltd.
Yahya, M. A. (2006). Studi tentang Perikanan Ikan Terbang di Selat Makassar
Melalui Pendekatan Dinamika Biofisik, Musim, dan Daerah Penangkapan.
Bogor : Disertasi Pascasarjana IPB.
Yamaji, I. (1966). Illustrations of the Marine Plankton of Japan. Osaka, Japan :
Hoikusho : 369 pp.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
96
Lampiran 1. Faktor Kondisi Ikan Terbang C. katoptron di Perairan Bali Barat
(April-Juni 2011)
April 2011 (Jantan)
Jumlah
Sampel
L
Log L
W
Log W
Log L x
Log W
(Log L)2
K
32
203,6
73,8607
65,5
57,9370
133,7713
170,5002
32,12
Log L
W
Log W
64,2129
58,5
49,0968
April 2011 (betina)
Jumlah
L
Sampel
28
197,3
Log L x
Log W
112,7130
(Log L)2
K
147,3065
1,00
Mei 2011 (Jantan)
Jumlah
Sampel
L
Log L
W
Log W
Log L x
Log W
(Log L)2
K
60
205,0
138,6611
66,2
108,9177
251,8037
320,4872
60,19
Mei 2011 (Betina)
Jumlah
Sampel
L
Log L
W
Log W
Log L x
Log W
(Log L)2
K
40
191,9
91,2845
54,5
69,0647
157,7076
208,3547
40,18
Juni 2011 (Jantan)
Jumlah
Sampel
L
Log L
W
Log W
Log L x
Log W
(Log L)2
K
76
201,8
175,0947
61,8
135,4386
312,2161
403,4647
76,27
Juni 2011 (betina)
Jumlah
Sampel
L
Log L
W
Log W
Log L x
Log W
(Log L)2
K
24
182,1
54,2358
45,0
39,5399
89,3832
122,5726
24,06
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
97
Lampiran 2. Data Parameter Fisik Air Laut di Perairan Pemuteran Bali Barat
Tanggal
: 21 April 2011
Waktu
: pk. 06.00 WITA
Tempat
: Fishing Ground (Pemuteran-Bali Barat)
No.
1
Parameter
Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
6.37 WITA
7.10 WITA
7.40 WITA
08o 06’ 05” S
08 o 05’ 36” S
08 o 05’ 36” S
2
Posisi
o
o
114 39’ 35” E 114 39’ 26” E 114 o 39’ 37” E
3
Jarak (km)
9
10
11
4
Suhu air (°C)
30
30
30
5
Suhu udara (°C)
27
28
29
6
pH
8
8
8
7
Salinitas (°/oo)
36
35
36
8
Kecerahan (m)
21
20
21
9
Flow meter (rpm)
470
540
510
No.
Parameter
Stasiun IV
Stasiun V
Stasiun VI
1
Waktu
8.05 WITA
9.15 WITA
9.30 WITA
08o 05’ 31” S
08o 05’ 59” S
08o 06’ 14” S
2
Posisi
o
o
114 39’ 32” E
114 38’ 19” E
114o 38’ 13” E
3
Jarak (km)
11
14
14
4
Suhu air (°C)
30
31
31
5
Suhu udara (°C)
30
30
30
6
pH
9
8
8
7
Salinitas (°/oo)
35
35
35
8
Kecerahan (m)
24
23
22
9
Flow meter (rpm)
500
520
660
No.
Parameter
Stasiun VII
Stasiun VIII
1
Waktu
9.45 WITA
10.05 WITA
o
08 06’ 35” S
08o 00’ 49” S
2
Posisi
o
114 38’ 13” E
114o 38’ 38” E
3
Jarak (km)
15
16
4
Suhu air (°C)
29
31
5
Suhu udara (°C)
30
31
6
Ph
8
8
7
Salinitas (°/oo)
36
36
8
Kecerahan (m)
22
23
9
Flow meter (rpm)
740
590
Catatan: (1) Arus lemah/mati untuk 10 m saja perlu waktu lebih dari 15 menit;
(2) Tidak berombak.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
98
Lampiran 2. (Lanjutan)
Tanggal
: 25 Mei 2011
Waktu
: pk. 06.00 WITA
Tempat
: Fishing Ground (Pemuteran-Bali Barat)
No.
1
Parameter
Waktu
Stasiun I
Stasiun II
7.05 WITA
7.35 WITA
08o 06' 49" S
08o 06' 07" S
2
Posisi
o
114 39' 44" E
114o 39' 39" E
3
Suhu air (°C)
30
31
4
Suhu udara (°C)
28
26
5
pH
8
8
6
Salinitas (°/oo)
33
33
7
DO
6
6
8
Kecerahan (m)
10
21
9
Flow meter (rpm)
880
945
No.
Parameter
Stasiun IV
Stasiun V
1
Waktu
8.25 WITA
8.45 WITA
08o 05' 59" S
08o 06’03” S
2
Posisi
o
114 38' 46" E
114o 38’ 28” E
3
Suhu air (°C)
31
31
4
Suhu udara (°C)
28
29
5
pH
8
8
6
Salinitas (°/oo)
33
33
7
DO
6
6
8
Kecerahan (m)
22
23
9
Flow meter (rpm)
755
775
No.
Parameter
Stasiun VII
Stasiun VIII
1
Waktu
9.40 WITA
10.05 WITA
o
08 05’ 33” S
08o 05’ 46” S
2
Posisi
o
114 39’ 00” E
114o 39’ 22” E
3
Suhu air (°C)
31
31
4
Suhu udara (°C)
29
30
5
pH
8
8
6
Salinitas (°/oo)
33
33
7
DO
6
6
8
Kecerahan (m)
21
26
9
Flow meter (rpm)
850
715
Catatan: (1) Arus sedang; (2) Tidak berombak.
Stasiun III
7.49 WITA
08o 05' 68" S
114o 39' 17" E
31
28
8
33
6
20
950
Stasiun VI
9.15 WITA
08o 05’ 45” S
114o 38’ 34” E
31
29
8
33
6
20
720
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
99
Lampiran 2. (Lanjutan)
Tanggal
: 7 Juni 2011
Waktu
: pk. 06.00 WITA
Tempat
: Fishing Ground (Pemuteran-Bali Barat)
No.
1
Parameter
Waktu
2
Posisi
3
4
5
6
7
8
9
Suhu air (°C)
Suhu udara (°C)
pH
Salinitas (°/oo)
DO
Kecerahan (m)
Flow meter (rpm)
No.
1
Stasiun I
7.17 WITA
08o 07' 43" S
114o 39' 58" E
28
28
7
34
5
7
610
Stasiun II
7.45 WITA
08o 06' 16" S
114o 39' 39" E
28
28
8
33
5
13
600
Stasiun III
8.09 WITA
08o 05' 48" S
114o 39' 22" E
28
28
8
33
5
18
548
Parameter
Waktu
Stasiun IV
8,35
o
08 05' 32" S
2
Posisi
114o 38' 59" E
3
Suhu air (°C)
28
4
Suhu udara (°C)
28
5
pH
8
6
Salinitas (°/oo)
34
7
DO
5
8
Kecerahan (m)
18
9
Flow meter (rpm)
580
Catatan: (1) Arus kuat (tidak diukur); (2) Berombak.
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
100
Lampiran 3. Hasil Analisis Statistik dengan Fungsi Regresi, Uji-t dan Koefisien
Korelasi
Hubungan Panjang dan Berat pada Ikan Jantan
Variables Entered/Removed(b)
Variables
Variables
Entered
Removed
1
Panjang(a)
.
a All requested variables entered.
b Dependent Variable: Berat
Model
Method
Enter
Model Summary(b)
Model
R
R
Square
Adjusted
R Square
Std. Error
of the
Estimate
R Square
Change
F
Change
df-1
df-2
Sig. F
Change
R Square
Change
F
Change
0,03712
0,787
612,255
1
0,887(a) 0,787
0,785
a Predictors: (Constant), Panjang
b Dependent Variable: Berat
1
Change Statistics
df-1
166 0,000
ANOVA(b)
Sum of
Squares
1
Regression
0,844
Residual
0,229
Total
1,072
a Predictors: (Constant), Panjang
b Dependent Variable: Berat
Model
Df
1
166
167
Mean
Square
0,844
0,001
F
Sig.
612,255
0,000(a)
Standardized
Coefficients
t
Sig.
Beta
B
Std.
Error
0,887
17,257
24,744
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Model
1
B
Std. Error
(Constant)
-4,148
0,240
Panjang
2,578
0,104
0,000
0,000
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
df-2
101
Lampiran 3. (Lanjutan)
Hubungan Panjang dan Berat pada Ikan Betina
Variables Entered/Removed(b)
Variables
Variables
Entered
Removed
1
Panjang(a)
.
a All requested variables entered.
b Dependent Variable: Berat
Model
Method
Enter
Model Summary(b)
Model
1
R
R
Square
Adjusted
R Square
Std. Error
of the
Estimate
R Square
Change
F
Change
df-1
df-2
0,683(a)
0,466
0,460
Change Statistics
Sig. F
Change
0,07496
R Square
Change
0,466
F
Change
df-1
78,618
1
90 0,000
F
Sig.
78,618
0,000(a)
Standardized
Coefficients
T
Sig.
Beta
B
0,683
-5,139
8,867
a Predictors: (Constant), Panjang
b Dependent Variable: Berat
ANOVA(b)
Sum of
Squares
1
Regression
0,442
Residual
0,506
Total
0,947
a Predictors: (Constant), Panjang
b Dependent Variable: Berat
Model
Df
1
90
91
Mean
Square
0,442
0,006
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
1
(Constant) -2,363
0,460
Panjang
1,785
0,201
a Dependent Variable: Berat
Model
Std.
Error
0,000
0,000
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
df-2
102
Lampiran 3. (Lanjutan)
Hubungan Panjang dan isi Perut
Bulan April 2011
Variables Entered/Removed(b)
Model
Variables
Entered
Variables
Removed
Method
1
Panjang(a)
.
a All requested variables entered.
b Dependent Variable: Isi perut
Enter
Model Summary(b)
Model
1
R
R
Square
Adjusted
R Square
Std. Error
of the
Estimate
R Square
Change
F
Change
df-1
df-2
0,833(a)
0,694
0,669
Change Statistics
Sig. F
Change
0,10056
R Square
Change
0,694
27,234
F
Change
1
df-1
12 0,000
a Predictors: (Constant), Panjang
b Dependent Variable: Isi perut
ANOVA(b)
Sum of
Squares
Model
df
Mean Square
F
Sig.
27,234
0,000(a)
Standardized
Coefficients
t
Sig.
Beta
B
Std. Error
-3,238
0,007
5,219
0,000
Regression
0,275
1
0,275
Residual
0,121
12
0,010
Total
0,397
a Predictors: (Constant), Panjang
b Dependent Variable: Isi perut
13
1
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Model
1
B
Std. Error
(Constant)
-2,490
0,769
Panjang
1,719
0,329
0,833
a Dependent Variable: Isi perut
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
df-2
103
Lampiran 3. (Lanjutan)
Bulan Mei 2011
Variables Entered/Removed(b)
Model
Variables
Entered
Variables
Removed
Method
1
panjang(a)
.
a All requested variables entered.
b Dependent Variable: isi perut
Enter
Model Summary(b)
Model
1
R
R
Square
Adjusted
R Square
Std. Error
of the
Estimate
R Square
Change
F
Change
df-1
df-2
0,914(a)
0,836
0,803
Change Statistics
Sig. F
Change
0,04670
R Square
Change
0,836
25,440
F
Change
1
df-1
5 0,004
a Predictors: (Constant), panjang
b Dependent Variable: isi perut
ANOVA(b)
Sum of
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Regression
0,055
1
0,055
25,440
0,004(a)
Residual
0,011
5
0,002
Total
0,066
a Predictors: (Constant), panjang
b Dependent Variable: isi perut
6
Standardized
Coefficients
t
Sig.
Beta
B
Std. Error
-3,340
0,021
5,044
0,004
Model
1
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Model
1
B
Std. Error
(Constant)
-2,988
0,895
panjang
1,974
0,391
0,914
a Dependent Variable: isi perut
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
df-2
104
Lampiran 3. (Lanjutan)
Bulan Juni 2011
Variables Entered/Removed(b)
Model
Variables
Entered
Variables
Removed
Method
1
panjang(a)
.
a All requested variables entered.
b Dependent Variable: isi perut
Enter
Model Summary(b)
Model
1
R
R
Square
Adjusted
R Square
Std. Error
of the
Estimate
R Square
Change
F
Change
df-1
df-2
0,903(a)
0,815
0,769
Change Statistics
Sig. F
Change
0,06077
R Square
Change
0,815
17,629
F
Change
df-1
1
4
a Predictors: (Constant), panjang
b Dependent Variable: isi perut
ANOVA(b)
Sum of
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Regression
0,065
1
0,065
17,629
0,014(a)
Residual
0,015
4
0,004
Total
0,080
a Predictors: (Constant), panjang
b Dependent Variable: isi perut
5
Standardized
Coefficients
t
Sig.
Beta
B
Std. Error
-3,128
0,035
4,199
0,014
Model
1
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Model
1
B
Std. Error
(Constant)
-4,759
1,522
panjang
2,781
0,662
0,903
a Dependent Variable: isi perut
Universitas Indonesia
Analisis aspek..., Dony Armanto, FMIPA UI, 2012
df-2
0,014
Download