artikel ilmiah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think

advertisement
ARTIKEL ILMIAH
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN
KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATERI FLUIDA STATIS DI KELAS
XI IPA 2 SMAN 8 KOTA JAMBI
OLEH:
1. ERKI ALVINA (RRA1C310003)
2. Drs MENZA HENDRI, M.Pd
3. Drs. DARMAJI, M.Si
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
AGUSTUS, 2014
1
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Artikel ilmiah berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think
Pair Share Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Pada
Materi Fluida Statis Di Kelas Xi IPA 2 SMAN 8 Kota Jambi yang disusun oleh
Muhammad Erki Alvina RRA1C310003 telah diperiksa dan disetujui.
Jambi,
Pembimbing I
2014
Drs. Menza Hendri, M.Pd
NIP 19600929 198403 1 001
Jambi,
Pembimbing II
2014
Drs. Darmaji, M.Si
NIP. 19630208 199102 1 001
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
2
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Untuk
Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Fluida Statis
Di Kelas Xi IPA 2 SMAN 8 Kota Jambi
OLEH:
1. ERKI ALVINA (RRA1C310003)
2. Drs, MENZA HENDRI, M.Pd
3. Drs. DARMAJI, M.Si
ABSTRAK
Kata Kunci: Keaktifan, hasil belajar, Model Think Pair Share
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya beberapa faktor yang menyebabkan
kurang berhasilnya kegiatan pembelajaran di kelas XI IPA2 SMAN 8 Kota Jambi,
diantaranya adalah respon siswa yang masih rendah terhadap penjelasan guru dan inisiatif
siswa yang rendah untuk bertanya. Akibatnya, siswa menjadi cenderung pasif selama
proses pembelajaran dan kurang termotivasi untuk belajar. Hal inilah yang menyebabkan
rendahnya hasil belajar siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan penelitian
dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Untuk
Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Fluida Statis Di Kelas XI
IPA2 SMAN 8 Kota Jambi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif
tipe Think Pair Share dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi
Fluida Statis di kelas XI SMAN 8 Kota Jambi. Penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas (Clasroom Action Research) yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus
melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi, analisis dan refleksi.
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang diperoleh dari pengamatan
aktivitas belajar siswa dan pelaksanaan pembelajaran oleh guru dan data kuantitatif yang
diperoleh melalui tes hasil belajar.
Hasil penelitian ini menunjukan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar
fisika siswa pada tiap siklus. Pada siklus I, rata-rata presentase aktivitas siswa adalah
52,25% yang kemudian pada siklus II meningkat menjadi 73,06% dan pada siklus III
menjadi 83.62%. Sedangkan untuk nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat dari 64,83
dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 12 orang (37,50%) pada siklus I, menjadi
78,58 dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 21 orang (65,63%) pada siklus II,
kemudian meningkat lagi menjadi 87,69 dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 29
orang (90,63%) pada siklus III.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share dapat Meningkatkan
Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Fluida Statis Di Kelas XI IPA2 SMAN 8
Kota Jambi.
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
3
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pokok permasalahan yang ada dalam pembelajaran fisika saat ini adalah
peran aktif siswa dalam pembelajaran masih kurang. Pada pembelajaran fisika
jarang sekali siswa didorong untuk menyelesaikan masalah-masalah riil, melalui
konsep-konsep yang sudah dipelajari. Akibatnya, konsep yang dimiliki siswa tidak
bertahan lama. Pembelajaran yang memandang bahwa guru sebagai pusat aktivitas
dari pembelajaran perlu digeser menuju pandangan bahwa siswa memegang
peranan aktif dalam pembelajaran. Siswa harus aktif membangun pengetahunnya
berdasarkan kematangan kognitif yang dimikilinya. Model yang digunakan dalam
pembelajaran merupakan sarana interaksi guru dan siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu model yang digunakan berperan penting sebagai alat
untuk menciptakan proses belajar mengajar. Dengan suasana belajar mengajar
yang menantang kompetensi secara sehat serta memotivasi siswa dalam belajar
akan berdampak positif terhadap pencapaian hasil belajar secara optimal. Sehingga
hasil dari pembelajaran dapat dicapai yaitu meningkatkan kemampuan siswa untuk
belajar lebih mudah dan efektif dimasa depan baik karena pengetahuan yang telah
siswa miliki maupun karena siswa telah menuntaskan proses-proses belajar.
Sebagai guru fisika dalam menjalankan tugasnya harus mengupayakan keaktifan
siswa dalam belajar.
Dari uraian tersebut di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair
Share Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi
Fluida Statis Di Kelas Xi IPA 2 SMAN 8 Kota Jambi”
1.2 Rumusan Masalah
“apakah penerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dapat
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada materi Fluida Statis di kelas
XI SMAN 8 Kota Jambi?”
1.3 Tujuan Penelitian
untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share pada materi Fluida Statis di
kelas XI SMAN 8 Kota Jambi.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis, dapat dijadikan sebagai tambahan pengetahuan dan bekal
pengalaman sebagai seorang calon guru.
2. Bagi guru, sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam menentukan
model pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar di
sekolah
3. Bagi siswa, sebagai motivasi agar lebih aktif dalam belajar dengan cara
berdiskusi serta berani mengeluarkan pendapat dalam kegiatan belajar
mengajar, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa itu sendiri
1.5 Keterbatasan Penelitian
1. Aktivitas yang diteliti adalah aktivitas siswa dan guru selama proses belajar
mengajar
2. Hasil belajar yang diteliti adalah hasil belajar tiap akhir siklus pada ranah
kognitif
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
4
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1
Belajar dan Pembelajaran
2.1.1 Pengertian Belajar
Menurut Sardiman (2008) “belajar merupakan perubahan tingkah laku atau
penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,
mendengar, meniru dan lain sebagainya.”
2.2.1 Pengertian Pembelajaran
Trianto (2007) mengemukakan bahwa “Pembelajaran adalah suatu rangkaian
events (kejadian, peristiwa, kodisi) yang secara sengaja dirancang untuk
mempengaruhi siswa (pembelajar), sehingga proses belajarnya dapat berlangsung
dengan mudah atau dengan kata lain bantuan yang diberikan guru agar terjadi
proses belajar pada siswa”.
2.2
Aktivitas Belajar
Wiliski (2012) dalam Sadirman mengungkapkan “ Dalam belajar sangat
diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas belajar itu tidak mungkin akan
berlangsung dengan baik. Aktivitas dalam proses belajar mengajar merupakan
rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran,
bertanya hal yang belum jelas, mencatat, mendengar, berfikir, menbaca, dan segala
kegiatan yang dilakukan yang dapat menunjang prestasi belajar.”
2.3
Hasil Belajar
Sudjana (2008), menyatakan bahwa “Proses adalah kegiatan yang dilakukan
oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya”.
2.4
Teori Pembelajaran Konstruktivisme
Baharuddin dan Wahyuni (2010) mengatakan “secara filosofis, belajar
menurut teori kontruktivisme adalah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit,
yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak
sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsepkonsep atau kaidah yang siap diambil atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.”
2.5
Model Pembelajaran
Menurut Dahlan dalam Isjoni (2010), “model mengajar dapat diartikan
sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum,
mengatur materi pembelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas”.
Sehingga untuk memilih model yang tepat, maka perlu diperhatikan relevansinya
dengan pencapaian tujuan pengajaran dan dalam penerapannya model
pembelajaran harus sesuai dengan kebutuhan siswa.”
2.6
Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Trianto (2007) Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam
pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah itu
ditunjukan pada tabel 2.1 di bawah ini.
Tabel 2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah Laku Guru
Guru menyampaikan semua tujuan
Fase-1
pelajaran yang ingin dicapai pada
Menyampaikan tujuan
pembelajaran dan Memotivasi siswa pelajaran tersebut dan memootivasi
siswa belajar
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
5
Guru menyajikan informasi kepada
siswa dengan jalan demonstrsi atau
bahan bacaan
Guru menjelaskan kepada siswa
Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam bagaimana caranya membentuk
kelompok belajar dan membantu
kelompok kooperatif
setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien
Guru membimbing kelompokFase-4
Membimbing kelompok bekerja dan kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas mereka
belajar
Guru mengevalusi hasil belajar
Fase-5
tentang materi yang telah dipelajari
Evaluasi
atau masing-masing kelompok
mempresentsikan hasil kerjanya.
Guru mencari cara-cara untuk
Fase-6
menghargai baik upaya maupun hasil
Memberikan penghargaan
belajar individu dan kelompok.
Fase-2
Menyajikan informasi
2.7
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share
Suprijono (2009) menyatakan bahwa “model pembelajaran Think Pair
Share merupakan model pembelajaran yang dapat digunakan secara efektif untuk
mengarahkan siswa dalam mempelajari sebuah materi pelajaran, model
pembelajaran Think Pair Share dilaksanakan melalui tiga tahap yaitu thinking
(berpikir secara individu), pairing (berdiskusi dengan pasangan), dan sharing
(berbagi dengan teman)”.
2.7.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Think Pair Share
Arends dalam Trianto (2009) mengungkapkan bahwa Guru memilih
menggunakan think pair share untuk membandingkan tanya jawab kelompok
keseluruhan. Guru menggunakan langkah-langkah berikut.
a.
b.
c.
Langkah 1: Berpikir (Thinking)
Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan
pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk
berpikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan
bahwa berbicara atau mengerjakan bukan bagian berpikir.
Langkah 2: Berpasangan (Pairing)
Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan
apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan
dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau
menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasikan.
Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk
berpasangan.
Langkah 3: Berbagi (Sharing)
Pada langkah akhir, guru memintan pasangan-pasangan untuk berbagi
dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif
untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjuutkan
sampai sekitar sebagian pasangan mendapatkan kesempatan untuk
melaporkan
2.7.2 Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Think Pair Share
Kelebihan model pembelajaran Think Pair Share menurut Lie dalam
Handayani (2009) adalah sebagai berikut:
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
6
1.
2.
3.
4.
Meningkatkan kemandirian siswa.
Meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran karena
merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya.
Membentuk kelompoknya lebih mudah dan lebih cepat.
Melatih kecepatan berfikir siswa.
Kelemahan model Think Pair Share menurut Lie dalam Handayani (2009)
adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir
sistematis.
Lebih sedikit ide yang muncul.
Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok yang
bersangkutan, sehingga banyak kelompok yang melapor dan dimonitor.
2.8
Tinjauan Materi
2.8.1 Fluida
2.8.2 Fluida Statis
Halliday (1978) mengemukakan bahwa Fluida statis (fluida tak mengalir)
adalah zat alir dalam keadaan diam (hidrostatis).
2.8.2.1 Pengertian Tekanan
Jika gaya ⃗ berkerja tegak lurus permukaan bidang A maka besar tekanan pada
permukaan bidang tersebut adalah
=
⃗
2.8.2.2 Tekanan Hidrostatik
Secara matematis Tekanan Hidrostatik digunakan rumus
ℎ
=
=
ℎ
2.8.2.3 Hukum Pascal
Hukum Pascal secara matematis diguakan rumus
=
2.8.2.4 Hukum Archimedes
Hukum Archimedes secara matematis digunakan rumus
=
2.8.2.5 Tegangan permukaan pada fluida
Gaya tegangan permukaan secara umum digunakan rumus:
=
2
2.8.2.6 Kapilaritas
Untuk menghitung tingginya zat cair yang naik kepermukaan digunakan
rumus:
ℎ=
2 cos
2.8.2.7 Viskositas
persamaan gaya gesekan fluida untuk benda berbentuk bola dirumuskan
sebagai berikut:
=6
η
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
7
Untuk menhitung kecepatan terminal suatu benda dalam fluida kental
digunakan rumus
η=
III.
3.1
2
(ρ −
9
)
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Ada 4 tahapan-tahapan yang dimaksud dalam penelitian tindakan kelas
yaitu:
1). Perencanaan (planning),
2). Pelaksanaan tindakan (acting),
3). Observasi dan evaluasi,
4). Analisis dan refleksi.
3.2
Jenis Penelitian
Penellitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (Classroom Action
Research).
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di seluruh SMA Negeri se-Kota Jambi.
Adapun perencanaan waktu penelitian ini secara rinci dapat dilihat di tabel 3.1 berikut
ini.
Tabel 3.1 Perencanaan waktu penelitian
Bulan
Nov
observasi
Penyusu
nan
proposal
1
2
3
4
Des
1
2
3
4
Jan
1
2
3
4
Feb
1
2
3
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
Seminar
proposa
Perbaikan
proposal
penelitian
pelaporan
ujian
8
4
Mar
1
2
3
4
Apr
1
2
3
4
Mai
1
2
3
4
Juni
1
2
3
4
juli
1
2
3
4
3.4
Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah kelas XI IPA2 semesterr 2 SMA Negeri 8 Kota
Jambi tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 32 orang.
3.5
Instrumen Penelitian
Adapun langkah-langkah yang digunakan adalah sebagai berikut:
3.5.1 Validitas
3.5.2 Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran digunakan rumus:
3.5.3 Daya Pembeda
Daya pembeda digunakan rumus :
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
=
9
=
3.5.4 Reliabilitas
Reliabilitas digunakan rumus:
=
−
1−
( −
)
−1
3.6
Data dan Cara Pengambilan Data
3.6.1 Jenis Data
Jenis data yang diambil dalam penelitian ini berupa:
a. Data kualitatif yaitu data tentang aktivitas siswa dan aktivitas guru
dalam proses belajar mengajar
b. Data Kuantitatif yaitu data tentang hasil belajar siswa setiap akhir siklus
3.6.2 Cara Pengambilan Data
Pengambilan data kualitatif dengan menggunakan lembar observasi
aktivitas siswa dan lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Pengambilan data
kuantitatif dilakukan dengan menggunakan seperangkat alat tes (ulangan formatif)
yang berupa tes objektif yang di adakan disetiap akhir siklus pembelajaran.
3.7. Analisis Data
3.7.1 Data Kuantitatif
Data kuatitatif digunakan rumus:
=
3.7.2 Data Kualitatif
Data kualitatif digunakan rumus:
3.8
=
−
−1
100%
Indikator Kerja
Dalam penelitian ini tindakan dikatakan berhasil, jika memenuhi kriterian
ketuntasan minimu (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah pada mata pelajaran
fisika yaitu 75% atau 75.
IV.
4.1
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Secara umum, peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dapat dilihat
pada gambar grafik 4.1 di bawah. Dari gambar grafik 4.1 dapat dilihat bahwa terjadi
peningkatan aktivitas belajar siswa dan aktivitas guru. Hasil ini membuktikan
bahwa penggunaan model pembelajaran Think Pair Share dalam proses belajar
mengajar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas XI IPA2
SMA Negeri 8 Kota Jambi.
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
10
PRESENTASI
Grafik Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa
83,62
73,06
90,63
65,63
52,25
37,5
SIKLUS I
SIKLUS II
aktivitas siswa
SIKLUS III
hasil belajar
V.
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Pada siklus I, rata-rata presentasi aktivitas siswa adalah 52,25% yang kemudian
pada siklus II meningkat menjadi 73,06% dan pada siklus III meningkat menjadi
83,62%. Sedangkan untuk nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat dari 64,83
dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyank 12 orang (37,50%) pada siklus I,
menjadi 78,58 dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 21 orang (65,63%)
pada siklus II dan kemudian meningkat lagi menjadi 87,69 dengan jumlah siswa
yang berhasil sebanyak 29 orang (90,63%) pada siklus III. Berdasarkan hasil
penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan serta dari data-data tersebut,
dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Think Pair Share dapat
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri
8 Kota Jambi.
5.2
Saran
1.
Model pembelajaran Think Pair Share dapat digunakan dalam proses
pembelajaran di sekolah sebagai variasi model pembelajaran untuk lebih
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika.
2.
Penelitian ini hanya terbatas pada aktivitas dan pemahaman konsep fluida
statis diharapkan lebih lanjut dilakukan penelitian terhadapa hasil belajar
pada aspek afektif dan psikomotorik serta pada materi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Baharuddin dan Wahyuni Esa Nur. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dimyati & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Djiwandono, S.E. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo.
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
11
Giancolli, Douglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Halliday, dkk. 1978. Fisika Jilid 1. Bandung: Erlangga.
Hamalik, O. 1990. Pendekatan Baru Strategi Belajar-MengajarBerdasarkan
CBSA, Bandung: CV Sinar Baru.
Handayani, Gusti Ayu. 2009, Studi Perbandingan Hasil Belajar Fisika Siswa
Menggunakan Tehnik Syndicate Group dengan Teknik Think Pair Share
Pada Materi Alat-Alat Optik Di Kelas VIII SMP Negeri 7 Kota Jambi.
Skripsi, Jambi: Universitas Jambi.
Isjoni, 2010. Cooperative Learning: Efektivitas Pembelajaran Kelompok.
Bandung: Alfabeta.
Kanginan, M. 2002. Fisika untuk SMA Kelas XI Semester 2. Jakarta: Erlangga.
. 2006. Fisika Untuk SMA Kelas XI . Jakarta: Erlangga.
Kusuma & Aisyah. 2012. Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Think Pair Share Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Akutansi Siswa
Kelas XI IPS 1 SMA NEGERI 1 Wonosari Tahun Ajaran 2011/2012.
Jurnal Pendidikan Akutansi Indonesia. Vol. X, No. 2: 46
Rasto, (2013). Diakses 26 desember 2013. Model Pembelajaran Kooperatif Think
Pair Share. http://pembelajaranku.com/model-pembelajaran-kooperatifthink-pair-share/
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajarran . Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Sardiman, 2008. Interaksi dan MOtivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Gravindo
Persada.
Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktek. Bandung:
Nusa Media
Sudjana, N. 2008. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Suprijono A. 2009. Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM).
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Sutrisno. 2011. Pengantar Pembelajaran Inovatif Berbasis TIK. Jakarta: Gaung
Persada.
Taniredja, T, dkk. 2013. Model-Model Pembelajaran Inovatif dan Efektif .
Bandung: Alfabeta.
Trianto, 2007.Model-Model Pembelajaran inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Surabaya: Prestasi Pustaka
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:
Kencana Prenada Media.
Wiliski, N.A. 2012 Penggunaan Media Animasi Dalam Model Pembelajaran
Direct Instruction Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa
Kelas Xb Di SMA Negeri 10 Kerinci. Jambi. Universitas Jambi.
Yamin, M. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung
Persada Press.
Zainul, Asmawi, dkk 1993. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: PAU-PPAI.
Erki Alvina : S1 Pendidikan Fisika
Download