prospektus

advertisement
JADWAL
Tanggal Efektif
Masa Penawaran Umum Saham Perdana
Tanggal Penjatahan
Tanggal Pengembalian Uang Pemesanan
Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik
Tanggal Pencatatan Pada PT Bursa Efek Indonesia
:
:
:
:
:
:
29 November
30 November, 1 dan 2 Desember
5 Desember
6 Desember
6 Desember
7 Desember
2016
2016
2016
2016
2016
2016
OTORITAS JASA KEUANGAN (“OJK”) TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK
MENYETUJUI ATAS EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU KECUKUPAN ISI
PROSPEKTUS INI. SETIAP PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL-HAL TERSEBUT
ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM.
P R O S P E K T U S
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk. (“PERSEROAN”) DAN PENJAMIN PELAKSANA EMISI EFEK
BERTANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA ATAS KEBENARAN SEMUA INFORMASI ATAU FAKTA MATERIAL
SERTA KEJUJURAN PENDAPAT YANG TERCANTUM DALAM PROSPEKTUS INI.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk.
Kegiatan Usaha Utama:
Jasa pelayanan di bidang kesehatan di bidang laboratorium klinik swasta
Berkedudukan di Jakarta Pusat, Indonesia
Kantor Pusat:
Prodia Tower
Jl. Kramat Raya No. 150
Jakarta Pusat 10430, Indonesia
Telepon: (021) 314 4182
Faksimili: (021) 314 4181
Website: www.prodia.co.id
Email: [email protected]
Jaringan Layanan:
Per 30 Juni 2016, 251 outlet yang tersebar di 104 kota di 30 propinsi di Indonesia
PENAWARAN UMUM SAHAM PERDANA
Sebanyak 187.500.000 (seratus delapan puluh tujuh juta lima ratus ribu) saham biasa atas nama yang seluruhnya adalah
Saham Baru dan dikeluarkan dari portepel Perseroan, dengan nilai nominal Rp100 (seratus Rupiah) setiap saham, yang
mewakili sebesar 20% (dua puluh persen) dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum Saham
Perdana (“Saham Yang Ditawarkan”), dan ditawarkan kepada Masyarakat dengan Harga Penawaran Rp6.500 (enam
ribu lima ratus Rupiah) setiap saham, yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan Formulir Pemesanan Pembelian
Saham (“FPPS”). Jumlah seluruh nilai Penawaran Umum Saham Perdana ini adalah sebesar Rp1.218.750.000.000 (satu
triliun dua ratus delapan belas miliar tujuh ratus lima puluh juta Rupiah).
Bersamaan dengan Penawaran Umum Saham Perdana, Perseroan mengadakan Program Alokasi Saham Karyawan
(Employee Stock Allocation atau “ESA”) dengan mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya sebesar 2% (dua persen)
dari jumlah Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana atau sebanyak-banyaknya sebesar
3.750.000 (tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu) saham dan Program Opsi Kepemilikan Saham kepada Manajemen dan
Karyawan (Management dan Employee Stock Option Plan atau “MESOP”) sebanyak-banyaknya sebesar 1,5% (satu
koma lima persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum Saham Perdana
atau sebanyak-banyaknya sebesar 14.062.500 (empat belas juta enam puluh dua ribu lima ratus) saham.
Seluruh pemegang saham Perseroan memiliki hak yang sama dan sederajat dalam segala hal dengan saham lainnya
dari Perseroan yang telah ditempatkan dan disetor penuh, sesuai dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas (“UUPT”). Saham Yang Ditawarkan dimiliki secara sah dan dalam keadaan bebas, tidak sedang
dalam sengketa dan/atau dijaminkan kepada pihak manapun serta tidak sedang ditawarkan kepada pihak lain.
Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Penjamin Emisi Efek yang namanya tercantum di bawah ini menjamin dengan
kesanggupan penuh (full commitment) terhadap sisa Saham Yang Ditawarkan yang tidak dipesan dalam Penawaran
Umum Saham Perdana Perseroan.
PENJAMIN PELAKSANA EMISI EFEK DAN PENJAMIN EMISI EFEK
PT Citigroup Securities Indonesia
PT Credit Suisse Securities Indonesia
PT Indo Premier Securities
AGEN PENJUALAN INTERNASIONAL
Citigroup Global Markets Ltd.
Credit Suisse (Singapore) Ltd.
RISIKO UTAMA YANG DIHADAPI PERSEROAN YAITU PERSEROAN BEROPERASI DALAM INDUSTRI
YANG BERSAING DAN TERFRAGMENTASI, DAN KETIDAKMAMPUAN UNTUK BERSAING SECARA
EFEKTIF DAPAT BERDAMPAK MATERIAL DAN MERUGIKAN TERHADAP KEGIATAN USAHA
PERSEROAN. RISIKO USAHA PERSEROAN SELENGKAPNYA DICANTUMKAN PADA BAB VI DI DALAM
PROSPEKTUS INI.
RISIKO TERKAIT INVESTASI PADA SAHAM PERSEROAN ADALAH HARGA SAHAM PERSEROAN DAPAT
BERFLUKTUASI CUKUP JAUH TERUTAMA DIKARENAKAN PERSEPSI ATAS PROSPEK BISNIS DAN
OPERASI PERSEROAN DAN INDUSTRI PELAYANAN KESEHATAN SECARA UMUM. RISIKO TERKAIT
INVESTASI PADA SAHAM PERSEROAN SELENGKAPNYA DICANTUMKAN PADA BAB VI DI DALAM
PROSPEKTUS INI.
PERSEROAN TIDAK MENERBITKAN SURAT KOLEKTIF SAHAM DALAM PENAWARAN UMUM SAHAM
PERDANA INI, TETAPI SAHAM-SAHAM TERSEBUT AKAN DIDISTRIBUSIKAN SECARA ELEKTRONIK
YANG AKAN DIADMINISTRASIKAN DALAM PENITIPAN KOLEKTIF PT KUSTODIAN SENTRAL EFEK
INDONESIA (“KSEI”).
Prospektus ini diterbitkan di Jakarta pada tanggal 30 November 2016.
Perseroan telah menyampaikan Pernyataan Pendaftaran sehubungan dengan Penawaran Umum
Saham Perdana ini kepada OJK dengan Surat No. 057/PD/Ekstern/IX/2016 tanggal 20 September
2016 sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia
No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia
No. 64 Tahun 1995, Tambahan Lembaran Negara No. 3608 dan peraturan pelaksananya serta
perubahan-perubahannya (“UUPM”).
Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana ini direncanakan akan dicatatkan
pada PT Bursa Efek Indonesia (“BEI”) sesuai dengan Perjanjian Pendahuluan Pencatatan Efek
yang telah dibuat antara Perseroan dengan BEI pada tanggal 19 September 2016 sepanjang
memenuhi persyaratan pencatatan saham yang ditetapkan oleh BEI. Apabila Perseroan tidak
memenuhi persyaratan pencatatan yang ditetapkan oleh BEl, maka Penawaran Umum Saham
Perdana ini batal demi hukum dan pembayaran pesanan saham tersebut wajib dikembalikan
kepada para pemesan sesuai dengan UUPM dan Peraturan No. IX.A.2, Lampiran Keputusan Ketua
Bapepam dan LK No. Kep- 122/BL/2009 tangga1 29 Mei 2009 tentang Tata Cara Pendaftaran
Dalam Rangka Penawaran Umum.
Semua Lembaga serta Profesi Penunjang Pasar Modal yang disebut dalam Prospektus ini
bertanggung jawab sepenuhnya atas data yang disajikan sesuai dengan fungsi masing-masing,
sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia dan kode etik, norma serta
standar profesi masing-masing.
Sehubungan dengan Penawaran Umum Saham Perdana ini, setiap pihak terafiliasi dilarang
memberikan keterangan atau pernyataan mengenai data yang tidak diungkapkan dalam Prospektus
ini tanpa persetujuan tertulis dari Perseroan dan Penjamin Pelaksana Emisi Efek.
Penjamin Pelaksana Emisi Efek, Penjamin Emisi Efek serta Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar
Modal menyatakan tidak menjadi pihak yang terafiliasi dengan Perseroan baik secara langsung
maupun tidak langsung, sebagaimana dimaksud dalam UUPM, sesuai dengan pengungkapan
pada bab XV mengenai Penjaminan Emisi Efek dan bab XVI mengenai Lembaga dan Profesi
Penunjang Pasar Modal.
PENAWARAN UMUM SAHAM PERDANA INI TIDAK DIDAFTARKAN BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG/PERATURAN LAIN SELAIN YANG BERLAKU DI INDONESIA.
BARANG SIAPA DI LUAR INDONESIA MENERIMA PROSPEKTUS INI, MAKA
DOKUMEN TERSEBUT TIDAK DIMAKSUDKAN SEBAGAI DOKUMEN PENAWARAN
UNTUK MEMBELI SAHAM, KECUALI BILA PENAWARAN DAN PEMBELIAN SAHAM
TERSEBUT TIDAK BERTENTANGAN, ATAU BUKAN MERUPAKAN PELANGGARAN
T E R H A D A P U N D A N G - U N D A N G / P E R AT U R A N YA N G B E R L A K U D I N E G A R A
TERSEBUT.
PERSEROAN TELAH MENGUNGKAPKAN SEMUA INFORMASI YANG WAJIB
DIKETAHUI OLEH PUBLIK DAN TIDAK TERDAPAT LAGI INFORMASI YANG
BELUM DIUNGKAPKAN SEHINGGA TIDAK MENYESATKAN PUBLIK.
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................................................i
DEFINISI DAN SINGKATAN...................................................................................................... iii
DEFINISI DAN SINGKATAN TEKNIS.......................................................................................... x
SINGKATAN NAMA PERUSAHAAN........................................................................................... xi
RINGKASAN..............................................................................................................................xii
I.
PENAWARAN UMUM SAHAM PERDANA.......................................................................... 1
II. RENCANA PENGGUNAAN DANA YANG DIPEROLEH DARI
HASIL PENAWARAN UMUM.............................................................................................. 8
III. PERNYATAAN UTANG.. .................................................................................................... 10
IV. IKHTISAR DATA KEUANGAN PENTING.. ........................................................................ 16
V.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN..................................................... 20
5.1. Umum....................................................................................................................... 20
5.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Usaha dan Operasi Perseroan.. ................ 21
5.3. Kebijakan Akuntansi yang Signifikan......................................................................... 27
5.4. Hasil Usaha.. ............................................................................................................. 32
5.5. Pendapatan Berdasarkan Geografi dan Segmen Pelanggan.. ......................................... 37
5.6. Hasil Kegiatan Operasional.. ...................................................................................... 38
5.7. Aset, Liabilitas dan Ekuitas....................................................................................... 49
5.8. Likuiditas dan Sumber Pendanaan.............................................................................. 52
5.9. Belanja Modal........................................................................................................... 54
5.10. Kewajiban Kontinjensi dan Perjanjian Off-Balance Sheet............................................ 54
5.11. Manajemen Risiko..................................................................................................... 54
VI. RISIKO USAHA................................................................................................................. 56
VII. KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN.. ......... 88
VIII. KETERANGAN TENTANG PERSEROAN.......................................................................... 89
8.1. Riwayat Singkat Perseroan.. ....................................................................................... 89
8.2. Dokumen Perizinan Perseroan.. .................................................................................. 92
8.3. Perkembangan Kepemilikan Saham Perseroan............................................................ 99
8.4. Pengurusan dan Pengawasan.................................................................................... 105
8.5. Struktur Organisasi Perseroan.................................................................................. 112
8.6. Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governance atau GCG)............................. 113
8.7. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Social Responsibility)....................................... 113
8.8. Sumber Daya Manusia............................................................................................. 113
8.9. Hubungan Kepemilikan serta Pengurusan dan Pengawasan Perseroan dan
Pemegang Saham Berbentuk Badan Hukum.............................................................. 116
8.10. Keterangan Singkat Tentang Pemegang Saham Utama Berbentuk Badan Hukum........ 116
8.11. Transaksi Dengan Pihak yang Memiliki Hubungan Afiliasi....................................... 118
8.12. Perjanjian-Perjanjian Penting Dengan Pihak Ketiga.................................................. 123
8.13. Keterangan Tentang Aset Tetap yang Bernilai Material............................................. 128
8.14. Asuransi.. ................................................................................................................ 129
8.15. Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI).. ................................................................... 134
8.16. Perkara yang Dihadapi Perseroan, dan Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan........ 135
i
IX. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN.. ........................................................ 136
9.1. Umum..................................................................................................................... 136
9.2. Keunggulan Bersaing.. ............................................................................................. 137
9.3. Strategi Usaha......................................................................................................... 142
9.4. Indikator Kinerja Utama.......................................................................................... 144
9.5. Misi dan Visi.. ......................................................................................................... 144
9.6. Jejaring Outlet Perseroan......................................................................................... 145
9.7. Pemeriksaan dan Layanan Perseroan........................................................................ 153
9.8. Logistik dan Prosedur.............................................................................................. 156
9.9. Laboratorium Kalibrasi.. .......................................................................................... 160
9.10. Pelanggan Perseroan.. .............................................................................................. 160
9.11. Layanan Pelanggan.. ................................................................................................ 162
9.12. Penetapan Harga dan Biaya.. .................................................................................... 162
9.13. Penjualan dan Pemasaran......................................................................................... 163
9.14. Teknologi Informasi................................................................................................ 165
9.15. Peralatan................................................................................................................. 165
9.16. Riset dan Pengembangan......................................................................................... 166
9.17. Afiliasi Perseroan.................................................................................................... 167
9.18. Persaingan.. ............................................................................................................. 168
9.19. Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup....................................................... 169
9.20. Penghargaan dan Pengakuan.................................................................................... 175
X. KETERANGAN TENTANG INDUSTRI............................................................................ 176
XI. PERATURAN DALAM INDUSTRI................................................................................... 194
XII. EKUITAS......................................................................................................................... 204
XIII. KEBIJAKAN DIVIDEN.................................................................................................... 205
XIV. PERPAJAKAN.. ................................................................................................................ 206
XV. PENJAMINAN EMISI EFEK............................................................................................ 208
XVI. LEMBAGA DAN PROFESI PENUNJANG PASAR MODAL.............................................. 209
XVII.PENDAPAT DARI SEGI HUKUM..................................................................................... 213
XVIII.LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN LAPORAN KEUANGAN PERSEROAN........ 231
XIX. ANGGARAN DASAR.. ..................................................................................................... 337
XX. PERSYARATAN PEMESANAN PEMBELIAN SAHAM.. ................................................... 360
20.1 Pemesanan Pembelian Saham................................................................................... 360
20.2 Pemesan yang Berhak.............................................................................................. 360
20.3 Jumlah Pemesanan.. ................................................................................................. 360
20.4 Pendaftaran Efek ke dalam Penitipan Kolektif.......................................................... 360
20.5 Pengajuan Pemesanan Pembelian Saham.................................................................. 361
20.6 Masa Penawaran Umum Saham Perdana................................................................... 361
20.7 Tanggal Penjatahan.. ................................................................................................ 362
20.8 Persyaratan Pembayaran.......................................................................................... 362
20.9 Bukti Tanda Terima................................................................................................. 362
20.10Penjatahan Saham.. .................................................................................................. 362
20.11Penundaan Masa Penawaran Umum Saham Perdana atau Pembatalan
Penawaran Umum Saham Perdana............................................................................ 364
20.12Pengembalian Uang Pemesanan.. .............................................................................. 365
20.13Penyerahan FKPS atas Pemesanan Saham.. ............................................................... 366
XXI. PENYEBARLUASAN PROSPEKTUS DAN FORMULIR PEMESANAN
PEMBELIAN SAHAM.. .................................................................................................... 367
ii
DEFINISI DAN SINGKATAN
“Afiliasi”
: berarti pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1)
UUPM, yaitu:
(a) hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat
kedua, baik secara horizontal maupun vertikal;
(b) hubungan antara pihak dengan pegawai, direktur atau komisaris
dari pihak tersebut;
(c) hubungan antara 2 (dua) perusahaan di mana terdapat 1 (satu) atau
lebih anggota direksi atau dewan komisaris yang sama;
(d) hubungan antara perusahaan dan pihak, baik langsung maupun
tidak langsung, mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan
tersebut;
(e) hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan baik
langsung maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama; atau
(f) hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama.
“Akuntan Publik” atau
“RSM”
: berarti Kantor Akuntan Publik Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar &
Rekan (a member firm of the RSM network) yang melaksanakan audit
atas laporan keuangan Perseroan dalam rangka Penawaran Umum
Saham Perdana.
“Agen Penjualan
Internasional”
: berarti pihak yang membantu dalam penjualan Saham Yang Ditawarkan
dalam Penawaran Umum Saham Perdana, baik untuk penawaran yang
bersifat internasional, selain dari Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan
Penjamin Emisi Efek, yaitu Citigroup Global Markets Ltd. dan Credit
Suisse (Singapore) Ltd.
“Anggota Bursa”
: berarti Anggota Bursa Efek sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1
ayat (2) UUPM.
”BAE”
: berarti singkatan dari Biro Administrasi Efek, yaitu pihak yang
melaksanakan administrasi saham dalam Penawaran Umum Saham
Perdana yang ditunjuk oleh Perseroan, yang dalam hal ini adalah
PT Datindo Entrycom, berkedudukan di Jakarta Pusat.
“Bapepam”
: berarti Badan Pengawas Pasar Modal atau para pengganti dan penerima
hak dan kewajibannya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
UUPM.
“Bapepam dan LK”
: berarti singkatan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan, sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan
Republik Indonesia No. 606/KMK.01/2005 tanggal 30 Desember 2005
tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Pasar Modal juncto
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 206/PMK.01/2014
tanggal 17 Oktober 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Keuangan.
“Bursa Efek” atau “BEI”
: berarti bursa efek sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 ayat
(4) UUPM, dalam hal ini yang diselenggarakan oleh PT Bursa Efek
Indonesia, berkedudukan di Jakarta, di mana saham ini dicatatkan.
“CAGR”
: berarti singkatan dari Compounded Annual Growth Rate atau laju
pertumbuhan majemuk tahunan.
iii
“Daftar Pemesanan
Pembelian Saham” atau
”DPPS”
: berarti suatu daftar yang memuat nama-nama dari pemesan Saham
Yang Ditawarkan dan jumlah Saham Yang Ditawarkan yang dipesan,
yang dipersiapkan oleh masing-masing Agen Penjualan Internasional
dan/atau Penjamin Emisi Efek, daftar mana disusun berdasarkan FPPS.
“Dolar AS” atau “US$”
: berarti Dolar Amerika Serikat.
“Efektif”
: berarti terpenuhinya seluruh persyaratan Pernyataan Pendaftaran sesuai
dengan ketentuan angka 4 Peraturan No. IX.A.2, yaitu:
• atas dasar lewatnya waktu, yakni:
- 45 hari sejak tanggal Pernyataan Pendaftaran diterima OJK
secara lengkap, yaitu telah mencakup seluruh kriteria yang
ditetapkan dalam peraturan yang terkait dengan Pernyataan
Pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana
dan peraturan yang terkait dengan Penawaran Umum Saham
Perdana; atau
- 45 hari sejak tanggal perubahan terakhir atas Pernyataan
Pendaftaran yang diajukan Perseroan atau yang diminta OJK
dipenuhi; atau
•
atas dasar pernyataan efektif dari OJK bahwa tidak ada lagi
perubahan dan/atau tambahan informasi lebih lanjut yang
diperlukan.
“Emisi”
: berarti suatu tindakan dari Perseroan untuk menawarkan Saham Yang
Ditawarkan kepada Masyarakat melalui Penawaran Umum Saham
Perdana di Pasar Perdana untuk dicatatkan dan diperdagangkan di
Bursa Efek.
“Formulir Konfirmasi
Penjatahan Saham” atau
”FKPS”
: berarti suatu formulir yang mengkonfirmasi hasil penjatahan untuk
pemesan, yang menyatakan bukti pemilikan Saham Yang Ditawarkan
di Pasar Perdana.
“Formulir Pemesanan
Pembelian Saham” atau
”FPPS”
: berarti dokumen asli dari formulir pemesanan pembelian Saham Yang
Ditawarkan yang harus dibuat dalam lima rangkap yang masing-masing
harus diisi secara lengkap, dibubuhi tanda tangan asli serta diajukan oleh
calon pembeli atau kuasa sahnya kepada Agen Penjualan Internasional
dan/atau Penjamin Emisi Efek pada waktu memesan Saham Yang
Ditawarkan selama periode Masa Penawaran Umum Saham Perdana.
“Harga Penawaran”
: berarti harga setiap Saham Yang Ditawarkan pada Penawaran Umum
Saham Perdana, yaitu sebesar Rp6.500 (enam ribu lima ratus Rupiah).
“Hari Bursa”
: berarti hari-hari dimana aktivitas transaksi perdagangan efek dilakukan
di Bursa Efek, yaitu hari Senin sampai Jumat, kecuali hari libur nasional
yang ditetapkan Pemerintah atau hari yang dinyatakan sebagai hari
libur oleh Bursa Efek.
“Hari Kalender”
: berarti setiap hari dalam satu tahun sesuai dengan kalender Gregorius
termasuk hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional yang ditetapkan
sewaktu-waktu oleh Pemerintah.
“Hari Kerja”
: berarti suatu hari (selain Sabtu atau Minggu atau hari yang ditetapkan
oleh Pemerintah) di mana bank buka untuk menjalankan kegiatan
usahanya di Indonesia.
“IAPI”
: berarti singkatan dari Institut Akuntan Publik Indonesia.
iv
“Kemenkumham”
: berarti Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia (dahulu dikenal dengan nama Departemen Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia, Departemen Kehakiman Republik
Indonesia, Departemen Hukum dan Perundang-undangan Republik
Indonesia atau nama lainnya).
“Konfirmasi Tertulis”
: berarti surat konfirmasi yang dikeluarkan oleh KSEI dan/atau Bank
Kustodian dan/atau Perusahaan Efek untuk kepentingan Pemegang
Rekening di Pasar Sekunder.
“KSEI”
: berarti PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, berkedudukan di Jakarta
Selatan, yang merupakan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian
sesuai dengan peraturan pasar modal.
“Konsultan Hukum”
: berarti Hadiputranto Hadinoto & Partners yang melakukan pemeriksaan
atas fakta hukum yang ada mengenai Perseroan serta keterangan hukum
lain yang berkaitan dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana.
“Manajer Penjatahan”
: berarti PT Indo Premier Securities, sebagai salah satu dari Penjamin
Pelaksana Emisi Efek, yang bertanggung jawab atas penjatahan dari
Saham Yang Ditawarkan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
Peraturan No. IX.A.7.
“Masa Penawaran Umum
Saham Perdana”
: berarti suatu jangka waktu di mana permintaan pemesanan Saham Yang
Ditawarkan dapat diajukan oleh Masyarakat kepada Penjamin Pelaksana
Emisi Efek, Penjamin Emisi Efek, dan Agen Penjualan Internasional
sebagaimana ditentukan dalam Prospektus dan FPPS, jangka waktu
mana tidak dapat kurang dari satu Hari Kerja.
“Masyarakat”
: berarti perorangan dan/atau institusi dan/atau badan hukum, baik Warga
Negara Indonesia dan/atau entitas hukum Indonesia dan/atau badan
usaha Indonesia dan/atau Warga Negara Asing dan/atau entitas asing dan/
atau badan usaha asing, baik yang bertempat tinggal atau berkedudukan
di Indonesia maupun bertempat tinggal atau berkedudukan di luar
Indonesia, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Indonesia.
“Menkumham”
: berarti singkatan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia (dahulu dikenal dengan nama Menteri Kehakiman Republik
Indonesia yang berubah nama Menteri Hukum dan Perundang-Undangan
Republik Indonesia).
“OJK”
: berarti singkatan dari Otoritas Jasa Keuangan, yang merupakan
lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain,
yang mempunyai fungsi, tugas dan wewenang pengaturan, pengawasan,
pemeriksaan dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang No. 21 Tahun 2011 tanggal 22 November 2011 tentang Otoritas
Jasa Keuangan.
“Pasar Perdana”
: berarti pasar terjadinya penawaran dan penjualan atas Saham Yang
Ditawarkan oleh Perseroan kepada Masyarakat selama Masa Penawaran
Umum Saham Perdana sebelum pencatatan atas Saham Yang Ditawarkan
di Bursa Efek.
“Pasar Sekunder”
: berarti perdagangan saham di Bursa Efek yang dilakukan pada dan
setelah Tanggal Pencatatan.
“PDB”
: berarti singkatan dari Pertumbuhan Domestik Bruto, yaitu nilai pasar
semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode
tertentu.
v
“Pemegang Rekening”
: berarti pihak yang namanya tercatat sebagai pemilik rekening efek dan/
atau sub rekening efek di KSEI yang dapat merupakan bank kustodian
atau perusahaan efek.
“Pemerintah”
: berarti Pemerintah Republik Indonesia.
“Penawaran Awal”
: berarti suatu ajakan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan
menggunakan Prospektus Awal, yang bertujuan untuk mengetahui minat
Masyarakat atas Saham Yang Ditawarkan, berupa indikasi jumlah Saham
Yang Ditawarkan yang ingin dibeli dan/atau perkiraan harga atas Harga
Penawaran, tapi tidak bersifat mengikat dan bukan merupakan suatu
pemesanan yang dilaksanakan sesuai dengan Peraturan No. IX.A.8,
Lampiran Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-41/PM/2000 tanggal
27 Oktober 2000 tentang Prospektus Awal dan Info Memo (“Peraturan
No. IX.A.8”) dan dengan memperhatikan Peraturan No. IX.A.2.
“Penawaran Umum” atau
“Penawaran Umum Saham
Perdana”
: berarti penawaran atas Saham Yang Ditawarkan kepada Masyarakat
dengan memperhatikan syarat dan ketentuan sebagaimana diatur dalam
Perjanjian Penjaminan Emisi Efek dan tata cara yang diatur dalam
UUPM dan ketentuan yang berlaku di Bursa Efek di Indonesia.
“Penitipan Kolektif”
: berarti penitipan atas saham yang dimiliki bersama oleh lebih dari satu
pihak yang kepentingannya diwakili oleh KSEI.
“Penjamin Emisi Efek”
: berarti Penjamin Pelaksana Emisi Efek yang mengadakan perjanjian
dengan Perseroan untuk melakukan Penawaran Umum Saham Perdana
atas nama Perseroan, serta melakukan pembayaran hasil Penawaran
Umum Saham Perdana di Pasar Perdana kepada Perseroan melalui
Penjamin Pelaksana Emisi Efek, dimana peserta ditunjuk oleh Perseroan
berdasarkan ketentuan dalam Perjanjian Penjaminan Emisi Efek.
“Penjamin Pelaksana Emisi
Efek”
: berarti pihak yang melaksanakan pengelolaan dan penyelenggaraan
Penawaran Umum Saham Perdana, yaitu PT Citigroup Securities
Indonesia, PT Credit Suisse Securities Indonesia, dan PT Indo Premier
Securities.
“Peraturan No. IX.A.2”
: berarti Peraturan No. IX.A.2, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam
dan LK No. Kep-122/BL/2009 tanggal 29 Mei 2009 tentang Tata Cara
Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum.
“Peraturan No. IX.A.7”
: berarti Peraturan No. IX.A.7, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan
LK No. Kep-691/BL/2011 tanggal 30 Desember 2011 tentang Pemesanan
dan Penjatahan Efek Dalam Penawaran Umum.
“Peraturan No. IX.E.1”
: berarti Peraturan No. IX.E.1, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan
LK No. Kep-412/BL/2009 tanggal 25 November 2009 tentang Transaksi
Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.
“Peraturan No. IX.E.2”
: berarti Peraturan No. IX.E.2, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan
LK No. Kep-614/BL/2011 tanggal 28 November 2011 tentang Transaksi
Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.
“Peraturan No. IX.J.1”
: berarti Peraturan No. IX.J.1, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan
LK No. Kep-179/BL/2008 tanggal 14 Mei 2008 tentang Pokok-Pokok
Anggaran Dasar Perseroan Yang Melakukan Penawaran Umum Efek
Bersifat Ekuitas dan Perusahaan Publik.
“Peraturan OJK No.
32/2014”
: berarti Peraturan OJK No. 32/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014
tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham
Perusahaan Terbuka.
vi
“Peraturan OJK No.
33/2014”
: berarti Peraturan OJK No. 33/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014
tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik.
“Peraturan OJK No.
30/2015”
: berarti Peraturan OJK No. 30/POJK.04/2015 tanggal 16 Desember 2015
tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.
“Peraturan OJK No.
55/2015”
: berarti Peraturan OJK No. 55/POJK.04/2015 tanggal 29 Desember 2015
tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit.
“Peraturan OJK No.
56/2015”
: berarti Peraturan OJK No. 56/POJK.04/2015 tanggal 29 Desember
2015 tentang Pembentukan dan Pedoman Penyusunan Piagam Unit
Audit Internal.
“Peraturan Pencatatan Bursa : berarti Peraturan Bursa Efek Indonesia No. I-A, Lampiran Keputusan
Efek”
Direksi Bursa Efek Indonesia No. Kep-00001/BEI/01-2014 tanggal
20 Januari 2014 tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas
Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat.
“Perjanjian Pendaftaran
Efek”
: berarti Perjanjian Pendaftaran Efek Bersifat Ekuitas di KSEI No. SP0012/PE/KSEI0916 tanggal 13 September 2016 yang dibuat dibawah
tangan oleh dan antara Perseroan dengan KSEI.
”Perjanjian Pengelolaan
Administrasi Saham”
: berart i Perjanjian Pengelolaan Administrasi Saham PT Prodia
Widyahusada Tbk. No. 31 tanggal 19 September 2016 yang dibuat
oleh dan antara Perseroan dengan BAE yang dibuat di hadapan Jose
Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, termasuk segala
perubahan-perubahannya dan/atau penambahan-penambahannya dan/
atau pembaharuan-pembaharuannya yang akan dibuat di kemudian hari.
“Perjanjian Penjaminan
Emisi Efek” atau ”PPEE”
: berarti Akta Perjanjian Penjaminan Emisi Efek PT Prodia Widyahusada
Tbk. No. 32 tanggal 19 September 2016, sebagaimana diubah dengan
Akta Addendum I dan Pernyataan Kembali Perjanjian Penjaminan Emisi
Efek PT Prodia Widyahusada Tbk. No. 39 tanggal 12 Oktober 2016 dan
Akta Addendum II dan Pernyataan Kembali Perjanjian Penjaminan Emisi
Efek PT Prodia Widyahusada Tbk. No. 62 tanggal 18 November 2016,
yang dibuat oleh dan antara Perseroan dengan Penjamin Pelaksana Emisi
Efek yang dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris
di Jakarta Selatan, termasuk segala perubahan-perubahannya dan/atau
penambahan-penambahannya dan/atau pembaharuan-pembaharuannya
yang akan dibuat di kemudian hari.
“Pernyataan Efektif”
: berarti pernyataan yang diterbitkan oleh OJK yang menyatakan telah
terpenuhinya seluruh persyaratan Pernyataan Pendaftaran sesuai
Peraturan No. IX.A.2.
“Pernyataan Pendaftaran”
: berarti dokumen-dokumen yang wajib diajukan oleh Perseroan kepada
OJK dengan ditujukan kepada Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal
dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana kepada Masyarakat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (19) UUPM juncto Peraturan
No. IX.C.1, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam No. KEP-42/PM/2000
tanggal 27 Oktober 2000 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi
Pernyataan Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum dan dengan
memperhatikan ketentuan dalam Peraturan No. IX.A.2 serta Peraturan
No. IX.A.1, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. Kep-690/
BL/2011 tanggal 30 Desember 2011 tentang Ketentuan Umum Pengajuan
Pernyataan Pendaftaran.
“Perseroan”
: berarti PT Prodia Widyahusada Tbk., berkedudukan di Jakarta Pusat,
suatu perseroan terbatas yang didirikan menurut dan berdasarkan hukum
Negara Republik Indonesia.
vii
“Program ESA”
: berarti singkatan dari Program Employee Stock Allocation, yaitu
program pemberian alokasi pasti dari Saham Yang Ditawarkan dalam
Penawaran Umum Saham Perdana untuk karyawan Perseroan yang diatur
yang telah disetujui oleh pemegang saham berdasarkan Akta Pernyataan
Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan No. 83
tanggal 29 Juni 2016 yang dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H.,
M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan (“Akta 83/2016”) dan ditetapkan
oleh Direksi sesuai dengan Surat Keputusan No. 170/SK/HROD/IX/16
tanggal 11 Agustus 2016 dan dalam jumlah sebesar-besarnya 2% (dua
persen) dari jumlah Saham Yang Ditawarkan.
“Program MESOP”
: berarti singkatan dari Program Management and Employee Stock Option
Plan, yaitu program pemberian alokasi hak opsi untuk membeli saham
baru bagi manajemen dan karyawan dengan jenjang tertentu setelah
saham Perseroan tercatat di Bursa Efek yang diatur berdasarkan Akta
83/2016 dan ditetapkan oleh Direksi sesuai dengan Surat Keputusan
No. 170/SK/HROD/IX/16 tanggal 11 Agustus 2016 dan dalam jumlah
sebesar-besarnya 1,5% (satu koma lima persen) dari jumlah modal
ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum
Saham Perdana.
“Prospektus”
: berarti dokumen tertulis final yang dipersiapkan oleh Perseroan
bersama-sama dengan Penjamin Pelaksana Emisi Efek dalam rangka
Penawaran Umum Saham Perdana dan berisi seluruh informasi maupun
fakta-fakta penting dan relevan mengenai Perseroan dan Saham Yang
Ditawarkan dalam bentuk dan isi sesuai dengan Peraturan No. IX.C.2,
Lampiran Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-51/PM/1996 tanggal 17
Januari 1996 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus
Dalam Rangka Penawaran Umum.
“Prospektus Awal”
: berarti dokumen tertulis yang memuat seluruh informasi dalam
Prospektus yang disampaikan kepada OJK sebagai bagian dari
Pernyataan Pendaftaran, kecuali informasi mengenai nilai nominal,
jumlah Saham Yang Ditawarkan dan Harga Penawaran, penjaminan
emisi efek atau hal-hal lain yang berhubungan dengan persyaratan
penawaran yang belum dapat ditentukan, sesuai dengan Peraturan
No. IX.A.8, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-113/PM/1996
tanggal 24 Desember 1996 tentang Prospektus Awal dan Info Memo
dan dengan memperhatikan Peraturan No. IX.A.2.
“Prospektus Ringkas”
: berarti ringkasan dari Prospektus yang memuat fakta-fakta dan
pertimbangan-pertimbangan yang paling penting, yang disusun dan
diterbitkan oleh Perseroan dengan dibantu oleh Penjamin Pelaksana
Emisi Efek sesuai dengan Peraturan No. IX.C.3, Lampiran Keputusan
Ketua Bapepam No. Kep.43/PM/2000 tanggal 27 Oktober 2000
tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus Ringkas Dalam
Rangka Penawaran Umum dan yang akan diumumkan dalam sekurangkurangnya 2 (dua) Hari Kerja setelah diterimanya pernyataan dari OJK
bahwa Perseroan dapat mengumumkan Prospektus Ringkas sebagaimana
diatur dalam Peraturan No. IX.A.2.
“Rupiah” atau “Rp”
: Berarti mata uang Republik Indonesia.
“RUPS”
: berarti Rapat Umum Pemegang Saham, yaitu rapat umum para pemegang
saham Perseroan yang diselenggarakan sesuai dengan ketentuanketentuan Anggaran Dasar Perseroan, UUPT dan UUPM serta peraturanperaturan pelaksananya.
viii
“S$”
: berarti Dolar Singapura.
“Saham Baru”
: berarti saham biasa atas nama yang akan diterbitkan dan dikeluarkan
dari portepel Perseroan dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana.
“Saham Yang Ditawarkan”
: berarti saham biasa atas nama yang diterbitkan oleh Perseroan masingmasing dengan nilai nominal Rp100 (seratus Rupiah) untuk ditawarkan
dan dijual kepada Masyarakat melalui Penawaran Umum Saham
Perdana dan kemudian dicatatkan di Bursa Efek dalam jumlah sebesar
187.500.000 (seratus delapan puluh tujuh juta dan lima ratus ribu) saham
biasa atas nama yang merupakan sebesar 20% (dua puluh persen) dari
modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum
Saham Perdana.
“SHGB”
: berarti singkatan dari Sertifikat Hak Guna Bangunan.
“Tanggal Distribusi”
: berarti tanggal dilakukannya penyerahan Saham Yang Ditawarkan
kepada para pemesan Saham Yang Ditawarkan yang harus didistribusikan
secara elektronik selambat-lambatnya 2 (dua) Hari kerja setelah Tanggal
Penjatahan.
“Tanggal Pembayaran”
: berarti tanggal pembayaran dari Penjamin Emisi Efek melalui Penjamin
Pelaksana Emisi Efek kepada Perseroan hasil penjualan bersih atas
pemesanan dan penjualan Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran
Umum Saham Perdana, yang akan dilaksanakan bersamaan dengan
Tanggal Distribusi Saham Yang Ditawarkan.
“Tanggal Pencatatan”
: berarti tanggal pencatatan Saham Yang Ditawarkan untuk diperdagangkan
di Bursa Efek, yang wajib dilaksanakan paling lambat 1 (satu) Hari Kerja
setelah Tanggal Distribusi.
“Tanggal Pengembalian
Uang Pemesanan”
: berarti tanggal untuk pengembalian uang pemesanan pembelian Saham
Yang Ditawarkan oleh Penjamin Pelaksana Emisi Efek melalui Penjamin
Emisi Efek kepada para pemesan yang sebagian atau seluruh pesanannya
tidak dapat dipenuhi karena adanya penjatahan atau dalam hal Penawaran
Umum Saham Perdana dibatalkan atau ditunda, bagaimanapun Tanggal
Pengembalian Uang Pemesanan tidak boleh lebih lambat dari 2 (dua)
Hari Kerja setelah Tanggal Penjatahan atau 2 (dua) Hari Kerja setelah
tanggal diumumkannya pembatalan atau penundaan Penawaran Umum
Saham Perdana.
“Tanggal Penjatahan”
: berarti suatu tanggal yang disetujui Perseroan bersama dengan Penjamin
Emisi Efek selambat-lambatnya 2 (dua) Hari Kerja terhitung setelah
penutupan Masa Penawaran Umum Saham Perdana.
”US$”
: berarti Dolar Amerika Serikat.
“Undang-Undang Pasar
Modal” atau “UUPM”
: berarti Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal,
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 64 Tahun 1995, Tambahan
No. 3608, beserta peraturan-peraturan pelaksananya.
“UUPT”
: berarti Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 106 Tahun 2007, Tambahan
No. 4756.
ix
DEFINISI DAN SINGKATAN TEKNIS
“CAP”
: berarti singkatan dari Colleage of American Patologists.
“CLIA”
: berarti singkatan dari Clinical Laboratory Standard Institute.
“Conssumable”
: berarti bahan dan alat medis habis pakai.
“Evidence-based treatment” : berarti suatu pendekatan medik yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah
terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita.
“Flebotomist”
: berarti orang-orang terlatih untuk mengambil darah pasien untuk uji
klinis atau medis, transfusi, donasi, atau penelitian.
“JKN”
: berarti singkatan dari Jaminan Kesehatan Nasional.
“Klinik PHC”
: berarti singkatan dari Klinik Prodia Health Care.
“Lab PRN”
: berarti singkatan Laboratorium Pusat Rujukan Nasional Prodia
“LIS”
: berarti singkatan dari Laboratory Information Service.
“NGSP”
: berarti singkatan dari National Glycohemoglobin Standardization
Program.
“Pemeriksaan esoterik”
: berarti pemeriksaan laboratorium klinik yang khusus dan jarang
diresepkan oleh dokter. Pemeriksaan-pemeriksaan ini umumnya
dilakukan oleh tenaga ahli dan lebih membutuhkan teknologi canggih,
peralatan dan material dibandingkan pemeriksaan rutin.
: berarti perawatan medik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi
“Personalized medicine”
masing-masing pelanggan.
atau “Pengobatan personal”
“Precision medicine”
: berarti pengobatan yang lebih tepat sasaran kepada individu atau
kelompok individu yang memiliki kesamaan secara genomik, lingkungan
dan gaya hidup.
“POC Center”
: berarti point of care atau poin pelayanan yang berlokasi di klinik-klinik
dokter dan dilengkapi peralatan laboratorium untuk melaksanakan
pemeriksaan rutin tertentu atau spesimen dan/atau sampel dikirim ke
salah satu laboratorium klinik Perseroan terdekat untuk pemeriksaan.
“POC Collection Center”
: berarti point of care atau poin pelayanan yang berlokasi di klinik-klinik
dokter dan mengirimkan semua spesimen dan/atau sampel ke salah satu
laboratorium klinik Perseroan terdekat untuk pemeriksaan.
“Quality assurance”
: berarti kegiatan untuk mengukur kinerja pada tiap tahapan proses
laboratorium yang meliputi pra-analitik, analitik dan pasca-analitik
untuk menjamin pelayanan dalam kualitas tinggi dan kepuasan
pelanggan.
“Sampel”
: berarti materi biologi pelanggan yang telah diproses untuk pemeriksaan.
“SISPRO”
: berarti singkatan dari Sistem Informasi Prodia.
“Spesimen”
: berarti materi biologi yang diambil dari pelanggan dan belum diproses
untuk pemeriksaan.
x
SINGKATAN NAMA PERUSAHAAN
“BCA”
: berarti singkatan dari PT Bank Central Asia Tbk.
“Bank Danamon”
: berarti singkatan dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk.
“Bank Panin”
: berarti singkatan dari PT Bank Pan Indonesia Tbk.
“INNODIA”
: berarti singkatan dari PT Innovasi Diagnostika.
“Kelompok Pendiri”
: berarti PT Prodia Utama dan anggota keluarga dari Andi Widjaja,
Gunawan Prawiro Soeharto, Johanes Hamdono Widjojo, Elias Nugroho,
Ichsan Hidajat dan Arjati Utami.
“NUH Laboratories”
: berarti singkatan dari NUH Referral Laboratories Pte. Ltd.
“Prodia CRO”
: berarti singkatan dari PT Prodia Diacro Laboratories.
“POHII”
: berarti singkatan dari PT Prodia OHI International.
“PROLINE”
: berarti singkatan dari PT Prodia Diagnostic Line.
“PROSTEM”
: berarti singkatan dari PT Prodia Stemcell Indonesia.
“Quest”
: berarti singkatan dari Quest Diagnostics Incorporated.
xi
rINGKASAN
Ringkasan di bawah ini dibuat atas dasar fakta-fakta serta pertimbangan-pertimbangan penting yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan harus dibaca dalam kaitannya dengan informasi lain
yang lebih rinci, termasuk laporan keuangan Perseroan beserta catatan atas laporan keuangan terkait,
serta risiko usaha, yang seluruhnya tercantum dalam Prospektus ini. Semua informasi keuangan yang
tercantum dalam Prospektus ini bersumber dari laporan keuangan yang dinyatakan dalam mata uang
Rupiah kecuali dinyatakan lain dan disajikan sesuai dengan prinsip standar akuntansi keuangan di
Indonesia.
1. Keterangan Singkat Mengenai Perseroan
Perseroan, berkedudukan di Jakarta, didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan No. 14 tanggal
8 Februari 1988, sebagaimana diubah dengan Akta Perbaikan No. 48 tanggal 20 Januari 1989, yang
keduanya dibuat di hadapan Sri Rahayu, Notaris di Jakarta, yang telah mendapatkan pengesahan
sebagai badan hukum berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman No. C2-1459 HT.01.01.Th.91 tanggal
27 April 1991 serta telah didaftarkan pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 761/1991 tanggal
4 Mei 1991 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia (”BNRI”) No. 52 tanggal
28 Juni 1991 dan Tambahan No. 1846 (“Akta Pendirian”).
Anggaran dasar Perseroan pada Akta Pendirian selanjutnya telah mengalami beberapa kali perubahan
dan terakhir diubah sebagaimana termaktub dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perseroan
No. 46 tanggal 22 Agustus 2016 yang dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta
Selatan, yang telah mendapatkan persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
(“Menkumham”) berdasarkan Keputusan Menkumham No. AHU-0015163.AH.01.02.Tahun2016 tanggal
24 Agustus 2016 (“Akta 46/2016”).
Berdasarkan Pasal 3 anggaran dasar Perseroan sebagaimana dinyatakan dalam Akta 46/2016, maksud
dan tujuan utama Perseroan adalah berusaha dalam bidang kesehatan. Untuk mencapai maksud dan
tujuan tersebut di atas, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut:
a. di bidang rumah sakit, klinik, poliklinik, laboratorium kesehatan dan balai pengobatan antara lain
meliputi jasa kesehatan dan kegiatan sosial meliputi jasa rumah sakit, klinik, laboratorium klinik
swasta, balai pengobatan lainnya seperti jasa pelayanan kesehatan dan jasa penunjang kesehatan
lainnya untuk kepentingan masyarakat luas; dan
b. di bidang pelayanan dan penyelenggaraan kesehatan antara lain meliputi menyelenggarakan
pemeriksaan kesehatan masyarakat, menyelenggarakan pelayanan, penyelenggaraan penyuluhan,
konsultasi dan pemeliharaan kesehatan masyarakat.
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, kegiatan usaha utama Perseroan adalah bergerak di bidang
kesehatan di bidang laboratorium klinik swasta dan Perseroan tidak pernah melakukan perubahan
kegiatan usaha dari sejak pendirian.
2. Penawaran Umum SAHAM PERDANA
Berikut merupakan ringkasan struktur Penawaran Umum Saham Perdana Perseroan:
Jumlah Saham Yang
Ditawarkan
: 187.500.000 (seratus delapan puluh tujuh juta dan lima ratus ribu)
saham biasa atas nama, yang mewakili sebesar 20% (dua puluh persen)
dari modal ditempatkan dan disetor dalam Perseroan setelah Penawaran
Umum Saham Perdana.
xii
Jumlah Saham yang
Dicatatkan
: 937.500.000 (sembilan ratus tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu)
saham biasa atas nama, yang mewakili sebesar 100% (seratus persen)
dari modal ditempatkan dan disetor dalam Perseroan setelah Penawaran
Umum Saham Perdana.
Nilai Nominal
: Rp100 (seratus Rupiah) setiap saham.
Harga Penawaran
: Rp6.500 (enam ribu lima ratus Rupiah) setiap saham.
Nilai Emisi
: Rp1.218.750.000.000 (satu triliun dua ratus delapan belas miliar tujuh
ratus lima puluh juta Rupiah).
Saham Yang Ditawarkan dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana ini seluruhnya merupakan
Saham Baru yang berasal dari portepel dan akan memberikan kepada pemegangnya hak yang sama dan
sederajat dalam segala hal dengan saham lainnya dari Perseroan yang telah ditempatkan dan disetor
penuh, termasuk hak atas pembagian dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi, hak untuk menghadiri
dan mengeluarkan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”), hak atas pembagian saham
bonus dan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan ketentuan dalam UUPT dan UUPM.
Saham Yang Ditawarkan dimiliki secara sah dan dalam keadaan bebas, tidak sedang dalam sengketa
dan/atau dijaminkan kepada pihak manapun serta tidak sedang ditawarkan kepada pihak lain.
Berdasarkan Akta 46/2016 , struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan terakhir pada
tanggal Prospektus ini diterbitkan adalah sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
570.000.000
180.000.000
750.000.000
2.250.000.000
57.000.000.000 76,00
18.000.000.000 24,00
75.000.000.000 100,00
225.000.000.000
Dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana ini, maka
struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan sebelum dan setelah Penawaran Umum
Saham Perdana secara proforma adalah sebagai berikut :
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
3. Masyarakat
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Sebelum Penawaran Umum Saham Perdana Setelah Penawaran Umum Saham Perdana
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Jumlah Saham
(%)
Nominal
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
3.000.000.000 300.000.000.000
570.000.000
180.000.000
750.000.000
2.250.000.000
57.000.000.000
18.000.000.000
-
76,00
24,00
-
570.000.000
180.000.000
187.500.000
75.000.000.000 100,00
225.000.000.000
937.500.000
2.062.500.000
57.000.000.000
18.000.000.000
18.750.000.000
60,80
19,20
20,00
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
Program Pemberian Saham Penghargaan dalam Program ESA dan Hak Opsi Pembelian Saham
dalam Program MESOP
Bersamaan dengan Penawaran Umum Saham Perdana, Perseroan mengadakan Program ESA dengan
mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya sebesar 2% (dua persen) dari jumlah Saham Yang
Ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana atau sebanyak-banyaknya sebesar 3.750.000 (tiga
xiii
juta tujuh ratus lima puluh) saham dan Program MESOP sebanyak-banyaknya sebesar 1,5% (satu koma
lima persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum Saham
Perdana atau sebanyak-banyaknya sebesar 14.062.500 (empat belas juta enam puluh dua ribu lima
ratus) saham berdasarkan Akta 83/2016 dan ditetapkan oleh Direksi berdasarkan Surat Keputusan No.
170/SK/HROD/IX/16 tanggal 11 Agustus 2016 yang memberikan persetujuan atas persyaratan peserta
dan pelaksanaan Program ESA dan Program MESOP.
Tujuan utama dari Program ESA dan Program MESOP adalah untuk memberikan penghargaan dan
sebagai bagian dari program total reward kepada karyawan atas kontribusinya kepada Perseroan serta
meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging) manajemen dan karyawan terhadap Perseroan yang
diharapkan dapat meningkatkan nilai Perseroan (stakeholder value).
Program Pemberian Saham Penghargaan dalam Program ESA
Program pemberian saham penghargaan dalam Program ESA merupakan alokasi jatah pasti dalam
Penawaran Umum Saham Perdana Perseroan yang diberikan kepada karyawan Perseroan dengan kriteria
tertentu sebagai penghargaan atas kinerja karyawan dengan biaya Perseroan. Pelaksanaan Program
ESA akan mengikuti ketentuan yang terdapat dalam Peraturan No. IX.A.7, Lampiran Keputusan Ketua
Bapepam dan LK No. Kep-691/BL/2011 tanggal 30 Desember 2011 tentang Pemesanan dan Penjatahan
Efek Dalam Penawaran Umum (“Peraturan No. IX.A.7”).
Dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan Perseroan dalam Penawaran Umum Saham Perdana
ini, dan Program ESA seperti dijelaskan di atas, maka struktur permodalan dan susunan pemegang
saham Perseroan sebelum dan sesudah Penawaran Umum Saham Perdana dan pelaksanaan Program
ESA secara proforma menjadi sebagai berikut:
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
3. Masyarakat
4. Program ESA
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Sebelum Penawaran Umum Saham Perdana Setelah Penawaran Umum Saham Perdana
dan Pelaksanaan Program ESA
dan Pelaksanaan Program ESA
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Jumlah Saham
(%)
Nominal
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
3.000.000.000 300.000.000.000
570.000.000
180.000.000
750.000.000
2.250.000.000
57.000.000.000
18.000.000.000
-
76,00
24,00
-
570.000.000
180.000.000
183.750.000
3.750.000
75.000.000.000 100,00
225.000.000.000
937.500.000
2.062.500.000
57.000.000.000
18.000.000.000
18.375.000.000
375.000.000
60,80
19,20
19,60
0,40
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
Program Pemberian Hak Opsi Pembelian Saham dalam Program MESOP
Program pemberian hak opsi dalam Program MESOP merupakan alokasi hak opsi untuk membeli saham
baru bagi manajemen dan karyawan dengan jenjang tertentu setelah saham Perseroan tercatat di Bursa
Efek (“Peserta Program MESOP”). Pelaksanaan hak opsi akan mengikuti ketentuan yang terdapat pada
Peraturan Bursa Efek Indonesia No. I-A, Lampiran Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia No. Kep00001/BEI/01-2014 tanggal 20 Januari 2014 tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain
Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat (“Peraturan Pencatatan Bursa Efek”).
Dengan asumsi seluruh saham Program MESOP diserap oleh Peserta Program MESOP, maka struktur
permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan sebelum dan sesudah pelaksanaan Program MESOP
secara proforma menjadi sebagai berikut:
xiv
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
3. Masyarakat
4. Program ESA
5. Program MESOP
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Sebelum Pelaksanaan Program MESOP
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
570.000.000
180.000.000
183.750.000
3.750.000
937.500.000
2.062.500.000
57.000.000.000
18.000.000.000
18.375.000.000
375.000.000
-
Setelah Pelaksanaan Program MESOP
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
60,80
19,20
19,60
0,40
-
570.000.000
180.000.000
183.750.000
3.750.000
14.062.500
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
951.562.500
2.048.437.500
57.000.000.000
18.000.000.000
18.375.000.000
375.000.000
1.406.250.000
59,90
18,92
19,31
0,39
1,48
95.156.250.000 100,00
204.843.750.000
Keterangan selengkapnya mengenai Penawaran Umum Saham Perdana dapat dilihat pada Bab I
Prospektus ini.
3. Rencana Penggunaan Dana DARI HASIL PENAWARAN UMUM
Seluruh dana hasil dari Penawaran Umum Saham Perdana ini, setelah dikurangi biaya-biaya Emisi,
akan digunakan untuk:
•
sekitar 67% akan digunakan untuk mengembangkan dan memperbesar jejaring outlet Perseroan di
Indonesia, baik di pasar yang ada saat ini maupun di pasar yang baru, baik melalui pertumbuhan
organik maupun inorganik;
•
sekitar 19% akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas layanan Perseroan melalui
pembelian (i) peralatan teknologi diagnostik generasi terbaru; (ii) peralatan untuk pemeriksaan
non-laboratorium; (iii) dan peralatan dan/atau perlengkapan teknologi informasi;
•
sisanya sekitar 14% akan digunakan untuk modal kerja, operasional dan tujuan kegiatan korporasi
umum lainnya, termasuk untuk mendukung kegiatan operasional kantor perusahaan dan outlet
yang ada saat ini maupun outlet yang baru (klinik khusus dan Klinik Prodia Health Care (“Klinik
PHC”)).
Penjelasan lebih lengkap mengenai Rencana Penggunaan Dana dari hasil Penawaran Umum Saham
Perdana dapat dilihat pada Bab II Prospektus ini.
4. Risiko Usaha
Risiko-risiko berikut merupakan risiko-risiko yang material bagi Perseroan, serta telah dilakukan
pembobotan berdasarkan dampak dari masing-masing risiko terhadap kinerja keuangan Perseroan,
dimulai dari risiko utama Perseroan:
•
Risiko Terkait Kegiatan Usaha dan Industri
-
-
-
Perseroan beroperasi dalam industri yang bersaing dan terfragmentasi, dan ketidakmampuan
untuk bersaing secara efektif dapat berdampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha
Perseroan;
Kemampuan Perseroan untuk menarik pasien perorangan sebagian besar bergantung pada
tingkat pendapatan dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan serta keinginan masyarakat
menyisihkan pendapatan untuk pengeluaran perawatan kesehatan, yang mana hal-hal tersebut
dapat menurun sebagai akibat berbagai faktor;
Kepercayaan dan keyakinan pelanggan Perseroan terhadap merek “Prodia” merupakan hal
yang sangat penting bagi kegiatan usaha Perseroan, dan kegagalan untuk membangun atau
mempertahankan kepercayaan terhadap merek Prodia serta kualitas layanan laboratorium klinik
Prodia akan dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis Perseroan;
xv
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Kesuksesan Perseroan sangat bergantung pada kemampuan Perseroan dalam mempertahankan
hubungan baik dan pengakuan dari profesional medik yang merujuk dan merekomendasikan
layanan Perseroan Kegagalan menjaga hubungan baik dan tingkat kepercayaan yang tinggi
di kalangan profesional medik terhadap layanan Perseroan dapat berdampak material dan
merugikan terhadap bisnis Perseroan;
Perseroan mungkin tidak dapat mengimplementasikan atau mengendalikan strategi ekspansinya
dengan memuaskan;
Perseroan mungkin tidak mampu mengembangkan atau gagal memasarkan pemeriksaan dan
layanan baru;
Terjadinya gangguan di fasilitas Laboratorium Pusat Rujukan Nasional Prodia (“Lab PRN”)
dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam memproses pemeriksaan klinik dan
pemeriksaan yang sangat kompleks;
Laboratorium Perseroan terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga menyebabkan Perseroan
menjadi sensitif terhadap kondisi dan perubahan peraturan, ekonomi, lingkungan dan iklim
kompetisi di wilayah tersebut;
Perseroan menerapkan model bisnis hub-and-spoke. Kegagalan atau keterlambatan dalam
pengiriman spesimen dan/atau sampel ke laboratorium Perseroan dapat berpengaruh
buruk terhadap atau merusak spesimen dan/atau sampel pemeriksaan sehingga dapat dapat
mempengaruhi bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan arus kas Perseroan;
Perubahan terkait atau ketidakpatuhan dengan peraturan pemerintah dapat berdampak negatif
terhadap bisnis Perseroan;
Kemajuan teknologi dapat mendorong perkembangan teknologi untuk pemeriksaan laboratorium
yang lebih murah atau pemeriksaan laboratorium klinik non-invasif sehingga dapat mengurangi
permintaan terhadap layanan atau marjin Perseroan;
Perseroan bergantung kepada produsen pihak ketiga untuk peralatan pemeriksaan laboratorium
dan reagen, sehingga kenaikan harga peralatan pemeriksaan laboratorium dan/atau reagen
tersebut, serta penghentian produksi atau penarikan peralatan pemeriksaan laboratorium dan/
atau reagen serta malfungsi pada salah satu peralatan Perseroan dapat berdampak merugikan
terhadap bisnis Perseroan;
Pelaksanaan dan ekspansi berlanjut atas program Jaminan Kesehatan Nasional (“JKN”) dapat
memiliki dampak yang tidak dapat diperkirakan terhadap bisnis Perseroan;
Kemajuan teknologi yang berkaitan dengan peralatan laboratorium klinik, dan ketergantungan
Perseroan terhadap sejumlah kecil pemasok peralatan laboratorium klinik, dapat berdampak
merugikan terhadap bisnis Perseroan;
Perseroan mengalihkan beberapa pemeriksaan yang ditawarkannya ke laboratorium pihak ketiga
Setiap kesalahan dalam pemeriksaan tersebut oleh laboratorium pihak ketiga dapat berdampak
merugikan terhadap bisnis dan reputasi Perseroan;
Perseroan bergantung pada izin-izin milik pihak lain untuk outlet POC dan laboratorium rumah
sakit;
Kegagalan untuk mematuhi peraturan perundang-undangan mengenai rekam medis dapat
berdampak negatif terhadap profitabilitas dan arus kas Perseroan;
Tantangan yang mempengaruhi industri pelayanan kesehatan juga dapat memiliki dampak
buruk yang material terhadap kegiatan usaha Perseroan;
Keberhasilan usaha Perseroan sebagian besar bergantung pada tim manajemen senior Perseroan
dan kegagalan menarik atau mempertahankan karyawan tersebut dapat berdampak merugikan
pada bisnis Perseroan;
Perseroan mungkin tidak dapat mempertahankan atau merekrut ahli patologi klinik, flebotomist,
ahli teknologi medik dan profesional medik lainnya, yang dapat mempengaruhi kualitas
layanan Perseroan dan berdampak material dan merugikan terhadap hasil operasi dan arus kas
Perseroan;
Perseroan tidak memiliki tanah dan bangunan untuk sebagian besar laboratorium klinik
Perseroan atau outlet POC dan laboratorium rumah sakit, yang mengakibatkan timbulnya
sejumlah risiko tertentu;
Pungutan PPN atas jasa pelayanan di industri jasa pelayanan kesehatan di Indonesia secara
umum atau laboratorium klinik atau jasa layanan kesehatan lainnya secara khusus dapat
merugikan bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi, prospek dan arus kas Perseroan;
xvi
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
•
Risiko Terkait Indonesia
-
-
-
-
-
-
-
-
•
Perseroan saat ini melakukan transaksi-transaksi dengan pihak-pihak terafiliasi, dan Perseroan
mungkin akan terus melakukannya di masa mendatang;
Perseroan dapat menerima keluhan dari pelanggan dan terlibat dalam litigasi terkait layanan
laboratorium klinik Perseroan;
Kegagalan teknologi dan hambatan lain terkait dengan sistem informasi Perseroan dapat
berdampak merugikan terhadap operasi, pengawasan dan pelaporan keuangan Perseroan ;
Kepatuhan dengan undang-undang dan peraturan yang mengatur mengenai kesehatan,
keselamatan dan lingkungan hidup, berbagai undang-undang dan peraturan mengenai
ketenagakerjaan, lingkungan kerja dan peraturan dan undang-undang terkait lainnya, berserta
perubahannya, yang berlaku di yurisdiksi dimana Perseroan beroperasi dapat mengakibatkan
kenaikan kebutuhan modal dan biaya operasional;
Perseroan memiliki liabilitas imbalan kerja yang signifikan;
Pendapatan Perseroan bergantung pada beberapa pemeriksaan rutin dan esoterik tertentu;
Bisnis Perseroan dipengaruhi faktor musiman;
Nilai pertanggungan dari asuransi yang dimiliki Perseroan mungkin tidak cukup untuk
melindungi Perseroan dari setiap kerugian;
Perseroan mungkin tidak dapat memperoleh, mempertahankan atau meminta perlindungan
atas Hak Kekayaan Intelektual (“HAKI”) yang dimilikinya dan dapat terlibat dalam sengketa
terkait HAKI yang dapat merugikan bisnis Perseroan; dan
Proses pemeriksaan dan bisnis Perseroan dapat melanggar HAKI milik pihak lain, yang dapat
mengakibatkan Perseroan terlibat dalam litigasi berbiaya besar, membayar ganti rugi dalam
jumlah substansial atau melarang Perseroan untuk menawarkan pemeriksaan tertentu.
Pasar negara berkembang seperti Indonesia memiliki risiko lebih besar dibandingkan pasar
negara maju, dan jika risiko tersebut terjadi, hal ini dapat menganggu kegiatan usaha Perseroan
dan mengakibatkan investor mengalami kerugian signifikan atas investasinya;
Sistem hukum Indonesia tunduk pada kebijaksanaan dan ketidakpastian yang cukup besar;
Penafsiran dan implementasi dari undang-undang tentang pemerintahan daerah di Indonesia
tidak pasti dan dapat berdampak merugikan terhadap Perseroan;
Ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia dapat berdampak buruk terhadap Perseroan;
Aktivitas dan pemogokan buruh, atau kegagalan dalam menjaga hubungan baik dengan buruh
dapat berdampak merugikan terhadap Perseroan;
Indonesia terletak pada lokasi gempa bumi dan cenderung memiliki risiko geologi yang
signifikan yang dapat mengakibatkan kerusuhan sosial dan kerugian ekonomi;
Peraturan-peraturan Indonesia dapat mempengaruhi kemampuan korporasi nonbank untuk
mendapatkan pembiayaan; dan
Prospektus ini memuat informasi dari laporan industri yang dipesan oleh Perseroan kepada
Frost & Sullivan.
Risiko Terkait Investasi pada Saham Perseroan
-
-
-
-
-
-
Harga saham Perseroan dapat berfluktuasi cukup jauh;
Penurunan peringkat utang Indonesia dan perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat berdampak
material dan merugikan dan harga pasar dari Saham Yang Ditawarkan;
Kondisi pasar modal Indonesia dapat mempengaruhi harga atau likuiditas saham Perseroan
dan tidak adanya pasar sebelumnya untuk saham Perseroan dapat berakibat pada berkurangnya
likuiditas;
Kemampuan Perseroan untuk membagikan dividen di masa mendatang akan bergantung pada
saldo laba ditahan, kondisi keuangan, arus kas dan kebutuhan modal kerja di masa mendatang;
Net Asset Value dari Saham Yang Ditawarkan dalan Penawaran Umum Saham Perseroan dapat
memiliki nilai lebih kecil dari Harga Penawaran dan calon investor akan mengalami dilusi
langsung dan substansial;
Kepentingan pemegang saham pengendali dapat bertentangan dengan kepentingan pembeli
Saham Yang Ditawarkan;
xvii
-
-
-
-
-
•
Fluktuasi nilai tukar mata uang Rupiah terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat atau mata
uang lain akan mempengaruhi nilai saham Perseroan dan dividen dalam mata uang asing;
Penjualan saham Perseroan di masa depan oleh Perseroan dan pemegang saham Perseroan saat
ini dapat berdampak merugikan terhadap harga pasar saham Perseroan;
Putusan pengadilan asing mungkin tidak dapat dilaksanakan terhadap Perseroan;
Investor dapat tunduk pada pembatasan atas hak pemegang saham minoritas; dan
Standar tata kelola perusahaan di Indonesia dapat berbeda dari standar tata kelola di negaranegara lain.
Risiko Terkait Peraturan-Peraturan Pasar Modal di Indonesia
-
-
-
-
-
Investor dapat diwajibkan untuk menyelesaikan pembelian Saham Yang Ditawarkan apabila
Penawaran Umum Saham Perdana dipersyaratkan untuk dilaksanakan dan diselesaikan walaupun
terdapat perubahan material yang merugikan dalam bidang moneter, keuangan, politik atau
ekonomi di internasional atau nasional atau kejadian-kejadian force majeure atau perubahan
material yang merugikan lainnya terhadap hal-hal apapun termasuk kondisi bisnis dan keuangan
Perseroan;
Kegagalan dalam memenuhi ketentuan keterbukaan dan pengendalian internal serta laporan
keuangan, dan manajemen risiko serta tindakan terkait lainnya yang sesuai untuk perusahaan
terbuka yang sahamnya dicatatkan dapat menganggu kegiatan operasi Perseroan dan kemampuan
Perseroan untuk memenuhi kewajiban pelaporan berkala;
Pelaksanaan peraturan benturan kepentingan dapat mengakibatkan Perseroan untuk melepaskan
transaksi yang penting bagi Perseroan; dan
Hak investor untuk berpartisipasi dalam penawaran umum terbatas Perseroan di masa depan
dapat dibatasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di tempat kedudukan
investor yang bersangkutan, sehingga dapat menyebabkan dilusi kepemilikan saham; dan
Undang-undang di Indonesia dapat beroperasi secara berbeda dari undang-undang di yurisdiksi
lain sehubungan dengan hak pemegang saham untuk meminta penyelenggaraan RUPS,
menghadiri RUPS dan memberikan suara dalam RUPS.
Risiko usaha Perseroan selengkapnya dapat dilihat pada Bab VI Prospektus ini.
5. Ikhtisar Data Keuangan Penting
Angka-angka ikhtisar data keuangan penting di bawah ini berasal dan/atau dihitung berdasarkan:
(i) laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak diaudit),
serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 yang tercantum dalam
Prospektus ini; dan (ii) laporan keuangan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2012 dan 2011, yang seluruhnya tidak tercantum dalam Prospektus ini.
Laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak diaudit),
serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 telah diaudit oleh Kantor
Akuntan Publik Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar & Rekan (a member firm of the RSM network)
(“RSM”), auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik
Indonesia (“IAPI”), dengan opini tanpa modifikasian (“Wajar Tanpa Pengecualian”). Laporan audit RSM
tersebut mencantumkan paragraf Hal-hal lain sehubungan dengan tujuan pelaksanaan audit. Laporan
audit RSM tersebut ditandatangani oleh Riki Afrianof (Rekan pada RSM dengan Registrasi Akuntan
Publik No. AP.1017).
Laporan keuangan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2012 dan 2011 (sebelum disajikan
kembali oleh Perseroan), yang seluruhnya tidak tercantum dalam Prospektus ini, telah diaudit oleh
RSM, berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh IAPI, dengan opini wajar tanpa pengecualian
(“Wajar Tanpa Pengecualian”). Laporan audit tersebut ditandatangani oleh Riki Afrianof (Rekan pada
RSM dengan Registrasi Akuntan Publik No. AP.1017).
xviii
Laporan Posisi Keuangan
TOTAL ASET
TOTAL LIABILITAS
TOTAL EKUITAS
31 Desember
2011 (1)(2) 2012 (1)(2)
2013 (2)
2014 (2)
384,3
450,1
513,6
634,3
343,1
376,1
425,2
500,1
41,2
74,0
88,4
134,2
(dalam miliar Rupiah)
30 Juni
2015
2016
577,9
588,3
451,6
534,7
126,3
53,6
Catatan:
(1) Disajikan kembali oleh Perseroan sehubungan dengan penerapan PSAK 24 (Revisi 2013)
(2) Konsolidasian
Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
PENDAPATAN – BERSIH
BEBAN POKOK PENDAPATAN
LABA KOTOR
BEBAN USAHA
LABA USAHA
LABA SEBELUM PAJAK
LABA TAHUN BERJALAN
LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011(1)(2)
2012(1)(2)
2013(2)
2014(2)
2015
747,5
893,4
998,0
1.101,0
1.197,7
334,6
370,0
396,0
464,0
511,2
412,9
523,5
602,0
637,0
686,5
(368,3)
(421,7)
(508,8)
(560,4)
(606,5)
49,2
98,7
93,9
90,8
96,9
39,2
90,5
87,6
76,3
77,0
28,2
64,4
59,8
55,3
59,0
6,5
48,4
88,0
44,8
66,5
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
2015
2016
591,2
648,6
248,2
268,9
343,0
379,7
(300,4)
(325,8)
52,7
59,1
41,7
55,5
32,1
39,1
23,1
2,3
Catatan:
(1) Disajikan kembali oleh Perseroan sehubungan dengan penerapan PSAK 24 (Revisi 2013)
(2) Konsolidasian
Rasio Keuangan
2011
Rasio Pertumbuhan (%)
Pendapatan - bersih
Beban pokok pendapatan
Laba kotor
Laba usaha
Laba tahun berjalan
Jumlah aset
Jumlah liabilitas
Jumlah ekuitas
Rasio Usaha (%)
Laba kotor / Pendapatan - bersih
Laba usaha / Pendapatan - bersih
Laba tahun berjalan / Pendapatan - bersih
Laba tahun berjalan / Total ekuitas
Laba tahun berjalan / Total aset
Rasio Keuangan (x)
Total aset / Total liabilitas
Total liabilitas / Total ekuitas
Total liabilitas / Total aset
Total aset lancar / Total liabilitas jangka pendek
2012
31 Desember
2013
2014
2015
30 Juni
2016
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
19,5%
10,6%
26,8%
100,7%
127,9%
17,1%
9,6%
79,7%
11,7%
7,0%
15,0%
(4,8%)
(7,0%)
14,1%
13,1%
19,4%
10,3%
17,2%
5,8%
(3,3%)
(7,6%)
23,5%
17,6%
52,0%
8,8%
10,2%
7,8%
6,7%
6,6%
(8,9%)
(9,7%)
(5,9%)
9,7% (1)
8,3% (1)
10,7% (1)
12,2% (1)
21,7% (1)
1,8%
18,4%
(57,5%)
55,2%
6,6%
3,8%
68,6%
7,4%
58,6%
11,0%
7,2%
87,0%
14,3%
60,3%
9,4%
6,0%
67,7%
11,7%
57,9%
8,2%
5,0%
41,2%
8,7%
57,3%
8,1%
4,9%
46,7%
10,2%
58,5%
9,1%
6,0%
72,9%
6,6%
1,1
8,3
0,9
1,2
1,2
5,1
0,8
1,1
1,2
4,8
0,8
1,2
1,3
3,7
0,8
1,3
1,3
3,6
0,8
1,4
1,1
10,0
0,9
1,3
Catatan:
(1) Dibandingkan 30 Juni 2015
t.b.d. : tidak dapat dibandingkan
Penjelasan lebih lengkap mengenai Ikhtisar Data Keuangan Penting dapat dilihat pada Bab IV Prospektus
ini.
xix
6. Kebijakan Dividen
Seluruh saham biasa atas nama yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk saham biasa atas
nama yang ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana ini, mempunyai hak yang sama dan
sederajat termasuk hak atas pembagian dividen.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan Indonesia, khususnya UUPT, keputusan pembayaran
dividen mengacu pada ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Anggaran Dasar Perseroan dan
persetujuan pemegang saham pada RUPS berdasarkan rekomendasi Direksi Perseroan. Pembayaran
dividen hanya dapat dilakukan apabila Perseroan mencatatkan laba bersih yang positif.
Setelah Penawaran Umum Saham Perdana ini, Perseroan bermaksud membayarkan dividen kas dalam
jumlah sebanyak-banyaknya 30% dari laba tahun berjalan mulai tahun 2017 berdasarkan laba bersih
tahun berjalan tahun buku 2016, setelah melakukan pencadangan laba bersih sesuai ketentuan yang
berlaku. Penentuan jumlah dan pembayaran dividen akan mempertimbangkan arus kas dan rencana
investasi Perseroan, serta pembatasan hukum. Direksi Perseroan dapat melakukan perubahan kebijakan
dividen setiap waktu, yang tunduk pada persetujuan oleh pemegang saham pada saat RUPS.
Kebijakan dividen selengkapnya dapat dilihat pada Bab XIII Prospektus ini.
7. RENCANA PELEPASAN SAHAM OLEH PEMEGANG SAHAM PERSEROAN
Di samping Penawaran Umum Saham Perdana, beberapa Pemegang Saham Perseroan, yaitu PT Prodia
Utama dan Bio Majesty Pte. Ltd. (“Pemegang Saham Penjual”) akan melepaskan sebagian sahamnya
dalam Perseroan dengan jumlah sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari modal ditempatkan dan
disetor penuh setelah Penawaran Umum Saham Perdana (sebelum pelaksanaan Program MESOP) atau
sebanyak-banyaknya sebesar 46.875.000 (empat puluh enam juta delapan ratus tujuh puluh lima) saham
pada Harga Penawaran kepada beberapa institutional investor (investor institusional) di luar negeri
melalui Agen Penjualan Internasional. Penyerahan atau penutupan atas transaksi saham yang dimiliki
oleh Pemegang Saham Penjual akan dilakukan di BEI melalui Pasar Sekunder pada Tanggal Pencatatan.
Rencana pelepasan saham oleh Pemegang Saham Penjual ini merupakan penawaran terbatas dan bukan
merupakan penawaran umum pemegang saham. Pemegang Saham Penjual akan melepaskan hak para
Pemegang Saham Penjual atas saham yang dimiliki pada Perseroan kepada investor tertentu (bukan
warga negara Indonesia dan dilakukan di luar wilayah Indonesia), dan tidak akan ditawarkan di Indonesia
atau ditawarkan kepada warga negara Indonesia kepada lebih dari 100 pihak atau dijual kepada lebih
dari 50 pihak. Dengan demikian, rencana pelepasan saham Pemegang Saham Penjual bukan merupakan
Penawaran Umum berdasarkan UUPM.
Dengan dilaksanakannya pelepasan saham milik Pemegang Saham Penjual, maka susunan pemegang
saham Perseroan sebelum dan sesudah pelepasan saham secara proforma menjadi sebagai berikut:
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1.PT Prodia Utama
2.Bio Majesty Pte. Ltd.
3.Masyarakat
4.Program ESA
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Sebelum Pelepasan Saham
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
570.000.000
180.000.000
183.750.000
3.750.000
937.500.000
2.062.500.000
57.000.000.000
18.000.000.000
18.375.000.000
375.000.000
Setelah Pelepasan Saham
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
60,80
19,20
19,60
0,40
534.375.000
168.750.000
230.625.000
3.750.000
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
937.500.000
2.062.500.000
xx
53.437.500.000
16.875.000.000
23.062.500.000
375.000.000
57,00
18,00
24,60
0,40
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
Dengan asumsi seluruh saham Program MESOP diserap oleh Peserta Program MESOP, maka struktur
permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan sebelum dan sesudah pelaksanaan Program
MESOP setelah pelepasan saham secara proforma menjadi sebagai berikut:
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
3. Masyarakat
4. Program ESA
5. Progarm MESOP
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Setelah Pelepasan Saham dan Sebelum
Pelaksanaan Program MESOP
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
534.375.000
168.750.000
230.625.000
3.750.000
937.500.000
2.062.500.000
53.437.500.000
16.875.000.000
23.062.500.000
375.000.000
-
Setelah Pelepasan Saham dan Setelah
Pelaksanaan Program MESOP
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
57,00
18,00
24,60
0,40
-
534.375.000
168.750.000
230.625.000
3.750.000
14.062.500
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
951.562.500
2.048.437.500
53.437.500.000
16.875.000.000
23.062.500.000
375.000.000
1.406.250.000
56,16
17,73
24,24
0,39
1,48
95.156.250.000 100,00
204.843.750.000
Biaya-biaya yang timbul dari pelepasan saham Pemegang Saham Penjual akan ditanggung oleh masingmasing Pemegang Saham Penjual dan bukan merupakan bagian biaya Emisi.
Selain dari rencana pelepasan saham milik Pemegang Saham Penjual sebagaimana tersebut di atas,
para Pemegang Saham Penjual menyatakan bahwa tidak akan menjual setiap saham Perseroan selama
jangka waktu enam bulan sejak Pernyataan Pendaftaran dinyatakan Efektif oleh OJK.
xxi
Halaman ini sengaja dikosongkan
xxii
I. PENAWARAN UMUM SAHAM PERDANA
Perseroan dengan ini melakukan Penawaran Umum Saham Perdana sebanyak 187.500.000 (seratus
delapan puluh tujuh juta dan lima ratus ribu) saham biasa atas nama, dengan nilai nominal Rp100
(seratus Rupiah) setiap saham, yang mewakili sebesar 20% (dua puluh persen) dari modal ditempatkan
dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum Saham Perdana.
Keseluruhan saham tersebut ditawarkan kepada Masyarakat dengan Harga Penawaran Rp6.500(enam
ribu lima ratus Rupiah) setiap saham, yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan FPPS. Jumlah
seluruh nilai Penawaran Umum Saham Perdana adalah sebesar Rp1.218.750.000.000 (satu triliun dua
ratus delapan belas miliar tujuh ratus lima puluh juta Rupiah).
Saham Yang Ditawarkan dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana ini seluruhnya adalah Saham
Baru yang dikeluarkan dari portepel Perseroan dan akan memberikan kepada pemegangnya hak yang
sama dan sederajat dalam segala hal dengan saham lainnya dari Perseroan yang telah ditempatkan
dan disetor penuh, termasuk hak atas pembagian dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi, hak untuk
menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS, hak atas pembagian saham bonus dan hak memesan
efek terlebih dahulu sesuai dengan ketentuan dalam UUPT dan UUPM.
Saham Yang Ditawarkan dimiliki secara sah dan dalam keadaan bebas, tidak sedang dalam sengketa
dan/atau dijaminkan kepada pihak manapun serta tidak sedang ditawarkan kepada pihak lain.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk.
Kegiatan Usaha Utama:
Jasa pelayanan di bidang kesehatan di bidang laboratorium klinik swasta
Berkedudukan di Jakarta Pusat, Indonesia
Kantor Pusat:
Prodia Tower
Jl. Kramat Raya No. 150
Jakarta Pusat 10430, Indonesia
Telepon: (021) 314 4182
Faksimili: (021) 314 4181
Website: www.prodia.co.id
Email: [email protected]
Jaringan Layanan:
Per 30 Juni 2016, 251 outlet yang tersebar di 104 kota di 30 propinsi di Indonesia
RISIKO UTAMA YANG DIHADAPI PERSEROAN YAITU PERSEROAN BEROPERASI
DALAM INDUSTRI YANG BERSAING DAN TERFRAGMENTASI, DAN KETIDAKMAMPUAN
U N T U K B E R S A I N G S E C A R A E F E K T I F D A PAT B E R D A M PA K M AT E R I A L D A N
MERUGIKAN TERHADAP KEGIATAN USAHA PERSEROAN. RISIKO USAHA PERSEROAN
SELENGKAPNYA DICANTUMKAN PADA BAB VI DI DALAM PROSPEKTUS INI.
RISIKO TERKAIT INVESTASI PADA SAHAM PERSEROAN ADALAH HARGA SAHAM
PERSEROAN DAPAT BERFLUKTUASI CUKUP JAUH TERUTAMA DIKARENAKAN
PERSEPSI ATAS PROSPEK BISNIS DAN OPERASI PERSEROAN DAN INDUSTRI PELAYANAN
KESEHATAN SECARA UMUM. RISIKO TERKAIT INVESTASI PADA SAHAM PERSEROAN
SELENGKAPNYA DICANTUMKAN PADA BAB VI DI DALAM PROSPEKTUS INI.
1
Berdasarkan Akta 46/2016, struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan terakhir pada
tanggal Prospektus ini diterbitkan adalah sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
570.000.000
180.000.000
750.000.000
2.250.000.000
57.000.000.000 76,00
18.000.000.000 24,00
75.000.000.000 100,00
225.000.000.000
Penawaran Umum Saham Perdana
Jumlah Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana adalah sebesar 187.500.000
(seratus delapan puluh tujuh juta dan lima ratus ribu) saham biasa atas nama, yang mewakili sebesar
20% (dua puluh persen) dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan setelah Penawaran
Umum Saham Perdana.
Dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana ini, maka
struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan sebelum dan setelah Penawaran Umum
Saham Perdana secara proforma akan menjadi sebagai berikut :
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
3. Masyarakat
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Sebelum Penawaran Umum Saham Perdana
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
570.000.000
180.000.000
750.000.000
2.250.000.000
57.000.000.000
18.000.000.000
-
Setelah Penawaran Umum Saham Perdana
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
76,00
24,00
-
570.000.000
180.000.000
187.500.000
75.000.000.000 100,00
225.000.000.000
937.500.000
2.062.500.000
57.000.000.000
18.000.000.000
18.750.000.000
60,80
19,20
20,00
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
Program Pemberian Saham Penghargaan dalam Program ESA dan Hak Opsi Pembelian Saham
dalam Program MESOP
Bersamaan dengan Penawaran Umum Saham Perdana, Perseroan mengadakan Program ESA dengan
mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya sebesar 2% (dua persen) dari jumlah Saham Yang
Ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana atau sebanyak-banyaknya sebesar 3.750.000 (tiga
juta tujuh ratus lima puluh ribu) saham dan Program MESOP sebanyak-banyaknya sebesar 1,5% (satu
koma lima persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum
Saham Perdana atau sebanyak-banyaknya sebesar 14.062.500 (empat belas juta enam puluh dua ribu
lima ratus) saham berdasarkan Akta 83/2016 dan ditetapkan oleh Direksi berdasarkan Surat Keputusan
No. 170/SK/HROD/IX/16 tanggal 11 Agustus 2016 yang memberikan persetujuan atas persyaratan
peserta dan pelaksanaan Program ESA dan Program MESOP.
Tujuan utama dari Program ESA dan Program MESOP adalah untuk memberikan penghargaan dan
sebagai bagian dari program total reward kepada karyawan atas kontribusinya kepada Perseroan serta
meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging) manajemen dan karyawan terhadap Perseroan yang
diharapkan dapat meningkatkan nilai Perseroan (stakeholder value).
Pihak yang bertanggung jawab atas Program ESA dan Program MESOP dari Perseroan adalah bagian
sumber daya manusia Perseroan.
2
Program Pemberian Saham Penghargaan dalam Program ESA
Program pemberian saham penghargaan dalam Program ESA merupakan alokasi jatah pasti dalam
Penawaran Umum Saham Perdana Perseroan yang diberikan kepada karyawan Perseroan dengan kriteria
tertentu sebagai penghargaan atas kinerja karyawan dengan biaya Perseroan. Pelaksanaan Program ESA
akan mengikuti ketentuan yang terdapat dalam Peraturan No. IX.A.7, yaitu penjatahan pasti dengan
jumlah paling banyak 10% (sepuluh persen) dari jumlah Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran
Umum Saham Perdana.
Mekanisme Pelaksanaan Program ESA
Peserta Program ESA adalah karyawan Perseroan yang berjumlah sebanyak-banyaknya 2.427 orang
dan tidak diperuntukkan bagi anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan. Karyawan yang dapat
diikutsertakan dalam Program ESA adalah karyawan yang memenuhi ketentuan sebagai berikut (“Peserta
Program ESA”):
-
-
-
Karyawan tetap Perseroan dengan jenjang kepangkatan I sampai IV yang telah bekerja sebagai
karyawan tetap sekurang-kurangnya satu tahun terhitung sejak tanggal 2 Januari 2015 dan masih
sebagai karyawan sampai dengan tanggal pendistribusiannya;
Karyawan dimaksud tidak dalam status terkena sanksi administratif sejak tahun 2015 sampai dengan
14 hari sebelum tanggal pendistribusiannya; dan
Karyawan yang dimaksud bekerja dengan nilai kinerja minimal mencapai target (meet expectation)
atau baik untuk kinerja tahun 2015.
Seluruh Peserta Program ESA yang memenuhi persyaratan tersebut di atas akan diberikan suatu alokasi
jatah pasti dalam bentuk Saham Penghargaan sesuai dengan jenjang kepangkatan. Alokasi akan ditentukan
oleh Direksi Perseroan.
Saham Penghargaan merupakan alokasi saham yang diberikan secara cuma-cuma oleh Perseroan kepada
seluruh Peserta Program ESA dan tidak dapat diperjualbelikan dan/atau dipindahtangankan dalam periode
dua tahun terhitung sejak tanggal pencatatan saham Perseroan di Bursa Efek (“Periode Lock-Up”).
Dalam hal Peserta Program ESA mengundurkan diri, Peserta Program ESA masih dapat meneruskan
kepemilikan sahamnya dan dapat memperjualbelikan dan/atau memindahtangankannya setelah Periode
Lock-Up berakhir. Seluruh Saham Penghargaan memiliki hak yang sama dan sederajat dalam segala
hal dengan saham lainnya dari Perseroan yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk hak atas
pembagian dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi, hak untuk menghadiri dan mengeluarkan suara
dalam RUPS, hak atas pembagian saham bonus dan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan
ketentuan dalam UUPT dan UUPM.
Biaya sehubungan dengan Program ESA seluruhnya merupakan biaya Perseroan dengan memperhitungkan
harga yang sama dengan Harga Penawaran serta pajak yang timbul atas penerimaan Saham Penghargaan
dari Program ESA.
Dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan Perseroan dalam Penawaran Umum Saham Perdana
ini, dan Program ESA seperti dijelaskan di atas, maka struktur permodalan dan susunan pemegang
saham Perseroan sebelum dan sesudah Penawaran Umum Saham Perdana dan pelaksanaan Program
ESA secara proforma menjadi sebagai berikut:
3
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
3. Masyarakat
4. Program ESA
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Sebelum Penawaran Umum Saham Perdana
dan Pelaksanaan Program ESA
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
570.000.000
180.000.000
750.000.000
2.250.000.000
57.000.000.000
18.000.000.000
-
Setelah Penawaran Umum Saham Perdana
dan Pelaksanaan Program ESA
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
76,00
24,00
-
570.000.000
180.000.000
183.750.000
3.750.000
75.000.000.000 100,00
225.000.000.000
937.500.000
2.062.500.000
57.000.000.000
18.000.000.000
18.375.000.000
375.000.000
60,80
19,20
19,60
0,40
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
Program Pemberian Hak Opsi Pembelian Saham dalam Program MESOP
Program pemberian hak opsi dalam Program MESOP merupakan alokasi hak opsi untuk membeli saham
baru bagi manajemen dan karyawan dengan jenjang tertentu setelah saham Perseroan tercatat di Bursa
Efek. Peserta Program MESOP meliputi Dewan Komisaris Perseroan, kecuali Komisaris Independen,
anggota Direksi Perseroan dan karyawan tetap Perseroan dengan jenjang kepangkatan I sampai II yang
memenuhi tingkat pencapaian kinerja tertentu dan karyawan lain yang ditetapkan berdasarkan keputusan
Direksi. Karyawan tetap tersebut harus telah tercatat sebagai karyawan tetap 14 (empat belas) hari
sebelum tanggal pendistribusian hak opsi pada setiap tahapan dan tidak dalam status terkena sanksi
administratif pada tanggal pendistribusian hak opsi. Alokasi hak opsi akan ditentukan oleh Komite
Nominasi dan Remunerasi.
Hak opsi yang didistribusikan kepada Peserta Program MESOP dapat digunakan untuk membeli saham
baru yang akan dikeluarkan dari portepel, dengan jumlah sebanyak-banyaknya sebesar 1,5% dari total
modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum Saham Perdana atau sebanyak-banyaknya
sebesar 14.062.500 (empat belas juta enam puluh dua ribu lima ratus) saham, dalam tiga tahapan dalam
periode dua tahun, sebagai berikut:
-
-
-
Tahap pertama selambat-lambatnya 60 Hari Kerja sejak Tanggal Pencatatan di Bursa Efek untuk
sebanyak-banyaknya 35% dari jumlah hak opsi dalam Program MESOP;
Tahap kedua pada ulang tahun pertama pencatatan saham Perseroan di Bursa Efek untuk sebanyakbanyaknya 35% dari jumlah hak opsi dalam Program MESOP; dan
Tahap ketiga pada ulang tahun kedua pencatatan saham Perseroan di Bursa Efek untuk sebanyakbanyaknya 30% dari jumlah hak opsi dalam Program MESOP.
Pelaksanaan hak opsi untuk membeli saham Perseroan akan dilaksanakan dengan mengacu pada
Peraturan Pencatatan Bursa Efek. Pelaksanaan Program MESOP akan dilakukan Direksi Perseroan di
bawah pengawasan Dewan Komisaris Perseroan dan akan dilaporkan dalam RUPS.
Tata cara pelaksanaan hak opsi:
-
-
-
Hak opsi yang diterbitkan dapat digunakan untuk membeli saham Perseroan selama lima tahun
sejak tanggal penerbitannya (option life). Setelah berakhirnya option life, hak opsi yang tidak
dilaksanakan tidak dapat digunakan lagi;
Setiap satu hak opsi dapat digunakan untuk membeli satu saham baru Perseroan yang akan diterbitkan
dari portepel dengan membayar secara penuh harga pelaksanaan;
Hak opsi yang dibagikan akan terkena masa tunggu (vesting period) selama satu tahun sejak tanggal
pendistribusiannya dengan demikian hak opsi yang didistribusikan kepada Peserta Program MESOP
hanya dapat dilaksanakan untuk membeli saham baru setelah berakhirnya vesting period;
4
-
-
Setelah berakhirnya vesting period, pemegang hak opsi berhak untuk menggunakan hak opsi untuk
membeli saham baru pada periode pelaksanaan (window exercise) yang akan dibuka Perseroan
maksimal dua kali window exercise dalam satu tahun, dengan ketentuan setiap window exercise
yang akan dibuka untuk periode pelaksanaan dimana Peserta Program MESOP dapat menggunakan
hak opsinya untuk membeli saham maksimum 30 (tiga puluh) Hari Bursa.
Harga pelaksanaan Program MESOP akan ditetapkan pada setiap periode pelaksanaan dengan
mengacu pada Peraturan Pencatatan Bursa Efek yaitu sekurang-kurangnya 90% (sembilan puluh
persen) dari rata-rata harga penutupan saham Perseroan selama kurun waktu 25 (dua puluh lima)
Hari Bursa berturut-turut di pasar regular sebelum penyampaian laporan akan dilaksanakannya
MESOP ke Bursa Efek.
Biaya sehubungan dengan pelaksanakan Program MESOP seluruhnya merupakan biaya masing-masing
Peserta Program MESOP.
Dengan asumsi seluruh saham Program MESOP diserap oleh Peserta Program MESOP, maka struktur
permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan sebelum dan sesudah pelaksanaan Program MESOP
secara proforma menjadi sebagai berikut:
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
3. Masyarakat
4. Program ESA
5. Program MESOP
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Sebelum Pelaksanaan Program MESOP
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
570.000.000
180.000.000
183.750.000
3.750.000
937.500.000
2.062.500.000
57.000.000.000
18.000.000.000
18.375.000.000
375.000.000
-
Setelah Pelaksanaan Program MESOP
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
60,80
19,20
19,60
0,40
-
570.000.000
180.000.000
183.750.000
3.750.000
14.062.500
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
951.562.500
2.048.437.500
57.000.000.000
18.000.000.000
18.375.000.000
375.000.000
1.406.250.000
59,90
18,92
19,31
0,39
1,48
95.156.250.000 100,00
204.843.750.000
Saham-saham yang diperoleh dari Program MESOP akan dicatatkan pada Bursa Efek. Seluruh saham
yang diperoleh dari Program MESOP memiliki hak yang sama dan sederajat dalam segala hal dengan
saham lainnya dari Perseroan yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk hak atas pembagian
dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi, hak untuk menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS,
hak atas pembagian saham bonus dan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan ketentuan dalam
UUPT dan UUPM.
Aspek Perpajakan Program ESA dan Program MESOP
Pelaksanaan penjualan saham oleh Peserta Program ESA dan Program MESOP berlaku ketentuan
perpajakan sebagai berikut:
-
-
Untuk pelaksanaan penjualan saham melalui Bursa Efek akan dikenakan pajak yang bersifat final
yang besarnya 0,1% (nol koma satu persen) dari nilai transaksi; dan
Untuk pelaksanaan penjualan saham di luar Bursa Efek akan dikenakan pajak yang diperhitungkan
dari capital gain yang diterima oleh Peserta Program ESA.
Pencatatan Saham Perseroan di BEI
Bersamaan dengan pencatatan saham yang berasal dari Penawaran Umum Saham Perdana ini sebanyak
187.500.000 (seratus delapan puluh tujuh juta dan lima ratus ribu) saham biasa atas nama yang berasal
dari portepel, atau mewakili sebesar 20% (dua puluh persen) dari modal ditempatkan dan disetor penuh
dalam Perseroan setelah Penawaran Umum Saham Perdana ini, maka Perseroan juga akan mencatatkan
5
seluruh saham biasa atas nama pemegang saham sebelum Penawaran Umum Saham Perdana sebanyak
750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta) saham atau sebesar 80% (delapan puluh persen) dari modal
ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan setelah Penawaran Umum Saham Perdana ini. Dengan
demikian, jumlah saham yang akan dicatatkan oleh Perseroan di BEI adalah sebanyak 937.500.000
(sembilan ratus tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu) saham, atau sebesar 100% (seratus persen) dari
modal ditempatkan atau disetor penuh dalam Perseroan setelah Penawaran Umum Saham Perdana ini.
Rencana Pelepasan Saham Oleh Pemegang Saham Perseroan
Di samping Penawaran Umum Saham Perdana, beberapa Pemegang Saham Perseroan, yaitu PT Prodia
Utama dan Bio Majesty Pte. Ltd. (“Pemegang Saham Penjual”) akan melepaskan sebagian sahamnya
dalam Perseroan dengan jumlah sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari modal ditempatkan dan
disetor penuh setelah Penawaran Umum Saham Perdana (sebelum pelaksanaan Program MESOP) atau
sebanyak-banyaknya sebesar 46.875.000 (empat puluh enam juta delapan ratus tujuh puluh lima ribu)
saham pada Harga Penawaran kepada beberapa institutional investor (investor institusional) di luar
negeri melalui Agen Penjualan Internasional. Penyerahan atau penutupan atas transaksi saham yang
dimiliki oleh Pemegang Saham Penjual akan dilakukan di BEI melalui Pasar Sekunder pada Tanggal
Pencatatan.
Rencana pelepasan saham oleh Pemegang Saham Penjual ini bukan merupakan penawaran umum
pemegang saham. Pemegang Saham Penjual akan melepaskan hak para Pemegang Saham Penjual
atas saham yang dimiliki pada Perseroan kepada investor tertentu (bukan warga negara Indonesia dan
dilakukan di luar wilayah Indonesia), dan tidak akan ditawarkan di Indonesia atau ditawarkan kepada
warga negara Indonesia kepada lebih dari 100 pihak atau dijual kepada lebih dari 50 pihak. Dengan
demikian, rencana pelepasan saham Pemegang Saham Penjual bukan merupakan Penawaran Umum
berdasarkan UUPM
Dengan dilaksanakannya pelepasan saham milik Pemegang Saham Penjual, maka susunan pemegang
saham Perseroan sebelum dan sesudah pelepasan saham secara proforma menjadi sebagai berikut:
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1.PT Prodia Utama
2.Bio Majesty Pte. Ltd.
3.Masyarakat
4.Program ESA
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Sebelum Pelepasan Saham
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
570.000.000
180.000.000
183.750.000
3.750.000
937.500.000
2.062.500.000
57.000.000.000
18.000.000.000
18.375.000.000
375.000.000
Setelah Pelepasan Saham
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
60,80
19,20
19,60
0,40
534.375.000
168.750.000
230.625.000
3.750.000
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
937.500.000
2.062.500.000
53.437.500.000
16.875.000.000
23.062.500.000
375.000.000
57,00
18,00
24,60
0,40
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
Dengan asumsi seluruh saham Program MESOP diserap oleh Peserta Program MESOP, maka struktur
permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan sebelum dan sesudah pelaksanaan Program
MESOP setelah pelepasan saham secara proforma menjadi sebagai berikut:
6
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
3. Masyarakat
4. Program ESA
5. Progarm MESOP
Jumlah Modal Ditempatkan
dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
Setelah Pelepasan Saham dan Sebelum
Pelaksanaan Program MESOP
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
534.375.000
168.750.000
230.625.000
3.750.000
937.500.000
2.062.500.000
53.437.500.000
16.875.000.000
23.062.500.000
375.000.000
-
Setelah Pelepasan Saham dan Setelah
Pelaksanaan Program MESOP
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
57,00
18,00
24,60
0,40
-
534.375.000
168.750.000
230.625.000
3.750.000
14.062.500
93.750.000.000 100,00
206.250.000.000
951.562.500
2.048.437.500
53.437.500.000
16.875.000.000
23.062.500.000
375.000.000
1.406.250.000
56,16
17,73
24,24
0,39
1,48
95.156.250.000 100,00
204.843.750.000
Biaya-biaya yang timbul dari pelepasan saham Pemegang Saham Penjual akan ditanggung oleh masingmasing Pemegang Saham Penjual dan bukan merupakan bagian biaya Emisi.
Selain dari rencana pelepasan saham milik Pemegang Saham Penjual sebagaimana tersebut di atas,
para Pemegang Saham Penjual menyatakan bahwa tidak akan menjual setiap saham Perseroan selama
jangka waktu enam bulan sejak Pernyataan Pendaftaran dinyatakan Efektif oleh OJK.
Perseroan tidak berencana MENERBITKAN, mengeluarkan DAN/atau
mencatatkan saham lain dan/atau efek lain yang dapat dikonversi
menjadi saham dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan setelah
Pernyataan Pendaftaran dinyatakan Efektif oleh OJK.
7
II.R ENCANA PENGGUNAAN DANA yang diperoleh
dari hasil penawaran umum
Seluruh dana hasil dari Penawaran Umum Saham Perdana ini, setelah dikurangi biaya-biaya Emisi,
sekitar Rp1.144,8 miliar, akan digunakan untuk:
•
sekitar 67% atau Rp767,0 miliar akan digunakan untuk mengembangkan dan memperbesar jejaring
outlet Perseroan di Indonesia, baik di pasar yang ada saat ini maupun di pasar yang baru, baik
melalui pertumbuhan organik maupun inorganik. Rencana pertumbuhan organik tersebut meliputi
pembelian tanah, bangunan, perabotan dan/atau peralatan terkait (i) pembukaan outlet tambahan,
termasuk laboratorium rujukan regional dan klinik khusus; (ii) pembukaan outlet pemeriksaan
kesehatan preventif dengan meningkatkan layanan (upgrade) dari laboratorium klinik yang ada
saat ini; dan/atau (iii) renovasi/relokasi ke fasilitas/tempat yang lebih besar. Perseroan juga akan
mempertimbangkan rencana pertumbuhan inorganik meliputi pembelian/akuisisi aset dan/atau
pembelian/akuisisi/penyertaan modal pada perusahaan di industri yang sejenis atau relevan dengan
kegiatan usaha Perseroan.
•
sekitar 19% atau Rp217,5 miliar akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas
layanan Perseroan melalui pembelian (i) peralatan teknologi diagnostik generasi terbaru untuk
pengembangan laboratorium diagnostik molekuler, imunologi, kromatografi spektometri massa
dan patologi dalam rangka meningkatkan kemampuan layanan precision medicine; (ii) peralatan
untuk pemeriksaan non-laboratorium, seperti rontgen dan imaging; dan (iii) peralatan dan/atau
perlengkapan teknologi informasi.
•
sisanya sekitar 14% atau Rp160,3 miliar akan digunakan untuk modal kerja, operasional dan
tujuan kegiatan korporasi umum lainnya, termasuk untuk mendukung kegiatan operasional kantor
perusahaan dan outlet yang ada saat ini maupun outlet yang baru (klinik khusus dan Klinik PHC).
Sesuai dengan Peraturan OJK No. 30/2015, Perseroan akan menyampaikan laporan realisasi penggunaan
dana hasil Penawaran Umum Saham Perdana ini kepada OJK dan wajib mempertanggungjawabkan
realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum Saham Perdana ini dalam RUPS Tahunan Perseroan
sampai dengan seluruh dana hasil Penawaran Umum Saham Perdana telah direalisasikan. Laporan
realisasi penggunaan dana yang disampaikan kepada OJK akan dibuat secara berkala setiap 6 (enam)
bulan (Juni dan Desember) sampai dengan seluruh dana hasil Penawaran Umum Saham Perdana ini
telah direalisasikan. Perseroan akan menyampaikan laporan tersebut selambat-lambatnya tanggal
15 bulan berikutnya.
Apabila di kemudian hari Perseroan bermaksud mengubah rencana penggunaan dana hasil Penawaran
Umum Saham Perdana ini, maka Perseroan akan terlebih dahulu melaporkan rencana tersebut ke OJK
dengan mengemukakan alasan beserta pertimbangannya, dan perubahan penggunaan dana tersebut
harus mendapat persetujuan dari RUPS terlebih dahulu. Pelaporan perubahan rencana penggunaan dana
tersebut akan dilakukan bersamaan dengan pemberitahuan mata acara RUPS kepada OJK.
Dalam hal Perseroan akan melaksanakan transaksi dengan menggunakan dana hasil Penawaran Umum
Saham Perdana yang merupakan transaksi afiliasi dan benturan kepentingan transaksi tertentu dan/
atau transaksi material, Perseroan akan memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan No.
IX.E.1 dan/atau Peraturan No. IX.E.2.
Perseroan akan menggunakan dana hasil Penawaran Umum Saham Perdana ini dengan mengikuti
ketentuan pasar modal yang berlaku di Indonesia.
8
Sesuai dengan Peraturan OJK No. 30/2015, total perkiraan biaya yang dikeluarkan oleh Perseroan
adalah sekitar 6,07% dari nilai Emisi yang meliputi:
•
Biaya imbalan jasa untuk Penjamin Pelaksana Emisi Efek sebesar 1,75% dari nilai Emisi (tidak
termasuk Saham Yang Ditawarkan yang dialokasikan untuk Program ESA), yang terdiri dari biaya
jasa penyelenggaraan (management fee) sebesar 1,40%; biaya penjaminan (underwriting fee) sebesar
0,175% dan biaya jasa penjualan (selling fee) sebesar 0,175%.
•
Biaya insentif discretionary atas penjualan sebesar 0,50% dari nilai Emisi (tidak termasuk Saham
Yang Ditawarkan yang dialokasikan untuk Program ESA) yang besarannya akan ditentukan oleh
Perseroan atas kebijakannya sendiri.
•
Biaya jasa profesi penunjang pasar modal sebesar 1,16%, yang terdiri dari biaya jasa Konsultan
Hukum sebesar 1,01%; biaya jasa Akuntan Publik sebesar 0,14%; dan biaya jasa Notaris sebesar
0,01%.
•
Biaya jasa Lembaga Penunjang Pasar Modal sebesar 0,01%, yang merupakan biaya jasa Biro
Administrasi Efek;
•
Biaya jasa konsultasi keuangan (financial advisory fee) sebesar 1,26%;
•
Biaya lain-lain 1,39%, termasuk biaya Pernyataan Pendaftaran di OJK, pencatatan di BEI, dan
pendaftaran di KSEI, biaya penyelenggaraan public expose dan due diligence meeting, biaya
percetakan Prospektus, sertifikat dan formulir, biaya iklan surat kabar, biaya kunjungan lokasi
dalam rangka uji tuntas dan biaya-biaya lain yang berhubungan dengan hal-hal tersebut.
9
III. PERNYATAAN UTANG
Pernyataan utang berikut berasal dari laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada
30 Juni 2016 dan 2015 (tidak diaudit), serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015,
2014 dan 2013 yang tercantum dalam Prospektus ini.
Laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak diaudit),
serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 telah diaudit oleh RSM,
auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia
(“IAPI”), dengan opini tanpa modifikasian (“Wajar Tanpa Pengecualian”). Laporan audit RSM tersebut
mencantumkan paragraf Hal-hal lain sehubungan dengan tujuan pelaksanaan audit. Laporan audit
RSM tersebut ditandatangani oleh Riki Afrianof (Rekan pada RSM dengan Registrasi Akuntan Publik
No. AP.1017).
Pada tanggal 30 Juni 2016, Perseroan mempunyai saldo liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka
panjang masing-masing sebesar Rp142,1 miliar dan Rp392,6 miliar.
(dalam miliar Rupiah)
Jumlah
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek
Utang usaha
Pihak berelasi
Pihak ketiga
Utang pajak
Beban akrual
Liabilitas imbalan kerja jangka pendek
Pendapatan diterima di muka
Liabilitas keuangan jangka pendek lainnya
Pihak berelasi
Pihak ketiga
Bagian liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun
Utang bank
Utang sewa pembiayaan
Total Liabilitas Jangka Pendek
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang jangka panjang – setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam setahun:
Utang bank
Utang sewa pembiayaan
Liabilitas keuangan jangka panjang lainnya
Pihak ketiga
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang
Total Liabilitas Jangka Panjang
Total Liabilitas
3,6
0,4
28,2
13,0
23,2
2,3
0,5
18,4
8,9
37,1
6,5
142,1
64,0
4,8
0,7
323,1
392,6
534,7
3.1.Liabilitas Jangka Pendek
Utang bank jangka pendek
Saldo utang bank jangka pendek pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp3,6 miliar, yang merupakan
fasilitas Kredit Rekening Koran dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (“Bank Danamon”) dengan
plafond sebesar Rp5,0 miliar yang telah diperpanjang dan akan jatuh tempo pada bulan Juli 2017.
Fasilitas ini dijamin bersama-sama dengan fasilitas Kredit Angsuran Berjangka (“KAB”) yang diperoleh
dari Bank Danamon.
10
Utang usaha
Saldo utang usaha pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp28,6 miliar, dengan rincian sebagai
berikut:
(dalam miliar Rupiah)
Jumlah
0,4
28,2
28,6
Pihak berelasi
Pihak ketiga
Total
Utang usaha timbul dari pembelian reagen dan bahan baku laboratorium, peralatan laboratorium dan
bahan dan alat medis habis pakai.
Utang pajak
Saldo utang pajak pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp13,0 miliar, dengan rincian sebagai
berikut:
(dalam miliar Rupiah)
Jumlah
Pajak Penghasilan Badan
Tahun 2015
Tahun 2016
Pajak Penghasilan
Pasal 21
Pasal 25
Pasal 23
Pasal 4 ayat 2
Pasal 25
Total
0,2
6,4
3,3
2,3
0,3
0,5
0,0 nm
13,0
nm : menjadi nol karena pembulatan
Beban akrual
Saldo beban akrual pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp23,2 miliar, dengan rincian sebagai
berikut:
(dalam miliar Rupiah)
Jumlah
5,6
5,1
3,2
3,0
2,4
1,9
1,8
0,2
23,2
Sewa bangunan dan PPS
Rujukan
Pemasaran
Keperluan kantor
Konsultan
Listrik, air dan telekomunikasi
Pemeliharaan
Lain-lain (masing-masing dibawah Rp1 miliar)
Total
Beban akrual lain-lain terutama merupakan bagi hasil kerjasama dengan mitra lokal pada beberapa
cabang tertentu, transportasi, baju dinas laboratorium dan lain-lain.
Liabilitas imbalan kerja jangka pendek
Saldo liabilitas imbalan kerja jangka pendek pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp2,3 miliar.
11
Pendapatan diterima di muka
Saldo pendapatan diterima di muka pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp0,5 miliar.
Liabilitas keuangan jangka pendek lainnya
Saldo liabilitas keuangan jangka pendek lainnya pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp27,3 yang
terdiri dari liabilitas keuangan jangka pendek lainnya kepada pihak berelasi dan pihak ketiga masingmasing sebesar Rp18,4 miliar dan Rp8,9 miliar, dengan rincian sebagai berikut:
(dalam miliar Rupiah)
Jumlah
Pihak berelasi
Dividen
Lainnya
Sub total pihak berelasi
Pihak ketiga
Renovasi
Pembelian aset tetap dan aset takberwujud
Lain-lain (dibawah Rp1 miliar)
Sub total pihak ketiga
Total
18,0
0,4
18,4
4,5
3,5
0,9
8,9
27,3
Liabilitas keuangan jangka pendek lainnya atas utang pembelian aset tetap dan aset takberwujud adalah
utang atas pembelian peralatan laboratorium, inventaris kantor dan perangkat lunak computer. Utang
renovasi merupakan renovasi kantor dan laboratorium terutama di Solo, Medan, Palu, Makassar dan
Pekanbaru.
Utang dividen merupakan utang yang timbul dari pembayaran dividen dalam periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016, seluruhnya kepada Bio Majesty Pte. Ltd.
Bagian liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun
Saldo bagian liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun pada tanggal 30 Juni 2016
adalah sebesar Rp43,6 miliar, yang terdiri dari utang bank dan sewa pembiayaan masing-masing sebesar
Rp37,1 miliar dan Rp6,5 miliar. Penjelasan lebih lengkap mengenai utang bank dan sewa pembiayaan
dapat dilihat pada Liabilitas Jangka Panjang dalam bab ini.
3.2.Liabilitas Jangka Panjang
Utang jangka panjang – setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam setahun
Saldo utang jangka panjang – setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam setahun pada tanggal
30 Juni 2016 adalah Rp68,8 miliar yang terdiri dari utang bank dan utang sewa pembiayaan masingmasing Rp64,0 miliar dan Rp4,8 miliar.
12
Utang bank
Saldo utang bank setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam setahun pada tanggal 30 Juni 2016
adalah Rp64,0 miliar, dengan rincian sebagai berikut:
(dalam miliar Rupiah)
Jumlah
59,3
23,1
18,8
101,2
PT Bank Danamon Indonesia Tbk.
PT Bank Pan Indonesia Tbk.
PT Bank Central Asia Tbk.
Total utang bank
Bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun
PT Bank Danamon Indonesia Tbk.
PT Bank Pan Indonesia Tbk.
PT Bank Central Asia Tbk.
Bagian jangka pendek
Bagian jangka panjang
26,3
5,7
5,2
37,2
64,0
Bank Danamon
Perseroan memperoleh beberapa fasilitas kredit investasi jangka panjang dari Bank Danamon dengan
rincian sebagai berikut:
Plafond
Kredit Angsuran Berjangka
Kredit Modal Kerja
Kredit Angsuran Berjangka – 20
Total
(dalam miliar Rupiah)
30 Juni 2016
96,0
24,0
20,0
20,0
17,0
15,3
59,3
Jumlah pinjaman KAB yang jatuh tempo dalam satu tahun pada 30 Juni 2016 adalah sebagai berikut:
Plafond
Kredit Angsuran Berjangka
Kredit Modal Kerja
Kredit Angsuran Berjangka – 20
Total
(dalam miliar Rupiah)
30 Juni 2016
96,0
3,4
20,0
20,0
17,0
2,8
26,3
PT Bank Pan Indonesia Tbk. (“Bank Panin”)
Perseroan memperoleh beberapa fasilitas pinjaman dari Bank Panin dengan rincian sebagai berikut:
Plafond
Pinjaman Jangka Panjang 3
Pinjaman Jangka Panjang 4
Pinjaman Tetap Modal Kerja Angsuran
Sub total
Pinjaman yang Jatuh Tempo dalam Satu Tahun
Pinjaman Jangka Panjang 3
Pinjaman Jangka Panjang 4
Pinjaman Tetap Modal Kerja Angsuran
Sub total
Pinjaman jangka panjang
(dalam miliar Rupiah)
30 Juni 2016
10,2
8,0
12,6
10,5
5,5
4,6
23,1
10,2
12,6
5,5
13
2,0
2,5
1,1
5,7
17,4
PT Bank Central Asia Tbk. (“BCA”)
Perseroan memperoleh beberapa fasilitas pinjaman dari BCA dengan rincian sebagai berikut:
Plafond
Installment loan 1
Installment loan 3
Sub total
Pinjaman yang Jatuh Tempo dalam Satu Tahun
Installment loan 1
Installment loan 3
Sub total
Pinjaman jangka panjang
(dalam miliar Rupiah)
30 Juni 2016
6,0
18,8
20,0
18,8
6,0
20,0
1,2
4,0
5,2
13,6
Penjelasan lebih lengkap mengenai masing-masing fasilitas pinjaman dapat dilihat pada bab PerjanjianPerjanjian Penting dengan Pihak Ketiga.
Utang sewa pembiayaan
Saldo utang sewa pembiayaan setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam setahun pada tanggal
30 Juni 2016 adalah sebesar Rp4,8 miliar, dengan rincian sebagai berikut:
(dalam miliar Rupiah)
Jumlah
3,8
7,5
11,3
PT BCA Finance (Kendaraan)
PT ORIX Indonesia Finance (Komputer)
Total sewa pembiayaan
Dikurangi:
Utang sewa pembiayaan – jatuh tempo dalam satu tahun
Utang sewa pembiayaan jangka panjang
6,5
4,8
Perseroan melakukan perjanjian sewa pembiayaan dengan PT BCA Finance sejak 2009 sampai dengan
2015 untuk pengadaan peralatan transportasi operasional dan kendaraan Perseroan. Sejak tahun 2014,
Perseroan juga melakukan perjanjian sewa pembiayaan dengan PT ORIX Indonesia Finance untuk
pengadaan komputer. Jangka waktu sewa guna usaha adalah dua sampai dengan empat tahun dengan
tingkat bunga efektif yang bervariasi antara 17,18% sampai dengan 31%. Utang sewa pembiayaan
dijamin dengan aset tetap sewa pembiayaan bersangkutan.
Pada tahun 2014, Perseroan juga melakukan perjanjian sewa pembiayaan dengan PT ORIX Indonesia
Finance untuk pengadaan komputer.
Liabilitas keuangan jangka panjang
Saldo liabilitas keuangan jangka panjang kepada pihak ketiga pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar
Rp0,7 miliar, yang merupakan pinjaman yang diperoleh dari beberapa individu/perseorangan dan utang
pembelian aset tetap.
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang
Saldo liabilitas imbalan kerja jangka panjang pada tanggal 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp323,1 miliar,
dengan rincian sebagai berikut:
(dalam miliar Rupiah)
Jumlah
271,1
52,0
323,1
Program Imbalan Pasca Kerja
Imbalan Jangka Panjang Lainnya
Libilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang
14
Perseroan menghitung dan membukukan beban imbalan kerja berdasarkan Undang-Undang
Ketenagakerjaan No. 13 tanggal 25 Maret 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”). Jumlah
tenaga kerja yang berhak atas imbalan kerja adalah 3.238 orang pada tanggal 30 Juni 2016. Liabilitas
imbalan kerja jangka panjang per 30 Juni 2016 dihitung oleh PT Dayamandiri Dharmakonsilindo dengan
Laporan No. 1344/ST-EP-PSAK24-PRDW/VIII/2016 tanggal 9 Agustus 2016.
Imbalan kerja jangka panjang lainnya diberikan dalam bentuk emas dan uang untuk setiap lima tahun
masa kerja. Imbalan dianggap sebagai terutang saat pencapaian lima tahun kerja pada Perseroan.
Asumsi aktuaria yang digunakan dalam menentukan beban dan liabilitas imbalan kerja pada tanggal
30 Juni 2016 adalah sebagai berikut:
Usia pensiun normal
Tingkat diskonto
Tingkat proyeksi kenaikan gaji
Tabel mortalita
Tingkat cacat
Tingkat pengunduran diri
Kenaikan harga emas di masa mendatang
Harga emas
Metode
:
:
:
:
:
:
55 tahun
8,00%
10%
Tabel Mortalita Indonesia 3 (TMI 3 – 2011)
5% dari Tabel Mortalita
10% sampai dengan usia 25 tahun, kemudian menurun secara linear sampai
dengan 2% pada saat usia 40 tahun
: 8% per tahun
: Rp547.688
: Projected Unit Credit
3.3.Kejadian Penting Setelah Tanggal 30 Juni 2016
Berdasarkan hasil perhitungan aktuaria, PT Dayamandiri Dharmakonsilindo, dengan laporan No. 1471/
ST-EP-PSAK24-PRDW/IX/2016 tanggal 29 September 2016, saldo liabilitas imbalan kerja Perseroan
pada tanggal 30 Agustus 2016 adalah Rp344,0 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp20,9 miliar atau
6,5% dari saldo liabilitas imbalan kerja Perseroan pada tanggal 30 Juni 2016.
SELURUH KEWAJIBAN PERSEROAN PADA TANGGAL 30 JUNI 2016 TELAH DIUNGKAPKAN
DALAM PROSPEKTUS INI. SAMPAI DENGAN TANGGAL DITERBITKANNYA PROSPEKTUS
INI, PERSEROAN TELAH MELUNASI SELURUH KEWAJIBANNYA YANG TELAH JATUH
TEMPO.
SETELAH TANGGAL 30 JUNI 2016 SAMPAI DENGAN TANGGAL LAPORAN AUDITOR
INDEPENDEN DAN SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN SAMPAI
DENGAN EFEKTIFNYA PERNYATAAN PENDAFTARAN, PERSEROAN TIDAK MEMILIKI
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN DAN IKATAN LAIN KECUALI KEWAJIBAN-KEWAJIBAN
YANG TIMBUL DARI KEGIATAN USAHA NORMAL PERSEROAN SERTA KEWAJIBANKEWAJIBAN YANG TELAH DINYATAKAN DALAM PROSPEKTUS INI DAN YANG TELAH
DIUNGKAPKAN DALAM LAPORAN KEUANGAN PERSEROAN YANG MERUPAKAN
BAGIAN YANG TIDAK TERPISAHKAN DARI PROSPEKTUS INI.
DENGAN ADANYA PENGELOLAAN YANG SISTEMATIS ATAS ASET DAN KEWAJIBAN
SERTA PENINGKATAN HASIL OPERASI DI MASA YANG AKAN DATANG, perseroan
MENYATAKAN KESANGGUPANNYA UNTUK DAPAT MENYELESAIKAN SELURUH
KEWAJIBANNYA SESUAI DENGAN PERSYARATAN SEBAGAIMANA MESTINYA.
Perseroan telah memenuhi semua rasio keuangan yang dipersyaratkan
dalam perjanjian utang perseroan.
SAMPAI DENGAN TANGGAL PROSPEKTUS INI DITERBITKAN TIDAK TERDAPAT
PEMBATASAN-PEMBATASAN (NEGATIVE COVENANTS) YANG AKAN MERUGIKAN HAKHAK PEMEGANG SAHAM PUBLIK.
15
IV. IKHTISAR DATA KEUANGAN PENTING
Calon investor harus membaca ikhtisar data keuangan penting yang disajikan di bawah ini bersamaan
dengan laporan keuangan Perseroan beserta catatan atas laporan keuangan yang tercantum dalam
Prospektus ini. Calon investor juga harus membaca Bab V mengenai Analisis dan Pembahasan oleh
Manajemen.
Pada bulan Mei dan Juni 2015, Perseroan melakukan sejumlah transaksi dimana Perseroan melepaskan
seluruh entitas anak beserta kegiatan usahanya kepada entitas induk, PT Prodia Utama. Sebagai
dampaknya, Perseroan menjual kepemilikannya di empat entitas anak, POHII, PROSTEM, PROLINE
dan INNODIA (“Entitas Anak yang Dialihkan”) kepada PT Prodia Utama. Laporan keuangan
konsolidasian Perseroan menyajikan kontribusi dari Entitas Anak yang Dialihkan terhadap hasil
keuangan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015 (sampai dengan
tanggal diselesaikannya Transaksi Spin-off), dan periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Angka-angka ikhtisar data keuangan penting di bawah ini berasal dan/atau dihitung berdasarkan:
(i) laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak
diaudit), serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 yang tercantum
dalam Prospektus ini; dan (ii) laporan keuangan konsolidasian Perseroan dan entitas anak untuk tahuntahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, yang seluruhnya tidak tercantum dalam
Prospektus ini.
Laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak diaudit),
serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 telah diaudit oleh
RSM, auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh IAPI, dengan opini tanpa
modifikasian (“Wajar Tanpa Pengecualian”). Laporan audit RSM tersebut mencantumkan paragraf Halhal lain sehubungan dengan tujuan pelaksanaan audit. Laporan audit RSM tersebut ditandatangani oleh
Riki Afrianof (Rekan pada RSM dengan Registrasi Akuntan Publik No. AP.1017).
Laporan keuangan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2012 dan 2011 (sebelum disajikan
kembali oleh Perseroan) telah diaudit oleh RSM, auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh IAPI, dengan opini wajar tanpa pengecualian (“Wajar Tanpa Pengecualian”). Laporan
audit tersebut ditandatangani oleh Riki Afrianof (Rekan pada RSM dengan Registrasi Akuntan Publik
No. AP.1017).
4.1.Laporan Posisi Keuangan
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank
Piutang usaha - Pihak ketiga
Aset keuangan lancar lainnya - Pihak ketiga
Persediaan
Uang muka
Pajak dibayar di muka
Biaya dibayar di muka
Aset non keuangan lancar lainnya
Total Aset Lancar
ASET TIDAK LANCAR
Biaya dibayar di muka
Aset pajak tangguhan
Piutang pihak berelasi - non usaha
Aset tetap
Aset tak berwujud
Aset non keuangan tidak lancar lainnya
Total Aset Tidak Lancar
TOTAL ASET
2011 (1)(2)
16
31 Desember
2012 (1)(2)
2013 (2)
2014 (2)
(dalam miliar Rupiah)
30 Juni
2015
2016
12,3
53,5
4,3
11,0
14,7
2,4
11,2
109,5
25,0
62,5
7,1
15,0
1,3
4,6
13,1
128,5
34,6
62,5
9,7
15,1
21,6
2,6
15,9
162,0
45,1
74,5
9,2
19,7
11,2
2,7
21,1
183,5
45,0
78,4
6,8
25,8
16,8
2,4
20,9
196,1
44,9
57,4
9,4
30,0
19,2
28,2
0,7
189,8
13,5
46,5
1,6
208,7
3,7
0,8
274,8
384,3
14,1
51,4
2,4
244,3
7,3
2,1
321,7
450,1
22,9
41,8
1,7
272,6
8,9
3,7
351,6
513,6
25,0
52,4
2,7
362,9
7,1
0,7
450,8
634,3
35,7
60,8
83,7
196,3
3,5
1,8
381,8
577,9
99,7
79,5
0,4
214,6
2,9
1,4
398,5
588,3
31 Desember
2012 (1)(2)
2013 (2)
2014 (2)
2011 (1)(2)
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek
7,9
8,6
4,8
Utang usaha
Pihak berelasi
0,5
Pihak ketiga
26,6
31,3
31,9
Utang pajak
11,3
20,2
22,3
Beban akrual
20,8
23,5
44,2
Liabilitas imbalan kerja jangka pendek
0,1
0,2
Pendapatan diterima di muka
0,3
0,5
1,0
Liabilitas keuangan jangka pendek lainnya
Pihak berelasi
4,1
Pihak ketiga
10,5
17,5
10,9
Bagian liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo
dalam satu tahun
Utang bank
13,4
15,6
14,8
1,9
1,2
1,6
Utang sewa pembiayaan
Total Liabilitas Jangka Pendek
92,8
118,6
136,3
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang jangka panjang - setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam setahun:
Utang bank
54,1
43,3
111,5
Utang sewa pembiayaan
1,1
0,9
1,2
Liabilitas keuangan jangka panjang: lainnya
Pihak berelasi
Pihak ketiga
6,7
4,6
3,9
188,6
208,8
172,3
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang
250,4
257,5
288,9
Total Liabilitas Jangka Panjang
343,1
376,1
425,2
TOTAL LIABILITAS
EKUITAS
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada:
Pemilik entitas induk
Modal ditempatkan dan disetor penuh
18,0
18,0
18,0
Tambahan modal disetor
Penghasilan komprehensif lain
(68,4)
(84,4)
(56,2)
87,5
138,4
125,5
Saldo laba
Total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada
pemilik entitas induk
37,1
72,0
87,3
Kepentingan non pengendali
4,1
2,0
1,1
TOTAL EKUITAS
41,2
74,0
88,4
384,3
450,1
513,6
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
Catatan:
(1) Disajikan kembali oleh Perseroan sehubungan dengan penerapan PSAK 24 (Revisi 2013)
(2) Konsolidasian
17
(dalam miliar Rupiah)
30 Juni
2015
2016
5,7
1,0
3,6
0,2
30,5
13,3
43,9
0,5
0,7
0,7
42,4
15,0
34,7
1,5
1,0
0,4
28,2
13,0
23,2
2,3
0,5
0,6
18,9
0,5
29,4
18,4
8,9
28,0
3,6
145,9
13,5
5,3
145,0
37,1
6,5
142,1
122,7
6,0
50,4
4,8
64,0
4,8
3,9
7,0
214,6
354,2
500,1
0,8
0,7
249,9
306,6
451,6
0,7
323,1
392,5
534,7
75,0
(66,6)
126,0
75,0
25,4
(59,1)
85,0
75,0
25,4
(95,9)
49,1
134,4
(0,2)
134,2
634,3
126,3
126,3
577,9
53,6
53,6
588,3
4.2.Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011 (1)(2) 2012 (1)(2)
2013 (2)
2014 (2)
2015
2015
2016
747,5
893,4
998,0
1.101,0
1.197,7
591,2
648,6
PENDAPATAN – BERSIH
BEBAN POKOK PENDAPATAN
Beban pokok langsung
Beban pokok tidak langsung
Total beban pokok pendapatan
LABA KOTOR
Beban usaha
Pendapatan lainnya
Beban lainnya
LABA USAHA
Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi
Beban keuangan – bersih
LABA SEBELUM PAJAK
MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN
Pajak kini
Pajak tangguhan
Total beban pajak penghasilan - bersih
LABA TAHUN BERJALAN
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos-pos yang tidak akan direklasifikasi
ke laba rugi:
Pengukuran kembali atas program imbalan kerja
Pajak penghasilan atas pengukuran kembali atas
program imbalan kerja
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak
LABA KOMPREHENSIF TAHUN
BERJALAN
LABA PER SAHAM DASAR DAN DILUSIAN
(dalam juta Rupiah)
Catatan:
(1) Disajikan kembali oleh Perseroan sehubungan
(2) Konsolidasian
296,4
38,3
334,6
412,9
(368,3)
7,5
(2,9)
49,2
(10,0)
39,2
326,5
43,5
370,0
523,5
(421,7)
8,0
(11,1)
98,7
(8,2)
90,5
341,4
54,6
396,0
602,0
(508,8)
4,5
(3,8)
93,9
(6,3)
87,6
390,4
73,6
464,0
637,0
(560,4)
15,0
(0,8)
90,8
(14,5)
76,3
429,2
82,0
511,2
686,5
(606,5)
35,4
(18,5)
96,9
(1,4)
(18,5)
77,0
207,1
41,1
248,2
343,0
(300,4)
12,3
(2,2)
52,7
(1,4)
(9,6)
41,7
223,8
45,1
268,9
379,7
(325,8)
6,9
(1,7)
59,1
(3,6)
55,5
(14,8)
3,9
(10,9)
28,2
(25,7)
(0,4)
(26,1)
64,4
(27,6)
(0,2)
(27,8)
59,8
(28,2)
7,2
(21,0)
55,3
(29,5)
11,5
(18,0)
59,0
(20,2)
10,6
(9,6)
32,1
(22,9)
6,5
(16,4)
39,1
(29,0)
(21,3)
37,6
(13,9)
10,0
(12,0)
(49,1)
7,3
(21,8)
5,3
(15,9)
(9,4)
28,2
3,4
(10,5)
(2,5)
7,5
3,0
(9,0)
12,3
(36,8)
6,5
48,4
88,0
44,8
66,5
23,1
2,3
1,7
3,7
3,4
1,0
0,8
0,4
0,5
dengan penerapan PSAK 24 (Revisi 2013)
4.3.Rasio (tidak diaudit)
Rasio Pertumbuhan (%)
Pendapatan - bersih
Beban pokok pendapatan
Laba kotor
Laba usaha
Laba tahun berjalan
Jumlah aset
Jumlah liabilitas
Jumlah ekuitas
Rasio Usaha (%)
Laba kotor / Pendapatan - bersih
Laba usaha / Pendapatan - bersih
Laba tahun berjalan / Pendapatan - bersih
Laba tahun berjalan / Total ekuitas
Laba tahun berjalan / Total aset
Rasio Keuangan (x)
Total aset / Total liabilitas
Total liabilitas / Total ekuitas
Total liabilitas / Total aset
Total aset lancar / Total liabilitas jangka pendek
Catatan:
(1) Dibandingkan 30 Juni 2015
t.b.d. : tidak dapat dibandingkan
2011
2012
31 Desember
2013
2014
2015
30 Juni
2016
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
t.b.d.
19,5%
10,6%
26,8%
100,7%
127,9%
17,1%
9,6%
79,7%
11,7%
7,0%
15,0%
(4,8%)
(7,0%)
14,1%
13,1%
19,4%
10,3%
17,2%
5,8%
(3,3%)
(7,6%)
23,5%
17,6%
52,0%
8,8%
10,2%
7,8%
6,7%
6,6%
(8,9%)
(9,7%)
(5,9%)
9,7% (1)
8,3% (1)
10,7% (1)
12,2% (1)
21,7% (1)
1,8%
18,4%
(57,5%)
55,2%
6,6%
3,8%
68,6%
7,4%
58,6%
11,0%
7,2%
87,0%
14,3%
60,3%
9,4%
6,0%
67,7%
11,7%
57,9%
8,2%
5,0%
41,2%
8,7%
57,3%
8,1%
4,9%
46,7%
10,2%
58,5%
9,1%
6,0%
72,9%
6,6%
1,1
8,3
0,9
1,2
1,2
5,1
0,8
1,1
1,2
4,8
0,8
1,2
1,3
3,7
0,8
1,3
1,3
3,6
0,8
1,4
1,1
10,0
0,9
1,3
18
4.4.Rekonsiliasi EBITDA
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
pada 30 Juni
2011
2012
2013
2014
2015
2015
2016
28,2
64,4
59,8
55,3
59,0
32,1
39,1
Laba periode berjalan
Ditambah:
Depresiasi: Beban pokok pendapatan
8,4
8,7
7,3
8,3
10,1
5,1
5,3
Depresiasi dan amortisasi:
Beban umum dan administrasi
20,4
22,2
26,2
30,7
36,3
15,0
16,4
Penyisihan imbalan kerja
37,7
37,0
1,1
26,2
48,1
37,1
24,1
Penyisihan piutang tak tertagih
0,5
0,6
0,3
0,2
0,8
0,1
0,7
Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi
1,4
1,4
Pajak
10,9
26,1
27,8
21,0
18,0
9,6
16,4
Beban (penghasilan) bunga
10,0
8,2
6,4
14,5
18,5
9,6
3,7
Beban (pendapatan) lainnya
(4,5)
3,1
(0,7)
(14,2)
(17,0)
(10,1)
(5,3)
EBITDA (1)
111,6
170,3
128,1
142,0
175,2
99,9
100,4
Marjin EBITDA (2)
14,9%
19,1%
12,8%
12,9%
14,6%
16,9%
15,5%
Marjin laba bersih (3)
3,8%
7,2%
6,0%
5,0%
4,9%
5,4%
6,0%
Catatan:
(1) EBITDA mengacu pada laba periode berjalan sebelum penyusutan, penyisihan imbalan kerja, kerugian tak tertagih, pajak
penghasilan perusahaan dan beban dan/atau pendapatan lainnya (terutama meliputi laba/rugi penjualan aset tetap, pendapatan
dari klaim asuransi dan beban keuangan atas pinjaman bank).
(2) Marjin EBITDA mengacu pada EBITDA dibagi dengan pendapatan.
(3) Marjin laba bersih mengacu pada laba tahun berjalan dibagi dengan pendapatan.
Tambahan Data Operasional
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011
2012
2013
2014
2015
13,1
13,4
13,7
13,7
14,0
5,5
5,6
5,4
5,6
5,7
2.082,9
2.185,4
2.236,3
2.305,2
2.382,5
6,3
6,1
6,1
6,0
5,9
357.540,1 407.254,2 440.843,2 468.791,7 502.713,9
56.637,7 66.218,9 72.056,4 78.711,7 85.717,9
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
2015
2016
6,8
7,0
2,0
2,0
1.183,2
1.191,6
5,7
5,8
499.630,9 544.340,1
87.288,0 93.244,2
Jumlah pemeriksaan (1) (juta)
Jumlah pengambilan sampel (1) (juta)
Jumlah kunjungan (‘000)
Jumlah pemeriksaan per kunjungan pelanggan (2)
Pendapatan per kunjungan (dalam Rupiah)
Pendapatan per pemeriksaan (dalam Rupiah)
Catatan:
(1) Termasuk sampel dan pemeriksaan baik untuk pelanggan perorangan maupun sampel dan pemeriksaan yang dirujuk kepada
Perseroan oleh laboratorium klinik lain, rumah sakit dan penyedia jasa layanan kesehatan lain.
(2) Kunjungan pelanggan berarti kunjungan ke salah satu outlet Perseroan oleh pelanggan individu, pelanggan dengan referensi
dokter dan individu-individu yang ditanggung oleh perusahaan (klien korporasi) atau sampel yang dirujuk ke salah satu
laboratorium klinik oleh pelanggan pengirim.
4.6.Rasio Keuangan yang Dipersyaratkan Dalam Fasilitas Kredit (tidak diaudit)
Berdasarkan ketentuan dalam fasilitas pinjaman dari Bank Danamon dan BCA, Perseroan diharuskan
untuk menjaga rasio-rasio keuangan sebagai berikut:
Rasio
Persyaratan Keuangan
30 Juni 2016
Bank Danamon
Debt Service Coverage Ratio (1)
minimum 1x
6,1
minimum 1x
16,1
Interest coverage (2)
BCA
minimum 1x
5,7
Debt Service Reserve Account (3)
minimum 1x
10,0
Debt to Equity Ratio (4)
Catatan:
(1) Debt Service Coverage Ratio dihitung dengan cara membandingkan antara EBITDA dengan bagian lancar dari utang jangka
panjang setelah ditambah bunga pinjaman;
(2) Interest coverage dihitung dengan cara membandingkan antara laba sebelum bunga dan pajak (“EBIT”) dengan bunga
pinjaman;
(3) Debt Service Reserve Account dihitung dengan cara membandingkan antara EBIT dengan bagian utang bank jangka panjang
yang jatuh tempo dalam satu tahun setelah ditambah bunga pinjaman;
(4) Debt to Equity Ratio dihitung dengan cara membandingkan antara total liabilitas dengan total ekuitas.
Pada tanggal 30 Juni 2016, Perseroan telah memenuhi seluruh kewajiban dan pembatasan yang
dipersyaratkan
19
V.ANALISIS DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN
Analisis dan pembahasan oleh manajemen atas kondisi keuangan serta hasil operasi Perseroan dalam
bab ini harus dibaca bersama-sama dengan ikhtisar data keuangan penting, laporan keuangan beserta
catatan atas laporan keuangan yang terlampir dalam Prospektus ini.
Laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak diaudit),
dan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 telah diaudit oleh
RSM, auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh IAPI, dengan opini tanpa
modifikasian (“Wajar Tanpa Pengecualian”). Laporan audit RSM tersebut mencantumkan paragraf
Hal-hal lain sehubungan dengan tujuan pelaksanaan audit. Laporan audit RSM tersebut ditandatangani
oleh Riki Afrianof (Rekan pada RSM dengan Registrasi Akuntan Publik No. AP.1017)
Pembahasan dalam bab ini dapat mengandung pernyataan yang menggambarkan keadaan di masa
mendatang (forward looking statement) dan merefleksikan pandangan manajemen saat ini berkenaan
dengan peristiwa dan kinerja keuangan di masa mendatang yang hasil aktualnya dapat berbeda secara
material sebagai akibat dari faktor-faktor yang telah diuraikan dalam Bab mengenai Risiko Usaha dan
hal-hal lain yang tercantum dalam Prospektus ini.
Sebagai akibat dari pembulatan, penyajian jumlah beberapa informasi keuangan berikut ini dapat
sedikit berbeda dengan penjumlahan yang dilakukan secara aritmatika.
5.1.Umum
Perseroan merupakan pelopor industri dan jejaring laboratorium klinik swasta independen terkemuka
di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 35% berdasarkan pendapatan pada tahun 2015 serta memiliki
jumlah laboratorium klinik terbanyak di Indonesia, berdasarkan Frost & Sullivan (sumber: Independent
Market Research on the Clinical Laboratory Market in Indonesia, Frost & Sullivan, 2016). Kegiatan
usaha laboratorium klinik telah dimulai sejak tahun 1973 oleh para pendiri Perseroan dengan membuka
laboratorium klinik pertamanya di Solo. Kegiatan usaha tersebut terus berkembang menjadi jejaring
laboratorium berskala nasional dengan 251 outlet, termasuk 128 laboratorium klinik. Lab PRN milik
Perseroan merupakan laboratorium satu-satunya di Indonesia yang mendapatkan akreditasi dari
College of American Patologists (“CAP”). Perseroan menawarkan sekitar 500 jenis pemeriksaan dan
layanan laboratorium klinik kepada pelanggan dan penyedia jasa kesehatan untuk digunakan dalam
pencegahan, diagnosa, pemantauan dan pengobatan penyakit serta kondisi kesehatan lainnya. Selain itu,
Perseroan memiliki akses terhadap sekitar 3.000 pemeriksaan tambahan melalui kerjasama dengan NUH
Laboratories dan Quest. Sebagai pemimpin dalam riset laboratorium klinik, Perseroan telah meneliti dan
memperkenalkan banyak jenis pemeriksaan klinik di Indonesia. Segmen pelanggan yang dilayani oleh
Perseroan mencakup antara lain pelanggan individu, pelanggan dengan referensi dokter, referensi dari
rumah sakit dan klinik serta klien korporasi. Pada tahun 2015 dan periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016, Perseroan telah menerima dan memproses tes masing-masing sebesar 14,0 juta dan
7,0 juta, serta menerima kunjungan pasien masing-masing sebesar 2,4 juta orang dan 1,2 juta orang.
Tim manajemen Perseroan memiliki rekam jejak yang ekstensif di industri pelayanan kesehatan, dan
di bawah kepemimpinan mereka, Perseroan telah bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah
kunjungan pasien dalam jejaring Perseroan telah meningkat pada CAGR 3,2% dari 2,2 juta pada tahun
2013 menjadi 2,4 juta pada tahun 2015. Dalam periode yang sama, pendapatan Perseroan meningkat
pada CAGR 9,6% dari Rp998,0 miliar pada tahun 2013 menjadi Rp1.197,7 miliar pada tahun 2015 dan
EBITDA meningkat pada CAGR 17,0% dari Rp128,1 miliar pada tahun 2013 menjadi Rp175,2 miliar
pada tahun 2015.
20
5.2.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Usaha dan Operasi Perseroan
Jumlah Kunjungan Pelanggan
Jumlah kunjungan pelanggan dalam jaringan layanan kesehatan milik Perseroan dan jumlah pemeriksaan
laboratorium klinik yang dilakukan Perseroan adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi
pendapatan Perseroan. Jumlah kunjungan pelanggan dalam jaringan Perseroan meningkat pada CAGR
3,2% dari 2,2 juta pada tahun 2013 menjadi 2,4 juta pada tahun 2015, dan jumlah pemeriksaan yang
dilakukan Perseroan meningkat pada CAGR 1,1% dari 13,7 juta pada tahun 2013 menjadi 14,0 juta pada
tahun 2015. Pada periode yang sama, pendapatan Perseroan meningkat pada CAGR 9,6% dari Rp998,0
miliar pada tahun 2013 menjadi Rp1.197,7 miliar pada tahun 2015. Perseroan yakin bahwa peningkatan
jumlah kunjungan pelanggan didorong oleh semakin besarnya utilisasi pusat pelayanan Perseroan
yang sudah ada serta pertumbuhan jaringan Perseroan di berbagai wilayah. Jumlah laboratorium klinik
Perseroan meningkat dari 122 outlet per 31 Desember 2013 menjadi 128 outlet per 30 Juni 2016, seiring
dengan ekspansi ke wilayah pasar baru dan pembukaan laboratorium klinik tambahan di area perkotaan
untuk memenuhi pertumbuhan permintaan.
Secara umum, Perseroan mengalami peningkatan dalam kunjungan pelanggan perorangan pada outlet
Perseroan antara tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 di seluruh segmen pelanggan Perseroan, kecuali
referensi dokter dimana jumlah kunjungan stabil antara tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Perseroan
yakin bahwa hal ini disebabkan oleh implementasi JKN, program asuransi kesehatan nasional, di awal
tahun 2014, yang menyebabkan lebih besarnya pemakaian jasa layanan kesehatan publik, dan akibatnya
permintaan untuk klinik swasta dan rujukan pemeriksaan laboratorium klinik mengalami penurunan.
Sementara laju pertumbuhan di Jakarta (Wilayah III) tetap kuat, kunjungan pelanggan atas referensi
dokter mengalami penurunan di beberapa wilayah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur
(Wilayah IV, V dan VI).
Selain itu, pertumbuhan pada jumlah pelanggan individu melambat di beberapa wilayah pada CAGR
1,0% antara tahun 2013 sampai dengan tahun 2015, akibat implementasi JKN dan pemilihan umum
pada tahun 2014, yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan politik. Perseroan yakin bahwa
pertumbuhan di kedua segmen pelanggan ini akan menjadi pendorong penting bagi pertumbuhan jangka
panjang Perseroan, dan akan terus bertumbuh sehubungan dengan bertambahnya masyarakat kelas
menengah Indonesia, meningkatnya kejadian atas penyakit tidak menular (non-communicable diseases)
seperti penyakit jantung, kanker dan diabetes, serta semakin besarnya kesadaran masyarakat Indonesia
secara umum atas pentingnya layanan kesehatan preventif. Perseroan yakin bahwa pertumbuhan pada
segmen pelanggan individu dan pelanggan dengan referensi dokter yang berkelanjutan bergantung pada
kemampuan Perseroan untuk mempertahankan merek “Prodia”, yang dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, termasuk kemampuan Perseroan meningkatkan kualitas dan efisiensi dari layanan laboratorium
klinik, kedekatan Perseroan dengan para dokter dan penyedia layanan kesehatan lain yang memberikan
rujukan kepada Perseroan serta kemampuan Perseroan untuk memperkenalkan pemeriksaan dan layanan
baru.
Perseroan membukukan pertumbuhan yang lebih kuat atas jumlah kunjungan dari referensi pihak
ketiga dan klien korporasi antara tahun 2013 sampai dengan 2015 masing-masing pada CAGR 6,2%
dan 12,9%. Pada segmen referensi pihak ketiga, Perseroan menandatangani kerjasama dengan BPJS
Kesehatan untuk pemeriksaan kanker serviks pada tahun 2015, yang menyebabkan jumlah referensi
pihak ketiga meningkat pada tahun tersebut. Pada segmen klien korporasi, Perseroan mencapai
pertumbuhan yang kuat berkat usaha pemasaran yang efektif, seperti pengembangan interoperabilitas
perangkat lunak antara sistem pelaporan hasil dan data sumber daya manusia pelanggan, serta layanan
penambahan nilai lainnya seperti seminar setelah pemeriksaan medis berdasarkan hasil pemeriksaan
kesehatan karyawan perusahaan. Selain itu, kolaborasi kesehatan kerja dengan afiliasi Perseroan, PT
Prodia OHI International (“POHII”), telah meningkatkan jumlah klien korporasi Perseroan. Sebagai
hasil dari kenaikan jumlah kunjungan oleh referensi pihak ketiga dan klien korporasi yang lebih cepat
dibandingkan dengan pelanggan individu dan pelanggan dengan referensi dokter, jumlah pemeriksaan
yang dilakukan turut meningkat namun pada laju yang lebih rendah dibandingkan dengan laju kenaikan
jumlah kunjungan. Secara khusus, klien korporasi Perseroan mengurangi jumlah pemeriksaan yang
disediakan untuk pemeriksaan tahunan karyawan sehubungan dengan tekanan anggaran internal.
21
Sebagai tambahan, BPJS Kesehatan hanya membayar satu pemeriksaan per pelanggan dalam program
pemeriksaan kanker serviksnya. Akibatnya, rata-rata jumlah pemeriksaan per kunjungan pelanggan turun
dari 6,0 pada tahun 2013 menjadi 5,9 pada tahun 2015. Perseroan yakin bahwa potensi penerapan Skema
Koordinasi Manfaat, yang akan memungkinkan perusahaan asuransi swasta untuk mendukung JKN
dengan menggunakan skema top-up, akan menciptakan peluang lebih lanjut bagi sektor jasa kesehatan
swasta, dan menghasilkan tambahan rujukan atas sampel kepada laboratorium klinik independen, seperti
Perseroan, untuk pemeriksaan.
Meskipun Perseroan memperkirakan jumlah kunjungan pelanggan akan tumbuh seiring dengan ekspansi
jaringan Perseroan dan pertumbuhan layanan kesehatan di Indonesia, secara umum, persaingan yang
lebih ketat dapat berdampak merugikan terhadap tingkat pertumbuhan pelanggan yang dilayani dan
pemeriksaan laboratorium klinik yang dilakukan. Permintaan akan layanan Perseroan juga bergantung
pada permintaan untuk layanan kesehatan swasta, seperti rumah sakit dan klinik swasta, yang merupakan
sumber rujukan yang penting bagi Perseroan. Selain itu, penambahan outlet dalam jaringan layanan
Perseroan perlu mempertimbangkan batasan-batasan seperti ketersediaan personil yang terampil,
kemampuan Perseroan mendapatkan izin dan persetujuan, serta ketersediaan infrastruktur layanan
kesehatan di wilayah tertentu.
Pendapatan per Kunjungan
Pendapatan yang dihasilkan per kunjungan pelanggan bergantung kepada harga yang dibebankan
Perseroan untuk pemeriksaan dan jasanya, jumlah pemeriksaan per kunjungan serta kombinasi
pemeriksaan yang dilakukan. Pendapatan per kunjungan meningkat pada CAGR sebesar 6,8% dari
Rp440.483 pada tahun 2013 menjadi Rp502.713 pada tahun 2015. Pada periode yang sama, Perseroan
secara umum mampu untuk menaikkan tingkat harga sekurang-kurangnya sejalan dengan inflasi,
sementara jumlah pemeriksaan per kunjungan secara umum turun dan memiliki dampak yang berlawanan
dengan pendapatan per kunjungan Perseroan.
Perseroan melakukan evaluasi atas harga pemeriksaan dan layanan yang ditawarkan Perseroan secara
tahunan. Penetapan harga baru dijadwalkan pada bulan Januari setiap tahun. Perseroan mempertimbangkan
sejumlah faktor pada saat menetapkan harga untuk pemeriksaan dan layanan, termasuk permintaan untuk
pemeriksaan yang ditawarkan Perseroan, biaya bahan baku yang digunakan dalam pemeriksaan dan
efek dari nilai tukar mata uang asing serta inflasi pada biaya bahan baku Perseroan. Perubahan harga
berlaku di seluruh outlet Perseroan dan seluruh pemeriksaan. Namun demikian, besarnya kenaikan harga
bervariasi disesuaikan dengan faktor-faktor di wilayah setempat, seperti biaya hidup relatif di wilayah
sekitar outlet Perseroan. Selain itu, Perseroan juga melakukan promosi penjualan berkala, yaitu ketika
Perseroan menawarkan jasanya dengan potongan harga. Secara khusus, Perseroan menawarkan potongan
harga setiap bulan Mei dan November, masing-masing untuk merayakan “ulang tahun” Perseroan dan
Hari Kesehatan Nasional.
Perseroan menaikan harga rata-rata sekitar 8,1%, 7,0%, 8,3% dan 8,7% masing-masing pada tahun
2013, 2014, 2015 dan semester pertama 2016. Berdasarkan World Bank, tingkat inflasi di Indonesia
pada tahun 2013, 2014 dan 2015 masing-masing adalah sebesar 8,4%, 8,4% dan 3,4%. Bank Indonesia
telah mengumumkan bahwa target inflasi untuk tahun 2016 adalah 3,0% sampai dengan 5,0%.
Ekspansi Jaringan Perseroan atas Laboratorium Klinik dan Outlet Lainnya
Hasil usaha dan kondisi keuangan Perseroan telah, dan akan terus, dipengaruhi oleh besarnya investasi
yang dibutuhkan untuk memperluas jaringan outlet Perseroan serta pemilihan waktu investasi. Sejak
tahun 2013, secara neto, Perseroan telah membuka tujuh laboratorium klinik baru, termasuk tiga
laboratorium klinik dibuka di wilayah Jabodetabek, Palembang dan Lampung, untuk menangkap peluang
pertumbuhan pada wilayah tersebut. Strategi ekspansi Perseroan selama periode tersebut dilaksanakan
dengan hati-hati dan difokuskan pada pembukaan outlet baru yang dapat mencapai breakeven point
dengan cepat, sehubungan dengan efek yang tidak pasti atas penerapan JKN. Perseroan menyesuaikan
rencana ekspansinya berdasarkan perkiraan permintaan pada wilayah-wilayah berbeda di dalam negeri.
Perseroan berencana untuk mempercepat ekspansi jaringan agar dapat mengambil keuntungan dari
22
kondisi pasar untuk layanan laboratorium klinik yang diharapkan akan terus bertumbuh. Perseroan
berencana untuk membuka empat laboratorium rujukan regional, 33 laboratorium klinik tambahan,
13 klinik khusus tambahan dan meningkatkan 39 laboratorium klinik menjadi Klinik PHC. Perseroan
berencana untuk membuka outlet di wilayah geografis baru dan di wilayah dimana Perseroan telah
memiliki infrastruktur jaringan, seperti di Pulau Jawa. Perseroan telah membuka laboratorium rujukan
regional pertamanya di Surabaya pada bulan Juli 2016 dan sedang mempersiapkan laboratorium rujukan
regional di Medan dan Makassar. Perseroan berharap untuk membuka laboratorium rujukan di Makassar
pada kuartal terakhir tahun 2016. Perseroan telah mengidentifikasi lokasi di Pulau Jawa (Wilayah III
sampai dengan VI) untuk laboratorium klinik baru.
Proses pembukaan outlet baru dimulai dengan studi pasar untuk mengidentifikasi lokasi yang sesuai,
dan mempertimbangkan faktor-faktor antara lain (i) demografi lokasi, termasuk profil keuangan dari
populasi di wilayah tersebut; (ii) jumlah dan konsentrasi dokter dan penyedia layanan kesehatan lain
di wilayah tersebut, dan fakultas kedokteran setempat; (iii) lanskap persaingan; dan (iv) peraturanperaturan yang berlaku di daerah setempat. Jumlah waktu yang diperlukan untuk membuka outlet baru
bergantung pada sejumlah faktor, yaitu ketersediaan lokasi, lama waktu dalam menerima persetujuan
terhadap peraturan yang berlaku dan pekerjaan penyesuaian yang diperlukan. Investasi modal yang
signifikan diperlukan untuk membangun laboratorium klinik, khususnya laboratorium rujukan regional.
Perseroan biasanya memerlukan enam sampai delapan bulan untuk membuka laboratorium klinik
baru dan enam sampai 12 bulan untuk mencapai EBIT positif. Namun, variasi yang terjadi di rencana
ekspansi Perseroan dapat mempengaruhi hasil usaha Perseroan. Sebagai contoh, keterlambatan dalam
menerima persetujuan yang diperlukan dapat menyebabkan Perseroan mengeluarkan biaya, seperti sewa
dan biaya terkait karyawan, sementara penerimaan pendapatan tertunda, sehingga akan mempengaruhi
hasil keuangan Perseroan.
Pengenalan Pemeriksaan dan Layanan Baru
Sebagai pionir dan pemimpin pasar laboratorium klinik di Indonesia, Perseroan telah menjadi yang
pertama dalam memperkenalkan banyak pemeriksaaan laboratorium klinik di Indonesia. Dalam lima
tahun terakhir, Perseroan telah memperkenalkan 37 pemeriksaan laboratorium klinik inovatif di
Indonesia. Perseroan yakin bahwa kemampuan Perseroan dalam memperkenalkan pemeriksaan dan
layanan baru dapat memberikan dampak terhadap pendapatan Perseroan. Perseroan yakin bahwa
perkenalan atas pemeriksaan esoterik juga merupakan pendorong untuk pemeriksaan rutin, mengingat
pemeriksaan esoterik tidak dilakukan sendiri melainkan merupakan bagian dari panel pemeriksaan
rutin dan esoterik. Pada beberapa kasus, ketika pasar untuk pemeriksaan esoterik belum sepenuhnya
berkembang, pemeriksaan esoterik tersebut dapat menjadi faktor yang menyebabkan kerugian untuk
pemeriksaan rutin tambahan yang mengkompensasi marjin yang rendah atau kerugian pada pemeriksaan
esoterik individual. Selain itu, pemeriksaan baru, yang diperkenalkan sebagai pemeriksaan esoterik,
umumnya memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemeriksaan rutin. Pemeriksaan
esoterik Perseroan berkontribusi sekitar 2,5% sampai dengan 3,2% dari jumlah pemeriksaan yang
dilakukan Perseroan antara tahun 2013 sampai dengan 2015, tetapi berkontribusi atas porsi yang lebih
tinggi terhadap total pendapatan Perseroan. Perseroan yakin bahwa dengan pembukaan laboratorium
rujukan regional, Perseroan akan mampu meningkatkan pendapatan dari pemeriksaan esoterik yang ada
saat ini maupun baru di masa depan. Perseroan juga yakin bahwa penawaran layanan khusus penting
untuk menarik pelanggan. Pada tahun 2016, Perseroan membuka klinik khusus pertama dari 13 klinik
khusus yang direncanakan, Prodia Children’s Health Center di Jakarta. Klinik-klinik khusus Perseroan
akan berfokus dan mengembangkan layanannya pada area pelayanan kesehatan seperti pediatrik,
kesehatan wanita dan gerontologi. Perseroan juga telah membuka Klinik PHC pertamanya, dan saat ini
sedang dalam proses untuk membuka dua tambahan Klinik PHC serta berencana untuk meningkatkan 39
laboratorium klinik tambahan menjadi Klinik PHC. Pada Klinik PHC, Perseroan menawarkan layanan
non-laboratorium klinik tambahan, seperti radiologi, imaging, elektrokardiogram dan pemeriksaan
treadmill serta konsultasi dengan ahli gizi serta tenaga medis ahli di bidang kedokteran olahraga.
Perseroan saat ini juga berusaha untuk menjadi laboratorium pertama di Indonesia yang menawarkan
rangkaian lengkap layanan laboratorium untuk precision medicine, yang meliputi analisis genomik,
proteomik dan metabolomika. Perseroan yakin bahwa kemampuan Perseroan untuk mengembangkan
hal-hal tersebut penting untuk prospek pertumbuhan Perseroan di masa depan.
23
Biaya Bahan Baku dan Beban Lainnya
Biaya bahan baku, yang mencakup reagen, kimia dan bahan dan alat habis pakai yang digunakan dalam
layanan pemeriksaan klinik Perseroan, secara historis telah menjadi beban terbesar Perseroan, yang
mewakili 17,2%, 16,1%, 15,8% dan 14,8% dari jumlah pendapatan bersih Perseroan masing-masing
untuk tahun 2013, 2014 dan 2015 serta periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016. Perseroan
berusaha untuk terus menurunkan persentase beban terhadap pendapatan dengan pertimbangan skala
ekonomi yang dimiliki Perseroan sebagai jaringan laboratorium klinik terbesar di Indonesia. Perseroan
memiliki sistem pengadaan terpusat, dan karena Perseroan membeli perlengkapan pemeriksaan, reagen
dan bahan baku lainnya dalam volume yang signifikan, Perseroan mampu untuk melakukan negosiasi
harga yang menguntungkan untuk bahan baku Perseroan. Karena skala operasi yang besar, Perseroan
juga mendapatkan keuntungan dari efisiensi operasional. Sebagai contoh, karena Perseroan menguji
beberapa batch sampel dalam waktu bersamaan, Perseroan dapat mengurangi jumlah reagen dan kimia
yang digunakan untuk setiap spesimen.
Perseroan telah mengalami beban biaya sehubungan dengan biaya-biaya untuk karyawan, seperti
tunjangan dan gaji karyawan. Pada tahun 2014 dan 2015, Pemerintah memperkenalkan JKN, program
asuransi universal, yang mencakup BPJS Kesehatan, skema asuransi kesehatan universal, dan BPJS
Ketenagakerjaan, skema pensiun universal. Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015,
penerapan BPJS Kesehatan mewajibkan Perseroan untuk menyediakan tunjangan kesehatan bagi
karyawan Perseroan, pasangannya dan sampai dengan tiga anak, dengan pembayaran jumlah iuran
sebesar-besarnya Rp59.000 per orang, yang meningkatkan beban Perseroan untuk tunjangan karyawan.
Selain itu, untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, penerapan BPJS Ketenagakerjaan
meningkatkan beban imbalan kerja jangka pendek Perseroan. Sebagai tambahan, pada tahun 2014,
Perseroan meningkatkan gaji untuk banyak karyawan Perseroan yang bergaji rendah seiring dengan
kenaikan upah minimum regional, dan Perseroan menyesuaikan tingkat gaji karyawannya agar tetap
lebih tinggi daripada upah minimum.
Beban bahan baku Perseroan dan beban lainnya juga secara langsung dan tidak langsung dipengaruhi
oleh kondisi makroekonomi di Indonesia. Sebagian besar perjanjian yang dimiliki Perseroan untuk
pengadaan kimia dan reagen bersifat jangka menengah sampai dengan jangka panjang dimana harga
yang dinegosiasikan disesuaikan per periode sesuai dengan tingkat inflasi di Indonesia. Selain itu,
Perseroan secara berkala melakukan penyesuaian beban hidup terhadap gaji yang dibayarkan kepada
karyawan Perseroan. Menurut World Bank, tingkat inflasi di Indonesia adalah sebesar 8,4%, 8,4% dan
3,4% masing-masing pada tahun 2013, 2014 dan 2015. Sebagai tambahan, beban bahan baku dan bahan
lainnya Perseroan secara tidak langsung dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang Rupiah terhadap mata
uang asing. Meskipun Perseroan membayar pemasoknya dalam Rupiah, banyak pemasok Perseroan
mendapatkan reagen, kimia dan pasokan lainnya dari luar negeri. Sebagai akibatnya, kurs mata uang
asing terhadap Rupiah dapat memiliki dampak tidak langsung terhadap harga yang harus dibayar oleh
Perseroan untuk bahan baku. Sebagai contoh, sebagian besar reagen Perseroan dibeli dari pemasok yang
memasok barang-barangnya dari luar negeri. Meskipun syarat dan ketentuan dalam perjanjian dengan
vendor menyatakan bahwa Perseroan membayar bahan-bahan tersebut dalam mata uang Rupiah, biaya
vendor untuk memasok bahan tersebut kepada Perseroan dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang asing
dan biaya tersebut dibebankan kepada Perseroan.
Kewajiban Imbalan Kerja Karyawan dan Pengukuran Kembali Program Imbalan Kerja
Kewajiban imbalan kerja karyawan Perseroan telah, dan akan terus menyebabkan, variabilitas pada hasil
keuangan Perseroan, khususnya penghasilan komprehensif lain. Berdasarkan Undang-Undang No.13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”), Perseroan wajib menyediakan pensiun
imbalan pasti kepada seluruh karyawan tetap yang pensiun pada usia 55 tahun, atau, apabila terjadi
pensiun dini untuk karyawan dengan masa kerja lebih dari 20 tahun, pada usia 45 tahun atau lebih.
Perseroan menghitung nilai kini kewajiban imbalan kerja pasti berdasarkan asumsi yang mencakup
usia pensiun yang diharapkan, kenaikan gaji tahunan, harga emas, tingkat mortalitas, tingkat cacat dan
pengunduran diri dan tingkat diskonto. Perseroan menghitung nilai wajar aset program berdasarkan
24
tingkat diskonto, pengembalian atas aset program (seperti dividen saham pada portofolio aset) dan
perubahan terhadap aset Perseroan akibat batas atas aset. Pengembalian atas aset program mencakup
keuntungan seperti dividen pada saham dalam portofolio aset Perseroan.
Pergerakan neto liabilitas imbalan kerja jangka panjang dapat diatribusikan pada faktor-faktor di bawah
ini:
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang - saldo awal
Kontribusi Perseroan terhadap aset
Pembayaran manfaat tahun berjalan - termasuk
kelebihan imbalan yang dibayar oleh Perseroan
Beban jasa kini
Beban bunga (keuntungan bersih)
Perhitungan ulang liabilitas imbalan kerja dikarenakan
tingkat diskonto, kenaikan gaji dan tingkat pengunduran diri
Perkiraan (keuntungan) kerugian atas aset
Kelebihan imbalan yang dibayar oleh pengelolaan aset
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang – saldo akhir
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
Untuk tahun yang berakhir
bulan yang berakhir
pada 31 Desember
pada 30 Juni
2013
2014
2015
2015
2016
208,8
172,3
214,6
214,6
249,9
(20,0)
(5,0)
(5,0)
(10,9)
26,9
10,6
(8,3)
23,9
14,6
(9,5)
25,9
18,6
(5,3)
12,0
10,3
(7,2)
13,9
11,4
(45,8)
2,8
172,3
14,6
0,2
214,6
(12,2)
1,1
19,1
249,9
14,0
0,5
18,9
260,9
55,3
(0,3)
0,3
323,1
Berdasarkan PSAK No. 24, keuntungan dan kerugian aktuarial atas aset program imbalan kerja, yang
merupakan perbedaan antara nilai wajar atas aset program imbalan pada awal periode dengan akhir
periode sehubungan dengan perubahan asumsi atau “penyesuaian pengalaman” (yang merupakan
perbedaan antara asumsi aktuaria yang mendasari skema dengan pengalaman aktual pada periode),
dicatat sebagai “pengukuran kembali atas program imbalan kerja”. Penghasilan komprehensif lain
setelah pajak terdiri dari pengukuran kembali atas program imbalan kerja dan pajak penghasilan atas
pengukuran kembali atas program imbalan kerja.
Untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2013 dan 2015, Perseroan mengakui keuntungan dari
pengukuran kembali atas program imbalan kerja masing-masing sebesar Rp37,6 miliar dan Rp10,0 miliar,
terutama dikarenakan keuntungan aktuarial dari perubahan asumsi tingkat diskonto yang meningkat dari
asumsi tingkat diskonto periode sebelumnya yang digunakan untuk menghitung liabilitas imbalan kerja.
Ketika asumsi tingkat diskonto dinaikkan, nilai wajar aset program meningkat dan Perseroan mengakui
keuntungan aktuarial. Ketika asumsi tingkat diskonto diturunkan, nilai wajar aset program Perseroan
turun dan Perseroan mencatatkan kerugian aktuarial. Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2013, asumsi tingkat diskonto meningkat menjadi 8,8% dari asumsi tingkat diskonto sebesar 5,6% pada
tahun 2012. Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, asumsi tingkat diskonto meningkat
menjadi 9,2% dari asumsi tingkat diskonto sebesar 8,5% pada tahun 2014. Asumsi tingkat diskonto
ditentukan oleh aktuaris independen dan didasarkan pada faktor-faktor makroekonomi seperti tingkat
suku bunga di Indonesia. Di sisi lain, Perseroan mengakui kerugian dari pengukuran kembali imbalan
kerja sebesar Rp13,9 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014, terutama dikarenakan
penyesuaian pengalaman pada aset program, seiring dengan kinerja keuangan aktual dari aset program
berada di bawah kinerja yang diestimasi menggunakan asumsi tingkat diskonto Perseroan. Penurunan
asumsi tingkat diskonto menjadi 8,5% untuk tahun 2014 dari 8,8% pada tahun 2013 juga berkontribusi
terhadap kerugian aktuarial.
Dalam tiga tahun terakhir, keuntungan (atau kerugian) aktuarial telah menjadi faktor signifikan yang
mempengaruhi penghasilan komprehensif lain Perseroan dan mengakibatkan penghasilan komprehensif
lain Perseroan cenderung berubah-ubah dari satu periode ke periode lain. Untuk tahun-tahun yang
berakhir pada 31 Desember 2013 dan 2015, penghasilan komprehensif lain Perseroan tercatat masingmasing sebesar Rp28,2 miliar dan Rp7,5 miliar, yang mewakili 11,3% dan 32,0% dari laba komprehensif
tahun berjalan untuk masing-masing tahun. Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014,
penghasilan komprehensif lain Perseroan tercatat negatif Rp10,5 miliar, yang secara absolut mewakili
23,4% dari penghasilan komprehensif tahun berjalan.
25
Perseroan memperkirakan bahwa liabilitas imbalan kerja, serta keuntungan atau kerugian yang diakui di
penghasilan komprehensif lain, akan terus memiliki dampak signifikan terhadap hasil usaha Perseroan.
Untuk membayar liabilitas ini, Perseroan telah membentuk aset program imbalan kerja dalam bentuk dana
pesangon yang dikelola oleh PT Asuransi Allianz Indonesia sejak tahun 2012. Perseroan berkomitmen
untuk meningkatkan setoran ke dalam aset program imbalan kerja di tahun-tahun mendatang dan hal
ini diharapkan dapat membantu mengendalikan fluktuasi liabilitas imbalan kerja. Meskipun Perseroan
tidak melakukan pembayaran ke dalam aset program imbalan dalam enam bulan pertama tahun 2016,
Perseroan telah menyetor tambahan dana investasi ke dalam aset program imbalan, yang akan diakui
sebagai “pesangon” pada laporan laba rugi Perseroan untuk enam bulan kedua tahun 2016
Musiman
Pendapatan dan hasil usaha Perseroan berfluktuasi secara signifikan dikarenakan faktor musiman dan
faktor lainnya. Namun demikian, secara historis, variasi dari kuartal ke kuartal biasanya saling hapus
(offset). Sebagai contoh, pada saat bulan Ramadan dan libur Lebaran selama ini telah diasosiasikan
dengan turunnya jumlah pelanggan. Sedangkan beberapa bulan lainnya secara historis cenderung
lebih sibuk. Perseroan menawarkan potongan harga setiap bulan Mei dan November masing-masing
untuk merayakan “ulang tahun” Perseroan dan Hari Kesehatatan Nasional, yang secara umum telah
meningkatkan jumlah pelanggan dan pendapatan pada bulan-bulan tersebut. Selain itu, pemeriksaan
kesehatan karyawan yang disediakan Perseroan untuk klien korporasi biasanya terjadi pada kuartal
pertama tahun keuangan, sehingga menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dari klien korporasi
untuk periode tersebut. Namun, pola yang sama tidak terjadi pada beberapa tahun terakhir. Perseroan
yakin hal tersebut merupakan akibat dari ketidakpastian ekonomi dan politik dari pemilihan umum
presiden tahun 2014 dan sehubungan dengan pemotongan anggaran belanja oleh banyak perusahaan
pada tahun 2016, beberapa klien korporasi Perseroan menunda pemeriksaan ke semester kedua tahun
tersebut, dibandingkan dengan pada semester pertama. Kinerja Perseroan juga dipengaruhi oleh faktor
“perubahan cuaca”, seperti musim hujan, dimana pada musim tersebut terdapat kemungkinan lebih besar
untuk terjangkit penyakit malaria dan demam berdarah, begitu pula penyakit saluran penceranaan dan
pernafasan, yang menyebabkan meningkatnya jumlah pemeriksaan laboratorium klinik.
Selain itu, Perseroan mengalami fluktuasi musiman untuk biaya-biaya tertentu. Sebagai contoh, di
Indonesia, pemberi kerja membayar tunjangan hari raya tahunan, umumnya sebesar satu bulan gaji,
kepada karyawan sebelum liburan hari raya pilihan masing-masing karyawan (seperti Lebaran atau
Natal). Tanggal hari Lebaran di akhir Ramadhan ditentukan berdasarkan fase bulan. Pada tahun 2015,
Perseroan membayar tunjangan hari raya Lebaran kepada karyawan dan karyawan kontrak pada bulan
Juli. Pada tahun 2016, dikarenakan perhitungan waktu Lebaran, Perseroan membayar tunjangan hari
raya kepada karyawan di bulan Juni dan kepada karyawan kontrak di bulan Juli. Di sisi lain, beban
Perseroan tertentu kurang dipengaruhi faktor musiman, dikarenakan porsi signifikan dari biaya dan
beban Perseroan – seperti beban gaji dan sewa – bersifat tetap, berbeda dibandingkan beban bahan baku
Perseroan. Perseroan memperkirakan pola musiman akan terus mempengaruhi hasil usaha Perseroan
di masa mendatang.
Transaksi Spin-off dan Transaksi Jual dan Sewa
Dalam persiapan untuk Penawaran Umum Saham Perdana, Perseroan melakukan sejumlah transaksi
agar dapat berfokus pada bisnis inti Perseroan yaitu layanan laboratorium klinik. Secara khusus,
pada tahun 2015, Perseroan melakukan beberapa transaksi untuk menjual kepemilikan Perseroan
atas beberapa entitas anak kepada entitas induk Perseroan, PT Prodia Utama. Selama menjadi entitas
anak Perseroan, entitas anak tersebut masih dalam tahap awal pengembangan sehingga secara umum
belum menguntungkan. Dengan mengecualikan hasil Entitas Anak yang Dialihkan, laba usaha dan laba
Perseroan untuk periode-periode sebelum pengalihan akan menjadi lebih tinggi dan beban Perseroan
akan menjadi lebih rendah. Selain itu, total aset Perseroan akan menjadi lebih rendah. Nilai transaksi
yang dibayarkan kepada Perseroan oleh PT Prodia Utama adalah Rp32,2 miliar. Sebagai tambahan,
karena transaksi ini dilakukan antar entitas dengan pengendali yang sama, Perseroan membukukan
peningkatan sebesar Rp25,4 miliar atas modal disetor, yang mewakili perbedaan antara saham Perseroan
pada nilai aset bersih atas entitas anak yang terkena Transaksi Spin-off sebesar Rp6,8 miliar dan harga
jual sebesar Rp32,2 miliar.
26
Laporan keuangan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015 menyajikan hasil
keuangan dari Entitas Anak yang Dialihkan untuk periode sampai dengan pengalihan efektif dilakukan
sebagai “bagian rugi entitas anak sebelum divestasi”. Namun, hasil keuangan dari Entitas Anak yang
Dialihkan dikonsolidasikan dengan akun-akun yang relevan untuk tahun-tahun yang berakhir pada
31 Desember 2013 dan 2014. Oleh karena itu, laporan keuangan Perseroan untuk tahun yang berakhir
pada 31 Desember 2015 tidak dapat dibandingkan langsung dengan laporan keuangan untuk tahuntahun yang berakhir pada 31 Desember 2013 dan 2014 serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada
31 Desember 2013 dan 2014, dimana hasil usaha masing-masing entitas anak selama satu tahun penuh
diakui untuk tahun-tahun tersebut.
Sebagai tambahan, Perseroan melakukan divestasi atas sejumlah properti kepada pihak terafiliasi dan
menyewa kembali tempat tersebut (“Transaksi Jual dan Sewa”) pada bulan November 2015. Transaksi
Jual dan Sewa meliputi 12 properti termasuk kantor pusat Perseroan dan Lab PRN di Jakarta, tanah
dan bangunan untuk laboratorium rujukan regional Surabaya dan tujuh bangunan laboratorium klinik,
dan tanah untuk laboratorium rujukan regional Semarang dan Medan. Perseroan menggunakan jasa
pihak independen untuk menaksir nilai dari properti-properti ini serta syarat dan kondisi Transaksi
Jual dan Sewa, termasuk, antara lain, nilai sewa yang dibayarkan oleh Perseroan. Tanah dan bangunan
tersebut dijual dengan total harga Rp435,2 miliar, dimana dari jumlah tersebut Perseroan menerima
Rp353,0 miliar pada tahun 2015 dan mengakui Rp82,2 miliar sebagai sewa dibayar di muka pada enam
bulan pertama tahun 2016. Perseroan saat ini menyewa 9 properti untuk periode 7 tahun dengan total
sewa per tahun sebesar Rp24,2 miliar. Terkait dengan tiga properti lainnya, Perseroan saat ini sedang
mengembangkan dua fasilitas laboratorium, termasuk laboratorium rujukan regional Medan, berdasarkan
kesepakatan bangun guna serah (built operate transfer) dengan pemilik tanah yang terafiliasi dengan
Perseroan. Properti terakhir adalah lokasi untuk laboratorium rujukan regional Semarang dan rencananya
akan dikembangkan di masa mendatang. Seluruh transaksi ini dilakukan atas dasar wajar (arm’s
length). Perseroan selanjutnya menggunakan hasil dari penjualan properti ini untuk membayar utang
bank, termasuk fasilitas pinjaman yang ditarik pada tahun 2013 untuk membeli beberapa properti ini,
mengurangi kewajiban keuangan dan membayar dividen kepada pemegang saham. Sebagai hasilnya, saldo
kewajiban keuangan jangka panjang Perseroan turun dari Rp122,7 miliar per tanggal 31 Desember 2014
menjadi Rp50,4 miliar per tanggal 31 Desember 2015. Selain itu, Perseroan juga dapat menurunkan beban
bunga terkait fasilitas bank yang telah dilunasi dan membukukan laba penjualan aset tetap – bersih dari
hasil penjualan. Liabilitas jangka pendek kepada pihak ketiga untuk beban sewa, dan beban sewa juga
mengalami peningkatan. Beban keuangan – bersih turun sebesar 61,5% menjadi Rp3,7 miliar untuk enam
bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebesar Rp9,6 miliar untuk enam bulan yang berakhir pada
30 Juni 2015. Sewa bangunan, kendaraan dan inventaris kantor naik sebesar 87,0% menjadi Rp30,1
miliar untuk enam bulan yang berakhir 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp16,1 miliar untuk
enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Selanjutnya, dalam persiapan menjelang Penawaran Umum Saham Perdana, Perseroan telah
mempekerjakan sejumlah konsultan dan akuntan untuk membantu bisnisnya agar siap menjadi perusahaan
terbuka, termasuk memperbaiki operasional dan pengelolaan keuangan. Biaya untuk konsultan ini akan
dibayarkan dan diakui dalam laporan laba rugi untuk periode enam bulan kedua tahun 2016.
5.3.Kebijakan Akuntansi yang Signifikan
Penyusunan laporan keuangan mengharuskan Perseroan untuk menerapkan estimasi dan asumsi serta
penilaian kompleks terhadap hal-hal terkait akuntansi. Estimasi dan asumsi yang digunakan Perseroan
dan penilaian yang dibuat oleh Perseroan dalam menerapkan kebijakan akuntansi dapat memiliki dampak
yang signifikan terhadap posisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Manajemen Perseroan melakukan
evaluasi ulang secara terus menerus atas estimasi, asumsi dan penilaian tersebut berdasarkan pengalaman
di masa lalu dan berbagai asumsi lainnya yang diyakini wajar dalam situasi tersebut.
Berikut ini diskusi mengenai kebijakan akuntansi yang melibatkan penggunaan estimasi, asumsi
dan penilaian paling signifikan dalam menyusun laporan keuangan Perseroan. Kebijakan akuntansi
signifikan, estimasi, asumsi dan penilaian yang penting untuk memahami kondisi keuangan dan hasil
usaha Perseroan dapat dilihat pada Catatan 2 dalam laporan keuangan Perseroan yang dilampirkan
dalam Prospektus ini.
27
Pengakuan pendapatan
Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi akan diperoleh oleh Perseroan dan
jumlahnya dapat diukur secara andal. Pendapatan diukur pada nilai wajar pembayaran yang diterima,
tidak termasuk diskon, rabat dan PPN. Kriteria spesifik berikut juga harus dipenuhi sebelum pendapatan
diakui:
Penjualan jasa
Pendapatan jasa diakui pada saat jasa diberikan dengan mengacu pada tingkat penyelesaian transaksi.
Pendapatan bunga, royalti dan dividen
Bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Royalti diakui dengan dasar akrual
sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan. Dividen diakui jika hak pemegang saham untuk
menerima pembayaran ditetapkan.
Persediaan
Persediaan dinyatakan berdasarkan jumlah terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto.
Biaya persediaan terdiri dari seluruh biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang timbul sampai
persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata
tertimbang. Nilai realisasi neto merupakan taksiran harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi
estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.
Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya perolehan menjadi nilai realisasi neto dan seluruh
kerugian persediaan diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut.
Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi neto,
diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan
tersebut.
Pajak penghasilan
Beban pajak adalah jumlah gabungan pajak kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan dalam
menentukan laba rugi pada suatu periode. Pajak kini dan pajak tangguhan diakui dalam laba rugi,
kecuali pajak penghasilan yang timbul dari transaksi atau peristiwa yang diakui dalam penghasilan
komprehensif lain atau secara langsung di ekuitas. Dalam hal ini, pajak tersebut masing-masing diakui
dalam penghasilan komprehensif lain atau ekuitas.
Jumlah pajak kini untuk periode berjalan dan periode sebelumnya yang belum dibayar diakui sebagai
liabilitas. Jika jumlah pajak yang telah dibayar untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya
melebihi jumlah pajak yang terutang untuk periode tersebut, maka kelebihannya diakui sebagai aset.
Liabilitas (aset) pajak kini untuk periode berjalan dan periode sebelumnya diukur sebesar jumlah yang
diperkirakan akan dibayar kepada (direstitusi dari) otoritas perpajakan, yang dihitung menggunakan
tarif pajak (dan undang-undang pajak) yang telah berlaku atau secara substantif telah berlaku pada
akhir periode pelaporan.
Manfaat terkait dengan rugi pajak yang dapat ditarik untuk memulihkan pajak kini dari periode
sebelumnya diakui sebagai aset. Aset pajak tangguhan diakui untuk akumulasi rugi pajak belum
dikompensasi dan kredit pajak belum dimanfaatkan sepanjang kemungkinan besar laba kena pajak
masa depan akan tersedia untuk dimanfaatkan dengan rugi pajak belum dikompensasi dan kredit pajak
belum dimanfaatkan.
28
Seluruh perbedaan temporer kena pajak diakui sebagai liabilitas pajak tangguhan, kecuali perbedaan
temporer kena pajak yang berasal dari:
a) pengakuan awal goodwill; atau
b) pengakuan awal aset atau liabilitas dari transaksi yang bukan kombinasi bisnis dan pada saat
transaksi tidak mempengaruhi laba akuntansi atau laba kena pajak (rugi pajak).
Aset pajak tangguhan diakui untuk seluruh perbedaan temporer dapat dikurangkan sepanjang
kemungkinan besar laba kena pajak akan tersedia sehingga perbedaan temporer dapat dimanfaatkan
untuk mengurangi laba dimaksud, kecuali jika aset pajak tangguhan timbul dari pengakuan awal aset
atau pengakuan awal liabilitas dalam transaksi yang bukan kombinasi bisnis dan pada saat transaksi
tidak mempengaruhi laba akuntansi atau laba kena pajak (rugi pajak).
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang diharapkan berlaku
ketika aset dipulihkan atau liabilitas diselesaikan, berdasarkan tarif pajak (dan peraturan pajak) yang
telah berlaku atau secara substantif telah berlaku pada akhir periode pelaporan. Pengukuran aset
dan liabilitas pajak tangguhan mencerminkan konsekuensi pajak yang sesuai dengan cara Perseroan
memperkirakan, pada akhir periode pelaporan, untuk memulihkan atau menyelesaikan jumlah tercatat
aset dan liabilitasnya.
Jumlah tercatat aset pajak tangguhan ditelaah ulang pada akhir periode pelaporan. Perseroan mengurangi
jumlah tercatat aset pajak tangguhan jika kemungkinan besar laba kena pajak tidak lagi tersedia dalam
jumlah yang memadai untuk mengkompensasikan sebagian atau seluruh aset pajak tangguhan tersebut.
Setiap pengurangan tersebut dilakukan pembalikan atas aset pajak tangguhan hingga kemungkinan
besar laba kena pajak yang tersedia jumlahnya memadai.
Perseroan melakukan saling hapus (offset) aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan jika
dan hanya jika:
a) Perseroan memiliki hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk melakukan saling hapus aset
pajak kini terhadap liabilitaspajak kini; dan
b) aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan terkait dengan pajak penghasilan yang dikenakan
oleh otoritas perpajakan yang sama atas:
i. entitas kena pajak yang sama; atau
ii. entitas kena pajak yang berbeda yang bermaksud untuk memulihkan aset dan liabilitas pajak kini
dengan dasar neto, atau merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara bersamaan, pada
setiap periode masa depan dimana jumlah signifikan atas aset atau liabilitas pajak tangguhan
diperkirakan untuk diselesaikan atau dipulihkan.
Perseroan melakukan saling hapus atas aset pajak kini dan liabilitas pajak kini jika dan hanya jika,
Perseroan:
(a) memiliki hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang
diakui; dan
(b) bermaksud untuk menyelesaikan dengan dasar neto atau merealisasikan aset dan menyelesaikan
liabilitas secara bersamaan.
Penurunan nilai aset
Pada setiap akhir periode pelaporan, Perseroan menilai apakah terdapat indikasi aset mengalami
penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, Perseroan mengestimasi jumlah terpulihkan aset tersebut.
Jumlah terpulihkan ditentukan atas suatu aset individual, dan jika tidak memungkinkan, Perseroan
menentukan jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas dari aset tersebut.
29
Jumlah terpulihkan adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya pelepasan dengan
nilai pakainya. Nilai pakai adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan akan diterima dari aset atau
unit penghasil kas. Nilai kini dihitung dengan menggunakan tingkat diskonto sebelum pajak yang
mencerminkan nilai waktu uang dan risiko spesifik atas aset atau unit yang penurunan nilainya diukur.
Jika, dan hanya jika, jumlah terpulihkan aset lebih kecil dari jumlah tercatatnya, maka jumlah tercatat
aset diturunkan menjadi sebesar jumlah terpulihkan. Penurunan tersebut adalah rugi penurunan nilai
dan segera diakui dalam laba rugi.
Rugi penurunan nilai yang telah diakui dalam periode sebelumnya untuk aset selain goodwill dibalik
jika, dan hanya jika, terdapat perubahan estimasi yang digunakan untuk menentukan jumlah terpulihkan
aset tersebut sejak rugi penurunan nilai terakhir diakui. Jika demikian, jumlah tercatat aset dinaikan ke
jumlah terpulihkannya. Kenaikan ini merupakan suatu pembalikan rugi penurunan nilai.
Imbalan kerja
Imbalan kerja jangka pendek
Imbalan kerja jangka pendek diakui ketika pekerja telah memberikan jasanya dalam suatu periode
akuntansi, sebesar jumlah tidak terdiskonto dari imbalan kerja jangka pendek yang diharapkan akan
dibayar sebagai imbalan atas jasa tersebut. Imbalan kerja jangka pendek termasuk namun tidak terbatas
upah, gaji, bonus dan insentif.
Imbalan pascakerja
Imbalan pascakerja seperti pensiun, uang pisah dan uang penghargaan masa kerja dihitung berdasarkan
Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Perseroan mengakui jumlah liabilitas imbalan pasti neto sebesar nilai kini kewajiban imbalan pasti pada
akhir periode pelaporan dikurangi nilai wajar aset program yang dihitung oleh aktuaris independen
dengan menggunakan metode Projected Unit Credit. Nilai kini kewajiban imbalan pasti ditentukan
dengan mendiskontokan imbalan tersebut.
Perseroan mencatat tidak hanya kewajiban hukum berdasarkan persyaratan formal program imbalan
pasti, tetapi juga kewajiban konstruktif yang timbul dari praktif informal entitas.
Biaya jasa kini, biaya jasa lalu dan keuntungan atau kerugian atas penyelesaian, serta bunga neto atas
liabilitas (aset) imbalan pasti neto diakui dalam laba rugi.
Pengukuran kembali atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto yang terdiri dari keuntungan dan kerugian
aktuarial, imbal hasil atas aset program dan setiap perubahan dampak batas atas aset diakui sebagai
penghasilan komprehensif lain.
Perseroan mengakui jumlah beban dan liabilitas atas iuran terutang kepada program iuran pasti, ketika
pekerja telah memberikan jasa kepada entitas selama suatu periode.
Pesangon
Perseroan mengakui pesangon sebagai liabilitas dan beban pada tanggal yang lebih awal di antara:
(a) Ketika Perseroan tidak dapat lagi menarik tawaran atas imbalan tersebut; dan
(b) Ketika Perseroan mengakui biaya untuk restrukturisasi yang berada dalam ruang lingkup Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”) No. 57 dan melibatkan pembayaran pesangon.
Perseroan mengukur pesangon pada saat pengakuan awal, dan mengukur dan mengakui perubahan
selanjutnya, sesuai dengan sifat imbalan kerja.
30
Penyajian Informasi dan Perbandingan Hasil Keuangan
Pada tahun 2015, Perseroan melakukan serangkaian transaksi dimana Perseroan memisahkan
seluruh entitas anak dan kegiatan usahanya dan menjualnya kepada pemegang saham Perseroan,
PT Prodia Utama. Sebagai hasilnya, Perseroan menjual kepemilikannya atas empat entitas anak kepada
PT Prodia Utama dengan total transaksi sebesar Rp32,2 miliar. Laporan keuangan Perseroan untuk
tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015 menyajikan laporan keuangan Entitas Anak yang Dialihkan
untuk periode sampai dengan pengalihan efektif dilakukan sebagai “bagian rugi entitas anak sebelum
divestasi”. Namun demikian, hasil keuangan Entitas Anak yang Dialihkan dikonsolidasikan dengan
akun-akun yang relevan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2013 dan 2014. Oleh
karena itu, laporan keuangan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015 tidak dapat
dibandingkan langsung dengan laporan keuangan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember
2013 dan 2014, dimana hasil usaha masing-masing entitas anak selama satu tahun penuh diakui untuk
tahun-tahun tersebut.
Kegiatan usaha inti Perseroan yaitu jasa pemeriksaan laboratorium klinik dilakukan oleh Perseroan,
sementara kegiatan usaha lain sebagian besar ditampung di entitas anak Perseroan. Sebagai hasilnya,
Perseroan telah mencantumkan laporan keuangan standalone Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir
pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015 serta untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni
2015 dan 2016 dalam Prospektus ini setelah Transaksi Spin-off.
Tabel berikut menunjukkan rincian atas hasil usaha Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada
31 Desember 2013, 2014 dan 2015 serta untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015
dan 2016. Informasi ini diambil dari laporan keuangan standalone yang tercantum dalam Lampiran I
sampai dengan IV atas laporan keuangan Perseroan.
Informasi keuangan standalone
PENDAPATAN – BERSIH
BEBAN POKOK PENDAPATAN
Beban pokok langsung
Beban pokok tidak langsung
Total beban pokok pendapatan
LABA KOTOR
Beban usaha
Pendapatan lainnya
Beban lainnya
LABA USAHA
Beban keuangan – bersih
LABA SEBELUM PAJAK
MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN
Pajak kini
Pajak tangguhan
Total beban pajak penghasilan - bersih
LABA TAHUN BERJALAN
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos-pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi:
Pengukuran kembali atas program imbalan kerja
Pajak penghasilan atas pengukuran kembali atas program imbalan kerja
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak
LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN
31
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
Untuk tahun yang berakhir
bulan yang berakhir
pada 31 Desember
pada 30 Juni
2013
2014
2015
2015
2016
985,9
1.080,6
1.197,7
591,2
648,6
336,6
47,1
383,7
602,2
(500,6)
5,1
(3,2)
103,5
(6,1)
97,4
381,6
72,3
453,9
626,7
(539,3)
16,5
(1,5)
102,4
(14,0)
88,4
429,2
82,0
511,2
686,5
(606,5)
35,4
(18,5)
96,9
(18,5)
78,4
207,1
41,1
248,2
343,0
(300,4)
12,3
(2,2)
52,7
(9,6)
43,1
223,8
45,1
268,9
379,7
(325,8)
6,9
(1,7)
59,1
(3,6)
55,0
(27,6)
(0,2)
(27,8)
69,6
(28,2)
6,5
(21,7)
66,7
(29,5)
11,5
(18,0)
60,4
(20,2)
10,6
(9,6)
33,5
(22,9)
6,5
(16,4)
39,1
37,6
(9,4)
28,2
97,8
(13,8)
3,5
(10,3)
56,4
10,0
(2,5)
7,5
67,9
(12,0)
3,0
(9,0)
24,5
(49,1)
12,3
(36,8)
2,3
5.4.Hasil Usaha
Tabel berikut berisi rincian atas hasil operasi Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada
31 Desember 2013, 2014 dan 2015 dan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan
2016, yang diambil dari laporan keuangan konsolidasi Perseroan yang tercantum dalam Prospektus ini.
PENDAPATAN – BERSIH
BEBAN POKOK PENDAPATAN
Beban pokok langsung
Beban pokok tidak langsung
Total beban pokok pendapatan
LABA KOTOR
Beban usaha
Pendapatan lainnya
Beban lainnya
LABA USAHA
Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi
Beban keuangan – bersih
LABA SEBELUM PAJAK
MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN
Pajak kini
Pajak tangguhan
Total beban pajak penghasilan – bersih
LABA TAHUN BERJALAN
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos-pos yang tidak akan di reklasifikasi ke laba rugi:
Pengukuran kembali atas program imbalan kerja
Pajak penghasilan atas pengukuran kembali atas program imbalan kerja
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak
LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN LAIN
(dalam miliar Rupiah)
Untuk enam bulan
Untuk tahun yang berakhir
yang berakhir pada
pada 31 Desember
30 Juni
2013 (1)
2014 (1)
2015
2015
2016
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
998,0
1.101,0
1.197,7
591,2
648,6
341,4
54,6
396,0
602,0
(508,8)
4,5
(3,8)
93,9
(6,3)
87,6
390,4
73,6
464,0
637,0
(560,4)
15,0
(0,8)
90,8
(14,5)
76,3
429,2
82,0
511,2
686,5
(606,5)
35,4
(18,5)
96,9
(1,4)
(18,5)
77,0
207,1
41,1
248,2
343,0
(300,4)
12,31
(2,2)
52,7
(1,4)
(9,6)
41,7
223,8
45,1
268,9
379,7
(325,8)
6,9
(1,7)
59,1
(3,6)
55,5
(27,6)
(0,2)
(27,8)
59,8
(28,2)
7,2
(21,0)
55,3
(29,5)
11,5
(18,0)
59,6
(20,2)
10,6
(9,6)
32,1
(22,9)
6,5
(14,4)
39,1
37,6
(9,4)
28,2
88,0
(13,9)
3,4
(10,5)
44,8
10,0
(2,5)
7,5
66,5
(12,1)
3,0
(9,0)
23,1
(49,1)
12,3
(36,8)
2,3
Catatan:
(1) Konsolidasian
Analisis Komponen-Komponen Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
Pendapatan – bersih
Pendapatan – bersih Perseroan terutama terdiri dari pembayaran dalam bentuk tunai (dari pelanggan
individu dan pelanggan dengan referensi dokter) atau kredit (dari klien korporasi dan referensi pihak
ketiga), yang berasal dari layanan pemeriksaan laboratorium klinik dan kesehatan preventif yang
ditawarkan oleh Perseroan. Pada tahun 2013 dan 2014, Perseroan membukukan pendapatan dari bagian
bagi hasil milik Perseroan sesuai perjanjian bagi hasil dengan rumah sakit dan dokter untuk pengoperasian
laboratorium di rumah sakit dan outlet POC sebagai biaya jasa manajemen pemasaran. Pada tahun 2015,
pendapatan tersebut dibukukan sebagai pendapatan dari laboratorium. Pendapatan – bersih Perseroan
telah dikurangi dengan potongan harga yang diberikan kepada pelanggan dan retur pendapatan yang
timbul dari pemeriksaan yang pembayarannya dilakukan dimuka tetapi kemudian dibatalkan.
32
Tabel berikut ini menyajikan informasi mengenai rincian pendapatan dan persentasenya terhadap
pendapatan-bersih untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015 serta untuk
periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan 2016:
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2013 (1)
2014 (1)
2015
Rp
%
Rp
%
Rp
%
Pendapatan laboratorium
Pendapatan non-laboratorium
Pendapatan jasa
manajemen pemasaran
Pendapatan kotor
Potongan penjualan
Retur pendapatam
Pendapatan - bersih
890,7
120,8
89,3%
12,1%
975,8
141,3
88,6% 1.081,0
12,8%
136,0
90,3%
9,7%
0,2 0,0% nm
3,1
0,3%
1.011,7 101,4% 1.120,2 101,7% 1.217,0 101,6%
- (0,0) nm 0,0% nm
(13,7) (1,4%)
(19,2) (1,7)%
(19,3) (1,6%)
998,0 100,0% 1.101,0 100,0% 1.197,7 100,0%
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni
2015
2016
Rp
%
Rp
%
538,5
62,2
91,1
10,5
600,7 101,6%
(9,5) (1,6%)
591,2 100,0%
597,8
62,6
45,4
4,7
660,4 101,8%
(11,8) (1,8%)
648,6 100,0%
Catatan:
(1) Konsolidasian.
nm : menjadi nol karena pembulatan
Beban pokok pendapatan
Beban pokok pendapatan Perseroan terutama terdiri dari beban pokok langsung serta beban pokok tidak
langsung, yang timbul dari penyelenggaraan laboratorium klinik Perseroan, termasuk Lab PRN, outlet
POC dan laboratorium rumah sakit, sehubungan dengan pelaksanaan pemeriksaan klinik dan prosedur
diagnostik imaging serta layanan khusus lainnya.
Beban pokok langsung terutama terdiri dari beban bahan baku, gaji petugas laboratorium, beban bahan
pendukung, dan beban rujukan ke pihak ketiga. Beban bahan baku paling signifikan yang digunakan
Perseroan adalah reagen dan bahan kimia lainnya yang digunakan dalam proses pemeriksaan. Bahan
pembantu sebagian besar mencakup bahan dan alat medis habis pakai (consumable), bahan dan alat
yang digunakan untuk pengambilan spesimen dan bahan dan alat habis pakai lainnya yang digunakan
dalam proses pemeriksaan. Beban bahan pembantu paling material adalah bahan dan alat yang digunakan
dalam proses pengambilan sampel dari pasien, seperti sarung tangan dan jarum. Rujukan ke pihak
ketiga berarti beban yang dibayarkan Perseroan kepada pihak ketiga, dan terutama mencakup biaya
yang dibayar kepada dokter eksternal untuk menganalisa hasil pemeriksaan non-laboratorium.
Beban pokok tidak langsung terutama terdiri dari gaji karyawan non-laboratorium, seperti karyawan
bagian layanan pelayanan, dan penyusutan atas peralatan medis dan laboratorium. Kategori lainnya
atas beban pokok tidak langsung antara lain mencakup: perlengkapan dan pemeliharaan alat, sewa alat,
limbah, kontrol kualitas.
33
Tabel berikut ini menyajikan komponen utama beban pokok pendapatan Perseroan dan persentasenya
terhadap total beban pokok pendapatan Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember
2013, 2014 dan 2015 serta periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan 2016.
Untuk tahun yang berakhir pada 30 Desember
2013 (1)
2014 (1)
2015
Rp
%
Rp
%
Rp
%
Beban pokok langsung
Bahan baku
Gaji
Bahan pembantu
Rujukan ke pihak ketiga
Subtotal
Beban pokok tidak langsung
Gaji
Penyusutan
Lainnya (2)
Subtotal
Total
171,2 43,2%
73,6 18,6%
43,5
11,0%
53,1 13,4%
341,4 86,2%
32,0
8,1%
7,3
1,8%
15,3
3,9%
54,6 13,8%
396,0 100,0%
176,7 38,1%
96,4 20,8%
50,7 10,9%
66,6 14,3%
390,4 84,1%
42,5
9,2%
8,3
1,8%
22,8
4,9%
73,6 15,9%
464,0 100,0%
189,5
110,6
57,6
71,5
429,2
37,1%
21,6%
11,3%
14,0%
84,0%
49,7
9,7%
10,1
2,0%
22,2
4,3%
82,0 16,0%
511,2 100,0%
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni
2015
2016
Rp
%
Rp
%
89,7
54,6
27,8
35,0
207,1
36,1%
22,0%
11,2%
14,1%
83,4%
95,8
60,5
30,8
36,7
223,8
35,6%
22,5%
11,5%
13,6%
83,2%
24,4
9,8%
5,1
2,1%
11,6
4,7%
41,1 16,6%
248,2 100,0%
27,3
5,3
12,6
45,1
268,9
10,1%
2,0%
4,7%
16,8%
100,0%
Catatan:
(1) Konsolidasian.
(2) Lainnya mencakup perlengkapan dan pemeliharaan alat, sewa alat, limbah, penggunaan program, kontrol kualitas, baju
dinas laboratorium, limbah dan lainnya.
nm : menjadi nol karena pembulatan
Beban usaha
Beban usaha Perseroan terutama terdiri dari beban umum dan administrasi dan beban pemasaran.
Beban umum dan administrasi terutama terdiri dari gaji dan tunjangan (untuk manajemen dan
karyawan bagian administrasi), beban imbalan kerja, biaya konsultan (yang mencakup biaya kepada
konsultan hukum, penasehat keuangan, serta karyawan outsourcing, seperti petugas keamanan dan staf
kebersihan), penyusutan dan amortisasi atas peralatan kantor, bangunan dan peralatan lainnya, utilitas
(termasuk beban listrik, air dan telekomunikasi), sewa dan beban-beban yang timbul dari pemeliharaan
bangunan, kendaraan dan konsumsi kantor, perjalanan dinas dan transport serta pembayaran kepada
BPJS Ketenagakerjaan (yang diklasifikasikan sebagai “tabungan hari tua”).
Tabel berikut ini menyajikan komponen utama Perseroan dan persentasenya terhadap total beban usaha
Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015 serta periode enam
bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan 2016.
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2013 (1)
2014 (1)
2015
Rp
%
Rp
%
Rp
%
Beban pemasaran
Total beban pemasaran
Beban umum
dan administrasi
Gaji dan tunjangan
Biaya konsultan
Beban imbalan kerja
Penyusutan dan amortisasi
Listrik, air
dan telekomunikasi
Sewa bangunan, kendaraan,
inventaris kantor
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni
2015
2016
Rp
%
Rp
%
32,7
6,4%
33,4
6,0%
36,0
5,8%
15,9
5,3%
15,9
4,9%
160,8
58,3
1,1
26,2
31,6%
11,5%
0,2%
5,1%
160,4
66,4
26,2
30,7
28,6%
11,8%
4,7%
5,5%
165,2
70,5
48,1
36,3
27,2%
11,7%
7,9%
5,9%
80,5
30,6
37,1
15,0
26,8%
10,2%
12,2%
5,0%
86,7
38,2
24,1
16,4
26,6%
11,7%
7,4%
5,0%
26,3
5,2%
33,8
6,0%
34,7
5,7%
18,0
6,0%
20,0
6,1%
25,4
5,0%
31,1
5,5%
34,0
5,6%
16,1
5,4%
30,1
9,2%
34
Biaya pajak
Pesangon
Tabungan hari tua
Premi asuransi pesangon
Lainnya (2)
Subtotal
Total
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2013 (1)
2014 (1)
2015
Rp
%
Rp
%
Rp
%
1,6
0,3%
1,7
0,3%
2,1
0,3%
10,9
2,2%
8,6
1,5%
9,6
1,6%
7,8
1,5%
6,9
1,2%
9,0
1,5%
20,0
3,9%
5,0
0,9%
5,0
0,8%
137,7 27,1%
156,2 27,9%
156,0 25,8%
476,2 93,6%
527,0 94,0%
570,5 94,2%
508,9 100,0%
560,4 100,0%
606,5 100,0%
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni
2015
2016
Rp
%
Rp
%
0,7
0,2%
1,0
0,3%
5,4
1,8%
7,2
2,2%
4,1
1,4%
6,4
2,0%
77,0 20,5%
73,5
24,6%
284,5 94,7%
309,9
95,1%
300,4 100,0%
325,8 100,0%
Catatan:
(1) Konsolidasian.
(2) Lainnya mencakup perjalanan dan dinas kantor, konsumsi kantor, alat tulis dan cetakan, pemeliharaan aset, pengiriman
barang, keperluan kantor, biaya bank, obat dan resep, diklat dan seminar, pengembangan sumber daya manusia, penelitian
pengembangan pemeriksaan, asuransi, pengurusan surat dan izin, baju dinas, kerugian piutang tidak tertagih, control
kualitas, pengembangan lingkungan dan biaya kantor lainnya.
Beban pemasaran terutama terdiri dari beban edukasi pelanggan dan beban perawatan pelanggan. Beban
untuk edukasi pelanggan mencakup biaya untuk menghadiri seminar, konferensi dan partisipasi dalam
edukasi dan kampanye kesehatan. Beban untuk perawatan pelanggan mencakup beban pencetakan
brosur dan materi cetak lainnya serta biaya-biaya yang timbul dari penyelesaian keluhan pelanggan.
Imbalan kerja, Pesangon dan Premi Asuransi Pesangon
Sesuai dengan UU Ketenagakerjaan, Perseroan diwajibkan untuk menyediakan kewajiban pensiun
imbalan pasti untuk seluruh karyawan tetap yang pensiun pada usia 55, atau, apabila terjadi pensiun
dini untuk karyawan dengan masa kerja lebih dari 20 tahun, pada usia 45 tahun ke atas.
Perseroan membedakan beban untuk menyediakan kewajiban pensiun imbalan pasti kepada staf yang
memenuhi syarat, berdasarkan apakah hal tersebut merupakan akun kas atau non-kas. Pada konteks
ini, beban imbalan kerja tercermin pada akun-akun berikut: imbalan kerja, pesangon, premi asuransi
pesangon. Beban imbalan kerja merupakan beban non-kas yang mencakup biaya imbalan kerja, jumlah
neto pesangon dan premi asuransi pesangon. Pesangon merupakan pembayaran kas aktual atas liabilitas
imbalan kerja Perseroan pada suatu periode. Premi asuransi pesangon merupakan kontribusi terhadap
program imbalan pasti pada tahun berjalan, yang dilakukan untuk mengimbangi atau membayar terlebih
dahulu liabilitas imbalan kerja masa mendatang.
Tabel berikut berisi pembagian atas total beban imbalan kerja pada laporan laba rugi untuk masingmasing periode:
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
Untuk tahun yang berakhir
bulan yang berakhir
pada 31 Desember
pada 30 Juni
2013
2014
2015
2015
2016
1,1
26,2
48,1
37,1
24,1
10,9
8,6
9,6
5,4
7,2
20,0
5,0
5,0
32,0
39,8
62,7
42,5
31,2
Imbalan kerja
Pesangon
Premi asuransi pesangon
Beban imbalan kerja
Biaya untuk menyediakan pensiun imbalan pasti kepada staf yang memenuhi syarat juga dapat dibagi
menjadi komponen-komponen biaya jasa, beban bunga bersih atas aset dan liabilitas imbalan kerja,
keuntungan dan kerugian terhadap nilai kini aset dan manfaat dari perhitungan ulang nilai kini
berdasarkan asumsi aktuaria yang baru, keuntungan dan kerugian atas nilai aset imbalan kerja serta
keuntungan dan kerugian aktuarial atas aset program dan kelebihan pembayaran imbalan kerja oleh
Perseroan atau pengelolaan aset.
35
Tabel berikut ini menyajikan komponen-komponen beban imbalan kerja Perseroan untuk masingmasing periode:
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
Untuk tahun yang berakhir
bulan yang berakhir
pada 31 Desember
pada 30 Juni
2013 (1)
2014 (1)
2015
2015
2016
26,9
23,9
25,9
12,1
13,9
10,6
14,6
18,6
10,0
11,2
Beban jasa kini (2)
Beban bunga (3)
(Keuntungan) kerugian atas perhitungan ulang nilai kini
liabilitas imbalan kerja atas perubahan asumsi (4)
Pengukuran kembali atas program imbalan kerja (5)
Perkiraan (keuntungan) kerugian atas aset
Kelebihan imbalan yang dibayar oleh Perseroan
Kelebihan imbalan yang dibayar oleh pengelolaan aset (6)
Beban imbalan kerja
(45,7)
37,6
2,8
32,0
14,6
(13,8)
0,2
0,3
39,8
(12,2)
10,0
1,1
0,1
19,2
62,7
14,0
(12,0)
(0,5)
18,9
42,5
55,2
(49,1)
(0,3)
0,3
31,2
Catatan:
(1) Konsolidasian.
(2) Beban jasa kini merupakan liabilitas yang timbul dari kewajiban imbalan kerja akrual untuk suatu periode sebagai hasil
dari pekerjaan individu pada periode tersebut.
(3) Beban bunga (bersih) terdiri dari beban bunga atas liabilitas imbalan kerja dan keuntungan bunga atas aset imbalan kerja.
(4) Asumsi yang relevan termasuk perubahan asumsi finansial, seperti asumsi tingkat diskonto, penyesuaian pengalaman kerja,
seperti tingkat cacat dan tingkat pengunduran diri, penyesuaian asumsi demografis, seperti tabel mortalitas.
(5) Pengukuran kembali atas program imbalan kerja meliputi keuntungan dan kerugian aktuaria atas aset program Perseroan,
imbal hasil aset program (seperti dividen dari saham dalam portofolio aset) dan perubahan dampak batas atas aset.
(6) Kelebihan imbalan yang dibayar oleh pengelolaan aset atas program imbalan kerja di luar jadwal pembayaran. Untuk
tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, pembayaran dilakukan sehubungan dengan beberapa karyawan senior yang
memasuki masa pensiun dan pembayaran tersebut merupakan pensiun mereka.
Sesuai dengan PSAK No. 24 pengukuran kembali atas program imbalan kerja juga dicatat sebagai
komponen penghasilan komprehensif lain.
Pendapatan lainnya
Pendapatan lainnya Perseroan terdiri dari laba penjualan aset tetap – bersih, bahan baku gratis yang
diterima dari vendor, penjualan majalah Perseroan dan seminar serta penghasilan bunga dari rekening
bank, laba dari translasi mata uang asing terkait dengan pengiriman rujukan ke laboratorium di luar
Indonesia dan pembelian peralatan dan persediaan, yang seluruhnya dalam denominasi mata uang selain
Rupiah, serta pendapatan lain-lain, yang terutama terdiri dari sponsor dan penggantian pembayaran
imbalan kerja dari perusahaan asuransi swasta.
Beban lainnya
Beban lainnya Perseroan terdiri dari beban pajak dan rugi dari translasi mata uang asing terkait dengan
pengiriman rujukan ke laboratorium di luar Indonesia dan pembelian peralatan dan persediaan, yang
seluruhnya dalam denominasi mata uang selain Rupiah.
Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi
Pada tahun 2015, Perseroan melakukan Transaksi Spin-off dengan menjual kepemilikan Perseroan atas
empat entitas anak Perseroan kepada pemegang saham Perseroan, PT Prodia Utama. Ketika menjadi
entitas anak Perseroan, perusahaan-perusahaan tersebut masih dalam tahap awal pengembangan sehingga
hasil usahanya secara umum belum mencatatkan laba. Sesuai dengan PSAK No. 38, pendapatan dan
beban atas entitas anak yang dialihkan tidak dapat dikonsolidasikan dengan akun-akun relevan dari
Perseroan pada saat menyusun laporan keuangan konsolidasi. Melainkan, rugi bersih entitas anak
tersebut untuk periode sejak tanggal 1 Januari 2015 sampai tanggal divestasi masing-masing entitas
anak diakui sebagai bagian rugi entitas anak sebelum divestasi.
36
Beban keuangan - bersih
Beban keuangan – bersih terdiri dari beban bunga atas beban pinjaman dan sewa pembiayaan Perseroan.
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak terdiri dari pengukuran kembali atas program imbalan
kerja dan pajak penghasilan atas pengukuran kembali atas program imbalan kerja. Sesuai dengan PSAK
No. 24, pengukuran kembali program imbalan kerja diakui sebagai penghasilan komprehensif lain.
Pengukuran tersebut meliputi keuntungan dan kerugian aktuarial, imbal hasil atas aset program, dan
setiap perubahan dampak batas atas aset. Keuntungan dan kerugian aktuarial atas aset program adalah
perbedaan nilai wajar aset program imbalan pada awal periode dengan akhir periode yang disebabkan
oleh perubahan asumsi atau penyesuaian pengalaman. Imbal hasil atas aset program meliputi keuntungan
seperti dividen dari saham dalam portofolio aset.
5.5.Pendapatan Berdasarkan Geografi dan Segmen Pelanggan
Tabel berikut ini menyajikan rincian pendapatan Perseroan berdasarkan wilayah geografis untuk tahuntahun yang berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015 serta untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2015 dan 2016:
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
Untuk tahun yang berakhir
bulan yang berakhir
pada 31 Desember
pada 30 Juni
2013 (1)
2014 (1)
2015
2015
2016
51,0
60,0
66,0
31,8
33,7
47,0
50,7
55,7
28,3
28,2
376,6
428,5
462,1
226,5
256,1
87,1
95,5
101,8
49,4
52,9
120,5
130,6
145,3
73,9
77,7
166,6
177,3
191,9
94,2
103,6
46,7
50,6
54,9
26,0
27,9
101,4
106,2
118,6
60,2
67,4
1,1
1,6
1,4
0,8
1,1
998,0
1.101,0
1.197,7
591,2
648,6
I.
Sumatera Utara
II. Sumatera Tengah
III. Jakarta, Palembang, Lampung
IV. Jawa Barat
V. Jawa Tengah
VI. Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara
VII. Kalimantan
VIII.Sulawesi and Maluku
Childlab
Total
Catatan:
(1) Konsolidasian.
Dikarenakan wilayah Jabodetabek memiliki tingkat Produk Domestik Regional Bruto tertinggi dan
merupakan wilayah di Indonesia yang paling maju, Perseroan bermaksud untuk membuka outlet baru
di Wilayah III untuk mempercepat pertumbuhan jangka pendek. Pendapatan dari wilayah Jabodetabek,
Palembang dan Lampung meningkat pada CAGR 12,6% dari Rp376,5 miliar pada tahun 2013 menjadi
Rp428,5 miliar dan Rp462,1 miliar masing-masing pada tahun 2014 dan 2015, dan meningkat sebesar
13,0% dari Rp226,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 menjadi Rp256,1
miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016. Kenaikan pendapatan terutama
didorong oleh pertumbuhan jumlah kunjungan pasien yang terus menerus dan kenaikan pendapatan per
kunjungan yang cepat, terutama berasal dari segmen referensi dokter.
Perseroan melayani empat segmen pelanggan: (i) pelanggan individu, (2) pelanggan dengan referensi
dokter, (3) referensi pihak ketiga dan (4) klien korporasi. Tabel berikut ini menyajikan rincian pendapatan
Perseroan dari masing-masing segmen pelanggan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember
2013, 2014 dan 2015 serta untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan 2016:
37
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
Untuk tahun yang berakhir
bulan yang berakhir
pada 31 Desember
pada 30 Juni
2013 (1)
2014 (1)
2015
2015
2016
341,9
358,7
410,1
207,5
232,7
325,0
374,5
399,0
206,1
231,4
166,7
179,2
196,6
97,0
107,3
164,4
188,7
192,0
80,6
77,2
998,0
1.101,0
1.197,7
591,2
648,6
Pelanggan individu (2)
Referensi dokter (2)(3)
Referensi pihak ketiga
Klien korporasi (4)
Total
Catatan:
(1) Konsolidasian.
(2) Pendapatan dari enam laboratorium rumah sakit diklasifikasikan sebagai pelanggan individu atau referensi dokter sesuai
dengan sumber rujukan pelanggan.
(3) Pendapatan dari 114 outlet POC termasuk dalam referensi dokter.
(4) Perseroan memiliki perjanjian khusus untuk pemberian layanan dengan perusahaan-perusahaan dan penyedia asuransi.
Penyedia asuransi yang membayar pelanggan individu atau pelanggan dengan referensi dokter diklasifikasikan sebagai
klien korporasi.
Pendapatan dari klien korporasi mengalami sedikit penurunan untuk periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016, dibandingkan dengan 30 Juni 2015, karena tingginya jumlah pemeriksaan kesehatan
karyawan yang tidak biasa terjadi pada semester pertama tahun 2015. Sebagai akibat dari ketidakpastian
perekonomian terkait pemilihan umum presiden pada tahun 2014, banyak klien korporasi Perseroan
yang menunda pemeriksaan kesehatan karyawan dari akhir tahun 2014 menjadi awal tahun 2015. Selain
itu, pada semester pertama tahun 2016, sebagian pelanggan Perseroan, khususnya yang bergerak dalam
industri minyak dan gas serta pertambangan, mengurangi anggaran pemeriksaan kesehatan karyawannya
sebagai akibat dari perlambatan industri.
5.6.Hasil Kegiatan Operasional
Periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dibandingkan periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2015
Pendapatan – bersih
Pendapatan – bersih Perseroan naik sebesar 9,7% menjadi Rp648,6 miliar untuk periode enam bulan
yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp591,2 miliar untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2015, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan per kunjungan pada jumlah
kujungan pelanggan. Pendapatan per kunjungan juga naik sebesar 8,9% menjadi Rp544.340,1 untuk.
periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, terutama sehubungan dengan meningkatnya harga
atas jasa Perseroan. Perseroan meningkatkan harga pemeriksaannya dengan rata-rata tertimbang sebesar
sekitar 8,7%, dibandingkan dengan tingkat inflasi pada semester pertama tahun 2016 sebesar 3,5% per
tahun. Jumlah kunjungan pelanggan naik sebesar 0,7% menjadi 1,2 juta untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebanyak 1,18 juta untuk periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2015. Perseroan mengalami peningkatan jumlah pelanggan individu (sebesar 4,0%) dan
pelanggan dengan rujukan dokter (sebesar 4,4%), sementara Perseroan mengalami penurunan pada
jumlah klien korporasi (sebesar 14,9%) dan rujukan eksternal (sebesar 2,5%). Pendapatan per kunjungan
atas pelanggan individu dan pelanggan dengan refensi dokter biasanya lebih tinggi dibandingkan
dengan segmen pelanggan lainnya, yang membantu Perseroan dalam meningkatkan pendapatan secara
keseluruhan, walaupun pertumbuhan pelanggan Perseroan secara keseluruhan cenderung datar antar
periode. Jumlah klien korporasi berkurang karena banyak pelanggan Perseroan yang memindahkan
jadwal pemeriksaan kesehatan karyawan dari semester kedua 2014 menjadi semester pertama 2015,
sebagai akibat dari ketidakpastian perekonomian pada tahun 2014 terkait pemilihan umum presiden, yang
mengakibatkan tingginya jumlah kunjungan yang tidak biasa pada periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2015. Sebagai tambahan, beberapa klien korporasi, khususnya yang bergerak dalam industri
minyak dan gas serta pertambangan, mengurangi anggaran pemeriksaan kesehatan karyawannya pada
semester pertama tahun 2016 sebagai akibat perlambatan industri.
38
Beban pokok pendapatan
Beban pokok pendapatan naik sebesar 8,3% menjadi Rp268,9 miliar untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp248,2 miliar untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2015, terutama sehubungan dengan kenaikan beban terkait bahan baku dan gaji.
Biaya bahan baku naik sebesar 6,8% menjadi Rp95,8 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir dari
sebelumnya sebesar Rp89,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama
sehubungan dengan kenaikan harga atas bahan baku Perseroan dan lebih tingginya harga khususnya
untuk bahan baku endokrin, immonoserologi, dan mikrobiologi. Beban gaji Perseroan terkait beban
pokok penjualan langsung (untuk karyawan laboratorium) naik sebesar 10,8% menjadi sebesar Rp60,5
miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp54,6
miliar untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Beban gaji terkait beban pokok penjualan
tidak langsung (untuk karyawan layanan pelanggan) naik sebesar 11,5% menjadi Rp27,3 miliar untuk
periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp24,5 miliar untuk
periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Kenaikan beban gaji tersebut terutama disebabkan
oleh kenaikan tahunan atas kewajiban imbalan kerja dan pembayaran tunjangan hari raya di pertengahan
tahun 2016. Di Indonesia, perusahaan membayar tunjangan hari raya tahunan sesuai pilihan (contohnya
Lebaran atau Natal). Pada tahun 2015, sehubungan dengan Lebaran, yang merayakan akhir dari bulan
suci Ramadhan, Perseroan membayar tunjangan kepada karyawan pada bulan Juli. Pada tahun 2016,
karena waktu Lebaran, Perseroan membayar tunjangan kepada karyawan pada bulan Juni 2016.
Laba Kotor
Sebagai hasil dari faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya, laba kotor Perseroan naik sebesar
10,7% menjadi Rp379,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari
sebelumnya sebesar Rp343,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Beban usaha
Beban usaha Perseroan naik sebesar 8,5% menjadi Rp325,8 miliar untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp300,4 miliar untuk periode enam bulan
yang berakhir pada 30 Juni 2015 terutama sehubungan dengan meningkatnya beban sewa bangunan,
kendaraan dan peralatan kantor, biaya konsultan serta gaji dan tunjangan. Sewa bangunan, kendaraan
dan inventaris kantor naik sebesar 87,0% menjadi Rp30,1 miliar untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp16,1 miliar untuk enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2015, terutama disebabkan oleh beban sewa yang kini dibayarkan kepada afiliasi Perseroan
untuk menempati bangunan yang dijual oleh Perseroan kepada afiliasinya pada akhir tahun 2015. Total
utang sewa berdasarkan penyewaan ini adalah sekitar Rp24,2 miliar per tahun. Biaya konsultan naik
sebesar 24,8% menjadi sebesar Rp38,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni
2016 dari sebelumnya sebesar Rp30,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni
2015, terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya outsourcing yang sebagian besar berhubungan
dengan biaya pemeliharaan dan perawatan untuk lokasi baru dari laboratorium klinik tertentu, yang
telah diperbaharui menjadi bangunan baru. Untuk hari raya Lebaran pada tahun 2015 dan 2016,
Perseroan membayar tunjangan hari raya kepada karyawan kontrak di bulan Juli. Gaji dan tunjangan
naik sebesar 7,7% menjadi Rp86,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016
dari sebelumnya sebesar Rp80,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015
terutama sehubungan dengan kenaikan gaji tahunan pada pembayaran tunjangan hari raya pada bulan
Juni 2015 dan Juli 2016. Pengurang atas kenaikan beban usaha adalah penurunan sebesar 35,1% pada
beban imbalan kerja menjadi Rp24,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016
dari sebelumnya sebesar Rp37,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015,
terutama sehubungan dengan penurunan yang signifikan atas kelebihan pembayaran imbalan kerja
dari aset program untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016. Kelebihan pembayaran
imbalan kerja dari aset program adalah sebesar Rp18,9 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2015, dibandingkan dengan sebesar Rp0,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016, yang disebabkan oleh pembayaran uang pensiun untuk karyawan yang dibayar dari
aset program imbalan. Perseroan memperkirakan beban usaha (selain gaji dan tunjangan dan beban
sewa) sebagai persentase terhadap total pendapatan akan turun ke depannya.
39
Pendapatan lainnya
Pendapatan lainnya turun sebesar 43,6% menjadi Rp6,9 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp12,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada
30 Juni 2015 terutama sehubungan dengan penurunan sebesar 43,1% pada kategori lainnya menjadi
Rp6,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp11,6
miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 terkait pembayaran kepada Perseroan
dari pengelola aset untuk mengembalikan pembayaran out-of-pocket atas kewajiban imbalan kerja pada
enam bulan pertama yang berakhir pada 30 Juni 2015. Pada enam bulan pertama yang berakhir pada
30 Juni 2016, pengelolaan aset membayar dana tersebut secara langsung dari aset program imbalan,
sehingga tidak diperlukan adanya pengembalian.
Beban lainnya
Beban lainnya turun sebesar 22,7% menjadi Rp1,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada
30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp2,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30
Juni 2015.
Laba usaha
Sebagai hasil dari faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya, laba usaha Perseroan naik sebesar
12,3% menjadi Rp59,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya
sebesar Rp52,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi
Perseroan tidak membukukan bagian rugi entitas anak sebelum divestasi pada perriode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016, dibandingkan dengan bagian rugi entitas anak sebelum divestasi sebesar
Rp1,4 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 karena Transaksi Spin-off
telah diselesaikan sebelum periode dimulai. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni
2016, sesuai dengan PSAK No. 38, pendapatan dan beban atas Entitas Anak yang Dialihkan tidak dapat
dikonsolidasikan dengan pos-pos relevan pada laporan keuangan Perseroan ketika menyusun laporan
keuangan konsolidasian. Oleh karena itu, rugi bersih atas entitas anak tersebut untuk periode sejak
1 Januari 2015 sampai dengan 30 Juni 2015 dibukukan sebagai bagian rugi entias anak sebelum divestasi,
yang muncul di bawah laba usaha pada laporan laba rugi. Sehingga, tidak terdapat perbedaan antara
laporan keuangan konsolidasian dengan laporan keuangan standalone Perseroan untuk seluruh pospos pada laporan laba rugi dan total laba konsolidasian di atas dan termasuk laba usaha. Bagian rugi
entitas anak sebelum divestasi untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 menyebabkan
penurunan pada laba sebelum pajak, laba periode berjalan dan total laba komprehensif periode berjalan.
Beban keuangan – bersih
Beban keuangan – bersih turun menjadi 61,5% menjadi Rp3,7 miliar untuk enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada
30 Juni 2015 terutama sehubungan dengan pembayaran utang jangka pendek yang digunakan untuk
keperluan modal kerja dan utang bank yang digunakan untuk membiayai pembangunan bangunanbangunan baru untuk digunakan sebagai laboratorium klinik, pada akhir tahun 2015, yang mengurangi
utang bunga pada periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, dibandingkan dengan periode
enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015
Beban keuangan – bersih Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 61,5% menjadi Rp3,6 miliar
untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,6 miliar untuk
enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
40
Laba sebelum pajak
Laba sebelum pajak naik sebesar 33,1% menjadi Rp55,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp41,7 untuk periode enam bulan yang berakhir pada
30 Juni 2015 terutama karena peningkatan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beban
pokok pendapatan dan beban usaha Perseoan. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni
2016, pendapatan – bersih Perseroan naik sebesar 9,7% menjadi Rp57,4 miliar, dibandingkan dengan
kenaikan beban pokok penapatan sebesar 8,3% atau setara dengan Rp20,7 miliar dan kenaikan beban
usaha Perseroan sebesar 8,5% atau setara dengan Rp25,4 miliar. Pendapatan – bersih Perseroan naik
lebih tinggi dibandingkan dengan beban pokok pendapatan dan beban usaha, terutama akibat kenaikan
pendapatan per pelanggan, sehubungan dengan kenaikan harga dari Perseroan. Selain itu, untuk periode
enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, Perseroan juga mengurangi beban keuangan – bersih
karena Perseroan membayar jumlah yang signifikan atas utang bank pada akhir tahun 2016 serta akibat
dari Transaksi Spin-off, yang diselesaikan pada akhir tahun 2015, yang mengurangi efek atas entitas
anak Perseroan terhadap hasil keuangan Perseroan.
Laba sebelum pajak Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 28,7% menjadi Rp55,5 miliar
untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp43,1 miliar
untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Beban (manfaat) pajak penghasilan
Total beban pajak penghasilan Perseroan naik sebesar 71,5% menjadi Rp16,4 miliar untuk periode enam
bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,6 miliar untuk periode enam bulan
yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama sehubungan dengan penurunan pajak tangguhan sebesar
38,7%, yang turun menjadi Rp6,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari
Rp10,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Manfaat pajak tangguhan
terutama terkait dengan biaya imbalan kerja. Beban imbalan kerja turun sebesar 35,0% untuk periode
enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari biaya pada periode komparasi, yang juga menurunkan
liabilitas pajak tangguhan Perseroan.
Pajak penghasilan Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 71,5% menjadi Rp16,4 miliar untuk
periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,6 miliar untuk periode
enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba periode berjalan
Laba periode berjalan naik sebesar 21,7% menjadi Rp39,1 miliar untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp32,1 miliar untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba periode berjalan Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 16,5% menjadi Rp39,1 miliar
untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp33,5 miliar
untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Penghasilan (rugi) komprehensif lain setelah pajak
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak naik sebesar 308,9% menjadi rugi sebesar Rp36,8 miliar
untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari rugi sebesar Rp9,0 miliar untuk periode
enam bulan yang berakhir 30 Juni 2015 karena kerugian sebesar Rp49,1 miliar atas pengukuran kembali
atas program imbalan kerja. Sebagai perbandingan, untuk periode enam bulan yang berakhir pada
30 Juni 2015, Perseroan mengalami kerugian dari pengukuran kembali atas program imbalan kerja
sebesar Rp12,0 miliar. Perbedaan antara kedua periode tersebut terutama disebabkan oleh penurunan atas
kelebihan pembayaran imbalan kerja dari aset program untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni
2016 dibandingkan dengan enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Kerugian ini sedikit diimbangi
dengan pembukuan manfaat pajak sebesar Rp12,3 miliar dari kerugian dari pengukuran kembali.
41
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 308,9%
menjadi Rp36,8 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar
Rp9,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba komprehensif periode berjalan
Sebagai hasil dari faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, laba komprehensif periode berjalan turun
sebesar 90,1% menjadi Rp2,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari
sebelumnya sebesar Rp23,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba komprehensif periode berjalan Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 90,6% menjadi
Rp2,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar
Rp24,5 miliar untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015 dibandingkan tahun yang berakhir pada 31 Desember
2014
Pendapatan – bersih
Pendapatan – bersih Perseroan naik sebesar 8,8% menjadi Rp1.197,7 miliar pada tahun 2015 dari
Rp1.101,0 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan kenaikan volume kunjungan pelanggan dan
pendapatan per kunjungan. Jumlah kunjungan pelanggan meningkat sebesar 4,3% menjadi 2,4 juta
kunjungan pada tahun 2015 dari sebelumnya 2,3 juta pada tahun 2014, terutama dikarenakan pertumbuhan
jumlah pelanggan individu (meningkat sebesar 14,3%), referensi pihak ketiga (meningkat sebesar 9,7%)
dan klien korporasi (meningkat sebesar 14,1%). Pendapatan per kunjungan juga meningkat sebesar
5,3% dari Rp502.714 juta pada tahun 2015 dari Rp468.792 juta pada tahun 2014 terutama dikarenakan
kenaikan harga untuk pemeriksaan dan layanan Perseroan. Harga pemeriksaan secara rata-rata tertimbang
naik sekitar 8,1%, dibandingkan dengan tingkat inflasi pada tahun 2015 sebesar 3,4% per tahun.
Pendapatan – bersih Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 10,8% menjadi Rp1.197,7 miliar
pada tahun 2015 dari Rp1.080,6 miliar pada tahun 2014.
Beban pokok pendapatan
Jumlah beban pokok pendapatan Perseroan naik sebesar 10,2% menjadi Rp511,2 miliar pada tahun 2015
dari Rp464,1 miliar pada tahun 2014 terutama dikarenakan kenaikan beban terkait bahan baku, gaji dan
rujukan ke pihak ketiga. Beban bahan baku Perseroan meningkat sebesar 7,2% menjadi Rp189,5 miliar
pada tahun 2015 dari Rp176,7 miliar pada tahun 2014 seiring dengan kenaikan volume pemeriksaan
yang dilakukan Perseroan sebesar 5,3%, serta kenaikan harga bahan baku secara umum yang terjadi
pada tahun 2015 yang terutama dikarenakan inflasi. Beban gaji Perseroan terkait beban pokok langsung
(untuk petugas laboratorium) meningkat sebesar 14,7% menjadi Rp110,6 miliar pada tahun 2015 dari
Rp96,4 miliar pada tahun 2014 sementara beban gaji Perseroan terkait beban pokok tidak langsung (untuk
karyawan non-laboratorium seperti pada bagian layanan pelanggan) naik sebesar 16,9% menjadi Rp49,7
miliar pada tahun 2015 dari Rp42,5 miliar pada tahun 2014. Beban gaji tersebut meningkat terutama
karena Perseroan mempekerjakan tambahan pegawai di bagian laboratorium dan layanan pelanggan, serta
penerapan program jaminan hari tua nasional di Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan, yang mewajibkan
Perseroan untuk meningkatkan pembayaran imbalan kerja iuran pasti, yang dicatatkan sebagai beban
gaji. Selain itu, beban rujukan kepada laboratorium pihak ketiga naik sebesar 7,4% menjadi Rp71,5
miliar pada tahun 2015 dari Rp66,6 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan kenaikan jumlah
pemeriksaan yang dirujuk ke pihak eksternal.
Total beban pokok pendapatan Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 12,6% menjadi Rp511,2
miliar pada tahun 2015 dari Rp453,9 miliar pada tahun 2014.
42
Laba kotor
Sebagai akibat dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, laba kotor Perseroan naik sebesar 7,8% menjadi
Rp686,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp637,0 miliar pada tahun 2014.
Laba kotor Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 9,5% menjadi Rp686,5 miliar pada tahun
2015 dari Rp626,7 miliar pada tahun 2014.
Beban usaha
Beban usaha Perseroan naik sebesar 8,2% menjadi Rp606,5 miliar pada tahun Rp560,4 miliar pada
tahun 2014, terutama dikarenakan meningkatnya beban imbalan kerja serta gaji dan tunjangan. Beban
imbalan kerja naik sebesar 57,5% menjadi Rp62,7 miliar pada tahun 2015 dari Rp39,8 miliar pada
tahun 2014, terutama dikarenakan pembayaran satu kali sebesar Rp19,2 miliar yang diklasifkasikan
sebagai “kelebihan imbalan yang dibayar oleh pengelolaan aset”, yang merupakan tunjangan pensiun
yang dibayarkan kepada karyawan senior tertentu yang pensiun pada tahun 2015. Pada laporan laba
rugi Perseroan, beban imbalan kerja pada tahun 2015 mencakup beban imbalan kerja yang diakui di
laba rugi sebesar Rp48,1 miliar, pesangon sebesar Rp9,5 miliar dan premi asuransi pesangon sebesar
Rp5,0 miliar. Pada tahun 2014, beban imbalan kerja Perseroan mencakup beban imbalan kerja yang
diakui di laba rugi sebesar Rp26,2 miliar, pesangon sebesar Rp8,6 milar dan premi asuransi pesangon
sebesar Rp5,0 miliar. Gaji dan tunjangan (gaji untuk karyawan administrasi dan manajemen) naik
sebesar 3,0% menjadi Rp165,2 miliar pada tahun 2015 dari Rp160,4 miliar pada tahun 2014 seiring
dengan implementasi program jaminan hari tua di Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan, yang mewajibkan
Perseroan untuk meningkatkan pembayaran iuran imbalan kerja pasti, yang dibukukan sebagai beban
gaji. Kenaikan beban gaji ini juga di-offset dengan beban gaji dari Entitas Anak yang Dialihkan yang
tidak lagi dihitung sebagai beban Perseroan.
Beban usaha Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 12,5% menjadi Rp606,5 miliar pada tahun
2015 dari Rp539,3 miliar pada tahun 2014.
Pendapatan lainnya
Pendapatan lainnya Perseroan naik sebesar 136,6% menjadi Rp35,4 miliar pada tahun 2015 dari Rp15,0
miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan kenaikan laba penjualan aset tetap sebesar 404,3% dari
Rp4,6 miliar pada tahun 2014 menjadi Rp23,2 miliar pada tahun 2015 sehubungan dengan Transaksi
Jual dan Sewa.
Pendapatan lainnya Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 115,2% menjadi Rp35,4 miliar
pada tahun 2015 dari Rp16,5 miliar pada tahun 2014.
Beban lainnya
Beban lainnya Perseroan naik secara signifikan menjadi Rp18,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp0,8
miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan beban pajak terkait hasil penjualan aset terkait bangunan
dan lahan.
Beban lainnya Perseroan dengan basis standalone naik secara signifikan menjadi Rp18,5 miliar
untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015 dari Rp1,5 miliar untuk tahun yang berakhir pada
31 Desember 2014.
Laba usaha
Laba usaha Perseroan naik sebesar 6,7% menjadi Rp96,9 miliar pada tahun 2015 dari Rp90,8 miliar
pada tahun 2014, sebagai hasil dari faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya dan penjualan atas
Entitas Anak yang Dialihkan. Sebagai hasil dari pengalihan entitas anak, hasil usaha untuk tahun yang
berakhir pada 31 Desember 2015 tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan hasil usaha untuk
tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014. Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015,
43
entitas anak tersebut diklasifikasikan sebagai aset lancar tersedia untuk dijual. Oleh karena itu, sesuai
dengan PSAK 58, pendapatan dan beban atas entitas anak tersebut tidak dapat dikonsolidasikan dengan
akun relevan Perseroan ketika menyusun laporan keuangan konsolidasi. Namun, rugi bersih atas entitas
anak tersebut untuk periode sejak 1 Januari 2015 hingga tanggal dijualnya masing-masing entitas anak
tersebut dibukukan sebagai bagian rugi sebelum divestasi, yang muncul di bawah laba usaha pada
laporan laba rugi. Oleh karena itu, kenaikan laba usaha Perseroan, pada basis konsolidasi, menunjukkan
pengecualian atas kontribusi negatif dari Entitas Anak yang Dialihkan terhadap laba usaha tahun 2015.
Laba usaha Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 5,3% menjadi Rp96,9 miliar pada tahun
2015 dari Rp102,4 miliar pada tahun 2014 terutama sehubungan dengan kenaikan sebesar 12,3% pada
beban usaha.
Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi
Akibatnya, rugi bersih dari empat entitas anak tersebut untuk periode sejak tanggal 1 Januari 2015
sampai dengan tanggal dijualnya masing-masing entitas anak diakui sebagai bagian rugi entitas anak
sebelum divestasi sebesar Rp1,4 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015.
Beban keuangan - bersih
Beban keuangan – bersih Perseroan naik sebesar 27,5% menjadi Rp18,5 miliar pada tahun 2015 dari
Rp14,5 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan beban bunga dari penarikan fasilitas pinjaman
revolving Perseroan, yang digunakan untuk modal kerja dan membiayai renovasi laboratorium klinik
tertentu. Perseroan melunasi pinjaman jangka pendek tersebut dalam waktu satu tahun sehingga pinjaman
tersebut tidak tercantum di dalam laporan posisi keuangan Perseroan per tanggal 31 Desember 2015.
Perseroan juga memiliki beban bunga atas pinjaman bank yang digunakan untuk
membiayai pembangunan gedung baru sebagai laboratorium klinik. Sebagian besar utang bank ini
dilunasi pada bulan November 2015, dan sebagai hasilnya, utang bank Perseroan turun dari Rp5,7
miliar pada tanggal 31 Desember 2014 menjadi sebesar Rp1,0 miliar pada tanggal 31 Desember 2015.
Beban keuangan – bersih Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 32,1% menjadi Rp18,5 miliar
pada tahun 2015 dari Rp14,0 miliar pada tahun 2014.
Laba sebelum pajak
Laba sebelum pajak Perseroan naik sebesar 0,9% menjadi Rp77,0 miliar pada tahun 2015 dari Rp76,3
miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan beban pokok pendapatan dan beban usaha Perseroan
meningkat lebih cepat dibandingkan dengan pendapatan-bersih Perseroan. Pada tahun 2015, beban pokok
pendapatan Perseroan naik sebesar 10,2% atau setara Rp47,1 miliar dan beban usaha Perseroan naik
sebesar 8,2% atau setara Rp46,2 miliar, dibandingkan dengan kenaikan pendapatan – bersih sebesar
8,8% atau setara Rp96,7 miliar. Beban pokok pendapatan dan beban usaha Perseroan meningkat lebih
cepat dibandingkan dengan pendapatan terutama disebabkan oleh kenaikan beban gaji akibat penerapan
skema pensiun nasional BPJS Kesehatan, dan beban imbalan kerja akibat meningkatnya imbalan yang
dibayar kepada karyawan tertentu yang pensiun dan diklasifikasikan sebagai “kelebihan pembayaran
imbalan oleh pengelolaan aset”.
Laba sebelum pajak Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 11,3% menjadi Rp78,4 miliar
pada tahun 2015 dari Rp88,4 miliar pada tahun 2014.
Manfaat (beban) pajak
Beban pajak Perseroan turun sebesar 14,3% menjadi Rp18,0 miliar pada tahun 2015 dari Rp21,0 miliar
pada tahun 2014, terutama dikarenakan kenaikan manfaat pajak tangguhan sebesar 61,1% dari Rp11,6
miliar pada tahun 2015 dari Rp7,2 miliar pada tahun 2014. Manfaat pajak tangguhan Perseroan terutama
terkait dengan beban imbalan kerja. Beban imbalan kerja naik sebesar 57,5% pada tahun yang berakhir
pada 31 Desember 2015 dari tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014, yang juga meningkatkan
manfaat pajak tangguhan.
44
Beban pajak penghasilan Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 17,0% menjadi Rp18,0 miliar
pada tahun 2015 dari Rp21,7 miliar pada tahun 2014.
Laba tahun berjalan
Sebagai akibat dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, laba tahun berjalan Perseroan naik sebesar
6,7% menjadi Rp59,0 miliar pada tahun 2015 dari Rp55,3 miliar pada tahun 2014.
Laba tahun berjalan Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 9,3% menjadi Rp60,5 miliar pada
tahun 2015 dari Rp66,7 miliar pada tahun 2014.
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak Perseroan pada tahun 2015 tercatat sebesar Rp7,5 miliar
dibandingkan dengan rugi sebesar Rp10,5 miliar pada tahun 2014 disebabkan oleh keuntungan yang
diakui pada penghasilan komprehensif lainnya sebesar Rp10,0 miliar sebagai hasil dari pengukuran
kembali atas program imbalan kerja. Sebagai perbandingan, pada tahun 2014, Perseroan mengakui
kerugian dari pengukuran kembali atas program imbalan kerja sebesar Rp13,9 miliar. Perbedaan antara
tahun 2014 dan 2015 terutama dikarenakan perubahan asumsi tingkat diskonto menjadi 9,2% pada
tahun 2015 dari 8,5% pada tahun 2014, dan efek atas keuntungan aktuaria Perseroan. Penghasilan ini
sebagian di-offset dengan pengakuan beban pajak penghasilan atas pengukuran kembali atas program
imbalan kerja sebesar Rp2,5 miliar.
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak Perseroan dengan basis standalone pada tahun 2015 tercatat
sebesar Rp7,5 miliar dibandingkan dengan rugi Rp10,3 miliar pada tahun 2014.
Laba komprehensif tahun berjalan
Sebagai akibat dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, laba komprehensif tahun berjalan Perseroan
tercatat sebesar Rp66,5 miliar pada tahun 2015, meningkat 48,4% dari Rp44,8 miliar pada tahun 2014.
Jumlah laba komprehensif tahun berjalan Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 20,4% menjadi
Rp67,9 miliar pada tahun 2015 dari Rp56,4 miliar pada tahun 2014.
Tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada
31 Desember 2013
Pendapatan – bersih
Pendapatan – bersih Perseroan naik sebesar 10,3% menjadi Rp1.101,0 miliar pada tahun 2014 dari
Rp998,0 miliar pada tahun 2013, terutama dikarenakan kenaikan volume kunjungan pelanggan dan
pendapatan per kunjungan. Jumlah kunjungan pelanggan naik sebesar 3,1% menjadi 2,3 juta pada tahun
2014 dari sebelumnya 2,2 juta pada tahun 2013, terutama disebabkan oleh pertumbuhan pelanggan pada
segmen referensi dokter (meningkat sebesar 15,3%) dan klien korporasi (meningkat sebesar 10,5%).
Pendapatan per kunjungan juga naik sebesar 6,3% menjadi Rp468.792 pada tahun 2014 dari Rp440.843
pada tahun 2013, terutama dikarenakan kenaikan harga untuk pemeriksaan dan layanan Perseroan.
Harga pemeriksaan rata-rata naik sekitar 7,0%, dibandingkan dengan tingkat inflasi sebesar 8,4% per
tahun pada tahun 2014.
Pendapatan – bersih Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 9,6% menjadi Rp1.080,6 miliar
pada tahun 2014 dari Rp985,9 miliar pada tahun 2013.
Beban pokok pendapatan
Beban pokok pendapatan Perseroan naik sebesar 17,2% menjadi Rp464,1 miliar pada tahun 2014 dari
sebelumnya sebesar Rp396,0 miliar pada tahun 2013, terutama dikarenakan kenaikan beban bahan baku,
gaji dan rujukan ke pihak ketiga. Beban bahan baku Perseroan naik sebesar 3,2% menjadi Rp176,7
45
miliar pada tahun 2014 dari Rp171,2 miliar pada tahun 2013 karena kenaikan harga terutama sehubungan
dengan inflasi. Beban gaji Perseroan juga mengalami peningkatan. Beban gaji terkait beban pokok
langsung (untuk petugas laboratorium) naik sebesar 30,9% menjadi Rp96,4 miliar pada tahun 2014 dari
Rp73,6 miliar pada tahun 2013 sementara beban gaji terkait beban pokok tidak langsung (karyawan
di bagian layanan pelanggan) naik sebesar 32,8% menjadi Rp42,5 miliar pada tahun 2014 dari Rp32,0
miliar pada tahun 2013. Kenaikan beban gaji terutama dikarenakan Perseroan menaikkan gaji karyawan
pada beberapa tingkatan seiring dengan kenaikan upah minimum regional. Walaupun hampir seluruh
karyawan tersebut dibayar di atas upah minimum, Perseroan tetap meningkatkan gaji para karyawan
untuk menjaga agar rentang gaji tetap konsisten dengan skala sebelumnya. Sebagai tambahan, beban gaji
Perseroan naik karena Perseroan mempekerjakan pegawai tetap tambahan untuk bagian laboratorium
dan layanan pelanggan dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan lebih lanjut untuk pemeriksaan yang
dilakukan dan pelanggan yang dilayani. Selain itu, beban rujukan ke pihak ketiga naik sebesar 25,4%
menjadi Rp66,6 miliar pada tahun 31 Desember 2014 dari Rp53,1 miliar pada tahun 2013, terutama
dikarenakan kenaikan jumlah pemeriksaan yang dirujuk kepada pihak eksternal.
Beban pokok pendapatan Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 18,3% menjadi Rp453,9
miliar pada tahun 2014 dari Rp383,7 miliar pada tahun 2013.
Laba kotor
Sebagai akibat dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, laba kotor Perseroan naik sebesar 5,8% menjadi
Rp637,0 miliar pada tahun 2014 dari Rp602,0 miliar pada tahun 2013.
Laba kotor Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 4,1% menjadi Rp626,7 miliar pada tahun
2014 dari Rp602,2 miliar pada tahun 2013.
Beban usaha
Beban usaha Perseroan naik sebesar 10,1% menjadi Rp560,4 miliar pada tahun 2014 dari Rp508,8
miliar pada tahun 2013, terutama dikarenakan kenaikan beban listrik, air dan telekomunikasi, beban
sewa bangunan, kendaraan dan inventaris kantor, gaji dan tunjangan dan biaya konsultan. Beban listrik,
air dan telekomunikasi naik sebesar 28,5% menjadi Rp33,8 miliar pada tahun 2014 dari Rp26,3 miliar
pada tahun 2013.
Beban sewa bangunan, kendaraan dan inventaris kantor naik sebesar 22,5% menjadi Rp31,1 miliar pada
tahun 2014 dari Rp25,4 miliar pada tahun 2013. Kenaikan beban listrik, air dan telekomunikasi serta
beban sewa bangunan, kendaraan dan inventaris kantor disebabkan oleh kebijakan Pemerintah untuk
menghapus subsidi harga bahan bakar, yang meningkatkan beban utilitas dan bahan bakar.
Beban imbalan kerja Perseroan naik sebesar 24,4% menjadi Rp39,8 miliar pada tahun 2014 dari Rp32,0
miliar pada tahun 2013, terutama dikarenakan meningkatnya beban bunga atas liabilitas imbalan kerja
sehubungan dengan lebih tingginya tingkat suku bunga pada tahun 2014 dibandingkan tahun 2013.
Pada laporan laba rugi, beban imbalan kerja pada tahun 2014 terdiri dari beban imbalan kerja sebesar
Rp26,2 miliar, pesangon sebesar Rp8,6 miliar dan premi asuransi pesangon sebesar Rp5,0 miliar.
Pada tahun 2013, beban imbalan kerja terdiri dari beban imbalan kerja sebesar Rp1,1 miliar, pesangon
sebesar Rp10,9 miliar dan premi asuransi pesangon sebesar Rp20,0 miliar. Permi asuransi pesangon
Perseroan, yang meningkatkan aset program, lebih tinggi pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun
2014 dikarenakan sebelum tahun 2012 Perseroan belum memisahkan dana untuk membayar liabilitas
imbalan kerja di masa depan. Perseroan mulai memisahkan dana tersebut pada tahun 2012 dan melakukan
pembayaran pertama pada tahun 2012 dan 2013. Biaya konsultan naik sebesar 14,0% menjadi Rp66,4
miliar pada tahun 2014 dari Rp58,3 miliar pada tahun 2013 sebagai akibat penerapan peraturan BPJS
Kesehatan untuk pegawai outsourcing, yang meningkatkan upah pegawai-pegawai tersebut, dan oleh
karenanya, berdampak terhadap biaya yang dibayar Perseroan kepada perusahaan outsourcing yang
menyediakan pegawai outsourcing.
Beban usaha Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 7,7% menjadi Rp539,3 miliar pada tahun
2014 dari Rp500,6 miliar pada tahun 2013.
46
Pendapatan lainnya
Pendapatan lainnya Perseroan naik sebesar 233,3% menjadi Rp15,0 miliar pada tahun 2014 dari Rp4,5
miliar pada tahun 2013, terutama dikarenakan Perseroan mencatatkan penghasilan sebesar Rp9,0
miliar yang sebagian besar merupakan pembayaran penggantian imbalan kerja dari pengelola aset
atas tunjangan pensiun yang dibayarkan langsung oleh Perseroan kepada karyawan. Perseroan juga
mencatatkan pendapatan lainnya sebesar Rp4,6 miliar pada tahun 2014 dari penjualan tanah, yang pada
awalnya dibeli oleh Perseroan sebagai lokasi baru untuk laboratorium klinik yang sudah ada (relokasi).
Namun, Perseroan kemudian memutuskan untuk menjual tanah tersebut karena Perseroan berpendapat
bahwa lokasi baru tersebut kurang nyaman bagi pelanggan Perseroan di lokasi tersebut.
Pendapatan lainnya Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 223,5% menjadi Rp16,5 miliar
pada tahun 2014 dari Rp5,1 miliar pada tahun 2013.
Beban lainnya
Beban lainnya Perseroan turun sebesar 78,9% menjadi Rp0,8 miliar pada tahun 2014 dari Rp3,8 miliar
pada tahun 2013, terutama dikarenakan pembayaran pajak pada tahun 2013 terkait penalty keterlambatan
pada tahun 2013 untuk pengembalian pajak penghasilan Perseroan pada tahun 2010. Selain itu, pada
tahun 2013, Perseroan juga mencatatkan rugi selisih kurs – bersih, terutama sehubungan dengan transaksi
pada PT Prodia Diagnostic Line (“PROLINE”), sebagai akibat depresiasi Rupiah terhadap US$.
Beban lainnya Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 52,2% menjadi Rp1,5 miliar pada tahun
2014 dari Rp3,2 miliar pada tahun 2013.
Laba usaha
Sebagai akibat dari hasil-hasil yang telah dijelaskan di atas, laba usaha Perseroan turun sebesar 3,3%
menjadi Rp90,8 miliar pada tahun 2014 dari Rp93,9 miliar pada tahun 2013.
Laba usaha Perseroan dengan basis standalone turun 1,1% menjadi Rp102,4 miliar pada tahun 2014
dari Rp103,5 miliar pada tahun 2013.
Beban keuangan - bersih
Beban keuangan – bersih naik sebesar 126,6% menjadi Rp14,5 miliar pada tahun 2014 dari Rp6,4 miliar
pada tahun 2013, terutama dikarenakan beban bunga setahun penuh atas pinjaman bank yang ditarik di
akhir tahun 2013. Fasilitas tersebut dipakai dengan tujuan pembangunan gedung sebagai lokasi baru
dari laboratorium klinik.
Beban keuangan – bersih Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 129,5% menjadi Rp14,0
miliar pada tahun 2014 dari Rp6,1 miliar pada tahun 2013.
Laba sebelum pajak
Sebagai akibat dari faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, laba sebelum pajak Perseroan turun
sebesar 12,9% menjadi Rp76,3 miliar pada tahun 2014 dari Rp87,6 miliar pada tahun 2013.
Laba sebelum pajak Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 9,3% menjadi Rp88,4 miliar pada
tahun 2014 dari Rp97,4 miliar pada tahun 2013.
Manfaat (beban) pajak penghasilan
Beban pajak penghasilan Perseroan turun sebesar 24,4% menjadi Rp21,0 miliar pada tahun 2014 dari
Rp27,8 miliar pada tahun 2013, terutama dikarenakan manfaat pajak tangguhan sebesar Rp7,2 miliar
pada tahun 2014 dibandingkan dengan beban pajak tangguhan sebesar Rp0,2 miliar pada tahun 2013.
47
Manfaat pajak tangguhan terutama terkait dengan beban imbalan kerja Perseroan. Beban imbalan kerja
Perseroan naik sebesar 24,4% untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014 dari tahun yang
berakhir pada 31 Desember 2013, yang juga meningkatkan manfaat beban pajak Perseroan.
Beban pajak penghasilan Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 21,8% menjadi Rp21,7 miliar
pada tahun 2014 dari Rp27,8 miliar pada tahun 2013.
Laba tahun berjalan
Sebagai akibat dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, laba tahun berjalan Perseroan turun sebesar
7,5% menjadi Rp55,3 miliar pada tahun 2014 dari Rp59,8 miliar pada tahun 2013.
Laba tahun berjalan Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 4,2% menjadi Rp66,7 miliar pada
tahun 2014 dari Rp69,6 miliar pada tahun 2013.
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak Perseroan tercatat sebesar sebagai rugi Rp10,5 miliar pada
tahun 2014 dibandingkan dengan Rp28,2 miliar pada tahun 2013 yang disebabkan oleh pengukuran
kembali program imbalan kerja dimana Perseroan mengakui penghasilan pada penghasilan komprehensif
lain sebesar Rp13,9 miliar. Sebagai perbandingan, pada tahun 2013, Perseroan membukukan penghasilan
pada penghasilan komprehensif lain dari pengukuran kembali program imbalan kerja sebesar Rp37,6
miliar. Perbedaan antara tahun 2013 dengan tahun 2014 terutama disebabkan oleh perubahan asumsi
tingkat diskonto menjadi 8,5% pada tahun 2014 dari 8,8% pada tahun 2013, yang menyebabkan efek
atas keuntungan aktuaria. Keuntungan ini sebagian di-offset dengan manfaat pajak penghasilan atas
pengkuran kembali atas program imbalan kerja sebesar Rp3,5 miliar.
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak Perseroan dengan basis standalone adalah kerugian Rp10,3
miliar pada tahun 2014, dibandingkan dengan Rp28,2 miliar pada tahun 2013.
Laba komprehensif tahun berjalan
Sebagai akibat dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, laba komprehensif tahun berjalan Perseroan
adalah sebesar Rp44,8 miliar pada tahun 2014, menurun sebesar 49,0% dari Rp88,0 miliar pada tahun
2013.
Laba komprehensif tahun berjalan Perseroan dengan basis standalone adalah sebesar Rp56,4 miliar
pada tahun 2014, menurun sebesar 42,4% dari Rp97,8 miliar pada tahun 2013.
48
Berikut adalah grafik perkembangan pendapatan, laba kotor, laba tahun berjalan dan total laba
komprehensif tahun berjalan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015
dan periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan 2016:
5.7.Aset, Liabilitas dan Ekuitas
Aset
Tabel berikut menjelaskan rincian aset tanggal posisi keuangan berikut:
2013 (1)
ASET LANCAR
Kas dan bank
Piutang usaha - Pihak ketiga
Aset keuangan lancar lainnya - Pihak ketiga
Persediaan
Uang muka
Pajak dibayar di muka
Biaya dibayar di muka
Aset non keuangan lancar lainnya
Total Aset Lancar
ASET TIDAK LANCAR
Biaya dibayar di muka
Aset pajak tangguhan
Piutang pihak berelasi – non usaha
Aset tetap
Aset tak berwujud
Aset non keuangan tidak lancar lainnya
Total Aset Tidak Lancar
TOTAL ASET
(dalam miliar Rupiah)
31 Desember
30 Juni
2014 (1)
2015
2016
34,6
62,5
9,7
15,1
21,6
2,6
15,9
162,0
45,1
74,5
9,2
19,7
11,2
2,7
21,1
183,5
45,0
78,4
6,8
25,8
16,8
2,4
20,9
196,1
44,9
57,4
9,4
30,0
19,2
28,2
0,7
189,8
22,9
41,8
1,7
272,6
8,9
3,7
351,6
513,6
25,0
52,4
2,7
362,9
7,1
0,7
450,8
634,3
35,7
60,8
83,7
196,3
3,5
1,8
381,8
577,9
99,7
79,5
0,4
214,6
2,9
1,4
398,5
588,3
Catatan:
(1) Konsolidasian
Jumlah aset Perseroan meningkat sebesar 1,8% menjadi Rp588,3 miliar pada tanggal 30 Juni 2016 dari
Rp577,9 miliar pada tanggal 31 Desember 2015, terutama dikarenakan kenaikan biaya dibayar dimuka
yang merupakan uang sewa dibayar dimuka untuk jangka panjang, kenaikan aset pajak tangguhan dan
penambahan aset tetap yang sebagian di-offset dengan penurunan piutang pihak berelasi.
Jumlah aset Perseroan mengalami penurunan sebesar 8,9% menjadi Rp577,9 miliar pada tanggal
31 Desember 2015 dari Rp634,3 miliar pada tanggal 31 Desember 2014, terutama dikarenakan penurunan
aset tetap yang sebagian di-offset dengan kenaikan piutang pihak berelasi terkait Transaksi Jual dan Sewa.
49
Jumlah aset Perseroan meningkat sebesar 23,5% menjadi Rp634,3 miliar pada tanggal 31 Desember
2014 dari Rp513,6 miliar pada tanggal 31 Desember 2013, terutama dikarenakan kenaikan aset tetap
terkait pembukaan outlet-outlet baru dan kenaikan piutang usaha seiring dengan meningkatnya penjualan.
Liabilitas
Tabel berikut menjelaskan rincian liabilitas tanggal posisi keuangan berikut:
2013 (1)
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek
Utang usaha
Pihak berelasi
Pihak ketiga
Utang pajak
Beban akrual
Liabilitas imbalan kerja jangka pendek
Pendapatan diterima di muka
Liabilitas keuangan jangka pendek lainnya
Pihak berelasi
Pihak ketiga
Bagian liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun
Utang bank
Utang sewa pembiayaan
Total Liabilitas Jangka Pendek
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang jangka panjang - setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam setahun:
Utang bank
Utang sewa pembiayaan
Liabilitas keuangan jangka panjang lainnya
Pihak berelasi
Pihak ketiga
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang
Total Liabilitas Jangka Panjang
TOTAL LIABILITAS
(dalam miliar Rupiah)
31 Desember
30 Juni
2014 (1)
2015
2016
4,8
5,7
1,0
3,6
0,5
31,9
22,3
44,2
0,2
1,0
0,2
30,5
13,3
43,9
0,5
0,7
0,7
42,4
15,0
34,7
1,5
1,0
0,4
28,2
13,0
23,2
2,3
0,5
4,1
10,9
0,6
18,9
0,5
29,4
18,4
8,9
14,8
1,6
136,3
28,0
3,6
145,9
13,5
5,3
145,0
37,1
6,5
142,1
111,5
1,1
122,7
6,0
50,4
4,8
64,0
4,8
3,9
172,3
288,9
425,2
3,9
7,0
214,6
354,2
500,1
0,8
0,7
249,9
306,4
451,5
0,7
323,1
392,6
534,7
Catatan:
(1) Konsolidasian
Jumlah liabilitas Perseroan meningkat sebesar 18,4% menjadi Rp534,7 miliar pada tanggal 30 Juni
2016 dari Rp451,5 miliar pada tanggal 31 Desember 2015, terutama dikarenakan kenaikan imbalan
kerja jangka panjang dan kenaikan utang bank jangka panjang. Imbalan kerja jangka panjang naik
sebesar 28,1% menjadi Rp323,1 miliar pada tanggal 30 Juni 2016 dari Rp249,9 miliar pada tanggal
31 Desember 2015, terutama dikarenakan kerugian atas perubahan asumsi finansial, yaitu penurunan
tingkat diskonto dari 9,2% pada tanggal 31 Desember 2015 menjadi 8,0% pada tanggal 30 Juni 2016
dan kerugian atas penyesuaian pengalaman kerja. Kenaikan utang bank jangka panjang sebesar 58,2%
menjadi Rp101,1 miliar pada tanggal 30 Juni 2016 dari Rp63,9 miliar pada tanggal 31 Desember 2015
terutama dikarenakan penarikan tambahan atas fasilitas pinjaman dari Bank Danamon.
Jumlah liabilitas Perseroan mengalami penurunan sebesar 9,7% menjadi Rp451,5 miliar pada tanggal
31 Desember 2015 dari Rp500,1 miliar pada tanggal 31 Desember 2014, terutama dikarenakan penurunan
utang bank jangka panjang yang sebagian di-offset dengan kenaikan imbalan kerja jangka panjang.
Utang bank jangka panjang turun sebesar 57,6% menjadi Rp63,9 miliar pada tanggal 31 Desember 2014
dari Rp150,6 miliar pada tanggal 31 Desember 2015 sebagai akibat dari pelunasan sebagian fasilitas
bank dengan menggunakan hasil dari penjualan tanah dan bangunan kepada pihak berelasi. Liabilitas
imbalan kerja jangka panjang naik sebesar 35,2% menjadi Rp249,9 miliar pada tanggal 31 Desember
2015 dari Rp214,6 miliar pada tanggal 31 Desember 2014 terutama dikarenakan kelebihan imbalan
yang dibayar oleh Pengelolaan Aset dan kerugian atas penyesuaian pengalaman kerja.
50
Jumlah liabilitas Perseroan meningkat sebesar 17,6% menjadi Rp500,1 miliar pada tanggal 31 Desember
2014 dari Rp425,2 miliar pada tanggal 31 Desember 2013, terutama dikarenakan kenaikan imbalan
kerja jangka panjang dan kenaikan uang bank jangka panjang. Liabilitas imbalan kerja jangka panjang
naik sebesar 24,9% menjadi Rp214,6 miliar pada tanggal 31 Desember 2014 dari Rp172,3 miliar pada
tanggal 31 Desember 2013 terutama dikarenakan kerugian atas perubahan asumsi finansial, yaitu
asumsi tingkat diskonto menjadi 8,5% pada tahun 2014 dari 8,8% pada tahun 2013 dan kerugian atas
penyesuaian pengalaman kerja. Kenaikan utang bank jangka panjang sebesar 19,2% menjadi Rp150,6
miliar pada tanggal 31 Desember 2014 dari Rp126,3 miliar pada tanggal 31 Desember 2013 terutama
dikarenakan penarikan tambahan atas fasilitas pinjaman dari Bank Danamon dan Bank Panin.
Ekuitas
Tabel berikut menjelaskan rincian ekuitas tanggal posisi keuangan berikut:
2013 (1)
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada Pemilik entitas induk
Modal ditempatkan dan disetor penuh
Tambahan modal disetor
Penghasilan komprehensif lain
Saldo laba
Total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
Kepentingan non pengendali
TOTAL EKUITAS
(dalam miliar Rupiah)
31 Desember
30 Juni
2014 (1)
2015
2016
18,0
(56,2)
125,5
87,3
1,1
88,4
75,0
(66,6)
126,0
134,4
(0,2)
134,2
75,0
25,4
(59,1)
85,0
126,3
126,3
75,0
25,4
(95,9)
49,1
53,6
53,6
Catatan:
(1) Konsolidasian
Jumlah ekuitas Perseroan mengalami penurunan sebesar 57,5% menjadi Rp53,6 miliar pada tanggal
30 Juni 2016 dari Rp126,3 miliar pada tanggal 31 Desember 2015, dikarenakan pembagian dividen dan
kerugian pada penghasilan komprehensif lain akibat pengukuran kembali atas program imbalan kerja
yang sebagian di-offset dengan laba tahun berjalan.
Jumlah ekuitas Perseroan mengalami penurunan sebesar 5,9% menjadi Rp126,3 miliar pada tanggal
31 Desember 2015 dari Rp134,2 miliar pada tanggal 31 Desember 2014, terutama dikarenakan adanya.
pembayaran dividen yang sebagian di-offset dengan tambahan modal disetor dari pelepasan investasi
saham entitas anak dan laba tahun berjalan
Jumlah ekuitas Perseroan meningkat sebesar 52,0% menjadi Rp134,2 miliar pada tanggal 31 Desember
2014 dari Rp88,4 miliar pada tanggal 31 Desember 2013, terutama dikarenakan penambahan modal
disetor oleh pemegang saham.
51
Berikut adalah grafik perkembangan total aset, liabilitas dan ekuitas pada tanggal 31 Desember 2013,
2014 dan 2015, dan 30 Juni 2016:
5.8.Likuiditas dan Sumber Pendanaan
Secara historis, Perseroan membiayai kebutuhan modalnya terutama melalui kas yang diperoleh dari
aktivitas operasi dan penerimaan pinjaman dari bank. Kebutuhan modal utama Perseroan adalah
untuk membeli properti, dan membiayai kebutuhan modal kerja untuk outlet yang baru dibuka dan
mengembangkan usaha Perseroan. Perseroan yakin bahwa Perseroan akan memiliki sumber pendanaan
yang cukup dari aktivitas operasi, dana hasil Penawaran Umum Saham Perdana serta pinjaman dari
bank dan lembaga keuangan lainnya untuk memenuhi kebutuhan modal Perseroan sampai dengan 12
bulan mendatang.
Pada tanggal 30 Juni 2016, Perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp45,0 miliar dan memiliki
fasilitas pinjaman yang belum ditarik sebesar Rp72,0 miliar.
Tabel berikut ini menyajikan informasi mengenai arus kas Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir
pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015, periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan
2016, serta kas dan setara kas pada akhir masing-masing periode:
Arus kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi
Arus kas bersih diperoleh dari (digunakan untuk) aktivitas investasi
Arus kas bersih diperoleh dari (digunakan untuk) aktivitas pendanaan
Kenaikan (penurunan) bersih kas dan bank
Dampak perubahan kurs terhadap kas dan bank
Kas dan bank pada awal tahun
Kas dan bank entitas anak yang didivestasi
Kas dan bank pada akhir tahun
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
Untuk tahun yang berakhir
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
pada 31 Desember
2013 (1)
2014 (1)
2015
2015
2016
82,7
105,6
158,2
165,5
55,0
(58,9)
(122,6)
63,4
(137,6)
(39,0)
(14,2)
27,5
(219,2)
(36,0)
(16,1)
9,6
10,5
2,4
(8,1)
(0,1)
0,0 nm
0,0 nm
0,0 nm
(0,0) nm
25,0
34,6
45,1
45,1
45,0
(2,5)
(2,5)
34,6
45,1
45,0
34,5
44,9
Catatan:
(1) Konsolidasian.
nm : menjadi nol karena pembulatan
Arus kas dari aktivitas operasi
Arus kas dari aktivitas operasi untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 adalah
sebesar Rp55,0 miliar, terutama terdiri dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp669,0 miliar,
yang sebagian di-offset dengan pembayaran kas kepada karyawan, pemasok dan pihak ketiga sebesar
Rp597,8 miliar dan pembayaran pajak penghasilan sebesar Rp16,5miliar.
Arus kas dari aktivitas operasi pada tahun 2015 adalah sebesar Rp158,2 miliar, terutama terdiri dari
penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp1.188,8 miliar, yang sebagian di-offset dengan pembayaran
kas kepada karyawan, pemasok dan pihak ketiga sebesar Rp1.001,6 miliar dan pembayaran pajak
penghasilan sebesar Rp29,7 miliar.
52
Arus kas dari aktivitas operasi pada tahun 2014 adalah sebesar Rp105,6 miliar, terutama terdiri dari
penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp1.088,7 miliar, yang sebagian di-offset dengan pembayaran kas
kepada karyawan, pemasok dan pihak ketiga sebesar Rp951,0 miliar dan pembayaran pajak penghasilan
sebesar Rp33,4 miliar.
Arus kas dari aktivitas operasi pada tahun 2013 adalah sebesar Rp82,7 miliar, terutama terdiri dari
penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp998,5 miliar, yang sebagian di-offset dengan pembayaran
kas kepada pelanggan, karyawan, pemasok dan pihak ketiga sebesar Rp882,1 miliar dan pembayaran
pajak penghasilan sebesar Rp34,0 miliar.
Arus kas dari (untuk) aktivitas investasi
Arus kas untuk aktivitas investasi untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 adalah
sebesar Rp39,0 miliar, terutama terdiri dari kas yang digunakan untuk perolehan aset tetap sebesar
Rp46,2 miliar terkait akuisisi atas gedung jadi untuk outlet klinik Perseroan, yang sebagian di-offset
oleh hasil penjualan aset tetap sebesar Rp7,2 miliar.
Arus kas dari aktivitas investasi pada tahun 2015 adalah sebesar Rp63,4 miliar, terutama terdiri dari
hasil penjualan aset tetap sebesar Rp353,0 miliar sehubungan dengan Transaksi Jual dan Sewa, yang
sebagian di-offset dengan kas yang digunakan untuk perolehan aset tetap sebesar Rp320,5 miliar terkait
akuisisi gedung untuk outlet Perseroan.
Arus kas untuk aktivitas investasi Perseroan pada tahun 2014 adalah sebesar Rp122,6 miliar, terutama
terdiri dari kas yang digunakan untuk perolehan aset tetap sebesar Rp128,7 miliar terkait pembangunan
gedung untuk laboratorium klinik Perseroan dan pembelian peralatan elektronik, peralatan laboratorium
dan non-laboratorium serta sewa aset yang digunakan untuk melengkapi laboratorium klinik baru, yang
sebagian di-offset dengan hasil penjualan aset tetap sebesar Rp6,5 miliar.
Arus kas untuk aktivitas investasi pada tahun 2013 adalah sebesar Rp58,9 miliar, terutama terdiri dari
kas yang digunakan untuk perolehan aset tetap sebesar Rp65,7 miliar terkait pembangunan gedung untuk
laboratorium klinik serta pembelian peralatan elektronik, peralatan laboratorium dan non-laboratorium
dan sewa aset yang digunakan untuk melengkapi laboratorium klinik dan outlet baru, yang sebagian
di-offset dengan hasil penjualan aset tetap sebesar Rp10,0 miliar.
Arus kas dari (untuk) aktivitas pendanaan
Arus kas untuk aktivitas pendanaan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2016 adalah sebesar Rp16,1
miliar, terutama terdiri dari pembayaran dividen tunai sebesar Rp57,0 miliar yang dilaksanakan pada
tahun 2015 serta pembayaran pinjaman bank yang digunakan untuk membiayai pembangunan gedung
baru untuk outlet Perseroan sebesar Rp7,8 miliar kepada Bank Danamon dan BCA, yang sebagian dioffset dengan penerimaan pinjaman bank sebesar Rp49,0 miliar yang diterima dari Bank Danamon,
BCA dan Bank Panin.
Arus kas untuk aktivitas pendanaan pada tahun 2015 adalah sebesar Rp219,2 miliar, terutama terdiri
dari pembayaran dividen tunai sebesar Rp100,0 miliar yang dibagikan untuk tahun buku 2014, dan
pembayaran pinjaman bank yang digunakan untuk mendanai pembangunan gedung baru untuk cabang
Perseroan sebesar Rp178,5 miliar kepada Bank Danamon, BCA dan Bank Panin, yang sebagian di-offset
dengan penerimaan pinjaman dari bank sebesar Rp65,3 miliar yang diterima dari Bank Danamon, BCA
dan Bank Panin.
Arus kas dari aktivitas pendanaan pada tahun 2014 adalah sebesar Rp27,5 miliar, terutama terdiri dari
setoran modal sebesar Rp57,0 miliar dari PT Prodia Utama, dan penerimaan pinjaman sebesar Rp44,5
miliar dari Bank Danamon dan BCA, yang di-offset dengan pembayaran dividen tunai sebesar Rp58,0
miliar terkait pembagian dividen untuk tahun buku 2013, dan juga pembayaran pinjaman sebesar Rp16,3
miliar kepada Bank Danamon, BCA, RaboBank dan Bank Panin.
53
Arus kas untuk aktivitas pendanaan pada tahun 2013 adalah sebesar Rp14,2 miliar, terutama terdiri dari
pembayaran dividen tunai sebesar Rp74,5 miliar yang dibagikan Perseroan untuk tahun fiscal 2013,
dan pembayaran pinjaman bank sebesar Rp17,2 miliar kepada Bank Danamon dan BCA, yang sebagian
di-offset dengan penerimaan pinjaman dari bank sebesar Rp79,2 miliar dari Bank Danamon dan BCA.
5.9.Belanja Modal
Belanja modal Perseroan secara umum terkait dengan biaya yang timbul dari pembukaan laboratorium
klinik baru, antara lain termasuk tanah dan bangunan, peralatan elektronik, peralatan dan perangkat
lunak laboratorium. Tabel berikut ini menyajikan belanja modal Perseroan untuk tahun-tahun yang
berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015 serta periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni
2016 dan 2016:
Untuk tahun tahun yang
berakhir pada 31 Desember
2013
25,7
4,0
4,2
17,5
0,8
4,6
4,9
3,0
64,6
Tanah dan bangunan
Kendaraan dan transportasi
Peralatan kantor
Elektronik
Peralatan kantor lainnya
Peralatan laboratorium
Peralatan non-laboratorium
Perangkat lunak
Total
2014
6,2
12,3
3,8
9,7
0,3
12,1
6,4
0,2
50,9
2015
273,3
7,3
7,1
18,6
0,8
7,0
6,2
1,3
321,8
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
2015
119,9
3,1
2,5
4,8
0,1
5,2
1,1
1,0
137,7
2016
27,2
4,0
2,9
8,8
0,1
0,8
2,3
46,2
Perseroan memperkirakan belanja modal untuk tahun 2016 mencapai sekitar Rp90 miliar, yang sebagian
besar rencananya akan digunakan untuk peralatan laboratorium dan non-laboratorium, proyek teknologi
informasi dan perbaikan laboratorium klinik yang ada dan sebagian untuk penyelesaian pembangunan
gedung laboratorium rujukan regional di Medan. Sehubungan dengan pembangunan gedung laboratorium
beserta fasilitas pendukungnya di Medan, Perseroan telah menandatangani Perjanjian Pembangunan
Pengelolaan dan Penyerahan Kembali Tanah, Bangunan dan Fasilitas Penunjang tertanggal 10 Juni 2016
dimana Perseroan memiliki kewajiban untuk menginvestasikan dana sejumlah Rp59,0 miliar dalam besteffort basis dan pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, kewajiban Perseroan telah terpenuhi 50,0%.
Jumlah belanja modal untuk tahun 2017 diperkirakan antara Rp400 miliar sampai dengan Rp450 miliar,
yang sebagian besar rencananya akan digunakan untuk pembangunan laboratorium rujukan regional
di Makassar, sebanyak-banyaknya 8 dari 33 laboratorium klinik yang direncanakan dan sebanyakbanyaknya 6 dari 13 klinik khusus yang direncanakan. Perseroan juga berencana menggunakan dana
hasil Penawaran Umum Saham Perdana untuk renovasi/relokasi sebanyak-banyaknya 24 laboratorium
klinik tertentu dalam rangka memberikan kualitas layanan yang lebih baik serta meningkatkan pelayanan
dari laboratorium klinik menjadi Klinik PHC sebanyak-banyaknya tujuh laboratorium dari 39 Klinik
PHC yang direncanakan, serta untuk membeli peralatan tambahan untuk laboratorium rumah sakit.
5.10.
Kewajiban Kontinjensi dan Perjanjian Off-Balance Sheet
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan tidak memiliki perjanjian off-balance sheet maupun
kewajiban kontinjensi.
5.11.
Manajemen Risiko
Perseroan menghadapi berbagai risiko keuangan, yaitu risiko kredit, risiko likuiditas, risiko suku bunga
dan risiko nilai tukar. Berikut ini adalah risiko keuangan yang dihadapi oleh Perseroan dan kebijakan
yang dimiliki Perseroan untuk memitigasi risiko tersebut:
54
Risiko kredit
Perseroan mengendalikan eksposur risiko kredit dengan berpedoman pada kebijakan risiko perbankan:
Perseroan menempatkan kas dan setara kas hanya pada bank-bank bereputasi baik dengan predikat baik.
Selain itu, kebijakan Perseroan adalah untuk tidak membatasi penempatan dana pada satu bank tertentu,
sehingga Perseroan memiliki kas dan setara kas di berbagai institusi keuangan. Kebijakan Perseroan
mengakibatkan Perseroan hanya memiliki piutang usaha dengan pihak ketiga terpercaya dan pihak
berelasi. Pada tanggal 30 Juni 2016, eksposur maksimum Perseroan terhadap risiko kredit meliputi
kas dan bank sebesar Rp44,9 miliar, piutang usaha sebesar Rp57,4 miliar, terutama timbul dari utang
pelanggan klien korporasi dan referensi pihak ketiga kepada Perseroan, aset keuangan lainnya sebesar
Rp9,4 miliar, yang terdiri dari piutang karyawan, piutang manajemen kunci dan piutang kolaborasi
penelitian, dan piutang dari pihak berelasi sebesar Rp0,4 miliar.
Risiko likuiditas
Perseroan berharap dapat membayar semua liabilitas pada saat jatuh tempo. Untuk memenuhi komitmen
kas, Perseroan mengelola risiko likuiditas dengan menjaga kas dan simpanan untuk operasi normal
Perseroan.
Risiko suku bunga
Perseroan memiliki risiko suku bunga terutama terhadap dampak perubahan suku bunga pinjaman.
Perseroan memonitor pergerakan suku bunga untuk meminimalisasi dampak negative terhadap
Perseroan. Liabilitas keuangan yang dimiliki Perseroan pada 30 Juni 2016 memiliki tingkat suku bunga
mengambang.
Risiko nilai tukar
Perseroan melakukan transaksi dengan menggunakan mata uang asing dalam hal penjualan jasa dan kas
yang dimiliki. Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan tidak terekspos terhadap pengaruh fluktuasi
nilai tukar mata uang asing dikarenakan transaksi penjualan jasa sebagian besar sudah menggunakan
tarif dalam mata uang Rupiah, yang juga merupakan mata uang utama untuk mencatatkan pendapatan
Perseroan. Perseroan mengelola risiko mata uang dengan memonitor fluktuasi nilai tukar mata uang
secara terus menerus.
55
VI. RISIKO USAHA
Investasi dalam Saham Yang Ditawarkan mengandung sejumlah risiko. Para calon investor harus
berhati-hati dalam mempertimbangkan seluruh informasi yang terdapat dalam Prospektus ini, khususnya
risiko-risiko usaha di bawah ini, dalam melakukan evaluasi sebelum membeli Saham Yang Ditawarkan.
Risiko tambahan yang saat ini belum diketahui atau dianggap tidak material oleh Perseroan juga dapat
berpengaruh material dan merugikan pada kegiatan usaha, arus kas, hasil operasi, kondisi keuangan
dan prospek usaha Perseroan. Harga Saham yang Ditawarkan Perseroan dapat turun dikarenakan salah
satu risiko ini, dan calon investor dapat kehilangan sebagian atau seluruh investasinya. Deskripsi
pada bagian ini yang berhubungan dengan Pemerintah, data makroekonomi Indonesia atau informasi
mengenai industri dimana Perseroan beroperasi, diperoleh dari publikasi resmi Pemerintah atau sumber
pihak ketiga lainnya yang tidak diverifikasi secara independen oleh Perseroan.
Risiko-risiko yang akan diungkapkan dalam uraian berikut merupakan risiko-risiko material bagi
Perseroan serta telah dilakukan pembobotan berdasarkan dampak dari masing-masing risiko terhadap
kinerja keuangan Perseroan dimulai dari risiko utama.
6.1.Risiko Terkait Kegiatan Usaha dan Industri
Perseroan beroperasi dalam industri yang bersaing dan terfragmentasi, dan ketidakmampuan untuk
bersaing secara efektif dapat berdampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha Perseroan
Industri layanan laboratorium klinik di Indonesia memiliki tingkat persaingan yang kompetitif dan
terfragmentasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk bersaing dengan penyedia
layanan laboratorium klinik lainnya meliputi, antara lain, kemampuan Perseroan untuk menawarkan
layanan sejenis, atau bahkan lebih unggul dibandingkan para pesaingnya; ragam pemeriksaan yang
disediakan oleh Perseroan; pengakuan atas produk dan jasa Perseroan dari penyedia layanan kesehatan
seperti rumah sakit, dokter dan lembaga/pihak lainnya; jangkauan geografis jaringan pelayanan
Perseroan; kemampuan Perseroan untuk memeriksa sampel dan membuat laporan hasil pemeriksaan
secara akurat dan tepat waktu; pengalaman Perseroan dan hubungan yang erat dengan pasien; serta
kualitas fasilitas dan layanan Perseroan. Lebih lanjut, iklim kompetisi di dalam industri ini bertambah
kompetitif dikarenakan Perseroan bersaing dengan semua penyedia layanan laboratorium klinik di
Indonesia, termasuk, antara lain, laboratorium yang ada di rumah sakit; laboratorium klinik independen;
laboratorium klinik skala kecil atau perusahaan layanan kesehatan diagnostik yang operasionalnya secara
lokal atau regional lebih mapan di wilayah tertentu; pesaing internasional yang dapat membuka layanan
atau memperluas operasionalnya yang sudah ada di Indonesia; dan pesaing baru, termasuk penyedia
pelayanan kesehatan lain, laboratorium patologi dan radiologi dan layanan perawatan pencegahan,
yang masing-masing sudah beroperasi di wilayah dimana Perseroan beroperasi atau akan beroperasi
di masa depan. Selain itu, meskipun Perseroan bersaing langsung dengan rumah sakit dan penyedia
pelayanan kesehatan lain, dikarenakan Perseroan adalah satu-satunya penyedia laboratorium klinik
dengan akses pada, atau dapat memberikan, pemeriksaan esoterik tertentu, beberapa laboratorium klinik
yang merupakan pesaing Perseroan dapat merujuk Perseroan untuk pemeriksaan-pemeriksaan tertentu.
Ketidakmampuan Perseroan untuk bersaing secara efektif pada salah satu atau lebih dari faktor-faktor
persaingan di atas, serta terhadap pesaing-pesaing baik yang terorganisir atau tidak terorganisir di
dalam industri ini, akan dapat memberikan dampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha,
kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Selain itu, dinamika kompetisi pada industri ini, khususnya persaingan yang berhubungan dengan
harga, mungkin akan lebih intensif di tahun-tahun mendatang, sehingga dapat memberikan dampak
material dan merugikan terhadap hasil operasi Perseroan, termasuk margin keuntungan Perseroan.
Sebagai contoh, sebagai akibat dari investasi besar dalam industri layanan laboratorium klinik dalam
beberapa tahun terakhir, jaringan laboratorium klinik lain telah mampu meningkatkan efisiensi biaya
dengan penggunaan peralatan pemeriksaan otomatis, sehingga mereka dapat menawarkan harga yang
lebih murah. Pesaing lama atau baru juga dapat memberikan harga layanan mereka dengan diskon yang
56
signifikan, atau menawarkan kenyamanan yang lebih baik atau menyediakan layanan dan fasilitas yang
lebih baik dari yang Perseroan berikan. Meningkatnya pembukaan laboratorium klinik sejenis mungkin
akan menekan harga yang sudah ditetapkan pada beberapa atau seluruh layanan Perseroan. Selain itu,
persaingan terkait harga dapat mengakibatkan daftar harga yang bervariasi pada berbagai wilayah di
Indonesia, yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketidakpuasan pasien. Lebih lanjut, rumah sakit
dimana dokter berpraktik umumnya meminta dokter tersebut merujuk pasien melakukan pemeriksaan
laboratorium di rumah sakit tersebut. Perseroan juga mungkin terpaksa harus melakukan perubahan
daftar harga, menghadapi penawaran yang lebih bersaing untuk layanan laboratorium klinik atau tindakan
atau bentuk tekanan lain yang dapat menurunkan harga jasanya.
Perseroan tidak dapat menjamin akan dapat terus mampu bersaing secara efektif dalam industri ini. Jika
untuk alasan tertentu Perseroan tidak dapat bersaing secara efektif, maka hal tersebut dapat berdampak
material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Kemampuan Perseroan untuk menarik pasien perorangan sebagian besar bergantung pada tingkat
pendapatan dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan serta keinginan masyarakat menyisihkan
pendapatan untuk pengeluaran perawatan kesehatan, yang mana hal-hal tersebut dapat menurun
sebagai akibat berbagai faktor
Sumber penghasilan utama Perseroan berasal dari pelanggan individu dan pelanggan dengan referensi
dokter. Pelanggan seperti ini umumnya membayar jasa diagnosa medik secara tanggungan sendiri (outof-pocket). Pertumbuhan pelanggan ini bergantung pada pengakuan akan merek Prodia, penerimaan
masyarakat yang lebih luas akan layanan Prodia di tempat dimana Perseroan beroperasi dan kemampuan
Perseroan untuk bersaing secara efektif dalam industri ini, semua hal ini dapat mempengaruhi Perseroan
secara negatif karena berbagai alasan. Sebagai contoh, keputusan individu untuk menggunakan
layanan kesehatan bisa dipengaruhi oleh kurang majunya sektor asuransi kesehatan yang maju program
Pemerintah yang tepat untuk menutup biaya perawatan kesehatan. Selain itu, mengingat saat ini hanya
sebagian kecil masyarakat di Indonesia yang menggunakan asuransi kesehatan, pelanggan di Indonesia
umumnya menanggung seluruh atau sebagian biaya layanan laboratorium klinik secara out-of-pocket,
yang berarti bahwa apabila terjadi penurunan penghasilan yang dapat disisihkan untuk pengeluaran
kebutuhan perawatan kesehatan, atau bahkan persepsi adanya penurunan penghasilan, seperti dalam
periode krisis ekonomi, akan dapat menyebabkan penurunan pengeluaran individu untuk jasa layanan
kesehatan. Selain itu, Perseroan tidak dapat menjamin bahwa meningkatnya tren kesadaran kesehatan
di masyarakat saat ini dan permintaan terhadap layanan-layanan perawatan kesehatan preventif akan
terus meningkat, atau bahkan dapat berbalik arah. Setiap alasan tersebut di atas dapat mempengaruhi
kemampuan Perseroan untuk dapat mempertahankan atau meningkatkan pertumbuhan pelanggan
individu, yang selanjutnya dapat berdampak merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan,
hasil dan prospek usaha Perseroan.
Kepercayaan dan keyakinan pelanggan Perseroan terhadap merek “Prodia” merupakan hal
yang sangat penting bagi kegiatan usaha Perseroan, dan kegagalan untuk membangun atau
mempertahankan kepercayaan terhadap merek Prodia serta kualitas layanan laboratorium klinik
Prodia akan dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis Perseroan
Reputasi merek “Prodia” merupakan hal yang mendasar bagi seluruh aspek dalam bisnis Perseroan.
Merek “Prodia”, sebaliknya, bergantung pada kualitas dan kepercayaan pelanggan terhadap layanan
laboratorium klinik Perseroan, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kemampuan Perseroan
untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas serta efisiensi pemeriksaan laboratorium klinik dan
layanan yang sudah ada serta kemampuan Perseroan untuk memperkenalkan pemeriksaan-pemeriksaan
laboratorium dan layanan yang baru dengan tingkat kualitas dan efisiensi yang tinggi, serta menjaga
hubungan baik dan pengakuan dari profesional medik dan penyedia pelayanan kesehatan lainnya. Selain
itu, kualitas dan reputasi layanan Perseroan dapat dirugikan jika ahli patologi klinik, flebotomist,
ahli teknologi medik dan profesional medik lainnya yang dipekerjakannya tidak terlatih dengan baik;
jika mereka membuat kesalahan dalam penanganan dan pelabelan sampel milik pelanggan dan dalam
pengoperasian peralatan laboratorium klinik yang kompleks meskipun terlatih dengan baik; jika
mereka menyalahgunakan atau tidak efektif dalam mempergunakan peralatan laboratorium klinik yang
57
kompleks di laboratorium Perseroan; atau jika mereka mengambil spesimen dari pelanggan dengan cara
yang salah sehingga menyebabkan luka atau mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk melakukan
pemeriksaan yang diperlukan.
Lebih lanjut, terdapat beberapa risiko khusus yang melekat pada bisnis layanan laboratorium klinik.
Layanan yang ditawarkan di laboratorium klinik Perseroan bertujuan untuk memberikan informasi
kepada penyedia layanan kesehatan agar dapat merawat pasien mereka dan kepada individu yang peduli
dengan kesehatan mereka atau bermaksud melakukan tindakan pencegahan penyakit dan kondisi medik
lainnya. Adanya keterlambatan atau ketidakakuratan dalam hasil pemeriksaan laboratorium Perseroan
(termasuk hasil pemeriksaan “positif palsu” atau “negatif palsu”) dapat berakibat pada dilakukannya
tindakan medik yang salah dan dapat menyebabkan stres yang tidak seharusnya dan berpotensi
membahayakan bagi pasien. Selain itu, model bisnis hub-and-spoke yang diterapkan oleh Perseroan
membutuhkan dukungan transportasi yang andal untuk pengiriman spesimen dan/atau sampel jarak jauh.
Kegagalan untuk melacak spesimen dan/atau sampel atau menerapkan prosedur transportasi yang tepat
dapat meningkatkan risiko spesimen dan/atau sampel menjadi terkontaminasi, rusak atau kesalahan
lainnya. Oleh karena itu, pengguna layanan laboratorium klinik Perseroan lebih sensitif terhadap
suatu kesalahan dibandingkan pengguna layanan atau produk yang tidak dimaksudkan untuk diagnosa,
perawatan, dan pencegahan penyakit. Selain itu, sertifikasi kualitas dan akreditasi yang dimiliki saat ini
oleh Perseroan merupakan hal yang sangat penting bagi reputasi merek Prodia. Jika di kemudian hari
layanan pemeriksaan dan laboratorium klinik Perseroan gagal untuk memenuhi standar akreditasi atau
Perseroan gagal beradaptasi mengikuti perkembangan standar diagnostik, Perseroan dapat kehilangan
satu atau lebih akreditasi yang dimiliki, dimana hal tersebut dapat berdampak material dan merugikan
terhadap reputasi dan bisnis Perseroan. Demikian pula halnya jika terjadi kelalaian dalam melakukan
proses pemeriksaan laboratorium klinik yang dapat menyebabkan cedera atau efek samping lainnya,
Perseroan dapat harus bertanggung jawab sesuai peraturan layanan kesehatan atau ketentuan hukum
lainnya atas tindakan atau kelalaian yang disebabkan oleh karyawannya.
Setiap kesalahan atau kelalaian tersebut, tindakan kecerobohan, gugatan hukum atau faktor lainnya
dapat mengakibatkan biaya yang signifikan serta publikasi negatif yang akan mengurangi kepercayaan
pelanggan terhadap kualitas layanan laboratorium klinik Perseroan dan merek Prodia. Terjadinya salah
satu atau lebih kejadian kelalaian tersebut atau terjadinya salah satu risiko tersebut dapat berdampak
negatif terhadap merek Prodia dan berdampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, keadaan
keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan. Selanjutnya, terkait dengan rencana Perseroan untuk
memperluas pasar di beberapa wilayah baru di Indonesia, dan seiring dengan semakin kompetitifnya
industri laboratorium klinik, maka mempertahankan dan meningkatkan citra merek Prodia mungkin
akan menjadi semakin sulit dan mahal.
Kesuksesan Perseroan sangat bergantung pada kemampuan Perseroan dalam mempertahankan
hubungan baik dan pengakuan dari profesional medik yang merujuk dan merekomendasikan layanan
Perseroan. Kegagalan menjaga hubungan baik atau tingkat kepercayaan yang tinggi di kalangan
profesional medik terhadap layanan Perseroan dapat berdampak material dan merugikan terhadap
bisnis Perseroan
Perseroan menjaga hubungan baik dengan banyak dokter umum, dokter spesialis dan profesional medik
lainnya. Pendapatan dari referensi dokter mewakili 33,0%, 34,7%, 33,3%, 34,9% dan 35,7% dari total
pendapatan masing-masing pada tahun 2013, 2014 dan 2015 dan untuk periode enam bulan yang berakhir
30 Juni 2015 dan 2016. Perseroan meyakini bahwa permintaan pemeriksaan dan layanan Perseroan
bergantung secara signifikan pada kepercayaan yang diberikan oleh para profesional medik yang
merekomendasikan layanan Perseroan. Kode Etik Kedokteran Indonesia melarang pembayaran komisi
kepada dokter untuk rujukan, karena hal tersebut dipandang dapat mengakibatkan hilangnya kebebasan
dan kemandirian profesi dokter. Namun demikian, di beberapa lokasi Perseroan menyewa ruang dari
dokter dan klinik untuk digunakan oleh Perseroan sebagai outlet POC Perseroan, dan Perseroan memiliki
skema bagi hasil dengan beberapa rumah sakit untuk pengoperasian laboratorium milik Perseroan di
rumah sakit tersebut. Selain itu, Perseroan menjadi sponsor acara dan konferensi yang ditargetkan
untuk para dokter dan riset ilmiah dari para dokter. Upaya pemasaran Perseroan dalam porsi signifikan
berfokus untuk memperluas pengetahuan para dokter dan profesional medik mengenai perkembangan
terbaru dalam dunia laboratorium klinik dan kedokteran secara umum. Kegagalan untuk mempertahankan
58
hubungan baik yang sudah ada, mengembangkan hubungan baru dan/atau mempertahankan mutu yang
tinggi atas reputasi profesional akan berdampak terhadap penurunan jumlah pelanggan yang dirujuk
kepada Perseroan dan karenanya dapat menurunkan pendapatan Perseroan. Jika program pemasaran
ataupun sosialisasi dengan dokter tidak berjalan dengan efektif dalam membangun loyalitas dokter atau
bahkan dihentikan, Perseroan mungkin dapat mengalami penurunan sebagian atau seluruh pendapatan
dari pelanggan rujukan dokter. Terjadinya salah satu dari hal-hal tersebut dapat berdampak material
dan merugikan terhadap bisnis, keadaan keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Perseroan mungkin tidak dapat mengimplementasikan atau mengendalikan strategi ekspansinya
dengan memuaskan.
Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan, Perseroan berencana membangun dan membuka beberapa
laboratorium klinik baru, termasuk empat laboratorium rujukan dan maksimum 33 laboratorium klinik dan
sejumlah POC Collection Center dan laboratorium rumah sakit baru, di samping melakukan peningkatan
pelayanan (upgrade) dan relokasi atas sejumlah laboratorium klinik yang sudah ada. Perseroan juga
akan mulai menawarkan layanan kesehatan preventif dan wellness di beberapa laboratorium klinik.
Perseroan akan membutuhkan pendanaan yang signifikan untuk mendukung rencana ini selama tahapan
pembangunan dan memerlukan modal kerja awal saat pembukaan laboratorium klinik tersebut, di mana
hal tersebut dapat berdampak material terhadap hasil usaha Perseroan. Kemampuan Perseroan untuk
dapat melaksanakan rencana ekspansi ini dengan sukses, jika berhasil mewujudkannya, akan bergantung
pada beberapa faktor, termasuk antara lain:
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
kemampuan Perseroan untuk mengidentifikasi lokasi yang tepat, sedangkan ketersediaan lokasi
merupakah hal yang di luar kendali Perseroan;
kemampuan Perseroan untuk mendidik/memperluas wawasan masyarakat dan calon pelanggan akan
manfaat dari pemeriksaan dan layanan yang Perseroan tawarkan;
cabang baru Perseroan mungkin akan menarik pelanggan dari cabang-cabang yang sudah ada,
sehingga mengurangi pendapatan cabang yang sudah ada;
keberhasilan mengintegrasikan pengoperasian laboratorium dan fasilitas baru ke dalam sistem
operasi yang sudah ada;
diperolehnya atau diperbaharuinya persetujuan dan perizinan yang diperlukan sesuai undang-undang
dan peraturan yang berlaku;
mengembangkan hubungan dengan dokter, rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan lainnya
setempat;
ketersediaan fasilitas pendanaan dengan persyaratan dan biaya yang memadai yang dibutuhkan
untuk mendanai pembangunan atau akuisisi atau menyelesaikan rencana ekspansi;
tertundanya penyelesaian pembangunan atau akuisisi karena hal-hal yang tak terduga;
kemampuan Perseroan dalam menegosiasikan syarat seewa menyewa yang secara komersial
menguntungkan;
memperluas kesadaran merek “Prodia” di wilayah-wilayah layanan yang baru;
permintaan akan layanan Perseroan;
kemampuan Perseroan mempersiapkan/melatih dan mengelola karyawan yang sudah ada dan baru;
dan
kondisi ekonomi secara umum.
Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan akan dapat melaksanakan rencana bisnisnya, dan, jika
berhasil mewujudkannya, Perseroan akan dapat menyelesaikan rencana bisnisnya sesuai anggaran dan
target jadwalnya, mencapai tingkat pengembalian investasi yang memadai atau berhasil mempertahankan
tingkat pertumbuhan saat ini atau di masa mendatang. Bahkan jika Perseroan mampu melaksanakan
dengan baik sebagian atau seluruh inisiatif strategi bisnis, hasil operasi Perseroan belum tentu meningkat
sejauh yang sudah direncanakan, atau bahkan sama sekali.
Selain itu, meskipun Perseroan berhasil memperoleh bisnis baru, kegagalan dalam mengelola
pertumbuhan kinerja dapat berdampak merugikan terhadap kondisi keuangan Perseroan. Perseroan
dapat mengalami masa dimana tingkat pertumbuhannya sangat cepat, dan jika Perseroan tidak mampu
mengelola pertumbuhan tersebut secara efektif, bisnis dan kondisi keuangan Perseroan dapat terbebani
secara material. Tingkat pertumbuhan Perseroan tersebut dapat memberikan tekanan signifikan pada
59
tim manajemen, operasional serta sistem dan sumber daya keuangan. Agar pengelolaan pertumbuhan
Perseroan berlangsung secara efektif, Perseroan akan terus menerapkan dan meningkatkan kontrol
terhadap operasional perusahaan, keuangan dan manajemen, sistem pelaporan dan prosedur. Selain
itu, Perseroan harus secara efektif mengembangkan, melatih dan mengelola para karyawan. Perseroan
akan mengalami masalah dalam mengelola bisnisnya secara efektif jika Perseroan gagal mengurangi
tekanan pada sumber daya yang dimilikinya yang disebabkan oleh pertumbuhan dalam waktu yang
singkat dan dengan cara yang tepat.
Perseroan mungkin tidak mampu mengembangkan atau gagal memasarkan pemeriksaan dan layanan
baru
Keberhasilan usaha Perseroan tergantung pada kemampuannya untuk mengantisipasi tren industri dan
mengidentifikasi, mengembangkan dan memasarkan secara tepat waktu dan dengan biaya yang memadai
pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium klinik dan layanan bernilai tambah baru yang memenuhi
permintaan pelanggan. Sebagai contoh, Perseroan merupakan laboratorium klinik pertama di Indonesia
yang memperkenalkan pemeriksaan Apolipoprotein B untuk profil lipid, pemeriksaan penyakit menular,
pemeriksaan hormon, dan tanda-tanda osteoporosis. Pengembangan pemeriksaan baru pada waktu yang
tepat dan biaya yang memadai merupakan tantangan dalam penanganannya, terutama karena belum
adanya permintaan akan pemeriksaan tersebut di Indonesia dan keberhasilan secara komersial untuk
pemeriksaan baru tersebut bergantung pada penerimaan pelanggan terhadap pemeriksaan baru tersebut.
Pemahaman Perseroan terhadap pasar dan perkembangan preferensi pelanggan belum tentu menghasilkan
pemeriksaan laboratorium baru yang sukses secara komersial. Perseroan juga mungkin dapat mengalami
keterlambatan atau tidak berhasil dalam setiap tahapan pengembangan, pengenalan dan pelaksanaan
layanan atau pemeriksaan baru. Perseroan mungkin gagal dalam memasarkan pemeriksaan laboratorium
baru atau pelanggan akhir Perseroan tidak memberikan respon yang baik terhadap pemeriksaan
laboratorium baru tersebut. Selain itu, kemampuan pesaing dalam mengembangkan pemeriksaan baru
mungkin lebih efektif daripada Perseroan, atau pemeriksaan baru yang mereka kembangkan mencapai
pasar lebih dahulu dibanding Perseroan. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pesaing tersebut
mungkin juga lebih efektif atau lebih murah dibandingkan yang ditawarkan Perseroan. Peluncuran
pemeriksaan laboratorium baru atau pemeriksaan laboratorium sejenis yang dilakukan oleh pesaing
dapat menyebabkan Perseroan terpaksa harus menurunkan harga atau mengurangi marjin keuntungan
atau kehilangan pangsa pasar. Pemeriksaan laboratorium baru yang ditawarkan oleh Perseroan dapat
berdampak terhadap marjin laba kotor tergantung pada tingkat penerimaan pasar dan persaingan harga
untuk setiap jenis pemeriksaan dan layanan.
Keberhasilan setiap pemeriksaan baru bergantung pada beberapa faktor, diantaranya kemampuan:
•
•
•
•
•
•
•
mengoptimalkan proses pengadaan barang dan sumber daya manusia agar dapat mengantisipasi
kenaikan biaya dan mengendalikan biaya;
mengintegrasikan layanan baru ke dalam jaringan Perseroan secara tepat waktu;
meminimalisasi waktu dan biaya yang diperlukan dalam proses memperoleh izin atau persetujuan
sebagaimana diatur dalam peraturan;
mengantisipasi dan bersaing secara efektif dengan pesaing, termasuk menentukan harga layanan
yang kompetitif;
meningkatkan kesadaran pelanggan dan penerimaannya terhadap layanan Perseroan;
mengkomunikasikan manfaat klinik dari pemeriksaan-pemeriksaan baru kepada pelanggan dan
dokter; dan
memberikan pengetahuan kepada calon pelanggan tentang fitur dan manfaat dari pemeriksaanpemeriksaan baru.
Jika Perseroan tidak dapat mengembangkan layanan baru tersebut pada waktu yang tepat untuk memenuhi
permintaan pasar, atau jika permintaan untuk layanan baru tersebut tidak cukup, hal tersebut dapat
berdampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja dan prospek
usaha Perseroan.
60
Terjadinya gangguan di fasilitas Lab PRN dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam
memproses pemeriksaan klinik dan pemeriksaan yang sangat kompleks
Perseroan melakukan sebagian pemeriksaan laboratorium klinik di dalam fasilitas Lab PRN, termasuk
pemeriksaan yang lebih kompleks dan secara substansial semua pemeriksaan khusus yang saat ini
ditawarkan oleh Perseroan. Pada tahun 2013, 2014 dan 2015, Perseroan melakukan masing-masing
sekitar 11,4%, 11,4% dan 11,0% dari seluruh pemeriksaan di fasilitas Lab PRN. Agar bisnis Perseroan
berfungsi normal, semuanya bergantung secara signifikan tidak hanya pada karyawan, tapi juga pada
operasional yang terus menerus dan tidak terputus dari Lab PRN milik Perseroan. Secara khusus,
Perseroan mengandalkan peralatan pengujian otomatis, yaitu mesin WorkCell merek Siemens, yang
melakukan banyak pemeriksaan darah rutin, untuk melakukan pemeriksaan dengan cepat dan efisien.
Jika fasilitas ini mengalami gangguan atau gagal berfungsi, baik sebagian atau keseluruhan, dikarenakan
kebakaran, bencana alam atau faktor-faktor lain atau kecelakaan di luar kendali maupun dalam kendali
Perseroan, maka hal ini dapat berdampak material dan merugikan terhadap kemampuan Perseroan untuk
menyediakan layanan laboratorium klinik atau mengakibatkan layanan laboratorium klinik ditangguhkan
untuk waktu yang tidak terbatas. Meskipun Perseroan telah membangun laboratorium rujukan regional
di Surabaya dan berencana untuk membangun tiga laboratorium rujukan tambahan dalam beberapa
tahun mendatang, Perseroan tidak berharap laboratorium tersebut akan memiliki pilihan pemeriksaan
dan layanan yang sama dengan Lab PRN. Dalam hal terjadi gangguan operasional fasilitas Lab PRN,
Perseroan mungkin memutuskan untuk mengalihkan pemeriksaan klinik dalam jumlah volume besar ke
pihak lain, sehingga keandalan pelayanan Perseroan secara baik dan efisien tidak dapat dipertahankan,
dan selanjutnya dapat menyebabkan kehilangan pelanggan dan mungkin menghadapi peningkatan biaya
yang signifikan untuk memproses pemeriksaan, transportasi dan logistik. Setiap kegagalan, kerusakan
atau matinya mesin-mesin di fasilitas Lab PRN, baik sebagian atau seluruhnya, dapat berdampak material
dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Setiap keluhan pelanggan atau litigasi terhadap Perseroan karena pelayanan yang diberikan oleh
Perseroan atau lainnya dapat merusak reputasi dan merek Prodia, menimbulkan biaya perkara yang
material, putusan ganti rugi yang substansial terhadap Perseroan dan mengalihkan perhatian manajemen
dari operasional Perseroan, dan masing-masing hal ini dapat berdampak material dan merugikan terhadap
kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Laboratorium Perseroan terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga menyebabkan Perseroan menjadi
sensitif terhadap kondisi dan perubahan peraturan, ekonomi, lingkungan dan iklim kompetisi di
wilayah tersebut
Meskipun layanan Perseroan tersebar di seluruh Indonesia, sebagian besar berada di Pulau Jawa
(dikelompokan berdasarkan wilayah sebagai Wilayah III hingga Wilayah VI dalam laporan keuangan
Perseroan), dimana terdapat Lab PRN, 73 laboratorium klinik, 93 outlet POC dan tujuh laboratorium
rumah sakit di seluruh wilayah Jawa. Operasional Perseroan di Pulau Jawa secara historis telah
menyumbangkan porsi yang substansial dari seluruh pendapatan Perseroan. Untuk tahun yang berakhir
pada 31 Desember 2015, Wilayah III hingga VI mewakili 75,2% dari jumlah pendapatan Perseroan
dari pelanggan pihak ketiga. Konsentrasi ini membuat Perseroan menjadi sensitif terhadap kondisi dan
perubahan peraturan, ekonomi, lingkungan dan iklim kompetisi di wilayah-wilayah tersebut. Setiap
perubahan material terkait prosedur pembayaran atau kondisi peraturan, ekonomi, lingkungan atau
iklim kompetisi di wilayah Pulau Jawa dari kondisi saat ini dapat berdampak signifikan terhadap bisnis,
kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Perseroan menerapkan model bisnis hub-and-spoke. Kegagalan atau keterlambatan dalam pengiriman
spesimen dan/atau sampel ke laboratorium Perseroan dapat berpengaruh buruk terhadap atau
merusak spesimen dan/atau sampel pemeriksaan sehingga dapat dapat mempengaruhi bisnis, kondisi
keuangan, hasil usaha dan arus kas Perseroan
Proses pengumpulan spesimen melibatkan kegiatan pendistribusian yang tersebar luas dan padat karya,
dan tergantung pada keahlian dan fokus dari karyawan ujung tombak dan penyedia sarana transportasi,
seperti kurir pihak ketiga. Proses ini juga bertambah sulit dikarenakan Indonesia adalah suatu negara
61
kepulauan yang luas. Setiap kejadian kesalahan akibat tertukarnya sampel, kehilangan atau kesalahan
dalam proses pengumpulan sampel dapat mengakibatkan pemeriksaan memberikan hasil yang salah
atau tanpa hasil, dan hal ini dapat berdampak merugikan terhadap reputasi dan bisnis Perseroan.
Perseroan bergantung pada kelancaran pengiriman spesimen dari berbagai tempat ke fasilitas
laboratorium klinik Perseroan, dimana proses logistik ini dipengaruhi oleh berbagai ketidakpastian dan
risiko. Tantangan utama dalam operasional jaringan laboratorium adalah menjaga integritas sampel
dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium yang
berada jauh dari tempat pengambilan spesimen atau ditempat yang sulit terjangkau dari outlet POC.
Pengambilan, transportasi dan pengiriman spesimen sesuai waktunya bergantung pada berbagai faktor di
luar kendali Perseroan, termasuk cuaca dan kondisi jalan dan penundaan jadwal transportasi. Gangguan
dalam layanan transportasi yang berhubungan dengan cuaca, pemogokan, penutupan, terorisme, hambatan
lain dalam infrastruktur jalan dan pelabuhan, atau kejadian lainnya dapat mempengaruhi kemampuan
Perseroan dalam menerima spesimen dan/atau sampel pemeriksaan atau atau bahan uji lainnya dan
mengeluarkan hasil pemeriksaan kepada pelanggan secara tepat waktu.
Selain itu, Perseroan mengandalkan jasa kurir pihak ketiga untuk pengiriman antar kota dan antar
daerah, dimana hal ini terkadang dapat mengakibatkan Perseroan mengalami kehilangan spesimen,
tertundanya dan inefisiensi pengiriman yang seluruhnya di luar kendali Perseroan. Jika Perseroan tidak
dapat mengirimkan spesimen ke laboratorium klinik untuk pengujian secara tepat waktu, integritas
spesimen dapat terganggu, atau pelaporan hasil pemeriksaan kepada pelanggan mungkin terlambat,
yang mana hal tersebut dapat berdampak merugikan terhadap reputasi Perseroan dan mengakibatkan
hilangnya pelanggan dan pendapatan dan pada akhirnya dapat berdampak merugikan terhadap bisnis,
kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan. Lebih lanjut, spesimen untuk pemeriksaan dapat
hilang, rusak atau terkontaminasi akibat kesalahan penanganan dalam pengiriman. Dalam hal spesimen
tersebut hilang, rusak atau terkontaminasi, Perseroan mungkin harus mengeluarkan biaya tambahan,
seperti biaya untuk melakukan pemeriksaan ulang, tanggung jawab hukum akibat mengeluarkan hasil
yang salah atau keterlambatan memproses tes yang penting, dan merusak reputasi dan bisnis Perseroan.
Perubahan terkait atau ketidakpatuhan dengan peraturan pemerintah dapat berdampak negatif
terhadap bisnis Perseroan
Pelayanan kesehatan merupakan bidang usaha yang diatur oleh berbagai peraturan pemerintah dengan
ketat dan perubahannya yang dinamis. Laboratorium klinik, klinik khusus dan POC Collection Center
Perseroan, ahli patologi klinik, flebotomist, ahli teknologi medik, dan profesional medik lainnya tunduk
pada peraturan perundang-undangan, termasuk namun tidak terbatas pada perizinan, inspeksi fasilitas
dan pembuangan limbah medik. Pemerintah dan lembaga berwenang lainnya secara berkala dapat
melakukan inspeksi untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan tersebut.
Perseroan wajib memiliki berbagai izin atau persetujuan dari instansi berwenang untuk melakukan
kegiatan usahanya, termasuk, antara lain, izin-izin korporasi umum, izin pendirian dan izin
penyelenggaraan laboratorium klinik, izin-izin peralatan dan izin-izin laboratorium tertentu. Perseroan
harus memperbaharui semua izin dan persetujuan ketika berakhir, serta memperoleh izin dan persetujuan
baru untuk setiap pembukaan laboratorium klinik di lokasi baru, yang menawarkan layanan tambahan,
seperti Klinik PHC dan laboratorium khusus Perseroan. Tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan
mampu mendapatkan setiap izin yang diperlukan namun belum diperoleh dan saat ini sedang tertunda
atau izin yang diperlukan untuk diperoleh di masa depan. Sebagai contoh, karena kesulitan dalam
memperoleh izin penyelenggaraan laboratorium klinik berdasarkan pelaksanaan peraturan yang berbeda
di setiap daerah atau kota, beberapa izin tertentu terkait laboratorium klinik Perseroan telah berakhir
ketika Perseroan masih dalam proses pengajuan izin baru. Perseroan dapat dikenakan sanksi akibat
kegagalan memperbaharui izin tersebut sebelum berakhir atau untuk mendapatkan izin lainnya yang
diperlukan, sehingga dapat secara material mempengaruhi bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan
prospek Perseroan. Jika Perseroan gagal untuk mendapatkan, mempertahankan atau memperbaharui izin
atau persetujuan pemerintah pusat atau pemerintah propinsi atau daerah untuk melakukan bisnisnya,
maka hal ini dapat berdampak material dan merugikan terhadap kondisi keuangan, hasil usaha dan
prospek Perseroan. Secara khusus, Perseroan harus mematuhi sejumlah peraturan pemerintah terkait
layanan laboratorium klinik tertentu yang ditawarkan Perseroan kepada para pelanggan. Setiap
62
perubahan peraturan atau penambahan aturan atau peraturan baru yang lebih ketat dapat berdampak
merugikan terhadap lingkup layanan kepada pelanggan Perseroan atau menyebabkan peningkatan
biaya penyediaan layanan kepada pelanggan Perseroan. Meskipun Perseroan belum pernah dikenakan
sanksi atas pelanggaran di masa lalu, Perseroan dapat dikenakan denda dan sanksi lain di masa depan
jika Perseroan tidak dapat memenuhi ketentuan dan peraturan yang relevan. Jika Perseroan tidak dapat
memenuhi ketentuan sesuai peraturan yang berlaku, sanksi atau hukuman yang diakibatkannya dapat
berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan.
Selain itu, Perseroan mungkin melakukan pelanggaran teknis terhadap peraturan nasional dan daerah
sebagai akibat dari penerapan, implementasi dan interpretasi yang beragam atas peraturan nasional
dan daerah pada tingkat lokal. Lebih lanjut, Perseroan mungkin tidak dapat mematuhi peraturanperaturan tersebut dikarenakan kondisi di luar kendali Perseroan. Sebagai contoh, sesuai dengan
Peraturan Menteri Kesehatan No. 411 Tahun 2010 tentang Laboratorium Klinik (“PerMenKes No.
411/2010”), Perseroan diwajibkan untuk menyampaikan laporan per kuartal kepada otoritas lokal.
Namun, pada wilayah tertentu, otoritas lokal telah menolak untuk menerima laporan dari Perseroan
karena mereka belum menerapkan prosedur operasional standar internal secara penuh untuk menerima
dan memeriksa laporan tersebut. Demikian pula, sesuai dengan Pasal 6 (b) PerMenKes No. 411/2010,
semua laboratorium klinik diwajibkan untuk mendapatkan akreditasi berdasarkan Komite Akreditasi
Laboratorium Kesehatan (“KALK”). Namun demikian, banyak lembaga kesehatan lokal yang berwenang
belum mengimplementasikan akreditasi KALK secara penuh di yurisdiksi terkait. Sebagai hasilnya,
meskipun Perseroan telah merancang standar kualitas Perseroan untuk ISO 15189, yang Perseroan
percaya memberikan lebih banyak persyaratan-persyaratan spesifik dibandingkan dengan persyaratan
akreditasi KALK, Perseroan tidak dapat untuk mengajukan untuk atau menerima akreditasi KALK untuk
beberapa laboratorium Perseroan. Laboratorium klinik harus telah menyesuaikan dengan PerMenKes
No. 411/2010 dalam jangka waktu dua tahun. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan PerMenKes No.
411/2010 dapat dikenakan tindakan administratif berupa (i) teguran lisan; (ii) teguran tertulis; atau (iii)
pencabutan izin. Perseroan juga menghadapi beberapa permasalahan sejenis terkait standar lingkungan
hidup yang berlaku di wilayah setempat untuk izin-izin lingkungan atas laboratorium Perseroan, dimana
Perseroan belum dapat memperoleh jenis izin tertentu dibandingkan dengan apa yang diwajibkan untuk
diperoleh Perseroan berdasarkan undang-undang dan peraturan lingkungan yang relevan dikarenakan
penerapan standar yang tidak sama di setiap daerah. Walaupun Perseroan yakin bahwa standar kontrol
kualitas dan kepatuhan lingkungan yang diterapkannya telah cukup untuk memenuhi peraturan-peraturan
di Indonesia, Perseroan mungkin, dan akan terus, berada dalam kondisi melakukan pelanggaran teknis
atas peraturan tersebut. Oleh karena itu, tidak terdapat jaminan bahwa pelanggaran teknis tersebut,
baik secara masing-masing maupun keseluruhan, tidak akan membawa dampak buruk terhadap bisnis,
kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan.
Lebih lanjut, Perseroan saat ini tidak taat terhadap Daftar Negatif Investasi Tahun 2014 dan Daftar
Negatif Investasi Tahun 2016 (sebagaimana didefinisikan di bawah ini) terkait penyelenggaraan
Klinik PHC di Pekanbaru. Berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia, klinik dibagi
menjadi (i) klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar untuk pelanggan dan (ii) klinik yang
menyelenggarakan pelayanan medik khusus untuk pelanggan. Pada bulan September 2015, Perseroan
memperoleh izin operasional klinik untuk pelayanan kesehatan dasar dari pemerintah daerah Pekanbaru
untuk, dan memulai kegiatan operasi Klinik PHC. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun
2014 tentang Klinik (“PerMenKes 9/2014”), izin ini merujuk pada izin klinik pratama. Namun demikian,
sesuai dengan Peraturan Presiden No. 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan
Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal (“Daftar Negatif Investasi
Tahun 2014”) yang berlaku pada saat Perseroan memperoleh izin operasional klinik (untuk Pekanbaru)
dan memulai kegiatan operasional Klinik PHC, dan Peraturan Presiden No. 44 Tahun 2016 tentang
Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang
Penanaman Modal (“Daftar Negatif Investasi Tahun 2016”), yang mengubah Daftar Negatif Investasi
Tahun 2014, pihak asing dilarang untuk memiliki penyertaan pada klinik yang menyelenggarakan hanya
pelayanan medik dasar kepada pelanggan. Dengan mempertimbangkan bahwa Perseroan (i) memiliki
pemegang saham berbadan hukum asing melalui Bio Majesty Pte. Ltd., yang didirikan di Singapura,
pada saat Perseroan mulai menyelenggarakan Klinik PHC dan (ii) saat ini memiliki pemegang saham
berbadan hukum asing, Perseroan (i) tidak patuh terhadap Daftar Negatif Investasi Tahun 2014 pada
saat Perseroan mulai menyelenggarakan Klinik PHC dan (ii) saat ini tidak patuh terhadap Daftar Negatif
63
Investasi Tahun 2016. Untuk memenuhi ketentuan dalam Daftar Negatif Investasi Tahun 2016, Perseroan
saat ini dalam proses mengajukan permohonan ke Menteri Kesehatan untuk meningkatkan izin pada
klinik tersebut menjadi izin klinik utama untuk pelayanan medik spesialistik yang akan memberikan
kualifikasi untuk menyediakan pelayanan medik khusus dan pelayanan medik dasar, dimana kegiatan
ini dapat dilakukan oleh Perseroan berdasarkan Daftar Negatif Investasi Tahun 2016. Berdasarkan
PerMenKes 9/2014, izin ini merujuk pada izin klinik utama. Setelah pelaksanaan Penawaran Umum
Saham Perdana, yang akan mengakibatkan Perseroan menjadi perusahaan publik, Daftar Negatif
Investasi Tahun 2016 menjadi tidak berlaku terhadap Perseroan sepanjang Perseroan tidak dikendalikan
oleh pihak asing. Apabila Perseroan tidak berhasil memperoleh izin klinik utama dan Daftar Negatif
Investasi Tahun 2016 ditegakkan terhadap Perseroan oleh Pemerintah, Perseroan mungkin dilarang
untuk mengoperasikan Klinik PHC yang telah ada dan izin klinik pratama untuk Klinik PHC ini dapat
dicabut. Tidak ada jaminan bahwa Perseroan dapat memperoleh izin klinik utama. Apabila izin klinik
pratama saat ini dicabut, hal ini dapat berdampak merugikan terhadap merek “Prodia” karena dianggap
tidak patuh terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dan pada akhirnya dapat berdampak material
dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan.
Kemajuan teknologi dapat mendorong perkembangan teknologi untuk pemeriksaan laboratorium
yang lebih murah atau pemeriksaan laboratorium klinik non-invasif sehingga dapat mengurangi
permintaan terhadap layanan atau marjin Perseroan
Kemajuan teknologi dapat meningkatkan perkembangan teknologi di bidang laboratorium klinik
terkait cara yang lebih efisien dalam pelaksanaan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan klinik
non-invasif yang lebih praktis dan lebih murah dibandingkan layanan yang ditawarkan Perseroan
saat ini, seperti peralatan untuk melakukan pemeriksaan di tempat pelayanan yang dapat dilakukan
oleh dokter atau penyedia pelayanan kesehatan lain atau oleh pelanggan sendiri tanpa bantuan dari
laboratorium klinik. Perkembangan teknologi tersebut dan aplikasinya oleh pelanggan Perseroan
dapat mengurangi permintaan untuk layanan laboratorium klinik atau berdampak pada harga atas
layanan Perseroan dan dapat berdampak negatif terhadap pendapatan Perseroan. Selanjutnya, produsen
peralatan laboratorium dan perlengkapan pemeriksaan dapat berusaha untuk meningkatkan penjualan
mereka dengan memasarkan peralatan laboratorium untuk melakukan pemeriksaan di tempat pelayanan
kepada dokter dan menjual peralatan pemeriksaan di rumah untuk penggunaan sendiri kepada para
dokter dan pasien. Peningkatan layanan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter di klinik mereka dan
di rumah-rumah oleh pasien dapat mempengaruhi pasar untuk layanan laboratorium klinik Perseroan
dan selanjutnya dapat berdampak negatif terhadap pendapatan Perseroan. Sebagai contoh, Perseroan
mungkin tidak dapat menerapkan harga yang kompetitif terhadap pemeriksaan-pemeriksaan yang saat
ini memberikan kontribusi substansial terhadap pendapatan Perseroan jika perkembangan teknologi
menyebabkan pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di tempat pelayanan kesehatan atau jika pemeriksaan
khusus tertentu menjadi pemeriksaan rutin, sehingga Perseroan tidak dapat menerapkan harga yang
premium terhadap pemeriksaan tersebut. Selain itu, bertambahnya ketersediaan peralatan pemeriksaan
yang dapat dioperasikan secara lokal dan tidak memerlukan proses lanjutan di laboratorium klinik
atau kemajuan teknologi pada peralatan kesehatan yang dapat dioperasikan sendiri oleh pasien untuk
pemeriksaan tertentu dapat mengakibatkan berkurangnya volume pemeriksaan, yang merupakan sebagian
besar sumber pendapatan Perseroan. Sebagai contoh, pada tahun 2013, 2014 dan 2015 dan periode
enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan 2016, 34,7%, 33,2%, 34,2%, 35,1%, dan 35,9% dari
total pendapatan Perseroan adalah dari pelanggan individu yang tidak dirujuk oleh dokter atau bukan
merupakan klien korporasi, dan pelanggan kelompok ini dapat memilih untuk melakukan pengujian
sendiri jika dimungkinkan. Terjadinya salah satu skenario tersebut di atas dapat berdampak merugikan
secara signifikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Perseroan bergantung kepada produsen pihak ketiga untuk peralatan pemeriksaan laboratorium dan
reagen, sehingga kenaikan harga peralatan pemeriksaan laboratorium dan/atau reagen tersebut,
serta penghentian produksi atau penarikan peralatan pemeriksaan laboratorium dan/atau reagen
serta malfungsi pada salah satu peralatan Perseroan dapat berdampak merugikan terhadap bisnis
Perseroan
Perseroan membeli peralatan pemeriksaan dan reagen dari pemasok pihak ketiga berdasarkan perjanjian
sewa menyewa dan perjanjian pinjam pakai. Mayoritas reagen yang dipakai Perseroan diproduksi oleh
pemasok luar negeri, dikarenakan terbatasnya jumlah produsen lokal. Perjanjian pengadaan barang
64
dengan penyedia peralatan pemeriksaan dan/atau reagen biasanya untuk tiga sampai lima tahun dengan
mematok harga tertentu dalam Rupiah yang dapat disesuaikan berdasarkan mekanisme tertentu. Jika
terjadi kenaikan biaya pengadaan consumable yang diimpor atau harga peralatan, misalnya karena
depresiasi Rupiah, pemasok dapat meminta renegosiasi kontrak pengadaan terlepas dari ketentuanketentuan dalam kontrak. Jika Perseroan gagal mencapai kesepakatan harga yang menguntungkan
untuk persediaan reagen atau peralatan sewa atau tidak dapat meneruskan kenaikan biaya tersebut
kepada pelanggan, maka hal tersebut dapat berdampak material dan merugikan terhadap profitabilitas
Perseroan. Selain itu, jika terjadi gangguan dalam penyediaan reagen impor, baik karena masalah logistik
atau aturan atau peraturan impor bahan kimia tertentu, Perseroan mungkin tidak dapat memperoleh
suplai reagen atau bahan kimia tertentu yang diperlukan pada harga yang wajar, atau gagal sama sekali
mendapatkan bahan tersebut.
Selain itu, berdasarkan perjanjian sewa menyewa dan perjanjian pinjam pakai, pemasok umumnya
memiliki hak untuk mengakhiri perjanjian dengan pemberitahuan tertulis sebelumnya dalam hal terjadi
pelanggaran yang material atas persyaratan atau ketentuan perjanjian tersebut, termasuk namun tidak
terbatas pada pelanggaran dalam kewajiban pembelian jumlah minimal reagen atau pembayaran biaya
sewa. Di samping itu, produsen peralatan dan reagen dapat menghentikan atau menarik reagennya,
perlengkapan pemeriksaan, instrumen atau peralatan pengujian di mana hal tersebut dapat berdampak
merugikan terhadap hasil pemeriksaan dan kredibilitas Perseroan, biaya, volume pengujian dan
pendapatan Perseroan. Setiap penghentian atau penarikan peralatan terpasang tersebut dapat berdampak
merugikan terhadap bisnis Perseroan.
Lebih lanjut, perjanjian pinjam pakai antara Perseroan dan pemasok yang mengatur mengenai penggunaan
peralatan pengujian dan reagen bersifat eksklusif dengan masing-masing pemasok peralatan, dan
Perseroan terikat untuk membeli semua reagen, perlengkapan pemeriksaan dan bahan habis pakai
untuk jumlah minimum tertentu atau nilai pembelian tertentu dari pemasok tersebut, atau agen resmi
mereka. Setiap gangguan pada bisnis Perseroan dapat mengakibatkan tidak terpenuhinya kewajiban
minimal pembelian oleh Perseroan sesuai perjanjian tersebut, sehingga mengakibatkan pelanggaran
terhadap perjanjian tersebut. Selanjutnya kejadian tersebut berpotensi mengganggu pasokan reagen,
dan hal tersebut dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, keadaan keuangan, hasil
dan prospek usaha Perseroan.
Bisnis Perseroan berkaitan dengan risiko tanggung gugat (liability risk) yang melekat pada pengoperasian
peralatan laboratorium klinik yang kompleks, yang mungkin mengalami kegagalan atau menyebabkan
cedera akibat kerusakan, pemeliharaan atau perbaikan yang tidak tepat, atau penggunaan yang tidak
benar. Peralatan laboratorium klinik yang tidak dapat beroperasi dalam waktu panjang atau penurunan
kualitas yang signifikan dari produk, layanan dan peralatan oleh pemasok dapat berdampak material
dan merugikan terhadap kepuasan pelanggan, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan hilangnya
pendapatan, ketidakpuasan pelanggan dan merusak reputasi Perseroan. Setiap cedera yang disebabkan
karena peralatan laboratorium klinik di laboratorium Perseroan sebagai akibat dari kerusakan peralatan,
pemeliharaan atau penggunaan yang tidak benar bisa menyebabkan klaim permintaan tanggung jawab
terhadap Perseroan. Terlepas dari kebenaran atau hasil akhirnya, klaim permintaan tanggung jawab
seperti itu dapat menimbulkan biaya pembelaan hukum yang signifikan bagi Perseroan, merusak reputasi
Prodia, dan bahkan berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil dan
prospek usaha Perseroan.
Pelaksanaan dan ekspansi berlanjut atas program JKN dapat memiliki dampak yang tidak dapat
diperkirakan terhadap bisnis Perseroan
Pada tanggal 1 Januari 2014, JKN secara resmi dilaksanakan di seluruh Indonesia dan, antara lain,
mewajibkan semua warga Indonesia, termasuk orang asing yang bekerja di Indonesia selama lebih dari
enam bulan, untuk mendaftarkan diri dalam program JKN dan ditanggung kesehatannya oleh program
asuransi kesehatan nasional. Penerapan JKN saat ini masih dalam tahap awal dan dampaknya secara
keseluruhan terhadap industri jasa kesehatan masih belum diketahui sepenuhnya, dan perubahan ini dapat
memiliki dampak negatif terhadap bisnis Perseroan. Pemerintah telah mengisyarakatkan harapannya agar
selambatnya pada tahun 2019 semua rumah sakit dan klinik swasta di Indonesia menyediakan layanan
bagi pasien yang tercakup dalam program JKN. Meskipun saat ini tidak wajib bagi seluruh rumah
sakit dan klinik swasta untuk menjadi penyedia layanan kesehatan di bawah JKN, hal ini diwajibkan
65
untuk rumah sakit dan klinik swasta di beberapa kota dan beberapa rumah sakit dan klinik swasta di
Indonesia sudah mulai berpartisipasi. Meskipun Perseroan tidak dapat memprediksi seberapa besar
efek dari adanya program JKN terhadap bisnis Perseroan, namun Perseroan yakin bahwa pelanggan
yang menggunakan JKN saat ini tidak memiliki akses terhadap banyak pemeriksaan diagnostik yang
ditawarkan oleh Perseroan, seperti pemeriksaan yang lebih komplek dengan harga lebih mahal. Namun
demikian, dalam hal program JKN diubah agar dapat mencakup sebagian besar layanan Perseroan di masa
mendatang dan pasien memilih untuk menggunakan layanan Perseroan, terdapat kemungkinan bahwa
pendapatan per pemeriksaan dan pendapatan per pasien dari pasien dalam program JKN akan menjadi
lebih rendah mengingat adanya batasan biaya yang diberlakukan, sehingga dapat memiliki dampak
merugikan terhadap pendapatan dan margin Perseroan. Selain itu, pelaksanaan program JKN juga dapat
mempengaruhi bisnis Perseroan dalam bentuk lain. Sebagai contoh, Perseroan meyakini bahwa adanya
JKN menyebabkan sebagian pasien dalam segmen tertentu memanfaatkan program jaminan kesehatan
Pemerintah dengan memakai layanan laboratorium klinik di rumah sakit Pemerintah, dibandingkan
menggunakan jasa layanan laboratorium klinik seperti Perseroan. Terdapat kemungkinan akan lebih
banyak pasien yang melakukan hal yang sama di masa depan, yang selanjutnya dapat mempengaruhi
volume pasien Perseroan. Meskipun pelaksanaan JKN masih dalam tahap awal, terdapat ketidakpastian
tentang dampak dari pelaksanaan program JKN dan perubahannya di masa mendatang. Perubahan lebih
lanjut atas program JKN, atau pelaksanaannya, dapat berdampak material dan merugikan terhadap
bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan.
Kemajuan teknologi yang berkaitan dengan peralatan laboratorium klinik, dan ketergantungan
Perseroan terhadap sejumlah kecil pemasok peralatan laboratorium klinik, dapat berdampak
merugikan terhadap bisnis Perseroan
Perseroan menggunakan peralatan laboratorium klinik yang canggih dan mahal di laboratorium Perseroan
untuk melakukan pemeriksaan laboratorium klinik. Peralatan laboratorium klinik tersebut seringkali
perlu di-upgrade sehubungan dengan perkembangan teknologi agar peralatan tidak menjadi usang
atau agar tetap dapat memberikan layanan yang diminta atau dibutuhkan oleh pelanggan. Penggantian,
upgrade atau pemeliharaan peralatan mungkin memerlukan biaya yang signifikan. Ahli patologi klinik,
flebotomist, ahli teknologi medik dan profesional medik lainnya juga perlu dilatih untuk pemakaian
peralatan baru. Jika Perseroan tidak mampu mengikuti kemajuan teknologi di bidang ini, maka dokter,
klien korporasi dan pasien Perseroan dapat beralih ke laboratorium klinik lainnya yang memiliki peralatan
lebih canggih, dan menurunkan keunggulan kompetitif Perseroan, di mana hal ini mungkin memiliki
dampak material dan merugikan terhadap bisnis, keadaan keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Perseroan mendapatkan peralatan laboratorium klinik dari berbagai vendor melalui perjanjian sewa
menyewa dan perjanjian pinjam pakai. Sedangkan peralatan pendukung lainnya, biasanya dibeli oleh
Perseroan. Untuk sebagian besar peralatan laboratorium klinik utama, Perseroan lebih memilih untuk
menggunakan salah satu pemasok utama untuk setiap jenis peralatan laboratorium klinik. Perseroan
berusaha mengembangkan hubungan kemitraan jangka panjang dengan produsen peralatan diagnostik
dan peralatan laboratorium internasional untuk mendukung migrasi, transisi dan uji coba laboratorium
Perseroan yang sedang dalam tahapan pengembangan serta mendukung pengoperasian laboratorium
klinik Perseroan saat ini. Perseroan memperoleh peralatan laboratorium klinik dari enam pemasok
utama, yaitu: Roche, Abbott, Siemens, Biomerieuex,Biorad dan Sysmex. Perseroan telah membina
hubungan jangka panjang dengan para produsen ini serta pemasok yang lain, namun, Perseroan tidak
memiliki perjanjian jangka panjang dengan pemasok-pemasok ini. Akibatnya, jika suatu ketika terjadi
masalah dengan para pemasok tersebut atau jika pemasok tersebut meningkatkan biaya, Perseroan
mungkin terpaksa harus membeli peralatan dengan harga yang lebih tinggi atau dari pemasok yang
berbeda. Jika pemasok tersebut tidak lagi memproduksi alat sesuai dengan teknologi terdepan, Perseroan
mungkin perlu menjajaki hubungan dengan pemasok yang berbeda. Terjadinya salah satu hal tersebut
di atas dapat meningkatkan biaya secara signifikan dan, dalam kasus pembelian dari pemasok baru,
dapat menggangu operasi Perseroan selama masa transisi ke peralatan baru dan mungkin memerlukan
pelatihan penggunaan peralatan baru bagi karyawan.
Selain itu, jika peralatan Perseroan tidak dipelihara secara baik atau jika terjadi kerusakan peralatan,
layanan Perseroan mungkin terganggu, sehingga dapat berdampak material dan merugikan terhadap
bisnis, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
66
Perseroan mengalihkan beberapa pemeriksaan yang ditawarkannya ke laboratorium pihak ketiga.
Setiap kesalahan dalam pemeriksaan tersebut oleh laboratorium pihak ketiga dapat berdampak
merugikan terhadap bisnis dan reputasi Perseroan
Perseroan memiliki perjanjian kerjasama dengan NUH Laboratories, Singapura dan Quest. Kerja sama
ini memberikan Perseroan akses sampai dengan 3.000 pemeriksaan yang tidak dilakukan oleh Perseroan.
Perseroan juga memiliki perjanjian dengan laboratorium klinik lain di Indonesia, termasuk laboratorium
yang berpotensi menjadi pesaing Perseroan, untuk merujuk pemeriksaan tertentu. Untuk beberapa
pemeriksaan yang ditawarkan Perseroan kepada pelanggannya, Perseroan yakin bahwa mengalihkan
pemeriksaan tersebut kepada laboratorium lain dibandingkan melakukannya sendiri lebih efektif
dari segi biaya. Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, pemeriksaan yang di-outsource
mewakili 0,2% dari total pendapatan Perseroan. Perseroan meninjau dan menilai kinerja laboratorium
pihak ketiga ini secara berkala agar dapat menentukan kemampuan mereka untuk terus memenuhi
kewajibannya kepada Perseroan. Namun demikian, Perseroan tidak memiliki kendali atas tindakan
yang dilakukan laboratorium pihak ketiga dan tidak ada jaminan bahwa laboratorium tersebut akan
terus dapat memberikan layanan yang memuaskan. Oleh karena itu, terdapat risiko bahwa laboratorium
pihak ketiga tidak dapat memenuhi kewajibannya sesuai kontrak kepada Perseroan. Setiap kesalahan
yang dilakukan oleh laboratorium pihak ketiga untuk melakukan pemeriksaan yang diperlukan sesuai
perjanjian atau setiap pemutusan hubungan kerjasama dapat berdampak material dan merugikan
terhadap reputasi Prodia dan operasional Perseroan, terutama jika Perseroan tidak mampu menemukan
laboratorium pengganti yang cocok tepat pada waktunya atau tidak sama sekali.
Perseroan bergantung pada izin-izin milik pihak lain untuk outlet POC dan laboratorium rumah sakit
Sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia, pengoperasian tempat pengambilan spesimen atau
laboratorium rumah sakit membutuhkan izin yang dimiliki klinik dokter atau rumah sakit yang
bersangkutan. Dengan demikian, outlet POC Perseroan yang terdapat di klinik dokter dan laboratorium
pada rumah sakit dioperasikan di bawah izin yang dimiliki masing-masing klinik atau rumah sakit
tersebut. Jika rumah sakit atau klinik dokter tersebut tidak dapat mempertahankan izinnya, maka
Perseroan mungkin harus untuk menutup outlet tersebut atau menghentikan operasi di wilayah tersebut,
sehingga hal tersebut dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil
usaha dan prospek Perseroan.
Kegagalan untuk mematuhi peraturan perundang-undangan mengenai rekam medis dapat berdampak
negatif terhadap profitabilitas dan arus kas Perseroan
Perseroan wajib mematuhi peraturan perundang-undangan mengenai rekam medis yang mencakup
mengenai penggunaan, penyimpanan dan pembukaan informasi kesehatan pasien yang rahasia, serta
undang-undang yang mengatur mengenai transmisi informasi secara elektronik, seperti Peraturan Menteri
Kesehatan No. 36 Tahun 2012 tentang Rahasia Kedokteran serta Undang-Undang No. 36 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran dan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Peraturan
Menteri Kesehatan No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis dan Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Dalam kegiatan usaha sehari-hari, Perseroan mendapatkan informasi yang bersifat pribadi tentang
pelanggan Perseroan dan pasien yang dirujuk oleh dokter dan rumah sakit, termasuk dengan cara
elektronik. Dengan demikian, Perseroan bergantung pada sistem teknologi informasi internal untuk
penyimpanan dan pengiriman informasi rahasia tersebut. Sebuah kegagalan dalam sistem keamanan
Perseroan yang dapat mengakibatkan informasi pribadi pelanggan atau pasien diakses oleh orang-orang
yang tidak bertanggung jawab atau kegagalan Perseroan dalam mematuhi persyaratan keamanan untuk
penggunaan, penyimpanan dan/atau pengiriman informasi yang sensitif tersebut dapat berdampak
merugikan terhadap reputasi Perseroan dengan pelanggannya dan dapat mengakibatkan gugatan hukum
atau pengenaan sanksi dan denda kepada Perseroan, yang seluruhnya dapat berdampak material dan
merugikan terhadap bisnis Perseroan, hasil usaha, kondisi keuangan dan likuiditas Perseroan. Lebih
lanjut, persyaratan baru yang diberlakukan terkait keamanan tambahan dan perlindungan privasi informasi
pasien dapat secara teknis sulit diterapkan, memakan waktu atau biaya mahal untuk penerapannya.
67
Tantangan yang mempengaruhi industri pelayanan kesehatan juga dapat memiliki dampak buruk
yang material terhadap kegiatan usaha Perseroan
Perseroan dipengaruhi oleh tantangan-tantangan yang saat ini dihadapi industri pelayanan kesehatan.
Perseroan percaya bahwa tantangan utama yang dihadapi saat ini oleh industri secara umum adalah
menyediakan perawatan berkualitas tinggi bagi pasien di lingkungan bisnis yang kompetitif serta
mengelola biaya.
Selain itu, bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan dapat dipengaruhi oleh faktorfaktor lain yang mempengaruhi industri secara keseluruhan, termasuk Perseroan, seperti:
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
kemajuan teknologi dan farmasi yang meningkatkan biaya penyediaan atau mengurangi permintaan
pelayanan kesehatan;
kondisi ekonomi dan bisnis secara umum pada tingkat lokal, daerah, nasional dan internasional;
perubahan demografi;
perubahan rantai distribusi pasokan atau faktor lain yang meningkatkan biaya pengadaan persediaan;
peraturan lebih ketat yang mengatur mengenai perlindungan informasi pasien bersifat pribadi dan
rahasia dari pengungkapan tanpa izin;
peraturan lebih ketat yang mengatur mengenai pembelian layanan medik;
laju penyebaran asuransi kesehatan di Indonesia;
siklus penyakit musiman akibat iklim yang bervariasi, kondisi cuaca dan wabah penyakit;
rekrutmen dan retensi profesional medik yang berkualitas; dan
persaingan dari penyedia pelayanan kesehatan dan laboratorium klinik luar negeri.
Secara khusus, volume pelanggan dan laba operasional dari outlet layanan Perseroan bervariasi dari
segi ekonomi dan siklus yang disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk namun tidak terbatas pada:
•
•
•
•
tingkat pengangguran;
jumlah pelanggan yang tidak memiliki asuransi maupun jumlah pelanggan yang memiliki asuransi
dalam jumlah kurang memadai di komunitas setempat;
siklus penyakit musiman; dan
kondisi iklim dan cuaca.
Keberhasilan usaha Perseroan sebagian besar bergantung pada tim manajemen senior Perseroan
dan kegagalan menarik atau mempertahankan karyawan tersebut dapat berdampak merugikan pada
bisnis Perseroan
Keberhasilan usaha Perseroan secara signifikan bergantung pada upaya, keahlian dan kinerja dari
tim manajemen senior Perseroan. Komisaris, Direktur dan tim manajemen senior Perseroan memiliki
keahlian yang memungkinkan Perseroan untuk membuat keputusan yang tepat dan informatif terkait
dengan bisnisnya. Secara khusus, Perseroan bergantung pada keahlian, pengalaman dan kepemimpinan
dari pendiri Perseroan, yaitu Dr. Andi Widjaja dan Direksi Perseroan, yang memainkan peranan penting
dalam pengembangan bisnis Perseroan. Namun demikian, tidak ada jaminan, bahwa orang-orang
tersebut atau anggota lain dari tim manajemen senior Perseroan tidak akan meninggalkan Perseroan
atau bergabung dengan pesaingnya. Keluarnya personil penting tersebut, kegagalan Perseroan untuk
merekrut pengganti yang cocok dalam waktu yang singkat, atau biaya yang dibutuhkan untuk merekrut
dan melatih personil baru dapat mengganggu atau berdampak material dan merugikan terhadap bisnis,
keadaan keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan. Selain itu, apabila satu dari pejabat eksekutif
atau karyawan kunci Perseroan bergabung dengan pesaing atau membentuk perusahaan sejenis, maka
Perseroan mungkin kehilangan keahlian, rahasia dagang, pelanggan dan karyawan-karyawan kunci.
Perseroan mungkin tidak dapat mempertahankan atau merekrut ahli patologi klinik, flebotomist,
ahli teknologi medik dan profesional medik lainnya, yang dapat mempengaruhi kualitas layanan
Perseroan dan berdampak material dan merugikan terhadap hasil operasi dan arus kas Perseroan
Kemampuan Perseroan untuk bertumbuh secara berkesinambungan bergantung pada kemampuannya
dalam menarik, melatih, memotivasi dan mempertahankan profesional laboratorium yang berkualitas dan
berpengalaman, termasuk ahli patologi klinik, flebotomist, ahli teknologi medik dan profesional medik
68
lainnya. Sebagai contoh, pada tahun 2015, karyawan yang keluar sebanyak 5,6% dari total karyawan
pada tanggal 31 Desember 2015. Selain itu, pada tanggal 30 Juni, 2016, Perseroan mempekerjakan 366
karyawan kontrak, termasuk 234 dokter. Ketidakmampuan Perseroan untuk menarik dan mempertahankan
tenaga terampil tersebut bisa mengakibatkan penurunan kualitas layanannya dan berdampak material
dan merugikan terhadap hasil operasi Perseroan. Sebagai contoh, pemanfaatan yang tinggi terhadap
personil kunci di lokasi-lokasi tertentu dapat menciptakan hambatan terhadap pertumbuhan Perseroan.
Terlebih di Indonesia, terutama di kota-kota kecil, terjadi kelangkaan tenaga medik profesional dan ahli
teknologi medik yang berkualitas, sehingga menjadikannya tantangan bagi Perseroan untuk menarik
dan mempertahankan karyawan tersebut, yang mungkin tertarik berkerja untuk pesaing Perseroan.
Dampak dari kelangkaan ini semakin memberatkan strategi Perseroan yang bermaksud memperluas
jaringan layanan Perseroan, dimana kebutuhan akan profesional medik dan ahli teknologi medik yang
berkualitas semakin dibutuhkan. Selain itu, karena permintaan dan persaingan yang ketat untuk tenaga
ahli di industri pelayanan kesehatan, khususnya para profesional medik yang berkualitas, sedangkan
ketersediaan calon karyawan yang cocok dan memenuhi syarat jumlahnya terbatas, maka Perseroan
mungkin perlu untuk menawarkan kompensasi dan fasilitas tunjangan lain yang lebih tinggi untuk
menarik atau mempertahankan personil kunci di masa depan, yang mana hal tersebut dapat meningkatkan
biaya gaji dan tunjangan Perseroan. Perseroan juga mungkin perlu untuk meningkatkan biaya tersebut
untuk menarik dan mempertahankan manajemen yang berpengalaman dan tenaga penjualan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan bisnis Perseroan, dan kegagalan untuk melakukannya dapat berdampak
merugikan terhadap bisnis dan pertumbuhan Perseroan. Pertumbuhan dan keberhasilan bisnis Perseroan
bergantung, sebagian, pada kedekatan dan reputasi dari profesional medik dan ahli teknologi medik
dengan pelanggan Perseroan. Dengan demikian, kegagalan untuk menarik dan/atau mempertahankan
profesional dan ahli teknologi medik yang berkualitas dapat berdampak material dan merugikan terhadap
bisnis, keadaan keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan.
Perseroan tidak memiliki tanah dan bangunan untuk sebagian besar laboratorium klinik Perseroan
atau outlet POC dan laboratorium rumah sakit, yang mengakibatkan timbulnya sejumlah risiko
tertentu
Perseroan menyewa sebagian besar tanah dan bangunan untuk laboratorium klinik dari pemilik tanah.
Selain itu, tanah dan bangunan dari outlet POC Perseroan dan laboratorium rumah sakit dimiliki oleh
masing-masing dokter atau rumah sakit yang bersangkutan. Meskipun Perseroan umumnya berusaha
menandatangani perjanjian sewa jangka panjang dengan pemilik tanah dan bangunan untuk laboratorium
klinik Perseroan, tidak ada jaminan bahwa perjanjian sewa tersebut dapat diperpanjang pada syarat
dan ketentuan yang menguntungkan atau sama sekali ketika masa sewa berakhir, atau perjanjian sewa
tidak akan diakhiri sebelum waktunya (termasuk alasan yang berada di luar kendali Perseroan). Jika
pemilik atau manajer properti tidak memperpanjang perjanjian sewa atas tanah dan bangunan dimana
Perseroan melakukan kegiatan usaha, termasuk laboratorium klinik, atau hanya berkenan memperbaharui
perjanjian tersebut pada syarat dan ketentuan yang kurang menguntungkan bagi Perseroan, atau jika
pemilik properti mengakhiri perjanjian sewa lebih awal, maka Perseroan mungkin tidak bisa mendapatkan
properti dengan spesifikasi serupa untuk menggantikan properti yang hilang tersebut dan akibatnya
dapat mengganggu kegiatan usaha Perseroan, atau Perseroan mungkin harus membayar tarif sewa lebih
mahal, yang dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi
dan prospek Perseroan. Selain itu, dalam hal sewa tidak diperpanjang dan Perseroan harus memindahkan
lokasi laboratorium atau lokasi bisnis Perseroan yang lain, Perseroan mungkin tidak dapat memulihkan
biaya untuk mendirikan dan memodifikasi laboratorium. Lebih lanjut, Perseroan mungkin diwajibkan
mendapatkan izin dan persetujuan baru sesuai peraturan yang berlaku. Sampai dengan diterimanya
izin dan persetujuan baru tersebut, kegiatan usaha dan bisnis Perseroan dapat mengalami gangguan
dimana hal tersebut dapat berdampak merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan
prospek Perseroan.
Lebih lanjut, Perseroan tunduk pada berbagai pembatasan untuk properti Perseroan sesuai pengaturan
tata ruang dalam suatu kota atau peraturan properti lainnya, atau perjanjian sewa, atau properti Perseroan
dapat dikenakan perkara hukum sehubungan dengan pemanfaatan ruang yang dibatasi dengan melibatkan
pejabat berwenang setempat.
69
Perseroan mengoperasikan outlet POC dan laboratorium rumah sakit di tempat klinik dokter dan rumah
sakit. Perseroan menyewa ruang untuk melakukan kegiatan operasional dari klinik dokter atau disediakan
ruang secara cuma-cuma oleh rumah sakit berdasarkan suatu perjanjian bagi hasil. Kemampuan Perseroan
untuk beroperasi di lokasi-lokasi ini bergantung pada perjanjian-perjanjian dengan pemilik lokasi
tersebut. Apabila perjanjian Perseroan dengan klinik dokter atau rumah sakit berakhir atau diakhiri,
Perseroan akan diwajibkan untuk menutup pelayanan di lokasi tersebut. Operasional Perseroan di
lokasi-lokasi ini bergantung pada rujukan dokter di klinik tersebut atau rumah sakit, sehingga Perseroan
kemungkinan tidak dapat melakukan relokasi outlet POC atau laboratorium ke lokasi klinik atau rumah
sakit baru. Lebih lanjut, dikarenakan Perseroan beroperasi di dalam klinik dokter atau rumah sakit,
Perseroan bergantung pada mereka untuk perawatan dan pemeliharaan fasilitas. Apabila pemilik tempat
tidak melakukan pemeliharaan dengan benar, merek Prodia dan reputasi Perseroan dapat dirugikan akibat
asosiasinya dengan tempat ini. Selanjutnya, Perseroan bergantung pada hubungan yang berkelanjutan
antara klinik dokter dan rumah sakit dengan pemilik tanahnya. Apabila klinik dokter atau rumah sakit
tidak dapat memperpanjang sewanya di lokasi ini, mereka dapat dipaksa pindah ke tempat yang mungkin
tidak cocok bagi kelanjutan usaha Perseroan di lokasi baru ini. Selain itu, dikarenakan Perseroan
mengoperasikan outlet­- outlet di fasilitas medis lain, Perseroan bergantung pada izin penyelengaraan
milik fasilitas-fasilitas ini.
Salah satu faktor tersebut di atas dapat mempengaruhi keamanan dan kelancaran atas kepemilikan dan
penggunaan properti Perseroan atau penggunaan properti milik klinik dokter atau rumah sakit, atau
mewajibkan Perseroan membayar biaya tambahan untuk kepatuhan atau biaya sewa tambahan, atau
membatasi ekspansi Perseroan di masa mendatang, yang dapat berdampak merugikan terhadap bisnis,
kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek Perseroan.
Strategi pertumbuhan Perseroan melibatkan pembukaan laboratorium klinik di wilayah geografis yang
berbeda, sehingga dapat mewajibkan Perseroan menandatangani perjanjian sewa baru. Apabila Perseroan
dapat menemukan lokasi yang cocok untuk laboratorium Perseroan, tarif sewa mungkin lebih mahal
secara signifikan atau sewa hanya dapat dilakukan pada syarat dan ketentuan yang kurang menguntungkan
dibandingkan perjanjian sewa untuk laboratorium saat ini, sehingga hal ini dapat berdampak merugikan
terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek Perseroan.
Pungutan PPN atas jasa pelayanan di industri jasa pelayanan kesehatan di Indonesia secara umum
atau laboratorium klinik atau jasa layanan kesehatan lainnya secara khusus dapat merugikan bisnis,
kondisi keuangan, hasil operasi, prospek dan arus kas Perseroan
Meskipun jasa pelayanan kesehatan medik, termasuk diagnosis, pengobatan atau perawatan, yang
diberikan oleh fasilitas pelayanan kesehatan atau dokter atau paramedik saat ini dikecualikan dari jasa
yang dikenakan PPN di Indonesia, terdapat beberapa kejadian dimana otoritas pajak membebankan
PPN atau berencana memberlakukan PPN, atau menolak atau melakukan penyelidikan atas permohonan
pengecualian atau pengurangan dari pemungutan PPN. Meskipun Perseroan tidak mengetahui adanya
rencana akan diberlakukannya PPN, tidak ada jaminan bahwa PPN tidak akan dibebankan terhadap
penyedia jasa layanan kesehatan medik di masa mendatang, atau PPN tidak akan diberlakukan atau
pengecualian dari pemungutan PPN yang berlaku saat ini tidak akan dilakukan penyelidikan atau
ditolak oleh otoritas pajak, yang dapat berlaku secara retrospektif. Apabila salah satu hal tersebut
terjadi, Perseroan dapat diwajibkan untuk melakukan registrasi sebagai pengusaha kena pajak untuk
penyediaan jasa layanan kesehatan medik atau mengeluarkan biaya yang signifikan karena kewajiban
pembayaran PPN.
Perseroan saat ini melakukan transaksi-transaksi dengan pihak-pihak terafiliasi, dan Perseroan
mungkin akan terus melakukannya di masa mendatang
Pada tahun 2015, Perseroan melakukan serangkaian transaksi untuk berfokus kepada layanan inti
laboratorium klinik Perseroan, dimana Perseroan melepaskan sejumlah entitas anak dan bisnis kepada
perusahaan induk Perseroan, PT Prodia Utama. Sebagai hasilnya, Perseroan menjual kepemilikannya
di empat entitas anak, yaitu POHII, PT Prodia Stemcell Indonesia (“PROSTEM”), PROLINE dan
PT Innovasi Diagnostika (“INNODIA”), kepada PT Prodia Utama untuk nilai transaksi sebesar Rp32,2
miliar (“Transaksi Spin-off”). Setelah Transaksi Spin-off, Perseroan melakukan transaksi dengan
70
perusahaan-perusahaan ini sebagai bagian dari kegiatan bisnis Perseroan. Sebagai contoh, Perseroan
melakukan pemeriksaan laboratorium klinik dan pemeriksaan diagnostik imaging untuk klien korporasi
yang dirujuk kepada Perseroan oleh POHII, yang merupakan penyedia jasa layanan kesehatan kerja.
Perseroan menagih langsung pelanggan untuk pemeriksaan yang dilakukan dan POHII menerima jasa
manajemen untuk perannya dalam pemasaran dan sebagai koordinator. Meskipun Perseroan tidak
mengenakan POHII biaya untuk layanan manapun, POHII memberikan nilai yang cukup signifikan
terhadap bisnis rujukan Perseroan. Meskipun perjanjian Perseroan dengan POHII akan terus berlaku
kecuali diakhiri oleh Perseroan atau POHII, tidak ada jaminan bahwa POHII tidak akan mengakhiri
perjanjian pada suatu waktu di masa yang akan datang atau POHII tidak lagi memiliki hubungan bisnis
dengan Perseroan, dimana terjadinya salah satu hal tersebut dapat berdampak material dan merugikan
terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek Perseroan.
Selain itu, Perseroan menyewa beberapa tanah dan bangunan untuk laboratorium klinik Perseroan
dari PT Grhanis Putra Propertindo dan entitas anaknya, yang secara langsung maupun tidak langsung
dimiliki oleh PT Prodia Utama dan anggota keluarga dari Andi Widjaja, Gunawan Prawiro Soeharto,
Johanes Hamdono Widjojo, Elias Nugroho, Ichsan Hidajat dan Arjati Utami (“Kelompok Pendiri”).
Tidak ada jaminan bahwa Perseroan dapat mempertahankan syarat dan ketentuan yang ada saat ini, atau
dalam hal transaksi dengan pihak terafiliasi di masa mendatang, transaksi tersebut akan dilakukan pada
syarat dan ketentuan yang menguntungkan bagi Perseroan. Meskipun Perseroan berkeyakinan bahwa
seluruh transaksi dengan pihak terafiliasi dilakukan pada syarat dan ketentuan yang wajar (arm’s length
basis), Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan akan memperoleh syarat dan ketentuan yang
lebih menguntungkan apabila transaksi yang sama dilakukan dengan pihak ketiga. Terdapat kemungkinan
bahwa Perseroan akan melakukan transaksi lain dengan pihak terafiliasi lain di masa depan. Transaksi
di masa mendatang dengan pihak terafiliasi juga berpotensi melibatkan benturan kepentingan. Dengan
demikian, tidak ada jaminan bahwa transaksi-transaksi tersebut, baik masing-masing atau bersamasama, tidak akan berdampak merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek
Perseroan.
Perseroan dapat menerima keluhan dari pelanggan dan terlibat dalam litigasi terkait layanan
laboratorium klinik Perseroan
Perseroan telah menerima berbagai keluhan dari pelanggan atas layanan laboratorium klinik yang
diberikan Perseroan untuk berbagai penyebab, termasuk klaim keterlambatan dalam penyampaian hasil
pemeriksaan dan hasil pemeriksaan yang tidak tepat atau kesalahan diagnosa. Selain itu, Perseroan dapat
menerima keluhan berdasarkan desas-desus yang tak berdasar terkait layanan atau hasil pemeriksaan
Perseroan. Munculnya keluhan tersebut dapat menimbulkan publisitas negatif mengenai bisnis Perseroan,
mengurangi kepercayaan pelanggan terhadap kualitas layanan laboratorium klinik Perseroan dan
berdampak negatif terhadap reputasi Perseroan. Meskipun Perseroan memiliki sistem dan protokol yang
mapan untuk membantu meminimalkan kesalahan yang dapat timbul dalam proses pengumpulan sampel,
pemeriksaan sampel dan pengiriman hasil pemeriksaan, kegagalan dalam sistem dan protokol tersebut
dapat mengakibatkan pengiriman hasil pemeriksaan yang telat atau tidak akurat kepada pelanggan, dan
dalam kasus-kasus serius, dapat mengakibatkan gugatan perdata dan tuntutan pidana.
Demikian pula, staf Perseroan yang terdiri dari ahli patologi klinik, flebotomist, ahli teknologi medik
dan penyedia layanan kesehatan lain dapat dari waktu ke waktu dapat menerima gugatan malpraktik,
dan Perseroan dapat menjadi pihak yang turut terlibat dalam gugatan tersebut. Meskipun Perseroan
bisnis Perseroan tidak mencakup praktik kedokteran, klaim atau keluhan terkait layanan laboratorium
klinik Perseroan dapat ditujukan kepada Perseroan dan karyawan Perseroan. Selain itu, Perseroan dapat
menerima klaim permintaan tanggung jawab, termasuk namun tidak terbatas, untuk penggunaan yang
tidak benar atau tidak berfungsinya peralatan laboratorium klinik Perseroan, kegagalan melacak sampel
dan/atau spesimen, kontaminasi yang tidak disengaja atau cedera dari paparan radiasi atau infeksi atau
komplikasi lain yang timbul dari proses pengumpulan spesimen.
Selain itu, operasi Perseroan melibatkan penanganan bahan berbahaya, termasuk bahan biologis dan kimia
berbahaya. Bahan-bahan tersebut berbahaya apabila tidak dikelola dan disimpan dengan tepat. Meskipun
beberapa laboratorium Perseroan memiliki fasilitas untuk pembuangan bahan dan limbah berbahaya yang
71
memadai, di beberapa lokasi, Perseroan mengontrak pihak ketiga untuk pembuangan limbah berbahaya.
Namun demikian, Perseroan tidak dapat sepenuhnya menghilangkan risiko kontaminasi atau cedera dari
bahan-bahan berbahaya tersebut. Dalam hal terjadi kontaminasi atau cedera akibat dari penggunaan
bahan-bahan berbahaya, Perseroan dapat menjadi bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi, dan
kewajiban yang timbul dapat melebihi sumber daya Perseroan. Perseroan juga dapat dikenakan biaya
yang signifikan terkait dengan denda dan hukuman perdata atau pidana.
Kegagalan teknologi dan hambatan lain terkait dengan sistem informasi Perseroan dapat berdampak
merugikan terhadap operasi, pengawasan dan pelaporan keuangan Perseroan
Kinerja teknologi dan sistem informasi Perseroan penting bagi pengoperasian bisnis Perseroan. Sistem
informasi Perseroan sangat penting untuk sejumlah area kritikal dalam operasi Perseroan, termasuk:
•
•
•
•
•
•
•
•
•
sistem laboratorium;
pemantauan spesimen dan pelaporan hasil pemeriksaan kepada pelanggan;
rekam medis dan penyimpangan dokumen;
akuntansi, pengawasan dan pelaporan keuangan;
penagihan dan pembayaran tagihan;
pengelolaan persediaan;
negosiasi, penetapan harga dan administrasi untuk kontrak pelanggan dan kontrak pemasok;
pengelolaan aset tetap; dan
pengelolaan pelanggan.
Meskipun Perseroan belum pernah mengalami kegagalan sistem di masa lalu, tidak ada jaminan bahwa
Perseroan tidak akan menghadapi gangguan bisnis yang serius di masa mendatang. Gangguan layanan
dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk namun tidak terbatas pada peningkatan penggunaan sistem
informasi yang menambah beban kapasitas sistem Perseroan, kegagalan perangkat lunak dan perangkat
keras utama, kehilangan koneksi jaringan yang tiba-tiba, kegagalan teknologi dan listrik lainnya, virus
komputer dan bencana alam. Lebih lanjut, setiap kompromi keamanan pada sistem teknologi yang
digunakan Perseroan sehingga mengakibatkan informasi pribadi pelanggan diperoleh oleh orang yang
tidak berwenang atau penyalahgunaan informasi oleh karyawan Perseroan dapat berdampak merugikan
terhadap reputasi Perseroan dan mengakibatkan litigasi atau proses hukum terhadap Perseroan dan
penalti yang berpotensi dibebankan kepada Perseroan. Jika Perseroan mengalami gangguan sistem atau
gangguan lainnya di masa depan pada platform teknologi, kemampuan Perseroan untuk melakukan
kegiatan usaha akan terpengaruh secara material dan negatif. Dalam hal malfungsi sistem, Perseroan
juga mungkin diperlukan untuk menggunakan sistem manual yang memiliki tingkat kesalahan lebih
tinggi dibandingkan sistem yang terotomasi. Perseroan secara rutin menyimpan ulang data dalam sistem
sebagai data cadangan , namun tidak ada jaminan bahwa sistem Perseroan dapat sepenuhnya melindungi
Perseroan dari segala gangguan dalam hal terjadi peristiwa bencana. Saat ini Perseroan sedang dalam
proses untuk mengembangkan teknologi informasi untuk sistem penilaian risiko dan rencana pemulihan
bencana dan diharapkan dapat beroperasi sepenuhnya pada tahun 2017. Terjadinya salah satu kejadian
tersebut di atas, atau kegagalan maupun ketidakcukupan atas setiap rencana pemulihan bencana,
dapat mengakibatkan sistem teknologi mengalami gangguan, penundaan, kehilangan atau kerusakan
data, berhenti bekerja atau timbulnya kewajiban berdasarkan undang-undang privasi dan keamanan,
seluruhnya dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi
dan prospek Perseroan.
Kepatuhan dengan undang-undang dan peraturan yang mengatur mengenai kesehatan, keselamatan
dan lingkungan hidup, berbagai undang-undang dan peraturan mengenai ketenagakerjaan,
lingkungan kerja dan peraturan dan undang-undang terkait lainnya, berserta perubahannya, yang
berlaku di yurisdiksi dimana Perseroan beroperasi dapat mengakibatkan kenaikan kebutuhan modal
dan biaya operasional
Di samping peraturan yang mengatur mengenai penyelenggaraan laboratorium klinik, Perseroan
wajib mematuhi berbagai undang-undang keselamatan, kesehatan dan lingkungan hidup dan berbagai
undang-undang dan peraturan ketenagakerjaan, lingkungan kerja dan undang-undang dan peraturan
terkait lainnya, yang berlaku di yurisdiksi dimana Perseroan beroperasi, yang mengatur mengenai
72
pembuangan dan penyimpanan bahan baku, limbah bio-medik berbahaya, pembuangan di udara dan
air, penyimpanan, penanganan, pembuangan kimia, keselamatan karyawan terhadap bahan berbahaya,
dan aspek lain dari operasional Perseroan.
Kepatuhan dengan undang-undang dan peraturan yang mengatur mengenai kesehatan, keselamatan dan
lingkungan hidup, berbagai undang-undang dan peraturan mengenai ketenagakerjaan, lingkungan kerja
dan peraturan dan undang-undang terkait lainnya, berserta perubahannya, dapat meningkatkan biaya
kepatuhan dan dengan demikian dapat berdampak merugikan terhadap bisnis, prospek, hasil operasi dan
kondisi keuangan Perseroan. Meskipun Perseroan percaya bahwa operasinya telah mematuhi peraturan
lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan yang berlaku saat ini dalam segala hal yang material,
pelanggaran terhadap undang-undang dan peraturan tersebut dapat menyebabkan denda dan penalti.
Selain itu, terdapat risiko Perseroan mungkin wajib membayar biaya atau memiliki kewajiban yang
substansial, termasuk biaya untuk investigasi dan remediasi kontaminasi di masa lalu atau saat ini
atau restorasi lingkungan lainnya, di laboratorium yang dimiliki saat ini atau sebelumnya dimiliki atau
dioperasikan oleh Perseroan, atau tempat pembuangan limbah, yang merupakan risiko yang melekat pada
bisnis layanan laboratorium klinik, dan tidak ada jaminan bahwa Perseroan tidak akan mengeluarkan
biaya dan memiliki kewajiban yang substansial di masa mendatang. Selain itu, undang-undang dan
peraturan dapat menjadi lebih ketat, atau intepretasi dari undang-undang dan peraturan yang berlaku
saat ini dapat menjadi lebih ketat, yang mengakibatkan timbulnya kewajiban baru atau kebutuhan
modal tambahan untuk peralatan perlindungan lingkungan, dimana terjadinya salah satu hal tersebut
dapat berdampak merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek Perseroan.
Per tanggal 30 Juni 2016, Perseroan mempekerjakan 3.648 karyawan tetap dan 366 karyawan tidak tetap,
termasuk 234 dokter. Undang-Undang Ketenagakerjaan di Indonesia cukup ketat dan dapat membatasi
kemampuan Perseroan untuk bereaksi cepat terhadap kebutuhan bisnis Perseroan dengan menyesuaikan
kebijakan sumber daya manusia. Selain itu, sebagian karyawan Perseroan yang tidak duduk di tingkat
manajemen merupakan bagian dari Serikat Pekerja Prodia (“SP Prodia”). Perjanjian kerja bersama
dengan SP Prodia telah berakhir pada tahun 2010, akan tetapi, sesuai dengan undang-undang dan
peraturan yang berlaku di Indonesia, syarat dan ketentuan dalam perjanjian masih tetap berlaku sesuai
kesepakatan kedua pihak. Meskipun Perseroan berkeyakinan telah membina hubungan baik dengan para
karyawan dan serikat pekerja, tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan dapat menegosiasikan perjanjian
kerja bersama yang baru dengan hasil yang memuaskan, atau kegiatan operasional Perseroan di masa
mendatang tidak akan mengalami gangguan akibat perselisihan atau masalah lain dengan karyawannya,
dimana hal tersebut dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, prospek, hasil operasi
dan kondisi keuangan Perseroan. Dalam hal terjadi perselisihan perburuhan, negosiasi yang berlarutlarut dan/atau aksi mogok kerja dapat menganggu kegiatan operasional sehari-hari Perseroan sehingga
dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek
Perseroan.
Perseroan memiliki liabilitas imbalan kerja yang signifikan
Sebagai perusahaan dengan bisnis yang bersifat padat karya, Perseroan telah membukukan liabilitas
imbalan kerja yang signifikan. Selain itu, perubahan terbaru pada peraturan dan perundangan di
Indonesia, seperti penerapan BPJS Ketenagakerjaan, skema pensiun universal, telah mengakibatkan
kenaikan liabilitas imbalan kerja. Liabilitas imbalan kerja jangka panjang Perseroan naik dari Rp172,3
miliar per tanggal 31 Desember 2013 menjadi Rp323,1 miliar per tanggal 30 Juni 2016. Sebelum tahun
2012, Perseroan membiayai sebagian besar pembayaran atas liabilitas imbalan kerja langsung dari
arus kas Perseroan. Namun, pada tahun 2012, Perseroan membentuk aset program imbalan pasti yang
dikelola oleh perusahaan pengelola aset profesional. Pada tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember
2013, 2014 dan 2015, Perseroan membayarkan masing-masing sebesar Rp20,0 miliar, Rp5,0 miliar dan
Rp5,0 miliar ke dalam aset program imbalan tersebut (yang dicatat sebagai “premi asuransi pesangon”
pada laporan laba rugi Perseroan). Untuk mengendalikan atau mengurangi liabilitas imbalan kerja,
Perseroan mungkin harus melakukan pembayaran tambahan ke dalam aset program imbalan kerja, dimana
hal tersebut akan mengurangi arus kas yang tersedia untuk keperluan lainnya, dan dapat berdampak
material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan pada
periode yang bersangkutan.
73
Pendapatan Perseroan bergantung pada beberapa pemeriksaan rutin dan esoterik tertentu
Penjualan dari layanan pemeriksaan esoterik dan beberapa pemeriksaan rutin tertentu menyumbangkan
sebagian porsi dalam pendapatan Perseroan. Pemeriksaan esoterik, yang secara umum memiliki harga
lebih tinggi dibandingkan dengan pemeriksaan rutin lainnya, memberikan kontribusi sekitar 2,5%
sampai dengan 3,2% dari total pemeriksaan yang dilakukan Perseroan setiap tahun, namun memberikan
kontribusi yang lebih besar dari total pendapatan Perseroan. Selain itu, pemeriksaan rutin tertentu, seperti
pemeriksaan hematologi, juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan Perseroan. Sementara itu, per
30 Juni 2016, Perseroan menawarkan sekitar 500 jenis pemeriksaan kepada pelanggannya, dan Perseroan
tetap mengandalkan beberapa pemeriksaan esoterik dan rutin ini sebagai sumber utama pendapatannya
di masa depan. Namun demikian, brand positioning Prodia dan pendapatan yang dihasilkan dari
segmen pemeriksaan khusus tersebut dapat terpengaruh oleh berbagai faktor yang mungkin di luar
kendali Perseroan. Sebagai contoh, Perseroan mungkin tidak dapat menerapkan harga pemeriksaanpemeriksaan andalannya secara menguntungkan karena berbagai alasan, termasuk peningkatan biaya
terkait teknologi yang dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan tersebut, kenaikan biaya operasional,
atau pemeriksaan esoterik menjadi pemeriksaan rutin sehingga menyebabkan Perseroan tidak dapat
mengenakan harga premium untuk pemeriksaan tersebut. Selanjutnya, perkembangan dan kemajuan
teknis yang meningkatkan ketersediaan peralatan pemeriksaan yang dapat dioperasikan secara lebih
sederhana sehingga tidak lagi memerlukan laboratorium klinik atau adanya peralatan pemeriksaan
yang dapat dioperasikan sendiri oleh pasien dapat mengakibatkan penurunan volume pemeriksaan yang
dilakukan di laboratorium Perseroan. Mengingat ketergantungan Perseroan terhadap pemeriksaan ini,
maka faktor-faktor tersebut mungkin berdampak merugikan secara signifikan terhadap bisnis, kondisi
keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
Bisnis Perseroan dipengaruhi faktor musiman
Pendapatan, biaya dan profitabilitas Perseroan berfluktuasi secara musiman. Perseroan umumnya
mencatatkan volume permintaan dan pendapatan yang lebih tinggi pada semester kedua dibandingkan
semester pertama dalam satu tahun, sebagai akibat dari kenaikan volume pemeriksaan kesehatan oleh
klien korporasi, yang biasanya dijadwalkan di akhir setiap tahun. Perayaan dan liburan di Indonesia turut
mempengaruhi bisnis Perseroan dimana Perseroan biasanya mengalami volume yang lebih kecil selama
bulan Ramadan, yaitu puasa selama satu bulan penuh, yang dapat mempengaruhi jumlah pengambilan
spesimen dalam periode tersebut. Selain itu, Perseroan mengalami fluktuasi musiman untuk biaya-biaya
tertentu. Sebagai contoh, di Indonesia, pemberi kerja membayar tunjangan hari raya tahunan, umumnya
sebesar satu bulan gaji, kepada karyawan sebelum liburan hari raya pilihan masing-masing karyawan
(seperti Lebaran atau Natal). Tanggal hari lebaran di akhir Ramadhan ditentukan berdasarkan fase bulan.
Pada tahun 2015, Perseroan membayar tunjangan hari raya Lebaran kepada karyawan dan karyawan
kontrak pada bulan Juli. Pada tahun 2016, dikarenakan perhitungan waktu Lebaran, Perseroan membayar
tunjangan hari raya kepada karyawan di bulan Juni dan kepada karyawan kontrak di bulan Juli. Pengakuan
pembayaran tunjangan hari raya pada laporan keuangan Perseroan dapat mempengaruhi hasil Perseroan
untuk periode-periode yang bersangkutan. Jumlah karyawan yang keluar, pembayaran manfaat karyawan
dan pesangon juga segera meningkat setelah pembayaran tunjangan hari raya dikarenakan karyawan
yang mengundurkan diri umumnya mengundurkan diri setelah menerima tunjangan hari raya. Fluktuasi
pendapatan, biaya dan profitabilitas dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi
keuangan, hasil operasi dan prospek Perseroan untuk periode yang bersangkutan.
Nilai pertanggungan dari asuransi yang dimiliki Perseroan mungkin tidak cukup untuk melindungi
Perseroan dari setiap kerugian
Perseroan memiliki risiko tanggung gugat (liability risk) yang merupakan risiko melekat di industri
layanan laboratorium klinik. Lebih lanjut, operasional laboratorium memiliki risiko kerusakan akibat
kebakaran dikarenakan banyaknya penggunaan bahan mudah terbakar di laboratorium. Perseroan
juga tunduk pada risiko bencana alam atau gangguan umum lainnya yang dapat merusak fasilitas
Perseroan. Meskipun Perseroan telah menutup risiko-risiko tersebut dengan asuransi untuk berbagai
jenis pertanggungan dalam jumlah yang sepadan dengan operasional dan risiko Perseroan, termasuk
asuransi general liability, tidak ada jaminan bahwa setiap klaim di bawah polis asuransi yang dimiliki
Perseroan akan dipenuhi seluruhnya, sebagian atau tepat waktu, atau Perseroan telah membeli asuransi
74
dengan nilai pertanggungan yang cukup untuk menutup semua kerugian material. Lebih lanjut, satu atau
lebih klaim besar yang berhasil dituntut terhadap Perseroan untuk kejadian yang tidak diasuransikan
atau dalam jumlah melebihi nilai pertanggungan yang tersedia dari asuransi yang dimiliki Perseroan
atau mengakibatkan perubahan polis asuransi Perseroan, termasuk kenaikan premi atau pembebanan
deductible (besaran biaya yang harus dibayarkan oleh pemilik polis asuransi jika terjadi klaim) yang
lebih besar atau persyaratan koasuransi, dapat berdampak merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan,
hasil operasi dan prospek Perseroan.
Perseroan mungkin tidak dapat memperoleh, mempertahankan atau meminta perlindungan atas
HAKI yang dimilikinya dan dapat terlibat dalam sengketa terkait HAKI yang dapat merugikan bisnis
Perseroan
Perseroan mungkin tidak dapat memperoleh, mempertahankan atau meminta perlindungan atas HAKI
yang dimilikinya, termasuk merek “Prodia” yang sangat penting bagi bisnis Perseroan. Perseroan saat
ini memiliki merek dagang “Prodia” di seluruh 45 kelas merek dagang di Indonesia. Merek dagang
atau nama dagang yang terdaftar maupun tidak terdaftar atas nama Perseroan atau diberikan izin oleh
Perseroan untuk digunakan dapat digugat, dilanggar, digagalkan, dinyatakan sebagai merek generik,
dianggap telah lewat waktu, atau diputuskan melanggar atau memiliki kemiripan (dilutif) dengan merek
atau nama dagang lain. Perseroan mungkin tidak dapat melindungi haknya atas merek dan nama dagang
ini, yang dibutuhkan Perseroan agar dikenal oleh mitra potensial. Selain itu, di masa mendatang, pihak
ketiga dapat mendaftarkan merek dagang yang mirip atau identik dengan merek dagang milik Perseroan,
dan tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan berhasil mempertahankan klaim atas merek dagang
tersebut. Jika pihak ketiga berhasil melakukan pendaftaran atau mengembangkan hak-hak hukum lain
atas merek dagang tersebut, dan jika Perseroan tidak berhasil menggugat hak-hak pihak ketiga tersebut,
Perseroan mungkin tidak dapat menggunakan merek dagang Prodia untuk mengkomersilkan teknologi
atau produknya di dalam pasar atau situasi tertentu. Apabila Perseroan tidak dapat mempertahankan
merek Prodia yang telah dikenal masyarakat luas, atau menegakkan hak-haknya sebagai pemegang
merek dagang, nama dagang dan hak kekayaan intelektual lain, Perseroan mungkin tidak dapat bersaing
secara efektif dan hal ini dapat berdampak merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi
dan prospek Perseroan.
Proses pemeriksaan dan bisnis Perseroan dapat melanggar HAKI milik pihak lain, yang dapat
mengakibatkan Perseroan terlibat dalam litigasi berbiaya besar, membayar ganti rugi dalam jumlah
substansial atau melarang Perseroan untuk menawarkan pemeriksaan tertentu
Perusahaan atau individu lain, termasuk pesaing Perseroan, mungkin memiliki paten atau hak kekayaan
intelektual lain yang dapat mencegah, membatasi atau mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam
mengembangkan pemeriksaan baru, melaksanakan dan menawarkan pemeriksaan atau menyelenggarakan
kegiatan usaha Perseroan. Akibatnya, Perseroan mungkin terlibat dalam sengketa HAKI dan dapat
dinyatakan melakukan pelanggaran hak cipta terhadap pihak lain, sehingga dapat memaksa Perseroan
untuk melakukan satu atau lebih hal berikut ini:
•
•
•
•
•
berhenti melaksanakan atau menawarkan layanan yang menggunakan HAKI dalam gugatan;
membayar kepada pemegang HAKI untuk memperoleh lisensi;
mendesain atau merekayasa ulang pemeriksaan Perseroan;
merubah proses bisnis Perseroan; atau
membayar ganti rugi, biaya pengadilan dan biaya hukum yang substansial, termasuk ganti rugi
yang berpotensi lebih besar untuk pelanggaran yang dianggap sengaja.
Pelanggaran dan klaim atas hak kekayaan intelektual lain, terlepas dari kebenaran atau hasil akhirnya,
membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan memakan waktu yang cukup lama apabila melalui proses
litigasi. Selain itu, kewajiban untuk merekayasa ulang suatu pemeriksaan atau merubah proses bisnis
dapat menambah biaya Perseroan secara substansial, memaksa Perseroan untuk menghentikan penjualan
produk tersebut atau menunda rilis pemeriksaan baru. Klaim pelanggaran juga dapat muncul di masa
mendatang mengingat paten dapat dikeluarkan kapanpun atas pemeriksaan atau proses yang dilakukan
oleh Perseroan, khususnya di bidang pengujian yang saat ini sedang giat dikembangkan seperti
pemeriksaan berbasis genetik dan pemeriksaan khusus lainnya.
75
6.2.Risiko Terkait Indonesia
Perseroan tunduk pada kondisi politik, ekonomi, hukum dan peraturan lingkungan hidup di Indonesia.
Semua kegiatan usaha dan aset Perseroan berada di Indonesia. Perubahan kebijakan pemerintah,
ketidakstabilan sosial, bencana alam atau perkembangan lain di bidang politik, ekonomi atau peraturan
di Indonesia atau perkembangan di dunia internasional yang mempengaruhi Indonesia, seluruhnya
berada di luar kontrol Perseroan, dapat berdampak merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil
operasi dan prospek Perseroan.
Pasar negara berkembang seperti Indonesia memiliki risiko lebih besar dibandingkan pasar negara
maju, dan jika risiko tersebut terjadi, hal ini dapat menganggu kegiatan usaha Perseroan dan
mengakibatkan investor mengalami kerugian signifikan atas investasinya
Seluruh pendapatan Perseroan secara historis diperoleh dari kegiatan usaha di Indonesia dan Perseroan
mengatisipasi akan terus memperoleh pendapatannya dalam jumlah yang substansial dari Indonesia.
Pasar berkembang seperti Indonesia secara historis secara historis ditandai oleh volatilitas yang
signifikan, dan kondisi politik, sosial dan ekonomi yang berbeda secara signifikan dari kondisi negara
maju. Risiko-risiko tertentu yang dapat berdampak material terhadap bisnis, hasil operasi, arus kas
dan kondisi keuangan meliputi:
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
ketidakpastian politik, sosial dan ekonomi;
volatilitas nilai tukar mata uang;
aksi perang, terorisme dan konflik sipil;
intervensi kebijakan Pemerintah, yang meliputi bea cukai, proteksionisme dan subsidi;
perubahan peraturan, perpajakan dan struktur hukum;
kewajiban untuk tindakan perbaikan berdasarkan peraturan kesehatan dan keselamatan;
biaya dan ketersediaan dari asuransi dengan pertanggungan yang memadai;
tindakan Pemerintah yang tidak konsisten atau tidak mendasar;
kekurangan infrastruktur transportasi, energy dan infrastruktur lain; dan
pengambilan aset.
Perseroan seringkali tidak dapat memprediksi risiko-risiko terkait dengan politik dan sosial yang dari
waktu ke waktu dapat mengalami perubahan drastis dan, oleh karena itu, informasi yang tercantum dalam
Prospektus ini dapat menjadi tertinggal dalam waktu yang relatif cepat. Apabila salah satu risiko yang
disebut di atas terjadi, hal tersebut dapat berdampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha,
kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek Perseroan, dan nilai investasi dapat turun secara signifikan.
Sistem hukum Indonesia tunduk pada kebijaksanaan dan ketidakpastian yang cukup besar
Prinsip-prinsip hukum di Indonesia dan praktik pelaksanaannya oleh pengadilan Indonesia berbeda
secara material dari prinsip dan praktik yang berlaku di Amerika Serikat atau Uni Eropa. Sistem hukum
di Indonesia adalah sistem hukum sipil berdasarkan undang-undang tertulis serta keputusan pengadilan
dan administrasi yang bukan merupakan preseden yang mengikat dan tidak diterbitkan secara sistematis
atau tersedia untuk masyarakat luas. Hukum dagang dan perdata Indonesia secara historis berdasarkan
hukum Belanda yang berlaku sebelum kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, dan beberapa hukum
tersebut belum direvisi untuk mencerminkan kompleksitas transaksi dan instrumen keuangan modern.
Sengketa dalam transaksi komersial dan keuangan yang rumit secara umum jarang diselesaikan melalui
proses pengadilan di Indonesia, sehingga dalam praktiknya mungkin terdapat ketidakpastian dalam
penafsiran dan penerapan prinsip-prinsip hukum Indonesia. Pelaksanaan hukum Indonesia bergantung
pada kriteria subjektif seperti itikad baik dari para pihak dalam transaksi dan prinsip kebijakan publik,
dimana dampak praktis dari hal-hal tersebut sulit atau tidak mungkin diprediksi. Hakim di Indonesia
menjalankan tindakan dalam suatu sistem hukum inkuisitorial dan memiliki kewenangan untuk
mencari fakta yang sangat luas dan tingkat diskresi yang tinggi dalam menggunakan kewenangannya
tersebut. Dalam pelaksanaannya, keputusan pengadilan di Indonesia dapat menghilangkan artikulasi
analisis hukum dan fakta yang jelas atas isu-isu yang disajikan dalam sebuah kasus. Sebagai hasilnya,
administrasi dan penegakkan hukum dan peraturan oleh pengadilan Indonesia dan lembaga Pemerintah
dapat dipengaruhi diskresi yang cukup besar dan ketidakpastian sehingga dapat mengakibatkan Perseroan
76
memberikan pertimbangan yang tidak akurat mengenai pelaksanaan kontrak-kontrak yang ditandatangani
oleh Perseroan atau dampak dari perkembangan dan penfasiran hukum Indonesia terhadap Perseroan.
Selain itu, tidak ada kepastian mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyimpulkan
proses hukum di pengadilan Indonesia dan tidak terdapat kepastian mengenai hasil dari proses hukum
di pengadilan Indonesia. Dengan demikian, investor mungkin tidak dapat memperoleh kepastian hukum
dalam melaksanakan hak-hak hukumnya secara cepat dan adil.
Penafsiran dan implementasi dari undang-undang tentang pemerintahan daerah di Indonesia tidak
pasti dan dapat berdampak merugikan terhadap Perseroan
Indonesia merupakan negara besar yang terdiri dari berbagai macam etnis, agama, bahasa, tradisi dan
budaya. Sampai dengan tahun 1999, Pemerintah mengendalikan hampir semua aspek administrasi
nasional dan daerah. Periode setelah berakhirnya masa jabatan Presiden Soeharto ditandai dengan
permintaan untuk otonomi daerah yang lebih luas. Sebagai tanggapan dari permintaan tersebut, Dewan
Perwakilan Rakyat menyetujui Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah,
yang kemudian digantikan oleh Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 mengenai perihal yang sama
(sebagaimana terakhir diubah oleh Undang-Undang No. 9 Tahun 2015), dan Undang-Undang No. 25
Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yang kemudian
digantikan oleh Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 mengenai perihal yang sama. Berdasarkan undangundang ini, otonomi daerah diharapkan dapat memberikan kepada pemerintah daerah kewenangan yang
lebih luas dan tanggung jawab atas pemanfaatan sumber daya nasional dan menciptakan perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Undang-undang dan peraturan mengenai otonomi daerah
telah mengubah lingkungan peraturan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dengan melakukan
desentralisasi peraturan tertentu, perpajakan dan wewenang lain dari Pemerintah kepada pemerintah
daerah, dan hal ini menimbulkan ketidakpastian. Ketidakpastian ini meliputi ketidaklengkapan
peraturan pelaksanaan pada wilayah otonomi daerah dan kurangnya ketersediaan karyawan pemerintah
di tingkat pemerintah daerah dengan pengalaman pada sektor yang relevan. Lebih lanjut, preseden atau
ketersediaan pedoman lain dalam menafsirkan dan melaksanakan undang-undang dan peraturan otonomi
daerah masih terbatas. Selain itu, sesuai dengan undang-undang otonomi daerah, pemerintah daerah
diberikan wewenang untuk menerapkan peraturan mereka sendiri dan dengan dalih otonomi daerah,
pemerintah daerah tertentu telah memberlakukan berbagai pembatasan, perpajakan dan retribusi, yang
mungkin berbeda dari pembatasan, perpajakan dan retribusi yang ditetapkan oleh pemerintah daerah
lain dan/atau sebagai tambahan terhadap pembatasan, perpajakan dan retribusi yang ditentukan oleh
Pemerintah. Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia telah menerbitkan dua Instruksi Menteri Dalam
Negeri masing-masing pada tanggal 16 Februari 2016 dan 4 April 2016, yang terutama memberikan
instruksi kepada gubernur dan bupati/walikota di Indonesia untuk mencabut/mengubah setiap peraturan
daerah dan surat keputusan yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah dan bupati/walikota yang
dapat memperpanjang birokrasi investasi dan proses perizinan. Kegiatan usaha dan operasi Perseroan
terletak pada berbagai lokasi di Indonesia dan dapat mengalami dampak dari pembatasan, perpajakan
dan retribusi tambahan atau yang berlawanan yang ditetapkan oleh otoritas daerah yang berwenang.
Ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia dapat berdampak buruk terhadap Perseroan
Sebagai negara demokrasi baru, Indonesia masih mengalami berbagai permasalahan sosial politik dan
telah, dari waktu ke waktu, mengalami ketidakstabilan politik serta kerusuhan. Kasus-kasus seperti
kerusuhan telah menimbulkan ketidakpastian atas kondisi politik Indonesia. Walaupun demonstrasidemonstrasi tersebut berjalan dengan damai, beberapa berujung kepada kekerasan. Khususnya, kenaikan
harga bahan bakar atau pemotongan subsidi sering berujung kepada protes, yang sebagian di antaranya
berkontribusi terhadap ketidakstabilan politik yang berakibat mundurnya Presiden Soeharto pada tahun
1998, yang berdampak buruk pada bisnis-bisnis di Indonesia. Protes mengenai harga bahan bakar juga
terjadi pada tahun 2001, 2003, 2005, 2008 dan 2012. Selain itu, ratusan polisi ditempatkan di pusat
kota Jakarta sehubungan dengan kekhawatiran akan terjadinya kerusuhan setelah hasil pemilihan umum
presiden yang berbeda tipis diumumkan pada tahun 2014, dan walaupun kerusuhan tersebut tidak terjadi,
respon tersebut menegaskan persepsi ketegangan dan ketidakstabilan politik di Indonesia. Tidak ada
jaminan bahwa setiap kenaikan harga bahan bakar bersubsidi, pemotongan lebih lanjut atas subsidi
bahan bakar yang mungkin terjadi di masa depan, atau sengketa atas hasil pemilihan umum di masa
depan tidak akan berujung kepada ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia.
77
Kegiatan usaha Perseroan mungkin dapat terpengaruh oleh tindakan Pemerintah yang sejenis termasuk,
namun tidak terbatas kepada, respon terhadap perang dan tindakan terorisme, perubahan pada undangundang perpajakan, perjanjian atau kebijakan, pemberlakuan pembatasan valuta asing serta respon
terhadap perkembangan internasional.
Aktivitas dan pemogokan buruh, atau kegagalan dalam menjaga hubungan baik dengan buruh dapat
berdampak merugikan terhadap Perseroan
Undang-undang dan peraturan yang memfasilitasi pembentukan serikat butuh, ditambah dengan kondisi
ekonomi yang lemah, telah dan akan terus berakibat pada pemogokan dan aksi buruh di Indonesia. Pada
tahun 2000, Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/
Serikat Buruh (“UU Serikat Buruh”). UU Serikat Buruh memberi izin pada karyawan untuk membentuk
serikat tanpa intervensi dari pemberi kerja. Pada tanggal 25 Februari 2003, komite dari parlemen
Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat mengeluarkan UU Ketenagakerjaan. UU Ketenagakerjaan berlaku
efektif pada tanggal 25 Maret 2003 dan mewajibkan implementasi yang lebih jauh dari peraturan yang
dapat memberikan dampak substansial bagi hubungan tenaga kerja di Indonesia.
UU Ketenagakerjaan meningkatkan jumlah uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan uang
pengganti hak yang wajib dibayarkan kepada karyawan dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja.
Berdasarkan UU Ketenagakerjaan, pekerja yang mengajukan permintaan pengunduran diri atas
kemauan sendiri berhak atas uang penggantian hak, yang meliputi antara lain (i) cuti tahunan yang
belum diambil dan belum gugur; (ii) biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya
ke tempat dimana pekerja/buruh diterima bekerja (jika ada); (iii) penggantian sebesar 15% dari uang
pesangon dan/atau uang penghargaaan masa kerja (bagi yang memenuhi syarat); dan (iv) biaya-biaya lain.
Pekerja yang mengundurkan diri sehubungan dengan perubahan pengendalian dari pemberi kerja juga
berhak, berdasarkan UU Ketenagakerjaan, atas uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja. UU
Ketenagakerjaan mewajibkan forum bipartit dengan partisipasi dari pengusaha dan pekerja dan partisipasi
lebih dari 50% dari jumlah karyawan dalam suatu perusahaan untuk menegosiasikan perjanjian kerja
bersama, dan juga menetapkan prosedur yang mempermudah aksi pemogokan. Setelah penerbitan UU
Ketenagakerjaan tersebut, beberapa serikat pekerja mendorong Mahkamah Konstitusi untuk menyatakan
bahwa UU Ketenagakerjaan inkonstitusional dan menginginkan Pemerintah untuk mencabut undangundang tersebut. Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa UU Ketenagakerjaan tetap berlaku kecuali
beberapa ketentuan, meliputi (i) prosedur untuk memutuskan hubungan kerja terhadap pekerja yang
melakukan kesalahan berat; (ii) sanksi pidana terhadap pekerja yang memulai atau berpartisipasi dalam
aksi mogok kerja yang tidak sah baik dalam bentuk sanksi pidana penjara atau denda; (iii) untuk serikat
pekerja dalam perusahaan yang memiliki lebih dari satu serikat pekerja, dibutuhkan sekitar 50% dari
jumlah seluruh pekerja agar serikat pekerja tersebut berhak melakukan negosiasi dengan pengusaha; dan
(iv) kemampuan perusahaan untuk menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain
(outsource) melalui perjanjian jasa pekerja dengan syarat dan ketentuan tertentu yang tidak memberikan
perlindungan bagi karyawan outsourced pada saat penggantian perusahaan outsourcing. Oleh karena
itu, Perseroan tidak dapat bergantung pada ketentuan-ketentuan tertentu dari UU Ketenagakerjaan.
Pemerintah kemudian mengusulkan untuk mengubah UU Ketenagakerjaan dengan cara yang, dalam
pandangan aktivis buruh, dapat berakibat pada penurunan tunjangan pensiun, kenaikan penggunaan
tenaga kerja alih daya dan pelarangan bagi serikat buruh untuk melakukan mogok kerja. Pada bulan April
2006, ribuan pekerja dari seluruh Indonesia melakukan aksi protes terhadap perubahan tersebut. Pada
bulan Januari 2007, Pemerintah berusaha untuk membuat konsep peraturan terkait pembayaran uang
pengganti hak terkait pemutusan hubungan kerja yang dapat mendefinisikan kembali hak pekerja atas
kompensasi pemutusan hubungan kerja. Peraturan yang diusulkan memperkenalkan batasan upah yang
akan membatasi kelayakan karyawan untuk menerima pembayaran kompensasi pemutusan hubungan
kerja berdasarkan UU Ketenagakerjaan. Usulan ini juga mendapatkan tentangan yang signifikan dari
serikat buruh dan grup yang membela kepentingan karyawan. Diskusi mengenai usulan peraturan
tersebut telah ditunda untuk waktu yang tidak terbatas.
Lebih lanjut, UU Ketenagakerjaan melarang pengusaha untuk membayar upah di bawah upah minimum
yang berlaku yang ditetapkan secara tahunan oleh pemerintah di propinsi, kabupaten atau kota. Penetapan
upah minimum didasarkan pada kebutuhan hidup layak dengan memperhatikan produktivitas dan
78
pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, mengingat tidak adanya ketentuan khusus untuk menentukan
kenaikan jumlah upah minimum, kenaikan upah minimum menjadi tidak dapat diprediksi. Sebagai
contoh, pemerintah Propinsi DKI Jakarta, melalui Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 230 Tahun 2015,
yang menjadi efektif pada tanggal 1 Januari 2016, menetapkan upah minimum untuk Jakarta untuk
tahun 2016 adalah Rp3,1 juta per bulan, meningkat dari upah minimum tahun 2015 yaitu Rp2,7 juta.
Indonesia terletak pada lokasi gempa bumi dan cenderung memiliki risiko geologi yang signifikan
yang dapat mengakibatkan kerusuhan sosial dan kerugian ekonomi
Kepulauan Indonesia merupakan salah satu kawasan vulkanik yang paling aktif di dunia. Dikarenakan
Indonesia terletak di zona konvergensi antara tiga lempeng litosfer besar, hal tersebut mengakibatkan
Indonesia memiliki aktivitas seismik yang signifikan yang dapat mengakibatkan gempa bumi dan
tsunami atau gelombang pasang. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah bencana alam telah terjadi
di Indonesia, termasuk gempa bumi berskala besar yang menyebabkan aktivitas tsunami dan vulkanik.
Selain kejadian geologi tersebut, Indonesia juga telah mengalami bencana alam lain seperti hujan deras
dan banjir. Seluruh bencana tersebut telah mengakibatkan kematian, sejumlah besar orang kehilangan
tempat tinggal dan kerusakan properti.
Meskipun bencana-bencana ini tidak memiliki dampak signifikan terhadap pasar modal Indonesia,
Pemerintah telah membelanjakan sumber daya dalam jumlah signifikan untuk bantuan darurat dan
upaya pemukiman kembali. Sebagian besar biaya-biaya ini ditanggung oleh pemerintah dan lembaga
pemberi bantuan asing. Meskipun demikian, bantuan tersebut mungkin akan selalu datang dan mungkin
tidak disampaikan secara tepat waktu. Apabila Pemerintah tidak mampu membagikan bantuan asing
kepada komunitas yang terganggu tepat pada waktunya, hal tersebut dapat menimbulkan kerusuhan
politik dan sosial. Selain itu, upaya-upaya pemulihan dan bantuan kemungkinan akan terus membebani
kondisi keuangan Pemerintah dan dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk membayar
kewajiban utangnya. Setiap kegagalan dari pihak Pemerintah atau deklarasi moratorium utang negara
oleh Pemerintah dapat memicu terjadinya kegagalan bayar oleh sejumlah besar pinjaman sektor swasta,
berdampak pada kegiatan operasi dan pemasok Perseroan, dan secara tidak langsung mempengaruhi
permintaan pelanggan untuk pelayanan kesehatan, yang pada akhirnya dapat berdampak material dan
merugikan terhadap bisnis, kondi keuangan, hasil operasi dan prospek Perseroan.
Kejadian geologi di masa mendatang dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
Gempa bumi yang signifikan atau gangguan geologi lain di setiap kota berpopulasi besar di Indonesia
dapat menggangu ekonomi dan menurunkan kepercayaan investaso, yang pada akhirnya dapat berdampak
material dan merugikan terhadap bisnis, kondi keuangan, hasil operasi dan prospek Perseroan.
Peraturan-peraturan Indonesia dapat mempengaruhi kemampuan korporasi nonbank untuk
mendapatkan pembiayaan
Pada tanggal 29 Desember 2014, Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia No. 16/21/
PBI/2014 tentang Prinsip Kehati-Hatian Dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi NonBank
(“PBI 16/21/2014”) yang mencabut Peraturan Bank Indonesia No. 16/20/PBI/2014 dan pada tanggal
6 Maret 2016, Bank Indonesia menerbitkan surat edaran, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Bank Indonesia No. 18/4/PBI/2016. PBI 16/21/2014, sebagaimana telah diubah, mewajibkan peminjam
yang merupakan korporasi nonbank untuk memperkuat manajemen risiko mereka pada saat memperoleh
utang luar negeri dalam valuta asing dengan menjamin bahwa entitas tersebut menerapkan prinsip
kehati-hatian. Sesuai dengan PBI 16/21/2014, korporasi nonbank yang memiliki utang luar negeri dalam
valuta asing wajib menerapkan prinsip kehati-hatian meliputi pemenuhan (i) rasio lindung nilai; (ii)
rasio likuiditas; dan (iii) peringkat utang, sebagai berikut:
•
Rasio lindung nilai. Rasio lindung nilai minimum ditetapkan sebesar 25% dari (i) selisih negatif
antara aset valuta asing dan kewajiban valuta asing, yang akan jatuh waktu sampai dengan tiga
bulan ke depan sejak akhir triwulan; dan (ii) selisih negatif antara aset valuta asing dan kewajiban
valuta asing, yang akan jatuh waktu lebih dari tiga bulan sampai dengan enam bulan ke depan sejak
akhir triwulan. Setelah 1 Januari 2017, transaksi lindung nilai harus dilakukan dengan perbankan
di Indonesia.
79
•
Rasio likuiditas. Rasio likuiditas minimum (paling rendah sebesar 70%) dengan menyediakan aset
valuta asing yang memadai terhadap kewajiban valuta asing yang akan jatuh waktu sampai dengan
tiga bulan ke depan sejak akhir triwulan.
•
Peringkat utang. Minimum peringkat utang setara “BB-“ yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat
yang diakui oleh Bank Indonesia. Peringkat rating tersebut berupa peringkat yang masih berlaku
atas korporasi dan/atau surat utang. Transaksi yang dikecualikan dari kewajiban ini adalah (i)
utang luar negeri dalam valuta asing digunakan untuk menggantikan utang luar negeri sebelumnya
(refinancing); (ii) utang luar negeri dalam valuta asing dari (a) kreditor lembaga internasional
bilateral/multilateral; dan (b) pinjaman sindikasi dengan kontribusi kreditor lembaga internasional
bilateral/multilateral lebih besar dari 50% untuk pembiayaan proyek infrastruktur; (iii) utang luar
negeri dalam valuta asing untuk pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah baik pusat maupun
daerah; (iv) utang luar negeri dalam valuta asing yang dijamin oleh lembaga internasional bilateral/
multilateral; (v) utang luar negeri dalam valuta asing berupa utang dagang, yaitu utang yang timbul
dalam rangka kredit yang diberikan oleh supplier luar negeri atas transaksi barang dan/atau jasa;
(vi) utang luar negeri dalam valuta asing berupa utang lainnya, yaitu seluruh utang yang tidak
termasuk utang berdasarkan perjanjian kredit, surat utang, dan utang dagang, antara lain berupa
pembayaran klaim asuransi dan dividen yang sudah ditetapkan namun belum dibayar; (vii) utang
luar negeri dalam valuta asing perusahaan pembiayaan, sepanjang (a) memiliki tingkat kesehatan
keuangan minimum “sehat” yang terakhir dikeluarkan oleh OJK; dan (b) memenuhi gearing ratio
maksimum sebagaimana diatur oleh OJK; dan (viii) utang luar negeri dalam valuta asing Lembaga
Pembiayaan Ekspor Indonesia.
Korporasi nonbank yang memiliki utang luar negeri dalam valuta asing wajib menyampaikan laporan
kepada Bank Indonesia terkait penerapan prinsip kehati-hatian dan pengecualian, bersama dengan
dokumen pendukung yang relevan. Tata cara penyampaian laporan dan dokumen pendukung dilakukan
sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai pelaporan kegiatan lalu lintas devisa
dan pelaporan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang luar negeri korporasi nonbank.
Korporasi nonbank yang melakukan pelanggaran terhadap kewajiban pemenuhan prinsip kehati-hatian
dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. PBI 16/21/2014 menjadi efektif pada tanggal
1 Januari 2015, kecuali (i) ketentuan sanksi administratif yang mulai berlaku sejak triwulan keempat
tahun 2015; dan (ii) ketentuan mengenai pemenuhan minimum peringkat utang berlaku bagi utang luar
negeri yang ditandatangani atau diterbitkan sejak tanggal 1 Januari 2016.
Sebagai akibat dari perkembangan dan pembatasan ini, tidak ada jaminan bahwa dalam hal strategi
Perseroan saat ini berubah dan Perseroan mencari pembiayaan di masa depan, Perseroan akan dapat
memperoleh pembiayaan yang memadai, baik pembiayaan jangka pendek atau jangka panjang.
Prospektus ini memuat informasi dari laporan industri yang dipesan oleh Perseroan kepada Frost
& Sullivan
Prospektus ini memuat informasi yang diambil dari laporan industri berjudul “Independent Market
Research on the Clinical Laboratory Market in Indonesia” (“Laporan Industri”) yang disusun oleh
Frost & Sullivan atas dasar penugasan oleh Perseroan. Perseroan memesan laporan ini dengan
tujuan mengkonfirmasi pengertian Perseroan atas industri laboratorium di Indonesia. Sesuai dengan
pernyataan dalam Laporan Industri, meskipun Frost & Sullivan telah menyusun laporan ini dengan
cermat dan berhati-hati dengan menggunakan sumber informasi yang tersedia dari sumber yang dapat
dipercaya (“Informasi”), Frost & Sullivan tidak dapat memberikan jaminan atas akuransi, kecukupan
dan kelengkapan dari Informasi dan melepaskan tanggung jawab dari setiap kekeliruan atau kelalaian
dalam Informasi atau hasil yang diperoleh dari penggunaan Informasi. Baik Perseroan, Agen Penjualan
atau Penjamin Pelaksana Emisi Efek, atau afiliasi dari masing-masing Perseroan, Agen Penjualan atau
Penjamin Pelaksana Emisi Efek atau pihak manapun yang terlibat dalam Penawaran Umum Saham
Perdana ini tidak melakukan verifikasi dari informasi dalam laporan yang dipesan. Laporan Industri
yang dipesan juga menekankan data industri dan pasar tertentu, yang mungkin dipengaruhi oleh asumsi.
Tidak ada metodologi standar yang digunakan dalam pengumpulan data untuk industri dimana Perseroan
terlibat, dan metodologi serta asumsi yang digunakan dapat sangat bervariasi di antara sumber-sumber
yang berbeda dalam industri. Lebih lanjut, asumsi tersebut dapat berubah berdasarkan berbagai faktor.
Perseroan tidak dapat menjamin bahwa asumsi dari Frost & Sullivan adalah benar atau tidak akan
80
berubah dan, dengan demikian, posisi Perseroan di pasar mungkin berbeda dari yang disajikan dalam
Prospektus. Selain itu, laporan yang dipesan bukan merupakan rekomendasi untuk berinvestasi atau
melepas investasi pada Perseroan. Frost & Sullivan telah melepas seluruh tanggung jawab keuangan
terhadap pelanggan, pengguna, penyebar dan distributor dari laporan yang dipesan. Investor disarankan
untuk tidak teralu bergantung pada laporan yang dipesan atau ringkasannya sebagaimana terlampir
dalam Prospektus ini pada saat membuat pertimbangan investasi.
6.3.Risiko Terkait Investasi pada Saham Perseroan
Harga saham Perseroan dapat berfluktuasi cukup jauh
Harga saham Perseroan setelah Penawaran Umum Saham Perdana dapat berfluktuasi cukup jauh
dikarenakan berbagai faktor, meliputi:
•
•
•
•
•
•
•
•
•
persepsi atas prospek bisnis dan operasi Peseroan dan industri pelayanan kesehatan secara umum;
perubahan secara umum atas kondisi ekonomi, politik atau pasar di Indonesia;
perbedaan antara hasil keuangan dan operasi aktual dan hasil yang diharapkan oleh investor dan
analis;
perubahan rekomendasi atau persepsi analis atas Perseroan atau Indonesia;
pengumuman oleh Perseroan mengenai akuisisi, aliansi strategis, kerjasama atau divestasi yang
signifikan;
perubahan harga saham dari perusahaan-perusahaan asing (khususnya di Asia) dan perusahaanperusahaan di pasar-pasar berkembang;
penambahan atau kehilangan karyawan kunci;
keterlibatan dalam litigasi; dan/atau
fluktuasi harga-harga saham di pasar modal.
Saham Perseroan mungkin diperdagangkan pada harga yang jauh di bawah Harga Penawaran.
Penurunan peringkat utang Indonesia dan perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat berdampak
material dan merugikan dan harga pasar dari Saham Yang Ditawarkan
Saat ini, obligasi jangka panjang Indonesia dalam mata valuta asing mendapatkan peringkat “Baa3
(stable)” oleh Moody’s, “BB+ (positif)” dari Standard & Poor’s, dan “BBB-(stable) dari Fitch. Peringkat
ini mencerminkan sebuah penilaian terhadap kapasitas keuangan Pemerintah secara keseluruhan dalam
membayar kewajibannya dan kemampuan atau kesediaannya untuk memenuhi komitmen keuangannya
saat jatuh tempo. Meskipun tren belakangan menunjukkan peringkat surat utang Pemerintah (sovereign
rating) selama ini positif, tidak ada jaminan yang dapat diberikan bahwa Moody’s, Standard & Poor’s,
Fitch atau lembaga pemeringkatan lain tidak akan menurunkan peringkat utang Pemerintah atau peringkat
perusahaan-perusahaan di Indonesia secara umum di masa mendatang. Lembaga pemeringkatan ini
di masa lalu pernah menurunkan peringkat surat utang Pemerintah dan peringkat utang dari berbagai
instrumen utang Pemerintah dan sejumlah besar perusahaan keuangan dan perusahaan lain di Indonesia.
Setiap penurunan tersebut dapat berdampak merugikan terhadap likuiditas pasar keuangan Indonesia,
kemampuan Perseroan dan perusahaan Indonesia, termasuk Perseroan, untuk mencari pendanaan
tambahan dan tingkat bunga dan syarat komersial yang tersedia atas pendanaan tersebut. Hal ini dapat
berdampak material dan merugikan terhadap harga pasar Saham Yang Ditawarkan.
Kondisi pasar modal Indonesia dapat mempengaruhi harga atau likuiditas saham Perseroan dan
tidak adanya pasar sebelumnya untuk saham Perseroan dapat berakibat pada berkurangnya likuiditas
Perseroan telah mendaftarkan sahamnya di Bursa Efek. Saat ini belum ada pasar untuk saham Perseroan.
Tidak ada jaminan bahwa pasar untuk saham Perseroan akan berkembang atau, apabila pasar untuk
saham Perseroan berkembang, tidak ada jaminan bahwa saham Perseroan akan likuid. Pasar modal
Indonesia kurang likuid dan memiliki volatilitas yang lebih tinggi, dan memiliki standar akuntansi yang
berbeda, dibandingkan pasar modal di negara-negara maju. Dan juga, harga-harga saham pada pasar
modal Indonesia umumnya lebih tidak stabil apabila dibandingkan dengan pasar lain. Oleh karena itu,
Perseroan tidak dapat memprediksi apakah pasar perdagangan untuk saham Perseroan akan berkembang
atau akan likuid.
81
Kemampuan untuk menjual dan menyelesaikan perdagangan di Bursa Efek dapat memiliki risiko
keterlambatan. Dengan demikian, tidak ada jaminan bahwa pemegang saham Perseroan akan dapat
menjual sahamnya pada harga atau waktu tertentu dimana pemegang saham tersebut akan mampu
melakukannya di pasar saham yang lebih likuid atau sama sekali.
Meskipun permohonan pendaftaran saham Perseroan disetujui, saham Perseroan tidak akan langsung
dicatatkan pada Bursa Efek setelah dilakukannya penjatahan dalam Penawaran Umum Saham Perdana di
Indonesia. Dalam periode tersebut, pembeli akan mengalami dampak pergerakan harga saham Perseroan
namun tanpa kemampuan untuk menjual saham yang dibeli melalui Bursa Efek.
Kemampuan Perseroan untuk membagikan dividen di masa mendatang akan bergantung pada saldo
laba ditahan, kondisi keuangan, arus kas dan kebutuhan modal kerja di masa mendatang
Jumlah dividen yang akan dibagikan oleh Perseroan di masa mendatang, apabila ada, akan bergantung
pada saldo laba ditahan, kondisi keuangan, arus kas dan kebutuhan modal kerja, serta belanja modal,
ikatan perjanjian dan biaya yang timbul terkait ekspansi Perseroan. Selain itu, Perseroan juga dapat
menandatangani perjanjian pinjaman di masa mendatang yang dapat membatasi kemampuan Perseroan
untuk membagikan dividen, dan Perseroan dapat mencatatkan biaya atau kewajiban yang akan
mengurangi atau meniadakan kas yang tersedia untuk pembagian dividen.
Salah satu faktor ini dapat berdampak pada kemampuan Perseroan untuk membayar dividen kepada
pemegang sahamnya. Oleh karena itu, Perseroan tidak dapat memberikan jaminan bahwa Perseroan
akan dapat membagikan dividen atau Direksi Perseroan akan mengumumkan pembagian dividen.
Net Asset Value dari Saham Yang Ditawarkan dalan Penawaran Umum Saham Perseroan dapat
memiliki nilai lebih kecil dari Harga Penawaran dan calon investor akan mengalami dilusi langsung
dan substansial
Harga Penawaran pada umumnya lebih besar secara substansial dari net asset value per saham atas jumlah
saham yang beredar yang dikeluarkan kepada pemegang saham. Oleh karena itu, pembeli dari Saham
Yang Ditawarkan akan mengalami dilusi lansung dan cukup besar dan pemegang saham Perseroan akan
mengalami peningkatan yang material pada net asset value per saham atas Saham yang mereka miliki.
Kepentingan pemegang saham pengendali dapat bertentangan dengan kepentingan pembeli Saham
Yang Ditawarkan
Setelah Penawaran Umum Saham Perdana, PT Prodia Utama dan Bio Majesty Pte. Ltd. akan memiliki
maisng-masing sekitar 60,80% dan 19,20% dari jumlah seluruh saham Perseroan yang beredar.
PT Prodia Utama dan Bio Majesty Pte. Ltd. secara langsung dan tidak langsung dikendalikan oleh
Kelompok Pendiri dan masing-masing keluarga dalam Kelompok Pendiri. Sebagai hasilnya, Kelompok
Pendiri pada umumnya telah dapat memegang kendali efektif atas Perseroan, termasuk kewenangan
untuk memilih Direktur dan Komisaris Perseroan dan menentukan hasil dari suatu tindakan yang
membutuhkan persetujuan pemegang saham. Walaupun Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan wajib
memperhatikan setiap kepentingan pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas, namun
dengan mempertimbangkan bahwa Kelompok Pendiri memiliki kepentingan bisnis di luar Perseroan,
mereka secara bersama-sama atau masing-masing dapat mengambil tindakan yang lebih menguntungkan
bagi kepentingan bisnis mereka tersebut dibandingkan kepentingan Perseroan, dimana hal ini dapat
berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek
Perseroan. Oleh karena itu, Kelompok Pendiri telah dan akan tetap memiliki pengaruh signifikan atas
Perseroan, termasuk pengaruh sehubungan dengan:
•
•
•
•
menyetujui penggabungan, konsolidasi atau pembubaran Perseroan;
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dan urusan Perseroan;
memilih sebagian besar Direktur dan Komisaris Perseroan; dan
menentukan hasil dari tindakan yang memerlukan persetujuan pemegang saham (selain dari
persetujuan atas transaksi yang memiliki benturan kepentingan dimana pemegang saham pengendali
memiliki benturan kepentingan atau memiliki hubungan afiliasi dengan Direktur, Komisaris atau
82
pemegang saham utama (pemegang saham yang memiliki 20% atau lebih dari saham yang beredar)
yang memiliki benturan kepentingan diharuskan untuk tidak memberi suara berdasarkan peraturan
OJK), termasuk waktu dan pembayaran atas dividen di masa depan.
PT Prodia Utama dapat memiliki kepentingan bisnis lain diluar usaha Perseroan, dan dapat mengambil
tindakan, yang dapat atau tidak melibatkan Perseroan, yang memilih atau menguntungkan mereka atau
perusahaan lain dibandingkan Perseroan, sehingga dapat memberikan dampak material dan merugikan
pada bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan. Meskipun Perseroan saat ini tidak
mengetahui kepemilikan PT Prodia Utama di perusahaan laboratorium klinik pesaing di Indonesia,
Perseroan tidak memiliki perjanjian non-kompetisi dengan pihak manapun yang memiliki hubungan
afiliasi dengan Perseroan yang melarang mereka untuk terlibat dalam bisnis laboratorium klinik.
Dari waktu ke waktu, Perseroan telah dan berencana untuk tetap melakukan transaksi dengan entitas
yang dikendalikan oleh PT Prodia Utama dan pihak terkait lainnya dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Sebagai contoh, Perseroan saat ini sedang dalam proses untuk menandatangani perjanjian kerjasama
baru dengan POHII untuk secara rutin merujuk pelanggan kepada Perseroan. Perjanjian sebelumnya
berakhir pada tanggal 31 Maret 2016. Pelanggan yang dirujuk kepada Perseroan oleh POHII mewakili
6,3% dari total pendapatan Perseroan pada tahun 2015, sebagai contoh. Tidak ada jaminan bahwa
transaksi tersebut akan dilakukan pada syarat dan ketentuan yang menguntungkan bagi Perseroan. Apabila
PT Prodia Utama tidak lagi memiliki kendali efektif atas Perseroan di masa mendatang, tidak ada
jaminan bahwa Perseroan akan dapat terus memperoleh manfaat dari hubungan bisnis dengan afiliasi
Perseroan yang bukan entitas anak.
Meskipun setiap transaksi benturan kepentingan (sebagaimana didefinisikan dalam peraturan OJK)
yang dilakukan Perseroan dengan pihak terafiliasi setelah Penawaran Umum Saham Perdana wajib
memperoleh persetujuan pemegang saham independen sesuai dengan peraturan OJK sebagaimana
diatur dalam Peraturan No. IX.E.1, ada atau tidak adanya benturan kepentingan dalam suatu transaksi
terbuka untuk intepretasi oleh Perseroan dan affiliasinya. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa jumlah
yang Perseroan bayarkan dalam transaksi-transaksi ini akan mencerminkan harga yang akan dibayarkan
oleh pihak ketiga independen untuk transaksi sejenis.
Fluktuasi nilai tukar mata uang Rupiah terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat atau mata uang
lain akan mempengaruhi nilai saham Perseroan dan dividen dalam mata uang asing
Fluktuasi nilai tukar antara Rupiah dan mata uang lain akan mempengaruhi harga saham Perseroan
dalam Rupiah di BEI dalam mata uang asing. Fluktuasi tersebut akan mempengaruhi jumlah yang akan
diterima oleh pemegang saham Perseroan dalam mata uang asing pada saat konversi (i) dividen tunai
atau distribusi lain yang dibayar Perseroan dalam Rupiah, dan (ii) dana yang dibayar dalam Rupiah
dari penjualan saham Perseroan di Pasar Sekunder.
Penjualan saham Perseroan di masa depan oleh Perseroan dan pemegang saham Perseroan saat ini
dapat berdampak merugikan terhadap harga pasar saham Perseroan
Penjualan saham Perseroan di masa depan dengan jumlah substansial di pasar publik, atau persepsi
bahwa penjualan tersebut akan terjadi, dapat berdampak merugikan pada harga pasaran saham Perseroan
dan kemampuan Perseroan untuk menghimpun modal melalui penawaran umum atau penawaran umum
terbatas dari efek yang bersifat ekuitas. Segera setelah Penawaran Umum Saham Perdana, sekitar
80,0% dari total saham Perseroan yang beredar akan dimiliki secara kolektif oleh PT Prodia Utama dan
Bio Majesty Pte. Ltd. (keduanya dikendalikan oleh Kelompok Pendiri). Perseroan, PT Prodia Utama
dan Bio Majesty Pte. Ltd. masing-masing telah setuju sampai dengan batasan tertentu sesuai dengan
kemampuan Perseroan, PT Prodia Utama dan Bio Majesty Pte. Ltd. untuk tidak mengalihkan atau
menjual saham Perseroan selama periode tertentu setelah tanggal saham Perseroan dicatatkan pada
BEI. Penjualan saham Perseroan dalam blok besar, atau persepsi bahwa penjualan tersebut akan terjadi,
dapat mengakibatkan harga saham Perseroan mengalami penurunan dan hal ini dapat mengakibatkan
kesulitan bagi Perseroan untuk menghimpun modal melalui penawaran saham.
83
Putusan pengadilan asing mungkin tidak dapat dilaksanakan terhadap Perseroan
Perseroan merupakan perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia. Seluruh Dewan
Komisaris, Direksi dan pejabat eksekutif bertempat tinggal di Indonesia. Sebagian besar aset Perseroan
dan sebagian besar aset milik Dewan Komisaris, Direksi dan pejabat eksekutif berada di Indonesia.
Oleh karena itu, tidak dimungkinkan bagi investor untuk menggugat Perseroan dari luar Indonesia atau
pihak-pihak tertentu untuk memberlakukan hukum asing terhadap Perseroan atau pihak terkait di luar
Indonesia. Selain itu, keputusan pengadilan yang diperoleh di pengadilan di luar Indonesia tidak dapat
dilaksanakan dalam pengadilan Indonesia. Akibatnya, pemegang saham Perseroan disyaratkan untuk
menggugat Perseroan di Indonesia menurut hukum Indonesia. Pemeriksaan ulang secara de novo akan
diperlukan sebelum pengadilan Indonesia melaksanakan putusan dari pengadilan asing di Indonesia.
Klaim dan perbaikan yang tersedia berdasarkan hukum Indonesia tidak seluas hukum yang tersedia di
yurisdiksi lain. Tidak ada jaminan bahwa pengadilan Indonesia akan melindungi kepentingan investor
dengan cara yang sama atau pada tingkat yang sama dengan pengadilan di negara yang lebih maju di
luar Indonesia.
Sistem hukum di Indonesia adalah sistem hukum sipil berdasarkan undang-undang tertulis, di mana
keputusan peradilan dan administratif bukan merupakan preseden yang mengikat dan tidak diterbitkan
secara sistematis. Penerapan hukum Indonesia tergantung, sebagian besar, pada kriteria subjektif
seperti itikad baik para pihak dan kebijakan publik. Hakim Indonesia beroperasi dalam sistem
hukum inkuisitorial dan memiliki kemampuan yang sangat luas dalam menemukan fakta dan tingkat
kebijaksanaan yang tinggi dalam kaitannya dengan kasus di mana kekuatan-kekuatan itu dilakukan.
Administrasi undang-undang dan peraturan oleh pengadilan dan lembaga pemerintahan mungkin dapat
dikenakan kebijaksanaan yang cukup besar dan ketidakpastian. Selain itu, karena relatif sedikitnya
perselisihan yang berkaitan dengan permasalahan komersial dan transaksi dan instrumen keuangan
modern yang dibawa ke pengadilan Indonesia, yang tidak memiliki pengalaman atau keahlian dalam
menangani kasus tersebut, yang mendorong terjadinya ketidakpastian dalam penafsiran dan penerapan
prinsip-prinsip hukum di Indonesia. Tidak ada jaminan mengenai berapa lama waktu yang diperlukan
bagi proses pengadilan di Indonesia untuk dapat diselesaikan. Dengan demikian, calon pembeli mungkin
tidak dapat memperoleh penegakan hak-hak secara adil dan cepat.
Investor dapat tunduk pada pembatasan atas hak pemegang saham minoritas
Kewajiban pemegang saham utama, komisaris dan direktur terhadap pemegang saham minoritas
berdasarkan hukum Indonesia dapat lebih terbatas dibandingkan dengan kewajiban tersebut yang terdapat
di negara maju. Oleh karena itu, pemegang saham minoritas dapat tidak mampu untuk melindungi
kepentingan mereka dibawah hukum Indonesia jika dibandingkan dengan negara maju. Prinsip-prinsip
hukum korporasi yang berhubungan dengan masalah seperti keabsahan dari prosedur perusahaan, prinsip
kehati-hatian (fiduciary duties) dari manajemen, komisaris, direksi dan pemegang saham pengendali
Perseroan, dan hak dari pemegang saham minoritas Perseroan diatur oleh UUPT, peraturan OJK,
peraturan Bursa Efek dan anggaran dasar Perseroan. Prinsip hukum tersebut dapat berbeda apabila
Perseroan merupakan perusahaan yang didirikan di wilayah yurisdiksi selain di Indonesia. Secara khusus,
konsep terkait fiduciary duties dari manajemen Perseroan belum pernah diajukan kepada pengadilan
di Indonesia. Tindakan derivatif terkait dengan tindakan komisaris atau direktur tidak pernah dibawa
atau diuji di pengadilan Indonesia, dan hak pemegang saham minoritas baru ditentukan sejak 1995
dan belum teruji dalam prakteknya. Walaupun tindakan dapat dilakukan dibawah hukum Indonesia,
ketiadaan preseden dapat membuat penuntutan atas perkara perdata tersebut jauh lebih sulit. Oleh karena
itu, tidak ada jaminan bahwa hak atau upaya hukum dari pemegang saham minoritas akan sama atau
cukup dibandingkan dengan hak atau upaya hukum yang tersebut di yurisdiksi lain dalam melindungi
kepentingan pemegang saham minoritas.
84
Standar tata kelola perusahaan di Indonesia dapat berbeda dari standar tata kelola di negara-negara
lain
Tata kelola perusahaan di Indonesia berbeda secara signifikan dengan yang berlaku di yurisdiksi
lain, termasuk independensi dari direksi, dewan komisaris dan komite audit, dan standar pelaporan
eksternal dan internal. Standar dan praktik tata kelola perusahaan mungkin tidak seketat, khususnya
terkait independensi dari direksi, dewan komisaris dan komite audit, dan standar pelaporan eksternal
dan internal. Akibat dari perbedaan pada tata kelola perusahaan ini, direktur dari perusahaan Indonesia
dapat memiliki kepentingan yang berbenturan dengan pemegang saham pada umumnya, sehingga dapat
menyebabkan pengambilan tindakan yang berbeda dengan kepentingan pemegang saham.
6.4.Risiko Terkait Peraturan-Peraturan Pasar Modal di Indonesia
Investor dapat diwajibkan untuk menyelesaikan pembelian Saham Yang Ditawarkan apabila
Penawaran Umum Saham Perdana dipersyaratkan untuk dilaksanakan dan diselesaikan walaupun
terdapat perubahan material yang merugikan dalam bidang moneter, keuangan, politik atau ekonomi
di internasional atau nasional atau kejadian-kejadian force majeure atau perubahan material yang
merugikan lainnya terhadap hal-hal apapun termasuk kondisi bisnis dan keuangan Perseroan
Peraturan di Indonesia memperbolehkan pembatalan Penawaran Umum Saham Perdana hanya dalam
keadaan terbatas. Apabila perubahan material yang merugikan dalam bidang moneter, keuangan,
politik atau ekonomi atau kejadian force majeure terjadi, atau perubahan material yang merugikan
terhadap hal-hal apapun termasuk kondisi bisnis dan keuangan Perseroan muncul setelah Pernyataan
Pendaftaran Perseroan dinyatakan Efektif dan sebelum Penawaran Umum Saham Perdana dan pencatatan
saham Perseroan selesai dilaksanakan, Perseroan dapat meminta izin dari OJK untuk membatalkan
Penawaran Umum Saham Perdana. Namun demikian, tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan meminta
pembatalan tersebut atau OJK akan memberikan izin untuk melakukan pembatalan, dan OJK dapat
mengharuskan Penawaran Umum Saham Perseroan untuk dilanjutkan dan diselesaikan sesuai dengan
peraturan-peraturan yang berlaku. Dalam situasi ini, investor yang telah menerima alokasi dari Saham
Yang Ditawarkan dapat tetap diwajibkan untuk menyelesaikan pemesanan pembelian Saham Yang
Ditawarkan meskipun kejadian-kejadian tersebut dapat membatasi kemampuan investor untuk menjual
saham setelah Penawaran Umum Saham Perdana, atau menyebabkan harga perdagangan saham setelah
Penawaran Umum Saham Perdana menjadi jauh lebih rendah dari Harga Penawaran.
Kegagalan dalam memenuhi ketentuan keterbukaan dan pengendalian internal serta laporan
keuangan, dan manajemen risiko serta tindakan terkait lainnya yang sesuai untuk perusahaan
terbuka yang sahamnya dicatatkan dapat menganggu kegiatan operasi Perseroan dan kemampuan
Perseroan untuk memenuhi kewajiban pelaporan berkala
Setelah Penawaran Umum Saham Perdana, Perseroan akan menjadi perusahaan terbuka yang tunduk
pada ketentuan pelaporan dari Bursa Efek, bursa efek di mana saham Perseroan akan dicatatkan.
Peraturan Bursa Efek salah satunya mewajibkan Perseroan untuk melakukan pengawasan keterbukaan
dan prosedur yang efektif serta pengawasan internal yang relevan pada laporan keuangan untuk
menyediakan informasi keuangan secara reguler dan update mengenai bisnis Perseroan yang material
kepada Bursa Efek. Terhitung sejak laporan keuangan per tanggal 31 Desember 2016, Perseroan akan
harus memenuhi ketentuan pencatatan dan mengimplementasikan manajemen risiko dan tindakan terkait
lainnya yang akan menimbulkan tambahan biaya profesional dan biaya internal yang substansial untuk
memperluas fungsi akuntansi dan keuangan, serta agar Perseroan meningkatkan upaya manajemen.
Perseroan juga harus mempekerjakan sejumlah karyawan yang memadai dengan kemampuan, pengalaman
dan pelatihan akuntansi yang cukup yang setara dengan ketentuan laporan keuangan Perseroan, dan
pemisahan tanggung jawab pada fungsi keuangan dan akuntansi Perseroan. Perseroan belum pernah
diharuskan untuk mematuhi kewajiban jenis ini sebelumnya dan hal ini dapat memberikan tekanan yang
signifikan pada Perseroan. Lebih lanjut, dikarenakan Perseroan memiliki banyak outlet pelayanan untuk
mendukung kegiatan operasi Perseroan, dan berencana membuka lokasi pelayanan kesehatan tambahan
di masa mendatang, Perseroan dapat menghadapi tantangan tambahan dalam menerapkan pengawasan
keterbukaan dan pengawasan internal yang efektif. Apabila Perseroan tidak dapat memenuhi persyaratan
pencatatan dari BEI, atau apabila Perseroan tidak dapat mengelola pengawasan internal yang layak dan
85
efektif, dan sebaliknya mengimplementasikan manajemen risiko lain yang relevan atau tindakan lain,
Perseroan dapat dikenakan biaya tambahan, dan bisnis, kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan dapat
terganggu dan hal ini dapat menghalangi Perseroan untuk memenuhi kewajiban pelaporan Perseroan.
Keterbukaan dan pengawasan internal yang tidak efektif dan manajemen risiko serta tindakan terkait
lainnya dapat menyebabkan pemegang saham Perseroan dan calon investor kehilangan kepercayaan atas
informasi laporan keuangan Perseroan, yang dapat memiliki dampak negatif pada harga perdagangan
saham Perseroan. Selain itu, ketergantungan investor pada kesalahan informasi dapat menyebabkan
kesalahan pada keputusan investasi, dan Perseroan dapat tunduk pada sanksi atau penyelidikan yang
dilakukan oleh Bursa Efek, OJK atau otoritas regulator lainnya.
Pelaksanaan peraturan benturan kepentingan dapat mengakibatkan Perseroan untuk melepaskan
transaksi yang dinilai menguntungkanpenting bagi Perseroan
Dalam rangka melindungi hak pemegang saham minoritas, Bapepam dan LK menerbitkan Peraturan No.
IX.E.1. Peraturan No. IX.E.1 memberikan hak kepada pemegang saham independen atas perusahaan
terbuka di Indonesia untuk memberikan suara untuk menyetujui atau tidak menyetujui suatu transaksi,
baik material atau tidak, yang mengandung “benturan kepentingan” sesuai dengan Peraturan No.
IX.E.1 kecuali benturan kepentingan tersebut terjadi sebelum perusahaan tersebut tercatat di BEI dan
diungkapkan secara lengkap di dalam Prospektus. Transaksi antara Perseroan dan perusahaan lainnya
dapat mengandung benturan kepentingan sesuai Peraturan No. IX.E.1. Sebagai hasilnya, persetujuan
mayoritas pemegang saham independen harus diperoleh apabila terdapat benturan kepentingan. OJK
memiliki kewenangan untuk menegakkan peraturan ini dan pemegang saham Perseroan juga berhak
untuk menegakkan atau mengambil tindakan berdasarkan Peraturan No. IX.E.1.
Persyaratan untuk memperoleh persetujuan pemegang saham independen dapat membebani Perseroan
dalam hal waktu dan biaya dan dapat menyebabkan Perseroan tidak jadi melakukan transaksi tertentu
yang sebenarnya dapat bermanfaat bagi Perseroan. Lebih lanjut, Perseroan tidak dapat menjamin bahwa
persetujuan mayoritas pemegang saham minoritas dapat diperoleh dalam hal terdapat transaksi yang
mengandung benturan kepentingan.
Hak investor untuk berpartisipasi dalam penawaran umum terbatas Perseroan di masa depan dapat
dibatasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di tempat kedudukan investor
yang bersangkutan, sehingga dapat menyebabkan dilusi kepemilikan saham
Sesuai Peraturan OJK No. 32/POJK.04/2015 mengenai Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu, sebuah perusahaan terbuka harus menawarkan hak memesan efek terlebih dahulu untuk
membeli dan membayar sejumlah saham secara proporsional agar dapat mempertahankan kepemilikan
mereka ketika terjadi pengeluaran saham baru.
Dalam hal Perseroan menawarkan kepada pemegang sahamnya hak untuk membeli atau memesan saham
atau menawarkan untuk mendistribusikan saham kepada pemegang saham, pemegang saham mungkin
tidak dapat melaksanakan hak tersebut kecuali penawaran tersebut telah memenuhi ketentuan hukum
yang berlaku di yurisdiksi pemegang saham tersebut. Sebagai contoh, pemegang saham dari yurisdiksi
tertentu mungkin tidak dapat melaksanakan hak tersebut atau Perseroan mungkin tidak dapat menawarkan
kepada pemegang saham hak tersebut kecuali pernyataan pendaftaran sesuai dengan undang-undang
pasar modal yang berlaku di yurisdiksi tersebut dinyatakan efektif sehubungan dengan saham baru atau
pengecualian dari registrasi sesuai undang-undang tersebut tersedia.
Setiap kali Perseroan melakukan penawaran umum terbatas atau penawaran umum lainnya, Perseroan
akan melakukan evaluasi atas biaya dan kemampuannya untuk dapat mematuhi peraturan di luar
Indonesia, dan faktor-faktor lainnya yang dianggap tepat oleh Perseroan. Walaupun demikian, Perseroan
dapat saja memilih untuk tidak memenuhi peraturan pasar modal di beberapa wilayah hukum tertentu
dan apabila Perseroan melakukan hal tersebut, dan tidak terdapat pengecualian terhadap peraturan dan
persyaratan pendaftaran dalam yurisdiksi tertentu, maka pemegang Saham Yang Ditawarkan dalam
yurisdiksi tersebut tidak dapat berpartisipasi dalam penawaran umum terbatas atau penawaran umum
lainnya dan dapat mengalami dilusi atas kepemilikan saham. Dengan demikian, Perseroan tidak dapat
menjamin pembeli Saham Yang Ditawarkan dapat menjaga persentase kepemilikan saham secara
86
proporsional setiap saat. Karena penawaran umum terbatas di Indonesia pada umumnya memungkinkan
para peserta untuk membeli saham dengan diskon yang cukup besar terhadap harga pasar yang berlaku,
ketidakmampuan untuk berpartisipasi dapat menyebabkan pemegang dari Saham Yang Ditawarkan
mengalami kerugian ekonomi material.
Undang-undang di Indonesia dapat beroperasi secara berbeda dari undang-undang di yurisdiksi
lain sehubungan dengan hak pemegang saham untuk meminta penyelenggaraan RUPS, menghadiri
RUPS dan memberikan suara dalam RUPS
Perseroan tunduk pada undang-undang Indonesia dan persyaratan yang wajib dipenuhi agar dapat tetap
tercatat pada Bursa Efek. Secara khusus, penyelenggaraan dan pelaksanaan RUPS Perseroan akan terus
mengikuti ketentuan undang-undang Indonesia.
Prosedur dan periode pemberitahuan sehubungan dengan penyelenggaraan RUPS Perseroan, serta
kemampuan pemegang saham Perseroan untuk menghadiri dan memberikan suara pada RUPS tersebut,
dapat berbeda dari yurisdiksi lain di luar Indonesia. Sebagai contoh, pemegang saham Perseroan yang
akan berhak untuk menghadiri dan memberikan suara pada RUPS adalah, sesuai dengan pelaksanaan
undang-undang Indonesia, pemegang saham yang namanya tercatat di daftar pemegang saham satu
hari, atau recording date, setelah pengumuman pemanggilan RUPS, tanpa memperhatikan apakah
pemegang saham tersebut telah melepas saham yang dimilikinya setelah recording date dan sebelum
RUPS. Selain itu, investor yang membeli sahamnya setelah recording date (dan sebelum RUPS) tidak
akan berhak untuk menghadiri dan memberikan suara dalam RUPS. Oleh karena itu, calon potensial
wajib memperhatikan bahwa mereka tunduk pada prosedur dan hak terkait RUPS yang berbeda dari
prosedur dan hak yang berlaku di yurisdiksi lain.
PERSEROAN TELAH MENGUNGKAPKAN SEMUA INFORMASI MENGENAI RISIKO YANG
MATERIAL DALAM MENJALANKAN KEGIATAN USAHANYA
87
VII. KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN
AUDITOR
Tidak ada kejadian penting yang mempunyai dampak cukup material terhadap keuangan dan hasil
usaha Perseroan yang belum diungkapkan di Laporan Auditor Independen tertanggal 6 Oktober 2016
atas laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak
diaudit), serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 yang tercantum
dalam Prospektus ini, telah diaudit oleh RSM, auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh IAPI, dengan opini tanpa modifikasian (“Wajar Tanpa Pengecualian”). Laporan audit
RSM tersebut mencantumkan paragraf Hal-hal lain sehubungan dengan tujuan pelaksanaan audit.
Laporan audit RSM tersebut ditandatangani oleh Riki Afrianof (Rekan pada RSM dengan Registrasi
Akuntan Publik No. AP.101.
88
VIII.
KETERANGAN TENTANG PERSEROAN
8.1.Riwayat Singkat Perseroan
Perseroan, berkedudukan di Jakarta, didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan No. 14 tanggal
8 Februari 1988, sebagaimana diubah dengan Akta Perbaikan No. 48 tanggal 20 Januari 1989, yang
keduanya dibuat di hadapan Sri Rahayu, Notaris di Jakarta, yang telah mendapatkan pengesahan
sebagai badan hukum berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman No. C2-1459 HT.01.01.Th.91 tanggal
27 April 1991 serta telah didaftarkan pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 761/1991 tanggal
4 Mei 1991 dan telah diumumkan dalam BNRI No. 52 tanggal 28 Juni 1991 dan Tambahan BNRI
No. 1846 (“Akta Pendirian”).
Sejak pendirian, anggaran dasar dalam Akta Pendirian Perseroan telah beberapa kali mengalami
perubahan sebagaimana tercantum dalam:
•
Akta Risalah Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham Perseroan No. 58 tanggal 30 November
1994, yang dibuat di hadapan Sri Rahayu, Notaris di Jakarta yang telah mendapatkan persetujuan
berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman No. C2-18270 HT.01.04.Th.94 tanggal 14 Desember
1994 dan didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 1342/1994 tanggal 22 Desember 1994
serta diumumkan di BNRI No. 34 tanggal 27 April 1999, Tambahan No. 2443 (“Akta 58/1994”).
Berdasarkan Akta 58/1994, para pemegang saham menyetujui perubahan Pasal 4 mengenai modal
dasar Perseroan.
•
Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 178 tanggal 31 Agustus 1998, dibuat di hadapan Agus
Madjid, S.H., Notaris di Jakarta yang telah diberitahukan kepada Menteri Kehakiman berdasarkan
Surat Pemberitahuan Perubahan Komposisi Pemegang Saham No. 1007/AM/XI/1998 tanggal
9 November 1998 (“Akta 178/1998”). Berdasarkan Akta 178/1998, para pemegang saham menyetujui
perubahan terhadap Pasal 4 mengenai peningkatan modal ditempatkan dan disetor Perseroan.
•
Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perseroan No. 20 tanggal 4 September 1998 yang dibuat di
hadapan Agus Madjid, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah memperoleh persetujuan berdasarkan
Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia No. C-25499 HT.01.04-Th.2000 tanggal
20 Desember 2000 serta telah didaftarkan pada KDP Kodya Jakarta Pusat dengan No. 1718/
RUB.09.05/IX/2001 tanggal 24 September 2001 serta telah diumumkan dalam BNRI No. 5 tanggal
16 Januari 2004, Tambahan No. 673 (“Akta 20/1998”). Berdasarkan Akta 20/1998, para pemegang
saham menyetujui perubahan seluruh anggaran dasar Perseroan untuk disesuaikan dengan UndangUndang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dan perubahan terhadap Pasal 4 mengenai
struktur permodalan Perseroan.
•
Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perseroan No. 119 tanggal 31 Januari 2001, dibuat di hadapan
Agus Madjid, S.H., Notaris di Jakarta yang telah dilaporkan kepada Menteri Kehakiman dan Hak
Asasi Manusia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan No. C-7878 HT.01.04-TH.2001 tanggal
29 Mei 2001 serta telah didaftarkan di KDP Kodya Jakarta Pusat dengan No. 1718/RUB.09.05/
IX/2001 tanggal 24 September 2001 dan telah diumumkan dalam BNRI No. 4 tanggal 12 Januari
2007, Tambahan No. 52 (“Akta 119/2001”). Berdasarkan Akta 119/2001, para pemegang saham
menyetujui perubahan terhadap Pasal 4 ayat (2) mengenai peningkatan modal ditempatkan dan
disetor Perseroan dan Pasal 11 ayat (3) mengenai tugas dan wewenang Direksi Perseroan.
•
Akta No. 2 tanggal 12 November 2002 yang dibuat di hadapan Ibnu Hanny, S.H., Notaris di Jakarta
Selatan, yang telah memperoleh persetujuan berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak
Asasi Manusia No. C-21919.HT.01.04.TH.2003 tanggal 15 September 2003 dan telah didaftarkan
di KDP Kodya Jakarta Pusat dengan No. 2764/RUB.09.05/X/2003 tanggal 24 Oktober 2003 dan
telah diumumkan dalam BNRI No. 4 tanggal 12 Januari 2007, Tambahan No. 411 (“Akta 2/2002”).
Berdasarkan Akta 2/2002, para pemegang saham menyetujui perubahan terhadap Pasal 4 ayat (2)
mengenai peningkatan modal dasar, ditempatkan dan disetor Perseroan.
89
•
Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan No. 26 tanggal 27 Mei
2003, dibuat di hadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah diberitahukan
kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan
No. C-24505 HT.01.04.TH.2003 tanggal 15 Oktober 2003 dan telah didaftarkan di KDP Kodya
Jakarta Pusat dengan No. 2764/RUB.09.05/X/2003 tanggal 24 Oktober 2003 dan telah diumumkan
dalam BNRI No. 65 tanggal 13 Agustus 2004, Tambahan No. 650 (“Akta 26/2003”). Berdasarkan
Akta 26/2003, para pemegang saham menyetujui perubahan terhadap Pasal 11 ayat (3) mengenai
tugas dan wewenang Direksi Perseroan.
•
Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan No. 2 tanggal 12 Agustus
2004 yang dibuat di hadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah memperoleh
persetujuan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (“Menkumham”)
No. C-03814 HT.01.04.TH.2006 tanggal 10 Februari 2006 serta diberitahukan kepada Menkumham
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan No. C-10141.HT.01.04.TH.2005 tanggal 14 April 2005
dan didaftarkan di KDP Kodya Jakarta Pusat No. 5330/RUB.09.05/IV/2006 tanggal 4 April 2006, serta
telah diumumkan dalam BNRI No. 4 tanggal 12 Januari 2007, Tambahan No. 412 (“Akta 2/2004”).
Berdasarkan Akta 2/2004, para pemegang saham menyetujui perubahan terhadap (i) Pasal 3 mengenai
maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan; (ii) Pasal 4 mengenai peningkatan modal dasar,
ditempatkan dan disetor; dan (iii) Pasal 11 ayat (3) mengenai tugas dan wewenang Direksi Perseroan.
•
Akta Pernyataan Keputusan Sirkuler Para Pemegang Saham sebagai Penganti Rapat Umum Pemegang
Saham Luar Biasa Perseroan No. 23 tanggal 25 Maret 2008, dibuat di hadapan Rismalena Kasri,
S.H., Notaris di Jakarta, yang telah memperoleh persetujuan berdasarkan Keputusan Menkumham
No. AHU-24239.AH.01.02.Tahun2008 tanggal 9 Mei 2008, didaftarkan di Daftar Perseroan
Menkumham No. AHU-0035506.AH.01.09.Tahun2008 tanggal 9 Mei 2008 serta telah diumumkan
dalam BNRI No. 49 tanggal 17 Juni 2008, Tambahan No. 9085 (“Akta 23/2008”). Berdasarkan Akta
23/2008, para pemegang saham menyetujui perubahan terhadap seluruh anggaran dasar Perseroan
untuk disesuaikan dengan UUPT.
•
Akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan No. 5 tanggal 17 April
2014 yang dibuat di hadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah memperoleh
persetujuan berdasarkan Keputusan Menkumham No. AHU-00869.40.20.2014 tanggal 22 April
2014 dan telah diberitahukan kepada Menkumham berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan
No. AHU-03959.40.22.2014 tanggal 23 April 2014 (“Akta 5/2014”). Berdasarkan Akta 5/2014,
para pemegang saham menyetujui perubahan terhadap Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) mengenai
peningkatan modal dasar, ditempatkan dan disetor Perseroan.
•
Akta Pernyataan Keputusan Sirkuler Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan No. 13 tanggal 20 Maret 2015 yang dibuat di hadapan
Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah diberitahukan kepada Menkumham berdasarkan
Surat Penerimaan Pemberitahuan No. AHU-AH.01.03-0019552 tanggal 26 Maret 2015 dan Surat
Penerimaan Pemberitahuan No. AHU-AH.01.03-0019553 tanggal 26 Maret 2015 (“Akta 15/2015”).
Berdasarkan Akta 15/2015, para pemegang saham menyetujui perubahan terhadap (i) Pasal 5 ayat
(2) mengenai kepemilikan saham; (ii) Pasal 11 ayat (8) mengenai jangka waktu jabatan direksi;
dan (iii) Pasal 14 ayat (2) dan ayat (6) mengenai Dewan Komisaris Perseroan.
•
Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan No. 8 tanggal
28 April 2015, yang dibuat di hadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta yang telah
diberitahukan kepada Menkumham berdasarkan Penerimaan Pemberitahuan No. AHUAH.01.03-0928091 tanggal 28 April 2015 (“Akta 8/2015”). Berdasarkan Akta 8/2015, para
pemegang saham menyetujui perubahan terhadap Pasal 11 ayat (3) mengenai jangka waktu dan
jabatan direksi Perseroan.
•
Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan No. 83 tanggal
29 Juni 2016 yang dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan,
yang telah mendapatkan persetujuan Menkumham berdasarkan Keputusan Menkumham No. AHU0013574.AH.01.02.Tahun 2016 tanggal 28 Juli 2016 (“Akta 83/2016”). Berdasarkan Akta 83/2016,
para pemegang saham menyetujui (i) perubahan status Perseroan dari tertutup menjadi terbuka; (ii)
90
perubahan nilai nominal menjadi Rp100; (iii) menyetujui penjualan saham yang ditawarkan kepada
masyarakat melalui Penawaran Umum Saham Perdana sebanyak-banyaknya sejumlah 20% (dua
puluh persen) dari modal dasar Perseroan pada saat Perseroan melakukan Penawaran Umum Saham
Perdana; (iii) pemberian kuasa kepada Direksi dan Komisaris untuk melakukan Penawaran Umum
Saham Perdana; (iv) penyesuaian anggaran dasar Perseroan dengan Peraturan Bapepam dan LK No.
IX.J.1 tentang Pokok-Pokok Anggaran Dasar Perseroan yang Melakukan Penawaran Umum Efek
Bersifat Ekuitas, Peraturan OJK No. 32/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014 tentang Rencana dan
Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka (“Peraturan OJK No. 32/2014”)
dan Peraturan OJK No. 33/2014; (v) memberhentikan dan menunjuk Direksi dan Dewan Komisaris
Perseroan; (vi) menyetujui pelaksanaan Employee Stock Allocation dan program Management dan
Employee Stock Option Plan sehubungan dengan Penawaran Umum Saham Perdana.
•
Akta No. 46 tanggal 22 Agustus 2016 yang dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn.,
Notaris di Jakarta Selatan, yang telah mendapatkan persetujuan Menkumham berdasarkan Keputusan
Menkumham No. AHU-0015163.AH.01.02.Tahun2016 tanggal 24 Agustus 2016 (“Akta 46/2016”).
Berdasarkan Akta 46/2016, para pemegang saham menyetujui (i) peningkatan modal dasar Perseroan
menjadi Rp300.000.000.000 dan karenanya merubah Pasal 4 ayat (1) mengenai peningkatan modal
dasar Perseroan; (ii) pengeluaran saham dalam simpanan dan menawarkan/menjual saham baru
tersebut melalui Penawaran Umum Saham Perdana kepada masyarakat sebanyak-banyaknya 20%
dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Perseroan melakukan Penawaran Umum Saham
Perdana; dan (iii) untuk menyatakan kembali seluruh anggaran dasar Perseroan dan menyesuaikan
perubahan anggaran dasar Perseroan.
Berdasarkan Pasal 3 anggaran dasar Perseroan sebagaimana dinyatakan dalam Akta 46/2016, maksud
dan tujuan utama Perseroan adalah berusaha dalam bidang kesehatan. Untuk mencapai maksud dan
tujuan tersebut di atas, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut:
a. di bidang rumah sakit, klinik, poliklinik, laboratorium kesehatan dan balai pengobatan antara lain
meliputi jasa kesehatan dan kegiatan sosial meliputi jasa rumah sakit, klinik, laboratorium klinik
swasta, balai pengobatan lainnya seperti jasa pelayanan kesehatan dan jasa penunjang kesehatan
lainnya untuk kepentingan masyarakat luas; dan
b. di bidang pelayanan dan penyelenggaraan kesehatan antara lain meliputi menyelenggarakan
pemeriksaan kesehatan masyarakat, menyelenggarakan pelayanan, penyelenggaraan penyuluhan,
konsultasi dan pemeliharaan kesehatan masyarakat.
Untuk menunjang kegiatan usaha utama di atas, Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha penunjang
sebagai berikut:
a. di bidang pengelolaan rumah sakit, klinik, poliklinik, dan balai pengobatan antara lain meliputi:
pengelolaan rumah sakit, klinik, poliklinik, dan balai kesehatan beserta segala sarana dan prasarana
pendukung kegiatan serta lingkup usaha yang terkait;
b. di bidang sarana dan prasarana penunjang kesehatan antara lain meliputi; pembangunan laboratorium,
pusat penelitian, pendidikan perawat dan teknisi kesehatan beserta asrama perawat dan mahasiswa,
perumahan dokter serta lingkup usaha yang terkait;
c. menujang kebijakan dan program pemerintah di bidang kesehatan antara lain meliputi;
penyelenggaraan usaha jasa pelayanan kesehatan yang meliputi kesehatan, pendidikan dan pelatihan
kesehatan, pelayanan gizi masyarakat, pelayanan kebugaran, pelayasan jasa, jaminan pemeliharaan
kesehatan masyarakat dan pelajaran penunjang kesehatan lainya;
d. di bidang rumah sakit spesialis dan poliklinik spesialis yang meliputi; rumah sakit mata, telinga
hidung tenggorokan (THT), kulit, jiwa, paru-paru, banker dan pelayanan penunjang lainnya seperti
laboratorium, sanatorium serta kegiatan usaha terkait; dan
e. di bidang rumah sakit bersalin dan poliklinik antara lain untuk ibu dan balita serta kegiatan yang
terkait.
91
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, kegiatan usaha utama Perseroan adalah bergerak di bidang
kesehatan di bidang laboratorium klinik swasta dan Perseroan tidak pernah melakukan perubahan
kegiatan usaha dari sejak pendirian.
Berikut merupakan kejadian penting yang terjadi pada Perseroan sejak didirikan sampai dengan tanggal
Prospektus ini diterbitkan :
Tahun
1998
2008
2011
2012
2015
Keterangan
INNODIA didirikan sebagai entitas anak Perseroan yang mendistribusikan dan menjual alat-alat yang berhubungan
dengan kesehatan, meliputi reagen dan peralatan laboratorium yang dipasok oleh PROLINE. INNODIA memasok
instrumen laboratorium dan reagen laboratorium untuk diagnostik in-vitro kepada Perseroan. Innodia mulai
beroperasi komersial pada tahun 2014.
POHII didirikan sebagai entitas anak Perseroan yang bergerak di bidang pemasaran dan pengelolaan kesehatan
kerja, kedokteran okupasi dan layanan toksikologi industri dan akan merujuk pelanggannya kepada Perseroan
yang merupakan penyedia eksklusif untuk layanan laboratorium klinik. POHII mulai beroperasi komersial pada
tahun 2009.
PROLINE didirikan sebagai entitas anak Perseroan yang mengimpor dan memproduksi instrumen laboratorium
dan reagen laboratorium untuk diagnostik in-vitro kepada INNODIA dan agen pihak ketiga lain di Indonesia.
PROLINE mulai beroperasi komersial pada tahun 2012.
PROSTEM didirikan sebagai entitas anak Perseroan yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan
sel induk, penyimpanan sampel sel induk dan memproses sel induk untuk penyimpanan dan terapi. PROSTEM
akan merujuk pelanggannya kepada Perseroan. PROSTEM mulai beroperasi komersial pada tahun 2014.
Perseroan melakukan beberapa transaksi untuk menjual kepemilikan Perseroan atas beberapa entitas anak, yaitu
POHII, PROLINE, PROSTEM dan INNODIA kepada perusahaan induk Perseroan, PT Prodia Utama. Transaksi
Spin-off ini dilakukan agar Perseroan dapat berfokus pada bisnis inti Perseroan, yaitu layanan laboratorium klinik.
8.2.Dokumen Perizinan Perseroan
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan telah memiliki izin-izin antara lain sebagai berikut:
8.2.1.
Perizinan terkait Laboratorium Klinik
No
Izin
DKI Jakarta
1.
Laboratorium
Klinik Utama
Kramat
2.
Laboratorium
Klinik Pratama
Arteri
3.
Laboratorium
Klinik Pratama
Bona Indah
4.
Laboratorium
Klinik Pratama
Cideng
5.
Laboratorium
Klinik Pratama
Kampung Melayu
6.
Laboratorium
Klinik Pratama
Kebayoran
7.
Laboratorium
Klinik Pratama
Kedoya
8.
Laboratorium
Klinik Madya
Kelapa Gading
Nomor, tanggal dan instansi
Masa Berlaku
Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan No. HK.02.03/I/3019/2014
29 September
tanggal 30 September 2014 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya
2019
Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Surat Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Pratama No. 26/2/1.779.3
10 April 2018
tanggal 10 April 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala Suku Dinas Kesehatan
Kota Administrasi Jakarta Selatan
Surat Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Pratama No. 8156/1.779.3
Agustus 2019
tanggal 3 September 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Suku Dinas Kesehatan
Kota Administrasi Jakarta Selatan
S e r t i f i k a t R e g i s t r a s i S a r a n a P e l a y a n a n K e s e h a t a n S p e s i a l i s N o . 21 November 2017
1.015.002/11001/11.17.3 (berdasarkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas
Kesehatan Jakarta Pusat No. 6363/2012 tanggal 21 November 2012) tanggal
21 November 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota
Administrasi Jakarta Pusat
Surat Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Pratama Prodia No. 101071- 8 Oktober 2018
1.779.3 (berdasarkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota
Administrasi Jakarta Selatan No. 2195/2013) tanggal 18 Oktober 2013 yang
dikeluarkan oleh Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan
Surat Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Pratama No. 7897/1.779.3
1 Juli 2018
(berdasarkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi
Jakarta Selatan No. 1116/2013) tanggal 14 Agustus 2013 yang dikeluarkan oleh
Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan
Surat Izin Laboratorium Klinik No. 2.2.03.3174.012/35007/01.19 (berdasarkan 26 Januari 2019
Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Barat
No. 847/1.774.3) tanggal 21 April 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Suku
Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Barat
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta No. 930 Tahun 2014
27 Maret 2019
tanggal 28 Maret 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
DKI Jakarta
92
No
9.
Izin
Laboratorium
Klinik Pratama
Pasar Minggu
Nomor, tanggal dan instansi
Masa Berlaku
Surat Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Pratama Prodia No. 303/1.779.3
22 April 2018
(berdasarkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi
Jakarta Selatan No. 467/2013) tanggal 22 April 2013 yang dikeluarkan oleh
Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan
10. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta No. 2537 Tahun 4 September 2018
Klinik Pratama
2013 tanggal 5 September 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Pluit
Propinsi DKI Jakarta
11.
Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta No. 393 Tahun 2014 29 Januari 2019
Klinik Madya
tanggal 30 Januari 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
Pantai Indah Kapuk DKI Jakarta
12. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta No. 282 Tahun 2014 21 Januari 2019
Klinik Madya
tanggal 22 Januari 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
Sunter
DKI Jakarta
13. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta No. 4734 Tahun 2014 30 Desember 2019
Klinik Madya Puri tentang Izin Operasional Laboratorium Klinik Umum Madya Prodia Cabang Puri
Indah
Indah tanggal 31 Desember 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta
Desember 2019
14
Laboratorium
Surat Izin Laboratorium Klinik No. 2.2.03.3174.058/31105/12.19 (berdasarkan
Klinik Pratama
Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Barat
Daan Mogot Baru
No. 2482/1.779.3) tanggal 30 Desember 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala
Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Barat
Nanggroe Aceh Darussalam
15. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh No. 441/II/RIL/V/2015
25 Mei 2020
Klinik Pratama
tentang Rekomendasi Penyelenggaraan Izin Operasional Laboratorium Klinik
Banda Aceh
Prodia, tanggal 24 Mei 2015 yang dikeluarkan oleh oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kota Banda Aceh
16. Laboratorium
Izin Operasional Klinik No. 503/052/IV/IOK/2015 tanggal 27 April 2015 yang
26 April 2018
Klinik Pratama
dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Lhokseumawe
Lhokseumawe
Sumatera Utara
17. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan No. 442/246.55/VI/2015 tentang
16 Juni 2020
Klinik Pratama
Izin Laboratorium Klinik Prodia tanggal 17 Juni 2015 yang dikeluarkan oleh
Asia
Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan
18. Laboratorium
Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal 22 Januari 2020
Klinik Pratama
Kabupaten Deli Serdang No. 503.570.449/0001/KP2TPM-DS/I/2015 tanggal 22
Lubuk Pakam
Januari 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu
dan Penanaman Modal Kabupaten Deli Serdang
19. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Binjai No. 445-7024 tentang Izin Tetap
Berlaku selama
Klinik Pratama
Laboratorium Prodia tanggal 29 September 2004 yang dikeluarkan oleh Kepala masih melakukan
Binjai
Dinas Kesehatan Kota Binjai
kegiatan dan
memenuhi
persyaratan yang
ditetapkan
20. Laboratorium
Surat Izin Bupati Asahan No. 503/LAB/BPPPM/00279/II/2015 tanggal 4 Februari 3 Februari 2020
Klinik Pratama
2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pengelola Perizinan dan Penanaman
Kisaran
Modal Kabupaten Asahan
21. Laboratorium
- Gatot Subroto: Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan No. 442/350- 6 September 2021
62/IX/2016 tanggal 7 September 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Klinik Pratama
Kesehatan Kota Medan
Gatot Subroto/
- Krakatau: Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan No. 442/36039/ 3 September 2020
Krakatau
IX/2015 tentang Izin Laboratorium Klinik Umum Pratama tanggal 4 September
2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan
22. Laboratorium
Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan No. HK.02.03/I/0209/2016 25 Februari 2021
Klinik Utama S.
tanggal 26 Februari 2016 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan
Parman
Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
23. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo No. 4.1/7/II/2016 tentang 19 Februari 2021
Klinik Pratama
Izin Tetap Laboratorium "Klinik Prodia" tanggal 19 Februari 2016 yang
Kaban Jahe
dikeluarkan oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo
24. Laboratorium
Surat Izin Laboratorium Klinik No. 445/959/SILK/II/2011 tanggal 25 Februari
Berlaku selama
Klinik Pratama
2011 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar
masih melakukan
Pematang Siantar
kegiatan usaha
25. Laboratorium
Surat Izin Laboratorium No. 503/4067/2015 tanggal 17 Juni 2015 yang
23 Mei 2018
Klinik Pratama
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kota Padangsidimpuan
Padang Sidempuan
26. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu No. 440.441/3814/ 29 Agustus 2021
Klinik Pratama
VIII/2016 tanggal 29 Agustus 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Rantau Parapat
Kesehatan Labuhanbatu
93
No
27.
Izin
Laboratorium
Klinik Pratama
Setia Budi
28. Laboratorium
Klinik Pratama
Sibolga
29. Laboratorium
Klinik Pratama
Tebing Tinggi
Sumatera Barat
30. Laboratorium
Klinik Madya
Padang
31. Laboratorium
Klinik Pratama
Bukittinggi
Kepulauan Riau
32. Laboratorium
Klinik Pratama
Batam
33. Laboratorium
Klinik Pratama
Tanjungpinang
Riau
34. Laboratorium
Klinik Madya
Pekanbaru
35. Laboratorium
Klinik Pratama
Duri
Nomor, tanggal dan instansi
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan No. 442/246.56/VI/2015 Prodia
tanggal 17 Juni 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kota Medan
Masa Berlaku
16 Juni 2020
Surat Izin Laboratorium Klinik No. 503/445/001/SILK/KPPT/2014 tanggal
Berlaku selama
8 Juli 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu masih melakukan
Kota Sibolga
kegiatan usaha
Surat Izin Laboratorium No. 13/001/KP2T/2016 tanggal 2 September 2016 yang 2 September 2021
dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Tebing Tinggi
Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat No. 02/Lab.
Klinik/XI/2014 tanggal 27 November 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Kesehatan Propinsi Sumatera Barat
Keputusan Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal
Kota Bukittinggi No. 448/04/BP2TPM-PP/2014 tanggal 3 Juli 2014 yang
dikeluarkan oleh Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman
Modal Kota Bukittinggi
Berlaku selama
masih melakukan
kegiatan usaha
Berlaku selama
masih melakukan
kegiatan usaha
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam No. 136/440/LAB/DKK/
III/2012 tentang Pemberian Izin Laboratorium Klinik tanggal 12 Maret 2012
yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam
Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang No. 445/1434/DINKES/2013 tentang
Pemberian Izin Operasional Laboratorium Kesehatan tanggal 12 Juli 2013 yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang
12 Maret 2017
Surat Izin Laboratorium No. 2/05.29/BPTPM/IX/2016 tanggal 26 September
2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pelayanan Terpadu dan Penanaman
Modal Kota Pekanbaru
Keputusan Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten Bengkalis No. 16/KPTS/II/2015 tentang Izin Laboratorium Klinik
Pratama Prodia tanggal 5 Februari 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan
Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Bengkalis
26 September
2021
12 Juli 2018
5 Februari 2020
Jambi
36. Laboratorium
Surat Izin Laboratorium No. 448/0002/BPMPPT/1571005005/2014 tanggal 24 23 November 2019
Klinik Pratama
November 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penanaman Modal dan
Jambi
Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Jambi
Kepulauan Bangka Belitung
37. Laboratorium
Keputusan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Pangkalpinang No. 001/
12 April 2021
Klinik Pratama
Lab/KPPT/IV/2016 tentang Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik tanggal
Pangkal Pinang
13 April 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu
Kota Pangkalpinang
Sumatera Selatan
38. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang No. 1388 Tahun 2016
14 Maret 2021
Klinik Pratama
tanggal 14 Maret 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota
Basuki Rahmat
Palembang
39. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang No. 1150 Tahun 2013 26 Februari 2018
Klinik Pratama
tanggal 27 Februari 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota
Veteran
Palembang
Lampung
40
Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung No.445.91.09.2012
Berlaku selama
Klinik Pratama
tanggal 2 Februari 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota masih melakukan
Lampung
Bandar Lampung
kegiatan usaha
41. Laboratorium
Izin Laboratorium Klinik Pratama Prodia No. 441/04/LL-3/2016 tanggal
Berlaku selama
Klinik Pratama
25 Oktober 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Penanaman Modal dan masih melakukan
Metro Lampung
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Metro
kegiatan usaha
42. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung No. 445.611.09.2009
Berlaku selama
Klinik Pratama
tanggal 27 November 2009 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota masih melakukan
Teluk Betung
Bandar Lampung
kegiatan usaha
Banten
43. Laboratorium
Tanda terima berkas pengajuan izin lab yang telah diajukan kepada Dinas
Klinik Pratama
Kesehatan Provinsi Banten tanggal 3 Oktober 2016
Cilegon
44. Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Banten No. 821/6987/Kes-Yan
26 April 2021
Klinik Madya
tentang Laboratorium Klinik Madya tanggal 26 April 2016 yang dikeluarkan
Tangerang
oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang
94
No
45.
46.
47.
Izin
Laboratorium
Klinik Madya
Bintaro
Laboratorium
Klinik Madya
Gading Serpong
Laboratorium
Klinik Pratama
BSD
Jawa Barat
48. Laboratorium
Klinik Madya
Bekasi
49.
50
Laboratorium
Klinik Pratama
Sumarecon Bekasi
Laboratorium
Klinik Pratama
Bogor
51.
Laboratorium
Klinik Madya
Cibubur
52.
Laboratorium
Klinik Pratama
Depok
Laboratorium
Klinik Pratama
Harapan Indah
Boulevard
Laboratorium
Klinik Utama
Wastukencana
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
Laboratorium
Klinik Pratama
Pasir Kaliki
Laboratorium
Klinik Pratama
Sumedang
Laboratorium
Klinik Pratama
Ujung Berung
Laboratorium
Klinik Pratama
Cimahi
Laboratorium
Klinik Pratama
Garut
Laboratorium
Klinik Pratama
Cirebon
Laboratorium
Klinik Pratama
Kuningan
Laboratorium
Klinik Pratama
Cideres
Laboratorium
Klinik Pratama
Karawang
Kertabumi
Nomor, tanggal dan instansi
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Banten No. 821/1184/Kes-Yan
tentang Pemberian Izin Penyelenggaraan tanggal 27 Juni 2016 yang dikeluarkan
oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Banten
Surat Izin Penyelenggaraan Laboratorium berdasarkan Keputusan Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Tangerang No. 445.93/01/T/2362-Dinkes/2015 tanggal
27 April 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Tangerang
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Surat Izin Tetap
Laboratorium Klinik Swasta No. 445.93/0494/LAB/RBIK/2014 tanggal
23 Januari 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan
Masa Berlaku
27 Juni 2021
27 April 2018
23 Januari 2017
Keputusan Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Propinsi Jawa Barat
Berlaku selama
No. 440/Kep.01/I.206/BPPT/I/2014 tentang Izin Laboratorium tanggal 6 Januari masih melakukan
kegiatan usaha
2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Propinsi
Jawa Barat
Keputusan Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu No. 455.5/02/BPPT.4
24 Mei 2020
tentang Izin Laboratorium Klinik Prodia tanggal 25 Mei 2015 yang dikeluarkan
oleh Kepada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bekasi
2 Januari 2019
Keputusan Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal
Kota Bogor No. 445.5-01-BPPTPM-I/2014 tanggal 3 Januari 2014 yang
dikeluarkan oleh Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman
Modal Kota Bogor
Keputusan Kepala Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Propinsi 4 September 2020
Jawa Barat No. 445.1/Kep76/041070-BPMPT/IX/2016 tanggaal 5 September
2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Propinsi
Jawa Barat
Surat Izin Laboratorium No. 445.5/086/SILab/BPMP2T/IX/2016 tanggal
1 April 2019
13 September 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penanaman Modal dan
Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Depok
Surat Izin No. 445.9/01/BPPT.4 tentang Izin Laboratorium Klinik Pratama Prodia 3 Februari 2021
Harapan Indah tanggal 4 Februari 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan
Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bekasi
Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan No. HK.02.03/II/2037/2014
tentang Izin Laboratorium Klinik Prodia tanggal 12 Agustus 2014 yang
dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia
Surat Izin No. 445/1197-Dinkes/01-SI-Lab/II/14 tanggal 13 Februari 2014 yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung
Keputusan Bupati Sumedang No. 503.445.5/Kep.001/BPMPP/I/2015 tentang
Izin Laboratorium Klinik tanggal 9 Januari 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala
Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Kabupaten Sumedang
Surat Izin No: 445/7200 - Dinkes/04-SI-Lab/IX/14 tentang Izin Laboratorium
Klinik tanggal 25 September 2013 yang diterbitkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kota Bandung
Surat Izin Walikota Cimahi No. 503.38/001/1212/KPPT/2013 tentang Izin
Laboratorium Swasta tanggal 30 April 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor
Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Cimahi
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut No. 503/5953/03.Lab/
Dinkes/2014 tentang Izin Laboratorium PT. Prodia Widyahusada tanggal
2 Desember 2014 yang dikeluarkan oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Garut
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon No. 503/Kep. 005 - Dinkes
tentang Ijin Laboratorium Pratama Prodia tanggal 15 Januari 2015 yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon
Keputusan Bupati Kuningan No. 503/KPTS/01-ILAB/2015 tentang Surat Izin
Laboratorium tanggal 8 Mei 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pelayanan
Perizinan Terpadu Kabupaten Kuningan
Keputusan Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal
Kabupaten Majalengka No. 447.2/D3.SILK/BPPTPM/VI/2013 tentang Izin
Penyelenggaraan Laboratorium Kesehatan tanggal 4 Juni 2013 yang dikeluarkan
oleh Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal
Kabupaten Majalengka
Keputusan Kepala Dinas Kabupaten Karawang Surat Izin Laboratorium Klinik
No. LAB.503/PPI/01-LAB/IX/2014 tanggal 22 September 2014 yang dikeluarkan
oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang
95
11 Agustus 2019
13 Februari 2019
19 Agustus 2019
25 September
2019
30 April 2018
Berlaku selama
masih melakukan
kegiatan usaha
14 Januari 2019
8 Agustus 2018
4 Juni 2018
22 September
2019
No
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
Izin
Laboratorium
Klinik Pratama
Purwakarta
Laboratorium
Klinik Pratama
Kurdi
Laboratorium
Klinik Pratama
Buah Batu
Laboratorium
Klinik Pratama
MTC
Laboratorium
Klinik Pratama
Tasikmalaya
Laboratorium
Klinik Pratama
Ciamis
Laboratorium
Klinik Pratama
Banjar Patroman
Laboratorium
Klinik Indramayu
72.
Laboratorium
Klinik Majalaya
73.
Laboratorium
Klinik Kopo
Nomor, tanggal dan instansi
Masa Berlaku
Surat Izin Laboratorium Klinik No. 445.5/ILK.05456-BPMPTSP/XII/2015 17 Desember 2020
tanggal 17 Desember 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penanaman
Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Purwakarta
Surat Izin No. 445/4181-Dinkes/01-SI-Lab/V/13 tentang Izin Laboratorium
8 Mei 2018
Klinik Pratama Walikota Bandung tanggal 8 Mei 2013 dikeluarkan oleh Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung
Surat Izin No. 455/3956 - Dinkes/04-SI-Lab/VI/14 tanggal 21 Mei 2014 yang
21 Mei 2019
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung
Surat Izin No. 445/5692-Dinkes/03-SI-Lab/VII/13 tanggal 1 Juli 2013
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung
Keputusan Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu 21 November 2021
No. 440/6769/LAB-KLINIK/BPMPPT/XI/2016 tentang Izin Laboratorium
Klinik tanggal 22 November 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan
Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Tasikmalaya
Surat Izin Laboratorium No. 503.27/002/SI.Lab./BPPTPM.03/X/2016 tanggal 13 Oktober 2021
13 Oktober 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pelayanan Perizinan
Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Ciamis
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar No. 503.6/004 - Dinkes/Lab- 27 Oktober 2019
Kes/X/2014 tentang Izin Laboratorium Prodia tanggal 27 Oktober 2014 yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar
Surat Izin No. 447.2/7815-Perizinan tentang Izin Mendirikan Laboratorium
23 Juni 2021
Kesehatan tanggal 7 November 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan
Penanaman Modal dan Perizinan Kabupaten Indramayu
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung No. 440/004-Lab/X-16/ 25 Oktober 2021
Dinkes tanggal 25 Oktober 2016 tentang Izin Laboratorium Klinik Swasta yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung No. 440/003-Lab/X-16/ 24 Oktober 2021
Dinkes tanggal 24 Oktober 2016 tentang Izin Laboratorium Klinik Swasta yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung
Jawa Tengah
74. Laboratorium
Klinik Pratama
Tegal.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
1 Juli 2018
Keputusan Walikota Tegal No. 445.9/002/2013 tentang Pemberian Izin 17 Desember 2018
Laboratorium Klinik Umum Pratama "Laboratorium Klinik Prodia Cabang
Tegal" tanggal 17 Desember 2013 dikeluarkan oleh Plt. Kepala Badan Pelayanan
Perizinan Terpadu
Laboratorium
Perizinan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah No. 503/929/5.2 tentang Ijin
23 Maret 2019
Klinik Madya
Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Prodia Purwokerto tanggal 24 Maret 2014
Purwokerto.
yang dikeluarkan oleh Kepala Bidang Bindal Sumber Daya Kesehatan
Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap No. 02/Dinkes/
9 April 2017
Klinik Pratama
Lab/X/2016 tanggal 17 Oktober 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Cilacap
Kesehatan Kabupaten Cilacap
Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga No. 026/SIOL/ 18 Oktober 2017
Klinik Pratama
DKK/PBG.X/12 tanggal 18 Oktober 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Purbalingga.
Kesehatan Kabupaten Purbalingga
Laboratorium
Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan No. HK.02.03/I/2240/2013 31 Desember 2018
Klinik Utama
tanggal 12 Desember 2013 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya
Semarang.
Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Laboratorium
S u r a t I j i n P e n y e l e n g g a r a a n L a b o r a t o r i u m K e s e h a t a n S w a s t a 26 Februari 2018
Klinik Pratama
No. 445/001LKS/11.04/BPPT/II/2013 tanggal 27 Februari 2013 dikeluarkan oleh
Semarang Setiabudi Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Semarang
Laboratorium
Surat Ijin Penyelenggaraan Laboratorium Kesehatan Swasta No. 003/445/
27 September
Klinik Pratama
LKS/11.04/BPPT/IX/2012 tanggal 28 September 2012 dikeluarkan oleh Kepala
2017
Semarang Barat.
Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Semarang
Laboratorium
Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan No. HK.02.03/I/0729/2013 31 Desember 2018
Klinik Utama Solo tentang Izin Laboratorium Klinik Utama Prodia Solo tanggal 23 April 2013
yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia
Laboratorium
Surat Izin Laboratorium Klinik No. 503/01/LAB/33.09/I/2015 tanggal 22 Januari 20 Januari 2020
Klinik Pratama
2015 yang dikeluarkan oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali
Boyolali
Laboratorium
Perizinan No. 503/5251/5.2 tentang Ijin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik 2 November 2019
Klinik Madya
Prodia tanggal 3 November 2014 yang dikeluarkan oleh Plt Kepala Dinas
Magelang
Kesehatan Propinsi Jawa Tengah
Laboratorium
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo No. 503/31/DKK31 Mei 2018
Klinik Pratama
2013 tentang Izin Laboratorium Klinik Umum Pratama tanggal 1 Juni 2013 yang
Wonosobo
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo
96
No
85.
86.
87.
88.
89.
90.
Izin
Laboratorium
Klinik Pratama
Sragen
Laboratorium
Klinik Pratama
Cepu
Laboratorium
Klinik Pratama
Purworejo
Laboratorium
Klinik Madya
Salatiga
Laboratorium
Klinik Pratama
Wonogiri
Laboratorium
Klinik Madya
Klaten
91.
Laboratorium
Klinik Pratama
Kudus
D.I. Yogyakarta
92. Laboratorium
Klinik Pratama
Yogyakarta
93. Laboratorium
Klinik Utama
Mangkubumi
Jawa Timur
94. Laboratorium
Klinik Pratama
Pacitan
95. Laboratorium
Klinik Madya
Madiun
96. Laboratorium
Klinik Utama
Malang
97.
98.
Laboratorium
Klinik Pratama
Blitar
Laboratorium
Klinik Pratama
RDPS
99.
Laboratorium
Klinik Madya
Sidoarjo
100. Laboratorium
Klinik Utama
Surabaya
101. Laboratorium
Klinik Pratama
Kediri
102. Laboratorium
Klinik Pratama
Mega Galaxi
103. Laboratorium
Klinik Pratama
Tulung Agung
Nomor, tanggal dan instansi
Masa Berlaku
Surat Izin Operasional Laboratorium Kesehatan No. 002/Labkes-29/VIII/2014 11 Agustus 2019
tanggal 11 Agustus 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala BPTPM Kabupaten
Sragen
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora No. 01/DKK/Lab/III.2016
13 Maret 2021
tentang Izin Pendirian Laboratorium Klinik tanggal 14 Maret 2016 yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo No. 188/2545/Lab/SK/
30 Juni 2020
VI/2015 tanggal 30 Juni 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Purworejo
Perizinan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah No. 445.25/2027/5.2 tentang
26 Juni 2019
Ijin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Prodia Salatiga tanggal 27 Juni 2014
yang dikeluarkan oleh Kepala Bidang Bindal SDK
Keputusan Bupati Wonogiri No. 449/0730/Lab/2013 tentang Izin Penyelenggaraan 27 Februari 2018
Laboratorium Pratama tanggal 27 Februari 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala
Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Wonogiri
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah No. 503/72/5.2
Berlaku selama
tentang Laboratorium Klinik Umum tanggal 20 Januari 2016 yang dikeluarkan masih melakukan
oleh Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah
kegiatan pelayanan
dan memenuhi
persyaratan yang
ditetapkan
Izin Laboratorium Klinik Umum Pratama Prodia No. 445/1429/04.05/2014
9 April 2019
tentang Izin Laboratorium Klinik Umum Pratama tanggal 10 April 2014 yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Kudus
Surat Izin Dinas Kesehatan Yogyakarta No. 503/6185.A tanggal 23 September
2013 yang dikeluarkan oleh Plt. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat
24 September
2018
Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan No. HK.02.03/I/3629/2014 11 November 2019
tentang Izin Laboratorium Klinik Utama Prodia Yogyakarta tanggal 12 November
2014 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Surat Izin No. 503/3/Lab/408.57/2015 tentang Surat Izin Laboratorium Klinik
tanggal 5 Januari 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penanaman Modal
dan Pelayanan Perizinan Kabupaten Pacitan
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur No. 445/2899/101.4/
III/2012 tanggal 27 Maret 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Timur
Rekomendasi No. 445/1724/35.73.306/2016 tanggal 21 Juni 2016 mengenai
Rekomendasi Izin Laboratorium Klinik Prodia Malang yang dikeluarkan
oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang. Tanda terima pengurusan izin
laboratorium klinik utama tanggal 3 Oktober 2016.
Surat Izin Laboratorium Klinik Pratama No. 503/01/410.207.1/LK/IX/2012
tanggal 12 September 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan
Terpadu Kota Blitar
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya No. 503.445/001
IP-Lab/P/436.6.3/I/2014 tentang Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik
tanggal 6 Januari 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota
Surabaya
Surat Izin Laboratorium Klinik Umum Madya No. P2T/1/03.17/01/IV/2015
tanggal 15 April 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penanaman Modal
Propinsi Jawa Timur
Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan No. HK.02.03/I/0213/2016
tanggal 26 Februari 2016 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan
Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri No. 2 Tahun 2015 tentang
Izin Laboratorium Klinik Pratama Prodia Kediri tanggal 2 Januari 2015 yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya No. 503.445/032
IP-Lab/P/436.6.3/VII/2012 tentang Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik
tanggal 19 Juli 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota
Surabaya
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung No. 004/LK/103/
III/2014 tentang Izin Tetap Laboratorium Klinik Pratama Prodia tanggal 14 Maret
2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung
97
5 Januari 2020
27 Maret 2017
-
12 September
2017
8 Januari 2019
14 April 2020
25 Februari 2021
7 Agustus 2019
19 Juli 2017
13 Maret 2019
No
Izin
104. Laboratorium
Klinik Pratama
Jemursari
Bali
105. Laboratorium
Klinik Utama
Denpasar
106. Laboratorium
Klinik Pratama
Tabanan
107. Laboratorium
Klinik Pratama
Singaraja
Nusa Tenggara Barat
108. Laboratorium
Klinik Madya
Mataram
109. Laboratorium
Klinik Pratama
Bima
Nusa Tenggara Timur
110. Laboratorium
Klinik Pratama
Kupang
111. Laboratorium
Klinik Pratama
Maumere
Kalimantan Barat
112. Laboratorium
Klinik Pratama
Pontianak
Kalimantan Timur
113. Laboratorium
Klinik Pratama
Balikpapan
114. Laboratorium
Klinik Pratama
Samarinda
Kalimantan Tengah
115. Laboratorium
Klinik Pratama
Palangkaraya
Kalimantan Selatan
116. Laboratorium
Klinik Madya
Banjarmasin
Sulawesi Utara
117. Laboratorium
Klinik Madya
Manado
118. Laboratorium
Klinik Pratama
Kotamobagu
Gorontalo
119. Laboratorium
Klinik Pratama
Gorontalo
Sulawesi Tengah
120. Laboratorium
Klinik Pratama
Palu
Nomor, tanggal dan instansi
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya No. 503.445/53
IP-Lab/P/436.6.3/XII/2013 tentang Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik
tanggal 27 Desember 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kota Surabaya
Masa Berlaku
8 Januari 2019
18 Juni 2020
Keputusan Direktur Bina Upaya Kesehatan No. HK.02.03/I/1663/2015 tanggal
19 Juni 2015 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan No. 503/4327/DI KES 1 September 2021
tentang Surat Ijin Laboratorium Klinik Umum Utama tanggal 1 September 2016
yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng No. 440/157.24/LAB/
18 Juli 2021
DINKES/2016 tanggal 1 September 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Buleleng
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Barat No. 442132/
14 September
Yankesdas & Rujukan/IX/2015 tentang Izin Laboratorium Klinik Umum Madya
2020
tanggal 14 September 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi Nusa Tenggara Barat
Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bima No. 01/503/ 8 September 2018
KPPT/VIII/2015 tentang Izin Laboratorium Klinik Prodia tanggal 8 September
2015 dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bima
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang No. 021/Labkes/V/2012 tentang
30 Mei 2017
Izin Tetap Laboratorium Klinik Prodia tanggal 31 Mei 2011, dikeluarkan oleh
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka No. 446/1075/Kes/2010
Berlaku selama
tentang Izin Laboratorium Prodia tanggal 20 Juli 2010 yang dikeluarkan oleh masih menjalankan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka
kegiatan usaha
Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Prodia No. 503.446/837.3/D-Kes/
Yankesfar/2015 tanggal 17 Februari 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kota Pontianak
17 Februari 2020
Surat Izin Operasional No. 026/002/Izin-Oprs/I/2016 tanggal 14 Januari 2016
yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan
9 Desember 2016
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda No. 503/Lab-002/DKK/
VIII/2015 tentang Izin Laboratorium Klinik Pratama Prodia Samarinda tanggal
3 Agustus 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda
2 Agustus 2020
Keputusan Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya No. 440/007/JSK-LAB/VI/22015 tentang Izin Laboratorium Klinik Umum Pratama Prodia tanggal 5 Juni
2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya
28 Agustus 2020
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan No. 422/0778Berlaku selama
PSDK/II/2014 tanggal 27 Februari 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas masih menjalankan
Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan
kegiatan usaha
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara No. 188.4/SKDINKES/3108/VIII/2015 tentang Izin Laboratorium Klinik Prodia Cabang
Manado tanggal 12 Agustus 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi Sulawesi Utara
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Kotamobagu No. 440/DINKES/
KK/543/III/TAHUN 2016 tentang Izin Laboratorium Klinik Prodia tanggal 3
Maret 2016 yang 2 Maret 2021, yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kota Kotamobagu
11 Agustus 2020
2 Maret 2021
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Gorontalo No. 503/KES-FM/13719/ 13 November 2019
XI/2014 tentang Izin Laboratorium Klinik Pratama Prodia tanggal 13 November
2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Gorontalo
Izin Laboratorium Klinik Prodia No. 08/23.1.1/DINKES/III/2012 tanggal 9 April
2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu
98
9 April 2017
No
Izin
Sulawesi Barat
121. Laboratorium
Klinik Pratama
Mamuju
Sulawesi Selatan
122. Laboratorium
Klinik Madya
Makassar
123. Laboratorium
Klinik Pratama
Palopo
124. Laboratorium
Klinik Pratama
Panakkukang.
125. Laboratorium
Klinik Pratama
Parepare.
Sulawesi Tenggara
126. Laboratorium
Klinik Pratama
Kendari
Maluku Utara
127. Laboratorium
Klinik Pratama
Ternate.
Maluku
128. Laboratorium
Klinik Pratama
Ambon
8.2.2.
Nomor, tanggal dan instansi
Masa Berlaku
Surat Izin Penyelenggaraan Laboratorium No. 441/01/IX/2016/DINKES tanggal
20 September 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Mamuju
20 September
2021
Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik No. 440.3.3/07241/Diskes tanggal
3 Juni 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi
Selatan
Surat Izin Tetap Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Prodia Keputusan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palopo No. 37/2.1/DINKES/LAB-KLINIK/PLP/
IV/2012 tanggal 25 April 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kota Palopo
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar No. 440/12-10/LAB/
DKK/2013 tentang Izin Laboratorium Umum Pratama tanggal 14 Januari 2013
yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar.
Surat Izin Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Prodia Kota Parepare No.
435.9/16/DINKES tanggal 7 Januari 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kota Parepare
2 Juni 2021
25 April 2017
14 Januari 2018.
7 Januari 2018
Surat Izin Laboratorium No. 49/IZN/V/2014/001 tanggal 16 Mei 2014 yang
dikeluarkan oleh Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu dan
Penanaman Modal Daerah Kota Kendari
16 Mei 2019
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate No. 2152.442.02.E.1/DINKES/
YKM/XII/2014 tentang Izin Laboratorium Klinik Umum Prodia tanggal 18
Desember 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate.
17 Desember
2019.
Tanda terima pengumpulan dokumen untuk perpanjangan izin kepada Dinas
Kesehatan Kota Ambon 15 Agustus 2016
Perizinan terkait Penanaman Modal
No
1.
Izin
Izin Prinsip Penanaman
Modal Asing
Nomor, tanggal dan instansi
No. 430/1/IP/PMA/2015 tanggal 24
Febuari 2015 yang dikeluarkan oleh
Badan Koordinasi Penanaman Modal
2.
Izin Prinsip Perubahan
Penanaman Modal Asing
No. 2776/I/IP/PB/PMA/2016 tanggal
16 Agustus 2016 yang dikeluarkan oleh
Badan Koordinasi Penanaman Modal
Keterangan
Dinas Koperasi dan UKM Jakarta tidak
mengeluarkan SIUP untuk izin usaha
tersebut berdasarakan Surat Keterangan
No. 97/082-8 tanggal 30 April 2014, yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Koperasi,
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan
Perdagangan Propinsi DKI Jakarta
Peningkatan Modal Dasar Perseroan dari semula
Rp75.000.000.000 menjadi Rp300.000.000.000.
8.3.Perkembangan Kepemilikan Saham Perseroan
Sejak tanggal pendiriannya sampai dengan tanggal Propektus ini diterbitkan, perubahan struktur
permodalan serta susunan pemegang saham dalam Perseroan adalah sebagai berikut:
Tahun 1991
Berdasarkan Akta Pendirian, struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah
sebagai berikut:
99
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidayat
6. Singgih Hidayat
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
(%)
Nominal
750
750.000.000
Saham Istimewa
Saham Biasa
20
5
25.000.000 16,67
20
5
25.000.000 16,67
20
5
25.000.000 16,67
20
5
25.000.000 16,67
20
5
25.000.000 16,67
20
5
25.000.000 16,67
120
30
150.000.000 100,00
600
600.000.000
Jumlah Saham
Tahun 1994
Berdasarkan Akta 58/1994, para pemegang saham Perseroan menyetujui:
i.
peningkatan modal dasar dari Rp750.000.000 menjadi Rp12.000.000.000 yang terbagi atas 12.000
saham, masing-masing dengan nilai nominal Rp1.000.000; dan
ii. peningkatan modal ditempatkan dan disetor dari Rp150.000.000 menjadi Rp2.400.000.000 dengan
cara pengeluaran saham baru yaitu 264 saham istimewa dan 1.986 saham biasa yang diambil oleh
para pemegang saham secara proporsional.
Sehingga setelah peningkatan modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor, struktur permodalan
dan susunan pemegang saham Perseroan menjadi sebagai berikut:
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidayat
6. Singgih Hidayat
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
12.000
12.000.000.000
Saham Istimewa
Saham Biasa
64
336
400.000.000 16,67
64
336
400.000.000 16,67
64
336
400.000.000 16,67
64
336
400.000.000 16,67
64
336
400.000.000 16,67
64
336
400.000.000 16,67
384
2.016
2.400.000.000 100,00
1.536
8.064
9.600.000.000
Tahun 1998
a) Berdasarkan Akta 178/1998, para pemegang saham Perseroan menyetujui peningkatan modal
ditempatkan dan disetor dari Rp2.400.000.000 menjadi Rp7.200.000.000 dengan cara pengeluaran
saham dalam portepel oleh para pemegang saham secara proporsional. Selain itu terdapat perubahan
dalam komposisi pemegang saham dimana Arjati Utami ditunjuk sebagai ahli waris Singgih Hidayat
berdasarkan Surat Penunjukan yang dibuat di bawah tangan tertanggal 30 April 1993 sebagai kuasa
dari dan selaku demikian untuk dan atas nama Arjati Utami, Ina Listyani Singgih, Ani Kartini
Singgih dan Eri Hendrata Singgih.
Sehingga setelah peningkatan modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor, struktur
permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan menjadi sebagai berikut:
100
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidayat
6. Arjati Utami
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
12.000
12.000.000.000
Saham Istimewa
Saham Biasa
192
1.008
1.200.000.000 16,67
192
1.008
1.200.000.000 16,67
192
1.008
1.200.000.000 16,67
192
1.008
1.200.000.000 16,67
192
1.008
1.200.000.000 16,67
192
1.008
1.200.000.000 16,67
1.152
6.048
7.200.000.000 100,00
768
4.032
4.800.000.000
b) Berdasarkan Akta 20/1998, para pemegang saham Perseroan menyetujui adanya perubahan terhadap
struktur permodalan yang menyebabkan penghapusan atas dua kelas saham yang ada di Perseroan
dan seluruh jumlah saham yang dimiliki oleh para pemegang saham kemudian diakumulasikan
menjadi saham biasa sehingga struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan menjadi
sebagai berikut.
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
12.000
12.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidayat
6. Arjati Utami
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
1.200
1.200
1.200
1.200
1.200
1.200
7.200
4.800
1.200.000.000 16,67
1.200.000.000 16,67
1.200.000.000 16,67
1.200.000.000 16,67
1.200.000.000 16,67
1.200.000.000 16,67
7.200.000.000 100,00
4.800.000.000
Tahun 2001
Berdasarkan Akta No. 119/2001, para pemegang saham menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan
disetor Perseroan dari Rp7.200.000.000 menjadi Rp9.000.000.000, serta dilakukan pengeluaran saham
dalam perseroan yang selanjutnya diambil oleh tiap pemegang saham secara proporsional, sehingga
setelah peningkatan modal disetor dan ditempatkan serta pengeluaran saham dalam Perseroan tersebut,
struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan menjadi sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
12.000
12.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidayat
6. Arjati Utami
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
1.500
1.500
1.500
1.500
1.500
1.500
9.000
3.000
101
1.500.000.000 16,67
1.500.000.000 16,67
1.500.000.000 16,67
1.500.000.000 16,67
1.500.000.000 16,67
1.500.000.000 16,67
9.000.000.000 100,00
3.000.000.000
Tahun 2002
Berdasarkan Akta 2/2002, para pemegang saham Perseroan menyetujui:
(i) peningkatan modal dasar dari Rp12.000.000.000 menjadi Rp18.000.000.000 yang terbagi atas
18.000 saham. masing-masing dengan nilai nominal Rp1.000.000; dan
(ii) peningkatan modal ditempatkan dan disetor dari Rp9.000.000.000 menjadi Rp12.000.000.000 dengan
cara pengeluaran 3.000 saham baru yang diambil oleh para pemegang saham secara proporsional.
Sehingga setelah peningkatan modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor, struktur permodalan
dan susunan pemegang saham Perseroan menjadi sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
18.000
18.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidayat
6. Arjati Utami
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
12.000
6.000
2.000.000.000 16,67
2.000.000.000 16,67
2.000.000.000 16,67
2.000.000.000 16,67
2.000.000.000 16,67
2.000.000.000 16,67
12.000.000.000 100,00
6.000.000.000
Tahun 2004
Berdasarkan Akta 2/2004, para pemegang saham Perseroan menyetujui:
(i) peningkatan modal dasar dari Rp18.000.000.000 menjadi Rp50.000.000.000 yang terbagi atas
50.000 saham. masing-masing dengan nilai nominal Rp1.000.000; dan
(ii) peningkatan modal ditempatkan dan disetor dari Rp12.000.000.000 menjadi Rp18.000.000.000
dengan cara pengeluaran 6.000 saham baru yang diambil oleh para pemegang saham secara
proporsional.
Sehingga setelah peningkatan modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor, struktur permodalan
dan susunan pemegang saham Perseroan menjadi sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
50.000
50.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidayat
6. Arjati Utami
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
3.000
3.000
3.000
3.000
3.000
3.000
18.000
32.000
102
3.000.000.000 16,67
3.000.000.000 16,67
3.000.000.000 16,67
3.000.000.000 16,67
3.000.000.000 16,67
3.000.000.000 16,67
18.000.000.000 100,00
32.000.000.000
Tahun 2014
Berdasarkan Akta 5/2014, para pemegang saham Perseroan menyetujui:
(i) peningkatan modal dasar dari Rp50.000.000.000 menjadi Rp75.000.000.000 yang terbagi atas
75.000 saham. masing-masing dengan nilai nominal Rp1.000.000; dan
(ii) peningkatan modal ditempatkan dan disetor dari Rp18.000.000.000 menjadi Rp75.000.000.000
dengan cara pengeluaran 57.000 saham baru yang diambil oleh PT Prodia Utama.
Sehingga setelah peningkatan modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor, struktur permodalan
dan susunan pemegang saham Perseroan menjadi sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal (Rp)
75.000
75.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidayat
6. Arjati Utami
7. PT Prodia Utama
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
3.000
3.000
3.000
3.000
3.000
3.000
57.000
75.000
-
3.000.000.000 4,00
3.000.000.000 4,00
3.000.000.000 4,00
3.000.000.000 4,00
3.000.000.000 4,00
3.000.000.000 4,00
57.000.000.000 76,00
75.000.000.000 100,00
-
Tahun 2015
Berdasarkan Akta 15/2015, para pemegang saham Perseroan menyetujui:
(i) pengalihan 3.000 saham milik Andi Widjaja kepada Bio Majesty Pte. Ltd. sebagaimana dinyatakan
dalam Perjanjian Jual Beli Saham yang dibuat di bawah tangan antara Andi Widjaja dengan Bio
Majesty Pte. Ltd. pada tanggal 29 Januari 2015. Pengalihan saham dari Andi Widjaja kepada Bio
Majesty Pte. Ltd. telah dibayar lunas oleh Bio Majesty Pte. Ltd.;
(ii) pengalihan 3.000 saham milik Johanes Hamdono Widjojo kepada Bio Majesty Pte. Ltd. sebagaimana
dinyatakan dalam Perjanjian Jual Beli Saham yang dibuat di bawah tangan antara Johanes Hamdono
Widjojo dengan Bio Majesty Pte. Ltd. pada tanggal 29 Januari 2015. Pengalihan saham dari Johanes
Hamdono Widjojo kepada Bio Majesty Pte. Ltd. telah dibayar lunas oleh Bio Majesty Pte. Ltd.;
(iii)pengalihan 3.000 saham milik Gunawan Prawiro Soeharto kepada Bio Majesty Pte. Ltd. sebagaimana
dinyatakan dalam Perjanjian Jual Beli Saham yang dibuat di bawah tangan antara Gunawan Prawiro
Soeharto dengan Bio Majesty Pte. Ltd. pada tanggal 29 Januari 2015. Pengalihan saham dari
Gunawan Prawiro Soeharto kepada Bio Majesty Pte. Ltd. telah dibayar lunas oleh Bio Majesty
Pte. Ltd.;
(iv)pengalihan 3.000 saham milik Elias Nugroho kepada Bio Majesty Pte. Ltd. sebagaimana dinyatakan
dalam Perjanjian Jual Beli Saham yang dibuat di bawah tangan antara Elias Nugroho dengan Bio
Majesty Pte. Ltd. pada tanggal 29 Januari 2015. Pengalihan saham dari Elias Nugroho kepada Bio
Majesty Pte. Ltd. telah dibayar lunas oleh Bio Majesty Pte. Ltd.;
103
(v) pengalihan 3.000 saham milik Ichsan Hidayat kepada Bio Majesty Pte. Ltd. sebagaimana dinyatakan
dalam Perjanjian Jual Beli Saham yang dibuat di bawah tangan antara Ichsan Hidayat dengan Bio
Majesty Pte. Ltd. pada tanggal 29 Januari 2015. Pengalihan saham dari Ichsan Hidayat kepada Bio
Majesty Pte. Ltd. telah dibayar lunas oleh Bio Majesty Pte. Ltd.; dan
(vi)pengalihan 3.000 saham milik Arjati Utami, selaku diri sendiri dan kuasa dari seluruh ahli waris
Singgih Hidayat berdasarkan Surat Penunjukan tertanggal 30 April 1993 kepada Bio Majesty Pte.
Ltd. sebagaimana dinyatakan dalam Perjanjian Jual Beli Saham yang dibuat di bawah tangan antara
Arjati Utami dengan Bio Majesty Pte. Ltd. pada tanggal 29 Januari 2015. Pengalihan saham dari
Arjati Utami kepada Bio Majesty Pte. Ltd. telah dibayar lunas oleh Bio Majesty Pte. Ltd.
Sehingga setelah pengalihan saham tersebut diatas, susunan pemegang saham Perseroan menjadi
sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
75.000
75.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. PT Prodia Utamaa
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
Jumlah Modal Disetor dan Ditempatkan Penuh
Saham dalam Portepel
57.000
18.000
75.000
-
57.000.000.000 76,00
18.000.000.000 24,00
75.000.000.000 100,00
-
Tahun 2016
a) Berdasarkan Akta 83/2016, para pemegang saham menyetujui pemecahan jumlah saham dalam
Perseroan, dari Rp1.000.000 menjadi Rp100 per lembar saham, sehingga struktur permodalan dan
susunan pemegang saham Perseroan menjadi sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
750.000.000
75.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
570.000.000
180.000.000
750.000.000
-
57.000.000.000 76,00
18.000.000.000 24,00
75.000.000.000 100,00
-
b) Berdasarkan Akta 46/2016, para pemegang saham menyetujui peningkatan modal dasar Perseroan
dari Rp75.000.000.000 menjadi Rp300.000.000.000, sehingga struktur permodalan dan susunan
pemegang saham Perseroan menjadi sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
3.000.000.000 300.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. PT Prodia Utama
2. Bio Majesty Pte. Ltd.
Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
570.000.000
180.000.000
750.000.000
2.250.000.000
57.000.000.000 76,00
18.000.000.000 24,00
75.000.000.000 100,00
225.000.000.000
Sampai dengan tanggal Prospektus ini diterbitkan, tidak ada perubahan susunan kepemilikan saham
Perseroan maupun perubahan struktur permodalan lainnya.
104
8.4.Pengurusan dan Pengawasan
Berdasarkan Akta 83/2016, susunan anggota Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan terakhir pada
tanggal Prospektus ini diterbitkan adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama
Komisaris
Komisaris
Komisaris Independen
Komisaris Independen
:
:
:
:
:
Andi Widjaja
Gunawan Prawiro Soeharto
Endang Wahjuningtyas Hoyaranda
Scott Andrew Merrillees
Joseph F.P. Luhukay
:
:
:
:
:
Dewi Muliaty
Liana Kuswandi
Indriyanti Rafi Sukmawati
Andri Hidayat
Tetty Hendrawati
Direksi:
Direktur Utama
Direktur
Direktur
Direktur
Direktur Independen
Anggota Direksi dan Dewan Komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS. Masa jabatan anggota
Direksi dan Dewan Komisaris adalah lima tahun terhitung sejak tanggal pengangkatan.
Berikut keterangan singkat masing-masing anggota Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan:
Dewan Komisaris
Andi Widjaja
Komisaris Utama
Warga Negara Indonesia, 80 tahun. Menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan
sejak tahun 2003.
Beliau adalah pendiri Perseroan, dan pernah menjabat sebagai Direktur Utama
Perseroan dari 1988 (pendirian) – 2003. Beliau juga adalah pendiri dan saat ini
menjabat sebagai Komisaris Utama di perusahaan afiliasi, yaitu Prodia CRO,
POHII, PROSTEM, PROLINE dan INNODIA, dan PT Prodia Utama. Beliau aktif
sebagai dosen dan peneliti ilmiah.
Memperoleh gelar Sarjana Farmasi dari Institut Teknologi Bandung pada tahun
1963, gelar PhD di bidang biologi molekuler dari University of Munster, Jerman
pada tahun 1978 dan Master of Business Administration dari University of
California, Los Angeles, Amerika Serikat pada tahun 1986.
105
Gunawan Prawiro Soeharto
Komisaris
Warga Negara Indonesia, 78 tahun. Menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak
tahun 2003.
Beliau adalah salah satu pendiri Perseroan. Memulai karirnya sebagai sekretaris
Fakultas Farmasi di Universitas Atmajaya, Solo (1967-1974) sebelum bergabung
dengan Perseroan pada tahun 2003 sebagai Direktur Pemasaran. Saat ini beliau
menjabat sebagai Komisaris di perusahaan afiliasi, yaitu Prodia CRO, POHII,
PROLINE dan INNODIA, dan PT Prodia Utama.
Memperoleh gelar Sarjana Farmasi dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
pada tahun 1966.
Endang Wahjuningtyas Hoyaranda
Komisaris
Warga Negara Indonesia, 65 tahun. Menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak
tahun 2015.
Beliau memulai karirnya sebagai dosen jurusan Farmasi di Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, sebelum bergabung
dengan Perseroan sebagai Manajer Penelitian dan Pengembangan pada tahun
1990. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Operasi Perseroan dari tahun 1990
sampai dengan 2002 dan Direktur Utama Perseroan dari tahun 2003-2009. Saat
ini, beliau menjabat sebagai Komisaris di perusahaan afiliasi, yaitu Prodia CRO,
POHII, PROSTEM, PROLINE and INNODIA, dan Direktur PT Prodia Utama.
Memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada tahun 1976 dan Profesi Apoteker pada
tahun 1977, keduanya dari Institut Teknologi Bandung.
Scott Andrew Merrillees
Komisaris Independen
Warga Negara Australia, 52 tahun. Menjabat sebagai Komisaris Independen
Perseroan sejak tahun 2016.
Beliau memiliki lebih dari 20 tahun pengalaman di Indonesia sebagai spesialis
di equity research, pasar modal dan perbankan. Beliau pernah menjabat sebagai
Head of Equity Research PT Morgan Grenfell (1990-1994), Research Director
PT UBS Securities Indonesia (1994), President Director PT BNP Paribas
Securities Indonesia (1994-2006), Head of Natural Resources PT ANZ Bank
Indonesia (2008-2010), Direktur PT Borneo Lumbung Energy & Metal (20112012), Director Bumi plc, London (2012-2013), dan Direktur PT Berau Coal &
Energy (2012-2013).
Memperoleh gelar Bachelor of Commerce dari University of Melbourne, Australia
pada tahun 1984.
106
Joseph F.P. Luhukay
Komisaris Independen
Warga Negara Indonesia, 70 tahun. Menjabat sebagai Komisaris Independen
Perseroan sejak tahun 2016.
Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Lippo Tbk. (2003-2006),
Partner di IndoConsult (2006-2008), dan Wakil Direktur Utama Bank Danamon
(2008-2013). Beliau juga pernah menjabat, antara lain, sebagai Partner di Ernst &
Young, Ketua Pelaksana Jakarta Initiative Task Force, atas penunjukan Presiden
Republik Indonesia, dan Chief of Operating Officer Bahana Pembinaan Usaha
Indonesia.
Memperoleh gelar Sarjana Teknik Elektro dari Universitas Indonesia pada tahun
1972 dan gelar Master of Science dalam bidang Computer Science dan Doctor
of Philosophy dari University of Illinois, Urbana-Champaign, Amerika Serikat
masing-masing pada tahun 1982 dan 1983.
Direksi
Dewi Muliaty
Direktur Utama
Warga Negara Indonesia, 53 tahun. Menjabat sebagai Direktur Utama Perseroan
sejak tahun 2009.
Memulai karirnya di Perseroan sejak tahun 1988 di laboratorium Quality Control
sebagai Asisten Manajer Teknis sampai dengan tahun 1990 dan Manajer Teknis
sampai dengan tahun 1994. Beliau juga pernah menjabat sebagai Manajer
Penelitian dan Pengembangan (1994-2003) dan Direktur Pengembangan (20032009).
Memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada tahun 1987 dan Profesi Apoteker pada
tahun 1988, keduanya dari Universitas Padjadjaran, Bandung, dan gelar S2 di
bidang Biomedik Kimia Klinik dan S3 di bidang Biomedik dari Universitas
Hasanuddin, Makassar, masing-masing pada tahun 2006 dan 2010.
Liana Kuswandi
Direktur Keuangan
Warga Negara Indonesia, 43 tahun. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak
tahun 2007.
Memulai karirnya di Universitas Tarumanagara sebagai Asisten Dosen Aplikasi
Akuntansi (1995-1996) dan Penasehat Akademik Mahasiswa dan Dosen Akuntansi
(1997-2003). Beliau juga pernah menjadi Dosen Akuntansi di Universitas Pelita
Harapan (2001-2006) dan menjabat sebagai Kepala Program Akuntansi (20032005).
Memperoleh gelar Sarjana Akuntansi dari Fakultas Ekonomi Universitas
Tarumanagara, Jakarta pada tahun 1996 dan Master of Science di bidang Keuangan
dari RMIT University, Melbourne, Australia.
107
Indriyanti Rafi Sukmawati
Direktur Pemasaran
Warga Negara Indonesia, 44 tahun. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak
tahun 2014.
Memulai karirnya di Perseroan sejak tahun 1996 di bagian pemasaran sebagai
Asisten Manajer Marketing sampai dengan 2001 dan Account Manager Marketing
sampai dengan tahun 2008. Beliau juga pernah menjabat sebagai Kepala Lab
PRN (2008-2014).
Memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada tahun 1995 dan Profesi Apoteker pada
tahun 1996, keduanya dari Universitas Padjadjaran, Bandung, dan gelar S2 dan
S3 di bidang Biomedik Kimia Klinik dari Universitas Hasanuddin, Makassar,
masing-masing pada tahun 2006 dan 2010.
Andri Hidayat
Direktur Operasional
Warga Negara Indonesia, 43 tahun. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak
tahun 2014.
Memulai karirnya di Perseroan sejak tahun 1997 di bagian Technical Quality
Assurance sebagai Asisten Manajer Technical Quality Assurance sampai dengan
2002 dan Manajer Technical Quality Assurance sampai dengan 2005. Beliau juga
pernah menjabat sebagai Kepala Prodia Wilayah I (Aceh dan Sumatera Utara)
(2005-2014) dan pejabat sementara IT Project Monitoring Officer (2012-2013).
Memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada tahun 1996 dan Profesi Apoteker pada
tahun 1997, keduanya dari Universitas Padjadjaran, Bandung, dan gelar S2 dan
S3 di bidang Biomedik dari Universitas Hasanuddin, Makassar, masing-masing
pada tahun 2010 dan 2016.
Tetty Hendrawati
Direktur Umum (Direktur Independen)
Warga Negara Indonesia, 53 tahun. Menjabat sebagai Direktur Independen sejak
tahun 2016.
Memulai karirnya di Perseroan sejak tahun 1988 di bagian Technical Quality
Assurance sebagai Wakil Kepala Cabang Denpasar sampai dengan 1994 dan
Manajer Technical Quality Control serta merangkap sebagai Quality Management
Representative sampai dengan 2003. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur
Operasi (2003-2014) dan Direktur Umum (2014-2016).
Memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada tahun 1987 dan Profesi Apoteker pada
tahun 1988, keduanya dari Universitas Teknologi Bandung dan gelar S2 di bidang
Biomedik Kimia Klinik dari Universitas Hasanuddin, Makassar pada tahun 2007.
Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan telah memenuhi ketentuan, termasuk ketentuan
mengenai rangkap jabatan, sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No. 33/POJK.04/2014 tanggal
8 Desember 2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik (“Peraturan
OJK No. 33/2014”).
Pengangkatan Direktur Independen Perseroan telah memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam
butir III.1.5 Peraturan Pencatatan Bursa Efek.
108
Kompensasi Komisaris dan Direksi
Dasar penetapan besarnya gaji atau honorarium dan tunjangan lainnya (jika ada) dari para anggota
Dewan Komisaris adalah berdasarkan RUPS. Dasar penetapan besarnya gaji, uang jasa dan tunjangan
lainnya (jika ada) dari para anggota Direksi sejak bulan Juni tahun 2016 adalah melalui RUPS dan
wewenang tersebut dapat dilimpahkan kepada Dewan Komisaris.
Jumlah kompensasi kepada Dewan Komisaris Perseroan berupa gaji dan tunjangan untuk tahun-tahun
yang berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015 adalah masing-masing sebesar Rp7,2 miliar,
Rp7,7 miliar, dan Rp9,7 miliar, dan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 adalah
sebesar Rp5,2 miliar. Jumlah kompensasi kepada Direksi Perseroan berupa gaji dan tunjangan untuk
tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan 2015 adalah masing-masing sebesar Rp4,4
miliar, Rp5,1 miliar, dan Rp5,7 miliar, dan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016
adalah sebesar Rp2,7 miliar.
Komite Audit
Perseroan telah membentuk Komite Audit sesuai dengan Peraturan OJK No. 55/POJK.04/2015 tentang
Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit dan Peraturan Pencatatan Bursa Efek
berdasarkan Rapat Komisaris tertanggal 16 Juni 2016 yang selanjutnya dinyatakan dalam Surat Keputusan
Direksi No. 148/SKPJ/HROD/VIII/16 tanggal 16 Juni 2016 tentang Pengangkatan Anggota Komite
Audit dengan susunan anggota sebagai berikut:
Ketua
: Joseph F.P. Luhukay (merangkap sebagai Komisaris Independen)
Anggota
: Scott Andrew Merrillees (merangkap sebagai Komisaris Independen)
Anggota
: Dina Kharisma
Warga Negara Indonesia, 40 tahun. Menjabat sebagai Anggota Komite Audit Perseroan
sejak tahun 2016.
Memperoleh gelar Magister Komunikasi dari Universitas Indonesia, pada tahun 2010.
Menjabat juga sebagai Assistant Director of Legal and Communication di PT Prodia
Utama.
Perseroan juga telah menyusun suatu Piagam Komite Audit tanggal 18 Agustus 2016, yang mulai berlaku
pada 1 September 2016. Piagam Komite Audit merupakan pedoman kerja bagi Komite Audit. Berdasarkan
Piagam Komite Audit, Komite Audit memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain meliputi:
•
•
•
•
•
•
meninjau dan menilai pengaduan yang berkaitan dengan proses pelaporan akuntansi dan keuangan
di Perseroan.
meninjau dan menganalisa tindakan yang diambil oleh Perseroan untuk mengidentifikasi dan
mengendalikan resiko keuangan dan bisnis.
meninjau dan menganalisis rencana, kemajuan dan hasil kegiatan yang dilakukan oleh auditor
eksternal Perseroan.
memberikan pendapat independen dalam hal perselisihan antara manajemen Perseroan dan auditor
eksternal untuk layanan yang diberikan.
meninjau objektivitas dan independensi auditor eksternal Perseroan.
mengawasi tindak lanjut oleh Direksi sehubungan dengan temuan dan rekomendasi dari auditor
eksternal.
109
Unit Audit Internal
Perseroan telah membentuk Unit Audit Internal sesuai dengan Peraturan OJK No. 56/POJK.04/2015
tentang Pembentukan dan Pedoman Penyusunan Piagam Unit Audit Internal berdasarkan Rapat Komisaris
tertanggal 21 Juli 2016 dan telah mengangkat Budi Darmawan sebagai Kepala Internal Audit Perseroan
berdasarkan Surat Keputusan No. 168/SKPJ/HROD/VIII/16 tanggal 12 Agustus 2016 tentang Perubahan
Job Title dan atau Sub Band.
Kepala Internal Audit bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Auditor yang duduk dalam Unit
Audit Internal bertanggung jawab secara langsung kepada Kepala Internal Audit. Auditor ini dilarang
merangkap tugas dan tanggung jawab terkait pelaksanaan kegiatan operasional Perseroan.
Perseroan juga telah menyusun suatu Piagam Unit Audit Internal tanggal 1 Agustus 2016. Piagam Unit
Audit Internal merupakan pedoman kerja bagi Unit Audit Internal.
Unit Audit Internal memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain meliputi:
•
•
•
•
•
•
menyusun dan melaksanakan rencana Audit Internal tahunan;
menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian internal dan system manajemen risiko sesuai
dengan kebijakan perusahaan;
membuat laporan hasil audit dan menyampaikan laporan tersebut kepada Direktur Utama dan
Dewan Komisaris;
bekerja sama dengan Komite Audit;
menyusun program untuk mengevaluasi mutu kegiatan audit internal yang dilakukannya; dan
melakukan pemeriksaan khusus apabila diperlukan.
Sekretaris Perusahaan
Sesuai dengan Peraturan OJK No. 35/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014 tentang Sekretaris
Perusahaan Emiten atau Perusahaan Publik, Perseroan telah menunjuk Indriyanti Rafi Sukmawati
sebagai Sekretaris Perusahaan berdasarkan Surat Keputusan No. 146/SKPJ/HROD/VII/16 tanggal
12 April 2016 tentang Pengangkatan Corporate Secretary di Lingkungan Perseroan. Sekretaris Perseroan
dilarang merangkap jabatan apapun di emiten atau perusahaan publik lain.
Sekretaris Perusahaan dapat dihubungi melalui nomor telepon (021) 314-4182 atau e-mail corporate.
[email protected].
Sekretaris Perusahaan mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain meliputi:
•
•
•
•
mengikuti perkembangan pasar modal khususnya peraturan-peraturan yang berlaku di bidang pasar
modal;
memberikan masukan kepada Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan untuk mematuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal;
membantu Direksi dan Dewan Komisaris dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan yang meliputi:
- keterbukaan informasi kepada masyarakat, termasuk ketersediaan informasi pada situs web
Perseroan;
- penyampaian laporan kepada OJK tepat waktu;
- penyelenggaraan dan dokumentasi RUPS;
- penyelenggaraan dan dokumentasi rapat Direksi dan/atau Dewan Komisaris; dan
- pelaksanaan program orientasi terhadap Perseroan bagi Direksi dan/atau Dewan Komisaris.
sebagai penghubung atau contact person antara Perseroan dengan pemegang saham Perseroan,
OJK, dan pemangku kepentingan lainnya.
110
Komite Nominasi dan Remunerasi
Komite Nominasi dan Remunerasi adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada
Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan fungsi dan tugas Dewan Komisaris terkait nominasi
dan remunerasi.
Berdasarkan Peraturan OJK No. 34/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014 tentang Komite Nominasi
dan Remunerasi Emiten Atau Perusahaan Publik, maka Perseroan telah membentuk Komite Nominasi dan
Remunerasi berdasarkan Rapat Komisaris tertanggal 16 Juni 2016 yang selanjutnya dinyatakan dalam
Surat Keputusan Direksi No. 150/SKPJ/HROD/VIII/16 tanggal 16 Juni 2016 tentang Pengangkatan
Anggota Komite Nominasi dan Remunerasi, dengan susunan anggota sebagai berikut:
Ketua
: Joseph F.P. Luhukay (merangkap sebagai Komisaris Independen)
Anggota
: Andi Widjaja (merangkap sebagai Komisaris Utama)
Anggota
: Endang Wahjuningtyas Hoyaranda (merangkap sebagai Komisaris)
Anggota
: Gunawan Prawiro Soeharto (merangkap sebagai Komisaris)
Tugas, tanggung jawab dan wewenang bidang nominasi dan remunerasi antara lain meliputi:
•
•
•
membantu Dewan Komisaris melakukan penilaian kinerja dengan kesesuaian remunerasi yang
diterima masing-masing anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris.
memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai program pengembangan kemampuan
anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris.
memberikan usulan calon yang memenuhi syarat sebagai anggota Direksi dan/atau anggota Dewan
Komisaris kepada Dewan Komisaris untuk disampaikan kepada RUPS.
111
8.5.Struktur Organisasi Perseroan
Struktur organisasi Perseroan pada tanggal Prospektus ini diterbitkan adalah sebagai berikut:
––––––– Garis pelaporan/tanggung jawab
---------- Garis koordinasi/penyampaian informasi
* concurrent
112
112
8.6.Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governance atau GCG)
Perseroan senantiasa memperhatikan dan mematuhi prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik
(Good Corporate Governance) (“Prinsip GCG”) sebagaiamana diatur dalam peraturan OJK dan Bursa
Efek. Terkait dengan penerapan Prinsip GCG dalam kegiatan usaha Perseroan, sesuai dengan Peraturan
Pencatatan Bursa Efek dan peraturan-peraturan OJK, Perseroan telah memiliki alat-alat kelengkapan
seperti Komisaris Independen, Direktur Independen, Sekretaris Perusahaan, dan Komite Audit. Perseroan
juga telah memiliki Unit Audit Internal yang berfungsi untuk melakukan pengawasan atas implementasi
dari kebijakan yang telah ditetapkan oleh manajemen Perseroan serta telah membentuk Komite Nominasi
dan Remunerasi yang bertugas untuk mengkaji dan merekomendasikan susunan Dewan Komisaris dan
Direksi Perseroan serta sistem remunerasi yang kompetitif.
8.7.Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Social Responsibility)
Perseroan berkomitmen penuh untuk menjalankan fungsi dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan,
masyarakat, karyawan dan juga komunitas. Berikut adalah beberapa kegiatan tanggung jawab sosial
yang telah dilakukan oleh Perseroan:
•
•
•
•
•
•
•
menyediakan selimut dan bantuan dana bagi korban banjir di Senen, Jakarta Pusat;
mensponsori Yayasan Anyo Indonesia, sebuah yayasan non-profit, yang membantu anak-anak
penderita kanker, terutama mereka yang datang dari kalangan keluarga miskin di Indonesia;
menyediakan cairan pembersih dan peralatan pembersih rumah tangga bagi korban banjir di
Kampung Melayu, Jakarta Selatan;
bermitra dengan pemerintah daerah untuk melaksanakan skrining Thalasemia bagi 1.000 orang
(terutama murid sekolah menengah ke atas) di Tasikmalaya, Jawa Barat;
bermitra dengan kecamatan Senen untuk memberikan pemeriksaan gula darah secara cuma-cuma
bagi penduduk yang tinggal di Senen, Jakarta Pusat;
memberikan pemeriksaan darah gratis untuk anak-anak di acara hari kesehatan nasional yang
diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan di Stadium Gelora Bung Karno;
bermitra dengan Grup Martha Tilaar dalam rangka membantu penduduk di daerah Depok, Jogjakarta
untuk membangun tempat penampungan sampah.
8.8.Sumber Daya Manusia
Perseroan menyadari perlunya dukungan penuh dari sumber daya manusia yang kompeten agar dapat
meningkatkan kinerja dan mengembangkan usahanya secara berkesinambungan serta mengantisipasi
persaingan di dunia usaha.
Karyawan non-manajemen Perseroan diwakili oleh SP Prodia. Perjanjian kerja bersama dengan SP
Prodia telah berakhir pada tahun 2010. Namun demikian, berdasarkan peraturan yang berlaku di
Kementerian Ketenagakerjaan, perjanjian ini akan terus berlaku efektif sampai dengan kesepakatan
untuk menandatangani perjanjian baru tercapai. Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan memiliki
hubungan baik dengan semua karyawan dan SP Prodia. Perseroan tidak pernah mengalami pemogokan
kerja atau demonstrasi dalam tiga tahun terakhir.
Perseroan bekerja sama dengan 23 fakultas kedokteran di Indonesia dalam bidang penelitian dan
pendidikan dan dapat memanfaatkan kerjasama tersebut untuk memperoleh kandidat profesional medik
yang dapat direkrut. Perseroan juga memiliki kerjasama yang erat dengan 54 institusi pendidikan di
seluruh Indonesia untuk merekrut lulusan teknologi medik yang baru lulus. Hubungan antara Perseroan
dengan calon karyawan berpotensi dibina sejak awal pendidikan mereka, misalnya, dengan mensponsori
acara-acara informatif di sekolah mereka dan menawarkan beasiswa dalam penelitian laboratorium
medik. Selain itu, Perseroan menjadi tuan rumah bagi mahasiswa kedokteran, sebagai peneliti di
laboratorium Perseroan, untuk mendukung studi akademis mereka. Perseroan berkeyakinan bahwa
program-program ini memberikan calon karyawan potensial sebuah pengalaman positif bekerja bersama
Perseroan dan mendorong mereka untuk memilih Perseroan setelah lulus.
113
Perseroan memberikan pelatihan untuk karyawannya sebagai bagian dari komitmen Perseroan dalam
mendukung pengembangan karir karyawan dan menjamin layanan yang berkualitas bagi pelanggan
Perseroan. Sebagai contoh, pada tanggal 31 Desember 2015, Perseroan telah memberikan 235 beasiswa
untuk tujuh program, termasuk diploma ahli teknologi medik dan program S2 dan S3 di bidang
laboratorium biomedik.
Perseroan telah memiliki sistem pelatihan dan program pengembangan karir yang meliputi beberapa
aspek pelatihan, dari pelatihan dasar untuk karyawan baru, pelatihan berkelanjutan melalui pendidikan
online dan pendidikan jarak jauh, hingga kursus pengembangan teknis dan manajerial. Perpustakaan
Perseroan memiliki koleksi lebih dari 1.200 buku dan berlangganan kurang lebih 40 jurnal ilmiah
sehingga karyawan Perseroan mendapatkan informasi terbaru mengenai bidangnya masing-masing.
Perseroan berkeyakinan program-program ini merupakan salah satu alasan utama tingginya retensi
karyawan. Pada tahun 2015, turnover karyawan adalah 5,6% dibandingkan 6,5% pada tahun 2014.
Sampai dengan 30 Juni 2016, lebih dari 37% karyawan Perseroan telah bekerja untuk Perseroan lebih
dari 10 tahun.
Upah, fasilitas dan tunjangan karyawan
Pemberian upah, fasilitas dan tunjangan kepada karyawan dilakukan oleh Perseroan berdasarkan tugas
dan tanggung jawab yang diterima karyawan dengan mempertimbangkan kinerja. Perseroan juga selalu
mengikuti dan memenuhi ketentuan-ketentuan Pemerintah yang berhubungan dengan kesejahteraan
antara lain penyesuaian besarnya upah yang sejalan dengan laju inflasi dan di atas standar UMP/K
(Upah Minimum Propinsi/Kota/Kabupaten) sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Perseroan saat ini memiliki Perjanjian Kerja Bersama (”PKB”) yang berlaku untuk periode tahun
2008 sampai dengan 2010, yang telah didaftarkan pada Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
RI, Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja berdasarkan
Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja
No. Kep.77/PHIJSK/PKKAD/2008 tentang Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama antara PT Prodia
Widyahusada dengan Serikat Pekerja PT Prodia Widyahusada. Sampai dengan tanggal Prospektus ini
diterbitkan, Perseroan sedang dalam tahap perundingan dengan SP Prodia mengenai perpanjangan PKB,
dan berdasarkan peraturan yang berlaku, sebelum terdapat perpanjangan PKB, maka PKB yang berlaku
adalah PKB yang sebelumnya.
Perseroan mengikutsertakan karyawannya dalam beberapa program Pemerintah, BPJS Ketenagakerjaan
yaitu Jaminan Pensiun, Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan dan Kematian. Sesuai ketentuan,
Perseroan berkontribusi total 6,2% dari gaji pokok dan tunjangan tetap karyawan. Perseroan juga
mengikutsertakan karyawannya dalam program BPJS Kesehatan bagi karyawannya, dengan nilai
kontribusi 4% dari gaji pokok dan tunjangan tetap karyawan.
Fasilitas lainnya yang diterima oleh karyawan dan didanai oleh Perseroan meliputi jaminan pemeliharaan
kesehatan, penghargaan masa kerja berupa upah dalam lump sum, emas dan tambahan cuti tahunan,
beasiswa bagi karyawan dan anak karyawan, serta pinjaman karyawan dengan bunga khusus untuk
kebutuhan mendesak.
Komposisi karyawan
Per tanggal 30 Juni 2016, Perseroan mempekerjakan karyawan (di luar Direksi dan Dewan Komisaris)
sejumlah 3.648 orang yang terdiri dari 3.282 karyawan tetap dan 366 karyawan kontrak dan kerjasama.
Berikut rincian mengenai perkembangan jumlah karyawan Perseroan dalam kurun waktu lima tahun
terakhir:
114
Tabel komposisi karyawan menurut jenjang jabatan
2011
Senior Manager
Manager
Supervisor
Officer
Attendant & Administration
Dokter
Jumlah
2012
9
122
430
2.124
327
203
3.215
8
127
482
2.188
279
209
3.293
31 Desember
2013
8
133
498
2.307
256
220
3.422
2014
10
132
526
2.422
362
232
3.684
2015
9
141
551
2.454
230
230
3.615
30 Juni
2016
9
144
576
2.460
225
234
3.648
Tabel komposisi karyawan menurut jenjang pendidikan
2011
S2 dan S3 (1)
S1
Diploma (2)
Non akademi
Jumlah
2012
156
685
1.255
1.119
3.215
174
721
1.369
1.029
3.293
31 Desember
2013
174
789
1.498
961
3.422
2014
176
864
1.664
980
3.684
2015
172
879
1.690
874
3.615
30 Juni
2016
171
894
1.729
854
3.648
Catatan:
(1) Termasuk gelar S2 dan S3 di bidang ilmu laboratorium biomedik dan kedokteran.
(2) Termasuk diploma dalam bidang ilmu keperawatan dan teknologi laboratorium medik.
Tabel komposisi karyawan menurut jenjang usia
2011
Di atas 50 tahun
41 - 50 tahun
31 - 40 tahun
21 - 30 tahun
Jumlah
139
352
927
1.670
3.088
141
384
983
1.737
3.245
31 Desember
2013
145
430
1.024
1.807
3.406
2012
3.012
281
3.293
31 Desember
2013
3.081
341
3.422
2012
156
453
1.095
1.964
3.668
174
474
1.100
1.867
3.615
30 Juni
2016
178
484
1.124
1.862
3.648
2014
3.195
489
3.684
2015
3.253
362
3.615
30 Juni
2016
3.282
366
3.648
2014
2015
Tabel komposisi karyawan menurut status
Tetap
Kontrak
Jumlah
2011
2.907
308
3.215
115
8.9.Hubungan Kepemilikan serta Pengurusan dan Pengawasan Perseroan dan Pemegang
Saham Berbentuk Badan Hukum
Hubungan kepemilikan Perseroan dan pemegang saham berbentuk badan hukum pada tanggal Prospektus
ini diterbitkan adalah sebagai berikut:
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, pihak yang mengendalikan Perseroan adalah PT Prodia Utama.
Adapun hubungan pengurusan dan pengawasan Perseroan dengan pemegang saham berbentuk badan
hukum adalah sebagai berikut:
Nama
Andi Widjaja
Gunawan Prawiro Soeharto
Endang Wahjuningtyas Hoyaranda
Scott Andrew Merrillees
Joseph F.P. Luhukay
Dewi Muliaty
Liana Kuswandi
Indriyanti Rafi Sukmawati
Andri Hidayat
Tetty Hendrawati
Catatan :
KU
KI
K
8.10.
:
:
:
Komisaris Utama
Komisaris Independen
Komisaris
Perseroan
KU
K
K
KI
KI
DU
D
D
D
DI
PT Prodia Utama
KU
K
D
DU
DI
D
:
:
:
Bio Majesty Pte. Ltd.
-
Direktur Utama
Direktur Independen
Direktur
Keterangan Singkat Tentang Pemegang Saham Utama Berbentuk Badan Hukum
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan dimiliki oleh dua pemegang saham utama berbentuk
badan hukum, yaitu PT Prodia Utama dan Bio Majesty Pte. Ltd. Berikut keterangan mengenai pemegang
saham utama berbentuk badan hukum:
8.10.1. PT Prodia Utama
a. Akta Pendirian, Anggaran Dasar dan Perubahannya
PT Prodia Utama, berkedudukan di Jakarta Pusat, didirikan menurut dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia berdasarkan Akta Pendirian Perseroan
Terbatas PT Prodia Utama No.13 tanggal 28 November 2013, dibuat di hadapan Rismalena
Kasri, S.H., Notaris di Jakarta yang telah mendapatkan persetujuan dari Menkumham
berdasarkan Surat Keputusan No.AHU-06082.AH.01.01.Tahun2014 tanggal 12 Februari 2014
(“Akta Pendirian PT Prodia Utama”).
116
Anggaran dasar dalam Akta Pendirian PT Prodia Utama selanjutnya telah beberapa kali
mengalami perubahan dan terakhir berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Sirkuler Pemegang
Saham Sebagai Pengganti RUPS Luar Biasa PT Prodia Utama No.2 tanggal 4 Juni 2015, dibuat
dihadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta yang telah mendapatkan penerimaan
pemberitahuan berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan No. AHU-AH.01.03.0936929
tanggal 4 Juni 2015 (“Akta 2/2015”).
PT Prodia Utama beralamat di FX Plaza Office Tower, Lantai 15, Jl. Pintu 1 Senayan, Jakarta
Pusat 10270.
b. Kegiatan Usaha
Berdasarkan anggaran dasar PT Prodia Utama, maksud dan tujuan utama PT Prodia Utama
adalah berusaha dalam bidang perdagangan umum dan jasa.
c. Susunan Pengurusan Dan Pengawasan
Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 24 tanggal 31 Maret 2015 yang dibuat
dihadapan Dede Munajat S.H., Notaris di Kabupaten Bogor, susunan anggota Dewan Komisaris
dan Direksi PT Prodia Utama terakhir pada tanggal Prospektus ini diterbitkan adalah sebagai
berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama
Komisaris
Komisaris
Komisaris
Komisaris
:
:
:
:
:
Direksi
Direktur
: Endang Wahjuningtyas Hoyaranda
Andi Widjaja.
Gunawan Prawiro Soeharto
Johanes Hamdono Widjojo
Elias Nugroho
Ichsan Hidajat
d. Struktur Permodalan dan Susunan Pemegang Saham
Berdasarkan Akta 2/2015, struktur permodalan dan susunan kepemilikan saham dalam
PT Prodia Utama terakhir pada tanggal Prospektus ini diterbitkan adalah sebagai berikut:
Nilai Nominal Rp1.000.000 per Saham
Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal
(%)
180.000
180.000.000.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
1. Andi Widjaja
2. Gunawan Prawiro Soeharto
3. Johanes Hamdono Widjojo
4. Elias Nugroho
5. Ichsan Hidajat
6. Arjati Utami
Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
17.600
17.600
17.600
17.600
17.600
17.600
105.600
74.400
17.600.000.000
17.600.000.000
17.600.000.000
17.600.000.000
17.600.000.000
17.600.000.000
105.600.000.000
74.400.000.0000
16,67
16,67
16,67
16,67
16,67
16,67
100,00
8.10.2. Bio Majesty Pte. Ltd.
a. Pendirian
Bio Majesty Pte. Ltd., berkedudukan di Singapura, adalah perusahaan yang didirikan menurut
dan berdasarkan hukum yang berlaku di Republik Singapura pada tanggal 8 Januari 2014
dengan Company Registration No. 201400881G.
Bio Majesty Pte. Ltd. beralamat di 1 Raffles Place #39-01, One Raffles Place, Singapura 048616.
117
b. Kegiatan Usaha
Berdasarkan Certificate of Good Standing yang diterbitkan oleh Accounting and Corporate
Regulatory Authority pada tanggal 16 Desember 2014, Bio Majesty Pte. Ltd. bergerak dalam
bidang konsultasi manajemen dan bisnis.
c. Susunan Pengurusan
Struktur pengurus Bio Majesty Pte. Ltd. terakhir pada tanggal Prospektus ini diterbitkan
adalah sebagai berikut:
Direktur
: Mok Fee Lee
d. Struktur Permodalan dan Susunan Pemegang Saham
Struktur permodalan Bio Majesty Pte. Ltd. terakhir pada tanggal Prospektus ini diterbitkan
adalah sebagai berikut:
Nilai Nominal S$1 per Saham
Jumlah Nilai
Jumlah Saham
(%)
Nominal
480.000
480.000
Keterangan
Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
Prolight Enterprises International Pte.Ltd
Total Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
Saham dalam Portepel
8.11.
480.000
480.000
-
480.000 100,00
480.000 100,00
-
Transaksi Dengan Pihak yang Memiliki Hubungan Afiliasi
Perseroan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan Afiliasi yang memberikan
manfaat dalam operasional dan kegiatan usaha Perseroan. Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan,
berikut merupakan transaksi antara Perseroan dan pihak-pihak lain yang memiliki hubungan Afiliasi:
8.11.1. Perjanjian Kerjasama
•
Perjanjian kerjasama antara Perseroan dan Prodia CRO, perusahaan yang dikendalikan oleh
Kelompok Pendiri.
-
Perjanjian Kerjasama No. 03/PD/LS-CRO/III/2008 tanggal 1 Maret 2008 sebagaimana terakhir
kali diubah dengan Addendum Kedua tanggal 31 Juli 2013, antara Perseroan dengan Prodia
CRO. Berdasarkan perjanjian ini, para pihak wajib memberikan pelayanan penelitian uji klinis
obat yang berkualitas, tepat, akurat dan terpercaya serta senantiasa menjaga mutu pelayanan
sesuai dengan standar internasional berupa Good Clinical Practice. Perjanjian ini berlaku
sejak 28 Februari 2013 sampai dengan 28 Februari 2018, dan dapat diakhiri sebelum jangka
waktunya apabila dalam pelaksanaan perjanjian ini salah satu pihak atau kedua-duanya tidak
mampu memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam perjanjian. Perjanjian ini juga mengatur
mengenai potongan harga, fee manajemen dan fee pemasaran yang diberikan kepada Prodia
CRO.
-
Perjanjian Kerjasama tanggal 22 Februari 2013 tentang Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan,
antara Perseroan dengan Prodia CRO. Berdasarkan perjanjian ini, Prodia CRO akan merujuk
kepada Perseroan untuk pemeriksaan kesehatan karyawan dan keluarga karyawan dari Prodia
CRO dengan potongan harga tertentu. Perjanjian ini berlaku sejak 1 Maret 2013 dan akan
diperpanjang terus menerus hingga diakhiri. Perjanjian ini dapat diakhiri sebelum habisnya
masa berlaku dengan pemberitahuan tertulis 30 hari sebelum perjanjian berakhir secara efektif.
118
•
•
•
Perjanjian kerjasama antara Perseroan dan PROSTEM, perusahaan yang dikendalikan oleh
PT Prodia Utama.
-
Perjanjian Kerjasama tentang Rujukan Pemeriksaan Laboratorium tanggal 2 Januari 2012
sebagaimana terakhir diubah oleh Addendum Kedua Perjanjian Kerjasama tentang Rujukan
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 2 Januari 2015, antara Perseroan dengan PROSTEM.
Berdasarkan perjanjian ini, PROSTEM akan merujuk kepada Perseroan bahan pemeriksaan
sesuai persyaratan yang telah ditetapkan oleh Perseroan. Perseroan juga berhak untuk merujuk
pemeriksaan atas biaya PROSTEM dalam rangka melaksanakan kewajibannya dengan
persetujuan PROSTEM terlebih dahulu. Perjanjian ini berlaku sejak 2 Januari 2015 sampai
dengan 2 Januari 2020 dan dapat diakhiri sebelum jangka waktunya apabila dalam pelaksanaan
perjanjian ini salah satu pihak atau kedua-duanya tidak mampu memenuhi ketentuan yang telah
diatur dalam perjanjian dan berdasarkan alasan lainnya dengan pemberitahuan tertulis 30 hari
sebelum tanggal pengakhiran efektif. Perjanjian ini juga mengatur mengenai potongan harga
yang diberikan kepada PROSTEM.
-
Perjanjian Kerjasama tanggal 22 Februari 2013 tentang Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan,
antara Perseroan dengan PROSTEM. Berdasarkan perjanjian ini, PROSTEM akan merujuk
kepada Perseroan untuk pemeriksaan kesehatan karyawan dan keluarga karyawan dari
PROSTEM dengan potongan harga tertentu. Perjanjian ini berlaku sejak 1 Maret 2013 dan
akan diperpanjang terus menerus higga diakhiri. Perjanjian ini dapat diakhiri sebelum habisnya
masa berlaku dengan pemberitahuan tertulis 30 hari sebelum perjanjian berakhir secara efektif.
Perjanjian kerjasama antara Perseroan dan POHII, perusahaan yang dikendalikan oleh PT Prodia
Utama.
-
Perjanjian Kerjasama Pelayanan Kesehatan di bidang Medical Surveillance tanggal 19 Maret
2011 sebagaimana terakhir diubah oleh Addendum III Perjanjian Kerjasama tanggal 1 April
2016, antara Perseroan dengan POHII. Berdasarkan perjanjian ini, para pihak sepakat untuk
melakukan kegiatan di bidang pemasaran dan operasi terkait pelayanan untuk pemeriksaan
kesehatan sesuai kebutuhan lingkungan kerja. Perjanjian ini berlaku sejak 1 April 2016 sampai
dengan jangka waktu yang tidak ditentukan. Perjanjian ini juga mengatur mengenai potongan
harga untuk pemeriksaan yang dirujuk oleh POHII dan fee manajemen yang diberikan kepada
POHII.
-
Perjanjian Kerjasama tanggal 22 Februari 2013 tentang Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan,
antara Perseroan dengan POHII. Berdasarkan perjanjian ini, POHII akan merujuk kepada
Perseroan untuk pemeriksaan kesehatan karyawan dan keluarga karyawan dari POHII dengan
potongan harga tertentu. Perjanjian ini berlaku sejak 1 Maret 2013 dan akan diperpanjang
terus menerus hingga diakhiri. Perjanjian ini dapat diakhiri sebelum habisnya masa berlaku
dengan pemberitahuan tertulis 30 hari sebelum perjanjian berakhir secara efektif.
Perjanjian kerjasama antara Perseroan dan INNODIA, perusahaan yang dikendalikan oleh Kelompok
Pendiri.
-
Perjanjian Kerjasama Kontrak Reagen atas Alat Proline R-910 No. 069/ID/Eks/IV/2015 tanggal
1 April 2015, antara Perseroan dengan INNODIA. Berdasarkan perjanjian ini, Perseroan wajib
membeli reagen Proline R-910 dalam jumlah tertentu setiap bulan, serta membeli reagen,
kalibrator, consumable dan komponen alat Proline R-910 yang diperlukan dalam penggunaan
dan perawatan. Perseroan bertanggung jawab atas kondisi dan keamanan alat Proline R-910
yang ditempatkan di lokasi Perseroan. Kegiatan pemeliharaan dan perawatan dilakukan oleh
INNODIA di lokasi alat secara berkala. Perjanjian ini berlaku terus sampai diakhiri.
-
Perjanjian Kerjasama tanggal 31 Juli 2015 tentang Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan, antara
Perseroan dengan INNODIA. Berdasarkan perjanjian ini, INNODIA akan merujuk kepada
Perseroan untuk pemeriksaan kesehatan karyawan dan keluarga karyawan dari INNODIA dengan
potongan harga tertentu. Perjanjian ini berlaku sejak 31 Juli 2015 dan akan diperpanjang terus
menerus hingga diakhiri. Perjanjian ini dapat diakhiri sebelum habisnya masa berlaku dengan
pemberitahuan tertulis 30 hari sebelum perjanjian berakhir secara efektif.
119
•
•
Perjanjian Kerjasama tanggal 22 Februari 2013 tentang Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan,
antara Perseroan dengan PROLINE, perusahaan yang dikendalikan oleh PT Prodia Utama.
Berdasarkan perjanjian ini, PROLINE akan merujuk kepada Perseroan untuk pemeriksaan
kesehatan karyawan dan keluarga karyawan dari PROLINE dengan potongan harga tertentu.
Perjanjian ini berlaku sejak 1 Maret 2013 dan akan diperpanjang terus menerus hingga diakhiri.
Perjanjian ini dapat diakhiri sebelum habisnya masa berlaku dengan pemberitahuan tertulis
30 hari sebelum perjanjian berakhir secara efektif.
Perjanjian kerjasama antara Perseroan dan PT Grhanis Prima Propertindo, perusahaan yang
dikendalikan oleh PT Prodia Utama.
-
Akta Perjanjian Pembangunan Pengelolaan dan Penyerahan Kembali Tanah, Bangunan dan
Fasilitas Penunjang No. 18 tanggal 10 Juni 2016 yang dibuat di hadapan Alfi Sutan, S.H.,
Notaris di Jakarta, antara Perseroan dengan PT Grhanis Prima Propertindo. Berdasarkan
perjanjian ini, Perseroan bertanggung jawab, berhak serta berkewajiban atas pembangunan,
pengurusan perizinan dan persetujuan yang diperlukan, perawatan dan pemeliharaan, serta
menutup asuransi terhadap bangunan dan fasilitas penunjang di atas tanah seluas 746m 2 yang
terletak di Propinsi Sulawesi Tengah yang kemudian diperuntukkan sebagai perkantoran dan
kegiatan usaha kesehatan Perseroan (BOT). Dalam perjanjian ini, Perseroan diwajibkan untuk
menginvestasikan dana sejumlah Rp14,0 miliar dalam best-effort basis untuk kepentingan
pembangunan gedung dan fasilitas pendukungnya. Seluruh pendapatan yang diperoleh
dari penguasaan dan pengelolaan tanah, bangunan dan fasilitas penunjang menjadi milik
Perseroan seluruhnya. Sebagai kompensasi pemberian hak kepada Perseroan, maka Perseroan
berkewajiban mengalihkan bangunan dan fasilitas penunjang pada tanggal pengalihan dan
penyerahan kembali tanah yaitu 30 hari sejak selesainya jangka waktu pengelolaan. Jangka
waktu pengelolaan adalah 30 tahun sejak 2 Januari 2016 sampai tanggal 31 Desember 2046.
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, kewajiban Perseroan untuk menginvestasikan dana
sejumlah Rp14,0 miliar dalam best-effort basis telah terpenuhi.
-
Akta Perjanjian Pembangunan Pengelolaan dan Penyerahan Kembali Tanah, Bangunan dan
Fasilitas Penunjang No. 19 tanggal 10 Juni 2016 yang dibuat di hadapan Alfi Sutan, S.H.,
Notaris di Jakarta, antara Perseroan dengan PT Grhanis Prima Propertindo. Berdasarkan
perjanjian ini, Perseroan bertanggung jawab, berhak serta berkewajiban atas pembangunan,
pengurusan perizinan dan persetujuan yang diperlukan, perawatan dan pemeliharaan, serta
menutup asuransi terhadap bangunan dan fasilitas penunjang di atas tanah seluas 592m 2 dan
562m 2 yang keduanya terletak di Medan yang kemudian diperuntukkan sebagai perkantoran
dan kegiatan usaha kesehatan Perseroan (BOT). Dalam perjanjian ini, Perseroan diwajibkan
untuk menginvestasikan dana sejumlah Rp59,0 miliar dalam best-effort basis untuk kepentingan
pembangunan gedung dan fasilitas pendukungnya. Seluruh pendapatan yang diperoleh
dari penguasaan dan pengelolaan tanah, bangunan dan fasilitas penunjang menjadi milik
Perseroan seluruhnya. Sebagai kompensasi pemberian hak kepada Perseroan, maka Perseroan
berkewajiban mengalihkan bangunan dan fasilitas penunjang pada tanggal pengalihan dan
penyerahan kembali tanah yaitu 30 hari sejak selesainya jangka waktu pengelolaan. Jangka
waktu pengelolaan adalah 30 tahun sejak 2 Januari 2016 sampai tanggal 31 Desember 2046.
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, kewajiban Perseroan untuk menginvestasikan dana
sejumlah Rp59,0 miliar dalam best-effort basis telah terpenuhi 50,0%.
120
8.11.2. Perjanjian Sewa Menyewa
Perseroan menandatangani perjanjian sewa menyewa dengan pihak yang memiliki hubungan Afiliasi
untuk penyewaan bangunan yang digunakan sebagai klinik laboratorium, sebagai berikut:
No.
1.
Perjanjian Sewa Menyewa
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 41 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
Pihak
PT Grhanis Putra
Propertindo (1)
Peruntukkan
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Kramat, DKI Jakarta
Periode
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Nilai Sewa
Rp82,1 miliar
2.
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 36 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
PT Grhanis Prima
Propertindo (2)
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Pasar Minggu, DKI
Jakarta
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Rp4,7 miliar
3.
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 43 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
PT Grhanis Prakarsa Laboratorium klinik
Propertindo (2)
yang berlokasi di
Basuki Rahmat,
Sumatera Selatan
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Rp2,2 miliar
4.
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 44 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
PT Grhanis Prakarsa Laboratorium klinik
Propertindo (2)
yang berlokasi di
Gading Serpong,
Banten
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Rp2,3 miliar
5.
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 45 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
PT Grhanis Pusaka
Propertindo (2)
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Bogor, Jawa Barat
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Rp4,2 miliar
6.
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 40 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
PT Grhanis Putra
Propertindo (1)
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Wastukencana, Jawa
Barat
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Rp7,5 miliar
7.
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 46 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
PT Grhanis Permata Laboratorium klinik
Propertindo (2)
yang berlokasi di
Solo, Jawa Tengah
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Rp4,1 miliar
121
No.
8.
Perjanjian Sewa Menyewa
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 42 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
9.
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
PT Grhanis Putra
No. 133 tanggal 12 Agustus
Propertindo (1)
2016 yang dibuat di hadapan
Satria Amiputra, S.H., M.Ak.,
M.H., M.Kn., Notaris di Jakarta
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa No. 133 tanggal 28
Oktober 2016
10.
Akta Perjanjian Sewa Menyewa
No. 39 tanggal 22 Januari 2016
yang dibuat di hadapan Alfi
Sutan, S.H., Notaris di Jakarta,
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
10 Juni 2016
Perjanjian Sewa Menyewa
Bangunan No. 01/KLT/FS/VI/2014
tanggal 2 Juni 2014
PT Grhanis Permata Laboratorium klinik
Propertindo (2)
yang berlokasi di
Manado, Sulawesi
Utara
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Rp3,8 miliar
Grace Rooslandari
Gunawan (3)
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Klaten, Jawa Tengah
1 Juli 2015 - 1
Juli 2017
(Para pihak
sepakat untuk
kerjasama sewa
menyewa ini
minimal 10
tahun)
Rp120 juta
12.
Perjanjian Sewa Menyewa
Bangunan tanggal 21 Maret 2016
Grace Rooslandari
Gunawan (3)
8 April 2016 - 7
April 2017
Rp150 juta
13.
Perjanjian Sewa Menyewa
Bangunan tanggal 1 Januari 2016
sebagaimana diubah dengan
Addendum Pertama Perjanjian
Sewa Menyewa Bangunan tanggal
14 April 2016
Elias Nugroho (4)
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Bona Indah, DKI
Jakarta
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Kebayoran, DKI
Jakarta
1 Januari 2016
- 31 Desember
2020
Rp12,0 miliar
14.
Perjanjian Sewa Menyewa No. 02/
FS/SOLO/VII/2015 tanggal 27 Juli
2015
Gunawan Prawiro
Soeharto (5)
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Sragen, Jawa Tengah
1 Agustus 2015 31 Juli 2017
Rp66,6 juta
15.
Perjanjian Sewa Menyewa
Bangunan tanggal 1 September
2016
Ichsan Hidajat (6)
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Semarang, Jawa
Tengah
1 Januari 2016
- 31 Desember
2018
Rp3,2 miliar
11.
Pihak
PT Grhanis Pusaka
Propertindo (2)
Peruntukkan
Laboratorium klinik
yang berlokasi di
Denpasar, Bali
Periode
22 Januari 2016 22 Januari 2023
Laboratorium klinik
2 Januari 2016
yang berlokasi di
- 31 Desember
Surabaya, Jawa Timur 2023
Nilai Sewa
Rp5,5 miliar
Rp60,4 miliar
Catatan:
(1) PT Grhanis Putra Propertindo adalah perusahaan yang dikendalikan oleh PT Prodia Utama.
(2) PT Grhanis Prima Propertindo, PT Grhanis Pusaka Propertindo, PT Grhanis Prakarsa Propertindo, atau PT Grhanis Permata
Propertindo adalah entitas anak dari PT Grhanis Putra Propertindo, perusahaan yang dikendalikan oleh PT Prodia Utama.
(3) Grace Rooslandari Gunawan adalah anak dari Gunawan Prawiro Soeharto.
(4) Elias Nugroho adalah salah satu pemegang saham PT Prodia Utama.
(5) Gunawan Prawiro Soeharto adalah komisaris Perseroan dan pemegang saham dari PT Prodia Utama.
(6) Ichsan Hidajat adalah salah satu pemegang saham PT Prodia Utama.
Seluruh transaksi dengan pihak Afiliasi Perseroan telah dilakukan secara wajar (arm’s length)
sebagaimana dilakukan pada transaksi dengan pihak ketiga.
122
8.12.
Perjanjian-Perjanjian Penting Dengan Pihak Ketiga
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan mengadakan perjanjian-perjanjian penting dengan
pihak ketiga untuk mendukung kegiatan operasional Perseroan, dengan rincian sebagai berikut:
8.12.1. Perjanjian Kredit
•
Perjanjian Perubahan dan Penegasan Kembali terhadap Perjanjian Kredit No. 263 tanggal
26 November 2015 dibuat di hadapan Sulistyaningsih, S.H., Notaris di Jakarta sebagaimana
diperpanjang dengan Perjanjian Perpanjangan Terhadap Perjanjian Kredit No. 311/PPWK/CBD/
VIII/2016 tanggal 2 Agustus 2016 antara Perseroan (“Debitor”), PT Grhanis Putra Propertindo
dan/atau PT Grhanis Permata Propertindo, PT Grhanis Prima Propertindo, PT Grhanis Pusaka
Propertindo dan PT Grhanis Prakarsa Propertindo (“Perusahaan Terelasi Debitor”) dan Bank
Danamon (“Kreditor”) (“Perjanjian Kredit Danamon”).
Perseroan pertama kali memperoleh fasilitas pinjaman dari Kreditor pada tahun 2015, yang telah
diperpanjang dan diubah beberapa kali dengan perubahan terakhir dilakukan pada bulan Agustus
2016. Berdasarkan Perjanjian Kredit Danamon, Perseroan dan Perusahaan Teralasi Debitor
memperoleh fasilitas (i) Kredit Rekening Koran (“KRK”) sebesar Rp8,0 miliar (Debitor sebesar
Rp5,0 miliar dan Perusahaan Terelasi Debitor sebesar Rp3,0 miliar); (ii) Kredit Modal Kerja
(“KMK”) sebesar Rp27,0 miliar (Debitor sebesar Rp20,0 miliar dan Perusahaan Terelasi Debitor
sebesar Rp7,0 miliar); dan (iii) Kredit Angsuran Berjangka (“KAB”) sebesar Rp436,0 miliar (Debitor
sebesar Rp96,0 miliar dan Perusahaan Terelasi Debitor sebesar Rp340,0 miliar). Tujuan fasilitas
KRK dan KMK adalah modal kerja sedangkan fasilitas KAB adalah untuk pembiayaan pembelian
dan konstruksi tanah dan bangunan (kantor cabang) (outlet refinancing dan new expansion). ).
Jangka waktu fasilitas KRK dan KMK sampai dengan 19 Juli 2017, dan KAB sampai dengan
delapan tahun sejak penarikan pertama, yaitu 28 Juni 2023. Fasilitas KRK dan KMK dikenakan
tingkat suku bunga tetap 10,75% per tahun, sedangkan fasilitas KAB dikenakan tingkat suku bunga
tetap 11,00% per tahun.
Berdasarkan Perjanjian Kredit Danamon, Bank Danamon menyatakan bahwa fasilitas KAB20 dengan limit pinjaman Rp17,0 miliar masih berlaku. Tujuan fasilitas KAB-20 adalah untuk
pembangunan outlet di Sunter. Jangka waktu fasilitas KAB-20 sampai dengan Oktober 2020 dengan
tingkat suku bunga tetap 11,00% per tahun.
Pinjaman ini dijamin dengan sejumlah tanah dan bangunan milik Debitor (sertifikat HGB (“SHGB”)
No. B.115/WRG, SHGB No. 463/Sukaresmi, SHGB No. 42/Karangmekar, SHGB No.01706/Pondok
Jaya, SHGB No.01707/Pondok Jaya, SHGB No. 13109/Sunter Agung, dan SHGB No. 13110/Sunter
Agung), sejumlah tanah dan bangunan milik Perusahaan Terelasi Debitor (SHGB No. 493/Kenari,
SHGB No. 481/Kenari, SHGB No. 258/Kenari, SHGB No. 440/Wenang Selatan, SHGB No. 619/
Peterongan, SHGB No. 00096/Timuran, SHGB No. 97/Timuran, SHGB No.98/Timuran, SHGB
No. 100/Timuran, SHGB No. 681/Petisah Hulu, SHGB No. 695/Petisah Hulu, SHGB No. 08/
Besusu Tengah, SHGB No. 04266/Curug Sangereng, SHGB No. 04267/Curug Sangereng, SHGB
No. 158/Tamansari, SHGB No. 543/Dauhpuri, dan SHGB No. 23/Ario Kemuning), jaminan berupa
jaminan pribadi dari masing-masing Andi Widjaja, Johanes Hamdono Widjojo, Ichsan Hidayat,
Elias Nugroho, Gunawan Prawiro Suharto, Arjati Utami, dan jaminan perusahaan dari PT Prodia
Utama.
Selama kewajiban dalam fasilitas belum dilunasi, Debitor wajib memenuhi seluruh kewajiban
dan pembatasan yang dipersyaratkan, termasuk menjaga dan mempertahankan rasio keuangan,
yaitu Debt Service Coverage Ratio (DSCR) minimum 1x dan interest coverage minimum 1x, dan
Debitor serta Perusahaan Terelasi Debitor wajib memenuhi Debt Service Reserve Account (DSRA)
minimum 1 bulan.
Sehubungan dengan rencana Perseroan untuk melakukan Penawaran Umum Saham Perdana, Kreditor,
berdasarkan Surat Persetujuan Tindakan Korporasi No. 0299/CBD/0916 tanggal 2 September
2016, telah memberikan persetujuan kepada Perseroan untuk melakukan (i) perubahan anggaran
123
dasar Perseroan; (ii) perubahan susunan Direksi dan Komisaris Perseroan; (iii) perubahan susunan
pemegang saham Perseroan; dan (iv) melakukan pembagian dividen saham Perseroan.
Pada tanggal 30 Juni 2016, saldo utang fasilitas KRK, fasilitas KMK, dan fasilitas KAB adalah
masing-masing Rp3,6 miliar, Rp20,0 miliar, dan Rp24,0 miliar. Sedangkan saldo utang fasilitas
KAB-20 adalah Rp15,3 miliar.
•
Perseroan menandatangani tiga perjanjian dengan Bank Panin
-
Akta Perjanjian Kredit No. 110 tanggal 29 Mei 2015 dibuat di hadapan Hana Tresna Widjaja,
S.H., Notaris di Jakarta, antara Perseroan (“Debitor”) dan Bank Panin (“Kreditor”).
Perseroan memperoleh fasilitas Pinjaman Jangka Panjang 3 - Medium Enterprise Business
sebesar Rp10,2 miliar dengan tujuan untuk investasi pembelian tanah dan bangunan di
Kembangan, Jakarta Barat. Jangka waktu fasilitas pinjaman ini adalah 60 bulan sampai dengan
28 Mei 2020 dengan tingkat suku bunga floating 11,5% per tahun. Fasilitas ini digunakan
untuk membiayai investasi tanah dan bangunan di daerah Kembangan. Fasilitas pinjaman ini
dijamin dengan aset yang dibeli dengan fasilitas ini.
Sehubungan dengan rencana Perseroan untuk melakukan Penawaran Umum Saham Perdana,
Kreditor, berdasarkan Surat Persetujuan No. 289/JAE/EXT/16 tanggal 30 Juni 2016, telah
memberikan persetujuan kepada Perseroan untuk melakukan (i) perubahan bentuk hukum
perusahaan dari tertutup menjadi terbuka; (ii) perubahan anggaran dasar Perseroan; (iii)
perubahan susunan pengurus Perseroan; dan (iv) perubahan pemegang saham Perseroan.
Pada tanggal 30 Juni 2016, saldo fasilitas Pinjaman Jangka Panjang 3 - Medium Enterprise
Business adalah Rp8,0 miliar.
-
Akta Perjanjian Kredit No. 28 tanggal 12 Agustus 2015 dibuat di hadapan Hana Tresna Widjaja,
S.H., Notaris di Jakarta, antara Perseroan (“Debitor”) dan Bank Panin (“Kreditor”).
Perseroan memperoleh fasilitas Pinjaman Jangka Panjang 4 - Small Medium Business sebesar
Rp12,6 miliar dengan tujuan untuk pembiayaan pembelian tanah dan bangunan di Lebak Bulus,
Jakarta Selatan yang awalnya didanai oleh kas interal Perseroan (refinancing aset). Jangka
waktu fasilitas pinjaman ini adalah 60 bulan sampai dengan 12 Agustus 2020 dengan tingkat
suku bunga floating 11,5% per tahun. Fasilitas pinjaman ini dijamin dengan aset yang dibeli
dengan fasilitas ini, yaitu SHGB No.4559/Lebak Bulus dan SHGB No. 4560/Lebak Bulus.
Sehubungan dengan rencana Perseroan untuk melakukan Penawaran Umum Saham Perdana,
Kreditor, berdasarkan Surat Persetujuan No. 375/JAE/EXT/16 tanggal 8 September 2016, telah
memberikan persetujuan kepada Perseroan untuk (i) mengubah anggaran dasar Perseroan; (ii)
mengubah status Perseroan dari tertutup menjadi terbuka; (iii) mengubah susunan Direksi dan
Komisaris Perseroan; dan (iv) mengubah susunan pemegang saham Perseroan.
Pada tanggal 30 Juni 2016, saldo fasilitas Pinjaman Jangka Panjang 4 - Small Medium Business
adalah Rp10,5 miliar.
-
Akta Perjanjian Kredit No. 30 tanggal 12 Agustus 2015 yang dibuat di hadapan Hana Tresna
Widjaja, S.H., Notaris di Jakarta antara Perseroan (“Debitor”) dan Bank Panin (“Kreditor).
Perseroan memperoleh fasilitas Pinjaman Modal Kerja Angsuran - Small Medium Business
sebesar Rp5,5 miliar dengan tujuan untuk tambahan modal kerja untuk membiayai piutang
dan persediaan. Jangka waktu fasilitas pinjaman ini adalah sampai dengan 12 Agustus 2020
dengan tingkat suku bunga floating 11.5% per tahun. Fasilitas ini dijamin dengan sejumlah
tanah dan bangunan milik Perseroan, yaitu SHGB No. 450/Kramat dan SHGB No. 451/Kramat.
Pada tanggal 30 Juni 2016, saldo fasilitas Pinjaman Modal Kerja Angsuran - Small Medium
Business adalah Rp4,6 miliar.
124
•
Perjanjian Kredit No. 0459/PK/WXII/2012 tanggal 16 Mei 2012 sebagaimana diubah terakhir dengan
Akta Perubahan Perjanjian Kredit No. 130 tanggal 19 November 2015 yang dibuat di hadapan
Satria Amiputra A., Notaris di Jakarta antara Perseroan (“Debitor”) dan BCA (“Kreditor”).
Perseroan memperoleh fasilitas installment loan 1 sebesar Rp6.000.000.000 dan fasilitas installment
loan 2 sebesar Rp20.000.000.000. Fasilitas kredit ini dikenakan tingkat bunga floating 11,75%
per tahun dan batas waktu penarikan dan/atau penggunaan fasilitas kredit diperpanjang satu tahun
kemudian. Jangka waktu fasilitas installment loan 1 sampai dengan 24 Mei 2017 dan jangka
waktu installment loan 2 sampai dengan 19 November 2020. Fasilitas pinjaman ini dijamin
dengan sejumlah tanah dan bangunan milik Perseroan, yaitu SHGB No. 913/Pakulonan dan SHGB
No. 923/Pakulonan, SHGB No. 03617/Kedoya Selatan dan SHGB No. 772/Darmo.
Selama kewajiban dalam fasilitas belum dilunasi, Debitor wajib memenuhi seluruh kewajiban dan
pembatasan yang dipersyaratkan, termasuk menjaga dan mempertahankan rasio keuangan, yaitu
Debt Service Coverage Ratio minimum 1x dan Debt to Equity Ratio minimum 1x.
Sehubungan dengan rencana Perseroan untuk melakukan Penawaran Umum Saham Perdana, Kreditor,
berdasarkan Surat Persetujuan Perubahan Status Perseroan No. 1488/SKL-KOM/2016 tanggal
21 Juli 2016, telah memberikan persetujuan kepada Perseroan untuk merubah status Perseroan
menjadi perusahaan terbuka.
Pada tanggal 30 Juni 2016, saldo fasilitas installment loan 1 tercatat nihil dan fasilitas installment
loan 2 sebesar Rp18,8 miliar.
8.12.2. Perjanjian Sewa Menyewa Peralatan
Perjanjian sewa menyewa umumnya dilakukan untuk penyewaan masing-masing peralatan. Perjanjian
ini umumnya berjangka waktu tiga sampai dengan lima tahun. Secara umum, Perseroan dilarang
menyalurkan, mengalihkan, menyewakan atau menjual alat-alat yang relevan kepada pihak ketiga dengan
alasan apapun tanpa persetujuan tertulis dari vendor. Perseroan membayar kepada vendor harga sewa
dalam jumlah tetap setiap bulan, atau pembayaran dengan mekanisme tertentu yang telah disepakati
antara Perseroan dengan vendor yang bersangkutan.
Perseroan telah memiliki hubungan kerjasama yang material untuk kegiatan usaha Perseroan sehubungan
dengan perjanjian sewa menyewa peralatan dengan Perseroan, yaitu antara lain dengan (i) PT Indoglobal
Technologies (yang akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2017), (ii) PT Roche Indonesia (yang
akan berakhir pada tanggal 12 Januari 2020, (iii) CV Kristalab (yang akan berakhir pada tanggal
24 Maret 2019), dan (iv) PT Abbott Products Indonesia (yang akan berakhir pada tanggal 10 September
2020).
8.12.3. Perjanjian Point-of-Care (“POC”)
Dalam rangka menyelenggarakan kegiatan di outlet POC Center maupun POC Collection Center,
Perseroan mengadakan perjanjian kerjasama pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik/perjanjian
sewa menyewa/perjanjian sewa bangunan/ruangan dengan pihak-pihak seperti dokter/klinik/apotik
(“Perjanjian POC”). Dalam perjanjian ini, Perseroan wajib memberikan pelayanan yang berkualitas,
tepat, akurat dan terpercaya serta senantiasa menjaga mutu pelayanan sesuai standar yang telah
ditetapkan. Untuk kegiatan POC Center, Perseroan wajib menyediakan peralatan laboratorium, termasuk
peralatan-peralatan pengambilan dasar dan reagensia yang baik serta memadai untuk pelayanan
laboratorium klinik. Selain itu, Apabila terdapat hasil yang meragukan sehingga pemeriksaan tersebut
penyelesaiannya harus diulang, maka Perseroan bersedia untuk memeriksa kembali tanpa dikenakan
biaya dengan syarat-syarat tertentu. Para pihak selama pelaksanaan perjanjian ini maupun setelah
selesainya perjanjian ini wajib menjaga kerahasiaan data/identitas dan hasil pemeriksaan pasien yang
dikirim/diserahkan oleh Perseroan kepada dokter/klinik/apotik. Para pihak berhak untuk mengakhiri
perjanjian ini sebelum jangka waktunya apabila dalam pelaksanaan perjanjian ini salah satu pihak atau
kedua-duanya tidak mampu memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam perjanjian.
125
Perseroan telah memiliki hubungan kerjasama yang material dengan beberapa pihak sehubungan dengan
Perjanjian POC dengan Perseroan yaitu antara lain dengan (i) Klinik Dr Nina Taufik (yang akan berakhir
pada tanggal 1 Maret 2018), (ii) Prof. Lukman Hakim Zain, SpPD-KGEH (yang akan berakhir seterusnya
sampai dengan diakhiri oleh masing-masing pihak), (iii) Dr.St. Nurul Rezki Wahyuni, M.Kes (yang
akan berakhir pada tanggal 1 Januari 2017), (iv) Iwan Santoso (yang akan berakhir pada tanggal 1 April
2018), dan (v) Apotik Padma (yang akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2021).
8.12.4. Perjanjian Kerjasama Operasi
Dalam rangka menyelenggarakan kegiatan laboratorium di rumah sakit, Perseroan mengadakan
perjanjian kerjasama pelayanan pemeriksaan laboratorium dengan rumah sakit (“Perjanjian Kerja
Sama Operasi”). Dalam perjanjian ini, Perseroan wajib (i) menyediakan peralatan laboratorium
termasuk peralatan pengambilan darah dan reagensia yang baik serta memadai untuk dapat memberikan
pelayanan laboratorium klinik yang optimal; (ii) menyediakan tenaga ahli yang cukup dan bermutu;
(iii) mengadakan pengelolaan atau manajemen yang baik termasuk tetapi tidak terbatas pada sistem
pengendalian mutu yang terpadu, sistem rujukan dan pembuatan laporan pasien; dan (iv) melaksanakan
pemeriksaan laboratorium kepada pasien masing-masing rumah sakit. Para pihak berhak untuk
mengakhiri perjanjian ini sebelum jangka waktunya apabila dalam pelaksanaan perjanjian ini salah
satu pihak atau kedua-duanya tidak mampu memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam perjanjian.
Perseroan telah memiliki hubungan kerjasama yang material dengan tujuh pihak rumah sakit sehubungan
dengan Perjanjian Kerja Sama Operasi dengan Perseroan, yaitu dengan (i) Rumah Sakit Ibu & Anak
Buah Hati Pamulang (yang akan berakhir pada tanggal 17 Januari 2021), (ii) Rumah Sakit Ibu dan Anak
Permata Hati (yang akan berakhir pada tanggal 13 Juli 2017); (iii) Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda
(yang akan berakhir pada tanggal 1 Januari 2017); (iv) Rumah Sakit Ibu & Anak Sentosa (yang akan
berakhir pada tanggal 31 Desember 2021), (v) Rumah Sakit Graha Husada (yang akan berakhir pada
tanggal 31 Desember 2017), (vi) Rumah Sakit Umum Hadi Husada (yang akan berakhir pada tanggal
31 Oktober 2017), dan (vii) Rumah Sakit Ibu dan Anak Sentul (yang akan terus berlaku kecuali diakhiri
para pihak).
8.12.5. Perjanjian Kerja Sama Medical Check-Up (“MCU”)
Dalam memberikan layanan pemeriksaan kesehatan (medical check-up) bagi klien korporasi, Perseroan
menandatangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan-perusahaan (“Perjanjian MCU”). Dalam
perjanjian ini, Perseroan akan memberikan pemeriksaan kesehatan kepada karyawan berdasarkan surat
pengantar dan jenis pemeriksaan yang disepakati antara Perseroan dan perusahaan. Perseroan berhak
untuk menolak tambahan pemeriksaan di luar yang diatur dalam perjanjian. Perseroan juga dapat
merujuk pemeriksaan ke sarana pelayanan kesehatan lain apabila laboratorium klinik Perseroan tidak
dapat melaksanakan sebagian atau seluruh pemeriksaan. Para pihak berhak untuk mengakhiri perjanjian
ini sebelum jangka waktunya apabila dalam pelaksanaan perjanjian ini salah satu pihak atau keduaduanya tidak mampu memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam perjanjian.
Perseroan telah memiliki hubungan kerjasama yang material dengan beberapa pihak sehubungan dengan
Perjanjian MCU dengan Perseroan, yaitu antara lain dengan (i) PT Jasa Raharja (yang akan berakhir
pada tanggal 31 Desember 2016), (ii) PT Pertamina EP (yang akan berakhir pada tanggal 31 Desember
2016), (iii) PT Schneider Electric (yang akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2021), (iv) PT Shanghai
Electric Power Construction (yang akan berahir pada tanggal 31 Desember 2016), (v) PT Cahyatiara
Mustika Scientific Indonesia (yang akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2016).
8.12.6. Perjanjian Kerjasama Rujukan Rutin
Perseroan menandatangani perjanjian kerjasama tentang pelayanan pemeriksaan kesehatan/perjanjian
kerjasama tentang pelayanan kesehatan klinik/perjanjian kerjasama tentang pelayanan pemeriksaan
diagnostik/perjanjian kerjasama tentang pelayanan pemeriksaan darah dan urine dengan rumah sakit/
asuransi/perusahaan (“Perjanjian Kerja Sama Rujukan Rutin”). Dalam perjanjian ini, Perseroan menerima
rujukan untuk jasa pelayanan pemeriksaan kesehatan dan Perseroan wajib memberikan pelayanan
126
kesehatan secara optimal dan menyampaikan semua hasil pemeriksaan. Perseroan umumnya menerima
pembayaran dari pihak yang memberikan rujukan. Para pihak berhak untuk mengakhiri perjanjian ini
sebelum jangka waktunya apabila dalam pelaksanaan perjanjian ini salah satu pihak atau kedua-duanya
tidak mampu memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam perjanjian.
Perseroan telah memiliki hubungan kerjasama yang material dengan beberapa pihak sehubungan dengan
Perjanjian Kerja Sama Rujukan Rutin dengan Perseroan, yaitu antara lain dengan (i) Perkumpulan
Hermina Hospital Group (yang akan berakhir pada tanggal 1 Desember 2018), (ii) PT Prudential Life
Assurance (yang akan berakhir pada tanggal 30 Desember 2020), (iii) PT AJ Central Asia Raya (yang
akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2015 dan dapat otomatis diperpanjang), (iv) PT Asuransi Jiwa
Manulife Indonesia (yang akan berahir pada tanggal 20 Mei 2016 dan dapat otomatis diperpanjang),
(v) PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang (yang akan berakhir pada tanggal
31 Desember 2016).
8.12.7. Perjanjian Rujukan Pemeriksaan Laboratorium
Perseroan menandatangani perjanjian kerjasama tentang rujukan pemeriksaan laboratorium/ perjanjian
kerjasama tentang rujukan pemeriksaan laboratorium dan non-laboratorium dengan rumah sakit/
pemerintah propinsi/laboratorium/fakultas kedokteran/penyedia layanan kesehatan lainnya (“Perjanjian
Rujukan Pemeriksaan Laboratorium”). Berdasarkan perjanjian ini, para pihak akan saling memberikan
rujukan untuk melakukan jasa pelayanan pemeriksaan. Para pihak wajib memberikan pelayanan yang
berkualitas, tepat, akurat dan terpercaya serta senantiasa menjaga mutu pelayanan sesuai dengan standar
yang ditentukan. Apabila menurut pihak yang merujuk pemeriksaan ada hasil yang meragukan sehingga
pemeriksaan tersebut penyelesaiannya harus diulang, maka pihak yang melakukan pemeriksaan bersedia
untuk memeriksa kembali tanpa dikenakan biaya dengan syarat-syarat tertentu. Para pihak berhak untuk
mengakhiri perjanjian ini sebelum jangka waktunya apabila dalam pelaksanaan perjanjian ini salah
satu pihak atau kedua-duanya tidak mampu memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam perjanjian.
Perseroan telah memiliki hubungan kerjasama yang material dengan beberapa pihak sehubungan dengan
Perjanjian Rujukan Pemeriksaan Laboratorium dengan Perseroan yaitu antara lain dengan (i) Rumah
Sakit Borromeus (yang akan berakhir pada tanggal 3 Februari 2018), (ii) Rumah Sakit Paru Dr. H.A.
Rotinsulu Bandung (yang akan berakhir pada tanggal 7 Agustus 2017), (iii) Pemerintah Propinsi Jawa
Barat (yang akan berakhir pada tanggal 8 Mei 2019), (iv) Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
(yang akan berakhir pada tanggal 30 Juni 2018), dan (v) Unit Transfusi Darah Daerah (UTDD) Palang
Merah Indonesia (yang akan berakhir pada tanggal 28 Februari 2017).
8.12.8. Perjanjian Kerjasama dengan Pihak Asing
•
Memorandum of Understanding tanggal 7 September 2005 antara NUH Referral Laboratories Pte.
Ltd. (“NUH Laboratories”) dan Perseroan. Berdasarkan perjanjian ini, NUH Laboratories dan
Perseroan bermaksud melakukan kerjasama dalam bidang-bidang (i) pengajaran dan pendirikan;
(ii) pemeriksaan laboratorium dengan harga khusus; (iii) rujukan pasien; dan (iv) seminar dan
promosi.
•
Care360 Labs and Meds User Agreement tanggal 25 Agustus 2015 antara Quest Diagnostics
Incorporated (“Quest”) dan Perseroan. Berdasarkan perjanjian ini, Quest menyediakan layanan
fasilitas pemeriksaan laboratorium (“Labs & Meds Solution”) bagi Perseroan tanpa biaya. Perjanjian
ini berlaku sejak tanggal 25 Agustus 2015 dan akan terus berlaku sampai diakhiri.
8.12.9. Perjanjian Sewa Menyewa Outlet
Dalam menyelenggarakan kegiatan laboratorium klinik, Perseroan menyewa ruang dan bangunan dari
beberapa pihak ketiga dan dengan pihak terafiliasi. Perjanjian sewa menyewa tersebut paling dekat akan
berakhir pada tanggal 1 November 2016 dan paling lama berlaku sampai dengan tanggal 3 Januari 2026.
127
8.13.
Keterangan Tentang Aset Tetap yang Bernilai Material
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan memiliki dan/atau menguasai aset tetap dengan nilai
material berupa tanah dengan total luas 9.594m 2 yang diperuntukkan untuk kegiatan usaha Perseroan,
dengan uraian sebagai berikut:
No.
Dokumen Kepemilikan
Lokasi
1. SHGB No. 773/Kebayoran Lama Utara Kel. Kebayoran Lama Utara, Kec.
Kebayoran Lama, DKI Jakarta
2. SHGB No. 03617/Kedoya Selatan
Kel. Kedoya Selatan, Kec. Kebon Jeruk,
DKI Jakarta
3. SHGB No. 415/Pejaten Barat
Kel. Pejaten Barat, Kec. Pasar Minggu,
DKI Jakarta
4. SHGB No. 03169/Kembangan Selatan Kel. Kembangan Selatan, Kec.
Kembangan, DKI Jakarta
5. SHGB No. 03141/Kembangan Selatan Kel. Kembangan Selatan, Kec.
Kembangan, DKI Jakarta
6. SHGB No. 450/Kramat
Kel. Kramat, Kec. Senen, DKI Jakarta
7. SHGB No. 451/Kramat
Kel. Kramat, Kec. Senen, DKI Jakarta
8. SHGB No. 524/Kenari
Jl. Kramat Raya No. 148-F
9. SHGB No. 4559/Lebak Bulus
Kel. Lebak Bulus, Kec. Cilandak, DKI
Jakarta
10. SHGB No. 4560/Lebak Bulus
Kel. Lebak Bulus, Kec. Cilandak, DKI
Jakarta
11. SHGB No. 13109/Sunter Agung
Kel. Sunter Agung, Kec. Tanjung Priok,
DKI Jakarta
12. SHGB No. 13110/Sunter Agung
Kel. Sunter Agung, Kec. Tanjung Priok,
DKI Jakarta
13. SHGB No. 766/Dwikora
Kel. Dwikora, Kec. Siantar Barat,
Pematangsiantar, Sumatera Utara
14. SHGB No. 719/Petisah Hulu
Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru,
Medan, Sumatera Utara
15. SHGB No. 664/Petisah Hulu
Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru,
Medan, Sumatera Utara
16. SHGB No. 720/Petisah Hulu
Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru,
Medan, Sumatera Utara
17. SHGB No. 371/Padang Bulan
Kel. Padang Bulan, Kec. Senapelan,
Pekanbaru, Riau
18. SHGB No. 398/Padang Bulan
Kel. Padang Bulan, Kec. Senapelan,
Pekanbaru, Riau
19. SHGB No. 426 /Padang Bulan
Kel. Padang Bulan, Kec. Senapelan,
Pekanbaru, Riau
20. SHGB No. 3121/Teluk Tering
Kel. Teluk Tering, Kec. Batam Kota,
Batam, Kep. Riau
21. SHGB No. 3122/Teluk Tering
Kel. Teluk Tering, Kec. Batam Kota,
Batam, Kep. Riau
22. SHGB No. 22/Sungai Putri
Kel Sungai Putri, Kec. Telanai Pura,
Jambi
23. SHGB No. 23/Sungai Putri
Kel Sungai Putri, Kec. Telanai Pura,
Jambi
24. SHGB No. 923/Pakulonan
Kel. Pakulonan, Kec. Serpong, Kab.
Tangerang, Banten
25. SHGB No. 913/Pakulonan
Kel. Pakulonan, Kec. Serpong, Kab.
Tangerang, Banten
26. SHGB No. 01706/Pondok Jaya
Kel. Pondok Jaya, Kec. Pondok Aren,
Tangerang Selatan, Banten
27. SHGB No. 01707/Pondok Jaya
Kel. Pondok Jaya, Kec. Pondok Aren,
Tangerang Selatan, Banten
28. SHGB No. 463/Sukaresmi
Desa Sukaresmi, Kec. Lemahabang,
Bekasi, Jawa Barat
29. SHGB No. 4206/Kayu Ringin
Kel. Kayuringin Jaya, Kec. Bekasi
Selatan, Bekasi, Jawa Barat
30. SHGB No. 6175/Kayuringin Jaya
Kel. Kayuringin Jaya, Kec. Bekasi
Selatan, Bekasi, Jawa Barat
128
Tanggal
Berakhirnya Hak
20 Februari 2031
Luas (m 2 )
143
31 Agustus 2026
156
28 November 2023
126
15 Januari 2020
116
15 Januari 2020
78
13 Maret 2018
13 Maret 2018
24 Januari 2031
7 Juni 2045
136
152
78
200
7 Juni 2045
397
22 Maret 2045
120
22 Maret 2045
120
18 April 2014 (1)
80
12 Agustus 2035
65
5 Juni 2036
65
13 Oktober 2035
65
2 Desember 2023
78
14 Januari 2024
78
16 Juni 2028
78
23 Januari 2032
85
23 Januari 2032
111
7 September 2039
113
7 September 2039
113
12 Juni 2035
85
12 Juni 2035
85
18 Januari 2035
87
18 Januari 2035
89
24 September 2025
68
8 Mei 2032
190
3 Agustus 2030
667
No.
Dokumen Kepemilikan
31. SHGB No. 42/Karangmekar
32. SHGB No. 150/Kemandungan
33. SHGB No. 50/Giriwono
34. SHGB No. 115/Wirogunan
35. SHGB No. 673/Darmo
36. SHGB No. 450/Darmo
37. SHGB No. 7/Tanjungsari
38. SHGB No. 250/Pocanan
39. SHGB No. 0025/Korumba
40. SHGB No. 00324/Bende
41. SHGB No. 00325/Bende
Lokasi
Kel. Karangmekar, Kec. Cimahi Tengah,
Cimahi, Jawa Barat
Kel. Kemandungan, Kec. Tegal Barat,
Tegal, Jawa Tengah
Kel. Giriwono, Kec. Wonogiri, Wonogiri,
Jawa Tengah
Kel. Wirogunan, Kec. Mergangsan,
Yogyakarta, D.I. Yogyakarta
Kel. Darmo, Kec. Wonokromo, Surabaya,
Jawa Timur
Kel. Darmo, Kec. Wonokromo, Surabaya,
Jawa Timur
Desa Tanjungsari, Kec. Pacitan, Kab.
Pacitan, Jawa Timur
Kel. Pocanan, Kec. Kota Kediri, Kediri,
Jawa Timur
Kel. Korumba, Kec. Mandonga, Kendari,
Sulawesi Tenggara
Kel. Korumba, Kec. Mandonga, Kendari,
Sulawesi Tenggara
Kel. Bende, Kec. Kadia, Kendari,
Sulawesi Tenggara
Tanggal
Berakhirnya Hak
20 Maret 2042
Luas (m 2 )
385
2 April 2021
286
16 Juni 2025
532
21 Maret 2019
1.315
27 April 2024
402
9 April 2033
402
6 November 2033
228
24 September 2025
725
12 Agustus 2035
125
4 April 2043
150
4 April 2043
306
Catatan:
(1) Sertipikat tanah sedang dalam masa perpanjangan berdasarkan Surat Keterangan No. 518/S-KEL/IX/2016 tanggal 8
September 2016.
Pada tanggal 30 Juni 2016, nilai buku dari tanah dan bangunan Perseroan masing-masing tercatat sebesar
Rp59,8 miliar dan Rp61,1 miliar.
8.14. Asuransi
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan memiliki polis-polis asuransi dari PT Asuransi Wahana
Tata, yang meliputi polis asuransi office/clinic property all-risk untuk bangunan, kantor, persediaan,
peralatan laboratorium, persediaan reagen dan peralatan dalam bangunan; polis asuransi office/building
earthquake dan polis asuransi public liability; dan PT Asuransi Allianz Utama Indonesia untuk polis
asuransi electronic equipment dan polis asuransi standard motor vehicle, seluruhnya dengan periode
pertanggungan dari 30 Juni 2016 sampai dengan 30 Juni 2017.
Berikut adalah uraian mengenai polis-polis asuransi yang bersifat material tersebut:
No.
Jenis Polis
1. Office/Clinic
Property All Risks Policy
2. Office/Clinic
Earthquake Policy
Nilai Pertanggungan
Rp10.611.960.000 -
3. Office/Clinic
Property All Risks Policy
Rp12.883.960.000 -
-
4. Office/Clinic
Earthquake Policy
5. Office/Clinic
Earthquake Policy
6. Office/Clinic
Industrial All Risks
Policy
7. Office/Clinic
Property All Risks Policy
8. Office/Clinic
Earthquake Policy
Rp12.883.960.000
Rp10.611.960.000 -
-
Rp75.000.000.000 -
Obyek Pertanggungan
Jl. Kedoya Agave Perkantoran Tomang Tol Raya, Blok A-11/22,
Jakarta (Outlet Kedoya)
Ruko Sentra Niaga I No. 20, Alam Sutera, Tangerang (Outlet
Tangerang)
Ruko Sentra Niaga I No. 21, Alam Sutera, Tangerang (Outlet
Tangerang)
Jl. Cempaka No. 80 B - C, Pekanbaru (Outlet Pekanbaru)
Jl. Sultan Iskandar Muda, Arteri Pondok Indah No. 31C, Jakarta
(Outlet Arteri)
Jl. Diponegoro No. 149-151, Surabaya (Outlet Surabaya)
Rp75.000.000.000
Rp20.345.315.000 -
Jl. S. Parman No. 17/223 G, Medan (Outlet S. Parman)
Rp20.345.315.000
129
No.
Jenis Polis
9. Office/Clinic
Earthquake Policy
10. Office/Clinic
Earthquake Policy
11. Office/Clinic
Property All Risks Policy
12. Office/Clinic
Earthquake Policy
13. Office/Clinic
Property All Risks Policy
14. Office/Clinic
Earthquake Policy
15. Office/Clinic
Earthquake Policy
16. Office/Clinic
Property All Risks Policy
17. Office/Clinic
Property All Risks Policy
18. Office/Clinic
Earthquake Policy
19. Office/Clinic
Property All Risks Policy
20. Office/Clinic
Earthquake Policy
21. Office/Clinic
Property All Risks Policy
22. Office/Clinic
Earthquake Policy
23. Office/Clinic
Property All Risks Policy
24. Office/Clinic
Earthquake Policy
Nilai Pertanggungan
Rp4.794.660.000 -
Obyek Pertanggungan
Jl. Pasar Minggu No. 98E, Jakarta Selatan (Outlet Pasar Minggu)
Rp4.794.660.000
Rp25.714.407.800 -
-
Rp25.714.407.800 -
-
-
-
Rp41.220.195.000 -
-
Rp41.220.195.000 -
-
Rp122.285.000.000 -
Jl. A. Yani No. 58 Wonogiri (Outlet Wonogiri)
Jl. Bogowonto No. 27, Surabaya
Jl. Bogowonto No. 14, Surabaya
Komplek Sentra Niaga, Puri Indah
Jl. Puri Lingkar - Dalam Jakarta Barat (Outlet Puri Indah)
Jl. Jend Sudirman 38B Bogor (Outlet Bogor)
Jl. Wastukencana No 38, Bandung (Kantor Wilayah 4)
Jl. Wastukencana No. 38, Bandung (Outlet Wastukencana)
Jl. Bintaran Kulon No. 28, Yogyakarta (Outlet Yogyakarta)
Jl. Sam Ratulangi No. 72, Manado (Outlet Manado)
Prodia Tower, Jl. Kramat Raya No. 150, Jakarta Pusat (Outlet
Kramat)
Rp122.285.000.000
Rp19.001.023.110,15 -
-
Rp19.001.023.110,15
-
Rp33.835.424.300 -
Jl. Jend. H. Amir Machmud No. 523, Cimahi (Outlet Cimahi)
Ruko Arcade 2 Sektor 7 Blok KA/B3 No. 33-35, Tangerang Selatan
(Outlet Bintaro)
Jl. Basuki Rahmat No. 801, Palembang (Outlet Basuki Rahmat)
Jl. Ronggowarsito 143, Solo, Surakarta (Outlet Solo)
Rp33.835.424.300
Rp15.883.275.000 -
-
Ruko Sentra Cikarang Blok C18, Jl. Cikarang - Cibarusah Kav
125, Bekasi
Jl. Diponegoro 192, Denpasar (Outlet Denpasar)
Rp15.883.275.000
Rp31.511.592.105,83 -
Rp31.511.592.105,83 -
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Jl. S. Parman No. 946A, Purwokerto, Banyumas (Outlet
Purwokerto)
Jl. Kapten Sudibyo 136, Tegal (Outlet Tegal)
Jl. Mangkubumi No. 50, Yogyakarta (Outlet Mangkubumi)
Jl. Ronggowarsito 141, Solo, Surakarta (Kantor Wilayah 5)
Jl. Achmad Yani 36A, Magelang (Outlet Magelang)
Jl. MT Haryono 882, Semarang (Outlet Semarang)
Jl. Pandanaran No. 252A Boyolali (Boyolali)
Jl. Pemuda No. 41B, Cepu, Blora (Outlet Cepu)
Jl. S. Parman No. 33, Cilacap (Outlet Cilacap)
Jl. Ahmad Yani No. 22B, Purworejo (Outlet Purworejo)
Jl. MH Thamrin No. 14, Jepara
Jl. Pramuka No. 44, Klaten (Outlet Klaten)
Jl. Wachid Hasyim No. 75, Kudus (Outlet Kudus)
Jl. Sulawesi No. 9, Madiun (Outlet Madiun)
Jl. Basuki Rahmat No. 14, Pacitan (Outlet Pacitan)
Jl. Brigjend Sudiarto No. 18A, Salatiga (Outlet Salatiga)
Jl. Kolonel Sugiyono No. 8, Widoro, Sragen (Outlet Sragen)
Jl. Garuda No. 22, Ungaran, Kabupaten Semarang
Jl. Jend. Sudirman No. 121, Semarang Barat (Outlet Semarang
Barat)
Jl. Setiabudi 119D/Ruko Setiabudi Semarang (Outlet Semarang
Setiabudi)
Jl. Bintara Kulon No. 28 Yogyakarta (Outlet Yogyakarta)
Jl. Letjend. Suprapto No. 17B, Purbalingga (Outlet Purbalingga)
130
No.
Jenis Polis
25. Office/Clinic
Property All Risks Policy
26. Office/Clinic
Earthquake Policy
27. Office/Clinic
Earthquake Policy
28. Office/Clinic
Property All Risks Policy
Nilai Pertanggungan
Rp39.595.764.508,96 -
Rp39.595.764.508,96 -
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Rp71.651.843.574 -
-
Rp71.651.843.574 -
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Obyek Pertanggungan
Jl. Boulevard Ruko Ruby I No. 7-8, Makassar (Kantor Wilayah 8
& Outlet Panakkukang)
Jl. Saddang No. 38 - 40 (Outlet Makassar)
Jl. A. Djemma No. 107A, Palopo (Outlet Palopo)
Jl. A. Petarani No. 18, Sengkang
Jl. Wahab Azasi No. 43, Mamuju (Outlet Mamuju)
Jl. A. Mappatola No. 7, Parepare (Outlet Pare-pare)
Jl. S. Parman No. 16, Palu (Outlet Palu)
Jl. Nani Wartabone, Gorontalo (Outlet Gorontalo)
Jl. Syeh Yusuf Ruko Mandiri No. 17, Kendari
Jl. Mononutu No. 21, Ternate (Outlet Ternate)
Jl. D.I. Panjaitan No. 13, Kotamobagu (Outlet Kotamobagu)
Jl. Anthony Reebok No. 1, Ambon (Outlet Ambon)
Jl. Sam Ratulangi No. 72 Manado (Outlet Manado)
Jl. Sao-Sao No. 207 D - E, Kendari (Outlet Kendari)
Jl. Merbabu No. 10, Malang
Jl. Raya Darmo Permai Selatan No. 1F, Surabaya (Outlet RDPS)
Jl. Jemursari No. 39, Surabaya (Outlet Jemursari)
Jl. Diponegoro No. 107, Surabaya
Jl. Kartini 18, Kediri (Outlet Kediri)
Jl. Pahlawan No. 12A, Sidoarjo (Outlet Sidoarjo)
Jl. Ngurah Rai 67 Blok D Singaraja, Kabupaten Buleleng (Outlet
Singaraja)
Jl. Pejanggik No. 107 A - C, Mataram (Outlet Mataram)
Jl. Tompello 23G, Kupang
Jl. Kertajaya Indah Timur No. 14C-06 (blok MG-14C-06) Surabaya
(Outlet Mega Galaxi)
PPS Maumere : Jl. El Tari No. 18, Maumere (Outlet Maumere)
Jl. Ngurah Rai No. 43, Kediri, Tabanan, Bali (Outlet Tabanan)
PPS BIMC : Jl. Gatot Subroto I/24A, Denpasar
PPS Batu : Jl. Panglima Sudirman No. 36 Batu
PPS Lawang : Jl. Dr. Wahidin No. 49, Lawang
PPS Kepanjen : Jl. Achmad Yani No. 09, Kepanjeng
PPS Blitar : Jl. Mawar No. 84, Blitar (Outlet Blitar)
Prodia Kupang : Jl. Cak Doko - Kec. Oebobo, Kupang (Outlet
Kupang)
Prodia Denpasar
PPS Ubud, Desa Campuan, Ubud
PPS Gatsu : Apotek Nita Anandi, Jl. Gatot Subroto Timur 239 XX,
Denpasar, Bali
PPS Kuta : Jl. Raya Kuta No. 106, Kuta
PPS Nusa Dua : Jl. By Pass Ngurah Rai No. 778E (Apt. Nita Anadi)
Prodia Kediri
PPS Nganjuk : Jl. Dermojoyo No. 15, Payaman, Nganjuk
PPS Pare : Jl. Puncak Jaya I No. 3, Pare
PPS Tulungagung : Ruko Nurwana Plasa Blok A - 14, Jl. Supriyadi
No. 45, Tulungagung (Outlet Tulungagung)
131
No.
Jenis Polis
29. Office/Clinic
Earthquake Policy
30. Office/Clinic
Property All Risks Policy
Nilai Pertanggungan
Rp31.511.592.105,83 -
-
Rp31.511.592.105,83 -
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
31. Office/Clinic
Earthquake Policy
32. Office/Clinic
Property All Risks Policy
-
-
-
-
-
Rp19.290.280.000 -
-
Rp19.290.280.000
-
-
-
33. Office/Clinic
Earthquake Policy
34. Office/Clinic
Property All Risks Policy
-
Rp61.006.987.340,19 -
-
Rp61.006.987.340,19 -
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Obyek Pertanggungan
Jl. Gunawarman No. 77, Keb. Baru, Jakarta (Outlet Kebayoran)
Jl. Pluit Sakti Raya 28 Blok A-6, Jakarta (Outlet Pluit)
Jl. Raya Boulevard H-4 No. 15, Kelapa Gading Permai, Jakarta
(Outlet Kelapa Gading)
Rumah Sakit Bunda : Jl. Teuku Cik Di Tiro 28, Jakarta
Jl. Cideng Barat No. 36A, Jakarta (Outlet Cideng)
Ruko Bona Indah Blok AII Kav. C7, Jl. Raya Karang Tengah,
Jakarta Selatan (Outlet Bona Indah)
Jl. Danau Sunter Utara Blok C1 No. 14, Jakarta Utara (Outlet
Sunter)
Jl. K.H. Abdullah Syafei No. 25, Jakarta Selatan (Outlet Kampung
Melayu)
Jl. Alternatif Cibubur No. 8C - D (Outlet Cibubur)
Ruko Pesona Khayangan IX Jl. Margonda Raya No. 45, Depok
(Outlet Depok)
Jl. Raya Ruko Bumi Satria Kencana Blok A/3, Bekasi
Jl. Sultan Agung Tirtayasa No. 8, Cilegon (Outlet Cilegon)
Jl. R.A. Kartini No. 16, Lampung
Jl. Veteran No. 930/C2, Palembang (Outlet Palembang)
Ruko Marcella II/10, Raya Sektor 3A, Bintaro
Ruko Sentra Niaga (Harapan Indah) Boulevard Hijau Blok C5/412
(Outlet Harapan Indah)
Klinik Elisabeth : Komp. Pluit Mas Blok EE14, Jakarta Utara
PPS Dr. Teguh : Jl. Cipinang Baru Raya No. 4, Jakarta Timur
Ruko Paramount Centre Blok I A/32, Gading Serpong, Tangerang
(Outlet Gading Serpong)
Lampung, Teluk Betung (Outlet Teluk Betung)
Jl. Basuki Rachmat No. 801 Palembang (Outlet Basuki Rahmat)
Bumi Serpong Damai (Outlet BSD)
Pluit - Pantai Indah Kapuk (Outlet Pantai Indah Kapuk)
Sumarecon - Bekasi (Outlet Summarecon Bekasi)
Jl. Jend. A. Yani KM 3.5 No. 131 & 133 (Outlet Banjarmasin)
Jl. Jend Sudirman - Klandasan Blok D-09, Balikpapan (Kantor
Wilayah 7)
Jl. Jend Sudirman - Klandasan Blok D-09, Balikpapan (Outlet
Balikpapan)
Jl. Ahmad Yani No. 6C, Pontianak (Outlet Pontianak)
Jl. A. Yani Komp. Cendrawasih Trade A-6, Samarinda (Outlet
Samarinda)
Jl. Diponegoro No. 20 A - B, Palangkaraya (Outlet Palangkaraya)
Jl. Wastukencana No. 38, Bandung (Kantor Wilayah)
Jl. Wastukencana No. 38, Bandung (Outlet Bandung)
OD Paskal : Jl. Pasirkaliki No. 225, Bandung (Outlet Pasir Kaliki)
OD Majalaya : Jl. Babakan No. 60, Majalaya, Bandung (Outlet
Majalaya)
OD Sumedang : Jl. Geusan Ulun No. 111, Sumedang (Outlet
Sumedang)
OD Ujungberung : Ruko Bumi Mas Kencana Jl. AH Nasution
No. 92B, Cikadut, Ujungberung, Bandung (Outlet Ujung Berung)
OD Garut : Jl. Raya Samarang No. 104 (Outlet Garut)
Jl. RE Martadinata No. 9, Tasikmalaya (Outlet Tasikmalaya)
OD Ciamis : Jl. Jend. Sudirman No. 99, Ciamis (Outlet Ciamis)
OD Banjar : Jl. Perintis Kemerdekaan No. 56, Banjar (Outlet
Banjar Patroman)
Jl. Moh. Toha No. 126, Bandung (Outlet Kurdi)
OD Banjaran : Jl. Pajagalan No. 10, Banjaran, Bandung
Jl. Kopo Permai I Blok 55A/6, Bandung (Outlet Kopo)
Jl. RA Kartini No. 32, Cirebon (Outlet Cirebon)
OD Cideres : Jl. Raya Jombol Dawuan RT 01/05 Kadipaten, Cideres
(Outlet Cideres)
OD Indramayu : Jl. Raya Pekandangan Bunderan Mangga
Indramayu (Outlet Indramayu)
Jl. Amir Machmud No. 523 Cimahi (Outlet Cimahi)
Jl. Buah Batu No. 160, Bandung (Outlet Buah Batu)
OD MTC : Metro Indah Mall Blok B No. 5 Jl. Soekarno - Hata,
Bandung (Outlet MTC)
Jl. Kertabumi No.67A, Karawang
OD Kopetri : Jl. Raya Teluk Jambe No. 3, Karawang
Jl. Achmad Yani No. 39, Kuningan (Outlet Kuningan)
Jl. Veteran No. 96, Purwakarta (Outlet Purwakarta)
132
No.
Jenis Polis
35. Office/Clinic
Property All Risks Policy
36. Office/Clinic
Earthquake Policy
37. Office/Clinic
Property All Risks Policy
38. Office/Clinic
Earthquake Policy
Nilai Pertanggungan
Rp24.418.500.000 -
-
Rp24.418.500.000 -
-
-
-
-
-
Rp35.706.000.000 -
Rp35.706.000.000 -
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
39. Office/Clinic
Property All Risks Policy
40. Office/Clinic
Earthquake Policy
41. Public Liability
Insurance
42. Standard Motor Vehicle
Insurance Policy
43. Electronic Equipment
Insurance
-
-
-
Rp4.050.000.000 -
-
Rp4.050.000.000
Obyek Pertanggungan
Jl. Cempaka No. 80A, Riau (Outlet Pekanbaru)
Jl. Pattimura 3A, Padang (Outlet Padang)
Jl. Urip Sumoharjo No 2 - 3, Telanai Pura, Jambi (Outlet Jambi)
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 2G, Bukit Tinggi (Outlet Bukittinggi)
Jl. Ir. Sutami Ruko Villa Akasia No. 20, Tajungpinang (Outlet
Tanjungpinang)
Jl. Hang Tuah No. 150, Duri (Outlet Duri)
Komp. Mahkota Raya E No. 12 A- B No. 5, Batam (Outlet Batam)
Jl. Jend. Sudirman No. 8 / 203 L9 / 203 M, Pekanbaru
Komp Town Square Jl. S. Parman No. 8C, Medan (Kantor Wilayah
1)
Komplek Ruko Milala Blok A No. 8 Setia Budi, Medan (Outlet
Setia Budi)
Jl. Gatot Subroto No. 129, Medan (Outlet Gatot Subroto)
Jl. Asia No. 115B, Medan (Outlet Asia)
Jl. Jend. Sudirman No. 25, Binjai (Outlet Binjai)
Jl. Merdeka No. 52, Padang Sidempuan (Outlet Padang Sidempuan)
Jl. Jend. Sudirman No. 257D, Tebing Tinggi (Outlet Tebing Tinggi)
Jl. Imam Bonjol No. 177, Kisaran (Outlet Kisaran)
Jl. S. Parman No. 17/223 F - G, Medan (Outlet S. Parman)
Jl. Merdeka No. 37, Pematang Siantar (Outlet Pematang Siantar)
Jl. SM. Raja No. 74B, Sibolga (Outlet Sibolga)
Jl. Teuku Daud Bereuh No. 174 F - H, Banda Aceh (Outlet Banda
Aceh)
Jl. Merdeka No. 18, Lhokseumawe (Outlet Lhokseumawe)
Jl. Veteran No. 214, Kel. Gung Leto, Kabanjahe (Outlet Kaban
Jahe)
Jl. A. Yani No. 189, Rantau Prapat (Outlet Rantau Prapat)
Jl. Sudirman No. 26, Tanjung Balai
Jl. Krakatau No. 55E, Medan (Outlet Krakatau)
Jl. Cisangkuy No. 2, Bandung
Jl. Kramat Raya 148F, Jakarta
US$500.000 111 outlet laboratorium klinik yang berlokasi di 28 propinsi di seluruh
Indonesia dan 16 bangunan/gedung lainnya.
(untuk setiap
rangkaian kejadian
dan tidak melebihi
limit pertanggungan
selama periode
pertanggungan)
Rp15.177.250.003 493 kendaraan bermotor.
Rp400.266.136,29 2 unit rontgen car milik Perseroan
Seluruh aset Perseroan yang bersifat material telah diasuransikan dan asuransi tersebut cukup untuk
menutup seluruh kerugian yang mungkin dapat terjadi apabila aset tersebut mengalami kerusakan atau
musnah.
Seluruh polis asuransi tersebut di atas dapat diperpanjang dan/atau diperbaharui sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Apabila asuransi-asuransi tersebut di atas telah habis masa berlakunya, Perseroan
berkomitmen akan memperpanjang dan/atau memperbaharui asuransi tersebut.
Perseroan tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan seluruh perusahaan asuransi.
133
8.15.
Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI)
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan memiliki 45 Sertifikat Merek yang dikeluarkan oleh
Direktur Merek pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual sebagai berikut:
No. No. Sertifikat
1. IDM000134260
No. Permohonan dan
Tanggal Penerimaan
R016165/2014
12 Februari 2016
Etiket Merk
Warna Etiket
Kuning, hitam, putih
Kelas/ Barang
Jasa
Masa Berlaku
1
10 tahun sejak
29 Juni 2015
2. IDM000111895
R016166/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
2
10 tahun sejak
29 Juni 2015
3. IDM000111896
R016150/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
3
10 tahun sejak
29 Juni 2015
4. IDM000111898
R016153/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
4
10 tahun sejak
29 Juni 2015
5. IDM000111899
R016159/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
5
10 tahun sejak
29 Juni 2015
6. IDM000111901
R016154/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
6
10 tahun sejak
29 Juni 2015
7. IDM000111902
R016155/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
7
10 tahun sejak
29 Juni 2015
8. IDM000111903
R016156/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
8
10 tahun sejak
29 Juni 2015
9. IDM000111904
R016160/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
9
10 tahun sejak
29 Juni 2015
10. IDM000310089
R016455/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
10
10 tahun sejak
29 Juni 2015
11. IDM000111908
R016161/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
11
10 tahun sejak
29 Juni 2015
12. IDM000111909
R016162/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
12
10 tahun sejak
29 Juni 2015
13. IDM000111910
R016163/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
13
10 tahun sejak
29 Juni 2015
14. IDM000111912
R016164/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
14
10 tahun sejak
29 Juni 2015
15. IDM000111913
R016158/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
15
10 tahun sejak
29 Juni 2015
16. IDM000111914
R016148/2014
12 Februari 2016
Kuning, hitam, putih
16
10 tahun sejak
29 Juni 2015
17. IDM000111915
R016430/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
17
10 tahun sejak
29 Juni 2015
18. IDM000111916
R016431/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
18
10 tahun sejak
29 Juni 2015
19. IDM000111917
R016432/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
19
10 tahun sejak
29 Juni 2015
20. IDM000111918
R016433/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
20
10 tahun sejak
29 Juni 2015
21. IDM000111875
R016434/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
21
10 tahun sejak
29 Juni 2015
22. IDM000111889
R016435/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
22
10 tahun sejak
29 Juni 2015
23. IDM000111876
R016436/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
23
10 tahun sejak
29 Juni 2015
24. IDM000111877
R016437/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
24
10 tahun sejak
29 Juni 2015
25. IDM000111878
R016438/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
25
10 tahun sejak
29 Juni 2015
26. IDM000111879
R016439/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
26
10 tahun sejak
29 Juni 2015
134
No. No. Sertifikat
27. IDM000111880
No. Permohonan dan
Tanggal Penerimaan
R016440/2014
16 Maret 2016
Etiket Merk
Warna Etiket
Kuning, hitam, putih
Kelas/ Barang
Jasa
Masa Berlaku
27
10 tahun sejak
29 Juni 2015
28. IDM000111881
R016441/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
28
10 tahun sejak
29 Juni 2015
29. IDM000111883
R016442/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
29
10 tahun sejak
29 Juni 2015
30. IDM000111884
R016443/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
30
10 tahun sejak
29 Juni 2015
31. IDM000111885
R016444/2014
18 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
31
10 tahun sejak
29 Juni 2015
32. IDM000229546
R016456/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
32
10 tahun sejak
29 Juni 2015
33. IDM000111886
R016446/2014
18 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
33
10 tahun sejak
29 Juni 2015
34. IDM000111887
R016447/2014
18 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
34
10 tahun sejak
29 Juni 2015
35. IDM000111888
R016449/2014
18 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
35
10 tahun sejak
29 Juni 2015
36. IDM000111890
R016451/2014
18 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
36
10 tahun sejak
29 Juni 2015
37. IDM000111891
R016457/2014
18 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
37
10 tahun sejak
29 Juni 2015
38. IDM000111892
R016445/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
38
10 tahun sejak
29 Juni 2015
39. IDM000111893
R016458/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
39
10 tahun sejak
29 Juni 2015
40. IDM000111894
R016459/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
40
10 tahun sejak
29 Juni 2015
41. IDM000111864
R016460/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
41
10 tahun sejak
29 Juni 2015
42. IDM000111866
R016461/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
42
10 tahun sejak
29 Juni 2015
43. IDM000111868
R016452/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
43
10 tahun sejak
29 Juni 2015
44. IDM000111869
R016453/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
44
10 tahun sejak
29 Juni 2015
45. IDM000111870
R016454/2014
16 Maret 2016
Kuning, hitam, putih
45
10 tahun sejak
29 Juni 2015
8.16.
Perkara yang Dihadapi Perseroan, dan Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan maupun masing-masing anggota Direksi dan Dewan
Komisaris Perseroan, tidak sedang terlibat perkara-perkara perdata, pidana, dan/atau perselisihan
di lembaga peradilan dan/atau di lembaga perwasitan baik di Indonesia maupun di luar negeri atau
perselisihan administratif dengan instansi pemerintah yang berwenang termasuk perselisihan sehubungan
dengan kewajiban perpajakan atau perselisihan yang berhubungan dengan masalah perburuhan/hubungan
industrial atau tidak pernah dinyatakan pailit yang dapat mempengaruhi secara material kegiatan usaha
dan/atau kelangsungan kegiatan usaha Perseroan serta rencana Penawaran Umum Saham Perdana ini.
Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan, tidak ada somasi yang berpotensi menjadi perkara baik yang
dihadapi Perseroan, maupun masing-masing anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan.
135
IX. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN
9.1.
Umum
Perseroan merupakan pelopor industri dan jejaring laboratorium klinik swasta independen terkemuka
di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 35% berdasarkan pendapatan pada tahun 2015 serta memiliki
jumlah laboratorium klinik terbanyak di Indonesia, berdasarkan Frost & Sullivan (sumber: Independent
Market Research on the Clinical Laboratory Market in Indonesia, Frost & Sullivan, 2016). Kegiatan
usaha laboratorium klinik telah dimulai sejak tahun 1973 oleh para pendiri Perseroan dengan membuka
laboratorium klinik pertamanya di Solo. Kegiatan usaha tersebut terus berkembang menjadi jejaring
laboratorium berskala nasional dengan 251 outlet, termasuk 128 laboratorium klinik. Lab PRN milik
Perseroan merupakan laboratorium satu-satunya di Indonesia yang mendapatkan akreditasi dari CAP,
yang Perseroan percayai merupakan akreditasi internasional paling tinggi untuk laboratorium klinik.
Perseroan menawarkan sekitar 500 jenis pemeriksaan dan layanan laboratorium klinik kepada pelanggan
dan penyedia jasa kesehatan untuk digunakan dalam pencegahan, diagnosa, pemantauan dan pengobatan
penyakit serta kondisi kesehatan lainnya. Selain itu, Perseroan memiliki akses terhadap sekitar 3.000
pemeriksaan tambahan melalui kerjasama dengan NUH Laboratories dan Quest. Sebagai pemimpin
dalam riset laboratorium klinik, Perseroan telah meneliti dan memperkenalkan banyak jenis pemeriksaan
klinik di Indonesia. Segmen pelanggan yang dilayani oleh Perseroan mencakup antara lain pelanggan
individu, pelanggan dengan referensi dokter, referensi dari rumah sakit dan klinik serta klien korporasi.
Pada tahun 2015 dan periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, Perseroan telah menerima
dan memproses masing-masing sebesar 14,0 juta dan 7,0 juta tes, serta menerima kunjungan pasien
masing-masing sebesar 2,4 juta orang dan 1,2 juta orang.
Industri pemeriksaan laboratorium klinik merupakan bagian yang penting dan bertumbuh dari industri
layanan kesehatan di Indonesia. Layanan pemeriksaan laboratorium klinik dapat memberikan kepada
pelanggan dan penyedia layanan kesehatan informasi penting untuk membantu dalam pengambilan
keputusan medik sehingga semakin banyak dokter, rumah sakit dan individu di Indonesia yang
menggunakann layanan ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pengambilan keputusan
medik. Menurut Frost & Sullivan, ukuran pasar pemeriksaan laboratorium klinik di Indonesia
diperkirakan akan tumbuh pada CAGR 12,9% dari US$1.437 juta di tahun 2015 menjadi US$1.830
juta pada tahun 2017, dimana pasar pemeriksaan oleh laboratorium klinik swasta independen adalah
segmen dengan pertumbuhan tercepat, yang diperkirakan akan tumbuh pada CAGR 16,3% antara tahun
2015 dan tahun 2017. Perseroan yakin bahwa meningkatnya penggunaan pemeriksaan laboratorium
klinik oleh penyedia layanan kesehatan di Indonesia, disertai dengan meningkatnya angka kejadian
penyakit kronik dan penyakit terkait gaya hidup, serta semakin banyaknya individu yang berfokus pada
pencegahan penyakit dan kesehatan, menciptakan peluang pertumbuhan bagi Perseroan dalam jangka
pendek. Selain itu, pengobatan personal (personalized medicine) atau perawatan medik yang disesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing pelanggan dapat menciptakan peluang jangka panjang
terhadap pengujian laboratorium klinik lanjutan.
Perseroan menggunakan teknologi terbaru untuk menyediakan beragam layanan pengujian laboratorium
klinik berkualitas tinggi dan akurat kepada pelanggan Perseroan. Perseroan berkeyakinan bahwa
Perseroan menawarkan menu pemeriksaan rutin dan estorik paling beragam di Indonesia. Lab PRN milik
Perseroan merupakan poros (hub) dari jejaring layanan Perseroan. Perseroan juga telah menerima berbagai
akreditasi dan pengakuan internasional. Selama lima tahun terakhir, Perseroan telah memperkenalkan
37 uji laboratorium klinik yang inovatif di Indonesia, yang telah ditawarkan di seluruh jejaring layanan
Perseroan dan dari waktu ke waktu telah menjadi pemeriksaan rutin, disamping sejumlah pengujian baru
untuk tujuan penelitian. Perseroan terus memperkenalkan pemeriksaan-pemeriksaan baru dan berupaya
membawa pengujian laboratorium klinik generasi baru ke dalam negeri. Sebagai contoh, Perseroan
merupakan laboratorium klinik pertama di Indonesia yang memperkenalkan “panel TORCH” untuk
mendeteksi infeksi toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus dan herpes simplex pada wanita hamil;
serta pemeriksaan Protein C-reaktif sensitivitas tinggi untuk mendeteksi terjadinya penyakit jantung.
136
Perseroan telah menerima 56% suara dari konsumen yang disampel di Indonesia dalam Top Brand Survey
pada tahun 2015 yang dilakukan oleh Frontier Consulting Group, dan telah menjadi laboratorium yang
menerima penghargaan “Top-Brand” dalam tujuh tahun berturut-turut (dari tahun 2009 sampai dengan
2015). Perseroan berkeyakinan bahwa merek Prodia yang dikenal karena kualitas layanan uji laboratorium
klinik dan ketersediaan jenis pemeriksaan yang beragam membuat individu-individu dan para penyedia
layanan kesehatan memilih Perseroan untuk kebutuhan pengujian mereka. Di Indonesia, pelanggan
sebagai pengguna umumnya lebih menentukan pemilihan laboratorium klinik yang akan digunakan
daripada diarahkan oleh dokter atau penyedia asuransi, dan baik pelanggan maupun penyedia layanan
kesehatan mencari laboratorium klinik berkualitas, dikarenakan kualitas dan keandalan laboratorium
klinik di Indonesia sangat beragam. Perseroan berkeyakinan bahwa uji laboratorium klinik berkualitas
tinggi yang ditawarkan oleh Perseroan adalah yang terlengkap di Indonesia. Perseroan menawarkan
pengujian rutin mulai dari pemeriksaan kolesterol dan fungsi ginjal hingga hati, dan pemeriksaan esoterik
seperti pemeriksaan hormon dan diagnostik molekuler untuk penyakit-penyakit menular dan kanker.
Perseroan telah membangun jejaring nasional berpola “hub-and-spoke” dimana Lab PRN di Jakarta
sebagai pusatnya. Per 30 Juni 2016, jejaring Perseroan mencakup 128 laboratorium klinik (termasuk
Lab PRN), satu Klinik PHC mandiri, dan satu klinik khusus, serta 114 outlet POC yang dioperasikan
di klinik dokter dan tujuh laboratorium yang dioperasikan di rumah sakit. Perseroan memiliki seluruh
laboratorium klinik, Klinik PHC dan klinik khusus secara penuh. Seluruh laboratorium klinik dan
outlet lain dioperasikan oleh Perseroan, dimana hal ini memungkinkan Perseroan menjaga standarstandar kualitas yang lebih baik dan memastikan konsistensinya. Perseroan berkeyakinan bahwa model
bisnis “hub-and-spoke”, dimana spesimen-spesimen dikumpulkan dari banyak lokasi untuk kemudian
dikirimkan ke laboratorium klinik setempat atau Lab PRN untuk pengujian laboratorium klinik yang
terpusat, menawarkan kualitas dan keandalan yang lebih baik, serta menciptakan skala ekonomi dan
platform sebagai pijakan untuk mencapai skala operasi yang dapat dikembangkan untuk pertumbuhan
usaha yang berkesinambungan. Per 30 Juni 2016, karyawan Perseroan berjumlah 3.648 orang yang terdiri
dari anggota staf bergelar PhD atau Magister di bidang ilmu biomedik sebanyak 31 orang, dokter umum
sebanyak 234 orang, ahli teknologi medik sebanyak 781 orang dan flebotomist lebih dari 400 orang.
Tim manajemen Perseroan memiliki rekam jejak yang ekstensif di industri pelayanan kesehatan, dan
di bawah kepemimpinan mereka, Perseroan telah bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah
kunjungan pasien dalam jejaring Perseroan telah meningkat pada CAGR 3,4% dari 2,1 juta pada tahun
2011 menjadi 2,4 juta pada tahun 2015. Dalam periode yang sama, pendapatan Perseroan meningkat
pada CAGR 12,5% dari Rp747,5 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp1.197,7 miliar pada tahun 2015
dan EBITDA meningkat pada CAGR 11,9% dari Rp111,6 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp175,2
miliar pada tahun 2015.
9.2.
Keunggulan Bersaing
Perseroan meyakini bahwa Perseroan memiliki keunggulan kompetitif utama sebagai berikut:
Sebagai pemimpin pasar dan pelopor di industri laboratorium klinik independen di Indonesia,
Perseroan berada pada garis terdepan untuk mengambil peluang dari pertumbuhan pasar yang
signifikan
Perseroan adalah pemimpin pasar dan pelopor di industri laboratorium klinik independen di Indonesia.
Berdasarkan Frost & Sullivan, pada tahun 2015, Perseroan merupakan perusahaan terbesar dalam hal
pendapatan dengan pangsa pasar sebesar 35% di pasar pemeriksaan oleh laboratorium independen swasta
di Indonesia dan jejaring laboratorium klinik nasional Perseroan lebih besar dibandingkan dengan jumlah
lima pesaing terdekat Perseroan jika digabung, dengan 128 laboratorium klinik (sumber: Independent
Market Research on the Clinical Laboratory Market in Indonesia, Frost & Sullivan, 2016). Sebagai
laboratorium klinik independen terkemuka, Perseroan berada pada posisi yang unik untuk mengambil
kesempatan dari potensi pertumbuhan pasar laboratorium klinik di Indonesia, dengan memanfaatkan
jejaring outlet yang tersebar luas di berbagai wilayah geografis dan platform yang telah terbentuk.
137
Frost & Sullivan menilai pasar pemeriksaan laboratorium klinik di Indonesia pada tahun 2015 mencapai
US$1,4 miliar dan nilai tersebut diperkirakan akan tumbuh pada CAGR 12,9% menjadi US$1,8 miliar
pada tahun 2017. Dalam pasar secara keseluruhan, Frost & Sullivan memperkirakan bahwa segmen
laboratorium independen swasta, dimana Perseroan melakukan kegiatan usaha, diperkirakan akan
tumbuh pada CAGR 16,3% antara tahun 2015 dan 2017, yang menjadikan segmen ini salah satu pasar
layanan kesehatan dengan pertumbuhan tercepat di industri layanan kesehatan di Indonesia yang terus
berkembang dengan cepat. Laju pertumbuhan ini akan didorong oleh jumlah populasi yang besar sebanyak
255 juta, kelas menengah yang bertumbuh dengan cepat, pertumbuhan PDB yang kuat dan inisiatif untuk
memperluas jangkauan akses layanan kesehatan. Lebih lanjut, secara historis, kontribusi pengeluaran
kesehatan di Indonesia terhadap PDB lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.
Pada tahun 2015, pengeluaran kesehatan di Indonesia dalam persentase terhadap PDB hanya 3%, yang
diperkirakan akan tumbuh secara signifikan di masa mendatang. Seiring dengan berkembangnya industri
pelayanan kesehatan di Indonesia, Frost & Sullivan berkeyakinan bahwa permintaan untuk layanannya
akan terus meningkat mengingat peran penting pemeriksaan laboratorium klinik dalam infrastruktur
pelayanan kesehatan. Pemeriksaan laboratorium klinik bertambah penting didorong oleh meningkatnya
fokus dokter pada evidence-based treatment serta kasus penyakit kronik yang sering muncul sejalan
dengan kenaikan tingkat kesejahteraan, seperti penyakit jantung dan diabetes.
Pada saat pendiri Perseroan memulai kegiatan usaha laboratorium klinik pada tahun 1973, laboratorium
klinik Prodia merupakan salah satu laboratorium klinik independen paling pertama di Indonesia, dan
pendiri Perseroan memiliki visi untuk membuat layanan laboratorium klinik dengan kualitas terbaik
yang tersedia secara luas di dalam negeri. Sejak saat itu, Perseroan terus menjadi pelopor dalam industri
laboratorium klinik dengan senantiasa melakukan investasi untuk meningkatkan kemampuan layanannya.
Perseroan juga telah menjadi pemimpin di industri laboratorium klinik dalam hal mendidik komunitas
kedokteran dan masyarakat dan meningkatkan kesadaran mengenai pemeriksaan laboratorium klinik.
Secara khusus, dalam lima tahun terakhir, Perseroan telah memperkenalkan 37 pemeriksaan laboratorium
klinik yang inovatif di Indonesia. Perseroan juga merupakan badan usaha pertama di Indonesia yang
menerima sertifikasi quality assurance yang diakui secara internasional, seperti akreditasi dari CAP
dan NGSP.
Perseroan memiliki jejaring laboratorium klinik nasional terbesar dan menggunakan model bisnis
“hub-and-spoke” yang berporos pada laboratorium pusat rujukan nasional terbesar di Indonesia
dengan skala operasi yang dapat dikembangkan
Jejaring laboratorium Perseroan adalah jejaring terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah outlet dan
dikelola dengan model bisnis “hub-and-spoke” yang berporos pada Lab PRN Prodia di Jakarta. Per 30
Juni 2016, jejaring Perseroan terdiri dari 128 laboratorium klinik lainnya (termasuk Lab PRN), serta
satu Klinik PHC mandiri dan satu klinik khusus, 114 outlet POC yang dioperasikan di kantor dokter,
serta tujuh laboratorium yang dioperasikan Perseroan di rumah sakit. Perseroan memiliki seluruh
laboratorium klinik, Klinik PHC dan klinik khusus secara penuh. Seluruh laboratorium klinik dan outlet
lainnya dioperasikan oleh Perseroan. Dengan total sebanyak 251 outlet, Perseroan beroperasi di 104
kota yang tersebar di 30 dari 34 propinsi di Indonesia per 30 Juni 2016.
Posisi Perseroan sebagai pemimpin pasar didukung oleh Lab PRN, yang merupakan laboratorium
klinik satu-satunya di Indonesia yang telah mendapatkan akreditasi CAP, yang diakui sebagai otoritas
global terkemuka untuk quality assurance laboratorium. Lab PRN Perseroan adalah poros dari jejaring
laboratorium Perseroan dan dilengkapi dengan peralatan paling canggih dan teknologi terbaru. Perseroan
berkeyakinan bahwa Lab PRN Perseroan adalah tulang punggung industri laboratorium klinik di
Indonesia karena Perseroan juga memberikan layanan sebagai laboratorium referensi untuk banyak
laboratorium lain di Indonesia, termasuk laboratorium rumah sakit.
Model bisnis “hub-and-spoke” memungkinkan Perseroan untuk memastikan konsistensi standar
kualitas, dan “spoke” memfasilitasi lebih jauh di wilayah-wilayah dan memperkuat merek Perseroan
dan meningkatkan volume test yang lebih tinggi. Perseroan memiliki, mengoperasikan dan mengelola
seluruh laboratorium klinik, serta mengoperasikan dan mengelola seluruh POC Collection Center, dimana
pengaturan ini memungkinkan Perseroan untuk memantau dan menjaga standar kualitas yang tinggi,
khususnya jika dibandingkan dengan laboratorium klinik lain yang beroperasi dengan model waralaba
138
(franchise). Perseroan melakukan 57, 99, 74, 83 dan 79 uji profisiensi/skema quality assurance eksternal
masing-masing pada tahun 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015 di bawah program quality assurance
layanan eksternal dari sejumlah institusi dan organisasi, termasuk antara lain CAP, NGSP, dan Biorad.
Perseroan memiliki platform teknologi informasi tersentralisasi yang sepenuhnya mengintegrasikan
jejaring outlet Perseroan dengan sistem logistik nasional dan sistem pembayaran, dimana platform
ini memungkinkan Perseroan melakukan pengumpulan spesimen, memantau pengiriman spesimen,
melaporkan hasil pemeriksaan, dan memproses pembayaran secara efisien. Pasien Perseroan, dokter
dan penyedia pelayanan kesehatan lainnya memiliki akses online yang mudah ke hasil pemeriksaan
secara real time yang dapat dilakukan dari manapun melalui situs Perseroan maupun aplikasi ponsel.
Sistem ini juga memungkinkan pengumpulan informasi demografis dan rekam medis pasien dari seluruh
jejaring Perseroan agar dapat melayani pelanggan Perseroan dengan lebih baik. Perseroan berkeyakinan
bahwa jejaring laboratoriumnya saat ini dan hubungan dengan komunitas kedokteran serta kemampuan
terdepan untuk melakukan pemeriksaan yang telah dikembangkan oleh Perseroan selama lebih dari 43
tahun akan sulit ditiru.
Prodia adalah merek laboratorium klinik paling terkemuka di Indonesia dan pengakuan ini didukung
oleh fokus terhadap kualitas yang konsisten.
Selain sebagai perusahaan laboratorium klinik independen terbesar di Indonesia dalam hal pendapatan
dan ukuran jejaring, berdasarkan Frost & Sullivan, merek Prodia diakui oleh para pelanggan sebagai
merek laboratorium klinik terbaik di Indonesia. Perseroan menerima 56% suara dari konsumen yang
disampel di Indonesia pada Survey Top Brand di tahun 2015 oleh Frontier Consulting Group, dan telah
memperoleh penghargaan “Top Brand” untuk laboratorium selama tujuh tahun berturut-turut (20092015). Merek Prodia juga telah menerima pengakuan penting dari industri. Pada tahun 2015, Perseroan
menerima 12 penghargaan bergengsi dari industri sebagai bukti pengakuan dari para pelaku pasar,
termasuk dokter dan konsumen perorangan, dan banyak di antara penghargaan tersebut telah diterima
Perseroan berturut-turut dalam beberapa tahun.
Perseroan memiliki strategi pemasaran yang didedikasikan untuk membangun dan meningkatkan nilai
merek Prodia pada setiap segmen pelanggan, yang dipimpin oleh tim beranggotakan lebih dari 400
tenaga pemasaran dan petugas Laboratory Information Service (“LIS”), yang menjalankan berbagai
kegiatan pemasaran untuk menjangkau masyarakat, dokter dan perusahaan secara luas. Upaya-upaya
ini didukung oleh hubungan kerjasama jangka panjang dan kepercayaan yang telah dibina dengan
komunitas kedokteran di Indonesia sejak Perseroan memulai kegiatan usahanya, ketika pemeriksaan
laboratorium klinik belum diadopsi secara luas. Perseroan melibatkan diri dengan komunitas kedokteran,
tidak hanya melalui iklan dan kegiatan pemasaran tradisional, tetapi melalui kegiatan pemasaran ilmiah,
dengan memberikan dukungan kepada klinisi dan penelitian mereka di bidang laboratorium klinik untuk
pengobatan, mengadakan seminar dan kegiatan pemasaran lain untuk membagi pengetahuan dengan
dokter, rumah sakit, perusahaan-perusahaan dan masyarakat luas seputar masalah-masalah kesehatan
dan manfaat pemeriksaan klinik, serta mengedukasi dan berkolaborasi dengan para dokter dalam
pengembangan pemeriksaan beserta implementasinya.
Kekuatan merek Prodia terletak pada fokusnya terhadap kualitas, dimana hal ini, dalam pandangan
Perseroan, sangat penting mengingat pasien dan penyedia pelayanan kesehatan umumnya memprioritaskan
kualitas ketika memilih penyedia layanan laboratorium klinik, disamping ukuran dan kekuatan jejaring
Perseroan. Perseroan telah menerima akreditasi laboratorium tertinggi yang tersedia bagi laboratorium
klinik, termasuk menjadi laboratorium satu-satunya di Indonesia yang telah menerima akreditasi CAP
(tahun 2012), sertifikasi NGSP dan akreditasi OHSAS, serta menerima sejumlah ISO dan akreditasi
lain. Perseroan berkeyakinan bahwa sertifikasi dan akreditasi ini telah membantu Perseroan menjadi
salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia. Pendekatan yang diambil Perseroan dalam menjalankan
kegiatan usaha memungkinkan Perseroan untuk menjaga kualitas layanannya di seluruh jejaring
laboratorium klinik bermerek Prodia, dikarenakan, antara lain, Perseroan tidak berekspansi melalui model
waralaba (dimana hal ini akan menimbulkan risiko kehilangan fungsi-fungsi kunci bagi Perseroan) dan
Perseroan selalu berupaya memastikan kegiatan operasional yang konsisten melalui, sebagai contoh,
laboratorium kalibrasi. Perseroan berkeyakinan bahwa pelayanan terhadap pelanggan Perseroan adalah
salah satu faktor pembeda dimana Perseroan memberikan layanan berkualitas tinggi yang konsisten
139
kepada pelanggan di seluruh jaringan bermerek Prodia. Perseroan dapat mencapai tingkatan layanan
saat ini melalui pelatihan karyawan dan protokol yang ketat yang disusun agar dapat menyediakan
pengalaman berkualitas bagi pelanggan, dari registrasi dan konsultasi dokter hingga penarikan
spesimen dan penyampaian hasil pemeriksaan. Hal ini termasuk proses pelayanan pelanggan yang
efisien, lingkungan yang nyaman dan layanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customeroriented services). Perseroan juga menawarkan layanan pengambilan spesimen di rumah untuk dapat
menjangkau pelanggan-pelanggan yang tidak dapat datang ke laboratorium Perseroan. Selain itu,
pelanggan juga dapat melakukan pemesanan untuk pemeriksaan dan pembayaran secara online, yang
menjadikan kunjungan pelanggan lebih nyaman, serta penerimaan hasil diagnostik secara online dengan
visualisasi yang lebih baik. Perseroan berkeyakinan bahwa faktor-faktor ini memberikan kontribusi
terhadap citra merek Prodia yang kuat dan membantu dalam membangun loyalitas pelanggan. Ukuran
jejaring Perseroan juga memberikan keuntungan dalam membangun merek Prodia dikarenakan hal
ini memungkinkan Perseroan untuk berinteraksi dengan pelanggan dalam jumlah besar, dokter dan
profesional medis lainnya di seluruh Indonesia, dan memperluas cakupan merek Prodia.
Perseroan fokus menyediakan layanan yang komprehensif untuk berbagai segmen pelanggan dengan
dukungan dari hubungan yang kuat dengan para praktisi dan institusi pelayanan kesehatan di
seluruh mata ilmu terkait.
Perseroan berkeyakinan bahwa rangkaian pemeriksaan yang ditawarkan oleh Perseroan adalah paling
lengkap di Indonesia, dengan menu pemeriksaan lebih dari 500 pemeriksaan. Pelanggan dapat datang
kepada Perseroan untuk semua kebutuhan pemeriksaan laboratorium klinik dikarenakan Perseroan
menyediakan pemeriksaan rutin dan esoterik, dan juga memiliki akses terhadap 3.000 pemeriksaan
tambahan, yang merupakan tambahan atas menu pemeriksaan Perseroan, melalui hubungan Perseroan
dengan laboratorium di luar Indonesia, yaitu Quest dan NUH Laboratories. Pelayanan yang komprehensif
memungkinkan Perseroan untuk memenuhi beragam kebutuhan pelanggan, termasuk pelanggan
individu atau pelanggan dengan referensi dokter, perusahaan yang menyediakan fasilitas pemeriksaan
kesehatan kepada karyawannya, atau rumah sakit dan laboratorium lain yang merujuk pemeriksaan
kepada Perseroan.
Perseroan juga saat ini mengembangkan layanannya untuk mencakup layanan kesehatan preventif
melalui Klinik PHC yang menyediakan layanan wellness, seperti konsultasi dengan ahli gizi dan dokter
spesialis kedokteran olahraga. Pemeriksaan dan layanan Perseroan dilengkapi lebih jauh dengan klinik
khusus, yaitu Prodia Children’s Health Center dan Prodia Women’s Health Center, yang berfokus pada
kebutuhan pemeriksaan khusus untuk anak-anak dan wanita.
Perseroan terus berupaya memperkenalkan pemeriksaan baru dengan teknologi canggih dan telah
mempelopori berbagai pemeriksaan baru di Indonesia. Perseroan berkeyakinan bahwa pemeriksaan
baru tersebut dan pemeriksaan esoterik akan terus mendatangkan pasien baru, yang juga melakukan
pemeriksaan dan menggunakan jasa layanan lain. Sebagai contoh, Perseroan merupakan laboratorium
klinik pertama di Indonesia yang memperkenalkan “panel TORCH” untuk mendeteksi infeksi toxoplasma,
rubella, cytomegalovirus dan herpes simplex bagi ibu hamil dan cystatin C untuk pemeriksaan fungsi
ginjal.
Selama lebih dari 43 tahun, Perseroan telah membina hubungan dan kemitraan jangka panjang dengan
banyak praktisi di bidang pelayanan kesehatan di Indonesia, termasuk 23 fakultas kedokteran serta
asosiasi profesi kesehatan dan asosiasi laboratorium kesehatan. Dalam periode tersebut, Perseroan
telah secara konsisten memberikan layanan berkualitas tinggi, penyelesaian pemeriksaan dalam waktu
yang cepat dan menu pemeriksaan yang komprehensif kepada dokter dan professional kesehatan
lain, sehingga Perseroan saat ini dikenal sebagai laboratorium klinik dengan reputasi tak tertandingi.
Hubungan ini telah menghasilkan sumber rujukan yang berkelanjutan dan terobosan ilmiah. Pada tahun
2016, Perseroan telah menerima rujukan dari lebih 60.000 dokter.
Perseroan juga telah bekerja sama dengan komunitas kedokteran dan ilmiah untuk mengembangkan
kolaborasi ilmiah dalam rangka memperkenalkan pemeriksaan diagnostik baru dan merekrut tenaga
medis profesional. Sebagai contoh, Perseroan telah berinvestasi untuk mengembangkan hubungan jangka
panjang dengan anggota komunitas kedokteran di seluruh Indonesia. Kolaborasi riset Perseroan telah
140
berhasil memperkenalkan sejumlah pemeriksaan baru, seperti panel alergi anak-anak, pemeriksaan
progesteron 17-OH, dan pemeriksaan lain-lain. Hubungan ini lebih lanjut dikembangkan melalui upayaupaya dari 400 tenaga kerja pemasaran dan petugas LIS. Perseroan secara reguler menginformasikan
mengenai pemeriksaan baru dan tren terbaru di komunitas kedokteran. Perseroan juga bermitra dengan
asosiasi kedokteran seperti ikatan dokter anak dan perkumpulan obstetri dan ginekologi untuk secara
aktif memasarkan layanan Perseroan.
Perseroan memiliki rekam jejak yang terbukti atas laju pertumbuhan dan kinerja keuangan yang kuat
Perseroan telah tumbuh secara konsisten dalam tiga tahun terakhir. Perseroan telah membuka tujuh
laboratorium klinik baru sejak tahun 2013. Jumlah kunjungan pasien di dalam jejaring Perseroan
meningkat pada CAGR 3,4% dari 2,1 juta pada tahun 2011 menjadi 2,4 juta pada tahun 2015. Dalam
periode yang sama, pendapatan Perseroan meningkat pada CAGR 12,5% dari Rp747,5 miliar pada
tahun 2011 menjadi Rp1.197,7 miliar pada tahun 2015 dan EBITDA meningkat pada CAGR 11,9% dari
Rp111,6 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp175,2 miliar pada tahun 2015. Perseroan telah menerapkan
strategi pertumbuhan yang strategis dan sebagai hasilnya, imbal hasil atas modal investasi Perseroan
mencapai 26,9%, 50,4%, 28,6%, 18,5% dan 30,5% masing-masing untuk tahun yang berakhir pada
31 Desember 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015. Sedangkan imbal hasil atas ekuitas Perseroan mencapai
67,7%, 41,2% dan 46,7% masing-masing untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2013, 2014 dan
2015. Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan memiliki sumber pendapatan yang terjaga (defensible)
dikarenakan basis pelanggan yang terdiversifikasi dan merek Prodia, serta didukung oleh upaya-upaya
pemasaran di semua segmen konsumen, terutama melalui pemasaran ilmiah.
Perseroan dibimbing oleh senior yang berpengalaman dan tim manajemen dengan pengalaman
mendalam pada klinik, lab klinik dan kesehatan serta memiliki proses perekrutan wisudawan yang
telah terbukti.
Tim manajemen senior Perseroan, dipimpin oleh para Direktur, memiliki pengalaman yang ekstensif
di industri laboratorium klinik di Indonesia. Direktur Perseroan memiliki pengalaman sebagai praktisi,
seperti pengalaman laboratorium, peneliti atau berlatar belakang sebagai akademisi, dengan gelar pasca
sarjana di bidang ilmu biomedik atau keuangan. Direktur Perseroan telah memiliki pengalaman bekerja
di Perseroan dan di bidang kesehatan dalam jangka waktu yang cukup panjang dan pengalaman kerja
rata-rata bersama Perseroan untuk masing-masing Direktur selama 22 tahun. Tim manajemen senior
Perseroan dipimpin oleh Direktur Utama Perseroan, Dr. Dewi Muliaty yang telah bersama Perseroan
lebih dari 25 tahun dan telah berhasil mengelola pertumbuhan Perseroan dalam beberapa tahun terakhir
dengan menerapkan strategi-strategi Perseroan dan meningkatkan kesadaran konsumen terhadap merek
Prodia agar semakin dikenal. Perseroan berkeyakinan bahwa tim manajemen yang berpengalaman dan
efektif merupakan suatu keunggulan bersaing yang penting untuk mendukung pertumbuhan bisnis
Perseroan di masa mendatang.
Pendiri Perseroan, Dr. Andi Widjaja adalah seorang pemimpin terkemuka dan visioner di industri
laboratorium medik di Indonesia. Beliau adalah pendiri dan pernah duduk sebagai anggota dewan
penasehat di beberapa asosiasi industri ternama di Indonesia, termasuk PAPVI (Indonesian Society
of Atherosclerosis and Vascular Diseases), HISOBI (Indonesian Society for the Study of Obesity)
dan HKKI (Himpunan Kimia Klinik Indonesia). Beliau mempunyai visi untuk membuat layanan
laboratorium klinik berkualitas tinggi tersedia di seluruh Indonesia, dan tim manajemen Perseroan
senantiasa berpegang pada visi ini dalam menjalankan kegiatan usahanya. Tim manajemen Perseroan
telah bertumbuh di bawah kepemimpinan beliau dan telah dibekali dengan keahlian dan pengalaman
yang memadai untuk melanjutkan kepemimpinan Perseroan di industri layanan laboratorium klinik di
Indonesia. Meskipun Dr. Widjaja saat ini sudah tidak terlibat dalam kegiatan operasional sehari-hari
Perseroan, beliau merupakan tokoh terkemuka dalam industri pelayanan kesehatan memberikan ceramah
dan bimbingan kepada mahasiswa program doktor di fakultas kedokteran terkemuka serta berpartisipasi
dalam seminar dan simposium di forum domestik dan international, yang mengokohkan lebih lanjut
posisi dan reputasi Perseroan dan merek Prodia.
Pendiri dan tim manajemen senior Perseroan telah membentuk budaya sukses yang berlandaskan satu
misi dan visi. Budaya ini diyakini telah menarik banyak petugas laboratorium terbaik di Indonesia
141
untuk bergabung dengan Perseroan. Perseroan telah berhasil mempekerjakan wisudawan terbaik dari
sekolah ahli teknologi medik di Indonesia dengan membina hubungan yang erat dengan sekolah dan
siswanya. Perseroan saat ini bekerja sama dalam bidang riset dan pendidikan dengan 23 fakultas
kedokteran di Indonesia dalam bidang penelitian dan pendidikan dan dapat memanfaatkan kerjasama
tersebut untuk memperoleh sejumlah calon professional medik yang dapat direkrut. Perseroan juga
memiliki kerjasama yang erat dengan 54 institusi pendidikan di seluruh Indonesia untuk merekrut
lulusan teknologi medik yang baru lulus. Perseroan membina hubungan dengan calon karyawan sejak
awal pendidikan mereka, misalnya, dengan mensponsori acara-acara informatif di sekolah mereka
dan menawarkan beasiswa dalam penelitian laboratorium medik. Selain itu, Perseroan menjadi tuan
rumah bagi mahasiswa kedokteran, sebagai peneliti di laboratorium Perseroan, untuk mendukung studi
akademis mereka. Perseroan berkeyakinan bahwa program-program ini memberikan calon karyawan
potensial sebuah pengalaman positif bekerja bersama Perseroan dan mendorong mereka untuk memilih
Perseroan setelah lulus.
9.3.
Strategi Usaha
Strategi usaha utama Perseroan meliputi:
Terus memperluas ketersediaan layanan Perseroan dan memperbesar jejaring outlet Perseroan di
Indonesia baik dalam pasar baru maupun yang sudah ada.
Perseroan bermaksud untuk terus bertumbuh dan memperbesar jejaring outlet di Indonesia. Saat
ini Perseroan berencana untuk membuka total empat laboratorium rujukan regional dan sebanyakbanyaknya 33 laboratorium klinik tambahan dalam lima tahun mendatang, untuk memenuhi permintaan
pemeriksaan klinik di wilayah-wilayah dengan peluang pertumbuhan yang menarik. Perseroan berharap
dapat membuka 20 POC Collection Center dan sampai dengan lima laboratorium rumah sakit setiap
tahun. Perseroan juga memperkirakan akan membuka sebanyak 13 klinik khusus tambahan dalam lima
tahun mendatang. Lebih lanjut, Perseroan akan terus menjajaki dan mempertimbangkan peluang akuisisi
sebagai sarana untuk menumbuhkan jejaring laboratorium klinik Perseroan.
Perseroan merencanakan untuk membuka total empat laboratorium rujukan regional di Surabaya,
Medan, Makasar dan Semarang dan akan berperan sebagai hub regional dari laboratorium-laboratorium
klinik di wilayah tersebut. Laboratorium rujukan regional tersebut akan menawarkan pemeriksaan rutin
dan pemeriksaan esoterik yang tidak dapat dilakukan di laboratorium klinik lain di wilayah tersebut,
sehingga memungkinkan Perseroan untuk mengurangi waktu selesai pemeriksaan dan memperbaiki hasil
pemeriksaan dengan mempersingkat waktu perjalanan pengiriman sampel, yang saat ini harus dikirim ke
Lab PRN. Saat ini, Perseroan berharap dapat membuka laboratorium klinik baru di wilayah yang belum
dilayani oleh Perseroan atau belum mendapatkan pelayanan yang cukup dari para pesaing Perseroan,
seperti Papua Barat, Kalimantan Utara dan Bengkulu. Perseroan juga berencana untuk meningkatkan
jumlah klinik di kota-kota yang telah ada saat ini, seperti Jakarta.
Meningkatkan pelayanan dari laboratorium klinik yang ada saat ini agar dapat menyediakan menu
pemeriksaan dan layanan yang lebih luas dan meningkatkan volume
Perseroan berencana untuk terus memperkenalkan pemeriksaan laboratorium klinik baru dan layanan
lainnya untuk memperluas pilihan jasa yang ditawarkan. Perseroan akan terus berusaha untuk
memperkenalkan pemeriksaan baru, temasuk pemeriksaan esoterik baru untuk dilakukan di Lab PRN
Perseroan, laboratorium rujukan regional baru serta di seluruh jejaring laboratorium klinik Perseroan.
Perseroan yakin bahwa menu pemeriksaan esoterik yang ditawarkan oleh Perseroan saat ini adalah
paling komprehensif di Indonesia dan mencakup banyak pemeriksaan yang tidak dapat dilakukan
pesaing Perseroan dengan tepat waktu, efisien dan biaya yang memadai. Perseroan berencana untuk
menawarkan lebih banyak pemeriksaan kesehatan untuk perawatan preventif dan penyakit kronik,
serta pengelolaan gaya hidup, seperti pemeriksaan kesehatan untuk pencegahan, pengobatan nutrisi
dan pengobatan olahraga di Klinik PHC. Perseroan juga berharap untuk meningkatkan pelayanan dari
sebagian laboratorium klinik menjadi Klinik PHC dengan memperkenalkan sejumlah pemeriksaan
non-laboratorium klinik, seperti pemeriksaan radiologi, imaging, elektrokardiogram dan treadmill.
142
Perseroan juga bermaksud untuk mengembangkan usahanya dengan memperluas hingga 20 laboratorium
klinik yang ada saat ini, termasuk relokasi beberapa laboratorium klinik tertentu ke lokasi yang lebih
luas dikarenakan pertumbuhan laboratorium klinik tersebut dibatasi oleh ketersediaan lahan.
Meningkatkan efisisensi dari kegiatan operasional internal secara berkelanjutan
Perseroan yakin bahwa model “hub-and-spoke” merupakan suatu model bisnis yang dapat dikembangkan
pada berbagai skala untuk mengurangi biaya dan waktu selesai pemeriksaan laboratorium klinik.
Perseroan telah membuka sebuah laboratorium rujukan regional pada bulan Juli 2016 dan bermaksud
untuk membuka tiga laboratorium rujukan regional lainnya dalam beberapa tahun ke depan untuk
meningkatkan kapasitas pemeriksaan esoterik Perseroan, sementara Perseroan memperluas basis
pelanggannya, termasuk meningkatkan jumlah rujukan dari laboratorium klinik Perseroan dan lainnya
di Indonesia, serta outlet POC di Indonesia. Perseroan akan terus meningkatkan efisiensi internal dari
kegiatan operasional dengan melakukan optimalisasi atas model bisnisnya dan kualitas pelayanan
Perseroan. Sebagai contoh, empat laboratorium rujukan regional tersebut, sebagai hub tambahan
dalam model hub-and-spoke Perseroan, akan memungkinkan Perseroan untuk mempersingkat waktu
penyampaian sample dan/atau spesimen ke lokasi pemeriksaan, sehingga memungkinkan Perseroan untuk
meningkatkan waktu penyampaian hasil pemeriksaan dan pada akhirnya dapat mengurangi beban usaha
Perseroan. Demikian pula, Perseroan yakin bahwa daya tawar Perseroan yang kuat dengan pemasok
sebagai hasil dari tingginya jumlah pemeriksaan, memberikan skala ekonomi kepada Perseroan dengan
mengurangi biaya bahan baku Perseroan. Selain itu, Perseroan sedang, dan akan terus, menerapkan
sistem pengelolaan persediaan yang dikelola oleh pemasok dan memperbaiki produktivitas dengan
meningkatkan sistem informasi Perseroan. Perseroan juga berencana untuk terus mengevaluasi kebutuhan
untuk meningkatkan teknologi dan peralatan yang digunakan di laboratorium, untuk mempertahankan
fokus Perseroan menjadi yang terdepan di pasar laboratorium klinik di Indonesia. Perseroan berusaha
menggabungkan pemeriksaan laboratorium untuk meningkatkan produktivitas usaha atas pemeriksaan
Perseroan. Sebagai contoh, Perseroan berencana untuk mengintegrasi sistem Perseroan pada Lab PRN
untuk meningkatkan jumlah hasil pemeriksaan yang dihasilkan agar dapat memperbaiki waktu selesai
pemeriksaan, yang diyakini Perseroan akan mendorong efisiensi biaya dan hasil usaha Perseroan pada
skala ekonomi yang lebih besar.
Terus berfokus dalam penyediaan diagnosis yang berkualitas serta pemeriksaan dan layanan
kesehatan lainnya dan berupaya menarik personil laboratorium yang berkualitas
Perseroan yakin bahwa merek Prodia ber-analogi dengan kualitas. Perseroan berencana untuk terus
berfokus dalam penyediaan pemeriksaan dan layanan laboratorium klinik yang berkualitas. Perseroan
memantau kualitas dan akurasi atas pemeriksaan laboratorium klinik secara terus menerus dan
melaksanakan program quality assurance secara berkala untuk memperbaiki kualitas layanan secara
berkelanjutan. Perseroan berupaya untuk meningkatkan mutu dari peralatan pemeriksaan laboratorium
klinik untuk memperbaiki efisiensi dan akurasinya. Sebagai contoh, Perseroan menggunakan sistem
pemeriksaan terotomasi untuk melakukan pemeriksaan secara cepat dengan campur tangan manusia
minimal, guna menjamin kecepatan dan akurasi. Perseroan juga berdedikasi untuk memberikan
pengalaman pemeriksaan yang berkualitas bagi para pelanggan. Sebagai contoh, Perseroan menyediakan
layanan terpadu (one-stop services) dari konsultasi hingga analisis hasil pemeriksaan dengan dokter
yang dapat menyediakan konsultasi awal. Perseroan telah membangun perangkat online seperti situs
dan aplikasi ponsel sehingga para pelanggan dan dokter dapat mengakses hasil pemeriksaan dengan
cepat. Perseroan bermaksud untuk terus mengembangkan inisiatif online ini dengan mengembangkan
portal registrasi dan pembayaran online bagi pelanggan. Perseroan berkonsultasi secara berkala dengan
laboratorium klinik internasional terkemuka, seperti Quest dan NUH Laboratories, baik secara langsung
maupun melalui acara industri dan sumber lainnya, untuk memperluas menu pemeriksaan Perseroan,
menerapkan praktik industri terbaik dan secara umum belajar dari pengalaman laboratorium internasional
terkemuka sebagai bagian dari upaya Perseroan untuk terus meningkatkan kualitas layanannya.
Perseroan juga akan terus berfokus untuk menarik ahli teknologi medik dan dokter berkualitas tinggi
untuk bergabung dengan Perseroan. Perseroan akan melanjutkan kerjasama eratnya dengan 23 fakultas
kedokteran dan 54 institusi pendidikan untuk menarik sumber daya manusia yang diperlukan dalam
143
mendukung pertumbuhan Perseroan. Perseroan yakin bahwa dengan mendukung para pelajar saat
mereka masih di sekolah, Perseroan menciptakan hubungan yang positif dengan para pelajar tersebut
pada saat mereka lulus dan menunjukkan bahwa Perseroan merupakan tempat berkerja yang berkualitas.
Perseroan bermaksud memperkuat hubungannya dengan pelajar yang akan menjadi dokter umum atau
dokter spesialis dengan membuat laboratorium Perseroan tersedia untuk digunakan dalam studi mereka.
Perseroan yakin bahwa hal ini akan membuat pelajar tersebut tertarik menjadi pelanggan Perseroan
di masa depan karena pelajar tersebut memiliki asosiasi yang positif dengan Perseroan. Selain itu,
Perseroan terus menambah kualitas pegawainya dengan memberikan berbagai pelatihan internal maupun
eksternal melalui konferensi atau lokakarya.
Fokus pada pengembangan teknologi diagnostik generasi baru untuk precision medicine
Sebagai pelopor dan pemimpin dari laboratorium klinik di Indonesia, Perseroan telah menjadi perusahaan
laboratorium pertama yang memperkenalkan banyak pemeriksaan dan teknologi laboratorium klinik di
Indonesia. Sebagai contoh, Perseroan saat ini melakukan investasi pada, dan meningkatkan kemampuan
Perseroan untuk menawarkan layanan precision medicine, yang dikenal juga sebagai pengobatan personal.
Precision medicine merupakan pengobatan yang lebih tepat sasaran kepada individu atau kelompok
individu yang memiliki kesamaan secara genomik, lingkungan dan gaya hidup. Dengan precision
medicine, individu ditangani sesuai dengan karakteristik khususnya, dengan harapan pengobatan tersebut
akan lebih efektif, dan menghindari pengobatan yang dianggap tidak efektif bagi individu tertentu. Kunci
kesuksesan penawaran precision medicine adalah ketersediaan informasi diagnosis, seperti urutan gen
seseorang. Perseroan telah memiliki landasan kokoh untuk mengembangkan layanan precision medicine
dengan memanfaatkan laboratorium Perseroan yang berfokus pada diagnosis molekuler yang canggih
antara lain, kromatografi-spektrometri massa, patologi anatomi serta imunologi dan flowsitometri, yang
merupakan teknologi fundamental dalam precision medicine.
9.4.
Indikator Kinerja Utama
Tabel di bawah ini menyajikan informasi mengenai kegiatan operasional Perseroan untuk tahun-tahun
yang berakhir 31 Desember 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015, serta periode enam bulan yang berakhir
30 Juni 2015 dan 2016:
Jumlah pemeriksaan (1) (juta)
Jumlah pengambilan sampel (1) (juta)
Jumlah kunjungan (‘000)
Pemeriksaan per kunjungan pelanggan (2)
Pendapatan per kunjungan (Rp)
Pendapatan per pemeriksaan (Rp)
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011
2012
2013
2014
2015
13,1
13,4
13,7
13,7
14,0
5,5
5,6
5,4
5,6
5,7
2.082,9
2.185,4
2.236,3
2.305,2
2.382,5
6,3
6,1
6,1
6,0
5,9
357.540,1 407.254,2 440.843,2 468.791,7 502.713,8
56.845,5
66.480,0
72.056,4
78.711,7
85.717,9
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
2015
2016
6,8
7,0
2,0
2,0
1.183,2
1.191,6
5,7
5,9
499.630,9 544.340,1
87.288,0
93.244,2
Catatan:
(1) Termasuk spesimen dan/atau sampel dan pemeriksaan untuk pelanggan perorangan maupun spesimen dan/atau sampel dan
pemeriksaan yang dirujuk kepada Perseroan oleh laboratorium klinik lain, rumah sakit dan penyedia jasa layanan kesehatan
lain.
(2) Kunjungan pelanggan adalah kunjungan ke salah satu outlet Perseroan oleh pelanggan individu, pelanggan dengan referensi
dokter atau individu yang ditanggung oleh perusahaan sebagai klien korporasi atau sample yang dirujuk ke salah satu
laboratorium klinik oleh pelanggan pengirim.
9.5.
Misi dan Visi
Misi Perseroan adalah untuk memberikan diagnosa lebih baik bagi dia, yang merupakan asal mula
dari nama Perseroan, yaitu “pro dia”. Nama Perseroan juga berarti “untuk diagnostik”. Visi Perseroan
adalah mempertahankan posisinya sebagai center of excellence dalam pemeriksaan laboratorium klinik,
sementara melakukan proses transformasi menjadi penyedia layanan kesehatan generasi baru terpercaya.
144
Dengan keyakinan yang kuat bahwa kualitas adalah tata cara hidup, Perseroan mengutamakan pelanggan
dan berdedikasi untuk menyediakan layanan diagnostik yang berkualitas tinggi. Perseroan berusaha
untuk menjadi sangat transparan dalam hal bisnis dan layanan, dan menjaga keseimbangan antara bisnis
dan pelayanan kesehatan, bisnis dan ilmu, dan di antara seluruh pemangku kepentingan. Perseroan
menghargai kekompakan tim dan berdedikasi untuk menjalankan semangat prodia dengan sikap mental
positif.
9.6.
Jejaring Outlet Perseroan
Perseroan memiliki jejaring outlet yang luas tersebar di 30 dari 34 propinsi di Indonesia. Jejaring
outlet ini telah dikembangkan dalam waktu lebih dari 43 tahun. Seluruh laboratorium klinik Perseroan
dimiliki dan dioperasikan oleh Perseroan, dimana hal ini memungkinkan Perseroan menjaga standarstandar kualitas yang lebih baik dan memastikan konsistensinya. Per 30 Juni 2016, Perseroan memiliki
128 laboratorium klinik, termasuk Lab PRN di Jakarta serta satu Klinik PHC mandiri dan satu klinik
khusus, yaitu Prodia Children’s Health Center. Selain itu, Perseroan mengoperasikan 114 outlet POC,
yang terdiri dari 11 outlet POC Center dan 103 outlet POC Collection Center, dan tujuh laboratorium
rumah sakit yang seluruhnya terletak pada lokasi milik penyedia layanan kesehatan. Selain itu, Perseroan
saat ini dalam proses membuka sejumlah klinik PHC dengan mengkonversi laboratorium klinik yang
ada saat ini. Klinik PHC berfokus pada layanan wellness yang menawarkan beragam layanan kesehatan
preventif, meliputi pemeriksaan metabolik dan penyakit jantung dan konsultasi dengan ahli gizi serta
dokter spesialis kedokteran olahraga, serta jasa laboratorium klinik umum.
Peta di bawah ini menggambarkan persebaran outlet Prodia secara geografis per 30 Juni 2016:
Tabel di bawah ini menyajikan jumlah outlet Prodia berdasarkan jenis layanan per 31 Desember 2011,
2012, 2013, 2014 dan 2015 dan 30 Juni 2016:
2011
Laboratorium klinik (1)
Klinik PHC
Klinik khusus
Outlet POC
POC Center (2)
POC Collection Center (3)
Laboratorium rumah sakit
Jumlah
119
-
2012
120
-
13
99
13
244
13
99
14
246
31 Desember
2013
122
14
103
14
253
2014
125
16
96
12
249
128
-
30 Juni
2016
128
1
1
16
111
11
266
11
103
7
251
2015
Catatan:
(1) Termasuk klinik Lab PRN.
(2) POC Center berlokasi di klinik-klinik dokter dan dilengkapi peralatan laboratorium untuk melaksanakan pemeriksaan rutin
tertentu atau spesimen dan/atau sampel dikirim ke salah satu laboratorium klinik Perseroan terdekat untuk pemeriksaan.
(3) POC Collection Center berlokasi di klinik-klinik dokter dan mengirimkan semua spesimen dan/atau sampel ke salah satu
laboratorium klinik Perseroan terdekat untuk pemeriksaan.
145
Perseroan senantiasa mengevaluasi cakupan jejaring Perseroan dan komposisi dan lokasi outlet
Perseroan yang tepat. Strategi Perseroan adalah untuk membuka laboratorium klinik, POC Center atau
POC Collection Center dengan ukuran yang lebih kecil untuk masuk ke pasar-pasar yang baru dengan
potensi pertumbuhan.
Pada tahun 2014, Perseroan membuka dua laboratorium klinik baru dan mereklasifikasi salah satu
laboratorium rumah sakit sebagai laboratorium klinik karena Perseroan memindahkan laboratorium
ke lokasi terdekat di luar rumah sakit untuk menambah ketersediaan ruang laboratorium. Selain itu,
pada tahun yang sama, Perseroan membuka satu laboratorium baru di rumah sakit, sementara menutup
dua laboratorium rumah sakit dikarenakan Perseroan memutuskan untuk berfokus mengembangkan
laboratorium klinik lain di sekitar rumah sakit tersebut. Demikian pula, Perseroan membuka dua POC
Center baru dan empat POC Collection Center baru, sementara memutuskan hubungan dengan 11 POC
Collection Center yang saat ini masih beroperasi di beberapa klinik dokter namun tidak lagi dikelola
oleh Perseroan.
Pada tahun 2015, Perseroan membuka empat laboratorium klinik baru dan mereklasifikasi satu
laboratorium di POC Center sebagai laboratorium klinik karena Perseroan mendapatkan volume yang
cukup banyak di tempat tersebut sehingga layak mengembangkannya menjadi laboratorium mandiri.
Perseroan juga membuka dua laboratorium rumah sakit tambahan sementara menutup dua laboratorium
rumah sakit dikarenakan satu laboratorium rumah sakit diambil alih oleh perusahaan pengelola rumah
sakit yang baru dan satu laboratorium rumah sakit lainnya ditutup karena Perseroan ingin berfokus pada
outlet-outlet lain. Sebagai tambahan, Perseroan membuka satu POC Center baru dengan meningkatkan
pelayanan POC Collection Center menjadi POC Center dan menutup satu POC Center. Perseroan
membuka 17 POC Collection Center baru dan menutup satu POC Collection Center.
Dalam periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, Perseroan membuka satu laboratorium
klinik, mengkonversi salah satu dari laboratorium klinik menjadi klinik khusus Prodia Children’s
Health Center dan mereklasifikasi satu laboratorium rumah sakit menjadi laboratorium klinik karena
Perseroan memindahkannya ke fasilitas terpisah di luar rumah sakit. Perseroan juga membuka satu
laboratorium klinik baru di rumah sakit sementara menutup empat laboratorium di rumah sakit. Selain
itu, Perseroan membuka 19 POC Collection Center sementara menutup lima POC Center dan 25 POC
Collection Center.
Wilayah
I.
Sumatera Utara
II. Sumatera Tengah
III. Jabodetabek,
Palembang
dan Lampung
IV. Jawa Barat
V. Jawa Tengah
VI. Jawa Timur, Bali dan
Nusa Tenggara
VII. Kalimantan
VIII. Sulawesi dan Maluku
Jumlah
Laboratorium
Klinik PHC
Klinik
15
7
1
Klinik
Khusus
-
POC Center
-
POC
Collection
Center
2
6
Laboratorium
Rumah Sakit
1
-
Jumlah
18
14
31(1)
20
22
-
1
-
6
1
1
24
22
21
2
1
1
64
44
45
16(2)
5
12
128
1
1
2
1
11
13
1
14
103
1
1
7
32
6
28
251
Catatan:
(1) Termasuk Lab PRN.
(2) Termasuk laboratorium rujukan regional Surabaya.
Tabel di bawah ini menyajikan jumlah kunjungan pasien berdasarkan wilayah geografis untuk tahuntahun yang berakhir pada 31 Desember 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015 dan periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016:
146
Wilayah
Sumatera Utara
I.
II. Sumatera Tengah
III. Jabodetabek, Palembang
dan Lampung
IV. Jawa Barat
V. Jawa Tengah
VI. Jawa Timur, Bali dan
Nusa Tenggara
VII. Kalimantan
VIII.Sulawesi dan Maluku
Klinik khusus
Jumlah
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011
2012
2013
2014
2015
117.125
117.399
114.726
130.684
132.983
93.077
96.320
99.217
106.583
107.077
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
2015
2016
60.135
62.427
54.333
52.325
692.721
253.665
298.579
701.830
265.620
344.047
707.663
272.613
367.353
723.328
284.211
369.255
758.284
309.785
386.103
374.112
151.075
200.743
395.612
144.796
184.223
332.404
81.895
213.118
322
2.082.906
338.658
83.692
235.408
2.422
2.185.396
351.934
83.183
237.318
2.331
2.236.338
357.306
90.950
238.651
4.211
2.305.179
355.800
95.808
234.170
2.513
2.382.523
176.397
46.155
118.873
1.400
1.183.229
177.465
47.215
125.481
2.000
1.191.589
Tabel di bawah ini menyajikan pendapatan Perseroan, secara standalone, berdasarkan wilayah geografis
untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015 dan periode enam
bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016:
Wilayah
I.
Sumatera Utara
II. Sumatera Tengah
III. Jabodetabek, Palembang
dan Lampung
IV. Jawa Barat
V. Jawa Tengah
VI. Jawa Timur, Bali dan
Nusa Tenggara
VII. Kalimantan
VIII.Sulawesi dan Maluku
Klinik khusus
Jumlah
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011
2012
2013
2014
2015
40.9
47.4
51,0
60,0
66,0
31.7
40.0
47,0
50,7
55,7
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
2015
2016
31,8
33,7
28,3
28,2
272.6
67.6
90.7
327.9
77.4
108.3
364,4
87,1
120,5
408,1
95,5
130,6
462,1
101,8
145,3
226,6
49,4
73,9
256,1
52,9
77,7
127.6
39.5
71.3
742,0
148.7
45.2
90.9
886,5
166,6
46,7
101,4
1,1
985,8
177,3
50,6
106,2
1,6
1.080,6
191,9
54,9
118,6
1,4
1.197,7
94,2
26,0
60,2
0,8
591,3
103,6
27,9
67,4
1,1
648,6
Laboratorium Pusat Rujukan
Laboratorium Pusat Rujukan Nasional Prodia (“Lab PRN”)
Lab PRN, didirikan pada tahun 2008, adalah satu-satunya laboratorium terakreditasi CAP di Indonesia.
Lab PRN yang terletak di Jakarta adalah hub utama dari jejaring layanan Perseroan dan juga merupakan
laboratorium klinik yang melayani pelanggan individu dan melakukan pengambilan spesimen. Lab PRN
menawarkan pilihan pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus terlengkap di dalam jejaring layanan
Perseroan. Lab PRN juga menawarkan jenis pemeriksaan terbanyak di antara pesaing Perseroan di
laboratorium klinik di Indonesia. Beberapa pemeriksaan tertentu yang ditawarkan oleh Perseroan,
seperti diagnostik molekuler, pemeriksaan imunologi, spektrometri massa, dan pemeriksaan esoterik
lainnya, hanya dapat dilakukan oleh Lab PRN. Perseroan mempekerjakan lebih dari 60 ahli teknologi
medik dan lima dokter spesialis patologi klinik di Lab PRN. Klinik Lab PRN beroperasi selama 24 jam
sehari, tujuh hari dalam seminggu, kecuali untuk hari Minggu yang hanya beroperasi 12 jam. Terdapat
juga laboratorium klinik untuk menerima langsung pelanggan di lokasi Lab PRN.
Laboratorium pusat rujukan ditentukan berdasarkan lingkup kegiatan usahanya sebagai pusat
pemeriksaan laboratorium klinik untuk spesimen dan/atau sampel yang dirujuk kepada mereka oleh
laboratorium klinik lain atau penyedia layanan kesehatan dalam volume tinggi pada biaya yang memadai.
Oleh karena itu, laboratorium pusat rujukan memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan khusus
berbiaya tinggi pada harga yang terjangkau. Di Indonesia, tidak terdapat kualifikasi khusus atau
147
izin penyelenggaraan khusus untuk mengoperasikan laboratorium rujukan selain dari izin-izin yang
umumnya diperlukan untuk menyelenggarakan laboratorium klinik. Perseroan yakin bahwa Lab PRN
yang dimilikinya memberikan keunggulan kompetitif bagi Perseroan dikarenakan Lab PRN didukung
oleh jejaring outlet Perseroan yang luas untuk merujuk spesimen dan/atau sampel ke Lab PRN dan
mendorong volume pemeriksaan yang tinggi. Perseroan meyakini adanya hambatan signifikan yang
mencegah laboratorium dari perusahaan lain untuk bersaing dengan Lab PRN dikarenakan rekam jejak
Perseroan yang ekstensif dalam hal kualitas dan keterbatasan pihak lain dalam memperoleh sumber daya
manusia yang kompeten dan terampil untuk mengoperasikan laboratorium rujukan pada tingkat yang
sama seperti Lab PRN. Lab PRN mendapatkan akreditasi dari CAP pada tahun 2012, yang merupakan
salah satu standar akreditasi terkemuka yang tersedia di dunia. Sebagian besar usaha Perseroan dalam
mempelopori pemeriksaan baru dilakukan di lokasi yang sama dengan Lab PRN, sehingga Perseroan
berkeyakinan bahwa Lab PRN adalah salah satu laboratorium klinik ilmiah terdepan di Indonesia.
Sebagai hub utama, spesimen untuk pemeriksaan yang tidak dapat dilakukan oleh outlet tertentu akan
dikirim ke Lab PRN untuk pengujian. Perseroan berkeyakinan bahwa pemeriksaan secara terpusat
menghasilkan skala ekonomi sehingga Perseroan dapat menggunakan peralatan dan sistem teknologi
informasi yang lebih efisien untuk meningkatkan lebih lanjut efisiensi keseluruhan pelaksanaan
pemeriksaan laboratorium klinik Perseroan. Lab PRN mendukung seluruh laboratorium klinik Perseroan
lainnya dengan memusatkan seluruh pemeriksaan yang dirujuk dan beroperasi sebagai pusat biaya
dengan semua pendapatan diatribusikan pada laboratorium klinik Perseroan yang memberi rujukan
pemeriksaan ke Lab PRN.
Lab PRN dilengkapi dengan peralatan pemeriksaan yang canggih dan sebagai pusat pemeriksaan
esoterik. Lab PRN saat ini memiliki kemampuan untuk melakukan sekitar 330 dari 500 pemeriksaan
yang ditawarkan oleh Perseroan (130 pemeriksaan esoterik dan 200 pemeriksaan rutin). Pemeriksaan
lainnya dilakukan di laboratorium klinik Perseroan. Perseroan merujuk untuk pemeriksaan lainnya,
yang tidak ekonomis untuk dilakukan oleh Perseroan, kepada pihak ketiga, terutama di luar negeri.
Lab PRN melakukan lebih dari 2,5 juta pemeriksaan pada tahun 2015, yang mewakili sekitar 11% dari
total pemeriksaan yang dilakukan Perseroan pada tahun 2015. Di Lab PRN, Perseroan menggunakan
peralatan pengujian terdepan meliputi mesin diagnostik molekuler terdepan, kromatografi-spektrometri
massa, patologi anatomi dan imunologi dan flowsitometri. Perseroan juga menggunakan mesin WorkCell
bermerek Siemens yang mengotomatisasi proses pengujian kimia rutin dan imunologi. Mesin WorkCell
dapat memproses sekitar 800 pemeriksaan per jam dibandingkan mesin-mesin di laboratorium klinik
Perseroan yang umumnya memproses 200 pemeriksaan per jam.
Laboratorium Rujukan Regional
Perseroan membuka sebuah laboratorium klinik di Surabaya pada bulan Desember tahun 2015 dan secara
resmi beroperasi sebagai laboratorium rujukan regional pertama dari empat laboratorium rujukan regional
yang direncanakan pada bulan Juli 2016. Ketiga laboratorium rujukan regional lainnya akan dibuka di
Medan, Makassar dan Semarang. Laboratorium rujukan regional tersebut akan berperan sebagai hub
regional untuk laboratorium klinik lokal dan outlet lainnya. Mengingat permintaan untuk pemeriksaan
esoterik telah meningkat, Perseroan yakin bahwa Perseroan dapat melayani permintaan pelanggan lokal
dengan baik dengan memperluas kapasitas Perseroan pada Lab PRN, yang menciptakan keuntungan
tertentu bagi kapasitas regional. Sebagai contoh, laboratorium rujukan regional akan memungkinkan
Perseroan untuk mengurangi waktu selesai untuk pemeriksaan esoterik dengan mempersingkat waktu
transportasi atas spesimen, yang akan menjadikan layanan Perseroan semakin menarik bagi pelanggan.
Perseroan berharap bahwa laboratorium rujukan regional akan mulai menawarkan seluruh pemeriksaan
rutin Perseroan dan pemeriksaan esoterik tertentu yang dibutuhkan di wilayah tersebut, seperti panel
hormon, diagnostik molekuler dan pemerikaan mikrobiologi. Mengingat pasar untuk pemeriksaan
esoterik terus bertumbuh, Perseroan akan mengevaluasi pemeriksaan esoterik tambahan untuk ditawarkan
di setiap laboratorium rujukan regional. Lab PRN akan terus berperan sebagai hub nasional dan akan
dilengkapi untuk menawarkan pilihan pemeriksaan yang lebih ekstensif.
Laboratorium rujukan regional Surabaya pertama kali dibuka sebagai laboratorium klinik di bulan
Desember 2015, dan mulai memberikan pelayanan 24 jam selama 7 hari sejak bulan Maret 2016. Sejak
saat itu layanannya telah ditingkatkan menjadi laboratorium rujukan regional pertama yang beroperasi
148
secara penuh di bulan Juli 2016. Laboratorium ini terutama menawarkan pemeriksaan laboratorium
rutin, tes hormon, layanan laboratorium molekuler dan mikrobiologi, dengan kemampuan melakukan
total 180 pemeriksaan rutin dan esoterik. Laboratorium rujukan regional ini menawarkan pelayanan
pengambilan sampel dari seluruh segmen pelanggan. Bangunan tempat laboratorium rujukan regional
Surabaya berada adalah bangunan yang dirancang untuk memenuhi sertifikasi green building dan saat ini
dalam persiapan menuju terwujudnya gedung bersertifikasi green building pertama untuk laboratorium
klinik di Indonesia. Perseroan menjual tanah untuk laboratorium rujukan regional Surabaya kepada pihak
terafiliasi dan saat ini menyewanya berdasarkan Transaksi Jual dan Sewa. Laboratorium ini memiliki
pertumbuhan penjualan yang kuat di semester pertama 2016.
Perseroan saat ini sedang membangun sebuah bangunan tambahan di sebelah laboratorium klinik di
Makassar sebagai laboratorium rujukan regional. Laboratorium klinik Perseroan di Makassar telah
beroperasi selama dua tahun dan Perseroan berharap laboratorium rujukan regional yang berada di
lokasi tersebut dapat beroperasi secara penuh di kuartal terakhir tahun 2016. Laboratorium rujukan
regional Makassar yang beroperasi 24 jam selama 7 hari akan dibuka pada kuartal ketiga tahun 2016.
Laboratorium ini akan berfokus untuk melayani Wilayah VIII (yaitu Sulawesi, Maluku dan akhirnya
Papua). Perseroan saat ini sedang memperkenalkan laboratorium rujukan regional kepada para dokter
dan rumah sakit setempat. Bangunan tempat laboratorium saat ini disewa dari pihak ketiga dengan sewa
jangka panjang, namun demikian Perseroan bermaksud membeli tanah di lokasi baru untuk memindahkan
laboratorium ini pada saat masa sewa berakhir.
Perseroan saat ini sedang membangun laboratorium rujukan regional Medan sebagai bangunan tambahan
di sebelah laboratorium klinik Medan yang sudah ada saat ini. Perseroan berharap pembangunan dapat
diselesaikan di pertengahan tahun 2017 dan laboratorium rujukan regional akan beroperasi secara
penuh pada kuartal terakhir tahun 2017. Laboratorium ini akan berfokus untuk melayani Wilayah I
(Sumatera Utara) dan Wilayah II (Sumatera Tengah). Perseroan berkeyakinan bahwa banyak pelanggan
yang potensial berkunjung ke Penang, Malaysia untuk perawatan dan laboratorium rujukan regional
dimaksudkan untuk melayani pelanggan-pelanggan ini. Perseroan menjual tanah untuk laboratorium
rujukan regional Medan kepada pihak terafiliasi, yang saat ini sedang melakukan pembangunan di atas
tanah tersebut berdasarkan kesepakatan kesepakatan bangun guna serah (built operate transfer) sebagai
bagian dari Transaksi Jual dan Sewa.
Perseroan memperkirakan laboratorium rujukan regional Semarang akan beroperasi secara penuh
pada tahun 2018. Laboratorium klinik ini akan berfokus untuk melayani Wilayah V (Jawa Tengah).
Laboratorium ini akan berada dalam jarak yang berdekatan dengan beberapa fasilitas kesehatan
terkemuka sehingga memungkinkan dilakukannya kolaborasi untuk pengembangan pemeriksaan esoterik
yang lebih banyak dan mempererat hubungan Perseroan dengan para dokter. Pembangunan gedung
laboratorium ini belum dimulai. Perseroan menjual tanah dan bangunan untuk laboratorium rujukan
regional Semarang sebagai bagian dari Transaksi Jual dan Sewa kepada pihak terafiliasi, yang saat ini
sedang mengembangkan lokasi tersebut. Perseroan berencana menyewa bangunan lokasi tersebut jika
telah selesai dibangun.
Laboratorium Klinik
Per tanggal 30 Juni 2016, Perseroan memiliki 128 laboratorium klinik (termasuk Lab PRN sebagaimana
telah diuraikan di atas) yang berada pada lokasi-lokasi strategis di 104 kota di seluruh Indonesia.
Perseroan berusaha mencari lokasi untuk laboratorium klinik yang berdekatan dengan daerah perumahan
dimana terdapat populasi kelas menengah dan tingkat pendapatan yang substansial dan bertumbuh.
Laboratorium Perseroan banyak berlokasi di dekat fakultas kedokteran dan di daerah-daerah dimana
klinik dokter banyak beroperasi.
Laboratorium klinik Perseroan biasanya buka sejak pukul 6.30 pagi sampai dengan pukul 9 malam dan
pelanggan dapat langsung datang ke laboratorium klinik Perseroan dengan ataupun tanpa membuat
janji temu. Laboratorium klinik dikelola oleh sekurang-kurangnya seorang dokter umum atau dokter
spesialis patologi klinik, tergantung pada jenis pemeriksaan yang dilakukan pada lokasi tersebut, dan
antara tiga sampai 13 orang staf pendukung, termasuk flebotomist dan ahli teknologi medik.
149
Seluruh laboratorium klinik Perseroan dilengkapi peralatan untuk dapat melakukan dan memproses
pemeriksaan rutin tertentu seperti urinalisis, kimia klinik dan hematologi. Apabila pemeriksaan dapat
dilakukan di tempat, staf laboratorium klinik Perseroan akan memproses tes tersebut dan menyampaikan
hasilnya langsung kepada pelanggan Perseroan sehingga memungkinkan waktu selesai yang lebih
singkat. Di laboratorium klinik Perseroan, pemeriksaan rutin membutuhkan waktu dua sampai empat
jam untuk diselesaikan. Apabila pemeriksaan esoterik diperlukan, atau apabila laboratorium klinik tidak
dapat melakukan pemeriksaan rutin yang diminta, spesimen dan/atau sampel dikirim ke Lab PRN untuk
pengujian. Dalam keadaan tertentu, berdasarkan permintaan pelanggan, Perseroan dapat melengkapi
laboratorium klinik dengan layanan untuk pemeriksaan-pemeriksaan esoterik yang sering diminta, seperti
pemeriksaan kelenjar tiroid dan panel penyakit menular. Beberapa laboratorium klinik tertentu juga
dapat dilengkapi peralatan untuk melakukan pemeriksaan non-laboratorium seperti rontgen dan imaging.
Klinik Prodia Health Care (“Klinik PHC”)
Perseroan membuka Klinik PHC pertamanya pada awal tahun 2016. Dalam jangka waktu sampai dengan
lima tahun ke depan Perseroan berencana untuk meningkatkan pelayanan sejumlah laboratorium klinik
yang ada saat ini sampai dengan sebanyak 39 klinik untuk menjadi Klinik PHC. Disamping menjadi
laboratorium klinik yang berfungsi sepenuhnya, Klinik PHC akan menawarkan layanan wellness yang
berfokus pada kesehatan preventif, seperti pemeriksaan metabolik dan penyakit jantung dan menyediakan
layanan konsultasi dengan ahli gizi dan dokter spesialis kedokteran olahraga. Klinik PHC Perseroan
nantinya akan dikelola oleh para spesialis yang memberikan layanan tersebut, seperti ahli gizi dan dokter
spesialis kedokteran olahraga. Perseroan percaya bahwa Klinik PHC akan membantu memperluas basis
pelanggan dan meningkatkan jumlah kunjungan pelanggan.
Berdasarkan peraturan di Indonesia, klinik dibagi menjadi (i) klinik yang menyelenggarakan pelayanan
medik dasar untuk pelanggan dan (ii) klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik untuk
pelanggan. Pada bulan Januari 2016, Perseroan memperoleh surat perizinan klinik untuk Klinik PHC
pertamanya, dan mulai mengoperasikan Klinik PHC yang menawarkan layanan medik dasar untuk umum.
Klinik Khusus
Perseroan juga mengembangkan fasilitas klinik khusus yang berfokus pada bidang kedokteran tertentu
atau jenis pelanggan tertentu. Fasilitas khusus pertama Perseroan yang dibuka pada tahun 2011 adalah
“Prodia Child Lab”. Pada tahun 2016, Prodia Child Lab diubah menjadi Prodia Children’s Health Center.
Perseroan bermaksud membuka klinik khusus wanita, yaitu Prodia Women’s Health Center, yang akan
berfokus seputar masalah kesehatan perempuan di kuartal terakhir tahun 2016. Kemudian, pada tahun
2017, Perseroan bermaksud untuk membuka klinik khusus untuk pelanggan berumur lanjut (geriatri),
Prodia Senior’s Health Center. Perseroan pada saat ini berencana membuka sampai dengan 13 klinik
khusus dalam lima tahun mendatang.
Prodia Children’s Health Center, berada di kantor pusat Perseroan di Jakarta Pusat, berfokus pada
penyediaan jasa pemeriksaan kesehatan dasar bagi pelanggan anak-anak, dengan fasilitas dan layanan
pemeriksaan khusus. Klinik ini dikelola oleh dokter spesialis terlatih di bidang pemeriksaan pediatrik.
Prodia Children’s Health Center menawarkan lingkungan yang menyenangkan bagi pasien anak dan
didukung dengan staf-staf yang terlatih untuk melayani anak-anak. Sebagai contoh, flebotomist di
laboratorium khusus anak secara khusus dilatih untuk melakukan pengambilan spesimen dari anak-anak.
Prodia Women’s Health Center, yang akan dibuka di semester kedua tahun 2016, adalah fasilitas
tersendiri di Jakarta Selatan. Fasilitas ini akan dikelola oleh para ahli mengenai masalah kesehatan
perempuan, seperti obstetrik dan ginekolog. Prodia Senior’s Health Center akan dikelola oleh dokter
umum dan dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki spesialisasi pada pemeriksaan dan perawatan
orang lanjut usia. Klinik ini akan menawarkan beragam layanan meliputi akupuntur, fisioterapi dan
program latihan bagi lansia.
150
Outlet Point-of-Care (“POC”)
Perseroan mengoperasikan 114 outlet POC yang berada di klinik-klinik dokter di seluruh Indonesia,
dimana klinik tersebut tidak dimiliki oleh Perseroan. Lokasi POC tersebut umumnya berada dekat
dengan laboratorium klinik Perseroan dan memberikan kenyamanan kepada pelanggan untuk melakukan
pengambilan spesimen di klinik dokter sehingga tidak perlu melakukan perjalanan ke laboratorium
klinik Perseroan. Tergantung pada kesepakatan dengan klinik-klinik dokter yang bersangkutan, pasien
dapat melakukan pembayaran langsung kepada Perseroan untuk pemeriksaan yang dilakukan Perseroan
atau membayar kepada dokter untuk pemeriksaan dan dokter kemudian membayar kepada Perseroan
sesuai bagiannya.
Perseroan memiliki dua jenis outlet POC. Pertama, jenis POC Collection Centers dengan jumlah
sebanyak 103 outlet yang dioperasikan oleh flebotomist dan hanya melakukan pengambilan spesimen
untuk selanjutnya dikirim ke laboratorium klinik terdekat untuk pengujian. Kedua, POC Center dengan
jumlah sebanyak 11 outlet yang didukung peralatan laboratorium klinik dan ahli teknologi medik untuk
melakukan pemeriksaan rutin tertentu, seperti hematologi dan urinalisis. Pengambilan spesimen yang
dapat dilakukan di tempat pada seluruh 114 outlet POC Perseroan dan bahkan diproses di tempat untuk
beberapa kasus tertentu akan menambah efisiensi para dokter sehingga mereka dapat meningkatkan
layanan pemeriksaan kesehatan mereka. Outlet POC Perseroan biasanya buka pada jam kerja yang sama
dengan klinik dimana POC tersebut berada.
Kecuali pemeriksaan yang dapat dilakukan di POC Center, spesimen dikirim ke laboratorium klinik
terdekat untuk diproses dan diuji. Waktu untuk menyelesaikan pemeriksaan rutin yang dikirim ke
laboratorium klinik terdekat adalah empat jam. Apabila laboratorium klinik tersebut tidak dapat
melakukan pemeriksaan sesuai yang diperlukan, laboratorium tersebut akan meneruskan spesimen
tersebut ke Lab PRN atau laboratorium klinik lain untuk pengujian. Hasil pemeriksaan untuk tes
yang dikirim ke Lab PRN umumnya tersedia di hari berikutnya, kecuali pemeriksaan tertentu yang
membutuhkan proses pemeriksaan lebih lama. Pada setiap kasus, hasil pemeriksaan tersedia online
atau dalam bentuk berkas tercetak.
Perseroan mengelola kegiatan operasional outlet POC dan mempekerjakan karyawan serta menggunakan
peralatan milik Perseroan sendiri sebagaimana halnya laboratorium klinik Perseroan. Perseroan
bertanggung jawab untuk seluruh biaya terkait karyawan, peralatan, bahan dan alat habis dipakai
(consumable), pengiriman spesimen dan/atau sampel dan kegiatan pemeliharan untuk menunjang
kegiatan usaha Perseroan. Namun, Perseroan menyewa ruang untuk pusat layanan POC dari para dokter
atau klinik dimana POC berada. Tarif sewa dihitung berdasarkan kesepakatan porsi bagi hasil untuk
masing-masing outlet POC tersebut, umumnya antara 10% sampai dengan 20% dari pendapatan dari
pemeriksaan yang dihasilkan di lokasi tersebut.
Perseroan umumnya menandatangani perjanjian berjangka waktu satu sampai dengan tiga tahun dengan
dokter atau klinik untuk pengoperasian outlet POC. Outlet POC tidak memiliki izin operasional tersendiri
dan menggunakan izin penyelenggaraan milik klinik dokter. Sejauh ini Perseroan dapat memperbaharui
perjanjian POC dengan para dokter tersebut.
Laboratorium Rumah Sakit
Perseroan mengelola tujuh laboratorium yang berlokasi di rumah sakit swasta untuk melayani
kepentingan masing-masing rumah sakit yang bersangkutan. Pada perihal ini, rumah sakit meminta
Perseroan untuk mengelola laboratoriumnya untuk kepentingannya dan untuk menerapkan keahlian,
pengetahuan dan skala Perseroan. Dalam situasi tertentu, Perseroan telah mengambil alih operasional
laboratorium di beberapa rumah sakit yang telah ada maupun mendirikan laboratorium klinik di rumah
sakit yang baru. Perseroan saat ini hanya mengoperasikan laboratorium di rumah sakit swasta.
151
Laboratorium klinik di rumah sakit yang dikelola Perseroan pada umumnya memberikan pelayanan
secara eksklusif kepada pasien di rumah sakit tersebut. Meskipun Perseroan tidak menargetkan
laboratorium rumah sakit sebagai lokasi untuk menerima pelanggan individu, Perseroan juga dapat
menerima pelanggan individu. Seluruh spesimen yang diambil di rumah sakit, baik untuk pasien rawat
inap maupun pasien rawat jalan, dilakukan oleh para flebotomist Perseroan baik di laboratorium rumah
sakit maupun di kamar perawatan. Laboratorium rumah sakit Perseroan biasanya buka 24 jam sehari,
tujuh hari dalam seminggu, sesuai dengan jam operasional rumah sakit yang bersangkutan.
Laboratorium klinik di rumah sakit Perseroan dilengkapi dengan sekurang-kurangnya satu dokter
umum atau dokter spesialis patologi klinik, tergantung pada pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan
di lokasi tersebut, dan antara lima sampai dengan enam staf pendukung, termasuk flebotomist dan ahli
teknologi medik.
Laboratorium di rumah sakit pada umumnya memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan seperti
laboratorium klinik Perseroan. Apabila pemeriksaan dapat diproses di tempat, staf laboratorium klinik
Perseroan akan melakukan pengujian dan menyampaikan hasilnya langsung kepada pelanggan dalam
waktu dua sampai empat jam untuk sebagian besar pemeriksaan rutin. Pemeriksaan yang dikirim ke Lab
PRN umumnya akan tersedia di hari berikutnya, kecuali untuk pemeriksaan tertentu yang membutuhkan
proses pemeriksaan lebih lama.
Perseroan mengelola kegiatan operasional laboratorium rumah sakit dan mempekerjakan karyawan dan
menggunakan peralatan milik Perseroan sendiri, sebagaimana halnya laboratorium klinik Perseroan
lainnya. Perseroan bertanggung jawab atas seluruh biaya terkait karyawan, peralatan, bahan dan alat
habis dipakai (consumable), pengiriman spesimen dan/atau sampel dan kegiatan pemeliharaan untuk
menunjang kegiatan usaha Perseroan. Rumah sakit biasanya menyediakan ruangan untuk digunakan
secara cuma-cuma.
Untuk penyelenggaraan laboratorium rumah sakit, Perseroan umumnya menandatangani perjanjian
berjangka waktu satu sampai dengan lima tahun dengan rumah sakit. Pendapatan yang diterima dari
laboratorium rumah sakit didasarkan pada kesepakatan bagi hasil dimana Perseroan umumnya menerima
80%-90% dari total pendapatan yang dihasilkan dari pemeriksaan. Berdasarkan perjanjian, Perseroan
memiliki hak untuk mengakhiri hubungan apabila pendapatan dari laboratorium tidak memenuhi target
tertentu. Pengoperasian laboratorium rumah sakit tidak membutuhkan izin operasional khusus, namun
menggunakan izin penyelenggaraan rumah sakit.
Rencana Pengembangan Jejaring
Perseroan bermaksud untuk melanjutkan pertumbuhan dan pengembangan jejaring outlet layanan
Perseroan. Saat ini, Perseroan berencana membuka tiga laboratorium rujukan regional tambahan di
Makassar, Medan dan Semarang, 13 klinik khusus dan sebanyak-banyaknya 33 laboratorium klinik
tambahan sampai dengan lima tahun ke depan. Selain itu, Perseroan berencana melakukan renovasi/
relokasi untuk sebanyak-banyaknya 24 laboratorium klinik dan melakukan peningkatan pelayanan
untuk sebanyak-banyaknya 39 laboratorium klinik menjadi Klinik PHC. Ketika Perseroan memperluas
laboratorium kliniknya, Perseroan juga dapat mempertimbangkan relokasi laboratorium klinik ke lokasi
yang lebih besar. Perseroan juga berencana dapat membuka 20 outlet POC dan lima laboratorium rumah
sakit baru setiap tahun.
Perseroan memulai operasi atas laboratorium rujukan regional pertamanya di Surabaya pada bulan Juli
2016. Perseroan berencana membuka tiga laboratorium rujukan regional tambahan di Medan, Makassar
dan Semarang. Perseroan membuka laboratorium rujukan di Surabaya dan Medan dengan pertimbangan
Surabaya dan Medan adalah kota terbesar kedua dan ketiga di Indonesia setelah Jakarta. Makassar dan
Semarang akan menjadi hub regional masing-masing untuk bagian timur Indonesia dan bagian tengah
Pulau Jawa, dan akan membantu Perseroan agar dapat memberikan pelayanan lebih baik di daerahdaerah tersebut, termasuk mengurangi kendala logistik dalam pengiriman spesimen dan/atau sampel
dari area-area tersebut ke Jakarta.
152
Perseroan juga berencana untuk membuka sampai dengan 33 laboratorium klinik baru di seluruh
Indonesia. Perseroan telah membuka laboratorium klinik di sebagian besar kota-kota tier pertama dan
kedua yang mewakili 30 dari 34 propinsi di Indonesia. Perseroan juga berencana meningkatkan jumlah
klinik di kota-kota yang telah ada saat ini seperti di Jakarta, yang memiliki potensi pertumbuhan yang
menarik. Perseroan bermaksud membuka laboratorium klinik baru ini di daerah-daerah yang belum
dilayani oleh Perseroan atau belum mendapatkan pelayanan yang cukup dari para pesaing Perseroan,
seperti Papua Barat, Papua, Kalimantan Utara dan Bengkulu.
Pada saat Perseroan memasuki pasar baru dengan membuka laboratorium klinik baru, Perseroan
melakukan studi kelayakan dan berusaha memperoleh tempat yang memadai untuk mendukung kebutuhan
Perseroan saat ini serta pertumbuhan potensial di masa mendatang. Sementara itu, seiring dengan
berkembangnya pasar-pasar tertentu dari waktu ke waktu, beberapa laboratorium klinik Perseroan
menjadi kurang memadai untuk melayani pasar di daerah tersebut dan memanfaatkan potensi peluang
pertumbuhan di masa depan. Perseroan telah mengidentifikasi 24 laboratorium klinik untuk dilakukan
renovasi/relokasi untuk meningkatkan nilainya di masa mendatang. Di beberapa lokasi, Perseroan dapat
memperluas laboratorium klinik ke tempat yang berdekatan, namun, untuk sebagian besar laboratorium
klinik Perseroan, ekspansi akan dilakukan dengan cara relokasi ke tempat yang lebih luas. Perseroan
telah membuka laboratorium rujukan regional yang pertama di Surabaya pada bulan Juli 2016 dan sedang
mempersiapkan pembukaan laboratorium rujukan regional di Medan dan Makassar. Laboratorium rujukan
regional di Makassar diperkirakan akan dibuka di kuartal terakhir tahun 2016. Perseroan telah dapat
mengidentifikasi lokasi di Pulau Jawa (Wilayah III sampai dengan VI) untuk laboratorium klinik baru.
Perseroan juga berharap dapat membuka sampai dengan 20 outlet POC baru dan sampai dengan lima
laboratorium rumah sakit baru setiap tahun. Sebelum membuka outlet POC atau laboratorium rumah
sakit, Perseroan melakukan studi kelayakan, termasuk menentukan apakah pendapatan yang diharapkan
dan biaya yang akan timbul mendukung keputusan untuk melanjutkan rencana pembukaan POC atau
laboratorium. Dalam kasus tertentu, Perseroan tidak melanjutkan beberapa proposal tertentu karena
tidak memenuhi persyaratan Perseroan.
Perseroan juga akan terus menjajaki dan mempertimbangkan peluang akuisisi sebagai sarana untuk
mengembangkan jejaring laboratorium. Perseroan berkeyakinan bahwa industri laboratorium klinik di
Indonesia sangat terfragmentasi dengan peluang untuk konsolidasi. Perseroan akan mempertimbangkan
peluang-peluang dengan valuasi yang menarik dan memiliki ruang untuk dilakukan perbaikan operasional.
9.7.
Pemeriksaan dan Layanan Perseroan
Melalui jejaring nasional, Perseroan menawarkan kepada pelanggannya sekitar 500 menu pemeriksaan,
serta layanan medik lainnya yang meliputi berbagai spesialisasi dan disiplin ilmu. Perseroan yakin
bahwa Perseroan memiliki ragam pemeriksaan yang komprehensif dibandingkan dengan laboratorium
klinik lain di Indonesia. Perseroan juga berusaha menjadi laboratorium pertama di Indonesia yang
dapat menawarkan layanan laboratorium untuk precision medicine (pengobatan yang lebih tepat sasaran
kepada individu atau kelompok individu yang memiliki kesamaan secara genomik) dalam rangkaian
yang lengkap, meliputi analisis genomik, proteomik dan metabolomika.
Perseroan telah menandatangani perjanjian dengan NUH Laboratories dan Quest. Berdasarkan
perjanjian tersebut, Perseroan menikmati tarif preferensial untuk sekitar 3.000 pemeriksaan dan layanan
laboratorium klinik. Pemeriksaan-pemeriksaan ini jarang diminta di Indonesia, sehingga Perseroan
percaya bahwa mengalihdayakan (outsource) pemeriksaan tersebut ke laboratorium internasional lebih
efisien dari segi biaya dibandingkan melakukannya di laboratorium Perseroan.
Perjanjian-perjanjian ini mendukung Perseroan menjadi pemain terdepan dalam menyediakan layanan
rujukan internasional untuk pemeriksaan khusus di Indonesia. Sebagai contoh, pengiriman spesimen
dan/atau sampel secara internasional adalah suatu proses rumit yang membutuhkan keahlian dan
pengalaman. Oleh karena itu, laboratorium klinik lain di Indonesia, termasuk laboratorium klinik
saingan Perseroan di pasar lokal, tidak memiliki keahlian atau koneksi internasional untuk menangani
pengiriman spesimen secara internasional. Sebaliknya, mereka akan merujuk spesimen dan/atau sampel
153
kepada Perseroan untuk selanjutnya dirujuk ke laboratorium internasional. Sebagai tambahan, apabila
volume pemeriksaan yang diminta tidak memenuhi batasan volume tertentu untuk Perseroan melakukan
pemeriksaan secara menguntungkan, Perseroan dapat merujuk pemeriksaan-pemeriksaan tersebut ke
laboratorium lain di Indonesia. Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, Perseroan merujuk
sekitar 15.000 tes dari total pemeriksaan Perseroan sebanyak 14 juta tes.
Layanan Perseroan umumnya terbagi dalam tiga kategori: pemeriksaan rutin, pemeriksaan esoterik dan
pemeriksaan non-laboratorium.
Tabel di bawah ini menyajikan jumlah pemeriksaan untuk masing-masing kategori untuk tahun yang
berakhir pada 31 Desember 2011, 2012, 2013, 2014, dan 2015 serta periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016:
Rutin
Esoterik
Non-laboratorium
Jumlah
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011
2012
2013
2014
2015
11.978.494 12.237.181 12.528.389 12.486.246 12.554.992
309.051
311.982
336.319
370.255
423.691
813.418
838.527
817.280
872.883
994.375
13.100.963 13.387.689 13.681.988 13.729.384 13.973.058
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni
2015
2016
6.116.857
6.299.732
213.760
231.618
442.108
424.896
6.772.725
6.956.246
Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015 dan periode enam bulan
yang berakhir pada 30 Juni 2015 dan 2016, pemeriksaan laboratorium membukukan masing-masing
sebesar 93,8%, 93,7%, 90,3%, 90,3%, 90,3%, 91,1% dan 92,2% dari pendapatan – bersih Perseroan.
Di samping layanan laboratorium yang ditawarkan kepada para pelanggan, Perseroan juga mampu
melakukan pemeriksaan lain untuk tujuan penelitian ilmiah. Per 30 Juni 2016, Perseroan dapat melakukan
kurang lebih 375 pemeriksaan lain yang belum ditawarkan kepada pelanggan Perseroan sebagai bagian
dari riset dan pengembangan Perseroan dan untuk keperluan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh
dokter dan ilmuwan. Beberapa pemeriksaan ini mungkin belum divalidasi sepenuhnya di Indonesia
dan oleh karena itu belum siap untuk dikomersialisasi. Namun demikian, Perseroan percaya, dengan
menawarkan pemeriksaan-pemeriksaan untuk mendukung penelitian yang dilakukan oleh dokter dan
ilmuwan, Perseroan membangun hubungan jangka panjang dengan dokter dan pelanggan potensial
dan terus mempelopori ilmu laboratorium klinik di Indonesia. Perseroan juga berkeyakinan bahwa
kolaborasi ini dapat membantu Perseroan mengembangkan pemeriksaan baru yang dapat ditawarkan
kepada para pelanggan di masa depan.
Pemeriksaan Rutin
Perseroan pada umumnya melakukan pemeriksaan rutin pada seluruh darah, serum, plasma, dan cairan
tubuh lain, dan spesimen seperti sampel mikrobiologi. Pemeriksaan-pemeriksaan ini mengukur berbagai
parameter penting mengenai kesehatan tubuh seperti fungsi ginjal, jantung, hati, kelenjar tiroid dan
organ-organ lain. Perseroan melakukan sebagian besar pemeriksaan rutin serta melaporkan hasilnya
menggunakan berbagai instrumen pengujian yang canggih dan komputerisasi. Saat ini, Perseroan
melakukan kurang lebih 214 pemeriksaan rutin. Pemeriksaan rutin yang umum dipesan meliputi:
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
profil lipid;
hematologi;
fungsi ginjal;
hepatitis serologic marker;
fungsi hati;
panel tiroid;
panel endokrinologi;
glukosa, HbA1c;
urinalisis; dan
tes koagulasi.
154
Seluruh laboratorium klinik Perseroan dapat melakukan pemeriksaan rutin. Laboratorium klinik
Perseroan umumnya membutuhkan dua sampai empat jam untuk menyelesaikan pemeriksaan rutin.
Pemeriksaan Esoterik
Pemeriksaan esoterik adalah pemeriksaan laboratorium klinik yang khusus dan jarang diresepkan oleh
dokter. Pemeriksaan-pemeriksaan ini umumnya dilakukan oleh tenaga ahli dan lebih membutuhkan
teknologi canggih, peralatan dan material dibandingkan pemeriksaan rutin. Dari segi efisiensi biaya
dan infrastruktur, tidak praktis bagi sebagian besar rumah sakit, klinik atau laboratorium klinik
milik dokter untuk mengembangkan dan melakukan beragam pemeriksaan esoterik atau melakukan
pemeriksaan esoterik di tempat dalam volume kecil. Sebagai hasilnya, pemeriksaan-pemeriksaan ini
seringkali dirujuk oleh penyedia pelayanan kesehatan ke laboratorium independen seperti Perseroan,
yang memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan lebih kompeks. Seluruh pemeriksaan esoterik
Perseroan saat ini dilakukan di Lab PRN.
Perseroan saat ini melakukan sekitar 130 pemeriksaan esoterik dengan pemeriksaan esoterik yang
umum dipesan meliputi:
•
•
•
•
•
•
•
•
panel nutrisi;
pemeriksaan trace element (logam);
pemeriksaan vitamin D;
pemeriksaan molekuler-penyakit menular;
pemeriksaan molekuler-genetik;
panel osteoporosis;
panel TORCH; dan
panel autoimun.
Perseroan telah menjadi pelopor dalam memperkenalkan banyak pemeriksaan dan teknologi laboratorium
klinik di Indonesia. Saat ini, Perseroan sedang berinvestasi dalam layanan precision medicine dan
meningkatkan kemampuannya untuk menawarkan layanan tersebut. Perseroan selalu berada pada garis
terdepan dalam memperkenalkan teknologi ini di Indonesia dan Perseroan berharap dapat menjadi
penyedia layanan laboratorium pertama di Indonesia yang menawarkan layanan precision medicine
dalam rangkaian lengkap. Perseroan memiliki landasan kokoh untuk menawarkan layanan precision
medicine di laboratorium klinik yang ada saat ini dengan berfokus pada, antara lain, diagnostik molekuler
canggih, kromatografi-spektrometri massa, patologi anatomi dan imunologi dan flowsitometri.
Sebagai pelopor pemeriksaan laboratorium klinik di Indonesia, Perseroan telah memperkenalkan
sejumlah pemeriksaan baru di Indonesia. Pemeriksaan-pemeriksaan ini biasanya bermula sebagai
pemeriksaan esoterik yang hanya dapat dilakukan oleh Lab PRN sementara Perseroan mengedukasi
para dokter di seluruh Indonesia mengenai penggunaan dan manfaat klinik dari pemeriksaan baru ini.
Seiring dengan pasar yang mulai mengadopsi pemeriksaan baru ini dan kenaikan volume, Perseroan
akan mempertimbangkan pemeriksaan yang awalnya merupakan pemeriksaan esoterik untuk menjadi
pemeriksaan rutin. Dengan berkembangnya pemeriksaan esoterik menjadi pemeriksaan rutin, Perseroan
akan berusaha melengkapi laboratorium klinik Perseroan dengan peralatan yang memadai agar mampu
melaksanakan pemeriksaan-pemeriksaan ini sehingga pemeriksaan tidak hanya dapat dilakukan di Lab
PRN. Sebagai contoh, Perseroan memperkenalkan pemeriksaan APO B, yang merupakan pemeriksaan
profil lipid baru di tahun 1980 dan dilakukan secara eksklusif di Lab PRN. Namun demikian, di awal
tahun 2000, pemeriksaan tersebut sering dipesan sehingga Perseroan saat ini melakukan pemeriksaan
profil lipid di Lab PRN serta 128 laboratorium klinik dan enam laboratorium rumah sakit. Biasanya
diperlukan waktu antara dua sampai empat jam untuk menyelesaikan pemeriksaan esoterik. Pemeriksaan
esoterik biasanya membutuhkan waktu dua sampai empat jam untuk diselesaikan.
155
Pemeriksaan Non-laboratorium
Beberapa laboratorium klinik Perseroan menawarkan pemeriksaan non-laboratorium disamping
serangkaian pemeriksaan laboratorium klinik. Layanan ini terutama digunakan oleh pelanggan korporasi
yang menggunakan fasilitas Perseroan untuk melakukan tes kesehatan bagi karyawannya. Tabel di
bawah ini menyajikan jumlah laboratorium klinik yang menawarkan pemeriksaan non-laboratorium
per 30 Juni 2016:
Jumlah laboratorium klinik
116
82
43
45
51
35
Elektrokardiogram
Rontgen
Audiometri
Spirometri
Ultrasonografi
Pemeriksaan treadmill
9.8.
Logistik dan Prosedur
Logistik dan Pemantauan Spesimen
Indonesia adalah suatu negara kepulauan yang besar sehingga logistik dan transportasi spesimen
yang tepat waktu dan andal serta pelacakan pengirimannya menjadi penting bagi kegiatan operasional
Perseroan. Perseroan terus berusaha meningkatkan kemampuannya untuk mengumpulkan, mengantarkan
dan memantau pengiriman spesimen dan/atau sampel dari pasien ke lokasi laboratorium Perseroan
secara tepat waktu. Penggunaan sistem logistik dapat memantau pengiriman spesimen dan/atau sampel,
sehingga penyimpanan dan pengolahan spesimen dan/atau sampel dapat dilakukan secara tepat waktu.
Perseroan telah mengelola jejaringnya menjadi model “hub dan spoke”, dimana spesimen dikumpulkan
dari beberapa lokasi dalam satu daerah untuk pengiriman ke sebuah laboratorium klinik untuk
pemeriksaan laboratorium klinik yang terpusat. Spesimen dikumpulkan di laboratorium klinik dan outlet
POC Perseroan. Setelah dikumpulkan, spesimen dikirim ke laboratorium yang mampu memproses tes
yang diminta, baik oleh laboratorium klinik terdekat atau Lab PRN untuk pemeriksaan esoterik dan
pemeriksaan rutin yang tidak dapat dilakukan di laboratorium klinik.
Outlet Perseroan di setiap daerah terhubung melalui suatu ekosistem logistik yang terdiri dari tim
transportasi Perseroan dan kurir pihak ketiga. Untuk pengiriman di dalam kota dan jarak pendek,
Perseroan biasanya menggunakan tim transportasi sendiri yang membawa spesimen dalam tas pendingin.
Pengiriman antar kota biasanya dilakukan melalui kurir kargo udara pihak ketiga dan spesimen dibawa
menggunakan kotak styrofoam yang didinginkan dengan dry ice yang disediakan oleh Perseroan.
Perseroan meninjau kinerja penyedia transportasi pihak ketiga dengan standar internasional setiap enam
bulan dan melakukan pertemuan evaluasi berkala untuk memastikan bahwa kurir tersebut memenuhi
standar kinerja Perseroan.
Perseroan telah menerapkan prosedur guna menjamin pengiriman spesimen dan/atau sampel tepat pada
waktunya. Pada saat paket spesimen dan/atau sampel sampai di Lab PRN, staf penerima memeriksa
kesesuaian spesimen dan/atau sampel dengan informasi yang terdapat pada dokumen pengiriman.
Dokumen pengiriman tersebut kemudian di-scan dan diunggah ke sistem komputer Perseroan agar
laboratorium pengirim dapat mengkonfirmasi bahwa spesimen dan/atau sampel telah diterima oleh
Lab PRN.
Perseroan memiliki petugas khusus untuk memantau efisiensi pengiriman harian dari seluruh lokasi dan
mencatat status pengiriman sejak pengiriman oleh laboratorium pengirim sampai dengan diterimanya
spesimen dan/atau sampel pada laboratorium penerima. Perseroan menggunakan informasi pemantauan
ini sebagai bahan evaluasi penggunaan jasa transportasi yang ditunjuk.
Spesimen dikirim dalam kondisi suhu terkontrol. Perseroan mengirimkan spesimen dan/atau sampel
menggunakan kotak sesuai dengan prosedur standar yang dipantau oleh bagian technical quality
assurance yang berada di kantor pusat Perseroan. Temperatur dipertahankan pada suhu dua sampai
156
dengan delapan derajat Celsius atau pada suhu beku (menggunakan dry ice) untuk memastikan bahwa
spesimen dan/atau sampel tetap stabil selama 48 jam. Untuk menjamin stabilitas dan integritas spesimen
dan/atau sampel, prosedur operasional standar Perseroan mewajibkan orang yang bertanggung jawab
atas pengiriman mengukur suhu sebelum pengiriman dan pada saat kedatangan. Orang tersebut juga
mencatat kondisi spesimen dan/atau sampel pada saat kedatangan.
Perseroan menyimpan spesimen cadangan untuk setiap spesimen dan/atau sampel yang diambil dari
pelanggan. Spesimen dan/atau sampel cadangan ini akan digunakan dalam hal terjadi kehilangan atau
kerusakan spesimen dan/atau sampel selama dalam perjalanan. Perseroan menyimpan sampel ini selama
satu bulan setelah pengujian.
Prosedur Pemeriksaan dan Pelaporan
Untuk laboratorium klinik, alur operasional Perseroan umumnya dimulai pada saat pelanggan mendatangi
salah satu laboratorium klinik Perseroan. Pelanggan individu pertama-tama melakukan registrasi di
meja pendaftaran, yang selanjutnya akan merujuk mereka kepada salah satu dokter di bagian layanan
pelanggan untuk konsultasi awal dan mendapatkan rujukan “in-house”. Pelanggan yang memiliki rujukan
dokter pertama-tama mendaftar di meja pendaftaran dan menyampaikan surat permintaan pemeriksaan
yang disiapkan oleh dokter yang menentukan tes yang diminta. Klien korporasi memberikan surat
permintaan pemeriksaan yang telah disediakan oleh perusahaan yang membayar pemeriksaan. Perseroan
menerima pembayaran dalam bentuk tunai dimuka maupun kartu kredit baik dari pelanggan individu
maupun pelanggan dengan referensi dokter.
Pelanggan kemudian diarahkan ke area pengambilan spesimen di laboratorium Perseroan, dimana
flebotomist mencocokan identitas pelanggan dengan label identifikasi khusus dan barcode yang tertera
pada tabung vakum. Flebotomist kemudian mengambil spesimen dari pelanggan dan mengirimnya ke
bagian distribusi spesimen dan/atau sampel dari laboratorium untuk pemeriksaan kualitas.
Untuk spesimen yang diterima dari rumah sakit, laboratorium atau klinik lain, bagian layanan pelanggan
menerima spesimen, memasukkan informasi identifikasi dan mengirimkannya langsung ke bagian
distribusi spesimen dan/atau sampel. Bagian distribusi spesimen dan/atau sampel kemudian memeriksa
spesimen untuk integritas, volume, kelayakan dan indeks lipemik, dan segera setelahnya diproses dalam
sebuah sentrifuge untuk dibagi menjadi beberapa bagian dan didistribusikan ke bagian teknis. Apabila
kualitas spesimen tidak memenuhi standar Perseroan, spesimen dikembalikan ke bagian flebotomist dan
pelanggan akan dipanggil kembali ke outlet Perseroan untuk pengambilan spesimen dan/atau sampel baru.
Pemeriksaan adalah suatu proses yang terotomasi dengan menggunakan peralatan pemeriksaan khusus.
Peralatan pengujian Perseroan membaca barcode sampel dan menyimpan informasi tersebut di dalam
sistem manajemen informasi laboratorium Perseroan, yaitu Sistem Informasi Prodia (“SISPRO”).
Peralatan laboratorium analitik memproses sample secara otomatis dan mengunggah hasilnya ke SISPRO
sesuai barcode yang relevan. Nilai-nilai pemeriksaan dari bagian laboratorium yang berbeda kemudian
digabung di dalam sistem Perseroan agar menjadi satu laporan pemeriksaan. Apabila terdapat nilai di
luar rentang batas dan dalam rentang “perlu perhatian khusus”, nilai akan ditampilkan dalam warna yang
berbeda dan ditandai untuk segera ditindaklanjuti oleh dokter maupun pelanggan. Pada bagian validasi
kualitas, validator dapat memilih hasil-hasil tertentu untuk pemeriksaan ulang, seperti, misalnya, ketika
hasil pemeriksaan menyatakan positif untuk thalassemia, yang merupakan penyakit kelainan darah
turunan, atau pemeriksaan dengan nilai tinggi atau rendah yang tidak normal atau hasil yang tidak pasti.
Setelah hasil pemeriksaan diunggah, pelanggan, rumah sakit atau dokter yang memberikan rujukan,
perusahaan dan pihak lain yang berkepentingan memiliki akses online ke laporan pemeriksaan. Hasil
tersebut juga tersedia untuk dicetak dan dikirim ke alamat pihak-pihak yang meminta.
Untuk memfasilitasi pemeriksaan tambahan, Perseroan dapat menyimpan spesimen-spesimen tertentu
selama jangka waktu tertentu, sesuai dengan prosedur operasional standar Perseroan. Berdasarkan
perjanjian pengelolaan limbah dengan pihak ketiga yang memiliki izin, spesimen dibuang melalui
suatu sistem pengelolaan limbah yang memenuhi peraturan lingkungan, kesehatan dan keselamatan
yang berlaku.
157
Perseroan berupaya untuk memberikan hasil pemeriksaan rutin pada hari yang sama. Waktu untuk
menyelesaikan pemeriksaan esoterik, dikarenakan logistik pengiriman spesimen ke Lab PRN, umumnya
adalah pada hari yang sama atau hari berikutnya.
Quality Assurance
Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan memiliki salah satu program quality assurance paling ketat
untuk laboratorium di Indonesia. Perseroan berfokus untuk memastikan keselamatan dan keakuratan
setiap pemeriksaan. Tim quality assurance yang beranggotakan 20 orang di kantor pusat dan lebih
dari 200 orang di seluruh jejaring Perseroan dipimpin oleh seorang manajer teknis yang membantu
Perseroan untuk memenuhi standar kualitas, ketentuan akreditasi dan kebutuhan pelatihan karyawan
Perseroan dan secara umum mengawasi proses quality assurance. Di samping inspeksi eksternal
elektif yang wajib dan program uji profisiensi yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, Perseroan telah mengadopsi pedoman-pedoman internasional, seperti pedoman-pedoman
Clinical Laboratory Standard Institute (“CLIA”), CAP dan ISO 15189 dan mengambil program dan
pengujian quality assurance internal secara berkala. Laboratorium klinik Perseroan dan fasilitas-fasilitas
lain didesain untuk meningkatkan proses pengumpulan, penanganan, penyimpanan dan pengiriman
spesimen pelanggan, serta untuk menjamin hasil tes yang akurat dan tepat waktu dan lingkungan kerja
yang nyaman bagi karyawan Perseroan secara keseluruhan. Upaya-upaya quality assurance Perseroan
berfokus pada identifikasi spesimen pasien yang positif, keakuratan laporan, uji profisiensi, rentang batas
yang relevan dan proses audit untuk seluruh laboratorium klinik Perseroan, pusat layanan pelanggan
dan tempat-tempat pengambilan.
Untuk menjamin konsistensi dari layanan pemeriksaan yang berkualitas tinggi, Perseroan menerapkan
proses quality assurance dalam tiga tahapan yang meliputi tahap pra-analitik, analitik, dan pasca-analitik.
Pada tahap pra-analitik (pendaftaran dan pengambilan spesimen), Perseroan memverifikasi seluruh
prosedur melalui program Audit Keselamatan Pasien dan memastikan bahwa Perseroan menggunakan
prosedur pengiriman spesimen yang benar dan jenis tabung pemeriksaan yang tepat melalui aplikasi
SISPRO. Satu tim ditugaskan khusus untuk mereviu spesimen, pelabelan dan tabung pemeriksaan,
memeriksa volume spesimen dan mengidentifikasi ikterus atau lipemik dalam spesimen. Pada tahap
analitik (pemeriksaan sampel), Perseroan secara konsisten berfokus pada kalibrasi dan pemeliharaan
instrumen, dan Perseroan melakukan kurang lebih 119 program quality assurance terintegrasi, baik
secara internal maupun eksternal, melalui kerjasama dengan penyedia quality assurance berkualifikasi
baik. Program quality assurance internal dilakukan setiap hari. Perseroan menggunakan sistem operasi
yang menghubungkan sistem informasi laboratorium dengan instrumen, maka dapat menghilangkan
risiko data dan hasil yang tidak cocok. Hasil pemeriksaan juga dianalisa dalam beberapa tahapan oleh
analis, pengawas laboratorium dan validator quality control. Pada tahap pasca-analitik, data pemeriksaan
akhir direviu oleh tim khusus untuk pengendalian hasil akhir, dan staf Perseroan akan memeriksa data
mereka dan memverifikasi apakah data yang disampaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan.
Pihak yang bertanggung jawab untuk pengendalian mutu pada masing-masing laboratorium klinik
adalah penanggung jawab teknis yang sekurang-kurangnya seorang dokter dengan sertifikat pelatihan
teknis dan manajemen laboratorium kesehatan. Selain itu, analis, pengawas laboratorium dan validator
quality control yang terlibat dalam proses quality assurance wajib memiliki kompetensi khusus untuk
melakukan intepretasi hasil pemeriksaan.
Banyak laboratorium klinik Perseroan yang berpartisipasi dalam berbagai program uji profisiensi/
program quality assurance eksternal yang diberikan oleh pihak luar. Perseroan adalah laboratorium
yang terakreditasi CAP satu-satunya di Indonesia. CAP adalah asosiasi terbesar di dunia yang menaungi
secara eksklusif ahli patologi bersertifikat. CAP adalah organisasi non-pemerintah independen untuk
ahli patologi bersertifikat di Amerika Serikat yang menawarkan program akreditasi yang dapat diikuti
laboratorium-laboratorium secara sukarela. CAP telah dianggap secara luas sebagai pemimpin dalam
quality assurance laboratorium dan pendukung layanan pengobatan berkualitas tinggi yang hemat biaya.
Program PT/EQA dari CAP adalah program perbandingan laboratorium sejenis terbesar di dunia. Program
ini memungkinkan laboratorium-laboratorium untuk mengevaluasi kinerja mereka secara berkala dan
meningkatkan akurasi hasil pemeriksaan yang disediakan bagi pelanggan.
158
Laboratorium klinik Perseroan telah mengambil sebanyak 57, 99, 74, 83 dan 79 uji profisiensi/
skema quality assurance eksternal masing-masing pada tahun 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015, di
bawah program quality assurance layanan eksternal yang diselenggarakan oleh sejumlah institusi
dan organisasi. Perseroan adalah klinik satu-satunya di Indonesia dengan sertifikasi dari NGSP untuk
HbA1c dengan memberikan klinik Perseroan sertifikasi laboratorium Level I, yang merupakan tingkat
pencapaian tertinggi untuk kualitas. Selain itu, 22 laboratorium klinik Perseroan menerima nilai pada
tier tertinggi dalam pemeriksaan HbA1c dari External Quality Assurance Services (EQAS). Sebanyak
70 laboratorium klinik Perseroan menerima nilai pada tier tertinggi dalam survei quality assurance
eksternal oleh Biorad, penyedia layanan pemantauan laboratorium independen di Amerika Serikat.
Program lain yang diikuti Perseroan meliputi program-program di bawah Randox International Quality
Assessment Schemes, laboratorium independen dari Inggris, Vitamin D External Quality Assessment
Scheme, skema pengujian laboratorium independen dari Amerika Serikat, program-program dari Royal
College of Australian Pathologists, laboratorium independen dari Amerika Serikat, pengujian autoimun
oleh Euroimun, Evaluasi Laboratorium Medik dalam bidang Mikrobiologi, sebuah layanan uji profisiensi
yang disediakan oleh CAP, dan program pengujian Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Selain itu, 25 laboratorium Perseroan telah menerima International Organization for Standardization
atau ISO 15189 untuk sistem mutu, yang merupakan sertifikasi khusus untuk laboratorium medik.
Enam laboratorium dan 10 kantor administratif Perseroan telah memperoleh ISO 9001:2008 untuk
sistem manajemen mutu. Meskipun Perseroan telah menerapkan standar kendali mutu setingkat ISO
di seluruh laboratorium dan fasilitas Perseroan, Perseroan berencana menambah jumlah laboratorium
yang melakukan proses sertifikasi setiap tahun. Lab PRN juga telah memperoleh ISO 17025 untuk
laboratorium kalibrasi. Perseroan adalah grup laboratorium klinik pertama di Indonesia yang memperoleh
ketiga sertifikasi ISO tersebut. Sebagai bagian dari program quality assurance, Perseroan menggunakan
pengujian profisiensi internal, pengendalian mutu yang ekstensif dan proses audit yang ketat untuk
layanan informasi laboratorium klinik Perseroan. Prosedur Perseroan meliputi program pengendalian
mutu harian dimana Perseroan menguji nilai-nilai yang telah diketahui dari materi sampel kendali
mutu internal atau pihak ketiga berbarengan dengan sampel pelanggan untuk memastikan keakuratan
dan konsistensi hasil pemeriksaan Perseroan. Hasil pemeriksaan dari sampel kendali mutu dipantau
untuk mengidentifikasi tren, bias atau ketidaktepatan dalam proses analisis Perseroan. Prosedur ini
memungkinkan Perseroan memantau perbedaan analisis yang signifikan dari segi statistik dan prosedur
klinik setiap saat dan ahli teknologi medik Perseroan dapat mengambil tindakan perbaikan yang tepat
dengan segera sebelum melaporkan hasil pemeriksaan pelanggan.
Perseroan telah melakukan sebanyak 22, 33 dan 34 program uji profisiensi internal masing-masing
pada tahun 2013, 2014 dan 2015 untuk klinik kimia, hematologi, urinalisis, immunoassay, serologi,
mikrobiologi dan mikroskopik. Setiap bagian dari peralatan laboratorium diuji secara teratur. Perseroan
menentukan jadwal pengujian yang tepat dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti jenis pengujian
yang relevan beserta kompleksitasnya, rekomendasi jadwal dari program quality assurance eksternal,
rekomendasi manufaktur peralatan dan ketersediaan sampel kendali mutu. Perseroan menggunakan
Six Sigma Metric System pada saat merancang dan menetapkan program pengendalian mutu untuk
pemeriksaan rutin, seperti pemeriksaan kimia rutin, hematologi dan immunoassay. Ketika frekuensi
program quality assurance tidak mengikuti aturan dari CLIA atau CAP, Perseroan merencanakan
pengendalian kualitas yang terpisah untuk mendesain pengendalian mutu dan program uji assurance.
Perseroan telah mencapai peningkatan nilai dalam program quality assurance internal maupun
eksternal dengan nilai secara keseluruhan, yaitu 96,5%, 97,3% dan 98,9% untuk program internal, dan
95,9%, 96,9% 98,9% untuk program eksternal, masing-masing pada tahun 2013, 2014 dan 2015, yang
menunjukkan kenaikan dalam akurasi hasil diagnostik Perseroan terhadap sampel-sampel pemeriksaan.
Pengendalian mutu juga meliputi aspek-aspek lain dari layanan Perseroan, termasuk waktu selesai
suatu pemeriksaan, kepuasan pelanggan dan penagihan. Dengan menggunakan teknik penilaian mutu,
laboratorium Perseroan memiliki berbagai program untuk memantau aspek-aspek penting dari layanan
kepada para pelanggan. Penggunaan teknologi logistik dan pelacakan spesimen memungkinkan
pengiriman, pemantauan, validasi dan penyimpanan spesimen secara tepat waktu. Perseroan bermaksud
untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengambil, mengirim dan melacak spesimen secara tepat
waktu dari pelanggan dan antar laboratorium dan pusat pelayanan Perseroan.
159
9.9.
Laboratorium Kalibrasi
Akurasi peralatan yang digunakan untuk pemeriksaan merupakan bagian penting agar dapat memberikan
hasil pengujian yang tepat. Oleh karena itu, Perseroan telah mendirikan laboratorium kalibrasi internal
sehingga Perseroan dapat menguji peralatan pendukung laboratorium miliknya dengan cepat dan efisien
dari segi biaya untuk memastikan peralatan tersebut sesuai dengan parameter yang dipersyaratkan.
Sebagai contoh, laboratorium kalibrasi Perseroan menguji termometer secara teratur guna memastikan
peralatan tersebut mengukur temperatur dengan benar. Hal ini memberikan jaminan bahwa Perseroan
menyimpan spesimen dan/atau sampel dengan benar dan mengurangi kerusakan spesimen. Perseroan
mengkalibrasi seluruh alat-alat pendukung, seperti volume peralatan laboratorium yang terbuat dari
kaca dan kecepatan pada tachometer sentrifuge. Kalibrasi umumnya dilakukan sekali dalam setahun.
Perseroan telah menambah kapasitas dari laboratorium kalibrasi dari 538 peralatan pada tahun 2013
menjadi 2.631 pada tahun 2014 dan 3.756 pada tahun 2015, dan jenis peralatan yang dapat diuji telah
bertambah banyak dengan menambahkan termometer, thermohygrometer dan tachometer pada tahun
2015 dari micropipette, glassware dan sphygmomanometer pada tahun 2013.
Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan adalah satu-satunya laboratorium klinik di Indonesia yang
memiliki laboratorium kalibrasi. Keuntungan yang diperoleh dari memiliki atau mengelola laboratorium
kalibrasi milik sendiri adalah Perseroan tidak tergantung pada laboratorium kalibrasi pihak ketiga,
sehingga kalibrasi peralatan dapat diselesaikan lebih cepat sesuai dengan jadwal pemakaian pada biaya
yang lebih rendah. Laboratorium kalibrasi Perseroan disertifikasi oleh Komite Akreditasi Nasional (badan
standarisasi nasional di Indonesia) dan memiliki sertifikasi ISO 17025 (untuk pengujian dan kalibrasi).
Perseroan menawarkan pelayanan kalibrasi gratis untuk beberapa pelanggan Perseroan, seperti rumah
sakit yang memberikan referensi pihak ketiga, sebagai layanan bernilai tambah.
9.10.
Pelanggan Perseroan
Perseroan melayani empat segmen pelanggan: (1) pelanggan individu; (2) referensi dokter; (3) referensi
pihak ketiga; dan (4) klien korporasi. Tabel di bawah ini menyajikan pendapatan Perseroan dari masingmasing segmen pelanggan untuk period-periode tertentu:
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011
2012
2013
2014
2015
253,0
302,1
341,9
358,6
410,1
245,6
292,9
325,0
374,5
399,0
121,7
148,1
166,7
179,2
196,6
127,2
150,3
164,4
188,7
192,0
747,5
893,4
998,0
1.101,0
1.197,7
(dalam miliar Rupiah)
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016
2015
2016
207,5
232,7
206,1
231,4
97,0
107,3
80,6
77,2
591,2
648,6
Pelanggan individu (1)
Referensi dokter (1)(2)
Referensi pihak ketiga
Klien korporasi (3)
Jumlah
Catatan:
(1) Pendapatan dari tujuh laboratorium rumah sakit dikelompokan dalam segmen pelanggan individu atau referensi dokter
sesuai dengan sumber rujukan pelanggan.
(2) Pendapatan dari 114 outlet POC termasuk dalam segmen referensi dokter.
(3) Perseroan memiliki perjanjian khusus untuk pemberian layanan dengan perusahaan-perusahaan dan penyedia asuransi.
Penyedia asuransi yang membayar pelanggan individu atau pelanggan dengan rujukan dokter dikelompokan dalam segmen
referensi pihak ketiga.
Tabel di bawah ini menyajikan jumlah kunjungan pasien dari setiap segmen pelanggan untuk periodeperiode tertentu:
Pelanggan individu
Referensi dokter
Referensi pihak ketiga
Klien korporasi
Jumlah
Umtuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2011
2012
2013
2014
2015
781.856
803.818 799.566
765.576
816.143
674.683
711.133 739.638
778.108
743.661
391.818
420.796 451.386
454.978
509.359
234.549
249.650 245.749
306.517
313.360
2.082.906 2.185.396 2.236.338 2.305.179 2.382.523
160
Untuk periode enam
bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016
2015
2016
415.793
432.486
388.245
405.384
249.538
243.394
129.653
110.325
1.183.229
1.191.589
Sekitar 20% dari pelanggan Perseroan masing-masing pada tahun 2013, 2014 dan 2015 adalah pelanggan
berulang, yang mendapatkan paling sedikit dua pemeriksaan dalam satu tahun. Pelanggan berulang
memberikan kontribusi terhadap pendapatan Perseroan masing-masing sebesar 19,9% pada tahun
2015, 19,6% pada tahun 2014, dan 20,0% pada tahun 2013. Untuk mendorong berulangnya kunjungan
pelanggan, Perseroan menawarkan Prodia Customer Club, yaitu program loyalitas yang memberikan
potongan harga dan layanan tambahan kepada pelangan dengan profil daya beli yang tinggi. Per 30 Juni
2016, program Prodia Customer Club mempunyai anggota kurang lebih 9.000 anggota Customer Club.
Pelanggan individu
Pelanggan individu yang mengunjungi salah satu laboratorium klinik Perseroan tanpa surat permintaan
pemeriksaan dari dokter, pertama-tama berkonsultasi dengan salah satu dokter di layanan pelanggan
untuk memperoleh surat permintaan pemeriksaan. Pelanggan individu dapat mengunjungi salah satu
laboratorium klinik Perseroan, dan Perseroan juga menawarkan jasa layanan flebotomi di rumah untuk
pelanggan yang tidak dapat mendatangi salah satu outlet Perseroan dengan biaya tambahan.
Perseroan menagih pelanggan sejumlah biaya untuk setiap pelayanan yang diberikan (fee for service)
dan sesuai dengan daftar harga untuk masing-masing jenis layanan laboratorium. Perseroan menerima
pembayaran tunai atau kartu kredit dari pelanggan sebelum pengambilan spesimen. Apabila pasien
memiliki asuransi kesehatan pribadi, mereka umumnya melakukan pembayaran tunai (out-of-pocket)
dan meminta penggantian dari penyedia asuransi.
Referensi dokter
Perseroan juga menawarkan pemeriksaan kepada pelanggan yang dirujuk untuk melakukan pemeriksaan
oleh dokter yang berkerja di klinik atau rumah sakit. Pasien-pasien ini mencakup pelanggan yang
dirujuk oleh dokter ke salah satu laboratorium Perseroan dan pelanggan yang dirujuk ke laboratorium
lain namun lebih memilih untuk menggunakan laboratorium Perseroan. Di Indonesia, pelanggan yang
diresepkan untuk melakukan pemeriksaan, tapi tidak diarahkan ke laboratorium Perseroan oleh penyedia
layanan kesehatan, dapat melakukan evaluasi and memilih penyedia yang berbeda. Perseroan secara
rutin memberikan informasi kepada dokter guna menyampaikan cakupan layanan laboratorium Perseroan
yang tersedia terutama penemuan terbaru di bidang pemeriksaan laboratorium klinik dan pemeriksaan
umum dalam rangka menunjang kegiatan secara ilmiah.
Perseroan menagih pelanggan sejumlah biaya untuk setiap pelayanan yang diberikan (fee for service)
dan sesuai dengan daftar harga untuk masing-masing jenis layanan laboratorium. Perseroan menerima
pembayaran tunai atau kartu kredit dari pelanggan sebelum pengambilan spesimen. Apabila pasien
memiliki asuransi kesehatan pribadi, mereka umumnya melakukan pembayaran tunai (out-of-pocket)
dan meminta penggantian dari penyedia asuransi.
Di laboratorium rumah sakit Perseroan, pelanggan rawat inap atau pelanggan rawat jalan dapat membayar
pemeriksaan yang diminta oleh dokter rumah sakit, langsung kepada Perseroan atau kepada rumah sakit
sebagai bagian dari keseluruhan biaya rumah sakit, dimana hal ini bergantung pada alur operasional
yang berlaku di rumah sakit yang bersangkutan. Sesuai kesepakatan dengan rumah sakit, pelanggan
dapat melakukan pembayaran langsung kepada Perseroan untuk pemeriksaan yang dilakukan Perseroan
atau pelanggan dapat membayar rumah sakit untuk pemeriksaan dan rumah sakit kemudian mengirimkan
pembayaran kepada Perseroan sesuai dengan bagiannya. Daftar harga layanan laboratorium rumah
sakit dinegosiasikan antara Perseroan dengan rumah sakit berdasarkan perjanjian Perseroan dengan
rumah sakit.
Referensi pihak ketiga
Perseroan menerima rujukan dari laboratorium, rumah sakit dan klinik lain. Pelanggan individu
maupun pelanggan dengan rujukan dokter masuk dalam kategori referensi pihak ketiga apabila
melakukan pembayaran dengan kartu keanggotaan asuransi. Penyedia layanan kesehatan lain merujuk
pemeriksaan kepada Perseroan karena mereka mungkin tidak dapat melakukan pemeriksaan tertentu
atau mengalihdayakan pemeriksaan kepada Perseroan daripada melakukannya sendiri dinilai lebih
161
efisien dari segi biaya. Selain itu, banyak penyedia pelayanan kesehatan merujuk pemeriksaan kepada
Perseroan untuk memberikan konfirmasi pihak ketiga atas pemeriksaan yang mereka lakukan sendiri.
Penyedia layanan kesehatan lain ini mengambil spesimen dari pelanggannya dan mengirimkan spesimen
tersebut kepada Perseroan untuk dilakukan pengujian. Perseroan umumnya menandatangani perjanjian
dengan laboratorium dan penyedia layanan kesehatan lain ini dimana diatur mengenai daftar harga
pemeriksaan oleh laboratorium klinik Perseroan. Perseroan kemudian menagih pelanggan, yang merujuk
pemeriksaan kepada Perseroan, untuk layanan Perseroan pada biaya yang disepakati dan pembayaran
wajib dilakukan dalam waktu 60 sampai 90 hari. Perseroan juga telah menandatangani perjanjian dengan
sejumlah kecil penyedia asuransi dan berdasarkan perjanjian ini, Perseroan dapat memberikan layanan
kepada pengguna asuransi tersebut dan menagihkan biayanya kepada asuransi.
Klien korporasi
Perseroan melayani institusi lain, meliputi karyawan perusahaan dan badan usaha milik negara.
Berdasarkan peraturan di Indonesia, seluruh karyawan berhak atas pemeriksaan kesehatan tahunan
yang diberikan oleh perusahaan mereka. Klien korporasi dapat memilih pemeriksaan tambahan seperti
hematologi, fungsi hati, fungsi ginjal, profil lipid, profil glukosa, asam urat, hepatitis b, pap smear,
prostat dan diagnosis kanker leher rahim, tes narkoba, pemeriksaan fisik dan elektrokardiogram. Sebagai
bagian dari paket ini, Perseroan dapat menyediakan konsultasi dengan karyawan sebelum dan setelah
pemeriksaan dan memberikan seminar seputar kesehatan. Perseroan juga memberikan laporan kepada
perusahaan dan konsultasi mengenai kondisi kesehatan pekerja mereka secara umum.
Perseroan menawarkan program pemeriksaan kesehatan yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan kepada
klien korporasi, seperti pemeriksaan kebugaran untuk pekerjaan tertentu. Perseroan memiliki perjanjian
dengan pihak-pihak terafiliasi dengan Perseroan, POHII, dimana POHII akan merujuk pelanggan untuk
pemeriksaan kesehatan kerja kepada Perseroan. Perseroan menagih langsung pelanggan korporasi untuk
pemeriksaan yang dilakukan dan membayar POHII sejumlah biaya manajemen.
Klien korporasi dan institusi lain biasanya menegosiasikan pengaturan biaya dengan Perseroan.
Perseroan menagih mereka secara berkala dan pembayaran jatuh tempo dalam waktu 60 sampai
dengan 90 hari. Pelanggan yang ditanggung oleh perusahaan asuransi dengan mana Perseroan memiliki
perjanjian diklasifikasikan sebagai klien korporasi, bahkan jika mereka memiliki rujukan dari dokter.
Untuk pemeriksaan kesehatan kerja, perusahaan pemberi kerja berhak merahasiakan informasi hasil
pemeriksaan dan tidak mengungkapkannya kepada calon karyawan mereka.
9.11.
Layanan Pelanggan
Perseroan berkeyakinan bahwa layanan pelanggan Perseroan adalah salah satu faktor pembeda dimana
Perseroan memberikan layanan berkualitas tinggi yang konsisten kepada pelanggan di seluruh jaringan
bermerek Prodia. Perseroan mencapai tingkatan layanan saat ini melalui pelatihan karyawan dan
protokol yang ketat yang disusun agar dapat menyediakan pengalaman berkualitas bagi pelanggan,
dari registrasi dan konsultasi dokter hingga penarikan spesimen dan penyampaian hasil pemeriksaan.
Hal ini termasuk proses pelayanan pelanggan yang efisien, lingkungan yang nyaman dan layanan
yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer-oriented services). Perseroan juga menawarkan
layanan pengambilan spesimen di rumah untuk dapat menjangkau pelanggan-pelanggan yang tidak
dapat datang ke laboratorium Perseroan. Pasien Perseroan, dokter dan penyedia pelayanan kesehatan
lainnya memiliki akses online terhadap hasil pemeriksaan secara real time yang dapat dilakukan dari
manapun melalui situs Perseroan maupun aplikasi ponsel. Selain itu Perseroan berencana menawarkan
layanan online untuk pemesanan pemeriksaan dan pembayaran, yang menjadikan kunjungan pelanggan
lebih nyaman. Perseroan berkeyakinan bahwa faktor-faktor ini memberikan kontribusi terhadap citra
merek Prodia yang kuat dan membantu dalam membangun loyalitas pelanggan.
9.12.
Penetapan Harga dan Biaya
Daftar harga untuk pelanggan Perseroan umumnya ditentukan oleh beberapa faktor. Pertimbangan
Perseroan meliputi inflasi, nilai tukar, standar hidup di pasar yang dilayani oleh outlet yang relevan
dan biaya logistik untuk beroperasi di pasar tersebut. Harga Perseroan tidak tunduk pada peraturan
pemerintah. Biaya pengiriman spesimen dan/atau sampel ke laboratorium klinik atau Lab PRN termasuk
162
dalam harga pemeriksaan. Dengan demikian, harga Perseroan di setiap daerah dapat berbeda. Sebagai
contoh, harga Perseroan di bagian timur Indonesia umumnya lebih mahal dibandingkan di Pulau Jawa,
tetapi harga pemeriksaan di seluruh Pulau Jawa umumnya tidak berbeda.
Tidak ada perbedaan harga untuk pelanggan individu dan pelanggan dengan referensi dokter. Namun,
daftar harga di outlet POC dinegosiasikan dengan dokter pemilik klinik. Daftar harga pada laboratorium
rumah sakit dinegosiasikan dengan rumah sakit dan diatur dalam suatu perjanjian dengan rumah sakit.
Untuk klien korporasi, mereka umumnya menerima potongan harga sesuai negosiasi, dikarenakan mereka
menanggung layanan untuk pelanggan dalam jumlah besar. Diskon yang diberikan oleh Perseroan sesuai
dengan kebijakan diskon yang berlaku.
9.13.
Penjualan dan Pemasaran
Berdasarkan Frost & Sullivan, Perseroan telah mengembangkan brand equity yang kuat di pasar dan
sangat dihormati serta dipercaya oleh pelanggan di antara laboratorium klinik independen. Upaya
pemasaran Perseroan dipimpin oleh tim pemasaran dari Jakarta dengan tenaga pemasaran dan petugas
LIS lebih dari 400 orang. Perseroan berfokus pada aktivitas pemasaran ilmiah maupun kegiatan
komunikasi pemasaran yang umum.
Kegiatan Pemasaran Ilmiah
Ketika kegiatan usaha laboratorium klinik dimulai sejak tahun 1973, pemeriksaan laboratorium dan
pembuktian berdasarkan praktik medik belum tersedia atau diadopsi secara luas oleh komunitas
kedokteran di Indonesia. Oleh karena itu, upaya pemasaran yang dilakukan oleh Perseroan selalu
menyertakan komponen pendidikan dalam porsi yang besar untuk berbagi pengetahuan dengan penyedia
layanan kesehatan dan masyarakat mengenai peralatan laboratorium klinik yang tersedia bagi mereka.
Alat pemasaran ilmiah utama Perseroan adalah seminar, diskusi meja bundar dan kegiatan promosi
lainnya seperti jurnal, bulletin dan publikasi ilmiah serta brosur informasi.
Perseroan rutin melakukan seminar pendidikan mengenai topik-topik yang relevan dengan kesehatan,
meliputi topik penemuan terbaru di bidang pemeriksaan laboratorium klinik dan kesehatan umum.
Perseroan mengadakan seminar untuk berbagai khalayak dari dokter, tenaga medik profesional hingga
masyarakat umum. Pada tahun 2015, Perseroan melakukan lebih dari 300 seminar untuk dokter dan
lebih dari 800 seminar untuk rumah sakit, klinik lain dan badan usaha, dan Perseroan mengorganisir
atau mensponsori lebih dari 400 acara, seperti konferensi, untuk organisasi-organisasi profesional.
Perseroan juga memiliki sejumlah kegiatan promosi lainnya yang berfokus pada pemasaran ilmiah.
Sebagai contoh, Perseroan menerbitkan sejumlah publikasi untuk dokter, penyedia layanan kesehatan
profesional dan masyarakat awam. Perseroan adalah editor dan penerbit Indonesian Biomedical Journal,
satu-satunya jurnal ilmiah dalam bidang biomedik. Perseroan juga menerbitkan dua buletin, “Forum
Diagnosticum”, Informasi Laboratorium, dan satu majalah gaya hidup, “Smart Living”. Pada tahun
2015, Perseroan melakukan lebih dari 17.000 kunjungan dokter untuk memperkenalkan pemeriksaan
baru dan memelihara hubungan baik.
Perseroan juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan promosi seperti melakukan eksibisi pada pameran
dan acara komunitas. Sebagai contoh, Perseroan telah berpartisipasi dalam pameran pernikahan untuk
memasarkan pemeriksaan kesehatan pra-nikah dan menyelenggarakan acara-acara di sekolah untuk
mempromosikan kesehatan umum dan kebugaran. Pada tahun 2015, Perseroan telah mendistribusikan
sebanyak 385.008 materi cetak kepada dokter, meningkat sebesar 27,4% dari 279.516 pada tahun 2014.
Perseroan mendistribusikan sebanyak 140.436 materi cetak di rumah sakit, klinik dan badan usaha pada
tahun 2015, meningkat sebesar 17,8% dari 115.438 pada tahun 2014. Perseroan mendistribusikan materi
cetak sejumlah 8.320.392 kepada anggota masyarakat pada tahun 2015, meningkat sebesar 32,9% dari
5.582.983 pada tahun 2014.
Untuk mempromosikan laboratorium klinik khusus, Perseroan melakukan diskusi meja bundar
dan seminar serta menyusun dan membuat brosur dan materi edukasi dengan tujuan mengedukasi
komunitas dan calon pelanggan mengenai isu-isu yang relevan dengan kesehatan mereka. Perseroan
juga bermitra dengan ikatan dokter anak dan perkumpulan obstetri dan ginekologi untuk melengkapi
163
kegiatan Perseroan. Selain itu, Perseroan bekerja sama dengan para ilmuwan untuk mengembangkan dan
memperkenalkan pemeriksaan baru dengan dukungan ahli teknologi medik. Sebagai contoh, Perseroan
telah mengembangkan pemeriksaan baru khusus untuk anak-anak seperti panel uji saring alergi bagi anakanak dan pemeriksaan progesteron 17-OH, yang merupakan pengukuran endokrinologi bagi anak-anak.
Kegiatan Komunikasi Pemasaran
Di Indonesia, pelanggan bebas memilih penyedia layanan laboratorium. Oleh karena itu, Perseroan
menggunakan kegiatan komunikasi pemasaran untuk mempromosikan merek Prodia dan layanan secara
langsung ke konsumen potensial. Perseroan telah melakukan berbagai kegiatan pemasaran, termasuk:
•
Penempatan Media: Perseroan menempatkan artikel, karangan (feature) dan iklan di media
cetak dan online dan di radio dan TV. Iklan Perseroan berfokus untuk membangun brand equity,
menonjolkan program tanggung jawab sosial perusahaan Perseroan, mempromosikan pemeriksaan
atau paket tertentu dan mengiklankan penjualan dan promosi. Pada tahun 2015, Perseroan telah
melakukan 137 penempatan media di surat kabar dan majalah, seperti Kompas, Media Indonesia,
Marketing, SWA dan Femina dan di radio. Dalam enam bulan pertama di tahun 2016, Perseroan
telah melakukan lebih dari 41 penempatan media. Pada semester pertama tahun 2016, Perseroan
memfokuskan penempatannya pada outlet yang lebih besar dengan jangkauan yang lebih luas,
dibandingkan dengan outlet yang lebih kecil yang merupakan fokus Perseroan pada tahun 2015.
•
Hubungan Media: Perseroan memiliki program hubungan media yang berkelanjutan, dan
Perseroan senantiasa memberikan informasi kepada media secara informal. Sebagai contoh,
Perseroan melakukan pertemuan pers, siaran pers, kunjungan media dan pertemuan dengan
media untuk membangun dan memelihara hubungan dengan pers dan media serta menyebarkan
informasi mengenai Perseroan dan penawaran Perseroan. Pada tahun 2015, Perseroan melakukan
sesi informasi bulanan dengan media untuk memberikan informasi seputar kesehatan dengan
mengirimkan komunikasi informal kepada wartawan. Lebih lanjut, pada tahun 2015, Perseroan
mengeluarkan 49 siaran pers, mengadakan 13 pertemuan pers, dan menjamu lima kunjungan media
(kunjungan kehormatan untuk menjaga hubungan Perseroan dengan beberapa perusahaan media)
dan satu pertemuan media (sebuah acara pendidikan dengan wartawan dan komunitas sehat untuk
meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan). Selain itu, Perseroan ikut
serta dalam dua kegiatan sponsorship media, dimana Perseroan mendirikan stan pameran atau
memasang iklan pada acara-acara yang diselenggarakan oleh media. Secara keseluruhan, terdapat
82 kegiatan hubungan media pada tahun 2015. Dalam enam bulan pertama di tahun 2016, Perseroan
telah mengeluarkan 18 siaran pers, mengadakan 4 pertemuan pers, dan menjamu satu kunjungan
media.
•
Acara: Perseroan mengadakan seminar dan acara dan menghadiri konferensi untuk mempromosikan
brand Perseroan kepada profesional kesehatan lain dan masyarakat umum. Pada tahun 2015,
Perseroan berpartisipasi dalam 18 seminar publik, 15 seminar yang diselenggarakan oleh dokter
umum dan klinisi, empat acara aktivasi brand Prodia (kegiatan-kegiatan yang menarik seperti “Tune
up your health” – suatu acara yang berupaya meningkatkan kesadaran penggemar mobil bahwa
tidak hanya mobil yang membutuhkan pemeriksaan berkala, tubuhpun memerlukan pemeriksaan
kesehatan). Selain itu, pada tahun 2015, Perseroan juga berpartisipasi dan mendukung 14 pameran
pernikahan dan 14 acara ilmiah. Sebagai contoh, Perseroan membawakan presentasi di kongres
HKKI (Himpunan Kimia Klinik Indonesia) dan Patelki (Perhimpunan Pathologi Klinik Indonesia).
Dalam enam bulan pertama di tahun 2016, Perseroan telah berpartisipasi dalam 15 seminar publik
dan 12 seminar yang diselenggarakan oleh dokter umum dan klinisi.
•
Media Sosial: Perseroan memasarkan merek Prodia melalui situs Perseroan, Facebook, Instagram
dan Twitter. Perseroan juga memiliki aplikasi ponsel yang dapat digunakan oleh pelanggan Perseroan
dan dokter serta profesional kesehatan lainnya.
•
Manajemen Kreatif: Pada tahun 2015, Perseroan melakukan 263 kampanye promosi penjualan
(antara lain spanduk, kalender, agenda, dll). Dalam enam bulan pertama di tahun 2016, Perseroan
telah melakukan 122 promosi penjualan.
164
•
Dokter: Perseroan melakukan pemasaran kepada para dokter dan profesional kesehatan lainnya
menggunakan jurnal ilmiah dan penyediaan informasi ilmiah.
9.14.
Teknologi Informasi
Sistem teknologi informasi Perseroan melayani pelanggan Perseroan dan membantu memastikan efisiensi
bisnis Perseroan dengan memantau kinerja jejaring layanan Perseroan, menyempurnakan alokasi sumber
daya, membantu Perseroan dalam menanggapi perubahan pasar, mengikuti pola konsumsi dan secara
proaktif mengarahkan pelanggan ke lokasi dan layanan tertentu. Perseroan memiliki infrastruktur
teknologi informasi yang dirancang untuk dapat dikembangkan guna memenuhi kebutuhan operasi
Perseroan guna mendukung pertumbuhan bisnis Perseroan dan membantu memastikan keandalan
operasi Perseroan serta keamanan informasi pelanggan. Komponen utama arsitektur teknologi Perseroan
meliputi:
•
Sistem Informasi Prodia (“SISPRO”). SISPRO adalah sistem informasi laboratorium yang digunakan
Perseroan. Sistem ini menyimpan dan mengelola seluruh data laboratorium klinik, termasuk
seluruh informasi demografi pelanggan, penagihan dan rekam medis pelanggan. SISPRO juga
memungkinkan Perseroan untuk memantau pengumpulan spesimen, distribusi spesimen, pengujian
dan penyampaian hasil secara real time.
•
Sistem Enterprise Resource Planning (“ERP”). Sistem ERP memelihara catatan untuk utang,
piutang, pembelian, persediaan, aset tetap, serta bank dan buku besar umum. Sistem tersebut terpusat
di Jakarta dan beroperasi berdasarkan model terpusat dengan kemampuan mengintegrasikan aplikasiaplikasi baru. Hal ini memastikan bahwa sistem dirancang untuk skalabilitas dan konektivitas
sehingga Perseroan dapat mengembangkan jejaring layanannya sambil tetap terhubung melalui
jaringan konektivitas tertutup milik Perseroan. Sistem ERP ini juga mengizinkan Perseroan untuk
dapat mengatur keuangan, persediaan dan pembelian dari data-data yang tersedia secara real time
di seluruh tempat layanan Perseroan di Indonesia.
•
Customer Relationship Management (“CRM”). Sistem CRM memproses kegiatan pemasaran,
manajemen pelanggan, profil pelanggan dan penanganan keluhan. Sistem ini dapat diakses oleh
setiap laboratorium Perseroan dan disentralisasi di Jakarta.
Perseroan memiliki pusat data di setiap laboratorium klinik. Namun demikian, Perseroan saat ini sedang
memindahkan informasi SISPRO ke pusat data utama di Jakarta. Proyek migrasi data diperkirakan akan
selesai pada kuartal pertama tahun 2017. Sampai dengan tanggal Prospektus ini diterbitkan, informasi
dari 90 outlet telah berhasil dipindahkan ke pusat data utama. Seluruh laboratorium Perseroan terhubung
langsung ke pusat data utama melalui jaringan internet tertutup. Meskipun Perseroan telah memiliki
lisensi software untuk sistem-sistem ini di setiap lokasi yang menggunakan sistem informasi ini,
Perseroan saat ini sedang melakukan negosiasi untuk menambahkan lisensi tambahan untuk penggunaan
di masa depan. Perseroan juga saat ini sedang dalam proses mengembangkan sistem teknologi informasi
untuk memperkirakan risiko dan rencana pemulihan bencana (disaster recovery plan) yang diharapkan
akan beroperasi secara penuh pada tahun 2017
9.15.
Peralatan
Perseroan memperoleh peralatan laboratorium klinik dari bermacam-macam vendor melalui mekanisme
pembelian, sewa beli, dan sewa pakai. Peralatan untuk pengujian rutin pada umumnya disewa, sementara
peralatan untuk pengujian khusus pada umumnya dibeli. Perseroan memilih vendor-vendor dengan
mengidentifikasi terlebih dahulu teknologi yang ingin digunakan oleh Perseroan dalam pemeriksaan dan
layanannya dan kemudian meminta penawaran dari vendor-vendor yang memiliki teknologi tersebut.
Seluruh peralatan baru divalidasi oleh bagian pengembangan pemeriksaan, bagian technical/quality
assurance, dan bagian pengembangan bisnis Preseroan untuk memperkuat tujuan Perseroan membeli
peralatan baru dari segi teknologi dan bisnis. Pemasok utama Perseroan adalah produsen mesin pengujian
laboratorium klinik, alat laboratorium otomatis, reagen dan alat pendukung laboratorium. Perseroan
melakukan pembelian peralatan laboratorium tertentu apabila peralatan untuk disewa tidak tersedia
dengan pembelian reagen dan/atau apabila pengaturan pembelian pasokan reagen untuk peralatan
tersebut kurang efektif dari segi biaya.
165
Perseroan memiliki hubungan yang erat dengan vendor laboratorium klinik tier atas yang menyediakan
peralatan laboratorium. Perseroan juga berupaya untuk mengembangkan kemitraan jangka panjang
dengan produsen peralatan laboratorium klinik dan medik global terkemuka untuk mendukung
migrasi, transisi dan komisioning laboratorium Perseroan yang sedang dikembangkan serta mendukung
operasional laboratorium Perseroan saat ini. Kesepakatan dengan pemasok mengatur penetapan
harga yang didasarkan pada skala ekonomi, peningkatan mutu teknologi, pelatihan dan pendidikan,
pemeliharaan terjadwal dan preventif dan kerjasama pemasaran (joint marketing). Pendekatan yang
digunakan dalam pengadaan peralatan memungkinkan Perseroan untuk mengelola laboratorium lebih
efektif dan efisien karena karyawan di setiap laboratorium akan terbiasa mengoperasikan bermacammacam jenis peralatan yang sama.
Perseroan mendapatkan peralatan dari beberapa pemasok. Pemasok utama Perseroan termasuk Roche,
Abbott, Siemens, Biomerieuex, Biorad dan Sysmex. Roche menyediakan instrumen kimia klinik dan
instrumen-instrumen pokok untuk immunoassay untuk beberapa outlet dan hampir semua instrumen
urinalisis dan instrumen diagnostik molekuler di Lab PRN. Abbott menyediakan beberapa instrumen
kimia klinik, hemotologi dan instrumen pokok untuk immunoassay. Perseroan menggunakan instrumen
dari Siemens untuk instrumen kimia klinik dan instrumen pokok immunoassay di Lab PRN. Biomerieuex
menyediakan instrumen pokok untuk immunoassay dan mikrobiologi. Biorad menyediakan platform
untuk kromatografi cair kinerja tinggi. Sedangkan Sysmex menyediakan instrumen hematologi.
Setiap perjanjian yang dimiliki Perseroan dengan vendor pada umumnya mengatur harga setiap mesin.
Perjanjian ini dapat ditandatangani oleh Perseroan langsung dengan vendor atau distributor lokal dari
vendor tersebut. Perjanjian-perjanjian ini pada umumnya berjangka waktu antara tiga sampai dengan
lima tahun. Penetapan harga dengan vendor dilakukan dengan basis harga tetap, yang dibayar setiap
bulan atau berdasarkan mekanisme pembayaran lainnya yang disetujui dengan vendor yang bersangkutan.
Secara umum, berdasarkan perjanjian dengan vendor yang bersangkitan, Perseroan tidak diperbolehkan
untuk mendistribusikan, memberikan, menyewakan atau menjual mesin yang bersangkutan kepada pihak
ketiga lainnya dengan alasan apapun tanpa persetujuan awal dari vendor.
Pemeliharaan peralatan dan instrumen secara tepat waktu dan efektif berperan penting terhadap layanan
laboratorium klinik Perseroan yang efisien. Pemeliharaan peralatan sewa dilakukan oleh vendor sesuai
dengan ketentuan dalam mekanisme sewa pakai dan sewa beli. Selain itu, Perseroan mengkalibrasi
peralatan secara teratur menurut rekomendasi dan jadwal dari manufaktur. Perseroan juga memiliki
kontrak pemeliharaan tahunan atau kontrak pemeliharaan komprehensif untuk semua alat pengukur
dengan masing-masing manufaktur atau distributor yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan
perbaikan alat pengukur tersebut. Kontrak pemeliharaan komprehensif juga mewajibkan manufaktur
atau distributor untuk melakukan penggantian suku cadang dengan biaya mereka sendiri.
9.16.
Riset dan Pengembangan
Perseroan melakukan dua jenis kegiatan penelitian dan pengembangan. Pertama, bagian riset dan
pengembangan Perseroan berupaya menambah menu pemeriksaan yang telah ada dan meningkatkan
prosedur laboratorium Perseroan dalam rangka memperbaiki sensitivitas, spesifikasi, waktu dan biaya
pemeriksaan dibandingkan metode konvensional yang tersedia. Sebagai contoh, Perseroan melakukan
studi untuk memvalidasi teknologi dan reagen baru. Perseroan juga bermaksud untuk terus berinvestasi
dalam kemampuan melakukan pengujian terdepan sehingga Perseroan dapat menawarkan pemeriksaan
laboratorium klinik menggunakan teknologi terdepan kepada para pelanggan. Pada umumnya,
pemeriksaan baru membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun untuk memperkenalkan. Pemeriksaan, pada
umumnya, disertifikasi oleh badan lisensi nasional di negara dimana pemeriksaan tersebut dikembangkan.
Perseroan akan mengadopsi pemeriksaan baru dan memvalidasi keakuratan ilmiahnya sebelum
pemeriksaan tersebut rutin digunakan. Rintangan signifikan dalam mengembangkan pemeriksaan baru
adalah mengedukasi para dokter mengenai pemeriksaan baru dan mendorong pemakaian pemeriksaan
tersebut. Edukasi ilmiah dari komunitas kedokteran merupakan bagian penting dari proses penelitian
dan pengembangan dan kegiatan pemasaran Perseroan. Perseroan telah menambah, dan diharapkan akan
terus menambah, teknologi dan kemampuan untuk melakukan pemeriksaan baru melalui kombinasi
inisiatif pengembangan internal, lisensi teknologi dan kemitraan dengan para vendor dan klinisi.
166
Kedua, laboratorium Perseroan berpartisipasi dalam studi ilmiah yang dilakukan oleh peneliti eksternal
dalam komunitas kedokteran dan ilmiah di Indonesia. Sebagai contoh, Perseroan melakukan evaluasi atas
laboratorium untuk mengidentifikasi biomarker untuk studi tertentu. Saat ini, Perseroan sedang terlibat
dalam proyek-proyek yang meneliti mengenai diagnosis prenatal, acute ischemic stroke dan dampak
paparan logam berat dan panel vitamin dan mineral terhadap kesehatan bayi dan ibu. Sebelumnya,
Perseroan telah berpartisipasi dalam studi ilmiah untuk penyakit-penyakit antara lain penyakit prenatal,
hepatitis, penyakit kardiovaskular, diabetes, obesitas, hipertensi, autisme dan down syndrome. Upayaupaya penelitian ini, disamping mendorong kemajuan ilmu kedokteran, adalah bagian penting dari
kegiatan pemasaran ilmiah Perseroan. Perseroan memiliki sejumlah pemeriksaan baru di pipeline riset
dan validasi, termasuk pemeriksaan leukemia, alergi dan kelainan autoimun.
9.17.
Afiliasi Perseroan
Pada tahun 2015, Perseroan melakukan Transaksi Spin-off dimana Perseroan menjual empat entitas anak
kepada induk Perseroan, yaitu Prodia Utama, dengan total sebesar Rp32,2 miliar. Meskipun Perseroan
tidak lagi memiliki perusahaan-perusahaan ini, POHII, PROSTEM, PROLINE dan INNODIA, Perseroan
terlibat dalam transaksi dengan pihak yang terafiliasi dengan mereka.
Afiliasi Perseroan adalah sebagai berikut:
PT Prodia OHI International (“POHII”)
POHII bergerak di bidang pemasaran dan pengelolaan kesehatan kerja, kedokteran okupasi dan layanan
toksikologi industri. Layanan yang ditawarkan oleh POHI meliputi:
•
•
•
•
•
•
pengelolaan klinik kedokteran okupasi;
pemantauan biologi;
pengelolaan klinik di tempat untuk perusahaan;
pemeriksaan kesehatan calon karyawan;
pengawasan medik bagi karyawan; dan
pemeriksaan toksikologi industri.
POHII memasarkan layanan-layanannya kepada klien mereka, namun POHII merujuk pelanggan kepada
Perseroan yang merupakan penyedia eksklusif untuk layanan laboratorium klinik. Perseroan menagih
langsung pelanggan untuk pemeriksaan yang dilakukan dan membayar biaya manajemen kepada
POHII. Perseroan telah menandatangani perjanjian dengan POHII. Berdasarkan perjanjian kerjasama
tersebut, Perseroan akan melakukan pemeriksaan laboratorium klinik untuk karyawan dari pelanggan
dan/atau karyawan berprospek yang direferensikan oleh POHII kepada Perseroan. POHII akan berhak
mendapatkan biaya manajemen sebesar 7,0% dari pendapatan bersih untuk masing-masing pelanggan
yang direferensikan POHII kepada Perseroan.
PT Prodia Stemcell Indonesia (“PROSTEM”)
PROSTEM adalah perusahaan pertama di Indonesia yang menerima izin dan akreditasi dari Kementerian
Kesehatan untuk menyimpan sel induk (stem cell). Kegiatan PROSTEM meliputi penelitian dan
pengembangan sel induk, penyimpanan sampel sel induk dan memproses sel induk untuk penyimpanan
dan terapi.
PROSTEM adalah salah satu dari pelanggan korporasi Perseroan dikarenakan PROSTEM merujuk
pelanggannya kepada Perseroan, umumnya untuk pemeriksaan rutin dan panel penyakit menular.
PT Prodia Diagnostic Line (“PROLINE”)
PROLINE mengimpor dan memproduksi instrumen laboratorium dan reagen laboratorium untuk
diagnostik in-vitro kepada INNODIA dan agen pihak ketiga lain di Indonesia. Seluruh pembelian produk
PROLINE oleh Perseroan dilakukan melalui INNODIA atau agen pihak ketiga lainnya.
167
PT Innovasi Diagnostika (“INNODIA”)
INNODIA mendistribusikan dan menjual alat-alat yang berhubungan dengan kesehatan, meliputi
reagen dan peralatan laboratorium yang dipasok oleh PROLINE. INNODIA memasok kepada Perseroan
instrumen laboratorium dan reagen laboratorium untuk diagnostik in-vitro. Pembelian Perseroan dari
INNODIA, yang dimulai sejak tahun 2015, tercatat sebesar Rp2,7 miliar untuk satu tahun.
PT Prodia Diacro Laboratories (“Prodia CRO”)
Prodia CRO menyediakan layanan penelitian klinis untuk perusahaan atau individu yang melakukan uji
klinis, seperti melakukan uji coba farmasi untuk perusahaan farmasi internasional besar atau penelitian
untuk organisasi yang membuat kebijakan kesehatan. Prodia CRO memberikan rujukan kepada Perseroan.
9.18.
Persaingan
Bisnis laboratorium klinik di Indonesia terfragmentasi dengan banyak laboratorium klinik kecil. Namun
demikian, dalam pandangan Perseroan, terdapat hambatan masuk dalam bisnis ini dikarenakan diperlukan
kepercayaan untuk menarik pelanggan, kendali mutu yang tinggi dan persyaratan teknis yang ketat.
Terdapat banyak pemain kecil dalam bisnis laboratorium klinik. Berdasarkan Frost & Sullivan, di dalam
pasar laboratorium swasta, pesaing utama Perseroan untuk pemeriksaan laboratorium klinik meliputi
Pramita, Parahita, Kimia Farma, Cito dan Biomedika, dan tidak ada satupun yang memiliki jejaring
lokasi seluas Perseroan. Meskipun demikian, sebagai suatu perusahaan layanan kesehatan terintegrasi,
Kimia Farma, memiliki sejumlah outlet lain yang dapat ditambah dengan layanan laboratorium klinik.
Selain itu, Perseroan bersaing dengan banyak klinik independen dan laboratorium anatomi yang lebih
kecil serta laboratorium yang dimiliki rumah sakit dan dokter.
Perseroan berkeyakinan bahwa, dalam memilih laboratorium klinik sebagai penyedia layanan kesehatan,
pelanggan seringkali mempertimbangkan banyak faktor, termasuk antara lain:
•
•
•
•
•
•
•
reputasi laboratorium di benak pelanggan dan di tengah komunitas medik;
akurasi, ketepatan waktu dan konsistensi dari laporan hasil pemeriksaan;
kapabilitas, kualitas dan kenyamanan layanan yang ditawarkan oleh laboratorium;
aksesibilitas yang ditawarkan oleh laboratorium;
harga untuk layanan laboratorium klinik;
ragam pemeriksaan laboratorium klinik yang dapat dilakukan penyedia layanan kesehatan; dan
kemampuan untuk menerapkan kontrol kualitas di seluruh proses pengujian.
Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan berada pada posisi yang menguntungkan untuk bersaing
dengan pesaingnya untuk faktor-faktor tersebut di atas. Perseroan juga percaya bahwa menu pemeriksaan
laboratorium klinik Perseroan paling beragam, baik pemeriksaan rutin, esoterik dan pemeriksaan
laboratorium klinik generasi baru, memberikan keunggulan kompetitif untuk bersaing di industri layanan
laboratorium klinik di Indonesia. Banyak pesaing Perseroan mengirimkan spesimen kepada Perseroan
untuk pemeriksaan esoterik.
Lebih lanjut, Perseroan berkeyakinan bahwa perusahaan laboratorium klinik berskala besar seperti
Perseroan berada pada posisi yang lebih baik dibandingkan pesaingnya untuk meningkatkan pangsa
pasar karena jejaring layanan yang luas dan struktur biaya yang rendah. Perseroan memiliki jejaring
laboratorium klinik terdepan di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 35% berdasarkan pendapatan
pada tahun 2015 dan memiliki jumlah laboratorium klinik terbanyak di pasar laboratorium klinik swasta
yang independen di Indonesia, berdasarkan Frost & Sullivan. Ukuran ini memberikan skala ekonomi
bagi Perseroan. Namun demikian, sebagian besar pemeriksaan laboratorium klinik mungkin akan terus
dilakukan oleh rumah sakit dan laboratorium berskala lebih kecil. Sebagai hasilnya, Perseroan akan
terus bersaing dengan laboratorium yang terafiliasi dengan rumah sakit dan laboratorium lain, termasuk
dalam hal kualitas, kemampuan layanan dan harga.
168
Industri layanan laboratorium klinik dihadapkan pada perubahan teknologi dan penemuan produk
baru. Sebagai contoh, Perseroan berkeyakinan bahwa pengenalan pemeriksaan laboratorium klinik
generasi baru, seperti pemeriksaan genomik, proteomik dan metabolomika di Indonesia akan lebih jauh
membedakan Perseroan dari para pesaingnya. Namun demikian, kemajuan teknologi dapat menyebabkan
pengembangan pemeriksaan yang lebih efektif dari segi biaya dimana pemeriksaan tersebut dapat
dilakukan di luar laboratorium klinik seperti point-of-care dan dilakukan oleh dokter di klinik mereka.
Kemajuan teknologi juga dapat mengakibatkan pemeriksaan rumit dapat dilakukan di rumah sakit
yang memiliki laboratorium dan pemeriksaan sederhana dapat dilakukan di rumah tanpa menggunakan
layanan dari laboratorium klinik. Beberapa pesaing dapat memiliki akses terhadap pendanaan yang
lebih besar atau peralatan yang lebih maju dibandingkan Perseroan, baik pada saat ini maupun di masa
mendatang. Perkembangan teknologi tersebut dan penggunaannya oleh pelanggan Perseroan dapat
mengurangi permintaan terhadap layanan pemeriksaan laboratorium Perseroan dan berdampak negatif
terhadap pendapatan Perseroan.
9.19.
Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup
Perseroan tunduk pada hukum dan peraturan di Indonesia terkait perlindungan lingkungan hidup dan
kesehatan dan keselamatan kerja, serta hukum dan peraturan mengenai penanganan, pengiriman dan
pembuangan spesimen medik, limbah menular dan berbahaya, dan bahan radioaktif. Seluruh laboratorium
Perseroan tunduk pada hukum dan peraturan yang mengatur mengenai pembuangan seluruh spesimen
dan sampel laboratorium yang mengandung bahan biologi berbahaya. Berikut adalah dokumen-dokumen
terkait lingkungan hidup yang dimiliki oleh Perseroan:
No
Izin
DKI Jakarta
1.
Laboratorium Klinik
Utama Kramat
2.
3.
Laboratorium Klinik
Pratama Arteri
Laboratorium Klinik
Pratama Bona Indah
4.
Laboratorium Klinik
Pratama Pasar Minggu
5.
Laboratorium Klinik
Pratama Kampung
Melayu
Laboratorium Klinik
Pratama Cideng
Laboratorium Klinik
Pratama Kebayoran
6.
7.
8.
Laboratorium Klinik
Pratama Kedoya
9.
Laboratorium Klinik
Madya Kelapa Gading
10.
Laboratorium Klinik
Pratama Pluit
11.
Laboratorium Klinik
Madya Pantai Indah
Kapuk
Laboratorium Klinik
Madya Sunter
12.
13.
Laboratorium Klinik
Madya Puri Indah
Nomor, tanggal dan instansi
Hasil Penilaian UKL dan UPL Pembangunan Laboratorium Klinik Prodia dan Fasilitasnya
(PT Prodia Widyahusada) No. 37/UKL-UPL/-1.774.151 tanggal 15 Maret 2006 yang dikeluarkan
oleh Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta
Lembar Pengesahan Studi UKL-UPL No. 5396/1/777.6 tanggal 11 September 2003 yang
dikeluarkan oleh Tim Teknis Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Hasil Penilaian Dokumen UKL dan UPL Laboratorium Klinik Prodia Cabang Bona Indah
No. 5391/1.777.6 tanggal 11 September 2003 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) telah
diterima dengan No. 1253/7.18/31.74.1774.15/2016 tanggal 11 November 2016 oleh Kantor
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Administrasi Jakarta Selatan
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) telah
diterima dengan No. 1255/7.18/31.74.1774.15/2016 tanggal 11 November 2016 oleh Kantor
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Administrasi Jakarta Selatan
Rekomendasi PEL, RKL/RPL Lab. Klinik Prodia No. 1367/-1.777.6/XI/93 tanggal 23 November
1993 yang dikeluarkan oleh Ketua Bappeda DKI Jakarta.
Hasil Penelitian Dokumen UKL dan UPL Laboratorium Klinik Prodia Cabang Kebayoran
Jl Gunawarman 77 No 5388/1.777.6 tanggal 11 September 2003 yang dikeluarkan oleh Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta.
Surat Rekomendasi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Hidup (UKL-UPL) oleh Kantor Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Barat No. 16.4/1.774.151 tanggal 16 Januari 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup
Kota Administrasi Jakarta Barat
Hasil Penelitian Dokumen UKL dan UPL Laboratorium Klinik PRODIA Cabang Kelapa Gading
No. 5387/1.777.6 tanggal 11 September 2003 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta
Surat No. 1059/1.842.22 tentang Hasil Penilaian Dokumen UKL dan UPL Laboratorium Klinik
Prodia tanggal 26 Maret 2003 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI
Jakarta
Rekomendasi atas UKL-UPL Laboratorium Klinik Prodia tanggal 22 November 2013 yang
dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara.
Rekomendasi Persetujuan UKL/UPL Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia Cabang Sunter
PT Prodia Widyahusada No. 424/-1.774.152 tanggal 26 Februari 2016 yang dikeluarkan oleh
Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara.
Hasil Penilaian Dokumen UKL dan UPL Laboratorium Klinik Prodia Puri Jakarta Barat No.
6444/1.777.6 tanggal 31 Agustus 2004 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
DKI Jakarta.
169
No
14.
Izin
Laboratorium Klinik
Pratama Daan Mogot
Baru
Nanggroe Aceh Darussalam
15.
Laboratorium Klinik
Pratama Banda Aceh
Nomor, tanggal dan instansi
Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) yang sudah diketahui oleh Kepala Kantor
Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Barat.
Rekomendasi atas UKL-UPL Kegiatan Pengoperasian Laboratorium Klinik Prodia No. R-004/
II/2014 tanggal 21 Februari 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup
Kota Banda Aceh.
16.
Laboratorium Klinik
Surat Rekomendasi Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) No. 660/06/2015 tentang
Pratama Lhokseumawe Rekomendasi atas DPLH Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia tanggal 18 Maret 2015 yang
dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Lhokseumawe.
Sumatera Utara
17.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
Pratama Asia
No. 660/3776/BLH/VIII/2016 tanggal 24 Agustus 2016 yang telah disampaikan kepada Badan
Lingkungan Hidup Kota Medan.
18.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPLH)
Pratama Lubuk Pakam No. 128/SEKR/660.1/DS/2016 tanggal 1 September 2016 yang telah disetujui oleh Kepala Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Deli Serdang.
19.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup tanggal Agustus
Pratama Binjai
2016 yang telah diterima oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Binjai.
20.
Laboratorium Klinik
Gatot Subroto: Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup
Pratama Gatot Subroto/ (SPPL) yang telah diterima oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Medan No. 660/3777/BLH/
Krakatau
VIII/2016 tanggal 24 Agustus 2016.
Krakatau: Rekomendasi Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Medan No. 660/345/BLH/
VII/2015 tentang Persetujuan Formulir Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia cabang
Krakatau tanggal 9 Juni 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota
Medan.
21.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Medan No. 660/3452/BLH/VII/2015
Utama S. Parman
tentang Persetujuan Formulir Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UKL-UPL) Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia S.Parman tanggal 9 Juli
2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Medan
22.
Laboratorium Klinik
Surat Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Pematangsiantar No. 660/898/VIII/2016
Pratama Pematang
tentang Izin Lingkungan Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia tanggal 24 Agustus 2016.
Siantar
23.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi atas Persetujuan UKL-UPL Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia Jl. Jend A. Yani
Pratama Rantau
No. 189 Rantauparapat No. 660/86/BLH-LB/AM/2015 tanggal 26 Februari 2015 yang dikeluarkan
Parapat
oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Labuhanbatu
24.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) No.
Pratama Setia Budi
660/3775/BLH/VIII/2016 tanggal 24 Agustus 2016 yang telah disampaikan kepada Badan
Lingkungan Hidup Kota Medan.
25.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) tanggal 6 September 2016 yang
Pratama Sibolga
telah disahkan oleh Kepala Dinas LHKP Kota Sibolga.
26.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi atas UKL-UPL Laboratorium Klinik Prodia Kantor Cabang Tebing Tinggi oleh
Pratama Tebing Tinggi PT Prodia Widyahusada No. 660/3859/KLH-TT/2016 tanggal 19 September 2016 yang
dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Tebing Tinggi.
Sumatera Barat
27.
Laboratorium Klinik
Persetujuan Dokumen UKL & UPL No. 660/21.96/Pedal-BPDL/VI-2010 tanggal 10 Juni 2010
Madya Padang
yang dikeluarkan oleh Bapedalda Kota Padang.
28.
Laboratorium Klinik
Keputusan Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi No. 01/IL/KLH-BKT/III-2014
Pratama Bukittinggi
tentang Pemberian Izin Lingkungan atas Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia Bukittinggi
tanggal 10 Maret 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi
Kepulauan Riau
29.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi atas DPLH Kegiatan Laboratorium Pengujian oleh PT Prodia Widyahusada
Pratama Batam
No. 65/BAPEDAL/REKOM/DPLHX/2011 tanggal 3 Oktober 2011 yang dikeluarkan oleh Kepala
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Batam
Jambi
30.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup yang telah
Pratama Jambi
diterima oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Jambi No. 32/SPPL/BLHII/2016 tanggal
1 September 2016
Riau
31.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
Madya Pekanbaru
No. 660.1/BLH/SPPL/I/28/2016 tanggal 27 Januari 2016.yang telah disampaikan ke Badan
Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru.
32.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi atas SPPL Usaha Laboratorium Klinik Prodia PT Prodia Widyahusada No. 660/
Pratama Duri
BLH-PPDL.457/2013 tanggal 25 Juli 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten Bengkalis
170
No
Izin
Kepulauan Bangka Belitung
33.
Laboratorium Klinik
Pratama Pangkal
Pinang
Sumatera Selatan
34.
Laboratorium Klinik
Pratama Basuki
Rahmat
35.
Laboratorium Klinik
Pratama Veteran
Lampung
36.
Laboratorium Klinik
Pratama Metro
Lampung
37.
Laboratorium Klinik
Pratama Teluk Betung
Banten
38.
Laboratorium Klinik
Pratama Cilegon
39.
Laboratorium Klinik
Madya Tangerang
40.
Laboratorium Klinik
Madya Bintaro
41.
Laboratorium Klinik
Pratama BSD
Nomor, tanggal dan instansi
Bukti penerimaan dokumen lingkungan hidup No. 660/469/BLH/IV/2016 tanggal 11 April yang
telah diterima oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang.
Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Pemantauan Lingkungan (UKL dan UPL) Laboratorium
Klinik Prodia 045/UKL-UPL/VIII/2012 tanggal 7 Agustus 2012 yang telah disetujui oleh Kepala
Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang.
Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Pemantauan Lingkungan (UKL dan UPL) Laboratorium
Klinik Prodia 032 TAHUN.2005 tanggal 28 Oktober 2005 yang dikeluarkan oleh Kepala
Bapedalda Kota Palembang.
Rekomendasi atas Dokumen UKL-UPL Laboratorium Klinik Prodia No. 660/179/LTD-9/04/2015
tanggal 22 Mei 2015 yang dikeluarkan oleh Pj. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro.
Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) yang telah diterima berdasarkan Surat
No. 660.1/544/III.20/2016 oleh Plt. Kepala Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan
Hidup Kota Bandar Lampung tanggal 27 Oktober 2016.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) yang
telah diterima oleh Kepala Sub Bidang Analisis Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Kota
Cilegon tanggal 14 Juli 2015.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) yang
telah diterima berdasarkan Surat No. 660/126-Pengkajian & Binhuk tanggal 21 Januari 2014
oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Tangerang Selatan
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) tanggal
6 Januari 2016 yang telah diterima oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Tangerang Selatan
dengan No. 660/049/-III-Pengkajian&Binhuk tanggal 14 Januari 2016
Surat No. 660/65 -Pengkajian & Binhuk tentang Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) tanggal 7 Januari 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala
Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Tangerang Selatan
Jawa Barat
42.
Laboratorium Klinik
Madya Bekasi
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
Rekomendasi Dokumen UKL&UPL berdasarkan Surat Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pemerintah Kota Bekasi No. 660.1/1394.BPLH.AMDAL/X/2011 tanggal 4 Oktober 2011 yang
dikeluarkan oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Bekasi.
Laboratorium Klinik
Dokumen Amdal No. 660.1/460/BPLH.AMDAL/V/2010 tanggal 21 Mei 2010 tentang Keputusan
Pratama Summarecon
Kelayakan Lingkungan yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Kota Bekasi.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi Penggunaan Dokumen UKL UPL tanggal 4 Agustus 2006 yang dikeluarkan oleh
Pratama Bogor
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bogor.
Laboratorium Klinik
Persetujuan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (SPPL)
Madya Cibubur
No. 660.1/231 - Bid. Perencanaan tanggal 24 Maret 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan
Lingkungan Hidup Kota Depok, berlaku sampai Maret 2018.
Laboratorium Klinik
Persetujuan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) No. 660.1/122/VIII/BLH/09
Pratama Depok
tanggal 25 Agustus 2009 yang dikeluarkan oleh Plt Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Depok
Laboratorium Klinik
Penilaian Dokumen UKL-UPL Kegiatan Laboratorium Klinik PT Prodia Widyahusada No.
Utama Wastukencana
660/407-BPLH tanggal 26 Mei 2008 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup
Kota Bandung.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
Laboratorium Klinik
Pratama Majalaya
No. 667/272-SPPL/BPLH tanggal 30 September 2016 yang telah diterima oleh BPLH Kabupaten
Bandung.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) tanggal Desember 2008 yang telah disampaikan
Pratama Pasir Kaliki
kepada dan diketahui oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Bandung.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi/Pengesahan Dokumen UKL-UPL Laboratorium Prodia No. 660,1/1029/BLH/2016
Pratama Sumedang
tanggal 31 Oktober 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Sumedang.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi atas SPPL Kegiatan Laboratorium Klinik Kesehatan "PRODIA" No. 660/232.1Pratama Ujung Berung BPLH tanggal 7 April 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota
Bandung.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi atas UKL-UPL Rencana Kegiatan Pembangunan Laboratorium Klinik Prodia
Pratama Cimahi
No. 660.7/3330/KLH tanggal 5 Oktober 2012 yang dikeluarkan oleh Asisten Perekonomian dan
Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Cimahi.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi Kegiatan UKL/UPL No. 660/2002/TL/HKP tanggal 14 September 2016 yang
Pratama Garut
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Garut.
Laboratorium Klinik
Persetujuan SPPL No. 660.1/289/KPLH tanggal 13 Juni 2006 yang dikeluarkan oleh Kepala
Pratama Cirebon
Kantor Pengelola Lingkungan Hidup Kota Cirebon.
171
No
55.
Izin
Laboratorium Klinik
Pratama Kuningan
56.
Laboratorium Klinik
Pratama Cideres
57.
Laboratorium Klinik
Pratama Indramayu
58.
Laboratorium Klinik
Pratama Purwakarta
Laboratorium Klinik
Pratama Kopo
59.
60.
61.
62.
63.
64.
Laboratorium Klinik
Pratama Kurdi
Laboratorium Klinik
Pratama Buah Batu
Laboratorium Klinik
Pratama MTC
Laboratorium Klinik
Pratama Tasikmalaya
Laboratorium Klinik
Pratama Ciamis
65.
Laboratorium Klinik
Pratama Banjar
Patroman
Jawa Tengah
66.
Laboratorium Klinik
Pratama Tegal.
67.
Laboratorium Klinik
Madya Purwokerto.
68.
Laboratorium Klinik
Pratama Cilacap
69.
Laboratorium Klinik
Pratama Purbalingga
70.
Laboratorium Klinik
Utama Semarang
71.
Laboratorium Klinik
Pratama Semarang
Setiabudi
Laboratorium Klinik
Pratama Semarang
Barat
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
Laboratorium Klinik
Utama Solo
Laboratorium Klinik
Pratama Boyolali
Laboratorium Klinik
Madya Magelang
Laboratorium Klinik
Pratama Wonosobo
Laboratorium Klinik
Pratama Cepu
Laboratorium Klinik
Pratama Purworejo
Nomor, tanggal dan instansi
Keputusan Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah No. 660.1/952/PPKL/TAHUN
2016 tentang Rekomendasi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UKL-UPL) tanggal 9 September 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan
Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Kuningan.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
No. 660/442.Pergd/IX/BPLH tanggal 8 September 2016 yang telah diterima oleh Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Majalengka.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
No. 660.1/281.a/KLH tanggal 30 Juni 2011 yang telah diterima oleh Kantor Lingkungan Hidup
Kabupaten Indramayu.
Surat Keterangan No. 481.09/99/PDL-BLH/2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten Purwakarta yang menyatakan bahwa Perseroan telah menyampaikan SPPL.
Surat Pernyataan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) No. 660/341-SPPL/
BPLH tanggal 31 Desember 2015 yang telah disampaikan kepada Kepala Badan Lingkungan
Hidup Kota Bandung.
Surat Pernyataan Kesanggupan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) tahun 2013 yang
telah disampaikan kepada dan diketahui Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Bandung.
Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) tanggal 18 Desember 2008 yang telah
disampaikan kepada dan diketahui oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Bandung.
Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) tanggal 29 November 2010 yang telah
disampaikan kepada dan diketahui oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Bandung.
Rekomendasi UKL-UPL Kegiatan Laboratorium Klinik "Prodia" No. 660.3/60-KPLH/2012
tanggal 14 September 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pengendalian Lingkungan
Hidup Kota Tasikmalaya
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (SPPL)
No. 6601.1/432.1/BPLH/2011 tanggal September 2011 yang telah disetujui oleh Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup Kabupaten Ciamis.
Rekomendasi Lingkungan atas Kegiatan Laboratorium Klinik "Prodia" Kota Banjar tanggal
21 Mei 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Cipta Karya, Kebersihan, Tata Ruang dan
Lingkungan Hidup Kota Banjar.
Rekomendasi atas DPLH PT Prodia Widyahusada No. 660.I/23/DPLH/II/2012 tanggal 9 Februari
2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Tegal.
Keputusan Bupati Banyumas No. 913 Tahun 2013 tentang Izin Lingkungan atas Kegiatan
Laboratorium Klinik Prodia Purwokerto tanggal 21 Juni 2013 yang dikeluarkan oleh Bupati
Banyumas.
Rekomendasi Persetujuan UKL-UPL Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia No. 660.1/1091/30
tanggal 18 Desember 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Cilacap.
Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Purbalingga No. 660.1/612/R-VIII/2012
tentang Rekomendasi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Hidup "Laboratorium Klinik Prodia Purbalingga" tanggal 14 Agustus 2012 yang dikeluarkan
oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Purbalingga.
Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
UKL-UPL No. 660.1/572/48/2006 tanggal 27 Juni 2006 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan
Lingkungan Hidup Kota Semarang.
Keputusan Walikota Semarang No. 660.1/1609/B-II/X/2016 tentang Izin Lingkungan Rencana
Pengembangan Laboratorium dan Klinik Pratama Prodia di Jalan Setiabudi No. 119 D tanggal
28 Oktober 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang
Keputusan Walikota Semarang No. 660.1/1605/B-II/X/2016 tentang Izin Lingkungan Rencana
Pengembangan Laboratorium dan Klinik Pratama Prodia di Jalan Jendral Sudirman No. 121,
Semarang Barat tanggal 26 Oktober 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan
Hidup Kota Semarang
Rekomendasi atas UKL-UPL Kegiatan PT Prodia Widyahusada No. 660.1/2/I/UKL-UPL/2012
tanggal 6 Januari 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Surakarta
Bukti penerimaan SPPL No. 1181 tanggal 23 September 2015 yang telah diterima oleh Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali
Rekomendasi Kelayakan Lingkungan No. 660/296/299 tanggal 23 Juni 2005 yang dikeluarkan
oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) tanggal
31 Agustus 2016 yang telah diterima oleh DLHK Kabupaten Wonosobo No. 660.1/II/SPPL/2016.
Rekomendasi atas DPLH Kegiatan Laboratorium Klinik No. 660.1/740/IX/2011 tanggal
27 September 2011 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Blora.
Surat Rekomendasi Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) No. 660.1/795.A/2011
tanggal 1 Oktober 2011 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten
Purworejo
172
No
79.
80.
81.
82.
Izin
Laboratorium Klinik
Madya Salatiga
Laboratorium Klinik
Pratama Wonogiri
Laboratorium Klinik
Madya Klaten
Laboratorium Klinik
Pratama Kudus
83.
Laboratorium Klinik
Pratama Sragen
D.I. Yogyakarta
84.
Laboratorium Klinik
Pratama Yogyakarta
85.
Laboratorium Klinik
Utama Mangkubumi
Nomor, tanggal dan instansi
Rekomendasi UKL/UPL No. 660-1/118/207 tanggal 28 Januari 2014.
Rekomendasi UKL-UPL Laboratorium Klinik Prodia Wonogiri No. 660.1/017 tanggal 30 Maret
2009 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Wonogiri
Rekomendasi atas UKL-UPL Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia No. 510.44/27/22 tanggal
21 Januari 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Klaten.
Rekomendasi atas UKL-UPL Kegiatan Laboratorium Klinik oleh PT Prodia Widyahusada
No. 660.1/109/22.02 tanggal 26 Maret 2014 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan
Hidup Kabupaten Kudus.
Rekomendasi atas UKL-UPL Kegiatan Laboratorium Kesehatan No. 660.1/731-032/2016 tanggal
15 September 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sragen.
Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL & UPL) tanggal
8 Mei 2004 yang telah disahkan oleh Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Kota
Yogyakarta.
Lembar Pengesahan Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UKL-UPL) Laboratorium Klinik Prodia No. 660/321 tanggal 28 Maret 2009 yang
disahkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta.
Jawa Timur
86.
Laboratorium Klinik
Pratama Pacitan
87.
Laboratorium Klinik
Madya Madiun
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
Rekomendasi UKL-UPL No. 660.1/128/IX/408.53/2010 tanggal 6 September 2010 yang
dikeluarkan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Pacitan.
Rekomendasi Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup Laboratorium Klinik Umum "Prodia"
Madiun No. 660/585/401.304/2011 tanggal 28 Februari 2011 yang dikeluarkan oleh Sekretaris
Daerah Kota Madiun.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi UKL-UPL No. 660/417/420.403/2001 tanggal 31 Agustus 2004 yang dikeluarkan
Utama Malang.
oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Malang.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
Pratama Blitar
No. 660.1/68/410.201.5/SPPL/V/2012 tanggal Mei 2012 yang telah disetujui oleh Kepala Kantor
Lingkungan Hidup Daerah Kota Blitar.
Laboratorium Klinik
Persetujuan/Rekomendasi UKL-UPL No. 660/67/436.7.2/2009 tanggal 13 Februari 2003 yang
Pratama RDPS
dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya.
Laboratorium Klinik
Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL)
Madya Sidoarjo
No. 88/UKL-UPL/209 tanggal 15 Oktober 2009 yang telah disetujui oleh Kepala Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Sidoarjo.
Laboratorium Klinik
Rekomendasi atas UKL-UPL Kegiatan Laboratorium "Prodia" No. 660.1/428/436.7.2/2012
Utama Surabaya
tanggal 1 Juni 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya.
Laboratorium Klinik
Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
Pratama Kediri
No. 660/293/419.34/2012 tanggal 8 Oktober 2013 yang telah disetujui oleh Kantor Lingkungan
Hidup Kota Kediri.
Laboratorium Klinik
Persetujuan/Rekomendasi UKL-UPL No. 660/816/436.6.3/2007 tanggal 14 Juni 2007 yang
Pratama Mega Galaxi
dikeluarkan oleh Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Kota Surabaya.
Laboratorium Klinik
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
Pratama Tulung Agung No. 660.1/40/SPPL/210/2014 tanggal 27 Januari yang telah diterima oleh Kepala Bidang Tata
Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Tulungagung.
Laboratorium Klinik
Persetujuan/Rekomendasi UKL-UPL No. 660/05/436.6/2008 tanggal 4 Januari 2008 yang
Pratama Jemursari
dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya
Bali
97.
Laboratorium Klinik
Utama Denpasar
98.
Laboratorium Klinik
Pratama Tabanan
99.
Laboratorium Klinik
Pratama Singaraja
Nusa Tenggara Barat
100. Laboratorium Klinik
Madya Mataram
101. Laboratorium Klinik
Pratama Bima
Nusa Tenggara Timur
102. Laboratorium Klinik
Pratama Kupang
103. Laboratorium Klinik
Pratama Maumere
Rekomendasi UKL-UPL Perpanjangan No. 660.1/1609/BLH tanggal 16 September 2010 yang
dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Denpasar
Rekomendasi DPLH No. 660.1/865/PP.BLH tanggal 4 Maret 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Tabanan.
Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng No. 660.1/1366/IL/BLH
tanggal 8 Juni 2016 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng.
Rekomendasi atas DPLH Laboratorium Klinik Prodia Cabang Mataram No. 207.a/KLH/VII/2010
tanggal 23 Agustus 2010 yang dikeluarkan oleh Walikota Mataram
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) No. 660/
BLH/15/IX/2015 yang telah disampaikan kepada dan disetujui oleh Kepala Badan Lingkungan
Hidup Kota Bima tanggal 8 September 2015.
Rekomendasi atas SPPL No. BPLHD.660.582/XI/2015 tanggal November 2015.
Persetujuan atas SPPL Usaha/Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia Maumere No. BLH.660.1/313/
III/2015 tanggal 10 November 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sikka.
173
No
Izin
Kalimantan Barat
104. Laboratorium Klinik
Pratama Pontianak
Kalimantan Timur
105. Laboratorium Klinik
Pratama Balikpapan
106.
Laboratorium Klinik
Pratama Samarinda
Nomor, tanggal dan instansi
Rekomendasi atas Dokumen UKL-UPL Laboratorium Klinik Prodia Cabang Pontianak
No. 660.1/731/DPLH/BLH-P2HL/2014 tanggal 17 September 2014 yang dikeluarkan oleh
Walikota Pontianak
Rekomendasi atas Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Hidup (UKL-UPL) Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia No. 660/032/BLH/UKL-UPL/IL/
IV/2013 tanggal 19 April 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala Lingkungan Hidup Kota Balikpapan
Rekomendasi Persetujuan UKL-UPL No. 503-660.2/94/207 tanggal 26 Januari 2016 yang
dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Samarinda.
Keputusan Walikota Samarinda No. 660/074/HK-KS/II/2016 tentang Izin Lingkungan Kegiatan
Laboratorium Klinik Prodia Di Kelurahan Temindung Permai Kecamatan Sungai Pinang Kota
Samarinda Oleh Pt. Prodia Widyahusada tanggal 22 Februari 2016 yang dikeluarkan oleh
Walikota Samarinda.
Kalimantan Selatan
107. Laboratorium Klinik
Madya Banjarmasin
Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin No. 660.1/226-SK/BLH.2015
tentang Rekomendasi Dokumen Pengelolaaan Lingkungan Hidup (DPLH) Kegiatan Laboratorium
Kliinik Prodia Cabang Banjarmasin tanggal 21 September 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala
Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin.
Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin No. 660.1/227-SK/BLH/2015
tentang Izin Lingkungan Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia Cabang Banjarmasin tanggal
21 September 2015 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin.
Sulawesi Utara
108. Laboratorium Klinik
Madya Manado
109. Laboratorium Klinik
Pratama Kotamobagu
Gorontalo
110.
Laboratorium Klinik
Pratama Gorontalo
Sulawesi Tengah
111.
Laboratorium Klinik
Pratama Palu
Sulawesi Barat
112.
Laboratorium Klinik
Pratama Mamuju
Sulawesi Selatan
113.
Laboratorium Klinik
Madya Makassar.
114.
115.
116.
Laboratorium Klinik
Pratama Palopo
Laboratorium Klinik
Pratama Panakkukang.
Laboratorium Klinik
Pratama Parepare.
Sulawesi Tenggara
117.
Laboratorium Klinik
Pratama Kendari.
Dokumen UKL-UPL tahun 2009 yang telah diketahui oleh Badan Lingkungan Hidup Kota
Manado.
Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Kotamobagu No. 660/BLH-KK/07/II/2016
tentang Izin Lingkungan Usaha/Kegiatan Laboratorium Klinik Prodia yang dikeluarkan bulan
Februari 2016 oleh Plt. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Kotamobagu.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
No. tanggal 4 Oktober 2016 yang telah diterima oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup Daerah
Kota Kotamobagu.
Rekomendasi atas perpanjangan DKL kegiatan Laboratorium Prodia No. 660/0330/BLH tanggal
19 Maret 2012 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Palu.
Surat Tanda Bukti Penerimaan Dokumen/SPPL No. 660.1/15/SPPL/VIII/2016/BPDL tanggal
22 Agustus 2016 yang telah diterima oleh Bapedalda Kabupaten Mamuju
Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar No. 660.22/402/Kep/BLHD/
XI/2013 tentang Pemberian Izin Lingkungan Rencana Pengembangan/Renovasi Laboratorium
Klinik Prodia tanggal 25 November 2010 yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan
Hidup Daerah Kota Makassar.
Surat Tanda Bukti Penerimaan Dokumen/SPPL No. 660/431/BLH/VI/2016 tanggal 3 Juni 2016
yang telah diterima oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Palopo.
Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Makassar No. 660.22/25/Kep/BLHD/IX/2013
tentang Pemberian Izin Lingkungan tanggal 26 September 2013 yang dikeluarkan oleh Kepala
BLHD Kota Makassar
Rekomendasi No. 660.22/24/BLHD/IX/2013 tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tanggal 25 September 2013 yang
dikeluarkan Kepala BLHD Kota Makassar.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
No. 645/182/BLH/IX/2016 tanggal 2 September 2016 yang telah diterima oleh Badan Lingkungan
Hidup Kota Parepare dengan.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) Kegiatan
Pengoperasian Laboratorium Klinik Prodia No. 328 tanggal 13 Mei 2015 yang telah diterima
oleh Ketua Tim Pengawasan dan Pemeriksaan UKL-UPL dan SPPL Kota Kendari.
174
No
Izin
Maluku Utara
118.
Laboratorium Klinik
Pratama Ternate.
Maluku
119.
Laboratorium Klinik
Pratama Ambon
Nomor, tanggal dan instansi
Rekomendasi UKL/UPL No. 660.1/001-REK/BLH-TTEVIII/2009 tanggal 30 Januari 2015 yang
dikeluarkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate.
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
No. 660/376/BLH tanggal 4 Oktober 2016 yang telah diterima oleh Badan Lingkungan Hidup
Kota Ambon
Catatan:
Dokumen lingkungan untuk (i) laboratorium klinik pratama Kaban Jahe, laboratorium klinik Padang Sidempuan dan laboratorium
klinik pratama Kisaran di Propinsi Sumatera Utara; (ii) laboratorium klinik pratama Tanjungpinang di Propinsi Kepulauan Riau;
(iii) laboratorium klinik pratama Lampung di Propinsi Lampung; (iv) laboratorium klinik madya Gading Serpong di Propinsi
Banten; (v) laboratorium klinik pratama Harapan Indah dan laboratorium klinik pratama Karawang Kertabumi di Propinsi Jawa
Barat; dan (vi) laboratorium klinik pratama Palangkaraya di Propinsi Kalimantan Tengah, masih dalam proses pengurusan.
19.20. Penghargaan dan Pengakuan
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Penghargaan “Top Brand” dari Frontier setiap tahun antara tahun 2009 dan 2015;
“Indonesia Healthcare Most Reputable Brand Award” dari Onbee Research bersama Majalah Swa
dan Swanetwork untuk tahun 2014 dan 2015;
Indonesia Original Brand dari Business Digest dan Majalah Swa setiap tahun antara tahun 2012
dan 2015;
Corporate Image Award dari Frontier untuk tahun 2012, 2013, 2014 dan 2015;
Penghargaan Indonesia Best Brand dari Mars untuk tahun 2013, 2014 dan 2015;
WOW Brand dari Markeeters dengan Markplus untuk tahun 2015;
Master Service Award dari Majalah Makassar Terkini dan Makassar Research untuk tahun 2013,
2014 dan 2015;
Satria Brand Award dari Grup Suara Merdeka untuk tahun 2013, 2014 dan 2015;
Service Quality Award untuk laboratorium klinik dari Care Center for Customer Satisfaction &
Loyalty dan Majalah Service Excellence untuk tahun 2013 dan 2015;
Frost and Sullivan Indonesia Excellence Award sebagai perusahaan pelayanan diagnostik untuk
tahun 2015;
Pencantuman di “Solo Best Brand Index” dan “Jogja Best Brand Index” dari PT Aksara Solo Pos
dan PT Aksara Dinamika untuk tahun 2015;
Penghargaan Brand Champion Consumer Award dari Majalah SWA dan Pusat Studi Konsumen
Kelas Menengah untuk tahun 2015;
Penghargaan Indonesia Best Brand Golden dari MARS partnership dan Majalah SWA untuk tahun
2015;
Rekor Business Indonesia dari Koran SINDO dan Yayasan Tera untuk tahun 2013; dan
Service Excellence Award dari Markplus Insight untuk tahun 2013.
175
X. KETERANGAN TENTANG INDUSTRI
Bab ini, termasuk seluruh data (aktual, estimasi dan proyeksi) yang berkaitan dengan, antara lain,
informasi mengenai permintaan dan pangsa pasar, telah disusun oleh Frost & Sullivan berdasarkan
Independent Market Research on the Clinical Laboratory Market in Indonesia, Frost & Sullivan,
2016. Baik Perseroan, Agen Penjualan Internasional, atau Penjamin Pelaksana Emisi Efek tidak
dapat memberikan jaminan atas akurasi dari informasi yang disajikan dalam bab ini. Informasi ini
belum diverifikasi secara independen oleh Perseroan, Agen Penjualan Internasional, atau Penjamin
Pelaksana Emisi Efek. Data dalam bab ini yang ditandakan dengan huruf “P” berarti data tersebut
diproyeksikan oleh Frost & Sullivan berdasarkan sumber-sumber yang tersedia dan analisis internal.
Proyeksi, estimasi, perkiraan dan pernyataan lain yang bersifat “forward looking” yang terdapat dalam
bab ini dan Prospektus secara keseluruhan memiliki unsur ketidakpastian dikarenakan perubahan atas
faktor-faktor yang mendasari asumsi, atau kejadian atau kombinasi dari kejadian-kejadian yang belum
dapat diketahui saat ini. Hasil aktual dan kejadian di masa depan dapat berbeda secara material dari
proyeksi, estimasi atau prediksi tersebut. Calon investor diharapkan tidak menempatkan kepercayaan
yang tidak semestinya pada kemampuan Frost & Sullivan atau pihak ketiga lainnya untuk memprediksi
tren industri atau kinerja di masa depan.
Pasar pelayanan kesehatan di Indonesia
Didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang siap dibelanjakan per kapita dan meningkatnya kesadaran
masyarakat terhadap kesehatan serta pelaksanaan JKN di awal tahun 2014, total belanja kesehatan
di Indonesia naik dari US$24,2 miliar pada tahun 2011 menjadi US$26,4 miliar pada tahun 2015,
merepresentasikan CAGR 2,2%. Investasi yang dilakukan sebagai bagian dari rencana penggolongan
ulang rumah sakit yang dimulai oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 2011 telah meningkatkan jumlah
rumah sakit pemerintah dan swasta secara dramatis mulai dari tahun 2012, yang mengakibatkan ukuran
pasar pelayanan kesehatan secara total meningkat. Total belanja mengalami sedikit penurunan pada tahun
2014 dikarenakan pertumbuhan perekonomian yang melambat, pemilihan umum dan ketidakpastikan
atas pelaksanaan JKN serta konsolidasi berbagai skema asuransi umum di awal tahun 2014. Frost &
Sullivan memperkirakan bahwa total belanja kesehatan akan tumbuh pada CAGR 4,8% antara tahun
2015 dan 2017 untuk mencapai US$29,1 miliar.
Grafik di bawah ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari belanja kesehatan di Indonesia
untuk masing-masing tahun:
176
Pasar pelayanan kesehatan di Indonesia secara relatif tetap kurang berkembang dibandingkan dengan
negara-negara lain. Indonesia adalah negara dengan total belanja kesehatan terendah keempat dan
persentase kontribusi belanja kesehatan terhadap GDP terendah di antara pasar maju seperti Amerika
Serikat, Inggris dan Jepang dan negara-negara berkembang seperti China, India, Thailand, Malaysia
dan Vietnam. Seiring dengan upaya Pemerintah Indonesia saat ini untuk menyediakan akses terhadap
pelayanan kesehatan bagi seluruh warga negara Indonesia pada tahun 2019 melalui program JKN,
permintaan untuk lebih banyak tempat tidur di rumah sakit, obat terapi, pemeriksaan laboratorium
klinik, layanan imaging diagnostik, dan peralatan kedokteran akan mendorong pertumbuhan kontribusi
belanja kesehatan terhadap PDB.
Total belanja kesehatan di Indonesia sebagai persentase terhadap PDB telah meningkat dari 2,7%
pada tahun 2011 menjadi 3,0% pada tahun 2015. Frost & Sullivan memperkirakan bahwa total
belanja kesehatan dalam persentase terhadap PDB di Indonesia akan meningkat lebih lanjut menjadi
3,1% pada tahun 2017. Grafik di bawah ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari total
belanja kesehatan, dalam persentase terhadap PDB, di sembilan pasar, baik di negara maju dan negara
berkembang di Asia untuk masing-masing tahun:
Total Belanja Kesehatan, sebagai % terhadap PDB di Pasar-Pasar Tertentu, 2011-2017P
Sumber: Database Global Healthcare Expenditure,WHO pada http://apps.who.int/nha/database) dan analisis Frost & Sullivan
Pada akhir tahun 2015, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dengan total
populasi sebanyak 255,5 juta, mendekati total populasi Amerika Serikat yang berjumlah 321,4 juta.
Meskipun memiliki populasi dengan jumlah yang berdekatan, terdapat kesenjangan yang besar dalam
hal belanja kesehatan antara Indonesia dengan Amerika Serikat, dengan belanja kesehatan per kapita
di Amerika Serikat 95 kali lebih besar dari Indonesia. Belanja per kapita Indonesia juga relatif lebih
rendah dibandingkan dengan pasar-pasar lainnya di Asia, seperti Malaysia, Thailand dan China. Grafik
di bawah ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari total populasi di sembilan pasar untuk
masing-masing tahun:
177
Total Populasi di Pasar-Pasar Tertentu, 2011-2017P
Sumber: Database Global Healthcare Expenditure,WHO pada http://apps.who.int/nha/database
Dari tahun 2011 sampai dengan 2015, belanja kesehatan per kapita di Indonesia bertumbuh dari US$99,0
menjadi US$103,6, merepresentasikan CAGR 1,1%. Frost & Sullivan mengestimasi belanja kesehatan
per kapita akan terus meningkat menjadi US$110,8 pada tahun 2017, merepresentasikan CAGR 3,4%
dari tahun 2015 sampai dengan 2017. Grafik berikut ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi
dari belanja kesehatan di sembilan pasar untuk masing-masing tahun:
Belanja Kesehatan per Kapita di Pasar-Pasar Tertentu, 2011-2017P
Sumber: Database Global Healthcare Expenditure, WHO pada http://apps.who.int/nha/database dan analisis Frost & Sullivan
Dibandingkan dengan sembilan pasar tersebut, Indonesia memiliki persentase pengeluaran kesehatan
oleh sektor swasta relatif lebih tinggi dikarenakan kurang tersedianya sistem pelayanan kesehatan yang
didanai oleh Pemerintah. Dengan diluncurkannya program JKN, Frost & Sullivan memperkirakan belanja
kesehatan publik akan meningkat pada CAGR 5,8% antara tahun 2015 dan 2017 mencapai US$11,6
miliar. Kenaikan ini meliputi sekitar 92 juta penduduk miskin atau hampir miskin yang ditanggung
dalam program JKN dimana Pemerintah memberikan subsidi penuh tanpa dipungut biaya. Frost &
Sullivan mengestimasi bahwa pengeluaran kesehatan oleh sektor swasta akan tumbuh pada CAGR 4,1%
antara tahun 2015 sampai dengan 2017 dikarenakan pertumbuhan segmen kelas menengah mendorong
pasien untuk mencari pelayanan kesehatan yang lebih baik. Selain itu, pasien dari fasilitas layanan
kesehatan publik diprediksi akan bermigrasi ke fasilitas layanan kesehatan swasta sehubungan dengan
fasilitas layanan publik yang semakin penuh. Grafik di bawah ini menunjukkan nilai aktual, estimasi
dan proyeksi dari belanja kesehatan oleh sektor publik dan sektor swasta di sembilan pasar yang sama
untuk masing-masing tahun:
178
Belanja Kesehatan Sektor Publik dan Swasta di Pasar-Pasar Tertentu, 2011-2017F
Sumber: Database Global Healthcare Expenditure,WHO pada http://apps.who.int/nha/database dan analisis Frost & Sullivan
Pada tahun 2015, terdapat 2.511 rumah sakit di Indonesia, dengan hampir 50% berada di Pulau Jawa, dan
sisanya tersebar di seluruh Indonesia. Rumah sakit swasta tercatat hanya 36,5% dari total 2.511 rumah
sakit di Indonesia pada tahun 2015. Dengan adanya program JKN, jumlah rumah sakit diproyeksikan akan
meningkat dari 2.511 pada tahun 2015 menjadi 2.588 pada tahun 2017 pada CAGR 1,5%, berdasarkan
estimasi dari Frost & Sullivan. Grafik berikut ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari
jumlah rumah sakit pemerintah dan swasta di Indonesia untuk masing-masing tahun:
Jumlah Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Indonesia, 2012-2017P
Faktor-faktor utama untuk mendorong pertumbuhan pasar pelayanan kesehatan di Indonesia
•
Penerapan Skema JKN yang konsisten mendorong permintaan di seluruh sektor pelayanan
kesehatan: Dengan implementasi Skema JKN, masyarakat di Indonesia akan memiliki akses
terhadap jasa pelayanan kesehatan yang lebih luas. Dengan demikian, lanskap pelayanan kesehatan
di Indonesia diperkirakan akan meningkat secara keseluruhan.
179
•
Perubahan gaya hidup dan meningkatnya kejadian penyakit tidak menular (non-communicable)/
penyakit kronis mendorong permintaan untuk rumah sakit khusus: Perubahan profil epidemiologi
sebagai akibat perubahan gaya hidup dan meningkatnya kejadian penyakit tidak menular/penyakit
kronis akan mendorong permintaan lebih besar untuk obat-obatan dan perawatan rumah sakit,
terutama rumah sakit khusus yang berfokus pada kardiologi dan onkologi. Berdasarkan estimasi
World Bank dan Frost & Sullivan, dengan tren urbanisasi yang melaju cepat dan diperkirakan akan
meningkat pada estimasi CAGR 2,4% antara tahun 2015 dan 2020, 57% dari masyarakat Indonesia
diprediksi akan tinggal di wilayah perkotaan pada tahun 2020.
Grafik di bawah ini menunjukan ukuran dampak penyakit kronik di Indonesia dari tahun 1990
menjadi 2010:
Ukuran Dampak (Disability-adjusted Life Year atau DALY)
Penyakit Kronik di Indonesia, 2012 - 2017P
Sumber: Global Burden of Disesase Study 2010 (Institute for Health Metrics and Evaluation, University of Washington)
•
Penuaan populasi membuka peluang untuk jasa pelayanan kesehatan terspesialisasi: Indonesia
telah mengalami kenaikan jumlah populasi usia lanjut berumur lebih dari 65 tahun. Hal ini akan
membuka peluang bagi penyedia jasa pelayanan kesehatan di segmen-segmen seperti perawatan
usia lanjut dan pengelolaan penyakit kronis.
•
Permintaan yang meningkat untuk pelayanan kesehatan berkualitas didukung oleh pertumbuhan
kelas menengah dan kenaikan kesadaran: Pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan terus
meningkatkan populasi kelas menengah hingga 168 juta pada tahun 2020 dari estimasi 128 juta
pada tahun 2015. Kelas menengah di Indonesia dibedakan tidak hanya dari daya beli, tapi juga
tingkat keahlian dan latar belakang yang lebih tinggi. Kelas menengah dengan tingkat pendapatan
dan kesadaran yang bertumbuh akan mendorong permintaan terhadap pelayanan kesehatan seiring
dengan jumlah konsumen dengan daya beli untuk hal-hal yang bersifat diskresioner, seperti jasa
pelayanan kesehatan yang lebih baik, yang terus meningkat.
180
•
Belanja pelayanan kesehatan yang bertumbuh: Belanja kesehatan di sektor publik akan bergantung
pada keberhasilan implementasi Skema JKN dalam tiga sampai dengan lima tahun ke depan. Namun
demikian, Frost & Sullivan memprediksi belanja kesehatan publik akan terus bertumbuh lebih cepat
dibandingkan dengan belanja kesehatan publik dalam beberapa tahun ke depan.
Pasar untuk Pemeriksaan Laboratorium Klinik di Indonesia
Laboratorium klinik adalah suatu tempat dimana pemeriksaan atas spesimen klinik dilakukan untuk
memperoleh informasi kesehatan seorang pasien sehubungan dengan diagnosa, perawatan dan
pencegahan penyakit. Pemeriksaan laboratorium klinik dapat dilakukan di banyak tempat, seperti rumah
sakit, klinik dan laboratorium independen.
Pasar pemeriksaan laboratorium klinik keseluruhan terbagi menjadi sektor publik dan sektor swasta.
Sektor swasta terdiri dari laboratorium rumah sakit, laboratorium independen dan klinik. Jejaring
klinik swasta utama dengan peralatan laboratorium klinik sederhana dapat melakukan pemeriksaan
laboratorium rutin seperti pengujian glukosa, pemeriksaan urin dan profil lipid, namun sebagian besar
pemeriksaan dialihkan ke laboratorium independen swasta, baik melalui rujukan dokter atau dengan
mengirimkan sampel yang telah diambil langsung di tempat. Laboratorium independen swasta lebih
lanjut dikelompokan menjadi laboratorium swasta tunggal dan laboratorium yang memiliki cabang
atau rantai laboratorium. Sektor publik terdiri dari laboratorium rumah sakit pemerintah, laboratorium
independen pemerintah dan Puskesmas. Pada tahun 2015, terdapat sekitar 3.428 laboratorium klinik
yang terdaftar di Indonesia, dimana sebanyak 1.594 laboratorium dimiliki oleh rumah sakit pemerintah,
917 laboratorium independen swasta dan 917 laboratorium yang dimiliki oleh rumah sakit swasta.
Sekitar 80% dari total laboratorium di Indonesia berada di wilayah Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.
Tabel di bawah ini menyajikan segmentasi pasar dan pangsa pasar berdasarkan pendapatan pasar
pemeriksaan laboratorium klinik di Indonesia.
Segmentasi Pasar Pemeriksaan Laboratorium Klinik di Indonesia, 2015
Sumber: Analisis Frost & Sullivan
Catatan:
1) Uraian mengenai pasar laboratorium klinik publik tidak tercakup dalam laporan ini.
2) Puskesmas adalah klinik kesehatan pratama milik Pemerintah yang berperan sebagai titik pelayanan pertama bagi pasien
untuk menerima perawatan primer.
3) Pendapatan untuk pasar klinik swasta hanya meliputi point of care testing (POCT), dan POCT tidak termasuk dalam total
pasar pemeriksaan laboratorium klinik.
4) Uraian persentase pada table di atas mengacu pada pangsa pasar berdasarkan pendapatan. Persentase antara laboratorium
rumah sakit swasta dan laboratorium independen swasta apabila digabung adalah total sektor swasta.
Di rumah sakit, pemeriksaan rutin yang paling banyak diminta adalah pemeriksaan hematologi rutin,
kolesterol dan urin yang dapat dilakukan sendiri oleh rumah sakit sementara pemeriksaan-pemeriksaan
khusus, seperti mikrobiologi, imunologi dan patologi anatomi umumnya dirujuk ke laboratorium lain.
Laboratorium independen swasta melakukan pemeriksaan rutin dan khusus dalam volume yang tinggi.
181
Ukuran pasar total untuk pemeriksaan oleh laboratorium klinik berdasarkan pendapatan di Indonesia
dinilai sebesar US$1.437 juta pada tahun 2015 dan berdasarkan estimasi dari Frost & Sullivan, pasar
diperkirakan akan tumbuh pada CAGR 12,9% menjadi US$1.830 juta pada tahun 2017. Frost & Sullivan
mengestimasi sebanyak 383 juta pemeriksaan dilakukan pada tahun 2015 dan volume pemeriksaan
dalam setahun diperkirakan akan meningkat menjadi sebesar 451 juta pada tahun 2017, bertumbuh
pada CAGR 8,5%. Grafik di bawah ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari ukuran pasar
pemeriksaan laboratorium klinik berdasarkan pendapatan di Indonesia untuk masing-masing tahun:
Dibandingkan dengan negara-negara lain, pasar pemeriksaan laboratorium klinik di Indonesia saat
ini belum terlayani dengan baik (underpenetrated) dengan potensi pertumbuhan yang besar relatif
terhadap pasar-pasar yang lebih berkembang. Grafik di bawah ini menyajikan belanja per kapita untuk
pemeriksaan laboratorium klinik di delapan pasar untuk masing-masing tahun:
182
Pemeriksaan laboratorium klinik memiliki peranan penting dalam rantai nilai pelayanan kesehatan
dengan menyediakan informasi penting untuk pengambilan keputusan medis bagi individual dan praktisi
medik, dan melayani segmen pelayanan kesehatan dari sektor publik dan swasta yang membentuk sistem
pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Seiring dengan bertambahnya masyarakat yang bergabung
dalam program JKN dan kenaikan tingkat pendapatan yang mengakibatkan lebih banyak orang memiliki
akses pada asuransi kesehatan swasta atau bentuk jaminan kesehatan lainnya, permintaan terhadap jasa
pelayanan kesehatan yang berkualitas dan skrining penyakit yang lebih cepat akan turut meningkat.
Pertumbuhan tingkat pendapatan dan aksesibilitas layanan kesehatan didukung dengan meningkatnya
kejadian penyakit menular dan tidak menular seperti jantung, kanker dan diabetes diharapkan dapat
mendorong pertumbuhan pasar pemeriksaan laboratorium.
Rantai Nilai Pasar Laboratorium Klinik
Sumber: Analisis Frost & Sullivan
Faktor-faktor utama untuk mendorong pertumbuhan pasar pemeriksaan laboratorium klinik di
Indonesia
•
Jaminan Kesehatan Nasional (“JKN”) meningkatkan permintaan untuk pemeriksaan laboratorium:
Cakupan JKN yang bertambah luas mengakibatkan jasa pelayanan kesehatan menjadi lebih mudah
diakses sehingga akan mendorong bertambahnya jumlah masyarakat yang mencari perawatan dan
dengan demikian akan meningkatkan pemeriksaan laboratorium. Skema JKN diharapkan akan
meningkatkan permintaan untuk pemeriksaan dasar dan khusus.
•
Meningkatnya kejadian penyakit tidak menular dan penyakit menular: Berdasarkan World Health
Organization, pada tahun 2014, jantung, kanker dan diabetes merupakan penyakit yang menyebabkan
56% kematian di Indonesia. Indonesia juga adalah salah satu negara dengan jumlah kasus TB
terbanyak di dunia sebesar 10%. Meningkatnya sakit yang disebabkan penyakit tidak menular dan
penyakit menular akan mendorong permintaan untuk pemeriksaan jantung, petanda tumor (tumor
marker), tes metabolic, malaria dan tes TB.
•
Meningkatnya kesadaran akan perawatan kesehatan preventif dan pertumbuhan pendapatan untuk
dibelanjakan akan mendorong permintaan atas pemeriksaan kesehatan: Pertumbuhan pendapatan
perseorangan yang dapat dibelanjakan akan menyebabkan pengeluaran jasa pelayanan kesehatan
termasuk pemeriksaan klinik yang lebih besar. Frost & Sullivan memperkirakan akan adanya
kenaikan kalangan masyarakat berpenghasilan menengah dan atas yang mencari pemeriksaan
kesehatan preventif. Pemeriksaan kesehatan saat ini didorong oleh pasien individu dan klien
korporasi, bersama-sama memberikan kontribusi sampai dengan 50% dari total volume pemeriksaan
183
yang dilakukan oleh laboratorium independen swasta. Frost & Sullivan memperkirakan jumlah
orang yang melakukan pemeriksaan kesehatan akan bertambah sekitar 2,2% setiap tahun seiring
dengan promosi kesehatan yang lebih menekankan pada preventif.
•
Pengenalan pemeriksaan khusus yang baru: Ragam pemeriksaan yang banyak dari pemeriksaan
rutin hingga pemeriksaan yang lebih khusus, meliputi platform genomik dengan kemampuan
multiplexing untuk membantu kelompok pasien yang berbeda dengan diagnosis yang tepat dan
mempercepat konsultasi perawatan.
Pasar untuk Pemeriksaan Laboratorium Klinik Swasta di Indonesia
Dari tahun 2011 sampai dengan 2015, total pasar pemeriksaan laboratorium swasta telah naik dari US$386
juta menjadi US$615 juta, bertumbuh pada CAGR 12,4%. Frost & Sullivan memprediksi bahwa pasar
akan tumbuh pada CAGR 15,2% menjadi US$817 juta pada tahun 2017. Meskipun laboratorium di rumah
sakit swasta menyumbang pangsa terbesar dari total pasar untuk sektor swasta (62%) pada tahun 2015,
Frost & Sullivan memperkirakan laboratorium independen swasta akan tumbuh lebih cepat daripada
laboratorium rumah sakit. Laboratorium independen swasta akan memperoleh tambahan pangsa pasar
melalui kenaikan jumlah laboratorium klinik di seluruh Indonesia dan dengan menangkap permintaan
dari berbagai segmen pelanggan.
Peluncuran JKN di awal tahun 2014 langsung meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan dimana hal ini mengakibatkan pemanfaatan jasa layanan kesehatan publik yang lebih besar
dan penurunan kunjungan pasien ke rumah sakit dan klinik swasta. Untuk laboratorium independen
swasta, hal ini berarti kunjungan pasien yang lebih sedikit baik kunjungan dari pelanggan individu
maupun pelanggan dengan rujukan dokter, serta jumlah pemeriksaan laboratorium klinik yang lebih
rendah melalui rujukan pihak ketiga dari klinik dan rumah sakit swasta. Selain itu, banyak laboratorium
independen swasta memutuskan untuk tidak berpartisipasi secara aktif dalam program JKN terutama
karena tingkat penggantian yang dinilai rendah. Hal ini mengakibatkan CAGR pasar pada tahun 20132015 menjadi lebih rendah dibandingkan CAGR pada tahun 2011-2013.
Seiring dengan bertambah luasnya cakupan JKN, hal ini akan menambah beban terhadap kapasitas
infrastruktur sektor publik, sehingga menyebabkan waktu tunggu dan waktu selesai pemeriksaan yang
lebih lama. Hal ini membuka peluang bisnis bagi sektor swasta melalui rujukan dokter, pelanggan
individu dan rujukan sampel untuk pemeriksaan. Segmen kelas menengah yang bertumbuh, disertai
kenaikan penghasilan yang dapat dibelanjakan untuk kunjungan laboratorium klinik dan pemeriksaan
kesehatan preventif oleh pelanggan individu, akan mendatangkan peluang pertumbuhan yang signifikan
dalam pasar laboratorium independen swasta.
Pertumbuhan volume pasien yang melemah di tahap awal implementasi skema JKN juga berdampak
pada rencana ekspansi banyak rantai laboratorium swasta. Tidak ada ekspansi berarti selama periode
tersebut oleh pemain laboratorium independen swasta kunci dikarenakan adanya ketidakpastian mengenai
dampak dari implementasi JKN serta perlambatan ekonomi yang terjadi bersamaan. Namun demikian,
pada akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015, pasar laboratorium independen swasta mendapatkan
momentum seiring dengan pasien mulai beralih ke laboratorium independen swasta dan pertumbuhan
dapat dilihat di segmen pelanggan individu dan rujukan dokter. Pemain laboratorium independen kunci
yang terkemuka memperkirakan tren ini masih akan berlanjut.
Grafik di bawah ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari ukuran pasar pemeriksaan
laboratorium klinik swasta berdasarkan pendapatan di Indonesia untuk masing-masing tahun:
184
Ukuran Pasar Total untuk Pemeriksaan Laboratorium Klinik
Berdasarkan Pendapatan, Indonesia, 2011-2017P
Dengan 70% dari rumah sakit pemerintah dan swasta di Indonesia berlokasi di Pulau Jawa dan Sumatera,
wilayah-wilayah ini memiliki jumlah dokter umum dan dokter spesialis tertinggi, dan oleh karena itu
memberikan sumber rujukan untuk pemeriksaan laboratorium klinik terbanyak. Wilayah-wilayah ini
juga memiliki laju urbanisasi yang tinggi dan populasi yang lebih sejahtera, sehingga mendatangkan
akses dan permintaan yang lebih besar untuk jasa pemeriksaan laboratorium klinik. Pada tahun 2015,
sekitar 86% dari total pendapatan pemeriksaan laboratorium klinik swasta di Indonesia berasal dari
Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.
Pemain laboratorium independen swasta kunci juga berkumpul di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.
Laboratorium independen di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera menawarkan ragam
jasa pemeriksaan laboratorium klinik yang lebih banyak dan peralatan modern, tetapi sebagian besar
wilayah di Kalimantan, Sulawesi dan Papua belum terlayani dengan baik, dimana hal ini mengindikasikan
peluang pertumbuhan yang tinggi. Dengan demikian, terdapat peluang bagi laboratorium independen
swasta untuk meningkatkan jejaring mereka di wilayah-wilayah yang belum terlayani dengan baik.
Pelanggan menjunjung tinggi pemain kunci dalam hal penawaran layanan yang komprehensif dan
kualitas pemeriksaan. Meskipun harga pemeriksaan dapat berbeda antar propinsi di Indonesia, kualitas
dari pemeriksaan yang dilakukan oleh pemain kunci dipandang relatif sama di seluruh Indonesia.
Grafik di bawah ini menyajikan pendapatan laboratorium klinik swasta per propinsi di Indonesia pada
tahun 2015:
185
Total Pendapatan Laboratorium Klinik Swasta per Propinsi, Indonesia, 2015
Sumber: Analisis Frost & Sullivan
Catatan:
Angka-angka dalam grafik ini hanya mencakup laboratorium rumah sakit swasta dan laboratorium independen swasta. Pasar
untuk POCT tidak termasuk. Propinsi yang di-highlight berada di Pulau Jawa dan Sumatera.
Pengelompokan propinsi berdasarkan wilayah terdiri dari:
Wilayah I: Negara Aceh Darussalam dan Sumatera Utara
Wilayah II: Sumatera Barat, Riau dan Jambi
Wilayah III: Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat (Bogor, Bekasi dan
Cikarang)
Wilayah IV: Jawa Barat
Wilayah V: Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur (Madiun)
Wilayah VI: Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur
Wilayah VII: Kalimantan
Wilayah VIII: Sulawesi, Gorontalo, Maluku dan Maluku Utara
Pasar untuk Laboratorium Independen Swasta
Laboratorium independen di seluruh Indonesia beroperasi menggunakan model bisnis hub-and-spoke.
Dalam model ini, perusahaan-perusahaan mengoperasikan laboratorium pusat, yang dikenal sebagai
hub, dengan kemampuan melakukan pemeriksaan laboratorium klinik yang lengkap dan berada di
kota-kota besar dan laboratorium skala kecil, dikenal sebagai spokes, dengan kemampuan diagnostik
yang terbatas dan berada di kota-kota/propinsi kecil. Di samping melakukan pemeriksaan rutin, spokes
berperan sebagai pusat pengumpulan untuk spesimen yang membutuhkan pemeriksaan lebih khusus yang
akan diarahkan ke laboratorium rujukan di hub. Pemeriksaan khusus seperti pemeriksaan mikrobiologi,
patologi anatomi dan esoterik umumnya dilakukan di laboratorium rujukan.
Pada tahun 2015, terdapat 917 laboratorium independen swasta di Indonesia. Frost & Sullivan
mengestimasi total laboratorium independen swasta akan meningkat menjadi 986 pada tahun 2017,
bertumbuh pada CAGR 3,7%. Grafik di bawah ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari
jumlah laboratorium independen swasta di Indonesia untuk masing-masing tahun:
186
Jumlah Total Laboratorium Independen Swasta, Indonesia, 2011-2017P
Ukuran pasar laboratorium klinik independen swasta berdasarkan pendapatan tumbuh dari US$145
juta pada tahun 2011 menjadi US$235 juta pada tahun 2015 dan Frost & Sullivan memprediksi pasar
ini akan berkembang pada CAGR 16,3% untuk mencapai US$319 juta pada tahun 2017, sehingga akan
menjadikan pasar ini sebagai salah satu pasar jasa pelayanan kesehatan di Indonesia dengan pertumbuhan
tercepat. Terdapat sekitar 39 juta pemeriksaan klinik dilakukan pada tahun 2015 dan volume pemeriksaan
tahunan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut menjadi 45 juta pada tahun 2017, bertumbuh pada
CAGR 8,0%. Grafik di bawah ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari pendapatan pasar
laboratorium independen swasta di Indonesia untuk masing-masing tahun:
Ukuran Pasar Total untuk Pemeriksaan Laboratorium Swasta
Berdasarkan Pendapatan, Indonesia, 2011-2017F
187
Pasar laboratorium klinik independen swasta di Indonesia sangat terfragmentasi dan terdiri dari rantai
laboratorium dan laboratorium tunggal. Rantai laboratorium adalah pemain pasar utama di Indonesia.
Terdapat enam pemain utama yang secara kolektif mewakili sekitar 68% dari total pendapatan dan
62% dari total volume pemeriksaan pasar laboratorium independen swasta pada tahun 2015. Rantai
laboratorium utama melakukan ekspansi geografis di luar kota-kota besar dan menjajaki peluang di
daerah tertinggal, di mana pertumbuhan dari daerah-daerah ini akan lebih meningkatkan pangsa pasar
mereka di pasar laboratorium independen swasta di Indonesia.
Laboratorium independen swasta memiliki empat segmen pelanggan yang berbeda, yaitu pelanggan
individu (pelanggan yang datang tanpa rujukan), referensi dokter (pelanggan yang dirujuk oleh dokter
mereka), referensi pihak ketiga (pasien dan sampel pemeriksaan dirujuk dari penyedia pelayanan
kesehatan seperti rumah sakit dan laboratorium klinik lain), dan klien korporasi (pelanggan/pasien
yang ditanggung oleh perusahaan untuk program pemeriksaan kesehatan tahunan).
Laboratorium rumah sakit swasta dan pemerintah menemukan bahwa merujuk kepada pihak luar
pemeriksaan khusus dengan permintaan yang rendah, seperti mikrobiologi, anatomi patologi dan
pemeriksaan esoterik, lebih efektif dari segi biaya, dikarenakan biaya yang tinggi untuk peralatan
laboratorium. Rumah sakit umumnya menandatangani nota kesepahaman dengan satu atau lebih
laboratorium rujukan, dimana preferensi utama biasanya adalah laboratorium independen swasta. Di
sisi lain, klinik swasta biasanya melakukan pemeriksaan laboratorium di tempat (POCT atau Point of
Care Testing) yang meliputi pemeriksaan rutin seperti glukosa, profil lipid dan pemeriksaan urin dengan
menggunakan peralatan di POCT. Dalam banyak kasus, spesimen akan diambil dari pasien dan dirujuk
ke laboratorium di rumah sakit atau laboratorium independen untuk pengujian klinik.
Pada tahun 2015, 38% dari volume pemeriksaan di laboratorium independen swasta berasal dari rujukan
dokter, diikuti oleh pelanggan individu sebesar 25%. 23% dari pelanggan mereka adalah klien korporasi
yang memiliki hubungan kerjasama untuk pemeriksaan kesehatan karyawan tahunan dan sisanya melalui
referensi pihak ketiga dari penyedia pelayanan kesehatan lain.
Di kota-kota besar, dimana rantai laboratorium utama yang melakukan pemeriksaan laboratorium klinik
terkonsentrasi, di samping pelanggan individu, referensi dokter dan referensi pihak ketiga, penyedia
pemeriksaan laboratorium klinik juga dapat membentuk kerjasama dengan korporasi dan perusahaan
asuransi untuk menyediakan jasa pemeriksaan bagi karyawan mereka dan calon pemegang polis. Namun
demikian, sebagian besar pelanggan di kota-kota kecil berasal dari rujukan rumah sakit dan referensi
dokter dikarenakan ketersediaan fasilitas laboratorium klinik yang terbatas di wilayah tersebut dan
sebagian besar dari pemeriksaan tersebut dirujuk ke laboratorium independen swasta.
188
JKN berkontribusi terhadap penambahan volume pasien dan kenaikan penggunaan fasilitas kesehatan
sektor publik, yang mengakibatkan terjadinya kepadatan yang berlebihan, tingkat hunian yang tinggi dan
permintaan yang lebih banyak untuk pemeriksaan laboratorium di sektor publik. Situasi ini kemungkinan
akan menjadi lebih buruk seiring dengan implementasi penuh JKN pada tahun 2019. Untuk menghadapi
tantangan ini, terdapat kemungkinan akan lebih banyak rumah sakit pemerintah yang merujuk sampel
ke laboratorium independen swasta untuk pengujian klinik, sehingga menghasilkan pertumbuhan
segmen referensi pihak ketiga di pasar laboratorium independen swasta. Lebih lanjut, seiring dengan
beralihnya pasien dari sektor publik ke sektor swasta, rujukan dokter akan turut meningkat di pasar
laboratorium independen swasta.
Meskipun standarisasi kesepakatan koordinasi manfaat (“CoB”) antara asuransi swasta dan JKN telah
dinegosiasikan sejak implementasi JKN pada tahun 2014 dan diperkirakan akan dapat difinalisasi di akhir
tahun 2016, saat ini tidak ada indikasi bahwa CoB akan dapat digunakan di laboratorium independen
swasta. Namun demikian, skema CoB akan membuka peluang bagi laboratorium independen swasta
melalui kolaborasi dengan rumah sakit swasta sebagai referensi pihak ketiga. Rumah sakit swasta tanpa
fasilitas untuk melakukan pemeriksaan khusus atau esoterik akan dapat merujuk pemeriksaan kepada
laboratorium independen swasta bagi pasien yang membutuhkan pemeriksaan ini dan ditanggung
melalui skema CoB.
Pembagian Total Volume Pemeriksaan oleh Laboratorium Independen Swasta
berdasarkan Segmen Konsumen, 2015
Klien korporasi, asuransi kesehatan swasta dan pelanggan yang membayar tunai (out of pocket) secara
rata-rata memberikan kontribusi yang hampir sama terhadap total volume pemeriksaan laboratorium
independen swasta, masing-masing sebesar 34%, 32% dan 31%. Namun demikian, mayoritas perusahaan
asuransi swasta tidak menanggung pasien individu yang datang untuk pemeriksaan kesehatan. Hanya
3% dari volume pemeriksaan dikontribusi oleh pasien BPJS dikarenakan kerjasama yang terbatas antara
JKN dan laboratorium independen. JKN telah berkolaborasi dengan laboratorium independen terutama
untuk diagnosis pencegahan seperti pemeriksaan IVA dan pap smear untuk kanker serviks. Berdasarkan
Frost & Sullivan, lebih banyak pemain kunci diperkirakan akan bermitra dengan JKN di masa mendatang.
189
Pembagian Total Volume Pemeriksaan oleh Laboratorium Independen Swasta
Berdasarkan Pemain Kunci, 2015
Indikator Utama Keberhasilan di Pasar Pemeriksaan untuk Laboratorium Klinik Independen
Swasta di Indonesia
•
Brand Equity: Reputasi laboratorium umumnya adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
pengambilan keputusan untuk rujukan rumah sakit ke laboratorium dan laboratorium ke laboratorium.
Laboratorium rumah sakit dan laboratorium independen mencari laboratorium pihak ketiga yang
memiliki reputasi untuk hasil yang dapat diandalkan dengan akurasi yang tinggi pada harga yang
kompetitif. Pelanggan juga akan mengunjungi laboratorium independen dengan nama merek yang
baik.
•
Jejaring & Lokasi: Perkembangan jejaring laboratorium juga penting untuk memaksimalkan rujukan
dan agar dapat mengambil kunjungan dari berbagai segmen pelanggan. Sebagai contoh, membuka
sebuah cabang di daerah sekitar beberapa rumah sakit membuka peluang untuk menerima rujukan
dari rumah sakit-rumah sakit ini. Demikian pula, membuka sebuah cabang dekat wilayah industri
atau kawasan bisnis akan membuka peluang untuk mengambil klien korporasi tambahan dikarenakan
lokasinya yang mudah dijangkau oleh karyawan.
•
Efisiensi Biaya: Cakupan JKN yang meliputi seluruh masyarakat akan memberikan tekanan terhadap
profitabilitas rumah sakit. Biaya biasanya merupakan faktor penentu untuk memilih laboratorium
independen swasta yang akan dirujuk untuk pemeriksaan setelah nama merek dan akreditasi rumah
sakit.
•
Layanan (menu pemeriksaan, logistik dan layanan pelanggan): Untuk laboratorium rumah sakit
atau laboratorium independen yang bermaksud memilih laboratorium rujukan, sangat penting
bagi laboratorium untuk dapat menawarkan layanan logistik pengambilan dan pengantaran hasil
pemeriksaan. Meningkatkan layanan pelanggan, memperkenalkan tes baru dan penggunaan layanan
online juga penting.
•
Akreditasi: Rumah sakit, klinik dan laboratorium independen yang merujuk pemeriksaan kepada
laboratorium independen swasta lain umumnya lebih memilih laboratorium yang memiliki salah
satu akreditasi nasional atau internasional untuk menjamin hasil pemeriksaan yang kualitas tinggi
dan konsisten.
Tren Utama di Pasar Laboratorium Independen Swasta di Indonesia
•
Membuka peluang bisnis baru melalui ekspansi jejaring di luar Pulau Jawa: Seiring dengan
rumah sakit swasta yang memperluas layanannya di luar Pulau Jawa, hal ini akan mendatangkan
permintaan yang besar untuk layanan medik termasuk pemeriksaan diagnostik, khususnya di bagian
timur Indonesia.
190
•
Berfokus pada jasa layanan perawatan preventif & wellness: Berdasarkan Frost & Sullivan,
meningkatnya kesadaran terhadap layanan ksehatan preventif akan meningkatkan permintaan
atas pemeriksaan diagnostik dini agar dapat melakukan intervensi terapi yang efektif. Tren yang
berkembang dalam pemeriksaan dari disiplin ilmu tertentu, yang meliputi pemeriksaan untuk
metabolik dan penyakit jantung, konsultasi dengan ahli gizi dan dokter spesialis di bidang kedokteran
olah raga, diperkirakan akan meningkat.
•
Meningkatkan kemampuan pemeriksaan esoterik dan mengembangkan segmen pemeriksaan untuk
memadukan precision medicine: Dari segi biaya, melakukan pemeriksaan esoterik dengan volume
yang rendah tidak efektif bagi sebagian besar rumah sakit, klinik atau laboratorium swasta tunggal
dikarenakan fasilitas-fasilitas ini memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan esoterik
langsung di tempat yang terbatas. Pengobatan personal dapat membantu untuk mengidentifikasi
perawatan yang tepat, pada dosis yang tepat untuk secara efektif meningkatkan mutu perawatan.
•
Memperkenalkan langkah-langkah untuk meningkatkan efisiensi proses guna menjamin pertumbuhan
yang menguntungkan dan berkesinambungan: Meningkatnya persaingan, terutama di kalangan
pemain-pemain utama akan menyebabkan munculnya faktor-faktor yang membedakan untuk
mengembangkan bisnis. Efisiensi yang meningkat akan menyebabkan pengurangan biaya dan
kenaikan marjin keuntungan dan/atau tingkat kompetisi yang semakin bertambah.
Pasar untuk Diagnostik Imaging Swasta
Selain layanan laboratorium klinik, laboratorium independen swasta juga menawarkan layanan diagnostik
imaging. Pada tahun 2015, ukuran pasar diagnostik imaging swasta di Indonesia dinilai sebesar US$25
juta dengan Frost & Sullivan mengestimasi pasar untuk bertumbuh pada CAGR 15,5% antara tahun
2015 dan 2017 untuk mencapai US$34 juta pada tahun 2017. Pertumbuhan ini dihasilkan dari kenaikan
jumlah laboratorium klinik independen swasta yang menawarkan layanan diagnostik imaging. Dengan
menawarkan baik laboratorium klinik maupun layanan non-laboratorium seperti diagnostik imaging,
laboratorium independen berusaha memberikan paket pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif.
Grafik di bawah ini menyajikan nilai aktual, estimasi dan proyeksi dari ukuran pasar berdasarkan
pendapatan pasar diagnostik imaging swasta di Indonesia untuk masing-masing tahun:
Ukuran Total Pasar Diagnostik Imaging Swasta
Berdasarkan Pendapatan, Indonesia, 2011-2017P
191
Lanskap Persaingan
Pasar laboratorium klinik independen swasta sangat terfragmentasi, dengan enam pemain utama
mewakili sekitar 68% dari total pendapatan pasar laboratorium independen swasta pada tahun 2015.
Enam pemain utama ini terdiri dari Prodia, Kimia Farma, Pramita, Parahita, Cito dan Biomedika.
Menurut Frost & Sullivan, berdasarkan survei terakhir yang dilakukan pada tahun 2016 untuk meneliti
prilaku konsumen di pemeriksaan laboratorium klinik, Prodia adalah laboratorium paling dikenal untuk
pemeriksaan kesehatan dan kunjungan laboratorium oleh pelanggan individu. Prodia dinilai memiliki
citra merek yang tinggi secara umum di antara para konsumen (sekitar 55% dari responden mengingat
merek Prodia sebagai merek laboratorium teratas di dalam benak mereka dan sekitar 97% dari seluruh
responden mengetahui brand image Prodia) dan memiliki asosiasi yang kuat sebagai laboratorium
dengan kemampuan layanan pemeriksaan laboratorium klinik yang canggih dan menawarkan ragam
pemeriksaan yang banyak.
Enam pemain utama secara kolektif memiliki 244 laboratorium klinik per 31 Desember 2015. Prodia
adalah pemimpin pasar yang mendominasi dengan 130 laboratorium klinik di seluruh Indonesia per
31 Desember 2015. Selain itu, Prodia didukung oleh 111 collection center pada klinik dokter, 16 POC
center pada klinik dokter dan 11 laboratorium yang terafiliasi dengan rumah sakit.
Jumlah Laboratorium Klinik dari 6 Pemain Utama di Indonesia, 2015
Pemain utama
Prodia
Kimia Farma
Pramita
Cito
Parahita
Biomedika
Jawa
70
29
18
19
14
13
Jumlah laboratorium klinik
Di luar Jawa
58
14
5
2
1
1
Total
128
43
23
21
15
14
Sumber: Situs masing-masing perusahaan yang dikumpulkan oleh Frost & Sullivan
Catatan: Data per 31 Desember 2015. Pemain utama disusun berdasarkan total laboratorium klinik dari paling banyak hingga
paling sedikit.
Berdasarkan Frost & Sullivan, pada tahun 2015, Prodia adalah perusahaan terbesar dalam hal pendapatan
dengan pangsa pasar sebesar 35% di pasar pemeriksaan laboratorium independen swasta di Indonesia.
Jejaring laboratorium kliniknya yang luas di seluruh Indonesia juga lebih besar dibandingkan dengan
milik lima pesaing terdekat Perseroan jika digabung. Sisanya, selain enam pemain utama, mewakili
sekitar 32% dari pasar dalam hal pendapatan. Kimia Farma adalah pesaing Prodia terdekat dalam hal
ukuran jejaring cabang. Kimia Farma, badan usaha milik negara, menyediakan layanan kesehatan
terintegrasi meliputi layanan farmasi, klinik kesehatan, laboratorium klinik dan pusat pemeriksaan
penglihatan dengan mengusung konsep One Stop Health Care Solution (OSHcS). Tidak seperti pemain
lain, laboratorium klinik Kimia Farma sebagian besar melayani pasien BPJS secara tidak langsung
melalui sampel yang dirujuk dari jejaring klinik miliknya, serta pelanggan individu dan rujukan dokter.
Untuk meningkatkan pangsa pasar, pemain laboratorium independen swasta telah dapat menambah
sumber pendapatannya melalui ekspansi geografis, pengenalan pemeriksaan dan layanan baru dan
pemasaran di berbagai segment pelanggan.
192
Pangsa Pasar Berdasarkan Pendapatan Pemain Utama, 2015
Penawaran Layanan dan Pengendalian Mutu
Enam pemain utama semuanya menawarkan layanan pemeriksaan laboratorium klinik dan layanan nonlaboratorium seperti layanan diagnostik imaging. Sebagian besar pemain menawarkan layanan seperti
hasil pemeriksaan yang dapat dilihat secara online, namun Cito saat ini telah menyediakan layanan
belanja online paket kesehatan.
Meskipun pemain-pemain utama juga menawarkan pelayanan kesehatan secara mobile/di rumah yang
memungkinkan pengambilan spesimen pasien di rumah masing-masing pasien, hanya Prodia dan Cito
yang menawarkan pendaftaran janji bertemu secara online untuk layanan pengambilan spesimen di
rumah melalui situs mereka. Prodia adalah satu-satunya pemain yang mengoperasikan klinik khusus
yang melayani jenis pasien tertentu. Prodia Children Health Center adalah klinik khusus pertama milik
Prodia dan perusahaan bermaksud membuka klinik khusus tambahan di area kedokteran seperti anakanak, kesehatan wanita dan gerontologi.
Prodia memiliki salah satu program pemantapan mutu paling ketat untuk laboratorium klinik di Indonesia
dengan menjadi satu-satunya laboratorium klinik di Indonesia yang menerima akreditasi dari College
of American Pathologists, otoritas badan akreditasi standar internasional dalam pemantapan mutu
laboratorium. Akreditasi ini diterima oleh laboratorium rujukan Prodia di Jakarta yang lebih dikenal
sebagai Laboratorium Pusat Rujukan Nasional (“Lab PRN”) Prodia. Prodia juga adalah laboratorium
klinik pertama di Indonesia yang menerima sertifikasi akreditasi internasional ISO 15189, yang khusus
dirancang untuk laboratorium medik. 25 dari laboratorium Prodia telah menerima sertifikasi untuk
kualitas sistemnya. Selain itu, Lab PRN telah menerima akreditasi ISO 17025 untuk laboratorium
kalibrasi pada tahun 2015. Laboratorium kalibrasi Prodia didirikan pada tahun 2004 untuk menjamin
kualitas dari layanan pemeriksaan Prodia.
193
XI. PERATURAN DALAM INDUSTRI
11.1.
Peraturan dalam Industri Pelayanan Kesehatan
Pada tahun 2009, Pemerintah memberlakukan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(“UU Kesehatan”). UU Kesehatan dilaksanakan melalui sejumlah peraturan di sektor kesehatan, seperti
Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (“PerPres 72/2012”) dan
Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Kesehatan (“PP 46/2014”).
Sehubungan dengan klinik dan laboratorium, Menteri Kesehatan telah menerbitkan beberapa peraturan,
antara lain Peraturan Menteri Kesehatan No. 411/Menkes/Per/III/2010 tentang Laboratorium Klinik
(“PerMenKes 411/2010”) dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2014 tentang Klinik
(“PerMenKes 9/2014”).
UU Kesehatan mengatur secara garis besar syarat dan ketentuan terkait pelayanan kesehatan dan sistem
medik, termasuk pendistribusian obat dan tenaga kesehatan. Berdasarkan UU Kesehatan, fasilitas
pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan pihak-pihak swasta.
Fasilitas pelayanan kesehatan, menurut jenis pelayanannya, terdiri atas dapat pelayanan kesehatan
perseorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Lebih lanjut, fasilitas pelayanan kesehatan, secara
umum, dapat dibagi menjadi pelayanan kesehatan tingkat pertama, tingkat kedua dan tingkat ketiga.
Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama meliputi fasilitas pelayanan kesehatan dasar; fasilitas
pelayanan kesehatan tingkat kedua meliputi fasilitas pelayanan kesehatan spesialistik; dan fasilitas
pelayanan kesehatan tingkat ketiga meliputi fasilitas pelayanan kesehatan sub spesialistik. Penentuan
jenis fasilitas pelayanan ksehatan serta pemberian izin beroperasi akan mengikuti peraturan pemerintah
daerah.
UU Kesehatan juga secara umum mengatur bahwa Menteri Kesehatan dapat mengambil tindakan
administratif berupa peringatan secara tertulis atau pencabutan izin dalam melakukan fungsi pengawasan
terhadap pelanggaran berdasarkan UU Kesehatan.
Laboratorium Klinik
Berdasarkan PerMenKes 411/2010, laboratorium klinik dapat diselenggarakan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah atau pihak-pihak swasta. Laboratorium klinik yang diselenggarakan oleh Pemerintah
atau pemerintah daerah harus berbentuk unit pelaksana teknis, instansi pemerintah atau lembaga
teknis daerah. Laboratorium klinik yang diselenggarakan oleh swasta harus berbadan hukum. Setiap
penyelenggaraan laboratorium klinik harus memiliki izin penyelenggaraan laboratorium klinik.
Izin penyelenggaraan untuk laboratorium klinik diberikan untuk jangka waktu lima tahun dan dapat
diperpanjang untuk lima tahun berikutnya dengan ketentuan sepanjang memenuhi persyaratan.
Laboratorium klinik terbagi menjadi (i) laboratorium klinik umum, yang melaksanakan pelayanan
pemeriksaan spesimen klinik di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik
dan imunologi klinik; dan (ii) laboratorium klinik khusus, yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan
spesimen klinik pada satu bidang pemeriksaan khusus dengan kemampuan tertentu.
Untuk mempertahankan mutu dari laboratorium klinik, PerMenKes 411/2010 mewajibkan laboratorium
klinik mengikuti akreditasi laboratorium setiap lima tahun. Akreditasi ini diselenggarakan oleh Komite
Akreditasi Laboratorium Kesehatan. Di samping kewajiban akreditasi secara berkala, laboratorium
klinik juga harus memberikan laporan secara berkala setiap tiga bulan kepada instansi pemberi izin.
Menteri Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan melakukan
pengawasan penyelenggaraan laboratorium klinik. Dalam rangka pengawasan, mereka dapat mengambil
tindakan administratif berupa (i) teguran lisan; (ii) teguran tertulis; atau (iii) pencabutan izin.
194
Laboratorium Klinik Umum
Laboratorium klinik umum diklasifikasikan menjadi (i) laboratorium klinik umum pratama; (ii)
laboratorium klinik umum madya; dan (iii) laboratorium klinik umum utama.
Laboratorium klinik umum pratama memiliki kemampuan pemeriksaan terbatas dengan teknik sederhana.
Laboratorium klinik umum pratama harus memenuhi ketentuan ketenagaan meliputi (i) sekurangkurangnya seorang dokter dengan sertifikat pelatihan teknis dan manajemen laboratorium kesehatan
sebagai penanggung jawab teknis; dan (ii) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya dua
orang analis kesehatan serta satu orang tenaga administrasi. Izin penyelenggaraan laboratorium klinik
umum pratama diberikan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.
Laboratorium klinik umum madya memiliki kemampuan pemeriksaan tingkat laboratorium klinik umum
pratama dan pemeriksaan imunologi dengan teknik sederhana. Laboratorium klinik umum madya harus
memenuhi ketentuan ketenagaan meliputi (i) sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis patologi
klinik sebagai penanggung jawab teknis; dan (ii) tenaga teknis dan administrasi sekurang-kurangnya
empat orang analis kesehatan dan dua orang tenaga administrasi. Izin penyelenggaraan laboratorium
klinik madya diberikan oleh kepala dinas kesehatan propinsi atas rekomendasi kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota.
Laboratorium klinik umum utama memiliki kemampuan pemeriksaan lebih lengkap dari laboratorium
klinik umum madya dengan teknik automatik. Laboratorium klinik utama harus memenuhi ketentuan
ketenagaan meliputi (i) sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis patologi klinik sebagai
penanggung jawab teknis; dan (ii) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya satu orang
dokter spesialis patologi klinik, enam orang tenaga analis kesehatan dan dua orang diantaranya memiliki
sertifikat pelatihan khusus mikrobiologi, satu orang perawat, dan tiga orang tenaga administrasi. Izin
penyelenggaraan laboratorium klinik umum utama diberikan oleh direktur jenderal bina pelayanan
medik atas rekomendasi kepala dinas kesehatan propinsi.
Laboratorium hanya membutuhkan satu dari tiga izin penyelenggaraan laboratorium klinik, khususnya
izin yang membutuhkan persetujuan yang tertinggi. Sebagai contoh, laboratorium klinik umum utama
tidak membutuhkan izin laboratorium klinik umum madya atau izin laboratorium klinik utama pratama
dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota atau kepala dinas kesehatan propinsi yang relevan.
Laboratorium Klinik Khusus
Laboratorium klinik khusus terdiri atas (i) laboratorium mikrobiologi klinik; (ii) laboratorium
parasitologi klinik; dan (iii) laboratorium patologi klinik. Izin penyelenggaraan laboratorium klinik
khusus diberikan oleh direktur jenderal bina pelayanan medik atas rekomendasi kepala dinas kesehatan
propinsi.
Laboratorium mikrobiologi klinik melaksanakan pemeriksaan mikroskopis, biakan, identifikasi bakteri,
jamur, virus dan uji kepekaan. Laboratorium mikrobiologi klinik harus memenuhi ketentuan ketenagaan
meliputi (i) sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis mikrobiologi klinik sebagai penanggung
jawab teknis; dan (ii) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya satu orang dokter spesialis
mikrobiologi klinik, dua orang analis kesehatan yang telah mendapatkan sertifikasi pelatihan di bidang
mikrobiologi klinik, satu orang perawat, dan satu orang tenaga administrasi.
Laboratorium parasitologi klinik melaksanakan identifikasi parasit atau stadium dari parasite baik secara
mikroskopis dengan atau tanpa pulasan, biakan atau imunoesai. Laboratorium parasitologi klinik harus
memenuhi ketentuan ketenagaan meliputi (i) sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis parasitologi
klinik sebagai penanggung jawab teknis; dan (ii) tenaga teknis dan administrasi, sekurang-kurangnya
satu orang dokter spesialis parasitologi klinik, dua orang analis kesehatan yang telah mendapat sertifikasi
pelatihan di bidang parasitologi klinik, satu orang perawat dan satu orang tenaga administrasi.
195
Laboratorium patologi klinik melaksanakan pembuatan preparat histopatologi, pulasan khusus sederhana,
pembuatan preparat sitologi, dan pembuatan preparat dengan teknik potong beku. Laboratorium patologi
klinik harus memenuhi ketentuan ketenagaan meliputi (i) sekurang-kurangnya seorang dokter spesialis
patologi anatomi sebagai penanggung jawab teknis; dan (ii) tenaga teknis dan administrasi, sekurangkurangnya satu orang teknisi patologi anatomi atau analis atau sarjana biologi, dan satu orang tenaga
administrasi.
Klinik
Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
yang menyediakan pelayanan medis dasar dan/atau spesialistik. Berdasarkan PerMenKes 9/2014,
klinik dapat dimiliki oleh Pemerintah, pemerintah daerah atau masyarakat. Klinik, berdasarkan jenis
pelayanan, dibagi menjadi (i) klinik pratama; dan (ii) klinik utama. Klinik lebih lanjut dibagi menjadi
(i) klinik rawat inap; dan (ii) klinik rawat jalan.
Klinik pratama wajib menyelenggarakan pelayanan medik dasar baik umum maupun khusus. Berdasarkan
PerMenKes 9/2014, tenaga medis pada klinik pratama paling sedikit terdiri dari dua orang dokter
dan/atau dokter gigi. Klinik pratama dapat menyelenggarakan pelayanan laboratorium klinik pratama
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, tanpa harus memiliki izin tersendiri untuk
laboratorium klinik.
Klinik utama wajib menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik disamping pelayanan medik dasar.
Tenaga medis pada klinik utama paling sedikit terdiri dari satu orang dokter spesialis dan satu orang
dokter. Klinik umum dapat menyelenggarakan pelayanan laboratorium klinik umum pratama dan
laboratorium klinik umum madya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Perizinan laboratorium klinik terintegrasi dengan perizinan klinik, kecuali dalam hal laboratorium
klinik memiliki kemampuan pelayanan melebihi laboratorium klinik umum pratama dan laboratorium
klinik umum madya. Oleh karena itu, klinik tidak dipersyaratkan memiliki tambahan izin laboratorium
klinik untuk layanan laboratorium yang ditawarkan oleh klinik.
Setiap tenaga medis yang berpraktik di klinik, termasuk dokter, harus mempunyai Surat Tanda Registrasi
dan Surat Izin Praktik. Lebih lanjut, klinik diharuskan memiliki satu orang penanggung jawab teknis.
Penanggung jawab teknis harus seorang tenaga medis yang harus memiliki Surat Izin Praktik di klinik
tersebut. Tenaga medis hanya dapat menjadi penanggung jawab teknis pada satu klinik.
Klinik wajib memiliki izin mendirikan dan izin operasional. Izin mendirikan diberikan oleh pemerintah
daerah kabupaten/kota sedangkan izin operasional diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota
atau kepala dinas kesehatan kabupaten/kota. Izin operasional diberikan untuk jangka waktu lima tahun
dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan.
Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan klinik, PerMenKes 9/2014 mewaijbkan klinik melakukan
akreditasi secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali. Akreditasi dilakukan oleh lembaga independen
pelaksana akreditasi yang membidangi fasilitas pelayanan kesehatan dan telah mendapatkan persetujuan
dari Kementerian Kesehatan untuk menyelenggarakan akreditasi untuk klinik. Lebih lanjut, klinik
melakukan audit medis tahunan baik secara internal maupun eksternal yang dilakukan oleh organisasi
profesi.
Menteri Kesehatan, gubernur, kepala dinas kesehatan propinsi, bupati/walikota dan kepala dinas
kesehatan kabupaten/kota melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan klinik. Dalam rangka
pengawasan, mereka dapat mengambil tindakan administratif berupa (i) teguran lisan; (ii) teguran
tertulis; (iii) pencabutan izin tenaga kesehatan; dan/atau (iv) pencabutan izin/rekomendasi klinik.
Tenaga Kesehatan
Pada tahun 2004, Pemerintah memberlakukan Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran (“UU Praktik Kedokteran”) yang sebagian dicabut oleh Undang-Undang No. 36 Tahun
2014 tentang Tenaga Kesehatan (“UU Tenaga Kesehatan”).
196
Berdasarkan UU Tenaga Kesehatan, tenaga di bidang kesehatan terdiri atas (i) tenaga kesehatan; dan
(ii) asisten tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang memiliki pengetahuan dan/
atau keterampilan untuk melakukan upaya kesehatan. Asisten tenaga kesehatan adalah setiap orang yang
bekerja dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan
bidang kesehatan di bawah jenjang diploma tiga dan akan diawasi oleh tenaga kesehatan. Tenaga
kesehatan meliputi, antara lain, dokter, perawat, dan ahli teknologi laboratorium medik.
UU Praktik Kedokteran membentuk Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi, yang kemudian,
bersama-sama dengan konsil tenaga kesehatan lainnya, akan menjadi bagian dari Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia. Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia mempunyai fungsi sebagai koordinator
konsil masing-masing tenaga kesehatan. Konsil masing-masing tenaga kesehatan mempunyai fungsi
pengaturan, penetapan dan pembinaan tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik tenaga kesehatan
untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Konsil tenaga kesehatan melakukan registrasi tenaga
kesehatan, termasuk dokter dan dokter gigi yang akan praktik di Indonesia. Setiap dokter dan dokter
gigi yang menjalankan praktik di Indonesia wajib memiliki Surat Tanda Registrasi sebagai dokter atau
dokter gigi. Surat Tanda Registrasi berlaku selama lima tahun dan harus diregistrasi ulang setiap lima
tahun sekali.
Selain registrasi, masing-masing tenaga kesehatan, termasuk dokter dan dokter gigi yang menjalankan
praktik di Indonesia wajib memiliki Surat Izin Praktik yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten
atau kota atas rekomendasi pejabat yang berwenang di kabupaten/kota tempat tenaga kesehatan
menjalankan praktiknya.
Berdasarkan UU Praktik Kedokteran jo. Peraturan Menteri Kesehatan No. 2052/Menkes/Per/X/2011
tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, dokter atau dokter gigi hanya dapat menjalankan praktik paling banyak pada tiga
tempat praktik, baik milik pemerintah, swasta., maupun praktik perorangan.
Berdasarkan UU Praktik Kedokteran dan UU Tenaga Kesehatan, tenaga kesehatan asing dapat
didayagunakan oleh institusi pelayanan kesehatan di Indonesia dengan mempertimbangkan (i) alih
teknologi dan ilmu pengetahuan; dan (ii) ketersediaan tenaaga kesehatan setempat. Untuk menjalankan
praktik di Indonesia, tenaga kesehatan asing harus mengikuti evaluasi kompetensi dan memiliki
Surat Tanda Registrasi Sementara dan Surat Izin Praktik. Untuk tenaga kesehatan asing, Surat Tanda
Registrasi dan Surat Izin Praktik berlaku selama satu tahun, dan dapat diperpanjang hanya untuk satu
tahun berikutnya.
Berdasarkan Pasal 3 dalam Kode Etik Kedokteran, dokter dilarang untuk, antara lain, (i) membuat
ikatan atau menerima imbalan dari perusahaan farmasi/obat, perusahaan alat kesehatan/kedokteran atau
badan lain yang dapat mempengaruhi pekerjaan dokter; dan (ii) menerima imbalan untuk merujuk pasien
ke dokter atau fasilitas kesehatan, baik dari dalam negeri maupu luar negeri. Pelanggaran Kode Etik
Kedokteran dapat dikenakan sanksi disiplin dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
Sanksi disiplin dapat berupa (i) pemberian peringatan tertulis; (ii) reomendasi pencabutan Surat Tanda
Registrasi atau Surat Izin Prakti; dan/atau (iii) kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi
pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.
Berdasarkan UU Praktik Kedokteran, setiap orang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dokter
gigi yang tidak memiliki Surat Izin Praktik atau Surat Tanda Registrasi akan dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp300 juta. Lebih lanjut, tenaga kesehatan
asing yang dengan sengaja memberikan pelayanan kesehatan tanpa memiliki Surat Tanda Registrasi
Sementara dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp100 juta.
11.2.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Pada bulan Oktober 2011, Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui undang-undang mengenai Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (“BPJS”). Undang-undang tersebut didaftarkan sebagai Undang-Undang
No. 24 Tahun 2011 dalam BNRI (“UU BPJS”). Undang-undang ini merupakan peraturan pelaksana dari
Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Tujuan utama dari UU BPJS
197
adalah untuk membentuk badan hukum untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS mulai
berlaku sejak tanggal 25 November 2011. Sesuai dengan UU BPJS, BPJS akan menyelenggarakan sistem
jaminan sosial nasional berdasarkan prinsip kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian,
akuntabilitas, portabilitas, dan kepesertaan bersifat wajib. BPJS dimaksudkan untuk menyelenggarakan
program jaminan kesehatan, program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, program
jaminan pensiun, dan program jaminan kematian. Dua institusi telah dibentuk; satu institusi untuk
menyelenggarakan program jaminan kesehatan, dan institusi lain untuk menyelenggarakan program
jaminan ketenagakerjaan. Institusi yang baru dibentuk adalah BPJS Kesehatan, yang bertanggung jawab
atas program jaminan kesehatan dan memulai kegiatannya pada tanggal 1 Januari 2014; dan BPJS
Ketenagakerjaan, yang bertanggung jawab atas program-program seperti kecelakaan kerja, pensiun
dan kematian, dan memulai kegiatannya pada tanggal 1 Juli 2015.
BPJS bertugas untuk melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta, memungut iuran dari peserta
dan pemberi kerja, menerima bantuan iuran dari Pemerintah, mengelola dana jaminan sosial untuk
kepentingan peserta, mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial, membiayai
pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan program jaminan sosial dan memberikan informasi
mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial kepada peserta dan masyarakat. Lebih lanjut, BPJS
berwenang untuk menempatkan dana jaminan sosial untuk investasi jangka pendek dan jangka panjang.
Namun demikian, BPJS harus mempertimbangkan beberapa aspek seperti likuiditas, solvabilitas,
keamanan data dan hasil yang memadai dalam menentukan rencana investasi.
Selain itu, Presiden telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
(“PerPres 12/2013”) dalam rangka melaksanakan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional dan UU BPJS. PerPres 12/2013 menetapkan program jaminan kesehatan untuk
Warga Negara Indonesia, yang mempengaruhi Pemerintah, pekerja sektor informal, buruh, pejabat
pemerintah dan pemberi kerja. Berdasarkan PerPres 12/2013, Pemerintah bertanggung jawab atas
ketersediaan fasilitas kesehatan dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan untuk pelaksanaan program
jaminan kesehatan. Sektor swasta juga dapat berperan serta memenuhi ketersediaan fasilitas kesehatan
dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Fasilitas kesehatan milik Pemerintah yang memenuhi
persyaratan wajib menjalin kerjasama dengan BPJS Kesehatan. Sementara itu, kerjasama dengan BPJS
Kesehatan tidak diwajibkan untuk fasilitas kesehatan milik swasta.
11.3.
Peraturan Pemilikan dan Perolehan Tanah
Pemilikan dan penguasaan tanah di Indonesia secara prinsip diatur berdasarkan Undang-Undang No. 5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (“UU Pokok Agraria”). UU Pokok Agraria dan
peraturan pelaksananya (termasuk Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
dan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan (“HGB”)
dan Hak Pakai atas Tanah) memberikan berbagai bentuk pemilikan tanah dan tata cara pendaftaran tanah
untuk menjamin kepastian hukum. Hak atas tanah paling tinggi yang tersedia di Indonesia adalah Hak
Milik. Hak Milik hanya tersedia bagi Warga Negara Indonesia dan badan-badan keagamaan dan sosial
dan instansi pemerintah di Indonesia. Hak Milik tidak tersedia untuk perusahaan (baik perusahaan
Indonesia atau perusahaan asing) atau orang asing. Hak Pakai adalah satu-satunya bentuk kepemilikan
tanah yang tersedia bagi orang asing yang berkedudukan di Indonesia.
Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia dan badan
hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia dapat mempunyai HGB. Pemegang HGB atas
sebidang tanah memiliki hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan di atas tanah
tersebut, termasuk di atas tanah yang dimiliki pihak lain, dan mengalihkan serta membebani dengan
hak tanggungan seluruh atau sebagian bidang tanah tersebut. HGB diberikan untuk jangka waktu awal
paling lama 30 tahun. Dengan permohonan perpanjangan kepada kantor pertanahan setempat sebelum
berakhirnya jangka waktu awal, HGB dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 20 tahun.
Permohonan perpanjangan harus diajukan pada kantor pertanahan selambat-lambatnya dua tahun sebelum
berakhirnya jangka waktu awal tersebut. Sesudah jangka waktu perpanjangan berakhir, permohonan
pembaharuan dapat diajukan oleh pemilik tanah dan HGB baru akan diberikan atas tanah yang sama
kepada pemilik yang sama jika memenuhi beberapa persyaratan tertentu. Permohonan untuk HGB baru
harus dilakukan selambat-lambatnya dua tahun sebelum berakhirnya jangka waktu perpanjangan tersebut.
198
Kantor pertanahan memiliki wewenang untuk memberikan berbagai perpanjangan. Kantor pertanahan
akan memberikan perpanjangan dan pembaharuan HGB apabila tidak ada perubahan pada rencana tata
ruang wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah, ditelantarkan atau musnahnya tanah, pelanggaran
oleh pemilik terhadap kondisi lahan berdasarkan HGB dan pencabutan HGB untuk kepentingan umum.
UU Pokok Agraria juga mengakui bentuk kepemilikan tanah berdasarkan hukum tradisional di Indonesia
yang umumnya disebut Hak Milik Adat (atau nama lain tergantung pada wilayah) atau Hak Ulayat. Hak
Ulayat timbul sebagai akibat dari pekerjaan atau tempat tinggal dan pembayaran pajak dan retribusi atas
tanah tersebut atau penolakan hak oleh pemilik sebelumnya atas tanah yang berstatus Hak Ulayat. Hak
Ulayat adalah bentuk kepemilikan yang tidak terdaftar namun dapat dibuktikan dengan sertifikat yang
terdaftar dalam buku di kelurahan setempat. Sertifikat tersebut meliputi gambaran singkat mengenai
tanah dan pemegang Hak Ulayat dan memberikan rincian mengenai pembayaran pajak dan retribusi
atas tanah tersebut.
11.4.
Peraturan Lingkungan Hidup
Berdasarkan PerMenKes 9/2014, lokasi klinik harus memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan dan
memperoleh izin penyelenggaraan klinik. Selain itu, berdasarkan PerMenKes 411/2010, laboratorium
klinik harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, peralatan, kemampuan pemeriksaan
dan ketenagaaan sesuai dengan klasifikasinya dan ketentuan mengenai kesehatan lingkungan.
Perlindungan lingkungan hidup di Indonesia diatur oleh berbagai undang-undang, peraturan dan
keputusan, termasuk Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (“UU Lingkungan Hidup”), yang disahkan pada tanggal 3 Oktober 2009 dan
Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (“PP 27/2012”). UU Lingkungan
Hidup menetapkan bahwa setiap usaha yang wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(“AMDAL”) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
(“UPL & UKL”) wajib memiliki Izin Lingkungan. Izin Lingkungan diterbitkan oleh Menteri Lingkungan
Hidup dan Kehutanan, gubernur atau bupati/walikota (sesuai dengan kewenangannya).
Berdasarkan Surat Menteri Lingkungan Hidup No.B-5362/Dep.I-1/LH/07/2010, laboratorium medik
wajib memiliki UPL & UKL. Namun demikian, klinik hanya diwajibkan untuk menyampaikan Surat
Pernyataan Pengelolaan Lingkungan.
Izin Lingkungan diterbitkan berdasarkan (i) studi kelayakan lingkungan yang dilakukan oleh pihak
ketiga independen dan telah disetujui oleh Komisi Penilai Amdal, berdasarkan rekomendasi dari Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya; atau
(ii) rekomendasi UPL & UKL yang diterbitkan oleh instansi pemerintah dan pemerintah daerah yang
bertanggung jawab di bidang pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup berwenang.
Pada tanggal 17 Oktober 2014, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracum (“PP 101/2014”).
Secara umum, PP 101/2014 mengatur mengenai prosedur pengelolaan dan pembuangan limbah bahan
berbahaya dan beracun (“Limbah B3”), meliputi:
•
•
•
•
metode untuk penetapan, pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan,
pengolahan dan penimbunan Limbah B3;
prosedur untuk pembuangan Limbah B3 di tanah atau laut;
penanggulangan dan sistem tanggap darurat dalam pencemaran lingkungan hidup yang disebabkan
Limbah B3; dan
sanksi administratif untuk pelanggaran.
Sebelum PP 101/2014, hal yang sama diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 (“PP Tahun 1999”). PP
101/2014 mencabut dan mengganti PP Tahun 1999.
PP 101/2014 berlaku bagi produsen, importir, eksportir dan pengelola Limbah B3.
199
Penyimpanan Limbah B3 wajib dilakukan oleh setiap usaha yang menghasilkan Limbah B3. Setiap usaha
wajib menyimpan Limbah B3 pada fasilitas penyimpanan untuk mengendalikan pencemaran lingkungan
hidup dan dilengkapi peralatan penanggulangan keadaan darurat. Fasilitas penyimpanan Limbah B3
yang dapat digunakan oleh usaha yang menghasilkan Limbah B3 dapat berupa:
•
•
•
•
•
•
bangunan;
tangka dan container;
silo;
tempat tumpukan limbah (waste pile);
waste impoundment; dan/atau
fasilitas penyimpanan dalam bentuk lainnya.
Untuk dapat melakukan penyimpanan Limbah B3, setiap usaha wajib memiliki Izin Lingkungan dan
memperoleh izin dari bupati/walikota dimana fasilitas penyimpanan berada. Izin untuk penyimpanan
Limbah B3 dapat dibatalkan dikarenakan hal-hal sebagai berikut:
•
•
•
•
masa berlaku izin habis;
dicabut oleh bupati/walikota;
badan usaha pemegang izin dibubarkan; atau
Izin Lingkungan dicabut.
Sebelumnya, PP Tahun 1999 tidak mengatur mengenai jenis fasilitas penyimpanan Limbah B3
sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Setiap usaha yang menghasilkan Limbah B3 wajib melaksanakan pengolahan Limbah B3 baik yang
dilakukan sendiri maupun dengan menunjuk pihak ketiga untuk melakukannya. Terdapat tiga jenis
pengolahan Limbah B3 yang dapat dilakukan berdasarkan PP 101/2014, yaitu: (i) termal; (ii) stabilisasi
dan solidifikasi; dan/atau (iii) cara lain sesuai perkembangan teknologi. Setiap usaha yang menghasilkan
Limbah B3 atau pihak ketiga yang ditunjuk untuk melakukan pengolahan Limbah B3 wajib memiliki
Izin Pengelolaan Limbah B3 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Permohonan untuk izin ini
hanya dapat diajukan apabila usaha atau pihak ketiga yang ditunjuk telah memiliki dokumen-dokumen
sebagai berikut:
•
•
Izin Lingkungan; dan
persetujuan pelaksanaan uji coba pengolahan Limbah B3 (untuk pengolahan dengan cara termal
atau cara lain yang tidak memiliki Standar Nasional Indonesia).
Berdasarkan UU Lingkungan Hidup, paling labat pada tanggal 3 Oktober 2011, seluruh perusahaan yang
telah memiliki izin usaha tetapi belum memiliki dokumen AMDAL atau UPL & UKL wajib menyelesaikan
audit lingkungan hidup untuk AMDAL atau membuat dokumen pengelolaan lingkungan hidup untuk UPL
& UKL. Lebih lanjut, UU Lingkungan Hidup mewajibkan perusahaan untuk mengintegrasikan AMDAL,
UPL & UKL, dan segala izin di bidang pengelolaan lingkungan hidup ke dalam Izin Lingkungan paling
lambat pada tanggal 3 Oktober 2010. Sesuai dengan PP 27/2012, perusahaan yang telah mendapatkan
persetujuan untuk AMDAL atau UPL & UKL sebelum berlakunya peraturan ini (yaitu 23 Februari 2012)
tidak perlu memperoleh Izin Lingkungan. Sebagai tambahan, Izin Lingkungan adalah prasyarat bagi
perusahaan memperoleh izin usaha dan akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya izin usaha tersebut.
Badan usaha yang melakukan pelanggaran dapat dikenakan sanksi pidana dan sanksi administratif,
yang terdiri atas (i) teguran tertulis; (ii) paksaan pemerintah; (iii) pembekuan Izin Lingkungan; atau
(iv) pencabutan Izin Lingkungan.
Izin Lingkungan diperoleh melalui tahapan kegiatan yang meliputi (i) penyusunan AMDAL dan UPL
& UKL; (ii) penilaian AMDAL dan pemeriksaan UPL & UKL; dan (iii) permohonan tertulis dan
penerbitan Izin Lingkungan. Dokumen untuk permohonan Izin Lingkungan harus dilengkapi dengan
dokumen AMDAL atau formulir UPL & UKL, dokumen pendirian usaha dan/atau kegiatan, dan profil
usaha dan/atau kegiatan.
200
PP 27/2012 menetapkan bahwa dokumen yang telah mendapat persetujuan sebelum berlakunya peraturan
ini dinyatakan tetap berlaku dan dipersamakan sebagai Izin Lingkungan. Dengan demikian, setiap usaha/
kegiatan yang belum memperoleh persetujuan dari instansi yang berwenang untuk dokumen-dokumen
lingkungan hidup pada saat peraturan ini berlaku wajib mengajukan permohonan Izin Lingkungan
(selain AMDAL atau UPL & UKL).
Permohonan Izin Lingkungan akan diumumkan kepada masyarakat oleh Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan, gubernur, atau bupati/walikota (sesuai dengan kewenangannya) melalui multimedia
dan papan pengumuman di lokasi usaha dan/atau kegiatan dalam jangka waktu (i) paling lama lima
Hari Kerja terhitung sejak dokumen AMDAL dan RKL-RPL yang diajukan dinyatakan lengkap secara
administrasi; atau (ii) paling lama dua Hari Kerja terhitung sejak formulir UPL & UKL yang diajukan
dinyatakan lengkap secara administrasi. Masyarakat dapat memberikan saran, pendapat dan tanggapan
terhadap pengumuman dalam jangka waktu paling lama 10 Hari Kerja sejak diumumkan. Izin Lingkungan
akan diterbitkan bersamaan dengan diterbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup (yaitu persetujuan
AMDAL) atau rekomendasi UPL & UKL.
Izin Lingkungan yang telah diterbitkan wajib diumumkan melalui media massa dan/atau multimedia dan
akan dilakukan dalam jangka waktu lima Hari Kerja sejak diterbitkan. Izin Lingkungan paling sedikit
memuat (i) persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup atau
rekomendasi UPL & UKL; (ii) persyaratan yang kewajiban yang ditetapkan oleh Menteri Lingkungan
Hidup dan Kehutanan, gubernur atau bupati/walikota; (iii) berakhirnya Izin Lingkungan; dan (iv) jumlah
dan jenis izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (jika diperlukan).
Selain itu, pembuangan air limbah lebih lanjut diatur oleh Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (“PP 82/2001”) dan juga oleh
Peraturan Menteri Negara Lingkugan Hidup No. 142 Tahun 2003 tentang Pedoman mengenai Syarat dan
Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air. Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 111 Tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat dan Tata
Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air mewajibkan izin
bagi setiap usaha dan/atau kegiatan yang akan membuang air limbah ke air atau sumber air. Izin ini
diterbitkan berdasarkan hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan atau kajian upaya pengelolaan
lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan.
PP 82/2001 mewajibkan setiap penaggung jawab usaha, termasuk perusahaan yang melakukan
kegiatan usaha rumah sakit dan klinik, untuk menyampaikan laporan tentang penaatan persyaratan izin
pembuangan air limbah ke instansi yang berwenang.
Laporan tersebut wajib disampaikan kepada bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dengan
tembusan disampaikan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tindakan penanggulangan
dan pencegahan serta sanksi (seperti kewajiban merehabilitasi wilayah yang tercemar, sanksi pidana dan
denda, serta pencabutan persetujuan) dapat dikenakan untuk menanggulangi atau mencegah pencemaran
yang ditimbulkan dari kegiatan usaha.
11.5.
Peraturan Penanaman Modal
Pada tanggal 26 April 2007, Pemerintah menerbitkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal (“UU Penanaman Modal”). UU Penanaman Modal mengatur bahwa semua bidang
usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha
yang dinyatakan tertutup dan terbuka dengan persyaratan. Pada tanggal 23 April 2014, dalam rangka
melaksanakan UU Penanaman Modal, Pemerintah mengeluarkan daftar negatif investasi berdasarkan
Daftar Negatif Investasi Tahun 2014. Pemerintah baru-baru ini menerbitkan Daftar Negatif Investasi
Tahun 2016. Daftar negatif mengatur bidang usaha yang tertutup atau terbuka dengan persyaratan
tertentu.
Berdasarkan undang-undang dan peraturan kesehatan, tidak ada peraturan khusus yang mengatur
mengenai kepemilikan atas klinik atau laboratorium klinik. Berdasarkan Daftar Negatif Investasi Tahun
2014, maksimum kepemilikan modal asing untuk klinik dan laboratorium klinik adalah sebagai berikut:
201
K l i n i k P e n g o b a t a n U m u m ( K l a s i f i k a s i B u k u Klinik tertutup bagi penanaman modal asing
Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”) No. 86104)
Klinik Kedokteran Spesialis (KBLI No. 86104)
Maksimum kepemilikan modal asing untuk klinik
kedokteran spesialis adalah 67%. Kepemilikan
modal asing, apabila penanam modal dari negaranegara ASEAN, diperbolehkan sampai dengan 70%,
yang hanya dapat dilakukan di seluruh ibukota
propinsi Indonesia timur, kecuali Makassar dan
Manado.
Jasa Pelayanan Penunjang Kesehatan, seperti M a k s i m u m k e p e m i l i k a n m o d a l a s i n g u n t u k
Laboratorium Klinik dan Clinic Medical Check Up laboratorium klinik dan Clinic Medical Check Up
(KBLI No. 86903)
adalah 67%.
Saat ini, berdasarkan Daftar Negatif Investasi Tahun 2016, maksimum kepemilikan modal asing untuk
klinik dan laboratorium klinik adalah sebagai berikut:
Klinik Pratama (KBLI No. 86104)
Klinik pratama tertutup bagi penanaman modal
asing
Klinik Utama (KBLI No. 86109)
Maksimum kepemilikan modal asing untuk klinik
kedokteran spesialis adalah 67%. Kepemilikan
modal asing, apabila penanam modal dari negaranegara ASEAN, diperbolehkan sampai dengan 70%,
yang hanya dapat dilakukan di seluruh ibukota
propinsi Indonesia timur, kecuali Makassar dan
Manado.
Bank dan Laboratorium Jaringan dan Sel (KBLI Izin khusus dari Kementerian Kesehatan
No. 86903)
Mengingat Daftar Negatif Investasi Tahun 2016 baru diterbitkan pada tanggal 18 Mei 2016, belum
ada kejelasan tentang pelaksanaan peraturan ini, khususnya terkait izin usaha atas bidang usaha yang
membutuhkan izin khusus dari kementerian tertentu.
Berdasarkan Daftar Negatif Investasi Tahun 2016, perubahan kepemilikan modal asing maksimum
pada Daftar Negatif Investasi Tahun 2016 tidak berlaku bagi penanaman modal yang telah disetujui
sebelum penerbitan Daftar Negatif Investasi Tahun 2016, kecuali batas penanaman modal yang baru
lebih tinggi dibandingkan batas yang lama, dan dalam hal tersebut perusahaan penanaman modal asing
dapat menerapkan batas yang baru.
Selain itu, UU Penanaman Modal juga mewajibkan perusahaan penanaman modal untuk memperoleh
izin sesuai dengan ketentuan undang-undang dan peraturan yang berlaku untuk melakukan kegiatan
usahanya. Dalam rangka melaksanakan proses perizinan, Badan Koordinasi Penanaman Modal (“BKPM”)
telah menerbitkan beberapa peraturan, antara lain Peraturan Kepala BKPM No. 14 Tahun 2015 tentang
Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Kepala
BKPM No. 6 Tahun 2016, Peraturan Kepala BKPM No. 15 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata
Cara Perizinan dan Non-Perizinan Penanaman Modal (“Peraturan BKPM 15/2015”), Peraturan Kepala
BKPM No. 16 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Pelayanan Fasilitas Penanaman Modal dan
Peraturan Kepala BKPM No. 17 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan
Penanaman Modal (“Peraturan BKPM 17/2015”).
202
Perusahaan penanaman modal asing, sebelum melakukan kegiatan usaha di Indonesia, wajib memperoleh
Izin Prinsip dari BKPM. Berdasarkan Peraturan BKPM 15/2015, perusahaan penanaman modal asing
wajib memperoleh izin usaha tetap dari BKPM sebelum memulai pelaksanaan kegiatan produksi/operasi.
Lebih lanjut, berdasarkan UU Penanaman Modal dan Peraturan BKPM 17/2015, perusahaan penanaman
modal asing yang telah memperoleh izin usaha tetap wajib menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman
Modal terkait perkembangan kegiatan penanaman modal mereka setiap enam bulan. Laporan berkala
ini meliputi perkembangan realisasi penanaman modal dan kendala yang dihadapi dalam melaksanakan
kegiatan. Selain itu, dalam hal perusahaan penanaman modal asing yang telah memiliki izin usaha tetap
bermaksud melakukan kegiatan operasi/produksi baru yang menghasilkan barang atau jasa, mereka
wajib mengajukan izin usaha perluasan sebelum memulai pelaksanaan kegiatan operasi. Kegagalan
untuk menaati undang-undang dan peraturan penanaman modal dapat dikenai sanksi administratif
berupa (i) peringatan tertulis; (ii) pembatasan kegiatan usaha; (iii) pembekuan kegiatan usaha dan/atau
fasilitas penanaman modal; atau (iv) pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal,
sebagaimana diatur berdasarkan Peraturan BKPM 17/2015.
203
XII. EKUITAS
Tabel di bawah menggambarkan posisi ekuitas Perseroan yang bersumber dari laporan keuangan
Perseroan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak diaudit), dan untuk
tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 yang tercantum dalam Prospektus ini.
Laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015 (tidak diaudit),
dan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan 2013 telah diaudit oleh
RSM, auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh IAPI, dengan opini tanpa
modifikasian (“Wajar Tanpa Pengecualian”). Laporan audit RSM tersebut mencantumkan paragraf Halhal lain sehubungan dengan tujuan pelaksanaan audit. Laporan audit RSM tersebut ditandatangani oleh
Riki Afrianof (Rekan pada RSM dengan Registrasi Akuntan Publik No. AP.1017).
2013 (1)
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada:
Pemilik entitas induk
Modal ditempatkan dan disetor penuh
Tambahan modal disetor
Penghasilan komprehensif lain
Saldo laba
Total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
Kepentingan non pengendali
TOTAL EKUITAS
31 Desember
2014 (1)
18,0
(56,2)
125,5
87,3
1,1
88,4
75,0
(66,6)
126,0
134,4
(0,2)
134,2
(dalam miliar Rupiah)
30 Juni
2015
2016
75,0
25,4
(59,1)
85,0
126,3
126,3
75,0
25,4
(95,9)
49,1
53,6
53,6
Catatan:
(1) Konsolidasian
Selain yang telah disebutkan di atas, setelah tanggal Laporan Auditor Independen yang diterbitkan
kembali tanggal 6 Oktober 2016 hingga Prospektus ini diterbitkan, tidak ada lagi perubahan struktur
permodalan yang terjadi.
Tabel Proforma Ekuitas
Seandainya perubahan ekuitas Perseroan karena adanya Penawaran Umum Saham Perdana kepada
Masyarakat dan pelaksanaan Program ESA terjadi pada tanggal 30 Juni 2016, maka proforma struktur
permodalan Perseroan pada tanggal tersebut adalah sebagai berikut :
Modal ditempatkan dan disetor penuh
Tambahan modal disetor
Penghasilan komprehensif lain
Saldo laba
TOTAL EKUITAS
Posisi ekuitas menurut
laporan posisi keuangan
pada tanggal 30 Juni 2016
75,0
25,4
(95,9)
49,1
53,6
Catatan :
(1) Setelah dikurangi biaya emisi
204
(dalam miliar Rupiah)
Perubahan ekuitas jika
diasumsikan terjadi
pada tanggal 30 Juni
2016: Penawaran Umum
Saham Perdana sebanyak
187.500.000 saham biasa
atas nama dengan nilai
nominal Rp100 per saham
Proforma ekuitas pada
dengan Harga Penawaran
tanggal 30 Juni 2016
setelah Penawaran Umum
Rp6.500 setiap saham
(termasuk Program ESA)
Saham Perdana
18,8
93,8
1.151,4
1.126,0 (1)
(95,9)
49,1
1.144,8
1.198,4
XIII.K EBIJAKAN DIVIDEN
Seluruh saham biasa atas nama yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk saham biasa atas
nama yang ditawarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana ini, mempunyai hak yang sama dan
sederajat termasuk hak atas pembagian dividen.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan Indonesia, khususnya UUPT, keputusan pembayaran
dividen mengacu pada ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Anggaran Dasar Perseroan dan persetujuan
pemegang saham pada RUPS berdasarkan rekomendasi Direksi Perseroan. Pembayaran dividen hanya
dapat dilakukan apabila Perseroan mencatatkan laba bersih yang positif. Anggaran Dasar Perseroan
memperbolehkan pembagian dividen interim dengan ketentuan pembagian tersebut tidak menyebabkan
kekayaan bersih Perseroan lebih kecil dari modal ditempatkan dan disetor ditambah cadangan wajib.
Pembagian dividen interim tersebut tidak boleh mengganggu atau menyebabkan Perseroan tidak dapat
memenuhi kewajibannya pada kreditor atau mengganggu kegiatan Perseroan. Pembagian atas dividen
interim ditetapkan berdasarkan keputusan Direksi Perseroan setelah mendapatkan persetujuan dari
Dewan Komisaris Perseroan. Jika pada akhir tahun keuangan Perseroan mengalami kerugian, dividen
interim yang telah dibagikan harus dikembalikan oleh para pemegang saham kepada Perseroan. Dalam
hal pemegang saham tidak dapat mengembalikan dividen interim, maka Direksi dan Dewan Komisaris
Perseroan akan bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian Perseroan.
Setelah Penawaran Umum Saham Perdana ini, Perseroan bermaksud membayarkan dividen kas dalam
jumlah sebanyak-banyaknya 30% dari laba tahun berjalan mulai tahun 2017 berdasarkan laba tahun
berjalan tahun buku 2016, setelah melakukan pencadangan laba bersih sesuai ketentuan yang berlaku.
Penentuan jumlah dan pembayaran dividen akan mempertimbangkan arus kas dan rencana investasi
Perseroan, serta pembatasan hukum. Direksi Perseroan dapat melakukan perubahan kebijakan dividen
setiap waktu, yang tunduk pada persetujuan oleh pemegang saham pada saat RUPS.
Apabila keputusan telah dibuat untuk membayar dividen, dividen tersebut akan dibayar dalam Rupiah.
Pemegang saham Perseroan pada suatu tanggal tertentu akan berhak menerima dividen kas sejumlah
yang telah disetujui secara penuh yang akan dipotong pajak penghasilan sesuai ketentuan yang
berlaku. Dividen yang diterima oleh pemegang saham berkebangsaan negara lain akan dikenakan pajak
penghasilan sebesar 20%.
Perseroan telah membayar dividen sebesar Rp74,5 miliar atau Rp4,1 juta per saham pada tahun 2013,
Rp58,0 miliar atau Rp0,8 juta per saham pada tahun 2014, Rp100,0 miliar atau Rp1,3 juta per saham
pada tahun 2015, dan Rp75,0 miliar atau Rp1,0 juta per saham dalam periode enam bulan yang berakhir
pada 30 Juni 2016.
Tidak ada negative covenant yang dapat menghambat Perseroan untuk melakukan pembagian dividen
kepada pemegang saham.
205
XIV.PERPAJAKAN
Pajak Penghasilan atas dividen saham dikenakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Berdasarkan Pasal 4 ayat (3) huruf f Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 36 Tahun
2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan,
dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam
negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal
pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dikecualikan dari objek pajak
dengan syarat:
•
dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
•
bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima
dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh
lima persen) dari jumlah modal yang disetor.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari
Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah No. 14
Tahun 1997 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan
atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek juncto Keputusan Menteri Keuangan
No. 282/KMK.04/1997 tanggal 20 Juni 1997 tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak Penghasilan atas
Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek juncto Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak No. SE-06/PJ.4/1997 tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari
Transaksi Penjualan Saham, telah ditetapkan sebagai berikut:
•
atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari transaksi penjualan
saham di bursa efek dipungut Pajak Penghasilan sebesar 0,1% (satu per seribu) dari jumlah bruto
nilai transaksi penjualan yang bersifat final. Pengenaan Pajak Penghasilan dilakukan dengan cara
pemotongan oleh penyelenggaraan bursa efek melalui perantara pedagang efek pada saat pelunasan
transaksi penjualan saham.
•
pemilik saham pendiri dikenakan tambahan Pajak Penghasilan sebesar 0,5% (setengah persen) dari
nilai saham perusahaan pada saat penawaran umum perdana.
•
pemilik saham pendiri diberikan kemudahan untuk memenuhi kewajiban pajaknya berdasarkan
perhitungan sendiri sesuai dengan ketentuan di atas. Dalam hal ini, pemilik saham pendiri untuk
kepentingan perpajakan dapat menghitung final atas dasar anggapannya sendiri bahwa sudah ada
penghasilan. Penyetoran tambahan Pajak Penghasilan atas saham pendiri dilakukan oleh Perseroan
atas nama pemilik saham pendiri ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro selambat-lambatnya 1
(satu) bulan setelah saham tersebut diperdagangkan di bursa efek. Namun apabila pemilik saham
pendiri tidak memanfaatkan kemudahan tersebut, maka penghitungan Pajak Penghasilannya
dilakukan berdasarkan tarif Pajak Penghasilan yang berlaku umum sesuai dengan Pasal 17 UndangUndang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang No. 36 Tahun 2008.
Sesuai dengan Pasal 23 ayat (1) huruf angka 1 Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 36 Tahun
2008, atas penghasilan dividen yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo
pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan,
bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri
atau bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan sebesar 15% (lima
belas persen) dari jumlah bruto. Dalam hal Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan
sebagaimana dimaksud tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, besarnya tarif pemotongan adalah
lebih tinggi 100% (seratus persen) daripada tarif sebagaimana dimaksud atau sebesar 30% (tiga puluh
persen) dari jumlah brutonya.
206
Sesuai dengan Pasal 17 ayat (2c) Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 juncto
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Dividen yang Diterima atau
Diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri juncto Peraturan Menteri Keuangan No. 111/
PMK.03/2010 tanggal 14 Juni 2010 tentang Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak
Penghasilan atas Dividen yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri, atas
penghasilan berupa dividen yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dikenai
Pajak Penghasilan sebesar 10% (sepuluh persen) dari jumlah bruto dan bersifat final. Pengenaan Pajak
Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dilakukan melalui pemotongan oleh pihak yang
membayar atau pihak lain yang ditunjuk selaku pembayar dividen yang dilakukan pada saat dividen
disediakan untuk dibayarkan.
Pemotongan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf angka 1 UndangUndang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 di atas tidak dilakukan atas dividen sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 (sebagaimana disebutkan
pada paragraf pertama di atas) dan dividen yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi
Dalam Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c) Undang-Undang No. 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
No. 36 Tahun 2008 (sebagaimana disebutkan pada paragraf keempat di atas).
Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 234/PMK.03/2009 tanggal 29 Desember 2009 tentang
Bidang Penanaman Modal Tertentu yang Memberikan Penghasilan Kepada Dana Pensiun yang
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak Penghasilan, dividen dari saham pada perseroan terbatas yang
tercatat pada bursa efek di Indonesia dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan.
Berdasarkan Pasal 26 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008,
atas penghasilan dividen yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo
pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk
usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain
bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh
pihak yang wajib membayarkan. Dalam hal dividen yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau
telah jatuh tempo pembayarannya dilakukan kepada penduduk suatu negara yang telah menandatangani
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (“P3B”) dengan Indonesia dan memenuhi ketentuan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak No. PER-61/PJ/2009 tentang Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran
Pajak Berganda sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-24/PJ/2010
juncto Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-62/PJ/2009 tentang Pencegahan Penyalahgunaan
Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal
Pajak No. PER-25/PJ/2010, dipotong dengan tarif yang lebih rendah sesuai dengan P3B.
Calon pembeli saham dalam Penawaran Umum SAHAM PERdana ini
diharapkan untuk berkonsultasi dengan konsultan pajak masing-masing
mengenai akibat perpajakan yang mungkin timbul dari pembelian,
pemilikan maupun penjualan saham yang dibeli melalui Penawaran
Umum SAHAM Perdana ini.
Pemenuhan Kewajiban Perpajakan oleh Perseroan
Sebagai Wajib Pajak secara umum Perseroan memiliki kewajiban untuk Pajak Penghasilan (PPh), Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Perseroan telah memenuhi kewajiban
perpajakannya sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Pada tanggal Prospektus ini diterbitkan,
Perseroan tidak memiliki tunggakan pajak.
207
XV. PENJAMINAN EMISI EFEK
14.1.
Keterangan Tentang Penjaminan Emisi Efek
Sesuai dengan persyaratan dan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Perjanjian Penjaminan
Emisi Efek, Penjamin Emisi Efek yang namanya disebut di bawah ini, secara bersama-sama maupun
sendiri-sendiri, menyetujui sepenuhnya untuk menawarkan dan menjual Saham Yang Ditawarkan kepada
Masyarakat sesuai bagian penjaminannya masing-masing dengan kesanggupan penuh (full commitment)
dan mengikatkan diri untuk membeli Saham Yang Ditawarkan yang tidak habis terjual pada tanggal
penutupan Masa Penawaran Umum Perdana Saham.
Perjanjian Penjaminan Emisi Efek ini menghapuskan perikatan sejenis baik tertulis maupun tidak tertulis
yang telah ada sebelumnya dan yang akan ada di kemudian hari antara Perseroan dengan Penjamin
Emisi Efek.
Selanjutnya Penjamin Emisi Efek yang ikut serta dalam penjaminan emisi saham Perseroan telah sepakat
untuk melaksanakan tugasnya masing-masing sesuai dengan Peraturan No. IX.A.7.
Pihak yang bertindak sebagai Manajer Penjatahan dalam Penawaran Umum ini adalah PT Indo Premier
Securities.
Adapun susunan dan jumlah porsi penjaminan serta persentase dari anggota sindikasi penjaminan emisi
efek dalam Penawaran Umum Saham Perdana Perseroan adalah sebagai berikut:
Keterangan
Penjamin Pelaksana Emisi Efek:
1. PT Citigroup Securities Indonesia
2. PT Credit Suisse Securities Indonesia
3. PT Indo Premier Securities
Jumlah
Saham
Porsi Penjaminan
Rp
70.312.500
70.312.500
46.875.000
187.500.000
457.031.250.000
457.031.250.000
304.687.500.000
1.218.750.000.000
(%)
37,50
37,50
25,00
100,00
Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Penjamin Emisi Efek seperti tersebut di atas dengan tegas
menyatakan tidak terafiliasi dengan Perseroan baik langsung maupun tidak langsung sebagaimana
didefinisikan sebagai ”Afiliasi” dalam UUPM.
14.2.
Penentuan Harga Penawaran Pada Pasar Perdana
Harga Penawaran untuk saham ini ditentukan berdasarkan hasil kesepakatan dan negosiasi, Perseroan
dan Penjamin Pelaksana Emisi Efek.
Berdasarkan hasil Penawaran Awal (bookbuilding) yang dilaksanakan pada tanggal 10 – 18 November
2016, jumlah permintaan terbanyak yang diterima oleh Penjamin Pelaksana Emisi Efek, berada pada
kisaran harga Rp6.250-Rp8.000 setiap saham. Dengan mempertimbangkan hasil Penawaran Awal
tersebut diatas maka berdasarkan kesepakan antara Penjamin Pelaksana Emisi Efek dengan Perseroan
ditetapkan Harga Penawaran sebesar Rp6.500. Penentuan harga ini juga telah mempertimbangkan
faktor-faktor berikut:
-
-
-
-
-
-
Kondisi pasar pada saat bookbuilding dilakukan;
Kinerja keuangan Perseroan;
Data dan informasi mengenai Perseroan, kinerja Perseroan, sejarah singkat, prospek usaha dan
keterangan mengenai industri kesehatan di Indonesia;
Penilaian terhadap direksi dan manajemen, operasi atau kinerja Perseroan, baik di masa lampau
maupun pada saat ini, serta prospek usaha dan prospek pendapatan di masa mendatang;
Status dari perkembangan terakhir Perseroan; dan
Mempertimbangkan kinerja saham di pasar sekunder.
208
XVI.LEMBAGA DAN PROFESI PENUNJANG PASAR MODAL
Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal yang berpartisipasi dalam rangka Penawaran Umum
Saham Perdana ini adalah sebagai berikut:
AKUNTAN PUBLIK
Kantor Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar & Rekan (a member firm of the RSM network)
Plaza ABDA, Lantai 10
Jl. Jend. Sudirman Kav. 59
Jakarta 12190, Indonesia
STTD
Keanggotaan asosiasi
Pedoman kerja
Surat penunjukan
:
No. 20/PM.2.5/STTD-AP/2013 tanggal 4 November 2013 atas nama
Riki Afrianof
: IAPI No. 993 atas nama Riki Afrianof
: Standar Profesional Akuntan Publik yang ditetapkan oleh IAPI
: No. 0360616/RAF/102/EL tanggal 1 Juni 2016
Tugas dan kewajiban pokok:
Melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh IAPI. Menurut standar tersebut,
Akuntan Publik diharuskan untuk merencanakan dan melaksanakan audit agar diperoleh keyakinan yang
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji yang material. Akuntan Publik bertanggung jawab
penuh atas pendapat yang diberikan terhadap laporan keuangan yang diauditnya. Audit yang dilakukan
oleh Akuntan Publik mencakup pemeriksaan atas dasar pengujian bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan audit juga meliputi penilaian atas dasar prinsip
akuntansi yang dipergunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian
terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
Berikut merupakan pengalaman Akuntan Publik dalam pasar modal selama 3 (tiga) tahun terakhir:
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Nama Perusahaan
PT Surya Semesta Internusa Tbk.
PT Waskita Beton Precast Tbk.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
PT Link Net Tbk.
PT Pembangungan Jaya Ancol Tbk.
PT Reliance Securities Tbk.
PT Bali Towerindo Sentra Tbk.
PT Nusa Raya Cipta Tbk.
PT Asunrasi Mitra Maparya
PT Siloam International Hospital Tbk.
PT Multipolar Tehcnology Tbk.
PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk.
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
209
Umum
Umum
Umum
Umum
Umum
Umum
Umum
Umum
Umum
Umum
Umum
Umum
Jenis Kegiatan
Obligasi
Saham Perdana
Terbatas
Saham Perdana
Obligasi
Terbatas
Saham Perdana
Saham Perdana
Saham Perdana
Saham Perdana
Saham Perdana
Saham Perdana
Tahun
2016
2016
2015
2014
2014
2014
2013
2013
2013
2013
2013
2013
KONSULTAN HUKUM
Hadiputranto, Hadinoto & Partners
Gedung Bursa Efek Indonesia Tower II, Lantai 21
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52 - 53
Jakarta 12190 , Indonesia
STTD
Keanggotaan asosiasi Pedoman kerja Surat penunjukan : No93/STTD-KJ/PM/1996 tanggal 22 Juli 1996 atas nama Indah N.
Respati, S.H.
: Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal No. 89021
: Standar Profesi Konsultan Himpunan Hukum Pasar Modal, Lampiran
dari Keputusan Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal No. KEP.01/
HKHPM/2005 tanggal 18 Februari 2005 sebagaimana telah diubah
dengan Keputusan Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal No.KEP.04/
HKHPM/XI/2012 tanggal 6 Desember 2012 dan Keputusan Himpunan
Konsultan Hukum Pasar Modal No. 01/KEP-HKHPM/II/2014 tanggal
4 Februari 2014
: No.622154 tanggal 16 Mei 2016
Tugas dan kewajiban pokok :
Konsultan Hukum melakukan pemeriksaan atas fakta yang ada mengenai Perseroan dan keterangan
lain yang berkaitan sebagaimana yang disampaikan oleh Perseroan ditinjau dari segi hukum. Hasil
pemeriksaan tersebut telah dimuat dalam Laporan Hasil Uji Tuntas Segi Hukum yang menjadi dasar
dari Pendapat Hukum yang diberikan secara obyektif dan mandiri, sesuai dengan kode etik, standar
profesi, dan peraturan Pasar Modal yang berlaku.
Berikut merupakan pengalaman Konsultan Hukum dalam pasar modal selama 3 (tiga) tahun terakhir:
No.
1.
Nama Perusahaan
PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk.
2.
3.
PT Apexindo Pratama Duta Tbk.
PT Astra Otopart Tbk.
4.
5.
PT Siloam International Hospitals Tbk.
PT Bank UOB Indonesia
Jenis Kegiatan
Merger PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk.
dan PT Bank Woori Indonesia
Pencatatan kembali (relisting)
Penawaran Umum Terbatas dengan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu
Penawaran Umum Saham Perdana
Penawaran Umum Obligasi
Tahun
2015
2014
2013
2013
2013
NOTARIS
Jose Dima Satria, S.H., M.Kn.
Komplek Rukan Fatmawati Mas II/210
Jl. RS Fatmawati 20
Jakarta Selatan, Indonesia
STTD
Keanggotaan asosiasi Pedoman kerja : No. 665/BL/STTD-N/2012 tanggal 8 Juni 2012 atas nama Jose Dima
Satria, S.H., M.Kn.
: Ikatan Notaris Indonesia No. 123/Pengda/Suket/XII/2012 atas nama
Jose Dima Satria, S.H., M.Kn.
: Undang-Undang No. 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris dan Kode
Etik Ikatan Notaris Indonesia
: No. 023/PD/Ekstern/V/2016 tanggal 18 Mei 2016
Surat penunjukan
Tugas dan kewajiban pokok :
Ruang lingkup tugas Notaris dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana ini adalah membuat
akta-akta berita acara RUPS Perseroan dan perjanjian-perjanjian sehubungan dengan Penawaran Umum
Saham Perdana, sesuai dengan peraturan jabatan notaris dan kode etik notaris.
210
Berikut merupakan pengalaman Notaris dalam pasar modal selama 3 (tiga) tahun terakhir:
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Nama Perusahaan
PT Acset Indonusa Tbk.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk.
PT Duta Intidaya Tbk.
PT Kino Indonesia Tbk.
PT Mega Manunggal Property Tbk.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.
PT Provident Agro Tbk.
PT Blue Bird Tbk.
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk.
PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk.
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Jenis Transaksi Pasar Modal
Umum Terbatas
Umum Obligasi
Umum Obligasi
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Obligasi
Umum Terbatas
Umum Saham Perdana
Umum Obligasi
Umum Saham Perdana
Tahun
2016
2016
2016
2016
2015
2015
2015
2014
2014
2013
2013
BIRO ADMINISTRASI EFEK (“BAE”)
PT Datindo Entrycom
Puri Datindo-Wisma Sudirman
Jl. Jend. Sudirman Kav. 34
Jakarta 10220, Indonesia
Keanggotaan asosiasi
Izin usaha sebagai BAE
Surat penunjukan :
:
Asosiasi Biro Administrasi Efek Indonesia (ABI).
Surat Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-16/PM/1991 tanggal 19 April
1991 tentang Pemberian Izin Usaha Sebagai Biro Administrasi Efek
kepada PT Datindo Entrycom.
: Surat Proposal Jasa Biro Administrasi Efek tanggal 12 Februari 2015
yang telah disetujui oleh Direktur Utama Perseroan
Tugas dan kewajiban pokok :
Tugas dan tanggung jawab BAE dalam Penawaran Umum Saham Perdana ini, sesuai dengan standar
profesi dan peraturan pasar modal yang berlaku, meliputi penerimaan dan pemesanan saham berupa
Daftar Pemesanan Pembelian Saham (“DPPS”) dan FPPS yang telah dilengkapi dengan dokumen
sebagaimana diisyaratkan dalam pemesanan saham dan telah mendapatkan persetujuan dari Penjamin
Pelaksana Emisi Efek sebagai pemesanan yang diajukan untuk diberikan penjatahan saham, dan
melakukan administrasi pemesanan saham sesuai dengan aplikasi yang tersedia pada BAE. Bersamasama dengan Penjamin Pelaksana Emisi Efek, BAE mempunyai hak untuk menolak pemesanan
saham yang tidak memenuhi persyaratan pemesanan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku.
Dalam hal terjadinya pemesanan yang melebihi jumlah Saham Yang Ditawarkan, BAE melakukan
proses penjatahan berdasarkan rumus penjatahan yang ditetapkan oleh Penjamin Pelaksana Emisi
Efek, mencetak konfirmasi penjatahan dan menyiapkan laporan penjatahan. BAE juga bertanggung
jawab menerbitkan Formulir Konfirmasi Penjatahan (“FKPS”) atas nama pemesan yang mendapatkan
penjatahan dan menyusun laporan Penawaran Umum Saham Perdana sesuai peraturan yang berlaku.
Berikut merupakan pengalaman Biro Administrasi Efek dalam pasar modal selama tiga tahun terakhir:
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Nama Perusahaan
PT Aneka Gas Industri Tbk.
PT Waskita Beton Precast Tbk.
PT Graha Layar Prima Tbk.
PT Duta Intidaya Tbk.
PT Bentoel Internasional Tbk.
PT Catur Sentosa Adiprana Tbk.
PT Sillo Maritime Perdana Tbk.
PT Cikarang Listrindo Tbk.
PT XL Axiata Tbk.
PT Bank Ganesha Tbk.
PT Equity Development Investment Tbk.
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
211
Jenis Transaksi Pasar Modal
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Terbatas
Umum Saham Perdana
Umum Terbatas
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Terbatas
Umum Saham Perdana
Umum Terbatas
Tahun
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2016
No.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
Nama Perusahaan
PT Mitra Pemuda Tbk.
PT Kino Indonesia Tbk.
PT ANTAM (Persero) Tbk.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
PT Bank Harda Internasional Tbk.
PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk.
PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk.
PT Anabatic Technologies Tbk.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
PT Merdeka Copper Gold Tbk.
PT Mega Manunggal Property Tbk.
PT Intan Baruprana Finance Tbk.
PT Blue Bird Tbk.
PT Mitrabara Adiperdana Tbk.
PT Graha Layar Prima Tbk.
PT Wijaya Karya Beton Tbk.
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk.
PT Arita Prima Indonesia Tbk.
PT Cipaganti Citra Graha Tbk.
PT Semen Baturaja (Persero) Tbk.
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk.
PT Mitra Phinasthika Mustika Tbk.
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk.
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Penawaran
Jenis Transaksi Pasar Modal
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Terbatas
Umum Terbatas
Umum Saham Perdana
Umum Terbatas
Umum Terbatas
Umum Saham Perdana
Umum Terbatas
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Umum Saham Perdana
Tahun
2016
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2014
2014
2014
2014
2014
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
Para Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana
ini menyatakan tidak ada hubungan Afiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Perseroan
sebagaimana didefinisikan dalam UUPM.
212
XVII.
PENDAPAT DARI SEGI HUKUM
Berikut ini adalah salinan pendapat dari segi hukum mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan
Perseroan, dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana, yang telah disusun oleh Konsultan Hukum
Hadiputranto, Hadinoto & Partners.
213
Halaman ini sengaja dikosongkan
215
216
217
218
219
220
221
222
223
224
225
226
227
228
229
Halaman ini sengaja dikosongkan
XVIII. LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN LAPORAN
KEUANGAN PERSEROAN
Berikut ini adalah salinan laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni
2016 dan 2015 (tidak diaudit), dan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015, 2014 dan
2013 yang telah diaudit oleh RSM, auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan
oleh IAPI, dengan opini tanpa modifikasian (“Wajar Tanpa Pengecualian”).
231
Halaman ini sengaja dikosongkan
234
235
236
237
238
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
STATEMENTS OF FINANCIAL POSITION
As of June 30, 2016, and December 31, 2015,
2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
LAPORAN POSISI KEUANGAN
Per 30 Juni 2016, dan 31 Desember 2015,
2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
Catatan /
Note
30 Juni/June 30,
2016
Rp
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014*
Rp
2013*
Rp
ASSETS
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Bank
Piutang Usaha - Pihak Ketiga
Aset Keuangan Lancar Lainnya - Pihak Ketiga
Persediaan
Uang Muka
Pajak Dibayar di Muka
Biaya Dibayar di Muka
Aset Non Keuangan
Lancar Lainnya
Total Aset Lancar
ASET TIDAK LANCAR
Biaya Dibayar di Muka
Aset Pajak Tangguhan
Piutang Pihak Berelasi - Non Usaha
Aset Tetap
Aset Takberwujud
Aset Non Keuangan
Tidak Lancar Lainnya
Total Aset Tidak Lancar
CURRENT ASSETS
Cash on Hand and in Banks
Accounts Receivable - Third Parties
Other Current Financial Assets - Third Parties
Inventories
Advance Payments
Prepaid Taxes
Prepaid Expenses
Other Current
Non-Financial Assets
Total Current Assets
3, 28, 32
4, 32
5, 32
6
7
19.c
8
44,884,318,563
57,439,596,509
9,388,807,560
30,033,621,215
19,161,241,323
-28,242,431,867
44,976,920,673
78,407,626,563
6,797,964,424
25,785,616,043
16,756,097,274
2,378,741,596
20,933,364,528
45,112,170,081
74,473,362,154
9,188,576,629
19,732,082,484
11,173,141,418
2,666,699,217
21,152,298,823
34,583,531,564
62,491,913,167
9,704,677,428
15,056,198,441
21,613,667,880
2,636,612,363
15,917,787,736
2.u
727,400,000
189,877,417,037
-196,036,331,101
-183,498,330,806
-162,004,388,579
8
19.b
27, 32
9
10
99,701,294,462
79,537,438,289
385,078,196
214,602,936,705
2,867,432,107
35,701,498,668
60,800,714,387
83,745,575,348
196,284,269,448
3,522,017,873
24,956,898,668
52,444,278,229
2,656,959,253
362,906,950,176
7,154,421,360
22,889,098,373
41,807,328,291
1,667,024,151
272,608,322,804
8,972,268,477
11
1,357,146,636
398,451,326,395
1,775,621,823
381,829,697,547
713,576,583
450,833,084,269
3,689,822,304
351,633,864,400
NON-CURRENT ASSETS
Prepaid Expenses
Deferred Tax Assets
Due from Related Parties
Fixed Assets
Intangible Assets
Other Non-Current
Non-Financial Assets
Total Non-Current Assets
588,328,743,432
577,866,028,648
634,331,415,075
513,638,252,979
TOTAL ASSETS
TOTAL ASET
LIABILITIES AND EQUITY
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Bank Jangka Pendek
Utang Usaha
Pihak Berelasi
Pihak Ketiga
Utang Pajak
Beban Akrual
Liabilitas Imbalan Kerja
Jangka Pendek
Pendapatan Diterima di Muka
Liabilitas Keuangan
Jangka Pendek Lainnya
Pihak Berelasi
Pihak Ketiga
Bagian Liabilitas Jangka Panjang yang
Jatuh Tempo dalam Satu Tahun:
Utang Bank
Utang Sewa Pembiayaan
Total Liabilitas Jangka Pendek
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang Jangka Panjang - Setelah Dikurangi
Bagian yang Jatuh Tempo dalam Setahun:
Utang Bank
Utang Sewa Pembiayaan
Liabilitas Keuangan Jangka Panjang Lainnya
Pihak Berelasi
Pihak Ketiga
Liabilitas Imbalan Kerja
Jangka Panjang
Total Liabilitas Jangka Panjang
12, 32
13, 28, 32
27
19.d
14, 32
32
15, 28, 32
27
17, 32
16, 32
3,635,423,874
1,000,000,000
5,731,684,721
4,791,979,057
427,402,390
28,235,075,933
12,986,708,151
23,233,281,891
701,250,478
42,359,391,573
14,989,044,356
34,709,974,520
223,434,416
30,491,621,831
13,284,127,781
43,925,316,753
533,744,807
31,922,932,563
22,265,141,813
44,204,544,923
2,322,436,828
526,883,003
1,484,616,282
1,048,915,408
537,023,326
674,158,960
213,730,747
1,000,945,504
18,392,227,663
8,864,862,327
510,757,964
29,436,811,461
600,000,000
18,862,952,550
4,143,490,101
10,942,358,543
37,134,390,587
6,476,477,700
142,235,170,347
13,538,614,659
5,316,540,529
145,095,917,230
27,959,102,368
3,581,539,935
145,870,962,641
14,757,920,646
1,583,476,629
136,360,265,333
CURRENT LIABILITIES
Short-Term Bank Loans
Accounts Payable
Related Parties
Third Parties
Taxes Payable
Accrued Expenses
Short-Term Employees' Benefits
Liabilities
Unearned Revenue
Other Current Financial
Liabilities
Related Parties
Third Parties
Long-Term Liabilities that
Mature within One Year:
Bank Loans
Financial Leases Payable
Total Current Liabilities
17, 32
16, 32
18, 28, 32
27
63,975,641,502
4,785,372,913
50,363,348,180
4,785,372,913
122,649,568,435
5,963,382,670
111,542,470,788
1,147,068,180
-656,666,880
766,807,849
656,766,881
3,916,807,849
7,038,454,853
-3,945,019,229
29
323,059,880,309
392,477,561,604
249,870,460,309
306,442,756,132
214,638,163,444
354,206,377,251
172,319,722,309
288,954,280,507
NON-CURRENT LIABILITIES
Long-Term Liabilities that Has Been
Deducted with Current Maturity:
Bank Loans
Financial Leases Payable
Other Non Current Financial Liabilities
Related Parties
Third Parties
Long-Term Employees' Benefits
Liabilities
Total Non-Current Liabilities
534,712,731,951
451,538,673,362
500,077,339,892
425,314,545,840
TOTAL LIABILITIES
TOTAL LIABILITAS
EQUITY
EKUITAS
Ekuitas yang Dapat Diatribusikan kepada
Pemilik Entitas Induk:
Modal Saham - Nilai Nominal
Rp 1.000.000 per Saham
Modal Dasar - 75.000 Saham
Modal Ditempatkan dan
Disetor Penuh - 75.000 Saham
(2013: 18.000 Saham)
Tambahan Modal Disetor
Penghasilan Komprehensif Lain
Saldo Laba
Total Ekuitas yang Dapat Diatribusikan kepada
Pemilik Entitas Induk
Kepentingan Non Pengendali
TOTAL EKUITAS
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
20
21
29
75,000,000,000
25,370,362,828
(95,882,269,500)
49,127,918,153
75,000,000,000
25,370,362,828
(59,079,986,250)
85,036,978,708
75,000,000,000
-(66,596,118,990)
126,011,984,286
18,000,000,000
-(56,197,758,000)
125,451,752,831
53,616,011,481
--
126,327,355,286
--
134,415,865,296
(161,790,113)
87,253,994,831
1,069,712,308
53,616,011,481
126,327,355,286
134,254,075,183
88,323,707,139
588,328,743,432
577,866,028,648
634,331,415,075
513,638,252,979
Equity Attributable to the Owners of
the Parent:
Capital Stocks - Par Value
Rp 1,000,000 per Share
Authorized - 75,000 Shares
Issued and
Fully Paid -75,000 Shares
(2013: 18,000 Shares)
Additional Paid in Capital
Other Comprehensive Income
Retained Earnings
Equity Attributable to the Owners of
the Parent:
Non-Controlling Interest
TOTAL EQUITY
TOTAL LIABILITIES AND EQUITY
*) Konsolidasian / Consolidated
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
laporan keuangan secara keseluruhan
d1/November 4, 2016
239
The accompanying notes form an integral part of
these financial statements
Paraf:
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
STATEMENTS OF PROFIT OR LOSS AND
OTHER COMPREHENSIVE INCOME
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
LAPORAN LABA RUGI DAN
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
Catatan /
Note
PENDAPATAN - BERSIH
23
BEBAN POKOK PENDAPATAN
Beban Pokok Langsung
Beban Pokok Tidak Langsung
Total Beban Pokok Pendapatan
24
LABA KOTOR
Beban Usaha
Pendapatan Lainnya
Beban Lainnya
25
26
26
LABA USAHA
Bagian Rugi Entitas Anak
Sebelum Divestasi
Beban Keuangan - Bersih
LABA SEBELUM PAJAK
MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN
Pajak Kini
Pajak Tangguhan
Total Beban Pajak Penghasilan - Bersih
19
LABA TAHUN BERJALAN
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos-pos yang Tidak Akan Direklasifikasi
ke Laba Rugi :
Pengukuran Kembali atas
Program Imbalan Kerja
Pajak Penghasilan atas Pengukuran
Kembali atas Program Imbalan Kerja
29
19.b
Penghasilan Komprehensif Lain
Setelah Pajak
TOTAL LABA KOMPREHENSIF
TAHUN BERJALAN
30 Juni/June 30,
2016
2015
Rp
Rp
648,629,680,286
223,773,626,187
45,157,618,935
268,931,245,122
2015
Rp
591,177,824,257
207,081,431,550
41,143,755,493
248,225,187,043
31 Desember/December 31,
2014*
Rp
1,197,727,222,012
429,160,181,055
82,033,507,048
511,193,688,103
390,422,715,890
73,644,529,805
464,067,245,695
997,986,700,079
REVENUES - NET
341,393,942,285
54,586,308,210
395,980,250,495
COST OF REVENUES
Direct Cost of Revenues
Indirect Cost of Revenues
Total Cost of Revenues
379,698,435,164
342,952,637,214
686,533,533,909
636,976,466,917
602,006,449,584
(325,783,601,016)
6,946,557,603
(1,666,797,621)
(300,369,612,230)
12,313,295,554
(2,165,754,712)
(606,548,942,080)
35,465,401,174
(18,508,409,496)
(560,398,033,344)
14,991,549,165
(761,216,371)
(508,826,150,829)
4,527,161,084
(3,778,970,051)
59,194,594,132
52,730,565,826
96,941,583,507
90,808,766,367
93,928,489,788
GROSS PROFIT
Operating Expense
Other Income
Other Expenses
OPERATING INCOME
Portion of Subsidiaries Loss
Before Disposal
Financial Costs - Net
-(3,674,372,493)
(1,433,879,309)
(9,584,704,015)
(1,433,879,309)
(18,517,781,968)
-(14,521,651,286)
-(6,367,569,450)
55,520,221,639
41,711,982,502
76,989,922,230
76,287,115,081
87,560,920,338
INCOME BEFORE TAX
(22,898,578,346)
6,469,296,152
(16,429,282,194)
(20,199,761,500)
10,632,393,250
(9,567,368,250)
(29,543,600,000)
11,578,672,192
(17,964,927,808)
(28,185,462,750)
7,183,330,438
(21,002,132,312)
(27,561,259,000)
(210,819,599)
(27,772,078,599)
INCOME TAX BENEFIT (EXPENSES)
Current Tax
Deferred Tax
Total Income Tax Expenses
39,090,939,445
32,144,614,252
59,024,994,422
55,284,982,769
59,788,841,739
INCOME FOR THE YEAR
OTHER COMPREHENSIVE INCOME
Items that Will Not be Reclassified
Into Profit or Loss :
Remeasurement on
Employee Benefits Program
Income Tax on Remeasurement
on Employee Benefits Program
(49,069,711,000)
(12,057,118,000)
9,971,507,000
(13,908,234,225)
37,566,104,000
12,267,427,750
3,014,279,500
(2,492,876,750)
3,453,619,500
(9,391,526,000)
(36,802,283,250)
(9,042,838,500)
7,478,630,250
(10,454,614,725)
28,174,578,000
2,288,656,195
23,101,775,752
66,503,624,672
44,830,368,044
87,963,419,739
Other Comprehensive Income
After Tax
TOTAL COMPREHENSIVE INCOME
FOR THE YEAR
58,560,231,455
(3,275,248,686)
55,284,982,769
61,590,631,713
(1,801,789,974)
59,788,841,739
INCOME FOR CURRENT YEAR
ATTRIBUTABLE TO:
Owner of the Parent Entity
Non-Controlling Interest
Total
48,161,870,465
(3,331,502,421)
44,830,368,044
89,765,209,713
(1,801,789,974)
87,963,419,739
TOTAL COMPREHENSIVE INCOME FOR
THE YEAR ATTRIBUTABLE TO:
Owner of the Parent Entity
Non-Controlling Interest
Total
1,045,718.42
1,045,718.42
3,421,701.76
3,421,701.76
LABA TAHUN BERJALAN YANG DAPAT
DIATRIBUSIKAN KEPADA:
Pemilik Entitas Induk
Kepentingan Non Pengendali
Total
LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN YANG
DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA:
Pemilik Entitas Induk
Kepentingan Non Pengendali
Total
LABA PER SAHAM
DASAR
DILUSIAN
1,101,043,712,612
2013*
Rp
30
521,212.53
521,212.53
428,594.86
428,594.86
786,999.93
786,999.93
EARNINGS PER SHARE
BASIC
DILUTED
*) Konsolidasian / Consolidated
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
laporan keuangan secara keseluruhan
d1/November 4, 2016
240
The accompanying notes form an integral part of
these financial statements
Paraf:
22
Dividen Tunai
d1/November 4, 2016
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
laporan keuangan secara keseluruhan
*) Konsolidasian / Consolidated
**) Keuntungan (Kerugian) Aktuarial / Actuarial Gain (Loss)
75,000,000,000
--
SALDO PER 30 JUNI 2016
Penghasilan Komprehensif Lain
--
75,000,000,000
--
22
Laba Tahun Berjalan
Dividen Tunai
SALDO PER 31 DESEMBER 2015
--
Penghasilan Komprehensif Lain
---
1.c, 21
Laba Tahun Berjalan
Selisih Nilai Transaksi Pelepasan Entitas Anak
Kepada Entitas Sepengendali
--
75,000,000,000
22
SALDO PER 31 DESEMBER 2014 *
Dividen Tunai
75,000,000,000
SALDO PER 30 JUNI 2015
--
Penghasilan Komprehensif Lain
---
1.c, 21
--
Laba Tahun Berjalan
Selisih Nilai Transaksi Pelepasan Entitas Anak
Kepada Entitas Sepengendali
22
Penghasilan Komprehensif Lain
75,000,000,000
--
Laba Tahun Berjalan
SALDO PER 31 DESEMBER 2014 *
---
Setoran Modal oleh Kepentingan
Non Pengendali di Entitas Anak
--
57,000,000,000
Dividen Tunai
Penambahan Modal Saham
--
Penghasilan Komprehensif Lain
18,000,000,000
--
SALDO PER 31 DESEMBER 2013 *
--
--
Laba Tahun Berjalan
22
18,000,000,000
25,370,362,828
--
--
--
25,370,362,828
--
--
25,370,362,828
--
--
25,370,362,828
--
--
25,370,362,828
--
--
--
--
--
--
--
--
--
--
--
--
--
(95,882,269,500)
(36,802,283,250)
--
--
(59,079,986,250)
7,478,630,250
--
37,502,490
--
(66,596,118,990)
(75,601,455,000)
(9,042,838,500)
--
37,502,490
--
(66,596,118,990)
(10,398,360,990)
--
--
--
--
(56,197,758,000)
28,174,578,000
--
--
--
(84,372,336,000)
241
49,127,918,153
--
39,090,939,445
(75,000,000,000)
85,036,978,708
--
59,024,994,422
--
(100,000,000,000)
126,011,984,286
58,156,598,538
--
32,144,614,252
--
(100,000,000,000)
126,011,984,286
--
58,560,231,455
--
(58,000,000,000)
--
125,451,752,831
--
61,590,631,713
--
(74,516,666,666)
138,377,787,785
53,616,011,481
(36,802,283,250)
39,090,939,445
(75,000,000,000)
126,327,355,286
7,478,630,250
59,024,994,422
25,407,865,318
(100,000,000,000)
134,415,865,296
82,925,506,366
(9,042,838,500)
32,144,614,252
25,407,865,318
(100,000,000,000)
134,415,865,296
(10,398,360,990)
58,560,231,455
--
(58,000,000,000)
57,000,000,000
87,253,994,831
28,174,578,000
-61,590,631,713
(74,516,666,666)
-
72,005,451,785
Ekuitas yang Dapat Diatribusikan Kepada Entitas Induk / Equity Attributable to Owners of the Parent Entity
Modal Saham
Tambahan
Penghasilan
Saldo Laba /
Total
Retained
Ditempatkan dan
Modal Disetor /
Komprehensif
Additional
Earnings
Disetor Penuh /
Lain ** /
Paid in
Other
Issued and
Capital
Fully Paid
Comprehensive
Capital
Income **
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Setoran Modal oleh Kepentingan
Non Pengendali di Entitas Anak
Dividen Tunai
SALDO PER 31 DESEMBER 2012 *
Catatan /
Note
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
Rp
--
--
--
--
--
--
--
161,790,113
--
(161,790,113)
--
--
--
161,790,113
--
(161,790,113)
(56,253,735)
(3,275,248,686)
2,100,000,000
--
--
1,069,712,308
--
(1,801,789,974)
900,000,000
--
53,616,011,481
(36,802,283,250)
39,090,939,445
(75,000,000,000)
126,327,355,286
7,478,630,250
59,024,994,422
25,569,655,431
(100,000,000,000)
134,254,075,183
82,925,506,366
(9,042,838,500)
32,144,614,252
25,569,655,431
(100,000,000,000)
134,254,075,183
(10,454,614,725)
55,284,982,769
2,100,000,000
(58,000,000,000)
57,000,000,000
88,323,707,139
28,174,578,000
59,788,841,739
900,000,000
(74,516,666,666)
73,976,954,066
Rp
1,971,502,282
Total Ekuitas /
Total
Equity
Kepentingan
Non Pengendali /
NonControlling
Interest
The accompanying notes form an integral part of
these financial statements
BALANCE AS OF JUNE 30, 2016
Other Comprehensive Income
Income For The Year
Cash Dividend
BALANCE AS OF DECEMBER 31, 2015
Other Comprehensive Income
Income For The Year
Difference in Value Resulting from Disposal of Subsidiaries
Transactions Among Entities Under Common Control
Cash Dividend
BALANCE AS OF DECEMBER 31, 2014 *
BALANCE AS OF JUNE 30, 2015
Other Comprehensive Income
Income For The Year
Difference in Value Resulting from Disposal of Subsidiaries
Transactions Among Entities Under Common Control
Cash Dividend
BALANCE AS OF DECEMBER 31, 2014 *
Other Comprehensive Income
Income For The Year
Paid up Capital by Non Controlling Interest
in Subsidiary
Cash Dividend
Additional in Share Capital
BALANCE AS OF DECEMBER 31, 2013 *
Other Comprehensive Income
Income For The Year
Paid up Capital by Non Controlling Interest
in Subsidiary
Cash Dividend
BALANCE AS OF DECEMBER 31, 2012 *
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
STATEMENTS OF CHANGES IN EQUITY
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
STATEMENTS OF CASH FLOWS
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
LAPORAN ARUS KAS
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
Catatan /
Note
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Kas dari Pelanggan
Pembayaran Kas kepada Karyawan,
Pemasok dan Pihak Ketiga
Penghasilan Bunga
Pembayaran Pajak Penghasilan
Arus Kas Bersih Diperoleh dari
Aktivitas Operasi
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Hasil Penjualan Aset Tetap
Perolehan Aset Tetap
Perolehan Aset Takberwujud
Penjualan Investasi Saham di Entitas Anak
Arus Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan
untuk) Aktivitas Investasi
9
9
30 Juni/June 30,
2016
2015
Rp
Rp
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014*
Rp
2013*
Rp
669,075,677,935
587,620,575,425
1,188,775,478,887
1,088,735,477,081
998,450,124,489
(597,818,020,990)
278,866,501
(16,485,384,009)
(407,811,946,340)
388,958,001
(14,670,478,257)
(1,001,595,246,705)
658,719,502
(29,674,137,483)
(951,027,899,871)
1,346,266,725
(33,395,087,045)
(882,124,343,497)
314,121,495
(33,975,172,980)
55,051,139,436
165,527,108,829
158,164,814,201
105,658,756,890
82,664,729,507
7,155,667,066
(46,195,583,309)
---
60,912,200
(136,663,316,380)
(990,955,250)
--
352,974,171,130
(320,468,406,836)
(1,313,830,250)
32,219,025,000
6,472,175,906
(128,681,106,695)
(432,909,403)
--
10,005,996,978
(65,710,684,705)
(3,247,055,932)
--
(39,039,916,242)
(137,593,359,430)
63,410,959,044
(122,641,840,192)
(58,951,743,659)
48,992,000,000
(7,783,930,751)
--
33,417,811,365
(15,121,205,371)
--
65,297,000,000
(178,512,362,606)
--
44,478,211,551
(16,299,899,703)
57,000,000,000
79,202,390,167
(17,212,052,654)
--
-(297,471,739)
(57,000,000,000)
-(4,331,468,457)
(50,000,000,000)
-(5,943,307,565)
(100,000,000,000)
2,100,000,000
(1,775,329,351)
(58,000,000,000)
900,000,000
(2,542,822,800)
(74,516,666,666)
CASH FLOWS FROM OPERATING ACTIVITIES
Cash Received from Customers
Cash paid to Employees, Supplier and
Third Parties
Interest Income
Cash Paid for Income Tax
Net Cash Flows Provided by
Operating Activities
CASH FLOWS FROM INVESTING ACTIVITIES
Proceeds from Fixed Assets Disposal
Acquisition of Fixed Assets
Acquisition of Intangible Assets
Disposal of Investment in Subsidiaries
Net Cash Flows Provided by (Used in)
Investing Activities
(16,089,402,490)
(36,034,862,463)
(219,158,670,171)
27,502,982,497
(14,169,151,953)
CASH FLOWS FROM FINANCING ACTIVITIES
Proceeds from Bank Loans
Payment of Bank Loans
Additional Paid up Capital
Paid up Capital by Non
Controlling Interest
Payment of Financial Lease
Cash Dividend
Net Cash Flows Provided by (Used in)
Financing Activities
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH
KAS DAN BANK
(78,179,296)
(8,101,113,063)
2,417,103,074
10,519,899,195
9,543,833,895
NET INCREASE (DECREASE) IN
CASH ON HAND AND IN BANKS
DAMPAK PERUBAHAN KURS TERHADAP
KAS DAN BANK
(14,422,814)
--
4,310,634
8,739,322
2,216,720
EFFECT OF FOREIGN EXCHANGE RATE ON
CASH ON HAND AND IN BANKS
44,976,920,673
45,112,170,081
45,112,170,081
34,583,531,564
25,037,480,949
CASH ON HAND AND IN BANKS
AT BEGINNING OF YEAR
--
(2,556,663,116)
(2,556,663,116)
--
--
CASH ON HAND AND IN BANKS
OF CASH
DISPOSAL
OF SUBSIDIARIES
ON HAND
AND IN BANKS
44,884,318,563
34,454,393,902
44,976,920,673
45,112,170,081
34,583,531,564
3,018,473,409
41,865,845,154
44,884,318,563
1,966,443,347
32,487,950,555
34,454,393,902
2,081,325,315
42,895,595,358
44,976,920,673
1,910,680,073
43,201,490,008
45,112,170,081
2,265,876,625
32,317,654,939
34,583,531,564
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan Pinjaman
Pembayaran Pinjaman
Setoran Modal
Setoran Modal oleh Kepentingan
Non Pengendali
Pembayaran Utang Sewa Pembiayaan
Pembayaran Dividen Tunai
Arus Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan
untuk) Aktivitas Pendanaan
23
KAS DAN BANK PADA AWAL TAHUN
KAS DAN BANK ENTITAS ANAK YANG
DIDIVESTASI
KAS DAN BANK PADA AKHIR TAHUN
Kas dan Bank terdiri dari:
Kas
Bank
Total
3
AT THE END OF YEAR
Cash on Hand and in Banks consist of:
Cash on Hand
Cash in Banks
Total
*) Konsolidasian / Consolidated
Tambahan informasi aktivitas yang tidak mempengaruhi arus kas disajikan pada Catatan 34 /
Additional information of non-cash activities is presented in Note 34.
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
laporan keuangan secara keseluruhan
d1/November 4, 2016
242
The accompanying notes form an integral part of
these financial statements
Paraf:
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
1.
1.
Umum
General
1.a. Pendirian Perusahaan
PT Prodia Widyahusada Tbk (“Perusahaan”)
didirikan berdasarkan Akta Notaris Sri Rahayu,
SH, No. 14 tanggal 8 Pebruari 1988. Akta
pendirian tersebut disahkan oleh Menteri
Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. C2-1459 HT.01.01.Th.91
tanggal 27 April 1991 dan telah diumumkan
dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 52
tanggal 28 Juni 1991, Tambahan No. 1846.
1.a.Company’s Establishment
PT Prodia Widyahusada Tbk (the Company)
was established based on the Deed of Notary
Sri Rahayu, SH, No. 14 dated February 8, 1988.
The establishment deed was approved by
Minister of Justice of the Republic of Indonesia
in Decree No. C2-1459 HT.01.01.Th.91 dated 27
April 1991 and was published in State Gazette of
the Republic of Indonesia No. 52 dated June 28,
1991, supplement No. 1846.
Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami
beberapa kali perubahan, terakhir dengan
Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham
mengenai
Perubahan
Anggaran
Dasar
Perusahaan No. 83 tanggal 29 Juni 2016, yang
dibuat dihadapan Jose Dima Satria, SH, M.Kn,
Notaris di Jakarta. Perubahan anggaran dasar
ini telah mendapat persetujuan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No.
AHU-0087910.AH.01.11 Tahun 2016 tanggal
28 Juli 2016.
The Company’s articles of association have
been amended several times, most recently by
the Resolution of General Shareholders Meeting
Deed regarding amendment of articles of
association No. 83 dated June 29,2016, made
before Jose Dima Satria, SH, M.Kn, Notary in
Jakarta. This amendment has been approved
by the Minister of Law and Human Rights
Republic of Indonesia No. AHU-0087910.
AH.01.11 Year 2016 dated July 28, 2016.
Sesuai dengan Anggaran Dasar, maksud dan
tujuan Perusahaan adalah bergerak dalam
bidang kesehatan dengan melaksanakan
kegiatan usaha seperti mendirikan klinik,
laboratorium kesehatan, pengelolaan rumah
sakit, pusat penelitian dan pendidikan perawat
serta
menyelenggarakan
pemeriksaan
kesehatan masyarakat. Saat ini, kegiatan utama
Perusahaan
adalah
menyediakan
jasa
pemeriksaan kesehatan. Perusahaan memulai
operasi komersialnya pada tahun 1988.
In accordance with the Articles of Association,
the purpose and objectives of the Company is
engaged in health laboratories by conducting
business activities such as setting up clinics,
health laboratories, the management of
hospitals, research centers and education of
nurses and community health examinations.
Currently, the Company's principal activity is to
provide health check up. The Company started
commercial operations in 1988.
Perusahaan berkedudukan di Jakarta dengan
130 kantor cabang serta outlet-outlet yang
tersebar di seluruh Indonesia. Kantor pusat
Perusahaan beralamat di Jl. Kramat Raya
No. 150, Jakarta Pusat.
The Company is domiciled in Jakarta with 130
branches and outlets throughout Indonesia. The
head office is located at Jl. Kramat Raya No.
150, Central Jakarta.
Perusahaan adalah anggota kelompok usaha
Prodia Utama.
The Company is a member of Prodia Utama
Group.
1.b. Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan
Karyawan
Susunan anggota Dewan Komisaris dan Dewan
Direksi Perusahaan masing-masingberdasarkan
Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham
mengenai
Perubahan
Anggaran
Dasar
Perusahaan No. 83 tanggal 29 Juni 2016, Akta
Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang
Saham Luar Biasa No.8 tanggal 28 April 2015,
No.5 tanggal 17 April 2014 dan No.1 tanggal 1
Mei 2009 dari notaris Rismalena Kasri, SH,
adalah sebagai berikut:
1.b. Board of Commissioners, Directors and
Employees
The Board of Commissioners and Board of
Directors of the Company based on Resolution
of General Shareholders Meeting Deed
regarding amendment of articles of association
No. 83 dated June 29,2016, the Deed of
Extraordinary Shareholders General Meeting
No.8 dated April 28, 2015, No.5 dated April 17,
2014 and No. 1 dated May 1, 2009 from notary
Rismalena Kasri, SH, are as follows:
DRAFT
243
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
2016
Dewan Komisaris
Komisaris Utama
Komisaris
Komisaris Independen
Dewan Direksi
Direktur Utama
Direktur
2013
2015 dan/and 2014
: Drs. Andi Wijaya, MBA
: Drs. Gunawan Prawiro Soeharto
Dra. Endang Wahjuningtyas Hoyaranda
Drs. Andi Wijaya, MBA
Drs. Gunawan Prawiro Soeharto
J. Hamdono Widjojo
Drs. Elias Nugroho
Ichsan Hidajat, SH
Dra. Luscie Panggajaya
Dra. Endang Wahjuningtyas Hoyaranda
Board of Commissioners
President Commissioner
Commissioners
Drs. Andi Wijaya, MBA
Drs. Gunawan Prawiro Soeharto
J. Hamdono Widjojo
Drs. Elias Nugroho
Ichsan Hidajat, SH
: Scott Andrew Merrillees
Jos Luhukay
Independent Commissioner
: Dr. Dewi Muliaty, M.Si
: Liana Kuswandi, SE, M.Fin
Dra. Tetty Hendrawati, M.Kes
Andri Hidayat, M.Si
Dr. Indriyanti Rafi Sukmawati, M.Si
Dr. Dewi Muliaty, M.Si
Liana Kuswandi, SE, M.Fin
Dra. Tetty Hendrawati, M.Kes
Andri Hidayat, M.Si
Dr. Indriyanti Rafi Sukmawati, M.Si
Board of Directors
President Director
Directors
Dr. Dewi Muliaty, M.Si
Liana Kuswandi, SE, M.Fin
Dra. Tetty Hendrawati, M.Kes
Dra. Luscie Panggajaya
Jumlah kompensasi kepada dewan komisaris
dan direksi Perusahaan berupa gaji dan
tunjangan adalah sebesar Rp7.933.976.800 dan
Rp7.643.250.616
serta
Rp15.410.670.216,
Rp12.758.209.130
dan
Rp11.588.628.471
masing-masing untuk periode enam bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2016 dan 2015, serta
tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember
2015, 2014 dan 2013.
Total compensation to
the
board
of
commissioners and directors of the Company in
the form of salary and benefits amounted to
Rp7,933,976,800 and Rp7,643,250,616, and
Rp15,410,670,216,
Rp12,758,209,130
and
Rp11,588,628,471 respectively for the six-month
periods ended June 30, 2016 and 2015, and the
years ended December 31, 2015, 2014 and
2013.
Pada tanggal 30 Juni 2016 dan 2015,
serta 31 Desember 2015, 2014 dan 2013,
jumlah karyawan Perusahaan (dan entitas anak)
adalah 3.648 dan 3.738, serta 3615, 3.808 dan
3.409 karyawan tetap (tidak diaudit).
As of June 30, 2016 and 2015, and December
31, 2015, 2014 and 2013, the Company (and
subsidiaries) have a total of 3,648 and 3,738,
and 3,615, 3,808 and 3,409 permanent
employees, respectively (unaudited).
Susunan Komite Audit Perusahaan pada
tanggal 30 Juni 2016 adalah sebagai berikut:
Board of Audit Committee as of June 30, 2016 is
as follows:
Ketua
Anggota
Anggota
Jos Luhukay
Scott Andrew Merrillees
Dina Kharisma
Chairman
Member
Member
Corporate secretary Perusahaan adalah
Dr. Indriyanti Rafi Sukmawati, M.Si pada
30 Juni 2016
The
Company's
corporate
secretary
is
Dr. Indriyanti Rafi Sukmawati, M.Si as of
June 30, 2016.
Kepala Internal Audit Perusahaan pada 30 Juni
2016 dijabat oleh Budi Darmawan.
Head of Internal Audit as of June 30, 2016 is
Budi Darmawan.
1.c. Structure of the Company’s Subsidiaries
Investments in shares in subsidiaries on
December 31, 2014 and 2013 are as follows:
1.c. Entitas Anak
Penyertaan saham pada entitas anak pada
tanggal 31 Desember 2014 dan 2013 adalah
sebagai berikut:
Entitas Anak/
Subsidiries
Lokasi/
Location
Kegiatan Usaha Utama/
Main Business
Tahun Operasi
Komersial/
Commercial
Operating Year
PT Prodia OHI International Jakarta
PT Prodia Stemcell Indonesia Jakarta
PT Prodia Diagnostic Line
Cikarang
PT Innovasi Diagnostika
Jakarta
DRAFT
Pelayanan Kesehatan
Pelayanan Penunjang Kesehatan
Perdagangan dan Industri
Pelayanan Kesehatan
244
2009
2014
2012
2014
Persentase Kepemilikan/
Ownership
2014
2013
%
%
40%
95%
80%
52%
40%
95%
80%
52%
Total Aset/
Total Asset
2014
2013
Rp
Rp
12,962,557,800
14,416,355,788
19,375,465,101
5,661,907,579
10,567,141,661
16,170,078,808
18,817,270,431
264,755,205
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
Pada tahun 2015, seluruh kepemilikan saham
entitas anak dijual oleh Perusahaan kepada
PT Prodia Utama, pemegang saham, sebagai
berikut:
PT Prodia OHI International
Berdasarkan Akta No.13, tanggal 10 Juli 2015
yang dibuat dihadapan Rismalena Kasri, SH,
notaris di Jakarta, Perusahaan telah menjual
saham kepemilikannya di PT Prodia OHI
International kepada PT Prodia Utama. Akta
tersebut telah memperoleh persetujuan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No.
AHU-3532018.AH.01.11.Tahun
2015
tanggal 10 Juli 2015.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
By 2015, the entire shareholding of subsidiaries
was sold by the Company to PT Prodia Utama,
shareholder, as follows:
PT Prodia OHI International
Based on the Deed No.13, dated July 10, 2015
made before Rismalena Kasri, SH, notary in
Jakarta, the Company sold its ownership share
in
PT
Prodia
OHI
International
to
PT Prodia Utama. The deed has been approved
by the Minister of Law and Human Rights of the
Republic of Indonesia in Decree No. AHU3532018.AH.01.11.Tahun 2015 dated July 10,
2015.
PT Prodia Stemcell Indonesia (dahulu
PT Prodia Stemlife Indonesia)
Berdasarkan Akta No.7, tanggal 17 Juni 2015
yang dibuat dihadapan Rismalena Kasri, SH,
notaris di Jakarta, Perusahaan telah menjual
saham kepemilikannya di PT Prodia Stemcell
Indonesia kepada PT Prodia Utama. Akta
tersebut telah memperoleh persetujuan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No.
AHU-3522608.AH.01.11.Tahun
2015
Tanggal 22 Juni 2015.
PT Prodia Stemcell Indonesia (formerly
PT Prodia Stemlife Indonesia)
Based on the Deed No.7, dated June 17, 2015
were made before Rismalena Kasri, SH, notary
in Jakarta, the Company sold its ownership
share in PT Prodia Stemcell Indonesia to
PT Prodia Utama. The deed has been approved
by the Minister of Law and Human Rights of the
Republic of Indonesia in Decree No. AHU3522608.AH.01.11.Tahun 2015 dated June 22,
2015.
PT Prodia Diagnostic Line
Berdasarkan Akta No.9, tanggal 13 Mei 2015
yang dibuat dihadapan Rismalena Kasri, SH,
notaris di Jakarta, Perusahaan telah menjual
saham kepemilikannya di PT Prodia Diagnostic
Line kepada PT Prodia Utama. Akta tersebut
telah memperoleh persetujuan dari Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU3507899.AH.01.11.Tahun 2015 tanggal 22 Mei
2016.
PT Prodia Diagnostic Line
Based on the Deed No.9, dated May 13, 2015
made before Rismalena Kasri, SH, notary in
Jakarta, the Company sold its ownership share
to PT Prodia Utama. The deed has been
approved by the Minister of Law and Human
Rights of the Republic of Indonesia in Decree
No. AHU-3507899.AH.01.11.Tahun 2015 dated
May 22, 2016.
PT Innovasi Diagnostika
Berdasarkan Akta No.5, tanggal 13 Mei 2015
yang dibuat dihadapan Rismalena Kasri, SH,
notaris di Jakarta, Perusahaan telah menjual
saham kepemilikannya di PT Innovasi
Diagnostika kepada PT Prodia Utama. Akta
tersebut telah memperoleh persetujuan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No. AHU-3505872.AH.01.11 Tahun 2015
tanggal 18 Mei 2015.
PT Innovasi Diagnostika
Based on the Deed No. 5, dated May 13, 2015
made before Rismalena Kasri, SH, notary in
Jakarta, the Company sold its ownership shares
to PT Prodia Utama. The deed has been
approved by the Minister of Law and Human
Rights of the Republic of Indonesia in Decree
No. AHU-3505872.AH.01.11 Tahun 2015 dated
May 18, 2015.
DRAFT
245
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi Signifikan
2. Summary of Significant Accounting Policies
2.a. Kepatuhan Terhadap Standar Akuntansi
Keuangan (SAK)
Laporan keuangan konsolidasian telah disusun
dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi
Keuangan
di
Indonesia
yang
meliputi
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi
Keuangan (ISAK) yang diterbitkan oleh Dewan
Standar Akuntansi Keuangan – Ikatan Akuntan
Indonesia (DSAK – IAI), serta peraturan Pasar
Modal yang berlaku antara lain Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan/Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(OJK/Bapepam-LK) No.
VIII.G.7 tentang
pedoman
penyajian
laporan
keuangan,
keputusan Ketua Bapepam-LK No. KEP347/BL/2012
tentang
penyajian
dan
pengungkapan laporan keuangan emiten atau
perusahaan publik.
2.a.Compliance with the Financial Accounting
Standards (SAK)
The consolidated financial statements were
prepared and presented in accordance with
Indonesian Financial Accounting Standards
which include the Statement of Financial
Accounting
Standards
(PSAK)
and
Interpretation of Financial Accounting Standards
(ISAK) issued by the Financial Accounting
Standard Board – Indonesian Institute of
Accountant (DSAK – IAI), and regulations in the
Capital Market include Regulations of Financial
Sevices
Authority/Capital
Market
and
Supervisory Board and Financial Institution
(OJK/Bapepam-LK) No. VIII.G.7 regarding
guidelines for the presentation of financial
statements, decree of Chairman of Bapepam-LK
No. KEP-347/BL/2012 regarding presentation
and disclosure of financial statements of the
issuer or public company.
2.b. The Basis of Measurement and Preparation
of Financial Statements
The financial statements have been prepared
and presented based on going concern
assumption and accrual basis of accounting,
except for the consolidated statements of cash
flows. Basis of measurement in preparation of
these consolidated financial statements is the
historical costs concept, except for certain
accounts which have been prepared on the
basis of other measurements as described in
their respective policies. Historical cost is
generally based on the fair value of the
consideration given in exchange for assets.
2.b. Dasar Pengukuran dan Penyusunan Laporan
Keuangan
Laporan keuangan disusun dan disajikan
berdasarkan asumsi kelangsungan usaha serta
atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.
Dasar pengukuran dalam penyusunan laporan
keuangan ini adalah konsep biaya perolehan,
kecuali beberapa akun tertentu yang didasarkan
pengukuran lain sebagaimana dijelaskan dalam
kebijakan akuntansi masing-masing akun
tersebut. Biaya perolehan umumnya didasarkan
pada nilai wajar imbalan yang diserahkan dalam
pemerolehan aset.
Laporan arus kas disajikan dengan metode
langsung
(direct
method)
dengan
mengelompokkan arus kas dalam aktivitas
operasi, investasi dan pendanaan.
The statements of cash flows are prepared
using the direct method by classifying cash
flows into operating, investing and financing
activities.
Mata uang penyajian yang digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan ini adalah
Rupiah yang merupakan mata uang fungsional
Perusahaan. Perusahaan menetapkan mata
uang fungsional dan unsur-unsur dalam laporan
keuangan diukur berdasarkan mata uang
fungsional tersebut.
The presentation currency used in the
preparation of the financial statements is
Indonesian Rupiah which is the functional
currency of the Company. The Company
determines its own functional currency and
items included in the financial statements are
measured using that functional currency.
2.c. Pernyataan
dan
Interpretasi
Standar
Akuntansi Baru dan Revisi yang Berlaku
Efektif pada Tahun Berjalan
Berikut adalah perubahan dan penyesuaian atas
standar dan interpretasi standar baru yang telah
diterbitkan oleh DSAK-IAI dan berlaku efektif
untuk tahun buku yang dimulai pada atau
setelah 1 Januari 2016, yaitu:
2.c. New
and
Revised
Statements
and
Interpretation
of
Financial
Accounting
Standards Effective in the Current Year
The following are amendment and improvement
of standards and new interpretaion of standard
issued by DSAK - IAI and effectively applied for
the period starting on or after January 1, 2016,
as follows:
DRAFT
246
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
ï‚· PSAK No. 5 (Penyesuaian 2015): “Segmen
Operasi”
ï‚· PSAK
No.
7
(Penyesuaian
2015):
“Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”
ï‚· PSAK No. 13 (Penyesuaian 2015): “Properti
Investasi”
ï‚· PSAK No. 16 (Penyesuaian 2015): “Aset
Tetap”
ï‚· PSAK No. 19 (Penyesuaian 2015): “Aset
Takberwujud”
ï‚· PSAK No. 22 (Penyesuaian 2015):
“Kombinasi Bisnis”
ï‚· PSAK No. 25 (Penyesuaian 2015):
“Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi
Akuntansi dan Kesalahan”
ï‚· PSAK No. 53 (Penyesuaian 2015):
“Pembayaran Berbasis Saham
ï‚· PSAK No. 68 (Penyesuaian 2015):
“Pengukuran Nilai Wajar”
ï‚· Amandemen PSAK No. 4: “Laporan
Keuangan Tersendiri” tentang Metode
Ekuitas dalam Laporan Keuangan Tersendiri
ï‚· Amandemen PSAK No. 15: “Investasi Pada
Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama”
tentang
Entitas Investasi:
Penerapan
Pengecualian Konsolidasi
ï‚· Amandemen PSAK No. 16: “Aset Tetap”
tentang Klarifikasi Metode yang Diterima
untuk Penyusutan dan Amortisasi
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
Amandemen
PSAK
No.
19:
“Aset
Takberwujud” tentang Klarifikasi Metode
yang Diterima untuk Penyusutan dan
Amortisasi
Amandemen PSAK No. 24: “Imbalan Kerja”
tentang Program Imbalan Pasti: Iuran
Pekerja
Amandemen PSAK No. 65: “Laporan
Keuangan Konsolidasian” tentang Entitas
Investasi:
Penerapan
Pengecualian
Konsolidasi
Amandemen PSAK No. 66: “Pengaturan
Bersama”
tentang
Akuntansi
Akuisisi
Kepentingan dalam Operasi Bersama
Amandemen PSAK No. 67: “Pengungkapan
Kepentingan Dalam Entitas Lain” tentang
Entitas Investasi: Penerapan Pengecualian
Konsolidasi
ISAK No. 30: “Pungutan”
Berikut ini adalah dampak atas perubahan
standar akuntansi diatas yang relevan terhadap
laporan keuangan Perusahaan:
ï‚· PSAK No. 5 (Penyesuaian 2015): “Segmen
Operasi”
DRAFT
247
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
ï‚· PSAK No. 5 (Improvement 2015):”
Operating Segments”
ï‚· PSAK No. 7 (Improvement 2015): “Related
Party Disclosures”
ï‚· PSAK No. 13 (Improvement 2015):
“Investments Property”
ï‚· PSAK No. 16 (Improvement 2015):
“Property, Plant and Equipment”
ï‚· PSAK No. 19 (Improvement 2015):
“Intangible Assets”
ï‚· PSAK No. 22 (Improvement 2015):
“Business Combination”
ï‚· PSAK No. 25 (Improvement 2015):
“Accounting
Policies,
Changes
in
Accounting Estimates and Errors”
ï‚· PSAK No. 53 (Improvement 2015): “Sharebased Payments”
ï‚· PSAK No. 68 (Improvement 2015): “Fair
Value Measurement”
ï‚· Amendment of PSAK No. 4: “Separate
Financial Statements” about Equity Method
in Separate Financial Statements
ï‚· Amendment of PSAK No. 15: “Investment in
Associates and Joint Venture” about
Investment
Entities:
Applying
the
Consolidation Exception
ï‚· Amendment of PSAK No. 16:” Property,
Plant and Equipment” about Clarification of
Acceptable Methods of Depreciation and
Amortization
ï‚· Amendment of PSAK No. 19: “Intangible
Asset” about Clarification of Acceptable
Methods of Depreciation and Amortization
ï‚· Amendment of PSAK No. 24: “Employee
Benefits” about Defined Benefit Plans:
Employee Contributions
ï‚· Amendment of PSAK No. 65: “Consolidated
Financial Statements” about Investment
Entities:
Applying
the
Consolidation
Exception
ï‚· Amendment of PSAK No. 66: “Joint
Arrangements” about
Accounting
for
Acquisitions of Interests in Joint Operation
ï‚· Amendment of PSAK No. 67: “Disclosures
of Interest in Other Entities” about
Investment
Entities:
Applying
the
Consolidation Exception
ï‚· ISAK No. 30: “Levies”
The following is the impact of the amendments
in accounting standards that are relevant and
significant to the financial statements of the
Company:
ï‚· PSAK No. 5 (Improvement 2015):” Operating
Segments”
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
Penyesuaian ini mengklarifikasi:
- Entitas mengungkapkan pertimbangan
yang
dibuat
manajemen
dalam
penerapan kriteria agregasi PSAK 5
paragraf 12 termasuk penjelasan singkat
segmen operasi yang digabungkan dan
karakteristik ekonomi.
- Pengungkapan rekonsiliasi aset segmen
terhadap total aset jika rekonsiliasi
dilaporkan kepada pengambil keputusan
operasional,
demikian
juga
untuk
pengungkapan liabilitas segmen.
Penerapan penyesuaian standar ini tidak
memberikan pengaruh material terhadap
laporan keuangan.
ï‚· PSAK
No.
7
(Penyesuaian
2015):
“Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”
Penyesuaian
ini
menambahkan
persyaratan pihak-pihak berelasi dan
mengklarifikasi bahwa entitas manajemen
(entitas yang menyediakan jasa personil
manajemen kunci) adalah pihak berelasi
yang dikenakan pengungkapan pihak
berelasi. Dan entitas yang memakai entitas
manajemen mengungkapkan biaya yang
terjadi untuk jasa manajemennya.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
The improvement clarifies that:
- An entity must disclose the judgements
made by management in applying the
aggregation criteria in paragraph 12 of
PSAK 5 including a brief description of
operating segments that have been
aggregated
and
the
economic
characteristics.
- Disclose the reconciliation of segment
assets to total assets if the reconciliation
of segment assets to total assets if the
reconciliation is reported to the chief
operating decision maker, similar to the
required
disclosure
for
segment
liabilities.
The adoption of this improvement of standard
had no material effect to financial statements.
ï‚· PSAK No. 7 (Improvement 2015): “Related
Party Disclosures”
The improvement add requirement of
related parties and clarifies that a
management entity (an entity that provides
key management personnel services) is a
related party subject to the related party
disclosures. In addition, an entity that uses a
management entity is required to disclose
the expenses incurred for management
services.
Perusahaan telah menerapkan PSAK ini
dan
telah
melengkapi
persyaratan
mengenai informasi pihak berelasi.
The Company had adopting this PSAK and
had completed the requirement regarding
the related parties information.
ï‚· PSAK No. 16 (Penyesuaian 2015): “Aset
Tetap” dan PSAK No. 19 (Penyesuaian
2015): “Aset Takberwujud”
ï‚· PSAK No. 16 (Improvement 2015):
“Property, Plant and Equipment” and PSAK
No. 19 (Improvement 2015): “Intangible
Asset”
The improvement of PSAK No. 16 and
PSAK No. 19 clarifies that the asset may be
revalued by reference to observable data on
either the gross or the net carrying amount.
In addition, the accumulated depreciation or
amortization is the difference between the
gross and carrying amounts of the asset.
Carrying amounts of the asset is restated by
revalved amounts.
Penyesuaian PSAK No. 16 dan PSAK
No. 19 ini mengklarifikasi bahwa aset dapat
direvaluasi dengan mengacu pada data
pasar yang dapat diobservasi terhadap
jumlah tercatat bruto ataupun neto.
Sebagai tambahan, akumulasi penyusutan
atau amortisasi adalah perbedaan antara
jumlah tercatat bruto dan jumlah tercatat
aset tersebut. Jumlah tercatat aset tersebut
disajikan
kembali
pada
jumlah
revaluasiannya.
Penerapan
PSAK-PSAK
ini
tidak
memberikan pengaruh material terhadap
laporan keuangan.
DRAFT
248
The adoption of these PSAKs had no
material effect to financial statements.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
ï‚· Amandemen PSAK No. 16: “Aset Tetap”
dan PSAK No. 19: “Aset Takberwujud”
tentang Klarifikasi Metode yang Diterima
untuk Penyusutan dan Amortisasi
ï‚· Amendment of PSAK No. 16:” Property,
Plant and Equipment” and PSAK No. 19:
“Intangible Asset” about Clarification of
Acceptable Methods of Depreciation and
Amortization
Amandemen ini mengklarifikasi prinsip
yang terdapat dalam PSAK No. 16 dan
PSAK No. 19, bahwa pendapatan
mencerminkan
suatu
pola
manfaat
ekonomik
yang
dihasilkan
dari
pengoperasian usaha (yang mana aset
tersebut adalah bagiannya) dari pada
manfaat ekonomik dari pemakaian melalui
penggunaan aset. Sebagai kesimpulan,
penggunaan metode penyusutan aset tetap
yang berdasarkan pada pendapatan
adalah tidak tepat.
The amendments clarify the principle in
PSAK No. 16 and PSAK No. 19, that
revenue reflects a pattern of economic
benefits that are generated from operating a
business (of which the asset is part) rather
than the economic benefits that are
consumed through use of the asset. As a
result, a revenue based method cannot be
used to depreciate the Property, Plant and
Equipment.
Penerapan
PSAK-PSAK
ini
tidak
memberikan pengaruh material terhadap
laporan keuangan.
The adoption of these PSAKs had no
material effect to financial statements.
Amandemen PSAK No. 24: “Imbalan Kerja”
tentang Program Imbalan Pasti: Iuran
Pekerja
Amandemen PSAK No. 24 meminta entitas
untuk memperhatikan iuran dari pekerja
atau pihak ketiga ketika memperhitungkan
program manfaat pasti. Ketika iuran
tersebut sehubungan dengan jasa, harus
diatribusikan pada periode jasa sebagai
imbalan
negatif.
Amandemen
ini
mengklarifikasi bahwa, jika jumlah iuran
tidak bergantung pada jumlah tahun jasa,
entitas diperbolehkan untuk mengakui
iuran tersebut sebagai pengurang dari
biaya jasa dalam periode ketika jasa terkait
diberikan, daripada alokasi iuran tersebut
pada periode jasa.
ï‚· Amendment of PSAK No. 24: “Employee
Benefits” about Defined Benefit Plans:
Employee Contributions
PSAK 24 requires an entity to consider
contributions from employees or third
parties when accounting for defined benefit
plans. Where the contributions are linked to
service, they should be attributed to periods
of service as a negative benefit. These
amendments clarify that, if the amount of
the contributions is independent of the
number of years of service, an entity is
permitted to recognise such contributions
as a reduction in the service cost in the
period in which the service is rendered,
instead of allocating the contributions to the
periods of service.
Penerapan standar ini tidak memberikan
pengaruh material terhadap laporan
keuangan.
The adoption of this standard had no
material effect to financial statements.
Perusahaan telah menerapkan PSAK ini
dan
telah
melengkapi
persyaratan
pengungkapan yang diminta.
The Company has adopting these PSAKs
and had completed the required disclosures
requirements.
2.d. Prinsip-prinsip Konsolidasi
Laporan keuangan Perusahaan untuk tahun
yang berakhir pada 31 Desember 2014 dan
2013, yang disajikan dalam laporan ini,
merupakan laporan keuangan konsolidasian
mencakup laporan keuangan Perusahaan dan
entitas-entitas anak seperti disebutkan pada
Catatan 1.c.
2.d. Principles of Consolidation
The Company’s financial statements for the
years ended December 31, 2014 and 2013, as
presented in this report are the consolidated
financial statements which consist the financial
statements of the Company and subsidiaries
as described in Note 1.c.
ï‚·
DRAFT
249
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Entitas anak adalah entitas yang dikendalikan
oleh Perusahaan, yakni Perusahaan terekspos,
atau memiliki hak, atas imbal hasil variabel dari
keterlibatannya dengan entitas dan memiliki
kemampuan untuk mempengaruhi imbal hasil
tersebut melalui kemampuan kini untuk
mengarahkan aktivitas relevan dari entitas
(kekuasaan atas investee).
A subsidiary is an entity controlled by the
Company, i.e., the Company is exposed, or
has rights, to variable returns from its
involvement with the entity and has the ability
to affect those returns through its current
ability to direct the entity’s relevant activities
(power over the investee).
Keberadaan dan dampak dari hak suara
potensial
dimana
Perusahaan
memiliki
kemampuan praktis untuk melaksanakan
(yakni hak substantif) dipertimbangkan saat
menilai apakah Perusahaan mengendalikan
entitas lain.
The existence and effect of substantive
potential voting rights that the Company has
the practical ability to exercise (i.e.,
substantive rights) are considered when
assessing whether the Company controls
another entity.
Laporan keuangan Perusahaan mencakup
hasil usaha, arus kas, aset dan liabilitas dari
Perusahaan dan seluruh entitas anak yang,
secara
lagsung
dan
tidak
langsung,
dikendalikan oleh Perusahaan. Entitas anak
dikonsolidasikan sejak tanggal efektif akuisisi,
yaitu tanggal dimana Perusahaan secara
efektif memperoleh pengendalian atas bisnis
yang diakuisisi, sampai tanggal pengendalian
berakhir.
The
Company’s
financial
statements
incorporate the results, cash flows, assets and
liabilities of the Company and all of its directly
and
indirectly
controlled
subsidiaries.
Subsidiaries are consolidated from the
effective date of acquisition, which is the date
on which the Company effectively obtains
control of the acquired business, until that
control ceases.
Entitas induk menyusun laporan keuangan
konsolidasian dengan menggunakan kebijakan
akuntansi yang sama untuk transaksi dan
peristiwa lain dalam keadaan yang serupa.
Seluruh transaksi, saldo, laba, beban, dan arus
kas dalam intra kelompok usaha terkait dengan
transaksi antar entitas dalam Perusahaan
dieliminasi secara penuh.
A parent prepares consolidated financial
statements using uniform accounting policies
for like transactions and other events in similar
circumstances. All intraCompany transactions,
balances, income, expenses and cash flows
are eliminated in full on consolidation.
Perusahaan mengatribusikan laba rugi dan
setiap
komponen
dari
penghasilan
komprehensif lain kepada pemilik entitas induk
dan kepentingan nonpengendali meskipun hal
tersebut
mengakibatkan
kepentingan
nonpengendali
memiliki
saldo
defisit.
Perusahaan
menyajikan
kepentingan
nonpengendali di ekuitas dalam laporan posisi
keuangan konsolidasian, terpisah dari ekuitas
pemilik entitas induk.
The Company attributed the profit and loss
and each component of other comprehensive
income to the owners of the parent and noncontrolling interest even though this results in
the non-controlling interests having a deficit
balance. The Company presents noncontrolling interest in equity in the consolidated
statement of financial position, separately from
the equity owners of the parent.
Perubahan dalam bagian kepemilikan entitas
induk pada entitas anak yang tidak
mengakibatkan hilangnya pengendalian adalah
transaksi ekuitas (yaitu transaksi dengan
pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik).
Ketika proporsi ekuitas yang dimiliki oleh
kepentingan
nonpengendali
berubah,
Perusahaan menyesuaikan jumlah tercatat
kepentingan pengendali dan kepentingan
nonpengendali
untuk
mencerminkan
Changes in the parent’s ownership interest in
a subsidiary that do not result in loss of control
are equity transactions (i.e., transactions with
owners in their capacity as owners). When the
proportion of equity held by non-controlling
interest change, the Company adjusted the
carrying amounts of the controlling interest
and non-controlling interest to reflect the
changes in their relative interest in the
subsidiaries. Any difference between the
DRAFT
250
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
perubahan kepemilikan relatifnya dalam entitas
anak.
Selisih
antara
jumlah
dimana
kepentingan nonpengendali disesuaikan dan
nilai wajar dari jumlah yang diterima atau
dibayarkan diakui langsung dalam ekuitas dan
diatribusikan pada pemilik dari entitas induk.
amount by which the non-controlling interests
are adjusted and the fair value of the
consideration paid or received is recognised
directly in equity and attributed to the owners
of the parent.
Jika Perusahaan kehilangan pengendalian,
maka Perusahaan:
(a) Menghentikan pengakuan aset (termasuk
goodwill) dan liabilitas entitas anak pada
jumlah tercatatnya ketika pengendalian
hilang;
(b) Menghentikan pengakuan jumlah tercatat
setiap kepentingan nonpengendali pada
entitas anak terdahulu ketika pengendalian
hilang
(termasuk
setiap
komponen
penghasilan komprehensif lain yang
diatribusikan
pada
kepentingan
nonpengendali);
(c) Mengakui nilai wajar pembayaran yang
diterima (jika ada) dari transaksi, peristiwa,
atau
keadaan
yang
mengakibatkan
hilangnya pengendalian;
(d) Mengakui sisa investasi pada entitas anak
terdahulu pada nilai wajarnya pada tanggal
hilangnya pengendalian
(e) Mereklasifikasi ke laba rugi, atau
mengalihkan secara langsung ke saldo
laba jika disyaratkan pleh SAK lain, jumlah
yang
diakui
dalam
penghasilan
komprehensif lain dalam kaitan dengan
entitas anak;
(f) Mengakui
perbedaan
apapun
yang
dihasilkan sebagai keuntungan atau
kerugian
dalam
laba
rugi
yang
diatribusikan kepada entitas induk.
If the Company loses control, the Company:
2.e. Kombinasi Bisnis
Kombinasi bisnis adalah suatu transaksi atau
peristiwa lain dimana pihak pengakuisisi
memperoleh pengendalian atas satu atau lebih
bisnis. Kombinasi bisnis dicatat dengan
menggunakan metode akuisisi. Imbalan yang
dialihkan dalam suatu kombinasi bisnis diukur
pada nilai wajar, yang dihitung sebagai hasil
penjumlahan dari nilai wajar tanggal akuisisi
atas seluruh aset yang dialihkan oleh
Perusahaan, liabilitas yang diakui oleh
Perusahaan kepada pemilik sebelumnya dari
pihak yang diakuisisi dan kepentingan ekuitas
yang diterbitkan oleh Perusahaan dalam
pertukaran pengendalian dari pihak yang
diakuisisi. Biaya-biaya terkait akuisisi diakui
sebagai beban pada periode saat biaya
tersebut terjadi dan jasa diterima.
DRAFT
251
(a) Derecognize
the
assets
(including
goodwill) and liabilities of the subsidiary at
their carrying amounts at the date when
control is lost;
(b) Derecognize the carrying amount of any
non-controlling interests in the former
subsidiary at the date when control is lost
(including any components of other
comprehensive income attributable to
them);
(c) Recognize the fair value of the
consideration received, if any, from the
transaction, event or circumstances that
resulted in the loss of control;
(d) Recognize any investment retained in the
former subsidiary at fair value at the date
when control is lost;
(e) Reclassify to profit or loss, or transfer
directly to retained earnings if required by
other SAKs, the amount recognized in
other comprehensive income in relation to
the subsidiary;
(f) Recognize any resulting difference as a
gain or loss attributable to the parent.
2.e. Business Combination
Business combination is a transaction or other
event in which an acquirer obtains control of
one
or
more
businesses.
Business
combination is accounted for by applying the
acquisition
method.
The
consideration
transferred in a business combination is
measured at fair value, which is calculated as
the sum of the acquisition date fair values of
the assets transferred by the Company,
liabilities incurred by the Company to former
owners of the acquiree, and the equity
interests issued by the Company in exchange
for control of the acquiree. Acquisition-related
costs are recognized as expenses in the
periods in which the costs are incurred and the
services are received.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Pada tanggal akuisisi, aset teridentifikasi
yang diperoleh dan liabilitas yang diambil
alih diakui pada nilai wajar kecuali untuk aset
dan liabilitas tertentu yang diukur sesuai
dengan standar yang relevan.
At the acquisition date, the identifiable assets
acquired and the liabilities assumed are
recognized at their fair value except for certain
assets and liabilities that are measured in
accordance with the relevant standards.
Komponen kepentingan nonpengendali pada
pihak diakuisisi diukur baik pada nilai wajar
ataupun pada bagian proporsional instrumen
kepemilikan yang ada dalam jumlah yang
diakui atas aset neto teridentifikasi dari pihak
diakuisisi.
Component of non-controlling interests are
measured either at fair value or at the present
ownership instruments’ proportionate share in
the recognized amounts of the acquiree’s
identifiable net assets.
Bila suatu kombinasi bisnis dilakukan secara
bertahap, kepemilikan terdahulu Perusahaan
atas pihak terakuisisi diukur kembali ke nilai
wajar pada tanggal akuisisi dan keuntungan
atau kerugiannya, jika ada, diakui dalam laba
rugi. Apabila dalam periode sebelumnya,
perubahan nilai wajar yang berasal dari
kepentingan ekuitasnya sebelum tanggal
akuisisi telah diakui dalam penghasilan
komprehensif lain, jumlah tersebut diakui
dengan dasar yang sama sebagaimana
dipersyaratkan jika Perusahaan telah melepas
secara langsung kepentingan ekuitas yang
dimiliki sebelumnya.
When a business combination is achieved in
stages, the Company’s previously held equity
interest in the acquire is remeasured to fair
value at the acquisition date and the resulting
gain or loss, if any, is recognized in profit or
loss. When in prior periods, a changes in the
value of its equity interest in the acquiree prior
to the acquisition date had been recognized in
other comprehensive income, that amount
shall be recognized on the same basis as
would be required if the Company had
disposed directly of the previously held equity
interest.
Jika
akuntansi
awal
untuk
kombinasi
bisnis belum selesai pada akhir periode
pelaporan saat kombinasi terjadi, Perusahaan
melaporkan jumlah sementara untuk pos-pos
yang proses akuntansinya belum selesai dalam
laporan
keuangannya.
Selama
periode
pengukuran, pihak pengakuisisi menyesuaikan,
aset atau liabilitas tambahan yang diakui, untuk
mencerminkan informasi baru yang diperoleh
tentang fakta dan keadaan yang ada pada
tanggal akuisisi dan, jika diketahui, akan
berakibat terhadap pengakuan aset dan
liabilitas dimaksud pada tanggal tersebut.
If the initial accounting for a business
combination is incomplete by the end of the
reporting period in which the combination
occurs, the Company reports provisional
amounts for the items for which the accounting
is incomplete. Those provisional amounts are
adjusted during the measurement period, or
additional assets or liabilities are recognized,
to reflect new information obtained about facts
and circumstances that existed as of the
acquisition date that, if known, would have
resulted in the recognition of those assets and
liabilities as of that date.
Pada tanggal akusisi, goodwill diukur pada
harga perolehan yang merupakan selisih lebih
antara (a) nilai gabungan dari imbalan yang
dialihkan dan jumlah setiap kepentingan
nonpengendali,
atas
(b)
jumlah
neto
terindentifikasi dari aset yang diperoleh dan
liabilitas yang diambil alih. Jika imbalan
tersebut kurang dari nilai wajar aset neto
entitas anak yang diakuisisi, selisih tersebut
diakui dalam laporan laba rugi sebagai
keuntungan dari akusisi entitas anak setelah
sebelumnya manajemen menilai kembali
apakah telah mengidentifikasi dengan tepat
seluruh aset yang diperoleh dan liabilitas yang
diambil alih serta mengakui setiap aset atau
liabilitas tambahan yang dapat diidentifikasi
dalam penelaahan tersebut.
At acquisition date, goodwill is measured at its
cost being the excess of (a) the aggregate of
the consideration transferred and the amount
of any non-controlling interest, over (b) the net
of identifiable assets acquired and liabilities
assumed. If this consideration is lower than the
fair value of the net assets of the subsidiary
acquired, the difference is recognized in profit
or loss as gain on bargain purchase after
previously the management reassesses
whether it has correctly identified all of the
assets acquired and all of the liabilities
assumed and recognize any additional assets
or liabilities that are identified in that review.
DRAFT
252
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Setelah pengakuan awal, goodwill diukur pada
jumlah tercatat dikurangi akumulasi kerugian
penurunan nilai. Untuk tujuan pengujian
penurunan nilai, goodwill yang diperoleh dari
suatu kombinasi bisnis, sejak tanggal akusisi
dialokasikan kepada setiap Unit Penghasil Kas
dari Perusahaan yang diperkirakan akan
memberikan manfaat dari sinergi kombinasi
bisnis tersebut, terlepas dari apakah aset atau
liabilitas lain dari pihak yang diakusisi
ditempatkan dalam Unit Penghasil Kas
tersebut.
After intial recognition, goodwill is measured at
cost less any accumulated impairment losses.
For the purpose of impairment testing, goodwill
acquired in a business combination, from the
acquisition date, be allocated to each of the
Company’s Cash Generating Units that is
expected to benefit from the synergies of the
combination, irrespective of whether other
assets or liabilities of the acquiree are
assigned to those Cash Generating Units.
Jika goodwill telah dialokasikan pada suatu Unit
Penghasil Kas dan operasi tertentu atas Unit
Penghasil Kas tersebut dilepaskan, maka
goodwill yang terkait dengan operasi yang
dilepaskan tersebut termasuk dalam jumlah
tercatat operasi tersebut ketika menentukan
keuntungan atau kerugiaan dari pelepasan.
Goodwill yang dilepaskan tersebut diukur
berdasarkan nilai relatif operasi yang dihentikan
dan porsi Unit Penghasil Kas yang ditahan.
If goodwill has been allocated to Cash
Generating Units and certain operations on the
Cash Generating Units is disposed, the
goodwill associated with the operation
disposed is included in the carrying amount of
the operation when determining the gain or
losses on disposal. Disposed goodwill is
measured on the basis of relative values of the
operation disposed of and the portion of the
Cash Generating Units retained.
2.f. Transaksi dan Saldo Dalam Mata Uang
Asing
Dalam
menyiapkan
laporan
keuangan,
Perusahaan mencatat dengan menggunakan
mata uang dari lingkungan ekonomi utama di
mana entitas beroperasi (“mata uang
fungsional”). Mata uang fungsional Perusahaan
adalah Rupiah.
2.f. Foreign
Currency
Transactions
and
Balances
In preparing financial statements, Company
record by using the currency of the primary
economic environment in which the entity
operates (“the functional currency”). The
functional currency of the Company is Rupiah.
Transaksi-transaksi selama tahun berjalan
dalam mata uang asing dicatat dalam Rupiah
dengan kurs spot antara Rupiah dan valuta
asing pada tanggal transaksi. Pada akhir
periode pelaporan, pos moneter dalam mata
uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah
menggunakan kurs penutup, yaitu kurs tengah
Bank Indonesia pada 30 Juni 2016 dan 2015,
serta 31 Desember 2015, 2014, dan 2013
sebagai berikut:
Transactions during the year in foreign
currencies are recorded in Rupiah by applying
to the foreign currency amount the spot
exchange rate between Rupiah and the foreign
currency at the date of transactions. At the end
of reporting period, foreign currency monetary
items are translated to Rupiah using the
closing rate, middle rate of Bank of Indonesia
as at June 30, 2016 and 2015, and December
31, 2015, 2014, and 2013 as follows:
30 Juni/June 30,
31 Desember/December 31,
2016
2015
2015
2014
Rp
Rp
Rp
Rp
2013
Rp
Dolar Amerika Serikat (USD)
13.180,00
13.332,00
13.795,00
12.440,00
12.189,00
United States Dollar (USD)
Euro (EUR)
14.650,90
14.919,86
15.069,68
15.133,27
16.821,44
Euro (EUR)
Selisih kurs yang timbul dari penyelesaian pos
moneter dan dari penjabaran pos moneter
dalam mata uang asing diakui dalam laba rugi.
Exchange differences arising on the settlement
of monetary items or on translating monetary
items in foreign currencies are recognized in
profit or loss.
2.g. Transaksi dan Saldo dengan Pihak Berelasi
Pihak berelasi adalah orang atau entitas yang
terkait dengan entitas pelapor:
a) Orang atau anggota keluarga dekatnya
mempunyai relasi dengan entitas pelapor
2.g. Related Parties Transactions and Balances
A related party is a person or an entity that is
related to the reporting entity:
a) A person or a close member of that
person’s family is related to a reporting
DRAFT
253
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
entity if that person:
i. has control or joint control over the
reporting entity;
jika orang tersebut:
i. memiliki
pengendalian
atau
pengendalian bersama atas entitas
pelapor;
ii. memiliki pengaruh signifikan atas
entitas pelapor; atau
iii. merupakan personil manajemen kunci
entitas pelapor atau entitas induk dari
entitas pelapor.
b) Suatu entitas berelasi dengan entitas
pelapor jika memenuhi salah satu hal
berikut:
i. Entitas dan entitas pelapor adalah
anggota dari kelompok usaha yang
sama (artinya entitas induk, entitas
anak, dan entitas anak berikutnya
saling berelasi dengan entitas lain);
ii. Satu entitas adalah entitas asosiasi
atau ventura bersama dari entitas lain
(atau entitas asosiasi atau ventura
bersama yang merupakan anggota
suatu kelompok usaha, yang mana
entitas
lain
tersebut
adalah
anggotanya);
iii. Kedua entitas tersebut adalah ventura
bersama dari pihak ketiga yang sama;
iv. Satu entitas adalah ventura bersama
dari entitas ketiga dan entitas yang lain
adalah entitas asosiasi dari entitas
ketiga;
v. Entitas tersebut adalah suatu program
imbalan pasca kerja untuk imbalan
kerja dari salah satu entitas pelapor
atau entitas yang terkait dengan entitas
pelapor. Jika entitas pelapor adalah
entitas
yang
menyelenggarakan
program tersebut, maka entitas sponsor
juga berelasi dengan entitas pelapor;
vi. Entitas
yang
dikendalikan
atau
dikendalikan bersama oleh orang yang
diidentifikasi dalam huruf (a); atau
vii. Orang yang diidentifikasi dalam huruf
(a) (i) memiliki pengaruh signifikan atas
entitas atau merupakan personil
manajemen kunci entitas (atau entitas
induk dari entitas).
viii. Entitas, atau anggota dari kelompok
yang mana entitas merupakan bagian
dari kelompok tersebut, menyediakan
jasa personil manajemen kunci kepada
entitas palapor atau kepada entitas
induk dari entitas pelapor.
ii. has significant influence over the
reporting entity; or
iii. is a member of the key management
personnel of the reporting entity or of a
parent of the reporting entity.
b) An entity is related to the reporting entity if
any of the following conditions applies:
i. The entity and the reporting entity are
members of the same Company (which
means that each parent, subsidiary and
fellow subsidiary is related to the
others);
ii. One entity is an associate or joint
venture of the other entity (or an
associate or joint venture of a member
of a Company of which the other entity
is a member);
iii. Both entities are joint ventures of the
same third party;
iv. One entity is a joint venture of a third
entity and the other entity is an
associate of the third entity;
v. The entity is a post-employment benefit
plan for the benefit of employees of
either the reporting entity, or an entity
related to the reporting entity. If the
reporting entity in itself such a plan, the
sponsoring employers are also related
to the reporting entity;
vi. The entity is controlled or jointly
controlled by a person identified in (a);
or
vii. A person identified in (a) (i) has
significant influence over the entity or is
a member of the key management
personnel of the entity (or a parent of
the entity).
viii. Entities, or members of the Company to
which the entity is part of the Company,
providing services to the entity's key
management personnel or to the parent
entity of the reporting entity.
All significant transactions and balances with
related parties are disclosed in the relevant
notes.
Seluruh transaksi dan saldo yang signifikan
dengan pihak berelasi diungkapkan dalam
catatan yang relevan.
DRAFT
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
254
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
2.h. Instrumen Keuangan
Pengakuan dan Pengukuran Awal
Perusahaan mengakui aset keuangan atau
liabilitas keuangan dalam laporan posisi
keuangan, jika dan hanya jika, Perusahaan
menjadi salah satu pihak dalam ketentuan
pada kontrak instrumen tersebut. Pada saat
pengakuan awal aset keuangan atau liabilitas
keuangan, Perusahaan mengukur pada nilai
wajarnya. Dalam hal aset keuangan atau
liabilitas keuangan tidak diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi, nilai wajar tersebut ditambah
atau dikurang dengan biaya transaksi yang
dapat diatribusikan secara langsung dengan
perolehan atau penerbitan aset keuangan atau
liabilitas keuangan tersebut.
2.h. Financial Instrument
Initial Recognition and Measurement
The Company recognize a financial assets or a
financial liabilities in the statement of financial
position when, and only when, it becomes a
party to the contractual provisions of the
instrument. At initial recognition, the Company
measure all financial assets and financial
liabilites at its fair value. In the case of a
financial asset or financial liability not at fair
value through profit or loss, fair value plus or
minus with the transaction costs that are
directly attributtable to the acquisition or issue
of the financial asset or financial liability.
Biaya transaksi yang dikeluarkan sehubungan
dengan perolehan aset keuangan dan
penerbitan
liabilitas
keuangan
yang
diklasifikasikan pada nilai wajar melalui laba
rugi dibebankan segera.
Transaction costs incurred on acquisition of a
financial asset and issue of a financial liability
classified at fair value through profit or loss are
expensed immediately.
Pengukuran Selanjutnya Aset Keuangan
Subsequent Measurement of Financial
Assets
Subsequent measurement of financial assets
depends on their classification on initial
recognition. The Company classifies financial
assets in one of the following four categories:
Pengukuran selanjutnya aset keuangan
tergantung pada klasifikasinya pada saat
pengakuan
awal.
Perusahaan
mengklasifikasikan aset keuangan dalam
salah satu dari empat kategori berikut:
(i) Aset Keuangan yang Diukur pada Nilai
Wajar Melalui Laba Rugi (FVTPL)
Aset keuangan yang diukur pada FVTPL
adalah aset keuangan yang dimiliki untuk
diperdagangkan atau yang pada saat
pengakuan awal telah ditetapkan untuk
diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Aset keuangan diklasifikasikan dalam
kelompok diperdagangkan jika diperoleh
atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual
atau dibeli kembali dalam waktu dekat,
atau bagian dari portfolio instrumen
keuangan tertentu yang dikelola bersama
dan terdapat bukti mengenai pola ambil
untung dalam jangka pendek aktual saat
ini, atau merupakan derivatif, kecuali
derivatif yang ditetapkan dan efektif
sebagai instrumen lindung nilai.
(i) Financial Assets at Fair Value Through
Profit or Loss (FVTPL)
Financial assets at FVTPL are financial
assets held for trading or upon initial
recognition it is designated as at fair value
through profit or loss. Financial asset
classified as held for trading if it is
acquired or incurred principally for the
purpose of selling and repurchasing it in
the near term, or it is a part of a portfolio of
identified financial instruments that are
managed together and for which there is
evidence of a recent actual pattern of
short-term profit taking, or it is a derivative,
except for a derivative that is a designated
and effective hedging instrument.
After initial recognition, financial assets at
FVTPL are measured at its fair value.
Gains or losses arising from a change in
the fair value of financial assets are
recognized in profit or loss.
Setelah pengakuan awal, aset keuangan
yang diukur pada FVTPL diukur pada nilai
wajarnya. Keuntungan atau kerugian yang
timbul dari perubahan nilai wajar aset
keuangan diakui dalam laba rugi.
DRAFT
255
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
(ii) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang
Pinjaman yang diberikan dan piutang
adalah aset keuangan nonderivatif dengan
pembayaran tetap atau telah ditentukan
dan tidak mempunyai kuotasi di pasar
aktif, kecuali:
(a) pinjaman yang diberikan dan piutang
yang dimaksudkan untuk dijual dalam
waktu dekat dan yang pada saat
pengakuan awal ditetapkan sebagai
aset keuangan yang diukur pada nilai
wajar melalui laba rugi;
(b) pinjaman yang diberikan dan piutang
yang pada saat pengakuan awal
ditetapkan sebagai tersedia untuk
dijual; atau
(c) pinjaman yang diberikan dan piutang
dalam hal pemilik mungkin tidak akan
memperoleh kembali investasi awal
secara substansial kecuali yang
disebabkan oleh penurunan kualitas
pinjaman.
(ii) Loans and Receivables
Loans and receivables are non-derivative
financial assets with fixed or determinable
payments that are not quoted in an active
market, other than:
Setelah pengakuan awal, pinjaman yang
diberikan dan piutang diukur pada biaya
perolehan
diamortisasi
dengan
menggunakan metode suku bunga efektif.
After initial recognition, loans and
receivable are measured at amortized cost
using the effective interest method.
(a) those that intends to sell immediately
or in the near term and upon initial
recognition designated as at fair value
through profit or loss;
(b) those that upon initial recognition
designated as available for sale; or
(c) those for which the holder may not
recover substantially all of its initial
investment, other than because of
credit deterioration.
(iii) Held-to-Maturity (HTM) Invetsments
(iii) Investasi Dimiliki Hingga Jatuh Tempo
(HTM)
Investasi HTM adalah aset keuangan
nonderivatif dengan pembayaran tetap
atau telah ditentukan dan jatuh temponya
telah ditetapkan, serta
Perusahaan
mempunyai intensi positif dan kemampuan
untuk memiliki aset keuangan tersebut
hingga jatuh tempo.
HTM investments are non-derivative
financial assets with fixed or determinable
payments and fixed maturity that the
Company has the positive intention and
ability to hold to maturity.
After initial recognition, HTM investments
are measured at amortized cost using the
effective interest method.
Setelah pengakuan awal, investasi dimiliki
hingga jatuh tempo diukur pada biaya
perolehan
diamortisasi
dengan
menggunakan metode suku bunga efektif.
(iv) Available-for-Sale (AFS) Financial Assets
(iv) Aset Keuangan Tersedia Untuk Dijual
(AFS)
Aset keuangan AFS adalah aset keuangan
nonderivatif yang ditetapkan sebagai
tersedia untuk dijual atau yang tidak
diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang
diberikan dan piutang, (b) investasi yang
diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki
hingga jatuh tempo, atau (c) aset
keuangan yang diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi.
DRAFT
AFS financial assets are non-derivative
financial assets that are designated as
available for sale on initial recognition or
are not classified as (a) loans and
receivable, (b) held-to-maturity investment,
or (c) financial assets at fair value through
profit or loss.
256
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Setelah pengakuan awal, aset keuangan
AFS
diukur
pada
nilai
wajarnya.
Keuntungan atau kerugian yang timbul dari
perubahan nilai wajar diakui dalam
penghasilan komprehensif lain, kecuali
untuk kerugian penurunan nilai dan
keuntungan
atau
kerugian
akibat
perubahan kurs, sampai aset keuangan
tersebut dihentikan pengakuannya. Pada
saat itu, keuntungan atau kerugian
kumulatif yang sebelumnya diakui dalam
penghasilan
komprehensif
lain
direklasifikasi dari ekuitas ke laba rugi
sebagai penyesuaian reklasifikasi.
After initial recognition, AFS financial
assets are measured at its fair value.
Gains or losses arising from a change in
the fair value is recognized on other
comprehensive
income,
except
for
impairment losses and foreign exchange
gains or losses, until the financial assets is
derecognized. At that time, the cumulative
gains or losses previously recognized in
other comprehensive income shall be
reclassified from equity to profit or loss as
a reclassification adjustment.
Investasi dalam instrumen ekuitas yang
tidak memiliki harga kuotasian di pasar
aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur
secara andal diukur pada biaya perolehan.
Investment in equity instruments that do
not have a quoted market price in an
active market and whose fair value cannot
be reliably measured are measured at
cost.
Pengukuran
Selanjutnya
Liabilitas
Keuangan
Pengukuran selanjutnya liabilitas keuangan
tergantung pada klasifikasinya pada saat
pengakuan
awal.
Perusahaan
mengklasifikasikan liabilitas keuangan dalam
salah satu dari kategori berikut:
Subsequent Measurement of Financial
Liabilities
Subsequent measurement of financial liabilities
depends on their classification on initial
recognition. The Company classifies financial
liabilities into one of the following categories:
(i) Liabilitas Keuangan yang Diukur pada Nilai
Wajar Melalui Laba Rugi (FVTPL)
Liabilitas keuangan yang diukur pada
FVTPL adalah liabilitas keuangan yang
dimiliki untuk diperdagangkan atau yang
pada saat pengakuan awal telah
ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi. Liabilitas keuangan
diklasifikasikan
dalam
kelompok
diperdagangkan jika diperoleh atau dimiliki
terutama untuk tujuan dijual atau dibeli
kembali dalam waktu dekat, atau bagian
dari portfolio instrumen keuangan tertentu
yang dikelola bersama dan terdapat bukti
mengenai pola ambil untung dalam jangka
pendek aktual saat ini, atau merupakan
derivatif, kecuali derivatif yang ditetapkan
dan efektif sebagai instrumen lindung nilai.
(i) Financial Liabilities at Fair Value Through
Profit or Loss (FVTPL)
Financial liabilities at FVTPL are financial
liabilities held for trading or upon initial
recognition it is designated as at fair value
through profit or loss. Financial liabilities
classified as held for trading if it is
acquired or incurred principally for the
purpose of selling and repurchasing it in
the near term, or it is a part of a portfolio of
identified financial instruments that are
managed together and for which there is
evidence of a recent actual pattern of
short-term profit taking, or it is a derivative,
except for a derivative that is a designated
and effective hedging instrument.
Setelah
pengakuan
awal,
liabilitas
keuangan yang diukur pada FVTPL diukur
pada nilai wajarnya. Keuntungan atau
kerugian yang timbul dari perubahan nilai
wajar diakui dalam laba rugi.
After initial recognition, financial liabilities
at FVTPL are measured at its fair value.
Gains or losses arising from a change in
the fair value are recognized in profit or
loss.
DRAFT
257
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
(ii) Liabilitas Keuangan Lainnya
Liabilitas
keuangan
yang
tidak
diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan
yang diukur pada FVTPL dikelompokan
dalam kategori ini dan diukur pada biaya
perolehan
diamortisasi
dengan
menggunakan metode suku bunga efektif.
(ii) Other Financial Liabilities
Financial liabilities that are not classified
as financial liabilities at FVTPL are
Companyed in this category and are
measured at amortized cost using the
effective interest method.
Penghentian Pengakuan Aset dan Liabilitas
Keuangan
Perusahaan menghentikan pengakuan aset
keuangan, jika dan hanya jika hak kontraktual
atas arus kas yang berasal dari aset keuangan
berakhir atau Perusahaan mengalihkan hak
kontraktual untuk menerima kas yang berasal
dari aset keuangan atau tetap memiliki hak
kontraktual untuk menerima kas tetapi juga
menanggung kewajiban kontraktual untuk
membayar arus kas yang diterima tersebut
kepada satu atau lebih pihak penerima melalui
suatu kesepakatan.
Derecognition of Financial Assets and
Liabilities
The Company derecognize a financial asset
when, and only when the contractual rights to
the cash flows from the financial asset expire
or the Company transfer the contractual rights
to receive the cash flows of the financial asset
or retains the contractual rights to receive the
cash flows but assumes a contractual
obligation to pay the cash flows to one or more
recipients in an arrangement.
Jika
Perusahaan
secara
substansial
mengalihkan seluruh risiko dan manfaat atas
kepemilikan aset keuangan, maka Perusahaan
menghentikan pengakuan aset keuangan dan
mengakui secara terpisah sebagai aset atau
liabilitas untuk setiap hak dan kewajiban yang
timbul atau yang masih dimiliki dalam
pengalihan tersebut. Jika Perusahaan secara
substansial tidak mengalihkan dan tidak
memiliki seluruh risiko dan manfaat atas
kepemilikan aset keuangan tersebut dan
masih
memiliki
pengendalian,
maka
Perusahaan mengakui aset keuangan sebesar
keterlibatan
berkelanjutan dengan
aset
keuangan tersebut. Jika Perusahaan secara
substansial masih memiliki seluruh risiko dan
manfaat atas kepemilikan aset keuangan,
maka Perusahaan tetap mengakui aset
keuangan tersebut.
If the Company transfers substantially all the
risks and rewards of ownership of the financial
asset, the Company derecognize the financial
asset and recognize separately as asset or
liabilities any rights and obligation created or
retained in the transfer. If the Company neither
transfer nor retains substantially all the risks
and rewards of ownership of the financial asset
and has retained control, the Company
continue to recognize the financial asset to the
extent of its continuing involvement in the
financial asset. If the Company retains
substantially all the risks and rewards of
ownership of the financial asset, the Company
continue to recognize the financial asset.
Perusahaan
menghentikan
pengakuan
liabilitas keuangan, jika dan hanya jika,
liabilitas keuangan tersebut berakhir, yaitu
ketika kewajiban yang ditetapkan dalam
kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau
kedaluwarsa.
The Company remove a financial liability from
its statement of financial position when, and
only when, it is extinguished, i.e., when the
obligation specified in the contract is
discharged or cancelled or expires.
Penurunan Nilai Aset Keuangan
Pada setiap akhir periode pelaporan,
Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat
bukti objektif bahwa aset keuangan atau
kelompok
aset
keuangan
mengalami
penurunan nilai. Aset keuangan atau kelompok
aset keuangan diturunkan nilainya dan
kerugian penurunan nilai telah terjadi, jika dan
hanya jika, terdapat bukti objektif mengenai
Impairment of Financial Assets
At the end of each reporting period, the
Company assess whether there is any
objective evidence that a financial asset or
Company of financial assets is impaired. A
financial asset or Company of financial assets
is impared and impairment lossess are
incurred, if and only if, there is objective
evidence of impairment as a result of one or
DRAFT
258
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari
satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah
pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang
merugikan), dan peristiwa yang merugikan
tersebut berdampak pada estimasi arus kas
masa depan dari aset keuangan atau
kelompok aset keuangan yang dapat
diestimasi secara andal.
more events that occured after the initial
recognition of the asset (loss event), and that
loss event has an impact on the estimated
future cash flows of the financial asset or
Company of financial assets that can be
reliably estimated.
Berikut adalah bukti objektif bahwa aset
keuangan atau kelompok aset keuangan
mengalami penurunan nilai:
(a) Kesulitan keuangan signifikan yang
dialami penerbit atau pihak peminjam;
(b) Pelanggaran kontrak, seperti terjadinya
gagal bayar atau tunggakan pembayaran
pokok atau bunga;
(c) Terdapat kemungkinan bahwa pihak
peminjam akan dinyatakan pailit atau
melakukan reorganisasi keuangan lainnya;
(d) Terdapat data yang dapat diobservasi
yang mengindikasikan adanya penurunan
yang dapat diukur atas estimasi arus kas
masa depan dari kelompok aset keuangan
sejak pengakuan awal aset, seperti
memburuknya status pembayaran pihak
peminjam atau kondisi ekonomi yang
berkorelasi dengan gagal bayar.
The following are objective evidence that a
financial asset or Company of financial assets
is impaired:
(a) Significant financial difficulty of the issuer
or obligor;
(b) A breach of contract, such as default or
delinquency in interest or principal
payments;
(c) It becoming probable that the borrower will
enter bankruptcy or other financial
reorganization;
(d) Observable data indicating that there is a
measurable decrease in the estimated
future cash flows from a Company of
financial
assets
since
the
initial
recognition, such as adverse changes in
the payment status of borrowers or
economic condition that correlate with
defaults.
Untuk investasi pada instrumen ekuitas,
penurunan yang signifikan atau penurunan
jangka panjang dalam nilai wajar instrumen
ekuitas di bawah biaya perolehannya
merupakan bukti objektif terjadinya penurunan
nilai.
Jika terdapat bukti objektif bahwa kerugian
penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman
yang diberikan dan piutang atau investasi
dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada
biaya perolehan diamortisasi, maka jumlah
kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara
jumlah tercatat aset dan nilai kini estimasi arus
kas
masa
depan
yang
didiskonto
menggunakan suku bunga efektif awal dari
aset tersebut dan diakui pada laba rugi.
For investment in equity instrument, a
significant and prolonged decline in the fair
value of the equity instrument below its cost is
an objective evidence of impairment.
Jika penurunan dalam nilai wajar atas aset
keuangan tersedia untuk dijual telah diakui
dalam penghasilan komprehensif lain dan
terdapat bukti objektif bahwa aset tersebut
mengalami penurunan nilai, maka kerugian
kumulatif yang sebelumnya diakui dalam
penghasilan komprehensif lain direklasifikasi
dari ekuitas ke laba rugi sebagai penyesuaian
reklasifikasi meskipun aset keuangan tersebut
belum dihentikan pengakuannya. Jumlah
kerugian kumulatif yang direklasifikasi adalah
selisih antara biaya perolehan (setelah
When a decline in the fair value of an availablefor-sale financial asset has been recognized in
other comprehensive income and there is
objective evidence that the asset is impaired,
the cumulative loss that had been recognized
in other comprehensive income shall be
reclassified from equity to profit or loss as a
reclassification adjustment even though the
financial assets has not been derecognized.
The amount of the cumulative loss that is
reclassified are the difference between the
acquisition cost (net of any principal repayment
DRAFT
If there is objective evidence that an
impairment loss has been incurred on loans
and receivable or held-to-maturity investments
carried at amortized cost, the amount of
impairment loss is measured as the difference
between the carrying amount of the financial
asset and the present value of estimated future
cash flows discounted at the financial asset’s
original effective interest rate and recognized in
profit or loss.
259
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
dikurangi pelunasan pokok dan amortisasi)
dan nilai wajar kini, dikurangi kerugian
penurunan nilai aset keuangan yang
sebelumnya telah diakui dalam laba rugi.
and amortisation) and current fair value, less
any impairment loss on that financial asset
previously recognized in profit or loss.
Metode Suku Bunga Efektif
Metode suku bunga efektif adalah metode
yang digunakan untuk menghitung biaya
perolehan diamortisasi dari aset atau liabilitas
keuangan (atau kelompok aset atau liabilitas
keuangan) dan metode untuk mengalokasikan
pendapatan bunga atau beban bunga selama
periode yang relevan.
The Effective Interest Method
The effective interest method is a method of
calculating the amortized cost of a financial
asset or a financial liability (or Company of
financial assets or financial liabilities) and of
allocating the interest income or interest
expense over the relevant period.
Suku bunga efektif adalah suku bunga yang
secara
tepat
mendiskontokan
estimasi
pembayaran atau penerimaan kas masa
depan selama perkiraan umur dari instrumen
keuangan, atau jika lebih tepat, digunakan
periode yang lebih singkat untuk memperoleh
jumlah tercatat neto dari aset keuangan atau
liabilitas keuangan.
The effective interest rate is the rate that
exactly discount estimated future cash
payments or receipts through the expected life
of the financial instrument or, when
appropriate, a shorter period to the net carrying
amount of the financial asset or financial
liability.
Pada saat menghitung suku bunga efektif,
Perusahaan mengestimasi arus kas dengan
mempertimbangkan
seluruh
persyaratan
kontraktual dalam
instrumen keuangan
tersebut, seperti pelunasan dipercepat, opsi
beli dan opsi serupa lain, tetapi tidak
mempertimbangkan kerugian kredit masa
depan.
When calculating the effective interest rate, the
Company estimate cash flows considering all
contractual terms of the financial instrument, for
example, prepayment, call and similar option,
but shall not consider future credit losses.
Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan
bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh
pihak-pihak dalam kontrak yang merupakan
bagian takterpisahkan dari suku bunga efektif,
biaya transaksi, dan seluruh premium atau
diskonto lain.
The calculation includes all fees and points
paid or received between parties to the contract
that are an integral part of the effective interest
rate, transaction costs, and all other premiums
or discounts.
Reklasifikasi
Perusahaan tidak mereklasifikasi derivatif dari
diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
selama derivatif tersebut dimiliki atau
diterbitkan dan tidak mereklasifikasi setiap
instrumen keuangan dari diukur melalui laba
rugi jika pada pengakuan awal instrumen
keuangan
tersebut
ditetapkan
oleh
Perusahaan sebagai diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi.
Reclassification
The Company shall not reclassify a derivative
out of the fair value through profit or loss
category while it is held or issued and not
reclassify any financial instrument out of the fair
value through profit or loss category if upon
initial recognition it was designated by the
Company as at fair value through profit or loss.
Perusahaan
dapat
mereklasifikasi
aset
keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi, jika aset keuangan tidak lagi dimiliki
untuk tujuan penjualan atau pembelian
kembali aset keuangan tersebut dalam waktu
dekat. Perusahaan tidak mereklasifikasi setiap
instrumen keuangan ke diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi setelah pengakuan awal.
The Company may reclassify that financial
asset out of the fair value through profit or loss
category if a financial asset is no longer held
for the purpose of selling or repurchasing it in
the near term. The Company shall not
reclassify any financial instrument into the fair
value through profit or loss category after initial
recognition.
DRAFT
260
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Jika,
karena
perubahan
intensi
atau
kemampuan Perusahaan, instrumen tersebut
tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai
investasi dimiliki hingga jatuh tempo, maka
investasi tersebut direklasifikasi menjadi
tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada
nilai wajar. Jika terjadi penjualan atau
reklasifikasi atas investasi dimiliki hingga jatuh
tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah
yang tidak signifikan, maka sisa investasi
dimiliki hingga jatuh tempo direklasifikasi
menjadi tersedia untuk dijual, kecuali
penjualan atau reklasifikasi tersebut dilakukan
ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh
tempo atau tanggal pembelian kembali, terjadi
setelah seluruh jumlah pokok telah diperoleh
secara substansial sesuai jadwal pembayaran
atau telah diperoleh pelunasan dipercepat;
atau terkait dengan kejadian tertentu yang
berada di luar kendali, tidak berulang, dan
tidak dapat diantisipasi secara wajar.
If, as a result of a change in Company’s
intention or ability, it is no longer appropriate to
classify an investment as held to maturity, it
shall be reclassified as available for sale and
remeasured at fair value. Whenever sales or
reclassification of more than an insignificant
amount of held-to-maturity investments, any
remaining held-to-maturity investments shall be
reclassified as available for sale, other than
sales or reclassification that are so close to
maturity or the financial asset’s call date, occur
after all the financial asset’s original principal
has been collected substantially through
scheduled payments or prepayments, or are
attributable to an isolated event that is beyond
control, non-recurring, and could not have been
reasonably anticipated.
Saling Hapus Aset Keuangan dan Liabilitas
Keuangan
Aset keuangan dan liabilitas keuangan
disalinghapuskan, jika dan hanya jika,
Perusahaan saat ini memiliki hak yang dapat
dipaksakan secara hukum untuk melakukan
saling hapus atas jumlah yang telah diakui
tersebut; dan berintensi untuk menyelesaikan
secara neto atau untuk merealisasikan aset
dan menyelesaikan liabilitasnya secara
simultan.
Offsetting a Financial Asset and a Financial
Liability
A financial asset and financial liability shall be
offset when and only when, the Company
currently has a legally enforceable right to set
off the recognized amount; and intends either
to settle on a net basis, or to realise the asset
and settle the liability simultaneously.
Pengukuran Nilai Wajar
Nilai wajar adalah harga yang akan diterima
untuk menjual suatu aset atau harga yang
akan dibayar untuk mengalihkan suatu
liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku
pasar pada tanggal pengukuran.
Fair Value Measurement
Fair value is the price that would be received to
sell an asset or paid to transfer a liability in an
orderly transaction between market participants
at the measurement date.
Nilai wajar aset dan liabillitas keuangan
diestimasi untuk keperluan pengakuan dan
pengukuran
atau
untuk
keperluan
pengungkapan.
The fair value of financial assets and financial
liabilities must be estimated for recognition and
measurement or for disclosure purposes.
Nilai wajar dikategorikan dalam level yang
berbeda dalam suatu hirarki nilai wajar
berdasarkan pada apakah input suatu
pengukuran dapat diobservasi dan signifikansi
input terhadap keseluruhan pengukuran nilai
wajar:
(i) Harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di
pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang
identik yang dapat diakses pada tanggal
pengukuran (Level 1)
Fair values are categorised into different levels
in a fair value hierarchy based on the degree to
which the inputs to the measurement are
observable and the significance of the inputs to
the fair value measurement in its entirety:
DRAFT
(i) Quoted prices (unadjusted) in active
markets for identical assets or liabilities
that can be accessed at the measurement
date (Level 1)
261
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
(ii) Input selain harga kuotasian yang
termasuk dalam Level 1 yang dapat
diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik
secara langsung maupun tidak langsung
(Level 2)
(iii) Input yang tidak dapat diobservasi untuk
aset atau liabilitas (Level 3)
(ii) Inputs other than quoted prices included in
Level 1 that are observable for the assets
or liabilities, either directly or indirectly
(Level 2)
Dalam mengukur nilai wajar aset atau liabilitas,
Perusahaan sebisa mungkin menggunakan
data pasar yang dapat diobservasi. Apabila
nilai wajar aset atau liabilitas tidak dapat
diobservasi secara langsung, Perusahaan
menggunakan teknik penilaian yang sesuai
dengan keadaannya dan memaksimalkan
penggunaan input yang dapat diobservasi
yang relevan dan meminimalkan penggunaan
input yang tidak dapat diobservasi.
When measuring the fair value of an asset or a
liability, the Company uses market observable
data to the extent possible. If the fair value of
an asset or a liability is not directly observable,
the Company uses valuation techniques that
appropriate in the circumstances and
maximizes the use of relevant observable
inputs and minimizes the use of unobservable
inputs.
Perpindahan antara level hirarki wajar diakui
oleh Perusahaan pada akhir periode pelaporan
dimana perpindahan terjadi.
Transfers between levels of the fair value
hierarchy are recognised by the Company at
the end of the reporting period during which the
change occurred.
2.i. Kas dan Setara Kas
Kas dan setara kas termasuk kas, kas di bank
(rekening giro), dan deposito berjangka yang
jatuh tempo dalam jangka waktu tiga bulan
atau kurang pada saat penempatan yang tidak
digunakan sebagai jaminan atau tidak dibatasi
penggunaannya.
2.i. Cash and Cash Equivalent
Cash and cash equivalent are cash on hand,
cash in banks (current accounts) and time
deposits with maturity periods of three months
or less at the time of placement that are not
used as collateral or are not restricted.
2.j. Persediaan
Persediaan dinyatakan berdasarkan jumlah
terendah antara biaya perolehan dan nilai
realisasi neto. Biaya persediaan terdiri dari
seluruh biaya pembelian, biaya konversi, dan
biaya lain yang timbul sampai persediaan
berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya
perolehan ditentukan dengan metode rata-rata
tertimbang. Nilai realisasi neto merupakan
taksiran harga jual dalam kegiatan usaha biasa
dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan
estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat
penjualan.
2.j. Inventories
Inventories are carried at the lower of cost and
net realizable value. The cost of inventories
comprise all costs of purchase, costs of
conversion and other costs incurred in bringing
the inventories to their present location and
condition. Cost is determined using the
weighted average method. Net realisable value
is the estimated selling price in the ordinary
course of business less the estimated costs of
completion and the estimated costs necessary
to make the sale.
Setiap penurunan nilai persediaan di bawah
biaya perolehan menjadi nilai realisasi neto
dan seluruh kerugian persediaan diakui
sebagai beban pada periode terjadinya
penurunan atau kerugian tersebut. Setiap
pemulihan kembali penurunan nilai persediaan
karena peningkatan kembali nilai realisasi
neto, diakui sebagai pengurangan terhadap
jumlah beban persediaan pada periode
terjadinya pemulihan tersebut.
The amount of any write-down of inventories to
net realisable value and all losses of
inventories shall be recognised as an expense
in the period the write-down or loss occurs. The
amount of any reversal of any write-down of
inventories, arising from an increase in net
realisable value, is recognised as a reduction in
the amount of inventories recognised as an
expense in the period in which the reversal
occurs.
DRAFT
(iii) Unobservable inputs for the assets or
liabilities (Level 3)
262
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
2.k. Biaya Dibayar di Muka
Biaya dibayar di muka diamortisasi sesuai
masa manfaat masing-masing beban dengan
menggunakan metode garis lurus (straight-line
method).
2.k. Prepaid Expenses
Prepaid expenses are amortized over the
useful life of each expense on a straight-line
method (straight-line method).
2.l. Aset Tetap
Aset tetap pada awalnya diakui sebesar biaya
perolehan yang meliputi harga perolehannya
dan setiap biaya yang dapat diatribusikan
langsung untuk membawa aset ke kondisi dan
lokasi yang diinginkan agar aset siap
digunakan sesuai intensi manajemen.
2.l. Fixed Assets
Fixed assets are initially recognized at cost,
which comprises its purchase price and any
cost directly attributable in bringing the assets
to the location and condition necessary for it to
be capable of operating in the manner
intended by management.
Apabila relevan, biaya perolehan juga dapat
mencakup estimasi awal biaya pembongkaran
dan pemindahan aset tetap dan restorasi
lokasi aset tetap, kewajiban tersebut timbul
ketika aset tetap diperoleh atau sebagai
konsekuensi penggunaan aset tetap selama
periode tertentu untuk tujuan selain untuk
memproduksi persediaan selama periode
tersebut.
When applicable, the cost may also comprises
the initial estimate of the costs of dismantling
and removing the item and restoring the site on
which it is located, the obligation for which an
entity incurs either when the item is acquired or
as a consequence of having used the item
during a particular period for purposes other
than to produce inventories during that period.
Setelah pengakuan awal, aset tetap kecuali
tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan
dikurangi
akumulasi
penyusutan
dan
akumulasi rugi penurunan nilai.
After initial recognition, fixed assets, except
land, are carried at its cost less any
accumulated
depreciation,
and
any
accumulated impairment losses.
Tanah diakui sebesar harga perolehannya dan
tidak disusutkan.
Lands are recognized at its cost and are not
depreciated.
Depreciation of fixed assets starts when its
Penyusutan aset tetap dimulai pada saat aset
available for use and its computed by using
tersebut siap untuk digunakan sesuai maksud
straight-line method based on the estimated
penggunaannya
dan
dihitung
dengan
useful lives of assets as follows:
menggunakan metode garis lurus berdasarkan
estimasi masa manfaat ekonomis aset sebagai
berikut:
Tahun / Years
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
10-20
4-8
4
4-8
Self-constructed fixed assets are presented as
part of the fixed assets under “Construction in
Progress” and are stated at its cost. All costs,
including borrowing costs, incurred in relation
with the construction of these assets are
capitalized as part of the cost of assets in
construction. Cost of assets in construction
shall exclude any internal profits, cost of
abnormal amounts of wasted material, labour,
or other resources incurred.
Aset tetap yang dikonstruksi sendiri disajikan
sebagai bagian aset tetap sebagai “Aset dalam
Penyelesaian” dan dinyatakan sebesar biaya
perolehannya. Semua biaya, termasuk biaya
pinjaman, yang terjadi sehubungan dengan
konstruksi aset tersebut dikapitalisasi sebagai
bagian dari biaya perolehan aset tetap dalam
penyelesaian. Biaya perolehan aset tetap
dalam penyelesaian tidak termasuk setiap laba
internal, jumlah tidak normal dari biaya
pemborosan yang terjadi dalam pemakaian
bahan baku, tenaga kerja atau sumber daya
lain.
DRAFT
Building
Vehicle
Office Equipments
Equipments
263
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Akumulasi biaya perolehan yang akan
dipindahkan ke masing-masing pos aset tetap
yang sesuai pada saat aset tersebut selesai
dikerjakan atau siap digunakan dan disusutkan
sejak beroperasi.
The accumulated costs will be transferred to
the respective fixed assets items at the time
the asset is completed or ready for use and
are depreciated since the operation.
Nilai tercatat dari suatu aset tetap dihentikan
pengakuannya pada saat pelepasan atau
ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomik
masa
depan
yang
diharapkan
dari
penggunaan atau pelepasannya. Keuntungan
atau kerugian yang timbul dari penghentian
pengakuan tersebut (yang ditentukan sebesar
selisih antara jumlah hasil pelepasan neto, jika
ada, dan jumlah tercatatnya) dimasukkan
dalam laba rugi pada saat penghentian
pengakuan tersebut dilakukan.
The carrying amount of an item of fixed assets
is derecognized on disposal or when no future
economic benefits are expected from its use or
disposal. Any gain or loss arrising from
derecognition (that determined as the
difference between the net disposal proceeds,
if any, and the carrying amount of the item) is
included in profit or loss when item is
derecognized.
Pada akhir periode pelaporan, Perusahaan
melakukan penelaahan berkala atas masa
manfaat, nilai residu, metode penyusutan, dan
sisa umur pemakaian berdasarkan kondisi
teknis.
At the end of each reporting period, the
Company made regular review of the useful
lives, residual values, depreciation method
and residual life based on the technical
conditions.
2.m.Aset Takberwujud
Aset takberwujud diukur sebesar nilai
perolehan pada pengakuan awal. Setelah
pengakuan awal, aset takberwujud dicatat
pada biaya perolehan dikurangi akumulasi
amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai.
Umur manfaat aset takberwujud dinilai apakah
terbatas atau tidak terbatas.
2.m. Intangible Asset
Intangible asset is measured on initial
recognition at cost. After initial recognition,
intangible asset is carried at cost less any
accumulated
amortization
and
any
accumulated impairment loss. The useful life
of intangible asset is assessed to be eiter finite
or indefinite.
Aset takberwujud dengan umur manfaat
terbatas
Aset takberwujud dengan umur manfaat
terbatas diamortisasi selama umur manfaat
ekonomi dengan metode garis lurus. (atau
metode lainya sepanjang mencerminkan pola
manfaat ekonomik masa depan yang
diperkirakan dikonsumsi oleh entitas)
Intangible asset with finite useful life
Amortisasi dihitung sebagai penghapusan
biaya perolehan aset, dikurangi nilai residunya,
atas umur ekonomisnya sebagai berikut:
Program Komputer : 25 % garis lurus
Amortisation is calculated so as to write off the
cost of the asset, less its estimated residual
value, over its useful economic life as follows:
Computer Licences 25 % straight line
Periode amortisasi dan metode amortisasi
untuk aset takberwujud dengan umur manfaat
terbatas ditelaah setidaknya setiap akhir tahun
buku.
The amortization period and the amortization
method for an intangible asset with a finite
useful life are reviewed at least at each
financial year-end.
Aset takberwujud dengan umur manfaat tidak
terbatas
Aset takberwujud dengan umur manfaat tidak
terbatas tidak diamortisasi. Masa manfaat aset
takberwujud dengan umur tak terbatas ditelaah
setiap tahun untuk menentukan apakah
peristiwa dan kedaan dapat terus mendukung
Intangible asset with indefinite useful life
DRAFT
Intangible asset with finite life is amortized
over the economic useful life by using a
straight-line method. (or other method as it
reflecst the pattern in which the asset’s future
economic benefits are expected to be
consumed by the entity.
Intangible asset with indefinite life is not
amotized. The useful life of an intangible asset
with an indefinite that is not being amortized is
reviewed annually to determine whether
events and circumstances continue to support
264
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
penilaian bahwa umur manfaat tetap tidak
terbatas. Jika tidak, perubahan masa manfaat
dari tidak terbatas menjadi terbatas diterapkan
secara prospektif
an indefinite useful life assessment for that
asset. If they do not, the change in the useful
life assessment from indefinite to finite is
accounted for on a prospective basis.
Aset takberwujud dengan umur tidak terbatas
diuji untuk penurunan nilai setiap tahun dan
kapanpun terdapat suatu indikasi bahwa aset
takberwujud mungkin mengalami penurunan
nilai.
Intangible asset with indefinite life is tested for
impairment annually and whenever there is an
indication that the intangible asset may be
impaired.
2.n. Penurunan Nilai Aset
Pada setiap akhir periode pelaporan,
Perusahaan menilai apakah terdapat indikasi
aset mengalami penurunan nilai. Jika terdapat
indikasi tersebut, Perusahaan mengestimasi
jumlah terpulihkan aset tersebut. Jumlah
terpulihkan ditentukan atas suatu aset
individual, dan jika tidak memungkinkan,
Perusahaan menentukan jumlah terpulihkan
dari unit penghasil kas dari aset tersebut.
2.n. Impairment of Assets
At the end of each reporting period, the
Company assess whether there is any
indication that an asset may be impaired. If
any such indication exists, the Company shall
estimate the recoverable amount of the asset.
Recoverable amount is determined for an
individual asset, if its is not possible, the
Company determines the recoverable amount
of the asset’s cash-generating unit.
Jumlah terpulihkan adalah jumlah yang lebih
tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya
pelepasan dengan nilai pakainya. Nilai pakai
adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan
akan diterima dari aset atau unit penghasil
kas. Nilai kini dihitung dengan menggunakan
tingkat diskonto sebelum pajak yang
mencerminkan nilai waktu uang dan risiko
spesifik atas aset atau unit yang penurunan
nilainya diukur.
The recoverable amount is the higher of fair
value less costs to sell and its value in use.
Value in use is the present value of the
estimated future cash flows of the asset or
cash generating unit. Present values are
computed using pre-tax discount rates that
reflect the time value of money and the risks
specific to the asset or unit whose impairment
is being measured.
Jika, dan hanya jika, jumlah terpulihkan aset
lebih kecil dari jumlah tercatatnya, maka
jumlah tercatat aset diturunkan menjadi
sebesar jumlah terpulihkan. Penurunan
tersebut adalah rugi penurunan nilai dan
segera diakui dalam laba rugi.
If, and only if, the recoverable amount of an
asset is less than its carrying amount, the
carrying amount of the asset shall be reduced
to its recoverable amount. The reduction is an
impairment loss and is recognized immediately
in profit or loss.
Rugi penurunan nilai yang telah diakui dalam
periode sebelumnya untuk aset selain goodwill
dibalik jika, dan hanya jika, terdapat
perubahan estimasi yang digunakan untuk
menentukan jumlah terpulihkan aset tersebut
sejak rugi penurunan nilai terakhir diakui. Jika
demikian, jumlah tercatat aset dinaikan ke
jumlah
terpulihkannya.
Kenaikan
ini
merupakan suatu pembalikan rugi penurunan
nilai.
An impairment loss recognized in prior period
for an asset other than goodwill is reversed if,
and only if, there has been a change in the
estimates used to determine the asset’s
recoverable amount since the last impairment
loss was recognized. If this is the case, the
carrying amount of the asset shall be
increased to its recoverable amount. That
increase is a reversal of an impairment loss.
2.o. Sewa
Penentuan apakah suatu perjanjian sewa atau
suatu perjanjian yang mengandung sewa
merupakan sewa pembiayaan atau sewa
operasi didasarkan pada substansi transaksi
dan bukan pada bentuk kontraknya pada
tanggal awal sewa.
2.o. Lease
The determination of whether a lease
agreement or an agreement containing with a
lease is a finance lease or an operating lease
depends on the substance of transaction
rather than the form of the contract at the
inception date of lease.
DRAFT
265
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa
pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan
secara substansial seluruh risiko dan manfaat
yang terkait dengan kepemilikan aset. Suatu
sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi
jika sewa tersebut tidak mengalihkan secara
substansial seluruh risiko dan manfaat yang
terkait dengan kepemilikan aset.
A lease is classified as finance leases if it
transfers substantially all the risks and rewards
incidental to ownership. A lease is classified
as an operating lease if it does not transfer
substantially all the risks and rewards
incidental to ownership.
Pada awal masa sewa, Perusahaan mengakui
sewa pembiayaan sebagai aset dan liabilitas
dalam laporan posisi keuangan sebesar nilai
wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari
pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih
rendah dari nilai wajar. Penilaian ditentukan
pada awal masa sewa. Tingkat diskonto yang
digunakan dalam perhitungan nilai kini dari
pembayaran sewa minimum adalah tingkat
suku bunga implisit dalam sewa, jika dapat
ditentukan dengan praktis, jika tidak,
digunakan tingkat suku bunga pinjaman
inkremental lessee. Biaya langsung awal yang
dikeluarkan lessee ditambahkan ke dalam
jumlah yang diakui sebagai aset. Kebijakan
penyusutan aset sewaan adalah konsisten
dengan aset tetap yang dimiliki sendiri.
At the commencement of the lease term,
Company recognizes finance leases as assets
and liabilities in the statement of financial
position at amounts equal to the fair value of
leased asset or the present value of the
minimum lease payments, if the present value
is lower than fair value. Assessment is
determined at the inception of the lease. The
discount rate to be used in calculating the
present value of the minimum lease payments
is the interest rate implicit in the lease, if this is
practicable to determine, if not, the lessee's
incremental borrowing is used. Any initial
direct costs of the lessee are added to the
amount recognized as an asset. The
depreciation policy for depreciable leased
assets is consistent with the fixed assets that
are owned.
Dalam sewa operasi, Perusahaan mengakui
pembayaran sewa sebagai beban dengan
dasar garis lurus selama masa sewa.
Under an operating lease, Company
recognizes the lease payments as an expense
on a straight-line basis over the lease term.
2.p. Pajak Penghasilan
Beban pajak adalah jumlah gabungan pajak
kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan
dalam menentukan laba rugi pada suatu
periode. Pajak kini dan pajak tangguhan diakui
dalam laba rugi, kecuali pajak penghasilan
yang timbul dari transaksi atau peristiwa yang
diakui dalam penghasilan komprehensif lain
atau secara langsung di ekuitas. Dalam hal ini,
pajak tersebut masing-masing diakui dalam
penghasilan komprehensif lain atau ekuitas.
2.p. Income Tax
Tax expense is the aggregate amount
included in the determinination of profit or loss
for the period in respect of current tax and
deferred tax. Current tax and deferred tax is
recognized in profit or loss, except for income
tax arising from transactions or events that are
recognized in other comprehensive income or
directly in equity. In this case, the tax is
recognized in other comprehensive income or
equity, respectively.
Jumlah pajak kini untuk periode berjalan dan
periode sebelumnya yang belum dibayar
diakui sebagai liabilitas. Jika jumlah pajak
yang telah dibayar untuk periode berjalan dan
periode-periode sebelumnya melebihi jumlah
pajak yang terutang untuk periode tersebut,
maka kelebihannya diakui sebagai aset.
Liabilitas (aset) pajak kini untuk periode
berjalan dan periode sebelumnya diukur
sebesar jumlah yang diperkirakan akan
dibayar kepada (direstitusi dari) otoritas
perpajakan, yang dihitung menggunakan tarif
pajak (dan undang-undang pajak) yang telah
berlaku atau secara substantif telah berlaku
pada akhir periode pelaporan.
Current tax for current and prior periods shall,
to the extent unpaid, be recognized as a
liability. If the amount already paid in respect
of current and prior periods exceeds the
amount due for those periods, the excess shall
be recognized as an asset. Current tax
liabilities (assets) for the current and prior
periods shall be measured at the amount
expected to be paid to (recovered from) the
taxation authorities, using the tax rates (and
tax laws) that have been enacted or
substantively enacted by the end of the
reporting period.
DRAFT
266
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Manfaat terkait dengan rugi pajak yang dapat
ditarik untuk memulihkan pajak kini dari
periode sebelumnya diakui sebagai aset. Aset
pajak tangguhan diakui untuk akumulasi rugi
pajak belum dikompensasi dan kredit pajak
belum dimanfaatkan sepanjang kemungkinan
besar laba kena pajak masa depan akan
tersedia untu dimanfaatkan dengan rugi pajak
belum dikompensasi dan kredit pajak belum
dimanfaatkan.
Tax benefits relating to tax loss that can be
carried back to recover current tax of a
previous periods is recognized as an asset.
Deferred tax asset is recognized for the
carryforward of unused tax losses and unused
tax credit to the extent that it is probable that
future taxable profit will be available against
which the unused tax losses and unused tax
credits can be utilized.
Seluruh perbedaan temporer kena pajak diakui
sebagai liabilitas pajak tangguhan, kecuali
perbedaan temporer kena pajak yang berasal
dari:
a) pengakuan awal goodwill; atau
b) pengakuan awal aset atau liabilitas dari
transaksi yang bukan kombinasi bisnis dan
pada saat transaksi tidak mempengaruhi
laba akuntansi atau laba kena pajak (rugi
pajak).
A deferred tax liability shall be recognised for
all taxable temporary differences, except to the
extent that the deferred tax liability arises from:
a)
b)
Aset pajak tangguhan diakui untuk seluruh
perbedaan temporer dapat dikurangkan
sepanjang kemungkinan besar laba kena
pajak akan tersedia sehingga perbedaan
temporer
dapat
dimanfaatkan
untuk
mengurangi laba dimaksud, kecuali jika aset
pajak tangguhan timbul dari pengakuan awal
aset atau pengakuan awal liabilitas dalam
transaksi yang bukan kombinasi bisnis dan
pada saat transaksi tidak mempengaruhi laba
akuntansi atau laba kena pajak (rugi pajak).
A deferred tax asset shall be recognised for all
deductible temporary differences to the extent
that it is probable that taxable profit will be
available against which the deductible
temporary difference can be utilised, unless
the deferred tax asset arises from the initial
recognition of an asset or liability in a
transaction that is not a business combination
and at the time of the transaction affects
neither accounting profit nor taxable profit (tax
loss).
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur
dengan menggunakan tarif pajak yang
diharapkan berlaku ketika aset dipulihkan atau
liabilitas diselesaikan, berdasarkan tarif pajak
(dan peraturan pajak) yang telah berlaku atau
secara substantif telah berlaku pada akhir
periode pelaporan. Pengukuran aset dan
liabilitas pajak tangguhan mencerminkan
konsekuensi pajak yang sesuai dengan cara
Perusahaan memperkirakan, pada akhir
periode pelaporan, untuk memulihkan atau
menyelesaikan jumlah tercatat aset dan
liabilitasnya.
Deferred tax assets and liabilities are
measured at the tax rates that are expected to
apply to the period when the asset is realized
or the liability is settled, based on tax rates
(and tax laws) that have been enacted or
substantively enacted by the end of the
reporting period. The measurement of
deferred tax liabilities and deferred tax assets
shall reflect the tax consequences that would
follow from the manner in which the Company
expects, at the end of the reporting period, to
recover or settle the carrying amount of its
assets and liabilities.
Jumlah tercatat aset pajak tangguhan ditelaah
ulang
pada
akhir
periode
pelaporan.
Perusahaan mengurangi jumlah tercatat aset
pajak tangguhan jika kemungkinan besar laba
kena pajak tidak lagi tersedia dalam jumlah
yang memadai untuk mengkompensasikan
sebagian atau seluruh aset pajak tangguhan
tersebut.
Setiap
pengurangan
tersebut
dilakukan pembalikan atas aset pajak
tangguhan hingga kemungkinan besar laba
kena pajak yang tersedia jumlahnya memadai.
The carrying amount of a deferred tax asset
reviewed at the end of each reporting period.
The Company shall reduce the carrying
amount of a deferred tax asset to the extent
that it is no longer probable that sufficient
taxable profit will be available to allow the
benefit of part or all of that deferred tax asset
to be utilized. Any such reduction shall be
reversed to the extent that it becomes
probable that sufficient taxable profit will be
available.
DRAFT
267
the initial recognition of goodwill; or
the initial recognition of an asset or liability
in transaction which is not a business
combination and at the time of the
transaction, affects neither accounting
profit nor taxable profit (tax loss).
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Perusahaan melakukan saling hapus aset
pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan
jika dan hanya jika:
a) Perusahaan memiliki hak yang dapat
dipaksakan
secara
hukum
untuk
melakukan saling hapus aset pajak kini
terhadap liabilitas pajak kini; dan
b) aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak
tangguhan
terkait
dengan
pajak
penghasilan yang dikenakan oleh otoritas
perpajakan yang sama atas:
i. entitas kena pajak yang sama; atau
ii. entitas kena pajak yang berbeda yang
bermaksud untuk memulihkan aset dan
liabilitas pajak kini dengan dasar neto,
atau
merealisasikan
aset
dan
menyelesaikan
liabilitas
secara
bersamaan, pada setiap periode masa
depan dimana jumlah signifikan atas
aset atau liabilitas pajak tangguhan
diperkirakan untuk diselesaikan atau
dipulihkan.
The Company offset deferred tax assets and
deferred tax liabilities if, and only if:
Perusahaan melakukan saling hapus atas aset
pajak kini dan liabilitas pajak kini jika dan
hanya jika, Perusahaan:
a) memiliki hak yang dapat dipaksakan
secara hukum untuk melakukan saling
hapus atas jumlah yang diakui; dan
b) bermaksud untuk menyelesaikan dengan
dasar neto atau merealisasikan aset dan
menyelesaikan
liabilitas
secara
bersamaan.
The Company offset current tax assets and
current tax liabilities if, and only if, the
Company:
a) has legally enforceable right to set off the
recognized amounts; and
2.q. Imbalan Kerja
Imbalan Kerja Jangka Pendek
Imbalan kerja jangka pendek diakui ketika
pekerja telah memberikan jasanya dalam
suatu periode akuntansi, sebesar jumlah tidak
terdiskonto dari imbalan kerja jangka pendek
yang diharapkan akan dibayar sebagai
imbalan atas jasa tersebut.
2.q. Employee Benefit
Short-term Employee Benefits
Shor-term employee benefits are recognized
when an employee has rendered service
during accounting period, at the undiscounted
amount of short-term employee benefits
expected to be paid in exchange for that
service.
Imbalan kerja jangka pendek mencakup antara
lain upah, gaji, bonus dan insentif.
Short term employee benefits include such as
wages, salaries, bonus and incentive.
Imbalan Pascakerja
Imbalan pascakerja seperti pensiun, uang pisah
dan uang penghargaan masa kerja dihitung
berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan
No.13/2003 (”UU 13/2003”).
Post-employment Benefits
Post-employment benefits such as retirement,
severance and service payments are
calculated based on Labor Law No. 13/2003
(“Law 13/2003”).
Perusahaan mengakui jumlah liabilitas imbalan
pasti neto sebesar nilai kini kewajiban imbalan
pasti pada akhir periode pelaporan dikurangi
nilai wajar aset program yang dihitung oleh
aktuaris independen dengan menggunakan
metode Projected Unit Credit. Nilai kini
The Company recognizes the amount of the
net defined benefit liability at the present value
of the defined benefit obligation at the end of
the reporting period less the fair value of plan
assets which calculated by independent
actuaries using the Projected Unit Credit
DRAFT
a) the Company has a legally enforceable
right to set off current tax assets against
current tax liabilities; and
b) the deferred tax assets and the deferred
tax liabilities relate to income taxes levied
by the same taxation authority on either:
i.
ii.
the same taxable entity; or
different taxable entities which intend
either to settle current tax liabilities
and assets on a net basis, or to
realize the assets and settle the
liabilities simultaneously, in each
future period in which significant
amounts of deferred tax liabilities or
assets are expected to be settled or
recovered.
b) intends either to settle on a net basis, or
to realize the assets and settle liabilities
simultaneously.
268
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
kewajiban imbalan imbalan pasti ditentukan
dengan mendiskontokan imbalan tersebut.
method. Present value benefit obligation
determine by discounting the benefit.
Perusahaan mencatat tidak hanya kewajiban
hukum berdasarkan persyaratan formal
program imbalan pasti, tetapi juga kewajiban
konstruktif yang timbul dari praktif informal
entitas.
The Company account not only for its legal
obligation under the formal terms of a defined
benefit plan, but also for any constructive
obligation that arises from the entity’s informal
practices.
Biaya jasa kini, biaya jasa lalu dan keuntungan
atau kerugian atas penyelesaian, serta bunga
neto atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto
diakui dalam laba rugi.
Current service cost, past service cost and
gain or loss on settlement, and net interets on
the net defined benefit liability (asset) are
recognized in profit and loss.
Pengukuran kembali atas liabilitas (aset)
imbalan pasti neto yang terdiri dari keuntungan
dan kerugian aktuarial, imbal hasil atas aset
program dan setiap perubahan dampak batas
atas aset diakui sebagai penghasilan
komprehensif lain.
The remeasurement of the net defined benefit
liability (assets) comprises actuarial gains and
losses,the return on plan assets, and any
change in effect of the asset ceiling are
recognized in other comprehensive income.
Perusahaan mengakui jumlah beban dan
liabilitas atas iuran terutang kepada program
iuran pasti, ketika pekerja telah memberikan
jasa kepada entitas selama suatu periode.
Company recognizes an expense and a
liability for contribution payable to a defined
contribution plan, when an employee has
rendered service to the entity during a period.
Pesangon
Perusahaan mengakui pesangon sebagai
liabilitas dan beban pada tanggal yang lebih
awal di antara:
(a) Ketika Perusahaan tidak dapat lagi
menarik tawaran atas imbalan tersebut;
dan
(b) Ketika Company mengakui biaya untuk
restrukturisasi yang berada dalam ruang
lingkup PSAK No. 57 dan melibatkan
pembayaran pesangon.
Termination Benefits
The Company recognizes a liability and
expense for termination benefits at the earlier
of the following dates:
(a) When the Company can no longer
withdraw the offer of those benefits; and
Perusahaan mengukur pesangon pada saat
pengakuan awal, dan mengukur dan mengakui
perubahan selanjutnya, sesuai dengan sifat
imbalan kerja.
The Company measures termination benefits
on initial recognition, and measures and
recognizes
subsequent
changes,
in
accordance with the nature of the employee
benefits.
2.r. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Pendapatan diakui bila besar kemungkinan
manfaat ekonomi akan diperoleh oleh
Perusahaan dan jumlahnya dapat diukur
secara handal. Pendapatan diukur pada nilai
wajar pembayaran yang diterima, tidak
termasuk
diskon,
rabat
dan
Pajak
Pertambahan Nilai (PPN).
2.r. Revenues and Expenses Recognition
Revenue is recognized when it is probable that
the economic benefits will flow to the
Company and the amount of revenue can be
measured reliably. Revenue is measured at
the fair value of the consideration received,
excluding discounts, rebates and Value Added
Tax (VAT).
Kriteria spesifik berikut juga harus dipenuhi
sebelum pendapatan diakui:
The following specific recognition criteria must
also be met before revenue is recognized:
DRAFT
(b) When the Company recognizes costs for a
restructuring that is within the scope of
PSAK No. 57 and involves payment of
termination benefits.
269
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Penjualan jasa
Pendapatan jasa diakui saat jasa diberikan
dengan mengacu pada tingkat penyelesaian
transaksi.
Revenues from services
Revenue from services is recognized when
services are rendered by reference to the
stage of completion of the transaction.
Pendapatan bunga, royalty dan dividen
Bunga diakui dengan menggunakan metode
suku bunga efektif, royalty diakui dengan dasar
akrual sesuai dengan substansi perjanjian
yang relevan, dan dividen diakui jika hak
pemegang
saham
untuk
menerima
pembayaran ditetapkan.
Interest, royalties and dividends
Interest is recognized using the effective
interest method, royalty is recognized on an
accrual basis in accordance with the
substance of the relevant agreement, and
dividend is recognized when the shareholder’s
right to receive payment is established.
Beban diakui pada saat terjadinya dengan
dasar akrual.
Expenses are recognised as incurred on an
accrual basis.
2.s. Biaya Pinjaman
Biaya pinjaman yang dapat diatribusikan
langsung dengan perolehan, pembangunan
atau
pembuatan
aset
kualifikasian,
dikapitalisasi sebagai bagian biaya perolehan
aset tersebut. Biaya pinjaman lainnya diakui
sebagai beban pada saat terjadi. Biaya
pinjaman dapat mencakup beban bunga,
beban keuangan dalam sewa pembiayaan
atau selisih kurs yang berasal dari pinjaman
dalam mata uang asing sepanjang selisih kurs
tersebut diperlakukan sebagai penyesuaian
atas biaya bunga.
2.s. Borrowing Costs
Borrowing costs that are directly attributable to
the acquisition, construction or production of a
qualifying asset, are capitalized as part of the
cost of that asset. Other borrowing costs are
recognized as an expense when incurred.
Borrowing costs may include interest expense,
finance charges in respect of finance leases,
or exchange differences arising from foreign
currency borrowings to the extent that they are
regarded as an adjustment to interest costs.
Kapitalisasi biaya pinjaman dimulai pada saat
Perusahaan telah melakukan aktivitas yang
diperlukan untuk mempersiapkan aset agar
dapat digunakan atau dijual sesuai dengan
intensinya serta pengeluaran untuk aset dan
biaya pinjamannya telah terjadi. Kapitalisasi
biaya pinjaman dihentikan ketika secara
substansial seluruh aktivitas yang diperlukan
untuk mempersiapkan aset kualifikasian agar
dapat digunakan atau dijual sesuai dengan
intensinya telah selesai.
Capitalization of borrowing costs commences
when the Company undertakes activities
necessary to prepare the asset for its intended
use or sale and expenditures for the asset and
its borrowing costs has been incurred.
Capitalization of borrowing costs ceases when
substantially all the activities necessary to
prepare the qualifying assets for its intended
use or sale are complete.
2.t. Provisi
Provisi diakui bila Perusahaan memiliki
kewajiban kini (baik
bersifat
hukum
maupun konstruktif) sebagai akibat peristiwa
masa
lalu
dan
kemungkinan
besar
penyelesaian kewajiban menyebabkan arus
keluar sumber daya serta jumlah kewajiban
tersebut dapat diestimasi secara andal.
2.t. Provision
A provision is recognized when Company has
a present obligation (legal or constructive) as a
result of past event and it is probablethat an
outflow of resources will be required to settle
the obligation and the amount of the obligation
can be estimated reliably.
Jumlah yang diakui sebagai provisi merupakan
estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan
untuk menyelesaikan kewajiban kini pada
akhir
periode
pelaporan,
dengan
mempertimbangkan berbagai risiko dan
ketidakpastian yang selalu mempengaruhi
The amount recognized as a provision shall be
the best estimate of the expenditure required
to settle the present obligation at the end of
the reporting period, by taking into account the
risks and uncertainties that inevitably surround
many events and circumstances. Where a
DRAFT
270
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
berbagai peristiwa dan keadaan. Apabila suatu
provisi diukur menggunakan arus kas yang
diperkirakan untuk menyelesaikan kewajiban
kini, maka nilai tercatatnya adalah nilai kini dari
arus kas.
provision is measured using the estimated
cash flows to settle the present obligation, its
carrying amount is the present value of those
cash flows.
Jika sebagian atau seluruh pengeluaran untuk
menyelesaikan provisi diganti oleh pihak
ketiga, maka penggantian itu diakui hanya
pada
saat
timbul
keyakinan
bahwa
penggantian
pasti
akan
diterima
jika
Perusahaan
menyelesaikan
kewajiban.
Penggantian tersebut diakui sebagai aset yang
terpisah. Jumlah yang diakui sebagai
pengantian tidak boleh melebihi provisi.
Where some or all of the expenditure to settle
a provision is expected to be reimbursed by
another party, the reimbursement shall be
recognized when, it is virtually certain that
reimbursement will be received when
the Company settles the obligation. The
reimbursement shall be treated as a separate
asset. The amount recognized for the
reimbursement shall not exceed the amount of
the provisions.
Provisi ditelaah pada setiap tanggal pelaporan
dan disesuaikan untuk mencerminkan estimasi
terbaik yang paling kini. Jika arus keluar
sumber daya untuk menyelesaikan kewajiban
kemungkinan besar tidak terjadi, maka provisi
dibatalkan.
Provisions are reviewed at each reporting date
and adjusted to reflect the most current best
estimate. If it is no longer probable that an
outflow of resources will be required to settle
the obligation, the provision is reversed.
2.u. Biaya Emisi Saham Ditangguhkan
Berdasarkan Peraturan
Nomor VIII.G.7
(Lampiran dari Surat Keputusan Ketua
BAPEPAM No. Kep-06/PM/2000 tanggal 13
Maret 2000), biaya emisi saham dicatat
sebagai pengurang modal disetor dan
disajikan sebagai bagian dari ekuitas dalam
akun “Tambahan Modal Disetor” yang berlaku
efektif untuk penyusunan laporan keuangan
yang dimulai pada atau setelah tanggal
1 Januari 2000.
2.u. Deferred Stock Issuance Cost
According to Regulation No. VIII.G.7
(Appendix of Decision Letter of Head of
Bapepam No. Kep-06/PM/2000 dated March
13, 2000), the stock issuance cost is recorded
as a deduction of proceed from paid in capital
and presented as part of stockholders’ equity
under “Additional Paid in Capital“ account.
The Regulation was applied for financial
statements which cover periods beginning on
or after January 1, 2000.
Penawaran
umum
perdana
saham
Perusahaan masih dalam proses. Biaya-biaya
yang telah dikeluarkan sehubungan dengan
penawaran umum tersebut disajikan sebagai
biaya emisi saham yang ditangguhkan yang
nantinya akan dicatat sebagai pengurang
tambahan modal disetor pada kelompok
ekuitas apabila pernyataan pendaftaran telah
dinyatakan efektif.
The Company’s shares Initial Public Offering
still on process. Cost incurred related to the
public offering is presented as a deferred
stock issuance cost and subsequently will be
recorded as a deduction of paid in capital as
part of stockholders’ equity when the
statement of registration are became effective.
2.v.Laba per Saham
Laba per saham dasar dihitung dengan
membagi laba atau rugi yang dapat
diatribusikan kepada pemegang saham biasa
entitas induk dengan jumlah rata-rata
tertimbang saham biasa yang beredar dalam
suatu periode.
2.v. Earnings per Share
Basic earnings per share is computed by
dividing the profit or loss attributable to
ordinary equity holders of the parent entity by
the weighted average number of ordinary
shares outstanding during the period.
Untuk tujuan penghitungan laba per saham
dilusian, Perusahaan menyesuaikan laba atau
rugi yang dapat diatribusikan kepada
pemegang saham biasa entitas induk dan
For the purpose of calculationg diluted
earnings per share, the Company shall adjust
profit or loss attributable to ordinary equity
holders of the parent entity, and the weighted
DRAFT
271
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
jumlah rata-rata tertimbang saham yang
beredar, atas dampak dari seluruh instrument
berpotensi saham biasa yang bersifat dilutif.
average number of shares outstanding, for the
effect of all dilutive potential ordinary shares.
2.w.Segmen Operasi
Perusahaan menyajikan segmen operasi
berdasarkan
informasi
keuangan
yang
digunakan
oleh
pengambil
keputusan
operasional dalam menilai kinerja segmen dan
menentukan alokasi sumber daya yang
dimilikinya. Segmetasi berdasarkan aktivitas
dari setiap kegiatan operasi entitas legal
didalam Perusahaan.
2.w. Operating Segment
The Company presented operating segments
based on the financial information used by the
chief operating decision maker in assessing
the performance of segments and in the
allocation of resources. The segments are
based on the activities of each of the operating
legal entities within the Company.
Segmen operasi adalah suatu komponen dari
entitas:
ï‚· yang terlihat dalam aktivitas bisnis yang
memperoleh
pendapatan
dan
menimbulkan
beban
(termasuk
pendapatan dan beban yang terkait
dengan transaksi dengan komponen lain
dari entitas yang sama);
ï‚· hasil operasinya dikaji ulang secara
berkala oleh kepala operasional untuk
pembuatan keputusan tentang sumber
daya yang dialokasikan pada segmen
tersebut dan menilai kinerjanya; dan
ï‚· tersedia informasi keuangan yang dapat
dipisahkan.
An operating segment is a component of the
entity:
ï‚· that engages in business activities from
which it may earn revenues and incur
expenses
(including
revenues
and
expenses relating to the transactions with
other components of the same entity);
2.x.Sumber Ketidakpastian Estimasi dan
Pertimbangan Akuntansi yang Penting
Penyusunan laporan keuangan Perusahaan
mengharuskan manajemen untuk membuat
pertimbangan, estimasi dan asumsi yang
mempengaruhi jumlah yang dilaporkan dari
pendapatan, beban, aset dan liabilitas, dan
pengungkapan atas liabilitas kontinjensi, pada
akhir periode pelaporan. Ketidakpastian
mengenai asumsi dan estimasi tersebut dapat
mengakibatkan penyesuaian material terhadap
nilai tercatat pada aset dan liabilitas dalam
periode pelaporan berikutnya.
2.x. Source of Estimation Uncertainty and
Critical Accounting Judgments
The preparation of the Company’s financial
statements requires management to make
judgments, estimates and assumptions that
affect the reported amounts of revenues,
expenses, assets and liabilities, and the
disclosure of contingent liabilities, at the end
of the reporting period. Uncertainty about
these assumptions and estimates could result
in outcomes that require a material adjustment
to the carrying amount of the asset and
liability affected in future periods.
i. Estimasi dan Asumsi Akuntansi yang
Penting
Asumsi utama masa depan dan sumber
utama estimasi ketidakpastian lain pada
tanggal pelaporan yang memiliki risiko
signifikan bagi penyesuaian yang material
terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas
untuk
periode/tahun
berikutnya
diungkapkan di bawah ini. Perusahaan
mendasarkan asumsi dan estimasi pada
parameter yang tersedia pada saat laporan
keuangan disusun. Asumsi dan situasi
mengenai perkembangan masa depan
i. Critical Accounting Estimates and
Assumptions
The key assumptions concerning the
future and other key sources of
estimation uncertainty at the reporting
date that have a significant risk of
causing a material adjustment to the
carrying amounts of assets and liabilities
within the next financial period/year are
disclosed below. The Company based its
assumptions
and
estimates
on
parameters available when the financial
statements were prepared. Existing
DRAFT
ï‚·
ï‚·
272
whose operating results are regularly
reviewed by chief operating decision maker
to make decisions about resources to be
allocated to the segment and assesses its
performance; and
for which separate financial information is
available.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
DRAFT
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
mungkin berubah akibat perubahan pasar
atau situasi di luar kendali Perusahaan.
Perubahan tersebut dicerminkan dalam
asumsi terkait pada saat terjadinya.
circumstances and assumptions about
future developments may change due to
market changes or circumstances arising
beyond the control of the Company. Such
changes are reflected in the assumptions
when they occur.
Estimasi Umur Manfaat Aset Tetap
Perusahaan
melakukan
penelahaan
berkala atas masa manfaat ekonomis aset
tetap berdasarkan faktor-faktor seperti
kondisi teknis dan perkembangan teknologi
di masa depan. Hasil operasi di masa
depan akan dipengaruhi secara material
atas perubahan estimasi ini
yang
diakibatkan oleh perubahan faktor yang
telah disebutkan di atas (Nilai tercatat aset
tetap disajikan dalam Catatan 9).
Estimated Useful Lives of Fixed Assets
The Company reviews periodically the
estimated useful lives of fixed assets
based on factors such as technical
specification and future technological
developments.
Future
results
of
operations could be materially affected
by changes in these estimates brought
about by changes in the factors
mentioned (Carrying amount of fixed
asset is presented in Note 9).
Imbalan Pasca Kerja
Nilai kini liabilitas imbalan pasca tergantung
pada beberapa faktor yang ditentukan
dengan dasar aktuarial berdasarkan
beberapa asumsi. Perubahan asumsi ini
akan mempengaruhi jumlah tercatat
imbalan pasca kerja.
Post Employment Benefits
The present value of the post
employment
benefits
obligations
depends on a number of factors that are
determined. Any changes in these
assumptions will impact the carrying
amount of post employment benefits
obligations.
Perusahaan menentukan tingkat diskonto
yang sesuai pada akhir periode pelaporan,
yakni tingkat suku bunga yang harus
digunakan untuk menentukan nilai kini arus
kas keluar masa depan estimasian yang
diharapkan untuk menyelesaikan liabilitas.
Dalam menentukan tingkat suku bunga
yang
sesuai,
Perusahaan
mempertimbangkan tingkat suku bunga
obligasi pemerintah yang didenominasikan
dalam mata uang imbalan akan dibayar
dan memiliki jangka waktu yang serupa
dengan jangka waktu liabilitas yang terkait.
The
Company
determines
the
appropriate discount rate at the end of
each reporting period. This is the interest
rate that should be used to determine the
present value of estimated future cash
outflows expected to be required to settle
the obligations. In determining the
appropriate discount rate, the Company
considers
the
interest
rates
of
government bonds that are denominated
in the currency in which the benefits will
be paid and that have terms to maturity
approximating the terms of the related
obligation.
Asumsi kunci liabilitas imbalan pasca kerja
sebagian ditentukan berdasarkan kondisi
pasar saat ini. Informasi tambahan
diungkapkan pada Catatan 29.
Other key assumptions for post
employment benefit obligations are
based in part on current market
conditions. Additional information is
disclosed in Note 29.
Nilai Wajar atas Instrumen Keuangan
Bila nilai wajar aset keuangan dan liabilitas
keuangan yang tercatat pada laporan posisi
keuangan tidak tersedia di pasar aktif,
maka nilai wajarnya ditentukan dengan
menggunakan berbagai teknik penilaian
termasuk penggunaan model matematika.
Masukan (input) untuk model ini berasal
Fair Value of Financial Instruments
Where the fair values of financial assets
and financial liabilities recorded on the
statement of financial position cannot be
derived from active markets, the fair
value is determined using a variety of
valuation techniques that include the use
of mathematical models. The inputs to
273
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
dari data pasar yang bisa diamati
sepanjang data tersebut tersedia. Bila data
pasar yang bisa diamati tersebut tidak
tersedia,
pertimbangan
Manajemen
diperlukan untuk menentukan nilai wajar.
Pertimbangan
tersebut
mencakup
pertimbangan likuiditas dan masukan
model seperti volatilitas untuk transaksi
derivatif yang berjangka waktu panjang dan
tingkat
diskonto,
tingkat
pelunasan
dipercepat, dan asumsi tingkat gagal bayar.
these models are derived from
observable market data where possible,
but where observable market data are
not available, judgment is required to
establish fair values. The judgments
include considerations of liquidity and
model inputs such as volatility for long
term
derivatives
and
discount
rates, prepaymentrates, and default rate
assumptions.
Nilai wajar atas instrumen keuangan
diungkapkan pada Catatan 32.b.
The fair value of financial instrument are
disclosed in Note 32.b.
Realisasi dari Aset Pajak Tangguhan
Aset pajak tangguhan diakui atas seluruh
rugi fiskal yang belum digunakan sepanjang
besar kemungkinannya bahwa penghasilan
kena pajak akan tersedia sehingga rugi
fiskal tersebut dapat digunakan. Estimasi
oleh manajemen yang disyaratkan untuk
menentukan jumlah aset pajak tangguhan
yang dapat diakui, berdasarkan saat
penggunaan dan tingkat penghasilan kena
pajak dan strategi perencanaan pajak masa
depan
Realization of Deferred Tax Assets
Deferred tax assets are recognized for all
unused tax losses to the extent that it is
probable that taxable profit will be
available against which the losses can be
utilized. Management estimates are
required to determine the amount of
deferred tax assets that can be
recognized, based upon the likely timing
and the level of future taxable profits
together with future tax planning
strategies.
i.
ii. Pertimbangan penting dalam penentuan
kebijakan akuntansi
Pertimbangan berikut ini dibuat oleh
manajemen dalam rangka penerapan
kebijakan akuntansi Perusahaan yang
memiliki pengaruh paling signifikan atas
jumlah yang diakui dalam laporan
keuangan:
Critical judgments in applying the
accounting policies
The following judgments are made by
management in the process of applying
the Company’s accounting policies that
have the most significant effects on the
amounts recognized in the financial
statements:
Classification of Financial Assets and
Liabilities
The Company determines the classifications
of certain assets and liabilities as financial
assets and financial liabilities by judging if
they meet the definition set forth in PSAK 55
(Revised 2014). Accordingly, the financial
assets and financial liabilities are accounted
for in accordance with the Company’s
accounting policies disclosed in Note 2.r.
Klasifikasi Aset dan Liabilitas Keuangan
Perusahaan menetapkan klasifikasi atas
aset dan liabilitas tertentu sebagai aset
keuangan dan liabilitas keuangan dengan
mempertimbangkan bila definisi yang
ditetapkan PSAK 55 (Revisi 2014)
dipenuhi. Dengan demikian, aset keuangan
dan liabilitas keuangan diakui sesuai
dengan kebijakan akuntansi Perusahaan
seperti diungkapkan pada Catatan 2.r.
DRAFT
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
274
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
3.
3.
Kas dan Bank
30 Juni/June 30,
2016
Rp
2015
Rp
Cash on Hand and in Banks
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2013
Rp
Cash on Hand
Rupiah
US Dollar
Kas
Rupiah
Dolar AS
Bank - Pihak Ketiga
Rupiah
PT Bank Central Asia Tbk
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT Bank Permata Tbk
PT Bank UOB Indonesia
PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk
PT Bank OCBC NISP Tbk
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat
dan Banten Tbk
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur
PT Bank Tabungan Negara Syariah
PT Bank Pan Indonesia Tbk
PT Bank CIMB Niaga Tbk
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk
PT Bank Rabobank International Indonesia
PT Bank Mandiri Syariah
PT Bank Sumatera Utara
Lain-lain ( masing-masing di bawah Rp 1 juta)
Dolar AS
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
(2016: USD23,351; 2015: USD 3,147;
2014: USD 34,818; 2013: USD 880)
Total
3,017,142,229
1,331,180
2,081,325,315
--
1,910,680,073
--
2,265,876,625
--
18,738,655,636
16,241,675,012
2,282,552,022
867,749,215
966,248,458
781,070,415
272,942,268
240,298,092
233,007,986
17,213,664,266
3,431,844,214
15,063,404,568
306,966,657
2,800,195,975
675,667,806
154,831,198
210,625,530
39,604,899
22,742,689,258
4,612,926,019
11,921,469,802
891,500,010
1,101,992,352
-9,493,954
---
25,396,106,491
376,164,670
1,630,007,240
126,095,673
1,094,899,896
-46,995,944
---
224,300,259
184,748,347
169,139,240
161,238,696
139,066,535
33,856,247
9,973,600
8,478,979
1,718,386
1,075,402
287,737
41,558,082,532
223,026,258
205,934,614
408,215,318
131,446,608
268,025,585
3,932,335
7,188,400
163,058,862
1,143,625
1,543,045,245
362,737
42,852,184,700
220,486,496
192,306,573
17,008,079
82,678,779
566,683,067
3,785,749
1,497,000
400,865,236
2,088,915
-882,595
42,768,353,884
941,137,995
--30,371,900
507,202,255
130,065,486
-2,000,801,056
--27,082,645
32,306,931,251
307,762,621
44,884,318,563
43,410,658
44,976,920,673
433,136,124
45,112,170,081
4.
4. Piutang Usaha
10,723,688
34,583,531,564
US Dollar
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
(2016: USD23,351; 2015: USD 3,147;
2014: USD 34,818; 2013: USD 880)
Total
Accounts Receivable
a. By Customers
a. Berdasarkan Pelanggan
30 Juni/June 30,
2016
Rp
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2013
Rp
Pihak Ketiga
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)
PT Prudential Life Assurance
PT Pertamina (Persero)
PT Bunda Medik
BPJS Kesehatan
PT Indofood CBP
Bunda International Clinic
PT Roche Indonesia
PT Asuransi Sinar Mas
PT BNI Life Insurance
Dr. Noroyono W
PT Bentoel International Tbk
PT Nestle Indonesia
PT Angkasa Pura I (Persero)
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
PT Astra Otoparts Tbk
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 1 miliar)
Sub Total
9,749,459,534
3,367,753,771
3,545,814,665
2,877,542,060
1,436,485,955
1,208,000,880
1,206,170,560
1,007,833,208
522,996,700
421,761,362
322,273,165
311,332,295
285,830,605
58,202,500
50,769,812
19,957,850
18,485,075
17,528,430
31,090,799,315
57,518,997,742
6,588,315,244
4,184,379,572
2,029,295,949
1,383,819,300
4,322,924,405
205,417,325
905,173,795
-932,005,969
1,685,130,200
212,064,165
-508,856,705
511,882,324
46,015,763
17,086,200
591,851,048
23,030,213
54,355,052,951
78,502,301,128
3,405,232,793
3,101,795,010
1,963,419,527
1,157,224,859
2,513,417,829
-905,173,795
-1,138,030,620
1,278,882,252
1,157,903,165
-2,337,638,689
1,396,078,628
1,508,670,450
1,196,137,300
2,250,015,740
2,121,471,557
47,264,866,115
74,695,958,329
4,373,332,248
4,234,217,950
1,307,613,146
2,090,159,255
--905,173,795
1,307,890,554
-1,481,005,145
-2,280,629,400
2,057,361,560
---1,657,950,843
-41,019,175,446
62,714,509,342
Dikurangi: Penyisihan Penurunan Nilai Piutang Usaha
Total - Bersih/Net
(79,401,233)
57,439,596,509
(94,674,565)
78,407,626,563
(222,596,175)
74,473,362,154
(222,596,175)
62,491,913,167
Piutang Perusahaan tidak ada yang dijadikan
jaminan utang Bank.
DRAFT
Cash in Banks - Third Parties
Rupiah
PT Bank Central Asia Tbk
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT Bank Permata Tbk
PT Bank UOB Indonesia
PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk
PT Bank OCBC NISP Tbk
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat
dan Banten Tbk
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur
PT Bank Tabungan Negara Syariah
PT Bank Pan Indonesia Tbk
PT Bank CIMB Niaga Tbk
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk
PT Bank Rabobank International Indonesia
PT Bank Mandiri Syariah
PT Bank Sumatera Utara
Others (each below Rp 1 million)
275
Third Parties
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)
PT Prudential Life Assurance
PT Pertamina (Persero)
PT Bunda Medik
BPJS Kesehatan
PT Indofood CBP
Bunda International Clinic
PT Roche Indonesia
PT Asuransi Sinar Mas
PT BNI Life Insurance
Dr. Noroyono W
PT Bentoel International Tbk
PT Nestle Indonesia
PT Angkasa Pura I (Persero)
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
PT Astra Otoparts Tbk
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Others (each below Rp 1 billion)
Sub Total
Deduction : Provision for Receivable
Total - Net
There is no Company’s account receivable which
pledged as bank collateral.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
Movements in the provision for impairment of
receivables is as follows:
Mutasi penyisihan penurunan nilai piutang adalah
sebagai berikut:
30 Juni/June 30,
2016
Rp
94,674,565
736,650,496
(751,923,828)
79,401,233
Saldo Awal
Penambahan Tahun Berjalan (Catatan 25.b)
Penghapusan Piutang
Saldo Akhir
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2015
Rp
222,596,175
754,599,178
(882,520,788)
94,674,565
2013
Rp
222,596,175
243,754,412
(243,754,412)
222,596,175
222,596,175
319,687,238
(319,687,238)
222,596,175
Beginning Balance
Additional (Note 25.b)
Write Off
Ending Balance
Manajemen
berpendapat
bahwa
penyisihan
penurunan nilai piutang tersebut diatas cukup untuk
menutup kemungkinan kerugian atas tidak
tertagihnya piutang usaha.
Management believes that the allowance for
impairment of receivables mentioned above is
adequate to cover possible losses on uncollectible
accounts.
b. Berdasarkan Umur Piutang
b. By Aging
30 Juni/June 30,
2016
Rp
Jatuh Tempo:
< 30 hari
30 - 60 hari
> 60 hari
Total
28,968,678,418
21,212,249,213
7,338,070,111
57,518,997,742
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
36,274,250,980
27,099,807,814
15,128,242,334
78,502,301,128
5.
Aset Keuangan Lancar Lainnya
30 Juni/June 30,
2016
Rp
Pihak Ketiga
Karyawan
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 1 miliar)
Total
1,920,020,325
7,468,787,235
9,388,807,560
2015
Rp
Bahan Baku Laboratorium
Bahan Pembantu Laboratorium
Perlengkapan
Bahan Pembantu Non Laboratorium
Bahan Baku Non Laboratorium
Persediaan dalam Perjalanan
Total
6.
20,114,797,857
7,173,581,078
1,714,656,552
415,207,471
615,378,257
-30,033,621,215
2015
Rp
3,147,530,339
6,557,147,089
9,704,677,428
Third Parties
Employees
Others (each below Rp 1 billion)
Total
Inventories
31 Desember/December 31,
2014
Rp
17,391,023,040
5,779,432,937
818,208,014
426,699,432
1,370,252,620
-25,785,616,043
Manajemen berkeyakinan bahwa tidak ada indikasi
penurunan nilai persediaan pada 30 Juni 2016,
31 Desember 2015, 2014 dan 2013.
DRAFT
3,486,204,212
5,702,372,417
9,188,576,629
2013
Rp
Other current financial assets - employees are
employee loans for which payment in installments
based on the agreement and with no interest bearing.
Others mainly owed by several doctors arising from
the research collaboration with the Company to
provide the material used for research purposes.
Persediaan
30 Juni/June 30,
2016
Rp
Other Current Financial Assets
31 Desember/December 31,
2014
Rp
1,700,012,400
5,097,952,024
6,797,964,424
Aset keuangan lancar lainnya - karyawan adalah
pinjaman karyawan yang pembayarannya diangsur
berdasarkan perjanjian dan tanpa dikenakan bunga.
Lain-lain terutama piutang kepada beberapa dokter
yang timbul dari kegiatan kerjasama penelitian
dimana Perusahaan menyediakan bahan yang
digunakan untuk tujuan penelitian.
6.
Due:
< 30 days
30 - 60 days
> 60 days
Total
16,134,371,295
17,560,639,361
29,019,498,686
62,714,509,342
c. By Currencies
All accounts receivable balances is in Indonesian
Rupiah.
c. Berdasarkan Mata Uang
Seluruh saldo piutang usaha dalam mata uang
Rupiah.
5.
34,288,253,053
23,187,016,668
17,220,688,608
74,695,958,329
2013
Rp
276
12,956,334,017
1,993,113,146
1,628,046,062
2,714,883,468
273,607,029
166,098,762
19,732,082,484
2013
Rp
11,026,978,314
2,165,427,225
699,583,072
238,673,475
533,551,820
391,984,535
15,056,198,441
Laboratorium Raw Materials
Laboratorium Supporting Materials
Supplies
Non Laboratorium Supporting Materials
Non Laboratorium Raw Materials
Inventory in Transit
Total
Management believes that there is no impairment in
value of inventories at June 30, 2016, December 31,
2015, 2014 and 2013.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Pada tanggal 30 Juni 2016, 31 Desember 2015,
2014, dan 2013 seluruh persediaan telah
diasuransikan
terhadap
risiko
kerugian
atas kebakaran dan risiko lainnya pada
PT Asuransi Wahana Tata
dengan nilai
pertanggungan secara keseluruhan masing-masing
sebesar
Rp11.429.625.528,
Rp7.011.744.060,
Rp13.375.401.198, dan Rp4.413.105.267.
As of June 30, 2016, December 31, 2015, 2014, and
2013 all inventories were insured against losses from
fire and other risks to PT Asuransi Wahana Tata with
total
sum
insured
of
Rp11,429,625,528,
Rp7,011,744,060,
Rp13,375,401,198,
and
Rp4,413,105,267, respectively.
Manajemen
berpendapat
bahwa
nilai
pertanggungan tersebut cukup untuk menutup
kemungkinan kerugian atas persediaan yang
dipertanggungkan.
Management believes that the insurance coverage is
adequate to cover possible losses on the assets
insured.
Persediaan Perusahaan tidak ada yang dijadikan
jaminan utang Bank.
There is no Company’s inventories which pledged
as bank collateral.
7.
7.
Uang Muka
30 Juni/June 30,
2016
Rp
Pembelian Aset Tetap dan
Pengadaan Sistem
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp1 miliar)
Total
11,208,565,270
7,952,676,053
19,161,241,323
2015
Rp
Advance Payments
31 Desember/December 31,
2014
Rp
9,718,549,356
7,037,547,918
16,756,097,274
4,882,788,726
6,290,352,692
11,173,141,418
2013
Rp
14,472,269,000
7,141,398,880
21,613,667,880
Purchase of Fixed Assets
and System Procurement
Others (each below Rp 1 billion)
Total
Uang muka pembelian aset tetap merupakan
pembelian inventaris kantor serta pembelian aset
tetap lainnya.
Advances for purchase of fixed assets is the
purchase of office equipment and other fixed asset
purchases.
Uang
muka
lain-lain
terutama
merupakan
pembayaran di muka untuk keperluan renovasi
bangunan cabang yang disewa dari pihak ketiga.
Advances others mainly an advance payment for the
purposes of building renovation branches leased
from third parties.
8.
8. Prepaid Expenses
Biaya Dibayar di Muka
30 Juni/June 30,
2016
Rp
Jangka Pendek
Sewa
Asuransi
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 1 miliar)
Subtotal
Jangka Panjang
Sewa
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 1 miliar)
Subtotal
Total
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2013
Rp
23,761,189,515
126,168,298
4,355,074,054
28,242,431,867
15,030,588,747
1,119,329,316
4,783,446,465
20,933,364,528
9,097,894,770
8,881,899,949
3,172,504,104
21,152,298,823
11,538,018,500
524,477,416
3,855,291,820
15,917,787,736
93,292,349,558
6,408,944,904
99,701,294,462
127,943,726,329
23,592,267,779
12,109,230,889
35,701,498,668
56,634,863,196
21,759,458,064
3,197,440,604
24,956,898,668
46,109,197,491
19,540,267,601
3,348,830,772
22,889,098,373
38,806,886,109
Current Portion
Rent
Insurance
Others (each below Rp 1 billion)
Subtotal
Long Term Portion
Rent
Others (each below Rp 1 billion)
Subtotal
Total
Biaya dibayar di muka lain-lain terutama merupakan
biaya iklan, pemeliharaan bangunan, biaya
perawatan dan lainnya.
Prepaid expenses others mainly advertising costs,
building maintenance, and other maintenance costs.
Biaya dibayar dimuka jangka panjang adalah biaya
dibayar dimuka yang diperuntukkan lebih dari satu
tahun.
Non current prepaid expenses are prepaid expenses
for more than one year.
DRAFT
277
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
9.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
9. Fixed Assets
Aset Tetap
Saldo Awal/
Beginning
Penambahan/
Addition
30 Juni/June 30, 2016
Pengurangan/
Reklasifikasi/
Deduction
Reclassification
Balance
Rp
Rp
Rp
Rp
Pelepasan
Entitas Anak/
Saldo Akhir/
Ending
Disposal of
Subsidiaries
Rp
Balance
Rp
Harga Perolehan
Pemilikan Langsung
Tanah
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
Aset dalam Penyelesaian
Sub Total
58,696,710,466
55,619,547,864
19,606,909,212
142,272,774,221
97,475,168,304
3,979,983,984
377,651,094,053
1,121,464,160
5,527,179,630
161,252,000
11,966,761,662
3,638,259,288
19,949,594,357
42,364,511,097
--143,148,750
1,497,980,542
1,219,993,574
6,551,947,107
9,413,069,972
--------
--------
59,818,174,626
61,146,727,494
19,625,012,462
152,741,555,341
99,893,434,018
17,377,631,235
410,602,535,176
Acquisition Cost
Direct Ownership
Land
Buildings
Vehicle
Office Equipment
Equipment
Construction in Progress
Sub Total
Sewa Pembiayaan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Total
15,874,640,265
6,007,276,229
399,533,010,547
1,297,200,000
2,533,872,212
46,195,583,309
--9,413,069,972
(4,421,073,720)
4,421,073,720
--
----
12,750,766,545
12,962,222,161
436,315,523,882
Leased Asset
Vehicles
Office Equipment
Total
Akumulasi Penyusutan
Pemilikan Langsung
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
Sub Total
15,928,462,487
15,526,110,986
97,440,158,155
68,874,337,290
197,769,068,918
1,595,592,743
823,706,018
9,509,997,321
6,548,702,615
18,477,998,697
-103,946,748
1,385,957,814
705,961,901
2,195,866,463
------
------
17,524,055,229
16,245,870,256
105,564,197,662
74,717,078,004
214,051,201,152
Accumulated Depreciation
Direct Ownership
Buildings
Vehicle
Office Equipment
Equipment
Sub Total
Sewa Pembiayaan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Total
Nilai Buku
4,589,939,491
889,732,690
203,248,741,099
196,284,269,448
774,987,489
1,406,726,355
20,659,712,541
--2,195,866,463
----
----
5,364,926,980
2,296,459,045
221,712,587,177
214,602,936,705
Leased Asset
Vehicles
Office Equipment
Total
Book Value
Saldo Awal/
Beginning
Penambahan/
Addition
31 Desember/December 31 , 2015
Pengurangan/
Reklasifikasi/
Deduction
Reclassification
Balance
Rp
Rp
Rp
Rp
Pelepasan
Entitas Anak/
Saldo Akhir/
Ending
Disposal of
Subsidiaries
Rp
Balance
Rp
Harga Perolehan
Pemilikan Langsung
Tanah
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
Pustaka
Aset dalam Penyelesaian
Sub Total
69,431,535,049
141,843,175,194
19,577,890,577
124,307,028,690
103,799,666,167
12,562,633
105,141,843,440
564,113,701,750
123,553,744,285
149,563,256,562
397,863,000
26,766,076,738
13,259,990,485
--313,540,931,070
125,379,114,361
221,420,646,256
2,406,194,300
3,486,174,463
2,693,410,560
-101,161,859,456
456,547,399,396
--2,712,401,800
----2,712,401,800
8,909,454,507
14,366,237,636
675,051,865
5,314,156,744
16,891,077,788
12,562,633
-46,168,541,173
58,696,710,466
55,619,547,864
19,606,909,212
142,272,774,221
97,475,168,304
-3,979,983,984
377,651,094,053
Acquisition Cost
Direct Ownership
Land
Buildings
Vehicle
Office Equipment
Equipment
Books
Construction in Progress
Sub Total
Sewa Pembiayaan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Total
11,659,566,299
6,007,276,229
581,780,544,278
6,927,475,766
-320,468,406,836
--456,547,399,396
(2,712,401,800)
---
--46,168,541,173
15,874,640,265
6,007,276,229
399,533,010,547
Leased Asset
Vehicles
Office Equipment
Total
Akumulasi Penyusutan
Pemilikan Langsung
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
Pustaka
Sub Total
44,928,420,567
14,935,587,473
87,590,721,548
68,292,423,506
7,379,388
215,754,532,483
9,870,690,758
1,649,864,453
16,693,471,832
12,359,302,567
-40,573,329,610
36,366,222,510
2,077,465,097
3,354,173,009
2,692,469,957
-44,490,330,573
-1,283,860,613
---1,283,860,613
2,504,426,329
265,736,455
3,489,862,216
9,084,918,826
7,379,388
15,352,323,214
15,928,462,487
15,526,110,986
97,440,158,155
68,874,337,290
-197,769,068,918
Accumulated Depreciation
Direct Ownership
Buildings
Vehicle
Office Equipment
Equipment
Books
Sub Total
Sewa Pembiayaan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Total
Nilai Buku
2,229,328,929
889,732,690
218,873,594,102
362,906,950,176
3,644,471,174
-44,217,800,784
--44,490,330,573
(1,283,860,613)
---
----
4,589,939,491
889,732,690
203,248,741,099
196,284,269,448
Leased Asset
Vehicles
Office Equipment
Total
Book Value
DRAFT
278
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
Saldo Awal/
Beginning
Balance
Rp
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
31 Desember/December 31, 2014
Penambahan/
Pengurangan/
Reklasifikasi/
Addition
Deduction
Reclassification
Rp
Rp
Rp
Saldo Akhir/
Ending
Balance
Rp
Harga Perolehan
Pemilikan Langsung
Tanah
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
Pustaka
Aset dalam Penyelesaian
Sub Total
68,459,159,049
136,649,139,194
19,413,293,217
113,583,046,893
84,675,991,949
7,507,765
31,466,676,061
454,254,814,128
1,083,214,000
1,781,595,608
990,906,356
14,540,426,400
21,183,199,763
5,054,868
77,656,769,771
117,241,166,767
110,838,000
569,162,000
1,622,103,385
3,816,444,604
2,059,525,545
--8,178,073,533
-3,981,602,392
795,794,389
---(3,981,602,392)
795,794,389
69,431,535,049
141,843,175,194
19,577,890,577
124,307,028,690
103,799,666,167
12,562,633
105,141,843,440
564,113,701,750
Acquisition Cost
Direct Ownership
Land
Buildings
Vehicle
Office Equipment
Equipment
Books
Construction in Progress
Sub Total
Sewa Pembiayaan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Total
7,033,294,989
-461,288,109,117
5,422,065,699
6,017,874,229
128,681,106,695
-10,598,000
8,178,073,533
(795,794,389)
---
11,659,566,299
6,007,276,229
581,780,544,278
Leased Asset
Vehicles
Office Equipment
Total
Akumulasi Penyusutan
Pemilikan Langsung
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
Pustaka
Sub Total
37,724,343,086
14,409,834,577
76,225,523,597
58,960,792,757
5,571,308
187,326,065,325
7,530,868,755
1,707,486,267
14,113,784,521
11,150,884,983
1,808,081
34,504,832,608
326,791,274
1,456,036,360
2,748,586,570
1,819,254,234
-6,350,668,438
-274,302,989
---274,302,989
44,928,420,567
14,935,587,473
87,590,721,548
68,292,423,506
7,379,388
215,754,532,483
Accumulated Depreciation
Direct Ownership
Buildings
Vehicle
Office Equipment
Equipment
Books
Sub Total
Sewa Pembiayaan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Total
Nilai Buku
1,353,720,989
-188,679,786,313
272,608,322,804
1,149,910,929
891,940,607
36,546,684,144
-2,207,917
6,352,876,354
(274,302,989)
---
2,229,328,929
889,732,690
218,873,594,102
362,906,950,176
Leased Asset
Vehicles
Office Equipment
Total
Book Value
Saldo Awal/
Beginning
Balance
Rp
31 Desember/December 31, 2013
Penambahan/
Pengurangan/
Reklasifikasi/
Addition
Deduction
Reclassification
Rp
Rp
Rp
Saldo Akhir/
Ending
Balance
Rp
Harga Perolehan
Pemilikan Langsung
Tanah
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
Pustaka
Aset dalam Penyelesaian
Sub Total
68,564,309,049
128,994,699,769
16,598,282,067
96,315,775,360
78,350,234,113
6,496,600
11,911,939,518
400,741,736,476
234,000,000
3,576,667,449
1,506,147,250
23,120,215,095
9,503,246,948
1,011,165
25,226,573,998
63,167,861,905
339,150,000
1,594,065,479
1,347,019,100
5,852,943,561
3,266,111,112
--12,399,289,252
-5,671,837,455
2,655,883,000
-88,622,000
-(5,671,837,455)
2,744,505,000
68,459,159,049
136,649,139,194
19,413,293,217
113,583,046,893
84,675,991,949
7,507,765
31,466,676,061
454,254,814,128
Acquisition Cost
Direct Ownership
Land
Buildings
Vehicle
Office Equipment
Equipment
Books
Construction in Progress
Sub Total
Sewa Pembiayaan
Kendaraan
Total
7,234,977,189
407,976,713,665
2,542,822,800
65,710,684,705
-12,399,289,252
(2,744,505,000)
--
7,033,294,989
461,288,109,117
Leased Asset
Vehicles
Total
Akumulasi Penyusutan
Pemilikan Langsung
Bangunan
Kendaraan
Inventaris Kantor
Peralatan
Pustaka
Sub Total
32,199,587,434
12,182,552,538
67,190,469,969
50,488,521,625
4,410,951
162,065,542,517
6,986,508,114
2,890,358,260
10,036,676,329
11,093,062,211
1,160,357
31,007,765,271
1,461,752,463
1,493,502,141
1,001,622,700
2,640,214,038
-6,597,091,342
-830,425,919
-19,422,958
-849,848,877
37,724,343,086
14,409,834,577
76,225,523,597
58,960,792,757
5,571,308
187,326,065,325
Accumulated Depreciation
Direct Ownership
Buildings
Vehicle
Office Equipment
Equipment
Books
Sub Total
Sewa Pembiayaan
Kendaraan
Total
Nilai Buku
1,625,806,983
163,691,349,500
244,285,364,165
579,003,404
31,586,768,675
1,240,521
6,598,331,863
(849,848,877)
--
1,353,720,989
188,679,786,313
272,608,322,804
Leased Asset
Vehicles
Total
Book Value
Penambahan pada tahun 2015, merupakan
pembelian tanah dan bangunan di Medan, Jakarta,
Solo, Surabaya dan Palu.
DRAFT
279
Additions in 2015 are acquisition of lands and
buildings on Medan, Jakarta, Solo, Surabaya,
and Palu.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Construction in progress at June 30, 2016 is
buildings as follows:
Aset dalam penyelesaian pada tanggal 30 Juni 2016
adalah bangunan sebagai berikut:
Wilayah/
Region
Jumlah/
Amount
Rp
Pusat/ Central
Wilayah 1/ Region 1
Wilayah 3/ Region 3
Wilayah 5/ Region 5
Wilayah 6/ Region 6
Wilayah 8/ Region 8
Total
Persentase Penyelesaian/
Percentage of Completion
%
Perkiraan Penyelesaian/
Estimated To Be
Completed
90% - 95%
40%
50% - 90%
50% - 98%
90% - 95%
90%
September 2016 - Oktober 2016/September 2016 - October 2016
Oktober 2017/ October 2017
September 2016 - Oktober 2016/ September 2016 - October 2016
September 2016 - Juni 2017/ September 2016 - June 2017
September 2016 - Oktober 2016/ September 2016 - October 2016
September 2016/ September 2016
4,583,148,598
3,686,569,338
968,850,000
4,038,928,955
3,629,864,905
470,269,439
17,377,631,235
Allocation of depreciation expense for periods
June 30, 2016, December 31, 2015, 2014 and
2013 are as follows:
Alokasi pembebanan penyusutan pada periode
30 Juni 2016, 31 Desember 2015, 2014 dan 2013
adalah sebagai berikut:
30 Juni/June 30,
2016
2015
Rp
Rp
Beban Pokok Pendapatan (Catatan 24)
Beban Umum dan Administrasi (Catatan 25.b)
Total
5,287,243,337
15,372,469,204
20,659,712,541
2015
Rp
5,089,789,152
13,897,107,678
18,986,896,830
10,073,888,430
34,143,912,354
44,217,800,784
Pengurangan aset tetap terdiri dari penghapusan
dan penjualan aset dengan rincian sebagai berikut:
30 Juni/June 30,
2016
Rp
Harga Jual
Dikurangi: Nilai Buku
Laba (Rugi) Penjualan Aset Tetap
7,155,667,066
(7,217,203,509)
(61,536,443)
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
8,314,906,354
28,231,777,790
36,546,684,144
7,278,683,515
24,308,085,160
31,586,768,675
Cost of Revenues (Note 24)
General and Administrative Expense (Note 25.b)
Total
Deduction of fixed assets consists of the
disposal and sale of the fixed assets as follows:
31 Desember/December 31,
2014
Rp
435,229,347,500
(412,057,068,823)
23,172,278,677
2013
Rp
6,472,175,906
(1,825,197,179)
4,646,978,727
2013
Rp
10,005,996,978
(5,800,957,389)
4,205,039,589
Sales Value
Deduction : Book Value
Gain (Loss) on Sale of Fixed Asset
Pengurangan pada tahun 2015, berasal dari
penjualan beberapa aset tanah dan bangunan
kepada PT Grhanis Putra Propertindo, PT Grhanis
Prakarsa Propertindo, PT Grhanis Pusaka
Propertindo dan PT Grhanis Permata Propertindo,
pihak-pihak berelasi.
Deduction in 2015, raise from sales of the
Company’s land and building to PT Grhanis Putra
Propertindo, PT Grhanis Prakarsa Propertindo,
PT Grhanis Pusaka Propertindo and PT Grhanis
Permata Propertindo, related parties.
Pada tanggal 30 Juni 2016, 31 Desember 2015,
2014 dan 2013, sebagian aset tetap Perusahaan
dijadikan jaminan atas pinjaman kepada bank dan
perusahaan pembiayaan (Catatan 12, 16 dan 17).
Aset tetap yang dijaminkan adalah berupa tanah,
bangunan dan kendaraan.
On June 30, 2016, December 31, 2015, 2014 and
2013, some of the Company's fixed assets pledged
as collateral for loans obtain from banks and finance
companies (Notes 12, 16 and 17). Fixed assets
pledged as collateral is in the form of land, buildings
and vehicles.
Pada tahun 2015, terdapat biaya pinjaman sebesar
Rp4.018.266.727 digunakan untuk pembangunan
gedung Grha Surabaya.
In 2015, the borrowing cost is amounting to
Rp4,018,266,727 was used for the construction of
building Grha Surabaya.
Perusahaan memiliki beberapa bidang tanah yang
digunakan oleh kantor cabang yang tersebar di
beberapa daerah dengan hak pemilikan berupa Hak
Guna Bangunan yang berjangka waktu 7 - 30 tahun
yang akan jatuh tempo antara tahun 2013 dan 2042.
Manajemen berpendapat tidak terdapat masalah
signifikan sehubungan dengan perpanjangan hak
atas tanah karena seluruh tanah diperoleh secara
sah dan didukung dengan bukti kepemilikan yang
memadai.
The Company owns several land that are used by
branch offices in some areas with the right of
ownership in the form of Building Rights used for the
period of 7-30 years which will due between 2013
and 2042. Management believes there are no
significant issues with respect to the extension of
land rights because the entire land were acquired
legally and supported by sufficient evidence of
ownership.
DRAFT
280
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Pada tanggal 30 Juni 2016, 31 Desember 2015,
2014 dan 2013, aset tetap kecuali tanah, telah
diasuransikan terhadap risiko kebakaran dan risiko
lainnya kepada perusahaan asuransi, yaitu
PT Asuransi Wahana Tata dengan jumlah
pertanggungan
sebesar
Rp673.296.337.066,
Rp390.661.127.730,
Rp916.306.504.681
dan
Rp575.631.169.990.
Manajemen
berpendapat
bahwa jumlah pertanggungan tersebut cukup untuk
menutup kemungkinan kerugian atas aset yang
dipertanggungkan.
On June 30, 2016, December 31, 2015, 2014 and
2013, fixed assets, except land, were insured against
fire and other risks to insurance companies,
PT Asuransi Wahana Tata with a total coverage
of
Rp673,296,337,066,
Rp390,661,127,730,
Rp916,306,504,681,
and
Rp575,631,169,990
Management believes that the insurance coverage is
adequate to cover possible losses on the assets
insured.
Manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat
indikasi penurunan nilai aset tetap pada 30 Juni
2016, 31 Desember 2015, 2014, dan 2013.
Management believes that there is no indication of
impairment of fixed assets as at June 30,2016,
December 31, 2015, 2014 and 2013.
10.
10. Intangible Assets
Aset Takberwujud
30 Juni/June 30,
2016
Rp
Harga Perolehan
Piranti Lunak
Hak Paten
Goodwill (Catatan 2.e )
Sub Total
Akumulasi Amortisasi
Piranti Lunak
Hak Paten
Sub Total
Total - Bersih
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
15,397,578,140
14,600,000
-15,412,178,140
15,891,693,425
14,600,000
-15,906,293,425
13,737,522,890
3,139,600,000
517,023,262
17,394,146,152
13,116,324,550
3,139,600,000
517,023,262
16,772,947,812
(12,530,146,037)
(14,599,996)
(12,544,746,033)
2,867,432,107
(12,369,675,552)
(14,600,000)
(12,384,275,552)
3,522,017,873
(9,834,499,796)
(405,224,996)
(10,239,724,792)
7,154,421,360
(7,566,304,336)
(234,375,000)
(7,800,679,336)
8,972,268,477
Goodwill timbul dari akuisisi PT Prodia Stemlife
Indonesia.
11.
30 Juni/June 30,
2016
Rp
555,427,856
359,343,666
442,375,114
1,357,146,636
Goodwill resulted from the acquisition of PT Prodia
Stemlife Indonesia.
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2015
Rp
525,667,856
420,261,667
829,692,300
1,775,621,823
Jaminan sewa merupakan uang yang disetor
Perusahaan terkait sewa bangunan untuk kantor
maupun laboratorium. Bank garansi merupakan
jaminan terkait tender yang dilakukan Perusahaan
sebagai syarat kerjasama. Penurunan saldo lain-lain
dikarenakan uang muka atas renovasi bangunan di
Summarecon telah selesai pada awal tahun 2016.
DRAFT
Acquisition Cost
Software
Patent
Goodwill (Note 2.e)
Subtotal
Accumulated Depreciation
Software
Patent
Subtotal
Total - Net
11. Other Non-Current Non-Financial Assets
Aset Non Keuangan Tidak Lancar Lainnya
Jaminan Sewa
Bank Garansi
Lain-lain
Total
2013
Rp
281
368,870,856
207,880,597
136,825,130
713,576,583
2013
Rp
313,824,616
-3,375,997,688
3,689,822,304
Security Deposit
Bank Guarantee
Others
Total
Security deposit was paid by the Company
regarding lease of buildings intended for offices and
laboratories. Bank guarantee is related to tender
conducted by the Company as a condition for
cooperation. The decline in the balance of others
because of advance for the renovation of buildings
in Summarecon was completed in early 2016.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
12. Short-Term Bank Loans
12. Utang Bank Jangka Pendek
Plafond
Rp
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank Pan Indonesia Tbk
PT Bank Rabobank International Indonesia
Total
5,000,000,000
---
30 Juni/June 30,
2016
Rp
3,635,423,874
--3,635,423,874
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
1,000,000,000
--1,000,000,000
3,250,000,000
2,138,056,962
343,627,759
5,731,684,721
2013
Rp
3,250,000,000
1,541,979,057
-4,791,979,057
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank Pan Indonesia Tbk
PT Bank Rabobank International Indonesia
Total
a.
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank
Danamon)
Saldo fasilitas-fasilitas pinjaman jangka pendek dari
Bank Danamon per 30 Juni 2016, 31 Desember
2015, 2014 dan 2013 adalah sebagai berikut:
a. PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank
Danamon)
Balance of short-term facilities loan from Bank
Danamon as of June 30, 2016, December 31, 2015,
2014 and 2013 are as follows:
Fasilitas Kredit Rekening Koran (KRK)
Fasilitas ini diperoleh berdasarkan Perjanjian
Kredit No. SPK/126/PIM-YK/RK/09/92 tanggal
8 September 1992 dan Akta Pengakuan Hutang No.
30 tanggal 8 September 1992 dengan nilai pinjaman
maksimal sebesar Rp2.000.000.000 yang digunakan
sebagai modal kerja. Perjanjian kredit ini telah
beberapa kali mengalami perpanjangan, terakhir
berdasarkan Perjanjian Kredit No. PW 154 tanggal
17 Oktober 2011 yang akan jatuh tempo pada
tanggal 19 Juli 2012 dan tingkat bunga 11,5% per
tahun. Berdasarkan PK No.11 tanggal 2 April 2015,
Perusahaan memiliki plafond Rp2.500.000.000 dan
diperpanjang jangka waktunya sampai dengan
19 Juli 2016.
Overdraft Credit Facility (KRK)
This facility was obtained under the Credit
Agreement No. SPK / 126 / PIM-YK / RK / 09/92
dated September 8, 1992 and the Deed of
Acknowledgement of Debt No. 30 dated September
8, 1992 with a maximum loan value of
Rp2,000,000,000 used as working capital. The loan
agreement has several amended, the last under the
Credit Agreement No. PW 154 dated October 17,
2011 and will mature on July 19, 2012 and an
interest rate of 11.5% per year. Based on the loan
agreement No.11 dated 2 April 2015, the Company
has a facility of Rp2,500,000,000 and extended the
time period up to July 19, 2016.
Berdasarkan PK no.263 tanggal 26 Nopember 2015
Perusahaan memiliki plafond Kredit Rekening Koran
(KRK) sebesar Rp5.000.000.000. Perjanjian Kredit
ini
telah
diperpanjang
dengan
Perjanian
Perpanjangan
Waktu
Kredit
no
311/PPWK/CBD/VIII/2016 tanggal 2 Agustus 2016,
jangka waktu KRK diperpanjang sampai dengan
tanggal 19 Juli 2017 dan dikenakan tingkat bunga
pinjaman sebesar 11,25% per tahun. Jaminan dan
pembatasan diungkapkan pada Catatan 17.
Based on the Loan Agreement No. 263 dated
November 26, 2015, the Company has overdraft
loan facility (KRK) amounted to Rp5,000,000,000.
This
Loan
Agreement
has
amended
with
Time
ExtentionLoan
Agreement
No
311/PPWK/CBD/VIII/2016 dated August 2, 2016,
term of KRK is extended until July 19, 2017 and
bears interest rate of 11.25% per annum. The
collateral and covenant are disclosed in Note 17.
Pada tanggal 30 Juni 2016 saldo pinjaman sebesar
Rp3.635.423.874, dan 31 Desember 2015, 2014,
dan
2013
masing-masing
bersaldo
Rp1.000.000.000,
Rp3.250.000.000,
dan
Rp3.250.000.000.
As of June 30,2016, the loan balance is
Rp3,635,423,874, and as of December 31, 2015,
2014,
and
2013
the
loan
balance
is
Rp1,000,000,000,
Rp3,250,000,000,
and
Rp3,250,000,000, respectively.
b. PT Bank Rabobank International Indonesia
(dahulu PT Bank Haga)
b. PT Bank Rabobank International Indonesia
(former PT Bank Haga)
Entitas Anak – PT Prodia OHI International
Berdasarkan Perjanjian Kredit No. 449/PRKB/AM/IV/2009 tanggal 15 April 2009, PT Prodia OHI
International (entitas anak) memperoleh fasilitas
Pinjaman Rekening Koran (PRK) dari PT Bank
Haga sebesar Rp 2.000.000.000, yang akan jatuh
tempo pada 20 September 2009 dan dikenakan
tingkat suku bunga 15% per tahun. Fasilitas PRK ini
telah beberapa kali diperpanjang, terakhir dengan
Subsidiary - PT Prodia OHI International
Based on Loan Agreement No. 449 / PRK-B / AM /
IV / 2009 dated 15 April 2009, PT Prodia OHI
International (subsidiary) obtain Current Account
Loan facility (CRP) from PT Bank Haga of
Rp2,000,000,000, which will mature on 20
September 2009 and an interest rate of 15% per
year. CRP facility has been extended several times,
most recently by Time Extension Loan Agreement
DRAFT
282
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Perjanjian
Perpanjangan
Waktu
Kredit
No.
236023/P/3/LGL/ABM/IX/2015
tanggal
18 September 2015, yang diperpanjang sampai
dengan tanggal 30 September 2016 dengan tingkat
bunga pinjaman adalah sebesar 13% per tahun.
No. 236023/P/3/LGL/ABM/IX/2015 dated September
18, 2015, which extended until September 30, 2016
with an interest rate of 13% per year.
Pada tanggal 30 Juni 2016, 31 Desember 2015,
2014 dan 2013 saldo yang terutang masing-masing
adalah sebesar nihil, nihil, Rp 343.627.759 dan
nihil.
As of June 30, 2016, December 31, 2015, 2014 and
2013 balance of the loan amounted to nil, nil,
Rp343,627,759 and nil, respectively.
Perusahaan dan entitas anak terikat dengan
beberapa pembatasan, antara lain Perusahaan dan
entitas anak harus mendapatkan persetujuan
terlebih dahulu untuk:
- Mengadakan merger, akuisisi, dan/atau menjual
aset tetap;
- Mengubah anggaran dasar maupun mengubah
susunan pengurus dan/atau pemegang saham;
- Memperoleh kredit dari bank atau pemberi kredit
lainnya, baik berupa investasi maupun modal
kerja;
- Membagikan dividen kepada para pemegang
saham; dan
- Menjaminkan harta kekayaan kepada pihak lain.
The Company and its subsidiaries comply with
several restrictions, among others, the Company and
its subsidiaries must obtain prior approval for:
Fasilitas PRK dijamin dengan sejumlah tanah dan
bangunan milik Perusahaan (Catatan 9).
CRP facility is secured by a number of land and
buildings owned by the Company (Note 9).
13
Conducting mergers, acquisitions, and / or sell
fixed assets;
- Changing the basic budget and change the
composition of the board and / or shareholders;
- Obtain credit from banks or other lenders, either
in the form of investment and working capital;
Pihak Berelasi
Pihak Ketiga
PT Anugrah Pharmindo Lestari
PT Sumbermitra Agung Jaya
PT Enseval Putera Megatrading
PT Karyamanunggal Lithomas
PT Diastika Biotekindo
PT Setia Guna Medika
PT Anugrah Argon Medica
PT Indoglobal Technologies
PT Saba Indo Medika
PT Inti Makmur Meditama
PT Widya Mitra Persada
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 500 juta)
Sub Total Pihak Ketiga
Jumlah
2015
Rp
-
Pledge wealth to others.
Accounts Payable
2013
Rp
427,402,390
701,250,478
223,434,416
533,744,807
6,283,411,295
2,020,711,596
1,822,335,656
961,300,053
949,525,129
760,531,005
684,725,173
605,233,479
591,412,254
103,575,240
-13,452,315,053
28,235,075,933
28,662,478,323
9,407,748,489
2,625,656,318
4,232,678,909
1,580,102,986
674,148,255
49,940,044
697,655,634
1,083,161,299
468,370,709
1,165,715,020
311,491,296
20,062,722,614
42,359,391,573
43,060,642,051
6,516,655,381
2,333,802,035
2,999,835,045
1,816,472,514
1,479,620,293
1,343,163,309
1,089,811,357
2,637,273,186
1,207,081,559
1,410,970,858
594,761,103
7,062,175,191
30,491,621,831
30,715,056,247
9,261,220,942
2,661,115,100
2,533,591,356
1,818,981,522
2,054,557,452
3,834,457,897
854,790,010
1,908,515,439
1,168,612,022
975,788,573
-4,851,302,250
31,922,932,563
32,456,677,370
14.
30 Juni/June 30,
2016
Rp
DRAFT
Shares of dividends to shareholders; and
31 Desember/December 31,
2014
Rp
Beban Akrual
Sewa Bangunan dan PPS
Rujukan
Pemasaran
Keperluan Kantor
Konsultan
Listrik, Air dan Telekomunikasi
Pemeliharaan
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 1 milyar)
Total
-
13.
Utang Usaha
30 Juni/June 30,
2016
Rp
14.
-
5,577,628,191
5,105,040,242
3,219,407,259
3,002,542,836
2,413,579,741
1,905,383,834
1,788,069,268
221,630,520
23,233,281,891
2015
Rp
Accrued Expenses
31 Desember/December 31,
2014
Rp
7,075,685,105
7,435,503,248
5,145,753,803
678,888,453
6,107,029,601
1,956,094,143
6,142,322,891
168,697,276
34,709,974,520
283
Related Parties
Third Parties
PT Anugrah Pharmindo Lestari
PT Sumbermitra Agung Jaya
PT Enseval Putera Megatrading
PT Karyamanunggal Lithomas
PT Diastika Biotekindo
PT Setia Guna Medika
PT Anugrah Argon Medica
PT Indoglobal Technologies
PT Saba Indo Medika
PT Inti Makmur Meditama
PT Widya Mitra Persada
Others (each below Rp 500 million)
Subtotal Third Parties
Total
2,349,256,021
7,187,526,690
4,141,681,519
3,946,410,880
11,273,508,549
2,308,264,980
2,773,530,107
9,945,138,007
43,925,316,753
2013
Rp
4,360,260,197
7,045,301,763
4,789,924,764
5,254,104,537
7,880,508,336
2,175,314,493
10,098,962,723
2,600,168,110
44,204,544,923
Leased Building
Reference
Marketing
Office Utilities
Consultant
Electricity, Water and Telecommunication
Maintenance
Others (each below Rp 1 billion)
Total
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Beban akrual lain-lain terutama merupakan bagi
hasil kerjasama dengan mitra lokal pada beberapa
cabang
tertentu,
transportasi,
baju
dinas
laboratorium dan lain-lain.
Other accrued expenses mainly represents revenue
sharing with local partners in some particular branch,
transportation, official outfit laboratories and others.
15.
Liabilitas Keuangan Jangka Pendek Lainnya
30 Juni/June 30,
2016
Rp
2015
Rp
15. Other Current Financial Liabilities
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2013
Rp
Related Parties
Pihak Berelasi
Dividen
Lainnya
Sub Total Pihak Berelasi
Pihak Ketiga
Renovasi
Pembelian Aset Tetap dan Aset Takberwujud
Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 1 milyar)
Sub Total Pihak Ketiga
Jumlah
18,000,000,000
392,227,663
18,392,227,663
-510,757,964
510,757,964
-600,000,000
600,000,000
-4,143,490,101
4,143,490,101
4,460,872,865
3,523,772,719
880,216,744
8,864,862,327
27,257,089,990
19,711,114,059
8,520,800,037
1,204,897,365
29,436,811,461
29,947,569,425
-9,223,441,682
9,639,510,868
18,862,952,550
19,462,952,550
-3,989,653,537
6,952,705,006
10,942,358,543
15,085,848,644
Dividen
Others
Subtotal Related Parties
Third Parties
Renovation
Acquisition of Fixed Asset and Intangible Asset
Others (each below Rp 1 billion)
Subtotal Third Parties
Total
Liabilitas keuangan jangka pendek lainnya atas
utang pembelian aset tetap dan aset takberwujud
adalah
utang
atas
pembelian
peralatan
laboratorium, inventaris kantor dan perangkat lunak
komputer (Catatan 6, 10 dan 31).
Other current financial liabilities of acquisition fixed
and intangible asset is liabilities on the purchase of
laboratory equipment, office equipment and
computer software (Notes 6, 10 and 31).
Utang renovasi merupakan renovasi kantor dan
laboratorium terutama di Solo, Medan, Palu,
Makassar dan Pekanbaru.
Liabilities for renovation consist of building
renovations of Company’s offices and laboratories
mainly in Solo, Medan, Palu, Makassar and
Pekanbaru.
16.
16. Financial Leases Payable
Utang Sewa Pembiayaan
Perusahaan
melakukan
perjanjian
sewa
pembiayaan dengan perusahaan pembiayaan sejak
tahun 2009 sampai dengan 2015 untuk pengadaan
peralatan transportasi operasional dan kendaraan
Perusahaan. Jangka waktu sewa guna usaha
adalah dua sampai dengan empat tahun dengan
tingkat bunga efektif yang bervariasi antara 17,18%
sampai dengan 31%. Utang sewa pembiayaan
dijamin dengan aset tetap sewa pembiayaan
bersangkutan.
The Company entered into a financial lease with
finance company’s since 2009 to 2015 to obtain
equipment and vehicle. The term of lease is for two
up to four years with an effective interest rate varying
between 17.18% to 31%. Finance lease secured by
its assets.
Pada tahun 2014, Perusahaan juga melakukan
perjanjian sewa pembiayaan dengan PT ORIX
Indonesia Finance untuk pengadaan komputer.
In 2014, the Company also enter into finance lease
agreements with PT ORIX Indonesia Finance to
obtain computers.
Rincian utang sewa pembiayaan berdasarkan
perusahaan pembiayaan (lessor) adalah sebagai
berikut:
Details of finance lease debt
companies (lessor) are as follows:
30 Juni/June 30,
2016
Rp
PT BCA Finance (Kendaraan)
PT ORIX Indonesia Finance (Komputer)
Dikurangi:
Utang Sewa Pembiayaan - Jatuh
Tempo dalam Satu Tahun
Utang Sewa Pembiayaan Jangka Panjang
DRAFT
3,787,091,037
7,474,759,576
11,261,850,613
(6,476,477,700)
4,785,372,913
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
7,764,100,087
2,337,813,355
10,101,913,442
(5,316,540,529)
4,785,372,913
284
4,691,658,605
4,853,264,000
9,544,922,605
(3,581,539,935)
5,963,382,670
based
finance
2013
Rp
2,730,544,809
-2,730,544,809
(1,583,476,629)
1,147,068,180
PT BCA Finance (Vehicle)
PT ORIX Indonesia Finance (Computer)
Deduction:
Current Portion that
will mature in one year
Total Long Term Leasing
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Rincian utang sewa pembiayaan berdasarkan
periode jatuh tempo adalah sebagai berikut:
Details of obligation under finance lease based on
the maturity period is as follows:
30 Juni/June 30,
2016
Rp
Pembayaran yang Jatuh Tempo pada Tahun
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Total Pembayaran Minimum Sewa Pembiayaan
Dikurangi: Bagian Bunga
Jumlah Liabilitas Sewa
Bagian yang Jatuh Tempo
dalam Waktu Satu Tahun
Utang Sewa Pembiayaan Jangka Panjang
17.
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2013
Rp
--2,816,435,870
5,325,989,308
3,148,650,065
1,494,403,865
173,278,284
12,958,757,392
(1,696,906,779)
11,261,850,613
--6,066,727,435
3,808,856,142
1,530,137,149
177,342,450
-11,583,063,176
(1,481,149,734)
10,101,913,442
-4,431,131,994
4,044,484,290
1,948,151,610
620,000,025
--11,043,767,919
(1,498,845,314)
9,544,922,605
1,741,436,626
988,312,859
238,410,120
----2,968,159,604
(237,614,795)
2,730,544,809
(6,476,477,700)
4,785,372,913
(5,316,540,529)
4,785,372,913
(3,581,539,935)
5,963,382,670
(1,583,476,629)
1,147,068,180
17.
Utang Bank Jangka Panjang
30 Juni/June 30,
2016
Rp
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank Rabobank International Indonesia
PT Bank Pan Indonesia Tbk
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT Bank UOB Buana Indonesia
PT Bank Central Asia Tbk
Total Utang Bank
Bagian yang Jatuh Tempo dalam Satu Tahun:
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank Rabobank International Indonesia
PT Bank Pan Indonesia Tbk
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT Bank UOB Buana Indonesia
PT Bank Central Asia Tbk
Bagian Jangka Pendek
Bagian Jangka Panjang
2015
Rp
Payment Due in :
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Total Minimum Payment of Leasing
Deduction : Interest
Total Leasing Liabilities
Current Portion that
will mature in one year
Total Long Term Leasing
Long-Term Bank Loans
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2013
Rp
59,272,382,089
-23,070,983,333
--18,766,666,667
101,110,032,089
16,584,359,047
-25,950,937,126
--21,366,666,667
63,901,962,840
96,178,872,152
953,783,855
1,248,299,290
--52,227,715,506
150,608,670,803
114,163,451,916
4,444,501,426
2,871,344,786
640,988,920
80,104,386
4,100,000,000
126,300,391,434
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank Rabobank International Indonesia
PT Bank Pan Indonesia Tbk
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT Bank UOB Buana Indonesia
PT Bank Central Asia Tbk
Total Bank Loan
26,274,990,587
-5,659,400,000
--5,200,000,000
37,134,390,587
63,975,641,502
2,679,214,659
-5,659,400,000
--5,200,000,000
13,538,614,659
50,363,348,180
20,484,928,421
52,009,278
1,198,045,497
--6,224,119,172
27,959,102,368
122,649,568,435
9,789,129,518
1,424,652,325
1,623,045,497
640,988,920
80,104,386
1,200,000,000
14,757,920,645
111,542,470,788
Current Portion that Mature in a Year:
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank Rabobank International Indonesia
PT Bank Pan Indonesia Tbk
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT Bank UOB Buana Indonesia
PT Bank Central Asia Tbk
Current Portion
Long Term Portion
a. PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank
Danamon)
The Company obtained several long-term investment
credit facility from Bank Danamon with the following
details:
a. PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank
Danamon)
Perusahaan memperoleh beberapa fasilitas kredit
investasi jangka panjang dari Bank Danamon
dengan rincian sebagai berikut:
Saldo Pinjaman/ Loan Total
Plafond
Rp
30 Juni/
June 30,
2016
Rp
2015
Rp
31 Desember/December 31,
2014
Rp
2013
Rp
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) - 1
46,000,000,000
--
--
--
--
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) - 2
50,000,000,000
--
--
--
Installment Loans -2
Kredit Modal Kerja
20,000,000,000
23,992,000,000
20,000,000,000
--
--
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -13
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -14
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -15
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -16
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -17
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -18
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -19
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -20
Kredit Angsuran Berjangka (KAB) -21
50,000,000,000
6,500,000,000
4,500,000,000
6,000,000,000
30,000,000,000
50,000,000,000
22,000,000,000
17,000,000,000
12,000,000,000
--------16,584,359,047
-16,584,359,047
19,509,130,411
2,014,918,254
1,940,238,647
1,331,931,890
25,343,887,377
46,038,765,573
---96,178,872,152
26,178,199,518
2,711,102,971
2,619,917,473
2,654,231,954
30,000,000,000
50,000,000,000
---114,163,451,916
Working Capital Loan
Installment Loan - 13
Installment Loan - 14
Installment Loan - 15
Installment Loan - 16
Installment Loan - 17
Installment Loan - 18
Installment Loan - 19
Installment Loan - 20
Installment Loan - 21
-------15,280,382,089
-59,272,382,089
Kredit Angsuran Berjangka (KAB)
Sesuai dengan Perjanjian Perubahan Terhadap
Perjanjian Kredit No. 1 tanggal 17 Nopember 2005
dari Sri Naning, SH, notaris di Jakarta, Perusahaan
memperoleh fasilitas KAB-9 dan KAB-10 dengan
jangka waktu 60 (enam puluh) bulan sejak tanggal
penarikan.
DRAFT
285
Installment Loans -1
Term Installment Loans (KAB)
Based on adendum of the Loan Agreement No. 1
dated November 17, 2005 made before Sri Naning,
SH, notary in Jakarta, the Company obtained KAB-9
and KAB-10 for a period of sixty (60) months from
the date of withdrawal.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
Berdasarkan Perjanjian Perubahan Terhadap
Perjanjian Kredit No. 27 tanggal 15 Desember 2006
oleh Asminah, SH, M.Kn., notaris di Jakarta, Bank
Danamon menambah fasilitas kredit berupa KAB-11
dan KAB-12 dengan batas maksimum pinjaman
masing-masing sebesar Rp3.500.000.000 dan
Rp 1.200.000.000 untuk jangka waktu lima tahun
sejak tanggal pencairan
Based on addendum on Loan Agreement No. 27
dated December 15, 2006 by Asminah, SH, M.Kn.,
notary in Jakarta, the Bank adds credit facility in the
form of KAB-11 and KAB-12 with a maximum facility
of each loan amounting to Rp3,500,000,000 and Rp
1,200,000,000 for period of five years from the date
of disbursement.
Sesuai dengan Akta Perjanjian Perubahan
Terhadap Perjanjian Kredit No. 16 tanggal 19 April
2007 dari Alfi Sutan, SH, notaris di Jakarta,
Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas Kredit
Angsuran Berjangka (KAB)-13 untuk tujuan
investasi pembangunan Prodia Tower. Batas
maksimum penarikan pinjaman adalah sebesar
Rp50.000.000.000. Fasilitas KAB-13 yang sudah
dicairkan diangsur selama 102 (seratus dua) bulan
terhitung sejak berakhirnya grace period, yaitu
18 (delapan belas) bulan sejak tanggal penarikan.
Suku bunga tahunan adalah 11% dan dapat
berubah sesuai dengan perkembangan suku bunga
pasar.
In accordance with the Deed of addendum of Loan
Agreement No. 16 dated 19 April 2007 by Alfi Sutan,
SH, notary in Jakarta, the Company obtained
additional credit facility Installment Deposit (KAB) -13
for investment purposes of Prodia Tower
development. The maximum facility drawdown
amounted to Rp50,000,000,000. Facility of KAB-13
obtained installed over 102 (one hundred and two)
months from the end of the grace period, which is 18
(eighteen) months from the date of withdrawal. The
annual interest rate is 11% and can be changed in
accordance with the development of market interest
rates.
Berdasarkan Perjanjian Perubahan Terhadap
Perjanjian Kredit No. 3 tanggal 6 Mei 2009 yang
dibuat dihadapan Alfi Sutan, SH, notaris di Jakarta,
Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas Kredit
Angsuran Berjangka (KAB)-14 dari Bank Danamon
untuk tujuan investasi pembangunan Prodia Tower
tahap akhir dan kelengkapannya. Batas maksimum
penarikan
pinjaman
adalah
sebesar
Rp 6.500.000.000. Suku bunga tahunan adalah 11%
dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan
suku bunga pasar .
Based on the addendum of Loan Agreement No. 3
dated May 6, 2009 made before Alfi Sutan, SH,
notary in Jakarta, the Company obtained additional
credit facility Installment Deposit (KAB) -14 from
Bank Danamon for investment purposes of final
stages the construction and completeness of Tower
Prodia. The maximum drawdown amounted to Rp
6,500,000,000. The annual interest rate is 11% and
can be changed in accordance with the development
of market interest rates.
Sesuai dengan Akta Perjanjian Perubahan
Terhadap Perjanjian Kredit No. 12 tanggal
23 September 2010 dari Alfi Sutan, SH, notaris di
Jakarta, Perusahaan memperoleh tambahan
fasilitas Kredit Angsuran Berjangka (KAB)-15 untuk
tujuan investasi pembangunan gedung Prodia
Manado. Batas maksimum penarikan pinjaman
adalah sebesar Rp4.500.000.000. Fasilitas KAB-15
yang sudah dicairkan diangsur selama 72 (tujuh
puluh dua) bulan. Suku bunga tahunan adalah 11%
dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan
suku bunga pasar.
In accordance with the Deed of addendum of Loan
Agreement No. 12 dated 23 September 2010 by Alfi
Sutan, SH, notary in Jakarta, the Company obtained
additional credit facility Installment Deposit (KAB) -15
for investment purposes of Prodia Manado building.
The
maximum
drawdown
amounted
to
Rp4,500,000,000. Facilities of KAB-15 that has been
disbursed will installed for 72 (seventy-two) months.
The annual interest rate is 11% and can be changed
in accordance with the development of market
interest rates.
Sesuai dengan Akta Perjanjian Perubahan
Terhadap Perjanjian Kredit No. 12 tanggal 23
September 2010 dari Alfi Sutan, SH, notaris di
Jakarta, Perusahaan memperoleh tambahan
fasilitas Kredit Angsuran Berjangka (KAB)-16 untuk
tujuan pembiayan pengembangan tempat usaha di
Jakarta, Mataram dan Palangkaraya serta Investasi
Teknologi Informasi,
peralatan
kantor
dan
In accordance with the Deed of Amendment to Loan
Agreement No. 12 dated 23 September 2010 by Alfi
Sutan, SH, notary in Jakarta, the Company obtained
additional loan facility Term Installment Loans (KAB)
-16 for the purpose of financing the development of
businesses in Jakarta, Mataram and Palangkaraya
and investment in Information Technology, office
supplies and equipments. The maximum drawdown
DRAFT
286
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun yang Berakhir Pada
31 Desember 2015, 2014 dan 2013
(Dalam Rupiah Penuh)
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
NOTES TO FINANCIAL STATEMENT (Continued)
For The Six-Month Periods Ended
June 30, 2016 and 2015 (Unaudited), and
For The Years Ended
December 31, 2015, 2014 and 2013
(In Full Rupiah)
perlengkapannya. Batas maksimum penarikan
pinjaman
adalah
sebesar
Rp6.000.000.000.
Fasilitas KAB-16 yang sudah dicairkan diangsur
selama 72 (tujuhpuluh dua) bulan. Suku bunga
tahunan adalah 11% dan dapat berubah sesuai
dengan perkembangan suku bunga pasar.
amounted to Rp6,000,000,000. Facility of KAB-16
that has been disbursed, will installed for 72
(seventy-two) months. The annual interest rate is
11% and can be changed in accordance with the
development of market interest rates.
Sesuai dengan Akta Perjanjian Perubahan
Terhadap Perjanjian Kredit No.
34 tanggal
20 Desember 2013 dari Alfi Sutan, SH, notaris di
Jakarta, Perusahaan memperoleh tambahan
fasilitas Kredit Angsuran Berjangka KAB-17 dan
KAB-18 untuk tujuan refinancing investasi aset.
Batas maksimum penarikan pinjaman adalah
sebesar
Rp30.000.000.000
dan
Rp50.000.000.000. Fasilitas KAB-17 dan KAB-18
yang sudah dicairkan diangsur masing-masing
selama 60 ( enam puluh ) bulan dan 96 (sembilan
puluh enam) bulan. Suku bunga tahunan adalah
11,25% dan dapat berubah sesuai dengan
perkembangan suku bunga pasar.
In accordance with the Deed of Amendment to Loan
Agreement No. 34 dated December 20, 2013 by Alfi
Sutan, SH, notary in Jakarta, the Company obtained
additional facility Term Installment Loans KAB-17
and KAB-18 for the purpose of refinancing the assets
investment. The maximum drawdown amounted to
Rp30,000,000,000 and Rp50,000,000,000. Facilities
of KAB-17 and KAB-18 that has been disbursed will
installed each for 60 (sixty) months and 96 (ninety
six) months. The annual interest rate is 11.25% and
can be changed in accordance with the development
of market interest rates.
Sesuai dengan Akta Perjanjian Perubahan
Terhadap Perjanjian Kredit No. 11 tanggal 2 April
2015 dari Anna Arsianti Christanti, SH, notaris di
Semarang, Perusahaan memperoleh tambahan
fasilitas Kredit Angsuran Berjangka KAB-19. Batas
maksimum penarikan pinjaman adalah sebesar
Rp51.000.000.000.
In accordance with the Deed of amendment to Loan
Agreement No. 11 dated 2 April 2015 made before
Anna Arsianti Christanti, SH, notary in Semarang,
the Company obtained additional facility Term
Installment Loans KAB-19. The maximum drawdown
amounted to Rp51,000,000,000.
Berdasarkan Perubahan Perjanjian Kredit No. 5
tanggal 6 Oktober 2015, fasilitas KAB-19 dialihkan
menjadi :
- KAB-20 dengan plafon Rp17.000.000.000 untuk
tujuan pembelian dan pembangunan gedung di
Solo. Jangka waktu 60 (enam puluh) bulan
sampai dengan 7 Oktober 2020.
- KAB-21 dengan plafon Rp12.000.000.000 untuk
tujuan pembangunan gedung kantor Sunter
Jakarta Utara. Jangka waktu 60 (enam puluh)
bulan sampai dengan 7 Oktober 2020.
Based Amendment to Loan Agreement No. 5 dated
October 6, 2015, the facility KAB-19 changed into:
Fasilitas pinjaman ini dijamin dengan sejumlah
tanah dan bangunan milik Perusahaan sebagai
berikut (Catatan 9):
1) Tanah
dan
bangunan
dengan
SHGB
No. 00096/Timuran, Surakarta atas nama
2
PT Prodia Widyahusada dengan luas 620 m ;
2) Tanah
dan
bangunan
dengan
SHGB
No. 97/Timuran, Surakarta atas nama PT Prodia
2
Widyahusada dengan luas 264 m ;
3) Tanah
dan
bangunan
dengan
SHGB
No. 98/Timuran, Surakarta atas nama PT Prodia
2
Widyahusada dengan luas 191 m ;
4) Tanah
dan
bangunan
dengan
SHGB
No. 100/Timuran, Surakarta atas nama
2
PT Prodia Widyahusada dengan luas 145 m ;
The loan facility is secured by a number of land
and buildings owned by the Company as follows
(Note 9):
1) Land and buildings with SHGB No. 00 096
/Timuran, Surakarta on behalf of PT Prodia
Widyahusada with an area of 620 sqm;
2) Land and buildings with SHGB No. 97 /
Timuran, Surakarta on behalf of PT Prodia
Widyahusada with an area of 264 sqm;
3) Land and buildings with SHGB No. 98 /
Timuran, Surakarta on behalf of PT Prodia
Widyahusada with an area of 191 sqm;
4) Land and buildings with SHGB No. 100 /
Timuran, Surakarta on behalf of PT Prodia
Widyahusada with an area of 145 sqm;
DRAFT
287
-
-
KAB-20 with a ceiling Rp17,000,000,000 for the
purpose of purchase and build a building in
Solo. Term of facility of 60 (sixty) months up to
October 7, 2020.
KAB-21 with a ceiling Rp12,000,000,000 for the
purpose of construction of the office building
Sunter, North Jakarta. A period of 60 (sixty)
months up to October 7, 2020.
PT PRODIA WIDYAHUSADA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (Lanjutan)
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir Pada
30 Juni 2016 dan 2015 (Tidak Diaudit), dan
Untuk Tahun-tahun 
Download