Kerajaan Islam - SMAN 78 Jakarta

advertisement
Menganalisis perjalanan bangsa Indonesia pada masa
negara-negara tradisional (SK)
Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh
 Asal kata Aceh dan sebutan lainnya, Aceh (bahasa Belanda:
Atchin atau Acheh, bahasa Inggris: Achin, bahasa Perancis:
Achen atau Acheh, bahasa Arab: Asyi, bahasa Portugis: Achen
atau Achem, bahasa Tionghoa: A-tsi atau Ache.
 Provinsi Nanggröe Aceh Darussalam memiliki akar budaya
bahasa dari keluarga bahasa Monk Khmer, proto bahasa Melayu,
seperti bagian selatan menggunakan bahasa Aneuk Jame
sedangkan bagian Tengah, Tenggara, dan Timur menggunakan
bahasa Gayo untuk bagian tenggara menggunakan bahasa Alas
seterusnya bagian timur lebih ke timur lagi menggunakan
bahasa Tamiang demikian dengan kelompok etnis Klut yang
berada bagian selatan menggunakan bahasa Klut sedangkan di
Simeulue menggunakan bahasa Simeulue.
Sumber berita kerajaan Aceh
buku kronik kerajaan Liang dan kerajaan Sui di
Tiongkok pernah disebutkan sekitar tahun 506
sampai 581 Masehi terdapat kerajaan Poli yang
wilayah kekuasaannya meliputi Aceh Besar .
2. Dalam Nāgarakṛtāgama di sebut sebagai Kerajaan
Lamuri.
3. Sumber sejarah Arab disebut dengan Lamkrek, Lam
Urik, Rami, Ramni.
4. Marco Polo (1292) asal Venesia dalam buku
perjalanan pulang dari Tiongkok menuju ke Persia
(Iran).
1.
Samudra Pasai
 Kerajaan Islam Samudera-Pasai yang berada di wilayah
Aceh yang didirikan oleh Meurah Silu (Meurah berarti
Maharaja dalam bahasa Aceh) yang segera berganti
nama setelah masuk Islam dengan nama Malik alSaleh yang meninggal pada tahun 1297. Dimana
penggantinya tidak jelas, namun pada tahun 1345
Samudera-Pasai diperintah oleh Malik Al Zahir, cucu
Malik al-Saleh.
 Politik Samudera Pasai bertentangan dengan
Politik Gajah Mada.
Kesultanan Aceh
 Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba
pada masa kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar
Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh
mencapai pesisir barat Minangkabau, Sumatera
Timur, hingga Perak di semenanjung Malaysia.
 Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan
seorang putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini
dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena
terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan
memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah
Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cintanya.
Kesultanan Aceh
 Konfrontasi Aceh dengan Portugis.
 Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, kembali Aceh
bangkit dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah
(1514-1528). Yang diteruskan oleh Sultan Salahuddin
(1528-1537). Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (15371568). Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573). Sultan Seri
Alam (1576. Sultan Muda (1604-1607). Sultan Iskandar
Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636).
Semua serangan yang dilancarkan pihak Portugis
dapat ditangkisnya.
Kesultanan Aceh
 Hubungan Aceh dengan Barat
1. Pada abad ke-16, Ratu Inggris, Elizabeth I, mengirimkan
utusannya bernama Sir James Lancester .
2. Pangeran Maurits – pendiri dinasti Oranje– juga pernah
mengirim surat dengan maksud meminta bantuan
Kesultanan Aceh Darussalam.
3. Pada masa Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengirim
utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang
berkedudukan di Istanbul.
4. Kerajaan Aceh juga menerima kunjungan utusan
Kerajaan Perancis. Utusan Raja Perancis tersebut
menghadiahkan sebuah cermin yang sangat berharga
bagi Sultan Aceh.
Kemunduran Kesultanan Aceh
 Kerajaan Aceh sepeninggal Sultan Iskandar Thani
mengalami kemunduran yang terus menerus. Hal ini
disebabkan kerana naiknya empat Sultanah berturutturut sehingga membangkitkan amarah kaum Ulama
Wujudiyah.
 Perlawanan kaum ulama Wujudiyah berlanjut hingga
datang fatwa dari Mufti Besar Mekkah yang
menyatakan keberatannya akan seorang wanita yang
menjadi Sultanah. Akhirnya berakhirlah masa
kejayaan wanita di Aceh.
Kesultanan Demak
 Cikal Bakal
Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut,
secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai
memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi
menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang,
saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit.
Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua
adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging.
Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari
Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan
dari Syekh Siti Jenar.
Kesultanan Demak
 Masa Pati Unus
Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan
nusantara. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai
kesultanan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya,
Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di
Malaka.
 Masa Sultan Trenggana
berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Di bawah Sultan Trenggana, Demak mulai menguasai daerahdaerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran
serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana
(1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan
(1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir
di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546).
Kemunduran
 Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak berlangsung
mulus. Ia ditentang oleh adik Sultan Trenggono, yaitu
Pangeran Sekar Seda Lepen. Pangeran Sekar Seda Lepen
akhirnya terbunuh. Pada tahun 1561 Sunan Prawoto beserta
keluarganya "dihabisi" oleh suruhan Arya Penangsang,
putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Arya Penangsang
kemudian menjadi penguasa tahta Demak. Suruhan Arya
Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri adipati
Jepara, dan hal ini menyebabkan banyak adipati memusuhi
Arya Penangsang.
 Arya Penangsang akhirnya berhasil dibunuh dalam
peperangan oleh Sutawijaya, anak angkat Joko Tingkir. Joko
Tingkir memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, dan
di sana ia mendirikan Kesultanan Pajang.
Kesultanan Mataram Islam
 Kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya,
keturunan dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapat
hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya.
 Sutawijaya naik tahta setelah ia merebut wilayah
Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar
Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayahnya hanya
di sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah
Kerajaan Pajang. Pusat pemerintahan berada di
Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota
Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto
sekarang.
Kesultanan Mataram Islam
Kesultanan Mataram Islam
 Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede)
kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yang setelah
naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati
 Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung
lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang
berburu di hutan Krapyak. Karena itu ia juga disebut
Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak
yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak. Setelah itu
tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang
yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati
Martoputro menderita penyakit syaraf sehingga tahta
beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas
Rangsang.
Kesultanan Mataram Islam
 Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung
Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan
Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk
mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup
Pulau Jawa dan Madura. Ia memindahkan lokasi kraton ke
Kerta . Akibat terjadi gesekan dalam penguasaan
perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat
di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan
Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam
beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC.
Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh
putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).
Terpecahnya Mataram
 Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena
banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada
masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin
oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu
dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika
mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum.
Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral),
sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana
banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus
terjadi.
Terpecahnya Mataram
 Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III
(1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (17191726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai
Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC
mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya
Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan
internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi "king in
exile" hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon.
 Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa
Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi
dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta
tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam
Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan,
di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah).
The End……….
Download