Sejarah dan Politik - USU Institutional Repository

advertisement
SEJARAH DAN POLITIK HUKUM
HAK CIPTA
OLEH :
Dr. H. OK. Saidin, SH, M.Hum
Dengan Kata Pengantar :
Prof. Hikmahanto Juwana, SH, LL.M, Ph.D
PENERBIT : PT. RAJAGRAFINDO PERSADA
JAKARTA
2016
19
20
Buku ini didedikasikan untuk Bangsa,
Negara dan Tanah air Indonesia.
Jangan pernah berhenti mencintai negara
dan bangsa ini, akan tetapi jangan juga
pernah berhenti memikirkan dan berbuat
untuk kebaikan negeri dan bangsa ini, agar
tetap utuh ditengah kebhinnekaan, tegak
berdiri kokoh, bermarwah dan berdaulat
sejajar dengan keberadaan bangsa-bangsa
lain.
(OK. Saidin, Maret 2016).
21
KATA PENGANTAR
PROF. HIKAMAHANTO JUWANA, SH, LLM, PHd.
Puji dan syukur kami panjatkan Kehadirat Allah SWT, Tuhan
Yang Maha Esa atas berkat Rahmat, Karunia dan nikmat kesehatan
serta limpahan berbagai kenikmatan lainnya hingga kita dapat
melakukan aktivitas sehari-hari sebagai wujud pengabdian kita
kepadaNya. Selawat beriring salam ke haribaan junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW atas
risalah kerasulan yang telah
disampaikannya kepada kita ummatnya, semoga di yaumil akhir kelak
kita semua mendapat safa’at darinya , Aamin.
Buku yang terhidang di hadapan pembaca ini adalah semula
disertasi yang ditulis oleh Saudara OK.Sadin yang dipertahankan di
depan sidang terbuka senat Guru Besar Universitas Sumatera Utara
pada tanggal 17 Desember 2013 dan meraih predikat lulus “dengan
pujian”. Selaku Promotor tentu saja saya sangat bangga atas capaian
Saudara OK.Saidin menulis sebuah karya ilmiah dalam bidang “Ilmu
hukum” dengan pendekatan sejarah dan politik hukum.
Meneliti atau mempelajari hukum dari perspektif sejarah dan
politik adalah sebuah paradigma yang sangat langka dalam studi ilmu
hukum. Sedikit sekali para ilmuwan dalam bidang hukum yang
memiliki keberanian untuk masuk ke ranah itu. Ranah ilmiah dalam
kajian hukum yang menggunakan atau memanfaatkan teori, konsep dan
metode ilmu-ilmu sosial. Namun demikian dengan memiliki talenta
menulis yang sangat baik, saudara OK.Saidin akhirnya dapat
menyelesaikan disertasinya tepat waktu dan berhasil pula
dipertahankan dengan predikat yang sangat membanggakan.
Ketika memimpin ujian promosi doctor saudara OK.Saidin,
dalam sambutan saya, saya mengatakan Universitas Sumatera Utara
cukup berani menentukan syarat bahwa seorang baru boleh mengikuti
ujian promosi doctor jika telah memiliki tulisan ilmiah yang dimuat
dalam jurnal Internasional. Saat itu saudara OK. Saidin telah
menyanggupi itu di mana tulisan beliau telah ”accepted” pada sebuah
International Journal, walaupun kemudian harus menunggu beberapa
waktu tulisan itu baru dapat dipublikasikan. Namun itu membuktikan
kemampuan talenta menulis saudara OK.Saidin tidak diragukan lagi.
Pada bulan Juli tahun 2015, akhirnya tulisan beliau dengan
judul “Transplantation of Foreign Law into Indonesian Copyright
Law : The Victory of Capitalism Ideology on Pancasila Ideology”
dipublikasikan dalam Journal of Intellectual Property Rights, terbitan
National Intitute of Science Communication And Information
22
Resources, CSIR, New Delhi, India pada edisi July 2015. Sebuah
Journal yang masuk dalam indeks International Journal (SCOPUS)
dan tentu saja itu sebuah prestasi akademik yang patut diapresiasi.
Talenta saudara OK.Saidin dalam menulis memang telah
terlatih sejak beliau jadi mahasiswa, banyak tulisan beliau yang
dipublikasi di media lokal dan nasional. Di antara tulisan beliau yang
telah diterbitkan sejak tahun 1995 adalah buku teks (Text Books)
denghan judul “Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual
Property Rights) yang diterbitkan oleh PT. RajaGrafindo Persada,
Jakarta sebuah penerbit buku-buku Perguruan Tinggi yang juga
memiliki reputasi nasional dan Internasional. Buku itu sekarang ini
telah mengalami cetak ulang sebanyak 9 (sembilan) kali dan menjadi
buku bacaan wajib bagi mahasiswa yang ingin mendalami bidang
hukum Hak Kekayaan Intelektual.
Oleh karena itu tidaklah terlalu berlebihan jika saya
sampaikan dalam “Kata Pengantar” ini buku yang terhidang di hadapan
pembaca ini adalah sebuah karya OK.Saidin yang meskipun semula
adalah sebuah disertasi tapi dengan kemampuan talenta menulisnya
telah berubah menjadi sumber informasi ilmiah yang lebih mudah
dicerna dan difahami. Perbedaannya dengan disertasi sebelum menjadi
buku seperti ini adalah, dalam buku ini undang-undang hak cipta yang
menjadi obyek kajiannya telah menampilkan UU Hak Cipta No. 28
Tahun 2014 yang ketika disertasi itu ditulis UU yang disebut terakhir
ini belum disyahkan.
Dengan menggunakan bahasa yang lugas serta menggunakan
sumber ilmiah yang akurat buku ini menjadi penting untuk dibaca oleh
siapapun yang berminat dalam bidang kajian Sejarah dan Politik
Hukum. Sekalipun OK.Saidin menjadikan “UU Hak Cipta” sebagai
obyek kajiannya, tetapi ia hanya menempatkan undang-undang itu
sebagai instrumen penelitian sebagai salah satu bidang hukum yang
menjadi obyek pengamatannya, yang sesungguhnya terjadi juga dalam
bidang-bidang hukum yang lain dalam pilihan politik (hukum) legislasi
nasional. Lebih dari itu sebenarnya saudara OK.Saidin ingin mengajak
kita semua melalui studi sejarah dan politik hukum untuk melihat ke
masa lampau guna merumuskan pilihan-pilihan politik hukum ke
depan, agar hukum Indonesia kelak di kemudian hari benar-benar
sesuai dengan cita-cita kemerdekaan, sesuai dengan landasan ideologi
Pancasila, sesuai landasan juridis UUD Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, mengakui Kebhinnekaan dan berada dalam konteks
negara Kesatuan Republik Indonesia. Hukum yang ditawarkan oleh
OK.Saidin dalam tulisannya ini adalah, hukum yang berada dalam
23
ruang waktu (sejarah) dan ruang sosial (politik) yang bersumber dari
the original paradigmatic values of Indonesian culture and society.
Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada saudara OK.Saidin.
Selamat membaca!
Jakarta, 5 Januari 2016
Prof. Hikmahanto Juwana, LLM, PhD.
24
UCAPAN TERIMA KASIH
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin,
semua pujian hanya untukMu ya Allah, Tuhan yang maha Pengasih lagi
maha Penyayang. Penguasa dan Pencipta alam semesta beserta semua
isinya, pemilik Ilmu Pengetahuan yang tidak pernah tidur, mengetahui
yang nyata dan yang tersembunyi di hati manusia.
Salawat serta Salam kepada Muhammad Rasulallah Salallahu
‘Alaihi Wassallam, Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa ala ‘alihi
wasallam. Penyampai risalah, pembawa pesan Allah untuk manusia
selaku khalifatul fil’ard yang diberi tugas untuk memakmurkan bumi
dan langit dengan segala isinya. Pembawa pesan keadilan (‘adl) dan
pesan keilmuan (‘ilm), dua kata yang terbanyak disebut dalam AlQur’an setelah kata “Allah”
Buku yang terhidang di hadapan pembaca dengan judul
“Hukum Dalam Ruang Sosial Tinjauan Terhadap Undang-undang Hak
Cipta Indonesia” ini adalah semula merupakan disertasi penulis yang
dipertahankan di hadapan sidang senat terbuka Universitas Sumatera
Utara pada tanggal 13 Desember 2013 di bawah wibawa Rektor
Universitas Sumatera Utara, Promotor dan Kopromotor serta penguji
yang naskahnya terhidang di hadapan Tuan dan Puan adalah tidak lebih
dari segelintir ilmu pengetahuan yang teramat sedikit, ibarat stetes air
di tengah samudera luas atau sebutir pasir di tengah gurun sahara jika
dibandingkan dengan pengetahuan Allah SWT. Karena itu kepadaNya
jualah kami berserah diri dan memohon ampun atas “kedhoifan” kami
selaku manusia untuk menawarkan sebuah pengetahuan yang mungkin
masih jauh dari kebenaran Ilahiyah.
Tidaklah mudah bagi kami untuk menulis sebuah disertasi
hukum, di tengah situasi negara yang penuh dengan ketidak pastian.
Hiruk pikuk politik, kesemerawutan penegakan hukum, ketimpangan
pendistribusian ekonomi negara, pelayanan birokrasi yang masih
terkesan lamban, legislatif yang dibayar mahal tapi sedikit hasilnya
yang berguna bagi negara, aparat penegak hukum yang mendagangkan
hukum, dan di mana-mana instansi syarat dengan praktek transaksional
untuk tiap-tiap urusan pelayanan umum, sistem otonomi daerah yang
hanya memindahkan korupsi yang selama ini tersentralisasi di Jakarta
kini beralih ke daerah, reformasi yang hanya menggantikan rezim
koruptor lama dengan rezim koruptor baru dan bertumpuk-tumpuk
masalah sosial, politik dan hukum yang belum terselesaikan.
25
Untuk memilih judul disertasi saja menimbulkan pergulatan
pemikiran internal antara apa yang kami pikirkan dengan apa
sesunguhnya yang sedang kami rasakan. Akan tetapi selaku akademisi
untuk sebuah tanggung jawab intelektual tidaklah patut untuk tidak
memberikan sumbangsih ilmiah bagi upaya memecahkan persoalan
yang sedang mengitari bangsa ini.
Beruntung ketika tahun1986 pada saat kami duduk pada
smester akhir pada perkuliahan di almamater ini, persoalan hak cipta
menjadi topik pembahasan yang hangat. Diawali dari kasus
pembajakan lagu-lagu Bob Geldof, oleh berbagai produser rekaman
illegal di negeri ini mengilhami kami untuk menulis skripsi dengan
memilih topik bahasan tentang hak cipta. Naskah skripsi pun setelah
selesai diuji selang beberapa lama kemudian dicetak oleh penerbit
Rajawali di Jakarta dan kemudian menjadi bacaan wajib dalam
kurikulum pendidikan hukum untuk mata kuliah Hak Kekayaan
Intelektual yang kala itu masih langka diajarkan di bebarapa universitas
di Indonesia, bahkan di Fakultas Hukum USU pada waktu itu mata
kuliah itu belum ada dalam kurikulum pendidikan.
Buku ini membawah berkah luar biasa dalam kehidupan kami,
karena buku itu menjadi referensi yang sangat langka dan selama 4
tahun pertama terus menerus dicetak ulang, dan honorarium inilah yang
mengantarkan saya dan isteri menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah.
Tidak itu saja, buku ini juga telah mengatarkan kami menjadi
pembicara di berbagai pertemuan ilmiah, puncaknya kami mendapat
kesempatan mengikuti pendidikan di Tokyo atas kerjasama Japan
Patent Office dengan Japan Institute of Invention and Innovation (JIII)
pada bulan Pebruari Pebruari tahun 2002 dan kesempatan untuk
mengikuti Shot Courses di University Mumbai dan Institut Information
Technology di Mumbai India pada tahun berikutnya.
Tahun 1995 saya berhasil menyelesaikan pendidikan Program
Pasca Sarjana (S2) dan saya bermaksud melanjutkan studi S3, akan
tetapi saya kurang beruntung, saya tak dapat memulai studi S3 pada
tahun itu, dikarenakan berbagai faktor, tapi proposal penelitian untuk
disertasi sudah kami siapkan pada tahun itu.Beberapa tahun kemudian
barulah ada kelonggaran waktu kami untuk dapat kembali mengikuti
program pendidikan S3. Akan tetapi sesuatu yang sangat mengejutkan
proposal penelitian 15 tahun yang lalu itu, belum pernah terjawab oleh
kalangan akademisi yang menggeluti dunia hukum. Padahal selama
kurun waktu itu tidak kurang dari 15 orang menyelesaikan studi S3
dengan memilih topik Hak kekayaan Intelektual.
26
Selama kurun waktu 15 tahun itu, selama itu pula kami
mengamati dari waktu ke waktu perubahan UU Hak Cipta Nasional dan
terus menerus menuliskannya di berbagai media dan journal. Terus
menerus menjadi pemakalah di berbagai seminar lokal dan nasional
untuk topik yang sama. Satu kali kami mendapatkan kesempatan untuk
menjadi pemakalah pada sebuah seminar di University Malaya dengan
tema perbandingan hukum Hak Kekayaan Intelektual Malaysia dan
Indonesia Atas jasa baik Prof.Dr.Djohar Arifin Husein dan
Prof.Dr.Mohd Razali Agus dari University Malaya kami dapat
mendalami tentang seluk beluk hukum Hak Kekayaan Intelektual di
Malaysia, menyusul seminar berikutnya di selenggarakan di University
Kebangsaan Malaysia di bawah panduan Prof Dr. Sakinah. Paling
tidak pengalaman itu menjadi langkah awal untuk menyingkap sebuah
pertanyaan besar, apakah hukum Hak Kekayaan Intelektual yang
berasal dari peradaban Hukum Barat itu “berterima baik” di belahan
bumi Asia dengan peradaban Asia.
Untuk kasus Indonesia pertanyaan yang diajukan tetap sama,
dengan usulan proposal dalam disertasi ini, yakni ; mengapa UU Hak
Cipta Nasional begitu kering dari nuansa ideologi Pancasila dan syarat
dengan muatan ideologi Asing. Sudah sebegitu beratkan beban bangsa
ini, hingga tak mampu lagi dipikul oleh anak bangsa ini, sehingga harus
menggadaikan hal yang paling azasi dalam kehidupan bernegara dan
berbangsa yakni Pancasila. Atau Pancasila ini perlu diberi tafsir ulang
untuk menyahuti tuntutan globalisasi yang sedang menyeruak di
seluruh belahan dunia ini? Itu adalah pertanyaan yang menantang
secara akademis yang memerlukan jawaban tidak hanya dalam tataran
empiris akan tetapi juga dalam tataran filosofis. Tantangan dalam
babakan berikutnya adalah, jika tulisan ini dimulai, apa judul yang
tepat, bagaimana metodologinya, apakah harus mengikuti metode
konvensional atau melakukan terobosan-terobosan baru ? Sebab akar
persoalannnya ada pada kebijakan negara, ada pada pilihan politik
hukum negara, ada hubungannya dengan tekanan politik Internasional,
ada hubungannya dengan ketergantungan hutang luar negeri, ada
hubungannya dengan lembaga keuangan Internasional seperti
International Monetary Fund dan World Bank, ada kaitannya dengan
budaya birokrasi, budaya penegakan hukum dan budaya masyarakat.
Bagaimana semua persoalan ini terjawab secara filosofis dan
mendasar, sehingga dapat dilukiskan secara utuh realitas sosial hukum
yang mengitari keberlakuan hukum itu dalam masyarakat ? Langkah
penulisan disertasi ini tidak hanya cukup dengan sebuah semangat atau
keberanian, tapi juga penulisan disertasi ini diawali dengan sebuah
27
“kegilaan”. Toch sebuah disertasi tidak mesti dibaca oleh semua orang,
hanya kalangan tertentu dan orang-orang yang dapat memaknai filosofi
sebuah tulisan yang dapat kesempatan untuk membacanya. Dengan
alasan itulah disertasi ini mulai ditulis dan butir-butir pemikiran mulai
mengalir merambah ke seluruh penjuru dan lorong-lorong yang terjal
kadang berliku, kadang ada cahaya, kadang penuh kegelapan. Betapa
tidak dengan pendekatan sejarah, dan pisau analisis politik hukum,
perbandingan hukum, sosiologi hukum dan antropologi hukum tak
satupun lagi terlihat adanya gagasan cita-cita hukum nasional yang
diterapkan oleh lembaga pembuat undang-undang ketika melakukan
transplantasi hukum asing dalam pembentukan UU hak Cipta Nasional.
Puncaknya ideologi Pancasila sebagai abstraksi dari the original
paradigmatic values of Indonesian culture, mati di tangan anak bangsa
sendiri.
Paragraf demi paragraf disertasi ini ditulis, diurai dan
dianalisis. Ketika sampai pada paragraf yang berjudul pergeseran nilai
filosofi, pikiran kami melayang ke sosok Guru Besar Fakultas Hukum
USU, Prof.Mahadi, pendiri Fakultas Hukum USU, yang dengan bahasa
yang sederhana menuturkan tentang peranan nilai-nilai filosofis sebagai
azas hukum dalam pembentukan norma hukum. Teringat pula
bagaimana sosok beliau pada tahun 1986 itu membimbing kami dalam
penulisan skripsi yang kelak di kemudian hari mengilhami penulisan
disertasi ini, oleh karena itu beliau adalah sosok yang teramat pantas
untuk kami sampaikan terima kasih, semoga ilmu yang beliau ajarkan
menjadi cahaya penerang beliau di alam barzah, Aamin ya Rabbal
Alamin.
Begitu juga ketika tulisan ini sampai pada paragraf tentang
hukum benda, yang menempatkan hak cipta sebagai benda tidak
berwujud dan sejumlah azas hukum benda yang melekat pada hak
cipta, pikiran kami menerawang ke seorang sosok intelektual hukum
yang dalam lapangan hukum perdata menurut kami belum ada
tandingannya, seorang ibu yang dengan kelembutan dan kesantunannya
telah banyak mewarnai perjalanan intelektual kami, karena itu tak ada
kata yang lebih baik yang dapat menampung semua jasa beliau kecuali
ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya untuk sosok Ibu kami
Prof.Dr.Mariam Darus Badrulzaman,SH.
Ketika, suatu hari saya mendapat pesan telepon dari
Prof.Dr.M.Solly Lubis, SH agar kami datang menghadap beliau.
Kesempatan pertama hadir di ruangan beliau, saya disodorkan proposal
yang saya ajukan 12 tahun yang lalu dan masih tersimpan di arsip
beliau. Beliau mengatakan teruskanlah tulisan ini dan ini akan menjadi
28
sebuah studi dengan pendekatan yang langka. Pada waktu itu juga
beliau menyatakan kesediaannya untuk menjadi Co-Promotor dalam
penulisan disertasi ini. Tidak itu saja beliau mengizinkan kami untuk
menggunakan anlisis politik hukum dengan menggunakan teori sisnas
sebuah teori original milik beliau. Hukum tak mungkin dapat
dikeluarkan dari sistem nasional dan sebagai suatu sistem keberadaan
dan bekerjanya hukum dalam sistem sosial (nasional) akan dipengaruhi
sub sistem sosial lainnya. Karena itu sebuah keharusan dan kepatutan
akademik dengan ketulusan yang dalam kami haturkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada beliau, semoga Allah tetap mengucurkan
Rahmat kesehatan agar beliau dapat terus menerus mengabdikan
ilmunya di Almamater kita tercinta ini.Aamin Ya Rabbal Alamin.
Mungkin karir akademis kami tidak akan sampai pada apa
yang yang kami peroleh hari ini, jika tidak ada sosok seorang yang
terus menerus memaksa kami untuk menggeluti dunia ilmiah, beliau
adalah OK.Chairuddin, SH yang pertama kali meminta saya untuk
tampil di depan kelas mengajarkan teori Struktural Fungsional dari
Robert K.Merton, dan Teori Interaksionis Simbolik dari Emile
Durkheim. Ajarkan kepada mahasiswa bagimana orang pada saat
lampu merah yang semula dia telah berhenti, akan tetapi karena
kenderaan di sebelahnya menerobos lampu merah itu lalu kemudian dia
ikut-ikutan menerobos lampu merah itu. Pelanggaran hukum terjadi
karena secara simbolik prilaku orang-orang akan berinteraksi dengan
orang lain di sekitarnya. Sejak hari itu, saya terus dipercayakan beliau
untuk berdiri di depan kelas dan menggantikan beliau sebagai
pembicara di berbagai forum seminar. Oleh karena itu untuk semua jasa
dan kebaikan beliau kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang
setingginya, semoga ini menjadi amal baik yang tidak pernah terputus.
Ketika menjabat wakil ketua Ikatan Mahasiswa Perdata, Prof.
Syamsul Bahri, SH menjabat Ketua Jurusan Hukum Perdata. Selang
beberapa bulan beliau terpilih menjadi Pembantu Rektor II dan
kamipun baru beberapa bulan menyelesaikan studi S1, namun sudah
menjadi Asisten Dosen (yang istilahnya waktu dosen lokal dalam arti
belum pegawai negeri). Sebuah kenangan yang tak terlupakan ketika
Prof. Syamsul Bahri,SH atas permintaan Prof.Mahadi saya diusulkan
beliau untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri (staf pengajar). Tanpa
uluran tangan dan kemurahan hati beliau, mungkin kami tak sampai
pada forum yang sangat berbahagia pada hari ini. Oleh karena kami
persembahkan ucapan terima kasih kami yang setinggi-tinginya atas
semua jasa dan kebaikan hati beliau. Semoga Allah tetap melimpahkan
29
nikmat kesehatan dan umur yang panjang kepada beliau, Aamin ya
Rabbal Alamin.
Sebuah cambuk sering bermakna kekerasan, tapi cambuk kali
ini justeru penuh kelembutan. Betapa tidak sosok seorang Pak Cik yang
kami selalu panggil “Om Dob” di keluarga kami, selalu saja
menanyakan, “kapan lagi awak selesaikan sekolah tu?” Inilah cambuk
kelembutan dari sosok Om kami Prof.Chainur Arrasjid, SH. Pertanyaan
itu sekali waktu membakar semangat kami, tapi di waktu yang lain
membuat hati kami kecut, kalau-kalau nanti berjumpa dalam pertemuan
keluarga atau bertemu dalam urusan Kampus Universitas Amir
Hamzah di mana beliau sebagai ketua pembina dan saya sebagai Sekjen
yayasan. Tapi apapun itu setelah hari ini pertanyaan om yang sama
takkan pernah muncul lagi, Terimalah ucapan terima kasih ananda atas
segala cemeti namun penuh dukungan hingga ananda dapat
menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi di almamater ini.
Tiap kali bertemu selalu dengan senyum tulus, urusan dengan
saya tidak terlalu besar kecuali mengantarkan beliau menjadi
penumpang istemewa pada saat-saat tak terduga dan berkebetulan dari
Fakultas Hukum ke rumah beliau yang atap rumahnya terlihat jelas dari
Fakultas Hukum. Tapi hati saya selalu berbunga-bunga kalau
berdiskusi dengan beliau. Donald Black adalah tokoh sosiologi hukum
yang selalu beliau kutip dalam kuliah. Tapi bukan itu yang membuat
hati saya berbunga, dia selalu memanggil saya dengan sebutan “richt
man” alias Orang Kaya. Sosok beliau yang familier dan ketika disertasi
ini sampai pada paragraf yang harus mengutip Donald Black, pikiran
saya kembali menerawang kepada sosok Prof.Moh.Abduh yang dalam
banyak hal mengilhami pendekatan sosiologis dalam tulisan ini. Tentu
hanya ucapan Terima Kasih yang dapat kami persembahkan untuk
beliau, semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan kepada
Professor sekeluarga. Aaamin ya rabbal Alamin.
Tentu pada tiap-tiap pertemuan menghadirkan banyak kesan
yang beragam. Tapi kesan pada sosok Guru Besar yang Charming ini
tak bisa kami lupakan. Senyum ketulusannya mewarnai kejujuran
intellektual siapapun yang akan berdiskusi dengan beliau. Prof Sanwani
Nasution adalah sosok yang tak mudah untuk kami lupakan. Beliaulah
Dekan penanda tangan ijazah S1 kami dan beliau yang dalam berbagai
kesempatan bersama-sama dengan Alm. Kkd Prof.Hasnil Basri Siregar
yang memberikan support atas berbagai kegiatan akademik yang
melibatkan mahasiswa dan pilihan jatuh pada kami dan pada zamannya
kami dikukuhkan sebagai Mahasiswa Teladan. Terima Kasih Professor,
30
semoga semua ini menjadi catatan amal baik yang akan menjadi
kenangan sepanjang masa.
Pada suatu ketika saya dan kakanda M. Husni, SH,M.Hum.
mendapat kesempatan mengikuti shot courses di PAU-UGM. Di sana
banyak hal yang baru yang kami temui. Bersentuhan pemikiran mulai
dari Ekonom, Prof.Mubyarto, Sosiolog Prof.Nasikun, Sejarawan,
Prof.Sartono Kartodirjo, Prof. Ichlasul Amal, Prof. Masri Singarimbun,
Prof.Kuntowijoyo sampai pada William Liddle. Tiga bulan melakukan
penelitian bersama di desa-desa di wilayah Yogyakarta, membuat kami
semakin faham bahwa hukum tak dapat didekati dari satu perspektif
keilmuan saja, tapi perlu pendekatan multi paradigma. Pemahaman
semacam itu semakin menggelora di jiwa kami, manakala kami
mengikuti berbagai pelatihan yang menggunakan penedekatan ilmu
sosial dalam kajian hukum, selama kurun waktu Tahun 1990-2000.
Berulang kali kami merajut pemikiran dari para tutor, antara lain Ibu
Prof. T.O. Ihromi, Prof.Satjipto Rahardjo dan Prof Soetandyo
Wignjosoebroto. Sebagai resultant dari semua studi-studi yang kami
ikuti itu, terjelma dalam disertasi ini, karena itu disertasi ini melampaui
dari tradisi penelitian ilmu hukum yang dianut secara ketat selama ini
di berbagai Fakultas Hukum di Indonesia. Oleh karena itu kesempatan
ini, kami gunakan untuk mengucapkan terima kasih kepada semua
“Guru Besar” yang berjasa dalam mengukir alur pikir kami terhadap
studi hukum.
Tentu, keberuntungan semacam itu tak dapat diperoleh oleh
setiap insan, saya hanyalah satu dari sekian banyak staf pengajar yang
dapat keberuntungan itu, manakala Promotor dan Co Promotor telah
memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada kami untuk
menggunakan pendekatan yang keluar dari tradisi kajian ilmu hukum
selama ini. Pisau analiis, politik hukum, sejarah hukum, sosiologi
hukum dan perbandingan hukum yang secara serentak diterapkan
dalam penelitian ini dan itu tidak akan dapat diterapkan tanpa
bimbingan dan arahan dari Promotor dan Co Promotor yang sangat arif.
Di bawah kewibawaan Prof. Hikmahanto Juwana,SH. LL.M,Ph.D.
Prof.Dr. M.Solly Lubis, SH dan Prof.Dr.Tan Kamello,SH,MS selaku
Promotor dan Co Promotor, kami merasakan sebuah kebebasan ilmiah,
kebebasan untuk berkreativitas, kebebasan berfikir dan mengeluarkan
pendapat menjadi suluh dan penerang dalam kami menyelesaikan
disertasi ini, sehingga kami benar-benar terayomi dan nyaman dalam
menyelesaikan penelitian ini. Untuk itu tak ada kata yang tepat untuk
mengungkapkan dan meluapkan rasa kegembiraan dan rasa syukur
kami, kecuali ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
31
Professor bertiga, semoga Allah membalas semua amal kebaikan yang
telah Professor lakukan buat kemajuan kami khususnya serta kemajuan
Universitasa Sumatera Utara pada umumnya. Aamin ya Rabbal
‘alamin.
Para tim Penguji adalah para kritikus pertama yang
menyentakkan kengangkuhan dan kesombongan intelektual kami.
Betapa tidak, Referensi dan data yang kami peroleh selalu menguatkan
asumsi kami, pada hal ada data dan informasi lain yang berbeda dengan
itu. Sebuah kritik tetaplah diperlukan untuk penyeimbang, dan saya
berbesar hati untuk menerima semua kritik itu. Tentu saja hasilnya
adalah mengarah pada sebuah perbaikan untuk menuju kesempurnaan.
Itulah yang terus menerus saya peroleh dari Tim Penguji sejak tahap
kolokium hingga ujian terbuka pada hari ini. Untuk itu teramat pantas
dan patut kiranya kami menyampai terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Prof. M.Hawin,SH,LL.M,Ph.D dan Prof. Dr. Suhaidi, SH,MH
dan Prof.Dr.Ningrum Natasya Sirait, SH, MLI yang tidak sedikit
memberi sumbangsih bagi penyempurnaan tulisan ini.
Tiap waktu mulai saat akan mengikuti jenjang perkuliahan
sampai pada tahap-tahap menjelang ujian, saya terus menerus
“mengganggu” Professor yang satu ini. Betapa tidak, mulai dari urusan
rekomendasi untuk mendapatlan izin Rektor sampai dengan konsultasi
siapa yang akan menjadi Promotor dan Co Promotor dan terlebih-lebih
lagi dalam penentuan tanggal ujian pada tiap-tiap tahapan. Karena
harus diakui tidaklah mudah untuk menyesuaikan waktu tiap-tiap
waktu Promotor dan penguji yang kita faham memiliki kesibukan yang
luar biasa. Tentu saja untuk mendesain seluruh rangkaian administratif
ini diuperluklan kewibawaan, dan atas wibawa Prof.Dr. Runtung Sitepu
SH.M.Hum, baik dalam kapasitasnya sebagai Dekan maupun sebagai
kolega dan sahabat semua itu berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Saya berhutang budi kepada beliau dan bak kata pepatah melayu,
“hutang emas dapat dibayar, hutang budi di bawa mati”
Saya
kembalikan kepada Allah SWT atas semua kebaikan hati Professor,
semoga Professor sekeluarga mendapat Ridho dan Rahmat dari Allah
SWT dalam menjalankan kepemimpinannnya hari ini dan masa yang
akan datang, Aamin ya Rabbal Alamin.
Tidak sedikit juga sumbangsih ilmiah dari para dosen dan staf
pengajar selama mengikuti jenjang pendidikan S3 ini, Prof.Dr.Bismar
Nasution, SH,MH, adalah satu dari sekian banyak nama-nama yang
harus kami beri apresiasi. Hari-hari pertama kami memasuki jenjang
pendidikan S3 adalah hari-hari di mana setiap waktu saya mengganggu
dan mengusik jam-jam istirahat beliau. Mulai dari meminjam buku-
32
buku sampai pada meminta arahan untuk penyusunan propopsal yang
baik. Tentu saja hasilnya seperti yang terangkai dalam disertasi ini.
Terima kasih kakanda, semoga Allah tetap memberikan hidayah dan
kekuatan kepada Kakanda sekeluarga dan dapat terus melahirkan
kader-kader akademik yang berkualitas.
Sahabat-sahabat dan kolega kami, Prof.Budiman Ginting,
Prof.Dr. M.Yamin Lubis,SH. Prof.Dr.Alvi Syahrin,SH,MS, Prof.Dr.
Sunarmi,SH,MH, Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum, Prof. Dr.
Suwarto, SH,MH, Prof. H. Syamsul Arifin,SH,MH, Dr.Mahmul
Siregar, SH,M.Hum, Dr.Pendastaren Tarigan, SH, MS, Dr. Madiasa
Ablisar, SH,MS, Dr. Faisal Akbar Nasution, SH,M.Hum, Dr. Hasyim
Purba, SH, M,Hum, Dr. M. Hamdan,SH, MH, Dr. T. Keizerina Devi
A.S.H.C.N, M.Hum, Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum, Dr.Mirza
Nasution, SH, M.Hum, Dr. Jelly Leviza, SH, M.Hum, Dr. Mahmud
Mulyadi, SH, M.Hum, Dr. Agusmidah, SH, M.Hum, Dr. Marlina, SH,
M.Hum, Dr. Utary Maharany Barus, SH, M.Hum, Dr. Idha Aprilyana,
SH, M. Hum, adalah sederetan nama-nama yang dalam berbagai
kesempatan secara sadar dan tanpa sadar telah mewarnai perjalanan
akademis kami di almamater yang kita cintai ini. Semoga Allah
senantiasa memberkahi langkah kaki kita dalam menapak karir sebagai
pionir dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pada suatu masa selepas dari mengikuti berbagai pelatihan
tentang peranan ilmu-ilmu sosial dalam kajian hukum, kami bermaksud
untuk mendirikan pusat kajian hukum dan masyarakat. Bersama-sama
rekan-rekan pengajar mata kuliah sosiologi dan antropologi kami
mendirikan Kelompok Studi Hukum dan Masyarakat dan salah satu
aktivitasnya adanya menggelar diskusi mingguan. Kami bersihkan satu
ruangan yang pada waktu itu menjadi sarang walet di bangunan
Gedung Judicium Fakultas Hukum USU. Babak berikutnya kami
mengelola satu jurnal ilmu hukum dan ilmu-ilmu sosial yang kami beri
nama “Mahadi” yang diterbitkan oleh KSHM. Kami juga menerbitkan
buku-buku karya dosen Fakultas Hukum USU dan Fakultas Hukum
Universitas swasta lainnya di Medan. Kami mendapat dukungan
terbesar ketika itu dari sosok yang bersahaja yaitu T.Mansyurdin, SH,
betapapaun juga lembaga yang kami dirikan itu sampai hari ini masih
eksis dan terus menerbitkan karya-karya ilmiah dosen Fakultas Hukum
USU dan itu membawa kami pada ke’arifan ilmiah yang
mempengaruhi cara berpikir dan cara pandang kami pada hari ini dan
warna itu terlihat jelas dalam analisis kami dalam disertasi ini. Untuk
itu kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
sahabat yang terlibat di dalam forum ini, untuk kami sebutkan beberapa
33
nama;
T.Mansyurdin, Dr.Jusmadi Sikumbang, SH.MH. Erwin
Adhanto, Edy Zulham, M.Husni, SH.M.H dan Dr.Edy Ikhsan.
Khusus terhadap Dr. Edy Ikhsan,SH,MA sahabat dalam suka
dan duka, selama kurun waktu 32 tahun banyak peristiwa yang kami
lalui bersama. Rekam jejak persahabatan ini tak dapat diuraikan dalam
satu buku tebal. Mulai dari mengenderai kenderaan roda 2 dari Medan
sampai P.Siantar di malam hari dalam keadaan mati lampu, memancing
hingga sampan hampir karam, sampai pada menelusuri dokumendokumen dan arsip-arsip tua di Den Haag dan menunaikan ibadah
umroh bersama. Lebih dari itu, pergulatan pemikiran dan tunas-tunas
intelektual akademik terbangun sejak kami bersama-sama dalam
organisasi HMI lalu kemudian bersama memilih menjadi “guru”
sebagai basic perjuangan. Di kampus kami mendirikan pusat kajian
hukum dan ilmu-ilmu sosial, di luar kampus kami membangun
berbagai aktivitas di bawah LSM. Tak ada yang lepas dari pantauan
kami dan tak ada yang lepas pula dari diskusi kami, karena itu
perjalanan akademis yang kami lalui hari ini tak lebih dari apa yang
pernah kami pikirkan dan lalui bersama, semoga persahabatan ini kekal
selamanya di dunia dan di akhirat kelak. Aamin ya Rabbal Alamin.
Perjalanan penyelesaian disertasi ini ada juga andil dari Bu
Lola, Bu Ninin dan Kak Ani, tanpa dukungan mereka agaknya tak
mungkin rasanya kami dapat berdiri di sini pada hari ini. Ibu Farida
Runtung, Ibu Mimi Suhaidi, adalah dua nama untuk menyebutkan dari
sekian banyak sahabat isteri saya yang memberikan andil dan dukungan
moril bagi kami sekeluarga, untuk itu kami ucapkan terima kasih.
Kenangan yang tak mungkin terhapus adalah dari sosok
seorang abang yang dalam berbagai aktivitas ilmiah di kampus tetap
mengajak kami berdiskusi dan memberikan kesempatan kepada kami.
Sebuah nepotisme ilmiah yang luar biasa ketika saya diutus untuk
mengikuti lomba karya ilmiah di UNSRI Palembang ketika kami
duduk di semester akhir di Fakultas Hukum. Dalam jabatannya selaku
PD III, Prof.Hasnil Basri Siregar, SH mengutus kami untuk mewakili
Fakultas Hukum USU, hasilnya tentu tidak mengecewakan beliau kami
pulang dengan membawa piagam dan tropi Juara II, karena lazimnya
Juara I harus dimenangkan oleh Tuan Rumah. Selaku tokoh HMI,
almarhum terus menyemangati kami yang dengan penuh kegilaan kami
menghabiskan waktu di organisasi mahasiswa itu dan dilanjutkan di
organisasi berikutnya yakni KAHMI setelah menyelesaikan studi S1.
Kakanda yang satu ini telah banyak memberikan spirit, sehingga jika
diuraikan tak cukup dalam satu alinea, begitupun dalam kesempatan ini
kami mengucapkan terima kasih yang setingginya kepada beliau dan
34
semoga Allah SWT melapangkannya di alam barzah. Allahumma
firlahu warhamhu wa ‘afihi fa’fu’anhu. Untuk kak Oma kami menaruh
hutang budi, begitu juga untuk kak Icik , terima kasih kepada kakak
berdua.
Do’a yang sama untuk Almarhum.Prof.M.Daud, SH, Prof. Dr.
Bachtiar Agus Salim, Prof. Dr. Mustafa Siregar, H.Miharza, Pangoloan
Nainggolan, Syahruddin Husein, Darmansyah Hasibuan, Djamhir,
Syahmenan, Zulkarnain Mahfudz, Burhan Aziddin, Abdul Azis, SH,
Aminah Azis, SH, Hoesni, SH, Syamsiar Yulia, dan seluruh guru-guru
kami yang telah mendahului kita, Allahummaghfirlahum Warhamhum
Wa’afihi Wa’fu’anhum.
Ketika masa-masa awal kuliah di almamater ini hingga selesai
dan kemudian menjadi dosen di Fakultas Hukum USU, banyak peranan
abang-abang senior yang berkesan dan berpengaruh dalam kehidupan
akademis kami.Bang Ong, Bang Hayat, Kak Adek (Sinta Uli,
SH,M.Hum), kak Adek (Rabiatul), bang Asmin, bang Tiar, Kak Irul,
bang Siba, bang Sidik, bang Azwar, bang Husni adalah mereka-mereka
di antaranya. Sulit rasanya memperifikasi peran beliau, tapi yang kami
tahu adalah mereka punya andil tersendiri bagi kehidupan akademis
kami di almamater ini. Untuk itu terimalah ucapan terima kasih kami.
Kolega-kolega seangkatan, Zulkifli Sembiring,SH.,M.Hum.
Nurmalawaty.SH.,M.Hum. teman bersenda gurau dalam berbagai
kesempatan adalah mereka-mereka yang pantas ikut berbahagia pada
hari ini. Adik-adik kelas yang kemudian menjadi kolega kami,
Dr.Rosnidar Sembiring,SH,M.Hum. Syamsul Rizal,SH,M.Hum, Afrita
Abduh,SH.M.Hum. Dr.Mahmul Nasution,SH,M,Hum adalah juga adikadik manis yang baik hati yang terus menerus memberi semangat,
terutama di saat-saat terakhir disertasi ini ditulis kecelakaan kecil telah
menimpa kami hingga tangan kanan kami tak dapat difungsikan selama
lebih dari enam bulan.
Rekan di HMI terutama kakanda Syahruzal Yusuf dan Kkd Faisal
Putra, kkd Husni Nasution, SH, CN dan Kakanda Nurdin Lubis, SH,
MM dan Kkd Sutiarnoto Ms, SH, M.Hum, adalah mereka-mereka
yang telah memberi spirit lebih dari yang seharusnya kami terima.
Adik-adik di HMI pun telah memberikan andil yang tidak sedikit dalam
pencapaian karir akademis kami, “Yakin Usaha Sampai” karena itu
terimalah ucapan terima kasih kami pada organisasi yang pertama kali
mengajarkan kami berpidato dan membuat surat.
Rekan-rekan di SMA negeri 8 yang hari ini di antaranya telah
menempati derajat akademik tertinggi dan hari ini tampil sebagai Co
Promotor dan Penguji, yang amat terpelajar Prof Dr.Tan
35
Kamello,SH.MS. dan Prof Dr.SuhaidiSH.M.H, keduanya juga duduk
sebagai Ketua dan Sekretaris Program Doktor (S3) FH USU, tentu saja
tak sedikit pula andilnya dalam penyelesaian studi kami di Universitas
yang kita cintai ini. Untuk itu terimalah ucapan terima kasih kami.
Sahabat kami Azhar Tanjung, Anwar Effendi Siregar, Riana Melia
Barus, Siti Banina, Wahyuddin, Jufkar, Mishartono, Syahril Sabirin,
Israil Surbakti, M. Saidi, Ferisia, Abdul Hakim Harahap, Siti Asmah
Lubis, Sarwani, Riadil Akhir Lubis, Eka Riono, Syahruddin Lubis,
Junaidi, Khairwansyah Lubis, Paimin, Zainul Arifin, Sunarji dan
Rehulina Tarigan, adalah rekan-rekan semasa SMA yang mengukir
kenangan indah yang tak terlupakan dan sampai hari ini persahabatan
itu terpelihara dengan baik. Do’a kalian semua di sertai rasa empaty
yang dalam di saat-saat kami mengalami kedukaan namun dalam saat
bersamaan menuntut penyelesaian disertasi ini telah menyemangati
kami dalam menyelesaikan studi ini.
Rekan-rekan pengurus MABMI, KAHMI , AMPI dan KNPI serta
Ikatan keluarga Besar Batu Bara adalah mereka-mereka yang turut
memberi andil dalam perjalanan karir akademik kami dan karenanya
teramat pantas menerima ucapan terima kasih dari kami. Kawan-kawan
di Grup 44, Faris S.Bashel, Said Hamid, M.Yususf, Hakim S.Bashel,
A.K.Bashel , wak Alay, Bang Muin dan Bang Malik adalah merekamereka yang secara terus menerus memberi spirit untuk penyelesaian
disertasi ini. Hutang budi kami juga tak terputus buat A.K Bashel, Ali
Cetin dan Pauline, sahabat di Holland, Turkey dan Prancis yang selain
sebagai responden dalam disertasi ini juga mereka-mereka yang siap
mengirim buku-buku referensi dari negaranya karena itu terima kasih
untuk semua bantuannya. Sahabat-sahabat responden disertasi ini di
Kejaksaan, Kepolisian dan Kehakiman yang tak dapat kami rinci satu
persatu, tapi kontribusi sahabat-sahabat semua telah memberi warna
tersendiri dalam disertasi ini. Adik-adik mahasiswa yang turut dalam
menyebarkan kuesioner dalam pengumpulan data disertasi ini,
terutama adik-adik yang tergabung dalam HMI, paling tidak kita semua
pernah telah menyemai benih ilmiah yang hasilnya akan kita tuai
bersama di kemudian hari, karenanya kami berkewajiban
menyampaikan terima kasih khusus untuk semua partisipasinya.
Sahabat-sahabat dan seluruh karyawan PT.Harfa, PT.Rahmat
Alam Sejatera, PT.Mutiara Hijau, serta seluruh pengurus yayasan dan
civitas akademika Universitas Amir Hamzah, kami sampaikan terima
kasih yang sebesar-besarnya atas dedikasi dan kesetiaan kita semua
untuk mengelola manajemen perusahaan dan yayasan di saat kami tak
dapat melakukan aktivitas penuh di celah-celah kesibukan kami dalam
36
menyusun disertasi ini, tanpa itu semua saya tak akan mampu
menyelesaikan studi ini tepat waktu. Kolega di PT.Indo Turk
Company, Emin Cinar Bey dan Organ Bey, juga memberi andil dalam
perjalanan penulisan disertasi ini, Chok Tasyakkur Abe.
Ibu Prof. Dr dr Irma Mahadi dan Prof Dr.T.Silvina Sinar dan
Dr.T.Tirhaya Sinar adalah mereka yang sangat berjasa dalam
memberikan sumbangan Kepustakaan dalam penyususunan disertasi
ini. Saya telah menguras habis seluruh perpustakaan Prof Mahadi atas
kemurahan hati Kak Irma, terima kasih kak, Semoga ini menjadi amal
baik yang tak terputus dari Almarhum beserta keluarga. Prof Dr.Sayaka
di Tokyo University dan Prof Minako Sakai di Melbourne University
adalah sahabat-sahabat baik yang terus menerus memberikan informasi
berguna bagi penulisan disertasi ini, karenanya teramat pantas kami
menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan ucapan terima
kasih. Prof.Kentaro Cikawa dan Prof.Yoshida masing-masing sebagai
Chairman pada The Association For Overseas Technical Scholarship
(AOTS) dan Vice Chairnan President Japan Institut of Invention an
Inovation keduanya di Tokyo adalah orang yang teramat pantas kami
berikan apresiasi atas dukungannya dalam berbagai kegiatan yang
berkaitan dengan perkembangan hukum HKI di kawasan Asia Fasifik
dan secara terus tiada henti mengirim journal kepada kami. Tentu saja
ini sangat membantu kami, terima kasih untuk semua kebaikan itu.
Sultan Deli Mahmud Lamantjitji, Pemangku Sultan Deli Tengku
Hamdy Osman Delikhan gelar Tengku Raja Muda Deli, Tengku Husni
Osman Deli Khan Gelar Tengku Temenggung Deli, Tengku Fauziddin,
Tengku Ismin, Datuq 4 suku, Kepala Urung Serbanyaman, Datuq
Syaifi Ichsan gelar Datuq Seri Indera Pahlawan Diraja, Kepala Urung
Sepuluh Dua Kuta, Datuq Adil Freddy Haberham, SE gelar Datuq Seri
Setia Diraja, Kepala Urung Sukapiring, Datuq Ahmad Fauzi Moeris Al
Haj gelar Datuq Seri Indera Asmara, Kepala Urung Senembah Deli,
Wan Fahrurozi Baros gelar Kejeruan Senembah Deli adalah merekamereka yang dengan penuh harap dengan iringan do’a untuk capaian
akademik kami pada hari ini.Terima kasih kami persembahkan untuk
institusi Kesultanan Deli.
Alm Tuanku Luckman Sinar Basharsyah II, adalah sosok
seorang bangsawan yang memberi kesan dalam perjalan karir kami
yang kepemimpinannya dilanjutkan oleh Tuanku Ahmad Tala’ah,
Sultan Negeri Serdang, Tuanku dr.Abraham Abdul Djalil Rahmatsyah,
Sultan Asahan, Tuanku Azwar Aziz Abdul Djalil Rahmatsyah,
Pemangku Adat, Bilah, Panei, Kuwaluh, Kota Pinang, Kerajaan
Sambilan Nasapuluh, Konfederasi Batu Bara dan Keluarga Besar Raja
37
Tanah Jawa adalah mereka-mereka yang memberi spirit dan dukungan,
betapa pendidikan telah kita pilih sebagai jalur yang tepat untuk
mengangkat harkat, martabat dan marwah
anak negeri yang
terpinggirkan. Hari ini kami akan persembahkan capaian akademik ini
untuk seluruh kawula anak negeri ini, semoga karya ini membuka jalan
pada anak negeri yang merindukan pencerahan.
Sosok Tokoh pendidik dan Tokoh pejuang yang banyak merubah
persepsi kami terhadap dunia adalah Prof,Bahauddin Darus, dengan
kewibawaan dan istiqomahnya dalam menegakkan perjuangan
pembangunan Desa Pantai telah mengantarkan kami pada berbagai
pilihan bahwa kepemihakan kepada kaum dhuaffah mustad’affin harus
terus menerus menjadi pilihan dan itu juga yang mengantarkan kami
pada berbagai kegiatan penelitian di luar kampus bersama-sama dengan
Prof.Meneth Ginting dan Prof.Dr.Mochtar Ahmad dari Universitas
Riau. Mereka-mereka adalah orang yang berjasa dalam perjalanan karir
akademik kami dan karenanya kami berhutang budi, terima kasih untuk
semuanya semoga Allah membalas dengan kebaikan yang banyak.
Adalah Mak Alm.Hj Dewi binti Muh Buang dan Abah
Alm.OK.Moh.Saluji bin OK.Moh.Syarif yang tak sempat menyaksikan
perhelatan yang penuh hikmat ini, akan tetapi arwah Mak dan Abah
boleh tersenyum untuk apa yang ananda boleh capai hari ini, apapun
juga kata yang dipilih tak cukup mampu menampung ungkapan pujipujian untuk Mak dan Abah dan apapun juga yang kami bisa berikan
tak cukup mampu membalas semua kebaikan dan pengorbanan yang
telah Mak dan Abah berikan untuk kami, kesemua itu hanya kami
persembahkan kepada Ilahi Rabbi, semoga Arwah Mak dan Abah
senantiasa berada dalam Kemuliaan Allah SWT. Allah hummaghfirli
Wali wali dayya warhamhuma kama Rabbayani Shoghiro.
Buat Abah Almarhum H.Said Yusuf, Ummi Syarifah Azizah,
Ayahanda Alm.Drs. OK. Usman dan Ibunda Dra.Djadidah, serta abang,
kakak dan adik-adik tercinta, H.OK.Muchtar, Hj.Dahliah, Alm Syahril,
Hj.Nurhayati, Nuraisyah dan Lela Erwany, SS, M.Hum. Abangda Said
Fahmi, SE, Ir.Syarifah Syamrah, Syarifah Nurul Huda, Syarifah
Zahrani, drg Syarifah Suhaila, Said Fuad dan Said Munzir, SE. Serta
adik-adik tercinta, OK.Denny Zulham, SE, Ir.Ida Zulfida, MS,
Ir.OK.Hery Zulfan, OK.Ahmad Fauzi, SE, MM dan Sofyan Hidayat,
SE (Ak), M.Ec, adalah semua keluarga besar yang tak pernah putus
dalam do’anya dalam perjalanan hidup kami, kami sekeluarga
berhutang budi pada semuanya dan capaian hari ini adalah capaian kita
semua. Keluarga “Opung Siantar”, Bachtiar Sinaga, Dedy dan Agnes
adalah juga keluarga yang senantiasa berdo’a buat keberhasilan kami.
38
Ibu susu kami Alm Atika dan Uwak kami Abdullah Sani dan keluarga
adalah sosok yang terus melimpahkan kasih sayangnya kepada kami
hingga akhir hayatnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahman
dan Rahimnya.
Khusus kepada shohib kami dalam masa-masa awal perjuangan hingga
hari ini duduk sebagai Gubernur Simatera Utara, Ir.Gatot Pudjo
Nugroho,M.M. adalah juga sosok yang patut kami beri aprisiasi, karena
betapapun juga cita-cita Keadilan yang pernah kita impikan dahulu,
mestilah terus terpatri dalam jiwa kita untuk secara terus menerus kita
perjuangkan. Abangda Nurdin Lubis, SH,MM adalah sosok yang yang
pantas mendapat apresiasi dari kami karena bagaimnapun juga abang
telah mengajarkan kami bagaimana cara berorganisasi dengan baik.
Karena itu kesempatan yang berbahagia ini kami gunakan untuk
mengucapkan rasa terima kasih kami yang sebesar-besarnya. Semoga
Allah SWT melimpahkan Rahmat dan KaruniaNya kepada kita semua,
Aamin ya Rabbil Alamin.
Secara khusus buat sahabat dalam suka dan duka dalam mengharungi
pendidikan sejak masa S2 beberapa tahun yang lalu dan kebersamaan
itu terulang lagi pada jenjang S3, hari-hari duka ketika harus
menyiapkan tugas-tugas kuliah sampai pada hari-hari penuh suka ria
ketika studi di beberapa perpustakaan di Eropa. Shohib tercinta,
Dr.Tarmizi, SH.M.Hum dan Dr.Abdul Hakim Siagian, SH, M.Hum
adalah sahabat-sahabat setia dan memiliki andil besar dalam
penyelesaian studi ini. Terima kasih untuk semuanya.
Kepada Isteriku Hj.Syarifah Sufina, SH yang kehilangan banyak waktu
kecuali untuk mengurus kami, betapapun juga tiap buah pikiran yang
terurai dalam disertasi ini adalah buah amal dan keikhlasannya yang
tanpa pamrih, terima kasih isteriku. Untuk anak-anak ku yang baik
budi, OK.Saddam Shauqi, SH, OK.Ahmad Yasser Tohari, SH,
OK.Akbar Tofani, dan OK. Mohd. Sofi Fauzan, ma’afkan abah telah
mengambil waktu gembira dan senda gurau yang semestinya dapat kita
lalui bersama, akan tetapi sebahagian waktu itu telah terpakai oleh
pekerjaan yang amat mulia ini. Kalian semua telah kehilangan banyak
hak dan kenikmatan dari abah, antara lain kehilangan untuk menikmati
racikan hidangan panas dari abah untuk kita nikmati pada acara makan
malam bersama. Sekali lagi ma’afkan abah, tanpa dukungan dan
kerelaan kalian semua mungkin abah tidak pernah berdiri di sini pada
forum yang sangat mulia ini. Kesemua itu hari ini telah tertebus, karena
itu hari ini semua capaian ilmiah yang abah peroleh ini akan abah
dedikasikan untuk kalian, untuk semua keluarga, sahabat, para guru
39
yang tak satupun tersisa dalam menyemangati kami hingga studi ini
dapat selesai dengan baik.
Lembaran kertas ini ternyata tak cukup mampu untuk menampung rasa
syukur dan ingin rasanya menyampaikan terima kasih kepada siapapun
tempat kami berhutang bndi, tapi keterbatasan jualah membuat ucapan
ini harus kami akhiri. Bagi mereka yang tak sempat disebut namanya
dalam perhelatan ini, adalah juga mereka yang berjasa pada kami,
untuk itu mohon ma’af atas kealpaan kami dan semoga Allah tetap
melimpahkan RahmatNya pada kita semua.
Akativitas penulisan sebuah studi ilmiah, sekalipun menggunakan
kerangka teori ilmiah, tunduk pada aturan metodologi ilmiah, akan
tetapi dalam analisis dan penggunaan bahasa tetaplah tunduk pada
faktor-faktor subyektif peneliti. Oleh karena itu pekerjaan penelitian
pada babak-bababak terakhir penyusunan laporan penelitian adalah
pekerjaan seni dengan mengandalkan talenta, seperti pekerjaan melukis
di atas kanvas tanpa menggunakan penghapus, sehingga kerap kali
ditemui nilai nilai subyektifitas dan kemungkinan menjadi kurang
obyektif, tidak ilmiah dan itu tentu sangat mengganggu para pembaca.
Akan tetapi di sisi lain sebagai hasil kerja ilmiah dan berujung pada
hasil kerja seni yakni seni menulis, tentu saja ada bahagian-bahagaian
tulisan ini yang perlu mendapat renungan guna pencerahan hukum di
negeri ini. Faktor subyektif dalam tulisan ini pasti tak dapat
dihindarkan, begitupun semua itu tetaplah menjadi tanggung jawab
kami dan kepada pembaca terus kami harapkan kritik dan saran demi
penyempurnaannya, tentu saja dengan begitu faktor subyektif yang ada
dalam studi ini sedikit demi sedikit dapat dikurangi, hingga berakhir
menjadi sebuah karya yang bernilai akademis tinggi.
Naskah ini mungkin tidak dapat tersusun seperti apa yang terhidang
hari ini, tanpa keterlibatan Basaria Tinambunan,SH dan Juliana yang
dengan teliti mengetik huruf demi huruf. Kesetiaan kalian berdua yang
hampir dua dasawarsa menghabiskan waktu bersama kami dan
menyaksikan anak-anak kami tumbuh adalah budi baik yang tidak bisa
kami sekeluarga membalasnya. Abang dan Kakak berhutang budi pada
kalian berdua, dan abang yakin kebaikan kalian tidak akan sia-sia dan
Tuhan akan terus mengalirkan kebaikan dalam kehidupan kalian di
masa-masa yang akan datang.
40
Akhirul kalam
Billahittaufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
Medan, 3 Maret 2016
Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum
41
DAFTAR ISI
PENGANTAR PROF. HIKMAHANTO JUWANA, SH., LL.M.,
Ph.D
..........................................................................
ii
KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMA KASIH ............
v
DAFTAR ISI
.......................................................................... xxii
DAFTAR MATRIK ....................................................................... xx
DAFTAR SKEMA .......................................................................... xxiv
DAFTAR GRAFIK ......................................................................... xxv
DAFTAR TABEL .......................................................................... xxvi
DAFTAR SINGKATAN ................................................................. xxvii
PROLOG
..........................................................................
1
BAB I
: PENDAHULUAN ............................................ 19
A. Latar Belakang ......................................... 19
B. Teori, Konsep dan Metode ...................... 42
B.1. Teori ................................................ 42
B.2. Konsep ............................................ 59
B.3. Metode............................................. 61
CHAPTER II : THE DYNAMICS OF THE HISTORY OF
LEGAL POLICY IN THE TRANSPLANT
OF COPYRIGHT LAW ................................... 79
A. Introduction................................................ 79
B. Auteurswet Period Stb No. 600 (19121982) ......................................................... 83
C. Period of Copyright Law number 6 of
1982 (1982 - 1987).................................... 92
D. The Period of Copyright Law Number 7
of 1987 (1987 - 1997)................................ 110
E. The Period of Copyright Law Number 12
of 1997 (1997 - 2002)................................ 136
F. Period of Copyright Law Number 19 of
2002 (2002 - 2014).................................... 161
G. The Period of Copyright Law Number 28
of 2014 (2014 - now)................................. 181
H. Analysis and Invention .............................. 186
BAB III
: POLITIK HUKUM : PERGESERAN NILAI
FILOSOFIS ...................................................... 178
A. Pengantar ................................................... 178
B. Perubahan
dan
Pergeseran
Nilai
Ketuhanan ............................................... 188
C. Perubahan
dan
Pergeseran Nilai
42
Kemanusian .............................................
D. Perubahan
dan Pergeseran Nilai
Kebangsaan ...............................................
E. Perubahan dan
Pergeseran
Nilai
Musyawarah dan Mufakat .........................
F. Perubahan
dan
Pergeseran
Nilai
Ekonomi Pancasila ..................................
G. Analisis dan Temuan ...................................
BAB IV
: PILIHAN POLITIK HUKUM UU HAK
CIPTA NASIONAL .........................................
A. Pengantar ...................................................
B. Substansi Hukum ......................................
1. Paradigma Filosofis .....................
2. Paradigma
Juridis ....................
3. Paradigma Politis ..........................
C. Struktur Hukum ........................................
1. Lembaga Pembuat UU (Legislatif) .
2. Lembaga Penegak Hukum (Yudikatif)
3. Lembaga Pemerintah (Eksekutif) .....
D. Budaya Penegakan Hukum ....................
1. Budaya Hukum Legislatif ..................
2. Budaya Hukum Eksekutif ..................
3. Budaya Hukum Judikatif: ..................
4. Budaya Hukum Masyarakat ................
E. Penegakan Hukum Hak Cipta Dalam
Bidang Sinematografi ..............................
F. Gagasan Ideal Pilihan Politik Hukum Ke
Depan ........................................................
1. Think Globally .....................................
2. Commit Nationally ...............................
3. Act Locally ...........................................
G. Analisis dan Temuan ..............................
EPILOG
..........................
DAFTAR PUSTAKA
..........................
INDEKS
RIWAYAT SINGKAT PENULIS
198
210
224
240
250
256
256
258
259
271
278
286
292
303
311
321
322
330
344
358
368
385
401
407
413
429
441
447
43
DAFTAR MATRIK
Matrix 1
Matrix 2
Matrix 3
Matrix 4
Matrix 5
:
:
:
:
:
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant
Into Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding
Copyright Terminology) ........................................
93
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant
Into Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding Author
Terminology) .........................................................
94
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant
Into Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding
Protected Creation) ................................................
95
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant
Into Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding The
Time Period of Copyright) .....................................
97
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant Into
Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding Copyright
Limitation) .........................................................................
98
Matrix 6
:
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant
Into Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding NonCopyrighted Creation)............................................ 100
Matrix 7
:
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant
Into Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding The
Prohibition of Copyright Use) ............................... 101
Matrix 8
:
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant
Into Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding Moral
Right) ...................................................................... 102
Matrix 9
:
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant
Into Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding
Registration System of Copyright) ........................... 102
44
Matrix 10 :
Matrix 11 :
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant Into
Act No. 6 of 1982 (Norms regarding Criminal Charges)
103
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Norms Transplant Into
Act No. 6 of 1982 (Norms Regarding Civil charges)......
104
Matrix 12 :
Alteration from the Act number 6 of 1982 to the
Act number 7 of In Criminal Aspect ...................... 123
Matrix 13 :
Alteration of the Act Number 6 of 1982 to The Act
Number 7 of 1987 Based on Criminal Classification......
125
Alteration Act Number 6 of 1982 to The Act Number 7
of 1987 Based on The Scope of Enforcement .................
126
The Alteration of Act Number 6 of 1982 to The Act
Number 7 of 1987 Based on Time Period........................
127
The Alteration of Act Number 6 of 1982 to The Act
Number 7 of 1987 Based on the Relationship Between
Country and Copyright Holder .........................................
131
Matrix 14 :
Matrix 15 :
Matrix 16 :
Matrix 17 :
The Regulation Basis of the Publishing of Act
Number 6 of 1982 And the Act Number 7 of 1987 135
Matrix 18 :
Transplantation of TRIPs Agreement Into The Act
Number 12 of 1997 Regarding Rental Rights .................
144
Transplantation of TRIPSs Agreement Into The Act
Number 12 of 1997 Regarding Neighbouring Rights .....
145
Matrix 19 :
Matrix 20 :
Transplantation of TRIPS Agreement into the Act
number 12 of 1997 Regarding Copyright License . 150
Matrix 21 :
Alteration of Act Number 7 of 1987 to The Act
Number 12 of 1997 Based on Protection Aspect
on Unknown Creator or a Creation ....................... 152
Matrix 22 :
Alteration of Act number 7 of 1987 to The Act
Number 12 of 1997 Based on The Exception of
Copyright Violation .............................................. 154
45
Matrix 23 :
Alteration of Act Number 7 of 1987 to The Act Number
12 of 1997 Regarding the Time Period of The Work’s
Protection ........................................................................... 155
Matrix 24 :
Alteration of Act Number 7 of 1987 to Act
Number 12 of 1997 Regarding The Right and
Authority to Accuse .............................................. 157
Matrix 25 :
Alteration of Act number 7 of 1987 to The Act
Number 12 of 1997 Regarding Civil Servants
Investigator ............................................................ 159
Matrix 26 :
Alteration of Act number 12 of 1997 to Act
number 19 of 2002 Regarding the Criminal
Aspect ................................................................... 165
Matrix 27 :
Transplantation of TRIPs Agreement Into The Act
Number 19 of 2002. ..........................................................
168
Basis of Legislation in Enacting the Act Number 12 of
1997 and Act Number 19 of 2002 ...................................
174
Matrix 28 :
Matrik 29 :
Pentingnya Agama Dalam Kehidupan ................... 194
Matrik 30 :
Kewenangan
Eksekutif
Untuk Membuat
Peraturan Pelaksana Undang-undang No. 19
Tahun 2002 ............................................................ 203
Matrik 31 :
Perencanaan Pembangunan Era 1945-2025 ........... 279
Matrik 32 :
Kinerja Lembaga Pembuat Undang-undang (1945
– 2012) ................................................................... 283
Matrik 33 :
Gugatan
Uji Materil Terhadap Undangundang di Mahkamah Konstitusi......................... 284
Matrik 34 :
Tipologi Putusan Gugatan Uji Materil Terhadap
Undang-Undang Kurun Waktu 2011 ..................... 284
Matrik 35 :
Kebijakan Pembangunan Hukum Hak Cipta
Dalam Kurun Waktu Kepemimpinan Presiden ..... 316
46
Matrik 36 :
Matrik Pelanggaran Hukum Yang Dilakukan oleh
Anggota Legislatif DPR-RI.................................... 324
Matrik 37 :
Paradigma Hukum.................................................. 337
Matrik 38 :
Pejabat Eksekutif Terlibat Kasus Pelanggaran
Hukum dan Moral .................................................. 340
Matrik 39 :
Pelanggaran Hukum Yang Dilakukan Oleh Aparat
Penegak Hukum ..................................................... 346
Matrik 40 :
Film Produksi Tahun 1926-1932............................ 372
Matrik 41 :
Film Produksi 1933-1936....................................... 373
Matrik 42 :
Film Produksi Tahun 1937-1942............................ 373
Matrik 43 :
Film Produksi Tahun 1942-1944............................ 375
Matrik 44 :
Data Statistik Produksi Film Indonesia 2002 –
2012 ....................................................................... 377
47
DAFTAR SKEMA
Skema 1
Resultan Kekuatan Tarik Menarik Dalam Politik
Hukum....................................................................
34
:
Law Enforcement Hak Cipta ..................................
36
Skema 3 :
SISPOLINDO (Sistem Politik Indonesia) Menurut
Analisa Kesisteman ................................................
51
Sisbangkumnas (Sistem Pembangunan Hukum
Nasional) ................................................................
53
Kerjasama Teoritisi dan Praktisi Dalam Upaya
Pembinaan Hukum .................................................
55
Skema 2
:
Skema 4 :
Skema 5 :
Skema 6
:
Teori Nuances Mahadi ...........................................
57
Skema 7
:
Bagan Alur Kerangka Teori dan Kerangka
Konsep ...................................................................
58
Skema 8 :
Perkembangan Sistematika Hak Cipta Dalam
Sistem Hukum Perdata ........................................... 234
Skema 9 :
Kedudukan Hak Cipta Dalam Sistem Hukum
Perdata.................................................................... 236
Skema 10 :
Siklus Politik Unifikasi Hukum Dalam Negara
Hindia Belanda....................................................... 266
Skema 11 :
Siklus Ideologi Pembentukan Undang-undang
Hak Cipta ............................................................... 268
48
Skema 12 :
Tempat Karya Sinematografi Dalam Sistem Hak
Kebendaan.............................................................. 276
Skema 13 :
Transplantasi Hukum Perdata Eropa ...................... 390
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1
:
Ketimpangan Ekonomi di Berbagai Dunia ............ 247
Grafik : 2 :
Karya
Sinematografi
Bajakan
Yang
Diperdagangkan di Gerai Tradisional di Kota
Medan .................................................................... 364
Grafik : 3 :
Karya Sinematografi Bajakan Yang
Paling
Banyak Terjual di Gerai Tradisional di Kota
Medan .................................................................... 366
Grafik : 4 :
Produksi Film Dunia Tahun 2012 .......................... 381
49
DAFTAR TABEL
Tabel 1
:
Tingkat Pengetahuan Aparat Kepolisian Terhadap
Peristiwa Pidana Pembajakan Hak Cipta Karya
Sinematografi ......................................................... 355
Tabel 2
:
Langkah Tindakan yang Diambil oleh Pihak
Kepolisian Atas Pembajakan Hak Cipta Karya
Sinematografi ......................................................... 355
Tabel 3
:
Legalitas Barang-barang yang Dijual ..................... 356
Tabel 4
:
Kecenderungan Konsumen Membeli VCD dan
DVD Hasil Bajakan .............................................. 358
Tabel 5
:
Pilihan Konsumen Untuk Membeli Barang Legal
dan Illegal .............................................................. 359
Tabel 6
:
Tingkat Pengetahuan Konsumen Terhadap Aspek
Hukum Pembajakan Karya Sinematografi ............. 360
Tabel 7
:
Tindakan Hukum Yang Dilakukan Oleh Aparat
Terhadap Konsumen yang Membeli Produk VCD
dan DVD Illegal .................................................... 360
Tabel 8
:
Peringkat
Industri Film Amerika Dalam
Memberikan Sumbangan Pendapatan Domestik
Dibandingkan dengan Industri Yang Lain ........... 382
Tabel 9
:
Domestic filmed entertainment revenues, 1986
and 1991 ................................................................. 383
50
DAFTAR SINGKATAN
ADB
ASEAN
ASI REVI
BLBI
BPHN
BUMN
BW
DBR
GN
DVD
GATT
GBHN
G-8
G-20
HKI
IMF
IKAPI
Ipoleksosbud
IS
IPTN
KPK
KUHAP
KUHD
KUHPidana
KUHPerdata
LPHN
MA
MK
MPA
MPR
NKRI
OPI
POLRI
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Asian Development Bank
Association of South East Asia Nations
Asosiasi Video Rekaman Indonesia
Badan Likuidasi Bank Indonesia
Badan Pembinaan Hukum Nasional
Badan Usaha Milik Negara
Burgerlijk Wetboek
Disc Blue Ray
Guide Number
Digital Video Disk
General Agreement on Tariffs and Trade
Garis-garis Besar Haluan Negara
Group of Eight
Group of Twenty
Hak Kekayaan Intelektual
International Monettary Fund
Ikatan Penerbit Indonesia
Ideologi politik, ekonomi, sosial dan budaya
Indische Staatsregeling
Industri Pesawat Terbang Nusantara
Komisi Pemberantasan Korupsi
Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
Kitab Undang-undang Hukum Dagang
Kitab Undang-undang Hukum Pidana
Kitab Undang-undang Hukum Perdata
Lembaga Pembinaan Hukum Nasional
Mahkamah Agung
Mahkamah Konstitusi
Motion Pictures Association
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Operation Performance Improvement
Kepolisian Republik Indonesia
51
Polresta
Polsek
PPNS
Prolegnas
PTBI
QS
Relegnas
RPJPN
Sisnas
Sispolindo
SP3
Stb
TAP
Tipikor
TRIMs
TRIPs
TUN
UNESCO
UUHC
VCD
WCT
WIPO
WTO
WPPT
:
:
:
:
:
:
:
:
Kepolisian Resort Kota
Kepolisian Sektor
Penyidik Pegawai Negeri Sipil
Program Legislasi Nasional
Persatuan Toko Buku Indonesia
Qur’an Surat
Rencana Legislasi Nasional
Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional
: Sistem Nasional
: Sistem Politik Indonesia
: Surat Perintah Penghentian Penyidikan
: Staatblad
: Tunis Afrique Presse
: Tindak Pidana Korupsi
: The Agreement on Trade-Related Investment
Measures
: Trade Related Aspects of Intellectual Property
Rights
: Tata Usaha Negara
: United Nation Educational Scientific and
Cultural Organization
: Undang-undang Hak Cipta
: Video Compact Disk
: World Copyrights Treaty
: World Intellectual Property Organization
: World Trade Organization
: WIPO Performances and Phonogram Treaty
52
PROLOG
Sama dengan kajian bidang ilmu lainnya, kajian (ilmu) bidang
hukum juga mempunyai sejarahnya sendiri. Tempat sejarah hukum
dalam sistematika ilmu pengetahuan ditempatkan dalam lapangan
humaniora, bidang kajian (ilmu) sejarah. Kajian sejarah hukum adalah
sebuah kajian terhadap hukum dengan pendekatan (ilmu, metodologi,
metode, teori) sejarah. Seperti apa hukum masa lampau, bagaimana
cara mengetahui hukum yang berlaku pada priode tertentu, bagaimana
bentuk hukum dan penegakannya pada berbagai preodik, bagaimana
perubahan hukum dari satu masa ke masa berikutnya, apakah ada
kausalitas anatara pemberlakuan hukum pada masa lalu dengan pilihan
(politik) hukum pada masa berikutnya. Begitu juga dengan pertanyaan
apakah pada abad modern secara simetris hukum berjalan seiring
dengan lahirnya hukum modern pula. Itu adalah sebahagian saja dari
pertanyaan-pertanyaan yang memiliki keterkaitan dengan studi sejarah.
Dalam konteks hukum Indonesia, keberadaan hukum
Indonesia hari ini tidak terlepas dari dinamika perjalanan sejarah politik
hukum sejak jaman Hindia Belanda (dan bahkan sebelumnya) hingga
pasca kemerdekaan. 19 Upaya untuk membangun tatanan (sistem)
hukum Indonesia adalah sebuah upaya politik yang memang secara
sadar dilaksanakan yakni dengan menerapkan kebijakan-kebijakan
yang berakar pada transformasi kultural budaya Indonesia asli dan
dikombinasikan dengan budaya (hukum) asing yang berasal dari luar
dengan segala keberhasilan dan kegagalannya.
Transformasi kultural ini di dalamnya menyiratkan
transplantasi hukum (yang juga adalah merupakan bahagian dari sub
sistem politik dan sub sistem budaya) yang berasal dari proses
perjalanan sejarah peradaban Bangsa Indonesia. Pada hakekatnya tidak
ada suatu produk hukum yang lahir di Indonesia tidak bersumber dari
proses transformasi kultural yang berpangkal pada budaya yang
beraneka ragam dan transplantasi budaya asing dalam proses yang
disebut sebagai akulturasi dan inkulturasi dalam ruang sosial pada
kurun waktu yang panjang.
Dalam konteks ini, studi sejarah hukum akan menjadi lebih
kaya dengan pemanfaatan ilmu-ilmu sosial seperti ilmu politik, ilmu
19
Sebelum masuknya Pemerintah Kolonial Belanda tatanan masyarakat
nusantara telah memiliki hukum asli berupa norma adat, norma agama dan norma
kebiasaan yang oleh Van Bollenhoven disebutnya sebagai adat recht, lihat Ter Haar,
Asas-asas dan Tatanan Hukum Adat, Mandar Maju, Bandung, 2011.
53
ekonomi, sosiologi dan antropologi. Sejarah hukum tidak dapat
dilepaskan dari perjalanan terbentuknya peradaban suatu bangsa.
Sejak awal perkembangan tata hukum Indonesia yang
bersumber dari hukum kolonial, demikian Soetandyo Wignjosoebroto
20
mengungkapkan adalah perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh
kebijakan-kebijakan liberalisme yang mencoba untuk membukakan
peluang-peluang lebar pada dan untuk modal-modal swasta dari Eropa
guna ditanamkan kedalam perusahaan-perusahaan besar di daerah
jajahan21 (namun juga dengan maksud di lain pihak tetap juga
melindungi kepentingan hak-hak masyarakat adat ataupun hak-hak
pertanian tradisional masyarakat pribumi). Perlindungan itu diberikan
dengan cara mengefektifkan berlakunya hukum untuk rakyat pribumi,
dengan member ruang berlakunya hukum adat.
Formula yang digunakan adalah pemerintah Hindia Belanda
membagi 3 (tiga) golongan penduduk (di wilayah Hindia Belanda
ketika itu) 22 Penduduk di wilayah jajahan Hindia Belanda ketika itu
dikelompokkan atas 3 (tiga) golongan yaitu :
1. Golongan Eropa atau yang dipersamakan dengan Eropa
2. Golongan Timur Asing (Timur Asing Tionghoa dan Timur
Asing lainnya seperti Arap dan India).
3. Golongan Bumi Putera (penduduk Indonesia asli).
Terhadap ketiga golongan penduduk ini diberlakukan hukum
yang berbeda-beda. Untuk golongan Eropa atau yang dipersamakan
dengan Eropa misalnya diberlakukan hukum Eropa yakni hukum
Belanda yang berakar pada tradisi hukum Indo-Jerman dan RomawiKristiani yang dimutahirkan lewat berbagai revolusi yang kemudian
dalam lapangan hukum perdata dimuat dalam Burgerlijk Wetboek
(BW) dan Wetboek van Koophandel (WvK) atau yang dikenal dengan
Kitab Undang-undang Hukum Dagang. Sedangkan untuk golongan
Timur Asing Tionghoa sebahagian dinyatakan berlaku hukum perdata
Belanda tersebut kecuali mengenai adopsi dan kongsi. Terakhir
terhadap golongan Bumi Putera diberlakukan hukum adat, kebiasaan
20
Soetandyo Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional
Dinamika Sosial-Politik Dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, Rajawali Pers,
Jakarta, 1994, hal. 3.
21
Sebagai contoh adalah pembukaan besar-besaran lahan perkebunan
tembakau, kelapa sawit, karet dan teh di wilayah Sumatera Timur.
22
Melalui Pasal 75 RR Lama dan kemudian diubah dengan 75 RR Baru yang
sebelumnya juga telah dimuat dalam Pasal 6-10 AB dan terakhir dengan Pasal 131 dan
163 IS. Lihat lebih lanjut E. Utrecht dan Moh. Saleh Djindang, Pengantar Dalam Hukum
Indonesia, Ichtiar Baru, Jakarta, 1983, hal. 167.
54
dan hukum agamanya atau yang dikenal dengan Godien Stigwetten,
Volkinstelingen en Gubreiken.
Ada upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mensejajarkan
berlakunya hukum di negaranya dengan hukum yang berlaku di daerah
jajahannya. Kebijakan ini kemudian dikenal dengan penerapan azas
konkordansi. Meskipun kemudian kebijakan penerapan azas
konkordansi ini mendapat perlawanan dari ilmuwan hukum Bangsa
Belanda sendiri seperti Van Vollenhoven dan Ter Haar. 23
Dalam bidang hukum perdata, hukum dagang, dan hukum
pidana serta hukum acara pidana dan perdata begitu juga hukumhukum lain yang tersebar secara sporadis ada upaya untuk melakukan
kodifikasi dan unifikasi hukum Eropa di tanah jajahan dan dijalankan
dengan memberlakukan hukum yang berasal dari dalam negerinya.
Pemberlakuan hukum Kolonial dengan asas konkordansi ini
dikemudian hari menciptakan keadaan pluralisme hukum yang
sebelumnya juga telah dipicu oleh perbedaan struktur dan kultur
masyarakat Indonesia yang memang dilatar belakangi oleh suasana
pluralisme.
Dapat dikatakan bahwa dampak dari dinamika pilihan politik
hukum Pemerintah Hindia Belanda tersebut sampai hari ini
membuahkan hasil pluralisme hukum yang tidak berkesudahan.
Ditambah lagi pasca kemerdekaan pemerintah Indonesia sendiri
melakukan pilihan politik hukum yang tersendiri pula untuk memenuhi
tuntutan tatanan hukum Indonesia pasca kemerdekaan. Tampaknya
faktor politik tidak pernah lepas dari rangkaian kegiatan penyusunan
tata hukum di Indonesia dari waktu ke waktu.
23
Lihat lebih lanjut, Soetandyo Wignjosoebroto, Hukum Paradigma, Metode
dan Dinamika Masalahnya, ELSAM, Jakarta, 2002, hal. 266. Kisah ini diawali dari para
pejabat Eropa yang direkrut untuk mengisi jabatan dalam pemerintahan kolonial dan
untuk itu perlu pendidikan secara khusus di berbagai kota di Belanda yaitu di Leiden,
Delf dan Utrecht yang sebahagian besar diajarkan mengenai hukum, bahasa, adat,
kebiasaan dan lembaga-lembaga agama rakyat pribumi di daerah koloni. Di ketiga kota
yang beroperasi lembaga pendidikan itu Leiden tercatat paling besar dan paling banyak
berpengaruh karena Rijks Univesiteit yang berkedudukan di Leiden menjadi pusat
pemikiran liberal yang menganut garis politik etis dalam menangani urusan koloni. Akan
tetapi secara mengejutkan Leiden ternyata tidak bisa sejalan dengan rencana orang-orang
resmi pemerintahan untuk menjalankan politik hukum pemerintah Hindia Belanda dan
diantara orang-orang yang menggagalkan upaya itu adalah Van Vollen Hoven dan Ter
Haar dikemudian hari lewat kedua orang inilah akhirnya orang-orang pribumi di
Indonesia memiliki hukumnya sendiri yang kemudian dikenal dengan Adat Rechts atau
hukum adat yang untuk pertama kalinya dipergunakan oleh Snouck Hurgronje dalam
bukunya De Atjech hers dan Het Gajo Land.
55
Dalam konteks global, pengaruh tekanan politik asing (luar
negeri) terus menerpa kebijakan pembangunan hukum di Indonesia.
Terutama pasca ratifikasi GATT/WTO 1994 sebagai instrument
globalisasi ekonomi (namun tetap membawa dampak pada sistem sosial
lainnya) yang mengharuskan Indonesia menyesuaikan beberapa
peraturan perundang-undangannya khususnya dalam lapangan Hak
Kekayaan Intelektual dengan TRIPS Convention yang merupakan
instrument hukum hasil Putaran GATT/WTO 1994, lapangan hukum
investasi, lapangan hukum lingkungan, lapangan hukum perbankan dan
bidang-bidang hukum ekonomi lainnya serta lapangan hukum yang
terkait dengan perlindungan hak asasi manusia.
Dominasi politik asing dan kepentingan politik negara maju
tidak dapat dilepaskan dari langkah-langkah kebijakan negara
Indonesia dalam penyusunan peraturan perundang-undangan di
Indonesia bahkan undang-undang dalam bidang politik dan keamanan.
Faktor yang turut mempengaruhi pilihan kebijakan politik itu tidak lain
dikarenakan lemahnya penguasaan kapital dalam negeri Indonesia,
rendahnya tingkat kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi, sumber daya manusia Indonesia dan memburuknya sistem
pengelolaan manajemen negara. Inilah yang menurut M. Solly Lubis 24
sebagai sebuah kelemahan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia dengan
ungkapan sebagai berikut :
Mereka (negara maju, pen)
memiliki dan menguasai
keunggulan strategis dalam tiga hal, yakni keunggulan capital
(funds and equipment) keunggulan teknologi canggih dan
keunggulan manajemen yang cukup rapid an tersistem dengan
apik.
Kelemahan dan ketergantungan kita di tiga bidang itu,
sekaligus membuktikan lemahnya kemandirian kita dan
ketergantungan inilah yang menyebabkan kita tidak bisa
mengelakkan intervensi dan berbagai dikte terbuka ataupun
terselubung oleh negara-negara lain itu terhadap kita.
Bahkan disana-sini terasa sebagai eksploitasi ekonomi,
dominasi politis dan penetrasi kultur, tiga target mana adalah
merupakan tiga target utama pada kaum kolonialis-imperalis
dan kapitalis.
24
Lihat lebih lanjut M. Solly Lubis M. Solly Lubis, Serba-Serbi Politik &
Hukum, PT. Sofmedia, Jakarta, 2011, hal. 97. Lihat juga Sritua Arief & Adi Sasono,
Indonesia Ketergantungan dan Keterbelakangan, Mizan, Jakarta, 2013.
56
Dominasi kebijakan politik ekonomi asing di Indonesia
sebenarnya tidak hanya dimulai pada saat ratifikasi konvensi-konvensi
yang berkaitan dengan perdagangan internasional seperti GATT/WTO
serta konvensi-konvensi internasional lainnya. Perebutan negara-negara
yang hari ini sebagai penguasa ekonomi di dunia yang tergabung dalam
negara industri maju seperti G-8 dan G-20 berawal dari perjalanan
sejarah yang cukup panjang. Peristiwa yang melatar belakangi
munculnya Perang Dunia ke-2 adalah tidak terlepas dari perebutan
sumber-sumber ekonomi yang ada di berbagai belahan bumi. Ekspansi
negara-negara Eropa ke Asia, sebut saja misalnya Inggris ekspansi ke
India, Burma, Hongkong dan Malaysia, Prancis ekspansi ke Indocina
(Laos, Kamboja dan Vietnam), Belanda ekspansi ke Indonesia bahkan
Amerika dengan sekutunya Inggris, Prancis dan Belanda turut
mengontrol aktivitas di kawasan Pasifik. Sampai hari ini, negara-negara
maju tersebut termasuk Jepang meskipun kalah dalam Perang Asia
Timur Raya melawan negara-negara sekutu (Amerika dan Eropa)
dominasi dalam politik ekonomi semakin hari semakin menguat hingga
hari ini. Catatan yang dikemukakan oleh Stephen E. Ambrose dan
Douglas G. Brinkley, 25 memberikan pencerahan untuk sampai pada
suatu kesimpulan bahwa kekuatan politik ekonomi di berbagai belahan
Asia masih dan akan terus beraada di bawah bayang-bayang kekuatan
Barat (Amerika dan Eropa Barat) :
On the other side of the world the United States, in
combination with the British, French and Dutch, still ruled the
Pacific. American Control of Hawaii and the Philippines,
Dutch control of the Netherlands East Indies (N.E.I., today’s
Indonesia), French control of Indochina (today’s Laos,
Cambodia (Democratic Kampuchea), and Vietnam), and
British control of India, Burma, Hong Kong and Malaya gave
the Western powers a dominant position in Asia. Japan, ruled
by her military, was aggressive, determined to end white
man’s rule in Asia, and thus a threat to the status quo. But
Japan lacked crucial natural resources, most notably oil, and
was tied down by her war in China.
Pada hakekatnya uraian berikut ini akan mencoba untuk
membawa pembaca ke alam studi sejarah hukum. Menelusuri ruang
sosial tempat diberlakukannya hukum dalam berbagai penggalan waktu
25
D Stephen E. Ambrose and Douglas G. Brinkley, Rise to Globalism,
American Foreign Policy Since 1938, Penguin Books, London, 2011, hal. 1.
57
Arti Penting Kajian Sejarah Hukum.
Studi hukum melalui pendekatan sejarah akan dapat
membantu untuk sampai pada satu harapan bahwa ke depan akan dapat
dirumuskan hukum-hukum yang lebih bernuansa humanis dan
berkeadilan dan menampung berbagai harapan dan cita-cita Negara.
Studi sejarah hukum menjadi sangat penting manakala hukum masa
lalu dan yang sedang berlaku hari ini belum mampu memberikan rasa
keadilan dan kepastian hukum serta kemanfaatan.
Perlunya kajian atau studi sejarah terhadap hukum paling tidak
memiliki alasan ilmiah :
Pertama
: sangat sedikit studi-studi hukum yang dilakukan
melalui pendekatan sejarah.
Kedua
: terjadi keterputusan sejarah yang disebabkan oleh
ketiadaan jembatan-jembatan penghubung antara
generasi sarjana hukum sebelum kemerdekaan, generasi
pasca kemerdekaan periode kepemimpinan Bung
Karno, generasi pasca kepemimpinan Bung Karno
(periode kepemimpinan Soeharto dengan rezim orde
barunya), generasi pasca kepemimpinan Soeharto yakni
generasi orde reformasi dan generasi orde pasca
reformasi sehingga studi-studi hukum yang dilakukan
kering dari pembelajaran sejarah dan ini membawa
dampak pada terbelenggunya peradaban hukum pada
situasi yang pragmatis.
Ketiga
: Tidak dimasukkannya dalam kurikulum pendidikan
hukum pada strata I tentang materi pengajaran sejarah
hukum, padahal data sejarah hukum cukup banyak
tersebar di berbagai arsip dan perpustakaan.
Keempat : Harus ada yang melanjutkan jembatan yang berisikan
narasi sejarah hukum untuk menyambungkan
keterputusan sejarah guna dapat memaknai budaya
hukum Indonesia yang tepat dalam rangka pilihanpilihan politik hukum guna pembangunan sistem
hukum nasional di masa yang akan datang.
Kelima
: Tanpa disadari telah terjadi perang kepentingan atau
interes antara mereka-mereka yang berfikir pragmatis,
praktis, jalan pintas, melawan kepentingan yang
memperlihatkan kesadaran hukum yang memberi
makna bahwa jatuh bangunnya peradaban mestilah
berakhir dengan kemenangan peradaban yang adil dan
merujuk pada pilihan ideologi yang telah diletakkan
58
pada saat negara ini didirikan yang mengacu pada the
original paradigmatic value of Indonesian culture and
society jika kita tidak ingin sejarah hukum kita terputus
sebab pembiasan yang dalam tradisi keilmuan dinamai
proses internalisasi mengenai yang baik, yang benar,
yang indah, yang adil, yang beradab, serta suci
bersumber dari kehidupan para tokoh-tokoh yang dapat
dijadikan teladan. Beribu-ribu ajaran kognisi
pengetahuan dan hafalan tentang teks-teks normatif
akan percuma saja apabila sosok yang berjasa dalam
meletakkan dasar-dasar pembangunan hukum dalam
sejarah kita, yaitu para pendiri bangsa, guru-guru
bangsa,
mereka-mereka
yang
secara
terus
mempertahankan
hukum
adat
dan
berbagai
pengorbanan demi pengorbanan yang mereka lakukan
untuk meletakkan dasar pembangunan hukum bangsa
ini. Dan tokoh-tokoh semacam itu saat ini sudah sulit
untuk kita temukan. Jika tulisan ini memilih teori yang
dikembangkan oleh para akademisi yang dalam karier
dan kehidupannya telah menghabiskan masa untuk
pembangunan hukum dan pembangunan ilmu hukum
seperti, Mahadi dan M. Solly Lubis, serta Hikmahato
Juwana ini bukanlah semata-mata
untuk
memperkenalkan pemikiran-pemikiran mereka - yang
satunya hendak membangun hukum Indonesia modern,
yang satunya lagi hendak meletakkan dasar
pembangunan hukum Indonesia melalui hukum adat
sebagai dasar dan terakhir kesemuanya hendaklah
diletakkan dalam satu kerangka sistem yang disebut
sebagai sistem hukum nasional - akan tetapi lebih jauh
menggiring generasi yang akan datang untuk dapat
memahami sejarah perjalanan hukum Indonesia, dan di
negeri ini ternyata banyak pandangan dan pemikiran
yang lahir dari anak bangsa sendiri, yang faham tentang
kebutuhan hukum di negerinya, sebab membangun
hukum bukanlah semata-mata melakukan sesuatu akan
tetapi mempelajari sesuatu.
Dengan lima alasan tersebut di atas, anak bangsa di negeri ini
harus punya kemauan dan dengan rendah hati mengakui keterputusan
sejarah peradaban hukum - karena kita harus menyadari pula bahwa
ingatan kita sangat pendek - dan ketidak pedulian kita sendiri terhadap
59
pilihan-pilihan politik dalam pembangunan hukum nasional. Kini, mari
kita rajut kembali benang-benang sejarah yang putus dan mempelajari
kembali “situs-situs” yang saat ini memerlukan guru-guru yang dapat
memikirkan dan menterjemahkan serta menafsirkan situs-situs itu. Saat
ini diperlukan sosok intelektual hukum yang memahami sejarah karena
kita tidak ingin terjadi apa yang pernah dikatakan oleh Sartono
Kartodirdjo, “jangan menjadi cendekiawan model pohon pisang yang
sekali berbuah lalu selesai”.26 Teruslah merajut benang-benang sejarah
yang terputus agar untaian-untaian sejarah hukum Indonesia dapat
dirajut dalam suatu “kain” yang bermakna lembaran sistem hukum
nasional Indonesia.
Salah satu kebijakan yang perlu ditempuh dalam pembangunan
hukum adalah terciptanya suatu tatanan hukum yang dapat
menjembatani kepentingan masyarakat Indonesia yang saling
berbenturan sebagai akibat dari tawaran kultur yang plural. Perbedaan
pada kultur dan berpengaruh pada budaya hukum ini berawal dari
perjalanan sejarah yang cukup panjang yang memperlihatkan adanya
pengaruh sistem hukum asing (yang sejak awal juga sudah ada
perbedaan yakni antara sistem hukum Eropa Kontinental di satu pihak
dan sistem hukum Anglo Saxon di pihak lain) terhadap hukum yang
hidup dalam masyarakat (lokal) Indonesia (hukum adat). 27
Paling tidak dengan kebijakan itu perbedaan-perbedaan pada
sistem hukum itu dapat sedikit demi sedikit (secara berangsur-angsur)
dihapuskan untuk kemudian menuju pada satu tatanan hukum yang
dapat berterima dalam kehidupan masyarakat Indonesia namun tetap
pula mampu mengantisipasi gelombang globalisasi yang ditawarkan
oleh masyarakat internasional. Dengan bahasa yang sederhana harapan
dari pilihan terhadap kebijakan yang semacam ini adalah untuk
mengukuhkan kembali hukum rakyat (hukum adat) sebagai hukum
yang hidup agar kepentingan masyarakat tetap terpelihara dengan baik,
namun tetap eksis dan mampu menangkap setiap perubahan yang
ditawarkan oleh peradaban modern.
Apa sebenarnya yang ditawarkan oleh sistem hukum Eropa
kontinental yang dalam pilihan terhadap kebijakan pembangunan
hukumnya didasarkan pada konsepsi hukum yang terkodifikasi dengan
rapi, tidaklah terlalu buruk untuk terus dikembangkan dalam strategi
pembangunan hukum di Indonesia, yang dalam banyak hal lebih
26
Lebih lanjut lihat Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam
Metodologi Sejarah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.
27
Lihat Soetandyo Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum
Nasional, Rajawali Press, Jakarta, 1994.
60
memberikan kepastian hukum. Namun begitu, apa yang sesungguhnya
yang dikembangkan oleh negara-negara penganut sistem hukum Anglo
Saxon (Amerika dan Inggris meskipun keduanya ada juga perbedaan),
yang menggantungkan pola pilihan dalam penentuan apa yang menjadi
hukum melalui putusan hakim, adalah juga sangat sesuai bagi
Indonesia. Oleh karena konsepsi hukum Adat Indonesia yang sejak
lama didasarkan pada putusan fungsionaris hukum adat (teori
Beslissingen Leer yang dikembangkan oleh Ter Haar) 28 adalah sangat
sejalan dengan konsepsi yang ditawarkan oleh sistem hukum Anglo
Saxon. Oleh karena itu pula, memadukan antara kedua kutub yang
berbeda itu untuk dipertemukan dalam rangka kebijakan pembangunan
hukum Indonesia menurut hemat kami adalah suatu langkah yang arif
guna memberi arti bagi hukum rakyat Indonesia sebagai hukum yang
hidup. Caranya adalah, mengangkat kembali ”nilai-nilai hukum yang
hidup” dalam masyarakat Indonesia, melalui langkah-langkah
metodologis yang lazim dikenal dalam ilmu hukum dengan
memadukannya melalui pendekatan sejarah, guna memutakhirkan data
sejarah masa lampau untuk kepentingan hari ini dan masa depan.
Tempat Sejarah Hukum dalam Sistematika Ilmu Pengetahuan
Sama dengan induknya - kajian dalam ilmu sejarah generalisasi dalam kajian sejarah hukum bersifat terbatas. Artinya
kalau kita berbicara tentang Hukum Perancis itu tak dapat
digeneralisasi untuk Hukum Indonesia. Kalau kita berbicara tentang
hukum Di Turkey pada masa dinasti Osmania itu tak dapat
digeneralisasi untuk hukum Indonesia pada Masa Kerajaan Majapahit.
Mengacu pada premis tersebut maka dapatlah difahami bahwa kajian
sejarah hukum memiliki keterbatasan generalisasi . Oleh karena itu
menurut Kuntowijoyo 29 keterbatasan generalisasi itu dapat diatasi
dengan bantuan ilmu-ilmu sosial lainnya yang cenderung bergerak ke
arah generalisasi, walaupun harus diakui bahwa semua ilmu memiliki
keterbatasan dalam menggeneralisasi tiap-tiap obyek kajiannya.
Kajian sejarah terhadap hukum oleh sebagaian kalangan
ilmuwan hukum, ditempatkannya sebagai kajian hukum empiris. Ketika
28
Lebih lanjut lihat Ter Haar Bzn, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat,
(Terjemahan K. Ng. Soebakti Poesponoto), Pradnya Paramita, Jakarta, 1981, dan Jakob
Sumarjo, Jakob Sumardjo, Mencari Sukma Indonesia Pendataan Kesadaran
Keindonesiaan di Tengah Letupan Disintegrasi Sosial Kebangsaan, AK Group,
Yogyakarta, 2003.
29
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 1994.
61
Gustav Redbruch 30 memperkenalkan tujuan hukum yang dikenal
dengan sebutan Idea das Recht yaitu bertujuan untuk : mewujudkan
keadilan dalam masyarakat, menciptakan kepastian hukum dan
memberikan kemanfaatan, maka seiring dengan itu munculklah
beberapa bentuk kajian hukum. Bagaimana hukum dapat mewujudkan
keadilan dalam masyarakat kajiannya dilakukan melalui studi Filsafat
Hukum, bagaimana hukum dapat menciptakan kepastian (berprilaku,
kepastian hak, dan lain-lain) hukum kajiannnya dilakukan melalui ilmu
hukum (jurisprudence) dan bagaimana hukum dapat memberikan
kemanfaatan bagi masyakat, bidang kajiannya adalah studi hukum
empirik meliputi Sosiologi Hukum, Politik Hukum, Psikologi Hukum
dan Antropologi Hukum. Dalam beberapa literatur ada yang
menempatkan kajian sejarah hukum dalam studi hukum empirik. Akan
tetapi menurut hemat kami, kajian sejarah hukum sama halnya dengan
kajian perbandingan hukum haruslah ditempatkan dalam studi
tersendiri. Sebab keduanya tidak mempersoalkan hukum dari aspek
tujuannnya yakni untuk memberikan kemanfaatan pada masyarakat
seperti pandangan Jeremy Bentham. 31
Oleh karena itu hukum tak lagi dapat dibatasi dari 3 (tiga)
perspektif saja tetapi sudah saatnya dikembangkan melalui 5 (lima)
perspektif. Lima cara pandang, lima paradigma. Di samping 3 (tiga)
paradigma yang telah diperkenalkan, dua paradigma lainnya (yang
selama ini ditempatkan sebagai bahagian dari studi hukum empirik)
yaitu : kajian sejarah hukum dan perbandingan hukum, haruslah
dikeluarkan sebagai pendekatan tersendiri. Studi sejarah hukum tunduk
pada preposisi-preposisi pendekatan ilmu sejarah dan studi
perbandingan hukum sekalipun bersifat metodologi ia harus juga
ditempatkan pada paradigma tersendiri. 32
Studi sejarah hukum, tidak lagi memandang hukum sebagai
kumpulan ide atau gagasan untuk mewujudkan keadilan seperti dalam
30
Gustav Radbruch, Rechts-Philosophie, K.F. Koehler Verlag Stuttgart,
Germany, 1956.
31
Jeremy Bentham, The Principles of Morals and Legislation, Oxford
University Press, Oxford, 1823.
32
Lebih lanjut lihat Menski, Werner, Comparative Law in a Global Context
The Legal Systems of Asia and Africa, Cambridge University Press, New York, 2009 ;
Orucu, Esin, Critical Comparative Law : Considering Paradoxes for Legal System in
Transition, Deventer, 1999, Nederlandse Vereniging voor Rechtsvergelijking, 1959 ;
Orucu, Esin, The Enigma of Comparative Law, Martinus Nijhoff Publishers,
Leiden/Boston, 2004 ; Orucu, Esin, dan Elspeth Attwooll & Sean Coyle, Studies in Legal
Systems : Mixed and Mixing, Kluwer Law International, London/Boston, 1996.
62
definisi hukum menurut paradighma filsafat hukum, atau hukum
dirumuskan sebagai sekumpulan norma atau peraturan yang bertujhuan
untuk menciptakan kepastian hukum menurut permaknaan ilmu hukum
normatif (jurisprudence) ataupun hukum dimaknai sebagai satu
instrumen (lembaga) yang bertujuan untuk memberikan kemanfaatan
bagi masyarakat menurut pandangan ilmu hukum empirik, tetapi
hukum dimaknai sebagai gagasan atau ide, sekumpulan norma dan
sebagai instrumen atau lembaga yang berada pada ruang sosial pada
masa atau priode waktu tertentu dengan segala dinamikanya. Itulah
rumusan hukum menurut paradigma sejarah hukum. Selanjutnya
paradigma perbandingan hukum, akan melihat hukum dalam kacamata
komperatif. Bagaimana sisi-sisi persamaan dan perbedaan sistem
hukum (mulai dari sudut pandang filosofis, normatif dan empiris
sampai pada sudut pandang sejarah hukum) yang satu dengan hukum
yang lainnya. Sehingga studi perbandingan hukum akan mengkoperasi
antar hukum di belahan Dunia Barat dengan Belahan Dunias Timur,
Hukum dengan landasan ideologi Sosialais dengan Hukum dengan
Ideologi Kapitalis. Hukum dengan Ideologi Islam dengan Hukum yang
didasarkan pada Ideologi Skularisme, Hukum di negara maju dengan
Hukum di negara berkembang, hukum di negara denokratis dengan
hukum di negara diktator, hukum di negara republik dengan hukum di
negara monarchi dan bahkan hukum pada masa kolonial dengan hukum
pada masa kemerdekaan, dengan menggunakan metode komperasi.
Berdasarakan uraian di atas dapatlah kami turunkan matrik
paradigma dalam kajian hukum sebagai berikut :
Paradigma
Filosofis
hukum
ideologi
Juridis/normati
f
Sosiologis/huk
um empiris
Historis
Konsep
Tujuan
Hukum sebagai asas
moralitas
atau
asas
keadilan yang bernilai
universal
Hukum
sebagai
kaidah/norma
sebagai
produk eksplisit dari
sumber kekuasaan politik
yang sah
Hukum sebagai institusi
sosial yang riil dan
fungsional dalam sistem
kehidupan bermasyarakat
Keadilan
Hukum dimaknai sebagai
Melihat dinamika
Bidang Kajian
Hukum
filsafat
Kepastian hukum
Jurisprudence
(ilmu
hukum
normatif)
Kemanfaatan
Sosiologi
Antropologi
Politi hukum
Psikologi hukum
Law and Society
Law in Action
Sejarah hukum
63
Metodologis/
comparative
law
gagasan
atau
ide,
sekumpulan norma dan
sebagai instrument atau
lembaga yang berada
pada ruang sosial pada
masa atau periode waktu
tertentu dengan segala
dinamikanya
Sekumpulan ide, norma
yang lahir pada ruang
sosial, sistem, struktur
dan kultur, kurun waktu
yang berbeda-beda yang
menyebabkan perbedaan
pada pemberian makna
dan sikap serta prilaku
hukum masyarakatnya
hukum masa lalu
untuk
merumuskan
hukum
masa
depan
Untuk
bahan
pertimbangan
dalam
pilihan
politik
hukum
guna merumuskan
sistem
hukum
yang lebih baik
Studi
perbandingan
hukum.
Matrik di atas memperlihatkan bahwa : Sejarah hukum memiliki ranah
kajiannya sendiri, sama halnya dengan perbadingan hukum dan 3 (tiga)
kajian hukum lainnya yang sudah dikenal lama dalam kepustakaan
(ilmu) hukum.
Bagan berikut ini memperlihatkan 5 (lima) paradigma
terhadap hukum.
Sosiologi
Hukum
Antropologi
hukum
Politik hukum
Psikologi
hukum
Law in Action
Law in Society
Filsafat Hukum
Hukum
Jurispruden
Ilmu hukum
normatif
Perbandingan
Hukum
Sejarah
Hukum
64
Jika suatu studi hukum menggunakan pendekatan sejarah, para
peneliti akan memasuki ranah kajian yang sangat luas dan membuat
siapa saja yang berminat untuk melihat hukum melalui perspektif
sejarah tidak akan pernah kering dari ide dan gagasan untuk dituliskan.
Kajian dapat dimulai dari teorinya sampai pada konsep dan
metodhe - sumber (data) - sejarahnya. Sama halnya denga studi
sejarah, maka sejarah hukum tidaklah semata-mata mengungkapkan
fakta sejarah yang berkaitan dengan hukum dari waktu ke waktu, tetapi
lebih dari itu adalah dengan melihat pada perjalanan sejarah hukum
suatu bangsa pada priode tertentu dapat lah menjadi bahan
pertimbangan guna refleksi atau pilihan (politik) hukum untuk masa
yang akan datang untuk mencioptakan keadaan (hukum) yang lebih
baik, lebih mampu menjawab tantangan masa datang.
Satu hal yang perlu difahami dalam paradigma sejarah hukum
adalah hukum diberlakukan pada ruang sosial (bukan ruang hampa)
pada masa atau priode waktu tertentu. Sama halnya dengan perubahan
dalam masyarakat, maka hukum yang berada pada ruang sosial itu akan
bergerak (berevolusi) seiring dengan berjalannya waktu. Itu sebabnya
hampir dapat dipastikan apa yang dilarang oleh hukum hari ini adalah
apa yang dahulunya dibolehkan. 33 Contoh jika ganja hari ini tidak boleh
disalahgunakan, maka batasan tentang frase “disalahgunakan” itu telah
berubah. Ganja tak boleh “diisap” seperti rokok, yang dahulu sebelum
keluar UU larangan penyalah gunaan narkotika hal semacam itu
dibolehkan. Sekarang tidak saja diisap, tapi disimpan pun dilarang,
padahal daun dan biji ganja itu baik juga untuk campuran bumbu masak
(membuat daging menjadi cepat empuk dan masakan lainnya menjadi
gurih). Sejarah hukum telah mencatat juga bagaimana perintah raja
menjadi hukum dan raja selalu dianggap tak pernah bersalah.
Memasuki perkembangan Hukum Tata Negara Modern hal itu saat ini
tak pernah dijumpai lagi, sekalipun negeri itu menganut sistem
monarchi absolut.Kekuasaan Raja atau Kaisar pada zaman dahulu
berbeda dengan kekuasaan Raja atau Kaisar pada zaman sekarang. Raja
di Inggeris, Arab Saudi, Monaco, Belgia dan Kaisar di Jepang pada
masa lalu telah meninggalkan hukum yang mengekang hak-hak rakyat,
apalagi menitahkan suatu perintah yang melanggar hak azasi manusia.
Itulah sejarah hukum yang dari waktu ke waktu mengalami
perubahan.Meminjam ajaran tentang sistem hukum yang ditawarkan
33
G.W. Paton, A Textbook of Jurisprudence, Yayasan Gadjah Mada,
Yogyakarta, 1955.
65
oleh Friedman 34 maka yang menjadi obyek kajian sejarah hukum
adalah materi hukum yang berlaku (substansi) dan lembaga-lembaga
hukum (struktur) serta prilaku hukum masyarakatnya (kultur) pada
ruang sosial (tempat) dan priode (waktu) tertentu.
Model Kajian Sejarah Hukum
Untuk melukiskan sebuah kajian sejarah terhadap (sistem)
hukum dalam satu kurun waktu tertentu, uraian berikut ini akan
meminjam model yang dikembangkan oleh Marc Bloch ketika
menguraikan tentang Sistem Feodalisme di Eropa. Model yang
diperkenalkannya adalah model yang bersifat sinkronis dan diakronis
dalam kajian sejarah sosial.Dengan meminjam model yang
diperkenalkan oleh Bloch, dapat dijelaskan bahwa dalam model yang
sinkronis hukum digambarkan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari,
substansi, struktur dan kultur.Pendekatan yang digunakan oleh
Friedman menyiratkan pada model sinkronis yang melihat potret
hukum dalam keadaan statis dalam keadaan waktu nol.Sebuah model
sinkronis lebih mengutamakan “lukisan yang meluas” dalam ruang
dengan tidak memikirkan terlalu banyak mengenai dimensi waktunya.
Sebaliknya, model yang diakronis lebih mengutamakan memanjangnya
lukisan yang berdimensi waktu dengan sedikit saja luasan ruangan.
Model sinkronis digunakan oleh studi (ilmu) hukum,
sedangkan model diakronis digunakan oleh kajian (ilmu) sejarah.
Dengan sedikit memodifikasi Johan Galtung 35 untuk menggambarkan
hubungan antara kajian (ilmu) hukum yang sinkronis dengan kajian
(ilmu) sejarah yang diakronis dapat kami tampilkan gambar berikut
ini :
34
Friedman, Lawrence M., The Legal System A Social Science Perspective,
Russell Sage Foundation, New York, 1975
35
Johan Galtung, Studi Perdamaian Perdamaian dan Konflik
Pembangunan dan Peradaban, Pustaka Eureka, Surabaya, 2003.
66
Sinkronis
Ilmu hukum
Diakronis
sejarah
Sumber : Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 1994, hal
37).
Kajian (ilmu) hukum normatif selama ini hanya melihat
hukum melalui model sinkronis, dengan menawarkan sturuktur dan
fungsinya disertai dengan gambaran tentang latar belakang mengapa
hukum itu diperlukan (biasanya dimuat dalam konsiderans ketika
peraturan itu dilahirkan). Model diakronis tidak saja menawarkan
struktur dan fungsinya akan tetapi juga menawarkan sebuah model
dinamis sehingga hukum dilihat dalam arus gerak pada peristiwa demi
peristiwaatau kejadian yang kongkret. Itulah tujuan penulisan sejarah
hukum.Penulisan sejarah hukum harus menggunakan model diakronis
dengan meklihat pada bahan-bahan hukum dan aktualitasnya. Jadi,
lebih dari sekedar model-model yang kemudian diterapkan dengan
paksa pada lukisan sejarahnya. Oleh karena pertumbuhan sejarah
hukum suatu bangsa mempunyai jalannya sendiri (memang tidak
tertutup kemungkinan adanya kesamaan) maka untuk setiap masyarakat
perlu adanya model hukum yang dikembangkan sendiri. Menarik
untuk dijadikan bahan pisau analisis sejarah berkaitan dengan
67
ungkapan ini, yakni pandangan Chambliss dan Seidman yang menurut
hemat kami menjadi sangat relevan untuk dikutip:
Robert B. Seidman 36 dalam studinya melahirkan teori yang
sangat terkenal tentang pengadopsian atau transplantasi hukum asing
ini yakni “Theory The Law of Nontransferability of Law”. Kegagalan
sebuah negeri di Afrika (bekas jajahan Inggeris) untuk menerapkan
hukum Inggris di bekas negara jajahannya itu segera setelah Inggris
meninggalkan Afrika, adalah suatu bukti bahwa transplantasi atau
adopsi itu gagal.
Tapi tidak jarang pula, transplantasi hukum asing itu
memperlihatkan hasil yang baik, walau pada awalnya kurang dapat
diterima oleh masyarakatnya. Di Turki dan di beberapa negara bekas
koloni Inggeris, seperti Malaysia, Singapura, transplantasi hukum asing
itu dipandang cukup berhasil.
Dalam sejarah pengambilalihan hukum asing untuk dijadikan
hukum di negeri sendiri, untuk kasus di Indonesia memperlihatkan sisi
keberhasilan dan kegagalannya untuk bidang-bidang hukum pidana,
sejarah mencatat KUH Pidana Indonesia hari ini dapat diberlakukan di
wilayah Republik Indonesia secara unifikasi. Demikian juga hukum
formilnya yaitu Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Akan
tetapi, transformasi hukum perdata khususnya yang diatur dalam Buku
II KUH Perdata yang mengatur tentang tanah yang kemudian diadopsi
dan dimodifikasi kedalam UUPA ternyata mengalami kegagalan.
Persoalan agrarian dari waktu ke waktu di Indonesia belum dapat
diselesaikan dengan instrument hukum yang didasarkan pada hukum
peninggalan Kolonial dengan kombinasi hukum adat.
36
Lihat Seidman, Ann, Robert B. Seidman, State and Law in The
Development Process Problem-Solving and Institutional Change in the Third World, St.
Martin’s Press, 1994, hal. 69. Lihat juga Seidman, Robert B., The State, Law and
Development, St. Martin's Press, New York, 1978, hal. 125.Indonesia sendiri dalam
sejarah pemberlakuan KUH Perdata yang berasal dari Kolonial Belanda juga gagal. KUH
Perdata oleh Mahkamah Agung hanya diposisikan sebagai pedoman saja bagi hukum
untuk memutus, tapi bukan sebagai hukum formal yang ketat untuk diikuti. Begitupun
setelah Buku II KUH Perdata dicabut selalu dibukukan dalam UUPA No. 5 Tahun 1960
tentang Hukum Agraria, dengan mengambil sebagian besar norma hukum KUH Perdata.
Lihatlah konsep hak milik (eigendom). Konsep HGU (erfacht), Hak Pakai, Hak Guna
Bangunan yang diambil dari BW gagal diimplementasi di tengah-tengah masyarakat
Indonesia. Tak ada HGU Asing Sacfindo, Lonsum yang tidak diperpanjang akibatnya
hak-hak atas tanah itu tak pernah dapat didistribusikan ke rakyat. HGU sama maknanya
dengan hak milik, terkuat, terpenuh dan hilang fungsi sosialnya. Rakyat kehilangan
sumber pekerjaan, akhirnya menjadi TKW di negara asing. Demikian juga tentang
Hukum Lingkungan, Hukum Perlindungan Konsumen, gagal diterapkan di Indonesia.
68
Bagan berikut ini memperlihatkan bagaimana pengaruh
berbagai komponen dalam ruang sosial pada tataran basic policy dan
enachment policy dalam pembentukan hukum di Indonesia. Meminjam
model yang dikembangkan oleh Chambliss dan disesuaikan dengan
kondisi hukum Indonesia bagan berikut ini dapat membantu untuk
sekedar memberikan penjelasan.
Scema Legal Policy Process (Basic Policy and Enactment Policy)
Indonesian Law
Arena of
choice
Legislatif
(Parlement/
Legislative)
Pressure Power
Person
Basic Policy
Secondary Roles
Primary Roles
Feedback
Feedback
Yudikatif
(Judiciary)
Pressure
Power
Institusional
Arena of
choice
Pressure Power
Institusional
- International
Convention
- the interests of
developed
countries
- political parties
Law enforcement
(Enactment Policy)
Pressure Power
Person and social
group/steakholders
Arena of
choice
Feedback
Pressure
Power Person
Person
Pressure
Power
Institusional
Source : OK. Saidin, 2013, Transplantasi Hukum Asing ke Dalam Undang-undang Hak
Cipta Nasional dan Penerapannya Terhadap Perlindungan Karya
Sinematografi (Studi Kasus Tentang Dinamika Politik Hukum dari
Auteurswet 1912 ke TRIPs Agreement 1994), Disertasi, Pascasarjana USU,
Medan, p.17, dimodifikasi.
69
Sejarah hukum suatu bangsa akan selalu membawa warna
hukum sendiri bagi bangsa itu. Masuknya peradaban Hindu, kemudian
Islam telah membawa perubahan besar meskipun secara evolusi dalam
perubahan tata hukum Indonesia. Demikian pula masuknya Koloni
Portugis, Belanda dan Jepang telah juga membawa perubahan baru
pada sistem hukum Indonesia. Alam kemerdekaan dan diikuti dengan
tranformasi peradaban global tak sedikit pula membawa perubahan
pada pilihan politik pembentukan hukum nasional Indonesia.
Dengan meminjam pandangan sejarawan terkemuka Jan
Vansia, dapatlah disimpulkan bahwa model diakronis akan
menunjukkan bagaimana evolusi dari sebuah bentuk hukum dan
menghilang+kan rekaan waktu nol. Model diakronis inilah
sesungguhnya yang akan membuahkan kematangan dalam mengambil
keputusan untuk melengkapi studi-studi dengan model singkronis.
Dalam kajian sejarah hukum, hukum bukanlah suatu gejala pada waktu
nol yang tidak berubah, tetapi sesuatu yang mengalami transformasi
sepanjang waktu. Oleh karena itu menjadi sah penafsiran sosiologis,
penafsiran antropologis untuk menjelaskan fenomena perubahan yang
hukum “statis” tak mampu memberikan jawaban. Lebih dari itu
penafsiran historis akan jauh lebih penting karena ia akan berbicara dan
mengungkapkan penggalan-penggalan peristiwa (kejadian) yang tak
terputus, yang dapat diurut dan dirunut dari waktu ke waktu untuk
sampai pada penggalan terakhir yang juga akan bergerak maju secara
dinamis. Rangkaian kejadian yang susul menyusul tidak saja menjawab
mengenai apa yang ada akan tetapi akan menjawab mengapa sesuatu
itu ada dan bagaimana terjadinya. Hubungan kausal antara satu
peristiwa hukum dengan peristiwa hukum lainnya, pilihan politik
hukum dengan pertarungan kekuasaan politik di badan legislatif,
prilaku hukum penguasa dan rakyat berupa perbuatan-perbuatan
dengan kesengajaan adalah merupakan esensi dari penulisan sejarah
hukum.Sejarah hukum bukanlah suatu susunan sinkronis dari peristiwa
hukum atau korelasi antar variabel hukum yang merupakan urutan
sebuah situasi, tetapi sejarah hukum adalah urutan dinamis atau
dialektis dengan waktu yang jelas.
70
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persoalan pertama yang akan diketengahkan dalam penelitian
ini adalah persoalan dinamika politik hukum37 pembentukan Undangundang Hak Cipta Nasional, yang diwarnai dengan dominasi hukum
asing. Transplantasi hukum telah menjadi pilihan dalam kebijakan
pembangunan hukum di banyak negara di dunia. Khusus Indonesia,
dalam dinamika sejarah proses pembentukan peraturan perundangundangannya, transplantasi hukum telah menjadi pilihan politik hukum
negeri ini. Dinamika sejarah politik hukum kelahiran Undang-undang
Hak Cipta Nasional Indonesia mengalami sejarah yang panjang. Mulai
zaman kolonial diawali dari Auteurswet 1912 Stb No. 600 hingga
zaman pasca kemerdekaan. Selama kurun waktu pasca kemerdekaan
hingga hari ini, telah berlangsung 5 (lima) kali perubahan Undangundang Hak Cipta Nasional Indonesia. Perubahan-perubahan itu
semuanya memiliki nuansa dan latar belakang sosio-politik tertentu
pada zamannya.
Pada zaman sebelum masuk Kolonial Asing, terminologi hak
cipta38 tidak dikenal dalam perbendaharaan kata-kata dalam hukum asli
37
Hikmahanto Juwana, Politik Hukum Undang-undang Bidang Hukum
Ekonomi di Indonesia, dalam Jurnal Hukum Vol. 01 No. 1 Tahun 2005, Sekolah
Pascasarjana USU, hal. 28-47. Berbagai tujuan dan alasan dari dibentuknya suatu
peraturan perundang-undangan disebut sebagai politik hukum (legal policy). Mengacu
pada pendapat Hikmahanto Juwana bahwa Undang-undang Hak Cipta yang pernah
berlaku di Indonesia adalah undang-undang yang dibuat secara sengaja oleh institusi
negara dengan tujuan dan alasan tertentu. Terdapat banyak alasan ketika Undang-undang
Hak Cipta Indonesia dibuat yang semula berasal dari Auteurswet 1912 Stb. 600 harus
diubah dengan Undang-undang No. 6 Tahun 1982, kemudian disempurnakan melalui
Undang-undang No. 7 Tahun 1987 kemudian dirubah lagi dengan Undang-undang No.
12 Tahun 1997, terakhir diubah dengan Undang-undang No. 19 Tahun 2002.
38
Mengenai terminologi hukum hak cipta, lihat D David Bainbridge,
Intellectual Property, Pearson Education Limited, England, 2002, hal. 16. Hak cipta
adalah bahagian dari Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights). Hak
kekayaan intelektual terdiri dari hak cipta dan hak kekayaan perindustrian. Hak cipta
terdiri dari hak cipta original dan hak yang berhubungan dengan hak cipta (neighboring
rights). Hak kekayaan industri terdiri dari hak paten, hak merek, hak desain industri,
perlindungan varietas baru tanaman dan perlindungan elektronika terpadu. Lihat juga
Catherine Colston, Principles of Intellectual Property Law, Cavendish Publishing
Limited, London, Sydney, 1999, hal. 23. Bandingkan juga Cornish & Llewelyn,
Intellectual Property : Patents, Copyright, Trade Marks and Allied Rights, Thomson,
Sweet & Maxwell, 2003, hal. 18. Lihat lebih lanjut Andrew Christie & Stephen Gare,
71
Indonesia. Entah itu dalam terminologi hukum adat maupun dalam
terminologi hukum kebiasaan. 39
Terminologi hukum hak cipta diambil dari terminologi hukum
asing auteursrechts dalam terminologi hukum Belanda atau copy rights
Blackstone’s Statutes on Intellectual Property, Oxford University Press, New York, 2004,
hal. 35. Lihat juga Deborah E. Bouchoux, Protecting Your Company’s Intellectual
Property, Broadway, New York, 2001, hal.42. Lihat juga Christopher May, The Global
Political Economy of Intellectual Property Rights, The new enclosures Second Edition,
Routledge, London, 2010, hal. 41. Lihat juga Jill McKeough, Kathy Bowrey & Philip
Griffith, Intellectual Property Commentary and Materials, Lawbook Co, Australia, 2002.
Lihat juga Thomas A. Stewart, Intellectual Capital The New Wealth of Organizations,
Broadway, New York, 1997, hal. 19. Lihat juga Kenny K.S. Wong and Alice, A Practical
Approach To Intellectual Property Law In Hong Kong, Sweet & Maxwell Asia,
Hongkong, 2002, hal. 56. Lihat juga Xue Hong & Zheng Chengsi, Chinese Intellectual
Property Law in The 21 st Century, Sweet & Maxwell Asia, Hong Kong, 2002, hal. 38.
Lihat juga Peter J. Groves, Source Book on Intellectual Property Law, Cavendish
Publishing Limited, London, 1997, hal. 11. Lihat juga Peter Tobias Stoll, Jan Busche and
Katrin Arend, WTO – Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights, Martinus
Nijhoff Publishers, Leiden – Boston, 2009, hal. 44. Bandingkan juga Paul Torremans,
Jon Holyoak, Holyoak and Torremans, Intellectual Property Law, Butterworths, London,
1998, hal. 71. Lihat juga Corynne Mc Sherry, Who Owns Academic Work ? Battling for
Control of Intellectual Property, Harvard University Press, London, 2001, hal. 19.
Bandingkan juga Mr. E.J. Arkenbout, Mr. P.G.F.A. Geerts, Mr. P.A.C.E. van der Kooij,
Rechtspraak Intellectuele Eigendom, koninklijke vermande, Den Haag, 1997, hal. 44.
39
Di Inggris, hak cipta baru masuk dalam ranah hukum berdasarkan
Keputusan Kerajaan pada tahun 1556, lihat lebih lanjut, Tomi Suryo Utomo, Hak
Kekayaan Intelektual (HKI) di Era Global Sebuah Kajian Kontemporer, Graha Ilmu,
Yogyakarta, 2010, hal. 5 Walaupun sebelumnya yakni pada tahun 1476 cikal bakal
perlindungan hak cipta itu telah muncul di Inggris pada saat perusahaan penerbit William
Caxton memproduksi penerbitan buku untuk pertama kali kemudian diikuti pada tahun
1534 dimunculkan pembicaraan-pembicaraan tentang royalty atas pemanfaatan hak cipta
oleh pihak ketiga. Terakhir mengenai perlindungan copyrights dimunculkan dalam The
Statute of Anne, 8 Anne, C.19, tahun 1710. Lebih lanjut lihat Craig Joyce, et.all,
Copyright Law, Second Edition, Matthew Bender, America, 1991, hal. 6. Istilah hak
cipta, di Indonesia tidak dijumpai dalam literature Hukum Adat. Akan tetapi, bentuk bentuk karya cipta memang telah dikenal seperti seni tari, pencak silat, seni batik, lagu
tradisional, senandung, seni lukis, seni drama, ludruk, wayang, sudah dikenal baik dalam
tradisi masyarakat Indonesia. Karya-karya cipta semacam itu, belum dilindungi
berdasarkan konsep dan sistem hukum seperti sekarang ini. Sehingga bentuk
perlindungannya pun tidak sepenuhnya didasarkan pada norma atau sistem hukum yang
baku. Masing-masing daerah ditemukan bentuk-bentuk perlindungan yang berbeda-beda.
Misalnya saja jika hendak melantunkan senandung (sebuah karya seni di pesisir pantai
Sumatera Timur, yang dikenal dengan Senandung Asahan) si pelantun senandung
diberikan semacam kompensasi yang bernuansa religius, uang yang mirip dengan royalty
itu disebut sebagai “penajam”. Jadi, instrument hukum tentang itu terjadi tanpa disengaja.
Ia lahir tidak seperti lahirnya undang-undang yang memang sejak awal telah didisain
dengan tujuan, kepentingan serta alasan politis tertentu. Wawancara dengan Usman,
Pelantun Senandung Asahan pada tanggal 12 Juni 2013 di Desa Lubuk Besar Kabupaten
Batubara.
72
dalam terminologi hukum Inggris atau Amerika. Oleh karena itu dapat
dipahami (sebagai konsekuensi logis) jika di kemudian hari Indonesia
memiliki peraturan perundang-undangan hak cipta, pastilah itu bukan
bersumber dari hukum Indonesia asli. Undang-undang itu pastilah
diambil alih dari hukum asing. Mengapa Indonesia harus memiliki
Undang-undang Hak Cipta sendiri ? Bagaimana jika Indonesia tidak
memiliki Undang-undang Hak Cipta sendiri? Atau jika Undang-undang
Hak Cipta itu sebuah keharusan, dikarenakan tuntutan kemajuan
peradaban umat manusia, mengapa Indonesia tidak membuat saja
Undang-undang Hak Cipta sendiri menurut model hukum Indonesia?.
Model hukum yang disusun berdasarkan the original paradigmatic
values of Indonesian culture and society,40 tanpa harus merujuk pada
model hukum atau Undang-undang Hak Cipta asing ?. Sederet
pertanyaan itu, adalah merupakan pertanyaan awal yang melatar
belakangi pilihan politik hukum pembentukan Undang-undang Hak
Cipta Nasional.
Perlindungan terhadap hak cipta adalah perlindungan hak yang
mengacu pada model yang pertama kali dikenal di belahan dunia Barat
(Amerika dan Eropa Barat). Negara yang lebih dahulu maju
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi diikuti dengan
kemajuan dalam dunia industeri dan perdagangan yang kesemua itu
memunculkan hak-hak ekonomi (property right) mengupayakan agar
hak-hak tersebut dilindungi sejarah hukum dan kemudian muncullah
40
Istilah ini diperkenalkan oleh M. Solly Lubis pada bimbingan pertama
proposal (usulan disertasi ini) tanggal 12 Januari 2012. Istilah the original paradigmatic
values of Indonesian culture and society kandungan dari nilai-nilai khas yang bersumber
dari pandangan budaya dan bangsa Indonesia yang diwariskan oleh nenek moyang
Bangsa Indonesia sejak berabad-abad yang lalu. Nilai-nilai budaya ini yang membedakan
sistem hukum Indonesia dengan sistem hukum yang dikenal di berbagai belahan dunia.
Terdapat kombinasi dari berbagai nilai-nilai sosial dan budaya yang menurut Fred. W.
Riggs, sebagai pilihan nilai prismatik. Lebih lanjut lihat Fred W. Riggs, Administration in
Developing Countries : The Theory of Prismatic Society, Boston, Houghton Mifflin
Company, 1964, hal. 17. Riggs, mencoba untuk mencari jalan tengah ketika
mengidentifikasi pilihan kombinatif atau nilai-nilai sosial budaya yang bervariatif.
Kerangka acuan yang digunakan Riggs adalah pembangunan hukum diletakkan di atas
nilai-nilai sesuai dengan tahap perkembangan sosial kultur dan sosial ekonomi
masyarakat yang bersangkutan. Layaknya sebagai prisma, masuknya satu nilai
(paradigma tunggal) akan memancarkan banyak variasi (multi paradigma). Nilai-nilai
yang multi paradigma itulah untuk kasus Indonesia dipandang sebagai nilai-nilai khas
atau nilai-nilai asli (the original paradigmatic values) yang bersumber dari kehidupan
sosial budaya Indonesia (Indonesian culture and society) yang kemudian mengkristalkan
tujuan, dasar dan cita hukum serta norma dasar negara Indonesia yang dimuat dalam
Pembukaan (staatsfundamentalnorm) dan batang tubuh Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
73
proteksi itu dalam bentuk perlindungan Hak Kekayaan Intelektual yang
diwujudkan dalam bentuk aturan normatif. Barat adalah belahan dunia
yang pertama kali memperkenalkan model-model proteksi hukum
terhadap hasil karya ciptanya dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan
sastra, yang dikenal dengan copy rights. Kemudian setelah dunia
industeri dan perdagangan berkembang muncullah hak kekayaan
perindusterian (industrial property rights) meliputi; paten, merk, desain
industeri, perlindungan varietas baru tanamanm perlindungan
elektronik sirkuit terpadu, dan lain sebagainya. Sekalipun karya cipta
atau ciptaan yang sama dikenal juga dibelahan dunia Timur, namun
Timur lebih arif dalam memaknai hasil karya ciptanya, lebih bernuansa
humanis dan komunal tidak berdasarkan pertimbangan prinsip
individualis dan pertimbangan ekonomi semata-mata, karena itu model
proteksi haknya tidak dirumuskan dalam kaedah-kaedah hukum formal
yang bernuansa individualis dan kapitalis.41
Prinsip individualis dan prinsip ekonomi kapitalisme 42 telah
mengantarkan Barat pada proteksi hasil karya dalam bidang ilmu
41
Erman Rajagukguk, dalam kuliahnya selama semester B pada Program
Pasca Sarjana USU, dalam mata kuliah Budaya Hukum, pernah menceritakan, bagaimana
seorang pembatik, lalu batiknya itu ditiru oleh orang lain, ia merasa puas jika karya
ciptanya itu ditiru oleh orang lain. Sebagai pencipta ia merasa beruntung menciptakan
sesuatu yang berguna bagi orang lain dan menurutnya juga ia mendapat pahala. Demikian
budaya hukum yang dianut oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Budaya hukum Timur
memang berbeda dengan budaya hukum Barat. Nilai-nilai individualis selalu
dikesampingkan ketika berhadapan dengan kepentingan masyarakat yang lebih luas.
42
Lihat Stanislav Andreski, Max Weber : Kapitalisme, Birokrasi dan Agama,
PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 1989, hal. 52. Lihat juga Revrisond Baswir, Dilema
Kapitalisme Perkoncoan, IDEA Kerjasama dengan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999,
hal. 29. Lihat juga Max Weber, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Pustaka
Promethea, Surabaya, 2000, hal. 54. Bandingkan juga Francis Fukuyama, The End of
History and The Last Man Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal, Qalam,
Jakarta, 2003, hal. 22. Lihat juga Hernando De Soto, The Mystery of Capital Rahasia
Kejayaan Kapitalisme Barat, (Terjemahan Pandu Aditya K dkk), Qalam, Jakarta, 2000,
hal. 62. Bandingkan juga William J. Baumol, Robert E. Litan, Carld J. Schramm, Good
Capitalism Kapitalisme Baik, Kapitalisme Buruk dan Ekonomi Pertumbuhan dan
Kemakmuran, (Terjemahan Rahmi Yossinilayanti), Gramedia, Jakarta, 2010, hal. 60.
Bandingkan juga Johan Norberg, Membela Kapitalisme Global, (Terjemahan Arpani),
The Freedom Institute, Jakarta, 2001, hal. 84. Lihat juga David Harvey, Imperialisme
Baru Genealogi dan Logika Kapitalisme Kontemporer, Resist Book, Yogyakarta, 2010,
hal. 43. Lihat juga Ann Laura Stoler, Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan
Sumatra, 1870-1979, KARSA, Yogyakarta, 2005, hal. 55. Lihat juga Djoko Dwiyanto
dan Ignas G. Saksono, Ekonomi (Sosialis) Pancasila Vs Kapitalisme Nilai-nilai
Tradisional dan Non Tradisional Dalam Pancasila, Keluarga Besar Marhenisme,
Yogyakarta, 2011, hal. 72. Bandingkan juga Muhammad Yunus, Bisnis Sosial Sistem
Kapitalisme Baru Yang Memihak Kaum Miskin, (Terjemahan Alex Tri Kantjono),
Gramedia, Jakarta, 2011, hal. 63. Lihat lebih lanjut Subcomandante Marcos, Atas dan
74
pengetahuan seni dan sastra yang dirumuskan sebagai hak cipta yang
merupakan hak eksklusif atau hak khusus yang yang dilekatkan kepada
pencipta atau penerima hak. Orang lain di luar pencipta tidak
diperkenankan menikmati hak cipta tersebut tanpa izin penciptanya.
Inilah kemudian dikembangkan di dunia Timur, setelah Barat
mengalami kemajuan peradaban dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi dan memenangkan berbagai peperangan dan dominasi politik
global yang mengalahkan Timur. Barat kemudian dikenal sebagai
belahan dunia yang maju dalam peradaban ilmu pengetahuan dan
teknologi yang kemudian dikenal sebagai penggagas peradaban
modern. Hukum yang dikembangkan di Barat, dipandang pula sebagai
hukum modern, hukum yang lebih rasional, lebih demokratis dan
berkeadilan serta lebih terbuka terhadap semua lapisan masyarakat
yang tidak membeda-bedakan manusia dari segi ras atau suku bangsa,
serta agama dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Ketika arus gelombang modernisasi yang membawa
peradaban Barat (termasuk lmu pengetahuan dan teknologi) termasuk
sistem hukum itu menyeruak ke seluruh penjuru dunia termasuk ke
belahan bumi Timur – tentu Indonesia berada di dalamnya - maka
keharusan untuk mengikuti aturan-aturan yang dipandang modern itu,
mau tidak mau harus pula diikuti. Dalam konteks ini menjadi keharusan
bagi Indonesia untuk turut serta dalam keanggotaan organisasi
Internasional, dan keanggotaan dalam berbagai perjanjian bilateral
(dalam bentuk traktat) atau perjanjian yang bersifat regional atau
internasional (dalam bentuk konvensi). Sekalipun tidak ada keterikatan
secara mutlak menurut sistem hukum Indonesia terhadap perjanjian
Internasional itu – meskipun Idonesia menganut teori Primat Hukum
Internasional menurut faham Moechtar Koesoemaatmadja yang berarti
tanpa transformasi hukum Internasional ke hukum Nasional hukum itu
tetap mengikat- akan tetapi menurut Hikmahanto43 kewajiban untuk
Bawah : Topeng dan Keheningan Komunike-komunike Zapatista Melawan
Neoliberalisme, Resist Book, Yogyakarta, 2005, hal. 33. Lihat juga M. Daniel Nafis,
Indonesia Terjajah Kuasa Neoliberalisme Atas Daulat Rakyat, Inside Press, Jakarta,
2009, hal. 46. Bandingkan juga Syafaruddin Usman & Isnawita, Neoliberalisme
Mengguncang Indonesia, Narasi, Yogyakarta, 2009, hal. 58. Bandingkan juga Budi
Winarno, Melawan Gurita Neoliberalisme, Erlangga, Jakarta, 2010, hal. 39. Lihat juga
M. Daniel Nafis, Indonesia Terjajah Kuasa Neoliberalisme Atas Daulat Rakyat, Inside
Press, Jakarta, 2009, hal. 68. Lihat juga Wim Dierckxsens, The Limits of Capitalism an
Approach to Globalization Without Neoliberalism, Zed Books, New York, 2000, hal. 70.
43
Kewajiban untuk melakukan transformasi dalam perjanjian internasional
yang berkatagori law making kerap diamanatkan secara tertulis. Sebagai contoh dalam
Pasal XVI ayat (4) WTO Agreement disebutkan, “Each member shall ensure the
75
mentransformasikan hukum internasional ke dalam hukum nasional
(untuk perjanjian Internasional yang berkatagori law making) tetap
diharuskan.
Jika tidak, negara-negara itu akan tertinggal. Tertinggal dalam
mendapat akses ekonomi termasuk alih teknologi yang bersumber dari
ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di dunia Barat,
terkucil dalam pergaulan Internasional, tersisih dalam percaturan
perdagangan Internasional atau terabaikan dalam proses perkembangan
peradaban dunia. Oleh karena itu menurut Ningrum Natasya Sirait 44
bagi Indonesia, globalisasi yang ditawarkan oleh peradaban Barat yang
sebagian besar dimotori dari - capaian Uruguay Round yang
menghasilkan sistem perdagangan internasional yang tertuang dalam
GATT dan WTO lebih dari sekedar keharusan untuk diikuti. Sistem
perdagangan yang ditawarkan oleh GATT dan WTO hasil Putaran
Uruguay tahun 1994 itu tidak hanya menyangkut perdagangan
Internasional semata-mata, akan tetapi menyangkut aspek politik tata
ekonomi Internasional yang baru sama sekali dan dalam
implementasinya menurut Hatta melibatkan pula faktor-faktor non
conformity of its laws, regulations and administrative procedures with its obligations as
provided in the annexed Agreements”.
Demikian pula dalam Pasal 4 ayat (1) Convention against Torture and Other Cruel,
Inhuman or Degrading Treatment or Punishment disebutkan bahwa, Each State Party
shall ensure that all acts of torture are offences under its criminal law”.
Mencermati ketentuan tersebut tidak bisa lain demikian menurut Hikmahanto, selain
ditafsirkan adanya keharusan suatu negara untuk menterjemahkan ke dalam peraturan
perundang-undangan nasional suatu perjanjian internasional yang telah diikuti.
Dalam uraiannya Hikmahanto mengkaji perdebatan yang sering mengemuka di
Indonesia, yaitu apakah pasca keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian internasional
yang berkatagori law-making harus diikuti dengan transformasi ke dalam peraturan
perundang-undangan ? Beliau berpendapat bahwa untuk perjanjian internasional yang
bersifat law-making maka negara memiliki kewajiban untuk menterjemahkan ke dalam
peraturan perundang-undangan.
Hikmahanto mengambil studi kasus atas ratifikasi dari Convention on International
Interests in Mobile Equipment (Konvensi tentang Kepentingan Internasional dalam
Peralatan Bergerak) beserta Prtocol to the Convention on International Interests in
Mobile Equipment on Matters Specific to Aircraft Equipment (Protokol pada Konvensi
tentang Kepentingan Internasional dalam Peralatan Bergerak mengenai masalah-masalah
khusus pada peralatan pesawat udara). Untuk memperluas masalah ini Indonesia
meratifikasi Capetown Convention dengan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2007 yang
telah diikuti, lebih lanjut lihat Hikmahanto Juwana, Hukum Internasional Dalam
Perspektif Indonesia Sebagai Negara Berkembang, PT. Yarsif Watampone, Jakarta,
2010, hal. 85-92.
44
Lebih lanjut lihat Ningrum Natasya Sirait, Indonesia Dalam Menghadapi
Persaingan Internasional, Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap Dalam Bidang Ilmu
Hukum Internasional, pada Falultas Hukum USU , tanggal 2 September 2006.
76
hukum. 45 Sistem GATT/WTO dan perjanjian ikutannya berupa TRIPs
Agreement (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights)
berkaitan pula dengan aspek investasi yang dimuat dalam persetujuan
TRIMs (The Agreement on Trade-Related Investment Measures).
Investasi asing yang bersumber dari ilmu pengetahuan dan teknologi itu
pun menjadi terhambat, jika hak atas ciptaan (atau dalam konteks Paten
merupakan temuan)
mereka tidak dilindungi menurut standar
perlindungan yang berlaku di negaranya. Belum lagi ancaman negaranegara maju yang tidak mau berinvestasi dan bahkan menolak izin
ekspor barang-barang produksi dari negara yang masuk dalam kategori
negara pelanggar hak cipta atau pembajak. 46 Itulah sebabnya kemudian
mengapa Indonesia harus memiliki Undang-undang Hak Cipta yang
disesuaikan dengan standar perlindungan internasional, sekalipun pada
waktu itu kebutuhan undang-undang semacam itu bagi kepentingan
hukum dalam negeri Indonesia bukanlah merupakan kebutuhan hukum
yang mendesak.
Pada mulanya, ketika Indonesia harus memiliki Undangundang Hak Cipta sendiri, pilihan politik hukum Indonesia ketika itu
sangat pragmatis, dari pada membuat hukum Hak Cipta dengan model
Indonesia sendiri, adalah lebih baik jika memodifikasi saja undangundang yang sudah ada yakni Auteurswet Stb No. 600 Tahun 1912. 47
Undang-undang ini memang produk Kolonial Belanda, akan tetapi
45
Lihat lebih lanjut Hatta, Perdagangan Internasional Dalam Sistem GATT
dan WTO Aspek-aspek Hukum dan Non Hukum, PT. Refika Aditama, Bandung, 2006, hal
36
46
Kasus menarik adalah ketika eksport garmen Indonesia ditolak untuk masuk
ke Amerika disekitar tahun 1990-an, karena Indonesia masuk dalam kategori negara
pembajak karya hak kekayaan intelektual. Demikian juga hal yang sama diberlakukan
oleh Amerika terhadap Cina, karena Cina masuk dalam kategori negara pembajak karya
cipta (HKI) atau pelanggaran HKI terbesar di dunia.
47
Ini terlihat mulai dari sistematika undang-undangnya sampai pada
substansinya yang tidak jauh berbeda untuk tidak dikatakan memfotocopy saja wet
peninggalan Kolonial Belanda itu. Auterurswet 1912 ini diberlakukan di wilayah Hindia
Belanda berdasarkan azas konkordansi. Wet ini di Negara asalnya Belanda, diperbaharui
tanggal 1 November 1912 yang merupakan pembaharuan dari undang-undang hak
ciptanya yang pertama yang dibuat pada tahun 1881. Pembaharuan undang-undang ini
dilakukan karena Kerajaan Belanda sama dengan Negara-negara di kawasan Eropa Barat
lainnya, telah mengikatkan dirinya dalam Konvensi Bern 1886. Setelah Kerajaan Belanda
memperbaharui Undang-undang Hak Cipta tahun 1881 dengan Auteurswet 1912
Kerajaan Belanda kemudian mengikatkan dirinya pada tanggal 1 April 1913 dalam
keanggotaan Konvensi Bern 1886. Tentu saja sebagai daerah jajahan, keikutsertaan
Belanda dalam konvensi ini menyebabkan Indonesia diikutsertakan pada konvensi
tersebut dengan didaftarkannya dalam Staatblad 1914 No. 797. Lebih lanjut lihat, Suyud
Margono, Op.Cit, hal. 53-54.
77
pilihan kebijakan legislasi Indonesia – karena sejak awal belum
dianggap sebagai kebutuhan
mendesak – membiarkan begitu saja
berlaku “wet” ini di negara Indonesia Merdeka sampai dengan kurun
waktu 70 tahun. Baru pada tahun 1982 ada gagasan untuk merobah
undang-undang ini menjadi undang-undang yang lebih bernuansa
Indonesia, atau mengacu pada prinsip hukum yang original
paradicmatic values of Indonesian culture and society. 48 Terjadinya
perubahan itu adalah karena tuntutan perkembangan zaman yang di
dalamnya berisi muatan politik, ekonomi dan muatan sosio-kultural
lainnya yang terus berubah sebagai akibat dari capaian kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. 49 Pada zaman Hindia Belanda, Kolonial
Belanda memandang perlu diadakannya instrumen hukum yang
memberikan perlindungan kepada pencipta terhadap hasil karyanya.
Seperti telah diungkapkan di atas, diundangkanlah dalam Stb. 1912 No.
600 instrumen hukum yang melindungi karya cipta tersebut yang
dikenal dengan Auteurswet. Sampai masa kemerdekaan “wet” itu terus
berlaku – tentu saja berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ketika itu –
hingga Tahun 1982 diundangkan Undang-undang No. 6 Tahun 1982
tentang Hak Cipta yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 15 Tahun 1982 tanggal 12 April 1982 dan Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3217 mencabut Staatblad
1912 No. 600 tersebut tentang Auteurswet.50
Persoalan kedua, adalah persoalan pergeseran nilai-nilai
filosofis dalam pembentukan Undang-undang Hak Cipta Nasional yang
menggunakan pilihan politik pragmatis dengan model transplantasi
hukum. Isi dari undang-undang seyogyanya (das Sollen) harus mampu
menangkap semua harapan, ide, cita-cita hukum masyarakat Indonesia
yang berisikan the original paradicmatic value of Indonesian culture
and society (das Wollen), yang dirumuskan dalam ideologi negara
sebagai dasar falsafah negara yakni Pancasila sebagai grundnorm yang
kemudian diturunkan sebagai tata nilai atau asas-asas hukum untuk
kemudian dijelmakan ke dalam norma hukum konkrit.
48
Lihat BPHN, Seminar Hak Cipta, Binacipta, Jakarta, 1976 , hal. 82.
Perubahan pada cara pandang tentang kehidupan (philosophy of life, akan
merubah sistem hukum yang dipilih, lihat Jack M. Balkin, The Laws of Change, Sybil
Creek Press, Toronto-Canada, 2009 , hal. 72. Lihat juga lebih lanjut, Michael B. Gerrard
(ed), Global Climate Change and US Law, ABA Publishing, Chicago, 2007, hal. 105,
Bagaimana perubahan iklim global yang sebenarnya adalah perubahan fisik iklim bumi,
turut mempengaruhi perubahan hukum di Amerika Serikat.
50
Walaupun substansinya hampir dapat dipastikan masih sama dan senada
dengan Auteurswet Stb. 600 Tahun 1912.
49
78
Keharusan untuk melakukan perubahan perangkat hukum hak
cipta itu terjadi tidak terlepas dari tuntutan dan pengaruh internal yang
sesungguhnya tidak begitu dominan jika dibandingkan dengan tuntutan
eksternal yang berasal dari negara luar sebagai tuntutan arus perubahan
zaman dan kemajuan peradaban umat manusia yang dikenal dengan
globalisasi. Bagi Indonesia, selaku negara yang berdaulat, yang masuk
dalam kelompok negara-negara berkembang yang posisinya tidak sama
dengan 8 negara ekonomi maju atau disingkat G-8 (Kanada, Perancis,
Jerman, Italia, Jepang, Rusia, Britania Raya dan Amerika Serikat)
sejatinya harus mampu “menyaring” kepentingan asing yang dominan
(dominasi politik dan ekonomi asing) yang dimasukkan dalam
peraturan Undang-undang Hak Cipta Nasional. Harapan, ide-ide,
gagasan yang berisikan dan bercirikan Indonesia atau the original
paradicmatic values of Indonesian culture and society, adalah bahagian
penting yang harus dituangkan dalam pilihan kebijakan transplantasi
hukum hak cipta.
Legal transplants 51 atau legal borrowing, atau legal adoption
demikian istilah yang diperkenalkan oleh Alan Watson, 52 untuk
51
Pilihan terminologi legal transplants bermula dari mengikuti perkuliahan
Ningrum Natasya Sirait selama kurun waktu Semester Ganjil TA 2011-2012 dalam mata
kuliah Perbandingan Sistem Hukum. Beliau memperkenalkan buku yang ditulis oleh
Alan Watson yang berjudul “Legal Transplants An Approach to Comparative Law”
terbitan Scohish Academic Press, Amerika, Tahun 1974. Membaca naskah ini,
menyebabkan judul disertasi yang semula “Pengadopsian Hukum Asing” berubah
pilihannya menjadi Transplantasi Hukum. Terminologi hukum (rechts terminologie)
tentang transplantasi hukum digunakan oleh para ilmuwan hukum untuk menyebutkan
sebuah kebijakan negara yakni, pengambilalihan hukum asing untuk dijadikan hukum di
negara sendiri. Ada banyak istilah yang digunakan untuk menyebutkan peristiwa itu,
mulai dari istilah meminjam hukum asing, mengadopsi, migrasi hukum, translokasi
sampai pada istilah kolonisasi hukum asing dan ada lagi yang menggunakan istilah
okulasi. Sebut saja istilah legal receptions yang dikemukakan oleh Loukas A. Mistelis
dan Moh. Koesnoe, legal borrowing atau legal adoption yang dikemukakan oleh Alan
Watson sebelum ia sampai pada istilah legal transplants, legal migration istilah ini
digunakan oleh Katharina Pistor, legal colonization ini adalah istilah yang digunakan
Galanter, translocation of law ini adalah istilah yang diperkenalkan oleh Antony Allott,
legal surgery sebuah istilah yang dikemukakan oleh Loukas A. Mistelis, legal
transposition dikemukakan oleh Esin Orucu, legal change yang dikemukakan oleh Haim
H. Cohn, Lihat Julius Stone, Legal Change Essays in Honour of Julius Stone,
Blackshield, Butterworths Pty Limited, Australia, 1983, hal. 56. Bahkan Roscoe Pound
pernah menggunakan istilah “assimilation of materials from outside of the law”, untuk
menyebutkan rangkaian proses transplantasi hukum itu. Lebih lanjut lihat Tri Budiyoni,
Transplantasi Hukum Harmonisasi dan Potensi Benturan Studi Transplantasi Doktrin
Yang Dikembangkan dari Tradisi Common Law pada UU PT, Griya Media, Salatiga,
2009 , hal. 124, hal. 4. Guru besar ilmu hukum dari Delf Universiteit yang bernama : Mr.
W. C. Van Den Berg yang juga penasehat bahasa-bahasa Timur dan Hukum Islam pada
79
menyebutkan suatu proses meminjam atau mengambil alih atau
memindahkan hukum dari satu tempat atau dari satu negara atau dari
satu bangsa ke tempat, negara atau bangsa lain kemudian hukum itu
diterapkan di tempat yang baru bersama-sama dengan hukum yang
sudah ada sebelumnya. Transplantasi hukum itu dapat juga terjadi
karena keharusan untuk mentransfromasikan perjanjian Internasional
(perjanjian dalam bentuk law making), karena Indonesia turut serta
sebagai anggota konvensi Internasional itu. 53 Kasus semacam ini dapat
dilihat pada kasus tranformasi ketentuan GATT/WTO dan perjanjian
ikutannya seperti TRIPs Agreement yang menjadi dasar transplantasi
peraturan perundang-undangan HKI Indonesia, dan Kesepakatan
TRIMs yang menjadi dasar transplantasi peraturan perundangundangan tentang Penanaman Modal Asing, demikian juga beberapa
konvensi Internasional tentang lingkungan hidup dijadikan dasar bagi
penyusuanan peraturanperundang-undangan tentang Lingkungan Hidup
di Indonesia. Di samping itu transplantasi hukum dapat juga terjadi
karena adanya koloni atau aneksasi atau imperialis oleh satu negara
atas negara lain. Untuk kasus Indonesia, koloni yang dilakukan oleh
Pemerintah Belanda telah “memaksa” Indonesia untuk melakukan
penyesuaian hukum peninggalan Kolonial Belanda ke dalam hukum
Nasional Indonesia yang merupakan cikal bakal transplantasi.
Dalam keadaan damai tanpa peperanganpun transplantasi
hukum itu terus berlangsung, mengikuti kemajuan peradaban umat
manusia, karena kemajuan peradaban akan menimbulkan hubunganpemerintahan Hindia Belanda, pernah meneliti hukum adat di Indonesia dan melahirkan
teori yang sangat terkenal yaitu teori ”Receptio in Complexu”. Inipun sebenarnya masih
bercerita tentang terma transplantasi hukum Islam (hukum agama) ke dalam hukum adat,
bahkan kata Berg, seluruh hukum Islam diresepsi oleh hukum adat. Selama bukan
sebaliknya kata Berg menurut ajaran ini hukum pribumi ikut hukum agamanya sekalipun
jika ia berpindah agama ia-pun juga harus mengikuti hukum agamanya dengan setia.
Lihat Sajuti Thalib, Politik Hukum Baru Mengenai Kedudukan dan Peranan Hukum
Islam Dalam Pembinaan Hukum Nasional, Binacipta, Jakarta, 1987, hal. 51. Namun
pendapat ini ditentang oleh Hazairin, dia mengatakan tidak semua hukum adat itu
diresepsi dari hukum Islam, lihat lebih lanjut Hazairin, Tujuh Serangkai Tentang Hukum,
Bina Aksara, Jakarta, 1985, hal. 44. Intinya Berg mempergunakan istilah receptio untuk
term transplantasi.
52
Alan Watson, Legal Transplants An Approach to Comparative Law,
Scottish Academic Press, America, 1974, hal. 22. Dengan meminjam pandangan Roscoe
Pound Watson menulis “… and Roscoe Pound could write : “History of a system of law
is largely a history of borrowings of legal materials from other legal systems and of
assimilation of materials from outside of the law”, bandingkan Tri Budiyoni, Ibid, hal.
25; Gunawan Widjaja, Transplantasi Trusts dalam KUH Perdata, KUHD dan Undangundang Pasar Modal Indonesia, Rajawali, Jakarta, 2008, hal. 35 s/d 38.
53
Lebih lanjut lihat Hikmahanto Juwono, Op.Cit, hal 85.
80
hubungan hukum yang baru yang tidak dikenal sebelumnya. Negara
yang menemukan hasil peradaban baru tersebut akan menyediakan pula
instrumen hukum baru guna mengatur hubungan atau peristiwa hukum
yang baru atas temuan hasil peradaban yang baru itu. Tentu saja
hukum yang baru itu akan ikut masuk ke negara lain bersamaan dengan
hasil temuan dari peradaban tersebut. Sebagai contoh, ketika transaksi
keuangan dapat dilakukan secara on-line sebagai akibat kemajuan
peradaban dalam bidang teknologi informasi, maka hukum yang
mengatur tentang itu harus ditransplantasikan dari negara yang pertama
sekali menggunakan transaksi keuangan secara on-line itu. Dampaknya
tidak hanya terhadap hukum perbankan, akan tetapi juga terhadap
hukum pidana yang berkaitan dengan pencucian uang. Demikian
seterusnya transplantasi hukum itu akan terus berlangsung tanpa henti
seperti yang dikatakan oleh Watson dengan mengutip Esin Orucu, 54 ia
sampai pada satu kesimpulan : “Transplantasi hukum itu masih ada dan
akan terus hidup dengan baik sebagaimana juga halnya pada masa
Hammurabi. 55 Lebih lanjut Esin Orucu mengatakan :
What is regarded today as the theory of ‘competing legal
systems’, albeit used mainly in the rhetoric of ‘law and
economics’ analysis, was the basis of the reception of laws that
formed the Turkish legal system in the years 1924 - 1930. The
various Codes were chosen from what were seen to be ‘the best’
in their field for various reasons. No single legal system served as
the model. The choice was driven in some cases by the perceived
prestige of the model, in some by efficiency and in others by
chance. 56
Orucu berkesimpulan, tidak ada satu sistem hukum yang
tunggal yang dijadikan model pembangunan hukum di berbagai negara.
Dengan mengambil contoh pada masyarakat Turki, Orucu menjelaskan
bahwa Turki pasca runtuhnya dinasti Osmania telah mengambil banyak
sistem hukum yang dijadikan model bagi pembangunan hukum di
negerinya. Hukum pidana dan hukum perdata diambil dari Swiss,
sedangkan hukum administrasi negara diambil dari model hukum
Prancis. Dengan memilih berbagai model hukum, melalui kebijakan
54
Alan Watson, Loc.Cit , hal. 5.
M.E.J. Richardson, Hammurabi’s Laws Text, Translation and Glossary, T
& T International, New York, 2004.
56
Alan Watson, Legal Transplants and European Private Law, University of
Belgrade School of Law, Pravni Fakultet, Belgrade, 2006, hal. 6-7. Lihat juga Esin
Orucu, The Enigma of Comparative Law, Martinus Nijhoff Publishers, Leiden/Boston,
2004, hal. 26.
55
81
transplantasi kata Orucu Turki di bawah rezim Mustafa Kemal AlTaturk, berhasil meletakkan politik hukum transplantasi menjadi alat
legitimasi budaya, karena pada akhirnya model hukum yang dipilih
tidak terikat pada salah satu budaya yang dominan.
Itulah yang oleh Orucu disebutnya sebagai sistem campuran
dan itu tumbuh karena adanya mobilitas sosial dalam masyarakat yang
dapat terjadi karena ekspansi oleh satu negara ke negara lain, karena
pendudukan (aneksasi), penjajahan atau dalam bentuk suatu upaya
modernisasi yang dipaksakan. Bentuk lain dari sistem campuran itu
terjadi karena penyerapan norma hukum asing secara sukarela (untuk
kasus Indonesia misalnya penyerapan norma hukum Islam), infiltrasi
atau inspirasi dan imitasi sebagai wujud dari perubahan dalam struktur
sosial sebagaimana diuraikan oleh Orucu 57 berikut ini :
Mixed and mixing systems and the migration of legal institutions
are two inseparable fields of study. The fact that law is not static
lies at the bottom of all mixed systems. Moving populations add
another dimension to this phenomenon. The coming into being of
mixed jurisdictions is one of the outcomes of mobility of law and
mobility of peoples. Law moved across boundaries. The simplest,
most easily defined and understood forces behind these
movements are expansion, occupation, colonization and efforts of
modernization, and the ensuing impositions, imposed receptions,
voluntary receptions, infiltrations, inspirations and imitations and
concerted or co-ordinated parallel developments. Legal ideas,
concepts, structures and rules move from legal order to legal
order along these paths. In such movement there is interference
with the horizontal logic (internal symmetry) and the vertical
logic (the typical pattern of unfolding) of legal systems or legal
orders, sometimes creating confusion, after which the legal
systems settle into mixed jurisdictions or hybrid systems.
Untuk kasus Indonesia, mengambil sistem hukum yang
berasal dari negara lain yang dikembangkan menjadi model hukum di
negeri sendiri, bukanlah sesuatu yang baru. Asas konkordansi yang
dipilih sebagai politik hukum Indonesia pada masa Hindia Belanda dan
terus dikembangkan pada masa kemerdekaan adalah salah satu contoh
saja untuk menggambarkan keadaan itu, bahwa sesungguhnya
mengambil model hukum asing untuk dijadikan model hukum di negeri
sendiri adalah suatu yang lumrah dan tidak terlalu buruk untuk
57
Esin Orucu, Elspeth Attwooll & Sean Coyle, Studies in Legal Systems :
Mixed and Mixing, Kluwer Law International, London/Boston, 1996 , hal. 341.
82
dilakukan. Transplantasi hukum terus berlangsung berawal dari zaman
pra Kolonial Belanda, hingga sekarang, 58 mulai dari menggantikan
posisi hukum Indonesia asli (hukum adat dan kebiasaan yang original)
sampai pada masuknya kaedah hukum yang baru sama sekali, yang
belum dikenal dalam peradaban (hukum) Indonesia.
Demikian pula halnya dengan keberhasilan Indonesia dalam
melahirkan Undang-undang Hak Cipta, mulai dari Undang-Undang
No.6 tahun 1982 sampai dengan Undang-undang No. 19 Tahun 2002,
melalui kebijakan transplantasi undang-undang peninggalan Kolonial
Belanda sampai dengan TRIPs Agreement hasil Putaran Uruguay
Dengan politik transplantasi itu hasilnya adalah, paling tidak saat ini
Indonesia telah mempunyai perangkat hukum hak cipta yang
memenuhi standar internasional, standar yang diisyaratkan
GATT/WTO 1994 seperti yang termaktub dalam TRIPs Agreement,
walaupun ternyata dikemudian hari pelaksanaan undang-undang ini
banyak menuai kritik. Kebijakan dalam bidang legislasi melahirkan
undang-undang hak cipta nasional hampir tak pernah bebas dari kritik,
terutama dalam hal substansi dan penegakan hukum (law enforcement)nya. Kenyataan sesungguhnya, bahwa undang-undang itu, gagal
mencapai tujuannya. Gagal dalam merumuskan ide-ide dan cita-cita
negara, gagal dalam menciptakan kepastian hukum dan bahkan gagal
dalam pencapaian cita-cita kesejahteraan melalui perlindungan optimal
atas hasil karya cipta. Dalam bahasa yang sederhana undang-undang ini
gagal mentransformasikan landasan ideologis/filosofis Pancasila ke
dalam
Undang-undang
Hak
Cipta
Nasional.
Pengaruh
ideologis/filosofis asing masuk mewarnai undang-undang ini. Para
legal (ahli hukum) gagal menjadikan Pancasila sebagai ideologi
“penyaring” ketika kebijakan transplantasi hukum dilangsungkan
dalam pembentukan Undang-undang Hak Cipta Nasional. Kejadian ini
tidak satu kali, tapi beberapa kali terulang di sepanjang sejarah
perubahan Undang-undang Hak Cipta. Apakah ini pertanda bahwa
bangsa ini tak pernah memiliki sikap kehati-hatian dalam menerapkan
kebijakan transplantasi hukum ? Kehati-hatian dalam melakukan
transplantasi hukum asing ke dalam hukum Indonesia khususnya dalam
bidang Hak Kekayaan Intelektual diingatkan oleh Candra Irawan dan
58
Pada masa Hindu, hukum Hindu turut mewarnai hubungan-hubungan
hukum yang berlangsung dalam masyarakat di wilayah nusantara ketika itu, demikian
juga ketika Islam masuk ke Indonesia, Hukum Islam turut pula mewarnai perkembangan
hukum ketika itu. Dengan begitu benarlah ungkapan Roscoe Pound, sejarah sistem
hukum adalah sejarah meminjam dan assimilasi materi hukum dari sistem hukum lain.
83
Budi Agus Riswandi. 59 Beberapa hal yang dapat dipetik dari pandangan
mereka berdua, adalah :
1. Indonesia harus hati-hati mengadopsi The Agreement on Trade
Related Aspect of Intellectual Property Rights (TRIPs) ke Undangundang Hak Kekayaan Intelektual.
2. Dalam transplantasi harus diperhatikan kepentingan nasional.
3. Ada kesan dipaksakan upaya penyesuaian pembentukan Undangundang Hak Kekayaan Intelektual dengan The Agreement on Trade
Related Aspect of Intellectual Property Rights.
4. Aspek kepentingan nasional tak terlihat dalam proses transplantasi
itu
meskipun kepentingan nasional itu dimasukkan dalam
konsiderans tapi dalam normanya tak mencerminkan jiwa
(landasan filosofis/ideologis) ke Indonesiaan.
5. Kepentingan asing terlalu dikedepankan sehingga perangkat
hukum Hak Kekayaan Intelektual menjadi tidak bermakna bagi
kepentingan nasional.
6. Secara kultural tata kehidupan bangsa Indonesia bersifat komunal
bukan individualistik, The Agreement on Trade Related Aspect of
Intellectual Property Rights mengedepankan kultur individualistik,
yang sudah barang tentu tak sesuai dengan kultur bangsa Indonesia
Kebijakan pembangunan suatu bangsa dapat saja mengacu
atau meniru pada format pembangunan yang dilakukan oleh bangsa
lain. Pembangunan ekonomi, pendidikan, infrastruktur, pembangunan
industeri strategis, industeri manufactur, industeri kelautan, industeri
otomotif, industeri transpostasi , industri informasi dan lain sebagainya
dapat dicontoh dari model-model yang dikembangkan oleh bangsa lain,
namun itu tidak berlaku sepenuhnya untuk pembangunan hukum. Teori
yang dikemukakan Robert B. Seidman 60 yaitu The Law of Non
Transferability of Law menyimpulkan bahwa, hukum suatu bangsa
tidak dapat diambil alih begitu saja, tanpa harus mengambil alih aspekaspek yang mengitari (aspek sosial budaya) tempat di mana hukum itu
berpijak (diberlakukan).
Teori ini justeru lahir dari hasil penelitian Seidman bersama
rekannya William J. Chambliss disebuah negara di Afrika Selatan
bekas jajahan Inggeris. Segera setelah Inggeris meninggalkan negara
jajahannya, hukum Inggeris yang ditinggalkan, tidak mampu
menjalankan fungsinya, sebab faktor sosial budaya masyarakat Afrika
59
Lihat lebih lanjut Candra Irawan, Politik Hukum Hak Kekayaan Intelektual
Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2011, hal. 14 s/d 22.
60
Robert B. Seidman, The State, Law and Development, St. Martin's Press,
New York, 1978, hal. 29.
84
Selatan berbeda dengan socio-cultural bangsa Inggeris. Demikian juga
di tempat-tempat lain seperti di Turki, Etiopia dan koloni-koloni
Perancis di Afrika dan juga di Indonesia, hukum asing itu berhasil
ditransplantasikan dalam hal substansinya tapi gagal dalam
penerapannya karena faktor-faktor perbedaan pada kultur dan struktur
sosialnya seperti;
hubungan sosial, ekonomi, politik, birokrasi
pemerintahan dan birokrasi lembaga penegakan hukum dan faktorfaktor fisik dan faktor subyektif lainnya seperti kebiasaan masyarakat
setempat dan lain sebagainya. Di berbagai negara faktor-faktor seperti :
geografi, histori, kemajuan teknologi-pun cukup signifikan juga
mempengaruhi kegagalan penerapan hukum yang normanya berasal
dari transplantasi hukum asing seperti yang diungkapkan oleh Robert
B. Seidman dan Ann Seidman :
Turkey copied French law, Ethiopia copied Swiss law, the
French speaking African colonies, French law, Indonesia,
Dutch law. Universally, these laws failed to induce behavior
in their new habitats anything like that in their birtplaces.
Inevitably, people chose how to behave, not only in response
to the law, but also to social, economic, political, physical and
subjective factors arising in their own countries from custom,
geography, history, technology and other, non-legal
circumstances.61
Mengacu pada pandangan di atas, sudah saatnya Indonesia
dalam kebijakan pembangunan hukumnya, memperhatikan dan
mempertimbangkan faktor sosio-kultural, sebab meminjam istilah
Satjipto Rahardjo, hukum tidak berada pada ruang hampa, tapi ia
berada bersama-sama sub sistem sosial lainnya, dalam sistem sosial
yang lebih luas. M. Solly Lubis, juga menegaskan hukum itu hanya
merupakan salah satu sub sistem saja dalam sistem nasional. Masa
depan hukum itu ditentukan oleh pilihan kebijakan politik hukum. 62
61
Lihat Ann Seidman dan Robert B. Seidman, State and Law in The
Development Process Problem-Solving and Institutional Change in the Third World, St.
Martin’s Press, 1994, hal. 44.
62
Lihat Satjipto Rahardjo, Negara Hukum Yang Membahagiakan Rakyatnya,
Genta Publishing, Jakarta, 2009, hal. 45. Lihat lebih lanjut ; Satjipto Raharjo, Hukum
Progrresif Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Genta Publishing, Jakarta, 2009, hal. 58.
Bandingan juga Satjipto Rahardjo, Membangun dan Merombak Hukum Indonesia Sebuah
Pendekatan Lintas Disiplin, Genta Publishing, Yogyakarta, 2009, hal. 62 dan M. Solly
Lubis, SH, Sistem Nasional, Mandar Maju, Bandung, 2002, hal. 71. Bandingkan dengan
pandangan M. Solly Lubis yang menempatkan hukum dalam sistem politik bersamasama dengan sub sistem nasional lainnya dalam satu sistem yang disebutnya sebagai
SISNAS. M. Solly Lubis, Serba-Serbi Politik & Hukum, Edisi 2, PT. Sofmedia, Jakarta,
85
Penyusunan materi hukum (aspek substantif menurut
Friedman) oleh lembaga legislatif, bukanlah bebas dari pengaruh
eksternal. Legislatif dalam menjalankan fungsi legislasinya, pastilah
mendapat pengaruh dari luar, baik secara kelembagaan maupun secara
individual. Demikianlah pula dalam hal proses ”law enforcement”
aparat judikatifpun tidak bebas dari pengaruh-pengaruh seperti yang
dialami oleh legislatif. Akhirnya hukum yang dihasilkan selalu
dirumuskan sebagai resultant dari kekuatan tarik menarik tersebut.
Pandangan yang sama dikemukakan juga oleh Harold J. Laski, bahwa
pada akhirnya hukum yang berlaku ditengah-tengah masyarakat itu
adalah hukum yang merupakan hasil kekuatan tarik menarik berbagai
kepentingan politis, baik pada saat pembuatannya maupun pada saat
penerapannya. Laski menyebut hasil akhir itu sebagai resultan, mirip
bekerjanya perkalian dua vektor dalam ilmu mate-matika, seperti
skema perkalian dua vektor di bawah ini : 63
Skema 1
Resultan Kekuatan Tarik Menarik Dalam Politik Hukum
R
a
b
a = vektor a
b = vektor b
R = Resultant (hasil perkalian vektor a x vektor b)
2011, hal. 65. Demikian juga uraian-uraian kuliah dalam M. Solly Lubis, sepanjang
Semester Ganjil TA 2011-2012 dalam mata kuliah SISNAS pada Program Pasca Sarjana
USU.
63
Robert B. Seidman, Op.Cit, hal. 75, lihat lebih lanjut Harold J. Laski,
Reflections on The Revolution of Our Time, Transaction Publishers, New Brunswick
(USA) and London (UK), 2012, hal. 65. Harold J. Laski mengatakan hasil akhir dari
hukum adalah resultant dari kekuatan tarik-menarik itu. Lihat juga Harold J. Laski,
Studies in Law and Politics, Transaction Publisher, New Jersey, 2010, hal. 63.
86
Khusus dalam bidang hak cipta, Undang-undang No. 19
Tahun 2002 adalah hasil (resultant) dari berbagai faktor atau kekuatan
tarik menarik baik secara internal maupun eksternal dalam institusi
negara (tekanan dalam negeri dan internasional) maupun pengaruh
internal dan eksternal institusi legislatif dan judikatif dalam negara
Indonesia sendiri baik bersifat kelembagaan maupun perorangan.
Meminjam skema yang dikembangkan oleh Seidman,
bekerjanya berbagai faktor non hukum sebagai kekuatan tarik menarik
itu dapat disederhanakan dalam skema sebagai berikut :
87
88
Dengan meminjam kerangka analisis Robert B. Seidman dan
Laski, maka keberadaan hukum Indonesia hari ini, adalah merupakan
hasil akhir dari hukum yang berlaku dan diterima oleh masyarakat
Indonesia atau hasil (resultant) dari kekuatan tarik-menarik (antar
vektor) dari tiap-tiap faktor (politik dan non politik) yang
mempengaruhinya. 64
Faktor tekanan (politik-ekonomi) internasional adalah faktor
yang menjadi kekuatan politik dalam pembentukan Undang-undang
Hak Cipta Nasional. Keberadaan Indonesia dalam keanggotaan
General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994/World Trade
Organization (WTO), telah mewajibkan Indonesia untuk meratifikasi
hasil putaran General Agreement on Tariff and Trade (GATT)
1994/World Trade Organization (WTO) tersebut, yang salah satu
capaian kesepakatan itu adalah instrumen (figur) hukum TRIPs (The
Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights).
Dalam tulisannya, Ganguli menyebutkan :
”The TRIPs agreement provides considerable room for its
Members to implement the provisions and achieve a proper
balance of various domestic/national interests”. 65
Konsekuensinya dalam bidang perlindungan Hak Kekayaan
Intelektual The Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual
Property Rights Convention sebagai salah satu capaian dari Putaran
General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994/World Trade
Organization (WTO) tersebut, beserta konvensi-konvensi ikutannya
seperti Bern Convention dan Rome Convention (1961) wajib juga
diratifikasi. Setelah Indonesia meratifikasi GATT/WTO 1994, melalui
Undang-undang No. 7 Tahun 1994, Indonesia menjadi terikat secara
hukum (tentu juga secara moral) dengan kesepakatan internasional itu.
Sebagai konsekuensinya Indonesia harus menyesuaikan peraturan
perundang-undangan Hak Kekayaan Intelektual-nya dengan Konvensi
Internasional tersebut. Inilah yang kemudian mengantarkan Indonesia
harus mengalami beberapa kali merubah peraturan perundangundangan Hak Kekayaan Intelektual-nya, termasuk Hak Cipta.
64
Bandingkan dengan pendapat Harold J. Laski, Studies in Law and Politic,
Transaction Publisher, New Jersey, 2009, hal. 68, bahwa kekuatan tarik menarik antara
secara politik hukum, akan mempengaruhi hasil akhir pembentukan hukum. Lihat juga
(economic dan hukum) Robert Cooter dan Thomas Ulen, Law And Economics, Wesley
Educational Publishers Inc., California, 1997 dan Eric A. Posner, Law and Economics,
Foundation Press, New York, 2000 , hal.125.
65
Lebih lanjut lihat, Prabuddha Ganguli, Intellectual Property Rights
Unleashing the Knowledge Economy, Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited,
New Delhi, 2001, hal. 59.
89
Persoalan ketiga adalah, ketika undang-undang hasil
transplantasi itu diterapkan, ternyata mendapat penolakan. Dalam
bidang perlindungan karya sinematografi, undang-undang itu tak cukup
mampu atau tidak efektif untuk melindungi hak-hak para pencipta.
Seyogyanya (das Sollen) ketika undang-undang selesai disusun dan
siap untuk diterapkan, semestinya dapat diterapkan dan mampu
mencapai tujuannya. Karya sinematografi adalah salah satu ciptaan
(dari 12 ciptaan) yang dilindungi menurut Undang-undang Hak Cipta
Indonesia. Karya sinematografi didalamnya tidak hanya menyangkut
karya dalam bidang seni dan sastra tetapi juga mencakup bidang ilmu
pengetahuan. Karya sinematografi dalam film dokumenter dan liputan
tentang fenomena alam, kegiatan makhluk hidup dan aktivitas bumi
dan planet-planet lain, tidak sedikit memperlihatkan banyaknya pesan
keilmuan yang ditampilkannya secara visual. Demikianlah karya
sinematografi memadukan unsur seni dan sastra baik alur cerita yang
dipetik dari novel, lagu-lagu dan musik yang ditampilkan, sampai pada
penataan artistik, semua terhimpun dalam karya sinematografi. Pendek
kata, karya sinematografi mencakup keseluruhan dari obyek hukum
yang dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta, yakni karya ilmu
pengetahuan, kesenian dan kesusasteraan. 66
Transplantasi hukum yang bersumber dari hukum asing itu
telah berwujud dalam bentuk Undang-undang Hak Cipta Nasional,
undang-undang yang terakhir adalah Undang-undang No. 19 Tahun
2002. Undang-undang itupun telah diterapkan di seantero jagad
Indonesia, mulai dari Aceh sampai ke Papua. Banyak peristiwa yang
tercatat dan tak tercatat dalam penegakan hukum Hak Cipta, dalam
bidang karya sinematografi.
Segera setelah Undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002
diberlakukan, Indonesia diperkirakan akan memiliki instrumen hukum
yang setara dengan negara maju. Dengan kata lain, jika suatu saat
investasi asing masuk ke Indonesia mensyaratkan adanya proteksi
terhadap karya cipta asing, maka secara juridis Indonesia tidak lagi
harus mengalami kesulitan. Standar perlindungan Hak Cipta di
Indonesia telah sama dan setara dengan negara maju di dunia. Sebab,
demikian menurut Candra Irawan, 67 Indonesia tidak hanya memenuhi
66
Ini adalah salah satu alasan penting mengapa kami memilih karya
sinematografi menjadi obyek penelitian dalam disertasi ini disamping karena belum
banyak disertasi yang memilih tema ini sebagai obyek penelitian.
67
Lihat Candra Irawan, Op.Cit, hal. 316. Beliau mengatakan pengadopsian
TRIPs ke dalam HKI Indonesia, tidak melalui harmonisasi hukum yang baik. Aspirasi
Pancasila, kesesuaian dengan prinsip-prinsip hukum Pancasila dan UUD ’45 dan realitas
90
persyaratan minimal sebagaimana diisyaratkan oleh General
Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994/World Trade
Organization (WTO), akan tetapi telah memberikan syarat yang
optimal.
Capaian lembaga legislasi untuk melahirkan Undang-undang
Hak Cipta Nasional patut dihargai, karena betapapun juga dengan
segala keterbatasannya lembaga itu telah bekerja untuk menghasilkan
instrumen hukum perlindungan Hak Cipta, meskipun dalam kenyataan
empirik memperlihatkan instrumen hukum itu tidak efektif daya
lakunya. Sebut saja pembajakan karya sinematografi melalui Video
Compact Disc. Di mana-mana tempat penjualan Video Compact Disc di
Kota Medan satu keping Video Compact Disc dijual dengan harga Rp.
3.000 s/d Rp. 5.000,- per keping. Padahal barang yang sama jika dibeli
di toko Video Compact Disc di Singapura dijual dengan harga 7 s/d 10
dollar Singapura atau setara dengan Rp. 60.000,- s/d Rp. 70.000,- per
keping. Ini memperlihatkan betapa kepingan Video Compact Disc itu
dijual dengan harga yang relatif murah di pasar-pasar modern dan
tradisional di Kota Medan. Hal ini terjadi karena kepingan Video
Compact Disc itu diproduksi tidak dengan membayar royalty kepada
produser dan pencipta atau pemegang hak cipta atas karya
sinematografi.
Masyarakat konsumen sendiri bukannya tidak pernah
memahami aturan itu. Kepingan Video Compact Disc dijual dan
dipasarkan melalui ”hukum permintaan” pasar. Di mana harga murah
ke sanalah mereka akan berbelanja. Budaya hukum Indonesia belum
terbiasa dengan model proteksi hukum hak cipta berdasarkan Undangundang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002. Jika diukur tingkat efektivitas
keberlakuan Undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 di tengahtengah masyarakat, khususnya dalam hal perlindungan karya
sinematografi, dapat diasumsikan efektivitas keberlakuan Undangundang Hak Cipta dalam hal perlindungan karya sinematografi masih
rendah.
Menyangkut dampak globalisasi terhadap keberadaan
Undang-undang Hak Cipta. Globalisasi telah mempengaruhi banyak
negara di dunia melakukan pilihan kebijakan transplantasi hukum
sebagai pilihan politik hukumnya. Meratifikasi TRIPs Agreement
sebagai salah satu hasil dari Putaran Uruguay Round yang
menghasilkan General Agreement on Tariff and Trade (GATT)
sosial bangsa Indonesia juga belum terakomodasi dengan baik, padahal ada peluang yang
dibuka oleh TRIPs untuk itu.
91
1994/World Trade Organization (WTO) adalah pilihan politik hukum
yang ditempuh Indonesia sebagai dampak dari globalisasi ekonomi
tersebut. Pilihan politik hukum ini membawa dampak pula terhadap
eksistensi hukum (Undang-undang Hak Cipta Nasional).
Hak Cipta yang meliputi ilmu pengetahuan, seni sastra
termasuk sinematografi tidak tumbuh secara linier dari Barat mengalir
ke Timur, tetapi tumbuh secara sporadis di berbagai belahan bumi.
Tumbuh seperti jamur di hutan belantara, tidak hanya putih, tapi juga
merah, kuning, jingga bahkan ada yang hitam. Ilmu pengetahuan, seni
dan sastra tumbuh penuh dengan warna-warni. Akan tetapi hukum yang
mengaturnya tumbuh secara linier, tumbuh menurut alam pikiran
”Barat” yang – materialis – liberal - mengalir masuk ke belahan bumi
Timur. The Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual
Property Rights (TRIPs) sebagai produk hukum yang penuh dengan
warna Barat – yang liberal – individualis – materialis masuk ke belahan
bumi Timur lewat ratifikasi, lalu kemudian Timur yang turut dalam
anggota konvensi, harus menyesuaikan peraturan perundang-undangan
HKI-nya (termasuk Hak Cipta) dengan tuntutan The Agreement on
Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sebagai
produk hukum yang lahir dari dan atau dominasi peradaban Barat yang
dikenal dengan General Agreement on Tariff and Trade (GATT)
1994/World Trade Organization (WTO). 68
Inilah salah satu dampak globalisasi ekonomi. Globalisasi ekonomi
yang membawa dampak pada kebijakan politik hukum Indonesia, yang
pada gilirannya berdampak pula terhadap substansi hukum peraturan
perundang-undangan Hak Cipta Indonesia yang salah satu diantaranya
adalah perlindungan karya sinematografi.
Tradisi wayang, yang ditayangkan dari satu pesta ke pesta
lain, dari dalang yang satu ke dalang yang lain, dari sinden satu ke
sinden lain dalam satu cerita wayang yang sama, telah membentuk
budaya hukum, bahwa tak ada pelanggaran hak yang dilakukan dalam
peristiwa itu. Akan tetapi dengan adanya Rome Convention Tahun 1961
yang memperkenalkan adanya ”Neighbouring Rights” hak siaran atau
68
Kita tidak hendak mempersalahkan “Barat” dalam usahanya untuk
menyatukan visi dan misi perekonomian dunia lewat peraturan hukum globalisasi
General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994/World Trade Organization
(WTO) akan tetapi, kenyataan ini menjadi pembelajaran sejarah, pembelajaran politik,
bagi Indonesia yang belum “cair” pemahamannya tentang perlunya mempertahankan jati
diri bangsa. Tentang perlunya mempertahankan the original paradicmatic of Indonesian
values cultural and society, perlunya mempertahankan ideologi bangsa, ideologi negara
yakni Pancasila yang sudah dipilih oleh pendiri bangsa dan negara ini sebagai sumbersumber nilai kehidupan berbangsa dan bernegara, sumber-sumber hukum.
92
menggunakan tampilan orang lain, tanpa izin adalah sebuah perbuatan
hukum pelanggaran hak yang juga dapat dikenakan pembayaran royalty
dan penyiaranya harus mendapat izin dari pemegang hakya. Faktor
budaya hukum kelihatannya masih harus mendapat perhatian khusus
dalam studi-studi lanjutan. Memposisikan Pancasila dan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta melihat
pada The Original Paradicmatif Values of Indonesian Cultural and
Society adalah menjadi dasar dan arah bagi pilihan politik hukum
Indonesia ke depan, agar hukum Indonesia yang dilahirkan melalui
proses transplantasi dapat menghasilkan kaedah hukum yang think
globally, commit nationally dan act locally. Dengan kondisi yang
demikian, transplantasi hukum Hak Cipta Indonesia yang berasal dari
hukum asing (apakah pada awalnya berasal dari hukum Kolonial
Belanda dan terakhir disesuaikan dengan TRIPs Agreement) semuanya
bermuara pada kekuatan tarik-menarik secara politis dengan berbagai
kekuatan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dinamika sejarah
politik hukum pembentukan Undang-undang Hak Cipta Nasional
sekalipun tidak terekam dan tidak terdokumentasi secara ilmiah,
hasilnya dapat dirasakan dalam babakan sejarah penerapan hukumnya
di Republik Indonesia tercinta ini. Menjadi harapan bagi negara ini ke
depan menyelaraskan hukum yang dilahirkan itu dengan kepentingan
Indonesia tanpa harus menghambat Indonesia untuk turut dalam
percaturan (ekonomi dan politik) global dimana hukum sebagai salah
satu instrumentnya.
Merajut kepentingan hukum nasional dan dipertautkan dengan
tuntutan globalisasi (pasca ratifikasi TRIPs Agreement), diharapkan
dapat melahirkan konsep hukum hak cipta yang commit nationally,
think globally dan act locally. Meninjau kembali, menguak jalannya
sejarah transplantasi hukum asing ke Undang-undang Hak Cipta
Indonesia, menguak substansi ideologis-filosofisnya, membuka
kembali latar belakang politik hukum yang mewarnai gagasan proses
transplantasi yang dilakukan ketika undang-undang itu dibuat,
menjelaskan berbagai kegagalan yang pernah terjadi dalam
penerapannya (law enforcement-nya) guna memperbaiki kegagalankegagalan itu, sehingga semuanya menjadi jelas, terang dan dapat
mengantarkan studi ini menjadi model pembangunan hukum Indonesia
ke depan jika negeri ini akan menggunakan proses transplantasi hukum
asing dalam kebijakan politik hukumnya di kemudian hari, kesemua itu
adalah merupakan alasan penting, mengapa penelitian ini perlu
dilakukan. Selain penting artinya bagi melahirkan konsep
pembangunan hukum nasional yang sesuai dengan jiwa dan roh filsafati
93
hukum Indonesia dalam arti politis, penelitian ini juga penting artinya
bagi pengembangan akademis dan kepentingan praktis pada tataran
basic policy, guna menemukan hukum yang sesuai dengan tata nilai
dan jati diri bangsa Indonesia yakni Pancasila yang merupakan
abstraksi the original paradicmatic value of Indonesian culture and
society, sebagai groundnorm tanpa harus mengabaikan posisi dan
keberadaan Indonesia ditengah-tengah pergaulan internasional,
sehingga pada gilirannya pada tataran anactment policy, pemberlakuan
undang-undang ini dapat berterima di hati masyarakat.
B. Teori, Konsep dan Metode
1. Teori
Disertasi ini berpijak pada lima teori hukum. Teori yang
pertama adalah teori negara hukum modern (welfare state) yang dalam
disertasi ini kami posisikan sebagai grand theory yang digunakan untuk
mengkaji peran negara dalam menciptakan hukum dan penerapannya
dalam kehidupan bernegara untuk mewujudkan tujuan negara
sebagaimana yang tertera di dalam konstitusi Negara Republik
Indonesia (Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 alinea ke empat). Teori yang kedua adalah, teori
sosiologi hukum dengan mengacu pada teori Robert B. Seidman (the
law of non transferability of law) yang memiliki keterkaitan dengan
konsep yang berhubungan dengan transplantasi hukum. Dalam disertasi
ini teori ini diposisikan sebagai middle range theory, digunakan untuk
mengkaji secara kritis penerapan ketentuan The Agreement on Trade
Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) ke dalam
Undang-undang Hak Cipta Nasional dan merumuskan konsep politik
hukum Hak Cipta Nasional di masa depan dalam rangka melindungi
kepentingan nasional. Yang ketiga adalah teori politik hukum dengan
menempatkan hukum dalam kerangka sistem nasional yang
dikembangkan oleh M. Solly Lubis. Bahwa keberlakuan hukum harus
diukur pada skala tingkat keselarasannya dengan sub sistem nasional
lainnya dalam satu sistem yang disebutnya sebagai sistem nasional.
Teori keempat adalah teori politik hukum dari Hikmahanto Juwana
dengan menempatkan hukum pada tataran basic policy, hukum
dipandang sebagai instrumen politik dan pada tataran anactment policy
hukum diposisikan sebagai komoditas politik. Yang kelima teori
nuances yang pertama kali dikemukakan oleh Mahadi yakni
mempertemukan kedua sisi hukum yang berbeda dalam proses
perjumpaan (interaksi) masing-masing sistem hukum yang didorong
94
oleh tuntutan peradaban. Tiga teori yang disebut terakhir ini dalam
disertasi ini digunakan sebagai applied theory.
Kelima kerangka dasar teori hukum yang dikemukakan di
atas, akan digunakan dalam menganalisis fungsi dan peranan peraturan
perundang-undangan yang berhubungan dengan Hak Cipta dalam
proses transplantasi hukum asing sepanjang perjalanan Undang-undang
Hak Cipta Indonesia mulai dari Auteruswet 1912 Stb. 600 yang
bersumber dari hukum kolonial sampai dengan Undang-undang No. 19
Tahun 2002 yang mengacu pada TRIPs Agreement Tahun 1994,
dengan uraian sebagai berikut :
1.1. Grand Theory
Teori negara hukum yang menjadi grand theory dalam
disertasi ini adalah sebuah pilihan yang didasarkan pada sebuah
pertimbangan bahwa, penelitian ini berpangkal pada landasan dasar
negara Indonesia yang menegaskan dalam konstitusinya bahwa negara
ini adalah negara hukum (rechtstaat) bukan negara kekuasaan
(machtsstaat). Dengan begitu semua rangkaian pengelolaan manajemen
negara harus berlandaskan hukum. 69
69
Prinsip negara hukum secara tersurat dan tersirat dalam Pasal 1 ayat (2)
UUD ’45 yang berbunyi Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut
Undang-Undang Dasar. Jadi UUD negaralah yang menjadi acuan bekerja lembagalembaga negara. Lihat Jimly Asshiddiqie, (ed) Pokok-Pokok Hukum Tata Negara
Indoensia Pasca Reformasi, PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2007, hal. 292. Dalam
sejarah modern, gagasan Negara Hukum itu sendiri dibangun dengan mengembangkan
perangkat hukum sebagai sistem yang fungsional dan berkeadilan, dengan menata supra
dan infra struktur kelembagaan politik, ekonomi dan sosial yang tertib dan teratur, serta
membangun budaya dan kesadaran hukum yang rasional dan impersonal dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk itu, sistem hukum perlu
dibangun (law making) dan ditegakkan (law enforcing) sebagaimana mestinya, dimulai
dengan konstitusi sebagai hukum yang tertinggi. Untuk menjamin tegaknya konstitusi itu
sebagai hukum dasar, dibentuk pula Mahkamah Konstitusi yang berfungsi sebagai the
guardian dan sekaligus the ultimate interpreter of the constitution. Gagasan, cita atau ide
negara hukum, selain terkait dengan konsep rechtsstaat dan rule of law, juga berkaitan
dengan nomocracy yang berasal dari kata nomos dan crotos. Perkataan nomokrasi itu
dapat dibandingkan dengan demos dan cretos atau kretion dalam demokrasi. Nomos
berarti norma sedangkan crotos adalah kekuasaan. Yang dibayangkan sebagai faktor
penentu dalam penyelenggaraan kekuasaan adalah norma atau hukum. Karena itu, istilah
nomokrasi itu berkaitan erat dengan ide kedaulatan hukum atau prinsip hukum sebagai
kekuasaan tertinggi. Namun, prinsip kedaulatan hukum atau the rule of law itu sendiri
tidak selalu baik, karena hukum itu sendiri dapat dibuat dan ditetapkan secara semenamena oleh penguasa. Jerman di bawah pemerintahan Hitler juga menganut prinsip
rechtsstaat atau negara hukum, tetapi hukum yang diakui berdaulat itu ditetapkan secara
sewenang-wenang oleh Hitler sebagai dictator dan “demagog”. Karena itu, berkembang
95
Kelahiran teori negara hukum mengalami perjalanan sejarah
yang panjang. Absolutism kekuasaan raja-raja di benua Eropa pada
abad 10-17 mendorong rakyat untuk melakukan perlawanan yang
puncaknya melahirkan negara konstitusional.70 Ide negara hukum tidak
hanya terkait dengan konsep rechtsstaat dan the rule of law, melainkan
juga dengan konsep nomocrasy. Konsep yang disebut terakhir ini
berkait erat dengan pemikiran kedaulatan hukum atau norma (nomos).
Nama-nama seperti : Ibnu Khaldun, Immanuel Kant, Friedrich Julius
Stahl dan Albert Venn Dicey adalah sederetan nama-nama yang
mengetengahkan tentang gagasan negara hukum.
Negara hukum menurut Dicey, harus mencerminkan tiga
kriteria dari the rule of law. Menurut Dicey :
“…in the first place, the absolute supremacy or predominance
of regular law as opposed to the influence of arbitrary power,
and excludes the existence of arbitrariness, of prerogative, or
even of wide discretionary authority on the part of the
government. It means, again, equality before the law, or equal
subjection of all classes to the ordinary law of the land
administered by the ordinary law courts ; lastly, may be used
as a formula for expressing the fact that with us the law of the
constitution, the rules which in foreign countries naturally
form part of constitutional code, are not the source but the
consequence of the rights of individual, as defined and
enforced by the courts. 71
Tiga unsur rule of law, menurut Dicey pertama, keharusan
adanya supremasi absolute atau keunggulan hukum untuk membatasi
kekuasaan pemerintah (penguasa) dan tindakan-tindakan negatif yang
mungkin dilakukan oleh pemerintah (penguasa). Kedua, adanya prinsip
persamaan dihadapan hukum yang berlaku bagi semua anggota
masyarakat, tidak terkecuali orang-orang yang sedang memegang
kekuasaan pemerintahan. Ketiga, konstitusi bukanlah sumber terhadap
perlindungan hak asasi manusia tetapi merupakan konsekuensi dari
hak-hak individu yang sudah ada sejak manusia dilahirkan.
pula istilah democratic rule of law dalam bahasa Inggris atau democratische rechtsstaat
dalam bahasa Belanda.
70
Pergulatan perlawanan rakyat terhadap absolutism kekuasaan raja di Eropa
tak kurang dari sepuluh abad. Perlawanan yang dilakukan mulai dari feodalisme
kekuasaan raja yang absolute sampai pada pengebirian terhadap hak asasi manusia.
71
A.V. Dicey, Introduction to the Study of the Law the Constitution,
Macmillan Press, London, 1971, hal. 202-203.
96
Tujuan negara dirumuskan dalam konstitusi antara lain
memajukan kesejahteraan sosial, dengan demikian jika dihubungkan
dengan negara hukum Indonesia maka Indonesia adalah negara rechts
staat yang welfare staats yang dikategorikan sebagai negara hukum
modern. Negara hukum modern yang bertujuan untuk mewujudkan
kesejahteraan rakyat (negara kesejahteraan). Produk-produk hukum
yang dilahirkan haruslah bermuara pada kesejahteraan rakyat, jika ada
produk hukum yang bertentangan dengan konsep negara kesejahteraan,
produk hukum semacam itu harus ditolak (mekanismenya dapat
melalui hak uji materil). Kerangka teori inilah yang diletakkan sebagai
grand theory dalam penulisan disertasi ini.
1.2. Middle Range Theory
Dalam upaya untuk mewujudkan negara hukum yang
sejahtera, maka semua produk hukum yang dilahirkan harus diarahkan
secara substantif pada upaya perwujudan kesejahteraan rakyat. Hukum
yang akan dibuat atau yang dicita-citakan (ius constituendum) harus
dirumuskan ke arah mensejahterakan rakyat, demikian juga hukum
yang diberlakukan saat ini (ius constitutum) harus diuji secara
substantif apakah benar-benar berisikan materi hukum yang menjamin
untuk terwujudnya masyarakat sejahtera.
Hukum yang diproduk itu dapat saja hukum yang bersumber
dari legal culture atau berdasarkan living law masyarakat Indonesia
sendiri. Akan tetapi tidak sedikit hukum Indonesia seperti yang kami
telah sebutkan diawal tulisan ini – yang ada sekarang ini adalah hasil
adopsi, hasil konkordansi, hasil resepsi, dengan kebijakan politik
hukum negara – adalah hukum yang bersumber dari hukum asing. 72
Pengadopsian ataupun pencangkokan hukum asing, akan terus
berlangsung dan ini jika dilakukan tidak dengan penuh perhitungan,
akan dapat berujung pada “tergadainya” bangsa dan negara ini kepada
bangsa lain. Hukum yang dilahirkan akan menjadi asing bagi
rakyatnya, akan bersifat represif, keberlakuannya tertolak dan yang
paling fatal hukumnya bisa mengkriminalkan rakyatnya (kriminalisasi
72
Hukum perkawinan bagi umat Islam, hukum waris, hukum zakat yang
dikenal menjadi kompilasi hukum Islam adalah bersumber dari hukum Islam yang bukan
hukum Indonesia asli. Begitu juga Hukum Pidana, Hukum Acara Pidana, Hukum
Perdata, Hukum Dagang, Hukum Acara Perdata adalah hukum yang diadopsi dari hukum
Belanda. Hukum Indonesia yang tersusun dalam kodifikasi parsial seperti UU PT, UU
Pasar Modal dan Peraturan Perundang-undangan HKI (Hak Cipta, Merek, Paten dan lainlain) adalah hukum yang bersumber dari berbagai sistem hukum asing (mixed) Belanda,
Amerika dan berbagai Konvensi Internasional.
97
hukum). Sebaliknya jika dilakukan dengan penuh kearifan hukum yang
dilahirkan itu dapat memacu kreatifitas masyarakat, memacu
hukumnya menjadi responsif, keberlakuannya dapat diterima
masyarakat pada akhirnya dapat mendorong percepatan untuk
perwujudan kesejahteraan rakyat.
Robert B. Seidman dalam studinya melahirkan teori yang
sangat terkenal tentang pengadopsian atau transplantasi hukum asing
ini yakni “Theory The Law of Nontransferability of Law”. Kegagalan
sebuah negeri di Afrika (bekas jajahan Inggeris) untuk menerapkan
hukum Inggris di bekas negara jajahannya itu segera setelah Inggris
meninggalkan Afrika, adalah suatu bukti bahwa transplantasi atau
adopsi itu gagal. 73
Tapi tidak jarang pula, transplantasi hukum asing itu
memperlihatkan hasil yang baik, walau pada awalnya kurang dapat
diterima oleh masyarakatnya. Di Turki dan di beberapa negara bekas
koloni Inggeris, seperti Malaysia, Singapura, transplantasi hukum asing
itu dipandang cukup berhasil.
Teori Seidman ini, kami jadikan sebagai middle range theory
dalam disertasi ini.
1.3. Applied Theory
Ada tiga teori yang digunakan sebagai applied theory dalam
disertasi ini yang pertama adalah theory Politik Hukum dari Hikmahato
Juwana, kedua theory politik hukum dari M. Solly Lubis dan ketiga
theory nuances dari Mahadi.
73
Lihat Seidman, Ann, Robert B. Seidman, State and Law in The
Development Process Problem-Solving and Institutional Change in the Third World, St.
Martin’s Press, 1994, hal. 69. Lihat juga Seidman, Robert B., The State, Law and
Development, St. Martin's Press, New York, 1978, hal. 125.Indonesia sendiri dalam
sejarah pemberlakuan KUH Perdata yang berasal dari Kolonial Belanda juga gagal. KUH
Perdata oleh Mahkamah Agung hanya diposisikan sebagai pedoman saja bagi hukum
untuk memutus, tapi bukan sebagai hukum formal yang ketat untuk diikuti. Begitupun
setelah Buku II KUH Perdata dicabut selalu dibukukan dalam UUPA No. 5 Tahun 1960
tentang Hukum Agraria, dengan mengambil sebagian besar norma hukum KUH Perdata.
Lihatlah konsep hak milik (eigendom). Konsep HGU (erfacht), Hak Pakai, Hak Guna
Bangunan yang diambil dari BW gagal diimplementasi di tengah-tengah masyarakat
Indonesia. Tak ada HGU Asing Sacfindo, Lonsum yang tidak diperpanjang akibatnya
hak-hak atas tanah itu tak pernah dapat didistribusikan ke rakyat. HGU sama maknanya
dengan hak milik, terkuat, terpenuh dan hilang fungsi sosialnya. Rakyat kehilangan
sumber
pekerjaan, akhirnya menjadi TKW di negara asing. Demikian juga tentang Hukum
Lingkungan, Hukum Perlindungan Konsumen, gagal diterapkan di Indonesia.
98
1.3.1. Teori Politik Hukum dari Hikmahanto Juwana
Hikmanto Juwana, memaknai politik hukum yakni berbagai
tujuan dan alasan yang menjadi dasar dibentuknya perundangundangan. Tujuan hukum, apakah untuk mewujudkan keadilan,
kepastian hukum atau kemanfaatan yang ingin dicapai adalah langkahlangkah politik hukum. Mengapa peraturan perundang-undangan itu
dibentuk, mengapa isinya demikian, untuk tujuan apa peraturan
perundang-undangan itu dibuat, adalah merupakan politik hukum,
demikian Hikmahanto Juwana. 74 Oleh karena itu menurut beliau,
politik hukum tidak berhenti pada saat pembuatannya sebagai
kebijakan dasar (basic policy) akan tetapi juga pada saat penerapannya
sebagai kebijakan pemberlakuan (anactment policy). Terdapat
“jembatan” penghubung antara keduanya dan keduanya juga harus ada
konsistensi dan korelasi yang erat, agar tercapainya ikhtiar tujuan
politik hukum yang telah ditetapkan (turthering policy goals). Dalam
tulisannya yang lain Hikmahanto Juwana menyebutkan bahwa hukum
adalah sebagai instrumen politik dan jika tidak dimaknai secara tepat
dalam skala Internasional dapat berubah menjadi alat intervensi atas
kedaulatan negara dalam proses legislasi di Indonesia, karena melalui
langkah itu tindakan intervensi politik mendapat justifikasi atau tidak
dianggap sebagai suatu pelanggaran hukum Internasional. 75
Dalam praktek penegakan hukum di Indonesia, Hikmahanto
Juwana juga sampai pada satu kesimpulan bahwa penegakan hukum di
Indonesia telah menjadi komoditas politik, dalam berbagai
intensitasnya. Hal itu disebabkan karena penegakan hukum itu bisa
“diatur” jika kekuasaan menghendaki. Aparat penegak hukum didikte
oleh kekuasaan bahkan diintervensi dalam penegakan hukum. Lebih
lanjut Hikmahanto menegaskan :
Penegakan hukum akan dilakukan secara tegas karena
penguasa memerlukan alasan sah untuk melawan kekuatan
pro-demokrasi atau pihak-pihak yang membela kepentingan
rakyat. Tetapi penegakan hukum akan dibuat lemah oleh
74
Hikmahanto Juwana, Politik Hukum Undang-undang Bidang Ekonomi di
Indonesia, Op.Cit, hal. 28. Paling tidak, menurut uraian Hikmahanto Juwana, ada dua hal
penting sebagai alasan mengapa diperlukan politik hukum ; pertama, untuk alasan
mengapa diperlukan pembentukan suatu peraturan perundang-undangan ; kedua untuk
menentuan apa yang hendak diterjemahkan ke dalam kalimat hukum dalam rumusan
pasal-pasal dalam perundang-undangan tersebut.
75
Lebih lanjut lihat Hikmahanto Juwana, Hukum Sebagai Instrumen Politik :
Intervensi Atas Kedaulatan Dalam Proses Legislasi di Indonesia, dalam Tim Pakar
Hukum Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI, Gagasan dan Pemikiran
Tentang Pembaharuan Hukum Nasional, Volume III, Jakarta, 2004, hal 55.
99
kekuasaan bila pemerintah atau elit-elit politik yang menjadi
pesakitan.
Penegakan hukum sebagai komoditas politik ini menjadi
sumber tidak dipercayanya penegakan hukum di Indonesia.
……. Problem lain dari lemahnya penegakan hukum adalah
penegakan hukum yang dilakukan secara diskriminatif.
Tersangka yang mempunyai status sosial yang tinggi di
tengah-tengah masyarakat akan diperlakukan secara istimewa.
Penegakan hukum seolah-olah hanya berpihak pada si kaya
tapi tidak pada si miskin. Bahkan hukum berpihak pada
mereka yang memiliki jabatan dan koneksi dari para pejabat
hukum atau akses terhadap keadilan. 76
Demikian juga dalam tataran basic policy hukum dapat
menjadi alat intervensi negara maju terhadap negara berkembang. Hal
ini sesuai dengan fungsi hukum dapat digunakan untuk berbagai
kepentingan. Selain sebagai alat pengubah dan alat kontrol masyarakat,
hukum juga dapat berfungsi sebagai instrumen politik. Sebagai
instrumen politik, hukum dapat digunakan untuk mencapai tujuantujuan tertentu. Dalam uraiannya Hikmahanto Juwana menegaskan
bahwa :
Keikutsertaan suatu negara dalam perjanjian internasional
berarti negara tersebut dengan sengaja membebankan dirinya
melaksanakan kewajiban-kewajiban yang termaktub dalam
perjanjian internasional. Salah satu kewajiban tersebut adalah
transformasikan ketentuan yang ada dalam perjanjian
internasional dalam hukum nasionalnya.
Ini berlaku pula bagi Indonesia. Keikutsertaan Indonesia
dalam berbagai perjanjian internasional akan menimbulkan
kewajiban bagi Indonesia untuk melakukan sejumlah
amandemen terhadap peraturan perundang-undangannya. Bila
ada peraturan perundang-undangan yang bertentangan maka
harus diselaraskan dengan perjanjian internasional yang
diikuti. Sebagai contoh dibidang Hak Kekayaan Intelektual
(HKI) sejak tahun 2000 hingga 2002, sebagai kewajian
keikutsertaan Indonesia dalam Trade-Related aspects of
Intellectual Property rights (TRIPs), pemerintah telah
76
Hikmahanto Juwana, Penegakan Hukum Dalam Kajian Law and
Development : Problem dan Fundamen Bagi Solusi di Indoensia, Pidato Ilmiah,
Disampaikan pada Acara Dies Natalis Ke-56 Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, 4
Februari 2006, hal.16.
100
mengamandemen UU Paten, UU Merek, UU Hak Cipta,
bahkan mengintrodusir UU Rahasia Dagang, UU Desain
Industri dan UU Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. 77
Dengan bertolak dari pendekatan sejarah Pasca Perang Dunia
II bahwa proses dekolonisasi telah menyebabkan munculnya banyak
negara baru dan diikuti dengan pertarungan bisnis dengan sistem pasar
bebas yang terbuka, Hikmahanto sampai pada puncak pemikirannya
bahwa, pada tataran basic policy, hukum adalah merupakan instrumen
politik dan pada tataran anactment policy penegakan hukum sebagai
komoditas politik.
Pandangan inilah yang kemudian dijadikan sebagai kerangka
teori dalam penelitian ini.
1.3.2. Teori Sisnas M. Solly Lubis
Harold J. Laski, menegaskan kebijakan dasar negara yang
dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan adalah
merupakan politik hukum. 78 Isi hukum (meminjam istilah Lawrence
Friedman, substansi hukum) yang dibentuk oleh lembaga legislatif
adalah sesungguhnya hasil dari politik hukum. Kemana hukum itu
diarahkan, demikian Padmo Wahyono berpendapat, adalah merupakan
politik hukum. 79
Untuk itulah hukum harus dilihat keberadaannya dalam satu
sistem. Hukum tak dapat dilihat secara parsial dalam sistem sosial atau
sistem nasional. Pandangan terakhir ini, dikembangkan oleh M. Solly
Lubis dalam aktivitas perkuliahan di Universitas Sumatera Utara dan
difahami sebagai teori politik hukum sebagai teori sisnas. Hukum yang
dilahirkan dan diterapkan tidak boleh keluar dari kerangka sistem
nasional, tidak boleh keluar dari jati diri bangsa, tidak boleh keluar dari
landasan ideologis-filosofis bangsa dan negara dan sudah semestinya
semua produk hukum yang lahir mengacu pada the original
paradicmatic value of Indonesian culture and society. Karena itulah
hukum dalam teori M. Solly Lubis harus ditempat sebagai bahagian
dari sub sistem politik dalam sistem nasional. Menurut beliau, semua
77
Lebih lanjut lihat Hikmahanto Juwana, Hukum Sebagai Instrumen Politik :
Intervensi Atas Kedaulatan Dalam Proses Legislasi di Indonesia, Op.Cit, hal 58-59.
78
Harold J. Laski, Studies in Law and Politics, Transaction Publisher,
London, 2010, hal.125.
79
Padmo Wahjono, Indonesia Negara Berdasarkan Atas Hukum, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1983, hal. 160.
101
hukum, apakah pada waktu pembuatannya (basic policy), maupun pada
waktu penerapannya (anactment policy) dipengaruhi oleh faktor non
hukum (sebagai sub sistem) dalam sistem nasional. Hukum adalah
produk politik. Hasil dari kekuatan politik, demikian uraian M. Solly
Lubis. 80
Secara sederhana M. Solly Lubis menggambarkan tentang
kedudukan hukum sebagai sub sistem dalam sistem politik Indonesia
dalam skema berikut :
80
Materi kuliah M. Solly Lubis, selama kurun waktu semester Ganjil pada
Program Pendidikan S3 Ilmu Hukum TA 2011-2012.
102
103
Politik hukum sesungguhnya adalah keseluruhan proses
tentang hukum, baik pada waktu pembuatannya maupun pada waktu
penerapannya. Bahkan ketika hukum itu diterapkan dievaluasi capaiancapaiannya, yang dapat dijadikan umpan balik bagi penyempurnaan
kembali norma hukum itu untuk masa-masa yang akan datang.
Ditemukan strateginya, apakah itu strategi dalam merumuskan norma
hukum (basic policy) baru atau strategi penerapannya (anactment
policy).
Sebagai hasil dari kekuatan politik, maka hukum berisikan
kemauan politik penguasa. Kerangka teori inilah sebagai teori terapan
kedua yang digunakan sebagai pisau analisis dalam disertasi ini.
Mengapa peraturan perundang-undangan Hak Cipta Nasional (basic
policy) dalam pasal-pasalnya berbunyi demikian ? Jika ditempatkan
dalam kerangka sistem nasional, menurut teori sisnas M. Solly Lubis,
pada saat Undang-undang Hak Cipta itu dibuat (basic policy) suasana
internal dan eksternal apa yang sedang dihadapi Indonesia ? Suasana
itu diuji berdasarkan faktor ideologi, ekonomi, sosial budaya dan
pertahanan keamanan. Efek-efek konstruktif dan destruktif apa yang
kemudian muncul setelah kebijakan (policy) itu diambil. Pada tataran
penerapannya (anactment policy), akan dapat diuji dengan teori sisnas
ini, tingkat kualitas ketahanan nasional Republik Indonesia dengan
mengukur efektifitas penegakan Undang-undang Hak Cipta Nasional
dengan mengambil kasus perlindungan karya sinematografi. Uraian di
atas, jika dihubungkan dengan skema hasil olah pikir M. Solly Lubis
dalam bukunya “Manajemen Strategis Pembangunan Hukum” 81
semakin menguatkan teori sisnas yang beliau perkenalkan. Skemanya
sebagai berikut :
81
M. Solly Lubis, Manajemen Strategis Pembangunan Hukum, Mandar Maju,
Bandung, 2011, hal. 127. Bandingkan dengan pendapat Moh. Mahfud MD, bahwa politik
hukum adalah sebagai keseluruhan proses pembuatan dan pelaksanaan hukum, ke arah
mana hukum akan dibangun atau ditegakkan, Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di
Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta, 2009 , hal. 54.
104
105
Skema di atas menggambarkan tentang keharusan untuk
menempatkan Sistem Pembangunan Hukum Nasional (Sisbangkumnas)
dalam kerangka sistem nasional, dengan mengacu pada kerangka
kebijakan politis yang mempergunakan pendekatan sistem berdasarkan
pandangan konseptual strategis.
Setelah ditemukan tingkat efektivitas penerapan Undangundang Hak Cipta Nasional, maka hasil temuan itu menjadi umpan
balik bagi penyusunan konsep (politik hukum) Undang-undang Hak
Cipta Nasional yang baru dengan mempertimbangkan seluruh aspek
non hukum yang mengitari kebijakan (policy) itu dengan
menempatkannya dalam sistem nasional. Politik hukum seperti apa
yang harus ditempuh dan dikembangkan ke depan inilah yang
dirumuskan sebagai something new. Siklus ini akan terus bergerak
melingkar selama negeri ini terbentang dan hukum yang dilahirkan
tidak keluar dari “rel” kerangka sistem nasional. Inilah pemaknaan
yang dalam dari teori Sisnas M. Solly Lubis yang digunakan sebagai
pisau analisis dalam disertasi ini.
Selanjutnya guna mempertajam analisis ke-sistem-an
berdasarkan teori Sisnas ini, diturunkan satu lagi bagan (skema)
korelasi antara teoritisi dan praktisi dalam upaya pembinaan hukum
sebagai berikut :
106
107
Menurut pandangan M. Solly Lubis, diperlukan kerjasama
antara kalangan teoretisi dengan kalangan praktisi. Hal ini
dimaksudkan untuk menjembatani konsep teori yang dituangkan di atas
kertas dengan pengalaman empiris kalangan praktisi ketika peraturan
perundang-undangan itu diterapkan di lapangan. Pandangan-pandangan
teoretis dan pengalaman praktis kesemuanya bermuara pada melahirkan
konsep pemikiran baru yang dapat disumbangkan guna pembinaan
hukum nasional kepada institusi negara (prolegnas dan relegnas) yang
melakukan aktivitas persiapan penyusunan undang-undang yang
dirumuskan sebagai politik hukum (legal policy). Hasil capaian institusi
legislasi nasional ini melahirkan peraturan perundang-undangan yang
kemudian diterapkan (diberlakukan) di tengah-tengah masyarakat.
Pelaksanaannya kemudian dipantau dan dinilai (monitoring) kembali
oleh kalangan teoretisi (akademis) setelah mendengar pengalaman
empirik dari kalangan praktisi. Hasil monitoring ini di kemudian hari
kembali dijadikan umpan balik (feedback) untuk melahirkan kebijakan
politik hukum yang baru lagi.
1.3.3. Teori Nuances Mahadi
Mahadi mengawali uraian teori nuances dengan mengatakan,
manusia adalah makhluk sosial (human being). Hubungan manusia
dengan manusia agar kepentingan tidak saling bertubrukan, harus diatur
oleh hukum. Mulanya bisa berupa norma-norma kebiasaan, norma
agama, adat istiadat dan lain sebagainya. Kemudian meningkat menjadi
norma hukum.
Tiap-tiap manusia mungkin mempunyai kebiasaan, adat
istiadat, norma agama dan norma hukum. Bahkan norma hukumnya
sendiri berbeda dengan norma hukum yang digunakan orang lain,
berbeda dari bangsa lain, karena berbeda sistem hukumnya. Akan tetapi
karena ada hubungan, ada relasi antara kelompok masyarakat yang satu
dengan masyarakat lain yang berbeda pada norma hukum yang
dianutnya, berbeda sistem hukumnya, maka kemungkinan akan terjadi
ketidak sesuaian. Mungkin akan terjadi perbenturan. Perbenturan itu
bila dibiarkan dapat menimbulkan stagnasi. Terhenti pada satu titik
buntu. Kebuntuan itu tidak boleh dibiarkan. Tidak boleh didiamkan.
Jalan buntu itu harus dibuka, harus ditetas satu demi satu. Mulai dari
celah kecil sampai ada ruang besar untuk dapat dimasuki dan
ditemukan jalan baru guna penyelesaiannya. Dicarikan titik temunya.
Dibuang titik-titik perbedaan, dicari titik-titik persamaan. Ditemukan
nuansanya (nuances). Nuansa bermakna suatu titik temu yang samarsamar akan perbedaan dan samar-samar akan persamaan. Tidak benar-
108
benar berbeda dan tidak benar-benar sama. Kedua kutub yang berbeda,
masing-masing bergerak, kemudian bertemu ditengah. Titik tengah
itulah yang oleh Mahadi disebutnya sebagai “Nuances”.82 Teori
Mahadi ini mirip dengan teori harmonisasi hukum.
Jika digambarkan dalam bentuk garis grafis, teori nuances dari
Mahadi ini dapat dilukiskan dalam skema sebagai berikut :
Skema 6
Teori Nuances Mahadi
A1
A
C
A2
B1
B2
A3
B
B3
Nuances
A = Sistem hukum A (Varian A1, A2, A3)
B = Sistem hukum B (Varian B1, B2, B3)
C = Nuances (pertemuan berbagai sistem hukum)
Alur pemikiran teori yang kami gunakan dalam disertasi ini dapat kami
tuangkan dalam skema sebagai berikut :
82
Mahadi, Falsafah Hukum Suatu Pengantar, Citra Aditya Bakti, Bandung,
1989, hal. 24. Lihat juga Mahadi, Suatu Perbandingan Antara Penelitian Masa Lampau
Dengan Sistem Metode Penelitian Dewasa Ini Dalam Menemukan Asas-Asas Hukum,
Makalah, Kuliah pada Pembinaan Tenaga Peneliti Hukum, BPHN, Jakarta, 1980, hal. 52.
109
110
2. Konsep
Konsep dimaknai sebagai, definisi khusus yang diberikan atas
sesuatu yang diintegrasikan melalui proses abstraksi yakni
menghilangkan atau memisahkan aspek realitas tertentu dari unit-unit
mental yang beragam kemudian menjadi entitas mental baru yang
dipakai sebagai unit tunggal pemikiran. 83
Istilah transplantasi atau pencangkokan yang digunakan dalam
disertasi ini adalah istilah yang lazim digunakan dalam ilmu kedokteran
atau pertanian. Istilah transplantasi jantung, pencangkokan tanaman
durian atau rambutan adalah istilah yang kerap kali kita jumpai dalam
literatur ilmu kedokteran dan pertanian. Konsep transplantasi hukum
sebenarnya tidak jauh berbeda pemaknaannya dengan transplantasi
jantung atau pencangkokan rambutan, yaitu mengambil jantung dari
tubuh seseorang (dari luar) untuk dipasangkan pada tubuh orang lain
yang memerlukan jantung tersebut. Tingkat keperluannya sesuai
analisis dan diagnosis dokter menurut ilmu kedokteran. Begitulah
konsep transplantasi hukum ini jika dihubungkan dengan obyek studi
ilmu hukum. Konsep transplantasi hukum dimaknai sebagai kebijakan
suatu negara untuk mengambil hukum asing yang berasal dari negara
lain untuk dijadikan sebagai hukum di negara sendiri. Sama halnya
dengan pencangkokan jantung, tubuhnya sudah ada, maka dalam
transplantasi hukum, struktur dan kulturnya sudah ada, substansi
hukumnya yang akan dicangkokkan.
Transplantasi dilakukan dengan berbagai cara ; dengan sadar
atau tanpa disadari, bergulir dalam jarum jam sejarah yang panjang
pada kasus transplantasi Undang-undang Hak Cipta diawali dari
Auteurswet 1912 sampai dengan Undang-undang No. 19 Tahun 2002,
83
Terminologi konsep berasal dari bahasa Inggris “concept”. Istilah konsep
dapat diurutkan dari bahasa Latin “conceptus” dari akar kata “consipere” yang berarti
memahami, menerima, menangkap, merupakan gabungan dari kata “con” artinya
bersama dan “capere” artinya menangkap atau menjinakkan. Oleh karena itu kata
“konsep” memiliki banyak makna. Akan tetapi secara umum dapat difahami bahwa
konsep adalah pemaknaan yang dirumuskan secara abstrak atas suatu fenomena yang
mewakili dari entitas-entitas tertentu yang kemudian menjadi pemahaman yang dapat
diterima secara universal. Dalam terminologi ilmu hukum, konsep tentang “mati”
berbeda dengan konsep “mati” menurut terminologi ilmu kedokteran. Concept an idea or
a principle that is connected with sth abstract, the concept of social class, concepts such
as civilization and government. He cant grosp the basic, concepts of mathematics the
concept that everyone should have equality of opportunity. Lebih lanjut lihat A.S.
Hornby, Oxford Advanced Learner's Dictionary of Current English, University Press
Oxford, New York, 2000, hal. 265. Lihat juga Johnny Ibrahim, Teori & Metodologi
Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, 2008, hal. 387.
111
undang-undang disebut terakhir ini disusun merujuk pada persetujuan
TRIPs 1994.
Dalam konteks tranplantasi hukum Internasional ke dalam
hukum nasional, konsep transplantasi dimaknai sama dengan konsep
transformasi hukum Internasional ke dalam hukum nasional khususnya
dalam perjanjian internasional yang termasuk dalam katagori law
making, yakni keharusan suatu negara untuk menterjemahkan ke dalam
peraturan perundang-undangan nasionalnya, terhadap perjanjian
Interrnasional yang telah diikutinya.
Keharusannya semacam ini akan membawa dampak terhadap
penyusunan Undang-undang Hak Cipta Nasional. Dampak yang sangat
mendasar adalah terjadi pergeseran nilai-nilai ideologis-filosofis
Pancasila sebagai grundnorm, nilai-nilai sosio-kultural masyarakat
Indonesia yang merupakan the original paradicmatic values of
Indonesian cultural and society yang di dalamnya memuat tata nilai
atau sekumpulan asas-asas hukum. Konsep tentang pergeseran nilai,
dimaknai sebagai bergesernya pilihan-pilihan
tata nilai dalam
penyusuan norma hukum hak cipta nasional yang semula bertolak dari
ideologi-filosofis Pancasila sebagai grundnorm, akan tetapi dalam
proses legislasi berujung pada norma konkrit yang tercerabut dari
landasan ideologis-filosofis Pancasila dan lepas dari sosio-kultural
masyarakat Indonesia. Bergeser dari nilai ideologi Pancasila ke nilai
ideologi liberal-kapitalis. Bergeser dari nilai sosial-kultural masyarakat
Indonesia ke nilai-nilai masyarakat Barat. Bergeser dari nilai komunal
ke nilai individualis dan seterusnya. Bergeser dalam arti meninggalkan
nilai-nilai yang sudah lama dianut atau nilai yang seharusnya dianut
digantikan nilai baru, jadi dibedakan dengan perubahan. Kalau
perubahan, langkah-langkah perubahan itu bertolak dari nilai lama atau
nilai yang ada, secara perlahan-lahan mengadopsi nilai yang baru tanpa
mengenyampingkan nilai yang lama.
Oleh karena terjadi pergeseran-pergeseran nilai seperti
diuraikan di atas, ketika Undang-undang Hak Cipta itu diterapkan
terjadi penolakan, baik penolakan secara aktif maupun pasif. Kesemua
itu berujung pada tingkat efektivitas penegakan hukum yang lemah.
Konsep efektivitas penegakan hukum dimaknai sebagai tingkatan tinggi
rendahnya kesadaran hukum masyarakat. Kesadaran hukum masyarakat
dapat diukur dari tingkat pengetahuan masyarakat terhadap norma
hukum itu sendiri dan tingkat kepatuhannya terhadap norma hukum
itu, sedangkan tingkat kepatuhan hukum dapat diukur dari tingkat
keberterimaan dan penolakan masyarakat terhadap norma hukum itu.
112
Pilihan terhadap transplantasi hukum sebagai pilihan politik
negara dalam penyusunan hukum nasional, bukanlah pilihan yang
bebas. Pilihan itu didasari pada pengaruh eksternal dan internal. Secara
eksternal pengaruh globalisasi telah membawa dampak pada pilihan
politik hukum. Hukum yang telah selesai untuk dioperasionalkan, juga
membawa dampak terhadap masyarakat sebagai pihak yang terkena
dari pemberlakuan norma hukum itu.
Perlindungan hak cipta karya sinematografi misalnya, tidak
hanya dilindungi di Indonesia atau dibatasi pada tempat hak cipta itu
dilahirkan, akan tetapi di seluruh jagat raya.
Konsep hukum asing dalam disertasi ini tidak merujuk pada
pendefinisian menurut hukum perdata internasional ataupun hukum
internasional publik. Hukum asing yang dimaksudkan dalam disertasi
ini adalah hukum yang bersumber dari kebudayaan asing, peradaban
asing, dasar filosofis dan ideologi asing, sebaliknya yang dimaksud
dengan hukum nasional adalah hukum yang dalam proses
pembuatannya bersumber dari kebudayaan nasional, peradaban
masyarakat Indonesia, dasar filosofis dan ideologi Negara Republik
Indonesia atau dalam istilah lain adalah hukum yang bersumber dari the
original paradigmatic values of Indonesian culture and society.
3. Metode
1. Pendekatan
Sulit untuk mengatakan bahwa hukum itu hanya merupakan
gejala normatif yang hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang
saja,yakni sudut pandang juridis. Jika hukum hanya dipandang sebagai
gejala nromatif saja, maka akan terjadi kesulitan untuk merangkum
keaneka ragaman yang ada dalam berbagai bidang kajian hukum. Di
samping itu juga akan memperkuat kecenderungan konservatif atau
menuju pada mitos pendewaan ilmu hukum normatif yang pada
gilirannya akan menolak kajian sosiologi hukum, politik hukum,
antropologi hukum, sejarah hukum bahkan filsafat hukum. Pada hal
untuk melihat realitas sosial hukum yang sesungguhnya haruslah
melihat hukum dari berbagai-bagai segi. Hukum menjadi ilmu yang
multi paradigma. Deangn cara pandang demikian hukum tidak dilihat
sebagai sebuah kebetulan yang dituangkan dalam kitab undang-undang,
tetapi sebuah pilihan yang secara sadar dilakukan oleh masyarakat
untuk mengatur hubungan kemasyarakatan dalam kehidupan mereka.
Oleh karena itu jika hendak melihat atau mengkaji hukum secara
113
mendalam (kedalaman substansi bukan keluasan) mau tidak mau kajian
yang harus dilakukan mestilah menggunakan multi paradigma. 84
Jika hukum dilihat sebagai sekumpulan norma dan asas,
maka paradigma yang dipakai adalah paradigma normatif, namun
apabila hukum hendak dilihat sebagai sekumpulan perilaku, resultan
dari kekuatan politik, kristalisasi dari nilai-nilai budaya, penerapannya
dipengaruhi oleh faktor sosiologis dan kultural, keberlakuannya
dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pilihan kesadaran hukumnya
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, maka paradigma kajian yang
dipakai adalah paradigma sosiologis. Di sisi lain jika studinya
menghendaki kajian masa lampau guna merumuskan masa depan maka
pilihan metode kajian sejarah menjadi sesuatu yang tak terelakkan.
Begitu juga kalau kemudian kajiannya melihat bagaimana sistem
hukum yang sama diterapkan di negara-negara yang berbeda waktu dan
tempatnya, yang kemudian melahirkan ”nuansa hukum” yang berbeda,
maka metode perbandingan menjadi pilihan yang tepat. Dengan begitu,
tidak ada dominasi tunggal dalam pilihan metode dalam penelitian
hukum.
Pilihan metode tunggal dalam penelitian hukum, tidak akan
mampu memecahkan masalah hukum yang multi paradigma itu. Oleh
karena itu keluar dari tradisi yang selama ini telah mendominasi model
pilihan metode dalam kajian ilmu hukum, maka dalam penelitian ini,
pilihan metode yang dilakukan adalah, metode campuran (mixed
methods) yang sebenarnya telah diperkenalkan sejak lama oleh para
pakar di bidang penelitian. Pilihan metode ini untuk menghilangkan
dikotomi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif, untuk
menghilangkan dikotomi antara penelitian juridis normatif dengan
sosiologi empiris dan seterusnya. Pilihan kuantitatif dapat digunakan
untuk memverifikasi norma, asas hukum dan doktrin hukum,
sedangkan pilihan kualitatif dapat digunakan untuk menciptakan
norma, asas hukum dan melahirkan teori baru. Demikian pula pilihan
terhadap metode juridis normatif, dapat digunakan untuk memverifikasi
norma hukum, asas hukum dan doktrin hukum, dan hasilnya hanya
memverifikasi teori hukum, sedangkan pilihan terhadap metode
sosiologis dapat digunakan untuk memverifikasi perilaku hukum. Jika
keduanya digabungkan dengan memberikan defenisi menurut metode
84
Catatan Kuliah Solly Loebis, Soetandyo Wignyosoebroto, Lili Rasyidi,
Herman Rajagukguk dan Tan Kamello, Semester Genap Tahun Ajaran 2010/2011
Program Studi S3 Ilmu Hukum Fakultas Hukum USU
114
campuran tidak hanya menampilkan verifikasi norma, asas dan teori,
tapi dapat melahirkan teori baru.
Judul penelitian ini menghendaki adanya studi sejarah 85
dengan dicantumkannya kata ”Dari Auteurswet 1912 ke TRIPs
Agreement 1994. Studi sejarah hukum menjadi satu bahagian saja
dalam pendekatan ini, hal ini untuk menghindarkan disertasi ini dari
potensi untuk menjadi kajian sejarah hukum. Penggunaan metodologi
sejarah dimaksudkan untuk melihat perjalanan Undang-undang Hak
Cipta Indonesia, yang semula berpangkal pada hukum kolonial
(Auteurswet 1912 Stb. 600) dan berakhir pada TRIPs Agreement 1994.
Sisi sejarah yang akan dilihat adalah aspek kebijakan/politik legislasi
yang bersumber pada hukum asing atau transplantasi hukum asing ke
hukum nasional. Di balik peristiwa
pilihan politik hukum
pembentukan undang-undang hak cipta nasional, pasti ada hal-hal yang
tak terungkap, jika hanya dilihat dari redaksi norma hukumnya. Akan
tetapi tiap-tiap peristiwa pasti ada yang melatar belakanginya. Serupa
dengan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki asbabun nuzul,
maka studi sejarah hukum dalam penelitian tak pelak lagi adalah untuk
mengungkapkan “asbabun nuzul” pada tiap-tiap priode perubahan
undang-undang hak cipta nasional.
Penelitian ini tidak hendak menyalahkan pilihan politik
hukum ( yang juga berjalan secara simetris dengan pilihan politik
politik ekonomi dan politik kebudayaan ) yang pernah dilakukan oleh
negeri ini pada masa lalu , melainkan hendak mencari
akar/filosofis/ideologis yang mendasari politik hukum yang dijalankan
secara sedemikian dalam kurun waktu antara Auteurswet 1912 sampai
pada Undang-undang No. 19 Tahun 2002.
Ketepatan dalam merumuskan kebijakan hukum terhadap
subyek yang bertanggungjawab merumuskan (pemerintah dan
85
Metode penelitian sejarah dapat digunakan untuk melihat sejarah
perkembangan hukum di satu negara seperti yang dilakukan oleh Soetandyo
Wignosoebroto dalam tulisannya Dari Hukum Kolonial Ke Hukum Nasional. Dengan
studi sejarah ini kita dapat melihat perjalanan masa lalu arus gerak perkembangan hukum
Indonesia dalam lintasan sejarah untuk melihat sisi-sisi lemah dari substansi dan
penerapan hukumnya untuk kemudian dijadikan refleksi guna membangun hukum masa
depan. Lihat lebih lanjut John Gilissen dan Frits Gorgle, Sejarah Hukum Suatu
Pengantar, (Terjemahan Drs. Freddy Tengker, SH, CN), PT. Refika Aditama, Bandung,
2005, hal.124, Lihat juga Soerjono Soekanto, Pengantar Sejarah Hukum, Alumni,
Bandung, 1979. Bagaimana pendekatan sejarah digunakan lihat lebih lanjut Sartono
Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 1993, hal. 12. Lihat juga Rifyal Ka’bah, Indonesian Legal History,
Program Pascasarjana FH-UI, Jakarta, 2001, hal. 54. Karena bagaimanapun juga hukum
adalah kristalisasi dari peradaban umat manusia yang bergulir dalam lintasan sejarah.
115
legislatif) dan menjalankannya (pemerintah dan judikatif), juga
menjadi issue penting yang hendak ”disemai” dalam penelitian ini.
Apakah ”panennya” menghasilkan bulir padi jernih atau hampa,
disinilah diskusi pergulatan pemikiran akan diurai, tentu saja
didasarkan pada data sejarah dan informasi yang akurat. Harapan akhir
adalah, anak negeri ini dapat menyebar benih padi baru dan menuai
hasil panen yang lebih baik. Sejarah yang menguak kebijakan politik
hukum yang keliru, belum terbuka lebar, sedikit sekali orang yang
menguaknya. Adalah Sudikno Mertokusumo, dari aspek lembaga
peradilan (struktur) dan Soetandyo Wignjosoebroto dari aspek
substantif. Selebihnya, apakah studi sejarah hukum tidak menarik, atau
para ilmuwan dan calon ilmuwan hukum telah terkoptasi dalam pilihan
metodologi penelitian hukum normatif, memang menjadi pertanyaan
tersendiri. Bagaimanapun juga, studi terhadap hukum harus dibebaskan
dari prasangka pro dan kontra terhadap masing-masing pilihan metode
penelitiannya. Jika hendak sampai pada ke dalam akar pohon, dengan
cangkul saja mungkin tak cukup, perlu tembilang atau walang kekek
(beko), untuk menggalinya dengan memadukan pola-pola pendekatan
tradisional dan modern.
Pilihan metodologi tertentu memang tidak bisa tidak, akan
mengundang pendekatan baru, dan tak jarang pula mengundang
perdebatan, mungkin tentang cara mencari data atau tentang
penafsirannya, tapi apapun yang akan dihasilkan nantinya, harapan
akhir dari studi ini adalah, agar dapat sesuatu yang baru, landasan teori
baru atau perdebatan baru mengenai bagian terpenting dari perjalanan
sejarah pembangunan hukum di negeri ini. Tentu saja ini bukanlah
pekerjaan yang mudah, yakni untuk menarik generalisai terhadap
semua produk hukum nasional yang meggunakan pilihan politik hukum
trasplatasi dengan hanya meneliti pada perjalanan Undang-undang Hak
Cipta Nasional. Akan tetapi dengan dipadukan dengan studi normatif
yang berujung pada pengabstraksian nilai-nilai yang bersumber dari
norma-norma hukum hak cipta nasional yang ditranplantasikan dari
norma hukum asing (Auteurswet stb.1912 No.600) lalu kemudian diuji
dalam praktek penegakan hukumnya (lawenforcement-nya) melalui
data empirik, akan ditemukan prilaku-prilaku politik penyelenggara
negara, prilaku lembaga pembentuk undang-undang dan prilaku aparat
penegak hukum serta prilaku masyarakat yang pada gilirannya
diharapkan dapat ditarik generalisasi.
Transplantasi hukum asing ke hukum nasional sarat dengan
nuansa politik, ekonomis, sosiologis dan kultural. Situasi ini akan
membawa tulisan ini pada pilihan metode campuran yang dikenal
116
dalam ilmu sosial.86 Dengan demikian di samping menempatkan
undang-undang hak cipta nasional sebagai fenomena normatif dalam
kajian ini undang-undang hak cipta nasional juga ditemaptkan sebgai
fenomena sosio-kultural. Hukum selalu diartikan sebagai produk akhir
dan kristalisasi kebudayaan. Ada juga yang mengartikannya sebagai
produk politik, hasil (resultant) dari kekuatan politik. Sebagai hasil
kebudayaan, sebagai produk politik, sebagai fenomena sosial, mau
tidak mau untuk melihat secara utuh dan bahkan sebagai fenomena
normatif, realiti sosio-kultural hukum, studi ini harus meminjam
metode penelitian dari ilmu-ilmu sosial sebagai metode penjelajahan
semua fenomena itu dan dipadukan dengan metode penelitian hukum
yang murni, yakni metode penelitian hukum normatif. Metode yang
menggunakan pendekatan ilmu sosial oleh Jones disebutnya sebagai
pendekatan non doktrinal riset, sedangkan metode yang murni yang
lazim dipakai dalam ilmu hukum adalah pendekatan doktrinal riset.
Keduanya akan dipadukan, namun keluarannya, adalah hukum. 87
Oleh karena itu langkah untuk menjawab teka-teki itu disusun
tahap demi tahap. Mulai dari tahap inventarisir norma hukum sampai
pada tahap penerapannya. Di antara keduanya (tahap inventarisir dan
penerapannya) dijelaskan pula proses pembuatannya (legislasinya,
dengan pendekatan politik hukum) dengan disana-sini melihat pada
perjalanan sejarahnya (metode sejarah) dan membandingkannya pada
kurun waktu yang berbeda dan melihat pula diberbagai negara lain
secara sekilas untuk memperkaya khazanah penelitian dengan
menggunakan metode perbandingan hukum. Dengan demikian
fenomena transplantasi hukum hak cipta dapat tersingkap, ketimpangan
86
Lihat lebih lanjut Abbas Tashakkori, Charles Teddlie, Hand Book Of Mixed
Methods In Social & Behavioral Research, (Terjemahan Daryatno), Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2010, hal. 25.
87
Mengenai hal ini, lebih lanjut dapat dilihat dari uraian-uraian Lili Rasyidi
dalam bukunya Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-dasar Filsafat dan Teori
Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007, hal. 55. Hal yang sama juga dapat dilihat
dalam uraian Soetandyo Wignjosoebroto Penelitian Hukum Normatif : Analisis
Penelitian Filosofikal dan Dogmatikal, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 65,
demikian juga uraian-uraian Lili Rasyidi, Soetandyo dan M. Solly Lubis dalam
kuliahnya di Program Pasca Sarjana USU sepanjang semester B Tahun 2010 -2011.
Pemaduan antara berbagai metode penelitian ini, tidak bisa tidak harus dilakukan.
Alasannya adalah : 1. Hukum sarat dengan kompleksitas kehidupan sosial, karena itu
tidak bisa dijelaskan dari satu paradigma metodologis saja, butuh beragam perspektif. 2.
Hukum memiliki multi paradigma, oleh karena itu pilihan terhadap metode campuran itu
akan memperluas cakupan dimensi hukum yang multi paradigma itu untuk mendapat
gambaran yang utuh dari realitas sosial hukum yang penuh teka-teki (the full social redity
of legal fenomena).
117
dapat terpecahkan, konsep terpahami dan hubungan timbal balik antara
berbagai faktor yang mempengaruhi hukum sebagai sub sistem dalam
sistem nasional dapat terjalin. Semua penggalan-penggalan informasi
apakah itu diperoleh dari data sekunder atau data primer dapat dijalin
jadi satu. Dengan langkah-langkah ini semuanya bermuara pada
pengembangan teori atau penemuan teori baru sebagai the something
new. 88
Mengacu pada uraian di atas, maka dalam penelitian ini
dipadukan dua model penelitian hukum yakni :
a. Metode penelitian doktrinal riset atau dogmatik.
b. Metode penelitian nondoktrinal riset.89
Untuk pendekatan pertama Soerjono Soekanto 90 menggunakan
istilah penelitian juridis normatif, sedangkan untuk pendekatan
kedua digunakannya istilah sosiologis-empiris.
2. Metode Penelitian Doktrinal Riset
Salah satu dari capaian metode penelitian doktrinal riset
adalah untuk mencari atau menemukan asas hukum atau doktrin hukum
yang terkandung dalam peraturan perundang-undangan yang
berhubungan dengan Hak Cipta, baik itu peraturan Perundangundangan Nasional (Undang-undang No. 19 Tahun 2002) maupun
Perundang-undangan yang bersumber dari hukum asing (The
Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights,
Bern Convention, Rome Convention).91 Metode ini diawali dari
pekerjaan menginventarisir berbagai-bagai peraturan perundang88
Lihat lebih lanjut Abbas Tashakkori, Charles Teddlie, Hand Book Of Mixed
Methods In Social & Behavioral Research, (Terjemahan Daryatno), Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2010, hal. 54. Memang untuk pilihan metode campuran ini perlu kehatihatian sebab jika keliru bisa menjadi ancaman serius terhadap validitas, karena asumsiasumsi, metodologisnya dilanggar. Namun berapapun tingkat kesulitannya kami
memberanikan diri untuk melakukan pilihan metodologis campuran ini, dengan alasan
bahwa fenomena hukum memang menghendaki pola pendekatan yang demikian.
89
Soetandyo Wignjosoebroto, Makalah pada Penataran Lanjutan Pendekatan
Ilmu Sosial Dalam Kajian Hukum, Cibogo, 15-16 Oktober 1993. Lihat juga Soetandyo
Wignjosoebroto, Metode Penelitian, Bahan Kuliah Bagi Mahasiswa Program Doktor
Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara, Medan, Tahun 2009/2010 ; Soetandyo
Wignjosoebroto, Hukum Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya, ELSAM &
HUMA, Jakarta, 2002, hal. 164.
90
Soerjono Soekanto, Identifikasi Hukum Positif Tidak Tertulis Melalui
Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, IND-HILL-Co, Jakarta, 1988, hal. 47.
91
Yakni berupa peraturan perundang-undangan yang bersumber dari hukum
kolonial dalam hal ini Auteurswet 1912 No. 600 dan Konvensi Internasional seperti Bern
Convention, Rome Convention dan TRIPs Agreement.
118
undangan terkait kemudian dilanjutkan dengan pengujian norma per
norma. Pada zamannya, mengapa norma itu berbunyi demikian ?
Suasana seperti apa yang berlangsung pada saat norma itu disusun.
Konvensi Internasional apa yang berlaku pada saat itu dan bagaimana
penyesuaiannya dengan hukum Indonesia. Misalnya Konvensi Bern
diselaraskan dengan Auteurswet 1912 Stb. No. 600, dan Undangundang Hak Cipta No.6 Tahun 1982, karena ketiganya memiliki
hubungan yang kuat dalam proses pembentukannya. Undang-undang
Hak Cipta No.12 Tahun 1997 dan Undang-uyndang Hak Cipta No. 19
Tahun 2002, diselaraskan dengan TRIPs Agreement 1994, alasannya
juga sama, yakni pembentukan dua undang-undang hak cipta Nasional
yang disebutkan terakhir memiliki pertalian atau benang merah dengan
TRIPs Agreement. Pengujian dilangsungkan dengan mengukur tingkat
keselarasan normatif Undang-undang No. 19 Tahun 2002 dengan
ideologi negara (sebagai landasan filosofis penyusunan peraturan
perundang-undangan). Pengujian dilanjutkan juga dengan mengkaji
ideologi yang tersembunyi dibalik norma-norma Bern Convention,
Rome Convention 1961 dan The Agreement on Trade Related Aspects
of Intellectual Property Rights (TRIPs) Agreement 1994.
Inventarisirpasal-pasal yang terkait dalam proses transplantasi
itu dibandingkan satu persatu dalam pasal-pasal undang-undang hak
cipta nasional. Kemudian diikuti dengan klasifikasi norma pernorma,
misalnya norma yang mengatur tentang ruang lingkup hak cipta akan
ditelusuri dalam pasal-pasal undang-undang hak cipta nasional,
sebelum ditransplantasi norma semacam itu akan dilihat dalam
Auteurswet 1912 Stb No.600 atau di berbagai Konvernsi Internasional
yang mengatur tentang itu. Setelah dibandingkan dengan
menempatkannya dalam satu matrik yang sederhana akan dilihat
perbandingannya. Kesamaan pada bunyi norma, akan mengantarkan
pada kesimpulan bahwa transplantasi dilakukan 100 %, begitu
setrusnya. Kemudian tidak berhenti di situ saja, penarikan azas hukum
yang tersembunyi dibalik norma hukum itu juga dilakukan sekaligus
tentu saja ini dilakukukan melalui metode abstraksi. Untuk selanjutnya
kedua asas hukum itu dibandingkan antara hukum nasional dengan
hukum yang bersumber dari hukum asing. Keduanya kemudian
dihadapkan untuk kemudian dipertemukan dengan metode ”Nuances”
menurut kerangka pikir Mahadi. Misalnya ada norma hukum yang
memiliki kecenderungan (ideologi ekonomi) kapitalis yang
dicangkokkan ke dalam undang-undang hak cipta nasional, sedangkan
di sisi lain Pancasila menganut (ideologi ekonomi) kerakyatan,
keduanya dicarikan titik temu, dicarikan nuansa (nuances) norma-
119
norma itu tidak saling berbenturan. Norma-norma undang-undang hak
cipta yang bertentangan nilai-nilai Pancasila itu disarankan untuk
diubah dengan norma yang sesuai dengan kepribadian bangsa, akan
tetapi dihindari kecenderungan konservatif, dengan merangkum
pluralisme yang ada. Norma hukum konkrit yang direkomendasikan
tidak boleh berujung pada penciptaan mitos pendewaan bangsa sematamata (commit nationally), akan tetapi menyahuti pula kepentingan
global (think globally), dengan pengakuan pada pluralisme hukumhukum lokal (act locally). Formula seperti apa yang tepat untuk dapat
menyahuti itu, hal itu akan menjadi rekomendasi penelitian ini setelah
menemukan sesuatu yang baru (something new).
Dalam kerangka yang lebih luas, analisis diarahkan juga untuk
melihat proses legislasi yang dilakukan, dengan menguji data berupa
memory van toelichting (asbabun nuzul) yang melatar belakangi
kelahiran Undang-undang Hak Cipta dari waktu ke waktu.
2.1.Bahan Hukum
Bahan hukum dalam studi penelitian doktrinal ini adalah
sebagai berikut :
a. Auteurswet Stb. No. 600 Tahun 1912
b.Undang-undang No. 6 Tahun 1982
c. Undang-undang No. 7 Tahun 1987
d.Undang-undang No. 12 Tahun 1997
e. Undang-undang No. 19 Tahun 2002
f. Bern Convention
g.Rome Convention
h.Universal Copy Rights Convention
i. The Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual
Property Rights (TRIPs) Convention.
2.2. Teknik Analisis
Langkah pertama yang dilakukan dalam analisis data adalah,
menginventarisir seluruh norma-norma hukum yang termuat
dalam Undang-undang Hak Cipta, meliputi Auteurswet Stb. No.
600, Undang-undang No. 6 Tahun 1982, Undang-undang No. 7
Tahun 1987, Undang-undang No. 12 Tahun 1997 dan Undangundang No. 19 Tahun 2002, The Agreement on Trade Related
Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) Agreement.
Proses
selanjutnya adalah
mebandingkannya
dengan
menempatkan dalam matrik. Analisi dilakukan dengan menacri
persamaan dan perbedaan dari kedua norma hukum yang
120
dibandingkan itu. Pada saat bersamaan dilakukan juga analisi
dengan menggunakan metode abstraksi guna menarik asas-asas
hukum yang “tersembunyi” dibalik atau di belakang norma
hukum itu. Prosesnya bertolak dari premis-premis norma hukum
positif yang termuat dalam undang-undang dan norma hukum
asing tersebut, dengan teknik analisis interpretatif induktif.
Interpretatif dilakukan dengan cara membuang hal-hal yang
bersifat khusus untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat umum
abstrak. Teknik ini juga dikenal sebagai teknik pengabstraksian
dengan metode analisis induktif. Metode bernalar induktif akan
selalu ditempatkan pada posisi mendahului melalui pengamatan
terhadap pernyataan-pernyataan proposisional yang termuat
dalam norma peraturan perundang-undangan hak cipta yang
disusun sebagai premis-premis dan kemudian kesimpulannya
ditarik melalui prosedur induktif. Dengan memanfaatkan
proposisi-proposisi hasil pengamatan, maka akan diperoleh
proposisi-proposisi baru sebagai kesimpulan induktif yang
berdaya laku umum dalam bentuk asas hukum. Dalam dunia
penalaran ilmu (hukum), asas hukum yang diperoleh secara
induktif ini pada putaran berikutnya akan dijadikan sebagai
proposisi pangkal (premis mayor) untuk mengembangkan
pemikiran deduktif, spekulatif, guna membuktikan asumsiasumsi yang telah dikemukakan dalam penelitian ini, yang pada
gilirannya akan dipakai sebagai modal untuk memulai proses
induksi berikutnya sebagai something new (norma hukum hak
cipta yang sesuai dengan the original paradicmatic of
Indonesian values cultural and society.
Langkah selanjutnya adalah memperbandingkan (komparasi)
asas-asas hukum yang ditemukan dalam berbagai-bagai
peraturan perundang-undangan tersebut. Perbedaan pada tiap
periodesasi undang-undang tersebut, akan menjadi kajian
tersendiri pula dengan menggunakan pendekatan metode sejarah
. Tentu saja teknik analisi yang dilakukan adalah teknik analisis
yang mengacu pada perjalanan sejarah peraturan perundangundangan tersebut. Tiap suasana penggantian undang-undang
itu, akan dianalisis situasi politik yang mewarnai dan melatar
belakanginya. Informasi dan dokumen menjadi bahan rujukan
utama seperti memory van toelichting, dan catatan-catatan yang
mewarnai pembentukan undang-undang hak cipta nasional itu
dari waktu ke waktu berdasarkan priodik dan itu akan menjadi
dasar untuk pengujian hubungan antara variabel politik dan
121
variabel pilihan norma hukum yang tertuang dalam undangundang. Teknik ini lazim dikenal dengan “content analysis”
(analisis isi). Teknik ini melulu menggunakan teknik analisis
kualitatif, dengan kata lain menyampingkan teknik analisis
kuantitatif, untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai temuan
baru, sesuatu yang baru (something new).
3. Metode Penelitian Nondoktrinal Riset 92
Metode penelitian nondoktrinal riset dimaksudkan untuk
mengetahui berbagai-bagai gejala empiris yang meliputi gejala
sosiologis (struktur) dan gejala antropologis (budaya hukum)
dan pilihan kebijakan politis yang berkaitan dengan keberadaan
peraturan perundang-undangan tersebut dari waktu ke waktu,
mulai dari Auteurswet 1912 sampai dengan Undang-undang No.
19 Tahun 2002. Hal ini untuk menjawab latar belakang politis
yang mewarnai kebijakan hukum transplantasi dalam
pembentukan Undang-undang Hak Cipta Nasional.
Gejala-gejala empiris itu meliputi gejala kultural dan struktural
dan politis serta ditarik juga dalam perjalanan sejarah yang
panjang selama kurun waktu Auteurswet 1912 No. 600 sampai
pada TRIPs Agreement 1994 yang akan mengungkapkan
tentang pilihan politik hukum nasional dalam rangka
penyusunan peraturan perundang-undangan Hak Cipta Nasional.
Selanjutnya dalam penelitian non doktrinal riset ini juga akan
diuji tingkat daya laku (keberlakuan) Undang-undang No. 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta hasil transplantasi dalam
perlindungan karya sinematografi yang dihubungkan dengan
gejala sosiologis dan antropologis, meliputi budaya politik
dalam kebijakan legislasi, budaya brirokrasi dalam arti penataan
struktur pemerintahan yang menciptakan iklim birokrasi yang
baik bagi upaya penegak hukum, budaya hukum para legal
(dibatasi pada :polisi, jaksa, hakim dan kosultan hukum).
Batasan tentang budaya di sini, lebih dari sekedar prilaku
hukum, tapi juga menyangkut pandangan mereka terhadap polapola prilaku yang berkaitan dengan penegakan hukum karya
cipta sinematografi
92
Lihat lebih lanjut, Soetandyo Wignjosoebroto, Penelitian Hukum dan
Hakikatnya Sebagai Penelitian Ilmiah, Lihat juga Soetandyo Wignjosoebroto, Penelitian
Hukum Normatif : Analisis Penelitian Filosofikal dan Dogmatikal, Dalam Sulistyowati
Irianto & Shidarta (ed), Metode Penelitian Hukum, Konstelasi dan Refleksi, Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 83-141.
122
3.1.Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini ditetapkan di Kota Medan di geraigerai penjualan VCD dan DVD hasil karya sinematografi
yang ditetapkan secara multi stage sampling (sampling
bertahap) sehingga Kota Medan dibagi berdasarkan wilayah
kecamatan dan tiap-tiap kecamatan ditetapkan 10
responden. Khusus untuk wawancara juga ditetapkan
beberapa responden yang tinggal di Kota Medan. Geraigerai penjualan VCD dan DVD dipilih masing-masing 5
gerai tiap-tiap wilayah kecamatan untuk pedagang-pedagang
kaki lima ditambah dengan masing-masing 3 gerai untuk
pedagang kelas menengah yang tersebar di toko-toko dan
masing-masing 2 gerai untuk pedagang kelas menengah atas
yakni di plaza-plaza di pusat Kota Medan.
Untuk pedagang kaki lima dan pedagang di rumah toko total
responden ditetapkan sebanyak masing-masing 8 orang tiaptiap kecamatan meliputi : 1. Medan Amplas, 2. Medan Area,
3. Medan Barat, 4. Medan Baru, 5. Medan Belawan, 6.
Medan Deli, 7. Medan Denai, 8. Medan Helvetia, 9. Medan
Johor, 10. Medan Kota, 11. Medan Labuhan, 12. Medan
Maimun, 13. Medan Marelan, 14. Medan Perjuangan, 15.
Medan Petisah, 16. Medan Polonia, 17. Medan Selayang,
18. Medan Sunggal, 19. Medan Tembung, 20. Medan
Timur, 21. Medan Tuntungan,
Untuk gerai-gerai pedagang kelas atas, ditetapkan 4 plaza di
Kota Medan yaitu : 1. Medan Plaza, 2. Medan Fair Plaza, 3.
Sun Plaza, 4. Thamrin Plaza dan 5. Aksara Plaza.
Selanjutnya untuk data yang akan diambil dari pihak aparat
penegak hukum meliputi Kepolisian, Kejaksaan dan
Kehakiman.
Kepolisian :
Meliputi di wilayah 1. Medan area, 2. Medan Kota, 3.
Medan Barat, 4. Medan Baru, 5. Medan Timur, 6. Medan
Helvetia, 7. Percut Sei Tuan, 8. Patumbak, 9. Deli Tua, 10.
P. Batu, 11. Kutalimbaru, 12. Polres Pelabuhan Belawan
Kejaksaan :
Ditetapkan di Kejaksaan Negeri Medan.
Kehakiman :
Ditetapkan di Pengadilan Negeri Kelas I Medan.
123
Penasehat Hukum :
Khusus untuk kalangan penasehat hukum, ditetapkan di
wilayah Kota Medan yang lokasi kantornya ditentukan
secara acak.
Konsumen :
Khusus untuk kalangan konsumen, yakni masyarakat lokasi
juga ditetapkan di seluruh wilayah Kecamatan Kota Medan
dan dipilih 1 orang dari masing-masing konsumen yang
berbelanja pada masing-masing gerai yang telah ditetapkan
tersebut. 93
3.2. Sumber Data dan Informasi
a. Data Sekunder yakni :
- undang-undang
- memory van toelichting penyusunan Undang-undang
Hak Cipta Nasional.
- jurisprudensi (putusan pengadilan)
- buku-buku
- karya ilmiah
- majalah (jurnal)
- artikel
- data dari website internet
b. Data primer yakni :
- Kuesioner
- Wawancara
- Observasi
3.3. Penetapan Sampel Penelitian
Sampel penelitian digunakan untuk pendekatan penelitian non
doktrinal riset yakni dari kalangan penjual VCD dan DVD
hasil karya sinematografi, ini dilakukan khusus untuk
menjawab pertanyaan yang berkenaan dengan asal muasal
barang yang dijual, status legalitas barang yang dijual, harga
93
Untuk observasi langsung lokasi penelitian ditetapkan di beberapa kota-kota
di Eropa, Asia dan Asia Tenggara. Kota-kota di Eropa meliputi : Amsterdam, Den Haag,
Brussel, Paris, Barcelona, Swiss, Venezia dan Frankfurt serta Istanbul, sedangkan untuk
kota-kota di Asia observasi dilakukan di Jeddah selanjutnya di Asia Tenggara meliputi :
Malaysia dan Singapura. Observasi ini hanya terbatas pada harga-harga jual masingmasing VCD dan DVD dan memastikan apakah di counter-counter luar negeri itu
terdapat barang-barang illegal atau bajakan.
124
jual tiap-tiap keping VCD dan DVD, jenis-jenis karya
sinematografi yang dijual (meliputi asal negara yang
memproduksi cerita film tersebut dan jumlah konsumen yang
membeli berdasarkan negara asal produksi film cerita
tersebut), berapa pendapatan setiap harinya serta apakah
pernah ada aparat penegak hukum yang melakukan penyidikan
atau razia atas produk-produk yang mereka jual. Jumlah
responden ditetapkan sebanyak 8 orang x 21 wilayah
kecamatan yang ditetapkan secara acak dengan jumlah total
168 responden. Sedangkan untuk untuk responden kelas
menengah atas ditetapkan masing-masing 4 orang x 5 geraigerai di plaza, dengan jumlah total 20 orang, sehingga total
responden untuk penjual VCD dan DVD berjumlah 188 orang
(untuk responden kuesioner).
Dari 188 orang responden, 4 orang diantaranya dipilih sebagai
responden untuk wawancara (namanya akan dirahasiakan).
Untuk kalangan konsumen ditetapkan sebanyak 1 orang untuk
konsumen yang berbelanja di tiap-tiap counter-counter atau
gerai-gerai di wilayah kecamatan yang telah ditetapkan yaitu
sebanyak 168 responden ditambah 20 responden, jumlah total
188 responden.
Selanjutnya untuk responden aparat penegak hukum
ditetapkan :
Kepolisian :
Pihak Kepolisian yang meliputi di : 11 Kepolisian Sektor
Wilayah Polresta Medan dan 1 Polres Pelabuhan Belawan
masing-masing ditetapkan 2 orang. Jadi jumlah responden
total 2 x 12 = 24 orang (responden untuk kuesioner). Dari
jumlah 24 orang ini akan dipilih 4 orang sebagai responden
wawancara.
Kejaksaan, Kehakiman dan Penasehat Hukum
Kejaksaan, Kehakiman dan Penasehat Hukum ditetapkan
masing-masing 4 orang hanya untuk responden wawancara.
Disamping itu ditetapkan juga 3 orang responden wawancara
warga negara Eropa.
3.4. Penetapan Jumlah dan Penyebaran Responden
Berdasarkan penetapan responden sebagaimana diuraikan di
atas, dengan metode penetapan sampling bertahap (multistage
sampling) maka karakteristik dan penyebaran responden dapat
diuraikan sebagai berikut :
125
1.
Pihak penjual VCD dan DVD
a. Pedagang Kaki Lima
Masing-masing 5 orang dari tiap kecamatan
1. Medan Amplas =
5 orang
2. Medan Area
=
5 orang
3. Medan Barat
=
5 orang
4. Medan Baru
=
5 orang
5. Medan Belawan
=
5 orang
6. Medan Deli
=
5 orang
7. Medan Denai
=
5 orang
8. Medan Helvetia
=
5 orang
9. Medan Johor
=
5 orang
10. Medan Kota
=
5 orang
11. Medan Labuhan
=
5 orang
12. Medan Maimun
=
5 orang
13. Medan Marelan
=
5 orang
14. Medan Perjuangan
= 5 orang
15. Medan Petisah
= 5 orang
16. Medan Polonia
= 5 orang
17. Medan Selayang
=
5 orang
18. Medan Sunggal
=
5 orang
19. Medan Tembung
=
5 orang
20. Medan Timur
=
5 orang
21. Medan Tuntungan
= 5 orang
Total
= 105 orang
b. Gerai ruko
Masing-masing 3 orang dari tiap kecamatan
1. Medan Amplas
=
3 orang
2. Medan Area
=
3 orang
3. Medan Barat
=
3 orang
4. Medan Baru
=
3 orang
5. Medan Belawan
=
3 orang
6. Medan Deli
=
3 orang
7. Medan Denai
=
3 orang
8. Medan Helvetia
=
3 orang
9. Medan Johor
=
3 orang
10. Medan Kota
=
3 orang
11. Medan Labuhan
=
3 orang
12. Medan Maimun
=
3 orang
13. Medan Marelan
=
3 orang
14. Medan Perjuangan
= 3 orang
15. Medan Petisah
=
3 orang
126
2.
3.
4.
5.
6.
16. Medan Polonia
=
3 orang
17. Medan Selayang
=
3 orang
18. Medan Sunggal
=
3 orang
19. Medan Tembung
=
3 orang
20. Medan Timur
=
3 orang
21. Medan Tuntungan
= 3 orang
Total
= 63 orang
c. Gerai plaza 4 x 5
= 20 orang
Masing-masing 4 orang dari 5 Gerai Plaza
1. Medan Plaza
=
4 orang
2. Medan Fair Plaza
=
4 orang
3. Sun Plaza
=
4 orang
4. Thamrin Plaza
=
4 orang
5. Aksara Plaza
=
4 orang
Total
= 20 orang
Konsumen (warga masyarakat)
Masing-masing 1 orang konsumen pada 1 gerai Kaki Lima
Gerai Kaki Lima
= 105 orang
Gerai ruko
= 63 orang
Gerai Plaza
= 5 orang
1 x 188
= 188 orang
Kepolisian
1. Medan Area
2. Medan Kota
3. Medan Barat
4. Medan Baru
5. Medan Timu
6. Medan Helvetia
7. Percut Sei Tuan
8. Patumbak
9. Deli Tua
10. P. Batu
11. Kutalimbaru
12. Polres Pelabuhan Belawan
= 2 orang
= 2 orang
= 2 orang
= 2 orang
= 2 orang,
= 2 orang
= 2 orang
= 2 orang
= 2 orang
= 2 orang
= 2 orang
= 2 orang
= 24 orang
Kejaksaan
4 orang wawancara di Kejaksaan Negeri Medan.
Kehakiman
4 orang wawancara di Pengadilan Negeri Kelas I Medan
Penasehat Hukum
127
7.
3.5.
4 orang wawancara di wilayah Kota Medan yang lokasi kantornya
ditentukan secara acak.
Responden wawancara warga negara asing sebagai pembanding.
3 orang yakni :
- Ibrahim Bashel
- Pauline
- Ali Cetin
Langkah-langkah teknis pencarian atau pengumpulan
bahan uji/data
a. Data Sekunder, dikumpulkan melalui penelusuran
kepustakaan dengan menggunakan buku-buku, hasil
penelitian terdahulu, dokumen-dokumen, peraturan
perundang-undangan, majalah ilmiah (jurnal) dan bahanbahan kepustakaan tertulis lainnya sebagai instrumen
penelitiannya.
Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan melalui
studi-studi arsip dan studi-studi kepustakaan yang
dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain.
b. Data primer, dikumpulkan melalui teknik wawancara
dengan menggunakan pedoman wawancara sebagai
instrumen penelitiannya dan melalui kuesioner dengan
mengggunakan angket/daftar pertanyaan yang bersifat
kombinasi (tertutup dan terbuka) sebagai instrumen
penelitiannya. Data primer juga diperoleh melalui hasil
observasi langsung.
Teknik pengumpulan data primer sebahagian dilakukan
sendiri, sebahagian menggunakan orang lain atau
informan.
3.6. Teknis Analisis
Teknik analisis data yang bersumber dari wawancara
dilakukan dengan menggunakan teknik analisis kualitatif
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Untuk data yang diperoleh dari hasil wawancara
dilakukan penyederhanaan semua bahan yang terkumpul
kemudian diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok
tertentu sesuai dengan variabel atau materi yang diteliti.
b. Hasil
wawancara
yang
telah
diklasifikasikan
dihubungkan dengan bahan yang diperoleh dari data
128
sekunder seperti memory van toelichting, hasil penelitian
terdahulu, buku-buku ilmiah dan jurnal ilmiah
c. Analisis selanjutnya tidak dilakukan berdiri sendiri tetapi
dihubungkan dengan hasil penelitian doktrinal riset yang
telah diperoleh sebelumnya (menghubungkan hasil
wawancara dengan asas-asas hukum yang ditemukan).
d. Kesimpulan akan diperoleh dari persemaian semua data
yang ditemukan dalam butir a, b dan c di atas.
Teknik analisis untuk penelitian non doktrinal riset untuk
menguji penerapan Undang-undang No. 19 Tahun 2002 hasil
transplantasi dalam bidang perlindungan karya sinematografi,
yang telah diwujudkan dalam bentuk Video Compact Disc
(VCD) atau Digital Video Disc (DVD).
Pengujian variabel-variabel penegakan hukum itu dibatasi
pada 7 (tujuh) subyek hukum yaitu :
1. Pihak penjual VCD dan DVD
2. Konsumen (warga masyarakat)
3. Kepolisian
4. Kejaksaan
5. Kehakiman
6. Penasehat Hukum
7. Responden wawancara warga negara asing sebagai
pembanding.
Teknik analisis data dalam penelitian ini disesuaikan dengan
kebutuhan dan pilihan (metode) untuk menjawab
permasalahan. Rancangan analisis data dengan metode non
doktrinal riset, dianalisis melalui tahapan sebagai berikut :
a. Memberikan kode-kode tertentu (coding) pada lembaran
kuesioner
untuk
kemudian
data
dikelompokkan/diklasifikasikan sesuai dengan variabelvariabel yang telah ditetapkan.
b. Data yang bersifat kuantitatif (baik yang diperoleh dari
wawancara, kuesioner yang merupakan data primer
maupun
data
skunder)
kemudian
ditabulasi,
dikelompokkan kemudian dimasukkan ke dalam tabel
frekuensi selanjutnya diberi penafsiran secara kuantitatif
dan kualitatif.
c. Data yang bersifat kualitatif baik primer maupun
skunder, dikelompokkan kemudian diberi penafsiran
secara kualitatif.
129
d.
Dalam memberi penafsiran dilakukan penyilangan antara
data yang satu dengan data yang lain, untuk kemudian
ditarik kesimpulan.
Kesimpulan akan ditarik dengan mempertemukan hasil-hasil yang
dicapai dalam kedua pendekatan itu (doktrinal dan non doktrinal riset)
dan dipadukan dengan data dan informasi yang bersumber dari
dokumen-dokumen serta literatur-literatur yang memiliki keterkaitan
dengan isu transplantasi hukum asing ke dalam undang-undang hak
cipta nasional. Hasil dari keduanya ditarik menjadi suatu kesimpulan
sebagai suatu penemuan baru (somethings new) yakni menemukan
prinsip-prinsip hukum yang bersumber dari nilai-nilai paradigma sosial
budaya Indonesia asli (ideologi Pancasila), untuk kemudian dijadikan
sebagai landasan berpijak dalam setiap aktivitas legislasi nasional dan
aktivitas penegakan hukum agar hukum tersebut dapat melindungi
kepentingan nasional (commit nationally), berakar pada sosio-kultural
masyarakat Indonesia dalam arti dapat mengakomodir hukum-hukum
dan kebiasaan local (act locally) tanpa harus terkucil dari pergaulan
internasional dalam arti mampu mengikuti arus perkembangan
globalisasi (think globally). Dari hasil temuan baru itu akan melahirkan
rekomendasi, langkah-langkah politik hukum seperti apa yang mestinya
ditempuh oleh negeri ini ke depan.
130
CHAPTER II
THE DYNAMICS OF THE HISTORY OF LEGAL POLICY IN
THE TRANSPLANT OF COPYRIGHT LAW
A. Introduction
The existence of copyright law in Indonesia these days is
inseparable from the history of the legal policy since the days of the
Dutch East Indies (and even earlier) to post-independence. 94The effort
to establish the order of Indonesian legal system was a political effort
that was consciously done by implementing policies that were rooted in
the transformation of the original Indonesian culture and combined
with a foreign legal culture with all the successes and failures.
This cultural transformation implies that the legal transplants
were also part of the political system and culture which was derived
from the history in Indonesian civilization. In essence, there is not a
legal product that was born in Indonesia which was not derived from
the process of cultural transformation that stem from diverse cultures
and transplantation of foreign cultures in a process known as
acculturation and enculturation.
Since the beginning of the development of the Indonesian
legal system, which was derived from colonial law, as Soetandyo
Wignjosoebroto said95 it was strongly influenced by the development of
liberalism policies which try to open the potential opportunities for
private capital of Europe in order to be implanted into a large
companies in the colony (on the other hand remained also to protect the
indigenous people’s right or the rights of indigenous people’s
traditional agriculture). The protection was given by effecting the
enactment of law for them by enforcing the Adat law.
The formula which was used by the Dutch government was to
divide the three segments of the population in the area of Dutch East
Indies, which was:96
1.
European group that is equivalent to the European.
94
Before the entry of the Dutch colonialism government, the social order in
Indonesia has a genuine legal form of customary norms, religious norms, and custom
norms which was called as adat recht by Van Vollenhoven , see Ter Haar, Asas-asas dan
Tatanan Hukum Adat, Mandar Maju, Bandung, 2011,
95
Soetandyo Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional
Dinamika Sosial-Politik Dalam Perkembangan Hukum Di Indonesia, Rajawali Pers,
Jakarta, 1994, p.3
96
Through Article 75 old RR and then converted to the new RR article 75,
which had previously been written in Article 6-10 AB and finally with Article 131 and
163 IS
131
2.
Foreign east group / vreemde oosterlingen (Foreign east such
as Chinese, Arabic and Indian)
3.
Bumi Putera / Inlander group (native Indonesian Population)
Against these three segments of population, different kinds of
law applied. For European group that is equivalent to the European,
European law that was Dutch law which was rooted in the legal
tradition of Indo-German and Roman-Christian which was updated
through the various revolutions that later in the field of civil law
loaded in Burgerlijk Wetboek and Wetboek van Koophandel or better
known as the book of Commercial Law was applied. While for foreign
east group, for majority, the Dutch Civil law was applied except for
adoption and partnership. At last for Bumi Putera group, Adat law,
their customary or their religion, was enforced, or known as Godien
Stigwetten Volkinstelingen en Gukuedreken.
There was an effort from Dutch East Indies government to
align the rule of law in their country with the law in force in the
colony. This policy later known as the principle of concordance, that
was to equalize the law in force in the Netherlands with law in force in
the Dutch East Indies colony. Although then the application of the
principle is met with resistance from the Dutch’s own legal scholars
such as Van Vollenhoven and Ter Haar. 97
In the field of intellectual property rights, the effort to codify
and European law unification in the colony was run by enacting the
law which was scattered sporadically (which was not codified in the
book of Civil law and Commercial law) in their own country which
were the laws about brand, patents, and copyrights. The copyrights
law in Netherlands that time was the law which was derived from the
copyrights law in France brought by Napoleon’s expedition. In the
time of Dutch colonialism, this law was known as Auteurswet Stb.
97
See more, Soetandy Wignjosoebroto, Hukum Paradigma, Metode dan
Dinamika Masalahnya, ELSAM, Jakarta, 2002, p.266. The story began from European
officials who were recruited to fill positions in the colonial administration and for the
necessary special education in various cities in Netherlands which was in Leiden, Delf,
and Utrecht. They were taught mostly about the law, language, customs, and institutions
of the society in the colony. In the three cities with well operated education, Leiden was
recorded as the greatest and the most influential because Rijks Universiteit domiciled in
Leiden was becoming a center of a liberal way of thinking that embraces ethical political
line when dealing with the affairs in the colony. But Leiden surprisingly was not in line
with the plans of the government official to run the Dutch Indies Government legal
policies. And among the people who failed the attempt, were Van Vollenhoven and Ter
Haar. And then through these two people, Indonesian Indigenous people finally had their
own law known as Adat Rechts or Adat Law which was used for the first time by Snouck
Hurgronje in his book, De Atjech hers and het Gajo Land.
132
1912 No. 600, was enacted in Indonesia with the concordance
principle. The enactment of this law with the concordance principle
created a legal pluralism even wider, for the cultural variety of that
legal pluralism was existed earlier in Indonesian social order itself that
time. The pluralism appeared because of the variety of tribes,
religions, and territorial and the regulations were made based on this
condition.
It can be said that the impact of the dynamics of the Dutch
East Indies government’s legal political choice, until today, has
produced a product of legal pluralism that meets no ending. And also,
after post-independence, the government of Indonesia made its own
choice of legal policy in order to fulfill the demand of legal system in
the time of post-independence in Indonesia. It seems like that the
political factors, can never be completely detached from the activity in
drafting the rule of law or legal system in Indonesia. The influences of
foreign political pressure kept influencing the policy of legal
development in Indonesia. Especially after the ratification of
GATT/WTO 1994 as an instrument in economic globalization (or in
the other field) which put Indonesia in a condition to adjust some
regulations in the field of intellectual property right especially in the
field of copyrights. The factors that influence the political choice are
lack of control of the capital in Indonesia, lack of the ability to master
the science and technology, human resource in Indonesia, and a poor
management system in Indonesia. These are, which according to
M.Solly Lubis, as a weakness which is possessed by Indonesia. It
was put into words:98
They, (Industrial country), have and in charge of systematic
advantages in three things: capital (funds and equipments),
sophisticated technology and rapid and systematical
management advantages. Our weakness and dependence in
those three things, were also a prove of our weak autonomy,
and this dependence was the cause of our inability to avoid
open or covert interventions and dictations from another
countries towards us. Economical exploitation, political
domination, and cultural penetration can be seen everywhere.
These three targets were thre main targets of imperialism
colonialist and capitalist.
98
Look further M.Solly Lubis, Serba-Serbi Politik Hukum, PT.Sotmedia,
Jakarta, 2011, p. 97. Look also Sritua Arief & Adi Sasono, Indonesia Ketergantungan
dan Keterbelakangan, Mizan, Jakarta, 2013
133
The domination of foreign economic policy in Indonesia was
actually not begun at the time of the ratification of conventions which
are related with international trade such as GATT/WTO and the
conventions under the GATT/WTO. The competition of the countries
which today are the ruler of the world’s economic system which also
incorporated in the industrialized countries like G-8 and G-20 was
started with a long journey of history. The event that led to World War
II can not be separated from the struggle of economic resources in the
world. The expansion of European countries to Asia, such as United
Kingdom to India, Burma, Hong Kong and Malaysia, France to IndoChina (Laos, Vietnam, Cambodia) Netherlands to Indonesia and even
Unites States with its allies, UK, France, Netherlands, participated to
control the activity in Pacific region. Those industrial countries,
including Japan, although were at lost in East Asia War against the
countries in allies (USA and Europe), their domination in economical
politics is growing stronger each day until today. The record from
Stephen E. Ambrose and Douglas G. Brinkey, 99 gave us an
enlightenment that can be concluded that the power of economical
politics in Asia will be still under the power of Western countries (USA
and Europe).
On the other side of the world the United States, in
combination with the British, French and Dutch, still ruled the
Pacific, American Control of Hawaii and the Philippines,
Dutch control of the Netherlands East Indies (N.E.I., today’s
Indonesia), French control of Indochina (today Laos,
Cambodia (Democratic Kampuchea ), and Vietnam), and
British control of India, Burma, Hong Kong and Malaya gave
the Western powers a dominant position in Asia. Japan, ruled
by her military, was aggressive, determined to end white
man’s rule in Asia, and thus a threat to the status quo. But
Japan locked crucial natural resourced, most notably oil, and
w as tied down by her war in China.
The introduction of copyright law in Indonesia is one of the
examples of a conscious political choice which was made by the Dutch
East Indies government until post-independence through political
choice of law transplantation into the copyrights law which was
99
D Stephen E. Ambrose and Douglas G. Brinkey, Rise to Globalism,
American Foreign Policy Since 1938, Penguin books, London, 2011, p. 1
134
enacted in Indonesia (In the time of Dutch East Indies) or in the
Republic of Indonesia (post-independence).
B. Auteurswet Period Stb No. 600 (1912 – 1982)
Before the enforcement of Auteurswet 1912 Stb No. 600 in
Indonesia, this country was not a country with a legal vacuum
condition, especially in the field of copyrights. Measured by the
normative standard from Meester in de rechten, (Law graduates from
Netherland), we can see that Indonesia did not have any legal norms
that time. If law was approved to be some sets of rules to regulate the
behavior and actions of the society, then actually, Indonesian society
that time, did have what is called as law. But if the point of view is that
the legal sanction to the violation of norms was given by the ruler, or
the norms must be made by a official ruler who was born from a legal
formal norm based on modern democracy principle, and the application
of the sanction was based on procedural law which subject to the
regulations with the purpose of protecting human rights, then we can
infer that Indonesia did not have law. The terminology about the
existence of law was based on an existing terminology at a group of
society who depended on the territory and the times where the values
was located and enforced.
The adage stated that “ubi societies ibi ius” is an indisputable
axiom which means where society is, there is law. The society will be
extinct automatically when there is no law in the life of the community,
or according to the term stated by Djojodigoena, 100there is no ugeran
that can be used to determine how to behave.
The time of Dutch colonialism was lasted for three and a half
centuries in Indonesia. The development of social dynamics and
politics, including legal policy and economical politics and also cultural
politics is somewhat being influenced by the colonial atmosphere. The
Dutch legal policy to duplicate (with concordance principle) the legal
norms, which was enforced in their country to the legal norms enforced
in the colony, did not succeed. The enactment of Auteurswet 1912 Stb.
No. 600 was one of the examples in duplicating the law from
100
Djojodigoena, Reiorientasi Hukum dan Hukum Adat, Gajah Mada,
Yogyakarta, 1958, p.8-9. An ugeran is a law that charged an obligation and prohibition,
while an anggaran is a law, that stated a condition. Both have a relation to a system or
order. Anggaran is to determine, to record what is existed in the nature, so logically it is
posterior to the system, and the ugeran is meant to limit the attitude, behavior, and human
action in order to create a basic system in the society, so logically it is anterior to the
system.
135
Netherland to the colony. Although the substance of legal norms in the
Auturswet 1912 Stb.No 600 was enforced and had already fulfilled the
criteria of the enactment (that was to place it in the Statute Book of
Dutch East Indies (Wet van 23 September 1912, Staatblad 1912-600)
effective since 23 September 1912) but the norms were failed to be
applied. The failure was characterized by the fact that the arrangement
and law enforcement had not actualized in line with expectations and
its purpose ideologically, normatively, and sociologically. This could
be seen in the books published by Balai Pustaka Publisher (In this era,
Balai Pustaka publisher was a stated-own enterprises) which actually
were books that translated from authors from Europe, but in the
publishing process, the publisher from Balai Pustaka did not ask for
approval to translate and to publish the books neither to the authors, nor
to the original publishers as the copyrights holder. To mention, some of
the translated books, are: L’avare, a French author, adapted by S.
Iskandar entitled si Bakhil (1926) ; Le Medicin Lui, also by Moliere,
adapted by Moh Ambri entitled Si Kabayan jadi Dukun (1932).
Probably another hundreds of tittles were published without any
approval from the copyrights holder.101 Although the translation by
Balai Pustaka publisher was done with a good intention and with the
purpose to enrich the treasure of literature for Indonesian society, but
clearly according to Auturswet 1912, a non- permissible translation was
a violation of law. Except, the translation was done from books which
has already belonged to public (public domain), as long as the author’s
name and the original title is mentioned, since the moral rights was still
attached to the creations.
In the time of Dutch colonialism, following the Netherlands,
the Dutch East Indies was registered as a member of Bern Convention.
It meant that Indonesia was subject to International Convention about
101
Sumardjo, Jakob, Dari Kasanah Sastra Dunia, Penerbit Alumni, Bandung,
1985, p.133, which written the list of translated novel from Balai Pustaka “before the
war” and “after the war” in number of 174 tittles ; Bdg also Wink, TH, Undang-Undang
Hak Pengarang, G. Kolf & Co, Bandung, 1952 p. 23 and Ajip Rosidi, Undang-undang
Hak Cipta 1982, Pandangan Seorang Awam, Penerbit Djambatan, Djambatan, Jakarta,
1984, p. 4 Bdg also J.P. Errico stated that the arrangements of law and copyrights of
countries likes Singapore, Malaysia and Indonesia is strongly influenced by the concept
of intellectual property rights derived from western countries. And then these three
countries and the neighboring country, were stated in a very interesting explanation:
These nations were colonies of the West (notably the United Kingdom and the
Netherlands) much longer than the neighbors, and therefore have had their development o
intellectual property protection, industrial policy and technological expansion, controlled
by the West. In fact some countries, like Singapore, have no independent systems of
intellectual property protection to this day.
136
the protection of copyrights. There are not many records that reveal
events about copyrights infringement in the time of Dutch colonialism.
But the records about how Auteurswet 1912 Stb. No. 600 finally had to
be replaced, in many explanations can be said that at that time, many
violations towards copyrights had happened. Those violations were not
merely happened because the ineffectiveness of the law enforcement in
the field of copyrights, but they were because of cultural affairs,
politics affairs, and the economical condition of the society in Dutch
East Indies that time. 102 A relative copyright protects the interests of
the creators in the field of book publishing and cinematography at the
beginning of Auteurswet 1912 Stb. No. 600 enactment in the colony by
the Dutch East Indies government, was not an urgent matter to be
protected. This was marked with not much
of publishing and
production effort in the field of cinema which operated in The Dutch
colonial territory that time. 103
In the time of Japanese occupation, the situation of law
enforcement was tinged with the political situation and the turbulent
102
Let us just consider that the colonialism had caused a lot of wars with local
scale that happened in every territorial in Republic of Indonesia. The priority to focus on
the aspects of law enforcement by the Dutch colonial government in the field of civil law
and also in the field of business , where Indonesian society that time, subjected to Adat
law, unless those who were willing to subject themselves is voluntary, made the choice of
law enforcement in the field of copyright by the apparatus of law enforcement in the time
of Dutch East Indies was not as the highest priority. The fields of copyrights which were
protected that time were mostly unknown in Indonesian civilization. Such as copyrighted
works of photography, books, cinematography, paints, were known to a very few of
people. Whereas copyrighted works such as dance, batik, which were the original
copyrighted works of Indonesian people, were not a big problem, or considered as a
violation of copyright law if the work was used by the other Bumi Putera without the
approval from the creator. It happened in the time of Dutch colonialism, and it was being
continued until the beginning of post-independence. The violation of copyright law was
not considered as a felony that preoccupied the jurist.
103
Activity in the field of cinema for instance just began in 1926, that was
with the production of a movie entitled Loetong Kasaroeng then Eulis Atjih in 1927, and
consecutively in 1928 Lily van Java, Nyai Dasima in 1929. Until in 1942 that was the
beginning of the Japanese occupation, The Dutch East Indies film industry did not much
involve Bumi Putera population, especially among the directors . After the Japanese
occupation, directors from Indonesia began to emerge, such as Raden Arifin, Rustam
Sutan Panidih, B. Koesoma and Inoe Perbatasari. Because of that in the field of
copyrighted works of cinematography , an original Indonesian population was not
considered as an important matter to be subjected to Auteurswet 1912 Stb. No 600.
Beside that, the technology to reproduce the copyrighted works of cinematography
unlawfully, is not as advanced as at the time of the discovery of optical disc technology.
See more Taufik Abdullah, Misbah Y. Biran and S.M. Ardan, Film Indonesia, (19001950), Jakarta, Dewan Film Nasional, 1993, p. 87.
137
war, so that the law enforcement (not only in the field of copyright but
also in another fields did not become priorities that time. The supreme
leader of Gunseikhanbu, (military government of Japan) on the former
Dutch colony land, focused more on military efforts to win the East
Asia War, so that the occupation for three and a half years did not
produce any legal protection in copyright aspect. In that era, there was
a cultural center established (Keimin Bunka Shidosho) which dealt with
the aspects of Indonesian culture, but more geared to the interest of
Japan and the library that was developed in the cultural center dealt
more with archival records and books seized from the Dutch Indies
government. It can be ascertained that the legal protection of copyright
works of the period was not completely focused on the provision of law
which still has a valid power, the Auteurswet 1912 Stb. No. 600.
In the year of 1944, the Japanese occupation ended, coincided
with the end of the East Asia War. The 17th August 1945 proclamation
of the Indonesian Independence day, echoed formally throughout the
nation, was the ending of colonialism regime in Indonesia. Indonesia
immediately constructed its own legal order. In the process of the legal
order construction, for the first time on the 18th August 1945, Indonesia
could apply the basic law of its country, the Constitution of Republic
Indonesia. While the other legislations or laws, were still in
preparation. But in an independent country, a legal vacuum must not be
happened. Considering this situation, Indonesian Independence
preparatory committee, or known in Indonesia as PPKI, arranged the
Constitution of Republic Indonesia, and established in the transition
law to continue using the laws from the colonial legacy. This transition
provision is written in Article II Transition Law in Constitution of
Republic Indonesia 1945:104
All state agencies and regulations existed still apply as long as
the new one is not yet to be applied according to this
Constitution.
104
The same transition law is also written in the constitution of Indonesian
Republic Union, the interim of Constitution of Republic of Indonesia. Basically it has the
same meaning with the transition provision in the constitution of Republic Indonesia
which s written in Article 192 in constitution of Indonesian Republic Union and Article
142 in interim of Constitution of Republic of Indonesia. Because of that, Auteurswet
through these transition laws which were written in three different constitutions which
ever enforced in Indonesia is still applied although it is a legacy from the Dutch
government. Auteurswet, legally, is still a Positive Law for copyright arrangement in
Indonesia. After approximately 70 years of the enactment of Auteurswet 1912, by
Indonesia as a independent country, national legislation of copyright, Act Number 6 of
1982 was put in place.
138
To strengthen and explain the realization of the Transition
Law by the President at that time, it was crucial to establish Presidential
Regulation No.2 10 October 1945 which the first provision citation is:
Every state agencies and regulations existed until the
establishment of Republic of Indonesia on 17 August 1945,
according to the Constitution of the Republic, as long as the
new one is not yet to be applied, is still valid providing that it
does not contradict to the mentioned Constitution of the
Republic.
Referring to the above regulation, Auteurswet 1912 Stb. No.
600 is one of the remaining law of Dutch colonialism legacy which the
validity still continued until 1982. Since Indonesia gained
Independence on 17 August 1945, there were 37 years of interval until
the remaining Wet of Dutch colonialism legacy was changed. During
the interval, the law enforcement in the field of copyright did not show
any good news. Copyright infringement specifically in the field of book
publication continued during that period. Even so, during the 70 years
of the enactment of Auterswet 1912 Stb. No. 600 at least in the history
record, this wet became the basis of the establishment of national
copyright law.
In International dimension, Indonesia as the region of Dutch
East Indies during the enactment of Auterswet 1912 Stb. No. 600
legally subject to Bern Convention. After 1 August 1931, the
convention was declared to be valid in the Dutch East Indies territory
which is written in Staatsblad 1931 No.325. The Bern Convention
which was declared as valid was the Bern Convention 1886 that had
been revised in Rome on 2 June 1928. This text was declared binding
the colonies of Dutch East Indies. Therefore during the reign of Dutch
East Indies, there were 2 staatsblad that apply concerning copyright
protection. The first staatsblad is Staatsblaad 1912 No. 600 concerning
Auteurswet that was about protection of copyright in colonial territory
and the second was Staatsblad 1931 No. 325 that was internationally
Copyright protection that subjected to Bern Convention. During the
Dutch colonial period, it was almost certain that the rules about
copyright were more than creating the status quo as depicted by Hendra
Tanu. 105 The status quo, or the situation which led to ineffectiveness of
105
Hendra Tanu Atmadja, Hak Cipta Musik atau Lagu, Universitas Indonesia
Press, Jakarta, 2003, p. 41. Hendra Tanu mentioned that Copyright Law in the Dutch
Colonialism, Japanese occupation, even until proclamation of Indonesia Independence
did not take place in law enforcement. He said that that law was dead or not applicable.
139
Copyright laws made by the government of Dutch East Indies,
according to Otto Hasibuan caused by two factors. The first is because
the law itself contains many flaws in substance which includes the
regulation and the sanctions. Second, after the proclamation,
Indonesian government had a desire not to protect copyright as it
should be. The Signs of Indonesian government was not willing to
protect copyrights can be seen, which is according to Otto Hasibuan: 106
1. On 1958, during the reign of Djuanda Cabinet, Indonesia declared
to sign out of Bern Convention (With the intention that Indonesia
can freely perform various knowledge transfer activities from
abroad to domestic by translating, imitating, or copying foreign
creation).
2. The government let Balai Pustaka publisher violated the existing
copyright laws.
3. Government, particularly law enforcer let Indonesian authors retell
foreign works without any approval.
4. Although aware that the Auteurswet 1912 is inappropriate and
contains many flaws, government and the House of
Representatives were not serious in creating the new Copyright
Laws.
The reason for Indonesian discharge from being a member of
Bern Convention is more than what Otto Hasibuan expressed.
Indonesian political situations at the time were attempting to reclaim
West Irian. If the membership of Indonesia in Bern Convention based
on the attachment to the registration conducted by the Dutch
government, then it means that Indonesia recognize Dutch sovereignty.
Because of that, Juanda as the leader of the cabinet (that time Indonesia
adhered the cabinet of ministry) took political steps to sign out from
Bern Convention. Moreover, the cultural factors (legal culture) and
sociological factor, also influenced legal behavior of Indonesian
people. Legal aspects which were not rooted culturally and structurally
in Indonesian society would be hard to be enforced. That was the
consequence of legal transplant. Experience in western law
transplantation in history of legal establishment in Indonesia (not only
in the field of copyright) in a lot of cases, was having failures because
of the principles which were the background of western law, did not
similar with the principles which were firmly rooted in the legal norms
of Indonesian people. Although in a long term of period, efforts to
106
Otto Hasibuan, Hak Cipta di Indonesia Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu,
Neighboring Rights and Collecting Society, Alumni, Bandung, 2008.
140
accelerate the European law transplantation process to the colony, said
Soetandyo Wignjosoebroto,107 as an Europeanization of the colonial
legal system that finally happened although it took a pretty long time.
Such as the enactment of book of civil law (BW), book of commercial
law (WvK), book of criminal law (WvS), criminal procedural law
(HIR) and civil procedural law (RbG), all was done with the choice of
legal transplants gradually and took time with three legal policies, that
were: statement of application (topasslijk verklaring), equality of right
(gelijk steling) and subject to voluntary (vrijwillige onderwerping).
These policies were based on realistic consideration with various
compromises between Dutch colonialism government with Indonesian
people and the leaders. Although in the beginning it had been
mentioned that an Europeanization to the colonial legal system met a
lot of resistance including from their scholars.108
Another main reasons to the difficulty of Auteurswet Stb. No.
600 to be applied or enforced, was that the condition of original local
culture that caused the difficulty for a foreign transplant law to develop.
As a record Auteurswet 1912 Stb No. 600 was an enforced law for
European group (vide Article 162 and 131 IS), Bumi Putera group
might use the law based on 1854 regeringreglement 1854 with the
institution vrijwillige onderwerping. Decades after the enactment of
regeringreglement 1854 as written by Soetandyo proved that the
institution vrijwillige onderwerping rarely used by Indonesian people
which indicated that very few of people who were willing to expand the
jurisdiction of European law. This fact showed us the difficulty of
Indonesian people to let their own custom or culture go. They would
rather to walk on what they believe as laws which were based on the
original paradigmatic value of Indonesia culture and society. Those
who were brave enough to leave the Adat law or their customary law,
are those who came from local societies who were segmented by the
divide and rule legal policy which was launched by Dutch colonialism
government. A lot of records mentioned that the legal policies of
European law legal transplant to Indonesian law which existed earlier
107
Soetandyo Wignjosoebroto, Op.Cit, 2002, p.259.
The failure of Dutch colonialism government in running the
Europeanization process from colonial law to the colony did not only because of the
cultural barriers, but because of financial problem in the Dutch government especially
after the enactment of Compatabileitswett in 1864 (Ind. Stb. No. 104) which stated that
the finance for Dutch East Indies administration must be borne by the income of Dutch
East Indies itself. But this finally compounded the development and institution of
European law in the colony
108
141
would not always work well as expected. The policies to enforce the
transplant law in Dutch colonialism can be seen not to be able to alter
completely the legal perception of Indonesian people. Even in the
court, a varied in concreto verdict which is often to be found indicates
that there were variables of culture which were adhered by the
offenders which cause discrepancy between the judges’ perceptions in
making verdict.109
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 was actually not enough just
being supported by legal awareness of Indonesian people which was
derived from the original paradigmatic value of Indonesian culture and
society, because of that, in the enforcement of Auteurswet 1912 Stb.
1912. No. 600 must have a resonant with Indonesian people. So it
could be understood why the European law had to be enforced with a
firm external force. So it was not about severe or mild legal sanction. It
can be proved here the truth about the effectiveness in control theory to
control organizational life which was at a sustainable level would not
work if the development of social structure, (the government
organization in the time of Auterurswet 1912 Stb. No. 600 enactment)
was not in line with the development of normative structure (the moral
and legal awareness of Indonesian people). In this matter, it is
interesting to see Seidman’s conclusion, which was achieved from his
studies about British legal transplant into the colonies in Africa, which
succinctly mentioned in the law of non transferability of law, Seidman
mentioned:110
1. Laws are addressed to addresses (here called “role-occupants),
proscribing their behavior.
2. How a role-occupant acts in response to rules of law is a function
not only of their prescriptions but also of his physical environment
109
The enactment of the book criminal law which was designed by the Dutch
for Indonesian people, during the post of the colonist minister Fransen van de Putte
(1872-1874) was not also altered the whole native concept regarding what is bad and
what needs to be punished. In court, what was meant by wederrechtelijk or unsure in
criminal, always caused a variety in concreto verdict, in line with variety culture in
society. It also happened in the enactment of Staatsblad 1862 No. 52 which required
individuele contractsluiting based on the principle of freedom of contract, was not also
altered the customary pattern of Indonesia society to not bind by ending the contract by
trusting the contract completely to their leaders. This provision contained in the
Staatsblad did not make Indonesian people understand about moral principles which was
contained in pacta sunt servanda adage, see more Ibid, p. 260.
110
Robert B. Seidman, The state Law & Development, St. Maartin’s Press,
New York, 1978, p. 36
142
and of the complex of social, political, economic and other
institution within which he makes his choices about how to behave.
3. The physical and institutional environments of different sets of roleoccupants differ from time to time and place to place.
4. Therefore, the activity induced by the rules of law is usually specific
to tie and place.
5. Therefore, the same rules of law and their sanctions in different
times and places, with different physical and institutional
environments will not induce the same behavior in role-occupants in
different times and places.
Although Seidman did not mention cultures and normative
structures as one determined variable in the matter of the effectiveness
of transplanted foreign law, but he was departing from a basic
assumption about behavior of society by saying that someone’s legal
behavior, will be determined more by his decisions and choices by
considering the most favorable alternative. Then, it can be concluded
that legal norm is just one of many institutional determinant which will
influence the choice or decision of the society. Also, because of that,
law which was derived from the transplant policy from foreign law,
when it had to be run in a territory, it should be suspected that there
would be variety in the acceptance of the law. Here, people would
arrive at one conclusion that the transplanted law would not create the
same effect as it had created in the origin place of the law. That is why
Seidman mentioned that law can not be transferred from foreign place
without “ripping apart” the whole institutional system which has
become the context.
Based on the explanation, it can be concluded that Auteurswet
1912 Stb. No. 600 which was rooted on European legal culture, derived
from the Netherland which was brought by France expedition with a
firm rule of law tradition, could develop in Indonesia through legal
transplant policy which country was accustomed to the traditions of
unpretentious law enforcement and subjected to the local discretion or
wisdom. It is not lawlessness when artisan of batik imitated the pattern
of batik which was made by his colleague in a society that has lived
with family atmosphere. A dancer copies a movement from martial arts
which is taught by his master in dancing or the martial arts is also not
unlawful. Borrowing the theoretical framework stated by Seidman, the
law of non transferability of law, then we can conclude that the
concordance policy by the Dutch colonialism who enforced the
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 in the colony was a policy that
contradicted with the basis of cultural values. In this matter, Indonesia
143
has to observe the truth that the rule of law concept is not always if
only understood from law aspects, but the human aspects with every
circle of law around, must also be understood. For this country was not
established only to enforce “the rule of law”, but also the “rule of man”.
Referring to this concept, it is not excessive if advised that the
copyright law which is enforced today, derived from foreign law, with
the choice of legal transplant policy, must be returned to the noble
values which were implied in Pancasila ideology which is the original
paradigmatic value of Indonesian culture and society.
C. Period of Copyright Law number 6 of 1982 (1982 – 1987)
Twelve days on April 1982 were such important days in the
history of protection of copyright law in Indonesia. On that day, the
copyright law which was from the Dutch Colonialism in period of 70
years which has become reference for the jurists in Indonesia, was
ended in its domination. The wet which was recognized as Auteurswet
1912 Stb No. 600 was revoked and stated not applicable and as its
substitution would be the Act number 6 of 1982. As an independent
country with its sovereignty, it is not wise if the law enforced was flatly
from the product of the colonial which for 350 years positioned
themselves as imperialist country. Even though on 17 August 1945,
Indonesia was managed to drive away the colonialist to leave
Indonesia, but on the other side the law domination was not also ended
at the same time the colonialism in Indonesia ended. That means that
the atmosphere post independence was not an independent atmosphere
in a whole meaning. The remains of colonial domination in the field of
law was still being enforced. Even in the field of Copyright, the
independence was actually meant independence on the next 37 years
after Indonesia was managed to replace the position of the colonial
product. The word “was managed to” was put in quotation mark
because not all the legal norms originated by the Dutch colonial was
really replaced. Beside the norms were still dominated the new
Indonesian Copyright law, the weltanschung was still stained the spirit
of the new Indonesian Copyright law.
It cannot be denied that the Articles in Auteurswet 1912 Stb
number 600 haunted the legal norms contained in the Act number 6 of
1982. This following matrix would show that the majority of norms
contained in the Articles in the Act number 6 of 1982 were from
Auteurswet 1912 Stb. No. 600.
Matrix 1
144
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into Act No. 6 of 1982
(Norms regarding Copyright Terminology)
Regulated
material
Copyright
Terminology
Source :
Auteurswet 1912
Act 6/1982
Copyright shall be a sole
right of the Author or the
right of those who are
entitled to the right, on
his creation, in the field
of literary, science, or art
to publish and duplicate,
with remembering the
limitation provisioned in
the law (Article 1)
Copyright shall be a
privileged right for the
Author or those who are
entitled to the right to
publish or duplicate or
provide permission for that
without abandoning the
limitations referred to the
enforced
regulation
(Article 2)
Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No.
600 and Act No. 6 of 1982.
Regarding the copyright terminology used in the Act number 6
of 1982 contained in Article 2 was similar with the copyright
terminology contained in Auteurswet 1912 Stb No. 600. The difference
was on the word “sole right” replaced with “privileged right”. Beside
that the substance didn’t show any more difference. The legislator had
no courage to put in philosophical value of Pancasila, such as the value
the belief in the one and only God (Ketuhanan yang Maha Esa). The
legislator had no courage to make a redaction that the copyright was a
right born by the talent given by the God Almighty or born by the
blessing from the God to the human. At a glance, the difference if the
believe in one and only God value was put in and not, was not really
obvious in normative juridical way. But by not applying those kind of
values, it can be seen that the legislator just accepted the concept of
Copyright contained in Auteurswet 1912 Stb No. 600 which was
affected by the capitalism ideology which based on the Western values.
It would bring consequences philosophically in searching hidden
principle behind the legal norm Article 2 Act number 6 of 1982. If
there would be a question regarding what legal principle was hidden
behind the legal norm Article 2 Act number 6 of 1982, then the
legislator could not provide answer except saying that the hidden
principle behind the legal norm was the principle hidden behind legal
norm Article 1 Auteurswet 1912 Stn Nom. 600 that was legal norms
145
based on capitalist ideology and Western law civilization. That is why
this Article 2 in Act number 6 of 1982 was the result of a total
transplantation from Auteurswet 1912 Stb no. 600.
Matrix 2
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into
Act No. 6 of 1982
(Norms regarding Author Terminology)
Regulated
Material
Author
Terminology
Auteurswet 1912
Act 6/1982
Unless proven otherwise, then what
is considered as the author shall be
the person who stated as it is or in
that creation, or if the statement is
not exist, person whom when the
creation announced, stated as the
author by the person who
announced it. When there is no
announcement regarding the author,
when an unpublished verbal speech
is being held, or when an
unpublished music creation is being
heard,
then,
unless
proved
otherwise, the person who is
considered as an Author shall be the
person who did the speech or the
person who let hear of the music
creation. (Article 3)
A person or some
people who in their
togetherness
by
their
inspiration
gave
birth
a
Creation based on
intelligence,
imagination,
dexterity,
skill,
craftsmanship,
poured in a typical
and personal shape.
(Article 1)
Source : Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No.
600 and Act No. 6 of 1982.
From the matrix above, it can be concluded that human have
such high dignity in the process of confining a copyrighted work. The
legislator had no courage to put in some redaction that in a process of
creation “intervention from God” inspire every mind, imagination,
dexterity, skill, and craftsmanship possessed by human. Why does the
redaction of Article 1 regarding the Author terminology sound that
way? This is because the legislator believed that the copyrighted work
was born because of the “single, personal, typical skill” of the Author.
The definition in Auteurswet 1912 Stb. No. 600 that only mentioned
146
the Author as the copyright subject without the words “based on his
own intelligence, imagination, dexterity, ability and skill poured in a
typical and personal shape” is much better. The divinity values are not
also reflected in the provision in Article 1 the Act number 6 of 1982,
and that means by not mentioning the divinity values at all as stated in
Auteurswet 1912 Stb Number 600.
Matrix 3
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into
Act No. 6 of 1982
(Norms regarding protected Creation)
Regulated
Material
Protected
Creation
Auteurswet 1912
Act 6/1982
Protected Creation in literary,
science or art by this Act shall
be:
1. Book,
brochure,
newspaper, magazine, or all
kinds of written works.
2. Creation of performance
and dramatic music.
3. Verbal speech.
4. Choreography
and
pantomime
Creations.
Which the way of playing it
regulated by a writing or
such as it.
5. Music creation with or
without any verbal.
6. Portrait, painting, building,
statue, lithography, carving,
and all kinds of picture of
works.
7. Geographical maps.
8. Designs,
sketches,
plastically creatios, which
connected
with
architecture, geography, or
a picture of one place or
other knowledge.
Protected Creation in
science, literary and
arts, include:
1. Book, pamphlet,
and all kinds of
written Creation.
2. Seminar, lectures,
speeches, and the
similar creations.
3. Performance
works such as
music, karawitan
musical,
dance
musical, wayang,
pantomine,
and
another broadcast
creation for radio
media, television,
movies
and
recording.
4. Music
and
choreography
creation with or
without text.
5. All kind of fine
arts
such
as
paintings
and
147
9.
Creations of photography
and cinematography and
creations done in that kind
of way.
10. Artificial creations used in
any
handicraft
and
commonly all kind of
works in the field of
literary, science and art,
with way or any shape
(Article 10)
statues.
Architecture
works.
7. Map
8. Cinematography
works
9. Photography
works
10. Translation,
commentary,
adaptation and the
preparation
of
potpourri. (Article
11 paragraph 1)
6.
Source : Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No.
600 and Act No. 6 of 1982.
The kind of protected Creation in Act number 6 of 1982 also
referred to the format and substance contained in Auteurswet 1912 Stb
Number 600, even though there was some increase of the copyrighted
works of native Indonesian society such as karawitan, pewayangan,
even though the art of batik has not been attached in the protected
creation as copyright. But by looking at the aspect of culture of
Indonesia which confine a typical copyrighted creation has been put in
the copyright protected object, it has already been the form of the
original paradigmatic value of Indonesian culture and society. Does the
entry of these two objects of copyright protection which are based on
Indonesian culture was based on one deep study, or it was just a
coincidence, has been a serious question. Because it turns out that
Indonesian real creation such as batik art and martial art such as pencak
silat, were missed from the attention of the legislator that time.
Matrix 4
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into
Act No. 6 of 1982
(Norms regarding the time period of copyright)
148
Regulated
Material
Regarding
time period
of copyright
Auteurswet 1912
Act 6/1982
As long as the Author
live plus 50 years
after
his
death
(Article 37)
As long as the Author live plus
25 years after his death (Article
26)
Source : Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No.
600 and Act No. 6 of 1982.
The time period of Copyright ownership was different in
Auteurswet 1912 Stb No 600 and in Act number 6 of 1982, but the
limitation still referred to capitalist concept. It was proven with the
provision in Article 26 Act number 6 of 1982 which only lasted for 5
years, after that all Copyright laws born after the Act number 6 of 1982
referred back to Article 37 Auteurswet 1912 Number 600. That means,
the time period of Copyright ownership still given to the Author as long
the Author live, plus 50 years after his death. There was no courage of
the legislator to put in redaction in the Article regarding this time
period of copyright to be referred to Pancasila philosophical value that
is the Humanity value and Social Justice value. The legislator had no
courage to attach the social function of copyright as attached in Article
6 of Agrarian Principal Law of 1960 which stated that every right on
land has social function. The Agrarian Principal Law of 1960 has
arranged well the philosophical values contained in Pancasila. What
can we concluded from the provision in Article 26 of Act number 6 of
1982 is that behind the norm of Article 26 still hidden the legal
principles that based on capitalist ideology.
Matrik 5
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into
Act No. 6 of 1982
(Norms regarding Copyright limitation)
149
Regulated
Material
Copyright
Limitation
Auteurswet 1912
Act 6/1982
By the name of the law the
decisions or the laws
released by the general
authority, also by verdicts
and
administrational
decision , shall not be
considered as copyright.
Also, there shall be not
copyright on everything
that is announced by or in
the name of general
authority, unless the right
is stated protected both in
in its general by the law,
verdicts, or regulation, or
in one specific condition
with the announcement on
the creation itself when the
creation
is
being
published. (Article 11).
It shall not be considered
as Copyright infringement
a
summary
or
an
adaptation from newspaper
or magazine on article,
news, except in novels or
romance
without
the
consent from the Author or
who entitled to the right,
by the daily newspaper or
other magazines, as long it
is
mentioned
the
newspaper or magazine
source and there is no
announcement that it’s a
copyrighted work. Also
regarding the writings
regarding
political
concept. News and any
color,
shall not be
copyrighted. (Article 15)
Speech that spoken in
It shall not be considered as
copyright infringement :
a. The Announcement and
Duplication of the symbol of
the nation or the song of the
nation in general character.
b. Announcement
and
Duplication of everything
announced by or in the name
of the Government, except
when the copyright stated as
protected both by the
legislation
or
with
a
statement on the creation
itself or when the creation
announced.
c. A taken over, both in a whole
or in partial, news from the
news office radio announcer
agency or television
and
newspaper after 2 x 24 hours
calculated since the first
announcement of the news
and its source must be
completely
mentioned.
(Article 13)
With requirement that the source
must be completely mentioned,
then it shall not be considered as
Copyright infringement.:
a. Any adaptation of another
party as much as 10% of one
unity from every adapted
creation as a source to
elaborate the proposed issues..
b. A taken over of a creation both
in whole part or in partial in
order to defend in or outside
court.
c. A taken over of creation by
other party both in whole part
150
public and has not been
printed and published
mentioned by the person
who did the speech.
(Article 16)
Limited
duplicated
creations
in
a
few
exemplars
used
for
personal use for rehearsal
and study. (Article 17)
Creation
of
picture,
paintings,
buildings,
lithography, carving and
all kinds of pictures seen
publicly if the creation is
being duplicated if the
process of the making
showed a clear difference
more than the real process
of making. (Article 18)
Pictures in any shape
duplicated, announced, and
published if the things
relate to the jurist purpose
to reveal any criminal act
in order to establish public
order. (Article 22)
Source :
or in partia; for the use of:
1. Seminars which only for
the purpose of education
and science.
2. Performance or staging
without any fees.
d. Duplication on creation in the
field of science, art, and
literary in braile for the use of
blind except if the duplication
was commercial.
e. A limited duplication with a
copy or similar process by a
common library, science or
education institution or a non
commercial
documentation
center only for the use of its
activity.
f. Alteration
done
on
architecture work such as
building based on technical
consideration (Article 14).
For the purpose of public security
and or for the faith the criminal
proceeding, any portrait of anybody
in any condition can be duplicated
in any ways can also be duplicated
and announced by authorized
institution. (Article 21)
Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No. 600 and
Act No. 6 of 1982.
The redaction of the Article regarding the limitation of
Copyright as referred to Article 13, Article 14 and Article 21 Act
number 6 of 1982 is a total transplantation of the provision in Article
11, Article 15, Article 16, Article 17, Article 18 and Article 22 of
Auteurswet 1912 Stb No. 600. The legislator also has no courage to
limit the Copyright in the Divinity values, Humanity values and Justice
values or for example on the copyright which has not been regulated in
this Act shall be subjected to Adat law. For example for the duplication
and translation of scripture from any religion in Indonesia if done
without consent from the translator or the publisher shall be considered
as copyright infringement.
151
Matrix 6
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into
Act No. 6 of 1982
(Norms regarding non-Copyrighted Creation)
Regulated
Material
Non
Copyrighted
Works
Auteurswet 1912
Act 6/1982
By the name of the law,
decisions and regulations
released by the general
authority also the verdicts and
administrational decision shall
not
be
considered
as
copyrighted works.
Also, there shall be no
copyright
on
anything
announced by or in the name
of
general
authorization,
except when the right stated as
protected both in general with
laws, decision or regulation or
in one specific condition with
the announcement on that
creation itself or when the
creation published. (Article
11)
There shall be no
Copyright on:
a. The result of
open meeting of
highest
institution
of
nation or highest
institution.
b. Legislation
c. Verdict
or
determination of
the judge.
d. The
state
speeches
or
government
official speeches.
P
e. Arbitration
(Article 12)
Source : Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No.
600 and Act No. 6 of 1982.
The provisions regarding non copyrighted works are the
provision which adopted “flatly”. The legislators of Act number 6 of
1982 did not have to express their attention to formulate this article
except enough by translating the provision of Auteurswet 1912 Stb
number 600 to be made as redaction of Article in Bahasa Indonesia
which will be poured in Indonesia Copyright law. These kind of
Articles are still found in the Act number 6 of 1982.
Matrix 7
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into Act No. 6 of 1982
152
(Norms regarding the Prohibition of Copyright Use)
Regulated
Material
Prohibition
of the use of
Copyright
Auteurswet 1912
Act 6/1982
The prohibition to The Copyright Holder on
publish any portrait someone’s portrait, to duplicate
without the consent or announce his work, has to
of the portrayed have a consent from the
person (Article 20)
portrayed person, or in 10 years
The prohibition to after the portrayed person’s
publish any portrait death, with the consent of his
which is contradict heir (Article 18 Paragraph 1)
with
appropriate
purpose (Article 21)
Source : Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No.
600 and Act No. 6 of 1982.
Regarding the prohibition of the use of the Copyright
regulated in Article 18 Paragraph 1 the Act number 6 of 1982, was also
adopted 100% from the provision in Article 20 and Article 21
Auteurswet 1912 Stb. 600.
Also the regulation of moral right as regulated in Article 19
and Article 24 the Act number 6 of 1982 as provided in the matrix
below, also based on the provision of Article 25 Aureurswet 1912 Stb
No. 600.
Matrix 8
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into
Act No. 6 of 1982
(Norms regarding Moral Right)
153
Regulated
Material
Hak Moral
Auteurswet 1912
Act 6/1982
The prohibition to
change the name of
the Author, the name
of the object of the
creation
and
the
object (Article 25)
Copyright holder shall not be able
to announce the Copyright on a
portrait if the announcement
contradicts with the appropriate
purpose from the portrayed person
(Article 19)
The prohibition to change the
name of the Author, the Work, the
title alteration and the supporting
title of the work. (Article 24)L
Source : Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No. 600
and Act No. 6 of 1982.
Matrix 9
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into
Act No. 6 of 1982
(Norms regarding registration system of Copyright)
Regulated
Material
Registration
system
of
Copyright
Auteurswet 1912
Act 6/1982
Adhere the negative
declarative registration
system, Copyright of
someone on his own
work
has
already
appeared with the
success of the Work in
producing one work
with no other formality
like the registration.
Adhere the negative declarative
registration system.
The Work registration in the
general list of the Creation does
not mean as the legitimation on
the substance, the meaning or
the form of the creation listed.
(Article 30)
Source : Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No. 600
and Act No. 6 of 1982.
The Registration system adhered both by Auteurswet 1912 Stb
Number 600 or the Act number 6 of 1982 is the negative declarative
system. The difference in that the Act number 6 of 1982 regulated
clearly about the provision contained in Article 30. But this provision
154
was actually redundant, because that kind of attachment of that
redaction, in reality did not give any good benefit juridically or
practically. The person who register and the person who do not register
shall have similar treatment in front of the law. Even though one person
registered his right, but if there was another person who can prove
otherwise, then the person who register his right, would have his right
aborted.
Matrix 10
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into Act No. 6 of 1982
(Norms regarding Criminal Charges)
Regulated
Material
Criminal
Charges
Source :
Auteurswet 1912
Act 6/1982
The offense is the crime on The offense is the crime on
complaint. The crimes on complaint. The crime shall
copyright shall not be only be sued except on the
charged unless on the complaint from Copyright
complaint of the Author or Holder (Article 45)
one authorized person to o Copyright infringement shall
the action to defend the right. be sued with penalty of 3 years
Or if there are two persons or imprisonment and fine at most
more who have authority on Rp. 5.000.000,-.
it, the complaint shall be To publish, show off or sell to
done by them (Article 34)
public a creation of criminal
To
violate
someone’s infringement shall be charged
Copyright at most Rp. 5000,- with 9 months imprisonment
(Article 31).
or fine at most Rp. 5.000.000,To publish or sell to public .
one work which was known To violate the provision of
as a violation on someone’s Copyright on a portrait, shall
copyright, shall be fined at be charged with a 6 months
most Rp. 2000,- (Article 32)
imprisonment or fine at most
To publically perform or Rp. 500.000,- (Article 44).
publish a portrait with no
right shall be fined at most
200 (Article 35, infringement
offense)
Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No. 600 and
Act No. 6 of 1982.
The Criminal provision contained in both Acts, principally had
the same substances. There was no meaningful difference except on the
adjustment on the amount of the former fine which still referred to the
currency of that time. Even if there was a basic difference was on the
155
crime charged on the subject of the criminal offenders that was the
imprisonment. In auteurswet 1912 Stb number 600 the charges was
more human because it was just a fine. For an economic criminal action
such as copyright infringement, the fine penalty was enough to be
conducted. But nowadays, the copyright infringement has already
reached a place to enrich people without paying attention to the right
and purpose of the Author and Right Holder, then, it is now appropriate
if the offender charged with imprisonment.
Matrix 11
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 norms transplant into Act No. 6 of 1982
(Norms regarding Civil charges)
Regulated
Material
Civil
Charges
Auteurswet 1912
Act 6/1982
Civil charges shall be able to
conduct by the Author or one of
the Authors if the work created
together. (Article 26)
Civil charges on an unlawful
action shall be conducted by the
Author (vide Article 1365 book
of Civil Law (Article 27))
The copyright gave an authority
to confiscate announced items
which contradicted with the
copyright and also the duplication
without consent and also able to
sue the item as his or sue to make
the work or itme to be abolished
or un-used. The judge shall be
able tom order conduct a
compensation to the Author. That
civil charges shall not decrease
the criminal charges (Article 28).
The civil charges shall be
done on moral right
infringement (Article 41).
The
copyright
shall
provide the right to
confiscate the announced
itemns
which
is
contradicted with the
copyright and un-allowed
duplication and able to sue
the hand-over of the item
to be his or to charge the
item to be abolished or
tampered to become unused. The compensation
charges shall not decrease
the criminal charges on
the
Copyright
infringement ( Article 42)
Source : Data Processed from Articles of Auteurswet 1912 Stb. No. 600 and
Act No. 6 of 1982.
There is no criticize that can be said on the provision of this
civil charges unless with a sentence that the transplantation on this
Article was conducted flatly and wholly by the legislator.
156
If we pay attention on those explanations, it can be assured
that the forming of Act number 6 of 1982 as an act of national legal
product was not fully referred to the philosophical value of Pancasila.
Whereas the desire of the society of Indonesia was very clear to replace
the Auteurswet 1912 Stb number 600 because the Auteurswet 1912 was
not appropriate with the legal need and goal of Indonesian society. The
national legal goal must be read in the context of Republic Indonesia’s
future goal. The goal with the meaning of hope or desire which
formatted in the world of “idea” was formulated in the ideological basic
and the philosophy of Indonesia that is Pancasila. The legal need of the
society in the field of Copyright that moment was to push the creativity
of the Creator to grow and develop well. To push for the sake of the
better life in intelligence of the nation through the protection of
copyright in science and the acceleration of the widening of the result
of the culture. Whereas the national future goal with this new copyright
was hoped to fulfill the national idealism that was to arrange an
appropriate regulation with the philosophical basis of Pancasila and the
juridical basis of the Constitution of 1945 and operational basis
formulated in the state policy, which was TAP MPR No.
IV/MPR/1978. Because of that, Auteurswet 1912 Number 600 was
stated to be revoked.
The history of the birth of the Act number 6 of 1982 was
stained by various situation and condition, starting with the amount of
copyright infringement until a political situation (law) which was not
siding with the purpose of the Author. The validity period of
Auteurswet 1912 Stb number 600 was marked with the amount of the
infringement in book copyright.
Actually since the beginning of the independence, Indonesia
should have arranged its own regulation which referred to Pancasila
and the Constitution of 1945 as the reference in formulating the
national regulation. Even though in the era of President Soekarno was
stained with political fluctuation and various challenge from in or
outside the nation which still discussed about the existence of the
independence of Indonesia in the era of President Soekarno had been
established the Presidential Decree Number 107 of 1958 regarding the
National Legal Development Institution. The reason to publish the
Presidential Decree was mentioned that because in the time of
colonialism, the Indonesia legal system was having a complicated
deflection and all was done by the Colonial Government to fulfill the
need of the government and the colonialist. In the practice, the Colonial
Government with discriminative legal policy that was to divide
157
Indonesian society into groups and to each group was enacted its own
law, caused the discriminative practice in law enforcement was getting
worse. But on the other side, the government of Indonesia post
independence was not also creating the new legal norms. Because of
that, the legal norms of the Dutch Colonial still enforced. It was hoped
in the transition period a review of the Acts of the Dutch Colonial could
be conducted systematically to fulfill the national legal goal that was a
regulation which was rooted from the Pancasila and the Constitution of
1945. It was realized also by the Government of Indonesia, that the
alteration of the Colonial regulation could not be conducted all in once
but was probably can be done step by step. It was also necessary to
divide the enforced law with the outdated law both written in foreign
language (Dutch) or in Bahasa Indonesia. The existed legal review and
the new process of the making of the law which was planned
systematically in order to build a planned legal system became a very
strong reason of the government that time to build an independent
institution which was called as the National Legal Development
Institution.111 Although on the following days this National Legal
Development Institution altered into the National Legal Development
Agency. That alteration was poured in the Presidential Decree number
44 and 45 of 1974.
The validity period of Auteurswet 1912 Stb Number 600 until
the beginning of the independence, and continued 37 years after the
independence both the National Legal Development Institution and the
National Legal Development Agency had tried to arrange its own
Copyright law which was rooted on the Pancasila and Constitution of
1945 to replace the regulation from the legal products of the Dutch
Colonialism. This national legal system has been formulated in a
seminar held by the National Legal Development Agency on 26 until
30 March 1979 which concluded that the national legal system itself
consisted of the reflection of the values of Pancasila in the regulation
and it made Pancasila and the Constitution of 1945 became the national
legal basis. The national legal system must be appropriate with the
legal need and consciousness of Indonesian society with the function as
a tool to take care of the society. In formulating the national legal
system must refer to principles attached in the political line poured in
111
See more the preamble of Presidential Decree of Republic of Indonesia
Number 107 of 1958 regarding the National Legal Development Institution on 30 May
1958 in J.C.T Simorangkir, Serba- Serbi LPHN/BPHN, Binacipta, Jakarta, 1980. P. 25
158
the outline of the state policy which that time was enacted in TAP MPR
Number IV/MPR/1978 which consisted of:
1. The Utility principle
2. The Togetherness and family principle
3. The Democracy principle
4. The Justice and prevalent principle
5. The livelihood and balance principle
6. The Legal consciousness principle
7. The self confidence principle
These principles were the reflection of the values of the spirit
of Indonesian Nation which was implicated in Pancasila which could
be made as the basis to make the Indonesian rule of law and also could
become a reference or a guide to openly test each born legal products.
From the seminar, it can also be concluded that in formulating the law,
the legislator need to accurately and smartly point the values of
Pancasila as the basis of the normative provision contained in the law.
With that, all of the law both in Acts or in implementing regulation
must not contain values which are contradicting the Pancasila. By other
words, the reflection of the values of Pancasila in the law was the
substance in formulating the national legal system. The national law
also directed in written form, this was meant to create a legal order and
certainty although the unwritten law was still part of the national legal
system. And the policy to unify the law must pay attention to the legal
consciousness of the society. 112 The legal consciousness of the society
was also have to be a political consciousness, the consciousness to
celebrate a country and a consciousness of the political legal choices
based from the values of the original paradigmatic value of Indonesian
culture and society.
At last it can be understood that the Act number 6 of 1982
which outline was the result of the transplantation of Auteurswet 1912
Stb number 600 could not run well in the process of the legal
enforcement of copyright law as planned. In its journey in 5 years, the
piracy of copyright was never been worse. Even in 1982 – 1987
Indonesia was listed as the second piracy country after China. The
pressure from the internationals appeared one by one. The pressure was
from the United States of America so that Indonesia respect and
appreciate the copyright especially the foreign copyrighted works.
112
The Conclusion of national legal seminar the IV held by National Legal
Development Agency- Department of Justice, Jakarta 26 – 30 March 1979 in Ibid, p. 327
- 320
159
These pressure and reasons were becoming the consideration to alter
the Copyright Law number 6 of 1982.
The information and data and also the writings from
academicians have arrived at one conclusion that the rate of the
violation and piracy of copyright was already at the worst point. The
damage effect was not only to the Authors and producers but also to the
life of society sectors as the consumers. The damage effect was about
the worsen of the legal culture which was awaken because of the
weakness of legal enforcement. And also the loss which was caused
economically on the Authors, the person who was entitled to the right
who also has influence in the publishing industry, the recording
industry and the film industry. In the connection with those things
mentioned, Charles Gielen prevailed that:
The report from the crowd commonly and especially the
Authors and all kinds of professional association who have
interests in Copyright in the field of song or music, books and
publication, film and video recording and computer, reveal
that the violation of Copyright has increased and now has
reached a dangerous rate that is decreasing the passion to
create. In a wider definition, a copyright infringement would
also endanger the basis of common social life. Of course the
increasing of the violation was influenced by many factors.
The limited definition from the crowd of the meaning and
function of copyright, the attitude and passion to get a benefit
from the business easily , plus the difference of the translation
and the action from the legal enforcement official in facing the
copyright violation was the factors that must be paid attention
to. 113
Gielen’s statement above created a belief on industrial
countries who were bothered economically as the effect or the
Copyright piracy in Indonesia. This events made the President of
United States and European Commission and the World Intellectual
Property Right Organization (WIPO) in January 1987 under the
coordination of Arpad Boqsch (General Director of WIPO) to visit
Indonesia to discuss the steps to alter the intellectual property right
regulation including Copyright law.
113
Charles Gielen, Undang-Undang Hak Cipta Baru Indonesia, Implikasi
Untuk Penanaman Modal Asing, Paper on the Intellectual property Rights Seminar, Law
Faculty USU, Medan, 10 january 1989 p. 6 – 7.
160
The United States has applied a one sided sanction to
Indonesia that was to apply the trade policy as the tool to press the
Indonesian government to fix yhe enforcement system of Intellectual
property Right in Indonesia. The improvement expected by the United
States of America was not only from the legal enforcement, but also in
the substance of the regulation. Even according to Gielen 114 the
Government of United States in 1986, announced their intention to
reconsider the preferential status of Indonesia based on Generalized
System of Preference (GSP) (based on the trade and tariff law of 1984).
Indonesia was given a chance until 1 March 1987 to alter the existed
Copyright Law or to establish new Act. The time period was prolonged
until 1 October 1987.
It turned out that until 1 October 1987, Indonesia had finished
to arrange its Copyright Law which was enacted on 19 September1987.
Indonesia, which had already received GSP status in 1980 and
continued in 1985 had the right based on the import duty system to get
a preference to be freed from import duty in the matter of the export to
United States from items or goods in maximum range of price US $ 28
million. Even though this is not a big amount, if calculated in the scale
of international trade, but the withdrawal of the preference of course
would hurt Indonesian economy and prevent Indonesia from getting a
bigger export volume to the United States of America. 115
Based on the regulation of the board of the European
Commission Number 2641/84 the steps of the trade policy can be run
to the third counties on the basis of unhealthy trade practices in those
countries. Based on this regulation the International Federation of
Phonogram and Videograms Producer (IFPI) propose a complaint to
the European Commission. This commission stated that there were
enough evidences to begin an investigation.116
On that violation and piracy of many foreign intellectual
property right in Indonesia, caused the appearance of a suspicion from
the internationals that Indonesia did not give any protection on
phonogram reproduction, cinematography, computer program, and
another possessed by foreign Author. That incapability was marked by
the amount of the piracy of phonogram in Indonesia. While it
happened, the European Commission decided to give chance to
114
Ibid
Official Journal, 20 September 1984, L252 in Charles Gielen Ibid P.9
116
Ibid, p. 9
115
161
Indonesia to improve the system of law enforcement in the field of
Intellectual until 29 February 1988.
The International pressure, especially from the government of
the United States, has caused the establishment of President Soeharto’s
Decree on 30 July 1986 to create a “Special Work Team to search for
the solution to the problem of the enforcement of copyright law, trade
name and trade mark and the creation of a patent law”. This team had
already implemented its function as useful as possible because in the
beginning of 1987 the alteration design had been published. This design
had been delivered to the House of Representative on June and enacted
as an Act on 9 September 1987 and enforced since 19 September 1987.
Remembering that Indonesia had made the alteration on the
Act number 6 of 1982 and let the European Commission know that
Indonesia was ready to discuss a way out in order to provide similar
protection on the foreign works and the works of Indonesian citizen. 117
Which means, even though Indonesia had altered its own Copyright
law, the international pressure would keep on going as long the
violations on the foreign intellectual property is still found in the law
enforcement.
D. The Period of Copyright Law Number 7 of 1987 (1987 – 1997)
After 5 years of the establishment of the Copyright Law of
1982, that was between 1982 – 1982, it turned out that there were a lot
of things happened in the enforcement practice of the act. The influence
of the acceleration of computer technology and information had
changed the cultural behavior and legal behavior of the society, which
in turn also influenced the aspect of Copyright Law enforcement. The
alteration and development of the society was not able to be anticipated
by the Copyright law number 6 of 1982. There was a consideration that
the criminal sanction applied in the Act number 6 of 1982 was too low
or the offense which character was categorized as offense on complaint
made the pirate or the copyright offender became free since the
certainty of the Author or the Copyright Holder would not do the
complaint in the law violation they did.118
117
Decree of 23 November 1987, Official Journal on 25 November 1987,
L335, in Ibid.
118
The seller of the pirated VCD/DVD had the belief that the Author or
producer would not do the complaint because beside they would not know the pace of the
event of the piracy also happened in various locations which were hard to be detected, so
that the complaint was not possible to be done especially the pirated DVDs and VCDs
were belonged to the foreign Author and Producers. It was not possible the Americans or
162
Beside that, there were 4 (four) legal consideration which
became the reason to make alteration on the Act Number 6 of 1982 as
poured in the preamble part consideration of the Act number 7 of 1987
regarding the Alteration of the Act number 6 of 1982 of Copyright:
1. Legal protection is given on the Copyright which was meant
as an effort for realization of a better vibe on the growth and
passion of the creation in the field of science, art, and literary.
2. In the middle of the process of the accelerated national
development, especially in science, art and literary, the
copyright infringement has also developed, especially in the
criminal action as piracy.
3. The Copyright infringement has arrived in a dangerous rate
and could damage the system of society life in common and
especially the passion to create.
4. To anticipate and stop the copyright infringement, it was
necessary to alter and perfected some provisions in the Act
number 6 of 1982 regarding the Copyright. 119
Referred to the preamble of the act above, it can be understood
that this preamble was far away from the philosophical values. The
considerations were given more on the practical consideration. The
vibe of the idea, goal, or thoughts which were connected with the
philosophical basis of Pancasila and the national goal as contained in
the opening of the Constitution of 1945 was almost cannot be found in
that preamble above. See the explanation regarding the background of
the alteration of the Act number 6 of 1982 was only based on the desire
to provide legal protection on the copyright (probably to the Author).
The target was very pragmatist. Another consideration used was that
this alteration triggered by the existence of the of the activity to violate
the Copyright in criminal action of piracy which had arrived in a
dangerous rate and it was seen as an action that damage the social life
system in common and the passion to create. Practice and very
pragmatist considerations showed the simplicity the thinking pattern
Indians did the complaint at the Police Department of Medan Baru for instance. This kind
of event is what triggered a massive piracy on phonogram and cinematography.
Moreover, in the practice of piracy in both creations has been ingrained in almost all
places in Indonesia. In various report, 90% of the VCDs and DVDs circulated in
Indonesian market were results of piracy. For more see Tempo Newspaper 8 March 2003.
119
The preamble of the Indonesian Act number 7 of 1987 regarding the
Alteration on the Act number 6 of 1982 regarding Copyright part consideration item a, b,
c, and d.
163
developed in the legislator institution that time. Ideologistphilosophical considerations which referred to the national legal goal
almost cannot be found in the Act’s preamble. Also the political
pressure factors and international legal policy almost cannot be found
in the basis of the consideration because the political steps which
should be poured in preamble as the political basis in national
legislation were also cannot be found. That consideration was
necessary to see the legal policy outline in anticipating the Indonesian
association in International life in globalization era which was meant as
a trade era which no longer limited by national walls of a country. The
globalization demand was felt by the Indonesian government at the
time the pressure from Internationals to alter the Act number 6 of 1982.
There was a dishonesty of the government and the legislator
institution in arranging the Act number 7 of 1987. International
pressure on Indonesia was hidden and wrapped so tidy so that the
alteration of the Act number 6 of 1982 was seen as an appropriate
alteration. That was why in the preamble of the Act a pragmatist and
practical considerations were the ones that showed up and put aside the
ideological considerations. The steps like that would also gave effect in
the weakening of nationalism vigor and the vigor to fight and hold on
in the pressure of global economic powered by practical and pragmatist
steps like that would be brought to the direction of capitalist country’s
economic development, as seen by Fukuyama. 120
Actually since the beginning, the founder of this nation hoped
that this country was built on the basis of Pancasila which contain the
religious belief inside it. What was actually hinted by the founder of the
nation was to anticipate both ideology predicted Fukuyama as the
holder that were capitalist and liberal democracy ideology. The
winning of both ideologies by Fukuyama was predicted would still
survived until the next century because both ideology were based on
very elements. Maybe that was caused the Indonesian choice when
arranging the Act number 7 of 1987. The consideration based on
practical, pragmatist and rational consideration. On the other side,
120
Fukuyama in his writing predicted that this world would end with the
winning from liberal and capitalist democracy. The democracy has influenced so much
political thought in the whole world and given birth hundreds or even thousands books
which spoken and considered as the only form of political ideology which is the most
ideal in the whole world. While capitalism even though caused a lot of controversy and
pro-contra but still was the ideology which attracted a lot of people. Capitalism promised
economic welfare and political justice which can be reached by human through
hardworking and self-ability in maximum. See more Francis Fukuyama, The End of
History and The Lost Man, Penguin Books, London, 1992, p. 69.
164
Pancasila was not only put the consideration and the political choice
based on pragmatist, practical, and rational choices. Since the
beginning, the founder of the nation admitted that the Indonesian
independence was realized not based on rational predictions but based
on irrational predictions. That was why in the opening of the
Constitution of 1945 it was asserted that Indonesian independence was
realized on the blessing of the only one God. If the rational
consideration used by Indonesia, it was not possible Indonesia reached
its independence with the bamboo weapon against more modern
weapons used by the colonialist (Netherlands, Japan, and the alliance).
It was also not possible Indonesia achieved its independence if the
diplomacy struggle was just done by some educated people compared
to the opposite side who had better education that time. Once more, that
proved that there were irrational considerations in the political choices.
The choice on the national country for example, which was based on
the difference on tribes, or groups of the society which became the
basis of civil society, religion and belief which was necessary as a
target to achieve the goal of the history. 121
For the case in Indoneisa, the elements of religion and belief
borrowed the thought of Fukuma should also made as the target to
achieve the legal future goal. the element of religion and belief would
still dominate the journey of the civilization of Indonesia, even though
in the end capitalism would take control but the achievement there
would take a long time. If since the beginning in many process of the
law making, legislation policy in this country made Pancasila as the
basis of the ideology, it can be predicted that capitalism would be
extinct with a new alteration. There was a belief that the history moved
in circle pattern, if the religion factor and the belief could not be erased,
then the sovereignty (politic and ideology) must be altered. Also in
liberal democracy and capitalist ideology would fall down since no one
could make sure that the liberal democracy can make people to rule in
even, or became leaders, and capitalist ideology could make people rich
or poor. Both ideology could not make people to be in a same spot to
121
Fukuyama, Ibid . Also compare it with Ian Adams, Ideologi Politik
Mutakhir Konsep, Ragam, Kritik dan Masa Depannya, Qalam, Yogyakarta, 2004, p. 459
by citing Bell, Ian Adams concluded that Bell and Fukuyama, both showed that the West
with welfare state genre and mixture economic system has achieved the end of
ideological era and enter the last era of history which is like freeing the human from
frustration and realizing the aspiration to get the living standard with the choice of
capitalist ideology and liberal democracy which by Ian Adams called as triumplasme
ideology (the winner’s ideology)
165
enjoy happiness. People would not be in the same position to be
provided by justice. People could not all be smart or be appreciated.
When the most support achieved by someone or a group of people, then
he is going to be the winner, but the winner shall never be appointed as
the winner by the losing one. Here was when the new phase of the
history began, moved in circulation.122
In legal perspective, Indonesian law which would be arranged
was the law based on the spirit contained in Pancasila ideology. It was
not the law which directed the society to become capitalist society with
liberal democracy political system. Pancasila ideology is indeed not
rational. It was not like liberal democracy ideology and capitalist
ideology which counted on rationality. Rational always rooted on brain,
but irrational rooted on mind. The world was believed not only run
based on considerations of the brain but also with the deepest mind. In
liberal democracy ideology and capitalist political choice was not based
on the mind, but on the brain.123
This choice of ideology is very important because if the
ideology was chosen based on the brain’s consideration, it can be
ascertained that human has entered a very dangerous spot because the
effect appeared after that would be a “bad” ideology. If this bad
ideology was believed by a leader for the continuance of the human
civilization forth, what would be happened is chaos. Because of that, it
is wise if the laws o the legislations arranged must based on the right
choice of ideology. And for the case in Indonesia, there is no other
choice except Pancasila ideology. It is wise if the legislators open their
mind and heart to understand clearly the relation between ideology and
the legal policy run by the leader. It is necessary so that since the
beginning it can be realized what kind of norm shall be formulated in
the legislation formulated as national legal policy.
So, the process of the making of Act number 7 of 1987 should
not be based on the considerations attached in the preamble of the Act
above. It was not also to tightening the legal sanction in the
infringement or the criminal action in copyright piracy. The pressure to
strengthen the legal sanction on criminal action actually had let down
122
The description was described in Al-Quran. That the sovereignty would be
altered, nothing is eternal, and nothing last forever except The God that is Allah. That
was put by the founder of the nation as ideological basis that was placed in the first
principle which is the spirit of the other four principles.
123
The appearance of this ideology was begun since the renaissance which
was based on the rationalism ideology.
166
the value and dignity of the nation. The law seemed like to need a great
sanction to be obeyed.124
We can see how the choice of alteration made in the Act
Number 7 of 1987, at the beginning the Act put the offense of
copyright infringement as offense on complaint, but in the Act number
7 of 1987 it was altered to be a regular offense. That means by altering
the provision to be a regular offense the law enforcer would become
more capable to do the investigation without waiting on the complaint
from the Author or the Copyright Holder. The alteration on the status of
the offense was not separated with the demand from the internationals
which has the background of capitalist countries, because of that, such
alteration had the support from the Western Countries especially United
States of America. Their reason was to make the society of Indonesia
understand and respect the rights of another people, but actually that
was not the intention of the Westerns, their intention was to make
Indonesian people become more civilized with the offense alteration.
Probably with a greater sanction, Indonesian could obey more.
This liberal ideology was getting real when the time period of
copyright which was as long as the author lives plus 25 years after the
death of the Author, in the Act number 7 of 1987 the time period was
prolonged until 50 years after the death of the Author. This time period
was finally put back just how the Auteurswet 1912 Stb Number 600 put
it. The long time period caused the copyright was more far away from
applying its social function.
The alteration on time period of the of the copyright
ownership was actually based on the demand from internationals,
because most of the capitalist country in the national legislation has
limited the copyright time period in the life span of the creator plus 50
years after the Author’s death. The choice of national copyright
legislator to not have the courage to be different from those capitalist
countries was because of the political pressure factor which haunted
behind the alteration process of the national copyright law, even though
the thing was never could be explained normatively.
124
Just like childhood story, elder used to describe the fear to the police. The
crying children would be quiet right after the parents told them that the police would be
there soon. Threats like these were the threats that only be able to be given to the children
who had no knowledge or awareness regarding the meaning of life, precious meaning
regarding our appreciation to people’s effort. There was something missing in this nation,
moral awareness, cultural awareness, religious awareness but that did not mean the law
must placed them in the childhood position.
167
Some official explanation by the government in the
information in front of the House of Representative Assembly
regarding the design of the act of the alteration of the Act number 6 of
1982, was not also explain the political pressure which became one of
the reason to alter the copyright law, except the governments
explanation regarding the alteration of this act based on the design of
alteration of the Act number 6 of 1982 regarding Copyright, which was
mentioned by the President to the House of Representatives though the
official letter Number R-03/PU/III/1987 on 25 March 1987.
Next, it was explained that the 5 years experience of the
enforcement of the Act Number 6 of 1982 confined many experience,
and it was admitted by the government as something that was worth to
be made as a lesson. It was also admitted that the national Copyright
Law was sourced from foreign law. 125
Even though the regulation regarding Copyright has known by
Indonesian society for 75 years, (70 years of the enforcement of
Auteurswet, 5 years of the enforcement of Act number 6 of 1982) the
government still stated that this field of law is still relatively new. It
was not clear the new criteria used by the Government. 126 But, there
was a hope that was intended to be achieved by the Government by
altering this Act that was to create a better vibe on the copyright
protection than the previous time.
125
It had already 5 years, since the Act Number 6 of 1982 re garding
Copyright was verified on 12 April 1982, the Indonesian had the set of Laws that regulate
the legal protection on their work in the field of Science, art, and literary. All that time,
there was enough experience to enrich the knowledge of life in those fields. Various
things appeared and grew the awareness of the nation regarding the weakness which had
to be fixed for the sake of the future. So far, the government considered the experience as
a very useful lesson. Even though it had to be admitted that the concept of copyright as
individual right with exclusive character and has no form , and the regulation inside the
legal system , was indeed studies from the foreign law. In this connection, Everyone
should have the same opinion with the government regarding the respect to individual or
the right attached which was actually the characteristic of Indonesian. But then the right
was spread clearly in positive legal system especially in the field of economy, it was
indeed a relatively new concept for the society of Indonesia.
126
It is still fresh in our memory, how big our belief in arranging the design
of Copyright law was, and agreed by the House of Representatives regarding the
necessity to grow the attitude to respect and appreciate a work in the field of science, art
and literary. These are all indeed without no consideration, and also without any basis.
The respect and the appreciation on a work in science, art and literary was not only
regarding the admission of one’s individual right on his work. It was also not only the
admission on the owner’s right or the copyright holder to enjoy the economic benefit in
certain meaning on his right.
168
The stimulation of the development of the copyrighted works
which were born by the people of Indonesia was also the main desire of
the Government in amending the Act number 6 of 1982. Especially in
certain fields, such as on the computer program that was new that time
as a knowledge or science. Even though not all the issues of the
computer program protection was for Indonesia, but as a nation that
depend strongly on industrial countries like America, like it or not,
Indonesia had to accept the offer from America to put in the aspect of
computer program as a part of the works that has to be protected. 127
The creation of this kind of vibe was what has desired to be
realized, developed, and utilized. In order to apply the national
development, that kind of vibe was really necessary. Because, only by
that the growth and development of the passion to create in the field of
science, art and literary can be counted on. It has already so often the
opinion regarding the importance on the science and technology for the
life of a nation and the future to be heard. Also in the field of socialculture, it has been the goal to realize the strong Indonesian
characteristic in the middle of the international countries’ life which
also grow and develop. In this connection, it was hoped that the growth
of the development on art and literary in Indonesia in the field of song
and music, movie and literary writings, the art of dance, the art of
drama, the art of painting, the art of carving and the other, to go better.
With the background of that thinking, the Act number 6 of 1982 was
arranged together.
Now, the question appeared is how about the experience all
along and what problems were in the background of the proposed
design of the Act regarding the Alteration of the Act number 6 of 1982.
As we know, both the report or the news from press, since these few
years, it has been heard more and more the Copyright violation. The
background of all those was that basically it was actually for the
purpose to achieve financial benefit in no time by disobeying the
interest of the Copyright Holder. The effect on the violation was so bad
on the living system of the nation in economy and law fields. in the
field of socio-culture, the effect appeared on the piracy was various.
For the offender of the pirate, this continuing event without any action,
would cause the attitude that piracy is a common thing and no longer is
127
Moreover, the steps to renew the law which was done by arranging the Act
Number 6 of 1982, consciously was directed especially to the effort to create a vibe that
can stimulate Indonesian people to create works in those fields. This was the vibe that
was worked on through the admission on the right and also the providing of the legal
protection system on the right.
169
an unlawful thing. For the Authors, the event grew the apathetic
attitude and reduced the passion of the Author. For the society as the
consumer, the growth of attitude which no longer see the necessity to
question if the work was the result of violation of law or not. The more
people disobey what is right or wrong, what is legit or not, even though
our country is a country with law basis. People questioned if the culture
and attitude of our nation is already that bad regarding the appreciation
of a work in the field of science, art and literary. The observation to
that kind of condition turned out to have a great effect to our
international relation.
By concerning the resulted damage and troubles, the
Government on 30 July 1986 had formed and delegated a working team
to:
First
: to study and finish various problems connected with the
application of the legislation in the field of science, trade
mark and company mark.
Second : to accelerate the settlement of the arrangement of the design
of the legislation regarding the patent.
The working team led by the Young Minister/ Cabinet
Secretary consisted of some senior official member from the
Department of Justice, Department of Industry and Trade, Department
of information, Agency for the Assessment and Application of
Technology, and Indonesian Institutes of Science. Since the forming,
the priority to handle was given to the settlement of various problems
in the field of Copyright. Some meetings was held with the Chamber of
Trade and Indonesian Industry and related Associations which had the
interest with Copyright. The goal was to achieve more clearly the real
condition, and also the data, suggestion, or other necessary things.
Those associations were:
In the field of music
:
1. Community of Creator Artist
Recording Musician of Indonesia
(PAPPRI)
2. Indonesian Recording Industry
Association (ASI-RI)
3. Indonesian National Recorder
Association (APNI)
In the field of Books
:
1. The league of Indonesian
Publisher (IKAPI)
170
In the field of movies
2.
Indonesian Author Association
(AKSARA)
1.
Indonesian
Film
Company
Association (PPFI)
Recording Video Entrepreneur
Association (GABSIREVI)
:
2.
In Computer Program Field :
1.
National Information Company
Association (APNI)
2. Indonesian
Computer
User
League (IPKIN)
In the field of movie, consultation and suggestions were
accepted from the Associations of Chinese movies and EuropeAmerica, also Video Recording Industry Association (ASIREVI). Also
in the field of computer program, consultation regarding the effect of
the possibility of the legal protection providing to the computer
program on the price of the computer program (especially on Personal
Computer/PC), it had also being consulted with the Indonesian
Computer Industry Association (AIKI). Beside that, the Consultation
meeting had also been held by the team with the experts in this field.
All then were reviewed which finally resulted this design of
Legislation.
To complete the description regarding the condition
happened, the working team led by the young Ministry/ Cabinet
Secretary conveyed the conclusion achieved from the meetings with the
Associations related to the Copyright such as:
First
:
the violation on copyright especially piracy, by the
associations had been judged to reach a very dangerous
rate that endangered the creativity to create.
Second :
the conviction in the Act number 6 of 1982 regarding
Copyright was too easy and so was the application. This
thing made the Act no longer able to prevent criminal
action in Copyright piracy.
Third :
lack of coordination and agreement, attitude, and action
between the law enforcers in facing the problems in
copyright infringement.
Fourth :
lack of understanding regarding the meaning and function
of Copyright and the provisions of Copyright in the
common society and even in the Authors society
especially.
171
In detail, it was represented further regarding some
quantitative data that reported by the Associations to the government.
For example the case in the field of music, songs and movies, those
were the fields that suffered the most because the criminal act of piracy.
In the field of music and song, the piracy was on to the works of both
Indonesian Author and Foreign Author. The last one, especially are the
western songs. According to ASIRI, the damage suffered by cassette
recording company contained music of Indonesian songs because of the
piracy, in whole, reached Rp. 900 million per month or approximately
10 billion rupiahs per year. Especially regarding music and foreign
songs, the reaction then came from outside of the country. In the field
of the movie, PPFI, GABSI, REVI, or ASIREVI, all stated that the
piracy of national or imported movies, including video recording, kept
accelerating. If in 1983 the pirated movie was listed for 30 movies, then
in 1985 – 1986, 90% of all the movies even pirated in video before
officially published. Same event happened in the field of books. Even
though in amount or value it was not as big as the damage in the field
of music or songs, but both IKAPI and AKSARA really suggested that
the action to stop the violation on Copyright should soon be taken. Also
in the effort to grow computer industry more in the country, the
computer society represented by APNI (trade service), IPKIN (user) or
AIKI (maker), asked and suggested so that computer program could
clearly stated as protected copyrighted work.
The suggestion accepted by the Government not only in the
scope of things related to the infringement and piracy and also the
thought or suggestions to prevent it. The problem was indeed a main
problem. But beside that, in order in the effort to accelerate the
regulation and protection of the Copyright, many thoughts were
accepted regarding the possibility for the perfection many provisions in
the Act number 6 of 1982. It was not only on the conviction, but also to
reach the scope of the Act enactment, the time period of the protection,
and etcetera.
Further explanation was necessary regarding the problem in
proportional, especially in the connection with many view, question or
sometime doubt that the taken steps right now caused by international
pressures. In this thing, we are all agreed that as a society with nation,
independence, and sovereignty, decision regarding what is best for us
must be taken by the nation itself, not because of the pressure. So far,
the existence of some alteration on provisions that have effects both to
outside the nation or to foreign Copyright Holders was what caused the
impression. One of the future goal in the nation life as asserted in the
172
Opening of the Constitution of 1945 was to take part in implementing
the world order which based on the independence, eternal peace, and
social justice. Also side by side with the goal, the legal system created
not only should be able to reflect aspiration, need, and the interest of
Indonesia, but also to always directed to be in line with the aspiration,
need, and interest of other nations. As legal principle, one did not want
to be disadvantaged because one did not put anyone in disadvantage.
Since one did not pun anyone in disadvantage, no one would like to be
put in disadvantage. All believe that with the similarity and balance in
life between nations, then, the world order based on independence,
eternal peace and social justice shall be realized. Indonesian nation
clearly wanted to be and to settle as a respected and responsible world
citizen in realizing that kind of world order. In the set of the similarity
and this balance too, other things with a necessity in explanation was
the existence of international convention in Copyright protection. In
connection between nations, this convention was the one which essence
was the rendezvous point of the connection of legal interest of various
nations and countries in the world. Because of that, on time Indonesia
should consider its part in the convention because of the national reason
as well as the relationship between nations, or in the acceleration of
cooperation in trade, economy, and politic, it was if in certain limits, in
line with the national need or interest. It is also the time to consider
some provisions in the convention that accepted in the national
legislation of Indonesia. And the problem regarding when Indonesia
will take part in the Convention, need to be studied and learned deeply
and carefully. In this connection, the Government conveyed the
alteration to the perfection about some provisions in the Act number 6
of 1982.
There are some important parts of the Act number 6 of 1982
that are in need of alteration:
First, the matter of the criminal;
Second, the scope of the Act;
Third, the time period of the copyright enforcement;
Fourth, the relationship between Country and Copyright Holder.
Beside those main things, another alteration which basically
was to perfected the redaction in order to clarify the provision, or to
adjust related to the main alterations.
If we paid attention on those four points of alteration, they
did not reflect the national legal goal development which is based on
Pancasila ideology. Those for points of alteration as explained before
were mainly because of the pragmatist consideration for the practice
173
interest as the requirement to answer the demands from Western
Countries that based on capitalist ideology.
There were four important parts in the alteration of Act
number 6 of 1982 to the Act number 7 of 1982. This alteration from
Copyright Law number 6 of 1982 to the Act number 7 of 1987 if
presented in matrix form, shall be seen like this:
Matrix 12
Alteration from the Act number 6 of 1982 to the Act number 7 of
In Criminal Aspect
Altered
Substance
Regarding
Criminal
action
Source :
Material of
Articles Act No.
6/1982
Penalty:
Imprisonment at
most 3 years and
fine at most 5
million (Article
44 paragraph 1)
Imprisonment at
most
nine
months and fine
at
most
5
million (Article
44 paragraph 2)
Imprisonment at
most 6 months
and fine at most
Rp.
500.000
(Article
44
paragraph 3)
Altered Material
poured in
Articles in Act
number 7 of
1987
Penalty:
Imprisonment at
most 7 years and
fine at most 100
million (Article
44 paragraph 1)
Imprisonment at
most 3 years and
fine at most 25
million (Article
44 paragraph 2)
Imprisonment at
most 2 years and
fine at most 15
million (Article
44 paragraph 3)
Explanation
From
the
aspect of the
criminal, the
legislator put
forward
the
reason that the
disloyalty of
the society to
the Act number
6 of 1982 was
cause more on
the minimum
penalty on the
criminal
offender.
Data processed by Saidin by comparing between the Act
number 6 of 1982 with the Act number 7 of 1987.
174
The first field altered was regarding the criminal regulated in
the Article 44 Act number 6 of 1982. The direction of the alteration
was basically to harden the criminal penalty on the criminal action of
Copyright violation.
In the Copyright Law of 1982, the penalty as regulated in
Article 1 was given with imprisonment at most 3 years and fine at most
5 million (Article 44 paragraph 1) altered to imprisonment at most 7
years and fine at most 100 million. As well as in Article 44 paragraph 2
was only threatened with imprisonment at most 3 years of fine at most
25 million.128 The following alteration was the penalty regulated in
Article 44 paragraph 3, if the criminal was first threatened with
imprisonment at most 6 months and fine at most Rp. 500.000 (Article
44 paragraph 3) then in the alteration of the Act, the penalty was
accelerated to be at most 2 years and fine at most Rp. 15.000.000,The alteration from criminal to this worse, basically was
meant as one of the effort to accelerate the ability of the law to tackle
the Copyright infringement and to prevent the offender from
committing again. That was the message implicated or hidden which
then poured by the legislator in the Article regarding alteration of the
penalty regulated by the Copyright Law. The legal policy to harden the
penalty, showed the distance of philosophic understanding of the
legislators at the legal culture of Indonesian society. Because at last
even though the penalty had been harden, it could not be proven that it
was also lower the copyright piracy or copyright violation. The legal
culture of Indonesian society should be understood holistically not only
viewed with bare eyes that the piracy behavior or copyright violation
were only caused by the light penalty. Our observation since June 2012
until December 2012 proved that the copyright piracy especially in
cinematography produced in VCD or DVD proved that a worse penalty
did not stop the piracy activities or copyright violation. 129 There was a
lost cultural understanding in the legislators to the legal behavior,
128
In Copyright Law of 1987, then set with imprisonment at most 7 years and
fine at most Rp. 1.000.000.000,- Article 44 paragraph 1.
129
Every evening in June and December 2012 we watch the supplier of the
pirated VCDs and DVDs in more than 20 stores operated in the edge of the road, in Dr.
Mansyur streets, Drussalam Street, Setia Budi Street, Kapten Muslim Street, Titi Papan
Street, Jamin Ginting Street, Krakatau Street, Sutomo Street, and almost in whole streets
in Medan city untu=il in shopping center like Petisah Market, Sei Sikambing Market,
Peringgan Market and the biggest market in marketing the pirated cinematography in
Belawan city. Our done observation was strengthening our belief that with the high level
of copyright violation as meant by the legislation, it did not change the behavior of the
society who had the involvement in those activities.
175
economic behavior and socio-culture behavior in Indonesian society. If
there was a cheaper price, the society would not but a more expensive
stuff. It is not the time yet for Indonesian society to calculate the
quality aspects especially when the bought stuff was giving satisfactory
only on the first use. It is so seldom a consumer watch or reply the
same VCD/DVD repeatedly. So the quality aspect did not become an
important matter to the consumers. This fact would become a
determinant factor why at last the consumer must but the pirated
VCD/DVD even though it’s realized that the action was a criminal
action or civically was an unlawful action.
The choice of the legislator to accelerate the penalty was
strengthening the assumption that to prevent the piracy of copyright
violation, the most accurate step was to harden the penalty. Indonesian
society as the subject of criminal offender, must be shadowed with a
higher penalty to obey the law. A cultural phenomenon which was far
from the real society would become the country’s responsibility to
protect. The goal to protect the Indonesian society, to bring forward the
general welfare was disobeyed when the legislator positioned the
Indonesian society as a subject who needed to be scared off with the
penalty. This assumption was strengthened with the next target which
wanted to be achieved by the legislator in the Copyright violation,
because beside those alterations meant to punish the offenders or the
pirate, it was also meant to be a adjustment. Adjustment here, means
the imprisonment, alteration from 3 years to at most 5 years, based on
the consideration to fulfill the minimum standard of the imprisonment
provision as contained in Article 12 paragraph 4A in the book of
criminal law. As understood, based on that provision, the imprisonment
can only be done to the suspect and defendant who did the criminal
action and/or the trial or assistance in the criminal action in the matter
of the criminal action is was threatened with 5 years imprisonment or
more. Also the acceleration of maximum limit of the fine, based on
consideration that the Copyright piracy, regarding a bigger money
value. But by still giving freedom the judge to make decision with his
belief, the design of this Act provided the penalty of imprisonment or
fine both in cumulative or alternative. It proved that Indonesian society
by the legislator has not placed as a legal subject who also need to be
protected. By other words, the legislation disobeyed the philosophic
basis of humanity which is in justice and civilized, every criminal
provision should contain provision that humanized the human, not
positioned the Indonesian society at the lower rate. That every criminal
176
offender must provided with a severe punishment, without seeing the
factors around why people commit criminal action.
The characteristic of the offence also altered from the offence
on complaint to regular offence. The Alteration of the characteristic of
this offence was also meant to make easier the investigator to soon
implement legal action without receiving the complaints from the
Authors and Copyright Holders as stated in matrix below.
Matrix 13
Alteration of the Act number 6 of 1982 to the Act number 7 of 1987 Based on
Criminal Classification
Material in
Altered Material
Articles Act No.
poured in Articles
Explanation
6/1982
number 7 of 1987
Criminal
Characteristic of Characteristic of
Classification
offence :
offence:
Offence
in Regular offence
complaint
(Article 45)
Source :
Data processed by Saidin by comparing between the Act number 6
of 1982 with the Act number 7 of 1987.
Altered
Substance
If observed carefully the provision contained in the Auteurswet 1912
Number 600 , the act still paced the criminal act on copyright as
offence on complaint. With this alteration, the legal enforcer was asked
to be act more proactively in limiting the copyright. There were some
considerations which became the basis to make the alteration on the
offence on complaint to be a regular offence, such as:
1) Based on experience, the damage caused from the existence of
copyright infringement not only suffered by the Copyright
Holder. The Country also did not achieve the income tax on
the benefit achieved from the piracy. Beside that, without we
realizing it, the social, legal, and economic order has been
threatened.
2) The Copyright infringement, as an individual right, more
certainly be classified as a regular offence on stealing,
deprivation, and fraud or deception.
The basis of the consideration used by the legislator that time
was the offence on complaint, actually would be more certain if
connected to the violation on the honor or dignity such as humiliation,
177
rape, and becoming not right if implicated on Copyright infringement
which put more effect on economy, social, and legal order in general.
The third problem connected with the alteration in this
criminal was the addition of provision regarding the deprivation on the
result of Copyright by the Country to be destroyed. The addition of this
provision was meant to as good as possible to decrease the damage
morally or economically by the Copyright Holder. By that, the result of
the infringement did not just deprived. The work was basically not
allowed to be traded and must be destroyed. The fourth which also
connected, was the assertion on the existence of the Copyright Holder
Right to propose the civil suit to the offender, without decreasing the
right of the country to do the criminal charges.
Beside the criminal affair, another part that needed alteration
in the Act number 6 of 1982 was regarding the scope of the copyright.
If at the beginning, based on the provision of Act number 6 of 1982 the
protection to the foreigner’s copyright in Indonesia could only be
protected if for when listed for the first time in Indonesia and the
previous work announced in another country would not have any legal
protection in Indonesia. But, in Act number 7 of 1987, the foreigner’s
work would be protected in Indonesia if the foreigner’s country had a
bilateral agreement in copyright protection with Indonesia and the
country participated in multilateral protection in copyright protection
and Indonesia also participated in it, as stated in matrix below.
Matrix 14
Alteration Act number 6 of 1982 to the Act number 7 of 1987
Based on the scope of enforcement
Altered
Substance
The Scope
Source :
The material Act No.
6/1982
The work of foreigners in
Indonesia can obly be
protected if protected for
the first time in Indonesia
Altered Material poured in the
Articles Act number 7 of 1987
It shall be protected of the
foreigner’s country possessed
bilateral agreement in the field of
copyright
protection
with
Indonesia.
Participated
in
multilateral
agreement in the field of
Copyright and Indonesia also
participated in it.
The
Work
which
previously announced in
another country would
not be provided with
legal
protection
in
Indonesia.
Data processed by Saidin by comparing between the Act number 6
of 1982 with the Act number 7 of 1987.
178
The reason that the legislators that time in conducting the
alteration in providing legal protection to foreign copyrighted work was
because before that time, the foreigner’s work would only be protected
when announced for the first time in Indonesia. By that means, the
work previously announced in another country, would not be provided
with legal protection in Indonesia. This provision was difficult to
implement. This alteration, however was directed to the providing of
legal protection, if the Country of Copyright Holder:
a. Have a bilateral agreement in Copyright Protection with Indonesia,
or
b. Participated in multilateral in Copyright protection, and Indonesia
was also a member in it.
But because of the participation in such multilateral agreement
need a long time to be studied, and often must be followed with a
substantive adjustment at the minimum standard set in the agreement,
then the existence of bilateral agreement at least would be a bridge for
both country to provide protection to each other. The hope of legislator
with this alteration, was that Indonesia would be able to provide
something in effort to harmonize the relationship between countries in
this world especially in trade area.
Matrix 15
The Alteration of Act Number 6 of 1982 to the Act Number 7 of 1987
Based on time period
Altered
Substance
Time Period
1.
Regarding
the time period
2.
Regarding
the Application
of
the
regulation
The Material
of Articles of
Act Number 6
of 1982
The Copyright
enforced
as
long as the
Author lives
plus 25 years
after
the
Author’s death
Article 26
Altered Material poured in the Articles in
Act number 7 of 1987
Copyright on work:
a. book, pamphlet, and all kinds of
written works;
b. dance art ( choreography);
c. all kinds of arts such as paintings,
crafting, and statues;
d. batik art;
e. song or music creation with or
without text, and
f. architectural works;
enforced as long as the author lives plus
50 years after the Author’s death
179
The copyright
or photography
work
or
cinematograph
y work also
works
made
based on the
similar
working in 15
years
calculated 15
years
since
announced for
the first time
(Article 27)
Article 26
(1) Copyright on :
a.
performance
work
like
musickarya pertunjukan seperti
musik, karawitan , drama,
dance, wayang, pantomime,
and broadcasting works for
example for media of radio,
television, and film, also video
recording;
b. seminar, lecture, speech and
etcetera;
c. map;
d. cinematography works;
e. voice or sound recording;
f. translations;
enfornced for 30 years since firs
published
(2) Copyright on :
a. photography work;
b.
program
komputer
atau
komputer program;
c. adaptation and saduran and the
arrangement
of
collective
writing; enforced for 25 years
since first time published
(3) Copyright as mentioned in Article 26
paragraph (1) and Article 27
paragraph (1) possessed or held by
a legal institution, enforced for 50
years since first time published,
except the Copyright meant in
Article 27 paragraph (2) enforced
for 25 (twenty five) years.
Article 27
Source : Data processed by Saidin by comparing between the Act
number 6 of 1982 with the Act number 7 of 1987
In the Act number 7 of 1987, the alteration regarding time
period of Copyright protection was conducted in two forms :
1. Regarding the time period itself.
180
2.
Regarding the application of the regulation
The Act number 6 of 1982 basically provided protection as
long as the Author lives and until the 25th year after the Author’s death.
That time period lasted for all creations, except photography and
cinematography which were for 15 years. The alteration was as long as
the Author lives with addition 50 years after the Author’s death. By
that, the time period would be longer.
In accordance to that alteration, it could be found the reasons
of the Government which acted as the background of the alteration of
the Copyright Protection. The Government brought forward the reasons
and background of the thought which had connection adhered regarding
the social function of ownership right.
In the explanation, the Government also mentioned the time
period “as long as the author lives plus 25 years”, was judged as the
form of the social function itself. The thing was enacted for the whole
creation, except photography and cinematography, so that the form of
the social function principal only limited in the meaning of shortening
the time period. As understandable, if Bern Convention was made as
the basis, the time period was for “As long as the Author lives plus 50
years”.
The thought regarding this was indeed necessary to be
reviewed. The realization of social function was not necessary to be
translated or realized in the form of short time period. The weakness of
the way of thinking which all this time could be reviewed in the case of
photography and cinematography. Was because of the protection time
period only lasted for 15 years, the Copyright in those two fields could
be said had already fulfilled the social function? Was it true that even
though the society was impossible to pick any benefit in the time
period? From this way of thinking, the Government gave opinion that
the time period should be set “as long as the Author lives plus 50
years”. The imaginer limit for 50 years as mentioned, basically also
known in the Act number 6 of 1982.
Whereas the matter, regarding how to realize the social
function more effectively, the Government had introduced a
mechanism regarding the obligation to realize the creation or to give
license to another party. This mechanism was later known as
compulsory licensing. Through this mechanism, the Country saw that it
was necessary to judge that a creation or a work was very important to
the life of the society. The Country could obligate the Copyright Holder
to translate or duplicate the work in Indonesia. The Country could also
obligate the Copyright Holder to give the consent or license to another
181
party to translate or to duplicate with the fair fee. With this thinking,
the realization of social function was not only formal, but also could be
more operational and substantive.
Another side of the alteration in this field was in the
application or implementation of the regulation. Until today, the time
period of the protection is “As long as the Author lives plus 25 years”
is generally applied. It means, all of the creation was given protection
on its Copyright for the same time. It was not differed from another, for
example, between the time period of Copyright protection of a song
writer, with the Copyright on the song as possessed by a recording
company. By other words, it could not be differed the real (original)
Copyright with the derivative Copyright. This is necessary to be
concerned from the side of Justice.
Based on this thinking, in the Act was then pointed the
difference between the time period of the protection by paying attention
on the characteristic of the Copyright. Except some creations such as
photography, computer program, and creations with the characteristic
like collected poetries, which specifically provided protection only for
25 years, then for an original Copyright needed to be provided
protection “As long as the Author lives plus 50 years”. This enforced
for Copyright such as song or music, book creation, and etcetera.
Whereas for the derivative ones, such as music or song recording by the
recording company, for book publishing by the publishing company,
the Copyright only provided for 50 years.
The next alteration was regarding the relationship between
countries and Copyright Holder. The Matrix below shall explain that
for the national purpose and education, the country can conduct its role
to utilize the Copyright. Of course this was conducted without intention
to put the other Author in vain and also without the intention that the
country would take the commercial benefit.
182
Matrix 16
The Alteration of Act Number 6 of 1982 to the Act Number 7 of 1987
Based on the Relationship between Country and Copyright Holder
Altered
Substance
Materials of Articles Act
No. 6/1982
Relationship
between
Country and
Copyright
Holder
(1) For national purpose,
every translation from
a foreign language
creation
into
Indonesian or local
language shall not be
assumed as copyright
infringement
with
provisions:
a. creation came from
other Country at least
three (3) years since
published and never
translated to Bahasa
Indonesia or local
language before.
b. translator had asked
for
consent
for
translating from the
Copyright Holder but
the consent was not
achieved in 1 (one)
year
since
the
application proposed.
(2) for the translation as
mentioned in Article
(1) item b, need consent
from
the
Justice
Minister.
(3) the Justice Minister set
the fee to the Copyright
Holder in providing
consent
for
the
translation hearing the
consideration of the
Copyright Council as
mentioned in Article 39
Alteration Material poured in
Articles Act number 7 of 1987
(1)
For the purpose of
education, science, and
activities in research and
development, a creation
protected copyright and
for 3 (three) years after
announced not translated
in
Indonesian
or
duplicated in the country
(Indonesia),
the
government after listening
to the Copyright Council
could:
A .obliged the Copyright
Holder to conduct the
translation
himself
and/or the duplication
of the creation in the
country of Indonesia in
the decided time;
b. obliged the Copyright
Holder to give consent
to another person to
translate
and/or
duplicate the creation
in Indonesia for certain
time, in the matter of
the Copyright himself
did not implement
himself or stated his
unwilling to implement
his
obligation
as
mentioned in item a.
c. implement himself the
translation and/or the
duplication of the
creation, in the matter
183
Article 15
(1) remembering the
provisions in Article 48
Sub b then for national
purpose, the creation of
non Indonesian citizen
and foreign agency can
be duplicated for the
purpose of use in
Indonesian Republic
terrirory, with
provision:
a. creation of non
Indonesian citizen, in
2 (two) years
announced shall be
not enough to be
duplicated in
Indonesia
b.it had been asked for
consent to duplicate
the creation, but the
consent was not
achieved in 1 (one)
year since the last
request proposed
(2) Duplication as
of
the
Copyright
Holder
did
not
implement
the
obligation
as
mentioned in item b.
(2) implementation of the
provision as mentioned in
Paragraph (1) item b and
item
c
with
the
compensation
which
amount
set
by
the
government.
(3) Further implementation
regarding the perovision as
mentioned in paragraph (1)
and paragraph (2) regulated
with the Regulation of the
Government.
Article 15
The government after listen to
the consideration of the
Copyright Council, can prohibit
the announcement of every
creation that contradict with the
policy of the government in the
field of defense and security of
the country, morality and
general public order”.
Article 16
184
mentioned in paragraph
(1) item b, shall not be
considered as
Copyright infringement
(3) to duplicate the creation
as mentioned in
Paragraph 1, consent of
Minister of Justice is
necessary.
(4) the Justice Minister set
the fee to the Copyright
Holder in giving
consent of the
Duplication, hearing
the consideration of
Copyright Council as
mentioned in Article 39
Article 16
Source : Data processed by Saidin by comparing between the Act number 6 of
1982 with the Act number 7 of 1987
Two main issues in this field, in accordance with the negation
of the provisions regarding the take-over or “expropriation” of a
Copyright as regulated in Article 10 paragraph (3) and paragraph (4)
the Act number 6 of 1982, and the substitution of the provision in
Article 15 and 16 in the “compulsory licensing” mechanism. Differed
with another ownership right in intellectual property field, which all
born because proposed to and given by the Country. Compared with,
for example Patent Company or Brand Company and Trade Mark, and
industrial design product which all proposed to and given by the
country, the Copyright grow together with the birth of a copyrighted
work, a creation. Because of that, it is appropriate to be considered that
the take-over to be not conducted. This thing was a bit easier compared
with the scoped fields, such as science, art, and literary. In the effort of
the development of the vibe of the creation in those fields, the
Government suggested that it is not appropriate the take-over to be
implemented. At least, even if there were fields necessary for certain
goals, or for the application in society, it is enough to be conducted
with another better way that is the obligation to conduct or realize the
works through compulsory licensing mechanism. This step, will then
185
show more maturity of the society of Indonesia as a nation with
sovereignty.
In line with that thought, the government was also reviewed
the provision of Article 15 and Article 16 of the Act Number 6 of 1982
regarding the “national interest” and its application. As we know, the
difficulty this whole time was because we have to explain the definition
or limitation of those words. We did not even clearly provide the
measurement, criteria, or a definite factor of that “national interest”. In
one side, the term was indeed seemed like able to provide a juridical
benefit which is very wide in range and unlimited. Even so, if that
benefit was really exist, the experience in the application of the Act
number 6 of 1982 also showed that the provision in Article 15 and
Article 16 can be said as never been realized before, because it has
never been utilized before.
Besides that, the provisions of both Articles in a whole also
need a review in the concept of the thinking. If for instance the
“national interest” became the point of departure, then this country is
what suppose to be the most authorized party to appoint the existence
of the national interest. The Country is the most knowing when the
national interest is really needed. It would become a bit peculiar, when
the appointment of the existence of the national interest is just given to
an individual to judge and to appoint, and then took their own steps in
it. Indirectly, that condition would give the impression that the
Country, in silence provide a chance and let its citizen to do an activity
that put another party in disadvantage. This condition would finally put
the country in a very difficult situation, inside or outside.
Philosophically, the country is indeed must put more attention
to the interest of its society in the utilizing of the Copyright. The
Copyright just like the other rights must run the social function and not
only for the interest of the Author or the Right Holder. The goal or the
idealism of the country was supposed to be able to be read in the
preamble of every Act born as the policy or the national legal
development policy. The ideological or philosophical opinions can be
understood in the preamble of Act number 8 of 1982 and Act number 7
of 1987. For the comparison, it can be seen in this matrix below.
186
Matrix 17
The Regulation Basis of the Publishing of Act number 6 of 1982 and
the Act number 7 of 1987
Preamble
Act No. 6/1982
a. For the development in the
field of law as meant in the
General Outline of the
Country, the Decree of the
Assembly of Representative
Number
IV/MPR/1978),
and also to push and protect
the creation, the spread of
the cultural result in
science, art and literary and
also to accelerate the
development
of
the
intelligence of the life’s
nation in the arena of
Indonesian Republic based
on Pancasila and The
Constitution of 1945, then it
is necessary to regulate the
Copyright Law;
b. that based on the issue in
item a then the regulation
regarding copyright based
on
Auteurswet
1912
Staasblad Number 600 of
1912 need to be revoked of
its incompetence with the
need and the goal of legal
future goal.
Preamble
Act No. 7/1987
a.
that providing the legal
protection
on
Copyright
basically was meant as an effort
to realize a better vibe fort the
growth and developing area
which have passion in science,
art, and literary.
b. that in the middle of the
implementation
of
the
accelerating
national
development, especially in
science, art, and literary, it is
also have been developed the
Copyright violation, especially
in piracy.
c. that the Copyright violation has
reached a dangerous rate and it
is able to damage the social life
order in general and the passion
to create in specific.
d. that to handle and stop the
Copyright violation, it is
necessary to alter and perfected
some provisions in the Act
number 6 of 1982 regarding
Copyright.
Source : Data processed by Saidin by comparing between the Act
number 6 of 1982 with the Act number 7 of 1987
Based on the consideration brought forward by the legislator
in the Act number 6 of 1982, it can be understood that inside it, there
was basic philosophical consideration containing the ideas and
187
suggestions or goals of the national law establishment. But, that kind of
issue could not be seen anymore in the Act number 7 of 1987. The
latter Act was said to lost the spirit which gave the leverage to the
regulation of that national copyright law.
The Copyright Law number 7 of 1987 was enforced for 10
years. In the journey, what had become the suggestion of alteration of
the Act was not entirely can be realized. As long as the 10 years
enforcement of this Act, the Copyright violation of piracy did not show
the good side. Also, the government’s effort to conduct the compulsory
licensing to accelerate the use of national interest did not optimally
used. Finally the Act must be altered in 1997.
E. The Period of Copyright Law Number 12 of 1997 (1997 – 2002)
The Act Number 12 of 1997, was the first Act in the field of
Copyright Protection in Indonesia after the ratification of GATT
1994/WTO through the Act number 7 of 1994, which contain the
TRIPs Agreement and the protocol or the attachments, Indonesia was
obliged to adjust its regulation of Copyright with the International
Agreement. TRIPs Agreement also obliged the signee countries to
subject to the international conventions regarding Copyright such as :
Bern Convention and Rome Convention 1961.
The Act Number 12 of 1997 though before the born was based
on the previous Act, if we see the Act that replaced by it, also was
based on the Bern Convention and politically the born of it was
influenced by many pressures from Industrial Countries (As countries
which have interest with Copyright) especially America.
Since early 1980s, America has shown its concern to the
important meaning of Copyright protection. This concern was not
without reason, because America had other motivation behind the
concern. One of the American motivations was, with the level of
awareness of the world’s citizen especially the developing countries
which had the potential to conduct Copyright violation, then it
strengthen the competent of America in the field of technology.
Because nevertheless, Copyright is so close with the technology, if the
competent of American technology is stronger, then the deficit of the
trade of various nation (especially Japan) this issue will strengthen the
position of American economy. Moreover, America was hoping that
the competition of America in technology would be stronger, this issue
would strengthen the existence and trade’s obstacles of American
companies outside the nation. This was what Dylan A MacLeodi called
188
as one sided pressure which conducted by America in the Intellectual
Property Right Protection Policy as stated:
Since the early 1980s, the United States of America has
heightened its concern over violations of American intellectual
property rights in foreign countries. This concern has been
principally motivated by a growing awareness of declining
American competitiveness particularly in high technology
fields, surging trade deficits with many countries (Japan being
the most notable), and the perceived existence of invisible trade
walls which keep U.S. firms out of many foreign markets. The
United States has been moving both unilaterally and
multilaterally to achieve the goal of better protection of
American intellectual property rights abroad. The most
prominent unilateral measure to be employed has been Section
301 of the Trade Act of 1974, and its offspring ”Super 301”
and ”Special 301”. These allow the United States to retaliate
against countries that do not adjust their laws and practices
into conformity with U.S. requirements.130
The one sided move of America to obtain optimal protection
on the American Intellectual Property in many countries especially in
developing countries with the implementation of the trade policy. To
the countries which was not adjusting the Copyright law with
America’s demand, then America could implement economic
punishment one sided. At least, that was corrected by Section 301 of
the Trade Act 1974.
This desire of America then was accepted well in Uruguay
Round which resulted the General Agreement of Tariffs and Trade. In
that Agreement, the American side emphasized to be provided more
protection on intellectual property. This desire then accepted well in the
TRIPs Agreement. This was by many community called as “aggressive
unilateralism” of America as revealed by Dylan A. MacLeodt. By
taking examples in Malaysia, Thailand, and Indonesia, Dylan revealed:
The Uruguay Round of negotiations of the General Agreement on
Tariffs and Trade (GATT) the United States has been pushing for
stricter international protection of intellectual property rights.
Unilaterally, the United States is evincing a more stringent attitude
towards violators of American intellectual property rights. This is
130
Dylan A. MacLeodt, U.S. Trade Pressure and The Developing Intellectual
Property Law of Thailand, Malaysia and Indonesia, in Reading Material Hak Kekayaan
Intelektual, Universitas Indonesia, Post Graduate Law Faculty, Jakarta, 2007, p. 365.
189
consistent with U.S. trade policy more generally, which one
commentator has described as ”aggressive unilaterilsm”. This tougher
approach on intellectual property protection manifested itself in 1991 in
the designation of Thailand, India and the People’s Republic of China
as ”priority foreign countries” under Special 301, which had the effect
of warning these countries that without substantial change to their
intellectual property law and practies, the United States would employ
retaliatory trade measures, Malaysia, Indonesia and Thailand have all
been subject to American pressure to alter their respective intellectual
property law, although they have responded differently to the American
threats of retaliatory trade action Indonesia and Malaysia have moved
much more quickly to satisfy U.S. demands and have appreared more
willing than Thailand to appease the United States.131
At the beginning, Intellectual Property Rights had not been
a part of GATT, but then America’s pressure so the Intellectual
Property was put to the GATT’s structure. The disadvantages by
America especially the massive piracy of song recording and
cinematography in the three countries (Indonesia, Malaysia and
Thailand) caused disadvantages in the recording industry in United
States.
Beside the pressure from America to put the Intellectual
property Right in the GATT’s structure, the suggestion was also come
from European Community. On July 1988, as written by Agus
Sardjono, European Community proposed “Proposal of Guidelines and
Objectives” :
(1) They should address trade-related substantive standards in
respect of issues where the growing importance of intellectual
property rights for international trade requires a basic degree
of convergence as regards the principles and the basic features
of protection.
131
Dylan A. MacLeodt, U.S. Trade Pressure and The Developing Intellectual
Property Law of Thatiland, Malaysia and Indonesia, in Journal University of British
Colombia Law Review, Vol 26 : (Summer 1992), p. 344. The Uruguay Round had
resulted negotiation on some agreements poured in the General of Tariffs and Trade
(GATT), America had emphasized that for a better protection on the intellectual property.
One sided, America has proved its subjection to the offender of American Intellectual
Property Rights. This is in line with the American Trade Politic Generally. One of the
Commentators explained it as “aggressive uniteralism”. This gave the conclusion that
Copyright protection was given meaning by America itself in 1991 in many meetings in
Thailand, India, and Chinese People Republic as “priority countries” under the special
regulation 301, and it brought effect also became warning to the countries to conduct big
effects on the Copyright Law and the law enforcement in their countries.
190
(2)
GATT negotiations on trade related aspects of substantive
standards of intellectual property rights should not attempt to
elaborate rules which would substitute for existing specific
conventions on intellectual property maters, contracting
parties, could, however, when this was deemed neccesary,
elabrate further principles in order to reduce trade distortions
or impediments. The exercise should largely be limited to an
identification of an agreement on the principles of protection
which should be respected by all parties ; the negotiations
should not aim at the harmonization of national laws. 132
Second opinion regarding industrial countries was given by
India. India was disagreeing and objecting the suggestion of industry
countries to put the intellectual property right in GATT’s structure,
because of that, India was not in agreement with that suggestion as
taken by Agus Sardjono133 by saying:
It would ... not be appropriate to establish within the framework
of the GATT any new rules and disciplines pertaining to
standards and principles concerning the availability, scope and
use of intellectual property rights”.
Moreover, Agus Sardjono134 brought forward that the
challenges by India regarding the suggestion to put the Copyright
Protection in GATT’s structure was based on three important reasons:
First, the possessor of the Copyright can conduct what is called
by restrictive and anti competitive practices which became
obstacle of the international trade. Second, the preincipal and
standart regarding the Copyright must first be checked if it is in
line with the need of the Developing Countries. Thired, it must
be emphasized that the essence of Copyright protection was its
characteristic which is monopolistic and restrictive.
The Copyright protection would give a very bad effect on the
developing countries, remembering 99% of patents in the world
is possessed by developed countries. India proposed that
Copyright Protection was to be given fully to every country to
appoint themselves according to the need and condition in each
country.
132
Agus Sardjono, Pembangunan Hukum Kekayaan Intelektual Indonesia
Antara Kebutuhan dan Kenyataan, Establishment Speech of Professor in Private Law in
Law Faculty, University of Indonesia, Depok, 2008, p. 5.
133
Ibid.
134
Ibid, p. 8.
191
Even though India objected the suggestion of those developed
countries with the reason as mentioned above, finally the issue
regarding intellectual property right was also put in the GATT’s
structure. That means, the developed countries was succeded in the
negotiation and the winning was in their hands. They were even more
succeeded when the TRIPs Agreement was made as a protocol to be
made next as the structure or reffeence of the signer countries in
adjusting or inlining the Copyright regulation in the country. Of course
the process of transplantation of TRIPSs Agreement national legislation
of each signer country was the consecuention of the developing
countries’ failure to object the desire of the developed countries’ desire.
By that, i could not be avoided anymore the domination of Western
way of thingking which backgrounded by capitalist ideology started to
step on developing countries, live with its legal tradition which had
different ideology especially in Asian Countries like : Indonesia,
Thailand, Malaysia and also India.
Indonesia finally ratified the GATT 1994/WTO which included
the TRIPs Agreemnt with the consequence that Indonesia must adjust
its national Copyright Law (including all regulations related to the
intellectual Copyright Protection such as : patent, mark, industrial
design, and et cetera). Especially for Copyright Law, Indonesia msut
alter back the Act Number 7 of 1987 with the Act number 12 of 1997
by adding some addition Articles and adjusting some Articles inline
with TRIPs Agreemnt. Some of the reasons of the alteration will be
explained in the next part.
Some
ideological-philosophical,
juridicalnormative
considerations and political consideration of the alteration Act number
7 of 1987 with the Act Number 12 of 1997 can be seen in the Preamble:
a. That Indonesia is a country with variety of ethnics/tribes and
cultures and wealth in art and literature with the developments
which needed protection of Copyright in intellectual property
which born from those variations.
b. That Indonesia has been a member of international
convention/agreemnt in the field of Intellectual Property Right
commonly, and Copyright especially which i need of the further
implementation on the national legal system.
c. That the development in trade, industry, and investation has
developed enough that i need of more protection for the Author
192
and the Related Right Owner ny paying attention to the interest of
the society;135
It is not very clear though, the ideologic – philosophic suggestion
pictured in the preamble above, except putting the desires and interests
of the foreign to the Indonesian Copyright Law. This explanation was
supported by the sentence which stated that : ”Indonesia has been a
member of various international convention/agreement” and it needed
further implementation in the national legal system”. It is very clear
that it can be caught that the legal policy in Indonesia really wanted to
transplant the international convention to the National Copyright Law.
Of course what was meant is International Convention regarding
Copyright such as: Bern Convention, Rome Convention and at last
TRIPs Agreement. If the legal policy like these implemented, it is
without any doubt that the interest of foreign law would be a primary
priority of this Act alteration. Even though the goal of this Act
alteration was not just mere like that. In many explanation, there was 3
(three) political consideration (including legal consideration) which
also was the goal of the Copyrigt Law alteration number 7 of 1987 to
the Copyright Law number 12 of 1997 that are:
(1) Providing of legal protection which is becoming more
effective to the Intellectual property Right, especially in
Copyright need to be accelerated in realizing a better vibe of
the growing and developing the spirit to create in science, art
and literary, which is needed in the implementation of national
development with the goal to realize a fair, welfare, and
independent Indonesian society based on Pancasila and
Constitution of 1945.
(2) Implementing the obligation to adjust the national regulations
in the field of Intellectual Property Right including Copyright
on TRIPs.
(3) Altering and Perfecting some provisions od Act of Copyright
number 6 of 1982 regarding Copyright as altered with the Act
of Copyright number 7 of 1987 with the regulations.
If these three politic considerations (including legal
consideration) The Copyright Law number 12 of 1997 compared with
the legal consideration used to alter Copyright law number 6 of 1982, it
can be seen enough defferences regarding the reason used to conduct
the alteration of the law.
135
Preamble Act number 12 of 1997 part Considering item a, b, and c.
193
In the consideration Copyright Law number 7 of 1987 was
emphasized more on the Copyright violation which considered had
achieved a dangerous rate and can damaged the social structure of the
society in general and the passion to create specially.
Beside that, it can not be avoided anymore that by the time the
Copyright Law Number 1987 enforced, the developed industrial
countries powered by United States, pushed the developing countries,
including Indonesia, by doing political and economical pressures in the
effort to achieve legal protection as good as possible to the Intellectual
Property Right’s products marketed in developing country in need.
Indonesia is one of the developing countries which in fear of not
accepting anymore beneficial treatment by United States which acted as
the soldier in the developed industrial countries.136 The legal
consideration used in Copyright Law number 12 of 197 to alter the
Copyright law number 7 of 1987 as contained in the preamble, caused
the Indonesia’s membership in the international convention/agreement
such as TRIPs Agreement137 which was a part of the agreement of the
making of World Trade Organization brought effect on the occurance
of the obligation to adjust national legislation in the field of Intellectual
property Right including Copyright.
The reasons of the alteration can be found in the explanation on
the Act number 12 of 1997 regarding the Act number 7 of 1987 of
Copyright:
136
Read Sudargo Gautama, Pembaharuan UUHC 1997, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1997, p. 129.
137
With the membership of Indonesia as developing country in the TRIPs
Agreement would cause certain benefits as one of the example is brought forward in the
writing by UNCTAD Secretariat with the title The Trips Agreement and Developing
Countries, New York and Geneva, 1996 ; p. 38 :
Literary and artistic creativity is universally distributed, and situational
disadvantages seldom preclude authors in developing countries from entering domestic
or foreign markets. Many developing countries participate fully in these markets. Such
rights thus become vehicles for the development of authonomous cultural industries
everywhere and for the preservation and enhancement of the developing country’s own
cultural heritage. Even mandatory recognition of neighbouring rights affords
opportunities to countries whose music, dance and folklore are important components of
the national heritage, as attested by the fact that over half of the parties to the Rome
Convention are developing countries. Hence, authors of literary, artistic and scientific
works in all member countries may benefit from a strengthened protection of their rights
on an international scale. Cinematographic authors, in particular, have explicitly
recognized rental rights under the TRIPS Agreement, although subject to a broad
exception (Article 11). This recognition may benefit many developing countries,
particularly those that have been able to develop strong film industries.
194
First, there was a will from the Government to react to the
Decree of the Representative Assembly Number II/MPR/1993
regarding the Outline of the State Policy which asserted that the
development of the world, containing chances that accelerate the
national growth, need to be utilized well. In accordance with the
Outline of the State Policy, every development, alteration, and another
global issues which predicted can influence the Ntional Stability and
the achievement of national goal also need to be followed carefully, so
the steps to anticipate can be taken. One of the stunning development
that got attention in this last ten decades and has possibitiy to still be
given attention for the future is the widespread of the globalization in
social, economy, culture, or in the other fields. In the field of trade,
especially because of the development in information technology and
trasportation, has made the activity in this sector increased and even
placed the world as a single market together. By paying attention to this
reality and tendency, it was becoming more understandable that the
demand to regulate for legal protection was necessary. Much less some
country were counting on economic activity and its trade on products
that resulted by the intelligence of human such as works in the field of
science, art, and literary.
Second, there was will from Government to assist the
acceleration of the world’s economic growth and to respond well to the
General Agreemnt on Tariff and Trade (GATT) which was a
multilateral trade Agreement. This choice was actually an economic
policy launched by capitalists countries to create the free trade bt
providing the same treatment to international businessmen in many
parts of the world. The aim was to after the economic growth in order
to objectify the welfare of the human.
Third, there was a belief from the Government that by creating
the legislation in line with TRIPs Agreement can support national
economic activity. TRIPs Agreement contained norms and standards of
protection for the intellectual works of human and placed the
international Agreement in the field of Intellectual property as the
basis. Beside that, the Agreement was also regulate the legal
implementation regulation in the field of Intellectual Property Right
strictly. As a signing country of the Uruguay Round Agreement,
Indonesia had ratified the Agreement package with the Act number 7 of
1994 regarding Agreement Establishing The World Trade
Organization. In line with that policy, to support the national growth
activity, especially by paying attention to various development and
alteration, Indonesia that already had Copyright Law since 1982 which
195
then perfected with the Act number 7 of 1987, need to make another
improvement with the Law. Beside to improve some provision which
was felt not giving enough protection to the Author, it was also felt
necessary to ma make adjustment with the TRIPs Agreement. The goal
was to delete obstacles especially to provide supporting facilities to
increase the economic growth and the trade, both national and
international.
Referring to the consideration above, the Act number 7 of 1987
needed to be altered to answer the challenge and also to accomodate the
will and hope as referred to.
With Indonesia that has become the member GATT 1994/WTO
officialy, which inside the Agreement contained the TRIPs Agreement,
then the latter Agreement was made as the framework in regulating
Intellectual Property Right Law in Indonesia, including Copyright Law.
This following matrix shows us some provision in TRIPs
Agreement that transplanted into the Act number 12 of 1997.
Matrix 18
Transplantation of TRIPs Agreement into the Act Number 12 of 1997
Regarding Rental Rights
Substance
TRIPs Agreement
Act No. 12 Tahun
1997
Rental
on
Copyright must
obtain the consent
from the Author
or Right Holder.
(Article
1
paragraph
(2)
and(3))
Rental
rights
In respect of a least computer program and
cinematographic works, a Member shall
provide authors and their successors in title
the right to authorize or to prohibit the
commercial rental to the public of originals
or copies of their copyright works. A
member shall be excepted from this
obligation in respect of cinematographic
works unless such rental has led to
widespread copyring of such works which is
materially impairing the exclusive right of
reproduction conferred in that Member on
authors and their successors in title. In
respect of computer program, this obligation
does not apply to rentals where the program
itself is not the essential object of the rental.
(Article 11)
Source :
Data processed by Saidin by comparing the Act number 12 of 1997
with TRIPs Agreement.
196
The matrix above showed that, the power of the will of the
developed countries to protect the works in computer program and the
cinematography was so strong that Indonesia must transplanted Article
11 of the TRIPs Agreement to the Article 2 paragraph (2) and
paragraph (3) the Act number 12 of 1997. Whereas, if systematically
analyzed, Copyright is an intangible object and because of that, subject
to legal object principle in terms of the transfer of the right and also in
renting which subject to law of engagement. By transplanting Article
11 TRIPs Agreement to Article 2 paragraph (2) and paragraph (3) the
Act number 12 of 1997, then this legal norm would be out from object
legal system and deviated from engagement law system. The principal
adhered by object law was: Anybody who has already obtained the
transfer of object right perfectly, then the possessed object would be his
possession and the consequence would be that the owner has an
absolute right on the object. This legal principle was out from the
object legal system when someone buy VCD and DVD of
cinematography must ask the consent of its Author or Right Holder to
be rented to the third party. This article was so perfect to adopt the
capitalist values in managing the economic sources. By other words,
capitalist ideology from the Western Law has been transplanted
perfectly by the legislator of National Copyright Law by transplanting
Article 11 TRIPs Agreement into Article 2 paragraph (2) and paragraph
(3) Act number 12 of 1997.
Matrix 19
Transplantation of TRIPSs Agreement into the Act number 12 of 1997
Regarding Neighbouring rights
Subst
ancei
Neig
hbouri
ng
rights
Rome Convention
1961
PERFORMANCES
PROTECTED.
POINTS
OF
ATTACHMENT
FOR
PERFORMERS
Each Contracting State
shall grant national
treatment
to
performers if any of
the
following
TRIPs Agreement
Protection of Performers,
Producers of Phonograms
(Sound Recordings) and
Broadcasting
Organizations
1. In respect of a fixation of
their performance on a
phonogram,
performers
shall have the possibility
of preventing the following
acts
when
undertaken
Act number
12 of 1997
(1) The offender
has special
right
to
give
consent or
prohibit
people
without
consent to
make,
duplicate,
197
conditions is met:
(a) the performance
takes place in another
Contracting State;
(b) the performance is
incorporated
in
a
phonogram which is
protected under Article
5 of this Convention;
(c) the performance,
not being fixed on a
phonogram, is carried
by a broadcast which
is protected by Article
6 of this Convention.
(Article 4)
PROTECTED
PHONOGRAMS: 1.
POINTS
OF
ATTACHMENT
FOR PRODUCERS
OF
PHONOGRAMS; 2.
SIMULTANEOUS
PUBLICATION;
1. Each Contracting
State
shall
grant
national treatment to
producers
of
phonograms if any of
the
following
conditions is met:
(a) the producer of the
phonogram
is
a
national of another
Contracting
State
(criterion
of
nationality);
(b) the first fixation of
the sound was made in
another
Contracting
State (criterion of
fixation);
(c) the phonogram was
without their authorization:
and
the fixation of their unfixed
broadcast
performance
and
the
the
reproduction
of
such
recording
fixation. Performers shall
and
or
also have the possibility of
picture
preventing the following
from
the
performanc
acts
when
undertaken
without their authorization:
e. Pelaku
the
broadcasting
by
memiliki.
wireless
(2) Recording
producer
means
and
the
communication
to
the
has
a
public
of
their
live
special
performance.
right
to
give
2. Producers of phonograms
shall enjoy the right to
consent or
authorize or prohibit the
prohibit
people
direct or indirect
without
reproduction
of
their
phonograms.
consent to
3.
Broadcasting
duplicate
the
organizations shall have the
recording
right to prohibit the
following
acts
when
of voice or
undertaken
sound.
without their authorization: (3)
Broadcastin
the
fixation,
the
reproduction of fixations,
g institution
has special
and the rebroadcasting by
right
to
wireless
give
means of broadcasts, as
well as the communication
consent or
prohibit
to the public of television
people
broadcasts of the same.
without
Where Members do not
consent to
grant such rights to
make,
broadcasting organizations,
duplicate,
they shall provide owners
and
reof
broadcast
copyright in the subject
the record
matter of broadcasts with
through
the possibility of preventing
transmissio
the above acts, subject
n with or
to the provisions of the
198
first
published
in
another
Contracting
State (criterion of
publication).
2. If a phonogram was
first published in a
non–contracting State
but if it was also
published,
within
thirty days of its first
publication,
in
a
Contracting
State
(simultaneous
publication), it shall be
considered as first
published
in
the
Contracting State.
3. By means of a
notification deposited
with the Secretary–
General of the United
Nations,
any
Contracting State may
declare that it will not
apply the criterion of
publication
or,
alternatively,
the
criterion of fixation.
Such notification may
be deposited at the
time of ratification,
acceptance
or
accession, or at any
time thereafter; in the
last case, it shall
become effective six
months after it has
been deposited. 1961
(Article 5)
PROTECTED
BROADCASTS: 1.
POINTS
OF
ATTACHMENT
FOR
Berne Convention (1971).
without
4. The provisions of Article
cable,
or
11 in respect of computer
through
programs
shall
apply
another
mutatis mutandis
electromag
to producers of phonograms
netic
and any other right holders
system
in
phonograms
as ((Articlel 43C)
determined in a Member's
law. If on 15 April 1994 a
Member has in force a
system
of
equitable
remuneration
of
right
holders
in respect of the rental of
phonograms,
it
may
maintain
such
system
provided
that
the
commercial rental
of phonograms is not giving
rise
to
the
material
impairment of the exclusive
rights of reproduction
of right holders.
5. The term of the
protection available under
this
Agreement
to
performers and producers
of
phonograms shall last at
least until the end of a
period
of
50
years
computed from the end of
the calendar
year in which the fixation
was
made
or
the
performance took place.
The term of protection
granted
pursuant to paragraph 3
shall last for at least 20
years from the end of the
calendar year in which the
broadcast took place.
6. Any Member may, in
199
BROADCASTING
ORGANIZATIONS;
2.
POWER
TO
RESERVE
1. Each Contracting
State
shall
grant
national treatment to
broadcasting
organisations if either
of
the
following
conditions is met:
(a) the headquarters of
the
broadcasting
organisation is situated
in another Contracting
State;
(b) the broadcast was
transmitted from a
transmitter situated in
another
Contracting
State.
2. By means of a
notification deposited
with the Secretary–
General of the United
Nations,
any
Contracting State may
declare that it will
protect broadcasts only
if the headquarters of
the
broadcasting
organisation is situated
in another Contracting
State and the broadcast
was transmitted from a
transmitter situated in
the same Contracting
State.
Such
notification may be
deposited at the time
of
ratification,
acceptance
or
accession, or at any
time thereafter; in the
last case, it shall
relation to the rights
conferred under paragraphs
1, 2 and 3, provide for
conditions,
limitations,
exceptions and reservations
to the extent permitted by
the Rome Convention.
However, the provisions of
Article 18 of the Berne
Convention (1971) shall
also
apply,
mutatis
mutandis,
to the rights of performers
and
producers
of
phonograms
in
phonograms. (Article 14)
200
become effective six
months after it has
been deposited.
(Article 6)
Source :
Data processed by Saidin by comparing the Act number 12 of
1997 with TRIPs Agreement.
Also with the entry of the Article regarding neighbouring right
into the Copyright Law number 12 of 1997 was transplantation result
from Article 14 from TRIPs Agreement which adopted before from
Article 4, 5 and 6 of Rome Convention of 1961. Of course the
transplantation of this TRIPs Agreement was a realization of the
winning of developed countries to the developing countries to put in the
suggestion of neighbouring right protection to the National Copyright
Law in the countries including Indonesia. It is necessary to understand
that TRIPs Agreement is a cooperation break-trough in international
trade which point is that to guard the interest of developed industrial
countries as countries which gave birth to Intellectual Property Right. It
is unimaginable if the broadcasting right or the performance of the
actresses or actors in developed countries being broadcasted through
electronic media, but then the broadcasting right must be paid or at
least the broadcasting must first obtained consent first from the Right
Holder which was in the the category of right which had connection
with Copyright (neighbouring rights). For developed industrial
countries, these kinds of thing were something natural. But for
developing countries, the royalty for paying the neighbouring rights
would be production burden in broadcasting in electronic media. All
this production burdens would be held by broadcasting industry which
in turn would also held by the commercial owner and the commercial
finally would become burden for the society as the consumer of the
products in the commercial. This is what would go on for the sake of
developed countries in order to have protection of the intellectual
property rights in the whole world (at least in the signer countries of
TRIPs Agreement) through each national’s legislation.
Also with the entry of license regarding license as regulated in
Article 21 TRIPs Agreement in Article 38A, 38B and 38C Act number
12 of 1997 was as a prove of Indonesia’s weak position in fighting for
the national interest when facing with developed countries in Uruguay
Round which resulted GATT/WTO Agreement. The following matrix
201
showed the legal norms of TRIPs Agreement which transplanted into
the Act number 12 of 1997.
Matrix 20
Transplantation of TRIPS Agreement into the Act number 12 of 1997
Regarding Copyright License
Substance
Copyright
Substance
TRIPs
Act No. 12 Tahun 1997
Agreement
Licensing and
(1) Copyright Holder is entitled to
Assignment
provide license to another party
Members may
based on license agreement
determine
letter to implement action as
conditions on the
referred in Article 2.
licensing and
(2) Unless promised otherwise, then
assignment of
the scope of license as said in
trademarks, it
paragraph 1 was on all actions
being
as said in Article 2 is on for as
understood that
long as the time period of
license given and enforced for
the compulsory
every territory of Republic of
licensing of
Indonesia.
trademarks shall
not be permitted
(Article 38 A)
and that the
Unless promised otherwise, then the
owner of
Copyright Holder can conduct
a registered
himself or provide license to the
trademark shall
other third party to implement the
have the right to
action as said in Article 2.
assign the
(Article 38B)
trademark with
(1) The license Agreement is
or without the
prohibited to contain provision
direct or indirectly can cause
transfer of the
effect that put Indonesian
business to
economic state to be in vain.
which the
(2) for having legal effect on the
trademark
third
party,
the
license
belongs.
Agreement must be listed in the
(Article 21)
Copyright office.
(3) the license Agreement listing
request that contain provisions
as said in paragraph (1) must be
202
rejected by Copyright office.
(4) further provision regarding the
license, including the listing
method regulated further with
Government Regulation.
(Article 38 C)
Source :
Data processed by Saidin by comparing the Act number
12 of 1997 with TRIPs Agreement.
The interest of developed countries dominantly placed in the
Act number 12 of 1997 which transplanted from Article 21 TRIPs
Agreement. License was reallt attached with the protection of
Intellectual Copyright which connected with investment. Investment
always present in the shape of technology. If technology that invested
would be implemented in one country by one nation, then the
requirements asked by the country that would do the investment was
the security on the Intellectual property Right protection in the country
where the investment being placed. Usually, the ones who need those
investments are the developing countries. When the developing
countries could not provide protection to the Intellectual property
Rights then the investors from developed countries were reluctant to
invest in those developing countries. License is and instrument from
investment that need to be protected. America and other developed
industrial countries had even made important requirement of
Intellectual Property Right for the choice to do investment, as William
C. Revelos 138 stated cited by Agus Sardjono.
The other parts which got addition was more meant to
strengthen or emphasize the need of original element of one work to
obtain Copyright Protection. A work must have typical shape and show
the originality as someone’s creation based on the personal ability and
creativity. In a typical shape, means that the work must have been
realized so it can be seen, listened, or read. Including in definition of
readable thing is the read of Braille alphabet. Because a work must be
realized in typical shape, then the Copyright protection could not be
given just in idea. According to this provision, an idea basically did not
138
William C. Revelos, Patent Enforcement Difficulties in Japan : Are There
Any Satisfactory Solution for the United States, George Wahington Journal of
International Law and Economy, (Vol. 29, 1999), p. 529.
203
obtain any Copyright protection. Because idea has not possessed a
shape which is possible to be seen, listened, or read.
Also, regarding the phrase, “offender”. In this legislation, it is
need to be emphasized that the actual offender phrase was actually base
on the TRIPs Agreement which regulate the neighbouring rights.
Because of that, addition to the definition of offender must be added.
In the definition of performers, the mentioning of actor,
singer, musician and dancer showed the profession which basically
stated some of them whose activity were to perform, act, show, sing,
convey, declaim or to play a creation.
Whereas the definition of voice recording producer is they
who conduct the activity of direct recording on object who publish a
voice or a sound, including they who record voice or voice by
arranging differently, and not only by duplicating the existed recording.
The stated creation meant was in definition of recording institution of
audio, visual, or audiovisual. The broadcasting was for audio, and
audiovisual. The requirements in the shape of legal entity only enforced
for Private Broadcasting Institution.
Beside the addition of material such explained above, in the
Act number 12 of 1997 was also altered from the enforced Act before,
that was Act number 7 of 1987. The alteration can be seen in matrix
below.
Matrix 21
Alteration of Act number 7 of 1987 to the Act number 12 of 1997
Based on Protection Aspect on unknown creator or a creation
Altered
Substance
Protection
on unknown
creator of a
creation
Material of
Articles Act
number 7 of
1987
When
a
creator of a
creation is not
known at all,
then Country
hold
the
Copyright on
that creation
unless proven
Alteration
Material poured in
Articles Act
number 12 of
1997 Materi
(1) If a creation is
unknown of
the creator
and
the
creation has
not
been
published
yet,
then
Country hold
Explanation
Country takes
over
the
Copyright
which Creator
is
unknown,
but the take
over
was
conducted for
the purpose of
204
otherwise.
Article 10 A
Source :
the
Copyright on
that Creation
for
the
purpose of
its creator.
(2) If a creation
has
been
published
but
the
creator
is
unknown or
on
the
creation only
stated
the
false name
of
the
creator, then
the Publisher
hold
the
Copyright on
the creation
for
the
purpose of
the Creator.
Article 10A
the Creator.
Data processed by Saidin by comparing between Act
number 7 of 1987 with Act number 12 of 1997.
The first alteration was regarding protection of the unknown,
in this case, the Country would take over the ownership for the sake of
the Creator which before, the word of “for the sake of the creator” was
not mentioned in Act number 7 of 1987. This alteration was meant to
emphasize the status of Copyright in an unknown work which is not or
has not been published yet, as if the creation is realized. For example,
in written or musical work, the creation has not been published in the
form of book or recording yet. In that case, then Copyright on that work
was held by the Country to protect the Copyright for the purpose for the
Creator, whereas the creation was a published written work, then the
Copyright on that certain Creation was held by the Publisher.
205
The Publisher was also considered as the holder of the
Copyright on the published creation using the false name of its Creator.
By that, a published creation but unknown of the creator or on the
creation only stated the false name of the creator, the publisher stated in
the creation which can prove as the first one to publish the creation,
shall act on behalf of the Creator. This is not applied when the Creator
then stated his identity and he can prove that the Creation was his
Creation.
Matrix 22
Alteration of Act number 7 of 1987 to the Act number 12 of 1997
Based on the exception of Copyright Violation
Altered
Substance
Exception
of
Copyright
Violation
Material on Articles of
Act number 7 of 1987
(1) If a creation was
made in official
relation with
another party in the
working
environment, then
the party which for
and in the official of
the creation done
was the Copyright
Holder, unless there
was another
agreement between
both parties,
without decreasing
the right of the
Creator, as the
Creator when the us
of the Creator was
beyond the official
relation.
(2) If the creation was
made in working
relation with
another party in the
Material of Alteration which
poured in Article of Act
number 12 of 1997
(1) If a creation was made in
the official relation with
another party in the
working environment,
then the party which for
and in the official the
creation was done, was
the Copyright Holder,
unless there was another
agreement between both
parties
without
decreasing the right of
the Creator as the
creator if the use of the
creation
was
made
beyond the official
relation.
(2) Provision as stated in
Article (1) enforced for
Creation
made
by
another party based on
the order made in
official relation.
(3) if a Creation was made in
working relation or based
206
working
environment, then
the party who made
the work was the
Copyright Holder,
except promised
otherwise between
another party.
Source :
on order, then the one
who made the creation
was considered as the
Creator and Copyright
Holder, unless promised
otherwise by both parties.
(Article 8)
Data processed by Saidin by comparing between The Act
number 7 of 1987 and Act number 12 of 1997.
The matrix above added the norm regarding the exception of
Copyright violation. The adding of the provision was to emphasize the
principal that Copyright on a creation made by someone based on
order, for example from the Government, unless promised otherwise,
was held by the Government as the Creator if the Creation was used for
anything beyond the official relation. If there was creation used for the
matter beyond official relation meant to make clear the existence of
Copyright in the matter of the Creation was born or made outside
official relation or based on order. Which means, the creation was made
in the working relation in private environment or made based on order
from private institution with another party or between individual with
individual.
Matrix 23
Alteration of Act number 7 of 1987 to the Act number 12 of 1997
Regarding the Time Period of the Work’s Protection
Altered
Substance
Works’
protection
time period
Material of Articles
in Act number 7 of
1987
(1) Time period of
the enactment of
copyright on the
creation
announced part
by part, counted
started since the
last part of the
announcement
Alteration material poured in Articles
in Act number 12 of 1997
(1) Copyright on creation held or
implemented by nation based on:
a. Provision Article 10 paragraph
(2) item b, enforced in
unlimited time.
b.
Provision
Article
10A
paragraph (1), enforced for 50
(fifty) years since the work
first known by public.
207
date
(2) in appointing the
enactment time
period of the
work’s copyright
which is more
than 2 (two)
versions or more,
also the summary
and news
announced in
printed media in
different time,
then every
version or
summary and the
news each
considered as its
own creation.
(2) Copyright on creation which
implemented by publisher based
on provision of Article 10A
paragraph (2), enforced for 50
(fifty) years since the work first
published.
Article 27A
Article 28
Source :
Data Processed by Saidin by comparing the Act number 7 of 1987
with the Act number 12 of 1997.
The addition of this new provision was meant to clarify the
provision regarding the time period of protection for creations which
Copyright held by the country. The principal was, the creation which
copyright held by nation, provided with unlimited time protection.
Whereas for the creation which Copyright implemented by nation
provided with protection for 50 (fifty) years since the creation known
by society. This provision enforced on creation which author was
unknown. If then the identity of the author was known, or the author
itself then brought forward the identity in 50 (fifty) years after the
creation known by society, then what would be enacted was the
provision of Copyright protection in 50 (fifty) years after the Author
passed away. Also for creation which Copyright implemented by
publisher, the protection lasted for 50 (fifty) years since the creation
first published.
208
Matrix 24
Alteration of Act number 7 of 1987 to Act number 12 of 1997
Regarding the Right and Authority to Accuse
Altered
Substance
Rights
and
Authority
to Accuse
Source:
Material of Article of Act No. 7/1987
Copyright provide right to foreclose
the
goods
announced
which
contradicted the copyright also
unauthorized duplication, with ways
and paying attention on provision
stated for the foreclosure on moving
object both for the handover or for the
suing for the handover so the object
can be in his possession or to accuse
for the object to be destroyed so it
cannot be used anymore. The
Copyright also provide the same right
to foreclose and accuse on amounts of
entry money for attending seminars,
performance, or exhibition which
violate the Copyright.
Article 42 paragraph 1
Alteration
Material poured
in Articles Act
number 12 of
1997
Copyright
Holder
is
entitled
to
propose
compensation
accusation to the
court
on
Copyright
Violation
and
ask for closure
on the object
announced or the
result of the
duplications.
Article
paragraph 1
42
Data processed by Saidin by comparing the Act number 7 of
1987 and the Act number 12 of 1997.
The alteration was meant to simplify the provision and to
emphasize the right of Copyright Holder to propose compensation
accusation. In that event, foreclosure as mentioned in the alteration
must be done by looking at the provision regarding foreclosure of
moving objects as regulated in Private Practical law.
As a matter of fact, the alteration regarding law enforcement
of the Copyright was included in the accusation was one thing
implicated by Article 42 the TRIPs Agreement. TRIPs Agreement was
also emphasizing in Article 43 regarding the verification on Copyright
law violation and it must be poured by the Intellectual property Right
Law of Indonesia. Because of that, TRIPs Agreement emphasized the
209
aspects regarding law enforcement and the Dispute Resolution with the
tools that must be poured by Intellectual Property Right provision
regulated in Indonesian National legislation including Copyright. Tight
law enforcement aspect was one factor that needed to be looked at by
countries that ratified the GATT 1994/WTO. Signer countries of this
convention also need to provide legal enforcement mechanism in the
private practical law. That what was implicated from article 44 TRIPs
Agreement. By that, it can be assured that the compensation accusation
and others that has been discussed by Article 42 paragraph (1) Act
number 12 of 1997 was also the thing implicated by Article 45 TRIPs
Agreement. Also, about the destruction on the objects which was the
result of Copyright violation, also implicated by Article 46 TRIPs
Agreement. Also TRIPs Agreement implicated in Article 50 for the
Court to publish temporary decree to prevent bigger disadvantages for
the Copyright Holder. All provisions in TRIPs Agreement started from
Article 42 to Article 46 and Article 50 were the provisions regarding
law enforcement of Copyright that needed to be transplanted by
National Copyright Law from TRIPs Agreement. Looking at Articles in
Act number 12 of 1997, it can be ascertained that only some of the
Articles in TRIPs Agreement regarding law enforcement that has been
transplanted. But even so, it can be ascertained that Indonesia showed
its compliance dynamic to the provision in TRIPs Agreement and also
proving that the transplant of TRIPs Agreement into the national
Copyright Law has been implemented without seeing the norms
substance in the regime of TRIPs Agreement from the school of
thought of individualism, materialism, and capitalism. If in the later day
the law enforcement of the Copyright do not go in line with the
legislation, that is not merely because Indonesian citizen don’t comply
with the law, but because the legislation did not based on the spirit and
the values adhered by the people of Indonesia. 139
139
Based on the research done by Agus Sardjono, legal culture of Balinese
people differed from the legal norm meant by Intellectual Property Right Law. Legal
Culture of Balinese people based on religious and communal view whereas the regulation
of Intellectual property Right Law in Indonesia adopted the materialistic and bring
forward individual rights. Western communities see that the source in earth was
something that can be exploited whereas Indonesian traditional society see that human is
just the custodian of the source in earth. See further Agus Sardjono, Op.Cit, p. 48-49.
210
Matrix 25
Alteration of Act number 7 of 1987 to the Act number 12 of 1997
Regarding Civil Servants Investigator
Altered
Substance
Civil Servants
Investigator
Source :
Material Articles
Act number 7 of
1987
Certain
Civil
Servants
Investigator
in
Department
of
Justice
provided
special Authority as
Investigator
as
stated in Act number
8 of 1981 regarding
Criminal Practical
Law to conduct
investigation of the
criminal
act
in
Copyright.
Article 47 paragraph
(1)
Substance Material poured in
Articles Act number 12 of
1997
Beside the State Police
officer
Investigator
of
Indonesia, also the Civil
Servant
Investigator
in
departments which duty and
responsibility was to develop
the Copyright, provided with
special
Authority
as
Investigator as stated in Act
number 8 of 1981 regarding
Criminal Practical law to
conduct investigation of
Criminal Act in Copyright.
Article 47 paragraph (1)
Data processed by Saidin by comparing between Act
number 7 of 1987 with Act number 12 of 1997.
Also regarding the provision regarding the mechanism of
criminal law enforcement was also mechanism implicated by TRIPs
Agreement even though the norms associated with that was defined
differently in national Copyright Law in each Country, but the standard
norms that must be fulfilled were regarding provisions of law
enforcement, dispute resolution mechanism and another tools related to
the compensation and the actions in cross retaliation.
The alteration regarding the authority if Civil Servant
Investigators, and the mechanism of duty implementation and the
relation with State Police officer Investigator of Republic of Indonesia,
and public prosecutor, was a provision that implemented by TRIPs
Agreement. Regarding this investigation, it’s important for the
investigators in implementing the duty. So, a confirmation than even
211
though the Civil Servant Investigator in departments which duty and
responsibility was the development in Copyright, provided with special
authority as Investigator, but it will not abolish the function of State
Police officer investigator of Indonesia as the main Investigator. In
implementing its duty, the Civil Servant Investigator was under
coordination and supervision of State Police officer Investigator of
Republic of Indonesia. In this phase the State Police officer Investigator
provide a clear clue technically regarding the shape or form and the
contain of news and also to research the material truth of the news of
investigation. After the investigation finished, the result of the
investigation is to be submitted to the Civil Servants Investigator of
Indonesia which after that is obliged to be delivered to the Public
Prosecutor. This is in line with the principle asserted in Article 6, 7 and
107 of Act number 8 of 1981 regarding Criminal Practical Law.
In this school of thought, the word “through” does not have to
be defined that the State Police Officer Investigator at the time or as
long as the Civil Servant Investigator conduct the investigation. With
that, the principle of speed and effectiveness as desired by the book of
criminal practical law really can be realized.
But in the practice of law enforcement, the Act number 12 of
1997 also not functioned as hoped. The developed countries which first
emphasize the need to aggravate the criminal threats and the need to
prepare the law enforcement mechanism turned out to feel the piracy
activity and Copyright violation was not merely can be stopped with
the perfection of the legal norms. Many reports and information proved
that after the enactment of Act number 12 of 1997, the piracy was
getting worse. Indeed in 2000, Indonesia was ever free from the
Priority Watch List of United States on Intellectual Property Right
Piracy conducted by the people of Indonesia. But in April 2001
Indonesia was back into the blacklist of Copyright piracy.
This condition then became the reason to developed countries
to push Indonesia to re-perfect the Copyright Law which only lasted for
5 years, because at last, the Act number 12 of 1997 must be revoked
and replaced by Act number 19 of 2002. The 5 years period of the
enforcement of the Act number 12 of 1998 was the period where
Indonesia has ratified TRIPs Agreement and adjusted the legislation
with TRIPs Agreement and also prepared for related instruments in law
enforcement, but the things cannot answer that the activity of Copyright
violation or piracy can be stopped or at least quantitatively be reduced.
212
F. Period of Copyright Law Number 19 of 2002 (2002 – 2014)
The experience of Indonesia from time to time in order to
protect and grow the Author’s creativity formed in National Copyright
Law was proving to have many failures. Also when Indonesia was
obliged by developed countries to adjust the national Copyright Law
with TRIPs Agreement, as the “winning result” of developed country
versus developing countries, it turned out that Indonesia which has
subjected to the Agreement to not having any result as hoped for the
protection of Copyright. Specifically on the cinematography works
realized in VCD and DVD.
The question that always questioned in every academician’s
mind which pay attention on the legal aspect of Copyright protection
was why Indonesia kept following the message of developed countries
and kept conducting adjustment of its Copyright Law with TRIPs
Agreement if this option is not giving any benefit for most society of
Indonesia. The obtained answer was very simple. This choice
conducted by Indonesia was a pragmatist choice that was for Indonesia
to not be excommunicated from global trade which expected to cause
benefit for Indonesia in a whole. This was what meant by Joseph
Margolis as pragmatism without foundations.140 Whereas the building
of the Nation of Indonesia has been put in one foundation, that is
Pancasila. 141 But the regulation of the national Copyright Law because
of the pragmatist choice, caused the foundation of Pancasila
abandoned. This is not without the development of the world that runs
today. Indonesia or the world 50 years ago is different with Indonesia
that can be seen or felt today.
One of the actual development and provided with attention in
this decade and the likelihood to still be conducted in the future was
the widespread of globalization in social, economy, culture, or anther
fields. In the field of trade, it is especially because the development of
information and transportation technology has massively grown and
made the world as a single market for all.142 By paying attention on the
truth and the likelihood like that, then it was becoming more
understandable that the claim of need for the regulation for a better
140
Joseph Margolis, Pragmatism Without Foundations, Continium
International Publishing Group, New York 2007, p. 138
141
Kaelan, Negara Kebangsaan Pancasila Kultural, Historis, Filosofis,
Yuridis dan Aktualisasinya, Paradigma, Yogyakarta, 2013.
142
See further Nanang Indra Kurniawan, Globalisasi dan Negara
Kesejahteraan: Perspektif Institusionalisme, UGM, Yogyakarta, 2009. Also see Rahayu
Kusasi, Meracik Globalisasi Melalui Secangkir Kopi, Kepik Ungu, Jakarta, 2010.
213
legal protection. Also some countries counted more on economic
activity and the trade on products resulted on intellectual ability of
human as works in the field science, art, and literary.
The General Agreement on Tariff and Trade/GATT which is a
Multilateral Agreement on Trade which basically has the goal to create
a free trade, similar behavior, and assist to create economic growth and
development to realize human welfare. 143
In the matter of the multilateral agreement, on April 1994 in
Makaresh, Morocco, a package of result of the most complete GATT
ever produced had been agreed. The Discussion that has been started
since 1986 in Punta del Este, Uruguay which was known as Uruguay
Round contained Agreement regarding Trade Related Aspects of
Intellectual Property Rights/TRIPs.
TRIPs Agreement contained norms and protection standards
for human intellectual work and placed international agreement in
Intellectual Property Right as the basis.144 Besides that, the Agreement
also regulates the implementation on law enforcement in Intellectual
Property Right tightly. The messages contained in this Agreement
actually had been transplanted by Indonesia into the National Copyright
Law after Indonesia ratified the Convention regarding the formulation
of World Trade Organization which also contain the Agreement on
Trade Related Aspect of Intellectual Property Right/ TRIPs as verified
with the Act number 7 of 1994 regarding Agreement Establishing the
World Trade Organization. The Ratification on the regulation
supported Indonesia’s membership in Bern Convention for the
Protection of Literary and Artistic Works, as verified with Presidential
Decree of Indonesia number 18 of 1997 in May 7th 1997 and WIPO
Copyright Treaty which also had been verified with Presidential Decree
of Indonesia number 19 of 1997 in May 7th 1997, followed by
implementing the obligation to adjust the national legislation in the
field of Copyright to that international Agreement, so that to support
the activity of national growth, especially by focusing on many
developments and alterations, Indonesia which since 1982 has had
legislation regarding national Copyright which then perfected with Act
number 7 of 1987 and perfected again with Act number 12 of 1997,
needed to alter the Act to adjust with the standards as pointed in the
International Convention. But after the national Copyright Law of
143
See further Mohammad Hatta, Masalah Bantuan Perkembangan Ekonomi
Bagi Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1967.
144
See further Achmad Zen Umar Purba, Intellectual Property Right Pasca
TRIPs, Alumni, Bandung, 2006.
214
Indonesia regulated based on the messages demanded by TRIPs
Agreement which poured in Act number 12 of 1997, it turned out, there
was still things which considered as not appropriate with the will of
developed countries which powered the birth of TRIPs Agreement.
Whereas if compared with the previous Acts, the Act number 12 of
1997 was far more appropriate with TRIPs Agreement. The Act
number 12 of 1997 showed the difference with the previous Acts such
as:
1. The scope of creation which provided with perfected
protection, that was the work of voice recording, was deleted
from the protected works and only provided with protection in
the rights related with Copyright. This was implemented in
order to prevent confusion as if the voice recording was
protected by Copyright and also by Related Rights with
Copyright;
2. Also the database intellectual creation was put in as one of the
creations protected as demanded by WIPO Copyrights Treaty
(WCT), where Indonesia had signed the Agreement;
3. Escalation of time period of the Copyright protection is as
long as the Author lives with addition of 70 years. This was
meant to provide a more passionate vibe for the Authors to
make creation and the Copyright protection on the Author’s
heir, which is longer, beside that to adjust with the likelihood
of international prevalent that protect it more than 50 (fifty)
years.
4. In the matter of Dispute Resolution, this Act has assigned the
settlement by Commercial Court and also another Alternative
Dispute Resolutions such as Arbitration, Mediation, etc;
5. Another thing added in this Act was the introduction of
temporary system decree of the Court as demanded in Article
50 in TRIPs, to enable further prevention of the disadvantages
of the Right Holder, and also keep the interest of party who
subject to the temporary decree of the Court in balance.
6. Another addition was the establishment of criminal threats on
violation of related rights with the Copyright, which in the
previous Copyright Law, the criminal threats only enacted
mutatis-mutandis.
7. The addition of Criminal provision of maximum fine in this
Act was meant to tackle the Copyright violation so the
effectiveness of the action can be realized.
215
8.
The time limit of the process in Copyright handled by the
Commercial Court, this is to provide legal certainty and
prevent the protracted handling of and issue of Copyright
which have a very wide effect in economy and trade.
9. Addition of provision regarding information of electronic
management and technology control tool to be adjusted with
provision in WIPO Copyright Treaty (WCT)
The real job of the legislation institution is actually to create the feel of
justice, legal certainty and biggest welfare to the society, not to create
or shape the law or to give birth or produce as many Act as it can. It is
not the quantity of the legislation that become the target of the job of
legislation institution, but the quality of the born legislations. That is
also the goal that should be after in formulating Copyright Law. The
goal is of course not to fight its own nation. When the Copyright Law
number 19 of 2002 implemented repressively by maximizing the
function and role of the police as investigator, even though the
character of the delict in the legislation was placed as regular delict, not
delict on complain, but with the proactive of the police in conducting
inspection on the pirated works, a lot of pirated VCD/DVD sellers
caught and the pirated works then confiscated.
This activity is potential to “grind” the street vendors who run
this activity daily. Involved stake holders in the business based on the
works of the piracy are also plenty. Starting with the producers of the
pirated works, distributors, sellers, and the consumers. Not all of the
consumers aware that the trade of the pirated VCD/DVD is a criminal
action. What will be the fate of the children of this nation if the Act
number 19 of 2002 is really implemented, because 90% of VCDs and
DVDs circulated in Indonesian market are the result of piracy and it
also means that 90% of the consumers of VCDs and DVDs in
Indonesia were consumers who have potential to be convicted. 145 This
is the Act that was born to declare war to its own nation.
If this keeps going on, there must be something wrong in the
management of this nation. This law or legislation has been amended 4
times and followed by the aggravated of the threat of criminal charges.
But that does not change the situation that the infringement or
Copyright piracy will be decreased or stopped, what will happen is
actually the contradiction, the infringement or Copyright piracy keeps
happening each day. It is increasing.
145
Ibid
216
There is a consideration that the ineffectiveness of the
enactment of Act number 12 of 1997 was because of the weakness of
law enforcement practice and also substantively, the criminal charges
given to the criminal of the Copyright is still too light, so then the Act
was needed to be altered. The substance of the alteration of the criminal
can be seen in this following matrix.
Matrix 26
Alteration of Act number 12 of 1997 to Act number 19 of 2002
Regarding the Criminal Aspect
Alter
ed
Subs
tance
Crim
inal
Aspe
cts
Materials of Articles of Act
no. 12/1997
Alteration Material poured in
Articles Act number 19 of 2002
(1) Anybody, with intention
and
without
right
announcing
or
duplicating a creation or
provide permission for
that, is charged with
imprisonment at most 7
(seven) years and/or fine
at
most
Rp.
100.000.000,(one
hundred
million
Rupiahs)
(2) Anybody with the
intention to publish,
exhibit, spread or sell to
public a creation or
work of the result of a
violation of Copyright
as stated in Article 1,
shall be charged with
imprisonment at most 5
years and/or fine at most
Rp. 50.000.000,- (Fifty
million rupiahs)
(3) Anybody with the
(1) Anybody with the intention
and
without
right
conducting action as stated
in Article 2 paragraph 1 or
Article 49 paragraph 1
shall be charged with
imprisonment
each
at
minimum of 1 month
and/or fine at minimum for
Rp.
1.000.000,or
imprisonment at most 7
(seven) years and/or fine at
most Rp. 5.000.000.000.(five billion rupiahs)
(2) Anybody with intention to
publish, exhibit, spread, or
sell to public a Creation or
the resulted work of
Copyright or Related Right
violation as stated in
Article 1 shall be charged
with imprisonment at most
5 years and/ or fine at most
Rp. 500.000.000,- (Five
hundred million rupiahs.
217
intention to violate the
provision of Article 16,
shall be charged with
imprisonment at most 3
years and/or fine at most
Rp. 25.000.000 (twenty
five million rupiahs)
(4) Anybody with the
intention to violate the
provision in Article 18,
shall be charged with
imprisonment at most
two years and/or fine at
most Rp. 12.000.000,(fifteen million rupiahs)
Article 44
(3) Anybody with intention and
without right duplicating
the use for commercial
intention of a Computer
Program shall be charged
with imprisonment at most
5 years and/or fine at most
Rp. 500.000.000,- (five
hundred million rupiahs)
(4) Anybody with intention to
violate Article 17 shall be
charged with imprisonment
at most 5 (five) years
and/or fine at most Rp.
1.000.000.000,(one
billion rupiahs)
(5) Anybody with the intention
to violate Article 19,
Article 20, or Article 49
paragraph (3) shall be
charged with imprisonment
at most 2 (two) years
and/or fine at most Rp.
150.000.000,(one
hundred and fifty million
rupiahs)
(6) Anybody with intention and
without right violating
Article 24 or Article 25
shall be charged with
imprisonment at most 2
years and/or fine at most
Rp. 150.000.000,- (one
hundred and fifty million
rupiahs)
(7) Anybody with intention or
without right violating
Article 25 shall be charged
with imprisonment at most
2 years and/or fine at most
Rp. 50.000.000,- (fifty
218
million rupiahs)
(8) Anybody with intention and
without right violating
Article 27 shall be charged
with imprisonment at most
2 years and/ or fine at most
Rp. 50.000.000,- )one
hundred and fifty million
rupiahs)
(9) Anybody with intention to
violate Article 28 shall be
charged with imprisonment
at most 5 years and/or fine
at
most
Rp.
1.500.000.000,(one
billion and five hundred
million rupiahs)
Article 72
Sumber : Data Processed by Saidin by comparing the Act number 12
of 1997 with Act number 19 of 2002.
Furthermore in the general explanation, the alteration of this
Act was mentioned with the basis of thought which was as the
background of the need to adjust the Indonesian Copyright Law with
the results achieved in GATT Agreement 1994/WTO. The following
explanation was taken from the general explanation of Act number 19
of 2002.
Indonesia as island country has various richness of arts and
cultures. This is in line with the various ethnics, tribes, and religion,
which in whole, was a national potential that need to be protected. The
richness of art and culture was one of the sources of intellectual
property that can and need to be protected by law. The richness was not
merely for the art and culture itself, but can be used to accelerate the
ability in trade and industry which involve the Creators. By that, the
richness of art and culture that is protected can accelerate the welfare,
not only for the Creator, but also to the nation and the country.
Indonesia has participated in the world’s society by becoming
the member of Agreement Establishing the World Trade Organization,
also Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property
Rights, furthermore called by TRIPs, through Act number 7 of 1994.
219
Besides that, Indonesia also ratified Berne Covention for the Protection
of Artistic and Literary Works through Presidential Decree number 18
of 1997 and World Intellectual Property Organization Copyrights
Treaty, which is called WCT, through Presidential Decree number 19
of 1997.
This moment, Indonesia already had Act number 6 of 1982
regarding Copyright as altered with Act number 7 of 1987 and finally
altered with Act number 12 of 1997 which furthermore called with
Copyright Law. Even though it contained some of Article adjustments
which in line with TRIPs, but there was still some of the things that
need to be perfected to provide protection for intellectual works in
Copyright, including the effort to improve the intellectual work
development which derived from the various arts and cultures as
mentioned above. From some conventions in Intellectual property
Rights mentioned above, there were still some provisions which should
have been utilized. Besides that, we need to emphasize and see the
place of Copyright in one party and Related Right in another party in
providing protection for certain clearer intellectual works.
The explanation above became the basis to alter Copyright
Law number 12 of 1997 with Copyright Law number 19 of 2002. That
was realized because of the richness of art and culture, and the
development of intellectual ability development of the society of
Indonesia needed a fair legal protection so a good and healthy business
competition vibe needed in implementing national development can be
provided.
Some provisions of TRIPs Agreement that transplanted into
the Act number 19 of 2002 can be seen in the matrix below:
Matrix 27
Transplantation of TRIPs Agreement into the Act number 19 of 2002.
Article TRIPs
Article 10
1. Computer programs, whether in
source or object code, shall be
protected as literary works under
the Berne Convention (1971).
2. Compilations of data or other
material, whether in machine
readable or other form, which by
reason of the selection or
arrangement of their contents
Articles of Act No. 19 Tahun 2002
Article 12
(1) In this Act, the protected Work
shall be the Works in the field of
science, art, and literary, which
are:
a. books, Computer Program,
pamphlet, lay out, published
written works, and all kinds of
written works;
b. seminar, lecture, speech, and
220
constitute intellectual creations
shall be protected as such. Such
protection, which shall not extend
to the data or material itself, shall
be without prejudice to any
copyright subsisting in the data or
material itself.
Article 11
In respect of at least
computer
programs
and
cinematographic works, a Member
shall provide authors and their
successors in title the right to
authorize or to prohibit the
commercial rental to the public of
originals or copies of their copyright
works. A Member shall be excepted
from this obligation in respect of
cinematographic works unless such
rental has led to widespread copying
of such works which is materially
another alike Creations;
c. props made for the interest of
education and science;
d. songs or music with or without
text;
e. drama or musical drama, dance,
choreography,
puppetry,
pantomime;
f. art in any form such as painting,
drawing, picture, sculpture,
calligraphy, plastic art, collage
and applied art;
g. architecture;
h. map;
i. batik art;
j. photography;
k. cinematography;
l.
translation,
commentary,
adaptation, collected poem,
database and another works
resulted from adaptation.
(2) Creations as stated in item f
protected as its own creation
without decreasing the Copyright
on the real Creation.
(3) the Protection as stated in Article
(1) and Article (2), including all
Creations which not or not yet to
be published, but already in a one
unity of form, which enable the
Duplication of the works.
Article 2 paragraph 2
(2) the Author and/or Copyright
Holder on cinematography and
Computer Program have the right
to provide consent or prohibit
anyone whom without the consent
rent the Creation for commercial
purpose.
221
impairing the exclusive right of
reproduction conferred in that
Member on authors and their
successors in title. In respect of
computer programs, this obligation
does not apply to rentals where the
program itself is not the essential
object of the rental.
Article 12
Whenever the term of protection of a
work, other than a photographic work
or a work of applied art, is calculated
on a basis other than the life of a
natural person, such term shall be no
less than 50 years from the end of the
calendar
year
of
authorized
publication,
or,
failing
such
authorized publication within 50 years
from the making of the work, 50 years
from the end of the calendar year of
making.
Article 30 and Article 29
Article 29
(1) Copyright on Creation:
a. book, pamphlet, and all other
written works;
b. drama or musical drama,
dance, choreography;
c. all kinds of arts, such as
painting, sculpture, and plastic
art;
d. batik art;
e. song or music with or without
text;
f. architecture;
g. seminar, lecture, speech and
another alike Creations;
h. Props;
i. Maps;
j.
translation,
commentary,
quotation,
and
collected
poems enacted as long as the
Author loves and until 50
years after the Author’s death.
(2) For the Creation as stated in
Article (1) which possessed by 2
person or more, the Copyright
enacted as long as the life of the
last dead Author and enacted until
the 50 years afterwards.
Article 30
(1) Copyright on Creations:
a. Computer Program;
b. Cinematography;
c. Photography;
d. database; and
e. Adaptation works, enacted for
222
50 years since first announced.
Copyright on adaptation of
written works published enacted
fpr 50 years since first published.
(3) Copyright on Creation as stated in
paragraph (1) and paragraph (2) in
this Article and Article 29
paragraph (!) possessed or held by
a legal entity enacted for 50 years
since first announced.
(2)
Article 14
1. In respect of a fixation of their
performance on a phonogram,
performers
shall
have
the
possibility of preventing the
following acts when undertaken
without their authorization: the
fixation
of
their
unfixed
performance and the reproduction
of such fixation. Performers shall
also have the possibility of
preventing the following acts
when undertaken without their
authorization: the broadcasting by
wireless
means
and
the
communication to the public of
their live performance.
2. Producers of phonograms shall
enjoy the right to authorize or
prohibit the direct or indirect
reproduction of their phonograms.
3. Broadcasting organizations shall
have the right to prohibit the
following acts when undertaken
without their authorization: the
fixation, the reproduction of
fixations, and the rebroadcasting
by wireless means of broadcasts,
as well as the communication to
the public of television broadcasts
of the same. Where Members do
not grant such rights to
broadcasting organizations, they
Article 49
(1) Offender have the exclusive right
to provide consent or prohibit
another party which without the
consent make, duplicate, or
publish the sound recording
and/or the picture performance.
(2) the sound recording Producer
have the exclusive right to
provide consent or to prohibit
another party who without the
consent duplicate and/or rent the
recording or sound recording.
(3) The Broadcasting Institution have
the exclusive right to provide
consent or prohibit another party
who without the consent make,
duplicate, and/or re-broadcast
with transmission with or
without cable, or through another
electromagnetic system.
223
shall provide owners of copyright
in the subject matter of broadcasts
with the possibility of preventing
the above acts, subject to the
provisions
of
the
Berne
Convention (1971).
4. The provisions of Article 11 in
respect of computer programs
shall apply mutatis mutandis to
producers of phonograms and any
other right holders in phonograms
as determined in a Member’s law.
If on 15 April 1994 a Member has
in force a system of equitable
remuneration of right holders in
respect
of
the
rental of
phonograms, it may maintain such
system
provided
that
the
commercial rental of phonograms
is not giving rise to the material
impairment of the exclusive rights
of reproduction of right holders.
5. The term of the protection available
under
this
Agreement
to
performers and producers of
phonograms shall last at least until
the end of a period of 50 years
computed from the end of the
calendar year in which the fixation
was made or the performance took
place. The term of protection
granted pursuant to paragraph 3
shall last for at least 20 years from
the end of the calendar year in
which the broadcast took place.
6. Any Member may, in relation to
the rights conferred under
paragraphs 1, 2 and 3, provide for
conditions, limitations, exceptions
and reservations to the extent
permitted
by
the
Rome
Convention.
However,
the
provisions of Article 18 of the
Berne Convention (1971) shall
also apply, mutatis mutandis, to
224
the rights of performers and
producers of phonograms in
phonograms.
Source :
Data Processed by Saidin by comparing the TRIPs Argreement and
Act number 19 of 2002.
Copyright stands for economic rights and moral rights.
Economic rights is the right to be provided by economical benefit on
Creation ad related right product. Moral right is the right attached to the
Author or Performer which cannot be destroyed or deleted with any
reason. Even though the Copyright or Related Right had been
transferred.
The Copyright Protection shall not be given to an idea or
suggestion because a copyrighted work have to had a typical form,
personal and show its originality as a Creation born based on ability,
creativity, or skill, so that the Creation can be seen, read, or heard.
This Act contains some of new provisions such as:
1. Database is one of the protected Creations;
2. The use of any tools, both with cable or without cable, including
internet media, to show the products of optical disk through audio
media, audio-visual media and/or telecommunication tools;
3. Distpute resolution by Commercial Court, arbitration, or
Alternative Dispute Resolution;
4. Temporary decree of the Court to prevent greater damage of the
Right Holder;
5. The limit of processing time in the field of Copyright and Related
Right, both in Commercial Court or in Supreme Court;
6. The attachment of information right of electronic management and
technology control tools;
7. The attachment of supervision mechanism and protection of the
products using the high-technology production tools.
8. Criminal threat on the Related Right violation;
9. Criminal threat on minimum fine;
10. Criminal threat on duplication of the use of Computer Program for
commercial purpose un-legally and unlawful.
Unfortunately, this alteration emphasize more on criminal
aspects. As explained before, the Criminal aspects will place
Indonesian society in lower rate culturally. Because only by
aggravating the criminal threat, the level of obedience can be achieved.
This understanding, positioned Indonesian society back to the past,
225
when humans were becoming wolf for one another such as brought
forward by Thomas Hobbes. Human would prey on one another as a
wolf (homo homoni lupus). To limit the action of the wolf, then a
bigger legal threat is becoming one option. It seemed like the legislator
still chose the option. Whereas there are another very important options
which needed to be given attention more that are morality, cultural
aspect, religious aspect which should have been pored in preamble of
the enactment of Act number 19 od 2002. If compared with the
previous Acts, the preamble of Act number 19 of 2002 was dry in
philosophical values. The matrix below would clarify that kind of
understanding.
Matrix 28
Basis of Legislation in enacting the Act number 12 of 1997 and
Act number 19 of 2002
Preamble
Act No. 6/1982
a.
that in the
event
of
developmen
t in law as
stated in the
Broadline
of
the
Nation,
(The
Decree of
the
Representat
ives
number
IV/MPR/19
78) also to
push
and
protect the
creation
and
the
publication
of
the
culture in
the field of
Preamble
Act No. 7/1987
a.
that
the
provided
protection to
Copyright
basically
meant as an
effort
to
realize better
vibe for the
growth
and
development
of passion to
create in the
field
of
science,
art
and literary;
b. that in the
middle of the
activity
in
national
development
implementatio
n which is
accelerating
especially in
Preamble
Act No.
12/1997
a. that with the
acceleratin
g
developme
nt of life,
especially
ij economy
in national
or
internation
al,
the
provided
legal
protection
should be
improved
in
Intellectual
property
Rights
especially
in
Copyright
in realizing
better vibe
Preamble
Act No.
19/2002
a.
that
Indonesia
is
a
country
with
various of
ethnics/tri
bes
and
culture
and
richness in
art
and
literary
with the
developm
ents which
needed
protection
of
Copyright
on
the
Copyright
ed works
born from
those
226
the science,
art,
and
literary and
to
accelerate
the
developmen
t of the
nation
intelligence
in
the
Republic of
Indonesia
based
on
Pancasila
and
the
Constitutio
n
then
Copyright
Law is need
to
be
regulated;
b.
that
based
on
the thing =s
in item a
above, then
the
regulation
of
Copyright
based
on
Auteurswet
1912
Staadblad
number 600
of
1912
need to be
revoked
because the
inappropriat
e with the
science,
art
and
literary,
the violation of
Copyright is
also
developing.
Especially in
criminal
piracy;
c.
that
the
Copyright
violation has
reached a very
dangerous rate
and
can
damage
the
living system
of
society
especially the
passion
to
create;
d. that to handle
and stop the
violation
of
Copyright, it is
necessary to
alter
anand
perfect some
provisions in
the
Act
number 6 of
1982 regarding
Copyright;
to
the
growth and
developme
nt to create
in the field
of science,
art
and
literary
which
is
very
needed in
the
implement
ation
of
national
developme
nt which
goal is to
create
a
justice,
fair,
developed
and
independen
t
Indonesian
society
inline with
Pancasila
and
Constitutio
n of 1945;
b. that with the
acceptance
and
the
membershi
p
of
Indonesia
in
the
Agreement
on Trade
Related
Aspects of
Intellectual
Property
b.
c.
various
kinds of
ethnics
and tribes.
that
Indonesia
has been
the
member
of various
Interantio
nal
conventio
ns/
agreement
s
in
Intellectua
l property
Rights in
common
and
Copyright
in specific
which
need
implement
ation more
in
the
national
legal
system;
that the
developm
ent
in
trade,
industry,
and
investmen
t
has
grown so
fast that
need more
protection
on
the
Creator
227
need
and
legal goal
of
the
nation.
Rights,
including
Trade
in
Counterfeit
Goods/TRI
Ps which is
part of the
Agreement
Establishin
g
the
World
Trade
Organizati
on bahwa
dengan
penerimaan
as verified
by
the
Legislation
, continued
with
implementi
ng
the
obligation
to
adjust
the national
legislation
in the field
of
Intellectual
Property
Right
including
Copyright
on
the
internation
al
Agreement
;
c. that based on
considerati
on
as
mentioned
in item a,
b, and by
and
Related
Right by
paying
attention
on
society;
d.
that by
paying
attention
on
experience
in
implement
ing
the
existed
Copyright
Law, it is
necessary
to set the
Copyright
that
replace
the
Act
number 6
of
1982
regarding
Copyright
as altered
with Act
number 7
of
1987
and finally
altered
with Act
number 12
of 1997;
e. that based on
considerat
ion
as
mentioned
in item a,
item
b,
item
c,
and item
228
paying
attention
on
the
judging of
any
experience,
especially
the
weakness
of
the
implement
ation
of
Copyright
Law,
it
seems
necessary
to alter and
perfect
some
provisions
of
Act
number 6
of
1982
regarding
Copyright
as altered
with
Act
number 7
of 1987 by
laws.
Source :
d,
a
Copyright
Law
is
necessary;
Data Processed by Saidin by comparing the Act number 6 of 1982
with the Act number 7 of 1987, Act number 12 of 1997 and Act
number 19 of 2002.
Only the preamble in Act number 6 of 1982 contains the
philosophical considerations. Beside referring juridically to the
Constitution of 1945 also paying attention on political basis of TAP
MPR Number IV/MPR/1978 which also contained the suggestion of
goal of national legal development, preamble contained in the next
Copyright law was dry from the philosophical values of juridical values
which becoming the basis of political policy in regulating national law.
The missing thing from the legislator was by putting in the provision of
229
transitional Article contained in Article 74 Act number 19 of 2002 that
are:
With the enactment of this Act, all legislation in the field of
Copyright existed on the enactment date of this Act, shall be
enforced as long as not contradicting or has not yet replaced
with the new one based on this Act.
And the closing provision of Article 77 Act number 19 of 2002:
With the enactment of this Act, the Act number 6 of 1982
regarding Copyright as altered with Act number 7 of 1987 and
last altered with Act number 12 of 1997 shall be stated as
outdated.
If this two Articles to be connected, then there would be two
provisions enacted by now. First the Act number 19 of 2002 and
second the Auteurswet 1912 Stb. No. 600. The Copyright Law resulted
in independence time of Indonesia was stated to be outdated through
the closing provision Article 77 Act number 19 of 2002 whereas the
enactment of Auteurswet 1912 Stb No. 600 was enacted again based on
the provision Article 74 Act number 19 of 2002. The Consequence was
that all the preambles contained in Act number 6 of 1982, Act number
7 of 1987, or in Act number 12 of 1997 were outdated and that means
the very strong philosophical basis contained in the Act number 6 of
1982 was also not to be enforced anymore. In this matter, a philosophy
question occurred: what kind of philosophy that powered the national
Copyright Law enforced today? If the answer is searched in Act
number 19 of 2002, it will not be found. If that is the case, then it can
be assured that the National Copyright Law today is an Act which no
longer leave any school of thought, values, philosophical basis of
Pancasila as the basis of ideology in the legislation formulation.
Besides that, in the law enforcement, in the period of the
enforcement of Act number 19 of 2002, it was listed that the piracy on
cinematography could not be stopped even though with a severe
criminal threat in the provision of the Act. In the period of 2012,
according to Wihadi Wiyanto, the local recording industry has
experienced disadvantage for Rp. 246,40 billion on the piracy of
Digital Video Disk.146
146
Wihadi Wiyano, General Secretary of Indonesia Video Recording
Association (ASI REVI), in the Tempo Newspaper on 8 March 2003.
230
The piracy on cinematography work has been in a very
dangerous state, because 9 of 10 products of DVD in the market were
the result of piracy which means that 90% of cinematography work
spread in the market resulted by optical illegal media. This was what
owned the cinematography market in Indonesia. Furthermore, Wihadi
Wiyatno stated:
The disadvantages value of the piracy of the film software is
elevating from year to year started since 1995, that was when
the Video Compact Disc product entered Indonesia. The result
was, not only the film industry and video industry that
experienced disadvantages but also the cinema industry
because the society chose to buy pirated VCD or DVD than to
watch the film in theatre.
The massive piracy of VCD or DVD in or nation, made the
theatre in many territories in Indonesia closed, starting with
3000 theatres to only 600 theatres. “if the pirated DVDs are as
many as the pirated VCDs, it will be not impossible that there
will be only 10 surviving theatres”
One of the many reasons of the massive piracy of VCD and
DVD was that the legal enforcer did not commit any legal
action as stated in the existed Act. The Sanction brought
forward to the offender was only as far as trial sanction.
Legal enforcement connected with the issue of piracy in
Indonesia could not be believed in, because the legal enforcer
did not commit any serious legal action. Because of that ASI
REVI chose to take its own step by committing campaign antipiracy to reduce the DVD piracy. 147
The piracy on cinematography work not only happened in
Indonesia, but also on many territories of the world especially in Asia
Pacific like India, Korea, Malaysia, and Singapore.
Michael C. Ellis, the Vice President and Regional Director of
Asia Pacific for Anti Piracy Motion Pictures Association Operation
stated: it has been done a campaign program of anti international piracy
in eight countries in Asia Pacific and has been managed to foreclose six
million pieces of pirated DVD in Asia Pacific Countries (including
Indonesia) or 87% of the foreclosed pirated DVD in the whole world.
In 2001, they foreclosed 5 million pieces. All the pirated works was
made in Asia Pacific territory, and in the other side for internal case in
147
Ibid.
231
Indonesia, Gunawan Suryomurcito concluded that the crime of piracy
on cinematography works conducted in group and it cannot be detached
from the factor that in both countries where the piracy conducted this
whole time such as in Hong Kong and Malaysia started to tighten the
legal rules regarding piracy. Gunawan Suryomurcito stated:
The piracy in Indonesia was a criminal conducted in group.
The Piracy in Indonesia was worse because of the condition in
other countries like Hong Kong and Malaysia which tighten
their legislation regarding piracy. Because of that, the pirates
then moved to Indonesia and build a specific industry to
produce pirated products, including DVD. The crime was
conducted so organized that it was so hard to be eradicated.
The weak legal enforcement became the reason of the
hardship in eradicating piracy. Besides that, the existence of
un-similar perception in legal enforcers and the regulation in
Indonesia which was designed for law, became one of the
reasons of the hardship in handling the piracy.
The weakness of legal enforcement made the Copyright
Holder must be active to take his own legal step. The legal
enforcers themselves are still in doubt in acting proactively
even though the Copyright violation was in regular criminal
action.
Whereas, the result of the piracy, the disadvantaged party not
only the local producer who must pay the royalty to the film
studio abroad, but also local producer who produce film
himself in the country. This disadvantage can cause the film
industry to lose investment and make the society lose their
chance to have a job.
Those kinds of consideration would still stain the legal enforcement of
Copyright in this country. The history has listed in the enforcement
time of 5 Copyright Law in this country, the aspect of Copyright
violation still cannot be stopped. There must be something wrong in the
choice of legal policy both in the formulation of the legislation and in
the implementation. To leave the values, which was believed as the
value that brought power to Indonesia, which was contained in
Pancasila as the ideological basis of the formulation of the Law, was
probably one reason why the legal enforcement of Copyright Law
cannot be realized. The indifference of cultural values as the original
paradigmatic value of Indonesia culture and society was also one factor
232
which need to be observed in the process of Copyright Law legal
enforcement.
G. The Period of Copyright Law Number 28 of 2014 (2014 –now)
Copyright, a terminology used by the countries which adhere
the Anglo Saxon legal system, auteursrechts, a terminology used by
Netherlands ( a country which introduce the Continental Europe legal
system in Indonesia) to stated a phrase regarding Copyright. Copyright
which since the beginning introduced in Indonesian legal terminology
was not a legal norm that born from the Indonesian civilization in the
meaning as a product of original immaterial culture of Indonesian
society. Copyright introduced today in Indonesian legal terminology
was not a field that was based on the original paradigmatic values of
Indonesian culture and society. Legal norms or rule recognized in
Indonesian legal system today is based on foreign law. The entry of
copyright law in Indonesian legal system was from Colonialism politic,
that was concordance legal politic enacted by Dutch Colonialist
Government by enforcing Auteurswet, contained in Staat blad number
600 of 1912 in the Dutch Indies (it was Indonesia that time, now it is
called Suriname). In the journey post-independence, the regulation
regarding Copyright in Indonesia refer to the choice of transplantation
legal policy, that was to attach the foreign law into the law in
Indonesia.
That choice of legal policy often failed, both in basic policy
system, and in enactment policy system. Those failure caused by a lot
of factors, among others, is the basic policy system, because the
legislative institution in Indonesia was failed to apply the Pancasila
ideology as the basic of legal future goal in the establishment of legal
norms in Indonesia. Indonesian legislative was incapable to understand
legal aspiration in the meaning of law that is living in the middle of
Indonesian society. The National Legislative Institution was not really
undertaking its duties and functions in order to respond the folkgeist
which becoming the basic (grundnorm) of the establishment of legal
norms in Indonesia. This fact at last, set the legal norm of Indonesian
Copyright which implemented in four times amendment of Indonesian
Copyright law, to be rejected in law enforcement system or enactment
policy system.
It is often in the making of Copyright law, and also the other
law, the process is often running on the deadline. A legislation project
that has to be done in a meeting that agreed by them who sit in the
233
parliament (legislative institution). Because of that this law is seen to
be forced to born.
The terminology used in the law is inconsistent with scientific
formulation. For instance, copyright is a work in the field of art and
literature, or in the basic terminology is : scientific, artistic work,
literary works 148 or in the Auteurswet terminology the terminology
used were wetenschap (scientific), kunst (art) and literatuur
(literary). 149
But in the Act number 28 of 2014, in the preamble in the part
of preview, item b stated that “ the development of science, technology,
art, and literary is so rapid that needs an uplift in the protection and
guarantee of legal certainty for the Author, Copyright Holder, and
Related Right owner”. In that preamble, suddenly the word
“technology” was included between the word “science” and “arts and
literary”. It is true that there is some progress in the field of technology,
but it is not the basic of consideration to confine the copyright law,
because the copyright has been limited to a scope of science, art, and
literary.
When the science is being applied to technology activities,
then a new Intellectual Property Right that was born was patent,
industrial design, variety of plants, layout design integrated circuits.
The written science in the journal research report, a book that is made
as reference which became a source of scientific information. If the
research report, journal or book was only kept in a library or used as
information source, then it is protected with Copyright. But, if the
result of the research in the field of mechanic engineering which
explain how to make a vehicle powered with solar system. And then
that invention is implemented in technological activity and in the
making of the form of the vehicle as a solar vehicle, then the invention
will be protected with Copyright as Industrial Property Right that is
Patent. So is when a science or a result of a research in the field of
agriculture explains about the system to obtain a new variety of plant, if
the research only used as information source, then the result is only
protected as Copyright. But when the research is applied in
technological activity of plant breeding, then the new Copyright will be
148
Berner Convention for the Protection of Literary and Artistic Works, 9
September 1886 completed at Paris on May, 1896 revised at berlin on November 13,
1908, completed at Berne on March 20, 1914 and revised at Rome on June 2, 1928, at
Brussels on June 1948, at Stockholm on July 14, 1967 and at Paris on July 1971, Article
2
149
Auteurswet Staatblad 1912 No. 600, 23 September 1912, Article 1
234
born, that is the protection of new Plant Variety. So is when a line,
picture, color, or combination of line, picture or color poured on a
paper, then it will be protected as Copyright, but if it is applied in
technological activity which confine a two or three dimensional object,
a new Copyright, that is Industrial Design Right is born.
By that, it is not right to include the term “technology” in the
preamble item b in the part of preview in Act number 28 of 2014. It
proves the inconsistency and the ignorance of the legislator about
copyright terminology conceptually which refer to the scientific
academic basis.
In the journey of the making of Copyright law number 28 of
2014, the legislators put their consideration based on the participation
of Indonesian in the membership of International Convention in the
field of Copyright (Berner Convention 1967, TRIPs Agreement 1994)
and Related Right (Rome Convention 1961). The consideration refers
to the foreign legal instrument caused the law regulation of copyright
always incompatible with the development of law and the need of law
by the society , because the demand of the countries in the world still
want that their copyright to be protected well with Indonesian legal
instrument. That is why the Indonesian Copyright law, gradually, is
having alteration.
That alteration, is not just about the substance, but also
regarding the ideology. Even though it has been asserted that the last
alteration of Copyright Law was meant to answer the mandate poured
in the Indonesian Constitution of 1945, but the deviation to the
Pancasila ideology is seen more. This thing can be proved from the
amount of Articles contained in this Act mentioning the term
“economic right”. Of course the phrase economic right was deemed to
the platform of economic theories developed by Capitalist countries.
The approach used in international conventions related to the copyright
protection deemed to economic liberalization and it is contradicting
with the economic principle of Indonesia which based on Pancasila
with the platform of togetherness. Even so, the together life system in
globalization era with bilateral and multilateral cooperation both in and
outside of ASEAN cannot be a reason to release the constitutional
responsibility by abandoning the economic values of Pancasila.
However, the goal of the legislator related to the field of economic
should accelerate the achievement of national future goal as mentioned
in Article 27 paragraph 2 Indonesian Constitution of 1945. The
cooperation in free market globalization should not be the loss of
Indonesia, or the scarification of the national sovereignty by choosing
235
the basis of liberal capitalist ideology in formulating the Indonesian
Copyright Law as happened in the making of Copyright law number 28
of 2014.
The Copyright law should choose the sustainable paradigm
which first oriented to the growth of the economic and a more equitable
division from economic sources resulted from the growth to be oriented
to development paradigm to accelerate the dignity of human life
(Author), meaning the development is not only for the acceleration of
economical value, but also to accelerate the socio-cultural value. In this
perspective, the law that must be developed must contain not only “to
have more” but also “to be more”. The legal development must refer to
a new definition that is to accelerate the ability of the Author, because
of that the making of Copyright Law is not only to fulfill the need of
society in science, art and literary but also to be much further meant to
achieve the right on the other Intellectual property such as patent,
industrial design, new plant variety and integrated circuits which push
the expansion of job opportunity. The development of Copyright law
was demanded to provide pride, national glory to give sacred meaning
to the nationalism in strengthening Indonesian economic with our own
power and ability.
By emphasizing the protection of economical right principal in
the Copyright Law number 28 of 2014 means that the legislator still
referred to old paradigms. It is time for the old paradigms to be
abandoned which put the human as homo-economicus to homohumanus, homo- socius, homo religious and homo-magnificus. To
emphasize the Copyright as economic right as regulated in Copyright
Law number 28 of 2014 is to clarify the position of human as economic
creature and to position ourselves as individual agent which is in the
center of neoclassic economic theory (mainstream neoclassical
economics) which is materialistic, without emotion, hedonestik,
egoistic and rationally search for maximum economic utility which is
centered to self-interest.150 This concept is growing stronger in the Act
number 28 of 2014 with the Article 24 which stated:
(1) Phonogram producer has economic rights.
(2) Phonogram Producer economic rights referred to paragraph (1)
includes the right to implement itself, give permission, or prohibit
others to do:
a. Duplication the Phonogram in any manner or form;
150
See further M. Teresa Lunati, Ethical Issues in Economics : From Altruism
to Cooperation to Equity, Mac Millan Press, London, p. 139 – 140.
236
b. Distribution of the original or a duplicate of Phonograms;
c. Rental to the public of a duplicate of Phonogram; and
d. Provision on Phonogram with or without wires which is
publicly accessible.
(3) Distribution as referred to paragraph (2) item b, shall not apply to
duplicates of fixation on performance that have been sold or that
have been transferred by Producer of Phonogram to another party.
(4) Every person conducting Phonogram producer economic rights
referred to paragraph (2) must obtain permission from the
Phonograms Producer.
If in the Act number 19 of 2002 in Article 2 paragraph 2
stated: the consent only necessary for the leasehold of cinematography
work and computer program but in Article 24 assert and expand the
consent is required on phonogram work. The other Article such as
Article 23 is also providing similar confirmation for performances
work. Article 12 is for Portrait work.
Beside the suppression of the Copyright as an exclusive right
which consist of moral right and economic right, Act number 28 of
2014 is also contain criminal provision with a fine penalty which assert
more on economic aspect that is with a fine for 1 billion, 4 billion even
though the fine is defined as a maximum fine. But it can be understood
that economic calculation is still made as a reference in criminal law
enforcement on copyright infringement.
Globalization is of course not causing Indonesia to lose its
passion to fight for its national matters. Nationalism, as Sri Edi
Swasono151 mentioned, is never outdated. Nationalism is still becoming
the identity of each individual of Indonesia. Nationalism is national
pride. A fading nationalism would fade the identity and weakening the
national pride. Nationalism took its shape on various attitude and
behavior.
Indonesian Nationality is facing global challenge as the
product of globalism. Globalism is an idealism to bear the spirit of the
nation unity to maintain the togetherness in living in the world by
maintaining the preservation on earth and to live together. But
globalization often deviated from the pure goal of globalism. That is
what happen when the countries in the world gathered in WTO which
led to the ratification of General Agreement Tariff on Trade which
151
Sri Edi Swasono, Menegakkan Demokrasi Ekonomi : Globalisasi dan
Sistem Ekonomi Indonesia, Scientific Oration on 62nd Dies Natalis USU, Medan, 20
August 2014 p. 20 - 21
237
contain the instrument the agreement trade related aspect of intellectual
property rights which afterward become the reference for the member
countries to regulate the Copyright law in each countries including
Indonesia which in the field of Copyright had been amended repeatedly
in order to fulfill the demand of industrial countries that powered the
establishment of GATT 1994. Now Indonesia must wait and see how
the Law number 28 of 2014 being enforced.
H. Analysis and Invention
In the time of Auteurswet 1912 was being created, there was
no one that could be blamed in this Republic, since this wet was not
arranged by the House of Representatives and Indonesian government,
but by the Dutch colonialism government. The situation that time was
so dynamic. The warriors were still preoccupied by the struggle to unite
this country. The Dutch East Indies government was still believed in
the effort to take control of the colony, because of that, the enactment
of the origin law from their country was a good option which was
already considered from the beginning.
Although the manuscript of Proclamation and Constitution of
Republic Indonesia implied that Indonesia had to arrange its own legal
system, a legal system which is derived from the ideology of Pancasila,
a legal system which is based on the original paradigmatic value of
Indonesian culture and society, but the first choice of legal policy, was
to continue in using the Dutch colonial law legacy. This choice of legal
policy, confirmed in the Constitution of Republic Indonesia in an
Article in the Transition Law, that is Article II.
Whether feeling comfortable in using this law, or probably the
law itself has united with this nation, or probably because of human
error in forgetfulness or idleness or indifference, finally Auteurswet
1912, has been enforced for 37 years post-independence, or 70 years in
total in this land of Indonesia.
The desire, to possess our own copyright law, has actually
appeared in 1951. It was in the second National Culture Congress in
Bandung. This Congress was invented the term “Hak Cipta”. The term
has been achieved, but the law is yet to be applied to replace the legacy
from Dutch East Indies. The next proposal appeared when the
Organization of Indonesian Authors was having suspense about the
fragility in the protection of the authors’ rights. The suspense was
getting worse because quantitatively, literature from Indonesian author
were very few, the poorness of economical life of the authors and a low
awareness on the importance of Indonesian culture. This organization
238
was also contributed in the making of copyright law manuscript, which
was encouraged by the Minister of Justice in the following days.
The next phase of the history was in approximately 19561959, when a council that was given a responsibility to draft the
constitution, named KONSTITUANTE, was in an assembly, there was a
developed idea to propose the material about copyright protection to be
contained in the constitution. But before the proposal was completed,
the council of Konstituante was being dismissed when the Presidential
Decree was published on 5th July 1959.
18th December 1958, was the reign of piracy in copyrights
and book publishing. Until finally the organizations which related to
the world of authors and publishing, which were united in assembly
deliberation of literature (Majelis Musyawarah Lektur) which consisted
of; OPI, GN, PTBI, GIBI, and IKAPI, published a statement and
declaimed all kinds of copyrights piracy. Although there was no effect
from that movement, but the history recorded that the movement has
already given a sufficient influence and contribution in the making of
copyright law manuscript in the following days.
Whether what atmosphere was in Indonesian political world
after the year of 1958, it can be assured that Indonesia signed out from
the membership of Bern Convention, a convention that gave a
copyright protection for its members. The reason was, Indonesian
membership that time, was the continuance of Dutch membership in
that convention. Politically, Indonesia wanted to let all of the Dutch
political hegemony go, in connection with the return of West Irian.
Juanda, who led the ministry cabinet that time, decided to sign out from
Bern Convention, to expedite the diplomacy to the return of West
Papua policy.
Because of that, the effort to have an original Indonesian
copyright law was in a long vacuum since 1958 until 1972. Such a long
period of time wasted. After that time, a new consideration to make a
copyright law which had been dreamt by the people of this nation
appeared. IKAPI, in 1972, formed a committee, to draft the copyright
law. There were three reasons that IKAPI took this step. First,
quantitatively, piracy was getting worse. Second, the rule of law in the
meaning of Auteurswet 1912’s substance, could not afford protection,
third, law enforcement and legal culture of the society could not give a
favorable condition for the protection of authors and publishers. Finally
IKAPI arrived at one desire to end the domination of Auteurswet 1912,
which was the product of colonialism, with the hope to the existence of
ne law that is suitable for an independence country which was just been
239
freed from colonial domination. The manuscript which was proposed
by IKAPI was known with the manuscript of copyright law IKAPI
1972.
This manuscript of copyright law IKAPI 1972 was not just
born like that. It was born from scientific, academic activities which
were done by IKAPI from 1966 to 1968. Even this manuscript was not
accommodated by the government and the house of legislative body to
be discussed in the completing process to become a copyright law.
After 1972, there were still a lot of activities to make the draft of
national copyright law. In 1973, Department of Information organized a
workshop about copyright, followed by Agency for National Legal
Development, which was under the authority of Department of Justice,
cooperated with Law faculty of Universitas Udhayana, in 1975, held
meeting which specifically discussed about copyright law in order to
make it useful in the making of copyright law.
In 1976, the Minister of Justice, formed a committee from
each department from Department of Information, Department of
Education and Culture, Department of Finance, the Supreme Justice,
Attorney General, National Institute of Science, and the Department of
Justice to draft the copyright law. Finally in 1977, after a hard work for
one year, the committee was managed to draft the copyright law.
Although the draft had been done in 1977, this country must wait for 5
years in hoping for the enactment of the law. Through presidential
mandate on 12th January 1982 Number R.02/0.U/I/1982 the draft of law
was proposed to the House of Representatives of Republic of
Indonesia.
Implicitly, it can be concluded that the will to transform the
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 ideologically and philosophically, was
mentioned in the government statement in front of the plenary
assembly of House of Representative, which was, this copyright law, in
the future, has to adhere the negotiation for consensus principle, the
balance in personal and community interest principle, justice principle,
and legal protection principle. These principles were the embodiment
from the basic of ideological philosophy of Pancasila. In this law, is
also adhere the dynamic principle, that nothing is fixed, everything will
change, because of that, this law put the aspect of the development of
science and technology. But the content of the law was all locked with
the Indonesian Identity principle (the original paradigmatic value of
Indonesian culture and society).
This is a new phase in the history of the establishment of
copyright law which answered the future goals and mandate of the
240
people of Indonesia, in connection with what is contained in TAP MPR
NO.IV/MPR/1978 about the State Policy Guidelines, which require a
legal reform in the national development of law. A law that refers to the
national system of Indonesia, basic ideology/philosophy of Pancasila,
derived from the original paradigmatic value of Indonesian culture and
society. The vigor in renewal, the courage to put national identity into
the legal norms, but still respect and appreciate the rights of other
people and to run the social function as ordered by Pancasila that there
is no such thing as an absolute right, everything has its limit, this is
what is so called as social function.
That was a remarkable event of history which must be
memorized when Act Number 6 of 1982 was born. There were many
events recorded. But the memory of Indonesian people is a short-term
memory, and when the history began to be vague, that was when
capitalist countries started to obtrude. It is right that recorded history
from the memory is not a neutral action to maintain and neglect and
finally the contention will leave a social and cultural consequences.
There was not any radical legal policy movement that objected the
entry of liberal capitalist concept towards the Act Number 6 of 1982,
followed by four transformation of copyright law, until the existence of
the Act Number 28 of 2014.
The choice of the national copyright law legal transplants was
stained by political dynamics in a long period of time since 1912 until
2012. This 100 years period of the enactment of copyright law in
Indonesia shows us the political side with the dynamics, each in every
phase or period of history based on the enactment of this law.
Half hearted legal policy, was also stained the phases of
history of the development of copyright law. Even sometimes, it was
obvious that an ambivalent two-faced legal policy appeared when
facing the pressure from foreign countries especially after the
ratification of WTO/TRIPs Agreement 1994. The contention of
Pancasila ideology versus liberal-capitalist ideology was very real and
consciously or not, was stained the national copyright law in Indonesia
which normatively contained in the last two laws which was, and is
enforced in this country.
In the practice of national legislation, except in the
arrangement of Act Number 6 of 1982, there was never a consistency
of maintaining the ideology of Pancasila. A choice of pragmatist legal
policy from time to time, has become a real legislative’s choice in
producing national copyright law.
241
Legal transplant legal policy was systematically designed
since the beginning of Dutch colonialism and continued consciously in
independence time and also in globalization era with all the dynamics.
The dynamics of copyright law legal transplants policy in this country
showed a varied political choice in each phases of history. In the time
of Dutch East Indies, to equalize the enforcement of copyright law in
Netherlands with its colony by publishing the Auteurswet 1912
Number 600, was enforced for 70 years through the concordance legal
policy.
The next phase was on post-independence from Dutch
colonialism, after 37 years of the enactment of Auteurswet 1912 Stb.
No 600, Indonesia asserted that ideologically / philosophically,
Auteurswet 1912 Stb No. 600 did not compatible with future goals of
Indonesian National law, so that this wet had to be revoked, along with
the birth of Act Number 6 of 1982, which law was only enforced five
years through legal transplants policy.
The hustle and bustle along with various allegations towards
Indonesia from foreign countries as a pirate of foreign copyrighted
works country, with the pressure that Indonesia must accept the ideas
and notions from foreign countries, ended with the revision of the five
years old law, followed by the birth of Act Number 7 of 1987 through
pragmatist legal policy.
After seven years enforcement of this law, on 15 th April 1994
in Morocco, Indonesia ratified the Agreement Establishing the World
Trade Organization, with all the attachments, one of them is the TRIPs
Agreement which is mainly contained with liberal-capitalist ideology /
philosophy.
Three years after the ratification of TRIPs Agreement,
Indonesia once again transformed its copyright law on 1997, with Act
Number 12 of 1997 with pragmatist and legal transplants policies.
It looks like this country must learn to review the history. How
come this country had five different copyright laws in one hundred
years (one of them was the legal product from Dutch East Indies) and
none showed a well-compatible sides, each from substance and the
application of the law. That is why the legal approach from historical
study needs a special concern in the curriculum of legal study. This
kind of approach is not only meant for us to look back into the
existence of law in the past, but also to be made as a study in order to
arrange the steps or strategies on legal policy which will be developed
in the future.
242
BAB III
POLITIK HUKUM :
PERGESERAN NILAI FILOSOFIS
A. Pengantar
Perubahan dan pergeseran nilai filosofis, itulah kata yang tepat
untuk merumuskan ideologi sebagai landasan filosofis pembentukan
sebuah undang-undang dalam satu negara, tapi kemudian substansi
undang-undangnya tidak mencerminkan ideologi yang telah disepakati
sebagai dasar berdirinya negara tersebut. Ada nilai yang masih
mencerminkan akar budaya masyarakatnya namun ada yang tercerabut
dari akarnya. Akar budaya, akar kultural, akar sosiologis yang
membentuk peradaban hukum. Tercerabut karena peradaban hukum itu
dibangun tidak lagi berdasarkan the original paradigmatic value of
Indonesian culture and society akan tetapi dibangun dengan nilai yang
dianut oleh bangsa lain, oleh peradaban lain, oleh nilai sosio-kultural
bangsa lain.
Paling tidak, dalam penyusunan undang-undang hak cipta
nasional, terdapat lima nilai filosofis Pancasila yang berubah dan
bergeser, dalam takarannya masing-masing. Kelima nilai itu sesuai
dengan lima sila yang disepakati sebagai dasar filosofis penyusunan
undang-undang dalam negara kesatuan Republik Indonesia.
Pertama, nilai Ketuhanan, penempatan nilai Ketuhanan dalam
sila pertama bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa alasan oleh pendiri
bangsa ini. Menempatkan dasar pertama Pancasila dengan meletakkan
nilai Ketuhanan dalam sila pertama, didahului oleh berbagai
argumentasi dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Tatanan nilai ini semestinya kelak terjelma dalam peraturan perundangundangan Indonesia termasuk hak cipta.
Kedua, nilai filosofis kemanusiaan, bahwa semua aktivitas
legislasi harus bersumber pada nilai kemanusiaan, tidak boleh bergeser
ke nilai kebendaan atau materialis yang mengukur semua aktivitas
dengan benda yang bernilai ekonomis, termasuk dalam melahirkan
undang-undang Hak Cipta Nasional.
Ketiga, nilai kebangsaan atau nasionalitas, nilai ini merupakan
nilai keberpihakan Undang-undang Hak Cipta Nasional pada
kepentingan nasional. Nilai kesatuan dan sederajat. Dalam aktivitas
penyelenggaraan negara serta memahami berbagai hal haruslah
ditempatkan dalam satu wadah kesatuan yang utuh dan sederjat. Tidak
ada yang satu lebih utama dari yang lainnya. Bahwa fungsi dan peranan
243
masing-masing lembaga itu berbeda, namun dalam tugasnya adalah
untuk mewujudkan satu tujuan bersama. Tidak boleh terjadi egosentris,
egosektoral atau ego institusinal. Semua bekerja dalam satu kerangka
sistem yang disebut sebagai sistem nasional. Terlebih lagi dalam
pekerjaan legislasi dan memahami sebuah kehendak rakyat, semuanya
harus dilakukan dengan pendekatan sistem. Nilai kebangsaan yang di
dalamnya tersirat bahwa keutamaan melindungi kepentingan nasional,
ketika memberikan perlindungan terhadap hak-hak warga negaranya.
Lebih dari itu juga warga negaranya harus mendapat kesempatan yang
seluas-luasnya untuk mengembangkan dirinya dan melahirkan
kreativitas guna memajukan perdaban bangsanya. Negara harus
diberikan kedudukan yang kuat ketika berhadapan dengan negara lain.
Nilai kebangsaan harus dijadikan sebagai spirit guna mengatasi gerakan
imperialis tersembunyi dengan cara-cara lain, misalnya melalui
bangtuan pinjaman luar negeri atau dengan menggunakan instrumen
hukum Internasional.
Keempat, adalah nilai musyawarah, mufakat dan
kekeluargaan. Nilai-nilai ini hendaknya sudah tercermin dalam tiap-tiap
peraturan perundang-undangan yang berlaku di bumi Indonesia baik itu
merupakan produk legislatif dalam bentuk undang-undang termasuk
Undang-undang Hak Cipta Nasional. Nilai kekeluargaan yang
terkandung dalam Pancasila adalah nilai yang dihadapkan dengan nilai
indivudualis. Nilai kekeluargaan ini adalah nilai yang tertanam sejak
lama dalam masyarakat Indonesia, yang menjadi pembeda masyarakat
Indonesia dengan masyarakat yang hidup di belahan bumi Barat.
Musyawarah dan mufakat dapat dijadikan penangkal bagi masuknya
nilai-nilai demokrasi liberal.
Kelima, nilai keadilan dan kesejahteraan harus tercermin
dalam norma hukum undang-undang hak cipta nasional yang
dihadapkan dengan nilai-nilai kapitalis dan liberal. Kesejahteraan
masyarakat Indonesia yang mengacu pada kesejahteraan sosial berbeda
dengan konsep negara kesejahteraan dengan latar belakang kapitalis.
Jika sila dari Pancasila itu hendak diletakkan dalam tataran
filosofis dalam pemebentukan tata (sistem) hukum, maka dengan
meminjam kerangka teori Hans Kelsen, Pancasila itu dapat ditempatkan
sebagai grundnorm (norma dasar) yang merupakan syarat transendental
logis bagi berlakunya seluruh tata hukum dalam satu negara.
Selanjutnya menurut Kelsen, jika hukum telah menentukan pola prilaku
tertentu, maka setiap orang seharusnya berperilaku sesuai pola yang
ditentukan itu. Orang harus menyesuaikan diri dengan apa yang telah
244
ditentukan dan itulah sifat normatif dari hukum. 152 Kelsen sendiri tidak
menyebut apa yang menjadi isi Grundnorm itu. Akan tetapi ia
menyebutkan, seluruh tata hukum positif harus berpedoman secara
hirarki pada grundnorm itu. Jadi dapat dipastikan bahwa Kelsen
membuat tingkatan anak tangga secara hirarki tentang keberlakuan
tertib hukum. Grundnorm itu bermuatan nilai-nilai yang sangat abstrak.
Jika nilai-nilai yang abstrak itu diturunkan maka ia akan memunculkan
tata nilai (asas-asas), yang juga berifat abstrak. Ia baru tampak nyata
dalam wujud tingkah laku (hukum) masyarakat. Dalam hubungannya
dengan Pancasila, maka posisinya dalam kerangka teori Hans Kelsen
adalah sebagai grundnorm.
Mahadi 153 mencoba untuk melukiskan teori Kelsen itu dalam
hubungannya dengan Pancasila sebai grundnorm dan sampai pada
tataran tingkah laku sebagai berikut :
Pancasila
Tingkah laku hukum
Gambaran di atas menurut Mahadi adalah jarak yang sangat sederhana,
yakni mulai dari yang abstrak (nilai-nilai Pancasila) sampai pada yang
konkrit (tingkah laku hukum). Akan tetapi diantara jarak itu, dapat
diselitkan anak tangga yang menggambarkan berbagai jarak, mulai dari
Grundnorm yang abstrak sampai pada tingkah laku hukum yang
konkrit. Susunan anak tangga itu digambarkan oleh Mahadi sebagai
berikut :
152
Lebih lanjut lihat Bernard L. Tanya, Yoan N. Simanjuntak, Markus Y.
Hage, Teori Hukum Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta
Publishing, Yogyakarta, 2010, hal 127. Lihat juga Hans Kelsen, Essays in Legal and
Moral Philosophy Hukum dan Logika (Terjemahan B. Arief Sidharta), Alumni, Bandung,
2006. Hans Kelsen, Dasar-dasar Hukum Normatif Prinsip-prinsip Teoretis Untuk
Mewujudkan Keadilan Dalam Hukum dan Politik, (Terjemahan Nurulita Yusron), Nusa
Media, Bandung, 2009. Lihat juga Jimly Asshiddiqie, dan M. Ali Safa’at, Teori Hans
Kelsen Tentang Hukum, Sekretariat Jenderal & Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI,
Jakarta, 2006. Bandingkan juga dengan H.R. Otje Salman S, dan Anthon F. Susanto,
Teori Hukum Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, Refika Aditama,
Bandung, 2008. Lihat lebih lanjut Adnan Buyung Nasution, Demokrasi Konstitusional,
Kompas, Jakarta, 2011.
153
Lihat lebih lanjut Mahadi, Falsafah Hukum Suatu Pengantar, Citra Aditya
Bakti, Bandung, 1989.
245
Pancasila
1
2
3
Tata nilai (asas-asas)
Tata Norma
Norma hukum positif
Tingkah laku hukum
Urutannya dalam Pancasila sebagai grundnorm (lantai
puncak) , diturunkan ke anak tangga pertama berupa tata nilai (dalam
bentuk asas-asas hukum), kemudian diturunkan ke anak tangga kedua
berupa tata norma, selanjutnya dari situ diturunkan ke anak tangga ke
tiga berupa norma hukum positif. Setelah itu norma hukum positif
dijadikan sebagai dasar (lantai dasar) pedoman untuk bertingkah laku
(tingkah laku hukum) yang wujudnya sudah terlihat konkrit. Kembali
ke Teori Kelsen, maka tujuan utamanya adalah untuk menjawab,
apakah hukum itu dan bagaimana hukum itu dibuat? Bukan pertanyaan
apakah hukum yang seharusnya (what the law ougth to be) atau
bagaimana seharusnya hukum dibuat (ought to be made). Itulah
konsekuensi dalam satu negara ketika memilih Ideologi yang
diletakkan sebagai Grundnorm.
Ketika Pancasila dipilih sebagai dasar negara, sumber dari
cita-cita hukum nasional maka semua undang-undang yang lahir
haruslah didasarkan pada landasan filosofis Pancasila, sebagai
grundnorm. Sebagai ideologi Negara yang telah dipilih dan ditetapkan
sebagai sumber dari segala sumber hukum maka pilihan politik hukum
haruslah mengacu pada Pancasila sebagai landasan filosofis. 154 Sistem
154
Ada tiga landasan yang harus diperhatikan dalam pembuatan undangundang (semua peraturan perundang-undangan) yakni landasan filosofis yaitu ideologi
Pancasila, landasan yuridis atau landasan konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 dan
landasan operasional yaitu Garis-Garis Besar Haluan Negara atau saat ini berupa
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), Tiga landasan tersebut oleh
Solly Lubis disebutnya pertama sebagai landasan ideal sistem nasional, kedua landasan
246
hukum nasional dalam berbagai pengertian haruslah memiliki
karakteristik yang bersumber pada ideologi Pancasila. Inilah yang oleh
Satjipto Rahardjo disebutnya sebagai sistem hukum Pancasila. 155
Sebagai sebuah negara yang telah memiliki sistem hukum
sendiri sebelum sistem hukum nasional yang mengacu pada landasan
ideologi Pancasila dirumuskan, 156 sudah barang tentu hal ini akan
mempengaruhi arah dan jalannya politik hukum nasional. Di satu
sisi,hukum yang dibangun harus mengacu pada landasan ideologi
Pancasila di sisi lain telah ada hukum yang berlaku yang berlandaskan
ideologi “Barat” baik karena peninggalan Hukum Kolonial maupun
karena pengaruh perkembangan peradaban modern dalam pergaulan
struktural sistem nasional dan ketiga landasan operasional sistem nasional. Lebih lanjut
lihat M. Solly Lubis, Sistem Nasional, Mandar Maju, Bandung, 2002.
155
Lihat lebih lanjut Satjipto Rahardjo, Sisi-sisi Lain dari Hukum di
Indonesia, Kompas Jakarta, 2003, hal. 10. Pengertian sistem hukum Pancasila
dimaksudkan sebagai wadah untuk menerima seluruh nilai-nilai yang dianut oleh
masyarakat Indonesia yakni nilai-nilai yang bersumber dari akar budaya hukum
Indonesia seperti nilai kekeluargaan, nilai kebapakan (pathernalistik) nilai keserasian dan
keseimbangan dan nilai musyawarah. Nilai-nilai ini sangat berbeda dengan sistem formal
yang dipakai dan didominasi oleh legalisme liberal yang dikemudian hari inilah yang
akan menimbulkan persoalan tersendiri ketika norma hukum itu diterapkan. Hukum yang
dibentuk atau terbentuk yang mengacu pada sistem hukum kapitalis dan liberal yang
kemudian disusun menurut tata hukum yang berlaku di Indonesia baik itu dari cara
pengusulan dan pengajuannya pada tahap awal maupun pada saat proses kelahirannya
hingga akhirnya disahkan sebagai undang-undang lalu kemudian diberlakukan untuk
mengikat seluruh anggota masyarakat. Padahal masih ada konflik yang tersisa di
dalamnya yakni konflik ideologi yang mau tidak mau membuat hukum itu menjadi
tertolak ketika diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Ada kesan seolah-olah rule of
law tidak tegak di Indonesia, padahal terjadi kesenjangan antara rule of law dengan
struktur sosial kultural masyarakatnya. Nilai kekeluargaan, nilai kebapakan dan nilai
musyawarah tidaklah dapat berterima begitu saja dalam proses penegakan hukum (law
enforcement . Satjipto Rahardjo melihat persoalan kesenjangan ini tidak hanya terjadi di
Indonesia tapi juga terjadi di kawasan Asia Timur, Korea, Jepang dan Thailand.
156
Sebelum Indonesia merumuskan sistem hukum nasionalnya sendiri, Negeri
ini telah memiliki sistem hukum yang plural yakni sistem hukum adat, sistem hukum
kebiasaan, sistem hukum Islam. Lihat lebih lanjut Sayuti Thalib, Politik Hukum Baru,
Mengenai Kedudukan dan Peranan Hukum Adat dan Hukum Islam Dalam Pembinaan
Hukum Nasional, Bina Cipta, Jakarta, 1986. Disamping itu pada masa Kolonial Belanda,
wilayah jajahan ini juga berdasarkan asas konkordansi diberlakukan hukum kolonial :
mulai dari hukum perdata, hukum dagang, hukum pidana sampai pada hukum acara
perdata dan hukum acara pidana serta bidang-bidang hukum yang tersebar secara
sporadic termasuk hukum yang mengatur tentang hak cipta yakni Auteurswet 1912 Stb
No. 600. Soetandyo Wignjosoebroto, melukiskan secara baik tentng bagaimana
dikemudian hari hukum Kolonial itu seperti air mengalir perlahan tapi pasti kemuian
diterima menjadi hukum nasional. Baca lebih lanjut, Soetandyo Wignjosoebroto, Dari
Hukum Kolonial ke Hukum Nasional Dinamika Sosial Politik Dalam Perkembangan
Hukum di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994, hal. 19.
247
anatara bangsa di era globalisasi. Perjalanan bangsa-bangsa di dunia
sebagai akibat pergaulan antar bangsa dan didorong oleh kemajuan
teknologi informasi dan transportasi serta kemajuan dalam bidang
industri yang diikuti dengan berobahnya pola-pola perdagangan jasa
dan barang, semua ini berakibat Indonesia harus mengikuti pola
perubahan yang terjadi dalam arus tatanan dunia yang sedang berobah
tersebut yang berdampak pada pilihan politik hukumnya. Pergeseran
nilai tidak bisa lagi dihindari baik itu terjadi secara alami atau terjadi
secara sadar. Pergeseran nilai itu menyebabkan nilai-nilai yang ada atau
nilai-nilai sebelumnya menjadi ditinggalkan digantikan dengan nilai
yang baru. Berbeda dengan perkembangan nilai, nilai yang ada
sebelumnya masih ada namun dikembangkan atau diperbaharui sesuai
dengan tuntutan zaman.
Tak pelak lagi ketika undang-undang hak cipta nasional
(mulai dari Auteurswet 1912 sampai dengan Undang-undang No. 19
Tahun 2002) semuanya bernunasa pergeseran dari nilai Pancasila ke
nilai kapitalis liberal. Bukan perubahan, sebab jika perubahan yang
terjadi maka, nilai-nilai yang telah ada tetap dijadikan dasar dalam
pembentukan hukum nasional atau dalam kasus ini adalah undangundang hak cipta nasional. Begitu kental terasa pergeseran nilai itu,
ketika Pasal 2 ayat (2) Undang-undang No. 19 Tahun 2002
menekankan perlunya izin dari pemegang hak cipta untuk menyewakan
hak cipta karya sinematografi. Jika seseorang membeli kepingan VCD
atau DVD untuk kemudian digunakan sebagai salah satu instrumen
untuk usaha “Cinema Keluarga” yang bersangkutan harus memohon
izin dari pemilik hak cipta sinematografi. Padahal yang disewakan
adalah hak untuk menikmati hasil karya cipta tersebut, bukan
memperbanyak atau memproduksi kepingingan VCD atau DVD yang
baru. Sangat kapitalis rumusan Pasal 2 ayat (2) ini yang berbeda
dengan ketika seseorang membeli mobil lalu kemudian mobil itu ia
sewakan dengan pihak ketiga. Hubungan hukum seperti ini tidak
diharuskan meminta izin dari perusahaan otomotif yang memproduksi
mobil tersebut. Adalah berbeda ketika seseorang itu mendirikan
industri otomotif yang meniru dari desain produksi, meniru seluruh
perangkat lunak yang ada pada mobil tersebut, yang dapat
dikategorikan sebagai pelanggaran hak kekayaan intelektual. Di sinilah
perbedaan yang sangat tajam antara landasan ideologi Pancasila dengan
ideologi liberal kapitalis. Hal yang tidak patut untuk dilindungi
kemudian menjadi sebuah keharusan untuk diproteksi demi melindungi
248
hak (kapital atau property) para pencipta atau para pemegang hak
cipta. 157
Pergeseran itu tidak serta merta terjadi dengan sendirinya, tapi
terjadi dengan (atau tanpa) disadari oleh pelaku yang memiliki
kompetensi untuk itu di Republik ini. Legislatif adalah garda terdepan
yang menggiring terjadinya pergeseran itu. Pilihan para politisi di
Republik ini sejak awal tidak didasarkan pada sebuah cita-cita murni
untuk mewujudkan tujuan negara yang telah dirumuskan oleh para
pendiri bangsa ini dan diabadikan dalam Pembukaan UUD 1945. Para
politisi bangsa ini sedikit sekali yang tampil sebaga negarawan atau
tehnokrat. Banyak catatan para politisi yang berpandangan pragmatis,
hingga akhirnya banyak sebutan untuk mereka, mulai dari politisi
karbitan sampai pada politisi kutu loncat. Ini semua merupakan
ungkapan yang memperlihatkan betapa cita-cita bangsa ini tidak akan
terhela dengan lokomotif politisi yang seperti itu. Tak jarang
kewenangan politisi yang duduk di lembaga legislatif yang memiliki
kewenangan untuk membuat undang-undang akan tetapi dalam kasus
penyusunan undang-undang hak cipta nasional lebih banyak bernuansa
menyahuti keinginan eksekutif. Mulai dari inisiatif pengusulan
rancangan undang-undangnya sampai pada pengumpulan informasi dan
sosialisasi rancangan undang-undangnya. Dalam kasus melahirkan
undang-undang hak cipta nasional (sebut saja mulai dari Undangundang No. 6 Tahun 1982 sampai dengan Undang-undang No. 19
Tahun 2002) pihak eksekutif terus menerus memotori untuk kelahiran
undang-undang tersebut. Ini menimbulkan kesan bukan saja
memposisikan legislatif pada kedudukan yang tidak berdaya akan tetapi
lebih jauh posisi legislatif dalam melahirkan undang-undang hak cipta
nasional hanya tampil sebagai lembaga justifikasi dalam arti “lembaga
pembuat stempel” sebab legislatif hanya tampil “di penghujung” atau di
157
Sayangnya tidak semua manfaat dari perlindungan seperti itu dinikmati
oleh penciptanya. Yang lebih banyak menikmati adalah para produser dan distributor dari
hasil karya sinematografi tersebut. Tanpa disadari norma itu hanya membuahkan
keuntungan yang besar bagi para pelaku bisnis di bidang karya sinematografi. Para
produser dan distributor menjadi kaya raya di satu sisi namun di sisi lain para aktor, para
penulis naskah seringkali jatuh dalam dunia kemelaratan. Inilah buah dari ideologi
kapitalis yang oleh Joost Smiers Marieke Van Schijndel, menyarankan agar diatur
kembali mengenai proteksi terhadap hak cipta. Bagaimana para seniman film yang tak
terhitung jumlahnya bisa menjual karya mereka dan mendapatkan kehidupan yang layak,
Lihat lebih lanjut, Joost Smiers Marieke Van Schijndel, Imagine There is No Copyright
and No Cultural Conglomerates Too : An Essay (Amsterdam : Institute of Network
Cultures, 2009) Terjemahan Hastini Sabarita, Dunia Tanpa Hak Cipta, Penerbit Insist
Press, Jakarta, 2012, hal. 153-154.
249
saat-saat akhir undang-undang itu disahkan yakni pada saat
pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat. Hasilnya adalah muatan
undang-undang itu lebih bernuansa keinginan eksekutif daripada
nuansa keingian rakyat.
Jika dominasi eksekutif menjadi lebih besar dalam muatanmuatan undang-undang yang diberlakukan, maka sesungguhnya hal itu
akan menyisakan diskusi bahwa secara substansi undang-undang itu
telah memuat dan menempatkan “spirit” kekuasaan di dalamnya.
Lebih lanjut hal ini akan menyebabkan konsep negara hukum
akan bergeser menjadi negara kekuasaan. Semula gagasan negara
hukum (rechtsstaat) bergeser pemaknaannya menjadi negara kekuasaan
(machtsstaat). Eksekutif semakin gemilang merumuskan dan
menjalankan aktivitas operasional penyelenggaraan negara. Kekuasaan
eksekutif menjadi sangat “gemuk” sebaliknya kekuasaan legislatif
menjadi “kurus”. Kewenangan untuk membuat undang-undang tidak
lebih dari upaya menjastifikasi keinginan eksekutif. Dampaknya adalah
semakin besar kewenangan eksekutif, maka semakin besar potensi
negeri ini menjadi negara kekuasaan. 158
Ketika kekuasaan diletakkan di atas segalanya, maka potensi
kemanusiaan semakin terancam. Dehumanisasi hukum, itulah yang
terjadi di kemudian hari. Memimpin dan menyelenggarakan aktivitas
kenegaraan dengan pendekatan kekuasaan selalu dibayar dengan harga
mahal. Sebuah harga adalah sebuah nilai ekonomis dan nilai spiritual.
Ada kalanya nilai ekonomis di kedepankan dan ini berdampak pada
nilai materialis dan hedonisme. Kondisi ini tak pelak lagi telah menjadi
warna baru dalam peradaban bangsa ini pada tataran hari ini. Nilai
spiritual yang selama ini berpangkal pada nilai religius telah tumbuh
dan berkembang lalu bergeser menjadi nilai materialis. Sebuah
158
Pada masa undang-undang hak cipta nasional dilahirkan, kekuasaan
presiden (baca : eksekutif) dalam membentuk undang-undang begitu kuat. Pasal 5 ayat
(1) Undang-undang Dasar 1945 menyatakan : Presiden memegang kekuasaan undangundang dengan persetujuan DPR. Pasal 20 ayat (1) menyatakan : tiap undang-undang
menghendaki persetujuan DPR. Setelah diamandemen presiden hanya diberi hak untuk
mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR sedangkan DPR memegang
kekuasaan membentuk undang-undang. Singkatnya, hasil amandemen UUD 1945
mendesain proses pembentukan undang-undang yang secara ekstrim berbeda yang
semula kekuasaannya di tangan presiden tetapi kini terletak di genggaman DPR. Lihat
lebih lanjut, Muhammad Mahfud MD, ketika mengantar karya disertasi Pataniari
Siahaan, yang kemudian dibukukan. Lebih lanjut baca, Pataniari Siahaan, Politik Hukum
Pembentukan Undang-undang Pasca Amandemen UUD 1945, Konstitusi Press, Jakarta,
2012, hal. xiv-xv.
250
kepuasan spiritual dalam kehidupan seperti kebahagiaan, kedamaianan
dan kenyamanan akhirnya takluk dengan nilai material.
Tragis dalam sebuah negara yang tumbuh bersahaja, dengan
alam yang bersahabat, penduduk yang ramah, sepi dari caci maki
namun berubah menjadi bangsa yang rakus, beringas, mengambil dari
alam lebih dari yang seharusnya. Esploitasi terhadap sumber daya alam
secara berlebihan tanpa memperhitungkan kemampuan daya dukung
lingkungan, tanpa memperdulikan atau memikirkan bahwa di bumi
pertiwi ini masih akan ada generasi mendatang yang menggantungkan
hidupnya dengan alam dan lingkungan sekitar. Masyarakat manusia di
bumi pertiwi ini adalah satu keluarga besar yang terikat dalam satu
nation, sebuah keluarga yang disebut Indonesia. Akan tetapi dalam
banyak kasus nilai kekeluargaan itu telah bergeser menjadi nilai
individualis.
Sikap masyarakat yang cenderung selama berabad-abad
menunjukkan kepatuhan terhadap pemimpin, kepatuhan terhadap guru,
kepatuhan terhadap adat istiadat bergeser menjadi terang-terangan
menunjukkan sikap perlawanan. Nilai protogonis (kepatuhan) telah
bergeser menjadi nilai antagonis (pembangkangan).
Sikap egoinstitusional dan egosektoral, semakin mengukuhkan
pandangan bahwa berfikir secara sistemik bukan lagi dianggap sebagai
cara berfikir benar untuk menyelesaikan berbagai problem bangsa.
Akibatnya posisi negara semakin hari semakin melemah. Kepercayaan
masyakat kepada institusi pemerintah semakin hari semakin terkikis.
Yang kuat selalu saja memenangkan pertarungan (apa saja) ketika
berhadapan dengan pihak yang lemah. Sedemikian jauh dampak dari
pilihan politik transplantasi hukum asing ke dalam hukum nasional,
jika tidak disaring dengan ideologi dan dasar filosofis negara. Liar,
itulah julukan untuk sebuah kekuasaan politik yang tidak dibatasi oleh
hukum yang berfondamen kepada the original paradigmatic value of
Indonesian culture and society. Kapitalis liberal sedang menanti di
hadapan bangsa ini. Imperialism tidak dapat lagi hidup di era Pasaca
Peranga Dunia II seperti yang terjadi pada masa lalu. Akan tetapi
imperialism tetap akan ada, namun wujudnya berubah. Imperialism
tidak lagi dalam bentuk koloni atau aneksasi terhadap wilayah negara
lain, dengan menggunakan alat atau mesin perang, akan tetapi berubah
dalam bentuk penciptaan proses ketergantgungan secara ekonomi dan
politik. Secara ekonomi penjajahan itu dilakukan melalui bantuan
pinjaman di lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Worl
Bank. Penjajahan berikutnya adalah menggunakan instrumen hukum
Internasional dan badan-badan Internasional di mana Indonesia menjadi
251
anggotanya. Penjajahan yang terselubung itu pada akhirnya merambah
juga ke ranah hukum dengan mengharuskan Indonesia menyesuaikan
peraturan perundang-undangannya dengan Instrumen hukum
internasional yang berlatar belakang ideologi kapitalis, itulah wujud
nyata ratifikasi hasil kesepakatan GATT/WTO 1994 yang di dalamnya
memuat TRIPs Agreement.
Sebuah kesepakatan yang mengharuskan Indonesia untuk
menyesuaikan peraturan atau Undang-undang HKI-nya termasuk di
dalam Undang-undang Hak Cipta dengan TRIPs Agreement tersebut.
Kesepakatan yang menjadi dasar nundang-undang yang seharusnya
mengacu pada landasan filosofis-ideologi Pacasila grundnorm yang
dimaksudkan untuk menguatkan jati diri dan posisi bangsa bergeser
menjadi melemahkan posisi negara. Kedaulatan negara merdeka
bergeser menjadi kedaulatan imperialis terselubung. Undang-undang
hak cipta nasional yang seharusnya memuat nilai-nilai yang berisikan
aspirasi dan kehendak rakyat yang tercermin dalam Pancasila sebagai
landasan ideologi negara, grundnorm, sumber dari sumber tertib
hukum kemudian bergeser ke ideologi kapitalis, dan wujud normatif
yang terlihat dalam undang-undang hak cipta nasional adalah
cerminan dari ideologi kapitalis itu. 159
Memasuki era globalisasi, itu berarti membawa gerbong
negara ke dalam dunia global tanpa batasan dinding-dinding atau
sekatan nasional. Perundingan Uruguay Round misalnya, yang semula
dimaksudkan untuk menangani masalah perdagangan internasional
secara integratif namun kemudian telah menggelindingkan berbagai
issu-issu lain diantaranya adalah tentang perlindungan hak kekayaan
intelektual. Banyak pertimbangan yang dilakukan Indonesia pada saat
memasuki perundingan Uruguay Round antara lain : keterkaitan sektor
perdagangan dalam negeri dengan sektor perdagangan luar negeri.
Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pertumbuhan ekonominya
melalui sektor migas, karena itu harus beralih kepada eksport non
159
Paling tidak, inilah yang disinyalir oleh Mahfud MD bahwa banyak
undang-undang yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan penyelenggara negara di luar
amanat eksplisit konstitusi dan di luar kebutuhan dan keinginan masyarakat dan bahkan
menyimpang secara ideologis. Untuk itulah pembentukan hukum (dalam arti undangundang) atau legislasi, menjadi sangat penting dan sangkin pentingnya Satjipto Rahardjo
mengatakan bahwa pembentukan hukum itu awal dari sekalian proses pengaturan
masyrakat, sebagai pemisah keadaan tanpa hukum dengan keadaan yang diatur oleh
hukum. Lebih lanjut T. Koopman, mengatakan tujuan utama legislasi bukan sekedar
menciptakan kodifikasi bagi norma-norma dan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat,
akan tetapi lebih jauh untuk menciptakan modifikasi dalam kehidupan masyarakat. Lihat
lebih lanjut Patiniari Siahaan, Ibid, hal. xiv.
252
migas, dan ini menyebabkan Indonesia harus menyesuaikan
serangkaian langkah deregulasi dan debirokratisasi. Sedangkan dari
aspek luar negeri pengamanan eksport non migas tergantung pula dari
keterbukaan pasar internasional.160 Disinilah bertemunya faktor luar
negeri (asing) dengan faktor dalam negeri (values of Indonesia). Nilainilai ke-Indonesia-an menjadi harus bergeser dan pergeseran yang lebih
jauh akan mengarah pada nilai kapitalis-liberal yang ditawarkan oleh
sistem perdagangan dunia yang serba terbuka itu. Meskipun bidang
perdagangan ini merupakan lapangan hukum netral dalam arti tidak
berhubungan erat dengan aspek budaya dalam arti sempit dan aspek
religius, akan tetapi hal ini tetap akan membawa dampak bagi pilihan
politik hukum dan kelangsungan peradaban (hukum) masyarakat
Indonesia dalam memahami nilai-nilai ke-Indonesiaan-an yang termuat
dalam ideologi Pancasila sebgai grundnorm yang merupakan abstraksi
dari (nilai) The Original Paradicmatic Values of Indonesia Culture and
Society .
B. Perubahan dan Pergeseran Nilai Ketuhanan
Tujuh puluh delapan hari menjelang kemerdekaan, tepatnya
tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno dalam pidatonya meletakkan dasar
negara yang ia beri nama “Pancasila”. Ide dan gagasan tentang
Pancasila itu bukan serta merta lahir begitu saja tapi mengalami proses
yang panjang.
Yang oleh Judi Latif, 161 disebutnya sebagai warisan jenius
nusatara.
Pancasila adalah abstraksi the reality of the original
paradicmatic Velues of Indonesian Culture and society yang digali dari
bumi Indonesia sendiri, sebagaimana diungkapkan Bung Karno dalam
berbagai pidatonya.Satu malam di malam tanggal 1 Juni 1945, Bung
Karno berdo’a, karena keesokan harinya ia akan menyampaikan pidato
160
Kartadjoemena berpandangan bahwa Indonesia punya kepentingan dalam
Uruguay Round, dalam perspektif Indonesia, menurutnya Uruguay Round merupakan
pengalaman baru dalam menangani masalah perdagangan internasional secara integratif.
Namun, dikemukakannya bahwa dilihat dari segi timing, waktunya bertepatan dengan
tahapan baru dalam kebijakan ekonomi dalam negeri yang mengarah kepada upaya
peningkatan eksport non migas dan peningkatan efisiensi melalui deregulasi,
debirokratisasi dan penyesuaian secara struktural. Untuk pertama kalinya aturan
permainan dalam GATT/WTO 1994 menjadi faktor yang penting dan langsung berkaitan
dengan kepentingan nasional Indonesia di bidang perdangan. Lihat lebih lanjut H.S.
Kartadjoemena, GATT WTO dan Hasil Uruguay Round, UI Press, Jakarta, 1997, hal. 1415.
161
Yudi Yudi Latif, Negara Paripurna Historisitas, Rasionalitas dan
Aktualitas Pancasila, Gramedia, Jakarta, 2011, hal. 2.
253
di hadapan sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, untuk menjawab
sebuah pertanyaan tentang Dasar Negara Indonesia Merdeka. Dalam
sebuah pidatonya, demikian dikutif oleh Judi Latif, Bung Karno
mengatakan :
Di tengah malam yang esok harinya adalah giliran saya akan mengucapkan
pidato saya keluar dari rumah di Jalan Pegangsaan Timur No.56. Saya keluar
di malam yang sunyi itu dan saya menengadahkan wajah saya ke langit. Saya
melihat bintang gemerlapan, ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu dan di
sinilah saya merasa betapa kecilnya manusia. Di situlah aku merasa dha’ifnya
aku ini. Di situlah aku merasa pertanggung jawaban yang amat berat dan besar
yang diletakkan di atas pundak saya.............
Ya Tuhan, ya Allah, ya Rabbi besok pagi aku harus memberi jawaban atas
pertanyaan yang maha penting ini..............berilah aku petunjuk. Setelah aku
mengucapkan do’a aku mendapat petunjuk, mendapat ilham. Ilham yang
berkata “galilah apa yang hendak kau jawab itu dari bumi Indonesia sendiri.”
Maka malam itu aku menggali di dalam ingatanku, menggali di dalam ciptaku
menggali di dalam hayalku, apa yang terpendam di dalam bumi Indonesia ini,
agar supaya sebagai hasil dari pengalaman itu dapat dipakai sebagai dasar
daripada Negara Indonesia Merdeka yang akan datang. 162
Sebagai penggali, penggagas Pancasila, Bung Karno sadar
betul akan arti
pentingnya meletakkan Dasar Negara di atas
kepribadian bangsa sendiri. Dasar yang digali dari bumi Indonesia
sendiri setelah mencermati perjalanan bangsanya. Memang pada
awalnya ada banyak tawaran ideologi yang diajukan dalam sidang
Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai. Ada yang mengusulkan negara ini
dibangun di atas landasan ideologi Sosialis. Ada juga suara-suara
nyang menghendaki ideologi marxis. Ada juga yang mengusulkan di
atas ideologi Islam negara ini didirikan. Bung Karno dalam pidatonya
dengan mengambil contoh di beberapa negara, seperti Arab Saudi
didirikan oleh Ibnu Saud di atas ideologi Islam, Lenin mendirikan
negara soviet di atas weltanshauung Marxistische, Hitler mendirikan
Jerman di atas weltanschauung National Sozialistische, Negara Dai
Nippon didirikan di atas weltanschauung Tenoo Koodoo Seishin. Sun
Yat Sen mendirikan negara Tiongkok di atas San Min Chu I (Mintsu,
Minchuan, Min Seng dan nasionalism). Itulah “isi” negara-negara
merdeka yang didirikan oleh the founding fathernya masing-masing.
Itulah yang oleh Bung Karno disebutnya sebagai sebuah perbedaan
“isi” di masing-masing negara berdasarkan derajat dan pengalaman
sejarah negaranya.
162
Ibid, hal. 13.
254
Pancasila dalam banyak literatur 163 dikatakan sebagai hasil
perasan dari sari pati kehidupan sosio-kultural bangsa Indonesia. Sari
pati peradaban, saripati budaya, sari pati yang dirumuskan oleh pemikir
dan the founding fathers negara ini yang secara methodologis
merupakan hasil abstraksi dari nilai-nilai original paradigmatik sosial
dan kultural rakyat Indonesia.
Rumusan Pancasila yang telah disepakati oleh para the
founding fathers bangsa Indonesia, secara objektif dikagumi oleh
seorang ahli tentang Indonesia, dari Cornell University USA, George
Mc Turner Kahin, sebagaimana dikatakan Yudi Latif ;
Dalam bukunya Nationalsm and Revolution, Kahin menyebut
bahwa rumusan ideologi Pancasila diungkapkannya “Pancasila is the
best exposition of history I have ever seen”.
Nilai filosofis yang terkandung dalam Pancasila juga
diapresiasi oleh filsuf Inggris, Bertrand Russell yang dikatakannya
bahwa Pancasila merupakan suatu sintesis kreatif antara Declaration of
American Independence (yang merepresentasikan ideologi demokrasi
kapitalis), dengan Manifesto Komunis (yang merepresentasikan
ideologi komunis). Pandangan terhadap filsafat Pancasila juga
dikemukakan oleh Routges yang menyatakan bahwa “Dari semua
negara-negara di Asia Tenggara, Indonesialah yang dalam
konstitusinya, pertama-tama dan paling tegas melakukan latar belakang
psikologis yang sesungguhnya dari semua revolusi melawan penjajah.
Dalam filsafat negaranya Pancasila, dilukiskan alasan-alasan secara
lebih mendalam daripada revolusi-revolusi itu. Berdasarkan perspektif
lain Koentowijoyo menekankan pentingnya radikalisasi Pancasila
dalam negara Indonesia yaitu bagaimana meletakkan Pancasila secara
radikal dan efektif sebagai pedoman bagi kehidupan dalam berbangsa
dan bernegara. 164
Nilai-nilai paradigmatik sosio kultural yang terabstraksi dalam
Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara itu
telah pernah diturunkan secara formal dalam bentuk penggalan asasasas yang terkandung dalam lima sila itu yang dimuat dalam TAP MPR
NO/II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila.
163
Lihat lebih lanjut Yudi Yudi Latif, Negara Paripurna Historisitas,
Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila, Gramedia, Jakarta, 2011 dan H. Kaelan, Negara
Kebangsaan Pancasila Kultural, Historis, Filosofis, Yuridis dan Aktualisasinya,
Paradigma, Yogyakarta, 2013.
164
H. Kaelan, Ibid, hal. 4-5.
255
Asas-asas itu dapat dijadikan dasar bagi penyusunan tertib
hukum, jika Pancasila dimaknai sebagai kontatasi filosofis. Sebagai
falsafah negara, sumber dari segala sumber hukum. Dengan demikian
Pancasila akan dapat mewarnai tata hukum yang berlaku di Indonesia.
Akan terlihat warna Pancasila dalam norma hukum konkrit yang
tertuang dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia.
Penempatan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila
pada sila pertama bukanlah secara kebetulan akan tetapi mempunyai
nilai dan makna politis yang didalamnya tersirat bahwa sila pertama ini
akan menjiwai seluruh sila-sila yang lainnya. Oleh karena itu jika nilainilai dalam sila pertama ini dapat diadopsi dengan baik dalam
penyusunan materi undang-undang maka secara substansi untuk satu
pekerjaan berat yakni meletakkan dasar hukum dalam negeri ini telah
selesai. Artinya sila pertama menjadi kunci untuk tegaknya nilai-nilai
sila yang lain. Tinggal kemudian bagaimana hukum itu dijalankan di
tengah-tengah masyarakat.
Sebagai suatu bangsa yang telah berabad-abad lamanya
meyakini tentang adanya Sang Maha Kuasa Pencipta Alam Semesta,
maka pilihan keyakinan itu telah menjadi dasar pembentukan karakter
religius masyarakat Indonesia. Ada anggapan saat ini nilai-nilai
Ketuhanan itu hanya tepat atau cocok untuk dipergunakan dalam
hubungannya dengan menjalankan aktivitas ibadah rutin. Padahal nilai
Ketuhanan itu adalah nilai yang dianut oleh sebahagian besar
masyarakat dan bangsa-bangsa yang ada di dunia. Nilai Ketuhanan di
Indonesia dipandang sebagai warisan leluhur yang bersumber dari
agama-agama besar yang pernah ada di bumi Indonesia.
Sebagai suatu nilai, nilai Ketuhanan itu tidak hanya
merupakan doktrin yang bersifat statis akan tetapi bertolak dari nilai itu
dapat dikembangkan norma-norma hukum konkrit sesuai tuntutan
zaman. Dalam nilai Ketuhanan itu tersembunyi paling tidak ada 4
(empat) asas meliputi :
1. Asas Ketuhanan
2. Asas saling menghormati dan asas kerukunan
3. Asas toleransi
4. Asas kebebasan memilih 165
Keempat asas ini satu dan yang lainnya saling berkait. Namun dapat
dijadikan sebagai dasar dalam pembentukan norma hukum. Wujudnya
165
Mahadi, Filsafat Hukum, Op.Cit, hal. 156.
256
adalah nilai Ketuhanan itu dipakai sebagai dasar guna merumuskan
ketentuan-ketentuan normatif yang akan dituangkan dalam produk
legislatif.
Dalam Undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002,
serapan asas Ketuhanan tersebut dapat dilihat pada Pasal 17 yakni
tentang larangan pengumuman setiap ciptaan yang bertentangan dengan
kebijaksanaan pemerintah di bidang agama dan kesusilaan. Akan tetapi
asas tersebut tidak terlihat diterapkan ketika merumuskan tentang
pengertian atau batasan tentang hak cipta. Dalam Undang-undang Hak
Cipta Nasional rumusan tentang hak cipta sejak Auteurswet 1912 Stb.
No. 600 sampai dengan sekarang hak cipta didefenisikan sebagai hak
khusus atau hak eksklusif bagi pencipta. Istilah hak eksklusif yang
diadopsi dari istilah exclusive rights atau hak khusus yang digunakan
oleh undang-undang hak cipta sebelumnya. Ketentuan ini sebenarnya
ditransplantasi dari ketentuan Pasal 1 Auteurswet Stb. 1912 No. 600
dengan menggunakan istilah hak tunggal. Jika pembuat undang-undang
hak cipta nasional mengacu pada nilai filosofis Pancasila yakni nilai
Ketuhanan rumusan Pasal 1 hak cipta itu akan berbunyi lain dari yang
ada sekarang ini. Hak cipta tidak lagi disebut sebagai hak eksklusif bagi
pencipta tetapi adalah hak pencipta yang lahir atas berkat rahmat dan
karunia Tuhan Yang Maha Esa. Dengan rumusan yang demikian, para
pencipta akan mengagungkan dan bersyukur kepada Tuhannya yang
telah memberikannya talenta, ilmu pengetahuan, kesehatan dan
keluangan waktu untuk dapat menghasilkan karya cipta. Sekilas terlihat
bahwa redaksi pasal yang secara inplisit memuat nilai Ketuhanan
seolah-olah terlihat tidak begitu berguna atau bermanfaat secara
redaksional, akan tetapi menempatkan nilai Ketuhanan secara inplisit
akan menggambarkan bahwa manusia sesungguhnya tidak mempunyai
nilai ciptaan apapun dihadapan Tuhannya jika dibandingkan dengan
ciptaan Tuhannya. Pemaknaan yang demikian untuk selanjutnya akan
berpengaruh pula kepada pasal-pasal lain yang misalnya terhadap
ciptaan yang tidak diketahui siapa penciptanya tidak lagi harus
dipegang oleh negara tetapi diberikan seluas-luasnya kepada
masyarakat untuk dapat memanfaatkannya, karena ciptaan yang
demikian itu lahir atas hamba Tuhan yang tidak diketahui. Ketentuan
semacam itu adalah salah satu contoh kecil saja dalam mengadopsi
nilai Ketuhanan (sebagai landasan filosofis pembuatan undang-undang)
ke dalam undang-undang hak cipta nasional. Ketentuan undangundang hak cipta saat ini dan juga pada masa lalu tanpa disadari lepas
dari kebijakan politik pembangunan hukum nasional karena tidak
sepenuhnya menekankan bahwa pentingnya pemahaman terhadap
257
landasan filosofis Pancasila yang memuat sejumlah asas yang dapat
dijadikan dasar bagi pembentukan norma hukum.
Demikian juga dengan nilai Ketuhanan akan menempatkan
manusia pada wujud kepatuhannya kepada Sang Pencipta. Wujud
kepatuhan itu mestinya juga dapat dilihat dalam perjalanan sejarah
pembentukan undang-undang hak cipta nasional.
Peradaban Barat modern yang memunculkan nilai sekularis
tidak terlepas dari perjalanan sejarah menjelang pertengahan abad ke19. Peran agama yang dipisahkan dari pemaduan kehidupan politik,
ekonomi dan sosial pada tahun-tahun itu telah memudar secara
signifikan. Adalah revolusi Perancis yang memicu kebangkitan
industrialisasi di Eropa Barat dan menggerakkan migrasi ke daerah
perkotaan sejalan dengan itu terjadi pertumbuhan ekonomi yang luar
biasa yang memposisikan nilai material semakin menguat di atas nilai
spiritual dan melemahnya kepercayaan atas nilai-nilai keagamaan yang
pada gilirannya terhentinya pengaruh agama terhadap kehidupan
politik. Inilah yang oleh Robert Owen memunculkan kata “sekulerism”
di pertengahan abad ke-19 untuk menyebutkan serangkaian
kepercayaan yang didasarkan pada pertimbangan manusiawi dan
materialis semata-mata dan melepaskan pertimbangan teologi. 166
Pola pikir sekuler itu adalah merupakan hasil dari pergeseran
pandangan filosofi yakni yang semula didasarkan pada pandangan
teologi (Ketuhanan) bergeser kepada pandangan penalaran ilmiah dan
ilmu pengetahuan yang liberal yang didasarkan kepada penalaran
manusia yang membuahkan nilai-nilai materialisme. Dalam perspektif
Ketuhanan keberadaan manusia maupun keberadaan ilmu pengetahuan
adalah bersumber dari kekuatan Tuhan. 167
Data tahun 2002, memperlihatkan bahwa sebahagian besar
bangsa-bangsa di dunia telah mengarah kepada kehidupan sekuler
seperti yang tergambar pada matrik di bawah ini :
166
Eamonn Kelly, Agenda Dunia Powerful Times Abad 21, Bangkit
Menghadapi Tantangan Dunia Yang Penuh Ketidakpastian, Index, Jakarta, 2010, hal. 56.
167
Dalam pandangan teologi Islam, bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan
dan ilmu pengetahuan hanya sedikit sekali yang diberikan oleh Tuhan untuk memahami
fenomena alam, sebagai wujud dari ciptaan Tuhan. Lebih lanjut lihat Fazlur Rahman,
Tema Pokok Al-Qur'an, Penerbit Pustaka, Bandung, 1983.
258
Matrik 29
Pentingnya Agama Dalam Kehidupan
Negara Bagian
Amerika Utara
Eropa Barat
Eropa Timur
Area Konflik
Amerika Latin
Asia
Afrika
Sumber :
Negara
AS
Canada
Inggris
Italia
Jerman
Perancis
Polandia
Ukrania
Slowakia
Rusia
Bulgaria
Czech
Pakistan
Turki
Uzbek
Guatemala
Brazil
Honduras
Peru
Bolivia
Venezuela
Mexico
Argentina
Indonesia
India
Filipina
Bangladesh
Korea
Vietnam
Japan
Senegal
Nigeria
Pantai Iv
Mali
Afrika Selatan
Kenya
Uganda
Ghona
Tanzania
Angola
Persentase kepercayaan
rakyatnya terhadap
Agama
59%
30%
33%
27%
21%
11%
36%
35%
29%
14%
13%
11%
91%
65%
35%
80%
77%
72%
69%
66%
61%
57%
39%
95%
92%
88%
88%
25%
24%
12%
97%
92%
91%
90%
87%
85%
85%
84%
83%
80%
Eamonn Kelly, Agenda Dunia Powerful Times Abad 21, Bangkit
Menghadapi Tantangan Dunia Yang Penuh Ketidakpastian, Index, Jakarta,
2010
259
Berdasarkan data tersebut di atas, dapat dilihat bahwa
Perancis, Czech, Jepang, Bulgaria kemudian menyusul Rusia adalah
negara-negara yang memiliki kecenderungan ke arah sekularisme
dalam pandangannya terhadap dunia yang berpusat pada pemikiran
manusia. Jerman, Inggris dan Italia juga bergerak ke arah pemikiran
sekularisme. Di Asia Korea, dan Vietnam juga memperlihatkan
kecenderungan ke arah sana. Kesimpulannya, negara-negara ekonomi
maju baik di Eropa maupun Asia semakin jauh dari kedekatannya
terhadap alam pikiran Ketuhanan dan bergerak menuju kehidupan
sekuler.
Sekularisme, mempercepat langkah-langkah pragmatism dan
cita-cita kehidupan yang bersumber pada optimisme ditempatkan pada
nilai tertinggi yakni pengetahuan dan wawasan serta ide yang dapat
menyelesaikan dan mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh umat
manusia tanpa merujuk pada nilai-nilai Ketuhanan.
Dalam agama-agama besar yang dianut oleh masyarakat di
dunia, nilai ketuhanan yang juga diikuti oleh nilai keadilan itu menjadi
kata kunci. Dalam Islam, kata “adil” adalah kata-kata kedua yang
terbanyak disebut dalam Al-Quran setelah kata “Tuhan”. 168
Nilai Ketuhanan yang diadopsi oleh tidak berpangkal pada
mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi bertumpu pada pemerataan
pendapatan atau pendistribusian kekayaan negara secara adil dan
merata. Tidak perlulah pertumbuhan itu sampai 5% atau 7% yang
diperlukan justru pemerataan. Jika seandainya pertumbuhan itu 1%
saja tapi didistribusikan secara merata, situasi keamanan dalam negeri
mungkin lebih dapat dikendalikan ketimbang pertumbuhan 7% akan
tetapi dikuasai oleh sekelompok orang tertentu, seperti yang terjadi
selama kurun waktu Pemerintahan Orde Baru dan belum berakhir
sampai pada pemerintahan pasca reformasi. 169
168
Lihat lebih lanjut Fazlul Rahman, Tema Pokok Al-Qur'an, Penerbit
Pustaka, Bandung, 1983.
169
Karena keruntuhan Orde Baru tidak seperti keruntuhan orde pemerintahan
Soekarno. Pada masa pemerintahan Soekarno, keruntuhannya diikuti dengan keruntuhan
kroni-kroni bisnisnya seperti Jusuf Muda Dalam yang turut tenggelam dalam usaha
bisnisnya bersamaan dengan keruntuhan pemerintahan Soekarno. Berbeda dengan
Soekarno, keruntuhan orde pemerintahan Soeharto tidak menyebabkan runtuhnya kronikroni bisnis yang berjaya pada zaman Soeharto. Liem Sio Liong misalnya, membangun
usaha bisnisnya dan dikendalikannya dari Singapura. Partai yang berkuasa pada zaman
Soeharto pun yang relatif dipimpin oleh para pengusaha dan konglomerat pada zaman
pemerintahan Soeharto sampai hari ini masih eksis. Karena itu gagasan kapitalis yang
tumbuh pesat pada zaman pemerintahan Orde Baru tampaknya masih akan berlanjut pada
orde pemerintahan reformasi. Cerita-cerita ini sudah disinyalir dengan baik oleh Richard
Robinson, sejak masa colonial namun tumbuh pesat pada masa Pemerintahan Orde Baru.
260
Tumbuhnya faham kapitalis adalah sebagai resultan dari
berbagai-bagai pandangan pragmatis, politik praktis, pengabaian
terhadap nilai-nilai ketuhanan, nilai keadilan dan nilai-nilai
kemanusiaan yang berpangkal pada faham sekularisme. Kebangkitan
sekularisme terkait dari pandangan terhadap dunia yang berpusat pada
rasio. Memang, untuk memahami unsur-unsur yang ada pada nilai
Ketuhanan mengacu pada argumentasi-argumentasi yang dalam yang
diurai berdasarkan pendekatan ilmiah.
Hasil dari penalaran manusia, jika tidak dikendalikan dengan
pandangan-pandangan Ketuhanan akan membuahkan suatu impian
yang dahsyat, seolah-olah impian itu adalah sesuatu yang sangat ideal.
Padahal semua ini demikian tulis Eamonn Kelly adalah bersumber dari
pandangan pencerahan yang relatif baru yakni pada awal abad ke-19.
Sistem demokrasi, kemerdekaan, kebebasan individu semua itu tumbuh
dari modernitas sekuler. 170
Indonesia sekalipun data tersebut memperlihatkan warga
negaranya masih hidup dalam suasana religius dan mengakui adanya
Tuhan yakni 95%, akan tetapi dalam praktek kesehariannya sudah
mulai bergerak ke arah sekuler. Kecenderungan ini ditandai dari
praktek-praktek ketatanegaraan dan praktek-praktek pemerintahan serta
praktek-praktek bisnis, pendidikan, politik dan hukum yang
kesemuanya memperlihatkan adanya kecenderungan ke arah
sekularisme. Praktek transplantasi hukum asing ke dalam hukum
nasional yang bersumber dari peradaban Barat di Indonesia adalah satu
contoh konkrit praktek penyerapan nilai-nilai sekularisme.
Dalam kasus transplantasi undang-undang hak cipta nasional
misalnya, praktek penyerapan nilai-nilai sekularisme itu sudah terlihat
sejak diberlakukannya Auteurswet Stb. 1912 No. 600 di wilayah
jajahan Kolonial Belanda dan itu diteruskan sampai pada zaman
kemerdekaan dan berlanjut terus pada beberapa periode kepemimpinan
negara berikutnya yang sebenarnya telah terbuka kesempatan luas
untuk menyusun undang-undang hak ciptanya sendiri dengan nilai-nilai
ke-Indonesia-an” .
Sejarah pembentukan undang-undang hak cipta nasional
(Indonesia) tidaklah berdiri sendiri, terjadi dengan serta merta atau
mengikuti arus gerak secara linier, tapi ia terjadi dengan melibatkan
banyak peristiwa yang melatar belakanginya. Peristiwa sejarah yang
Lihat lebih lanjut Richard Robinson Indonesia The Rise of Capital, Equinox Publishing,
Jakarta, 2008, hal. 3 dan 105-176.
170
Eamon Kelly, Op.Cit, hal. 58.
261
penuh dengan liku-liku (non linier) yang diwarnai oleh berbagai
keinginan pemerintah kolonial ketika itu di satu sisi dan di sisi lain
perjuangan untuk menegakkan hukum adat terus bergema yang
dimotori oleh ilmuwan bangsa Belanda sendiri bersama-sama dengan
pengikutnya. 171
Tidak ada dalil yang kuat yang dapat mengantarkan
pandangan ilmiah akademik yang menyimpulkan bahwa masyarakat
Indonesia (dalam sejarahnya) adalah masyarakat dengan steriotip
negatif terhadap kepatuhannya pada ajaran agama. Bait-bait syair
berikut ini menggambarkan jati diri bangsa Indonesia sebagai the
original paradigmatic value of Indonesian culture and society. 172
Apa tanda bangsa sejati
Bersama agama dia mati
Bait di atas meperlihatkan karakter bangsa Indonesia yang
sejati. Ciri-ciri bangsa Indonesia yang bertuhan, bangsa yang mengakui
keberadaan Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari dan baru berakhir
setelah ajal atau kematian menjeputnya.
Apa tanda bangsa religi
Tuhan dipuji tiada henti
Nilai melekat di dalam hati
Nilai-nilai religius yang setiap hari menjadi pedoman untuk
bersikap telah dilekatkan di dalam hati sanubari masyarakatnya dan itu
menjadi karakter bangsa yang religius.
Apa tanda bangsa bertuah
Memeluk agama tiada menyalah
Sebarang laku menurut sunnah
Hidup mati dengan aqidah
Tuhan telah mengucurkan rahmat dan karuniaNya terhadap
bangsa ini. Tidak semua bangsa dapat kucuran Rahmat yang demikian.
Di berbagai belahan dunia, masyarakat hidup tanpa keyakinan adanya
Tuhan, tanpa ada panduan agama. Negara-negara komunis trelah lama
meniadakan faham keagamaan itu dalam jiwa dan hati sanubari
rakyatnya. Oleh karena itu menurut frase bahasa Melayu, negeri ini
adalah negeri yang bertuah, negeri yang mendapat “tuah” dalam arti
mendapat berkah mendapat petunjuk dari Tuhan. Karena itu
masyarakatnya sejak zaman lampau tak pernah ingkar dari ajaran
agamanya. Selalu tunduk dan patuh terhadap ajaran agama, yang
menjadi ciri-ciri atau karakter bangsa Indonesia.
171
Lebih lanjut lihat Soetnadyo Wignyosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke
Hukum Nasional Dinamika Sosial-Politik Dalam Perkembangan Hukum di Indonesia,
Rajawali Pers, Jakarta, 1994.
172
Tenas Effendy, Tunjuk Ajar Melayu (Butir-butir Budaya Melayu Riau,
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, 2004, hal. 67.
262
Apa tanda bangsa pilihan
Hidup mati dalam iman
Taat setia menyembah Tuhan
Dalam agama tiada menyeman.
173
Karakter bangsa yang demikian bukan karakter bangsa yang
terwujud dengan sendirinya, tapi itu adalah karakter bangsa yang
“dipilih” oleh Tuhan. Suatu bangsa tidak akan mendapat petunjuk jika
Tuhan mau menyesatkan, dan bangsa yang telah mendapat petunjuk
dari Tuhan, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Oleh karena
itu bangsa ini adalah bangsa yang terpilih sebagai bangsa yang
mendapat petunjuk dari Tuhan. Masyarakatnya senatiasa beriman dan
patuh kepada Tuhannya, itulah karakter bangsa Indonesia yang
sesungguhnya.
Terdapat karakter bangsa yang sejak awal telah melekat nilainilai Ketuhanan dalam jiwa dan sanubari rakyatnya. Ketaatan atau
kepatuhan terhadap ajaran dan keyakinan agama dipegang teguh.
Ajaran dan nilai-nilai agama dan keyakinan dijadikan pedoman untuk
berprilaku hingga kematian menjeputnya. Nilai-nilai inilah kemudian
diabstraksikan sebagai “Nilai Ketuhanan”, yang ditempatkan dalam
Sila Pertama.
C. Perubahan dan Pergeseran Nilai Kemanusiaan
Dalam sejarah perjalanan undang-undang hak cipta, sejak
semula telah diawali oleh dominasi politik hukum Kolonial.
Pemberlakuan Auteurswet 1912 Stb. No. 600 adalah wujud dari
keinginan pemerintah Kolonial Belanda untuk memberlakukan undangundang yang berasal dari negerinya untuk diberlakukan di dalam
wilayah negeri jajahannya. Meskipun politik hukum Pemerintahan
Hindia Belanda ketika itu masih memberikan klasifikasi pada tiap-tiap
golongan penduduk sebagaimana telah dikukuhkan dalam Pasal 131 IS
dan Pasal 163 IS 174 semua langkah-langkah yang dilakukan oleh
Pemerintah Hindia Belanda baik itu mengenai tugas-tugas yang
bersangkut paut dengan upaya kodifikasi maupun tugas-tugas yang
173
Menyeman dalam bahasa Melayu bermakna terkontaminasi.
Pasal 163 IS membagi golongan penduduk Indonesia ke dalam tiga
golongan yaitu golongan Eropa, golongan Bumi Putera dan golongan Timur Asing. Bagi
golongan Eropa, menurut Pasal 131 IS berlaku hukum Eropa dan bagi golongan Bumi
Putera berlaku hukum adat sedangkan bagi golongan Timur Asing berlaku hukum adat
dan bila keperluan sosial mereka menghendakinya membuat ordonansi dapat menentukan
bagi mereka untuk diberlakukan hukum Eropa atau hukum Eropa sesudah diubah atau
hukum baru yang merupakan sintesa dari hukum Barat dengan hukum Eropa. Lebih
lanjut lihat E. Utrecht dan Moh. Saleh Djindang, Pengantar Dalam Hukum Indonesia,
Ichtiar Baru, Jakarta, 1983, hal. 167-168.
174
263
berhubungan dengan pemberlakuan hukum yang berasal dari negeri
asal. Semua itu diprakarsai secara sadar dan ditaja oleh eksponeneksponen bewuste rechtspolitiek yang tujuannya adalah untuk
mengukuhkan tegaknya supremasi hukum di tanah jajahan. 175
Supremasi hukum di tanah jajahan akhirnya diwarnai juga
dengan pemberlakuan undang-undang di luar kitab undang-undang
yang telah terkodifikasi antara lain adalah Undang-undang tentang hak
cipta seperti disebutkan di atas. Pemaksaan pemberlakuan undangundang hak cipta itu seringkali menjadikan masyarakat tempat hukum
itu diberlakukan menjadi masyarakat yang mendua dan cenderung
melahirkan sikap ambivalen.
Seringkali kehidupan bersama itu justru diatur oleh kaidah
atau norma hukum yang hanya disepakati oleh sekelompok orang saja
atau oleh sekelompok penguasa saja atau oleh sekelompok partai
politik saja, kemudian dipaksakan berlakunya untuk semua orang.
Meskipun norma semacam itu diakui sebagai hukum akan tetapi jika
hukum semacam itu ditegakkan tidaklah dapat dikatakan itu telah
memenuhi unsur-unsur negara hukum. 176
Kekuasaan pada hakekatnya dalam konsep negara hukum,
adalah sebuah amanah yang diberikan oleh hukum. Kekuasaan yang
175
Lebih lajut baca : Soetandiyo Wignjosoebroto, Loc.Cit, hal. 47. Meskipun
pada tahap-tahap awal usaha mereka untuk melakukan kodifikasi perdata dan hukum
dagang telah selesai, akan tetapi ada permasalahan lain yang belum selesai yakni ikhwal
unifikasi hukum yang meliputi tak hanya yang bersifat substantif tapi juga yang formal
prosedural berikut tata peradilannya dan itu menimbulkan polemik. Polemik-polemik itu
berkisar apakah kodifikasi hukum yang disiapkan untuk orang-orang Eropa juga
diperlakukan untuk kepentingan orang-orang pribumi. Jika ya, apakah orang-orang
tersebut harus tunduk pada peradilan yang diperuntukkan bagi orang Eropa ? Polemik
inilah yang muncul dikemudian hari, namun dapat dirasakan bahwa pada akhirnya
penduduk pribumi ketika itu mulai secara perlahan-lahan menundukkan diri pada hukum
Eropa. Buahnya adalah hari ini dimana tradisi peradilan telah mengantarkan masyarakat
Indonesia sudah terbiasa dengan model peadilan yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia
Belanda pada zaman dahulu.
176
Hukum haruslah dibedakan dengan undang-undang, karena itu konsep
negara hukum tidak sama dengan konsep negara undang-undang. Bahwa undang-undang
adalah sebahagian dari hukum dapat diterima, akan tetapi tidak semua hukum itu dalam
bentuk undang-undang. Ada hukum tertulis dan ada hukum yang tidak tertulis. Ada
hukum yang bersumber dari undang-undang, ada pula hukum yang bersumbe dari adatistiadat dan agama. Karena itu konsep mengadili menurut hukum juga berbeda dengan
konsep mengadili menurut undang-undang. Di negara yang plural seperti Indonesia,
pemaknaan negara hukum akan membawa suatu konsekuensi logis bahwa hukum yang
diberlakukan tidaklah semata-mata berupa hukum produk lembaga legislatif, akan tetapi
hukum-hukum yang lahir di tengah-tengah masyarakat seperti hukum adat dan kebiasaan
serta hukum agama tetap akan memegang peranan penting dalam pemaknaan negara
hukum.
264
tidak diberikan oleh hukum akan dapat berubah menjadi otoriter, 177
bahkan cenderung tirani.
177
Lahirnya konsep negara hukum diawali dari perjalanan yang cukup
panjangdiawali dari gagasan demokrasi pada jaman Yunani yang berkembang pada abad
ke-6 sampai dengan abad ke-3 SM gagasan demokrasi ini kemudian lenyap di Barat sejak
Romawi dikalahkan oleh Eropa Barat yang kemudian dikuasai berdasarkan agama
Nasrani (Katolik). Di Barat pada waktu itu dikembangkan pemikiran sosial dan spiritual
harus tunduk pada Paus (gereja) dan pejabat agama sedangkan kehidupan politik harus
tunduk pada raja. Situasi ini kemudian menimbulkan kegelapan di dunia Barat dan
kemudian dipecahkan dengan munculnya zaman Renaissance (1350-1600 M).
Kemunculan ini dipicu oleh peristiwa Perang Salib yang berlangsung tidak kurang dari 2
abad. (1096-1291). Perang salib ini telah memunculkan komunikasi antara Barat dengan
Dunia Islam. Dan ini menimbulkan gagasan di kalangan dunia barat perlunya kebebasan,
dan penghormatan terhadap hak-hak rakyat. Gagasan ini kemudian terus berkembang dan
memasuki abad yang menuntut pendobrakan pemikiran yang selama ini dibatasi oleh
Gereja. Ini terjadi sampai dengan Tahun 1850. Giliran berikutnya adalah timbul gagasan
di bidang politik bahwa manusia mempunyai hak yang tidak boleh diselewengkan oleh
pemerintah, dan absolutisme dalam pemerintahan harus didobrak. Pemikiran semacam ini
muncul yang kemudian mendasari dari berkembangnya teori kontrak sosial. Teori
tersebut kemudian secara cepat tumbuh dan berkembang yang akhirnya muncullah ideide, gagasan bahwa pemerintahan harus diselenggarakan secara konstitusional. Inilah
perjalanan kelahiran konsep negara hukum. Friedrich Julius Stahl dari kalangan Eropa
Kontinental, mengemukakan adanya empat unsur negara hukum (rechtsstaat) yaitu :
pertama, hak asasi manusia ; kedua pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk
menjamin HAM (termasuk adanya kekuasaan kehakiman seperti dikenal di dalam Trias
Politika); ketiga, pemerintahan berdasarkan peraturan-peraturan dan keempat peradilan
administrasi dalam perselsihan. Sementara itu, AV. Dicey yang merupakan ahli dari
kalangan Anglo Saxon, menyebutkan unsure-unsur negara hukum (yang disebutnya the
rule of law) sebanyak tiga macam. Pertama, supremasi hukum, tidak ada kesewenangwenangan kekuasaan sehingga orang hanya boleh dihukum jika melanggar hukum,
kedua, adanya kesamaan di depan hukum dan ketiga terjaminnya hak-hak manusia oleh
undang-undang maupun oleh putusan pengadilan. Pencirian atau penyebutan unsureunsur negara hukum tersebut menunjukkan bahwa adanya lembaga peradilan merupakan
salah satu hal yang mutlak. Dan karena fungsinya untuk memberikan keadilan atas
perselisihan berbagai pihak, maka keberadaan lembaga peradilan itu sudah tentu haruslah
bebas dari campur tangan kekuasan yang ada di luar dirinya. Lebih lanjut lihat, Moh.
Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, Rajawali Pers,
Jakarta, 2010, hal. 89-91. Lebih lanjut lihat David Jenkins, Soeharto & Barisan Jenderal
Orba Rezim Militer Indonesia 1975-1983, Komunitas Bambu, Jakarta, 2010. Mahpudi,
dkk, Pak Harto The Untold Stories, Gramedia, Jakarta, 2013. Julie Soulthwood-Patrick
Flanagan, Teror Orde Baru Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965-1981,
Komunitas Bambu, Jakarta, 2012. Lihat lebih lanjut Widjanarko Puspoyo, Dari Soekarno
Hingga Yudhoyono, Pemilu Indonesia 1955-2009, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2012.
Bandingkan juga dengan Hanta Yuda AR, Presidensialisme Setengah Hati Dari Dilema
ke Kompromi, Gramedia, Jakarta, 2010. Lihat juga Riwanto Tirtosudarmo, Mencari
Indonesia Demografi-Politik Pasca-Soeharto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007
dan bandingkan juga dengan AM Waskito, Republik Bohong Hikayat Bangsa Yang
Senang Ditipu, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2011. Lebih lanjut lihat David Runciman,
Politik Muka Dua Topeng Kekuasaan dari Hobbes hingga Orwell, Pustaka Pelajar,
265
Pada zaman pemerintahan Soeharto dan awal pemerintahan
pasca reformasi, yakni saat-saat dilahirkannya Undang-undang Hak
Cipta Nasional adalah sisi gelap dari praktek negara hukum Indonesia.
Pada zaman Pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru dan awal-awal
pemerintahan orde reformasi praktek penegakan hukum berjalan dan
mengalir sesuai keinginan pemerintah. Bahkan praktek penyalahgunaan
kekuasaan dan praktek pelanggaran hukum oleh badan-badan
penyelenggara negara pun tidak menjadi sesuatu yang dianggap salah
jika pemerintah menghendaki.178
Ketika semua anggota legislatif yang “berwajah banyak”
itupun duduk untuk merumuskan UU Hak Cipta Nasional dan satu
persatu memberikan usulan lalu secara kelembagaan membungkus
keputusannya untuk dan atas nama demokrasi. 179 Padahal di balik
keputusan itu ada kekuasaan dan “titipan” yang “mendompleng”.
Adalah kepentingan Amerika dengan berbagai tekanan politik dan
Yogyakarta, 2012. Lebih lanjut lihat Fahri Hamzah, Kemana Ujung Century ?
Penelusuran dan Catatan Mantan Anggota Pansus Hak Angket Bank Century DPR-RI,
Yayasan Faham Indonesia, Jakarta, 2011. Lihat juga Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al
Warraq, Skandal Bank Century Lolosnya Pemegang Saham Pengendali, Pusat
Pengkajian Hukum Acara dan Sistem Peradilan, FH-UI, Jakarta, 2012.
178
Kasus penembakan misterius dan kasus kematian Munir adalah contohcontoh yang dapat menguatkan anggapan bahwa negeri ini dalam perjalanannya telah
melakukan tindakan yang jauh dari ide dan gagasan negara hukum. Ini adalah bahagianbahagian kasat mata yang dapat ditangkap dengan indra. Bagaimanapun juga terlalu
banyak catatan dan sisi gelap dari pelanggaran-pelanggaran negara terhadap hak-hak
masyarakat bahkan hak asasi manusia yang tidak terungkap. Kasus Daerah Operasi
Militer (DOM) di Aceh yang membuahkan jerit tangis dan air mata anak-anak, wanita
dan sebahagian rakyat di Aceh adalah satu contoh yang menggambarkan betapa konsep
negara hukum hanya tinggal di atas kertas. Meskipun akhirnya perundingan Helsiky
membuahkan hasil yang memberikan otonomi khusus kepada rakyat dan masyarakat
Aceh. Persoalan-persoalan lain menyangkut pelanggaran-pelanggaran masyarakat adat
seperti perampasan tanah adat, pengambil alihan hutan rakyat untuk dan atas nama
konservasi hutan, nasionalisasi perkebunan asing yang menegasikan hak-hak masyarakat
puak Melayu (Deli, Langkat, Asahan, Serdang, Batubara, Kota Pinang, Bilah, Panai dan
Kuwaluh) adalah contoh-contoh konkrit tentang perjalanan bangsa ini yang mengabaikan
konsep negara hukm yang telah dipilihnya sendiri.
179
Demokrasi adalah salah satu ciri dari konsep negara hukum. Untuk dan
atas nama negara hukum, para anggota legislatif duduk dan berkumpul untuk
merumuskan kontrak sosial dalam pembuatan undang-undang hak cipta nasional.
Undang-undang hak cipta nasional adalah bahagian dari hukum nasional yang berakar
pada dasar filosofis Pancasila. Pancasila yang disepakati sebagai paradigma politik
hukum tidak serta merta kemudian dijadikan sebagai landasan dasar penyusunan undangundang hak cipta nasional. Hasilnya adalah undang-undang hak cipta nasional jauh dari
kesan landasan ideologi itu, yang memperlihatkan terjadinya pergeseran paradigma.
266
tekanan ekonomi yang kemudian terakomodir.180 Jadilah undangundang hak cipta nasional dengan menggerus sebagian dari nilai-nilai
Pancasila.
Produk legislatif yang berbentuk undang-undang isinya bisa
melulu nuansa kekuasaan. Isinya bisa menjastifikasi kekuasaan dan
sebaliknya mengkriminalisasi masyarakat. Itulah sebabnya negeri ini
dengan mudah terjerembab dalam jerat kekuasaan. Ketika seseorang
ingin mendapatkan sesuatu yang tadinya perbuatan itu dilarang secara
moral dan etika, akan tetapi menjadi boleh ketika dibuatkan terlebih
dahulu undang-undangnya. 181
Proses kelahiran undang-undang hak cipta nasional, tidak
semata-mata karena Indonesia memang membutuhkan undang-undang
hak cipta. Pada tahun-tahun awal kemerdekaan bahkan tidak ada
satupun lembaga negara baik lembaga pemerintah, eksekutif maupun
lembaga-lembaga tinggi (maupun tertinggi) negara lainnya yang peduli
dengan keadaan itu. Padahal pada waktu itu negeri ini sangat
membutuhkan ilmu pengetahuan, guna memajukan peradaban yang
dilindungi dengan instrumen hak cipta. Bidang sinematografi yang di
dalamnya sarat dengan pesan peradaban juga luput dari perhatian
penyelenggara negara ketika itu. Padahal sejarah mencatat Indonesia,
India dan Amerika memulai industri perfilmannya tidak terpaut dalam
rentang waktu yang jauh.182 Jika Indonesia memulai industri
perfilmannya tidak terpaut jauh dengan kedua negara tersebut, mengapa
perfilman Indonesia jauh tertinggal dibandingkan kedua negara
tersebut?.
180
Lebih lanjut lihat Robert Gilpin, Global Political Economy Understanding
The International Economic Order, Princeton University Press, New Jersey, 2001 dan
Lynn H. Miller, Agenda Politik Internasional, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006.
181
Tanah-tanah dan hutan di pinggir laut, di kaki gunung begitu mudah diaih
fungsi, yang semula adalah hutan atau tanah ulayat, kemudian berubah menjadi hak-hak
atas tanah menurut UUPA No. 5 Tahun 1960 untuk dan atas nama pengusaha. Modusnya
adalah dengan membuat terlebih dahulu peraturan perundang-undangannya. Sebaliknya
tanah-tanahyang semula diterbitkan dengan Hak Milik atau Hak Guna Bangunan menurut
UUPA dengan diikuti berbagai kewajiban seperti pembyaran pajak berupa PBB dan
BPHTB, justeru ketika akan dimanfaatkan sesuai hak yang diberikan undang-undang
justeru tak bisa dimanfaatkan, karena oleh pejabat Pemkab atau pejabat Pemko
dinyatakan sebagai jalur hijau. Anehnya jalur hijau itu boleh dan dapat dirobah jika
diusulkan perubahannya kepada pemerintah kota atau pemerinta kabupaten. Untuk dan
atas nama peraturan perundang-undangan “kekuasaan absolut” para eksekutif dibungkus
dengan rapi.
182
Indonesia memulai Industri filmnya pada tahun 1926, India memulai
industri filmnya pada tahun 1913 dan Amerika memulai industri filmnya pada tahun
1894.
267
Undang-undang yang dilahirkan itu haruslah mewakili
kehendak rakyat bukan kehendak pemerintah semata. Jika dalam
sebuah undang-undang yang dilahirkan itu masih saja menunjuk pada
kewenangan pemerintah yang begitu besar, maka undang-undang yang
dilahirkan itupun bisa menjelma menjadi undang-undang yang
menjustifikasi “negara kekuasaan”. Dalam undang-undang Hak Cipta
Nasional dapat diukur seberapa banyak pasal-pasal dalam undangundang tersebut yang masih menunjuk pada pemerintah untuk
pelaksanaan undang-undang tersebut.
Matrik di bawah ini menjelaskan tentang masih diberikannya
peranan eksekutif oleh Undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002.
Matrik 30
Kewenangan Eksekutif Untuk Membuat Peraturan Pelaksana
Undang-undang No. 19 Tahun 2002
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pasal
Pasal 10 ayat
(4)
Pasal 25
Pasal 28 ayat
(2)
Pasal 47 ayat
(4)
Pasal 48 ayat
(4)
Pasal 54
Materi Yang Diatur
Ketentuan mengenai hak cipta yang dipegang
oleh Negara
Informasi tentang manajemen hak pencipta
Tentang produksi yang menggunakan cakram
optik
Tentang pencatatan perjanjian lisensi
Tentang anggaran biaya dewan hak cipta
Biaya pencatatan lisensi
Sumber : Diolah dari Undang-undang No. 19 Tahun 2002
Matrik di atas memperlihatkan bahwa undang-undang ini
memberi kewenangan untuk membuat peraturan kepada pihak
eksekutif. Peraturan yang baik dalam konsep negara hukum, mestilah
dilahirkan oleh lembaga yudikatif bukan oleh lembaga eksekutif.
Eksekutif adalah pelaksana undang-undang (baca : peraturan) bukan
pembuat peraturan, sekalipun peraturan itu merupakan peraturan
organik sebagai peraturan pelaksana dari undang-undang, akan tetapi
jika peraturan yang dibuat oleh eksekutif terlalu banyak maka
kekuasaan legislatif akan bergeser kepada pihak eksekutif, yang pada
gilirannya akan menciptakan negara kekuasaan bukan negara hukum.
268
Jika dibandingkan dengan Undang-undang No. 6 Tahun 1982 yang
hanya menunjuk satu pasal saja yang memberikan kewenangan kepada
eksekutif untuk membuat peraturan pelaksana yakni mengenai dewan
hak cipta yang diatur dalam Pasal 39 ayat (3).
Menguatnya kekuasaan eksekutif dapat juga dilihat dari
ketentuan Pasal 10 jo. Pasal 31 Undang-undang No. 19 Tahun 2002.
Pasal ini menegaskan bahwa : negara memegang hak cipta atas karya
peninggalan prasejarah, sejarah dan benda budaya nasional lainnya.
Negara juga memegang hak cipta atas foklor dan hasil kebudayaan
yang menjadi milik bersama, seperti cerita hikayat, dongeng, legenda,
babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi dan karya
seni lainnya. Negara dalam konteks ini diposisikan sebagai owner atau
pemilik. Jika dihubungkan dengan konsep negara, maka sesungguhnya
negara hanya berfungsi sebagai badan penyelenggara administrasi
pemerintahan. Mengacu kepada konsep ini, seyogyanya negara tidak
hanya tidak diperkenankan membuat hak baru (negara hanya
mengesahkan hak yang ada) tapi juga lebih jauh negara tidak boleh
mengambil alih hak dan bahkan menjadi owner dalam setiap hak yang
ada dan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat Indonesia baik hak
itu lebih dulu ada sebelum negara ini didirikan maupun setelah negara
ini berdiri. Ketentuan Pasal 10 yang menyatakan bahwa negara menjadi
pemegang hak cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah dan
budaya nasional lainnya serta pemegang hak cipta atas foklor dan hasil
kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, menunjukkan betapa
negara ini tampil sebagai subyek penguasa yang mengambil alih hak
yang sesungguhnya dilahirkan bukan untuk dan atas nama negara.
Bahwa hak tersebut belum diketahui siapa pemiliknya, itu adalah
persoalan lain. Akan tetapi seyogyanya negara hanya boleh
menjalankan fungsi sebagai alat atau badan yang memposisikannya
sebagai subyek hak menguasai bukan sebagai pemegang hak yang
dalam terminologi undang-undang hak cipta sebagai pemilik.
Menguatnya hak negara untuk obyek hak cipta sebagaimana
dimaksudkan di atas dikukuhkan lagi dengan norma yang mengatakan
bahwa untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaan tersebut,
khusus bagi orang asing terlebih dahulu harus mendapat izin dari
instansi yang berhubungan dengan masalah itu. Kata instansi
menyebabkan perizinan itu kembali kepada kekuasaan negara bukan
269
kepada rakyat yang melahirkan kebudayaan yang menghasilkan karya
cipta milik bersama tersebut. 183
Kewenangan negara menjadi lebih besar lagi atas obyek karya
cipta sebagaimana dimaksudkan di atas ketika Pasal 31 ayat (1)
menegaskan dan memperkuat tentang tidak adanya batas waktu
penguasaan hak cipta semacam itu. Ini adalah situasi normatif yang
buruk ketika negara diposisikan sebagai owner bukan sebagai subyek
hak menguasai negara.
Undang-undang Hak Cipta Nasional yang berpangkal pada
Undang-undang No. 6 Tahun 1982 sebagai undang-undang yang
menggantikan Auteurswet 1912 Stb. No. 600 peninggalan Kolonial
Belanda, adalah undang-undang yang dapat dikatakan menyahuti
aspirasi masyarakat Indonesia. Sejarah penyusunannyapun melalui
tahapan akademik dengan didahului dari berbagai masukan dari pihak
pencipta, penerbit, komponis, penyanyi, produser serta kalangan
seniman dan asosiasi-asosiasi yang menghimpun aktivitas mereka.
Catatan sejarah kelahiran Undang-undang No. 6 Tahun 1982 cukup
memberikan penguatan secara akademik bahwa Undang-undang No. 6
Tahun 1982 meskipun dilahirkan di bawah rezim orde baru, undangundang ini dapat dikatakan cukup aspiratif.
Secara ketatanegaraan, undang-undang inipun memuat tiga
landasan pokok yang diperlukan dalam penyusunan undang-undang
yakni landasan ideologis-filosofis, landasan yuridis-normatif dan
landasan politis-operasional. Dalam konsiderans Undang-undang No. 6
Tahun 1982 dapat dibaca bahwa sebagai landasan filosofis, penyusunan
undang-undang ini adalah Pancasila. Landasan yuridis normatif adalah
Undang-undang Dasar 1945 serta landasan politis adalah TAP MPR
No. IV Tahun 1978 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara. 184
Undang-undang inipun menegaskan bahwa pengaturan tentang
hak cipta yang diatur dalam Auteurswet 1912 Stb No. 600 sudah tidak
183
Misalnya sebuah tarian koreografi yang banyak dilahirkan oleh Kesultanan
Negeri Serdang namun tarian itu dibuat dan dilahirkan dengan kerja sama dengan
berbagai elemen masyarakat yang mempunyai apresiasi terhadap dunia seni. Jika tarian
koreografi itu akan diperbanyak atau diproduksi oleh orang yang bukan warga negara
Indonesia maka izinnya tidak diberikan oleh Kesultanan Negeri Serdang bersama
masyarakat adatnya, akan tetapi diberikan oleh instansi terkait dalam masalah itu. Tidak
dapat dibayangkan jika kemudian tanpa sepengetahuan Kesultanan Negeri Serdang dan
masyarakat hukum adatnya karya koreografi tersebut kemudian diperbanyak oleh warga
negara asing hanya karena yang bersangkutan mendapat izin dari instansi yang terkait.
184
Lihat lebih lanjut bahagian menimbang huruf a Undang-undang Republik
Indonesia No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1982 Nomor 15 tanggal 12 April 1982.
270
sesuai dengan kebutuhan dan cita-cita nasional dan karenanya harus
dicabut dan digantikan dengan Undang-undang Hak Cipta Nasional
sesuai dengan politik pembangunan hukum nasional negara Republik
Indonesia. Sisi humanis atau sisi kemanusiaan lebih banyak tergambar
dalam undang-undang ini, misalnya saja agar hasil karya cipta itu dapat
dinikmati juga oleh orang lain pembatasan jangka waktu kepemilikan
hak cipta dibatasi sampai selama hidup pencipta ditambah dengan 25
(dua puluh lima) tahun setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Ini
berbeda sekali dengan Auterurswet Stb 1912 No. 600 yang
memberikan hak sampai dengan 50 (lima puluh) tahun setelah pencipta
meninggal dunia sehingga aspek sosial dari pemanfaatan hak cipta itu
baru dapat terealisasi setelah 50 (lima puluh) tahun pencipta meninggal
dunia.
Sisi kemanusiaan undang-undang ini masih tergambar dalam
undang-undang hak cipta yang terakhir yakni Undang-undang No. 19
Tahun 2002. Nilai-nilai kemanusiaan lainnya yang tergambar dalam
Undang-undang No. 19 Tahun 2002 adalah Pasal 15, 16 dan 23.185
Intinya adalah untuk kepentingan pendidikan, ilmu pengetahuan serta
kegiatan penelitian dan pengembangan, hak cipta boleh digunakan
tanpa harus meminta ijin dari pencipta, namun dengan syarat
sumbernya harus disebut dan tidak merugikan kepentingan yang wajar
terhadap pencipta atau pemegang hak cipta.
Sebagai suatu bangsa yang hari ini sedang mengalami situasi
politik dan penegakan hukum yang belum menggambarkan cita-cita
negara hukum, agaknya sudah saatnya untuk mencermati kembali
komitmen bernegara sebagai negara hukum. Era globalisasi, patut
untuk dicermati sebagai titik awal untuk memulai penegakan hukum
yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan moral. Penegasan ini
bukanlah tidak beralasan, selama kurun waktu lebih dari tiga dasawarsa
185
Pasal 15 berisikan ketentuan tentang kebolehan untuk menggunakan hak
cipta orang lain guna kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah,
penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah, keperluan pembelaan
didalam atau diluar pengadilan, ceramah yang semata-mata digunakan untuk tujuan
pendidikan dan ilmu pengetahuan, pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut
bayaran, untuk keperluan para tunanetra yang tidak bersifat komersial dengan catatan
harus menyebutkan sumbernya dan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari
pencipta. Pasal 16 berisikan tentang lisensi wajib guna kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan serta kegiatan penelitian dan pengembangan. Pasal 23 memberikan
kewenangan kepada pemilik hak cipta atas ciptaan fotografi, seni lukis, gambar,
arsitektur, seni pahat dan atau hasil seni lain tanpa persetujuan pemegang hak cipta untuk
mempertunjukkan ciptaan didalam suatu pameran untuk umum atau memperbanyak
dalam satu katalog.
271
bangsa ini hidup dalam ketakutan, ketidak pastian hukum dan hidup
dalam intimitas (suasana keakraban) yang tidak sempurna antara
sesama warga masyaraka, sebuah solidaritas sosial yang semu. Di sisi
lain perjuangan serta kemampuan bangsa ini untuk menciptakan iklim
penegakan hukum yang berkeadilan sering kandas di tangan anak
bangsa - yang berkuasa - sendiri. Apa yang sesungguhnya yang dialami
tidak lain adalah pencabikan moral bangsa sebagai akibat dari
kegagalan bangsa ini dalam menata manajemen pemerintahannya yang
berlandaskan hukum. Tidak ada negara didunia ini yang begitu luas
dampak pelanggaran hukumnya dalam struktur pemerintahannya ;
mulai dari tingkat pemerintahan pusat sampai tingkat pemerintahan
desa dan merambah jauh ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat
lokal yang dikenal taat dalam menegakkan adat istiadat, etika religius
yang ditandai dengan runtuhnya rasa kebersamaan dan hilangnya rasa
saling menghormati dan saling menghargai antara sesama warga. 186
Dalam konteks undang-undang hak cipta nasional bila
dihubungkan dengan penjelasan Pasal 12 huruf k Undang-undang No.
19 Tahun 2002 mengisyaratkan bahwa karya sinematografi yang
merupakan media komunikasi gambar gerak (moving images) tidak
hanya merupakan karya film layar lebar dengan skenario atau karya
sinematografi elektronik yang ditayangkan di televisi atau media
lainnya, tetapi juga meliputi karya berupa film iklan dan reportase yang
dibuat tanpa skenario. Karya-karya ini ditonton oleh ribuan bahkan
jutaan warga di tanah air dan pesan yang disampaikan oleh karya
sinematografi ini beragam makna. Sebagai sebuah karya peradaban,
karya sinematografi ini juga berdampak pada pembentukan karakter
bangsa. Tidak jauh berbeda dengan karya sinematografi yang berasal
dari negara asing, yang dalam berbagai pesannya melukiskan peristiwa
kekerasan, seks bebas, peperangan, politik yang curang, perampokan,
pemerkosaan, pembunuhan, horor dan sedikit sekali menampilkan
186
Mulai dari kasus korupsi yang melibatkan petinggi-petinggi negara di
Republik ini sampai dengan kasus narkoba dan geng motor yang melibatkan kelompok kelompok miskin di perkotaan. Mulai dari penjarahan uang bank yang melibatkan para
politisi, pengusaha, pejabat negara sampai pada penjarahan satu atau dua janjang kelapa
sawit yang melibatkan rakyat kecil yang tinggal di pinggiran kebun-kebun milik
Perkebunan Negara dan Swasta Asing. Khusus mengenai pelanggaran hak cipta, bidang
karya sinematografi tak pelak lagi kita dapat menyaksikan di pasar-pasar tradisional dan
di pinggiran jalan bahkan di depan kantor polisi secara terang-terangan dipasarkan DVD
dan VCD hasil pelanggaran hak cipta yang melibatkan banyak pihak, mulai dari para
pengganda sampai pada konsumen yang membeli hasil karya cipta yang diproduksi
dengan cara melawan hukum tersebut. Ungkapan ini menggambarkan betapa buruknya
situasi pelanggaran hukum di negeri ini.
272
nuansa drama rumah tangga yang mendidik, cerita tentang keindahan
alam sebagai ciptaan Sang Maha Kuasa yang kesemua ini berujung
pada pembentukan karakter anak-anak bangsa yang jauh dari cita-cita
pembangunan kebudayaan nasional. Film-film cerita, bahkan iklan
serta hasil reportase yang ditayangkan lewat media elektronik di
Indonesia telah juga turut mempengaruhi pembentukan karakter
masyarakat Indonesia. Cerita-cerita film, sinematografi elektronik
(sinetron) reportase, iklan, yang mempertontonkan rumah mewah,
mobil mewah, jabatan tinggi, pengusaha sukses, perselingkuhan dan
sederetan pesan-pesan yang menegasikan nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia saat ini tidak lagi bisa dan dapat dihempang.
Terdapat banyak ketidak jelasan dalam format pembangunan
kebudayaan (sebagai politik kebudayaan yang didalamnya termasuk
bidang hukum sebagai sub sistem politik) nasional, sejak awal
Republik ini didirikan sampai saat ini.
Di sisi lain Undang-undang No. 19 Tahun 2002 justru
mengisyaratkan sengketa perdata dalam hak cipta telah digiring untuk
diadili di Pengadilan Niaga (vide Pasal 58 Undang-undang No. 19
Tahun 2002) dan sekalipun telah diberi ruang untuk diadili di Lembaga
Arbitrase yang memungkinkan untuk dimasukkannya unsur-unsur adat
dan yang merupakan kristalisasi dari nilai-nilai filsafat Pancasila yang
merupakan abstraksi dari the original paradigmatic value of Indonesian
culture and society, namun tradisi peneyelesaian sengketa melalui
lembaga Peradilan Formal, tetap menjadi pilihan.
Pada bahagian lain tidak arif ketika Undang-undang No. 19
Tahun 2002 memasukkan klausule normatif yang memberikan
kewenangan kepemilikan atau owner kepada negara terhadap hak cipta
peninggalan sejarah-sejarah dan budaya nasional serta hak cipta hasil
kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama. Tidak arif juga ketika
ada pihak lain (yang bukan Warga Negara Indonesia) yang akan
memperbanyak atau mengumumkan ciptaan tersebut harus mendapat
izin dari instansi pemerintah tetapi justru bukan pada kelompok
masyarakat yang melahirkan karya cipta tersebut. Adalah lebih baik
dan lebih arif ketika hak semacam itu kepemilikannya (pemegang hak
cipta) diserahkan kepada masyarakat hukum adat yang memahami
seluk beluk hak-hak tradisional dan hak-hak kolektif.
Memang sandungan budaya dan intervensi politik dalam
praktek penegakan hukum adalah sesuatu yang tak terelakkan
sepanjang sejarah Negara Indonesia merdeka dan terus berlangsung
sampai hari ini. Namun, kearifan para aparat penegak hukum senantiasa
dituntut agar dapat menyahuti hati nurani rakyat sebagai pencerminan
273
dari ideologi Pancasila sebagai landasan moral bangsa, sekalipun belum
diwujudkan dalam bentuk aturan hukum normatif.
Ada perubahan yang terjadi dalam masyarakat sebagai suatu
kesadaran baru saat ini yakni ; kaum lemah dan tak berkuasa tidak lagi
bersedia menerima kemiskinan dan ketidak adilan secara pasif ; dan
suara amarah mereka mengganggu serta mengancam pihak-pihak yang
bermaksud mempertahankan status quo. Pada saat ketidak adilan
menjadi tak tertanggungkan lagi oleh masyarakat, yang apda akhirnya
membuahkan tindakan kekerasan di mana-mana.
Keadilan menjadi syarat mutlak bagi kelangsungan bangsa ini
ke depan. Ada asumsi yang kuat bahwa kelangsungan negara ini ke
depan bukan semata-mata karena keberhasilan pembangunan dalam
bidang ekonomi. Kehancuran dan sejarah jatuhnya negara-negara besar
di dunia termasuk runtuhnya kepemimpinan Orde Baru adalah dipicu
oleh ketidak adilan bukan oleh faktor kegagalan dalam pembangunan
ekonomi. 187
Faktor utama ketidak adilan itu muncul adalah karena materi
hukum yang dirumuskan oleh lembaga legislatif tidak aspiratif atau
tidak dapat menyahuti tuntutan masyarakat atau dalam rumusan lain
hukumnya tidak responsif. 188 Jika hukum tidak responsif, maka ia akan
kehilangan "rohnya". Rohnya hukum itu adalah moral dan keadilan.
Moral dan keadilan begitu mudah ditemui dalam hati nurani rakyat,
maka undang-undang hak cipta nasional harus disesuaikan dengan
tuntutan hati nurani rakyat tersebut, tidak semata-mata disesuaikan
dengan TRIPs Agreement. Penyesuaian undang-undang hak cipta
nasional yang terakhir adalah Undang-undang No. 19 Tahun 2002,
haruslah melihat kembali pada tatanan moralitas yang hidup dan
tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Era dimana hukum
187
Selama kurun waktu pemerintahan Orde Baru, telah berhasil meningkatkan
PDB domestik dengan laju pertumbuhan ekonomi 5 s/d 7 % per tahun, dan pada akhir
Repelita VI secara mengejutkan berhasil menekan angka rakyat miskin sampai dengan
20% dari 200 juta penduduk Indonesia. Namun oleh karena ketiadaan pemerataan
(instrumen hukum, gagal mencapai keadilan) kesenjangan ekonomi dengan dikotori kaya
miskin membuat keadaan semakin buruk yang akhirnya mendadak sontak ketika George
Soros dengan "Money Business"-nya di awal kejatuhan Orde Baru mengantarkan
penduduk Indonesia jatuh miskin menjadi lebih dari 60% dipenghujung tahun 1998.
Lemahnya fondasi ekonomi Indonesia tak pelak lagi karena instrumen hukum perbankan
tidak mendukung kearah terciptanya lembaga keuangan yang kuat.
188
Lebih lanjut lihat Philippe Nonet, Philip Selznick, Toward Responsive Law
& Society in Transition, Transaction Publishers, USA & London, 2009. Lihat juga
Satjipto Rahardjo, Hukum Progrresif Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Genta
Publishing, Jakarta, 2009, Satjipto Rahardjo, Membangun dan Merombak Hukum
Indonesia Sebuah Pendekatan Lintas Disiplin, Genta Publishing, Yogyakarta, 2009.
274
dibangun atas kehendak penguasa (top down) sudah berakhir. Suarasuara rakyat yang tumbuh dari bawah (buttom up) sudah tiba waktunya
untuk disahuti, dengan merumuskannya dalam berbagai kebijakan atau
wawasan politik hukum yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan
Nasional, baik itu dalam Rencana Pembangunan Jangka Pendek,
Menengah ataupun Jangka Panjang, selaku dokumen politik hukum.
Kesemua ini dimaksudkan, agar hukum tidak kering dari nilai-nilai
kultural bangsa Indonesia yakni nilai kemanusiaan dan pada gilirannya
menumbuhkan sikap bahwa semua warga negara berhak untuk
mendapat penghormatan atas marwah kemanusiaannya yang kesemua
itu akan berujung pada kepatuhan warga masyarakat terhadap hukum
sekaligus kepatuhan pada pemimpin (protogonis) yang menjadi
karakter anak bangsa.
D. Perubahan dan Pergeseran Nilai Kebangsaan
Semangat yang melahirkan faham kebangsaan atau semula
dirumuskan sebagai spirit Nasionalisme, berpangkal pada pergolakan
kebangkitan Dunia Timur pada penghujung abad XIX dan awal abad
XX di panggung politik Internasional. Diawali dari perjuangan Yose
Rizal di Philipina (1898), demikian tulis Kaelan 189 dan kemenangan
Jepang atas Rusia di Tsunia (1905), Sun Yat Sen di Cina (1911), dan
diikuti dengan pergerakan nasionalisme di India olek Tilak dan
Mahatma Gandhi denganPartai Kongresnya dan menyusul Indonesia
pada tahun 1908 yang dipelopori oleh Wahidin Soedirohoesodo dengan
Budi Utomonya. Gerakan inilah yang memelopori gerakan nasionalis
untuk menumbuhkan kesadaran berbangsa. Bangsa yang bermarwah,
bermartabat dan berdiri di atas kekuatan sendiri tanpa intervensi Asing.
Semangat kebangsaan itu terus berkobar dalam jiwa dan
sanubari rakyat Indonesia hingga sampai ke fase kemerdekaan dan
kemudian dituangkan dalam ideologi negara yakni Pancasila dengan
menempatkannya dalam sila ke tiga yakni Persatuan Indonesia, yang
sebelumnya diusulkan Bung Karno dengan nama Naionalisme. Inti
dari kata “persatuan Indonesia” dimaknai secara dinamis, yakni suatu
proses atau dinamika yang melahirkan bangsa dan negara Indonesia
yakni proses untuk menyatukan wilayah, bahasa, agama, suku, adat
istiadat dan segala macam perbedaan dalam masyarakat Indonesia
yang pelural. Hanya dengan persatuan itulah masyarakat Indonesia,
dapat menjadi kokoh, kuat dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
189
Kaelan, Op.Cit, hal. 16-17.
275
Adagium “bersatu kita teguh bercerai kita rubuh” adalah sebuah
adagium yang mengisyaratkan betapa pentingnya arti persatuan.
Sila-sila dalam Pancasila itu harus di tempatkan secara
hirarkhis dalam satu piramidal, sehingga sila pertama menjiwai silasilai yang lain yang ada di bawahnya. Sedangkan sila kedua dijiwai
oleh sila pertama, menkjiwai sila ketiga dan seterusnya. Sehingga sila
ketiga dijiwai oleh sila pertama dan menjiwai sila ke empat dan kelima.
Dalam kontes ini maka Perstauan Indonesia dijiwai oleh Sila
Ketuhanan dan sila Kemanusiaan dan menjiwai sila Kerakyatan dan
sila Keadilan sosial. Sehingga kedudukan sila ketiga ini menjadi sangat
penting sebab djiwai oleh dua sila di atasnya dan menjiwai dua sila di
bawahnya. Tidak ada artinya persatuan Indonesia, jika persatuan itu
tidak membawa makna Ketuhanan dan Kemanusiaan. Tidak juga
menjadi bermakna sila Kerakyatan dan Keadilan Sosial jika tidak
ditempatkan dalam Persatuan Indonesia.
Negara akan berada pada posisi yang kuat jika , nilai
Persatuan itu dijadikan dasar kebijakan penyelenggaraan negara,
termasuk dalam menetukan pilihan politik hukum. Khusus dalam
pilihan kebijakan politik hukum justeru jangan sampai pada titik
tertentu, hukum yang dilahirkan justeru menimbulkan perpecahan di
kalangan anak bangsa. Misalnya hukum yang dilahirkan itu justeru
diskriminatif, misalnya hak untuk orang kaya berbeda dengan hak
untuk orang miskin dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan. Atau
hukum yang dilahirkan menyamakan semua kewajiban, misalnya
perlakuan untuk nilai ujian negara atau masuk perguruan tinggi untuk
seorang anak yang bersekolah di desa dengan fasilitas sederhana
disamakan nilainya dengan seorang anak yang bersekolah di kota besar
dengan fasilitas yang lengkap. Hukum semacam ini akan menimbulkan
perpecahan, kering dari rasa keadilan, jauh dari nilai-nilai kemanusiaan
dan ini akan mengancam Persatuan Bangsa dan melemahkan semangat
nasionalisme.
Bung Karno sendiri ingin menempatkan sila Persatuan
Indonesia itgu pada sila pertama, yang kala itu dirumuskannya sebagai
sila Kebangsaan, karena pentingnya arti persatuanitu dalam konsep
pemikirannya. Hal itu dapat dimaklumi karena perjalanan untuk
memerdekakan bangsa itu sering kandas karena banyaknya perpecahan
di kalangan anak bangsa sendiri. Oleh karena itu dengan sangat etis dan
sangat hati-hati Bung Karno 190 mengumandangkan maksud itu dalam
pidatonya :
190
Kaelan, Op.Cit, hal. 262-263.
276
Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia. Saya minta saudara Ki
Bagoes Hadikoesoemo (dari golongan Islam) dan saudara-saudara Islam lain,
maafkanlah saya memakai perkataan “Kebangsaan” ini. Sayapun orang Islam,
tetapi saya minta kepada saudara-saudara, janganlah saudara-saudara salah
faham jikalau saya katakana bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar
kebangsaan. Itu bukan berarti satu kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi
saya menghendaki satu nationale staat, seperti yang saya katakana dalam
rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat
Indonesia bukan berarti staat yang sempit.
Kehati-hatian Bung Karno itu, karena golongan Islam, ingin
menjadikan Islam sebagai Dasar Negara atau paling tidak bagai jumat
islam berlaku syari’at Islam. Akan tetapi Bung Karno melihat, adalah
suatu klenyataan bahwa masyarakat Indonesia tidak semuanya
beragama Islam, untuk menghindari perpecahan, Bung Karno
menawarkan sila Kebangsaan atau Persatuan sebagai sila yang
diletakkan sebagai dasar pertama. Persatuan Indonesia itu sebenarnya
lebih dimaksudkan dalam konstelasi kedaulatan negara, ketimbang
unsur negara, begitu analisis M.Yamin terhadap pidato Bung Karno
itu. Yamin 191 menguraikan soal persatuan nasional ini dalam
kaitannya dengan apa yang disebutnya sebagai E’tat nation, nationale
state, negara kebangsaan’, yang mensyaratkan ‘kedaulatan ke dalam
dan kedaulatan ke luar’. ‘Kedaulatan ke dalam, memberikan
perlindungan dan pengawasan pada putra negeri. kedaulatan ke luar,
kesempatan luas mengatur pertaliannya dengan negara lain.
Dalam konteks hubungan dengan negara lain, kedaulatan ke
luar itulah yang menjadi inti penting faham kebangsaan. Apakah di
kemudian hari dengan mengikat hubungan atau kerja sama dengan
negara lain, kedudukan negara semakin menguat atau semakin
melemah di mata dunia Internasional. Atau justeru hubungan ke luar
dengan negara lain justeru menciptakan model emperilais baru,
emperialis modern yang terselubung. Hal itu dapat terjadi bila
ketergantungan negara semakin besar dengan negara lain, apakah itu
karena disebabkan bantuan atau pinjaman luar negari, atau karena
bantuan militer dan keamanan. Ketergantungan dan kemandirian suatu
bangsa kerap kali berhubungan dengan menguat atau melemahnya
nilai-nilai kebangsaan yang melekat dalam jiwa rakyatnya. Mereka
yang sadar akan arti berbangsa akan terus melakukan aktivitasnya demi
negara dan bangsanya. Selalu meletakkan kepentingan bangsa di atas
kepentingan individunya sendiri. Ketika rakyatnya memiliki peluang
untuk melakukan korupsi, ia tidak akan melakukan itu, karena itu akan
191
Ibid, hal. 63.
277
merugikan bangsanya sendiri. Ketika ada fasilitas umum yang
berpeluang untuk dikuasai atau dimanfaatkannya untuk kepentingan
dirinya sendiri, ia tidak akan melakukan itu karena tindakan itu akan
merugikan bangsanya sendiri. Demikian juga ketika akan melakukan
hubungan dagang dengan bangsa lain dengan mengorbankan sumber
daya alam yang ada di negaranya, hubungan dagang itu tidak
diteruskan karena akan merugikan bangsanya sendiri. Mengikat
kerjasama dengan negara lain dalam bentuk instrumen hukum
Internasional seperti Konvensi atau perjanjian bilateral (traktat) negara
tidak melakukannya, jika kesepakatan Internasional itu merugikan
bangsanya sendiri. Itulah hakekat faham kebangsaan.
Jika faham kebangsaan ini dihubungkan dengan konsep
negara hukum, maka hukum harus bersumber pada asas kebangsan.
Politik hukumlah yang kemudian mengarahkan bagaimana nilai-nilai
kebangsaan itu diturunkan dalam bentuk asas-asas hukum (tata nilai).
Dalam proses selanjutnya hukum menjadi produk politik yang
menyahuti nilai-nilai kebangsaan itu. Akan tetapi dalam negara hukum,
hukum harus determinan terhadap politik, artinya hukum harus menjadi
variabel yang mempengaruhi (independent variabel) terhadap politik,
tidak boleh sebaliknya justeru politik yang determinan terhadap hukum,
sehingga politik menjadi variabel mempengruhi (independent variabel)
dan hukum menjadi variabel terpengaruh (dependent variabel). Jika
yang terakhir ini terjadi maka negara yang bersangkutan bukan negara
hukum, tetapi negara kekuasaan. Sekalipun hukum adalah produk
politik, akan tetapi sebelum nenjadi hukum, kekuasaan politik itu
diberikan oleh hukum, sehingga aktivitas legislasi dilakukan benarbenar menurut hukum dan hukum tertinggi (grund norm) dijadikan
dasar dalam aktivitas legislasi. Dengan demikian supremasi hukum
akan dapat ditegakkan sesuai dengan konsepsi negara hukum.
Menghubungkan nilai kebangsaan dengan politik, menggiring
pemikiran bahwa dalam kebangsaan terdapat kehendak rakyat dan
rakyat diwakili oleh elit politik yang kemudian duduk di kursi legislatif
melahirkan hukum dalam arti formal antara lain dalam nemtuk undangundang. Akan tetapi benarkan undang-undang itu mewakili suara
rakyat ? Dalam suatu negara yang menganut sistem pemerintahan yang
demokratis, badan legislatif yang diwakili oleh elit politik adalah
representatif dari suara rakyat. Sehingga persepsi yang selama ini
terbangun adalah dalam sebuah negara demokratis, pemerintahan
diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Akan tetapi
278
merujuk pada studi yang dilakukan oleh Mahfud MD 192 ternyata
tereduksinya arti demokrasi dari, oleh dan untuk rakyat menjadi
pemerintahan dari rakyat, oleh elit dan untuk elit. Itulah sistuasi yang
terjadi selama kurun waktu pembentukan dan pemberlakuan undangundang hak cipta nasional. Sehingga Lev, 193 menyarankan lebih
seringlah menggunakan istilah Republik daripada istilah Demokrasi.
Istilah republik lebih berkonotasi pada kepentingan rakyat, sedangkan
istilah demokrasi lebih mengedepankan pada simbol absolutisme
kekuasaan rakyat dalam menetukan sesuatu namun selalu dikontrol
oleh kepentingan politik tertentu.
Setelah ratifikasi GATT 1994/WTO
yang di dalamnya
memuat TRIPs Agreement Indonesia sudah melangkahkan kakinya ke
dalam ikatan negara-negara industri maju yang ekonominya bertumpuh
pada kekuatan HKI. Bidang industeri manufactor dan jasa adalah sektor
terbesar yang menyumbang ekonomi Amerika di luar sektor pertanian.
Industeri senjata menempati peringkat pertama sedangkan industeri
perfilman (sinematografi) menempati urutan kedua, menyusul industeri
otomotif, tekstil dan industeri dalam bidang elektronik. Mulai dari Hak
Cipta, Paten, Merek, Desain Industri sampai pada sirkuit terpadu.
Industri-industri itu kesemuanya bertumpu pada HKI. Itulah sebabnya
Amerika begitu bersikukuh memperjuangkan HKI nya agar mendapat
perlindungan yang kuat di luar negaranya, melalui organisasi
perdagangan dunia.
Ketergantungan Indonesia dengan negara-negara ekonomi
maju yang diikuti dengan pasokan pinjaman atau hutang luar negeri
tidak terlepas dari keinginan awal negara-negara di dunia untuk
mendirikan organisasi perdagangan internasional (international trade
organization) yang telah diprakarsai sejak tahun 1947 yang kemudian
berubah menjadi World Trade Organization (WTO). Padahal sejak
awal negara-negara yang diajak untuk bergabung dalam WTO itu tidak
memiliki kesetaraan dalam sumber ekonomi, yang meliputi aspek
permodalan, keahlian, dan ketersediaan sumber daya alam. Ketika
negara-negara ini diajak untuk bergabung dalam WTO masing-masing
pihak dengan berbagai perbedaan itu tidak dapat menyampaikan
keinginannya secara utuh. Hal ini disebabkan karena masih terdapat
kualitas ketidak mandirian dari masing-masing negara merdeka dan
berdaulat yang akan bergabung dalam WTO. Ini yang oleh Justice
192
Mahfud MD dalam kata pengantarnya Daniel S. Lev., Hukum dan Politik
di Indonesia Kesinambungan dan Perubahan, LP3ES, Jakarta, 1990, hal xiii.
193
Ibid, hal. xii
279
Jackson disinyalirnya sebagai sebuah kerjasama yang sulit untuk
mencapai sukses kecuali kesepakatan hukum yang dibuat itu dapat
melawan apa yang lebih memberikan keuntungan. Negara yang
merdeka dan berdaulat dan benar-benar independen yang dapat
melepaskan diri dari ketergantungan. Hukum yang memuat
kesepakatan internasional sebaiknya menghormati doktrin kesetaraan.
Akan tetapi kesetaraan itu sulit untuk diwujudkan jika sejak awal telah
didesain agar negara-negara berdaulat itu menjadi tergantung baik
secara ekonomi maupun secara politis.194
Dengan meminjam pandangan Gunder Frank, Sritua Arif dan
Adisasono menegaskan bahwa : “Hubungan ekonomi diantara negara
maju dengan negara berkembang dibangun dengan sistem kapitalis
dalam skala internasional”. 195 Hubungan yang tidak sehat itu dijadikan
dasar untuk membangun tatanan ekonomi dunia di bawah sistem
GATT/WTO.
The funding fathers bangsa ini sejak awal berdirinya Republik
Indonesia telah memikirkan dan berusaha agar negara ini berdiri
sebagai negara yang kokoh. Berdikari, kata Bung Karno. 196 Bangsa ini
mesti bisa berdiri di atas kaki sendiri. Negara harus kuat tak boleh
lemah, jika tidak ingin didikte atau diombang-ambingkan oleh bangsa
lain. 197
194
Philip C. Jessup , A Modern Law Nations (Pengantar Hukum Modern
Antar Bangsa), Terjemahan Fitria Mayasari, Nuansa, Bandung, 2012, hal. 49.
195
Lebih lanjut lihat Sritua Arief & Adi Sasono, Indonesia Ketergantungan
dan Keterbelakangan, Mizan, Jakarta, 2013, hal. 20. Pandangan Gunder Frank
sebagaimana dikutip oleh Sritua Arief dan Adi Sasono menegaskan bahwa Gunder Frank
menolak pandangan bahwa perkembangan ekonomi negara-negara miskin akan terjadi
sebagai akibat hubungan ekonomi yang menimbulkan difusi modal, teknologi, nilai-nilai
institusi dan lain-lain faktor dinamis. Berdasarkan penemuan-penemuan historis Gunder
Frank di Amerika Latin, perkembangan yang sehat dan otonom justru terjadi pada saat
tidak adanya hubungan antara negara maju atau menurut istilahnya metropolis dengan
negara miskin atau negara satelit. Hubungan yang dibangun setelahnya justru membuat
negara-negara maju menjadi penguasa ekonomi di negara-negara miskin tersebut yang
berujung pada ketidak mandirian negara miskin tersebut.
196
Iman Toto K. Rahardjo, Herdianto WK, Bung Karno dan Ekonomi
Berdikari, Grasindo, Jakarta, 2001.
197
Suatu kali, Malaysia pernah mencoba untuk mengusik kedaulatan
Indonesia, Bung Karno langsung memberikan reaksi, dengan selogan ,”Ganyang
Malaysia”. Berkali-kali Bung Karno dalam pidatonya yang mengisyaratkan agar bangsa
ini melepaskan ketergantungan dengan bangsa lain. Go to hell with your aid. Apakah
retorika politik Bung Karno itu kemudian menjadikan posisi Indonesia semakin buruk,
Bung Karno tidak peduli. Pilihan keluar dari keanggotaan PBB pun Bung Karno sudah
siap. Dengan segudang julukan yang ia miliki, seperti Pemimpin Besar Revolusi,
Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, pemerintahannya nyaris otoriter. Lupa
membuat standarisasi kinerja birokrasi yang terukur, menciptakan perangkat hukum agar
280
Dalam pertarungan politik dan ekonomi global, saat ini
penjelajahan pemahaman tentang berbagai faktor yang mengendalikan
jalannya arus politik global itu tak dapat hanya ditelusuri melalui garis
linier. Akan tetapi harus ditelusuri pula melalui garis non linier melalui
bantuan berbagai disiplin ilmu. Dengan cara itu akan dapat diketahui
mengapa suatu negara tampil menjadi negara yang sangat kuat, namun
di sisi lain muncul negara yang sangat lemah, di bahagaian bumi di
tempat lain muncul negara yang sangat kaya dan pada saat bersamaan
di tempat lain muncul negara yang sangat miskin. Demikian pula di
negara-negara di Eropa, di Asia Tenggara, di Timur Tengah dan di
Indocina, muncul negara yang relatif bersih dari korupsi, tapi di negara
lain muncul negara yang sangat tinggi angka korupsinya. Di berbagai
negara dalam kawasan itu muncul negara yang sangat patuh terhadap
penegakan bidang HKI nya, akan tetapi pada saat yang sama di negara
lain yang masih bersama-sama berada dalam kawasan itu muncul
negara dengan pelanggaran HKI yang tinggi.
Setiap bangsa sebenarnya mempunyai harapan yang sama
untuk mendapat posisi yang berharga di mata dunia dalam kehidupan
bersama dengan bangsa lain. Pesan nilai “kebangsaan” diyakini
sebagai pesan yang lahir dari bibit yang sama oleh tiap-tiap bangsa
yang ada di dunia, sehingga sebenarnya tidak ada keunggulan suatu
bangsa atas bangsa lain yang didasarkan pada pesan yang berharga dari
nilai kebangsaan itu. Bangsa-bangsa di dunia seharusnya tumbuh
bersama dengan bangsa lain dengan memanfaat potensi yang dimiliki
bangsanya sendiri. Bahwa kemudian perbedaan dalam keberhasilannya
mengelola potensi yang ada yang berpengaruh terhadap kesejahteraan
di dalam negaranya itu adalah resultan dari pemahaman anak
bangsanya dalam pengelolaan kehidupan nasionalnya. Garis batas yang
telah disepakati oleh dunia Internasional adalah suatu bangsa tidak
boleh mengintervensi kedaulatan negara lain. Penjajahan atas suatu
bangsa terhadap bangsa lain tidak mungkin dapat lagi dilakukan seperti
terjadi di masa lampau dan larangan itu telah dimuat dalam Piagam
Perserikatan Bangsa-bangsa. 198
kinerja lembaga negara menjadi teratur dan birokrasi pemerintahan menjadi berkualitas.
Dengan menciptakan hukum demokrasi dapat dikawal. Mengawal hak-hak politik warga
negara, melindungi hak milik individu, melindungi kehormatan warga negara kesemua
itu itu dapat diukur dengan standar peraturan yang telah disepakati, tapi itu tidak
dilakukan oleh Bung Karno. Bung Bung Karno larut dalam keasyikannya menjadikan
politik sebagai panglima.
198
Lihat lebih lanjut, Hikmahanto Juwono, Op.Cit, hal. 5. Pasal 2 ayat (7)
Piagam PBB, berbunyi, “Nothing contained in the present charter shall authorize the
United Nations to intervene in matters which are essentially within the domestic
281
Meskipun demikian bagi negara seperti Indonesia, tantangan
yang dihadapi adalah tidak semata-mata datang dari luar, akan tetapi
datang dari dalam (negeri) sendiri. Harus ada penguatan secara internal
di dalam negeri, mulai dari penguatan birokrasi, sistem politik yang
lebih menyuarakan republik, sistem penegakan hukum yang merujuk
pada nilai-nilai atau grundnorm Pancasila, sistem pengelolaan ekonomi
yang memihak pada kepentingan rakyat, sistem pendidikan yang
membuka peluang kesempatan yang luas bagi rakyat untuk dapat
mengecapnya sampai pada sistem pertahanan keamanan dan
pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang berkeadilan. Secara
simultan hubungan Internasional dibangun dengan pemahaman bahwa
kebijakan lintas batas negara yang menjangkau jauh ke masa depan
dapat dilaksanakan dengan meletakkannya dalam koordinasi manajmen
internasional. Memang sangat sulit untuk dapat menjangkau itu tanpa
kepiawaian berdiplomasi. Sangat sedikit lembaga yang berwenang di
negeri ini yang mampu mengkoordinasikan masalah-masalah lintas
batas yang menjangkau jauh ke depan itu dengan kebijakan dalam
negeri. Kekeliruan dalam menyikapi ini, akan dapat berakibat fatal
bagai suatu negara, karena sekalipun imperialism tidak lagi
diperkenankan tapi karena kesalahan dalam mengambil langkah
hasilnya tidak menutup kemungkinan terjadi imperialism tersembunyi.
Imperialis yang halus yang lebih modern yakni melalui kebijakan
hutang dan pinjaman luar negeri yang menciptakan ketergantungan
atau melalui instrumen hukum internasional, seperti dalam kasus
transplantasi UU hak cipta nasional yang mewajibkan Indonesia
menyesuaikan peraturan perundang-undangan HKI nya dengan TRIPs
Agreement.
Kemajuan dalam teknologi komunikasi telah membuka pemahaman
yang luas terhadap apa yang terjadi di satu negara begitu mudah untuk
diketahui oleh belahan negara lain dalam hitungan detik. Sehingga
dunia semakin terasa dekat namun disisi lain keadaan ini juga
menimbulkan dampak negatif yang tidak sedikit, seperti semakin
kompleksnya pertarungan akan sumber-sumber daya kehidupan. Semua
ini akan berpengaruh pula pada pilihan-pilihan kebijakan yang
ditempuh oleh satu negara sebagaimana diungkapkan oleh Koko 199
berikut ini :
jurisdiction of any state or shall require the Members to submit such matters to settlement
under the present Charter, but this principle shall not prejudice the application of
enforcement measures under Chapter VII”.
199
Ibid.
282
Peningkatan dalam produksi guna memenuhi berbagai kebutuhan dan
keinginan manusia menimbulkan masalah sampah, polusi dan penyalahgunaan
sumber daya pada skala global. Perluasan kemampuan manusia untuk
menyusup ke wilayah yang sebelum ini tidak terjangkau – lautan dalam,
angkasa luar, gurun pasir yang terganas, pegunungan dan wilayah-wilayah es
yang tak terjamah – telah menggeser daerah-daerah penyangga dan daerahdaerah netral yang dulu berfungsi sebagai pelunak dan peredam permusuhan.
Pertumbuhan kekuatan destruktif yang berlipat ganda memperbesar kesulitan
dalam pemeliharaan perdamaian – khususnya perkembangan sistem
persenjataan yang semakin ringkas, dahsyat, mudah dibawa dan mudah
didapatkan. Pembentukan dua gudang senjata nuklir besar, tidak hanya
memberikan kemampuan pada negara-negara adidaya untuk melenyapkan
peradaban manusia, tetapi juga mengubah hakikat politik internasional secara
mendasar. Pemilikan persenjataan nuklir dipandang sebagai kartu masuk ke
status adidaya.
Bentuk-bentuk imperialisme modern sekalipun ditegaskan dalam
piagam PBB tidak dibenarkan untuk dilakukan akan tetapi “unjuk
pamer kekuatan senjata” negara-negara adidaya membuat negaranegara dunia ketiga seakan-akan tak mampu untuk mempertahankan
kedaulatannya. Doktrin kedaulatan internasional yang dikembangkan
pada abad pertengahan sebagaimana dikemukakan oleh Suhaidi200
didasarkan pada dua hal yang mendasar yaitu :
(1) Pada satu segi kedaulatan timbul karena adanya kekhawatiran
dari negara-negara nasional yang baru merdeka untuk
menegaskan kemerdekaan total, termasuk pengembanan
perekonomiannya, dan menghilangkan intervensi bangsabangsa feodal atau intervensi negara-negara besar.
(2) Pada segi lain merupakan akumulasi dari negara-negara baru
merdeka untuk membentuk hukum baru bagi pengaturan
wilayahnya.
Oleh karena itu, doktrin-doktrin kedaulatan negara itu memiliki
relevansi dengan penelitian ini bahwa hukum-hukum baru yang
dibentuk oleh negara yang berdaulat sebaiknya tidak mencerminkan
intervensi kedaulatan negara asing terhadap kedaulatan negara lain.
Negara-negara adidaya seringkali memanfaatkan situasi konflik dalam
negeri untuk dan atas nama demokrasi turut melakukan penyerangan
dan mengintervensi kedaulatan suatu negara. Contoh terakhir adalah
bagaimana Amerika turut membantu melakukan serangan terhadap
kediktatoran pemimpin Lybia. Meskipun ini tidak sepenuhnya untuk
200
Suhaidi, Perlindungan Lingkungan Laut : Upaya Pencegahan Pencemaran
Lingkungan Laut Dengan Adanya Hak Pelayaran Internasional di Perairan Indonesia,
Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap Dalam Bidang Ilmu Hukum Internasional, pada
Falultas Hukum USU, tanggal 1 April 2006, hal.3.
283
menegakkan masyarakat yang demokratis karena dalam satu negara
belum teruji juga bahwa sistem demokrasi adalah sistem yang paling
tepat untuk mewujudkan kedamaian, kesejahteraan dan keamanan
dalam negaranya. Untuk kasus Indonesia, Soedjatmoko 201
mengingatkan
Laju perubahan demografi, ekonomi dan teknologi yang berlaku saat ini
sedemikian rupa, sehingga empat puluh tahun yang akan datang akan
menjanjikan tingkat ketidak stabilan yang sama, jika tidak lebih lagi
dibanding empat puluh tahun sebelumnya. Lembaga-lembaga atau
pengaturan-pengaturan baru manapun yang dibentuk saat ini bagi manajemen
internasional kiranya juga dapat dianggap kadaluwarsa empat puluh tahun
yang akan datang – atau bahkan pada saat lembaga-lembaga atau pengaturanpengaturan tersebut mulai berdiri atau diberlakukan. Tak satu kelompok
pembuat keputusan pun yang memiliki kemampuan untuk menyusun semua
fakta, memahami semua alternatif, memperkirakan semua reaksi atau
mengantisipasi semua interpretasi dari suatu aksi. Kenyataan ini menuntut
keluwesan yang maksimum, konsultasi yang seluas mungkin dan kerendahan
hati yang besar dalam merancang sarana-sarana baru bagi manajemen sistem
internasional.
Koko mengajak, komponen-komponen bangsa ini harus
dengan sikap rendah hati yang besar dengan kesadaran yang penuh
bahwa, lembaga-lembaga negara dan sistem pemerintahan serta bentuk
negara kesatuan yang dirancang pada tahun 1945 itu sudah daluwarsa
untuk menghadapi arus globalisasi yang melanda peradaban dunia saat
ini. Tantangan berikutnya harus ada keberanian untuk memberi makna
pada nilai kebangsaan yang tidak hanya bersikukuh dengan faham
negara kesatuan, akan tetapi membuka wacana lalu menggantikannya
dengan bentuk negara federasi. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi
ketidak stabilan dan kompleksitas yang merupakan ciri dari sistem
internasional. Dengan Federasi faham kebangsaan akan tetap
terpelihara ke dalam, dan keluar hubungan Internasional di bangun oleh
pimpinan negara serikat yang juga dalam bentuk Republik. Keputusankeputusan politik untuk mengantisipasi perubahan atau sistem politik
yang ditawarkan oleh manajemen internasional ditangani oleh
pemerintah negara serikat, sehingga proses pembangunan dalam negeri
tidak disibukkan dengan “urusan-urusan” internasional yang selalu
bermuara pada ketidak pastian. Sistem pemerintahan dan bentuk negara
kesatuan yang ada pada hari ini dengan sistem otonomi daerah, telah
terkontaminasi dengan sistem manajemen internasioal yang kompleks
dan penuh ketidak pastian itu. Akibatnya membawa dampak pada
pilihan politik nasional yang cenderung tidak pasti juga. Dengan
201
Ibid, hal. 176-177.
284
federasi diharapkan dapat memberikan penguatan terhadap basis-basis
lokal. Sistem otonomi daerah yang diturunkan dari bentuk negara
kesatuan telah membuahkan rasa ketidak adilan di kalangan
masyarakat, dan jika ini dibiarkan terus berlanjut akan menimbulkan
konflik yang berkepanjangan. Belajar dari kasus Srilanka dan India,
pemberontakan Tamil adalah berpangkal pada ketidak adilan tersebut
karena setiap kelompok masyarakat yang ada dalam satu negara selalu
tidak puas atas pelayanan yang diberikan oleh negerinya. Kasus Aceh
misalnya, berakhir pada pemberian otonomi khusus. Akan tetapi bukan
tidak mungkin bagi Indonesia ke depan, kondisi ketidak adilan itu akan
memicu konflik-konflik baru yang dapat menghancurkan nilai-nilai
kebangsaan. Satu-satunya alternatif yang dapat dilakukan adalah
bangsa ini harus dengan rendah hati dan sungguh-sungguh
mengakomodasi kepentingan-kepentingan masyarakat lokal di daerahdaerah. Hal ini jelas lebih mudah untuk dilakukan dan sesungguhnya
dapat dicapai sebelum pecah konflik bersenjata dan kekerasankekerasan yang memuncak akibat terpolarisasikannya berbagai
sentimen yang melemahkan solidaritas kebangsaan untuk
mengusahakan kompromi. Disinilah perlunya inovasi politik yakni
dengan penuh kesantunan menggantikan badan-badan negara serta
struktur pengelolaan birokrasi yang baru meninggalkan lembagalembaga lama yang dibentuk pada tahun 1945. Kekacauaan birokrasi,
yang terjadi hari ini adalah karena kecenderungan memberi reaksi ke
arah reduksionisme terhadap manajemen internasional.
Salah satu perwujudan yang paling serius dari reduksionisme
itu adalah ilusi bahwa satu-satunya pelaku yang berarti dalam sistem
internasional adalah pemerintah dari negara kebangsaan, padahal
banyak pelaku individu yang mampu membuat kehadiran mereka lebih
terasa dalam hubungan-hubungan internasional. Hubungan-hubungan
itu sebenarnya dapat dilakukan dengan melahirkan undang-undang
yang berpihak pada kepentingan nasional. Paling tidak Cina dapat
dijadikan contoh, demikian menurut Candra Irawan 202 telah
menyesuaikan peraturan HKI-nya dengan memaksimalkan ketentuan
UU HKI-nya Kata ”kepentingan nasional” menjadi kata kunci dalam
penyusunan UU HKI di Negeri yang selama bertahun-tahun berseteru
dengan Amerika. Ada lima kebijakan politik (hukum dan ekonomi)
yang ditempuh Cina dalam menghadapi TRIPS Agreement :
202
Candra Irawan, Politik Hukum Hak Kekayaan Intelektual Indonesia,
Mandar Maju, Bandung, 2011, hal. 156-157.
285
Pertama,
dalam undang-undang HKI-nya Cina membuat ketentuan-ketentuan
pasal yang melindungi kepentingan nasionalnya.
memberikan syarat kepada perusahaan Penanaman Modal Asing
untuk melakukan investasi di Cina agar melakukan alih teknologi
kepada perusahaan lokal, sebaliknya jika ternyata praktek PMA itu
hanya semata-mata melakukan impor teknologi asing bukan alih
teknologi maka perusahaan itu dimasukkan dalam daftar terlarang.
memberikan toleransi terhadap tindakan pelanggaran HKI sepanjang
dianggap mampu mendorong warga negara atau perusahaan lokal
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dari praktek pelanggaran
HKI tersebut.
tidak terburu-buru mengabsesi konvensi WTO/TRIPs Agreement.
Cina baru resmi masuk anggota yang ke-143 pada bulan Desember
2001.
Cina tidak pernah gentar terhadap tekanan asing. 203
Kedua,
Ketiga,
Keempat,
Kelima,
Demikian pula India menjalankan politik hukum HKI-nya
untuk kepentingan nasional negaranya dengan memuat ketentuanketentuan dalam peraturan perundang-undangan HKI-nya berupa
klausule-klausule normatif yang secara tegas melindungi kepentingan
negaranya. Misalnya saja ketentuan mengenai lisensi wajib dapat
diterapkan terhadap paten yang tidak tersedia dalam masyarakat dengan
harga yang wajar. Demikian pula dalam lapangan hukum hak cipta,
apabila pemilik atau pemegang hak cipta menolak menerbitkan ulang
suatu karya padahal kepentingan umum membutuhkan karya tersebut,
lisensi wajib dapat dilaksanakan. Dengan alasan kepentingan nasional,
Pemerintah India dapat memanfaatkan hak cipta atau pemegang hak
cipta dengan membayar royalty yang wajar. Tentu saja batas kewajaran
itu menurut perhitungan-perhitungan pemerintah India sendiri. Dalam
bidang merek misalnya, apabila merek tersebut berpotensi untuk
menyesatkan masyarakat atau menyinggung keyakinan agama, atau
mengandung unsur pornografi merek tersebut tidak boleh didaftarkan.
Dalam bidang desain industri, Pemerintah India dapat menolak
pendaftaran apabila bertentangan dengan kepentingan umum atau
moralitas. Demikian juga dalam bidang desain tata letak sirkuit
terpadu, apabila mengganggu kepentingan pertahanan dan keamanan
India hak tersebut ditolak untuk didaftarkan. Demikian seterusnya,
Pemerintah Hindia-pun memanfaatkan waktu tenggang yang diberikan
oleh WTO untuk mempersiapkan diri memperkuat sistem
pengembangan HKI-nya sebelum tanggal 1 Januari 2005. India juga
terus memperkuat negosiasi dan kritis terhadap negara-negara maju
yang melakukan tekanan terhadap negerinya. India sangat terkenal dan
203
Ibid, hal. 159-162.
286
ketat dalam mengamankan asset dan hak kekayaan intelektual
nasionalnya. Bagi India, negara majulah yang selama ini memanfaatkan
sumber daya genetik (hayati) yang banyak dihasilkan oleh negaranegara berkembang.
Dapat difahami bahwa, setelah mencermati politik Hukum
HKI Cina dan India, mengapa masyarakat Indonesia kemudian menjadi
tidak patuh terhadap undang-undang Hak Cipta Nasionalnya sendiri, itu
dikarenakan undang-undang Hak Cipta Nasional yang disusun tidak
aspiratif, tidak direncanakan sedemikian rupa dengan baik guna
melindungi kepentingan nasional serta tidak mengacu pada konsep
wawasan politik Pembangunan Hukum Nasional yang dituangakan
dalam dokumen resmi negara sebagai dokumen Politik Pembangunam
Hukum Nasional. Namun demikian tidaklah berarti Undang-undang
hak cipta Indonesia hari ini kering sama sekali dari nilai kebangsaan.
Paling tidak terdapat 7 pasal dalam Undang-undang No. 19 Tahun 2002
yang secara normatif berpangkal pada nilai-nilai kebangsaan. 204 Akan
tetapi sekalipun nilai-nilai kebangsaan itu telah diadopsi dengan baik
dalam Undang-undang Hak Cipta Nasional, masih juga terdapat
penolakan masyarakat terhadap ketentuan normatif yang termuat dalam
undang-undang itu. Sikap penolakan atau perlawanan terhadap norma
hukum haruslah dipahami dari berbagai aspek. Faktor-faktor yang
menyebabkan ketidak patuhan masyarakat terhadap hukum selalu
diawali dari norma hukumnya sendiri yang tidak memberikan suasana
nyaman kepada anggota masyarakat. Ketidak patuhan terhadap norma
hukum juga dipicu oleh suatu keadaan yang memaksa atau keadaan
yang membuat anggota masyarakat tidak mempunyai pilihan. Membeli
hasil karya sinematografi bajakan yang harganya lebih murah atau
membeli hasil karya sinematografi yang original yang harganya lebih
mahal adalah sebuah pilihan keputusan yang tidak hanya didasarkan
kepada pertimbangan moral tetapi juga pertimbangan ekonomi. Dalam
masyarakat yang semakin hari semakin sarat dengan pandangan hidup
204
Pasal 10, Negara pemegang hak cipta atas ciptaan atau karya atas karya
peninggalan prasejarah, sejarah dan benda budaya nasional, hak cipta atas folklor dan
hasil kebudayaan rakyat, pasal 11 atas ciptaan yang tidak diketahui siapa penciptanya.
Pasal 17, pengumuman ciptaan yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah, Pasal
18, pengumuman suatu ciptaan yang diselenggaraan oleh Pemerintah untuk kepentingan
nasional, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pemegang hak
cipta dan kepadanya diberikan imbalan yang layak (lisesnsi wajib), Pasal 22 untuk
kepentingan keamanan dan untuk keperluan proses peradilan pidana, hak cipta atas potret
dapat diumumkan atau diperbanyak. Pasal 31, Batas waktu ciptaan atas hak cipta yang
dipegang atau dilaksanakan oleh negara.Pasal 47, perjanjian lisensi dilarang memuat
ketentuan yang menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia.
287
materialis atau kebendaan dengan hitungan-hitungan ekonomis pastilah
akan memilih langkah-langkah yang pragmatis, menguntungkan, yang
akhirnya menjatuhkan pilihannya dengan membeli karya sinematografi
hasil bajakan. Terjadi sebuah pergeseran dari sikap patuh atau
protogonis menjadi sikap antagonis yang dalam banyak kasus di
Republik ini menjadi pilihan perilaku dalam menyikapi berbagai
keadaan yang tercipta sebagai akibat pengelolaan pemerintah yang
tidak konsisten dengan pilihan politik hukumnya yang bersumber dari
nilai-nilai Ketuhanan yang terpatri dalam ideologi Pancasila sebagai
sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. 205
Sikap ketidak patuhan, pelanggaran terhadap hak-hak orang
lain. Pilihan pragmatis, substansi hukum yang jauh dari nilai religius,
penegakan hukum hak cipta yang tidak konsisten adalah merupakan
sederetan gambaran dari kegagalan undang-undang hak cipta nasional
dalam meresepsi nilai-nilai Ketuhanan dalam undang-undang hak cipta
nasinalnya namun disisi lain memperlihatkan keberhasilannya dalam
praktek transplantasi hukum asing yang bersumber dari pandanganpandangan sekuler, kapitalis dan liberal.
Banyak catatan yang terjadi yang dapat diungkap beberapa
tahun belakangan ini tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi baik pada
tingkat regional maupun tingkal global yang dilakukan oleh kelompok205
Perilaku antagonis itu tidak hanya terjadi karena penolakan terhadap norma
hukum, tetapi juga terjadi karena sikap aparat penegak hukum. Masih jelas diingatan kita
tentang pertikaian berdarah antara Satpol PP dengan warga di daerah Jakarta Utara.
Kekerasan yang memakan korban aparat dan warga kembali jadi pilihan saat sekitar
2.000 polisi pamong praja mencoba menggusur kompleks makam Mbah Priok, di Jakarta
Utara. Permasalahan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan “kepala dingin”. Tetapi
yang terjadi justru sebaliknya Tindakan represif ditunjukan oleh kedua belah pihak ini
mengakibatkan jatuhnya tiga orang korban jiwa di pihak Satpol PP. Sehari sebelumnya
kerusuhan juga pecah saat Satpol PP Kota Tangerang menggusur pemukiman warga Cina
Benteng, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari. Tindak kekerasan yang dilakukan
oleh Satpol PP merupakan sebuah tragedi yang patut kita sayangkan. Bagaimana tidak,
tragedi tersebut dilakukan oleh pihak yang paling berkuasa, yaitu negara. Inilah yang
menghasilkan apa yang disebut sebagai kekerasan struktural, yaitu kekerasan yang
digunakan oleh struktur kekuasaan yang dapat berupa aparat, tentara, pemerintah, dan
atau birokrasi. Peradaban moderen memang secara de jure dan de facto memberi
wewenang kepada negara sebagai satu-satunya institusi yang memiliki legitimasi
melakukan kekerasan. Padahal kekerasan adalah tetap kekerasan yang memiliki unsur
pemaksaan, destruksi, dan pengingkaran sebagian atau seluruh kebebasan, dan tidak
menjadi soal siapa pelakunya. Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain, beating,
(arbritrarily) killing, illegal detention, robbing, (systematic) raping, assaults on civilian,
forced relocation, torturing, indiscriminate use of weapon, isolation, stigmatization,
blocking acces, dan election fraud. Apa yang dilakukan oleh Satpol PP di dua contoh
kasus diatas bisa dikategorikan penggunaan kekerasan kepada masyarakat sipil (assaults
on civilian), dan relokasi secara paksa (forced relocation).
288
kelompok kecil yang tidak bertanggungjawab kepada siapapun kecuali
pada diri mereka sendiri. Kasus-kasus terorisme penyeludupan senjata,
obat-obatan terlarang yang beroperasi di pinggir sistem kenegaraan
adalah wujud dari reaksi terhadap kompleksitas yang direduksi dari
sistem internasional yang bias. Massa yang tak terorganisir yang tanpa
sadar bertindak secara serentak juga memberikan dampak yang sama
besarnya pada gangguan terhadap stabilitas dan keamanan dalam satu
negara yang berujung pada ketidak stabilan politik dan kegoncangan
pada ekonomi. Keadaan ini pada gilirannya akan melemahkan posisi
negara yang mengundang kekuatan imperialisme terselubung. Untuk
mengantisipasi itu, meminjam gagasan Galtung negara-negara dunia
ketiga harus membangun “kekuatan dari dalam” sebagai pengakuan
bahwa ketidak stabilan, konflik, kemiskinan hanya membuka peluang
kepada negara-negara maju untuk melakukan intervensi untuk tidak
dikatakan sebagai penjajahan dalam bentuk imperalisme terselubung.
206
E. Perubahan dan Pergeseran Nilai Musyawarah dan Mufakat
Tak mudah memang mewujudkan cita-cita negara yang selalu
dirumuskan secara garis lurus (linear) dan berkepastian (deterministic)
yang berlandaskan pada satu idealisme. Apalagi dengan menggunakan
satu sudut pandang tunggal dengan satu disiplin tertentu, yang didorong
oleh keinginan kuat untuk menghasilkan sebuah “universal model”.207
206
Johan Galtung, There Art Alternatif Four Road to Peace and Security,
Spokesman Press, Nothingham, 1984 dalam Soedjatmoko, Ibid, hal. 155.
207
Inilah sumber dari kemunculan macam-macam proyeksi dewasa ini :
proyeksi pertumbuhan ekonomi (economic development), bahkan prognose tentang
transformasi kebudayaan, proyeksi pertumbuhan masyarakat (social change ; social
transformation), proyeksi perkembangan politik (political development) dan lainnya.
Semua itu kemudian menghasilkan semacam gambaran-gambaran “unilinear
deterministic continuous change” yang bersifat “stylistic” atau “idealistic” dan yang
diangkat dari kenyataan-kenyataan yang serba tidak rapi itu. Yang hebat : semua
prakiraan-prakiraan tampak seperti membawa kita semua ke “sebuah tujuan” atau “end situation”, yang dinyatakan sebagai misalnya “masyarakat modern”, ekonomi
industrialisasi” atau “open-market democracy”, yang juga anehnya semua seperti menuju
ke sebuah gambaran situasi yang homogeny serupa yang kita jumpai di masyarakat
Peradaban Barat. Hegemoni global dari peradaban tersebut yang berlangsung sejak
Revolusi industri pada abad ke-18 di Inggris memang telah mencuatkan masyarakat
peradaban itu tak ubahnya sebagai sebuah “utopia” – sebuah situasi yang diidamidamkan oleh masyarakat Barat dan elite di masyarakat negara-negara berkembang
sebagai yang akan dituju oleh semua masyarakat di dunia, apapun latar belakang
kebudayaannya, agamanya, sistem politiknya ataupun ideologinya, dan berapa lamanya
pun proses yang mesti dijalani. Lebih lanjut lihat Dorodjatun Kuntjoro-Jakti,
289
Model pembangunan hukumpun dirumuskan secara universal
dan berlaku dalam satu kesatuan negara, hukum tunggal yang berlaku
secara unifikasi di negeri yang sangat plural. Undang-undang hak cipta
nasional untuk pertama kalinya disahkan, yakni Undang-undang No. 6
Tahun 1982 menggantikan wet produk Kolonial Belanda yakni
Auteurswet 1912 Stb. No. 600, undang-undang ini dimaksudkan
berlaku secara unifikasi.
Secara filosofis-ideologis, undang-undang yang baik haruslah
dapat menampung semua aspirasi masyarakat. Oleh karena itu politik
hukum legislasi nasional harus diarahkan untuk mencapai tujuan yakni
menyahuti cita-cita negara antara lain mewujudkan masyarakat adil dan
makmur. Dalam sebuah negara yang luas dengan penduduk yang relatif
besar, undang-undang sebaiknya dirumuskan secara fleksibel sehingga
diharapkan mampu mengikuti dan menyahuti aspirasi rakyat pada saat
ia diterapkan. Cita-cita negara yang digagas oleh para pendiri bangsa
yang secara abstrak telah dirumuskan dalam Pancasila sebagai landasan
ideologi negara. Namun dalam perjalannnya sering kali para pemimpin
lalai dalam mengejawantahkan landasan ideologi itu dalam produk
peraturan perundang-undangan.
Majelis Permusyawaratan Rakyat, misalnya (yang dulu dalam
terminologi UUD 1945 sebelum diamandemen keanggotaannya adalah
terdiri dari anggota DPR ditambah dengan utusan golongan) yang
memiliki kedudukan tertinggi dalam kebijakan legislasi, dari waktu ke
waktu memperlihatkan kinerja yang tidak mengacu pada cita-cita
negara Indonesia merdeka, seperti yang terjadi pada masa pemerintahan
Bung Karno. Kepemimpinan Bung Karno lebih memprioritaskan pada
pembangunan dalam bidang politik. 208
Menerawang Indonesia Pada Dasawarsa Ketiga Abad ke-21, Alvabet, Jakarta, 2012, hal.
6-7.
208
Pembangunan dalam lapangan kebudayaan-pun diarahkan kepada
kebutuhan politik meskipun secara tegas dalam TAP MPRS No. II Tahun 1960
ditegaskan agar warga negara Indonesia mengukuhkan jati dirinya sebagai bangsa
Indonesia dengan menolak pengaruh-pengaruh buruk dari kebudayaan asing. Pancasila
masih dijadikan landasan manifesto politik Republik Indonesia. Perekonomian-pun masih
didasarkan pada kepentingan-kepentingan politik. Singkat kata, Bung Karno ingin
mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin politik bangsa Indonesia sampai akhir
kejatuhannya di penghujung tahun 1966. Padahal periode 1945-1966 itu adalah
periodesasi yang didalam babakan sejarah keberlakuan undang-undang hak cipta nasional
yang berasal dari hukum Kolonial. Bung Karno dalam orasinya selalu
mengumandangkan dan memperlihatkan kebenciannya terhadap kapitalis. Tetapi ia tetap
saja membiarkan berlakunya undang-undang yang bernuansa kapitalis. Bung Karno juga
dalam berbagai orasinya menentang ideologi Barat tapi ia tetap saja membiarkan
berlakunya hukum-hukum di wilayah Indonesia merdeka berasal dari hukum Barat.
290
Kebijakan legislasi nasional dalam bidang perlindungan hak
cipta (tentu saja tidak terkecuali di bidang-bidang lainnya) tidak pernah
direspon dengan baik oleh kalangan legislatif sampai berakhirnya masa
kepemimpinan Bung Karno. Era kepemimpinan Soeharto, politik
legislasi nasional juga menjadi retorika yang sulit untuk dipahami
dalam perspektif negara hukum. Produk legislatif memanglah mulai
terlihat lebih banyak dilahirkan pada masa kepemimpinan Soeharto.
Akan tetapi produk legislatif lebih banyak menyahuti keinginankeinginan pemerintah (eksekutif).
Sejak dikukuhkannya Soeharto menjadi presiden di awal tahun
1967, baru pada tahun 1982 atau tepatnya 15 tahun kemudian barulah
undang-undang hak cipta peninggalan Kolonial Belanda digantikan
dengan undang-undang hak cipta nasional meskipun Undang-undang
No. 6 Tahun 1982 ini menyisakan banyak perdebatan karena undangundang ini masih sebagian besar mengacu pada roh atau spirit atau
ideologi kapitalis yang bersumber dari hukum Barat. 209
Memang hukum peninggalan Kolonial Belanda tidaklah
terlalu buruk untuk diteruskan di dalam negeri Indonesia merdeka, asal
saja politik legislasi atau kebijakan pembangunan hukum nasional
dapat menyaring norma-norma konkrit yang ada dalam undang-undang
peninggalan Kolonial Belanda itu dengan ideologi Pancasila. Disaring
dengan menggunakan ukuran-ukuran nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat Indonesia. Disaring dengan menggunakan The Original
Paradicmatic Values of Indonesia Culture and Society, tentu saja
pekerjaan demikian itu bukanlah pekerjaan yang mudah untuk
dilakukan.
Meskipun pada periode pemerintahan Soeharto telah terjadi
perubahan atas Undang-undang No. 6 Tahun 1982 dengan Undangundang No. 7 Tahun 1987 itupun tidak bermakna bahwa Undangundang No. 7 Tahun 1987 itu telah menyahuti aspirasi rakyat. Adalah
desakan pemerintah Amerika agar Indonesia segera merobah Undangundang No. 6 Tahun 1982 yang tidak aspiratif dengan keinginan
Amerika dan negara-negara maju. Kehadiran Presiden Amerika di Bali
bertemu dengan Presiden Soeharto menimbulkan spekulasi di kalangan
akademis khususnya akademisi bidang hukum bahwa pembicaraan
209
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 adalah undang-undang hak cipta yang
diberlakukan di Negeri Belanda. Wet ini disempurnakan oleh Kerajaan Belanda dalam
rangka menyahuti keinginan masyarakat Eropa yang ketika itu sebahagian besar telah
meratifikasi dan menjadi anggota Konvensi Bern tahun 1881. Auteurswet 1912 ini
menggantikan Undang-undang Hak Cipta Kerajaan Belanda sebelumnya.
291
empat mata antara Presiden Amerika dengan Presiden Soeharto tidak
lebih dari menancapkan keinginan Amerika untuk memproteksi hak
cipta warga negara mereka. 210 Segera setelah kembali Presiden
Amerika ke negerinya, Soeharto memerintahkan Menteri/Sekretaris
Kabinet yang pada waktu itu dijabat oleh Moerdiono, dan Soeharto
kemudian menerbitkan Keppres yang dikenal dengan Keppres 38 A
yang isinya membentuk tim untuk menyusun penyempurnaan Undangundang No. 6 Tahun 1982. Sekali lagi, eksekutiflah yang lebih
dominan dalam penyempurnaan Undang-undang No. 6 Tahun 1982.
Setelah tim Keppres 38 A menyelesaikan tugas-tugasnya, maka hasil
tim itu kemudian dirumuskan dan terbentuklah rancangan undangundang untuk perubahan Undang-undang No. 6 Tahun 1982. Legislatif
kemudian bersidang dan tanpa pembahasan yang berlarut-larut karena
memang demikianlah kehendak atau keinginan pemerintah (tentu saja
dengan menyahuti keinginan pihak Amerika) akhirnya disahkanlah
Undang-undang No. 7 Tahun 1987 yang isinya adalah
menyempurnakan dari bahagian-bahagian pasal-pasal Undang-undang
No. 6 Tahun 1982. Legislatif hanya bekerja di penghujung menjelang
kelahiran Undang-undang No. 7 Tahun 1987. Selebihnya yang bekerja
lebih awal adalah para eksekutif di bawah komando menteri Seketaris
Kabinet pada masa pemerintahan Soeharto.
Masih dalam orde Pemerintahan Soeharto, pada tahun 1997
hal yang sama seperti yang terjadi pada masa-masa sebelumnya
terulang kembali. Pasca ratifikasi GATT 1994/WTO, Indonesia
dihadapkan pada satu keharusan untuk menyesuaikan peraturan
perundang-undangan bidang hak kekayaan intelektualnya dengan
tuntutan GATT 1994/WTO yang salah satu instrumen di dalamnya
memuat TRIPs Agreement. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat
ditolak, akhirnya rezim Soeharto dihadapkan kembali pada
penyempurnaan Undang-undang No. 7 Tahun 1987 melalui Undangundang No. 12 Tahun 1997. Terkesan bahwa Undang-undang No. 12
Tahun 1997 ini dibuat secara terburu-buru. Ini adalah kebiasaan
legislatif di negeri ini yakni membuat undang-undang sebagai
210
Terlepas dari Indonesia harus melindungi kepentingan warga negara asing
terlebih-lebih melindungi kepentingan hak-hak kekayaan intelektual mereka akan tetapi
kehadiran Ronald Reagen di Bali diawali dari banyaknya pelanggaran hak cipta yang
dilakukan oleh masyarakat Indonsia khususnya dalam bidang software komputer dan
pelanggaran karya cipta lagu milik warga negara Amerika. Adalah lagu karya Bob
Geldof yang khusus diciptakan untuk menghimpun dana bantuan kemanusiaan life aid
atas bencana yang dihadapi masyarakat Afrika ketika itu akan tetapi lagu-lagu itu dibajak
di Cina dan di Indonesia sehingga dana bantuan kemanusiaan itu menjadi tidak optimal.
292
pekerjaan borongan. Target pembuatan undang-undang telah disusun
pada tiap-tiap tahun anggaran. Sinyalemen-sinyalemen pembuatan
undang-undang ini dilakukan secara terburu-buru karena pada akhirnya
Undang-undang No. 12 Tahun 1997 ini tidak juga dapat menyahuti
secara keseluruhan keinginan-keinginan yang dikehendaki oleh TRIPs
Agreement hasil Putaran GATT 1994/WTO, karena pada akhirnya
undang-undang yang dibuat terakhir inipun harus juga mengalami
penyempurnaan kembali melalui Undang-undang No. 19 Tahun 2002.
Dominankah peranan legislatif pada penyusunan undangundang hak cipta nasional tersebut ? Uraian di atas memperlihatkan
bahwa legislatif hampir dapat dipastikan tidak dominan dalam
menyuarakan aspirasi dan kehendak rakyat dalam penyusunan undangundang hak cipta nasional tersebut. Situasi politik pada masa
pemerintahan Bung Karno, dilanjutkan dengan pemerintahan Soeharto
hampir tidak memberi ruang terhadap aspirasi dan suara rakyat yang
disalurkan melalui lembaga legislatif. Karena pasca pemerintahan
Soeharto, hiruk pikuk politik di negeri ini berkecambuk melebihi
situasi politik pada pemerintahan sebelumnya. Kebebasan pers yang
diikuti dengan keterbukaan di segala bidang yang juga didukung oleh
kemajuan teknologi informasi secara bersamaan telah membuat
pemerintah Indonesia pasca pemerintahan Presiden Soeharto menjadi
lebih dinamis dan lebih banyak menimbulkan persoalan-persoalan baru
yang sulit untuk ditemukan pada masa-masa pemerintahan sebelumnya.
Namun di celah-celah kondisi politik dalam negeri yang demikian
keikutsertaan Indonesia dalam keanggotaan GATT 1994/WTO tidak
dapat diabaikan. Di celah-celah situasi itu tepatnya pada masa
pemerintahan Megawati, Indonesia kembali dihadapkan pada
penyempurnaan undang-undang hak cipta nasionalnya untuk
disetarakan atau diselaraskan dengan TRIPs Agreement. Peranan
lembaga legislatif juga hadir di saat-saat akhir pengesahan undangundang itu, karena pesan sesungguhnya telah lama diisyaratkan oleh
TRIPs Agreement yakni pada saat ratifikasi GATT 1994/WTO pada
tahun 1994. Dapat disimpulkan bahwa lembaga legislatif tidak lebih
dari sebagai institusi untuk menjustifikasi agar undang-undang itu
dapat diberlakukan secara sah di seluruh wilayah Republik Indonesia
dan dapat pula diperlihatkan kepada dunia internasional bahwa
Indonesia telah memiliki undang-undang hak cipta dengan standard
internasional.
Peranan legislatif lagi-lagi telah bergeser dari yang seharusnya
mempertahankan ideologi Pancasila kemudian memuat roh dari spirit
yang terkandung dalam The Original Paradicmatic Values of Indonesia
293
Culture and Society untuk dijadikan penyaring dalam penyusunan
undang-undang hak cipta nasional tak dapat lagi diwujudkan. Anggota
legislatif sulit untuk dijadikan gantungan harapan masyarakat Indonesia
dalam meluruskan ide, gagasan dan cita-cita pembangunan hukum
nasional sebagai motor dalam roda kebijakan politik pembangunan
hukum nasional.
Tidak itu saja, dalam satu unit pekerjaanpun banyak
ditemukan ketidak-kompakan. Sebagai contoh dalam Undang-undang
Hak Cipta No. 19 Tahun 2002, ditemukan hal-hal yang tidak perlu.
(lihat pasal aturan peralihan dan rentang pendaftaran). Seharusnya
pasal-pasal itu tidak diperlukan lagi, jika semua komponen yang ada
pada saat undang-undang itu disusun berpikir secara sistemik. Jika
sistem pendaftaran Hak Cipta menganut sistem dekleratif negatif, maka
tidak perlu pasal yang memuat
aturan tentang penghapusan
pendaftaran hak cipta oleh suatu sebab atau oleh suatu keadaan. (vide
pasal 44). Hapus atau tidak sebuah karya cipta dengan sistem
pendaftaran dekleratif negatif tidak memberi dampak apa-apa kepada
pencipta atau pemegang hak cipta dengan keberadaan pasal 44 Undangundang No. 19 Tahun 2002 itu. Demikian juga dengan ketentuan pasal
74 dan pasal 77. Pasal yang satu mengisyaratkan berlakunya ketentuan
yang lama atau ketentuan yang ada sebelum undang-undang ini
dilahirkan, pasal yang satunya lagi menegaskan tidak berlaku undangundang yang telah dibuat sebelumnya. Jika yang dimaksudkan oleh
pasal 77 yang tidak berlaku adalah UU No.6 Tahun 1982, UU No.7
Tahun 1987 dan UU No.12 tahun 1997, maka itu berarti yang tidak
berlaku adalah uu hak cipta yang pernah dibuat pada masa
kemerdekaan. Bagaimana dengan nasib undang-undang hak cipta yang
dibuat sebelum kemerdekaan yakni Auteurswet 1912 stb.No.600,
apakah masih berlaku juga? Jika dirujuk pasal 74 Undang-undang
No.19 Tahun 2002, jawabnya tetap masih berlaku. Sekuens nya sebagai
berikut. Auteurswet 1912 stb.No.600 di bumi Indonesia diberlakukan
dan mendapat tempat dalam wadah hukum di bumi Indonesia selama
70 tahun. Pemeberlakukan ini mengacu pada Pasal II Aturan Peralihan
UUD 1945. Pada waktu Undang-undang No. 6 Tahun 1982 disyahkan
berlakunya di Indonesia, Auteurswet 1912 Stb. No.600 dicabut, dengan
demikian tak ada tempat bagi Auteurswet 1912 Stb.No.,600 di bumi
Indonesia. Selanjutnya Undang-undang No.6 Tahun 1982 diubah
dengan Undang-undang No.7 Tahun 1987 dan Undang-undang No 12
tahun 1997. Ketiga undang-undang ini kemudian dicabut dan
digantikan dengan Undang-undang No. 12 Tahun 1997. Ketika ketiga
undang-undang itu dicabut di dalamnya ikut dicabut ketentuan yang
294
menyatakan mencabut Auteurswet Stb. 1912 No. 600, yang bermakna
bahwa Auteurswet Stb. 1912 No.600 akan hidup dan berlaku kembali
berdasarkan Pasal peralihan Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 dan dikuatkan oleh pasal 74 Undang-undang
No.19 Tahun 2002.
Pertanyaan adalah apakah memang begitu maksud pembuat
undang-undang Hak Cipta No.19 Tahun 2002. Jika demikian halnya
wawasan politik hukum apa yang menjadi dadar pilihan politik hukum
semacam itu. Di negeri asalnya Belanda saja pun, wet itu sudah tidak
diberlakukan lagi, tapi justeru di Indonesia yang telah berkali-kali
merubah, merevisi, mengganti dan bahkan menyesuaikan undangundang hak cipta nasiona nya dengan TRIPs Agreement dan pada satu
masa pernah menegaskan telah mencabut wet itu, justeru dalam
undang-undangnya
yang
terakhir
menghidupkan
dan
memberlakukannya kembali.
Ini adalah sebuah pandangan kritis, dari bahayanya menyusun
undang-undang tidak berpikir secara sistemik. Seorang yang ahli
hukum pidana merasa tak perlu memahami tentang hukum perdata.
Seorang yang telah mengukuhkan keahliannya di bidang hukum Tata
negara merasa tak perlu memahami hukum Acara Perdata atau Hukum
Acara Pidana. Seorang yang merasa ahli hukum perdata, mengajukan
banyak garis dan batasan dengan hukum dagang, hukum pasar modal,
hukum perburuhan, hukum agraria dan lain sebagainya. Pandangan dan
anggapan semacam ini, tidak saja membuat kering atau mengkerdilkan
studi ilmu hukum tapi justeru menimbulkan kesenjangan dalam
merumuskan wawasan politik hukum nasional. Memang dalam
pengajaran keilmuan dalam bidang hukum, diharuskan untuk menjurus
kepada spesialisasi pembidangan secara linier, agar publik dapat
mengetahui bidang keahlian masing-masing, namun itu tidak berarti
bahwa para ilmuwan hukum boleh melepaskan pandangan dan
kajiannya secara sistemik. Ini yang oleh Mariam Darus, Mahadi dan
terakhir M.Solly Lubis kukuhkan sebagai pendekatan sistem dalam
kajian Ilmu hukum. Sistem hukum yang memuat asas-asas hukum dan
norma hukum. Sistem hukum yang berisikan substasi, struktur dan
kultur hukum, menurut pandangan Friedman. Kritik tajam yang mesti
diungkapkan dalam disertasi ini adalah tidak ditempatkannya dengan
baik, hukum (Undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002) hak cipta
nasional dalam sistem hukum Perdata. Pemahaman terhadap hukum
perdata mengacu pada dua konsep hukum. Pertama menurut konsep
atau pandangan ilmu pengetahuan. Bahwa hukum perdata menurut
pandangan ilmu pengetahuan terdiri dari dari hukum orang
295
(personenrecht), hukum keluarga (familierecht), hukum harta kekayaan
(vermogensrecht) dan hukum kewarisan (erfecht). 211 Kosep kedua,
mengacu pada pandangan menurut Kitab Undang-Undang Hukum
perdata, yaitu Hukum Tentang orang, Hukum Tentang benda, hukum
tentang Perikatan dan Hukum Tentang Daluwarsa. Hukum tentang
Daluwarsa kemudian tak dapat dimasukkan dalam cakupan hukum
perdata materil, karena daluwarsa itu adalah lebih tepat diposisikan
sebagai hukum acara atau hukum formil sebab mengandung isi tentang
tatacara mendapatkan hak dengan lampaunya waktu. Pemusatan
pemikiran yang utama untuk menempatkan Hak Cipta sebagai bahagian
dari sistem hukum perdata haruslah dilihat terlebihg dahulu
karakteristik atau ciri-ciri hak cipta itu. Berikut ini dapat dinukilkan
tentang ciri-ciri hak cipta sebagai berikut:
1. Hak cipta itu dihasilkan oleh daya cipta, rasa dan karsa
manusia, perorangan atau kelompok.
2. Mempunyai nilai ekonomis.
3. Tidak terlihat dalam arti tidak berwujud (immateril)
4. Boleh
dialihkan
melalui,
pewarisan.,
hibah,
wasiat,perjanjian tertulis atau sebab lain yang dibenarkan
oleh unang-undang (termasuk jual beli, penyewaan,
lisensi,dan lain-lain, vide pasal 3).
5. Dianggap sebagai benda bergerak (ditentukan oleh
undang-undang bukan karena sifatnya, vide pasal 3).
6. Hak untuk mengumumkan atau memperbanyak karya
cipta
7. Adanya hak moral
8. Mengenalsistem pendaftaran meskipun dekleratif negatif
9. Dapat dipertahankan terhadap siapa saja yang melanggar
hak tersebut, baik secara perdata,pidana maupun secara
administrasi
10. Jangka waktu kepemilikan selama hidup pencipta sampai
50 tahun setelah pencipta meninggal dunia, untuk jenis
karya cipta lain dibatasi secara bervariasi.
Berdasarkan ciri-ciri atau karakteristik hak cipta tersebut,
dapat disimpulkan bahwa hak cipta itu adalah benda, yakni benda
immateril, benda tidak berwujud, dapat menjadi obyek harta kekayaan
dan dapat dijadikan obyek jual beli, obyek pewarisan, hibah, wasiat,
jual beli, lisensi atau sewa menyewa. Sama dengan perolehan atau
211
Lebih lanjut lihat Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum
Benda Nasional, Alumni, Bandung, 2010, hal. 4.
296
penguasaan terhadap benda materil, maka untuk mendapatkan karya
ciptapun seseorang harus mengeluarkan, biaya, tenaga dan bahkan
waktu yang tidak sedikit. Itulah sebabnya hak pencipta dalam kerangka
hukum disebutkan sebagai pihak yang paling berhak atau disebut
sebagai pemegang hak eksklusif atau hak khusus, karena ia diciptakan
atas kemampuan yang bersifat khusus pula. Tak dapat dillakukan oleh
semua orang yang tidak memiliki keahlian atau talenta yang khusus
melekat pada dirinya. Para pelukis, komposer, penyanyi, para aktor
(pelakon), para penari, para pengarang, peneliti dan penulis mestilah
dibekali keahlian dan talenta khusus untuk itu. Eksklusif itulah frase
yang tepat untuk menyebutkan hak yang dimiliki oleh para pencipta.
Karena itu pula pada hasil karya cipta, meskipun hakya telah berakhir,
hak moral tetap harus dilekatkan. Nama pencipta harus tetap dilekatkan
pada hasil karya cipta itu.
Kembali kepada perlunya pemahaman sistemik dengan
menempatkan hak cipta sebagai hukum benda dan bahagian dari hukum
perdata, membawa konsekuensi logis, bahwa asas-asas hukum perdata
atau prinsip-prinsip pokok hukum benda akan melekat dan tak menjadi
rujukan dalam poenyusunan undang-undang hak cipta nasional. Secara
makro (dalam kerangka sistem nasional yang luas, meliputi
ipoleksosbud) langkah-langkah yang harus dipenuhi dalam penyusunan
undang undang adalah didahului oleh pemahaman ideologis, kemudian
juridis terakhir pemahaman politis,sebagai tiga landasan ketatanegaraan
dengan pendekatan sistem. Kebijakan strategis (politik hukum)
penyusunan uu hak cipta nasional haruslah mengacu pada tiga landasan
ketatata negaraan, sebagaimana secara terus menerus dikumandangkan
oleh M.Solly Lubis dalam berbagai ruang seminar dan ruang kuliah
kemudian dituangkan dalam berbagai buku yang dapat dijadikan
rujukan ilmiah akademik. 212. Secara mikro (dalam kerangka sistem
nasional yang sempit yakni sistem hukum) pendekatan Mahadi dan
212
Lebih lanjut lihat M. Solly Lubis, Serba-Serbi Politik & Hukum, PT.
Sofmedia, Jakarta, 2011, lihat juga M. Solly Lubis, Landasan dan Teknik Perundangundangan, Mandar Maju, Bandung, 1995, Lihat juga M. Solly Lubis, Pembahasan UUD
1945, Alumni, Bandung, 1997, lihat juga M. Solly Lubis, SH, Prof. DR, Reformasi
Politik Hukum : Syarat Mutlak Penegakan Hukum Yang Paradigmatik, Orasi Ilmiah
Dalam Rangka Ulang Tahun ke-80 Prof. DR. M. Solly Lubis, SH, Guru Besar Emeritus,
Februari 2010, juga lihat M. Solly Lubis, SH, Prof. DR. Hukum Tatanegara, Mandar
Maju, Bandung, 2008 , lihat juga M. Solly Lubis, SH, Prof. DR., Ilmu Pengetahuan
Perundang-undangan, Mandar Maju, Bandung, 2009, Lihat juga M. Solly Lubis, SH,
Prof. DR, Paradigma Kebijakan Hukum Pasca Reformasi, Dalam Rangka Ultah ke-80
Prof. Solly Lubis, PT. Sofmedia, Jakarta, 2010. Lihat juga M. Solly Lubis, SH, Prof. DR,
Sistem Nasional, Mandar Maju, Bandung, 2002.
297
Mariam Darus, dapat dirujuk untuk memposisikan Hak Cipta dalam
kerangka sistem hukum perdata bidang hukum benda. Dengan
menemukan karakteristik dan asas-asas yang tersembunyi dalam hak
cipta tersebut dan ini akan memperjelas kedudukan hak cipta dalam
lapangan hukum perdata yakni merupakan sub sistem hukum benda.
Meminjam kerangka analisis sistem yang dikembangkan oleh
tiga begawan hukum asal Fakultas Hukum Universitas Sumatera utara
tersebut maka, kritik yang dapat diajukan dalam undang-undang hasil
produk terakhir lembaga legislatif nasional yang membuahkan Undangundang No. 19 Tahun 2002 hasil transplantasi hukum asing ini adalah :
1. Pasal 3 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 yang memuat
ketentuan tentang hak cipta sebagai benda bergerak sebaiknya
dihapus saja, tidak ada juga guna atau fungsinya, lebih baik
menyebutkan bahwa hak cipta adalah benda immateril, atau haka
kekayaan intelektual sebagai benda tidak berwujud. Pembuat
undang-undang sebaiknya memahami konsekkuensi hukum dari
klasifikasi benda bergerak dengan benda tidak bergerak.
Klasifikasi itu berhubungan erat dengan pengalihan, levering, atau
pada saat ia dijadikan obyek jaminan. Pada peristiwa penempatan
hak cipta sebagai benda bergerak dalam undang-undang hak cipta
nasional hampir tidak ditemukan kegunaan atau kemanfaatannya.
213
213
Pengelompokan benda ke dalam kelompok benda bergerak dan benda tidak
bergerak menurut Sri Soedewi, mempunyai arti penting dalam hal bezit levering dan
beswaring. Lebih lanjut lihat, Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata, Hukum
Benda, Liberty, Yogyakarta, 1981, hal. 22. Dalam konteks ini jika pandangan Sri
Soedewi dihubungkan dengan pandangan Volmar yang menyatakan bahwa untuk
penyerahan benda bergerak dapat dilakukan secara nyata sedangkan untuk benda tidak
bergerak, penyerahannya dilakukan dengan pendaftaran dengan menggunakan akte
autentik. Lebih lanjut lihat H.F.A., Volmar, terjemahan IS. Adiwimarta, Pengantar Studi
Hukum Perdata (I), Rajawali Pers, Jakarta, 1983, hal. 195. Hak cipta tidak dapat
dilakukan dengan penyerahan nyata karena ia mempunyai sifat yang manunggal dengan
penciptanya dan bersifat tidak berwujud. Hak ciptapun tidak dapat digadaikan karena jika
digadaikan itu berarti si pencipta harus ikut pula beralih ke tangan si kreditur. Oleh
karena pengalihan hak cipta hanya dapat dilakukan dengan sebuah akte dan dapat juga
didaftarkan agar ia bersifat autentik, maka sebenarnya lebih tepat jika hak cipta ini
digolongkan sebagai benda terdaftar. Jika hari ini sistem pendaftaran hak cipta masih
menganut sistem pendaftaran deklaratif negatif, maka sebaiknya tak perlulah diberi
ketegasan didalam satu pasal undang-undang bahwa hak cipta ini termasuk dalam
kelompok benda bergerak oleh karena dari segi kegunaannya hampir tidak
memperlihatkan manfaat sama sekali. Lebih lanjut lihat OK. Saidin, Aspek Hukum Hak
Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights), Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2006, hal. 66.
298
2.
Ketentuan pasal 74 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 sebaiknya
dihapuskan, karena sudah tidak relevan lagi dan itu membuka
ruang untuk diberlakukannya Auteurswet Stb 1912 No.600 yang
menimbulkan konflik hukum dalam penerapannya.
3.
Pemerintah tidak mengambil porsi yang berlebihan dalam undangundang ini untuk memposisikan diri sebagai institusi pemebuat
peraturan (meskipun peraturan oreganik).
4. Negara tidak diperkenankan memposisikan dirinya sebagai owner,
cukup sebagai subyek yang memgang hak menguasai oleh negara.
Kritik semacam ini seharusnya tidak lagi muncul jika
penyelenggara negara dan pemerintahan di republik ini berfikir dengan
paradigma sistem yang dapat menghilangkan kecongkakan sektoral.
Kritik terakhir yang juga harus dikemukakan dalam disertasi ini adalah
penempatan hukum, bidang hak cipta menurut versi Suyud Margono.
Dalam tulisannya halaman 83 membuat skema tentang perkembangan
sistematika hak cipta dalam sistem hukum perdata sebagai berikut :
Skema : 8
Perkembangan Sistematika Hak Cipta Dalam Sistem Hukum Perdata
HUKUM PERDATA
Hukum
Harta Pribadi
Hukum Harta
Kekayaan
Hukum
Keluarga
Hukum
Waris
Hukum
Benda
Hukum
Perikatan
Hukum Hak
Kekayaan Intelektual (HKI) :
1. Hak Cipta
2. Hak Milik Industri
a. Merek
b. Paten
c. Desain Industri
d. Rahasia Dagang
e. Sirkuit Terpadu
f. Varietas Tanaman
Dalam skema di atas, Suyud Margono menempatkan hukum benda
sejajar dengan hukum hak kekayaan intelektual yang merupakan sub
sistem dari hukum harta kekayaan yang berada dalam sistem hukum
299
perdata. Kritik yang diajukan adalah mensejajarkan hukum benda
dengan hukum hak kekayaan intelektual bersama-sama dengan hukum
perikatan adalah penempatan yang tidak mengacu pada pola pikir
sistem hukum. Jika mengacu pada pembahagian hukum perdata
menurut ilmu pengetahuan hukum 214 maka hukum harta kekayaan itu
terdiri dari dua bahagian yaitu hukum benda dan hukum perikatan.
Itulah sebabnya kemudian Kitab Undang-undang Hukum Perdata
menempatkan hukum benda pada bab sendiri dan hukum perikatan
pada bab yang tersendiri pula. Tapi keduanya termasuk dalam lapangan
hukum harta kekayaan. Bagaimana dengan kedudukan hukum hak
kekayaan intelektual ? Hukum hak kekayaan intelektual sebenarnya
bahagian dari hukum benda atau sub sistem hukum benda yang
merupakan bagian hukum harta kekayaan yang berada di dalam sistem
hukum perdata. Sehingga tidak tepat jika hukum benda disejajarkan
dengan hukum hak kekayaan intelektual sebagaimana dikemukakan
oleh Suyud Margono dalam tulisannya tersebut di atas. Jika hendak
disempurnakan maka skemanya adalah sebagai berikut :
214
Lihat lebih lanjut Suyud Margono, Hukum Hak Cipta Indonesia Teori dan
Analisis Harmonisasi Ketentuan World Trade Organization (WTO)-TRIPs Agreement,
Ghalia Indonesia, Jakarta, 2010.
300
Skema : 9
Kedudukan Hak Cipta Dalam Sistem Hukum Perdata
HUKUM PERDATA
Hukum
Harta Pribadi
Hukum Harta
Kekayaan
Hukum
Benda
Benda Materil
Hukum
Keluarga
Hukum
Waris
Hukum
Perikatan
Benda Immateril
Hukum Hak
Kekayaan Intelektual (HKI) :
1. Hak Cipta
2. Hak Milik Industri
a. Merek
b. Paten
c. Desain Industri
d. Sirkuit Terpadu
e. Varietas Tanaman
Dalam skema di atas, menjadi terang dan jelas kedudukan hak cipta
sebagai hak atas benda immateril. Karena itu juga harus dihapuskan
atau dihilangkan rahasia dagang sebagai bahagian dari hak kekayaan
intelektual. Alasannya adalah karena tidak ada hak kebendaan yang
dihasilkan dalam rahasia dagang tersebut. Rahasia dagang dalam
prakteknya adalah sebuah temuan atau invensi yang dirahasiakan oleh
penemunya. Jadi rahasia dagang adalah merupakan paten yang
dirahasiakan. Bisa saja yang dirahasiakan itu tentang komposisi obatobatan, teknik dan cara pembuatannya. Bisa juga yang dirahasiakan itu
komposisi dari jenis makanan yang dirahasiakan cara memasak dan
mengolahnya. Jadi rahasia dagang bukan suatu benda immateril
301
melainkan sebuah temuan benda imateril yang dirahasiakan. Itulah
sebabnya menurut pandangan kami rahasia dagang (termasuk juga
unfair competition atau persaingan curang) tidak semestinya
ditempatkan kedalam sub sistem hukum benda immateril yang
bersama-sama berada dalam sistem hukum perdata nasional.
Kekeliruan di atas perlu dikritik karena ini terjadi atas suatu
pandangan yang tidak sistemik dalam melihat obyek hukum (benda)
dalam satu sistem hukum yang menaunginya. Kekeliruan ini terjadi
lebih dikarenakan karena pandangan yang sempit dan linier yang
membatasi analisis dengan dinding-dinding keahlian tertentu dengan
ego disiplin ilmu tertentu. Sudah saatnya dibuka pandangan yang
seluas-luasnya untuk memposisikan hukum nasional melalui perspektif
sejarah hukum dan politik hukum.
Menempatkan hukum hak cipta dalam bahagian hukum harta
kekayaan yang merupakan sub sistem dari hukum benda bukan tidak
beralasan, sebab manakala norma-norma hukum konkrit yang
dituangkan dalam undang-undang tidak cukup mampu memberikan
jawaban dalam praktek penegakan hukum maka tugas untuk melakukan
penemuan hukum harus dibuka seluas-luasnya. 215 Aktivitas penemuan
hukum memang dapat dilakukan oleh siapa saja, akan tetapi hakim
yang menjadi ujung tombak penemuan hukum jika norma hukum tidak
cukup lengkap memberikan jawaban atas permasalahan hukum yang
dihadapi maka hakim harus kembali kepada asas hukum. Asas hukum
menurut Mariam Darus dapat ditemukan dengan cara mengabstraksi
norma hukum. Dengan metode abstraksi itu, maka ditemukanlah asasasas hukum yang tersembunyi di balik norma hukum. Mariam Darus
menyebutkan bahwa asas hukum adalah merupakan sub sistem dalam
sistem hukum. 216
215
Lihat lebih lanjut Sudikno Mertokusumo Penemuan Hukum Sebuah
Pengantar, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 2009, Lihat juga Bambang Sutiyoso, Metode
Penemuan Hukum Upaya Mewujudkan Hukum yang Pasti dan Berkeadilan, UII Press,
Yogyakarta, 2006.
216
Asas-asas hukum ini diperoleh melalui konstruksi yuridis yaitu dengan
menganalisa (mengolah) data-data yang sifatnya nyata (konkrit) untuk kemudian
mengambil sifat-sifatnya yang umum (kolektif) atau abstrak. Proses pencarian asas
hukum ini disebut dengan mengabstraksi. Aturan-aturan hukum membentuk dirinya
dalam suatu hukum itu dapat pula digolongkan dalam sub-sub sistem seperti hukum
perdata, hukum pidana, hukum tata negara, hukum ekonomi dan sebagainya. 216 Dengan
demikian suatu sistem hukum didalam suatu negara dapat dibagi-bagi dalam bagianbagian (sub sistem hukum, sehingga antara hukum yang satu dengan hukum yang lain
seharusnya saling berkaitan dan tidak boleh saling bertentangan oleh karena memiliki
asas-asas dan sendi-sendi yang terpadu. Meskipun demikian, apabila terjadi pertentangan
antara sub sistem hukum dapat diselesaikan melalui penggunaan asas-asas hukum. Lihat
302
Menempatkan hukum hak kekayaan intelektual dalam hukum
benda konsekuensinya adalah jika norma hukum yang mengatur hak
kekayaan intelektual tidak cukup lengkap memberikan jawaban atas
persoalan hukum yang diperlukan maka asas-asas hukum benda dapat
dipergunakan untuk memberikan penyelesaian dalam sengketa hukum
yang sedang dihadapi oleh para pihak. Mahadi 217 menulis dengan
mengutip C.W. Paton memberi batasan tentang asas hukum, yaitu :
“A principle is the broad reason which lies at the base of a
rule of law”. (Asas ialah suatu pikiran yang dirumuskan secara luas
yang mendasari adanya suatu norma hukum). Mahadi selanjutnya
menguraikan unsur-unsur menurut defenisi Paton sebagai berikut :
1. Alam pikiran
2. Rumusan luas
3. Dasar pembentukan norma hukum
Jika suatu norma hukum telah terbentuk, dapat dipahami
bahwa di balik pembentukan norma hukum itu terdapat dasar, dasarnya
itulah yang dirumuskan sebagai asas yang dilator belakangi oleh alam
pikiran pembuat undang-undang. Di Indonesia alam pikiran itu harus
diuji dengan Pancasila sebagai landasan filosofis pembuatan undangundang. Pancasila itu adalah hasil abstraksi dari the original
paradigmatic value of Indonesian culture and society 218 yang
lebih lanjut Mariam Darus Badrulzaman, Hukum Benda Dalam Sistem Hukum Nasional
Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, Alumni, Bandung,
2010.
217
Mahadi, Falsafah Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989, hal. 122.
218
Secara khusus, asas-asas yang terkandung dalam hukum benda dapat
dilihat dari ciri-ciri hak kebendaan. Sri Soedewi menuliskan tentang cirri-ciri hak
kebendaan dengan hak perorangan sebagai berikut : 1. Merupakan hak yang mutlak,
dapat dipertahankan terhadap siapapun juga. 2. Mempunyai zaaksgevolg atau droit de
suite (hak yang mengikuti). Artinya hak it uterus mengikuti bendanya dimanapun juga
(dalam tangan siapa pun juga) benda itu berada. Hak itu terus saja mengikuti orang yang
mempunyainya. 3. Sistem yang dianut dalam hak kebendaan di mana terhadap yang lebih
dahulu terjadi mempunyai kedudukan dan tingkat yang lebih tinggi dari pada yang terjadi
kemudian. Misalnya, seorang eigenar menghipotikkan tanahnya, kemudian tanah tersebut
juga diberikan kepada orang lain dengan hak memungut hasil, maka di sini hak hipotik
itu masih ada pada tanah yang dibebani hak memungut hasil itu. Dan mempunyai derajat
dan tingkat yang lebih tinggi dari pada hak memungut hasil yang baru terjadi kemudian.
4. Mempunyai sifat droit de preference (hak yang didahulukan) 5. Adanya apa yang
dinamakan gugat kebendaan. 6. Kemungkinan untuk dapat memindahkan hak kebendaan
itu dapat secara sepenuhnya dilakukan. Berdasarkan karakteristik atau ciri-ciri hukum
benda tersebut di atas, dapat ditarik asas-asas hukum sebagai berikut : 1. Asas
absolutisme 2. Asas zaaksgevolg atau droit de suite 3. Asas prioritas kedudukan 4. Asas
droit de preference 5. Asas perlindungan hak 6. Asas kesatuan atau keutuhan. Lihat lebih
lanjut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Op.Cit, hal. 24. Disamping itu asas-asas umum
yang berlaku dalam bidang hukum benda secara lebih rinci dikemukakan oleh Mariam
303
merupakan kumpulan dari tata nilai atau asas-asas hukum sebagai
produk budaya yang abstrak.
Asas-asas hukum benda tersebut dapat dirujuk baik dalam
pembuatan norma hukum undang-undang hak cipta nasional maupun
dalam penerapan. Asas hukum haruslah ditempatkan dalam sub sistem
hukum.
Dengan pendekatan sistem, semua persoalan hukum baik pada
saat pembuatannya maupun pada saat penerapannya akan dapat
dilaksanakan sesuai dengan tujuannya. Hukum kemudian dapat
dirasakan sebagai sarana untuk mencapai keadilan, menciptakan
kepastian hukum dan memberikan kemanfaatan. Hanya saja dalam
proses perumusan kaedah hukum hak cipta nasional kelihatannya
meninggalkan atau keluar dari
sistem nasional sebagaimana
dimaksudkan oleh M. Solly Lubis, dan mengingkari pendekatan sistem
hukum sebagaimana pandangan Mahadi dan Mariam Darus. Keadaan
ini berlangsung tidak terlepas dari suatu sebab yakni karena adanya
pergeseran cara pandang yang seharusnya mengacu kepada cara
pandang sistemik bergeser menjadi ego sektoral. Para anggota legislatif
dalam banyak hal telah meninggalkan konsep demokrasi Pancasila
yang meletakkan dasar musyawarah mufakat dan telah digantikan
dengan konsep demokrasi liberal sehingga nilai-nilai musyawarah dan
mufakat terutama dalam menentukan pasal yang berkaitan dengan
sengketa perdata tidak sepenuhnya mengacu pada penyelesaian
berdasarkan musyawarah dan mufakat akan tetapi diserahkan kepada
lembaga peradilan formal seperti peradilan niaga, meskipun peluang
untuk musyawarah dan mufakat itu telah dibuka juga melalui lembaga
peradilan arbitrase seperti yang tertuang dalam Pasal 65 Undangundang No. 19 Tahun 2002. Akan tetapi untuk pelanggaran pidana
Undang-undang No. 19 Tahun 2002 menetapkannya sebagai delik biasa
sehingga peluang untuk penyelesaian melalui musyawarah dan mufakat
itu menjadi tertutup. Oleh karena itu sudah seyogyanyalah sifat atau
jenis delik pidana Undang-undang Hak Cipta ini harus dirobah menjadi
delik aduan, bukan delik biasa.
Darus : 1. Asas sistem tertutup 2. Asas hak mengikuti benda (zaaksgevolg, droit de suite)
3. Asas publisitas 4. Asas spesialitas 5. Asas totalitas 6. Asas accessie 7. Asas pemisahan
horizontal 8. Asas dapat diserahkan 9. Asas perlindungan 10. Asas absolute (hukum
pemaksa) Lebih lanjut lihat Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda
Nasional, Op.Cit, hal. 36-42.
304
F. Perubahan dan Pergeseran Nilai Ekonomi Pancasila
Landasan filosofis pembentukan undang-undang hak cipta
nasional
mengacu pada landasan ideologi Pancasila sebagai
grundnorm. Sebagai konsekuensinya maka, seharusnya undangundang hak cipta nasional akan mencerminkan muatan tata nilai
sebagai asas-asas yang dituangkan dalam norma hukum (pasal demi
pasal) undang-undang hak cipta nasional. Khusus dalam kaitannya
dengan dasar-dasar pembentukan sistem ekonomi Nasional, yang
menjadi rujukan adalah sila ke lima dari Pancasila. Nilai filosofis
dalam sila kelima antara lain didalamnya tersirat nilai keadilan dan
nilai kesejahteraan yang dikenal dengan sistem ekonomi kerakyatan. 219
Kesejahteraan yang dicapai oleh masyarakat Indonesia hendaklah
didistribusikan secara adil dan merata bagi kemakmuran rakyat.
Sumber-sumber kehidupan ekonomi harus ditata dengan baik secara
berkeadilan. Pengaturan sumber-sumber ekonomi itu dapat dituangkan
dalam undang-undang yang menyerap dan merespon nilai-nilai
keadilan. Seluruh undang-undang yang bersentuhan dengan praktekpraktek ekonomi seperti kepemilikan tanah, penanaman modal asing,
pemanfaat hasil tambang, pemanfaatan sumber daya hutan dan kelautan
dan sumber-sumber bahan tambang dan lain sebagainya yang
melahirkan hak-hak ekonomi harus bermuara pada nilai keadilan tidak
terkecuali undang-undang hak cipta nasional yang menyangkut hak
kekayaan intelektual.
Di sisi lain sejarah perjalanan Undang-undang Hak Cipta
Nasional sejak awal telah diwarnai oleh nilai filosofis peradaban dunia
Barat yakni individualis, kapitalis dan liberal. 220 Hasilnya adalah
undang-undang hak cipta nasional terakhir ini adalah merupakan
kompromi politik nasional dengan masyarakat internasional. Inilah
yang menurut Christopher May 221 sebagai politik ekonomi global
dalam bidang intellectual property rights.
219
Lebih lanjut lihat Djoko Dwiyanto dan Ignas G. Saksono, Ekonomi
(Sosialis) Pancasila Vs Kapitalisme Nilai-nilai Tradisional dan Non Tradisional Dalam
Pancasila, Keluarga Besar Marhenisme, Yogyakarta, 2011.
220
Auteurswet 1912 Stb. No. 600 berasal dari hukum Kolonial Belanda
dengan latar belakang filsafat yang demikian. Dalam perjalanan selanjutnya, undangundang hak cipta nasional pasca ratifikasi GATT 1994/WTO yang didalamnya memuat
TRIPs Agreement mengharuskan pula Indonesia untuk menyesuaikan undang-undang
hak cipta nasionalnya dengan instrument hukum yang berlatar belakang ideologi kapitalis
liberal.
221
Christopher May, The Global Political Economy of Intellectual Property
Rights, The new enclosures Second Edition, Routledge, London, 2010.
305
Negara Indonesia pada saat menyusun Undang-undang Hak
Cipta No. 7 Tahun 1987 merevisi Undang-undang Hak Cipta No. 6
Tahun 1982 bukanlah berada pada posisi negara produsen yang maju
dalam penciptaan program komputer. Perusahaan-perusahaan dalam
bidang Information Technology dan perusahaan yang memproduksi soft
were komputer belum ada di Indonesia akan tetapi pada tahun itu
Indonesia harus memasukkan satu klausul tentang itu (perlindungan
program komputer) dalam undang-undang hak ciptanya. Ini
menimbulkan sebuah pertanyaan yang besar : Apakah masuknya
klausul itu semata-mata karena perlindungan karya cipta ini sudah
merupakan kebutuhan masyarakat Indonesia ketika itu ? Atau justru
masuknya bidang ini karena adanya tekanan atau pesanan dari negara
lain yang mempunyai kepentingan atas perlindungan karya ciptanya di
bidang ini. Tidak diperoleh keterangan yang jelas latar belakang
masuknya ketentuan ini dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1987,
tetapi yang pasti sebelum undang-undang ini lahir, Presiden Soeharto
mengadakan pembicaraan empat mata dengan Presiden Ronald Reagen
di Bali. Inti pembicaraannya adalah Indonesia harus merobah undangundang hak cipta nasionalnya yang berlaku pada waktu itu. Hasil
pertemuan itu kemudian disikapi oleh Pemerintah Soeharto dengan
membentuk satu tim yang diberi tugas untuk menyusun Undangundang Hak Cipta Indonesia yang memiliki standard internasional.
Selepas pertemuan itu terbentuklah Tim Kerja Khusus yang diketuai
oleh : Moerdiono yang kala itu menjabat sebagai Menteri Sekretaris
Kabinet berdasarkan Keputusan Presiden tangal 30 Juli 1986. Tim ini
kemudian melakukan berbagai aktivitas untuk mengumpulkan
informasi bekerjasama dengan berbagai universitas menyelenggarakan
seminar dan berujung pada penyusunan rancangan undang-undang
perubahan atas Undang-undang Hak Cipta No. 6 Tahun 1982.
Rancangan undang-undang itu disampaikan kepada DPR pada bulan
Juni dan ditetapkan menjadi undang-undang pada tanggal 9 September
1987 dan mulai berlaku pada tanggal 19 September 1987. 222
Dalam penjelasan Undang-undang No. 7 Tahun 1987 hanya
dikatakan, program komputer atau computer program yang merupakan
bahagian dari perangkat lunak dalam sistem komputer pada dasarnya
merupakan karya cipta ilmu pengetahuan dan itu perlu ditegaskan
sebagai ciptaan yang layak diberi perlindungan sebagai hak cipta.
Lebih lanjut penjelasan pasal demi pasal hanya menegaskan pengertian
222
Lebih lanjut lihat, OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual
(Intellectual Property Rights), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hal. 153.
306
program komputer sebagai peralatan elektronik yang memiliki
kemampuan mengolah data dan informasi. Oleh karena itu dapat
diyakini bahwa masuknya ketentuan pasal ini bukanlah karena
kemajuan teknologi masyarakat Indonesia pada waktu itu sudah
mencapai pada titik di mana karya cipta program komputer ini harus
dilindungi oleh undang-undang, melainkan karena adanya permintaan
negara-negara dimana warganya sebagai pemegang (pemilik) program
komputer yang saat itu sudah dipasarkan di berbagai belahan dunia.
Negara seperti Amerika, sudah barang tentu memiliki kekhawatiran
terhadap Indonesia terlebih-lebih Cina yang mereka akui sendiri
sebagai negara peringkat atas melakukan pembajakan hak cipta.
Budaya untuk berbagi ilmu pengetahuan dan berbagi
kenikmatan atas hasil yang telah dicapai oleh seseorang adalah budaya
yang sudah terpatri dalam kultur masyarakat Indonesia. Dalam cerita
hikayat lama, banyak dikisahkan tentang para saudagar yang pemurah.
Demikian pula kisah-kisah tentang para guru yang berbagi ilmu dengan
murid-muridnya. Para tabib yang mengobati pasien dari kalangan
masyarakat yang sakit tanpa dipungut bayaran. Pendek kata, aspek nilai
kekeluargaan dan nilai kebersamaan selalu diletakkan di atas
kepentingan individual. 223
Masuknya paham individualis yang merasuk sendi-sendi
masyarakat Indonesia pada kurun waktu dua dasawarsa terakhir ini
tidak terlepas dari peranan negara-negara kapitalis liberal melalui
kemajuan teknologi informasi dan teknologi transportasi yang
membuat sekatan dinding antar negara semakin sempit dan
terbangunnya tatanan ekonomi kapitalis dengan sistem merkantilisme.
Ahli ekonomi politik Skotlandia Adam Smith 224 (1723-1790)
menciptakan istilah “sistem merkantil” yang dia definisikan sebagai
“mendorong ekspor dan tidak mendorong impor”. Asumsi normatif
merkantilisme ialah bahwa kebijakan ekonomi hendaknya
meningkatkan kekuatan negara, khususnya kekuatan militer. Di
sini,kebijakan ekonomi kaum merkantilis berubah menjadi realitas
politik. Kaum merkantilis percaya bahwa akumulasi emas dan perak
sangat bermanfaat bagi persiapan cadangan devisa, namun tidak
banyak manfaat yang didapat dari perdagangan logam mulia itu.
Alasannya adalah karena logam mulia hanya digunakan untuk
223
Lihat lebih lanjut Kaelan, Negara Kebangsaan Pancasila Kultural,
Historis, Filosofis, Yuridis dan Aktualisasinya, Paradigma, Yogyakarta, 2013, hal. 397.
WTO adalah mesin hukum penggerak menuju tatanan dimana liberal kapitalis.
224
Adam Smith, Lectures on Jurisprudence, Oxford University Press, New
York, 1978.
307
menyeimbangkan pembayaran impor dengan nilai barang yang
diekspor sebagai cadangan devisa agar tidak terjadi devisit anggaran.
Karena setiap negara menerima logam mulia sebagai pembayaran
untuk impor, logam mulia semacam itu menjadi dasar kekayaan.
Kenyataannya, penumpukan logam mulia dengan tidak memproduksi
barang sambil meningkatkan persediaan uang suatu negara sangat
berbahaya bagi perekonomian suatu negara, karena tindakan itu akan
berujung pada inflasi. Itulah sebabnya kaum merkantilis lebih
mengarahkan kebijakannya pada penguatan politik ekonomi dan
penguatan politik pertahanan negara.
Memacu ekspor berarti menggiatkan produksi dan itu akan
dapat diwujudkan melalui kebijakan industrialisasi. Semua kegiatan
produksi digiring ke sektor industri. Mulai dari industri pertanian,
perikanan, makanan, obat-obatan, kimia, kedirgantaraan, persenjataan,
otomotif sampai pada industri hiburan antara lain dalam wujud industri
perfilman. Semua ini menyangkut Hak kekayaan Intellektual. Sasaran
ekspor adalah negara-negara berkembang atau negara dunia ketiga,
yang relatif minim dalam kepemilikan dan penguasaan Hak Kekayaan
Intelektual. Keadaan inilah yang memaksa kaum merkantilis kemudian
melancarkan gerakan “pengamanan HKI” mereka melalui politik
perdagangan dengan mendesain dan memanfaatkan instrumen Hukum
Internasional. Karena hanya dengan cara ini menurut Hikmahanto 225
negara-negara maju dapat terhindar dari tuduhan mengintervensi
kedaulatan suatu negara yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran
hukum Internasional. Kesepakatan perdagangan yang tertuang dalam
GATT1994/WTO dengan instrumen ikutannya antara lain TRIPs
Agreement adalah satu contoh saja, bagaimana kaum merkantilis
memainkan peranan politik ekonomi dan politik pertahanan negaranegara yang tergabung dalam negara Industeri maju di bawah
rancangan Amerika. Tidak hanya membatasi tentang pelanggaran Hak
Kekayaan Intelektual melalui kewajiban untuk menyesuaikan undangundang HKI di negaranya dengan TRIPs Agreement dan seluruh
Konvensi Internasional terkait, tetapi juga membuat klausule tentang
larangan import paralel226 yang berujung pada perlindungan negara
produsen sebagai pemilik HKI.
225
Lebih lanjut lihat Hikmahanto Juwono, Orasi Ilmiah Hukum Sebagai
Instrumen Politik : Intervensi atas Kedaulatan Dalam Proses Legislasi di Indonesia,
Disampaikan pada Dies Natalis Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Ke-50, 12
Januari 2004.
226
Lebih lanjut lihat M.Hawin, Intellectual Property Law on Parallel
Importation, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2010.
308
Sejarah merkantilis demikian 227 tak terlepas dari sejarah
peperangan yang diawali dari persaingan kolonial di antara sesama
negara-negara di Eropa. Penaklukan Spanyol atas Amerika Selatan dan
Tengah pada abad ke-16 dan akses negara itu pada logam mulia
menjadikan negara itu sebagai adidaya pada abad itu, dan koloni-koloni
dunia barunya menjadi bagian dari blok perdagangan kerajaan-kerajaan
besar yang berkuasa pada waktu itu. Pada tahun 1600, “Kerajaan
Amerika – Spanyol “ yang terdiri atas Spanyol Baru (daratan utama di
utara Genting Tanah Panama, West Indies dan Venezuela) dan Peru
(Amerika Selatan di selatan Spanyol Baru kecuali Brazil), masingmasing diperintah oleh salah satu wakil pribadi raja atau raja muda.
Merkantisme Spanyol melarang negara-negara asal non Spanyol
mengunjungi koloni-koloni Spanyol, melarang ekspor asing dari
koloni-koloninya dan menuntut agar ekpor ke koloni-koloninya
diekspor kembali melalui Spanyol. Disamping itu, koloni-koloni
Spanyol tidak diizinkan membuat berbagai produk. Dan sampai tahun
1720 semua perdagangan koloni harus diekspor kembali melalui Kota
Seville.
Di bawah merkantilisme, hubungan ekonomi dan politik
terjalin dengan baik. Kaum merkantilisme menganggap bahwa tarif
terhadap impor merupakan sumber utama pendapatan pemerintah untuk
membayar senjata dan tentara. Untuk tujuan ini, raja-raja Eropa selalu
campur tangan dalam perekonomian negara-negara mereka, dengan
mengatur produksi barang yang berhubungan dengan keamanan dan
membangun monopoli negara, korporasi-korporasi dan perusahaanperusahaan dagang. Kaum merkantilisme juga mendukung ekspansi
kerajaan dan pendirian koloni-koloni di luar negeri untuk memperoleh
pasar yang lebih besar bagi produk mereka dan akses eksklusif pada
sumber-sumber bahan-bahan mentah yang penting bagi kegiatan
industeri negara mereka. Di samping itu, indusetri manufaktur yang
menghasilkan produk terbaru diberi monopoli di luar negeri, sedangkan
pesaing-pesaing potensial dilarang masuk ke pasar dalam negeri dan
pasar kolonial melalui kuota, tarif, dan larangan import. 228
Inilah awal sejarah ekonomi kaum merkantilis yang menjadi
cikal bakal era perdagangan bebas yang diusung oleh WTO ketika
227
Lebih lanjut lihat Eamonn Kelly, Agenda Dunia Powerful Times Abad 21,
Bangkit Menghadapi Tantangan Dunia Yang Penuh Ketidakpastian, Index, Jakarta,
2010.
228
Richard W. Mansbach & Kirsten L. Rafferty, Pengantar Politik Global
Introduction to Global Politics, Terjemahan Amat Asnawi, Nusamedia, Bandung, 2012,
hal. 606-608.
309
imperialis dan kolonialis tidak lagi menjadi pilihan politik di era pasca
Perang Dunia II, namun bentuk dan model penjajahan ekonomi dan
penjajahan politik belum berubah dan masih terus berlanjut hingga hari
ini. Yang berubah adalah cara negara-negara maju itu melancarkan
politik imperialis-nya, misalnya dengan memanfaatkan instrumen
hukum internasional. Negara-negara yang menjadi sasarannya harus
terus menerus menyesuaikan diri dengan tuntutan mereka, melalui
adaptasi atau dengan cara-cara “politik balas budi” misalnya melalui
pinjaman hutang luar negeri yang sumber keuangannya berasal dari
negara-negara maju tersebut. Bagian dari proses adaptasi pasti akan
mencakup urgensi yang lebih besar untuk memperbaiki modal-modal
pasar untuk menguntungkan mereka yang bertarung. Kadang-kadang,
langkah adaptasi itu menggiring negara yang bersangkutan ke dalam
kapitalisme yang baru. Ahli ekonomi Peruvian, mengemukakan bahwa
Hernando de Soto 229 memperdebatkan dalam The Mystery of Capital
bahwa negara Barat telah mengembangkan jaringan hukum,
pengharapan, gelar, serta hubungan tak terencana dan tak terlihat yang
mendukung kepemilikan properti, dan ini mendorong terbentuknya
sistem ekonomi kapitalis. Namun, di banyak negara berkembang,
elemen vital dari sistem itu tidak muncul – hal ini bukanlah fakta yang
mengejutkan, karena sebagian besar orang di Barat memahami secara
terbuka cara sistem mereka bekerja. Sebagai hasilnya, de Soto
mengklaim bahwa usaha dengan niat baik yang dilakukan dana moneter
internasional IMF, bank dunia dan agen-agen lain yang menyebarkan
model kapasitas modern benar-benar gagal atau sukses yang tertunda.
De Soto mengacu pada rezim Hak Kekayaan Intelektual yang
memaksakan sebagai salah satu faktor pencetus sistem kapitalisme. Dia
memperkirakan bahwa dalam dunia berkembang sekarang ini 8 milyar
dolar tersia-sia kan tak tereksploitasi, dalam bentuk harta informal –
kapital yang potensial, yang bisa untuk menghasilkan kesejahteraan
baru dan kesempatan. Dia telah menyarankan pemikiran konkrit,
kebijakan dan tindakan untuk melepaskan kemungkinan laten
(tersembunyi) yang sangat besar. Argumennya menarik sebuah
perhatian yang besar, dan mantan presiden Amerika Bill Clinton
menyebut pandangannya sebagai pengembangan ekonomi sistematik
yang paling signifikan selama bertahun-tahun. Ide-ide ini
menginformasikan secara pasti perdebatan dan pengaruh kebijakan
pada dekade globalisasi berikutnya.
Negara maju telah sangat diuntungkan dari perdagangan
global selama lebih dari seabad. Tetapi hal ini tidak dapat dihentikan
dan akan terus berlanjut, hanya dengan pengenalan aspirasi legitimasi
dari seluruh dunia untuk menjadi mitra sejati dan peserta dalam
ekonomi global yang sedang berkembang. Hal ini pasti mengharuskan
negara maju, untuk memberikan pijakan dasar bagi dukungan terhadap
sektor-sektor ekonomi negara berkembang seperti sektor pertanian,
kelautan dan lain sebagainya. Hal ini juga mengharuskan negara maju
memberikan kontribusi berupa bantuan modal, tenaga ahli dan
teknologi yang dibutuhkan negara berkembang, Bantuan itu di
229
Hernando De Soto, The Mystery of Capital Why Capitalism Triumphs in
the West and Fails Everywhere Else, Basic Books, New York, 2000, hal. 35-36.
310
semestinya diberikan ke seluruh sektor ekonomi termasuk transfer
teknologi termasuk teknologi tinggi, akan tetapi hal itu untuk kasus
Indonesia tidak terjadi yang ada hanyalah pemanfaatan sumber daya
alam dan sumber daya manusia Indonesia yang relatif belum
“terjamah” dan dapat t menyediakan buruh murah dan pasar konsumen
yang besar.230
Dekade berikutnya seharusnya menghasilkan pencapaian
positif sehingga kemakmuran si kaya sama dengan si miskin sama rata.
Namun, akan ada tantangan serius untuk ke depannya dan dunia maju
harus memulai proses yang menyakitkan untuk melepaskan
pemahaman tentang apa yang diyakininya sebagai langkah politik
ekonomi yang benar. Hasilnya adalah, sementara jutaan orang
diuntungkan dari penyebaran kemakmuran, jutaan lainnya akan
mengalami sebaliknya : kemerosotan standar hidup. Bagi orang
banyak, hal ini akan menjadi mutlak – kemerosotan yang begitu
memilukan dari apa yang mereka ketahui sebelumnya. Bagi orang lain,
hal ini relatif ; hal ini akan datang dalam bentuk rasa sakit untuk tetap
bertahan atau hanya bergerak maju sedikit sementara yang lain berpacu
di depan.
Menurut PBB, jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan
(yaitu orang-orang yang hidup dengan uang kurang dari 1 dolar sehari)
menurun. Tetapi, masih terdapat 1,3 milyar orang miskin – kasarnya,
seperempat dari populasi dunia. Tujuan pengembangan milenium PBB
berjanji untuk mengurangi jumlah tersebut pada tahun 2015 dan
kemajuan sedang diusahakan untuk tujuan ini. Namun, data lain
menyatakan bahwa kondisi orang miskin sebenarnya semakin
memburuk. Selain usaha-usaha institusi internasional seperti Bank
Dunia, IMF, dan PBB, dan usaha peningkatan beberapa perusahaan
global, 21 negara di seluruh dunia meninggakan tahun 1990-an dengan
menurunnya tingkat perkembangan. Sedangkan selama tahun 1980-an
hanya 4 negara diketahui oleh program pengembangan PBB yang
menunjukkan kemerosotan dekade jangka panjang yang serupa. 231
Grafik di bawah ini, menunjukkan ketimpangan ekonomi di
berbagai negara di dunia.
230
Lihat Andi Makmur Makka, Jejak Pemikiran B.J. Habibie Peradaban
Teknologi Untuk Kemandirian Bangsa, Mizan, Yogyakarta, 2010. Bagaimana kemudian
IMF dalam LoI nya membatasi penggunaan dana bantuan IMF untuk pengembangan
industrei strategis yang dibangun oleh Habibie yang akhirnya kandas dan Indonesia
mundur 30 tahun dalam sektor ini.
231
Eamonn Kelly, Agenda Dunia Powerful Times Abad 21, Bangkit
Menghadapi Tantangan Dunia Yang Penuh Ketidakpastian, Index, Jakarta, 2010, hal.
171-173
311
Grafik 1
Ketimpangan Ekonomi di Berbagai Dunia
GNP
Populasi
GNP per kapita
5,9%
3,8%
2,8%
2,6%
1,8%
1,4%
1,9%
1,7%
2,1%
0,7%
-0,9%
-0,4%
Negara dengan pendapatan rendah
Negara dengan pendapatan rendah termasuk Cina dan India
Negara dengan pendapatan menengah
Negara dengan pendapatan tinggi
Terjadinya ketimpangan ekonomi ini tidak terlepas dari
pilihan negara maju dalam melancarkan politik ekonomi globalnya.
Amerika dengan kebijakan politik ekonominya yang tertuang dalam
“Konsensus Washington” justru telah menciptakan ketidak stabilan
ekonomi dan membangkitkan rasa ketidak adilan di beberapa negara.
Banyak tuduhan yang diarahkan kepada IMF dan Bank Dunia yang
menganggap bahwa kedua lembaga keuangan internasional ini telah
merekayasa aturan main hanya untuk melayani kepentingan negara
kaya daripada negara miskin. Tidak kurang dari mantan Kepala
Ekonomi Dunia yang juga peraih Nobel dalam bidang ekonomi Joe
Stiglitz, mengatakan dengan jelas : “Globalisasi telah menciptakan
banyak negara miskin di dunia yang kemudian tumbuh menjadi lebih
312
miskin. Bahkan ketika keadaan mereka membaik justru pada saat yang
sama mereka merasa lebih lemah. 232
Itulah pilihan kapitalis, yang membawa konsekuensi yang
sesungguhnya tidak terlihat secara kasat mata akan tetapi menimbulkan
kerumitan, ketidak adilan dan sesungguhnya berbahaya juga bagi
kelangsungan kehidupan umat manusia. 233
Kapitalis mungkin hanya dapat memacu pertumbuhan
ekonomi tapi tidak dapat memacu pemerataan. Moises Naim 234
menunjuk dalam pilihan ekonomi kapitalis menghadapi globalisasi
yang harus dilawan oleh otoritas nasional adalah perdagangan narkoba,
perdagangan illegal persenjataan, pembajakan hak kekayaan
intelektual, penyeludupan antar negara dan pencucian uang.
Globalisasi, demikian Naim mencatat membuat dunia semakin saling
berhubungan dan jaringan kriminal juga memasuki aliansi strategi
melintasi budaya dan melintasi benua. Kapitalis dan globalisasi telah
berjalan beriringan. Kapitalis menekankan pada strategi dan kebijakan
menanamkan faham ekonomi, sementara globalisasi adalah kenderaan
yang digunakan untuk menyebarkan faham itu.
Karena keberhasilan kapitalis dalam meningkatkan
pertumbuhan ekonomi namun di sisi lain kegagalannya dalam
menciptakan pemerataan serta memelihara moral dan peradaban, maka
tawaran ideologi “penyeimbang” haruslah dijadikan sebagai alternatif.
Indonesia dengan ideologi Pancasila telah menawarkan sebuah gagasan
besar dalam konsep ideologi pembangunan dalam bidang ekonomi
yakni ekonomi kerakyatan yang berkeadilan. Kesejahteraan dalam
bidang ekonomi harus diimbangi dengan pemerataan. Pemerataan
adalah wujud dari nilai keadilan. Sila kelima Pancasila memuat nilainilai filosofis yang dapat dijadikan kerangka acuan dalam pilihan
politik ekonomi.
232
Ibid, hal. 174.
Pilihan terhadap kapitalis memang sebahagian telah menciptakan negaranegara miskin meraih kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi keadaan itu hanya
dinikmati oleh segelintir orang. Warga miskin semakin hari semakin meningkat. Ada
sejumlah orang tua yang kaya raya tapi ditemukan sejumlah anak muda lainnya yang
hidup dalam kemiskinan. Negara-negara maju yang bertumpu pada pilihan kapitalis ini
juga terlihat maju secara ekonomis akan tetapi dalam kualitas kehidupannya justru
memperlihatkan kemunduran. Sebaran virus HIV telah menggerogoti kehidupan
sejumlah anak-anak muda di negara-negara maju. Kecanduan alkohol dan obat-obatan
terlarang telah mewabah di seluruh dunia sebagai akibat dari pilihan kapitalis yang
didorong oleh arus globalisasi. Lebih lanjut lihat Ibid, hal. 175-176.
234
Lebih lanjut lihat Ibid, hal. 93
233
313
Begitupun pilihan semacam itu tidak ditemui manakala
dirujuk Undang-undang Hak Cipta Nasional yang sejak awal telah
dipenuhi oleh muatan-muatan kapitalis. Gagasan-gagasan yang tertuang
dalam Undang-undang Hak Cipta Nasional yang kemudian dijelmakan
kedalam pasal demi pasal telah memperlihatkan, betapa faham kapitalis
itu telah tertanam. Sebagai contoh : Pasal 2 ayat (2) dan ayat (3)
Undang-undang No. 19 Tahun 2002 menguatkan anggapan bahwa
pesan-pesan negara maju yang memenangkan pertarungan Uruguay
Round untuk kemudian dituangkan dalam kesepakatan GATT
1994/WTO yang melahirkan TRIPs Agreement telah ditransplantasikan
secara sempurna. Meskipun dalam Undang-undang No. 19 Tahun 2002
terdapat pasal-pasal yang masih mengacu kepada tatanan nilai keadilan
dan ekonomi kerakyatan seperti Pasal 16 yang mengatur tentang
pemberian imbalan terhadap pencipta sekalipun ciptaan itu digunakan
untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan serta kegiatan
penelitian dan pengembangan. Pasal 18 juga memperhatikan segi-segi
dari nilai ekonomi kerakyatan yakni tetap memberikan imbalan yang
layak atas ciptaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Nilai
keadilan juga tercantum dalam Pasal 26 yang meletakkan
keseimbangan hak atas penjual dan pembeli atas hak cipta dalam
hubungan jual beli. Demikian juga Pasal 45 menegaskan tentang
pemberian royalty kepada pemegang hak cipta dalam hal lisensi.
Namun di sisi lain lisensi telah menjadi alat atau instrumen
ekonomi kapitalis yang menyebabkan ketergantungan para pelaku
ekonomi dengan pemegang hak cipta. Tentu saja jika hal ini terjadi
menyebabkan hanya mereka-mereka yang memiliki posisi sebagai
pemegang hak cipta yang dapat menikmati secara leluasa tentang
ciptaan yang dihasilkannya sedangkan masyarakat luas baru dapat
menikmatinya melalui mekanisme lisensi. Tampaknya jurang pemisah
yang melebar antara masyarakat kaya dan miskin telah disumbangkan
dengan baik oleh pilihan ekonomi kapitalis. Penegasan tentang hal itu
dapat dilihat dari penjelasan Pasal 2 yang menegaskan pihak lain tidak
boleh memanfaatkan hak cipta tanpa ijin pemegangnya dan itu tidak
hanya meliputi tentang penyewaan tetapi seluruh kegiatan yang
berkaitan dengan pemanfaatan hak cipta meliputi pengumuman dan
perbanyakan termasuk kegiatan penterjemahan mengadaptasi,
mengaransemen,
mengalihwujudkan,
menjual,
menyewa,
meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada
publik, menyiarkan dan mengkomunikasikan ciptaan kepada publik
melalui sarana apapun padahal syarat semacam ini tidak diharuskan
oleh TRIPs Agreement.
314
Terlihat nyata bahwa Undang-undang No. 19 Tahun 2002
semakin bergeser ke arah kapitalis yang membawa dampak semakin
menurunnya kualitas kehidupan di banyak negara yang masih terdapat
penduduk miskin seperti Indonesia. Kemerosotan moral dan
pelanggaran hukum akhirnya menjadi bahagian yang tak terhindarkan.
Jika dari waktu ke waktu undang-undang hak cipta nasional
disempurnakan dan dari waktu ke waktu pula ancaman pemidanaan
terhadap pelanggaran hak cipta semakin diperberat, akan tetapi dari
waktu ke waktu pula pelanggaran atau pembajakan hak cipta tidak
pernah berhenti dan dari waktu ke waktu memperlihatkan peningkatan
secara kuantitatif.
G. Analisis dan Temuan
Nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila sebagai
abstraksi dari nilai-nilai the original paradigmatic value of Indonesian
culture and society yang dijadikan sebagai dasar kebijakan politik
hukum nasional (sebagai landasan filosofis), yang merupakan
grundnorm sebahagian besar terabaikan dalam proses pembentukan
Undang-undang Hak Cipta Nasional mulai masa Kolonial Belanda
dengan politik hukum Eropanisasi hukum ke wilayah jajahan melalui
kebijakan penerapan azas konkordansi (Persamaan hak, pernyataan
berlaku dan tunduk sukarela) dan diteruskan pada masa kemerdekaan,
dengan politik hukum transplantasi hukum asing.
Nilai-nilai filsafati Pancasila yang sebagian terabaikan adalah
Nilai Ketuhanan yang Maha Esa bergeser dan berubah ke nilai
sekularisme, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab digantikan
dengan nilai faham individualis, nilai Persatuan atau nilai kebangsaan
digantikan dengan nilai imperalisme tersembunyi, nilai Kerakyatan dan
nilai musyawarah mufakat digantikan dengan nilai demokrasi liberal,
nilai Keadilan Sosial dan nilai kesejahteraan dalam bidang ekonomi
digantikan dengan nilai kapitalis.
Perubahan dan pergeseran nilai-nilai ini terjadi karena
kebijakan Politik Hukum Indonesia (tidak hanya dalam lapangan hak
cipta) yang dipilih dipengaruhi oleh perjalanan sejarah bangsa ini yang
selama tiga setengah abad berada di bawah koloni Kerajaan Belanda
yang dalam berbagai kesempatan menanamkan missi Politik Hukum
yang telah dirancang secara sistematis sejak awal, akan tetapi juga
pasca kemerdekaan Indonesia lebih memilih pada kebijakan politik
hukum pragmatis, sehingga nilai-nilai filsafati Pancasila itu nyaris
(menjadi) terabaikan.
315
Jika dibandingkan dengan teori negara hukum modern yang
dianut oleh Indonesia, maka Undang-undang Hak Cipta Nasional yang
akan menjadi rujukan dalam perilaku penegakan hukum mestinya sejak
awal harus didesain dalam politik hukum nasional untuk dapat
menampung aspirasi masyarakat Indonesia yang mengacu pada
landasan ideologi Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Secara
substantif isi undang-undang hak cipta nasional itu seharusnya
menampung gagasan ideal cita-cita negara yang dirumuskan sebagai
tujuan negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur atau negara
sejahtera (welfare state). Undang-undang Hak Cipta Nasional yang
sesuai dengan tujuan negara itu diturunkan menjadi policy (kebijakan)
yang dijadikan sebagai wawasan politik hukum nasional yang
dituangkan dalam program legislasi nasional (prolegnas) sebagai garis
politik pembangunan hukum nasional di bidang hak cipta.
Dalam tataran praktek undang-undang ini dijadikan sebagai
rujukan dalam aktivitas penegakan hukum (law enforcement). Tulisan
ini telah membuktikan bahwa baik pada tahapan pembentukan undangundang sampai pada tahapan penerapannya menyimpang dari teori
negara hukum. Sehingga untuk kasus pelaksanaan undang-undang hak
cipta dalam bidang perlindungan karya sinematografi tidak lagi
memperlihatkan adanya nuansa-nuansa negara hukum akan tetapi lebih
banyak memunculkan pada konsep negara kekuasaan.
Pada tataran middle range theory, Seidman mengatakan
bahwa the law of non transferability of law bahwa auteurswet 1912 Stb.
No. 600 dan TRIPs Agreement beserta konvensi-konvensi internasional
yang menjadi ikutannya tidaklah tumbuh dari peradaban bangsa
Indonesia. Sehingga ketika transplantasi hukum itu dilakukan (transfer
of law) ternyata banyak nilai-nilai (the original paradigmatic value of
Indonesian culture and society) yang hilang yang tidak tertampung
dalam undang-undang hak cipta nasional ini. Saat undang-undang hak
cipta nasional hasil transplantasi itu diterapkan ternyata tertolak dalam
masyarakat. Proses penolakan itu berjalan secara masif dengan proses
pembiaran struktural. Tidak ada penegakan hukum yang berarti yang
dilakukan guna menegakkan norma-norma undang-undang hak cipta
nasional khususnya dalam bidang karya sinematografi. Budaya
penegakan hukum sama sekali tidak mencerminkan gagasan-gagasan
negara hukum. Hal itu terjadi karena transplantasi norma hukum tidak
diikuti dengan transplantasi struktur dan kultur. Normanya berasal dari
peradaban Barat, tapi struktur dan kultur masih kental dengan warna
Indonesia dengan peradaban Timur.
316
Undang-undang hak cipta nasional mengacu pada pada teori
politik hukum Hikmahanto Juwana pada tataran basic policy yang
semula diarahkan untuk menjadi sarana yang dapat menumbuhkan
kreativitas pencipta khusus dalam lapangan karya sinematografi
diarahkan untuk mewujudkan industri perfilman nasional menjadi
industri kreativitas yang dapat mendongkrak kesejahteraan ekonomi
sosial dan masyarakat Indonesia, justru tidak mencapai tujuannya. Pada
tataran basic policy dan anactment policy yang terjadi adalah undangundang hak cipta nasional telah melumpuhkan sendi-sendi peradaban
karena praktek pembajakan dan pelanggaran hak cipta telah membuat
industri perfilman nasional menjadi tidak tumbuh. Bahkan para
seniman banyak yang memilih untuk beralih menjadi aktor politik.
Kenyataan ini membuktikan bahwa hukum yang semula bertujuan
untuk mewujudkan keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan
ternyata kemudian menjadi komoditi politik dalam tataran anactment
policy sehingga hukum tidak dapat ditegakkan yang akhirnya hanya
memberi makna simbolik (symbolic meaning).
Hukum yang ditempatkan sebagai sub sistem dalam sistem
politik nasional dan sistem politik berada bersama-sama dengan sub
sistem lainnya dalam sistem nasional memberikan jawaban bahwa
ternyata hukum tidak berada pada ruang hampa. Faktor yang
mengelilingi atau mengitari tempat dimana hukum itu diciptakan dan
diberlakukan pada akhirnya akan menentukan keberadaan hukum itu
dalam sistem nasional.
Dengan meminjam kerangka skema sistem politik hukum
Indonesia menurut analisis kesisteman dari M. Solly Lubis maka dapat
dipastikan bahwa kualitas politik hukum sebagai sub sistem dalam
sistem politik nasional akan menentukan jalannya sistem politik.
Sebagai suatu sistem ini akan berpengaruh pula terhadap kualitas
ketahanan nasional. Dalam kasus transplantasi hukum asing ke dalam
undang-undang hak cipta nasional memperlihatkan bahwa pilihan
politik yang dilakukan adalah pilihan politik yang sangat pragmatis dan
itu akan mempengaruhi dimensi hukum secara internal yakni akan
menggusur nilai-nilai hukum lokal (act locally) sedangkan secara
internal dimensi hukum internasional (Auteurswet 1912 Stb. No. 600
dan TRIPs Agreement) cukup kuat berpengaruh baik secara ideologis
maupun secara normatif terhadap hasil akhir undang-undang hak cipta
nasional. Dalam dimensi internal terlihat bahwa pilihan politik hukum
transplantasi yang bersifat pragmatis itu secara meyakinkan
berpengaruh pada ideologi politik yakni bergesernya dari ideologi
Pancasila ke ideologi liberal. Pada tataran sub sistem ekonomi terjadi
317
pula pergeseran dari sistem ekonomi kerakyatan bergeser kepada
sistem ekonomi kapitalis, sedangkan pada tataran sosial budaya terjadi
kegoncangan budaya (culture shock) yang ditandai dengan penolakan
terhadap nilai-nilai yang ditawarkan oleh sistem hukum asing
(Auteurswet 1912 Stb. No. 600 dan TRIPs Agreement) yakni
penegakan undang-undang hak cipta khususnya dalam bidang karya
sinematografi tak pernah dapat ditegakkan. Budaya legislatif, eksekutif,
yudikatif dan masyarakat tak pernah mampu menyahuti norma-norma
hukum yang nilai-nilainya (bahkan normanya) di transplantasi dari
hukum asing. Pada tataran pertahanan dan keamanan terjadi pelemahan
pada fungsi penegakan hukum yang berdampak juga terhadap
kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penegakan hukum. Semakin
melemahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak
hukum, maka semakin lemah pula sistem pertahanan dan keamanan.
Dampak konstruktif yang dihasilkannya adalah, Indonesia
mempunyai undang-undang hak cipta nasional yang memiliki
standarisasi internasional, akan tetapi dampak yang destruktif tak bisa
tidak akan muncul. Dampak destruktif yang terjadi adalah terjadi
pelemahan pada ideologi, ekonomi, sosial budaya dan hankam yang
pada gilirannya akan menghilangkan jati diri bangsa. Secara ekonomi
kesadaran akan ekonomi kerakyatan semakin kering dari nilai-nilai
yang tertuang dalam Pancasila.
Dampak konstruktif yang dihasilkannya adalah, Indonesia
mempunyai undang-undang hak cipta nasional yang memiliki
standarisasi internasional, akan tetapi dampak yang destruktif tak bisa
tidak akan muncul. Dampak destruktif yang terjadi adalah terjadi
pelemahan pada ideologi, ekonomi, sosial budaya dan hankam yang
pada gilirannya akan menghilangkan jati diri bangsa. Secara ekonomi
kesadaran akan ekonomi kerakyatan semakin kering dari nilai-nilai
yang tertuang dalam Pancasila.
Temuan berikutnya adalah dengan menggunakan skema
kerjasama teoritis dan praktisi dalam pembinaan hukum nasional maka
kerjasama antara teoritis dalam bidang politik, hukum, ekonomi,
budaya dan lain-lain dalam sistem nasional akan dapat dipadukan
dengan kalangan praktisi dalam sub bidang yang sama.
Secara ideal dalam pandangan teoritis, politik, hukum,
ekonomi dan budaya haruslah mengacu pada cita-cita negara Republik
Indonesia yang bersandar pada ideologi Pancasila dan Undang-undang
Dasar 1945 akan tetapi dalam tataran praktek politik disimpangi karena
adanya tuntutan pragmatis yang berpengaruh terhadap kebijakan
pembentukan hukum yang tidak dapat lagi terhindar dari tuntutan
318
pragmatis itu. Kesemua ini akan membawa dampak dalam tataran
praktis terhadap komponen-komponen ekonomi dan budaya. Akan
tetapi, pandangan dari sudut teoritis tersebut hendaklah dipadukan
dengan pandangan dari sudut pengalaman praktis sehingga keduanya
dapat dipadukan guna merumuskan hukum nasional yang dapat
menyeimbangkan antara gagasan ideal (teoritis) dengan kepentingan
praktis yakni dalam konteks undang-undang hak cipta melahirkan
gagasan undang-undang hak cipta nasional yang dapat melindungi
kepentingan dan menumbuhkan kreativitas anak bangsa selaku
pencipta, akan tetapi dapat pula menyahuti kepentingan-kepentingan
yang bersifat praktis dalam suasana pergaulan antar bangsa. Pilihan
terhadap politik hukum tidak lagi semata-mata dilakukan dengan
pilihan yang didasarkan pada kebutuhan sesaat (pragmatis) akan tetapi
juga melihat pada kebutuhan jangka panjang dengan memperhatikan
kepentingan nasional. Kesemua ini dapat disusun dalam wawasan
politik hukum yang dijadikan sebagai dasar prolegnas dan relegnas.
Dengan demikian undang-undang hak cipta nasional yang selama
kurun waktu 4 kali masa perubahan itu diteliti ulang kembali bahagianbahagian mana yang perlu mendapat perhatian guna menyahuti
gagasan-gagasan ideal dan kepentingan praktis dan itu dapat diajukan
dalam rancangan undang-undang penyempurnaan undang-undang hak
cipta nasional di masa-masa yang akan datang. Rancangan undangundang itu untuk kemudian digodok di lembaga legislatif untuk
dijadikan undang-undang. Pada tataran praktek diberlakukan undangundang hak cipta nasional yang baru. Pengalaman selama ini terlihat
bahwa undang-undang hak cipta nasional yang berlaku dalam kurun
waktu + 100 tahun memperlihatkan sisi penegakan hukum yang tidak
menggembirakan. Hasil penelitian ini telah mengevaluasi
pemberlakuan undang-undang hak cipta nasional itu dan itu dapat
dijadikan sebagai umpan balik bagi penyempurnaan undang-undang
yang lebih menyahuti gagasan ideal (teoritis dan kepentingan praktis)
semua ini akan dapat dijadikan sebagai umpan balik bagi kebijakan
politik hukum pada masa-masa berikutnya.
Sebahagian dari nilai ideologi Pancasila telah mati dan
terkubur di tangan anak bangsa sendiri. Mati dan terkuburnya sebagian
dari nilai-nilai ideologi Pancasila itu serta hidupnya ideologi kapitalis
di Indonesia patut dicermati dan disikapi oleh siapapun yang cinta
negeri dan bangsa ini. Undang-undang hak cipta yang menjadi obyek
studi ini adalah sebahagian kecil dan salah satu contoh saja terhadap
pilihan politik transplantasi hukum asing ke dalam undang-undang
nasional. undang-undang lingkungan hidup, undang-undang
319
perlindungan konsumen, undang-undang perbankan, undang-undang
penanaman modal, undang-undang perpajakan dan sederetan undangundang lainnya adalah undang-undang yang lahir dari pilihan politik
hukum transplantasi hukum asing ke dalam undang-undang nasional.
Pilihan politik yang pragmatis yang memiliki kecenderungan
mengabaikan nilai-nilai ideologi negara dan bangsa, mengorbankan
nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia (act locally), dan
telah mematikan serta mengubur nilai sosio-kultural the original
paradigmatic value of Indonesian culture and society. Setiap kaedah
atau norma hukum yang berlandaskan pilihan politik pragmatis tersebut
lambat laun akan ditinggalkan dan dilupakan oleh masyarakat karena
tidak ada yang perlu diingat dan dikenang dari pilihan politik yang
seperti itu.
Oleh karena itu perlu dilakukan uji materil terhadap beberapa
pasal undang-undang Hak Cipta Nasional Undang-undang No. 19
Tahun 2002, diikuti dengan uji materil terhadap beberapa undangundang nasional lainnya, agar bisa kembali ke dasar filosofi bangsa
yakni Pancasila sebagai grundnorm dengan mengembalikan jati diri
bangsa yang terejawantah dalam undang-undang yang memuat secara
substantif the original paradigmatic value of Indonesian culture and
society.
320
BAB IV
PILIHAN POLITIK HUKUM
UNDANG-UNDANG HAK CIPTA NASIONAL
A. Pengantar
Pilihan politik hukum kodifikasi parsial yang dikukuhkan
sebagai politik pembangunan hukum nasional agaknya berjalan secara
simetris dengan pilihan politik hukum transplantasi. Kodifikasi parsial
adalah sebuah policy yang dipilih untuk menjawab keinginan bahwa
Indonesia harus sebanyak mungkin membuat kaedah hukum tertulis
yang dibukukan dalam kitab undang-undang, pasca negara ini berdiri
sebagai negara yang merdeka. Kaedah hukum itupun harus berlaku
secara unifikasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
sejatinya masih berada dalam suasana pluralisme. Di sana sini
sebahagian masyarakat hidup dalam suasana alam kehidupan modern di
perkotaan dengan pola pemahaman “hukum modern” dan sebagian
lainnya hidup dalam suasana kehidupan tradisional di pedesaan dengan
pola pemahaman “hukum tradisional” di bawah payung hukum yang
sama. Perbedaan pada pola pemahaman hukum, akan berbeda pula
pada pilihan perilaku dalam menyikapi peraturan perundang-undangan
yang sama.
Kenyataan itu jugalah yang dalam perjalanan sejarah hukum
bangsa ini pada masa dan oleh Pemerintah Hindia Belanda gagal dalam
menerapkan politik hukum Eropanisasinya, karena adanya kenyataan
pluralisme dalam masyarakat. Kegagalan itu justeru datang dari anak
bangsanya sendiri, yakni seorang van Voellenhoven yang diikuti oleh
muridnya Ter Haar yang menentang kebijakan politik hukum
Eropanisasi karena menurut mereka pada masyarakat Negara Hindia
Belanda itu ada norma hukum yang hidup yang diterima dan dijalankan
sebagai hukum yang di kemudian hari oleh Snouck Hurgronje di
sebutnya sebagai Adat Rech yang terdiri, Goddienstig Wetten,
Volksinstelingen, Gubreiken. 235
235
Kenyataan inilah yang kemudian memaksa (tentu dengan didahului oleh
berbagai kritik dan perlawananan terutama oleh van Voellenhoven) Pemerintah Hindia
Belanda harus mengakui pluralisme hukum dengan mengukuhkannya dalam berbagibagai peraturan di Negara Hindia Belanda ketika itu. Lebih lanjut lihat Soetandyo
Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional Dinamika Sosial Politik
Dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994.
321
Sayangnya, tak semua orang yang diberi kepercayaan untuk
merumuskan hukum yang ideal menurut cita-cita pembangunan hukum
nasional memahami keadaan itu. Keringnya akan pemahaman
“mengerti sejarah” dan lunturnya semangat ke-Indonesiaan dengan
pilihan ideologi Pancasilanya dan digantikan dengan sikap (yang
kemudian menjadi pilihan politik hukum) pragmatis semakin
mempercepat terwujudnya hukum (kasus undang-undang hak cipta
nasional) yang tidak pernah berjalan secara simetris dengan
masyarakatnya. Yang dalam bahasa penelitian disebutkan, validitasnya
tertolak atau antara hukum yang dihasilkan dengan masyarakat yang
akan diatur oleh hukum itu tidak memperlihatkan hubungan yang
signifikan. Terjadi ketimpangan yang dahsyat antara das Sollen dengan
dan Sein.
Jika faktor yang menyebabkan terjadinya ketimpangan itu
hendak diurai satu persatu, maka pilihan pendekatan dengan
menempatkan hukum sebagai satu sub sistem dalam sistem nasional,
tak bisa tidak harus dilakukan. 236
Pada bahagian awal bab ini akan diuraikan tentang substansi
hukum undang-undang hak cipta nasional. Gagasan-gagasan pembuat
undang-undang akan dapat dicerna dalam substansi undang-undang
tersebut, meliputi landasan ideal atau landasan filosofisnya, landasan
juridis normatif atau konstitusional dan landasan politis atau landasan
operasional. Apakah ketiga landasan ketatanegaraan ini cukup solid
diakomodir oleh undang-undang hak cipta nasional itu.
Uraian berikutnya adalah pada tataran struktur, apakah
struktur lembaga pembuat undang-undang, lembaga penegak hukum
dan struktur pemerintahan eksekutif berada pada koridornya masingmasing sebagai wujud dari sparation of power untuk menunjukkan ciriciri negara hukum. Atau justeru terjadi saling intervensi atau terjadi
politik transaksional dalam pembuatan hukum ataupun dalam
236
Karena hanya dengan pendekatan yang demikianlah persoalan
ketimpangan itu dapat diurai. Dengan pendekatan itu hukum tidak hanya dipandang
sebagai gejala atau fenomena normatif, akan tetapi juga sebagai gejala atau fenomena
sosial, ketika ditelusuri dari awal pembuatannya yang berpangkal pada perilaku orangorang yang duduk di lembaga pembuat undang-undang, ketika hukum itu diterapkan
berpangkal pada perilaku aparat penegak hukum dan perilaku masyarakat sebagai
pemegang peran yang dituju oleh kaedah hukum itu. Mau tidak mau pendekatan studi
hukum empirik (non doktrinal riset), meliputi pendekatan politik hukum, sosiologi
hukum dan antropologi hukum (untuk memahami budayai hukum) akan mewarnai uraiurai berikut ini. Begitulah cara kerja penelitian hukum, kata Satjipto Rahardjo 236 jika
ingin memahami the full fenomena social reality of law. Pada bahagian inilah digunakan
secara optimal data penelitian lapangan dengan pilihan metode non doktrinal riset.
322
penerapannya. Selanjutnya untuk menyempurnakan kajian terhadap
pilihan politik hukum dengan kodifikasi parsial yang pragmatis dan
penegakan hukumnya melalui pendekatan sistem hukum, pada
bahagian ini uraian dilengkapi kajian mengenai kultur (budaya)
hukum yang meliputi budaya; prilaku (budaya) legislatif, prilaku
(budaya) aparatur penegak hukum dan prilaku (budaya) masyarakat.
Uraian selanjutnya akan mengetengahkan pembahasan tentang
dampak penegakan hukum hak cipta karya sinematografi terhadap
industeri perfilman nasional. Entah itu pengaruh norma hukumnya atau
karena pengaruh penegakan hukumnya yang lemah atau budaya hukum
masyarakat Indonesia yang belum bisa mengapresiasi sebuah karya
seni berupa karya sinematografi, hingga akhirnya dunia perfilman
nasional bak kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.
Untuk menyahuti cita-cita kemerdekaan, tulisan ini
diupayakan untuk merumuskan gagasan undang-undang hak cipta dan
lembaga ketatanegaraan yang ideal bagi terwujudnya impian
masyarakat adil dan makmur yang dapat merangsang pertumbuhan
kreativitas pencipta dengan norma hukum yang think globally, commit
nationally dan act locally. Selanjutnya bab ini akan ditutup dengan
analisis dan temuan.
B. Substansi Hukum
Mengacu pada pandangan Friedman substansi hukum itu
adalah materi-materi atau norma-norma yang dituangkan dalam
peraturan perundang-undangan. Dengan meminjam konsep Hart, 237
materi hukum dibaginya dalam dua kelompok yaitu : primery rules dan
secondary rules. Pembagian menurut Hart adalah pembagian yang
didasarkan pada kebutuhan hukum itu sendiri, yakni norma hukum
yang mengatur masyarakat dan norma hukum tentang pelaksanaan dari
norma hukum itu sendiri (peraturan organik). Menyimpang dari
kerangka Hart, substansi hukum haruslah berisikan :
1. Pertimbangan-pertimbangan filosofis yang mengacu pada
pandangan ideologis.
2. Pertimbangan-pertimbangan juridis
3. Pertimbangan-pertimbangan yang menjadi alasan politis
237
Aturan primer adalah peraturan-peraturan pokok yang digunakan H.L.A.
Hart, Lebih lanjut lihat H.L.A. Hart, The Concept of Law, Clarendon Law Series, At The
Clarendon Press, Oxford, New York, 1982.
323
Sebuah peraturan hukum yang tidak memenuhi dasar
pertimbangan tersebut menurut ilmu perundang-undangan maka
pemberlakuan hukum itu dapat ditolak atau tertolak dengan sendirinya.
238
Penolakan itu dapat dilakukan dengan menguji undang-undang yang
dilahirkan itu apakah telah sesuai dengan dasar pertimbangan filosofis,
juridis dan politis. Dalam kaitannya dengan penyusunan undangundang M. Solly Lubis 239 mengemukakan tiga landasan yang dapat
dijadikan sebagai parameter, rujukan, acuan, kerangka berfikir dalam
penyusunan peraturan perundang-undangan yaitu yang disebutnya
sebagai paradigma yang tak boleh ditinggalkan. Tiga paradigma itu
adalah :
1. Paradigma filosofis atau landasan filosofis (filosofische
grondslag)
2. Paradigma yuridis atau landasan yuridis (juridische
grondslag)
3. Paradigma politis atau landasan politis (politische grondslag)
1.
Paradigma Filosofis
Konstruksi undang-undang hak cipta nasional yang berlaku
hari ini adalah hasil rekonsfigurasi politik hukum melalui pilihan
politik hukum konkordansi dan transplantasi yang pernah dilakukan
selama kurun waktu hampir satu abad di kawasan nusantara. Dalam
proses itu ada sejumlah nilai sosial dan kultural yang tak terkira
jumlahnya yang hilang, terkikis ataupun terpendam. Dengan meminjam
konsep geologi tentang proses peremajaan (rejuvenation) akan sangat
mungkin terjadi proses penuaan terhadap nilai-nilai yang hilang itu dan
menjadi manifest (muncul), lalu berubah menjadi sikap menetang,
ketidak pedulian atau terang-terangan memberi perlawanan pada saat
kaedah hukum hasil transplantasi itu diterapkan ketika terjadi stagnasi
dalam proses penegakan hukum yang mengabaikan realitas. 240
238
Lebih lanjut lihat Sri Soemantri, Hak Menguji Materiil di Indonesia,
Alumni, Bandung, 1977.
239
M. Solly Lubis, Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan, Mandar Maju,
Bandung, 2009, hal. 15.
240
Perlawanan yang nyata untuk kasus di luar obyek studi ini lihatlah, ketika
nilai-nilai yang terpendam (laten) itu kemudian muncul (manifes) ketika rakyat Aceh
menentang dan melakukan gerakan perjuangan untuk keluar dari NKRI lalu dengan
sebuah kompromi politik di Helsinky ditanda tangani sebuah kesepakatan bahwa Aceh
diberi otonomi khusus untuk menjalankan Syari’at Islam, sebuah nilai yang dihilangkan
dalam sejarah perjalanan masyarakat Aceh bergabung di bawah naungan NKRI. Lebih
lanjut lihat Fikar W. Eda dan S. Satya Dharma, Sebuah Kesaksian Aceh Menggugat,
324
Para produsen karya sinematografi illegal dan para konsumen
illegal, menjadi tidak peduli dengan kenyataan bahwa negeri ini
memiliki undang-undang hak cipta, negeri ini memiliki kesepakatan
dengan dunia internasional dan negeri ini mempunyai perangkat
penegak hukum, serta negeri inipun memiliki lembaga peradilan yang
siap menjatuhkan sanksi hukum.
Memori sejarah politik hukum pembentukan undang-undang
hak cipta nasional sering direntang terlalu pendek manakala hendak
mengkonstruksikan undang-undang hak cipta yang baru, pemenggalanpemenggalan pengalaman masa lalu terus dilakukan dan rentang
sejarah yang utuh cenderung diabaikan dan yang kemudian
dimunculkan adalah kebutuhan sesaat dengan menimbang kenyataan
hari ini yang menguntungkan hari ini. Pilihan politik hukum
pembentukan undang-undang hak cipta nasional kemudian menjadi
sangat pragmatis padahal semua mengetahui bahwa undang-undang
hak cipta nasional dengan pilihan politik pragmatis itu tidak dapat
ditegakkan. Berkali-kali alasan rendahnya sanksi hukum pidana
dikemukakan sebagai alasan perubahan undang-undang hak cipta dari
waktu ke waktu, akan tetapi setelah sanksi hukum pidana itu dinaikkan
(diperberat) dalam undang-undang yang baru itu,perilaku pembajakan
karya cipta sinematografi tidak pernah berhenti, alasan yang sama
dikemukakan lagi (yakni ancaman hukuman masih terlalu rendah)
untuk sekedar memberi jastifikasi guna perubahan kembali undangundang yang baru itu.
Jika para politisi yang melibatkan diri dalam pembuatan
undang-undang hak cipta nasional mau merentang tali sejarah,
sebenarnya embrio undang-undang hak cipta nasional sudah mulai
dikonstruksi sejak tahun 1912, pada saat Auteurswet 1912 Stb. No. 600
diberlakukan di wilayah nusantara. Pada saat itu pemberlakuan wet itu
telah memperlihatkan suatu kenyataan bahwa kepatuhan masyarakat di
wilayah Hindia Belanda terhadap wet itu ketika itu hampir dapat
dikatakan tidak ada. Pada masa Kolonial Belanda itu, masyarakat di
Hindia Belanda bisa dihitung jari yang mengetahui - dan bahkan untuk
kelompok Bumi Putra tidak mengenal sama sekali – bahwa ada
instrumen hukum yang memproteksi hak cipta. Apalagi dalam bidang
karya sinematografi karena pada waktu itu film pertama sekali
diproduksi di wilayah Hindia Belanda adalah pada tahun 1926.
Teknologi pembajakan karya sinematografi pun belum dikenal pada
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1999. Lihat juga Anthony Reid, Asal Mula Konflik Aceh,
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005.
325
waktu itu. Sehingga dapat dipastikan tidak ada masyarakat Indonesia
yang peduli dengan instrumen perlindungan hukum karya
sinematografi pada waktu itu. Dalam bidang karya cipta lainnya seperti
buku, pada masa itu dan sampai pada masa awal kemerdekaan
pembajakan juga terus berlangsung. Artinya, kesadaran hukum
masyarakat untuk penegakan hukum hak cipta pada waktu itu bukan
tidak dimiliki, akan tetapi masyarakat tidak mengapresiasi undangundang itu karena secara sosiologis dan kultural proteksi hukum
semacam itu tidak pernah dikenal dalam sejarah kehidupan mereka.
Inilah tadi yang dikatakan bahwa pembelajaran sejarah dalam rentang
pemberlakuan Auteurswet 1912 Stb. No. 600 tidak dijadikan dasar
untuk rekonstruksi penyusunan undang-undang hak cipta nasional
Indonesia pada saat dilahirkannya Undang-Undang Hak Cipta No.6
Tahun 1982, menggantikan wet itu.
Ada memori sejarah yang dilupakan ketika undang-undang
hak cipta nasional akan dilahirkan untuk menggantikan Auteurswet
1912 Stb. No. 600 dengan Undang-undang No. 6 Tahun 1982. Begitu
juga ada memori sejarah yang dilupakan ketika Undang-undang No. 6
Tahun 1982 akan direvisi dengan konstruksi Undang-undang baru yang
dituangkan dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1987. Demikian juga
ada memori sejarah yang dilupakan ketika harus mengganti Undangundang No. 7 Tahun 1987 dengan Undang-undang No. 12 Tahun 1997.
Memori sejarah itupun dilupakan juga ketika menyusun Undangundang No. 19 Tahun 2002 menggantikan Undang-undang No. 12
Tahu 1997. Yang diingat adalah kebutuhan-kebutuhan sesaat yang
mendesak untuk menjawab berbagai tekanan politik internasional
hingga akhirnya yang terjadi adalah pilihan politik hukum yang
pragmatis dan itu memberi warna dalam Undang-undang No. 19 Tahun
2002. Warna itu tidak hanya menyangkut warna normatif akan tetapi
juga menyangkut nilai-nilai filosofis yang merupakan the original
paradigmatic value of Indonesian culture and society yang terabstraksi
dalam landasan ideologi bangsa dan negara yakni Pancasila. Landasan
ideologi inilah kemudian dijadikan sebagai landasan politik hukum
pembuatan peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Sebuah ideologi adalah sebuah gagasan, sebuah idea, sebuah
cita-cita, sebuah harapan yang diyakini oleh penganutnya sebagai suatu
landasan kebenaran untuk mewujudkan cita-cita atau harapan tersebut.
Berbeda dengan agama, ideologi oleh pencetusnya yakni Destutt de
Tracy seorang pemikir Perancis yang pertama kali menggunakan istilah
ideologi dalam bukunya, Elements d’ ideologie yang terbit tahun 1827
adalah sebuah kebenaran di luar otoritas agama. Konsep ini muncul
326
adalah proyek besar filsuf “Pencerahan” yang berusaha keras
mensterilkan tubuh ilmu pengetahuan dari virus-virus prasangka
agama, kepentingan pribadi dan kepercayaan mistik-metafisik dengan
mengukuhkan metode ilmiah sebagai satu-satunya epistimologi yang
sahih.
Namun, setelah lebih dari satu abad berselang pasca de Tracy, ideologi tidak
lagi bermakna tunggal. Karena tidak henti-hentinya dicermati dari pelbagai
kerangka pemikiran dan sudut pandang, ideologi menjadi satu istilah penting
dalam ranah ilmu sosial yang memiliki banyak tafsir. Muncullah kemudian
pelbagai konsep ideologi dengan pendekatan, kekhasan dan ruang lingkup
yang beragam. Tetapi, jika ideologi kita letakkan dalam kerangka umum,
Microsoft Encarta Encylopedia (2003) akan menawarkan pada kita sebuah
definisi yang tampaknya agak komprehensif, yakni suatu sistem kepercayaan
yang memuat nilai-nilai dan ide-ide yang diorganisasi secara rapi sebagai
basis filsafat, sains, program sosial ekonomi politik yang menjadi pandangan
hidup, aturan berpikir, merasa, dan bertindak individu atau kelompok. 241
Pendekatan studi hukum sangat erat kaitannya dengan
ideologi, karena hukum memuat cita-cita, harapan dan keinginan. Di
Indonesia cita-cita dan keinginan itu dituangkan dalam pembukaan
UUD 45. Itu jugalah alasannya, mengapa kemudian ideologi dijadikan
sebagai landasan filosofis pembuatan peraturan perundang-undangan di
Indonesia. Undang-undang tak boleh bertentangan dengan cita-cita
negara, bermakna juga tak boleh bertentangan dengan ideologi bangsa.
Ideologi akan selalu bersembunyi di balik atau di belakang tiap-tiap
norma hukum atau undang-undang. Negara penganut ideologi komunis,
dalam undang-undangnya akan tergambar nilai-nilai komunis
(comunism values). Demikian juga negara penganut ideologi Islam,
dalam undang-undangnya akan tercermin nilai-nilai Islam (Islamic
values). Nilai-nilai hukum yang kapitalis tersembunyi di balik norma
hukumnya, pastilah negara itu penganut ideologi kapitalis. Indonesia
sebagai penganut ideologi Pancasila seyogyanya dalam undangundangnya mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
Ideologi Pancasila adalah ide dasar yang dijadikan sebagai
pandangan hidup, cita-cita (ideal), basis visi dan missi dalam praktek
kehidupan bernegara, termasuk dalam praktek perumusan cita-cita
politik hukum nasional. Pilihan ideologi ini telah meleburkan
kenyataan pluralisme hukum di Indonesia dalam tataran nilai.
Sebenarnya ini adalah merupakan modal yang paling kuat bagi
Indonesia untuk menyusun hukum nasionalnya termasuk undang-
241
Ian Adams, Ideologi Politik Mutakhir Konsep, Ragam, Kritik dan Masa
Depannya, Qalam, Yogyakarta, 2004, hal. viii
327
undang hak cipta yang dapat diukir atau dilukiskan di atas “kain sutra”
yang disepakati sebagai negara Indonesia. Namun sayangnya
kemerdekaan yang oleh Bung Karno disebutnya sebagai “jembatan
emas” dan dapat dijadikan sebagai pintu gerbang untuk menyeberang
menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur, tapi ternyata dalam
perjalannya jembatan emas itu tidak dimaknai secara tepat. Hasilnya
adalah hukum yang semestinya dapat ditorehkan di atas kain sutra,
ternyata diberi bingkai dan landasan ideologi kapitalis. Akhirnya
terjadilah hukum seperti kata pepatah : “Kain Sutra Bersulam Belacu”
dan ideologi Pancasila tergerus dan bahkan terkikis di tangan anak
bangsa sendiri.
Pilihan politik transplantasi hukum asing ke dalam undangundang hak cipta nasional utamanya yang bersumber dari perjanjian
Internasional, seharusnya dilakukan dengan penuh pertimbangan yang
arif, dan perhitungan yang jauh ke depan. Pandangan ini didasarkan
pada berbagai kasus yang menunjukkan bahwa instrumen hukum
Internasional digunakan sebagai alat imperialis model baru, seperti
yang diingatkan oleh Hikmahanto Juwono 242 sebagai berikut :
Hukum Internasional, utamanya perjanjian internasional, digunakan oleh
negara maju untuk ‘mengekang’ kebebasan dan kedaulatan Indonesia.
Berbagai perjanjian internasional yang diikuti oleh Indonesia berdampak pada
terbatasnya ruang gerak pemerintah dalam mengambil kebijakan. Bahkan
kebijakan yang diambil dengan diikutinya perjanjian internasional yang
ditandatangani diharapkan selaras dengan standar internasional.
Indonesia terlalu takjub dengan tawaran-tawaran perdagangan
bebas, pasar bebas, dan janji-janji bahwa, suatu saat Indonesia akan
menjadi negara industri maju di kawasan asia, dan itu disikapi dengan
menerima tawaran IMF dan World Bank untuk membiayai berbagaibagai proyek di Indonesia untuk pencapaian gagasan-gagasan kapitalisliberal itu. Puncaknya adalah ketika Indonesia meratifikasi
GATT/WTO pada tahun 1994 dan di dalamnya memuat TRIPs
Agreement, Indonesia kemudian disyaratkan untuk tunduk pada
kesepakatan itu. Sebagai konsekuensi, Indonesia tidak hanya
diharuskan untuk menyesuaikan peraturan perundang-undangan HKInya dengan TRIPs Agreement tetapi lebih jauh juga Indonesia harus
mempersiapkan perangkat-perangkat hukum dalam negerinya untuk
menegakkan instrument-instrumen hukum sebagai ikutan dari
perjanjian internasional yang telah disepakati. Terdapat beberapa
perjanjian internasional yang berlatarbelakang ideologi kapitalis yang
242
Hikmahanto Juwono, Op.Cit, hal 37.
328
oleh Pemerintah Indonesia tanpa merujuk pada perjalanan sejarah
sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, Indonesia
kemudian mengambil sikap dengan menyetujui instrumen hukum
internasional mengenai perlindungan hak kekayaan intelektualnya.
Kesepakatan-kesepakatan yang bersifat bilateral-pun dibangun dengan
negara-negara tersebut yang antara lain dapat dikemukakan sebagai
berikut :
1. Keputusan Presiden RI No. 17 Tahun 1988 tentang
Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum
Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta atas Karya Rekaman
Suara antara Negara Republik Indonesia dengan Masyarakat
Eropa;
2. Keputusan Presiden RI No.25 Tahun 1989 tentang Pengesahan
Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal
Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan
Amerika Serikat;
3. Keputusan Presiden RI No.38 Tahun 1993 tentang Pengesahan
Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal
Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan
Australia;
4. Keputusan Presiden RI No.56 Tahun 1994 tentang Pengesahan
Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal
Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan
Inggris;
5. Keputusan Presiden RI N0. 74 Tahun 2004 tentang
Pengesahan WIPO Performances and Phonogram Treaty
(WPPT);
Belakangan ditambah lagi dengan pembuatan kesepakatan
multilateral tentang perlindungan Audiovisual performances yang
ditandatangani di Jenewa yang dikenal dengan Beijing Treaty on
Audivisual Performance. 243
Pilihan-pilihan untuk menjalin kerjasama dalam perlindungan
karya cipta dengan berbagai negara sayangnya tidak dilakukan dengan
sebuah kesungguhan untuk melihat kembali latar belakang sejarah yang
243
Disebut sebagai Beijing Treaty karena kesepakatan itu lahir dari diplomatic
conference yang dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2012 di Beijing yang juga sekaligus
mengakhiri 12 tahun negosiasi multilateral di bawah WIPO. Indonesia menjadi negara
ke-53 yang menandatangani Beijing Treaty ini, namun traktat ini belum diberlakukan
menunggu ratifikasi paling sedikit 30 negara-negara anggota penandatangan. Lebih lanjut
lihat PTRI Jenewa/EDPY, Indonesia Tandatangani Beijing Treaty on Audiovisual
Performance di Jenewa, Rabu 19 Desember 2012.
329
telah mengabaikan berbagai nilai-nilai yang terkandung dalam
masyarakat Indonesia. Negara Indonesia memanglah tergolong dalam
negara yang masih berusia muda. Dalam usianya yang muda itu
perjalanan sejarahnya telah mencatat bangsa ini dapat bertahan dan
dipertahankan dengan nilai-nilai tradisional (nilai-nilai ke-Indonesiaan)
yang dalam tulisan ini berkali-kali disebut sebagai the original
paradigmatic value of Indonesian culture and society.
Masuknya nilai-nilai baru meskipun pada tahap awal berjalan
secara evolusi, akan tetapi pasca dihembuskannya issu globalisasi nilainilai baru itu masuk dengan gerakan yang lebih cepat. Peringatan
Wertheim ketika menulis “Masyarakat Indonesia Dalam Transisi”
menjadi relevan untuk dikutip dalam naskah ini. Wertheim menulis
sebagaimana dikutip oleh Syamsuddin Ishak sebagai berikut :
Proses yang terjadi pada masa lalu harus dipelajari dengan sangat sungguhsungguh. Bagaimanapun, proses itu bukanlah hukum yang dapat dilepaskan
yang harus diterima secara pasif oleh umat mansia. Proses itu tidak lebih dari
regularitas yang hanya berlaku dalam suatu pola masyarakat, pada suatu
periode tertentu.
Sejarah manusia merupakan suatu interaksi konstan dari pengulangan dan
pembaruan, pengulangan yang bisa tampak dalam pakaian yang baru dan
pembaruan yang tampak untuk suatu skema pengulangan. 244
Dalam siklus sejarah semacam itu relevan juga untuk
dihubungkan dengan siklus politik hukum unifikasi dalam suasana
pluralisme hukum di wilayah negara Hindia Belanda.
244
Syamsuddin Ishak, Keindonesiaan : Persatuan yang Terhenti, Kesatuan
yang Asimetris, Prisma, Volume 30, 2011, LP3ES, Jakarta, 2011, hal. 4. Lihat lebih
lanjut dalam Willem Frederik Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi : Studi
Perubahan Sosial, Penerjemah Misbah Zulfa Elizabeth, Tiara Wacana, Yogyakarta,
1999, hal. xii.
330
Skema : 10
Siklus Politik Unifikasi Hukum Dalam Negara Hindia Belanda
Hukum
Eropa
Hukum
Hindia
Belanda
Hukum
Pribumi
Hukum
Timur
Asing
Pada masa Hindia Belanda, ada keinginan agar di wilayah
negara Hindia Belanda dapat diberlakukan hukum Eropa. Akan tetapi
keinginan itu terus menerus mendapat perlawanan. Kenyataannya di
Negara Hindia Belanda terdapat pluralisme hukum karena itu melalui
Pasal 6 sampai 10 AB kemudian diteruskan dengan Pasal 75 RR lama
diikuti dengan Pasal 75 RR baru terakhir disempurnakan dengan Pasal
131 dan Pasal 163 IS maka secara hukum telah dikukuhkan terdapat 3
golongan penduduk dengan 3 golongan hukum sebagaimana dalam
gambar siklus di atas. Proses transformasi hukum Eropa agar dapat
diterima menjadi hukum di wilayah Negara Hindia Belanda dilakukan
dengan penerapan politik hukum dengan asas konkordansi yakni
menyamakan berlakunya hukum di Kerajaan Belanda dengan di
331
wilayah Hindia Belanda. Politik hukum seterusnya dilakukan adalah
setelah mendapat penolakan dari kalangan ahli hukum Bangsa Belanda
sendiri yakni Van Vollenhoven untuk menggantikan hukum bumi
putera dengan hukum Eropa kemudian dilaksanakan dengan pilihan
politik hukum pernyataan berlaku, persamaan hak dan tunduk sukarela.
Sampai akhirnya Indonesia merdeka, tak semua hukum Kerajaan
Belanda itu dapat menggantikan posisi hukum Bumi Putera. Alasan
yang sesungguhnya dapat dikemukakan adalah karena hukum bumi
putera itu mempunyai “rohnya sendiri”, mempunyai spirit sendiri,
mempunyai ideologi sendiri. Sampai setelah Indonesia merdeka-pun
hukum asli bumi putera itu tetap tumbuh, hidup di tengah-tengah
masyarakat Indonesia seperti hukum adat dan hukum agama.
Mengapa kemudian Pemerintah Hindia Belanda menempatkan
orang Jerman dan orang Jepang kedalam golongan hukum Eropa ?
Padahal orang Jepang adalah orang Asia yang dapat dikategorikan
sebagai golongan penduduk Timur Asing. Akan tetapi karena ini
berkaitan dengan kepentingan dagang dan dagang mempunyai ideologi
yang sama yakni kapitalis-liberal, maka orang Jepang pun
dikelompokkan kedalam golongan hukum Eropa. Ini adalah sebuah
pertanda bahwa ideologi begitu penting dalam pembentukan hukum.
Siklus di bawah ini akan memperlihatkan bagaimana undangundang hak cipta nasional terbentuk dengan latar belakang ideologi
yang berpangkal pada ideologi kapitalis.
Sebuah ideologi yang menurut ramalan Bell dan Fukuyama
sebagai ideologi akhir dari peradaban umat manusia yang oleh Ian
Adam disebutnya sebagai Ideologi Pemenang.
Dalam kaitannya dengan Undang-undang Hak Cipta,
hubungan antara ideologi itu dapat dilihat dalam skema di bawah ini.
332
Skema: 11
Siklus Ideologi Pembentukan Undang-undang Hak Cipta Nasional
Tekanan Amerika
Negara Industri
Maju
(Ideologi Kapitalis)
UU No.
7/1987
Ideologi
Pancasila
UU No.
6/1982
Auteurswet
1912 Stb
No. 600
Bern
Convention
(Ideologi
Kapitalis
UU No.
12/1997
Undangundang Hak
Cipta
Nasional
UU No.
19/2002
TRIPs
Agreement diikuti
dengan beberapa
konvensi
internasional
(Ideologi
Kapitalis)
333
Ketika Berne Convention telah ditanda tangani oleh sebagaian
besar masyarakat Eropa, Belanda pada masa itu diharuskan
menyesuaikan undang-undang hak cipta dengan konvensi itu. Segera
setelah Belanda merevisi undang-undang hak ciptanya dengan
Auteurswet Stb.1912 No. 600, beberapa waktu kemudian Negeri Kincir
Angin itu meratifikasi Berne Convention. Selanjutnya dengan politik
hukum kolonial, Kerajaan Belanda memberlakukan wet itu di wilayah
jajahannya termasuk Indonesia yang kala itu menjadi bahagian dari
Hindia Belanda. Berne Convention dengan latar belakang ideologi
kapitalis itu masuk ke hukum Belanda yang juga penganut ideologi
yang sama untuk selanjutnya menjalar ke wilayah hukum Hindia
Belanda. Pasca kemerdekaan wet itu diteruskan dan menjadi acuan
politik hukum nasional dalam penyusunan undang-undang hak cipta
nasional, meskipun pada waktu itu ada keinginan murni untuk
membangun hukum Indonesia dengan latar belakang ideologi
Pancasila, sesuai dengan cita-cita kemerdekaan, sesuai dengan garis
politik dan haluan negara, sesuai dengan jati diri bangsa yang disebut
sebagai hukum kepribadian bangsa. Akan tetapi dalam kenyataannya,
UU No.6 Tahun 1982, undang-undang hak cipta pertama yang
menggantikan wet peninggalan Hindia Belanda tidak lebih dari
translation atau terjemahan dari Wet yang berbahasa Belanda menjadi
undang-undang yang berbahasa Indonesia. Singkatnya undang-undang
itu tak dapat “meniupkan roh” Pancasila yang terjadi justeru
sebaliknya undang-undang itu terjebak dalam lingkaran jiwa, nafas dan
roh kapitalis.
Masuk pada perjalanan berikutnya, ketika UU No.6 Tahun
1982 diberlakukan, ternyata di dunia, terutama di negara-negara
industeri maju, terjadi perubahan besar pada peradaban umat manusia,
ketika teknologi komunikasi, komputer dan teknologi serat optik
ditemukan. Karya cipta sinematografi yang berasal dari negara asing itu
menjadi industri kreatif yang tumbuh pesat yang banyak menyumbang
pertumbuhan ekonomi negara-negara maju tersebut. Sementara di
negara dunia ketiga termasuk Indonesia ketika itu, masih terbelakang
dalam teknologi itu dan banyaklah kemudian terjadi pembajakan atau
pelanggaran hak cipta. Ini kemudian membuat negara seperti Amerika
menjadi berang, puncaknya negara itu kemudian meminta kepada
Indonesia untuk merubah undang-undang hak cipta nasionalnya yang
intinya dapat memberi perlindungan terhadap karya cipta mereka. Ini
fase kedua masuknya ideologi kapitalis ke dalam undang-undang hak
cipta nasional. Fase berikutnya terjadi pelembagaan secara normatif
dan terstruktur dalam dunia Internasional, ketika Uruguay Round
334
diakhiri dengan persetujuan GATT /WTO pada tahun 1994 yang
memasukkan issu Hak Kekayaan Intelektual yang kemudian
terlembaga dalam TRIPs Agreement. Hasil akhir ini juga adalah
merupakan puncak kemenangan negara-negara kapitalis melawan
negara-negara dunia ketiga yang sejak awal begitu “alergi” dengan
kapitalis yang sejak awal telah menolak memasukkan issu Hak
Kekayaan Intelektual dalam GATT. Pelembagaan secara normatif ini
adalah fase ketiga masuknya faham ideologi kapitalis ke dalam undangundang hak cipta nasional, dengan merubah UU hak Cipta No.7 tahun
1987 menjadi UU Hak Cipta No.12 Tahun 1997. Fase keempat adalah
fase ujian, apakah undang-undang yang sudah sesuai dengan keinginan
negara-negara kapitalis itu dapat efektif diberlakukan, ternyata
jawabannya tidak. Situasi penegakan hukumnya tetap sama seperti pada
masa pemberlakuan Auteurswet 1912 Stb. No. 600 pada masa Hindia
Belanda. Akan tetapi ada ketidak percayaan negara-negara maju
tersebut dengan kenyataan itu. Kenyataan hak cipta asing di lapangan
karya sinematografi terus-menerus dibajak. Tudingan pemerintah asing
tak dapat ditampik, akan tetapi Pemerintah Indonesia tidak kehilangan
akal, perjanjian bilateral untuk saling melindungi karya cipta di bidang
itupun dibuat. Entah itu untuk meyakinkkan negara-negara tersebut
agar Indonesia dianggap negara yang taat hukum di mata mereka, entah
itu sebuah basa-basi, tapi yang pasti setelah perjanjian bilateral itu
ditanda tangani pembajakan hak cipta tak pernah berhenti. Negaranegara asing itu tak pernah tahu dan tak pernah ingin tahu faktor
penyebabnya, yang mereka tahu sampai hari ini masih pada alasan yang
dulu-dulu juga, yakni sanksi hukum terlalu rendah, pada hal ancaman
hukumannya sudah 5 tahun dan denda 5 milyar, jumlah uang yang tak
pernah dilihat oleh pedagang kaki lima penjual hasil karya
sinematografi bajakan.
Pembuat undang-undang di negeri inipun seolah-olah
kehabisan kamus, diturunkan razia besar-besaran, tetapi setelah razia
praktek pembajakan berjalan lagi. Anjing menggonggong kafilah lalu,
biduk lalu kiambangpun bertaut. Tak ada yang istimewa dari gerakan
razia yang dilakukan oleh aparat keamanan. Memang sulit untuk
memberikan jawaban terhadap fenomena ini. Akan tetapi mengacu
pada kerangkan Robert B.Seidman, akan diperoleh titik terang. Tidak
mudah memberlakukan hukum nasional yang ditrasplantasi dari hukum
asing. The law of nontransferability of law. Hukum suatu bangsa tak
dapat diambil alih begitu saja tanpa mengambil seluruh pernak-pernik
sosial budaya, kultur dan struktur yang mengitari tempat dimana
hukum itu diberlakukan. Kulturnya adalah nilai (ide ologi) yang
335
terkandung dalam norma hukum itu sebagai pilihan sikap budaya
(hukum) masyarakatnya. Strukturnya adalah, apakah aparat hukumnya
sudah memiliki perilaku yang sama dengan aparat hukum tempat
hukum itu berasal. Jika jawabnya tidak, maka itulah jawaban atas
kegagalan penegakan hukum hak cipta di negeri ini. Jadi tak cukup
transplantasi hukum itu, mencangkokkan norma hukumnya saja, tapi
harus diikuti dengan struktur dan budayanya. Tampaknya transplantasi
hukum Asing ke Undang-undang hak cipta Nasional masih akan
menjalani masa sulit dalam penerapannya untuk tidak dikatakan gagal,
sampai ada jawaban dari siapa pemenang Ideologi dalam pertarungan
selanjutnya.
2.
Paradigma Juridis
Pekerjaan yang tersulit yang dihadapi dalam setiap kali
praktek pembuatan peraturan perundang-undang adalah mensinkronkan
peraturan yang akan dibuat itu dengan peraturan yang sudah menanti
terlebih dahulu. Pertanyaan yang selalu dimunculkan adalah apakah
peraturan perundang-undangan yang akan dibuat ini selaras atau justeru
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang sudah ada.
Harapan yang selalu diimpikan adalah peraturan yang dibuat itu
haruslah selaras dengan peraturan yang sudah ada. Jika peraturan yang
akan dibuat itu bertentangan secara ideologi dan normatif dengan
peraturan yang sudah ada sebelumnya, maka ada dua alternatif yang
harus ditempuh. Pertama, peraturan itu tidak jadi diteruskan
pembuatannya, atau jika harus diteruskan peraturan yang sudah ada itu
harus dengan tegas dinyatakan dicabut dalam peraturan perundangundangan yang baru itu.
Bagaimana jika peraturan yang akan dibuat itu tetap
diteruskan hingga menjadi peraturan perundang-undangan yang
mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, akan tetapi masih terdapat
pertentangan secara ideologis dan normatif dengan peraturan yang
sudah ada?
Ada berbagai kemungkinan yang terjadi. Pertama, undangundang itu akan tertolak dalam pelaksanaannya di masyarakat. Kedua,
undang-undang itu akan menjadi “macan kertas” alias tidak memiliki
kekuatan yang secara kultural dan sosiologis tidak mengikat. Ketiga,
jika harus dilaksanakannya, maka dalam penerapannya menjadi
represif. Keempat, undang-undang itu akan kehilangan spirit atau “roh”
sehingga terjadi pembiaran secara struktural. Kelima, akan terjadi
konflik secara normatif (conflict of law). Keenam, undang-undang itu
tak dapat mencapai tujuannya, apakah sebagai upaya untuk
336
mewujudkan keadilan atau kepastian hukum atau upaya untuk
memberikan manfaat kepada masyarakat.
Pada tahap awal yang perlu dicermati adalah sinkronisasi
secara konseptual. Apakah konsep hak cipta karya sinematografi
termasuk dalam kategori hukum benda? Jika ya, termasuk dalam
klasifikasi benda berwujud atau tidak berwujud? Apakah juga penting
untuk memberikan klasifikasi sebagai benda bergerak ? Kesamaan
persepsi dalam memaknai konsep ini, tidak semata-mata dapat
dilakukan berdasarkan pertimbangan kebutuhan belaka, akan tetapi
harus dilihat dalam konteksnya dengan norma hukum lain yang sudah
ada. Tentang perlindungan hak cipta karya sinematografi misalnya, ada
dua konsep hukum yang penting yang harus dilihat dalam memaknai
norma hukum yang berkaitan dengan itu. Konsep pertama adalah
norma hukum yang berkaitan dengan perlindungan menurut hukum
pidana dan konsep kedua norma hukum perlindungan menurut hukum
perdata. Klasifikasi normatif perlindungan hukum ini menjadi penting,
manakala dihubungkan dengan pemahaman awam tentang pemaknaan
konsep hak kekayaan intelektual. Masyarakat awam bahkan kaum
intelektual tak sermuanya memahami konsep hak kekayaan intelektual,
sehingga dalam praktek masih ditemukan pemahaman yang bias dan
samar. Misalnya, kejahatan terhadap hak kekayaan intelektual itu,
kejahatan terhadap jiwa atau kehormatan manusia atau kejahatan
terhadap harta kekayaan, sebab frase “intelektual” melekat dengan
manusia sebagai subyek. Berbeda dengan frase “hak milik atas tanah”
atau “hak milik atas kenderaan bermotor” yang tidak melekatkan
subyek dengan obyeknya dalam peristilahan itu. Untuk itu menjadi
penting untuk mendudukkan kategori dan status hukum obyek yang
diberi perlindungan oleh undang-undang hak cipta.
Pemaknaan terhadap dua bentuk konsep perlindungan hukum
ini, erat pula kaitannya dengan kedudukan obyek yang akan diberi
perlindungan hukum itu, yakni karya cipta sinematografi. Sedangkan
subyek yang akan diberi perlindungan adalah pencipta atau penerima
hak. Oleh karena itu uraian berikut ini mengetengahkan pembahasan
tentang kedudukan hak karya sinematografi dalam sistem hukum
benda. Karya sinematografi adalah salah satu hasil karya yang
dilindungi sebagai hak cipta. Hak cipta itu sendiri adalah merupakan
hak kebendaan atau dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah
"zakelijk recht". Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, memberikan rumusan
tentang hak kebendaan yakni : hak mutlak atas suatu benda dimana
337
hak itu memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda dan dapat
dipertahankan terhadap siapapun juga. 245
Rumusan bahwa hak kebendaan itu adalah hak mutlak yang
juga berarti hak absolut yang dapat dipertentangkan atau dihadapkan
dengan hak relatif, hak nisbi atau biasanya disebut juga persoonlijk
atau hak perorangan. Hak yang disebut terakhir ini hanya dapat
dipertahankan terhadap orang tertentu, tidak terhadap semua orang
seperti pada hak kebendaan. 246
Dalam praktek kelihatannya perbedaan antara hak kebendaan
dengan hak perorangan kelihatannya tidak tajam lagi. Sebab dalam
kenyataannya
ada hak perorangan yang mempunyai sifat hak
kebendaan. Hal ini dapat kita lihat sifat absolut terhadap hak
sewa, yang dilindungi berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata
dibandingkan dengan Auteurswet 1912 Stb. No. 600. Juga hak sewa
ini mempunyai sifat mengikuti bendanya (droit de suit). Hak sewa itu
akan terus mengikuti bendanya meskipun berpindahnya atau dijualnya
barang yang disewa, perjanjian sewa tidak akan putus. Demikian juga
halnya sifat droit de preference.
Oleh Mariam Darus Badrulzaman 247, mengenai hak kebendaan
ini dibaginya atas dua bagian, yaitu :
Hak kebendaan yang sempurna dan hak kebendaan yang terbatas. Hak kebendaan
yang sempurna adalah hak kebendaan yang memberikan kenikmatan yang
sempurna (penuh) bagi si pemilik. Selanjutnya untuk hak yang demikin
dinamakannya hak kemilikan. Sedangkan hak kebendaan terbatas adalah hak yang
memberikan kenikmatan yang tidak penuh atas suatu benda. Jika dibandingkan
245
Sri Soedewi, Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata : Hukum Benda,
Liberty, Yogyakarta, 1981, hal. 24.
246
Membedakan hak kebendaan dengan hak perorangan dengan : 1)
Merupakan hak yang mutlak, dapat dipertahankan terhadap siapapun juga. 2).
Mempunyai zaaksgevolg atau droit de suite (hak yang mengikuti). Artinya hak itu terus
mengikuti bendanya dimanapun juga (dalam tangan siapapun juga) benda itu berada. Hak
itu terus saja mengikuti orang yang mempunyainya. ; 3). Sistem yang dianut dalam
hak kebendaan dimana terhadap yang lebih dahulu terjadi mempunyai kedudukan
dan tingkat yang lebih tinggi daripada yang terjadi kemudian. Misalnya, seorang eigenar
menghipotikkan tanahnya, kemudian tanah tersebut juga diberikan kepada orang lain
dengan hak memungut hasil, maka disini hak hipotik itu masih ada pada tanah yang
dibebani hak memungut hasil itu. Dan mempunyai derajat dan tingkat yang lebih tinggi
daripada hak memungut hasil yang baru terjadi kemudian. 4) Mempunyai sifat droit
de preference (hak yang didahulukan). 5) Adanya apa yang dinamakan gugat
kebendaan. 6) Kemungkinan untuk dapat memindahkan hak kebendaan itu dapat secara
sepenuhnya dilakukan. Lebih lanjut lihat Sri Soedewi, Masjchoen Sofwan, Hukum
Perdata : Hukum Benda, Liberty, Yogyakarta, 1981, hal. 25-27.
247
Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional,
BPHN - Alumni, Bandung, 1983, hal. 43.
338
dengan hak milik. Artinya hak kebendaan terbatas itu tidak penuh atau kurang
sempurnanya jika dibandingkan dengan hak milik.
Jadi jika disimpulkan pandangan Mariam Darus Badrulzaman
di atas, maka yang dimaksudkan dengan hak kebendaan yang
sempurna itu adalah hanya hak milik, sedangkan selebihnya termasuk
dalam kategori hak kebendaan yang terbatas.
Pandangan ini dapat disimpulkan dari rumusan pasal 1 ayat (1)
Undang-undang No. 19 Tahun 2002 yang mengatakan bahwa Hak
Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin
untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini menunjukkan
bahwa hak cipta itu hanya dapat dimiliki oleh si pencipta atau si
penerima hak. Hanya nama yang disebut sebagai pemegang hak
eksklusif yang boleh menggunakan hak cipta dan selanjutnya
dilindungi dalam penggunaan haknya terhadap subyek lain yang
mengganggu atau yang menggunakan hak tersebut tidak dengan cara
yang diperkenankan oleh aturan hukum.
Dalam kaitannya dengan karya sinematografi, yang
merupakan salah satu obyek yang dilindungi dengan hak cipta dapat
dipastikan bahwa pencipta dan pemegang hak atas karya sinematografi
adalah pemilih hak absolut dan orang yang mendapat ijin dari pencipta
atau pemegang hak adalah pemegang hak relatif. Dalam karya
sinematografi, terdapat banyak subyek hak cipta antara lain :
1. Penulis naskah (mungkin saja karya sinematografi itu diangkat dari
novel).
2. Aktor atau para pemegang peran dalam cerita yang ditampilkan
dalam karya sinematografi tersebut.
3. Produser yang membawahi semua urusan teknis yang berkaitan
dengan pembuatan karya sinematografi tersebut (mulai dari juru
kamera, juru lampu, penyusun skenario, penata suara, penata
gambar sampai pada editor).
4. Pencipta lagu, penyanyi, arrangger musik (jika karya sinematografi
itu menggunakan soundtrack lagu).
Kesemua mereka ini adalah subyek-subyek yang sekaligus
pemilik atau pemegang hak cipta secara bersama-sama atau juga secara
sendiri-sendiri khusus untuk karya sinematografi yang menggunakan
soundtrack lagu tanpa mengurangi hak cipta mereka-mereka yang
terdapat dalam karya sinematografi tersebut.
Karya sinematografi yang dalam Undang-undang Hak Cipta
No. 19 Tahun 2002 dirumuskan sebagai : ”media komunikasi massa
339
gambar gerak (moving images) antara lain meliputi : film dokumenter,
film iklan, reportase atau film cerita yang dibuat dengan skenario, dan
film kartun. Karya sinematografi dapat dibuat dalam pita seluloid, pita
video, piringan video, cakram optik dan/atau media lain yang
memungkinkan untuk dipertunjukkan di bioskop, di layar lebar atau
ditayangkan di televisi atau di media lainnya. Karya serupa itu dibuat
oleh perusahaan pembuat film, stasiun televisi atau perorangan”. 248
Karya sinematografi merupakan ekspresi/bentuk lahiriah dari
sebuah ide atau gagasan awal yang bersumber dari berbagai pihak. Jika
karya sinematografi itu berupa film cerita, maka gagasan itu bisa
bermula dari karya cipta berupa novel. Selanjutnya jika karya
sinematografi itu berupa film dokumenter, gagasan awal itu bisa
berasal dari penulisan sejarah. Demikian juga jika yang ingin
ditampilkan adalah berupa karya sinematografi dalam bentuk film
iklan, gagasan itu bisa bersumber dari perusahaan yang akan
mengiklankan produk-produknya. Prinsip perlindungan hak cipta
dalam sinematografi adalah melindungi ekspresi dari ide atau gagasan
dan bukanlah memberikan perlindungan pada ide atau gagasan itu
sendiri. Ide atau gagasan itu sendiri tetap dilindungi sebagai hak cipta
tetapi tidak sebagai hak cipta karya sinematografi, mungkin saja hak
cipta dalam bidang karya novel, karya ilmu pengetahuan sejarah atau
karya musik dan lagu. Selanjutnya bentuk/perwujudan dari sebuah ide
atau gagasan itu dapat divisualisasikan dan kemudian direkam dengan
menggunakan teknologi cakram optik yang kemudian terwujud dalam
bentuk VCD ataupun DVD. Benda yang disebut terakhir ini adalah
benda berwujud dan dilindungi sebagai hak kebendaan juga.
Oleh karena itu, penempatan karya sinematografi sebagai
bahagian dari hak cipta dan merupakan hak atas benda yang tidak
berwujud dapat dilihat pada skema berikut ini :
248
Penjelasan Pasal 12 ayat (1) huruf k Undang-undang No. 19 Tahun 2002,
Lembaran Negara Republik Indonesia tanggal 29 Juli 2002, Nomor 85 Tahun 2002 dan
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4220.
340
341
Dalam skema 249 di atas, kedudukan karya sinematografi
dalam sistem hukum benda adalah termasuk dalam kategori atau
kelompok benda tidak berwujud yang merupakan bahagian dari
(komponen) hak cipta. Dengan menempatkan karya sinematografi
sebagai benda tidak berwujud maka aspek perlindungan hukum
terhadap benda ini tunduk pada sistem hukum benda tidak berwujud.
Perlakuan dalam praktek penegakan hukumnya juga menjadi berbeda.
Bukan benda materilnya seperti kepingan VCD atau DVD yang
dilindungi, tetapi yang dilindungi adalah haknya yaitu : hak untuk
memperbanyak atau hak untuk mengumumkan. Seseorang yang telah
membeli VCD atau DVD, ia hanya dapat menikmati suara, gambar dan
jalan cerita yang dapat ditampilkan dalam bentuk visual, akan tetapi ia
tidak diperkenankan untuk memperbanyak kepingan VCD dan DVD
tersebut atau menjualnya. Perbuatan memperbanyak atau memproduksi
karya sinematografi tersebut itulah yang dikategorikan sebagai
pelanggaran atas hak (immateril) karya sinematografi yang dilindungi
dengan hak cipta. Skema di atas juga menjelaskan adanya hubungan
antara karya sinematografi dengan karya cipta lainnya. Termasuk juga
hubungannya dengan hak terkait (neighbouring rights).
Jika merujuk pada prinsip atau asas-asas yang dianut oleh
Buku ke-II KUH Perdata yang menganut sistem tertutup, maka
seyogyanya prinsip hukum perdata itu juga akan mengikuti tiap-tiap
benda yang diatur di luar KUH Perdata termasuk hak cipta. Karena
hukum perdata bidang hukum benda menganut prinsip tertutup maka
hanya yang disebut dalam undang-undang secara tegas yang dapat
dikategorikan sebagai benda. Di luar itu tidak dapat dikategorikan
sebagai benda termasuk hak cipta, yang hanya menyebut sebanyak 12
(dua belas) item saja yang dilindungi sebagai hak cipta. Asas atau
prinsip tertutup ini menyebabkan hak-hak yang dapat dilindungi
249
Skema di atas berbeda dengan pemahaman yang selama ini telah
dikembangkan dalam berbagai literature yang menempatkan Trade Secrets, Unfair
Competition dan Application of Origin serta Indication of Origin sebagai hak kekayaan
perindustrian (Industrial Property Rights). Hak-hak yang disebutkan terakhir ini adalah
merupakan hak yang memiliki hubungan dengan Industrial Property Rights. Obyek yang
disebutkan terakhir ini tidak memperlihatkan adanya unsur hak kebendaan. Tidak ada hak
yang perlu mendapat perlindungan dari ketiga item obyek yang disebut sebagai bahagian
dari industrial property righs. Sebut saja misalnya Trade Secrets atau rahasia dagang,
tidak begitu jelas hak apa yang akan dilindungi. Sesuatu yang dirahasiakan dalam
aktivitas perdagangan, mungkin cara pembuatannya, komposisinya, mungkin juga cara
pemasarannya dan lain-lain sebagainya yang penuh kerahasiaan. Tentu saja hal ini tidak
menggambarkan adanya hak kebendaan yang dilindungi, karena itu tidak dapat
diklasifikasikan kedalam obyek hak atas benda immateril atau obyek hak kekayaan
intelektual.
342
dengan hak cipta menjadi terbatas secara limitatif. Oleh karena itu tidak
semua kreativitas manusia yang dilahirkan dari sebuah gagasan atau ide
berupa ilmu pengetahuan, kesenian dan kesusasteraan dapat dilindungi
dengan hak cipta. Itu adalah satu contoh kecil saja bagaimana cara
mencari simpul sinkronisasi dalam penyusunan sebuah undang-undang.
Singkronisasi semacam itulah yang tidak terjadi dalam penyusunan
Undang-undang hak cipta nasional,250 sehingga menimbulkan kesan
undang-undang itu disusun berdasarkan pesanan. Atau lebih dari
sekedar pesanan, mungkin saja karena tekanan.
3. Paradigma Politis
Seekor anjing kata Adam Smith, tak pernah secara sadar
berbagi tulang dengan temannya. Karena itu seekor anjingpun tak
pernah menyisihkan kelebihan tulang yang ia dapat hari ini untuk
disimpan guna keperluan esok hari. Kesadaran (budaya) seperti itu
hanya ada pada diri manusia. Akan tetapi jika “kesadaran untuk
berbagi” secara kolektif dan kesadaran “untuk hari esok” tidak lagi
dimiliki oleh manusia, maka cara pandangnya sama dengan seekor
anjing yakni “penyelamatan dirinya hari ini. Jika ini terus berlangsung
maka dengan meminjam perkataan Hobbes, manusia akan menjadi
serigala diantara sesamanya. Puncaknya berujung pada pilihan
pragmatis. Apakah pilihan ini berbahaya ? Buat bangsa yang besar
seperti Indonesia pilihan pragmatis ini sangat berbahaya. Berbahaya
bagi kelangsungan bangsa ini ke depan. Setelah lepas dari penjajahan
secara fisik, pilihan politik pragmatis, praktek penjajahan digantikan
oleh bangsa sendiri dengan sekutunya negara asing, namun bentuk
penjajahannnya berubah menjadi penjajahan peradaban, penjajahan
ideologi, penjajahan kultural, yang wujudnya adalah menerima apa
adanya tekanan negara asing. Bagi segolongan elit politik, bersekutu
dengan negara asing adalah menguntungkan. Lihatlah bagimana
Soeharto berkuasa dan bertahan lebih dari tiga dasawarsa, karena
berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Amerika. Indonesia
dijadikan Amerika sebagai boneka guna melawan ideologi dan negara
Komuis . Pasca keruntuhan komunis, Amerika kemudian menjadi
kekuatan tunggal satu-satunya di dunia. Agaknya sudah waktunya pula
untuk tidak berlama-lama melindungi kekuasaan tirani di Indonesia.
250
Penempatan redaksi Pasal 2 Undang-undang Hak Cipta Nasional, yang
membatasi hak atas benda apabila disewakan, membuktikan bahwa norma ini keluar dari
sistem hukum benda.
343
Puncaknya Soeharto harus lengser, dan Amerika berada di balik semua
peristiwa itu.251
Matrik 31
Perencanaan Pembangunan Era 1945-2025
Thn
Tantangan
Yang
Dihadapi
Falsafah, Arah
dan
Tujuan
Pembangunan
1945
1949
Peperangan,
Blokade
Ekonomi dan
Diplomasi
Internasional
1950
1959
Ketidakstabil
an politik dan
keamanan
terbengkalain
ya
perekonomia
n
Pancasila,
Pengakuan
Dunia
atas
Kedaulatan
Negara
Republik
Indonesia dan
Pembebasan
Bangsa
dari
Berbagai
Keterbelakanga
n
Pengembangan
Pancasila
di
bidang
ekonomi,
pengembangan
kelembagaan
ekonomi sosial
politik bangsa
dan
peningkatan
kesejahteraan
rakyat
1960
1965
Konflik
ideologi,
politik,
ekonomi dan
sosial budaya
dalam
kegotongroyo
ngan
Nasakom
Pancasila yang
dijabarkan
dengan
pola
pikir Nasakom
untuk
mewujudkan
sosialisme
Indonesia
dengan
semangat
berdikari
Paradigma
Strategi
Kebijakan
dan
Program
Pembangunan
Membangun
Demokrasi dan
Kelembagaan
Ekonomi
serta
Memperbesar dan
Menyebarkan
Kemakmuran
Rakyat
Secara
Merata
Kelembagaan
Pemerintahan
dan
Perencanaan
Sisem dan
Proses
Perencana
an
Sistem
Pelaksanaan
dan Hasil yang
Dicapai
Pergantian
Pemerintahan
dan Perintisan
Lembaga
Perencanaan
Perintisan
perencana
an
berbasis
ilmu
pengetahu
an
Normalisasi
dan standarisasi
pengelolaan
anggaran,
pengakuan
dunia
atas
kemerdekaan
Indonesia, dan
membaiknya
perekonomian
Independensi dan
antidependensi di
bidang ekonomi,
sosial dan politik
Cepatnya
pergantian
cabinet dan
inovasi
kelembagaan
perencanaan
- Kepanitiaa
n
pada
Kementeri
an
Perdagang
an
dan
Industri
- Dewan
Perancang
Negara
dan biro
perancang
negara
- Dewan
perancang
nasional
Tidak
ada
pemisahan
kekuasaan,
penguatan
lembaga
perencanaan
pembangunan
Menguatn
ya
perencana
an
pembangu
nan
berbasis
ilmu
pengetahu
an
Perubahan
sistem
dan
proses
pengangaran,
ketidakstabilan
ekonomi,
politik
dan
pemerintahan
Perencana
an
sentralisti
s,
berwawas
an jangka
panjang,
bersifat
nasional
dan
semesta,
tidak
didukung
kemampu
an
pembiaya
an
RPNSB
I
mengikuti
tripola
dan
melalui
anggaran
pembangunan,
pencetakan
uang
serta
terealisasinya
beberapa
proyek
Manipol-Usdek,
etatisme ekonomi
dan
pembangunan
bangsa
251
Lebih lanjut lihat Horst Henry Geerken, A Magic Gecko Peran Cia Di
Balik Jatuhnya Soeharto, (Terjemahan Tingka Adiati), Kompas, Jakarta, 2011.
344
1966
1968
Tingginya
inflasi,
kemerosotan
ekonomi dan
hancurnya
prasarana
fisik
dan
kelembagaan
Pengamalan
Pancasila dan
UUD
1945
secara murni
dan konsekuen
dalam berbagai
bidang
kehidupan
Konsistensi
dalam
pengamalan
Pancasila
dan
UUD
1945,
rasional
dan
realistis
dalam
pengelolaan
kebijakan,
program
dan
anggaran
Pertumbuhan,
pemerataan dan
stabilitas
yang
sehat dan dinamis
serta
berkelanjutan
Penataan
kelembagaan
pemerintahan
dan
perencanaan
pembangunan
berbasis ilmu
pengetahuan
Persiapan
penyusun
an
rencana
pembangu
nan lima
tahunan
Persiapan
membangun
tata
kelola
pembangunan
yang berdaya
guna
dan
berhasil guna
serta
dapat
dipertanggungj
awabkan.
1969
1994
Pertumbuhan
ekonomi,
perubahan
struktur
ekonomi,
pemerataan
pembangunan
dan persiapan
tinggal landas
Pancasila
dengan
titik
berat
pada
pembangunan
bidang
ekonomi dan
bidang-bidang
lain
bersifat
menunjang dan
melengkapi
Stabilitas
politik
dan
pemerintahan
serta
mantapnya
lembaga
perencanaan
Pengelolaan
secara
terkendali,
berkembangnya
peran
serta
masyarakat,
berorientasi
kepada
golongan
ekonomi lemah
Kemajuan,
kemandirian dan
keadilan melalui
pembangunan
manusia secara
terpadu dengan
pembangunan
bidang lainnya
yang berorientasi
pada
trilogy
pembangunan
serta
pemberdayaan
masyarakat dan
pembangunan
berkelanjutan
Reformasi total,
konsolidasi
demokrasi,
desentralisasi,
akuntabilitas
pemerintahan dan
pembangunan
berkualitas
Upaya
mewujudkan
kesinambung
an
pembangunan
Keterkaita
n
erat
antara
perencana
an jangka
panjang,
menengah
dan
tahunan,
keterkaita
n antara
pusat dan
daerah
serta
antara
perencana
an
dan
pengangg
aran
Peningkat
an
partisipasi
dan
pemberda
yaan
masyarak
at
1994
2019
Peningkatan,
pembaruan
dan perluasan
bidang
pembangunan
Pancasila dan
mewujudkan
masyarakat
yang
maju,
mandiri,
adil
dan sejahtera
1998
2004
Krisis
multidimensi,
demokratisasi
,
desentralisasi
dan
penegakan
tata
kelola
pemerintahan
yang baik
Pancasila,
masyarakat
madani
dan
pemulihan
ekonomi
Penerapan
prinsip
good
governance
dalam
manajemen
pemerintahan,
pengenalan eprocurement
dan pulihnya
perekonomian
Pancasila dan
pembangunan
inklusif
Pro-growth, propoor, pro-job dan
pro-green
Kabinet
presidensial
dalam sistem
multipartai,
pelembagaan
Sistem
Perencanaan
Pembangunan
Nasional
(SPPN)
Pancasila,
pembangunan
Quality growth,
creative
and
Cabinet
presidensial
Propenas
sebagai
penjabara
n GBHN
1999 dan
perubahan
peran
Bappenas
dalam
penyusun
an
anggaran
Visi dan
misi
kepala
pemerinta
han
terpilih
dalam
RPJMN/
D dengan
pendekata
n
teknokrati
s
dan
partisipati
f
Perencana
an
2005
2009
Meningkatka
n
kualitas
pertumbuhan
dan
desentralisasi
dalam bingkai
negara
kesatuan RI
2010
-
Reformasi
birokrasi,
Amandemen
konstitusi,
restrukturisasi
kelembagaan
negara
dan
reposisi peran
Bappenas
Upaya
memenuhi
kebutuhan
public
Meningkatnya
transparansi
dalam
pelelangan/pen
gadaan barang
dan
jasa
pemerintahan
dan
pertumbuhan
ekonomi dan
cukup tinggi
Pengembangan
wilayah pulau-
345
2015
percepatan
pertumbuhan
ekonomi yang
berkualitas,
penegakan
hukum dan
peningkatan
daya
saing
nasional
yang
berkualitas dan
inklusif
inclusive
dengan sistem
koalisi,
meningkatnya
aktivitas
koordinasi
perencanaan
pembentukan
komite
ekonomi
nasional dan
komite
inovasi
nasional
demokrati
s
dan
teknokrati
s
pulau besar
Koordinasi
perencanaan
dan
pelaksanaan
pembangunan
Sistem
pelaksanaan
dan hasil yang
dicapai
Hasil 100 hari
Kabinet
Indonesia
Bersatu II
Sumber : Mustopadidjaja AR, Bappenas Dalam Sejarah Perencanaan Pembangunan Indonesia 1945-2025, LP3ES,
Jakarta, 2012.
Matrik di atas memperlihatkan berbagai kebijakan
pembangunan sejak masa awal kemerdekaan hingga hari ini.
Pembangunan dalam bidang hukum hanya dijadikan sebagai instrumen
atau alat pembangunan. Hukum tidak ditempatkan sebagai bidang
(sektor) pembangunan sendiri, tapi ditumpangkan dalam pembangunan
sosial budaya. Pembangunan sektor ekonomi secara terus menerus
diprioritaskan.
Keadaan ini sebenarnya tidak terlepas dari aturan yang
memberi kewenangan kepada pemerintah eksekutif (Presiden) sebagai
lembaga pemegang kekuasaan pembuat undang-undang, pada masa
penyusunan Undang-undang hak cipta nasional ketika itu. Pasal 5 ayat
(1) UUD 45 menyatakan “ Presiden memegang kekuasaan membentuk
undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”
Ketentuan itu menempatkan presiden pada posisi pemegang kekuasaan
legislasi, sedangkan DPR diposisikan sebagai pemegang kekuasaan
legislasi yang semu. Presiden sebagai pimpinan eksekutif tertinggi yang
semestinya menjalankan undang-undang, tapi justeru di tangannya
berada posisi legislasi. Tak jarang pula undang-undang yang keluar
pada masa itu, dalam berbagai pasalnya memberi peluang pula untuk
pelaksanaan pasalnya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Alhasil
sempurna lah kewenangan legislatif dan kewenangan eksekutif berada
di tangan satu orang yakni, Presiden. 252
252
Ketika Presiden ditetapkan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan,
tak pelak lagi presiden tampil bak penguasa Monarchi. Tampil berkuasa seperti seorang
raja. Apa jadinya sebuah negara hukum dalam bentuk republik tapi dipimpin oleh
seorang “raja”. Semua perintah adalah titah. Titah raja adalah hukum. Jika yang
dititahkan pun salah tetap saja dipandang sebagai hukum. Dalam pepatah Melayu seorang
yang bukan raja, tapi bertindak seolah-olah seorang raja, maka perilakunya akan “beraja
di mata bertahta di hati”. Semua kebijakannya harus dipandang benar dan jika salahpun
harus dibenarkan oleh para penggawa dan prajuritnya. Kenyataan ini berlangsung cukup
lama di Republik ini. Itulah sebabnya berpuluh-puluh undang-undang pasca dibentuknya
346
Undang-undang Hak Cipta Nasional disusun dan dilahirkan
pada priode UUD 45 belum diamandemen. Empat kali RRU hak cipta
nasional semuanya diusulkan oleh Presiden (pemerintah) dan ketika itu
Presiden juga memegang kekuasaan untuk membentuk undang-undang.
Dalam bahasa yang agak ekstrim, UU hak cipta nasional yang ada dan
pernah ada di Republik ini adalah undang-undang nya Presiden, karena
itu yang tertangkap dalam undang-undang itu adalah sebagian besar
aspirasi pemerintah, untuk tidak dikatakan kering dari aspirasi rakyat.
Sekalipun selama priode Indonesia merdeka banyak juga
undang-undang yang dilahirkan yang selaras dengan tujuan nasional,
sekalipun undang-undang itu dilahirkan tidak karena aspirasi rakyat.
Akan tetapi sebagian lagi undang-undang itu bertentangan dengan
semangat kemerdekaan dan tujuan nasional. Undang-undang tentang
Nasionalisasi Perusahaan Asing Belanda, UU No. 56 Tahun 1958
misalnya, adalah salah satu contoh saja untuk menyebutkan undangundang yang tidak aspiratif. 253
Matrik di bawah ini memperlihatkan kinerja lembaga pembuat
undang-undang selama kurun waktu 1945-2012, akan tetapi tidak
semua produk undang-undang yang dihasilkan dapat berterima di hati
rakyat sehingga dikemudian hari dilakukan pengujian, seperti
tergambar dalam matrik di bawah ini.
Mahkamah Konstitusi yang harus dikoreksi kembali di mahkamah itu. Bung Karno
pernah mengukuhkan dirinya sebagai presiden seumur hidup, Soeharto berkuasa lebih
dari tiga dasawarsa yang mengukuhkannya sebagai “sang Raja” dengan berbagai julukan.
Pasca reformasi, Habibi, Gus Dur dan Megawati, iklim demokrasi mulai terbuka, tapi
perilaku monarchi tetap mewarnai jalannya pemerintahan dan semakin kental terasa pada
era kepemimpinan Susilo Bambang Yoedoyono. Akan tetapi yang menarik adalah pasca
amandemen UUD 45, kekuasaan legislasi beralih ke tangan DPR namun presiden
memiliki hak untuk mengajukan RUU. Pasal 20 ayat (1) UUD hasil amandemen
mengatakan “DPR memegang kekuasaan membentuk Undang-undang”. Kemudian pada
tahun 2011 keluar UU No.12 yang menegaskan bahwa dalam setiap rancangan peraturan
yang diajukan harus disertai dengan Naskah Akademik. Lebih lanjut lihat David Jenkins,
Soeharto & Barisan Jenderal Orba Rezim Militer Indonesia 1975-1983, Komunitas
Bambu, Jakarta, 2010. Lihat juga Indriyanto Seno Adji, dan Juan Felix Tampubolon,
Perkara H.M. Soeharto, Politisasi Hukum ?, Multi Media Metrie, Jakarta, 2001.
253
Undang-undang Pokok Agraria, Undang-undang Penanaman Modal
Asing, Undang-undang Pertambangan, Undang-undang Kehutanan, Undang-undang
Lingkungan Hidup, dan lain-lain.
347
Matrik 32
Kinerja Lembaga Pembuat Undang-undang
(1945 – 2012)
Periodisasi
1945-1949
(18 Agst 1945 – 14 Nop
1945)
(14 Nop 1945 – 27 Des
1949)
1949-1950
27 Des 1949 – 1950
1950-1959
5 Juli 1959
1959-1966
1966-1971
1971-1977
1977-1982
1982-1987
1987-1992
1992-1997
1997-1999
1999-2004
2004-2009
2009-2010 *
2010-2011 *
2011-2012 *
Kekuasaan Pembuat
Undang-undang
Jumlah
Produk
Undangundang
Presiden
BP KNIP
133 UU
Presiden, DPR dan Senat
7 UU dan 30
UU Darurat
Presiden dan DPR
Presiden
Presiden
Presiden
Presiden
Presiden
Presiden
Presiden
Presiden
Presiden dan DPR
Presiden dan DPR
DPR
DPR
DPR
113 UU
10 UU
85 UU
43 UU
55 UU
46 UU
55 UU
70 UU
103 UU
174 UU
169 UU
16 UU
24 UU
30 UU
1163 UU
Sumber : Pataniari Siahaan, Politik Hukum Pembentukan Undangundang Pasca Amandemen UUD 1945, Konstitusi Press,
Jakarta, 2012
*Sumber : Harian Rakyat Merdeka, Mahfud : Pembuat UU Tidak
Profesional, Kamis, 3 Januari 2013.
Diolah kembali oleh : Saidin, 2013.
348
Matrik 33
Gugatan Uji Materil Terhadap Undang-undang
di Mahkamah Konstitusi
Tahun
Jumlah Gugatan
Kurun waktu 2011
169
Kurun waktu 2012
118
Jumlah
287
Sumber : Harian Rakyat Merdeka, Mahfud : Pembuat UU Tidak
Profesional, Kamis, 3 Januari 2013.
Jika dihubungkan kedua matrik di atas dapat disimpulkan
bahwa, kinerja DPR dan Pemerintah dalam melahirkan Undang-undang
memang terlihat nyata ada, akan tetapi hasil kerjanya di kemudian hari
mendapat kecaman dari berbagai pihak hingga kemudian harus
dilakukan uji materil. Selama kurun waktu tahun 2011 terdapat 169
undang-undang yang diajukan oleh berbagai kalangan untuk diuji dan
selama kurun waktu 2012, terdapat 118 undang-undang yang daijukan
untuk diuji secara materil. Catatan di Mahkamah Konstitusi dari 169
gugatan yang diajukan pada Tahun 2011, 97 gugatan diantaranya telah
diputus oleh Mahkamah Konstitusi. Diantara gugatan yang telah
diputus itu terdapat 30 gugatan yang dikabulkan, 31 gugatan ditolak,
30 gugatan tidak dapat diterima dan 6 gugatan ditarik kembali seperti
tertera pada matrik di bawah ini.
Matrik 34
Tipologi Putusan Gugatan Uji Materil Terhadap Undang-undang
Kurun Waktu 2011
Tipologi
Jumlah Gugatan
Persentase (%)
Dikabulkan
30
30,93
Ditolak
31
31,95
Tidak dapat diterima
30
30,93
Ditarik kembali
6
6,19
Jumlah
97
100 %
Sumber :
Harian Rakyat Merdeka, Mahfud : Pembuat UU Tidak
Profesional, Kamis, 3 Januari 2013.
Diolah kembali oleh : Saidin, 2013.
349
Pada kurun waktu 2011 terdapat 30,93 % gugatan uji materil
terhadap undang-undang yang putusannya dikabulkan dan itu berarti
bahwa undang-undang yang diproduk itu mengandung cacat atau
kekeliruan atau bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945.
Pemerintah dan DPR tidak punya bukti yang kuat untuk
mempertahankan keberadaan undang-undang itu. Alasan lain juga
sering dijadikan sebagai dasar pertimbangan karena undang-undang itu
tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Ini terjadi menurut Mahfud
MD : “Karena kuatnya politik transaksional dalam bentuk tukar
menukar kepentingan dalam pembentukan undang-undang”. 254 Ini
memperlihatkan betapa lemahnya kader-kader politik yang duduk di
lembaga legislatif. 255
Itulah sebuah kelemahan nyata dari pilihan politik hukum
pragmatis. Undang-undang yang dihasilkan tidak dapat bertahan lama,
bahkan mendapat perlawanan baik secara terang-terangan maupun
secara diam-diam. Ada kalanya juga undang-undang semacam itu terus
dapat bertahan tapi tidak dapat mencapai tujuannya, alias “macan
kertas”. Sebuah pertimbangan politis dalam penusunan undang-undang,
bukanlah sebuah pertimbangan yang dilakukan hanya dimaksudkan
untuk memenuhi unsur-unsur ilmu perundang-undangan atau sebagai
syarat dalam legal drafting. Sebuah pertimbangan politis adalah sebuah
dasar pijakan secara operasional, agar undang-undang yang akan
dilahirkan itu adalah undang-undang yang menyahuti gagasan
berdirinya negara, untuk mencapai tujuan negara dan yang lebih
penting dapat dioperasionalkan. Undang-undang yang secara
operasional dapat berjalan secara simetris dan simultan dalam satu
bingkai negara guna menjawab seluruh ide dan cita-cita negara.
Agaknya akan menjadi relevan mengaitkan cita-cita pembangunan
hukum nasional dengan alasan politis yang dirumuskan sejak awal.
Perumusan itu tidak dihadirkan secara “dadakan” pada saat persoalan
itu tiba. Tugas pembuat undang-undang tidak hanya mengantisipasi
setiap ada persoalan dalam masyarakt yang persoalan itu muncul tapi
hukum yang mengaturnya belum ada, akan tetapi lebih dari sekedar itu
yakni mendesain ke arah mana masyarakt ini akan di bawa dan hukum
254
Harian Rakyat Merdeka, Mahfud : Pembuat UU Tidak Profesional, Kamis,
3 Januari 2013.
255
Pada kesempatan lain Akbar Tanjung mengungkapkan lemahnya sistem
pengkaderan di Parpol, melahirkan kader instan disampaikan pada acara “Dialog
Membangun Budaya Demokrasi” diselenggarakan oleh Perhimpunan Pergerakan
Indonesia, Jakarta, 8 November 2013, lihat Koran Sindu, Sabtu, 9 November 2013, hal.
9.
350
seperti apa yang akan dipersiapkan untukmengantisispasi masa depan
itu. Karena itu pembangunan bidang hukum tidak bisa dilepaskan
dengan pembangunan bidang sosial budaya, bidang pertahanan
keamanan, bidang politik, ekonomi dan lain sebagainya. Demikian juga
hukum atau undang-undang yang mengatur tentang Hak Cipta. Dalam
hak cipta banyak terdapat kepentingan publik.256 Tidak hanya
kepentingan para ilmuwan dan seniman (meliputi karya bidang ilmu
pengetahuan, seni dan sastera) yang terdapat dalam hak cipta, tetapi
juga terdapat berbagai kepentingan kepentingan lainnya baik secara
perorangan maupun kelembagaan. Semua itu harus mendapat tempat
dalam perencanaan pembangunan hukum nasional yang dirumuskan
sebagai wawasan politik hukum nasional yang dapat dituangkan dalam
Program Legislasi Nasional (Prolegnas), seperti gagasan M. Solly
Lubis 257 sebab tanpa demikian, undang-undang yang dilahirkan akan
keluar dari cita-cita hukum nasional.
C. Struktur Hukum
Secara etimologi struktur selalu diartikan sebagai susunan
yang terdiri dari lapisan-lapisan, seumpama tulang ikan mulai dari
kepala sampai ekor. Ada tulang utama yang besar, kemudian tulangtulang kecil yang panjang yang semakin bergerak ke ekor semakin
kecil akan tetapi tetap tersusun secara rapi. Dalam satu organisasi
sosial, struktur selalu bermakna susunan kepengurusan yang rapi, mulai
dari jabatan yang paling tinggi sampai jabatan yang paling rendah.
Dalam satu (organisasi) negara, struktur selalu dimaknai sebagai
susunan badan-badan negara atau lembaga negara, mulai dari presiden
sampai pada kepala lingkungan, mulai dari DPR sampai pada Lembaga
Musyawarah Desa, mulai dari Mahkamah Agung sampai pada
Pengadilan Negeri, mulai dari Jaksa Agung sampai pada Kejaksaan
Negeri, mulai dari Kapolri sampai pada Kapolsek dan seterusnya. 258
Dalam struktur lapisan-lapisan itu akan bekerja secara
profesional menurut tugas dan kewenangannya masing-masing, namun
semuanya akan menyumbangkan (out put) untuk mewujudkan tujuan
organisasi. Struktur dalam sistem sosial hanyalah sebuah komponen
256
Gillian Davies, Copyright and The Public Interest, Thomson Sweet &
Maxwell, London, 2002.
257
M. Solly Lubis, Manajemen Strategis Pembangunan Hukum, Mandar
Maju, Bandung, 2011.
258
Lebih lanjut lihat, Inu Kencana Syafiie, Manajemen Pemerintahan, Pustaka
Reka Cipta, Bandung, 2011.
351
saja dan tidak menutup kemungkinan struktur-struktur lain akan berada
dalam satu sistem sosial itu. 259
Dalam berbagai studi ilmu sosial, struktur selalu bermakna
sosiologis dan kulur selalu dimaknai secara antropologis. Teori-teori
sosiologi tentang inipun sudah banyak dikaji oleh para sosiolog, sebut
saja Durkheim, Spencer, Weber,
Luhmann dan Giddens. 260
Pembahasan berikut ini tidak hendak mempertentangan berbagai
pandangan dari kalangan sosiolog itu, tapi harus diakui inilah
pembahasan yang paling sulit tentang hukum , jika hukum hendak
ditempatkan dalam satu sistem yang keberadaannya didudukkan
secara bersama-sama dengan sub sistem sosial lainnya dalam satu
sistem sosial yang lebih luas.
Sulit untuk memisahkan perilaku individu yang memiliki
jabatan secara struktural dalam organisasi negara tapi kemudian
pengaruhnya sedemikian besar dalam menentukan kebijakan negara .
Lembaga kepresidenan misalnya yang dipimpin oleh presiden tidak
hanya menjalankan tugas sebagai presiden menurut ketentuan tugas dan
kewenangannya berdasarkan peraturan yang ada, tapi tindakannya bisa
berpangkal pada keinginan pribadinya atau tindakan secara individual
yang ketika diaktualisasikan dianggap sebagai tindakan kelembagaan
secara struktural kenegaraan. 261
Demikian juga dalam tatanan masyarakat dengan struktur
masyarakat tradisional, ketika masyarakat “menghakimi” pencuri
ayam dianggap sebagai tindakan yang sah karena budaya masyarakat
melakukan eugenrichting (menghakimi sendiri) adalah sebuah tindakan
yang lazim dalam struktur masyarakat (tradisional) atau ketika hukum
dalam konsep struktur masyarakat modern tak mampu menjalankan
259
Lebih lanjut lihat, Nasikun, Sistem Sosial Indonesia, Rajawali, Jakarta,
1987.
260
Lebih lanjut lihat Max Weber, Sosiologi, (Terjemahan Noorkholish),
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009. Lihat juga Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori
Sosial Modern Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, UI Press,
Jakarta, 2007. Lihat juga Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, Yayasan Pustaka Obor
Indonesia, Jakarta, 2011, hal. 163.
261
Sebagai contoh intervensi presiden terhadap kasus antara Kapolri dengan
KPK, padahal sebenarnya yang disidik adalah oknum-oknum yang kebetulan bekerja di
masing-masing institusi itu. Penyidik KPK yang bernama Novel sedang menyidik
Perwira Tinggi Polri dalam kasus simulator SIM, Joko Sosesilo, tapi kemudian Novel
pernah perkaranya dibekukan dalam kasus pembunuhan di Palembang, ketika yang
bersangkutan menjabat sebagai Kapolres di salah satu wilayah hukum di Sumatera
Selatan. Terlihat jelas intervensi “orang-orang” terhadap institusi, tapi kemudian berubah
jadi kebijakan kelembagaan).
352
fungsinya, karena adanya perbedaan pada sistem hukum.
Persinggungan antara struktur sosial pada masyarakat tradisional dan
struktur sosial pada masyarakat modern tak bisa dihindari dan itulah
yang di kemudian hari melahirkan kultur baru yang diikuti dengan
kelahiran struktur sosial yang baru pila seperti yang digambarkan
Kobben, ketika meneliti hukum pada level masyarakat desa di
Suriname. Kobben 262 mengungkapkan :
In the past the Djuka formed a state within the state, and in many
respects this situation still holds. They still settle most of their disputes
without referring to the Surinam authorities. Only for the most serious matters
do they go to the police of their own accord. Usually it is the headman who
does this. This happens in cases of murder or homicide and rape of a young
girl – offenses that are rare. In the villages near the administrative centers,
Mungo and Albina, however, it has become more and more usual in the last
few years for young men who have taken a beating for seducing a woman to
go to the police and complain.
Two legal systems collide here. I try to explain that the police do
not want people to take the law into their own hands, but I have little success.
Da Jukun thinks he understands : “The police don’t think people ought to
fight at all ; whoever fights is punished. So if a man seduces your wife you
should put up with it. I suppose the wites don’t mind such things”.
Penelitian Kobben membuktikan bahwa pada masyarakat
Djuka di Suriname masih berlaku satu keadaan seperti di negaranya
sendiri meskipun telah ada suatu otoritas negara yang disebut
Suriname. Sebagian besar sengketa mereka tidak merujuk pada otoritas
pemerintahan Suriname hanya dalam hal-hal kasus serius seperti
pembunuhan, pemerkosaan atau pelanggaran-pelanggaran yang langka
(yang tak pernah mereka kenal sebelumnya) barulah mereka merujuk
polisi, itupun atas kemauan mereka sendiri. Di desa-desa dekat pusat
pemerintahan seperti Mungo dan Aldina telah pula menggunakan
lembaga kepolisian untuk menyampaikan keluhannya apabila ada
seorang laki-laki yang memukul atau merayu mereka. Karena itu di
Mungo terjadi dua sistem hukum dan itu dibiarkan hidup bahkan
kadang-kadang kedua sistem hukum itu saling bertabrakan karena di
satu sisi polisi ingin mengambil agar itu diselesaikan di tangan mereka
sendiri. Siapa saja yang melakukan kekerasan, harus dihukum, akan
tetapi Da Jukun (Lembaga Peradilan Tradisional Masyarakat Djuke)
tidak keberatan jika langkah-langkah itu diambil oleh polisi.
262
Andre J.F. Kobben Law at the Village Level : The Cottica Djuka of
Surinam, dalam Laura Nader (ed), Law in Culture and Society, University of California
Press, London, 1997, hal. 127.
353
Disini terlihat bahwa dua sistem hukum, yang satunya tunduk
pada sistem hukum lokal yang tradisional dan di lain pihak hukum
pemerintah yang lebih modern juga diberlakukan. Keduanya dapat
berjalan tanpa ada benturan yang berarti dalam aktivitas penegakan
hukum dalam masyarakat Suriname, akan tetapi struktur lembaga
penegakan hukum formal di Suriname berjalan tidak persis sama
dengan ketentuan yang termuat dalam hukum formal. Ini juga yang
terjadi di Indonesia dalam penyelesaian berbagai kasus-kasus pidana
mulai dari pidana berat sampai dengan pidana ringan. 263 Penegakan
hukum hak cipta yang tak kunjung membaik, juga dipengaruhi oleh
derajat struktur lembaga penegak hukum yang belum tuntas dari
pengaruh yang membebaskan mereka dari berbagai intervensi. Baik
intervensi secara kelembagaan maupun yang datang dari perorangan.
Derajat sistem soial itu sangat beragam, demikian Gaidens 264
dan makin beragam lagi jika dihubungkan dengan masyarakat yang
plural yang dibedakan dalam ruang dan waktu. Katakanlah Indonesia
sebagai sebuah sistem, yang disebut sebagai sistem (sosial) nasional
yang luas. Tempat dan waktu yang berbeda menyebabkan
keberterimaan akan satu aturan yang telah terkonsepkan secara
struktural oleh badan negara yang memiliki kewenangan formal yang
coba untuk diberlakukan secar unifikasi, memperlihatkan sikap
(penerimaan) yang berbeda. Mungkin di Plaza atau di mall di Counter
(outlet) dijual DVD dan VCD orginal dengan harga yang relatif lebih
tinggi dan para konsumen tidak pernah ragu-ragu untuk mengeluarkan
uanganya (mungkin dia juga tidak merasa bahawa tindaknnya itu
merupakan wujud kepatuhannya terhadap UU hak Cipta) bila
dibandingkan dengan konsumen yang membeli di gerai pedagang kaki
lima oleh konsumen yang lain dengan harga relatif lebih murah (dan
iapun tak pernah menyadari dia telah melanggar kaedah hukum UU
Hak Cipta).
263
Praktek penyelesaian kasus pelanggaran lalu lintas dapat ditemukan setiap
hari di jalan raya, sedangkan praktek penyelesaian kasus pidana besar, dapat dilihat dari
peanaganan kasus pendompleng dana BLBI yang sebahagian besar tak pernah sampai ke
pengadilan, lihat juga penangan kasus Bank Century yang tak kunjung usai, kasus yang
melibatkan Andi Malarangeng dan Anan Urbaningrum yang terkesan lamban samapai
pada lihat hasil akhir penyelesaian kasus Soeharto, Lebih lanjut lihat David Jenkins,
Soeharto & Barisan Jenderal Orba Rezim Militer Indonesia 1975-1983, Komunitas
Bambu, Jakarta, 2010.
264
Anthony Giddens, The Constitution of Society Teori Strukturasi Untuk
Analisis Sosial, (Terjemahan : Drs. Adi Loka Sujono), Pedati, Pasuruan, 2003, hal. 200.
354
Kasus di atas menunjukkan sikap keberterimaan yang berbeda
untuk kaedah hukum yang sama, hanya karena berbedanya ruang
tempat, padahal di Maal itu juga dijual DVD dan VCD hasil
pelanggaran hak cipta, akan tetapi para konsumen pikirannya telah
terkoptasi bahwa di Mall akan ada jaminan bahwa barang yang dijual
itu adalah barang yang original.
Dalam kesempatan berkeliling di Eropa, guna melengkapi
studi ini, tiap kali berhenti di kota-kota di Eropa, kami menyempatkan
diri melakukan observasi di counter-counter penjualan DVD dab VCD
hasil karya sinematografi. Kami memperoleh gambaran bahwa di
ciunter-counter penjualan DVD dan VCD hasil karya sinematografi,
tidak ditemukan barang illegal atau hasil pelanggaran hak cipta. Semua
barang dijual dengan harga berkisar 7 sampai dengan 15 Euro per
keping. 265
Apakah di negara-negara Eropa itu tidak ada pembajakan hak
cipta karya sinematografi ? Sebuah wawancara non terstruktur yang
kami lakukan dengan salah seorang warga negara Belanda 266
mengatakan :
Saya sudah 40 tahun lebih di Belanda dan saya penggemar film. Sampai hari
ini tidak kurang dari 500 keping VCD dan DVD di rumah saya dengan
berbagai judul cerita, mulai film Jepang, Amerika, Prancis, India sampai film
Indonesia. Film-film itu ada yang saya beli di Indonesia. Film-filmyang saya
beli di Belanda dan di negara-negara Eropa lainnya, semuanya original dan
saya beli dengan harga yang normal. Berbeda ketika saya membeli di
Indonesia, saya mendapatkan harga yang murah, tapi kualitasnya kurang
bagus, mungkin itu hasil bajakan.
Di Belanda tidak ada dijual hasil bajakan, semua yang dijual legal yang
ditandai dari lebel produksi dan lebel dari kantor pajak (cukai).
Kondisi di Perancis berbeda dengan di Belanda. Dalam sebuah
wawancara dengan seorang warga Perancis, 267 yang kebetulan selama
1 tahun tinggal di rumah kami, dalam wawancara dengan beliau, ia
katakan :
265
Harga rata-rata perkeping berkisara Rp.75.000,- sampai dengan
Rp.250.000,-Observasi ini kami lakukan di Belanda, Belgia, Itali, Spanyol, Swiss dan
Jerman. Observasi didampingi oleh Co-Promotor Tan Kamello, pada bulan April 2012.
266
Wawancara dengan ABDUL KARIM BASHEL, No. Pasport : NVK 5 J 98
F 6, Alamat : Boris Pasternak Straat No. 469, Amsterdam – Holland, tanggal 26 Juni
2013, di Medan, pukul 15.00 Wib.
267
Wawancara dengan PAULINE SALEUR No. Pasport : 11CX64404,
Kebangsaan
: Perancis, Alamat 12 RUE CHARLES DE FOUCAULT 18390
SAINT GARMAIN DU PUY, FRANCE, tanggal 21 Juni 2013 di Medan, pukul 13.00
Wib.
355
Di Perancis tidak ada dijual DVD dan VCD bajakan seperti di Medan. Di
Medan di mana-mana tempat ditemukan penjual DVD dan VCD bajakan. Di
Pernacsis selain hukum tentang pelaku pembajakan itu ketat, juga orang-orang
tidak banyak membeli VCD dan DVD, hanya kalangan orang-orang tua saja.
Para anak muda lebih banyak mendownload di internet di situs-situs resmi
dan tidak resmi.
Mendownload di situs tidak resmi, juga tidak boleh itu melanggar hukum, tapi
sulit ditelusuri pelakuknya, karena situs itu berganti-ganti nama, satu minggu
sudah hilang, setelah itu ganti lagi.
Selanjutnya, dalam sebuah wawancara dengan seorang warga
Turki 268 yang kami lakukan, beliau mengatakan :
Saya adalah penggemar film. Banyak VCD dan DVD di rumah saya dengan
berbagai judul cerita, mulai film Jepang, Amerika, Prancis, India sampai film
Indonesia. Film-film itu ada yang saya beli di Indonesia. Film-film yang saya
beli di Turki dan di negara-negara Eropa lainnya, semuanya original dan saya
beli dengan harga yang normal. Berbeda ketika saya membeli di Indonesia,
saya mendapatkan harga yang murah, tapi kualitasnya tidak bagus, mungkin
itu hasil bajakan.
Di Belanda tidak ada dijual hasil bajakan, semua yang dijual legal yang
ditandai dari label produksi dan label dari kantor pajak (cukai).
Merujuk pada tiga wawancara dengan tempat yang berbeda, ternyata
ditemukan perilaku yang bervariasi. Itu menunjukkan bahwa dalam
sistem sosial, struktur mayarakat yang sama karena tempat dan waktu
yang berbeda, perilaku hukum menjadi bervariasi. Model pembajakan
bergeser ketika ditemukannya teknologi internet.
Karena itu pilihan politik hukum harus juga dan mau tidak mau harus
mengikuti trend perkembangan teknologi. Struktur sosial yang berubah
pada akhirnya memaksa hukum untuk mengikuti perubahan itu.
Pertanyaan berikutnya: apakah dengan perubahan sosial itu yang diikuti
dengan perubahan hukum secara normatif, nilai juga ikut berubah ?
Atau yang berubah normanya saja, dan nilai tidak iokut berubah ?
Kasus UU hak cipta nasional, memeperlihatkan keduanya berubah,
nilai dan norma ikut berubah.
Ternyata tujuan negara tidak dapat dicapai melalui kerja-kerja
individu. Tujuan negara sebagai suatu organisasi pemerintahan modern
tunduk pada struktur organisasi yang dibakukan dalam hukum dasar
yang dipilih sebagai dasar berpijak bangunan negara. Dalam konteks
ketatanegaraan, badan-badan negara dibentuk sesuai dengan kebutuhan
penyelenggaraan negara tersebut dan itu ditetapkan dalam kaedah
hukum yang disebut sebagai hukum tata negara. Apa yang menjadi
268
Wawancara dengan Ali Cetin, warga negara Turki, tanggal 24 Juni 2013, di
Medan, pukul 13.00 Wib.
356
fungsi badan-badan negara, bagaimana bentuk struktur organisasinya,
bagaimana sistem pemerintahan yang dipilih dan lain sebagainya
ditetapkan dalam kaedah hukum tata negara. Selanjutnya bagaimana
badan-badan negara itu menjalankan fungsinya dalam struktur
organisasi negara itu, hal itu diatur dalam hukum administrasi negara.
Dalam praktek penegakan hukum, tidaklah cukup struktur
yang dimaksudkan adalah struktur lembaga penegak hukum tetapi juga
struktur lembaga pembuat undang-undang, struktur pemerintahan dan
bahkan struktur masyarakatnya sendiri. Mengenai struktur masyarakat
akan dibahas secara tersendiri dalam konteks budaya hukum. Organorgan negara seperti lembaga kepresidenan, lembaga Dewan
Perwakilan Rakyat, lembaga penegak hukum yang meliputi :
kepolisian, kejaksaan dan kehakiman akan membawa pengaruh pada
praktek penegakan hukum dalam kaitannya dengan struktur negara.
Praktek-praktek transaksional dalam pembuatan undang-undang antara
pihak eksekutif dengan pihak legislatif menjadikan produk undangundang itu gagal menyahuti aspirasi masyarakat. Demikian pula
praktek transaksional dalam proses penegakan hukum (law
enforcement) menyebabkan pula kaedah hukum itu gagal ditegakkan
atau setidak-tidaknya gagal mencapai tujuannya. Uraian berikut ini,
selain mengetengahkan tentang kinerja lembaga pembuat undangundang lebih jauh juga akan mengetengahkan uraian tentang lembaga
penegak hukum dan lembaga pemerintah (eksekutif) dalam kaitannya
dengan struktur dalam sistem hukum.
1.
Lembaga Pembuat UU (Legislatif)
Dalam konteks negara hukum, kekuasaan legislatif dapat
dikatakan mendominasi semua proses politik. Semua kebijakan negara
yang akan dituangkan dalam undang-undang berada di tangan lembaga
legislatif. Proses politik pembentukan hukum oleh legislatif lebih
superior dari lembaga manapun dalam sebuah negara hukum.
Legislatiflah sebenarnya penentu arah dan kebijakan negara, eksekutif
hanya menjalankannya saja, sedangkan judikatif lebih pada aspek
mengawasi ; apakah sebuah undang-undang telah dijalankan dengan
baik. Bahkan dalam kasus Indonesia legislatifpun menjalankan fungsi
pengawasan. Begitu tinggi kedudukan politis lembaga legislatif.
Meskipun dalam Undang-undang Dasar 1945 (sebelum di amandemen)
kekuasaan pembentukan undang-undang pernah diberikan kepada
presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat hanya diberikan kewenangan
untuk menyetujui. Pasca amandemen UUD 1945 kewenangan itu sudah
357
dialihkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, akan tetapi presiden dapat
mengajukan usulan rancangan undang-undang. 269
Anggota legislatif sebenarnya adalah representatif dari rakyat
Indonesia dari berbagai aliran politik, dengan segala tingkat
kemajemukan kulturnya. Sebagai lembaga perwakilan yang memegang
peranan “superior” itu, maka berbagai keinginan rakyat yang plural itu
akan dibahas di dalam satu atap yang disebut Lembaga Perwakilan
Rakyat. Di sana duduk perwakilan rakyat dari seluruh wilayah
Indonesia mulai dari yang mewakili daerah sampai dengan yang
mewakili kelompok agama (karena partai-partai juga dibentuk atas
dasar itu), mulai dari daerah Aceh, Riau, Banten, Yogayakarta, Bali,
sampai dengan Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Ketika ada
satu tema undang-undang akan dilahirkan, tak terbayangkan hukum
seperti apa yang harus dilahirkan untuk mengatur kepentingan
masyarakat yang plural itu. Entah apa juga bentuk perdebatan di
gedung legislatif itu, hingga muncul satu undang-undang yang yang
kemudian disetujui dan akhirnya diterima sebagai undang-undang
untuk mengatur masyarakat Indonesia yang plural itu. Tidak menjadi
soal juga jika di kemudian hari produk undang-undang itu tidak
“menyumbangkan” apa pun bagi tercapainya cita-cita hukum yang
dapat menyahuti cita-cita kemerdekaan. 270
Kebijakan politik legislasi nasional yang demikian tak
terelakkan lagi, karena Indonesia tidak memiliki pilihan lain
ketergantungan Indonesia secara ekonomis (berupa pinjaman) dengan
lembaga-lembaga keuangan Internasional, seperti International
Monettary Fund (IMF), World Bank dan Asian Development Bank
(ADB) dan bentuk ketergantungan lain adalah dengan perusahaan
multisional. Perusahaan multinasional dapat mengeluarkan ancaman,
akan hengkang dari Indonesia, jika negeri ini tidak merevisi atau
269
Lihat lebih lanjut Pataniari Siahaan, Politik Hukum Pembentukan Undangundang Pasca Amandemen UUD 1945, Konstitusi Press, Jakarta, 2012.
270
Lihatlah lebih lanjut produk UU No,5 Tahun 1960 Tentang UU Pokok
Agraria, Undang-undang Pendidikan Nasional dan Peraturan Pelaksanaannya,..Tak ada
juga yang peduli jika sebahagian masyarakat merasa mendapat perlakuan yang adil dan
sebahagian lagi merasa mendapat perlakuan tidak adil, atau sebahagian masyarakat
menjadi makmur dan sebagaian lagi menjadi miskin, atau sebahagian masyarakat
menjadi cerdas karena mendapat kesempatan pendidikan sebagian lagi menjadi bodoh
karena tak mendapat kesempatan bersekolah, karena produk undang-undang itu.Undangundang pada tatanan nasional, diproduk untuk menyahuti kepentingan elit politik dan elit
penguasa, karena itu undang-undang yang lahir cenderung mewakili “Senayan-Jakarta”
dan bagaimanapun juga produk hukum semacam itu tidak mapu mampu menyahuti
kepentingan seluruh masyarakat Indonesia yang plural.
358
mereformasi aturan perundang-undangannya menurut standar yang
mereka kehendaki.
Ketergantungan ini menurut Hikmahanto Juwono 271 sering
menjadi alasan intervensi Asing dalam proses legislasi Nasional,
sekalipun intervensi semacam itu tidak dilarang oleh undang-undang,
dalam arti tidak melanggar kaedah hukum Internasional. Akan tetapi
ketergantungan semacam itu membuat Indonesia “terpaksa” menyetujui
beberapa instrumen hukum Internasional, harus ikut menjadi anggota
konvensi Internasional yang memiliki keterkaitan dengan
ketergantungan itu. Atau setidak-tidaknya membuat perjanjian bilateral.
Dengan perjanjian itu negara maju menjadi leluasa untuk melakukan
intervensi dalam proses legislasi nasional di negara-negara berkembang
seperti Indonesia dengan memanfaatkan prosedur hukum yang
disepakati bersama. Meminjam istilah Hikmahanto, Instrumen hukum
(perjanjian) Internasional itu dijadikan sebagai alat intervensi negara
maju terhadap negara berkembang dalam proses legislasi. Paling tidak
ada dua sasaran yang ingin dicapai. Pertama, negara berkembang tidak
akan membuat hukum (undang-undang) yang tidak sesuai dengan
hukum dari negara maju.
Kedua, kepentingan Negara maju bisa “dipaksakan” tanpa
harus dianggap melakukan intervensi urusan dalam negeri suatu negara.
Negara maju sendiri, tidak berkepentingan untuk merubah hukum di
negaranya, sebab hukum merekalah yang sejak awal menjadi rujukan
perjanjian Internasional itu. Inilah yang terjadi untuk kasus Indonesia,
ketika Indonesia ikut meratifikasi hasil putusan WTO/GATT dan
Perjanjian Internasional ikutannya seperti TRIPs. Dampaknya
Indonesia dengan segala keterbatasannya harus mengikuti amaran
kesepakatan itu – karena itu telah menjadi kewajiban – yakni merevisi,
mereformasi, menyesuaikan atau memperbaharui peraturan perundangundangan HKI nya. Itu adalah sebuah intervensi politik internasional
yang nyata, intervensi politik negara-negara maju terhadap negaranegara berkembang.
Reformasi Peraturan perundang-undangan Hak Kekayaan
Intelektual setelah ratifikasi GATT/WTO janganlah dilihat sebagai
persoalan intervensi biasa, akan tetapi harus dimaknai sebagai proses
intervensi negara maju terhadap negara berkembang dan negara
berkembang “terpaksa” melakukannya melalui pilihan politik
271
Lebih lanjut lihat Hikmahanto Juwono, Orasi Ilmiah, Hukum Sebagai
Instrumrn Politik : Intervensi Atas Kedaulatan Dalam Proses Legislasi di Indonesia,
Disampaikan pada Dies Natalis Fakutas Hukum USU ke-50, Medan, 12 Januari, 2004,
hal.12.
359
pragmatis dan untuk kasus Indonesia diikuti dengan kebijakan
transplantasi hukum.272
Perubahan peraturan perundang-undangan Hak Kekayaan
Intelektual Indonesia termasuk di dalamnya UU Hak Cipta, adalah
keharusan yang lahir dari keterikatan secara hukum dan moral negara
Indonesia atas keanggotaannya dalam organisasi perdagangan dunia
tersebut. Sekalipun kebutuhan dalam negeri
atau masyarakat
Indonesia pada waktu itu memang belum mendesak untuk segera
melakukan perubahan terhadap peraturan perundang-undangan Hak
Kekayaan Intelektual tersebut. Bahwa arus globalisasi merupakan
gelombang yang tak dapat dihindari sebagai kemajuan peradaban umat
manusia yang diikuti dengan perubahan sosial hal itu sulit untuk
disangkal. Akan tetapi mengikuti saja arus perubahan itu tanpa upaya
untuk “menyaring” bahagian-bahagian perubahan yang mesti diikuti
adalah suatu tindakan atau pilihan politik yang kurang arif. Pemerintah
(Pusat) memang harus melakukan langkah-langkah politik yang
strategis untuk menghadapi tuntutan negara maju, akan tetapi rakyat
(daerah) jangan dikorbankan.
Di sinilah perlunya wacana untuk menentukan bentuk struktur
pemerintahan negara yang tepat. Hikmahanto 273 dalam pidatonya
mengatakan :
Sulitnya penegakan hukum di Indonesia berawal dari peraturan perundangundangan itu dibuat, paling tidak itu didasarkan pada dua alasan ;
Pertama, pembuat peraturan perundang-undangan tidak memberi perhatian
yang cukup apakah aturan yang dibuat nantinya bisa dijalankan atau tidak.
Pembuat peraturan perundang-undangan sadar ataupun tidak telah mengambil
asumsi aturan yang dibuat akan dengan sendirinya dapat berjalan. Di tingkat
nasional, misalnya, UU dibuat tanpa memperhatikan adanya jurang untuk
melaksanakan UU antara satu daerah dengan daerah lain. Kerap UU dibuat
dengan merujuk pada kondisi penegakan hukum di Jakarta atau kota besar.
Konsekuensinya UU demikian tidak dapat ditegakkan di kebanyakan daerah
di Indonesia dan bahkan menjadi UU mati.
Keadaan diperparah karena dalam pembuatan peraturan perundang-undangan
tidak diperhatikan infrastruktur hukum yang berbeda di berbagai wilayah di
Indonesia. Padahal infrastruktur hukum dalam penegakan hukum sangat
penting. Tanpa infrastruktur hukum yang memadai tidak mungkin peraturan
272
Pilihan pragmatis itu dilakukan, karena pihak negara maju selalu menjadi
sumber ketergantungan negara berkembang baik ketergantungan secara ekonomi, politik
maupun ketergantungan dari aspek keamanan, lebih lanjut lihat Sritua Arief & Adi
Sasono, Indonesia Ketergantungan dan Keterbelakangan, Mizan, Jakarta, 2013.
273
lihat pidato, Hikmahato Juwono, Penegakan Hukum Dalam Kajian Law
and Development: Problem dan Fundamental Bagi Solusi di Indonesia, Disampaikan
pada acara Dies Natalis ke 56 Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Februari 2006,
hal 13.
360
perundang-undangan ditegakkan seperti yang diharapkan oleh pembuat
peraturan perundang-undangan.
Kedua, peraturan perundang-undangan kerap dibuat secara tidak realistis. Ini
terjadi terhadap pembuatan peraturan perundang-undangan yang merupakan
pesanan dari elit politik, negara asing maupun lembaga keuangan
internasional. Disini peraturan perundang-undangan dianggap sebagai
komoditas.
Elit politik dapat menentukan agar suatu peraturan perundang-undangan
dibuat, bukan karena kebutuhan masyarakat melainkan agar Indonesia
memiliki peraturan perundang-undangan yang sebanding (comparable)
dengan negara industri. Sementara negara asing ataupun lembaga keuangan
internasional dapat meminta Indonesia membuat peraturan perundangundangan tertentu sebagai syarat Indonesia mendapatkan pinjaman atau hibah
luar negeri.
Peraturan perundang-undangan yang menjadi komoditas biasanya kurang
memperhatikan isu penegakan hukum. Sepanjang trade off dari pembuatan
peraturan perundang-undangan telah didapat maka penegakan hukum bukan
hal penting. Bahkan peraturan perundang-undangan seperti ini tidak realistis
untuk ditegakkan karena dibuat dengan cara mengadopsi langsung peraturan
perundang-undangan dari negara lain yang notabene memiliki infrastruktur
hukum yang jauh berbeda dengan Indonesia.
Dua alasan di atas mengindikasikan peraturan perundang-undangan sejak awal
dilahirkan tanpa ada keinginan kuat untuk dapat ditegakkan dan karenanya
hanya memiliki makna simbolik (symbolic meaning).
Dalam pidatonya yang lain Hikmahanto274 mengisaratkan
betapa selama ini kebijakan pemerintah pusat dalam perubahan
undang-undang hanya menguntungkan pihak asing, mulai dari
perubahan UU HKI sampai dengan perubahan UU Kepailitan.
Demikian juga ratifikasi konvensi Internasional, lebih daripada
tindakan kamuflase agar Indonesia dipandang oleh negara-negara maju
sebagai negara yang turut berperan aktif dalam menyongsong
liberalisasi perdagangan dalam era globalisasi, padahal Indonesia
sangat tidak siap untuk menyongsong era itu dan ideologi
negaranyapun tak memberi peluang untuk itu, tapi “Jakarta” melakukan
juga langkah politis itu. Akibatnya undang-undang yang dilahirkan tak
memperlihatkan hubungannya dengan kepentingan masyarakat yang
hendak diatur dengan undang-undang itu. Pusat terlalu mendominasi
kebijakan legislasi nasional, terlebih-lebih pada masa pemerintahan
Orde Baru yang memberi peluang yang besar kepada presiden sebagai
pemegang kekuasaan legislasi. Pada masa itu hampir tak ada keinginan
daerah yang dapat disahuti dengan baik oleh Pemerintah Pusat bahkan
saat sekarangpun setelah keluar Undang-undang Otonomi Daerah,
274
Hikmahanto, Orasi Ilmiah Hukum Sebagai Instrumen Politik : Intervensi
atas Kedaulatan Dalam Proses Legislasi di Indonesia, Disampaikan pada Dies Natalis
Fakultas Hukum USU,.0p.Cit. 12 Januari 2004.
361
Peraturan Daerah yang secara substantif tak dapat menyimpang dari
keinginan Pemerintah Pusat.275
Selama kurun waktu pembentukan undang-undang hak cipta
nasional yakni sejak tahun 1982 sampai dengan tahun 2002 kekuasaan
pembentukan undang-undang masih berada di tangan presiden. Artinya
undang-undang hak cipta nasional belum ada yang lahir dari atas
kewenangan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat. Hal ini tentu
membawa sebuah konsekuensi bahwa undang-undang hak cipta
nasional yang berlaku hari ini atau yang pernah berlaku pada masa
sebelumnya adalah undang-undang yang berasal dari inisiatif
pemerintah di bawah kekuasaan pembentuk undang-undang yakni
presiden, sekalipun Dewan Perwakilan Rakyat diberikan kewenangan
untuk menyetujui. Jika dikemudian hari undang-undang ini terkesan
tidak aspiratif, tidak menyahuti aspirasi rakyat dan bahkan menjadi
“macan kertas” maka dapat dimaklumi hal itu terjadi lebih dari suatu
keadaan dimana rakyat tidak turut memberikan sumbangsih
pemikirannya dalam pembuatan undang-undang itu. Apalagi pada
waktu itu kewajiban untuk menyampaikan naskah akademik dalam
pengajuan rancangan undang-undang belum ditetapkan.
Struktur organisasi lembaga pembuat undang-undang (Dewan
Perwakilan Rakyat bersama-sama dengan presiden) negara yang rapuh
seringkali menjadi penyebab mengapa suatu undang-undang tidak
dapat menampung aspirasi rakyat yang berujung pada tidak dapat
ditegakkan ketika undang-undang itu diterapkan. 276 Kerapuhan struktur
lembaga pembuat undang-undang ini telah dirasakan sejak masa awal
berdirinya negara hingga hari ini. Sayangnya putra-putri bangsa ini
enggan mempelajari sejarah, tapi selalu terkagum-kagum dengan
kebesaran Sriwijaya, Majapahit atau Singosari. Akan tetapi tidak
pernah ada yang belajar dari keruntuhan ketiga kerajaan tersebut.
Pengalaman kepemimpinan ketiga kerajaan tersebut yang kala itu
memerintah secara monarkhi absolut yang bermakna pula bahwa tiap
titah raja adalah hukum dalam wilayah negara nusantara ketika itu. 277
275
Wawancara dengan Abdul Hakim Siagian, Mantan Ketua Badan
Kehormatan DPRD Provinsi, Wakil ketua Komisi Bidang Hukum dan Pemerintahan
DPRD Provinsi yang juga mengetuai berbagai Ketua Pansus, wawancara tanggal 10 Juli
2013, jam 11.15.00 di Medan.
276
Lebih lanjut lihat Hikmahanto Juwana, Penegakan Hukum Dalam Kajian
Law and Development : Problem dan Fundamen Bagi Solusi di Indoensia, Pidato Ilmiah,
Disampaikan pada Acara Dies Natalis Ke-56 Universitas Indonesia, Kampus UI Depok
tanggal 4 Pebruari 2006, hal 14.
277
Lebih lanjut lihat Paul Michel Munoz, Kerajaan-kerajaan Awal
Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia Perkembangan Sejarah dan Budaya
362
Pengalaman sejarah itu akhirnya diwarisi juga oleh Indonesia
sebagai suatu negara modern pasca kemerdekaan. Kemerdekaan
memang berhasil mengusir penjajah tapi tidak berhasil membangun
struktur organisasi negara yang kuat termasuk struktur lembaga
pembuat undang-undang. Sebelum diamandemen, Undang-undang
Dasar 1945 Pasal 5 dan Pasal 20 meletakkan kekuasaan pembuat
undang-undang itu ditangan presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat
hanya menyetujui saja.
Menurut ajaran Trias Politika,278 kekuasaan legislatif,
eksekutif
dan yudikatif haruslah dipisah, agar kewenangankewenangan yang dimiliki oleh lembaga itu lebih bersifat otonom
dengan garis-garis batas kewenangan yang jelas. Konsep negara
hukumpun menghendaki pemisahan yang jelas antara masing-masing
lembaga itu. Akan tetapi di luar tradisi negara hukum dan menyimpang
dengan apa yang dipikirkan oleh Rosseau sungguh sangat mengejutkan,
Indonesia justru dalam undang-undangnya memberikan kewenangan
pembentuk undang-undang kepada eksekutif (presiden) padahal
seharusnya kewenangan itu berada di tangan legislatif yakni DPR.
Kondisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Empat kali
perubahan undang-undang hak cipta nasional, masih mengacu pada
ketentuan tersebut yakni Pasal 5 dan Pasal 20 Undang-undang Dasar
1945. 279
Asia Tenggara (Jaman Pra Sejarah – Abad XVI), (Terjemahan Tim Media Abadi),
Penerbit Mitra Abadi, Yogyakarta, 2009.
278
Lihat M. Solly Lubis, Ilmu Negara, Mandar Maju, Bandung, 2007.
279
Lembaga pembuat undang-undang adalah sebuah organ atau sub sistem
dalam sistem kenegaraan yang berada bersama-sama dengan lembaga eksekutif dan
yudikatif. Tidak mungkin dapat dicapai sebuah tujuan untuk mewujudkan cita-cita negara
jika organ-organ yang ada di dalam negara itu tidak saling bekerja sama secara kompak
atau justru satu lembaga saja yang bekerja tapi lembaga yang lainnya tanpa memiliki
kewenangan dan diposisikan sebagai atribut atau alat untuk menjustifikasi seolah-olah
produk undang-undang itu telah dilakukan benar-benar menurut konsep negara hukum.
Keruntuhan negara lebih banyak diawali karena ketidak kompakan berbagai-bagai
komponen dalam suatu negara yang berpangkal pada terpusatnya kekuasaan ditangan
satu orang. Sejarah pengelolaan negara di Republik ini mulai zaman pemerintahan
Soekarno yang dilanjutkan dengan pemerintahan Soeharto memperlihatkan terpusatnya
kekuasaan negara (termasuk kewenangan membuat undang-undang di tangan satu orang)
yakni presiden. Akibatnya undang-undang yang diproduk lebih banyak menyahuti
keinginan lembaga eksekutif itu dan meninggalkan aspirasi rakyat. Terkadang hukum
rakyat yang hidup dan dipatuhi serta dijalankan di berbagai-bagai masyarakat tradisional
di Indonesia tidak pernah dijadikan bahan rujukan dalam penyusunan undang-undang
termasuk undang-undang hak cipta. Itulah sebabnya ketika gerakan tari (koreografi)
dilindungi dalam undang-undang hak cipta asing yang kemudian ditransplantasikan
kedalam undang-undang hak cipta nasional tetapi pembuat undang-undang tidak pernah
363
Undang-undang hak cipta nasional yang ada hari ini adalah
undang-undang yang sarat dengan pesanan-pesanan negara maju
dengan muatan ideologi kapitalis-liberal. Ini dibuktikan dengan
beberapa kali perubahan Undang-undang hak cipta itu ditandai dengan
intervensi Amerika, dan dua Undang-undang hak cipta terakhir,
memuat bahagian penting yang didasarkan pada TRIPs Agreement
yang juga dimotorioleh negara-negara kapitalis. Transplantasi hukum
asing kedalam undang-undang hak cipta nasional justru menghilangkan
banyak nilai-nilai sosial kultural yang selama ini diyakini sebagai nilainilai luhur Bangsa Indonesia. Hilangnya nilai-nilai sosio kultural itu
justru membunuh kreativitas bangsa sendiri yang dalam alasan
pembuatan undang-undang hak cipta nasional semula dimaksudkan
untuk menumbuhkan kreativitas masyarakat Indonesia. Kewenangan
yang dimiliki lembaga pembuat undang-undang seumpama sebilah
pisau yang tajam akan tetapi kemudian digunakan untuk memotong jari
sendiri. Lembaga pembuat undang-undang telah terkoptasi dalam arus
pikiran globalisasi dengan muatan ideologi kapitalis-liberal. 280
Ketidak-puasan masyarakat ini jika tidak disikapi akan
berdampak pada maraknya pelanggaran hukum yang jika terus
dibiarkan akan berkembang menjadi gerakan-gerakan sparatis. 281 Di
memasukkan gerakan pencak silat sebagai karya cipta yang harus dilindungi. Itu adalah
satu contoh kasus saja bagaimana peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam
masyarakat tradisional tidak menjadi menarik bagi kalangan lembaga pembuat undangundang untuk diadopsi kedalam undang-undang hak cipta nasional.
280
Terlalu luas wilayah negeri ini untuk dikorbankan dengan dalih
kepentingan nasional yang hanya bercermin dan tercermin dari Jakarta. Terlalu banyak
penduduk negeri ini yang akan menderita dan menjadi koban, hanya untuk dan atas nama
bangsa dan rakyat Indonesia yang hanya bercermin dan tercermin di “Senayan” . Bahkan
mereka yang duduk di “Senayan” pun adalah mereka-mereka yang punya kampung di
daerah tetapi sudah menjadi warga DKI. Kebanyakan mereka sukses mendulang
kekuasaan untuk dan atas nama “anak kampung mereka” padahal sekalipun ia tak pernah
meminum air sumur di kapung itu. Bagimana mungkin mereka dapat menyahuti aspirasi
“kampung” nya, bagaimana pula ia dapat memahami roh dan jiwa act locally yang
tumbuh di kampung itu. Inilah yang dirasakan oleh daerah dalam konteks intervensi asing
ke dalam lembaga legis lasi nasional. Lembaga pembuat undang-undang yang
tersentralisir, tidak pernah bisa memberikan kepuasan kepada semua lapisan masyarakat
atas undang-undang yang mereka produk apalagi hendak diberlakukan secara unifikasi.
Sulit untuk membuat undang-undang yang berlaku secara unifikasi untuk masyarakat
yang plural, agaknya faktor inilah yang dominan hingga sampai hari ini upaya untuk
menciptakan KUHPidana Nasional dan Hukum Agraria Nasional tak kunjung selesai
hingga hari ini.
281
Dahulu zaman Orde Baru, Soeharto memilih wakil presidennya di luar
Jawa, kemudian diikuti denga kebijakan mengangkat menteri mewakili Daerah. Aceh
dengan pergolakannya selalu mendapat jatah menteri. Belakanganpun SBY mengangkat
364
lain pihak bagi kaum intelektual keadaan semacam ini dapat tumbuh
dan disikapi menjadi gerakan moral yang berujung pada gelombang
aksi dan jika tidak ditangani secara benar dapat berubah menjadi
prahara yang membawa bencana nasional. Desentralisasi dengan sistem
otonomi daerah yang sekarang ini agaknya sudah waktunya untuk
ditinjau ulang. Secara struktural perjalanannya selama beberapa tahun
telah memberikan rekam jejak yang lebih banyak terkesan negatif,
seperti berpindahnya aktivitas korupsi dari Pusat ke daerah. 282
Amerika, sekalipun dengan kapitalis liberalnya sulit untuk
diterima dalam perspektif Indonesia, tapi hari ini pertumbuhan dan
perjalanan bangsa dan negara ini sedang bergerak ke arah sana.
Amerika-lah yang memotori gerakan liberal kapitalis itu yang
bermakna juga Amerika-lah yang memaksakan instrumen TRIPs
Agreement dan itu berarti juga hukum Amerika-lah yang
ditransplantasikan ke dalam UU HKI Nasional. Sekalipun hal itu tidak
disukai tapi bagi Amerika sesuai dengan struktur dan kultur serta
bentuk negara dan sistem pemerintahannya itu yang terbaik hari ini.
Ada yang patut ditiru dari negara “federal” itu yakni : kultur hukum
Amerika yang diikuti dengan rezim politiknya yang stabil. Kultur
politinya berakar pada hak-hak masyarakat sipil, sistem hukum telah
terdefinisi dengan baik, peradilan independen, tingkat korupsi rendah,
struktur birokrasinya sederhana dan efisien, tidak nepotisme,
penyelenggara negara lebih bersifat professional, kreativitas
masyaraktnya tumbuh dengan baik. 283
Keadaan demikian dalam banyak hal karena didukung oleh
sistem federal yang dianut oleh negaranya dan konsep pemisahan
kekuasaan – legislatif, eksekutif dan judikatif – dipegang teguh. Dalam
tataran penegakan hukum intervensi eksekutif menjadi sangat kecil,
karena kewenangan eksekutif telah dibatasi dengan baik. Demikian
menterinya dari kalangan Aceh, kini setelah Aceh jadi daerah intimewa, gejolak mulai
reda tak ada lagi orang Aceh masuk dalam kabinet menteri.
282
Sumber-sumber penghidupanpun terpusat di Jakarta. Sehingga ibu kota
diserbu pencari kerja. Uangpun lebih banyak berputar di Jakarta daripada di daerah.
Jakarta menjadi kota terpadat di dunia. Pada menjelang lebaran energi penyelenggara
negara tersita untuk urusan mudik, yang tak pernah ada di belahan dunia manapun. Harus
ada keberanian untuk meninggalkan tradisi buruk, yakni “mensakralkan” kelanggengan.
Padahal tak ada yang harus ditakuti, jika itu dapat mengantarkan bangsa ini kepada negeri
yang aman, damai, sentosa, sejahtera, adil dan makmur di ridhoi oleh Tuhan Yang maha
Esa. Pengalaman bangsa ini mentransplantasi norma hukum asing tanpa mentransplantasi
struktur dan kulturnya telah memperlihatkan kegagalannya.
283
Lebih lanjut lihat Martin Wolf, Globalisasi Jalan Menuju Kesejahteraan,
(Terjemahan : Samsudin Berlian), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007, hal. 81.
365
juga campur tangan eksekutif
ke dalam kerja-kerja legislatif
(parlemen) hampir tak mungkin dapat dilakukan, karena telah dibatasi
oleh koridor masing-masing. Demikian juga kalau dirujuk sistem
federasi yang dianut oleh Malaysia. Lembagai Pemerintah (executive),
Lembaga Perundang-undangan (legislative) dan Lembaga Kehakiman
(judiciciary) memegang fungsi dan peranan yang terpisah. Sekalipun
ketiganya berada di bawah Yang di-Pertuan Agong, akan tetapi
lembaga yang disebut terakhir ini hanya “simbol” Pemimpin Negara
Malaysia. Pilihan terhadap sistem federal ini didasarkan pada
kenyataan sejarah dan fakta empirik bahwa Malaysia – sama dengan
Indonesia – adalah negara yang plural, baik dari segi keberagaman
agama maupun etnik. Itulah sebabnya Pemerintah Kolonial Inggeris
untuk memperkukuh keadaan “multi ethnic” itu perlu diterapkan
sisitem federalisme dengan mencontoh pola yang ada di Kanada.
Malaysia demikian ungkap Syed Azman merupakan gabungan dari 13
negara bagian dan fungsi dan peranan, hak dan kewajiban, serta
masibng-masing kewenangan antara pemerintah pusat (Federal
Goverment)
dengan pemerintah negara bagian diatur dalam
Perundang-undangan Perserikatan (Undang-Undang dasar Negara)
dengan sistem pembagian kekuasaan yang jelas. 284
Kondisi ini telah menghilangkan “beban pikiran” pemerintah
terhadap kemungkinan perjuangan separatis untuk mendirikan negara
baru yang terpisah dari Malaysia seperti yang dihadapi Indonesia
selama kurun waktu kemerdekaan hingga hari ini. Perjuangan Rakyat
Aceh, Papua dan Maluku Selatan sampai hari ini masih menjadi beban
politik yang tidak sedikit menguras energi. Sehingga konsentrasi
pembangunan pada sektor lain menjadi terganggu, tidak seperti
Malaysia pembangunan dan pemerataan tampak nyata terutama pada
masa kepemimpinan Mahathir dan dan dengan gagah berani terangterangan menentang kebijakan Amerika. 285
Perbandingan dengan sistem federal dengan negara kesatuan
lebih pada persoalan kecerdasan intelektual untuk memahami bahwa
dalam bangsa yang multi etnis tak mungkin kesatuan (unity) dapat
dilakukan, tapi yang mungkin bisa dilakukan adalah persatuan dalam
keragaman (uniformity). Pandangan seperti itu perlu digulirkan dalam
tulisan ini, karena secara struktural hukum sangat berpengaruh pada
pilihan bentuk negara ini. Negara sebagai sebuah sistem yang
284
Lebih lanjut lihat Syed Azman dalam Adnan Buyung Nasution et.all,
Federalisme Untuk Indonesia, Kompas, Jakarta, 1999, hal. 92.
285
Ramon V. Navaratnam, Malaysia’s Economic Recovery Policy Reforms for
Economic Sustainability, Pelanduk Publications, Malaysia, 2001.
366
menempatkan hukum sebagai sub sistem di dalamnya akan sulit untuk
dapat mengakomodir hak-hak masyarakat lokal di daerah, sulit untuk
mengakomodir nilai-nilai hukumn lokal (act locally) apalgi jika
dihadapkan dengan politik hukum negara yang harus mengakomodir
tuntutan negara asing dengan sistem hukum asing-nya. Seumpama
kesebelasan PSMS (Persatuan Sepak Bola Medan Sekitarnya) diajak
untuk bertarung di Liga Eropa, konon pula dalam perebutan Piala
Dunia, dan ini dalam pepatah Melayu disebut dengan “menggantang
asap”. Supaya pekerjaan menggantang asap ini tidak terus menerus
terjadi dalam bangsa yang besar ini, maka perlulah wacana federasi ini
digulirkan. Jika wacana ini dapat diterima publik dan dikukuhkan
dalam undang-undang, bentuk negara federal ini diharapkan dapat
menciptakan iklim birokrasi yang lebih efisien dan efektif. Penegakan
hukum dan keadilan dapat lebih menyentuh semua lapisan
masyarakat,terutama mengenai keadilan dalam bidang ekonomi dan
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah ( economic equality
and regional equality ) sampai pada penghematan ongkos-ongkos
politik yang setiap 3,5 hari sekali melakukan Pilkada untuk daerah
Pemerintah Kota/Kabupaten dan Propinsi. Demikian juga pemanfaatan
sumberdaya baik itu alam maupun manusia dapat dioptimalkan untuk
kepentingan daerah, tidak seperti sekarang secara kasat mata diangkut
dan terpusat di “Jakarta”. Sehingga dengan demikian cita-cita
masyarakat adil dan makmur seperti yang diamanatkan oleh Pancasila
dapat terwujud, dan legislatif (parlemen daerah) dapat lebih
terkonsentrasi merumuskan arah dan politik hukum lokal ke depan
dengan “istiqamah” menjadikan the original paradigmatic value of
Indonesian culture and society sebagai landasan pembentukan hukum
di daerah, sedangkan pada tataran Pemerintah Pusat, Legislatif Pusat
(Parlemen Pusat) merumuskan perangkat-perangkat hukum yang lebih
mengutamakan hal-hal yang berhubungan dengan organisasi
Internasional dalam pergaulan di dunia yang serba terbuka. Sehingga
politik hukum di belah menjadi dua arah, satu untuk internal di arahkan
kepada pemerintah lokal (negara bagian) untuk urusan hukum eksternal
di rumuskan oleh pemerintah Pusat diputus melalui Parlemen Pusat.
Dengan demikian kewenangan legislatif seperti yang terjadi selama ini
tidak seperti kata pepatah,pisau tajam pemotong jari. Kekuasaan
legislatif yang begitu besar digunakan untuk membunuh kreativitas
anak bangsa sendiri. Pilihan-pilihan politik pragmatis dalam
pembentukan hukum dapat segera diakhiri.
367
2.
Lembaga Penegak Hukum (Yudikatif)
Lembaga penegak hukum adalah salah satu instrument dalam
proses law enforcement yang sesungguhnya merupakan kewenangan
yudikatif. Karena itu semua tindakan lembaga penegak hukum selalu
dimaknai sebagai “projustisia”. Sulit untuk dimengerti dalam sejarah
perjalanan bangsa ini salah satu lembaga penegak hukum terdepan
yaitu kepolisian pernah ditempatkan bersama-sama dengan Angkatan
Bersenjata (ABRI, AURI dan ALRI) ke dalam institusi Pertahanan
Negara. Dikemudian hari, Kepolisian ditempatkan sebagai institusi
tersendiri padahal di banyak negara kepolisian ditempatkan dalam
lembaga atau departemen dalam negeri. Sejarah perjalanan dan
keberadaan institusi Kepolisian yang telah mengalami posisi dan
kedudukan yang berganti-ganti dalam kelembagaan negara sedikit
banyaknya telah mempengaruhi perilaku personil dan perilaku
kelembagaan dalam praktek penegakan hukum di negeri ini. Posisi
kepolisian yang ditempatkan sebagai penyidik dalam Undang-undang
No. 8 Tahun 1981 telah menjadikan institusi ini sebagai garda
penegakan hukum terdepan. Ketika dalam perjalanannya entah itu
disebabkan karena melemahnya fungsi pengawasan hukum terhadap
lembaga ini atau karena lembaga ini merasa tidak perlu lagi diawasi
oleh hukum dikemudian hari kepercayaan masyarakat terhadap
lembaga ini semakin memudar. Sebagai penyidik, kepolisian telah
menyiapkan “bahan-bahan yang sudah siap untuk dimasak” dan
diserahkan kepada kejaksaan selaku penuntut umum. Pihak kejaksaanpun segera menggelar persidangan bersama-sama dengan hakim dan
polisi dihadirkan juga dalam persidangan untuk memberikan
keterangan-keterangan tentang apa yang telah dituangkan dalam Berita
Acara Pemeriksaan. Akan tetapi dalam banyak kasus, ketiga institusi
ini justru “menjalin kerjasama” yang berujung pada apa yang disebut
dengan mavia peradilan. Puncaknya hilang kepercayaan masyarakat
terhadap lembaga peradilan dan diikuti dengan pembentukan lembaga
ekstraordinary (ad hoc) yang dikenal dengan Komisi Pemberantasan
Korupsi. Dalam perjalanan selanjutnya, Komisi Pemberantasan
Korupsi ternyata lebih mampu menyahuti cita-cita penegakan hukum.
Keadaan ini justru tidak membawa lebih baik secara kelembagaan,
karena situasi ini kemudian memicu konflik antara sesama aparat
penegak hukum yang telah ada sebelumnya. Konflik internal antara
sesama institusi penegak hukumpun sering muncul. Sebut saja
misalnya konflik antara lembaga KPK dengan Polri, lembaga
Kejaksaan dengan Mahkamah Agung dan itu tidak termasuk konflikkonflik yang dipicu dari persoalan-persoalan yang bersifat individu lalu
368
kemudian dibawa ke ranah lembaga. Yang masih terngiang dalam
ingatan adalah konflik antara KPK dengan Polri yang harus diakhiri
dengan “turun tangan” presiden untuk memberikan solusi walaupun
solusi itu pada akhirnya adalah tidak menjernihkan perseteruan antara
kedua lembaga itu. Masih ada tersembunyi “sejumlah dendam” yang
sewaktu-waktu akan dapat muncul kembali. Terminologi “cicak dan
buaya” adalah terminologi yang menggambarkan betapa situasi strutur
organisasi kelembagaan dalam pemerintahan yang disebut negara
masih penuh dengan intrik, kecurigaan yang pada akhirnya sulit untuk
menjalin suatu kerjasama yang harmonis.
Kondisi penegakan hukum hari ini telah pula terbagi-bagi
secara hirarkis. KPK hanya menangani perkara-perkara korupsi yang
besar, sementara perkara-perkara yang kecil masih ditangani oleh
aparat kepolisian. Tradisi penegakan hukum menjadi tidak lagi
bernuansa penciptaan situasi keamanan dan kenyamanan serta
memberikan
rasa
keadilan
ditengah-tengah
masyarakat.
Pengklasifikasian perkara “besar” dengan perkara-perkara yang “kecil”
menimbulkan kecemburuan antara sesama aparat penegak hukum.
Besar kecilnya perkara itu diukur pula dari nilai ekonomis yang
melekat dalam kasus itu sehingga perkara-perkara yang secara kasat
mata dianggap tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi menjadi
terabaikan. Begitulah yang terjadi dalam lapangan perlindungan karya
sinematografi.
Pembajakan atau pelanggaran terhadap karya sinematografi
melalui produksi illegal berupa kepingan VCD dan DVD tidak
dianggap sebagai pelanggaran hukum yang masuk dalam kategori
kejahatan berskala besar. Tidak ada juga yang dapat menjelaskan
bagaimana kerusakan moral hukum yang ditimbulkan dari proses
pembiaran terhadap aktivitas pembajakan atau pelanggaran hak cipta
itu. Belum lagi terhadap kasus penyewaan yang secara tegas dilarang
dalam undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002.
Pasal 2 ayat (2) Undang-undang No. 19 Tahun 2002
menyatakan :
Pencipta atau Pemegang Hak Cipta atas Karya Sinematografi dan Program
Komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang
tanpa persetujuannya menyewakan ciptaan tersebut untuk kepentingan yang
bersifat komersial.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan di atas.
Jika redaksi pasal tersebut dirumuskan dalam bahasa yang sederhana
terdapat 2 (dua) jenis karya cipta yang jika disewakan harus mendapat
persetujuan atau izin dari pencipta atau pemegang haknya yaitu :
369
1.
2.
Karya sinematografi
Program komputer
Berdasarkan ketentuan pasal tersebut di atas, maka seseorang
dilarang untuk menyewakan karya cipta sinematografi (termasuk juga
program komputer) untuk tiap-tiap kepentingan yang bersifat komersial
jika tidak diberikan persetujuan atau izin oleh pencipta atau pemegang
hak cipta tersebut. Hak untuk memberikan izin atau hak untuk
melarang oleh undang-undang ini diberikan kepada pencipta atau
pemegang haknya. Pelanggaran atas ketentuan itu termasuk dalam
kategori pidana dengan sifat delik sebagai delik biasa. Akan tetapi tidak
ada reaksi apapun dari aparat Kepolisian terhadap peristiwa pidana itu.
Di samping itu ketentuan pasal ini pun masih menyimpan
konflik normatif jika dihubungkan dengan prinsip-prinsip hukum
perdata. Hak cipta dipahami sebagai hak kebendaan yang immateril
yang tunduk pada azas-azas (prinsip) hukum benda. Seseorang yang
telah mendapatkan hak menurut ketentuan KUHPerdata yakni melalui :
1. Perlekatan
2. Daluwarsa
3. Pewarisan
4. Wasiat
5. Hibah atau jual beli. 286 diposisikan sebagai pemegang hak
absolut.
Dalam konteks kepemilikan atas benda yang telah dimiliki
atau yang telah diperoleh berdasarkan ketentuan Pasal 584 KUH
Perdata tersebut, maka si pemilik boleh berbuat bebas atas benda yang
ia miliki tersebut. Si pemilik bebas untuk menikmati kegunaan atas
benda tersebut dengan leluasa dengan kedaulatan sepenuhnya asal
penggunaan itu tidak bertentangan dengan undang-undang dan
peraturan umum yang ditetapkan oleh kekuasaan yang berhak untuk
menetapkannya, tidak mengganggu hak orang lain dan seterusnya. 287
Hak apa sesungguhnya yang dialihkan oleh pencipta atau oleh
si pemegang hak atas karya sinematografi ? Jawabnya adalah hak untuk
menikmati rangkaian cerita film atas karya sinematografi tersebut. Hak
untuk menikmati benda immateril yang melekat pada karya
sinematografi tersebut yang dimuat dalam kepingan VCD, DVD atau
dalam bentuk disk blue ray. Tentu saja hak untuk menikmati itu setelah
seseorang memperoleh hak kebendaan immateril itu dengan cara yang
286
Lebih lanjut lihat ketentuan Pasal 584 Kitab
Undang-undang Hukum
Perdata.
287
Lebih lanjut lihat Pasal 570 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
370
dibenarkan oleh undang-undang (vide Pasal 584 KUHPerdata) si
pemilik hak memiliki kewenangan yang bebas untuk menggunakan
termasuk membuat perikatan dengan pihak ketiga lainnya seperti
menjualnya, menyewakannya, menghibahkannya, mewasiatkannya dan
mewariskannya. Akan tetapi Pasal 2 ayat (2) Undang-undang No. 19
Tahun 2002 justru memberikan batasan, apabila karya sinematografi itu
disewakan haruslah mendapat izin atau persetujuan dari pencipta atau
pemegang hak. Jika demikian halnya mengapa dia harus menciptakan
karya itu ? Jawabannya adalah agar dia dapat memperoleh kompensasi
dari hasil karya ciptanya. Akan tetapi jika setelah mendapatkan
kompenasi seseorang yang mendapatkan hak darinya kemudian dibatasi
haknya seperti untuk menyewakan kepada pihak ketiga, sudah barang
tentu hal ini bertentangan dengan asas yang terkandung dalam Pasal
570 KUH Perdata. Dalam sebuah wawancara yang kami lakukan
dengan pihak pemilik cinema club – bioskop keluarga diperoleh
keterangan sebagai berikut :
Pimpinan Cinema Club - Bioskop Keluarga menuturkan :
Kepingan DVD dan VCD serta Disc Blue Ray (DBR) kami beli dari
distributor di Jakarta, khusus untuk DBR. Untuk kepingan DVD dan VCD
kami membeli dari toko-toko resmi di Kota Medan. Harga untuk kepingan
DBR berkisar Rp. 450.000,- – Rp. 500.000,- sedangkan untuk VCD dan DVD
harga berkisar Rp. 50.000,- - Rp. 60.000,- dan mendapat potongan harga 10%
s/d 15%. Kepingan DVD, VCD maupun DBR kami beli dengan jual beli
putus, artinya setelah kami beli tidak ada ikatan apapun dengan pihak
distributor. Harga ini memang termasuk mahal jika dibandingkan dengan
kepingan VCD dan DVD yang non original. Akan tetapi kami memang harus
membeli yang original sebab kami harus menampilkan gambar yang terang
serta bersih dan tidak macet (sangkut saat diputar). 288
Merujuk pada penuturan pimpinan Cinema Club – Bioskop
Keluarga tersebut di atas, dapat dipahami bahwa kepingan VCD, DVD
dan DBR dibeli dengan jual beli putus tanpa ikatan atau klausul
tambahan setelah jual beli itu dilakukan. Jika dihubungkan dengan
ketentuan Pasal 570 KUHPerdata, maka pimpinan Cinema Club –
Bioskop Keluarga berhak untuk mengalihkan kenikmatan atas hak yang
melekat pada kepingan VCD, DVD dan DBR tersebut kepada orang
lain dalam bentuk menyewakan tanpa mendapat persetujuan atau izin
dari pencipta atau pemegang hak cipta. Seyogyanyalah pihak pencipta
atau pemegang hak cipta tidak boleh melarang pimpinan Cinema Club Bioskop Keluarga tersebut untuk menyewakan kepingan VCD, DVD
dan DBR tersebut kepada orang lain, karena memang itulah
288
Wawancara dengan William Hatapary, Pimpinan Cinema Club – Bioskop
Keluarga, Medan, tanggal 19 Juni 2013.
371
kewenangan yang diberikan oleh undang-undang. Apakah tindakan
pihak Cinema Club – Bioskop Keluarga termasuk pada perbuatan
melawan hukum atau perbuatan kriminal ? Semestinya perbuatan itu
tidak termasuk pada perbuatan melawan hukum, hanya saja ketentuan
Pasal 2 ayat (2) Undang-undang No. 19 Tahunm 2002 tersebutlah yang
menjadi klausul undang-undang yang mengkriminalisasi tindakan
pimpinan Cinema Club – Bioskop Keluarga tersebut. Pimpinan Cinema
Club – Bioskop Keluarga dalam aktivitasnya tidak hanya menyediakan
film-film (baca : karya sinematografi) yang mereka sediakan sendiri.
Para konsumen ada yang membawa kepingan DVD, VCD dan DBR
yang mereka beli sendiri untuk kemudian ditonton bersama kelurga dan
para koleganya di Studio Cinema Club – Bioskop Keluarga tersebut.
Tentu saja untuk tindakan yang terakhir ini tidak dapat “dijerat” dengan
Pasal 2 ayat (2) Undang-undang No. 19 Tahun 2002. Ketentuan ini
diambil alih dari TRIPs Agreement, tapi Undang-undang Hak Cipta
Indonesia memberi syarat maksimum dalam penjelasan Pasal 2 ayat 1
Undang-undang No. 19 Tahun 2002 yaitu :
Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata
diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh
memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya. Dalam pengertian
“mengumumkan atau memperbanyak” termasuk kegiatan menerjemahkan,
mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan,
meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik,
menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan ciptaan kepada public
melalui sarana apapun.
Ketidak adilan tergambar dalam kasus ini. Seseorang yang membawa
kepingan DVD, VCD dan DBR dari rumahnya sendiri, lalu kemudian
ditonton di studio Cinema Club-Bioskop Keluarga, tindakan seperti ini
tidak dianggap sebagai perbuatan kriminal atau perbuatan melawan
hukum karena kepingan DVD, VCD dan DBR itu dibeli sendiri oleh
pihak yang akan menonton. Sebaliknya jika kepingan DVD, VCD dan
DBR itu disewa (tidak dibeli) justru perbuatan itu menjadi perbuatan
kriminal atau perbuatan melawan hukum. Aktivitas semacam itu
memang tidak dipahami oleh pihak pimpinan Cinema Club – Bioskop
Keluarga.
William Hatapary menuturkan :
Film-film yang kami sewakan disini adalah film-film yang termasuk dalam
kategori box office. Semuanya film-film Amerika. Dulu kami pernah
mencoba untuk menyediakan film-film Asia, akan tetapi peminatnya tidak
ada. Film-film ini semuanya film-film yang sedang menduduki peringkat atas
penonton di dunia. Tapi kami baru mendapatkan kepingan DVD, VCD dan
DBR setelah film-film itu diputar 1 sampai dengan 2 bulan di bioskopbioskop dunia karena pihak distributor tidak mengedarkan film-film itu dalam
372
kepingan DVD, VCD dan DBR sebelum masa putar di bioskop berakhir.
Harga untuk tiap-tiap kali satu masa putar Rp. 125.000,- (seratus dua puluh
lima ribu rupiah) per satu ruangan. Ada juga diantara tamu-tamu yang datang
membawa kepingan DVD, VCD dan DBR sendiri dan itu mereka bawa dari
rumah. Bagi kami itu tidak menjadi masalah, akan tetapi kami mengurangi
uang sewanya menjadi Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) per satu kali masa
putar untuk satu ruangan. 289
Dari penuturan pimpinan Cinema Club – Bioskop Keluarga
tersebut terungkap bahwa sebenarnya hanya Rp. 25.000,- (dua puluh
lima ribu rupiah) uang penyewaan yang riil dari tiap-tiap kepingan
DVD, VCD dan DBR tersebut. Untuk mengembalikan modal sebesar
Rp. 450.000,- (empat ratus lima puluh ribu rupiah) pihak Cinema Club
– Bioskop Keluarga paling tidak harus mendapatkan pelanggan untuk
18 kali masa putar untuk satu ruangan. Jadi sebenarnya sangat minim
yang diperoleh oleh pihak Cinema Club-Bioskop Keluarga jika
diharapkan semata-mata dari hasil penyewaan DVD, VCD dan DBR
tersebut. Secara ekonomis, untuk menutupi seluruh biaya operasional
Cinema Club-Bioskop Keluarga ini tidak sepenuhnya tergantung pada
penyewaan DVD, VCD dan DBR saja akan tetapi berharap pada
penyewaan ruangan dan penjualan makanan serta minuman. Gagasan
semula untuk menghitung penghasilan dari pembukaan Cinema Club –
Bioskop Keluarga ini tidak digantungkan pada penyewaan DVD, VCD
dan DBR ini akan tetapi adalah gagasan dan ide yang timbul pada saat
akan mendirikan usaha pencucian mobil sebagaimana diungkapkan
William Hatapary sebagai berikut :
Semula saya akan mendirikan usaha doorsmeer atau usaha pencucian
kendaraan. Seringkali pelanggan yang akan melakukan pencucian kendaraan
terlalu lama menunggu dan menimbulkan kebosanan. Untuk mengantisipasi
kebosanan itu kami sediakan satu ruangan untuk menonton film-film cerita
yang diputar melalui diskplayer. Sambil menunggu kendaraan selesai dicuci,
para pelanggan terus menonton. Sayangnya, setelah kendaraan selesai dicuci
film yang mereka tonton belum berakhir, akhirnya para pelanggan kembali
menunggu film cerita habis diputar. Lalu saya berfikir bagaimana kalau dibuat
usaha yang menyediakan hiburan dalam bentuk menyewakan ruangan untuk
pemutaran film-film bioskop. Inilah awal gagasan saya mendirikan usaha
Cinema Club – Bioskop Keluarga ini. 290
Ungkapan pimpinan Cinema Club – Bioskop Keluarga di atas
menggambarkan bahwa aktivitas penyewaan DVD, VCD dan DBR
bukanlah aktivitas yang utama. Penyewaan DVD, VCD dan DBR
tersebut adalah sebagai instrument saja untuk dapat menyewakan
289
William Hatapary, Ibid.
290
William Hatapary, Ibid.
373
ruangan agar para keluarga dapat rileks sambil makan minum. Intinya
adalah terlalu jauh dari rasa keadilan jika pihak pengelola Cinema Club
– Bioskop Keluarga harus meminta persetujuan atau meminta izin dari
pencipta atau pemegang hak untuk aktivitas tersebut. Apalagi sejak
awal pihak Cinema Club – Bioskop Keluarga sendiri tidak pernah
menonton film-film yang telah mereka beli dalam bentuk kepingan
DVD, VCD dan DBR tersebut. Jadi hak kekayaan intelektual berupa
hak untuk menikmati karya sinematografi yang melekat pada kepingan
sama sekali tidak untuk dinikmatinya sendiri, akan tetapi diberikan
kenikmatannya kepada pihak ketiga dengan membayar sewa. 291
Meskipun pembuat undang-undang lalai dalam membuat
sanksi atas pelanggaran ketentuan Pasal 2 ayat (2) Undang-undang No.
19 Tahun 2002 tersebut akan tetapi konsekuensi hukumnya tetap ada.
Jika pencipta dan pemegang hak berkeberatan, tuntutan pidana dapat
saja dilakukan dengan dalil tidak mengindahkan peraturan undangundang, tidak menghormati hak pencipta yang menimbulkan rasa tidak
menyenangkan atau dapat dilakukan melalui gugatan ganti rugi karena
telah merugikan pihak pencipta dan pemegang hak cipta.
Penegakan hukum tidak sama dengan penegakan undangundang. Undang-undang adalah sebahagian dari hukum. Dalam proses
penegakan hukum, haruslah dipahami bahwa yang ditegakkan itu
adalah sistem hukum yang berisikan substansi, struktur dan kultur
sebagaimana yang diungkapkan oleh Friedman. 292
Pandangan Friedman yang menempatkan hukum dalam satu
sistem bermakna bahwa masing-masing komponen yang terdiri dari
substansi struktur dan kultur akan saling terhubung dan saling
291
Jika seseorang memiliki benda materil yang ia beli sebelumnya da ri pihak
pemilik benda itu misalnya saja berupa tanah, rumah atau mobil. Apakah si pemilik yang
mendapatkan hak dengan cara membeli itu harus meminta izin atau mendapat persetujuan
dari pihak pemilik pertama agar ia dapat menyewakan tanah, rumah, mobil tersebut
kepada pihak ketiga ? Jawabnya : tentu tidak. Karena Pasal 570 KUHPerdata dengan
tegas menyatakan bahwa si pemilik dapat berbuat bebas atas obyek hak milik yang telah
ia peroleh dengan cara yang benar menurut hukum untuk dapat berbuat bebas terhadap
benda itu. Dalam hak cipta yang dilarang itu bukanlah hak untuk menyewakan, yang
dilarang adalah hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaan.
292
Lebih lanjut lihat Lawrence M. Friedman, The Legal System A Social
Science Perspective, Russell Sage Foundation, New York, 1975. Bandingkan juga
dengan Padmo Wahjono, Sistem Hukum Nasional Dalam Negara Hukum Pancasila,
Rajawali, Jakarta, 1983. Lihat lebih lanjut Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju
Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni, Bandung, 1991. Bandingkan juga dengan Elly
Erawaty, dkk, Beberapa Pemikiran Tentang Pembangunan Sistem Hukum Nasional
Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2011. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi, dan
I.B. Wyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Remadja Rosdakarya, Bandung, 1993.
374
berkaitan. Artinya tidak cukup hanya isi hukumnya saja yang baik,
akan tetapi harus diikuti dengan struktur dan kulturnya. Demikian juga
tidak cukup strukturnya saja yang baik akan tetapi harus diikuti dengan
substansi dan kulturnya. Demikian seterusnya jika substansi dan
strukturnya saja yang baik jika tidak diikuti dengan kulturnya maka
hukum juga tidak akan dapat mencapai tujuannya. Dalam proses
penegakan hukum, tujuan hukum yang hendak dicapai simetris dengan
komponen-komponen dalam sistem hukum yaitu untuk menciptakan
keadilan, kepastian dan kemanfaatan.293 Konsekuensinya hukum harus
dilihat dalam berbagai dimensi. 294
Dalam praktek penegakan hukum, khususnya dalam bidang
karya cipta sinematografi dalam sejarah perlindungan hak cipta di
Indonesia sampai hari ini memperlihatkan sisi yang tidak
menggembirakan. Praktek pelanggaran hukum bidang karya
sinemaografi ini tentu tidak terlepas dari faktor bahwa budaya
penegakan hukum hak cipta bukanlah budaya hukum yang tumbuh atau
hukum yang hidup yang berakar pada kultur Bangsa Indonesia. Bidang
hukum ini adalah termasuk bidang hukum yang ditransplantasikan dari
hukum asing.
Ditemukan banyak faktor kesulitan dalam penegakan hukum
yang sumber kulturalnya tidak berakar pada budaya lokal. Jika
seseorang melakukan tindak pidana pencurian atas benda yang nyata
atau benda berwujud, budaya hukum masyarakat setempat sejak awal
telah meyakini bahwa perbuatan itu adalah salah. Orang yang
293
Lebih lanjut lihat Gustaf Redbruch Gustav Radbruch, Rechts-Philosophie,
K.F. Koehler Verlag Stuttgart, Germany, 1956.
294
Seringkali terdengar ungkapan di masyarakat bahwa hukum tidak tegak.
Hukum yang diterapkan tidak memberikan rasa keadilan. Hukum malah bagi kalangan
pelaku ekonomi dirasakan tidak hanya tidak memberikan manfaat akan tetapi juga
menghambat kreativitas mereka. Pertanyaan yang selalu muncul kemudian adalah
bagaimana dengan praktek penegakan hukum selama ini? Aktivitas polisi, jaksa, hakim,
pengacara terus berjalan. Kantor polisi setiap hari penuh dengan jumlah manusia (apakah
semuanya untuk kepentingan projustisia atau tidak, itu persoalan lain). Begitu juga
kantor Kejaksaan dan Kantor Pengadilan tak pernah sepi dari kerumuna n manusia, tapi
mengapa selentingan bahwa hukum tidak tegak, hukum tidak berjalan masih terus
berkumandang. Ternyata hukum tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang saja.
Hukum memiliki paradigma ganda (multi paradigm). Hukum tidak dapat ditempatkan
dalam satu garis linier. Hukum berada pada garis nonlinier. Itulah yang menyebabkan
perspektif sosiologis-empirik menjadi kajian yang paling banyak dilakukan, yakni sebuah
kajian untuk melihat pelaksanaan hukum di tengah-tengah masyarakat untuk melihat
hukum yang hidup atau dengan meminjam istilah yang digunakan oleh Sulistyowati
Irianto untuk melihat hukum yang bergerak di tengah-tengah masyarakat. Lebih lanjut
lihat Sulistyowati Irianto, Hukum Yang Bergerak Tinjauan Antropologi Hukum, Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta, 2009.
375
melakukan transaksi jual beli atas barang yang diketahuinya bersumber
dari perbuatan yang salah, secara sadar ia juga mengakui tindakan yang
ia lakukan itu adalah juga merupakan tindakan yang salah. Adalah
berbeda ketika seorang yang mengeluarkan uang untuk pembelian
sebuah VCD atau DVD hasil karya sinematografi, si pembeli tak
pernah menyadari bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang salah.
Jika kemudian perbuatan seperti itu harus juga dikategorikan sebagai
perbuatan yang salah atau menurut terminologi hukum pidana sebagai
suatu tindak pidana maka kesulitan pertama yang ditemukan adalah
bagaimana membangun persepsi yang sama antara pihak aparat
penegak hukum dengan pihak konsumen termasuk juga produsen
illegal itu. Di sisi lain pihak aparat penegak hukum khususnya dalam
penegakan hukum hak cipta, walaupun undang-undang telah menunjuk
penyidik Pegawai Negeri Sipil namun masyarakat tetap memandang
bahwa penyidik itu adalah polisi. Polisilah sebenarnya sebagai garda
terdepan untuk melakukan penegakan hukum dalam bidang karya
sinematografi. Sementara itu, persepsi masyarakat terhadap profesi
polisi selaku penegak hukum saat ini sedang merosot. Profesionalisme
aparat kepolisian setiap hari mendapat sorotan bernuansa negatif di
banyak media sehingga muncul opini bahwa polisi tidak dapat
diharapkan untuk melakukan penegakan hukum. Bak kata pepatah :
menyapu dengan sapu yang kotor, aparat kepolisian sulit untuk
melakukan pembersihan karena di mata masyarakat, di tubuh aparat
kepolisian terdapat sejumlah noda.
3.
Lembaga Pemerintah (Eksekutif)
Kondisi pemerintahan Indonesia hari ini jauh berbeda dengan
kondisi pemerintahan pada masa-masa sebelumnya. Jika pada periode
pemerintahan Bung Karno, Indonesia disibukkan dengan berbagai
konflik internal yakni pergulatan politik dalam negeri dan secara
internal masih ada urusan-urusan dengan klaim pemerintah Hindia
Belanda terhadap Indonesia khususnya mengenai Irian Barat. Pada
masa pemerintahan Soeharto, keadaan politik dalam negeri lebih
kelihatan stabil akan tetapi persoalan birokrasi cenderung berpusat di
tangan satu orang yakni presiden. Partai-partai politik pun pada masa
itu diarahkan untuk mendukung kebijakan pemerintahan orde baru.
Nyaris tidak ada oposisi pada masa pemerintahan Soeharto. Akan tetapi
kreativitas dan kebebasan rakyat pada masa itu menjadi terhambat.
Pasca pemerintahan reformasi terbuka peluang lebar untuk tumbuhnya
alam demokrasi yang lebih berkeadilan. Akan tetapi dalam perjalannya
376
melahirkan pemimpin-pemimpin yang penuh dengan kehati-hatian
yang berujung pada sikap ragu-ragu. 295
Memang masyarakat menjadi lebih terbuka pada pasca
pemerintahan reformasi akan tetapi keterbukaan itu justru
menimbulkan musuh-musuh yang baru seperti kata Popper. 296 Diantara
musuh-musuh itu adalah masyarakat semakin berani dan terangterangan melakukan aksi-aksi untuk dan atas nama demokrasi dan
kebebasan. Akan tetapi bersamaan dengan itu nilai-nilai ke-Indonesiaan
memudar, ideologi Pancasila dikesampingkan. Nilai-nilai sosial,
kultural dan religi tidak lagi dijadikan sebagai pedoman dalam
melakukan berbagai aktivitas. Puncaknya lembaga pemerintahan yang
dipimpin oleh kalangan eksekutif mulai dari Presiden sampai pada
pemimpin di tingkat kelurahan memperlihatkan sikap keraguraguannya untuk mengambil berbagai keputusan. Keragu-raguan itu
diawali dari adanya isu pelanggaran HAM jika tindakan penegakan
hukum dilakukan secara represif. Keraguan berikutnya adalah ketidak
pastian dalam penegakan hukum. Perbedaan antara kebijakan dan
tindak pidana terlalu tipis dan begitu mudah untuk ditafsirkan, sehingga
berbagai kebijakan yang diambil oleh para eksekutif di kemudian hari
dalam proses hukum berubah menjadi tindak pidana korupsi. Demikian
juga perbedaan antara sekatan-sekatan perdata dan sekatan-sekatan
pidana semakin menipis sehingga hubungan-hubungan keperdataan
begitu mudah ditafsirkan menjadi peristiwa pidana. 297
Kedua faktor ini sangat dominan dalam mempengaruhi perilaku
eksekutif mulai dari pusat sampai ke daerah. 298
295
Lebih lanjut lihat Riwanto Tirtosudarmo, Mencari Indonesia DemografiPolitik Pasca-Soeharto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007. Lihat juga Tjipta
Lesmana, Dari Soekarno Sampai SBY, Gramedia, Jakarta, 2008.
296
Lebih lanjut lihat Karl R. Popper, The Open Society and Its Enemies,
Princeton University Press, Princeton, New Jersey, 1971.
297
Lebih lanjut lihat Sulistyowati Irianto, Antonius Cahyadi, Runtuhnya Sekat
Perdata dan Pidana Studi Peradilan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta, 2008.
298
Di beberapa kasus di Kota Medan banyak para kontraktor tidak bersedia
untuk mengerjakan berbagai proyek karena khawatir akan ancaman hukuman. Bahkan
para kepala dinas mengundurkan diri dari jabatannya karena khawatir suatu hari
pertanggungjawabannya sebagai pengelola keuangan akan menimbulkan unsur-unsur
peristiwa pidana yang mengancam pribadinya. Keraguan pimpinan eksekutif ini terlihat
pula selama periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak pernah
mengambil putusan yang tegas terhadap persoalan-persoalan kenegaraan. Lihat saja
bagaimana perseteruan antara lembaga-lembaga penegak hukum yang tak kunjung selesai
sampai hari ini, kalaupun dianggap selesai karena adanya “perdamaian” sesaat, mungkin
dikemudian hari perseteruan itu akan terulang kembali. Banyak pihak yang mengatakan
presiden ragu-ragu dalam mengambil keputusan seperti kata pepatah Melayu “Orang
377
Dampak yang ditimbulkannya kemudian adalah masyarakat
semakin merajalela bahkan dengan terang-terangan melakukan
perlawanan terhadap aparat penegak hukum. Sebagai reaksi terhadap
tindakan masyarakat tersebut, aparat penegak hukum justru lebih
merasa aman dan lebih merasa nyaman jika tidak melakukan reaksi
apapun terhadap tindak pidana pelanggaran hak cipta yang berlangsung
di tengah-tengah masyarakat. Secara sadar telah terjadi proses
pembiaran struktural. 299 Aparat Kepolisian misalnya, lebih baik
membiarkan saja peristiwa itu berlangsung meskipun ada rasa takut di
kalangan pedagang barang-barang illegal itu
pada saat aparat
kepolisian itu melakukan razia terhadap barang-barang hasil bajakan
tersebut. Akan tetapi, setelah razia tersebut selesai dilakukan dan pada
saat para aparat kepolisian berlalu masyarakat kembali menggelar
jualannya berupa VCD dan DVD hasil pelanggaran karya
sinematografi. Kehadiran polisi seperti kata pepatah : Biduk lalu
kiambang bertaut, tak ada juga yang dapat menjadi kesan positif bagi
para penjual hasil karya sinematografi bajakan. Seberapa besarpun
razia dilakukan, pelanggaran hukum terus berlangsung.
Tingkat kesadaran hukum masyarakat seolah-olah bak air di
daun keladi, tak ada bekas yang dapat menumbuhkan kesadaran hukum
baru bahwa tindakan pembajakan dan menjual hasil bajakan terhadap
karya sinematografi adalah sebuah kejahatan. Kondisi ini tidak terlepas
dari berbagai faktor. Penegakan hukum yang selama ini dilakukan
secara selektif, tebang pilih membuat masyarakat semakin hari semakin
menipis kepercayaannya terhadap aparat penegak hukum. Bak kata
pepatah penegakan hukum yang dilakukan selama ini mengacu pada
prinsip tebang pilih seperti : Tepat di mata dipicingkan, tepat di perut
dikempiskan. Ketika terjadi “transaksi-transaksi bisnis di lapangan“
seiring dengan itu “transaksi hukumpun” berlangsung juga. Dampak
yang ditimbulkannya kemudian adalah pertumbuhan dunia perfilman
nasional (tentu saja dunia perfilman internasional) mengalami
kemunduran. Jika pada suatu masa industri perfilman nasional pernah
berkembang dengan baik akan tetapi pada beberapa tahun belakangan
ini dunia perfilman bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak
mau. Kreativitas pencipta semakin hari semakin memperlihatkan
gamang mati terjatuh”. Ketika berada di puncak ketinggian justru tidak mengambil
langkah-langkah pasti untuk orang-orang yang berada di bawah, akan tetapi justru
melihat ketinggian itu dari atas hingga akhirnya terjatuh. Simbol keragu-raguan kepala
negara ini berdampak pula pada pilihan-pilihan masyarakat.
299
Ini ditandai, semakin maraknya kegiatan premanisme, seperti geng motor,
perampokan di siang hari, pemakaian narkoba dan lain sebagainya.
378
angka penurunan secara kuantitatif dan film-film yang berkualitas pun
sulit untuk dapat diproduksi karena bagaimanapun juga untuk
melahirkan karya sinematografi yang baik memerlukan waktu, tenaga
dan biaya yang tidak sedikit. Pembajakan karya sinematografi telah
membuat banyak perusahaan-perusahaan industri perfilman nasional
yang kemudian “gulung tikar”. Hanya film-film yang diputar di media
elektronik yang dikenal dengan sinema elektronik (sinetron) yang
masih mendapat tempat dalam industri sinematografi itupun karena
didukung oleh faktor film cerita sinetron itu sengaja dibuat secara
bersambung sehingga pembajakan dapat dicegah dengan sendirinya
karena film itu dibuat tidak utuh. 300
Dalam tatanan internasionalpun keragu-raguan pihak eksekutif
menyebabkan banyak keputusan-keputusan yang diambil tidak sesuai
dengan harapan dan cita-cita negara. Berbagai pertemuan internasional
yang melahirkan berbagai-bagai kesepakatan internasional baik itu
merupakan perjanjian multilateral maupun perjanjian bilateral dalam
banyak kasus disepakati saja tanpa pertimbangan yang masak. 301
Khusus dalam lapangan hak cipta, beberapa peraturan internasional
tentang hak cipta yang telah direspon oleh pemerintah pasca
penandatanganan GATT 1994/WTO yaitu :
1. TRIPs Agreement (Trade Related Aspects of Property Rights)
disahkan melalui Undang-undang No. 7 Tahun 1994.
2. Bern Convention for the Protection of Literary and Artistic
Works disahkan melalui Keputusan Presiden No. 18 Tahun
1997.
3. WIPO Copyright Treaty disahkan melalui Keputusan Presiden
No. 19 Tahun 1997.
4. Rome Convention 1961 (Rome Convention for the Protection
of Performers, Producers of Phonograms and Broadcasting
Organization (1961).
5. Geneva Convention for the Protection of Producers of
Phonograms Againts Unauthorized Deplications of their
Phonograms (1971)
6. Brussels Convention Relating to the Distribution of
Programme Carrying Signals Transmitted by Satellite (1974).
300
Wawancara dengan Teruna Indra, Pengurus Asosiasi Artis Sinetron
Cabang Sumatera Utara tanggal 21 Agustus 2013 jam 11.00 Wib, di Medan. Lihat juga
Alberthiene Endah, Panggung Hidup Raam Punjabi, Gramedia, Jakarta, 2005.
301
Dalam kasus ratifikasi GATT/WTO Indonesia telah menambahkan syarat
melebihi syarat minimal, lebih lanjut lihat Candra Irawan, Op.Cit. 2011.
379
7.
Film Register Treaty (Treaty on the International Registration
of Audiovisual Works) (1989)
8. Universal Copyrights Convention 1952.
9. WIPO Performances and Phonogram Treaty (WPPT)
disahkan melalui Keputusan Presiden RI N0. 74 Tahun 2004
10. Keputusan Presiden RI No. 17 Tahun 1988 tentang
Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum
Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta atas Karya Rekaman
Suara antara Negara Republik Indonesia dengan Masyarakat
Eropa;
11. Keputusan Presiden RI No.25 Tahun 1989 tentang Pengesahan
Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal
Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan
Amerika Serikat;
12. Keputusan Presiden RI No.38 Tahun 1993 tentang Pengesahan
Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal
Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan
Australia;
13. Keputusan Presiden RI No.56 Tahun 1994 tentang Pengesahan
Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal
Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan
Inggris;
14. Keputusan Presiden RI N0. 74 Tahun 2004 tentang
Pengesahan WIPO Performances and Phonogram Treaty
(WPPT);
15. Bejing Treaty on Audivisual Performance ditandatangani di
Jenewa, Swiss tanggal 18 Desember 2012 (Indonesia negara
ke-53 yang menandatanganinya, akan tetapi Indonesia belum
meratifikasinya dalam undang-undang nasional), traktat ini
akan berlaku segera setelah 30 negara penandatangan
melakukan ratifikasi melalui Undang-undang Nasional
negaranya.
Kesepakatan-kesepakatan internasional itu menimbulkan
konsekuensi secara juridis. Disamping Indonesia diharuskan untuk
tunduk pada kesepakatan itu akan tetapi juga hubungan-hubungan
internasional yang dilakukan oleh Indonesia akan mengikat secara
kelembagaan dengan badan-badan organisasi internasional yang
mengelola perlindungan hak cipta itu. Badan-badan organisasi
internasional yang mengelola perlindungan hak cipta :
1. World Trade Organization (WTO) membawahi TRIPs
Agreement
380
2.
United Nation Educational Scientific and Cultural
Organization (UNESCO) membawahi Universal Copyrights
Convention
3. World
Intellectual
Property Organization (WIPO)
membawahi Bern Convention.
Jika ditelisik ke belakang selama kurun waktu pemerintahan di
Republik ini, kebijakan politik hukum nasional dalam melahirkan
undang-undang hak cipta, baru dimulai pada masa pemerintahan orde
baru. Pada masa pemerintahan sebelumnya undang-undang hak cipta
yang berlaku adalah Auteurswet 1912 Stb. No. 600 peninggalan
Pemerintah Kolonial Belanda. Akan tetapi selama kurun waktu
pemerintahan orde baru itu juga, undang-undang hak cipta mengalami
perubahan. Perubahan-perubahan itu sejalan dengan perubahanperubahan politik, ekonomi internasional. Matrik di bawah ini
menggambarkan perubahan undang-undang hak cipta berdasarkan
periodesasi kepemimpinan presiden.
Matrik 35
Kebijakan Pembangunan Hukum Hak Cipta
Dalam Kurun Waktu Kepemimpinan Presiden
No
Nama Presiden
Periode Kepemimpinan
1.
Soekarno
18-08-1945 s/d 19-22-021967
2.
Soeharto
22-02-1967
1998
3.
Habibie
4.
Abdul
Rahman
Wahid (Gusdur)
Megawati
21-05-1998 s/d 20-101999
20-10-1999 s/d 23-072001
23-07-2001 s/d 20-102004
20-10-2004 s/d 2014
5.
6.
s/d
Susilo
Bambang
Yudhoyono
7.
Joko Widodo
2014 - sekarang
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
21-05-
Produk Undang-undang
Hak Cipta Nasional
Tidak ada melahirkan
Undang-undang
Hak
Cipta
(masih
menggunakan UU Hak
Cipta
Peninggalan
Kolonial
Belanda,
Auterurswet Stb. 1912
No. 600)
UU No. 6 Tahun 1982
UU No. 7 Tahun 1987
UU No. 12 Tahun 1997
UU No. 19 Tahun 2002
UU No. 28 Tahun 2014
-
Jika dirunut periodesasi perubahan undang-undang hak cipta
itu, tampak dengan jelas bahwa pada masa-masa pemerintahan orde
baru yang didukung oleh Amerika, perubahan terhadap undang-undang
hak cipta itu mengalami percepatan. Selang 5 tahun berlakunya
381
undang-undang No. 6 Tahun 1982, pada tahun 1987, undang-undang
hak cipta itu kembali dirobah dengan Undang-undang No. 7 Tahun
1987. Pada tahun 1997 pasca ratifikasi GATT/WTO 1994 Undangundang No. 7 Tahun 1987 itupun kembali dirubah dengan Undangundang No. 12 Tahun 1997. Puncaknya setelah mengalami berbagai
tekanan internasional, Undang-undang No. 12 Tahun 1997 pun harus
dirubah dengan Undang-undang No. 19 Tahun 2002. Pada periode
pemerintahan Yudhoyono, menjelang beberapa bulan berakhir masa
jabatan kepresidenan beliau, UU No. 19 Tahun 2002 diperbaharui
kembali dengan UU No. 28 Tahun 2014 dengan alasan UU No. 19
Tahun 2002 belum mampu menyahuti tuntutan perkembangan yang
sedang berlangsung dalam masyarakat dan kami juga mencatat bahwa
UU tersebut tidak dapat dijalankan dengan baik, karena kepemimpinan
era Yudhoyono penegakan hukum tentang hak cipta tidak efektif
disebabkan juga oleh langkah-langkah dan kebijakan yang diambil oleh
Yudhoyono cenderung memperlihatkan sikap kepemimpinan yang
ragu-ragu. 302 Pelanggaran-pelanggaran hukum yang mungkin akan
melibatkan rakyat dalam jumlah yang cukup besar jarang mau dijamah
oleh aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum saat ini justru lebih
baik memilih posisi-posisi yang aman dan tidak menyibukkan diri
dalam urusan yang dapat menyulut kemarahan masyarakat. Situasi ini
justru dimanfatkan oleh masyarakat untuk mengambil langkah-langkah
yang kadang-kadang bersifat anarkhis. Hasil akhirnya adalah
penegakan hukum tenggelam dalam keinginan rakyat yang sebahagian
justru dirasuki oleh paham anarkhis. Inilah buah dari pemerintahan
eksekutif yang ragu-ragu.
Pertanyaannya adalah mengapa pemerintah yang ada hari ini
(termasuk pemerintahan pada era sebelumnya) semakin hari semakin
besar keragu-raguannya ? Sehinga banyak pihak ingin melakukan
reformasi besar-besaran dan bahkan akhir-akhir ini berkumandang pula
jargon “restorasi Indonesia” oleh kalangan politisi tertentu yang
lainnya mengumandangkan jargon “Perubahan untuk Indonesia” semua
mereka ini adalah dari kalangan “oposisi” dengan pemerintahan yang
ada pada hari ini.
Tulisan inipun tidak akan memberi sumbangan apa-apa dan
mungkin hanya meberi sumbangsih sejarah saja untuk kalangan
pembaca di masa yang akan datang, jika tidak ada keinginan yang kuat
302
Keragu-raguan ini ditandai dari lambannya Presiden SBY mengambil
keputusan yang bersifat strategis seperti kenaikan harga BBM.
382
bagi anak bangsa ini untuk merubah keadaan hari ini kepada keadaan
yang lebih baik.303
Persoalan yang penting secara kelembagaan (negara) yang
perlu dikemukakan dalam tulisan ini adalah, apakah hukum yang
ditempatkan sebagai suatu sistem dalam sistem nasional seperti
sekarang ini dapat bekerja dan menyumbangkan sesuatu yang berguna
bagi kelangsungan sistem (nasional) itu? Apakah sutu sistem yang di
dalamnya terdapat komponen (sub sistem) yang rusak, jika kemudian
ditempatkan satu komponen yang baik lalu kemudian komponen yang
baik itu bisa menyumbangkan kebaikan pada sistem itu atau justeru
ikut rusak? Jika seluruh komponen (sub sistem) sudah rusak, apakah
dilakukan metode tambal sulam, dalam arti satu komponen yang rusak
satu yang diganti atau kalau semua komponen rusak semua diganti ?
Itulah sebuah pertanyaan kegelisahan, ketika melihat keraguan
yang besar para penyelenggar negara dalam mengambil keputusan yang
sebenarnya berpangkal pada paradigma awal yang telah bermula pada
sebauah “paradigma ragu-ragu”. Lihatlah sejarah perjalanan bangsa
ini, sekali waktu Bung Karno ingin menjadi Raja dengan “presiden
seumur hidup” nya, akan tetapi sebelum ajal menjemputnya ia
kemudian diturunkan dari “tahta” sekali waktu Soeharto ingin berkuasa
sampai akhir hayatnya, tapi sekali sebelum ajal datang iapun “lengser
ke prabon” sekarang ini pun banyak para penguasa eksekutif yang ingin
mewarisi kekuasaan eksekutif kepada anak dan cucunya, tidak hanya
pada tingkat pemerintah Pusat tapi juga pada tingkat Pemerintah
daerah. 304
Inilah buah dari paradigma ragu-ragu para pemimpin dalam
pengelolaan manejemen dalam struktur pemerintahan organisasi negara
yang belum duduk betul secara sempurna, terutama mengenai bentuk
negara. Diskusi tentang pilihan bentuk negara ini telah dimulai jauh
sebelum Indonesia merdeka oleh Bung Hatta, pada pidatonya dalam
Deklarasi PNI-Baru tahun 1932. Dalam deklerasi itu Bung Hatta telah
memulai gagasan cita-cita otonomi (badan-badan daerah) yang
sempurna dan hidup serta dinamis bagi negara Indonesia Merdeka
kelak. Pilihan terhadap Pancasila sebagai Dasar Negara dengan
Lambang Bhinneka Tunggal Ika, ketika Indonesia berdiri sebagai
303
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mau
merubahnya. Sesungguhnya kerusakan di bumi dan di langit karena ulah perbuatan
manusia itu sendiri.
304
Di Sumatera Utara saja, tidak kurang dari 4 Kepala Daerah Tingkat II,
ketika jabatannya berakhir, berupaya untuk mencalonkan anak, isteri atau adiknya
menjadi penggantinya.
383
negara yang berdeka, sebenarnya sudah menyahuti cita-cita Federasi
itu. PersatuanIndonesia di alam kemerdekaan dengan pluralisme
(kebhinnekaan) itu hanya dapat disahuti dengan bentuk negara federal.
Sayangnya pada tanggal 18 Agustus ketika UUD 45 disusun justeru
norma undang-undangnya yang tidak menyahuti aspirasi itu. Akhirnya
bentuk negara terjadilah seperti sekarang ini. Ketika negara Republik
Indonesia menanda tangani Perjanjian Renville tanggal 17 Januari 1948
(ibu kota negara masih di Yogyakarta), terbentuklah Negara Republik
Indonesia Serikat (RIS) tanggal 27 Desember 1949, Wali Negara
Sumatera Timur dipegang oleh Dr.T.Mansyur. Tapi bentuk negara
federal ini mengundang banyak kecurigaan, mengundang
banyak
prasangka, ini adalah salah satu faktor gagalnya Badan Konstituante
(parlemen) untuk menyusun UUD RIS akhirnya tanggal 5 Juli 1959
keluar Dekrit Presiden yang menyatakan kembali ke Undang-undang
Dasar 1945. Pernah ada beberapa kali model penyelenggaraan
pemerintahan di daerah yang diundangkan dalam peraturan perundangundangan di Indonesia, yaitu :
1. Pemerintahan di daerah berdasarkan Undang-Undang Dasar
1945.
2. Pemerintahan di daerah berdasarkan Undang-undang No. 22
Tahun 1948
3. Pemerintahan di daerah berdasarkan Undang-undang Negara
Indonesia Timur No. 44 Tahun 1950
4. Pemerintahan di daerah berdasarkan Undang-undang No. 1
Tahun 1957.
5. Pemerintahan di daerah berdasarkan Undang-undang No. 18
Tahun 1965.
6. Pemerintahan di daerah berdasarkan Undang-undang No. 5
Tahun 1974
7. Pemerintahan di daerah berdasarkan Undang-undang No. 22
Tahun 1999.
8. Pemerintahan di daerah berdasarkan Undang-undang No. 32
Tahun 2004.
Setelah kembali ke UUD 45, bentuk pemerintah di daerah
mulai dirancang. Tahun 1974 keluar UU Pemerintahan di Daerah,
yakni UU No. 5 Tahun 1974. Istilah-istilah seperti otonomi yang
seluas-luasnya, otonomi yang nyata dan seluas-luasnya, otonomi yang
bertanggung jawab. Belakangan muncul lagi Undang-Undang Otonomi
Daerah No. 22 Tahun 1999 karena dianggap masih belum menyahuti
aspirasi direvisi kembali dengan Undang-undang No. 32 Tahun 2004
dan diikuti dengan Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang
384
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah.
Sekarang ini juga sedang menyeruak tuntutan bagi hasil
terhadap hasil Perkebunan yang dikelola oleh BUMN di daerah. Semua
ini memperlihatkan kegagalan desain bentuk negara kesatuan dengan
sistem otonomi daerah. Kelemahan yang mendasar adalah otonomi
daerah seolah-olah hanya menyangkut pembagian kekuasaan Pusat dan
Daerah diikuti dengan Keseimbangan Keuangan Pusat dan Daerah,
akan tetapi kering dari perhatian terhadap penyelamatan budaya atau
kultur atau nilai-nilai kearifan lokal yang ada di daerah. Kering dari
nilai-nilai atau roh atau spirit keadilan antara Pusat dan Daerah.
Kekuasan dan keseimbangan keuangan didasarkan pada perhitungan
statistik, sedang nilai keadilan tak pernah bisa diukur oleh negeri ini.
Nilai kesejahteraan selalu diukur dari penghasilan atau income
perkapita, tapi nilai kebahagian tak pernah bisa diukur oleh
penyelenggara negara di Republik ini. Tak ada yang tahu betapa
bahagianya pencipta tari “serampang dua belas” ketika tariannya
ditarikan dan dipelajari oleh banyak orang walaupun untuk kegiatan
yang bersifat komersil. Tapi Undang-undang Hak Cipta Nasional hasil
produk legislatif menyikapinya secara berbeda. Tidak ada konsep
“amalun jariyah” atau konsep “sedhaqoh” dalam undang-undang hak
cipta nasional, apalagi dalamTRIPs Agreement, Berne Convention atau
Rome Convention.
Ada banyak nilai yang hilang, ketika pilihan pardigma bentuk
negara itu diawali dari paradigma ragu-ragu. Dampaknya yang muncul
dalam perjalanan bangsa ini adalah terjadinya ego sektoral di antara
sesama lembaga atau institusi negara yang kemudian terkotak-kotak
dalam keegoannya masing-masing. Kerap kali yang terjadi adalah
tidak terhubungnya program pembangunan antar Departemen yang satu
dengan Departemen yang lain. Kadangkala keadaan ini menimbulkan
keraguan baru di kalangan birokrasi untuk mengambil keputusan.
Padahal Islam mengajarkan hal yang lebih baik, yakni tinggalkanlah
untuk sesuatu yang di dalamnya terdapat keraguan, sebab jika
diteruskan akan lebih banyak mudharat daripada manfa’atnya. Itulah
yang kata pepatah Melayu “orang gamang mati terjatuh” .Agaknya
ketegasan dan kesabaran para pemimpin untuk untuk “menjahit”
bahagian yang koyak dan terkotak-kotak dalam struktur pemerintahan
menjadi sebuah keharusan.
Mestilah ada jalinan kerjasama yang baik antara kementerian
Pendidikan dan kebudayaan dengan Kementerian Riset dan Teknologi,
dengan Kementerian Keuangan (Bea dan Cukai), dengan Kepolri,
385
Kejagung dengan Organisasi Perfilman Nasional dan lain sebagainya
ketika mendudukkan persoalan tentang pembajakan karya
sinematografi. Jangan biarkan institusi itu berjalan sendiri-sendiri,
karena jika itu yang terjadi semua pihak akan menjadi ragu-ragu dalam
mengambil keputusan yang berujung pada hilangnya kepercayaan
masyarakat terhadap kepemimpinan nasional dan pada saat bersamaan
hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum di
negeri ini.
D. Budaya Penegakan Hukum
Pemaknaan terhadap budaya hukum selalu dicari melalui akar
katanya yakni budaya dan hukum. Budaya selalu pula dikonsepkan
secara sempit. Dalam studi-studi antropologi budaya sering juga
dirumuskan sebatas sistem lambang, sistem material dan sistem sosial
selalu dilepaskan dari konsep budaya meskipun sesungguhnya antara
sistem material dan sistem sosial selalu ada hubungan yang saling
berkaitan, berjalin, berkelindan dalam satu sistem lambang. 305 Akan
tetapi dalam pandangan yang terintegral atau holistik budaya selalu
dikonsepkan sebagai sistem makna dan sistem nilai yang diletakkan
dalam lapis dan basis mental. Lapis dan basis mental adalah bahagian
yang terdalam dari sebuah budaya karena dimensi terdalam budaya
terdapat pada nilai yang melekat di dalamnya. 306 Sebagai suatu sistem
nilai (system of value) budaya akan melahirkan ide-ide normatif
sedangkan sebagai suatu sistem makna (system of meaning) budaya
akan melahirkan ide-ide kognitif. Keduanya melekat dan saling tidak
terpisahkan (inheren) pada budaya sebagai sistem lambang dan secara
serempak membangun dunia secara berulang-ulang (the symbolic
system make and remake the world). 307
Koentjaraningrat 308 memberikan batasan bahwa hampir
seluruh aktivitas manusia adalah kebudayaan kecuali perilaku refleks
305
Lebih lanjut lihat Harsya W. Bachtiar, Sistem Budaya Indonesia, Budaya
dan Manusia di Indonesia, Hanidita, Yogyakarta, 1985, hal. 67.
306
Lebih lanjut lihat Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan,
LP3ES, Jakarta, 1987, hal. 17. Lihat juga Kathleen Newland dan Kemala Candrakirana
Soedjatmoko, Menjelajah Cakrawala, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994, hal.
95.
307
Lebih lanjut lihat Paul Ricour, dalam Mario J. Valdes (ed), Reflection and
Imagination : A Ricour Reader, Harvester Wheatsheaf, New York, 1991, hal. 117.
308
Koetyaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Aksara Baru, Jakarta, 1986,
hal. 180-181. Lihat juga Koetyaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan,
PT. Gramedia, Jakarta, 1987, hal. 12.
386
yang didasarkan pada naluri yang tidak dikategorikannya sebagai
kebudayaan. Ia membagi 3 wujud kebudayaan :
Pertama,
wujud kebudayaan berupa kompleksitas ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan yang
merupakan wujud ideal dan sifatnya abstrak.
Kedua,
wujud yang berupa kompleksitas aktivitas perilaku
yang terpola dari manusia dalam kehidupan
bermasyarakat.
Ketiga,
wujud yang berupa benda-benda hasil karya manusia
yang bersifat konkrit atau nyata.
Bertolak dari konsep kebudayaan yang diuraikan di atas, jika
dihubungkan dengan hukum maka sebenarnya, hukum adalah
merupakan sub sistem dari budaya karena hukum tidak hanya berisikan
gagasan, ide-ide dan nilai-nilai akan tetapi juga secara nyata (empirik)
hukum juga merupakan kompleksitas dari perilaku manusia dalam
kehidupan bermasyarakat. 309 Hukum merupakan konkritisasi dari nilainilai budaya yang dihasilkan dari berbagai interaksi dalam kehidupan
bermasyarakat. Wujudnya dapat dalam bentuk gagasan-gagasan tentang
keadilan, tentang persamaan dapat juga dalam bentuk kitab undangundang, putusan hakim, dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan serta dalam
bentuk doktrin hukum. Oleh karena itu dimanapun ada masyarakat di
dunia ini didalamnya pasti ada hukum (ubi sosietes ibi ius) sebagai
hasil dari kebudayaan. Jika mau dikelompokkan hukum termasuk
dalam budaya immateril. Konsekuensi terhadap hukum yang
merupakan produk kebudayaan akan memunculkan apa yang disebut
dengan relativitas budaya. Berdasarkan konsep ini, hukumpun akan
mengikuti kenyataan jika masyarakat yang akan melahirkan
kebudayaan itu bersifat plural maka nilai-nilai normatif yang dianut
juga akan bersifat plural. Karena itu hukum sering tidak mempunyai
kekuatan berlaku secara universal. Pilihan-pilihan hukum selalu
ditentukan tempat di mana hukum itu diberlakukan. Yang oleh Donal
Black disebutnya bahwa keberlakuan hukum sangat ditentukan oleh
keadaan disekitar atau yang mengelilingi norma hukum itu
diberlakukan. 310
309
Uraian-uraian tentang ini lebih lanjut lihat T.O. Ihromi, Antropologi
Hukum Sebuah Bunga Rampai, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1993. Bandingkan juga
dengan Soerjono Soekanto, Disiplin Hukum dan Disiplin Sosial, Rajawali, 1988, hal.
164.
310
Lebih lanjut lihat Donald Black, Sociological Justice, Oxford University
Press, New York, 1989.
387
Oleh karena itu tiap-tiap perilaku stakeholders dalam praktek
penegakan hukum adalah merupakan budaya hukum mulai dari
perilaku legislatif ketika hukum itu dibuat, prilaku birokrasi atau budya
eksekutif yang mengintervensi lembaga legislatif dan judikatif, sampai
pada perilaku yudikatif sebagai lembaga penegak hukum dan perilaku
masyarakat sebagai pemegang peran terhadap aktivitas penegakan
hukum.
1. Budaya Hukum Legislatif
Jika dirujuk pada fungsi dan tugas serta kewenangan lembaga
legislatif dalam UUD 45 (baik sebelum atau sesudah amandemen),
sebenarnya sudah tertera secara nyata. Di samping sebagai lembaga
yang menjalankan fungsi legislasi nasional, tapi kepadanya juga
diberikan fungsi pengawasan yang disebut dengan pengawasan
legislatif. Keduukan yang demikian menyebabkan legislatif mempunyai
“kekuasaan” yang sangat besar dalam pengelolaan kehidupan nasional
sebagai peneyelenggara tugas-tugas yang diembankan kepadanya.
Jika dirujuk pada fungsi dan tugas serta kewenangan lembaga
legislatif dalam UUD 45 (baik sebelum atau sesudah amandemen),
sebenarnya sudah tertera secara nyata. Di samping sebagai lembaga
yang menjalankan fungsi legislasi nasional, tapi kepadanya juga
diberikan fungsi pengawasan yang disebut dengan pengawasan
legislatif. Keduukan yang demikian menyebabkan legislatif mempunyai
“kekuasaan” yang sangat besar dalam pengelolaan kehidupan nasional
sebagai peneyelenggara tugas-tugas –tugas yang diembankan
kepadanya.
Sebenarnya jika semuanya sudah jelas ada dalam UU tentang
semua aktivitas yang akan dilakukan oleh anggota legislatif itu, maka
pada galibnya tak ada lagi prilaku budaya yang perlu didiskusikan.
Tiap-tiap penyimpangan dalam tugas dikenakan sanksi hukum dan
lembaga itu dapat berperan sesuai dengan cita-cita penegakan hukum
ketika UU tentang Fungsi ,peranan dan kewenangan lembaga legislatif
itu disusun. Akan tetapi dalam tataran praktek tak sedikit juga kritik
terhadap lembaga ini, baik secara kelembagaan maupun secara
perorangan yakni individu yang dalam kesehariannya duduk sebagai
anggota lembaga itu.
Kritik-kritik itu mulai dari perebutan pimpinan, perlu tidaknya
menggunakan hak interpelasi untuk berbagai kasus kenegaraan, urusan
delegasi, calo anggaran sampai pada biaya rehabilitasi gedung dan
ruang rehat dan kamar mandi Gedung DPR-RI yang menghabiskan
dana ratusan miliar rupiah. Issu-issu itu semuanya terpaut dengan
388
kultur legislatif yang sudah “mendarah daging” di lembaga itu. Bekerja
dengan penghasilan yang tinggi, namun sedikit sekali hasil kerja
mereka yang memberikan manfaat bagi kepentingan negara. Waktu
mereka lebih banyak terbuang untuk kepentingan pribadi mereka,
terutama ketika melakukan studi perbandingan di luar negeri.311 Kinerja
DPR-RI sebagai lembaga negara tak ubahnya seperti kinerja Organisasi
kemasyarakatan pemuda atau mahasiswa, bahkan kadang-kadang lebih
terlihat profesional organisasi pemuda dan mahasiswa itu yang tak
pernah jelas sumber anggaran dan biaya organisasinya.
Pada saat era sekarangpun dapat dibuktikan bagaimana kinerja
anggota DPR-RI dalam berbagai rapat paripurna. Bolos atau tidak hadir
dalam berbagai kegiatan rapat itu adalah persoalan biasa. Baru
dianggap sebuah berita besar jika anggota DPR-RI terlibat korupsi atau
skandal moral. Padahal urusan wajib hadir saja tak bisa mereka
penuhi.312
Sulit untuk diharapkan pada masa-masa yang akan datang,
badan yang dipercaya untuk menjalankan misi politik hukum ke depan
mampu mempertahankan, memperjuangkan dan memasukkan ide-ide
atau gagasan-gagasan yang merupakan pencerminan dari harapanharapan masyarakat yang tersimpul dalam The Original Paradicmatic
Values of Indonesia Culture and Society. Anggapan ini semakin
menguat ketika sebahagian dari anggota legislatif yang tidak mampu
mengemban amanah rakyat. Bahkan secara terang-terangan telah
melakukan aktivitas pelanggaran hukum. Matrik di bawah ini telah
membuktikan, betapa perilaku para anggota DPR-RI tidak jauh berbeda
dengan perilaku anggota masyarakat biasa.
Matrik 36
Matrik Pelanggaran Hukum Yang Dilakukan oleh
Anggota Legislatif DPR-RI
No
1.
2.
Jabatan Di
DPR-RI
Anggota DPRRI
Anggota
ZD
Fraksi di
DPR-RI
(Asal
Partai)
PPP
LH
PKS
Inisial Nama
Kasus yang Dilanggar
Korupsi Pengadaan
Qur’an Depag
Import daging sapi
Al-
311
Banyak kritik dari kalangan mahasiswa Indonesia di luar negeri, ketika
anggota DPR RI berkunjung ke sana. Mereka lebih banyak pelesiran, shopping dan
sedikit sekali melakukan aktivitas yang berguna bagi kepentingan bangsa
312
Lihat lebih lanjut Koran Sindu, 16 Mei 2013.
389
3.
Komisi I DPRRI
Anggota DPRRI
Anggota DPRRI
MN
Demokrat
NAR
PAN
Anggota DPRRI
Ketua Komisi
IV DPR
AS
Demokrat
7.
Anggota DPRRI
AC
8.
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
DPR-
HI
DPR-
FAL
DPR-
AAN
DPR-
ST
DPR-
AC
PDIP
Kasus Hambalang, Suap
Wisma Atlet
Kasus Hambalang,
Kasus Suap Pembangunan
Gedung Pusdiklat Badan
Pengawas Tenaga Nuklir
(Bapeten)
Kasus Hambalang, Kasus
Suap Wisma Atlet
Alih fungsi hutan lindung
dan
pengadaan
SKRT
Dephut
Alih fungsi hutan lindung
dan
pengadaan
SKRT
Dephut
Suap dalam kasus Anggoro
Wijoyo
Suap dalam kasus Anggoro
Wijoyo
Tindak pidana korupsi alih
fungsi hutan lindung
Suap dalam pengembangan
Pelabuhan Tanjung Api-api
Suap (Cek Pelawat)
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
DPR-
HY
BA
Golkar
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
AZA
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
AHZ
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
BS
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
PZ
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
HB
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
RK
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
ARS
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
AM
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
TMN
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
MBS
Golkar
Suap (Cek Pelawat)
4.
5.
6.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
EF
PPP
390
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
DPR-
NDAJS
PPP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
UFH
PPP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
DT
PPP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
SU
PPP
Suap (Cek Pelawat)
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
DPR-
DMM
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
WT
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
SP
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
ACP
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
MI
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
B
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
PS
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
AS
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
RL
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
MM
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
JTL
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
MP
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
EP
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
SHW
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
NLMT
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
S
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
PN
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
SHW
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
ZEM
PDIP
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
UD
TNI/Polri
Suap (Cek Pelawat)
391
49.
50.
51.
52.
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
Anggota
RI
DPR-
RS
TNI/Polri
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
S
TNI/Polri
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
DY
TNI/Polri
Suap (Cek Pelawat)
DPR-
IWK
PDIP
Kasus Suap Wisma Atlet
Kasus
Korupsi
Dana
Percepatan Pembangunan
Infrastruktur
Daerah
(DPPID)
Kasus Suap Dermaga
53.
Anggota DPRRI
WON
PAN
54.
Anggota DPRRI
Anggota DPRRI
AHD
PAN
BR
PBR
Anggota DPRRI
Anggota DPRRI
SU
Kasus Suap Proses Lelang
Pengadaan Kapal Patroli
Dephub
Kasus Suap APBN Batam
Golkar
Kasus Pengadaan Mobil
Pemadam
Kebakaran
(Damkar)
55.
56.
57.
SD
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Matrik di atas memberikan keyakinan kepada siapapun bahwa
nilai-nilai sakral yang seharusnya dijaga oleh anggota legislatif tidak
lagi menjadi bahagian yang penting untuk dipelihara. Peluang untuk
melakukan tindak pidana korupsi sepanjang karir mereka sebagai
anggota legislatif dilakukan tanpa pertimbangan hati nurani.
Peranan legislatif dalam kebijakan legislasi tak sekedar
bergeser dari menjustifikasi kekuasaan eksekutif (khususnya pada masa
orde pemerintahan Soekarno dan Soeharto) tapi kemudian pada era
pemerintahan pasca Soeharto telah bergeser menjadi jabatan prestise
yang dapat dijadikan sebagai ajang untuk memperkaya diri sendiri.
Ideologi Pancasila tak mampu lagi membentengi prinsip-prinsip kerja
mereka yang telah dirasuki oleh ideologi materialis. Ideologi yang
disebut terakhir inilah kemudian yang mengantarkan mereka pada
pilihan-pilihan hedonisme yang berujung pada pelanggaran hukum.
Karya-karya akademis para intellektual di negeri ini sudah
bertumpuk-tumpuk yang isinya mengeritik berbagai kebijakan di negeri
ini yang mempertontonkan ego institusional atau ego sektoral. Antara
institusi atau departemen atau sekarang ini menggunakan istileh
392
kementerian tidak memperlihatkan kerja sama yang sistemik. Antara
institusi negara yang satu dengan yang lain, seakan-akan sedang
mengikuti perlombaan untuk berebut menjadi sang juara. Di sinilah
kemudian menjadi teramat penting gagasan yang selalu didengungkan
oleh M.Solly Lubis.313 Pembangunan apapun yang hendak dibangun di
negeri ini, politik, ekonomi, pertahanan keamanan, sosisal budaya
(termasuk hukum di dalamnya) harus mengacu pada manajemen sistem
pembangunan nasional. Semua aktivitas pembanbangunan nasional
harus dapat diukur dan diuji serta dirujuk untuk kemudian ditempatkan
dalam sistem nasional. Tidak boleh ada yang keluar dari sistem
nasional. Keluar dari sistem nasional, berarti keluar dari organ tubuh
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sesuatu yang berada di luar sistem tidak boleh ikut
menentukan bekerja dan berjalan sebuah sistem. Sebuah sistem harus
bekerja secara simultan dan menghendaki sebuah kekompakan. Semua
komponen dalam sistem harus bekerja secara bersama-sama untuk
terwujudnya tujuan sebuah sistem. Seumpama mesin kenderaan,
komponen seperti, karburator, busi, platina, sokar, peston, ring peston,
radiator dan sil (benda kecil terbuat dari bahan karet) harus bekerja
bersama-sama untuk menghasilkan energi mekanik yang dapat
menggerakkan roda setelah dihubungkan melalui geer, gardang dan
roda. Semua komponen mesin kenderaan itu (sub sistem) saling
bekerja, tidak ada klaim komponen yang satu memiliki kedudukan
yang lebih tinggi dari yang lainnya. Sil atau ring peston sekecil apapun
dan semurah apapun tetaplah mempunyai kedudukan yang sama
pentingnya dengan peston atau radiator. Begitulah ketika sebuah mesin
bekerja, masing-masing komponen atau subsistem tidak lagi
bergantung pada kedudukannya, tapi bekerja sesuai dengan fungsi dan
tugasnya masing-masing dan saling kait mengait satu sama lain
memberikan energi dan sumbangan tenaga sesuai dengan fungsinya.
Kerjasama yang saling kait mengait adalah sebuah keharusan dalam
bekerjanya sebuah sistem.
Mengacu pada contoh bekerjanya sistem mesin tersebut, maka
dalam sebuah negarapun masing-masing susb sistem atau elemen
negara harus saling bekerjasama dalam arti menyumbangkan energi
sesuai fungsi dan kedudukannya. Tiap-tiap kementerian sebagai sub
sistem elemen negara mempunyai fungsi dan tugasnya masing-masing.
Fungsi dan tugas itu bila dijalankan akan menghasilkan energi, akan
313
Lebih lanjut lihat M. Solly Lubis, Manajemen Strategis Pembangunan
Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2011.
393
tetapi energi itu belum tentu akan dapat menyumbangkan sesuatu yang
terbaik dalam mencapai tujuan negara, bila tidak dihubungkan dengan
komponen sistem (baca : kementerian) yang lain. Bagaimana upaya
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bisa dicapai kalau kemudian
untuk mendapatkan buku bacaan berkualitas yang berasal dari luar
negeri dikenakan “pajak barang mewah” hanya karena buku itu
harganya lebih dari Rp.5.000.000 (lima juta rupiah) per eksemplar (per
satu buku). Ini menunjukkan Kementerian Pendidikan Nasional tidak
bekerja bersama-sama dalam satu sistem dengan Kementerian
Perdagangan dan Kementerian Keuangan cq.Direktorat Jenderal Pajak.
Mampukah bangsa ini mengimbangi investasi asing di negeri Vietnam
atau Cina dalam menarik investor, jika hukum tentang HKI nya tak
pernah dikordinasikan pembuatannya dengan Badan Penanaman Modal
Asing atau kementerian Investasi? Terlalu jauh dari harapan untuk
mendudukkan dalam satu forum diskusi yang intensif dalam rangka
merumuskan politik hukum HKI yang melibatkan institusi legislatif
atau Balegnas, Kementerian Kehakiman, kementerian Keuangan
dengan Kementerian Penanaman Modal untuk sebuah undang-undang
Hak Cipta. Masing-masing kementerianpun masih dibebani oleh beban
tugasnya masing-masing. Yang terjadi di kemudian hari adalah,
undang-udang yang dilahirkan tidak menunjukkan komitmen yang kuat
guna mewujudkan tujuan negara.
Kecongkakan sektoral sebagai wujud pengangkangan dari ide
dan gagasan membangun negara harus berada dalam satu wadah yang
disebut sebagai sistem nasional, akhirnya membuahkan hasil di mana
capai dari pembangunan nasional itu kehilangan benang merahnya. 314
Mengapa semua arus gerak pembangunan setelah lebih dari 67
tahun merdeka menjadi tidak terukur ? Mengapa lembaga institusi
legislatif
dan anggota DPR RI tidak juga memperlihatkan
kedewasaannya ? Semua ini sebenarnya tidak terlepas dari pengalaman
pemerintahan masa lalu yang kurang memberi makna pada sistem
pemerintahan dan organisasi modern yang disebut negara. 315
314
Sulit untuk diukur keberhasilan PT.Telkom (Persero) membangunan
jaringan telepon dengan keberhasilan pihak Jasa Marga dalam membangun jalan. Sulit
diukur keberhasilan Dinas Pertamanan dalam memperindah dan mempercantik kota
dengan keberhasilan pihak Perusahaan Daerah Air Minum dalam pemenuhan kebutuhan
jaringan air bersih yang harus disalurkan ke pemukiman atau rumah-rumah penduduk.
315
Era pemerintahan Bung Karno dan Soeharto, tampaklah bahwa UUD 1945
itu mudah diselewengkan dengan berbagai penafsiran. Pancasila-pun begitu mudah diberi
makna untuk menjastifikasi kekuasaan. Kepemimpin Soeharto yang begitu kuat dengan
tradisi dan doktrin militernya, telah membentuk budaya legislatif yang korup, setelah
lebih dari 3 dasawarsa menyelimuti “gedung Senayan”. Siapa mereka di Senayan pada
394
2. Budaya Hukum Eksekutif
Penegakan hukum yang selektif atau penegakan hukum yang
“tebang pilih” sudah lama menjadi perbincangan di negeri ini. Sejarah
penegakan hukum di negeri ini tidak pernah luput dari pergunjingan
tentang adanya “mafia peradilan”. Intervensi pihak eksekutif dalam
penanganan kasus-kasus yang melibatkan “kaum birokrat” apalagi yang
sedang berkuasa tak pernah dapat dihilangkan sejak zaman orde baru
hingga hari ini. Dalam sebuah wawancara dengan advokad ternama di
Kota Medan 316 beliau mengatakan :
Sampai hari ini saya beracara di berbagai tingkat Pengadilan tak pernah luput
dari transaksi. Transaksi itu tidak hanya menyangkut perkara perdata untuk
dapat dimenangkan, tapi juga dalam kasus pidana, terutama tindak pidana
korupsi. Khusus untuk perkara pidana transaksi mulai dari tingkat penyidikan,
penuntutan sampai tingkat pemeriksaan di Pengadilan. Itu artinya, mulai
polisi, jaksa sampai hakim dapat dibayar dan pernah menerima pembayaran
dari klien kami.
Tidak ada yang dapat ditutupi lagi. Mafia peradilan itu nyata
adanya. Tidak hanya dalam kasus yang berada dalam posisi “salah”
untuk kasus yang berada pada posisi “benar” pun diharuskan juga
untuk membayar, jika tidak , yang benarpun akan jadi salah. Itulah
sebabnya orang begitu “alergi” berurusan dengan lembaga peradilan.
Dalam banyak hal selalu muncul pertanyaan, mengapa untuk kasus
yang tertentu orang tidak memilih jalur peradilan, jawaban yang selalu
diperoleh adalah, “perkara yang diperjuangkan nilainya seekor harga
kambing, tapi kalau ditempuh jalur pengadilan, biaya yang dikeluarkan
sama nilainya dengan seekor lembu”.
Hikmahanto Juwana 317 menyebutkan penegakan hukum yang
diwarnai dengan uang merupakan satu problem yang menyebabkan
lemahnya penegakan hukum. Lebih lanjut beliau mengatakan :
Di setiap lini penegakan hukum, aparat dan pendukung aparat penegak
hukum, sangat rentan dan terbuka peluang bagi praktek korupsi atau suap.
Uang dapat berpengaruh pada saat polisi melakukan penyidikan perkara.
masa itu ? Golkar, PDI dan PPP adalah “Soeharto”. Semua tunduk pada keinginan rezim
yang berkuasa pada waktu itu. Agaknya sulit untuk melepaskan pengalaman masa lalu
yang sudah terpatri selama puluhan tahun itu. Jika hari ini terlihat sepertinya ada
perubahan, akan tetapi dalam praktek yang berubah hanya subyeknya saja, prilakunya
tetap menampilkan warna-warni legislatif masa lalu itu.
316
Wawancara dengan AHS, tanggal 12 September 2012, pukul 10.00 WIB di
Medan.
317
Lihat lebih lanjut, Hikmahanto Juwana, Penegakan Hukum Dalam Kajian
Law and Development : Problem dan Fundamen Bagi Solusi di Indoensia, Pidato Ilmiah,
Disampaikan pada Acara Dies Natalis Ke-56 Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, 4
Februari 2006, Op.Cit, hal 15.
395
Dengan uang, pasal sebagai dasar sangkaan dapat diubah-ubah sesuai jumlah
uang yang ditawarkan. Pada tingkat penuntutan, uang bisa berpengaruh
terhadap diteruskan tidaknya penuntutan oleh penuntut umum. Apabila
penuntutan diteruskan, uang dapat berpengaruh pada seberapa berat tuntutan
yang akan dikenakan.
Dalam banyak kasus keterlibatan lembaga eksekutif dalam
intervensi di lembaga peradilan telah berlangsung lama, mulai dari
tingkat daerah sampai di tingkat Pusat. Proses penegakan hukum untuk
kalangan birokrasi pemerintahan kelihatannya sudah dikavling. Untuk
perkara-perkara tingkat kelurahan, disidik oleh Polsek, perkara-tingkat
kecamatan disidik oleh Polresta sedangkan perkara untuk tingkat
Pemerintah Kota atau Kabupaten dan Propinsi disidik oleh Polresta
atau Polda tergantung nilai nominal dan jenis kejahatannya. Jika nilai
korupsinya ratusan miliar, perkara ini bisa diambil alih oleh Polri. Hal
yang sama juga berjalan secara simetris dengan pihak Kejaksaan.
Sehingga tidak heran jika suatu perkara dapat diendapkan bertahuntahun, tergantung bagaimana kepiawaian para pemimpin birokrasi di
tataran eksekutif itu melakukan loby.
Para aparat penegak hukum itu seakan-akan mengetahui
jumlah transaksi dengan menghitung “nilai perkara” atau kekayaan
para pejabat yang korupsi itu. Ada semacam kesepakatan tidak tertulis
diantara mereka berapa jumlah yang akan ditransaksikan, sehingga
“bagi-bagi” hasil korupsi menjadi seimbang. 318 Perkara-perkara yang
digelar di Pengadilan baik itu perkara pidana, perdata atau TUN
sebahagian besar sarat dengan muatan mafia hukum, akan tetapi tidak
semua demikian. Dalam sebuah wawancara dengan SY319 seorang
advokad senior yang memiliki talenta berperkara yang handal,
mengatakan ;
Selama lebih dari 24 tahun beracara, tidak semua perkara yang saya pegang
mengandung unsur mafia hukum atau transaksional. Khusus untuk kategori
klien miskin atau menengah ke bawah itu rata-rata saya menangkan tanpa
transaksional. Di samping tidak ada yang ditransaksikan, para klien itupun
biasanya datang dengan kejujuran dan kebenaranan, sehingga pihak kita selalu
berada di pihak yang benar. Tapi untuk perkara-perkara yang melibatkan
kelompok ekonomi menengah atas, dan masuk dalam perkara “besar” atau
dengan nilai ekonomi yang tinggi, perkara itu dimenangkan dengan hitungan
fifty-fifty. Artinya 50 % dengan transaksional, 50 % murni tanpa
transaksional.
318
Oksidelfa Yanto, Mafia Hukum Membongkar Konspirasi dan Manipulasi
Hukum di Indonesia, Penebar Swadaya, Jakarta, 2010.
319
Wawancara, di Medan, tanggal 18 Feberuari 2013, pukul 16.00.
396
Menurut SY, mafia hukum masih ada dan akan terus ada,
akan tetapi tidak semua perkara dilakukan secara transaksional, jika ada
keyakinan bahwa klien nya berada di pihak yang benar dan
memungkinkan untuk dapat dimenangkan, maka transaksional tuidak
dilakukan. Akan tetapi ada juga perkara yang dia yakini benar, namun
karena nilainya “besar” jika tidak ditempuh dengan cara transaksional,
dikhawatirkan bisa “kalah” maka cara transaksional juga akan
ditempuh, sebagaimana diungkapkan oleh SY. 320 Kalau kita yakin
menang, kita tidak akan lakukan cara transaksional, tapi kalu ragu bisa
meang, atas permintaan klien, praktek transaksional baru akan kita
lakukan. Ada juga perkara yang kita yakin menang, tapi karena
nilainya besar, dan jika tidak dikeluarkan dana sedikit kita bisa
dikalahkan, maka cara transaksional akan dilakukan. Itupun dilakukan
atas permintaan klien.
Faktor kekhawatiran akan dikalahkan oleh pihak peradilan,
ternyata berpengaruh pada pilihan untuk melakukan cara transaksional.
Transaksional itu dilakukan dengan menggunakan orang-orang yang
dipercaya, di lembaga penegakan hukum itu. Untuk perkara yang
realatif bernilai ekonomi rendah, transaksional dapat dilakukan dengan
menggunakan personil penyidik, tapi untuk perkara di tingkatkan
pemeriksaan tingkat pengadilan, transaksional dapat dilakukan dengan
menggunakan personil panitera di lembaga peradilan itu, sedangkan
untuk perkara yang “besar” biasanya menggunakan pihak ketiga,
seperti yang diungkapkan SY 321 dalam wawancara berikut ini :
Praktek transaksional itu biasanya kalau di pengadilan menggunakan panitera,
kalau di tingkat kepolisian menggunakan juper sama juga di kejaksaan . Kalau
untuk tingkat perkara besar, menggunakan calo, biasanya pihak ketiga.
Praktek-praktek transaksional itu ada juga yang melibatkan antar
lembaga, untuk perkara-perkara korupsi di berbagai instansi. Biasanya
praktek transaksional itu dilakukan dengan “rapi” dan penasehat hukum
atau kuasa hukum hanya digunakan sebagai pihak yang menyiapkan
prosedur formal menurut hukum acara dan melengkapi substansi
perkara sesuai persyaratan formal di lembaga peradilan, seperti yang di
ungkapkan oleh SY 322 berikut ini :
Biasanya untuk perkara antar lembaga yang melibatkan instansi pemerintah
transaksional dilakukan oleh dengan menggunakan pihak ketiga dan kami
selaku kuasa hukum hanya menyediakan saja substansi hukum yang
diperlukan dan dilaksanakan sesuai hukum acara, finalisasi untuk perkara itu
320
Ibid.
Ibid.
322
Ibid.
321
397
dapat dimenangkan atau tidak, diserahkan sepenuhnya pada pimpinan
lembaga atau antar pimpinan lembaga itu dengan lembaga peradilan.
Praktek-praktek transaksional inilah yang kemudian menjadi salah satu
faktor penyebab sehingga perkara-perkara pelanggaran hukum hak
cipta, menjadi persoalan yang tidak menarik. Dalam wawancara dengan
SY 323 terungkap bahwa setelah lebih dari 24 tahun beracara, beliau tak
pernah menangani kasus pelanggaran hak cipta, seperti ungkapannya
berikut ini :
Tak pernah ada permintaan klien tentang kasus pelanggaran hak cipta.
Menurut saya faktor penyebab mengapa persoalan hak cipta tidak menjadi
perhatian aparat penegak hukum karena hal ini menyangkut budaya. Budaya
kita belum sampai ke sana, sebab yang menjadi korban terhadap pelanggaran
hak cipta hanya segelintir orang. Belum mengganggu hajat hidup orang
banyak. Disamping pentingnya arti perlindungan hak cipta
belum
tersosialisasi di tengah-tengah masyarakat. Dalam aspek penegakan hukum
kesiapan aparat penegak hukum juga berpengaruh pada pilihan terhadap
penanganan perkara hak cipta, demikian juga secara struktural aspek
kelembagaan dan pendanaan juga tidak dapat dilepaskan, pendek kata mulai
dari sikap mental aparat penegak hukum sampai pada kemauan untuk
menegakkan hukum hak cipta itu sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Saat ini penanganan perkara pada tingkat penyidikan
masih menganut sistem tebang pilih. Hanya saja prinsip tebang pilihnya tidak
melihat urgensinya, tapi melihat pada besaran nilai perkaranya secara
ekonomi.
Untaian wawancara tersebut, mengantarkan tulisan ini pada
satu preposisi bahwa mafia peradilan itu memang nyata-nyata ada.
Budaya korup pada tingkat birokrasi (eksekutif) diteruskan
distribusinya kepada lembaga judikatif. Ketika para birokrat (eksekutif)
melakukan perbuatan melawan hukum atau Tindak Pidana, aparat
penegak hukum melakukan aktivitas penegakan hukum. Langkah
berikutnya para advokat atau penasehat hukum tampil sebagai mediator
dan membicarakan langkah-langkah “penyelesaian” di luar hukum.
Mengenai jumlah atau besaran transaksi akan diputus antara pimpinan
lembaga. Jika sudah ada kesepakatan, putusan yang diambil beragamberagam , sebagaimana diungkapkan oleh AHS. 324
Kalau sudah ada kesepakatan putusan yang diambil bermacam-macam. Jika
perkara itu masih tingkat lit (maksdunya penelitian), perkaranya tidak jadi
diteruskan. Tetapi jika perkaranya sudah masuk ketingkat Dik (penyidikan)
perkara itu bisa dihentikan (SP3). Jika perkaranya sudah disidangkan, loby
dilakukan di kedua lembaga yakni Kejaksaan dan Pengadilan. Tuntutan bisa
323
324
10.12.
Ibid.
Wawancara tanggal 3 Maret 2013,dengan AHS advokat di Medan pukul
398
diperkecil, sehingga hakim bisa
hukumannya menjadi ringan.
membebaskan atau
kalau
diputus
Jika demikian halnya mafia peradilan itu berpotensi untuk
perkara-perkara yang bernilai ekonomis. Untuk perkara-perkara yang
tidak memiliki nilai ekonomis, praktis tak menjadi ranah mafia
peradilan. Namun sayangnya, aparat penegak hukumpun enggan untuk
menjamahnya, apalagi dalam struktur perkara itu tidak ada melibatkan
unsur pimpinan birokrasi.
Sebut saja misalnya dalanm perkara pembajakan atau
pelanggaran hak cipta, kasus ini tidak menjadi perhatian yang menarik
kalangan aparat penegak hukum. Meminjam istilah Mahadi hukumnya
ada, aparat penegak hukumnya ada, pelanggaran hukumnyapun nyatanyata ada,tapi hukumnya tak tegak, masih tergolek.
Seumpama batang kayu kata, Mahadi 325 hukum itu memang dapat
ditegakkan, dapat diberdirikan, akan tetapi saat ini batang kayu itu
masih tergolek, masih tertidur. Pandangan Mahadi ini melukiskan
suatu keadaan bahwa secara substansi hukumnya ada,
materi
hukumnya cukup, akan tetapi masih berada di dalam Kitab Perundangundangan, atau kalau hukumnya tak tertulis, materi hukumnya ada
tetapi masih tersimpan di hati sanubari masyarakat. Sasaran yang
hendak dijelaskan oleh Mahadi adalah profesionalisme aparatur
penegak hukum. Kekuatan untuk mendirikan batang yang tergolek itu,
batang yang tergeletak itu berada di tangan aparatur penegak hukum.
Yang tergolek dapat ditegakkan. Hukum yang tertidur dapat
dibangunkan. Bahkan menurut Mochtar Kusumaatmadja,326 hukum
dapat merubah perilaku masyarakat, dapat dijadikan alat untuk
merubah masyarakat. Menjadi “tool” menjadi jalan, menjadi faktor
pengubah yang dominan (variabel independent) untuk merubah,
membentuk atau mengarahkan (engeneering) masyarakat (variabel
dependent) sesuai kemauan hukum yang telah di desain untuk
kepentingan perubahan itu.
Mendesain hukum untuk sebuah
kepentingan itulah politik hukum. Politik yang digunakan untuk menata
sistem kehidupan nasional dalam suatu negara. Dalam sistem nasional
terdapat berbagai-bagai komponen yang merupakan sub sistem
meliputi: sub sistem politik, ekonomi, hukum dan keamanan serta
325
Materi Kuliah Mahadi pada Program Pascasarjana USU (KPK-UGM
USU), 1993-1994.
326
Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-konsep Hukum Dalam Pembangunan,
Alumni, Bandung, 2002.
399
sosial-budaya seperti yang digambarkan oleh M. Solly Lubis. 327
Hukum hanya satu komponen saja (sub sistem) dalam sistem sosial
yang lebih luas (sistem nasional). Tak dapat tidak, begitu ungkapan
beliau, apa yang terjadi pada sub sistem sosial lainnya, akan
berpengaruh pada sub sistem hukum dalam sistem nasional.
Hukum tidak berada pada ruang hampa, demikian kata
Satjipto Rahardjo,328 tapi berada pada ruangan yang telah berisi dengan
berbaga-bagai pernak-pernik budaya, perilaku dan sering kali
bersitegang akibat terjadi kekuatan tarik menarik (baik karena desakan
faktor ekonomi maupun karena berisikan tekanan faktor politik) dalam
praktek penegakannya. Berpikir untuk menegakkan hukum, tidaklah
dapat dilakukan berdasarkan cara pandang linier. 329 Terdapat banyak
faktor non linier yang turut bekerja atau turut mempengaruhi
penegakan hukum.
Berpikir linier dalam praktek penegakan hukum sama artinya
menjadikan manusia dan masyarakat seperti robot dan bekerjanya
masyarakat seperti mesin. Hitungan-hitungannya tunduk pada logika
ilmu fisika dan logika matematika. Penegakan hukum dalam bidang
karya sinematografi tidak dapat didasarkan dan diukur melalui logika
linier. Undang-undang No. 19 Tahun 2002 hanya mampu menuangkan
norma-norma perlindungan hukum dalam bentuk pasal-pasal pidana.
Selanjutnya, dalam perjanjian lisensi, hanya mampu menuangkan
klausul-klausul sebagai kehendak kedua belah pihak. Akan tetapi
327
M. Solly Lubis, Sistem Nasional, Mandar Maju, Bandung, 2002.
Satjipto Rahardjo, Pemanfaatan Ilmu-ilmu Sosial bagi Pengembangan
Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 1977. Lihat juga Satjipto Rahardjo, Hukum Progrresif
Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Genta Publishing, Jakarta, 2009.
329
Cara pandang linier itu adalah cara pandang yang mengacu pada satu garis
lurus atau dengan kata lain cara pandang “kacamata kuda”. Satu contoh yang sederhana
adalah ketika seorang petani menanam pisang. Pertanyaan yang diajukan adalah untuk
apa ia menanam pisang, jawabnya adalah “untuk dimakan”. Pertanyaan berikutnya adalah
untuk apa makan ? Jawabnya adalah “untuk menambah tenaga”. Pertanyaan selanjutnya :
untuk apa tenaga ? Jawabnya adalah : “untuk bisa mengayunkan cangkul”. Pertanyaan
berikutnya adalah : untuk apa mencangkol ? Jawabnya : “untuk menanam pisang”. Petani
ini dalam menjawab tiap-tiap pertanyaan menggunakan cara pandang linier. Padahal
tenaga itu tak mesti digunakan untuk mencangkol tanah dan untuk menanam pisang.
Boleh juga tenaga itu digunakan untuk pekerjaan yang lain misalnya mendirikan
bangunan, boleh juga yang ditanam itu tidak hanya pisang, tetapi juga kelapa sawit yang
tidak serta merta buahnya dapat dimakan. Jika petani ini menggunakan cara pandang
terakhir, itu berarti petani tersebut telah menggunakan cara pandang non linier. Begitulah
hukum dalam proses penegakannya tidak tunduk pada cara pandang yang linier tapi
tunduk pada cara pandang non linier. Ada banyak faktor non hukum yang bekerja dalam
proses penegakan hukum. Lebih lanjut lihat Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali, Jakarta, 1986, hal. 3.
328
400
hukum tidak menjamin bahwa potret empiriknya akan sama seperti
yang dituangkan dalam undang-undang atau perjanjian itu. Sebagai
contoh : Pasal 72 ayat (1) Undang-undang No. 19 Tahun 2002
merumuskan :
Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana
dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau
denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara
paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Akan tetapi sampai hari ini belum ada pelaku tindak pidana
pembajakan hak cipta yang dihukum seperti ketentuan Pasal 72 ayat (1)
tersebut. bahkan sampai hari ini belum ada perkara pidana pelaku
pembajakan hak cipta karya sinematografi yang diproses di Pengadilan
padahal dalam kenyataannya, pelanggaran atau pembajakan karya
sinematografi terus berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Jika
menggunakan sudut pandang linier maka seharusnya para pelaku
pembajakan hak cipta karya sinematografi sudah harus dihukum.
Industri illegal VCD dan DVD bajakan yang mengisi 80 % pasar di
Indonesia seharusnya sudah dapat ditutup bila di lapangan dilakukan
penyitaan sesuai amanah Undang-undang No. 19 Tahun 2002.
Gambaran yang diungkapkan terakhir ini hanya dapat terjadi jika
menggunakan cara berpikir linier, seperti ilmu fisika dan matematika.
Akan tetapi cara melihat hukum tidak dapat menggunakan optik seperti
itu. Hukum mempunyai 3 cara pandang. Pertama cara pandang
filosofis, kedua adalah cara pandang sosoliogis dan ketiga cara pandang
empiris. Karena itu hukum tidak bisa dilihat hanya menggunakan optic
linier tetapi harus menggunakan optic non linier.
Sudah terlalu lama negeri ini menempatkan hukum melalui
satu sudut pandang yakni sudut pandang normatif. 330 Sarjana Hukum
yang lahir kemudian adalah Sarjana Hukum “tukang” bukan Sarjana
Hukum yang arsitek. Akibat lebih lanjut adalah dalam praktek
330
Di berbagai Fakultas Hukum di Indonesia, muatan kurikulum pendidikan
bidang ilmu hukum masih didominasi oleh studi hukum normatif. Kajian-kajian sosiologi
hukum, politik hukum, sejarah hukum, perbandingan hukum dan bahkan filsafat hukum
hanya diajarkan untuk melengkapi kajian studi hukum normatif. Tidak ada program studi
ilmu hukum yang secara khusus ditetapkan yang mengacu pada studi hukum empirik,
misalnya program studi hukum dan masyarakat atau program studi politk hukum.
Pengembangan studi ilmu hukum empirik saat ini yang dikembangkan di Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dan Fakultas
Hukum Universitas Airlangga. Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sendiri
sampai hari ini belum mengembangkan pemikiran ke arah itu.
401
penegakan hukum para sarjana hukum terlihat kaku dan berujung pada
kesan tidak profesional. Keluwasan dalam memandang obyek hukum
dalam perspektif non linier dapat dilihat dari matrik di bawah ini.
Matrik 37
Paradigma Hukum
Paradigma
Konsep
Filosofis
ideologi
Juridis/
normatif
Sosiologis/
empiris
Hukum Sebagai Asas
Moralitas atau asas
keadilan yang bernilai
universal
Hukum sebagai kai
dah/norma sebagai
produk eksplisit dari
sumber kekuasaan
politik yang sah.
Hukum sebagai institusi sosial yang ril
dan fungsional dalam
sistem kehidupan
bermasyarakat
Tujuan
Bidang Kajian
Hukum
Keadilan
Filsafat Hukum
Kepastian
Hukum
Jurisprudence
(ilmu hukum
normatif
Kemanfaatan
Sosiologi Hukum
Antropoligi Hukum
Sejarah Hukum
Psikologi hukum
Law and Society
Law in Action
Ajaran tentang hukum yang
dikemukakan oleh Gustav Radbruch, 331
a.
b.
memiliki
multiparadigm
Paradigma filosofis - ideologis, yakni memandang hukum sebagai asas
moralitas atau asas keadilan yang bernilai universal, dan menjadi bagian
inheren dari sistem hukum alam, yang bertujuan untuk mewujudkan keadilan ;
Paradigma juridis - normatif yakni : hukum sebagai kaidah-kaidah positif
yang berlaku pada suatu waktu tertentu dan tempat tertentu, dan terbit sebagai
331
Gustav Radbruch, Rechts-Philosophie, K.F. Koehler Verlag Stuttgart,
Germany, 1956. Lihat lebih lanjut F.S.C. Northrop, Cultural Values, dalam Sol Tax, ed.,
Antropological Today : Selections (Chicago, Chicago University Press, 1962), hal. 422435, Herbert L.A. Hart, The Concept of Law (London : Oxford University Press, 1972) :
dan Leon H. Mayhew, The Legal System serta Paul Bohannan, Law and Legal
Institutions, kedua-duanya dalam David L. Sills, ed. International Encyclopedia of the
Social Sciences (New York : Mac Millan, 1972), Jilid IX, hal. 59-66 dan 73-78. Northrop
sebenarnya menyebutkan 5 konsep, namun dua konsep yang diberikan olehnya (yaitu
konsep Legal Realism dan konsep Kesenian) khusus untuk pembicaraan kali ini bukunya
hanya mengulas konsep (a) dan (b) saja, sedangkan Mayhew dan Bohannan
memaksudkan hukum semata-mata dalam konsep tersebut (c).
402
c.
produk eksplisit suatu sumber kekuasaan politik tertentu yang berlegitimasi ;
yang bertujuan untuk menciptakan kepastian hukum ;
Paradigma sosiologis - empiris yakni : hukum sebagai institusi sosial yang riil
dan fungsional di dalam sistem kehidupan bermasyarakat, baik dalam prosesproses pemulihan ketertiban dan penyelesaian sengketa maupun dalam prosesproses pengarahan dan pembentukan pola-pola perilaku yang baru, yang
bertujuan untuk memberi kemanfaatan bagi masyarakat.
Konsep tersebut pada butir (a) di atas adalah konsep yang
berwarna moral dan filosofis, yang melahirkan cabang kajian hukum
yang amat moralistis dengan bidang kajiannya Filsafat Hukum. Konsep
tersebut pada butir (b) merupakan konsep positivistis - tidak hanya
yang Austinian melainkan juga yang pragmatik-realis dan yang NeoKantian atau Kelsenian - yang melahirkan kajian-kajian ilmu hukum
positif atau dalam terminologi Inggeris disebut "jurisprudence". Dan
akhirnya, konsep-konsep tersebut pada butir (c) adalah konsep
sosiologi atau antropologik, yang kemudian melahirkan kajian-kajian
sosiologi hukum, antropologi hukum, atau juga cabang kajian yang
akhir-akhir ini banyak dikenal dengan nama "Hukum dan Masyarakat",
atau Law in Society, Law in action. 332
Harus disadari bahwa ketika Amerika dan negara-negara
industri maju “memaksa” Indonesia untuk turut serta dalam
kesepakatan GATT 1994/WTO dan konsekuensinya, Indonesia harus
tunduk pada kesepakatan itu. Khusus dalam lapangan hak kekayaan
intelektual karena dimasukkannya issu hak kekayaan intelektual dalam
kesepakatan tersebut mengharuskan Indonesia menyesuaikan peraturan
perundang-undangan HKI-nya dengan TRIPs Agreement. Langkah
yang dilakukan oleh Amerika dan negara-negara maju adalah langkah
332
Melihat hukum dengan cara pandang seperti pada bagan di atas akan
menggiring pikiran kepada sesuatu yang mendekati kebenaran. Sebaliknya jika
menggunakan cara pandang linier satu sudut pandang saja, sudut pandang kacamata
kuda, hal ini semakin menjauhkan obyek yang dipandang dari kebenaran. Lihatlah
bagaimana prediksi para ekonom di tahun 1970-an yang tak pernah memperhitungkan
Cina, India dan Turki akan sukses ke depan pasca krisis moneter tahun 1988. Hari ini
negara yang tak pernah diprediksi memperoleh pertumbuhan ekonomi yang baik pasca
krisis moneter itu ternyata akan tampil sebagai raksasa ekonomi dunia, walaupun ini
prediksi para ekonom yang terbaru lagi dengan cara pandang juga. Ilmu ekonomi pun
gagal menggunakan sudut pandang linier Lihat lebih lanjut John & Doris Naisbitt,
China’s Megatrends 8 Pilar Masyarakat Baru, (Terjemahan Hendro Prasetyo),
Gramedia, Jakarta, 2010. Lihat juga Gregory C. Chow, Interpreting China’s Economy,
Terjemahan Rahmani Astuti, Memahami Dahsyatnya Ekonomi China, Metagraf, Solo,
2011. Lihat juga PT. Kompas Media Utama, India Bangkitnya Raksasa Baru Asia Calon
Pemain Utama Dunia di Era Globalisasi, Kompas, Jakarta, 2007. Lihat juga Kishore
Mahbubani, Asia Hemisfer Baru Dunia Pergeseran Kekuatan Global ke Timur yang Tak
Terelakkan, Kompas, Jakarta, 2011.
403
politik (politik ekonomi dan politik hukum). Bagi Indonesia, TRIPs
Agreement mempengaruhi program legislasi nasionalnya dan itu
berdampak pada pilihan politik hukum. Sekali lagi, ternyata kajian
hukum bukan kajian “hitam-putih” tapi dipengaruhi oleh “warna-warna
lain”.
Sebagai akibat dari pilihan politik hukum semacam itu, maka
penegakan hukum dalam lapangan hak kekayaan intelektual khususnya
dalam hal perlindungan karya sinematografi menjadi terpengaruh juga.
Hal ini juga membawa dampak kepada kesiapan aparat penegak hukum
dalam praktek penegakan hukumnya.
Dalam kesepakatan GATT 1994/WTO, sesungguhnya telah
mengecilkan sudut pandang legalistik yang dianut selama ini dengan
besarnya peranan negosiasi yang dibuka oleh sistem GATT. Terdapat
19 klausul dalam perjanjian GATT yang mewajibkan para pihak untuk
bernegosiasi. Keberhasilan negosiasi bersumber dari hubungan pribadi
yang terbentuk diantara para delegasi dalam setiap perundingan untuk
menyelesaikan sengketa. Jika langkah ini yang harus ditempuh, maka
yang mengemuka adalah bukan sudut pandang legalistik tetapi sudut
pandang politik. Kepiawaian para perunding menjadi kunci utama
dalam penyelesaian sengketa. Demikian juga yang termaktub dalam
Undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 tentang Penyelesaian
Sengketa melalui Badan Arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa
seperti yang diatur dalam Pasal 65. 333 Penyelesaian sengketa melalui
arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa (Alternative Dispute
Resolution) tentu saja keluar dari perspektif hukum normatif atau
legalistik tetapi lebih mengarah pada paradigma sosiologis-empirik.
Oleh karena itu jika penegakan hukum untuk melindungi pembajakan
karya sinematografi semata-mata diharapkan dari penegakan hukum
pidana yang mengandalkan penyidik dalam hal ini pihak Kepolisian
Republik Indonesia, maka dikhawatirkan upaya untuk menuntaskan
praktek pembajakan atau pelanggaran hak cipta sulit untuk diakhiri.
Karena itu harus ada solusi-solusi alternatif yang dapat dilakukan
melalui pendekatan integratif hukum yang multiparadigma itu. Sebab
bagimana pun juga kultur birokrasi yang korup itu, tetap akan
memberikan pengaruh dalam proses penegakan hukum. Lembaga
penegak hukum beserta aparatnya, sebenarnya lebih menyukai jika
dalam kasus itu melibatkan kalangan birokrasi, sebab di sampaing
333
Tentang tatacara penyelesaian sengketa di luar pengadilan lebih lanjut lihat
Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase & Alternatif Penyelesaian Sengketa, PT. Fikahati
Aneska, Jakarta, 2002.
404
perkara yang ditangani itu memiliki prestise, juga berpeluang untuk
terjadi transaksional. Prilaku budaya kalangan birokrasi baik secara
kelembagaan maupun secara individu dalam peneyelesaian kasus
hukum yang menimpa mereka melalui proses “mafia hukum” telah
banyak “menyumbangkan” kultur atau budaya negatif bagi proses
pembangunan peradaban bangsa yang taat hukum. Masyarakatpun
akhirnya apatis dengan situasi semacam itu. Belum lagi para koruptor
yang mengakhiri masa pemidanaannya disambut dengan gegap gempita
oleh para pendukung dan simpatisannya. Padahal di negara-negara
yang menjunjung tinggi nilai-nilai hukum, pada tataran pelanggaran
moral sajapun kalangan birokrat itu sudah “diharuskan” dengan
sukarela untuk menundurkan diri dari jabatan publik. Justeru di
Indonesia menjadi terbalik, mereka yang sudah pernah dihukum, malah
bersikukuh untuk dicalonkan menjadi pejabat publik. Sebuah
perkembangan peradaban budaya hukum yang ironis, yang tak dapat
dijelaskan dengan menggunakan teori Talcott Parson, Emile Durkheim
atau Max Weber dan mungkin hanya dapat dijelaskan dengan Teori
Physico Analis-nya Sigman Frud.
Kalangan birokrat yang menduduki jabatan publik yang
melakukan pelanggaran moral dan hukum di negeri ini, tercatat mmulai
dari tingkat Presiden sampai ke tingkat pemerintahan Kabupaten/Kota.
Matrik di bawah ini memperlihatkan gambaran yang nyata tentang itu.
Matrik 38
Pejabat Eksekutif Terlibat Kasus Pelanggaran Hukum dan Etika
No
1.
Jabatan Dalam
Pemerintah
Presiden
Nama
Soekarno
Soeharto
B.J. Habibie
K.H.Abdul Rahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
Susilo Bambang Yudhoyono
Kasus Hukum/Etika yang
Dilanggar
Penyimpangan konsep demokrasi
Pancasila yang diatur dalam
UUD ’45 dengan melahirkan
TAP MPRS yang menetapkannya
sebagai Presiden Seumur Hidup.
Dipersangkakan
melakukan
berbagai tindakan yang bersifat
kolusi, korupsi dan nepotisme.
Pertanggung
Jawaban
akhir
jabatan sebagai presiden ditolak
MPR
Keterlibatan dalam kasus Buloq
Gate dan Brunei Gate
Tidak memperlihatkan sikap
sebagai negarawan yang mampu
menyeimbangkan
berbagai
kepentingan untuk pembangunan
nasional.
Pelanggaran etik dan moral
405
2.
3.
4.
5.
Menteri
Pemuda
Olahraga
Menteri
Pertanian
Menteri
Keuangan
Andi Malarangeng
&
Siswono
Kasus Import Daging Sapi
Sri Mulyani
Bill Out Century, disidangkan
sebagai saksi, tapi dianggap
sebagai orang yang mengetahui.
Kasus Korupsi PON, dalam tahap
penyidikan
Kasus Dana Bantuan Sosial
Korupsi di BI
Cek Pelawat Gratifikasi
Bill
Out
Century,
tahap
penyidikan
Korupsi, tahap penyidikan
Menko Kesra
Agung Laksono
Menteri Sosial
Gubernur BI
Bachtiar Chamsjah
Syahril Sabirin
Miranda Gultom
Boediono
Gubernur
Kepala Daerah
1. Fadil Muhammad
(Gorontalo) Sulbar
2. Syamsul Arifin (Sumut)
3. Rusli Zainal, Gubernur Riau
4. Gatot Pujo Nugroho
1.Abdillah, Walikota Medan
2.Rahudman, Walikota Medan
3.Risuddin, Asahan
4.RE. Siahaan, Siantar
5.Hidayat Batubara, Bupati Madina
6. Rahmat Yasin, Bupati Bogor
7. Agus Paturachman, Bupati Sragen
8. Rina Iriani, Bupati Karanganyar
9.Bupati Kutai
10.Bupati Pelalawan
11. Bupati Banyuwangi
12. Djoko Nugroho, Bupati Blora
13. Achmat Dimiyati Natakusumo,
Bupati Barito Utara
14. Bupati Banyuwangi
15. Binahati Benedictus Baeha,
Bupati Nias
16. Fonaha Zega, Bupati Nias Utara
Bupati/
Walikota
Kepala Daerah
kepemimpinan
Mencampur
adukkan tugas politik dengan
tugas kenegaraan.
Kasus Suap Hambalang, dalam
tahap penyidikan
Korupsi, telah diputus
Korupsi, tersangka di KPK
Korupsi, tersangka di KPK
Korupsi, sudah diputus
Korupsi sedang dalamproses
penuntutan
Korupsi, sudah diputus
Korupsi, proses penyidikan
Korupsi, proses penuntutan
Korupsi, telah diputus
Korupsi
Korupsi
Korupsi
Korupsi
Korupsi
Korupsi
Korupsi
Korupsi
Korupsi
Korupsi
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Meskipun dalam sejarah kepemimpinannya terdapat banyak kritikan
terutama dari aspek pelanggaran hukum dan etika, akan tetapi harus
diakui mereka juga memberikan sumbangsih yang sangat berarti bagi
negeri ini melalui capaian-capaian pada periode kepemimpinannya.
Presiden Soekarno, misalnya berhasil mempersatukan Indonesia dan
meletakkan sendi ideologi Pancasila. Presiden Soeharto berhasil
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membumikan Pancasila
melalui P4. Selanjutnya Presiden B.J. Habibie berhasil membuka kran
406
demokrasi. Presiden K.H. Abdul Rahman Wahid, berhasil
menghapuskan diskriminasi etnik. Kemudian Megawati Soekarnoputri
berhasil meletakkan dasar pembangunan ekonomi dengan menciptakan
iklim yang kondusif walaupun kondisi itu tidak dapat bertahan sampai
di masa akhir jabatannya sedangkan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono berhasil menegakkan sendi-sendi demokrasi, transparansi,
good governance.
Dalam banyak hal kasus-kasus pelanggaran hukum yang
dilakukan oleh esksekutif lebih dari sekedar persoalan rendahnya
tingkat penghasilan mereka sebagai pejabat publik, akan tetapi telah
menjadi lingkaran tak berujung yang telah membudaya di kalangan
birokrasi. Kekuasaan, demikian kata Lord Acton, cenderung untuk
korup. Kekuasaan eksekutif di Indonesia jika ditelusuri dalam tabel di
atas hampir dapat dipastikan terjerat dalam dalam lingkaran budaya
korup. Namun demikian sulit juga untuk mengawali satu kesimpulan
bahwa korup di kalangan birokrasi telah membudaya, sebab dalam
banyak hal sistem pemerintahan dan bentuk negara yang membuka
peluang para pejabat birokrasi tak terhindar dari praktek korupsi.
Dalam sebuah wawancara dengan mantan pejabat daerah 334 yang
pernah terjerat kasus korupsi, beliau mengatakan :
Yang membuat orang jadi korup itu karena sistem yang ada yang membuka
atau mempersilahkan orang untuk menjadi korup. Saat dilakukan penuntutan
dan pemeriksaan di depan pengadilan saya juga mengatakan saya tidak
bersalah. Akan tetapi karena tindakan yang saya ambil itu merugikan
keuangan negara dan memperkaya orang lain, saya harus dijatuhi hukuman.
Padahal dalam kasus itu saya hanya menjalankan perintah Mendagri sebagai
atasan saya melalui telegramnya. Seharusnya saya tak dapat dipersalahkan,
karena atas perintah atasan. Hanya saja sebenarnya pada waktu itu saya dapat
saja menolak permintaan mendagri itu, akan tetapi etika dan moral
kepemimpin yang terbangun selama ini sulit untuk saya elakkan. Faktor kultur
itu sangat kuat. Ada semacam budaya yang sudah terbentuk dari leluhur yang
sulit untuk disimpangi sebagai ikatan moral tak tertulis, sebagai kultur
birokrasi yang mengikat para pejabat di daerah, ketika permintaan itu datang
dari Pusat. Di sinilah awal terbangunnya budaya birokrasi yang cenderung
menyimpang dari tuntutan profesionalisme. Jadi untuk kasus saya sistemlah
yang menggiring saya untuk masuk ke alam birokrasi yang korup.
Sebuah ungkapan yang menarik, tidak semua para koruptor
versi pengadilan itu adalah benar-benar korup, tetapi sistem
pemerintahan dan bentuk negara dan budaya birokrasi yang terbangun
selama ini yang menggiringnya menjadi koruptor. Lebih lanjut dalam
wawancara yang sama, A menegaskan ;
334
Wawancara dengan A, di Medan, tanggal 11 Agustus 2012, pukul 20.14.
407
Jika hendak ditelusuri, semua pejabat di Republik ini tidak ada yang bersih
dari prilaku korupsi. Mereka yang dulu pernah diadili atau sekarang sedang
diadili, adalah mereka-mereka yang sial atau lagi apes saja. Jika diperiksa
semuanya akan terkena jeratan hukum, sebab bukan orang atau pejabatnya
yang korup, tapi sistemnya. Ketika orang masuk ke dalam sistem itu, maka
mau tidak mau, suka atau tidak suka dia akan terbawa oleh arus sistem itu
menjadi korup. Seumpama jalan sudah berlumpur, siapapun akan melintasi
jalan itu pasti akan terkena percikan lumpur. Akan tetapi ada orang yang lebih
cerdik, ketika ia sampai keseberang jalan, ia langsung membersihkannya,
sehingga percikan lumpur tak kelihatan lagi. Celakanya di seberang jalan
sudah ada menunggu “tim pengintai” yang siap memotret setiap orang yang
melintas di jalan itu dan diantara tim pengintai itupun sudah siap berbagi air
untuk membersihkan percikan-percikan lumpur.
Khusus mengenai lembaga KPK, lebih lanjut beliau mengatakan : KPK
lembaga yang kecil tapi memiliki kewenangan besar. Kenapa orang lebih
profesional, karena kebutuhan, fasilitas untuk melaksanakan tugasnya
terpenuhi dan kewenangan yang diberikan kepada KPK secara penuh dan tak
ada pada lembaga penegak hukum yang lain.
Biaya untuk menangani perkara telah tersedia anggran yang cukup, sedangkan
pada lembaga penegak hukum yang lain, untuk beli kertas saja dananya tak
cukup tersedia.
Menarik perumpamaan yang dikemukakan oleh A di atas. Tak ada
pejabat eksekutif yang dapat mengelakkan dari jalan yang berlumpur
itu, sebab sistem yang terbangun sudah seperti itu. Ketika
dipertanyakan, apakah hal semacam itu tidak dapat dielakkan ? A
memberikan keterangan lagi :
Tidak mungkin dapat dielakkan. Karena sistem “upeti” sudah mendarah
daging. Hampir semua pejabat di Pusat menunggu “setoran” Tidak itu saja,
mulai dari kalangan Partai Politik, aparat penegak hukum, wartawan, sampai
pada LSM baik yang meminta dengan resmi maupun yang tidak meminta
menjadi sebuah keharusan dan kebiasaan tidak tertulis harus “dialokasikan
dana khusus” walaupun pemberiannya dilakukan secara santun, padahal
dalam anggaran resmi dana-dana semacam itu tidak ada dialokasikan.
Iklim birokrasi dan sistemlah yang menciptakan birokrasi yang
menggiring kalangan eksekutif dan mungkin juga kalangan legislatif
dan judikatif terjebak pada arus gelombang korupsi. Jika demikian
halnya, agaknya restorasi terhadap bentuk negara dan sistem
pemerintahan perlu segera dilakukan dan mendapat perhatian khusus
dari kalangan politisi, tehnokrat dan negarawan serta kaum intelektual
di negeri ini. Di bawah rezim negara kesatuan praktek-praktek
pelanggaran hukum, korupsi dari waktu ke waktu mengalami
peningkatan. Negara Kesatuan telah banyak menciptakan budaya
birokrasi yang korup dengan mata rantai yang sangat panjang. Ketika
pada tingkat pemerintahan daerah dan aparat penegak hukum daerah
kasus itu muncul ke permukaan, tapi kemudian “ditutup” karena
408
adanya “permintaan” Pusat atau aparat penegak hukum yang secara
kelembagaan memiliki kedudukan yang lebih tinggi yang
berkedudukan di Pusat.
Adalah tawaran atau wacana bentuk negara federal menjadi perhatian
khusus dalam studi ini, setelah melakukan analisis dengan
menggunakan pisau politik hukum terhadap pilihan politik pragmatis
dalam kasus transplantasi hukum asing ke dalam undang-undang hak
cipta nasional. Karena pilihan politik transplantasi hukum tidak cukup
hanya memusatkan aktivitasnya pada segi substansi hukumnya saja,
akan tetapi juga pada struktur dan kulturnya.
Faktor struktur dan kultur (budaya hukum) sangat dominan
dalam penegakan hukum, tak cukup hanya normanya saja yang
ditransplantasi, tapi juga struktur dan kulturnya. Karena itu menjadi
relevan tulisan ini harus mengarak persoalan pada bentuk negara dan
sistem pemerintahan yang dianut selama ini membuahkan struktur dan
kultur yang membuka peluang bagi tumbuh suburnya praktek
pelanggaran hukum, tidak terakomodirnya hak-hak rakyat serta
semakin menipisnya rasa kebangsaan, tidak tersebarnya sumber daya
ekonomi di setiap lapisan kehidupan masyarakat, timpangnya
pembangunan antara Pusat dan daerah serta sederetan ketidak adilan
yang melanda kehidupan bangsa yang melampaui setengah abad
menjadi negara yang merdeka dan berdaulat adalah juga sebagai
gelombang pemicu terciptanya sistem pemerintahan yang korup.
Betapapan juga pengalaman prilaku budaya birokrasi selama ini telah
menimbulkan banyak hambatan dalam proses penegakan hukum yang
berkeadilan. Praktek penegakan hukum yang selektif karena adanya
intervensi eksekutif, menyebabkan penegakan hukum menjadi
“pandang bulu” (menyimpang dari adagium, semua warga negara
mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum) dan bersifat
selektif dan praktek penegakan hukumnya menerapkan cara-cara
“tebang pilih” bahkan kadang-kadang dapat “dipesan”. Asas praduga
tak bersalah (presumption of innoncense) atau asas equality before the
law tidak selalu dapat diterapkan dalam praktek penegakan hukum.
Hukum menjadi alat kekuasaan, alat untuk melanggengkannya atau
untuk sekedar melengserkan kekuasaan orang lain. Bak kata pepatah
melayu, penegakan hukum yang selektif itu seumpama, tepat di mata
dipicingkan (dipejamkan) tepat diperut dikempiskan. Hukum yang
dapat menjerat penguasa atau koleganya, atau keluarganya menjadi
“tumpul” dan tidak berfungsi. Penegakan hukumnya menjadi berhenti
di tengah jalan. Inilah ironi kekuasaan eksekutif yang dalam banyak hal
409
“bersekutu” dengan “judikatif” dan menyimpang dari tradisi negara
hukum menurut pandangan Dicey.
3. Budaya Hukum Judikatif
Polisi yang selama ini dianggap sebagai garda terdepan yang
secara struktural dikukuhkan sebagai lembaga resmi negara untuk
melakukan penyidikan, ketika pelanggaran atau kejahatan terhadap
karya sinematografi yang ditempatkan sebagai delik biasa, ternyata
secara kelembagaan mereka diperlakukan “belum adil dan diskrimatif”
dalam praktek sisitem pembinaan karir. Artinya di dalam tubuh institusi
ini masih terdapat banyak persoalan-persoalan internal yang belum
terselesaiakan.
Terdapat 30 % dari total anggota Kepolisian Republik
Indonesia yang puas atas langkah pembinaan karir personil kepolisian
yang meliputi aspek :
1. Peluang untuk mendapatkan pendidikan termasuk penugasan
dan pelatihan khusus di dalam dan luar negeri dalam rangka
pengembangan karir.
2. Kebijakan mutasi dan promosi termasuk penempatan
3. Punishment dan reward. 335
Hasil penelitian ini menjadi peringatan bagi institusi Polri.
Angka 30 % yang menunjukkan kegagalan dalam penerapan kebijakan
pembinaan institusi Polri merupakan angka yang sangat kritis dan ini
berpengaruh pada sikap dan budaya penegakan hukum aparat penegak
hukum. Keadaan ini tidak hanya menyangkut personil kepolisian saja
tetapi juga sudah merambah ke institusi-institusi penegak hukum
lainnya, baik itu menyangkut moralitas maupun menyangkut
profesionalisme.
Moralitas dan profesional aparat penegak hukum berada pada
titik nadir. Mulai dari kasus Antasari (Ketua KPK terlibat kasus
335
Alantin S., Persepsi Anggota Polri Terhadap Sistem Pembinaan Karier
Personil Polri, Makalah, disampaikan pada Seminar yang dilaksanakan di Hotel Kartika
Chandra, Jakarta, 1 Agustus 2013. Seminar ini didahului dari lapora n penelitian yang
dilakukan oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kopolnas) dengan memilih responden
secara acak yang ditetapkan sebanyak 1.000 orang dengan metode multistage sampling
yakni didahului dengan menetapkan lokasi penelitian di 4 kepolisian daerah ya ng
mewakili tiap-tiap kepulauan yang besar. Untuk Pulau Sumatera diwakili oleh Polda
Riau, untuk Pulau Jawa diwakili oleh Polda Jawa Timur, untuk Sulawesi diwakili oleh
Polda Sulawesi Utara, untuk Kalimantan diwakili oleh Polda Kalimantan Timur.
Penelitian ini didasarkan pada landasan teori persepsi, faktor dalam pembinaan karier
personil Polri, manfaat sistem karier terhadap organisasi Polri.
410
pembunuhan), Susno Duadji (Polisi terlibat kasus Korupsi), Joko
Soesilo (Polisi terlibat Kasus Simulator SIM), Cyrus Sinaga (jaksa
terlibat melindungi Koruptor Pajak Gayus Tambunan), Setyabudi
Tedjocahyono (hakim terlibat Korupsi, sampai pada Akil Muchtar
(tertangkap tangan kasus suap), Ketua Mahkamah Konstitusi yang
secara hirarkhis menempati posisi lembaga peradilan tertinggi yang
putusannya tak dapat diadili lagi oleh lembaga peradilan lain di
Indonesia. Matrik berikut ini mencoba untuk menyederhanakan
berbagai keterlibatan aparat penegak hukum dalam berbagai bentuk
pelanggaran hukum mulai dari tingkat penyidikan (kepolisian, jaksa,
KPK) , penuntutan (jaksa, KPK) sampai pada tingkat pemeriksaan dan
Keputusan (Hakim PN, PT, Tipikor, TUN, MK dan MA).
Matrik 39
Pelanggaran Hukum Yang Dilakukan Oleh Aparat Penegak Hukum.
No
1.
Jabatan/Unit
Kerja
Kepolisian
Nama Inisial Aparatur
Kasus yang Dilanggar
1. SD
Suap untuk memuluskan kasus PT.
Salmah Arowana Lestari (SAL) dan
pemotongan dana pengamanan
Pilgub Jawa Barat
Korupsi Simulator SIM
Suap dalam kasus BLBI
Suap dalam kasus penggelapan
pajak tersangka Gayus Tambunan
Pembunuhan
Tuduhan kriminal
Tuduhan kriminal
Tuduhan kriminal
Pelanggaran Etik
Menerima
Suap
Untuk
Memuluskan Perkara
Menerima
Suap
Untuk
Memuluskan Perkara
Menerima
Suap
Untuk
Memuluskan Perkara
2. DS
2.
Kejaksaan
Agung
1. UTG
2. CS
3.
Komisi
Pemberantasa
n
Korupsi
(KPK)
4.
Hakim
Pengadilan
Tipikor
1. AA
2. BSR
3. CH
4. NB
4. AS
1. KM
2. HK
5.
Hakim
Pengadilan
Niaga
Hakim
adhoc
pengadilan
industrial
Hakim
Pengadilan
Tinggi TUN
6.
7.
SU
IDS
Menerima
Suap
Memuluskan Perkara
Untuk
1. I
Menerima
Suap
Memuluskan Perkara
Untuk
411
8.
9.
10
11.
12.
Pengadilan
Pajak
Hakim
Mahkamah
Agung
Hakim
Mahkamah
Konstitusi
Ketua
Mahkamah
Konstitusi
Pengacara/
Advocat
2. TIP
3. AF
4. DG
5. SY
6. MYBG
Suap tersebut berkaitan dengan
pengajuan
kewenangan
Kejaksaan Tinggi Sumatera
Utara terkait terbitnya surat
perintah
penyelidikan
(Sprinlidik) tentang dugaan
terjadinya
tindak
pidana
korupsi dana bantuan sosial
(bansos),
bantuan
daerah
bawahan (BDB), bantuan operasional sekolah (BOS), dan
penahanan pencairan dana bagi
hasil (DBH) yang dilakukan
Gubernur Sumatera Utara di
PTUN, Medan.
R dan AG
Tertangkap tangan menerima suap
DS
Menerima
Suap
Memuluskan Perkara
AS
Pemalsuan surat MK
AM
Penyuapan dalam kasus Pilkada
Lebak,
Banten dan Pilkada
Kabupaten Gunung Mas, Kalteng
Penyuapan terhadap mantan Kabag
Reskrim Susno Duadji
Praktek Penyuapan Perkara di MA
- HH
- L
Untuk
- OCK
Penyuapan terhadap pengajuan
kewenangan Kejaksaan Tinggi
Sumatera
Utara
terkait
terbitnya
surat
perintah
penyelidikan
(Sprinlidik)
tentang dugaan
terjadinya
tindak pidana korupsi dana
bantuan
sosial
(bansos),
bantuan
daerah
bawahan
(BDB), bantuan operasional
sekolah (BOS), dan penahanan
pencairan dana bagi hasil
(DBH)
yang
dilakukan
Gubernur Sumatera
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
412
Matrik di atas adalah gambaran kecil saja dari berbagai
pelanggaran besar yang dilakukan oleh aparat penegak hukum di negeri
ini, baik yang terungkap di publik maupun yang tidak terungkap.
Aparat penegak hukum yang diharapkan sebagai ujung tombak untuk
memberikan perlindungan kepada publik, justeru mereka yang
mencederainya. Aparat penegak hukum yang diharapkan sebagai wakil
Tuhan di muka bumi unutk menciptakan keadilan, justeru mereka yang
memporak porandakan dan mengoyak-ngoyak rasa keadilan. Peristiwa
ini dapat diungkapkan dalam satu adagium singkat yang
menggambarkan tentang perilaku aparat penegak hukum Indonesia hari
ini yakni, ”bak pagar makan tanaman”. Kalau hewan ternak makan
tanaman, masih ada yang dapat dilakukan, paling tidak hewan ternak
itu masih bisa dinikmati dagingnya. Kalau aparat penegak hukum yang
“mencurangi” hukum, keadaan ini akan mempercepat kehancuran
negeri ini. Pertarungan internal Indonesia ke depan bukan lagi
berkutat pada persoalan perebutan kekuasaan, atau persoalan
pendidikan dan kesehatan atau masalah sandang pangan, akan tetapi
akan bergerak pada persoalan penegakan hukum dan keadilan.
Gambaran yang dilukiskan pada matrik di atas mengantarkan pada satu
kesimpulan bahwa , profesionalisme aparat penegak hukum tak dapat
diharapkan lagi . Tak dapat lagi digantungkan harapan bangsa ini untuk
mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta melindungi
segenap tumpah darah Indonesia kepada aparat penegak hukum.
Bagaimana bisa menciptakan halaman dan lantai yang bersih, jika
disapu dengan penyapu yang kotor?
Uraian-uraian di atas adalah merupakan untaian cerita empirik
sebagai potret nyata, bukan lukisan abstrak tentang kebobrokan
penegakan hukum yang disebabkan oleh tidak profesionalnya aparat
penegak hukum. Hilangnya rasa tanggung jawab moral dan tanggung
jawab sosial aparat penegak hukum dalam menjalankan tugas mulia
yang diembannya. Tak ada lagi rasa bersalah, ketika mereka makan dan
minum dari bumi Indonesia yang diberi tugas melindungi hak-hak anak
bangsa tapi justeru tampil sebagai “piranha” yang memakan anak
bangsanya sendiri. Menggerogoti sumber ekonomi negara yang
seyogyanya untuk kepentingan hidup bersama, tapi justeru dinikmati
sendiri. Tak ada lagi akal sehat, tak ada lagi hati nurani. Ini adalah
gambaran makro penegakan hukum di negeri ini.
Gambaran mikro tentang penegakan hukum dalam bidang hak
cipta khususnya dalam bidang sinematografi, tidaklah jauh berbeda
dengan gambaran makro tersebut. Aparat penegak hukumnya masih
sama, polisi, jaksa dan hakim. Hanya KPK yang tidak terlibat, karena
413
tidak ada unsur korupsinya. Akan tetapi bila ditelusuri dan dicermati
lebih lanjut efek penghancuran sendi-sendi kehidupan sosio-kultural
karena ketidak profesionalan aparat
penegakan hukum dalam
memberikan perlindungan terhadap hak cipta bidang karya
sinematografi ini, tak beda jauh dengan efek penghancuran yang
diakibatkan oleh perilaku korupsi. Jika kasus Bill Out Bank Century
yang melibatkan pejabat tinggi negara dan Kasus Impor Daging Sapi
yang melibatkan Menteri dan politisi partai yang dikenal “bersih dari
korupsi dan pelanggaran moral” justeru dalam prakteknya merugikan
keuangan negara dan dampaknya merugikan ekonomi negara.
Merugikan ekonomi negara berarti mengurangi hak dan kenikmatan
warga negara. Tidak jauh berbeda dengan kasus-kasus yang kelihatan
merupakan “kasus besar” dalam kasus pelanggaran atau pembajakan
hak cipta atas karya bidang sinematografipun sebenarnya merupakan
“kasus besar”, di samping langsung merugikan keuangan negara karena
hilangnya pajak penjualan yang mencapai triliunan rupiah, juga
tindakan pembajakan itu telah membunuh kreativitas anak bangsa
untuk berkarya. Dampaknya adalah terjadi kemunduran dalam industeri
perfilman nasional, yang berujung pada hilang dan matinya kreativitas
para pencipta di bidang penulisan novel atau skenario film. Masyarakat
konsumen terbiasa menikmati karya hasil pelanggaran hukum dengan
mengeluarkan biaya murah.
Terbentuk budaya dan peradaban
pragmatis dan budaya “lenggang kangkung atau easy going” tak peduli
hak siapa yang dilanggar. Inilah pembelajaran “pola tingkat dasar
korupsi”. Lama kelamaan menjadi budaya korupsi. Jika dari kecil
teranjak-anjak, sudah dewasa terbawa-bawa, maka sesudah tua
berubah tidak. Ini kata pepatah Melayu kuno. Perilaku buruk yang
dibiarkan terus berjalan tanpa ada pencegahan, lambat laun akan
diterima sebagai kebiasaan dan kata pepatah Arab,
“merubah
kebiasaan akan menimbulkan musuh. ” Sulit untuk merubah perilaku
para pembajak karya cipta sinematografi dan merubah pola perilaku
para konsumen, ketika pola perilaku aparat penegak hukum tidak
berubah. Perubahan seperti apa yang diharapkan dari aparat penegak
hukum ? Melakukan penyelidikan, penyidikan atau pemeriksaan
terhadap tiap-tiap adanya indikasi pelanggaran hak cipta bidang karya
sinematografi? Apakah pekerjaan ini menantang atau dapat menaikkan
karir ? Apakah ini membuat anggota atau aparat penegak hukum
menjadi terkenal dan populer seperti Briptu Norman?
Tak ada yang menarik dari pekerjaan ini,
kecuali
menimbulkan banyak musuh. Tak ada popularitas, sekalipun dengan
menangkapi seluruh pengedar karya cipta sinematografi bajakan. Tak
414
ada adrenalin yang terpacu dalam menangani para konsumen yang
membeli karya sinematografi bajakan, dibanding dengan menangkapi
para pengedar dan pemakai narkoba jenis sabu misalnya. Menggerebek
rumah yang memproduksi sabu, jauh lebih populer dari pada
menggerebek rumah yang di dalamnya memproduksi VCD atau DVD
illegal. Reward and punishment lebih jelas dalam penangan kasuskasus semacam itu, daripada menangani kasus pembajakan kara
sinematografi.
Terjawab sudah, mengapa bidang penegakan hukum hak cipta
untuk melindungi karya sinematografi ini tidak menarik perhatian
aparat penegak hukum.
Dalam sebuah wawancara dengan Pengurus Asosiasi Artis
Sinetron Cabang Sumatera Utara 336 mengatakan :
Tidak semua aparat penyidik Polri mengetahui tentang Undang-undang hak
cipta. Saya pernah meangkap pelaku pembajakan. Pada waktu itu saya
berpura-pura mau membuka usaha untuk pemutaran film sinema keluarga dan
karauke. Saya minta untuk dikirim judul-judul film dan lagu-lagu. Kemudian
mereka mengantarkan pesanan saya dan di antara pesanan itu ada karya
sinematografi produksi kami. Saya langsung membawa pelakunya ke Poltabes
Medan waktu itu. Kejadian itu sekitar 5 tahun yang lalu. Aparat kepolisian
memproses pengaduan kami, tapi pelakunya tidak ditahan. Keesokan harinya
saya datang untuk memanmtau perkembangan penyidikan. Ternyata
penyidikan belum diproses karena aparat penyidik tak punya undang-undang
hak cipta. Saya pergi ke toko buku untuk membeli buku undang-undang hak
cipta dan menyerahkannya kepada penyidik. Beberapa hari kemudian saya
pantau lagi perkembangannya, ternyata tak ada proses hukum. Saya kira
perkara itu hilang lenyap begitu saja, tak sampai ke pengadilan, karena saya
tak pernah dipanggil menjadi saksi.
Wawancara di atas membuktikan bahwa aparat kepolisian tak
pernah serius menangani perkara pembajakan hak cipta karya
sinematografi. Di samping itu aparat kepolisian juga tidak semuanya
memahami seluk beluk hukum pelanggaran hak cipta sebagaimana
diatur dalam undang-undang hak cipta. Terlepas dari bekerjanya faktor
non hukum, karena mungkin saja selepas pelaporan peistiwa itu
mungkin saja pihak terlapor melakukan transaksional sebagaimana
kelaziman dalam praktek penegakan hukum yang berlangsung selama
ini.
“Pernah juga selaku pengurus organisasi saya 337 mengajak
Aparat Kepolisian untuk melakukan razia. Dalam razia itu sudah
336
Wawancara dengan Teruna Indra, Pengurus Asosiasi Artis Sinetron
Cabang Sumatera Utara tanggal 21 Agustus 2013 jam 11.00 Wib, di Medan.
337
Wawancara dengan Pengurus Asosiasi Artis Sinetron Cabang Sumatera
Utara tanggal 21 Agustus 2013 jam 11.00 Wib.
415
ditemukan titik terang bahwa penggandaan itu dilakukan oleh seorang
Tionghoa di jalan Thamrin di Medan. Akan tetapi juga tidak ada tindak
lanjut”, ungkap Teruna Indra.
Semakin jelas bahwa penegakan hukum hak cipta akan sulit
untuk dapat dilaksanakan dalam bebrapa tahun mendatang, jika tidak
ada keinginan dan perhatian yang serius dari lembaga penegak hukum,
khususnya lembaga kepolisian. Padahal menurut Pengurus Asosiasi
Artis Sinetron Cabang Medan tersebut, begitu mudah untuk melacak
pelaku pembajakan. Cukup diproses saja para penjual secara hukum,
lalu kemudian ditanya dari mana mereka mendapatkannya. Dalam
waktu 24 jam mata rantai pelaku tindak pidana pembajakan itu akan
teruangkap. Seperti para pengedar atau bandar narkoba, cukup ditanya
para pemakainya, kemudian akan diperoleh pengedarnya, untuk
selanjutnya akan ditemuka siapa bandarnya.
Akan tetapi hal semacam itu tidak pernah dilakukan secara
serius oleh aparat kepolisian selaku penyidik dan diberikan
kewenangan oleh undang-undang untuk membongkar jaringannya.
Apalgi delik pelanggran hak cipta ini termasuk dalam katagori delik
biasa, bukan delik aduan. Ada anggapan dari berbagai kalangan bahwa
pelanggarann terhadap karya cipta bidang sinematografi belum menarik
untuk diprioritaskan untuk ditegakkan.
Menurut Pengurus Asosiasi Artis Sinetron Cabang Sumatera
Utara : 338
Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang harus menjadi titik berat profesi
penegak hukum. Pekerjaan ini lebih sekedar pekerjaan fakultatif saja,
pekerjaan tambahan jika masyarakat sudah resah. Sepanjang masyarakat
“adem-adem” saja belum begitu mendesak untuk memberikan perlindungan
hukum bagi sebagian dari “tumpah darah Indonesia” ini, apalagi dengan
pembajakan karya cipta sinematografi ini, “tumpah darah Indonesia” yang
lain banyak mendapat kenikmatan. Seumpama cerita “Robinhood” merampok
(baca juga : korupsi) tapi hasilnya dibagi-bagikan kepada rakyat, dan ini
dianggap biasa dan boleh. Hukum telah kehilangan “roh” –nya di bumi yang
saling menghormati, saling menghargai hak orang lain.
Ungkapan “tumpah darah” yang dimaksud oleh responden di
atas adalah merujuk pada Pembukaan UUD 1945. Bahwa negara
berkewajiban untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia, akan
tetapi mengapa ada perbedaan. Untuk kasus narkoba lebih
diprioritaskan, sedangkan untuk kasus pelanggaran hak cipta cenderung
338
Wawancara dengan Pengurus Asosiasi Artis Sinetron Cabang Sumatera
Utara tanggal 21 Agustus 2013 jam 11.00 Wib.
416
diabaikan. Padahal dampak yang ditimbulkannya juga sama, yaitu
penghancuran peradaban.
Pelanggaran terhadap hak cipta yang berlangsung selama ini,
tidak hanya berpangkal pada ketidak tahuan aparat tentang arti penting
perlindungan hak para pencipta, akan tetapi juga karena adanya
“kesengajaan” para aparat untuk membiarkan pelanggaran itu terus
berlangsung. Sebuah pembiaran struktural yang sangat sempurna.
Ketidak pedulian aparat penegak hukum atas terjadinya pelanggaran
hukum dalam bidang karya sinematografi, menyebabkan tidak ada
satupun kasus pelanggaran hak cipta bidang karya sinematografi ini
sampai ke Pengadilan. 339
Dalam sebuah wawancara dengan salah seorang aparat
Kepolisian340 terungkap bahwa :
Sebenarnya banyak anggota Polri yang mengetahui bahwa pembajakan hak
cipta adalah merupakan perbuatan pidana. Akan tetapi kami selalu bekerja di
bawah perintah atasan kami. Sekalipun delik pelanggaran terhadap hak cipta
itu adalah delik biasa, artinya tidak perlu menunggu pihak yang dirugikan
untuk membuat laporan pengaduan, kami bisa langsung melakukan tindakan
penyidikan. Akan tetapi persoalan pelanggaran hukum di negeri ini sangat
banyak. Dikumpulkan seluruh personil Kepolisian untuk melakukan
penyidikan berbagai kasus pelanggaran hukum, jumlah personil itu tidak akan
cukup. Apalagi untuk melakukan penyidikan diperlukan keahlian tertentu.
Khusus untuk bidang Hak Cipta, tak semua juga personil kepolisian
memahami seluk beluk undang-undangnya. Sementara di sisi lain kasus-kasus
yang lebih prioritas untuk ditangani sudah menunggu, sehingga jarang sekali
kami mendapat perintah dari atasan kami untuk melakukan penyidikan di
bidang pelanggaran hak cipta.
Berangkat dari wawancara di atas semakin jelaslah alasan
mengapa kasus pelanggaran hak cipta bidang karya sinematografi tak
pernah sampai ke Pengadilan. Teriakan para seniman tentang terjadinya
pelanggaran atas hak cipta mereka adalah sebuah keluhan jiwa yang
339
Pembiaran ini sangat berbahaya secara kultural. Sebagai contoh ketika
seekor kambing melahirkan, yang dapat dilihat adalah anak kambing yang lahir itu
dilumuri oleh lendir. Jika lendir itu dibiarkan lengket ditubuh anak kambing itu dan
induknya tidak segera mengambil inisiatif (boleh juga disebut instink) untuk
membersihkannya, anak kambing itu dikhawatirkan tidak bisa berdiri dan hampir dapat
dipastikan anak kambing itu akan mati. Manusiapun begitu juga. Jika seorang ibu hamil
dibiarkan bersalin sendiri tanpa bantuan bidan, perawat atau dokter dikhawatirkan akan
mengalami nasib yang sama dengan anak kambing. Bedanya induk kambing tak perlu
bantuan paramedis atau “dukun melahirkan” atau tabib. Dokter hewanpun tak pernah
dipanggil untuk persalinan seekor kambing. Apa yang ingin dijelaskan dari cerita itu
ialah, itulah bahayanya sebuah “pembiaran” bagi kelangsungan alam dan makhluk
hidup. Hewan dan manusia bisa punah, jika pembiaran terus berlangsung
340
Wawancara, tanggal 9 Oktober 2012, pukul 13.40 di Medan.
417
sia-sia. Pelanggaran terhadap hak cipta bidang karya sinematografi
belum mendapat prioritas untuk ditangani, sekalipun kerugian yang
diderita para seniman dan kerugian negara (akibat tidak masuknya
pajak ke kas negara) mencapai ratusan milyar rupiah. Hal ini berkaitan
dengan budaya penegakan hukum oleh aparat penegak hukum.
Dalam sebuah sistem sosial yang “sakit” hampir dapat
dipastikan seluruh komponen sub sistem terkontaminasi atau dalam
bahasa ilmu kedokteran penyakit yang diderita sudah komplikasi.
Ketika sub sistem legislatif terganggu, maka sub sistem eksekutif ikut
juga terganggu dan pada gilirannya berpengaruh pula pada sub sistem
lembaga dan aparat penegak hukum. Sulit untuk memisahkan rangkaian
komponen dalam sub sistem yang saling berkait itu.
Ketika penyidikan atas pelanggaran terhadap hak cipta tak
pernah memasuki ranah hukum, maka tuntutan yang dilakukan oleh
jaksa juga tak pernah ada, apalagi pemeriksaan pada tingkat
Pengadilan. Dalam sebuah wawancara dengan pihak kejaksaan 341
terungkap bahwa ;
Ada perbedaan kami dengan aparat kepolisian. Bahwa kami semuanya
berlatar belakang pendidikan hukum. Sehingga seluk beluk pelanggaran
hukum termasuk hak cipta sedikit banyak kami ketahui juga. Akan tetapi kami
buklan penyidik untuk kasus pelanggaran hak cipta, karena itu tidak termasuk
dalam tindak pidana khusus. Sehingga kami hanya bersifat pasif, menunggu
dari hasil penyidikan pihak Kepolisian.
Pihak kepolisian sulit juga untuk untuk dipersalahkan, karena
ternyata untuk tiap kali melakukan penyidikan diperlukan biaya ekstra.
Bahkan menurut pengakuan salah seorang penyidik 342dalam sebuah
wawancara terungkap bahwa ;
Untuk melakukan pemeriksaan kami harus mencari biaya sendiri. Abang pikir
ada dana dari kantor kan? Tak ada sama sekali bang. Untuk kertas saja kami
harus beli sendiri. Kadang-kadang penyidikan berlangsung hingga larut
malam, untuk uang makan malampun harus biaya sendiri. Kalau untuk
perkara yang ada uangnya, biasanya pihak yang diperiksa mau membiayai,
tapi kalau perkara yang tak ada uangnya, itu hanya menjadi beban saja kepada
kami. Jadi kadang-kadang ada perkara yang bisa diselesaikan secara damai,
kami mendapatkan uang terlepas dari legal atau tidak legal. Uang itulah yang
kami pergunakan. Tapi kalau kami harus memeriksa penjual CD dan DVD
bajakan atau menangkap para pembelinya, itu namanya kurang kerjaan bang.
Capek saja yang ada bang.
Semakin jelas bahwa penegakan hukum hak cipta bidang
karya sinematografi tak dapat disandarkan pada aspek pemidanaan,
341
Wawancara tanggal 6 Pebruari 2013, di Medan, pukul 16.15
Wawancara dengan PS, tanggal 9 Pebruari 2013 di Medan, pukul 17.15
342
418
sebab ujung tombak dari penyidikan yakni aparat kepolisian telah
membuka “dapur” nya bahwa tak ada biaya ekstra untuk tiap-tiap
penyidikan yang mereka lakukan. Sehingga mereka lebih memilih
menyelesaikan delik aduan untuk kasus-kasus yang bernilai ekonomi.
Sebab jika dapat diselesaikan dengan cara perdamaian mereka
mendapatkan imbalan. Jadi semakin jauh dari harapan bahwa
penegakan hukum hak cipta karya sinematografi akan sampai pada
keinginan pencipta atau pemegang hak cipta. Alasan itu jugalah yang
menyebabkan pelanggaran hukum terhadap hak cipta bidang karya
sinematografi seolah-olah tidak tersentuh hukum atau lebih tepatnya
terjadi semacam proses pembiaran. Apakah aparat kepolisian tidak
mengetahui hal ini. Dari seluruh responden sebanyak 22 orang yang
memberikan jawabannya melalui kuessioner 91,67 % mengetahui
bahwa perbuatan mendagangkan atau membeli hasil VCD dan DVD
bajakan adalah perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan
pidana, seperti terungkap dari tabel berikut ini.
Tabel 1
Tingkat Pengetahuan Aparat kepolisian Terhadap
Peristiwa Pidana Pembajakan Hak Cipta Karya Sinematografi.
No
1.
2.
Keterangan
Mengetahui
Tidak Mengetahui
Total
Sumber : Data Primer
Frekwensi
22
2
24
Persentase
91,67 %
8,33 %
100 %
Akan tetapi dari seluruh responden juga mengatakan, mereka
tak pernah melakukan penyidikan, sekalipun mereka mengetahui
peristiwa pidana pelanggaran hak cipta karya sinematografi itu adalah
delik biasa, bukan delik aduan, seperti tertera pada tabel berikut ini.
Tabel 2
Langkah Tindakan Yang Diambil Oleh Pihak Kepolisian
Atas Pembajakan Hak Cipta Karya Sinematografi.
No
1.
2.
Keterangan
Melakukan penyidikan
Tidak
melakukan
penyidikan
Total
Sumber : Data Primer
Frekwensi
24
0
Persentase
100 %
0%
24
100 %
419
Salah seorang jaksa 343 yang berhasil diwawancarai, justeru
berkomentar lain
lagi.
Persoalan pelanggaran hak cipta, bidang karya sinematografi selama saya
menjadi Kajari di 2 tempat tak pernah ada kasus yang sampai ke meja kami.
Memang persoalan hak cipta ini persoalan hukum yang menarik, sekalipun
masa saya kuliah dulu belum ada mata kuliah tentang hak cipta (maksudnya
HKI, pen). Persoalannya mungkin persoalan besar, tapi itu bukan kasus yang
menarik perhatian publik. Karena itu saya dapat memaklumi jika polisi tidak
mengangkat kasus itu, karena tak ada pihak yang menyoroti kinerja mereka
jika tak melakukan tindakan atas pelanggaran hak cipta itu. Berbeda jika
perkara itu menyangkut pembunuhan atau kejahatan terhadap kehormatan
yang bolak balik muncul di media atau adanya desakan LSM. Khusus untuk
kasus pelanggaran hak cipta, media dan LSM pun tak tertarik untuk
menyorotnya. Itu adalah salah satu faktor juga, mengapa persoalan ini tak
pernah sampai ke ranah Pengadilan.
Agaknya penjelasan T ini menjadi bahan kajian yang menarik,
penegakan hukum oleh aparat penegak hukum baru benar-benar
menjadi serius, jika banyak pihak yang “meribut”-kannya. Akan tetapi
siap juga yang akan meributkannya untuk kasus pelanggaran hak cipta
karya sinematografi ini ? Hampir semua anggota masyarakat, menjadi
konsumen DVD dan VCD hasil produk illegal. Mungkin barangkali
tidak hanya para wartawan atau anggota LSM para aparat penegak
hukumpun menjadi konsumen DVD dan VCD illegal itu.
Oleh karena itu begitu mudah untuk dipahami, mengapa aparat
kepolisian sebagai ujung tombak penegakan hukum hak cipta tak
mampu berbuat apapun atas tindakan pelanggaran hak cipta karya
sinematografi. Jika diumpamakan aparat kepolisian seekor singa yang
mengawasi gerak-gerik hewan-hewan yang melakukan kecurangan di
wilayah kerajaan hutan, ketika seekor srigala memangsa, singa hanya
duduk terdiam. Tak mampu berbuat apa-apa, karena sistem
pengendalian keamanan di hutan itu sedang mengalami gangguan.
Penelitian ini tidak menemukan perkara-perkara perdata dan
perkara-perkara pidana dalam bidang karya cipta sinematografi yang
sampai ke Pengadilan Negeri Medan dan di Pengadilan Niaga Jakarta
Pusat juga. Tidak ditemukannya data tentang adanya kasus-kasus
pelanggaran atau pembajakan karya sinematografi yang sampai ke
ranah pengadilan, justeru menimbuklkan banyak prasangka. Ketika
hukumnya ada (delik biasa), orang yang melakukan tindak pidana
nyata-nyata ada (penjual dan pembeli karya sinematografi bajakan),
aparat penegak hukum pun ada (aparat kepolisian), akan tetapi tidak
ada satupun perkara pidana yang dilimpahkan ke pengadilan. Begitu
343
Wawancara, dengan T tanggal 19 Desember 2012, pukul 15.40 di Medan.
420
juga pihak pencipta dan produser yang dirugikan atas peristiwa
pembajakan itu juga ada akan tetapi tidak pernah ada gugatan yang
disampaikan ke Pengadilan Niaga. Sebuah fenomena hukum yang
sangat menarik untuk dikaji secara akademis.
Aparat penegak hukum terutama pihak kepolisian bukannnya
tidak mengetahui pelanggaran hukum terhadap karya sinematografi itu
telah terjadi dan terus berlangsung speanjang hari. Akan tetapi mereka
“tak kuasa” untuk mencegahnya. Selain faktor anggaran juga faktor
“struktural dan kultural” penegakan hukum dalam bidang ini sangat
tidak mendukung. Proses pembiaran secara struktural atas pelanggaran
hukum telah terjadi dan di mata aparat penegak hukum pembajakan hak
cipta diposisikan sebagai perbuatan yang belum saatnya dikategorikan
sebagai tindak pidana. Kesimpulan ini didasarkan pada wawancara
dengan salah seorang aparat kepolisian :
Selaku aparat kepolisian bukan kami tidak tahu bahwa perbuatan pembajakan
hak cipta itu adalah suatu tindak pidana. Akan tetapi, kami juga memahami
para penjual VCD dan DVD bajakan itu adalah pedagang kaki lima yang
tergolong dalam kelompok ekonomi lemah. Para konsumen juga adalah ratarata mahasiswa dan anak-anak muda yang juga masuk dalam kategori orangorang yang sebenarnya tidak ingin memperkaya dirinya sendiri atau mendapat
keuntungan yang besar dari tindakannya itu. Kalangan konsumen lain di luar
mahasiswa dan anak-anak muda juga dari golongan masyarakat klas bawah,
kalau mereka ada uang justeru mereka akan berbelanja di plaza di konter yang
menjual VCD dan DVD original. Keuntungan penjual VCD dan DVD pun
rata-rata Rp. 500,- s/d Rp. 1.000,- per keping, sehingga penghasilan mereka
hanya cukup untuk makan sehari-hari. Terlalu berat juga bagi kami jika
tindakan mereka ini harus dikategorikan sebagai sebuah kejahatan. Apalagi
untuk menyidik perkara ini memerlukan waktu dan keahlian yang tidak semua
aparat kami dapat melakukannya, ini belum lagi jika dihubungkan denagn
anggaran biaya untuk melakukan penyidikan. Jika dibandingkan dengan
prestasi yang akan diperoleh dari aktivitas penyidikan ini penanganan
terhadap perkara ini tidak juga dianggap sebagai sebuah prestasi besar.
Berbeda dengan penanganan terhadap perkara pidana yang lain seperti : tindak
pidana narkoba atau kejahatan-kejahatan lain yang membahayakan keamanan
dalam masyarakat. 344
Wawancara di atas, mengantarkan tulisan ini pada sebuah
pertanyaan : Apakah sebuah kejahatan diukur dari faktor subyektifitas
pelakunya ? Jika pelakunya adalah kalangan ekonomi lemah hukum
menjadi tumpul ketika dihadapkan kepadanya. Sebuah tesis yang
terbalik dari anggapan selama ini hukum akan tumpul ke atas akan
tetapi menjadi tajam ke bawah atau dalam pepatah Melayu ”Jika jaring
bocor, yang tertangkap adalah ikan besar dan ikan-ikan kecil akan
344
Wawancara dengan A pada tanggal 18 Juli 2012, pukul 11.00 Wib di
Polresta Medan.
421
lolos, sebaliknya jika hukum ”bocor” maka yang tertangkap adalah
orang-orang kecil dan orang-orang besar akan lolos”.
Persoalan yang pelik saat ini yang dihadapi oleh para
pemegang hak karya sinematografi adalah menghadapi pembajakan
yang menggunakan teknologi cakram optik dan didukung oleh
kemajuan teknologi informasi yang dapat mendownload karya
sinematografi melalui jaringan internet. Itulah sebabnya kemudian
Undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 memasukkan satu
norma tentang perlindungan hukum terhadap perbanyakan karya
sinematografi melalui teknologi yang memanfaatkan kecanggihan
informasi dan teknologi cakram optik tersebut.
Hampir dapat dipastikan hari ini, pemanfaatan teknologi
tersebut telah dilakukan secara besar-besaran oleh produser rekaman
illegal di Indonesia. Jika ditelusuri di seluruh gerai-gerai pedagang kaki
lima, penjualan VCD dan DVD hasil karya sinematografi dapat
dipastikan 90% bersumber dari produser-produser illegal.
Dari 188 responden kalangan gerai pedagang kaki lima dan
pedagang outlet di plaza-plaza yang diteliti, 169 responden menjawab
menjual VCD dan DVD non original (istilah lain untuk menyebutkan
VCD dan DVD hasil bajakan), sedangkan 19 responden lainnya
menjawab menjual VCD dan DVD original seperti tertera pada tabel di
bawah ini.
Tabel 3
Legalitas Barang-barang yang Dijual
No
1.
2.
Keterangan
Original/legal
Non Original/illegal
Total
Sumber : Data Primer
Frekwensi
19
169
188
Persentase
10,10 %
89,90 %
100 %
Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa hanya 10,10 % saja para
pedagang yang menjual VCD dan DVD karya sinematografi yang
original. Selebihnya sebanyak 89,90 % dari para pedagang menjual
VCD non original.
Data tersebut di atas mengungkapkan betapa kecaunya dan
lemahnya penegakan hukum hak cipta Nasional untuk karya
sinematografi. Mulai dari substansi hukumnya, struktur sampai pada
kultur hukumnya tidak mendukung untuk terwujudnya upaya
menumbuhkan kreativitas pencipta, khususnya di lapangan karya
422
sinematografi. Sekalipun delik yang diancamkan merupkana delik
pidana biasa, tak ada tindakan hukum langsung yang dilakukan oleh
aparat kepolisian.
Dalam serangkaian wawancara dengan salah seorang
pedagang345 terungkap bahwa;
Pernah diadakan semacam razia, tapi bukan fokus pada VCD dan DVD
bajakan, tapi yang berhubungan dengan pornografi. Apakah kami ada menjual
VCD dan DVD dalam istilahnya Blue Film. Kami tak pernah dipersoalkan
tentang VCD dan DVD bajakan, walaupun kami mengetahui perbuatan itu
salah. Tapi sepertinya aparat yang melakukan razia spertinya “mengerti’
keadaan itu. Sehingga kamipun harus memberikan “sesuatu” juga. Pada saat
razia kami memang tidak menampilkan barang dagangan kami secara
keseluruhan, hanya sebahagian saja. Kami khawatir juga bila ada penyitaan.
Selepas itu kami kami kembali kembali menggelar barang dagangan kami.
Signal yang digambarkan oleh pedagang ini, memang
sampailah pada uraian akhir tuluisan ini. Faktor prilaku budaya
hukumlah yang sangat berpengaruh pada penegakan hukum di samping
dua faktor yang lainnya, substansi dan struktur. Ketika aparat
kepokisian melakukan razia, pedagang-pedagang terlihat tertib dan
patuh, tapi selepas itu mereka kembali melakukan aksi bisnisnya.
Seperti kata pepatah, Anjing menggonggong kafilah pun berlalu. Tak
ada kesan yang tinggal untuk memeprbaiki kesalahan atau sekedar
mengingat bahwa dalam aktivitas mereka ada hak-hak orang lain yang
dilanggar. Kelihatannya mengambil hak orang lain untuk memperoleh
keuntungan sendiri sebenarnya dilarang oleh agama apapun dan secara
moral dianggap sebuah pelanggaran moral serta secara etika perbuatan
itu sangat tidak etis sekalipun si pemiliknya tidak mengetahuinya.
Pesan Al-Qur’an mengingatkan, Allah berfirman, janganlah kamu
mengira ketika kamu berbuat kesalahan yang tidak diketahui orang lain
kamu mengira hanya kamu sendiri yang tahu, sesungguhnya kamu
berdua, yang satu lagi adalah Aku. Pada ayat lain Allah mengatakan:
sesungguhnya Aku mengetahui apa yang nyata dan apa yang
tersembunyi di hati manusia. Inilah asas “pengawasan melekat” yang
seharusnya ditanamkan di setiap hati sanubari manusia, hati sanubari
anak bangsa yang meletakkan dasar Ketuhanan pada sila pertama
Pancasila sebagai Asas Pembangunan Nasional termasuk azas Politik
Pembangunan Hukum Nasional.
345
Pukul 11.20.
Wawancara dengan SM di Medan, tanggal 10 November 2012, di Medan,
423
4.
Budaya Hukum Masyarakat
Ada apa dengan prilaku hukum (budaya hukum) masyarakat
?Masyarakat produsen dan masyarakat konsumen sama-sama
melakukan tindakan pelanggaran atas karya sinematografi. Apakah
sudah sedemikian burukkah prilaku hukum masyarakat yang
berlangsung selama ini, sehingga tak satupun lagi anggota masyarakat
dapat memberikan apresiasi atau penghargaan atas karya cipta orang
lain?
Sebuah fenomena yang menarik yang sedang berlangsung di
tengah-tengah masyarakat Indonesia dalam hal bertransaksi adalah, jika
ada yang lebih murah buat apa beli yang lebih mahal, persis seperti
iklan racun serangga. Sekalipun harga yang murah itu, dibelakangnya
terdapat hak orang lain. Memang di berbagai kasus pelanggaran HKI,
jika suatu produk dapat meniadakan pembayaran royalty dari
pemegang hak, produk itu dapat dijual dengan harga yang lebih murah
jika dibandingkan dengan produk yang sama, tapi dikenakan
pembayaran royalti. Buku-buku hasil bajakan-pun banyak dijual
dengan harga murah jika dibandingkan dengan buku yang original yang
dicetak oleh penerbit yang resmi mendapatkan izin untuk
memperbanyak atau penggandaan dari pencipta. Begitu juga untuk
kasus DVD dan VCD hasil bajakan, akan dijual lebih murah, sehingga
para konsumen cenderung untuk membeli hasil bajakan atau produk
illegal. Semua responden yang diteliti, menjawab lebih suka membeli
barang hasil bajakan seperti tertera pada tabel di bawah ini.
Tabel 4
Kecenderungan Konsumen membeli VCD dan DVD Hasil Bajakan.
No
1.
2.
Keterangan
VCD/DVD original
VCD/DVD
non
original
Total
Sumber : Data Primer
Frekwensi
0
188
Persentase
0%
100 %
188
100 %
Tabel di atas memperlihatkan dari total 188 responden,
semuanya atau 100% memilih lebih suka berbelanja atau membeli
VCD dab DVD non original (barang illegal). Alasannya adalah karena
VCD dan DVD itu hanya ditonton untuk masa putar satu kali saja.
424
Kualitasnya juga ternyata tidak jauh berbeda dengan yang original,
sementara harga yang original jauh lebih mahal.
Ketika ditanyakan apakah mereka pernah membeli VCD dan
DVD yang original? Sebanyak 48 responden atau 26,67% menyatakan
pernah membeli barang yang original, sedangkan selebihnya sebanyak
140 responden atau sekitar 73,33% menyatakan tidak pernah membeli
barang yang original, seperti tertera pada tabel berikut ini.
Tabel 5
Pilihan Konsumen Untuk Membeli Barang Legal dan Illegal
No
1.
2.
Keterangan
VCD/DVD original
VCD/DVD
original
Total
Sumber : Data Primer
non
Frekwensi
48
140
188
Persentase
25,53
%
74,47
%
100 %
Alasan mereka membeli barang yang original adalah karena,
film ceritanya masih baru belum ada bajakannya (maksudnya film
cerita serupa belum ada yang diproduksi dalam bentuk illegal,pen).
Sementara itu mereka yang tak pernah membeli barang yang original
mengatakan, harganya terlalu mahal, sampai 20 kali lipat. Artinya 1
keping VCD atau DVD original harganya sama dengan 20 keping yang
non original.
Tingkat pengetahuan masyarakat konsumen terhadap aspek
hukum perlindungan karya sinematografi, ternyata hanya sebahagian
saja yang mengetahui. Bahwa hasil bajakan itu adalah tindakan illegal
dan dapat diancam hukuman pidana. Dari 188 responden, ternyata 68
responden atau sekitar 36,17 % mengatakan mengetahui bahwa
penjualan barang-barang berupa VCD dan DVD bajakan itu adalah
perbuatan illegal, melanggar hukum dan dapat diancam dengan
hukuman pidana, akan tetapi 112 responden atau sekitar 63,83 %
mengatakan tidak mengetahui sama sekali, seperti tertera pada tabel di
bawah ini :
425
Tabel 6
Tingkat Pengetahuan Konsumen
Terhadap Aspek Hukum Pembajakan Karya Sinematografi
No
1.
Keterangan
Mengetahui
Frekwensi
68
2.
Tidak mengetahui
120
Total
Sumber : Data Primer
188
Persentase
36,17
%
63,83
%
100 %
Ketika ditanyakan, (khusus bagi mereka yang mengetahui
bahwa perbuatan itu adalah perbuatan illegal) apakah mereka tidak
takut dengan ancaman hukuman ? Ternyata dari 68 responden yang
menyatakan mengetahui bahwa perbuatan itu adalah illegal diluar
dugaan mereka memberi jawaban; tak pernah ada tindakan hukum
untuk perbuatan membeli barang VCD dan DVD bajakan. Seluruh
responden yang mengetahui tentang itu yakni 68 responden atau 100 %
menyatakan tak pernah ada tindakan hukum dari aparat penegak
hukum, seperti tertera pada tabel berikut ini.
Tabel 7
Tindakan Hukum Yang Dilakukan Oleh Aparat
Terhadap Konsumen Yang membeli Produk VCD dan DVD Illegal
No
1.
Keterangan
Melakukan tindakan
hukum
2.
Tidak
melakukan
tindakan hukum
Total
Sumber : Data Primer
Frekwensi
0
Persentase
0%
68
100 %
68
100 %
Tak ada tindakan hukum dari aparat penegak hukum yang
dilakukan untuk konsumen yang membeli barang berupa VCD atau
DVD bajakan. Jangankan untuk kalangan konsumen untuk kalangan
pedagang atau penjualpun tindakan yang sama juga tidak pernah ada
dilakukan selama 1 tahun terakhir. Padahal lebih dari 80 % barang
426
yang dijual adalah barang illegal hasil perbuatan melanggar hukum,
sebagaimana diberitakan oleh banyak media massa.
Dalam wawancara dengan seorang hakim di Pengadilan
Negeri Medan 346 diperoleh tanggapan tentang pelanggaran VCD dan
DVD illegal marak dimana-mana, beliau mengatakan :
Ini salah satu bentuk lemahnya penegakan hukum kita, kita selalu saja lambat
mengantisipasi terjadi pelanggaran hukum, nanti kalau sudah heboh dan
banyak desakan, baru semua kelabakan. Semestinya pelanggaran hak cipta ini
bisa diantisipasi, bisa dimulai dengan razia di tingkat pengecer, kemudian
dilakukan pengembangan terhadap pelaku-pelaku yang terlibat dalam
pelanggaran terhadap karya cipta ini. Kita punya Undang-undang No. 19
Tahun 2002 tentang hak cipta, mestinya ini bisa diimplementasi oleh orangorang yang terlibat didalam undang-undang ini, kedepannya kalaulah ini tak
bisa diselesaikan maka dikhawatirkan karya-karya anak-anak bangsa ini
semakin menurun.
Selanjutnya dalam wawancara dengan seorang hakim di
Pengadilan Negeri
Medan 347 juga diperoleh keterangan bahwa :
Faktor dominan kenapa kaset bajakan ini masih banyak beredar karena faktor
masih lemahnya penegakan hukum kita dalam memberantas peredaran kaset
VCD dan DVD bajakan. Selain itu juga faktor ekonomi yang masih mahalnya
harga VCD dan DVD original juga merupakan faktor yang dominan terhadap
munculnya pembajakan kaset disamping juga faktor sosial budaya dan
pendidikan, sehingga upaya penanggulangan pembajakan kaset belum
dilaksanakan secara maksimal karena masih banyak ditemukan adanya
produk-produk kaset bajakan yang dijual di masyarakat. Penegakan hukum
kita dalam upaya memberantas kaset bajakan masih bersifat parsial, belum
komprehensif.
Hakim348 tersebut menjelaskan pula bahwa :
Penegakan hukum bukan satu-satunya upaya yang ampuh dalam memberikan
perlindungan hak cipta ini, karena penegakan hukum hanya bagian dari
sebuah proses perlindungan. Penegakan hukum hanya merupakan sub-sistem
yang bersifat represif dari sebuah sistem perlindungan. Sub sistem lain yang
sama pentingnya adalah sub sistem pre-emtif dengan meningkatkan kesadaran
dan pengetahuan masyarakat termasuk aparat pemerintah dan penegak hukum,
ketersediaan dan kemampuan daya beli masyarakat. Di samping itu juga
upaya preventif menjadi bagian dari upaya pencegahan dalam rangka
mempersempit peluang terjadinya proses pelanggaran, seperti tidak
memberikan ijin kepada took atau kaki lima yang telah melanggar atau
mencabut ijin pabrik yang pernah melanggar.
346
Wawancara dengan salah seorang hakim di PN Medan, Surya Pardamaian,
SH, tgl 5 September 2013, pukul 10.00 di Medan.
347
Wawancara dengan salah seorang hakim di PN Medan, Indra Cahya, SH,
MH, tgl 5 September 2013, pukul 11.00 di Medan.
348
Ibid.
427
Masih wawancara dengan salah seorang hakim di Pengadilan
Negeri Medan 349 dinyatakan bahwa :
Permasalahan pembajakan terhadap karya cipta baik itu dalam bentuk VCD
maupun DVD harus ditangani secara serius dan komprehensip, kalaulah ini
dibiarkan bisa menjadi bom waktu. Kita sebenarnya sudah ada undang-undang
hak cipta yang pada intinya melindungi hasil karya pengiat seniman kita dan
ini sebenarnya bisa menjadi paying hukum untuk melindungi karya cipta
ketika terjadi pelanggaran dari undang-undang tersebut. Memang dalam
implementasi dilapangan tidaklah semua harus mesti sampai ke ranah
pengadilan, harus ada upaya persuasif sebelum masuk ke ranah hukum,
misalnya diperlukan sosialisasi, razia VCD bajakan dan lain-lain.
Pelanggaran terhadap hak cipta seperti VCD dan DVD
bajakan itu dalam undang-undang No. 19 Tahun 2002 dikategorikan
sebagai delik biasa. Dalam wawancara dengan salah seorang hakim di
Pengadilan Negeri Medan 350 diperoleh tanggapan bahwa :
Ini bukan masalah perbuatan delik biasa atau tidak, jika memang amanah
undang-undang mengatur bahwa jika ada pelanggaran terhadap hak cipta,
maka pelakunya harus diproses. Pihak polisi harus lebih proaktif, jangan mesti
menunggu bola, harus ke lapangan melakukan sosialisasi dan merazia bagi
pedagang-pedagang sebagai upaya pembelajaran bagi mereka. Kalaulah ini
sudah dilakukan dan tidak berdampak, maka pihak polisi harus melakukan
upaya hukum. Tetapi juga sangat semuanya diserahkan kepada polisi, pihakpihak terkait harus mensuport atas kerja-kerja polisi dan menangani perkara
ini.
Semua elemen harus ikut terlibat dalam mencegah pelanggaran-pelanggaran
hak cipta, tidak semuanya permasalahan ini ditumpukkan hanya kepada aparat
penegak hukum saja terutama polisi. Penggiat-penggiat seni juga harus
memberikan kontribusi, jangan asal bicara saja, perlu juga ada upaya
tindakan-tindakan untuk mencegah terjadi pelanggaran ini. Masyarakat harus
diberi pemahaman yang lebih dalam tentang undang-undang No. 19 Tahun
2002.
Para pedagang baik di gerai-gerai kaki lima atau gerai di
plaza-plaza sebagaian besar
menjual VCD dan DVD karya
sinematografi illegal. Anggapan yang selama ini muncul dalam
pemberitaan pada berbagai media yang dirilis dari penjelasan berbagai
asosiasi produser rekaman dan kalangan dunia perfilman ternyata
benar. Dapat dipastikan VCD dan DVD yang beredar di kalangan
pedagang adalah lebih dari 80% hasil bajakan atau hasil pelanggaran
hak cipta. Data di atas, selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Suyud Margono yang mengatakan, “bahwa lebih dari 80% hasil
349
Wawancara dengan salah seorang hakim di PN Medan, Baslin Sinaga, SH,
tgl 5 September 2013, pukul 12.00 di Medan.
350
Ibid.
428
karya sinematografi yang beredar di pasar lokal Indonesia adalah
merupakan hasil bajakan atau hasil pelanggaran hak cipta”. 351
Ancaman hukuman atas pembajakan hak cipta pada setiap kali
perubahan undang-undang hak cipta dari waktu ke waktu mengalami
kenaikan, layaknya seperti inflasi dalam dunia usaha. Kenaikan
ancaman hukuman itu karena banyaknya rekomendasi dari berbagai
pihak yang mengatakan pembajakan hak cipta itu berlangsung karena
ancaman hukuman pidananya terlalu rendah. Anggapan seperti itu
justeru muncul dari kalangan negara-negara industri maju yang
dimotori oleh Amerika yang diikuti oleh negara-negara Eropa dengan
menyampaikan pandangan yang sama. Karena alasan itulah kemudian
ancaman hukuman pidana terhadap pelanggaran hak cipta terusmenerus mengalami perubahan dan semakin diperberat,dari waktu ke
waktu dalam empat kali kurun waktu perubahan undang-undang hak
cipta nasional, akan tetapi itu tidak juga membuat jera pelaku
pembajakan di Indonesia namun justru sebaliknya praktek pembajakan
terus berlangsung.
Tak ada juga pihak-pihak yang merasa takut atau dalam
bahasa hukum pidana merasa tercegah (preventif) dengan tingginya
ancaman hukuman itu. Pihak produsen karya sinematografi illegal
terus-menerus memproduksi karya cipta itu dalam bentuk kepingan
VCD dan DVD bahkan sekarang dikenal ada produksi dalam bentuk
blue ray. Hasil observasi yang dilakukan di gerai penjualan VCD dan
DVD di Jalan Dr. Mansyur, Jalan Setia Budi dan Jalan Titi Papan
membuktikan bahwa produser illegal setiap sore memasok hasil-hasil
produksinya ke gerai-gerai tersebut. 352 Para konsumen juga datang
berbelanja silih berganti, dan paling sedikit berbelanja 3-10 keping.
Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa takut bahwa tindakan mereka
adalah merupakan perbuatan pidana yang dapat diancam dengan
hukuman pidana. Pihak pemilik karya sinematografi pun tak
mempunyai kuasa yang cukup untuk menghentikan aktivitas
pembajakan tersebut, tidak juga pihak Amerika atau negara-negara
maju yang secara terus menerus bersikeras untuk penegakan hukum
hak cipta di Indonesia. Justru karya sinematografi yang terbanyak
dibajak itu adalah karya sinematografi milik asing. Berdasarkan
351
Maraknya pembajakan hak cipta di Indonesia ternyata berimplikasi
panjang. Setelah keluar dari Priority Watch List oleh Amerika Serikat atas pelanggaran
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) tahun 2000, sejak April 2001, Indonesia masuk kembali
daftar hitam pelanggaran hak cipta ini. Disamping pembajakan karya musik lagu, film
dalam bentuk CD dan VCD, program komputer juga salah satu yang paling terbesar
dibajak. Lebih lanjut lihat Suyud Margono, Op.Cit, hal. 146.
352
Pada setiap sore sekitar pukul 16.00 Wib, pada bulan Juni 2012 kami
menyaksikan VCD dan DVC bajakan itu dipasok melalui kurir mengendarai kendaraan
bermotor dan dingkus dalam plastic yang diperkirakan tidak kurang dari 100 keping
dengan berbagai judul film.
429
kuisioner yang diedarkan tercatat bahwa pada 188 gerai yang menjual
karya sinematografi hasil bajakan, tercatat film Amerika dijual di 112
gerai, film Korea dijual di 75 gerai, film India dijual di 67 gerai
sebagaimana tertera pada grafik di bawah ini.
Grafik : 2
Karya Sinematografi Bajakan Yang Diperdagangkan
di Gerai Tradisional di Kota Medan
112
75
67
62
49
45
40
17
15
16 20
7
1
1.
2.
3.
4.
5.
6.
2
3
Amerika
Amerika Latin
Eropa
Hongkong/Cina
India
Korea
Sumber : Data Primer
4
5
6
7
8
9
10
7. Jepang
8. Pilipina
9. Prancis
10. Malaysia
11. Indonesia
12. Mandarin
11
12
430
Pembajakan karya sinematografi menurut Tim Nasional
Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual dilakukan oleh
orang-orang tertentu yang berasal dari industri rumahan dan ini sangat
berbahaya sekaligus merupakan ancaman industri kreatif perfilman
nasional. 353 Saat ini semakin sulit untuk dicegah aktivitas industri
pembajakan karya sinematografi karena kemajuan teknologi
pemindaian yang dapat diakses dari jaringan internet dan didukung oleh
teknologi rekaman yang menggunakan serat optik. 354
Kalangan konsumen juga tidak pernah merasa bersalah atau
ada pihak-pihak yang mempersalahkannya jika menikmati hasil karya
sinematografi dengan cara membeli dengan harga murah. Tidak pernah
terlintas dalam pikiran para konsumen bahwa di atas kenikmatan yang
ia peroleh terdapat hak-hak orang lain yang ia langgar. Pihak aparat
kepolisian pun sekalipun telah mengetahui delik pelanggaran hak cipta
itu adalah delik biasa akan tetapi tidak pernah melakukan tindakan
penyidikan dalam arti menerapkan pasal-pasal Kitab Undang-undang
Hukum Acara Pidana sebagai perbuatan pidana tertangkap tangan.
Perlakuan ini berbeda ketika seseorang diketahui mengedarkan obatobat terlarang, tindakan cepat langsung dilakukan oleh aparat penyidik.
Tidak menarik memang jika kasus pelanggaran hak cipta segera
ditangani melalui upaya penegakan hukum pidana. Aparat penyidik
353
Penjelasan Wihadi Wianto, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Rekaman
Video Indonesia (Asirevi), dalam Kompas, Pembajakan Film Nasional Ditengarai
Industri Rumahan, Jumat, 23 Oktober 2009. Menurut Ketua Lembaga Koordinasi
Gerakan Anti Pembajakan, Togar Sianipar, pada Februari 2013 di Jakarta terdapat 2,1
juta keping cakram film dan musik hasil bajakan dengan kerugian triliunan rupiah di
pihak pencipta, Lebih lanjut lihat indosiar.com, Negara Dirugikan Triliunan Rupiah
Pembajakan Hak Intelektual, Februari 2013.
354
Cakram optik ini adalah sarana yang diciptakan untuk dapat menyimpan
dan/atau memperbanyak ciptaan atau karya cipta dalam bentuk cakram plastik atau
piringan terhadap gambar, suara dan teks. Cakram tersebut merupakan format sinar laser.
Penemuan yang ini berkaitan dengan cakram video rekaman yang memiliki kemampuan
memperbanyak atau menggandakan rekaman secara massal dengan menggunakan sebuah
cakram master. Cakram yang terbuat dari plastik transparan tersebut mampu menyimpan
informasi gambar dalam bentuk sinyal-sinyal video yang direkam pada salah satu atau
kedua sisi cakram. Informasi gambar yang telah direkam dimaksudkan untuk ditampilkan
ulang, misalnya melalui pesawat televisi dengan menggunakan alat pemutar cakram dan
dengan ”menembakkan” pancaran sinar elektron melalui cakram tersebut. Pancaran sinar
ini disesuaikan dengan rekaman video yang telah tersimpan dalam cakram dan head alat
pemutar mengubah sinyal-sinyal sinar tersebut menjadi sinyal-sinyal video atau sinyalsinyal gambar agar dapat ditayangkan ulang pada layar monitor. Lebih lanjut lihat Kenny
Wiston dan Toto S. Mondong, Optical Disc-Sarana Mempermudah Perbanyakan Karya
Cipta Tantangan Bagi Pelaksanaan Perlindungan Hak Cipta, Buletin HKI Volume 4 No.
1 Juli 2003, hal. 8.
431
sebagian besar enggan untuk melakukan penyidikan karena tindak
pidana semacam itu adalah tindak pidana yang tidak mengangkat
popularitas mereka sebagai aparat penyidik. Akibatnya secara terangterangan karya sinematografi bajakan itu beredar di pasaran. Karyakarya sinematografi yang paling banyak terjual masih didominasi oleh
film Amerika dan diikuti film Korea, film India dan Eropa.
Grafik : 3
Karya Sinematografi Bajakan Yang Paling Banyak Terjual
di Gerai Tradisional di Kota Medan
99
63
40
42
27
37
23
1
1.
2.
3.
4.
5.
6.
2
7
5
10
3
Amerika
Amerika Latin
Eropa
Hongkong/Cina
India
Korea
Sumber : Data Primer
4
5
6
7
8
9
7. Jepang
8. Pilipina
9. Prancis
10. Malaysia
11. Indonesia
12. Mandarin
11
10
6
11
12
432
Grafik di atas mengantarkan pada satu kesimpulan bahwa
produksi film Amerika-lah yang paling banyak dibajak di Indonesia,
karena itu wajar saja jika kemudian pihak Amerika mendesak agar
Indonesia serius dalam penegakan hukum hak cipta. Keseriusan itu
oleh lembaga pembuat Undang-undang disikapi secara keliru yakni
dengan menaikkan ancaman pidana dan menempatkan delik
pelanggaran hak cipta sebagai delik biasa. Sudah saatnya delik
pelanggaran hak cipta itu diubah kembali menjadi delik aduan, dengan
demikian pihak yang diruigikan dapat mengadukan perbuatan itu
kepada lembaga kepolisian untuk segera dilakukan penyidikan, lalu
kemudian pihak pengadu dapat mengontrol jalannya perkara. Dengan
katagori delik aduan di samping dapat mengatasi proses pembiaran
yang dilakukan oleh aparat penyidik selama ini, juga perkara ini dapat
diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat (pemenuhan nilai-nilai
asas sila ke- 4 Pancasila) antara pihak yang melakukan pelanggaran
dengan pihak yang dirugikan, karena perkara ini dapat diakhiri dengan
pencabutan pengaduan oleh pihak yang dirugikan atau pihak pengadu.
Film-film box office yang banyak diminati oleh konsumen
sekaligus yang banyak diproduksi secara illegal masih didominasi
oleh film-film Amerika. Bahkan film-film yang dijual di konter illegal
itu film-film terbaru dan lebih lengkap jika dibandingkan dengan
pedagang yang menjual di konter-konter yang legal. Untuk alasan
itulah kemudian salah seorang dari responden itu mengatakan dalam
sebuah wawancara. 355
Saya sudah lebih dari 5 tahun berbelanja VCD dan DVD ini, kebanyakan
yang saya beli barang-barang non original.Ada juga barang yang original,
akan tetapi kualitasnya tidak jauh berbeda, sehingga sekarang saya tak pernah
lagi membeli barang yang original. Saya mengetahui barang-barang
nonoriginal itu adalah hasil perbuatan illegal, sebab sayapun lulusan Fakultas
hukum.
Tapi mengapa saya justeru membeli barang yang illegal, alasan lebih dari
pada sekedar murah dan kualitas bagus. Konter-konter yang menjual VCD
dan DVD bajakan itu menjual film cerita yang lebih lengkap. Di konter-konter
yang menjual barang original, terutama-terutama di plaza-plaza ternyata
barang-barang yang dijual sangat terbatas, dan film “jadul” lagi (maksudnya,
film cerita yang sudah usang, ketinggalan zaman), sementara di konter-konter
yang menjual barang illegal, banyak ditawarkan film-film terbaru.
Saya sendiri sekarang punya langganan konter khusus di Jalan Dokter
Mansyur simpang Setia Budi. Kalau DVD yang saya beli “nyangkut” dalam
arti tampilan gambar tidak bagus atau “macet” dapat ditukar.
355
Wawancara dengan SS, tanggal 14 September, pukul 16.15, di Medan.
433
Wawancara di atas memperlihatkan betapa kompleksitasnya
sudah hubungan antara pedagang DVD bajakan dengan konsumen.
Bahkan ada semacam pelayanan “purna jual”. Tentu saja kenyataan
empirik semacam itu telah menjadi prilaku yang lazim dalam hubungan
hukum sehari-hari saat ini dan di kemudian hari kelak. Budaya (hukum)
permisif kelihatannya telah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan.
Oleh karena terjadi proses “pembiaran” secara struktural, maka simbolsimbol pelanggaran hukum itu berubah menjadi kebiasaan yang lazim
dan tidak lagi dianggap sebagai perbuatan yang melanggar hukum,
meskipun norma hukum yang mengancam perbuatan itu masih berlaku.
Di satu sisi undang-undang hak cipta nasional telah
mengkriminalisasikan masyarakat, namun di sisi lain struktur dan
kultur telah “membatalkan” norma hukum itu secara diam-diam. Akhir
dari sebuah perjalanan penegakan hukum dalam lapangan karya cipta
sinematografi adalah, berpangkal pada
pilihan politik hukum
pragmatis dengan cara transplantasi dan model kodifikasi parsial dan
berujung pada penegakan hukum yang terhenti.
E. Penegakan Hukum Hak Cipta Dalam Bidang Sinematografi
Kekacauan sistem hukum hak cipta nasional terlihat nyata
dalam urai-uraian terdahulu. Secara substansi norma hukum undangundang hak cipta Nasional sebahagian jauh dari nilai-nilai filosofis
Pancasila. Dalam tatanan struktur, ditandai dengan birokrasi lembaga
pembuat undang-undang dan birokrasi lembaga peradilan yang korup.
Dalam tataran budaya hukum, tidak adanya faktor-faktor budaya
hukum yang mendukung bagi terciptanya iklim penegakan hukum
dalam satu tatanan (sistem) yang kompak. Kesemua ini akan membawa
dampak bagi pertumbuhan industeri perfilman nasional sebagai wujud
dari karya cipta sinematografi. 356
Karya cipta sinematografi adalah pencerminan sebuah
peradaban. Dalam melahirkan karya sinematogri tidak hanya
melibatkan sutradara, aktor dan juru kamera, akan tetapi diawali dari
ide atau gagasan sebuah cerita yang dituangkan dalam bentuk
visualisasi yakni dalam bentuk gambar dua dimensi yang bergerak.
Sebuah ide atau gagasan adalah sebuah hasil karya dalam bidang
kesusasteraan, bisa dalam bentuk kisah nyata, atau sebuah sejarah yang
didokumentasikan. Tak jarang pula karya sinematografi itu berupa
356
Istilah karya sinematografi, ditemukan dalam berbagai-bagai frase seperti,
karya film atau bioskop. Kata film lebih dimaknai pada jenis atau bahan yang digunakan
untuk menangkap gambar, sedang frase “bioskop” berasal dari kata “bio” yang berarti
hidup, “scope” yang berarti gambar.
434
sebuah film cerita semi dokumenter. Dalam karya sinematografi ide
atau gagasan cerita penghianatan, mafia hukum, peperangan, drama
rumah tangga, sejarah dan lain-lain yang menggambarkan peradaban
umat manusia. Gambaran karya sinematografi yang dihasilkan sebagai
sebuah karya akan tampak tercermin dari peradaban bangsa itu. Pada
masa di mana hak azasi manusia tidak dilindungi dengan baik, produk
karya sinematografi tidak akan memunculkan issu atau tema cerita
tentang itu. Banyak karya sastra dan karya sinematografi yang dicekal
oleh pemerintah hanya karena karya itu tidak sejalan dengan keinginan
penguasa. Banyak juga karya sinematografi yang diproduksi
bertentangan dengan fakta sejarah, hingga akhirnya ketika penggantian
rezim kekuasaan karya itu tidak dimunculkan lagi. 357 Dalam penjelasan
Pasal 12 huruf (k) Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak
Cipta menyebutkan bahwa sinematografi merupakan media komunikasi
massa gambar gerak (moving images) antara lain meliputi : film
dokumenter, film iklan, reportase atau film cerita yang dibuat dalam
pita seluloid, piringan video, pita video, cakram optik dan/atau media
lain yang memungkinkan untuk dipertunjukkan di bioskop, di layar
lebar atau ditayangkan di televisi atau di media lainnya.
Karya sinematografi sendiri berasal dari Bahasa Inggris
”cinematography” yang asal katanya bersumber dari Bahasa Latin
yaitu ”cinema” yang artinya gambar. Dalam pengertian umum
sinematografi adalah segala hal mengenai sinema (perfilman) baik dari
estetika, bentuk, fungsi, makna, produksi, proses, maupun
penontonnya. Dunia sinematografi dalam hal ini menyangkut
pemahaman estetik melalui paduan seni akting, fotografi, teknologi
optik, komunikasi visual, industri perfilman, ide, cita-cita dan imajinasi
yang sangat kompleks. Pemahaman estetika dalam seni (secara luas),
bentuk pelaksanaannya merupakan apresiasi. Apresiasi seni merupakan
proses sadar yang dilakukan penghayatan dalam menghadapi karya seni
(termasuk film). Sinema (perfilman) merupakan sebuah proses kreatif,
ada ekspresi/ide, ada simulasi peristiwa dan menimbulkan apresiasi.
Sedangkan obyek dalam film terdapat aspek material yang harus
dipahami seperti medium celluloid, serat optik dalam compact disk
(audio), video compact disc (audio dan visual) dan lain-lain. Aspek
formal berbentuk gambar, gambaran ruang dan waktu secara virtual
357
Film G30S PKI misalnya tidak lagi ditampailkan di media elektronik pada
setiap tanggal 30 September, karena dianggap film itu penuh dengan kebohongan dan
hanya untuk menampilkan kepahlawanan Soeharto.
435
dan film dibuat berdasarkan penyusunan skenario yang didasarkan atas
ide kehidupan manusia secara virtual. 358
Di dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1992 tentang
Perfilman disebutkan bahwa yang dimaksud dengan film adalah karya
cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa
pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan
direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video dan/atau bahan
hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis dan
ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik atau proses lainnya,
dengan atau tapa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau
ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan/atau
lainnya. 359
Karya sinematografi sering diidentikkan dengan kata ”film”,
terkait sejarahnya di mana pertama sekali media penyimpanan dari
karya sinematografi tersebut adalah memakai pita film (pita seluloid)
yaitu sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya. Alat
inilah yang dipakai sebagai media penyimpan di awal pertumbuhan
industri sinematografi tersebut. Media penyimpanan (perekaman) itu
sendiri kemudian berkembang mengikuti perkembangan teknologi
seperti antara lain memakai cakram optik dalam compact disk (audio),
video compact disc (audio dan visual). 360
Terkait dengan penelitian ini maka yang menjadi obyek
pembahasan adalah karya sinematografi dengan medium penyimpanan
cakram optik padat video yang dikenal dengan Video Compact Disc
(DVD dan VCD) atau dalam penelitian ini disebut karya sinematografi
dalam bentuk DVD dan VCD. Rekaman video yang dikenal di
Indonesia pada awalnya adalah video kaset yang beredar di tahun 1980an hingga awal tahun 1990-an. Keberadaan video kaset ini kemudian
menghilang seiring dengan munculnya teknologi Laser Disc di awal
tahun 1990-an. Pada perkembangan selanjutnya, keberadaan laser disc
ini juga tidak bertahan lama, ketika pada tahun 1995 mulai masuk
format baru, yaitu DVD dan VCD yang sebenarnya secara kualitas jauh
di bawah laser disc. Namun demikian dengan harga yang relatif lebih
murah, keberadaan DVD dan VCD ini secara perlahan hingga
kemudian pada tahun 1997 berhasil menggeser format Laser Disc dari
peredaran rekaman video di Indonesia.
Karya sinematografi tidak bisa dimaknai hanya sebagai sebuah
karya untuk semata-mata dijadikan sebagai kepentingan hiburan. Akan
tetapi karya sinematografi sarat dengan pesan-pesan sejarah dan pesanpesan budaya. Ada kalanya karya sinematografi mungkin tidak
358
Pengertian ini sebagaimana dijelaskan dalam http://duniasinematografi.blogspot.com, diakses tanggal 12 Februari 2013.
359
Sebagaimana rumusan di dalam Pasal 1 angka (1) Undang-undang No. 8
Tahun 1992 tentang Perfilman.
360
Ibid.
436
memiliki makna pada hari ini, akan tetapi karya itu menjadi sangat
berharga untuk masa-masa yang akan datang. Bagaimana kita
mengenal budaya Betawi pada masa lalu, film Si Doel Anak Sekolahan
dapat memberikan jawaban atas pertanyaan di atas. Begitulah ketika
suatu masa untuk dapat memahami situasi menjelang kemerdekaan,
film-film dokumenter dapat memberikan gambaran tentang keadaan
itu. Kemajuan peradaban suatu bangsa pun dan pilihan-pilihan budaya
yang dilakukan oleh masyarakatnya juga dapat direkam dengan baik
dari cerita-cerita karya sinematografi yang dilahirkan pada zamannya.
Ketika masyarakat Indonesia tumbuh dalam peradaban hedonisme,
karya-karya sinematografi yang muncul menampilkan cermin
peradaban masyarakat hedonis itu. Sehingga dari jalan cerita film itu
sangat mudah untuk dikenali, pada priode atau zaman apa karya
sinematografi itu diproduksi. Semakin maju peradaban bangsa itu
semakin tampak dengan jelas kemajuan itu terekam dalam karya
sinematografi. 361
Karya sinematografi pertama kali diproduksi pada tahun 1926,
sebuah film bisu yang tertinggal secara teknologi, sebab di belahan
dunia yang lain telah diproduksi film-film yang bersuara terutama di
Eropa, Amerika dan Cina pada periode yang sama. 362 Film lokal
pertama yang berjudul ”Loetoeng Kasarung” itu dimainkan oleh artisartis pribumi. Produksi film perdana itu adalah awal dari tonggak
sejarah munculnya industri perfilman nasional, karena itu
bermunculanlah produser-produser film lokal di wilayah nusantara.
Produksi film Indonesia mengalami masa jaya pada tahun
1941 yang menghasilkan 41 judul film, serta melahirkan pemainpemain terkenal seperti Roekiah, Rd Mochtar dan Fifi Young. 363 Akan
tetapi surut kembali pada masa-masa awal penjajahan Jepang yang
disusul dengan penurunan secara drastis produksi film lokal secara
kuantitatif. Hal tersebut terjadi karena film-film yang boleh diputar
hanyalah film dokumenter yang menampilkan kegagahan Jepang dan
sekutunya. Intervensi politik dalam kebudayaan pun terasa kental
361
Dahulu ketika teknologi sinematografi ditemukan di Amerika dan Prancis
pada akhir abad 19, Indonesia masih merupakan koloni Belanda. dan belum mengenal
karya sinematografi. Baru pada tahun 1900, ada karya sinematografi yang
dipertontonkan di wilayah Hindia Belanda berupa film impor dan film dokumentasi dari
Eropa. Tahun 1905 baru muncul film cerita diimpor dari Amerika dan Cina, itupun masih
dalam wujud film bisu sampai dengan tahun 1923. Lebih lanjut lihat Misbach Yusa
Biran, Perkenalan Selintas Mengenai Perkembangan Film di Indonesia Asia University,
Tokyo, 1990, hal. 1. Industri karya sinematografi terus berkembang berkat penemuan
teknologi itu dan film pertama kali dipertontonkan untuk khalayak umum, berlangsung di
Paris, Perancis pada tanggal 28 Desember 1895 yang sekaligus menandai lahirnya film
(bioskop) di dunia. Lebih lanjut lihat Viktor C. Mambor, “satu abad” “Gambar Idoep” di
Indonesia, diakses dari http://kunci.or.id/victorI.htm, pada tanggal 5 Februari 2013.
362
Victor C. Mambor, Loc.Cit.
363
Misbach Yusa Biran, Opcit, hal. 11.
437
ketika Jepang melarang diedarkannya film yang diproduksi oleh negara
pemenang perang seperti Amerika dan sekutu-sekutunya. 364
Pertumbuhan film Indonesia sejak tahun-tahun pertama industri
perfilman lokal dimulai yakni pada tahun 1926 hingga tahun 1932
dapat dilihat pada matrik di bawah ini.
Matrik 40
Film Produksi Tahun 1926-1932
Tahun
1926
Judul Film
Loetoeng Kasaroeng
Sutradara
L. Heuveldorp
1927
1928
Eulis Atjih
Lily van Java
Resia Boroboedoer
Berloemoer Darah
Njai Dasima (I)
Rampok Preanger
Si Tjomat
Njai Siti / Des Stem das
Bloed
Karnadi Anemer Bangkok
Lari Ka Arab
Melati van Agam I, II
Njai Dasima II, III
Si Ronda
Atma
De
Vischer
(bersuara)
Bung
Roos
van
Tjikembang
Indonesia Melaise
Sam Pek Eng Tay
Si Pitoeng
Sinjo Tjo Main di Film
Karina’s Zelfopoffering
Njai Dasima (bicara)
Raonah
Terpaksa Menika (bicaramusik)
Zuster Therisia
L. Heuveldorp
Nelson Wong
Nelson Wong
Tidak tercatat
Lie Tek Swie
Nelson Wong
Nelson Wong
Ph. Carli
Dukungan Dana
Pemerintah
Kota
Bandung
Pinjaman obligasi
Taipan Surabaya
Batavia Motion Picture
Tan Boe Soan
Tan’s Film
Halimoen Film
Batavia Motion Picture
Cosmos Film Corps
G. Krugers
Wong Bersaudara
Lie Tek Swie
Lie Tek Swie
Lie Tek Swie
G. Krugers
Krugers Film Bedrijf
Halimoen Film
Tan’s Film
Tan’s Film
Tan’s Film
Krugers Film Bedrijf
The Teng Chun
Cino Motion Pictures
Wong Bersaudara
The Teng Chun
Wong Bersaudara
M.H. Schiling
Ph. Carli
Bachtiar Effendy
G. Krugers
G. Krugers
Halimoen Film
Cino Motion Film
Halimoen Film
Halimoen Film
Cinowerk Carli
Tan’s Film
Krugers Film-Bedrijf
Krugers Film-Bedrijf
M.H. Schilling
Halimoen Film
1929
1930
1931
1932
Sumber : HM Johan Tjasmadi, 100 Tahun Bioskop di Indonesia (1900-2000), Megindo,
Jakarta, 2008.
364
Victor C. Mambor, Loc.Cit.
438
Pada periode berikutnya yakni periode 1933 – 1936 industri perfilman
lokal juga memperlihatkan angka yang cukup menggembirakan seperti
yang terlihat pada matrik di bawah ini.
Matrik 41
Film Produksi 1933-1936
Tahun
1933
1934
1935
1936
Judul Film
Delapan Djago Pedang
Delapan
Wanita
Tjantik
Doea Siloeman Oeler
Ang Hai Djie
Pareh
Tie Pat Kai Kawin
Poei Sie Giok Pa Loei
Tay
Anak Siloeman Oeler
Poeti
Lima Siloeman Tikoes
Pembakaran Bio
Sutradara
The Teng Chun
The Teng Chun
Pendukung
Cino Motion Pictures
Cino Motion Pictures
The Teng Chun
The Teng Chun
Albert Balink
The Teng Chun
Tidak tercatat
Cino Motion Pictures
Java Industrial Film
Java Pacific Film
Java Industrial Film
Yo Kim Tjan
The Teng Chun
Jaya Industrial Film
The Teng Chun
The Teng Chun
Jaya Industrial Film
Jaya Industrial Film
Sumber : HM Johan Tjasmadi, 100 Tahun Bioskop di Indonesia (1900-2000), Megindo,
Jakarta, 2008.
Mulai tahun 1937 hingga masuknya penjajahan Jepang,
industri perfilman lokal semakin tumbuh dengan baik. Dalam kurun
waktu 5 tahun yakni selama periode 1937-1942 produksi film lokal
memperlihatkan pertumbuhan yang cukup menggembiran seperti
tergambar pada matrik berikut ini.
Matrik 42
Film Produksi Tahun 1937-1942
Tahun
1937
1938
1940
Judul Film
Gadis yang Terdjoeal
Terang Boelan
Fatima
Oh lhoe
Tjiandjoer
Alang-alang
Gagak hitam
Impian di Bali
Resia si Pengkor
Siti Akbari
Bajar Dengan Djiwa
Dasima
Sutradara
The Teng Chun
Albert Balink
Joshua Wong
The Teng Chun
The Teng Chun
The Teng Chun
Joshua Wong
Tidak tercatat
The Teng Chun
Joshua Wong
R. Hu
The Teng Tjun
Pendukung
Java Industrial Film
ANF
Tan’s Film
Java Industrial Film
Java Industrial Film
Java Industrial Film
Tan’s Film
Djawa Film
Java Industrial Film
Tan’s Film
Djawa Film
Java Industrial Film
439
Harta Berdarah
Kartinah
Kedok Tertawa
Kris Mataram
1940
Matjan Berbisik
Melati van Agam
Pah Wongso Pendekar
Boediman
Rentjong Atjech
Roekihati
Sorga Ka Toejoe
Sorga Palsoe
Zoebaedah
1941
Air Mata Iboe
1941
Ayah Berdosa
Aladin Dengan Lampoe
Wasiat
Asmara Moerni
Boedjoekan Iblis
Djantoeng Hati
Elang Darat
Garoeda Mas
Ikan Doejoeng
Koeda Sembrani
Lintah Darat
Matula
Mega Mendoeng
Moestika Dari Djenar
Noesa Panida
Pah Wongso Tersangka
Panggilan Darah
Pantjawarna
Poestaka Terpendam
Poetri Rimba
Ratna Moetoe Manikam
(Djoela Djoeli Bintang
3)
Selendang Delima
Si Gomar
Singa Laoet
Siti Noerbaja
Soeara Berbisa
Srigala Item
R. Hu
Andjar Asmara
Jo An Djan
Njoo
Cheong
Seng
Tan Tjoei Hock
Tan Tjoei Hock
Tidak tercatat
Union Film Co
New Industrial Film
Union Film Co
Oriental Film Coy
The Teng Chun
Joshua Wong
Joshua Wong
The Teng Tjoen
Njoe
Cheong
Seng
Njoe
Cheong
Seng
Wu Tzun
Wong Bersaudara
Java Industrial Film
Tan’s Film
Tan’s Film
Java Industrial Film
Oriental Film Coy
Rd. Arifien
Jo An Dijien
Njoo
Cheong
Seng
Inoe Perbatasari
Jo An Djan
Lie Tek Swie
Wong Bersaudara
Wu Tzu
Tan Tjoei Hock
Boen Kim Nam
Jo An Djan
Anjar Asmara
Union Film Coy
Populer Film Coy
Majestic Film Coy
Wu Tzun
Suska
Njoo
Cheong
Seng
Tidak tercatat
Inoe Perbatasari
Suska
Henry L. Duarte
Tan Tjoei Hock
Tan Tjoei Hock
Lie Tek Swie
Wu Tzun
Tan Tjoei Hock
Java Industrial Film
Java Industrial Film
Star Film
Majestic Film Coy
Star Film
Tan’s Film
Jacatra Picture
Populer Film Coy
Standard Film
Tan’s Film
Star Film
Action Film
Union Film Coy
Populer Film
New Java Industrial
Film
Star Film
Oriental Film
Oriental Film
Tan’s Film
Jacatra Film Coy
New Java Industrial
Film
Standard Film
Action Film
Action Film
Standard Film
Star Film
Action Film
440
Tengkorak Hidoep
Tjioengwanara
Wanita Satria
Boenga Sembodja
Poelo Inten
1001 Malam
1942
Tan Tjoei Hock
Yo Eng Sek
Rd. Arifien
Moh. Said HJ
Tidak tercatat
Wu Tzun
Action Film
Star Film
Union Film
Populer Film Coy
Populer Film Coy
Star Film
Sumber : HM Johan Tjasmadi, 100 Tahun Bioskop di Indonesia (1900-2000), Megindo,
Jakarta, 2008.
Sejak masuknya penjajahan Jepang pada tahun 1942 – 1944
produksi film lokal mulai memperlihatkan penurunannya secara
kuantitatif seperti tergambar pada matrik di bawah ini.
Matrik 43
Film Produksi Tahun 1942-1944
Tahun
1943
Judul Film
Berjoang
Di desa
Di menara
1944
Djatoeh berkait
Gelombang
Hoedjan
Keris Poesaka
Keseberang
Sutradara
Raden Arifin
Rustam
St
Panindih
Rustam
St
Panindih
B. Koesoema
Tidak tercatat
Inoe Perbatasari
Tidak tercatat
Raden Arifin
Pendukung
Nippon Eiga Sha
Nippon Eiga Sha
Nippon Eiga Sha
Nippon Eiga Sha
Nippon Eiga Sha
Nippon Eiga Sha
Nippon Eiga Sha
Nippon Eiga Sha
Sumber : HM Johan Tjasmadi, 100 Tahun Bioskop di Indonesia (1900-2000), Megindo,
Jakarta, 2008.
Pasca Kemerdekaan industri perfilman nasional mulai
berbenah kembali dan tumbuh sangat lamban. Usaha pembangunan
perfilman tersebut misalnya dengan kembali mengimpor film-film
asing, pendirian perusahaan Film Nasional Indonesia (Parfini) dan
Perseroan Artis Republik Indonesia, lahirnya Festival Film Indonesia
dan sebagainya, tetapi usaha-usaha itu belum cukup menggairahkan
produksi film lokal. 365
Baru pada tahun 1970, industri film menunjukkan gairahnya
kembali. Dalam kurun waktu 1970-1980 terjadi tingkat produksi
tertinggi 366 yakni pada tahun 1977, alasannya tak lain karena peraturan
pemerintah yang mengharuskan para importer film untuk memproduksi
365
366
Ibid.
Ibid.
441
film lokal. 367 Selanjutnya di era tahun 80-an produksi film nasional
semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penonton dan
bioskop baik di kota-kota besar, daerah-daerah pinggiran kota.
Bioskop-bioskop tersebut telah mengakibatkan tersegmentasinya kelas
tontonan dan penontonnya. 368 Namun demikian, keadaan ini selama
beberapa tahun justru menjadikan perhatian bioskop-bioskop besar
kepada film-film Hollywood yang lebih menjanjikan profit, sedangkan
film lokal dengan tema semakin monoton, mulai tergeser peredarannya
di bioskop-bioskop kecil dan pinggiran, itupun masih harus bersaing
dengan film-film India yang sejak awal menjadi konsumsi pasar kelas
menengah ke bawah, apalagi di akhir era 80-an minat kondisi film
nasional semakin parah dengan hadirnya stasion televisi swasta yang
menyajikan film-film impor, sinema elektronik dan telenovela. 369
Pada dekade 90-an kondisi film Indonesia belum juga bangkit
dari keterpurukannya. 370 Dalam masa ini harus diakui terdapat
beberapa film yang dianggap berkualitas dan sukses bersaing dengan
film-film impor seperti ”cinta dalam sepotong roti”, ”daun di atas
bantal” yang disutradarai oleh Garin Nugroho, namun demikian
kesuksesan tersebut tidak diikuti dengan lahirnya kreativitas film
berkualitas dari sineas lainnya sehingga industeri perfilman nasional
mengalami kemunduran. Keadaan tersebut diperberat lagi dengan
kekalahan film-film nasional dalam menghadapi persaingan dengan
film-film asing yang ditayangkan melalui televisi swasta dan televisi
kabel 371 Puncaknya semakin diperburuk oleh suatu keadaan, ketika
masyarakat yang mulai mengenal teknologi digital lebih senang
menikmati film-film impor melalui teknologi laser disc, VCD, namun
terdapat terdapat juga sisi baik dari hadirnya teknologi digital bagi
dunia perfilman Indonesia, yakni terbangunnya komunitas film-film
independen. 372
Mulai akhir dekade 90-an hingga saat ini, produser-produser
film nasional sudah mulai memperlihatkan kegairahannya untuk
kembali membangun industri perfilman nasional. Tidak sedikit karya
film dalam beberapa tahun terakhir bahkan mendapat minat di hati para
konsumen lokal. Namun demikian, hal tersebut oleh banyak kalangan
masih disangsikan sebagai kebangkitan perfilman nasional, mengingat
367
Ibid.
Ibid.
369
Ibid.
370
Misbach Yusa Bira, Op.Cit, hal. 60.
371
Victor C. Mambor, Loc.Cit.
372
Ibid.
368
442
dalam catatan sejarah film Indonesia dari waktu ke waktu terus timbul
dan tenggelam.
Sektor industri hiburan konvensional (mekanik sinematografi)
mulai digantikan peranannya oleh industri hiburan modern (elektronik
videografi). Disusul oleh krisis moneter yang mulai terasa pada tahun
1996 berlanjut menjadi krisis moneter dan ekonomi pada tahun 1998
merupakan pukulan terakhir yang membuat perekonomian Indonesia
porak-poranda yang dampaknya secara langsung terasa benar oleh
dunia perfilman di Indonesia, dimana produksi film tersebut merosot.
Namun pada 10 tahun terakhir, produksi film tersebut telah
menunjukkan peningkatan sebagaimana terlihat pada matrik di bawah.
Matrik 44
Data Statistik Produksi Film Indonesia
2002 – 2012
No
Tahun
Jumlah Produksi Film
1.
2002
9
2.
2003
4
3.
2005-2006
23
4.
2005
5.
2006
6.
2007
53
7.
2008
75
8.
2009
9.
2010
100
10.
2011
102
11.
2012
90
Sumber : diolah dari berbagai sumber, OK. Saidin, 2013.
Matrik di atas menunjukkan bahawa dalam kurun 10 tahun
terakhir industri perfilman nasional tumbuh secara fluktuatif dalam arti
tidak konstan. Jika pada tahun 2002, industri film nasional hanya
mampu memproduksi 9 judul film, tapi kemudian pada tahun 2003,
turun menjadi 4 judul film, artinya terjadi penurunan lebih dari 55%.
Akan tetapi dalam priode 2 tahun berikutnya (priode 2004-2005),
industri film nasional mampu memproduksi 23 judul film atau
mengalami pertumbuhan rata-rata 105 %, pada tahun 2004, jika ditarik
angka rata-rata 12 judul film untuk tiap tahunnya selama kurun waktu
priode 2004-2005.
Pada tahun-tahun berikutnya, setelah tahun 2005 angka
produksi industri perfilman nasional mulai bergerak menunjukkan
peningkatan, jika pada priode 3 tahun terakhir yakni tahun 2003
sampai 2005 jumlah produksi industri film nasional tumbuh secara
443
fluktuatif, maka pada tahun-tahuan berikutnya sudah menunjukan
angka pertumbuhan yang konstan, yakni 53 judul film diproduksi
selama tahun 2007 dan mengalami pertumbuhan sebanyak rata-rata 50
% sepanjang tahun 2008 yakni sebanyak 75 judul film. Akan tetapi data
produksi film nasional pada tahun 2009 sangat mengejutkan .
Pertumbuhan industeri film nasional mengalami stagnasi yakni tidak
ada karya sinematografi dalam bentuk film bioskop yang diproduksi
pada tahun itu. Keadaan ini tidak berlangsung lama, sebab pada tahuntahun berikutnya yakni sepanjang tahun 2010 sampai 2012 produksi
film nasional kembali bergerak dan tumbuh secara konstan yakni 100
judul film diproduksi tahun tahun 2009 dan 102 judul film diproduksi
sepanjang tahun 2011, meskipun selama priode tahun 2012 kembali
mengalami penurunan yakni hanya memproduksi sebanyak 90 judul
film saja.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa, industri perfilman
nasional, tidak mampu menjadi industri unggulan sebagai industri
kreatif jika dibandingkan dengan Amerika dan India. Amerika
(holywood) mampu memproduksi film rata-rata 600 -800 judul setiap
tahunnya, atau rata-rata 2 judul film untuk tiap hari, sedangkan India
rata-rata memproduksi di atas 1000 judul film pertahun atau lebih
kurang 3 judul film rata-rata dapat diselesaikan dalam tiap-tiap hari di
sepanjang tahun. Sehingga industri perfilman menjadi industri kreatif
yang diunggulkan di kedua negara itu. Seperti yang telah diuraikan
pada pembahasan sebelumnya, di pasar lokal Indonesia, film-film
Amerika dan India mendominasi pasar kemudian menyusul film Korea.
Beberapa faktor penghambat pertumbuhan industri perfilman
nasional, sebenarnya tidak terlepas dari iklim penegakan hukum dalam
bidang karya sinematografi, di samping semakin menyeruaknya
industri film yang ditayangkan di media elektronik (film sinetron),
sehingga hal ini menggusur industri film layar lebar (film bioskop). Di
tambah lagi kemajuan pada teknologi siaran yang menyebabkan filmfilm yang selama ini diputar di bioskop sudah dapat masuk ke rumahrumah melalui jaringan TV kabel. Dampaknya kemudian banyak
studio-studio atau panggung-panggung bioskop yang dahulu dikenal
sebagai PHR (panggung hiburan rakyat) di pedesaan atau studio film di
kota-kota besar yang ditutup. PHR nyaris tak terdengar lagi dalam kosa
kata perfilman nasional. Jika di kota-kota besar, karya sinematografi
masuk ker rumah-rumah penduduk melalui TV kabel, maka di rumahrumah penduduk di pedesaan, karya sinematografi masuk ke rumah
melalui VCD dan DVD. Kondisi yang demikian didukung dengan
444
iklim penegakan hukum yang sangat tidak memihak pada kepentingan
pemegang hak cipta.
Kepingan VCD dan DVD illegal yang dijual dengan harga
rata-rata Rp. 3.000,- perkeping pada akhirnya membunuh kreativitas
pencipta yang pada gilirannya berpengaruh pada produksi film
nasional. Rata-rata biaya produksi untuk satu unit film layar lebar,
mencapai Rp. 1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus juta rupiah) dan
kadang-kadang investasi sebesar itu tidak dapat dikembalikan dalam
waktu yang singkat. Film terakhir yang diproduksi yang termasuk
dalam kategori Box Office adalah film Habibie & Ainun yang
diproduksi dengan biaya sebesar Rp. 13.000.000.000,- (tiga belas
milyar rupiah) dan penghasilan selama 1 bulan lebih masa
penayangannya, di bioskop-bioskop di Indonesia jumlah penonton film
Habibie & Ainun mencapai 4.200.000 penonton atau sebanyak Rp.
29.400.000.000. Akan tetapi penghasilan ini tidak dapat berlanjut
seperti investasi di sektor perkebunan atau investasi pada sektor
industri manufactor lainnya misalnya, yang dapat memberi keuntungan
di sepanjang tahun, sebab segera film tersebut di putar di bioskop
beberapa hari kemudian kepingan VCD dan DVD illegal beredar di
pasaran. Itulah faktor kendala terbesar dalam mendongkrak
pertumbuhan industri perfilman nasional.
Akibatnya, para produser setingkat Ram Punjabi misalnya,
harus memilih investasi di sektor film sinetron yang dibuat dalam cerita
bersambung, dan ini praktis mengurangi animo para pembajak, sebab
film itu dirancang dibuat secara bersambung dibuat dalam ratusan
bahkan ribuan episode berjilid-jilid. Sebut saja Sinetron dengan judul
Cinta Fitri yang sudah menghiasi layar kaca hampir 3 tahun, demikian
juga sinetron dengan judul “Tukang Bubur Naik Haji” sudah memasuki
tahun ke 2 dalam kancah hiburan layar kaca.
Pilihan untuk film-film bioskop menjadi tidak menarik lagi
secara bisnis. Hitungan-hitungan keuntungannya sulit diprediksi dan
jika pembajakan terus berlangsung, bisa jadi para produser akan
mengalami kerugian besar. Akibatnya dunia perfilman nasional tak
mengenal lagi sosok aktor seperti Slamet Rahardjo, Christina Hakim,
Sofan Sofian, Widya Wati, Benyamin S, Rano Karno, Dedi Mizwar
yang pada zamannya meraih “Citra” yakni penghargaan tertinggi di
dunia perfilman nasional. Sosok sutradara seperti Wim Umboh, Chairul
Umam dan Teguh Karya-pun sudah sulit untuk ditemukan pada masamasa sekarang ini.
Bahkan tidak jarang kemudian para aktor yang berjaya pada
zamannya, justru beralih profesi sebagai politisi, sebut saja, Rano
445
Karno, Dede Yusuf, Sopan Sofyan dan Nurul Arifin, terakhir Dedy
Mizwar. Belum lagi sejumlah artis film komedi seperti Miing, Komar
dan Eko Patrio, semua mereka terjun ramai-ramai ke dunia politik,
mumpung iklim politik Indonesia masih memerlukan tokoh-tokoh
populer yang dikenal masyarakat sebagai dampak arus demokrasi
liberal yang kerannya baru terbuka pada priode pemerintahan setelah
kejatuhan priode kepemimpinan Orde Baru di bawah Rezim Soeharto.
Di sisi lain para artis senior hidup dalam suasana
memprihatinkan, sebut saja penyakit yang mendera artis antara lain
Aminah Cendrakasih yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk
mengabdi kepada dunia perfilman nasional akan tetapi pilihannya itu
bukanlah pilihan yang menjanjikan. Keadaan ini jauh berbeda dengan
artis-artis Hollywood dan Bollywood, mereka tidak hanya terjamin hari
tuanya, tapi lebih dari sekedar itu para artis itu menempati peringkat
orang-orang yang berpenghasilan tinggi di negaranya. Sebut saja 10
aktor Hollywood terkaya di dunia (berdasarkan peringkat) yaitu :
Leonardo DiCaprio ($77 million), Johnny Depp ( $50 million), Adam
Sandler ($40 million), Will Smith ($36 million), Tom Hanks ($35
million), Ben Stiller ($34 million), Robert Downey, Jr. ($31 million),
Mark Wahlberg ($28 million), Tim Allen ($22 million) dan Tom
Cruise ($22 million). Artis-artis Bollywood dengan bayaran termahal
(berdasarkan peringkat), adalah Aamir Khan (75,6 miliar rupiah per
film), Shah Rukh Khan (37,8 – 47,3 miliar rupiah per film), Salman
Khan (43,5 – 51 miliar rupiah per film), Akhsay Kumar (34-41 miliar
rupiah per film) dan Rithik Roshan (28,3 – 37,8 miliar rupiah per film).
Untuk peringkat artis Indonesia, saat ini yang terkaya adalah
Anjasmara dengan total kekayaan sebesar Rp. 20.000.000.000,- (dua
puluh milyar rupiah) dan itu tidak melampaui dari honor satu judul film
yang dibintangi oleh Rithik Roshan. Urutan harta kekayaan 10 artis
Indonesia (berdasarkan peringkat) adalah sebagai berikut : Anjasmara
(20 milyar), Tukul Arwana (15 milyar), Bunga Citra Lestari( 12,7
milyar), Titi Kamal (10 milyar), Luna Maya (6 milyar), Tora Sudiro
(3,66 milyar), Dian Sastro Wardoyo (3,24 milyar), Nicholas Saputra
(2,5 milyar), Evan Sanders (2,25 milyar) dan Julia Estelle (1,65
milyar). 373
Dalam skala internasional selain India menempati peringkat
pertama dalam industri perfilman, ternyata Amerika menempati
peringkat kedua sebagaimana tertera pada grafik di bawah ini.
373
2013.
http://www.google.com/artis_terkaya_2013, diakses tanggal 2 Agustus
446
Grafik : 4
Produksi Film Dunia
Tahun 2012
1288
694
475
448
253
102
84
1
2
126
46
3
Catatan :
1.
Republik Indonesia
2.
Brazil
3.
Australia
4.
Amerika Serikat
5.
China
6.
Jepang
7.
Rusia
8.
Inggris
9.
India
Sumber : PBB, Unesco, 2012
4
5
6
7
8
9
447
Indonesia hanya menempati peringkat ke-7 dari 9 negara
dalam produksi industri perfilman di dunia. Sinematografi menjadi
industri andalan di Amerika. Sebagai industri kreatif, industri perfilman
di Amerika menempati peringkat ke dua setelah industri persenjataan
pada saat ini. Dengan peringkat yang demikian, maka industri
perfilman di Amerika menjadi sebuah industri tempat bergantung
sebahagian rakyat Amerika karena industri perfilman Amerika tidak
hanya dalam bentuk movie box office akan tetapi juga dalam bentuk
home video, basic cable dan pay cable dan industri ini mengalami
pertumbuhan yang cukup baik walaupun pada 30 tahun sebelumnya
industri perfilman Amerika menempati urutan keempat sebagai
penyumbang pendapatan domestic bruto Amerika seperti terlihat pada
tabel di bawah ini.
Tabel 8
Peringkat Industri Film Amerika Dalam Memberikan
Sumbangan Pendapatan Domestik Dibandingkan dengan Industri Yang
Lain
Sektor industri
Industri kedirgantaraan
Industri kimia
Elektronik
dan
komputer
Industri film
Sumber :
Pendapatan domestik bruto
(US)
134.000.000.000
300.000.000.000
287.000.000.000
480.000.000
Janet Wasko, Hollywood in the Information Age,
University of Texas Press, UK, 1995, hal. 2
Akan tetapi, setelah 30 tahun justru industri perfilman
Amerika mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Data yang
dikemukakan oleh Janet Wasko, yang mengacu pada survei Standard &
Poor Industry pada kurun waktu 1986-1991 sumbangan industri
perfilman Amerika ke dalam pendapatan domestik negaranya
mengalami pertumbuhan 7,9% seperti dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.
448
Tabel 9
Domestic filmed entertainment revenues, 1986 and 1991
Revenues
1986
1991
Annual
growth
rate (%)
Consumer spending
Moving box office
Home video
Basic cable
Pay cable
Consumer total
3,778
5,015
5,225
3,325
17,343
4,803
10,995
11,080
4,715
31,593
4.9
17.0
16.2
7.2
12.7
Advertising
Broadcast TV networks
TV stations
Barter
Subtotal
National cable
Local cable
Subtotal
Advertising total
8,342
13,085
600
22,027
676
179
855
22,882
9,435
14,675
1,275
25,385
1,530
455
1,985
27,370
2.5
2.3
16.3
2.9
17.7
20.5
18.3
3.6
40,225
58,963
7.9
Total spending
Source : Veronis, Suhler & Associates, Motion Picture Association of
Amerika, McCann-Erickson, Wilkofsky Gruen Asociates.
From : Standard & Poor’s Industry Surveys, 11 March
1993, p. L17
Dengan demikian, jika dalam kurun waktu 1980-an sampai
saat ini Amerika secara gencar memerangi pembajakan karya cipta
sinematografi asal negaranya, dapat lah dimaklumi, karena sektor
industri perfilman Amerika telah menjadi penyumbang dalam
pendapatan domestik negaranya. Tidaklah berlebihan jika kemudian
Amerika juga menerapkan sanksi-sanksi ekonomi terhadap negara-
449
negara ”pembangkang” yang tidak patuh dengan penegakan hukum hak
cipta khususnya hak kekayaan intelektual pada umumnya. 374
Penghargaan-penghargaan yang sifatnya permanen tak pernah
diberikan kepada mereka yang menghabiskan waktunya sebagai
pekerja seni dalam dunia sinematografi. Itu sangat berbeda jika kita
rujuk negara tetangga Malaysia misalnya, aktor setingkat P. Ramlie
diberi gelar tertinggi sebagai seniman kerajaan dengan gelar Tan Sri.
Bahkan saat ini rumah kediaman beliau dijadikan sebagai museum seni
yang merupakan bahagian dari museum kerajaan.
Agaknya Indonesia harus bersabar menunggu iklim
pemerintahan (birokrasi) dan iklim penegakan hukum yang memberi
penghargaan dan perlindungan yang lebih baik pada hasil-hasil karya
sinematografi. Jika pada masa pemerintahan Orde Lama, industri
perfilman tidak tumbuh lebih dikarenakan suasana politik dan ekonomi
bangsa yang belum menempatkan media hiburan sebagai kebutuhan,
maka pada masa pemerintahan Orde Baru industri perfilman Indonesia
tidak tumbuh dipengaruhi oleh faktor politik. Pada masa itu kreativitas
tidak tumbuh dengan baik, karena iklim politik yang menjadikan
produksi film nasional yang berkualitas sulit dihasilkan, karena adanya
Badan Sensor Film yang mengebiri kreativitas, jika jalan cerita film itu
menampilkan kritik terhadap rezim pemerintah yang berkuasa pada
waktu itu. Film yang diangkat dari peradaban budaya bangsa antara lain
yang bertemakan kebebasan berkumpul dan mengeluarkan pendapat
tidak mendapat tempat dalam industeri film nasional sehingga pada
tahun-tahun itu industri film nasional lebih banyak banyak
memproduksi film cerita yang menampilkan eksploitasi dan eksplorasi
seksual. Artis-artis yang berani beradegan “panas” sebut saja Yatty
Octavia, Nurul Arifin, Yurike dan Inneke Kusherawaty adalah namanama artis yang diberi julukan Bom Sex. Hampir semua film-film yang
mereka bintangi merupakan film-film cerita yang berkualitas rendah
dan jauh dari pesan-pesan moral, etika apalagi diharapkan mampu
memberikan sumbangan bagi kemajuan peradaban bangsa. Meskipun
pada waktu itu lahir juga film-film yang berkualitas yang dibintangi
oleh Cristine Hakim seperti Tjut Nya’ Dien dan Yenny Rahman dengan
judul film Gadis Meraton”, namun intensitas produksinya tidak
374
Seperti pada paruh awal tahun 1980-an, penolakan eksport garmen
Indonesia karena banyaknya pelanggaran terhadap karya cipta warga negara Indonesia
yang dibajak di Indonesia yang berujung pada perubahan Undang-undang Hak Cipta
Indonesia tahun 1982 ke Undang-undang hak Cipta No.7 Tahun 1987. Lihat lebih lanjut
OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights), PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007.
450
sebanding dengan film-film yang bertemakan eksplorasi seksual dan
sensual.
Saat ini iklim keterbukaan menjanjikan tumbuhnya kreativitas,
akan tetapi kendala berikutnya, adalah film-film cerita yang berkualitas
selalu menghabiskan biaya produksi yang besar, di sisi lain
perlindungan hukum terlalu lemah untuk melindungi hak-hak mereka.
Alhasil industri perfilman nasional bak kata pepatah “seperti kerakap
tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau”.
F. Gagasan Ideal Pilihan Politik Hukum ke Depan
Tulisan ini harus diakhiri dengan sebuah gagasan hukum
Indonesia masa depan. Sebuah hukum yang konsisten dalam
melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mewujudkan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta
menciptakan perdamaian dunia yang abadi. Bukan hukum yang melulu
melindungi kepentingan asing, hukum yang
hanya mampu
menyejahterakan segelintir orang dan menciptakan semakin banyak
rakyat miskin atau hukum yang menimbulkan kesenjangan sosial,
hukum yang mewujudkan semakin hari semakin banyak rakyat
terjerumus dalam kepicikan, kebodohan, kehilangan kecerdasan
intellektual dan kehilangan kecerdasan nurani serta hukum yang
membuka eksploitasi sebesar-besarnya terhadap kekayaan alam yang
kemudian dinikmati oleh negara industeri maju yang berujung pada
kesenjangan ekonomi di berbagai belahan dunia yang memicu
peperangan.
Pilihan politik hukum transplantasi sebenarnya bukanlah
pilihan politik hukum yang salah. Hampir sebagian besar hukum
perdata (code civil) negara-negara penganut eropa continental hukum
yang terbentuk di negaranya hari ini adalah hasil transplantasi hukum
yang berasal dari Code Civil Prancis atau Napoleon Code. Code Civil
sendiri berasal dari hukum Romawi dan hukum Romawi itu bersumber
dari Corpus Juris Civil dari Kaisar Justian pada masa dinasti Byzantium
(Kekaisaran Romawi).
Dalam tulisannya berjudul The Evolution of Western Private
Law (2001), Watson mengatakan bahwa hukum perdata Eropa
berevolusi dari Corpus Juris Sipilis yang berpangkal pada konstitusi
atau Codex Justinian yang diprakarsai oleh Kaisar Justinian pada
tanggal 13 Februari 528. Watson 375 menulis :
451
Justinian became coemporer of the Byzantine Empire with his
uncle Justin in 527. Later that year, when his uncle died, he became sole
emporer. Probably even while Justin had been sole ruler, Justinian was
contemplating a legal codification of same kind. He issued a constitution
dated 13 February 528, establishing a commission to prepare a new
collection, a Codex, of imperial constitutions.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Justian untuk
membentuk sebuah komisi untuk menyelesaikan codex yang kemudian
diterbitkan pada tanggal 7 April 528. Codex yang disusun terakhir ini
belum begitu sempurna sehingga harus ditata kembali dalam bentuk
kampulan teks dan berhasil dirumuskan pada tanggal 15 Desember 530.
Kumpulan teks hukum itu dijadikan bahan pelajaran untuk mahasiswa
tahun-tahun pertama di Institut Gayus, yakni sebuah istitut yang
mengajarkan hukum atau ilmu perundang-undangan. Pada institute itu
juga sedang didalami codex yang bersumber dari hukum Kristiani pada
tahun 160. Akhinya tersusunlah codex dalam 50 buku pada tanggal 30
Desember 533, seperti yang diungkapkan oleh Watson. 376
The Code, which was published on 7 April 528, has not survived,
but it was replaced by a second revised code, which came into effect on 29
December 534. The revised code, which has survived and is one of the four
constituent elements of what came to be called the Corpus Juris Civilis, is
divided into twelve books, subdivided into titles in which the constitutions
appear chronologically. The constitutions range in date from Hadrian in the
early second century to Justinian himself. A considerable proportion of the
texts – 2, 019 as against 2,664 - come from the time after the empire became
Christian ; in fact, the bulk of the Christian rescripts is much greater.
On 15 December 530, Justinian ordered the compilation of a
collection of juristic texts, the Digest, and the work came into force on 30
December 533. This massive work, twice the size of the Code, is in fifty books,
virtually all of which are subdivided into titles.
Dengan politik tambal sulam, akhirnya pada tanggal 7 April
528, codex itu dipublikasikan dan pada tanggal 29 Desember 534
tersusunlah sebuah kodifikasi hukum perdata yang disebut kodifikasi
justianus yang dikenal juga sebagai kodifikasi hukum Romawi yang
dikemudian hari disebut sebagai Corpus Juris Civilis. Sampai saat ini
codex itu masih ada dan tersimpan di Yunani dalam bahasa Yunani dan
bahasa Latin.
Corpus Juris Civilis ini kemudian menjadi model atau contoh
pembentukan hukum perdata di sebahagian besar Benua Eropa,
terutama setelah Perancis di bawah penaklukan Napoleon Bonaparte
375
Lihat lebih lanjut Alan Watson, The Evolution of Western Private Law, The
Johns Hopkins University Press, Baltimore and London, 2001, hal 2.
376
Ibid.
452
menebar benih-benih hukum Romawi ini ke seluruh wilayah
taklukannya. Negara pertama yang ditaklukkan oleh Napoleon adalah
Belgia pada tahun 1797 dan diberlakukanlah Code Civil Perancis pada
tahun 1804. Belanda yang letaknya bersebelahan dengan Belgia pada
waktu itu bersikap netral, akan tetapi pada tahun 1806 Napoleon
memaksa Belanda untuk menerima Code Civil Perancis meskipun pada
waktu itu keberlakuannya tetap memperhitungkan praktek hukum
Belanda yang telah berlangsung sebelumnya. Pada tahun 1810
Napoleon menganeksasi Belanda dan diterapkanlah Code Civil
Perancis di wilayah itu. Akan tetapi setelah Napoleon jatuh, Belgia dan
Belanda bersatu dan di wilayah tersebut tetap berlaku Code Civil
Perancis. Tahun 1830 Belgia dan Belanda memisahkan diri, Belanda
membentuk sebuah komisi negara yang bertugas untuk menyusun
undang-undang dan tersusunlah Code Civil yang disebut Burgerlijk
Wetboek, dan mulai berlaku tahun 1838, seperti yang ditulis oleh
Watson. 377
The first steps in the reception of the French Code civil were the
direct result of Napoleon’s conquests. Belgium was incorporated into France
in 1797, and the Code civil automatically came into force in 1804, and
remained in force despite Napoleon’s fall. The Natherlands, despite its
neutrality, was forced more and more into the French sphere of influence, and
in 1806 Napoleon compelled them to accept a version of the Code civil that
was slightly altered to take account of some Dutch legal practices. In 1810
Napoleon annexed the Netherlands, and the original Code civil was
introduced. After Napoleon’s fall, Belgium and the Netherlands were united.
The Code civil was to remain in force until a fresh code could be issued, but
Belgium separated in 1830, and a new Dutch commissions was appointed,
whose proposed code, the Burgerlijk Wetboek, came into force in 1838.
Ada yang menarik dari transplantasi Code Civil Perancis ke
dalam KUH Perdata Belanda, yakni sekalipun Perancis tidak lagi
memiliki kekuasaan di wilayah Belanda karena kekalahan Napoleon,
akan tetapi Belanda tetap memberlakukan Code Civil Perancis itu.
Bahkan pada tahun 1947 Belanda merevisi Code Civilnya akan tetapi
tidak meninggalkan Original Basic (basis asli) dalam praktek
pembentukan undang-undangnya yang baru itu. Code Civil Perancis
tetap dijadikan sebagai model dan secara substantif materi yang diatur
dalam Kitab Undang-undangnya masih sebahagian besar bersumber
dari Code Civil Perancis tersebut hanya pada bahagian-bahagian
tertentu yang disempurnakan sesuai dengan tuntutan perkembangan
zaman pada waktu itu. Hingga akhirnya didalam Kitab Undang-undang
377
Ibid, hal. 223.
453
tersebut telah dimasukkan pula tentang hukum dagang yang juga
bersumber dari Code Commerce Perancis. 378
Di kemudian hari Burgerlijk Wetboek Belanda itu berdasarkan
asas konkordansi diberlakukan di wilayah Hindia Belanda melalui
Staatsblaad No. 23 Tahun 1847 tentang Burgerlijk Wetboek voor
Indonesie dan dinyatakan berlaku pada tahun 1848 bersamaan dengan
diberlakukannya Wetboek Van Koophandel pada tanggal 1 Mei 1848.
Sama seperti Belanda yang hukumnya ditransplantasi dari
hukum Perancis, dan hukum itu dapat diberlakukan dan diterima oleh
masyarakat Belanda, maka di Indonesia hukum perdata dan hukum
dagangnya di transplantasi dari hukum Belanda. Akan tetapi
perbedaannya hukum perdata Belanda tidak semuanya dapat diterima
oleh masyarakat Indonesia. Ketentuan-ketentuan mengenai hak-hak
atas tanah misalnya harus dikeluarkan dari Buku ke II KUH Perdata
karena dipandang tidak sesuai dengan “cita rasa” masyarakat Indonesia,
untuk selanjutnya dalam rangka menyahuti kebutuhan hukum nasional
yang bercorak Indonesia, diterbitkanlah Undang-undang No. 5 Tahun
1960. Demikian juga ketentuan mengenai perkawinan harus
dikeluarkan dari Buku I KUH Perdata untuk selanjutnya Indonesia
membuat undang-undang tentang perkawinan yang bercorak Indonesia
yang dituangkan dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974. Ketentuanketentuan lain yang juga dikeluarkan dari wet yang bersumber dari
pemerintah Kolonial Belanda secara evolusi terus dilakukan. Hukum
tentang perusahaan misalnya, telah dikeluarkan dari Kitab Undangundang Hukum Dagang yang sesungguhnya bersumber dari Wetboek
van Koophandel yang berakar pada tradisi Code de Commerce Perancis
yang berpangkal pada Corpus Juris Civilis buatan Kaisar Justinian yang
disusun secara sistematis pada masa Kekaisaran Romawi.
Peristiwa-peristiwa sejarah di atas, telah cukup memberi
gambaran bahwa proses transplantasi hukum telah berjalan selama
berabad-abad di dunia dan itu adalah sebuah proses peradaban
(kebudayaan). Dalam konteks ini, hukum tidak lagi semata-mata dilihat
sebagai gejala normatif akan tetapi hukum adalah gejala sosial.
Perubahan sosial dalam masyarakat adalah sebuah keharusan yang
tidak dapat ditolak, sejalan dengan itu perubahan peradabanpun akan
378
Di Belanda, Kitab Undang-undang Hukum Dagang disusun pada tahun
1838 Code Civil dan Code de Commerce dinyatakan berlaku di negeri Belanda,
Burgerlijk Wetboek diadopsi dari Code Civil Perancis, Wetboek Van Koophandel
diadopsi dari Code de Commerce. Wetboek Van Koophandel ini kemudian diberlakukan
pada tanggal 1 Oktober 1838 dan berdasarkan asas konkordansi WvK ini diberlakukan di
Indonesia pada tanggal 1 Mei 1848.
454
berjalan secara simetris yang didalamnya mau tidak mau perubahan
hukum (legal change) akan ikut terbawa karena hukum meresap ke
setiap sel kehidupan sosial sebagaimana diungkapkan oleh Gary
Slapper & David Kelly ketika menulis sistem hukum Inggris. Slapper
dan Kelly mengungkapkan 379 :
Law permeates into every cell of social life. It governs everything
from the embryo to exhumation. It governs the air we breathe, the food and
drink that we consume, our travel, sexuality, family relationships, our
property, the world of sport, science, employment, business, education, health,
everything from neighbor disputes to war. Taken together, the set of
institutions, processes, law and personnel that provide the apparatus through
which law works, and the matrix of rules that control them, are known as the
legal system.
This system has evolved over a long time. Today it contains
elements that are very old, such as the coroner’s courts, which have an 800 year history, and elements that are very new, such as electronic law reports
and judges using laptops.
A good comprehension of the English legal system requires
knowledge and skill in a number of disciplines. The system itself is the result
of developments in law, economy, politics, sociological change and the
theories that feed all these bodies of knowledge. This book aims to assist
students of the English legal system in the achievement of a good
understanding of the law and its institutions and processes. We aim to set the
legal system in a social context, and to present a range of relevant critical
views.
379
Lebih lanjut lihat Gary Slapper & David Kelly, The English Legal
System, Routgedge, Belanda, 2011, hal. ix.
455
456
Di kemudian hari Code Civil dan code commers Prancis yang
berasal dari hukum Romawi (Justinian Code, Corpus Juris Civilis)
berlangsung di berbagai belahan dunia. Di Spanyol demikian tulis
Watson dibuat hukum dagang yang berbasis pada Napeleon’s Code
pada tahun 1829, kemudian dibuat versi modern pada tahun 1885.
Kemudian pada tahun 1889 dibuat hukum perdata yang disebut dengan
The Spanish Codigo Civil. Portugal juga mengadopsi hukum dagang
Prancis pada tahun 1833 kemudian diperbaharui pada tahun 1888
demikian dalam lapangan hukum perdata portugal mengadopsi hukum
Prancis dan dimuat dalam Portuguise Civil Code pada tahun 1867.
Khusus untuk negara-negara Afrika sub sahara, perjalanan transplantasi
hukum Perancis persis sama dengan Indonesia. Prancis menjajah
negara-negara itu yang sesungguhnya dalam negara itu sdudah ada
hukum kebiasaan dan hukum Islama. Akan tetapi setelah kolonial
Perancis berakhri, negara-negara itu kemudian memodifikasi
hukumnya dengan melihat model hukum Prancis. Itu terjadi di Algeria
(1834), Tunisia (1906) dan Maroko (1913) kemudian menyebar dan
membawa pengaruh ke negara Egipt dan Lebanon.
Di Amerika Utara tepatnya di negara bagian Louisiana ketika Prancis
menyerahkan wilayah itu kepada United State pada tahun 1803, juga
mengadopsi hukum perdata Prancis dan itu terjadi pada tahun 1808,
pada waktu hukum dagang tidak ikut di adopsi, baru kemudian itu
terjadi pada tahun 1825 dan dilanjutkan pada tahun 1870.380
Untuk kasus Indonesia, sebenarnya apa yang sudah
berlangsung pada masa Hindia Belanda tidak terlalu buruk untuk
diteruskan pada hari ini, asal saja transplantasi itu benar-benar
dilakukan setelah memasukkan unsur Ke-Indonesiaan, atau hukum
yang berkepribadian bangsa. Hukum dengan jati diri bangsa yakni
hukum yang bersumber dari landasan ideologi Pancasila.
Indonesia ke depan harus mampu melahirkan undang-undang
nasional yang konsisten dengan nilai-nilai kultural masyarakatnya,
nilai-nilai yang disebutkan sebagai nilai-nilai dengan paradigma
budaya dan sosial Indon esia yang asli (The original paradigmatic
values of Indonesian culture and society) yang terabstraksi dalam
Pancasila. Pancasila yang telah terima sebagai landasan ideologi bangsa
dan negara haruslah ditegakkan meminjam istilah orde baru secara
murni dan konsekuen. Muri bermakna original, tidak bercampur baur
antara yang haq (benar) dengan yang bathil (salah). Konsekuen berarti
380
Ibid, hal. 225-226.
457
bertanggung jawab dengan kesungguhan hati nurani, tidak munafik
(hipokrit) dan tidakk pula larut dalam hayalan (apologi).
Harus diakui bahwa, belajar dari pengalaman
politik
transplantasi hukum asing ke dalam undang-undang hak cipta nasional,
banyak peristiwa yang dapat direkam. Selama kurun waktu satu abad
pemberlakuan undang-undang hak cipta di negeri ini mulai zaman
kolonial hingga era globalisasi, semangat untuk melindungi karya cipta
anak bangsa, semangat untuk menumbuhkan kreativitas penciptaan
yang memihak pada faham kebangsaan atau kepentingan bangsa,
kelihatannya kandas di tangan anak bangsa sendiri.
Penyebabnya sepanjang yang dapat dicerna antara lain
adalah :
1. Sejak masa kolonial belanda bangsa ini terjebak dalam arus
pikir kapitalis dan liberal, hukum adat yang semula telah
diperjuangkan oleh Van Vollenhoven dan Ter Haar dapat
dijadikan cikal bakal pembentukan hukum nasional, justeru
tak berhasil diperjuangkan atau diteruskan pada masa setelah
negeri ini merdeka. Kaum bumi putera justeru bangga bila
suatu waktu pada zaman Kolonial ia dapat menundukkan diri
pada hukum Eropa, atau oleh pemerintah kolonial
dipersamakan dengan golongan Eropa dengan politik hukum,
pernyataan berlaku, persamaan hak dan tunduk sukarela.
Kaum “inlander” yang baru merubah pola makannya dari
“getuk” ke “keju” begitu terkesimah dengan konsep kodifikasi
dan unifikasi hukum.
2. Pilihan politik hukum pragmatis yang secara terus menrus
dilakukan pasca kemerdekaan. Kebijakan legislasi diarahkan
pada gerakan kodifikasi parsial dan di pilih sebagai politik
hukum nasional baik itu bersumber pada undang-undang
peninggalan kolonial (termasuk hak cipta) maupun yang
bersumber dari kesadaran hukum masyarakat dan Perjanjian
Internasional sebagai konsekuensi dari keberadaan Indonesia
dalam pergaulan Internasional.
3. Lemahnya pengelolaan manajemen negara dalam sistem
kehidupan nasional yang berpangkal pada ego sektoral,
lemahnya kapital, lemahnya SDM dan berujung pada
lemahnya posisi tawar (bargaining position) di mata dunia
Internasional yang pada gilirannya hilang kemandirian negara
dan muncul hukum nasional yang berhubungan dengan
kepentingan dunia internasional. Pada tataran basic policy
Indonesia tak cukup kuat “menangkis” atau menolak untuk
458
masuknya klausule-kalusule yang melindungi kepentingan
asing dalam norma undang-undang Hak Cipta Nasionalnya.
Padahal di banyak negara, sebut saja India, Singapura dan
Cina mereka sangat selektif untuk memasukkan keinginan
asing tersebut, bila bertentangan dengan kepentingan nasional
negaranya, dalam kasus penyesuaian peraturan perundangundangan Hak Kekayaan Intelektual negaranya dengan TRIPs
Agreement.
4. Tak adanya bekal yang cukup kuat dan tangguh kalangan
anggota legislatif yang bekerja di sektor legislasi nasional,
kalangan pemerintah yang selama ini banyak mengajukan
usulan Rancangan Undang-undang tak juga dibekali dengan
hasil-hasil riset akademik, lebih dari itu rekomendasi kalangan
perguruan tinggi tak selalu disikapi dengan arif oleh
pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam penyusunan
Undang-undang (sekalipun disebut sebagai naskah akademis
tapi muatannya lebih pada kepentingan politik praktis yang
sangat pragmatis) nasional dan tidak terpola secara sistemik.
Pekerjaan legislasi dilakukan secara tambal sulam, bongkar
dan rombak seperti modifikasi yang dikenal dalam dunia
otomotif. Meski dapat berjalan, tapi selalu terseok-seok ketika
menghadapi tikungan tajam, berbukit terjal dan berliku.
Ketika terjadi “mogok” bongkar dan direvisi kembali. Itu yang
terjadi selam kurun waktu 100 tahun berlakunya UU hak cipta,
atau telah terjadi 4 kali revisi sejaka masa kemerdekaan.
Cukuplah empat alasan ini untuk membuka wawasan dan
wacana diskursus di kalangan akademis, jika negeri yang besar ini
ingin dipertahankan dengan segenap simbol dan jati dirinya. Pilihan
politik hukum pragmatis yang dipicu oleh pandangan kapitalis dan
liberal memang telah melahirkan para politisi “kutu loncat” yang lebih
banyak menghabiskan waktunya untuk memikirkan diri sendiri
ketimbang kepentingan negaranya. Idealisme para politisi tempat
masyarakat menggantungkan harapannya agar dapat melahirkan hukum
dan perundang-undangan sesuai hati nurani rakyat tak lagi dapat
tertampung.
Persoalan pembenahan secara internal, agaknya menjadi
pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum
melangkah dalam kancah pertarungan global. Bagaimanapun juga
negar-negar maju secara simultan akan akan tetap melancarakan politik
ekonomi dan politik keamannya di berbagai belahan dunia yang
mengarah pada penaklukan negara-negara berkmbang. Mulai lewat
459
bantuan keuangan berupa pinjaman, bantuan tenaga ahli, bantuan
militer sampai pada ekspansi militer jika negara yang bersangkutan
dianggap membangkang.
Berkali-kali Indonsesia ditempatkan sebagai negara pembajak
dengan daftar hitam menurut versi Amerika dan sejalan denganitu
berkali-kali pula Indonesia mendapat sanksi ekonomi. Misalnya ketika
Indonesia memiliki unggulan eksport seperti tekstil, ancaman Amerika
untuk mengembalikan atau menolak ekspor garrmen (produk tekstil)
Indonesia akan dijalankan, jika Indonesia tidak segera mengatasi
pembajakan karya cipta anak bangsa mereka di Indonesia. Kasus
pembajakan lagu-lagu Bob Geldof adalah contoh konkrit bagaimana
kemudian Amerika menekan Indonesia untuk merobah UU hak cipta
Nasionalnya ketika itu (perubahan UU No. 6 Tahun 1982 menjadi UU
No. 7 Tahun 1987). Globalisasi memang telah menjadi sarana negaranegara maju untuk melancarkan “imperialism” model baru.
Penjajahan dalam bidang ekonomi, politik dan keamanan dengan
bermacam-macam isu yang dikemas, mulai dari isu HAM, isu
lingkungan sampai pada isu teroris. The new imperialism demikian kata
David Harvey. 381 Penjajahan untuk merebut sumber-sumber ekonomi
yang sebahagian besar dimiliki oleh negara-negara berkembang terus
berlangsung. Untuk kasus Indonesia saja, penambang emas Freeport
dalam sebahagian kecil saja contoh bagaimana the new imperialism itu
menjalankan misinya. Tentu saja semua ini tak mengharuskan
kesalahan itu dikembalikan kepada pihak investor. Hukum investasi
Indonesia tentang PMA yang lebih awal harus dipertanyakan. Apakah
peluang eksploitasi yang membuka jalan imperialism gaya baru itu
memang telah terbuka lebar dalam ketentuan undang-undang PMA
Indonesia. Jika memang begitu, maka pertanyaannya harus dijawab
kembali oleh anak bangsa ini.
Awak yang tak pandai menari janganlah dikatakan lantai
terjungkat, sepatu sempit jangan kaki diraut, begitu kata pepatah
Melayu. Peradaban Barat memang tumbuh dari budaya eksploitasi.
Falsafah hidup masyarakat Jepang, “ambillah secukupnya dari alam”,
hanya dikenal oleh bangsa-bangsa di Asia. Kondisi geografis dengan
berbagai perubahan cuaca yang terkadang ekstrim membuat Barat
(Eropa) tumbuh dalam budaya “menabung” dan persiapan bekal
makanan untuk untuk ”hari esok”. Tradisi ini tak lazim dan tak dikenal
pada masyarakat asia pada umunya, karena makanan cukup tersedia
381
Lebih lanjut lihat David Harvey, Imperialisme Baru Genealogi dan Logika
Kapitalisme Kontemporer, Resist Book, Yogyakarta, 2010.
460
dari alam setiap waktu. Munculnya keinginan untuk menguasai wilayah
yang kaya akan sumber “hari esok” itu pada akhirnya menimbulkan
budaya eksploitasi yang diiringi dengan tindakan imperialism. Itu yang
terjadi selama bertahun-tahun yang memunculkan Perang Dunia I dan
disusul dengan Perang Dunia II. Inti dari peperangan
itu adalah
kerakusan manusia yang dibungkus dengan nafsu kekuasaan yang
berujung pada penguasaan sumber daya alam sebagai cadangan “hari
esok” itu.
Kekalahan Napoleon menyentakkan kesadaran Barat dan ini
adalah awal kegagalan sistem negara Eropa, seperti yang dilkukiskan
oleh Marvin Perry 382 :
Kegagalan sistem negara Eropa sejajar dengan krisis budaya. Sejumlah
intelektual Eropa menyerang tradisi rasional Pencerahan dan merayakan hal
yang primitive, naluriah dan nonrasional. Orang muda semakin banyak yang
tertarik kepada filsafat tindakan yang menertawakan nilai-nilai berjois liberal
dan memandang perang sebagai pengalaman yang memurnikan dan
memuliakan. Perang-perang colonial, yang digambarkan dengan bersemangat
dalam pers populer, membakar imajinasi para pekerja pabrik yang bosan,
lamunan mahasiswa, memperkuat rasa tanggungjawab dan keberanian di
kalangan serdadu dan aristocrat. Perang-perang colonial kecil yang “megah”
ini membantu membentuk sikap yang membuat perang dapat diterima, jika
tidak patut dipuji. Kerinduan untuk lari dari kehidupan mereka sehari-hari dan
menganut nilai-nilai hereoik, banyak orang Eropa memandang konflik
kekerasan sebagai ungkapan tertinggi kehidupan individu dan nasional. “Jika
ada perang, bahkan yang tidak adil sekalipun”, tulis George Heym, seorang
penulis muda Jerman pada 1912. “Perdamaian ini begitu busuk”. Meskipun
teknologi sedang membuat peperangan lebih brutal dan berbahaya orang
Eropa tetap menganut ilusi romantik tentang pertempuran.
Peradaban Barat yang penuh dengan kisah peperangan itu
memberi warna juga pada pilihan produk industeri mereka seperti
industeri senjata perang dan bahkan industri perfilman merekapun
didominasi oleh cerita perang. Seiring dengan perang senjata yang
masih bergolak di sebagian wilayah Timur Tengah, perang ideologipun
terus berlangsung. Kemenangan Amerika dengan ideologi kapitalis
382
Wajah peradaban Barat memang diwarnai oleh peperangan. Sebenarnya
tidak hanya Barat, sejarah Asia dan Timur Tengahpun di penuhi dengan peperangan. Ada
yang berskala lokal dan ada yang berskala dunia. Sebut saja peperangan di masa
kekhalifahan, penaklukan Eropa dan Andalusia oleh Tariq bin Ziad dan Salahuddin Al
Ayyubi, dalam perang salib atau perang suci, perang Osmania melawan kerajaan
Bizantium, penaklukan Kaisar Jengis Khan, penaklukan Kaisar Cina, penaklukan
kerajaan Goa di India sampai dengan perang teluk yang berlangsung sampai hari ini. Di
Indonesia sendiri ada juga perang Majapahit dan Sriwijaya. Pendek kata sejarah
peradaban umat manusia dipenuhi dengan peperangan. Lebih lanjut lihat Marvin Perry,
Peradaban Barat Dari Revolusi Prancis Hingga Zaman Global, Kreasi Wacana, Bantul,
2013, hal. 249.
461
liberalnya melawan ideologi komunis yang diikuti
keruntuhan
dominasi Uni Soviet, membuat posisi Amerika semakin berada di atas
angin merajai pengendalian peradaban dunia. Kini perang itu telah
berubah menjadi perang ekonomi dengan ideologinya masing-masing.
GATT/WTO adalah sarana yang dipakai oleh Amerika dan sekutunya
untuk penaklukan Asia dan negara-negara dunia ketiga. Saingan
terbesar Amerika adalah Cina, India dan Turki yang diperkirakan akan
mendominasi perekonomian dunia.
Cina dan India telah memperlihatkan pembangkangannya
dalam menyikapi TRIPs Agreement sebagai hasil capaian Uruguay
Round yang melahirkan kesepatan GATT/WTO. Bagi Indonesia
pengalaman Cina dan India patut dijadikan bahan kajian untuk pilihan
politik hukum ke depan.Untuk mengalahkan dominasi kapitalis,
Indonesia harus kembali ke khittah 18 Agustus 1945,
Bahagian ini adalah uraian dan analisis terakhir dari disertasi
ini. Jika ditelusuri dari awal sampai pada bahagian terakhir naskah
penelitian ini. Salah satu kesan yang dapat ditangkap sebagai pilihan
politik hukum dalam pembangunan hukum nasional adalah masih
banyak pekerjaan dalam tataran basic policy dan anactment policy
yang belum selesai dan belum tuntas. Pembangunan hukum masih
dilakukan secara sporadis dan pragmatis menurut kebutuhannya dengan
cara tambal sulam. Hal ini akan menimbulkan persoalan tersendiri
dalam kebijakan politik pembangunan hukum nasional dan berdampak
pula terhadap praktek penegakan hukum. Kebijakan politik hukum
yang hendak merumuskan hukum seperti apa yang akan dibangun di
negeri ini, bagaimana bentuk hukumnya, seberapa jauh keluasan ruang
lingkup berlakunya, bagaimana sistem hukum nasional yang
dikehendaki kesemua itu dirumuskan dalam suatu naskah sebagai garis
politik hukum atau haluan politik hukum nasional. Di Indonesia hal
semacam itu sebelum pemerintahan reformasi dirumuskan dalam GarisGaris Besar Haluan Negara, namun setelah reformasi dirumuskan
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).
GBHN dan RPJPN yang kesemua ini adalah merupakan dokumen
politik yang memuat garis atau haluan politik hukum. Sedangkan
konsep strategis yang memberikan arahan bagi perumusan garis politik
hukum itu sendiri oleh Solly Lubis disebutnya sebagai wawasan politik.
Itulah sebabnya Solly Lubis dalam kesimpulannya menyatakan bahwa
konsep wawasan politik hukum nasional belum tuntas. Selama konsep
wawasan politik hukum nasional belum tuntas, menurut beliau
pembangunan hukum akan terus berlarut-larut dengan praktek
462
pembentukan hukum yang tambal sulam yang belum tentu terjamin
konsistensinya dengan cita-cita penegakan hukum dan keadilan. 383
Harus ada keberanian untuk melihat kenyataan bahwa hukum
bukanlah suatu benda kaku, karena hukum dibuat sengaja oleh manusia
(purposefullns) sebagai political will penguasa untuk mengatur
kepentingan rakyat dalam negaranya. Karena itu hukum tidak hanya
dirumuskan sebagai norma-norma atau doktrin-doktrin akan tetapi juga
memuat asas-asas yang secara implisit tersembunyi di belakang atau
berada di balik norma hukum itu. Dengan konstruksi yang demikian
maka hukum menjadi lebih artifisial daripada natural, seperti pohon
yang tumbuh dari biji. Keberanian untuk melihat hukum sebagai
konstruksi sosial yang berpangkal pada pilihan politik hukum atau
politik kebudayaan dan karenanya hasil konstruksi itu boleh diubah
dengan konstruksi baru. Perubahan-perubahan itu telah lazim terjadi di
tengah-tengah masyarakat dan itulah sebabnya hukum berubah dari
masa ke masa dan dari abad ke abad untuk kepentingan dari generasi ke
generasi. Perubahan-perubahan semacam itu dirumuskan dalam
dokumen negara yang dicatat sebagai haluan politik hukum negara.
Hanya dengan demikian hukum tidak lagi dilihat sebagai benda kaku
dan sekumpulan huruf-huruf yang dituangkan di atas kertas.
Studi hukum melalui pendekatan sejarah akan dapat
membantu untuk sampai pada satu harapan bahwa di depan akan dapat
dirumuskan hukum-hukum yang lebih bernuansa humanis dan
berkeadila dan menampung berbagai harapan dan cita-cita Negara.
Studi sejarah hukum menjadi sangat penting manakala hukum masa
lalu dan yang sedang berlaku hari ini belum mampu memberikan rasa
keadilan dan kepastian hukum serta kemanfaatan.
Perlunya kajian atau studi sejarah terhadap hukum paling tidak
memiliki alasan ilmiah :
Pertama
: sangat sedikit studi-studi hukum yang dilakukan
melalui pendekatan sejarah.
Kedua
: terjadi keterputusan sejarah yang disebabkan oleh
ketiadaan jembatan-jembatan penghubung antara
383
Untuk mewujudkan bangunan hukum nasional yang sesuai dengan dimensi
ketatanegaraan Indonesia pembangunan hukum itu harus dilakukan melalui pendekatan
sistem. Pembangunan hukum nasional harus diliha sebagai salah satu sub sistem yakni
dimensi politik (sub sistem politik) yang secara kontekstual dan konseptual bertalian erat
dengan dimensi-dimensi (sub sistem) geopolitik, ekopolitik, demopolitik, sosiopolitik dan
kratopolitik. Solly Lubis menegaskan politik hukum tidak berdiri sendiri atau lepas dari
dimensi politik lainnya apalagi jika hukum diharapkan mampu berperan sebagai sarana
rekayasa sosial. Lebih lanjut lihat M. Solly Lubis, Serba-Serbi Politik & Hukum, PT.
Sofmedia, Jakarta, 2011, hal. 54.
463
Ketiga
:
Keempat
:
Kelima
:
generasi sarjana hukum sebelum kemerdekaan, generasi
pasca kemerdekaan periode kepemimpinan Bung
Karno, generasi pasca kepemimpinan Bung Karno
(periode kepemimpinan Soeharto dengan rezim orde
barunya), generasi pasca kepemimpinan Soeharto yakni
generasi orde reformasi dan generasi orde pasca
reformasi sehingga studi-studi hukum yang dilakukan
kering dari pembelajaran sejarah dan ini membawa
dampak pada terbelenggunya peradaban hukum pada
situasi yang pragmatis.
Tidak dimasukkannya dalam kurikulum pendidikan
hukum pada strata I tentang materi pengajaran sejarah
hukum, padahal data sejarah hukum cukup banyak
tersebar di berbagai arsip dan perpustakaan.
Harus ada yang melanjutkan jembatan yang berisikan
narasi sejarah hukum untuk menyambungkan
keterputusan sejarah guna dapat memaknai budaya
hukum Indonesia yang tepat dalam rangka pilihanpilihan politik hukum guna pembangunan sistem
hukum nasional di masa-masa yang akan datang.
Tanpa disadari telah terjadi perang kepentingan atau
interes antara mereka-mereka yang berfikir pragmatis,
praktis, jalan pintas, melawan kepentingan yang
memperlihatkan kesadaran hukum yang memberi
makna bahwa jatuh bangunnya peradaban mestilah
berakhir dengan kemenangan peradaban yang adil dan
merujuk pada pilihan ideologi yang telah diletakkan
pada saat negara ini didirikan yang mengacu pada the
original paradigmatic value of Indonesian culture and
society jika kita tidak ingin sejarah hukum kita terputus
sebab pembiasan yang dalam tradisi keilmuan dinamai
proses internalisasi mengenai yang baik, yang benar,
yang indah, yang adil, yang beradab, serta suci
bersumber dari kehidupan para tokoh-tokoh yang dapat
dijadikan teladan. Beribu-ribu ajaran kognisi
pengetahuan dan hafalan tentang teks-teks normatif
akan percuma saja apabila sosok yang berjasa dalam
meletakkan dasar-dasar pembangunan hukum dalam
sejarah kita, yaitu para pendiri bangsa, guru-guru
bangsa,
mereka-mereka
yang
secara
terus
mempertahankan
hukum
adat
dan
berbagai
464
pengorbanan demi pengorbanan yang mereka lakukan
untuk meletakkan dasar pembangunan hukum bangsa
ini. Dan tokoh-tokoh semacam itu saat ini sudah sulit
untuk kita temukan. Jika disertasi ini memilih teori
yang dikembangkan oleh para akademisi yang dalam
karier dan kehidupannya telah menghabiskan masa
untuk pembangunan hukum dan pembangunan ilmu
hukum seperti, Mahadi dan M. Solly Lubis, serta
Hikmahato Juwana ini bukanlah semata-mata untuk
memperkenalkan pemikiran-pemikiran mereka - yang
satunya hendak membangun hukum Indonesia modern,
yang satunya lagi hendak meletakkan dasar
pembangunan hukum Indonesia melalui hukum adat
sebagai dasar dan terakhir kesemuanya hendaklah
diletakkan dalam satu kerangka sistem yang disebut
sebagai sistem hukum nasional - akan tetapi lebih jauh
menggiring generasi yang akan datang untuk dapat
memahami sejarah perjalanan hukum Indonesia, dan di
negeri ini ternyata banyak pandangan dan pemikiran
yang lahir dari anak bangsa sendiri, yang faham tentang
kebutuhan hukum dii negerinya,sebab membangun
hukum bukanlah semata-mata melakukan sesuatu akan
tetapi mempelajari sesuatu.
Dengan lima alasan tersebut di atas, anak bangsa di negeri ini
harus punya kemauan dan dengan rendah hati mengakui keterputusan
sejarah peradaban hukum - karena kita harus menyadari pula bahwa
ingatan kita sangat pendek - dan ketidak pedulian kita sendiri terhadap
pilihan-pilihan politik dalam pembangunan hukum nasional. Kini, mari
kita rajut kembali benang-benang sejarah yang putus dan mempelajari
kembali “situs-situs” yang saat ini memerlukan guru-guru yang dapat
memikirkan dan menterjemahkan serta menafsirkan situs-situs itu. Saat
ini diperlukan sosok intelektual hukum yang memahami sejarah karena
kita tidak ingin terjadi apa yang pernah dikatakan oleh Sartono
Kartodirdjo, “jangan menjadi cendekiawan model pohon pisang yang
sekali berbuah lalu selesai”.384 Teruslah merajut benang-benang sejarah
yang terputus agar untaian-untaian sejarah hukum Indonesia dapat
dirajut dalam suatu “kain” yang bermakna lembaran sistem hukum
nasional Indonesia.
384
Lebih lanjut lihat Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam
Metodologi Sejarah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.
465
Salah satu kebijakan yang perlu ditempuh dalam pembangunan
hukum adalah terciptanya suatu tatanan hukum yang dapat
menjembatani kepentingan masyarakat Indonesia yang saling
berbenturan sebagai akibat dari tawaran kultur yang plural. Perbedaan
pada kultur dan berpengaruh pada budaya hukum ini berawal dari
perjalanan sejarah yang cukup panjang yang memperlihatkan adanya
pengaruh sistem hukum asing (yang sejak awal juga sudah ada
perbedaan yakni antara sistem hukum Eropa Kontinental di satu pihak
dan sistem hukum Anglo Saxon di pihak lain) terhadap hukum yang
hidup dalam masyarakat (lokal) Indonesia (hukum adat). 385
Paling tidak dengan kebijakan itu perbedaan-perbedaan pada
sistem hukum itu dapat sedikit demi sedikit (secara berangsur-angsur)
dihapuskan untuk kemudian menuju pada satu tatanan hukum yang
dapat berterima dalam kehidupan masyarakat Indonesia namun tetap
pula mampu mengantisipasi gelombang globalisasi yang ditawarkan
oleh masyarakat internasional. Dengan bahasa yang sederhana harapan
dari pilihan terhadap kebijakan yang semacam ini adalah untuk
mengukuhkan kembali hukum rakyat sebagai hukum yang hidup agar
kepentingan masyarakat tetap terpelihara dengan baik, namun tetap
eksis dan mampu menangkap setiap perubahan yang ditawarkan oleh
peradaban modern.
Apa sebenarnya yang ditawarkan oleh sistem hukum Eropa
kontinental yang dalam pilihan terhadap kebijakan pembangunan
hukumnya didasarkan pada konsepsi hukum yang terkodifikasi dengan
rapi, tidaklah terlalu buruk untuk terus dikembangkan dalam strategi
pembangunan hukum di Indonesia, yang dalam banyak hal lebih
memberikan kepastian hukum. Namun begitu, apa yang sesungguhnya
yang dikembangkan oleh negara-negara penganut sistem hukum Anglo
Saxon (Amerika dan Inggris meskipun keduanya ada juga perbedaan),
yang menggantungkan pola pilihan dalam penentuan apa yang menjadi
hukum melalui putusan hakim, adalah juga sangat sesuai bagi
Indonesia. Oleh karena konsepsi hukum Adat Indonesia yang sejak
lama didasarkan pada putusan fungsionaris hukum adat (teori
Beslissingen Leer yang dikembangkan oleh Ter Haar) 386 adalah sangat
385
Lihat Soetandyo Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum
Nasional, Rajawali Press, Jakarta, 1994.
386
Lebih lanjut lihat Ter Haar Bzn, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat,
(Terjemahan K. Ng. Soebakti Poesponoto), Pradnya Paramita, Jakarta, 1981, dan Jakob
Sumarjo, Jakob Sumardjo, Mencari Sukma Indonesia Pendataan Kesadaran
Keindonesiaan di Tengah Letupan Disintegrasi Sosial Kebangsaan, AK Group,
Yogyakarta, 2003.
466
sejalan dengan konsepsi yang ditawarkan oleh sistem hukum Anglo
Saxon. Oleh karena itu pula, memadukan antara kedua kutub yang
berbeda itu untuk dipertemukan dalam rangka kebijakan pembangunan
hukum Indonesia menurut hemat kami adalah suatu langkah yang arif
guna memberi arti bagi hukum rakyat Indonesia sebagai hukum yang
hidup. Caranya adalah, mengangkat kembali ”nilai-nilai hukum yang
hidup” dalam masyarakat Indonesia, melalui langkah-langkah
metodologis yang lazim dikenal dalam ilmu hukum.
Wibawa Republik yang sedang dikemudikan oleh Susilo
Bambang Yudhoyono ini hukum dan keadilan, sedang dipertaruhkan,
karena itu kembalilah pada komitmen bahwa negara ini adalah negara
hukum, bukan negara kekuasaan. Oleh karena itu para legislatif
haruslah menjalankan fungsi legislasinya secara benar, punya
komitmen kerakyatan, yang berisikan moral dan keadilan dengan
mengacu sepenuhnya pada cerminan kultur Indonesia yang
berkepribadian bangsa dan para eksekutif haruslah berperan sebagai
penerima amanah legislatif, menjalankan amanah yang digariskan
dalam peraturan perundang-undangan, jangan berperan dan mengambil
posisi sebagai legislatif (misalnya menerbitkan Keppres, Perda dan lain
sebagainya yang bertentangan dengan amanah rakyat) serta para
yudikatif hendaklah benar-benar menjalankan fungsi yudisiilnya, tidak
justeru berperan sebagai perpanjangan tangan eksekutif.
1. Think Globally
Berpikir global (think globally) tidak hanya cukup untuk
memusatkan perhatian pada kepentingan bangsa sendiri di tengahtengah bangsa lain yang juga punya keinginan dan hak yang sama.
Dunia sudah semestinya tidak lagi dihiasi dengan peperangan. Politik
ekonomipun sudah semestinya tidak lagi mengarah pada kepentingan
dan keinginan negara-negara maju saja tanpa memperhatikan
kepentingan negara berkembang. Peperangan selama ini berlangsung di
berbagai belahan dunia, tidak lebih dari sebuah kerakusan kekuasaan
yang hendak mengeksoploitasi kekayaan alam dan berbagai potensi
strategis guna mengamankan kepentingan negara maju. Negara
industeri maju, sesungguhnya tidak dapat bertahan tanpa negara negara
dunia ketiga yang mengkonsumsi produk industeri mereka. Jika negara
dunia ketiga dibiarkan miskin, siapa yang harus berbelanja untuk
membeli produk industeri mereka.
Ketika industri perfilman Amerika maju pesat, karya
sinematografi yang dilindungi hak ciptanya itu harus menembus pasar
di negara-negara berkembang. Demikian pula produk industri otomotif,
467
elektronik dan industri kimia serta kedirgantaraan harus dilempar ke
pasar-pasar negara-negara di dunia ketiga. Adalah tidak pada
tempatnya jika kemudian negara-negara konsumen itu diperlakukan
tidak adil. Peperangan yang bergolak sepanjang sejarah dunia di
kawasan Timur Tengah, tidak lebih dari sebuah “permainan” politik
Amerika yang secara terus mnenerus memasok persenjataan, hingga
Amerika kemudian menempati peringkat atas sebagai negara produsen
senjata dan di dalam negerinya industri senjata menempati peringkat
pertama sebagai industri strategis.
Di luar dugaan kemudian Amerika harus menjadi motor dalam
kampanye perlindungan Hak azasi Manusia dan issu lingkungan.
Adalah Indonesia sebagai negara pemilik hutan tropis terbesar setelah
Brazil yang dalam konvensi Rio de Janeiro dan dikukuhkan dalam
Protokol Kyoto, untuk terus mempertahankan hutan tropis sebagai
paru-paru dunia. 387 Sementara negara-negara Industeri terus menerus
menyumbangkan CO2 (karbondioksida) ke udara dan negara pemilik
hutan tropis terus menerus diminta untuk menyumbangkan O2
(oksigen) ke udara. Banyak kritik pedas yang diarahkan pada negaranegara Industeri maju, tapi mereka tidak bergeming karena dunia telah
didominasi oleh kekuatan politik liberal dan kekuatan ekonomi
kapitalis. Suara-suara dari kelompok dunia ketiga, akhirnya tenggelam
dan sirna dalam berbagai konvensi dan pertemuan Internasional.
Pemenangnya tetap negara Industri maju dan negara miskin cukup
berpuas hati sebagai negara yang diundang dalam pertemuan sebagai
pendengar yang budiman. Banyak kasus yang menunjukkan loby-loby
Internasional yang dilakukan oleh negara negara dunia ketiga kandas
karena keputusan selalu didominasi oleh negara-negara maju yang
cenderung kapitalis sebagaimana diungkapkan oleh Robert Gilpin388
yang menyatakan :
The World Trade Organization (WTO) is, in essence, an American
creation. The WTO’s predecessor, the General Agreement on Tariffs and
Trade (GATT) had served well America’s fading mass-production economy,
but it did not serve the emerging economy equally well. As a consequence of
economic and technological developments prior to the Reagan
Administration, the United States had become an increasingly serviceoriented and high-tech economy. Therefore, in a major effort to reduce trade
barriers, the Uruguay Round was initiated by the Reagan Administration and
387
Lebih lanjut lihat Michael B. Gerrard, (ed), Global Climate Change and
U.S.Law, American Bar Association Section of Environment, Energy and Resources,
Chicago, 2007.
388
Robert Gilpin, Global Political Economy Understanding The International
Economic Order, Princeton University Press, New Jersey, 2001, hal. 222-223.
468
later was supported by the Bush Administration and, after much vacillation,
by the Clinton Administration as well.
Semakin pasti bahwa organisasi perdagangan dunia adalah
merupakan gagasan Amerika, untuk mengantisipasi perekonomian
Amerika yang berbasis pada jasa dan produk-produk industri yang
berteknologi tinggi. Antisipasi itu lebih dimaksudkan untuk
mengurangi hambatan perdagangan yang diprakarsai oleh Reagen dan
kemudian didukung oleh Pemerintahan Bush karena kondisi
sebelumnya hal itu tidak dimungkinkan sebab pemerintahan Clinton
selalu ragu dalam mengambil keputusan. Langkah yang diambil oleh
Amerika ini pada akhirnya telah menciptakan kapitalisme global seperti
yang diungkapkan oleh Frieden. 389
Meskipun kemudian dalam hal perdagangan bebas di era
Global Paul 390 berpendapat lain ;
A political argument for free trade reflects the fact that a political
commitment to free trade may be a good idea in practice even though there
may be better policies in principle. Economists often argue that trade policies
in practice are dominated by special-interest politics rather than
consideration of national costs and benefits. Economists can sometimes show
that in theory a selective set of tariffs and export subsidies could increase
national welfare, but in reality any government agency attempting to pursue a
sophisticated program of intervention in trade would probably be captured by
interest groups and converted into a device for redistributing income to
politically influential sectors. If this argument is correct, it may be better to
advocate free trade without exceptions, even though on purely economic
grounds free trade may not always be the best conceivable policy.
The theree arguments outlined in the previous section probably
represent the standard view of most international economists, at least in the
United States ;
1.
The conventionally measured costs of deviating from free trade are
large.
2.
There are other benefits from free trade that add to the costs of
protectionist policies.
3.
Any attempt to pursue sophisticated deviations from free trade will be
subverted by the political process.
Nonetheless, there are intellectually respectable arguments for
deviating from free trade, and these arguments deserve a fair hearing.
Krugman dan Obstfeld dengan tegas mengatakan, bahwa
kebijakan ekonomi Internasional yang dilancarkan, tidak lebih dari
sebuah dominasi politik kepentingan, akan tetapi dicari alasan-alasan
389
Lebih lanjut lihat Jeffry A. Frieden, Global Capitalism Its Fall and Rise in
The Twentieth Century, W.W. Norton & Company Inc, New York, 2007.
390
Paul R. Krugman and Maurice Obstfeld, International Economics Theory
and Policy, Pearson Education Inc, Boston, 2003, hal. 221.
469
yang masuk akal. Politik ekonomi Internasional yang dituangkan dalam
berbagai kesepakatan Internasional seperti GATT/WTO adalah sebuah
perebutan hegemoni kekuasaan yang berujung pada imperialisme.
Banyak teori yang berkisah tentang itu seperti teori liberal dan teori
“iblis” tentang imperialisme. 391
Teori-teori sosial tampaknya telah gagal memahami jalan
pikiran keuasaan negara-negara ekonomi maju. Ibarat sebuah
pengusaha industry manufactur menguasai hulu sampai hilir mata
rantai industrinya, mulai penyediaan bahan baku sampai pada
pemasaran, sehingga tidak memberi celah bagi orang lain untuk dapat
hidup, kecuali menjadi konsumen sejati. Jika ada pihak yang ingin
memutus mata rantai itu, negara-negara itupun sudah siap untuk
berperang. Akhirnya bumi semakin hari semakin jauh dari rasa nyaman
untuk ditinggali. Padahal yang dikehendaki oleh umat manusia dalam
perspektif hukum adalah rasa nyaman, rasa aman, dunia dapat lebih
sejahtera dengan rasa keadilan serta jauh dari rasa ketidak pastian.
Perbedaan dalam kehidupan di dunia di alam global
sebenarnya adalah suatu rahmat. Menyimpang dari teori ilmu sosial,
tanpa keraguan premis Al Qur’an dapat dijadikan rujukan :
Al Hud 118,
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan
manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih
pendapat.
Al Maidah 48
Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikanNya
satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
pemberinya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat
kebajikan.
Al Hujarat 13,
Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal
391
Uraian lebih lanjut mengenai hal ini lihat Hans J. Morgenthau, Politik
Antarbangsa, (Terjemahan S. Maimoen dkk), Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta,
2010, hal. 66.
470
mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.
Ketiga ayat Alqur’an di atas telah menyentakkan kesadaran
manusia, bahwa jika sesungguhnya Tuhan menghendaki, ia dapat
menjadikan ummat di muka bumi ini menjadi ummat yang satu.
Kemahakuasaannya tidaklah mungkin Tuhan tidak dapat menciptakan
umat manusia menjadi satu entity, akan tetapi sekali lagi perbedaan itu
rahmat, agar manusia dapat berinteraksi dengan adanya perbedaan itu.
Dalam ketiga ayat itu tersembunyi azas yang disebut sebagai “spirit of
pluralism”. Perbedaan itu fitrah hasil ciptaan Allah. Indonesia telah
lama menerima perbedaan itu yang dituangkan dalam adagium
Bhinneka Tunggak Ika dan disahuti dengan baik oleh Pancasila sebagai
“mietsaqon khalidza” atau modus vivendi atau kesepakatan luhur
nasionalisme. Hal semacam itu telah dipraktekkan oleh Rasullallah
Muhammad SAW ketika memimpin negara di Madinah yang
dituangkan dalam konstitusi yang disebut dengan Konstitusi Madinah.
392
Manusia telah ditetapkan oleh Allah menjadi khalifah di muka bumi
yang diberi tugas untuk memakmurkan bumi, karena itu pilihlah
pemimpin yang adil. Pemimpin yang adil dan amanah adalah syarat
untuk dapat memakmurkan bumi. Bahkan Imam Ghazali pernah
berkata, pemimpin yang tidak muslim tapi ia berlaku adil dan
mengemban amanah jauh lebih baik dari pemimpin muslim tapi
zalim. 393 Yang terasa hari ini adalah munculnya pemimpin yang zalim
di sekala lokal dan skala Internasional. Akibatnya bumi masih
menunggu lagi, apakah ia musnah lebih awal atau masih ada manusia
yang mau dan berkeinginan untuk mempertahankannya, karena Allah
menyatakan, kerusakan di bumi dan di langit adalah karena ulah
perbuatan manusia sendiri (QS : Ar-Rum 41). Karena itu manusia yang
hidup di muka bumi harus berkompromi untuk menyelamatkannya.
Tidak justeru saling mengeksploitasi dan mengeksplorasi.
Dalam tatanan kehidupan global, harus ada ilmuwan sosial
yang duduk