Selatan Dan Triangular Kementerian Setneg RI

advertisement
UB Usulkan Model Kerja Sama Teknik SelatanSelatan Dan Triangular Kementerian Setneg RI
Dikirim oleh vicky.nurw pada 19 April 2016 | Komentar : 0 | Dilihat : 3407
Yusli Effendi, S.IP., MA dalam
Rakor KSST
Yusli Effendi, S.IP., MA, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya berkontribusi dalam
Kerjasama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular (KTSST) Indonesia. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara
Kementerian Kesekretariatan Negara dan Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Jerman pada Jumat
dan Sabtu (15-16/04/2016) di Yogyakarta.
Acara bertajuk "Rapat Koordinasi Kerja sama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular II Tahun 2016: Institutional
Set-Up Single Agency" ini dimulai dengan presentasi tiap narasumber untuk dilanjutkan dengan diskusi antar
peserta dan narasumber. Narasumber yang hadir yakni Rika Kiswardani (Kabiro Kerjasama Luar Negeri Setneg
RI/Tim Kornas KSST), Bukhari H. Bakar (Deputi Direktur Kerja sama Negara Berkembang Kemlu), Prof. Dr.
Mohtar Mas'oed (Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Gajah Mada), Adriana Elizabeth (Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia), Hirbod Aminlari (Direktur GIZ Indonesia), Yusli Effendi (Peneliti Pusat Studi Kerja sama SelatanSelatan UB), dan Yulius Purwadi Hermawan (Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Parahyangan).
Menurut Yusli, kerjasama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) merupakan bentuk penatakelolaan bantuan
pembangunan antarsesama negara berkembang yang juga menyertakan keterlibatan pihak ketiga, yakni negara
maju. "Sebagai arsitektur bantuan pembangunan, KSST melengkapi bentuk tradisional Kerja sama Utara-Selatan (
north-south cooperation) yang selama ini mendapat kritikan tajam karena menyertakan syarat-syarat tertentu (
conditionality) yang pada akhirnya mendikte transformasi sistem sosial dan politik ke arah yang bias kepentingan
Barat," jelasnya.
KKST muncul sebagai alternatif model bantuan pembangunan antarnegara berkembang yang mengadopsi
semangat KAA Bandung 1955 yang lebih setara dan menghindari campur tangan ke negara penerima bantuan
dalam bentuk berbagi pengetahuan (knowledge sharing), berbagi pengalaman teknis, serta sumber daya di bidang
sosial, politik, ekonomi, lingkungan, dan budaya baik dilakukan oleh aktor negara dan non-negara.
Dalam paparannya, Yusli, yang juga dosen jurusan Hubungan Internasional, FISIP UB, mendiskusikan cetak biru
KSST Indonesia yang diarahkan agar bersesuaian dengan Nawacita Pemerintahan Jokowi dan RPJMN 2015-2019
serta upaya pembentukan agensi tunggal yang mengakomodasi orientasi politik luar negeri RI, penataan
kelembagaan lintas kementerian, serta lebih merangkul aktor non-negara seperti kampus, NGO, dan jaringan
masyarakat sipil lainnya. [yusli/Vicky/Humas UB]
Artikel terkait
KPK Roadshow Sambangi UB
Bank Mandiri Tawarkan Program Magang Bagi Mahasiswa dan Dosen UB
Gagasan Sekolah Libya Siap Dieksekusi
Ingin Cetak Entrepreneur Tangguh, Universitas Brawijaya dan Universitas Ciputra Jalin Kerjasama
Kerjasama UB-Birmingham City University dan University of Warwick
Download