KAJIAN QBE: BANYAK PERUSAHAAN INDONESIA YANG TIDAK

advertisement
KAJIAN QBE: BANYAK PERUSAHAAN INDONESIA YANG TIDAK SIAP
MENANGGULANGI RISIKO BISNIS

Hampir 50% perusahaan tidak memiliki asuransi tanggung gugat bisnis sama
sekali

Sebagian besar dari mereka menunggu sampai terkena dampak risiko untuk
memiliki asuransi
Jakarta, 19 Juli 2017 – Kajian terbaru dari QBE Insurance menunjukkan bahwa sebagian
besar perusahaan Indonesia tidak memiliki kesiapan untuk menghadapi krisis. Hanya 54% dari
perusahaan-perusahaan yang disurvei memiliki asuransi tanggung gugat bisnis seperti
tanggung gugat pihak ketiga, tanggung gugat publik, gangguan usaha, tanggung gugat produk,
tanggung gugat cyber, tanggung gugat pemberi kerja, tanggung gugat dewan direksi dan tim
manajemen, atau jaminan indemnitas profesi.
Kajian QBE yang diberi judul “Harga Sebuah Penyesalan” ini didasarkan pada wawancara 300
UKM dan perusahaan skala besar di Indonesia. Wawancara yang berlangsung pada April dan
Mei 2017 ini berfokus pada berbagai risiko bisnis, baik yang ada sekarang maupun di masa
depan. Selain itu, kajian ini juga memuat temuan tentang berbagai peluang dan persiapan
perusahaan untuk menanggulanginya.
“Salah satu temuan penting dalam laporan ini adalah perusahaan di Indonesia memerlukan
lebih banyak edukasi. Dengan tidak memiliki asuransi tanggung gugat, perusahaanperusahaan kehilangan kesempatan untuk memberikan kompensasi, serta berpotensi
menempatkan bisnis, konsumen, dan masyarakat umum dalam risiko yang lebih tinggi,” kata
Aziz Adam Sattar, Presiden Direktur QBE General Insurance Indonesia (QBE Indonesia).
Dalam 12 bulan terakhir, risiko yang paling sering ditemui adalah: kehilangan pendapatan
karena gangguan usaha (32%); inventaris yang hilang atau rusak (23%); kerusakan peralatan
(22%); peretasan sistem bisnis dan komputer (20%); kerusakan bangunan perusahaan (20%);
kecelakaan kerja (20%); dan penipuan melalui internet (10%)
“Risiko-risiko ini dihadapi oleh perusahaan yang berada pada lingkungan dengan tantangan
bisnis yang semakin besar. Berdasarkan kajian, kami menemukan bahwa 31% dari
perusahaan-perusahaan Indonesia menerima tuntutan hukum karena masalah produk atau
layanan mereka pada tahun lalu,” tambah Sattar
Informasi yang terkandung dalam siaran pers ini hanya diperuntukkan untuk kalangan media.
Halaman 1 dari 4
Kurangnya pemahaman berimbas pada rendahnya kepemilikan asuransi
Penelitian dari QBE menemukan bahwa hampir semua perusahaan di Indonesia paham dan
memiliki asuransi bisnis umum dalam bentuk yang berbeda-beda. Namun ketika ditanya
mengenai asuransi tanggung gugat bisnis, tingkat pemahaman turun menjadi 68%.
Persentase pemahaman dan kepemilikan asuransi ini pun turun lagi ketika perusahaan ditanya
mengenai asuransi tanggung gugat dewan direksi dan tim manajemen, dengan 35% paham
dan 26% memiliki; sedangkan di sisi asuransi indemnitas profesi, tingkat kepahaman
mencapai 30% dan tingkat kepemilikan 17%. Di sisi asuransi tanggung gugat publik dan
produk, tingkat kepahaman adalah 24% dan tingkat kepemilikan 16%.
Alasan untuk tidak memiliki asuransi tanggung gugat bisnis
Ketika ditanya mengenai apa yang menyebabkan mereka tidak memiliki asuransi tanggung
gugat bisnis atau asuransi indemnitas profesi, 41% dari perusahaan menjawab mereka
memiliki anggaran yang terbatas. 26% dari mereka menyatakan mereka memiliki prioritas
bisnis lain; 24% menyatakan skala bisnis mereka terlalu kecil untuk memerlukan asuransi; dan
28% menyatakan bahwa polis asuransi terlalu rumit. 19% menyatakan bahwa mereka tidak
pernah terpikirkan untuk memiliki asuransi tanggung gugat bisnis.
“Sangat mengkhawatirkan bahwa banyak perusahaan tidak sadar akan adanya berbagai risiko
finansial yang mungkin timbul karena tidak memiliki asuransi tanggung gugat. Banyak
perusahaan juga berpikir bahwa asuransi tersebut hanya untuk perusahaan skala besar. Jelas,
mereka kurang menyadari dan memahami bahwa produk asuransi memiliki polis perlindungan
finansial,” ujar Sattar
Risiko hanya terlihat jika terlanjur terjadi
Kajian QBE juga menemukan kecenderungan bahwa perusahaan baru melindungi dirinya
setelah mengalami suatu insiden. Dari seluruh perusahaan Indonesia yang menjadi korban
penipuan melalui internet, hanya 54% yang mengambil langkah perlindungan paska kejadian,
dengan 25% perusahaan mentransfer risiko tersebut ke asuransi tanggung gugat bisnis, dan
7% tidak mengambil langkah perlindungan sama sekali. Di insiden lainnya, reaksi paska
kejadian pun serupa: kecelakaan kerja (48% bereaksi paska kejadian dengan 25% memilih
asuransi tanggung gugat publik, dan 7% tidak mengambil langkah perlindungan); isu tanggung
gugat publik atau pihak ketiga yang disebabkan oleh barang atau jasa (42% bereaksi paska
kejadian dengan 20% memilih asuransi tanggung gugat publik, dan 12% tidak mengambil
Informasi yang terkandung dalam siaran pers ini hanya diperuntukkan untuk kalangan media.
Halaman 2 dari 4
langkah sama sekali); isu tanggung gugat publik atau pihak ketiga yang disebabkan oleh
kecelakaan atau kelalaian pihak perusahaan (42% bereaksi paska kejadian, dengan 14%
memilih asuransi tanggung gugat publik dan 11% tidak mengambil langkah sama sekali).
"Kami berharap kepemilikan asuransi tanggung gugat bisnis akan meningkat dalam waktu
dekat," kata Sattar. "Ekonomi Indonesia tumbuh dengan cepat dan telah menjadi anggota
penting di komunitas ASEAN. Dengan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah, kita
melihat perubahan pemikiran di kalangan pengusaha dan karyawan karena mereka telah
memahami pentingnya pengelolaan risiko – tidak hanya untuk mengurangi kerugian finansial,
tetapi yang lebih penting untuk menunjukkan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab
sosial. Konsumen Indonesia menjadi lebih paham mengenai hak-hak hukum, yang
menghadapkan perusahaan pada kompensasi finansial yang lebih besar jika gagal
memberikan layanan atau tidak menyediakan lingkungan kerja yang aman.”
Walaupun ada tantangan, masa depan terlihat cerah
Pemimpin perusahaan yang disurvei di Indonesia memiliki pandangan positif terhadap
lingkungan bisnis untuk 12 bulan ke depan.
Hampir setengah (46%) dari seluruh perusahaan mengharapkan kemajuan teknologi dan
inovasi, dan 29% memperkirakan peningkatan investasi teknologi akan mempengaruhi bisnis
mereka dalam 12 bulan ke depan. Hampir sepertiga (31%) menjawab akan ada permintaan
yang besar untuk layanan personal untuk produk dan jasa, terutama di bidang kesehatan,
layanan bisnis dan jasa konsultan profesional. Sebagian besar responden menganggap
perubahan ini sebagai sesuatu yang positif.
Laporan ini juga menemukan bahwa 29% perusahaan sedang mempersiapkan diri untuk
persaingan yang ketat dari pendatang baru ke industri mereka, terutama industri manufaktur
dan jasa keuangan.
Pada saat yang sama, sekitar sepertiga dari bisnis menyatakan ekspansi bisnis (39%),
teknologi dan sistem (37%), perlindungan risiko dan bencana (35%) dan peraturan dan
perundangan baru (33%) merupakan tantangan terbesar mereka saat ini.
Sattar mengatakan, "Tren pasar seperti investasi teknologi baru, layanan yang semakin
personal, dan kompetisi yang semakin ketat tidak hanya menghadirkan peluang bagi
perusahaan, namun juga membawa risiko baru. QBE telah mengembangkan produk asuransi
baru yang sesuai dengan berbagai risiko di Indonesia, yang diharapkan dapat mendukung dan
membantu bisnis dan profesional di semua industri untuk mengelola risiko yang dihadapi."
Informasi yang terkandung dalam siaran pers ini hanya diperuntukkan untuk kalangan media.
Halaman 3 dari 4
--Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
Gerda Silalahi
Marketing & Communications Manager
PT QBE General Insurance Indonesia
MidPlaza 2, 23rd Floor, Jl Jend Sudirman Kav 10-11, Jakarta 10220, Indonesia
Phone: +6221 572 3737
Fax: +6221 5710547-8
Email: [email protected] Website www.qbe.co.id
Metodologi Riset
QBE melakukan riset melalui telepon dan online kepada 1.220 pebisnis dan pengambil
kebijakan keuangan dari usaha kecil menengah (UKM) hingga perusahaan skala besar di
Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Hongkong; di mana 300 diantaranya berada di Indonesia.
Responden dibagi rata dalam enam industri utama: Teknologi Informasi dan Telekomunikasi;
Kesehatan; Jasa Keuangan; Manufaktur; Konstruksi dan Rekayasa Teknik; dan layanan Bisnis
dan Jasa Konsultasi Profesional. Penelitian dilakukan di Indonesia antara tanggal 11 April –
17 Mei 2017.
Tentang QBE Insurance Indonesia
PT. QBE General Insurance Indonesia dimiliki secara mayoritas oleh QBE Insurance Group,
Australia dan merupakan bagian dari Divisi Emerging Market Division dari QBE Group yang
mencakup Asia Pasifik dan Amerika Latin.
QBE Indonesia menyediakan solusi asuransi untuk bisnis, profesional, dan keluarga melalui
jaringan kantor cabang, pemasaran, dan penjualan yang berada di seluruh Indonesia untuk
mendukung saluran distribusi utama agen dan broker. Selama bertahun-tahun, QBE telah
memperkenalkan sejumlah produk baru untuk memenuhi perubahan kebutuhan pasar
Indonesia yang berkembang pesat, menawarkan perlindungan mulai dari yang dasar hingga
solusi asuransi yang lebih kompleks untuk industri Marine, Rekayasa Teknik dan Konstruksi,
properti, kendaraan bermotor, dan tanggung gugat serta kebutuhan asuransi umum lain.
Informasi yang terkandung dalam siaran pers ini hanya diperuntukkan untuk kalangan media.
Halaman 4 dari 4
Download