pemodelan statis dan dinamis pada motor starting untuk

advertisement
PEMODELAN STATIS DAN DINAMIS PADA MOTOR STARTING UNTUK
ANALISIS STABILITAS TRANSIEN DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ETAP 7.0
(STUDI KASUS PT. SEMEN GRESIK TUBAN IV)
Firlian Widyananda, Ontoseno Penangsang, Adi Soeprijanto
Jurusan Teknik Elektro-FTI, ITS
rotornya. Ketika kumparan stator dihubungkan ke sumber 3
fasa maka akan terbentuk medan putar dengan kecepatan
Ns = (120.f)/P
(2.1)
Setelah itu medan putar akan memotong batang
konduktor rotor sangkar atau memotong belitan rotor belit
sehingga akan menimbulkan gaya gerak listrik (ggl)
induksi. Dalam kondisi ini kumparan rotor merupakan
rangkaian yang tertutup maka gaya gerak listrik (ggl)
induksi akan menghasilkan arus I. Dengan adanya arus pada
suatu medan magnet maka akan menimbulkan gaya F yang
akan memutar rotor mengikuti arah medan putar stator.
Abstrak - Proses motor starting dapat menyebabkan gangguan yang
mengakibatkan sistem menjadi tidak stabil. Efek motor starting akan
menyebabkan arus motor starting 5 hingga 10 kali arus nominal serta
akan menyebabkan drop tegangan pada bus sistem. Penggunaan
metode tahanan rotor ini dapat menurunkan arus starting dan
memperbaiki drop tegangan. Metode tahanan rotor yang digunakan
berupa tahanan liquid. Penggunaan starter berupa tahanan liquid ini
akan merubah karakteristik torsi, arus, dan faktor daya. Perbedaan
pemodelan statis dan dinamis adalah jika pada model statis, motor
direpresentasikan sebagai impedansi rotor terkunci. Model dinamis
digunakan untuk melihat lama waktu start motor serta menentukan
tegangan kedip pada sistem akibat motor starting. Hasil simulasi dan
analisis motor starting didapatkan perbedaan drop tegangan antara
statis dan dinamis sebesar 17.3% untuk motor rooler mill, 16.5%
untuk cement mill, dan 26.5% untuk rawmill fan.
Kata Kunci: Metode Tahanan rotor, Pemodelan Statis, Pemodelan
Dinamis, Tegangan kedip.
1.
PENDAHULUAN
P
ada saat ini listrik merupakan energi yang sangat
penting untuk kebutuhan hidup manusia. Oleh karena
itu kualitas listrik yang baik haruslah terpenuhi. Dalam hal
ini kualitas tenaga listrik meliputi aspek kontinuitas
pelayanan daya dan kualitas bentuk gelombang tegangan
serta frekuensi. Gangguan merupakan salah satu faktor
penyebab ketidakstabilan pada sistem tenaga listrik.
Gangguan pada sisi suplai dapat menyebabkan generator
trip, dan hal ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan
antara jumlah suplai daya dengan daya beban. Selain itu
efek motor starting akan mengakibatkan sistem tidak stabil.
Proses motor starting akan menyebabkan arus motor
starting 5 sampai 10 kali nilai arus nominalnya dan akan
menyebabkan penurunan nilai tegangan pada bus-bus. Pada
Pabrik Tuban IV terdapat beberapa motor yang memiliki
kapasitas cukup besar. Apabila motor-motor dengan
kapasitas yang cukup besar tersebut di-start maka dapat
mengganggu kestabilan dari sistem kelistrikan di Pabrik
Tuban IV.
2.
TEORI PENUNJANG
2.1 Konstruksi dan Prinsip Kerja Motor Induksi
Motor induksi memiliki dua bagian konstruksi yaitu
stator dan rotor. Kumparan stator berfungsi untuk
menghasilkan medan putar yang digunakan untuk
perputaran motor [1]. Kumparan rotor merupakan bagian
yang bergerak akibat adanya induksi magnet dari kumparan
stator yang diinduksikan kepada kumparan rotor.
Berdasarkan bentuk konstruksi rotor, maka motor induksi
dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1. Rotor tipe sangkar (squirrel cage)
2. Rotor tipe belit (wound rotor)
Motor induksi bekerja berdasarkan induksi
elektromagnetik dari kumparan stator ke kumparan
2.2 Metode Starting Motor Induksi
Dalam melakukan starting motor induksi, terdapat
beberapa metode yang digunakan untuk starting tersebut.
Metode yang dapat digunakan untuk melakukan starting
motor induksi besar yaitu direct on-line, autotransformer,
soft starter, wye-delta, primary resistor winding, dan
adjustable frequency drives [2]. Metode starting ini
menggunakan prinsip mengendalikan tegangan dan arus
input yang berfungsi untuk menurunkan torsi starting yang
juga dapat mencegah kerusakan pada beban.
Motor induksi tipe wound memiliki lilitan stator mirip
dengan motor induksi sangkar bajing, tetapi lilitan rotor
dihubungkan keluar dari motor dengan menggunakan slip
ring dan sikat karbon. Tujuannya untuk menambahkan
resistansi yang diseri dengan lilitan rotor selama proses
starting. Setelah proses starting, resistansi tersebut di
hubung singkat dengan menggunakan kontak. Keuntungan
penambahan tahanan sekunder ini adalah mengurangi arus
starting motor dan akan memperbaiki torsi saat proses
starting.
Terdapat dua jenis tahanan yang digunakan, yaitu
tahanan metal dan liquid. Tahanan metal memiliki prinsip
menggunakan kontak metal untuk mengatur nilai tahanan.
Semakin jauh jarak kontak metal dari terminal input maka
semakin besar nilai resistansinya. Kontak metal rawan
meleleh akibat arus starting yang besar. Tahanan liquid
memiliki prinsip cairan elektrolit yang merendam dua
batang konduktor. Semakin tinggi cairan elektrolit maka
semakin kecil nilai resistansinya. Tahanan liquid ini
memiliki koefisien suhu terhadap nilai tahanan yang negatif
sehingga semakin tinggi suhu maka nilai resistansinya akan
mengecil hal inilah yang akan membatasi arus starting
tahanan liquid [3]. Keuntungan tahanan liquid adalah
pengaturan nilai resistansi tahanan liquid sangat halus
karena tergantung pada tinggi rendaman cairan elektrolit
dan tidak ada resiko kontak meleleh.
2.3 Standar Tegangan Kedip
Kedip tegangan didefinisikan sebagai fenomena
penurunan magnitude tegangan efektif terhadap harga
nominalnya selama interval waktu (t). Biasanya disebabkan
oleh sistem fault, energization beban besar ataupun starting
1
dari motor-motor besar. Standar tegangan kedip yang
digunakan yaitu SEMI F47.
z_th = ((j*xm) * (r1 + j*x1)) / (r1 + j*(x1 + xm)) (2.3)
Tabel 2.1 Standar tegangan kedip menurut standar SEMI F47
VOLTAGE SAG DURATION
Second (s)
Cycles at
Cycles at 50
60 Hz
Hz
< 0.05 s
0.05 to 0.2 s
0.2 to 0.5 s
0.5 to 1.0 s
>1.0 s
< 3 cycles
3 to 12
cycles
12 to 30
cycles
30 to 60
cycles
> 60 cycles
< 2.5 cycles
2.5 to 10
cycles
10 to 25
cycles
25 to50
cycles
> 50 cycles
dengan keterangan r1 dan x1 adalah resistansi dan reaktansi
stator, xm adalah reaktansi magnetisasi sedangkan v_th dan
z_th adalah tegangan dan impedansi thevenin. Setelah
rangkaian pengganti didapatkan selanjutnya menghitung
respon torsi-slip dengan menggunakan persamaan 2.4 [4] :
VOLTAGE SAG
Percent (%) of
Equipment
Nominal Voltage
Not specified
50 %
T
70 %
80 %
r2 
q1 V 2
th  s 
2
ωS
2
r
  X th  X 2 
R th  2 s
1

(2.4)

Dengan keterangan q1 untuk jumlah phasa, ωs adalah
kecepatan sinkron (rps), Rth dan Xth adalah resistansi dan
reaktansi pengganti thevenin, r2 dan X2 adalah resistansi dan
reaktansi rotor. Langkah selanjutnya adalah menentukan
respon arus-slip dengan menggunakan persamaan 2.5 [5] :
Not specified
2.4 Rangkaian Pengganti Motor Induksi
Dalam melakukan starting dengan menggunakan
tahanan rotor, maka diperlukan respon antara torsi-slip,
arus-slip, dan pf-slip. Untuk mendapatkan respon tersebut
dibutuhkan data motor yang meliputi :
1. resistansi dan reaktansi stator
2. resistansi dan reaktansi rotor
3. nilai resistansi eksternal
4. kecepatan sinkron motor
5. daya nominal, tegangan nominal, dan faktor daya
nominal
Langkah perhitungan dapat dilihat pada gambar 2.1
untuk mendapatkan respon torsi-slip, arus-slip, dan faktor
daya-slip. Selain dengan menggunakan metode starter
berupa liquid, pada tugas akhir ini akan dibahas juga
mengenai perbedaan antara pemodelan statis dan dinamis.
Pada gambar 2.2a dan 2.2b menunjukkan rangkaian
pengganti thevenin untuk motor induksi.
 
i A
V
rating
dengan keterangan

/


3 * Z in


(2.5)




r2
 jx 2
jx m
(2.6)
s
keterangan untuk i(A) adalah arus starting dengan satuan
Ampere dan Zin adalah impedansi input dengan satuan
Ohm (Ω). Langkah terakhir yaitu dengan menentukan
respon pf-slip dengan menggunakan persamaan 2.7 [5] :
(2.7)
Pf  Cos 
Penentuan respon torsi-slip, arus slip, dan pf-slip untuk
starting motor dengan metode liquid dilakukan dengan
mempertimbangkan bahwa pengaturan penurunan tahanan
rotor dilakukan secara bertahap dengan 12 tingkat resistansi
untuk studi kasus motor roolermill, cementmill, dan rawmill
fan sehingga didapatkan 12 buah respon motor untuk setiap
tingkat resistansi total rotor, penjumlahan dari resistansi
lilitan rotor dengan resistansi eksternal, untuk kemudian
digabungkan untuk setiap tingkatan kecepatan motor mulai
dari keadaan start hingga kecepatan sinkron.
Z in  r1 jx1 
Mulai
Perhitungan rangkaian pengganti
thevenin
Perhitungan torsi-slip motor
2.5 Perbedaan Model Statis dan Dinamis
Model
statis
yaitu
suatu
metode
yang
merepresentasikan motor sebagai impedansi rotor terkunci
selama waktu starting yang akan menarik arus maksimum
dari sistem. Setelah waktu akselerasi dari motor selesai,
motor akan dirubah kedalam suatu beban kVA konstan.
Untuk model dinamis yaitu suatu metode yang
merepresentasikan motor sebagai model dinamis untuk
melihat waktu starting dari sebuah motor hingga mencapai
kecepatan nominalnya serta digunakan untuk mengetahui
pengaruh tegangan kedip pada sistem. Gambar 2.3 dan 2.4
menunjukkan perbedaan model statis dan dinamis.
Perhitungan arus-slip motor
Perhitungan Pf-slip motor
Selesai
Gambar 2.1 Diagram alur penentuan karakteristik torsi, arus, dan Pf motor
Gambar 2.2a Rangkaian motor Gambar 2.2b Rangkaian thevenin
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mendapatkan
rangkaian pengganti thevenin untuk menentukan parameter
tersebut sehingga digunakan persamaan 2.2 dan 2.3 [4] :
v_th = v_phase*(xm/√(r12+(x1+xm)2))
(2.2)
Gambar 2.3 Model statis
2
Tabel 4.1 Data motor roolermill (344RM01) (lanjutan)
Resistansi stator
0.580 Ω
Reaktansi stator
0.61 Ω
Resistansi rotor
0.0170 Ω
Reaktansi rotor
0.61 Ω
Reaktansi Magnetisasi
16.5
Lilitan stator/Lilitan rotor
(pendekatan)
1
Tingkatan resistansi eksternal (terukur)
No. Ω
No. Ω
No Ω
No Ω
1 5.35
4 2.82
7 0.93
10
0.18
2 4.75
5 2.03
8 0.65
11 0.075
3 3.45
6 1.55
9 0.37
12
0
Gambar 2.4 Model dinamis
3. SISTEM KELISTRIKAN
PT SEMEN GRESIK TUBAN IV
Dengan menggunakan perangkat lunak MATLAB,
maka akan didapatkan hasil respon torsi-slip, arus-slip, dan
pf-slip yang telah dihitung berdasarkan persamaan 2.2
hingga 2.7 ditunjukkan pada tabel 4.2.
3.1 Sistem Kelistrikan PT. Semen Gresik Tuban IV
Sistem kelistrikan pabrik Semen Tuban IV di suplai
langsung dari sumber PLN sebesar 150 kV. Pada sistem
kelistrikan ini tidak terdapat trafo step up untuk menaikkan
tegangan output dari sumber. Tegangan output sumber
langsung disalurkan ke masing-masing bus beban. Dari tiaptiap bus ini tegangan akan diturunkan. Tegangan output
diturunkan menjadi 400 Volt maupun 700 Volt tergantung
tegangan beban motor yang beroperasi.
Tabel 4.2 Respon motor roolermill dengan liquid starter
Slip
Gambar 3.1 Single line diagram pabrik Tuban IV
3.2 Electrical Room Pabrik Tuban IV
Sistem kelistrikan di Pabrik Tuban IV terbagi atas
beban-beban yang dikelompokkan dalam 9 “Electrical
Room” (ER) sesuai dengan proses produksi Pabrik Semen
Tuban IV tersebut. Kesembilan ER beban tersebut disuplai
oleh PLN 150 KV. Pembagian ER tersebut dapat
ditunjukkan sebagai berikut :
Electrical Room - 23A : Limestone Crusher
Electrical Room - 23B : Clay & Silica Crusher &
Storage
Electrical Room - 23C : Limestone Storage
Electrical Room - 24
: Raw Mill
Electrical Room - 25
: Kiln, Pre-heater & Coal Mill
Electrical Room - 26
: Cooler
Electrical Room - 27
: Finish Mill
Electrical Room - 28
: Packer
Electrical Room - 29
: Utility
4.
SIMULASI DAN ANALISIS
4.1 Pemodelan Motor Roolermill (344RM01)
Motor roolermill merupakan motor yang memiliki
kapasitas sebesar 5350 kW yang berada pada ER-24. Data
motor dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Data motor roolermill (344RM01)
Tegangan nominal
6300 V
Daya nominal
5350 kW
Kecepatan sinkron
600 rpm
Pf nominal
0.8
3
% Torsi FL
% I FL
% PF
100
134.7
158.1
89.7
98.33
133.0
156.0
89.4
95
131.3
153.9
89.1
93.33
129.6
151.8
89.0
90
141.5
166.8
88.3
88.33
139.7
164.0
88.1
85
137.8
161.2
88.0
83.33
136.0
158.3
87.6
80
156.1
181.4
87.3
78.33
153.3
178.1
86.8
75
150.5
174.7
85.9
73.33
169.8
193.5
85.6
70
166.4
189.1
85.1
68.33
162.9
184.6
84.3
65
159.3
180.0
82.3
63.33
167.6
186.2
79.8
60
163.1
180.3
78.8
58.33
158.4
174.2
76.7
55
153.4
168.1
75.3
53.33
184.9
180.5
74.2
50
175.7
183.2
72.2
48.33
165.5
197.1
70.6
45
154.3
183.4
69.5
43.33
182.3
185.8
69.1
40
179.3
188.5
68.3
38.33
176.3
191.1
67.9
35
173.1
193.7
65.0
33.33
201.2
200.6
64.2
30
196.1
197.5
63.4
28.33
190.5
194.3
62.8
25
184.6
193.5
62.7
23.33
150.9
192.0
61.8
Tabel 4.2 Respon motor roolermill dengan liquid starter (lanjutan)
Slip
% Torsi FL
% I FL
Tabel 4.3 Tegangan bus motor berdasarkan model statis dan dinamis
Kondisi starting
BUS MOTOR
Sebelum
Selama
Sesudah
(%)
(%)
Drop (%)
(%)
Statis (DOL)
98.87
25.1421
73.7279
95.2177
Statis (Liquid
98.87
73.0142
25.8558
85.7955
Starter)
Dinamis (Liquid
98.87
90.3171
8.5529
96.4975
Starter)
% PF
20
152.6
191.1
62.2
15
154.4
187.9
61.1
10
156.3
188.5
68.3
5
148.3
186.6
79.2
3.33
143.0
152.9
87.9
1.67
165.3
145.4
91.3
0
10.0
53.6
70.6
Gambar 4.4 Tegangan bus motor roolermill berdasarkan model statis dan
dinamis
Gambar 4.1 Respon torsi motor rooler mill dengan liquid starter
Gambar 4.2 Respon arus motor rooler mill dengan liquid starter
Gambar 4.5 Arus starting motor roolermill berdasarkan model statis dan
dinamis
4.2 Pemodelan Motor Cementmill (548RM01)
Motor cementmill ini memiliki karakteristik yang
sama dengan motor roolermill. Motor ini memiliki kapasitas
sebesar 5500 kW yang berada pada electrical room 27. Data
motor cementmill dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Data motor cementmill (548RM01)
Tegangan nominal
Daya nominal
Kecepatan sinkron
Pf nominal
Resistansi stator
Reaktansi stator
Resistansi rotor
Reaktansi rotor
Reaktansi Magnetisasi
Lilitan stator/Lilitan rotor
(pendekatan)
Tingkatan resistansi eksternal (terukur)
No. Ω
No.
Ω
No
Ω
1
5.35
4
2.82
7
0.93
2
4.75
5
2.03
8
0.65
3
3.45
6
1.55
9
0.37
Gambar 4.3 Respon faktor daya motor rooler mill dengan liquid starter
4.1.1 Analisis Statis dan Dinamis Motor Roolermill
(344RM01)
Pada tugas akhir ini akan dilakukan perbandingan
untuk motor yang diberi liquid starter dengan ketika motor
tidak diberi starter (DOL). Selain model statis, juga akan
dilakukan model dinamis. Model dinamis digunakan untuk
melihat lama waktu start dari sebuah motor.
Pada tabel 4.3 menunjukkan kondisi tegangan bus
motor roolermill berdasarkan model statis dan dinamis. Dari
tabel dapat terlihat perbedaan drop tegangan ketika motor
di-start dengan statis secara direct online, statis ketika
diberi liquid starter, dan dinamis. Pada model dinamis, lama
waktu start dari motor roolermill ini adalah 5.04 detik.
Gambar 4.4 dan 4.5 merupakan respon tegangan bus dan
arus starting berdasarkan model statis dan dinamis.
6300 V
5500 kW
1200 rpm
0.8
0.780 Ω
0.610 Ω
0.01506 Ω
0.610 Ω
15
1
No
10
11
12
Ω
0.18
0.075
0
4.2.1 Analisis Statis dan Dinamis Motor Cementmill
(548RM01)
Analisis yang dilakukan sama seperti motor roolermill
yaitu membandingkan antara model statis dan dinamis. Pada
tabel 4.5 menunjukkan kondisi tegangan bus motor yaitu
ER27-B834-MV272.
4
Tabel 4.6 Data motor rawmill fan (344FN03) (lanjutan)
Lilitan stator/Lilitan rotor
(pendekatan)
Tingkatan resistansi eksternal (terukur)
No.
Ω
No.
Ω
No
Ω
No
1
3.55
4
0.93
7
0.27
10
2
2.93
5
0.65
8
0.15
11
3
1.85
6
0.48
9
0.077
12
Tabel 4.5 Tegangan bus motor berdasarkan model statis dan dinamis
Kondisi starting
BUS MOTOR
Sebelum
Selama
Sesudah
(%)
(%)
Drop (%)
(%)
Statis (DOL)
101.185
32.7952
68.3898
99.7887
Statis (Liquid
101.185
76.4201
24.7649
99.7891
Starter)
Dinamis (Liquid
101.185
93.6279
8.2221
99.7666
Starter)
1
Ω
0.043
0.023
0
Setelah data motor didapat, maka dilakukan plot
respon karakteristik torsi-slip, arus-slip, dan pf-slip. Gambar
4.8 sampai 4.10 merupakan hasil plot respon.
Pada saat motor di-start pada detik ke-1, waktu start
yang dibutuhkan hingga motor mencapai keadaan steady
state selama 6.1 detik. Kondisi tegangan bus motor akan
ditunjukkan pada gambar 4.6.
Gambar 4.8 Respon torsi motor rawmill fan dengan liquid starter
Gambar 4.6 Tegangan bus motor cementmill berdasarkan model statis dan
dinamis
Arus starting dari sebuah motor juga cukup berbahaya
terhadap sebuah sistem. Oleh sebab itu dilihat pula respon
arusnya terhadap. Pada gambar 4.7 menunjukkan respon
arus starting motor cementmill.
Gambar 4.9 Respon arus motor rawmill fan dengan liquid starter
Gambar 4.7 Arus starting motor cementmill berdasarkan model statis dan
dinamis
4.3 Pemodelan Motor Rawmill Fan (344FN03)
Motor rawmill fan ini merupakan jenis fan yang
memiliki kapasitas paling besar di pabrik Tuban IV yaitu
8000 kW. Data motor ditunjukkan pada tabel 4.6.
Tabel 4.6 Data motor rawmill fan (344FN03)
Tegangan nominal
Daya nominal
Kecepatan sinkron
Pf nominal
Resistansi stator
Reaktansi stator
Resistansi rotor
Reaktansi rotor
Reaktansi Magnetisasi
Gambar 4.10 Respon faktor daya motor rawmill fan dengan liquid starter
4.3.1 Analisis Statis dan Dinamis Motor Rawmill Fan
(344FN03)
Motor rawmill fan ini terletak di bus yang sama
dengan motor roolermill yaitu bus ER24-C834-MV241.
Dengan kapasitas yang cukup besar inilah yang akan
menyebabkan sistem mengalami gangguan pada saat motor
di-start. Pada saat motor rawmill fan ini starting, motor
akan kembali steady state selama 20.92 detik. Kondisi
tegangan bus saat motor rawmill fan start dapat ditunjukkan
pada tabel 4.7.
6300 V
8000 kW
1800 rpm
0.8
0.2834 Ω
0.420 Ω
0.0270 Ω
0.420 Ω
15.5
5
Tabel 4.7 Tegangan bus motor berdasarkan model statis dan dinamis
Kondisi starting
BUS MOTOR
Sebelum
Selama
Sesudah
(%)
(%)
Drop (%)
(%)
Statis (DOL)
98.87
26.8971
71.9729 94.5728
Statis (Liquid
98.87
66.9763
31.8937 98.6271
Starter)
Dinamis (Liquid
98.87
93.504
5.366 97.9029
Starter)
sebesar 16.5428%, dan motor rawmill fan
(344FN03) sebesar 26.5277%.
4. Arus starting statis pada rooler mill sebesar
140.728%, cementmill_tbl sebesar 148.008, dan
rawmill fan sebesar 202.75%. Untuk arus starting
dinamis rooler mill sebesar 141.122%,
cementmill_tbl sebesar 148.404%, rawmill fan
sebesar 77.0945%.
5. Pada bus ER24-C834-MV241 terdapat dua motor
dengan kapasitas yang cukup besar yaitu 8000
kW dan 5350 kW. Oleh sebab itu motor dengan
kapasitas 8000 kW harus di-start terlebih dahulu
terhadap motor 5350 kW.
Dari tabel 4.7 dapat dilihat efek yang diakibatkan
motor starting ketika tanpa diberi starter yang akan
menyebabkan drop tegangannya besar. Pada gambar 4.11
menunjukkan respon tegangan bus motor dan gambar 4.12
menunjukkan respon arus starting motor.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan untuk perbaikan dan
pengembangan simulasi dan analisis pada tugas akhir ini
adalah :
1. Pada tugas akhir ini, metode starting yang
digunakan adalah liquid starter. Penggunakan
metode starting lain juga akan memperbaiki drop
tegangan dan arus starting yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Zuhal, “Dasar Tenaga Listrik”. ITB Bandung,
Bandung, 1991.
[2] Abdullah Saeed Al-Amoudi, “Air conditioners
Peformance Using Soft Starter”, King Fahd University
of Petroleum & Minerals, 2003.
[3] A. E. Fitzgerald dkk, “Electric Machinery Third
Edition,” McGraw-Hill Book Company. 1971.
[4] K A Walshe, “AC Motors Rev:A.”
[5] John Larabee dkk, “Induction Motor Starting Methods
and Issues”, Siemens Energy and Automation Inc.,
2005.
[6] Rotor Starters for Slipring Motors, Pape and Olbertz,
2008.
[7] Resistance Motor Starter, ABB Australia Ply Limited,
2008.
BIODATA PENULIS
Gambar 4.11 Tegangan bus motor rawmill fan berdasarkan model statis
dan dinamis
Gambar 4.12 Arus starting motor rawmill fan berdasarkan model statis
dan dinamis
5.
PENUTUP
Firlian Widyananda lahir di Surabaya
pada tanggal 7 Maret 1989.
Pendidikannya berawal dari TK Bina
Bunga Bangsa Surabaya pada tahun
1992-1994, kemudian melanjutkan ke
SD Tunas Jaka Sampurna Bekasi pada
tahun 1995-2001, Setelah lulus ia
melanjutkan pendidikannya ke SMPN
252 Jakarta Timur pada tahun 2001 2004, pendidikan SMA ditempuh pada tahun 2004-2007 di
SMAN 12 Jakarta Timur pada tahun 2004-2007, setelah
lulus melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya Jurusan Teknik Elektro
Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga tahun 2007 - sekarang.
Penulis pernah menjadi juara 2 dalam Energy Efficiency
University Challenge Schneider Electric pada tahun 2010
dan saat ini menjadi asisten Laboratorium Simulasi Sistem
Tenaga
Listrik.
Penulis
dapat
dihubungi
di
[email protected].
5.1 Kesimpulan
Dari hasil simulasi dan analisis, maka dalam tugas
akhir ini dapat di tarik kesimpulan yang penting sebagai
berikut:
1. Penggunaan metode starting berupa liquid starter
akan memperhalus drop tegangan pada bus motor
sehingga masih dalam batas aman. Selain hal
tersebut, waktu starting yang dibutuhkan suatu
motor juga tergolong cepat apabila menggunakan
metode liquid starter.
2. Pemodelan dinamis akan memperbaiki drop
tegangan di bus motor dibandingkan dengan
menggunakan pemodelan statis.
3. Pemodelan dinamis dengan metode liquid starter
akan memperbaiki drop tegangan pada bus motor.
Perbedaan drop tegangan saat statis dan dinamis
ketika motor rooler mill (344RM01) start sebesar
17.3029%, motor cementmill_tbl (548RM01)
6
Download