8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN TEORI 1. Kehamilan a

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN TEORI
1. Kehamilan
a. Definisi
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari
pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama
dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai
6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Prawirohardjo, 2006;
h.89).
Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira 280
hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu
ini disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu
disebut kehamilan postmatur. Kehamilan antara 28-36 minggu disebut kehamilan
prematur (Prawirohardjo, 2007; h.125).
Jadi kehamilan adalah proses yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya
janin, lamanya 40 minggu atau 9 bulan 7 hari dihitung dari hari pertama haid
terakhir.
b. Proses Kehamilan
Untuk tiap kehamilan harus ada spermatozoon, ovum, pembuahan ovum
(konsepsi), dan nidasi hasil konsepsi (Kusmiyati, 2010; h.34).
1) Ovum
Ovum merupakan sel terbesar pada badan manusia. Setiap bulan satu
ovum atau kadang-kadang lebih menjadi matur, dengan sebuah penjamu
mengelilingi sel pendukung (Kusmiyati, 2010; h.34).
Saat ovulasi ovum keluar dari folikel ovarium yang pecah. Ovum tidak
dapat berjalan sendiri. Kadar estrogen yang tinggi meningkatkan gerakan tuba
uterina,
sehingga
silia
tuba
tesebut
dapat
menangkap
ovum
dan
menggerakkannya sepanjang tuba menuju rongga rahim (Kusmiyati, 2010;
h.34).
8
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
9
Pada waktu ovulasi sel telur yang telah masak dilepaskan dari
ovarium. Dengan gerakan seperti menyapu oleh fimbria tuba uterina, ia
ditangkap oleh infundibulum. Selanjutnya ia masuk ke dalam ampulae sebagai
hasil gerakan silia dan kontraksi otot. Sebuah ovum mungkin ditangkap/masuk
ke dalam infundibulum tuba yang berlawanan. Keadaan ini disebut migrasi
eksterna. Ovum biasanya dibuahi dalam 12 jam setelah ovulasi dan akan mati
dalam 12 jam bila tidak segera dibuahi (Kusmiyati, 2010; h.34).
2) Spermatozoa
Pada saat koitus kia-kira 3-5 cc semen ditumpahkan ke dalam fornik
posterior, dengan jumlah spermatozoa sekitar 200-500 juta. Dengan gerakan
ekor sperma masuk ke dalam kanalis servikalis. Di dalam rongga uterus dan
tuba gerakan sperma terutama disebabkan oleh kontraksi otot-otot pada
organ tersebut (Kusmiyati, 2010; h.34).
Spermatozoa dapat mencapai ampula kira-kira 1 jam setelah koitus.
Ampula tuba merupakan tempat terjadinya fertilisasi. Hanya beberapa ratus
sperma yang bisa mencapai tempat ini. Sebagian besar mati sebagai akibat
keasaman vagina, sebagian lagi hilang/ mati dalam perjalanan. Sperma dapat
bertahan dalam saluran reproduksi wanita sampai 4 hari (Kusmiyati, 2010;
h.34).
3) Fertilisasi/konsepsi
Fertilisasi adalah terjadinya pertemuan antara sel mani dan sel telur.
Fertilisasi terjadi di ampula tuba. Dengan adanya fertilisasi inti ovum segera
berubah menjadi pronukleus batina, sementara spermatozoon setelah
melepaskan ekornya berbah menjadi pronukleus jantan. Kedua pronukleus ini
akhirnya melebur di tengah-tengah sitoplasma sel telur dan terjadilah zigot,
sebuah sel tunggal, awal sebuah kehidupan baru manusia (Kusmiyati, 2010;
h.34).
4) Nidasi/Implantasi
Nidasi adalah peristiwa tertanamnya sel telur yang telah dibuahi ke
dalam endometrium. Sel telur yang telah dibuahi (zigot) akan segera
membelah diri membentuk bola padat terdiri dari sel-sel anak yang lebih kecil
yang disebut blastomer. Pada hari ketiga bola tersebut terdiri atas 16 sel
blastomer dan disebut morula. Pada hari keempat di dalam bola tersebut
mulai terbentuk rongga yang disebut blastula. Pada hari keempat blastula
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
10
masuk ke dalam endometrium dan pada hari ke 6 menempel di endometrium.
Pada hari ke-10 seluruh blastula sudah terbenam dalam endometrium dan
dengan demikian nidasi sudah selesai (Kusmiyati, 2010; h.34).
c. Hormon-hormon Penting yang Berperan dalam Reproduksi
Hormon-hormon penting yang berperan dalam reproduksi yaitu :
1) Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel teka. Sel-sel granulosa yang telah
mengalami luteinisasi menghasilkan baik estrogen maupun progesteron.
Estradiol adalah estrogen utama yang dibuat oleh ovarium. Pada awal siklus
menstruasi kadarnya kira-kira 50 pg/ml tetapi menjelang LH surge kadarnya
mencapai 400 pg/ml. Estradiol ini sebagai trigger pelepasan LH (Kusmiyati,
2010; h.33).
Estrogen menimbulkan proliferasi dari endometrium, tapi pengaruhnya
lebih luas karena menyebabkan timbulnya tanda kelamin sekunder. Hormon
ini dipergunakan untuk mengatur haid, untuk pengobatan menopause
(Kusmiyati, 2010; h.33).
2) Progesteron
Dibentuk oleh korpus luteum setelah terjadi ovulasi. Selain itu
plasenta, glandula supra renalis, juga merupakan sumber pembuatan
progesteron (Kusmiyati, 2010; h.33).
3) Prostaglandin
Prostaglandin adalah asam lemak yang dioksigenasi, dihasilkan oleh
kebanyakan
organ
tubuh,
terutama
oleh
prostat
dan
endometrium.
Prostaglandin E dan prostaglandin F merupakan prostaglandin yang penting
dalam fisiologi reproduksi. Prostaglandin penting untuk mematangkan serviks
dan memperkuat kontraksi endometrium pada saat persalinan (Kusmiyati,
2010; h.33).
4) Prolaktin
Sekresi prolaktin diatur oleh Prolactine Inhibiting Factor (PIF) yang
dihasilkan di hipotalamus. Terdapat hubungan yang erat antara PIF dan
GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone). Penurunan PIF dan GnRH
menyebabkan trias klinik amenorhea, difisiensi estrogen dan galaktore. Kadar
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
11
prolaktin normal adalah 5-25 ng/ml. Fungsi utama prolaktin adalah
pembentukan air susu (Kusmiyati, 2010; h.33).
d. Pertumbuhan Janin dalam Uterus
Tabel 2.1 Pertumbuhan janin dalam uterus
(Prawirohardjo, 2007; h.64)
Tua kehamilan
Panjang fetus
8 minggu
2,5 cm
12 minggu
9 cm
16 minggu
16-18 cm
20 minggu
24 minggu
25 cm
30-32 cm
28 minggu
35 cm
Ciri-ciri
Hidung, kuping, jari-jari mulai terbentuk. Kepala
membungkuk ke dada.
Daun kuping lebih jelas,kelopak mata masih melekat,
leher mulai terbentuk, alat genetalia eksterna
terbentuk, belum berdiferensiasi
Genetalia eksterna terbentuk dan dapat dikenal, kulit
merah tipis sekali
Kulit lebih tebal, rambut halus (lanugo)
Kelopak mata terpisah, alis dan bulu mata ada, kulit
keriput
Berat 1000 gram
e. Perubahan Fisiologis pada Wanita Hamil
Pada kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh wanita,
khususnya pada alat genetalia eksterna dan interna dan pada payudara
(Prawirohardjo, 2007; h.89).
1) Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh
hormon estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini
pada dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot-otot uterus, di samping itu,
serabut-serabut
kolagen
yang
ada
pun
menjadi
higroskopik
akibat
meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan
janin. Bila ada kelainan ektopik, uterus akan membesar pula, karena
pengaruh hormon-hormon itu. Begitu pula endometrium menjadi desidua
(Prawirohardjo, 2007; h.89).
Berat uterus normal lebih kurang 30 gram, pada akhir kehamilan (40
minggu) berat uterus ini menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20
cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm. Pada bulan-bulan pertama kehamilan
bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng. Pada kehamilan 4 bulan
uterus berbentuk bulat. Selanjutnya, pada akhir kehamilan kembali seperti
bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan antara besarnya uterus
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
12
dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui, antara lain untuk
membuat diagnosis apakah wanita tersebut hamil fisiologik, atau hamil ganda,
atau
menderita
penyakit
seperti
mola
hidatidosa,
dan
sebagainya
(Prawirohardjo, 2007; h.89).
Tabel 2.2 Tinggi Fundus Uteri berdasarkan usia kehamilan
(Prawirohardjo, 2006; h.93)
Usia kehamilan
TFU dalam cm
TFU dengan penunjuk badan
12 minggu
16 minggu
-
20 minggu
22-27 minggu
20 cm (+ 2 cm)
Usia kehamilan dalam minggu=cm
(+ 2cm)
28 cm ( + 2 cm)
28 minggu
29-35 minggu
Usia kehamilan dalam minggu=cm
(+ 2cm)
36 cm (+ 2 cm)
36 minggu
Teraba di atas simfisis pubis
Di tengah antara simfisis pubis dan
umbilikus
Pada umbilikus
Di
tengah
antara
prosesus sifoideus
-
umbilikus
Pada prosesus sifoideus
2) Serviks Uteri
Serviks uteri pada kehamilan mengalami perubahan karena hormon
estrogen. Jika korpus uteri banyak mengandung jaringan otot, maka serviks
lebih banyak mengandung jaringan ikat, hanya 10% jaringan otot. Jaringan
ikat pada serviks ini banyak mengandung kolagen. Akibat kadar estrogen
meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistensi serviks
menjadi lunak (Prawirohardjo, 2007; h.94).
Kelenjar-kelenjar
di
serviks
akan
berfungsi
lebih
dan
akan
mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang
hamil mengeluh mengeluarkan cairan per vaginam lebih banyak. Keadaan ini
sampai
batas
tertentu
masih
merupakan
keadaan
yang
fisiologik
(Prawirohardjo, 2007; h.94).
3) Vagina dan vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami perubahan pula.
Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vulva dan vagina tampak lebih
merah, agak kebiru-biruan (livide). Tanda ini disebut tanda Chadwick. Warna
porsio pun tampak livide. Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna
akan membesar. Hal ini karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia
tersebut meningkat. Apabila terdapat kecelakaan pada kehamilan atau
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
13
persalinan,
maka
perdarahan
akan
banyak
sekali,
sampai
dapat
mengakibatkan kematian (Prawirohardjo, 2007; h.95).
4) Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis
sampai terbentuknya plasenta pada kehamilan kira-kira 16 minggu. Korpus
luteum graviditatis berdiameter kira-kira 3 cm. Kemudian ia mengecil setelah
plasenta terbentuk. Korpus luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan
progesteron. Lambat laun fungsi ini diambil alih oleh plasenta (Prawirohardjo,
2007; h.95).
5) Mammae
Mammae
akan
somatomammotropin,
membesar
estrogen,
dan
dan
menegang
progesteron,
akibat
akan
hormon
tetapi
belum
mengeluarkan air susu. Estrogen menimbulkan hipertrofi sistem saluran,
sedangkan
progesteron
menambah
sel-sel
asinus
pada
mammae.
Somatomammotropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus pula dan
menimbulkan perubahan dalam sel-sel, sehingga terjadi pembuatan kasein,
laktalbumin, dan laktoglobulin. Dengan demikian, mammae dipersiapkan
untuk laktasi. Di samping ini, di bawah pengaruh progesteron dan
somatomammotropin, terbentuk lemak di sekitar kelompok-kelompok alveolus,
sehingga mammae menjadi lebih besar. Papilla mammae akan membesar,
lebih tegak, dan tampak lebih hitam, seperti seluruh areola mammae karena
hiperpigmentasi. Glandula Montgomery tampak lebih jelas menonjol di
permukaan areola mammae (Prawirohardjo, 2007; h.95).
6) Sirkulasi darah
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi
ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang
membesar pula, mammae dan alat-alat lain yang berfungsi berlebihan dalam
kehamilan. Volum darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologik
dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume darah akan
bertambah banyak, kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu,
diikuti dengan cardiac output yang meninggi sebanyak kira-kira 30%. Akibat
hemodilusi tersebut, yang mulai jelas timbul pada kehamilan 16 minggu, ibu
yang
mempunyai
penyakit
jantung
dapat
jatuh
dalam
keadaaan
dekompensasi kordis (Prawirohardjo, 2007; h.96).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
14
7) Sistem respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang
mengeluh rasa sesak dan pendek nafas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32
minggu ke atas oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar
ke arah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk
memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira-kira 20%, seorang wanita
hamil selalu bernafas lebih dalam, dan bagian bawah toraksnya juga melebar
ke sisi, yang sesudah partus kadang-kadang menetap jika tidak dirawat
dengan baik (Prawirohardjo, 2007; h.97).
8) Traktus digestivus
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan eneg
(nausea) akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot
traktus digestivus menurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga
berkurang. Makanan lebih lama berada di dalam lambung dan apa yang telah
dicerna lebih lama berada dalam usus. Hal ini mungkin baik untuk reabsorbsi,
akan tetapi menimbulkan pula obstipasi, yang merupakan salah satu keluhan
utama wanita hamil. Tidak jarang dijumpai pada bulan-bulan pertama
kehamilan gejala muntah (emesis). Biasanya terjadi pada pagi hari (morning
sicknees). Emesis bila terlampau sering dan terlalu banyak dikeluarkan
disebut hiperemesis gravidarum, keadaan ini patologik (Prawirohardjo, 2007;
h.97).
9) Traktus urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh
uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini
hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga
panggul. Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu
atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul kembali karena kandung
kencing tertekan kembali (Prawirohardjo, 2007; h.98).
10) Kulit
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat
tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh Melanophore Stimulating
Hormone (MSH) yang meningkat. MSH ini adalah salah satu hormon yang
juga dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
15
pigmen pada dahi, pipi, dan hidung yang dikenal dengan cloasma gravidarum
(Prawirohardjo, 2007; h.98).
11) Metabolisme
Pada wanita hamil basal metabolic rate (BMR) meninggi, sistem
endokrin juga meninggi dan tampak lebih jelas kelenjar gondoknya (glandula
tireoidea). BMR meningkat hingga 15-20% yng umumnya ditemukan pada
triwulan terakhir. Kalori yang dibutuhkan untuk itu diperoleh terutama dari
pembakaran hidrat arang, khususnya sesudah kehamilan 20 minggu ke atas.
Akan tetapi bila dibutuhkan, dipakailah lemak itu untuk mendapatkan
tambahan kalori dalam pekerjaan sehari-hari. Dalam keadaan biasa wanita
hamil cukup hemat dalam hal pemakaian tenaganya (Prawirohardjo, 2007;
h.98).
f. Perubahan Psikologis pada Wanita Hamil
Perubahan psikologis pada wanita hamil yaitu :
1) Trimester I
Trimester ini sering disebut masa penentuan (Kusmiyati, 2010; h.70).
Perubahan psikologis pada trimester I yaitu :
a) Seorang ibu akan selalu mencari tanda-tanda untuk meyakinkan bahwa
dirinya memang hamil.
b) Akibat dari peningkatan hormon estrogen dan progesteron, akan
mempengaruhi pada fisik sehingga banyak ibu hamil yang merasakan
kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan.
c) Muncul kebingungan tentang kehamilannya dengan pengalaman buruk
yang pernah dialaminya sebelum hamil, efek kehamilan yang akan terjadi,
tanggungjawab
baru
yang
akan
dipikul,
kecemasan
tentang
kemampuannya sebagai seorang ibu, penerimaan kehamilannya oleh
orang lain.
d) Kebanyakan wanita hamil mengalami penurunan libido selama periode ini.
2) Trimester II
Trimester ini sering disebut sebagai periode pancaran kesehatan, saat
ibu merasa sehat (Kusmiyati, 2010; h.70).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
16
Perubahan psikologis pada trimester II yaitu :
a) Tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormon yang tinggi dan rasa tidak
nyaman.
b) Ibu sudah menerima kehamilannya dan sudah mulai dapat menggunakan
energi dan pikirannya secara lebih konstruktif.
c) Hubungan sosial wanita akan meningkat dengan wanita hamil lainnya,
ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran dan
persiapan untuk peran yang baru.
d) Ibu merasa takut dan cemas akan kemungkinan jika anaknya cacat atau
lahir tidak sempurna.
3) Trimester III
Trimester ini sering disebut sebagai periode penantian (Kusmiyati, 2010;
h.70).
Perubahan psikologis pada trimester III yaitu :
a) Wanita menanti kehadiran bayinya, ia menjadi tidak sabar untuk segera
melihat bayinya.
b) Merasa gelisah apabila bayinya tidak lahir tepat pada waktunya.
c) Wanita hamil akan berusaha melindungi bayinya, dengan menghindari
kerumunan atau seseorang atau apapun yang dianggap membahayakan.
d) Ibu mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul
pada waktu melahirkan
e) Rasa tidak nyaman timbul kembali karena merasa dirinya aneh dan jelek.
f) Ibu mengalami proses berduka seperti kehilangan perhatian dan hak
istimewa yang dimiliki selama kehamilan, terpisahnya bayi dari bagian
tubuhnya.
g) Hasrat seksual menurun.
g. Mendiagnosis Kehamilan
Diagnosis kehamilan (Prawirohardjo, 2007; h.126) meliputi :
1) Tanda tidak pasti hamil
a) Amenorhea (tidak haid)
b) Nausea (enek) dan emesis (muntah)
c) Mengidam ( menginginkan makanan atau minuman tertentu)
d) Pingsan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
17
e) Mammae menjadi tegang dan membesar
f) Anoreksia (tidak ada nafsu makan)
g) Sering kencing
h) Obstipasi
i) Pigmentasi kulit
j) Epulis
k) Varises
2) Tanda mungkin hamil
a) Tanda Hegar, yaitu perlunakan pada daerah isthmus uteri, sehingga
daerah tersebut pada penekanan mempunyai kesan lebih tipis dan uterus
mudah difleksikan.
b) Tanda Chadwick, yaitu vulva/vagina berwarna agak kebiru-biruan.
c) Tanda Piscaseck, yaitu uterus membesar ke salah satu jurusan hingga
menonjol jelas ke jurusan pembesaran tersebut.
d) Tanda
Braxton-Hicks,
yaitu
bila
uterus
dirangsangakan
mudah
berkontraksi.
e) Suhu basal yang sesudah ovulasi tetap tinggi antara 37,20 sampai 37,80
adalah salah satu tanda akan adanya kehamilan.
f) Adanya HCG pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pagi hari.
3) Tanda pasti hamil
a) Teraba bagian-bagian janin
b) Terdengar bunyi jantung janin
c) Dapat dirasakan gerakan janin
d) Pada pemeriksaan USG dapat diketahui ukuran kantong janin, panjang
janin, dan diameter biparietalis hingga dapat diperkirakan usia kehamilan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
18
h. Ketidaknyamanan pada Wanita Hamil dan Cara Mengatasinya
Tabel 2.3. Ketidaknyamanan pada Wanita Hamil dan Cara Mengatasinya
(Kusmiyati, 2010; h.143).
Ketidaknyamanan
Kelelahan
fatique
Selama TM I
&
Dasar anatomis & fisiologis
Cara mengatasinya
1) Penyebab tidak diketahui
2) Mungkin berhubungan dengan
penurunan laju metabolisme basal
pada awal kehamilan
1) Yakinkan ini normal terjadi
dalam kehamilan
2) Dorong ibu untuk sering
beristirahat
Keputihan
TM I,II,III
Peningkatan produksi lendir dan
kelenjar endocervical sebagai akibat
dari peningkatan kadar estrogen
1) Meningkatkan kebersihan
2) Memakai pakaian dalam
yang terbuat dari katun
bukan nilon.
Ngidam
TM I tapi bisa
berlangsung
selama kehamilan
1) Mungkin berkaitan dengan persepsi
mengenai
apa
yang
bisa
mengurangi rsa mual dan muntah
2) Indra pengecap menjadi tumpul,
jadi
makanan
yang
lebih
merangsang dicari-cari
1) Tidak perlu menimbulkan
kekhawatiran asal cukup gizi
dan sehat
2) Menjelaskan
tentang
bahaya makanan yang tidak
baik
Sering
BAK/nocturia
TM I dan III
Tekanan uterus pada kandung kemih
1) Perbanyak minum pada
siang hari
2) Batasi minum kopi,teh,cola
Mual atau muntah
TM I
1) Peningkatan kadar HCG,estrogen/
progesteron
2) Relaksasi otot-otot halus
3) Perubahan dalam metabolisme
karbohidrat berlebihan
4) Mekanisme kongesti, inflamasi,
distensi pergeseran
1) Hindari bau/faktor penyebab
2) Makan biskuit atau roti
sebelum bangun dari tempat
tidur di pagi hari
3) Makan sedikit tapi sering
4) Hindari makanan berminyak
dan berbumbu merangsang
5) Minum
minuman
berkarbonat dan teh herbal
6) Hindari menggosok gigi
segra setelah makan
Cloasma
TM II
1) Kecenderungan genetis
2) Peningkatan kadar estrogen dan
progesteron
1) Hindari
sinar
matahari
berlebihan
2) Gunakan bahan pelindung
non alergis
Hemorroid
TM II dan III
1) Konstipasi
2) Tekanan yang meningkat dari
uterus gravid terhadap vena
hemoroida
3) Dukungan yang tidak memadai
pada
vena
hemoroid
diarea
annorektal
1) Makan makanan berserat
2) Gunakan
kompres
es,
hangat atau sit bath
3) Dengan
perlahan
masukkan kembali ke dalam
rektum jika perlu
4) Hindari BAB sambil jongkok
Konstipasi
TM II dan III
1) Penyerapan
air
dari
colon
meningkat
2) Tekanan
dari
uterus
yang
membesar pada usus
3) Suplemen zat besi
4) Peningkatan kadar progesteron
yang menyebabkan peristaltik usus
jadi lambat
1) Tingkatkan
intake
cairan,serat
2) Minum air dingin/panas
saat perut kosong
3) Istirahat cukup
4) Membiasakan BAB secara
teratur
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
19
Ketidaknyamanan
Dasar anatomis & fisiologis
dan
Cara mengatasinya
Sesak nafas
TM II dan III
Uterus membesar
diafragma
menekan
1) Latihan nafas melalui senam
hamil
2) Tidur
dengan
bantal
ditinggikan
3) Makan tidak terlalu banyak
4) Mendorong postur tubuh
yang
baik
melakukan
pernafasan intercostal
Pusing
TM II dan III
1) Hipertensi
postural
yang
berhubungan dengan perubahan
hemodinamis
2) Mungkin berhubungan dengan
hipoglikemia
3) Sakit kepala pada TM terakhir
dapat merupakan gejala PEB
1) Bangun secara perlahan
dari posisi istirahat
2) Hindari berdiri terlalu lama
dalam
lingkungan
yang
sesak
3) Hindari berbaring dalam
posisi terlentang
4) Konsultasi untuk rasa sakit
yang terus menerus
Varises
pada
kaki/vulva
TM II dan III
1) Kongesti vena dalam vena bagian
bawah yang meningkat sejalan
dengan kehamilan karena tekanan
dari uterus
2) Kerapuhan jaringan elastis yang
diakibatkan oleh estrogen
3) Kecenderungan bawaan keluarga
4) Disebabkan faktor usia dan lama
berdiri
1) Tinggikan kaki sewaktu
berbaring atau duduk
2) Jaga agar kaki jangan
bersilangan
3) Hindari berdiri atau duduk
terlalu lama
4) Istirahat
dengan
posisi
berbaring miring kiri.
i. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil
Kebutuhan dasar ibu hamil (Kusmiyati, 2010; h.103) meliputi :
1) Kebutuhan Fisik Ibu Hamil
a) Oksigen
b) Nutrisi
c) Personal hygiene
d) Pakaian selama kehamilan
e) Eliminasi (BAB/BAK)
f) Seksual
g) Mobilisasi dan body mekanik
h) Exercise/senam hamil
i) Istirahat/tidur
j) Imunisasi
k) Travelling
l) Persiapan laktasi
m) Persiapan persalinan dan kelahiran bayi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
20
2) Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil
a) Support dari keluarga
b) Rasa aman dan nyaman selama kehamilan
c) Persiapan menjadi orang tua
j. Asuhan Antenatal
Asuhan antenatal (Prawirohardjo, 2006; h.90) meliputi :
1) Tujuan asuhan antenatal
a) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan keeshatan Ibu dan
tumbuh kembang bayi
b) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu
dan bayi
c) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum,
kebidanan dan pembedahan
d) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu
dan bayi dengan trauma seminimal mungkin
e) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian asi
eksklusif
f) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi
agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
2) Kebijakan Program
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama
kehamilan.
a) Satu kali pada triwulan pertama
b) Satu kali pada triwulan kedua
c) Dua kali pada triwulan ketiga
Pelayanan/asuhan standar minimal termasuk “7T” :
a) (Timbang) berat badan
b) Ukur (Tekanan) darah
c) Ukur (Tinggi) fundus uteri
d) Pemberian imunisasi (Tetanus Toksoid) TT lengkap
e) Pemberian (Tablet) zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
21
f) (Tes) terhadap penyakit menular seksual
g) (Temu) wicara dalam rangka persiapan rujukan
3) Jadwal Kunjungan Ulang
a) Kunjungan I (16 minggu) dilakukan untuk :
(1) Penapisan dan pengobatan anemia
(2) Perencanaan persalinan
(3) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
b) Kunjungan II (24-28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu) dilakukan untuk
(1) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
(2) Penapisan preeklampsia, gemelli, infeksi alat reproduksi dan saluran
perkemihan, MAP
c) Kunjungan IV (36 minggu sampai lahir) dilakukan untuk :
(1) Sama seperti kunjungan II dan III
(2) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
(3) Memantapkan rencana dan mengenal tanda-tanda persalinan
k. Komplikasi pada Kehamilan
Komplikasi pada kehamilan meliputi :
1) Hiperemesis Gravidarum
Mual/muntah pada wanita hamil adalah gejala yang wajar akan tetapi
jika berlebihan akan menjadi patologik. Perasaan mual adalah akibat dari
meningkatnya kadar estrogen. Pengaruh hormon estrogen ini tidak jelas,
mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya
pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil,
meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan
(Prawirohardjo, 2007; h.278).
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan
kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin,
sehingga pengobatan perlu diberikan (Prawirohardjo, 2007; h.278).
Pengelolaan :
a) Menganjurkan untuk makan sedikit-sedikit tapi sering
b) Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan
untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat
c) Makanan yang berminyak dan berbau menyengat sebaiknya dihindari
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
22
2) Pre-eklampsia dan Eklampsia
Sindroma pre-eklampsia ringan dengan hiperensi, edema, dan
proteinuria sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang
bersangkutan, sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat timbul preeklampsia berat atau eklampsia (Prawirohardjo, 2007; h.278).
Pre-eklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema,
proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi pada
triwulan ketiga kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada
mola hidatidosa (Prawirohardjo, 2007; h.278).
Pre-eklampsia dibagi dalam golongan ringan dan berat. Tanda dan
gejala pre-eklampsia berat yaitu :
a) Tekanan darah sistolik > 160 mmHg
b) Tekanan darah diastolik >110 mmHg
c) Peningkatan kadar enzim hati atau/dan ikterus
d) Trombosit < 100.000/mm3
e) Oliguria < 400 ml/24 jam
f) Proteinuria > 3 g/liter
g) Nyeri epigastrium
h) Skotoma dan gangguan visus lain
i) Perdarahan retina
j) Edema pulmonum
k) Koma
Eklampsia adalah pre-eklampsia disertai dengan kejang. Komplikasi
yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Kematian ibu biasanya
disebabkan oleh perdarahan otak, dekompensasio kordis dengan edema
paru-paru, payah ginjal, dan masuknya isi lambung ke dalam jalan pernafasan
waktu kejang. Sedangkan sebab kematian pada bayi terutama oleh hipoksia
intrauterin dan prematuritas. Usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu
yang menderita pre-eklampsia dan eklampsia (Prawirohardjo, 2007; h.278).
3) Abortus
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup
di luar kandungan. Atau pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai
berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu (Prawirohardjo, 2007; h.278).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
23
Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan.
Abortus buatan adalah pengakhiran kehamilan dengan tindakan. Abortus
terapeutik adalah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik
(Prawirohardjo, 2007; h.278).
Hal-hal yang menyebabkan abortus :
a) Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
b) Kelainan pada plasenta
c) Penyakit ibu, seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria, dan lain-lain
d) Kelainan traktus genitalis, seperti retroversio uteri, mioma uteri, atau
kelainan bawaan uterus
Abortus dibedakan menjadi :
a) Abortus imminens, ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada
kehamilan, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya
dilatasi serviks.
b) Abortus insipiens, ialah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan,
dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi
masih dalam uterus.
c) Abortus inkompletus, ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan, dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus, kanalis
servikalis terbuka.
d) Abortus kompletus, ialah pengeluaran semua hasil konsepsi ke luar uterus.
e) Missed abortion, ialah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tapi
janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
f) Abortus habitualis, ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih
secara berturut-turut.
g) Abortus infeksiosus, ialah abortus yang disertai dengan infeksi pada
genetalia.
Komplikasi
abortus
ialah
perdarahan,
perforasi,
infeksi,
dan
syok
(Prawirohardjo, 2007; h.278).
4) Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang terjadi jika sel telur
yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri
(Prawirohardjo, 2007; h.279).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
24
Nyeri merupakan keluhan utama pada KET. Pada ruptur tuba nyeri
perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya disertai dengan
perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk ke dalam syok
(Prawirohardjo, 2007; h.279).
Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik
bersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril setelah mengalami kehamilan
ektopik, atau dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain.
Penanganan pada kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi
(Prawirohardjo, 2007; h.279).
5) Mola Hidatidosa
Ialah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak
ditemukan janin dan hampir seluruh villi korialis mengalami perubahan
hidropik (Prawirohardjo, 2007; h.280).
Gejala dari mola hidatidosa yaitu perdarahan, enek, muntah, pusing,
dan lain-lain (Prawirohardjo, 2007; h.280).
Diagnosis : adanya mola hidatidosa harus dicurigai bila ada wanita dengan
amenorhea, perdarahan pervaginam, uterus lebih besar dari usia kehamilan,
dan tidak ditemukan tanda kehamilan seperti ballotement dan detak jantung
janin (Prawirohardjo, 2007; h.280).
Terapi mola terdiri 4 tahap yaitu :
a) Perbaikan keadaan umum
b) Pengeluaran jaringan mola : vakum kuretase, histerektomi
c) Terapi profilaksis dengan sitostatika
d) Pemeriksaan tindak lanjut
Kematian pada mola hidatidosa disebabkan karena perdarahan,
infeksi, eklampsia, payah jantung. Sebagian besar pasien mola akan segera
sehat kembali setelah jaringannya dikeluarkan, tetapi ada beberapa wanita
yang kemudian menderita degenerasi keganasan menjadi koriokarsinoma
(Prawirohardjo, 2007; h.280).
6) Plasenta previa
Ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah
uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir
(Prawirohardjo, 2007; h.365).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
25
Plasenta previa (Prawirohardjo, 2007; h.365) dibedakan menjadi :
a) Plasenta previa totalis, jika seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan
plasenta
b) Plasenta previa parsialis, jika sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan
plasenta
c) Plasenta previa marginalis, jika pinggir plasenta berada tepat pada pinggir
pembukaan
d) Plasenta letak rendah, yaitu plasenta yang terletak pada segmen bawah
uterus, akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir.
7) Solusio plasenta
Ialah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri
sebelum janin lahir. Penyebab dari solusio plasenta seperti umur ibu yang tua,
multiparitas, penyakit hipertensi menahun, pre-eklampsia, trauma, tali pusat
yang pendek, tekanan pada vena kava inferior, dan defisiensi asam folik.
Tanda dan gejalanya yaitu nyeri perut, nyeri tekan pada uterus, uterus tegang
terus-menerus (Prawirohardjo, 2007; h.376).
2. Persalinan
a. Definisi
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin
turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban
didorong keluar melalui jalan lahir (Prawirohardjo, 2006; h.100).
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat
hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Prawirohardjo, 2007;
h.180).
Jadi persalinan adalah proses pengeluaran janin dan plasenta dari dalam
ke luar uterus melalui vagina dengan proses membuka dan menipisnya serviks
serta penurunan janin ke dalam jalan lahir.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
26
b. Macam-macam persalinan
Partus dibedakan menjadi:
1) Partus immaturus :kurang dari 28 minggu lebih dari 20 minggu dengan berat
janin antara 500-1000 gram.
2) Partus prematurus : suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi
belum aterm (cukup bulan). Berat janin antara 1000-2500 gram atau usia
kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu.
3) Partus postmaturus/serotinus : partus yang terjadi 2 minggu atau lebih dari
waktu partus yang diperkirakan.
4) Partus biasa/partus spontan/partus normal : bila bayi lahir dengan presentasi
belakang kepala tanpa memakai alat atau pertolongan istimewa, umumnya
berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.
5) Partus luar biasa/partus abnormal : bila bayi dilahirkan pervaginam dengan
cunam, atau ekstaktor vakum, versi dan ekstraksi, dekapitasi, embriotomi, dan
sebagainya.
c. Anatomi Alat Reproduksi Wanita
1) Organ-organ eksterna
Berfungsi kopulasi, terdiri dari : vulva, mons pubis/mons veneris, labia
mayora, labia minora, clitoris, vestibulum, introitus vagina, vagina, perineum.
3) Organ-organ interna
Berfungsi untuk ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi,
pertumbuhan fetus, dan kelahiran, terdiri dari :uterus, serviks uteri, corpus
uteri, ligamenta penyangga uterus, vaskularisasi uterus, salping/tuba falopii,
mesosalping, ovarium.
d. Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Faktor yang mempengaruhi persalinan (Oxorn, 2010; h.75) meliputi :
1) Passage (jalan lahir)
Jalan lahir terdiri atas :
a) Jalan lahir keras
: panggul (os coxae, os sacrum, os cocygis)
b) Jalan lahir lunak
: segmen bawah rahim, serviks, vagina, introitus
vagina dan vulva, muskulus dan ligamentum
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
27
2)Passenger (janin dan plasenta)
a) Ukuran kepala janin (diameter, keliling)
b) Presentasi janin
Adalah bagian janin yang pertama kali memasuki PAP dan terus melalui
jalan lahir saat persalinan mencapai aterm.
c) Letak janin
Adalah hubungan antara sumbu panjang (punggung) janin terhadap sumbu
panjang ibu.
d) Sikap janin
Adalah hubungan bagian tubuh janin yang satu dengan bagian tubuh yang
lain.
e) Posisi janin
Adalah hubungan antara bagian presentasi terhadap empat kuadran
panggul ibu.
3) Power (kekuatan)
His adalah gelombang kontraksi ritme otot polos dinding uterus yang
dimulai dari daerah fundus uteri pada daerah dimana tuba fallopi memasuki
dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari pacemaker (pusat
koordinasi his yang berada pada uterus di sudut tuba dimana gelombang his
berasal). Resultan efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal
mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan lahir)
yang membuka, untuk mendorong isi uterus keluar (Prawirohardjo, 2007;
h.171).
Setiap
gelombang
kontraksi
mempunyai
3
komponen
(Triple
Descending Gradient/TDG) yaitu :
a) Penyebaran gelombang terjadi dari atas ke bawah. Gelombang kontraksi
dimulai pada daerah pacemaker dan berjalan ke bagian bawah uterus.
b) Lamanya kontraksi semakin berkurang dengan semakin menjauhnya
gelombang kontraksi dari pacemaker. Pada setiap kontraksi, bagian atas
uterus bekerja dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan bagian
bawahnya.
c) Intensitas kontraksi mengecil dari bagian puncak ke dasar uterus. Segmen
atas uterus berkontraksi lebih kuat dibandingkan segmen bawahnya.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
28
Agar persalinan berlangsung secara normal, semua bagian dari TDG
tersebut harus terlaksana dengan sempurna. Aktivitas bagian atas lebih
mendominasi dan lebih besar dibandingkan aktivitas bagian bawah. Semua
bagian uterus berkontraksi namun segmen atas melakukannya lebih kuat
daripada segmen bawah. Seterusnya, kontraksi segmen bawah lebih kuat
dibanding kontraksi serviks. Jika tidak demikian, kemajuan persalinan tidak
akan terjadi (Prawirohardjo, 2007; h.171).
Kelainan pada his (Prawirohardjo, 2007; h.171) yaitu :
a) Inersia uteri, yaitu his yang sifatnya lemah, pendek dan jarang.
b) Tetania uteri, yaitu his yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak
terdapat kesempatan relaksasi otot rahim.
e. Sebab-sebab Mulainya Persalinan
Beberapa teori yang memungkinkan terjadinya persalinan yaitu :
1) Teori keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.
Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat
dimulai. Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang
mengakibatkan iskemia otot-otot uterus. Hal ini mungkin merupakan faktor
yang mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta mengalami
degenerasi. Pada kehamilan ganda seringkali terjadi kontraksi setelah
keregangan tertentu sehingga menimbulkan proses persalinan. Teori
penurunan progesteron (Sumarah, 2008; h.3).
Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28 minggu,
dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami
penyempitan atau buntu. Villi koriales mengalami perubahan-perubahan dan
produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitif
terhadap oksitosin. Akibatnya otot rahim berkontraksi setelah tercapai tingkat
penurunan progesteron tertentu (Sumarah, 2008; h.3).
2) Teori oksitosin internal
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise parst posterior. Perubahan
keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitifitas otot
rahim,
sehingga sering terjadi kontraksi
braxton hicks.
Menurunnya
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
29
konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan maka oksitosin dapat
meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dimulai (Sumarah, 2008; h.3).
3) Teori prostaglandin
Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu,
yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat
menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga terjadi persalinan (Sumarah,
2008; h.3).
4) Teori berkurangnya nutrisi
Berkurangnya nutrisi pada janin mengakibatkan hasil konsepsi akan
segera dikeluarkan (Sumarah, 2008; h.3).
5) Faktor lain
Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus frankenhauser yang
terletak di belakang serviks. Bila ganglion ini tertekan maka kontraksi uterus
dapat dibangkitkan (Sumarah, 2008; h.3).
f. Kala dalam Persalinan
1) Kala I
Kala I dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm)
(Prawirohardjo, 2006; h.100).
Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase :
a) Fase laten
: berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat
lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.
b) Fase aktif
: dibagi dalam 3 fase,yaitu :
(1) Fase akselerasi
: pembukaan 3-4 cm (2 jam)
(2) Fase dilatasi maksimal
: pembukaan 4-9 cm (2 jam)
(3) Fase deselerasi
: pembukaan 9-10 cm (2 jam)
2) Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini
biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi (Prawirohardjo,
2006; h.100).
Tanda persalinan kala II yaitu:
a) Dorongan meneran
b) Tekanan dari anus
c) Perineum menonjol
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
30
d) Vulva membuka
3) Kala III
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta. Proses ini
berlangsung tidak lebih dari 30 menit (Prawirohardjo, 2006; h.100).
Beberapa menit setelah bayi lahir maka kontraksi uterus timbul lagi.
Oleh karena janin tidak berada di dalam uterus lagi, retraksi segmen atas
lebih besar dibanding dengan kala I dan II. Retraksi ini sangat mengurangi
daerah perlekatan plasenta sedangkan ukuran plasenta sendiri tidak
berkurang. Akibat perbedaan antara besarnya plasenta dengan daerah
perlekatannya ini adalah terbentuknya celah pada stratum spongiosum
desidua, dan dengan cara ini plasenta terlepas dari ujung uterus. Selama
proses pelepasan darah menumpuk di antara plasenta dan uterus. Jika
pelepasan sudah sempurna maka darah dilepaskan dan mengalir keluar
vagina. Segera setelah plasenta dilepaskan, kontraksi uterus mengeluarkan
plasenta ke dalam vagina (Oxorn, 2010; h.100).
Ada 2 metode pengeluaran plasenta (Oxorn, 2010; h.100) yaitu :
a) Metode Duncan
Tepi bawah plasenta keluar lebih dahulu dengan permukaan maternal dan
fetal tampak bersama-sama, kemudian sisanya menyusul.
b) Metode Schultze
Plasenta keluar seperti payung dilipat, permukaan fetal yang licin tampak
lebih dulu, dan selaput ketuban menyusul di belakangnya.
4) Kala IV
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum.
Observasi yang dilakukan di kala IV yaitu : keadaan umum, tanda-tanda vital
(tekanan darah,nadi,respirasi,suhu), kontraksi, kandung kemih,
jumlah
perdarahan (Manuaba, 2010; h.174).
g. Mekanisme Persalinan
Mekanisme persalinan meliputi :
1) Penurunan
Penurunan yang meliputi engagement pada diameter obliqua kanan
panggul, berlangsung terus selama persalinan normal pada waktu janin
melalui jalan lahir. Gerakan-gerakan lainnya menyertai penurunan ini.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
31
Penurunan disebabkan oleh tekanan kontraksi uterus ke bawah dan pada kala
II dibantu oleh daya mengejan dari ibu dan sedikit oleh gaya berat (Oxorn,
2010; h.86).
2) Flexi
Sebelum persalinan dimulai sudah terjadi flexi sebagian oleh karena ini
merupakan sikap alamiah janin dalam uterus. Tahanan terhadap penurunan
kepala menyebabkan bertambahnya flexi. Occiput turun mendahului sinciput,
UUK lebih rendah daripada bregma, dan dagu janin mendekati dadanya.
Biasanya ini terjadi di PAP, tetapi mungkin pula baru sempurna setelah bagian
terendah mencapai dasar panggul. Efek dari flexi adalah untuk merubah
diameter terendah dari occipitofrontalis menjadi suboccipitobregmatica yang
lebih kecil dan lebih bulat (Oxorn, 2010; h.86).
3) Putar paksi dalam
Sebagian besar panggul mempunyai PAP yang berbentuk oval melintang.
Diameter anteroposterior PTP sedikit lebih panjang daripada diameter
transversa. PBP berbentuk oval anteroposterior seperti kepala janin. Sumbu
panjang kepala janin harus sesuai dengan sumbu panjang panggul ibu.
Karenanya kepala janin yang masuk PAP pada diameter transverna atau
obliqua harus berputar ke diameter anteroposterior supaya dapat lahir. Inilah
maksud putar paksi dalam (Oxorn, 2010; h.86).
4)Extensi
Extensi pada dasarnya disebabkan oleh dua kekuatan : kontraksi uterus
yang menimbulkan tekanan ke bawah dan dasar panggul yang memberikan
tahanan. Sinciput harus menempuh jarak yang lebih panjang daripada
occiput. Dengan semakin turunnya kepala terjadilah penonjolan perineum
diikuti dengan kepala membuka pintu. Occiput melalui PAP perlahan-lahan
dan tengkuk menjadi titik putar di angulus subpubicus. Kemudian dengan
proses extensi yang cepat sinciput menelusuri sepanjang sacrum dan
berturut-turut lahirlah bregma, dahi, hidung, mulut, dagu melalui perineum
(Oxorn, 2010; h.86).
5) Putar paksi luar
Putar paksi luar kepala sebenarnya merupakan manifestasi putar paksi
dalam daripada bahu. Pada waktu bahu mencapai dasar panggul bahu depan
yang lebih rendahberputar ke depan di bawah sympisis dan diameter
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
32
bisacromialis
berputar
dari
diameter
obliqua
kiri
menjadi
diameter
anteroposterior panggul. Dengan ini maka diameter memanjang bahu dapat
sesuai dengan diameter memanjang PBP. Kepala yang telah berputar kembali
450 untuk mengembalikan hubungan normal dengan bahu, sekarang berputar
450 lagi untuk mempertahankannya (Oxorn, 2010; h.86).
6) Ekspulsi
Yaitu pengeluaran janin secara keseluruhan (Oxorn, 2010; h.86).
h. Tanda-tanda Persalinan
Perbedaan antara persalinan sesungguhnya dengan persalinan semu (Oxorn,
2010; h.105) yaitu :
Tabel 2.4. Tanda-tanda Persalinan
Persalinan sesungguhnya
Persalinan semu
Serviks menipis dan membuka
Rasa nyeri dan interval teratur
Interval antara rasa nyeri yang secara perlahan
semakin pendek
Waktu dan kekuatan kontraksi semakin
bertambah
Rasa nyeri terasa di bagian belakang dan
menyebar ke depan
Dengan berjalan bertambah intensitas
Tidak ada perubahan pada serviks
Rasa nyeri tidak teratur
Tidak ada perubahan interval antara rasa
nyeri yang satu dengan yang lain
Tidak ada perubahan pada waktu dan
kekuatan kontraksi
Kebanyakan rasa nyeri di bagian depan
Ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi
dengan intensitas nyeri
Lendir darah sering tampak
Ada penurunan bagian kepala janin
Kepala janin sudah terfiksasi di PAP diantara
kontraksi
Pemberian obat penenang tidak menghentikan
nyeri pada proses persalinan
Tidak ada perubahan rasa nyeri dengan
berjalan
Tidak ada hubungan antara tingkat
kekuatan kontraksi dengan intensitas
nyeri
Tidak ada lendir darah
Tidak ada kemajuan penurunan bagian
terendah janin
Kepala belum masuk PAP walaupun ada
kontraksi
Pemberian obat penenang yang efisien
menghentikan rasa nyeri.
i. Kebutuhan Ibu selama Persalinan
Kebutuhan ibu selama bersalin (Sumarah, 2008; h.54) meliputi :
1) Kebutuhan fisiologis
a) Oksigen
b) Makan dan minum
c) Istirahat selama tidak ada his
d) kebersihan badan terutama genetalia
e) BAB dan BAK
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
33
f) pertolongan persalinan yang terstandar
g) penjahitan perineum jika perlu
2) Kebutuhan rasa aman
a) memilih tempat dan penolong persalinan
b) informasi tentang proses persalinan atau tindakan yang akan dilakukan
c) posisi tidur yang dikehendaki ibu
d) pendampingan oleh keluarga
e) pantauan selama persalinan
f) intervensi yang diperlukan
3) Kebutuhan dicintai dan mencintai
a) pendampingan oleh suami/keluarga
b) kontak fisik (memberi sentuhan ringan)
c) masase untuk mengurangi nyeri
d) berbicara dengan suara lemah lembut
4) Kebutuhan harga diri
a) merawat bayi sendiri dan menetekinya
b) asuhan kebidanan dengan memperhatikan privacy
c) pelayanan yang bersifat simpati dan empati
d) memberi pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang dilakukan
5) Kebutuhan aktualisasi diri
a) memilih tempat dan penolong sesuai keinginan
b) memilih pendamping selama persalinan
c) bounding attachment
d) ucapan selamat atas kelahiran bayinya
j. Asuhan pada Persalinan
Asuhan yang diberikan pada ibu bersalin (Prawirohardjo, 2006; h.108-120)
meliputi :
1) Kala I
a) Menghadirkan pendamping seperti suami atau keluarga.
b) Mengatur aktivitas dan posisi ibu senyaman mungkin, anjurkan ibu untuk
miring kiri
c) Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his
d) Menjaga privasi ibu
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
34
e) Menjelaskan tentang kemajuan persalinan
f) Menjaga personal hygiene ibu
g) Memassase pada punggung atau mengusap perut dengan lembut
h) Memberikan nutrisi dan cairan yang cukup
i) Mempertahankan kandung kemih tetap kosong
2) Kala II
a) Memberikan dukungan terus menerus pada ibu
b) Menjaga personal hygiene ibu
c) Menjaga kenyamanan ibu seperti memassase daerah punggung
d) Mengatur posisi ibu senyaman mungkin
e) Menjaga kandung kemih tetap kosong
f) Memberikan minum yang cukup untuk mencegah dehidrasi
g) Memimpin mengejan
h) Mengajarkan ibu teknik relaksasi
i) Memantau DJJ
j) Melahirkan bayi (menolong kelahiran kepala, periksa tali pusat, melahirkan
bahu dan seluruh anggota badan)
k) Mengeringkan dan menghangatkan bayi
l) Merangsang bayi
3) Kala III
Asuhan yang diberikan pada kala III yaitu melakukan manajemen aktif kala III:
a) Menjepit dan menggunting tali pusat
b) Memberikan oksitosin 10 U IM untuk merangsang kontraksi uterus
sehingga mempercepat pelepasan plasenta.
c) Melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT) setelah plasenta
terlepas, dengan tanda-tanda :
(1) Uterus globuler
(2) Tali pusat memanjang dan menjulur keluar
(3) Adanya semburan darah secara tiba-tiba
d) Memassase fundus agar
menimbulkan kontraksi untuk
mencegah
perdarahan postpartum
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
35
4) Kala IV
Asuhan yang diberikan pada kala IV yaitu :
a) Memeriksa fundus dan melakukan massase setiap 15 menit pada 1 jam
pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua
b) Memberikan nutrisi dan hidrasi untuk mencegah dehidrasi
c) Membersihkan ibu dan mengenakan pakaian/kain bersih dan kering
d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat
e) Meningkatkan hubungan antara ibu dengan bayi
f) Memulai menyusui
g) Mengajarkan ibu untuk mobilisasi
h) Mengajari ibu dan suami/anggota keluarga bagaimana memeriksa fundus
dan tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi.
k. Penyulit dalam Persalinan
1) Malposisi
Malposisi adalah posisi kepala janin relatif terhadap pelvis dengan oksiput
sebagai titik referensi (Prawirohardjo, 2006; h.191).
2) Malpresentasi
Malpresentasi adalah semua presentasi janin selain verteks (Oxorn, 2010;
h.155).
a) Presentasi dahi, disebabkan oleh ekstensi partial dari kepala janin
sehingga oksiput lebh tinggi dari sinsiput.
b) Presentasi muka, disebabkan oleh terjadinya ekstensi yang penuh dari
kepala janin.
c) Presentasi ganda, terjadi bila ekstremitas prolaps di samping bagian
terendah janin.
d) Presentasi bokong, bila bokong merupakan bagian terendah janin.
Ada 3 macam presentasi bokong : bokong sempurna, bokong murni, bokong
kaki (Oxorn, 2010; h.155).
Penyebab malpresentasi :
a) Faktor maternal dan faktor uterus
(1) Panggul sempit
(2) Perut ibu yang pendulans
(3) Neoplasma
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
36
(4) Kelainan uterus
(5) Kelainan letak dan besarnya plasenta
b) Faktor janin
(1) Bayi besar
(2) Kesalahan dalam polaritas janin,misal presentasi bokong atau letak
lintang
(3) Putar paksi dalam yang abnormal
(4) Sikap janin; tidak fleksi tapi ekstensi
(5) Kehamilan ganda
(6) Kelainan janin; hydrocephalus dan anencephalus
(7) Hydramnion
3) Partus lama
Yaitu jika persalinan berlangsung lebih dari 12 jam dan bayi belum lahir.
Partus lama terjadi jika his yang masih kurang dari normal sehingga tahanan
jalur lahir yang normal tidak dapat diatasi dengan baik karena durasinya tidak
terlalu lama, frekuensinya masih jarang, tidak terjadi koordinasi kekuatan,
keduanya tidak cukup untuk mengatasi tahanan jalan lahir tersebut (Ida, 2005;
h.385).
Penyebab :
a) His tidak efisien/adekuat
b) Faktor janin (malpresentasi, malposisi, janin besar)
c) Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks dan vagina, tumor)
4) Retensio Plasenta
Adalah belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit
setelah bayi lahir (Prawirohardjo, 2006; h.178).
Jenis retensio plasenta (Prawirohardjo, 2006; h.178) :
a) Plasenta adhesiva
Adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga
menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
b) Plasenta akreta
Adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian
lapisan miometrium.
c) Plasenta inkreta
Adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai miometrium.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
37
d) Plasenta perkreta
Adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot
hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
e) Plasenta inkarserata
Adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh
konstriksi ostium uteri.
5) Inversio Uteri
Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri, sehingga
fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri (Prawirohardjo,
2007; h.660).
6) Atonia uteri
Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus tidak dapat berkontraksi
(Oxorn, 2010; h.155).
3. Nifas
a. Definisi
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas
berlangsung kira-kira selama 6 minggu (Prawirohardjo, 2006; h.122).
Masa nifas/postpartum/puerperium adalah waktu sejak bayi dilahirkan
dan plasenta keluar dari rahim, sampai 6 minggu berikutnya, disertai dengan
pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang
mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya yang berkaitan
dengan melahirkan (Suherni, 2009; h.1).
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah partus selesai dan berakhir
setelah kira-kira 6 minggu (Prawirohardjo, 2007; h.237).
Jadi nifas adalah masa setelah bayi dan plasenta lahir sampai pulihnya
kembali alat-alat kandungan seperti keadaan sebelum hamil, kira-kira lamanya 6
minggu.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
38
b. Periode Masa Nifas
Tahapan/periode masa nifas (Suherni, 2009; h.2) adalah :
1) Puerperium dini
Yaitu masa kepulihan, yakni saat-saat ibu diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
2) Pueperium intermedial
Yaitu masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ genital, kira-kira
antara 6-8 minggu.
3) Remote puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama
apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
c. Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas
Perubahan fisiologis yang terjadi pada masa nifas meliputi :
1) Uterus
Setelah janin dilahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat, segera
setelah plasenta lahir, tinggi fundus uteri + 2 jari di bawah pusat. Uterus
menyerupai suatu buah advokat gepeng berukuran panjang + 15 cm, lebar +
12 cm, dan tebal + 10 cm. Dinding uterus sendiri kurang lebih 5 cm,
sedangkan pada bekas implantasi plasenta lebih tipis daripada bagian yang
lain. Pada hari ke-5 postpartum uterus kurang lebih setinggi 7 cm di atas
simfisis atau setengah simfisis-pusat, sesudah 12 hari uterus tidak dapat
diraba lagi di atas simfisis. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan
suatu luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri, segera setelah
persalinan. Penonjolan tersebut, dengan diameter + 7,5 cm, sering disangka
sebagai suatu bagian plasenta yang tertinggal. Sesudah 2 minggu
diameternya menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu telah mencapai 2,4 mm
(Prawirohardjo, 2007; h.238).
Uterus gravidus aterm beratnya kira-kira 1000 gram. 1 minggu
postpartum berat uterus akan menjadi + 500 gram, 2 mingggu postpartum
menjadi 300 gram, dan setelah 6 minggu postpartum berat uterus menjadi 4060 gram (berat uterus normal + 30 gram) (Prawirohardjo, 2007; h.238).
Otot-otot uterus berkontraksi segera postpartum. Pembuluh-pembuluh
darah yang berada di antara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
39
akan menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan (Prawirohardjo,
2007; h.238).
2) Serviks
Segera postpartum bentuk serviks agak menganga seperti corong.
Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi,
sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga seolah-olah pada perbatasan
antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin. Warna serviks
sendiri
merah
kehitam-hitaman
karena
penuh
pembuluh
darah.
Konsistensinya lunak. Segera setelah janin dilahirkan tangan pemeriksa
masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri. Setelah 2 jam hanya dapat
dimasukkan 2-3 jari, dan setelah 1 minggu hanya dapat dimasukkan 1 jari ke
dalam kavum uteri (Prawirohardjo, 2007; h.238).
3) Perineum
Luka-luka jalan lahir, seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka
pada vagina dan serviks, umumnya bila tidak seberapa luas akan sembuh per
primam, kecuali bila terdapat infeksi. Infeksi mungkin mengakibatkan sellulitis
yang dapat menjalar sampai terjadi keadaan sepsis (Prawirohardjo, 2007;
h.238).
4) Hemokonsentrasi
Pada masa hamil didapat hubungan pendek yang dikenal sebagai shunt
antara sirkulasi ibu dan plasenta. Setelah melahirkan, shunt akan hilang
dengan tiba-tiba. Volume darah pada ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini
menimbulkan
beban
pada
jantung
sehingga
dapat
menimbulkan
dekompensasi kordis pada penderita-penderita vitium kordis. Untung keadaan
ini dapat ditangani dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya
hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti semula. Umumnya
hal ini terjadi pada hari-hari ke-3 sampai 15 hari postpartum (Prawirohardjo,
2007; h.238).
5) Laktasi
Perubahan yang terjadi pada kedua mammae yaitu :
a) Proliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar dan alveolus mammae dan
lemak.
b) Pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat
dikeluarkan, berwarna kuning (kolostrum)
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
40
c) Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam
mammae. Pembuluh-pembuluh vena berdilatasi dan tampak dengan jelas.
Tanda ini merupakan pula salah satu tanda tidak pasti untuk mendiagnosis
kehamilan.
d) Setelah partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesteron
terhadap hipofisis hilang. Timbul pengaruh hormon-hormon hipofisis
kembali, antara lain prolaktin yang akan dihasilkan pula. Mammae yang
telah dipersiapkan pada masa hamil terpengaruhi, dengan akibat kelenjarkelenjar berisi air susu. Pengaruh oksitosin mengakibatkan mioepitelium
kelenjar-kelenjar susu berkontraksi, sehingga pengeluaran air susu
dilaksanakan.
6) Suhu tubuh
Suhu badan wanita inpartu tidak lebih dari 37,20C. Sesudah partus
dapat naik + 0,50C dari keadaan normal, tetapi tidak melebihi 38,00C.
Sesudah 12 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan kembali
normal. Bila suhu badan >38,00C, mungkin ada infeksi (Prawirohardjo, 2007;
h.239).
7) Nadi
Nadi berkisar umumnya antara 60-80 kali per menit. Segera setelah
partus dapat terjadi bradikardia. Bila terdapat takikardi sedangkan badan tidak
panas,mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada vitium kordis pada
penderita. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibandingkan
dengan suhu badan (Prawirohardjo, 2007; h.239).
8) Tekanan darah
Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum.
Tetapi ini akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat penyakitpenyakit lain yang menyertainya dalam + 2 bulan tanpa pengobatan
(Prawirohardjo, 2007; h.239).
9)Lokia
Lokia adalah sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam
masa nifas (Prawirohardjo, 2007; h.239).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
41
Macam-macam lokia :
a) Lokia rubra
Terjadi pada hari pertama dan kedua, terdiri atas darah segar bercampur
sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa vernik caseosa,
lanugo, dan mekonium.
b) Lokia sanguinolenta
Terjadi pada hari ke-3 sampai hari ke-7, darah bercampur lendir.
c) Lokia serosa
Terjadi setelah 1 minggu, lokia cair tidak berdarah lagi, warnanya agak
kuning.
d) Lokia alba
Terjadi setelah 2 minggu, lokia hanya merupakan cairan putih.
Umumnya lokia berbau sedikit amis, kecuali bila terdapat infeksi akan
berbau busuk, misalnya adanya lokiostasis (lokia tidak lancar keluar) dan
infeksi (Prawirohardjo, 2007; h.238).
d. Perubahan/Adaptasi Psikologis pada Masa Nifas
Perubahan psikologis pada masa nifas meliputi :
1) Fase taking in
Yaitu periode ketergantungan. Berlangsung dari hari pertama sampai
hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini ibu sedang terfokus terutama
pada diri sendiri. Ibu akan berulang kali menceritakan proses persalinan yang
dialaminya dari awal sampai akhir. Ketidaknyamanan yang dialami ibu pada
fase ini yaitu rasa mules, nyeri pada jahitan, kurang tidur dan kelelahan. Hal
ini membuat ibu cenderung pasif terhadap lingkungan (Suherni, 2009; h.85).
Gangguan psikologis yang mungkin dirasakan ibu adalah :
a) Kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan tentang
bayinya misal jenis kelamin tertentu, warna kulit, jenis rambut, dan lain-lain.
b) Ketidaknyamanan sebagai akibat dari perubahan fisik yang dialami ibu
misal rasa mules karena rahim berkontraksi untuk kembali pada keadaan
semula, payudara bengkak, nyeri luka jahitan.
c) Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya.
d) Suami dan keluarga yang mengkritik ibu tentang cara merawat bayi.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
42
2) Fase Taking hold
Yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan.
Pada fase ini ibu timbul rasa khawatir akan ketidakmampuan dan
tanggungjawabnya dalam merawat bayi. ibu mempunyai perasaan sangat
sensitif sehingga mudah tersinggung dan mudah marah (Suherni, 2009; h.85).
3) Fase Letting Go
Yaitu periode menerima tanggungjawab akan peran barunya. Fase ini
berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri
dengan ketergantungan bayinya. Ibu memahami bahwa bayi butuh disusui
sehingga siap terjaga untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Keinginan untuk
merawat diri dan bayinya sudah meningkat pada fase ini. Ibu akan lebih
percaya diri dengan menjalani peran barunya. Ibu lebih mandiri dalam
memenuhi kebutuhan diri dan bayinya (Suherni, 2009; h.85).
e. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
Kebutuhan dasar ibu nifas (Prawirohardjo, 2006; h.127) meliputi :
1) Personal hygiene
a) anjurkan kebersihan seluruh tubuh
b) mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah genetalia dengan
sabun dan air. Anjurkan untuk membersihkan dari arah depan ke belakang
dan bersihkan setiap kali selsai buang air kecil atau buang air besar
c) sarankan ibu untuk mengganti pembalut minimal 2 kali sehari.
d) sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kemaluannya.
e) jika ibu mempunyai luka episiotomo atau laserasi, sarankan kepada ibu
untuk tidak menyentuh daerah luka
2) Istirahat
a) anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan.
b) sarankan untuk kembali ke kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan,
serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur
c) kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam : mengurangi jumlah ASI
yang diproduksi, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
43
perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat
bayi dan dirinya sendiri
3) Mobilisasi/latihan
a) diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali
normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya
menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada pungung
b) jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat
membantu, seperti : dengan tidur telentang dengan lengan di samping,
menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan angkat
dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai 5, rileks dan ulangi 10 kali.
c) berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan
pinggul dan tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan
sebanyak 5 kali.
4) Gizi
Ibu menyusui harus :
a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan
vitamin yang cukup
c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.
d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40
hari pasca bersalin
e) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A
kepada bayi melalui ASInya
5) Perawatan payudara
a) menjaga payudara tetap bersih dan kering
b) menggunakan BH yang menyokong payudara
c) apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar di sekitar
puting susu setiap kali selesai menyusui
d) apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI
dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok
e) untuk menghilangkan nyeri dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6
jam
f) apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI,lakukan : pengompresan
payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit,
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
44
urut payudara dari pangkal menuju puting atau menggunakan sisir untuk
mengurut payudara dengan arah Z menuju puting, keluarkan ASI sebagian
dari bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak
6) Seksual
a) secara fisik aman untuk melakukan seks setelah darah merah berhenti dan
ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vaginanya tanpa merasa
nyeri.
b) banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri
sampai masa waktu tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah
persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan.
7) Keluarga Berencana
a) idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum
ibu hamil kembali.
b) biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia
mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena itu metode
amenorea laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk
mencegah terjadinya kehamilan baru
c) meskipun beberapa metoda KB mengandung resiko, menggunakan
kontrasepsi tetap lebih aman, terutama jika ibu sudah haid lagi.
f. Asuhan Masa Nifas
1) Tujuan Asuhan Masa Nifas
Asuhan pada masa nifas (Prawirohardjo, 2006; h.122) bertujuan untuk :
a) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik
b) Melaksanakan
skrining
yang
komprehensif,
mendeteksi
masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya
c) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada
bayinya dan perawatan bayi sehat
d) Memberikan pelayanan keluarga berencana
2) Peran dan Tanggungjawab Bidan dalam Asuhan Masa Nifas
Asuhan masa nifas sangat penting karena periode ini merupakan masa kritis
baik ibu maupun bayinya (Suherni, 2010; h.2).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
45
Peran dan tanggungjawab bidan yaitu :
a) Mengidentifikasi dan merespon terhadap kebutuhan dan komplikasi yang
terjadi pada saat-saat penting yaitu 6 jam, 6 hari, 2 minggu, dan 6 minggu
b) Mengadakan kolaborasi antara orangtua dan keluarga
c) Membuat kebijakan, perencanaan kesehatan dan administrator
3) Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status
ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani
masalah-masalah yang terjadi (Prawirohardjo, 2006; h.123).
Tabel 2.5. Jadwal Kunjungan Nifas
Kunjungan
Waktu
tujuan
1
6-8
jam
persalinan
setelah
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri
2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain
perdarahan : rujuk bila perdarahan berlanjut
3) Memberi konseling pada ibu bagaimana
mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri
4) Pemberian ASI awal
5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir
6) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah
hipotermi.
2
6
hari
persalinan
setelah
1) Memastikan involusi uterus berjalan normal;
uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus,
tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau
perdarahan abnormal
3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan,
cairan dan istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit
5) Memberikan konseling pada ibu mengenai
asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap
hangat dan merawat bayi sehari-hari
3
2 minggu
persalinan
setelah
Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan)
4
6 minggu
persalinan
setelah
1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit
yang ia atau bayi alami
2) Memberikan konseling untuk KB secara dini
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
46
g. Komplikasi pada Masa Nifas
1) Infeksi nifas
Infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh
masuknya kuman-kuman ke dalam alat genital pada waktu persalinn atau
nifas (Prawirohardjo, 2007; h.697).
Infeksi nifas disebabkan oleh : streptococcus haemolyticus aerobicus,
staphylococcus aureus, escherechia coli, clostridium welchii. (Prawirohardjo,
2007; h.697).
Faktor predisposisi yang terpenting pada infeksi nifas ialah :
a) Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan, seperti perdarahan,
pre-eklampsia, pneumonia, penyakit jantung, dan sebagainya.
b) Partus lama, terutama dengan ketuban pecah lama
c) Tindakan bedah vaginal yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir
d) Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.
Pada penderita dengan infeksi nifas perlu diketahui apakah infeksi
terbatas pada tempat-tempat masuknya kuman-kuman ke dalam badan atau
menjalar ke luar tempat itu (Prawirohardjo, 2007; h.697).
Dalam minggu pertama biasanya gejala-gejala setempat belum
menunjukkan dengan nyata adanya perluasan infeksi, yang lebih penting ialah
gejala-gejala umum. Seorang penderita dengan infeksi yang meluas di luar
tampaknya sakit, suhu meningkat, dengan kadang-kadang disertai menggigil,
nadi cepat, keluhannya juga lebih banyak (Prawirohardjo, 2007; h.697).
2) Bendungan ASI
Pada permulaan nifas bila bayi belum menyusu degan baik, atau jika
kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna, terjadi pembendungan
air susu. Mamma panas serta keras dan nyeri, suhu badan tidak naik
(Prawirohardjo, 2007; h.700).
Penanganan pembendungan dilakukan dengan jalan menyokong
mamma dengan kutang dan memberikan analgetika. Sebelum bayi menyusu,
pengeluaran air susu dengan pijatan yang ringan dapat diusahakan
(Prawirohardjo, 2007; h.700).
3) Mastitis
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mamma,
terutama pada primipara. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
47
mungkin juga melalui peredaran darah. Tanda-tandanya adalah rasa panas
dingin disertai dengan kenaikan suhu, penderita merasa lesu, tidak nafsu
makan, mamma bengkak, nyeri, pada suatu tempat kulit merah, sedikit
bengkak (Prawirohardjo, 2007; h.700).
Pengobatan : pemberian susu pada bayi dari mamma yang sakit
dihentikan, dan diberi antibiotika (Prawirohardjo, 2007; h.700).
4) Perdarahan nifas sekunder
Perdarahan nifas dinamakan sekunder bila terjadi 24 jam atau lebih
sesudah persalinan. Perdarahan ini bisa timbul pada minggu kedua nifas.
Sebab-sebabnya ialah subinvolusi, kelainan kongenital uterus, inversio uteri,
mioma uteri, dan lain-lain (Prawirohardjo, 2007; h.700).
Terapi dapat dimulai dengan pemberian 0,5 mg ergometrin IM, yang dapat
diulang dalam 4 jam atau kurang. Perdarahan yang banyak memerlukan
pemeriksaan tentang sebabnya (Prawirohardjo, 2007; h.701).
4. Bayi Baru Lahir
a. Definisi
Masa neonatal adalah masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari)
sesudah kelahiran (Muslihatun, 2010; h.2).
Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi yang baru lahir sampai umur 28 hari,
dapat menyesuaikan diri dari lingkungan di dalam uterus ke luar uterus
(Prawirohardjo, 2006; h.132).
Jadi, neonatus adalah bayi berumur 0 (baru lahir) sampai dengan usia 1
bulan sesudah lahir.
b. Perubahan-perubahan Setelah Bayi Lahir
Sebagai akibat perubahan lingkungan dalam uterus ke luar uterus, maka
bayi menerima rangsangan yang bersifat kimiawi, mekanik, dan termik
(Prawirohardjo, 2007; h.253).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
48
Hasil rangsangan ini membuat bayi akan mengalami perubahan :
1) Gangguan metabolik karbohidrat
Oleh karena kadar gula darah tali pusat yang 65 mg/100 ml akan
menurun menjadi 50 mg/100 ml dalam waktu 2 jam setelah lahir, enersi
tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam pertama sesudah lahir
diambil dari hasil metabolisme asam lemak sehingga kadar gula darah dapat
mencapai 120 mg/100 ml. Bila oleh karena sesuatu hal perubahan glukosa
menjadi glikogen meningkat atau adanya gangguan pada metabolisme asam
lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonatus, maka kemungkinan
besar bayi akan menderita hipoglikemia, misalnya terdapat pada bayi BBLR,
bayi dari ibu penderita diabetes mellitus dan lain-lain (Prawirohardjo, 2007;
h.253).
2) Gangguan umum
Sesaat sesudah bayi lahir ia akan berada di tempat yang suhunya lebih
rendah dari dalam kandungan dan dalam keadaan basah. Bila dibiarkan saja
dalam suhu kamar 250C maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi,
konversi,
dan radiasi sebanyak
200 kalori/kg
BB/menit.
Sedangkan
pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya sepersepuluh daripada
yang tersebut di atas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan
menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 20C dalam waktu 15 menit.
Kejadian ini sangat berbahaya untuk neonatus terutama bayi BBLR, dan bayi
asfiksia oleh karena mereka tidak sanggup mengimbangi penurunan suhu
tersebut dengan vasokonstriksi, insulasi dan produksi panas yang dibuat
sendiri (Prawirohardjo, 2007; h.253).
Akibat suhu tubuh yang rendah metabolisme jaringan akan meninggi dan
asidosis metabolik yang ada (terdapat pada semua neonatus) akan
bertambah berat, sehingga kebutuhan akan oksigen pun akan meningkat.
Hipotermia ini juga dapat menyebabkan hipoglikemia. Kehilangan panas
dapat
dikurangi
dengan
mengatur
suhu
lingkungan
(mengeringkan,
membungkus badan dan kepala, meletakkan di tempat yang hangat)
(Prawirohardjo, 2007; h.253).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
49
3) Perubahan sistem pernafasan
Pernafasan pertama pada bayi normal terjadidalam waktu 30 detik
sesudah kelahiran. Pernafasan ini timbul sebagai akibat aktivitas normal
susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan
lainnya, seperti kemoreseptor karotid yang sangat peka terhadap kekurangan
oksigen; rangsangan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu di dalam
uterus dan di luar uterus (Prawirohardjo, 2007; h.253).
Semua ini mengakibatkan perangsangan pusat pernafasan dalam otak
yang melanjutkan rangsangan tersebut untuk menggerakkan diafragma serta
otot-otot pernafasan lainnya. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui
jalan lahir pervaginam mengakibatkan bahwa paru-paru, yang pada janin
cukup bulan mengandung 80-100 ml cairan, kehilangan 1/3 dari cairan ini.
Sesudah bayi lahir cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru
mengembang,
sehingga
rongga
dada kembali
pada
bentuk
semula
(Prawirohardjo, 2007; h.253).
4) Perubahan sistem sirkulasi
Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan oksigen di dalam elveoli
meningkat. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida turun. Hal-hal tersebut
mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-pembuluh darah paru, sehingga
aliran darah ke alat tersebut meningkat. Ini menyebabkan darah dari arteri
pulmonalis mengalir ke paru-paru dan duktus arteriosus menutup. Dengan
menciutnya arteria dan vena umbilikalis dan kemudian dipotongnya tali pusat,
aliran darah dari plasenta melalui vena kava inferior dan foramen ovale ke
atrium kiri terhenti. Dengan diterimanya darah oleh atrium kiri dari paru-paru,
tekanan di atrium kiri menjadi lebih tinggi daripada tekanan di atrium kanan, ini
menyebabkan foramen ovale menutup. Sirkulasi janin sekarang berubah
menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar tubuh ibu (Prawirohardjo, 2007;
h.253).
5) Perubahan lain
Alat-alat
pencernaan, hati, ginjal dan
alat-alat
lain mulai berfungsi
(Prawirohardjo, 2007; h.253).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
50
c. Keadaan Klinik Bayi Normal Segera Sesudah Lahir
Bayi baru lahir dikatakan normal (Sondakh, 2013; h.150), jika termasuk
dalam kriteria sebagai berikut :
1) Berat badan lahir bayi antara 2500-4000 gram
2) Panjang badan bayi 48-50 cm
3) Lingkar dada bayi 32-34 cm
4) Lingkar kepala bayi 33-35 cm
5) Bunyi jantung dalam menit pertama + 180 kali/menit, kemudian turun sampai
140-120 kali/menit pada saat bayi berumur 30 menit.
6) Pernafasan cepat pada menit-menit pertama kira-kira 80 kali/menit disertai
pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan interkostal, serta rintihan
hanya berlangsung 10-15 menit.
7) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subcutan cukup terbentuk
dan dilapisi verniks caseosa.
8) Rambut lanugo telah hilang, rambut kepala tumbuh baik.
9) Kuku telah agak panjang dan lemas.
10)Genetalia : testis sudah turun (pada bayi laki-laki) dan labia mayora telah
menutupi labia minora (pada bayi perempuan).
11)Refleks isap, menelan, dan morro telah terbentuk.
12)Eliminasi urin dan mekonium normalnya keluar pada 24 jam pertama.
Mekonium memiiki karakteristik hitam kehijauan dan lengket.
d. Perawatan Bayi Baru Lahir
Perawatan yang dilakukan segera setelah bayi lahir (Prawirohardjo, 2007; h.247)
yaitu :
1) Persediaan alat-alat di kamar bersalin, seperti :
a) Alat pengisap lendir
b) Tabung oksigen dengan alat pemberi oksigen pada bayi
c) Untuk kemungkinan asfiksia diperlukan laringoskop kecil, masker muka
kecil, kanula trakea, ventilator kecil, obat-obatan seperti larutan glukosa
40%, larutan bikarbonas natrikus 7,5%, nalorfin sebagai antidotum, vit K
d) Alat pemotong dan pengikat tali pusat serta obat antiseptik dan kain kasa
steril untuk merawat tali pusat
e) Tanda pengenal bayi yang sama dengan ibu
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
51
f) Tempat tidur bayi atau inkubator yang selalu dalam keadaan hangat, steril.
g) Lain-lain : kapas, kain kasa, baju steril, obat antiseptik
h) Stopwatch, termometer, stetoskop, meterline
i) Bila kamar bersalin dingin, sebaiknya diberikan pemanas khusus, supaya
bayi tidak kedinginan.
2) Pertolongan pada saat bayi lahir
Penanganan bayi dilakukan sejak kepala keluar dari jalan lahir, yaitu
dengan melakukan pembersihan lendir serta cairan yang berada di sekitar
mulut dan hidung dengan kapas dan kain kasa steril. Kemudian kedua
kelopak matanya dibersihkan dengan kasa steril, dimulai dari luar ke dalam.
Saat lahir segera dicatat dengan stopwatch. Kemudian kedua kaki bayi
dipegang dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain memegang kepala
bayi yang lebih rendah dengan sudut + 300 daripada kaki dengan posisinya
sedikit ekstensi untuk memungkinkan cairan atau lendir mengalir keluar dari
trakea dan farings. Sementara itu seorang membantu mengisap lendir dan
cairan dengan alat pengisap lendir (Prawirohardjo, 2007; h.247).
3) Penilaian bayi waktu lahir
Keadaan umum bayi dinilai satu menit setelah lahir dengan penggunaan
nilai Apgar. Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita
asfiksia atau tidak. Yang dinilai ialah frekuensi jantung (heart rate), usaha
nafas (respiratory effort), tonus otot ( muscle tone), warna kulit (colour) dan
reaksi terhadap rangsangan (response to stimulti) yaitu dengan memasukkan
kateter ke lubang hidung setelah jalan nafas dibersihkan (Prawirohardjo,
2007; h.247).
Setiap penilaian diberi angka 0,1, dan 2. Dari hasil penilaian tersebut
dapat diketahui apakah bayi normal (vigorous baby = nilai Apgar 7-10),
asfiksia sedang-ringan (niali Apgar 4-6) atau bayi menderita asfiksia berat
(nilai Apgar 0-3).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
52
Tabel 2.6. Nilai Apgar
0
1
2
Appearance
(warna kulit)
Pulse rate
(frekuensi nadi)
Grimace
(reaksi rangsangan)
Activity
(tonus otot)
Pucat
Badan merah,
ekstremitas biru
Seluruh
tubuh
kemerah-merahan
Tidak ada
Kurang dari 100
Lebih dari 100
Tidak ada
Sedikit gerakan
mimik (grimace)
Batuk/bersin
Tidak ada
Gerakan aktif
Respiration
(pernafasan)
Tidak ada
Ekstremitas
dalam
sedikit
fleksi
Lemah/tidak
teratur
NA
Baik/menangis
Jumlah
Catatan :
NA 1 menit lebih/sama dengan 7 tidak perlu resusitasi
NA 1 menit 4-6 bag and mask ventilation
NA 1 menit 0-3 lakukan intubasi
4) Identifikasi bayi
Identifikasi dilakukan segera setelah bayi lahir dan ibu masih
berdekatan dengan bayinya di kamar bersalin. Tanda pengenal bayi
umumnya tanda pengenal berupa secarik kertas putih atau berwarna
merah/biru (tergantung pada jenis kelamin bayi) dan ditulis nama ibu, tanggal
dan jam bayi lahir. Kertas ini dimasukkan ke dalam pita diikatkan di
pergelangan tangan atau kaki bayi (Prawirohardjo, 2007; h.248).
5) Perawatan tali pusat
Pemotongan dan pengikatan tali pusat menyebabkan pemisahan fisik
antara ibu dan bayi. Pemotongan sampai denyut nadi tali pusat terhenti dapat
dilakukan pada bayi normal, sedangkan pada bayi gawat perlu dilakukan
pemotongan tali pusat secepat mungkin, agar dapat segera dilakukan
resusitasi sebaik-baiknya. Tali pusat dijepit dengan kocher kira-kira 5 cm dan
sekali lagi kira-kira 7,5 cm di atas pusat. Kemudian ikat dengan benang
steril/penjepit plastik. Pemotongan dilakukan di antara kedua penjepit
tersebut. Untuk menghindari infeksi tali pusat, tali pusat dirawat dalam
keadaan steril/bersih dan kering (Prawirohardjo, 2007; h.248).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
53
6) Pemeriksaan pertama
Pemeriksaan ini dilakukan di kamar bersalin sesaat sesudah bayi lahir
dan setelah dilakukan pembersihan jalan nafas/resusitasi, pembersihan badan
bayi, perawatan tali pusat dan bayi di tempat tidurnya yang hangat. Maksud
pemeriksaan adalah untuk mengenal/menemukan kelainan yang perlu
mendapat tindakan segera dan yang berhubungan dengan kehamilan,
persalinan (Prawirohardjo, 2007; h.249).
7) Status (record)
Sebelum bayi dipindah ke bangsal, status bayi harus dilengkapi dengan
riwayat perawatan antenatal, riwayat persalinan termasuk obat-obat yang
diberikan pada waktu persalinan, jenis persalinan, jumlah,warna dan bau air
ketuban, bentuk,warna dan panjang tali pusat, bentuk, besar dan berat
plasenta, serta keadaan bayi waktu lahir (nilai Apgar, resusitasi yang
dilakukan, obat yang diberikan dan hasil dari pemeriksaan pertama)
(Prawirohardjo, 2007; h.249).
e. Keadaan yang Harus Diawasi Selama Bayi Dirawat
Pengamatan ditujukan terhadap :
1) Keadaan umum
Bayi yang sehat tampak kemerah-merahan, aktif, tonus otot baik, menangis
keras, minum baik, suhu tubuh 360C-370C. Hal-hal yang menyimpang dari
keadaan ini dianggap tidak normal (Prawirohardjo, 2007; h.256).
2) Suhu tubuh minimal diukur 1 kali sehari.
Bila suhu rektal di bawah 360C, bayi ini harus diletakkan di tempat yang lebih
hangat misalnya di dalam inkubator yang mempunyai suhu 300C-320C, atau
dipakai lampu yang disorotkan ke arah bayi. di samping pemanasan harus
pula difikirkan kemungkinan bayi menderita infeksi. Suhu rektal diukur setiap
½ jam sampai suhu tubuh di atas 360C (Prawirohardjo, 2007; h.256).
3) Menimbang berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari.
Dalam 3 hari pertama berat badan akan turun oleh karena bayi mengeluarkan
air kencing dan mekonium, sedang cairan yang masuk belum cukup. Pada
hari keempat berat badan akan naik lagi (Prawirohardjo, 2007; h.256).
4) Tinja yang berbentuk mekonium berwarna hijau tua yang telah berada di
saluran pencernaan sejak janin berumur 16 minggu, akan mulai keluar dalam
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
54
waktu 24 jam, pengeluaran ini akan berlangsung sampai hari ke 2-3. Pada
hari ke 4-5 warna tinja menjadi coklat kehijau-hijauan. Selanjutnya warna tinja
akan tergantung dari jenis susu yang diminumnya (Prawirohardjo, 2007;
h.256).
5) Air kencing; bila kandung kemih belum kosong pada waktu lahir, air kencing
akan keluar dalam waktu 24 jam. Yang harus dicatat ialah kencing pertama,
frekuensi kencing berikutnya, serta warnanya. Bila bayi tidak kencing atau
kencingnya menetesdan tampak perubahan warna kencing, hal ini harus
segera ditindaklanjuti (Prawirohardjo, 2007; h.256).
6) Perubahan warna kulit; perlu diteliti apakah kulit tidak menjadi pucat, kuning,
biru atau timbul perdarahan di kulit seperti purpura, petekia, ekimosis,
hematom, infeksi pada kulit, edema dan lain-lain (Prawirohardjo, 2007; h.256).
7) Pada perubahan pernafasan dicatat frekuensi; dangkal/dalamnya pernafasan,
apneu, nafas cuping hidung, retraksi sela iga, substernal, suprasternal, dan
apakah gangguan pernafasan ini berhubungan dengan pemberian minum
(Prawirohardjo, 2007; h.256).
8) Hal-hal lain; bila bayi muntah, perlu dicatat jumlah, warna, konsistensi yang
dikeluarkan, cara muntah, apakah ada hubungannya dengan pemberian
minum, gangguan pencernaan (Prawirohardjo, 2007; h.256).
f. Perawatan Bayi Sehari-hari
Perawatan yang diberikan pada bayi sehari-hari (Prawirohardjo, 2007; h.257)
yaitu:
1) Mata bayi harus selalu diperiksa untuk melihat tanda-tanda infeksi
2) Mulut diperiksa untuk melihat kemungkinan infeksi dengan kandida (oral
trush)
3) Kulit, terutama di lipatan-lipatan (paha, leher, belakang telinga, ketiak), harus
selalu bersih dan kering
4) Tali pusat pada umumnya akan puput pada waktu bayi berusia 6-7 hari. Bila
tali pusat belum puput, maka setiap sesudah mandi tali pusat harus
dibersihkan dan dikeringkan.
5) Kain popok harus segera diganti setiap kali basah karena air kencing atau
tinja.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
55
g. Asuhan pada Bayi Baru Lahir
Asuhan yang diberikan pada bayi baru lahir (Prawirohardjo, 2008; h.136)
meliputi:
1) Pemantauan 2 jam
Pemantauan 2 jam pertama bayi baru lahir bertujuan untuk melihat adanya
kemampuan bayi menghisap dengan kuat, bayi tampak aktif atau lunglai, dan
warna kulit kemerahan atau biru. Seorang bidan sebelum meninggalkan bayi
perlu melihat apakah terdapat gangguan pernafasan, hipotermi, infeksi dan
cacat bawaan (Prawirohardjo, 2008; h.136).
2) Pemantauan 0-8 jam
a) Asuhan bayi baru lahir normal dilaksanakan segera setelah lahir, dan
diletakkan di dekat ibu serta dalam ruangan yang sama.
b) Asuhan bayi baru lahir dengan komplikasi dilaksanakan dalam 1 ruangan
dengan ibunya atau di ruangan khusus.
3) Asuhan 8-48 jam
Asuhan yang diberikan yaitu menjaga kehangatan tubuh bayi baru lahir,
pencegahan infeksi, pemberian ASI eksklusif (Prawirohardjo, 2008; h.136).
4) Asuhan 2-7 hari
Pemeriksaan pada bayi baru lahir meliputi :
a) Menilai pertumbuhan bayi
b) Pemberian minuman dan nutrisi
c) Pemberian ASI eksklusif
5) Asuhan 7-28 hari
a) Pemeriksaan neonatus pada periode ini dapat dilaksanakan di pelayanan
kesehatan atau melalui kunjungan rumah.
b) Pemeriksaan neonatus dilakukan di dekat ibu bayi didampingi ibu atau
keluarga saat dilakukan pemeriksaan.
6) Asuhan 6 minggu pertama
Asuhan yang diberikan pada bayi usia 6 minggu yaitu mempertahankan suhu
normal bayi dan pemberian nutrisi (Prawirohardjo, 2008; h.136).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
56
h. Komplikasi pada Bayi Baru Lahir
Macam-macam komplikasi yang terjadi pada BBL yaitu :
1) Asfiksia neonatorum
Ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan
dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus
dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam
kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir (Prawirohardjo, 2007;
h.709).
Diagnosis hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan
ditemukannya tanda-tanda gawat janin seperti : denyut jantung janin menurun,
terdapat mekonium dalam air ketuban, pemeriksaan pH darah janin turun
sampai di bawah 7,2. Tindakan yang dilakukan ialah dengan melakukan
resusitasi (Prawirohardjo, 2007; h.709).
2) Kaput suksadaneum
Kelainan ini ditemukan biasanya pada presentasi kepala, sesuai
dengan posisi bagian yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi edema
sebagai akibat pengeluaran serum dari pembuluh darah. Kaput suksadaneum
tidak memerlukan pengobatan khusus dan biasanya menghilang setelah 2-5
hari (Prawirohardjo, 2007; h.717).
3) Cephalhematoma
Kelainan ini disebabkan oleh perdarahan subperiostal tulang tengkorak
dan terbatas tegas pada tulang yang bersangkutan, tidak melampaui suturasutura sekitarnya. Kelainan ini dapat terjadi pada persalinan biasa, tetapi lebih
sering pada persalinan lama atau persalinan yang diakhiri dengan alat, seperti
ekstraksi cunam atau ekstraktor vakum. Bila tidak ditemukan gejala lanjut,
cephalhematoma tidak memerlukan perawatan khusus. Kelainan ini dapat
menghilang dengan sendirinya setelah 2-12 minggu (Prawirohardjo, 2007;
h.717).
4) Brachial palsy
Kalainan ini timbul akibat tarikan yang kuat di daerah leher pada saat
lahirnya bayi, sehingga terjadi kerusakan pada pleksus brakialis. Hal ini
ditemukan pada persalinan letak sungsang apabila dilakukan traksi yang kuat
dalam usaha melahirkan kepala bayi. Pada persalinan presentasi kepala,
kelainan dapat terjadi pada janin dengan bahu lebar. Di sini kadang-kadang
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
57
dilakukan tarikan pada kepala agak kuat ke belakang untuk melahirkan bahu
depan (Prawirohardjo, 2007; h.718).
Penanggulangannya ialah dengan jalan meletakkan lengan atas dalam
posisi abduksi 900 dan putaran ke luar. Siku berada dalam fleksi 900 disertai
supinasi lengan bawah dengan ekstensi pergelangan dan telapak tangan
menghadap
ke
depan.
Posisi
ini
dipertahankan
beberapa
waktu.
Penyembuhan biasanya terjasi setelah beberapa hari, kadang-kadang sampai
3-6 bulan (Prawirohardjo, 2007; h.718).
5) Fraktura klavikula
Fraktur ini mungkin terjadi apabila terdapat kesulitan melahirkan bahu
pada persalinan. Hal ini dapat timbul pada persalinan
presentasi kepala
dengan bayi besar atau kelahiran sungsang dengan lengan membumbung ke
atas. Gejala yang tampak pada keadaan ini adalah kelemahan lengan pada
sisi yang terkena disertai menghilangnya refleks morro pada sisi tersebut
(Prawirohardjo, 2007; h.720).
Penyembuhan sempurna terjadi setelah 7-10 hari dengan imobilisasi
dalam posisi abduksi 600 dan fleksi 900 dari siku yang terkena (Prawirohardjo,
2007; h.720).
6) Fraktura humeri
Kelainan ini terjadi pada kesalahan teknik dalam melahirkan lengan
pada presentasi kepala atau pada sungsang dengan lengan membumbung ke
atas. Pada keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak dapat digerakkan dan
refleks morro sisi tersebut hilang. Prognosis penderita sangat baik dengan
dilakukannya imobilisasi lengan selama 2-4 minggu (Prawirohardjo, 2007;
h.720).
7)
Hernia diafragmatika
Di sini terdapat lubang diafragma yang hanya ditutup oleh lapisan
pleura dan peritoneum, yang memungkinkan sebagian isi rongga perut dapat
masuk ke dalam rongga dada. Pengobatannya ialah tindakan bedah.
Prognosis bayi di samping tindakan bedahnya sendiri ditentukan pula ada
tidaknya hipoplasi paru pada segmen yang tertekan serta ada tidaknya
komplikasi kardiologi akibat hipoplasi paru tersebut (Prawirohardjo, 2007;
h.729).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
58
8) Omfalokel
Terdapat hernia pada dinding perut di sekitar pusat, sehingga isi
rongga perut dapat masuk ke dalam suatu kantong di atas permukaan rongga
perut. Pengobatan terdiri atas tindakan bedah dengan tujuan untuk menutup
hernia tersebut. Pada herniasi yang besar, tindakan bedah dilakukan bertahap
(Prawirohardjo, 2007; h.730).
9) Meningokel
Merupakan benjolan berbentuk kista di garis tengah tulang belakang
yang umumnya terdapat di daerah lumbo-sakral (Prawirohardjo, 2007; h.733).
10) Hidrochepalus
Merupakan suatu keadaan dimana terdapat timbunan likuor serebrospinalis
yang berlebihan dalam ventrikel-ventrikel, yang disertai dengan kenaikan
tekanan intrakranial. Pengobatannya ialah dengan pembedahan bila keadaan
memungkinkan (Prawirohardjo, 2007; h.734).
11) Anensefalus
Merupakan suatu kelainan kongenital dimana tulang-tulang tengkorak
hanya terbentuk bagian basal dari os frontalis, os parietalis, dan os osipitalis.
Pengobatannya saat ini tidak ada dan biasanya bayi lahir-mati, meninggal
waktu persalinan atau beberapa jam setelah lahir (Prawirohardjo, 2007;
h.734).
12) Tetanus neonatorum
Disebabkan oleh Clostridium tetani. Kelainan ini biasa terjadi pada
otak, sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik
(Prawirohardjo, 2007; h.746).
Pengobatan terutama untuk memperbaiki keadaan umum, menghilangkan
kejang, mengikat toksin yang masih beredar, dan pemberian antibiotika
terhadap infeksi (Prawirohardjo, 2007; h.746).
13) Ikterus fisiologik
Ialah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak
mempunyai
dasar
patologik,
kadarnya
tidak
melewati
kadar
yang
membahayakan atau mempunyai potensi menjadi kern-ikterus dan tidak
menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus ini biasanya menghilang
pada akhir minggu pertama atau selambat-lambatnya 10 hari pertama
(Prawirohardjo, 2007; h.753).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
59
14) Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Yaitu BBL dengan berat badan < 2500 gram.
Penatalaksanaan umumnya sama dengan perawatan neonatus umumnya,
seperti pengaturan suhu lingkungan, makanan, mencegah infeksi dan lainlain, akan tetapi perlu diperhatikan (Prawirohardjo, 2007; h.783).
a) Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin serta menemukan
gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksaan USG.
b) Memeriksa kadar gula darah
c) Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya
5. Keluarga Berencana
a. Definisi
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu
dapat
bersifat
sementara,
dapat
pula
bersifat
permanen.
Penggunaan
kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas
(Prawirohardjo, 2007; h.905).
Keluarga berencana adalah upaya untuk mengatur jarak kelahiran anak
(Purwaningsih, 2010; h.75).
Jadi keluarga berencana adalah suatu upaya yang bertujuan untuk
membatasi, menjarangkan dan menunda kehamilan. Kontrasepsi yang ideal
harus memenuhi syarat-syarat (Prawirohardjo, 2008; h.534) sebagai berikut :
1) Dapat dipercaya
2) Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan
3) Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan
4) Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus
5) Tidak memerlukan motivasi terus-menerus
6) Mudah pelaksanaannya
7) Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat
8) Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
60
b. Macam-macam Metode Kontrasepsi
1) Kontrasepsi Tanpa Menggunakan Alat/Obat
a) Senggama Terputus (coitus interruptus)
Ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi (Prawirohardjo,
2008; h.535).
(1)Keuntungannya, cara ini tidak membutuhkan biaya, alat-alat maupun
persiapan
(2) Kekurangannya bahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan
pengendalian diri yang besar dari pihak pria. Beberapa pria karena
faktor jasmani dan emosional tidak dapat mempergunakan cara ini.
(3) Efektifitas cara ini umumnya dianggap kurang. Kegagalan dengan cara
ini dapat disebabkan oleh :
(a) Adanya pengeluaran air mani sebelum ejakulasi yang dapat
mengandung sperma, apalagi pada koitus yang berulang
(b) Terlambatnya pengeluaran penis dari vagina
(c) Pengeluaran
semen
dekat
pada
vulva
dapat
menyebabkan
kehamilan
b) Pembilasan Pascasenggama
Pembilasan vagina dengan air biasa atau dengan larutan (cuka atau
obat lain) segera setelah koitus. Maksudnya ialah untuk mengeluarkan
sperma secara mekanik dari vagina. Penambahan cuka ialah untuk
memperoleh efek spermisida serta menjaga asiditas vagina (Prawirohardjo,
2008; h.536).
Efektivitasnya yaitu mengurangi kemungkinan terjadinya konsepsi
hanya dalam batas-batas tertentu karena sebelum pembilasan dapat
dilakukan, spermatozoa dalam jumlah besar sudah memasuki serviks uteri
(Prawirohardjo, 2008; h.536).
c) Amenorhe Laktasi
Kemungkinan untuk menjadi hamil menjadi lebih kecil apabila mereka
terus menyusui anaknya setelah melahirkan. Laktasi dikaitkan dengan
adanya prolaktinemi dan prolaktin yang menekan terjadinya ovulasi
(Prawirohardjo, 2008; h.537).
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
61
Efektivitasnya yaitu dengan menyusui anak mencegah ovulasi dan
memperpanjang amenorhea postpartum. Akan tetapi ovulasi pada suatu
saat akan terjadi lagi, dan akan mendahului haid pertama setelah partus.
Bila hal ini terjadi maka konsepsi dapat terjadi selagi wanita tersebut masih
dalam keadaan amenorhea (Prawirohardjo, 2008; h.537).
d) Pantang Berkala
Prinsip pantang berkala ialah tidak melakukan persetubuhan pada
masa subur istri (Prawirohardjo, 2007; h.906).
Untuk menentukan masa subur istri dipakai 3 patokan, yaitu :
(1) Ovulasi terjadi 14 + 2 hari sebelum haid yang akan datang
(2) Sperma dapat hidup dan membuahi dalam 48 jam setelah ejakulasi
(3) Ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi
Kelemahannya adalah hanya sedikit wanita yang mempunyai siklus haid
Teratur (Prawirohardjo, 2007; h.906).
e) Suhu Basal Badan
Menjelang ovulasi suhu basal badan akan turun. Kurang lebih 24 jam
sesudah ovulasi suhu basal tubuh akan naik lagi sampai lebih tinggi
daripada suhu sebelum ovulasi. Suhu basal badan dicatat dengan teliti
setiap hari. Suhu basal maksudnya adalah suhu yang diukur di waktu pagi
segera sesudah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas apapun.
Metode ini akan terganggu jika ada infeksi, ketegangan, dan waktu tidur
tidak teratur (Prawirohardjo, 2007; h.906).
2) Kontrasepsi dengan Alat
a) Kondom
Prinsip kerja kondom ialah sebagai perisai dari penis sewaktu
melakukan koitus dan mencegah pengumpulan sperma dalam vagina
(Prawirohardjo, 2008; h.539).
(1) Mekanisme kerja
Kondom menghalangi masuknya sperma ke dalam vagina, sehingga
pembuahan dapat dicegah.
(2) Efektivitas
Angka kegagalannya ialah 15-36 kehamilan per 100 wanita.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
62
(3) Jenis kondom
Terdiri dari kondom kulit dan kondom karet.
(4) Keuntungan
Murah, mudah didapat, tidak memerlukan pengawasan, mengurangi
kemungkinan penularan penyakit kelamin.
(5) Efek samping
Adanya reaksi alergik terhadap kondom karet.
(6) Kontra-indikasi
Kontra-indikasi
kondom
yaitu
alergi
terhadap
kondom
karet
(Prawirohardjo, 2007; h.909).
b) Diafragma vaginal
Diafragma dimasukkan ke dalam vagina sebelum koitus untuk
menjaga jangan sampai sperma masuk ke dalam uterus. Untuk
memperkuat khasiat diafragma, obat spermatisida dimasukkan ke dalam
mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya (Prawirohardjo, 2008; h.540).
(1) Keuntungan
Hampir tidak ada efek samping, dengan motivasi yang baik dan
pemakaian yang betul hasilnya cukup memuaskan, dapat dipakai
sebagai pengganti pil atau AKDR.
(2) Kekurangan
Diperlukan motivasi yang cukup kuat, pemakaian yang tidak teratur
dapat menimbulkan kegagalan, tingkat kegagalan lebih tinggi daripada
pil atau AKDR.
(3) Efek samping
Adanya
reaksi
alergik
terhadap
obat-obatan
spermatisida
yang
digunakan.
c) Spermatisida
(1) Mekanisme kerja
(a) Preparat spermatisid terdiri atas 2 komponen, yaitu bahan kimia yang
mematikan sperma dan vehikuulum yang non aktif dan yang
diperlukan untuk membuat tablet atau cream/jely (Prawirohardjo,
2008; h.543).
(2) Efektivitas
Angka kegagalan yaitu 30 kehamilan per 100 wanita/tahun.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
63
(3) Efek samping
Efek sampingnya walau jarang terjadi, berupa reaksi alergik. Disamping
itu, preparat spermatisid mempunyai rasa tidak enak.
(4) Macam-macam spermatisid (Prawirohardjo, 2008; h.543) :
(a) Suppositorium, dimasukkan sejauh mungkin ke dalam vagina
sebelum koitus. Obat ini baru mulai aktif setelah 5 menit. Lama
kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam.
(b) Jelly atau cream, obat ini disemprotkan ke dalam vagina dengan
menggunakan suatu alat. Lama kerjanya kurang lebih 20 menit
sampai 1 jam.
(c) Tablet busa, sebelum digunakan, tablet terlebih dahulu dicelupkan ke
dalam air kemudian dimasukkan ke dalam vagina sejauh mungkin.
Lama kerjanya 30-60 menit.
(d) C-film, yang merupakan benda yang tipis, dapat dilipat, dan larut
dalam air. Obat mulai efektif setelah 30 menit
3) Kontrasepsi Hormonal
Mekanisme kerja estrogen yaitu mempunyai khasiat kontrasepsi dengan
jalan mempengaruhi ovulasi, perjalanan ovum, atau implantasi. Ovulasi
dihambat melalui pengaruh estrogen terhadap hipotalamus dan selanjutnya
menghambat FSH dan LH. Implantasi telur yang sudah dibuahi dihambat oleh
estrogen dosis tinggi yang diberikan pada pertengahan siklus haid.
Mekanisme
kerja
progesteron
yaitu
menyiapkan
endometrium
untuk
implantasi dan mempertahankan kehamilan (Prawirohardjo, 2007; h.916).
Selain itu juga mempunyai khasiat kontrasepsi, seperti:
a) Lendir serviks mengalami perubahan menjadi lebih pekat, sehingga
penetrasi dan transportasi sperma selanjutnya lebih sulit
b) Kapasitasi sperma dihambat oleh progesteron. Kapasitasi diperlukan oleh
sperma untuk membuahi sel telur dan menembus rintangan di sekeliling
ovum
c) Jika progesteron diberikan sebelum konsepsi, maka perjalanan ovum
dalam tuba akan terhambat.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
64
d) Implantasi dihambat bila progesteron diberikan sebelum ovulasi. Walaupun
ovulasi dapat terjadi, produksi progesteron dari korpus luteum akan
berkurang, sehingga implantasi dihambat.
e) Penghambatan ovulasi melalui fungsi hipotalamus-hipofisis-ovarium.
Macam-macam konrasepsi hormonal :
a) Pil kombinasi
Pil kombinasi merupakan pil kontrasepsi yang sampai saat ini
dianggap paling efektif. Dalam satu pil terdapat baik estrogen maupun
progestin sintetik. Pil diminum setiap hari selama 3 minggu, diikuti dengan
1 minggu tanpa pil, pada saat suatu perdarahan surut akan terjadi.
Estrogennya ialah etinil estradiol atau mestranol. Progestinnya bervariasi :
yang
merupakan
androgen,
yang
merupakan
progesteron,
atau
mempunyai pengaruh estrogen intrinsik (Prawirohardjo, 2007; h.917).
(1) Kontra-indikasi
(a) Kontra-indikasi mutlak : adanya tromboflebitis, kelainan serebro
vaskular, fungsi hati tidak baik, adanya keganasan pada payudara
atau organ reproduksi, adanya kehamilan, dan varises berat.
(b) Kontra-indikasi relatif : hipertensi, diabetes, perdarahan abnormal
pervaginam, laktasi, fibromioma uterus, penyakit jantung atau ginjal,
dan lain-lain.
(2) Efek samping
(a) Efek samping ringan : pertambahan berat badan, perdarahan di luar
haid,
enek,
depresi,
amenorhea,dan
keluhan-keluhan
gastrointestinal.
(b) Efek samping berat : tromboemboli.
b) Mini pil
Mini
pil
mengandung
progestin
saja
tanpa
estrogen.
Dosis
progestinnya kecil yaitu 0,5 mg atau kurang (Prawirohardjo, 2007; h.921).
(1) Keuntungan
Karena tanpa estrogen, mini pil baik bagi wanita yang masih menyusui
dan yang mempunyai masalah yang bersangkutan dengan estrogen.
(2) Kerugian
Jika lupa minum 1-2 pil dalam suatu siklus cukup untuk menimbulkan
kehamilan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
65
(3) Efek samping
Berupa perdarahan yang tidak teratur dan spotting.
c) Kontrasepsi suntikan
Kontrasepsi suntikan yang digunakan ialah long-acting pregestin,
yaitu Noretisteron enantat (NETEN) dengan nama dagang Noristrat dan
Depomedroksi progesterone acetat (DMPA) dengan nama dagang
Depoprovera (Prawirohardjo, 2007; h.921).
(1) Efektivitas
Angka kegagalan 5-10 kehamilan/100 tahun-wanita.
(2) Keuntungan
Efektifitas tinggi, sederhana pemakaiannya, cukup menyenyenangkan
bagi akseptor (cukup suntik 4x dalam satu tahun), cocok untuk ibu yang
sedang menyusui (Prawirohardjo, 2008; h.551).
(3) Kerugian
Amenorhea, menoragia, dan spotting.
d) Kontrasepsi bawah kulit (AKBK/implant/Norplant)
Norplant
levonorgestrel
adalah
yang
suatu
dibungkus
alat
kontrasepsi
dalam
kapsul
yang
mengandung
silastic-silicone
dan
dimasukkan ke bawah kulit. Levonorgestrel adalah suatu progestin yang
juga dipakai dalam pil KB seperti mini pil atau pil kombinasi atau pada
AKDR yang bioaktif (Prawirohardjo, 2008; h.552).
(1) Efektivitas
Angka kegagalannya adalah 0,3-0,5/100 tahun-wanita
(2) Kelebihan
Cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan estrogen,
perdarahan yang terjadi lebih ringan, tidak menaikkan tekanan darah,
resiko terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan dengan
AKDR, digunakan dalam jangka waktu lama, bersifat reversibel.
(3) Efek samping
Gangguan pola haid, spotting, amenorhea, mual, anoreksi, sakit kepala,
terjadi perubahan berat badan, timbul acne.
(4) Indikasi
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
66
(a) Wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu yang
lama tetapi tidak bersedia menggunakan AKDR
(b) Wanita yang tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung
estrogen.
(5) Kontraindikasi
(a) Kehamilan atau disangka hamil
(b) Penderita penyakit hati
(c) Kanker payudara
(d) Varikosis
(e) Riwayat kehamilan ektopik
(f) Diabetes mellitus
(g) Kelainan kardiovaskular
(6) Waktu pemasangan
Waktu yang paling baik adalah sewaktu haid berlangsung atau masa
pra-ovulasi dari siklus haid.
4)Alat Kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
Yaitu kontrasepsi dengan memasukkan benda/alat ke dalam uterus
untuk tujuan mencegah terjadinya kehamilan (Prawirohardjo, 2008; h.556).
a) Mekanisme kerja
AKDR di dalam kavum uteri menimbulkan reaksi peradangan endometrium
yang disertai dengan sebukan leukosit yang dapat menghancurkan
blastokista atau sperma (Prawirohardjo, 2008; h.556).
b) Jenis-jenis
(1) Bentuk terbuka dan linear : Lippes loop, Saf-T-coil, multiload 250, Cu-7,
Cu-T, Cu T 380 A, Spring coil, Margulies spiral, dan lain-lain
(2) Bentuk tertutup dengan bentuk dasar cincin : Ota ring, Antigon F, Ragab
ring, cincin Gravenberg, cincin Hall-Stone, Birnberg bow, dan lain-lain.
c) Keuntungan
Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan dan demikian satu
kali motivasi, tidak menimbulkan efek sistemik, ekonomis dan cocok untuk
penggunaan secara massal, efektivitas cukup tinggi, reversibel.
d) Efek samping
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
67
Antara lain perdarahan, nyeri dan kejang di perut, gangguan pada suami,
ekspulsi.
e) Komplikasi
Infeksi, perforasi, kehamilan.
f) Kontraindikasi
(1) Kontraindikasi relatif : mioma uteri, insufisiensi servisk uteri, uterus
dengan parut pada dindingnya (bekas SC), kelainan yang jinak serviks
uteri.
(2) Kontraindikasi mutlak : kehamilan, adanya infeksi yang aktif pada traktus
genetalis, adanya tumor ganas pada traktus genetalis, adanya
metroragia yang belum disembuhkan.
g) Waktu pemasangan
Waktu yang baik yaitu sewaktu haid sedang berlangsung, sewaktu
postpartum, sewaktu postabortum, beberapa hari setelah haid terakhir
(Prawirohardjo, 2008; h.556).
5)Metode Kontrasepsi Mantap
a) Tubektomi
Ialah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita atau saluran
bibit pria yang mengakibatkan orang/pasangan yang bersangkutan tidak
akan mendapat keturunan lagi. Kontrasepsi ini dipakai untuk jangka
panjang, meskipun kadang-kadang masih dapat dipulihkan kembali seperti
semula (Prawirohardjo, 2007; h.924).
(1) Indikasi
Menurut Seminar Kuldoskopi Indonesia pertama di Jakarta (18-19
desember 1972)
(a) Umur termuda 25 tahun dengan 4 anak hidup
(b) Umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup
(c) Umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup
Menurut Konperensi Khusus Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela
Indonesia di Medan (3-5 Juni 1976) :
(a) Umur antara 25-30 tahun dengan 3 anak atau lebih
(b) Umur antara 30-35 tahun dengan 2 anak atau lebih
(c) Umur antara 35-40 tahun dengan 1 anak atau lebih
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
68
(2) Keuntungan
(a) Motivasi hanya dilakukan satu kali saja
(b) Efektifitas hampir 100%
(c) Tidak mempengaruhi libido seksualis
(d) Kegagalan dari pihak pasien tidak ada
b) Vasektomi
Ialah suatu operasi kecil dengan pemotongan vas diferen pada pria
(Prawirohardjo, 2008; h.573).
(1) Indikasi
Pasangan tidak menghendaki kehamilan lagi dan pihak suami bersedia
dengan tindakan kontrasepsi yang dilakukan pada dirinya.
(2) Kontraindikasi
Jika ada kelainan lokal atau umum yang dapat mengganggu sembuhnya
luka operasi, kelainan itu harus disembuhkan dahulu.
(3) Keuntungan
(a) Tidak menimbulkan kelainan fisik maupun mental
(b) Tidak mengganggu libido seksualitas
(c) Dapat dikerjakan secara poliklinis
c. Penapisan Calon Akseptor Keluarga Berencana
1) Penapisan metode kontrasepsi hormonal (pil, suntik, implant)
Penapisan yang dilakukan pada calon akseptor kontrasepsi hormonal
yaitu dengan menanyakan kepada klien apakah hari pertama haid terakhir 7
hari atau lebih, menyusui dan kurang dari 6 minggu pasca salin, mengalami
perdarahan/perdarahan bercak antara haid setelah sengama, ikterus pada
kulit atau sklera mata, nyeri kepala hebat atau gangguan visual, nyeri hebat
pada betis, paha atau dada, tungkak bengkak, tekanan darah di atas 160
mmHg (sistolik) atau 90 mmHg (diastolik), terdapat massa atau benjolan pada
payudara, sedang minum obat-obatan epilepsi. Jika didapati salah satu dari
hal tersebut maka penggunaan kontrasepsi hormonal tidak dianjurkan/tidak
diperbolehkan.
2) Penapisan metode kontrasepsi AKDR
Penapisan yang dilakukan pada calon akseptor kontrasepsi AKDR yaitu
dengan menanyakan kepada klien apakah hari pertama haid terakhir 7 hari
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
69
atau lebih, klien (atau pasangan) mempunyai pasangan seks lain, menderita
Infeksi Menular Seksual (IMS), penyakit radang panggul atau kehamilan
ektopik, mengalami haid banyak (> 1-2 pembalut tiap 4 jam), haid lama (> 8
hari), dismenorhea berat yang membutuhkan analgetik dan/atau istirahat
baring, perdarahan/perdarahan bercak antara haid atau setelah senggama,
gejala penyakit jantung atau kongenital. Jika ditemukan salah satu dari hal
tersebut
maka
penggunaan
kontrasepsi
AKDR
tidak
dianjurkan/tidak
diperbolehkan.
3) Penapisan metode kontrasepsi mantap
a) Tubektomi
Penapisan yang dilakukan yaitu apakah keadaan umum klien baik,
tidak ada tanda-tanda penyakit jantung, paru, ginjal, keadaan emosi
tenang, tekanan darah <160/100 mmHg, berat badan 35-85 kg, riwayat SC
(tanpa perlekatan), riwayat radang panggul, kehamilan ektopik, apendiksitis
dalam batas normal, Hb > 8 gr%. Jika didapat tanda-tanda tersebut,
tubektomi dapat dilakukan di fasilitas rawat jalan. Tapi jika keadaan
emosional cemas/takut, DM tidak terkontrol, riwayat gangguan pembekuan
darah, ada tanda penyakit jantung, paru atau ginjal, tekanan darah >
160/100 mmHg, berat badan > 85 atau <35 kg, riwayat operasi abdomen
dengan perlekatan atau terdapat kelainan pada px panggul, Hb < 8 gr%
maka tubektomi dilakukan di fasilitas rujukan.
b) Vasektomi
Penapisan yang dilakukan yaitu apakah keadaan umum klien baik,
tidak ada penyakit jantung, paru, ginjal, keadaan emosi tenang, tekanan
darah < 160/100 mmHg, tidak ada infeksi atau kelainan scrotum, Hb > 8
gr%. Jika didapati tanda-tanda tersebut maka vasektomi dapat dilakukan di
fasilitas rawat jalan. Tapi jika keadaan emosi klien takut/cemas, DM tidak
terkontrol, riwayat gangguan pembekuan darah, ada tanda penyakit
jantung, paru atau ginjal, tekanan darah > 160/100 mmHg, ada tanda-tanda
infeksi atau kelainan scrotum, Hb < 8 gr% maka vasektomi dilakukan di
fasilitas rujukan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
70
B. TINJAUAN MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN
Langkah-langkah asuhan kebidanan menggunakan 7 langkah Varney (Moh.
Wildan, 2008; h.36) yaitu :
1. Pengumpulan data
Langkah ini dilakukan dengan menggunakan pengkajian melalui proses
pengumpulan data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan pasien
secara lengkap seperti riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik sesuai dengan
kebutuhan, peninjauan catatan terbaru atau catatan sebelumnya, data
laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi. Semua data
dikumpulkan dari semua sumber yang berhubungan dengan kondisi pasien.
2. Interpretasi data
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar terhadap
diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis yang
spesifik dapat ditemukan berdasarkan interpretasi yang benar terhadap data
dasar. Selain itu, sudah terfikirkan perencanaan yang dibutuhkan terhadap
masalah.
3. Identifikasi diagnosis
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau diagnosa
potensial yang lain berdasarkan beberapa masalah dan diagnosis yang
sudah teridentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi yang cukup dan
apabila memungkinkan dilakukan proses pencegahan atau dalam kondisi
tertentu pasien membutuhkan tindakan segera.
4. Kebutuhan akan tindakan segera
Tahap ini dilakukan dengan melakukan identifikasi dan menetapkan
beberapa kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakkan. Kegiatan
pada tahap ini adalah konsultasi, kolaborasi, dan melakukan rujukan.
5. Perencanaan asuhan
Setelah beberapa kebutuhan pasien ditetapkan, diperlukan perencanaan
secara menyeluruh terhadap masalah dan diagnosis yang ada. Dalam
proses perencanaan asuhan secara menyeluruh juga dilakukan identifikasi
beberapa data yang tidak lengkap agar pelaksanaan secara menyeluruh
dapat berhasil.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
71
6. Pelaksanaan asuhan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya,
baik terhadap masalah pasien maupun diagnosis yang ditegakkan.
Pelaksanaan ini dapat dilakukan secara mandiri maupun berkolaborasi
dengan tim kesehatan lainnya.
7. Evaluasi
Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan
melakukan evaluasi dari perencanaan maupun pelaksanaan yang telah
dilakukan. Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan secara terus
menerus untuk meningkatkan pelayanan secara komprehensif dan selalu
berubah sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien.
Pendokumentasian atau pencatatan manajemen kebidanan dapat
diterapkan dengan metode SOAP. Dalam metode SOAP, S adalah data
Subjektif, O adalah data Objektif, A adalah Analysis/Assesment dan P adalah
Planning. Merupakan catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis dan singkat.
Prinsip dari metode SOAP ini merupakan proses pemikiran penatalaksanaan
manajemen kebidanan (Muslihatun, 2009; h.123).
1. Subjektif
Data subjektif merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut
Helen Varney langkah pertama (pengkajian data), terutama data yang
diperoleh melalui anamnesis. Data subjektif ini berhubungan dengan masalah
dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan
keluhannya yang dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan
berhubungan langsung dengan diagnosis. Data subjektif ini akan menguatkan
diagnosis yang akan disusun.
2. Objektif
Data objektif merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut
Helen Varney pertama (pengkajian data), terutama data yang diperoleh
melalui hasil observasi yang jujur dari pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan
laboratorium/pemeriksaan diagnostik lainnya. Catatan medik dan informasi
dari keluarga atau orang lain dapat dimasukkan dalam data objektif ini. Data
ini akan memberikan bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan
dengan diagnosis.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
72
3. Assesment
Merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi dari data
subjektif dan objektif. Dalam pendokumentasian manajemen kebidanan,
karena keadaan pasien yang setiap saat bisa mengalami perubahan, dan
akan ditemukan informasi baru dalam data subjektif maupun data objektif,
maka proses pengkajian data akan menjadi sangat dinamis. Analisis yang
tepat dan akurat mengikuti perkembangan data pasien akan menjamin cepat
diketahuinya perubahan pada pasien, dapat terus diikuti dan diambil
keputusan/tindakan yang tepat.
4. Planning
Planning atau perencanaan adalah membuat rencana asuhan saat ini dan
yang akan datang. Rencana asuhan disusun berdasarkan hasil analisis dan
interpretasi data. Rencana asuhan ini bertujuan untuk mengusahakan
tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan mempertahankan
kesejahteraannya. Rencana asuhan ini harus bisa mencapai kriteria tujuan
yang ingin dicapai dalam batas waktu tertentu.
C. LANDASAN HUKUM KEWENANGAN BIDAN
Beberapa dasar dalam otonomi dan aspek legal yang mendasari dan terkait
dengan pelayanan kebidanan (Heni Puji, 2007; h.34) antara lain sebagai berikut :
1. Kepmenkes Republik Indonesia 900/Menkes/SK/VII/2002 Tentang registrasi
dan praktek bidan
2. Standar Pelayanan Kebidanan, 2001
3. Kepmenkes Republik Indonesia Nomor 369/Menkes/SK/III/2007 Tentang
Standar Profesi Bidan
4. UU Kesehatan No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan
5. PP No 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan
6 Kepmenkes Republik Indonesia 1277/Menkes/SK/XI/2001 Tentang Organisasi
dan tata kerja Depkes
7 UU No 22 Tahun1999 Tentang Otonomi Daerah
8 UU No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
9 UU Tentang aborsi, adopsi, bayi tabung, dan transplantasi
10 KUHAP dan KUHP tahun 1981
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
73
11 Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
:
585/Menkes/Per/IX/1989 Tentang Persetujuan Tindakan Medik
12 UU yang terkait dengan Hak Reproduksi dan Keluarga Berencana :
a. UU
No.10/1992
Tentang
Pengembangan
Kependudukan
dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera
b. UU No.23/2003 Tentang Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan di
dalam Rumah Tangga
Standar Kompetensi Bidan (Irianto, 2014; h.568) yaitu :
1. Kompetensi ke-1
Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan ketrampilan dari ilmu-ilmu
sosial, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk dasar dari asuhan
yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir dan
keluarganya.
2. Kompetensi ke-2
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang
tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh di masyarakat daam
rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan
kehamilan, dan kesiapan menjadi orangtua.
3. Kompetensi ke-3
Bidan memberi asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan
kesehatan selama kehamilan meliputi : deteksi dini, pengobatan atau rujukan
dari komplikasi tertentu.
4. Kompetensi ke-4
Bidan
memberikan
asuhan
yang
bermutu
tinggi,
tanggap
terhadap
kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin selama persalinan yang
bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk
mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir.
5. Kompetensi ke-5
Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi
dan tanggap terhadap budaya setempat.
6. Kompetensi ke-6
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi baru
lahir sehat sampai dengan 1 bulan.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
74
7. Kompetensi ke-7
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi dan
balita sehat (1 bulan - 5 tahun)
8. Kompetensi ke-8
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada
keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat.
9. Kompetensi ke-9
Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan sistem
reproduksi.
Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Novita Mandasari, Kebidanan DIII UMP, 2015
Download