pemilihan vendor raw materials center wing di pt dirgantara

advertisement
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
PEMILIHAN VENDOR RAW MATERIALS CENTER WING DI PT
DIRGANTARA INDONESIA DENGAN METODE ANALYTIC NETWORK
PROCESS (ANP)
Darfial Guslan, S.T., MT1), M. Adityo Sulivan2)
1 Prodi D4 Logistik Bisnis, Politeknik Pos Indonesia (Darfial Guslan, S.T., MT.)
email: [email protected]
2 Prodi D4 Logistik Bisnis, Politeknik Pos Indonesia (M. Adityo Sulivan)
Abstracs
In the world of today's industry vendor selection process is one important element in the
procurement process barang.Kesalahan in vendor selection can be very crucial, because
it can directly impact the continuity of the production process. PT. Dirgantara Indonesia
(Indonesian Aerospace Inc.) is a manufacturing company that has been competent in the
manufacture of aircraft and helicopters, repair and sale of spare parts. At this time PT.
Dirgantara Indonesia has five vendors in the procurement of raw materials center wing,
where the raw materials center of this wing is a vital raw material in the manufacture of
center wing. There are several problems in purchasing raw materials center wing to
vendors such is the quality of the raw materials center wing is not within specifications,
delivery of raw material is not in accordance with the amount subscribed even the goods
ordered are not delivered and also the price is not in accordance with PT. Dirgantara
Indonesia so often happens in warehouse stock out of raw materials resulting in the
production process to be blocked.
Analytic Network Process (ANP) is one method used to make the selection of vendors, the
ANP can provide an overview of the feedback between the company and the vendor. How
processing ANP method is to calculate the super matrix whose data obtained from
questionnaires weights 1-9 which will be obtained by the value of CR is less than or equal
to 0.1. The calculation is unweighted super super matrixnya matrix which then
transformed into a super matrix weighted by the number of columns each 1 (one), the
next step is limting super matrix to be weighted criteria and its influence on other
criteria. ANP method chosen because it can consider the priorities of the factors in the
selection of vendors so that people are able to choose the best alternative based on its
purpose.
The results of the calculation of the priority vendor selection through Analytic Network
Process (ANP) is obtained weighting raw materials vendor priorities, namely Align
Aerospace and weighs 0.2672, then Sanxing Pte.Ltd weighs 0.1987, 0.1847 weight
Tramec Aero, Wesco Aircraft hard ware Co. weight of 0.1826 and 0.1667 Airbus
Helicopter with weights.
Keywords: Vendor, Raw Materials, Analytic Network Process, ANP
1. PENDAHULUAN
Setiap perusahaan baik yang bergerak di
bidang jasa maupun manufaktur
berlomba-lomba untuk memberikan jasa
pelayanan
terbaiknya
untuk
mendapatkan
konsumen
maupun
mempertahankan konsumen yang ada.
Pelayanan terbaik yang diberi akan
menjadikan perusahaan tersebut mampu
bersaing dengan perusahaan lain yang
bergerak di bidang yang sama.
Sebuah
perusahaan,
khususnya
perusahaan manufaktur, pasti akan
bekerja sama dengan pihak Vendor guna
menjamin ketersediaan bahan baku.
Penyelenggaraan proses pengadaan
barang secara tepat dan cepat
merupakan salah satu bagian terpenting
bagi perusahaan. Hal ini dikarenakan
pengadaan
adalah
proses
penyelenggaraan
kegiatan
untuk
mewujudkan rencana/keputusan yang
Hal-25
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
telah dibuat agar menjadi kenyataan dan
sesuai dengan rencana tersebut, dengan
cara mengatur sistem kerja dan
mengarahkan
orang-orang
yang
melaksanakan rencana tersebut. Agar
proses pengadaan tersebut dapat berjalan
secara efektif dan efisien sehingga dapat
mengurangi kerugian bagi perusahaan
maka proses pengadaan barang harus
lebih diperhatikan, salah satu contohnya
adalah penanganan material reject
(kecacatan). Jika masalah reject
(kecacatan) material disuatu perusahaan
mampu dihadapi dengan baik akan
berimbas pada keuntungan perusahaan
dan dapat memenuhi harapan konsumen.
PT. Dirgantara Indonesia (Indonesian
Aerospace Inc.) merupakan industri
pesawat terbang di Indonesia dan di
wilayah Asia Tenggara satu-satunya.
Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah
Indonesia. didirikan 26 April 1976
dengan diberi nama PT. Industri
Pesawat Terbang Nurtanio dan sebagai
Presiden Direktur diangkat Bapak BJ
Habibi.
Dirgantara
Indonesia
perusahaan
manufaktur yang telah kompeten dalam
hal pembuatan pesawat terbang dan
helikopter, jasa perbaikan dan penjualan
suku cadang. Perusahaan ini memiliki
lima bagian yang bergerak dan memiliki
fungsi kerjanya masing-masing, Salah
satu bagian yang menunjang dalam
kegiatan produksi adalah bagian
pengadaan material. PT Dirgantara
Indonesia memiliki kerjasama atau mitra
kerja (vendor) dengan perusahaan lain
untuk
memperlancarkan
aktivitas
produksinya, dan perusahaan yang di
pilih oleh PT Dirgantara Indonesia di
harapkan dapat menjadi vendor terbaik
untuk memperlancar aktivitas produksi.
Pada PT Dirgantara Indonesia pemilihan
vendor dilakukan dengan proses
penyeleksian. Saat ini vendor yang ada
untuk menjadi mitra kerja PT Dirgantara
Indonesia sebagai vendor raw material
center wing adalah Airbus Helicopter,
Align Aerospace, Sanxing Pte.Ltd,
Tramec Aero, Wesco Aircraft Hardware
Co.
PT Dirgantara Indonesia tentunya
mempunyai berbagai masalah dalam
memilih vendor karena bebebrapa faktor
yang dapat menghambat proses kerja
pada perusahaan, diantaranya
yaitu
pihak vendor melaksanakan perintah
kerja tidak sesuai dengan yang
diharapkan
perusahaan,
seperti
keterlambatan
pengiriman
barang,
barang yang dikirim terkadang tidak
sesuai dengan yang diminta perusahaan,
dan ketidaksesuaian spesifikasi barang
yang telah ditetapkan oleh perusahaan,
dan harga yang tidak kompetitif
membuat perusahaan harus lebih teliti
pada saat pemilihan vendor.
Tabel 1 Persentase Barang Tidak Sesuai
Hal-26
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
Berdasarkan fenomena diatas, penulis
tertarik untuk meneliti mengenai
“Analisis Pemilihan Vendor Suku
Cadang Center Wing di PT Dirgantara
Indonesia dengan Menggunakan Metode
Analytical Network Process” yang
mudah-mudahan dapat menginovasi
sekaligus menjadi solusi untuk memilih
vendor terbaik sesuai dengan kriteria
yang perusahaan inginkan.
2. METODE PENELITIAN
Metode Analytic Network Process
(ANP) merupakan pengembangan dari
metode Analytical Hierarchy Process
(AHP). Metode ANP jika dibandingkan
dengan AHP adalah ANP memiliki
kemampuan
mengakomodasi
keterkaitan
antar kriteria atau
alternative pilihan. Terdapat dua jenis
keterkaitan pada metode ANP yaitu
keterkaitan inner dependence dan outer
dependence. Adanya
keterkaitan
tersebut menyebabkan metode ANP
lebih kompleks dibanding metode AHP
(Saaty, 1998).
Analytic Network Process atau ANP
adalah metode yang digunakan untuk
menurunkan rasio prioritas komposit
dari skala rasio individu yang
menggambarkan pengukuran relatif dari
pengaruh elemen-elemen yang saling
berinteraksi berkenaan dengan kriteria
kontrol (Ascarya. 2005 dikutip dari
Saaty, 2003).. ANP menggunakan
jaringan tanpa harus menetapkan level
seperti pada hierarki pada Analytic
Hierarchy Process (AHP). Langkahlangkah pembuatan ANP menurut Saaty
(Iriani dan Herawan. 2012 dikutip dari
Saaty, 1999):
i.
Langkah 1: Konstruksi model
dan strukturisasi masalah tujuan
utamanya adalah untuk mengidentifikasi
alternatif yang paling signifikan dalam
pengambilan keputusan.
a. Penguraian elemen-elemen dari suatu
masalah (sistem). Prinsipnya yaitu
minimum, lengkap dan operasional.
b. Pembentukan komponen (level). Jika
terdapat elemen-elemen yang memiliki
kualitas setara dikelompokan ke dalam
suatu komponen (level atau cluster)
yang sama.
ii.
Langkah
2:
Matriks
perbandingan
berpasangan
yang
menunjukkan
keterkaitan.
Cara
pengambilan keputusan dalam ANP
tetap didasarkan kepada
keputusan
untuk mendapatkan prioritas
sebagaimana halnya metode AHP. Saaty
(1980) menetapkan skala kuantitatif 1
sampai 9 untuk menilai perbandingan
tingkat kepentingan suatu elemen
terhadap elemen lainnya (Iriani dan
Herawan. 2012 dikutip dari Saaty,
1996).
Pada ANP juga digunakan metode
perbandingan berpasangan seperti pada
AHP dengan memiliki skala relatif.
Tabel 24 Matriks Perbandingan
Berpasangan
C
A1
A2
A3
…
A1
A11
A12
A13
…
An
A1
A23
…
A2
A2
A21
A22
n
n
A3
A31
A32
A33
…
A3
…
…
…
…
…
…
An
An1
An2
An3
…
An
n
Matriks perbandingan berpasangan
tersebut dihasilkan dari perbandingan
antar elemen terhadap kriteria tertentu.
Nilai aij merupakan nilai perbandingan
elemen Ai terhadap elemen Aj yang
menyatakan hubungan :
a. Seberapa besar tingkat kepentingan Ai
bila dibandingkan dengan Aj , atau
b. Seberapa besar kontribusi Ai terhadap
kriteria C dibandingkan Aj , atau
c. Seberapa banyak sifat kriteria C
terdapat pada Ai bila dibandingkan Aj
atau
Hal-27
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
d. Seberapa besar dominasi Ai
dibandingkan Aj
Bila diketahui nilai aij maka secara
teoritis nilai aij = l/au' sedangkan nilai
aij dalam situasi i =j adalah mutlak 1.
Nilai numerik yang ditetapkan untuk
perbandingan di dapat dari skala
perbandingan yang dibuat oleh Saaty.
iii.
Langkah 3: Perhitungan bobot
elemen
Bobot yang dicari ditulis dalam vektor
W = [WI, W2, W3,...,Wn]. Nilai Wn
menyatakan bobot relatif kriteria An
terhadap keseluruhan set kriteria pada
sub sistem tersebut. Pada situasi
penilaian yang sempurna, maka akan
didapatkan hubungan :
aik =aij. ajk untuk semua i, j, k ... (2.1)
Matriks yang diperoleh adalah matriks
yang konsisten. Dengan demikian nilai
perbandingan yang diperoleh dari
responden berdasarkan tabel, yaitu aij
dapat dinyatakan di dalam vektor W
sebagai :
aij = wi / wj
i,j
= 1,2,3, ..., n ...
(2.2)
Dari persamaan diatas, muncul persamaan
berikut :
aij.wj /wi=l,
i
= 1, 2, 3, ……n
... (2.3)
n
∑aij.wj /wi=n
... (2.4)
j=1
i
= 1, 2, 3, ……n
i
= 1, 2, 3, ……n
n
∑ aij.wj=nwi
... (2.5)
j=1
Yang dinyatakan dengan :
AW = nW
Dalam teori matriks rumus di atas
adalah persamaan karakteristik dimana
W merupakan eigen vector dari matriks
A dengan nilai eigen sebesar n.
Gambar 1 Eigen Vector
Pada umumnya ada beberapa nilai eigen
vector yang bersesuaian yang memenuhi
persamaan tersebut. Variabel n pada
persamaan tersebut dapat digantikan
dengan sebuah vektor A.,sebagai berikut
:
AW = W ... (2.6)
Dimana λ = (λ 1, λ 2, ..., λ n) Setiap λ
yang sesuai/ memenuhi persamaan di
atas dinamakan sebagai eigen value,
sedangkan vektor yang memenuhi
persamaan 2.3 tersebut dinamakan
sebagai eigen vector. Bila matriks A
diketahui dan untuk mendapatkan nilai
W, maka dapat diselesaikan melalui
persamaan berikut:
[A-nI]W = 0 ... (2.7)
Persamaan ini bias menghasilkan solusi
yang tidak nol (jika dan hanya jika) n
merupakan eigenvalue dari A dan W
adalah eigen vectornya. Setelah eigen
value matriks perbandingan A tersebut
diperoleh. misalnya:
λ1. A2, λn dan berdasarkan matriks A
yang mempunyai keunikan yaitu aij=1.
dengan 1=1. 2, ..., n, maka:
n
∑
i=1
λi=n ... (2.8)
Disini semua eigen value bernilai nol
kecuali satu yang tidak nol yaitu eigen
value maksimum. Kemudian jika
penilaian yang dilakukan konsisten
akan diperoleh eigen value maksimum
dari A yang bernilai n. Untuk
mendapatkan W, maka dapat dilakukan
dengan mensubtitusikan harga eigen
value maksimum pada persamaan :
AW = λmaks W, ... (2.9)
Hal-28
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
selanjutnya persamaan tersebut dapat
diubah menjadi :
A – λmaks 1 W = 0
untuk memperoleh harga nol maka yang
harus dilakukan adalah :
A – λmaks I = 0
Berdasarkan persamaan harga λmaks
diperoleh
dengan
memasukkan
persamaan λmaks dan ditambah dengan
persamaan
n
∑ W 1 2 = 1, maka akan
diperoleh bobot masing-masing elemen
operasi
i=1
Wi, dengan i=l, 2, ..., n
yang
merupakan
eigen vector yang
berkesesuaian dengan eigen value
maksimum
iv.
Langkah 4: Perhitungan rasio
konsistensi Tingkat ketidak konsistenan
pada responden di sebut dengan rasio
ketidak konsistenan (CI) dengan rumus
adalah sebagai berikut:
CI = (λmaks – N)/(N – 1)
dimana :
λmaks = eigen value maksimum
n = ukuran matriks
CI = indeks konsistensi
Berdasarkan perhitungan Saaty, dengan
menggunakan 500 sampel, Jugment
matriks diambil secara acak dari skala,
1/9. l/8, ..., 1, 2, 9 akan diperoleh ratarata konsistensi untuk matriks dengan
ukuran yang berbeda, sebagai berikut:
Tabel 3 Nilai Indeks Random
Perbandingan antara CI dan RI untuk
suatu matriks didefinisikan sebagai rasio
konsistensi (CR)
CR = RI / CI ... (2.10)
Vektor hasil perhitungan diterima jika
besar nilai CR sekitar 0,1 atau kurang
(0,2 bisa ditoleransi, tetapi tidak lebih).
Jika besar nilai CR tidak kurang dari
0,1 masalah dipelajari lagi
dan
dilakukan penilaian ulang.
Langkah 5: Pembentukan super matriks
dan analisis super matriks berisikan sub
matriks yang terdiri atas hubungan-
hubungan antara dua tingkat pada model
grafis. Asumsikan bahwa komponen k,
dinyatakan dengan Ck,
k=l,....,N
dengan nk elemen, yang dinyatakan
dengan Ck1, Ck2,...,Ckn sebagaimana
diperlihatkan dalam super matriks pada
tabel.
Tabel 4 Super Matriks
Super matriks ini terbagi atas beberapa
sub matriks, dimana setiap blok sub
matriks berisi eigen vector - eigen vector
dari matriks perbandingan berpasangan
(eigen vector-eigen vector hasil matriks
perbandingan berpasangan antar kriteria
atau alternatif) yang terbentuk pada
tahap sebelumnya, atau merupakan
submatrik-submatrik
nol
(elemenelemen dalam submatrik seluruh bernilai
nol).
Super matriks yang terbentuk tersebut
merupakan super matriks yang belum
diberikan
bobot
(unweighed
supermatrix). Didalam super matriks ini
dimungkinkan
adanya
perhitungan
setiap efek saling mempengaruhi yang
terjadi antar elemen-elemen ANP.
Dalam super matriks ini, vektor-vektor
bobot perbandingan antar kriteria
diperlihatkan secara jelas
sebagai
kolom- kolom di dalam super matriks
yang merepresentasikan dampak dari
elemen-elemen
di
dalam
suatu
komponen terhadap elemen dalam
komponen lainnya atau terhadap elemen
dalam komponen itu sendiri.
vi. Langkah 5: Memilih alternatif
terbaik.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada tahap ini, penulis telah mengangkat
serta menguraikan inti dari masalah dan
menyusunnya kedalam struktur jaringan
Hal-29
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
untuk permasalahan pemilihan vendor di
PT Dirgantara Indonesia. Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya, bahwa
salah satu tujuan utama dari penelitian
ini yaitu untuk mendapatkan vendor
center wing mana yang terbaik (vendor
prioritas) dari lima vendor center wing
yang ada dengan menggunakan metode
Analythic Network Process (ANP)
berdasarkan tiga kriteria pemilihan
vendor yang telah ditetapkan oleh PT
Dirgantara Indonesia. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat struktur jaringan
dari permasalahan ini tergambar pada
Gambar berikut
Goal
Pemilihan Vendor
Quality:
1. Bersertifikat
2. Visual
Servi ce:
1. Gar ansi
2. Lead Time
3. Respons
Price:
1. Murah
2. Payment
Alternative:
1. Airbus Helicopters
2. Align Aerospace
3. Sanxing Pte.Ltd
4.Tramec Aero
5.Wesco Aircraft Hardware4 Co
dihasilkan berdasarkan kuesioner:
Quality X Price
1 1 1 1 1
= x x x x 1/5 = 0,25 = 1
5
2
5
4
5
P
Quality X Service
(5x4x5x4x5)1/5 = 4,57 = 5
Price X Service =
1
1/5
(5x4x5x x5) = 2,78 = 3
=
P
3
P
Yang berarti pada responden satu
memilih price yang lebih penting
daripada quality dengan bobot 5. Pada
perbandingan kedua quality
lebih
penting daripada service dengan bobot
5, dan seterusnya pada responden yang
lain.

Menghitung Eigen Vector
Setelah mendapatkan nilai geometric
mean, tahap selanjutnya adalah mencari
nilai eigen vector (Yi) yang didapat dari
nilai kriteria setiap baris dibagi dengan
jumlah kriteria pada kolom (Xi) yang
kemudian dibagi dengan banyaknya
elemen atau kriteria yang ada (n). Untuk
lebih jelasnya penulis menyajikan
perhitungan sebagai berikut:
n
matriks normal
EV =  nilai elemen baris
n
i1
Gambar 1 Struktur Jaringan Hubungan
Cluster, Subcluster, dan Alternatif

Menghitung Geometric Mean
Untuk mendapatkan bobot
prioritas
global dari masing-masing kriteria, hal
yang
pertama
dilakukan
yaitu
perhitungan geometric mean dari hasil
pembobotan kuesioner yang telah diberi
nilai oleh responden. Cara menghitung
geometric mean adalah sebagai berikut:
Mengkalikan setiap nilai matriks
perbandingan berpasangan yang telah
disebar dan diberi nilai oleh responden
yang kemudian dipangkatkan 1/n, rumus
dari geometric mean adalah αij =
(Z1,Z2,Z3,...,Zn) 1/n.
Dimana:
αij = Nilai rata-rata perbandingan antara
kriteria Ai dengan Aj untuk n partisipan.
Zi = Nilai perbandingan antara kriteria
Ai dengan Aj untuk partisipan ke-i
dengan i=1,2,3,..,n
n = Jumlah partisipan/responden.
Berikut
merupakan
perhitungan
geometric mean dari data yang
atau,
Yang
jika
diaplikasikan
kepada
perhitungannya adalah sebagai berikut:
1
1
5
+
+
2,20
2,33
9
= 0,48
3

Menghitung Eigen Value (
maks ) dan Uji Konsistensi
Jika nilai eigen vector sudah didapatkan,
maka selanjutnya yaitu mencari nilai
eigen value ( maks ) yang dimana cara
mendapatkan nilai eigen value adalah
dengan mengkalikan jumlah dari kriteria
pada kolom (Xi) dengan hasil vector
eigen (Yi) tadi atau bisa disebut juga
dengan bobot normalisasi, lalu hasil
perkaliannya dijumlahkan. Untuk lebih
jelasnya penulis menyajikan sebagai
berikut:
 maks =
n
( Jumlah kolom X Bobot normal)
i1
Yang
jika
diaplikasikan
kepada
perhitungannya adalah sebagai berikut:
Hal-30
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
maks =
(2,20x0,48)+(2,33x0,41)+(9,00+0,11) =
3,04
Lalu sebelum uji konsistensi terlebih
dahulu untuk mencari nilai consistency
index (CI) dan consistency ratio (CR).
Berikut adalah cara mencari nilai dari
consistency index (CI) dan consistency
ratio (CR):
CI = ( maks - n) / (n-1)
Dimana:
maksimum
maks =
eigen
value
n = ukuran matriks
CI = consistency index
Yang diaplikasikan pada perhitungannya
yaitu sebagai berikut:
CI = (3,04 – 3) / 2 = 0,02
Sedangkan untuk consistency ratio
yaitu:
karena pada kasus ini terdapat 3 (tiga)
kriteria, maka yang diambil nilainya
berdasarkan tabel random index adalah
0,58 dan bila diaplikasikan kepada
perhitungannya mendapatkan hasil
sebagai berikut:
,
= 0,03
,
Berdasar nilai consistency ratio yang
didapat yaitu 0,03 maka pembobotan
nilai
tersebut
konsisten.
Karena
consistency ratio dikatakan konsisten
apabila CR ≤ 0,1.

Unweighted Super Matrix
Pada tahap perhitungan unweighted
supermatrik ini yaitu menghitung
prioritas yang tidak memperhitungkan
adanya
perbandingan
berpasangan
Subcluster (node), cara membaca hasil
unweighted supermatrik yaitu pada
Subcluster (node) atas adalah bagian
yang mempengaruhi sedangkan yang
dibawah
adalalah
bagian
yang
dipengaruhi. Apabila hubungan antar
subcluster (node) di isi dengan angka
nol (0) maka antar Subcluster (node)
tersebut tidak memiliki hubungan
keterkaitan.

Weighted Super Matrix
Selanjutnya yaitu mencari nilai weighted
super matrix, yang diperoleh dengan
mengalikan semua elemen didalam
komponen dari unweighted super matrix
dengan bobot cluster yang sesuai
sehingga setiap kolom pada weighted
super matrix memiliki jumlah 1.
Setelah mendapatkan hasil dari weighted
super matrix tersebut kemudian hasil
perbandingan
berpasangan
ditransformasikan sehingga jumlah pada
masing-masing kolom sama dengan satu
(1) atau disebut stokhastik.

Limiting Super Matrix
Mendapatkan nilai limiting matrix yaitu
dengan cara
mengkalikan weighted
super matrix dengan dirinya sendiri
sampai beberapa kali. Ketika bobot pada
setiap kolom memiliki nilai yang sama,
maka limit matrix telah stabil dan proses
perkalian matrik dihentikan.
Perolehan hasil limiting super matrix
akan didapatkan bobot masing-masing
alternatif dan cluster-nya yang ada di
dalam Analytic Network Process (ANP).

Langkah selanjutnya adalah
melakukan perengkingan dari
hasil
bobot prioritas untuk alternatif yaitu
daftar vendor yang akan di urutkan
menjadi prioritas mana yang paling
terbaik untuk menjadi partner dari PT
Dirgantara Indonesia. Bobot masingmasing diambil pada kondisi normal
yaitu:
Tabel 5 Ranking
Dari hasil tabel diatas maka bobot setiap
alternatif telah ditetapkan.
Tahap
terakhir adalah memilih vendor terbaik
dengan nilai tertinggi menjadi prioritas
pertama dalam pemesanan raw material
center wing untuk proses produksi di PT
Dirgantara Indonesia. Dari hasil
perhitungan yang telah dilakukan,
terdapat ranking dari masing-masing
alternatif yaitu Align Aerospace pada
ranking 1 dengan nilai normal 0.2672,
Hal-31
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
maka ranking 1 pada proses pemilihan
vendor penyedia raw material center
wing yang layak untuk dijadikan
prioritas utama.
4. KESIMPULAN
Proses pemilihan vendor terbaik yang
dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia
masih menggunakan cara konvensional.
Penulis melakukan penelitian pemilihan
vendor raw materials center wing
menggunakan metode Analytic Network
Process (ANP) dengan melakukan
beberapa tahapan dimulai dengan
menentukan
kriteria
penilaian,
merancang struktur jaringan (network)
dan pengolahan data dibantu dengan
super decision. Hasil dari penelitian
yang penulis lakukan berdasarkan data
yang tersedia maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1)
Kriteria yang dapat digunakan
dan menunjang sebagai dasar pemilihan
vendor raw materials center wing di PT
Dirgantara Indonesia yaitu:

Quality, kualitas barang yang
dilihat yaitu apakah raw material center
wing
sudah
bersertifikat
lisensi
international, visual atau tampilan, jenis,
ukuran, dan barang yang sesuai dengan
pesanan yang tercantum di PO.

Price, merupakan suatu kegiatan
perencanaan
penganggaran,
pengelolaan, pencarian, pembelian, serta
penyimpanan dana yang harus dimiliki
oleh suatu organisasi perusahaan agar
dapat mengelola keuangan dengan baik
sehingga perusahaan dapat terus
beroperasi. Adapun sub dari price ini
yaitu harga yang kompetitif dan
payment, yang dimana payment disini
lebih kepada cara pembayaran, yang
diharapkan cara pembayarannya tidak
mempersulit PT Dirgantara Indonesia.
2)
Memilih vendor terbaik yang
sesuai atau berdasarkan dengan apa
yang
dibutuhkan
PT
Dirgantara
Indonesia
yaitu
dengan
melihat
kemampuan vendor dalam memenuhui
standar produk center wing yang
dikeluarkan perusahaan berdasarkan
Purchase Order (PO). Kemampuan
vendor untuk memenuhi barang yang
diminta dapat dilihat dari segi quality,
price, dan service
3)
Berdasarkan pengolahan data
yang telah dilakukan, maka dapat
diperoleh urutan prioritas vendor center
wing yang memiliki bobot prioritas
paling tinggi sehingga layak untuk
dipertimbangkan dalam proses order
selanjutnya, berdasarkan pada kriteria
dan sub kriteria yang dibutuhkan oleh
PT Dirgantara Indonesia adalah sebagai
berikut :
1.
Align
Aerospace
prioritas
pertama, Align Aerospace
memang
layak dan pantas untuk dijadikan
prioritas utama karena mendapatkan
bobot paling terbesar dari setiap
cluster/kriteria yang dijadikan sebagai
acuan dalam penilaian vendor.
2.
Sanxing Pte. Ltd prioritas
kedua, yaitu prusahaan yang cukup
mempunyai peranan, maka dari itu
bagian pembelian menjadikan vendor
tersebut sebagai cadangan apabila
vendor utama tidak dapat memenuhi PO
yang diajukan.
3.
Tramec Aero prioritas ketiga,
yaitu perusahaan yang tidak terlalu
menjadi prioritas
karena
memang
kinerja dari perusahaan tersebut kurang
memuaskan.
4.
Wesco Aircraft Hardware co
prioritas keempat, yaitu perusahaan
yang tidak dijadikan sebagai prioritas
dalam pemilihan vendor.
5.
Airbus Helicopters prioritas
kelima, adalah perusahan yang juga
tidak masuk untuk pemilihan vendor
selanjutnya
Dapat disimpulkan bahwa vendor yang
terpilih dari hasil penelitian dengan
bobot prioritas tertinggi yaitu Align
Aerospace dengan nilai sebesar 0.2672.
5. REFERENSI
[1]. Bowersox, Donald j. 2000. Manajemen
Logistik. Jakarta:PT Bumi Aksara.
[2].
Indrajit,
Richardus
Eko
dan
Djokopranoto, Richardus. 2003. Manajemen
Persediaan. Jakarta:PT Grasindo.
[3]. Pujawan, I Nyoman dan Mahendrawathi
ER. 2010. Supply Chain Management.
Hal-32
Jurnal Logistik Bisnis, Vol. 6, No.2, November 2015
Surabaya:Guna widya.
[4] Rahman,Tarekh, Arief, 2015. Pemilihan
Vendor Raw Materials Center wing di PT
Dirgantara Indonesia Dengan Menggunakan
Metode Analytic Network Process (ANP).
Bandung : Politektin Pos Indonesia.
[5]. Saaty, Thomas L. 1996. The Analytic
Network
Process.
Pittsburgh:RWS
Publications.
[6]. Arin et al. 2013. Penilaian Kinerja
Pemasok Susu Segar Menggunakan Metode
Analytical Network Process dan Rating
Scale (Studi Kasus di Pusat Koperasi
Industri Susu Sekar Tanjung Pasuruan).
Malang : Universitas Brawijaya.
[7].Destamara, Bebby Alifia. 2014. Analisis
Pemilihan
Vendor
Suku
Cadang
Menggunakan Metode Analytic Network
Process (ANP) Di Pt Kereta Api Indonesia
(Persero).
Skripsi
tidak
diterbitkan.
Bandung: Politeknik Pos Indonesia.
[8].Harsono,
Harry.
2014.
Analisis
Pemilihan Vendor Karet Roll Mentah di PT
IPS Dengan Menggunakan Metode Analytic
Network Process (ANP). Skripsi tidak
diterbitkan. Bandung: Politeknik Pos
Indonesia.
[9].Iriani, Yani dan Topan Herawan. 2012.
Pemilihan Vendor Bahan Baku Benang
dengan Menggunakan Metode Analytic
Network Process (ANP) (Study Kasus Home
Industry Nedy). Bandung : Universitas
Widyatama.
[10]. Kurniawati et al. 2013. Kriteria
Pemilihan
Pemasok.
Yogyakarta
:
Universitas Gadjah Mada.
[11].Prasetya, Nandi. 2014.
Evaluasi
Kinerja untuk Menentukan Vendor Trucking
Prioritas dengan Menggunakan Metode
Standardized Unitless Rating (SUR) (Case
Study : PT Leschaco Tanjung Priok). Skripsi
tidak diterbitkan. Bandung: Politeknik Pos
Indonesia.
[11].Tarmidi, Teguh Firmansyah. 2014.
Analisis Pengendalian Persediaan Bahan
Baku Pada Produk Dust Detector Smoke
Dengan Menggunakan Pendekatan Model Q
(Studi Kasus PT Sharp Semiconductor
Indonesia). Skripsi tidak diterbitkan.
Bandung: Politeknik Pos Indonesia.
Hal-33
Download