Document

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Konsep Dasar Aplikasi
Aplikasi adalah suatu subkelas perangkat lunak komputer yang memanfaatkan
kemampuan komputer langsung untuk melakukan suatu tugas yang diinginkan pengguna.
Biasanya dibandingkan dengan perangkat lunak sistem yang mengintegrasikan berbagai
kemampuan komputer, tapi tidak secara langsung menerapkan kemampuan tersebut untuk
mengerjakan suatu tugas yang menguntungkan pengguna. Contoh-contoh aplikasi
diantaranya ialah program pemproses kata dan Web Browser.
Aplikasi akan menggunakan sistem operasi (OS) komputer dan aplikasi yang
lainnya yang mendukung. Istilah ini mulai perlahan masuk ke dalam istilah Teknologi
Informasi semenjak tahun 1993, yang biasanya juga disingkat dengan app. Secara historis,
aplikasi adalah software yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan. Aplikasi adalah
sofware yang dibeli perusahaan dari tempat pembuatnya. Industri PC tampaknya
menciptakan istilah ini untuk merefleksikan medan pertempuran persaingan yang baru,
yang paralel dengan yang terjadi antar sistem operasi yang dimunculkan. Contoh utama
aplikasi adalah pengolah kata, lembar kerja, dan pemutar media. Beberapa aplikasi yang
digabung bersama menjadi suatu paket kadang disebut sebagai suatu paket atau suite
aplikasi (application suite). Contohnya adalah Microsoft Office dan OpenOffice.org, yang
menggabungkan suatu aplikasi pengolah kata, lembar kerja, serta beberapa aplikasi
lainnya. Aplikasi-aplikasi dalam suatu paket biasanya memiliki antarmuka pengguna yang
memiliki
kesamaan
sehingga
memudahkan
pengguna
untuk
mempelajari
dan
menggunakan tiap aplikasi. Sering kali, mereka memiliki kemampuan untuk saling
6
berinteraksi satu sama lain sehingga menguntungkan pengguna. Contohnya, suatu lembar
kerja dapat dibenamkan dalam suatu dokumen pengolah kata walaupun dibuat pada
aplikasi lembar kerja yang terpisah.
Aplikasi dapat digolongkan menjadi beberapa kelas, antara lain :
1.
Perangkat lunak perusahaan (enterprise).
2.
Perangkat lunak infrastruktur perusahaan.
3.
Perangkat lunak informasi kerja.
4.
Perangkat lunak media dan hiburan.
5.
Perangkat lunak pendidikan.
6.
Perangkat lunak rekayasa produk
Selain komponen-komponen yang terdapat dalam sistem aplikasi, juga sistem
aplikasi memiliki beberapa kegiatan, antara lain:
Input
Process
Output
Control
Gambar 2.1 Kegiatan - Kegiatan Sistem Aplikasi
1.
Input,
menggambarkan
suatu
kegiatan
untuk
menyediakan
proses
penginputan/pemasukan data yang akan di proses.
2.
Process, menggambarkan bagaimana suatu data yang di proses untuk menghasilkan
suatu informasi yang bernilai tambah.
3.
Output, suatu kegiatan untuk menghasilkan sebuah laporan.
7
4.
Control, suatu aktivitas untuk mengendalikan sebuah sistem informasi tersebut
berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
2.2. Siklus Pengembangan Aplikasi
2.2.1.
Perencanaan Aplikasi
Perencanaan Aplikasi memiliki tujuan untuk mengidentifikasi Aplikasi yang akan
dikembangkan, sasaran yang ingin dicapai, waktu pelaksanaan, juga mempertimbangkan
dana yang tersedia. Perencanaan sistem ini juga mencakup perkiraan dari kebutuhankebutuhan fisik, tenaga kerja serta dana yang dibutuhkan.
Sebelum mambangun sebuah Aplikasi, sebaiknya perlu dilakukan analisa
kelayakan dari sistem tersebut. Kelayakan yang ditinjau menyangkut kelayakan
operasional, kelayakan teknis, kelayakan ekonomis, kelayakan jadual serta kelayakan
hukum.
a.
Kelayakan Operasional, menilai apakah sistem yang akan dibangun dapat dijalankan
jika dikaitkan dengan sumber daya manusia yang ada, metode pelatihan, pelayanan,
perawatan serta efisiensi dan efektivitas dari sistem tersebut.
b.
Kelayakan Teknis, menilai apakah perangkat keras dan perangkat lunak yang akan
dikembangkan tersebut tersedia serta menyangkut hal-hal teknis yamg lainnya.
c.
Kelayakan Ekonomis, menyangkut analisa biaya pembuatan atau pengembangan
sistem yang baru serta biaya untuk menjalankan sistem tersebut, juga menyangkut
keuntungan materil dari sistem tersebut.
d.
Kelayakan Jadual, menyangkut waktu yang diperlukan untuk membangun atau
mengembangkan sistem yang baru.
8
e.
Kelayakan Hukum, menyangkut apakah sistem yang baru tidak bertentangan dengan
hukum dan undang-undang serta peraturan-peraturan yang berlaku di wilayah hukum
indonesia.
2.2.2.
Pengembangan Sistem Aplikasi
Pengembangan suatu sistem berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk
menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah
ada. Pengembangan sistem ini terdiri atas sederetan kegiatan yang dapat dikelompokkan
menjadi beberapa tahapan yaitu antara lain survei, analisis sistem, desain sistem,
pemograman, testing dan pemeliharaan.
1.
Survei
Survei memiliki tujuan untuk mengetahui ruang lingkup pekerjaan. Dan pada
tahap ini dilakukan identifikasi terhadap kebutuhan sistem yang baru. Identifikasi tidak
hanya didasarkan oleh kebutuhan-kebutuhan baru yang dikehendaki oleh manajemen,
tetapi juga memperhatikan kebutuhan pada sistem yang sudah ada, baik sistem manualistik
maupun komputerisasi.
2.
Analisis Sistem
Analisis Sistem adalah penguraian dari suatu sistem aplikasi yang utuh ke dalam
bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi
permasalahan-permasalahan, kesemptan-kesempatan, hambatan-hambatan yang terjadi dan
kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya.
Alasan yang melatarbelakangi dilakukannya analisis sistem:
a.
Adanya kebutuhan baru dalam lingkungan atau organisasi di tempat sistem berjalan
yang memerlukan modifikasi untuk mendukung organisasi.
9
b.
Dikarenakan sistem yang lama sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan, sehingga
diperlukan pengembangan sistem yang baru. Hal ini memerlukan analisis sistem agar
sistem yang baru dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan.
c.
Meningkatkan kemampuan atau performansi sistem.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam analisis sistem adalah sebagai
berikut
a.
Manganalisis klasifikasi data, proses dan fungsi kebutuhan informasi seluruh bagian
organisasi yang merupakan kebutuhan informasi untuk masa yang akan datang.
b.
Menganalisis dokumen-dokumen yang bisa dijadikan pedoman bagi tahap
pengembangan berikutnya.
c.
melakukan evaluasi terhadap sistem yang sedang berjalan.
3.
Desain Sistem
Desain sistem dapat didefinisikan sebagai penggambaran, perencanaan dan
pembuatan sketsa atau pengaturan dari beberapa elemen yang terpisah ke dalam satu
kesatuan yang utuh dan mempunyai fungsi tersendiri.
Desain sistem mempunyai maksud dan tujuan yang utama yaitu sebagai berikut:
a.
Untuk memenuhi kebutuhan kepada pemakai sistem atau User.
b.
Untuk memberikan gambaran yang jelas dan sketsa yang lengkap kepada programer
dan designer program.
2.3. Metode Pengembangan Perangkat Lunak
Prototyping merupakan salah satu metode pengembangan perangat lunak yang
banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan pelanggan dapat
saling berinteraksi selama proses pembuatan sistem. Pada umumnya pelanggan hanya
10
mendefinisikan secara umum apa yang dikehendakinya tanpa menyebutkan secara detal
output apa saja yang dibutuhkan, pemrosesan dan data-data apa saja yang dibutuhkan.
Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma,
kemampuan sistem operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer,
Untuk mengatasi ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang , maka harus
dibutuhakan kerjasama yang baik diantara keduanya sehingga pengembang akan
mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak mengesampingkan
segi-segi teknis dan pelanggan akan mengetahui proses-proses dalm menyelasaikan sistem
yang diinginkan. Dengan demikian akan menghasilkan sistem sesuai dengan jadwal waktu
penyelesaian yang telah ditentukan.
Keunggulan prototyping adalah:
a.
Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan.
b.
Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan.
c.
Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem.
d.
Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem.
e.
Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya.
Kelemahan prototyping adalah:
a.
Hubungan pelanggan dengan komputer yang disediakan mungkin tidak mencerminkan
teknik perancangan yang baik.
b.
Pelanggan kadang tidak melihat atau menyadari bahwa perangkat lunak yang ada
belum mencantumkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan dan juga belum
memikirkan kemampuan pemeliharaan untuk jangja waktu lama.
c.
Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek. Sehingga menggunakan
algoritma dan bahasa pemrograman yang sederhana untuk membuat prototyping lebih
11
cepat selesai tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa program tersebut hanya merupakan
cetak biru sistem.
2.4. Basis Data
2.4.1
Definisi Basis Data
Basis data (database) dapat didefinisikan dalam sejumlah sudut pandang yaitu
sebagai berikut:
1.
Himpunan kelompok data (arsip) yang saling berhubungan yang diorganisasi
sedemikian rupa agar kelak dapat dimanfaatkan dengan mudah, efektif dan efisien.
[dikutip dari Fathansyah, 2007].
2.
Kumpulan data yang saling berhubungan yang diorganisasi sedemikian rupa hingga
yang disimpan secara bersama sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan. [dikutip
dari Fathansyah, 2007].
3.
Kumpulan file atau table atau arsip yang saling berhubungan yang disimpan dalam
media penyimpanan elektronis. [dikutip dari Fathansyah, 2007].
2.4.2 Objektif Basis Data
Tujuan awal dan utama dalam pengolahan data pada sebuah basis dataadalah agar
dapat menentukan kembali data (data yang dicari) dengan mudah dan cepat. Di samping
itu, pemanfaatan data untuk pengolahan data juga memiliki tujuan-tujuan tertentu. Secara
lengkap, pemanfaatan basis data dilakukan untuk memenuhi sejumlah tujuan sebagai
berikut :
a.
Kecepatan dan Kemudahan
Pemanfaatan basis data memungkinkan untuk dapat menyimpan data atau melakukan
perubahan/manipulasi terhadap data atau menampilkan kembali data tersebut dengan
cepat dan mudah.
12
b.
Efisiensi Ruang Penyimpanan (Space)
Penggunaan ruang penyimpanan di dalam basis data dilakukan untuk mengurangi
jumlah redundansi (pengulangan) data, baik dengan melakukan penerapan sejumlah
pengkodean atau dengan membuat relasi-relasi (dalam bentuk file) antar kelompok
data yang saling berhubungan.
c.
Keakuratan (Accurancy)
Pemanfaatan pengkodean atau pembentukan relasi antar data bersama dengan
penerapan aturan/batasan tipe data, domain data, keunikan data dan sebagainya dan
diterapkan dalam basis data, sangat berguna untuk menentukan ketidakakuratan
pemasukan atau penyimpanan data.
d.
Ketersediaan (Availability)
Pertumbuhan data (baik dari jumlah maupun jenisnya) sejalan dengan waktu akan
semakin membutuhkan ruang penyimpanan yang besar. Data yang sudah jarang atau
bahkan tidak pernah lagi digunakan dapat diatur untuk dilepaskan dari sistem basis
data dengan cara penghapusan atau dengan memindahkannya ke media penyimpanan.
e.
Kelengkapan (Completeness)
Lengkap atau tidaknya data yang dikelola bersifat relatif baik terhadap kebutuhan
pemakai maupun terhadap waktu. Dalam sebuah basis data, struktur dari basis
data tersebut juga harus disimpan. Untuk mengakomodasi kebutuhan kelengkapan data
yang semakin berkembang, maka tidak hanya menambah record-record data, tetapi
juga melakukan penambahan struktur dalam basis data.
f.
Keamanan (Security)
Sistem keamanan digunakan untuk dapat menentukan siapa saja yang boleh
menggunakan basis data dan menentukan jenis operasi apa saja yang boleh dilakukan.
13
g.
Kebersamaan Pemakaian (Sharability)
Pemakai basis data sering kali tidak terbatas hanya pada satu pemakaian saja atau oleh
satu sistem aplikasi saja. Basis data yang dikelola oleh sistem (aplikasi) yang
mendukung lingkungan multiuser, akan dapat memenuhi kebutuhan ini, tetapi dengan
menjaga/menghindari terhadap munculnya persoalan baru seperti inkonsistensi data
(karena data yang sama diubah oleh banyak pemakai pada saat bersamaan.
2.5. Data Flow Diagram (DFD)
Data Flow Diagram (DFD) adalah alat pembuatan model yang memungkinkan
profesional sistem untuk menggambarkan sistem sebagai suatu jaringan proses fungsional
yang dihubungkan satu sama lain dengan alur data, baik secara manual ataupun
terkomputerisasi. DFD ini sering disebut juga dengan nama Bubble chart, Bubble diagram, model
proses, diagram alur kerja, atau model fungsi.
DFD ini adalah salah satu alat pembuatan model yang sering digunakan, khususnya bila
fungsi-fungsi system merupakan bagian yang lebih penting dan kompleks dari pada data yang
dimanipulasi oleh system. Dengan kata lain, DFD adalah alat pembuatan model yang
memberikan penekanan hanya pada fungsi sistem.
DFD ini merupakan alat perancangan system yang berorientasi pada alur data
dengan konsep dekomposisi dapat digunakan untuk penggambaran analisa maupun rancangan
sistem yang mudah dikomunikasikan oleh profesional sistem kepada pemakai maupun pembuat program.
Kita dapat menggunakan DFD untuk dua hal utama, yaitu untuk membuat
14
Gambar 2.2. Simbol-simbol Data Flow Diagram (DFD)
Adapun symbol-simbol yang digunakan dalam pembuatan DFD dapat dilihat
dalam table berikut ini:
NO
1
SIMBOL
KETERANGAN
Entitas
Objek aktif yang mengendalikan aliran data
dengan
memproduksi serta mengkonsumsi data.
2
Proses
Sesuatu
yang
melakukan
transformasi
terhadap data
3
Aliran Data
Aliran data menghubungkan keluaran dari
suatu
15
objek atau proses yang terjadi pada suatu
masukkan
4
Data Store
Objek pasif dalam DFD yang menyimpan
data
untuk penggunaan lebih lanjut.
Tabel 2.1 Simbol Data Flow Diagram (DFD)
2.6. Entity Relational Diagram (ERD)
Menurut Dhanta (2009:189), Entity Relationship Diagram (ERD) yaitu model
konseptual yang menjabarkan hubungan antar penyimpanan data dan hubungan data. Pada
Entity Relationship Diagram (ERD) terdapat simbol-simbol dengan himpunan relasi yang
masing-masing memiliki atribut untuk menjelaskan suatu relasi secara keseluruhan atau
melakukan aktivitas permodelan data.
NO
1
SIMBOL
Entitas
KETERANGAN
Entitas adalah sebuah kesatuan objek lain,
setiap entitas dibatasi oleh atribut.
Entiti merupakan objek yang mewakili
sesuatu yang nyata dan dapat dibedakan
dari sesuatu yang lain (Fathansyah, 1999:
30).
2
Atribut
Setiap entitas pasti mempunyai elemen
yang disebut atribut yang berfungsi untuk
16
mendeskripsikan karakteristik dari entitas
tersebut. Isi dari atribut mempunyai sesuatu
yang dapat mengidentifikasikan isi elemen
satu dengan yang lain.
3
Hubungan antara sejumlah entitas yang
Relasi
berasal dari himpunan entitas yang berbeda.
4
Garis/Link, sebagai penghubungan antara
Link
himpunan
relasi
dan
himpunan
entitas
dengan
atributnya
Tabel 2.2 Simbol Entity Relationship Diagram (ERD)
Kardinalitas relasi menunjukan jumlah maksimum entitas yang dapat berelasi
dengan entitas pada himpunan entitas yang lain. Kardinalitas yang terjadi di antara dua
himpunan entitas (misalnya A dan B) dapat berupa [Fathansyah, 2007: 77]:
a.
Relasi satu ke satu (one to one)
Setiap anggota entitas pertama hanya bisa dipetakan kesatu elemen dari entitas kedua
dan sebaliknya. Contoh: satu Mahasiswa mempunyai satu Nim.
Mahasiswa
1
1
NIM
Gambar 2.3 ER-D One To One
b.
Relasi satu ke banyak (One to many)
Setiap anggota entitas pertama boleh dipetakan pada beberapa elemen dari entitas
kedua. Contoh: Satu jurusan memiliki banyak Mahasiswa.
17
1
n
Jurusan
Mahasiswa
Gambar 2.4 ER-D One To Many
c.
Relasi banyak ke banyak (many to many)
Beberapa anggota entitas pertama boleh dipetakan lebih dari satu pada elemen entitas
kedua dan sebaliknya. Contoh : Pada sistem pengajaran di Perguruan Tinggi setiap
mahasiswa dapat mengambil mata kuliah lebih dari satu dan setiap mata kuliah dapat
diambil oleh lebih dari satu mahasiswa
n
n
Mahasiswa
Mata Kuliah
Gambar 2.5 ER-D many to many
2.7. Bahasa Pemrograman Yang Digunakan
2.7.1.
Microsoft Visual Basic .NET 2005
Microsoft Visual Basic .NET adalah sebuah alat untuk mengembangkan dan
membangun
aplikasi
yang bergerak
di
atas
sistem .NET
Framework,
dengan
menggunakan bahasa BASIC. Dengan menggunakan alat ini, para programmer dapat
membangun
aplikasi Windows
Forms,
Aplikasi web berbasis ASP.NET,
dan
juga
aplikasi command-line. Alat ini dapat diperoleh secara terpisah dari beberapa produk
lainnya (seperti Microsoft Visual C++, Visual C#, atau Visual J#), atau juga dapat
diperoleh secara terpadu dalam Microsoft Visual Studio .NET.
Bahasa Visual Basic .NET sendiri menganut paradigma bahasa pemrograman
berorientasi objek yang dapat dilihat sebagai evolusi dari Microsoft Visual Basic versi
sebelumnya
yang
diimplementasikan
di
atas .NET
Framework.
Peluncurannya
18
mengundang kontroversi, mengingat banyak sekali perubahan yang dilakukan oleh
Microsoft, dan versi baru ini tidak kompatibel dengan versi terdahulu.
Ada beberapa fitur baru yang ditambahkan Microsoft dibandingkan versi-versi
sebelumnya. Fitur baru tersebut di antaranya adalah:
a.
Edit and Continue
Fitur ini sebelumnya terdapat di dalam Visual Basic, akan tetapi dihapus di dalam
Visual Basic .NET. Dengan keberadaan fitur ini, para programmer dapat memodifikasi
kode pada saat program dieksekusi dan melanjutkan proses eksekusi dengan kode
yang telah dimodifikasi tersebut.
b.
Evaluasi ekspresi pada saat waktu desain.
c.
Munculnya Pseudo-Namespace "My", yang menyediakan:
d.
Akses yang mudah terhadap beberapa area tertentu dari dalam .NET Framework
yang tanpanya membutuhkan kode yang sangat signifikan.
e.
d.
Kelas-kelas yang dibuat secara dinamis (khususnya My.Forms).
Peningkatan yang dilakukan terhadap konverter kode sumber dari Visual Basic ke
Visual Basic .NET.
e.
Penggunaan kata kunci (keyword) Using, yang menyederhanakan penggunaan objekobjek yang membutuhkan pola Dispose untuk membebaskan sumber daya yang sudah
tidak terpakai.
f.
Just My Code, yang menyembunyikan kode reusable yang ditulis oleh alat
bantu Integrated Development Environment (IDE) Visual Studio .NET
g.
Pengikatan sumber data (Data Source binding), yang mampu mempermudah
pengembangan aplikasi basis data berbasis klien/server.
19
Fungsi-fungsi yang tersebut di atas (khususnya My) ditujukan untuk
memfokuskan Visual Basic .NET sebagai sebuah platform pengembangan aplikasi secara
cepat dan "menjauhkannya" dari bahasaC#.
Bahasa Visual Basic 2005 memperkenalkan fitur-fitur baru, yakni:
a.
Bawaan .NET Framework 2.0:
f.
Generics
g.
Partial class, sebuah metode yang dapat digunakan untuk mendefinisikan
beberapa bagian dari sebuah kelas di dalam sebuah berkas, lalu menambahkan
definisinya di lain waktu; sangat berguna khususnya ketika mengintegrasikan
kode pengguna dengan kode yang dibuat secara otomatis.
h.
b.
Nullable Type
Komentar XML yang dapat diproses dengan menggunakan beberapa alat bantu seperti
NDoc untuk membuat dokumentasi secara otomatis.
c.
Operator overloading
d.
Dukungan terhadap tipe data bilangan bulat tak bertanda (unsigned integer) yang
umumnya digunakan di dalam bahasa lainnya.
2.7.2 Microsoft Access
Microsoft
Access
atau
Microsoft
Office
Access
adalah
sebuah program aplikasi basis data komputer relasional yang ditujukan untuk kalangan
rumahan dan perusahaan kecil hingga menengah. Aplikasi ini merupakan anggota dari
beberapa aplikasi Microsoft Office, selain tentunya Microsoft Word, Microsoft Excel,
dan Microsoft PowerPoint. Aplikasi ini menggunakan mesin basis dataMicrosoft Jet
Database Engine, dan juga menggunakan tampilan grafis yang intuitif sehingga
memudahkan pengguna.
20
Microsoft Access dapat menggunakan data yang disimpan di dalam format
Microsoft Access, Microsoft Jet Database Engine, Microsoft SQL Server, Oracle Database,
atau
semua
kontainer
basis
data
yang
mendukung
standar ODBC.
Para
pengguna/programmer yang mahir dapat menggunakannya untuk mengembangkan
perangkat lunak aplikasi yang kompleks, sementara para programmer yang kurang mahir
dapat menggunakannya untuk mengembangkan perangkat lunak aplikasi yang sederhana.
Access juga mendukung teknik-teknik pemrograman berorientasi objek, tetapi tidak dapat
digolongkan ke dalam perangkat bantu pemrograman berorientasi objek.
Salah
satu
keunggulan
dari perspektif programmer adalah
Microsoft
kompatibilitasnya
Access
dilihat
dengan bahasa
pemrograman Structured Query Language (SQL); query dapat dilihat dan disunting
sebagai statemen-statemen SQL, dan statemen SQL dapat digunakan secara langsung di
dalam Macro dan VBA Module untuk secara langsung memanipulasi tabel data dalam
Access. Para pengguna dapat mencampurkan dan menggunakan kedua jenis bahasa
tersebut (VBA dan Macro) untuk memprogram form dan logika dan juga untuk
mengaplikasikan konsep berorientasi objek.
Microsoft SQL Server Desktop Engine (MSDE) 2000, yang merupakan sebuah
versi mini dari Microsoft SQL Server 2000, dimasukkan ke dalam Office XP Developer
Edition dan dapat digunakan oleh Microsoft Access sebagai alternatif dari Microsoft Jet
Database Engine.
Tidak seperti sebuah sistem manajemen basis data relasional yang komplit,
Microsoft JET Database Engine tidak memiliki fitur trigger dan stored procedure. Dimulai
dari Microsoft Access 2000 yang menggunakan Microsoft Jet Database Engine versi 4.0,
ada sebuah sintaksis yang mengizinkan pembuatan kueri dengan beberapa parameter,
21
dengan sebuah cara seperi halnya sebuah stored procedure, meskipun prosesur tersebut
dibatasi
hanya
untuk
sebuah
pernyataan
tiap
prosedurnya.
Access
juga
mengizinkan form untuk mengandung kode yang dapat dieksekusi ketika terjadi sebuah
perubahan terhadap tabel basis data, seperti halnya trigger, selama modifikasi dilakukan
hanya dengan menggunakan form tersebut, dan merupakan sesuatu hal yang umum untuk
menggunakan kueri yang akan diteruskan (pass-through dan teknik lainnya di dalam
Access untuk menjalankan stored procedure di dalam RDBMS yang mendukungnya.
Dalam berkas Access Database Project (ADP) yang didukung oleh Microsoft
Access 2000 dan yang selanjutnya, fitur-fitur yang berkaitan dengan basis data berbeda
dari versi format/struktur data yang digunakan Access (*.MDB), karena jenis berkas ini
dapat membuat koneksi ke sebuah basis data MSDE atau Microsoft SQL Server,
ketimbang menggunakan Microsoft JET Database Engine. Sehingga, dengan menggunakan
ADP, adalah mungkin untuk membuat hampur semua objek di dalam server yang
menjalankan
mesin
basis
data
tersebut
(tabel
basis
data
dengan constraints dantrigger, view, stored procedure, dan UDF). Meskipun demikian,
yang disimpan di dalam berkas ADP hanyalah form, report, macro, dan modul, sementara
untuk tabel dan objek lainnya disimpan di dalam server basis data yang membelakangi
program tersebut.
Access mengizinkan pengembangan yang relatif cepat karena semua tabel basis
data, kueri, form, dan report disimpan di dalam berkas basis data miliknya (*.MDB).
Untuk
membuat
Query,
Access
menggunakan
Query
Design
Grid,
sebuah program berbasis grafis yang mengizinkan para penggunanya untuk membuat
query tanpa harus mengetahui bahasa pemrograman SQL. DI dalam Query Design Grid,
para pengguna dapat memperlihatkan tabel basis data sumber dari query, dan
22
memilih field-field mana yang hendak dikembalikan oleh proses dengan mengklik dan
menyeretnya ke dalam grid. Join juga dapat dibuat dengan cara mengklik dan menyeret
field-field dalam tabel ke dalam field dalam tabel lainnya. Access juga mengizinkan
pengguna untuk melihat dan memanipulasi kode SQL jika memang diperlukan.
23
Download