BAB I

advertisement
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ANALISIS PROSES INTEGRASI SOSIAL KARYAWAN DAN
MASYARAKAT
(Studi Deskriptif Pada PT. Allegrindo Di Desa Urung Panei
Kec. Purba, Kab.Simalungun)
SKRIPSI
DIAJUKAN OLEH :
ASRI SIMANIHURUK
030901010
DEPARTEMEN SOSIOLOGI
GUNA MEMENUHI SALAH SATU PERSYARATAN
UNTUK MEMPEROLEH GELAR SARJANA
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
ABSTRAKSI
Kehadiran aktivitas perekonomian acap kali mempengaruhi sistem sosial
budaya masyarakat. Keterlibatan masyarakat akan aktivitas perekonomian baru
berarti mereka memasuki sistem dan lingkungan kerja baru atau mereka
berinteraksi dengan lingkungan baru sebagai sistem baru yang berbeda dalam
sistem ekonomi keluarga. Perubahan ini setidaknya terjadi dalam tiga wujud,
yakni hubungan kerja, hubungan kekeluargaan, dan kehidupan komuniti dan
perkumpulan-perkumpulan. Realisasi dari hal tersebut adalah berada pada
interaksi sosial untuk mewujudkan proses integrasi sosial. PT.Allegrindo
merupakan salah satu perusahaan peternakan terbesar di Asia Tenggara, yang
bergerak dalam bidang usaha pengembangbiakan ternak, yang banyak merekrut
karyawan sehingga penulis tertarik untuk melihat bagaimana proses integrasi
karyawan dan masyarakat dengan adanya PT.Allegrindo.
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana proses
integrasi sosial karyawan dan masyarakat dengan adanya PT. Allegrindo di Desa
Urung Panei Kec. Purba, Kab. Simalungun. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana proses integrasi sosial karyawan dan masyarakat dengan
adanya PT. Allegrindo di Desa Urung Panei. Metode penelitian yang digunakan
untuk menganalisa permasalahan ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan
kualitatif yang bersifat deskriptif yang mencoba menggambarkan proses integrasi
sosial karyawan dan masyarakat dengan adanya PT.Allegrindo. Adapun teknik
analisa yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis
distribusi tabel frekuensi. Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Urung Panei
Kec. Purba, Kab. Simalungun.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Kepala Keluarga yang
bertempat tinggal di Desa Urung Panei dan yang menjadi sampel dalam penelitian
adalah 50 orang yaitu 40 % dari 124 responden. Teknik penarikan sampel yang
digunakan adalah sistem acak (random) dengan cara undi, dimana semua populasi
diberikan kesempatan yang sama (probabilitas) untuk dijadikan sampel dalam
penelitian ini. Adapun instrument yang digunakan adalah angket pertanyaan dan
wawancara. Data yang diperoleh kemudian ditabulasikan dalam bentuk tabel
frekuensi, kemudian di analisa.
Hasil penelitian di PT. Allegrindo dapat diketahui bahwa proses integrasi
sosial karyawan dan masyarakat dilihat dari interaksi sosial pengelola perusahaan
dengan masyarakat melalui pembagian keuntungan kepada masyarakat yaitu
Program Comunity Development (CD). Interaksi sosial yang dilakukan oleh
pengelola perusahaan terhadap masyarakat merupakan proses adaptasi, agar
masyarakat dapat menerima kehadiran perusahaan. Melalui interaksi dan adaptasi
tersebut integrasi sosial terjadi antara pengelola perusahaan dan masyarakat.
Interaksi
sosial
karyawan
dan
masyarakat
melalui
kegiatan
organisasi/perkumpulan. Fungsi manifest yaitu Peningkatan
pendapatan
karyawan dan masyarakat secara merata, sehingga tidak ada jarak sosial antara
karyawan dan masyarakat dalam melakukan interaksi sosial. Dengan demikian
proses integrasi antara karyawan dan masyarakat dapat terjalin dengan baik.
Disfungsi sistem yaitu kehadiran perusahaan sudah dapat diterima masyarakat.
Dalam hal ini PT.Allegrindo mempunyai fungsi yang positif dalam proses
integrasi antara karyawan dalam bermasyarakat.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena
atas berkat-Nya dan rahmat-Nya yang senantiasa menyertai dan memberkati
penulis dalam menyelesaikan perkuliahan dan juga pada saat penyusunan skripsi
yang berjudul:
“ Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi
Deskriptif Pada PT. Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.
Simalungun)”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh
gelar Sarjana dari Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menghadapi berbagai
hambatan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan, pengalaman,
kepustakaan dan materi penulis. Namun, berkat pertolongan Tuhan Yesus Kristus
yang memberi ketabahan, kesabaran, dan kekuatan kepada penulis dan juga para
teman-teman yang selalu memberikan motivasi, dukungan pada saat-saat penulis
mengalami kesulitan.
`
Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, kritikan,
saran-saran, motivasi serta dukungan doa dari berbagai pihak, oleh karena itu,
penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan memberikan motivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. DR. Arief Nasution, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
2. Bapak Prof. DR. Badaruddin, M.Si, selaku Ketua Departemen Sosiologi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Rosmiani, MA, selaku sekretaris Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Marhaeni Munthe M.Si, selaku dosen wali penulis semenjak
semester pertama sampai pada penyelesaian skripsi ini
5. Ibu Dra. Ria Manurung M.Si, selaku dosen pembimbing penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
6. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh dosen Sosiologi dan
dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan berbagai
materi selama penulis menjalani perkuliahan di FISIP USU.
7. Kedua orang tuaku (Ayahanda Jamakmur Manihuruk dan Ibunda Kannalina
Br. Purba) serta Kakakku Melli Manihuruk S.Sos dan adik-adikku tercinta
Rando Manihuruk, Imral Manihuruk, Joko Frima Manihuruk, Tardo
Manihuruk, dan Monika Manihuruk, yang telah memberikan perhatian,
dukungan serta doa kepada penulis.
8. Rekan mahasiswa Sosiologi Stambuk 2003 : Krisma, Nelly, Rochi, Ratna,
Hendra, ilham, Ferdinan, Dewi, Eva Rahmadani, Sari, Rizki Zulaikha, Sulasri,
Sri Sulastri, Kiki oktania, Rinda, Eva, Lena, Rosa, Ina, Mini, Eva Fadilah,
Wildan, Zayuna, Dikky, Sebastian, Mansur, Sidik, Madan, Ferri. Ismail,
Sarah, Grace, Tri Endah, Nidya yang memberikan doanya maupun pemikiran
hingga tulisan ini dapat selesai.
9. Kepada seluruh responden penelitian ini yang telah meluangkan waktunya
untuk memberi informasi melalui jawaban atas kuissioner penelitian sehingga
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
dapat menjawab permasalahan penelitian, dan penulis dapat menyusun
laporan penelitian yang berbentuk skripsi ini.
10. Kepada oppung R. Purba dan teman-teman kostku : Senta Purba, Lina
Sipayung, Rini Manalu, Nurbaya Situmorang yang telah memberikan motivasi
dan dukungannya kepada penulis.
11. Kepada semua sanak famili, terima kasih atas doa dan nasehat-nasehatnya
agar penulis dapat tegar dan sabar dalam penyelesaian skripsi ini, serta kepada
teman-teman yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu, yang telah
banyak memberikan dukungan semangat serta doa kepada penulis dalam
penyelesaian skripsi ini.
Penulis telah mencurahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran begitu juga
waktu dalam menyelesaikan skripsi ini. Namun demikian, penulis menyadari
skripsi ini masih banyak kekurangan, untuk itu dengan segala kerendahan hati
penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun dari para pembaca.
Besar harapan penulis kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Medan, Januari 2009
Penulis
Asri Simanihuruk
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ........................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………… x
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xi
BAB I
PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1.
Latar Belakang Masalah ..................................................... 1
1.2.
Perumusan Masalah ........................................................... 5
1.3.
Tujuan Penelitian ................................................................ 5
1.4.
Manfaat Penelitian .............................................................. 6
1.4.1. Manfaat Teoritis ...................................................... 6
1.4.2. Manfaat Praktis ....................................................... 6
1.5.
Defenisi Konsep ................................................................. 6
BAB II KERANGKA TEORI ..................................................................... 8
2.1.
Interaksi Sosial .................................................................... 8
2.2.
Teori Integrasi Talcont Parson ............................................. 11
2.3.
Integrasi sosial ……………………………………………… 15
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 17
3.1.
Jenis Penelitian .................................................................... 17
3.2.
Lokasi Penelitian ................................................................. 17
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
3.3.
Unit Analisi Dan Informan …………………………………. 18
3.4.
Populasi dan Sampel ............................................................ 19
3.4.1. Populasi ................................................................... 19
3.4.2. Besar Ukuran Sampel ............................................... 19
3.5.
Teknik Pengumpulan Data ................................................... 20
3.5.1. Studi Kepustakaan .................................................... 20
3.5.2. Penelitian Lapangan ................................................. 20
3.6.
Teknik Analisis Data ............................................................ 21
3.7.
Jadwal Penelitian ................................................................. 22
3.8.
Keterbatasan Penelitian ........................................................ 23
BAB IV HASIL DAN ANALISA PENELITIAN......................................... 24
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Penelitian ..................................... 24
4.1.1. Gambaran Daerah Penelitian ………………………….... 24
4.1.1.1. Letak Geografis Desa……………………………24
4.1.1.2. Sejarah Desa Urung Panei ................................ 26
4.1.1.3. Gambaran Sosial Budaya ................................. 27
4.1.2. Gambaran Perusahaan…………………………............ 33
4.1.2.1. Sejarah Singkat Berdirinya PT. Allegrindo……. 33
4.1.2.2. Struktur Organisasi .......................................... 34
4.1.2.3. Gambaran Karyawan ....................................... 37
4.2. Karakteristik Responden ........................................................ 42
4.2.1. Umur Responden……………………………………….. 43
4.2.2. Pendidikan Responden ................................................... 44
4.2.3. Agama Responden ......................................................... 45
4.2.4. Penghasilan/Pendapatan Responden .............................. 46
4.3. Gambaran Informan ................................................................ 47
4.4. Gambaran Proses Interaksi Sosial………………………………52
4.4.1. Interaksi Perusahaan Dan Masyarakat ………………… 52
4.4.1.1. Bidang Bantuan Perusahaan Kepada
Masyarakat……………………………………. 56
4.4.2. Interaksi Sosial Karyawan Dan Masyarakat ………….. 59
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
4.4.2.1. Media Interaksi………………………………. 61
4.4.2.2. Frekuensi Interaksi/Komunikasi……………...64
4.4.2.3. Jarak Sosial ………………………………….. 68
4.4.2.4. Intensitas Waktu Bertemu Tiap Hari…………70
4.5. Fungsi Manifest …………………………………………… ..72
4.5.1. Kemampuan Menabung Karyawan dan
Masyarakat……………………………………….73
4.5.2. Pendapatan Per Bulan Karyawan dan
Masyarakat……………………………………….75
4.6. Disfungsi Sistem ……………………………………………...77
4.6.1. Deskripsi Konflik Pada PT. Allegrindo ………….77
4.6.2. Pelapisan Masyarakat Berdasarkan
Dimensi Ekonomi (Kelas-Kelas Sosial …………. 83
4.6.2.1. Status Rumah Responden……………. 83
4.6.2.2. Pemilikan Lahan Pertanian………….... 86
4.6.2.3. Status Tanah Pertanian………………. 87
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 89
5.1.
Kesimpulan......................................................................... 89
5.2.
Saran .................................................................................. 90
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3. 1 Jadwal Kegiatan ………………………………………..………
22
Tabel 4. 1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin………………….. 27
Tabel 4. 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Sebelum
Dan Sesudah Hadirnya PT. Allegrindo………………………… 28
Tabel 4. 3
Jumlah Penduduk Berdasarkan Suku/Etnis Sebelum
Dan Sesudah Hadirnya PT.Allegrindo..................................... . 29
Tabel
4. 4
Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Sebelum
Dan Sesudah Hadirnya PT. Allegrindo………………………… 31
Tabel 4. 5
Jumlah Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga…………………. 32
Tabel 4. 6
Jadwal Kerja Karyawan ……………………………………….
Tabel 4. 7
Status Responden Dan Usia Responden ............................... .. 43
Tabel 4. 8
Status Responden Dan Tingkat Pendidikan Responden .......... .. 44
Tabel 4. 9
Status Responden Dan Agama Responden ............................. …45
37
Tabel 4. 10 Status Responden Dan Penghasilan/Pendapatan Responden ... …46
Tabel 4. 11 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Bantuan
Yang Diberikan Perusahaan Terhadap Masyarakat ……………56
Tabel 4. 12 Distribusi Jawaban Responden Tentang Media Interaksi sosial
Karyawan dengan Masyarakat………………………………….. 62
Tabel 4. 13
Distribusi Jawaban Responden terhadap Frekuensi Waktu
Kegiatan Bersama ……………………………………………….63
Tabel 4. 14
Distribusi Jawaban Responden Tentang Jarak Sosial……………69
Tabel 4. 15 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Intensistas
Waktu Bertemu Per Hari…………………………………………71
Tabel 4. 16 Distribusi Jawaban Responden Tentang Pemilikan Tabungan…...73
Tabel 4. 17 Distribusi Jawaban Responden Tentang Pendapatan Per Bulan…76
Tabel 4. 18 Distribusi Jawaban Responden Tentang Konflik Antara
Masyarakat setempat Dengan Pengelola Perusahaan……………. 80
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 4. 19 Distribusi Jawaban Responden Tetntang Konflik Antara
Masyarakat Setempat Dengan Masyarakat Pendatang ……......... 82
Tabel 4. 20
Distribusi Jawaban Responden Tentang status Rumah…….. … 85
Tabel 4. 21
Distribusi Jawaban Responden Tentang Pemilikan
Lahan Pertanian…………………………………………………87
Tabel 4. 22
Distribusi Jawaban Responden Tentang Status
Tanah Pertanian…….. ………………………………………… 88
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 4. 1 Struktur Organisasi Devisi Farming PT.Allegrindo
Tahun 2007……………………………………………………… 36
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Daftar Kuesioner
Lampiran 2
Panduan Wawancara
Lampiran 3
Transkip Hasil Wawancara
Lampiran 4
Data-Data PT.Allegrindo
Lampiran 5
Surat Izin Penelitian Dari Kelurahan Tiga Runggu
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi ini pertumbuhan perusahaan semakin pesat.
Perusahaan yang merupakan salah satu instrumen perekonomian, dinegara mana
pun sangat besar perananya dalam gerak ekonomi. Namun, disisi lain perusahaan
tidak terlepas dari masalah-masalah sosial yang ada, yang perlu dikaji dari sudut
sosiologis. Permasalahan yang ditimbulkan dalam perusahaan tidak hanya segala
sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan kinerja atau proses produksi, akan
tetapi banyak juga hal lain yang secara tidak langsung akan mempengaruhi
aktivitas kerja dalam perusahaan tersebut. Misalnya masalah upah atau gaji,
kesejahteraan, peraturan organisasi yang ada dalam perusahaan, dan lain-lain.
Perusahaan didirikan dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Dalam mencapai tujuan tersebut, perusahaan selalu berinteraksi dengan
lingkungannya sebab lingkungan memberikan andil dan kontribusi bagi
perusahaan.
Perusahaan adalah bentuk organisasi yang melakukan aktivitas dengan
menggunakan sumber daya yang dimilikinya semaksimal mungkin untuk
memperoleh keuntungan demi kelangsungan hidupnya, sehingga berakibat pada
dampak lingkungan baik secara positif maupun secara negatif (Harahap, 1991).
Menurut Munarti,1998 ada 2 pergeseran pandangan terhadap tujuan perusahaan
yaitu : Pertama, pandangan konvensional yaitu menggunakan keuntungan sebagai
ukuran kinerja perusahaan. Perusahaan dengan kinerja
yang baik adalah
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
perusahaan
yang
mampu
memperoleh
keuntungan
maksimum
untuk
kesejahteraan masyarakat. Kedua, pandangan modern yaitu tujuan perusahaan
tidak hanya untuk mencapai keuntungan yang maksimum tetapi juga
kesejahteraan sosial dan lingkugannya seperti yang diungkapkan Glueck dan
Janclek (1984) bahwa tujuan perusahaan adalah untuk mencapai keuntungan,
efisiensi, kepentingan dan pengembangan karyawan, tanggung jawab sosial dan
hubungan baik dengan masyarakat, kelangsungan usaha dan tujuan lembaga.
Perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan banyak
keuntungan bagi masyarakat sekitar dan pada masyarakat umumnya (http/www.
kabar indonesia.com.php?pil, Rabu 2 juli 2008, 15:58 Wib).
Kehadiran perusahaan disuatu daerah tertentu tidak dipungkiri dapat
mempengaruhi situasi sosial ekonomi masyarakat di sekitar perusahaanperusahaan tersebut didirikan. Sehubungan dengan uraian diatas, hadirnya
PT.Allegrindo sebagai salah satu perusahaan peternakan babi yang berada didesa
Urung Panei Kec. Purba, Kab. Simalungun, tentu memiliki pengaruh terhadap
sistem sosial masyarakat disekitar lokasi peternakan PT. Allegrindo tersebut.
Menurut Bachriadi kesepakatan dengan masyarakat tentang bagaimana
perusahaan beroperasi haruslah dicapai, dengan menjelaskan secara detail apa
yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kedua belah pihak. Hal pertama yang
harus dilakukan oleh perusahaan adalah memastikan bahwa dampak-dampak
negatif yang ada terlebih dahulu dihitung dengan cermat dan bersama-sama
dengan seluruh pihak yang berkepentingan mencari jalan keluar untuk
menyelesaikannya. Dengan demikian, perusahaan akan dianggap menunjukkan
niat baik dalam memperoleh izin sosial dari masyarakat, dan dari situlah
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
pengembangan selanjutnya dimungkinkan (http/www.bangrusli. net/opac/index.
php?id.71 & optio. Com & task.view, Jumat 25 Juli 2008,13:49 Wib).
Kehadiran perusahaan juga tidak terlepas dari sistem sosial masyarakat
yaitu interaksi sosial masyarakat. Parsons dalam bukunya “The Social System”
yang menggambarkan masyarakat sebagai suatu kesatuan, artinya dalam interaksi
sosial tersebut orang mencapai secara timbal balik persetujuan dan konfirmasi
satu dari yang lain dengan cara menyesuaikan diri dengan simbol-simbol yang
dibagi bersama. Parsons menekan bahwa sistem sosial merupakan wujud kelakuan
atau wujud sosial suatu komplek aktivitas kelakuan berpola manusia dalam
masyarakat. Sistem sosial terdiri dari aktifitas-aktifitas manusia yang saling
berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan
selalu
mengikuti
pola-pola
tertentu
(http/asysyuravoice.blogspot.com/2007/04
berdasarkan
sistem
sosial
adat
kelakuan
masyarakat
oleh
rudiono.html. Jumat, 25 Juli 2008,19 : 44 Wib).
Adapun sistem sosial yang ada didalam masyarakat adalah :
1. Sistem Mata Pencahariaan.
2. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
3. Bahasa
4. Sistem Kepercayaan
Dalam mengelola hubungan tersebut dengan masyarakat, dikenal empat
cara untuk memaksimumkan dampak positif kehadiran perusahaan, yaitu program
pengembangan masyarakat (community development), donasi yang sah dan
strategis
untuk
kegiatan-kegiatan
diluar
pengembangan
masyarakat,
mengikutsertakan masyarakat sekitar sedapat mungkin pada bisnis utama
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
perusahaan, dan respons atas tuntutan yang sah dari kelompok penekan, apabila
keempat cara tersebut dilaksanakan, perusahaan akan menyebarkan dampak
positif kehadirannya tidak saja kepada masyarakat yang dekat atau terkena
dampak langsung perusahaan, tapi juga kepada mereka yang lebih jauh.
Keberhasilan keempat cara tersebut juga akan meningkatkan perasaan memiliki
bisnis
pada
masyarakat
sekitar
(http/sumenep.go.id/main.php?go= wisata
&kd=60,Kamis 24 Juli 2008, 06 : 00 Wib).
Menurut H.M Rusli Zainal, kehadiran perusahaan besar maupun menegah
sangat berdampak positif bagi masyarakat, karena bukan saja memperluas
lapangan kerja, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal
ini juga dapat dilihat pada kehadiran perusahaan yang sangat menguntungkan
bagi masyarakat terutama pengurangan angka pengangguran dan kemiskinan
dengan adanya lapangan kerja baru meningkatkan pendapatan ekonomi
masyarakat sekitar (http /www. korantempo. com/ korantempo /2006 /03 /16/opini
/krn. 2006 id.ht. Kamis, 24 Juli 2008, 03 : 16 Wib).
Kehadiran perusahaan PT. Allegrindo di Desa Urung Panei Kec. Purba,
Kab. Simalungun merupakan salah satu perusahaan yang dapat membuka
lapangan kerja baru dengan munculnya aktivitas-aktivitas perekonomian baru bagi
masyarakat sekitar. Selain itu, peningkatan sosial ekonomi masyarakat sebagai
akibat kehadiran aktivitas perekonomian ini juga tidak terlepas dari dua faktor,
yakni sejauh mana kesempatan yang diberikan perusahaan tersebut bagi
masyarakat untuk berpartisipasi dan sejauh mana kemampuan masyarakat
berpartisipasi
dalam
aktivitas
perekonomian
baru
tersebut
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
(http/www.libraryusu.ac.id/download/fe/tesis-matias.pdf. Kamis 24 Juli 2008.
16.30 Wib).
Kehadiran aktivitas perekonomian acapkali mempengaruhi sistem sosial
budaya masyarakat. Keterlibatan masyarakat akan aktivitas perekonomian baru
berarti mereka memasuki sistem dan lingkungan kerja baru atau mereka
berinteraksi dengan lingkungan baru sebagai sistem baru yang berbeda dari sistem
ekonomi keluarga. Perubahan ini setidaknya terjadi dalam tiga wujud, yakni
hubungan kerja, hubungan kekeluargaan, dan kehidupan komuniti dan
perkumpulan-perkumpul (http /www. library usu. ac. Id/ download /fe /tesismatias. pdf. Kamis 24 Juli 2008. 16.30 Wib).
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk
meneliti bagaimana proses integrasi antara karyawan dan masyarakat di desa
Urung Panei dengan hadirnya PT.Allegrindo.
1.2. Perumusan Masalah
Masalah merupakan bagian pokok dari suatu kegiatan penelitian.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan permasalahan
dalam penelitian ini adalah bagaimana proses integrasi karyawan dan masyarakat
dengan adanya PT.Allegrindo.
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan bagaimana proses integrasi karyawan dan masyarakat dengan
adanya PT.Allegrindo.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan peneliti tentang bagaimanakah proses
integrasi karyawan dan masyarakat dengan kehadiran sebuah
perusahaan dalam kehidupan masyarakat.
1.4.2. Manfaat Praktis
a. Untuk memperluas pengetahuan dan wawasan penulis dalam
mengembangkan kemampuan berpikir melalui kajian ilmiah.
b. Dapat digunakan sebagai suatu masukan baik bagi pemerintah dan
penelitian selanjutnya lebih komprehensif.
c. Memberikan kontribusi pemikiran bagi perusahaan peternakan agar
lebih menigkatkan usahanya terutama yang berada di pedesaan.
1.5. Defenisi Konsep
Konsep adalah merupakan kerangka acuan penelitian di dalam desain
instrumen penelitian. Konsep digunakan agar masyarakat akademik atau
masyarakat ilmiah maupun konsumen penelitian atau pembaca laporan penelitian
apa yang dimaksud dengan variabel, indikator, parameter, maupun skala
pengukuran yang dimaksud peneliti dalam penelitianya (Bungin, 2001 : 73)
a. Integrasi Sosial adalah suatu bentuk atau pola kesatuan interaksi atau
hubungan timbal balik yang harmonis dan utuh antara karyawan dan
masyarakat sekitar.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
b. Karyawan adalah keseluruhan pekerja yang terdaftar pada perusahaan,
baik itu sebagai karyawan tetap dan karyawan tidak tetap yang
berhubungan dengan perusahaan yang berhak mendapatkan upah dalam
hal ini, yang menjadi pusat perhatian adalah karyawan PT. Allegrindo di
Desa Urung Panei.
c.
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang menempati wilayah
tertentu dalam kurun waktu yang cukup lama, yang membentuk aturan
atau norma berdasarkan konsensus bersama. Masyarakat yang dimaksud
adalah masyarakat yang berada di Desa Urung Panei.
d. Interaksi Sosial : Merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis
yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompokkelompok manusia maupun antara orang perorangan dengan kelompok
manusia (Soekanto, 2001 : 67)
e. Stratifikasi Sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam
kelas-kelas secara bertingkat (hirarkis). Perwujudannya adalah kelaskelas tinggi dan kelas yang lebih rendah di dalam masyarakat.
f. PT. Allegrindo adalah sebuah perusahaan peternakan pengembangbiakan
ternak khususnya ternak babi terbesar di Asia Tenggara, yang berada di
kaki gunung Simarjarunjung yaitu di Desa Urung Panei Kecamatan.
Purba, Kabupaten. Simalungun.
g. Pembangunan adalah suatu proses perubahan masalah kemiskinan,
pengangguran, dan ketimpangn pendapatan kearah yang lebih baik.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1. Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang
menyangkut hubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok
manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Kehidupan
manusia secara wajar, telah dilihat dari segi tingkat pendapatannya serta besar
jumlah uang yang dikomsumsikan, juga tidak terlepas dari posisi di dalam
pergaulan hidup di dalam lingkungan.
Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena
tanpa interaksi, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Kimnall Young
mengatakan bahwa bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak
akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan
hidup baru akan terjadi apabila orang perorangan ataupun kelompok-kelompok
manusia saling bekerja sama, saling berbicara dan seterusnya untuk mencapai
suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikayan dan sebagainya.
Tipe interaksi sosial di daerah desa dan di kota memiliki perbedaan yang
sangat kontras, baik dari aspek kualitasnya maupun kuantitasnya. Perbedaan yang
penting dalam interaksi sosial adalah :
1. Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas
sosialnya rendah, maka kontak pribadi per individu lebih sedikit.
2. Dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun kualitatif.
Penduduk kota lebih sering kontak, cenderung formal sepintas lalu, dan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tidak bersifat pribadi (impersonal), dan pribadi. Sedangkan di kota lebih
tersebar pada daerah yang lebih luas, melalui perdagangan, perusahaan,
industri, pemerintahan, pendidikan, agama, dan sebagainnya.
Teori interaksi sosial juga dikaji oleh tokoh Simmel, yang mengkaji
masalah hubungan antarpribadi (interpersonal). Penjelasan Simmel tentang
interaksi sosial adalah sebagai berikut :
1. Masyarakat terbentuk dari jaringan relasi-relasi antar orang, sehingga
mereka merupakan suatu kesatuan. Dalam jaringan relasi tersebut terjadi
aksi dan reaksi yang tak terbilang banyaknya, sehingga masyarakat
merupakan proses dinamis yang ditentukan oleh perilaku anggotanya.
2. Jaringan relasi-relasi itu tidak sama sifatnya. Artinya, dari jaringan relasi
tersebut, dapat terbentuk komunitas sosial. Bahkan ada pergeseran dari
pola relasi efektif dan personal menjadi fungsional dan rasional.
3. Dalam jaringan relasi tidak selamanya terbentuk integrasi dan harmonis,
tetapi dapat pula terjadi kritik, oposisi, konflik, dan lain-lain. Tetapi, baik
hal negatif atau positif menurut pandangan sepintas sebenarnya
mempunyai efek positif dalam proses interaksi. Bahkan tindakan yang
dianggap negatif menurut individu-individu sebenarnya mempunyai akibat
positif bagi keseluruhan relasi yang ada dalam masyarakat.
4. Frekuensi interaksi dan antar interaksi bervariasi, ada yang tinggi dan ada
yang rendah. Semakin penting hal yang mempertemukan orang dalam
relasi timbal balik,
maka akan semakin
cepat
relasi-relasi itu
dilembagakan.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Jadi pada intinya, Simmel memandang masyarakat sebagai produk dari
proses interaksi individu-individu. Terjadinya interaksi akibat adanya kesatuan
sosial yang sifatnya dapat lama atau sementara. Tujuan dan dorongannya itu
sendiri adalah sebagai isi sosialisasi. Proses sosialisasi itu sendiri terdapat dalam
bentuk-bentuk yang berupa interaksi.
Interaksi sosial merupakan bentuk umum sistem sosial dari kelompok
sosial oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitasaktivitas sosial. Interaksi yang terdapat dalam hubungan pergaulan antara orang
perorangan terwujud dalam pergaulan masyarakat secara nyata. Seorang akan
bergaul dengan lingkungan masyarakat, lingkungan keluarga juga lingkungan
kerja. Lingkungan kerja merupakan tempat seseorang melakukan aktivitas kerja
dalam rangka pemenuhan kebutuhannya.
Manusia mempunyai berbagai kebutuhan di bidang ekonomi, misalnya
kebutuhan pangan, sandang, papan, jasa, dan benda-benda ekonomi lainnya.
Untuk memenuhi kebutuhanya di bidang ekonomi tersebut manusia menciptakan
pranata ekonomi. Menurut Jonathan M.Turner (Suyanto, 2004 : 267) yang
dimaksud pranata ekonomi adalah sekelompok status sosial, norma umum dan
peran relatif stabil dan saling berhubungan di sekitar pengumpulan sumber daya
produksi dan distribusi barang serta jasa. Pranata ekonomi bertujuan untuk
memenuhi berbagai kebutuhan manusia di bidang ekonomi itu. Adapun pranata
ekonomi tersebut yaitu
kehadiran PT.Allegrindo yang merupakan sebuah
institusi. Institusi adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau
kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting, atau secara formal sekumpulan
kebiasaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
2.2. Teori Integrasi Sosial Talcont Parson
Menurut Talcont Parson (Suyanto, 2004:129), pada dasarnya masyarakat
cenderung kearah equilibrium (home statis). Prosesnya terjadi pada penerapan
fungsi adaptasi pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola. Sistem tidak
dipandang sebagai sesuatu yang statis, tetapi pada dasarnya, tiap-tiap sistem
memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan dan beradaptasi demi
pencapaian tujuan masyarakat secara keseluruhan demi integrasi.
Kehadiran perusahaan sebagai lembaga ekonomi memiliki prasyarat
fungsional untuk mencapai keseimbangan. Setiap komponen yang membentuk
sistem sosial masyarakat dalam perusahaan sebagai lembaga ekonomi memiliki
fungsi dan peranan sesuai dengan posisinya masing-masing. Adapun Prasyarat
tersebut yaitu konsep AGIL menurut Parson (Ritzer, 2004) agar sistem sosial
tersebut tetap bertahan yaitu :
1. Adaptasi (adaptation) : menunjuk pada keharusan bagi sistem-sistem
sosial untuk menghadapi lingkungan eksternal yang gawat. Sistem harus
menyesuaikan diri dengan lingkungan, lingkungan dan kebutuhannya.
2. Pencapaian Tujuan (goal attainment) : sebuah sistem harus mendefinisikan
tujuan dan mencapai tujuan utamanya.
3. Integrasi (integration) : sebuah sistem harus mengatur antar hubungan
bagian-bagian yang menjadi komponenya. Sistem juga harus mengatur
antar hubungan ketiga fungsi lainnya (A,G,L).
4. Latensi atau pemeliharaan pola (latency) : sebuah sistem harus
melengkapi, memelihara, dan memperbaiki, baik motivasi individual
maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Persyaratan tersebut manfaatnya untuk mencapai keseimbangan. Gagasan
keseimbangan terhadap kehadiran perusahaan sebagai lembaga ekonomi dalam
masyarakat dapat dilihat dalam peningkatan lapangan kerja, interaksi sosial,
stratifikasi sosial. Kehadiran perusahaan sebagai lembaga ekonomi diharapkan
dapat menjadi keseimbangan (equilibrium) dalam
proses integrasi sosial
karyawan dan masyarakat Urung Panei.
Menurut Parson (Ritzer, 2004) sistem sosial cenderung bergerak menuju
kearah keseimbangan, dengan kata lain keteraturan merupakan norma sistem
dimana aktivitas ekonomi merupakan aktivitas sosial dan merupakan bagian dari
masyarakat sebagai sistem. Suatu masyarakat
fungsional,
dimana
ekonomi
termasuk
menghadapi empat
dalam
subsistem
problem
adaptif
yang
mengorganisir masyarakat untuk memperoleh penghidupan dalam lingkunganya,
sedangkan negara dikhususkan sebagai alat untuk mencapai tujuan melalui
institusi pemerintahan. Subsistem integratif disebut sebagai komunitas sosial, dan
subsistem pelestarian pola laten disebut sebagai sistem yang bertanggung jawab
atas stabilitas pola-pola nilai-nilai yang dibentuk dalam karakter masyarakat.
Merton (Poloma, 2000) mengemukakan bahwa masyarakat sebagai sistem sosial
itu bersifat fungsional, dimana seluruh bagian sistem sosial bekerja sama dalam
suatu tingkatan keselarasan atau konsistensi internal yang memadai tanpa
menimbulkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat diatasi.
Namun, masyarakat juga tidak hanya fungsional dalam suatu struktur,
karena suatu tindakan sosial yang fungsional bagi suatu kelompok dapat menjadi
tidak fungsional bagi kelompok lain akan tetapi, mengalami disfungsi. Setiap
tindakan adaptasi dan penyesuaian yang dilakukan individu selalu memberikan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
dampak yang positif bagi sistem sosial yang saling berhubungan satu sama lain
akan tetapi, suatu faktor sosial juga dapat memiliki akibat yang bersifat negatif
bagi sistem sosial lainnya. Karena semua aspek masyarakat yang sudah baku tidak
hanya mempunyai fungsi positif tetapi juga mencerminkan bagian-bagian yang
sangat di perlukan agar masyarakat dapat berfungsi sebagai suatu kesatuan. Dalam
setiap tindakan sosial yang ada masyarakat selalu memiliki fungsi yang bersifat
manifest (nyata) yaitu sesuatu yang diharapkan sebagai akibat imbalan bagi
tindakan yang telah dilakukan, selain itu juga menurut Merton (Poloma, 2000)
setiap tindakan sosial yang dilakukan dalam seluruh sistem juga memiliki fungsi
laten (tidak nyata) yaitu suatu akibat yang tidak diharapkan terjadi imbalan
tindakan yang dilakukan.
Organisasi perilaku melaksanakan fungsi adaptasi dan menyesuaikan diri
dengan mengubah lingkungan eksternal. Sistem kepribadian melaksanakan fungsi
pencapaian tujuan dengan menetapkan tujuan sistem dan memobilisasi sumber
daya untuk mencapainya. Sistem budaya menanggulangi sistem integrasi dengan
mengendalikan bagian-bagian yang menjadi komponenya. Terakhir sistem budaya
melaksanakan fungsi pemeliharaan dengan menyediakan aktor seperangkat norma
dan nilai.
Sistem sosial merupakan ciptaan dari manusia, dalam hal ini sistem sosial
terjadi karena manusia adalah makhluk sosial. Sistem sosial dipertahankan
keberadaanya oleh manusia, karena sistem sosial dapat berubah baik disegaja
maupun tidak disegaja manusia. Sistem sosial mempengaruhi prilaku manusia,
karena di dalamnya tercakup nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan aturan
perilaku anggota-anggota masyarakat. Dalam setiap sistem sosial pada tingkatan-
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tingkatan tertentu selalu mempertahankan batas-batas yang memisahkan dan
membedakan dari lingkungannya (sistem sosial lainnya).
Lawang (Darsono, 2004 :125) mengatakan bahwa sistem sosial adalah
sejumlah kegiatan atau sejumlah orang yang melakukan hubungan timbal-balik
yang bersifat konstan. Sistem sosial bisa bersifat kelompok formal maupun
kelompok informal yang terdiri dari sejumlah orang yang berinteraksi satu sama
lain dan terlibat dalam suatu kegiatan bersama. Sistem sosial dalam kelompok
masyarakat umumnya memiliki 3 unsur (Darsono, 2004 : 126) yaitu :
1. Dalam setiap sistem sosial ada sejumlah orang dan kegiatan
2. Orang-orang dan atau kegiatan-kegiatan itu berhubungan secara timbal
balik
3. Hubungan yang bersifat timbal balik tersebut bersifat konstan.
Suparlan (Darsono, 2004 :126) mengatakan bahwa setiap unsur atau
bagian dalam suatu sistem sosial mempunyai fungsi, artinya bagian-bagian itu
memainkan perananya sendiri dalam mempertahankan sistem. Sedangkan keadaan
dimana semua bagian dari suatu sistem sosial mempunyai hubungan timbal balik
yang pas dan membentuk keseluruhan disebut dengan integrasi. Integrasi pada
umumnya menunjukkan suatu peryataan dari kelompok, oleh karena itu apabila
derajat integrasi yang longgar, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan
terhadap dirinya.
Sistem sosial menunjukkan kegiatan-kegiatan pokok, bagaimana kegiatan
itu saling berhubungan satu sama lain, dengan cara apa kegiatan itu
memperlihatkan keseimbangan dan terus bertahan. Ada beberapa hal membuat
manusia menciptakan sistem sosial (Tarik Ibrahim, 2003 : 30), antara lain karena :
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
1. Manusia mempunyai kebutuhan dasar biologi tertentu seperti pangan,
sandang, dan seks.
2. Untuk memuaskan kebutuhan tersebut manusia tergantung kepada
organisasi-organisasi pada masyarakat.
3. Kenyataan
tersebut
menciptakan
kebutuhan-kebutuhan
lain
yaitu
kebutuhan sistem pada diri individu.
4. Dan akhirnya manusia berusaha untuk memaksimumkan kepuasan dari
kebutuhan dirinya.
Peranan merupakan aspek dinamis dari kedudukan, yaitu seseorang yang
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya. Suatu peranan mencakup paling sedikit
tiga hal (Suyanto, 2004 :139) berikut ini :
a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau
tempat seseorang dalam masyarakat.
b. Peranan merupakan suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh
individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Peranan juga dapat dilakukan sebagai perilaku individu yang penting bagi
struktur sosial.
2.3. Integrasi Sosial
Integrasi memiliki dua pengertian, yaitu : Pertama, pengendalian terhadap
konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu. Kedua,
membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. Sedangkan
yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau
dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau masyarakat. Suatu
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
integrasi di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai
tantangan, baik berupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial
budaya(http/www. wapedia .mobi/id/ integrasi sosial, Sabtu 17 Januari 2009,
20:54Wib).
Menurut penganut fungsionalisme, integrasi sosial senantiasa muncul dan
tumbuh berdasarkan consensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota
masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental
(mendasar). Selain itu, integrasi bisa tercipta melalui berbaurnya anggota dari
berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Jika suatu ketika terjadi
konflik di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainya maka akan segera
dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota
masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial (http: //www. csrc. or. id/ artikel
/index. php? detail=20081202041302, Jumat 23 Januari 2009: 02:53 Wib).
Proses integrasi akan berjalan dengan baik apabila ditunjang oleh normanorma sosial dan adat istiadat yang baik. Norma-norma sosial dan adat istiadat
merupakan unsur yang mengatur perilaku dengan mengadakan tuntutan mengenai
bagaimana orang harus bertingkah laku. Tercapainya integrasi sosial memerlukan
pengorbanan baik pengorbanan perasaan,maupun pengorbanan materil. Dasar dari
pengorbanan adalah langkah penyesuain antara banyak sekali perbedaan perasaan,
keinginan, ukuran dan penilaian. Apabila pengorbanan dan toleransi dapat dicapai
dalam bentuk consensus (kesepakatan), kemungkinan terjadinya integrasi tahap
awal
akan
mulai
nampak
(http//
civics
education.
wordpress.
com/2008/08/08/ketaatan-norma-norma-sosial-menuju-integrasi-sosial, Kamis 22
Januari 2009, 21:24Wib.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian studi deskriptif dengan
mengunakan
gabungan
pendekatan
kuantitatif
didukung
data
kualitatif.
Pendekatan kuantitatif tidak terlalu menitik beratkan pada kedalaman data, yang
penting dapat merekam data sebanyak-banyaknya dari populasi yang luas.
Walaupun populasi penelitian besar, tetapi dengan mudah dapat dianalisis baik
melalui rumus- rumus statistik maupun komputer (Burgin, 2001:29). Penelitian
yang bersifat deskriptif yaitu menggambarkan atau melukiskan keadaan objek
penelitian berdasarkan fakta-fakta yang akan dikumpulkan melalui penyebaran
angket. Adapun yang digambarkan dalam penelitian ini adalah proses integrasi
sosial antara karyawan dan masyarakat Urung Panei dengan adanya PT.
Allegrindo.
3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanankan di Desa Urung Panei, Kecamatan Purba,
Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara. Alasan pemilihan lokasi ini
adalah:
1. Karena PT.Allegrindo merupakan salah satu perusahaan yang bergerak
dalam bidang pengembangbiakan ternak babi terbesar di Asia Tenggara.
2. Tersediannya fasilitas dan akses untuk meneliti.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
3.3. Unit Analisis Dan Informan
Yang menjadi unit analisis atau objek kajian dalam penelitian ini adalah
masyarakat Urung Panei
yang bekerja dan tidak bekerja di PT. Allegrindo.
Selain itu juga dapat diwawancarai kepala desa dan tokoh adat sebagi informan
agar dapat diperoleh informasi lebih menyeluruh tentang proses integrasi
karyawan dan masyarakat. Kriteria informan dalam penelitian ini adalah:
a. Masyarakat yang bekerja sebagai karyawan tetap dan karyawan tidak tetap
* Laki-laki yang berusia 21 tahun sampai 50 tahun, sebagai batasan dari
produktifitas seseorang.
* Telah bekerja sedikitnya 5 (lima) tahun. Hal ini ditetapkan dengan
pertimbangan bahwa dalam masa kerja selama itu, karyawan dinyakini
telah memiliki pengalaman dan pemahaman yang cukup memadai
tentang proses integrasi sosial karyawan dengan masyarakat.
* Telah tinggal di desa tersebut sedikitnya selama 5 (lima) tahun
b. Masyarakat bukan karyawan
* Laki-laki yang berusia 21 tahun sampai 50 tahun, sebagai batasan dari
produktifitas seseorang.
* Berstatus bukan merupakan karyawan PT. Allegrindo.
* Merupakan penduduk asli desa Urung Panei tersebut.
c. Pimpinan Perusahaan, kepala desa dan tokoh adat.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
3.4. Populasi dan Teknik Penarikan Sampel
3.4.1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa
manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap
hidup dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data
penelitian (Burgin, 2005 : 99). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Urung Panei yang berjumlah 124
kepala keluarga yang telah tinggal selama 5 tahun keatas. Kepala keluarga
merupakan seorang dari kelompok keluarga yang ditunjuk dan dianggap
sebagai kepala didalam keluarga.
3.4.2. Sampel
Sampel merupakan suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan
dianggap dapat menggambarkan populasinya untuk menetukan sampel dalam
penelititan ini. Penulis mengutip pendapat Arikunto yang mengatakan bahwa
jika populasi lebih dari 100 orang, maka jumlah sampel yang diambil adalah
10-40 % dari jumlah populasi data, data ini telah dianggap representatif
(Arikunto, 2002 :149). Dari pendapat tersebut maka sampel yang diambil
dalam penelitian ini adalah 40 % dari 124, yakni 49,6 dibulatkan menjadi 50
orang, dengan alasan karena masyarakat homongen.Teknik sampel yang
digunakan adalah sistem acak (random) dengan cara undi, dimana semua
populasi diberikan kesempatan yang sama (probabilitas) untuk dijadikan
sampel dalam penelitian ini. Responden yang dipilih adalah kepala keluarga,
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tetapi apabila kepala keluarga berhalangan dapat diganti oleh istrinya yang
dianggap juga paham atas hal yang dibutuhkan peneliti.
3.5. Teknik pengumpulan data.
Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, penulis menggunakan
metode pengumpulan data sebagai berikut :
3.5.1 Studi Kepustakaan
Yaitu data dan informasi yang diperoleh secara tidak langsung melalui
studi kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi dari
buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah, majalah dan internet yang dianggap
relevan dan berhubungan dengan penelitian ini.
3.5.2 Penelitian Lapangan
Untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini dilakukan
dengan cara penelitian lapangan, yaitu :
1. Wawancara mendalam, yaitu mengadakan tanya jawab secara langsung
pada informan. Wawancara dilakukan dengan menggunakan panduan
yang telah disusun sebelumnya, yakni menggunakan interview guide
(panduan wawancara) untuk menggali informasi bagaimana proses
integrasi sosial karyawan dan masyarakat
2. Observasi, yaitu pengamatan langsung pada saat penelitian untuk
mengetahui bagaimana proses integrasi sosial karyawan dan masyarakat.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
3. Kuisioner, pengumpulan data diperoleh melalui penyebaran angket.
Angket adalah data yang diperoleh dari subyek penelitian dengan cara
membagikan atau menyebarkan pertanyaan dalam bentuk angket kepada
responden untuk memperoleh data yang sesuai dengan variabel
penelitian yang akan dikembangkan dalam penelitian ini. Angket ini
ditujukan kepada masyarakat Urung Panei yang sesuai dengan
krakteristik penelitian yang dimaksudkan untuk mendapatkan informasi
yang akurat tentang bagaimana gambaran proses integrasi sosial
karyawan dan masyarakat dengan adanya PT.Allegrindo. Pertanyaan
dalam angket bersifat terbuka, untuk mengetahui latar belakang
responden, juga ditanyakan pertanyaan tertutup, yaitu responden
memilih jawaban-jawaban yang telah ditetapkan oleh peneliti (Bungin,
2001 : 130).
3.6. Teknik Analisa Data
Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia, yaitu
pengamatan dan wawancara mendalam yng sudah dituliskan dalam catatan
lapangan. Data tersebut setelah dibaca, dipelajari dan ditelaah, maka langkah
berikutnya ialah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat
abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses,
sehingga tetap berada di dalam fokus penelitian. Setelah data terkumpul dilakukan
analisa data. Pada tahap inilah data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa
sehingga dapat menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk
menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian ini. Data tersebut
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
disusun
dalam
satuan-satuan,
yang
kemudian
dikategorisasikan
dan
diinterpretasikan secara kuantitatif dan didukung oleh data kualitatif.
3.7. Jadwal Penelitian
Pengajuan judul skripsi merupakan tahap awal dari serangkaian kegiatan
penelitian yang akan dilaksanakan. Setelah seminar proposal penelitian dilakukan,
revisi proposal penelitian dan pengurusan izin administrasi penelitian adalah
tahapan berikutnya untuk persiapan penelitian langsung ke lapangan. Untuk lebih
rinci, kegiatan penelitian dapat dilihat dari tabel 3.1
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan dan Laporan Penelitian
Kegiatan
Bulan
I
Pengajuan judul
Penyusunan proposal
Seminar proposal
Revisi proposal
Pengurusan izin
adm.penelitian
Membuat interview
Guide
Observasi dan
Wawancara
Interpretasi Data
Bulan
II
Bulan
Bulan
III
IV
Bulan
V
Bulan
VI
X
XX
X
XXXX
X
XX
X
XXXX
XXXX
Penyusunan Laporan
Penelitian
XXXX
Revisi Laporan
Penelitian
XXXX
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
3.8. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini mencakup pengurusan izin penelitian,
keterbatasan pengetahuan peneliti mengenai metode penelitian, dan keterbatasan
data melalui buku atau dokumen yang mendukung penelitian, dan keterbatasan
waktu yang dimiliki oleh para responden. Keterbatasan dalam pembuatan surat
izin penelitian adalah begitu banyaknya rentetan jalur pengurusan surat izin
penelitian yang harus peneliti jalani sehingga menyebabkan lamanya waktu yang
peneliti habiskan untuk mengurus surat baik dilingkungan fakultas, birokrasi
pemerintah maupun pada tempat peneliti dalam melaksanakan penelitian ini.
Keterbatasan
pengetahuan
peneliti,
mengenai
metode
penelitian
menyebabkan lambatnya proses penelitian yang dilakukan dan data-data yang
diperoleh dilapangan menjadi tidak terlalu dalam. Keterbatasan data melalui buku
atau dokumen menyebabkan peneliti agak kesulitan untuk menjelaskan maksud
dari penelitian ini karena data-data akurat yang dapat mendukung jelas sangat
dibutuhkan ketika peneliti akan memulai proses penelitian.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
BAB IV
HASIL DAN ANALISA PENELITIAN
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1. Gambaran Daerah Penelitian
4.1.1.1. Letak Geografis Desa
Desa Urung Panei, terletak di kaki Gunung Simarjarunjung, Kec. Purba,
Kab. Simalungun, Sumatera Utara. Jalan raya melintasi kaki gunung ini dan sisi
Baratnya terdapat pemandangan Danau Toba beserta jejeran Bukit Barisan yang
berpanorama indah. Sebelum krisis keuangan melanda Indonesia pada tahun 1997,
daerah ini banyak dilintasi bus-bus pariwisata yang membawa turis domestik
maupun mancanegara menelusuri kaki gunung Simarjarunjung.
PT. Allegrindo Nusantara yang disebut sebagai peternakan babi terbesar di
Asia Tenggara berada persis di bawah kaki gunung Simarjarunjung. Di sebelah
Barat jika dilihat dari PT. Allegrindo bersisi curam dan di bawahnya terdapat
perkampungan penduduk yaitu desa Salbe yang sebagian besar penduduknya
bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga petani yang mengolah lahan-lahan
yang berlereng sebagai lahan pertanian.
Di sekitar perusahaan PT.Allegrindo ini banyak berdiri rumah-rumah
penduduk, warung makan, warung kelontong, warung kopi dan warung tuak.
Pelanggan warung-warung makan di desa Urung Panei ini umumnya adalah
orang-orang yang bekerja di perusahaan Allegrindo. Selain itu juga terdapat usaha
hiburan bagi laki-laki yaitu sebuah permainan bola bilyar. Pada umumnya di
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
warung makan, warung kopi dan warung tuak ini merupakan tempat pertemuan
antara karyawan dan masyarakat setempat yang biasanya pada pagi dan sore hari.
Berdasarkan intruksi menteri dalam negeri No. 23 tahun 1989 pada tanggal
28 september 1989. Data monografi Kelurahan Tiga Runggu. Keadaan Bulan : 1
Januari 2007. Desa Urung Panei merupakan salah satu desa dari 14
desa/kelurahan yang terdapat di Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun,
Propinsi Sumatera Utara. Desa Urung Panei berjarak 7 Km dari ibu kota
Kecamatan Purba dan 50 Km dari ibu kota Kabupaten Simalungun, sedangkan
dari ibu kota Propinsi Sumatera Utara jaraknya 170 Km. Desa Urung Panei terdiri
dari 2 dusun yaitu :
Dusun I
: Urung Panei I (Sabah)
Dusun II
: Urung Panei II
Ke 14 dusun yang terdapat di Kecamatan Purba hanya di kepalai oleh satu
kepala dusun yang disebut dengan lurah. Desa Urung Panei yang terdiri dari 2
dusun tersebut luasnya 2,5 Ha dengan jumlah penduduk 1240 jiwa atau terdiri dari
124 Kepala Keluarga (Sumber : Kantor Kelurahan Tiga Runggu, 2007), adapun
batas-batas desa Urung Panei adalah :
 Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Tiga Runggu
 Sebelah Selatan berbatasan dengan PT. Allegrindo Nusantara
 Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Salbe
 Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Dolok Pardamean
Desa Urung Panei yang mempunyai daerah dataran rendah dan berbukitbukit tersebut seluruhnya adalah seluas 20,67 Ha, dan tanah ini digunakan untuk
daerah pemukiman dan untuk lahan pertanian yang pada umumnya ditanami
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tanaman seperti kopi dan sayur-sayuran. Sebagian kecil digunakan untuk fungsi
sosial seperti tanah pekuburan, lapangan olah raga dan lain-lain. Alat pengelolaan
tanah berupa traktor disamping alat tradisional seperti cangkul. Areal persawahan
mereka tanami padi sekali dalam setahun dan sekarang sawah mereka gunakan
untuk kolam ikan atau keramba. Tanah peladangan ditanami tomat, kentang, kol,
cabe, sayur, jagung dan kopi. Perumahan atau pemukiman penduduk umumnya
dibangun secara menyebar di sepanjang tepian jalan raya.
4.1.1.2. Sejarah Desa Urung Panei
Desa Urung Panei adalah salah satu desa di Kecamatan Purba yang
mempunyai kajian dalam penelitian ini yang mempunyai latar belakang sejarah
namun, secara catatan resmi penulis tidak memperoleh keterangan tentang asal
usul daerah ini. Menurut L. Damanik seorang tokoh adat di desa Urung Panei
yang lahir pada tahun 1937, mengatakan bahwa desa Urung Panei ini terbentuk
pada tahun 1903 oleh Tuan Marhali Purba dari Kerajaan Panei yang ada di Panei
Tongah. Seiring dengan perkembangan zaman kemudian Kerajaan Panei
memperluas daerahnya. Adapun desa bentukan dari Kerajaan Panei tersebut
terdiri dari tiga desa yaitu: Desa Urung Panei, Naga Panei, dan Marubun Panei
(Sumber Wawancara: Tokoh Adat, 9 Oktober 2007).
Menurut tokoh adat, desa Urung Panei awalnya berada di pedalaman saat
ini disebut masyarakat huta lama kira-kira 400 meter dari jalan raya. Pada tahun
1916 terjadi kebakaran yang memusnahkan rumah-rumah juga gereja yang ada di
desa tersebut sehingga mendorong sebagian besar penduduk pindah dan
mendirikan rumah di luar kampung (huta) tersebut, ada yang kearah Utara dan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
kearah Selatan huta lama. Pada akhirnya penduduk membentuk perkampungan
baru lagi yang sekarang disebut Urung Panei I dan Urung Panei II dimana Urung
Panei I berada disebelah Selatan Urung Panei II dan merupakan lokasi berdirinya
PT.Allegrindo. Saat ini huta lama tidak lagi ditempati oleh penduduk sebagai
pemukiman tetapi hanya digunakan untuk lahan pertanian.
4.1.1.3. Gambaran Sosial Budaya
4.1.1.3.1. Gambaran Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan Intruksi Menteri Dalam Negeri Nomor. 23 tahun 1989,
tanggal 28 September 1989 data monografi Kelurahan Tiga Runggu keadaan
bulan 1 Januari 2007. Gambaran penduduk Desa Urung Panei pada tahun 2007 di
diami 1240 jiwa penduduk yang terdiri dari 124 Kepala Keluarga. Penduduk
yang berjumlah 1240 jiwa ini terdiri atas 728 laki-laki, dan 512 perempuan.
Berdasarkan rasio jenis kelamin berarti jumlah penduduk laki-laki lebih banyak
daripada jumlah penduduk perempuan. Lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel
berikut ini :
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin
Jumlah
Persentase
1
Laki-laki
728
58,7%
2
Perempuan
512
41,3%
Jumlah
1240
100%
Sumber: Kantor Kepala Kelurahan Tiga Runggu 2007
4.1.1.3.2. Gambaran Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur
Berdasarkan hasil rekapitulasi keadaan penduduk Kelurahan Tiga Runggu
tahun 2000 jumlah penduduk Desa Urung Panei tercatat 463 jiwa yang terdiri dari
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
103 Kepala Keluarga (KK). Pada tahun 2007 menurut data kantor Kelurahan Tiga
Runggu jumlah penduduk di desa Urung Panei tersebut meningkat menjadi 1240
jiwa yaitu terdiri dari 124 Kepala Keluarga. Peningkatan jumlah penduduk ini
disebabkan telah terbukanya isolasi desa Urung Panei dengan daerah-daerah lain
yaitu dengan hadirnya perusahaan peternakan di daerah tersebut. Disamping itu
kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan melaju dengan pesat, dengan
cara meningkatkan sistem mata pencaharian diantaranya lapangan kerja baru di
perusahaan peternakan, dan banyaknya tenaga kerja dari luar desa yang bekerja
diperusahaan turut menambah jumlah penduduk di desa tersebut.
Dengan kehadiran perusahaan, membuka lapangan kerja baru dan
meningkatkan jumlah penduduk maka jumlah penduduk tersebut di distribusikan
menurut kelompok umur. Untuk lebih jelas lihat tabel dibawah ini :
Tabel 4. 2
Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Sebelum Dan
Sesudah Hadirnya PT. Allegrindo.
Sebelum
Sesudah
Kelompok
No
n
f
n
f
Umur
1
0-6
93
20,1%
260
21,0%
2
7-10
59
12,7%
208
16,8%
3
11-16
51
11,0%
216
17,4%
4
17-55
244
52,7%
381
30,7%
5
>55
16
3,5%
176
14.1%
Jumlah
463
100%
1.240
100%
Sumber: Kantor Kepala Kelurahan Tiga Runggu Tahun 2000/2007
Pada tabel 4.2 dijelaskan bahwa sebelum hadirnya PT.Allegrindo
penduduk kelompok umur 0-6 berjumlah 20,1 (93 orang) dan sesudah hadirnya
perusahaan kelompok umur 0-6 berjumlah 21,0 (260 orang), penduduk kelompok
umur 7-10 sebelum hadirnya
perusahaan berjumlah 12,7 % (59 orang) dan
sesudah hadirnya perusahaan menjadi 16,8 % (208 orang), sebelum hadirnya
perusahaan penduduk kelompok umur 11-16 berjumlah 11 % (51 orang) dan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
sesudah hadirnya perusahaan menjadi 17,4 % (216 orang), penduduk kelompok
umur 17-55 tahun sebelum hadirnya perusahaan berjumlah 52,7 % (244 orang)
dan sesudah hadirnya perusahaan menjadi 30,7 % (381 orang). Demikian juga
umur 55 tahun keatas sebelum hadirnya perusahaan berjumlah 3,5 % (16 orang)
dan sesudah hadirnya perusahaan menjadi 14,1 % (176 orang). Dari kelompok
umur ini dapat dilihat dari seluruh usia pertambahan yang mencolok adalah usia
55 tahun keatas, sedangkan usia yang paling dominan setelah hadirnya perusahaan
adalah usia 17-55 tahun. Data kelompok umur tersebut merupakan jumlah
keseluruh penduduk yang telah terdaftar di kelurahan Tiga Runggu, baik
penduduk asli maupun penduduk pendatang.
4.1.1.3.3. Gambaran Penduduk Berdasarkan Suku/Etnis
Mayoritas penduduk desa Urung Panei adalah suku/etnis Simalungun. Hal
ini dikarenakan yang pertama-tama menempati daerah ini adalah Suku
Simalungun (penduduk asli). Akan tetapi pada masa sekarang selain penduduk
asli banyak juga suku/etnis perantau yang datang seperti : Suku Karo, Suku Batak
Toba, sehingga hadirnya PT. Allegrindo tidak hanya dari jumlah penduduk yang
bertambah namun, dari jumlah suku juga mengalami pertambahan yang
menjadikan suku/etnis di desa Urung Panei tersebut semakin bervariasi. Untuk
lebih jelasnya perbandingan daripada jumlah penduduk berdasarkan suku dapat
dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 4. 3
Jumlah Penduduk Berdasarkan Suku/Etnis Sebelum Dan
Sesudah Hadirnya PT. Allegrindo
Sebelum
Sesudah
No Suku/Etnis
n
f
n
f
1 Simalungun
103
100%
115
92,8%
2 Batak Toba
5
4,0%
3 Batak Karo
4
3,2%
Jumlah
103
100%
124
100%
Sumber: Kantor Kepala Kelurahan Tiga Runggu Tahun 2000/2007
Sebagaimana diuraikan pada tabel 4.3 diatas, jumlah penduduk
berdasarkan suku/etnis desa Urung Panei sebelum hadirnya PT.Allegrindo
berjumlah 103 kepala keluarga yang didiami mayoritas Suku Batak Simalungun,
sedangkan etnis yang lainnya seperti Batak Toba dan Batak Karo tidak ada.
Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa sesudah hadirnya PT.Allegrindo
penduduk Desa Urung Panei bertambah menjadi 124 kepala keluarga yang terdiri
dari: etnis Simalungun meningkat menjadi 92,8 % (115 kepala keluarga), Batak
Toba 4,0 % (5 kepala keluarga), Batak Karo 3,2 % (4 kepala keluarga).
4.1.1.3.4.Gambaran Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Ditinjau dari segi mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Purba
pada umumnya dan Desa Urung Panei adalah bertani sayur-sayuran. Jenis usaha
tani yang dilakukan adalah berladang yaitu menanam padi, jagung, kopi, dan
sayur-sayuran seperti tomat, cabe, kentang dan sebagainnya. Disamping itu juga
banyak penduduk yang mempunyai ternak ayam baik untuk dijual sebagai bahan
konsumsi masyarakat maupun untuk dikomsumsi sendiri.
Jenis mata pencaharian yang lain adalah pedagang yaitu mengangkut hasil
panen masyarakat kemudian menjualnya ke luar daerah. Sebagian kecil
masyarakat juga berstatus pegawai negeri yang kebanyakan guru Sekolah Dasar
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
dan perangkat desa. Penduduk yang bekerja pada perusahaan peternakan
berjumlah sekitar 76,6 % (95 orang), sebagian diantaranya yang bekerja
diperusahaan berasal dari daerah lain. Pada tahun 2000 dan tahun 2007 tercatat
jumlah penduduk menurut mata pencaharian di Kecamatan Purba, Desa Urung
Panei adalah seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel 4. 4
Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Sebelum Dan
Sesudah Hadirnya PT. Allegrindo
Sebelum
Sesudah
No Mata Pencaharian
n
f
n
f
1
Petani
80
77,7%
16
12,9%
2
Buruh/Karyawan
95
76,6%
3
Pegawai Negeri
15
14,6%
8
6,5%
4
Pedagang
8
7,7%
5
4,0%
Jumlah
103
100%
124
100%
Sumber: Kantor Kelurahan Tiga Runggu Tahun 2000 dan 2007
Berdasarkan gambaran
mata pencaharian penduduk tabel 4.4 diatas
sebelum dan sesudah hadirnya perusahaan, penduduk yang bermata pencahariaan
sebagai petani berjumlah 77,7 % (80 orang) mengalami penurunan menjadi 12,9
% (16 orang), sebelum hadirnya perusahaan penduduk tidak ada yang bermata
pencaharian
sebagai buruh/karyawan perusahaan namun, setelah hadirnya
perusahaan buruh/karyawan berjumlah 76,6 % (95 orang), sebelum hadirnya
perusahaan penduduk bermata pencaharian sebagai pegawai negeri berjumlah
14,6 % (15 orang) mengalami penurunan setelah hadirnya perusahaan menjadi
6,5 % (8 orang), sedangkan penduduk yang bermata pencaharian sebagai
pedagang 7,7 % (8 orang) mengalami peningkatan setelah hadirnya perusahaan
menjadi 4,0 % (5 orang). Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa
dengan hadirnya perusahaan mata pencaharian penduduk Desa Urung Panei
semakin bervariasi, dan pertanian tidak lagi merupakan pekerjaan utama
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
masyarakat, melainkan sebagai pekerjaaan sampingan yang biasanya dilakukan
oleh istri (perempuan).
4.1.1.3.5. Gambaran Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga (KK)
Menurut data pada tahun 2007 terdapat 2 SD Negeri/Inpres di desa Urung
Panei, sedangkan untuk pendidikan tingkat SLTP dan SLTA berada di kota
kecamatan. Dalam kehidupan sehari-hari murid Sekolah Dasar untuk mencapai
sekolah pada umumnya berjalan kaki dengan jarak sekitar 1 km. Siswa- siswa
SLTP dan SLTA mencapai sekolah dengan mempergunakan kendaraan roda
empat atau bus karena jarak sekolah tersebut sekitar 7 km dari desa tersebut.
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, para murid dan siswa kebanyakan
membantu orang tua mereka bertani, dan lainnya setelah pulang sekolah. Jenis
dan tingkat pendidikan tersebut untuk lebih jelas lihat tabel di bawah ini :
Tabel 4. 5
Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga (KK)
No
Tingkat
Jumlah
Persentase
Pendidikan
1.
Tidak Sekolah
52
41,9%
2.
Tamat SD
34
27,4%
3.
Tamat SLTP
21
16,9%
4.
Tamat SMU
12
9,7%
5.
Diploma
5
4,1%
Jumlah
124
100%
Sumber: Kantor Kelurahan Tiga Runggu 2007
Tingkat pendidikan penduduk Desa Urung Panei masih redah karena
berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar penduduknya
tamat Sekolah Dasar dan Sekolah Menegah Pertama lebih banyak dibandingkan
dengan tamatan Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Desa ini juga
masih ada penduduk yang buta huruf sebesar 41,9 % (52 orang), tamat SD 27,4 %
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
(34 orang), tamat SLTP 16,9 % (21 orang), tamat SMU 9,7 % (12 orang),
sedangkan tamat Diploma 4,1 % (5 orang). Berdasarkan data tersebut dapat
disimpulkan bahwa kepala keluarga di Desa Urung Panei masih banyak tidak
menduduki bangku sekolah/pendidikan.
4.1.2. Gambaran Perusahaan
4.1.2.1. Sejarah Singkat Berdirinya PT. Allegrindo
PT. Allegrindo terletak dikaki gunung Simarjarunjung desa Urung Panei
Kec. Purba, Kab. Simalungun, Sumatera Utara. Perusahaan ini menjalankan usaha
yang bergerak dibidang peternakan babi. Pada tahun 1980-an, peternakan ini
didirikan dan dikelola oleh pemerintah tetapi karena pengelolaan kurang atau
tidak optimal, sehingga pemerintah mengalami kerugian. Kemudian pihak swasta
mengambil alih aset perusahaan dari pemerintah pada 20 April 1989 yang disebut
sebagai peternakan babi terbesar di Asia Tenggara. Adapun nama lengkap dari
perusahaan ini adalah PT. Allegrindo Nusantara. Peternakan ini dikelola diatas
areal seluas 40.000 Ha. Peternakan tersebut tidak sekedar memproses
pengemukan 25.000 ekor ternak tetapi juga memproduksi ternak setiap hari
minimal 300 ekor seberat 90 Kg/ekor. Selama mengalami proses pengemukan 6
bulan, kemudian dipasok kepasar lokal di Propinsi Sumatera Utara. Untuk areal
peternakan seluas 40.000 Ha tersebut kapasitas ternak yang di izinkan hanya
50.000 ekor ternak. (Sumber: Data-Data Perternakan PT.Allegrindo, 2007).
PT.Allegrindo mempekerjakan 329 orang karyawan yang terdiri dari
pegawai administrasi, satpam, dan buruh harian. Karyawan tersebut berasal dari
daerah atau masyarakat sekitar peternakan yaitu desa Urung Panei dan dari luar
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
daerah seperti dari Kecamatan Dolok Pardamean. Bahan baku pakan ternak
seperti jagung, bukil kacang kedelai, dedak padi, dan mineral. Bahan baku pakan
ternak seperti jagung akan diperoleh dari pedagang yang ada didaerah tersebut,
yang terlebih dahulu dilakukan proses pengelolaan oleh pihak perusahaan.
PT.Allegrindo di Desa Urung Panei yang awalnya sempat diprotes warga
sekitar namun, sekarang warga telah bisa menerima kehadirannya setelah
peternakan tersebut dilengkapi Instalasi Penjernihan Air Limbah (IPAL), sehingga
air limbah sudah aman dari berbagai bakteri.
4.1.2.2. Struktur Organisasi PT. Allegrindo Nusantara
Organisasi merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan perusahaan
secara efektif dan rasional. Pembentukan organisasi dan pendelegasian wewenang
serta tugas terlibat didalamnya demi tercapainya tujuan. Seorang pemimpin
perusahan harus mempunyai pandangan yang luas, selain itu juga pemimpin harus
tahu bagaimana mengatur organisasi. Menentukan bagian-bagian yang tepat untuk
diduduki orang yang tepat.
Bentuk organisasi yang dianut oleh suatu perusahan juga mempengaruhi
kebijaksanaan perusahaan dalam mengorganisasikan bawahannya, karena ikut
dalam menetapkan suatu kebijakan terlebih dahulu harus ditetapkan bentuk
organisasi yang akan ditetapkan dalam menyelesaikan susunan dan penetapan
orang yang sesuai dengan keahliannya.
Penetapan struktur organisasi juga berhubungan erat dengan bidang usaha
perusahaan dan besar kecilnya perusahaan. Dengan adanya struktur organisasi
maka setiap pimpinan dan bawahan yang ada dalam perusahaan akan mengetahui
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
dengan jelas sampai dimana kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan dan batasbatas mana kekuasaan yang ada padanya dan kepada siapa dia harus bertanggung
jawab dan siapa yang harus bertanggung jawab kepadanya.
Dalam suatu struktur organisasi terdapat kerangka kerja dan bagaimana
menggambarkan wewenang, tanggung jawab, dan hubungana kerja tiap bagian
yang ada didalamnya. Dari struktur organisasi ini dapat terlihat jenjang wewenang
dan tanggung jawab atasan hingga bawahan dalam melaksanakan operasinya. Hal
ini dimaksudkan agar ada kejelasan batasan-batasan tugas, wewenang dan
tanggung jawab setiap individu dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya.
Dengan kejelasan itu segala aktivitas individu dalam organisasi tidak tumpang
tindih. Demikian juga halnya dengan PT. Allegrindo Nusantara di Desa Urung
Panei Kec. Purba, Kab. Simalungun. Sebagai suatu organisasi juga mempunyai
struktur organisasi. Agar lebih jelas dapat dilihat pada bagan berikut ini:
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 4.1
STRUKTUR ORGANISASI DEVISI FARMING
PT. ALLEGRINDO NUSANTARA
SENOR
MANAGER
WKL. SENOR
MANAGER
Manager :
PEBT
Ass.Mgr.Pe
mbibitan
Manager : Adm &
Keu
Manager :
Pemasaran
Manager Induk
Ass.Mgr.Ind
Ass.Mgr.Sta
rte
ukkk k
Ass.Mgr.A
dm
Ass.Mgr.Gr
ower
Ass.Mg
r.Logist
Kesw
an
Kabag
Brad &
Lab
Kabag
Induk
A
Kabag
Induk
B
Kabag
Induk
C
Kabag
Starter
A
Kasi
Kas
i
Kas
i
Kasi
Kasi
Kas
i
Kasi
Angg
ota
Angg
ota
Angg
ota
Angg
ota
Angg
ota
Angg
ota
Angg
ota
Kabag
Pembibita
n
Kabag
Starter
B
Kabag
Growe
rB
Kabag
Growe
rC
Kabag
Keuan
gan
Kabag
Administrasi
Kas
i
Kasi
Kasi
Kasi
Kas
i
Angg
ota
Angg
ota
Angg
ota
Kabag
Growe
rA
Keterangan : KABAG = Kepala Bagian Sumber : PT. Allegrindo Nusantara
Tahun 2007
KASI
= Kepala Seksi
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Kabag
Bhn
Baku
Angg
ota
S
Kas
i
ang
gota
A
4.1.2.3. Gambaran Karyawan
Pekerjaan baru yang muncul dalam PT.Allegrindo dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu karyawan tetap dan karyawan tidak tetap. Karyawan tetap
adalah karyawan yang bekerja sebagai staff dan administrasi. Karyawan yang
bekerja di bagian administrasi dibagi atas 4 bagian yaitu : administrasi kantor,
administrasi lapangan, administrasi perbekalan (gudang), administrasi populasi
ternak sedangkan, karyawan tidak tetap adalah karyawan yang bekerja sebagai
pemelihara
ternak
yang
biasanya
karyawan
memberi
makan
ternak,
membersihkan kandang, dan memandikan ternak, menyuntik ternak, mengangkut
ternak untuk dijual, supir langsir dalam lokasi peternakan, bagian limbah (IPAL),
langsir pakan ternak dari gudang kelapangan. Jadwal kerja karyawan perusahaan
terdiri atas 2 bagian yaitu :
Tabel 4. 6
Jadwal Kerja Karyawan
Jadwal Kerja Karyawan
Pagi ( WIB )
Siang ( WIB )
Senin
07.30 - 11.00
13.30 - 17.00
Selasa
07.30 - 11.00
13.30 - 17.00
Rabu
07.30 - 11.00
13.30 - 17.00
Kamis
07.30 - 11.00
13.30 - 17.00
Jumat
07.30 - 10.00
13.30 - 17.00
Sabtu
07.30 - 10.00
13.30 - 17.00
Minggu
07.30 - 10.00
13.30 - 17.00
Sumber Data : PT. Allegrindo, Oktober 2008
Hari
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jadwal kerja karyawan pada
hari senin sampai dengan hari kamis dimulai dari pukul 07.30 – 11.00 wib
kemudian kembali bekerja setelah jam istirahat yaitu mulai pukul 13.30 – 17.00
wib. Hari jumat sampai dengan hari minggu dimulai pukul 7.30 -10.00 wib,
dilanjutkan kembali pukul 13.30 -17.00 wib.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Senin sampai dengan hari kamis jadwal kerja karyawan berbeda dengan
hari jumat sampai dengan hari minggu. Adapun yang menjadi alasan terjadinya
perbedaan waktu kerja tersebut yaitu hari jumat karena ada pekan (pasar
mingguan), sabtu karena akhir pekan sedangkan hari minggu para karyawan
menunaikan ibadah dimana mayoritas penduduk desa tersebut adalah beragama
kristen.
Setiap karyawan diberikan libur sesuai dengan jadwal kalender (setiap hari
merah). Jadwal kerja karyawan tersebut di sesuaikan dengan jadwal kerja masingmasing karyawan supaya setiap hari karyawan tetap ada yang bekerja walaupun
jadwal kalender
merah/libur.
Berhubung
karena perusahaan
merupakan
perusahaan peternakan, sehingga bagi perusahaan tidak ada sistem tutup (ternak
wajib diberikan makan).
Gaji/upah yang terima oleh karyawan di PT.Allegrindo Nusantara
disesuaikan dengan
ditetapkan
oleh
standar upah minimum Sumatera Utara (UMP) yang
pemerintah
Sumatera
Utara.
Karyawan
menerima
upah/penghasilan perbulan terdiri dari gaji pokok, kerajinan, tunjangan masa
kerja. Gaji karyawan diberikan berdasarkan posisi kerja sebagai berikut :
Gaji/upah karyawan tetap: Gaji pokok Rp.860.000 + kerajinan Rp.80.000
+ tunjangan masa kerja Rp.40.000 jadi total gaji karyawan tetap Rp.
980.000/bulan. Sedangkan upah
karyawan tidak tetap dihitung berdasarkan
jumlah hari kerja Rp. 30.000/hari - 5 hari libur/bulan (30 hari - 5 hari = 25)
berarti 25 x 30.000 = Rp.750.000/bulan.Tunjangan lain yang diberikan
perusahaan kepada karyawan yaitu apabila karyawan sakit maka perusahaan akan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
memberikan uang berobat, dan fasilitas perumahan diberikan kepada karyawan
secara gratis yang dibagun didalam areal perusahaan.
Karyawan PT.Allegrindo berasal dari Desa Urung Panei yaitu masyarakat
sekitar perusahaan dan luar daerah yaitu Kecamatan Dolok Pardamean. Data
secara tertulis untuk mengetahui asal karyawan tidak ada di perusahaan, data asal
karyawan diperoleh dari hasil wawancara dari beberapa informan dan observasi
dari lapangan sebagai berikut. Pernyataan ini ditunjukkan dari hasil wawancara
dengan T.G (lk, 26 thn, staf) mengatakan bahwa:
Pihak perusahaan masih mengutamakan karyawan yang bekerja di
peternakan adalah putra daerah khususnya masyarakat Urung
Panei, adapun dari luar daerah seperti Kecamatan Dolok
Pardamean. Sebagian besar penduduk disekitar perusahaan
tersebut bekerja sebagai karyawan/buruh harian, satpam, dan
satu dua orang yang memiliki pendidikan setingkat sarjana bekerja
sebagai pengawai administrasi (Wawancara,Oktober 2008)
Hal ini sejalan dengan pernyataan J.S (lk,48 thn, staf) yang merupakan
penduduk setempat sebagai berikut :
Karyawan yang bekerja diperusahaan yang memang benar-benar
penduduk asli desa ini dibagian administrasi ada 4 orang, dan
kepala bagian hanya saya sendiri selebihnya berasal dari luar
daerah, tapi karyawan lepas banyak yang berasal dari desa ini
(Wawancara,Oktober 2008)
Sejalan dengan hasil wawancara J.G (lk,38 thn) seorang karyawan tetap
mengatakan bahwa :
Setahu saya perusahaan merekrut karyawan dari masyarakat
setempat dan penduduk pendatang atau bisa dikatakan 50%
karyawan setempat dan 50% lagi merupakan penduduk pendatang
(Wawancara,Oktober2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Hal ini juga sejalan dengan hasil wawancara L.P (lk,42 thn) seorang
karyawan tidak tetap mengatakan bahwa :
Awal mula beroperasinya perusahaan ini, bisa dikatakan setiap
kepala keluarga dan anak lajang di desa ini merupakan karyawan
di perusahaan (Wawancara,Oktober 2008)
Penduduk Desa Urung Panei memilih bekerja menjadi karyawan di
perusahaan karena bertani menurut mereka sudah semakin sulit dan berbiaya
mahal, tanah kerontang di musim kemarau. Dimusim hujan, tanaman cepat rusak
diserang hama. Harga jual hasil-hasil pertanian tidak menentu. Harga hasil panen
sepenuhnya dikendalikan oleh keiginan pasar. Harga pupuk dan obat-obatan terus
mengalami peningkatan. Hal ini merupakan hasil wawancara L.P (lk,42 thn)
seorang karyawan tidak tetap yang mengatakan bahwa :
Bekerja diperusahaan karena modal untuk bertani tidak
mencukupi dan seringnya hasil yang diperoleh tidak sesuai
dengan modal yang telah dikeluarkan untuk bertani. Bekerja
diperusahaan mendapatkan upah setiap bulanya (Wawancara,
Oktober 2008)
Interaksi sosial sesama karyawan biasanya terjadi pada waktu bekerja dan
saat istirahat berlangsung. Berdasarkan observasi yang diperoleh pada jam
istirahat mereka mempergunakan waktu untuk melakukan aktivitas lain, seperti
yang dilakukan oleh R. Purba (lk,31thn) seorang karyawan di perusahaan yang
bekerja di bagian gudang, mempergunakan waktu jam istirahat dengan melakukan
pekerjaan
lain
yaitu
menarik
becak.
Sedangkan
karyawan
yang
lain
mempergunakan jam istirahat dengan bermain bola bilyard, minum di warung
kopi dan warung tuak.
Untuk mempererat hubungan karyawan, seperti yang dituturkan oleh H.
Sinaga salah satu karyawan perusahaan tersebut biasanya melakukan kegiatan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
arisan yang biasa disebut arisan saroha (satu nasib) dimana anggotanya adalah
karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut.
Durkheim (Doyle, 1994 : 189) mengatakan hubungan tersebut adalah
solidaritas mekanik, dimana dengan pembagian kerja yang sangat berkembang
serta pola-pola saling ketergantungan yang kompleks, integrasi mungkin dirusak
oleh koordinasi yang tidak memadai lagi antara orang-orang yang memiliki
spesialisasi yang tinggi yang kegiatannya tidak dapat dihubungkan menjadi satu.
Dengan heterogenitas organik, berkembang dari pembagian kerja yang tinggi,
ikatan bersama yang mempersatukan anggota masyarakat menjadi kendor.
Individu mulai mengindentifikasikan dirinya dengan kelompok yang lebih
terbatas yang terdapat dalam masyarakat, seperti kelompok pekerja. Sama halnya
dengan karyawan perusahaan yang mempunyai spesialisasi kerja maka untuk
mempersatukan ikatan sosial mereka maka karyawan membentuk kelompok
pekerja disebut dengan Arisan Saroha.
Kegiatan arisan ini dilakukan 1 kali dalam seminggu secara bergilir yaitu
setiap minggu sore. Jumlah anggota arisan ini kira-kira 50 orang sedangkan
jumlah setoran arisan setiap minggunya sebesar Rp. 20.000, sehingga jumlah uang
yang terkumpul setiap pertemuan sebesar Rp.1000.000. Anggota yang berhak
mendapatkan uang tersebut sebanyak 3 orang yang diperoleh dengan cara
membuat kertas undian dari kertas- kertas kecil yang telah diberi nomor dan bagi
siapa yang mendapatkan kertas undian yang diberi nomor khusus maka merekalah
yang mendapatkan uang tersebut dan demikianlah seterusnya secara bergantian.
Hubungan kerja sama yang dibentuk oleh sesama karyawan bisa dikatakan baik
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
karena dengan adanya acara arisan tersebut dapat mempererat hubungan
silaturahmi sesama mereka.
Dari hasil wawancara dengan M.M (lk, 29 thn) seorang karyawan tetap
perusahaan menuturkan bahwa:
Setiap ada kegiatan arisan, saya selalu datang sebab diadakan pada
hari minggu sore. Kegunaan perkumpulan itu dapat bertemu dengan
tetangga yang bekerja diperusahaan.Kalau tidak ikut tidak seperti
umumnya masyarakat setempat (Wawancara, Oktober 2008)
Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan L. P (lk,42 thn) seorang
karyawan tidak tetap perusahaan mengatakan bahwa
Arisan karyawan ini sering saya ikuti. Melalui arisan inilah saya
lebih mengenal karyawan yang lain, karena arisan ini tidak hanya
diikuti oleh karyawan yang berasal dari Urung Panei ini saja, tetapi
juga karyawan yang berasal dari luar daerah (Wawancara, Oktober
2008)
4.2. Karakteristik Responden
Hasil temuan data dari 50 angket yang telah disebarkan kepada responden,
ada tiga kriteria responden yang ditemukan yaitu :
1. Sebanyak 14 orang adalah karyawan tetap yang bekerja dibagian
administrasi yang terdiri dari 4 bagian yaitu administrasi kantor,
administrasi lapangan, administrasi perbekalan dan administrasi populasi
ternak.
2. Sebanyak 29 orang adalah karyawan tidak tetap yang bekerja sebagai
pemelihara ternak, yang biasanya bekerja memberi makan ternak,
membersihkan kandang ternak, memandikan ternak, menyuntik ternak,
mengangkut ternak untuk dijual, supir langsir dilokasi perusahaan,
bagian limbah (IPAL) dan langsir pakan ternak dari gudang ke lapangan.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
3. Sebanyak 7 orang adalah bukan karyawan perusahaan yaitu responden
yang bekerja sebagai petani, wiraswasta, pedagang dan kuli bangunan.
4.2.1. Usia Responden
Seluruh responden dalam penelitian ini adalah kepala keluarga yang
bekerja dan yang tidak bekerja di perusahaan. Pememilihan responden ini
dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih akurat, sebab kepala keluarga yang
bekerja dan tidak bekerja diperusahaan telah memiliki tanggung jawab kepada
keluarga, sehingga secara langsung memahami apa yang sebenarnya terjadi pada
proses integrasi sosial antara karyawan dan masyarakat di Desa Urung Panei
dengan adanya PT.Allegrindo.Dari sebaran angket diperoleh data kelompok usia
responden 21-30 tahun berjumlah 48 % (24 orang), dan responden yang berada
pada usia 31-40 tahun berjumlah 26 % (13 orang), sedangkan responden yang
berada pada usia 41-50 tahun berjumlah 26 % (13 orang), sebagaimana di
paparkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. 7
Status Responden Dan Usia Responden
Status Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
21-30 thn
n
f
8
16%
15 30%
1
2%
24 48%
Usia
31-40 thn
n
f
4
8%
5
10%
4
8%
13
26%
41-50 thn
n
f
2
4%
9
18%
2
4%
13
26%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket, April, 2008
Berdasarkan tabel 4.7 diatas, usia responden 21-30 tahun 48 % (24 orang),
sebanyak 30 % (15 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 16 % (8 orang)
merupakan karyawan tetap, 2 % (1 orang) bukan karyawan. Dari 26 % (13 orang)
responden usia 31-40 tahun, sebanyak 10 % (5 orang) merupakan karyawan tidak
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tetap, 8 % (4 orang) merupakan karyawan tetap, 8 % (4 orang) bukan karyawan.
Dari 26 % (13 orang) responden usia 41-50 tahun, sebanyak 18 % (9 orang)
merupakan karyawan tidak tetap, 4 % (2 orang) merupakan karyawan tetap, 4 %
(2 orang) bukan karyawan. Berdasarkan data tersebut disimpulkan bahwa usia
responden yang paling banyak bekerja di perusahaan adalah usia 21-30 tahun
yaitu sebagai karyawan tidak tetap.
4.2.2. Pendidikan Responden
Berdasarkan data angket yang disebarkan kepada 50 responden dapat
diketahui responden paling banyak memiliki tingkat pendidikan SLTA. Pada tabel
4. 8 berikut ini, sebanyak 74 % (36 orang) memiliki tingkat pendidikan SLTA, 22
% (11 orang) responden memiliki tingkat pendidikan SLTP, 4 % (2 orang)
memiliki tingkat pendidikan SD.
Tabel 4. 8
Status Responden Dan Tingkat Pendidikan Responden
Status Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
SD
n
1
1
2
f
2%
2%
4%
Pendidikan
SLTP
n
f
7
14%
4
8%
11 22%
Total
SLTA
n
14
21
2
36
f
28%
42%
4%
74%
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Dari tabel tabel 4. 8 diatas, dapat diketahui bahwa responden paling
banyak memiliki tingkat pendidikan SLTA, yaitu dari 74 % (36 orang), sebanyak
42 % (21 orang) diantaranya merupakan karyawan tidak tetap, sedangkan 28 %
(14 orang) lainnya merupakan karyawan tetap, dan 4 % (2 orang) lagi bukan
karyawan. Dari 22 % (11 orang) responden yang memiliki tingkat pendidikan
SLTP, sebanyak 14 % (7 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 8 % (4 orang)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
bukan karyawan. Dari 4 % (2 orang) responden yang memiliki tingkat pendidikan
SD, sebanyak 2 % (1 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 2 % (1 orang)
bukan karyawan. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat
pendidikan SLTA seluruhnya adalah karyawan tetap, sedangkan tingkat
pendidikan karyawan tidak tetap dan bukan karyawan bervariasi yaitu tamat SD,
SLTP dan SLTA.
4.2.3. Agama Responden
Menurut Durkheim (Soekanto, 2006 : 351) agama adalah suatu sistem
terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan halhal suci. Agama merupakan masalah yang esensial bagi kehidupan manusia
karena menyangkut keyakinan seseorang yang dianggap benar. Keyakinan
terhadap agama mengikat pemeluknya secara moral. Agama yang dianut
masyarakat Urung Panei mayoritas beragama Kristen Protestan. Hal ini terlihat
dari 2 bagunan tempat ibadah yaitu
Gereja Kristen Protestan Simalungun
(GKPS), sedangkan bangunan tempat ibadah untuk agama lain seperti agama
Islam dan Katolik, tidak ditemukan di daerah tersebut. Berdasarkan data yang ada
responden lebih banyak beragama kristen 96% (48 orang). Dimana kristen
protestan sebanyak 92% (46 orang) dan diikuti 4% (2 orang) beragama katolik,
sedangkan 4% (2 orang) beragama Islam sebagaimana yang dipaparkan pada tabel
4.9 dibawah ini.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 4. 9
Status Responden Dan Agama Responden
Status Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
n
2
2
Islam
f
4%
4%
Agama
Protestan
n
f
12
24%
27
54%
7
14%
46
92%
Total
Katolik
n
f
2
4%
2
4%
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angke Aprilt, 2008
Sebagaimana diuraikan pada tabel 4. 9 diatas, dapat diketahui bahwa dari
92 % (46 orang) responden beragama Protestan, sebanyak 54 % (27 orang)
karyawan tidak tetap, 24 % (12 orang) merupakan karyawan tetap dan 14 % (7
orang) merupakan responden yang bukan karyawan. Dari 4 % (2 orang)
responden yang beragama Katolik, seluruhnya karyawan tidak tetap. Dari 4 % (2
orang) responden seluruhnya merupakan karyawan tetap. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa agama yang dinyakini oleh masyarakat Urung Panei adalah
agama Kristen Protestan. Dengan demikian melalui media agama tersebut
interaksi sosial antara karyawan dan bukan karyawan dapat terjadi.
4.2.4. Penghasilan/Pendapatan Responden
Pendapatan adalah jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau
rumah tangga selama jangka waktu tertentu. Pendapatan terdiri dari upah, atau
penerimaan tenaga kerja, pendapatan dari kekayaan seperti: sewa, bunga dan
deviden. Berdasarkan data angket dapat dilihat pendapatan responden paling
banyak >Rp.1000.000. Pada tabel 4. 10 berikut ini sebanyak 54% (27 orang)
memiliki penghasilan tiap bulan >Rp.1000.000, 26% (13 orang) memiliki
penghasilan tiap bulan Rp.600.000 – Rp.1000.000, 20% (10 orang) memiliki
penghasilan tiap bulan <Rp.600.000.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 4.10
Status Responden Dan Penghasilan/Pendapatan Responden
Status Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
Penghasilan/Pendapatan Tiap Bulan
< Rp.600rb
Rp.600rb> Rp.1jt
Rp.1 jt
n
10
10
f
20%
20%
n
8
5
13
f
16%
10%
26%
n
14
11
2
27
f
28%
22%
4%
54%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Berdasarkan data tabel 4. 10 diatas, dapat diketahui bahwa 54 % (21
orang) berpendapatan >Rp.1000.000, sebanyak 28 % (14 orang) merupakan
karyawan tetap, 22 % (11 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 4 % (2 orang)
bukan karyawan. Dari 26 % (13 orang) karyawan berpendapatan Rp.600.000Rp.1000.000, sebanyak 16 % (8 orang) merupakan
responden yang bukan
karyawan, 10 % (5 orang) merupakan karyawan tidak tetap. Dari 20 % (10 orang)
responden yang mempunyai tingkat pendapatan <Rp.600.000 merupakan
karyawan tidak tetap.
Dari jawaban tersebut dapat diketahui bahwa penghasilan/pendapatan
responden yang bekerja sebagai karyawan tetap dan tidak tetap, bukan karyawan
ternyata ada yang mendapat penghasilan >Rp.1000.000 sebanyak 54 % (27
orang). Ini menunjukkan perbedaan ekonomi tidak membawa pengaruh besar
terhadap status pekerjaan masyarakat terutama bagi masyarakat yang bekerja di
perusahaan. Perbedaan pendapatan dapat membuat adanya hambatan individu
berinteraksi dalam masyarakat.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
4.3. Gambaran Informan
1. J. Saragih
J. Saragih adalah seorang karyawan di PT. Allegrindo sebagai kepala
bagian umum (kabag umum), ia dilahirkan pada tahun 1959 dan sekarang beliau
berusia 48 tahun. J. Saragih yang berpostur tubuh tinggi besar ini merupakan pria
yang bersuku Simalungun. J. Saragih telah memiliki istri berusia 45 tahun dan
memiliki 4 orang anak, 2 orang laki-laki dan dua orang anak perempuan. J.Saragih
tinggal di kawasan PT. Allegrindo yaitu berada tepat di tepi jalan raya. Rumah itu
sudah menjadi miliknya sendiri.
J.Saragih tinggal menetap di Desa Urung Panei sejak tahun 1994,
sebelumnya tinggal di Jakarta. J.Saragih adalah penduduk asli Desa Urung Panei
kemudian setelah tamat SMU merantau ke Jakarta dan tinggal menetap di Jakarta.
Pada tahun 1994 keluarga J.Saragih kembali ke Desa Urung Panei karena
menurutnya tinggal di Jakarta tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
Sejak kembali kekampung halaman tidak langsung bekerja di perusahaan tetapi
selama 5 tahun bekerja sebagai petani. Pada tahun 1999 J. Saragih melamar
pekerjaan ke PT. Allegrindo sebagai supir perusahaan. Berkat ketekunan dan
kerajinan J.Saragih kemudian diangkat sebagai pegawai tetap yaitu sebagai kepala
bagian di perusahaan. Pendapatan yang diterima oleh J. Saragih sebesar Rp.
1500.000/bulan. J.Saragih tetap mengusahakan pertanian yang di kelola oleh
istrinya. Bila ada waktu libur J.Saragih akan membantu istrinya keladang.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
2. J. Girsang
J.Girsang merupakan salah satu karyawan tetap di perusahaan di bagian
Humas di perusahaan Allegrindo, beliau berusia 38 tahun. Pendidikan terakhir J.
Girsang hanya tamatan SMU. J.Girsang yang sangat kental logat simalungunnya
telah menikah dan mempunyai 5 orang anak yaitu laki-laki 3 orang dan 2 orang
perempuan. J.Girsang ini sudah lama tinggal di desa Urung Panei sejak lahir.
Sebelum bekerja diperusahaan, ia bekerja sebagai petani, tetapi karena modal
untuk bertani tidak cukup, kemudian ia bekerja di perusahaan. Pada tahun 2000
J.Girsang bekerja sebagai karyawan tidak tetap, tetapi karena berkat ketekunan
dan kerajinanya perusahaan kemudian menggangkatnya menjadi karyawan tetap
(humas). Pendapatan yang di peroleh setiap bulannya adalah Rp. 900.000/bulan.
J. Girsang tetap mengusahakan pertanian yang dikelola istri. Bila ada libur kerja
baru bisa membantu istri keladang.
3. M. Marpaung
M.Marpaung merupakan seorang pria yang bekerja di perusahaan sebagai
operator lapangan, beliau sudah berusia 29 tahun. M.Marpaung ini merupakan
pria yang bersuku Batak Toba, telah menikah dengan istrinya yang berasal dari
desa Urung Panei, dengan 2 orang anak laki-laki. M.Marpaung tinggal di desa
Urung Panei sejak tahun 2003 (5 tahun) yaitu sejak bekerja di perusahaan
Allegrindo tersebut. M.Marpaung pertama bekerja di perusahaan sejak berusia 24
tahun, masih lajang (belum menikah). Pendidikan terakhir hanya sampai pada
tingkat SMK. M. Marpaung awalnya mengetahui adanya pekerjaan di perusahaan
dari salah satu temanya kebetulan bekerja di perusahaan. Sekarang M.Marpaung
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
telah tinggal menetap di desa Urung Panei dan telah mempunyai rumah sendiri.
Pendapatan yang diperoleh Rp. 900.000/bulan. Tetap mengusahakan pertanian
yang biasanya diusahakan istri, jika ada waktu libur kerja baru membantu istri
keladang.
4. L. Purba
L.Purba adalah seorang karyawan di perusahaan yaitu sebagai karyawan
tidak tetap, beliau telah berusia 32 tahun. L. Purba telah menikah dan mempunyai
5 orang anak yaitu 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Bekerja di
perusahaan sejak tahun 2004 (4 tahun). Pendidikan yang terakhir L.Purba adalah
tamat SMU dan tinggal disekitar lokasi perusahaan. Lama tinggal di desa Urung
Panei selama 32 tahun atau sejak lahir. Sebelum bekerja di perusahaan L.Purba
bekerja sebagai petani namun, karena hasil pertanian tidak memuaskan (tomat
yang saya tanam diserang hama virus). Pada tahun 2004 saya melamar pekerjaan
ke perusahaan karena tertarik melihat teman-teman saya banyak yang bekerja di
perusahaan. Pendapatan yang L. Purba peroleh Rp.750.000/bulan. Tetap
mengusahakan pertanian tetapi dikerjakan oleh istrinya, jika ada libur membantu
istri keladang.
5. H. Sinaga
H. Sinaga adalah merupakan karyawan tidak tetap PT. Allegrindo yang
lahir pada tahun 1972 di P. Siantar dan sekarang beliau berusia 36 tahun. H.
Sinaga mulai bekerja di perusahaan sejak tahun 2000 (8 tahun). Jejang pendidikan
terakhir tamat SMU, H. Sinaga tinggal di desa Urung Panei 8 tahun sejak tahun
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
2000. H. Sinaga merupakan masyarakat pendatang di Desa Urung Panei yaitu
berasal dari P. Siantar. H. Sinaga telah berkeluarga dan memiliki 3 orang anak, 1
orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Pendapatan yang di peroleh Rp. 750.000
per bulan. Tetap mengusahakan pertanian, tetapi dikerjakan oleh istri. Jika ada
libur baru bekerja keladang.
6. A. Sipayung
A.Sipayung berusia 33 tahun, bekerja sebagai petani. Sejak lahir tinggal di
desa Urung Panei. Telah berkeluarga dan mempunyai 3 orang anak. Pendidikan
terakhir A. Sipayung tamat SMU. Pendapatan yang di peroleh Rp. 600.000/bulan.
A.Sipayung pernah bekerja di perusahaan selama 3 tahun yaitu pada tahun 20032005 namun, karena beliau sakit dan berhenti bekerja dari perusahaan. Sekarang
A. Sipayung hanya bekerja bertani.
7. J. M. Purba
J.M.Purba berusia 44 tahun berasal dari P.Raya. Lama tinggal di desa
Urung Panei 8 tahun sejak tahun 2000. J.M.Purba bekerja di perusahaan sejak
masih lajang yaitu selama 5 tahun. Tahun 2002 menikah, dengan istrinya yang
berasal dari daerah tersebut. Istri J.M.Purba merupakan salah satu karyawan staf
administrasi di perusahaan. Pada tahun 2005 J.M.Purba berhenti bekerja dari
perusahaan dan membuka warung makan di dekat perusahaan. Pendapatan yang
diperoleh menurut J.M.Purba sebesar Rp.1000.000/bulan. Menurut J.M.Purba
penghasilan dari warung makan cukup lumayan.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
8. J. Saragih
J.Saragih merupakan Kepala Desa di Kelurahan Tiga Runggu, Kec, Purba,
Kab. Simalungun. Berusia 48 tahun, telah 5 tahun sebagai Lurah di Tiga Runggu
sejak tahun 2004. Bertempat tinggal di Desa Urung Panei. Telah menikah dan
mempunyai 5 orang anak. Jenjang pendidikan terakhir tamat SMU. Pendapatan
yang diperoleh bapak J.Saragih Rp.1500.000/bulan.
9. L. Damanik
L. Damanik yang lahir pada tahun 1937 dan sekarang dia sudah berusia 71
tahun. Telah menikah dan mempunyai 10 orang anak. L. Damanik sebagai
keturunan dan pungka huta dikenal sebagai tuan Urung Panei ataupun Sipungka
Huta (pembuka kampung) yang tinggal di desa Urung Panei karena lahir dari
daerah ini, yang beragama Kristen Protestan, pendidikan terakhir adalah SPG dan
untuk kegiatan sehari-harinya untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bertani
setelah dia pensiun sebagai guru dari sekolah dasar. Penghasilan yang diperoleh
Rp.500.000 per bulan. L.Damanik di pilih sebagai informan karena mengetahui
sejarah dan perkembangan desa Urung Panei.
4.4. Gambaran Proses Interaksi Sosial
4.4.1. Interaksi Perusahaan Dan Masyarakat
PT.Allegrindo sebagai lembaga ekonomi kehadirannya masih tergolong
baru oleh karena itu, PT.Allegrindo masih harus berusaha untuk bisa diterima dan
eksis di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu PT. Allegrindo sebagai lembaga
ekonomi harus bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa dengan kehadirannya
dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, terutama dengan merekrut masyarakat
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
sekitar sebagai tenaga kerja di perusahaan. Sesuai dengan fungsi adaptasi,
perusahaan harus dapat mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar agar
masyarakat dapat menerima perusahaan sebagai lapangan kerja baru. Selain itu
perusahaan sebagai lembaga ekonomi juga harus mampu mengadaptasikan diri
tidak hanya untuk memperoleh keuntungan belaka tetapi juga meperhatikan
pengaruh yang ditimbulkan oleh perusahaan terhadap masyarakat. Hal ini sesuai
dengan pendapat Aminuddin (Aminuddin, 2000 : 38) penyesuaian dilakukan
dengan tujuan-tujuan tertentu diantaranya :
1. Mengatasi halangan-halangan dari lingkungan
2. Menyalurkan ketenangan sosial
3. Mempertahankan kelanggengan kelompok atau unit sosial
4. Bertahan hidup
Untuk mencapai tujuan tersebut sehingga PT.Allegrindo melakukan
adaptasi dengan memberikan batuan terhadap masyarakat sekitar sebagai berikut :
1. Pembagian Keuntungan Kepada Masyarakat Melalui Program Community
Developmet (CD)
a. Pengelolaan Limbah Menjadi Pupuk Cair dan Kompos
Limbah indentik dengan penyakit yang menakutkan, sehingga perusahaan
melengkapi Instalasi Penjernihan Air Limbah (IPAL), sehingga air limbah aman
dari berbagai bakteri. PT. Allegrindo selain menghasilkan ternak juga mengelola
limbah menjadi pupuk yang dapat digunakan masyarakat petani untuk
menyuburkan tanaman mereka. Dari 250 ton limbah yang dihasilkan perhari
diolah menjadi pupuk cair dan kompos yang digunakan oleh karyawan yang
memiliki pekerjaan sampingan sebagai petani dan penduduk disekitar perusahaan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tersebut untuk bercocok tanam. Dengan adanya limbah ini akan lebih menghemat
petani dalam membeli pupuk kompos sebab pupuk kompos (kotoran ayam) jauh
lebih mahal dari pada kompos limbah perusahaan. Adapun olahan limbah itu
digunakan dalam bercocok tanam seperti : cabe, tomat, sayur, kopi dan
sebagainya dan hasilnya tidak jauh beda dengan menggunakan kompos yang
lainnya (kotoran ayam).
Olahan limbah perusahaan ada 2 jenis ada yang bersifat cair dan ada yang
sudah kering. Khusus yang kering masyarakat mengangkut langsung dari
perusahaan melalui badan pengembangan pertanian, sedangkan yang masih cair
pada umumnya mereka tidak menjualnya tetapi hanya memberikannya secara
cuma-cuma kepada masyarakat sekitar. Sebagian masyarakat yang telah diberikan
limbah cair yang gratis untuk meningkatkan pendapatanya dengan mengeringkan
limbah cair yang gratis tersebut kemudian menjualnya kembali kepada masyarakat
yang membutuhkanya.Umumnya orang yang membeli olahan tersebut adalah
masyarakat yang mempunyai lahan pertanian yang sangat jauh dari desa Urung
Panei. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan J.S (lk,48 thn,staf)
mengatakan bahwa :
Kompos diberikan gratis untuk masyarakat urung Panei, kompos
diberikan kepada masyarakat sesuai dengan permintaan
masyarakat yang membutuhkan kompos tersebut.Dengan bantuan
tersebut meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya
penghasilan masyarakat petani (Wawancara Oktober, 2008)
Perusahaan memberikan bantuan kepada masyarakat melalui pemberian
kompos secara gratis kepada masyarakat sekitar yang dapat meningkatkan
pendapatan. Hal ini juga sejalan dengan hasil wawancara dengan A.S (lk,33 thn)
yang bermata pencaharian sebagai petani menuturkan bahwa :
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Kompos diberikan perusahaan secara gratis. Bantuan ini saya
pergunakan untuk tanaman kopi, sekarang tanaman kopi saya
subur karena saya sering memesan kompos dari perusahaan
(Wawancara Oktober,2008)
b. Tenaga Kerja
Pihak perusahaan merekrut tenaga kerja sebagian besar berasal dari
masyarakat sekitar (mengutamakan putra daerah) yaitu penduduk Desa Urung
Panei, dan luar daerah Kecamatan Dolok Pardamean. Perusahaan telah
mempekerjakan 329 karyawan yang terdiri dari : karyawan tetap dan karyawan
tidak tetap. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan J.G (lk,38 thn)
merupakan karyawan tetap perusahaan yang mengatakan bahwa :
Setahu saya perusahaan merekrut karyawan dari masyarakat
setempat dan penduduk pendatang atau bisa dikatakan 50 %
karyawan setempat dan 50 % lagi merupakan penduduk pendatang
(Wawancara Oktober,2008)
c. Sosial Keagamaan Dan Pendidikan
Pihak PT.Allegrindo memberikan bantuan dalam pembangunan gedung
gereja GKPS yang ada di Desa Urung Panei. Berdasarkan hasil observasi di
lapangan, gedung gereja tersebut dibangun dengan biaya berkisar 1 milyar rupiah.
Selain itu, perusahaan juga memberikan bantuan kepada masyarakat khususnya
pada hari-hari besar keagamaan seperti natal dan tahun baru yaitu memberikan
sumbangan daging melalui gereja secara gratis kepada masyarakat. Bagi murid
yang berprestasi juara 1,2,3 diberikan perusahaan beasiswa Rp.100.000/semester
dan alat-alat perlengkapan sekolah. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan
J.S (lk,48 thn, staf) mengatakan bahwa :
Gereja di desa ini dibagun perusahaan. Setiap natal dan tahun baru
di berikan sumbangan daging kepada masyarakat melalui gereja,
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
bagi murid SD yang berperstasi diberikan beasiswa dan bantuan
berupa alat perlengkapan sekolah setiap semester (Wawancara
Oktober,2008)
d. Pembagunan Bak-Bak Penampungan Air di Depan Rumah-Rumah
Penduduk
PT.Allegrindo
memberikan
fasilitas
bagi
masyarakat
yaitu
bak
penampungan air di depan rumah-rumah penduduk dengan memasang pipa dari
sumber air gunung Simarjarungjung namun, sekarang tidak bertahan sebab pipa
saluran sudah dipotong oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, walaupun pihak
perusahaan memperbaikinya lagi namun pengrusakan (pemotongan pipa) tetap
terjadi dan hinggga pada akhirnya bak-bak penampungan tidak digunakan lagi.
4.4.1.1. Bidang Bantuan Perusahaan Terhadap Masyarakat
Bidang bantuan yang diberikan perusahaan kepada masyarakat adalah
sebagai berikut :
1. Bidang Ekonomi: Perusahaan memberikan pembagian keuntungan
bagi masyarakat melalui pembagian pupuk hasil olahan limbah bagi
masyarakat, perusahaan merekrut masyarakat sebagai karyawan di
perusahaan.
2. Bidang pendidikan: bagi siswa yang berpretasi juara 1,2,3 akan
diberikan beasiswa setiap bulan sebesar Rp. 100.00 per bulan dan
perlengkapan alat-alat sekolah setiap semester.
3. Bidang sosial budaya yaitu pembangunan tempat ibadah yaitu Gereja
Kristen Protestan Simalungun (GKPS), dan pembangunan tempat
penampungan air di depan rumah penduduk.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Bidang batuan perusahaan terhadap masyarakat dapat dilihat berdasarkan
data yang disebarkan kepada 50 responden yang menunjukkan bahwa responden
yang mengatakan bantuan yang diterima bidang ekonomi berjumlah 52 % (26
orang), bidang sosial budaya 38 % (19 orang), bidang pendidikan 10 % (5 orang),
sebagaimana dipaparkan pada tabel 4.11 dibawah ini
Tabel 4. 11
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Bantuan Yang Diberikan
Perusahaan Kepada Masyarakat
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan TidakTetap
Masyarakat/Bukan Karyawan
Total
Sumber :Hasil Angket, April 2008
Bidang Bantuan Perusahaan
Sosial
Ekonomi
Pendidikan
Budaya
n
f
n
f
n
f
7
14%
3
6%
4
8%
15
30%
1
2%
13
26%
4
8%
1
2%
2
4%
26
52%
5
10%
19
38%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
4%
100%
Sebagaimana di paparkan pada tabel 4.11 dari 52 % (26 orang) responden
yang mengatakan bantuan perusahaan bidang ekonomi, sebanyak 30% (15 orang)
merupakan karyawan tetap, 14 % (7 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 8 %
(4 orang) merupakan masyarakat yang bukan karyawan. Dari 38 % (19 orang)
mengatakan bantuan perusahaan bidang sosial budaya, sebanyak 26 % (13 orang)
merupakan karyawan tidak tetap, 8 % (4 orang) merupakan karyawan tetap, 4 %
(2 orang) merupakan masyarakat yang bukan karyawan. Dari 10 % (5 orang) yang
mengatakan bantuan perusahaan bidang pendidikan 6 % (3 orang) merupakan
karyawan tetap, 2 % (1 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 2 % (1 orang)
merupakan masyarakat yang bukan karyawan.
Berdasarkan data tabel dapat disimpulkan bahwa, diantara seluruh bidang
bantuan perusahaan, bidang ekonomi lebih banyak diperoleh karyawan terutama
karyawan tidak tetap. Perbedaan bantuan yang diterima tersebut karena karyawan
tidak tetap mempunyai pekerjaan sampingan yaitu bertani, selain itu karyawan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
dapat mempergunakan kompos dari perusahaan untuk pertanian. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara dengan J.S (lk, 48 thn) yang bekerja sebagai kabang
umum perusahaan menuturkan bahwa
Kompos diberikan gratis untuk masyarakat Urung Panei, kompos
diberikan kepada masyarakat sesuai dengan permintaan masyarakat
yang membutuhkan kompos tersebut. Dengan bantuan tersebut
meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya penghasilan
masyarakat petani (Wawacara Oktober 2008)
Perusahaan memberikan bantuan kepada masyarakat melalui pemberian
kompos secara gratis kepada masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan hasil
wawancara dengan J.G (lk, 38 thn) yang bekerja sebagai karyawan tetap
menuturkan bahwa
Kompos diberikan perusahaan kepada msyarakat yang memesan.
Bagi kami yang lebih terasa kehadiran perusahaan kami dapat
bekerja diperusahaan dan menerima gaji setiap bulan (wawancara
Oktober 2008)
Perusahaan tidak hanya memberikan kompos kepada masyarakat, tetapi
perusahaan juga membagun gereja yang ada desa tersebut dan memberikan diskon
terhadap harga ternak yang dibeli oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dengan L.P (lk, 42 thn) yang bekerja sebagai karyawan tidak tetap
menuturkan bahwa
Perusahaan membagun gereja, tenaga kerja di perusahaan direkrut
dari desa ini. Kalau ada masyarakat yang berpesta diberikan diskon
30 % dari harga ternak, gereja dibagun, bak penampungan air
dibagun didepan rumah penduduk (Wawancara Oktober 2008)
Bantuan yang diberikan perusahaan berupa kompos juga meningkatkan
pendapatan masyarakat yang bukan karyawan. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dengan A.S (lk,33 thn) yang bekerja sebagai petani menuturkan
bahwa
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Kompos diberikan secara gratis, gereja di bangun. Seperti saya
bantuan yang saya terima kompos yang saya pergunakan untuk
tanaman kopi, sekarang tanaman kopi saya subur karena saya
sering memesan kompos dari perusahaan (Wawancara Oktober
2008)
Dari kutipan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan
untuk mempererat hubungan dengan masyarakat yaitu melalui pemberian bantuan
berupa kompos hasil olahan limbah secara gratis, setiap natal dan tahun baru
perusahaan memberikan daging melalui gereja kepada masyarakat, harga ternak
diberikan diskon sebesar 30 % bagi masyarakat sekitar, beasiswa bagi murid SD
yang berprestasi. Bantuan yang diberikan perusahaan merupakan proses integrasi
sosial yang dilakukan oleh perusahaan terhadap masyarakat.
4.4.2. Interaksi Sosial Karyawan Dan Masyarakat
4.4.2.1. Media Interaksi
Masyarakat Urung Panei adalah mayoritas suku Simalungun. Simalungun
sebagai sebuah suku yang memiliki budaya tersendiri dalam menata kehidupan
masyarakatnya. Proses adaptasi yang dilakukan karyawan dan masyarakat yaitu
melalui dalihan natolu yaitu pemilikan persamaan, yang dalam bahasa
Simalungunnya disebut tolu sahundulan yang berarti tondong, sanina dan boru.
Proses adaptasi juga dilakukan oleh karyawan dan masyarakat melalui tarombo
(martarombo : asal usul keluarga dan marga). Kegiatan ini pada dasarnya
dilakukan oleh masyarakat pendatang dalam mendekatkan diri dengan masyarakat
sekitar.
Kehidupan masyarakat Simalungun yang dilandasi sebuah tata nilai yang
terimplementasi dalam pandangan hidup Simalungun. Tata nilai ini kemudian
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
dijadikan pedoman masyarakat Simalungun dalam bergaul dengan sesama mereka
dan kelompok luar mereka. Pandangan Simalungun yang dapat dijumpai pada
pustaka-pustaka peninggalan leluhur Simalungun yang sampai sekarang menjadi
pedoman hidup Simalungun adalah Habonaron Do Bona, yang artinya kebenaran
adalah unsur segalanya bagi kehidupan dalam sebuah tulisannya menceritakan
bahwa Falsafah Habonaron Do Bona ini merupakan pedoman bagi masyarakat
Simalungun untuk bertindak dalam setiap gerak langkah kehidupan mereka, baik
itu dalam sisi mata pencaharian, bergaul, berkeluarga dan bermasyarakat.
Penghayatan dan praktek langsung petuah ini telah dibuktikan oleh orang-orang
Simalungun secara turun-temurun yang harus menghindari segala hal-hal yang
bersifat penipuan, pencurian dan lain sebagainnya yang menyangkut hidup
bersama (bermasyarakat). Secara ringkas Habonaron do bona diungkapkan
sebagai semua perbuatan harus didasari kejujuran, keadilan, tidak berat sebelah,
saling memberi satu sama lain agar tercipta keindahan yang murni (Pepeng,
2007).
Habonaron Do Bona bagi masyarakat Simalungun bukan saja menjadi
pedoman untuk mengatur tatanan sosial Simalungun tetapi, pengamalan nilai ini
juga berkembang dalam kehidupan bermasyarakat dengan suku bangsa yang
beraneka ragam. Kemampuan untuk hidup dan bersama dengan masyarakat yang
lainnya menunjukkan sifat keterbukaan suku Simalungun terhadap dunia luar
(Pepeng, 2007)
Dalam bermasyarakat suku Simalungun selalu didasarkan atas prinsip
Habonaron Do Bona atau kejujuran, sedangkan masyarakat pendatang harus
menyesuaikan diri dengan prinsip Habonaron Do Bona agar masyarakat Urung
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Panei bisa menerima kehadiran mereka didaerah tersebut dan masyarakat juga
harus menghormati adat istiadat masyarakat Urung Panei. Hal ini seiring dengan
pendapat Aminuddin (Aminuddin, 2000) yang menyebutkan bahwa penyesuaian
dilakukan dengan tujuan tertentu, salah satunya adalah untuk mempertahankan
kelompok agar tidak mengarah kepada konflik.
Manusia sebagai makluk sosial tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain.
Manusia harus hidup berdampingan dengan orang lain untuk memenuhi
kebutuhan yang beraneka ragam, baik kebutuhan jasmani maupun rohani.
Sehubungan dengan hal ini manusia membentuk perkumpulan atau organisasi
sosial dalam masyarakat. Dalam hal ini penduduk Urung Panei juga membentuk
perkumpulan atau organisasi sosial seperti : Serikat tolong Menolong (STM),
arisan saroha atau satu perusahaan PT. Allegrindo dan kegiatan keagamaan.
Perkumpulan ini tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Urung Panei, tetapi
terbuka untuk masyarakat didaerah itu (tidak tertutup). Perkumpulan ini terbentuk
atas dasar kesamaan kebutuhan dan tempat tinggal.
Serikat Tolong Menolong (STM) yang dibentuk masyarakat Urung Panei
ini anggotanya tidak hanya masyarakat tetapi juga karyawan bekerja di
perusahaan. Perkumpulan ini bersifat non formal dan tidak mempunyai aturan dan
peraturan secara tertulis. Musyawarah dan mufakat merupakan dasar utamanya.
Organisasi ini tidak merupakan kegiatan secara rutinitas walaupun dari segi
strukturnya tidak jauh berbeda dengan organisasi yang formal mempunyai
pengurus (ketua, bendahara dan sektretaris), dan anggota.
Aktivitas perkumpulan dalam bidang STM yaitu apabila salah seorang
anggota keluarga mengalami musibah seperti meninggal dunia, musibah
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
kebakaran acara pernikahan, memasuki rumah baru dan lain sebagainnya maka
STM turut berperan serta dengan membantu meringankan beban si penderita.
Adapun Hal yang dilakukan adalah mengumpulkan sumbangan minimal RP.
10.000 setiap kepala keluarga disamping itu juga menyumbangkan beras dan
kebutuhan lain yang dibutuhkan. Sumbangan tersebut turut serta mempercepat
proses terjadinya integrasi antara karyawan dengan masyarakat, yang juga samasama anggota STM. Organisasi sosial lainnya yaitu kegiatan keagamaan, dalam
hal ini anggotanya adalah masyarakat yang beragama kristen, baik karyawan
perusahaan maupun bukan karyawan. Kegiatan ini dilakukan 1 kali seminggu
yaitu setiap hari rabu secara bergilir di rumah penduduk, sedangkan kegiatan
arisan yang ada hanya diikuti oleh karyawan yang bekerja di perusahaan karena
kegiatan ini didasarkan pada rasa senasib dan sepenaggungan bekerja di
perusahaan.
Sejalan dengan hal diatas, media kegiatan ini dibedakan sesuai dengan
jenisnya, meliputi dalam bentuk Arisan, Serikat Tolong Menolong (STM) dan
kegiatan keagamaan. Diperkuat dengan data kuantitatif berikut penjelasan tabel
4.12 responden yang mengatakan mengikuti kegiatan STM (Serikat Tolong
Menolong) berjumlah 36 % (18 orang), responden yang mengatakan mengikuti
seluruh kegiatan berjumlah 26% (13 orang), dan responden yang mengatakan
mengikuti kegiatan keagamaan berjumlah
22 % (11 orang),
sedangkan
responden yang mengatakan mengikuti kegiatan Arisan 16 % (8 orang).
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 4.12
Distribusi Jawaban Responden Tentang Kegiatan Bersama Yang Dikuti
Media Kegiatan Yang Diikuti
n
2
6
-
f
4%
12%
-
n
5
8
5
f
10%
16%
10%
n
1
8
2
f
2%
16%
4%
Mengikuti
Seluruh
Kegiatan
n
f
6
12%
7
14%
-
8
16%
18
36%
11
22%
13
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Masyarakat/Bukan
Karyawan
Total
Arisan
STM
Kegiatan
Keagamaan
26%
Total
N
14
29
7
F
28%
58%
14%
50
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Sebagaimana yang diuraikan dalam tabel 4.12 diatas, dari 36 % (18 orang)
responden yang megikuti STM, sebanyak 16 % (8 orang) merupakan karyawan
tidak tetap, 10 % (5 orang) merupakan karyawan tetap, 10 % (5 orang) merupakan
responden yang bukan karyawan. Dari 26 % (13 orang) responden yang megikuti
seluruh kegiatan, sebanyak 14 % (7 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 12 %
(6 orang) merupakan karyawan tetap. Dari 22 % (11 orang) responden yang
megikuti kegiatan keagamaan, sebanyak 16 % (8 orang) merupakan karyawan
tidak tetap, 2 % (4 orang) merupakan masyarakat yang bukan karyawan, 2 % (1
orang) merupakan karyawan tetap. Dari 16% (8 orang) responden yang mengikuti
kegiatan arisan, sebanyak 12 % (6 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 4 % (2
orang) merupakan karyawan tetap. Berdasarkan data tersebut, dari berbagai jenis
kegiatan yang dilakukan oleh responden, kegiatan yang dominan dilakukan adalah
Serikat Tolong Menolong (STM). Hal ini menunjukkan bahwa semangat hidup
atau jiwa kerja sama dalam hubungan timbal balik dalam menanggulangi
permasalahan yang terjadi dilingkungan tempat tinggal, masih kuat di
pertahankan. Hal ini mempercepat proses integrasi sosial karyawan dan
masyarakat.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Masyarakat Urung Panei yang memiliki ikatan-ikatan persaudaraan
dengan penduduk lainnya masih tetap terpelihara. Hal ini terlihat dari aktivitasaktivitas adat atau upacara-upacara lainnya sehingga masyarakat membentuk
perkumpulan-perkumpulan yaitu Serikat Tolong Menolong (STM) yang bertujuan
sebagai wadah masyarakat apabila diadakan kegiatan–kegiatan perkawinan,
kematian dan kegiatan keagamaan. Dengan adanya kegiatan ini akan mepermudah
berinteraksi karena dalam organisasi misalnya STM ini tempat bertemunya
seluruh masyarakat yang ada di Urung Panei baik yang bekerja sebagai karyawan
maupun yang bukan karyawan di perusahaan fakta ini sesuai dengan hasil
wawancara dengan informan J.G (lk, 38 thn) seorang karyawan tetap menuturkan
bahwa:
Kegiatan STM dilakukan apabila ada kemalangan dan pesta
adat (perkawinan) setiap orang yang mengikuti kegiatan
tersebut mempunyai jadwal kerja dalam bahasa Simalungun
disebut parhobas berdasarkan sektor/lingkungan dalam kegiatan
ini terjadi hubungan timbal-balik (Wawancara,Oktober 2008)
Sejalan dengan hasil wawancara dengan L.P (lk,42 thn) yang bekerja
sebagai karyawan tetap menuturkan bahwa:
Kegiatan kerja sama yang kami lakukan kegiatan keagamaan,
arisan dan STM, kegiatan ini sebenarnya tidak diharuskan tetapi
apabila kita tidak mengikutinya kita merasa terkucil/tersisih
dengan masyarakat umum karena dengan kegiatan inilah kita
dapat meningkatkan interaksi dengan yang lainnya, karena itu
saya mengikuti semuanya kegiatan yang ada didesa ini
(Wawancara,Oktober 2008)
Begitu juga hasil wawancara dengan A.S (lk,33thn) merupakan
masyarakat/bukan karyawan menuturkan bahwa :
Kerjasama yang lebih banyak diikuti oleh karyawan dan
masyarakat yaitu kegiatan STM karena dengan kegiatan ini sangat
membantu sukses atau tidak suatu pesta yang sedang berlangsung.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Karena itu apabila kita tidak datang pada kegiatan itu kita akan
dikenakan sangsi yaitu membayar upah satu hari kerja sesuai
dengan kesepakatan sebelumnya. Waktu itu saya tidak dapat
datang karena saya sakit maka saya mencarikan orang lain untuk
menggantikan saya mengikuti kegiatan STM tersebut dan jika ada
undangan pesta jika saya tidak bisa datang akan saya wakilkan
kepada saudara, sedangkan kegiatan arisan tidak saya ikuti karena
biaya yang dikeluarkan terlalu banyak karena itu yang biasa
mengikutinya adalah sesama mereka yang bekerja diperusahaan
(Wawancara, Oktober 2008)
Data di atas dapat disimpulkan bahwa antara karyawan dan masyarakat
ada proses integrasi sosial untuk mempererat hubungan (interaksi sosial) yang di
implementasikan lebih banyak berdasarkan kegiatan STM, dan kegiatan
keagamaan, sedangkan kegiatan arisan hanya diikuti oleh karyawan perusahaan.
4.4.2.2. Frekuensi Interaksi Kegiatan Bersama Tiap Minggu
Rangkaian hubungan-hubungan sosial yang dilakukan masyarakat satu
sama lain tidak sama. Tidak setiap anggota masyarakat dapat mengadakan
interaksi sosial dengan semua orang yang menjadi warga masyarakat. Warga
masyarakat yang mempunyai hubungan dengan sejumlah warga masyarakat
tidaklah sama dalam hal frekuensi (sering) dan eratnya hubungan sosial. Ada
sejumlah orang yang mempunyai hubungan sosial dengan tingkat frekuensi yang
tinggi dan erat dengan orang luar, dan ada pula sejumlah orang yang jarang
mengadakan interaksi sosial dan hubungan sosialnya tidak erat. Karena, faktor
pendorong integrasi sosial adalah homogenitas kelompok, besar kecilnya
kelompok karena, pada kelompok yang kecil biasanya tingkat kemajemukannya
juga relatif kecil, mobilitas geografis, efektivitas dan efisiensi komunikasi yang
berlangsung di dalam masyarakat akan mempercepat integrasi sosial. Simmel juga
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
mengatakan dalam kajian masalah hubungan antar pribadi (interpersonal) tentang
interaksi sosial yaitu frekuensi interaksi dan antar interaksi bervariasi, ada yang
tinggi dan ada yang rendah. Semakin penting hal yang mempertemukan orang
dalam relasi timbal balik, maka semakin cepat relasi-relasi tersebut dilembagakan.
Kegiatan hubungan sosial STM dan kegiatan keagamaan antara karyawan dan
masyarakat
tersebut
diintegrasikan
berdasarkan
frekuensi
waktu
bertemu/komunikasi. Sama halnya dengan karyawan dan masyarakat, frekuensi
interaksi sosial yang dilakukan akan sangat berbeda sesuai dengan kepentingan
masing-masing dalam melakukan interaksi.
Berdasarkan data angket pertanyaan yang disebarkan kepada 50
responden menunjukkan bahwa responden yang mengatakan mengikuti kegiatan
STM 2-3 kali berjumlah 44 %, kegiatan agama 1 kali (22 %), kegiatan arisan 1
kali (20 %) dan kegiatan STM 1 kali (14 %), dapat dilihat pada tabel 4.12 dibawah
ini.
Tabel 4. 13
Distribusi Jawaban Responden Tentang Frekuensi Interaksi
Kegiatan Bersama Tiap Minggu
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan
Tidak Tetap
Masyarakat/
BukanKaryawan
Kegiatan Bersama
STM
Arisan
2-3kali
1 kali
1 kali
Total
Kegiatan Agama
2-3 kali
1 kali
2-3 kali
n
3
7
f
6%
14%
n
-
f
-
n
3
4
f
6%
8%
n
6
12
f
12%
24%
n
2
6
f
4%
12%
n
-
f
-
N
14
29
F
28%
58%
-
-
-
-
-
-
4
8%
3
6%
-
-
7
14%
-
7
14%
22
44%
11
22%
-
-
50
100%
10
20%
Total
Sumber : Data Angket April, 2008
Sebagaimana yang diuraikan pada tabel 4.13 dari 44 % (22 orang)
responden yang mengatakan kegiatan STM 2-3 kali, sebanyak 24 % (12 orang)
merupakan karyawan tidak tetap,12 % (6 orang) merupakan karyawan tidak tetap
8 % (4 orang) merupakan masyarakat yang bukan karyawan. Dari 22 % (11
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
orang) responden yang mengatakan kegiatan agama 1 kali, sebanyak 12 % (6
orang) merupakan karyawan tidak tetap, 6 % (3 orang) merupakan responden
yang bukan karyawan, 4 % (2 orang) merupakan karyawan tetap. Dari 20 % (10
orang) responden yang mengatakan kegiatan arisan 1 kali, sebanyak 14 % (7
orang) karyawan tidak tetap, 3 % (6 orang) karyawan tetap. Dari 14 % (7 orang)
responden mengatakan kegiatan STM 1 kali, sebanyak 8 % (4 orang) merupakan
karyawan tidak tetap, 6 % (3 orang) karyawan tetap. Hal ini menunjukkan bahwa
frekuensi interaksi sosial karyawan dan masyarakat tetap terjalin dengan baik.
Interaksi tersebut lebih banyak terjadi pada kegiatan Serikat Tolong Menolong
(STM). Dengan kegiatan bersama tersebut terjadi hubungan timbal-balik yang
harmonis yang memperkuat proses integrasi sosial karyawan dan masyarakat.
Data diatas diperkuat juga oleh L.P (lk, 42 thn) yang bekerja sebagai
karyawan tidak tetap yang mengatakan bahwa
Dalam seminggu bisa saja mengikuti STM 2-3 kali tergantung ada
tidaknya masyarakat mengadakan upacara-upacara adat. Seperti
minggu kemaren saya mengikuti kegiatan STM sebanyak 2 kali
karena adanya pesta pernikahan dan kemalangan. Biasanya untuk
menyiasati agar waktu bekerja di perusahaan tidak terlantar, Saya
minta tolong sama teman yang kebetulan satu tempat kerja, atau
kalau tidak ada yang bisa menggantikan pekerjaan saya, maka
upah saya dipotong atau untuk menggantikannya saya masuk kerja
pada hari minggu, sedangkan kalau kegiatan keagamaan 1 kali
yaitu pada malam rabu dan arisan diikuti 1 kali dalam seminggu
yaitu
pada
sore
hari
sepulang
dari
gereja
(Wawancara,Oktober,2008)
Sejalan dengan itu J.G (lk,38 thn) yang bekerja sebagai karyawan tetap
yang menuturkan bahwa :
Kalau kita tidak ikut serta, kita akan di berikan sangsi/denda satu
hari kerja walaupun sebenarnya tidak ada peraturan secara
tertulis tapi sudah merupakan kesepakatan seluruh anggota.
Karena kelancaran pesta tersebut adalah tanggung jawab bersama
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
anggota STM dan kegiatan merupakan kegiatan timbal-balik
(Wawancara,Oktober 2008)
Dari hasil data wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat
dan karyawan lebih dominan mengikuti kegiatan STM dari pada kegiatan yang
lainnya. Kegiatan keagamaan yang dilakukan 1 kali dalam seminggu diikuti
seluruh karyawan dan masyarakat, sedangkan kegiatan arisan yang dilakukan 1
kali dalam seminggu hanya diikuti oleh masyarakat yang bekerja di perusahaan
yaitu karyawan tetap dan karyawan tidak tetap. Dengan dominannya masyarakat
dan karyawan dalam kegiatan STM, hal ini menunjukkan bahwa karyawan dan
masyarakat tetap ikut serta dalam kegiatan bersama yang diadakan di Desa Urung
Panei. Berdasarkaan frekuensi waktu hubungan sosial tersebut dapat mempererat
hubungan karyawan dan masyarakat karena dengan semakin tingginya frekuensi
dan derajat pertemuan hingga sampai terjadi sampai 2-3 kali dalam seminggu,
maka semakin tinggi pula solidaritras internal dan integrasi in-group di antara
karyawan dan masyarakat. Hal ini semakin memperkuat kembali identitas kedua
belah pihak, dan kedua kelompok tersebut ingin mempertahankan eksistensi
kelompoknya masing-masing.
4.4.2.3. Jarak Sosial
Terjadinya interaksi sosial dan integrasi sosial dapat dipengaruhi oleh
adanya jarak sosial dari pelaku interaksi itu sendiri. Jarak sosial itu ditentukan
oleh
faktor
obyektif
dan
subyektif
(Http//civic
seducation
wordpress.com/2008/08/08/ketaatan norma-norma menuju integrasi sosial, Kamis
22 Januari 2009, 21:24 Wib).
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Faktor obyektif umpamanya jarak yang disebabkan oleh keadaan geografis
dengan kesukaran trasportasi, adanya perbedaan dalam tingkat pendidikan, agama,
etnis dan sosial ekonomi. Semakin jauh tempatnya dan semakin jauh perbedaan,
kemungkinan interaksi sedikit terjadi dan apabila semakin dekat tempatnya dan
banyak kesempatan/sarana dan prasarana yang tersedia dan kecil perbedaan
seseorang dengan yang lain, akan banyak kemungkinan terjadi interaksi sosial.
Faktor subyektif adalah perasaan dan pikiran seseorang terhadap orang
lain yang hendak atau tidak igin diajak berkomunikasi. Walaupun dekat
tempatnya tetapi jauh
jarak sosialnya maka interaksi sosial akan sulit
kemungkinannya akan terjadi.
Berdasarkan faktor-faktor jarak sosial tersebut maka interaksi sosial
karyawan dan masyarakat setiap hari dapat diketahui dari
sering tidaknya
melakukan kontak/komunikasi. Dari hasil temuan data angket pertanyaan yang
disebarkan kepada 50 responden, maka responden yang mengatakan sering
bertemu dengan masyarakat 66 % (33 orang), responden yang mengatakan jarang
bertemu 26 % (13 orang), sedangkan responden yang mengatakan sangat sering
bertemu berjumlah 8 % (4 orang).
Tabel 4. 14
Distribusi Jawaban Responden Tentang Frekuensi Pertemuan Tiap Hari
Responden
Frekuensi Pertemuan Tiap Hari
Sangat Sering
Sering
Jarang
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Masyarakat/Bukan Karyawan
Total
Sumber : Data Angket April, 2008
n
3
1
4
f
6%
2%
8%
n
9
22
2
33
f
18%
44%
4%
66%
n
2
6
5
13
f
4%
12%
10%
26%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sebagaimana yang diuraikan pada tabel 4.14 dari 8 % (4 orang) responden
yang mengatakan sangat sering, sebanyak 6 % (3 orang) merupakan karyawan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tetap, 2 % (1 orang) merupakan karyawan tidak tetap. Dari 66 % (33 orang)
responden yang mengatakan sering, sebanyak 44 % (22 orang) merupakan
karyawan tidak tetap, 18 % (9 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 4 % (2
orang) merupakan responden yang bukan karyawan. Dari 26 % (13 orang)
responden yang mengatakan jarang, sebanyak 12 % (6 orang) merupakan
karyawan tidak tetap, 10 % (5 orang) merupakan responden yang bukan
karyawan, 4 % (2 orang) merupakan karyawan tetap. Hal ini menunjukkan bahwa
frekuensi waktu bertemu karyawan dan masyarakat sering. Interaksi sosial
tersebut biasanya terjadi setiap hari dikedai kopi pada pagi dan sore hari.
Data tersebut diperkuat dari
hasil wawancara dengan J.G (lk,38 thn)
seorang karyawan yang bekerja sebagai karyawan tetap yang menuturkan bahwa:
Sering bertemu dengan masyarakat, biasanya kedai kopi pada pagi
dan sore hari. Karena di desa ini sudah merupakan suatu tradisi
bahwa seorang laki-laki yang telah dewasa ke kedai kopi pada
pagi dan sore hari yaitu sebelum dan sesudah selesai kerja
(Wawancara,Oktober 2008)
Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan J.M.P (lk, 44 thn)
merupakan masyarakat yang bukan karyawan yaitu seorang pedagang sebagai
berikut :
Saya sering bertemu dengan mereka yang bekerja diperusahaan,
dalam satu hari bertemu kalau tidak pagi sore hari di kedai kopi
atau kedai tuak, karena karyawan biasanya beristirahat di kedai
tersebut setelah pulang kerja. Setelah itu pulang kerumah
(Wawancara, Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Hal ini berbeda karena adanya jarak sosial tempat tinggal dengan hasil
wawancara dengan A.S (lk, 33 thn) merupakan masyarakat yang bukan
karyawan/petani mengatakan bahwa
Jarang bertemu dengan karyawan perusahaan karena kebetulan
rumah saya jauh dari perusahaan, apalagi karyawan yang
bertempat tinggal di perusahaan, kurang kenal (Wawancara,
Oktober 2008)
Dari kutipan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial
masyarakat yang bekerja di perusahaan sebagai karyawan tetap dan karyawan
tidak tetap lebih sering bertemu, sedangkan masyarakat yang bukan karyawan
intensitas pertemuanya jarang dengan masyarakat yang bekerja di perusahaan,
karena adanya jarak sosial tempat tinggal yang jauh dari perusahaan. Interaksi
sosial antara karyawan dengan masyarakat biasanya terjadi apabila karyawan telah
selesai bekerja, biasanya interaksi tersebut terjadi dikedai kopi dan kedai tuak
yang ada disekitar perusahaan.
4.4.2.4. Intensitas Waktu Bertemu Tiap Hari
Adapun intensitas waktu bertemu responden per hari dipaparkan pada
tabel berikut, responden selama 60 menit per hari 52 % (26 orang), responden
yang mengatakan 30 menit per hari 26 % (13 orang), dan yang mengatakan 15
menit per hari 22 % (11 orang).
Tabel 4.15
Distribusi Jawaban Responden Tentang Intensitas Bertemu Tiap Hari
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
Intensitas Bertemu Per Hari
60 Menit
30 Menit
15 Menit
n
f
n
f
n
f
5
10%
8
16%
1
2%
18
36%
5
10%
6
12%
3
6%
4
8%
26
52% 13 26%
11
22%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Sebagaimana yang diuraikan pada tabel 4.15 dari 52 % (26 orang) yang
mengatakan 60 menit, sebanyak 36 % (18 orang) merupakan karyawan tetap, 10
% (5 orang) merupakan karyawan tetap dan 6 % (3 orang) merupakan responden
yang bukan karyawan. Dari 26 % (13 orang) responden yang mengatakan 30
menit, ditemukan sebanyak 16 % (8 orang) yang merupakan karyawan tetap dan
10 % (5 orang) yang merupakan karyawan tidak tetap. Dari 22 % (11 orang)
responden, yang mengatakan intensitas bertemu setiap hari sebanyak 15 menit
sebanyak 6 % (12 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 8 % (4 orang)
merupakan responden yang bukan karyawan dan 2 % (1 orang) merupakan
karyawan tetap.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa frekuensi waktu
bertemu sesama karyawan (karyawan tetap dan karyawan tidak tetap) lebih sering
yaitu selama 60 menit per hari, sedangkan masyarakat yang bukan karyawan
frekuensi waktu bertemu dengan masyarakat yang bekerja diperusahaan hanya
selama 15 menit per hari. Hal ini menunjukkan frekuensi waktu bertemu sesama
karyawan lebih sering dibandingkan dengan masyarakat yang bukan karyawan.
Hal ini ditunjukkan dari hasil wawancara dengan J.G (lk, 38 thn) seorang
karyawan yang bekerja sebagai karyawan tetap yang mengatakan bahwa
Saya biasanya bertemu, pada pagi hari dan sore hari di kedai kopi
sebelum dan sesudah kerja dan pada saat istirahat. Selama 60
menit, biasanya sambil minum dan sambil cerita. Menunggu jam
kerja (Wawancara, Oktober 2008).
Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan L.P (lk,42 thn) seorang
karyawan tetap yang mengatakan bahwa
Selama istirahat kerja, biasanya bertemu dikedai kopi dan kedai
tuak. Selama 1 jam sambil menunggu jam kerja
(Wawancara,Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Hal ini juga sejalan dengan dengan hasil wawancara dengan A.S (lk, 33
thn) merupakan masyarakat yang bukan karyawan mengatakan bahwa
Sering bertemu dengan masyarakat. Dikedai kopi pada pagi dan
sore hari, selama 15 menit. Habis minum ya pulang (Wawancara,
Oktober 2008)
Data diatas dapat disimpulkan bahwa karyawan dan masyarakat biasanya
bertemu di kedai kopi pada pagi dan sore hari sebelum dan sesudah jam kerja.
Frekuensi waktu bertemu berlangsung 1 jam, karena menurut informan
pertemuan ini merupakan proses terjadinya integrasi sosial antara karyawan dan
masyarakat yaitu melalui kontak dan komunikasi secara timbal balik.
4.5. Fungsi Manifest
Fungsi manifest adalah konsekuensi-konsekuensi obyektif yang membantu
penyesuaian atau adaptasi dari sistem dan disadari oleh para partisipan dalam
sistem tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa fungsi manifest (nyata) yaitu sesuatu
yang diharapkan sebagai akibat imbalan bagi tindakan yang telah dilakukan.
Perusahaan sebagai lembaga ekonomi merupakan suatu perusahaan yang
baru di desa Urung Panei. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang
bergerak dibidang pengembangbiakan ternak babi oleh karena itu perusahaan
sangat membutuhkan tenaga kerja. Tenaga kerja perusahaan pada umumnya
berasal dari desa Urung Panei dan dari luar daerah. Perusahaan merekrut tenaga
kerja dari luar daerah karena tenaga kerja dari masyarakat sekitar tidak
mencukupi.
Masyarakat
mengharapkan
dengan
adanya
perusahaan
dapat
meningkatkan lapangan kerja baru, sehingga masyarakat dapat bekerja di
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
perusahaan. Dengan bekerja di perusahaan tersebut masyarakat mengharapkan
mendapatkan upah/pendapatan. Dengan peningkatan upah tersebut masyarakat
dapat menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk ditabung. Maka yang
menjadi fungsi manifest (nyata) yaitu sesuatu yang diharapkan sebagai akibat
imbalan bagi tindakan yang telah kita lakukan. Pemilikan tabungan tersebut
sangat manifest bagi masyarakat yang bekerja di perusahaan terutama bagi
masyarakat yang bekerja sebagai karyawan tidak tetap.
4.5.1. Kemampuan Menabung Karyawan Dan masyarakat
Kemampuan menabung adalah investasi, juga dapat mencerminkan bahwa
penghasilan sudah dapat mencukupi semua kebutuhan dasarnya. Hal ini dapat
diketahui dari hasil angket yang di sebarkan kepada 50 responden maka responden
mengatakan memiliki tabungan berjumlah 60 % (30 orang), dan responden yang
mengatakan tidak memiliki tabungan berjumlah 40 % (20 orang). Lebih jelas lihat
tabel dibawah ini.
Tabel 4. 16
Distribusi Jawaban Responden Tentang Pemilikan Tabungan
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
Pemilikan Tabungan
Ya
Tidak
n
f
n
f
12
24%
2
4%
16
32%
13
26%
2
4%
5
10%
30
60%
20
40%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Sebagaimana yang diuraikan pada tabel 4.16 dari 60 % (30 orang)
responden
yang mengatakan memiliki tabungan, sebanyak 32 % (16 orang)
merupakan karyawan tidak tetap, 24 % (12 orang) merupakan karyawan tetap, 4
% (2 orang) bukan karyawan. Dari 40 % (20 orang) responden yang mengatakan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tidak memiliki tabungan, sebanyak 26 % (13 orang) merupakan karyawan tidak
tetap, 10 % (5 orang) bukan karyawan, 4 % (2 orang) merupakan karyawan
tetap. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan perusahaan lebih banyak memiliki
tabungan dari pada masyarakat yang bukan karyawan, karena masyarakat yang
bekerja sebagai karyawan mempunyai pekerjaan sampingan yaitu bertani.
Karyawan tetap memiliki tabungan di bank, hal ini sesuai dengan hasil
dari wawancara dengan J.G (lk,38 thn) sebagai karyawan tetap yang mengatakan
bahwa
Jika pendapatan saya lebih, biasanya saya menabungkannya di
bank. Biasanya pendapatan saya lebih apabila hasil panen dari
ladang panen. Saya menabung untuk biaya sekolah anak
(Wawancara, Oktober 2008)
Data tersebut dapat diperkuat berdasarkan wawancara dengan L.P (lk,42
thn) karyawan tidak tetap mengatakan bahwa :
Pendapatan saya bertambah, biasanya jika saya panen dari
ladang. Pendapatan dari panen saya simpan di bank yaitu bank
BRI. Pendapatan saya dari perusahaan digunakan untuk
kebutuhan sehari-hari (Wawancara,Oktober 2008)
Berbeda dengan bukan karyawan jika memperoleh pendapatan lebih tidak
menabung ke bank tetapi memodalkannya untuk usaha pertanian. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara dengan J.M.P (lk,44 thn) merupakan masyarakat yang
bukan karyawan sebagai berikut :
Jika memperoleh pendapatan yang lebih, saya belikan bibit,
pupuk dan obat-obatan, tabungan saya diladang (Wawancara,
Oktober 2008)
Dari kutipan wawancara dan data tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa
responden yang bekerja sebagai karyawan perusahaan lebih banyak memiliki
tabungan di Bank. Karyawan terbagi 2 yaitu karyawan tetap dan karyawan tidak
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tetap diantara kedua karyawan tersebut karyawan tidak tetap lebih banyak
memiliki tabungan. Berbeda dengan masyarakat yang bukan karyawan jika
memiliki pendapatan lebih tidak menabung ke bank melainkan memodalkanya
keladang. Hal ini menunjukkan ada perbedaan tempat menabung antara karyawan
dengan yang bukan karyawan.
4.5.2. Pendapatan Per Bulan Karyawan Dan Masyarakat
Kehidupan ekonomi merupakan menyangkut cara bagaimana seseorang
individu didalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Setiap manusia
membutuhkan pekerjaan dan dengan pekerjaan itu manusia tersebut mendapatkan
imbalan baik berupa uang ataupun barang yang sering diistilahkan sebagai
pendapatan, yang fungsinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendapatan
merupakan suatu imbalan atau balas jasa yang diterima oleh seseorang atas jasa
atau tenaga yang dikorbankan untuk suatu pekerjaan. Dari data yang diperoleh
melalui penyebaran angket terhadap para responden maka diketahui bahwa
responden yang mengatakan mempunyai jumlah pendapatan >Rp.1000.000
berjumlah 54 % (27 orang), Rp.600.000 - Rp.1000.000 berjumlah 26 % (13
orang) dan responden yang mengatakan jumlah pendapatan >Rp.600.000
berjumlah 20 % (10 orang), sebagaimana di paparkan pada tabel 4.17 berikut.
Tabel 4.17
Distribusi Jawaban Responden Tentang Pendapatan Per Bulan
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
>Rp.600rb
n
f
10
20%
10
20%
Pendapatan Per Bulan
Rp.600rb-Rp. 1jt
n
f
8
16%
5
10%
13
26%
>Rp.1jt
n
f
14
28%
11
22%
2
4%
27
54%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Sebagaimana yang diuraikan pada tabel 4.17 dari 20 % (10 orang)
responden yang mengatakan pendapatan >Rp. 600.000, seluruhnya merupakan
karyawan tidak tetap. Dari 26 % (13 orang) responden yang mengatakan
pendapatan Rp.600.000-Rp. 1.000.000, sebanyak 16 % (8 orang) merupakan
karyawan tidak tetap, 10 % (5 orang) bukan karyawan. Dari 54 % (27 orang)
responden yang mengatakan >Rp. 1000.000 sebanyak 28 % (14 orang) merupakan
karyawan tetap, 22 % (11 orang) merupakan karyawan tidak tetap dan 4 % (2
orang) bukan karyawan.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang
bekerja sebagai karyawan tetap, seluruhnya memperoleh pendapatan satu juta
sampai dengan satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan, dan masyarakat yang
bekerja sebagai karyawan tidak tetap dari 58 %, sebanyak 36 % memperoleh
pendapatan enam ratus ribu rupiah sampai dengan satu juta rupiah perbulan,
sedangkan masyarakat yang bukan karyawan dari 14 %, sebanyak 10 %
memperoleh pendapatan enam ratus ribu rupiah per bulan. Hal ini menunjukkan
bahwa setiap karyawan tetap memperoleh pendapatan yang sama, sedangkan
karyawan tidak tetap tidak memperoleh pendapatan yang sama, karena sistem
pengupahan dilakukan berdasarkan jumlah hari kerja.
4.6.Disfungsi Sistem
Kehadiran perusahaan di desa Urung Panei selain menguntungkan bagi
masyarakat tapi juga mempunyai pengaruh yang negatif bagi masyarakat namun
tidak disadari oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Merton yang
mengatakan bahwa setiap tindakan sosial yang dilakukan dalam seluruh sistem
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
juga memiliki fungsi laten (tidak nyata) yaitu sebagai akibat yang tidak
diharapkan terjadi imbalan tindakan yang dilakukan. Di daerah penelitian, hal
tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya konflik pada PT. Alegrindo dan
pelapisan masyarakat yang ada berdasarkan dimensi ekonomi (kelas kelas sosial).
4.6.1. Deskripsi Konflik Pada PT. Allegrindo
Pada PT. Allegrindo pernah terjadi konflik yaitu sekitar tahun 2001.
Dimana pada saat itu penduduk Desa Salbe melakukan demonstrasi ke pihak
PT.Allegrindo. Menurut mereka kotoran ternak tersebut limbahnya mencemari
kelestarian danau toba. Menurut J. Purba Pak-pak mengatakan bahwa :
“bau busuk tercium bila angin dari arah peternakan tersebut
berhembus kedesa kami”. Konon pula danau toba yang letaknya
dibawah peternakan milik PT.Allegrindo itu tak mungkin disangkal
limbahnya mencemari danau toba (Dikutip dari Harian Analisa,23
Juli 2001).
Penduduk di tepi danau yaitu Desa Salbe pernah mengeluh bahwa lahan
pertanian dicemari oleh limbah peternakan yang ada diatas perkampungan
mereka. Beberapa lembaga swadaya masyarakat sudah pernah mendampingi
masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak mereka tetapi sekarang ini
perjuangan itu sudah selesai.. Setelah penduduk tepi danau protes, maka pihak
perusahaan membangun pengolahan limbah dilokasi peternakan yang telah
ditinjau oleh Dewan Komisi DPRD.
Penduduk desa Urung Panei sendiri kelihatanya apatis karena sebahagian
besar mereka bekerja disana sebagai satpam, buruh harian dan satu dua orang
memiliki pendidikan setingkat sarjana bekerja sebagai pegawas dan administrasi,
kelihatanya penduduk desa Urung Panei senang sebab di desa Urung Panei
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tersebut ada lapangan kerja baru. Hal itu terlihat dari bukan hanya penduduk desa
itu yang bekerja sebagai karyawan di peternakan tetapi juga orang-orang luar
desa datang bekerja kedesa Urung Panei tersebut. Pihak PT. Allegrindo juga
memberikan fasilitas rumah bagi karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut
yang berlokasi didalam peternakan tersebut yang sebahagian dihuni oleh beberapa
keluarga
sekaligus
(http:/sihaloho.blongs.frienter
com/my-blong/Rabu,12
September 2007.21:27 wib).
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan J.S (lk,48 thn) seorang
kabang umum perusahaan yang mengatakan bahwa
Pernah terjadi konflik, pada tahun 2001. Penduduk salbe
demostrasi keperusahaan, mereka menuntut perusahaan dengan
pencemaran terhadap danau toba dan pertanian mereka
(Wawancara, Oktober 2008)
Cara perusahaan mengatasi konflik dengan masyarakat Salbe hasil
wawancara dengan J.S (lk, 48 thn) sebagai kabag umum perusahaan yang telah
disusun peneliti dengan berbentuk pragraf mengatakan bahwa
Pihak perusahaan berusaha menaggapi tuntutan masyarakat salbe, sekitar
tahun 2004 yang lalu. Saluran aliran limbah dari PT.Allegrindo diberi tembok dan
dilakukan penyaringan limbah 5 kali proses penyaringan, sehingga air yang
mengalir kedanau toba itu sudah bersih. Itu dapat dibuktikan dari hasil
penyaringan limbah dapat lagi kami pergunakan untuk memandikan ternak dan
membersihkan kandang ternak. Selain itu juga pihak perusahaan juga membangun
puskesmas, PLN (listrik) untuk penerangan dan menempatkan 2 guru bantu yang
kami bayar RP. 600.000/bulan untuk 2 orang. Jalan raya yang ada di desa Salbe
kami perbaiki, jika masyarakat membeli ternak kami berikan diskon 30 % dan
pihak perusahaan juga memberikan beasiswa bagi murid SD yang berprestasi
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
yaitu berupa alat-alat perlengkaspan sekolah setiap semester. Jika murid
berprestasi kami berikan bantuan berupa alat-alat perlengkapan sekolah kami
berikan setiap semester. Dengan kepedulian pihak perusahaan terhadap
kesejahteraan masyarakat Desa Salbe maka sekarang hubungan pihak perusahaan
dengan masyarakat Salbe menjadi baik dan pada akhirnya dapat menerima
kehadiran PT. Allegrindo. Hal ini sesuai dengan hasil observasi yang di peroleh
dari lapangan yaitu di desa Salbe.
Kehadiran perusahaan dalam masyarakat selama ini belum mengenal
industri secara langsung merupakan dua pola sisi kehidupan yang berbeda antara
satu dengan yang lain. Masyarakat yang selama ini yang tergantung kepada tanah
pada dasarnya telah membentuk suatu kebudayaan yang tercermin di dalam
berbagai tingkah laku individu serta nilai-nilai yang berkembang. Di satu pihak
industri dengan perangkat pendukungnya telah membawa kebudayaan yang sama
sekali tidak tergantung kepada tanah sebagai sarana mata pencaharian.
Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa responden yang mengatakan
pernah terjadi konflik antara masyarakat setempat dengan pengelola perusahaan
berjumlah 72 % (36 orang), sedangkan responden yang mengatakan tidak pernah
terjadi konflik berjumlah 28 % (14 orang). Hal ini dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
Tabel 4.18
Distribusi Jawaban Responden Tentang Konflik Antara Masyarakat
Setempat Dengan Pengelola Perusahaan
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
Konflik
Tidak Pernah
f
n
f
12%
8
16%
54%
2
4%
6%
4
8%
72%
14
28%
Total
Pernah
n
6
27
3
36
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Sebagaimana yang diuraikan dalam tabel 4.18 diatas, dari 72 % (36 orang)
responden yang mengatakan pernah konflik, sebanyak 54 % (27 orang)
merupakan karyawan tidak tetap, 12 % (6 orang) merupakan karyawan tetap, 6 %
(3 orang) bukan karyawan. Dari 28 % (14 orang) responden yang mengatakan
pernah konflik, sebanyak 16 % (8 orang) merupakan karyawan tetap, 8 % (4
orang) merupakan bukan karyawan, 4 % (2 orang) merupakan karyawan tidak
tetap.
Responden yang mengatakan pernah terjadi konflik antara masyarakat
dengan pengelola
perusahaan adalah limbah peternakan yang menimbulkan
polusi udara, tikus banyak, lalat, dan penduduk yang ingin mendapatkan pekerjaan
tetapi tidak diterima bekerja diperusahaan akhirnya sakit hati, sehingga
melakukan aksi pencurian terhadap ternak-ternak yang ada pada malam hari. Hal
ini sesuai dengan hasil wawancara dengan J.G (lk, 38 thn) seorang karyawan tetap
mengatakan bahwa
Ya pernah pada tahun 2001, masyarakat yang tidak diterima
bekerja sehingga mencuri ternak pada malam hari. Pada saat itu
juga banyak karyawan yang dipecat karena ketahuan bekerja sama
dengan penduduk (Wawancara, Oktober 2008)
Antara masyarakat dengan pengelola perusahaan pernah terjadi konflik
pada tahun 2001, namun pada saat dilakukan penelitian tidak pernah terjadi
konflik antara karyawan dengan masyarakat karena pihak perusahaan telah
melakukan pengadaptasian dengan masyarakat sekitar. Kehadiran perusahaan
tersebut sangat menguntungkan masyarakat, karena dengan adanya peternakan
tersebut pekerjaan masyarakat bervariasi, dan mereka dapat bekerja dipeternakan
dan menerima gaji setiap bulannya. Hal ini sesuai dengan wawancara dengan L.P
(lk,42 thn) seorang karyawan tidak tetap yang mengatakan bahwa
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Perusahaan menguntungkan masyarakat sekitar yaitu lapangan
kerja baru bagi masyarakat. Masyarakat dapat bekerja
diperushaan selain bekerja sebagai petani (Wawancara,Oktober
2008)
Responden juga
mengatakan tidak pernah terjadi konflik lagi antara
pengelola perusahan dengan masyarakat karena menurut responden pengelola
perusahaan dengan masyarakat sekitar jarang komunikasi, apalagi bagi
masyarakat yang tidak bekerja diperusahaan tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dengan A.S (lk,33 thn) merupakan masyarakat yang bukan karyawan
mengatakan bahwa
Pengelola perusahaan dan penduduk yang bukan karyawan jarang
melakukan komunikasi (Wawancara, Oktober 2008)
Konflik pernah terjadi antara masyarakat dan pengelola perusahaan tetapi
pada saat dilakukan penelitian konflik tidak terjadi lagi. Konflik juga tidak
pernah terjadi antara karyawan dan masyrakat pendatang hal ini dapat di ketahui
dari jawaban data angket pertanyaan yang disebarkan kepada responden yang
mengatakan bahwa tidak pernah terjadi konflik antara masyarakat setempat
dengan masyarakat pendatang berjumlah 62 % (31 orang), sedangkan responden
yang mengatakan pernah terjadi konflik antara masyarakat setempat dengan
masyarakat pendatang berjumlah 38 % (19 orang).
Tabel 4.19
Distribusi Jawaban Responden Tentang Konflik Masyarakat
Setempat Dengan Masyarakat Pendatang
Konflik
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
Pernah
n
6
10
3
19
f
12%
20%
6%
38%
Tidak Pernah
n
f
8
16%
19
38%
4
8%
31
62%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Sebagaimana
yang diuraikan pada tabel 4.19 dari 38 % (19 orang)
responden mengatakan pernah konflik, sebanyak 20 % (10 orang) merupakan
karyawan tidak tetap, 12 % ( 6 orang) merupakan karyawan tetap, 6 % ( 3 orang)
bukan karyawan. Dari 62 % (31 orang) responden yang mengatakan tidak pernah
konflik, sebanyak 38 % (19 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 16 % (8
orang) merupakan karyawan tetap, 8 % (4 orang) bukan karyawan.
Data tersebut diatas menunjukkan bahwa masyarakat setempat dengan
masyarakat pendatang tidak pernah terjadi konflik tetapi bukan berarti
hubungannya sangat baik, karena ada juga responden yang mengatakan pernah
terjadi konflik, biasanya konflik tersebut hanya sebatas salah paham antara
masyarakat dengan pendatang. Konflik tersebut biasanya
hanya diselesaikan
secara kekeluarga.
Hal ini sesuai dengan penuturan informan J.S (lk,42 thn) karyawan tetap
sebagai berikut.
Lebih banyak terjadi konflik masyarakat yang bekerja
diperusahaan dibandingkan dengan yang bukan karyawan, karena
biasanya masyarakat yang bekerja diperusahaan yang sering
berinteraksi. Itupun hanya sebatas salah paham biasanya soal
pekerjaan (Wawancara,Oktober 2008)
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan bapak L.P (lk,42 thn)
seorang karyawan tidak tetap yang mengatakan bahwa
Tidak pernah terjadi konflik karena biasanya karyawan yang
bekerja diperusahaan tinggal dilokasi perusahaan yaitu
diperumahan perusahaan sehingga untuk bertemu dengan
masyarakat pada saat kerja dan apabila masyarakat pendatang
tersebut datang kekedai kopi dan kedai tuak. Hanya pada saat
itulah interaksi terjadi (Wawancara, Oktober 2008)
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak pernah terjadi
konflik antara karyawan dan masyarakat setempat karena biasanya karyawan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
perusahaan sebagian besar tinggal diperumahan yang disediakan oleh perusahaan
sehingga untuk bertemu dengan masyarakat setempat jarang terjadi yang
mengakibatkan adanya isolasi atau jarak sosial antara karyawan dan masyarakat.
4.6.2. Pelapisan Masyarakat Yang Ada Berdasarkan Dimensi Ekonomi
4.6.2.1. Status Rumah Responden
Pelapisan sosial terjadi karena adanya sesuatu
penghargaan tertentu
terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Menurut Marx
(Suyanto, 2004:152-153) indikator yang dipergunakan untuk membagi pelapisan
atas dasar dimensi ekonomi pada masyarakat adalah kekayaan. Kekayaan adalah
material atau kebendaan yang dapat dijadikan ukuran penempatan anggota
masyarakat kedalam lapisan-lapisan sosial yang ada. Barang siapa yang memiliki
kekayaan paling banyak, maka akan termasuk lapisan masyarakat teratas dalam
sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya. Barang siapa tidak mempunyai
kekayaan digolongkan kedalam lapisan paling rendah, kekayaan tersebut dapat
dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tertier yang
dimilikinya, cara berpakaian maupun kebiasaan dalam berbelanja. Menyangkut
pemilikan benda-benda berharga atau aset produksi seseorang atau keluarga. Di
kalangan masyarakat desa yang termasuk benda-benda berharga bisa berupa
tanah, perhiasan, rumah dan sebagainya. Rumah mempunyai nilai yang sangat
penting dalam kehidupan manusia.
Dalam kondisi ekonomi yang bagaimanapun setiap manusia mempunyai
keiginan memiliki rumah yang layak, bagi mereka yang tingkat ekonominya
kecukupan bahkan mampu akan dapat memiliki rumah yang layak dihuni artinya
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
mempunyai kondisi yang baik. Demikian halnya di daerah penelitian, dengan
adanya peningkatan pendapatan rumah tangga, akan terjadi perubahan terhadap
rumah tempat tinggal. Perubahan yang terjadi pada dasarnya mengarah pada
peningkatan kualitas rumah.
Berdasarkan jawaban responden melalui angket pertanyaan yang di
sebarkan. Menunjukkan bahwa status responden yang di dasarkan atas ukuran
pemilikan kekayaan atau kebendaan akan dinilai berdasarkan status tempat tinggal
yang di tempati oleh responden. Status tempat tinggal responden dibagi atas 3
golongan, sewa, milik sendiri, orang tua dan lain-lain. Responden yang
mengatakan status tempat tinggal yang di tempati milik sediri berjumlah 70 % (35
orang), responden yang mengatakan lain-lain seperti : milik perusahaan (mess)
berjumlah
16 % (8 orang), responden yang mengatakan milik orang tua
berjumlah 10 % (5 orang), responden yang mengatakan menyewa berjumlah 4 %
(2 orang). Untuk lebih jelas lihat tabel 4.20 di bawah ini.
Tabel 4.20
Distribusi Jawaban Responden Tentang Status Rumah/Tempat
Tinggal
Status Rumah/Tempat Tinggal
Milik
Milik
Menyewa Perusahaan
Responden
Sendiri
Orang Tua
(mess)
n
f
n
f
n
f
n
f
Karyawan Tetap
14
28%
Karyawan Tidak Tetap
17
34%
2
4%
2 4%
8
16%
Bukan Karyawan
4
8%
3
6%
35
70%
5
10%
2 4%
8
16%
Total
Sumber : Data Angket April, 2008
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sebagaimana yang diuraikan dalam tabel 4.20 dari 70 % (35 orang)
responden yang mengatakan milik sendiri, sebanyak 26 % (14 orang) merupakan
karyawan tetap, 34 % (17 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 8 % (4 orang)
bukan karyawan. Dari 10 % (5 orang) responden yang mengatakan milik orang
tua, sebanyak 4 % (2 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 6 % (3 orang)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
merupakan responden yang bukan karyawan. Dari 4 % (2 orang) responden yang
mengatakan menyewa, seluruhnya responden karyawan tidak tetap. Dari 16 % (8
orang) responden yang mengatakan lain-lain (milik perusahaan), seluruhnya
responden merupakan karyawan tidak tetap.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh masyarakat
yang bekerja sebagai karyawan tetap seluruhnya memiliki rumah sendiri. Hal ini
sesuai dengan hasil wawancara dengan J.G (lk,38 thn) seorang karyawan tetap
yang mengatakan bahwa
Rumah saya milik sendiri, tanahnya saya beli dari orang tua saya.
Dimana selain harga yang cukup ringan juga bisa dilakukan
secara cicil sehingga dapat memenuhi kebutuhan yang lainnya
(Wawancara, Oktober 2008)
Masyarakat yang bekerja sebagai karyawan tidak tetap dari 58 % ada 24
% yang tidak memiliki rumah sendiri yaitu menyewa, tinggal dengan orang tua
dan tinggal di mess perusahaan, karena bagi karyawan yang tidak memiliki tempat
tinggal sendiri perusahaan memberikan tempat tinggal secara gratis selama masih
bekerja di perusahaan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan H.S (lk,36
thn) seorang karyawan tidak tetap yang mengatakan bahwa
Tinggal di perumahan perusahaan, dengan tinggal diperumahan
ini dapat menghemat karena perusahaan memberikan fasilitas
perumahan seperti air dan listrik secara gratis sehingga kita tidak
perlu mengeluarkan uang (Wawancara, Oktober 2008)
Masyarakat yang bukan karyawan dari 14 % ada 6 % tidak memiliki
rumah sendiri yaitu masih tinggal bersama orang tua. Pada umumnya masyarakat
Urung Panei mempunyai rumah sendiri jika tidak mempunyai rumah sendiri maka
akan tinggal bersama orang tua. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan
J.M.P (lk, 44 thn) yang bermata pencaharian berdangang mengatakan bahwa
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Kami masih menempati rumah orang tua karena belum bisa
membangun rumah sendiri, kebetulan lagi rumah ini sangat
strategis dijadikan tempat berjualan makanan karena dekat
dengan perusahaan ini (Wawancara, Oktober 2008)
Berdasarkan data wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa karyawan
tetap seluruhnya memiliki rumah sendiri sedangkan karyawan tidak tetap dan
masyarakat yang bukan karyawan masih ada yang tidak memiliki rumah sendiri.
4.6.2.2. Pemilikan Lahan Pertanian
Masyarakat Urung Panei pada umumnya memiliki lahan pertanian.
Berdasarkan jawaban dari 50 angket yang disebarkan kepada responden, dimana
72 % (36 orang) responden memiliki lahan pertanian dan 28 % (14 orang)
responden tidak memiliki lahan pertanian.
Tabel 4. 21
Distribusi Jawaban Responden Tentang Pemilikan Lahan Pertanian
Pemilikan lahan Pertanian
Ya
Tidak
n
f
n
f
Karyawan Tetap
9
18%
5
10%
Karyawan Tidak Tetap
23
46%
6
12%
Bukan Karyawan
4
8%
3
6%
36
72%
14
28%
Total
Sumber : Data Angket April, 2008
Total
Responden
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sebagaimana diuraikan pada tabel 4.21 dari 72 % ( 36 orang) responden
yang mengatakan memiliki lahan pertanian, sebanyak 46 % (23 orang) merupakan
karyawan tidak tetap, 18 % (9 orang) merupakan karyawan tetap, 8 % (4 orang)
bukan karyawan. Dari 28 % (14 orang) responden yang mengatakan tidak,
sebanyak 12 % (6 orang) merupakan karyawan tidak tetap, 10 % (5 orang)
merupakan karyawan tetap, 6 % (3 orang) bukan karyawan. Berdasarkan data
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tersebut dapat disimpulkan bahwa responden lebih banyak
memiliki lahan
pertanian yaitu karyawan tidak tetap.
4.6.2.3. Status Tanah Pertanian
Masyarakat Urung Panei sebagai penduduk lokal khususnya etnis
Simalungun memiliki lahan pertanian yang luas karena sebelumnya, mata
pencaharian penduduk tersebut merupakan petani dan bagi yang tidak memiliki
lahan pertanian maka mereka akan menyewa, dan mengerjakan lahan pertanian
milik perusahaan. Status tanah pertanian tersebut dapat diketahui dari hasil angket
yang disebarkan kepada 50 responden. Dimana responden yang mengatakan status
tanah yang di kerjakan milik sendiri berjumlah 50 % (25 orang), sedangkan
responden yang mengatakan lain-lain (milik perusahaan, tanah warisan) berjumlah
46 % (23 orang). mengatakan status tanah yang di kerjakan sewa berjumlah 4 %
(2 orang), hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4. 22
Distribusi Jawaban Responden Tentang Status Tanah Pertanian
Status Tanah Pertanian
Responden
Karyawan Tetap
Karyawan Tidak Tetap
Bukan Karyawan
Total
Sewa
n
2
2
f
4%
4%
Milik Sendiri
n
6
16
3
25
f
12%
32%
6%
50%
Warisan
Orang Tua
n
f
8
16%
13 26%
2
4%
23 46%
Total
N
14
29
7
50
F
28%
58%
14%
100%
Sumber : Data Angket April, 2008
Sebagaimana yang diuraikan pada tabel 4.22 dari 4 % (2 orang) yang
mengatakan sewa, seluruhnya merupakan responden yang bukan karyawan. Dari
50 % (25 orang) responden yang mengatakan milik sendiri, sebanyak 32 % (16
orang) merupakan karyawan tidak tetap, 12 % (6 orang) merupakan karyawan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
tetap, 6 % (3 orang) bukan karyawan. Dari 46 % (23 orang) responden yang
mengatakan warisan orang tua, sebanyak 26 % (13 orang) merupakan karyawan
tidak tetap, 16 % (8 orang) merupakan karyawan tetap, 4 % (2 orang) bukan
karyawan.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa, masyarakat yang
bekerja sebagai karyawan tetap lebih banyak mengerjakan tanah warisan orang
tua sedangkan masyarakat yang bekerja sebagai karyawan tidak tetap lebih
banyak memiliki lahan pertanian sendiri, sedangkan masyarakat yang bukan
karyawan dari 14 %, sebanyak 8 % tidak memiliki lahan pertanian sendiri, tetapi
sewa dan warisan orang tua.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Dari hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
proses integrasi sosial karyawan dan masyarakat sebagai berikut :
1.
Karyawan dan masyarakat melakukan interaksi sosial yaitu dengan
mengikuti
kegiatan Serikat Tolong Menolong (STM) dan kegiatan
keagamaan setiap minggu di desa Urung Panei.
2.
Interaksi sosial yang hadir mampu menjaga pola dan nilai yang ada pada
masyarakat Urung Panei karena, interaksi sosial tidak menghambat
karyawan dan masyarakat untuk melakukan kegiatan yang ada di desa
Urung Panei. Hal ini terlihat dari pola norma dan nilai yang ada pada
masyarakat tetap terjaga dengan baik. Pola dan norma tersebut dilihat dari
frekuensi waktu mengikuti kegiatan tersebut tetap walaupun masyarakat
banyak yang bekerja di perusahaan sebagai karyawan.
3.
Dalam kehidupan sehari-hari karyawan dan masyarakat
melakukan interaksi biasanya interaksi tersebut terjadi
juga sering
di kedai kopi
sebelum dan sesudah selesai kerja, ini merupakan tradisi bagi masyarakat
Urung Panei. Berdasarkan analisis data fekuensi waktu interaksi tersebut
terjadi selama 1 Jam (60 menit) per hari.
4.
Kehadiran PT. Allegrindo juga ikut berperan dalam mempercepat proses
integrasi sosial karyawan dan masyarakat. Hal ini dilihat dari adanya
fungsi manifes kehadiran perusahaan yang mampu meningkatkan
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
pendapatan karyawan dan masyarakat, sehingga tidak ada jarak sosial
antara karyawan dan masyarakat untuk melakukan interaksi sosial.
Dengan demikian proses integrasi antara karyawan dan masyarakat dapat
terjalin dengan baik.
5.
Kehadiran perusahaan juga mampu meredakan konflik yang pernah
terjadi, dengan melakukan penyesuaian kepada masyarakat dengan
memberikan bantuan. Adanya peningkatan status sosial masyarakat hal ini
terlihat dari status rumah dan kepemilikan tanah
karyawan dan
masyarakat merupakan milik sendiri. Dalam hal ini
berarti bahwa
kehadiran PT.Allegrindo mempunyai fungsi yang positif dalam proses
integrasi sosial antara karyawan dan masyarakat.
5.2.
Saran
1. Perusahaan sebagai lembaga ekonomi mengadaptasikan diri tidak hanya untuk
memperoleh keuntungan belaka tetapi juga harus memperhatikan pengaruh
yang ditimbulkan oleh perusahaan kepada masyarakat.
2. Perusahaan dalam menerima buruh/karyawan di perusahaan yang diutamakan
adalah penduduk setempat sesuai dengan keahlian dan kemampuannya
masing-masing sehingga jumlah pengangguran di daerah tersebut berkurang
dan pendapatan penduduk meningkat, yang selanjutnya meningkatkan
kehidupan sosial ekonomi masyarakat khususnya masyarakat Urung Panei.
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Basrowi. 2005. Pengantar Sosiologi.Bogor :Ghalia Indonesia.
Burgin, Burhan.2001. Metode Penelitian Sosial Format-Format Kuantitatif
Dan Kualitatif. Surabaya : Airlangga University Press.
Burgin, Burhan.2005. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Prenada Media.
Ibrahim, Tarik, Jabal. Sosiologi Pedesaan. Malang : Universitas Muhamadiah
Poloma, M. Margaret. 2000. Sosiologi Kontemporer. Jakarta : Raja Grafindo
Persada
Ritzer, dkk.2003. Teori Sosiologi Modren. Jakarta : Kencana.
Soekanto, Soerjono.2001. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Fakultas Ekonomi UI.
Suyanto, Bagong. 2004. Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan. Jakarta :
Prenada Media.
Wisadirana, Darsono. 2004. Soiologi Pedesaan. Malang : Universitas
Muhammadiyah Malang.
Sumber lain :
Web.site
http/www.kabar Indonesia.com.php?pil,Rabu 2 Juli 2008,15 :58 Wib
Rudiono, 2007.Sistem Sosial Masyarakat
http : //www. asysyuravoice.blogsspot.com/2007/04/html.Jumat 25 Juli
2008,19:58 Wib.
Matias Siagian,2004 Pengaruh Perusahaan Besar Terhadap Kehidupan Sosial
Ekonomi Dan Sosial Budaya Masyarakat Serta Respons Terhadapnya :
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Studi Kasus Tentang Kehadiran P.T. Inti Indorayon Utama Di
Kecamatan Dati II Kabupaten Tapanuli Utara
http:/www.library.usu.ac.id/download/fe/tesis-matias.pdf.
Safasi Ramadhan,2006 Jalal Memihak Masalah Kinerja Sosial Dan lingkungan
Perusahaan.
http/www.Korantempo.com/Korantempo/2006/03/16/opini/krn.2006,03:
16 Wib.
Idealnya : CD bentuk simbiosis mutualistik perusahaan dengan masyarakat sekitar
http/www.sumenep.go.id/main.php? go=wisata&kd=60,Kamis 24 Juli
2008,06:00 Wib.
Irianty
Mantjar,
2001.
Dampak
Perusahaan
Hutan
Pada
Kehidupan
Masyarakat:Studi Kasus pada masyarakat dayak ngaju di sekitar
perusahaan PT. Hutan Mulyo, Kabupaten Kotawaringi Timur, Propinsi
Tegah.
http/www.digilib.ui.edu/opac/themes/libri2/detail.jsp/id=73560&lokasi
=local,jumat25 Juli 2008,23:57 Wib.
Arif Herdianto. Diferensiasi dan stratifikasi sosial
http/www.dimenum.go.id.23 April 2007
Heri Irawan, Dampak Berdirinya Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Elaeis
Guineensis Jacq) PT. Mustika Sepuluh Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi
Masyarakat Sekitar.
http/www.
Tesis
–skripsi
blogspot.com/2008/01
dampak
hadirnya
perusahaan perkebunan.html.25 Juli 2008,23: 57 Wib
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Pepeng , 2007. Nilai-Nilai Luhur Dalam Ajaran Habonaron Do Bona Sumatera
Utara
Http:/ali gultom.mn/teply.com/journal item/196/nilai-nilai. luhur dalam
ajaran habonaron do bona. Diakses 27 April 2008, 02:15 Wib.
http://wapedia.mobi/id/integrasi sosial.Diakses Sabtu 17 Januari 2009, 20:54 Wib)
Http:// civicseducation.wordpress.com/2008/08/08/ketaatan norma-norma-sosialmenuju-integrasi-sosial. Diakses Kamis 22 Januari 2009, 21:24 Wib)
Sholehudin A.Aziz. Merajut Damai Melalui Integrasi Sosial Masyarakat
Htt://www.csrc.
or.
Id
/artikel
/index.
Php
?
detail
=
2008120241302.Diakses Jumat 23 Januari 2009. 02:53 Wib).
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Lampiran : Kuesioner Penelitian
Kepada Yth,
Bapak/Ibu/saudara/saudari
Di
Tempat
Dengan hormat, sehubungan penyelesaian penulisan skripsi, saya mohon
kiranya bapak/ibu/saudara/saudari bersedia sebagai responden untuk mengisi
angket penelitian skripsi saya yang berjudul “Analisis Proses Integrasi Sosial
Karyawan Dan Masyarakat” (Studi Deskriptif Pada PT. Allegrindo Di Desa
Urung Panei Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun). Saya yang bertanda
tangan di bawah ini :
Nama
Nim
Departemen
Fakultas
: Asri Simanihuruk
: 030901010
: Sosiologi
: FISIPOL USU
Hormat saya peneliti,
Asri Simanihuruk
I. Identitas Responden
1. Nama
2. Alamat
3. Jenis Kelamin
:
:
: a. Laki-laki
b. Perempuan
4. Umur
:
5. Tingkat pendidikan :
6. Status perkawinan : a. Kawin
b. Tidak Kawin
c. Janda/Duda Cerai
d. Janda/ Duda Meninggal
7. Agama
:
8. Pekerjaan
:
9. Penghasilan
:
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Petunjuk Pengisian
Lingkarilah salah satu jawaban yang saudara anggap paling benar sesuai
dengan jawaban yang tersedia dan isilah titik-titik yang disediakan dengan
jawaban yang saudara anggap benar.
A. Interaksi Sosial
1. Bagaimanakah frekuensi pertemuan saudara dengan masyarakat ?
a. Sangat sering
b. Sering
c. Jarang
d. Tidak pernah
2. Jika sering, berapakah frekuensi/waktu saudara bertemu per hari ?
a. 60 menit
b. 30 menit
c. 15 menit
d. Lainnya, sebutkan……………………..
3. Jika tidak pernah bertemu mengapa hal tersebut terjadi?
……………………………………………………..
…………………………………………………….
4. Bagaimanakah frekuensi pertemuan saudara dengan karyawan perusahaan?
a. Sangat sering
b. Sering
c. Jarang
d. Tidak pernah
5. Jika sering, apa sebabnya ? Jika jarang, apa sebabnya ?
…………………………………………………………….
…………………………………………………………….
6. Apakah ada kegiatan bersama-sama yang dilakukan oleh masyarakat?
a. Ya, ada
b. Tidak ada
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
 Jika ada kegiatan apa saja ?
a. Kerja bakti/gotong-royong
b. STM (Serikat Tolong Menolong)
c. Kebaktian lingkungan
d. Lainnya,sebutkan……………….
7. Apakah kegiatan bersama yang saudara ikuti di desa ini?
a. Kerja bakti/gotong-royong
b. STM (Serikat Tolong Menolong)
c. Kebaktian lingkungan
d. Lainnya,sebutkan……………..
8. Berapakah frekuensi waktu pertemuan saudara dalam kegiatan bersama per
minggu?
a. 1 kali
b. 1-2 kali
c. 2-3 kali
d. 3-4 kali
e. Lainnya,sebutkan ………………
9. Menurut saudara apakah dengan kegiatan tersebut dapat mempererat
hubungan karyawan dengan masyarakat ?
a. Ya
b. Tidak
B. Fungsi Manifest
10. Apakah saudara memiliki tabungan ?
a. Ya
b. Tidak
11. Berapakah pendapatan yang saudara peroleh setiap bulan ?
a. >Rp.600.000
b. Rp. 600.000-Rp.1000.000
c. >Rp. 1000.000
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
C. Disfungsi Sistem
12. Apakah pernah terjadi konflik atau masalah antara masyarakat dengan
pengelola perusahaan ?
a.Pernah
b. Tidak pernah
13. Jika pernah dalam hal apa ?
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
14. Apakah pernah terjadi konflik atau masalah antara masyarakat setempat
dengan masyarakat pendatang perusahaan ?
a. Pernah
b. Tidak pernah
15. Bagaimana status rumah/tempat tinggal yang saudara tempati ?
a. Milik sendiri
b. Milik orang tua
c. Menyewa
d. Lainnya, sebutkan ……………
16. Bagaimanakah bentuk rumah yang saudara tempati ?
a. Permanen
b.Semi permanen
17. Apakah saudara memiliki lahan pertanian ?
a. Ya
b. Tidak
18. Jika ya, berapakah luas tanah yang saudara miliki ?
……………………………………………………………
19. Bagaimanakah status tanah pertanian yang saudara kerjakan ?
a. Sewa
b. Milik sendiri
c. Lainnya, sebutkan ………
20. Apakah pekerjaan utama saudara ?
a. Petani
b. Pegawai negeri
c. Pedagang
d. Karyawan perusahaan
e. Lainnya, sebutkan ……………………
21. Apakah saudara bekerja diperusahaan tersebut ?
a. Ya
b. Tidak
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
22. Jika saudara bekerja diperusahaan tersebut, bagaimanakah status pekerjaan
saudara pada perusahaan tersebut?
a. Pegawai tetap
b. Buruh harian
c. Lainnya sebutkan……
23. Jika ya apakah motivasi saudara bekerja di perusahaan tersebut ?
a. Untuk menambah penghasilan
b. Mengisi waktu luang
c. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
d. Lainnya, sebutkan……………………
24. Jika tidak mengapa saudara tidak bekerja di perusahaan tersebut ?
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Lampiran : Panduan Wawancara
Judul Penelitian
ANALISIS PROSES INTEGRASI SOSIAL KARYAWAN DAN
MASYARAKAT (Studi Deskriptif Pada PT.Allegrindo Di Desa Urung Panei
Kec. Purba, Kab. Simalungun)
Peneliti
Asri Simanihuruk (Nim 030901010/Departemen Sosiologi)
1. Untuk Pimpinan Perusahaan
I. Riwayat Kehidupan Informan
Nama
:
Usia
:
Pendidikan
:
Agama
:
Status
:
Asal Istri
:
Jumlah Anak
:
Pendapatan
:
Jabatan/Pekerjaan
:
Lama Tinggal
:
Lama Bekerja
:
II. Daftar Pertanyaan Kepada Informan
1. Menurut saudara/i bagaimanakah latar belakang berdirinya perusahaan di
desa ini?
2. Bagaimanah status pekerjaan pegawai yang bekerja diperusahaan ?
3. Menurut saudara/i darimanakah perusahaan merekrut karyawan ?
4. Menurut saudara/i apa sajakah yang dilakukan perusahaan untuk
mempererat hubungan interaksi dengan masyarakat sekitar?
5. Pernah konflik dengan masyarakat salbe, bagaimanakah menurut saudara/i
mengatasi/menanggulagi konflik tersebut ?
6. Setelah konflik tersebut teratasi bagaimanakah menurut saudara interaksi
perusahaan dengan masyarakat salbe?
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
2. Untuk Karyawan Tetap
I. Riwayat Kehidupan Informan
Nama
:
Usia
:
Pendidikan
:
Agama
:
Status
:
Asal
:
Jumlah Anak
:
Pendapatan
:
Jabatan/Pekerjaan
:
Lama Tinggal
:
Lama Bekerja
:
II. Daftar Pertanyaan Kepada Informan
1. Menurut saudara/i dari manakah perusahaan merekrut tenaga kerja?
2. Bagaimanakah interaksi sosial karyawan dan masyarakat dengan adanya
perusahaan di desa ini ? Dan dalam bentuk apakah interaksi sosial yang
dilakukan karyawan dan masyarakat tersebut ?
3. Bagaimanakah frekuensi waktu interaksi, dan dimanakah interaksi sosial
tersebut terjadi ?
4. Bagaimanakah menurut saudara/i hubungan (interaksi sosial) sesama
karyawan perusahaan ?
5. Bagaimanakah pendapatan saudara/i setelah bekerja di perusahaan ?
6. Menurut
saudara/i
bagaimanakah
hubungan
perusahaan
dengan
masyarakat ?
7. Selain bekerja di perusahaan, apakah saudara/i mempunyai pekerjaan lain?
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
3. Untuk Karyawan Tidak tetap
I. Riwayat Kehidupan Informan
Nama
:
Usia
:
Pendidikan
:
Agama
:
Status
:
Asal
:
Jumlah Anak
:
Pendapatan
:
Jabatan/Pekerjaan
:
Lama Tinggal
:
Lama Bekerja
:
II. Daftar Pertanyaan Kepada Informan
1. Menurut saudara/i darimankah perusahaan merekrut pekerja ?
2. Bagaimanakah interaksi sosial karyawan dan masyarakat ? Dan dalam
bentuk apakah interaksi tersebut terjadi ?
3. Bagaimanakah frekuensi waktu interaksi, dan biasanya dimanakah
interaksi sosial tersebut terjadi ?
4.
Menurut saudara/i bagaimanakah interaksi sosial sesama karyawan ?
5. Bagaimanakah pendapatan saudara dengan bekerja di perusahaan ?
6. Menurut
saudara/i
bagaimanakah
hubungan
perusahaan
dengan
masyarakat sekitar ?
7. Selain bekerja di perusahaan ini, apakah pekerjaan saudara ?
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
4. Untuk Masyarakat/Bukan Karyawan
I Riwayat kehidupan Informan
Nama
:
Usia
:
Pendidikan
:
Agama
:
Status
:
Asal
:
Jumlah Anak
:
Pendapatan
:
Jabatan/Pekerjaan
:
Lama Tinggal
:
Lama Bekerja
:
II. Daftar Pertanyaan Kepada Informan
1. Menurut saudara/i dari manakah perusahaan merekrut tenaga kerja ?
2. Menurut saudara/i bagaimanakah interaksi karyawan dan masyarakat?
3. Bagaimana pendapatan saudara/i dengan adanya perusahaan ini ?
4. Menurut
saudara/i
bagaimanakah
hubungan
perusahaan
dengan
masyarakat sekitar ?
5. Menurut saudara/i apakah perusahaan membawa kemakmuran bagi
masyarakat sekitar ?
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Transkip Hasil Wawancara
Lampiran
1. Pimpinan Perusahaan
1.
Nama
: J. Saragih
Usia
: 44 Tahun
Pendidikan
: SMU
Agama
: Protestan
Status
: Kawin
Asal
: Jakarta
Jumlah Anak
: 4 Orang
Pendapatan
: Rp ±1500.000/Bulan
Jabatan/Pekerjaan
: Kepala Bgian (Kabag)
Lama Tinggal
: 15 tahun Sejak Tahun 1994
Lama Bekerja
: 10 tahun Sejak Tahun 2000
II. Daftar Pertanyaan Kepada Informan
Tanya (Peneliti) : Menurut saudara/i bagaimanakah latar belakang berdirinya
perusahaan di desa ini?
Jawab (Informan) : Pada awalnya milik pemerintah pada tahun 1984, peternakan
dikelola
diatas areal 1 Ha dapat dikatakan masih sangat
kecil. Pada saat dikelola pemerintah peternakan tidak begitu
menguntungkan karena pemerintah tidak serius dalam
mengelolanya. Pada tahun 1988 perusahaan pernah berhenti
beroperasi karena karyawan yang bekerja sering upah tidak
diberikan. Pada tahun 1989 perusahaan kembali beroperasi
tepatnya pada tanggal 20 april 1989 yang dikelola oleh pihak
swasta oleh seorang etnis tioghoa (cina). Perusahaan ini
setelah dikelola pihak swasta sekitar 19 tahun. Pada tahun
2000 perusahaan semakin memperluas arealnya yaitu 40.000
Ha. Perusahaan mempekerjakan karyawanya semakin banyak
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
yaitu 329 karyawan. Perusahaan memperoses penggemukan
dan memproduksi ternak yang dipasarkan di Sumatera Utara.
Sekarang, hampir setiap keluarga di desa ini anggota keluarga
kebanyakan laki-laki yang bekerja dipeternakan sebagai
satpam satu dua orang bekerja dibagian administrasi dan
selebihnya karyawan tidak tetap (Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti) : Bagaimanah status pekerjaan pegawai/karyawan yang bekerja
di perusahaan ?
Jawab (Informan) :
Karyawan tetap bagian kantor administrasi yang terdiri dari
4 bagian : administrasi keuangan (kantor), administrasi
lapangan, administrasi perbekalan (gudang), adminisrasi
populasi ternak. Sedangkan karyawan tidak tetap yaitu
karyawan yang diupah jika masuk kerja yang terdiri dari
karyawan yang bekerja sebgaai pemberi pakan ternak,
membersihkan
kandang
ternak,
menyuntik
ternak,
menganggkut ternak untuk dijual, supir dalam lokasi
peternakan (supir langsir), bagian limbah (IPAL), langsir
pakan ternak dari gudang kelapangan (Wawancara, Oktober
2008)
Tanya
(Peneliti)
:
Menurut
saudara/i
darimanakah
perusahaan
merekrutkaryawan?
Jawab (Informan)
: Karyawan yang bekerja diperusahaan yang memang
benar-benar
penduduk
asli
desa
ini
dibagian
administrasi ada 4 orang, dan kepala bagian hanya
saya sendiri selebihnya berasal dari luar daerah, tapi
karyawan lepas banyak yang berasal dari desa ini
(Wawancara, Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tanya (Peneliti)
:
Menurut saudara/i apa sajakah yang dilakukan perusahaan
untuk mempererat hubungan interaksi dengan masyarakat
sekitar?
Jawab (Informan)
:
Kompos diberikan gratis untuk masyarakat Urung Panei,
kompos diberikan kepada masyarakat sesuai dengan
permintaan masyarakat yang membutuhkan kompos
tersebut.
Dengan
pendapatan
bantuan
masyarakat
tersebut
meningkatkan
khususnya
penghasilan
masyarakat petani”. Setiap natal dan tahun baru diberikan
daging kepada masyarakat melalui gereja. Jika Pesta
masyarakat diberikan 30 % diskon dari harga ternak, bagi
murid SD yang berprestasi diberikan beasiswa dan
bantuan berupa alat perlengkapan sekolah setiap semester
(Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
:
Pernah konflik dengan masyarakat salbe, bagaimanakah
menurut
saudara/i mengatasi/menanggulangi
konflik
tersebut?
Jawab (Informan) : Pernah konflik, pada tahun 2001. Penduduk salbe demostrasi
keperusahaan,
mereka
menuntut
perusahaan
dengan
pencemaran terhadap danau toba dan pertanian mereka. Kami
juga selaku pihak perusahaan berusaha menaggapi tuntutan
masyarakat salbe, sekitar tahun 2004 yang lalu. Saluran aliran
limbah
dari
PT.Allegrindo
ditembok
dan
dilakukan
penyaringan limbah 5 kali proses penyaringan , sehingga air
yang mengalir kedanau toba itu sudah bersih. Itu dapat
dibuktikan dari hasil penyaringan limbah dapat lagi kami
pergunakan untuk memandikan ternak dan membersihkan
kandang ternak. Bukan itu saja, kami juga membangun
puskesmas, PLN (listrik) untuk penerangan, kami melihat
guru di SD salbe kurang kami tempatkan 2 guru bantu yang
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
kami bayar RP. 600.000/bulan untuk 2 orang. Jalan raya yang
ada di desa Salbe kami perbaiki, jika masyarakat membeli
ternak kami berikan diskon 30 %. Ada lagi bantuan yang
kami berikan kepada masyarakat salbe. Jika murid berprestasi
kami berikan bantuan berupa alat-alat perlengkapan sekolah
kami berikan setiap semester (Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
: Setelah konflik tersebut teratasi bagaimanakah menurut
saudara interaksi perusahaan dengan masyarakat salbe?
Jawab (Informan) :
Kami pihak perusahaan sebenarnya telah memberikan yang
terbaik bagi masyarakat salbe. Jadi sekarang hubungan
kami dengan masyarakat Salbe baik. Masyarakat salbe telah
dapat
menerima
kehadiran
PT.
Allegrindo
(Wawancara,Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
2. Karyawan Tetap
1.
Nama
: J. Girsang
Usia
: 38 Tahun
Pendidikan
: SMU
Agama
: Protestan
Status
: Kawin
Asal
: Urung Panei
Jumlah Anak
: 5 Orang
Pendapatan
: Rp ±1500.000/Bulan
Jabatan/Pekerjaan
: Humas (Karyawan Tetap)
Lama Tinggal
: 38 Tahun Sejak Lahir
Lama Bekerja
: 8 Tahun Sejak Tahun 2000
II. Daftar Pertanyaan Kepada Informan
Tanya (Peneliti)
: Menurut saudara/i dari manakah perusahaan merekrut tenaga
kerja?
Jawab (Informan)
: Setahu saya perusahaan merekrut karyawan dari masyarakat
setempat dan penduduk pendatang atau bisa dikatakan 50 %
karyawan setempat dan 50 % lagi merupakan penduduk
pendatang (Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti) : Bagaimanakah interaksi sosial karyawan dan masyarakat
dengan adanya perusahaan di desa ini ? Dan dalam bentuk
apakah interaksi sosial yang dilakukan
karyawan dan
masyarakat tersebut ?
Jawab (Informan) : Kerjasama yang saya diikuti adalah kegiatan keagamaan
yang diadakan 1
kali dalam seminggu pada rabu malam
secara bergilir di rumah penduduk, sedangkan kegiatan STM
dilakukan
apabila
ada
kemalangan
dan
pesta
adat
(perkawinan) setiap orang yang mengikuti kegiatan tersebut
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
mempunyai jadwal kerja dalam bahasa Simalungun disebut
parhobas berdasarkan sektor/lingkungan. Kegiatan arisan
dilakukan 1 kali seminggu pada hari minggu setelah pulang
gereja secara bergilir (wawancara, Oktober 2008)
Tanya(Peneliti) :
Bagaimanakah frekuensi waktu interaksi, dan dimanakah
interaksi sosial tersebut terjadi ?
Jawab (Informan) : Sering bertemu dengan masyarakat, biasanya di kedai kopi
pada pagi dan sore hari. Karena didesa ini sudah merupakan
suatu tradisi bahwa seorang laki-laki yang telah dewasa ke
kedai kopi
pada pagi dan sore hari yaitu sebelum dan
sesudah selesai kerja (Wawancara,Oktober 2008)
Tanya ( Peneliti)
: Dimanakah proses interaksi tersebut terjadi dan frekuensi
waktu bertemu saudara per hari ?
Jawab (Informan) : Saya biasanya bertemu pada pagi hari dan sore hari di kedai
kopi sebelum dan sesudah kerja dan pada saat istirahat.
selama 60 menit, biasanya sambil minum dan sambil cerita.
Menunggu jam kerja (Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
: Bagaimanakah menurut saudara/i hubungan (interaksi sosial)
sesama karyawan perusahaan ?
Jawab (Informan) : Setiap ada kegiatan arisan, saya selalu datang sebab diadakan
pada hari minggu sore. Kegunaan perkumpulan itu dapat
bertemu dengan tetangga yang bekerja diperusahaan. Kalau
tidak ikut serta
kita tidak seperti umumnya masyarakat
setempat (Wawancara,Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tanya (Peneliti) :Bagaimanakah pendapatan saudara/i setelah bekerja di
perusahaan
dan jika lebih apakah yang saudara lakukan
terhadap pendapatan tersebut ?
Jawab (Informan) : Mengalami peningkatan, jika pendapatan saya lebih biasanya
saya menabungkannya di bank. Biasanya pendapatan saya
lebih apabila hasil panen dari ladang panen. Saya menabung
untuk biaya sekolah anak-anak saya (Wawancara, Oktober
2008)
Tanya (Peneliti) : Menurut saudara/i bagaimanakah hubungan perusahaan dengan
masyarakat ?
Jawab (Informan) : Ya pernah pada tahun 2001, masyarakat yang tidak diterima
bekerja mencuri ternak pada malam hari. Pada saat itu juga
banyak karyawan yang dipecat karena ketahuan bekerja sama
dengan penduduk.Tetapi sekarang tidak pernah terjadi lagi
(Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
: Selain bekerja di perusahaan, apakah saudara/i mempunyai
pekerjaan lain ?
Jawaban (Informan) : Mengusahakan pertanian, jika ada libur membantu istri
keladang (Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
Jawab (Informan)
: Bagaimanakah status rumah yang saudara tempati ?
: Milik sendiri, awalnya untuk memperingan biaya tanahnya
saya beli dari orang tua. Dimana selain harga yang cukup
ringan juga bisa dilakukan secara cicil sehingga dapat
memenuhi kebutuhan yang lainnya (Wawancara, Oktober
2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
3. Karyawan Tidak Tetap
1. Nama
: L. Purba
Usia
: 42 Tahun
Pendidikan
: SMU
Agama
: Protestan
Status
: Kawin
Asal
: Urung Panei
Jumlah Anak
: 5 Orang
Pendapatan
: Rp ±900.000/Bulan
Jabatan/Pekerjaan
: Karyawan Tidak Tetap
Lama Tinggal
: 42 Tahun Sejak Lahir
Lama Bekerja
: 10 Tahun Sejak Tahun 1999
II. Daftar Pertanyaan Kepada Informan
Tanya (Peneliti) : Menurut saudara/i darimanakah perusahaan merekrut pekerja?
Jawab (Informan) :
Awal mula beroperasinya perusahaan ini, bisa dikatakan
setiap kepala keluarga dan anak lajang didesa ini
merupakan
karyawan
di
perusahaan
(Wawancara,
Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
: Bagaimanakah interaksi sosial karyawan dan masyarakat ?
Dan dalam bentuk apakah interaksi tersebut terjadi ?
Jawab (Informan) :
Kerja sama yang kami lakukan kegiatan keagamaan, arisan
dan STM, kegiatan ini sebenarnya tidak diharuskan tetapi
apbila kita tidak mengikutinya kita merasa terkucil/tersisih
dengan masyarakat umum karena dengan kegiatan inilah
kita dapat meningkatkan interaksi dengan yang lainnya,
karena itu saya mengikuti semuanya kegiatan yang ada
didesa ini (Wawancara, Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tanya (Peneliti) :
Bagaimanakah frekuensi waktu interaksi, dan biasanya
dimanakah interaksi sosial tersebut terjadi ?
Jawab (Informan) :
Dalam seminggu mau mengikuti STM 2-3 kali tergantung
ada
tidaknya
masyarakat
mengadakan
pesta
dan
kemalangan (kematian). Seperti minggu kemaren saya
mengikuti kegiatan
STM 2 kali pertama adanya pesta
pernikahan yang hari kedua adanya kemalangan. Biasanya
untuk menyiasati agar waktu bekerja perusahaan tidak
terlantar. saya minta tolong sama teman yang kebetulan
satu tempat kerja, atau kalau tidak ada yang bisa
menggantikan pekerjaan saya, maka upah saya dipotong
atau untuk menggantikanya saya masuk kerja pada hari
minggu. Sedangkan kalau kegiatan keagamaan 1 kali pada
malam rabu dan arisan diikuti 1 kali dalam seminggu yaitu
pada sore hari sepulang dari gereja (Wawancara, Oktober
2008)
Tanya (Peneliti) : Menurut saudara/i bagaimanakah interaksi sosial sesama
karyawan
Jawab (Informan)
: Kami sesama karyawan saling tolong menolong misalnya
“jika ada karyawan tidak masuk kerja” kami akan saling
membantu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, agar
tidak terjadi ketelantaran kerja yang lainnya. Selain itu
untuk mempererat hubungan kami sesama karyawan
membentuk arisan yasng disebut dengan arisan saroha yang
diadakan 1 kali dalam seminggu secara bergilir. Dengan
arisan ini saya merasakan komunikasi dan hubungan
semakin erat dengan karyawan yang lainnya (Wawamcara,
Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Tanya (Peneliti)
:Bagaimanakah pendapatan saudara dengan bekerja di
perusahaan ?
Jawab (Informan) :
Pendapatan saya lebih, biasanya jika saya panen dari ladang.
Pendapatan dari panen saya simpan di bank yaitu bank BRI.
Pendapatan
saya
dari
perusahaan
digunakan
untuk
kebutuhan sehari-hari (Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
: Menurut saudara/i bagaimanakah hubungan perusahaan
dengan masyarakat sekitar ?
Jawab (Informan) :
Hubungan perusahan sangat baik dengan masyarakat.
Perusahaan menguntungkan bagi masyarakat karena
dengan hadirnya perusahaan mayarakat dapat bekerja
diperusahaan, selain itu juga dapat bekerja keladang
(Wawancara, Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
:
Selain bekerja di perusahaan ini, apakah pekerjaan saudara ?
Jawab (Informan) : Keladang (bertani) jika ada waktu libur dari peusahaan
(Wawancara,
Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
4. Masyarakat Yang Bukan Karyawan
1.
Nama
: A. Sipayung
Usia
: 33 Tahun
Pendidikan
: SMU
Agama
: Protestan
Status
: Kawin
Asal
: Urung Panei
Jumlah Anak
: 3 Orang
Pendapatan
: Rp ±500.000/Bulan
Jabatan/Pekerjaan
: Bertani
Lama Tinggal
: 33 Tahun
II. Daftar Pertanyaan Kepada Informan
Tanya (Penelit)
:
Menurut saudara/i dari manakah perusahaan merekrut
tenaga kerja?
Jawab (Informan)
: Penduduk setempat dan penduduk luar (pendatang) bias
dikatakan
50
%
merupkan
penduduk
luar
(Wawancara,Oktober 2008)
Tanya (Peneliti)
:
Menurut saudara/i bagaimanakah interaksi sosial karyawan
dan masyarakat ?
Jawab (Informan)
Kerja sama yang lebih banyak diikuti oleh karyawan dan
masyarakat yaitu kegiatan STM karena dengan kegiatan
ini sangat membantu sukses atau tidak suatu pesta yang
sedang berlangsung. Karena itu apabila kita tidak datang
pada kegiatan itu kita akan dikenakan sangsi yaitu
membayar upah satu hari kerja sesuai dengan kesepakatan
sebelumnya. Waktu itu saya tidak dapat datang karena
saya sakit maka saya mencarikan orang lain untuk
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
menggantikan saya mengikuti kegiatan STM tersebut dan
jika ada undangan pesta jika saya tidak bisa datang akan
saya wakilkan kepada saudara, sedangkan kegiatan arisan
tidak saya ikuti karena biaya yang dikeluarkan terlalu
banyak karena itu yang biasa mengikutinya adalah
sesama
mereka
yang
bekerja
di
perusahaan
(Wawancara,Oktober 2008)
Tanya (Peneliti) :
Bagaimana frekuensi waktu bertemu/interaksi sosial saudara/i
dengan karyawan perusahaan ?
Jawab (Informan) :
Jarang bertemu dengan karyawan perusahaan karena
kebetulan rumah saya jauh dari perusahaan, apalagi
karyawan yang bertempat tinggal di perusahaan, kurang
kenal. Sedangkan dengan masyarakat sering bertemu
dikedai kopi pada pagi hari dan sore hari, selama 15
menit. Habis minum ya pulang (Wawancara, Oktober
2008)
Tanya (Peneliti) :
Menurut saudara/i apakah pernah terjadi konflik antara
pengelola perusahaan dengan masyarakat sekitar ?
Jawab (Informan) :
Tidak pernah konflik, karena pengelola perusahaan dan
penduduk yang bukan karyawan jarang melakukan
komunikasi (Wawancara, Oktober 2008)
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Asri Simanihuruk : Analisis Proses Integrasi Sosial Karyawan Dan Masyarakat (Studi Deskriptif Pada PT.
Allegrindo Di Desa Urung Panei Kec. Purba, Kab.Simalungun), 2009.
USU Repository © 2009
Download