Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur Bab II Tinjauan Pustaka II

advertisement
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 UMUM
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Gempa bumi, adalah
guncangan di permukaan bumi disebabkan oleh pergerakan yang cepat pada lapisan
batuan terluar bumi. Gempa bumi terjadi ketika energi yang tersimpan dalam bumi,
biasanya dalam bentuk tegangan pada batuan, secara tiba-tiba terlepas. Energi ini
disalurkan ke permukaan bumi oleh gelombang gempa. Atau gempa bumi adalah
gerakan tiba-tiba atau suatu rentetan gerakan tiba-tiba dari tanah dan bersifat transient
yang berasal dari suatu daerah terbatas dan meneyebar dari titik tersebut ke segala
arah (M.T. Zeinn).
Berdasarkan penyebabnya gempa bumi diklasifikasikan menjadi menjadi 3 (tiga)
jenis, yaitu:
a. Gempa Bumi Runtuhan
Gempa bumi ini terjadi karena adanya keruntuhan yang terjadi baik di atas
mapun di bawah permukaan tanah, Contohnya: tanah longsor, salju longsor,
jatuhan batu dal lain-lain.
b. Gempa Bumi Vukanik
Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas dari gunung berapi, baik
sebelum mapun saat meletusnya gunung berapi
c. Gempa Bumi Tektonik
Gempa bumi ini terjadi akibat adanya pergeseran bumi (lithosphere) yang
umumnya terjadi di daerah patahan kulit bumi
Berdasarkan waktunya gempa bumi diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:
a. Gempa Bumi utama (main shock)
Gempa bumi utama yaitu gempa bumi yang terjadi pada goncangan awal
akibat deformasi yang di akibatkan oleh adanya interaksi antar lempeng
b. Gempa susulan
Gempa susulan merupakan gempa yang terjadi setelah datangnya gempa bumi
utama. Susulan bererti yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Ia berlaku di
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 1
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
kawasan yang sama dengan gempa bumi pertama, dan berlaku kerana batubatuan yang baru berubah masih belum tetap kedudukannya
Istilah-istilah yang di gunakan dalam rekayasa gempa bumi:
a. Fokus
Fokus adalah suatu titik di bawah permukaan tanah dimana pertamakali energi
gempa tersebar
b. Hiposenter
Hiposenter adalah jarak terdekat antara fokus dengan suatu site yang ditinjau
c. Focal Depth
Focal Depth adalah kedalaman gempa (jarak vertikal dari titik dipermukaan
tanah ke fokus)
d. Epicenter
Epicenter adalah titik di permukaan tanah tepat di atas fokus
e. Jarak Epicenter
Jarak Epicenter adalah jarak mendatar dari epicenter ke suatu site yang
ditinjau
Gambar 2. 1 Ilustrasi Pusat Gempa Dalam Tanah Atau Batuan (www.usgs.gov;
2007)
Yang akan di bahas dalam tugas akhir ini adalah gempa bumi tektonik yang terjadi di
Indonesia bagian timur. Dan dalam menentukan parameter-parameter gempa dalam
tugas akhir ini digunakan gempa utama (main shock) kerena merupakan titik dimana
terjadi goncangan awal terjadinya gempa.
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 2
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
2.2 LEMPENG TEKTONIK
Lapisan dalam bumi terdiri dari lapisan kerak, mantel, dan inti. Seperti gambar
berikut ini:
Gambar 2. 2 Struktur Lapisan Dalam Bumi (Encarta 2006)
Mantel adalah lapisan dalam bumi yang terletak antara kerak bumi paling luar dengan
inti bumi. Sedangkan inti bumi adalah pusat bumi yang berjari-jari sekitar 3500 km.
Inti bumi terdiri dari batuan cair yang bersuhu antara 4000oC – 5000oC. Mantel dan
inti adalah bagian terbesar penyusun massa bumi. Jarak dari kerak bumi sampai ke
inti bumi sekitar 6400 km. Mantel terdiri dari 3 (tiga) bagian:
1. Bagian terbawah dari litosfer
2. Lapisan astenosfer yang berbentuk cair
3. Mantel bawah
Litosfer yang merupakan tempat dimana kita berpijak, mengapung di atas lapisan
astenosfer. Sifat astenosfer yang lunak ini menyebabkan litosfer yang berada di
atasnya saling bergerak dan bergesekan satu sama lain. Pergerakan litosfer ini menjadi
sumber terbanyak dalam akitivitas tektonik. Astenosfer juga merupakan sumber
magma yang merupakan penyusun kerak samudera dan menjulang ke atas membentuk
gunung laut.
Lempeng tektonik adalah sebuah penggabungan dari berbagai teori dalam geologi.
Diperkenalkkan tahun 1960-an., membuat penemuan itu sebagai sebuah revolusi
paling baru dalam ilmu pengetahuan. Teori itu menyebutkan bahwa litosfer adalah
sebuah kumpulan lempeng kaku yang saling bergerak satu sama lain di atas sebuah
lapisan batuan cair yang bernama astenosfer. Teori lempeng tektonik sangat
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 3
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
membantu dalam ilmu geologi karena dapat menjelaskan tentang berbagai kejadian di
alam mengenai gempa, terjadinya gunung dan segala akitivitasnya.
2.2.1 Pergerakan Lempeng
Lempeng dan pergerakannya menurut teori tektonik lempeng kerakbumi (lithosfer)
dapat diterangkan ibarat suatu rakit yang sangat kuat dan relatif dingin yang
mengapung di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat panas, atau bisa juga
disamakan dengan pulau es yang mengapung di atas air laut. Ada dua kjenis kerak
bumi yakni kerak samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan sangat basa,
yang dijumpai di samudera sangat dalam, dan kerak benua tersusun oleh batuan asam
dan lebih tebal dari kerak samudera. Kerakbumi menutupi seluruh permukaan bumi,
namun akibat adanya aliran panas yang mengalir di dalam astenofer menyebabkan
kerakbumi ini pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil yang disebut lempeng
kerakbumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak samudera
atau keduanya. Arus konvensi tersebut merupakan sumber kekuatan utama yang
menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng.
Lempeng-lempeng yang saling berinteraksi (bergerak) tersebut terbagi menjadi 3
(tiga) mekanisme, yaitu:
•
Saling mendekat (konvergen)
Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan dimana
salah satu dari lempeng akan menunjam ke bawah yang lain. Daerah
penunjaman membentuk suatu palung yang dalam, yang biasanya merupakan
jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang jalur penunjaman akan terbentuk
rangkaian kegiatan magmatik dan gunungapi serta berbagai cekungan
pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara
lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman
di selatan Pulau Jawa dan jalur gunung api Sumatera, Jawa dan Nusatenggara
dan berbagai cekungan seperti Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah,
Sumatera Selatan dan Cekungan Jawa Utara.
•
Saling menjauh (divergen)
Pergerakan lempeng saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan
peregangan kerakbumi dan akhirnya terjadi pengeluaran material baru dari
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 4
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
mantel membentuk jalur magmatik atau gunungapi. Contoh pembentukan
gunungapi di Pematang Tengah Samudera di Lautan Pasific dan Benua Afrika.
•
Saling berpapasan (Transform)
Pergerakan saling berpapasan dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar
seperti misalnya Sesar Besar San Andreas di Amerika.
Gambar 2. 3 Ilustrasi Interaksi Lempeng Tektonik (Wikipedia 2007)
Gambar 2. 4 Ilustrasi Mekanisme Pergerakan Lempeng (Wikipedia 2007)
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 5
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Gempa bumi yang terjadi di Indonesia terbagi menjadi beberapa zona, yaitu; zona
subduksi, zona transformasi, dan zona difusi
2.2.2 Zona Gempa Subduksi
Zona subduksi terjadi ketika suatu lempeng bertabrakan dengan lempeng yang lain,
dan menujamnya lempeng yang satu tersebut ke bawah lempeng yang lain. Yang
termasuk pada salah
satu zona subduksi yaitu Lempeng Indo-Australia yang
menunjam ke bawah Lempeng Eurasia (Eropa dan Asia). Di Indonesia terlihat di
sepanjang pesisir selatan Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggata,Timor, Kepulauan
Maluku .
Zona gempa subduksi menurut Crouse (1992) terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Zona Megathrust/interface
Zona ini merupakan zona subduksi yang terjadi di sepanjang daerah awal dari
penujaman lempeng tektonik
2. Zona Benioff/Interslab
Zona benioff merupakan kelanjutan dari megathrust yang menujam lebih
curam mulai dari batas bawah megathrust sampai kedalaman tertentu.
Oceanic / Continental
Continental / Continental
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 6
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Oceanic / Oceanic
Gambar 2. 5 Ilustrasi Zona Gempa Subduksi (Wikipedia 2007)
2.2.3 Zona Gempa Transformasi
Zona gempa transformasi terjadi karena gempa kerak dangkal. Gempa kerak dangkal
(shallow crustal fault) adalah gempa bumi yang terjadi akibat tekanan yang
disebabkan pergerakan lempeng-lempeng patahan melebihi kekuatan batuan.
Kedalaman titik gempa pada gempa kerak dangkal ini biasanya tergolong ke dalam
gempa dangkal. Bidang patahan ini biasanya tidak beraturan tergantung pada jenis
batuan dengan berbagai macam sifat fisiknya.
Gambar 2. 6 Ilustrasi Patahan/Fault (www.usgs.gov; 2007)
2.2.4 Zona Gempa Difusi
Zona gempa difusi terjadi karena kejadian gempa yang titik epicenternya menyebar.
Zona gempa difusi tidak termasuk zona gempa subduksi maupun zona gempa
transformasi.
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 7
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
2.3 TATANAN TEKTONIK INDONESIA
Sopaheluwakan (1999) mengemukakan bahwa sebenarnya tektonik Indonesia hanya
dikontrol dua masa kontinen besar, yaitu lempeng Eurasia di sebelah barat dan
lempeng Asia di sebelah timur. Di bagian tengah terjadi dinamika lempeng mikro
Tersier. Dalam prespektif basement geology produk dinamika itu berupa tiga tipe
orogen utama di Indonesia, yaitu orogen tipe Sunda, tipe Makassar dan tipe Banda.
Tipe Sunda, berupa orogen berumur Mesozoikum Akhir memanjang dari Meratus
sampai Karangsambung, serta orogen berumur Neogen membujur sepanjang
Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara. Tipe Makassar, terletak di bagian luar orogen
Meratus – Karangsambung merupakan hasil subduksi dan obduksi lengan timur
Sulawesi dengan beberapa mikro kontinen yang didorong ke arah Sulawesi. Tipe
Banda yang mencirikan hasil perulangan tumbukan obduksi.
Simanjuntak (2000) memperjelas keberadaan jalur-jalur orogen Neogen di Indonesia
sebagai model struktur yang bisa diterapkan untuk menjelaskan fenomena jalur
orogen di kawasan lain. Terdapat tujuh jalur orogen di Indonesia, yaitu jalur-jalur
orogen: Sunda, Barisan, Talaud, Sulawesi, Banda, Melanisia dan Dayak. Orogen
Sunda di Jawa dan Nusa Tenggara, sebagai produk konvergen normal seperti jalur
orogen tipe Andean. Orogen Barisan di Sumatera, berasosiasi dengan konvergen
miring dan sesar mendatar geser kanan. Orogen Talaud di Maluku Utara yang
merupakan tipe hasil bentukan penunjaman kopel busur ganda dengan sesar mendatar
geser kiri. Orogen Sulawesi merupakan bentuk penunjaman kontinen mikro dengan
sistem subduksi dan sesar mendatar geser kiri. Orogen Banda merupakan hasil
penunjaman busur kontinen antara Australia dan sistem subduksi bagian selatan busur
Banda. Orogen Melanisia di Papua dicirikan oleh pertemuan konvergen miring
(oblique) kopel dengan pergerakan pelan. Orogen Dayak di Borneo dibentuk oleh
proses tektonik ekstensional yang menghasilkan hot spots.
2.3.1 Perkembangan Tatanan Teknonik Indonesia
Pada 50 juta tahun yang lalu (Awal Eosen), setelah benua kecil India bertubrukan
dengan Himalaya, ujung tenggara benua Eurasia tersesarkan lebih jauh ke arah
tenggara dan membentuk kawasan Indonesia bagian barat. Saat itu kawasan Indonesia
bagian timur masih berupa laut (laut Filipina dan Samudra Pasifik). Lajur penunjaman
yang bergiat sejak akhir Mesozoikum di sebelah barat Sumatera, menyambung ke
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 8
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
selatan Jawa dan melingkar ke tenggara - timur Kalimantan - Sulawesi Barat, mulai
melemah pada Paleosen dan berhenti pada kala Eosen. Pada 45 juta tahun lalu.
Lengan Utara Sulawesi terbentuk bersamaan dengan jalur Ofiolit Jamboles.
Sedangkan jalur Ofiolit Sulawesi Timur masih berada di belahan selatan bumi. Pada
20 juta tahun lalu benua-benua mikro bertubrukan dengan jalur Ofiloit Sulawesi
Timur, dan Laut Maluku terbentuk sebagai bagian dari Lut pilipina. Laut Cina Selatan
mulai membuka dan jalur tunjaman di utara Serawak - Sabah mulai aktif. Pada 10 juta
tahun lalu, benua mikro Tukang Besi - Buton bertubrukan dengan jalur Ofiolit di
Sulawesi Tenggara, tunjaman ganda terjadi di kawasan Laut Maluku, dan Laut
Serawak terbentuk di Utara Kalimantan. Pada 5 juta tahun lalu, benua mikro BanggaiSula bertubrukan dengan jalur ofiolit Sulawesi Timur, dan mulai aktif tunjangan
miring di utara Irian Jaya-Papua Nugini.
Indonesia 50 juta tahun yang lalu
Indonesia 40 juta tahun yang lalu
Indonesia 30 juta tahun yang lalu
Indonesia 20 juta tahun yang lalu
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 9
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Indonesia 10 juta tahun yang lalu
Indonesia sekarang
Gambar 2. 7 Peta Perkembangan Tektonik Indonesia (www.usgs.gov; 2007)
2.4 PRODUK TUMBUKAN LEMPENG INDONESIA
Berdasarkan pengukuran Very-long Baseline Interferometry, VLBI (Pratt, 2001)
diketahui bahwa saat ini lempeng samudera Indo-australia, yang bergeser ke baratlaut dengan kecepatan rata-rata 5,5-7 cm/tahun; lempeng samudera Pasifik yang
bergeser ke barat-lautdengan kecepatan rata-rata lebih dari 7 cm/tahun dan lempeng
benua asia Tenggara yang bergeser kea rah barat daya dengan kecepatan rata-rata 2,6
samapi 4,1 cm/tahun.
•
Busur Sunda
Sistem penunjaman Sunda berawal dari sebelah barat Sumba, ke Bali, Jawa, dan
Sumatera sepanjang 3.700 km, serta berlanjut ke Andaman-Nicobar dan Burma.
Busur ini menunjukkan morfologi berupa palung, punggungan muka busur,
cekungan muka busur, dan busur vulkanik. Arah penunjaman menunjukkan
beberapa variasi, yaitu relatif menunjam tegak lurus di Sumba dan Jawa serta
menunjam miring di sepanjang Sumatera, kepulauan Andaman dan Burma.
Kemiringan ini terjadi karena adanya perbedaan arah gerak dengan arah tunjaman
yang tidak 90o. Sistem penunjaman Sunda ini merupakan tipe busur tepi kontinen
sekaligus busur kepulauan, yang berlangsung selama Kenozoikum Tengah –
Akhir (Katili, 1989; Hamilton, 1989)
Menurut Hamilton (1989) Palung Sunda bukan menunjukkan batas litosfer
samudera India, tetapi merupakan salah satu jejak sistem penunjaman busur
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 10
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Sunda. Penunjaman mempunyai kemiringan sekitar 7°. Sedimen dalam palung
terdiri dari sedimen klastik turbidit longitudinal, serta menunjukkan pembentuk
lantai samudera dan asal turbidit. Sedimen klastik tersebut terutama berasal dari
Sungai Gangga dan Brahmaputra di India, yang berjarak 3.000 km dari palung.
Kerangka tektonik utama antara Jawa dan Sumatera secara umum dipotong oleh
selat Sunda yang dianggap sebagai zona diskontinyuitas. Selat Sunda adalah unsur
utama pemisah propinsi Jawa dan Sumatera busur Sunda. Selat ini diasumsikan
batas sebagai batas tenggara lempeng Burma. Namun apabila dicermati dari data
geofisika tang ada, batas Jawa dan Sumatera terletak di sekitar Banten dan Jawa
Barat.
•
Sesar Sumatera
Pulau Sumatera tersusun atas dua bagian utama, sebelah barat didominasi oleh
keberadaan lempeng samudera, sedang sebelah timur didominasi oleh keberadaan
lempeng benua. Berdasarkan gaya gravitasi, magnetisme dan seismik ketebalan
lempeng samudera sekitar 20 kilometer, dan ketebalan lempeng benua sekitar 40
kilometer (Hamilton, 1979).
Sejarah tektonik Pulau Sumatera berhubungan erat dengan dimulainya peristiwa
pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 juta
tahun lalu, yang mengakibatkan rangkaian perubahan sistematis dari pergerakan
relatif lempeng-lempeng disertai dengan perubahan kecepatan relatif antar
lempengnya berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Gerak lempeng IndiaAustralia yang semula mempunyai kecepatan 86 milimeter / tahun menurun secara
drastis menjadi 40 milimeter/tahun karena terjadi proses tumbukan tersebut.
Penurunan kecepatan terus terjadi sehingga tinggal 30 milimeter/tahun pada awal
proses konfigurasi tektonik yang baru (Char-shin Liu et al, 1983 dalam
Natawidjaja, 1994). Setelah itu kecepatan mengalami kenaikan yang mencolok
sampai sekitar 76 milimeter/tahun (Sieh, 1993 dalam Natawidjaja, 1994). Proses
tumbukan ini, menurut teori “indentasi” pada akhirnya mengakibatkan
terbentuknya banyak sistem sesar geser di bagian sebelah timur India, untuk
mengakomodasikan perpindahan massa secara tektonik (Tapponier dkk, 1982).
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 11
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Keadaan Pulau Sumatera menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman,
punggungan busur muka dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat
proses yang terjadi. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (transtension) Paleosoikum tektonik Sumatera menjadikan tatanan tektonik Sumatera
menunjukkan adanya tiga bagian pola (Sieh, 2000).
•
Tektonik Indonesia Barat dan Timur
Pembahasan tatanan teknonik Indonesia menggunakan pendekatan tektonik
lempeng telah lama dilakukan. Aplikasi teori ini untuk menerangkan gejala
geologi regional di Indonesia dilakukan oleh Hamilton (1970, 1973, 1978),
Dickinson (1971), dan Katili (1975, 1978, 1980). Secara setempat-setempat
Audley-Charles (1974) menerapkan teori ini untuk menjelaskan gejala geologi
kawasan Pulau Timor, Rab Sukamto (1975) dan Simanjuntak (1986)
menerapkannya
untuk
memahami
keruwetan
Sulawesi.
Sartono (1990) mengemukakan bahwa tatanan tektonik Indoenesia selama Neogen
yang dipengaruhi oleh tatanan geosinklin pasca Larami. Busur-busur geosiklin ini
merupakan zona akibat proses tumbukan kerak benua dan samudra. Kerak benua
yang bekerja pada waktu itu terdiri dari kerak benua Australia, kerak benua Cina
bagian selatan, benua mikro Sunda, kerak samudra Pasifik, dan kerak samudra
Sunda. Tumbukan Larami tersebut membentuk busur-busur geosinklin Sunda,
Banda, Kalimantan utara dan Halmahera-Papua. Peta anomali gaya berat dapat
menunjukkan dengan baik pola hasil tektonik ini.
Tatanan tektonik Indonesia bagian barat menunjukkan pola yang relatif lebih
sederhana dibanding Indonesia timur. Kesederhanaan tatanan tektonik tersebut
dipengaruhi oleh keberadaan Paparan Sunda yang relatif stabil. Pergerakan
dinamis menyolok hanya terjadi pada perputaran Kalimantan serta peregangan
selat Makassar. Hal ini terlihat pada pola sebaran jalur subduksi Indonesia Barat
(Katili dan Hartono, 1983, dan Katili, 1986; dalam Katili 1989). Sementara
keberadaan benua mikro yang dinamis karena dipisahkan oleh banyak sistem sesar
(Katili, 1973 dan Pigram dkk., 1984 dalam Sartono, 1990) sangat mempengaruhi
bentuk kerumitan tektonik Indonesia bagian timur.
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 12
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Gambar 2. 8 Tatanan Tektonik Indonesia (www.usgs.gov; 2007)
Gambar 2. 9 Tatanan Tektonik Indonesia (Bolt, 1999)
2.5 AKTIVITAS KEGEMPAAN INDONESIA
Indonesia berada pada wilayah yang memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi.
Aktivitas kegempaan Indonesia dapat dilihat dari sebaran episenter (yang telah
dilakukan analisis dependency) pada gambar 2.9 sebagai berikut:
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 13
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Gambar 2. 10 Aktivitas Kegempaan Indonesia Bagian Timur 1899-2006
(Hasil Analisis)
2.6 PERAMBATAN GELOMBANG GEMPA KE BATUAN DASAR
Gelombang gempa (seismic wave) yang dihasilkan pada saat terjadi gempa terdiri
atas: gelombang badan (body waves) dan gelombang permukaan (surface waves).
Gelombang badan terdiri atas : p-waves((compression) yang arah perpindahan
partikelnya searah dengan arah perambatan gelombang (gelombang longitudinal) dan
s- waves (shear/geser) yang arah perpindahan partkelnya tegak lurus terhadap arah
perambatan gelombang (gelombang transversal). S-waves ini dapat mengakibatkan
terjadinya deformasi geser pada material atau media perambatnya.. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 14
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Gambar 2. 11 Perambatan Gelombang Badan (www.usgs.gov; 2007)
Gelombang permukaan terdiri atas Rayleigh-waves dan Love-Waves. Rayleigh-waves
terjadi akibat adanya interaksi antara p-waves dan s-waves vertical dengan permukaan
bumi. Sehingga hasil interaksi ini megakibatkan adnya perpindahan partikel dalam
arah vertical dan horizontal (searh rambatan gelombang). Love-waves terjadi akibat
adanya interaksi antara s-waves horizontal dan permukaan tanah. Perpindahan partikel
aakibat Love-waves hanya ada pada arah horizontal saja.
Gambar 2. 12 Perambatan Gelombang Permukaan (www.usgs.gov; 2007)
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 15
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Dari semua jenis gelombang yang telah disebutkan sebelumnya, gelombang P
mempunyai cepat rambat yang paling tinggi namun mengandung energi yang paling
rendah. Gelombang Rayleigh mengandung energi terbesar yaitu kurang lebih 67%
dari total energi.
2.7 UKURAN GEMPA
Besaran yang digunakan untuk menukur sutu gempa ada 2 (dua) yaitu intensitas dan
magnitude.
2.7.1 Intensitas Gempa
Intensitas gempa merupakan ukuran gempa yang pertama kali sebelum manusia dapat
mengukur “besarnya” gempa bumi denga alat. Ukuran ini dapat diketahui dengan cara
melakukan pengamatan pada kejadian gempa di suatu lokasi. Ukuran ini bersifat
subjektif, karena :
1. Bergantung pada jarak epicenter sampai tempat terjadinya kerusakan.
2. Bergantung pada keadaan geologi setempat.
3. Bergantung pada macam dan mutu dari bangunan-bangunan setempat.
4. Pengamatan manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan panik akibat kekacauan
dan kekagetan yang biasanya terjadi pada suatu gempa.
Beberapa para ahli menciptakan beberapa tingkatan dalam ukuran intensitas ini.
Diantanyanya, yaitu:
•
Modified Mercalli Intensity (MMI), dibuat berdasarkan pengamatan efek
gempa yang terjadi di Amerika Utara dan terdapat 12 tingkatan
•
Japan Meteorological Agency Scale (JMA), dibuat berdasarkan pengamatan
gempa di Jepang, terdapat 8 tingkatan.
•
Ross-Forel Scale (RF) dan Mercalli-Cancani- Sieberg Scale, dibuat
berdasarkan pengamatan gempa di negara-negara Eropa Barat.
•
Medvedev-Spoonheuer-Karnik Scale (MSK), dibuat berdasarkan gempagempa di Russia dan dipakai di negara-negara Eropa Tengah dan Eropa
Timur.
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 16
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Salah satu ukuran Intensitas gempa adalah Skala Mercalli. Skala Mercalli mengukur
kekuatan gempa bumi melalui tahap kerosakan yang berlaku disebabkan oleh gempa
bumi itu. Skala Intensiti Mercalli:
I Tidak terasa
II Terasa oleh orang yang berada di bangunan tinggi
III Getaran dirasakan seperti ada lori yang berat melintas.
IV Getaran dirasakan seperti ada benda berat yang melanggar dinding rumah,
benda tergantung bergoyang.
V Dapat dirasakan di luar rumah, hiasan dinding bergerak, benda kecil di atas
rak mampu jatuh.
VI Terasa oleh hampir semua orang, dinding rumah rosak.
VII Dinding pagar yang tidak kuat pecah, orang tidak dapat berjalan/berdiri.
VIII Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerosakan.
IX Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerosakan teruk.
X Jembatan, empangan dan tangga rosak, terjadi tanah runtuh.
XI Rel kereta api musnah.
XII Seluruh bangunan hancur dan hancur lebur.
2.7.2 Magnitude Gempa
Magnitudo gempa adalah parameter gempa yang berhubungan dengan besarnya
kekuatan gempa di sumbernya. Jadi pengukuran magnitudo yang dilakukan di tempat
yang berbeda, harus menghasilkan harga yang sama walaupun gempa yang dirasakan
di tempat-tempat tersebut tentu berbeda. Skala magnitude gempa pertama kali
diperkenalkan oleh Charles F.Richter pada 1935 untuk gempa bumi lokal di
California Selatan. Pada saat ini, para ahli menggunakan beberapa skala magnitude
gempa yang lain selain skala Richter.Berikut ini akan dipaparkan satu-persatu tentang
skala magnitude yang ada:
1. Richter Local Magnitude
Pengukuran dengan menggunakan seismometer Wood-Anderson yang
biasanya dilakukan untuk gempa dangkal dan jarak epicenter kurang dari 600
km. Besaran ini disimbolkan dengan ML. Alat ini tidak membedakan jenis
gelombang gempanya.
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 17
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
2. Surface wave Magnitude
Skala magnitude yang lain mulai dikembangkan berdasarkan amplitude
gelombang tertentu yang dihasilkan akibat adanya gempa. Pada jarak episenter
tertentu yang dihasilkan akibat adanya gempa. Pada jarak episenter yang
besar, gelombang badan (body waves) biasanya mengalami pelemahan dan
menyebar sehingga menghasilkan gerakan atau motion yang didominasi oleh
gelombang permukaan (surface waves). Magnitude gelombang permukaaan
(Gutenberg and Richter, 1936) didapat berdasarkan amplitudo perpindahan
tanah maksimum akibat gelombang permukaan Rayleigh dengan periode 20
detik. Besaran ini disimbolkan dengan MS. Magnitude gelombang permukaan
didapat melalui persamaan sebagai berikut:
MS = log A + 1.66 log D + 2
(2.1)
Dimana:
A = Amplitudo (perpindahan tanah maksimum) dalam mikrometer
D = Jarak episenter terhadap seismometer
Magnitude
gelombang
permukaan
ini
biasanya
digunkan
untuk
mendeskripsikan besarnya gempa dangkal (kedalaman fokus kurang dari 70
km), gempa jarak menengah sampai jauh (lebih dari 1000 km).
3. Body Wave Magnitude
Untuk gempa dengan kedalaman fokus yang dalam, gelombang permukaan
memberikan hasil yang lebih kecil daripada yang disyaratkan untuk
melakukan pengukuran dengan magnitude gelombang permukaan. Magnitude
gelombang badan (Guttenberg, 1945) merupakan skala magnitude yang
didasarkan pada amplitudo beberapa cycles pertama dari gelombang P, dimana
tidak terlalu dipengaruhi oleh kedalaman fokus (Bolt, 1989). Besaran ini
disimbolkan dengan Mb.
Mb = log A – log T + 0.01 D + 5.9
(2.2)
Dimana:
A = amplitdo (dalam mikrometer)
T = periode dari gelombang P
D = Jarak episenter dengan seismograf (dalam derajat)
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 18
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
4. Moment Magnitude
Untuk gempa yang sangat besar, suatu skala magnitude yang tidak hanya
bergantung pada tingkat goncangan tanah (ground shaking level) akan lebih
baik. Skala magnitude tersebut ialah magnitude momen (Kanamori, 1977;
Hanks and Kanamori, 1979), yang didasarkan pada momen gempa (seismic
moment), dimana merupakan pengukuran langsung dari faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya keruntuhan di sepanjang patahan. Magnituda ini
disimbolkan dengan MW. Magnitude momen ini didapat dari persamaan
berikut:
MW = (log Mo / 1.5) – 10.7
(2.3)
Dimana: Mo adalah seismic moment (dalam dyne-cm) dan diberikan oleh
persamaan:
Mo = µ A D
(2.4)
Dimana:
µ = kekuatan runtuh material sepanjang patahan
A = area keruntuhan
D = nilai rata-rata pergerakan lempeng
Magnitude Richter (ML) bersifat lokal karena digunakan hanya pada jarak episenter
maksimal 600 km sehingga memiliki keterbatasan jarak. Magnitude Richter (ML),
magnitude badan (Mb) dan magnitude permukaan (MS) memiliki nilai batasan
dikarenakan pada suatu nilai magnitude yang terlalu besar, besaran-besaran ini tidak
memiliki nilai sensitivitas tidak akurat lagi. ML dan Mb memiliki nilai batasan pada
magnitude 6 sampai 7, sedangkan Ms memiliki nilai batasan pada magnitude 8. Untuk
menggambarkan magnitude gempa yang lebih besar maka digunakan skala momen
magnitude MW.Dalam perkembangan zaman, lebih sering digunakan skala MW
dikarenakan tidak memiliki batasan dan lebih stabil dibandingkan skala magnitude
yang lainnya. Keempat skala magnitude tersebut memiliki hubungan yang dapat
digambarkan sebagai berikut:
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 19
Analisis Seismic Hazard Indonesia Timur
Gambar 2. 13 Hubungan Skala Magnitude (Campbell, K.W,1985)
2.8 FUNGSI ATENUASI
Fungsi atenuasi merupakan hal yang sangat penting dalam analisis resiko gempa
dengan metode probabilitas. Fungsi atenuasi dapat digambarkan sebagai suatu proses
peluruhan atau pelemahan dari kekuatan gempa yang terjadi dengan magnitude M
danjarak M dri suatu lokasi yang ditinjau terhadap pusat gempa.Fungsi atenuasi
diturunkan berdasarkan data rekaman kejadian gempa. Ada banyak macam fungsi
atenuasi yang dikemukakan oleh para ahli. Pemilihan fungsi harus disesuaikan dengan
kondisi tektoniknya (mialnya zona subduksi atau shallow crustal). Selain itu, harus
diperhatikan standar error dari masing-masing fungsi atenuasi. Fungsi dengan standar
error terkecil adalah yang terbaik.
Untuk gempa-gempa yang terjadi pada zona subduksi beberapa fungsi atenuasi yang
sudah dikenal antara lain adalah:
1. Woodward – Clyde (1982)
Ln (PGA) = 5.347 + 0.5 M – 0.85 ln (R + 0.864 e0.463M).
(2.5)
R = jarak terdekat ke sumber (km)
M = magnitude gelombang permukaan (Ms)
Bab II Tinjauan Pustaka
II- 20
Download