Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Alur Cerita Salah satu elemen

advertisement
Bab 2
Landasan Teori
2.1 Teori Alur Cerita
Salah satu elemen penting dalam membentuk sebuah karya adalah plot
cerita. Dalam analisis cerita, plot sering disebut dengan istilah alur. Pengertian plot
atau alur secara umum sering diartikan sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang
terdapat dalam cerita ( Siti sundari, et al. 1985:38 ). Luxemburg menyebut alur atau
plot sebagai konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa
yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh
para pelaku ( Luxemburg, et al. 1984:149 ). Alur erat kaitannya dengan konflik antar
tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Baik alur maupun konflik berkaitan erat dengan
tokoh ( penokohan ). Keduanya merupakan unsur fundamental dari cerita rekaan.
Nurgiyantoro ( 2002:113 ) dalam buku Teori Pengkajian Fiksi mengatakan:
Alur merupakan struktur peristiwa–peristiwa, yaitu sebagaimana yang
terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa tersebut untuk
mencapai efek artistik tertentu. Peristiwa-peristiwa cerita (alur)
dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku dan sikap tokoh-tokoh
utama cerita.
Dalam pengertiannya yang lebih khusus, Plot sebuah cerita tidaklah hanya
sekedar rangkaian peristiwa yang termuat dalam topik-topik tertentu, melainkan
mencakup beberapa faktor penyebab terjadinya peristiwa (Crane, 1963:63). Dalam
18
konteks ini, bangunan sebuah plot menjadi sesuatu yang amat kompleks. Plot tidak
hanya dilihat dari jalannya suatu peristiwa. Lebih jauh lagi perlu dianalisis
bagaimana urgensi peristiwa-peristiwa yang muncul tersebut mampu membangun
satu tegangan atau konflik tokohnya. Dengan kata lain, analisis plot tidak hanya
dilihat dari kedudukan satu topik di antara topik-topik yang lain, melainkan harus
pula dikaitkan dengan elemen-elemen lain, seperti karakter pelaku, dan pemikiran
pengarang yang tercermin dalam tokoh-tokohnya (Crane, 1963:63).
Rangkaian peristiwa yang dikaitkan dengan perkembangan karakter,
pemikiran para tokoh cerita dan penyajian susunan peristiwa yang dimunculkan
pengarang inilah yang akan menentukan sejauh mana kekuatan sebuah karya cerita.
Dalam kaitan ini, Propp menyebutkan bahwa keberadaan sebuah plot tidak mungkin
hanya dilihat dari strukturnya saja, tetapi juga harus dilihat dari fungsinya. Menurut
Propp yang dimaksud fungsi plot adalah aktivitas dramatik tokoh yang didasarkan
atas sudut pandang dari sejumlah peristiwa yang membangun cerita secara
keseluruhan (Propp,1958:20). Dalam rangkaian kejadian terdapat hubungan
sebab-akibat yang bersifat logis artinya pembaca merasa bahwa secara rasional
kejadian atau urutan kejadian itu memang mungkin terjadi atau tidak dibuat-buat.
Menurut Crane (1963), berdasarkan fungsi plot dalam membangun nilai
estetik cerita, maka identifikasi dan penilaian terhadap keberadaan plot menjadi
19
sangat beragam. Keberagaman tersebut paling tidak dapat dilihat dari tiga prinsip
utama analisis plot yang meliputi:
1) Plots of actions, yaitu analisis proses perubahan peristiwa secara lengkap, baik
yang muncul secara bertahap maupun tiba-tiba pada situasi yang dihadapi tokoh
utama, dan sejauh mana urutan peristiwa yang dianggap sudah tertulis
berpengaruh terhadap perilaku dan pemikiran tokoh bersangkutan dalam
menghadapi situasi tersebut.
2) Plots of character, yaitu proses perubahan perilaku atau moralitas secara lengkap
dari tokoh utama kaitannya dengan tindakan emosi dan perasaan.
3) Plots of thought, yaitu proses perubahan secara lengkap kaitannya dengan
perubahan pemikiran tokoh utama dengan segala konsekuensinya berdasarkan
kondisi yang secara langsung dihadapi.
2.1.1
Fungsi Tujuh Unsur Alur.
Alur berfungsi untuk membaca ke arah pemahaman cerita secara rinci dan
menyediakan tahap-tahap tertentu bagi pengarang untuk melanjutkan cerita
berikutnya.
Menurut Waluyo (2002:147) menjelaskan alur juga berkaitan dengan
pembagian waktu dan irama cerita. Pada awal cerita, irama waktu cukup longgar.
Waktu bercerita makin dipercepat pada bagian perumitan dan lebih cepat lagi pada
20
penggawatan agar secepatnya mencapai klimaks.
Untuk menganalisis sebuah karya fiksi diperlukan eksploralisasi alur.
Menurut Waluyo (2002:147-148) dalam buku Pengkajian Sastra Rekaan, alur cerita
meliputi tujuh unsur alur yaitu:
1. Paparan (Exposition) artinya memaparkan awal cerita. Pengarang mulai
memperkenalkan tempat kejadian, waktu, topik dan tokoh-tokoh. Tokoh
merupakan pelaku utama cerita, tempat kejadian merupakan tempat dimana suatu
peristiwa terjadi. Pada tempat kejadian pengarang memaparkan tempat-tempat
yang dijadikan sebagai latar kejadian dan topik adalah judul yang dijadikan
inspirasi oleh pengarang dalam membuat karyanya.
2. Rangsangan (Inciting Moment) adalah peristiwa mulai adanya masalah-masalah
yang ditampilkan oleh pengarang untuk kemudian dikembangkan. Pada tahap ini
pengarang berusaha untuk menampilkan peristiwa yang menyulut sehingga
menarik perhatian pembacanya. Jadi dapat dikatakan bahwa tahap ini merupakan
tahap awal pemunculan masalah (konflik).
3. Penggawatan (Rising Action) adalah penanjakkan konflik yang selanjutnya terus
terjadi peningkatan konflik. Masalah yang telah dimunculkan pada tahap
sebelumnya semakin dikembangkan kadar intensitasnya. Peristiwa yang terjadi
membuat cerita semakin lebih menarik.
21
4. Perumitan (Complication ) adalah konflik yang semakin sulit. Peristiwa-peristiwa
dramatik yang menjadi inti cerita semakin menegangkan. Konflik-konflik yang
terjadi, internal, eksternal ataupun keduanya, pertentangan-pertentangan,
benturan-benturan antar kepentingan dan tokoh yang mengarah ke klimaks
semakin tak dapat dihindari.
5. Klimaks (Climax) merupakan hal yang amat penting dalam struktur plot. Klimaks
hanya dimungkinkan ada dan terjadi jika ada konflik. Sebuah konflik akan
menjadi klimaks atau tidak (diselesaikan atau tidak), dalam banyak hal yang akan
dipengaruhi oleh sikap, kemauan dan tujuan pokok pengarang dalam membangun
konflik sesuai dengan tuntutan dan koherensi cerita. Klimaks sangat menentukan
bagaimana permasalahan (konflik) akan diselesaikan. Boleh dikatakan bahwa
dalam klimaks nasib tokoh utama cerita akan ditentukan.
6. Peleraian (Falling Action) merupakan tahap akhir sebuah cerita. Pada tahapan ini
akan menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Jadi, pada bagian ini
berisi bagaimana akhir cerita atau menyaran pada hal bagaimanakah akhir sebuah
cerita. Bagaimana bentuk penyelesaian sebuah cerita, dalam banyak hal
ditentukan oleh hubungan antar tokoh dan konflik (termasuk klimaks) yang
dimunculkan.
7. Penyelesaian (Denouement). Konflik yang telah mencapai klimaks diberi
22
penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik yang lain, sub-subkonflik
atau konflik-konflik tambahan jika ada juga diberi jalan keluar, cerita diakhiri.
Penyelesaian sebuah cerita dapat dikategorikan ke dalam dua golongan:
1) Penyelesaian tertutup.
Penyelesaian yang bersifat tertutup menunjuk pada keadaan akhir sebuah
karya fiksi yang memang sudah selesai, cerita sudah selesai sesuai dengan
tuntutan logika cerita yang dikembangkan. Pada penyelesaian tertutup,
pembaca tidak mempunyai kesempatan untuk ikut menentukan penyelesaian
cerita. Penyelesaian telah ditentukan secara pasti oleh pengarang dan sebagai
pembaca tinggal menerima apa adanya.
2) Penyelesaian terbuka.
Penyelesaian yang bersifat terbuka menunjuk pada keadaan akhir sebuah
cerita yang sebenarnya masih belum berakhir. Berdasarkan tuntutan dan
logika, cerita masih potensial untuk dilanjutkan, konflik belum sepenuhnya
diselesaikan. Pada penyelesaian terbuka, di pihak lain memberi kesempatan
kepada
pembaca
untuk
ikut
memikirkan,
mengimajinasikan
dan
mengkreasikan bagaimana kira-kira penyelesaiannya. Pembaca bebas untuk
untuk mengkreasikan penyelesaian cerita sesuai dengan harapannya.
Pada prinsipnya alur cerita terdiri atas tiga bagian, yakni:
23
1. Alur awal yang terdiri atas Paparan (Exposition), Rangsangan (Inciting
Moment ), dan Penggawatan (Rising Action).
2. Alur tengah yang terdiri atas Perumitan (Complication) dan Klimaks
(Climax).
3. Alur akhir yang terdiri atas Peleraian (Falling Action) dan Penyelesaian
(Denouement).
2.1.2
Pesan Moral
Istilah moral atau moralitas berasal dari bahasa latin “mos” (tunggal),
“moses” (jamak) dan kata sifat “moralis”. Bentuk jamak “moses” berarti kebiasaan,
kelakuan atau kesusilaan (Satari, 2003:58).
Pengertian moral dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) adalah
Secara umum moral menyaran pada pengertian baik buruk yang diterima umum
mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya; akhlak, budi pekerti, susila.
Moral, seperti halnya tema dari segi karya sastra merupakan unsur isi. Moral dalam
karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan,
pandangannya
tentang
nilai-nilai
kebenaran
dan
hal
itulah
yang
ingin
disampaikannya kepada pembaca.
Moral dalam cerita, menurut Kenny (1966:89) biasanya dimaksudkan
sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat
24
praktis, yang dapat diambil atau ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan.
Sebuah karya sastra yang ditulis oleh pengarang antara lain menawarkan
model kehidupan yang diidealkannya. Melalui cerita, sikap dan tingkah laku
tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan
moral yang disampaikan, yang diamanatkan. Moral dalam karya sastra dapat
dipandang sebagai amanat, pesan. Bahkan unsur amanat sebenarnya merupakan
gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai pendukung pesan
(Nurgiyantoro, 2002:321).
Karya sastra senantiasa menawarkan pesan moral yang berhubungan
dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia.
Dengan demikian, jika dalam sebuah karya ditampilkan sikap dan tingkah laku
tokoh-tokoh yang kurang terpuji, baik mereka sebagai tokoh antagonis maupun
protagonis, tidaklah berarti bahwa pengarang menyarankan kepada pembaca untuk
bersikap dan bertindak secara demikian. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut
hanyalah model, model yang kurang baik, yang sengaja ditampilkan justru agar tidak
diikuti atau minimal tidak dicenderungi oleh pembaca. Pembaca diharapkan dapat
mengambil hikmah sendiri dari cerita tersebut (Nurgiyantoro, 2002:322).
2.1.2.1 Jenis dan Wujud Pesan Moral.
Jenis ajaran moral sendiri dapat mencakup masalah yang boleh dikatakan
25
bersifat tak terbatas. Ia dapat mencakup seluruh persoalan hidup, seluruh persoalan
yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Secara garis besar persoalan hidup
dan kehidupan manusia dapat dibedakan ke dalam persoalan hubungan manusia
dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial
termasuk hubungannya dengan lingkungan awal dan hubungan manusia dengan
Tuhannya (Nurgiyantoro, 2002:323).
Persoalan manusia dengan dirinya sendiri dapat bermacam-macam jenis
dan tingkat intensitasnya. Hal itu tentu saja tidak lepas dari kaitannya dengan
persoalan hubungan antar sesama dan dengan Tuhan. Pemisahan hanya memudahkan
pembicaraan saja. Ia dapat berhubungan dengan masalah-masalah seperti eksistensi
diri, harga diri, rasa percaya sendiri, takut, maut, rindu, dendam, kesepian dan
lain-lain yang lebih bersifat melibat ke dalam diri dan kejiwaan seorang individu
(Nurgiyantoro, 2002:324).
Masalah-masalah yang berupa hubungan antar manusia antara lain dapat
berwujud persahabatan yang kokoh ataupun yang rapuh, kesetiaan, pengkhianatan,
kekeluargaan, hubungan suami-istri, orang tua-anak, cinta kasih terhadap suami atau
istri, anak dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2002:325).
2.1.2.2 Bentuk Penyampaian Pesan moral.
Menurut Nurgiyantoro (2002), secara umum dapat dikatakan bahwa bentuk
26
penyampaian moral dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. Bentuk Penyampaian Langsung.
Bentuk penyampaian pesan moral yang bersifat langsung, boleh dikatakan
identik dengan cara pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian atau penjelasan.
Dilihat dari segi kebutuhan pengarang yang ingin menyampaikan sesuatu kepada
pembaca, teknik penyampaian langsung tersebut komunikatif. Artinya pembaca
memang secara mudah dapat memahami apa yang dimaksudkan. Pesan moral yang
bersifat langsung biasanya terasa dipaksakan dan kurang koherensif dengan
unsur-unsur yang lain dan dapat dipandang sebagai karya yang membodohkan
pembaca. Hal ini tentu saja akan merendahkan nilai-nilai sastra yang bersangkutan.
b. Bentuk Penyampaian Tidak Langsung.
Bentuk penyampaian tidak langsung hanya tersirat dalam cerita, berpadu
secara koherensif dengan unsur-unsur cerita yang lain. Yang ditampilkan dalam cerita
adalah peristiwa-peristiwa, konflik, sikap dan tingkah laku para tokoh dalam
menghadapi peristiwa dan konflik tersebut baik yang tersirat dalam tingkah laku
verbal, fisik maupun yang hanya terjadi dalam pikiran dan perasaannya. Melalui
berbagai hal tersebut pesan moral disalurkan. Dilihat dari kebutuhan pengarang yang
ingin menyampaikan pesan dan pandangannya, cara ini mungkin kurang
komunikatif.
27
Kadar ketersembunyian unsur pesan yang ada dalam banyak hal dipakai
untuk mempertimbangkan keberhasilan sebuah karya sebagai seni. Dengan demikian,
di satu pihak pengarang berusaha menyembunyikan pesan dalam teks dan
kepaduannya dengan keseluruhan cerita, di pihak lain pembaca berusaha
menemukannya lewat teks cerita (Nurgiyantoro, 2002:340).
2.2 Teori Penokohan.
Tokoh cerita atau character, menurut Abrams (1981:20) adalah
orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif yang oleh pembaca
ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang
diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Karakter dapat
berarti pelaku cerita dan dapat pula berarti perwatakan. Antara seorang tokoh dengan
perwatakan yang dimilikinya merupakan suatu kepaduan yang utuh.
Mutu sebuah cerita ditentukan oleh kepandaian si pengarang dalam
menghidupkan watak tokoh-tokohnya. Kalau karakter tokoh lemah, maka menjadi
lemahlah seluruh cerita. Tiap tokoh harus mempunyai kepribadian sendiri, tergantung
dari masa lalu, pendidikan, pengalaman hidup dan lain-lain. Seorang pengarang yang
cekatan, hanya dalam satu adegan saja sanggup memberikan pada kita latar belakang
kehidupan seseorang. Bukan dengan menceritakannya pada pembaca, tetapi dengan
mendramatisirkannya yaitu lewat cara bicara, reaksinya terhadap peristiwa, cara
28
berpakaian dan tindakannya (Nurgiyantoro, 2002:166).
Pengarang yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokohnya dengan
sendirinya meyakinkan kebenaran cerita. Tetapi, pribadi
dalam cerita tidak sama
dengan pribadi orang-orang yang kita jumpai dalam kehidupan sebenarnya.
Kepribadian dalam hidup sehari-hari begitu kompleks namun kepribadian dalam
cerita hanya perlu menonjolkan beberapa sifat saja. Tokoh cerita harus kita
gambarkan sesering mungkin, maka apa yang diucapkannya, apa yang diperbuatnya,
apa yang dipikirkannya, dan apa yang dirasakannya harus betul-betul menunjang
penggambaran watak yang khas (Nurgiyantoro, 2002:331).
Penokohan dan pemplotan merupakan dua fakta cerita yang saling
mempengaruhi dan menggantungkan satu dengan yang lain. Tokoh-tokoh cerita
itulah yang berperan sebagai pelaku sekaligus sebagai penderita kejadian. Walaupun
tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan penulis, ia haruslah merupakan
seorang tokoh yang hidup secara wajar. Tokoh cerita menempati posisi strategis
sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral atau sesuatu yang sengaja
ingin disampaikan kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2002:172).
Masalah kewajaran tokoh cerita sering dikaitkan dengan kenyataan
kehidupan manusia sehari-hari. Seorang tokoh cerita dikatakan wajar, relevan, jika
mencerminkan dan mempunyai kemiripan dengan kehidupan manusia sesungguhnya
29
Realitas kehidupan manusia memang perlu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan
kehidupan tokoh cerita. Namun, haruslah disadari bahwa hubungan itu tidaklah
bersifat sederhana, melainkan bersifat kompleks. Unsur watak atau karakter menjadi
begitu menonjol antara lain disebabkan oleh makin berkembangnya ilmu jiwa
( Jakob Sumardjo, 1986:63 ).
2.3 Teori Sosiologi Sastra
Secara singkat dapat dijelaskan bahwa sosiologi adalah telaah yang obyektf
dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat. Sosiologi mencoba mencari tahu
bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung dan bagaimana ia
tetap ada. Meskipun sosiologi boleh dianggap bukan suatu ilmu yang bersifat
normatif, ia dapat memberikan pengetahuan yang dapat menimbulkan sikap normatif
kalau pengetahuan itu kita olah berdasarkan akal dan kecerdasan kita (Damono,
1978:6).
Seperti halnya sosiologi, sastra berurusan dengan manusia dalam
masyarakat, usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah
masyarakat itu. Satari (2003:58), mengemukakan bahwa perikehidupan manusia
bersendi pada unsur-unsur yang menentukan sikap hidupnya dalam masalah yang
dihadapi menurut watak atau karakter dan kepribadiannya. Masalah yang dihadapi
manusia selalu menimbulkan konflik, namun pada prinsipnya manusia selalu
30
berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Dalam hal isi, sesungguhnya sosiologi dan sastra berbagi masalah yang
sama. Jadi sosiologi sastra merupakan suatu pendekatan terhadap sastra yang
mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Istilah itu pada dasarnya tidak
berbeda pengertiannya dengan sosio-satra, pendekatan sosiologis atau pendekatan
sosiokultural terhadap satra. Sosiologi sastra dalam pengertian ini mencakup
berbagai pendekatan, masing-masing didasarkan pada sikap dan pandangan teoritis
tertentu (Damono, 1978:7).
Beberapa penulis telah mencoba untuk membuat klasifikasi masalah
sosiologi sastra. Wellek dan Warren (1956:84) mengatakan bahwa sosiologi sastra
dianggap sebagai pendekatan ekstrinsik dimana sosiologi sastra memasalahkan
pembaca dan pengaruh sosial karya sastra. Klasifikasi di atas tidak banyak berbeda
dengan yang dibuat oleh Ian Watt (1964:300-313) dalam esainya yang berjudul
“Literature and Society”. Beliau membicarakan tentang hubungan timbal balik
antara konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat dan fungsi sosial
sastra.
Meskipun sastra dan sosiologi bukanlah dua bidang yang sama, beberapa
ahli sosiologi sejak abad yang lalu telah mencoba menyinggung sastra, namun pada
hakekatnya mereka masih menganggap sastra sekedar bahan untuk menyelidiki
31
struktur sosial. Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini
menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra. Pandangan ini
beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung berbagai struktur sosial,
hubungan kekeluargaan dan lain-lain (Damono, 1978:8).
Wellek dan Warren (1956:82) mengatakan bahwa tidaklah jelas
pengertiannya apabila dikatakan bahwa sastra mencerminkan atau mengekspresikan
kehidupan. Memang para pengarang mengekspresikan pengalaman dan pahamnya
yang menyeluruh tentang kehidupan, tetapi jelas keliru kalau dianggap
mengekspresikan hidup selengkap-lengkapnya. Keberatan yang diajukan oleh Wellek
dan Warren di atas jelas didasarkan pada anggapan dan kesimpulan bahwa
pendekatan sosiologis terhadap sastra bersifat sempit.
Tentang hubungan antara sosiologi dan sastra, Swingewood (1972:15)
mengetengahkan pandangan yang lebih positif. Ia tidak berpihak pada pandangan
yang menanggap sastra sebagai sekedar bahan sampingan saja. Swingewood
menyadari bahwa sastra diciptakan pengarang dengan menggunakan seperangkat
peralatan tertentu. Pengarang besar tentu saja tidak sekedar menggambarkan dunia
sosial secara mentah. Ia mengemban tugas dengan memainkan tokoh-tokoh
ciptaannya dalam situasi rekaan untuk mencari nasib mereka sendiri selanjutnya
menemukan nilai dan makna dalam dunia sosial.
32
Sastra karya pengarang besar melukiskan kecemasan, harapan dan aspirasi
manusia. Oleh karena itu ia merupakan salah satu barometer sosiologis yang paling
efektif untuk mengukur tanggapan manusia terhadap kekuatan sosial. Dan karena
sastra juga akan selalu mencerminkan nilai-nilai dan perasaan sosial, dapat
diramalkan bahwa semakin sulit mengadakan analisis terhadap sastra sebagai cermin
masyarakatnya sebab masyarakat semakin rumit (Damono, 1978:13).
Pandangan Plato tentang peran sastra dalam masyarakat didasarkan pada
kegunaan praktis saja. Meskipun teori filsuf ini kemudian diruntuhkan oleh beberapa
penulis sesudahnya, antara lain oleh Aristoteles yang hidup beberapa puluh tahun
kemudian, Plato penting diingat sebagai salah seorang pemula yang menampilkan
teori tentang hubungan sastra dan masyarakatnya (Damono, 1978:16).
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan sosiologis terhadap sastra
terbagi menjadi dua jalur utama. Yang pertama adalah pandangan yang dikenal
sebagai positivisme, yang merupakan usaha untuk mencari hubungan antara sastra
dan beberapa faktor seperti iklim, geografi dan ras. Pandangan ini menyatakan
bahwa tak ada ukuran mutlak dalam penilaian sastra. Penilaian artistik sepenuhnya
tergantung pada waktu, tempat dan fungsinya (Damono, 1978:18).
Jalur kedua menolak sikap empiris ini. Dalam pandangan ini sastra
bukanlah sekedar pencerminan masyarakatnya. Sosiologi sastra terutama berupa
33
penelaahan nilai-nilai yang harus dihayati oleh orang-orang dan masyarakat. Berbeda
dengan positivisme yang berkecenderungan untuk melakukan deskripsi ilmiah, jalur
pendekatan kedua ini memiliki gambaran kritik yang jelas sikapnya (Damono,
1978:18).
2.4 Teori Masyarakat Sosial Jepang
Masyarakat Jepang dewasa ini dihadapkan pada masalah bagaimana
membangun budaya baru yang dapat menghidupkan kembali orang-orang yang
menderita karena penyakit sosial seperti ketidakmampuan untuk berhubungan
dengan orang lain (Someya, 2006:177).
Bila kita menggambarkan masyarakat Jepang setengah abad lalu,
masyarakat lebih dikedepankan daripada individu dan individu itu melekat dalam
masyarakat. Masyarakat mengutamakan kedamaiannya di atas kesejahteraan pribadi
dan individu harus berusaha merealisasikan tujuan bersama dengan menjalin
hubungan antar pribadi. Oleh karena itu, pribadi yang menyombongkan diri akan
dikucilkan dari masyarakat (Someya, 2006:177).
Masyarakat Jepang disebut sebagai masyarakat yang kurang rasa sosialnya.
Orang-orang telah diberi otonomi dan masing-masing telah putus hubungan dengan
yang lain. Pribadi yang tidak dapat berhubungan dengan yang lain akan menderita
kesepian dan bahkan kekosongan, meskipun pada saat yang sama mereka menikmati
34
kebebasan. Orang-orang yang demikian ini semakin bertambah khususnya pada
generasi muda (Someya, 2006:177).
Masyarakat jepang telah kehilangan batasan-batasan masyarakat, yang
dahulu merupakan suatu keterpaksaan sebelum adanya pertumbuhan ekonomi yang
pesat. Dengan kata lain, masyarakat Jepang saat ini telah kehilangan tatanan dan diisi
dengan amoralitas yang seringkali menyebabkan perilaku yang tidak bermoral
(Someya, 2006:171-172).
Karena kurangnya batasan masyarakat dan moralitas sosial, masyarakat
cenderung berperilaku bebas dan tidak peduli terhadap yang lain. Kurangnya batasan
masyarakat ini dapat diamati secara nyata di daerah urban dan semi urban.
Masyarakat Jepang seharusnya menyusun suatu perkawinan kebudayaan yang
disusun dari budaya kontekstual tradisional dengan budaya modern (Someya,
2006:181).
2.4.1 Pandangan Tentang Masyarakat Jepang Dewasa ini
Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat.
Manusia pada dasarnya dilahirkan seorang diri, tetapi di dalam proses kehidupan
selanjutnya membutuhkan manusia lain di sekelilingnya serta melakukan interaksi
dengan manusia lain yang pada akhirnya membentuk suatu kelompok yang disebut
masyarakat. Seseorang didasarkan akan adanya hubungan peran tersebut karena
35
proses sosialisasi yang sudah berlangsung sejak masa kanak-kanak, yaitu suatu
proses tempat seseorang belajar mengetahui apa yang dikehendaki (William J. Goode,
1985:1-2).
Setiap negara memiliki sifat dasar masyarakat yang berbeda. Sifat dasar ini
dikenal sebagai dasar karakteristik manusia. Ada pun dasar dari karakteristik
masyarakat Jepang, hal ini sesuai dengan yang ditulis dalam Kodansha International
(2000: 156) sebagai berikut:
社会の基本的な単位についての意識を、日本人は「家」に置いていま
す. ここで「イエ」と言うのは「家族」の意味だけでなく、社会、学校な
ど、運命をにするも意味します.
Dasar dari unit sosial masyarakat Jepang dinamakan ie yang berarti rumah
atau keluarga termasuk rasa solidaritas antar kelompok seperti keluarga,
rekan kerja, sekolah dan komunitas keagamaan.
Talcot Parsons, sosiolog dari Amerika sejak awal karirnya menjelaskan
bahwa masyarakat yang terdiri dari banyak individu yang berbeda dapat hidup teratur
disebabkan oleh beberapa hal yaitu adanya nilai-nilai budaya yang dibagi bersama,
yang dilembagakan menjadi norma sosial. Veeger yang mengutip pendapat Parson
menjelaskan bahwa tiap-tiap sistem sosial dicirikan oleh nilai-nilai yang telah
dilembagakan dan hal itu merupakan keharusan fungsional dari sistem sosial itu ( F.J.
Veeger, 1990: 208 ).
Dalam sebuah masyarakat selalu terjadi interaksi sosial, yaitu aspek
kelakuan yang terdapat dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dalam tradisi
36
masyarakat Jepang interaksi sosial didasari oleh hubungan manusia yang bersifat
budaya. Yaitu hubungan sosial yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh nilai-nilai
yang memperhitungkan untung rugi melainkan diikat oleh sifat Shinzoku teki atau
ikatan kekerabatan semu dalam kehidupan kelompok. Hubungan semacam itu tidak
hanya berdasarkan pertalian darah, tetapi lebih didasarkan pada kebersamaan dalam
menanggung kehidupan sehari-hari, baik senang maupun susah secara bersama-sama
( Choshu, 1959: 57 ).
2.4.2 Pandangan Kaum Muda Jepang Sebelum Perang
Sejak zaman Restorasi Meiji dan sepanjang zaman Showa, ciri khas sikap
serta sistem nilai kaum muda Jepang ialah bahwa kehidupan sehari-hari mereka,
yaitu menyangkut soal keluarga, sekolah dan tempat kerja diintregasikan dengan
nilai dan tujuan negara. Dalam pola pemikiran seperti ini dapat disebut kurang lebih
bersifat mutlak, cita-cita kehidupan yang mempengaruhi mereka dapat didefinisikan
sebagai “kultus keberhasilan” (Hisao, 1980:18).
Kultus keberhasilan memainkan peranan penting sebagai semangat yang
mendorong Jepang ke arah modernisasi melalui dua jalan. Jalan yang pertama ialah
mendorong kaum muda untuk bekerja keras. Jalan yang kedua ialah bahwa hal ini
berakhir dalam timbulnya perasaan akan pentingnya keberhasilan itu sendiri pada
kaum muda meskipun fakta menunjukkan bahwa sikap ini telah ditanamkan dengan
37
sengaja untuk membantu kebutuhan negara (Hisao, 1980:19).
Sifat persaingan yang dicetuskan oleh kultus keberhasilan ini di antara
kaum muda sejak zaman Meiji disebut dengan ambisi, meskipun pertentangan
terbuka tidak secara terang-terangan disetujui. Dalam konteks kultus keberhasilan ini,
secara teoritis kedudukan sosial diperoleh melalui persaingan atas dasar kemampuan
pribadi (Hisao, 1980:18).
Menurut Routledge dan Kegan Paul, dalam bentuknya yang paling ekstrim
negara disamakan dengan keluarga. Kultus ini menghasilkan solidaritas dan
persatuan yang tidak jauh dari militerisme. Cita-cita seperti ini merupakan penolakan
mutlak terhadap individualisme dan liberalisme modern dari barat. Wujud dari
ide ”negara di atas segala-galanya” yang menjelma dalam sikap umum atau
nilai-nilai masyarakat merupakan inti pola pemikiran kaum muda sebelum perang.
2.4.3
Pandangan Kaum Muda Jepang Setelah Perang
Banyak perbedaan yang terlihat antara pandangan hidup serta pola tingkah
laku kaum muda Jepang sebelum dan sesudah perang. Pandangan hidup serta tingkah
laku kaum muda Jepang setelah perang dalam beberapa hal masih merupakan
masalah yang sangat rumit sehubungan dengan integrasi kaum muda dalam
masyarakat. Mereka mengatakan bahwa tujuan hidup adalah untuk hidup sesuai
dengan selera pribadi atau hidup sehari-hari yang bebas dari kegelisahan nampaknya
38
sangat bertentangan dengan intensitas yang mengasingkan mereka satu dengan yang
lain dan menyebabkan mereka berusaha mengesampingkan teman (Hisao, 1980:27).
Kecenderungan egosentris, merupakan ciri khas kaum muda Jepang
dewasa ini. Hal ini memperlihatkan bahwa ada perbedaan dengan ciri-ciri kaum
muda Jepang sebelum perang yang sangat memperhatikan masyarakat dan negara.
Dapat juga dikatakan bahwa meskipun ciri ini kadangkala terwujud dalam
usaha-usaha positif untuk menentukan kehidupan sendiri melalui kritik dan
pertentangan terhadap nilai-nilai atau pola pemikiran yang sudah mapan,
kadang-kadang ini juga berakar dalam sifat egoisme yang disatukan dengan tingkah
laku yang kurang lebih bersifat manja atau mementingkan diri sendiri (Hisao,
1980:27).
Kecenderungan umum ke arah egosentrisme dan sifat mementingkan diri
sendiri di antara kaum muda modern, dapat dianggap sebagai gejala yang disebabkan
oleh kehidupan yang serba kecukupan. Beberapa fakta memperlihatkan masalah
yang terjadi dalam tingkah laku kaum muda disebabkan oleh perubahan keadaan
masyarakat yang terjadi karena pertumbuhan pesat dalam perekonomian (Hisao,
1980:27).
Sebagian besar kaum muda Jepang saat ini menyetujui bahwa makna
kehidupan adalah untuk mengenal kebahagiaan dalam mencintai dan dicintai dan
39
bahwa hubungan antar manusia yang terbaik adalah hubungan dimana orang-orang
berusaha untuk saling mengerti serta menghargai. Ciri yang menyolok dari kaum
muda Jepang yang sangat terlihat dalam kehidupan yakni sikap tidak peduli terhadap
sesama, hal ini dapat dilihat dari kecenderungan untuk menutup diri bila berhadapan
dengan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat (Hisao, 1980:31).
Di Jepang, sikap yang tidak memperhatikan kepentingan orang luar adalah
sikap yang dianggap wajar. Nakane (1997) dalam Japanese Society mengatakan
sebagai berikut ini:
They have not developed techniques for dealing with person “outside”
because their lives are so tightly concentrated into their own groups.
Selanjutnya dengan cara menekankan kesadaran akan kita terhadap
“mereka”, yaitu orang-orang luar, akan memperkokoh perasaan sebagai
anggota dari kelompok yang sama.
Selain itu sikap otoriter yang menuntut kepatuhan otomatis kepada perintah
orang tua yang didukung oleh moralitas sistem keluarga tradisional, tidak lagi
dianggap sebagai nilai yang tinggi. Namun tidak terdapat moralitas baru yang
dibentuk untuk mengganti yang lama. Faktor lain yang juga mempengaruhi hal di
atas yakni orang tua telah kehilangan kepercayaan karena berhadapan dengan
nilai-nilai yang berubah dan beragam sehingga menjadi longgar untuk diterapkan
(Hisao, 1980:34).
Hal diatas sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hans
brinckmann (2006) dalam Japanese Society at the start of the 21 century, yakni
40
sebagai berikut:
After a prolonged period of painful adjustment following the abrupt end to
decades of high growth, the economy seems to have found a sustainable
course. But Japanese society has change. Old value are eroding,
unemployment has risen sharply, the birth rate is the lowest in the world
and millions of young people feel alienated.
Setelah mengalami akhir yang tiba-tiba dari pertumbuhan ekonomi yang
pesat selama beberapa dekade terakhir disertai dengan periode penyesuaian
yang sulit dalam jangka waktu yang lama, perekonomian sepertinya telah
menemukan arah yang pasti. Tetapi masyarakat Jepang telah berubah,
nilai-nilai leluhur telang hilang, jumlah pengangguran telah meningkat
tajam, angka kelahiran terendah di dunia dan jutaan kaum muda merasa
tersisih.
Satu lagi faktor yang berhubungan dengan ini ialah bertambahnya jumlah
kaum muda yang keluar dari rumah orang tua untuk mencari tempat menginap yang
lebih dekat dengan sekolah atau tempat kerja. Dengan demikian mereka lepas dari
pengawasan orang tua (Hisao,1980:35). Seperti diungkapkan oleh Profesor Jiro
Matsubara, bahwa kaum muda Jepang dalam golongan usia tertentu selalu
diharapkan akan menunjukkan keberhasilan dalam proses pendidikan dari sekolah
dasar ke sekolah menengah dan sekolah menengah ke universitas sampai
mendapatkan pekerjaan yang baik.
Kaum muda sendiri menganggap kebutuhan untuk memusatkan perhatian
mereka kepada hal-hal untuk kemajuan seperti di atas merupakan suatu paksaan.
Tekanan dalam ujian masuk sekolah dan perusahaan begitu ketat sehingga kaum
muda Jepang selalu merasa terikat oleh kondisi-kondisi yang ditentukan lebih dulu
41
yang
tidak
memberikan
kemungkinan
untuk
berkembang
secara
bebas.
Kecenderungan ini mungkin mengandung unsur-unsur yang mirip dengan ciri umum
kaum muda sebelum perang, tetapi tidak terdapat nilai-nilai menyeluruh yang
menghubungkan mereka dengan keluarga dan negara secara langsung (Hisao,
1980:35).
Kaum muda Jepang pada beberapa tahun terakhir ini menunjukkan
kecenderungan untuk bertindak kurang lebih sesuai dengan pandangan yang mereka
kembangkan sendiri daripada yang berhubungan dengan masyarakat atau bangsa
(Hisao, 1980:35).
2.5 Teori Psikologi Remaja
Menurut asal katanya, psikologi berasal dari kata-kata Yunani yaitu
Psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi
berarti ilmu jiwa. Psikologi remaja merupakan ilmu yang mempelajari dan
membahas masalah-masalah remaja serta tingkah laku remaja (Gunarsa, 1985:223).
Masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa saat
ketegangan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik. Meningginya emosi
disebabkan remaja berada di bawah tekanan sosial dan kurang mempersiapkan diri
untuk menghadapi keadaan itu. Sehingga mereka mengalami ketidakstabilan emosi
sebagai dampak dari penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru (Fatimah,
42
2006:105).
Pada masa remaja terlihat juga perubahan dalam cara berpikir yang
menunjukkan bertambahnya minat terhadap peristiwa tidak langsung dan hal-hal
yang tidak konkrit (Gunarsa, 1985:212). Hal ini disebabkan remaja memiliki karakter
yang khas, seperti dijelaskan di bawah ini.
2.5.1
Ciri-ciri ( Karakter) Remaja.
Memasuki usia remaja ada beberapa ciri yang harus diketahui, diantaranya
ialah pertumbuhan fisik, perkembangan seksual, cara berpikir kausalitas, emosi yang
meluap-luap, mulai tertarik kepada lawan jenis dan terikat dalam kelompok (Zulkifli,
1986:87-90).
Menurut Gunarsa (1985:220) dalam Psikologi perkembangan anak dan
remaja terdapat beberapa karakter remaja seperti penjelasan berikut ini:
1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan sebagai akibat dari
perkembangan fisik, menyebabkan timbulnya perasaan rendah diri.
2. Ketidak seimbangan secara keseluruhan terutama keadaan emosi yang labil.
Berubahnya emosionalitas, berubahnya suasana hati yang tidak dapat diramalkan
menyebabkan remaja sering tidak mengerti dirinya sendiri.
3. Perombakan pandangan dan petunjuk hidup yang telah diperoleh pada masa
sebelumnya, menimbulkan perasaan kosong di dalam diri remaja.
43
4. Sikap menentang dan menantang orang tua maupun orang dewasa lainnya
merupakan ciri yang mewujudkan pendewasaan diri.
5. Kegelisahan, keadaan tidak tenang menguasai diri remaja. Banyak hal yang
diinginkan tapi tidak sanggup memenuhi semuanya.
6. Eksperimentasi, atau keinginan besar yang mendorong remaja mencoba dan
melakukan segala kegiatan dan perbuatan orang dewasa.
7. Eksplorasi, keinginan untuk menjelajahi alam sekitar sering disalurkan. Namun
eksplorasi yang tidak dipersiapkan secara masak akan menimbulkan malapetaka.
8. Pertentangan
di
dalam
dirinya
sering
menjadi
pangkal
sebab
pertentangan-pertentangan dengan orang tua.
9. Banyaknya fantasi dan khayalan.
10. Kecenderungan membentuk kelompok. Kebersamaan dan kegiatan berkelompok
memberikan dukungan moril pada sesama remaja.
Dengan bekal tentang ciri-ciri remaja, diharapkan remaja lebih mengerti
dirinya sendiri dan dimengerti orang lain sehingga dapat menjalani persiapan masa
dewasa dengan lancar (Gunarsa, 1985:221).
Menurut Haruyama (1995) dalam Nounai kaikaku menjelaskan sebagai
berikut:
子供は遊びの中で体を鍛え、仲間との交流で人間社会を学び、そう
やって大人になる準備をします.
44
Anak-anak dalam kelompok bermain dididik untuk dapat bersosialisasi
dengan teman-temannya, dengan cara seperti ini mereka mempersiapkan
langkah menuju pendewasaan.
2.5.2 Perkembangan Kepribadian Remaja.
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa dimana remaja biasanya mengalami perubahan fisik, kognitif dan sosial.
Pada masa ini emosi remaja menjadi labil akibat dari perkembangan hormon-hormon
seksualnya yang begitu pesat (Iriani, 2004:1).
Menurut Haruyama (1995) dalam Nounai kaikaku menjelaskan pengertian
hormon sebagai berikut:
ホルモンとはこのように情報伝達物質であるわけですが、要するに人
間が物を考えたり、行動したり、感じたりするのはホルモンなしには
起こらないと言うことです.
Hormon dikatakan sebagai informasi yang melakukan pengiriman jasmani
(materi) dimana manusia dapat berpikir, melakukan pergerakan, merasakan
suatu hal. Tanpa adanya hormon kita tidak dapat melakukan hal-hal tersebut.
Secara umum orang mengatakan bahwa gejala-gejala perubahan fisik
merupakan tanda-tanda pubertas. Pada masa ini terlihat perubahan-perubahan
jasmaniah yang berkaitan dengan kematangan jenis kelamin. Terlihat pula
perkembangan psikososial yang berhubungan dengan berfungsinya seseorang dalam
lingkungan sosial (Gunarsa, 1985:201-202).
Menurut Gunarsa (1985), berikut ini akan dikemukakan beberapa tugas
perkembangan bagi remaja yaitu menerima keadaan fisiknya, memperoleh kebebasan
45
emosional, mampu bergaul, menemukan model untuk identifikasi, mengetahui dan
menerima kemampuan sendiri serta memperkuat penguasaan diri atas dasar skala
nilai dan norma.
Secara psikologis dalam kehidupan remaja di Jepang, perilaku seks bebas
merupakan salah satu hal yang wajar dilakukan. Mereka beranggapan bahwa
kesenangan merupakan hal yang dipentingkan atau diutamakan selama tidak
merugikan orang lain (Suyatno, 2006:1).
2.5.2
Konsep Diri Remaja.
Menurut
membedakannya
Gunarsa
dengan
(1985),
tentang
kepribadian.
istilah
Kepribadian
konsep
diri
terbentuk
kita
harus
berdasarkan
penglihatan orang lain terhadap diri sendiri. Sebaliknya konsep diri merupakan
sesuatu yang ada dalam diri sendiri dengan kata lain merupakan pandangan dari
dalam.
Konsep diri dibagi menjadi dua tahapan.Yang pertama adalah konsep diri
primer, dimana konsep ini terbentuk atas dasar pengalamannya terhadap lingkungan
terdekatnya, yaitu lingkungan keluarga. Yang kedua adalah konsep diri sekunder
dimana konsep ini banyak ditentukan oleh bagaimana konsep diri primernya
(Gunarsa, 1985:239).
Ketika seseorang memasuki jenjang keremajaannya, maka ia mengalami
46
begitu banyak perubahan dalam dirinya. Sikap-sikap atau tingkah laku yang
ditampilkan mengalami perubahan akibat sikap orang lain terhadap dirinya. Oleh
karena itu dapat dimengerti bahwa konsep diri pada seorang remaja cenderung untuk
tidak konsisten (Gunarsa, 1985:239).
Analisis Profesor Sukemune dari Hiroshima menjelaskan bahwa gejala
kecemasan pada anak meningkat dan bersifat akumulatif sejalan dengan jangka
waktu ketidakhadiran orang tua bersama dengan mereka. Sampai pada batas tertentu
seiring dengan berlangsungnya proses pematangan ke kedewasaan, anak-anak
kemudian terbiasa tanpa kehadiran orang tua. Mereka seolah-olah mampu
beradaptasi dengan kondisi tersebut (Satiadarma, 2001:60).
Tekanan ekonomi, perlombaan menunjukkan prestasi kerja, rasa tanggung
jawab kerja pada masyarakat Jepang dikenal cukup tinggi. Tidak jarang orang tua
kurang memperhatikan proses perkembangan anak-anak mereka. Mereka merasa
kehidupan masyarakat yang sudah cukup mapan tidak membawa dampak negatif
pada anak-anak mereka. Permasalahan yang sering muncul di dalam perkembangan
anak-anak dan remaja di Jepang adalah larutnya nilai-nilai kehidupan tradisional
masyarakat Jepang ke dalam kondisi yang mengkhawatirkan (Satiadarma,
2001:60-61).
Minami Hiroshi, pertama-tama membagi konsep diri orang Jepang menjadi
47
dua bagian. Yang pertama adalah diri sebagai subjek atau Shutaiteki jiga (主体的自
我), disingkat dengan Shuga. Yang kedua adalah diri sebagai objek atau Kyakuga (客
我). Shuga mengandung pengertian diri sendiri yang menentukan dan diri itu pula
yang melihat atau menilai dirinya sendiri. Sedangkan Kyakuga mengandung
pengertian diri yang dikenai pekerjaan dan diri yang dilihat atau dinilai, yang berarti
adalah diri secara pasif(Sutanto, 2003:85).
Kyakuga dibagi dalam dua bentuk pula, yaitu diri sebagai objek yang dilihat
dari diri itu sendiri atau Naiteki Kyakuga (内的客我), dan diri sebagai objek yang
dilihat dari orang lain atau Gaiteki Kyakuga (外的客我) (Sutanto, 2003:85).
Minami mengatakan bahwa struktur kedirian orang Jepang dicirikan dengan
kuatnya Gaiteki Kyakuga, yaitu kesadaran yang terlalu berlebihan akan pandangan
orang lain dalam menilai diri sendiri (Sutanto, 2003:85).
48
Download