Manajemen Proyek Sistem Integrasi Data Sensus Pajak dengan

advertisement
1.
Pendahuluan
Sekarang ini, teknologi informasi sangat dibutuhkan oleh banyak
perusahaan dan lembaga pemeritahan dalam mendukung peningkatan kinerja.
Perusahaan dan lembaga pemerintah perlu mengembangkan dan membuat
perangkat lunak agar kegiatan operasional dapat dilakukan dengan lebih efektif
dan efisien. Salah satu cara agar perkembangan perangkat lunak dapat berjalan
dengan baik dan lancar, yaitu menggunakan teknik manajemen proyek sistem
informasi.
Dalam membuat suatu proyek sistem informasi, seringkali terdapat
masalah manajemen perangkat lunak seperti penyelesaian perangkat lunak yang
terlambat, tidak handal sesuai dengan harapan user, sering melebihi dari estimasi
awal pada budgeting dan banyak karakter dari perilaku pengembang yang kurang
sesuai harapan proyek. Hal ini terjadi dikarenakan perangkat lunak yang dibangun
seringkali berkembang dan bersifat inovatif.
DPPKAD sebagai lembaga pemerintahan juga memerlukan teknologi
informasi dalam melaksanakan kegiatannya. Salah satu kegiatan yang
dilaksanakan oleh bidang pendaftaran dan pendataan yaitu mengadakan pendataan
sensus pajak. Pendataan penting untuk dilakukan karena ketersediaan data yang
dapat di update setiap waktu sesuai dengan kenyataan. DPPKAD sudah
melakukan pendataan sensus pajak, tetapi belum ada sistem khusus yang
digunakan untuk mengelola data sensus pajak. Selain itu, data sensus yang sudah
dikelola oleh DPPKAD belum terintegrasi dengan BPPT dan PM. Obyek pajak
yang telah memiliki izin tidak terdata di DPPKAD dan sebaliknya obyek pajak
yang sudah disensus tidak terdata di BPPT dan PM. BPPT dan PM sudah
memiliki aplikasi khusus untuk mengelola data izin berupa aplikasi berbasis web
hanya belum online di internet. Berdasarkan latar belakang tersebut maka
disusunlah manajemen proyek Sistem Integrasi Data Sensus Pajak dengan Data
Perizinan agar pengembangan sistem dapat berjalan dengan lancar berdasarkan
dari segi waktu dan biaya.
2.
Kajian Pustaka
Penelitian yang sebelumnya berjudul “Perencanaan Manajemen Proyek
Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Online Bisnis”. Penelitian ini
menjelaskan pembuatan perencanaan manajemen proyek yang menyeluruh
sehingga mampu menghindari atau meminimalisasi kegagalan dan risiko proyek.
Proyek Online yang direncanakan dapat berjalan dengan baik sesuai jadwal yang
telah ditentukan dan hasil sesuai dengan permintaan. Dalam pelaksanaan proyek
Online bisnis terdapat enam tahapan yang terdiri dari Planning, Initiation, Design,
Coding, Testing, Implementation; Komposisi dari tim proyek Online bisnis terdiri
dari Project Leader, Server Side, Client Side, Database/Network,
Analysis/Design; Pengendalian terhadap proyek Online bisnis harus dilakukan
secara berkesinambungan untuk menjaga keberhasilan implementasi proyek [1].
1
Penelitian yang selanjutnya berjudul “Integrasi E-Business Penjualan Dan
Pembayaran Menggunakan Web Service”. Penelitian ini membahas tentang desain
dan pengembangan sistem yang dapat mengintegrasikan sistem penjualan E-Bay
dan sistem pembayaran Paypal menggunakan web service. Sistem tersebut
memberi kemudahan kepada pelanggan untuk mengakses katalog barang dari
perusahaan pemasok, melakukan order barang-barang dan untuk melakukan
pembayaran secara online [2].
Manajemen proyek Sistem Informasi menurut PMBOK (Project
Management Body of Knowledge) adalah aplikasi dari pengetahuan, keahlian,
alat-alat, dan teknik untuk melaksanakan aktivitas sesuai dengan kebutuhan
proyek. Dengan kata lain, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, sesuai anggaran
biaya dan sesuai ruang lingkup. Setiap proyek mempunyai batasan yang berbeda
terhadap ruang lingkup, waktu, biaya, yang biasanya disebut sebagai triple
constraint (Tiga Kendala). Setiap proyek manajer harus memperhatikan hal
penting dalam manajemen proyek. Pertama, ruang lingkup (scope): Apa yang
ingin dicapai dalam proyek? Produk atau layanan apa yang pelanggan harapkan
dari proyek tersebut? Kedua, waktu (time): Berapa lama waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan proyek? Bagaimana jadwal kegiatan proyek akan
dilaksanakan? Ketiga, biaya (cost): Berapa biaya yang dibutuhkan untuk dapat
menyelesaikan proyek?. Ketiga batasan tersebut bersifat tarik-menarik. Artinya,
jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak maka
umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu yang selanjutnya berakibat
pada naiknya biaya melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya
maka biasanya harus berkompromi dengan mutu dan jadwal [3].
Sistem merupakan suatu kumpulan elemen-elemen baik yang berbentuk
fisik maupun non-fisik yang saling berhubungan dan berinteraksi bersama-sama
menuju satu atau lebih sasaran atau tujuan akhir dari sebuah sistem (MJ
Alexander, “Information System Analysis :Theory and Application). Informasi
merupakan sesuatu yang menunjukan hasil pengolahan data yang diorganisasi dan
berguna kepada orang yang menerimanya (Barry E Cushing, “ Accounting
Information System and Business Organization”). Secara umum sistem informasi
dapat didefinisikan sebagai sistem berbasis komputer yang menyediakan
informasi penting mengenai orang, tempat, dan segala sesuatu yang ada di dalam
atau di lingkungan sekitar organisasi.
Integrasi data merupakan suatu proses menggabungkan atau menyatukan
data yang berasal dari sumber yang berbeda dan mendukung pengguna untuk
melihat kesatuan data. Dalam mengintegrasikan Sistem Informasi dapat dilakukan
dengan menggunakan satu aplikasi dan database atau mengintegrasikan yang
sudah ada menjadi bentuk service/ layanan [4].
Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau
badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat
dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan
pembangunan Daerah. Jenis pajak Kabupaten/Kota terdiri dari : Pajak Restoran,
Pajak Rumah Makan, Pajak Parkir, Pajak Hotel, Pajak Pemondokan, Pajak
Hiburan, Pajak Reklame, dan Pajak Air Tanah. Sensus pajak daerah adalah
2
kegiatan pengumpulan data mengenai objek pajak yang bertujuan menggali
potensi suatu daerah agar tercapainya target penerimaan perpajakan daerah.
Unsur-Unsur Pajak adalah subyek pajak dan obyek pajak. Subyek pajak adalah
orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak daerah. Obyek pajak adalah
segala sesuatu yang menurut Undang-Undang dijadikan dasar atau sasaran
pemungutan pajak [5].
E-Government adalah suatu mekanisme interaksi modern antara
pemerintah dengan masyarakat dan kalangan lain yang berkepentingan yang
melibatkan penggunaan teknologi informasi (terutama Internet) dengan tujuan
memperbaiki mutu pelayanan yang telah berjalan menjadi lebih baik [6].
Web Service adalah suatu sistem perangkat lunak yang dirancang untuk
mendukung interoperabilitas dan interaksi antar sistem pada suatu jaringan. Web
service digunakan sebagai suatu fasilitas yang disediakan oleh suatu website
untuk menyediakan layanan dalam bentuk informasi kepada sistem lain sehingga
sistem lain dapat berinteraksi dengan sistem tersebut melalui layanan-layanan
service yang disediakan oleh suatu sistem yang menyediakan web service. Web
service bertujuan untuk menungkatkan kolaborasi antar pemrograman dan
perusahaan yang memungkinkan sebuah fungsi didalam web service dapat
dipinjam oleh aplikasi lain tanpa perlu mengetahui detail pemrograman yang
terdapat didalamnya [7].
Analisis biaya dan manfaat memerlukan dua komponen yaitu komponen
biaya dan komponan efektivitas. Komponen biaya yang berhubungan dengan
pengembangan sistem informasi dapat diklasifikasikan ke dalam 4 kategori utama,
yaitu : Biaya pengadaan (procurement cost), Biaya persiapan operasi (start‐up
cost), Biaya proyek (project‐related cost), Biaya operasi (on going cost) dan biaya
perawatan (maintenance cost). Sedangkan komponen manfaat atau efektifitas
yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut : manfaat mengurangi biaya, manfaat
mengurangi kesalahan‐kesalahan, manfaat meningkatkan kecepatan aktivitas,
manfaat meningkatkan perencanaan dan pengendalian manajemen. Selain itu
Manfaat dari sistem informasi dapat juga diklasifikasikan dalam bentuk
keuntungan berujud (tangible benefits) dan keuntungan tidak berujud (intangible
benefits) [8].
3.
Metode Penelitian
Menurut The British Standards Institude (2005), Inclusive Design
merupakan “Desain produk yang dapat di akses dan digunakan oleh sebanyak
mungkin orang tanpa perlu adaptasi khusus atau desain khusus.”
Penulis menggunakan metode inclusive design model waterfall
(http://www-edc.eng.cam.ac.uk) dikarenakan metode ini mempunyai tahapantahapan yang harus diselesaikan terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya
pengulangan sehingga pengembangan sistem yang dilakukan dapat memperoleh
hasil yang diinginkan. User dan pembangun sistem dapat saling bekerja sama.
Pada metode ini terdapat 4 (empat) tahap untuk mengembangkan suatu perangkat
3
lunak yaitu Discover, Translate, Create, dan Develop. Tahap-tahap perancangan
perangkat lunak diuraikan sebagai berikut:
Pada metode ini terdapat 4 (empat) tahap untuk mengembangkan suatu perangkat
lunak yaitu Discover, Translate, Create, dan Develop. Tahap-tahap perancangan
perangkat lunak diuraikan sebagai berikut:
1. Discover (Menemukan) yaitu penulis menemukan permasalahan awal yang sesuai
dengan kenyataan. Titik fokus discover adalah mempertimbangkan interaksi
antara user dan sistem yang akan dibangun serta mempertimbangkan tujuan dan
kebutuhan user. Dalam proses discover penulis menemukan permasalahan awal
yaitu: What, Why, Where, Who, dan When.
What : Kegiatan apa yang memiliki kendala dalam proses pengolahan data? Salah
satu kegiatan DPPKAD yang memiliki kendala dalam proses pengolahan data
adalah kegiatan sensus pajak.
Why : Mengapa proses pengolahan data sensus pajak mengalami kendala?
DPPKAD mengelola data sensus dengan cara yang masih sederhana yaitu dengan
mengisi formulir sensus kemudian data dimasukkan ke dalam komputer. Dengan
data yang sangat banyak, tidak efektif bila hanya disimpan menggunakan
Microsoft Excel.
Where: Bidang mana yang membutuh pengelolaan data yang lebih efektif dan
efisien? DPPKAD memiliki banyak bidang dalam kegiatannya mengelola
pendapatan dan asset daerah. Bidang yang mengelola sensus pajak adalah bidang
pendaftaran dan pendataan.
Who: Siapa yang bertugas mengelola data sensus pajak? Sensus pajak dikelola
oleh Kepala Pengolahan Data dan Dokumentasi dan staff bidang pendaftaran dan
pendataan.
When: Kapan kegiatan sensus dilaksanakan? Kegiatan sensus dapat dilaksanakan
setiap waktu karena petugas sensus melakukan survey lapangan beberapa kali
dalam seminggu, sehingga data dapat berubah setiap waktu.
2. Translate : Berdasarkan permasalahan yang ditemukan dalam tahap discover
kemudian penulis menerjemahkan ke dalam spesifikasi informasi dalam bentuk
yang jelas. Dalam proses translate dibutuhkan pemahaman/ Understanding tentang
kebutuhan sistem yang akan dibangun. Dari proses identifikasi kebutuhan maka,
penulis melakukan wawancara secara langsung kepada Kepala Pengolahan Data
dan Dokumentasi DPPKAD mengenai kebutuhan sistem. Hasil dari wawancara
tersebut antara lain:
a)
Apakah DPPKAD khususnya bagian pendaftaran dan pendataan
sudah memiliki sistem untuk sensus pajak? Jawab : Selama ini belum ada
sistem khusus untuk mengelola data sensus pajak daerah.
b)
Apa masalah yang dihadapi bidang pendaftaran dan pendataan
dalam mengelola data sensus pajak? Jawab : Ketersediaan data pengusaha di
Kota Salatiga, Pengusaha yang sudah memiliki izin tidak terdata di DPPKAD
maupun BPPT dan PM, data tidak saling berhubungan dan terintegrasi. Data
yang sudah ada hanya dikelola menggunakan Microsoft Excel. Data tersebut
juga sering mengalami perubahan sehingga perlu di update setiap waktu.
4
c)
Bagaimana proses bisnis sensus pajak? Jawab : Petugas sensus
melakukan survey lapangan untuk memperoleh data seluruh objek pajak yang
terdapat di Kota Salatiga baik yang belum terdaftar maupun yang sudah
terdaftar, baik obyek pajak lama atau baru. Data subjek dan obyek dicatat oleh
petugas sensus secara manual menggunakan formulir sensus pajak.
Berdasarkan data yang telah diperoleh dapat ditentukan besar pajak yang
wajib dibayar oleh subyek pajak. Berdasarkan survey lapangan tersebut data
dimasukkan ke dalam komputer.
d)
Sistem seperti apa yang dibutuhkan untuk sensus pajak? Jawab :
Sistem yang akan dibangun merupakan sistem informasi berbasis web; Sistem
yang akan dibangun terdiri dari 3 pengguna/ user yaitu : admin DPPKAD,
admin BPPT dan PM, serta masyarakat yang membutuhkan informasi sensus
pajak; Belum ada suatu sistem/ aplikasi khusus yang mengelola data sensus
pajak daerah; Pendataan sensus pajak yang masih sederhana mengunakan
Microsoft Excel; Sistem yang akan dibangun berfungsi untuk : mengelola data
sensus pajak, yaitu Subyek pajak dan Obyek pajak, melihat potensi dan
jumlah seluruh obyek pajak Kota Salatiga, integrasi data obyek pajak dengan
perizinan (BPPT dan PM); Sistem yang dibutuhkan adalah sistem yang dapat
mengintegrasi data berupa informasi yang saling melengkapi antara DPPKAD
serta BPPT dan PM. Informasi tersebut adalah data obyek pajak yang belum
atau sudah memiliki izin usaha tetapi belum terdaftar dalam sensus begitu juga
sebaliknya sehingga tidak perlu dilakukan survey secara berulang-ulang.
3. Create : Proses pembuatan desain sistem. Desain tersebut antara lain: desain
sistem menggunakan diagram usecase, activity; desain database berupa diagram
class, dan struktur tabel; serta desain jaringan berupa skema yang menggambarkan
alur koneksi internet dari DPPKAD agar dapat terhubung dengan BPPT dan PM.
4. Develop : Setelah kebutuhan user diperoleh maka penulis menemukan konsep
sistem yang akan dibangun. Dari kebutuhan-kebutuhan yang telah diketahui, maka
dilakukan pengembangan ide-ide agar sensus pajak dapat terintegrasi dengan
perizinan. Ide tersebut adalah mengintegrasikan data sensus menggunakan web
service sebagai perantara antara database DPPKAD dengan database BPPT dan
PM. Integrasinya terdapat pada proses input data obyek pajak, data dari perizinan
akan masuk dalam form input obyek pajak jika obyek sudah terdaftar izinnya dan
data akan kosong jika data belum terdaftar izinnya. Proses yang terakhir adalah
evaluasi. Penulis menunjukkan konsep dan ide kepada DPPKAD agar sesuai
dengan kebutuhan dan requirement. Jika terjadi ketidaksesuaian, penulis berusaha
memperbaiki kesalahan.
5
Gambar 1 Inclusive Design dengan Model Waterfall (http://www-edc.eng.cam.ac.uk).
4.
Hasil dan Pembahasan
Use Case Diagram pada gambar 2 merupakan gambaran secara
keseluruhan dari cara kerja sistem yang akan dikembangkan. Dalam use case
diagram tersebut dapat dilihat proses bisnis sistem integrasi data sensus pajak.
Aktor Admin DPPKAD : admin DPPKAD harus login terlebih dahulu agar dapat
mengelola data sensus berupa insert, update, delete, search, view data dari
database sensus pajak. Aktor Sistem Informasi BPPT dan PM : merupakan sistem
informasi yang digunakan oleh BPPT dan PM untuk pendaftaran perizinan.
Integrasi data sensus dengan perizinam terdapat dalam proses input data yaitu
berupa informasi yang diperoleh dari web service perizinan.
<<extend>>
<<include>>
DPPKAD
<<include>>
manage data
input data
SI BPPT dan PM
<<include>> <<include>>
update data
delete data
View data
s earch data
Gambar 2 Use Case Diagram Integrasi Data
Pada Gambar 3 dijelaskan bagaiman proses input data sensus dilakukan.
User atau admin membuka aplikasi sensus pajak. Data sensus di input melalui
form create subyek pajak untuk memasukkan data subyek pajak dan form create
obyek pajak untuk memasukkan data obyek pajak. Data yang sudah lengkap
kemudian di save ke dalam database.
6
Gambar 3 Activity Diagram Input Data Sensus.
Gambar 4 menjelaskan diagram activity proses integrasi data antara
DPPKAD dengan BPPT dan PM. Admin DPPKAD memasukkan data obyek
pajak dalam form create obyek pajak. Web Client (DPPKAD) mengirimkan
request nama obyek pajak dan keyset token yang berfungsi mengidentifikasi
sistem yang memangggil web service ke database perizinan. Web service
memproses data yang dipanggil pada class perizinan. Kemudian database
perizinan menerima request tersebut dan mengambil hasil responnya dalam
bentuk nomor daftar izin, nama obyek, dan alamat. Pada pilihan nama obyek
pajak admin memilih nama obyek yang sudah terdaftar. Jika nama obyek sudah
terdaftar data tersebut secara otomatis masuk dalam list nama obyek pajak dan
apabila belum terdaftar maka data dimasukkan secara manual. Kemudian data
disave kedalam database obyek pajak.
7
admin DPPKAD
start
Form Create Obyek Paj ak
Pilih nama
obyek pajak
web se rv ice izin
da taba se perizinan
request nama
obyek
terima request
nama obyek
database sensus pa jak
tampil data
ada
tidak
tampil data
otomatis
input
manual
save
data sensus masuk
ke database
end
Gambar 4 Activity Diagram Integrasi Data Sensus dengan BPPT dan PM.
Gambar 5 menjelaskan bagaimana relasi antar entitas yang ada
dalam sistem. Entitas yang ada diantaranya adalah class User yang
menggambarkan entitas User dari sistem, class SubyekPajak yang
menggambarkan entitas subyek pajak, class ObyekPajak menggambarkan
entitas obyek pajak dan juga class Perizinan merupakan entitas dari BPPT
dan PM. Relasi dari setiap class dapat dijelaskan sebagai berikut: Class
User memiliki relasi one to many dengan class subyek pajak dan class
obyek pajak. Class obyek pajak memiliki relasi one to one dengan class
perizinan. Class Subyek Pajak memiliki relasi one to many dengan class
obyek pajak.
8
UI Subyek
Pajak
tblSubyekPajak
UI user controller
tblUser
id : integer()
nama_pengguna : varchar()
pasworrd : char()
tgl_dibuat : timestam p()
tgl_update : timestamp()
tgl_terakhorlogin : timestamp()
user controller
hapus
controller
*
tambah()
edit()
hapus()
edit controller
insert controller
insert()
SubyekPajak
controller
Update
controller
update()
insert()
update()
delete()
view()
1
edit()
hapus()
1
id : integer()
nomor_subyek_pajak : varchar()
alamat : varchar()
kelurahan : varchar()
kecam atan : varchar()
status : varchar()
telp : varchar()
tgl_dibuat : varchar()
tgl_update : varchar()
view controller
delete controller
view()
delete()
1
tam bah controller
tambah()
UI jenis pajak
tblJenisPajak
*
id : integer()
nama_jenis : varchar()_pajak
*
tblObyekPajak
tblPerizinan
nomorDaftar : varchar ()
namaIzin : enum ()
namaPermohonanIzin : varchar ()
namaPemohon : varchar ()
namaUsaha : varchar ()
waktuDaftar : varchar ()
alamat : varchar ()
WebServiceSaranIzin
1
nomor_daftar
nama_usaha
alamat
nama_izin
waktu_daftar
1
id : integer()
id_subyek : integer()
nama_obyek : varchar()
alamat_obyek_pajak : varchar()
id_jenis_pajak : integer()
jum lah_karyawan : integer()
pembukuan : enum()
waktu_operasional : varchar()
jum lah_kamar : integer()
tarif : integer()
omset_perbulan : varchar()
lokasi : varchar()
konstruksi : varchar()
jenis_reklame : varchar()
segel : varchar()
watermeter : varchar()
kelurahan : varchar()
kecam atan : varchar()
keterangan : varchar()
tgl_dibuat : timestamp()
tgl_update : tim estamp()
id_obyek : integer()
surat_izin : varchar()
insert()
update()
delete()
view()
Jenis Pajak
Controller
select()
view()
1
*
Select controller
view controller
select()
view()
Update controller
UI obyek pajak
update()
delete controller
Obyek pajak
controller
delete()
view controller
insert controller
view()
insert()
Gambar 5 Class Diagram Sistem Integrasi Data Sensus Pajak dengan BPPT dan PM.
Tabel yang ada dalam database sensus pajak yang akan dipakai oleh
aplikasi antara lain: Tabel User, Tabel Subyek Pajak, Tabel obyek Pajak, Tabel
jenis Pajak, dan Tabel saran. Sedangkan tabel dalam database perizinan adalah
Tabel perizinan
Tabel 1 Tabel User pada Sistem Integrasi Data Sensus Pajak dengan Perizinan
Nama Field
ID
Password
Username
Tgl_dibuat
Tgl_Upadate
Tgl_terakhirLogin
Type
Integer
Char
Varchar
Timestamp
Timestamp
Timestamp
9
Size
20
40
20
-
Tabel 2 Tabel Subyek Pajak
Nama Field
Id
Nomor subyek pajak
Alamat
Kelurahan
Kecamatan
No.Telp
Status
Type
Integer
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Size
10
50
50
50
50
15
15
Tabel 3 Tabel Obyek Pajak
Nama Field
Id
Id Subyek Pajak
NamaObyekPajak
AlamatObyek
Pajak
Id Jenis Pajak
Omset per Bulan
Surat Izin
Jumlah Karyawan
Pembukuan
Waktu Operasional
Jumlah Kamar
Tarif per jam
Lokasi
Konstruksi
Segel
Watermeter
Kelurahan
Kecamatan
Tgl Dibuat
Tgl Update
NomorObyekPajak
Keterangan
Type
Integer
Integer
Varchar
Varchar
Size
11
11
50
50
Integer
Varchar
Varchar
Integer
Enum(Ada,Tidak)
Varchar
Integer
Integer
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Timestamp
Timestamp
Varchar
Varchar
11
15
50
11
50
11
11
50
50
50
50
50
50
50
100
Tabel 4 Tabel Jenis Pajak
Nama Field
Id
Nama Jenis Pajak
Type
Integer
Varchar
Size
11
50
Tabel 5 Tabel Saran
Nama Field
Id
Id Obyek
Type
Integer
Integer
10
Size
11
11
Tabel 6 Tabel Web Service Perizinan
Nama Field
Nomor Daftar
Nama Izin
Nama Permohonan
Sesuai Persyaratan
Nama Pemohon
Nama Usaha
Waktu Daftar
Type
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Varchar
Date
Size
25
50
50
30
50
50
-
Gambar 6 merupakan skema jaringan sistem integrasi data sensus pajak
dengan perizinan. DPPKAD memiliki 1 server untuk mengelola sensus pajak yang
terdapat dibidang pendaftaran dan pendataan. Server digunakan untuk mengatur
semua perangkat komputer yang terhubung dengan jaringan komputer. 1 mikrotik
routerboard berfungsi sebagai pengatur jaringan internet (bandwidth management,
wifi dll) 1 switch untuk menghubungkan antar komputer dan 2 komputer client
yaitu admin dan user. Diantara jaringan DPPKAD dengan BPPT dan PM terdapat
PDE (Pengolahan Data Elektronik) sebagai pusat jaringan yang tersambung
dengan internet. Server BPPT dan PM menjadi tempat untuk menampung datadata yang nantinya akan diambil oleh DPPKAD .
Gambar 6 Skema Jaringan Sistem Integrasi Data Sensus Pajak Dengan BPPT dan PM.
Gantt chart Sistem integrasi data sensus pajak dengan perizinan pada
gambar 7 merupakan gambaran dari macam-macam bagan yang mempunyai
fungsi untuk menentukan durasi pekerjaan terhadap perkembangan waktu,
perencanaan dan penjadwalan proyek, dan pemantauan kemajuan proyek. Secara
umum penjadwalan bertujuan untuk meminimalkan waktu proses, waktu tunggu
langganan, dan tingkat persediaan serta penggunaan yang efisien dari fasilitas,
11
tenaga kerja dan peralatan. Penjadwalan disusun dengan mempertimbangkan
berbagai keterbatasan yang ada. Penjadwalan yang baik akan memberikan
dampak positif bagi DPPKAD.
Gambar 7 Gantt Chart Proyek Sistem Integrasi Data Sensus Pajak Dengan Perizinan.
Pengujian kelayakan sistem menggunakan Cost and Benefit Analisys
yang menghasilkan perhitungan antara lain:
a) Metode periode pengembalian (payback period)
Metode ini menilai proyek investasi dengan dasar lamanya investasi tersebut
dapat tertutup dengan aliran-aliran kas masuk. Nilai proyek sistem informasi
manajemen adalah Rp. 143.400.000,00 dan umur ekonomis proyek tersebut
adalah 4 tahun dan cash inflow setiap tahunnya adalah seperti berikut ini :
Cash inflow Tahun Pertama adalah
Rp. 40.000.000,00
Cash inflow Tahun Kedua adalah
Rp. 54.400.000.00
Cash inflow Tahun Ketiga adalah
Rp. 78.800.000,00
Cash inflow Tahun Keempat adalah
Rp. 93.450.000,00
Maka payback period untuk investasi sistem informasi manajemen ini adalah :
Nilai Investasi
= Rp. 143.400.000,00
Cash inflow Tahun Pertama
= Rp. 40.000.000,00
Sisa Investasi Tahun Kedua
= Rp. 103.400.000,00
Cash inflow Tahun Kedua
= Rp. 54.400.000.00
Sisa Investasi Tahun Ketiga
= Rp. 49.000.000,00
12
Sisa investasi tahun 3 sebesar Rp. 49.000.000,- tertutup oleh sebagian dari
cash inflow tahun 3 sebesar Rp. 78.800.000,-, yaitu Rp. 49.000.000,-/Rp.
78.800.000,- = 0.62 bagian. Kesimpulannya adalah bahwa payback period
investasi ini adalah 7,462 Bulan. Dan kelayakan dari investasi ini dapat
dilakukan dengan membandingkan payback period yang ada dengan maximum
payback period yang dianggap layak yang telah tetapkan sebelumnya. Jika
payback period (7,462 bulan) < Maximum payback period (2 tahun), berarti
investasi ini diterima.
b)
Metode pengembalian investasi (return on investment)
Digunakan untuk mengukur prosentase manfaat yang dihasilkan oleh proyek
dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.
ROI
=
Total manfaat - total biaya
---------------------------------Total biaya
Manfaat Tahun Pertama = Rp. 77.000.000,00
Manfaat Tahun Kedua
= Rp. 93.250.000,00
Manfaat Tahun Ketiga = Rp. 119.500.000,00
Total Manfaat
+
= Rp. 425.750.000,00
Sedangkan total biaya yang dikeluarkan adalah:
Biaya Tahun 0
Biaya Tahun Pertama
Biaya Tahun Kedua
Biaya Tahun Ketiga
Biaya Tahun Keempat
Total Biaya
= Rp. 143.400.000,00
= Rp. 37.000.000,00
= Rp. 38.850.000,00
= Rp. 40.700.000,00
= Rp. 42.550.000,00 +
= Rp. 302.500.000,00
ROI untuk proyek ini adalah sebesar :
Rp. 425.750.000,00 - Rp. 302.500.000,00
ROI =
X 100%
Rp. 302.500.000,00
= 40,74 %
Apabila suatu proyek investasi mempunyai ROI lebih besar dari 0 maka
proyek tersebut dapat diterima. Pada proyek ini nilai ROI nya adalah 0,4074
atau 40,74 %, ini berarti proyek ini dapat diterima, karena proyek ini akan
memberikan keuntungan sebesar 40,74 % dari total biaya investasinya.
13
c) Metode Nilai Sekarang Bersih ( Net present Value/ NPV )
Metode ini memperhatikan nilai waktu dan uang (time value of money). Nilai
satu rupiah sekarang lebih berharga dari satu rupiah nilai uang dikemudian
hari
NPV
I
N
= net present value
= tingkat bunga diskonto diperhitungkan
= umur proyek investasi
Bila nilai net present value > 0, berarti investasi menguntungkan dan dapat
diterima.
Berdasarkan data pada akan coba dihitung besarnya nilai NPV dengan tingkat
suku bunga diskonto yang diasumsikan adalah sebesar 10% pertahun.
40.000.000
NPV = - 143.400.000 +
54.400.000
+
(1+0.10)1
(1+0.10)2
40.000.000
NPV = -143.400.000 +
78.800.000
+
(1+0.10)3
54.400.000
+
93.450.000
+
(1+0.10)4
78.800.000
+
93.450.000
+
1,10
1,21
1,33
1,46
NPV = -143.400.000 + 36.363.636,3 + 44.958.677,6 + 59.248.120,3 + 64.006.849,3
= 61.177.283,5
Dari hasil perhitungan diatas diketahui bahwa nilai NPV untuk investasi
Sistem Integrasi Sensus Pajak dengan Perizinan adalah sebesar Rp.
61.177.283,5 ini berarti bahwa nilai NPV proyek tersebut > 0 sehingga proyek
tersebut dapat diterima.
d) Internal Rate of Return Method
Sama seperti NPV metode tingkat pengembalian internal atau IRR juga
merupakan metode yang memperhatikan nilai waktu dari uang. Jika lebih
besar berarti investasi menguntungkan dan bila sebaliknya investasi tidak
menguntungkan. Misalnya IRR yang dihasilkan oleh sebuah proyek adalah
15% yang berarti proyek ini akan menghasilkan keuntungan dengan tingkat
bunga 15%. Bila rate of return yang diinginkan adalah 10%, maka proyek
dapat diterima kelayakannya.
Investasi awal
Cash inflow Tahun Pertama
Cash inflow Tahun Kedua
Cash inflow Tahun Ketiga
Cash inflow Tahun Keempat
IRR diisyaratkan
= - Rp. 143.400.000,00
= Rp. 40.000.000,00
= Rp. 54.400.000.00
= Rp. 78.800.000,00
= Rp. 93.450.000,00
= 15%
14
IRR Sesungguhnya
= 26%
Sebagai misal apabila proyek Sistem Integrasi Sensus Pajak dengan Perizinan
mensyaratkan IRR yang diharapkan dari proyek ini adalah 15%, dimana IRR
sesungguhnya adalah 19%. Jika IRR sesungguhnya >= IRR diisyaratkan maka
investasi untuk proyek ini dapat diterima kelayakannya.
5.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan tentang manajemen proyek
sistem integrasi sensus pajak dengan perizinan di DPPKAD kota Salatiga dapat
diambil kesimpulan bahwa manajemen proyek membantu mengatasi masalah
seperti penyelesaian perangkat lunak yang dapat tepat waktu, sesuai dengan
harapan user, sesuai estimasi awal pada budgeting. Pengujian kelayakan sistem
menggunakan analisa cost and benefit yang menghasilkan payback period =
11.856 bulan, ROI = 66,78%, NPV= Rp. 15.840. 347, 4, dan IRR= 19%.
Sehingga proyek berhasil dilaksanakan dengan tepat waktu dan sesuai anggaran
biaya serta layak untuk diterima.
6.
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
[8]
Daftar pustaka
Setiawan, Antonius Fran. 2008. Smart Project plan with Microsoft
Office Project 2007. PT Dian Digital Media:Jakarta
Wenur, Trivena Jeanete. 2009. “Integrasi E-Business Penjualan dan
Pembayaran Menggunakan web Service”, Salatiga: FTI UKSW.
Soeharto, Iman. 2001. “Manajemen Proyek dari Konseptual Sampai
Operasional”. Jilid 2. Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga.
Sutanto, Yudi. (2012). Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Untuk
Pengelolaan Investaris Laboratorium Pada STMIK AMIKOM Yogyakarta.
http://www.p3m.amikom.ac.id/. Diakses pada tanggal 5 Agustus 2013.
Himpunan Lembaran Daerah Kota Salatiga, 2004, tentang Pajak
Daerah, Pemerintah Kota Salatiga.
Anonim, (2007). Pengertian E-Government. http://e-pemerintah.com.
Diakses pada tanggal 22 September 2013.
Pradhytia, Michael. 2011. “Sistem Penjualan Makanan Khas Daerah
Berbasis Web Service”, Salatiga: FTI UKSW.
Prabantoro, Gatot.2000.Mengukur Kelayakan Ekonomis Proyek Sistem
Informasi Manajemen Menggunakan Metode ‘Cost & Benefits
Analysis Dan Aplikasinya Dengan Ms. Excel.Makasar:STIE
Indonesia.
15
Download