pendayagunaan modal sosial bazis pos keadilan peduli umat dalam

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penyimpangan Perilaku dalam Kajian Sosiologi
Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena
terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan – aturan sosial ataupun dari
nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap
sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial.
Secara umum perilaku menyimpang dapat diartikan sebagai tingkah laku
yang melanggar atau bertentangan dengan aturan normatif dan pengertian
normatif maupun dari harapan – harapan lingkungan sosial yang bersangkutan.
Menurut Robert M.Z Lawan perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang
menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan
usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku
menyimpang. Menurut Lemert penyimpangan dapat dibedakan menjadi dua
macam yaitu penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder. Penyimpangan
primer adalah suatu bentuk perilaku menyimpang yang bersifat sementara dan
tidak dilakukan secara terus – menerus sehingga masih dapat ditolerir masyarakat
seperti melanggar lalu lintas, buang sampah sembarangan, dan lain-lain.
Sedangkan penyimpangan sekunder yakni perilaku menyimpang yang tidak
mendapat toleransi dari masyarakat dan umumnya dilakukan berulang kali seperti
merampok, menjambret, memakai narkoba, menjadi pelacur, tawuran dan lain –
lain ( Kamanto Sunarto 2006 : 78 )
Perilaku menyimpang dalam defenisi umum tersebut dapat dibedakan dari
abnormalitas statis. Ada kesepakatan bahwa perilaku menyimpang tidak berarti
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menyimpang dari norma- norma tertentu. Konsep perilaku menyimpang ini juga
perlu dibedakan dari perilaku yang kurang diinginkan dan dari peranan yang
menyimpang. Karena tidak semua tingkah laku yang tidak diinginkan
menyimpang dari aturan – aturan normatif, dan dilain pihak dan belum tentu
perilaku dari aturan normatif itu tidak diinginkan.
Dalam penelitian ini telah dipilih bahwa konsep perilaku menyimpang
adalah tingkah laku yang dinilai menyimpang dari aturan – aturan normatif,
seperti aturan yang ada di lingkungan masyarakat. Konsep ini akan dibedakan dari
gejala – gejala lain yang sering sekali diklasifikasikan sebagai perilaku
menyimpang seperti kelainan dalam pribadi seseorang, tingkah laku yang statis
abnormal, tingkah laku yang kurang diinginkan secara sosial dan peranan yang
menyimpang.
Menurut Soerjono Soekanto perilaku menyimpang disebut sebagai salah
satu penyakit masyarakat atau penyakit sosial. Penyakit sosial atau penyakit
masyarakat adalah segala bentuk tingkah laku yang dianggap tidak sesuai,
melanggar norma-norma umum, adat-istiadat, hukum formal, atau tidak bisa
diintegrasikan dalam pola tingkah laku umum. Disebut sebagai penyakit
masyarakat karena gejala sosialnya yang terjadi ditengah masyarakat itu meletus
menjadi “ penyakit”. Dapat disebut pula sebagai struktur sosial yang terganggu
fungsinya.
Semua
tingkah
laku
yang
sakit
secara
sosial
tadi
merupakan
penyimpangan sosial yang sukar diorganisir, sulit diatur dan ditertibkan sebab
para pelakunya memakai cara pemecahan sendiri yang tidak umum, luar biasa
atau abnormal sifatnya. Biasanya mereka mengikuti kemauan dan cara sendiri
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
demi kepentingan pribadi. Karena itu deviasi tingkah laku tersebut dapat
mengganggu dan merugikan subyek pelaku sendiri dan atau masyarakat luas.
Deviasi tingkah laku ini juga merupakan gejala yang menyimpang dari tendensi
sentral atau menyimpang dari ciri-ciri umum rakyat kebanyakan.
Deviation merupakan penyimpangan terhadap kaidah atau norma-norma
dan nilai-nilai dalam masyarakat. Kaidah timbul dalam masyarakat karena
diperlukan sebagai pengatur hubungan antara seseorang dengan orang lain atau
antara seseorang dengan masyarakat. Diadakannya kaidah serta peraturan di
dalam masyarakat bertujuan supaya ada konformitas warga masyarakat terhadap
nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat yang bersangkutan (Soerjono
Soekanto, 2004: 237).
Jadi, norma-norma sosial adalah apa yang harus dan dilarang dalam
masyarakat. Norma-norma tersebut diciptakan dan dibentuk karena individu
sebagai anggota masyarakat saling berhubungan dan berinteraksi. Selanjutnya
norma tersebut berfungsi untuk mengarahkan, menyalurkan, dan membatasi
hubungan – hubungan anggota masyarakat pada umumnya.
Dalam setiap masyarakat, norma sosial biasanya terpusat pada kegiatan
sehari-hari yang bermakna bagi anggota-anggotanya. Norma sosial yang terpusat
itu dinamakan pranata sosial, contohnya keluarga. Keluarga merupakan
konkritisasi dari sejumlah norma sosial yang mengatur hubungan antar jenis,
hubungan orang tua dengan anak, sosialisasi dalam keluarga, mengatur dan
mengarahkan hubungan sehari-hari meskipun dalam keluarga ada kekhususan
normatif dimana berhubungan dengan pribadi – pribadi dalam keluarga tersebut.
Akan tetapi dapat juga diketemukan aspek – aspek umum dalam kehidupan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
berkeluarga dan aspek umum ini erat hubungannya dengan norma sosial yang
berlaku dalam masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa norma sosial adalah patokan perilaku dalam
suatu kelompok masyarakat tertentu yang memungkinkan seseorang untuk
menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya itu akan dinilai oleh orang
lain dan norma ini merupakan kriteria bagi orang lain untuk mendukung atau
menolak perilaku seseorang.
Berbicara tentang norma, erat hubungannya dengan nilai. Karena nilai
yang dimiliki seseorang ikut mempengaruhi perilakunya. Menurut Milton
Rokeach, nilai merupakan suatu tipe keyakinan yang dipusatkan didalam sistem
kepercayaan pada diri seseorang, mengenai bagaimana seseorang harus bertingkah
laku atau apa yang tidak boleh dilakukan (Sekarningsih, 2001:108)
Pada dasarnya norma itu muncul mempertahankan atau memelihara nilainilai yang berlaku dalam masyarakat, karena nilai itu adalah gambaran mengenai
apa yang baik, yang diinginkan, yang pantas, yang berharga yang mempengaruhi
perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu. Untuk menjaga itu, maka
disusunlah suatu norma yang mampu memelihara nilai-nilai tersebut. Apabila
perilaku atau tindakan yang terjadi dalam masyarakat tidak sesuai dengan normanorma masyarakat tersebut, maka ia dikatakan menyimpang.
Dalam hal ini perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku
dalam suatu sistem sosial dibedakan atas empat macam yaitu :
1. Perilaku menyimpang yang dilihat dan dianggap sebagai kejahatan.
2. Penyimpangan seksual dalam arti perilaku yang lain dari biasanya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Bentuk – bentuk konsumsi yang berlebihan, misalnya alkohol dan
narkoba.
4. Gaya hidup yang lain dari yang lain.
Akan tetapi penyimpangan apapun yang terjadi haruslah selalu dilihat dari
segi dimana dalam suatu masyarakat tertentu telah digariskan terlebih dahulu apa
yang normal terhadap masyarakat itu. Dasarnya adalah bahwa penyimpangan itu
tidak selalu sama untuk setiap masyarakat.
Di Indonesia, secara umum penyimpangan perilaku pada remaja diartikan
sebagai kenakalan remaja atau juvenile delinquency. Penyimpangan perilaku
remaja ini mempunyai sebab yang majemuk, sehingga sifatnya mulai kasual.
Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan
anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan
remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja
mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat
diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 2003).
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecendrungan
kenakalan remaja adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang
melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik
terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Kenakalan remaja merupakan salah
satu bentuk penyimpangan yang dilakukan remaja karena tidak sesuai dengan
kebiasaan, tata aturan, dan norma sosial yang berlaku. Bentuk-bentuk kenakalan
remaja antara lain : bolos sekolah, merokok, berkelahi, tawuran, menonton film
porno, minum minuman keras, seks diluar nikah, menyalahgunakan narkotika,
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
mencuri, memperkosa, berjudi, membunuh, kebut-kebutan dan banyak lagi yang
lain.
Beberapa hal yang mempengaruhi timbulnya kenakalan remaja antara lain:
1.
Proses keluarga
Faktor
keluarga
sangat
berpengaruh
terhadap
timbulnya
kenakalan
remaja.Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orang tua
terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya
kasih sayang orang tua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja.
Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya (dalam
Santrock, 2000) menunjukkan bahwa pengawasan orang tua yang tidak
memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif
dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan
munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang
dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga
termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak
begitu besar.
2.
Pengaruh teman sebaya
Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan risiko
remaja untuk menjadi nakal. Pada sebuah penelitian Santrock terhadap 500
pelaku kenakalan dan 500 remaja yang tidak melakukan kenakalan di Boston,
ditemukan persentase kenakalan yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki
hubungan reguler dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan.
3.
Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja.
Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja
mengamati berbagai
model
yang melakukan aktivitas kriminal
dan
memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. Masyarakat
seperti ini sering ditandai dengan kemiskinan, pengangguran, dan perasaan
tersisih dari kaum kelas menengah. Kualitas sekolah, pendanaan pendidikan,
dan aktivitas lingkungan yang terorganisir adalah faktor- faktor lain dalam
masyarakat yang juga berhubungan dengan kenakalan remaja.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling
berperan menyebabkan timbulnya kecenderungan kenakalan remaja adalah faktor
keluarga yang kurang harmonis dan faktor lingkungan terutama teman sebaya
yang kurang baik, karena pada masa ini remaja mulai bergerak meninggalkan
rumah dan menuju teman sebaya, sehingga minat, nilai, dan norma yang
ditanamkan oleh kelompok lebih menentukan perilaku remaja dibandingkan
dengan norma, nilai yang ada dalam keluarga dan masyarakat
(http://thomotugaskuliah.blogspot.com/2010/01/studi-kasus-belajar-danpembelajaran.html)
Memudarnya pegangan orang pada norma-norma menimbulkan suatu
keadaan yang tidak stabil dan keadaan tanpa norma. Emile Durkheim
menamakanya
dengan
anomie
(Soejono
Soekanto,
2004:239).
Perilaku
menyimpang dibedakan antara lain: Perilaku menyimpang yang tidak disengaja
dikarenakan si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Perilaku
menyimpang yang disengaja bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal
yang relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebu, adalah mengapa
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan
melanggar aturan, mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsi hanya
mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal ini
disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk
melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak
menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal
biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang
(Becker(dalam Soejono Soekanto, 2004: 239)
2.2 Proses Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses belajar yang kompleks. Dengan sosialisasi,
manusia sebagai makhluk biologis menjadi manusia yang berbudaya, yang cakap
menjalankan fungsinya dengan tepat sebagai individu dan sebagai anggota
kelompok. Seorang bayi yang lahir merupakan organisme yang sangat lemah.
Pemenuhan segala kebutuhan fisiknya bergantung kepada orang dewasa. Namun,
sejak saat dia mulai berinteraksi dengan lingkungan dan menyerap banyak hal
hingga tumbuh dewasa, dan baru berakhir setelah dia meninggal. Hal-hal yang
diserap meliputi sikap dan nilai, rasa suka dan tidak suka, rasa senang dan sedih,
keinginan dan tujuan hidup, cara bereaksi terhadap lingkungan, dan pemahaman
mengenai segala sesuatu. Semua itu diperolehnya melalui proses yang disebut
sosialisasi.
Dalam proses ini, seseorang juga mengalami internalisasi (mendarahdagingkan) nilai dan norma sosial tempat diahidup, sehingga terbentuklah
kepribadiannya. Setiap orang perlu mempelajari nilai-nilai dan norma-norma
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sosial yangberlaku di dalam masyarakatnya. Semua itu diperlukan untuk
mendewasakan diri setiap individu dan membentuk kepribadiannya. Dengan
berbekal kedewasaan pribadi itulah nantinya seseorang akan dapat memegang
peran andil masyarakat. Oleh karena itu, sosialisasi merupakan proses
penanaman kecakapan dan sikap yang diperlukan untuk dapat memainkan peran
sosial dimasyarakat (Suhardi, Sunarti Sri, 2009:134).
Di dalam diri setiap manusia, terdapat impuls-impuls (dorongan hati)
untuk melakukan segala sesuatu. Di sisi lain, lingkungan tempat ia berada dan
berinteraksi memiliki nilai dan norma yang mengarahkan perilaku. Dalam
proses sosialisasi, seorang individu berusaha menyesuaikan impuls-impuls itu
dengan tekanan nilai dan norma yang mengikatnya. Bila potensi tingkah laku
seseorang tidak bertentangan dengan nilai dan norma, maka berkembang lebih
lanjut menjadi bagian dari kepribadiannya. Di samping itu, proses sosialisasi
juga mengadopsi berbagai hal dari orangl ain. Hal-hal yang diperoleh dari orang
lain meliputi kebiasaan, sikap, dan ide-ide. Selanjutnya, ketiga hal tersebut
disusun kembali menjadi sistem yang mengatur tingkahnya sendiri. Pengertian
adopsi tidak sekadar mencontoh perilaku orang lain. Akan tetapi, apa yang
diamati dari orang lain berusaha ditiru sekaligus disesuaikan dengan keadaan
dirinya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.3 Lingkungan Pembentuk Perilaku Menyimpang
1.
Ketidaksempurnaan Sosialisasi Nilai-nilai
Perilaku manusia dikendalikan oleh nilai dan norma sosial. Nilai dan norma
tersebut diterima seorang individu melalui proses sosialisasi. Sosialisasi
dialamiseseorang melalui berbagai media. Apabila di antara media-media itu
tidak sejalan dalam menyosialisasikan nilai dan norma, maka terjadilah
ketidaksem-purnaan sosialisasi. Salah satunya adalah ketidakselarasan antara
sosialisasi dirumah, di sekolah, dan di masyarakat. Misalnya, sekolah
menanamkan nilai kesehatan sehubungan dengan bahayarokok. Siswa
dilarang merokok karena tidak baik untuk kesehatan. Namun, dirumah
ayahnya
sendiri
merokok,
dan
di
masyarakat
merokok
menjadi
perilakuumum. Akibatnya, nilai-nilai yang disosialisasikan di sekolah tentang
bahayamerokok tidak berhasil. Berbagai anjuran guru yang didasari alasan
ilmiahsekalipun tidak akan dipercaya siswa, apabila guru tersebut, atau guruguru laindi sekolah itu juga tampak sering merokok. Ketidaksempurnaan
sosialisasi banyak terjadi dalam berbagai persoalan. Nilai kejujuran yang
selalu ditanamkan di sekolah berlawanan dengan praktik kecurangan di
masyarakat. Di sekolah diajarkan bahwa negara kita adalah negarahukum,
setiap orang sama kedudukannya dalam hukum. Akan tetapi, kenyataandi
masyarakat menunjukkan hal yang berlawanan. Para pelanggar hukum
dapatdibebaskan atau diperingan dari tuntutan jika membayar atau memiliki
ke-kuasaan, sehingga orang lebih percaya bahwa orang kaya dan pejabat
dapatmenghindar dari hukum.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Penyimpangan tingkah laku juga terjadi sebagai akibat tidak
berfungsinya media sosialisasi secara baik. Misalnya, keluarga diharapkan
berperan sebagaisumber kasih sayang bagi anak. Peran itu dapat saja tidak
terpenuhi karenaberbagai hal antara lain kehancuran keluarga (broken home),
akibat perceraian,perselingkuhan, kematian salah satu atau kedua orang
tuanya, sifat otoriterorang tua dalam mendidik anak, tekanan ekonomi yang
menghimpit kehidupansehari-hari keluarga, ataupun karena kemiskinan. Halhal tersebut di atas, men- jadikan keluarga tidak mampu menjadi media
sosialisasi yang wajar. Akibatnya,anak-anak yang berasal dari keluarga
demikian banyak yangberperilakumenyimpang.
2.
Menganut Nilai-nilai Subkebudayaan Menyimpang
Masyarakat
adalah
satu
kesatuan
hidup
bersama
yang
memiliki
kebudayaan.Di dalam suatu masyarakat terdapat bagian-bagian (sub-sub) atau
kelompok-kelompok orang. Setiap kelompok memiliki ciri-ciri kebudayaan
tersendiri namun masih merupakan bagian dari keseluruhan masyarakat itu.
Inilah
yangdinamakan
subkebudayaan.
Ada
kalanya
subkebudayaan
menganut tata nilai yang menyimpang. Misalnya, sekelompok warga
masyarakat yang sehari-harihidup dalam dunia pelacuran, perjudian, dan
berbagai kehidupan malam tidak sehat lainnya. Penyimpangan perilaku
bersumber dari pergaulan dengan orang ataukelompok yang menerapkan nilai
dan norma yang berbeda (differential association ). Nilai dan norma yang
berbeda dipelajari melalui proses alih budaya(culture transformation ).
Melalui proses alih budaya seseorang menyerapsubkebudayaan menyimpang
(deviant subculture ) dari lingkungan tertentu dalammasyarakat.Seseorang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kadang-kadang
terjerumus
dalam
kelompok
pergaulan
yang
tidak menguntungkan seperti itu. Pergaulan negatif membuat seseorang
berperilakumenyimpang. Seorang anak berasal dari keluarga baik-baik,
namun dia tinggaldi lingkungan para pemabuk dan penjudi. Setiap hari
melihat, bertemu, danbergaul dengan pemabuk dan penjudi. Akibatnya, dia
berperilaku seperti itupula.
3.
Kesalahan Memahami Informasi
Seringkali
kita
salah
dalam
memahami
suatu
kejadian,
peristiwa
atauinformasi yang disampaikan oleh pihak lain, terutama media massa
elektronik. Penggambaran peristiwa, berita, dan tayangan - tayangan yang
menampilkanperilaku menyimpang sangat berpotensi untuk ditiru oleh
masyarakat. Hal ini,karena mayoritas masyarakat kita belum terbiasa
menyeleksi atau menganalisis secara kritis terhadap berbagai informasi yang
datang.
Masyarakat
cenderunguntuk
menerima
mentah-mentah
dan
menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Contoh yang aktual dapat dilihat
dari media televisi di masyarakat antara lain informasi-informasi kriminalitas,
perselingkuhan artis, sinetron-sinetron yangmenceritakan konflik warisan,
dan lain-lain. Informasi dan acara-acara tersebutmemperoleh apresiasi yang
tinggi dari masyarakat, sehingga secara tidak langsung mereka terobsesi
untuk apa yang ditayangkan media televisi. Pengaruhterbesar biasanya terjadi
pada anak-anak yang belum dapat secara optimalmenyeleksi informasi yang
ada. Para pengelola televisi mungkin menyadaribahwa program-program
tersebut mempunyai dampak serius di masyarakat, namun kepentingan untuk
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
meraih keuntungan nampak lebih penting daripadadampak-dampak sosial
yang terjadi.
4.
Ikatan Sosial Menyimpang
Di dalam masyarakat terdapat berbagai individu yang berbeda perilaku dan
kebiasaannya. Ada yang hidup tertib dan santun karena sudah mapan
secarasosial ekonomi, namun ada pula yang kurang beruntung sehingga
kekecewaanhidup itu mereka terlampiaskan lewat berbagai perilaku
keseharianyangmenyimpang dari norma-norma.
Di sisi lain, setiap orang cenderung memilih teman bergaul. Apabila
orang yang dipilih baik, maka baiklah perilakunya. Sebaliknya, apabila
temanbergaulnya berperilaku menyimpang, maka dia pun akan ikut
berperilakumenyimpang. Seseorang tidak akan mudah menghindar dari ikatan
sosialnya.Ikatan sosial dapat berupa teman bergaul, kelompok atau organisasi
yang diaikuti. Seseorang terikat secara sosial dan secara emosional dengan
orang lain atau kelompok yang diikuti. Misalnya, seorang anak dari keluarga
baik-baik tetapi bergaul dengan sekelompok anak nakal. Apabila teman atau
kelompoknya berkelahi, mau tidak mau dia akan ikut berkelahi. Ikatan sosial
membuatnya menunjukkan solidaritas kelompok (Suhardi, Sunarti Sri,
2009:135-137).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.4 Teori D i f f e r e n t i a l Association
Teori ini menyatakan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil dari
proses belajar. Menurut Edwin H. Sutherland, penyimpangan adalah konsekuensi
dari kemahiran dan penguasaan atau sikap atau tindakan yang dipelajari dari
norma-norma yang menyimpang, terutama dari subkultural atau di antara temanteman sebaya yang menyimpang.
Di tingkat kelompok, perilaku menyimpang adalah suatu konsekuensi dari
terjadinya konflik normative. Artinya, perbedaan aturan sosial diberbagai
keompok sosial, seperti sekolah, lingkungan, tetangga, kelompok sebaya atau
keluarga, bisa membingungkan komunitas-komunitas tersebut. situasi tersebut
dapat menyebabkan ketegangan yang berujung menjadi konflik normative pada
diri individu, jadi seandainya di sekolah seorang murid diajarkan nilai-nilai
kejujuran, tetapi di luar sekolah, keluarga, organisasi social atau lingkungan
masyarakat yang lebih luas nilai-nilai kejujuran telah ditinggalkan, maka
perbedaan norma di antara bebagai kelompok social yang di alami murid tersebut
dapat luntur nilai-nilai kejujuran yang diajarkan di sekolahnya.
Teori Sutherland secara spesifik digunakan untuk menganalisis
kejahatan, perilakumenyimpang yang mengarah ke tindakan kejahatan dan bentuk
perilaku menyimpang. Teori Sutherland memiliki 8 proposisi, yaitu:
a.
Perilaku remaja merupakan perilaku yang dipelajari secara negatif dan
berarti perilaku tersebut tidak diwarisi (genetik).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
b.
Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipelajari melalui proses
interaksi dengan orang lain dan proses komunikasi dapat berlangsung
secara langsung dan melalui bahasa isyarat.
c.
Proses mempelajari perilaku biasanya terjadi pada kelompok dengan
pergaulan yang sangat akrab. Dalam keadaan ini biasanya mereka
cenderung untuk berkelompok dimana ia diterima sepenuhnya dalam
kelompok tersebut, termasuk dalam hal ini mempelajari norma-norma
dalam kelompok.
d.
Apabila perilaku menyimpang remaja dapat dipelajari, maka yang
dipelajari adalah teknik melakukannya motif atau dorongan serta alasan
pembenar termasuk sikap.
e.
Arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui definisi dan peraturan
hukum.
f.
Seseorang yang melakukan perilaku menyimpang karena akses dari pola
pikir yang lebih mendalam aturan hukum sebagai pemberi peluang
dilakukannya penyimpangan.
g.
Proses pembelajaran menyimpang perilaku melalui kelompok yang
memiliki pola-pola menyimpang atau sebaliknya, melibatkan semua
mekanisme yang berlaku di dalam setiap proses belajar (Bagong
Narwoko,2007:112-114)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Download