UNIVERSITAS INDONESIA KARYA ILMIAH AKHIR

advertisement
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PRAKTIK RESIDENSI KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDAH: PENERAPAN MODEL KONSERVASI MIRA E.
LEVINE PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
KARDIOVASKULAR DI RS PUSAT JANTUNG
NASIONAL HARAPAN KITA JAKARTA
KARYA ILMIAH AKHIR
Oleh:
DWI NUGROHO HERI SAPUTRO
1006748513
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN SPESIALIS KEPERAWATAN
DEPOK
JULI 2013
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PRAKTIK RESIDENSI KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDAH: PENERAPAN MODEL KONSERVASI MIRA E.
LEVINE PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
KARDIOVASKULAR DI RS PUSAT JANTUNG
NASIONAL HARAPAN KITA JAKARTA
KARYA ILMIAH AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Ners Spesialis Keperawatan Medikal Bedah
Oleh:
DWI NUGROHO HERI SAPUTRO
1006748513
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN NERS SPESIALIS
KEKHUSUSAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
DEPOK
JULI 2013
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
HALAMAN PENGESAHAN
Karya ilmiah akhir ini diajukan oleh
Nama
NPM
Program Studi
Judul Karya Ilmiah Akhir
:
:
:
:
:
Dwi Nugroho Heri Saputro
1006748513
Pendidikan Spesialis Keperawatan
Analisis Praktik Residensi
Keperawatan Medikal Bedah: Penerapan
Model Konservasi Myra E. Levine pada
Pasien
dengan
Gangguan
Sistem
Kardiovaskular di RS Pusat Jantung
Nasional Harapan Kita Jakarta.
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners
Spesialis Keperawatan Medikal Bedah pada Program Pendidikan Spesialis
Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing
: Prof. Dra. Elly Nurachmah, M.App. Sc., DNSc.
(
Pembimbing
: Tuti Herawati, S.Kp., MN.
(
Penguji
: Ns. Rita Sekarsari, S.Kp, SpKV., MHSN
(
Ditetapkan di : Depok
Tanggal
: 12 Juli 2013
iv
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat, rahmat, dan anugerahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ini. Penulisan
karya ilmiah akhir ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Ners Spesialis Keperawatan Medikal Bedah pada Program
Pendidikan Spesialis Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia.
Penulis menyadari bahwa apa yang telah diraih bukanlah karena usaha penulis
semata melainkan atas kasih dan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, serta
bantuan, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan
ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1.
Prof. Dra. Elly Nurrachmah, S.Kp., M.App.Sc., DN.Sc. selaku supervisor
utama, yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk
memberikan bimbingan, saran, dan arahan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan karya ilmiah akhir ini;
2.
Ibu Tuti Herawati, S.Kp., M.N., selaku supervisor, yang telah banyak
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, saran,
dan arahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah
akhir ini;
3.
Ibu Rita Sekarsari, S.Kp, Ns.,SpKV., MHSN, selaku Ka. Bagian Diklat Rumah
Sakit Pusat Jantung Harapan Kita Jakarta dan sekaligus penguji, yang telah
memberikan persetujuan atas pelaksanaan praktik residensi keperawatan
kardiovaskular, serta memberikan masukan yang konstruktif dan berharga
untuk penyempurnaan penyusunan karya ilmiah akhir ini;
4.
Direktur Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita Jakarta beserta staf, yang
telah
memberikan persetujuan atas pelaksanaan praktik residensi
keperawatan kardiovaskular;
5.
Ibu Dewi Irawaty, MA., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia;
v
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
6.
Ibu Dra. Junaiti Sahar, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D., selaku Wakil Dekan
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia;
7.
Ibu Astuti Yuni Nursasi, S.Kp., MN., selaku Ketua Program Studi Magister
dan Spesialis Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia;
8.
Ibu Debie Dahlia, S.Kp., MHSM, selaku pembimbing akademik yang
senantiasa memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis
selama mengikuti pendidikan spesialis keperawatan;
9.
Segenap dosen dan karyawan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia yang telah membantu dan memfasilitasi penulis selama mengikuti
pendidikan;
10. Anak dan istri tercinta, orang tua beserta keluarga besar yang senantiasa
memberikan dukungan moril, materil, doa, kasih sayang, dan kesabaran yang
tak pernah habis, selama penulis mengikuti pendidikan;
11. Rekan sejawat Peserta Program Pendidikan Spesialis Keperawatan Medikal
Bedah khususnya Residensi Keperawatan Kardiovaskular Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia, atas pengertian dan kebersamaan yang
telah terjalin selama pendidikan serta senantiasa saling memberikan
semangat, masukan, bertukar pikiran, dan berbagi informasi yang berguna;
12. Semua pihak yang telah memberikan motivasi dan bantuan kepada penulis
selama masa pendidikan.
Semoga segala bantuan, kebaikan, dan dukungan yang telah diberikan kepada
penulis, memperoleh berkat yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha
Pengasih.
Selanjutnya,
penulis
mengharapkan
masukan
yang
konstruktif
guna
penyempurnaan karya ilmiah akhir ini.
Depok, 12 Juli 2013
Penulis
vi
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Nama
Program Studi
Judul
: Dwi Nugroho Heri Saputro
: Pendidikan Spesialis Keperawatan Medikal Bedah Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
: Analisis Praktik Residensi Keperawatan Medikal Bedah:
Penerapan Model Konservasi Myra E. Levine Pada Pasien
Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular di RS Pusat
Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta.
ABSTRAK
Kejadian penyakit jantung koroner merupakan masalah kesehatan utama yang
terjadi didunia, termasuk di Indonesia. Dari tahun ke tahun angka kesakitan dan
kematian terus mengalami peningkatan seiring dengan adanya perubahan gaya
hidup masyarakat di Indonesia yang juga merupakan salah satu faktor
predisposisi penyakit jantung koroner. Angka kematian STEMI sangat tinggi,
bahkan beberapa pasien tidak sempat mendapatkan pertolongan medis. Oleh
karena itu peran perawat spesialis keperawatan medikal bedah sangat penting
dalam pemberian asuhan keperawatan untuk meningkatkan status kesehatan
pasien dengan STEMI. Praktik residensi keperawatan medikal bedah bertujuan
untuk melaksanakan peran perawat spesialis yang mencakup pemberian asuhan
keperawatan dengan pendekatan konsep konservasi Myra E. Levine pada pasien
dengan gangguan sistem kardiovaskular terutama pada pasien dengan STEMI,
penerapan tindakan pemberian terapi musik untuk menurunkan nyeri dan
stabilisasi status hemodinamik, serta berperan aktif dalam program inovasi
penyusunan pedoman pemberian obat kewaspadaan tinggi (high alert
medications). Hasil analisis praktik menunjukkan bahwa model konservasi
Levine dapat digunakan pada pasien dengan panyakit jantung koroner untuk
mengoptimalkan derajat kesehatan pasien, pemberian terapi musik dapat
membantu pasien mengurangi nyeri, tekanan darah dan denyut jantung,
penyusuan panduan dan standar operasional prosedur pemberian obat
kewaspadaan tinggi membantu perawat dalam memberikan obat untuk
mengurangi kesalahan dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan kepada
pasien.
Kata kunci:
Praktik residensi, keperawatan medikal bedah, terapi musik, model konservasi
Myra E. Levine, panduan dan standar operasional prosedur, high alert
medications.
viii
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Name
Study Program
Title
: Dwi Nugroho Heri Saputro
: Medical Surgical Nurse Specialist, Faculty of Nursing,
University of Indonesia
: Analysis of Medical Surgical Nursing Residency
Practice: Application of Model Myra E. Levine
Conservation In Patients with Cardiovascular Disorder in
National Cardiovascular center Harapan Kita Hospital
Jakarta.
ABSTRACT
Incidence of coronary heart disease is a major health problem that occours in the
world, including in Indonesia. Morbidity and mortality is increasing rapidly
related to community lifestyle changes in Indonesia, which is also one of the
predisposing factors of coronary heart disease. Mortality of STEMI is very high,
even some patients are not able to get medical help. Therefore the role of
medical-surgical nurse specialist are very important in the provision of nursing
care to improve the health status of the STEMI patient. Medical-surgical nursing
practice residency aimed to implement the role of the nurse specialist include
provided nursing care with model of Myra E. Levine conservation approach in
patients with cardiovascular system disorders, especially in patients with STEMI,
application of music therapy to reduce pain and stabilization of hemodynamic
status, and contributed in a program of innovation to develop a guideline of high
alert medications delivery. Results of analysis practice showed that the model of
Levine conservation can be used in patients with coronary heart disesase to
optimize the health of patients, providing music therapy can help patients to
reduce pain, blood pressure and heart rate, guidelines and standard operating
procedures of high alert medications helped nurse to reduce error when they give
medications to patient and improve quality of nursing care to patients.
Keywords:
Practice residency, medical-surgical nursing, music therapy, model of Myra E.
Levine conservation, guidelines and standard operating procedures, high alert
medications.
ix
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .....................................................................................
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME .....................................
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .........................................
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................
KATA PENGANTAR ...............................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ..................
ABSTRAK ....................................................................................................
ABSTRACT ..................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
Hal
i
ii
iii
iv
v
vii
viii
ix
......
x
......
xii
xiii
1. PENDAHULUAN.....................................................................................
1.1 Latar Belakang ....................................................................................
1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................
1.3 Manfaat Penulisan ...............................................................................
1
1
6
6
2. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................
2.1 STEMI Anterior ..................................................................................
2.1.1 Pengertian .................................................................................
2.1.2 Etiologi .....................................................................................
2.1.3 Patofisiologi ..............................................................................
2.1.4 Manifestasi Klinis .....................................................................
2.1.5 Pemeriksaan Fisik .....................................................................
2.1.6 Uji Diagnostik ...........................................................................
2.1.7 Penatalaksanaan ........................................................................
2.1.8 Komplikasi ................................................................................
8
8
8
8
12
14
14
15
15
18
2.2 Edema Paru Akut (Acute Lung Oedema/ALO) ..................................
2.2.1 Pengertian ..................................................................................
2.2.2 Patofisiologi ..............................................................................
2.2.3 Manifestasi Klinis .....................................................................
2.2.4 Penatalaksanaan ........................................................................
21
21
21
21
22
2.3 Integrasi Teori Konservasi Levine dan Konsep Keperawatan dalam
Proses Keperawatan Pasien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular ...................................................................................
2.3.1 Konsep Konservasi ...................................................................
2.3.2 Keutuhan ..................................................................................
2.3.3 Adaptasi ....................................................................................
2.3.4 Proses Keperawatan dalam Konservasi Levine ........................
2.3.5 Konsep Metaparadigma dalam Konservasi Levine ..................
23
23
27
29
30
31
x
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
2.4 Penerapan Model Konservasi Levine pada Pasien STEMI ................
2.4.1 Pengkajian .................................................................................
2.4.2 Trophicognosis ..........................................................................
2.4.3 Hipotesa dan Intervensi .............................................................
2.4.4 Evaluasi .....................................................................................
3.
ANALISIS PERAN PERAWAT SEBAGAI PEMBERI ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KASUS KELOLAAN ..............................
3.1 Gambaran Kasus Kelolaan Utama......................................................
3.2 Penerapan Model Konservasi Levine Pada Asuhan Keperawatan
Kasus Kelolaan Utama .......................................................................
3.3 Pembahasan .......................................................................................
3.4 Analisis Penerapan Teori Konservasi Levine pada 30 Kasus ............
33
34
34
34
35
36
36
38
57
65
4. ANALISIS PERAN PERAWAT BERBASIS BUKTI .......................
4.1 Tesis/Critical Review ..........................................................................
4.2 Praktik Keperawatan Berbasis Pembuktian ........................................
4.2.1 Prosedur .....................................................................................
4.2.2 Hasil ..........................................................................................
4.2.3 Hambatan dan Pemecahan ........................................................
4.2.4 Rekomendasi .............................................................................
4.3 Pembahasan .........................................................................................
73
73
76
76
76
78
78
78
5. ANALISIS PERAN PERAWAT SEBAGAI INOVATOR ................
5.1 Analisa Situasi .....................................................................................
5.2 Kegiatan Inovasi .................................................................................
5.2.1 Tahap Persiapan ........................................................................
5.2.2 Tahap Pelaksanaan ....................................................................
5.2.3 Tahap Evaluasi ..........................................................................
5.3 Pembahasan .........................................................................................
82
82
85
85
85
86
87
6. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 91
6.1 Kesimpulan ......................................................................................... 91
6.2 Saran .................................................................................................... 92
DAFTAR REFERENSI
xi
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 2.1 Klasifikasi Perubahan Hemodinamik ............................................ 15
Tabel 2.2 Skor TIMI pada STEMI ................................................................. 15
Tabel 3.1 Analisa Data .................................................................................. 40
Tabel 3.2 Rencana Asuhan Keperawatan pada Tn. RPL dengan pendekatan
Konsep Konservasi Levine ............................................................ 41
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi umur, intensitas nyeri, tekanan darah, denyut
jantung dan saturasi oksigen sebelum dilakukan intervensi .......... 77
Tabel 4.2 Hasil uji statistik setelah pemberian intervensi terapi musik ......... 77
Tabel 5.1 Analisa SWOT ............................................................................... 83
Tabel 5.2 Rincian Pelaksanaan Inovasi ......................................................... 85
xii
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Resume 30 kasus kelolaan
Lampiran 2: SPO Terapi musik
Lampiran 3: Format Pengkajian Model Konservasi Levine
Lampiran 4: Hasil Pelaksanaan Inovasi
Lampiran 5: Daftar riwayat hidup
xiii
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Jantung merupakan organ yang sangat vital yang berfungsi memompa darah untuk
mendistribusikan nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh. Agar dapat menjamin
kelangsungan suplai oksigen dan nutrisi dengan optimal, maka jantung harus
dalam kondisi yang sehat. Namun seringkali jantung mengalami gangguan
sehingga fungsi utama jantung sebagai sistem pompa juga mengalami gangguan.
Salah satu gangguan atau kerusakan yang dapat terjadi pada jantung adalah
terjadinya kematian otot jantung akibat berkurang atau terhentinya suplai darah
dan oksigen ke dalam otot jantung. Keadaan tersebut dikenal dengan myocard
infarct.
Myocard Infarct (MI) adalah kematian sel-sel otot jantung yang terjadi akibat
kekurangan atau bahkan terhentinya suplai oksigen secara tiba-tiba. Kondisi
tersebut terjadi setelah otot jantung mengalami iskemia. Dalam waktu 20 menit,
sel-sel otot jantung akan mulai mengalami kematian karena kekurangan suplai
darah yang mengandung oksigen (Corwin, 2009).
Pada EKG tampak ST-segmen elevasi dan gelombang Q-patologis yang disebut
ST-segmen Elevasi Miokard Infark (STEMI). Hal ini terjadi akibat terdapat
sumbatan pada arteri koronaria utama, maka akan terjadi infark miokard
transmural yang mana kerusakan jaringannya mengenai seluruh dinding miokard
(Kabo, 2010; Rilantono, 2012).
Infark miokard akut merupakan bagian dari penyakit jantung koroner dengan
angka kematian yang tinggi. Berdasarkan data WHO (2011), pada tahun 2008
diperkirakan 17,3 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular. Angka ini
merupakan 30% dari seluruh kematian yang terjadi diseluruh dunia. Berdasarkan
angka kematian tersebut, 7,3 juta orang meninggal akibat penyakit jantung
koroner. Diperkirakan dalam 20 tahun mendatang, di negara berkembang penyakit
kardiovaskular akan meningkat 137% pada kali-laki, dan 120% pada wanita
(Rilantono, 2012).
1
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
2
American Heart Association (AHA) (2008) dalam Ignatavisius & Workman
(2010) sebanyak 64% wanita dan 50% pria yang mengalami miokard infark. Di
Amerika Serikat, setidaknya setiap 26 detik seorang mengalami kejadian penyakit
koroner, dan kematian terjadi setiap menit pada penderita panyakit jantung
koroner, bahkan beberapa diantaranya meninggal tanpa sempat mendapatkan
perawatan (Ignatavisius & Workman, 2010).
Angka kejadian penyakit jantung di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hasil
sensus nasional tahun 2001 menyatakan bahwa kematian akibat penyakit
kardiovaskular termasuk didalamnya penyakit jantung koroner adalah sebesar
26,4% (Dep Kes RI, 2001 dalam Supriyono, 2008), dan sampai sekarang ini
penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian dini pada kurang
lebih 40% dari penyebab kematian laki-laki pada usia menengah (Supriyono,
2008). Pada tahun 2002 penyakit akut miokard infark merupakan penyebab
kematian pertama dengan angka kematian 220.000 (14%).
Perawat spesialis mempunyai peran yang penting dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien. Aktivitas perawat spesialis menurut American
Association of Colleges of Nursing (AACN, 2004) meliputi: 1) menggunakan
kompetensi inti keperawatan dalam praktik keperawatan lanjut untuk merancang,
melaksanakan dan mengevaluasi program keperawatan untuk meningkatkan
outcomes pasien, terutama untuk pasien dengan masalah keperawatan yang
kompleks, 2) terlibat dalam pemberian dan perencanaan tergantung pada berbagai
faktor, misalnya analisa kebutuhan pasien dan kebutuhan belajar staff, 3)
memimpin kelompok multidisiplin dalam merancang dan melaksanakan solusi
inovatif terhadap masalah pasien, 4) mengembangkan diagnosa diferensial dan
intervensi untuk mengobati atau mencegah penyakit, 5) mengembangkan kriteria
untuk mengevaluasi kualitas serta efektivitas praktek keperawatan dan sistem
organisasi, 6) dan memberikan konsultasi untuk perawat yang lain dan petugas
kesehatan profesional, terutama untuk pasien yang kompleks atau sakit kritis.
Kemampuan perawat spesialis harus memenuhi kriteria telah menyelesaikan
program master atau bahkan doktor.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
3
Dalam upaya untuk memenuhi kriteria sebagai perawat spesialis, setelah penulis
menyelesaikan program master, penulis menempuh pendidikan sebagai perawat
spesialis dengan melaksanakan praktik residensi keperawatan medikal bedah di
Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta selama 2 semester
dengan ruang lingkup praktik meliputi: ruang diagnostik invasif dan intervensi
non bedah, ruang diagnostik non invasif, ruang intermediate medikal (IW
Medikal), ruang intermediate Bedah (IW Bedah), ruang gawat darurat, ruang
operasi, ruang perawatan GP 2 lantai 3, ruang perawatan intensif kardiovaskular
(CVCU), ruang ICU Dewasa serta ruang rehabilitasi kardiovaskular. Dalam
melaksanakan praktik residensi keperawatan medikal bedah, penulis di tuntut
untuk memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan menggunakan teori
keperawatan.
Banyak teori keperawatan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan gangguan sistem
kardiovaskular. Salah satu model keperawatan yang dapat digunakan dalam
pemberian asuhan keperawatan adalah model konservasi yang dikembangkan oleh
Mira E. Levine. Model tersebut berorientasi pada konservasi energi, konservasi
integritas struktural, konservasi integritas personal, dan konservasi integritas
sosial. Fokus model konservasi Levine adalah adanya peningkatan kemampuan
pasien untuk dapat beradaptasi semaksimal mungkin dalam upaya untuk
mencapai kualitas hidup yang optimal. Pendekatan model konservasi Levine
sesuai untuk mengatasi trophicognosis yang muncul pada pasien dengan akut
STEMI.
Konsep utama model konservasi Levine adalah meliputi wholism (menyeluruh),
adaptasi dan konservasi. Wholism adalah sesuatu yang bersifat organik,
mengalami perubahan, bersifat saling menguntungkan antara fungsi yang berbeda
dan bagian-bagian yang terdapat di dalam tubuh, bersifat terbuka dan saling
mempengaruhi dengan lingkungan sekitar. Setiap individu akan melakukan
adaptasi dalam rangka menghadapi perubahan lingkungan. Adaptasi adalah proses
perubahan agar individu dapat mempertahankan integritas dalam lingkungannya,
baik yang bersifat internal maupun eksternal. Kondisi gangguan rasa nyaman
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
4
nyeri memerlukan adaptasi lingkungan internal tubuh maupun eksternal agar
mampu mempertahankan dan mengembalikan kondisi homeostasis tubuh (Tomey
& Alligood, 2006).
Model konservasi Levine dapat dijadikan sebagai pedoman oleh perawat dalam
melakukan pengkajian, menegakkan diagnosis dan merumuskan intervensi
keperawatan untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh pasien. Dengan
menggunakan pendekatan model konservasi Levine maka diharapkan pasien dapat
mencapai tingkat kesehatan yang menyeluruh (wholism) dengan memfokuskan
pada aspek fisik, psikologis dan sosial pasien sehingga masalah yang terjadi pada
pasien dengan penyakit jantung koroner dapat diatasi secara komprehensif. Hal
inilah yang menjadi latar belakang penulis menerapkan teori konservasi yang
dipelopori oleh Myra E. Levine untuk mengatasi trophicognosis yang muncul
pada pasien penderita penyakit jantung koroner (STEMI) dirumah sakit Harapan
Kita Jakarta.
Penulis memilih pasien dengan STEMI dalam pemberian asuhan keperawatan saat
melakukan praktik residensi dengan alasan bahwa pasien dengan STEMI
memerlukan tindakan yang tepat, terutama tindakan revaskularisasi untuk
mencegah kematian akibat oklusi total arteri koroner oleh trombus yang
menyebabkan cedera miokard transmural. Bila tidak dilakukan reperfusi dengan
segera maka otot jantung tidak bisa diselamatkan (Kabo, 2010; Rilantono, 2012).
Selama memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
kardiovaskular, penulis juga melaksanakan peran sebagai peneliti dengan
menerapkan Evidence Based Nursing (EBN). Evidence Based Nursing merupakan
penggunaan teori dan informasi yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian secara
teliti, jelas dan bijaksana dalam pembuatan keputusan tentang pemberian asuhan
keperawatan
pada
individu
atau
sekelompok
pasien
dan
dengan
mempertimbangkan kebutuhan dan pilihan dari pasien tersebut (Ingersoll, 2000).
Tujuan evidence-based nursing adalah untuk memberikan praktik keperawatan
dengan menggunakan data berbasis bukti untuk memberikan perawatan yang
efektif, berdasarkan hasil penelitian yang terbaik, memecahkan masalah pada area
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
5
klinik, mencapai hasil yang memuaskan terhadap pemberian asuhan keperawatan,
bahkan melampuai standar jaminan kualitas dan memicu proses inovasi (Spector,
2013). Penerapan EBN pada pasien akut STEMI adalah penggunaan terapi musik
untuk menurunkan nyeri, tekanan darah, heart rate dan meningkatkan saturasi
oksigen pada pasien yang menjalani bedah jantung (cardiac surgery).
Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik atau elemen musik oleh
seorang terapis untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan
kesehatan mental, fisik, emosional dan spritual (Erfandi, 2009). Menurut Joanna
Briggs Institute (2009), tempo yang direkomendasikan untuk terapi musik adalah
60-80 ketukan permenit, dengan volume 60 dB. Tempo tersebut menunjukkan
hasil yang positif terhadap relaksasi dan penurunan nyeri.
Selain penerapan evidence based nursing, penulis juga melaksanakan peran
sebagai inovator. Inovasi adalah proses mengembangkan pendekatan, teknologi
dan cara kerja yang baru. Hal ini dapat dilakukan melalui organisasi atau perilaku
individu dalam menggunakan alat, teknologi dan proses tersebut. Inovasi dimulai
dengan ide yang baik, tetapi lebih jauh dari hal tersebut, inovasi mengacu pada
proses mengubah ide baik kedalam sesuatu yang dapat digunakan, sesuatu yang
dapat diimplementasikan dan dapat dicapai, dan akan meningkatkan derajat
kesehatan yang lebih baik, pencegahan penyakit serta pemberian asuhan
keperawatan pasien yang lebih baik (ICN, 2009).
Inovasi yang dilakukan adalah pembuatan pedoman pelaksanaan pemberian obat
kewaspadaan tinggi (high alert medication) yang mencakup adrenalin, propofol
dan kalium klorida di ruang ICU Dewasa Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional
Harapan Kita Jakarta.
Penggunaan pedoman tentang pemberian obat
kewaspadaan tinggi akan meningkatkan keamanan pasien yang mendapatkan obat
tersebut. Kegiatan inovasi ini merupakan
kegiatan yang penting untuk
mempertahankan dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
6
1.2 Tujuan
1.2.1
Tujuan Umum
Memberikan gambaran umum pelaksanaan dan pengalaman praktik residensi
dengan menggunakan pendekatan teori keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien gangguan sistem kardiovaskular di Rumah Sakit Pusat
Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta.
1.2.2
Tujuan Khusus
a. Melakukan analisis terhadap penerapan asuhan keperawatan menggunakan
Model Konservasi Levine pada pasien gangguan
sistem kardiovaskular
terutama pasien akut STEMI di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan
Kita Jakarta.
b. Melakukan analisis terhadap penerapan evidence based nursing pada pasien
post operasi jantung di ruang Intermediate Bedah Rumah Sakit Pusat Jantung
Nasional Harapan Kita Jakarta.
c. Melakukan analisis terhadap kegiatan inovasi keperawatan di ruang ICU
Dewasa Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta.
1.3 Manfaat penulisan
1.3.1 Bagi pelayanan keperawatan
a. Sebagai bahan acuan bagi perawat yang bertugas di rumah sakit dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem
kardiovaskular akut STEMI menggunakan pendekatan model Konservasi
Levine.
b. Meningkatkan pengetahuan perawat tentang penerapan riset keperawatan untuk
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan kepada pasien.
c. Meningkatkan wawasan perawat dalam pengembangan kualitas pelayanan
keperawatan melalui proyek inovasi keperawatan.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
7
1.3.2 Bagi ilmu keperawatan
a. Sebagai bahan rujukan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan sistem kardiovaskular akut STEMI menggunakan pendekatan
model Konservasi Levine, selain itu dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk
meningkatkan pelaksanaan praktek keperawatan medikal bedah.
b. Memberikan informasi tentang pelaksanaan intervensi mandiri keperawatan dalam
rangka pelaksanaan evidence- based nursing tentang pemberian terapi musik pada
pasien yang menjalani bedah jantung.
c. Memberikan informasi tentang pelaksanaan inovasi keperawatan dalam rangka
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Segmen ST Elevasi Miokard Infark (STEMI)
2.1.1
Pengertian
Infark miokard akut adalah kerusakan jaringan miokard akibat iskemia hebat yang
terjadi secara tiba-tiba. Penyempitan arteri koronaria oleh plak ateroma dan
trombus yang terbentuk akibat rupturnya plak ateroma yang menjadi penyebab
infark miokard akut. Infark miokard transmural yang mana kerusakan jaringannya
mengenai seluruh dinding miokard terjadi apabila arteri koronaria utama yang
tersumbat. Pada gambaran akan EKG tampak segmen ST elevasi dan gelombang
Q-patologis yang disebut ST-segmen Elevasi Miokard Infark, atau yang sering
disebut dengan istilah STEMI (Kabo, 2010).
STEMI merupakan bagian dari spektrum SKA yang menggambarkan cedera
miokard transmural, akibat oklusi total arteri koroner oleh trombus. Bila tidak
dilakukan revaskularisasi segera, maka akan terjadi nekrosis miokard yang
berhubungan linear dengan waktu. Maka dikenalah paradigma “time is muscle”,
yang berarti bila tidak dilakukan reperfusi segera, maka otot jantung tidak akan
bisa diselamatkan. Paradigma ini menekankan perlunya reperfusi sedini mungkin
(Rilantono, 2012).
2.1.2 Etiologi
Penyebab STEMI adalah adanya oklusi atau sumbatan pada arteri koronaria
karena trombus. Sumbatan terjadi akibat aterosklerosis yang mengenai lapisan
otot dinding pembuluh darah. Sedangkan faktor resiko penyebab aterosklerosis
yang berujung pada terjadinya infark miokard akut adalah sebagai berikut:
1. Kadar Kolesterol
Lemak berikatan dengan fosfolipid dan juga suatu protein spesifik yang disebut
lipoprotein, sehingga sering disebut sebagai lipoprotein, yaitu Low Density
Lipoprotein (LDL) dan High Density Lipoprotein (HDL). LDL dianggap
mempunyai korelasi positif terhadap terjadinya penyakit jantung koroner
8
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
9
(Aaronson & Ward, 2010; Kabo, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Ai et al.,
(2010) terhadap 3188 responden didapatkan hasil bahwa peningkatan kadar
kolesterol LDL plasma terbukti menjadi faktor resiko yang signifikan terhadap
penyakit jantung koroner sedangkan penggunaan obat-obatan untuk menurunkan
kadar LDL plasma telah terbukti mengurangi resiko penyakit jantung koroner.
Penelitian analisis retrospektif yang dilakukan oleh Fernandez dan Webb (2008)
terhadap 6.000 responden mendapatkan hasil bahwa rasio LDL/HDL merupakan
pengukuran yang paling kuat terhadap resiko terjadinya penyakit kardiovaskular
pada usia lanjut.
2. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor resiko infark mikard, karena merokok akan
menurunkan kadar HDL, meningkatkan koagulabilitas darah, merusak endotel,
sehingga memacu terjadinya aterosklerosis (Aaronson & Ward, 2010). Nikotin
yang terkandung dalam rokok akan menyebabkan dikeluarkannya katekolamin
yang dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung dan terjadinya vasokontriksi
perifer, kondisi ini dapat meningkatkan tekanan darah, peningkatan beban akhir
jantung (afterload) dan oxygen consumption. Merokok juga dapat menyebabkan
terjadinya disfungsi lapisan endotel pembuluh darah serta meningkatkan ketebalan
dinding pembuluh darah, selanjutnya akan terjadi peningkatan pembekuan darah
dan oklusi pembuluh darah (Aaronson & Ward, 2010). Faktor lain dari merokok
sigaret adalah efek dari karbon monoksida yang dapat menurunkan kadar oksigen
dalam darah arteri. Hal ini dapat menyebabkan hipertensi yang akan
meningkatnya proses aterosklerotik karena meningkatnya permeabilitas dinding
pembuluh darah (Aaronson & Ward, 2010; Kabo, 2010).
3. Diabetes Mellitus
Hiperglikemi menyebabkan terjadinya peningkatan agregasi trombosit. Kondisi
tersebut menyebabkan terjadinya pembentukan trombus. Kadar gula darah yang
meningkat dapat menyebabkan kerusakan yang progresif terhadap susunan
mikrovaskular ataupun areteri yang lebih besar. Selain itu akan terjadi kerusakan
endotel dan peningkatan kadar LDL teroksidasi. Koagulabilitas darah yang
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
10
mengalami peningkatan pada penderita DM dipengaruhi oleh peningkatan
plasminogen activator inhibitor 1 (PAI-1) dan peningkatan kemampuan agregasi
trombosit (Aaronson & Ward, 2010). Serangkaian faktor resiko mencakup
trigliserida dalamdarah yang tinggi, kadar HDL plasma yang rendah, peningkatan
kadar gula darah plasma, hipertensi, serta obesitas seringkali berkaitan satu
dengan yang lain. Kombinasi faktor-faktor resiko ini sangat terkait dan timbul
akibat resistensi insulin. Individu dengan tiga atau lebih faktor resiko tersebut
disebut dengan simdrom metabolik (Aaronson & Ward, 2010).
Pada individu dengan DM, penurunan produksi insulin dan atau resistensi insulin
akan menyebabkan terjadinya penurunan produksi NO (nitric oxide) dimana NO
merupakan substansi yang berguna dalam vasodilatasi dan mencegah agregasi
trombosit (Kabo, 2008).
4. Hipertensi
Menurut Smeltzer dan Bare (2002), hipertensi adalah faktor risiko yang sangat
membahayakan. Tekanan darah tinggi akan menyebabkan tingginya gradien
tekanan yang harus dilawan oleh ventrikel kiri saat memompa darah. Tekanan
tinggi yang terus menerus akan menyebabkan suplai kebutuhan oksigen jantung
meningkat, dengan demikian mulailah terjadi nyeri. Resiko PJK secara langsung
berhubungan dengan tekanan darah; untuk setiap penurunan tekanan darah
diastolik sebesar 5 mmHg, resiko PJK berkurang sebesar 16% (Gray, Dawkins,
Morgan, dan Simpson, 2005). Terdapat hubungan yang erat antara hipertensi dan
aterosklerosis, aterosklerosis menyebabkan hipertensi, sebaliknya hipertensi akan
memacu terjadinya aterosklerosis.
5. Stres
Pola perilaku tipe A seperti ambisius, kompetitif, selalu tergesa-gesa, dan agresif
merupakan salah satu faktor resiko PJK. Stres fisik maupun mental, merupakan
faktor resiko penyakit jantung koroner. Respon tubuh terhadap stres adalah sekresi
hormon-hormon dan neurotransmiter, diantaranya yang paling dominan adalah
adrenalin dan noradrenalin.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
11
Stress juga akan menstimulasi otak untuk mengeluarkan hormon seperti
aldosteron, adrenokortikotropik, kortisol, vasopresin dan thyroid stimulating
hormon. Peningkatan jumlah zat-zat tersebut didalam tubuh, akan menyebabkan
peningkatan tekanan darah serta frekuensi denyut jantung. Selain itu juga akan
terjadi vasokonstriksi, peningkatan kolesterol darah, peningkatan gula darah dan
sel-sel darah cenderung akan terjadi koagulasi. Oleh karena itu,
dapat
disimpulkan bahwa stres mempunyai peranan yang penting dalam proses
terjadinya penyakit jantung koroner (Kabo, 2008).
6. Inflamasi
High sensitivity C-reactive protein (hsCRP), E-selection, cell adhesion molecules,
dan sitokin lainnya merupakan substansi inflamasi yang dikeluarkan oleh tubuh
pada saat terjadi proses inflamasi. Pada proses aterosklerosis termasuk penyakit
jantung koroner, stroke iskemik dan penyakit vaskular perifer, akan terjadi
peningkatan kadar hsCRP dalam darah. Morishima et al., (2002) melakukan
penelitian terhadap 12 orang pasien akut miokard infark didapatkan hasil bahwa
terjadi peningkatan kadar plasma hsCRP dan mencapai puncaknya pada hari 2,8
(8,68 ± 4,57 ml/dl).
Peningkatan kadar hsCRP dalam tubuh berkaitan dengan keadaan inflamasi
kronis, sehingga keadaan tersebut menyebabkan terjadinya pembentukan
aterosklerosis, serta menyebabkan terjadinya proses kerusakan plak yang semula
stabil, menjadi tidak stabil, kondisi tersebut rentan terhadap kejadian koroner
(Aaronson & Ward, 2010; Kabo, 2008).
7. Jenis Kelamin
American Heart Association (AHA) (2008) dalam Ignatavicius dan Workman
(2010) menyatakan bahwa prevalensi miokard infark pada wanita adalah 64%,
dan pada pria adalah 50%. Hal ini bertentangan dengan Gray, Dawkins, Morgan,
& Simpson, (2005), yang menyatakan bahwa angka kesakitan akibat penyakit
jantung koroner
pada laki-laki dua kali lebih besar dibandingkan pada
perempuan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh efek protektif hormon estrogen
pada wanita yang meliputi menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
12
HDL, sebagai antioksidan, menstimulasi ekspresi dan aktivitas oksida nitrat
sintase, menyebabkan vasodilatasi dan meningkatkan produksi palsminogen
(Aaronson & Ward, 2010). Estrogen endogen bersifat protektif pada perempuan,
namun setelah menopause insidensi PJK meningkat dengan cepat dan menjadi
sama dengan laki-laki (Gray, Dawkins, Morgan, & Simpson, 2005).
8. Usia.
Penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner dan kardiomiopati sering
ditemukan pada usia lanjut. Menurut AHA (2008) dalam Ignatavicius dan
Workman (2010) rata-rata kejadian pertama kali miokard infark pada pria adalah
saat usia 64,5 tahun, sedangkan untuk wanita adalah 70,4 tahun. Sedangkan data
dari Ditjen PP & PL Kemenkes RI, 2011 pada laki-laki terjadi peningkatan resiko
penyakit jantung dan pembuluh darah pada usia diatas 55 tahun sedangkan pada
wanita adalah diatas 65 tahun.
Pada usia lanjut akan terjadi penambahan massa otot jantung sebagai konsekwensi
kekakuan arteri sentral dan perifer. Kondisi ini akan menyebabkan peningkatan
beban akhir (afterload). Perubahan otot jantung ini akan menyebabkan gangguan
fungsi diastolik ventrikel (Rilantono, 2012).
2.1.3
Patofisiologi
Plak koroner yang cenderung ruptur biasanya terselubung oleh fibrosa tipis. Plak
ini mengandung makrofag dan limfosit-T yang kemungkinan melepaskan
metaloprotese dan sitokin yang melemahkan selubung fibrosa, hal ini
menyebabkan plak mudah ruptur atau mengalami erosi akibat ketegangan dari
regangan yang disebabkan oleh aliran darah. Ruptur plak menyebabkan paparan
kolagen subendotel yang berperan sebagai lokasi adhesi, aktivasi dan agregasi
trombosit. Hal ini akan menyebabkan pelepasan substansi seperti tromboksan A2
(TXA2), fibrinogen, 5-hidroksitriptamin (5-HT), platelet activating factor dan
ADP yang selanjutnya akan memacu agregasi trombosit. Selanjutnya akan terjadi
aktivasi kaskade pembekuan, menyebabkan pembentukan fibrin dan penjalaran
serta stabilisasi trombus oklusif.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
13
Endotel seringkali rusak disekitar area penyakit arteri koroner. Defisit faktor
antitrombotik yang disebabkannya seperti trombomodulin dan prostasiklin
memperkuat pembentukan trombus. Selain itu, kecenderungan beberapa faktor
trombosit untuk menyebabkan vasokonstriksi menjadi meningkat pada keadaan
tidak adanya faktor penyebab relaksasi yang berasal dari endotel, yaitu
endhothelial derived constricting factor (EDCF) (Aaronson & Ward, 2010; Kabo,
2010). Hal ini dapat memacu perkembangan vasospasme lokal yang
memperburuk oklusi koroner (Aaronson & Ward, 2010).
Kematian mendadak dan onset sindrom koroner akut menunjukkan suatu variasi
sirkadian, yang memuncak pada sekitar pukul 9 pagi kemudian menurun pada
sekitar tengah malam. Kadar katekolamin memuncak sekitar sekitar 1 jam setelah
bangun di pagi hari, menyebabkan level maksimal agregabilitas trombosit, tonus
vaskular, laju denyut jantung dan tekanan darah yang dapat memicu ruptur plak
dan trombosis (Aaronson & Ward, 2010). Selain itu sekresi katekolamin dari
ujung-ujung saraf simpatis jantung, dan juga meningkatnya produksi EDCF,
menyebabkan terjadi vasokonstriksi pada arteri koroner menjadi lebih hebat, maka
jantung akan menjadi iskemik (Kabo, 2010).
Derajat oklusi koroner dan kerusakan miokardium yang disebabkan oleh ruptur
plak bergantung pada kadar katekolamin sistemik, dan juga faktor lokal seperti
lokasi dan morfologi plak, kedalaman ruptur plak dan keparahannya hingga terjadi
vasokonstriksi koroner. Iskemia yang berat dan lama menyebabkan suatu regio
nekrosis yang terbantang di seluruh ketebalan dinding miokard, yang sering
disebut dengan infark transmural. Pada rekaman EKG, infark tersebut ditandai
dengan adanya segmen ST elevasi (Aaronson & Ward, 2010, Kabo, 2010;
Rilantono 2012).
Infark miokard akan menyebabkan terjadinya penurunan fungsi ventrikel karena
otot yang nekrosis akan kehilangan daya kontraksi, dan otot yang ada disekitarnya
yang belum mengalami nekrosis juga akan mengalami gangguan kontraksi. Infark
miokard akan menyebabkan perubahan-perubahan pada fungsi otot jantung
sebagai berikut: (1) penurunan daya kontraksi,(2) abnormalitas gerakan dinding,
(3) perubahan daya kembang dinding ventrikel, (4) penurunan curah jantung, (5)
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
14
penurunan fraksi ejeksi, (6) peningkatan end-systolic volume dan end-diastolic
volume ventrikel, serta (7) peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri (Price
& Wilson, 2006).
2.1.4 Manifestasi Klinis
Pasien yang datang dengan STEMI biasanya memiliki riwayat angina atau
penyakit jantung koroner, usia lanjut, dan kebanyakan laki-laki. Kejadian
sebagian besar timbul pada pagi hari, berhubungan dengan aktivitas
neurohormonal dan sistem syaraf simpatis.
Presentasi klinis STEMI beragam, namun biasanya timbul timbul nyeri dada tibatiba pada area prekordial atau sesak nafas. Pasien biasanya menggambarkan
sebagai sensasi dihimpit, diremas, atau ditekan pada retrosternal, dengan atau
tanpa penjalaran ke leher, rahang, bahu kiri dan lengan kiri. Nyeri dada umumnya
cukup hebat sehingga terjadi aktiviyas simpatis berupa mual, muntah dan keringat
dingin hingga membasahi pakaiannya. Harus diwaspadai pada beberapa pasien
dengan gejala atipikal seperti nyeri pada lengan atau bahu, sesak nafas akut,
sinkope atau aritmia. Pasien dengan elevasi segmen ST tanpa gejala, harus
diwaspadai sebab lain elevasi ST selain cedera miokard.
Kematian sebagian besar terjadi pada jam-jam pertama setelah STEMI, oleh
karena gangguan irama ventrikular fibrilasi, kejadian ini sering terjadi sebelum
pasien mencapai fasilitas kesehatan. Tanpa adanya defibrilator maka peluang
untuk mengembalikan ke sirlukasi spontan sangat kecil ( Rilantono, 2012).
2.1.5 Pemeriksaan Fisik
Aspek penting dari pemeriksaan fisik adalah pengkajian gejala dan tanda dari
perburukan gagal jantung. Klasifikasi Killip dapat digunakan untuk mengevaluasi
status hemodinamik akibat cedera miokard dan memberikan informasi penting
tentang prognosis. Klasifikasi tersebut adalah sebagai berikut:
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
15
Tabel 2.1. Klasifikasi Perubahan Hemodinamik
Kelas Killip
Karakteristik Klinik
I
Tidak ada tanda CHF
II
Rales, distensi vena jugularis atau S3
III
Edema paru
IV
Syok kardiogenik
Sedangkan skor resiko TIMI pada STEMI adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2 Skor TIMI pada STEMI
Variabel
Poin
Usia ≥ 75
3
Usia 65-74
2
Diabetes, hioertensi, angina
1
Tekanan darah sistolik < 100 mmHg
3
Laju nadi > 100 kali/menit
2
Kelas Killip II-IV
2
STEMI anterior atau LBBB komplit
1
Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai :
a. Umum: kecemasan, sesak nafas, keringat dingin, tanda Levine (tangan
mengepal didada), kadang normotensif atau hipertensif.
b. Leher: normal atau sedikit peningkatan tekanan vena jugularis (JVP).
c. Jantung: takikardia, S1 lemah, timbulnya S4, mungkin terdapat S3, murmur
sistolik.
d. Paru: rales atau mengi bila terdapat gagal jantung.
e. Extremitas: normal atau terdapat tanda penyakit vaskular perifer.
2.1.6 Uji Diagnostik
a. EKG 12 Sadapan
Pemeriksaan EKG sangat penting untuk diagnosa STEMI. Elevasi segmen ST
menunjukkan berpa milimeter lebih besar voltase dibandingkan dengan garis
isoelektrik. EKG yang diagnostik dipertimbangkan pada elevasi segmen ST ≥ 1
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
16
milimeter pada dua atau lebih sadapan ekstremitas dan prekordial yang
bersebelahan sesuai dengan regio dinding ventrikel.
b. Ekokardiografi
Transtorakal Ekokardiografi (TTE) dapat digunakan lebih dini bila EKG tidak
dapat ditentukan atau diagnosis tidak yakin. Tidak adanya abnormalitas gerakan
dinding dada dapat menyingkirkan diagnosis. Pemeriksaan ini juga bermanfaat
untuk menentukan fungsi ventrikel kiri, yang mempengaruhi prognosis dan
pilihan terapi berikutnya. Sering terdapat kelainan katup, stenosis katup aorta dan
regurgitasi katup mitral juga merupakan hal yang penting. TTE dapat digunakan
untuk menentukan ukuran infark miokard atau mendeteksi komplikasi infark
miokard, seperti ruptur dinding ventrikel atau defek septum ventrikel.
c. Biomarka Kardiak
Biomarka kardiak bermanfaat untuk membantu diagnosis, melihat luas infark dan
menentukan prognosis. Ada 2 biomarka kardiak yang digunakan yaitu troponin
dan creatine kinase myocardial band (CK-MB). Troponin I dan T meningkat pada
awal infark miokard dan lebih berguna untuk diagnosis.
2.1.7 Penatalaksanaan
Rilantono (2012) menyatakan bahwa terapi reperfusi bertujuan membatasi luasnya
daerah infark miokard, hal yang sangat menentukan prognosis pasien. Bila STEMI
terjadi dalam waktu 12 jam setelah awitan simptom, maka reperfusi perlu
dilakukan secepatnya. Tetapi bila STEMI sudah melampaui 12 jam dari awitan
simptom, tidak ada lagi jaringan yang bisa diselamatkan, infark miokard telah
komplit dan keluhan pasien hilang. Terapi reperfusi hanya diberikan kalau masih
ada tanda-tanda iskemia berupa nyeri dada, elevasi segmen ST, atau terjadi left
bundle branch block baru.
Ada dua jenis strategi reperfusi, pertama dengan intervensi koroner perkutan
primer (primary PCI) dan kedua secara medikamentosa dengan obat fibrinolitik.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
17
a.
Intervensi Koroner perkutan Primer
Primary PCI merupakan pilihan pertama, karena hasil studi memperlihatkan
angka kematian lebih rendah dibanding fibrinolitik. Dianjurkan untuk melakukan
PCI sedini mungkin, idealnya kurang dari 90 menit sejak keluhan nyeri dada
timbul. Pilihan reperfusi perlu mempertimbangkan waktu awitan dari STEMI,
fasilitas, sumber daya dan demografi.
Sekitar 50% kasus STEMI mempunyai penyempitan lebiih dari satu arteri koroner
(multivesel). Intervensi koroner perkutan pada STEMI hanya dilakukan pada lesi
culprit, yaitu lesi diarteri yang berhubungan dengan daerah infark. Pada syok
kardiogenik, lesi non culprit dapat dipertimbangkan untuk dilakukan intervensi.
Kelebihan PCI primer, dapat mengidentifikasi lesi culprit terkait infark dan
anatomi koroner yang lainnya. Pada PCI primer dianjurkan untuk menggunakan
stent, guna menurunkan kejadian thrombosis.
Rescue PCI, angiografi koroner dengan tujuan revaskularisasi dilakukan segera
pada kasus fibrinolitik yang tidak berhasil. Rescue PCI dilakukan bila terdapat
tanda-tanda iskemia secara klinis (nyeri dada berulang atau perubahan segmen
ST) atau kapasitas latihan rendah atau stress test farmakologik memperlihatkan
tanda-tanda iskemia.
b. Terapi Reperfusi Medikanmentosa/Fibrinolitik
Fibrinolisis merupakan strategi reperfusi yang sangat penting terutama bila PCI
primer tidak dapat dilakukan karena masalah fasilitas sumber daya dan demografi.
Keuntungan terbesar didapatkan bila dilakukan dalam 6 jam pertama. Terapi
fibrinolitik dinyatakan berhasil bila angina berkurang, resolusi amplitudo segmen
ST > 50%, dan dijumpai aritmia reperfusi. Resiko untuk terjadinya stroke
hemoragik cukup rendah, yaitu 1%.
Semua pasien post fibrinolitik idealnya dirujuk ke fasilitas kesehatan dengan
kemampuan PCI. Pasien yang gagal terapi fibrinolitik dengan kriteria angina
disertai dengan resolusi segmen ST < 50%, perlu dilakukan “rescue PCI”
secepatnya. Rekomendasi terapi antitrombotik untuk pasien yang mendapatkan
fibrinolisis.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
18
Terapi medikal postreperfusi menurut Rilantono (2012) mencakup:
1. Aspirin 81 mg/hari harus dimakan seumur hidup.
2. Clopidogrel 600 mg dosis loading diikuti 75 mg/hari. Semua pasien yang
mendapatkan drug-eluting stents melanjutkan Clopidogrel selama minimal 1
tahun. Pada yang mendapatkan bare-metal stents Clopidogrel dilanjutkan
minimal 1 bualn, idealnya 1 tahun.
3. Penyekat Beta harus dimulai pada semua pasien tanpa kontraindikasi yang
datang dengan STEMI dalam 24 jam pertama dan pada kebanyakan kasus
dilanjutkan seumur hidup. Sebaiknya dimulai dengan obat kerja pendek seperti
Lopresor; ketika dosis optimum tercapai berdasarkan laju nadi dan tekanan
darah yang diinginkan, obat jangka panjang sekali sehari dapat diberikan. Pada
pasien dengan disfungsi LV, dapat digunakan Carvedilol 3,25 mg dua kali
sehari untuk dititrasi bila dapat ditoleransi. Beta Bloker harus dihindari pada
pasien dengan STEMI Killip II, III atau bahkan IV atau dengan hipotensi,
bradikardia dan syok.
4. ACE Inhibitors harus dimulai dalam 24 jam pertama. Sebaiknya dimulai
dengan obat kerja pendek (Captopril) pada 24 jam pertama sampai dosis
maksimum tercapai. Setelah pasien dapat mentoleransi dosis obat ini, obat
kerja panjang sekali sehari dapat diberikan misalnya Lisinopril. ACE Inhibitor
harus dilanjutkan seumur hidup pasien dengan fraksi ejeksi <40% dan paling
sedikit 1 bulan pada semua pasien. Inisiasi ACE Inhibitor dihubungkan dengan
peningkatan awal kreatinin. Pertimbangkan ARB bila terdapat kontraindikasi
ACE Inhibitor.
5. Terapi Insulin direkomendasikan untuk kontrol gula darah pada semua pasien
yang dirawat di CVCU, berikan insulin-drip bila kadar gula darah >200 mg/dL.
Hindari penggunaan glucophage pada pre dan post-PCI karena obat ini
berhubungan dengan asidosis laktat.
6. Statin harus dimulai pasca reperfusi setelah hemodinamik pasein stabil. Dapat
diberikan atorvastatin 80 mg/hari. Low-density lipoprotein cholesterol (LDLC) harus dikurangi samapai 60-70 mg/dL pada semua pasien dengan STEMI.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
19
7. Amiodarone dapat dipertimbangkan pada pasien dengan disritmia, sebaiknya
dihindari pada pasien muda. Umumnya terapi beta bloker agresif cukup
adekuat untuk mengatasi masalah aritmia pada STEMI.
c. Terapi Bedah
Tindakan bedah CABG tidak lazim dilakukan untuk revaskularisasi awal dan
segera pada STEMI tanpa komplikasi. Namun setelah upaya awal dengan PCI
atau reperfusi fibrinolitik telah dilakukan, nyeri dada menetap/berulang, atau
anatomi koroner resiko tinggi (stenosis left-main atau triple-vessel disease pada
diabetes) atau terjadi komplikasi mekanis (ruptur septum ventrikel, ruptur
muskukus papilaris) intervensibedah patut dipertimbangkan. Pada kondisi seperti
ini, sebaiknya menunggu paling sedikit 24 jam setelah STEMI dan setelah
hemodinamik stabil. Dukungan mekanik dengan intra-aortic ballon pump (IABP)
dibutuhkan sebagai jembatan untuk pembedahan pada kasus nyeri dada menetap,
aritmia, dan hemodinamik tidak stabil.
2.1.8 Komplikasi
Komplikasi infark miokard akut menurut Corwin (2009) adalah sebagai berikut :
1.
Tromboemboli. Akibat kontraktilaitas miokard berkurang, maka dapat terjadi
tromboemboli. Embolus dapat menghambat aliran darah kebagian jantung
yang sebelumnya tidak rusak oleh infark pertama. Embolus juga dapat
mengalir ke organ lain sehingga dapat menyebabkan organ tersebut
mengalami kerusakan dan bahkan infark.
2.
Gagal jantung kongestif. Gagal jantung kongestif dapat segera terjadi setelah
infark apabila infark awal terjadi dengan ukuran yang sangat luas, atau
setelah pengaktifan refleks baroreseptor. Dengan diaktifkannya refleks
baroreseptor terjadi peningkatan tekanan darah yang kembali kejantung yang
rusak serta terjadi kontriksi arteri dan arteriol dihilir. Hal ini menyebabkan
darah berkumpul dijantung dan menimbulkan peregangan berlebihan pada
sel-sel otot jantung. Apabila peregangan tersebut cukup hebat, maka
kontraktilitas jantung dapat berkurang.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
20
3.
Disritmia. Disritmia merupakan komplikasi tersering pada infark. Disritmia
dapat terjadi akibat perubahan keseimbangan elektrolit dan penurunan pH.
Daerah dijantung yang mudah teriritasi dapat mulai melepaskan potensial aksi
sehingga terjadi disritmia. Nodus SA dan AV, atau jalur transduksi (serabut
Purkinje atau berkas His), dapat merupakan bagian dari zona iskemik atau
nekrotik yang mempengaruhi pencetusan atau penghantaran sinyal. Fibrilasi
adalah penyebab utama kematian pada infark miokardium diluar rumah sakit.
4.
Syok kardiogenik. Syok kardiogenik dapat terjadi apabila curah jantung
sangat berkurang dalam waktu yang lama. Syok kardiogenik dapat fatal pada
waktu infark, atau terjadi kelemahan beberapa haribahkan beberapa minggu
kemudian akibat gagal paru atau ginjal karena organ-organ tersebut
mengalami iskemik, atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Syok
kardiogenik biasanya berkaitan dengan kerusakan sebanyak 40% massa otot
jantung.
5.
Efusi perikardial dan tamponade jantung. Efusi perikardial mengacu pada
masuknya cairan kedalam kantong perikardium. Kejadian ini biasanya
disertai dengan perikarditis atau gagal jantung. Perkembangan efusi yang
cepat dapat meregangkan perikardium sampai ukuran maksimal dan
menyebabkan penurunan curah jantung serta aliran balik vena kejantung.
Hasil akhir proses ini adalah tamponade jantung.
6.
Perikarditis. Perikarditis terjadi sebagai bagian dari reaksi inflamasi setelah
cedera atau kematian sel. Beberapa diantaranya dapat terjadi beberapa
minggu
setelah
infark,
dan
mungkin
mencerminkan
suatu
reaksi
hipersensitivitas imun terhadap nekrosis jaringan.
7.
Ruptur miokardium. Meskipun jarang terjadi, ruptur dinding ventrikel dapat
terjadi pada awal perjalanan infark transmural selama fase pembuangan
jaringan nekrotik sebelum pembentukan parut. Dinding nekrotik yang tipis
pecah, sehingga terjadi perdarahan masif kedalam kantong perikardium (Price
& Wilson, 2006). Pada beberapa kasus dapat terjadi aneurisma (Corwin,
2009).
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
21
2.2 Edema Paru Akut (Acute Lung Oedema/ALO)
2.2.1 Pengertian
Edema paru akut adalah timbunan cairan abnormal didalam paru, baik didalam
rongga interstitial maupun didalam alveoli. Edema paru merupakan tanda adanya
kongesti paru tingkat lanjut, dimana cairan mengalami kebocoran melalui dinding
kapiler, merembes keluar dan menimbulkan sesak nafas yang sangat berat
(Smeltzer & Bare, 2002).
2.2.2 Pathofisiologi
Kongesti paru akan terjadi bila paru-paru menerima darah yang berlebihan yang
berasal dari ventrikel kanan, dimana tidak dapat lagi diakomodasi dan diambil
oleh jantung kiri.
Penyebab utama edema paru adalah penyakit jantung berupa penyakit jantung
aterosklerotik, tekanan darah tinggi, kelainan katup, serta miopati. Edema paling
sering ditimbulkan oleh kerusakan otot jantung akibat akut infark miokard.
Perkembangan edema paru menunjukkan bahwa fungsi jantung sudah sangat tidak
adekuat. Peningkatan tekanan akhir diastole ventrikel kiri dan peningkatan
tekanan vena pulmonal dapat terjadi. Kondisi ini akan menyebabkan peningkatan
tekanan hidrostatik yang akan mengakibatkan cairan merembes keluar. Gangguan
sistem limfatik juga berperan dalam penimbunan cairan didalam jaringan paru.
Kapiler paru yang membesar oleh darah yang berlebihan akibat ketidakmampuan
ventrikel kiri untuk memompa, tidak dapat lagi mempertahankan zat yang
terkandung didalamnya. Pada awal edema cairan bersifat serous, kemudian akan
mengandung darah, lolos ke jaringan alveoli sekitarnya melalui hubungan antara
bronkhioli dan bronkhi. Karena adanya timbunan cairan, paru menjadi tidak
elastis dan tidak dapat mengembang, sehingga udara tidak dapat masuk.
Berikutnya akan terjadi hipoksia berat (Smeltzer & Bare, 2002).
2.2.3 Manifestasi Klinis
Serangan mendadak yang khas pada edema paru terjadi setelah pasien berbaring
selama beberapa jam. Posisi berbaring akan meningkatkan aliran balik vena ke
jantung dan memudahkan penyerapan kembali edema dari tungkai. Darah yang
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
22
beredar dalam sirkulasi menjadi lebih encer, volume darah juga mengalami
peningkatan. Tekanan vena mengalami peningkatan dan pengisian atrium kanan
akan lebih cepat. Akibatnya terjadi peningkatan curah ventrikel kanan, yang
ternyata melebihi curah ventrikel kiri. Pembuluh darah paru membesar oleh darah
dan mulai mengalami kebocoran (Smeltzer & Bare, 2002).
Pasien akan mengalami kesulitan nafas mendadak dan perasaan tercekik. Tangan
pasien menjadi dingin dan basah, kuku dan warna kulit menjadi sianosis.
Berikutnya denyut nadi melemah serta cepat, dan vena jugularis akan mengalami
peningkatan. Pasien dapat mengalami batuk, dengan sputum yang banyak.
Dengan berkembangnya edema paru, pasien menjadi panik, pasien mulai konfusi
serta stupor. Nafas berbunyi dan basah, dan pasien yang mulai tercekik oleh
darah, mengeluarkan cairan berbusa ke bronkhi dan trakea (Smeltzer & Bare,
2002).
2.2.4 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan medis pada pasien dengan edema paru akut adalah
mengurangi volume sirkulasi untuk memperbaiki pertukaran gas. Penatalaksanaan
edema paru menurut (Smeltzer & Bare, 2002) adalah sebagai berikut:
a. Oksigenasi.
Oksigen diberikan dengan konsentrasi yang adekuat untuk mengurangi
hipoksia dan sesak nafas. Apabila hipoksia menetap, oksigen harus diberikan
dengan tekanan posistif intermiten atau kontinu. Bila terjadi gagal nafas,
perlu diberikan intubasi endotrakea dan ventilasi mekanis. Penggunaan
tekanan positif akhir ekspirasi (Positve End Expiratory Pressure/ PEEP)
sangat efektif untuk mengurangi aliran balik vena, menurunkan tekanan
kapiler paru, dan memperbaiki oksigenasi. Oksigenasi dipantau melalui pulsa
oksimetri dan pengukuran gas darah arteri.
b. Morfin
Morfin diberikan secara intravena dalam dosis kecil untuk mengurangi
kecemasan dan sesak nafas. Juga digunakan untuk menurunkan tekanan
perifer sehingga darah dapat didistribusikan dari sirkulasi paru kebagian
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
23
tubuh yang lain. Hal tersebut akan menurunkan tekanan dalam kapiler paru
dan mengurangi transudasi cairan ke jaringan paru.
c. Diuretik
Furosemide (Lasix) diberikan secara intravena untuk memberi efek diuretik
yang cepat. Furosemide juga mengakibatkan vasodilatasi dan penimbunan
darah dipembuluh darah perifer yang pada gilirannya mengurangi jumlah
darah yang kembali kejantung.
d. Digitalis
Digunakan untuk meningkatkan kontraktilitas jantung, dan curah ventrikel
kiri, maka pasien harus diberikan preparat digitalis kerja cepat. Perbaikan
kontraktilitas jantung akan meningkatkan cardiac output, memperbaiki
diuresis dan menurunkan tekanan diastole. Sehingga tekanan kapiler paru dan
transudasi cairan ke alveoli akan berkurang.
e. Aminofilin
Bila pasien mengalami wheezing dan terjadi bronkhospasme, maka perlu
diberikan aminofilin untuk mengurangi spasme bronkus.
f. Posisi
Posisi yang tepat dapat membantu mengurangi aliran balik vena ke jantung.
2.3 Integrasi Teori Konservasi Levine dan Konsep Keperawatan dalam
Proses Keperawatan Pasien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular
2.3.1 Konsep Konservasi
Levine (1990) dalam Tomey & Alligood (2006) menyatakan secara eksplisit
tentang pentingnya memahami rencana perawatan medis dan hasil pemeriksaan
diagnostik untuk pemahaman yang akurat tentang masalah pasien. Tujuan dari
asuhan keperawatan adalah untuk meningkatkan adaptasi dan kesejahteraan.
Karena adaptasi didasarkan pada pilihan dan berakar dalam riwayat dan
spesifisitas, intervensi terapeutik akan menjadi bervariasi, tergantung pada sifat
unik dari respon masing-masing individu.
Teori konservasi berakar pada prinsip universal konservasi, yang menyediakan
landasan bagi model. Tujuan dari konservasi adalah untuk menjaga bersama-
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
24
sama. Menurut Levine (1990) dalam Tomey & Alligood (2006), untuk menjaga
bersama-sama berarti untuk menjaga keseimbangan antara intervensi keperawatan
aktif ditambah dengan partisipasi pasien di satu sisi dan batas-batas yang aman
dari kemampuan pasien untuk berpartisipasi di sisi lain. Kegiatan asuhan
keperawatan meningkatkan adaptasi seperti yang ditunjukkan oleh pertumbuhan
fisiologis, cedera struktural yang minimal, perkembangan neurologi, dan sistem
keluarga yang stabil.
Konservasi berasal dari bahasa latin conservatio, yang berarti tetap bersama.
Conservatio menggambarkan cara sistem yang kompleks dapat terus berfungsi
bahkan ketika ada ancaman yang sangat menantang. (Levine, 1991) dalam Tomey
& Alligood (2006). Melalui konservasi, individu dapat menghadapi rintangan,
beradaptasi, dan menjaga keunikan mereka. Tujuan dari konservasi adalah
kesehatan dan kekuatan untuk menghadapi kecacatan, peraturan konservasi dan
integritas terjadi dalam semua situasi di mana keperawatan diperlukan. Fokus
utama konservasi adalah menjaga keutuhan bersama seseorang. Meskipun
intervensi keperawatan dapat menangani satu prinsip konservasi tertentu, perawat
juga harus menyadari pengaruh
prinsip-prinsip konservasi lainnya. (Levine,
1990 dalam Tomey dan Alligood, 2006) .
Konservasi adalah hukum alam yang menjadi dasar berbagai ilmu. Levine
menjelaskan bahwa individu terus menerus mempertahankan keutuhan mereka.
Konservasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan sistem kehidupan.
Mempertahankan berarti, di satu sisi, untuk menjaga keseimbangan antara
intervensi keperawatan aktif ditambah dengan partisipasi pasien dan, di sisi lain,
batas aman kemampuan pasien untuk berpartisipasi. Individu mempertahankan
sistem interaksi secara konstan dengan lingkungan mereka dan menggunakan
yang paling ekonomis, hemat, pilihan energy-sparing yang tersedia untuk
menjaga integritas mereka. Sumber energi tidak dapat diamati secara langsung,
namun konsekuensinya (manifestasi klinis) terhadap perubahan dapat diprediksi,
dikelola dan dikenali. Konservasi adalah tentang mencapai keseimbangan antara
ketersediaan dan kebutuhan energi yang ada di dalam realitas biologis yang unik
dari individu.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
25
Model Levine menekankan interaksi keperawatan dan intervensi yang
dimaksudkan untuk meningkatkan adaptasi dan mempertahankan keutuhan.
Interaksi ini didasarkan pada latar belakang ilmiah dari prinsip konservasi.
Konservasi berfokus untuk mencapai keseimbangan ketersediaan dan permintaan
energi di dalam realitas biologis individu yang unik. Asuhan keperawatan
didasarkan pada pengetahuan ilmiah dan keterampilan keperawatan. Ada empat
prinsip konservasi:
a. Konservasi energi: individu membutuhkan keseimbangan energi dan
pembaharuan energi yang konstan untuk mempertahankan aktivitas kehidupan.
Proses seperti penyembuhan dan penuaan merupakan tantangan energi. Hukum
kedua termodinamik berlaku untuk segala sesuatu di alam semesta, termasuk
manusia.
Konservasi energi telah lama digunakan dalam praktek keperawatan bahkan
dengan prosedur yang paling dasar. Intervensi keperawatan digunakan untuk
mengetahui tingkatan kemampuan individu tergantung pada memberikan
perawatan terhadap kebutuhan tambahan minimal paling mungkin diberikan
(Levine, 1990 dalam Tomey dan Alligood, 2006) .
Konservasi energi tergantung pada pertukaran energi bebas dengan lingkungan
sehingga sistem kehidupan terus-menerus dapat mengisi kembali persediaan
energi mereka. Konservasi energi merupakan bagian integral individu terhadap
berbagai respon adaptif.
b. Konservasi integritas struktural. Penyembuhan adalah proses mengembalikan
struktur dan integritas fungsional melalui konservasi dalam mempertahankan
keutuhan (Levine, 1991 dalam Tomey dan Alligood, 2006). Para penyandang
cacat dipandu ke tingkat adaptasi yang baru (Levine, 1996 dalam Tomey dan
Alligood, 2006). Perawat dapat membatasi jumlah jaringan yang terlibat dalam
penyakit dengan pengenalan awal dari perubahan fungsional dan dengan
intervensi keperawatan. Konservasi integritas struktural tergantung pada sistem
pertahanan menyeluruh yang mendukung perbaikan dan penyembuhan serta
bersifat responsif terhadap tantangan dari lingkungan internal dan eksternal.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
26
c. Konservasi integritas personal. Harga diri dan penghargaan terhadap identitas
adalah sesuatu yang penting. Ini merupakan hal yang paling rentan pada
pasien. Ini dimulai dengan hilangnya privasi dan adanya kecemasan. Perawat
dapat menunjukkan rasa hormat pasien dengan memanggil nama mereka,
menghormati
keinginan
mereka,
menghargai
barang-barang
pribadi,
memberikan privasi selama prosedur, mendukung pertahanan mereka dan
mengajar mereka.
Konservasi
integritas
personal
mengakui
individu
yang
menetapkan
keutuhannya dalam menanggapi lingkungan. Hal ini mengakui bahwa individu
berusaha untuk mendapatkan pengakuan, penghormatan, kesadaran diri,
kemanusiaan, kesucian, kemandirian, kebebasan, dan penentuan nasib sendiri.
Tujuannya adalah perawat selalu memberikan pengetahuan dan kekuatan
sehingga individu dapat melanjutkan kehidupan pribadi, tidak lagi tergantung.
Konservasi integritas personal termasuk pengakuan terhadap kesucian setiap
orang. (Levine, 1990 dalam Tomey dan Alligood, 2006) .
d. Konservasi integritas sosial. Hidup yang bermakna didapat melalui komunitas
sosial dan kesehatan ditentukan secara sosial. Perawat dalam memenuhi peran
profesional, menyediakan diri untuk anggota keluarga, membantu kebutuhan
tentang agama yang diperlukan, dan menggunakan hubungan interpersonal
untuk mempertahankan integritas sosial (Levine, 1990 dalam Tomey dan
Alligood, 2006) .
Konservasi integritas sosial mengakui bahwa fungsi individu dalam masyarakat
yang membantu menetapkan batas-batas diri. Integritas sosial yang dibuat oleh
keluarga dan teman-teman, tempat kerja dan sekolah, agama, pilihan pribadi,
dan warisan budaya serta etnis. Dengan kontrol politik dan ekonomi, sistem
perawatan kesehatan merupakan bagian dari sistem sosial yang individual.
Levine menyatakan bahwa konservasi integritas adalah penting untuk
menjamin keutuhan dan memberikan kekuatan yang diperlukan untuk
menghadapi penyakit dan kecacatan.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
27
2.3.2 Keutuhan
Keutuhan menekankan pada sifat organik, progresif, dan hubungan yang saling
menguntungkan antara fungsi yang beragam dan bagian dalam suatu keseluruhan,
batas-batas yang terbuka dan saling mempengaruhi.
Integritas berarti kesatuan dari individu, menekankan bahwa mereka merespon
secara terpadu, kebiasaan tunggal terhadap tantangan yang berasal dari
lingkungan. Keutuhan terjadi ketika interaksi atau adaptasi konstan lingkungan
mengizinkan jaminan integritas. Perawat meningkatkan keutuhan melalui
penggunaan prinsip-prinsip konservasi. Pengakuan mereka terbuka, mengalir,
interaksi terus-menerus berubah antara individu dan lingkungan yang merupakan
dasar untuk berpikir holistik, yang memandang individu secara keseluruhan.
Keutuhan berarti kesehatan, dan kesehatan merupakan integritas. Kesehatan
adalah pola adaptif perubahan, tujuan yang ingin dicapai adalah kesejahteraan.
Lingkungan melengkapi keutuhan individu. Setiap individu dipandang memiliki
lingkungan internal dan eksternal sendiri. Lingkungan internal menggabungkan
aspek fisiologis dan patofisiologis pasien. Lingkungan internal selalu ditantang
oleh perubahan lingkungan eksternal. Lingkungan eksternal meliputi faktor-faktor
yang mempengaruhi dan menantang individu.
Levine, 1973 dalam Tomey & Alligood (2006) juga memandang bahwa setiap
individu memiliki lingkungan sendiri, baik internal maupun eksternal. Perawat
dapat menghubungkan lingkungan internal sebagai aspek fisiologis dan
patofisiologis
pasien.
Levine
mendefinisikan
lingkungan
eksternal
dan
menunjukkan tiga level berikut:
1. Perseptual
Tingkat persepsi meliputi aspek bahwa individu dapat menangkap dan
menafsirkan dengan organ-organ indera mereka.
2. Operasional
Tingkat operasional berisi hal-hal yang mempengaruhi individu secara fisik
sekalipun tidak bisa langsung mereka rasakan, hal mikroorganisme tersebut.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
28
3. Konseptual
Pada tingkat konseptual, lingkungan dibangun dari pola budaya, ditandai
dengan keberadaan spiritual, dan dimediasi oleh simbol bahasa, pemikiran
dan sejarah
Kapasitas individu untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungannya disebut
respon organ. Tingkatan integrasi dibagi menjadi sebagai berikut:
1. Perlawanan
Merupakan respon yang paling primitif. Individu merasakan bahwa dirinya
terancam, apakah benar-benar ada atau tidak ada ancaman. Rawat inap,
penyakit dan pengalaman baru memperoleh tanggapan. Individu merespon
dengan menjadi waspada untuk menemukan informasi lebih lanjut dan untuk
memastikan keamanan dan kesejahteraannya.
2. Respon inflamasi
Respon inflamasi. Mekanisme pertahanan melindungi diri dari penghinaan di
lingkungan yang tidak bersahabat. Ini adalah cara penyembuhan. Tanggapan
menggunakan energi yang tersedia untuk menghapus atau mencegah iritasi
yang tidak diinginkan atau patogen. Itu terbatas dalam waktu karena
menguras cadangan energi individu. Pengendalian terhadap lingkungan
adalah penting (Levine, 1973 dalam Tomey dan Alligood, 2006).
3. Respon terhadap stres
Selye (1956) dalam Tomey & Alligood (2006) menggambarkan bahwa
respon sindrom stres dapat diprediksi, bersifat non-spesifik yang diinduksi
oleh perubahan organik. Kerusakan pada jaringan dicatat dan mencerminkan
respon hormonal jangka panjang untuk pengalaman hidup yang menyebabkan
perubahan
struktural.
Hal
ini
ditandai
dengan
irreversibility
dan
mempengaruhi cara pasien menanggapi ancaman.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
29
4. Kesadaran perseptual
Kesadaran perseptual. Respon ini didasarkan pada kesadaran persepsi
individu. Hal ini terjadi hanya sebagai pengalaman individu terhadap dunia
disekitarnya. Individu menggunakan respon ini untuk mencari dan
mempertahan keselamatan. Ini adalah mencari informasi. (Levine, 1967; 1969
dalam Tomey dan Alligood, 2006).
Pengobatan berfokus pada pengelolaan ke empat respon tersebut untuk sakit
dan penyakit (Levine, 1969 dalam Tomey dan Alligood, 2006).
2.3.3 Adaptasi
Adaptasi adalah proses perubahan dimana individu mempertahankan integritasnya
dalam lingkungan internal dan eksternal. Konservasi merupakan hasil. Kesehatan
dan penyakit merupakan pola dari perubahan adaptif, tujuannya adalah
kesejahteraan. Kesehatan (keutuhan) tersirat menjadi kesatuan dan integritas
individu, yang merupakan tujuan dari keperawatan.
Penyakit dideskripsikan sebagai adaptasi terhadap kekuatan lingkungan yang
berbahaya. Levine berpendapat bahwa penyakit merupakan upaya individu untuk
melindungi integritas diri, seperti respon sistem inflamasi terhadap cedera.
Penyakit adalah perubahan yang tidak teratur dan tidak disiplin yang harus
dihentikan untuk mencegah kematian.
Beberapa adaptasi sukses tetapi ada juga yang tidak. Levine (1991) dalam Tomey
& Alligood (2006) mengidentifikasi adaptasi ke dalam tiga karakteristik berikut:
1. Historisitas
Historisitas berfokus terhadap ide bahwa respon adaptif manusia didasarkan pada
genetik dan sejarah masa lalu (riwayat). Setiap individu terdiri dari kombinasi
genetik dan riwayat, dan respon adaptif merupakan hasil dari gabungan keduanya.
2. Kekhususan
Levine menyatakan: "setiap spesies tetap memiliki pola respon unik yang
dirancang untuk memastikan keberhasilan dalam kegiatan hidup yang penting,
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
30
menunjukkan bahwa adaptasi merupakan riwayat dan bersifat khusus. Selain itu,
pola adaptif mungkin tersembunyi dalam kode genetik individu.
3. Redundansi
Redundansi merupakan pilihan fail-safe yang tersedia bagi individu untuk
memastikan adaptasi. Kehilangan pilihan baik akibat trauma, kondisi usia,
penyakit atau lingkungan membuat sulit bagi individu untuk mempertahankan
kehidupan. Levine (1991) dalam Tomey & Alligood (2006) menyatakan bahwa
"ada kemungkinan proses penuaan merupakan konsekuensi dari kegagalan
redundansi proses fisiologis dan psikologis".
2.3.4 Proses Keperawatan dalam Konservasi Levine
Proses keperawatan dengan menggunakan model konservasi Levine dimulai
dengan pengkajian. Pengkajian dilakukan tidak hanya melalui pemeriksaan fisik
saja, namun perlu dilakukan anamnesa untuk menggali informasi tentang riwayat
penyakit dan riwayat kesehatan pasien secara menyeluruh.
Setelah melakukan pengkajian, perawat menegakkan diagnosa keperawatan.
Terdapat perbedaan antara model konservasi Levine dibandingkan dengan model
konsep yang lain. Pada model konservasi Levine, penggunaan istilah diagnosa
keperawatan diganti dengan menggunakan istilah Trophicognosis, yaitu
mencakup rumusan pernyataan atau justifikasi masalah.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan hipotesis. Hipotesis keperawatan disusun
berdasarkan pada rumusan masalah yang sudah ditentukan pada tahap
sebelumnya. Perawat melakukan validasi bersama dengan pasien dan keluarga
tentang masalah yang dihadapi oleh pasien. Kemudian perawat menyusun
hipotesis terhadap masalah dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut
(Alligood, 2010). Dalam model konservasi Levine, hipotesis merupakan inti dari
rencana keperawatan.
Setelah tersusun hipotesis, maka langkah selanjutnya adalah melakukan intervensi
keperawatan yang sesuai untuk pasien. Dalam model konservasi, penyusunan
intervensi dibuat berdasarkan prinsip konservasi yang meliputi konservasi energi,
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
31
integritas struktural, integritas personal dan integritas sosial. Tujuan dari
intervensi keperawatan adalah untuk mempertahankan wholeness dan membantu
pasien untuk melakukan adaptasi (Alligood, 2010). Selanjutnya, rencana tindakan
kemudian dilaksanakan/diimplementasikan berdasarkan konsep konservasi energi,
integritas struktural, integritas personal dan integritas sosial. Secara umum,
rencana tindakan keperawatan tergambar dalam hipotesis keperawatan.
Dalam model konservasi Levine, istilah implementasi keperawatan tidak
diungkapkan dengan jelas. Implementasi keperawatan termuat secara eksplisit
dalam intervensi keperawatan. Tindakan keperawatan yang dilakukan difokuskan
kepada respon orgasmik pasien, dimana respon orgasmik merupakan kriteria hasil
yang akan dilihat pada evaluasi keperawatan.
2.3.5 Konsep Metaparadigma dalam Teori Levine
Myra E. Levine mengembangkan teori keperawatan dengan model konservasi.
Levine mengidentifikasi menjadi 4 yaitu manusia, lingkungan, keperawatan, dan
kesehatan.
2.3.5.1 Manusia
Manusia digambarkan sebagai individu yang utuh yang secara terus menerus
melakukan upaya untuk mempertahankan keutuhan dan integritas sebagai
makhluk yang berfikir, berorintasi terhadap masa depan dan masa lalu.
2.3.5.2 Keperawatan
Tujuan keperawatan adalah untuk meningkatkan adaptasi dan mempertahankan
integritas individu maupun masyarakat. Keutuhan individu yaitu mencakup bio,
psiko, sosial dan spiritual menjadi tanggung jawab perawat untuk membantu
mempertahankannya. Untuk mencapai tujuan keperawatan diperlukan penggunaan
prinsip-prinsip konservasi yang meliputi: konservasi energi, konservasi integritas
struktural, konservasi integritas personal dan konservasi integritas sosial.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
32
2.3.5.3 Sehat-Sakit
Sehat dan sakit merupakan pola perubahan yang adaptif, tujuan yang meliputi
kesejahteraan. Kesehatan (keutuhan) tersirat menjadi kesatuan dan integritas
individu, yang merupakan tujuan dari keperawatan.
Penyakit ini digambarkan sebagai adaptasi terhadap kekuatan lingkungan
berbahaya. Levine berpendapat bahwa penyakit merupakan upaya individu untuk
melindungi integritas diri, seperti respon sistem inflamasi terhadap cedera.
Penyakit adalah perubahan yang tidak diatur dan tidak disiplin yang harus
dihentikan untuk mencegah kematian.
2.3.5.4 Lingkungan
Lingkungan melengkapi keutuhan seseorang. Setiap individu dipengaruhi oleh
lingkungan internal dan eksternal. Levine membagi lingkungan menjadi 2 yaitu:
1. Lingkungan Internal; lingkungan internal menggabungkan aspek fisiologis dan
patofisiologis pasien. Lingkungan internal selalu ditantang oleh perubahan
lingkungan eksternal.
2. Lingkungan Eksternal; lingkungan eksternal meliputi faktor-faktor yang
mempengaruhi dan menantang individu. Levine mengadopsi tiga tingkat
lingkungan: persepsi, operasional dan konseptual.
a. Lingkungan perseptual
Lingkungan perseptual merupakan lingkungan yang dapat ditangkap dan
ditafsirkan melalui panca indera manusia yang mencakup respon terhadap
cahaya, rasa, suara, sentuhan, dan suhu.
b. Lingkungan operasional
Lingkungan
operasional
meliputi
unsur-unsur
yang
secara
fisik
mempengaruhi individu tetapi tidak secara langsung dirasakan (misalnya;
radiasi, mikroorganisme).
c. Lingkungan konseptual
Lingkungan konseptual memiliki pola yang mempengaruhi perilaku
ditandai dengan keberadaan spiritual dan dimediasi oleh simbol bahasa,
pemikiran dan sejarah (misalnya; nilai-nilai, keyakinan).
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
33
2.4 Penerapan Model Konservasi Levine pada Pasien STEMI
2.4.1
Pengkajian
STEMI adalah kondisi yang mengancam kehidupan karena terjadi infark
transmural. Pengkajian berfokus pada penyelamatan jiwa pasien. Pengkajian
menggunakan prinsip-prinsip konservasi sebagai berikut:
a. Pengkajian lingkungan
Terdapat 2 lingkungan pada pengkajian dengan konservasi Levine yaitu
pengkajian lingkungan internal dan pengkajian lingkungan eksternal.
Pengkajian lingkungan internal meliputi riwayat penyakit dan faktor resiko.
Riwayat penyakit meliputi adakah riwayat penyakit stroke, gastritis dan asma.
Sedangkan faktor resiko meliputi adakah penyakit hipertensi, DM,
hiperkolesterol, merokok, faktor keturunan dan menopause pada wanita.
Pengkajian lingkingan eksternal mencakup respon pasien terhadap penyakit,
kepatuhan pasien, sistem nilai pasien dan keluarga.
b. Pengkajian konservasi energi
Pengkajian dilakukan untuk mengidentifikasi suplai oksigen dan nutrisi
miokard. Ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen dan suplai oksigen
menimbulkan nyeri pada pasien STEMI. Oleh karena itu pengkajian
difokuskan pada nyeri pasien meliputi pengkajian dengan prinsip PQRST
(Muttaqin, 2009):
1) Provoking incident: peristiwa yang menjadi faktor penyebab nyeri, apakah
nyeri berkurang dengan istirahat, dan apakah nyeri bertambah berat
dengan aktivitas.
2) Quality of pain: sifat nyeri seperti nyeri tajam, tumpul, seperti terbakar.
3) Region: lokasi nyeri, apakah nyeri menjalar ke lengan kiri, leher dan
punggung.
4) Severity of pain: seberapa berat nyeri dirasakan, intensitas nyeri.
5) Time: kapan nyeri dirasakan, berapa lama (durasi), onset nyeri.
c. Pengkajian konservasi integritas struktural
Pengkajian difokuskan pada sistem pertahanan tubuh. Konservasi integritas
struktural bertujuan untuk mencegah kerusakan otot jantung lebih lanjut. Pada
pasien STEMI terjadi peningkatan preload dan afterload sehingga curah
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
34
jantung akan mengalami penurunan. Oleh karena itu pengkajian difokuskan
pada sistem yang berkaitan dengan penurunan curah jantung seperti tingkat
kesadaran pasien, status hemodinamik dan status oksigenasi pasien.
d. Pengkajian konservasi integritas personal
Pengkajian difokuskan pada harga diri pasien. Pasien dengan STEMI sering
merasa rendah diri sehingga merasa dikucilkan oleh lingkungan termasuk
orang terdekat. Oleh karena itu pengkajian difokuskan pada penerimaan pasien
oleh keluarga.
e. Pengkajian konservasi integritas sosial
Pengkajian difokuskan pada kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam
sistem sosial. Pengkajian antara lain mencakup kemampuan komunikasi
pasien, hubungan antara pasien dengan perawat, petugas kesehatan lain dan
anggota keluarga.
Dukungan dan keterlibatan anggota keluarga dalam
pengobatan pasien juga perlu dilakukan.
2.4.2 Trophicognosis
Tropihicognosis yang muncul pada pasein STEMI berdasarkan NANDA menurut
Herdman (2012) adalah sebagai berikut:
a.
Nyeri dada berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan
oksigen otot jantung.
b.
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas otot
jantung, dan peningkatan afterload.
c.
Kelebihan volume cairan tubuh berhubungan dengan penurunan fungsi
pengaturan cairan oleh ginjal sekunder terhadap penurunan curah jantung.
d.
Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang proses penyakit dan prosedur perawatan.
2.4.3 Hipotesa dan Intervensi
Berdasarkan trophicognosis yang muncul pada pasien STEMI, maka disusun
hipotesa dan intervensi. Perumusan hipotesa berdasarkan Nursing Intervention
and Classification (NIC) menurut Bulechek, Butcher & Dochterman (2008)
adalah sebagai berikut:
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
35
a. Perawatan jantung: akut, cardiac precaution, akan mengatasi penurunan
kardiak output.
b. Manajemen cairan dan elektrolit, haemodinamic regulation akan mengatasi
kelebihan volume cairan.
c. Pendidikan: proses penyakit, program terapi/treatment akan dapat mengatasi
manajemen regimen terapi tidak efektif.
2.4.4 Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektifitas terapi yang dilakukan. Evaluasi
dalam model konservasi Levine berdasarkan respon organismik sebagai berikut:
a. Tidak ada keluhan nyeri dada.
b. Terjadi peningkatan kardiak output.
c. Tidak terjadi kelebihan volume cairan.
d. Manajemen regimen terapi menjadi efektif.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM
KARDIOVASKULAR
Bab ini akan menguraikan tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan
gangguan sistem kardiovaskular dengan menerapkan model konservasi energi
Levine.
3.1 Gambaran Kasus Kelolaan Utama
Tn. RPL usia 57 tahun , status menikah, pendidikan perguruan tinggi, pekerjaan
pensiunan departemen perindustrian, suku Batak, masuk rumah sakit pada tanggal
16 April 2013, pada pukul 23.30 WIB, dilakukan pengkajian pada tanggal 18
April 2013 pukul 08.00 WIB diruang CVCU RS PJNHK Jakarta dengan Acute
STEMI anterior onset >12 jam. AHF ec. ACS, riwayat ALO, dan Hipertensi tak
terkontrol.
Pasien datang dengan keluhan utama nyeri dada yang timbul 12 jam sebelum
masuk rumah sakit (SMRS), terasa saat tidur, seperti ditusuk-tusuk dan menjalar
ke punggung. Nyeri dirasakan lebih dari 30 menit. Saat di IGD nyeri dirasakan
seperti tertusuk-tusuk dengan skala 7 (0-10). Keringat dingin (+), berdebar-debar
(-), batuk (+), sekret keputih-putihan keluar saat pasien batuk. Sesak nafas (+),
DOE (+), PND (-), OP (-).
Sebelumnya pasien mengalami keluhan serupa namun lebih ringan saat 18 jam
SMRS. Pasien dibawa ke RS Islam Pondok Kopi dan mendapatkan Cedocard 5
mg (SL), loading Plavix 300 mg, loading Aspilet 160 mg, extra Lasix 2 ampul (IV
, Morphin 50 mg (IV), NTG 10 mcg/jam, Pantoprazole 1 ampul, dan Captopril
12,5 mg, selanjutnya pasien dirujuk ke RS Harapan Kita. Nyeri dada dirasakan
pertama kali 2 minggu SMRS, bersifat hilang timbul dan bertambah sering. Pasien
tidak menderita asma, gastriris dan stroke. Pasien mengatakan adik dari ayah
pasien menderita penyakit jantung, tetapi pasien tidak tahu persis apakah
diagnosis dari penyakit jantung paman pasien tersebut. Sedangkan untuk faktor
36
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
37
resiko adalah pasien menderita hipertensi sejak usia kurang lebih 40 tahun,
merokok > 2 bungkus/hari dan minum kopi > 2 gelas/hari.
Tn. RPL merupakan pasien baru di RS PJNHK. Di IGD RS PJN Harapan Kita
Jakarta pasien mendapatkan terapi sebagi berikut: oksigen 3 liter/menit, Aspilet 1
x 80 mg, Plavix 1 x 80 mg, ISDN 3 x 5 mg, Simvastatin 1 x 20 mg, Captopril 3 x
12,5 mg, Bisoprolol 1 x 1,25 mg, Lasik 2 x 40 mg, Heparinisasi dengan Lovenox
2 x 0,6 cc, Diazepam 1 x 5 mg, Laxadine 1 x CI, Amlodipin 1 x 5 mg dan
NTG 70 μg/menit.
Pasien dilakukan pemeriksaan penunjang di IGD. Pemeriksaan yang dilakukan
antara lain adalah EKG dengan hasil SR, QRS rate 63 x/menit, QRS axis normal,
P wave normal, PR interval 0,12 detik, QRS duration 0,08 detik, ST elevasi
dengan Q wave di V1-V3, T inverted di I, aVL, V4-V6. Pada saat pasien dirawat
diruang observasi di IGD pasien juga dilakukan pemeriksaan EKG dengan hasil
SR, QRS rate 88 x/menit, QRS axis normal, P wave LAE, PR interval 0,16 detik,
QRS duration 0,11 detik, ST elevasi dengan Q wave di V1-V4, T inverted di V2V6. Selain pemeriksaan EKG juga dilakukan pemeriksaan Echocardiografi
dengan hasil EDD 53, ESD 39, EF 50%, Tapse 2,0 cm, SV: 48 ml, CO: 4,2
liter/menit. Hipokinetik di mid anterior dan mid septal. Hasil foto rontgen thorak
didapatkan CTR 52%, segmen aorta normal, segmen pulmonal normal, pinggang
jantung (+), apex downward, kongesti (+), infiltrat (-), edema paru (+). Sedangkan
hasil pemeriksaan laboratorium adalah sebagai berikut: Hemoglobin: 18,2,
Hematokrit: 50, Leukosit: 19.630, Kolesterol total: 204, HDL: 28, LDL: 153,
Trigliserid: 204, Ureum: 33, BUN: 15, Creatinin: 1,67, CKMB: 386, hS Troponin
T: 7028, GDS: 126, Na: 136, K: 3,8, Ca: 2,31, Cl: 101, Mg: 1,6.
Pada saat dilakukan pengkajian di CVCU, keluhan nyeri dada sudah berkurang
bila dibandingkan pada saat di IGD. Saat di CVCU keluhan nyeri dada dengan
skala 4. Keluhan yang paling dirasakan pasien adalah sesak nafas. Diruang CVCU
dilakukan pemeriksaan EKG untuk mengevaluasi EKG sebelumnya dan
didapatkan hasil SR, QRS rate 83 x/menit, QRS axis normal, P wave N, PR
interval 0,16 detik, QRS duration 0,08 detik, Q Patologis di III, QS wave di V1V3, T inverted di aVL, V1-V6. Pada tanggal 18-April 2013 dilakukan
echocardiografi on bed dengan hasil EDD: 56, ESD: 45, EF: 40%.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
38
3.2 Penerapan Konservasi Levine dalam Asuhan Keperawatan
3.2.1
Pengkajian Teori Konservasi :
3.2.1.1 Perubahan lingkungan internal :
Hasil Echocardiografi : EDD 53 mm/m2, ESD 39 mm/m2, EF 50%, Tapse 2,0 cm,
SV: 48 ml, CO: 4,2 liter/menit. Hipokinetik di mid anterior dan mid septal. Hasil
echocardiogarfi tanggal 18 April 2013 EF: 40%. Terdapat Q patologis di Lead III
dan QS di V1-V3, T inverted di aVL, V1-V6.
3.2.1.2 Perubahan lingkungan eksternal :
Pasien merokok sebanyak >2 bungkus perhari sejak usia remaja. Pasien
mengatakan merokok karena ikut-ikutan teman saat sekolah di SMP, tetapi
akhirnya menjadi kebiasaan. Berhenti merokok setelah dinyatakan terkena
serangan jantung yaitu pada tahun 2013.
Keluarga menolak untuk dilakukan PCI primary terhadap pasein dengan alasan
bahwa berdasarkan pengalaman kerabat yang menderita penyakit yang sama
kemudian dilakukan tindakan intervensi koroner namun tidak berhasil, sebaliknya
ada kerabat dengan penyakit yang sama tetapi tidak dilakukan intervensi koroner
(PCI) sampai sekarang masih bisa bertahan dan menurut keluarga yang
bersangkutan masih bisa beraktivitas seperti biasa.
3.2.1.3 Konservasi Energi:
Pasien mengatakan tidak ada keluhan mual, muntah, anoreksia, kesulitan menelan
dan mengunyah. Pasien makan 3 kali dalam sehari dan pada siang serta sore hari
pasien juga mendapatkan snack. Kebutuhan kalori pasien adalah 2100 kal/hari
dengan jenis diet jantung II. Pasien mengatakan selalu menghabiskan makanan
dan snack yang disediakan. Total cairan yang diperbolehkan dikonsumsi pasien
adalah 1700 cc/24 jam, berupa air putih, susu dan sirup. Hasil pemeriksaan
laboratorium didapatkan Hb: 18,2 g%, Ht: 50%. Tinggi badan pasien 172 cm,
dengan berat badan 84 kg. Berdasarkan IMT pasien termasuk obesitas yaitu
dengan IMT: 29 (Hartono, 2006), maka dengan kondisi sakit sekarang ini untuk
menghitung jumlah kalori yang diperlukan adalah dengan menggunakan metode
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
39
tingkat aktivitas dan intensitas penyakit yaitu BB x 25 kalori/kg, maka didapatkan
kebutuhan kalori pasien adalah 2100 kalori/hari.
Selama dirumah sakit pasien belum buang air besar, sedangkan untuk buang air
kecil (urine output) pada tanggal 17 April 2013 adalah 2500 cc, sedangkan jumlah
cairan yang boleh dikonsumsi pasien adalah sebanyak 1700 cc/24 jam. Dengan
demikian terjadi balance cairan -800 cc, hal ini sesuai dengan target balance
cairan yaitu -500 sampai dengan -1000 cc/24 jam. Target urine output 1,5
cc/kg/24 jam. Pada saat dilakukan pengkajian pasien buang air kecil dengan
volume 200 cc dengan warna kekuningan.
Pasien istirahat siang dari pukul 12.00-14.00 WIB dan istirahat malam dari pukul
20.00-05.00 WIB. Pasien mengatakan badan terasa lemas. Aktivitas pasien selama
dirawat di CVCU dibatasi. Pasien melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan
dari perawat dan keluarga seperti mandi, toileting dan berpakaian.
3.2.1.4 Konservasi Integritas Struktur:
Keadaan umum sedang, kesadaran compos mentis. TD: 186/100 mmHg, HR:
65x/mnt, RR: 26 x/mnt, Suhu: 36,50C. Pemeriksaan Fisik: Mata tidak terdapat
anemis pada konjungtiva, dan ikterik sklera pada sklera. Leher JVP 5 + 2 cmH2O.
Jantung S1-S2 normal, tidak terdapat murmur maupun gallop. Paru suara nafas
vesikuler, ronkhi basah basal pada 1/3 lapang paru, tidak terdapat suara Whezing
pada kedua paru. Abdomen supel, hepar dan lien tidak teraba, bising usus 9
x/menit. Ekstremitas: akral hangat, tidak terdapat oedema pada ekstremitas bawah
maupun atas.
3.2.1.5 Konservasi Integritas Personal:
Pasien mengatakan bahwa petugas kesehatan menghargai pasien dan menyertakan
pasien dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan oleh
petugas kesehatan. Pasien masih menolak untuk dilakukan tindakan catheterisasi
jantung dengan alasan keluarga pasien (istri dan anak pasien) tidak menyetujui
tindakan catheterisasi jantung.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
40
3.2.1.6 Konservasi Integritas Sosial:
Keluarga kurang mendukung untuk dilakukan tindakan catheterisasi jantung
dengan alasan bahwa ada kerabat pasien yang pernah menjalani tindakan yang
sama, namun beberapa waktu kemudian mengalami kekambuhan, sebaliknya ada
kerabat/teman pasien yang mengalami penyakit yang sama, tetapi tidak bersedia
menjalani catheterisasi jantung, namun sampai saat ini masih bisa bertahan hidup.
Tetapi keluarga mendampingi pasien selama pasien dirawat di RS Pusat Jantung
nasional Harapan Kita. Pasien merupakan pensiunan pada departemen
perindustrian, dan mendapatkan asuransi kesehatan dari departemen tersebut.
3.2.2
Trophicognosis
Trophicognosis yang teridentifikasi dalam kasus ini adalah sebagai berikut: 1)
nyeri dada, 2) penurunan kardiak output, 3) kelebihan volume cairan, dan 4)
manajemen regimen terapeutik tidak efektif. Berdasarkan trophicognosis yang
didapatkan, maka analisa data pada kasus STEMI diuraikan dalam tabel 3.1
Tabel 3.1 Analisa Data
No
Analisa Data
1
Konservasi energi:
Nyeri dada skala 4/10.
Trophicognosis
Nyeri dada
Konservasi integritas struktural:
Hasi CKMB: 386, hS Trop T: 7028
2
Penurunan kardiak output
Konservasi energi:
- Pasien mengeluh cepat lelah.
- Pasien mengeluh sesak nafas.
Integritas struktural:
- Hipokinetik pada mid anterior dan
mid septal, ESD: 39, EDD: 53,
EF: 40%.
Integritas personal:
- Merokok
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
41
Lanjutan tabel 3.1
3
Kelebihan volume cairan
Konservasi energi:
- Pasien mengeluh cepat lelah.
- Pasien mengeluh sesak nafas.
Integritas struktural:
- Terdapat ronkhi basah 1/3 lapang
paru.
- Hasil rontgen thorak terdapat
kongesti paru.
4
Integritas struktural:
- STEMI anterior, EF: 40%.
Manajemen regimen terapeutik
tidak efektif
Integritas sosial:
Keluarga tidak mendukung pasien untuk
dilakukan PCI.
3.2.3
Rencana Keperawatan:
Tabel3.2 Rencana Keperawatan Tn. RPL
Tanggal
No
Trophicognosis
18/04/13
1
Nyeri
dada
berhubungan
dengan
ketidakseimbang
an suplai dan
kebutuhan
oksigen
otot
jantung.
Hipotesis
Tujuan (NOC)
Intervensi (NIC)
Pain Level:
Manajemen nyeri :
- Melaporkan
- Lakukan
nyeri
pengkajian nyeri
- Lama nyeri
secara
- Respirasi
komprehensif
- Tekanan darah
meliputi: lokasi,
sifat, lama, onset,
frekuensi,
Pain Control:
- Pasien
intensitas
dan
mengatakan
pencetus.
nyeri
- Kaji
respon
berkurang/
nonverbal.
tidak ada
- Berikan informasi
- Tanda
vital
tentang
nyeri,
dalam
batas
seperti penyebab
normal.
nyeri dan cara
- Pasien
dapat
mengatasi.
melakukan
- Berikan oksigen
tindakan
terapi
sesuai
penanganan
program.
nyeri.
- Berikan istirahat
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
42
Gambaran EKG
tidak ada segmen
ST elevated /
depresi.
(Moorhead
, Johnson, Maas &
Swanson , 2008).
yang
cukup
dengan
posisi
kepala
lebih
tinggi/semifowler.
Ajarkan cara-cara
mencegah
dan
mengatasi
nyeri
dada.
- Kaji pengetahuan
dan
keyakinan
pasien
tentang
nyeri.
- Kaji faktor yang
dapat
meningkatkan
nyeri.
- Ajarkan
teknik
untuk mengurangi
nyeri.
- Berikan
terapi
sesuai program:
ISDN 3 x 5 mg.
18/04/13
2
Penurunan curah Cardiac
Pump
jantung
Effectiveness
berhubungan
dengan kriteria:
dengan
- Tekanan darah
perubahan
dan
denyut
kontraktilitas
jantung dalam
otot jantung, dan
batas normal.
peningkatan
- Tidak
terjadi
afterload
hipotensi
orthostatic.
- Bunyi
paru
vesikular.
- Distensi vena
jugularis tidak
ada.
- Edema perifer
tidak ada
- Denyut
nadi
perifer kuat.
Cardiac Care :
- Evaluasi
nyeri
dada.
- Monitor irama dan
frekuensi jantung.
- Auskultasi suara
paru.
- Monitor
status
neurologis.
- Monitor masukan
dan
keluaran
cairan, waspadai
adanya edema.
- Monitor
kadar
elektrolit.
- Monitor tekanan
darah dan status
hemodinamik.
- Berikan oksigen
terapi
sesuai
program
dan
Cardiopulmonary
monitor efektifitas
status:
- Tekanan darah
oksigen terapi.
sistolik
- Anjurkan untuk
- Tekanan darah
menghindari
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
43
-
diastolik
Irama jantung
Saturasi
oksigen
Tissue perfusion:
Cardiac
- Tekanan darah
sistolik
- Tekanan darah
diastolik
- Fraksi ejeksi
aktivitas
yang
menghasilkan
valsava manuever.
- Berikan
terapi
sesuai program:
ISDN 3x 5 mg ,
Simvastatin 1 x 20
mg, Amlodipin 1
x 5 mg, dan
Captopril 3 x 12,5
mg.
Cardiac Precaution:
- Hindari situasi
yang
dapat
meningkatkan
emosi.
- Batasi stimulus
lingkungan
(cahaya
berlebihan, suara,
suhu).
- Motivasi pasien
untuk
menghentikan
merokok.
- Tingkatkan
tekhnik
yang
efektif
untuk
mengurangi
stress.
18/04/13
3
Kelebihan
volume cairan
tubuh
berhubungan
dengan
penurunan
fungsi
pengaturan
cairan
oleh
ginjal sekunder
terhadap
penurunan curah
jantung.
Cardiopulmonary
status:
- Tekanan darah
sistolik
- Tekanan darah
diastolik
- Irama jantung
- Saturasi
oksigen
- Urin output
Manajemen cairan/
elektrolit:
- Monitor
kadar
elektrolit.
- Monitor
status
hemodinamik.
- Monitor
tanda
vital.
- Berikan
cairan
sesuai program.
- Pertahankan
keseimbangan
Fluid
Balance
dengan kriteria:
intake dan output
- Balance cairan
cairan.
seimbang
- Berikan tambahan
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
44
- Tidak
ada
elektrolit
bila
tanda-tanda
perlu.
kelebihan
- Berikan
terapi
cairan: edema
sesuai program:
tidak
ada,
Lasik 2 x 1 ampul
distensi
vena
IV.
jugularis tidak
ada,
haluaran
urin
>
30 Haemodinamic
ml/jam.
BB regulation:
stabil.
- Perhatikan
- Intake
dan
perubahan tekanan
output adekuat.
darah.
- Observasi
suara
paru.
- Monitor edema.
- Berikan
terapi
inotropik positif.
Respiratory Status:
- Frekuensi
- Berikan diuretik
pernafasan
sesuai program.
- Suara paru
- Monitor balance
- Saturasi
cairan.
oksigen
18/04/13
4
Manajemen
regimen
terapeutik tidak
efektif
Dukungan
keluarga selama
perawatan:
- Menanyakan
informasi
tentang
prosedur
Teaching
Disease
Process:
- Kaji
tingkat
pengetahuan
pasien
tentang
penyakit.
- Jelaskan
patofisiologi
penyakit.
Pengetahuan:
- Jelaskan tanda dan
Proses Penyakit
- Penyebab dan
gejala.
faktor
yang - Identifikasi faktor
berkontribusi
penyebab.
- Faktor resiko
- Tanda
dan Teaching
gejala
Procedur/Treatent:
komplikasi
penyakit.
- Kaji
tingkat
pengetahuan
pasien
tentang
penyakit.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
45
Pengetahuan:
Prosedur/Perawat
an
- Prosedur
perawatan
- Tujuan
prosedur
- Langkahlangkah dalam prosedur
Jelaskan
patofisiologi
penyakit
Berikan
waktu
kepada pasien dan
keluarga
untuk
bertanya tentang
prosedur
Diskusikan
alternatif tindakan
bila diperlukan
Terima nilai dalam
keluarga
tanpa
mengahakimi.
Diskusikan terapi
dan
pilihan
pengobatan.
Jelaskan
kemungkinan
komplikasi kronis
bila diperlukan.
Jelaskan
tujuan
prosedur/tindakan.
-
-
-
-
3.2.4
Implementasi :
Tabel 3.3 Implementasi Keperawatan Tn. RPL
Tgl/Jam
Trophi
Implemetasi
Hasil/Evaluasi
cognosis
18/04/13
1
Konservasi Energi
- Mengkaji nyeri pasien: sifat,
lokasi, durasi, intensitas dan
progresifitas nyeri.
- Memberikan posisi semi fowler.
- Memberikan oksigen 3 liter /
menit.
Subyektif
-
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor tekanan darah,
frekuensi nadi dan status
hemodinamik.
- Memberikan Bisoprolol 1,25 mg
dan ISDN 5 mg.
- Memberikan NTG 70 mcg/menit.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
-
-
Pasien mengatakan
dada masih terasa
nyeri.
Nyeri
dirasakan
seperti
tertusuk-tusuk
dengan skala 4 (010).
Pasien mengatakan
dada terasa lebih
enak setelah minum
obat.
Pasien mengatakan
sudah
mengerti
tentang penyebab
Universitas Indonesia
46
Konservasi Integritas personal
- Memberikan penjelasan penyebab
nyeri kepada pasien.
- Mengajarkan cara-cara mencegah
dan mengatasi nyeri dada.
nyeri.
Obyektif
- TD: 143/75 mmHg,
HR: 80 x/menit,
RR: 26 x/menit,
Capilary refill < 3
detik.
Analisis
Nyeri
teratasi
sebagian
Planning
- Monitor intensitas
dan progresifitas
nyeri.
- Berikan Bisoprolol
1,25 mg dan ISDN
20 mg.
- Berikan NTG 70
mcg/menit.
18/04/13
2
Konservasi Energi
Subyektif
- Pasien mengatakan
badan masih terasa
lemah.
- Pasien mengatakan
dada masih sesak
Konservasi Integritas Struktural
apabila
tidak
menggunakan
- Memonitor tekanan darah,
selang oksigen.
frekuensi nadi dan status
- Pasien mengatakan
hemodinamik.
mengerti
bahwa
- Memonitor status neurologis.
saat buang air besar
- Auskultasi bunyi jantung dan suara
tidak
boleh
paru.
mengejan.
- Memonitor kadar elektrolit.
- Memberikan terapi sesuai
Obyektif
program: ISDN 5 mg, Simvastatin
- TD: 143/75 mmHg,
20 mg, Amlodipin 5 mg, dan
HR: 80 x/menit,
Captopril 12,5 mg.
RR: 26 x/menit.
Ronkhi (+).
Konservasi Integritas Personal
- Kesadaran compos
- Menganjurkan pasien supaya bed
mentis (CM).
rest.
- Pasien
masih
- Menganjurkan menghindari
- Memberikan oksigen 3 liter/menit,
dengan binasal kanul.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
47
aktivitas yang dapat menimbulkan
valsava manuever.
tampak lemah.
- Hasil Echo: EDD:
53, ESD: 39 dan
EF: 50%.
Analisis
Penurunan
cardiak
output belum teratasi.
Planning
- Monitor tekanan
darah, frekuensi
nadi dan status
hemodinamik.
- Monitor irama dan
frekuensi jantung.
- Auskultasi suara
paru.
- Monitor
status
neurologis.
- Monitor masukan
dan
keluaran
cairan, waspadai
adanya edema.
- Monitor
kadar
elektrolit.
18/04/13
3
Konservasi Energi
- Menganjurkan pasien untuk
mengkomsumsi cairan sesuai
program yaitu 1700 cc/24 jam.
- Memonitor intake dan output
cairan dalam 24 jam, target
balance sampai dengan -1000
cc/24 jam.
Subyektif
-
Pasien
mengatakan haus.
Obyektif
-
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor tanda vital.
- Memonitor kadar elektrolit darah:
Na, K, Cl.
- Memberikan terapi sesuai
program: Lasik 1 ampul IV.
-
Intake cairan 1495
cc, output 2500
cc, balance cairan
– 1005 cc.
Ronkhi (+).
JVP 5+2 cm H2O.
Hasil pemeriksaan
elektrolit: Na: 145
mmol/L K: 3,4
mmol/L, dan Cl:
102 mmol/L.
Konservasi Integritas Personal
- Jelaskan perlunya modifikasi diet
dengan diet jantung.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
48
- Jelaskan perlunya pembatasan
cairan.
Analisis
Masalah
kelebihan
cairan belum teratasi.
Planning
- Berikan terapi
elektrolit (Kalium)
25 meq dalam RL
500 cc/24 jam dan
monitor kadar
elektrolit darah:
Na, K, Cl.
- Berikan
terapi
sesuai program:
Lasik 1 ampul IV
- Pertahankan
balance cairan –
500 cc/24 jam.
18/04/13
4
Konservasi Integritas Personal:
Subyektif:
- Mengkaji tingkat pengetahuan
- Pasien
pasien tentang penyakit.
mengatakan
- Menjelaskan patofisiologi
mengerti akibat
penyakit.
dari
penyakit
- Menjelaskan tanda dan gejala.
karena
tidak
- Mengidentifikasi faktor
dilakukan
penyebab.
tindakan
- Menjelaskan
kemungkinan
catheterisasi
komplikasi kronis bila diperlukan.
jantung.
- Menjelaskan
tujuan
- Pasien
prosedur/tindakan.
mengatakan
sebenarnya tidak
masalah
untuk
dilakukan
tindakan
catheterisasi.
Obyektif: Analisis:
Masalah
teratasi
belum
Planning:
- Diskusikan
dengan anggota
keluarga tentang
rencana
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
49
-
Tgl/Jam
Trophi
Implemetasi
catheterisasi.
Beri kesempatan
kepada keluarga
untuk
mendiskusikan
program
terapi
yang
akan
dilakukan kepada
pasien.
Hasil/Evaluasi
cognosis
19/04/13
1
Konservasi Energi
- Mengkaji nyeri pasien: sifat,
lokasi, durasi, intensitas dan
progresifitas nyeri.
- Memberikan posisi semi fowler.
- Memberikan oksigen 3 liter /
menit.
Subyektif
-
-
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor tekanan darah,
frekuensi nadi status
hemodinamik.
- Memberikan Bisoprolol 1,25 mg
dan ISDN 20 mg.
- Memberikan NTG 70 mcg/menit.
Pasien
mengatakan dada
masih
terasa
nyeri. Skala 3 (010).
Pasien
mengatakan dada
terasa lebih enak
setelah
minum
obat.
Obyektif
- TD:
129/76
mmHg, HR: 66
x/menit, RR: 22
x/menit.
Analisis
Nyeri dada sebagian
teratasi
Planning
- Kaji nyeri pasien.
- Berikan oksigen 3
liter / menit.
- Monitor tekanan
darah, frekuensi
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
50
nadi.
- Berikan Bisoprolol
1,25 mg dan ISDN
20 mg.
- Berikan NTG 70
mcg/menit.
19/04/13
2
Konservasi Energi
Subyektif
- Memberikan oksigen 3 liter/menit,
dengan binasal kanul.
Konservasi Integritas Struktural
-
Pasien
mengatakan badan
masih
terasa
lemah.
Obyektif
- TD:
129/76
mmHg, HR: 66
x/menit, RR: 22
x/menit.
- Pasien
masih
tampak lemah.
- Kesadaran CM.
- Memonitor tekanan darah,
frekuensi nadi dan status
hemodinamik.
- Memonitor status neurologis.
- Auskultasi bunyi jantung dan suara
paru.
- Memonitor kadar elektrolit.
- Memberikan terapi sesuai
program: ISDN 5 mg, Simvastatin Analisis
20 mg, Amlodipin 5 mg, dan
Penurunan
cardiak
Captopril 12,5 mg.
output belum teratasi.
Planning
- Monitor tekanan
darah dan
frekuensi nadi.
- Auskultasi suara
paru.
- Berikan terapi
sesuai program:
ISDN 20 mg,
Simvastatin 20
mg, Captopril
12,5 mg dan
Bisoprolol 1,25
mg.
19/04/13
3
Konservasi Energi
- Batasi intake cairan 1700 cc / 24
jam atau sesuai program.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Subyektif
-
Pasien
mengatakan haus.
Universitas Indonesia
51
- Memonitor intake dan output
cairan dalam 24 jam, target
balance sampai dengan -1000
cc/24 jam.
-
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor adanya indikasi
kelebihan cairan: distensi vena
jugularis, asites, rhonki (+),
penambahan BB, peningkatan
derajat edema.
- Memonitor kadar elektrolit darah:.
- Memberikan terapi sesuai
program: Lasik 1 ampul IV.
Pasien
mengatakan
mengerti
pentingnya
pembatasan
cairan.
Obyektif
-
-
Intake cairan 1955
cc, output 2950
cc, balance cairan
– 775 cc.
Ronkhi (+).
JVP 5 +2 cm
H2O.
Kadar elektrolit:
Kalium:
3,8
mmol/L, Kalsium
total:
2,17
mmol/L
dan
Magnesium: 2,1
mmol/L.
Analisis
Masalah
cairan
sebagian.
kelebihan
teratasi
Planning
- Lanjut
balance
cairan – 500 cc/24
jam.
- Lakukan koreksi
KCl
25
meq
dalam larutan RL
500 cc.
19/04/13
4
Konservasi Integritas sosial:
Subyektif:
- Memberikan waktu kepada pasien
- Keluarga
dan keluarga untuk bertanya
menyatakan tidak
tentang prosedur
setuju kalau pasien
- Menerima nilai dalam keluarga
dilakukan tindakan
tanpa menghakimi.
catheterisasi.
- Mendiskusikan terapi dan pilihan
- Keluarga
pengobatan.
mengatakan bahwa
ada kerabat yang
punya
penyakit
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
52
yang sama dengan
pasien,
tidak
dilakukan
catheterisasi
namun
sampai
sekarang
masih
bertahan,
sebaliknya
ada
yang
menjalani
catheterisasi
namun
malah
meninggal.
Obyektif: Analisis:
Masalah
belum
teratasi
(Keluarga
tetap
menolak
tindakan
catheterisasi).
Planning:
Hentikan intervensi.
Tgl/Jam
Trophi
Implemetasi
Hasil/Evaluasi
cognosis
20/04/13
1
Konservasi Energi
Subyektif
- Memberikan posisi semi fowler.
- Pasien
- Memberikan oksigen 3 liter /
mengatakan dada
menit.
sudah tidak terasa
- Memonitor
intensitas
dan
nyeri.
progresifitas nyeri.
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor
tekanan
darah,
frekuensi nadi.
- Memberikan Bisoprolol 1,25 mg
dan ISDN 20 mg.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Obyektif
- TD:
139/71
mmHg, HR: 60
x/menit,
RR:
18x/menit.
Universitas Indonesia
53
Analisis
Nyeri dada sebagian
teratasi.
Planning
- Monitor intensitas
dan progresifitas
nyeri.
- Monitor tekanan
darah, frekuensi
nadi.
- Berikan Bisoprolol
1,25 mg dan ISDN
20 mg.
20/04/13
2
Konservasi Energi
Subyektif
- Memberikan posisi pasien semi
fowler
- Memberikan oksigen 3 liter/menit,
dengan binasal kanul.
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor tekanan darah,
frekuensi nadi dan status
hemodinamik.
- Memonitor status neurologis.
- Auskultasi bunyi jantung dan suara
paru.
- Memonitor kadar elektrolit.
- Memberikan terapi sesuai
program: ISDN 20 mg,
Simvastatin 20 mg, Amlodipin 5
mg, dan Captopril 12,5 mg.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
-
Pasien
mengatakan badan
masih
terasa
lemah.
Obyektif
- TD:
139/71
mmHg, HR: 60
x/menit, RR: 18
x/menit.
- Pasien
masih
tampak lemah.
- Kesadaran CM.
Analisis
Penurunan
output
teratasi.
cardiak
sebagian
Planning
- Monitor tekanan
darah, frekuensi
nadi dan status
hemodinamik.
- Berikan terapi
sesuai program:
ISDN 20 mg,
Simvastatin 20
mg, dan Captopril
12,5 mg.
Universitas Indonesia
54
20/04/13
3
Konservasi Energi
- Batasi intake cairan 1700 cc / 24
jam atau sesuai program.
- Memonitor intake dan output
cairan dalam 24 jam, target
balance sampai dengan -1000cc/24
jam.
Subyektif
-
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor adanya indikasi
kelebihan cairan: distensi vena
jugularis, asites, rhonki (+),
penambahan BB, peningkatan
derajat edema.
- Memonitor kadar elektrolit darah.
- Memberikan terapi sesuai
program: Lasik 1 ampul IV.
Pasien
mengatakan haus.
Pasien
mengatakan
mengerti
pentingnya
pembatasan
cairan.
Obyektif
-
-
Intake cairan 2316
cc, output 3200
cc, balance cairan
– 884 cc.
Ronkhi (+).
JVP 5 +2 cm
H2O.
Kadar elektrolit:
Kalium:
3,6
mmol/L, Kalsium
total:
2,16
mmol/L
dan
Magnesium: 1,6
mmol/L.
Analisis
Masalah
kelebihan
cairan
teratasi
sebagian.
Planning
- Monitor intake dan
output cairan
dalam 24 jam,
target balance
sampai dengan 500cc/24 jam.
- Berikan terapi
sesuai program:
Lasik 1 ampul IV.
- Berikan koreksi
Kalium 25 meq
dalam RL 500
cc/24 jam.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
55
Tgl/Jam
Trophi
Implemetasi
Hasil/Evaluasi
cognosis
22/04/13
1
Konservasi Energi
- Memberikan posisi semi fowler.
- Memberikan oksigen 3 liter /
menit.
- Memonitor intensitas dan
progresifitas nyeri.
Subyektif
-
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor tekanan darah,
frekuensi nadi.
- Memonitor dan merekam EKG
serial setiap 24 jam.
- Memberikan bisoprolol 1,25 mg
dan ISDN 5 mg.
- Memberikan NTG 70 mcg/menit.
22/04/13
2
Konservasi Energi
Obyektif
- TD:
134/83
mmHg, HR: 63
x/menit, RR: 27
x/menit.
Subyektif
- Memberikan posisi pasien semi
fowler
- Memberikan oksigen 3 liter/menit,
dengan binasal kanul.
Konservasi Integritas Struktural
Pasien
mengatakan dada
sudah tidak terasa
nyeri.
-
Pasien
mengatakan badan
masih
terasa
lemah.
Obyektif
- TD:
134/83
mmHg, HR: 63
x/menit, RR: 27
x/menit.
- Pasien
masih
tampak lemah.
- Pasien bed rest.
- Memonitor tekanan darah,
frekuensi nadi dan status
hemodinamik.
- Memonitor status neurologis.
- Auskultasi bunyi jantung dan suara
paru.
Analisis
- Memonitor kadar elektrolit.
- Memberikan terapi sesuai
Penurunan
cardiak
program: ISDN 5 mg, Simvastatin output belum teratasi.
20 mg, Amlodipin 5 mg, dan
Captopril 12,5 mg.
Planning
- Monitor tekanan
darah dan
frekuensi nadi.
- Berikan terapi
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
56
sesuai program:
ISDN 20 mg,
Simvastatin 20
mg, Captopril
12,5 mg dan
Bisoprolol 1,25
mg.
22/04/13
3
Konservasi Energi
- Batasi intake cairan 1700 cc / 24
jam atau sesuai program.
- Memonitor intake dan output
cairan dalam 24 jam, target
balance sampai dengan -1000
cc/24 jam.
Subyektif
-
Konservasi Integritas Struktural
- Memonitor adanya indikasi
kelebihan cairan: distensi vena
jugularis, asites, rhonki (+),
penambahan BB, peningkatan
derajat edema.
- Memonitor kadar elektrolit darah:
Na, K, Cl.
- Memberikan terapi sesuai
program: Lasik 1 ampul IV.
Pasien
mengatakan haus.
Pasien
mengatakan
mengerti
pentingnya
pembatasan
cairan.
Obyektif
-
-
Intake cairan 1500
cc, output 1800
cc, balance cairan
– 300 cc.
Ronkhi (-).
JVP 5 +2 cm
H2O.
Kadar elektrolit:
Kalium:
3,9
mmol/L, Kalsium
total:
2,17
mmol/L
dan
Magnesium: 2,1
mmol/L.
Analisis
Masalah
cairan
sebagian.
kelebihan
teratasi
Planning
- Monitor intake dan
output cairan
dalam 24 jam,
target balance
sampai dengan 500cc/24 jam.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
57
- Berikan terapi
sesuai program:
Lasik 1 ampul IV.
- Berikan koreksi
kalium 25 meq
dalam RL 500
cc/24 jam.
3.4 Pembahasan
Keluhan utama yang dirasakan Tn. RPL adalah nyeri dada. Nyeri dada merupakan
keluhan yang seringkali muncul pada pasien dengan STEMI. Hal ini sesuai
dengan manifestasi yang sering kali muncul pada pasien dengan akut miokard
infark yaitu adanya nyeri dada yang tiba-tiba dan berlangsung lebih dari 30 menit
dan tidak mereda dengan pemberian nitrogliserin (Kabo, 2010; Aaronson & Ward,
2010). Bahkan pada beberapa kasus nyeri dada tidak hilang dengan istirahat, hal
ini berbeda dengan nyeri dada yang muncul pada angina yang tidak khas, yaitu
hanya muncul dalam waktu 5-10 menit, sedangkan nyeri dada pada infark
miokard berlangsung selama lebih dari 30 menit, tidak hilang dengan istirahat dan
nitrogliserin, serta nyeri bertahan dalam beberapa jam bahkan beberapa hari
(Smeltzer & Bare, 2002; Aaronson & Ward, 2010). Tn. RPL mengeluh nyeri dada
muncul saat tidur, hal ini terjadi karena infark miokard sering terjadi setelah
aktivitas berat atau emosi ekstrem, jarang pada puncak aktivitas, bahkan 50%
pasien terbangun dari tidur (Smeltzer & Bare, 2002; Gray, Dawkins, Morgan dan
Simpson, 2005). Nyeri juga dirasakan menjalar oleh Tn. RPL, hal ini terjadi
karena pada penyakit jantung koroner sensasi nyeri disalurkan melalui aferen
saraf simpatis jantung. Saraf ini bergabung dengan saraf somatik cervicothoracalis pada jalur ascending didalam medula spinalis (Kabo, 2010).
Dari hasil pengkajian, didapatkan pasien juga mengeluarkan keringat dingin, hal
ini terjadi akibat nyeri dada yang hebat akan menyebabkan aktivasi simpatis
sehingga dapat memicu terjadinya keluarnya keringat dingin bahkan sampai
membasahi pakaian pasien, serta mual dan muntah yang terjadi karena respon
vagal (Rilantono, 2012). Tn. RPL juga mengalami sesak nafas, hal ini terjadi juga
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
58
karena aktivitas saraf simpatis (Smeltzer & Bare, 2002; Rilantono, 2012).
Berdasarkan anamnesa, didapatkan data bahwa 2 minggu sebelum masuk rumah
sakit, pasien juga mengalami nyeri dada yang bersifat hilang timbul dan tidak
bertambah sering. Rilantono (2012) menyatakan bahwa pada pasien STEMI
biasanya memiliki riwayat angina atau penyakit jantung koroner. Hal ini sesuai
dengan Gray, Dawkins, Morgan dan Simpson (2005) yang menyatakan bahwa
pasien dengan angina pektoris tidak stabil memperlihatkan gejala berupa angina
dengan frekuensi dan derajat keparahan yang meningkat, dengan serangan yang
lebih lama dan hanya hilang sebagian dengan nitrat sublingual.
Faktor resiko yang kemungkinan menjadi penyebab terjadinya penyakit pada Tn.
RPL adalah hipertensi dan merokok. Hipertensi merupakan faktor resiko yang
paling membahayakan terhadap terjadinya penyakit jantung koroner. Hipertensi
akan menyebabkan terjadinya peningkatan gradien tekanan yang harus dilawan
oleh ventrikel kiri saat memompa darah. Tekanan tinggi yang terus-menerus
menyebabkan kebutuhan oksigen jantung meningkat (Smeltzer & Bare, 2002).
Pada individu yang normal, pulse wave velocity adalah 750 cm/detik, sedangkan
pada penderita hipertensi akan terjadi peningkatan pulse wave velocity yaitu
mencapai 1500 cm/detik. Hal ini terjadi karena kekakuan pembuluh darah yang
sering dialami pada penderita hipertensi. Apabila hal ini terjadi secara terus
menerus, maka akan menyebabkan terjadinya ventrikel hipertropi, peningkatan
komsumsi oksigen miokard, dan penurunan perfusi koroner (Kabo, 2010).
Merokok akan meningkatkan kadar karbon monooksida (CO) dalam darah. Hal
ini akan menyebabkan hemoglobin akan lebih mudah terikat dengan CO daripada
dengan oksigen. Kondisi ini akan menyebabkan oksigen yang disuplai ke jantung
menjadi sangat berkurang, sebagai akibatnya jantung akan bekerja lebih berat
untuk menghasilkan energi yang sama (Smeltzer & Bare, 2002). Nikotin yang
terkandung dalam
tembakau akan menyebabkan terjadinya pelepasan
katekolamin, hal ini menyebabkan terjadinya vasokonstriksi yang sehingga aliran
darah dan oksigenasi jaringan terganggu (Smeltzer & Bare, 2002). Selain itu asam
nikotinat merupakan zat yang bersifat karsinogenik yang dapat menyebabkan
kerusakan endotel pembuluh darah (Kabo, 2010). Dampak dari rokok juga akan
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
59
menyebabkan terjadinya adhesi trombosit yang dapat menyebabkan terbentuknya
trombus (Smeltzer & Bare, 2002).
Selain faktor resiko merokok dan hipertensi, pasien juga mengkonsumsi kopi > 2
gelas/hari. Kafein
yang terkandung dalam kopi, teh dan minuman yang
mengandung kola dapat menyebabkan takhikardi, bahkan pada individu yang
sensitif dapat terjadi aritmia seperti kontraksi ventrikel premature. Hal ini
disebabkan karena kafein juga dapat meningkatkan sekresi hormon seperti
norepineprin dan kortisol yang dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan
darah (Nurani, 2012). Faktor lain adalah kafein dapat menyebabkan terjadinya
peningkatan kadar kolesterol karena kafein dapat menyebabkan pelepasan asam
lemak bebas dari jaringan adiposa sehingga akan meningkatkan kadar kolesterol
dalam darah yang dapat menyebabkan aterosklerosis yang merupakan faktor
resiko penyakit jantung koroner (AHA, 2013).
Salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis pada pasien
dengan infark miokard akut dapat digunakan biomarka kardiak yang meliputi
CK-MB (creatine kinase-myocardial band) dan Troponin I dan T. Pada pasien
yang mengalami infark miokard akan terjadi peningkatan kadar enzim jantung
yang mengindikasikan telah terjadi kerusakan otot jantung (Smeltzer & Bare,
2002; Gray, Dawkins, Morgan & Simpson, 2005; Aaronson & Ward, 2010; Kabo,
2010). Troponin T meningkat pada awal infark miokard, dan digunakan untuk
menegakkan diagnosis, sedangkan CK-MB bermanfaat untuk diagnosis dan
melihat luas infark (Rilantono, 2010). Kadar CK-MB mulai meningkat dalam 4-8
jam, memuncak dalam 24 jam, dan akan mengalami penurunan hingga normal
pada 2-3 hari. Sedangkan troponin T mulai meningkat dalam 4-8 jam dan tetap
tinggi selama 4-7 hari. Peningkatan lebih dari dua kali lipat pada konsentrasi
enzim selular jantung dalam plasma menunjukkan bahwa telah terjadi nekrosis
miokardium (Rilantono, 2010). Berdasarkan hasil pemeriksaan labiratorium
terhadap enzim jantung didapatkan terdapat peningkatan kadar CK-MB dan hs
Troponin T, hasil pemeriksaan CK-MB didapatkan 386 dan hs Troponin T adalah
7028 U/L. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi nekrosis otot jantung pada
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
60
pasien Tn. RPL karena berdasarkan hasil pemeriksaan kadar enzim jantung telah
terjadi peningakatan kadar enzim tersebut lebih dari dua kali lipat.
Pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) menunjukkan bahwa terjadi segmen ST
elevasi yaitu pada V1-V4 yang mengindikasikan terjadinya infark pada area
anterior, serta terjadi segmen ST elevasi pada lead I, aVL, V1-V6 yang
mengindikasikan terjadi infark pada area anterolateral. Segmen ST elevasi akan
terjadi dalam waktu 2-8 jam pertama. Selanjutnya akan mengalami evolusi terjadi
gelombang Q sesuai dengan onset penyakit yaitu dalam waktu 8 hingga 2 hari,
yang selanjutnya akan disertai dengan gelombang T inverted yang akan terjasi
dalam waktu > 2 hari (Rilantono, 2010; Aaronson & Ward, 2010).
Hasil echocardiografi pada Tn. RPL adalah EDD: 53 mm/m2, ESD: 39 mm/m2,
sedangkan fraksi ejeksi (EF): adalah 50%, hal ini menunjukkan bahwa terjadi
penurunan fungsi ventrikel kiri dalam memompa darah. Fungsi ventrikel kiri (EF)
normal adalah > 55%, sedangkan pada pasien telah terjadi penurunan EF yaitu
hanya 50%, hal ini nampak dari hasil echokardiografi yang menunjukkan adanya
hipokinetik mid anterior dan mid septal dengan end-diastolic dimmension (EDD)
dan end systolic dimmension (ESD) yang menggambarkan dimensi akhir diastolik
dan dimensi akhir sistolik mengalami peningkatan (Noviyanti, 2009).
Hasil rontgen thorak menunjukkan terdapat kongesti pada paru. Hal ini
menunjukkan adanya akumulasi cairan pada paru. Hasil rontgen tersebut
memperkuat diagnosa bahwa pasien juga mempunyai riwayat acute lung oedema
(ALO). ALO merupakan salah satu dari komplikasi yang sering terjadi pada
pasien dengan infark miokard (Rilantono, 2012).
3.4.1 Trophicognosis Berdasarkan Model Konservasi Levine
3.4.1.1 Nyeri dada
Nyeri dada pada pasien Tn. RPL dirasakan seperti ditusuk-tusuk, menjalar ke
punggung dengan durasi > 30 menit. Nyeri dengan karakteristik tersebut
merupakan nyeri khas infark dimana terjadi secara spontan, tidak seperti nyeri
angina yang muncul setelah terjadi peningkatan aktivitas atau emosi (Smeltzer &
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
61
Bare, 2002; Rilantono, 2012). Tindakan keperawatan yang dilakukan kepada Tn.
RPL adalah: memberikan posisi tidur semi fowler, memberikan oksigen 3
liter/menit, memberikan terapi berupa ISDN, dan Nitrogliserin. Oksigen harus
diberikan bersamaan dengan terapi lain untuk menjamin berkurangnya nyeri
secara optimal. Pemberian oksigen dapat menggunakan kanula hidung dengan
dosis 2-4 liter/menit, dosis tersebut dapat mempertahankan kadar saturasi oksigen
96%-100% secara adekuat (Smeltzer & Bare, 2002). Pemberian ISDN (Isosorbid
dinitrat). ISDN didalam tubuh akan berubah menjadi nitric oxide (NO) setelah
berikatan dengan sulfhydryl. NO merangsang guanilat siklase meningkatkan
pembentukan cyclic guanosine mono-phosphate (cGMP) didalam otot polos
pembuluh darah. Akumulasi cGMP selanjutnya mengaktifkan protein kinase dan
cyclic nucleotide phosphodiesterase didalam sel otot polos. Proses ini
menghambat masuknya kalsium kedalam sel dan meningkatkan ambilan kalsium
oleh retikulum sarkoplasmik, sehingga terjadi penurunan konsentrasi kalsium
intraselular, disamping itu terjadi defosforilasi myosin light-chain yang akan
menyebabkan vasodilatasi. Mekanisme lain dari nitrat yang menyebabkan
vasodilatasi adalah menghambat sintesis tromboksan A2, meningkatkan produksi
prostasiklin, dan meningkatkan pelepasan NO dari sel endotel serta menghambat
agregasi trombosit (Kabo, 2010). Selain efek vasodilator, nitrat juga dapat
menurunkan beban kerja jantung (Smeltzer & Bare, 2002; Aaronson & Ward,
2010). Selain nitrat, pasien juga mendapatkan Bisoprolol untuk mengurangi nyeri.
Bisoprolol merupakan β-blocker yang bersifat kardioselektif memiliki efek
inotropik dan kronotropik negatif sehingga dapat meningkatkan suplai oksigen
dan menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung (Kabo, 2010; Rilantono, 2012).
Pemberian oksigen kepada Tn. RPL dilakukan dengan menggunakan binasal
kanul dengan dosis 3 liter/menit. Prinsip pengobatan pasien dengan edema paru
akut adalah dengan menurunkan konsumsi oksigen miokard, meningkatkan
kapasitas vena, menurunkan preload dan afterload, dengan memperhatikan secara
seksama mean arterial pressure (MAP). Pasien harus diberikan suplemen oksigen
untuk memaksimalkan saturasi oksigen hemoglobin. Pemberian continous positive
airway pressure digunakan untuk meningkatkan pertukaran gas. Pada pasien Tn.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
62
RPL tidak diberikan pemberian oksigen dengan ventilator karena saturasi oksigen
diatas 97%.
3.4.1.2 Penurunan Curah Jantung
Segera setelah otot jantung mengalami kerusakan akibat infark miokard, maka
curah jantung menjadi sangat turun, bahkan dapat mencapai 2 liter/menit, namun
tekanan atrium kanan meningkat sampai 4 mmHg karena pengembalian darah dari
tubuh melalui vena yang ke jantung terbendung pada atrium kanan (Guyton &
Hall, 2008). Bila curah jantung menurun sampai derajat yang membahayakan,
maka tubuh akan melakukan kompensasi dengan mengaktifkan refleks saraf
simpatis sehingga akan meningkatkan kembali curah jantung, aktivitas tersebut
berjalan secara bertahap, dan dalam waktu 1 minggu dengan curah jantung dapat
kembali mencapai 5 liter/menit, tetapi dengan tekanan atrium kanan yang
meningkat sampai dengan 6 mmHg (Guyton & Hall, 2008). Kondisi tersebut
terjadi bila kerusakan otot jantung terutama ventrikel kiri tidak lebih dari 25%.
Apabila kerusakan mencapai 25% maka akan terjadi gagal jantung, bahkan bila
kerusakan mencapai 40% pada ventrikel kiri akan menyebabkan syok kardiogenik
(Aaronson & Ward, 2010). Hasil echocardiografi pada Tn. RPL didapatkan SV:
48 ml, CO: 4,2 liter/menit dengan EF: 50% dan terdapat hipokinetik pada mid
anterior dan mid septal. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan
cardiac output pada Tn. RPL, sekalipun tekanan darah pasien tinggi. Tekanan
darah yang tinggi pada pasien dengan infark miokard terjadi karena adanya
rangsangan simpatis pada jantung (Guyton & Hall, 2008). Selain itu Tn. RPL juga
menderita Advanced Heart Failure (AHF) akibat Acute Coronary Syndrome
(ACS). Pada beberapa kasus, gagal jantung dapat disertai dengan tekanan darah
yang tinggi (Rilantono, 2012).
Tindakan keperawatan yang diberikan untuk mengatasi masalah Tn. RPL adalah
memonitor adanya tanda vital dan adanya penurunan curah jantung, memberikan
terapi sesuai program: ISDN 3x 5 mg , Simvastatin 1 x 20 mg, Amlodipin 1 x 5
mg, dan Captopril 3 x 12,5 mg dan menganjurkan pasien supaya bed rest.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
63
Pemberian ISDN pada Tn. RPL adalah karena pasien mengalami gagal jantung
karena Acute Coronary Syndrome (ACS). Pemberian ISDN sangat berguna bagi
penderita gagal jantung yang juga memliki riwayat jantung koroner (Kabo, 2010).
ISDN didalam tubuh akan berubah menjadi nitric oxide (NO) setelah berikatan
dengan sulfhydryl. NO merangsang guanilat siklase meningkatkan pembentukan
cyclic guanosine mono-phosphate (cGMP) didalam otot polos pembuluh darah
yang akan menyebabkan vasodilatasi (Kabo, 2010). Pemberian nitrat pada pasien
juga bertujuan untuk menurunkan preload dan afterload sehingga akan
menurunkan konsumsi oksigen miokard dan akan meningkatkan curah jantung
(Gray, Dawkins, Morgan & Simpson, 2005; Kabo, 2010; Rilantono, 2012).
Pemberian Simvastatin pada pasien dengan infark miokard merupakan upaya
untuk stabilisasi plak yaitu dengan menghambat biosintesis kolesterol serta
meningkatkan ekspresi LDL di hepar, statin memiliki efek menurunkan LDL
kolesterol dan prekursornya. Selain itu statin juga memiliki efek pleiotropik yaitu
perbaikan fungsi endotel, anti-inflamasi, anti-proliferasi otot polos, anti-oksidan,
anti-trombosis dan stabilisasi plak, sehingga pemberian statin dianjurkan pada
pasien dengan sindrom koroner akut dengan target kadar LDL < 70 mg/dL (Kabo,
2010).
Amlodipin merupakan salah satu obat golongan calcium channel bloker yang
sering digunakan pada pasien dengan infark miokard untuk menurunkan preload
dan afterload, sehingga curah jantung akan meningkat (Aaronson & Ward, 2008).
Selain itu Amlodipin akan meningkatkan aliran darah koroner karena efek
vasodilatasi serta dapat mengurangi konsumsi oksigen otot jantung (Kabo, 2010).
Amlodipin merupakan obat pilihan pada pasien karena Amlodipin aman diberikan
pada pasien yang mengalami fungsi ginjal (Kabo, 2010). Oleh karena itu Tn. RPL
mendapatkan Amlodipin karena berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium
didapatkan kadar Creatinin Tn. RPL adalah 1,67 mg/dL.
3.4.1.3 Kelebihan Volume Cairan
Kelebihan volume cairan yang terjadi pada Tn. RPL ditandai dengan adanya
ronkhi basah halus pada 1/3 lapang paru. Selain itu pada hasil rontgen thorax
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
64
didapatkan kongesti dan edema pada paru. Edema paru mengindikasikan bahwa
telah terjadi peningkatan tekanan pengisian dari jantung (preload). Peningkatan
preload akan mengakibatkan edema paru dan bendungan pada sistem vena (Kabo,
2010; Rilantono, 2012). Peningkatan tekanan pengisian sering terjadi pada infark
miokard (Kabo, 2010). Edema paru sering ditandai dengan sesak nafas, terdapat
ronkhi basah pada hampir semua lapang paru dan penurunan saturasi oksigen
(Rilantono, 2010).
Penatalaksanaan kelebihan volume cairan pada Tn. RPL adalah dengan
membatasi intake cairan 1700 cc / 24 jam atau sesuai program, memonitor intake
dan output cairan dalam 24 jam, target balance sampai dengan -1000 cc/24 jam,
memonitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl, memberikan terapi sesuai program:
Lasik 2 x 1 ampul IV, menjelaskan perlunya diet jantung, dan menjelaskan
perlunya pembatasan cairan.
Pada pasien dengan infark miokard perlu dilakukan pembatasan cairan untuk
mencegah komplikasi lebih lanjut. Tn. RPL hanya diperbolehkan mengkonsumsi
cairan sebanyak 1700 cc /24 jam. Pengukuran haluaran urin sangat penting,
terutama dalam hubungannya dengan asupan cairan. Pada sebagian besar kasus
cairan yang seimbang atau bahkan cenderung negatif akan lebih baik karena
pasien dengan infark miokard harus menghindari kelebihan cairan (Smeltzer &
Bare, 2002).
Pemberian Lasik 2 x 40 mg digunakan untuk mengeluarkan cairan pada Tn. RPL.
Pada pasien dengan gagl jantung kongestif yang ringan maupun sedang pemberian
Lasik 20 – 40 mg/hari akan memberikan respon yang baik (Kabo, 2010). Hal ini
dibuktikan dengan balance cairan pasien yang diprogram -500 sampai dengan 1000 cc/24 jam.
Pemberian pendidikan kesehatan tentang perlunya pembatasan cairan kepada
pasien juga penting dilakukan untuk mencegah terjadinya overload cairan pada
pasien. Pemberian pendidikan kesehatan dan melibatkan pasien dalam
implementasi program terapi akan meningkatkan kerjasama dan kepatuhan pasien
(Smeltzer & Bare, 2002).
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
65
3.4.1.4 Manajemen regimen terapeutik tidak efektif
Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan bahwa sebenarnya pasien mau saja
dilakukan tindakan catheterisasi jantung (PCI), namun kemauan pasien tidak
mendapatkan dukungan dari anggota keluarga yang lain. Alasan anggota keluarga
tidak memberikan persetujuan terhadap tindakan PCI adalah berdasarkan
pengalaman kerabat dan teman pasien yang menderita penyakit yang menurut
anggota keluarga sama dengan penyakit yang diderita oleh pasien bahwa mereka
dengan penyakit tersebut tanpa dilakukan PCI mereka bisa sembuh dan pulih,
sebaliknya kerabat mereka yang menjalani PCI beberapa diantaranya meninggal.
Keluraga menyimpulkan bahwa kerabat mereka yang meninggal setelah dilakukan
PCI adalah karena efek samping dari tindakan tersebut. Berdasarkan alasan
tersebut anggota keluarga menolak dilakukan PCI. Ketidakpatuhan terhadap
tindakan akibat efek samping merupakan masalah yang sering dilaporkan.
Menurut Gulanick (2012) kalau efek samping dari suatu tindakan merupakan
suatu masalah, maka penjelasan bahwa efek samping dapat dikendalikan atau
diminimalkan. Tindakan keperawatan yang dilakukan kepada pasien dan keluarga
adalah mencakup mengkaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit,
menjelaskan
patofisiologi
penyakit,
menjelaskan
tanda
dan
gejala,
mengidentifikasi faktor penyebab, menjelaskan kemungkinan komplikasi kronis
bila diperlukan, menjelaskan tujuan prosedur/tindakan, memberikan waktu kepada
pasien dan keluarga untuk bertanya tentang prosedur, menerima nilai dalam
keluarga tanpa menghakimi, dan mendiskusikan terapi dan pilihan pengobatan.
Meskipun tindakan keperawatan telah dilakukan, tetapi keluarga pasien tetap
menolak dilakukan PCI sampai pasien pulang pada tanggal 23 April 2013.
3.5 Analisis Penerapan Teori Konservasi Levine pada 30 Kasus
Selama praktik residensi keperawatan medikal bedah di RS PJNHK Jakarta,
penulis telah memberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan pendekatan
model konsep konservasi Levine pada pasien dengan gangguan pada sistem
kardiovaskular sebanyak 30 kasus. Adapun 30 kasus tersebut terdiri dari 17 kasus
dengan coronary artery diseases, 11 kasus dengan gagal jantung dan 2 kasus
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
66
penyakit jantung bawaan yang muncul pada pasien dewasa yaitu atrial septal
defect (ASD) sebanyak 2 kasus.
Berdasarkan data diatas, maka frekuensi terbanyak yang didapatkan penulis
adalah pasien dengan acute coronary syndrome yang meliputi unstable angina
pectoris, NSTEMI dan STEMI. Berdasarkan data pasien Rumah Sakit Pusat
Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta (RS PJNHK), penyakit jantung koroner
menempati urutan pertama jumlah pasien yang berobat ke RS PJNHK yaitu
sebesar 25%, sedangkan pasien dengan pasien dengan gagal jantung menempati
urutan kedua yaitu sebesar 18% (Burhani, 2010).
Keluhan utama yang muncul pada pasien dengan acute coronary syndrome
(ACS) adalah nyeri dada. Nyeri dada merupakan manifestasi klinis utama yang
terjadi pada pasien dengan
ACS. Hal ini terjadi karena otot jantung yang
mengalami iskemia akan menyebabkan terjadinya metabolisme an-aerob,
sehingga dihasilkan laktat sebagai hasil akhir metabolisme tersebut. Laktat
sebagai hasil metabolisme pada keadaan iskemia akan menyebabkan nyeri
(Guyton & Hall, 2008). Pada kondisi iskemia, juga akan terjadi perubahan proses
glikolisis yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan oksidasi metabolik
yang akan menyebabkan dilepaskannnya adenin nukleotida. Sebagai produk hasil
degradasi adenin nukleotida, maka akan dihasilkan adenosin dalam jumlah yang
banyak. Adenosin sebebarnya mempunyai efek kardioprotektif karena substansi
adenosin ini menghambat pelepasan enzim proteolitik, menghambat interaksi
antara endotel dan neutrofil, menghambat agregasi platelet dan menghambat
pelepasan tromboksan. Namun jumlah adenosin yang berlebihan akan
menyebabkan nyeri pada ACS (Kabo, 2010). Pada sebagian besar kasus,
didapatkan nyeri dada yang menjalar. Penyebab nyeri dada yang menjalar adalah
karena nyeri dada disalurkan melalui aferen saraf simpatis jantung yang
bergabung dengan saraf somatik cervico-thoracalis pada jalur ascending didalam
medula spinalis, sehingga nyeri dada dirasakan pada dada kiri atau substernal,
yang menjalar ke bahu kiri dan diteruskan ke lengan kiri (Kabo, 2010). Rilantono
(2012) menjelaskan bahwa saraf simpatis yang terlibat dalam nyeri dada masuk
kedalam medula spinalis pada segmen cervical ke-8 sampai thorakal ke-4,
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
67
selanjutnya impuls akan dilanjutkan ke ganglia spinalis menuju thalamus dan
korteks cerebri. Pada beberapa kasus, nyeri dada dirasakan kurang dari 20 menit
(antara 5-20 menit), hilang atau berkurang dengan istirahat atau dengan pemberian
nitrat, namun pada kasus yang lain nyeri dirasakan lebih dari 20 menit, bahkan
samapi 30 menit. Hal ini yang membedakan antara nyeri pada angina pektoris
stabil, dengan nyeri pada ACS. Pada beberapa kasus, ACS tidak disertai dengan
gejala nyeri dada. Keadaan ini disebut dengan silent ischemia yang sering terjadi
pada penderita diabetes mellitus (DM). Neuropati yang sering terjadi pada
penderita DM merupakan penyebab terjadinya silent ischemia (Smeltzer dan Bare,
2002; Gray, Dawkins, Morgan, dan Simpson, 2005; Kabo, 2010, Rilantono,
2012).
Pada 53 % kasus resume didapatkan bahwa pasien dengan ACS datang ke rumah
sakit dengan onset penyakit kurang dari 12 jam, sedangkan lainnya datang ke
rumah sakit dalam waktu lebih dari 12 jam. Pasien ACS dengan onset < 12 jam
perlu segera dilakukan tindakan reperfusi. Reperfusi dapat dilakukan dengan 2
cara yaitu dengan primary percutaneous coronary intervention (primary PCI) atau
dengan terapi medikamentosa dengan obat fibrinolitik (Rilantono, 2012). Primary
PCI diberikan apabila masih ditemukan tanda-tanda berupa nyeri dada yang
mengindikasikan adanya iskemik, elevasi segmen ST dan adanya left bundle
branch block baru. Onset penyakit yang lebih dari 12 jam akan menyebabkan
kerusakan sel yang bersifat progresif, dan akan menjadi ireversibel setelah lebih
dari 12 jam. Pemberian Plavix dan Aspilet merupakan upaya yang dilakukan
untuk fibrinolitik. Dari 17 orang pasien resume yang menderita ACS, 8 orang
diantaranya datang kerumah sakit dalam waktu kurang dari 12 jam. Dari 8 orang
pasien dengan onset < 12 jam, 3 orang diantaranya menjalani PCI, sedangkan
sisanya mendapatkan terapi fibrinolisis. PCI atau fibrinolisis dilakukan untuk
menyelamatkan otot jantung yang belum mengalami infark dengan memberikan
reperfusi miokard (Rilantono, 2012). Hal ini akan menyebabkan reperfusi zona
infark. Reperfusi membatasi ukuran infark dan mengurangi risiko komplikasi
seperti ekspansi infark, aritmia dan gagal jantung (Kabo, 2010; Aaronson &
Ward, 2010; Rilantono, 2012).
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
68
Pada sebagian besar kasus ACS didapatkan riwayat hipertensi sebanyak 70%.
Hipertensi merupakan faktor resiko ACS. Hipertensi menyebabkan terjadinya
peningkatan gradien tekanan yang harus dilawan oleh ventrikel kiri pada saat
memompa darah. Hipertensi juga memicu terjadinya atherosklerosis berhubungan
dengan gangguan sistem renin-angiotensin. Angiotensin II menyebabkan
penurunan aktivitas NO, sehingga hal ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan
endotel dan menyebabkan trombosis (Kabo, 2010; Aaronson & Ward; 2010,
Rilantono, 2012).
Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah pasien terkait
dengan konservasi energi adalah menganjurkan kepada pasien untuk bed rest.
Istirahat ditempat tidur dapat membantu mengurangi nyeri dan dispnea (Smeltzer
& Bare, 2002). Selain itu bed rest akan menurunkan kebutuhan oksigen miokard.
Pengaturan posisi kepala lebih tinggi juga diberikan kepada pasien. Menurut
Smeltzer dan Bare (2002), posisi kepala lebih tinggi memberikan keuntungan
kepada pasien karena akan memperbaiki volume tidal karena tekanan isi perut
terhadap diafragma berkurang, sehingga pertukaran gas akan menjadi lebih baik,
drainase lobus atas paru menjadi lebih baik dan aliran balik vena ke jantung
(preload) akan berkurang, sehingga akan mengurangi beban kerja jantung. Selain
itu diberikan pemberian oksigen kepada pasien. Pemberian oksigen penting
doberikan kepada pasien untuk mengurangi nyeri. Oksigen diberikan dengan dosis
2-4 liter/menit apabila tidak ada penyakit lain yang menyertai. Oksigen dengan
aliran tersebut mampu mempartahankan kadar saturasi oksigen 96-100% secara
adekuat (Smeltzer & Bare, 2002). Tindakan keperawatan terkait dengan integritas
struktural adalah dengan pemberian vasodilator yang meliputi ISDN. ISDN
didalam tubuh akan mengalami perubahan menjadi substansi yang disebut nitric
oxide (NO) setelah berikatan dengan sulfhydryl group. NO akan merangsang
guanilat siklase untuk meningkatkan pembentukan cyclic guanosine monophosphate (cGMP) didalam otot polos pembuluh darah. Mekanisme tersebut akan
menyebabkan defosforilasi myosin yang akan menyebabkan vasodilatasi (Kabo,
2010). Vasodilatasi arteri koroner akan meningkatkan suplai oksigen miokard,
sehingga nyeri akan berkurang. Selain nitrat, beberapa pasien juga mendapatkan
terapi berupa β-blocker seperti Bisoprolol. Bisoprolol memiliki efek inotropik dan
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
69
kronotropik negatif, sehingga akan menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung
dan meningkatkan suplai oksigen (Kabo, 2010).
Jumlah penderita gagal jantung pada resume adalah 10 orang pasien. Dari 10
orang pasien tersebut, kasus terbanyak pada resume adalah pasien dengan ADHF
wet and warm. Pasien dengan kasus ADHF wet and warm mengindikasikan
bahwa telah terjadi kongesti. Penyakit jantung iskemik merupakan penyebab
paling sering terjadinya gagal jantung ventrikel kiri. Penurunan curah jantung
menyebabkan peningkatan end-diastolic pressure ventrikel kiri (preload) serta
tekanan vena pulmonalis karena darah kembali kedalam sirkulasi pulmonal,
akibatnya akan terjadi kongesti pulmonal. Jantung akan berdilatasi, akan terjadi
akumulasi cairan pada jaringan interstitial paru akibat peningkatan tekanan kapiler
pulmonal (Aaronson & Ward, 2010). Akumulasi cairan dalam paru-paru akan
menyebabkan seak nafas (dispnea). Hal ini tampak pada sebagian besar keluhan
pasien yang mengatakan bahwa mereka mengeluh sesak nafas. Terjadi variasi
dispnea pada pasien yang mengalami gagal jantung. Dispnea yang muncul pada
saat pasien tidur dalam posisi berbaring datar (ortopnea) akibat cairan terdistribusi
ke dalam paru-paru. Apabila pasien mengalami sesak nafas pada malam hari pada
saat istirahat dan terbangun akibat sesak nafas maka disebut paroxysmal nocturnal
dyspnea (Aaronson & Ward, 2010).
Tindakan keperawatan terkait dengan konservasi energi yang dilakukan kepada
pasien adalah dengan menganjurkan pasien untuk bed rest. Istirahat akan
mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung dan tekanan
darah. Istirahat juga akan mengurangi kerja otot pernafasan dan penggunaan
oksigen, penurunan frekuensi jantung yang akan memperpanjang periode diastol
sehingga memperbaiki efisiensi kontraksi jantung (Smeltzer & Bare, 2002). Selain
bed rest pasien juga diberi tindakan berupa posisi tidur dengan elevas kepala
(semifowler). Posisi ini akan menurunkan preload, sehingga akan mengurangi
kongesti paru serta meminimalkan penekanan hepar terhadap paru-paru (Smeltzer
& Bare, 2002). Tindakan keperawatan yang terkait dengan konservasi integritas
struktural adalah berupa pemberian obat-obatan yang dapat meningkatkan
kontraktilitas otot jantung seperti Digoxin. Digoxin merupakan digitalis yang
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
70
bekerja dengan cara
meningkatkan Ca2+
sehingga akan meningkatkan
kontraktilitas dan durasi potensial aksi dan periode refrakter pada sel-sel atrium
dan ventrikel (Aaronson & Ward, 2010). Terapi lain yang diberikan kepada pasien
adalah Lasix. Lasix mengurangi akumulasi cairan dengan meningkatkan ekskresi
garam dan air dari ginjal, oleh karena itu preload, kongesti paru dan edema
sistemik dapat berkurang (Smeltzer & Bare, 2002; Aaronson & Ward, 2010). Pada
beberapa kasus pasien dengan gagal jantung perlu diberikan penghambat enzim
konversi angiotensin (ACE-I) seperti Captopril. Captopril akan menyebabkan
dilatasi arteri dan vena serta menurunkan volume darah dan edema. Vasodilatasi
arteri akan menyebabkan penurunan afterload dan kerja jantung, dan memperbaiki
perfusi jaringan dengan meningkatkan isi sekuncup dan curah jantung. Efek lain
dari Captopril adalah terjadi penurunan retensi cairan sehingga akan mengurangi
kongesti pulmonal dan edema (Aaronson & Ward, 2010).
Kelainan kongenital yang muncul pada usia dewasa adalah atrial septal defect
(ASD). ASD adalah suatu kelainan berupa terdapat hubungan abnormal antara
kedua atrium (Moser & Riegel, 2008). Penyakit jantung kongenital jarang
ditemukan pada pasien dewasa, namun frekuensi berubah karena perbaikan
ketahanan hidup setelah pembedahan dan kecenderungan yang lebih besar ke arah
perbaikan korektif daripada pembedahan paliatif pada awal kehidupan
(Gray, Dawkins, Morgan & Simpson,
2005; Aaronson & Ward, 2010).
Sedangkan menurut Morer & Riegel (2008), ASD pada usia 40 atau 50 tahun
adalah karena pemeriksaan fisik yang dilakukan secara tidak cermat, atau tidak
didapatkan temuan pada pemeriksaan fisik. Kejadian ASD lebih banyak terjadi
pada pasien wanita dibandingkan pada pasien laki-laki (Moser & Riegel, 2008),
hal ini tampak bahwa pada resume kasus, didapatkan semua pasien ASD berjenis
kelamin wanita. Pada kasus didapatkan ASD sekundum. ASD sekundum
merupakan
jenis
kelainan
ASD
dengan
frekuensi
terbanyak
(Moser & Riegel, 2008; Aaronson & Ward, 2010; Rilantono, 2012) dengan
frekuensi antara 50-70% dari semua kasus ASD (Rilantono, 2012). Pada ASD
dengan ukuran <8 mm akan dapat menutup dengan spontan pada usia sebelum
1,5 tahun, namun apabila ukuran defek >8 mm, jarang sekali terjadi penutupan
secara spontan (Rilantono, 2012). Bahkan pada ASD besar yang terjadi pada salah
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
71
satu pasien yang mencapai ukuran 42 mm pada usia 20 tahun akan terjadi
hipertensi pulmonal. Hal ini sesuai dengan Rilantono (2012) yang menyatakan
bahwa pada usia 20-30 tahun pasien dengan ASD besar akan terjadi hipertensi
pulmonal. Hipertensi pulmonal yang menetap terjadi akibat terjadi pirau kiri ke
kanan, sehingga aliran darah pulmonal meningkat (Aaronson & Ward, 2010).
Selain itu pada pasien dengan ASD akan terjadi peningkatan volume atrium
kanan, hal ini menyebabkan terjadinya pembesaran dan peregangan yang
berlebihan pada atrium kanan, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya fibrilasi
atrial (Moser & Riegel, 2008).
Keluhan utama yang muncul pada pasien dengan ASD adalah sesak nafas. Sesak
nafas terjadi pada saat pasien melakukan aktivitas (Gray, Dawkins, Morgan &
Simpson, 2005; Moser & Riegel, 2008). Tindakan keperawatan terkait dengan
konservasi energi yang diberikan untuk mengatasi masalah pasien adalah dengan
menganjurkan pasien untuk menyeimbangkan antara aktivitas dan istirahat. Sesuai
dengan perkembangan kondisi pasien, perawat dapat memberikan ambulasi dini
kepada pasien. ambulasi dini dapat dilakukan pada hari ke-2 rawat inap. Perawat
harus melakukan pemeriksaan terhadap tekanan darah, nadi, dan saturasi oksigen
sebelum dan sesudah aktivitas (Ignatavicius & Workman, 2010). Sedangkan
untuk tindakan keperawatan terkait dengan konservasi integritas struktural adalah
dengan memberikan Aldactone 1 x 40 mg. Aldactone merupakan anti-aldosteron
yang mempunyai efek diuretik hemat kalium, sehingga obat ini selalu
dikombinasi dengan Furosemide untuk mencegah terjadinya hipokalemi (Kabo,
2010). Aldactone juga mempunyai efek mencegah terjadinya aritmia pada pasien
karena Aldactone mencegah penurunan K+ bila dibandingkan dengan diuretik
jenis lain (Aaronson & Ward, 2010). Selain Aldactone pasien juga mendapatkan
Lasix. Lasix merupakan diuretik kuat yang bekerja pada loop Henle asendens
dengan cara menghambat reabsorbsi Na+ dan Cl- sehingga meningkatkan
pembuangan cairan melalui urin (Aaronson & Ward, 2010; Kabo, 2010). Tujuan
pemberian diuretik pada pasien adalah untuk menurunkan preload, kongesti
pulmonal dan edema sistemik (Aaronson & Ward, 2010), dengan demikian sesak
nafas pasien akan berkurang. Tindakan keperawatan terkait dengan integritas
sosial adalah dengan memberikan dukungan kepada pasien dan memberikan
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
72
kesempatan kepada keluarga untuk mendampingi pasien selama menjalani rawat
inap. Selain itu juga melibatkan pasien dalam setiap tindakan yang akan
diberikan. Melibatkan pasien dalam setiap program terapi akan meningkatkan
kerjasama dan kepatuhan pasien (Smeltzer & Bare, 2002).
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
BAB 4
PELAKSANAAN EVIDENCE BASED NURSING
Pelaksanaan Evidence Based Nursing (EBN) adalah menerapkan terapi musik
untuk menilai efek fisiologis pada pasien post operasi jantung (Cardiac Surgery)
di Intermediate Ward Bedah RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta.
4.1 Tesis (Critical Review)
Penelusuran literatur menggunakan Google, dengan kata pencarian “cardiac
surgery, music therapy, physiologis outcome.”
Bedah jantung (cardiac surgery) merupakan upaya yang dilakukan untuk
melakukan koreksi terhadap kelainan baik yang didapat maupun bersifat
kongenital, penggantian atau perbaikan katup, perbaikan pembuluh darah yang
tersumbat (graft) ataupun pemasangan implant.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien penyakit jantung yang menjalani
operasi jantung akan mengalami nyeri dan juga perubahan hemodinamik. Pasien
melaporkan adanya nyeri dada akibat insisi merupakan masalah yang sering
dialami pasien setelah CABG dan operasi jantung yang lain.
Jafari, Zeydi, Khani, Esmaeili, & Soleimani (2012) menyatakan bahwa lebih dari
75% pasien bedah jantung di ICU menyebutkan pengalaman nyeri sedang sampai
dengan berat, sehingga nyeri merupakan keluhan utama pada pasien yang
disampaikan kepada perawat, dan ini menjadi perhatian perawat. Manajemen
nyeri pasca pembedahan jantung yang tidak adekuat seperti ketidakmampuan
pasien untuk batuk dan kebutuhan terhadap pergerakan merupakan faktor
predisposisi terhadap terjadinya komplikasi seperti pneumonia, atelektasis dan
trombosis vena dalam (Jafari, Zeydi, Khani, Esmaeili, & Soleimani 2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Jafari, Zeydi, Khani, Esmaeili, & Soleimani
(2012) tentang efek mendengarkan musik yang disukai terhadap intensitas nyeri
pada pasien yang menjalani operasi jantung didapatkan hasil dengan analisa
ANOVA terdapat indikasi bahwa musik secara signifikan menurunkan nyeri
(p < 0,0001). Penelitian tersebut menggunakan metode ranzomized clinical trial
73
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
74
terhadap 60 orang pasien yang telah menjalani bedah jantung. Pasien dibagi
kedalam 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
Dibutuhkan intervensi untuk mengurangi stress, nyeri dan kecemasan dengan
memberikan lingkungan yang lebih kondusif untuk proses penyembuhan dan
dapat digunakan sebagai bagian integral dari regimen terapi pada pasien yang
menjalani operasi. Salah satu yang dapat diberikan adalah terapi musik, digunakan
sebagai audio analgesia dan atau audio relaxation yang didefinisikan sebagai
sumber
pendukung
dari
lingkungan
yang
dapat
menstimulasi
dan
mempertahankan relaksasi ( Nilsson, 2008).
Cadigan et al, 2001 melaporkan bahwa pasien yang mendengarkan musik simfoni
selama 30 menit dengan suara yang alami selama bed rest karena tindakan intraarotic balloon pump (IABP) dapat menurunkan tekanan darah, frekuensi
pernafasan dan stress psikologis. Sedangkan untuk mengurangi nyeri, denyut
jantung dan frekuensi pernafasan diperlukan waktu selama 45 menit pada pasien
yang menjalani percutaneous coronary intervention (PCI).
Nyeri dapat menyebabkan respon simpatetik yang umum, termasuk peningkatan
denyut jantung, tahanan perifer, tekanan darah, cardiac output dan kedalaman
serta frekuensi pernafasan (Sendelbach, Halm, Doran, Miller dan Gaillard, 2006).
Respon fisiologis terhadap nyeri meliputi peningkatan tekanan darah, denyut
jantung dan pernafasan (Guyton & Hall, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Nilsson (2008) didapatkan kesimpulan bahwa
mendengarkan musik setelah menjalani operasi jantung mempunyai efek
relaksasi, sehingga terapi musik perlu diberikan kepada pasien yang menjalani
operasi jantung sebagai bagian integral dari terapi modalitas.
Aragon, Farris & Byers (2002) melakukan penelitian terhadap 17 orang pasien
yang menjalani bedah vaskular dan bedah thorak mendapatkan hasil bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara live harp playing dengan nyeri (p=
0,000) dan terdapat hubungan yang signifikan antara live harp playing dengan
tekanan darah (p=0,046 ) dan saturasi oksigen (p=0,011).
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
75
The Joanna Briggs Institute (2009) terapi musik yang direkomendasikan untuk
pasien post operasi termasuk didalamnya operasi jantung adalah sebagai berikut:
tempo musik antara 60-80 beat per menit, dengan irama yang lembut dan
mengalun; direkomendasikan dengan musik tanpa lirik, tone yang rendah dengan
string, dan bass serta perkusi yang minimal; volume yang direkomendasikan
berkisar 60 dB.
Penelitian yang dilakukan oleh Hatem, Lira, & Mattos (2006) dengan metode
randomized clinical trial terhadap 84 responden dengan penyakit jantung
kongenital asianotik dengan shunt dari kiri ke kanan (41 pasien, 44 kontrol).
Secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok setelah
dilakukan terapi musik terhadap skala nyeri wajah dan parameter obyektif denyut
jantung dan frekuensi pernafasan (p < 0.001). Kesimpulan penelitian adalah
terdapat manfaat dari pemberian terapi musik telah diobservasi pada anak selama
periode post operasi jantung, yaitu terhadap tanda vital berupa denyut jantung dan
frekuensi pernafasan, serta penurunan nyeri (facial pain scale).
Sendelbach, Halm, Doran, Miller dan Gaillard, (2006) melakukan penelitian
dengan menggunakan metode randomized control trial terhadap 86 orang pasien
yang menjalani operasi jantung didapatkan bahwa terapi musik dapat menurunkan
nyeri pada pasien yang menjalani operasi jantung (p= 0,009).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa:
a. Problem/Population:
Permasalahan
yang
ada
adalah
nyeri
dapat
mempengaruhi status hemodinamik pada pasien post operasi jantung.
b. Intervention: Intervensi yang akan dilakukan adalah pemberian terapi musik
untuk menurunkan nyeri.
c. Comparation: Penelitian Hatem, Lira dan Matos serta Sendelbach et al,
memberikan hasil bahwa terapi musik dapat menurunkan nyeri.
d. Outcome: Pemberian intervensi terapi musik dapat menurunkan nyeri dan
menurunkan risiko komplikasi.
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
76
4.2 Praktek Keperawatan Berdasarkan Pembuktian
4.2.1 Prosedur
Pelaksanaan EBNP berupa pemberian terapi musik akan dilakukan diruang
IW Bedah. Berdasarkan jurnal, pemberian terapi musik dilakukan pada pukul
08.00-10.00 dan sore hari pada pukul 14.00-16.00 waktu setempat. Pada EBNP
hanya dilakukan sekali dalam sehari, hal ini berdasarkan pertimbangan
kenyamanan pasien dan disesuaikan dengan kebutuhan pasien terhadap kebutuhan
istirahat pasien. Selain itu dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh
Sendelbach, Halm, Doran, Miller dan Gaillard, 2006 pasien dibagi dalam
2 kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Pada pelaksanaan
EBNP, pasien hanya terdiri dari 1 kelompok saja yang terdiri dari 20 orang
pasien, namun penilaian dilakukan 2 kali yaitu pre dan post terapi musik. Kriteria
inklusi dalam EBNP ini adalah mereka yang bersedia menjadi responden, tingkat
kesadaran compos mentis, tidak mengalami gangguan pendengaran, pasien yang
menjalani operasi jantung pada hari ke 1-3, usia pasien diatas 20 tahun.
Sedangkan kriteria eksklusi meliputi pasien dengan penurunan kesadaran atau
mempunyai riwayat mental disorder, dan pasien yang mendapatkan terapi
komplemen lain pada saat dilakukan pemberian terapi musik.
4.2.2 Hasil
Selama pelaksanaan EBNP, berhasil didapatkan 20 orang pasien yang bersedia
untuk dilakukan pemberian intervensi terapi musik.
Distribusi umur, tingkat nyeri, tekanan darah, dan denyut jantung, dan saturasi
oksigen pasien post operasi jantung sebelum dilakukan intervensi terapi musik
tercantum dalam tabel 4.1.
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
77
Tabel 4.1. Distribusi frekuensi umur, intensitas nyeri, tekanan darah, denyut
jantung dan saturasi oksigen sebelum dilakukan intervensi.
No
Variabel
Min
Maks
Mean
SD
1
Usia
44
73
58
8,16
2
Intensitas Nyeri
4
7
5,35
0,18
3
TD Sistolik
123
161
136,9
10,81
4
TD Diastolik
62
94
78,25
9,35
5
Denyut jantung
68
105
87,1
10,01
6
Saturasi oksigen
94
100
97,3
1,89
Pada pelaksanaan pemberian terapi musik, penulis menggunakan monitor status
hemodinamik yang terdapat pada setiap tempat tidur pasien, sedangkan untuk
menilai intensitas nyeri, penulis menggunakan numeric rating scale. Hasil uji
statistik setelah pemberian intervensi terapi musik terdapat dalam tabel 4.2.
Tabel 4.2. Hasil uji statistik setelah pemberian intervensi terapi musik
No
Intervensi
Intensitas
TD Sistolik
TD
Denyut
Saturasi
Diastolik
jantung
oksigen
Mean ± SD
Mean ± SD
Mean ± SD
Mean ± SD
5,32±0,81
136,9±10,81
78,25±9,35
87,1±10,01
97,30±1,89
4,45±0,94
132,4±10,17
73,8±8,43
82,6±9,18
97,50±1,67
nyeri
Mean ± SD
1
Sebelum
intervensi
2
Setelah
intervensi
3
Nilai t
7,28
4,31
4,32
4,88
-0,89
4
p value
0,000
0,000
0,000
0,000
0,385
Berdasarkan tabel diatas, intensitas nyeri pasien menurun setelah mendapatkan
terapi musik. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan
antara intensitas nyeri sebelum mendapatkan terapi musik dan intensitas nyeri
setelah mendapatkan terapi musik (p<0,000). Begitu juga dengan tekanan darah,
terjadi penurunan TD sistolik, terdapat perbedaan yang signifikan antara TD
sistolik sebelum terapi musik dan setelah terapi musik (p<0,000). TD diastolik
juga mengalami penurunan, dan terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,000).
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
78
Demikian pula terjadi penurunan denyut jantung setelah mendapatkan intervensi
terapi musik, terdapat perbedaan yang signifikan antara denyut jantung sebelum
intervensi dan setelah intervensi (p=0,000). Hasil yang berbeda adalah pada
saturasi oksigen, terdapat peningkatan saturasi oksigen pada pasien, namun hasil
uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
sebelum pemberian terapi musik dengan setelah pemberian terapi musik
(p=0,385).
4.2.3 Hambatan dan Pemecahan
Hambatan yang penulis dapatkan selama melakukan EBNP dengan terapi musik
adalah beberapa pasien saat akan dilakukan pemberian terapi musik, pasien
sedang tidur, sehingga penulis menunggu sampai pasien terbangun. Sedangkan
pada beberapa pasien terapi musik harus diberikan pada shift berikutnya karena
pemberian terapi musik bersamaan dengan jam kunjung rumah sakit. Beberapa
orang pasien meminta lagu yang tidak tersedia dalam daftar musik terapi yang
disiapkan oleh penulis, sehingga penulis harus memberikan informasi lebih lanjut
kepada pasien tentang jenis musik yang akan diberikan kepada pasien.
4.2.4 Rekomendasi
Pemberian terapi musik dapat dijadikan sebagai intervensi keperawatan mandiri
untuk menurunkan intensitas nyeri pasien dan tekanan darah serta denyut jantung
pada pasien dengan operasi jantung. Tindakan tersebut termasuk tindakan yang
mudah dan aman dilakukan oleh perawat karena bukan merupakan tindakan
invasif, sehingga hampir tidak memberikan efek samping pada pasien.
4.3 Pembahasan
Nyeri merupakan fenomena utama setelah pembedahan, termasuk didalamnya
pasca bedah jantung pasien akan mendapatkan pengalaman nyeri setelah
mengalami pembedahan (Jafari, Zeydi, Khani, Esmaeili, & Soleimani (2012).
Rowlingson (2009) menyatakan bahwa aktivitas fisik seperti pembedahan,
pemotongan jaringan, biopsi, implantansi akan menyebabkan stimulasi ujung
syaraf bebas serta nosiseptor seperti bradikinin, serotonin dan histamin. Mediator
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
79
kimiawi tersebut akan disekresikan selama proses pembedahan. Pasien
melaporkan nyeri dada akibat insisi setelah operasi jantung (Sendelbach, Halm,
Doran, Miller dan Gaillard (2006). Respon stress terhadap pembedahan
mengalami puncaknya pada periode setelah pembedahan. Efek utama tersebut
berpengaruh terhadap
sistem kekebalan, jantung,
dan
koagulasi
darah
(Rowlingson, 2009).
Beberapa peneliti telah melakukan penelitian efek musik atau musik dengan
relaksasi pada pasien yang menderita penyakit jantung, seperti miokard infark,
atau angina dan menujukkan hasil yang signifikan terhadap penurunan denyut
jantung, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, mean arterial pressure,
dan frekuensi pernafasan (Sendelbach, Halm, Doran, Miller dan Gaillard, 2006).
The Agency for Healthcare Research and Quality dalam Sendelbach, Halm,
Doran, Miller dan Gaillard (2006) merekomendasikan bahwa manajemen nyeri
dapat menggunakan teknik intervensi perilaku kognitif seperti relaksasi, musik,
distraksi dan imagery. Terapi nonfarmakologi yang menjadi pilihan adalah terapi
yang bersifat noninvasif, mempunyai risiko yang rendah, ekonomis, dan mudah
dilakukan (Potter & Perry, 2006). Musik merupakan suatu komponen yang
dinamis yang dapat berpengaruh terhadap kondisi psikologis maupun fisiologis
bagi pendengarnya (Nilsson, 2008).
Mendengarkan musik merupakan prosedur perilaku kognitif yang dapat
meningkatkan makna dari pemikiran, sikap dan nilai dalam respon emosi dan
perilaku. Dengan merubah proses pikir memungkinkan untuk mempengaruhi
emosi dan pengalaman sensasi seseorang. Metode perilaku kognitif terdiri dari
bermacam-macam teknik dan tujuan. Metode yang sering dilakukan adalah
relaksasi, guided imagery, nafas dalam dan teknik kombinasi antara relaksasi dan
terapi musik untuk mengurangi nyeri (Nilsson, 2008). Musik yang disukai
merangsang otak untuk meningkatkan sekresi hormon endorfin (Nilsson, 2008;
Vaajoki, 2012). Endorfin merupakan senyawa yang dapat menyebabkan inaktivasi
jaras nyeri sehingga dapat menekan sinyal-sinyal nyeri yang masuk melalui
perifer (Guyton & Hall, 2008).
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
80
Chlan (1998) dalam Arslan, Ozer dan Ozyurt (2007) menjelaskan bahwa musik
dapat digunakan sebagai musik terapi yang berfokus pada relaksasi. Efek yang
ditimbulkan musik adalah terjadi penurunan aktivitas sistem syaraf simpatis.
Berikutnya akan terjadi penurunan aktifitas adrenalin, penurunan ketegangan
neuromuskular, dan peningkatan ambang kesadaran. Indikator yang dapat diukur
adalah penurunan denyut jantung, frekuensi pernafasan, laju metabolisme,
penurunan konsumsi oksigen, penurunan sekresi epinefrin, serta penurunan
tekanan darah.
Menurut Nilsson (2008) mendengarkan musik selama istirahat setelah operasi
jantung terbuka memiliki beberapa efek pada sistem relaksasi sesuai dengan kadar
oxytocin dan tingkat relaksasi subyektif efek ini tampaknya memiliki hubungan
kausal dari psikologis (musik membuat pasien rilek) dan dan secara fisiologis
(pelepasan oxytocin). Oksitosin dilepaskan oleh neurohipofisis kedalam sirkulasi
darah. Oksitosin dapat menyebabkan perubahan terhadap denyut jantung dan
tekanan darah. Efek terhadap sistem kardiovaskular tersebut dipengaruhi oelh
mediator seperti atrial natriuretic peptide, nitric oxide dan alpha 2adrenoreceptors (Petersson , 2002).
Hasil penerapan EBNP menyatakan bahwa saturasi oksigen mengalami
peningkatan pada pasien yang mendapatkan terapi musik, tetapi secara statistik
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian terapi musik dengan
peningkatan saturasi oksigen. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Trappe (2102) yang menyatakan bahwa terapi musik dapat menurunkan
kadar kortisol dalam darah, tetapi tidak terdapat perbedaaan yang signifikan antara
kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.
Selama
pelaksanaan
EBNP,
tidak
dilaporkan
adanya
keluhan
berupa
berdebar-debar, dan sakit kepala selama pemberian terapi musik. Semua
responden mengatakan merasa nyaman dengan instrumen musik yang diberikan.
Beberapa orang pasien mengatakan bahwa musiknya bagus, bahkan beberapa
orang pasien meminta musiknya untuk dicopikan ke flashdisck agar bisa
didengarkan setelah pulang dari rumah sakit. Dapat disimpulkan bahwa
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
81
pemberian terapi musik dapat menurunkan nyeri, tekanan darah dan denyut
jantung, sehingga pemberian terapi musik dapat dilaksanakan oleh perawat
sebagai intervensi keperawatan yang mandiri dalam mengurangi nyeri pada pasien
dengan operasi jantung.
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
BAB 5
ANALISIS PERAN PERAWAT SEBAGAI INOVATOR
Inovasi yang dilakukan oleh kelompok diruang ICU Dewasa RS Pusat Jantung
Nasional Harapan Kita Jakarta adalah tentang pembuatan Panduan dan Standar
Prosedur Operasional (SPO) tentang high alert medication (pemberian obat
kewaspadaan tinggi) oleh perawat. Pelaksanaan kegiatan Inovasi bertujuan untuk
menjalankan peran sebagai Ners spesialis yang mempunyai peran sebagai
inovator. Tujuan pelaksanaan inovasi adalah untuk meningkatkan keselamatan
pasien (pasien safety) dengan cara menurunkan kemungkinan resiko terjadinya
kesalahan pemberian obat kewaspadaan tinggi kepada pasien yang dirawat diICU
Dewasa. Anggota kelompok dalam kegiatan inovasi ini adalah: 1) Sadar
Prihandana, 2) Dwi Nugroho Heri Saputro, dan 3) Ani Widiastuti.
5.1 Analisa Situasi
Pasien safety atau yang dikenal sebagai keselamatan pasien merupakan fokus
utama dari pemberian obat secara tepat. Meningkatkan keamanan dalam
pemberian obat-obatan kewaspadaan tinggi (high alert medication) merupakan
standar ke-3 dari The JCI International Patient Safety Goals (IPSG) (JCI, 2010).
Perlu dikembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obatan
kewaspadaan tinggi oleh rumah sakit. Selain itu secara kolaboratif perlu disusun
suatu prosedur atau kebijakan tentang daftar obat-obatan yang perlu diwaspadai,
termasuk dalam hal pemberian obat tersebut berdasarkan data obat-obatan yang
ada dirumah sakit (Kemenkes, 2011).
Menurut Institute for Safe Medication Practices/ISMP (2012), High alert
medication atau obat dengan kewaspadaan tinggi adalah obat-obatan yang
mempunyai risiko yang tinggi apabila terjadi kesalahan dalam pemberian, dan
akan menyebabkan kerugian yang signifikan.
Obat kewaspadaan tinggi menurut ISMP 2012 terdiri dari 19 kategori dan 14 jenis
obat khusus yang termasuk dalam golongan obat kewaspadaan tinggi.
82
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
83
Obat-obatan yang termasuk dalam kategori kewaspadaan tinggi seperti yang
tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik indonesia Nomor
1691/Menkes/Per/VIII/2011 adalah: a) mempunyai persentase kesalahan yang
tinggi, b) menyebabkan terjadi kesalahan yang serius (sentinel event), c) bila
diberikan tidak tepat berisiko tinggi menyebabkan dampak buruk, d) risiko efek
samping (adverse outcome) yang tinggi, dan e) mirip baik dalam bentuk maupun
nama. Kategori tersebut bersumber dari Joint Commission International/JCI
dalam Accreditation Standards for Hospitals (2010).
Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (RS PJNHK) Jakarta, dalam
pelayanan sehari-hari, terutama pada unit-unit tertentu seperti unit perawatan
intensif paska bedah jantung (ICU Dewasa), penggunaan obat-obatan dengan
kewaspadaan tinggi sangat sering diberikan kepada pasien. Berdasarkan hasil
observasi pada ruang ICU Dewasa, obat-obatan yang sering diberikan kepada
pasien adalah obat golongan adrenergik agonis yaitu berupa adrenalin, obat
golongan sedatif hipnotik yaitu propofol dan juga konsentrat cairan elektrolit
berupa KCl 7,4%.
Meskipun pemberian obat-obatan dengan kewaspadaan tinggi tersebut sangat
sering dilakukan, namun perawat belum memiliki pedoman pemberian obatobatan tersebut. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk melakukan standarisasi
pemberian obat-obatan tersebut untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi
risiko terjadinya kesalahan pemberian obat. Berdasarkan hasil obserbvasi tersebut,
maka dilakukan analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threats).
Analisa tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 5.1. Analisa SWOT
No
1
Elemen
Kekuatan
(Strength)
Analisa
a. Jenjang pendidikan perawat yang bervariasi mulai dari
D3, S1-Ners, dan Ners spesialis Kardiovaskular
b. Divisi Diklat Keperawatan selalu meningkatkan
kemampuan perawat melalui pelatihan.
c. Adanya sistem “leveling” perawat berdasarkan
kompetensi kewenangan tertentu.
d. Sertifikasi minimal Kardiologi Dasar untuk perawat
yang bertugas di ICU dewasa.
e. Intensitas interaksi perawat dengan obat-obatan
kewaspadaan tinggi di ICU dewasa adalah sering
f. Fasilitas di ICU dewasa yang lengkap dan modern.
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
84
Lanjutan tabel 5.1
No
2
3
4
Elemen
Analisa
a. Beban kerja serta tanggung jawab perawat yang tinggi
karena hampir setiap pasien mendapatkan 4-6 jenis
(Weakness)
obat kewaspadaan tinggi. Kondisi ini berisiko dapat
menyebabkan kesalahan baik dalam pemberian maupun
pengawasan
b. Pengambilan keputusan secara cepat oleh perawat
terkait dengan kondisi klinis pasien yang tidak stabil
serta adanya interaksi obat yang dapat menyebabkan
efek samping ataupun kontraindikasi serta efek
terapeutik obat yang sempit. Hal ini berisiko terjadi
keasalahan
c. Belum adanya panduan dalam pengelolaan atau
pemberian obat-obatan kewaspadaan tinggi untuk
perawat sebagai standar
d. Kebijakan tentang pengawasan dan pengelolaan obatobatan kewaspadaan tinggi dari rumah sakit belum ada
a. Penerapan standar ke-3 tentang keselamatan pasien
Peluang
dengan cara meningkatkan keamanan dari penggunaan
(Opportunity)
obat-obat dengan kewaspadaan tinggi (high alert
medication) oleh JCI IPSG
b. Visi RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta
sebagai rumah sakit pusat rujukan nasional maupun
regional, oleh karena itu rumah sakit selalu berusaha
melakukan pengembangan baik sumber daya manusia
maupun sarana dan prasarana
c. Permenkes RI Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011,
tentang keselamatan pasien rumah sakit. Salah satunya
adalah tentang pemberian obat kewaspadaan tinggi.
Tuntutan masyarakat yang tinggi terhadap pelayanan
Ancaman
kesehatan yang lebih berkualitas
(threats)
Kelemahan
Berdasarkan analisa SWOT tersebut, kelompok tertarik untuk melakukan kegiatan
inovasi tentang pembuatan panduan pemberian obat kewaspadaan tinggi dan SPO
pemberian
obat
kewaspadaan
tinggi.
Setelah
itu,
panduan
dan
SPO
disosialisasikan ke perawat untuk dilaksanakan, kemudian dilakukan evaluasi
terhadap pelaksanaan SPO tersebut. Setelah itu panduan dan SPO yang dibuat
direkomendasikan ke bidang keperawatan sebagai dasar pertimbangan untuk
dijadikan panduan dan standar bagi perawat dalam memberikan obat kewaspadaan
tinggi. Dengan adanya panduan dan SPO, diharapkan risiko kesalahan dalam
pemberian akan berkurang, sebaliknya keselamatan pasien akan meningkat.
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
85
5.2 Kegiatan Inovasi
Kegiatan inovasi dibagi dalam tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap
pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Inovasi dilakukan di ruang ICU dewasa RS PJN
Harapan Kita Jakarta. Sasaran dalam kegiatan inovasi tersebut adalah semua
perawat yang bekerja di ruang ICU dewasa RS PJN Harapan Kita Jakarta.
5.2.1. Tahap persiapan
Berdasarkan hasil analisa situasi terhadap RS PJN Harapan Kita terutama ruang
ICU Dewasa RS PJN Harapan Kita dapat disimpulkan bahwa ruang tersebut
membutuhkan suatu panduan dan SPO dalam pemberian obat kewaspadaan tinggi,
maka dimulai tahap persiapan kegiatan inovasi dari awal bulan Maret sampai
dengan 7 April 2013. Kegiatan meliputi studi literatur tentang high alert
medication, penyusunan proposal kegiatan inovasi, perumusan strategi yang tepat,
dan penyusunan time schedule kegiatan inovasi. Proposal inovasi diajukan kepada
supervisor klinik sehingga supervisor klinik dapat memberikan bimbingan dan
arahan yang tepat dalam kegiatan inovasi.
5.2.2. Tahap pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan inovasi dimulai dari tanggal 8 April sampai dengan 8 Mei
2013. Rincian kegiatan pada tahap pelaksanaan sebagai berikut:
Tabel 5.2. Rincian Pelaksanaan Inovasi.
No
Waktu
1
8 s.d. 21
2
Kegiatan
a. Melakukan studi literatur
b. Menyusun panduan tentang pemberian obat kewaspadaan
April 2013
tinggi, meliputi: adrenalin, propofol, dan KCl 7,4%
c. Melakukan konsultasi proposal inovasi dengan supervisor
klinik
a. Melakukan studi literatur
22 April
b. Menyusun standar prosedur operasional tentang pemberian
s.d. 5 Mei
obat kewaspadaan tinggi, meliputi: adrenalin, propofol, dan
KCl 7,4%
2013
c. Melakukan konsultasi dengan supervisor klinik
d. Melakukan konsultasi dengan Kepala Unit ICU yang juga
sekaligus sebagai clinical instructure
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
86
3
6 s.d. 8
Mei 2013
a. Melakukan presentasi tentang panduan pemberian obat
kewaspadaan tinggi: adrenalin, propofol, dan KCl 7,4%
b. Melakukan presentasi tentang standar prosedur operasional
pemberian obat kewaspadaan tinggi yaitu meliputi:
adrenalin, propofol, dan KCl 7,4%
c. Menerapkan standar prosedur operasional di ruang ICU
Dewasa selama 3 hari pada shift pagi dan sore.
d. Melakukan wawancara mendalam tentang pengalaman
perawat dalam memberikan obat kewaspadaan tinggi
e. Melakukan wawancara mendalam tentang pengalaman
perawat dalam menerapkan standar prosedur operasional
f. Mencatat setiap masukan dan kesulitan perawat dalam
memahami dan melaksanakan standar prosedur operasional
5.2.3. Tahap evaluasi
Evaluasi dilaksanakan pada setiap akhir shift, dengan melakukan diskusi
mendalam tentang pemahaman perawat dalam menggunakan standar prosedur
operasional, antara lain memahami setiap kalimat yang ada dalam standar
prosedur operasional, memahami langkah dan standar prosedur operasional, serta
kesulitan perawat dalam melakukan standar prosedur operasional. Hasil evaluasi
penerapan panduan dan standar prosedur operasional adalah sebagai berikut:
a. Sampai sejauh mana tanggung jawab, kewenangan, dan peran perawat dalam
memberikan obat kewaspadaan tinggi.
b. Sampai sejauh mana kewenangan perawat dalam mengencerkan obat?
Pengenceran obat menurut JCI (2010) adalah kewenangan farmasi, terutama
pencampuran 2 obat atau lebih. Dalam panduan dan standar prosedur
operasional diharapkan dimasukkan kewenangan perawat dalam pengenceran
obat kewaspadaan tinggi
c. Pemberian obat kewaspadaan tinggi mempunyai risiko tinggi, selain itu dosis
seringkali berubah sesuai dengan kondisi klinis pasien. Pada perawat level
manakah yang diperbolehkan untuk memberikan obat kewaspadaan tinggi
terkait dengan perubahan dosis akibat perubahan kondisi pasien? Dalam
panduan dan standar prosedur operasional diharapkan dijelaskan level perawat
mana yang bisa memberikan obat kewaspadaan tinggi.
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
87
d. Dosis obat kewaspadaan tinggi selalu cepat berubah dikarenakan kondisi
pasien yang tidak stabil. Bagaimana dengan perubahan dosis yang cepat, apa
yang harus dilakukan oleh perawat?
e. Pada kegiatan “double check”, sebagian besar perawat hanya melakukan cek
nama obat dan tanggal kadaluarsa sehingga perlu dirancang strategi untuk hal
tersebut. Perlu juga dimasukkan tentang identifiaksi pasien pada saat
melakukan double check. Pengecekan dilakukan oleh perawat satu level atau
dilakukan oleh level perawat yang lebih tinggi?
Tanggal 9-11 Mei 2013, dilakukan revisi panduan dan SPO sesuai dengan hasil
evaluasi pelaksanaan tersebut. Hasil revisi dipresentasikan kembali kepada kepala
leader dan kepala ruang ICU dewasa pada tanggal 13 Mei 2013.
Evaluasi akhir dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2013 dengan melakukan
presentasi akhir tentang panduan dan SPO yang telah direvisi dihadapan kepala
ruang, kepala unit, kepala bidang dan divisi diklat keperawatan.
5.3 Pembahasan
Panduan dan standar prosedur operasional pemberian obat kewaspadaan tinggi
merupakan inovasi keperawatan yang disusun dari berbagai sumber literatur
termasuk jurnal keperawatan. Inovasi keperawatan berupa panduan pemberian
obat ini berfokus pada intervensi keperawatan yaitu pemberian obat yang
merupakan kewenangan perawat. Hal ini mengingat bahwa kewenangan lain dari
obat kewaspadaan tinggi (high alert medication) merupakan kewenangan farmasi
atau medis seperti proses pengadaan, penyediaan, permintaan serta penyimpanan
obat. Inovasi ini bertujuan untuk mencegah kesalahan yang terjadi akibat
pemberian obat kewaspadaan tinggi oleh perawat.
5.3.1. Tanggung jawab dan kewenangan perawat
Perawat memerlukan landasan hukum atau landasan kebijakan yang kuat dalam
proses pemberian obat kewaspadaan tinggi, karena obat jenis tersebut mempunyai
risiko tinggi terjadi efek samping yang berat, sehingga perawat mendapatkan
perlindungan apabila terjadi
efek samping yang membahayakan pasien. Di
Indonesia belum ada peraturan yang menjelaskan tentang tanggung jawab dan
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
88
kewenangan perawat dalam pemberian obat tersebut. Bahkan dalam Permenkes
No. 1691 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit, juga tidak dijelaskan tentang
tanggung jawab dan kewenangan perawat dalam pemberian obat kewaspadaan
tinggi tersebut.
College and Association of Registered Nurses of Alberta (CARNA) Provincial
Council (2007), memberikan informasi tentang tanggung jawab perawat dalam
pemberian obat kewaspadaan tinggi dalam Medication Administration: Guidelines
for Registered Nurses. Dijelaskan bahwa setiap registered nurse (RN) sebelum
memberikan obat bertanggung jawab untuk mendiskusikan dengan dokter
penanggung jawab, apabila ditemukan kejanggalan atau masalah dalam
pengobatan tersebut.
Masing-masing perawat
bertanggung jawab
untuk
menyiapkan sendiri obat yang akan diberikan kepada pasien. Perawat tidak
diperbolehkan melakukan peracikan obat untuk perawat lain, karena hal ini akan
meningkatkan kesalahan, selain itu juga akan membingungkan garis komando
atau tanggung jawab.
RS PJN Harapan Kita perlu segera untuk membuat kebijakan yang sifatnya
internal tentang pemberian obat kewaspadaan tinggi, sehingga perawat
mempunyai landasan kebijakan yang legal dari rumah sakit dalam memberikan
obat kewaspadaan tinggi tersebut. Kebijakan dibuat untuk melindungi petugas
kesehatan dan pasien.
5.3.2. Pengenceran atau pengoplosan obat
Pada saat melakukan sosialisasi pedoman dan SPO, terdapat pertanyaan tentang
proses pengenceran atau pengoplosan obat, terutama obat kewaspadaan tinggi.
Ungkapan dari pertanyaan perawat antara lain sebagai berikut:
“Siapakah yang mempunyai kewenangan dalam proses pengenceran obat?”
Dalam pemberian obat, pengenceran atau pengoplosan obat masuk ke dalam
proses “compounding” dan “dispensing.” College of Registered Nurses of Nova
Scotia/CRNNS (2011), menyatakan bahwa peracikan (compounding) dan
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
89
pengeluaran (dispensing) obat bukan merupakan lingkup praktek perawat
(registered nurses), tetapi berada dalam lingkup praktek apoteker.”
An Board Altranais (2007) menyatakan bahwa untuk pelaksanaan yang terbaik,
obat-obatan harus dikeluarkan oleh apoteker, perawat (registered nurses) hanya
bisa mengeluarkan obat apabila dalam keadaan luar biasa (exceptional
circumstances) dan dispensing obat oleh perawat merupakan tugas tambahan dari
praktek keperawatan profesional.
RS PJN Harapan Kita dapat membuat kebijakan tentang pengenceran atau
pengoplosan obat, dengan melibatkan unit farmasi, unit medis, dan unit
keperawatan, sehingga terbentuk regulasi yang mengatur dalam situasi dan
kondisi seperti apa perawat mempunyai kewenangan melakukan pengoplosan obat
dan memberikan kepada pasien, mengingat peran perawat dalam memberikan
obat di RS PJN Harapan Kita sangat penting.
5.3.3. Level Perawat
Menurut CRNNS (2011), perawat yang diperbolehkan memberikan obat
kewaspadaan tinggi adalah perawat yang memiliki kompetensi tentang
pengelolaan obat kewaspadaan tinggi. Berdasarkan hasil diskusi dengan leader,
kepala unit ICU, dan kepala sub. instalasi bedah, perawat yang ada di ICU dewasa
semuanya telah lulus pelatihan Kardiovaskular Dasar (KD). Diperoleh informasi
juga tentang level terendah di ruang ICU Dewasa adalah level beginner.
Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan analisa lebih lanjut apakah perawat
level beginner mempunyai kompetensi dalam memberikan obat kewaspadaan
tinggi. Dari hasil diskusi, didapatkan kesimpulan bahwa perawat yang
berkompeten dalam memberikan obat kewaspadaan tinggi adalah perawat level
advance beginner, hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa pengalaman kerja
yang diperoleh selama yang bersangkutan menjadi perawat di ruang ICU dewasa.
Sedangkan untuk double check adalah diperlukan perawat dengan level competent
yang telah mengikuti pelatihan post basic.
RS PJN Harapan Kita seyogyanya membuat suatu kajian untuk menentukan
kompetensi apa saja yang harus dipenuhi oleh perawat dalam pemberian obat
kewaspadaan tinggi, dan perawat level mana yang dianggap mampu memenuhi
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
90
kompetensi tersebut. Kompetensi tersebut dapat difasilitasi dengan mengadakan
pelatihan tersendiri untuk memenuhi kompetensi yang diinginkan. Oleh karena itu
RS PJN Harapan Kita perlu mengadakan pelatihan untuk mewujudkan perawat
yang kompeten dalam pemberian obat kewaspadaan tinggi.
5.3.4. Perubahan dosis obat
Pasien yang dirawat di ICU dewasa RS PJN Harapan Kita adalah pasien dengan
kondisi kesehatan yang tidak stabil, dimana kondisi klinis tersebut setiap saat
dapat mengalami perubahan. Oleh karena itu, dosis obat yang diberikan harus
disesuaikan dengan kondisi klinis pasien. Kondisi klinis pasien yang tidak stabil,
memerlukan perencanaan dan strategi yang tepat untuk mengatasi hal tersebut.
CARNA (2007), memberikan strategi untuk mengatasi kondisi tersebut, yaitu
dengan menggunakan peresepan dalam bentuk dosis rentang (range dose). Dosis
rentang akan memberikan kewenagan kepada perawat untuk membuat keputusan
dalam menentukan dosis yang tepat yang diberikan ke pasien secara fleksibel,
berdasarkan hasil pengkajian terhadap kondisi pasien pada waktu tertentu. Selain
dosis rentang, perawat juga harus mempunyai kemampuan professional judgment
dalam menggunakan parameter-parameter di dalam protokol medis untuk
menentukan apakah pasien masuk ke dalam parameter tersebut atau tidak dan
mendapatkan intervensi sesuai protokol.
Berdasarkan hal tersebut, RS PJN Harapan Kita perlu untuk menyusun protokol
medis yang baku yang dapat digunakan oleh perawat sebagai pedoman dalam
memberikan obat kewaspadaan tinggi.
Universitas Indonesia
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dan saran yang terkait dengan uraian
pada bab-bab sebelumnya.
6.1 Kesimpulan
6.1.1 Praktik residensi ini menggunakan model “Konservasi Levine” yang
memberikan suatu kerangka kerja yang efektif dalam menilai kondisi klien
dengan penyakit kardiovaskular yang sangat kompleks dan memberikan arah
dalam pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas untuk mempertahan
kualitas hidup serta memberdayakan klien dan keluarga sebagai support sistem.
Model Konservasi Levine
sangat tepat diterapkan sebagai pendekatan dalam
pemberian asuhan keperawatan klien dengan penyakit kardiovaskular karena
sebagain besar pasien dengan gangguan sistem kardiovaskular mengalami
penurunan cardiac output sehingga akan menyebabkan ketidakseimbangan antara
suplay dan demand energi karena gangguan pompa jantung.
6.1.2
Pasien dengan penyakit kardiovaskular yang menjalani operasi jantung
akan mengalami nyeri akibat proses pembedahan. Nyeri dapat menyebabkan
aktivasi saraf simpatis yang pada akhirnya dapat mempengaruhi hemodinamik
pasien. Pemberian Evidence-based nursing practice dengan terapi musik pada
pasien yang menjalani operasi dapat menurunkan nyeri dan menurunkan tekanan
darah serta denyut jantung pasien. Evidence-based nursing practice merupakan
salah satu cara untuk membuktikan bahwa perawat adalah profesional.
6.1.3
Pembuatan pedoman dan standar operasional prosedur tentang pemberian
obat kewaspadaan tinggi (high allert medications) dapat menjadi pedoman pada
saat perawat memberikan obat kewaspadaan tinggi yang mempunyai risiko terjadi
kondisi yang fatal akibat kesalahan dalam pemberian obat tersebut.
91
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
92
6.2 Saran
6.2.1 Bagi Pelayanan Keperawatan
6.2.1.1 Perlu dilakukan sosialisasi dan penerapan Model Konservasi Levine
sebagai pendekatan dalam pemberian asuhan keperawatan pasien dengan
gangguan sistem kardiovaskular, sehingga dapat menjadi model yang dapat
diterapkan dalam praktik keperawatan profesional yang berdampak terhadap
peningkatan status kesehatan pasien.
6.2.1.2 Perlu diadakan suatu kebijakan yang mengatur siapa yang berhak untuk
memberikan obat kewaspadaan tinggi sekaligus disusun kebijakan yang dapat
menjadi payung hukum bagi perawat yang memberikan obat kewaspadaan tinggi
sesuai dengan kewenangan.
6.2.2 Bagi Pengembangan Keilmuan Keperawatan
Perlu dilakukan kajian yang mendalam serta sosialisasi tentang penerapan model
konsep konservasi Levine dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan sistem kardiovaskular sebagai dasar pengembangan praktik
keperawatan, sehingga dapat dijadikan panduan dalam praktik keperawatan
berbasis teori keperawatan.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
DAFTAR REFERENSI
AACN, (2004). AACN Statement of suport for clinical specialist nurse.
http://www.aacn.nche.edu/publications/position/CNS.pdf
Aaronson P.I & Ward J.P.T (2010). At a Glance: Sistem Kardiovaskular
(Edisi ke-3). Jakarta: Penerbit Erlangga.
AHA (2013). Caffeine and Heart Disease.
http://www.heart.org/HEARTORG/GettingHealthy/NutritionCenter/Health
yDietGoals/Caffeine-and-Heart-Disease_UCM_305888_Article.jsp
Ai M., Otokozawa S., Azstalos B.F., Ito Y., Nakajima K., White C.C., et al.,
(2010). Small dense LDL cholesterol and coronary hearth disease: Results
from
Framingham
Offsping
study.
http://www.clinchen.org/content/56/6/967.full.pdf+html diunduh 12 April
2012.
Alligood M.R (2010). Nursing Theory: Utilization & Application. Fourth Edition:
USA: Mosby Elsevier.
An Board Altranais. (2007). Guidance to nurses and midwives on medication
management.
Aragon D., Farris C., Byers J.F., (2002) The effects of harp music in vascular and
thoracic surgical patients. http://www.mhtp.org/data/web/medsurg.pdf
Arslan, S., Ozer, N.,& Ozyurt, F. (2007). Effect of music on preoperative anxiety
during undergoing urogenital surgery. Australian Journal of Advanced
Nursing, 26 (2), 46-54. http://www.ajan.com.au/vol26/26-2_ozer.pdf
Bulechek G.M., Butcher H.W., & Doctherman J.M., (2008). Nursing Intervention
Classification (NIC). Fifth edition. USA: Mosby Elsevier.
Burhani R., (2010). RS Jantung Harapan Kita Kembangkan Tindakan Non-Bedah.
http://www.antaranews.com/berita/1268226806/
Cadigan et al. (2001). The effect of music on cardiac patients on bed rest.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11252881
College and Association of Registered Nurses of Alberta Provincial Council.
(2007). Medication administration: Guidelines for Registered Nurses.
Dari http://www.nurses.ab.ca
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
College of Registered Nurses of Nova Scotia. (2011). Medication guidelines for
Registered Nurses. Dari http://www.crnns.ca
Corwin, E. J., (2009). Buku saku patofisiologi. (Edisi ke-3). Jakarta : EGC.
Departemen Kesehatan RI. (2009).
http://www.depkes.go.id.
Profil
kesehatan
Indonesia
2008.
Erfandi (2009). Konsep Terapi Musik.
http://forbetterhealth.wordpress.com/2009/01/16/konsep-terapi-musik/
Fernandez M.L., & Webb D., (2008). The LDL to HDL cholesterol ratio as a
valueable tool to evaluate coronary heart disease risk.
http://www.jacn.org/content/27/1/1/full.pdf+html
Gray H.H., Dawkins K.D., Simpson I. A., & Morgan J.M., (2005). Lecture Notes :
Kardiologi (Agus Azwar & Asri Dwi Rahmawati, Penerjemah.) Jakarta:
Erlangga.
Gulanick M. (2012). Ineffective Management of Therapeutic Regimen:
Individual.
http://www1.us.elsevierhealth.com/MERLIN/Gulanick/archive/Constructo
r/gulanick32.html
Guyton A.C., & Hall J.E., (2008) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Hartono A., (2006). Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta : Buku Penerbit
Kedokteran: EGC.
Herdman T.H. (2012). NANDA International Nursing Diagnoses Definitions and
Classification 2012-2014. Oxford: Wiley-Blackwell.
Hatem P.T., Lira P.T.i., & Mattos S. S (2006) The therapeutic effects of
music
in
children
folloowing
cardiac
surgery.
http://www.scielo.br/pdf/jped/v82n3/en_v82n3a06.pdf
ICN (2009). Delivering quality, serving communities nurses leading care
innovations.
http://www.icn.ch/images/stories/documents/publications/ind/indkit2009.p
df
Ignatavisius D.D., & Workman M.L., (2010). Medical Surgical Nursing : Critical
thinking and
collaborative care. (6th ed.). Missouri : Elsevier.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
Ingersoll G.L., (2000). Evidence-Based Nursing: What it is snd what it isn’t.
http://www.nursingoutlook.org/article/S0029-6554(00)76732-7/fulltext
Institute for Safe Medication Practices/ISMP. (2012). ISMP’s list of high-allert
medications. http://www.ismp.org
Joint Commision International. (2011). Joint Commission International
Acreditation
Standards
for
Hospitals,
4th
edition.
http://www.jointcommissioninternational.org
Jafari H., Zeydi A. E., Esmaeili R., dan Soleiman A. (2012). The effects of
listening to prefereed music on pain intensity after open heart surgery.
http://www.sid.ir/en/VEWSSID/J_pdf/118120120101.pdf
Kabo, P. (2008). Mengungkap pengobatan penyakit jantung koroner. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Kabo P., (2010) Bagaimana menggunakan obat-obatan kardiovaskular secara
rasional. Jakarta: Balai Penerbit Universitas Indonesia.
Moorhead S., Johnson M., Maas M.L., & Swanson E. (2008) Nursing Outcomes
Classification (NOC). USA: Mosby Elsevier.
Morishima I., Sone T., Tsuboi H., Kondo J., Mukawa H., Kamiya H., et al.
(2002). Plasma C-reactive protein predicts left ventricular remodeling and
functionafter a first acute anterior wall myocardial infarction treated with
coronary angioplasty: comparison with brain natriuretic peptide.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11890369?dopt=Abstract.
Moser D.K., & Riegel B., (2008). Cardiac Nursing A Companion to Braunwald’s
Heart Disease. Canada: Saunders & Elsevier.
Muttaqin A., (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Kardivaskular. Jakarta: Salemba Medika.
Nilsson U. (2008). Sooting music can increase oxytocin levels during bed rest
after
open-heart
surgery:
a
randomised
control
trial.
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1365-2702.2008.02718.x/pdf
Noviyanti (2009). Perbedaan left ventricular ejection fraction (LVEF) dan end
sistolic dimension (ESD) pada penderita regurgitasi mitral kronik sebelum
dan
sesudah
mitral
valve
replacement.
http://eprints.undip.ac.id/28907/1/Noviyanti_Tesis.pdf
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
Nurani N.A. (2012). Kopi, Kafein, dan Stress Kombinasi buruk bagi Kesehatan.
http://health.okezone.com/read/2012/08/15/486/678052/kopi-kafein-streskombinasi-buruk-bagi-kesehatan
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
Petersson
M.
(2002).
Cardiovascular
effects
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12436943
of
Oxytocin.
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2006). Fundamental of Nursing : Concepts, Process
and Practice. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Price S.A., & Wilson L.M., (2006) Patofisiologi konsep klinis proses-proses
penyakit. Jakarta: EGC.
Rilantono L.I., (2012). Penyakit Kardiovaskular. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Rowlingson, J.C. (2009). Acute Pain Management Revisited. Anesthesiology,
http://www.iars.org/2003RCLtest/pdftext/rowlingson2003.pdf
Sendelbach S.E., Halm M. A., Doran K.A., Miller E.H., dan Gaillard P., (2006).
Effects of music therapy on physiological and psychological outcomes for
patients
undergoing
cardiac
surgery.
http://www.allinahealth.org/ahs/united.nsf/page/Music_therapy.pdf/$FILE/
Music_therapy.pdf
Smeltzer, S.C., & Bare, B.G. (2002). Brunner & Suddarth’s Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Spector N., (2013) Evidence-Based Health Care in Nursing Regulation.
https://www.ncsbn.org/Evidence_based_HC_Nsg_Regulation_updated_5_
07_with_name.pdf
Supriyono M. (2008). Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap kejadian
penyakit jantung koroner pada kelompok umur ≤ 45 tahun. (Studi Kasus di
RSUP Dr. Kariadi Semarang dan RS Telogorejo Semarang).
http://eprints.undip.ac.id/
The Joanna Briggs Institute (2009). Evidence based information sheets for
health professionals: Music as an intervention in hospitals.
http://connect.jbiconnectplus.org/ViewSourceFile.aspx?0=493
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
Tomey A.M., & Alligood M.R (2006). Nursing theory utilization & application.
3th edition. St. Louis, Missouri: Mosby, Inc.
Trappe H . J (2012). Music and Medicine: The efffects of music on the
human
being.
http://www.applied-cardiopulmonarypathophysiology.com/fileadmin/downloads/acp-20122_20120517/03_trappe.pdf
Vaajoki A. (2012). Postoperative Pain in Adult Gastroenterological PatientsMusic
intervention
in
Pain
alleviation.
http://epublications.uef.fi/pub/urn_isbn_978-952-61-0956-5/urn_isbn_978952-61-0956-5.pdf
World Health Organization (WHO), (2011). Cardiovascular Diseases (CVDs).
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs317/en/index.html.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Universitas Indonesia
Lampiran 1
Evaluasi
Intervensi
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
1
Resume Kasus : ADHF Wet and Warm.
Tn. AH, usia 57 tahun, menikah, pendidikan SLTA, pekerjaan swasta, suku Batak, dengan
nomor rekam medis 2012-16-39-15, masuk rumah sakit tanggal 9 Oktober 2012 dengan
keluhan sesak nafas yang dirasakan sejak 3 hari yang lalu dan memberat sejak 5,5 jam yang
lalu sebelum masuk rumah sakit. Saat dilakukan pengkajian sesak nafas sudah berkurang.
Pasien mengeluh sesak nafas yang memberat sejak kurang lebih 5,5 jam yang lalu. Sesak
nafas dirasakan memberat saat pasien melakukan aktivitas. DOE (+), OP (+) dan PND (+).
Terdapat nyeri epigastrik, mual. Tetapi pasien tidak mengeluh berdebar-debar dan keluar
keringat dingin. Pasien merupakan pasien lama RS PJNHK dan pasien kontrol serta minum
obat teratur. Obat yang dikonsumsi pasien adalah Lasix 1 tab/2 hari dan Captopril 3 x 1
tablet.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: EDD : 76, ESD : 65, EF
20 %, tapse 1,7 mm, Akinetik anteroseptal s/d apex, apikal rounded, segmen lain
normokinetik. AF NVR 86x/m, QRS Axis LAD, QRS dur 0,1, QS wave II,III, aVF, poor R
progresion di V1-V6, T inv I, aVL, V5,V6, VES. Pasien menderita diabetes mellitus.
Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok sedikitnya sebungkus setiap hari dan
minum kopi sedikitnya 1 gelas setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh
cepat lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 3 – 4 jam, dan malam hari 8 – 9 jam.
Pasien makan habis ½ porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma,
gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara
jantung normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat
ronkhi dan wheezing, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema . Konservasi Integritas
Personal: Pasien mengatakan tidak merasa malu terhadap kondisi yang dialami saat ini,
hubungan keluarga dan tetangga tetap terjalin dengan baik. Pasien taat beribadah. Pasien
berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan
orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS
pasien didampingi oleh istri dan anak pasien yang juga membantu pasien memenuhi
kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Captopril 3 x 50 mg. Lasik 2 x 1 ampul IV.Batasi intake cairan 1800 cc / 24
jam atau sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya
indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit
darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien batuk efektif jika kondisi
pasien memungkinkan, ajarkan pasien nafas dalam. memberikan privasi kepada pasien,
memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan
keperawatan dan medis, menganjurkan pasien mobilisasi sesuai kemampuan. Konservasi
integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 93/52 mmHg, Frekwensi nadi 86 x/menit, frekwensi nafas 32 x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Balance cairan (1010-2012): negative 1000 cc, ronkhi -/-. Kadar Kalium: 3,8 meq/liter, Calsium: 2,2 meq/liter,
Clorida: 109 meq/liter dan Magnesium: 2,0 meq/liter.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
2
Resume Kasus : NSTEMI, ADHF wet/warm pada CHF ec. HHD
Ny. APH, usia 83 tahun, pendidikan SLTA pekerjaan pensiunan bidan, suku Batak, masuk
rumah sakit tanggal 29 Maret 2013 dengan keluhan sesak nafas sejak 6 hari SMRS, sesak
nafas dirasakan terjadi berulang kali. Saat dilakukan pengkajian, sesak nafas sudah
berkurang.
Pasien mengeluh sesak nafas. Pasien 3 kali dirawat di RS Pondok Indah, keluar dan masuk
RS dengan keluhan yang sama. Sesak dirasakan terus-menerus, berkurang dengan Lasix,
keringat dingin (+) membahasi baju, mual (+), muntah (+), nyeri dada (+), muncul bila nafas
mulai sesak. DOE (+), PND (+), OP (+), berdebar-debar (-), pingsan (-). Pasien merupakan
pasien baru PJNHK. Pemeriksaan Fisik: Kesadaran compos mentis, TD: 124/71 mmHg, HR:
98x/mnt, RR: 22x/mnt. Mata: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak iktherik, Paru:
vesikuler, ronkhi-/-, wheezing +/+, Cor: S1S2 Normal, murmur (-), gallop (-), abdomen
supel, BU (+) Normal, ekstremitas: akral hangat, edema -/-. Hasil lab: hs Trop T: 581 U/L.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: ST depresi di V5-V6, T
inverted di V5-V6. Hasil foto thorax terdapat kongesti dan infiltrat. Perubahan lingkungan
eksternal: pasien merasa asing dengan lingkungan rumah sakit yang baru. Konservasi
Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2-3
jam, dan malam hari 7-8 jam. Pasien makan habis ½ porsi. Konservasi Integritas Struktur:
tidak terdapat riwayat asma, dan gastritis, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan
iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru
vesikular dan tidak terdapat ronkhi, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema.
Konservasi Integritas Personal: Hubungan keluarga dan tetangga tetap terjalin dengan
baik. Pasien taat beribadah. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang
diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi
Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi oleh anak pasien yang juga
membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat. Pasien mengatakan keluarga
sangat mendukung pasien untuk mendapatkan kesembuhan.
Nyeri dada, gangguan pertukaran gas, kelebihan volume cairan.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien
batuk efektif jika kondisi pasien memungkinkan, ajarkan pasien nafas dalam. memberikan
privasi kepada pasien, menganjurkan pasien mobilisasi sesuai kemampuan, memberikan
kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan
medis. Konservasi integritas struktur: Berikan terapi sesuai program: Captopril 3 x 50 mg.
Lasik 2 x 1 ampul IV. Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam. Monitor intake dan output
cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis,
asites, rhonki (-), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi integritas sosial:
memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 105/72 mmHg, Frekwensi nadi 85 x/menit, frekwensi nafas 22 x/mnt. Suhu
tubuh 36,60C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Balance cairan (1-042012): negative 700 cc, ronkhi -/-. Kadar Kalium: 3,1 meq/liter, Calsium: 2,2 meq/liter,
Clorida: 102 meq/liter dan Magnesium: 2,0 meq/liter.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 pasien dipindahkan ke GP II lantai 5.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
3
Resume Kasus : ASD Sekundum , Pulmonal Hipertensi.
Ny. S., usia 33 tahun, status menikah, pendidikan PT, pekerjaan ibu rumah tangga, suku
Sunda, dengan nomor rekam medis 2011-30-26-67, masuk rumah sakit tanggal 2 Oktober
2012 dengan keluhan sesak nafas yang dirasakan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.
Saat dilakukan pengkajian keluhan sesak nafas sudah berkurang.
Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh sesak nafas. Terdapat DOE (+),
OP (+) dan PND (+).
Pasien rencana akan menjalani ASD closer, tetapi pada saat di ruang catheterisasi pasien
mengeluh sesak nafas yang memberat, akhirnya tindakan ASD closer ditunda. Pasien
merupakan pasien lama PJNHK dengan ASD sekundum. Pasien mendapatkan terapi Lasix 1
x 40 mg dan Aldactone 1 x 25 mg.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat ASD sekundum
EF 63%, tapse 2,6 mm, PH (+). Perubahan lingkungan eksternal: sesak nafas saat
melakukan aktifitas sedang. Konservasi Energi: Pasien lebih banyak istirahat ditempat
tidur, pasien mengeluh sesak nafas saat kekamar mandi. Pasien makan habis 1 porsi.
Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, dan gastritis, tidak terdapat
anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak terdapat
murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi, ekstremitas hangat dan
tidak terdapat edema. Konservasi Integritas Personal: Pasien mengatakan bahwa petugas
kesehatan dan keluarga menghargai pasien dan menyertakan pasien dalam pengambilan
keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan oleh petugas kesehatan. Konservasi
Integritas Sosial: Keluarga mendukung proses penyembuhan pasien dengan mendampingi
pasien selama menjalani pengobatan.
Perubahan pola nafas , risiko penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan tubuh.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur: Berikan terapi
sesuai program: Aldactone 1 x 25 mg. Lasik 1 x 40 mg. Batasi intake cairan 1800 cc / 24
jam. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan
cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (-), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl.
Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam. memberikan privasi kepada
pasien, menganjurkan pasien mobilisasi sesuai kemampuan, memberikan kebebasan kepada
pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis.
Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga
saat dirawat.
Tekanan darah 134/106 mmHg, Frekwensi nadi 100 x/menit. irama regular. Tingkat
kesadaran compos mentis. Pulsasi arteri perifer kuat, CRT < 3 dtk, akral hangat, kelemahan
(-), murmur (-), gallop (-).Balance cairan (02-10-2012): negative 550 cc, JVP : 5 + 2 cmH2O,
tidak terdapat ascites, tidak terdapat edema pada ektremitas bawah dan suara nafas
ronkhi -/-.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 pasien dirawat di GP II lantai 3, pasien
diperbolehkan pulang.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
4
Resume Kasus : ASD Sekundum .
Nn. L usia 23 tahun, belum menikah, pendidikan SLTA, pekerjaan swasta, suku Lampung,
dengan nomor rekam medis 2011-30-26-67, masuk rumah sakit tanggal 2 Oktober 2012
dengan keluhan sesak nafas yang dirasakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit.
Saat dilakukan pengkajian keluhan sesak nafas sudah berkurang.
Pasien mengeluh sesak nafas sejak 1 bulan yang lalu. Sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
sakit pasien mengeluh sesak nafas semakin memberat. Terdapat DOE (+), OP (+) dan PND
(+). Pasien merupakan pasien lama PJNHK dengan ASD sekundum. Pasien mendapatkan
terapi Lasix 1 x 40 mg dan Aldactone 1 x 25 mg.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat ASD sekundum,
ESD 51, EDD: 59, EF 27%, tapse 0,9 mm, PE minimal. Hasil rontgen thorak : CTR ; 60%
Perubahan lingkungan eksternal: sesak nafas saat melakukan aktifitas sedang.
Konservasi Energi: Pasien lebih banyak istirahat ditempat tidur, pasien mengeluh sesak
nafas saat kekamar mandi. Pasien makan habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur:
tidak terdapat riwayat asma, dan gastritis, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan
iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru
vesikular dan tidak terdapat ronkhi, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema.
Konservasi Integritas Personal: Pasien mengatakan bahwa petugas kesehatan dan keluarga
menghargai pasien dan menyertakan pasien dalam pengambilan keputusan tentang tindakan
yang akan dilakukan oleh petugas kesehatan. Konservasi Integritas Sosial: Keluarga
mendukung proses penyembuhan pasien dengan mendampingi pasien selama menjalani
pengobatan.
Perubahan pola nafas , risiko penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan tubuh.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur: Berikan terapi
sesuai program: Captopril 3x 50 mg, Digoxin 1 x 0,125 mg, Aldactone 1 x 25 mg. Lasik 1 x
40 mg. Batasi intake cairan 1250 cc / 24 jam. Monitor intake dan output cairan dalam 24
jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (-),
monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien
nafas dalam. memberikan privasi kepada pasien, menganjurkan pasien mobilisasi sesuai
kemampuan, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam
tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan
pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 92/72 mmHg, Frekwensi nadi 106 x/menit. irama regular. Tingkat kesadaran
compos mentis. Pulsasi arteri perifer kuat, CRT < 3 dtk, akral hangat, kelemahan (-),
murmur (-), gallop (-).Balance cairan (19-10-2012): negative 165 cc, JVP : 5 + 2 cmH2O,
tidak terdapat ascites, tidak terdapat edema pada ektremitas bawah dan suara nafas
ronkhi -/-.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 5 pasien dirawat di GP II lantai 3, pasien
diperbolehkan pulang.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Resume Kasus : ADHF wet and warm ec. Old AMI Anterior
Tn. D, usia 67 tahun, agama Islam, menikah, pndidikan SR, pekerjaan tidak bekerja, suku
Sunda, dengan nomor rekam medis 2012-33-68-54, masuk rumah sakit tanggal 27
September 2012 dengan keluhan sesak nafas yang dirasakan sejak 4 tahun yang lalu, sesak
nafas memberat saat pasien melakukan aktivitas. Saat dilakukan pengkajian keluhan sesak
nafas sudah berkurang.
Intervensi
Pasien mengeluh sesak nafas sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu, dirawat di RS
diSukabumi, keluhan tidak berkurang. Sesak nafas dirasakan memberat saat pasien
melakukan aktivitas. DOE (+), OP (+) dan PND (+). Tidak terdapat nyeri dada, tidak
berdebar-debar, tidak mual dan muntah, dan tidak disertai keringat dingin. Pasien baru saja
dirawat di RS di Sukabumi selama 5 hari, obat yang diminum pasien adalah Spironolakton 1
x 25 mg. Selama dirawat di RS di Sukabumi pasien mengeluh demam dan kencing sedikit.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: Hipertensi dan
hiperkolesterol. Perubahan lingkungan eksternal: Merokok dengan jumlah >
1bungkus/hari sejak usia muda. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah.
Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2 – 4 jam, dan malam hari 7 – 9 jam. Pasien
makan hanya habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma,
gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara
jantung normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat
ronkhi, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema.. Konservasi Integritas Personal:
seluruh anggota keluarga menghargai pasien, anak pasien membantu dan mendampingi
pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk
menentukan tindakan yang akan dilakukan. Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat
di RS pasien didampingi oleh anak pasien yang juga membantu pasien memenuhi
kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung
Konservasi Energi: Memberikan posisi pasien semi fowler, berikan oksigen 3 liter/menit
sesuai program, monitor tanda vital, monitor kecepatan, irama dan kedalaman pernafasan,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru, monitor adanya disritmia melalui sistem
monitoring, monitor adanya tanda dan gejala penurunan curah jantung. Konservasi
integritas struktur: Berikan terapi sesuai program: Captopril 3 x 50 mg, Digoxin 1 x 0,125
mg . Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan output
cairan dalam 24 jam, timbang BB setiap hari, monitor adanya indikasi kelebihan cairan:
distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), penambahan BB, peningkatan derajat edema,
monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Berikan terapi sesuai program: Lasik 1 x 1 ampul
IV. Konservasi Integritas Personal:, ajarkan pasien nafas dalam. memberikan privasi
kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi
dalam tindakan keperawatan dan medis, menganjurkan pasien mobilisasi sesuai kemampuan.
Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga
saat dirawat.
Evaluasi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
5
Tekanan darah 146/85 mmHg, Heart rate 125 x/menit, dan respirasi rate 28 x/menit. bunyi
nafas rales, hasil pemeriksaan EKG sinus aritmia dengan ST depresi dan T inverted di I,
aVL, V5-V6. Balance cairan input: 1342 cc, output 2156 cc, balance – 814 cc. Sesak nafas
sudah berkurang dibandingkan dengan saat di IGD (respirasi rate 34 x/menit).
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 5 pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
6
Resume Kasus : NSTEMI Timi 3/7, Hipertensi Stage II.
Tn. DS., usia 56 tahun, pendidikan SLTA, pekerjaan Swasta, suku Batak. Masuk rumah
sakit pada tanggal 9 April 2013 dengan keluhan nyeri dada sejak 18 jam yang lalu. Nyeri
sudah dirasakan sejak 1 bulan yang lalu dengan intensitas yang lebih ringan dan berkurang
dengan Cedocard sub lingual. Saat dilakukan pengkajian, nyeri dada sudah berkurang.
Nyeri dada sejak 18 jam SMRS. Nyeri pertama kali muncul 1 bulan yang lalu dengan
intensitas yang lebih ringan dan berkurang dengan Cedocard sub lingual, saat ini nyeri tidak
berkurang dengan Cedocard. Nyeri dirasakan ditengah dada terasa berat, menjalar ke lengan
kiri dengan durasi > 20 menit, keringat dingin (-), mual muntah (-), sesak nafas (-). Pasien
riwayat CABG tahun 2000, dan pasien tidak kontrol teratur. Pemeriksaan fisik: kesadaran
compos mentis, TD: 154/102 mmHg, HR: 62 x/mnt, RR:18 x/mnt. Mata: konjungtiva tidak
anemis, sklera tidak iktherik. Leher: JVP 5-2 cmH2O. Cor: S1S2 normal, tidak terdapat
murmur dan gallop. Paru: vesikuler, tidak terdapat ronkhi dan wheezing. Abdomen: supel,
hepar dan lien tidak teraba. Ekstrmitas: akral hangat, tidak terdapt edema.
Hasil lab: hs Trop T: 128 U/L, creatinin: 1,69.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: ST depresi di II, III, dan
aVF dan T inv di I, aVL, V5-V6. Kadar hs Trop. T: 128 U/L. Perubahan lingkungan
eksternal: pasien merokok sejak masih muda, setiap hari rata-rata habis 1 bungkus.
Konservasi Energi: pasien mengatakan badan terasa cepat lelah, pasien bedrest. Pasien
makan hanya habis ½ porsi, makanan yang diperbolehkan dikonsumsi adalah 2000 kalori /
24 jam, sedangkan total cairan adalah 1700 cc/24 jam. Konservasi Integritas Struktur:
tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan
iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru
vesikular dan tidak terdapat ronkhi dan wheezing, ekstremitas hangat dan tidak terdapat
edema . Konservasi Integritas Personal: Pasien mengatakan tidak merasa malu terhadap
kondisi yang dialami saat ini, hubungan keluarga dan tetangga tetap terjalin dengan baik.
Pasien beragama Islam dan taat beribadah. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan
atas sakit yang diderita. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi
Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi oleh istri dan anak pasien yang
juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien
mengatakan keluarga mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Nyeri dada, resiko penurunan cardiac output.
Intervensi keperawatan meliputi konservasi energi: Memberikan posisi semi fowler,
memberikan oksigen sesuai program, observasi balance cairan dengan mengukur intakeoutput cairan setiap hari, membatasi intake cairan sesuai program, memberikan terapi medis
sesuai program untuk menurunkan beban jantung, meningkatkan kontraktilitas otot jantung,
memonitor tanda-tanda vital, menganjurkan pasien bedrest & beraktivitas sesuai
kemampuan, konservasi integritas struktur: Berikan terapi sesuai program: Captopril 3 x
50 mg. Lasik 2 x 1 ampul IV. Batasi intake cairan 1700 cc / 24 jam. Monitor intake dan
output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena
jugularis, asites, rhonki (-), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. konservasi integritas
personal: memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan
keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis konservasi integritas
sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 103/82 mmHg, HR: 60x/mnt dan RR: 20x/mnt. Pasien mengatakan dada
sudah tidak nyeri lagi.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
7
Resume Kasus : NSTEMI
Tn. M, usia 54 tahun, menikah, pendidikan universitas, pekerjaan PNS, suku Jawa dengan
nomor rekam medis 2010-29-01-10, masuk rumah sakit tanggal 19 September 2012 dengan
keluhan nyeri dada sejak 1 hari yang lalu. Saat dilakukan pengkajian pasien masih
mengalami nyeri dada.
Pasien mengeluh nyeri dada sejak 1 hari yang lalu. Pencetus terjadinya nyeri dada adalah
karena pasien tidak mengkonsumsi obat. Pasien pernah menjalani PTCA MCI pada 2010
pada CAD 2 VD.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: CAD 2 VD. Perubahan
lingkungan eksternal: pasien merasa terganggu mendengarkan bunyi alat monitor.
Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang
selama 2 – 3 jam, dan malam hari 7 – 8 jam. Pasien makan habis ½ porsi, kadar Hb 8,8 gr%.
Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke, tidak
terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak
terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi dan wheezing,
ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema. Konservasi Integritas Personal: keluarga
menghargai pasien sebagai kepala keluarga. Pasien dilibatkan dalam pengambilan keputusan
terkait dengan tindakan yang akan dilakukan. Konservasi Integritas Sosial: Pasien
mengatakan seluruh anggota keluarga menyayangi pasien. Pasien juga mengasihi semua
anggota keluarga. Selama dirawat di RS pasien didampingi oleh anak pasien yang juga
membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien
mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Evaluasi
Intervensi
Trop
Nyeri dada, resiko penurunan cardiac output,
Konservasi Energi: Memberikan posisi pasien semi fowler, berikan oksigen 3 liter/menit
sesuai program, monitor tanda vital, monitor kecepatan, irama dan kedalaman pernafasan,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru, monitor adanya disritmia melalui sistem
monitoring, monitor adanya tanda dan gejala penurunan curah jantung. Konservasi
integritas struktur: Berikan terapi sesuai program: ISDN 1 x 5 mg, Captopril 3 x 50 mg,
Digoxin 1 x 0,125 mg, tromboaspilet 1 x 80 mg. Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam atau
sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, timbang BB setiap hari,
monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+),
penambahan BB, peningkatan derajat edema, monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl.
Berikan terapi sesuai program: Lasik 1 x 1 ampul IV. Konservasi Integritas Personal:,
ajarkan pasien nafas dalam. memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan
kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis,
menganjurkan pasien mobilisasi sesuai kemampuan. Konservasi integritas sosial:
memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 119/66 mmHg, Frekwensi nadi 80 x/menit, frekwensi nafas 20 x/mnt. Suhu
tubuh 36,60C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Balance cairan (2009-2012): negative 1200 cc, ronkhi -/-. Kadar Natrium: 145 meq/L, Kalium: 3,0 meq/liter,
Calsium: 1,6 meq/liter, Clorida: 96 meq/liter dan Magnesium: 2,1 meq/liter.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 pasien dipindahkan ke GP II lantai 5.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
8
Resume Kasus : ADHF wet and warm ec. Old MI
Tn. PS, usia 59 tahun, menikah, pendidikan SLTA, pekerjaan Wiraswasta, suku Batak,
masuk rumah sakit dengan keluhan sesak nafas yang dialami sejak 1 jam sebelum masuk
rumah sakit. Saat dilakukan pengkajian sesak nafas sudah berkurang.
Pasien mengeluh sesak nafas yang dialami sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit,sesak
nafas dirasakan saat sedang istirahat setelah sarapan pagi. Nyeri dada disangkal, keringat
dingin (-), susah tidur (+), badan lemas (+), DOE (+), OP (-), PND (+). Pasien riwayat
berobat ke UGD 1 hari sebelumnya dengan keluhan yang sama dengan diagnosa CHF ec.
CAD dan pasien menjalani rawat jalan.
Pemeriksaan fisik: Kesadaran CM, TD 79/59 mmHg, HR: 82 x/menit, RR: 18 x/menit. Mata
: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ichterik, leher JVP 5+0 cmH2O, Cor: S1S2 Normal,
Gallop (-), murmur (-), paru: ronkhi basah halus +/+ minimal dibasal, whezing -/-. Abdomen
hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-), BU (+). Ekstremitas: akral hangat, edema -/-.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal:ST depresi di lead I, T
inverted di I, aVL. CTR 70%, segmen aorta elongasi. Hasil echo: EF 33%. MR mild,
akinetik anteroseptal sampai dengan apikal, inferoseptal, segmen lain hipokinetik.
Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok 2 bungkus sehari, pasien minum kopi
sedikitnya 2 gelas/hari. Konservasi Energi: Pasien bedrest, pasien istirahat siang hari 2 ajm,
sedangkan pada malam hari 9 jam. Pasien makan habis 1 porsi, kadar Hb pasien 14,5 gr%.
Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke, tidak
terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak
terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi, ekstremitas
hangat dan tidak terdapat edema. Konservasi Integritas Personal: Pasien mengatakan
petugas kesehatan melibatkan pasien terkait dengan tindakan yang akan dilakukan.
Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi oleh anak dan istri
pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit.
Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), berikan posisi pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan heart rate,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam,
monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor
kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi integritas struktur: Berikan terapi sesuai
program: Captopril 2 x 50 mg. Lasik 2 x 1 ampul IV. Batasi intake cairan 1700 cc / 24 jam
atau sesuai program Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien batuk efektif jika
kondisi pasien memungkinkan, ajarkan pasien nafas dalam. memberikan privasi kepada
pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam
tindakan keperawatan dan medis, menganjurkan pasien mobilisasi sesuai kemampuan.
Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga
saat dirawat.
Tekanan darah 119/80 mmHg, Frekwensi nadi 93 x/menit, frekwensi nafas 20 x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Balance cairan (5-122012): negative 200 cc, ronkhi -/-. Kadar Natrium: 126 meq/L, Kalium: 4,3 meq/liter,
Calsium: 2,41 meq/liter, Clorida: 94 meq/liter dan Magnesium: 2,3 meq/liter.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 pasien dipindahkan ke GP II lantai 5.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Resume Kasus : Acute STEMI anterior ekstensif onset 3 jam
Informasi
Umum
Tn. Sg., usia 41 tahun, beragama Islam, menikah, pendidikan PT, pekerjaan karyawan swasta,
suku Jawa, alamat Jelambar, Grogol Jakarta Barat, dengan nomor rekam medis 2013-34-5911, masuk rumah sakit tanggal 14-03-2013 dengan keluhan nyeri dada yang dirasakan 2,5
jam sebelum masuk rumah sakit. Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 18 Maret 2013
keluhan nyeri dada sudah berkurang.
Intervensi
Pasien mengeluh nyeri dada 2,5 jam sebelum masuk rumah sakit, durasi dirasakan terus
menerus dan pasien tidak bisa menunjukkan lokasi nyeri dada. Nyeri dada dirasakan seperti
tertekan benda berat, keringat dingin membasahi baju (+). Sesak nafas (+), DOE (+),
PND (-), OP (-), kaki bengkak (-), tidur dengan menggunakan 1 bantal. Perut begah (-),
muntah (+).
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal : Terjadi total oklusi pada
LAD proksimal dan stenosis non signifikan pada RCA dan LCx. Perubahan lingkungan
eksternal : Klien merokok sebanyak 1 – 2 bungkus perhari sejak usia remaja. Konservasi
Energi : Pasien istirahat siang dari pukul 12.00-13.00 WIB dan istirahat malam dari pukul
21.00 – 05.00 WIB. Pasien melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal dari
keluarga seperti makan, minum, mandi, toileting dan berpakaian. Pasien makan habis 1 porsi
dari setiap makanan yang disajikan. Konservasi Integritas Struktur : tidak terdapat riwayat
asma, gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera,
suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak
terdapat ronkhi, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema. Konservasi Integritas
Personal : Pasien mengatakan bahwa petugas kesehatan menghargai pasien dan menyertakan
pasien dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan oleh petugas
kesehatan. Konservasi Integritas Sosial : Keluarga mendukung proses penyembuhan pasien
dengan mendampingi pasien saat dilakukan tindakan dan selama rawat inap keluarga
mendampingi pasien.
Nyeri dada, penurunan curah jantung
Konservasi Energi: Posisikan pasien semi fowler dan istirahat total (bedrest), berikan
oksigen 2 – 4 liter / menit (O2 saturasi diatas 95%), monitor intensitas dan progresifitas nyeri,
monitor tekanan darah, frekwensi nadi, monitor dan merekam EKG serial setiap 24 jam,
Konservasi integritas struktur: Pertahankan akses intra vena, berikan terapi sesuai
program :Bisoprolol 1 x 1,25 mg dan ISDN 2 x 5 mg. Konservasi Integritas personal:
ajarkan teknik relaksasi nafas dalam, diskusikan pengertian infark, tanda gejala, faktor
resiko, dan ajarkan cara-cara mencegah dan mengatasi nyeri dada, ajarkan pasien untuk
latihan nafas dalam, dan anjurkan pasien supaya bed rest selama fase akut. Konservasi
integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Evaluasi
Trop
Pengkajian Konservasi
9
Nyeri berkurang dengan skala nyeri 4 dari skala 0-10, tanda vital: tekanan darah 90/52
mmHg, HR : 106 x/menit dan respirasi rate 20x/menit.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
10
Resume Kasus : UAP d/d NSTEMI Timi 4/7
Tn. S.P. usia 47 tahun, agama Kristen, menikah, pendidikan PT, pekerjaan dosen, suku
Toraja, alamat Kemuning, Jakarta dengan nomor rekam medis 2012-17-33-40, masuk rumah
sakit tanggal 18 September 2012 pukul dengan keluhan nyeri dada yang dirasakan sejak 5
jam sebelum masuk rumah sakit. Saat dilakukan pengkajian nyeri dada sudah berkurang.
Klien mengeluh nyeri dada sejak 5 jam sebelum masuk rumah sakit. Keluhan nyeri dada
dirasakan sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu, dengan intensitas yang lebih rendah. Pasien
merupakan pasien lama PJNHK, riwayat minum obat tidak teratur. Nyeri timbul saat klien
sedang melakukan aktivitas. Penjalaran nyeri tidak bisa dilokalisir, nyeri hilang sendiri.
Keringat dingin membasahi baju (-), mual (+), muntah (-),sesak nafas (-), berdebar (-), DOE
(-), OD (-), dan PND (-).
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: Hasil EKG QRS rate 129
x/menit, axix LAD, RSr di V1, terdapat riwayat DM. Perubahan lingkungan eksternal:
pasien mengatakan masih tetap mengajar walaupun kadang muncul nyeri dada, minum obat
tidak teratur. Konservasi Energi: Pasien istirahat siang dari pukul 12.00-13.00 WIB dan
istirahat malam dari pukul 21.00 – 05.00 WIB. Pasien melakukan aktivitas sehari-hari
dengan bantuan minimal dari keluarga seperti makan, minum, mandi, toileting dan
berpakaian. Pasien makan habis 1 porsi dari setiap makanan yang disajikan. Konservasi
Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis
pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan
gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi, ekstremitas hangat dan tidak terdapat
edema. Konservasi Integritas Personal: Pasien mengatakan bahwa petugas kesehatan
menghargai pasien dan menyertakan pasien dalam pengambilan keputusan tentang tindakan
yang akan dilakukan oleh petugas kesehatan. Konservasi Integritas Sosial: Keluarga
mendukung proses penyembuhan pasien dengan mendampingi pasien saat dilakukan
tindakan dan selama rawat inap keluarga mendampingi pasien.
Nyeri dada, penurunan curah jantung , risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Konservasi Energi: Posisikan pasien semi fowler dan istirahat total (bedrest), berikan
oksigen 2 – 4 liter / menit (O2 saturasi diatas 95%), monitor intensitas dan progresifitas
nyeri, monitor tekanan darah, frekwensi nadi, monitor dan merekam EKG serial setiap 24
jam. Konservasi Integritas Struktur: pertahankan akses intra vena, berikan terapi sesuai
program : Bisoprolol 1 x 25 mg, ISDN 3 x 5 mg, Lipartyl 1 x 200 mg, monitor intake nutrisi
dan kalori, pantau adanya tanda/gejala hiperglikemia (trias poli, kelemahan, sakit kepala,
hipotensi, penurunan kesadaran), pantau adanya tanda-tanda hipoglikemia: (takhikardi,
palpitasi, tremor, gelisah, rasa lapar, konfusi, penurunan kesadaran), monitor kadar glukosa
darah, KGDH sesuai program, berikan Humulin 1 x 10 unit, berikan diet DM RG 1800 kkal,
makanan lunak sesuai program. Konservasi Integritas personal: ajarkan teknik relaksasi
nafas dalam, diskusikan pengertian infark, tanda gejala, faktor resiko, dan ajarkan cara-cara
mencegah dan mengatasi nyeri dada, ajarkan pasien untuk latihan nafas dalam, dan anjurkan
pasien supaya bed rest. Konservasi Integritas Sosial : Keluarga mendukung proses
penyembuhan pasien dengan mendampingi pasien saat dilakukan tindakan dan selama rawat
inap keluarga mendampingi pasien.
Tekanan darah 126/75 mmHg, Frekwensi nadi 86 x/menit, frekwensi nafas 21 x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Klien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Akral hangat,
kelemahan (-), murmur (-), gallop (-).
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Resume Kasus : UAP Timi Risk 1/7 dd NSTEMI
Informasi
Umum
Ny. S., usia 45 tahun, agama Islam, menikah, pendidikan SD, pekerjaan ibu rumah tangga,
suku Jawa, alamat Kepa Duri, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dengan nomor rekam medis
2012-33-58-99. Masuk rumah sakit pada tanggal 11 September 2012 dengan keluhan nyeri
dada yang dirasakan sejak 8 jam sebelum masuk rumah sakit. Saat dilakukan pengkajian
nyeri dada sudah berkurang.
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
11
Nyeri dada sebelah kiri sejak 8 jam sebelum masuk rumah sakit dengan karakteristik seperti
tertekan benda berat, menjalar ke punggung dan lengan kiri, keluar keringat dingin sampai
badan basah, mual (+), muntah (-). Nyeri muncul saat posisi sedang duduk, tidak berkurang
dengan penekanan atau perubahan posisi. Pasien berobat ke klinik Tomang dan diberi obat
dibawah lidah, nyeri berkurang. Saat dilakukan pengkajian masih kadang dirasakan nyeri
dada. Skala nyeri 6 dari skala 0 – 10.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: Hasil EKG: SR, QRS
rate 92 x/mnt, axis normal, P wave normal, PR interval 0,12, QRS duration 0,08, ST elevasi
(-), T inverted di V1 dan V2. Perubahan lingkungan eksternal: Pasien merasa tidak betah
dirumah sakit . Konservasi Energi: Pasien merasa cepat lelah, pasien bedrest, pasien makan
habis ½ porsi. Personal hyegene dan kebutuhan sehari-hari dibantu oleh keluarga dan
perawat. Konservasi Integritas Struktur: : tidak terdapat riwayat asma, dan gastritis, tidak
terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak
terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi, ekstremitas
hangat dan tidak terdapat edema. Konservasi Integritas Personal: Pasien mengatakan
petugas kesehatan melibatkan pasien terkait dengan tindakan yang akan dilakukan.
Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi oleh anak dan suami
pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit.
Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Nyeri dada, penurunan curah jantung
Konservasi Energi: berikan posisi pasien semi fowler dan istirahat total (bedrest), berikan
oksigen 2 liter / menit (O2 saturasi diatas 90%), monitor intensitas dan progresifitas nyeri,
monitor tekanan darah, frekwensi nadi, monitor dan merekam EKG serial setiap 24 jam,
Konservasi Integritas Struktural: pertahankan akses intra vena, berikan terapi sesuai
program : ISDN 3 x 5 mg, aspilet 1 x 80 mg dan simvastatin 1 x 20 mg, Captopril 3 x 6,25
mg, lakukan persiapan pasien untuk angiografi koroner bila diperlukan. Konservasi
Integritas Personal: ajarkan teknik relaksasi nafas dalam, diskusikan pengertian infark,
tanda gejala, faktor resiko, ajarkan cara-cara mencegah dan mengatasi nyeri dada, ajarkan
pasien untuk latihan nafas dalam, anjurkan pasien supaya bed rest selama fase akut.
Konservasi integritas Sosial: libatkan keluarga dalam perawatan pasien.
Tekanan darah 132/92 mmHg, Frekwensi nadi 78 x/menit. irama regular. Pulsasi arteri
perifer kuat, CRT < 3 dtk, akral hangat, kelemahan (-), mur-mur (-), gallop (-). Klien mampu
melakukan teknik relaksasi nafas dalam.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Tro
p
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
12
Resume Kasus : UAP d/d NSTEMI timi 4/7, DM 2 GD tak terkontrol
Tn. AS., usia 56 tahun, pekerjaan Swasta, suku Arab, dengan nomor rekam medis 2013-2061-80, masuk rumah sakit pada tanggal 7 April 2013 dengan keluhan nyeri dada sejak 6,5
jam SMRS, nyeri dada dirasakan dengan dada panas. Saat dilakukan pengkajian, nyeri dada
sudah berkurang.
Pasien mengeluh nyeri dada sejak 6,5 jam SMRS, keluhan nyeri dada dirasakan dada terasa
panas. Nyeri dada menjalar ke lengan kiri, disertai dengan keluhan sesak nafas, mual (+),
muntah (+), tetapi tidak disertai dengan keluarnya keringat dingin. Pasien merupakan pasien
baru PJNHK dengan diagnosa UAP d/d NSTEMI timi 4/7, DM 2 GD tak terkontrol.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat diabetes
mellitus dan merokok > 1 bungkus/hari. Hasil pemeriksaan EKG : PR interval 0,20 detik,
QRS axis LAD, ST depresi II, III , V4-V6 dan lead I serta aVL. Hasil pemeriksaan Lab:
CKMB: 163 U/L, dan hs Trop T: 1847 U/L, Na: 127 meq/L, K: 6,0 meq/L dan Cl: 87
meq/L. Hasil ro. thorax: CTR 62%, segmen aorta elongasi, kongesti (+), infiltrat (+). Hasil
pemeriksaan Echo: EDD: 44,ESD: 32, EF: 49%, MR Mild, Hipokinetik di mid apikal dan
anteroseptal. Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok > 1 bungkus setiap hari.
Konservasi Energi: Pasien mengatakan sesak nafas dan badan cepat lelah. Pasien bed rest.
Pasien tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 9-10 jam. Pasien makan habis 1 porsi.
Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke. Tidak
terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, JVP: 5+4 cmH2O, suara jantung
S1S2 normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesicular, terdapat ronkhi basah
halus ½ lapang paru, tidak terdapat wheezing, ekstremitas akral hangat dan tidak terdapat
edema pada ekstremitas bawah. Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam
keluarga baik. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita.
Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama
dirawat di RS pasien didampingi istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi
kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Nyeri dada, gangguan pertukaran gas, resiko penurunan cardiac output.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program
(3liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: ISDN 3 x 5 mg, Plavix 1 x 75 mg, Aspilet 1 x 80 mg, Simvastatin 1 x 20
mg, Lantus 1 x 10 IU, Diazepam 1 x 5 mg dan Heparinisasi dengan Lovenox 2 x 0,6 cc.
Batasi intake cairan 2100 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan output cairan
dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites,
rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal:
ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan
kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis.
Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga
saat dirawat.
Tekanan darah 116/63 mmHg, Frekwensi nadi 92 x/menit, frekwensi nafas 24x/mnt. Suhu
tubuh 36,70C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 135 meq/L, K: 3,3 meq/L, Ca total: 2,2
meq/L, Cl: 97 meq/L dan Mg: 2,1 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 perawatan di IW Medikal, pasien
dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
13
Resume Kasus : Acute STEMI inferior onset 13 jam, timi 2/14, riw. CHF ec. HHD, HT
Tn. BS., usia 50 tahun, pendidikan PT, pekerjaan swasta, suku Jawa, dengan nomor rekam
medis 2013-34-68-48, masuk rumah sakit pada tanggan 31 Maret 2013 dengan keluhan nyeri
dada sejak 12,5 jam. Nyeri dada muncul saat pasien sedang pijat. Saat dilakukan pengkajian,
nyeri dada sudah berkurang.
Pasien mengeluh nyeri dada 12,5 jam SMRS saat pasien sedang pijat, keluhan dirasakan
seperti ditusuk-tusuk tembus kepunggung dengan durasi > 20 menit, nyeri tidak hilang
dengan istirahat, disertai keluar keringat dingin membasahi seluruh badan, pasien tidak mual
dan muntah. Keluhan nyeri dada juga pernah dirasakan oleh pasien 1 hari sebelum masuk
rumah sakit, dengan durasi 5 menit, muncul saat aktivitas (bulu tangkis). Keluhan hilang
dengan istirahat.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, dislipidemia dan merokok 3 bungkus/hari. Hasil pemeriksaan EKG : sinus
aritmia, PR interval 0,24 detik, QRS durasi 0,10 detik, terdapat ST elevasi di II, III, aVF, ST
depresi I, aVL, V1-V4. Hasil pemeriksaan Lab: CKMB: 577 U/L, dan hs Trop T: 2791 U/L.
Leukosit 14.300 /mmk. Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok > 3 bungkus
setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan terasa lemah. Pasien bed rest. Pasien
tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 8-10 jam. Pasien makan habis 1 porsi. Konservasi
Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, dan stroke, tetapi pasien menderita
gastritis. Tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung
S1S2 normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesicular, tidak terdapat ronkhi
dan wheezing, ekstremitas akral hangat dan tidak terdapat edema. Konservasi Integritas
Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan
atas sakit yang diderita. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi
Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi istri pasien yang juga
membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien
mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Nyeri dada, resiko penurunan cardiac output.
Konservasi energi: Monitor status hemodinamik : tekanan darah, heart rate, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program
(3liter/menit), posisikan pasien semi fowler, auskultasi bunyi jantung dan suara paru.
Konservasi integritas struktur : Berikan terapi sesuai program: Dobutamin 2,5
μg/kg/menit, Captopril 3 x 6,25 mg, ISDN 3 x 5 mg, Brilinta 2 x 90 mg, Aspilet 1 x 80 mg,
Pantoprazole 1 x 1 ampul, Diazepam 1 x 5 mg, Aspar K 3 x 1 tablet, Laxadin1 x CI dan
Heparinisasi dengan Lovenox 2 x 0,6 cc. Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai
program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan
cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl.
Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada
pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam
tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan
pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 107/73 mmHg, Frekwensi nadi 60 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 144 meq/L, K: 3,8meq/L, Ca total: 2,08
meq/L, Cl: 94 meq/L dan Mg: 2,1 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 perawatan di CVC, pasien dipindahkan
ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
14
Resume Kasus : UAP d/d STEMI timi 2/7
Tn. DS., usia 37 tahun, pendidikan PT, pekerjaan PNS, suku Batak, dengan nomor rekam
medis 2013-34-74-50, masuk rumah sakit pada tanggal 9 April 2013 dengan nyeri dada yang
dirasakan saat sedang tiduran. Nyeri dirasakan sejak 1 hari yang lalu. Saat dilakukan
pengkajian nyeri dada sudah berkurang.
Pasien mengeluh nyeri dada 1 jam SMRS saat pasien sedang tiduran, keluhan dirasakan ±
30 menit, menjalar ke punggung, tetapi tidak disertai dengan keluar keringat dingin.
Keluhan berkurang dengan istirahat. Keluhan dirasakan pertama kali 1 minggu yang lalu
dengan karakteristik nyeri seperti ditusuk-tusuk , saat itu nyeri dada dipicu oleh emosi,
durasi ± 30 menit, keringat dingin tetapi tidak sampai membasahi baju, nyeri hilang dengan
dipijat. Pasien tidak mengeluh sesak nafas, mual, muntah dan berdebar-debar.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat faktor resiko;
merokok. Hasil pemeriksaan EKG terdapat T Inv di III, dan aVF. Hasil pemeriksaan Lab:
CKMB: 39 U/L, dan hs Trop T: 255 U/L. Perubahan lingkungan eksternal: pasien
merokok sedikitnya sebungkus setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh
terasa lemah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 8-10 jam.
Pasien makan habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma,
gastritis dan stroke. Tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara
jantung S1S2 normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesicular, tidak terdapat
ronkhi dan wheezing, ekstremitas akral hangat dan tidak terdapat edema. Konservasi
Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien berdoa berharap mendapat
kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak
mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi istri
pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit.
Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Nyeri dada, resiko penurunan kardiak out put.
Konservasi energi: Monitor status hemodinamik : tekanan darah, heart rate, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program
(3liter/menit), berikan pasien posisi semi fowler, auskultasi bunyi jantung dan suara paru.
Konservasi integritas struktur : Berikan terapi sesuai program: ISDN 3 x 5 mg, Plavix 1x
75 mg, Aspilet 1 x 80 mg, Simvastatin 1 x 20 mg, Concor 1 x 2,5 mg, Laxadin1 x CI dan
Heparinisasi dengan Lovenox 2 x 0,6 cc. Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai
program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan
cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl.
Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada
pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam
tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan
pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 120/65 mmHg, Frekwensi nadi 75 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,40C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 133 meq/L, K: 4,1 meq/L, Ca total: 2,35
meq/L, Cl: 99 meq/L dan Mg: 2,0 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 perawatan di CVC, pasien dipindahkan
ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Informasi
Umum
15
Resume Kasus : ADHF w/w pada CHF ec. acute anterior MI, Hipertensi St. II
Tn. GHC., usia 64 tahun, pendidikan SLTA,pekerjaan pedagang, suku Tionghoa, dengan
nomor rekam medis 2012-33-60-07, masuk rumah sakit pada tanggal 7 Maret 2013 dengan
keluhan sesak nafas yang dirasakan memberat sejak 2 minggu SMRS. Saat dilakukan
pengkajian sesak nafas sudah berkurang.
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Sesak nafas dirasakan memberat sejak 2 minggu SMRS, DOE (+), PND (+) dan OP (+),
selain itu pasien juga mengeluh perut begah dan kaki bengkak. Sesak nafas sudah sering
dirasakan oleh pasien sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu, hanya berobat jalan. Pasien tidak
mengeluh nyeri dada. Pasien merupakan pasien lama RS PJNHK. Terakhir kontrol pada
bulan Oktober 2012. Obat yang diminum pasien adalah Lasix 1 x 1 tab, Aspilet 1 x 1 tab,
Digoxin 1 x ½ tab.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, dislipidemia, faktor keturunan dan merokok. Hasil pemeriksaan EKG: QRS rate
110x/menit, axis LAD, ST elevasi di V1-V5, rS di V1-V5, II, III , aVF, ST depresi dengan T
inv di V6, terdapat VES dan LVH. Hasil rontgen thorak CTR 80%, dan terdapat kongesti.
Hasil Echocardiografi: EDD 69, ESD 63, EF: 16%, Tapse 1,4 cm, akinetik anteroseptal,
segmen lain hipokinetik. Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok sedikitnya
sebungkus setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah. Pasien
bed rest. Pasien tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 7 – 9 jam. Pasien makan habis 1/3
porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma dan stroke, tetapi
pasien menderita gastritis, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera,
suara jantung S1S2 normal, terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan terdapat
ronkhi basah halus pada 1/3 basal paru, dan terdapat wheezing, ekstremitas hangat dan
terdapat edema pada ekstremitas bawah. Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam
keluarga baik. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat
ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial:
Selama dirawat di RS pasien didampingi anak dan istri pasien yang juga membantu pasien
memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai
program (3 liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi
nadi, auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan
terapi sesuai program: ISDN 3 x 5 mg, Tromboaspilet 1 x 80 mg, Aldactone 1 x 25 mg,
Interpril 1x2,5 mg, Lasix 2x80 mg, Simvastatin 1x20 mg, Aldactone 1 x 50 mg,
Tromboaspilet 1 x 80 mg. Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai program.
Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan:
distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl.
Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada
pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam
tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan
pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 152/94 mmHg, Frekwensi nadi 110 x/menit, frekwensi nafas 22 x/mnt. Suhu
tubuh 36,60C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 132 meq/L, K: 4,0 meq/L, Ca total: 2,3
meq/L, Cl: 99 meq/L dan Mg: 2,0 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial belum adequat, pasien belum stabil
sehingga pasien belum beradaptasi secara optimal dan pasien dipindah ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Informasi
Umum
16
Resume Kasus : CHF fc III ec. acute anterior MI.
Tn. HD., usia 59 tahun, pendidikan PT, pekerjaan Swasta, suku Batak, dengan nomor rekam
medis 2012-33-48-51, masuk rumah sakit pada tanggal 4 Maret 2013 dengan keluhan sesak
nafas sejak 6 hari yang lalu. Saat dilakukan pengkajian sesak nafas sudah berkurang.
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Sesak nafas dirasakan memberat sejak 6 hari SMRS, DOE (+), PND (+) dan OP (+), selain
itu pasien juga mengeluh perut begah dan kaki bengkak. Sesak nafas sudah sering dirasakan
oleh pasien sejak kurang lebih 7 bulan SMRS. Pasien tidak mengeluh nyeri dada. Pasien
sering opname di RS Fatmawati, terakhir opname tanggal 26 Februari 2013. Di RS
Fatmawati dilakukan aspirasi cairan paru. Pasien merupakan pasien baru RS PJNHK. Obat
yang diminum pasien adalah Captopril 2x12,5 mg, Nitrokaf R 2x150 mg, OMZ 2x1 cap,
Furosemide 3x40 mg, Simvastatin 1x20 mg, Plavix 1x75 mg dan Salbutamol 3x2 mg.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, diabetes dan merokok. Hasil pemeriksaan EKG terdapat Q di V1-V4. Hasil
rontgen thorak CTR 60% dan terdapat kongesti serta efusi pleura bilateral. Hasil
Echocardiografi: LV dilatasi dengan EF: 26%. Perubahan lingkungan eksternal: pasien
merokok sedikitnya sebungkus setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh
cepat lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 7 – 9 jam.
Pasien makan habis 1/3 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma
dan stroke, tetapi pasien menderita gastritis, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan
iktherik pada sklera, suara jantung S1S2 normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara
paru vesikular dan terdapat ronkhi basah halus pada 1/3 basal paru, tidak terdapat wheezing,
ekstremitas hangat dan terdapat edema pada ekstremitas bawah. Konservasi Integritas
Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan
atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+).
Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi anak dan istri
pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit.
Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Captopril 3 x 12,5 mg, Aspilet 1 x 80 mg, Nitrokaf R 2x150 mg, OMZ 2x1
cap, Furosemide 3x40 mg, Simvastatin 1x20 mg, Plavix 1x75 mg, Salbutamol 3x2 mg,
Bisoprolol 1 x 1,25 mg, Aldactone 1 x 50 mg, Tromboaspilet 1 x 80 mg, Digoxin 1 x 1,25
mg dan Lantus 1 x 16 IU. Batasi intake cairan 1500 cc / 24 jam atau sesuai program.
Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan:
distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl.
Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada
pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam
tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan
pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 87/77mmHg, Frekwensi nadi 130 x/menit, frekwensi nafas 18x/mnt. Suhu
tubuh 36,70C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 134 meq/L, K: 3,1 meq/L, Ca total: 2,24
meq/L, Cl: 90 meq/L dan Mg: 1,8 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial belum adequat, pasien belum stabil
sehingga pasien belum dapat beradaptasi dan pasien dipindah ke CVC.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
17
Resume Kasus : NSTEMI timi 5/7. CAD 3 VD post CABG, Hipertensi, DM 2.
Tn. IS., usia 41 tahun, pendidikan SLTA, pekerjaan swasta, suku Jawa, dengan nomor rekam
medis 2012-34-09-46, masuk rumah sakit pada tanggal 8 Maret 2013 dengan keluhan nyeri
dada kiri khas angina dan progresif. Saat dilakukan pengkajian nyeri dada sudah berkurang.
Nyeri dada kiri khas angina dan progresif. Pasien mengeluh nyeri dada kiri sejak 4 jam
SMRS dirasakan pasien dengan durasi > 20 menit, disertai dengan keringat dingin
membasahi baju, tidak berkurang dengan pemijatan, tidak dipengaruhi oleh peruabahan
posisi, mual (+), muntah (+), sesak nafas (-), OP (-), DOE (+), PND (-), pasien tidak
mengeluh berdebar-debar. Nyeri dada berat (8/10), lebih berat dari pada sebelum CABG
(pasien CABG pada 22/1/2013). Obat yang diminum pasien adalah: Norvask 1 x 5 mg,
Cedocard 3x20 mg, Glucophage1 x 500 mg, Aprovel 1 x 300 mg dan Tromboaspilet 1x80
mg.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, diabetes dan merokok. Hasil pemeriksaan EKG terdapat T inverted di I, dan aVL,
dan LVH. Hasil rontgen thorak terdapat segmen aorta elongasi. Hasil pemeriksaan Lab: hs
Trop T: 28 U/L, GDS 219 mg/dL. Tekanan darah 165/105 mmHg. Perubahan lingkungan
eksternal: pasien merokok sedikitnya sebungkus setiap hari. Konservasi Energi: Pasien
mengatakan tubuh cepat lelah, terutama jika melakukan aktivitas yang berat. Pasien bed rest.
Pasien tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 7-9 jam. Pasien makan habis 1 porsi.
Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke, tidak
terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung S1S2 normal, tidak
terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan terdapat ronkhi basah halus pada 1/3
basal paru, tidak terdapat wheezing, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema.
Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien berdoa berharap
mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik,
kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi
anak dan istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat
dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai
kesembuhan.
Nyeri dada, gangguan pertukaran gas.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Captopril 3 x 6,25 mg, ISDN 3 x 5 mg, Loading Plavix 300 mg, Aspilet 1 x
80 mg, Simvastatin 1 x 20 mg, Furosemide 1 x 40 mg, Glucophage 1 x 500 mg, Aprovel 1 x
300 mg, Lasix1 x 20 mg dan Heparinisasi dengan Lovenox 2 x 0,6 cc.Batasi intake cairan
1800 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam,
monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor
kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas
dalam, memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan
keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi
integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 129/79 mmHg, Frekwensi nadi 92 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,40C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 137 meq/L, K: 3,9 meq/L, Ca total: 2,24
meq/L, Cl: 108 meq/L dan Mg: 2,1 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 perawatan di IW Medikal, pasien
dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Informasi
Umum
18
Resume Kasus : UAP d/d STEMI, Hipertensi dan DM type 2.
Tn. J.S., usia 52tahun, pendidikan PT, pekerjaan PNS, suku Batak, dengan nomor rekam
medis 2013-34-64-80, masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri dada seperti diremas-remas
4 jam SMRS, nyeri timbul saat pasien sedang tidur. Saat dilakukan pengkajian nyeri dada
sudah berkurang.
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Nyeri dada dirasakan sejak 4 hari SMRS, nyeri dada muncul saat pasien sedang tidur, nyeri
tidak dapat dilokalisir, durasi > 20 menit, keringat dingin (+),tetapi tidak sampai membasahi
baju, mual (-), muntah (-), sesak nafas (-) dan pasien tidak mengeluh berdebar-debar. Nyeri
berkurang dengan ISDN. Pasien merupakan pasien baru RS PJNHK. Kurang lebih 5 tahun
yang lalu pasien dipasang 2 stent di RS Medan. Obat yang diminum pasien adalah Manecto
2x20 mg, Amlodipine 1x10 mg, Amaryl 1x3 mg, Lanzoprazole 1x30 mg, Bisoprolol 1 x 5
mg dan Aspilet 1x80 mg.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, diabetes dan merokok. Hasil pemeriksaan EKG terdapat rS di V1, Q di III, aVF,
dan S persisten di V5-V6. Hasil rontgen thorak terdapat dilatasi segemen Aorta. Perubahan
lingkungan eksternal: pasien merokok sedikitnya sebungkus setiap hari. Konservasi
Energi: Pasien mengatakan tubuh lemes dan cepat lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang
selama 2 jam, dan malam hari 8-9 jam. Pasien makan habis 1 porsi. Konservasi Integritas
Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis pada
konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung S1S2 normal, tidak terdapat murmur dan
gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi dan wheezing, ekstremitas hangat
dan tidak terdapat edema. Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik.
Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi
dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di
RS pasien didampingi anak dan istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi
kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Nyeri dada, penurunan curah jantung.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (3
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Captopril 3 x 50 mg, Plavix 1 x 75 mg, Monecto 2 x 20 mg, Tromboaspilet
1 x 80 mg, Amaryl 1x3 mg, Simvastatin 1 x 20 mg dan Diazepam 1 x 5 mg, Laxadin1 x CI
serta heparinisasi dengan Lovenox 2 x 0,6 cc. Batasi intake cairan 1500 cc / 24 jam atau
sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi
kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah:
Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan
privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk
berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial:
memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 129/82 mmHg, Frekwensi nadi 70 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 134 meq/L, K: 3,9 meq/L, Ca total: 2,07
meq/L, Cl: 106 meq/L dan Mg: 2,1 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 perawatan di CVC, pasien dipindahkan
ke GP II lantai 4.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Informasi
Umum
19
Resume Kasus : UAP d/d NSTEMI, DM type 2 tak terkontrol.
Tn. J.L., usia 50 tahun, pendidikan PT, pekerjaan swasta, suku Batak, dengan nomor rekam
medis 2013-34-66-75, masuk rumah sakit pada tanggal 26 Maret 2013 dengan keluhan nyeri
dada 1 hari yang lalu pada saat makan malam. Saat dilakukan pengkajian nyeri dada sudah
berkurang.
Pengkajian Konservasi
Nyeri dada, penurunan curah jantung
Evaluasi
Intervensi
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat diabetes
mellitus ( GDS 177 mg/dL) dan merokok. T inv diIII dan aVF. Hasil rontgen thorak terdapat
kongesti. Perubahan lingkungan eksternal: pasien mengatakan sakit kepalanya bertambah
karena suara monitor tekanan darah. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat
lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama kurang lebih 2 jam, dan malam hari 7 – 8
jam. Pasien makan habis 1/2 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat
asma, gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera,
suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak
terdapat ronkhi dan wheezing, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema. Konservasi
Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien berdoa berharap mendapat
kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak
mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi anak dan
istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah
sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Trop
Nyeri dada dirasakan sejak 1 hari SMRS, pada saat pasien sedang makan malam, nyeri
dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan durasi 15-20 menit. DOE (-), PND (-) dan OP (-).
Selain itu pasien juga mengeluh punggung terasa pegal. Dalam 1 bulan terakhir pasien
mengalami nyeri dada sebanyak 3 kali. 3 minggu sebelumnya pasien berobat ke RS UKI.
Keluhan yang dirasakan saat ini adalah sakit kepala, terutama saat pasien membuka mata.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: ISDN 3 x 5 mg. Loding Plavix 300 mg, Loding Aspilet 160 mg,
Simvastatin 1 x 20 mg dan DZP 1 x 5 mg, Laxadin 1 x CI serta heparinisasi dengan Arixtra
1x 2,5 mg. Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan
output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena
jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi
Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada pasien,
memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan
keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan pasien
untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 125/60 mmHg, Frekwensi nadi 68 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,40C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Kemampuan
wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur, integritas personal
dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga pasien dapat
beradaptasi dan pada hari ke 2 perawatan di CVC, pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
20
Resume Kasus : UAP d/d NSTEMI timi 5/7. AV Block 1st degree, CAD, Hipertensi, DM 2.
Tn. MS., usia 70 tahun, pendidikan PT, pekerjaan PNS, suku Batak, dengan nomor rekam
medis 2013-34-53-08, masuk rumah sakit pada tanggal 24 Maret 2013 dengan keluhan nyeri
dada hebat hingga keringat dingin membasahi baju. Saat dilakukan pengkajian nyeri dada
sudah berkurang.
Nyeri dada hebat hingga keringat dingin membasahi baju, mual (+), muntah (-), dialami
sejak 3 hari yang lalu. Sejak 4 hari yang lalu pasien tidak mau makan. Sebelumnya pasien
mengeluh nyeri dada 6 hari yang lalu, saat sedang tidur, sesak nafas (-), OP (-), DOE (-),
PND (-). Pasien juga mengeluh mudah lelah bila beraktivitas berat. Pasien sudah terjadwal
CABG bulan April 2013. Obat yang diminum pasien adalah ISDN: 3 x 10 mg, Ramipril
1x2,5 mg, Simark 1 x 2 mg, Flumucyl 2 x 10 mg, Carvedilol 1 x 3, 25 mg dan Aspilet 1x80
mg.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, diabetes dan merokok. Hasil pemeriksaan EKG terdapat PR interval 0,24 detik, Q
di III dan aVF, ST depresi di V4-V6. Hasil rontgen thorak CTR 56% dan terdapat kongesti.
Hasil pemeriksaan Lab: hs Trop T: 42 U/L, GDS 205 mg/dL. Hasil Cath Lab: LAD multiple
stenosis 70-80%, LCx stenosis multiple 70-80% dan RCA total oklusi. Perubahan
lingkungan eksternal: pasien merokok sedikitnya sebungkus setiap hari. Konservasi
Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah, terutama jika melakukan aktivitas yang berat.
Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 7 – 8 jam. Pasien makan
habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan
stroke, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung S1S2
normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan terdapat ronkhi basah
halus pada 1/3 basal paru, tidak terdapat wheezing, ekstremitas hangat dan terdapat edema.
Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien berdoa berharap
mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik,
kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi
anak dan istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat
dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai
kesembuhan.
Nyeri dada, penurunan curah jantung.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Carvedilol 2 x 3,125 mg, ISDN 3 x 10 mg, Plavix 1 x 2,5 mg, Aspilet 1 x 80
mg, Hidralazine 3x12,5 mg, Simvastatin 1 x 20 mg dan Furosemide 1 x 40 mg, Laxadin1 x
CI dan DZP 1 x 5 mg. Batasi intake cairan 2000 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor
intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi
vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi
Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada pasien,
memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan
keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan pasien
untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 140/69mmHg, Frekwensi nadi 77 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,40C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 134 meq/L, K: 3,0 meq/L, Ca total: 2,07
meq/L, Cl: 102meq/L dan Mg: 2,5 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 perawatan di CVC, pasien dipindahkan
ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
21
Resume Kasus : UAP d/d NSTEMI timi 2/7, ADHF ec ACS. Hipertensi emergensi.
Ny. M., usia 87 tahun, menikah, pendidikan SR, pekerjaan ibu rumah tangga, suku Jawa,
dengan nomor rekam medis 2013-34-73-72, masuk rumah sakit pada tanggal 9 April 2013
dengan keluhan sesak nafas sejak 1 minggu yang lalu, dirasakan hilang timbul. sesak nafas
dirasakan semakin lama semakin memberat. Saat dilakukan pengkajian, sesak nafas masih
dirasakan.
Pasien mengeluh sesak nafas yang memberat sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu. Sesak
nafas dirasakan memberat. DOE (+), OP (+) dan PND (+). Tidak terdapat nyeri dada, mual
dan muntah. Pasien tidak mengatakan adanya keringat dingin. Pasien merupakan pasien
baru RS PJNHK. Selama ini pasien berobat ke RS di Boyolali. Obat yang dikonsumsi pasien
adalah Natrium diklofenax 2 x 1 tab., ISDN 2 x 5 mg, Nifedipin 2 x 10 mg dan Allupurinol
1 x 1 tablet.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, dislipidemia dan menopause. EDD : 34, ESD : 18, EF 50 %, tapse 2,3 cm, P
wave mitral, ST depresi V5-V6, T inv V2,V6. Hasil rontgen thorak terdapat kongesti. Pasien
menderita diabetes mellitus. Perubahan lingkungan eksternal: pasien minum obat tidak
teratur dan minum kopi sedikitnya 1 gelas setiap hari. Konservasi Energi: Pasien
mengatakan tubuh cepat lelah dan sesak nafas. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2 –
4 jam, dan malam hari 8 – 9 jam. Pasien makan habis ½ porsi. Konservasi Integritas
Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis pada
konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan
gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi dan wheezing, ekstremitas hangat
dan tidak terdapat edema. Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga
terjalin dengan baik. Pasien taat beribadah. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan
atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+).
Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi anak pasien yang
juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien
mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: ISDN 3 x 5 mg. Aspilet 1 x 80 mg, dan Amlodipin 1 x 10 mg serta
heparinisasi dengan Lovenox 2 x 0,6 cc. .Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai
program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan
cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl.
Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada
pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam
tindakan keperawatan dan medis, menganjurkan pasien mobilisasi sesuai kemampuan.
Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga
saat dirawat.
Tekanan darah 190/98 mmHg, Frekwensi nadi 82x/menit, frekwensi nafas 20 x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam, ronkhi -/-. Kadar
Natrium: 138 meq/L, Kalium: 3,2 meq/liter, Calsium: 2,14 meq/liter, Clorida: 106 meq/liter
dan Magnesium: 2,0 meq/liter.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial belum baik, pasien belum stabil sehingga pasien
masih perlu dilakukan perawatan diruang CVC.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
22
Resume Kasus : ADHF e.c LA Myxoma, Efusi pleura dextra.
Tn. PJP., usia 39 tahun, pendidikan universitas, pekerjaan swasta, suku Jawa, dengan nomor
rekam medis 2013-34-84-03, masuk rumah sakit pada tanggal 25 April 2013 dengan keluhan
sesak nafas yang memberat sejak 2 minggu SMRS. Saat dilakukan pengkajian sesak nafas
sudah berkurang.
Sesak nafas dirasakan sejak 2 minggu SMRS, sesak nafas dirasakan saat melakukan
aktivitas maupun tidak, DOE (+), PND (+) dan OP (+), batuk (+),demam (-), mual (-),
muntah (-) dan nyeri dada (-). 2 minggu yang lalu pasien sudah dilakukan echocardiografi di
Surabaya, hasil Echo : LA myxoma. Pasien dirujuk ke PJNHK untuk terapi lebih lanjut.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: hasil Echocardiogram
terdapat myxoma pada LA besar dan bertangkai. Hasil rontgen thorak CTR 70%, terdapat
kongesti dan efusi paru kanan. Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok
sedikitnya sebungkus setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah.
Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2 – 3 jam, dan malam hari 7 – 8 jam. Pasien
makan habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis
dan stroke, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung
normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan terdapat ronkhi basah
halus 1/3 lapang paru dan wheezing (-), ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema.
Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien taat beribadah.
Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi
dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di
RS pasien didampingi anak dan istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi
kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, resiko penurunan curah jantung
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (4
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Captopril 3 x 6,25 mg, Lasix drip 5 mg/jam. Batasi intake cairan 1800 cc /
24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor
adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar
elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam,
memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga
untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial:
memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 107/68 mmHg, Frekwensi nadi 103 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,60C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Kemampuan
wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur, integritas personal
dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga pasien dapat
beradaptasi dan pada hari ke 2 perawatan di CVC, pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
23
Resume Kasus : ADHF wet/warm ec. HHD, VES multifokal
Tn. SMR., usia 83 tahun, pendidikan tidak sekolah, pekerjaan (-), suku Jawa, dengan nomor
rekam medis 2012-33-01-46, masuk rumah sakit pada tanggal 4 April 2013 dengan keluhan
sesak nafas yang memberat sejak 2 hari yang lalu. Saat dilakukan pengkajian, sesak nafas
sudah berkurang.
Sesak nafas yang memberat sejak 2 hari yang lalu, sesak nafas timbul saat melakukan
aktivitas sedang (menimba air). Sesak nafas pertama kali dirasakan sejak 4 bulan yang lalu.
Pasien juga mengalami DOE (+), PND (+), dan OP (+). Selain itu juga pasien mengeluh
cepat lelah. Sejak 2 hari SMRS pasien mengeluh sulit tidur karena sesak nafas.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat stroke
sejak 2 tahun yang lalu, faktor keturunan dan menopause. QRS LAD, P wave LAE, VES
multifokal. Hasil rontgen thorax: CTR 67%, segmen aorta elongasi, kalsifikasi (+), infiltrat
(+) dan kongesti (+). Perubahan lingkungan eksternal: pasien merasa asing dengan
lingkungan rumah sakit yang baru. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat
lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 3-4 jam, dan malam hari 7-9 jam. Pasien
makan habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, dan
gastritis, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung
S1S2 normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan terdapat ronkhi
basah 1/3 basal paru dan tidak terdapat wheezing, ekstremitas hangat dan tidak terdapat
edema terdapat hemiparese dekstra. Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam
keluarga baik. Pasien taat beribadah. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas
sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+).
Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi anak dan istri
pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit.
Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Candesartan 1 x 5 mg. Lasix 1 x 40 mg, Tromboaspilet 1 x 80 mg, Amaryl 1
x 2 mg, DZP 1x5 mg, Laxadin1 x CI, Metformin 3x500 mg, dan Carvedilol 2x3,125 mg
serta Amiodarone bolus 150 mg, maintenance 360 mg 6 jam I dan 540 mg 18 jam II. Batasi
intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam
24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+),
monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien
nafas dalam, memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan
keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi
integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 131/68 mmHg, Frekwensi nadi 89 x/menit, frekwensi nafas 22x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Hasil pemeriksaan lab: Na: 134 meq/L, K: 4,0 meq/L, Ca Total: 2,22 meq/L,
Cl: 103meq/L dan Mg: 2,2 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 perawatan di IW Bedah, pasien dipindahkan ke
GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Informasi
Umum
24
Resume Kasus : ADHF wet/warm pada CHF fc III ec. acute anterior MI, VES trigemini .
Tn. SW., usia 52 tahun, pendidikan SR, pekerjaan buruh, suku Jawa, dengan nomor rekam
medis 2009-27-12-03, masuk rumah sakit pada tanggal 26 Maret 2013 dengan keluhan sesak
nafas yang memberat yang dirasakan sejak 3 hari SMRS. Saat dilakukan pengkajian sesak
nafas sudah berkurang.
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Sesak nafas dirasakan memberat sejak 3 hari SMRS, sesak nafas muncul saat pasien
melakukan aktivitas ringan, DOE (-), PND (-) dan OP (-). Selain sesak nafas pasien juga
mengeluh batuk. Pasien merupakan pasien lama RS PJNHK dengan diagnosa ADHF w/w
pada CHF ec. Old AMI. TR mild, PH moderate. Obat yang diminum pasien adalah
Captopril 3x50 mg, Spironolaktone 1x20 mg, Furosemide 3x40 mg, Simvastatin 1x20 mg,
Bisoprolol 1x1,25 mg dan Aspilet 1x80 mg.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, diabetes dan merokok. Hasil pemeriksaan EKG terdapat VES dan poor R di V1V5. Hasil rontgen thorak CTR 70% dan terdapat infiltrat. Hasil Echocardiografi: EDD 83,
ESD: 74, EF: 24%, dan Tapse: 1,5 cm. Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok
sedikitnya sebungkus setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah.
Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 7 – 8 jam. Pasien makan
habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan
stroke, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung S1S2
normal, terdapat pansystolic murmur (PSM) 3/6, tidak terdapat gallop. Suara paru vesikular
dan terdapat ronkhi basah halus pada 1/3 basal paru, tidak terdapat wheezing, ekstremitas
hangat dan terdapat edema. Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga
baik. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini.
Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama
dirawat di RS pasien didampingi anak dan istri pasien yang juga membantu pasien
memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Captopril 3 x 50 mg, Simarc 2 x 2 mg, Maintate 1 x 2,5 mg, Aspilet 1 x 80
mg, Metformin 1x500 mh, Simvastatin 1 x 20 mg dan Furosemide 2 x 80 mg, Laxadin1 x CI
serta heparinisasi dengan Lovenox 2 x 0,6 cc. Batasi intake cairan 1500 cc / 24 jam atau
sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi
kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah:
Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan
privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk
berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial:
memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 93/67mmHg, Frekwensi nadi 92 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,40C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 134 meq/L, K: 3,6 meq/L, Ca total: 2,09
meq/L, Cl: 104 meq/L dan Mg: 1,7 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 perawatan di CVC, pasien dipindahkan
ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Informasi
Umum
25
Resume Kasus : UAP d/d NSTEMI, Hipertensi TD tak terkontrol, DM type 2.
Tn. SBD., usia 52 tahun, pendidikan SD, pekerjaan buruh, suku Jawa, dengan nomor rekam
medis 2013-34-71-96, masuk rumah sakit pada tanggal 5 April 2013 dengan keluhan nyeri
dada sejak 5 jam SMRS. Nyeri dada dirasakan seperti diremas-remas, menjalar kepunggung
saat pasien sedang tiduran. Saat dilakukan pengkajian, nyeri dada sudah berkurang.
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Nyeri dada dirasakan sejak 5 jam SMRS, nyeri dirasakan seperti di remas-remas, menjalar
ke punggung saat pasien sedang tiduran. Nyeri dada baru pertama kali dirasakan, tidak
disertai mual dan muntah, tetapi terdapat keringat dingin yang membasahi baju. Pasien tidak
mengalami sesak nafas dan berdebar-debar. Kurang lebih 1 tahun belakangan ini pasien
mengeluh cepat capek/lelah. DOE (-), PND (-) dan OP (-).
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, diabetes mellitus ( GDS 311 mg/dL) dan merokok. QRS rate 48x/menit, ST
elevasi diIII dan aVF. Hasil rontgen thorak terdapat kongesti. Perubahan lingkungan
eksternal: pasien merokok sedikitnya sebungkus setiap hari dan sering minum teh manis.
Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur
siang selama 2 – 3 jam, dan malam hari 7 – 8 jam. Pasien makan habis 1 porsi. Konservasi
Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis dan stroke, tidak terdapat anemis
pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan
gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi dan wheezing, ekstremitas hangat
dan tidak terdapat edema. Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik.
Pasien taat beribadah. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita
saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas
Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi anak dan istri pasien yang juga membantu
pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga
sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Nyeri dada, penurunan curah jantung
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: ISDN 3 x 5 mg, Plavix 1 x 75 mg, Aspilet 1 x 80 mg, Simvastatin 1 x 20 mg
dan DZP 1 x 5 mg, Laxadin1 x CI serta heparinisasi dengan Lovenox 2 x 0,6 cc. Batasi
intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam
24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+),
monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien
nafas dalam, memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan
keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi
integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 126/62 mmHg, Frekwensi nadi 53 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,60C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Kemampuan
wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur, integritas personal
dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga pasien dapat
beradaptasi dan pada hari ke 2 perawatan di CVC, pasien dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Tro
p
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
26
Resume Kasus : ADHF e.c old anterior MCI, unstable VT, DM 2.
Tn. SS., usia 56 tahun, pendidikan SLTA, pekerjaan swasta, suku Jawa, dengan nomor
rekam medis 2007-23-64-91, masuk rumah sakit pada tanggal 9 April 2013 dengan keluhan
sesak nafas sejak 1 hari SMRS, memberat sejak 3 jam SMRS. Saat dilakukan pengkajian
sesak nafas sudah berkurang.
Pasien mengeluh sesak nafas sejak 1 hari SMRS, keluhan memberat 3 jam SMRS. Pasien
tidur dengan posisi duduk, cepat lelah (+), batuk (+), perut begah (+), kaki bengkak (+),
sesak ketika tidur hingga terbangun (+), nyeri dada (-), mual (+), muntah (-), berdebar-debar
(+). Pasien merupakan pasien lama PJNHK dengan diagnosa ADHF e.c anterior AMI.
Sudah 1minggu pasien tidak minum obat karena sudah merasa enakan. Kontrol terakhir
pada tanggal 23 Februari 2013 saat itu dapat terapi : Digoxin 1 x 6,25 mg, Lantus 1 x 10 IU,
Lasix 2 x 2 tab, Candesartan 1 x 4 mg. Riwayat asma (-), gastritis (-), dan stroke (-).
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, diabetes mellitus dan merokok > 1 bungkus/hari. Hasil pemeriksaan EKG :
ventrikel takhikardi, rate 221 x/menit, QRS durasi 0,16 detik. Hasil pemeriksaan Lab:
leukosit 21.000 /mmk, creatinin: 2,23, CKMB: 577 U/L, dan hs Trop T: 2791 U/L. Leukosit
14.300 /mmk. Hasil ro. thorax: CTR 75%, segmen aorta elongasi. Hasil pemeriksaan Echo:
EDD: 54,ESD: 44, EF: 24%, PE minimal. Perubahan lingkungan eksternal: pasien
merokok > 3 bungkus setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan badan cepat
lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 2 jam, dan malam hari 9-10 jam. Pasien
makan habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma, gastritis
dan stroke. Tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, JVP: 5+4
cmH2O, suara jantung S1S2 normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru
vesicular, terdapat ronkhi basah halus ½ lapang paru, tidak terdapat wheezing, abdomen:
ascites (+), ekstremitas akral hangat dan terdapat edema pada ekstremitas bawah.
Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien berdoa berharap
mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak
mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi istri
pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit.
Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, resiko penurunan cardiac output.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program
(3liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Digoxin 1 x 0,25 mg, Spironolakton 1 x 25 mg, Candesartan 1 x 4 mg, Lasix
2 x 1 ampul, Lantus 1 x 10 IU dan Dobutamin 5 μg/kg/menit. Batasi intake cairan 2100 cc /
24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor
adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar
elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam,
memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga
untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial:
memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 93/70 mmHg, Frekwensi nadi 117 x/menit, frekwensi nafas 24x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 135 meq/L, K: 3,3 meq/L, Ca total: 2,2
meq/L, Cl: 97 meq/L dan Mg: 2,1 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 perawatan di IW Medikal, pasien
dipindahkan ke GP II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
27
Resume Kasus : ADHF wet/warm pada CHF ec. CAD, CAD 3 VD, DM 2.
Tn. S.N., usia58 tahun, pendidikan PT, pekerjaan PNS, suku Batak, dengan nomor rekam
medis 2013-34-65-29, masuk kerumah sakit pada tanggal 4 April 2013, dengan keluhan
sesak nafas yang memberat dalam 2 jam. Sesak nafas sudah dirasakan sejak 4 bulan yang
lalu. Saat dilakukan pengkajian sesak nafas sudah berkurang.
Sesak nafas memberat dirasakan sejak 2 jam SMRS, sesak nafas pertama kali dirasakan
sejak 4 bulan yang lalu. DOE (+), PND (+), OP (+). Pasien tidak mengalami nyeri dada dan
berdebar-debar. Pasien dengan CAD 3 VD dengan jadwal operasi CABG pada tanggal 6
Mei 2013. Obat yang diminum pasien adalah Vascardin 3 x10 mg, Simvastatin 1 x 20 mg,
Ramixal 1 x 5 mg, Furosemide 1 x 40 mg dan Nitrokaf 1 x 1 tablet. Obat tidak teratur
diminum.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat 3 VD yaitu;
RCA stenosis total, LAD stenosis proximal 70-80%, dan LCx oklusi total. Terdapat riwayat
gastritis, diabetes mellitus dan merokok. QRS axis LAD, ST depresi V3-V6, terdapat VES
dan LVH. Hasil echocardiografi EF 42%, LV dilatasi dan hipokinetik anteroseptal.
Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok sedikitnya sebungkus setiap hari dan
sering minum teh manis. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah. Pasien
bed rest. Pasien tidur siang selama 2 – 3 jam, dan malam hari 7 – 8 jam. Pasien makan habis
1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat asma dan stroke, tidak
terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak
terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan terdapat ronkhi basah halus 1/3
lapang paru. Tidak terdapat wheezing, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema.
Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien taat beribadah.
Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi
dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di
RS pasien didampingi anak dan istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi
kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Lasix 2x80 mg, ISDN 3 x 5 mg. V Block 2x3,125 mg, Nitrokaf R 2x1,
Simvastatin 1x20 mg dan Aldactone 1x12,5 mg. Batasi intake cairan 1500 cc / 24 jam atau
sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi
kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah:
Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan
privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk
berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial:
memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 93/52 mmHg, Frekwensi nadi 86 x/menit, frekwensi nafas 32 x/mnt. Suhu
tubuh 36,50C. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Balance cairan (6April-2013): negative 550 cc, ronkhi -/-. Kadar Natrium: 138 meq/L, Kalium: 2,5 meq/liter,
Calsium: 2,47 meq/liter, Clorida: 99 meq/liter dan Magnesium: 1,7 meq/liter.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 5 pasien dipindahkan ke GP II lantai 5.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
28
Resume Kasus : Acute ant. STEMI onset 18 jam, timi 6/14, riw. Hipertensi, DM 2.
Tn. KT., usia 63 tahun, pendidikan PT, pekerjaan swasta, suku Batak, dengan nomor rekam
medis 2013-34-31-62, masuk rumah sakit pada tanggal 21 Februari 2013 dengan keluhan
dada terasa berat (khas infark) 18 jam SMRS. Saat dilakukan pengkajian nyeri dada sudah
berkurang.
Pasien mengeluh dada terasa berat (khas infark) 18 jam SMRS saat pasien sedang tidur,
keluhan dirasakan > 20 menit, menjalar ke punggung, disertai keringat dingin (baju tidak
sampai basah). Keluhan berkurang dengan istirahat. Keluhan memberat bila pasien
beraktivitas. Kurang lebih 1 minggu yang lalu pasien dirawat di RS “X” karena sesak nafas,
rutin kontrol di rumah sakit tersebut. Pasien dikatakan menderita tekanan darah tinggi. Obat
yang diminum pasien adalah Captopril, obat yang lain pasien lupa.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat
hipertensi, diabetes dan merokok. Hasil pemeriksaan EKG terdapat ST elevasi di V1-V4, T
bifasik di V1-V3, T Inv di V4 dan QS di V1-V4. Hasil rontgen thorak terdapat segmen aorta
elongasi dan infiltrat (+). Hasil pemeriksaan Lab: CKMB: 118 U/L, dan hs Trop T: 2565
U/L. Leukosit 16.900 /mmk, CRP: 28. Tekanan darah 141/59 mmHg. Hasil
Echocardiogram: EF: 48%. Perubahan lingkungan eksternal: pasien merokok sedikitnya
sebungkus setiap hari. Konservasi Energi: Pasien mengatakan tubuh cepat lelah, terutama
jika melakukan aktivitas yang berat. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 3 jam, dan
malam hari 8-10 jam. Pasien makan habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak
terdapat riwayat asma, dan gastritis. Pasien menderita stroke pada tahun 1999, tidak
terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung S1S2 normal, tidak
terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan terdapat ronkhi basah halus pada 1/3
basal paru, tidak terdapat wheezing, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema.
Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik. Pasien berdoa berharap
mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik,
kontak mata (+). Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi
anak dan istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat
dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat mendukung pasien untuk mencapai
kesembuhan.
Nyeri dada, gangguan pertukaran gas.
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program
(3liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: Captopril 3 x 6,25 mg, ISDN 3 x 5 mg, Loading Plavix 300 mg, Aspilet 1 x
80 mg, Simvastatin 1 x 20 mg, Furosemide 1 x 40 mg, Lantus 1 x 8 IU, Aprovel 1 x 300 mg,
Laxadin1 x CI dan Heparinisasi dengan UFH bolus 3000 IU, maintenance 600 IU. Batasi
intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan output cairan dalam
24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena jugularis, asites, rhonki (+),
monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi Integritas Personal: ajarkan pasien
nafas dalam, memberikan privasi kepada pasien, memberikan kebebasan kepada pasien dan
keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan keperawatan dan medis. Konservasi
integritas sosial: memberikan kesempatan pasien untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 105/53 mmHg, Frekwensi nadi 82 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,40C. Hasil pemeriksaan laboratorium: Na: 137 meq/L, K: 4,1 meq/L, Ca total: 2,31
meq/L, Cl: 94 meq/L dan Mg: 1,9 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas
dalam. Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas
struktur, integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil
sehingga pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 4 perawatan, pasien dipindahkan ke GP
II lantai 3.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
Informasi
Umum
29
Resume Kasus : Acute STEMI inferiposterior onset 18 jam. Killip II Timi 5/14/
Ny. W.M., usia 79 tahun, pendidikan SLTA, pekerjaan ibu rumah tangga, suku Jawa, dengan
nomor rekam medis 2013-34-70-29, masuk rumah sakit pada tanggal 2 April 2013dengan
keluhan nyeri dada kiri 18 jam SMRS. Saat dilakukan pengkajian nyeri sudah berkurang.
Nyeri dada dirasakan sejak 18 jam SMRS, nyeri dirasakan seperti tertimpa benda berat,
tidak menjalar dirasakan > 20menit, lokasi dapat ditunjuk, keringat dingin (+), mual (-),
muntah (-). Pasien juga mengalami hemiparese dekstra karena stroke yang diderita pasien
sejak 2 tahun yang lalu, bicara kurang jelas.
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: terdapat riwayat stroke
sejak 2 tahun yang lalu, faktor keturunan dan menopause. QRS rate 45x/menit, PR int 0,24
detik, ST elevasi diII, III dan aVF, ST depresi V1-V4, T inv V1-V4. Hasil pemeriksaan lab:
hs Trop T: 3422 U/L, CKMB: 254 U/L. Perubahan lingkungan eksternal: pasien merasa
asing dengan lingkungan rumah sakit yang baru. Konservasi Energi: Pasien mengatakan
tubuh cepat lelah. Pasien bed rest. Pasien tidur siang selama 3 jam, dan malam hari 7 – 8
jam. Pasien makan habis 1 porsi. Konservasi Integritas Struktur: tidak terdapat riwayat
asma, dan gastritis, tidak terdapat anemis pada konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara
jantung S1S2 normal, tidak terdapat murmur dan gallop. Suara paru vesikular dan tidak
terdapat ronkhi dan wheezing, ekstremitas hangat dan tidak terdapat edema terdapat
hemiparese dekstra. Konservasi Integritas Personal: Hubungan dalam keluarga baik.
Pasien taat beribadah. Pasien berdoa berharap mendapat kesembuhan atas sakit yang diderita
saat ini. Komunikasi dengan orang lain baik, kontak mata (+). Konservasi Integritas
Sosial: Selama dirawat di RS pasien didampingi anak dan istri pasien yang juga membantu
pasien memenuhi kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga
sangat mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Nyeri dada, penurunan curah jantung
Konservasi energi: Monitor status respirasi: frekwensi nafas, pola nafas, dan status
oksigenasi: O2 saturasi, auskultasi bunyi nafas, berikan oksigen sesuai program (2
liter/menit), posisikan pasien semi fowler, monitor tekanan darah dan frekwensi nadi,
auskultasi bunyi jantung dan suara paru. Konservasi integritas struktur : Berikan terapi
sesuai program: ISDN 3 x 5 mg. Plavix 1 x 75 mg, Aspilet 1 x 80 mg, Clopidogrel 1 x 750
mg, DZP 1x5 mg dan NTG 5 mcg/menit, Laxadin1 x CI serta heparinisasi dengan Lovenox
2 x 0,6 cc. Batasi intake cairan 1800 cc / 24 jam atau sesuai program. Monitor intake dan
output cairan dalam 24 jam, monitor adanya indikasi kelebihan cairan: distensi vena
jugularis, asites, rhonki (+), monitor kadar elektrolit darah: Na, K, Cl. Konservasi
Integritas Personal: ajarkan pasien nafas dalam, memberikan privasi kepada pasien,
memberikan kebebasan kepada pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam tindakan
keperawatan dan medis. Konservasi integritas sosial: memberikan kesempatan pasien
untuk didampingi keluarga saat dirawat.
Tekanan darah 131/90 mmHg, Frekwensi nadi 55 x/menit, frekwensi nafas 20x/mnt. Suhu
tubuh 36,30C. Hasil pemeriksaan lab: Na: 142 meq/L, K: 3,9 meq/L, Ca Total: 2,42 meq/L,
Cl: 107 meq/L dan Mg: 2,2 meq/L. Pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan pada hari ke 3 perawatan di ICU Bedah, pasien dipindahkan ke
IW Bedah.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Resume Kasus : ADHF wet and warm ec. ACS, DM type 2.
Informasi
Umum
Tn. RRN., usia 63 tahun, agama Islam, menikah, pendidikan SLTA, pekerjaan swasta, suku
Batak, dengan nomor rekam medis 2005-20-64-50. Masuk rumah sakit pada tanggal 30
Oktober 2012 dengan sesak nafas yang dirasakan sejak ½ jam sebelum masuk rumah sakit.
Saat dilakukan pengkajian sesak nafas masih ada, tetapi sudah agak berkurang.
Evaluasi
Intervensi
Trop
Pengkajian Konservasi
30
Sesak nafas sejak ½ jam SMRS , dada terasa berat, DOE (+), OP (+), PND (+), demam (-),
batuk (-), nyeri dada (-), jantung berdebar (-), mual (-), muntah (-), keringat dingin (-). Sesak
nafas dirasakan sejak 1 tahun yang lalu, pasien merupakan pasien lama PJNHK, pasien
menjalani CABG pada tahun 2005. Sesak nafas semakin memberat sejak 1 minggu terakhir
(dalam sehari > 3 kali). Sesak nafas muncul saat aktivitas ringan. Pasien kontrol tidak
teratur. Obat yang masih diminum pasien adalah: Vasco 1 x 75 mg, Amaryl 1 x 1 mg,
Maintate 1 x 5 mg
Pengkajian Teori Konservasi: Perubahan lingkungan internal: Hasil EKG: SR, QRS
rate 102 x/mnt, axis LAD, P wave normal, PR interval 0,12, QRS duration 0,08, ST elevasi
(-). Hasil rontgen : CTR 56%. Perubahan lingkungan eksternal: kontrol tidak teratur .
Konservasi Energi: Pasien merasa cepat lelah, pasien bedrest, pasien makan habis ½ porsi.
Personal hyegene dan kebutuhan sehari-hari dibantu oleh keluarga dan perawat. Konservasi
Integritas Struktur: : tidak terdapat riwayat asma, dan gastritis, tidak terdapat anemis pada
konjungtiva dan iktherik pada sklera, suara jantung normal, tidak terdapat murmur dan
gallop. Suara paru vesikular dan tidak terdapat ronkhi, ekstremitas hangat dan tidak terdapat
edema. Hasil pemeriksaan laboratorium hs Trop T: 80 U/L, GDS: 424 mg/dL. Konservasi
Integritas Personal: Pasien mengatakan petugas kesehatan melibatkan pasien terkait
dengan tindakan yang akan dilakukan. Konservasi Integritas Sosial: Selama dirawat di RS
pasien didampingi oleh anak dan istri pasien yang juga membantu pasien memenuhi
kebutuhan pasien saat dirawat dirumah sakit. Pasien mengatakan keluarga sangat
mendukung pasien untuk mencapai kesembuhan.
Gangguan pertukaran gas, resiko penurunan curah jantung
Konservasi Energi: berikan posisi pasien semi fowler dan istirahat total (bedrest), berikan
oksigen 4 liter / menit, monitor intensitas dan progresifitas nyeri, monitor tekanan darah,
frekwensi nadi, monitor dan merekam EKG serial setiap 24 jam, Konservasi Integritas
Struktural: berikan terapi sesuai program : ISDN: 1 x 5 mg Vasco 1 x 75 mg, Aspilet 1 x
80 mg dan Simvastatin 1 x 20 mg, Captopril 3 x 6,25 mg, Carvedilol 1 x 3 125 mg, Lasix 1 x
40 mg dan Heparinisasi dengan UFH 720 UI/jam. Konservasi Integritas Personal: ajarkan
teknik relaksasi nafas dalam, diskusikan pengertian infark, tanda gejala, faktor resiko,
ajarkan cara-cara mencegah dan mengatasi nyeri dada, ajarkan pasien untuk latihan nafas
dalam, anjurkan pasien supaya bed rest selama fase akut. Konservasi integritas Sosial:
libatkan keluarga dalam perawatan pasien.
Tekanan darah 141/92 mmHg, Frekwensi nadi 90 x/menit. irama regular. Pulsasi arteri
perifer kuat, CRT < 3 detik, akral hangat, kelemahan (-), mur-mur (-), gallop (-). Klien
mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam.
Kemampuan wholeness pasien untuk melakukan konservasi energi, integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial berlangsung cukup baik, pasien stabil sehingga
pasien dapat beradaptasi dan setelah dirawat selama 4 jam di IGD, pasien dipindahkan ke
ruang GP 2 lantai 4.
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 2: SPO Terapi Musik
Standar Prosedur Operasional (SPO)
TERAPI MUSIK
Rumah Sakit Jantung dan
Pembuluh Darah Harapan Kita
Jl. S. Parman Kv. 87 Slipi
Jakarta Barat
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman :
Ditetapkan,
Direktur Utama,
SPO
Pengertian
Tanggal Terbit
Dr. Hananto Andriantoro, SpJP(K). FIHA
NIP. 195711041986101001
Suatu tindakan mendengarkan musik melalui MP3 player dan
headset atau alat pemutar musik atau yang lain yang digunakan
secara individu sesuai dengan pilihan pasien yang menjalani
bedah jantung pada hari 1–3 post operasi jantung.
Tujuan
Mengkaji tingkat nyeri dan status hemodinamik pada pasien
dengan post operasi jantung pada hari ke 1–3, yaitu berupa
tekanan darah, denyut jantung dan frekuensi pernafasan pasien.
Alat dan bahan
1. Alat tulis
2. Jam tangan
3. MP3
player
dan
headset/alat
khusus
untuk
mendengarkan musik secara individual yang berisi
berbagai jenis musik atau lagu.
Kebijakan
Setiap pasien yang menjalani operasi jantung (cardiac surgery)
pada hari 1-3 wajib dilakukan pemberian terapi musik sebagai
salah satu cara untuk memberikan kenyamanan pada pasien
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
serta untuk menurunkan nyeri, tekanan darah, denyut jantung
dan frekuensi pernasafan sehingga dapat mencegah terjadinya
komplikasi post operasi.
Prosedur
1. Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
kepada pasien.
2. Memberikan
inform
consent
(lembar
persetujuan)
kepada pasien.
3. Mengkaji tingkat nyeri pasien dengan menggunakan
numeric rating scale.
4. Mengukur tekanan darah, menghitung denyut jantung
dan frekuensi pernafasan pasien.
5. Mempersilakan pasien untuk memilih musik yang akan
didengarkan oleh pasien sesuai dengan keinginan pasien.
6. Mempersilakan pasien untuk mendengarkan musik
selama kurang lebih 20 menit dengan menggunakan
MP3 dan headset.
7. Setelah terapi musik diberikan, dilakukan pengkajian
terhadap skala nyeri dan dilakukan pengukuran kembali
tekanan darah, menghitung denyut jantung dan frekuensi
pernafasan pasien.
8. Mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.
Unit terkait
Ruang IW Bedah
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 3: Format Pengkajian Model Levine
PENGKAJIAN KEPERAWATAN KARDIOVASKULAR
APLIKASI MODEL KONSEP KONSERVASI LEVINE
DATA PASIEN
Nama
:
_____________________
No RM :
_____________________
Tgl MRS :
_____________________
Tgl
Pengkajian:
________________
Ruang :
_____________________
Tgl lahir : ________ usia
____th
Sex
:L P
Agama : Is KrsKtl
HdBd
Status
:
NkhBlmJd/dd
Pendidikan:SD/SMP
Dpl/Unv
Pekerjaan :
_______________________
Suku
:
_______________________
Jaminan :
_______________________
Alamat:
:
_______________________
SMA
LINGKUNGAN EKSTERNAL
(Perjalanan penyakit)
Keluhan utama MRS: Nyeri dada  Sesak napas  Sesak napas memberat  Dada berdebardebar
Riwayat keluhan:
Nyeri dada:
[Pencetus:  istirahat  Aktivitas]
 [Karakteristik:  seperti ditekan benda berat seperti terbakar]
 [Nyeri dapat ditunjuk/dilokalisir:  Ya  Tidak] [Nyeri penjalaran ke bahu/lengan:  Ya 
Tidak]
 [Intensitas Nyeri:  menetap  meningkat] [Disertai:  keringat dingin  mual  muntah 
sesak napas]
 [Hilang dengan ISDN:  Ya  Tidak]
 [Durasi : _____ mnt] [Serangan dirasakan paling berat _____ SMRS] [Onset mulai dirasakan:
_____SMRS]
Sesak napas: DOE  OP  PND:
_______________________________________________________________
Dada berdebar:
____________________________________________________________________________________
Riwayat pengobatan SMRS:
__________________________________________________________________________________________
_________
__________________________________________________________________________________________
_________
__________________________________________________________________________________________
_________
Kontrol teratur:  Ya  Tidak, Minum obat teratur:  Ya  Tidak
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 3: Format Pengkajian Model Levine
Alat bantu tambahan:
 Ventilator
:
___________________________________________________________________________________
 IABP
:
___________________________________________________________________________________
 Pace maker :
___________________________________________________________________________________
 eksternal
:
___________________________________________________________________________________
 internal
:
___________________________________________________________________________________
 NGT
:
___________________________________________________________________________________
 Folley cath :
___________________________________________________________________________________
 Line arteri :
___________________________________________________________________________________
 Line vena
:
___________________________________________________________________________________
Terapi/program pengobatan yang didapat di ruangan:
__________________________________________________________________________________________
_________
__________________________________________________________________________________________
_________
__________________________________________________________________________________________
_________
__________________________________________________________________________________________
_________
__________________________________________________________________________________________
_________
__________________________________________________________________________________________
_________
__________________________________________________________________________________________
_________
LINGKUNGAN INTERNAL
Riwayat Penyakit:  asma  gastritis  stroke
Faktor risiko: DM  Hipertensi  dislipidemia  merokok  faktor herediter  menopause
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 3: Format Pengkajian Model Levine
Pemeriksaan penunjang:
EKG:
Irama: ________, QRS rate: ____ x/menit, QRS durasi: ___”, Axis: ____, P wave: _____, PR interval:
______
Q wave/ST elevasi/ST depresi/T inverted:
_______________________________________________________
__________________________________________________________________________________________
____
Kesimpulan:
__________________________________________________________________________________
Rontgen thoraks:
CTR: ____%; Segmen Aorta:  normal  elongasi; Segmen Pulmonal:  normal  elongasi;
Pinggang jantung:  ada  tidak; Apex:  downward  mendatar  upward; infiltrat  ada 
tidak;
Kongestif:  ada  tidak
Kesimpulan:
__________________________________________________________________________________
Ekho kardiografi:
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
Kesimpulan:
__________________________________________________________________________________
Laboratorium:
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
Kesimpulan:
__________________________________________________________________________________
Diagnostik invasif dan intervensi non bedah:
Angiografi:
 Diagnostik  Coroangiografi  PCI elektif  PCI standby  PCI primer  Clossure 
Elektrofisiologi
Hasil:
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 3: Format Pengkajian Model Levine
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
Intervensi bedah:
 CABG  Valve replacement/repair  Septal clossure  bental procedure  redo  tindakan
lain
Hasil:
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
__________________________________________________________________________________________
____
Diagnosa kerja:
__________________________________________________________________________________________
____
KONSERVASI ENERGI
Keluhan (saat ini):
 Nyeri dada:
 tidak ada  ada:  menetap  menurun, skala _____
 Sesak napas:
 tidak ada  ada:  menetap  menurun,  DOE  PND  OP,
 Dada berdebar:  tidak ada  ada:  menetap  menurun
Oksigenasi:
 saturasi O2: ___%
 spontan,
 nasal, ___lt/menit,
 NRM/RM, ___ lt/menit,
 NIV, _________________
 Ventilator, ____________
Aktivitas:
Riwayat aktivitas:  NYHA fc. I,  NYHA fc. II,  NYHA fc. III,  NYHA fc. IV
Aktivitas dianjurkan:  bedrest total,  mobilitas ringan di bed  mobilitas ringan turun dari bed
ADL:  dibantu penuh,  dibantu sebagian,  mandiri
Pola istirahat dan tidur:  tidak ada keluhan,  ada keluhan:
____________________________________________
Program nutrisi:
 oral  NGT  parenteral; Diet:
____________________________________________________________
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 3: Format Pengkajian Model Levine
Keluhan:
__________________________________________________________________________________________
__
Program cairan:
Intake cairan: _________ cc/24 jam
Balans cairan: Input : _____ cc/24 jam, Output:: urin output: _____ cc/24 jam, drain dan lainnya:
_____ cc/24 jam
Total balans cairan: ________
Terapi diuretik  Tidak  Ya: _____
Nilai elektrolit: Na/K/Ca/Cl/Mg: _________________
Nilai Ureum/Creatinin/BUN: _____________________
KONSERVASI INTEGRITAS STRUKTURAL
Keadaan umum:  baik  sedang  lemah
Kesadaran:  compos mentis  apatis  somnolen  soporo koma  koma  pengaruh anestesi
Pemeriksaan fisik:
Mata: Konjunctiva anemis:  ya  tidak; sklera ikterik:  ya  tidak
Leher: JVP:  tidak meningkat  meningkat, _____
Jantung: bunyi jantung S1-S2  normal  iregular, gallop,  murmur
Paru: suara:  vesikular  menurun;  wheezing;  ronkhi: < 1/3 lapang paru > 1/3 lapang
paru
Abdomen: dinding abdomen: _______________________; bising usus: ___________________
hepar dan lien:  teraba  tak teraba; ascites:
Ekstremitas:  Hangat  dingin; capirally refill < 3 detik > 3 detik, pulsasi perifer  adekuat 
tidak
Edema:  ya  tidak.
Kulit: Dekubitus  ya  tidak; integritas jaringan kulit:  baik  menurun
Kebersihan kulit:  baik  kurang
 Luka post operasi: ________________________________________________
 Luka post insisi PCI: ______________________________________________
 Luka post insisi arteri line/vena sentral line: _________________________
Status hemodinamik:
Tanda vital: TD: ______ mmHg; Nadi: ___ x/menit; Respirasi: ___x/menit; Suhu: ___ oC
Stroke volume: _____; Cardiac Output: _____; Cardiac Index: _____; CVP: _____; PAP: _____;
PCWP: _____
SVR: _____; SVRi: _____; PVR: _____; PVRi: _____;
KONSERVASI INTEGRITAS PERSONAL
Keluhan cemas terhadap kondisi sakitnya:  ada  tidak, skala VAS kecemasan: _____
Pengendalian emosi pasien:  stabil  labil
Kepatuhan pasien:  patuh  tidak patuh
Jaminan pengobatan:  askes  Jamkesmas  Jamkesda DKI  Jamkesda luar DKI  Perusahaan
 Pribadi
Pengetahuan tentang:
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 3: Format Pengkajian Model Levine
 Proses penyakit
 Program terapi/pengobatan
 Obat yang diresepkan
 Aktivitas
 Diet
 Berhenti merokok
: ________________________________________
: ________________________________________
: ________________________________________
: ________________________________________
: ________________________________________
: ________________________________________
KONSERVASI INTEGRITAS SOSIAL
Anggota keluarga yang menunggu: ________________
Dukungan anggota keluarga terhadap perawatan:  Baik
Interaksi pasien dengan keluarga:
 Baik
Interaksi pasien dengan petugas medis:
 Baik
Interaksi pasien dengan pasien lain:
 Baik
 Kurang
 Kurang
 Kurang
 Kurang
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 4: Hasil Pelaksanaan Inovasi
PANDUAN
PEMBERIAN OBAT DENGAN KEWASPADAAN
TINGGI (HIGH ALERT MEDICATIONS)
AGONIS ADRENERGIK: ADRENALIN
SEDASI-HIPNOTIK: PROPOFOL
KONSENTRAT ELEKTROLIT: KALIUM CHLORIDE 7,4%
DI RUANG ICU DEWASA
RS PUSAT JANTUNG NASIONAL HARAPAN KITA
JAKARTA
Inovasi Praktek Residensi 3
PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
KEKHUSUSAN KARDIOVASKULAR
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
MEI 2013
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
PANDUAN
PEMBERIAN OBAT DENGAN KEWASPADAAN TINGGI (HIGH ALERT
MEDICATIONS)
 AGONIS ADRENERGIK: ADRENALIN
 SEDASI-HIPNOTIK: PROPOFOL
 KONSENTRAT ELEKTROLIT: KALIUM CHLORIDE 7,4%
DI RUANG ICU DEWASA
RS PUSAT JANTUNG NASIONAL HARAPAN KITA JAKARTA
1.
2.
3.
4.
5.
Supervisor Utama
Supervisor
Supervisor klinik 1
Supervisor klinik 2
Anggota Tim
: Prof. Dra. Elly Nurachmah, S.Kp., M.App., DN.Sc
: Tuti Herawati, S.Kp., MN
: Ns. Rita Sekarsari, S.Kp., SpKV., MHSN
: Ns. Harpen Dewisasmita, S.Kp., SpKV
: 1. Ns. Dwi Nugroho Heri Saputro
2. Ns. Sadar Prihandana
3. Ns. Ani Widiastuti
Program Inovasi
Residensi 3 Ners Spesialis KMB (Kardiovaskular)
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
di RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta
Mei 2013
2
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkah dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan program inovasi berupa penyusunan panduan pemberian obat
kewaspadaan tinggi. Program inovasi ini dilaksanakan dalam rangka memenuhi kompetensi
selama praktek residensi Keperawatan Medikal Bedah kekhususan Kardiovaskular di RS Pusat
Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta (PJNHK). Kompetensi yang telah dilakukan tersebut
merupakan bagian dari perwujudan peran perawat spesialis sebagai inovator. Pelaksananaan
program inovasi dilakukan secara berkelompok dengan menyusun panduan pemberian obat
kewaspadaan tinggi.
Dalam proses pelaksanaan program inovasi tersebut, tak lepas dari bimbingan serta arahan dari
para supervisor, untuk itu kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang
terhormat:
1. Prof. Dra. Elly Nurachmah, S.Kp., M.App.Sc., DN.Sc., selaku supervisor utama yang telah
memberikan bimbingan dan arahan selama proses praktek residensi
2. Tuti Herawati, S.Kp, MN., selaku supervisor yang telah memberikan bimbingan dan arahan
selama proses praktek residensi
3. Ns. Rita Sekarsari, S.Kp., Sp.KV., MHSM., selaku supervisor klinik yang selalu
meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan baik dalam proses praktek
residensi maupun dalam proses penyusunan panduan
4. Ns. Harpen Dewisasmita, S.Kp., Sp.KV., selaku pembimbing klinik di ruang ICU dewasa
yang selalu meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan baik dalam proses
praktek residensi maupun dalam proses pelaksanaan inovasi di ruang ICU dewasa
Semoga panduan ini bermanfaat dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
khususnya dalam hal meningkatkan patient safety di lingkungan RS PJNHK. Kami sangat
mengharapkan saran dan kritik agar panduan ini menjadi lebih baik lagi.
Jakarta, Mei 2013
Tim Residensi KMB-Kardiovaskular
3
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
DAFTAR ISI
A. Latar Belakang
1
B. Tujuan
1
C. Sasaran
1
D. Ruang Lingkup
1
E. Pengertian “High Alert Medication”
1
F. Jenis obat kewaspadaan tinggi
2
G. Tanggung jawab dan kewenangan perawat
3
H. Strategi
4
I.
6
Pemberian Adrenalin
J. Pemberian Propofol
7
K. Pemberian KCl 7,4%
9
Daftar Pustaka
11
Lampiran:
Lampiran 1:
SPO Prosedur Keamanan Pemberian Obat “High Alert” Agonis Adrenergik: Adrenalin
12
Lampiran 2:
SPO Prosedur Keamanan Pemberian Obat “High Alert” Sedative-Hipnotik: Propofol
14
Lampiran 3:
SPO Prosedur Keamanan Pemberian Obat “High Alert” Elektrolit: KCL 7,4%
16
Lampiran 4:
Contoh label
18
4
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
A. Latar belakang
Standar ke-3 dari 6 standar The JCI International Patient Safety Goals (IPSG) adalah
meningkatkan keamanan dari penggunaan obat-obat dengan kewaspadaan tinggi (high alert
medication) (JCI, 2010). Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1691/Menkes/Per/VIII/2011, menyebutkan rumah sakit harus mengembangkan suatu pendekatan
untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai. Ruang ICU dewasa RS Pusat
Jantung Nasional Harapan Kita (RS PJNHK) Jakarta, banyak sekali menggunakan obat-obatan
yang termasuk ke dalam kategori obat kewaspadaan tinggi, seperti pemberian elektrolit
konsentrasi tinggi KCl 7,4%, pemberian obat intravena secara titrasi, pemberian sedasi, serta
beberapa obat kardiovaskular yang memerlukan pengawasan tinggi, misalnya adrenalin,
dobutamin, dan dopamin. Karena itu diperlukan suatu panduan bagi perawat dalam memberikan
obat “high alert” sehingga risiko kesalahan dapat diminimalkan.
B. Tujuan
1. Sebagai acuan bagi perawat dalam memberikan obat kewaspadaan tinggi
2. Meningkatkan kewaspadaan perawat dalam memberikan obat kewaspadaan tinggi sehingga
risiko kesalahan obat dapat diminimalkan
3. Meningkatkan keselamatan pasien
C. Sasaran
Perawat yang bekerja di ICU Dewasa RS PJNHK Jakarta.
D. Ruang lingkup
Panduan ini membahas tentang kategori obat dengan kewaspadaan tinggi, tanggung jawab dan
kewenangan perawat, perhatian perawat dalam memberikan obat kewaspadaan tinggi yang
meliputi adrenalin, propofol, dan koreksi kalium di Ruang ICU Dewasa RS PJNHK Jakarta
E. Pengertian “High Alert Medication”
Institute for Safe Medication Practices/ISMP (2012), mendefinisikan “High alert medication”
atau obat dengan kewaspadaan tinggi adalah obat yang mempunyai risiko tinggi yang dapat
menyebabkan kerugian yang signifikan ketika terjadi kesalahan penggunaan (ISMP, 2012). Joint
Commission International/JCI dalam Accreditation Standards for Hospitals (2010) dan
dituangkan
dalam
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
1691/Menkes/Per/VIII/2011, obat yang termasuk ke dalam kategori kewaspadaan tinggi adalah
obat yang a) mempunyai persentasi kesalahan tertinggi, b) menyebabkan terjadi kesalahan yangs
serius (sentinel event), c) obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak buruk bila diberikan
5
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
tidak tepat, d) pengobatan yang mempunyai risiko tinggi terjadinya efek samping(adverse
outcome), dan e) obat yang memiliki kemiripan baik nama maupun bentuknya.
F. Jenis obat kewaspadaan tinggi
Jenis obat yang masuk ke dalam kategori obat kewaspadaan tinggi, tercantum dalam tabel 1
(ISMP, 2012).
Tabel 1. Jenis obat termasuk kategori kewaspadaan tinggi
No
1
2
3
4
5
Kategori/kelas obat
Agonis adrenergik (i.v.)
Antagonis adrenergik (i.v.)
Agen anestesi
(general, inhalasi, dan i.v.)
Anti aritmia (i.v.)
Agen antitrombotik:
a. Antikoagulan
b. Faktor Xa inhibitor
c. Direct thrombin inhobitor
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
d. Thrombolitik
e. Inhibitor glycoprotein
IIb/IIIa
Larutan kardioplegi
Agen kemoterapi
(parenteral dan oral)
Dextrose, hipertonik, 20% atau
lebih
Cairan dialisat (peritoneal dan
hemodialisa)
Obat epidural atau intrathecal
Obat hipoglikemik (oral)
Obat inotropik (i.v.)
Insulin (s.c. dan i.v.)
Obat dalam bentuk liposomal
dan turunannya
Obat sedasi moderate
Obat sedasi anak (oral)
Contoh obat
epinephrine, phenylephhrine, norepinephrine
propanolol, metoprolol, labetolol
propofol, ketamine
lidocaine, amiodarone
warfarin, low molecular weight heparin (s.c.),
unfractionated heparin (i.v.)
Fondaparinux
argatroban, bivalirudin, dabigatranetexilate,
lepirudin
alteplase, reteplase, tenecplase
Eptifibatide
Digoksin, milrinone
Regular insulin
liposomal amphotericin B, amphotericin B
desoxycholate
dexmedetomidine, midazolam
Chloralhydrate
Lanjutan tabel 1.
No
17
Kategori/kelas obat
Narkotik/opiat
a. i.v.
Contoh obat
6
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
18
19
20
21
22
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
b. transdermal
c. oral (termasuk konsentrat
cair, formulasi lepas lambat
dan cepat
Agen blok neuromuskular
succinylcholine, rocuronium, vecuronium
Nutrisi parenteral
Agen radiokontras (i.v.)
Air steril (aqua) dalam kemasan
100 ml atau lebih untuk injeksi,
inhalasi, dan irigasi
NaCl konsentrasi lebih dari
0,9% untuk injeksi
Obat-obatan spesifik/khusus
Epoprostenol/Flolan (i.v.)
Magnesium sulate injeksi
Methotrexate penggunaan non onkologi (oral)
Opium tincture
Oxytosin i.v.
Nitroprusside sodium injeksi
Potassium chloride injeksi
Potassium phosphates injeksi
Promethazine (i.v.)
Vasopressin (i.v. atau intraosseus)
G. Tanggung jawab dan kewenangan perawat
Perawat mempunyai tanggung jawab dan kewenangan dalam memberikan obat kewaspadaan
tinggi. Tanggung jawab dan kewenangannya adalah (CARNA, 2007; CRNNS, 2011):
a. Perawat yang dapat memberikan obat kewaspadaan tinggi adalah perawat yang memiliki
kompetensi tentang obat kewaspadaan tinggi.
b. Sebelum diberikan obat, perawat bertanggung jawab dalam mengkonsultasikan obat dengan
dokter yang menginstruksikan bila perawat mempunyai pertanyaan atau masalah dengan obat
yang diresepkan
c. Perawat dapat menggunakan “professional judgment” dalam menggunakan protokol medis,
untuk menentukan apakah pasien masuk kriteria untuk intervensi
d. Perawat harus menyiapkan sendiri obat yang akan diberikan kepada pasien
e. Perawat tidak diperkenankan untuk memberikan obat yang disiapkan oleh perawat lain,
kecuali dalam keadaan kegawatan
f.
Perawat mempunyai fleksibilitas untuk membuat keputusan dosis yang diberikan berdasarkan
kondisi klinis pasien, bila dosis yang diresepkan dalam bentuk dosis rentang (range dose)
7
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
g. Perawat harus melakukan verifikasi persetujuan pasien sebelum diberikan obat dosis awal
atau ketika terapi obat berubah. Ketika pasien menolak pengobatan, perawat harus bisa
menentukan alasan penolakan dan kaji tingkat pemahaman pasien tentang efek obat
h. Perawat mendokumentasikan obat yang diberikan sendiri.
i.
Perawat tidak diperkenankan untuk mendokumentasikan obat yang diberikan oleh perawat
lain, kecuali dalam keadaan kegawatan.
j.
Perawat mendokumentasikan obat secara lengkap meliputi: nama pasien, nama obat, dosis
dan rute obat, waktu pemberian, copy resep, dan tanda tangan perawat yang memberikan.
k. Perawat mendokumentasikan informasi yang berhubungan dengan pemberian obat, misal
pertanyaan pasien, keluhan pasien, penolakan pasien, intervensi tambahan seperti edukasi
kepada pasien, dan efek terapeutik atau efek samping.
H. Strategi
Strategi yang tepat perlu disusun untuk meningkatkan keamanan pemberian obat kewaspadaan
tinggi. College of Registered Nurses of Nova Scotia/CRNNS (2011), merumuskan strategi untuk
meningkatkan keamanan pada pemberian obat kewaspadaan tinggi, tercantum dalam tabel 2.
Tabel 2. Strategi meningkatkan keamanan pemberian obat kewaspadaan tinggi
Strategi
1. Meningkatkan
kompetensi
Kegiatan
a. Memiliki pengetahuan tentang pemberian obat, meliputi:
1) Tekhnik aseptik
2) Matematika, dalam menghitung dosis
3) Nama generik dan nama dagang obat
4) Risiko interaksi obat ketika mendapat dua atau lebih obat
5) Pengenceran obat
6) Stabilitas, penyimpanan, dan pelabelan obat yang diencerkan
atau dilarutkan
7) Penanganan bila terjadi efek samping
b. Berkonsultasi dengan dokter penanggung jawab untuk verifikasi
ketepatan instruksi pengobatan
Lanjutan tabel 2.
Strategi
Kegiatan
c. Melakukan pengecekan ganda (double check), meliputi:
1) Membandingkan label dan isi produk yang diterima dengan
instruksi yang tertulis di dokumentasi
2) Melakukan verifikasi setiap perhitungan obat yang
membutuhkan persiapan/pengenceran
3) Memastikan akurasi program pompa infus intravena sesuai
program, termasuk memasukkan berat badan pasien
8
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
2. Meningkatkan
komunikasi
3. Meningkatkan
sistem
4. Meningkatkan
budaya
d. Memperhatikan nama obat yang mirip (look alike/sound alike)
sehingga dapat memastikan obat yang tepat
e. Melakukan pemantauan pasien selama dan sesudah pemberian
obat terhadap efek obat yang diharapkan dan efek sampingnya,
dan tindakan yang diperlukan
f. Mematuhi prinsip 10 benar dalam proses pemberian obat, yaitu:
1) benar pasien, 2) benar obat, 3) benar rute, 4) benar waktu, 5)
benar dosis, 6) benar alasan, 7) benar edukasi, 8) hak untuk
menolak, 9) benar evaluasi, dan 10) benar pendokumentasian
a. Memeriksa riwayat pengobatan yang lalu dan sekarang
b. Melakukan klarifikasi terhadap instruksi obat yang tidak
lengkap/jelas
c. Melakukan instruksi obat secara lisan hanya dalam keadaan
kegawatan
d. Menggunakan komunikasi yang konsisten dan jelas
e. Melakukan standarisasi tabel penghitungan dosis, misalnya x ml
= y mcg
f. Menuliskan di catatan obat atau label dengan huruf kapital untuk
membedakan obat yang mirip, misal DOBUtamine dan
DOPAmine
a. Melakukan medication reconciliation, yaitu mencatat setiap
riwayat obat yang telah diberikan kepada pasien
b. Menyiapkan dan mencampur/mengencerkan obat di tempat yang
bebas dari gangguan
c. Membatasi dan melakukan standarisasi tempat penyimpanan
obat, stok, dan distribusi
d. Melakukan standarisasi peralatan untuk memberikan obat,
infusion pump, dengan meminimalkan pilihan merek dan jenis
alat, dan meningkatkan kemampuan dalam mengoperasionalkan
alat tersebut
e. Menyediakan tempat yang aman dan memadai untuk
menyiapkan pengobatan
a. Melakukan edukasi dan memotivasi pasien untuk menanyakan
obat yang digunakan
b. Menunjukkan perhatian pada setiap aspek dari tahapan
pemberian obat
Lanjutan tabel 2.
Strategi
Kegiatan
c. Melihat
instruksi
bersama
pasien
saat
pasien
menunjukkanperhatian tentang pengobatannya
d. Selalu mengidentifikasi penyebab masalah dari sistem yang
dapat mengakibatkan kesalahan pengobatan
e. Menciptakan budaya “tidak menyalahkan” sehingga kesalahan
penggunaan obat dapat tercatat
f. Melakukan pemantauan pasien selama dan sesudah pemberian
9
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
g.
h.
5. Meningkatkan
kewaspadaan
a.
b.
c.
obat terhadap efek obat yang diharapkan dan efek sampingnya,
dan tindakan yang diperlukan
Menyimpan obat di lokasi yang aman bila ternyata obat belum
digunakan setelah disiapkan
Membuat label obat: Label di tempat infus adalah obat, dan
konsentrasi. Label di pompa infus adalah nama pasien, obat,
jumlah obat yang dimasukkan, data, waktu, dan tetesan infus.
Label di ujung selang adalah nama obat dan tempat insersi iv.
Melakukan pencampuran/pengenceran obat secara benar.
Perawat hanya memberikan obat yang disiapkan sendiri, kecuali
dalam keadaan emergensi yang membutuhkan kerja tim
Memperhatikan pemberian obat dengan dosis rentang dengan
memperhatikan klinis pasien
Memperhatikan pemberian obat yang diberikan dengan sliding
scale, algoritme, dan dosis koreksi, disesuaikan hasil
pemeriksaan laboratorium rutin dan keadaan klinis pasien
I. Pemberian adrenalin
Adrenalin masuk kedalam jenis obat agonis adrenergik yang termasuk dalam obat kewaspadaan
tinggi. Tata laksana tercantum dalam tabel 3.
Tabel 3. Tata laksana pemberian obat adrenalin
Indikasi
Kontra indikasi
Efek terapeutik
Pengenceran
Dosis
Hipotensi, cardiac output (CO) dan cardiac index (CI) yang rendah.
Hipertensi, cerebral arteriosclerosus, hipertiroidisme, glaukoma sudut
sempit, selama persalinan, atau pasien yang menerima obat digitalis
Mencapai tekanan darah, cardiac output dan cardiac index yang
efektif dan tanpa efek samping
a. 4 mg dalam 50cc NaCl 0,9% (80 mcg/ml): single strenght dose
b. 8 mg dalam 50cc NaCl 0,9% (160 mcg/ml): double strenght dose
Dosis yang direkomendasikan:
a. Dosis awal: untuk efek inotropik, mulai dengan 0,02
mcg/kg/menit,
b. Dosis titrasi: setiap 5 menit ditambah 0,02 mcg/kg/menit sampai
maksimal 0,2 mcg/kg/menit sampai tercapai tekanan darah dan
cardiac output yang diinginkan
Lanjutan tabel 3
Rute pemberian
Pengecekan ganda
a. Adrenalin harus diberikan melalui vena sentral, kecuali dalam
keadaan emergensi adrenalin bisa diberikan perifer
b. Infus adrenalin tidak boleh diberikan melalui tempat infus obat
dalam sirkuit hemodialisa
c. Adrenalin harus diberikan melalui syringe pump
a. Identifikasi pasien
b. Bandingkan label dan isi produk yang diterima dengan instruksi
yang tertulis
c. Verifikasi pengenceran obat
10
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Kewaspadaan
perawat
d. Pastikan penghitungan tetesan infus awal tepat sesuai berat badan
pasien, dan tepat memasukkan padasyringe pump, termasuk
mengubah dosis titrasi pasien
a. Adrenalin hanya diberikan di area perawatan kritis dimana pasien
sudah terpasang monitor jantung
b. Validasi instruksi untuk konsentrasi cairan, jumlah tetesan awal,
parameter tekanan darah awal.
c. Instruksi harus dalam bentuk mcg/kg/menit
d. Pastikan oksigenasi pasien adekuat ditandai dengan saturasi
oksigen 98-100%
e. Catat parameter hemodinamik untuk menentukan titrasi obat.
Parameter yang digunakan adalah tekanan darah sistole 100-120
mmHg, MAP > 60, atau CI>2).
f. Monitor tekanan darah pasien selama 5 menit di awal, kemudian
tiap 30 menit sampai 1 jam sampai terlihat tekanan darah yang
stabil atau cardiac output tercukupi
g. Monitor adanya nyeri dada, aritmia (terutama takikardi), dan
hipertensi. Sakit kepala, pusing, cemas, dan penurunan aliran
darah ke ginjal juga sering terjadi.
h. Laporkan bila tidak tercapai peningkatan tekanan darah sistolik
dan MAP pada keadaan dosis maksimal, takikardi atau aritmia
lain, dan perubahan signifikan lainnya.
i. Dokumentasikan setiap perubahan dosis yang terjadi, meliputi
waktu, dosis, dan parameter hmeodinamik pasien
J. Pemberian Propofol
Propofol adalah obat general anaestesi yang bekerja cepat dengan efek kerja dicapai dalam waktu
40 detik. Propofol adalah cairan emulsi yang terdiri dari minyak dan air yang berwarna putih yang
bersifat isotonik dengan kepekatan1% (1ml=10 mg) dan mudah larut dalam lemak. Propofol
masuk ke dalam obat kewaspadaan tinggi. Tata laksana pemberian propofol tercantum dalam
tabel 4.
Tabel 4. Tata laksana pemberian obat propofol
Indikasi
Kontra indikasi
Efek terapeutik
Pengenceran
Dosis
Sedasi dan hipnotik pada induksi maupun pemeliharaan pada
anestesi, pada pasien terintubasi atau pasien yang gelisah
Tidak direkomendasikan untuk induksi pada pasien dibawah usia 3
tahun maupun pemeliharaan anestesi pada usia dibawah 2 bulan
karena keamanan dan keefektivitasnya tidak dipastikan
Pemeliharaan sedasi pada pasien terintubasi dan penurunan stress
pasien
Kemasan 200 mg dalam 10 ml, tidak dilakukan pengenceran
Dosis yang direkomendasikan:
11
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Rute pemberian
Pengecekan ganda
Kewaspadaan
perawat
a. Dosis awal: 10 mcg/kg/menit, atau sesuai dengan instruksi
medis.
b. Dosis pemeliharaan: 5 mcg/kg/menit
c. Dosis titrasi: 10 mcg/kg/menit setiap 5-10 menit sampai tingkat
sedasi yang diinginkan dicapai (dengan dosis maksimum 50
mcg/kg/menit).
d. Pasien akan dipertahankan pada tingkat infus 10 sampai 50 mcg/
kg/menit.
a. Pemberian melalui intra vena dengan kontrol syringe pump
b. Pemberian propofol secara bolus tidak dianjurkan, karena dapat
menyebabkan hipotensi, bolus hanya digunakan dalam keadaan
darurat untuk meningkatkan kedalaman sedasi secara cepat
a. Identifikasi pasien
b. Bandingkan label dan isi produk yang diterima dengan instruksi
yang tertulis
c. Lakukan pemeriksaan visual botol obat terhadap partikel dan
perubahan warna
d. Pastikan penghitungan tetesan infus awal tepat sesuai dengan
berat badan pasien, dan tepat memasukkan pada syringe pump,
termasuk mengubah dosis titrasi pasien
a. Monitor adanya efek samping yang harus diperhatikan:
1) Pernafasan: depresi pernafasan, sesak nafas, bronkospasme
dan laringospasme.
2) Kardiovaskular: hipotensi, aritmia, takikardia, bradikardia,
dan hipertensi.
3) Susunan saraf pusat: sakit kepala, pusing, euforia,
kebingungan, gerakan klonik-mioklonik, opistotonus,
kejang, mual dan muntah.
4) Pada daerah penyuntikan dapat terjadi nyeri sehingga
dianjurkan dicampur dengan lidokain pada saat pemberian.
Cara lain untuk mengurangi nyeri pada saat pemberian
propofol adalah dengan cara memilih vena yang besar.
b. Monitor dan catat tanda vital tiap 1 jam selama titrasi aktif
c. Berikan bersama dengan analgesik narkose bila perlu, karena
propofol tidak memiliki sifat analgesik
Lanjutan tabel 4.
12
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
d. Ganti spuit dan selang infus setiap 12 jam, dengan tekhnik
aseptik yang ketat, karena propofol merupakan tempat yang baik
untuk perkembangbiakan mikroorganisme
e. Pantau kadar lipid darah pada pasien dengan hiperlipidemi atau
yang berisiko terjadi hiperlipidemi
f. Hentikan bila kadar trigliserida menjadi sangat tinggi
g. Hentikan propofol 10-15 menit sebelum dilakukan ekstubasi.
h. Bila terjadi hipotensi ringan selama titrasi, kurangi kecepatan
infus dan tinggikan ekstremitas bawah pasien
i. Bila terjadi hipotensi berat dan bradikardi (depresi
kardiovaskular), hentikan infus propofol dan berikan terapi
vasopresor dan cairan intravena
j. Dokumentasikan setiap perubahan dosis yang terjadi, meliputi
waktu, indikasi, perubahan dosis, dan parameter hemodinamik
K. Pemberian KCl 7,4%
Koreksi hipokalemi merupakan hal yang sederhana tetapi bila tidak tepat dalam melakukannya
dapat mengakibatkan gejala yang memburuk, bahkan kematian. Hipokalemi seringkali
asimptomatik dan ditemukan bila dilakukan pemeriksaan elektrolit.
Hipokalemi ringan meningkatkan kecenderungan aritmia jantung pada pasien iskhemik, gagal
jantung atau hipertrofi ventrikel kanan. Asupan kalium harus dipikirkan untuk menambah kalium
pada level 3,5-4 mmol/L, tidak perlu menunggu kadar kalium turun sampai < 3,5 mmol/L. Potensi
digoksin untuk menyebabkan komplikasi aritmia jantung bertambah bila ada hipokalemi pada
pasien gagal jantung, sehingga kadar kalium serum dipertahankan dalam kisaran 4,5-5 mmol/L.
Tatalaksana pemberian elektrolit KCl 7,4% tercantum dalam tabel 5.
Tabel 5. Tata laksana pemberian KCl 7,4%
Indikasi
Kontra indikasi
Efek terapeutik
Pengenceran
Koreksi Kalium atau untuk pemeliharaan kadar kalium darah post
operasi jantung
KCl7,4% tidak boleh diberikan sebelum didapatkan nilai kadar
kalium melalui pemeriksaan laboratorium
Kadar Kalium tercapai 4,0-4,5 mmol/L
a. Pemberian KCl 7,4% harus diencerkan dalam volume yang
besar, dengan konsentrasi minimal adalah 80 mEq per liter.
b. Dalam kasus dimana dibutuhkan kalium secara cepat, dapat
diencerkan dengan 50-100 ml.
c. Konsentrasi yang direkomendasikan:
1) Pemeliharaan: 60 mEq per liter
2) Vena perifer: 20 mEq per 100 ml atau 40 mEq per 250 ml
3) Vena sentral: 40 mEq per 100 ml
Lanjutan tabel 5.
13
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Dosis
d. Cara mencampur KCl 7,4% adalah melepas terlebih dahulu
insersi yang ada di plabot, kemudian masukkan cairan KCl 7,4%
ke dalammya, dan secara perlahan dikocok 10 kali untuk
memastikan tercampur sempurna.
e. Jangan memasukkan cairan KCl 7,4% ketika plabot tergantung
dan tersambung dengan selang infus, karena cairan akan
langsung menuju ke bawah dan konsentrasi di bawah akan lebih
tinggi.
Dosis total pemberian adalah 20-60 mEq dalam 24 jam dan tidak
boleh lebih dari 200 mEq dalam 24 jam
Rute pemberian
Pengecekan ganda
Kewaspadaan
perawat
c. Pemberian KCl7,4% harus melalui kontrol syringe pump
d. Pemberian KCl7,4% diatas 10 mEq harus melalui vena sentral
dan dengan kontrol intensif monitor jantung
e. Pemberian KCl 7,4% tidak boleh diberikan secara bolus atau
secara push
a. Identifikasi pasien
b. Bandingkan label dan isi produk yang diterima dengan instruksi
yang tertulis
c. Verifikasi pengenceran obat
d. Pastikan penghitungan tetesan infus awal tepat sesuai dengan
hasil laboratdan tepat memasukkan pada syringe pump,
termasuk mengubah dosis koreksi pasien
a. Monitor efek samping peningkatan kalium, yaitu: nyeri
abdomen, bradikardi, nausea, muntah, disfagia, bingung,
kelemahan otot, distress respirasi, cardiac arrest, dan perubahan
EKG.
b. Periksa kadar kalium darah setiap 6 jam setelah koreksi, dan
setiap 12 jam untuk pemberian kalium secara maintenans.
c. Periksa kadar magnesium untuk memastikan adekuat untuk
mendukung koreksi kalium.
d. Dokumentasikan pemberian KCl meliputi kadar kalium sebelum
diberikan, waktu pemberian, dosis, dan rute pemberian
14
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
DAFTAR PUSTAKA
1. American Hospital Association, Health Research & Educational Trust, and the Institute
for Safe Medication Practice (2002). Checklist/action plan for the management of highalert medications. Dari http://www.medpathways.info
2. An Board Altranais. (2007). Guidance to nurses and midwives on medication
management.
3. College and Association of Registered Nurses of Alberta Provincial Council. (2007). Medication
administration: Guidelines for Registered Nurses. Dari http://www.nurses.ab.ca
4. College of Nurses of Ontario. (2011). Practice standard: Medication, revised 2008.
5. College of Registered Nurses of Nova Scotia. (2011). Medication guidelines for
Registered Nurses. Dari http://www.crnns.ca
6. Dennision, R.D. (2008). High-alert drugs: Strategies for safe i.v. infusions. American
Nurse Today
7. Hadaway, L.C. (2000). Managing i.v. therapy: “high alert” drug keep nurse managers
ever watchful. Nursing Management. Vol. 31 (10), 38-40
8. Institute for Safe Medication Practices/ISMP. (2012). ISMP’s list of high-alert
medications.Dari http://www.ismp.org
9. Joint Commission International. (2011). Joint Commission International Acreditation
Standards for Hospitals, 4th edition. Dari http://www.jointcommissioninternational.org.
10. Liverpool Health Service Intensive Care Unit. (2005). Drug administration protocol:
Adrenaline.
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit
12. Pharmaceutical Services Division-Ministry of Health Malaysia. (2011). Guideline on safe use of
high alert medications.
13. Salmon, N., Di Leonardi, B.C. (2012). High-alert medications: Safe practices. RN.com
(AMN Healthcare Education Services).
14. Sydney South West Area Health Service (SSWAHS). (2005). Guidelines Potassium
Chloride: Safe use of intravenous Potassium Chloride (adult patients).
Lampiran 1
15
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
PROSEDUR KEAMANAN PEMBERIAN
OBAT “HIGH ALERT” AGONIS ADRENERGIK:
ADRENALIN
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman: 2
Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO
Tanggal terbit:
dr. Hananto Andriantoro, Sp.JP(K), FIHA
NIP. 195711041986101001
Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Adrenalin adalah obat golongan agonis adrenergik yang masuk
kategori obat kewaspadaan tinggi, yang dapat menyebabkan kerugian
yang signifikan ketika terjadi kesalahan penggunaan.
Meningkatkan keamanan dalam pemberian obat adrenalin
1. Adrenalin masuk dalam kategori Obat Kewaspadaan Tinggi
2. Pemberian adrenalin harus terpasang monitor jantung,
3. Adrenalin diberikan melalui vena sentral dengan kontrol syringe
pump, kecuali dalam keadaan emergensi, adrenalin bisa diberikan
melalui vena perifer
4. Pemberian adrenalin drip diindikasikan untuk hipotensi, cardiac
output (CO) dan cardiac index (CI) yang rendah
5. Jalur adrenalin tidak boleh diberikan melalui jalur sirkuit
hemodialisa
6. Pengenceran:
a. Single strenght dose: 4mg dalam 50cc NaCl 0,9% (80
mcg/ml)
b. Double strenght dose: 8mg dalam 50cc NaCl 0,9% (160
mcg/ml)
7. Adrenalin hanya diberikan oleh perawat yang telah lulus
Kardiologi Dasar (atau advanced beginner) atau pelatihan
khusus high alert medication
8. Pengecekan ganda dilakukan oleh perawat minimal level
“competent”
9. Perawat hanya memberikan obat yang disiapkan sendiri, kecuali
dalam keadaan emergensi yang membutuhkan kerja tim
10. Dosis dalam bentuk dosis rentang
11. Dosis pemberian adrenalin yang direkomendasikan:
a. Dosis awal untuk efek inotropik: dapat dimulai dari 0,02
mcg/kg/menit atau sesuai klinis pasien
b. Dosis titrasi: ditambah 0,02 mcg/kg/menit tiap 5 menit,
maksimal 0,2 mcg/kg/menit, sampai tercapai tekanan darah
16
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Prosedur:
Unit terkait
dan cardiac output yang diinginkan
1. Verifikasi instruksi obat dan tempelkan copy resep di dalam
status pasien.
2. Komunikasikan dengan dokter penanggung jawab bila ada kontra
indikasi
3. Lakukan pengecekan ganda (double check) sebelum diberikan.
Pengecekan meliputi:
a. Identifikasi pasien
b. Label dan isi produk yang diterima
c. Verifikasi pengenceran obat dan jumlah dosis sesuai berat
badan
d. Verifikasi tetesan infus di syringe pump
4. Buat label obat:
a. Tempat infus: nama obat dan konsentrasi
b. Syringe pump: nama pasien, obat, jumlah obat yang
dimasukkan, tanggal, waktu pemberian, dan tetesan infus
c. Ujung selang: nama obat dan tempat insersi iv
5. Pastikan oksigen pasien adequat ditandai dengan saturasi O2 98100%.
6. Berikan adrenalin melalui syringe pump, dan masukkan jumlah
tetesan dengan benar sesai dosis yang diresepkan
7. Catat parameter hemodinamik awal: tekanan darah sistole 100120 mmHg, MAP > 60, atau CI>2).
8. Catat parameter hemodinamik tiap jam
9. Monitor:
a. Tekanan darah sampai terlihat tekanan darah yang stabil
b. cardiac outputdan cardiac index minimal tiap 8 jam sekali
c. Nyeri dada, aritmia (terutama takikardi), dan hipertensi. Sakit
kepala, pusing, cemas, dan urin output (penurunan aliran
darah ke ginjal juga sering terjadi)
10. Laporkan bila tidak tercapai peningkatan tekanan darah sistolik
dan MAP pada keadaan dosis maksimal, takikardi atau aritmia
lain, dan perubahan signifikan lainnya
11. Dokumentasikan setiap perubahan dosis yang terjadi, meliputi
dokter yang meresepkan, waktu, indikasi, perubahan dosis, dan
parameter hemodinamik.
ICU Dewasa Lantai 2
17
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Lampiran 2
PROSEDUR KEAMANAN PEMBERIAN
OBAT “HIGH ALERT” SEDATIVE-HIPNOTIK: PROPOFOL
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman: 2
Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO
Tanggal terbit:
dr. Hananto Andriantoro, Sp.JP(K), FIHA
NIP. 195711041986101001
Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Propofol adalah obat yang bersifat sedative-hipnotik dimana obat ini
mempunyai risiko tinggi yang dapat menyebabkan kerugian yang
signifikan ketika terjadi kesalahan penggunaan.
Meningkatkan keamanan dalam pemberian propofol
1. Propofol masuk dalam kategori Obat Kewaspadaan Tinggi
2. Pemberian propofol harus terpasang monitor jantung, diberikan
melalui vena sentral dengan kontrol syringe pump.
3. Propofol diberikan untuk pemeliharaan sedasi pada pasien
terintubasi dan penurunan stress pasien
4. Propofol tidak dilakukan pengenceran
5. Propofol hanya diberikan oleh perawat yang telah lulus
Kardiologi Dasar
6. Pengecekan ganda dilakukan oleh perawat minimal level
“competent”yang telah lulus ACLS
7. Perawat hanya memberikan obat yang disiapkan sendiri, kecuali
dalam keadaan emergensi yang membutuhkan kerja tim
8. Dosis dalam bentuk dosis rentang
9. Dosis dapat diberikan dalam bentuk mg/jam, atau dosis propofol
yang direkomendasikan:
a. Dosis awal: 10 mcg/kg/menit
b. Dosis pemeliharaan: 5 mcg/kg/menit
c. Dosis titrasi: 10 mcg/kg/menit setiap 5-10 menit sampai
tingkat sedasi yang diinginkan dicapai
d. Dosismaksimum 50 mcg/kg/menit
10. Pemberian propofol secara bolus tidak dianjurkan, karena dapat
menyebabkan hipotensi. Pemberian bolus hanya digunakan
dalam keadaan darurat untuk meningkatkan kedalaman sedasi
secara cepat
18
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Prosedur:
Unit terkait
1. Verifikasi instruksi obat dan tempelkan copy resep di dalam
status pasien.
2. Komunikasikan dengan dokter penanggung jawab bila ada kontra
indikasi
3. Periksa secara visual botol obat terhadap partikel dan perubahan
warna.
4. Lakukan pengecekan ganda (double check)sebelum diberikan.
Pengecekan meliputi:
a. Identifikasi pasien
b. Labeldan isi produk yang diterima
c. Verifikasi jumlah dosis
d. Verifikasi tetesan infus di syringe pump
5. Buat label obat:
a. Tempat infus: nama obat dan konsentrasi.
b. Syringe pump: nama pasien, obat, jumlah obat yang
dimasukkan, tanggal, waktu pemberian, dan tetesan infus.
c. Ujung selang: nama obat dan tempat insersi iv
6. Berikan propofol melalui syringe pump, dan masukkan jumlah
tetesan dengan benar sesuai dosis yang diresepkan
7. Hentikan pemberian propofol 10-15 menit sebelum dilakukan
ekstubasi
8. Monitor:
a. Tekanan darah pasien tiap 1 jam selama titrasi aktif
b. Kadar lipid darah pada pasien hiperlipidemia dan pada pasien
yang beresiko hiperlipidemi. Hentikan pemberian propofol
bila kadar trigliserida menjadi sangat tinggi.
9. Ganti spuit dan selang infus setiap 12 jam, dengan tekhnik
aseptik yang ketat.
10. Dokumentasikan setiap perubahan dosis yang terjadi, meliputi
dokter yang meresepkan, waktu, indikasi, perubahan dosis, dan
parameter hemodinamik
ICU Dewasa Lantai 2
19
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Lampiran 3
PROSEDUR KEAMANAN PEMBERIAN
OBAT “HIGH ALERT” ELEKTROLIT: KCL 7,4%
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman: 2
Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO
Tanggal terbit:
dr. Hananto Andriantoro, Sp.JP(K), FIHA
NIP. 195711041986101001
Pengertian
Tujuan
Kebijakan
KCl 7,4% adalah obat dengan kewaspadaan tinggi dimana dalam
pemberian memiliki risiko tinggi yang dapat menyebabkan kerugian
yang signifikan ketika terjadi kesalahan penggunaan.
Meningkatkan keamanan dalam pemberian KCl 7,4%
1. KCl 7,4% masuk dalam kategori Obat Kewaspadaan Tinggi
2. Pemberian KCl 7,4% harus terpasang monitor jantung dengan
kontrol syringe pump
3. Pemberian KCl 7,4% lebih dari 10 mEq harus diberikan melalui
vena sentral
4. KCl 7,4% hanya dapat diberikan setelah didapatkan nilai kalium
melalui pemeriksaan laboratorium
5. Kadar Kalium yang diinginkan adalah 4,0-4,5 mmol/L
6. Dosis dalam bentuk dosis rentang
7. Pengenceran KCl 7,4% direkomendasikan:
1) Dosis pemeliharaan: 60 mEq per liter
2) Dosis koreksi: 20-25 mEq per 50 ml
3) Vena perifer: 20 mEq per 100 ml atau 40 mEq per 250 ml
4) Vena sentral: 20-25 mEq per 50 ml
8. KCl 7,4% hanya diberikan oleh perawat yang telah lulus
Kardiologi Dasar
9. Pengecekan ganda dilakukan oleh perawat minimal level
“competent”
10. Perawat hanya memberikan obat yang disiapkan sendiri, kecuali
dalam keadaan emergensi yang membutuhkan kerja tim.
11. KCl 7,4% diberikan secara drip, tidak boleh diberikan secara
bolus atau secara push
20
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Prosedur:
Unit terkait
12. Pemberian dosis KCl 7,4% dikurangi apabila terdapat gangguan
fungsi renal
13. Dosis total pemberian adalah 20-60 mEq dalam 24 jam dan tidak
boleh lebih dari 200 mEq dalam 24 jam
1. Verifikasi instruksi obat dan tempelkan copy resep di dalam status
pasien.
2. Pastikan pasien terpasang infus vena sentral, monitor jantung, dan
tersedia syringe pump
3. Verifikasi indikasi pemberian KCl 7,4%
4. Lakukan pengenceran KCl 7,4% sesuai indikasi
5. Lakukan pengecekan ganda (double check)sebelum diberikan.
Pengecekan meliputi:
a. Identifikasi pasien
b. Labeldan isi produk yang diterima
c. Verifikasi konsentrasi pengenceran
d. Verifikasi tetesan infus di syringe pump
6. Buat label obat:
a. Tempat infus: nama obat dan konsentrasi.
b. Syringe pump: nama pasien, obat, jumlah obat yang
dimasukkan, tanggal, waktu pemberian, dan tetesan infus.
c. Ujung selang: nama obat dan tempat insersi iv
7. Lakukan pengenceran KCl 7,4% dengan tepat, dengan cara:
a. Mencampur KCl 7,4% tidak boleh pada plabot yang
tergantung dan tersambung dengan selang infus
b. Lepas terlebih dahulu insersi selang ke plabot, kemudian
masukkan cairan KCl 7,4%, kemudian kocok 10 kali untuk
memastikan cairan tercampur sempurna
8. Berikan KCl 7,4% melalui syringe pump, dan masukkan jumlah
tetesan dengan benar sesuai dosis yang diresepkan
9. Monitor:
a. efek samping peningkatan kalium, yaitu: nyeri abdomen,
bradikardi, nausea, muntah, disfagia, bingung, kelemahan
otot, distress respirasi, cardiac arrest, dan perubahan EKG.
b. kadar kalium darah setiap 4-6 jam setelah koreksi
c. kadar magnesium. Magnesium yang adekuat diperlukan untuk
koreksi kalium
10. Dokumentasikan pemberian KCl 7,4% meliputi kadar kalium
sebelum dan sesudah pemberian, waktu pemberian, dosis, dan
rute pemberian
ICU Dewasa Lantai 2
21
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
Lampiran 4
Contoh Label
Pelabelan di kemasan obat dan vial atau ampul, merupakan tanggung jawab dari farmasi.
Perawat bertanggung jawab atas pelabelan kotak/laci pada unit pelayanan pasien bila terdapat obat
kewaspadaan tinggi. Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan harus disimpan di area
yang terbatas dan diberi label.
Contoh label di syringe pump:
Nama pasien:
BB: __kg
Tgl:
Jam:
Obat:
Konsentrasi: ___ mg dalam ____ NS/D5 _____ ml
Dosis: ____mcg/kg/menit
Ners:
Tetesan: _____ ml/jam
Ners II:
Contoh label di ujung selang
HIGH ALERT
ADRENALIN
22
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
(lanjutan lampiran 4)
23
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Lampiran 5: Daftar Riwayat Hidup
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama
:
Dwi Nugroho Heri Saputro
Tempat, tanggal lahir
:
Wonosobo, 10 Mei 1978
Jenis kelamin
:
Laki-laki
Pekerjaan
:
Staf Pengajar Stikes Bethesda Yakkum Yogyakarta
Alamat rumah
:
Bakungan, RT 02, RW 04, Bumitirto, Selomerto,
Wonosobo, Jawa Tengah
Alamat institusi
:
Jln. Johar Nurhadi No. 6 Yogyakarta
Riwayat Pendidikan
1984-1990
:
SD Kristen Bendungan, Wonosobo
1990-1993
:
SMP Kristen Bendungan, Wonosobo
1993-1996
:
SMA Kristen Wonosobo
1996-1999
:
Akper Bethesda Yogyakarta
2001-2003
:
Program S.Kep PSIK FK UGM Yogyakarta
2003-2004
:
Program Profesi Ners PSIK FK UGM Yogyakarta
2010-2012
:
S2 Keperawatan Universitas Indonesia
Riwayat Pekerjaan
2000 – sekarang
:
Staf Pengajar Stikes Bethesda Yakkum Yogyakarta
Analisis praktik..., Dwi Nugroho Heri Saputro, FIK UI, 2013
Download