BAB III TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, HIPOTESIS

advertisement
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, HIPOTESIS
3.1. Sikap Etis
Sikap etis terdiri dari dua kata yaitu sikap dan etis. Sikap adalah reaksi
individu terhadap suatu objek. Sedangkan etis adalah nilai-nilai yang dapat
diterima sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Dani, 2002) didefinisikan sikap
sebagai perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian, pendapat atau
keyakinan. Sementara definisi sikap menurut para ahli hingga saat ini masih
berbeda pandangan, yang secara umum pandangan tersebut dibagi ke dalam tiga
kelompok.
1. Kelompok pertama yang diwakili oleh Thurstone, Likert, dan Osgood
memandang sikap sebagai berikut:
Sikap merupakan bentuk evaluasi atau reaksi perasaan terhadap suatu objek,
yang dapat berupa mendukung atau memihak maupun tidak mendukung atau
tidak memihak.
2. Kelompok kedua yang diwakili oleh Chave, Bogardus, LaPieree, Mead, dan
Allport memandang sikap sebagai berikut:
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara
tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki
adanya respon.
17
3. Kelompok ketiga yang diwakili oleh Secord & Backman memandang sikap
sebagai berikut:
Sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan
konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku
terhadap suatu objek (Azwar, 2004).
Menurut Robbin dan Judge (2008), sikap (attitude) merupakan pernyataan
evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek,
individu atau peristiwa. Hal ini mencerminkan bagaimana perasaan seseorang
tentang sesuatu.
Dalam sikap terdapat 3 (tiga) komponen utama yaitu : Pertama komponen
kognitif (cognitive component) berkeyakinan bahwa “diskriminasi itu salah”
merupakan sebuah pernyataan evaluatif, opini semacam ini adalah bagian dari
sikap yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah
sikap. Kedua komponen afektif (affective component) merupakan segmen
emosional atau perasaan dari sebuah sikap, perasaan bisa menimbulkan hasil akhir
perilaku. Ketiga komponen perilaku (behavior component) dari sebuah sikap
merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap
seseorang atau sesuatu. Ketiga komponen dari sikap tersebut diatas terdiri atas
tiga komponen yaitu kesadaran, perasaan dan perilaku sangat bermanfaat dalam
memahami kerumitan hal ini dan hubungan potensial antara sikap dan perilaku.
Perlu penekanan bahwa komponen-komponen ini saling berkaitan dan tidak dapat
dipisahkan.
18
Terkadang setiap manusia dihadapkan pada situasi dimana antara sikap
dan perilaku tidaklah seimbang atau terjadi inkonsistensi. Untuk melihat
konsistensi sebuah sikap, Robbin dan Judge (2008) menyatakan tahun 1950-an
Leon Festinger mengemukakan teori ”ketidakseimbangan kognitif (cognitive
dissonance)” bahwa teori ini berusaha menjelaskan hubungan antara sikap dan
perilaku, merujuk pada ketidaksesuaian yang dirasakan oleh seorang individu
antara dua sikap atau lebih, atau antara perilaku dan sikap. Tentunya tidak ada
seorangpun yang individu yang bisa sepenuhnya menghindari ketidaksesuaian,
apapun bentuk ketidakkonsistenan tidaklah menyenangkan dan bahwa individu
akan berusaha mengurangi ketidaksesuaian dan ketidaknyamanan tersebut.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat didefinisikan bahwa sikap
adalah reaksi individu terhadap suatu obyek yang merupakan konstelasi kognitif,
afektif, dan konatif yang disebabkan oleh suatu stimulus yang menghendaki
adanya respon (pendirian). Berbagai penelitian tentang etika memberikan bukti
empiris mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku etis
seseorang yang dapat dikelompokkan kedalam tiga aspek, yaitu: 1) Aspek
individual; 2) Aspek organisasional; dan 3) Aspek lingkungan. Penelitian tentang
etika yang berfokus pada aspek individual menunjukkan berbagai faktor yang
mempengaruhi sikap dan perilaku etis seseorang antara lain: a) Religiusitas b)
Kecerdasan emosional c) Gender d) Suasana etis (ethical climate) individu e)
Sifat-sifat personal dan f) Kepercayaan bahwa orang lain lebih tidak etis (Clark,
1996). Sedangkan aspek lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perilaku etis
19
seseorang meliputi: a)Lingkungan organisasi (Verbeke dkk, 1996), dan b)
Lingkungan sosial/masyarakat (Ludigdo, 2005).
Kata etis berasal dari kata etika yang mana etika adalah cabang filsafat
yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan
keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.
Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. (Kochen, 1987)
Pendapat lain mengatakan bahwa etika adalah ilmu yang mempelajari apa
yang baik dan buruk. Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia
bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang
manusia hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah
hutan. Dan etis artinya sesuai dengan ajaran moral. (Basuki, 2007). Menurut
Santoso (2002), perhatian terhadap pentingnya etika ini dilakukan mengingat
banyaknya kasus yang lepas akibat dari diabaikannya masalah etika yang
menimbulkan citra yang negatif terhadap pekerja. Kasus pelanggaran etika
seharusnya tidak terjadi apabila setiap pekerja mempunyai pengetahuan,
pemahaman, dan kemauan untuk menerapkan nilai-nilai moral dan etika secara
memadai dalam diri mereka dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sosial.
Jadi dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan Etis adalah hal-hal
yang menyangkut nilai-nilai yang dapat diterima dan sesuai dengan norma-norma
yang berlaku.
Sikap etis merupakan sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma
sosial yang diterima secara umum sehubungan dengan tindakan-tindakan yang
20
bermanfaat dan tindakan-tindakan yang membahayakan (Griffin & Ebert, 1998
dalam Ludigdo, 2005).
Dari beberapa defenisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sikap etis
adalah sikap dan prilaku yang sesuai dengan aturan-aturan dan norma-norma
sosial yang berlaku dan dapat diterima secara umum.
Dalam menilai sikap etis banyak hal bisa kita lihat dalam kehidupan
sehari-hari, namun dalam penelitian ini terdapat beberapa indikator dari sikap etis
(Verbeke dkk, 1996) yaitu:
1.
Tanggungjawab, dimana seseorang menyelesaikan apa yang menjadi
prioritas utama. Robbin dan Judge (2008) menyatakan ini merupakan
komitmen afektif (affektive komitmen) dalam hal pekerjaan yang dilakukan.
2.
Kepentingan Publik, hal ini cenderung kepada kepentingan secara umum
bukan untuk suatu golongan tertentu yang nantinya akan berdampak pada
kepuasan pelanggan.
3.
Suasana Etis (ethical climate) Individu, menggambarkan hubungan antar
pribadi yang melebur dalam satu satuan kerja dimana norma dan etika kerja
tetap menjadi acuan utama
4.
Integritas, menunjukkan pengabdian yang telah diberikan oleh karyawan dan
tingkat sampai mana karyawan yakin organisasi menghargai kontribusi
mereka dan pedui dengan kesejahteraan mereka.
5.
Perilaku Profesional, merupakan komitmen berkelanjutan (continuance
commitmen) yang menggambarkan komitmen untuk bertahan di sebuah
21
6.
Aturan Etika, terdapat dalam komitmen normatif (normative commitmen)
yaitu bertahan dengan organisasi untuk alasan moral dan etis, bukan untuk
memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh organisasi atau perusahaan.
3.1.1. Etika dan Ajaran Moral
Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan
tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran
moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan
rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban
manusia.
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika
merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat
mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan
normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki
bagaimana pandangan moral yang sebenarnya) (Basuki, 2007).
3.1.2. Fungsi Etika
Etika tidak langsung membuat manusia menjadi lebih baik, itu ajaran
moral, melainkan etika merupakan sarana untuk memperoleh orientasi kritis
berhadapan dengan berbagai moralitas yang membingungkan. Etika ingin
menampilkan keterampilan intelektual yaitu keterampilan untuk berargumentasi
secara rasional dan kritis.
22
Orientasi etis ini diperlukan dalam mengambil sikap yang wajar dalam
suasana pluralisme. Pluralisme moral diperlukan karena:
1.
Pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah
budaya dan agama yang hidup berdampingan.
2.
Modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan
masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional.
3.
Berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masingmasing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.
(Basuki, 2007).
Etika secara umum dapat dibagi menjadi etika umum yang berisi prinsip
serta moral dasar dan etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus. Etika
khusus ini masih dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial. Etika sosial
dibagi menjadi: (1) Sikap terhadap sesama, (2) Etika keluarga, (3) Etika profesi
misalnya etika untuk pustakawan, arsiparis, dokumentalis, pialang informasi, (4)
Etika politik, (5) Etika lingkungan hidup dan (6) Kritik ideologi (Pendit, 2000)
Etika merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang
ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral (Magnis-Suseno, 2005). Etika
meliputi suatu proses penentuan yang kompleks tentang apa yang harus dilakukan
seseorang dalam situasi tertentu yang disifati oleh kombinasi dari pengalaman dan
pembelajaran masing-masing individu.
Etika sebagai ajaran moral pada umumnya tidak tertulis. Namun bagi
lembaga pendidikan perguruan tinggi, perilaku etis dituangkan dalam aturan
tertulis yang disebut kode etik. Kode etik tersebut dibuat untuk dijadikan sebagai
23
aturan tindakan etis bagi pekerja yang bertujuan menjaga reputasi serta
kepercayaan masyarakat agar dapat menjadi teladan di dalam masyarakat.
3.1.3. Ajaran Moral
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang
terdapat di antara sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan
manusia sebagai manusia. Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus
hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan
moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan
manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan
kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja.
Nilai merupakan suatu komponen yang tidak berdiri sendiri, karena setiap
nilai pasti diawali dari sebuah sikap individu. Winardi (2004) menyatakan bahwa
sikap merupakan determinan perilaku karena mereka berkaitan dengan persepsi,
kepribadian dan motivasi. Untuk mengubah sikap bukanlah suatu hal mudah
karena ada beberapa hal yang dapat mengubah sikap tersebut yaitu : kepercayaan
pada pihak yang mengirim pesan, pesan itu sendiri dan situasi yang dihadapi.
Sikap dan nilai merupakan nilai-nilai terikat dengan sikap dalam arti bahwa
sebuah nilai berguna sebagai suatu cara untuk mengorganisasi sejumlah sikap.
Nilai didefinisikan sebagai konstitusi perasaan suka atau tidak menyukai, sudut
suatu pandangan, sikap kecendrungan dalam diri sendiri, penilaian-penilaian
rasional maupun yang irasional, prasangka-prasangka dan pola-pola asosiasi yang
mempengaruhi pandangan seseorang terhadap dunia.
24
Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah sopan santun, segala
sesuatu yang berhubungan dengan etiket dan tingkah laku. Moralitas dapat berasal
dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari
beberapa sumber.
Pemaknaan moral haruslah secara keseluruhan, bukan secara parsial. Pada
hakikatnya moral merupakan perwujudan dari sesuatu yang bersumber dari dalam
diri, semakin baik jiwa seseorang maka akan semakin baik moral orang tersebut.
Hal ini akan terlihat dari pergaulan sehari-hari mulai dari keluarga, masyarakat
lingkungan tempat tinggal hingga ditempat bekerja. Hal yang berperan dalam
pembentukan moral seseorang dimulai dari lingkungan keluarga, bagaimana orang
tua membangun persepsi seorang anak untuk memandang suatu hal yang ada
didepanya. Shaleh (2008) berpendapat bahwa persepsi merupakan proses yang
menggabungkan dan mengorganisir data-data indra kita (pengindraan) untuk
dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari disekeliling kita,
termasuk sadar akan diri kita sendiri.
Jika dari kecil seorang anak tidak dibimbing dalam menterjemahkan apa
yang dilihat, maka anak tersebut akan mencari jawabannya pada orang disekitar
bahkan bisa diterjemahkan sendiri, jika persepsi itu salah dari awal maka hal ini
akan terbawa sampai dewasa dan terjadi penyimpangan secara moral.
3.1.4. Sensitivitas Sikap Etis
Kemampuan seorang pekerja untuk berperilaku etis sangat dipengaruhi
oleh sensitivitas individu tersebut. Faktor yang penting dalam menilai perilaku
etis adalah adanya kesadaran para individu bahwa mereka adalah agen moral.
25
Kesadaran individu tersebut dapat dinilai melalui kemampuan untuk menyadari
adanya nilai-nilai etis dalam suatu keputusan yang disebutkan sebagai sensitivitas
etika (Velasque dan Rostankowski, 1985). Proses berpikir, moral individual dan
perilaku individu dalam mengambil keputusan mempengaruhi perilaku moral dan
kegagalan pada komponen dapat menyebabkan perilaku yang tidak etis.
Dalam dunia kerja sangat memungkinkan terjadi sifat sensitive apalagi jika
seorang karyawan memiliki beban kerja yang cukup tinggi dan mengalami stress,
maka akan sangat mudah tersinggung oelh orang sekitarnya. Karyawan seperti
inilah yang bisa merusak harmonisasi suasana kerja yang pada awalnya begitu
akrap, namun karena sikap yang kurang etis dari seseorang mengakibatkan orang
lain terganggu. Sebagai professional yang bertanggung jawab kondisi demikian
bisa dihindari dengan catatan bahwa apa yang akan dilakukan harus dipikirkan
secara dewasa dan bijak. Bagaimana efek dari tindakan tersebut terhadap image
secara pribadi? siapa saja yang akan terkena imbasnya? dan seberapa besar efek
yang akan terjadi terhadap suasana kerja diperusahaan tersebut?.
Dalam praktek keseharian dunia kerja, memang sering kita jumpai orangorang yang memiliki sifat sensitive terutama kaum wanita, karena pada dasarnya
wanita lebih banyak menggunakan perasaan. Fenomena wanita karir zaman
sekarang tidak bisa dianggap sebelah mata karena wanita zaman sekarang tidak
hanya berperan sebagai ibu rumah tangga namun juga berkarir dalam segala
bidang.
26
Sikap yang cenderung sensitif merupakan bagian dari kepribadian,
menurut Thoha (1983) bahwa susunan elemen dalam sebuah kepribadian terdapat
3 (tiga) konsepsi yaitu :
1)
Id (cenderung tidak sadar), kawah mendidih berisi pengharapan dan
keinginan-keinginan yang memerlukan pemuasan secepatnya, pengharapan
ini berasal dari insting-insting psikologis yang dimilliki setiap orang sejak
lahir. Dalam rangka memenuhi kepuasaan Id tersebut manusia tidak
terbelenggu oleh faktor-faktor pembatas seperti etika, moral, dan
alasan/logika. Id ini adalah sub sistem dari kepribadian, merupakan upaya
mendapatkan penghargaan, pemuasan dan kesenangan
yang diwujudkan
lewat libido dan agresi. Libido merupakan keinginan sexual dan
kesenangan-kesenangan tetapi juga kehangatan, makanan dan kofortable.
Agresi merupakan lebih cenderung untuk berbuat kerusakan seperti perang,
berkelahi, berkuasa, dan menginnginkan jabatan tertentu dengan jalan
menjatuhkan rekan kerja, mencari kesalahan orang lain, menjilat didepan
atasan.
2)
Ego (cenderung sadar), merupakan sub sistem yang berfungsi ganda yaitu
melayani sekaligus mengendalikan 2 (dua) sub sistem lainnya (Id dan
Superego) dengan cara berinteraksi dengan dunia luar/lingkungan luar. Ego
mewakili logika dan yang dihubungkan dengan prinsip-prinsip realitas.
Tujuan dari ego adalah melindungi kehidupan dengan cara menafsirkan dan
menggali apa yang terjadi didalam lingkungan luar, sehingga ego menjadi
sadar tentang apa yang terjadi didunia dan apa yang dialaminya.
27
3)
Superego, merupakan sub sistem yang melahirkan kekuatan moral dari
personality, sumber norma/standar yang tidak sadar yang menilai dari semua
aktivitas ego. Superego menetapkan suatu norma yang memungkinkan ego
memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah.
Setiap individu tidaklah sama, adakalanya yang lebih dominan Id yang
cenderung merusak, seperti dalam dunia kerja bahwa untuk mencapai jabatan
tertentu sengaja menjatuhkan rekan kerja, mencari-cari kesalahan serta berusaha
menjadi pribadi yang paling benar, individu seperti ini adalah orang-orang yang
lebih mengedepankan Id Agresi yang negatif. Disisi lain terdapat individu yang
mengedepankan ego yang positif yaitu mampu mengendalikan Id dan superego
sehingga setiap tindakan selalu mengacu pada norma baik atau benar. Bukan ego
yang negatif yang mengikuti Id. Untuk mencapai ego positif butuh pembelajaran
hidup, menyadari segala kekurangan tanpa menyombongkan kelebihan. Jika ini
gagal maka yang terjadi adalah sikap pribadi yang egois.
3.2. Kecerdasan Emosional (EQ)
Model kecerdasan emosional untuk pertama kalinya diusulkan
dalam
tulisan pada "Emotional Intelligences", Imagination, Cognition, and Personality
(Mayer, 1997). Lima wilayah utama kecerdasan emosi adalah mengenali diri
sendiri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain,
dan membina hubungan.
Akar kata emosi adalah movere kata kerja bahasa latin yang berarti
menggerakkan atau bergerak ditambah awalan ”e” menjadi emovere yang berarti
28
bergerak jauh. Menyiratkan bahwa kecendrungan bertindak merupakan hal mutlak
dalam emosi. (Goleman, 2006)
Kecerdasan Emosional (EQ) adalah kemampuan mengetahui perasaan
sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan tersebut menuntun pikiran
dan perilaku seseorang (Salovey dalam Sadana, 2006). EQ adalah kemampuan
mengetahui perasaan sendiri dan perasaan orang lain, serta menggunakan
perasaan tersebut menuntun pikiran dan perilaku seseorang (Mayer, 1990 dalam
Svyantek, 2003).
Selain itu, Goleman (2005) mendefinisikan EQ adalah kemampuan
mengenali perasaan diri sendiri, serta mengelola emosi dengan baik pada diri
sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Goleman (2005) juga
mengadaptasi model Salovey-Mayer, membagi EQ dalam lima sosial yang
meliputi: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan kecakapan dalam
membina hubungan dengan orang lain. Kelima sosial tersebut dikelompokkan
kedalam dua kecakapan, yaitu: a). kecakapan pribadi; yang meliputi kesadaran
diri, pengaturan diri, dan motivasi; serta b). Kecakapan sosial; yang meliputi
empati dan keterampilan sosial (Goleman, 2005).
Steiner (1997) menyatakan bahwa EQ mencakup lima komponen, yaitu:
mengetahui perasaan diri sendiri, memiliki empati, belajar mengatur emosi
sendiri, memperbaiki kerusakan sosial , dan interaktifitas emosional. Cooper dan
Sawaf (1998) merumuskan EQ sebagai sebuah titik awal model empat batu
penjuru yang terdiri dari: kesadaran emosi, kebugaran emosi, dan kedalaman
emosi. (Armansyah, 2006).
29
Untuk mengukur Emotional Question terdapat 5 (lima) pendekatan yang
dilakukan menurut Tikollah (2006).
a. Mengenali diri sendiri, mampu mengenali kekurangan dan kelemahan secara
pribadi
b. Mengelola emosi, mampu mengendalikan emosi dalam kondisi normal
maupun dalam kondisi tertekan, atau dengan kata lain mampu mengelola
emosi secara cerdas.
c. Memotivasi diri sendiri, tidak takut akan tantangan pekerjaan yang akan
dihadapi bahkan mampu memberikan sumbangan ide atau pemikiran.
d. Mengenali emosi orang lain, mampu menempatkan posisi disaat orang lain
membutuhan kita untuk memberikan masukan ataupu ide serta mampu
mengintrospeksi diri sendiri
e. Membina hubungan, dalam berkomukasi baik secara verbal maupun non
verbal tetap menjaga sopan santun dan etika dengan orang lain.
Bradberry (2007) menjelaskan bahwa Kecerdasan emosional adalah dua
produk dari dua skill utama : kompetensi personal dan kompetensi sosial.
Kompetensi personal lebih berfokus pada diri sendiri sebagai seorang individu
dan terbagi kedalam skill kesadaran diri dan menejemen diri. Kompetensi sosial
lebih berfokus pada bagaimana hubungan seseorang dengan orang lain dan terbagi
kedalam skill kesadaran sosial dan skill manajemen hubungan sosial.
Disamping itu kecerdasan emosional (EQ) juga dapat menentukan
seberapa
baik
seseorang
menggunakan
dimilikinya, termasuk keterampilan intelektual.
30
keterampilan-keterampilan
yang
Dari berbagai pendapat ahli diatas dapat disimpulakan bahwa EQ adalah
kemampuan seorang individu untuk memahami diri sendiri dan orang lain, dan
kemampuan untuk membina hubungan dengan khalayak banyak.
3.2.1. Mengenali Keadaan-keadaan Emosi pada Diri Sendiri
Bagi sebagian kita yang tidak menderita alexythymia, tidak tahu hal pun di
dunia ini yang bersifat alamiah daripada memiliki suatu emosi dan mengetahui
apakah sebenarnya ini. Kita semua dapat mengingatnya beberapa kali ketika
suasana hati (mood) kita sangat kuat (kelahiran seorang anak) atau sangat jernih
(memperoleh keberhasilan yang tidak diharap-harapkan) sehingga kita sama
sekali tidak memiliki kesulitan dalam semua hal dalam mengenali semua itu.
Lebih dari sekedar menciptakan respon-respon emosi yang agak ringan,
situasi-situasi lain memancing bukan saja suatu respon tunggal yang secara jelas
diberikan label, tetapi suatu campuran perasaan yang kompleks. Dalam kasus lain,
tugas untuk mengidentifikasi perasaan kita sebenarnya secara benar bisa jadi sulit,
dan beberapa orang cenderung secara lebih baik untuk melakukannya daripada
orang lain (Stein, 2010). Mengapa suatu kemampuan untuk mengenal keadaan
emosi kita adalah berguna, banyak alasan yang mungkin dan inilah alasan yang
paling pokok yaitu: emosi memberi kita informasi mengenai penilaian kita.
Alasan pertama didasarkan pada suatu argumentasi bahwa emosi merupakan suatu
jenis informasi, karena emosi secara jelas memberi tahu kita bagaimana
mengevaluasi sesuatu-orang, hal-hal, situasi, gagasan-suatu pemahaman yang
akurat atas emosi kita artinya bahwa kita memiliki informasi yang lebih akurat
mengenai evaluasi-evaluasi. Secara akurat kita mengetahui emosi diri akan
31
memberikan kita kesadaran yang lebih baik atas apa yang kita suka, tidak suka
bahkan ditengah-tengah itu (Stein, 2001).
3.2.2. Emosi sebagai Kata Kunci untuk Bersikap
Dengan memiliki informasi mengenai penilaian-penilaian terhadap diri
sendiri maka memberikan kita kata-kata kunci yang penting mengenai cara-cara
yang lazim untuk berperilaku dalam berbagai situasi yang ada. Banyak emosi
merupakan sinyal bagi kita mengenai dimana kita harus mengarahkan energi, jika
kita tidak mengidentifikasi secara akurat emosi tersebut maka kita tidak akan
dapat bertindak dengan cara yang paling layak (Stein, 2010).
Perasaan tidak enak merupakan suatu sinyal dimana sesuatu pelanggaran
telah terjadi dan sinyal tersebut memacu untuk mengarahkan perhatian dan upaya
ke arah memperbaiki kerusakan tersebut. Suatu kegagalan untuk mengenali secara
akurat dan memberikan label perasaan-perasaan ini bisa jadi menghasilkan karya
penting untuk dilakukan. Selama stress dan gejolak yang tinggi, mereka yang
memiliki pengenalan lebih jelas mengenai keadaan emosi mereka secara aktual
menunjukkan hal yang lebih baik. Pada saat pertama kali terlihat kesulitan kecil
untuk berbicara mengenali kesultan-kesulitan dalam mengenali keadaan emosi
diri kita sendiri, tidak kelihatan sama sekali keanehan untuk berbicara mengenai
kesulitan-kesulitan dalam mengidentifikasi emosi orang lain. Orang lain sangat
sulit ”membaca”, seringkali pada saat kita paling ingin untuk dapat membaca
mereka. Kesulitan-kesulitan dalam memahami apa yang ”sebenarnya” dialami
seseorang yang menyedihkan bagi semua orang norman.
32
3.2.3. Emosi Merupakan Informasi
Sama hal nya seperti emosi merupakan sinyal bagi kita tentang apa yang
kita nilai tinggi dan apa yang kita nilai tidak tinggi sama sekali, kondisi emosional
orang lain menyampaikan infomasi yang sama mengenai apa yang mereka suka
dan tidak suka. Pengenalan yang akurat atas emosi orang lain berguna bagi kita
dalam mengejar cita-cita. Ini bisa terjadi dengan beragam cara, pada tingkatan
paling dasar adalah bertemu dengan orang satu per satu.
Kegunaan pengenalan emosi tidak terbatas kepada menghadapi orang per
orang. Suatu kemampuan untuk mengenal secara tepat emosi orang lain juga
memberikan lebih umum. Sama halnya berguna untuk mengetahui keadaan
suasana hati seseorang dengan mengetahui jaringan kerja sosialnya yang lebih uas
dan berguna. Emosi bisa merupakan sebuah informasi, tetapi ini merupakan
informasi yang tidak dikomunikasikan kepada kita melalui saluran yang umum
yaitu bahasa. Disamping itu informasi mengenai emosi dapat disampaikan melalui
roman muka yang manis, perubahan-perubahan dalam detak jantung otot yang
tegang dan suatu kumpulan besar sinyal dari tubuh.
3.3. Kecerdasan Spritual (SQ)
Penggagas istilah teknis SQ (kecerdasan spiritual) dikatakan bahwa kalau
IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang
di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi
‘pusat-diri’ dalam kehidupannya. (Zohar, 2002).
33
Begitu luasnya aspek spritual, jika dibahas semua maka akan memakan
waktu yang lama dan akan terjadi bias dalam pembahasan, maka dapat dipilah
dalam beberapa aspek menurut Zohar (2002) sebagai berikut:
a) Kemampuan untuk bersikap fleksibel, memiliki kesadaran secara moral dan
tidak terlalu kaku dalam bertindak.
b) Adanya tingkat kesadaran diri yang tinggi, setiap tindakan dan ucapan selalu
penuh pertimbangan karena semuanya itu akan dipertanggungjawabkan
dihadapan tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
c) Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, selalu
bangkit dan terus berusahan karena percaya bahwa tuhan itu tidak tidur, dan
juga percaya setiap usaha yang sungguh-sungguh pasti akan berhasil.
d) Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui perasaan sakit, yaitu penuh
rasa optimis dan pantang untuk mengeluh.
e) Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, yaitu memahami dan
memiliki tujuan yang ingin dicapai kemudian hari dan tidak memandang
segala sesuatu dari materi, serta mampu untuk saling berbagi.
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa
sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam
melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan
kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia
dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual
lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. (Armansyah, 2006). SQ adalah
kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai yang
34
menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks yang lebih luas dan
kaya yang memungkinkan seseorang untuk menyatukan hal-hal yang bersifat
intrapersonal dan interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri
sendiri dan orang lain (Zohar, 2002). Wujud dari SQ ini adalah sikap moral yang
dipandang luhur oleh pelaku (Ummah dkk, 2003).
Zohar (2002) mendefinisikan Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan
untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu
menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas
dan kaya, serta menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna
dibandingkan dengan yang lain. SQ melampaui kekinian dan pengalaman
manusia, serta merupakan bagian terdalam dan terpenting dari manusia (Sukidi,
2004).
SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. SQ mendahului seluruh nilai
spesifik dan budaya manapun, serta mendahului bentuk ekspresi agama manapun
yang pernah ada. Namun untuk sebagian orang SQ boleh jadi menemukan bentuk
ekspresinya lewat agama formal. Tetapi dengan beragama tidaklah menjamin
tingkat SQ yang tinggi. Banyak orang yang humanis dan ateis memiliki SQ yang
tinggi, dan sebaliknya justru orang yang beragama yang memiliki SQ yang rendah
(Sukidi, 2004).
3.4. SQ, Agama, dan Etika
SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. SQ mendahului seluruh nilai
spesifik dan budaya manapun, serta mendahului bentuk ekspresi agama manapun
35
yang pernah ada. Namun bagi sebagian orang mungkin menemukan cara
pengungkapan SQ melalui agama formal sehingga membuat agama menjadi perlu
(Zohar, 2002).
SQ memungkinkan seseorang untuk menyatukan hal-hal yang bersifat
intrapersonal dan interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri dan
orang lain (Zohar dalam Mahzar 2006). Wujud dari kecerdaan spiritual ini adalah
sikap moral yang dipandang luhur oleh pelaku (Ummah dkk, 2003). Matinya etika
lama dan seluruh kerangkan pikiran yang mendasarinya, memberi kesempatan
yang berharga untuk menciptakan ajaran etika baru berdasarkan SQ (Zohar dalam
Mahzar 2006).
36
3.5. Penelitian Terdahulu
Tabel 1.
Skema Penelitian Terdahulu
No
1
Nama
Maryani dan
Ludigdo
(2001)
Judul Penelitian
Survei atas faktor faktor
Yang mempengaruhi sikap dan
perilaku etis akuntan.
Variabel
Sikap dan perilaku etis (variabel
dependen).Religiusitas, pendidikan,
organisasional, emotional quotient,
lingkungan keluarga, pengalaman
hidup, imbalan yang diterima,
hukum, dan posisi atau kedudukan
(variabel independen).
Hasil Penelitian
Religiusitas adalah faktor
yang berpengaruh dominan
terhadap perilaku etis
akuntan, kecerdasan
emosional juga berpengaruh
terhadap sikap etis akuntan.
2
Darufitri
Kartikandari
(2002)
Pengaruh kecerdasan
emosional (EQ),
kecerdasan intelektual (IQ)
dan iklim organiasasi
terhadap kinerja karyawan
Kinerja karyawan (variabel
dependen). Kecerdasan emosional
(EQ), Kecerdasan intelektual (IQ)
dan iklim organiasasi (variabel
independen).
3
Deeter,
Schmelz,
Sojka
(2003)
Pengaruh kecerdasan
emosional terhadap kinerja
tenaga penjualan (sales)
Kinerja tenaga penjualan/sales
(variabel dependen). Kecerdasan
emosional (variable independen).
Kecerdasan emosioanl (EQ),
kecerdasan
intelektual dan iklim organisasi
secara bersamasama
mempunyai pengaruh yang
signifikan
terhadap kinerja karyawan
Aspek kecerdasan emosional
membantu para
salesman untuk menjalankan
tugasnya dengan
lebih baik dan akhirnya
berpengaruh terhadap
kesuksesan dalam penjualan.
37
4
Reza Surya
dan Santosa
Tri Hananto
(2004)
Pengaruh kecerdasan
emosional (EQ) terhadap
kinerja auditor di kantor
akuntan publik
Kinerja (variabel dependen).
Kecerdasan emosional (EQ)
(variabel independen).
5
Chrismastuti
dan
Purnamasari
(2004)
Hubungan sifat Machiavellian,
pembelajaran etika dalam mata
kuliah etika, dan sikap etis
akuntan: suatu analisis perilaku
etis akuntan dan mahasiswa
akuntansi.
Perilaku
etis,
tingkat
kecenderungan sifat Machiavellian
(variabel dependen). Gender, status,
pendidikan, usia dan mata kuliah
etika (variabel independen).
Kecerdasan emosional yang
memiliki subvariabel
ketrampilan EQ, kecakapan EQ,
nilai dan
keyakinan EQ secara signifikan
mempengaruhi
kinerja optimal auditor
Sifat Machiavellian
merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi
perilaku etis akuntan dan
mahasiswa akuntansi.
6
R.A Fabiola
Meirnayati
Trihandini, SPsi
(2005)
Analisis Pengaruh Kecerdasan
Intelektual, Kecerdasan Emosi
dan Kecerdasan Spiritual
terhadap Kinerja Karyawan
Kinerja Karyawan (variabel
dependen). Kecerdasan Intelektual,
Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan
Spiritual (variabel independen).
Kecerdasan intelektual, kecerdasan
emosi dan kecerdasan spiritual
berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja karyawan
7
Martadi dan
Suranta
(2006)
Persepsi akuntan, mahasiswa
akuntansi, dan karyawan bagian
akuntansi dipandang dari segi
gender terhadap etika bisnis dan
etika profesi.
Persepsi etika bisnis dan
etika profesi dan gender.
Tidak terdapat perbedaan
persepsi antara akuntan pria
dan wanita serta mahasiswa
akuntansi pria dan wanita.
Terdapat perbedaan persepsi
antara karyawan bagian
akuntansi pria dan wanita.
38
8
Tikollah,
Triyuwono
dan Ludigdo
(2006)
Pengaruh kecerdasan intelektual,
Kecerdasan emosional, dan
Kecerdasan spiritual terhadap
sikap etis mahasiswa akuntansi.
Sikap etis (variabel dependen).
Kecerdasan intelektual, kecerdasan
emosional, kecerdasan spiritual
(variable independen).
Kecerdasan intelektual, kecerdasan
emosional, kecerdasan spiritual,
secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap sikap etis
mahasiswa akuntansi,tetapi secara
parsial hanya kecerdasan
intelektual yang berpengaruh
signifikan serta berpengaruh
dominan terhadap sikap etis
mahasiswa akuntansi.
9
Laras Tris
Ambar Suksesi
Edwardin
(2006)
Analisis pengaruh kompetensi
komunikasi, kecerdasan
emosional, dan budaya
organisasi terhadap kinerja
karyawan
Kinerja karyawan (variabel
dependen). Kompetensi
komunikasi, kecerdasan emosional,
dan budaya organisasi (variabel
independen).
Kompetensi komunikasi,
kecerdasan emosional dan budaya
organisasi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap
kinerja karyawan.
10
Nina Astari
Widaryabti
(2008)
Hubungan antara kecerdasan
emotional dengan agresivitas
pada polisi yang mendapatkan
inventaris senjata api.
Agresivitas (Variabel Dependent)
kecerdasan emotional (Variabel
independent)
Kecerdasan Emotionl berpengaruh
terhadap agresivitas
39
11
Indira Januarti &
Ashari
Bunyaanudin
Pengaruh komitmen Organisasi
dan keterlibatan kerja Terhadap
hubungan antara etika kerja
islam dengan sikap terhadap
perubahan organisasi
Etika kerja dan perubahan
organisasi (Variabel dependent)
komitmen Organisasi dan
keterlibatan kerja (Variabel
Independend)
komitmen Organisasi dan
keterlibatan kerja berpengaruh
Terhadap hubungan antara etika
kerja islam dengan sikap terhadap
perubahan organisasi
12
R.A Fabiola
Meirnayati
Trihandini, SPsi
(2005)
Analisis Pengaruh Kecerdasan
Intelektual, Kecerdasan Emosi
dan Kecerdasan Spiritual
terhadap Kinerja Karyawan
Kinerja Karyawan (Variabel
Dependent) dan Kecerdasan
Intelektual, Kecerdasan Emosi dan
Kecerdasan Spiritual (Variabel
Independent)
Kecerdasan Intelektual,
Kecerdasan Emosi
dan Kecerdasan Spiritual
mempunyai pengaruh terhadap
Kinerja Karyawan
13
Anik Lestasi
Andjarwati &
Setijo Budiadi
(2008)
Etika Bisnis dan Perilaku Etis
Manajer Pengaruhnya Terhadap
Tanggung Jawab Perusahaan
pada Lingkungan Sosial
Tanggung Jawab Perusahaan
(Variaebl Dependent) dan Etika
Bisnis dan Perilaku Etis (Variabel
Independent)
Etika Bisnis dan Perilaku Etis
berpengaruh terhadap tanggung
jawab perusahaan pada lingkungan
sosial
40
14
Ardi Hamzah &
Paramitha
Perbedaan Prilaku Etis dan
Tekanan Kerja Perspektif
Gender dalam audit Judgment
Laporan Keuangan Historis dan
Kompleksitas Tugas.
Perspektif Gender (Variabel
Dependent) dan Perbedaan Prilaku
Etis dan Tekanan Kerja(Variabel
Independent)
Terdapat perbedaan prilaku etis
dan tekanan kerja antara auditor
laki-laki dan perempuan.
15
Payne (2005)
Mengkaji hubungan antara
kompetensi komunikasi,
performa kerja dan peran
kepenyeliaan
Peran Kepenyeliaan (Variabel
Dependent) dan kompetensi
komunikasi, performa kerja
(Variabel Independent)
Terdapat pengaruh yang signifikan
dan positif dari motivasi untuk
menyesuaikan komunikasi,
pengetahuan komunikasi dan
ketrampilan komunikasi terhadap
kinerja karyawan
16
Riggio and
Taylor (2000)
Pengaruh Dimensi-Dimensi
Kompetensi Komunikasi
terhadap Kinerja Perawat.
Kinerja perawat (Variabel
Dependent) dan dimensi-dimensi
kompetensi komunikasi (Variabel
Independent)
Terdapat pengaruh yang signifikan
positif dimensi kompetensi
komunikasi khususnya dimensi
empati (empathic concern,
perspectivetaking) terhadap
Kinerja perawat
41
17
Deeter,
Schmelz,
Sojka (2003)
Pengaruh Kecerdasan
Emosional terhadap Kinerja
Tenaga Penjualan (sales)
Kinerja tenaga penjualan (Variabel
Dependent) dan kecerdasan
Emosional (Variabel Independent)
42
Aspek kecerdasan emosional
membantu para salesman untuk
menjalankan tugasnya dengan
lebih baik dan akhirnya
berpengaruh terhadap
kesuksesan dalam penjualan.
3.6. Kerangka Berpikir
3.6.1. Pengaruh EQ terhadap Sikap Etis
Goleman (2005) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan
seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun
faktor-faktor yang disebut kecerdasan Emosional (Golemen, 1995). Dari nama
teknis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ
mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya
menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari
dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu
yang positif dan bermanfaat.
Goleman (2005) menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional (EQ)
berkembang sejalan dengan usia dan pengalaman dari kanak-kanak hingga
dewasa. EQ dapat dipelajari dan tidak tetap secara genetis, melainkan dapat
meningkat sepanjang kita masih hidup. Hal ini berarti semakin bertambah umur
seseorang, maka semakin banyak pula pengalaman hidup yang pada gilirannya
akan menambah tingkat EQ seseorang tersebut. Dan bagi orang yang memiliki EQ
yang tinggi lebih mempunyai keseimbangan dalam mengelola emosi mereka, baik
dalam bersikap maupun dalam berhubungan.
Agustian (2006) menyatakan bahwa EQ merupakan kemampuan untuk
merasa, dan kunci kecerdasan emosi adalah pada kejujuran suara hati, dan suara
hati itulah yang harus dijadikan pusat prinsip yang mempu memberi rasa aman,
pedoman kekuatan serta kebijaksanaan.
EQ menentukan potensi seseorang untuk mempelajari keterampilanketerampilan praktis yang didasarkan pada kelima unsurnya. Sedangkan
43
kecakapan emosi menunjukkan seberapa banyak potensi itu yang telah dipelajari,
dimiliki, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki IQ yang tinggi
tidak menjamin seseorang memiliki kecakapan emosi. Namun ia hanya
mempunyai potensi maksimum untuk mempelajarinya. Sehingga seseorang berEQ tinggi mampu mengambil sikap yang lebih objektif dalam kehidupannya.
Wibowo (2002), berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah untuk
menggunakan emosi sesuai dengan keinginan, dan kemampuan untuk
mengendalikan emosi sehingga memberikan dampak yang positif. EQ dapat pula
membantu membangun hubungan dalam menuju kebahagiaan dan kesejahteraan
Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa EQ menuntut diri
untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan
untuk menggapainya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi dan emosi
dalam
kegiatan
dan
pekerjaan
sehari-hari
sehingga
mampu
membuat
keseimbangan dalam kehidupan.
Jadi bagi seorang pekerja yang memiliki EQ yang stabil dan tinggi berarti
mereka dapat mengelola emosi mereka dengan baik. Dengan begitu mereka akan
lebih memiliki pertimbangan yang komprehensif dalam bersikap dan berhubungan
dengan orang lain. Setiap perkataan dan tingkah laku yang akan dia lakukan tentu
akan dipertimbangkan agar tidak menyinggung orang-orang disekitar.
3.6.2. Pengaruh SQ Terhadap Sikap Etis
Zohar (2002) mengatakan SQ adalah landasan yang diperlukan untuk
memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan
tertinggi kita (Agustian, 2006).
44
SQ juga dapat menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal, serta
menjembatani antara diri dan orang lain (Zohar, 2002). Wujud SQ ini adalah sikap
moral yang dipandang luhur oleh pelaku. Matinya etika lama dan seluruh
kerangka pikiran yang mendasarinya, memberi kesempatan yang berharga untuk
menciptakan ajaran etika baru berdasarkan kecerdasan spritual. SQ digunakan
untuk menjangkau hati seseorang lebih dalam untuk mengetahui potensi mereka
dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Masing-Masing dari kita
membentuk suatu karakter melalui suatu kombinasi pengalaman dan visi, suatu
hubungan antara apa yang kita lakukan dan yang lebih berarti sera berbagai hal
yang mungkin lebih baik kita lakukan.
Kecerdasan spritual memotivasi orang-orang untuk menyeimbangkan
rencana kerja mereka untuk meluangkan waktu antara kerja dengan keluarga
mereka. Atau seorang eksekutif dengan SQ tinggi mungkin selain melihat margin
keuntungan perusahaan yang baik dengan dan mempersembahkan waktu untuk
sukarela memberi bantuan kepada yatim piatu. Kecerdasan spritual juga
menunjukkan kebutuhan hidup seseorang di dalam suatu konteks yang sangat
berharga dan memberikan arti bahwa semua hal yang ada mempunyai peran
artinya masing-masing.
Agustian (2006) mengatakan kecerdasan spritual (SQ) adalah kemampuan
memberi makna spritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu
mensinergikan IQ dan EQ secara komprehensif. Orang yang memiliki SQ tinggi
mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap
peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna
45
yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan
tindakan yang positif.
Jika seorang pekerja yang memiliki kecerdasan spritual yang tinggi maka
mereka dapat lebih tenang dalam mengadapi masalah-masalah dalam bekerja
maupun kehidupan secara keseluruhan, dan mereka juga akan lebih tenang dalam
mengambil keputusan dan bersikap. Mereka juga dapat memilih dan memilah apa
yang mereka kerjakan bermanfaat atau tidak, atau yang mereka lakukan akan
berakibat baik atau buruk.
3.6.3. Pengaruh EQ dan SQ Terhadap Sikap Etis
EQ dan SQ berpengaruh terhadap sikap etis seseorang memiliki kontribusi
yang tidak sama. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Agustian (2006)
membuktikan bahwa EQ memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan.
Pola relasi antara EQdan SQ ini mengandalkan terjadinya relasi positif diantara
keduanya meskipun tetap mengakui adanya diferensiasi. Kecerdasan emosional
berada disekitar emosi diri yang mengembangkan emosi supaya menjadi cerdas.
EQ bersifat asosiatif dan lebih mengacu pada kebahagiaan secara insting
emosional (Sukidi, 2004).
Meskipun demikian EQ saja tidaklah cukup untuk membawa diri
seseorang, perusahaan, masyarakat atau bangsa dalam mencapai kebahagiaan dan
kebenaran yang hakiki. Masih ada nilai-nilai lain yang tidak bisa dipungkiri
keberadaannya yaitu SQ (Agustian, 2006). SQ merupakan landasan yang
diperlukan untuk memfungsikan kecerdasan lainnya secara efektif.
46
SQ mengambil tempat diseputar jiwa, hati (yang merupakan wilayah
spirit) dan bersifat unitif (menyatukan) yang menghasilkan kebahagiaan spiritual
(Sukidi, 2004). Beberapa keunggulan SQ dipandang dari beberapa segi.
1. Segi Prenerial: SQ mampu mengungkap segi prenerial yaitu sisi yang abadi,
yang asasi, yang spiritual dan yang fitrah dalam struktur kecerdasan manusia.
2. Segi mind-body-soul: SQ menjadi lokus kecerdasan (locus Of Intelligence)
yang berfungsi sebagai pusat kecerdasan dan memfasilitasi pusat kecerdasan
tersebut (merupakan faktor kunci yang lebih penting daripada EQ).
3. Segi kesehatan spiritual: SQ menyajikan beragam resep yang menjadi faktor
penentu aktifitas EQ. Jika SQ tidak sehat maka EQ tidak bisa berjalan secara
normal dan cerdas (Agustian, 2001).
Dari beberapa keunggulan diatas dapat diartikan bahwa SQ merupakan
kecerdasan tertinggi manusia yang diwujudkan dalam sikap moral yang luhur
(Zohar, 2002).
47
Kecerdasan Spritual :
a) Kemampuan
untuk
bersikap
fleksibel,
b) Adanya tingkat kesadaran diri yang
tinggi,
c) Kemampuan untuk menghadapi
dan memanfaatkan penderitaan,
d) Kemampuan untuk menghadapi
dan melampaui perasaan sakit,
e) Kualitas hidup yang diilhami oleh
visi dan nilai-nilai,
H2
H3
Kecerdasan Emosional :
a. Mengenali diri sendiri,
b. Mengelola emosi,
c. Memotivasi diri sendiri,
d. Mengenali emosi orang lain, dan
e. Membina hubungan
Sikap Etis :
a. Tanggung jawab
b. Kepentingan publik
c. Suasana
etis
(ethical
climate) individu
d. Integritas
e. Perilaku Profesional
f. Aturan Etika
H1
Gambar1.
Gambar 1.
Kerangka Berpikir Penelitian
3.7. Hipotesis
Dari uraian diatas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap sikap etis pekerja.
2. Kecerdasan spritual berpengaruh signifikan terhadap sikap etis pekerja.
3. Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersama-sama
berpengaruh signifikan terhadap sikap etis pekerja.
48
Download