Radang limpa - Malignant edema

advertisement
II. ZOONOSIS BAKTERIAL
ANTHRAX
1.
Sinonim : - Radang limpa
- Malignant edema
- Malignant pustule
- Woolsorter’s disease
2.
Etiologi : Bacillus anthracis
3.
Distribusi : di seluruh dunia
4.
Kejadian dan penyakit pada manusia :
berhubungan dengan pekerjaan, yaitu terjadi pada orang-orang yang selalu kontak
dengan hewan terinfeksi atau produk-produknya, misalnya dokter hewan, peternak,
penjaga hutan dan karyawan industri (wool, penyamakan kulit, pemrosesan tulang
sebagai pupuk tanaman dan pakan hewan).
masa inkubasi : biasanya 1 - 3 hari
ada 3 bentuk anthrax pada manusia :
a. cutaneous
b. pulmoner
c. gastrointestinal
ANTHRAX CUTANEOUS:
paling sering dijumpai.
mula-mula lesi berupa papula kecil, gatal, yang kemudian berkembang
menjadi vesicula. Beberapa vesicula bergabung dan membentuk cincin yang
dikelilingi erithema / edema dengan sentral yang nekrotik, hitam dan tidak
sakit.
bila tidak diobati, berkembang menjadi septicemia dan mati (angica kematian
20%).
ANTHRAX PULMONER:
mula-mula ringan, tidak spesifik, mirip gejala Flu, kemudian berkembang
menjadi lebih akut dengan gejala sukar bernafas, demam, shock dan mati
(angka kematian: 100%).
Universitas Gadjah Mada
13
ANTHRAX GASTROINTEST INAL :
karena makan daging tercemar B. anthracis
ada 2 bentuk :
a. abdominal / intestinal
b. oropharyngeal / cervical
Bentuk abdominal :
sakit pada daerah perut dengan gejala hematemesis, diarrhea berdarah, yang
kemudian dapat melanjut menjadi demam, septicemia dan mati (angka kematian:
50%).
Bentuk oropharyngeal :
lesi dan radang akut oropharynx, dengan gejala demam, edema submandibularis dan
limfadenopati cervicalis.
1. Kejadian dan penyakit pada bewan :
Hewan yang sering diserang
: sapi, domba, kambing, dan kuda.
Hewan yang kurang peka
: babi dan anjing
Hewan yang resisten
: hewan berdarah dingin
Hewan lab, yang peka
: marmut dan mencit
Juga dapat menyerang
: hewan liar dan hewan kebun binatang
ada 3 bentuk anthrax pada hewan:
a. Perakut
: pada sapi, domba, kambing
b. Akut dan subakut : pack sapi, domba, kuda
c. Kronis
: pada babi, anjing
dapat juga pada sapi dan kuda
ANERAX PERAKUT :
biasa terjadi pada awal letusan penyakit / outbreak
terjadi secara tiba-tiba diikuti kematian
ANTEIRAX AKUT DAN SUBAKUT :
gejala umumnya : demam (42°C), ruminasi berhenti, exitasi yang diikuti
depressi, sukar bernafas, gerakan-gerakan tak terkoordinasi serta kejangkejang, yang disusul dengan kematian.
sering dijumpai adanya leleran darah dan lubang-lubang kumlah, dan edema
pada beberapa bagian tubuh.
Universitas Gadjah Mada
14
ANTHRAX KRONIS:
gejala utamanya: edema lidah dan pharynx, leleran darah yang berbuih dan
mulut sering tenlihat. Hewan mati karena asphyxia.
bentuk anthrax kronis yang terlokaliser pada babi adalah anthrax intestinal.
2. Kejadian dan penyakit di Indonesia:
anthrax dikenal di Indonesia sejak tahun 1884, yaitu pada kerbau di daerah Teluk
Betung.
terutama terjadi pada : sapi, domba, kuda dan kerbau. Juga pada kambing dan
babi.
manusia biasanya terserang anthrax intestinal, karena mengkonsumsi daging
hewan sakit / bangkai berpenyakit, misalnya seperti yang terjadi pada tahun 1983
di Bekasi dan di Irian Jaya.
anthrax menyebabkan kerugian ekonomi karena:
a. kematian ternak
b. hilangnya tenaga kerja di sawah / tenaga tarik
c. hilangnya daging dan kulit karena ternak dilarang keras untuk dipotong.
3. Sumber infeksi :
a. hewan / karkas teninfeksi.
b. produk-produk hewan terinfeksi, seperti wool, kulit, tepung tulang.
c. tanah dan pakan yang tercemar spora B. anthracis / pupuk dan tepung tulang
terinfeksi.
4. Cara penularan :
Pada manusia :
a. Kontak langsung dengan (melalui luka pada kulit):
hewan / jaringan hewan terinfeksi.
produk-produk hewan teninfeksi.
tanah tercemar spora B. anthracis.
b. Kontak tidak langsung dengan:
inhalasi spora B. anthracis.
ingesti daging terinfeksi.
Pada hewan :
a. Kontak langaung dengan:
tanah tercemar spora B. anthracis.
Universitas Gadjah Mada
15
b. Kontak tidak langsung,
ingesti pakan tercemar.
5. Diagnosa :
Specimen (diambil dan hewan sakit atau hewan yang baru saja mati):
a. darah dan pembuluh darah perifer (v. telinga v. metacarpal / metatarsal)
b. janingan tubuh dengan lesi yang jelas (daerah kebengkakan, kelenjar limfe
submaxillaris)
c. luka pada anthrax cutaneous
d. bila a s/d c tidak rnungkin, dapat diambil sisa-sisa bagian tubuh hewan yaitu
sepotong kulit, tulang, daging kening / dendeng.
Kemudian dapat dilakukan diagnosa dengan cara :
a. Isolasi dan identifikasi B. anthracis:
Pengecatan Gram
Biakan pada media buatan
Inokulasi hewan lab. (marmut / mencit)
b. Uji serologis:
Uji presipitasi Ascoli
ELISA, dsb.
6. Pencegahan dan pengendalian:
a. Pengaturan ketat terhadap pemasukan hewan ke daerah bebas anthrax.
b. Vaksinasi terhadap :
orang dengan resiko tinggi dengan vaksin Anthrax bebas sel.
hewan di daerah endemik dengan vaksin Spora Sterne yang tidak berkapsul.
c. Kontrol aliran udara di industri-industri yang mengolah produk-produk hewan.
d. Wool, bulu,kulit dan tulang didisinfeksi dengan larutan 10% formalin.
e. Daging harus dimasak sampai matang,
f.
Hewan yang sakit harus diisolasi.
g. Nekropsi hewan mati dilarang.
h. Hewan mati harus dibakar / dikubur sedalam 2 meter dan ditutupi dengan lapisan
kapur.
i.
Jika di RPH diduga ada Anthrax:
pemotongan ditunda / dihentikan dan diadakan pemeriksaan.
bila ternyata positif anthrax:
Universitas Gadjah Mada
16
= karkas dimusnakan
= gedung didisinfeksi dengan larutan 5% alkali yang bersifat membakar,
selama 8 jam sebelum pemotongan berikutnya dilakukan.
7. Pengobatan:
Obat pilihan: Penicillin selama 5 - 7 han
Dapat juga dengan
: - Tetracycline
- Erythromycin
- Chioramphenicol
Universitas Gadjah Mada
17
BRUCELLOSIS
1. Sinonim :
Pada hewan : - Penyakit kiuron menular
- Abortus fever
- Bang’s disease
Pada manusia : - Undulant fever
- Mediterranean fever
- Malta fever
2. Etiologi: - Brucella abortus
- Brucella suis
- Brucella melitensis
- Brucella ovis
- Brucella canis
3. Distribusi: di seluruh dunia
4. Kejadian dan penyakit pada manusia:
berhubungan dengan pekerjaan
masa inkubasi: 1 minggu - 3 bulan
manusia = sangat peka terhadap B. melitensis
= resisten terhadap B. ovis
geala = demain irreguler
= berkeringat banyak
= kedinginan
= sakit kepala
= arthralgia
= lemah dan depressi
sering terjadi secara subklinis dan tidak diketahui.
5. Kejadian dan penyakit pada hewan:
gejala utama pada semua species bewan:
abortus atau lahir prematur dan lemah yang diikuti penurunan produksi susu.
SAPI :
etiologi : a. B. abortus
b. B. melitensis
c. B. suis (jarang)
Universitas Gadjah Mada
18
masa inkubasi berlawanan dengan masa kebuntingan.
sapi betina bunting yang terinfeksi:
abortus terjadi pada kebuntiagan umur 5 - 8 bulan
biasanya setelah I - 2 kali abortus, kelahiran dan produksi susu dapat normal
kembali.
pada beberapa kasus, uji agglutinasi dapat tetap positif selama beberapa
tahun (carrier) atau seIamanya (mandul).
sapi betina yang diinseminasi buatan dengan semen terinfeksi:
menunjukkan estrus terus.
sapi betina yang tidak bunting bila terlnfeksi sebelum breeding:
tidak menunjukkan gejala (subklinis)
bila kemudian bunting, tidak terjadi abortus.
sapi jantan bila terinfeksi :
testikelnya merabesar atau atrôfi, sehingga libldonya menurun, bahkan dapat
terjadi kemandulan.
BAB I :
etiologi: a. B. suis
b. B. abortus ( kurang patogenlk, asyinptomatik, tldak ditularkan).
Infeksi pada kelompok babi yang :
bebas brucellasis
: penyakit akut.
jumlahnya sedikit
: keganasan penyakit menurun dan infeksi lenyap.
jumlahnya banyak
: infeksi jadi persisten.
infeksi pada :
babi jantan dewasa
: infeksi organ genital yang permanen, sehingga jadi
mandul
babi betina dewaa
:
•
selama kematangan sex : tidak terjadi abortus.
•
selama coitus
: terjadi abortus dini yang tidak diketahui karana fetus
dimakan kembali.
•
selama kebuntingan umur satu bulan atau lebih :
abortus terjadi pada masa kebuntingan terakhir, dan jarang terjadi abortus
kedua kalinya.
babi umur < 1 bulan : resisten.
Universitas Gadjah Mada
19
KAMBING :
etiologi : a. B. melitensis
b. B. suis
c. B. abortus
kambing betina bunting yang terinfeksi:
abortus pada kebuntingan 3 - 4 bulan.
gejala primernya: mastitis.
DOMBA :
etiologi : a. B. melitensis
b. B. ovis
c. B. suis (kurang patogen)
d. B. abortus (kurang patogen)
infeksi B. melitensis pada domba disebut brucellosis kiasik (domba jarang
abortus, infeksi dapat hilang secara spontan).
infeksi B. ovis pada domba jantan disebut epididyinitis (dapat unilateral maupun
bilateral, juga menyebabkan atrofi testikel yang berakibat kemandulan).
ANJING :
etiologi : a. B. canis (brucellosis epidemik)
b. B. abortus (sporadik)
c. B. suis (sporadik)
d. B. melitensis (sporadik
bruceflosis epidemik :
anjing betina : * abortus pada kebuntingan hari ke 50.
* kematian embryo.
anjing jantan : * prostatitis dan epididymitis.
brucellosis sporadik :
biasanya subklinis
bila klinis, gejalanya : * demam.
* anjing betina : anestrus dan abortus.
* anjing jantan : orehitis.
6. Iejadian daii penyakit di Indonesia :
Brucellosis di tndonesia pertama kali ditemukan pada sapi di daerah Bandung
pada tahun 1925. Pada manusia dilaporkan pada tahun 1975 yaitu pada pekerja
RPH di Denpasar, Bali.
Universitas Gadjah Mada
20
Hewan yang diserang :
a. sapi dan kerbau
: B. abortus
b. babi
: B. suis
c. kabing dan domba
: B. melitensis
Peraturan pengujian dan pemotongan hewan positif brucellosis (test and
slaughter) seperti yang dilakukan USA di daerah-daerah endemik, tidak dapat
diterapkan di Indonesia karena:
biaya untuk program tsb sangat besar.
jumlah hewan yang terlibat banyak.
Kerugian ekonomi sangat besar (walaupun mortalitas kecil), yaitu berupa:
abortus / lahir lemah kemudian mati.
penurunan produksi susu.
kemandulan temporer / permanen.
7. Sumber infeksi :
susu dan produk-produknya.
produk-produk abortus (fetus, sisa-sisa placenta dan sekresi vagina).
semen.
pakan (rumput) dan air yang tercemar.
8. Cara penularan :
Pada manusia :
kontak langsung (melalui luka pada kulit dan selaput lendir) dengan :
produk-produk abortus
jaringan / karkas
darah
kontak tak langsung :
ingesti susu dan produk-produknya.
inhalasi aerosol di laboratorium dan RPH.
tak sengaja terinokulasi dengan vaksin (strain 19 atau Rev-1).
Pada hewan :
koritak langsung dengan : = produk—produk abortus.
kontak tak langsung :
ingesti susu, rumput dan air terceimar.
inhalasi aerosol di kandang.
melalui coitus dan inseminasi buatan.
Universitas Gadjah Mada
21
9. Diagnosa :
semua specimen harus segera ditaruh dalam wadah berisi es / es kering, atau
dimasukkan dalam wadah berisi larutan pengawet (fosfat bufer gliserin, larutan
gliserin NaCl fisiologis 50%), dan segera dikirim ke laboratorium terdekat.
specimen dapat berupa :
a. susu: = diambil dan semua kuartir (karena tidak semua kuartir mengandung
Brucella).
seluruh kambing dicuci dan dikeringkan, puting disterilkan dengan alkohol
dan dibiarkan kering. Pancaran I dan II dibuang, pancaran berikutnya baru
ditampung dalam botol steril.
b. darah: diarabil dan v. yugularis, tempat tsb. harus disterilkan dengan larutan
iodium, biarkan kering dulu, baru darah diambil dengan vacutainer / syringe
biasa.
untuk perbenihan, darah dicampur dengan anti koagulan (misalnya
heparin, larutan garam sitrat 3,8%). untuk uji serologis, darah dibiarkan
membeku. Untuk inencegah pembusukan, dapat diberi larutan merthiolate
0,1%
c. produk—produk abortus :
placenta: * diambil kotiledon yang paling tidak sehat.
*dibuat preparat apus yang difiksasi dengan methanol.
Fetusn : * diambil isi lambung, paru-paru, limpa dan mekonium.
sekresi vagina : * diambil dengan sepotong kawat dengan bentuk kolong
pada salah satu ujungnya, dan ujung lain yang lurus diberi lilitan kapas
yang menyerap. Kapas bertangkai ini harus steril dan waktu dimasukkan
ke dalam vagina, usahakan bagian kapasnya dapat mengeruk lapisan
mukosa vagina.
d. semen.
keimudian dilakukan diagnosa dengan cara :
1.
isolasi dan identifikasi kuman Brucella :
Pengecatan Gram
Biakan pada media buatan
2.
Uji serologis:
Uji agglutiriasi
Uji Rose - Bengal
Uji cincin susu (Milk Ring Test)
ELLSA, dsb.
Universitas Gadjah Mada
22
10. Penegahan dan pengendalian :
a. Isolasi hewan yang terinfeksi dan hewan yang melahirkan.
b. Eradikasi hewan reservoir / carrier.
c. Susu harus dipasteurisasi.
d. Pakai pakaian pelindung pada waktu bekerja.
e. Kontrol aliran udara di laboratoriurn, RPH dan kandang.
f.
Vaksinasi:
sapi dara
: vaksin Strain 19 dan B. abortus.
domba / kambing
: vakain Rev - 1 dari B. melitensis.
11. Pengobatan :
manusia yang terinokulasi dengan vaksin Brucella, harus diberi kombinasi 200
mg doxycycline dan 600 - 900 mg rifampin, tiap hari selama 10 hari.
hewan tidak diobati karena :
infeksinya dapat selarna hidup.
belun ada obat yang efektif terhadap brucellosis.
Universitas Gadjah Mada
23
LEPTUSPIROSIS
1. Sinonim: - Mud fever
- Weil’s disease
- Cane-cutter’s disease
- Swineherd’s disease
2. Etiologi : Leptospira interrogans (patogen)
3. Distribusi: di seluruh dunia, terutama di negara tropis dengan curah hujan banyak
dan tanah netral atau sedikit alkalis.
4. Kejadian dan penyakit pada manusia:
berhubungan dengan pekerjaan, yaitu karena kontak dengan:
urine hewan sakit / carrier.
tanah / air (sungai, danau, dsb.) yang tercemar urine hewan sakit / carrier.
misalnya terjadi pada : * dokter hewan
* petani
* pekerja RPH
* militer
* peternak
* pekerja tambang, dsb.
masa inkubasi : 2 - 21 hari, biasanya 10 hari.
merupakan anthropozoonosis sejati karena tidak terjadi :
penularan dan manusia ke manusia lain.
infeksi congenital.
ada 2 fase leptospirosis :
a. Ieptospiremia : 1 minggu
b. Leptospiruria : 1 minggu - beberapa bulan
ada 2 tipe klinik :
a. anfcteric: lebih sering terjadi.
b. ictenic: dikenal sebagai well’s disease (= hepatonephritis).
ANICTERIC :
ringan, mirip Flu, sembuh setelah ± 1 bulan.
pada saat leptospiremia, terlihat gejala :
demam
nausea / vomitus
myalgia: leher kaku
Universitas Gadjah Mada
24
=conjunctivitis
kemudian setelah gejala klinis hilang, terlihat leptospiruria.
ICTERIC :
terjadi secara tiba-tiba :
leptospiremia
hepatomegali
sakit kuning
oligo / anuria
5. kejadian dan penyakit pada hewan :
hewan yang diserang : sapi, babi, anjing dan rodentia.
SAPI :
etiologi : = L. pomona
= L. hardio
= L. canicola
= L. icterohaemorrhagiae
= L. grippotyphosa
gejala : * hb-uria
* demam
* anemia
* produksi susu turun dan susu tnengandung darah
* abortus
leptospiruria pada : = sapi dewasa berlangsung selama 3 bulan.
= anak sapi dewasa hanya selama 3 - 4 minggu.
BAB I :
etiologi: = L. pomona
= L. grippotyphosa
= L. canicoia
= L. icterohaemorrhagiae
= L. tarassovi
babi merupakan hewan reservoir L. pomona yang sangat penting / bahaya bagi
manusia dan sapi karena adanya leptospiruria yang lama (6 bulan) dan banyak.
Gejala : = demam
= abortus / kematian neonatal dan retentio secundinae.
= leptospiruria
ANJING :
etiologi:
= L. canicola
= L. pyrogenes
= L. icterohaemorrhagiae
= L. paidjan
= L. tarassovi
Universitas Gadjah Mada
25
gejala :
* demam
* ulcerasi pada gusi, sehingga nafasnya bau busuk dan anorexia
* myalgia : kaki belakang kaku.
* conjunctivitis
* sakit kuning
RODENTIA :
merupakan hewan carrier, tidak ada lesi dan gejala.
6. Kejadian dan penyakit di Indonesia :
yang terserang : = manusia
= babi
= kerbau
= tikus
= anjing
= kalong
= sapi
Galur - galur Leptospira asal Indonesia yang ditemukan :
= hardjo
= djasinan
= bataviae
= paidjan
= rachmati
= sernaranga
= sentot
= javanica
= medanensis
kasus lebih banyak terjadi pada laki - laki, misalnya di daerah transmigrasi
Kuala Cinaku di kepulauan Riau pada tahun 1981. Ini disebabkan karena lakilaki lebih sering kontak dengan air yang tercemar, yaitu pada waktu mengolah
lahan, atau pada waktu bekerja di luar / sekitar rumah. Walaupun perempuan
juga kontak dengan air tercemar, tapi masih menggunakan disinfektan ringan,
yaitu sabun / detergent, misalnya pada waktu mencuci pakaian / mencuci piring.
Hal seperti ini juga terjadi di USA pada tahun 1947 - 1969.
leptospirosis menyebabkan kerugian ekonomi pada peternakan sapi dan babi.
7. Sumber infeksi :
urine hewan sakit / carrier.
8. Cara penularan :
kontak dengan urine hewan sakit / carrier :
secara langsung, yaitu melalui :
* luka pada kulit
* selaput lendir (mata, hidung)
secara tidak langsung, yaitu melalui :
* air, tanah atau pakan yang terceinar urine tsb.
Universitas Gadjah Mada
26
9. Diagnosa :
Specimen dapat diambil dari :
a. hewan hidup dalam tahap demam / leptospiremia :
urine tanpa pengawet : bila pengiriman tertunda, dapat ditetesi formalin
10% (6 tetes untuk setiap 2,349 gram urine).
darah : diambil secara aseptis dan ditambahkan sitrat steril.
susu : diarabil secara aseptis dan tanpa pengawet.
b. hewan mati :
urine
darah dan jantung
jaringan tubuh (ginjal, hati) setebal 0,6 cm dalam formalin 10%.
c. hewan yang sembuh :
urine
serum
Kemudian dilakukan diagnosa dengan :
a. Isolasi dan identifikasi kuman Leptospira :
* Pemeriksaan mikroskopis medan gelap
* biakan dalam media buatan
* inokulasi pada hewan lab. (Inarmut, hamster)
b. Uji serologis :
* Uji agglutinasi mikroskopik
* ELISA
10. Pencegahan dan pengendaHan:
Pakailah pakaian pelindung pada waktu bekerja.
Hindari kontak dengan air yang tercemar.
Kontrol rodentia (hewan carrier).
Drainase tanah yang rendah yang tercemar urine hewan sakit / carrier.
Permeliharaan sapi agar dipisahkan dan babi.
Pedet yang dilahirkan dalam peternakan yang terserang leptospirosis, harus
dipisahkan dan sapi - sapi dewasa.
Vaksinasi terhadap manusia dan hewan yang mempunyai resiko tinggi.
Pemberian:
a. doxycycline pada manusia, 200 mg per oral, 1 x per minggu, selama sering
kontak dengan hewan sakit, dapat mencegah leptospirosis.
b. dihydrostreptorxiycin pada sapi dan babi, dosis tunggal, 25 mg per kg berat
badan, dapat mengurangi leptospiruria / status carrier.
Universitas Gadjah Mada
27
Download