Perspektif Buddhis tentang Pemahaman dan Sikap

advertisement
Perspektif Buddhis tentang Pemahaman dan Sikap Adil Gender dalam Keluarga∗
Wilis Rengganiasih E.E.
Pendahuluan
Melalui proses pengamatan, analisis, dan eksperimen yang panjang, akhirnya Buddha
berhasil menembus kebenaran (Dhamma) dan merumuskan suatu cara hidup (way of life),
Delapan Jalan Utama. Sebagai suatu cara hidup, ajarannya terbuka bagi siapa saja tanpa
memandang jenis kelamin, warna kulit, status sosial, atau faktor-faktor lainnya. Kesucian dan
kebebasan yang dicapai oleh Buddha tanpa bantuan dari makhluk adi kodrati ini juga dapat diraih
oleh siapa saja yang bertekad dan berusaha mengikuti jejaknya. Buddha tidak menyuruh orang
lain untuk demikian saja mempercayai ajarannya dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran
yang akan menjamin keselamatan dan kebahagiaan pengikutnya. Setiap insan harus
mempelajari Dhamma dengan seksama, lalu berusaha dengan kemampuannya sendiri untuk
bisa mencapai kebahagiaan. Buddha memperkenalkan metode ‘Ehipassiko,’ ‘datang dan
lihatlah.’ Artinya, ajarannya harus dipelajari dengan sikap kritis dan terbuka, kemudian setelah
mendapatkan pemahaman yang benar, ajaran itu dipraktekkan agar dapat dibuktikan
kebenarannya dan dinikmati hasilnya.
Siswa-siswi atau pengikut Buddha dapat digolongkan menjadi dua, yaitu komunitas
religius yang terdiri dari bhikkhu dan bhikkhuni yang hidup selibat, dan masyarakat awam atau
perumah-tangga. Meski cara hidup kedua kelompok ini berbeda, mereka merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Umat awam menyokong kehidupan para
bhikkhu/bhikkhuni, sebagai bakti kepada pembimbing spiritual serta kesempatan menanam jasa
kebajikan. Sebaliknya, para bhikkhu dan bhikkhuni, disamping membina diri sendiri secara
spiritual, mereka juga berkewajiban membimbing serta memberikan pelayanan kepada umat
awam dan masyarakat luas.
Keberadaan dan kesuksesan kedua kelompok pengikut Buddha ini dalam melaksanakan
jalan sesuai Dhamma tercatat dalam Kitab Suci Tripitaka (Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan
Abhidhamma Pitaka). Hal ini membuktikan bahwa manfaat ajaran Buddha dapat dinikmati oleh
orang yang memilih hidup sebagai bhikkhu/bhikkhuni atau umat biasa yang hidup berkeluarga.
Dhamma menjadi pelita bagi manusia untuk mengurangi penderitaan dan mencapai kebahagiaan
saat hidup di dunia pada masa sekarang maupun pada kehidupan-kehidupan berikutnya, sampai
akhirnya terbebas dari siklus kelahiran dan kematian (samsara). Nibbana atau Nirvana, demikian
umat Buddha meyakininya sebagai kebahagiaan tertinggi.
Sesuai dengan tema diskusi, akan dibahas ajaran Buddha yang bersinggungan dengan
gender secara umum, serta bagaimana konsep tersebut dipahami dan diterapkan dalam latar
kehidupan keluarga dan masyarakat. Pembahasan akan diawali dengan paparan singkat
mengenai perspektif Buddhis tentang gender, perspektif Buddhis tentang keluarga, dilanjutkan
dengan pemahaman dan sikap adil gender dalam keluarga Buddhis serta kaitannya dengan
masalah kekerasan dalam rumah tangga.
Gender dalam Perspektif Buddhis
Kondisi masyarakat India pada masa pra-Buddha diwarnai oleh perlakuan yang
diskriminatif atas kasta dan gender. Salah satu ajaran Brahmanisme yang sangat seksis
mengatakan bahwa hanya keturunan laki-laki yang berhak melaksanakan ritual penyucian pada
saat upacara kematian orang tua mereka (baca = ayah), dan akan mengangkat ayah mereka
masuk ke alam surga. Perempuan tidak berhak dan diyakini tidak memiliki kemampuan untuk
menyelamatkan orang tua mereka.1 Dalam situasi demikian, Buddha hadir membawa
pembaharuan. Kasta dihapuskan, perempuan diberi hak dan kesempatan yang hampir sama
dengan laki-laki dalam menjalani kehidupan religius maupun sosial. Totalitas sikap Buddha yang
adil gender ialah didirikannya Sangha Bhikkhuni atau komunitas perempuan yang menjalani
∗
Makalah untuk Diskusi “Penguatan Pemahaman Dan Sikap Keagamaan Yang Adil Gender Dalam
Keluarga” diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia, 8 September 2006.
1
Dewaraja, L.S. 1981. The Position of Women in Buddhism, (Sri Lanka: Buddhist Publication Society),
hlm. 8.
hidup suci secara selibat. Perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan atas jalan
hidupnya sendiri: menjadi perumah-tangga biasa, atau meninggalkan peran tradisional tersebut
dan hidup sebagai bhikkhuni. Buddha Gautama telah mewujudkan keadilan gender yang hampir
setara, yang pada konteks jaman tersebut merupakan hal yang sangat radikal.
Pembaharuan yang dibawa oleh Buddha tersebut bertolak dari Hukum Karma yang
diajarkannya: Kemuliaan seseorang tidak berasal pada kelahirannya yang berjenis kelamin atau
dari keturunan (kasta) tertentu, melainkan ditentukan oleh perbuatan yang dilakukan. Ritual-ritual
persembahan atau pengorbanan tidak dapat menyucikan batin dan membebaskan seseorang
dari samsara; oleh karenanya, salah satu keyakinan yang mendiskreditkan perempuan karena
dianggap tidak dapat menyucikan orang tuanya setelah mereka meninggal adalah tidak benar.
Buddha menegaskan potensi pencapaian spiritual yang sama antara kaum laki-laki dan
perempuan asal tekun melatih diri dengan menyempurnakan: Sila (moralitas), Samadhi
(konsentrasi), dan Pañña (kebijaksanaan). Tidak ada bias gender atau seksisme dalam ‘ajaran
Buddha yang fundamental dan universal.’ Setelah Buddha mangkat (Parinibbana), status
perempuan mengalami kemerosotan lagi. Perkembangan Buddhisme belakangan, terutama
sejak munculnya sekte-sekte, telah melahirkan pandangan-pandangan negatif terhadap
perempuan yang bertentangan dengan semangat ajaran Buddha yang egaliter.2 Pendapat lain
mengklaim bahwa sifat non-egaliter dalam agama Buddha muncul karena pengaruh Hindu dan
Konfusianisme, serta kepercayaan-kepercayaan lokal yang patrtiarkis di mana agama Buddha
berkembang.3
Keluarga dalam Perspektif Buddhis
Buddha memberikan kebebasan sepenuhnya kepada pengikutnya untuk memilih jalan
hidup yang terbaik: Meninggalkan keluarga dan menjadi bhikkhu/bhikkhuni, hidup berumahtangga, maupun tidak berumah-tangga. Salah satu cara untuk hidup bahagia adalah dengan
membentuk sebuah keluarga. Keluarga yang hidup rukun dan saling mengasihi mutlak demi
terwujudnya kebahagiaan. Jika keluarga tidak harmonis, penuh masalah, dan rapuh, sebaliknya
penderitaan yang akan muncul. Perkawinan di dalam agama Buddha bukan merupakan sesuatu
yang bersifat sakral, dan oleh karenanya tidak mempunyai sanksi religius. Perkawinan adalah
komitmen dua orang yang saling mencintai dan memutuskan untuk hidup bersama dalam satu
ikatan lembaga perkawinan. Kesepakatan sebuah pasangan untuk saling mengikat janji disahkan
secara agama Buddha dan hukum yang berlaku di masyarakat setempat.
As there is no God in Buddhism marriage is seen simply as a social contract. Marriage is
not believed to essential. No God instructed the Buddha that people should get married.
In this respect monogamy and polygamy are not right or wrong but simply ways of
arranging one’s life. However, Buddhists would not seek to promote relationships which
were against what was allowed in civil law.4
Kutipan di atas menyiratkan bahwa Buddha tidak pernah mengharuskan atau melarang
seseorang untuk berbuat sesuatu yang sesuai dengan kehendak orang itu sendiri. Buddha juga
tidak menghukum atau memberikan pahala pada seseorang, akan tetapi mengingatkan untuk
mempertimbangkan dengan masak, apakah suatu perbuatan akan merugikan dirinya atau orang
lain. Dengan kata lain apakah sesuatu akan menimbulkan penderitaan bagi dirinya atau pihak
lain. Misalnya tentang perceraian. Agama Buddha membolehkan terjadinya perceraian jika
keadaan memang memaksa. Daripada pasangan hidup tersiksa batinnya, perceraian diijinkan,
meskipun harus siap dengan segala akibatnya. Setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi
tersendiri sebagaimana yang diatur oleh Hukum Karma. Mempertimbangkan segala akibatnya,
seorang Buddhis sudah selayaknya takut untuk berbuat yang tidak baik karena ia akan
membayar perbuatannya dengan penderitaan yang setimpal.
2
Kalupahana, David J. 1999. The Buddha and the Concept of Peace, (Sri Lanka: Sarvodaya Vishva
Lekha Publication), hlm. 79.
3
Paul, Diana Y. 1985. Women in Buddhism: Images of the Feminine in the Mahāyāna Tradition 2nd
Ed., (Berkeley: University of California Press), hlm. Xxiii.
4
Buddhism and Marriage. http://www.faithnet.org.uk/KS4/Marriage%20and%20the%20Family/
buddhismsexethics.htm, diakses: 2 September 2006.
2
Memilih pasangan hidup menurut pandangan Buddhis sebaiknya mempertimbangkan
empat hal, yaitu: kesamaan keyakinan (saddhā), sila (moralitas), kedermawanan (dāna), dan
kebijaksanaan (pañña). Kesetaraan dalam keempat hal tersebut dapat membuat sepasang
kekasih akan hidup bersama (berjodoh) dalam banyak kehidupan.5 Perkawinan yang melibatkan
dua orang yang berbeda keyakinan atau agama tidak dilarang dalam agama Buddha, akan tetapi
harus benar-benar dipikirkan dengan seksama. Perbedaan keyakinan apakah akan
memengaruhi keharmonisan hubungan antara kedua pasangan, lalu bagaimana pengaruhnya
terhadap keturunan mereka, semuanya harus dipahami dengan bijaksana.
Upacara perkawinan yang diselenggarakan menurut agama Buddha pada dasarnya
dirancang sedemikian rupa dengan mengadopsi adat-istiadat setempat, hanya saja terdapat
beberapa prinsip yang mengacu pada pola kebiasaan atau tradisi Buddhis. Di atas altar
disediakan patung Buddha, bunga, lilin, dupa, dan buah untuk melakukan puja atau
penghormatan. Mempelai akan dipandu oleh seorang pandita untuk membaca Vandana dan
Tisarana (menghormat kepada Budhha, lalu menyatakan berlindung pada Buddha, Dhamma,
dan Sangha), serta Pancasila (lima disiplin moral).
Walaupun ajarannya tidak banyak menyinggung tentang perkawinan dan keluarga,
Buddha memberikan nasihat kepada umatnya yang menempuh hidup berumah-tangga mengenai
tata hubungan yang harmonis dan seimbang di antara anggota keluarga. Di dalam Sigalovadha
Sutta dijabarkan tugas dan kewajiban orang tua-anak, suami-istri, atasan-bawahan, tuanpembantu, bahkan juga guru-murid, teman atau sahabat. Tugas dan kewajiban masing-masing
komponen —bukan hak dan kewajiban— menjadi dasar yang kuat karena mendorong semua
pihak untuk bersikap memberi daripada menerima. Mengapa bukan hak dan kewajiban? Buddha
menekankan bahwa seseorang hendaknya selalu mendahulukan kewajibannya, selalu berpikir
untuk mempersembahkan sesuatu yang bermanfaat dan membuat orang lain bahagia. Berpikir
untuk mendapatkan atau menuntut hak dari orang lain demi kepentingan kita pribadi adalah sikap
yang egois.
Yang Mulia Dalai Lama menjelaskan jika seseorang mulai memikirkan dan mengejar
kebahagiaannya sendiri, maka pada saat itulah penderitaan bermula. Sebaliknya ketika ia
melupakan dirinya sendiri dan mencari cara untuk membantu meringankan beban dan
membahagiakan orang lain, saat itulah kebahagiaan muncul. Sebagaimana dikutip oleh Tsomo,
“Happiness comes from replacing our self-centered attitudes with the wish to help others —
generating loving kindness and compassion even toward those who harm us.”6 Dalam konteks
kehidupan berkeluarga, apabila setiap anggota keluarga memenuhi tugas dan kewajibannya
berarti: 1) tidak ada yang berpikir egois bahwa orang lain yang harus membahagiakan dirinya, 2)
tidak ada yang meninggalkan kewajibannya sehingga membebani orang lain dan menyebabkan
ketidakseimbangan dalam keluarga, 3) setiap anggota keluarga berpikir bahwa kebahagiaan
keluarga menjadi tanggung-jawab seluruh anggota, dan oleh karenanya semua harus aktif
mengupayakannya.
Komponen keluarga meliputi suami-istri, orang tua/mertua-anak, dan majikanpegawai/pembantu. Kewajiban dari masing-masing komponen tersebut akan diuraikan di bawah
ini seperti yang tertulis di dalam Sigalovada Sutta:
a. Kewajiban suami terhadap istri
1. Menghormati istrinya;
2. Bersikap lemah-lembut terhadap istrinya;
3. Bersikap setia terhadap istrinya;
4. Memberikan kekuasaan tertentu kepada istrinya;
5. Memberikan atau menghadiahkan perhiasan kepada istrinya.7
b. Kewajiban istri terhadap suami
1. Melakukan semua tugas kewajibannya dengan baik;
5
Angutara Nikaya II, 62, dikutip dari Widya, Ratna Surya. 1996. Tuntunan Perkawinan dan Hidup
Berkeluarga dalam Agama Buddha, (Jakarta: Yayasan Buddha Sasana), hlm. 20.
6
Tsomo, Karma Lekshe. “Buddhist Women in the Global Community: Women as Peacemakers,” in
Chapel, David W. 1999. Buddhist Peacework Creating Cultures of Peace, (Boston: Wisdom
Publications), hlm. 54.
7
Digha Nikaya III, dikutip dari Widya, Ratna Surya. Op. Cit., hlm. 23.
3
2.
3.
4.
5.
Bersikap ramah kepada keluarga dari kedua belah pihak;
Setia kepada suaminya;
Menjaga baik-baik barang-barang yang dibawa oleh suaminya;
Pandai dan rajin dalam melaksanakan semua pekerjaannya.8
c. Kewajiban orang tua terhadap anak
1. Mencegah anak berbuat jahat;
2. Menganjurkan anak berbuat baik;
3. Memberikan pendidikan profesional kepada anak;
4. Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak;
5. Menyerahkan harta warisan kepada anak pada saat yang tepat.9
d. Kewajiban anak terhadap orang tua/mertua
1. Menyokong kehidupan mereka;
2. Melakukan tugas-tugas kewajiban terhadap mereka;
3. Menjaga baik-baik garis keturunan dan tradisi keluarga;
4. Mempersiapkan diri agar pantas untuk menerima warisan;
5. Mengurus persembahyangan kepada sanak keluarga yang sudah meninggal.10
e. Kewajiban majikan kepada pegawai/pembantu
1. Memberi mereka pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya;
2. Memberi mereka makanan dan upah yang sesuai;
3. Memberi mereka pengobatan dan perawatan di waktu sedang sakit;
4. Memberi mereka makanan yang enak-enak pada waktu-waktu tertentu;
5. Memberi mereka libur (cuti) pada waktu-waktu tertentu.11
f. Kewajiban pegawai/pembantu terhadap majikan
1. Bangun lebih pagi dari majikan;
2. Pergi tidur setelah majikan tidur;
3. Berterima kasih atas upah dan perlakuan yang mereka terima;
4. Bekerja dengan baik;
5. Memuji dan menjaga nama baik majikannya di manapun juga.12
Kewajiban suami-istri dalam Sigalovada Sutta menunjukkan pembagian yang tegas
antara peran laki-laki sebagai kepala rumah tangga yang bekerja di sektor publik dan perempuan
yang harus patuh pada suami dan berada di wilayah domestik. Perlu diingat bahwa sutta ini
diturunkan pada konteks budaya masyarakat India di masa kehidupan Buddha Gotama.
Penerapannya memerlukan penyesuaian dengan konteks jaman sekarang yang menghargai
kesetaraan antara laki-laki dan perempuan serta bergesernya peran perempuan yang tidak lagi
terbatas pada wilayah domestik. Tujuan utama dari nasihat tersebut ialah agar setiap insan yang
hidup dalam lingkungan keluarga mengedepankan kewajiban dan tanggung-jawab demi
kesejahteraan dan kerukunan.
Pemahaman dan kesadaran setiap anggota keluarga akan tugas dan kewajiban serta
kerelaan untuk melakukannya seharusnya ditopang oleh moralitas yang baik. Bagi umat awam,
Buddha memberikan lima latihan moralitas yang akan membentuk kepribadian yang luhur dan
tidak menimbulkan masalah dalam masyarakat. Kelima latihan itu ialah:
1. Melatih diri menghindari menyakiti makhluk lain;
Menyakiti memiliki pengertian yang luas, misalnya tidak membunuh, sampai dengan tidak
menyakiti orang lain (anggota keluarga), baik secara fisik maupun emosional;
2. Melatih diri menghindari mengambil barang yang tidak diberikan;
8
Ibid., hlm. 26.
Ibid., hlm. 31.
10
Ibid., hlm. 37.
11
Ibid. hlm. 59.
12
Ibid. hlm. 60.
9
4
Menghormati hak-hak anggota keluarga yang lain dan melaksanakan kewajiban serta
tanggung-jawab pribadi dengan sebaik-baiknya. Sebuah contoh yaitu pembagian tugas
antara suami dan istri yang adil dan seimbang. Gagasan bahwa istri harus mengurus rumah
dan bertanggung-jawab sendirian mengasuh anak-anak adalah tidak benar. Istri juga memiliki
kebutuhan untuk bersosialisasi dan mengaktualisasikan diri/berkarya. Jika waktu istri banyak
tersita untuk keluarga, suami berkewajiban meringankan beban tersebut agar istri memiliki
ruang dan kesempatan untuk melakukan kegiatan lainnya.13
3. Melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila;
Berselingkuh merupakan perbuatan yang harus dihindari karena akan menyakiti perasaan
suami/istri, yang juga bertentangan dengan sila pertama. Demikian pula melakukan
hubungan seksual yang tidak berdasarkan persetujuan dari kedua pihak akan menimbulkan
ketidaknyamanan atau perasaan tertekan pihak lainnya tidak boleh terjadi, apalagi sampai
mengarah pada terjadinya kekerasan seksual.
4. Melatih diri untuk menghindari berkata yang tidak benar;
Keluarga yang sehat berlandaskan pada kejujuran dan penghormatan satu sama lain.
Bertutur-kata yang baik dan menjaga nama baik keluarga juga masuk dalam latihan ini.
5. Melatih diri untuk menghindari minum-minuman keras atau obat-obatan terlarang yang
dapat menimbulkan ketagihan.
Kebiasaan buruk ini jika tidak dihindari akan merusak pelakunya secara fisik, sekaligus
menyebabkan merosotnya moralitas dan ambruknya perekonomian keluarga. Keluarga akan
terpengaruh, deemikian pula masyarakat sekitarnya.
Menjalankan Pancasila sama artinya dengan ‘mendisiplinkan diri’ untuk bertingkah-laku yang
baik, yang tidak akan menimbulkan keresahan atau masalah bagi diri sendiri dan orang lain.
Secara tidak langsung ia telah menjaga keutuhan keluarganya sendiri, keluarga orang lain, dan
masyarakat.
Pemahaman dan Sikap Adil Gender dalam Keluarga Buddhis
Nasihat tentang pelaksanaan kewajiban dan tanggung-jawab dari Sigalovada Sutta,
dilandasi tingkah laku yang bajik dengan melaksanakan Pancasila seyogyanya akan membuat
sebuah keluarga dapat hidup dalam keharmonisan. Akan tetapi kenyataannya kasus-kasus
kekerasan dalam rumah-tangga masih banyak terjadi. Apa yang salah atau kurang dengan
ajaran agama? Bagaimana agar setiap insan yang menjadi bagian dari sebuah keluarga mau
memahami, menyadari, dan yang terpenting menjalankan kewajiban sesuai petunjuk Buddha?
Bagaimana caranya seseorang dapat mempunyai moralitas yang baik? Bukankah kadang
seseorang yang baik berubah menjadi penyiksa yang kejam, pemabuk, pemerkosa, bahkan
pembunuh?
Telah disinggung di depan bahwa ajaran Buddha dalam perkembangannya menyerap
pengaruh budaya patriarkis yang menciptakan stereotip-stereotip yang merugikan kaum
perempuan. Hukum Karma yang mengoreksi pandangan salah tentang inferioritas seseorang
berdasarkan kasta atau jenis kelamin yang ditentukan oleh kelahirannya justeru mengalami salah
penafsiran. Dewaraja menyatakan:
The doctrine of Karma and Rebirth, one of the fundamental tenets of Buddhism, has been
interpreted to prove the inherent superiority of the male. According to the law of Karma,
one’s actions in the past will determine one’s position, wealth, power, talent and even sex
in future births. One is reborn a woman because of one’s bad Karma. Thus the
subordination of women is given a religious sanction. The doctrine of Karma and Rebirth,
one of the fundamental tenets of Buddhism, has been interpreted to prove the inherent
superiority of the male. According to the law of Karma, one’s actions in the past will
determine one’s position, wealth, power, talent and even sex in future births. One is
reborn a woman because of one’s bad Karma. Thus the subordination of women is given
a religious sanction.14
13
“Buddhism and Marriage.” http://www.faithnet.org.uk/KS4/Marriage%20and%20the%20Family/
buddhismsexethics.htm, diakses: 2 September 2006.
14
Dewaraja. Op. Cit., hlm. 11.
5
Adanya pandangan bahwa terlahir sebagai perempuan lebih banyak menderita karena
faktor-faktor biologisnya seperti takdir untuk mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan,
menyusui, dan memesarkan anak sedikit banyak telah mendorong pada munculnya gender
inequalities dan gender injustices. Keyakinan yang salah akan ketidakmampuan perempuan
mencapai ‘kebuddhaan’ selama masih terperangkap dalam fisik dan kesadarannya sebagai
perempuan juga membawa efek yang menyudutkan posisi perempuan. Pandangan-pandangan
salah semacam ni harus dikoreksi, jika menginginkan pemahaman dan keadilan gender dapat
terwujud dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.
Pembenahan dalam cara berpikir tentang gender perlu diikuti dengan perubahan dalam
sikap dan perilaku. Buddha tidak hanya memberikan doktrin-doktrin, tetapi juga memberikan
‘jalan’ untuk mengurangi penderitaan dan mengantarkan pada kebahagiaan. Penderitaan dalam
perspektif Buddhis erat kaitannya dengan sifat ‘dukkha’ yaitu ‘tidak kekal,’ ‘tidak memuaskan,’
dan ‘tidak sempurna’ dari kehidupan ini. Penderitaan muncul ketika seseorang menginginkan
sesuatu yang bertentangan dengan sifat kehidupan. Doktrin tidak dapat merubah sifat dan
perilaku seseorang. Dengan hanya mengerti ajaran-ajaran tentang baik-jahat, terpuji-tercela,
kekal-fana, memuaskan-mengecewakan, dan seterusnya tidak mampu merubah karakter
seseorang menjadi baik. ‘Delapan Jalan Utama’ (Ariya Atthangika Magga) yang diajarkan oleh
Buddha merupakan sebuah ‘way of life’ yang sehat, sering juga disebut sebagai ‘Jalan Tengah’
(Majjhimā Patipadā) yang tidak memanjakan kesenangan inderawi dan tidak pula menyiksa diri.
Jalan Tengah yang dimaksud yaitu:
1.Sammā Ditthi
: Pengertian Benar
2.Sammā Sankapa
: Pikiran Benar
3.Sammā Vāccā
: Ucapan Benar
4.Sammā Kammanta
: Perbuatan Benar
5.Sammā Ajiva
: Penghidupan Benar
6.Sammā Vāyāma
: Daya Upaya Benar
7.Sammā Satti
: Perhatian Benar
8.Sammā Samādhi
: Konsentrasi Benar15
Kedelapan jalan tersebut dapat diringkas dalam tiga kelompok, yaitu (1) yang
berhubungan dengan moralitas atau tingkah laku (Sila), terdiri dari ‘Ucapan Benar,’ ‘Perbuatan
Benar,’ dan ‘Penghidupan Benar;’ (2) yang berhubungan dengan disiplin mental (Samadhi),
terdiri dari ‘Daya Upaya Benar,’ ‘Perhatian Benar,’ ‘Konsentrasi Benar;’ dan (3) yang
berhubungan dengan pencapaian kebijaksanaan (Pañña), yang terdiri dari ‘Pengertian Benar’
dan ‘Pikiran Benar.’
Penjabaran dari Sila kurang lebih sama dengan pelaksanaan Pancasila, yaitu dengan
mendisiplikan diri untuk berperilaku yang baik dan benar, tidak menimbulkan penderitaan bagi diri
sendiri maupun makhluk lain. ‘Penghidupan Benar’ menyangkut cara mencari nafkah yang tidak
membahayakan dan merugikan makhluk lain, seperti penipuan, ketidaksetiaan, penujuman,
kecurangan, memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat). Perdagangan yang harus
dihindari adalah berdagang alat senjata, berdagang makhluk hidup, berdagang daging (atau
segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk hidup), berdagang minumminuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan, dan berdagang racun.16
Samadhi (meditasi atau mendisiplinkan mental) merupakan latihan untuk membangun
unsur-unsur yang positif dan melenyapkan unsur-unsur yang jahat pada diri seseorang;
mengenal diri sendiri dengan lebih baik sehingga waspada dan mampu mengendalikan diri atas
munculnya emosi-emosi negatif; dan yang terakhir mencapai keseimbangan pikiran/batin.
Penyelaman dan pengolahan pikiran/batin ini sama dengan menciptakan mental yang sehat,
kokoh, tenang, tidak rapuh jika mendapat serangan berbagai persoalan hidup. Meditasi
mempunyai kekuatan untuk meredakan amarah, mengenali sifat tidak kekal dari berbagai gejolak
perasaan, mengikis kebencian, menenangkan batin dan menjernihkan pikiran. Kualitas mental
yang dicapai melalui melatih Sila dan Samadhi dengan tekun membuat seseorang terbiasa untuk
bereaksi dengan sikap dan tindakan dengan penuh pertimbangan dan pengendalian diri.
Perselisihan dan kekerasan muncul karena seseorang tidak ‘terampil’ mengelola emosinya
15
Widyadharma, Sumedha MP. 1999. Dhamma – Sari. Cetakan X, (Jakarta: Cetiya Vatthu Dayā),
hlm. 58.
16
Ibid., hlm. 61-62.
6
dengan tepat, tidak waspada terhadap akibat-akibat yang akan timbul dengan sikap/perilakunya
yang negatif.
Pañña yang mencakup ‘Pikiran Benar’ dan ‘Pengertian Benar’ merujuk pada ajaran yang
dikemukakan oleh YM Dalai Lama sebelumnya, yaitu mengikis ego atau ‘keakuan’ yang menjadi
sumber penderitaan. Kebencian, kerakusan, dan kebodohan (kegelapan batin) manusia
merupakan tiga akar kejahatan (the three roots of evil) yang menyebabkan penderitaan dan
hancurnya kehidupan. Misalnya seseorang menginginkan suatu benda; setelah berhasil memiliki
ia akan menginginkan yang lain lagi, yang lebih baik, lebih mahal, lebih banyak, dan seterusnya.
Orang tersebut akan sangat menderita karena telah menjadi budak dari kerakusan yang
menyiksanya. Ketiga hal tersebut dapat dikikis melalui ‘Pengertian Benar’ akan ‘Empat
Kesunyataan Mulia’ (Hidup adalah Dukkha, Sumber Dukkha, Terhentinya Dukkha, dan Jalan
yang Menuju ke Terhentinya Dukkha). Kebencian, kerakuan dan kebodohan hanya akan
memenjarakan manusia dalam lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada henti. Pemahaman
akan akar penderitaan ini dicapai lewat pengembangan Pañña dan Samadhi.
Kekerasan dalam rumah-tangga terjadi ketika orang merespon secara negatif persoalanpersoalan atau situasi-situasi yang dihadapi, khususnya yang melibatkan keluarga. Bahkan
persoalan yang tidak bersangkut-paut dengan keluarga, tetapi tetap anggota keluarga atau
pembantu yang menjadi sasaran kemarahan atau luapan emosi yang tidak terkendali.
Pandangan Buddhis terhadap seseorang yang demikian adalah orang yang mentalnya sedang
‘sakit.’ Orang tersebut tidak bahagia, tetapi tidak mampu menghadapi rasa sakit dan terlukanya
dengan sikap yang bijak. Ketidakbahagiaannya justeru menyeret ketidakbahagiaan orang lain,
menimbulkan lebih banyak penderitaan. Keduanya sama-sama membutuhkan pertolongan,
terlebih lagi orang yang menyakiti orang lain (atau anggota keluarganya sendiri).
Penutup
Kepincangan-kepincangan dalam memersepsi gender yang berkembang harus
diluruskan dengan sikap dan cara yang bijak. Kekerasan dalam rumah-tangga yang antara lain
dipicu oleh perasaan superior laki-laki terhadap perempuan, orang-tua (bisa ayah atau ibu)
terhadap anak, majikan terhadap pegawai/pembantu salah satunya disebabkan oleh adanya
persepsi yang salah tentang gender. Pihak yang merasa lebih berkuasa/kuat bisa menekan pihak
yang lebih lemah. Oleh karenanya kesetaraan dan keseimbangan dalam keluarga harus dicapai.
Seperti yang diungkapkan berikut ini:
Inequalities lead to injustices inevitably lead to strive. For example, gender inequalities
are the cause of violence against women and children perpetrated daily in homes around
the world—homes where young people learn the values and habits that affect the rest of
their lives. Strengthening women is a way of correcting inequalities, preventing violence
and justice, and building more peaceful societies at the most fundamental level—the
family.17
Setiap orang perlu menyadari sepenuhnya bahwa semua orang, bahkan semua makhluk
mendambakan kebahagiaan. Jika seseorang tidak ingin terluka atau disakiti, hendaknya ia juga
tidak menyakiti atau melukai pihak lain. Ajaran Buddha tentang Metta (cinta kasih) dan Karuna
(belas kasihan) mencegah manusia untuk menyakiti makhluk lain. Merubah cara berpikir yang
memusatkan pada diri sendiri (self-centered) dengan siap-siaga memberikan pertolongan dan
menciptakan kebahagiaan bagi pihak lain akan mengurangi rasa tidak puas dan bisa mensyukuri
apa yang telah dimiliki.
Agama Buddha menyumbangkan landasan filosofis terhadap terbentuknya keluarga dan
masyarakat yang damai dan sejahtera beserta metode/cara bagi setiap insan untuk
mewujudkannya. Membangun pribadi yang berkualitas dimulai dari diri sendiri, dari individu. Jika
setiap individu memperbaiki kualitas dirinya, efek positifnya akan dirasakan oleh orang-orang
yang berada di sekitarnya. Bhikkhuni Karma Lekshe Tsomo menjelaskan bagaimana setiap
individu berpengaruh besar pada ketenteraman keluarga bahkan masyarakat luas dan
negaranya, melalui teknik membangun mental yang ditawarkan oleh ajaran Buddha:
17
Tsomo, Karma Lekshe. Op. Cit., hlm. 59.
7
Because a peaceful world consists of peaceful individuals, Buddhism’s most useful
contribution is the practical techniques the Buddha taught for developing patience,
contentment, generosity, and inner peace. For creating a culture of peace, some system
of mental cultivation which trains the mind to respond constructively in difficult
circumstances is essential. Buddhist meditation techniques for cultivating mindfulness,
wisdom, and compassion are invaluable resources for dealing with stressful situations
and emotional conflicts.18
Semoga sumbangan pemikiran ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga semua mahkluk
berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.
DAFTAR PUSTAKA
Dewaraja, L.S. 1981. The Position of Women in Buddhism. Sri Lanka: Buddhist Publication
Society.
Kalupahana, David J. 1999. The Buddha and the Concept of Peace. Sri Lanka: Sarvodaya
Vishva Lekha Publication.
Paul, Diana Y. 1985. Women in Buddhism: Images of the Feminine in the Mahāyāna Tradition 2nd
Ed. Berkeley: University of California Press.
Tsomo, Karma Lekshe. “Buddhist Women in the Global Community: Women as Peacemakers,” in
Chapel, David W. 1999. Buddhist Peacework Creating Cultures of Peace. Boston: Wisdom
Publications.
Widya, Ratna Surya. 1996. Tuntunan Perkawinan dan Hidup Berkeluarga dalam Agama Buddha.
Jakarta: Yayasan Buddha Sasana.
Widyadharma, Sumedha MP. 1999. Dhamma – Sari. Cetakan X. Jakarta: Cetiya Vatthu Dayā.
Buddhism and Marriage, http://www.faithnet.org.uk/KS4/Marriage%20and%20the%20
Family/buddhismsexethics.htm, diakses: 2 September 2006.
18
Tsomo, Karma Lekshe. Op. Cit., hlm. 54.
8
Download