HUKUM INTERNASIONAL DALAM KONFLIK KEPENTINGAN EK

advertisement
HUKUM INTERNASIONAL
DALAM KONFLIK KEPENTINGAN EK
ONOMI
EKONOMI
NEGARA BERKEMBANG DAN NEGARA MAJU
Hikmahanto Juwana
PIDATO UPACARA PENGUKUHAN SEBAGAI
GURU BESAR TETAP DALAM ILMU HUKUM INTERNASIONAL
PADA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA
Depok, 10 November 2001
Maju”).1 Negara Berkembang yang tergabung dalam Kelompok-77
(Group-77) dapat dicirikan sebagai negara yang memperoleh
kemerdekaan setelah tahun 1945, sedang dalam proses membangun,
dan kebanyakan berada di Benua Asia, Afrika dan sebagian Benua
Amerika (Amerika Latin). Sementara Negara Maju yang tergabung
dalam Organisation for Economic Co-operation and Development
(OECD) dapat dicirikan sebagai negara yang telah berdiri sebelum
tahun 1945, memiliki industri yang kuat dan kebanyakan berada di
Benua Eropa atau memiliki tradisi Eropa seperti Amerika Serikat,
Kanada dan Australia. Negara Maju, kecuali Jepang, juga diistilahkan
sebagai negara Barat (Western states).
Yang terhormat,
Rektor Universitas Indonesia
Ketua Senat Akademik Universitas Indonesia
Para Wakil Rektor Universitas Indonesia
Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Para Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan Universitas Indonesia
Para Guru Besar
Para Pejabat Tinggi Negara
Rekan-rekan Pengajar
Para Mahasiswa
Sanak saudara dan para sahabat sekalian
Hukum Internasional yang Lebih Mengakomodasi Kepentingan
Ekonomi Negara Maju
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Pertama-tama perkenankanlah saya mengucap puji dan syukur ke
hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat sekaligus amanah
kepada saya untuk mengemban jabatan mulia sebagai guru besar tetap
pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia dalam ilmu hukum
internasional. Hanya karena perkenan-Nya jualah saya dapat berdiri di
mimbar ini.
Hadirin sekalian
Berbicara tentang masyarakat internasional apabila dikaitkan
dengan kepentingan ekonomi maka masyarakat internasional terbagi
dalam kategori negara-negara berkembang (selanjutnya disebut “Negara
Berkembang”) dan negara-negara maju (selanjutnya disebut “Negara
1
Negara Berkembang kerap mengargumentasikan bahwa hukum
internasional merupakan produk dari negara Barat yang saat ini menjadi
Negara Maju. Argumentasi ini didasarkan pada fakta bahwa hukum
internasional pada awalnya merupakan hukum yang berlaku antar
negara di Benua Eropa.2 Oleh karenanya tidak heran apabila hukum
1
Istilah yang juga sering digunakan, antara lain, adalah Utara (North) dan Selatan (South),
Negara Ketiga (Third World) dan Negara Pertama (First World). Lihat: Clarence Clyde
Ferguson, Jr., “Redressing Global Injustices: The Role of Law,” Dalam: Frederick E.
Snyder dan Surakiart Sathiratai (eds.), Third World Attitudes Toward International Law—
An Intoduction, (The Netherlands: Martinus Nijhoff Publishers, 1987), 365. Stephen Gill
dan David Law mengatakan, “The terms ‘North’ and ‘South’ are crude and contestable
labels. By the North is usually meant the industrialised countries of the West, Japan and
the Soviet bloc. By the South is usually meant the countries of Asia (except Japan) Africa
and Latin America. Australia and New Zealand may be southern in location but are
counted as part of the affluent West.” Lihat: Stephen Gill dan David Law, The Global
Political Economy: Perspectives, Problems, and Policies, (Baltimore: The John Hopkins
University Press, 1988), 280.
2
Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi dan ditandatanganinya perjanjian perdamaian
Westphalia, raja-raja di Benua Eropa mengklaim kedaulatan negara mereka. Sebagai
konsekuensi hubungan antarnegara tidak dapat lagi dilakukan berdasarkan hukum administrasi
2
internasional sangat terpusat pada apa yang terjadi di Eropa (Eurocentric).3 Merekalah yang menentukan bentuk dan jalannya hukum
internasional.
Munculnya Negara Berkembang setelah Perang Dunia II telah
membawa perubahan. Keinginan Negara Berkembang untuk terbebas
secara politik dan ketergantungan ekonomi dari mantan negara jajahan
mereka telah membawa pengaruh pada hukum internasional pada
umumnya. Dalam menyikapi eksistensi hukum internasional, mereka
menganggap bahwa hukum internasional yang ada tidak mencerminkan
nilai-nilai yang mereka anut. Negara Berkembang mengargumentasikan
bahwa pembentukan hukum internasional sebelum Perang Dunia II
sama sekali tidak melibatkan mereka.4 Bahkan berbagai lembaga
internasional yang dibentuk setelah berakhirnya Perang Dunia II lebih
negara melainkan hukum antarnegara yang saat ini dikenal sebagai hukum internasional.
Oleh karenanya Verzijl mengatakan, “(I)nternational Law as it stands is essentially the
product of the European mind and has been received lock, stock and barrel by American
and Asiatic States.” Lihat: JH Verzijl, International Law in Historical Perspective, (Leyden: Sijthoff, 1968), 442. Untuk pengetahuan mendalam tentang awal mula hukum
internasional baca: Arthur Nussbaum, A Concise History of the Law of Nations, edisi
revisi, (New York: The MacMillan Co., 1958).
3
Sebagai contoh dalam textbook standar hukum internasional ketika membicarakan tentang
topik wilayah negara selalu disebutkan cara-cara mendapatkan wilayah berupa pendudukan
(occupation), penaklukan (conquest), aneksasi (annexation), akresi (accretion), daluwarsa
(prescription) dan sesi (cession). Cara perolehan wilayah ini hanya berlaku pada masa
kerajaan di Eropa dan tidak begitu relevan dalam membicarakan perolehan wilayah oleh
Negara Berkembang. Lihat: JG Starke, Introduction to International Law, 11th ed.
(dipersiapkan oleh IA Shearer), (London: Butterworth & Co. Ltd., 1994), 144-154;
Rebecca MM Wallace, International Law, 2nd ed. (London: Sweet & Maxwell, 1992), 8997; Werner Levi, Contemporary International Law, 2nd ed. (Boulder: Westview Press1991),
129-132;MN Shaw, International Law, 3rd ed. (Cambridge: Grotius Publications Ltd., 1991),
284-294.
4
Henkin et. al mengatakan “…, criticisms were leveled at the traditional law of state
responsibility by representatives of a variety of developing states that objected to being
bound by rules formulated without their participation, in many cases, before they emerged
as independent states.” Lihat: Louis Henkin et. al., International Law: Cases and Materials, 3rd. ed. (Minnesota: West Publishing Co., 1993) 683.
3
banyak diperuntukkan bagi kepentingan Negara Maju.5 Negara
Berkembang berpendapat bahwa hukum internasional lebih banyak
mengakomodasi kepentingan Negara Maju daripada kepentingan
mereka.
Kepentingan ekonomi Negara Maju lebih dominan dan mewarnai
wajah hukum internasional. Perjanjian-perjanjian internasional yang
terkait dengan masalah ekonomi lebih banyak mengakomodasi prinsipprinsip yang dianut oleh Negara Maju. Bahkan para pelaku usaha
Negara Maju banyak mendapat perlindungan dari perjanjian internasional
yang dinegosiasikan antara Negara Maju dan Negara Berkembang.
Perbedaan Sikap Negara Maju dan Negara Berkembang
terhadap Hukum Internasional
Seorang ahli hukum internasional, Antonio Cassase, dalam bukunya
yang berjudul ‘International Law in a Divided World’ menulis bahwa
negara Barat memiliki sikap (attitude) yang berbeda dengan Negara
Berkembang dalam memandang hukum internasional. Berdasarkan
tradisi hukum yang mereka miliki, negara Barat memiliki sikap sangat
menghormati hukum internasional dan menjadikannya aturan yang harus
dipatuhi dalam interaksi antarnegara.6 Hanya saja Cassase mengingat5
Abdulqawi mengatakan, “The network of international organizations created at the end
of the Second World War were mainly concerned, during the early years of their existence, with the economic interests of the developed countries, and their functions were
geared towards the solution of their problem. The developed countries who mostly contributed to the drafting of the charters of these organizations took little account of the
problems of the developing countries. This was particularly true of the GATT, IMF and
IBRD.” Lihat: Abdulqawi Yusuf, Legal Aspects of Trade Preferences for Developing
States: A Study in the Influence of Development Needs on the Evolution of International
Law, (The Hague: Martinus Nijhoff Publishers, 1982), 10.
6
Cassese berpendapat, “There are several reasons why in the West law was regarded as a
highly esteemed value to be cherished and respected per se. Law was among the driving
forces behind the moulding of modern States in Europe in the fourteenth and fifteenth
centuries. … Furthermore, the two primary unifying factors leading to the creation of the
State in England and France between the late 1200s and the fourteenth century, were the
4
kan agar kita tidak berlebihan (overemphasize) dalam melihat sikap
negara Barat terhadap hukum internasional karena dalam kata-kata
Cassese,
“… law was moulded by Western countries in such a way as to suit
their interests; it was therefore only natural for them to preach lawabidance and to attempt to live up to legal imperatives which had
been forges precisely to reflect and protect their interests.”7
menghendaki adanya perubahan-perubahan mendasar dalam hukum
internasional sehingga betul-betul mencerminkan nilai-nilai yang dianut
oleh mayoritas penduduk dunia.
Critical Legal Studies: Teori untuk Memahami Sikap Negara
Berkembang untuk Mengubah Wajah Hukum Internasional
Di sisi lain, Cassese mengungkapkan bahwa bagi Negara Berkembang,
“… international law is relevant to the extent that it protects them
from undue interference by powerful States and is instrumental in
bringing about social change, with more equitable conditions
stimulating economic development (kursif dari penulis).”8
Pengamatan Cassese ini sungguh sangat tepat dalam mencermati
keberadaan hukum internasional dalam konflik kepentingan ekonomi
antara Negara Berkembang dan Negara Maju.
Untuk melindungi kepentingan ekonominya, Negara Maju menghendaki agar hukum internasional tidak dikutak-katik. Mereka cenderung
mempertahankan apa yang sudah ada dalam hukum internasional (status quo). Sementara Negara Berkembang mempunyai sikap reformis,
administration of justice by central courts and the levying of taxes by national authorities. … Another significant consideration is that law played an important role in the birth
of capitalism. The economic system evolving in the fourteenth and fifteenth centuries
was based on free enterprise and free competition. One of the social mechanisms necessary for the new system was a body of predictable and ascertainable standards of behaviour
allowing each economic factor to maintain a set of relatively safe expectations as to the
conduct of other social actors. Thus law became one of the devices permitting economic
activities and consolidating and protecting the fruits of such action. … A further consideration is that a large section of law in Western States was the fruit of political struggles
between contending groups.” Lihat: Antonio Cassese, International Law in a Divided
World, (Oxford: Oxford University Press, 1986), 106-107.
7
Ibid., hlm. 108.
8
Ibid., hlm. 119.
5
Teori dikemukakan oleh para ahli untuk mempermudah kita
memahami gejala yang ada dalam masyarakat. Demikian juga untuk
memahami masyarakat internasional dan hukum internasional para
pemikir telah mengungkapkan berbagai teori. Teori yang saat ini dikenal,
antara lain, adalah hukum alam, teori positivis, functionalism, realisme,
teori yang berorientasi pada kebijakan (policy oriented approach),
dan lain-lain.9
Salah satu fenomena masyarakat internasional yang banyak
dibicarakan para ahli adalah keinginan Negara Berkembang untuk
mengubah wajah hukum internasional. Dalam membicarakan fenomena
ini, masalah yang terkait tidak semata-mata hukum tetapi juga politik.
Sayangnya berbagai teori yang telah diungkap oleh para ahli banyak
yang tidak memadai apabila politik bercampur dengan hukum. Teoriteori yang ada tersebut dianggap sangat statis dan a-politik.
Dari berbagai teori yang ada, menurut saya ada satu teori yang
dapat digunakan. Teori yang saya maksud adalah Critical Legal Studies (selanjutnya disingkat “CLS”). CLS merupakan aliran modern dalam
teori hukum. Teori ini diperkenalkan pada tahun 1970-an di Amerika
9
Oleh Chen dikatakan bahwa, “(I)nternational law has its origin in the natural law school
and has been influenced in varying degrees by all major school of jurisprudence.” Lihat:
Lung-Chu Chen, An Introduction to Contemporary International Law: A Policy Oriented
Perspective, 2nd.ed (New Haven: Yale University Press, 2000), 11. Lebih lanjut Chen
yang mengklaim dirinya sebagai pengikut dari aliran policy oriented approach mengatakan
tentang aliran ini sebagai, “(I)t seeks not only to demolish the traditional approaches to
rigid rule orientation, unrealistic as they often are, but also to provide a constructive
jurisprudence of problem solving.” Lihat: ibid., 13.
6
Serikat.10 Esensi pemikiran CLS terletak pada kenyataan bahwa hukum
adalah politik.11 Doktrin hukum yang selama ini terbentuk sebenarnya
lebih berpihak pada mereka yang mempunyai kekuatan (power).12
Teori yang dikemukakan oleh para pemikir CLS sungguh sangat
tepat untuk menjelaskan upaya Negara Berkembang dalam mengubah
wajah hukum internasional. Hukum internasional adalah produk politik
dan sebagian merupakan hasil tarik ulur Negara Berkembang dengan
Negara Maju. Kekuatan sering digunakan oleh Negara Maju. Bahkan
Negara Maju kerap menggunakan kekuatan yang dimilikinya tanpa
sadar sebagaimana dikatakan oleh White,
Domination of the system, …, by the rich and powerful States is not
necessary carried out in a conscious fashion by the representatives
of those States—they simply assume that the imposition of Western values and the extension of the market philosophy to the international plane is a natural and perfectly legitimate exercise. Indeed,
since the Western way claims to be the only true path to follow, all
others deemed to be wrong hence illegitimate.13
table system.”14 Sehingga doktrin-doktrin hukum yang telah terbentuk
dapat direkonstruksi untuk mencerminkan pluralisme nilai yang ada.
Untuk melakukan proses de-legitimasi terhadap doktrin hukum yang
telah terbentuk, aliran CLS menggunakan metode trashing,
deconstruction dan genealogy. Trashing adalah teknik untuk mematahkan atau menolak pemikiran hukum yang telah terbentuk.15 Teknik
trashing dilakukan untuk menunjukkan kontradiksi dan kesimpulan yang
bersifat sepihak berdasarkan asumsi yang meragukan.16 Deconstruction
adalah membongkar pemikiran hukum yang telah terbentuk.17 Dengan
melakukan pembongkaran maka dapat dilakukan rekonstruksi pemikirin
hukum. Sementara genealogy adalah penggunaan sejarah dalam
menyampaikan argumentasi.18 Genealogy digunakan karena interpretasi sejarah kerap didominasi oleh mereka yang memiliki kekuatan.
Interpretasi sejarah ini yang kemudian digunakan untuk memperkuat
suatu konstruksi hukum.
Ibid.
Dalam kata-kata Arthur dan Shaw, “… a big miscellaneous grab bag of techniques
designed to dent the complacent message embedded in legal discourse, that the system has
figured out the arrangements that are going to make social life about as free, just, and
efficient as it ever can be.” Lihat: John Arthur dan William H. Shaw (eds.), Reading in
the Philosophy of Law, 179.
16
Ibid.
17
Dalam kaitan ini Arthur dan Shaw mengatakan “The Crits do not believe, however,
that their trashing reveals a random chaos or that what lies behind the seeming order of
legal decisions is just pure power (or personal whim). There is patterned chaos, and the
aim of Critical scholarship is in part to uncover the patterns. Some of their best work is
a familiar kind of left-wing scholarship, unmasking the often unconscious ideological bias
behind legal structures and procedures, which regularly makes it easy for business groups
to organize collectively to pursue their economic and political interests but which makes
it much more difficult for labor, poor people, or civil rights group to pursue theirs.”
Lihat: Ibid., 180.
18
Arthur dan Shaw mengatakan, “Still another way to heighten awareness of the transitory, problematic, and manipulable ways legal discourses divide the world is to write their
history. The Crits have turned out a lot of history of legal categories.” Lihat: Ibid., hlm.
180-181.
14
15
Oleh karenanya White mengatakan, “(I)t is the aim of the critical
lawyers to delegitimate this claim to the truth, to reveal it as an exercise of power and domination, and to reveal a fairer and more equi10
Howard Davies dan David Holdcroft, Jurisprudence: Texts and Commentary, (London:
Butterworth & Co., 1991), 471.
11
Sebagaimana diungkapkan oleh Hari Chand dalam menggambarkan CLS dengan
mengatakan bahwa bagi aliran CLS, “Law is simply politics, dress in different garb.”
Lihat: Hari Chand, Modern Jurisprudence, (Kuala Lumpur: International Law Book Series, 1994), 240.
12
Sebagai akibat dari cara berpikir yang demikian, para sarjana yang masuk dalam aliran
CLS banyak ditentang dan dianggap sebagai kekiri-kirian, bahkan para pengkritik aliran
ini menganggap pemikiran CLS sebagai ‘a form of class treachery.’ Lihat: John Arthur
dan William H. Shaw (eds.), Reading in the Philosophy of Law, 2nd ed., (New Jersey:
Prentice-Hall, Inc, 1984), 184.
13
N.D. White, The Law of International Organisations, (Manchester: Manchester University Press, 1996), 20.
7
8
Dengan menggunakan teori CLS, berikut akan dipaparkan keberhasilan, pengupayaan dan kegagalan dari Negara Berkembang dalam
mengubah wajah hukum internasional, utamanya agar kepentingan
ekonomi mereka terakomodasi.
Keberhasilan Negara Berkembang dalam Mengubah Wajah
Hukum Internasional: Prinsip Common Heritage of All Mankind
Dalam hukum internasional ada suatu wilayah yang merupakan
wilayah yang berada di luar yurisdiksi negara, yang dalam bahasa
Inggris disebut sebagai commonage (selanjutnya disebut “Wilayah
Bersama”). Wilayah Bersama pada dimensi laut terletak pada seabed dan ocean floor yang dikenal dengan istilah Area,19 sementara
pada dimensi ruang angkasa, ruang angkasa secara keseluruhan
dinyatakan sebagai Wilayah Bersama. Di Wilayah Bersama negara
dilarang mengklaim kedaulatan walaupun tidak menutup kemungkinan
bagi mereka untuk mengambil keuntungan.
Dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi Wilayah Bersama
secara tradisional prinsip yang berlaku adalah prinsip res communis.
Prinsip res communis harus dibedakan dengan res nullius. Perbedaan
mendasar terletak pada tidak diakuinya pemilikan pada Wilayah Bersama
dalam res communis. Res communis hanya memperkenankan proses
eksploitasi bagi siapa saja tanpa didahului dengan klaim kedaulatan.20
19
Area didefinisikan dalam Pasal 1 angka (1) paragraf (1) Konvensi Hukum Laut 1982
sebagai “… the sea-bed and ocean floor and subsoil thereof, beyond the limits of national
jurisdiction.”
20
Henkin menerangkan kedua konsep ini sebagai berikut, “For some, the seas were res
nullius, nobody’s. In principle, therefore, the seas were subject to occupation and acquisition, like land that was nobody’s. … The resources of the sea, too, were res nullius and
therefore available for the taking so that all states were free to fish at will. For others,
the seas were not res nullius but res communis, not nobody’s but everybody’s. Bering
everybody’s, they were not open to appropriation by any state, but being everybody’s,
they were open to common use.” Lihat: Louis Henkin, International Law: Politics and
Values, (Dordrecht: Martinus Nijhoff Publishers, 1995), 79.
9
Hanya saja prinsip res communis mengasumsikan bahwa semua pihak
mempunyai kemampuan yang sama, baik dibidang teknologi, modal
dan keahlian. Dalam prakteknya prinsip res communis akan memberi
keuntungan bagi mereka yang memiliki kemampuan bila dibandingkan
dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan. Pada akhirnya first
come first serve akan berlaku pada Wilayah Bersama.
Bagi Negara Berkembang, menggunakan prinsip res communis
sama saja dengan tidak dapat menikmati keuntungan (benefit) apa pun
dari Wilayah Bersama. Negara Berkembang yang tidak mempunyai
kemampuan dari segi teknologi, modal dan keahlian tidak akan mungkin
mengeksploitasi Wilayah Bersama. Padahal Negara Berkembang
menghendaki agar keuntungan yang didapat dari Wilayah Bersama
dapat dirasakan juga oleh mereka. Untuk itu Negara Berkembang
memperkenalkan prinsip common heritage of all mankind atau warisan
umat manusia bersama sebagai pengganti dari prinsip res communis.21
Dalam prinsip common heritage of all mankind yang berlaku adalah
siapa yang dapat mengeksploitasi Wilayah Bersama maka ia wajib
untuk membagi keuntungan yang didapat kepada yang lain.22
Prinsip ini disampaikan untuk pertama kali oleh Duta Besar dari Malta, Dr. Avid Pardo,
pada tahun 1967 pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengusulkan
untuk dibuat “Declaration and Treaty concerning the reservation exclusively for peaceful
purposes of the sea-bed and ocean floor underlying the seas beyond the limits of national
jurisdiction, and the use of their resources in the interests of mankind.” Usulan ini
kemudian ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Resolusi Majelis Umum 2574 pada tahun
1969 yang didukung oleh mayoritas Negara Berkembang dimana untuk wilayah sea-bed
dan dasar laut diadakan moratorium untuk tidak dieksplorasi dan eksploitasi. Pada tahun
1970 dikeluarkan Resolusi Majelis Umum 2749 yang berjudul “Declaration of Principles
Governing the Sea Bed and Ocean Floor, and the Subsoil Thereof, beyond the Limits of
National Jurisdiction.” dan diadopsi dengan komposisi 108 mendukung, tidak ada yang
menentang dan 14 abstain. Dalam resolusi tersebut diungkapkan bahwa, “(1) The sea bed
and ocean floor, and the subsoil thereof, beyond the limits of national jurisdiction …, as
well as the reources of the Area, are the common heritage of all mankind. …”
22
Williams mencirikan CHM sebagai berikut, “(a) that the areas constituting CHM are
not subject to appropriation; (b) that such areas call for a managemnt system where all
States participate, (c) that the concept in question implies an active sharing of the
21
10
Dengan menyatakan keuntungan yang didapat dari Wilayah
Bersama sebagai warisan umat manusia bersama maka Negara
Berkembang akan ikut merasakan apa pun keuntungan yang didapat.
Di sini terlihat bahwa Negara Berkembang lebih menginginkan
pemanfaatan Wilayah Bersama untuk kepentingan sosial (social interest) daripada kepentingan komersial (commercial interest). Keinginan
Negara Berkembang untuk mengubah prinsip res communis menjadi
common heritage of all mankind telah diakomodasi dalam perjanjian
internasional, seperti Agreement Governing the Activities of States
on the Moon and Other Celestial Bodies (selanjutnya disebut
“Perjanjian tentang Bulan”)23 dan United Nations Convention on
the Law of the Sea (selanjutnya disebut “Konvensi Hukum Laut
1982”).24
Sayangnya keberhasilan Negara Berkembang dalam mengubah
wajah hukum internasional di atas masih dalam tataran konsep, tidak
pada tataran implementasinya.25
Secara tidak sadar apa yang dilakukan oleh Negara Berkembang
dalam mengubah prinsip res communis menjadi common heritage of
all mankind telah menggunakan tiga metode yang diperkenalkan oleh
para pemikir CLS. Pertama, Negara Berkembang telah melakukan
trashing dengan mengatakan bahwa prinsip res communis bukanlah
prinsip yang universal yang diikuti oleh masyarakat internasional mobenefits derived from the exploration and exploitation of those areas; (d) that these areas
be used exclusively for peaceful purposes.” Lihat: Sylvia Maureen Williams, “The Law of
Outer Space and Natural Resources,” 36 International and Comparative Law Quarterly,
(1987): hlm. 144.
23
Dalam Pasal 11 ayat (1) Moon Agreement disebutkan bahwa, “The moon and its
natural resources are the common heritage of all mankind, …”
24
Dalam Pasal 136 Konvensi Hukum Laut 1982 disebutkan bahwa, “The Area and its
resources are the common heritage of mankind.”
25
Henkin mengatakan, “Exploitation of the seabed is an unlikely prospect for decades
ahead, and the economic political institutions that had been negotiated are not likely to
materialize as planned. Lihat: Louis Henkin, International Law: Politics and Values, 155.
11
dern. Prinsip res communis hanya berpihak pada Negara Maju yang
notabene adalah negara yang memiliki modal, keahlian dan teknologi.26
Selanjutnya Negara Berkembang melakukan deconstruction
terhadap prinsip res communis dengan mengatakan bahwa prinsip
tersebut hanya menguntungkan Negara Maju saja. Dalam argumentasi
Negara Berkembang manfaat dari Wilayah Bersama seharusnya tidak
dinikmati terbatas pada mereka yang mempunyai kemampuan untuk
mengeksploitasi saja, melainkan oleh seluruh umat manusia. Oleh
karenanya prinsip res communis sudah selayaknya ditinggalkan.
Teknik genealogy juga diterapkan dengan mengungkapkan bahwa
Negara Maju dalam sejarah telah banyak mengeksploitasi sumber daya
alam yang terdapat dalam Wilayah Bersama tanpa memperhatikan
kepentingan dari negara lain di dunia. Oleh karenanya sudah saatnya
prinsip tradisional tersebut diganti sehingga tidak diskriminatif terhadap
negara yang tidak memiliki teknologi, modal dan keahlian.
Pengupayaan Negara Berkembang dalam Mengubah Wajah
Hukum Internasional: Pengaturan di Bidang Perdagangan
Internasional
Dalam tiga dekade terakhir ini konflik kepentingan ekonomi antara
Negara Berkembang dan Negara Maju telah terpusat pada masalah
perdagangan antarnegara. Konflik ini dipicu oleh pandangan yang
berbeda antara Negara Berkembang dan Negara Maju.
Di satu sisi Negara Berkembang cenderung mengambil kebijakan
yang menghambat masuknya barang dan jasa dari pelaku usaha asing,
utamanya dari Negara Maju. Sebagai negara berdaulat Negara
Dalam bukunya Churchill dan Lowe mengatakan bahwa, “(A)s soon as it was realised
that sea-bed mining was a commercial possibility, …, it was recognised that as international law then stood the main benefit of mining, would accrue to handful of developed
States.” Lihat: R.R. Churcuill and AV Lowe, The Law of the Sea, 3rd ed. (Manchester:
Manchester University Press, 1999), 224.
26
12
Berkembang, tentunya, sah-sah saja apabila menerapkan berbagai
‘hambatan’ tersebut. Alasan yang sering dikemukakan adalah untuk
melindungi lapangan kerja, sebagai sarana untuk memproteksi industri
bayi, dalam rangka memperkuat pelaku usaha nasional, hingga
mendapatkan devisa.
Disisi lain, Negara Maju menghendaki agar tidak ada hambatan
yang diberlakukan oleh Negara, termasuk yang diberlakukan oleh
Negara Berkembang. Tidak adanya hambatan diidentikkan dengan
perdagangan bebas (free trade) yang berarti tidak adanya diskriminasi
dari mana barang atau jasa berasal.27 Pasar menjadi penting karena
produk yang dihasilkan oleh pelaku usaha dari Negara Maju harus
dibeli. Pasar yang potensial bagi barang dan jasa dari pelaku usaha
Negara Maju ada di Negara Berkembang. Ada beberapa alasan
mengapa demikian. Pertama konsumen di Negara Berkembang
biasanya belum terbentuk.28 Konsumen di Negara Berkembang sangat
senang dengan barang-barang yang berasal dari Negara Maju. Kedua
dari segi jumlah penduduk, Negara Berkembang sangat potensial. Jumlah
penduduk Negara Berkembang sangat fantastis bila dibandingkan dengan
jumlah penduduk di Negara Maju. Hanya saja kelemahan konsumen di
Negara Berkembang adalah rendahnya daya beli mereka.
Dari dua perspektif di atas, terjadi tarik ulur kepentingan. Bagi
Negara Berkembang mereka dengan mudah menentukan hambatan
dengan cara memberlakukan perundangan nasional. Sementara bagi
Negara Maju, pertanyaan muncul bagaimana cara mereka dapat
menghapuskan berbagai hambatan yang dibuat oleh Negara
27
Esensi dari perdagangan bebas adalah perdagangan antarnegara diharapkan bisa sama
seperti perdagangan antarpropinsi dimana tidak dipermasalahkan dari mana suatu barang
atau jasa berasal.
28
Maksud terbentuk disini adalah ‘taste’ atau preferensi dari konsumen atau masyarakat.
Pada konsumen atau masyarakat Negara Maju mereka biasanya sudah memiliki taste
maupun preferensi tersendiri sehingga sulit untuk memenetrasi barang atau jasa yang
diproduksi oleh Negara Maju lainnya.
13
Berkembang? Sudah pasti Negara Maju tidak mungkin memerintahkan
Negara Berkembang untuk mencabut berbagai hambatan tersebut
layaknya hubungan antara negara penjajah dan negara jajahan. Alternatif
yang paling mungkin adalah dengan membuat kesepakatan-kesepakatan
yang untuk kemudian dituangkan dalam perjanjian internasional. Apabila
Negara Berkembang turut serta dalam perjanjian internasional dimaksud
maka mereka akan terikat untuk melaksanakannya yang pada gilirannya
mereka akan menghapuskan berbagai hambatan atas barang dan jasa
dari luar negeri. Negara Maju tidak jarang memberi pemanis berupa
hibah, pinjaman dan lain sebagainya bagi Negara Berkembang agar
mereka mau ikut dalam suatu perjanjian internasional.29
Perjanjian internasional di bidang perdagangan internasional yang
telah diupayakan oleh Negara Maju di antaranya adalah General Agreement on Tariffs and Trade (“GATT”), Agreement Establishing the
World Trade Organisation (WTO), Agreement on Agriculture, Agreement on Trade-Related Investment Measures (TRIMs), dan Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights
(TRIPs), dan lain-lain.
Dalam tulisan Tony Clarke disebutkan bahwa, “In the 1980s, the World Bank and the
IMF used debt renegotiations as a club to force the developing nations into implementing
structural adjustment programs (SAPs) in their economies. Each SAP package called for
sweeping economic and social changes designed to channel the country’s resources and
productivity into debt repayments and to enhance transnational competition. … In effect
the SAPs have become instruments for the recolonization of many developing countries
in the South in the interests of TNCs and banks.” Lihat: Tony Clarke, “Mechanisms of
Corporate Rule,” Dalam: Jerry Mander dan Edward Goldsmith, The Case Against the
Global Economy and for a Turn Toward the Local, (New York: Sierra Club Books, 1996),
301. Goldsmith juga mengatakan bahwa, “Lending large sums of money to the compliant
elite of a nonindustrial country is the most effective method of controlling it and thereby
obtaining access to its market and natural resources. … Once in debt, they inevitably
become hooked on further and further borrowing rather than cutting down on expenditure
and thus fall under the power of the lending countries.” Lihat: Edward Goldsmith, “Development as Colonialism,” Dalam: Jerry Mander dan Edward Goldsmith, The Case
Against the Global Economy and for a Turn Toward the Local, (New York: Sierra Club
Books, 1996), 261.
29
14
Upaya Negara Maju untuk meneguhkan prinsip perdagangan
internasional yang mereka yakini mendapat reaksi dari Negara
Berkembang. Sudah sejak lama Negara Berkembang memperjuangkan
diubahnya prinsip tradisional perdagangan internasional. Bagi Negara
Berkembang yang umumnya sedang bergulat dengan masalah
pertumbuhan ekonomi, mereka tidak setuju apabila ekonomi pasar
diberlakukan begitu saja dalam perdagangan internasionl.30 Untuk itu
pada sidang United Nations Conference on Trade and Development (“UNCTAD”) pertama tahun 1964, dikemukakan tentang perlunya
prinsip perlakuan preferensi (preferential treatment) dan nonresiprositas untuk diberlakukan.31 Sebenarnya apa yang dikehendaki
oleh Negara Berkembang telah dibicarakan dalam perundingan GATT
pada tahun 1954-55. Ketika itu dibicarakan dan disetujui amandemen
terhadap Pasal XVIII yang dianggap sebagai permulaan dari ‘differential treatment’ bagi Negara Berkembang.32 Perlakuan yang berbeda
untuk Negara Berkembang ditindaklanjuti pada tahun 1965 dengan
memasukkan pasal-pasal yang dikelompokkan dalam Bagian IV
GATT.33
Hans van Houtte, The Law of International Trade, (London:Sweet & Maxwell, 1995),
51.
31
Dalam prinsip ini disebutkan bahwa “… Developed countries should grant concessions
to all developing countries and extend to developing countries all concessions they grant
to one another and should not, in granting these or other concessions, require any
concessions from developing countries.” Bahkan disebutkan bahwa, “New preferential
concessions, both tariff and non-tariff, should be made to developing countries as a whole
and such preferences should not be extended to developed countries.”
32
Dalam Pasal XVIII ayat (2) disebutkan bahwa, “The contracting parties recognize
further that it may be necessary for those contracting parties, in order to implement
programmes and policies of economic development designed to raise the general standard
of living of their people, to take protective or other measures affecting imports, … (garis
miring dari penulis).”
33
Bagian IV memuat ketentuan prinsip non-resiprositas dalam negosiasi perdagangan
antara Negara Maju dan Negara Berkembang. Bagian IV kemudian dirinci lebih lanjut pada
tahun 1979 yang kemudian dikenal dengan nama “Enabling Clause.” Ada empat katagori
perlakuan yang berbeda, yaitu “(a) Preferential tariff treatment accorded by developed
30
15
Upaya Negara Berkembang untuk mengubah wajah hukum
internasional di bidang perdagangan internasional, disadari atau tidak,
telah menggunakan metode CLS. Pertama Negara Berkembang
melakukan trashing dengan mengatakan bahwa prinsip perdagangan
internasional yang dianut, seperti Most Favoured Nations (“MFN”)
yang tertuang dalam Pasal 1 ayat (1) GATT,34 mengasumsikan bahwa
setiap negara mempunyai kesetaraan.35 Fakta menunjukkan bahwa di
antara negara-negara tidak ada kesetaraan.36 Sehingga apabila prinsip
MFN tetap diberlakukan hal ini akan bertentangan dengan tujuan GATT
contracting parties to products originating in developing countries in accordance with the
Generalized System of Preferences; (b) Differential and more favourable treatment with
respect to the provisions of the GATT concerning non-tariff measures governed by the
provisions of instruments multilaterally negotiated under GATT (now WTO) auspices; (c)
Regional and global arrangements entered into amongst less-developed contracting parties
for the mutual reduction or elimination of tariffs and, in accordance with criteria or
conditions which may be prescribed by the GATT contracting parties (now the WTO
Ministerial Conference), for the mutual reduction or elimination of non-tariff measures,
on products imported from one another; (d) Special treatment of the least-developed
among the developing countries in the context of any general or specific measures in
favour of developing countries.” Lihat: “Special and Differential Treatment” http://
www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/eol/e/wto01/wto01/wto1_17.htm diakses pada
tanggal 25 Oktober 2001.
34
Esensi dari prinsip MFN adalah sebuah negara tidak boleh membuat kebijakan yang
diskriminatif terhadap pelaku usaha yang berasal dari negara yang berbeda.
35
Ketentuan tentang MFN dan Prinsip Resiprositas yang dikenal dalam GATT, sebagaimana
dikatakan oleh Abdulqawi Yusuf, “… have come under attack from the developing countries because, in their view, although such rules might serve the expansion and liberalization of trade among the developed countries, they were frustating the efforts of the
developing countries to use international trade as a means of economic development.”
Lihat: Abdulqawi Yusuf, Legal Aspects of Trade Preferences for Developing States: A
Study in the Influence of Development Needs on the Evolution of International Law, , 4.
36
Hal ini tercermin dalam laporan untuk persiapan sidang UNCTAD pertama dimana
dikatakan bahwa, “By the very nature of its philosophy, which is based on liberalism,
GATT inevitably shows a marked lack of understanding of the interest of the underdeveloped and developing countries. This is primarily due to the inequality between the industrialized and developing countries in the matter of bargaining power. Article I of the
General Agreement is based on the fiction that there is complete equality among Contracting Parties. There is however no equality treatment except among equals.”
Sebagaimana dikutip oleh Abdulqawi, dalam: Ibid., 14.
16
itu sendiri, yaitu tercapainya “mutually advantageous arrangements.”37 Negara Berkembang bahkan menunjukkan ketidaksetujuannya mereka atas perluasan masalah perdagangan internasional yang
diusulkan oleh beberapa Negara Maju pada Pertemuan Para Menteri
WTO di Doha, seperti perburuhan, eco-labelling, dan transparansi
dalam pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah.38
Selanjutnya Negara Berkembang melakukan deconstruction
dengan mengargumentasikan bahwa prinsip perdagangan internasional
yang ada saat ini merupakan ‘ciptaan’, dan hanya berpihak pada,
Negara Maju. Prinsip tersebut sangat menguntungkan pelaku usaha
dari Negara Maju, tetapi tidak bagi Negara Berkembang. Keinginan
untuk memberlakukan preferential treatment, differential treatment,
non-resiprositas, enabling clause merupakan upaya untuk merekonstruksi prinsip perdagangan internasional dalam hukum internasional.39
37
Ada dua paragraf yang terdapat dalam Preambul GATT. Paragraf pertama secara lengkap
berbunyi, “Recognizing, that their relations in the field of trade and economic endeavour
should be conducted with a view to raising standards of living, ensuring full employment
and a large and steadily growing volume of real income and effective demand, developing
the full use of the resources of the world and expanding the production and exchange of
goods.” Paragraf kedua berbunyi, “Being desirous of contributing to these objectives by
entering into reciprocal and mutually advantageous arrangements directed to the substantial reduction of tariffs and other barriers to trade and to the elimination of discriminatory treatment in international commerce.”
38
Dalam masalah perburuhan, misalnya, pemerintahan Negara Berkembang beranggapan
bahwa, “… attempts to introduce this issue into the WTO represent a thinly veiled form
of protectionism which is designed to undermine the comparative advantage of the lowerwage developing countries. Lihat: “Doha WTO Ministerial 2001: Briefing Notes—Trade
and Labor Standards—A Difficult Issue for many Governments.” http://www-svca.wtoministerial.org/english/thewto_e/minist_e/min01_e/brief16_e.html diakses pada tanggal 25
Oktober 2001.
39
Secara tepat Bulajic menggambarkan argumentasi Negara Berkembang sebagai berikut,
“…, if we accept that the main purpose of the NIEO is to reequlibrate international
economic relations, or rather the international economic system, in order to make it a
more congenial environment for, and more conducive in its mechanism, to the development of Third World countries, then positive discrimination or preferential treatment for
17
Metode genealogy juga digunakan oleh Negara Berkembang.
Mereka mengemukakan berbagai prinsip perdagangan internasional yang
diformulasikan oleh para pemimpin negara Barat pada Konferensi
Bretton Woods tahun 1944, dirasakan sebagai tidak mencerminkan
aspirasi Negara Berkembang. Hal ini karena pada saat itu banyak di
antara Negara Berkembang belum memperoleh kemerdekaan. Harus
diakui banyak prinsip-prinsip perdagangan internasional yang berawal
dari Eropa dan mulai dipraktekkan sejak abad ke-12.40
Kegagalan Negara Berkembang dalam Mengubah Wajah Hukum
Internasional: Membatasi Gerak Multinational Corporation
Dalam konflik kepentingan ekonomi Negara Berkembang dan
Negara Maju, masalah lain yang mengemuka adalah kegiatan yang
dilakukan oleh Transnational Corporation (TNC) atau Multinational
Corporation (selanjutnya disingkat “MNC”). MNC adalah perusahaan
yang mempunyai jaringan kerja yang mendunia. Keberadaan MNC
sebenarnya bukan hal baru. Pada masa Negara Berkembang masih
menjadi negara jajahan MNC sudah melakukan kegiatan.41
Salah satu masalah yang muncul sehubungan dengan keberadaan
MNC adalah kekhawatiran Negara Berkembang atas kekuatan dominan
MNC yang dapat mengancam kedaulatan dan eksistensi Negara
developing countries would in one way or another be at the bass of all corrective action,
whether remedial or affirmative …” Lihat: Milan Bulajic, Principles of International
Development Law, 2nd ed., (Dordrecht: Martinus Nijhoff, 1992), 287.
40
John Jackson mengatakan bahwa, “The MFN obligation has a long history which is
easily traced back to the twelfth century, although the phrase seems to have first appeared in the seventeenth century.” John Jackson, The World Trading System and the
Policy of International Economic Relations,” (Cambridge: The MIT Press, 1991), 104;
Di bagian lain Jackson mengatakan, “A national treatment obligation can be found in
some treaties, dating back to earlier centuries.” Ibid., 120.
41
Menurut Muchilinski MNC sudah ada sejak tahun 1850. Lihat: Peter Muchilinski,
Multinational Enterprises and the Law, (Oxford: Blackwell Publishers Ltd., 1995), 20.
18
Berkembang. 42 Sebagai contoh, MNC kerap ‘memaksa’ Negara
Berkembang agar peraturan perundang-undangan yang dibuat berpihak
dan menguntungkan mereka.43 Untuk mencapai tujuan ini tidak segansegan MNC mengancam akan memindahkan usaha mereka.44 Bahkan
MNC dapat mempengaruhi pemerintah negaranya, termasuk juga
lembaga-lembaga internasional, untuk melakukan suatu tindakan
terhadap pemerintah Negara Berkembang yang merugikan mereka.45
Muchilinski menggambarkan sebagai berikut, “The MNC began to be described as a
challenge to the national state, a creature with no loyalties except to itself, an entity that
caused economic, social and political disruption in both the host and home countries, and
aimed at global dominance.” Lihat: Ibid., hlm. 7. Demikian juga Sornarajah yang
mengatakan, “Multinational corporations, … became the principal instruments of foreign
direct investment and exerted power and influence akin to and sometimes exceeding
those of states.” Lihat: M. Sornarajah, The International Law on Foreign Investment,
(Cambridge: Cambridge University Press, 1994), 2.
43
Hal ini sangat bergantung pada posisi tawar (bargaining position) antara MNC dengan
negara penerima (host state). Muchilinski mengatakan, “The relationship between the
host state and a MNC will be the outcome of a bargaining process between them. In this
regard the formal content of the host state’s law and regulations should be viewed as a
starting point for negotiation, as an initial statement of the host’s regulatory goals. How
far that system is actually applied in a given case will depend on the outcome of bargaining at the stage of entry. This, in turn, depends on the relative bargainning strength of
the host state and the MNE.” Lihat: Peter Muchilinski, 104; Bahkan Goldsmith
mengatakan, “TNCs will now have the power to force national governments to defend
corporate interests whenever such interests are in conflict with those of the people whose
interest the government have been elected to protect.” Lihat: Edward Goldsmith, “Development as Colonialism,” Dalam: Jerry Mander dan Edward Goldsmith, The Case
Against the Global Economy and for a Turn Toward the Local, (New York: Sierra Club
Books, 1996), 266. Demikian juga Sornarajah mengatakan, “Multinational corporations
wild significant power to shape the law on foreign investment to their advantage.”
Lihat:: M. Sornarajah, The International Law on Foreign Investment, 52.
44
Goldsmith mengatakan, “If a country passes a law that TNCs regard as hindrance to
their further expansion, they merely threaten to leave and establish themselves elsewhere, which under the new conditions, they can do at the drop of a hat.” Lihat: Edward
Goldsmith, “Development as Colonialism,” Dalam: Jerry Mander dan Edward Goldsmith,
The Case Against the Global Economy and for a Turn Toward the Local, 265.
45
Sornarajah mengungkapkan, “Back by its own immense financial resources as well as
the power of its home state, it may influence the political course of the host states in
which it seeks to invest.” Lihat: M. Sornarajah, The International Law on Foreign
Investment, 51. Lebih lanjut ia mengatakan, “The power of multinational corporation to
42
19
Disamping itu MNC dapat meminta pemerintahnya untuk memperjuangkan kepentingan mereka dalam forum internasional. Salah
satunya adalah dalam pembentukan perjanjian internasional.
Perjanjian internasional yang dibuat untuk melindungi kepentingan
MNC dapat dikelompokkan paling tidak menjadi tiga kategori. Pertama,
perjanjian-perjanjian internasional yang bertujuan untuk melindungi MNC
dari tindakan sepihak pemerintah setempat.46 Selanjutnya, perjanjianperjanjian internasional yang bertujuan untuk melindungi produk,
termasuk hak atas kekayaan intelektual, yang dihasilkan oleh MNC.47
Ketiga, perjanjian-perjanjian internasional yang memberi jalan keluar
(remedy) bagi perselisihan yang terjadi antara MNC dengan pemerintah
Negara Berkembang.48
Menghadapi kekuatan besar yang dimiliki oleh MNC, Negara
Berkembang telah lama mengupayakan agar hukum internasional dapat
membatasi aktivitas MNC. Hasil maksimal yang dapat dicapai oleh
Negara Berkembang adalah pembentukan UN-Draft Code of Conduct on Transnational Corporations (selanjutnya disebut “Code of
ensure that their home states maintain stance favourable to the protection of their global
investments is very clear. … they are also helped by their home states through international agencies which they control to ensure that states which are hostile to multinational
corporations are denied priviliges conferred by the agencies. The examples given in the
literature are of the International Monetary Fund and the World Bank.” Lihat: Ibid., 53.
46
Contoh perjanjian internasional yang masuk dalam katagori ini adalah Convention
Establishing the Multilateral Investment Guarantee Agency, dan Agreement on Trade
Related Investment Measures.
47
Contoh perjanjian internasional yang masuk dalam katagori ini adalah Convention for
the Protection of Industrial Property, Agreement concerning International Registration of
Marks, Agreement for Protection of Appellations of Origin and their International Registration, Convention concerning International Deposit of Industrial Designs, Agreement
on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights, including Trade in Counterfeit
Goods.
48
Contoh perjanjian internasional yang masuk dalam katagori ini adalah Convention on
the Settlement of Investment Disputes between States and Nationals of Other States.
20
Conduct”).49 Code of Conduct hingga sekarang tidak pernah ditetapkan menjadi resolusi PBB, apalagi perjanjian internasional. Oleh
karenanya saya berpendapat, Negara Berkembang mengalami
kegagalan dalam usahanya membatasi kegiatan MNC. Ada paling tidak
empat alasan mengapa demikian. Pertama, bagaimanapun tidak disukai
kegiatan yang dilakukan oleh MNC, Negara Berkembang membutuhkan
kehadirannya, baik dalam rangka pemasukan devisa, alih teknologi,
penyerapan tenaga kerja dan lain-lain. Kedua, pembatasan aktivitas
MNC bukan sekedar perdebatan dalam tataran konsep, melainkan
harus berhadapan dengan kenyataan dan praktek yang sudah lama
terbentuk. Ketiga, dengan kekuatan yang dimiliki oleh MNC, mereka
dapat memastikan bahwa ide untuk membatasi mereka akan gagal.
Terakhir, suka atau tidak suka, krisis ekonomi yang melanda berbagai
negara di Asia dan resesi ekonomi dunia, membuat ketergantungan
Negara Berkembang terhadap MNC semakin tinggi.
Upaya Negara Berkembang untuk membatasi gerak MNC telah
menggunakan metode trashing, deconstruction dan geneality. Negara
Berkembang melakukan trashing terhadap asumsi Negara Maju bahwa
Negara Berkembang melakukan tindakan sepihak terhadap kepentingan
MNC. Pertanyaannya adalah apakah memang Negara Berkembang
melakukan tindakan sepihak secara semena-mena? Negara Berkembang
merasa bahwa tindakan sepihak dilakukan karena ada kebutuhan yang
mendasar untuk itu.50 Tanpa tindakan sepihak, Negara Berkembang
Pembatasan ruang gerak dari MNC yang tercantum dalam Code of Conduct tersebut, di
antaranya, respect for national sovereignty and observance of domestic laws, regulations
and administrative practices, adherence to economic goals and development objectives,
policies and priorities, adherence to socio-cultural objectives and values, respect for
human rights and fundamental freedoms, non-interference in internal affairs of host
countries. Lihat: UN Doc. E/1988/39/Add. 1 tertanggal 1 Februari 1988.
50
Dalam laporan UN Center and Commission on Transnational Corporations pada tahun
1985 terungkap bahwa Negara Berkembang (the emergence of new States) tidak menyetujui
konsep tradisional yang berlaku untuk tanggung jawab negara terhadap nasionalisasi karena,
49
21
tidak mungkin melakukan pembangunan segera setelah mendapat
kemerdekaannya dan terbebas dari masalah-masalah ekonomi yang
dihadapinya.
Selanjutnya, Negara berkembang melakukan deconstruction
terhadap pemikiran Negara Maju untuk melindungi MNC. Dalam
pemikiran Negara Maju perlindungan diberikan karena seolah MNC
tidak berdaya dalam menghadapi tindakan Negara Berkembang.
Padahal, menurut Negara Berkembang, justru MNC yang abusive
terhadap Negara Berkembang.51 Pendapat demikian menjadi dasar
untuk mengatakan bahwa, “… Transnational corporation shall not
intervene in the internal affairs of a host State,” sebagaimana
tertuang dalam Charter of Economic Rights and Duties of States.52
Dengan demikian perlindungan yang diberikan oleh hukum internasional
seharusnya tidak diberikan kepada MNC melainkan kepada mereka.53
“… the application of those principles to the newly independent States was seen as
perpetuating an exploitative system beneficial to the developed market economies.”
Lihat: Henkin, Louis et. al., International Law: Cases and Materials, 686.
51
Misalnya sebagaimana diungkap oleh Samuel Asante, sebagaimana dikutip oleh Sidney
Dell, “Under the concession, the transnational corporation made a direct equity investment for the purpose of exploiting a particular natural resource. In many cases, the
concession amounted to a virtual assumption of sovereignty by transnational corporations over the host country’s natural resources—an example of the old international
economic order, (kursip dari penulis)” Lihat: Sidney Dell, The United Nations and
International Business, (Durham: Duke University Press, 1990), 38.
52
Pasal 2 ayat (2) huruf (b) kalimat ke-2 Charter of Economic Rights and Duties.
Charter of Economic Rights and Duties terdapat dalam Resolusi Majelis Umum PBB A/
3281 (XXIX) tertanggal 12 Desember 1976. Dalam: 28 Year Book of United Nations
(1974), 403.
53
Schacter, misalnya, ketika mendiskusikan tentang tindakan Negara Berkembang
melakukan tindakan pengambilalihan aset MNC mengatakan, “Pervading the political
atmosphere in these cases were ideological and emotional reactions to foreign domination. Memories of past abuses by colonial rulers had not disappeared. The sense of
continued dependency of foreign sources of capital and on foreign markets intensified the
desire for greater economic independence. The strongly worded resolutions in the United
Nations demanding full sovereign rights over resources and foreign business were a political reflection of these sentiments.” Lihat: Oscar Schachter, International Law in Theory
and Practice, (Dordrecht: Martinus Nijhoff Publishers, 1991), 303.
22
Pemikiran inilah yang dipakai dalam Code of Conduct yang esensinya
adalah merekonstruksi prinsip-prinsip dan pemikiran tradisional. Tidak
heran apabila ketentuan yang terdapat dalam Code of Conduct sangat
berpihak pada kepentingan Negara Berkembang.54
Teknik geneality digunakan oleh Negara Berkembang dengan
mengatakan bahwa pemberian perlindungan bagi MNC oleh Negara
Maju didasarkan pada fakta sejarah yang menunjukkan Negara
Berkembang kerap melakukan tindakan sepihak terhadap kepentingan
MNC. 55 Sementara sejarah yang menunjukkan bahwa Negara
Berkembang justru dieksploitasi oleh MNC seolah diabaikan, kalau
tidak dapat dikatakan dihilangkan. Apabila sejarah ini yang diungkap
maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa Negara Berkembang
sudah sepantasnya mendapat perlindungan hukum internasional dari
aktivitas dan tindakan MNC.
Demikianlah telah saya utarakan bagaimana eksistensi hukum
internasional dalam konflik kepentingan antara Negara Berkembang
dan Negara Maju. Kalau di permulaan pidato ini saya kemukakan
pengelompokan Negara Berkembang dan Negara Maju, saat ini saya
ingin mengatakan bahwa negara yang masuk dalam kelompok Negara
Berkembang apabila kelak masuk dalam kelompok Negara Maju maka
negara tersebut akan menghadapi pilihan yang dilematis. Apakah negara
tersebut akan bertindak sebagaimana layaknya Negara Maju atau
memperjuangkan idealisme semasa negara tersebut masih menjadi
Negara Berkembang. Biarlah waktu yang menjawabnya.
Sebagai contoh ketentuan angka (7) dari Code of Conduct disebutkan bahwa
“Transnational corporations shall respect national sovereignty of the countries in which
they operate …” mengingat aktivitas MNC yang kerap mengancam kedaulatan Negara
Berkembang; Kemudian ketentuan angka (8) menentukan bahwa, “An entity of a
transnational corporation is subject to the laws, regulations and established administrative
practices of the country in which it operates” karena aktivitas MNC justru banyak yang
tidak menghormati peraturan perundang-undangan Negara; Ketentuan angka (10)
menyebutkan bahwa, “Transnational corporations should carry out their activities in
conformity with the development policies, objectives and priorities set out by the
Governments of the countries in which they operate … Transnational corporations
should co-operate with the Governments of the countries in which they operate with a
view to contributing to the development process …, thereby establishing mutually beneficial relations with this countries” mengingat kerap terjadi pemerintahan Negara Berkembang
justru yang mengikuti apa yang dikehendaki oleh MNC; Ketentuan dalam angka (16)
menentukan bahwa, “… transnational corporation shall not interfere in the internal
affairs of host countries” karena MNC seringkali mempengaruhi jalannya pemerintahan
Negara Berkembang; Bahkan ketentuan angka (17) menyebutkan bahwa, “Transnational
corporations shall not interfere in intergovernmental relations…” mengingat MNC tidak
segan-segan memanfaatkan negara asalnya yang notabene adalah Negara Maju untuk
berhadapan dengan Negara Berkembang demi kepentingannya.
55
Sejarah yang menunjukkan hal ini lebih banyak terjadi setelah berakhirnya Perang
Dunia II, kecuali di negara-negara Amerika Latin. Padahal keberadaan MNC sudah lama
ada, jauh sebelum Negara Berkembang memperoleh kemerdekaannya. Alasan Negara
Berkembang melakukan tindakan sepihak, seperti nasionalisasi, lebih dikarenakan kondisi
ekonomi mereka yang menuntut demikian.
Perancang dan Negosiator Perjanjian Internasional yang Handal:
Tantangan Bagi Pendidikan Hukum di Indonesia
54
23
Untuk memperkuat Negara Berkembang, termasuk Indonesia,
dalam mengubah wajah hukum internasional maka diperlukan perancang
dan negosiator yang handal. Kelihaian para juru runding dan perancang
tidak bisa lain selain dihadapi dengan kelihaian pula. Kelihaian di sini
memegang peran yang penting mengingat dalam alam pikiran CLS,
“Law is not, of couse uniquely the tool of the powerful. Everyone
invokes the authority of law in everyday interactions, and the content of laws registers many concessions to groups struggling for
change from below, as well as to the wishes of the politically and
economically dominant. But to be able to wield legal discourses
with facility and authority or to pay others (lawyers, legislatiors,
lobbyists, etc.) to wield them on your behalf is a large part of what
it means to possess power in society.”56
56
Robert W. Gordon, “Critical Legal Studies,” Dalam: John Arthur dan William H. Shaw
(eds.), 177-178.
24
Oleh karenanya pendidikan hukum di Indonesia perlu dirancang
untuk menghasilkan para sarjana hukum yang tidak saja paham dalam
masalah teori tetapi mampu mempraktekkan pengetahuan mereka.57
Kelemahan para juru runding dan perancang perjanjian internasional
dari Indonesia adalah kelihaian untuk melakukan perundingan dan
perancangan itu sendiri. Apabila dibandingkan dengan rekan-rekan
mereka dari luar negeri, jelas mereka jauh tertinggal. Di sinilah arti
penting memotivasi dan menekankan pada para mahasiswa untuk
memiliki kelihaian yang dibutuhkan. Selanjutnya, kurikulum pendidikan
hukum di Indonesia harus diorientasikan untuk menghasilkan sarjana
hukum yang memiliki percaya diri yang tinggi. Pengajar harus
meninggalkan proses belajar mengajar dengan metode hapalan dan
menggantinya dengan metode legal reasoning yang didasarkan pada
penelitian. Dari pengalaman saya mengajar perancangan kontrak,
sungguh sangat memprihatinkan lulusan sarjana hukum dalam
menerapkan ilmunya ke dalam pembuatan kontrak. Mereka kurang
mampu dalam menerapkan ilmu yang didapat dibangku kuliah, apalagi
melakukan riset sebelum kontrak dibuat.
Lebih lanjut saya ingin menekankan pentingnya penguasaan bahasa
Inggris. Bagi para mahasiswa, bahasa Inggris merupakan suatu
keharusan. Penguasaan bahasa Inggris dewasa ini tidak cukup sekedar
Sebenarnya hal ini disebabkan perbedaan pendidikan hukum yang mendasar antara
Indonesia dengan Amerika Serikat. Di Amerika, pendidikan hukum disebut sebagai “school”
karena di sana pendidikan hukum dianggap sebagai professional school. Sebagai professional school maka pendidikan ditujukan untuk melahirkan lulusan yang mahir
menggunakan hukum. Persyaratan untuk masuk ke law school adalah calon mahasiswa
harus memiliki ilmu yang dipelajari di universitas, seperti ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu
teknik (biasanya lulus dengan bachelor degree). Sementara di Indonesia seperti kebanyakan
negara di Eropa memperlakukan pendidikan hukum sebagai ilmu sehingga yang
menyelenggarakan pendidikan hukum disebut “fakultas” atau “faculty.” Lulusan fakultas
hukum tidak diharuskan untuk memasuki profesi-profesi tradisional hukum. Menurut hemat
saya pendidikan hukum di Indonesia sedang berada di dalam persimpangan. Apakah akan
mejadi professional school atau tempat untuk mendalami ilmu hukum.
57
25
digunakan untuk membuka wawasan tetapi harus sudah berada dalam
tahap digunakan untuk mengartikulasi pendapat dalam bernegosiasi
dan membuat perjanjian internasional. Penguasaan bahasa Inggris yang
demikian bukan hal yang mustahil. Dengan adanya kemajuan teknologi,
seperti satelit dan internet para mahasiswa dapat membiasakan diri
untuk menggunakan bahasa Inggris layaknya native speaker. Peran
universitas dan fakultas adalah memfasilitasi para mahasiswa agar
diberi kesempatan dalam menggunakan bahasa Inggris yang mereka
kuasai. Contohnya adalah apa yang telah dirintis oleh Fakultas Hukum
UI dengan mengadakan kuliah bersama melalui video conferencing
dengan University of South Carolina di Amerika Serikat. Fakultas
Hukum UI juga telah merintis dan kemudian menjadikannya kegiatan
tetap untuk mengirim mahasiswa ke forum-forum kompetisi peradilan
semu (moot court competition) di luar negeri. Para mahasiswa sudah
tiga kali berpartisipasi dalam Asia Cup di Jepang dan satu kali mengikuti
Phillip Jessup Moot Court Competition di Amerika Serikat.
Para Undangan yang Terhormat
Sampailah saya pada penghujung pidato saya. Dalam kesempatan
ini perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih ke berbagai pihak.
Pertama tentunya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para
guru sejak saya mulai menjalani taman kanak-kanak hingga ke jenjang
perguruan tinggi yang telah membukakan wawasan saya terhadap
berbagai hal. Terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Ibu
Sri Rahayu guru Kimia saya pada waktu di SMA yang melihat potensi
saya yang tidak sesuai dengan penjurusan saya namun terus mendorong
saya walaupun tahu bahwa nilai yang saya dapatkan selalu jelek. Harus
saya akui secara jujur bahwa pada masa menjalani SMA di Jakarta
nilai yang saya peroleh pasti ‘merah’ dan bagi mereka yang mengenal
saya di SMA tentunya tidak akan percaya dengan apa yang saya
26
capai hari ini. Apa yang saya alami sebenarnya merupakan kelemahan
terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Pertama adalah murid terlalu
cepat untuk dijuruskan (mengingat saya murid pindahan dari luar negeri).
Kedua sistem pengajaran yang sangat menekankan pada pemberian
materi secara sepihak oleh guru. Murid tidak dirangsang dan dimotivasi
untuk menyukai pengetahuan yang diajarkan.
Selanjutnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para
pihak yang telah mendorong karier saya sebagai dosen di Fakultas
Hukum UI. Saya sungguh bersyukur karena selama meniti karier di
Fakultas Hukum saya bertemu dengan banyak pihak yang sangat
memperhatikan dan mau mengeksploitasi potensi yang saya miliki. Tanpa
mereka potensi yang saya miliki hanyalah potensi. Untuk itu perkenankan
saya mengenang dan mengucapkan terima kasih kepada almarhum Ibu
Estiana Hermina atau yang lebih dikenal dengan Ibu Dhenok. Beliau
adalah pendorong saya diawal karier sebagai pengajar. Saya belajar
banyak dari Ibu Dhenok, utamanya disiplin Belandanya dalam bekerja
dan melakukan pekerjaan.
Saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada
Prof. Erman Rajagukguk yang saya biasa panggil dengan sebutan
“Abang.” Pertama kali saya bertemu dengan Bang Erman adalah
sewaktu beliau kembali dari belajar di Amerika Serikat pada tahun
1988. Bang Erman-lah yang tidak henti-hentinya mengingatkan untuk
mengutamakan penyelesaian pendidikan akademis dalam berkarier
sebagai pengajar. Sewaktu saya berada di Jepang, Abang yang satu ini
sempat berkunjung dan meminta saya untuk meneruskan studi ke jenjang
yang lebih tinggi, walaupun dari saya ada kekhawatiran perkuliahan di
Indonesia akan terganggu. Kekhawatiran itu beliau sanggah dengan
mengatakan, “fakultas hukum tidak akan runtuh dengan tidak adanya
kamu.” Selanjutnya, Bang Erman pula yang mengingatkan saya agar
segera menyelesaikan program S-3 saya dengan kata-kata yang selalu
27
saya ingat, “anyone can be a lawyer, but not every lawyer can be a
Doctor.” Setelah akhirnya mendapatkan gelar Doktor, kembali Bang
Erman memanas-manasi saya dengan mengatakan “anyone can be a
Doctor, but not every Doctor can be a professor.” Bahkan ketika
saya ragu dan hampir putus asa untuk dicalonkan sebagai guru besar,
beliau mengatakan bahwa, “jangan pikir guru besar untuk dirimu sendiri
tetapi pikir untuk institusi.” Memang benar ungkapan beliau itu, kita
menjadi guru besar selain ada kebanggaan bagi diri sendiri tetapi jauh
lebih penting adalah bagi institusi. Sebagai institusi, Fakultas Hukum UI
akan dilihat dari berapa jumlah dosen yang berpendidikan S-2, S-3 dan
jumlah pengajar dengan jabatan guru besar. Apalagi kalau kita menetapkan fakultas hukum di luar negeri sebagai saingan UI. Prof. Erman
tidak saja mendorong dan memotivasi saya, tetapi lebih dari itu, beliau
memberi kesempatan bagi saya untuk tampil sebagai pembicara dalam
berbagai seminar, meminta saya untuk menjadi pengajar dan instruktur
dalam berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan, sehingga
selain kum (angka kredit) terkumpul, dapur pun mengepul. Bahkan
Prof. Erman memantau karier saya secara langsung dan dekat hingga
saya sampai pada mimbar yang terhormat ini. Untuk segala yang telah
Abang berikan, saya tidak mungkin bisa membalas budi Abang, kecuali
berjanji untuk ikut dalam ajakan Abang untuk menghasilkan ‘gihik (nama
kecil saya)-gihik” baru.
Perkenankanlah saya di sini mengucapkan terima kasih saya
kepada Prof. Mochtar Kusuma Atmadja yang pada suatu ketika saya
diberi kesempatan untuk berhubungan secara dekat dengan beliau.
Beliaulah yang menasehati saya untuk mempunyai rencana hidup karena
manusia hidup hanya sekali.
Saya juga ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan
kepada Bapak Rektor, Prof A. Budi Santoso yang telah membantu dan
mendorong penyelesaian studi S-3 saya dan memberi kesempatan yang
28
luas kepada saya dalam berbagai hal. Demikian pula dengan para
mantan rektor, Prof. Sujudi dan Prof. M.K. Tadjudin yang telah memberi
kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi S-2 di Jepang.
Saya ingin menyampaikan terima kasih saya kepada Prof. Sidik
Suraputra, Prof Sri Setianingsih Suwardi dan Bapak Suwardi, seniorsenior saya di bagian hukum internasional.
Selanjutnya saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada
para mantan dekan, Prof. Mardjono Reksodiputro, Prof. Charles
Himawan, dan Prof. Girindro Pringodigdo. Kepada dekan, Bapak Abdul
Bari Azed, saya tak lupa menyampaikan penghargaan saya karena
telah ‘berani’ mengusulkan saya sebagai guru besar semoga saya
tidak mengecewakan Bapak. Beliau-beliau sangat membantu kemajuan
karier saya di fakultas. Bahkan sebagai staf Prof. Mardjono sewaktu
beliau mejadi dekan, saya mendapat pengalaman untuk bekerja secara
teliti dan memahami rumitnya mengelola fakultas. Beliau juga yang
mengirim saya belajar ke Jepang, kata beliau ketika itu“sehingga staf
kita tidak berorientasi hanya pada Amerika dan Eropa.” Sementara
Prof. Charles telah banyak memberi pandangan-pandangan beliau pada
saya sebagai akademisi sejati.
Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih saya
kepada Prof. Tahir Azhary yang secara diam-diam mengikuti
perkembangan saya dan memberi kesempatan bagi kemajuan karier
saya di fakultas.
Kepada Dr. Harkristuti Harkrisnowo, Dr. Jufrina Rizal, Mas Adijaya
Yusuf, Bang Akhiar Salmi dan Adik saya Melda Kamil ucapan terima
kasih saya tujukan kepada mereka. Melalui diskusi dan hubungan kakakadik, saya telah mendapat berbagai keuntungan dari mereka hingga
saya bisa berada di mimbar yang terhormat ini. Demikian pula dengan
senior saya yang dahulu pernah menjadi penasehat akademis saya
ketika mahasiswa, Mbak Retno Murniati, dan senior yang mendorong
29
saya untuk berkarier sebagai dosen, Ibu Sri Mamudji, saya sampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih. Tak lupa saya ucapkan terima
kasih secara khusus kepada rekan Kurnia Toha yang mempunyai visi
jangka panjang dalam mengembangkan Fakultas Hukum UI.
Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mendalami dunia
praktek. Kepada Bapak Kaligis saya sungguh berterima kasih atas
kesempatan yang diberikan untuk menyelami kehidupan pengacara.
Kepada para senior partners Lubis, Ganie, Surowidjojo Law Firm
saya juga ingin menyampaikan terima kasih, utamanya kepada Mas
Arief T. Surowidjojo yang ketika saya bekerja di situ, beliau menjadi
atasan langsung saya. Kelihaian dan profesionalisme beliau sebagai
lawyer menjadi teladan bagi saya untuk menyelami kehidupan sebagai
konsultan hukum. Selanjutnya perkenankanlah saya mengenang dan
menyampaikan terima kasih kepada Bapak Parulian Sidabutar, mantan
Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, yang telah
membuka kesempatan dan memberikan kepercayaan pada saya untuk
menduduki jabatan penting dalam birokrasi.
Selanjutnya saya ingin mengungkapkan rasa terima kasih saya
kepada para sahabat dekat saya. Kepada rekan saya Gatot Subagio,
Mirza Karim, Hendri DS Budiono, Heri Fuad dan Ahmad Fikri Assegaf
saya mengucapkan terima kasih anda atas persahabatan selama ini
dan di masa yang akan datang.
Terakhir saya ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga
saya. Pertama tentunya kepada kedua orang tua saya, Juwana dan Siti
Aisjah Juwana. Kepada Ibu yang telah melahirkan saya dan kepada
ayah yang telah meyakinkan pentingnya makna pendidikan. Di suatu
malam saya masih teringat akan cerita ayah saya bahwa jangan sampai
putaran roda berlaku di keluarga. Anak-anak diminta untuk
mempertahankan apa yang telah dicapai oleh generasi pendahulu.
20
Memang dalam keluarga yang sudah mapan, mempertahankan apa
yang sudah ada lebih sulit. Apabila tidak hati-hati kemapanan cenderung
mengarah pada kejatuhan. Beliau juga yang mengarahkan secara
persuasif agar saya mengambil ilmu hukum sebagai ilmu yang saya
geluti dan ternyata arahan tersebut tidak salah. Bahkan, beliau tidak
terlalu antusias dengan keinginan saya bekerja di Departemen Luar
Negeri, karena “kalau baik akan dikira karena ada Bapak di situ, tapi
kalau jelek akan merusak nama Bapak.” Ternyata saran beliau benar,
justru saya dengan menjadi dosen dapat mengekspresikan diri saya
tanpa beban ketergantungan pada nama besar beliau.
Hidup sederhana juga menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Sebagai anak seorang diplomat, bahkan duta besar, status tersebut
tidak berdampak pada cara hidup anak-anaknya. Ayah selalu memantau
setiap kemajuan hidup yang dicapai oleh anak-anaknya. Ia tidak pernah
jemu-jemu berperan sebagai lawan diskusi. Bahkan pada saat penulisan
pidato pengukuhan ini, beliau masih sempat mengatakan, “bawa sini
biar saya periksa dulu,” suatu pernyataan dari seorang ayah yang tidak
menghendaki kegagalan dari anaknya. Terus terang saya mendambakan
prosesi ini untuk terjadi, karena bagi saya tidak ada barang di dunia ini
yang mampu saya beli yang ayah saya tidak mampu membelinya.
Perkenankanlah saya mempersembahkan upacara kebesaran ini untuk
Ayah saya sebagai ungkapan rasa terima kasih saya. “Pak, terima
kasih.”
Selanjutnya, ucapan terima kasih juga ingin saya sampaikan kepada
kedua mertua saya Bapak Soemarno dan Ibu Iim Halimah. Demikian
pula kepada para kakek dan nenek saya. Bapak Soedjalmo yang pada
usia 97 tahun menyempatkan datang ke Jakarta walaupun tidak dapat
menghadiri upacara hari ini dan almarhum Ibu Suripni. Demikian pula
dengan almarhum Bapak Roeslan Tjakraningrat, yang pernah menjadi
Gubernur pertama untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Ibu
31
Hatimah. Sungguh saya bangga mempunyai mereka semua.
Kepada istri tercinta, Nenden Esty Nurhayati, saya mengucap
syukur ke hadirat illahi karena mempertemukan saya dengan dia. Saya
ucapkan terima kasih atas kesabarannya dan kepercayaannya agar
suaminya dapat menjalani profesi sebagai pengajar. Pengorbanan istri
saya tidak hanya terbatas pada kesabaran tetapi secara nyata telah
menggantikan peran saya sebagai pencari nafkah di kala saya tidak
mempunyai penghasilan yang berarti karena menjalani sekolah di luar
negeri. Istri saya dapat diibaratkan sebagai penambang. Pada waktu
bertemu untuk pertama kali dengan saya dan kemudian melanjutkan ke
jenjang pernikahan ia saya anggap telah mengambil risiko yang sangat
besar. Sebagai dosen banyak gadis yang tidak melihat suatu kehidupan
yang menjanjikan. Sekarang saya telah membuktikan padanya bahwa
risiko yang diambil ternyata tidak sia-sia. Demikian juga kepada anakanakku, Ogi Pratama Juwana, Tannia Meisa Juwana dan Afira Diara
Juwana, Papa sangat berterima kasih atas pengertian kalian karena
waktu kalian sering Papa ambil untuk mengajar, menulis dan melakukan
penelitian. Pernah Ogi, si sulung, pada usia 3 tahun bertanya pada
saya, “Papa ngapain kok sibuk banget?” Jawaban saya ketika itu
“Mencari uang.” Lalu ia jawab, “Memangnya hilang dimana Pa?”
seolah ingin ikut membantu mencarikan karena tidak rela ditinggal
ayahnya. Kepada anak-anakku Papa dan Mama tentunya berharap
kalian bertiga dapat menjadi anak-anak yang saleh, taat pada agama
dan berguna bagi bangsa dan negara. Semoga papa dan mama berhasil
mendidik kalian seperti Grandpa dan Meme.
Para Hadirin sekalian
Akhirul kata, tidak lupa saya mengucapkan beribu terima kasih
atas kehadiran para hadirin sekalian dalam prosesi ini. Apa yang saya
capai di sini bukanlan life time achievement bagi saya. Saya harus
32
membuktikan pada para hadirin dan masyarakat luas bahwa saya mampu
mengemban jabatan mulia ini dengan terus mengajar, meneliti dan
menghasilkan karya-karya ilmiah saya. Untuk itu saya mohon do’a dan
restu para hadirin sekalian.
Wabillahi al-Taufiq wal-Hidayah
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
DAFTAR PUSTAKA
I. Buku dan Jurnal
Arthur, John dan William H. Shaw (eds.), Reading in the Philosophy of
Law, 2nd ed. (New Jersey: Prentice-Hall, Inc, 1984).
Bulajic, Milan, Principles of International Development Law, 2nd ed.
(Dordrecht: Martinus Nijhoff, 1992).
Allot, Philip, Theory and International Law: An Introduction (London:
The British Institute of International and Comperative Law).
Cassese, Antonio, International Law in a Divided World (Oxford:
Oxford University Press, 1986).
Chand, Hari, Modern Jurisprudence (Kuala Lumpur: International Law
Book Series, 1994).
Chen, Lung-Chu, An Introduction to Contemporary International Law:
A Policy Oriented Perspective, 2nd.ed. (New Haven: Yale University Press, 2000).
Churchill, R.R. dan AV Lowe, The Law of the Sea, 3rd ed. (Manchester: Manchester University Press, 1999).
Davies, Howard dan David Holdcroft, Jurisprudence: Texts and Commentary (London: Butterworth & Co., 1991).
33
34
Dell, Sidney, The United Nations and International Business (Durham:
Duke University Press, 1990).
Shaw, MN, International Law, 3rd ed. (Cambridge: Grotius Publications
Ltd., 1991).
Gill, Stephen dan David Law, The Global Political Economy: Perspectives, Problems, and Policies (Baltimore: The John Hopkins University Press, 1988).
Snyder, Frederick E. dan Surakiart Sathiratai (eds.), Third World Attitudes Toward International Law—An Introduction, (The Netherlands: Martinus Nijhoff Publishers, 1987).
Henkin, Louis et. al., International Law: Cases and Materials, 3rd ed.
(Minnesota: West Publishing Co., 1993).
Sornarajah, M., The International Law on Foreign Investment (Cambridge: Cambridge University Press, 1994).
____________, International Law: Politics and Values (Dordrecht:
Martinus Nijhoff Publishers, 1995).
Starke, JG, Introduction to International Law, 11th ed. (dipersiapkan
oleh IA Shearer), (London: Butterworth & Co. Ltd., 1994).
Houtte, Hans van, The Law of International Trade (London: Sweet &
Maxwell, 1995).
Trebilcock, Michael J. dan Robert Howse, The Regulation of International Trade, 2nd ed., (New York: Routledge, 1999).
John Jackson, The World Trading System and the Policy of International Economic Relations (Cambridge: The MIT Press, 1991).
Verzijl, JH, International Law in Historical Perspective (Leyden: Sijthoff,
1968).
Levi, Werner, Contemporary International Law, 2nd ed. (Boulder:
Westview Press, 1991).
Wallace, Rebecca MM, International Law, 2nd ed. (London: Sweet &
Maxwell, 1992).
Mander, Jerry dan Edward Goldsmith, The Case Against the Global
Economy and for a Turn Toward the Local (New York: Sierra
Club Books, 1996).
White, N.D., The Law of International Organisations, (Manchester:
Manchester University Press, 1996).
Muchilinski, Peter, Multinational Enterprises and the Law, (Oxford:
Blackwell Publishers Ltd., 1995).
Nussbaum, Arthur, A Concise History of the Law of Nations, edisi
revisi (New York: The MacMillan Co., 1958).
35
Williams, Sylvia Maureen, “The Law of Outer Space and Natural
Resources,” 36 International and Comparative Law Quarterly,
(1987).
Yusuf, Abdulqawi, Legal Aspects of Trade Preferences for Develop36
ing States: A Study in the Influence of Development Needs on the
Evolution of International Law (The Hague: Martinus Nijhoff Publishers, 1982).
Agreement on Trade-Related Investment Measures (TRIMs)
Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights
(TRIPs)
Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights,
including Trade in Counterfeit Goods
Bahan Internet
“Doha Ministerial Meeting 2001: Trade and Labour Standards—A
Difficult Issue for many WTO Governments” http://www-svca.wtoministerial.org/english/thewto_e/minist_e/min01_e/brief16_e.html
“Doha Ministerial Meeting 2001: Transparency in Government Procurement,” http://www-scva.wto-ministerial.org/English/thewto_e/
minist_e/min01/brief14_htm
“Doha Ministerial Meeting 2001: Trade and Services,” http://wwwscva.wto-ministerial.org/English/thewto_e/minist_e/min01/
brief106_htm
“Doha Ministerial Meeting 2001: Transparency in Government Procurement,” http://www-scva.wto-ministerial.org/English/thewto_e/
minist_e/min01/brief14_htm
Agreement for Protection of Appellations of Origin and their International Registration
Agreement Governing the Activities of States on the Moon and Other
Celestial Bodies.
Convention Establishing the Multilateral Investment Guarantee Agency,
dan Agreement on Trade Related Investment Measures
Convention for the Protection of Industrial Property, Agreement concerning International Registration of Marks
Convention concerning International Deposit of Industrial Designs
Convention on the Settlement of Investment Disputes between States
and Nationals of Other States
General Agreement on Tariffs and Trade
United Nations Convention on the Law of the Sea
“Special and Differential Treatment,” http://www.wto.org/english/
thewto_e/whatis_e/eol/e/wto01/wto01/wto1_17.htm
Charter of Economic Rights and Duties terdapat dalam Resolusi Majelis
Umum PBB A/3281 (XXIX) tertanggal 12 Desember 1976
Declaration of Principles Governing the Sea Bed and Ocean Floor, and
the Subsoil Thereof, beyond the Limits of National Jurisdiction, Resolusi
Majelis Umum PBB No. 2749
Dokumen
Agreement Establishing the World Trade Organisation
UN-Draft Code of Conduct on Transnational Corporations dalam UN
Doc. E/1988/39/Add. 1 tertanggal 1 Februari 1988.
Agreement on Agriculture
37
38
c.
RIWAYAT HIDUP
I. Data Pribadi
Nama
:
Tempat dan Tangal Lahir:
Nomor Induk Pegawai :
Jabatan
:
Pangkat
:
Golongan
:
Istri :
Anak
:
Alamat
:
SMA
• Hillcrest High School, New York (1980-1981).
• SMA VI, Jakarta (1981-1983).
2. Pendidikan Tinggi
a. Sarjana Hukum (SH) dari Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (1983-1987).
b. Master of Law (LL.M) dari Keio University, Jepang
(1990-1992).
c. Mengikuti satu semester pada Program Pascasarjana
S-3 Universitas Indonesia (1992).
d. Doctor of Philosophy (Ph.D) dari University of Nottingham, Inggris (1993-1997).
e. Mengikuti satu semester dari tiga Semester Master in
Public Policy pada National University of Singapore,
Singapura (1998).
Hikmahanto Juwana
Jakarta, 23 November 1965
131 796 086
Guru Besar Fakultas Hukum UI
Penata Tingkat I
III/d
Nenden H. Juwana
1. Ogi Pratama Juwana
2. Tannia Meisa Juwana
3. Afira Diara Juwana
Perumahan Graha Mutiara
Blok I No. 7 Pengasinan,
Bekasi Timur (17115)
3. Pendidikan Tambahan
a. Pendidikan Bahasa Jepang pada International Center, Keio
University, Jepang (April 1989-April 1990).
b. Pendidikan dan Pelatihan bagi Profesi Penunjang untuk
Konsultan Hukum Pasar Modal Angkatan V (Juni 1996).
c. Pelatihan “Legislative Drafting” yang diselenggarakan oleh
International Legislative Institute, The Public Law Center, New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat, Juni 2000.
d. Workshop on Competition Law yang diselenggarakan oleh
USAID, Juni 1998.
e. Workshop on Competition Law and Policy: Cross Country Approaches and Experiences yang diselenggarakan
oleh World Bank Institute dan Singapore Cooperation
Programme, Ministry of Foreign Affairs, Singapore di
Singapura 14-20 Mei 2000.
II. Latar Belakang Pendidikan
1. Pendidikan Dasar dan Menengah
a. SD
• Sekolah Indonesia di Phnom Penh, Kamboja (19711973).
• Sekolah Indonesia di Bangkok, Thailand (1973-1974).
• SD Katholik Krida Dharma, Blora, Jawa Tengah
(1974-1975).
• SD Tegal Parang Pagi, Jakarta (1975-1976).
b. SMP
• Sekolah Indonesia Singapura, Singapura (1976-1978).
• Russel Sage Junior High School, New York (19781980).
39
40
III. Pengalaman Kerja
•
Akademis
1. Jenjang S-1
•
•
•
•
•
•
Pengajar pada Fakultas Hukum UI untuk mata kuliah (a)
Hukum Internasional dan (b) Hukum Udara dan Angkasa
dengan jenjang jabatan sebagai berikut:
a. Asisten Ahli
(1988-1992)
b. Asisten Ahli Madya
(1992-1994)
c. Lektor Muda
(1996-1998)
d. Lektor (loncat jabatan)
(1998- 2001)
e. Lektor Kepala (inpassing)
(1 Januari 2001)
f. Guru Besar (loncat jabatan)
(Juli 2001- )
Pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI
untuk mata kuliah Hukum Internasional.
Ko-Pengajar dengan Prof. David Linnan dalam kuliah
bersama melalui video conference pada University of
South Carolina Law School, Amerika Serikat untuk mata
kuliah Public International Law.
Pengajar pada Akademi Ilmu Imigrasi untuk mata kuliah
Hukum Internasional.
Pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Moestopo untuk mata kuliah Hukum Internasional.
•
•
•
•
Program Non-Ilmu Hukum
• Pengajar pada Program Studi Ilmu Administrasi Program
Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah
Hukum Bisnis dan Hukum Perdagangan Internasional.
• Pengajar pada Program Studi Ilmu Teknik Program
Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah (a)
Hukum dalam Manajemen Proyek dan (b) Hukum
Konstruksi dan Hukum Kontrak.
• Pengajar pada Program Studi MM Program Pascasarjana
untuk Universitas Bina Nusantara untuk mata kuliah
Legal Environment dan Corporation Law.
2. Jenjang S-2
Program Ilmu Hukum
• Pengajar pada Program Pascasarjana Fakultas Hukum
UI untuk mata kuliah (a) Teori Hukum, (b) Hukum
Perdagangan Internasional dan (c) Perancangan Kontrak
Bisnis.
41
Pengajar pada Program Pascasarjana Universitas
Diponegoro (Kelas Khusus Departemen Kehakiman)
untuk mata kuliah Perbandingan Hukum Acara Arbitrase
Internasional (UNCITRAL, ICC, AAA, LCIA Rules).
Pengajar pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Jayabaya untuk mata
kuliah (a) Peranan Hukum dalam Pembangunan Ekonomi
(sampai dengan 2000) dan (b) Hukum Dagang Internasional.
Pengajar pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Islam Indonesia untuk
mata kuliah Hukum Perdagangan Internasional.
Pengajar pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Surabaya untuk mata
kuliah Kontrak Bisnis Internasional.
Pengajar pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Pancasila untuk mata
kuliah Teori Hukum.
Pembimbing dan Penguji pada Program Studi Magister
Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara.
42
3. Jenjang S-3
•
•
•
5. Anggota Dewan Redaksi Majalah Hukum dan
Pembangunan (1992-2000).
6. Konsultan Hukum pada Law Firm Lubis, Ganie,
Surowidjojo (Oktober 1994-Januari 1997).
7. Pembantu Asisten (eselon II/a) urusan Hak Atas
Kekayaan Intelektual pada Asisten Menko Ekuin III,
Kantor Menko Ekuin (16 Agustus 1999-Juli 2000).
8. Staf Ahli Menteri (eselon I/b) Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Bidang Hukum dan Kelembagaan (Juli
2000- Februari 2001).
9. Ketua Program Kekhususan Pascasarjana Fakultas
Hukum UI (2001-sekarang).
10. Wakil Ketua Lembaga Studi Hukum dan Ekonomi (1999sekarang).
11. Ketua Partnership for Business Competition (PBC)
(1999-sekarang).
12. Anggota Dewan Pakar Departemen Kehakiman (2001sekarang).
Pengajar pada Program Studi Ilmu Hukum Program
Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah
Teori Hukum pada Program Pascasarjana S-3 Universitas Indonesia.
Ko-promotor dan penguji pada Program S-3 Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
Salah satu Pengajar untuk mata kuliah Teori Hukum pada
Program Pascasarjana S-3 Universitas Islam Indonesia.
4. Pendidikan Lanjutan/Pelatihan
•
•
Instruktur untuk Perancangan Kontrak (Contract Drafting) pada berbagai lembaga pendidikan lanjutan di
lingkungan universitas maupun lembaga pendidikan
swasta.
Narasumber Hukum Persaingan pada berbagai lembaga
yang terkait dengan hukum persaingan.
III. Penguasaan Bahasa Asing
1. Inggris
2. Jepang
Non-Akademis
1.
2.
3.
4.
Asisten Pengacara pada Kantor Pengacara OC Kaligis,
SH & Associates (1986-1987).
Staf pada Sekretariat Pimpinan Fakultas Hukum UI (19871988).
Guru SMP dan SMA (paruh waktu) pada Sekolah
Republik Indonesia Tokyo (SRIT) (1991-1992).
Staf Peneliti pada Pusat Studi Wawasan Nusantara (Mei
1992-September 1993).
43
IV. Tulisan yang Dipublikasikan
Dalam Bentuk Buku
1. “The Liberalization of Foreign Trade and Investment, and the
Competition Law and Policy in Indonesia,” dalam Competition Law and Policy in Indonesia and Japan, Joint Research
Project on Supporting Economic Structural Reforms in Asian
44
Countries, Institute of Developing Economies Japan External
Trade Organization, Maret 2001.
2.
“A Survey on the Influence of International Economic Policy
on Indonesian Laws: Implementation and Problems,” dalam
Naoyuki Sakumoto dan Koesnadi Hardjasomantri (ed.) Current Development of Laws in Indonesia, Institute of Developing Economies Japan External Trade Organization, 1999.
3.
“An Overview of Indonesia’s Antimonopoly Law” dalam
Jurnal Hukum Washington University at St. Louis, Amerika
Serikat (segera terbit).
4.
“Foreign Intervention” dalam Jurnal Hukum Transnational Law
and Business University, Korea (segera terbit).
Jurnal/Majalah Nasional
3.
“Persaingan Usaha dan Hukum yang Mengaturnya di Indonesia,” editor bersama Ayudha D. Prayoga, Hamid Chalid,
Laode Syarif, Syarifuddin dan Ningrum Natasya Sirait, 2000.
1.
“Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Pembentukan
Hukum Angkasa,” dimuat dalam Majalah Hukum dan
Pembangunan, No. 5 Tahun XVIII, Oktober 1988.
4.
“Pertahanan Negara dalam Perspektif Hukum Internasional”
diterbitkan oleh Badan Penerbit Fakultas Hukum UI (segera
terbit).
2.
“Masalah Penafsiran terhadap Pasal 9 Konstitusi Jepang,”
dimuat dalam Majalah Hukum dan Pembangunan, Nomor 3
Tahun XXII, Juni 1992.
3.
“Tinjauan Hukum Organisasi Internasional terhadap Perbedaan
Status Subsidiary Organs dan Specialized Agencies Perserikatan Bangsa-Bangsa,” Majalah Pro Justitia, Tahun X Nomor
4, Oktober 1992.
4.
“Studi Awal tentang Perjanjian Internasional yang Bertentangan,” dimuat dalam Majalah Hukum dan Pembangunan,
Nomor 6 Tahun XXII, Desember 1992.
5.
“Perilaku Pengusaha Jepang terhadap Hukum,” dimuat dalam
Majalah Newsletter, No. 11/III, Desember 1992.
6.
“Perluasan Ruang Lingkup Hukum Angkasa,” dimuat dalam
Majalah UNISA, Nomor 18, Tahun XIII Triwulan 3, 1993.
Dalam Bentuk Jurnal/Majalah/Koran
Jurnal Internasional
1.
2.
“Japan’s Defence Conception and Its Implication for Southeast Asia,” dimuat dalam majalah The Indonesian Quarterly,
Vol. XXI. No. 4, Fourth Quarter, Centre for Strategic and
International Studies, 1993.
“Intelectual Property Protection in Asia,” bersama Asti
Soekanto dimuat dalam Asia Business Law Review, No. 10,
Oktober 1995.
45
46
7.
8.
9.
Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Timor-Timur,” dimuat
dalam Majalah Mimbar Hukum, No. 34/II/2000.
“Dampak dari Konflik Perdagangan antara Amerika Serikat
dan Jepang terhadap Tatanan Perdagangan Internasional:
Analisa Hukum Berdasarkan Kesepakatan GATT/WTO,”
dimuat dalam Majalah Newsletter, No. 22/VI, September 1995.
15. “Kontrak Bisnis yang berdimensi Publik,” dimuat dalam Jurnal
Magister Hukum, Vol. 2 No. 1, Februari 2000.
“Masalah Status BUMN pada Persero yang telah ‘Go Public’,” dimuat dalam Majalah Newsletter, Nomor 31/Tahun VIII,
Desember 1997.
16. “Hukum Telematika dan Perkembangan E-Commerce di Indonesia,” dimuat dalam Majalah Newsletter, No. 44, Maret
2001.
“Analisa Ekonomi atas Hukum Perbankan,” dimuat dalam
Majalah Hukum dan Pembangunan, Nomor 1-3 Tahun XXVIII,
Januari-Juni 1998.
Majalah Populer/Koran
1.
“Masyarakat Jepang Tak Perlu Hukum?” dimuat dalam
Majalah Forum Keadilan, Nomor 28, Maret 1991.
2.
“Renungan terhadap Eksistensi Hukum Kita,” dimuat dalam
Koran Media Indonesia, 24 Juni 1992.
3.
“Eksklusivitas vs Persaingan dalam UU Telekomunikasi,”
dimuat dalam Majalah dotNET, Edisi 2, 25 Juli – 7 Agustus
2000.
4.
“Memorandum of Understanding,” dimuat dalam Majalah Forum Keadilan, No. 38, 24 Desember 2000.
13. “Merjer, Konsolidasi dan Akuisisi dalam Perspektif Hukum
Persaingan dan UU No. 5 Tahun 1999,” dimuat dalam Majalah
Newsletter, No. 38/X, September 1999.
5.
“Menolak Peradilan Internasional,” dimuat dalam Majalah
GARDA, No. 47/Th. II, 24-30 Januari 2000.
14. “Beberapa Masalah Hukum Internasional dari Dugaan
6.
“Intervensi Pihak Asing,” dimuat dalam Harian Suara
Pembaharuan, 8 Maret 2000.
10. “Sekilas tentang Hukum Persaingan dan Undang-undang No.
5/1999,” dimuat dalam Jurnal Magister Hukum, Vol. 1 No. 1,
September 1999.
11. “Mahkamah Pidana Internasional,” dimuat dalam Jurnal
Hukum, Nomor 11 Vol. 6/1999.
12. “Menyambut Berlakunya UU No. 5 Tahun 1999: Beberapa
Harapan dalam Penerapannya oleh Komisi Pengawas
Persaingan Usaha,” dimuat dalam Majalah Hukum dan
Pembangunan, No. 4 Tahun XXXIX, Oktober-Desember 1999.
47
48
7.
“Peradilan Nasional bagi Pelaku Kejahatan Internasional,”
dimuat dalam Harian Kompas, 17 Februari 2000.
8.
“Urgensi Pengaturan Arbitrase dalam UU Pasar Modal”
dimuat dalam Jurnal Hukum Bisnis, vol. 15, September 2001.
9.
“Aspek Penting Pembentukan Hukum Teknologi Informasi,”
dimuat dalam Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 17, November 2001.
4.
Economic Legal Infrastructure and Corporate Governance:
The Indonesian Experience, disampaikan pada Symposium
on Corporate Governance and Economic Legal Infrastructure
in the 21st Century: Is Corporate Governance Delivering
Value?, yang diselenggarakan oleh Jetro dan Insead, di
Singapura, 12 Juni 2001.
5.
An Overview of Indonesia’s Antimonopoly Law, yang
diselenggarakan oleh APEC Competition Policy and Economic
Development bekerjasama dengan Center for Global Partnership dan the Institute of Comparative Law in Japan, Chuo
University di Tokyo, Jepang 5-7 Juli 2001.
6.
International Law Teaching in Indonesia, disampaikan pada
Conference on the Teaching & Research of International
Law in Asia, diselenggarakan oleh Singapore International
Law Society dan Development of International Law in Asia,
di Singapura, 30-31 Juli 2001.
7.
The Legal Infrastructure for Trade and Investment in Indonesia, disampaikan pada ASEAN International Law Conference, yang diselenggarakan oleh Asia-Europe Institute, University of Malaya di Kuala Lumpur, Malaysia, 3-4 September
2001.
V. Pertemuan Ilmiah (selaku pembicara)
Internasional
1. The Ideal Philosophy of Education in Indonesia and The
Present Situation, disampaikan pada The Asia-Pacific Education Conference, yang diselenggarakan The Asia-Pacific
Educational Conference, Tokyo, 7 Agustus 1991.
2.
3.
The UN Peacekeeping Operations Experience from Indonesia, disampaikan pada Seminar on Legal Aspect of Peacekeeping Operations, yang diselenggarakan oleh The Japan
Institute of International Affairs, 20-22 Februari 1996.
Developing Business Curricula at the Faculty of Law:
The Indonesian Experience, disampaikan pada Cambodia
Law and Business Curriculum Conference, yang
diselenggarakan oleh The University of San Francisco Law
School, Cambodian Law and Democracy Project, The Public
Affairs Office: U.S. Embassy, The National Institute of Management of Cambodia and The Faculty of Law and Economics of Cambodia, di Phnom Penh 15-17 Desember 1999.
49
Ilmiah Nasional (sebagian)
1.
50
Distributionship and Intellectual Property Rights Consideration in Investing in Indonesia, disampaikan pada Seminar on Joint Ventures in Indonesia, diselenggarakan oleh Center for Management Technology, 3 Maret 1997.
2.
Pemikiran Jepang tentang Pertahanan dan Implikasinya
bagi Asia Tenggara, disampaikan pada Seminar Sehari
mengenai Peningkatan Pembelian Senjata, ZOPFAN dan
Stabilitas Politik di Asia Tenggara, diselenggarakan oleh Center
for Strategic and International Studies (CSIS) bekerjasama
dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar
Negeri Departemen Luar Negeri, 13 April 1993.
3.
Perlunya Undang-undang Antimonopoli: Agenda Mendesak untuk Tatanan Masa Depan Indonesia, disampaikan
pada Simposium Universitas Indonesia dengan tema
“Kepedulian Universitas Indonesia terhadap Tatanan Masa
Depan Indonesia,” diselenggarakan oleh Universitas
Indonesia, 1 April 1998.
4.
Analisis Ekonomi terhadap Hukum Perbankan, disampaikan
pada Seminar Nasional “Pendekatan Ekonomi Dalam
Pengembangan Sistem Hukum Nasional dalam rangka
Globalisasi”, diselenggarakan oleh Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional bekerjasama dengan Fakultas Hukum
Universitas Padjadjaran, 30 April 1998.
51
Download