TUGAS MATERI 9 ONLINE EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

advertisement
TUGAS MATERI 9 ONLINE
EPIDE MIOLOGI PENYAKIT MENULAR
NAMA
NELLY FARIDA RODIANAN N
NIM
2013-31-058
JURUSAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYRATAKAT
( MANAJEMEN RUMAH SAKIT )
Soal :
Jelaskan tentang rantai penularan penyakit ISPA dan jelaskan tentang riwayat alamiah serta 5
level pencegahannya
Jawapan:
A. Rantai penularan penyakit ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA adalah suatu kelompok penyakityang menyerang
saluran pernapasan. Secara anatomis ISPA dapat di bagi dalam duabagian, yaitu ISPA Atas
(Acute Upper Respiratory Infections) dan ISPA Bawah (AcuteLower Respiratory Infections).
Batas anatominya adalah suatu bagian dalam tenggorokan yang disebut epiglottis.
ISPA dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa, tetapi penting untuk memperhatikan ISPA
pada anak-anak karena penyakit ini merupakan salah satu penyebab terpenting kematian pada
anak-anak terutama pada bayi dan balita.
Salah satu ISPA Atas yang perlu diwaspadai adalah radang salurantenggorokan atau faringitis
dan radang telinga tengah atau otitis. ISPA bawah yang berbahaya adalah pneumonia. Menurut
Prof. Dr.H. Mardjanis, Sp.A(K) Infeksi Saluran Pernapasan Akutdisebabkan oleh bakteri dan
sering menyebabkan kematian pada bayi dan anak balita. Istilah ISPA yang sering di
salahtafsirkan sebagai Infeksi Saluran Pernapasan Atasdipakai sebagai pengganti istilah batukpilek biasa ( Common cold, flu, salesma ). Untuk ISPA yang lama digunakan istilah IRA (Infeksi
Respirasi Akut).
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah suatu penyakit infeksi yangmengenai saluran
pernapasan, biasanya mulai mendadak dan perlangsungan penyakitnyakurang dari 2 minggu
tetapi ada juga yang lebih dari 2 minggu dan diharapkan sembuh tanpa sekualae permanent
apapun.
ISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteri dan riketsia. Salah satu penyakit ISPAyang sering
mengenai populasi manusia di seluruh dunia adalah ‘influenza”.Influenza adalah penyakit
saluran pernapasan akut dengan demam yang disebabkan oleh virus influenza tipe A atau virus
influenza tipe B. penyakit influenza ini bersifat endemik di seluruh dunia dan epidemik di
beberapa daerah tertentu. Penularannya melalui percikan ludah (droplet injection) dan sering
diikuti komplikasiinfeksi bacterial kalau tidak dilakukan pengobatan.
Klasifikasi
Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat di bagi menjadi 3 golongan yaitu :
A. ISPA ringan
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebihgejalagejala sebagai berikut :
b) Batuk
c) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnyapada waktu
berbicara atau menangis.
d) Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung. Panas atau demam, suhu tubuh
lebih dari 37ᵒC atau jika dahi anak dirabadengan penggung tangan terasa panas.
B. ISPA sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan
disertai gejala-gejala berikut :
b) Pernapasan >50 kali per menit pada anak yang berumur > 1 tahun atau > 40kali per menit pada
anak yang berumur 1 tahun atau lebih.
c) Suhu tubuh lebih dari 39ᵒC.
d) Tenggorokan berwarna merah.
e) Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak.
f) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
g) Pernapasan berbunyi seperti mendengkur atau mencuit-cuit.Dari gejala-gejala ISPA
sedang, perlu berhati-hati jika anak menderita ISPAringan sedangkan suhu tubuhnya lebih
dari 39ᵒC atau gizinya kurang baik,atau umurnya ≤ 4 bulan, maka anak tersebut menderita
ISPA sedang danharus mendapat pertolongan dari petugas kesehatan.
C. ISPA berat
Seorang anak dinyatakan menderita ispa berat jika dijumpai gejala-gejala ISPAringan atau
ISPA sedang disertai gejala berikut :
b) Bibir atau kulit membiru.
c) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas.
d) Kesadaran menurun.
e) Pernapasan berbunyi berciut-ciut dan anak tampak gelisah.
f) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas.
g) Nadi cepat, lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
h) Tenggorokan berwarna merah.Penderita ini harus dirawat di puskesmas atau rumah sakit,
karena perlumendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan atau
cairaninfus.C.
Epidemiologi
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak. Episode penyakit batuk pilek padabalita di
Indonesia perkirakan 3-6 kali per tahun ( rata-rata 4 kali per tahun ), artinya seorang balita ratarata mendapatkan serangan batuk pilek sebanyak 3-6 kali setahun. Dari hasil pengamatan
epidemiologi dapat diketahui bahwa angka kesakitan dikota cenderung lebih besar dari pada di
desa. Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat kepadatan tempat tinggal dan pencemaran
lingkungan di kota yang lebih tinggi daripada di desa. ISPA merupakan penyakit yng seringkali
dilaporkan sebagai 10 penyakit utamadi Negara berkembang. Di Negara berkembang, penyakit
pneumonia merupakan25% penyumbang kematian pada anak, terutama pada bayi berusia
kurang dari 2bulan. Dari Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986 diketahui
bahwamorbiditas pada bayi akibat pneumonia sebesar 42,2% dan pada balita 40,6%,sedangkan
angka mortalitas 36%.Di Indonesia angka ini dilaporkan sekitar 3-6 kali per tahun per anak,
sekitar 40-60% kunjungan berobat di puskesmas dan 15-30% kunjungan berobat jalan danrawat
inap di ruamah sakit juga disebabkan oleh ISPA. Hasil SKRT tahun 1992menunjukkan bahwa
angka mortalitas pada bayi akibat penyakit ISPA mendudukiurutan pertama (36%), dan angka
mortalitas pada balita menduduki urutan kedua(13%). Di jawa Tengah pada tahun 1999
penyakit ISPA selalu menduduki rangking 1pada 10 besar penyakit pasien rawat jalan di
puskesmas.
Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari :
Bakteri : Diplococcus pneumonia, Pneumococcus, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus
aureus, Haemophilus influenza, dan lain-lain.
Virus
: Influenza, adenovirus, sitomegalovirus
Jamur
: Aspergillus sp, Candida albicans, Histoplama, dan lain-lain.
Aspira : Makanan, asap kendaraan bermotor, BBM (bahan bakar minyak)biasanya minyak
tanah, cairan amnion pada saat lahir, benda asing(biji-bijian, mainan plastic kecil, dan lain-lain).
Disamping penyebab, perlu juga diperhatikan faktor resiko, yaitu faktor yangmempengaruhi atau
mempermudah terjadinya ISPA. Secara umum ada 3 faktoryaitu:
a) Keadaan social ekonomi dan cara mengasuh atau mengurus anak.
b) Keadaan gizi dan cara pemberian makan.
c) Kebiasaan merokok dan pencemaran udaraFaktor yang meningkatkan morbiditas adalah anak
usia 2 bulan, gizi kurang,Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), pemberian Air Susu Ibu (ASI)
tidak memadai,polusi udara, kepadatan dalam rumah, imunisasi tidak lengkap dan
menyelimuti anak berlebihan.
Faktor yang meningkatkan mortalitas adalah umur kurang dari 2 bulan, tingkatsocial
ekonomi rendah, gizi kurang, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), tingkatpengetahuan ibu
rendah, kepadatan dalam rumah, imunisasi tidak lengkap danmenderita penyakit kronis.E.
Patologi dan Gejala klinis
Bila virus masuk ke dalam pernapasan maka hanya dalam waktu 1-3 hari akan timbul gejala
penyakitnya. Gejala sistemik influenza mulainya mendadak dan disertaidemam (samapai 104
derajat Farenheit), mengigil, nyeri kepala, mialgia ( nyeri otot ), nyeri lumbosakral dan sangat
lemah. Nyeri kepala dan nyeri otot merupakan keluhanyang sangat jelas intensitasnya pararel
dengan demam yang tinggi. Demam biasanya berakhir 2-4 hari. Batuk kering, nyeri tenggorokan
dan rinorea juga ada, kurang kuat pada permulaan dan jadi lebih nyata ketika demam mengurang.
Masyarakat umur dewasa memikirkan kesengsaraan menderita influenza. Anak-anak juga
dengan mudah terinfeksi. Selama masa epidemi sebanyak sepertiga dari kunjungan poliklinik
pediatri adalah dengan gejala-gejala flu. Anak-anak sering mengalami demam yang lebih lama,
hilangnya virus lebih lama dari pada orangdewasa dan lebih mungkin terjadi pneumonia virus
influenza primer. Flu dapat sebagai pencetus asma pada anak dengan mengakibatkan jalan napas
hiperaktif danflu dapat juga mempercepat terjadinya kejang demam pada anak.
Walaupun penyakit influenza sangat melemahkan, untuk sementara ini kebanyakan kasus
sembuh dalam 1-2 minggu dan tidak meninggalkan cedera yang permanent. Namun pada
epidemi yang khas ada dua jenis komplikasi yang dapat mengakibatkan penambahan
morbidibitas influenza dan menyebabkan sebagian besar kematian yaitu : pneumonia virus
influenza primer dan pneumonia bakteri sekunder.F.
Diagnosis
Serangan influenza sering secara langsung atau selama epidemi, diagnosis biasanya dibuat atas
dasar klinis saja. Walaupun demikian, pembuktian laboratoriumlebih mempunyai manfaat. Dari
pulasan pharynx (hapusan tenggorok) dapat dibuat biakan kuman lalu diperiksa dengan
mikroskop. Jika ditemukan virus influenza tipeB maka diagnostic pasti dapat ditegakkan
sehingga dapat diberikan pengobatan yangtepat. Pemeriksaan darah juga perlu dilakukan, jika
ditemukan leukositosis (leukosi > 11.000/ml) maka biasanya sudah ada komplikasi atau infeksi
sekunder.G.
Pengobatan
Pengobatan penyakit influenza yang perlangsungannya kurang dari 2 minggu dan belum ada
komplikasi sekunder, sebagaian besar bersifat simtomatik yaitu istirahat ditempat tidur karena
kebanyakan penderita merasa sangat lelah selama beberapa haripada awal terkena penyakit dan
minum air hangat yang cukup selama terkenapenyakit. Asetaminofen atau aspirin dapat
diberikan untuk demam dan mialgia. Bilatelah terjadi komplikasi atau infeksi sekunder maka
dapat diobati dengan antibiotik yang sesuai dengan penyebab infeksi sekundernya.
Pengobatan yang dilakukan meliputi non farmakologi dan farmokologi yaitu :
a) Non Farmakolog
1. Istirahat yang cukup.
2. Konsumsi makanan yang bergizi (misalnya buah-buahan yang mengandungvitamin C
dan makanan yang kaya Zinc seperti sup ayam). Buah dan sayur dapat membantu
meningkatkan daya tahan tubuh serta mendukung penyembuhan, selain itu dapat
meningkatakan antioksidan dalam tubuhdimana antioksidan ini berfungsi untuk
menetralisir racun ( termasuk asap,debu dan polusi udara ) yang msuk ke dalam tubuh.
3. Berkumur dengan air garam atau obat kumur yang mengandung antiseptic dapat
meringankan gejala sakit tenggorokan.
4. Menghindari polusi udara.
b) Farmakolog
1. Analgesik-antipiretik untuk mengobati gejala demam seperti parasetamol dan aspirin.
2. Kombinasi dekongestan dan anti alergi untuk pilek dan flu.
Contoh : dekongestan antara lain pseudoefedrin, fenil propanolamin. Contoh anti alergi
adalah dipenhidramin.
3. Ekspektoran untuk batuk berdahak. Contoh : ammonium klorida.
4. Mukolitik untuk batuk berdahak. Contoh : ambroksol, bromheksin, gliserilgualakolat.
5. Antitusif untuk meringankan gejala batuk kering. Contoh : dekstrometorfan.
6. Antibiotik.
Antibiotik tidak disarankan untuk ISPA yang disebabkan oleh virus Karena antibiotik
tidak dapat membunuh virus. Antibiotik diberikan jika gejala memburuk, terjadi
komplikasi atau radang yang disebabkan oleh bakteri.
Antibiotik yang paling sesuai untik ISPA oleh bakteri adalah golongan penisilin
(missal : amoksilin) dan eritromisin.H.
B. Riwayat alamiah.
Faktor Agent dari penyakit ispa terbagi 3 yaitu faktor biologis, sosial dan kimiawi.
a. Faktor biologis : perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup)
yang bersangkutan,bakteri,virus.
b. Faktor sosial : kurangnya perhatian masyarakat terhadap lingkungan dan kesehatan
anaknya.
c. Faktor kimiawi : cuaca, debu, radiasi, dll.
Riwayat alamiah penyakit ispa.
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa.
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah
apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan
batuk.
4. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh
dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia
C. 5 level pencegahan ISPA.
1. Primordial prevention ( pencegahan awal / tingakt dasar )
Kegiatan yang dilakukan melalui upaya tersebut adalah :
A.
Health promotion (promosi kesehatan)

Pendidikan kesehatan, penyuluhan.

Gizi yang cukup sesuai dengan perkembangan.

Penyediaan perumahan yg sehat.

Rekreasi yg cukup.

Pekerjaan yg sesuai.

Konseling perkawinan.

Genetika.

Pemeriksaan kesehatan berkala.
B.
Specific protection (perlindungan khusus )

Imunisasi.

Kebersihan perorangan.

Sanitasi lingkungan.

Perlindungan thdp kecelakaan akibat kerja.

Penggunaan gizi tertentu.

Perlindungan terhadap zat yang dapat menimbulkan kanker.
2. Primary prevention ( pencegahan tingkat pertama )
Ditujukan kepada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (health
promotion) dan pencegahan khusus (specific prevention), diantaranya:
a. Penyuluhan
Penyuluhan dilakukan oleh tenaga ksehatan dimana kegiatan in diharapkan dapat
mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan
faktor resiko terjadinya ISPA.kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit
ISPA,penyuuhan ASI eksklusif,penyuluhan gizi seimbang paa ibu dan anak,penyuluhan
kesehatan lingkungan,penyuluhan bahaya rokok.
b. Imunisasi
Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi agar anak memperoleh kekebalan
dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi yaitu DPT. Imunisasi DPT salah
satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya adalah
infeksi saluran pernafasan.
c. Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik.
 Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang
paling baik untuk bayi.
 Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.
 Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung
cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
 Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat
di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari
kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buahbuahan.
 Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui apakah
beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang
menghambat pertumbuhan.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah.
e. Program penyehatan lingkungan pemukiman (PLP) yang menangani masalah
polusi baik di dalam maupun di luar rumah. Perilaku hidup bersih dan sehat
merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya perilaku yang
tidak mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit. Perilaku ini
dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan
lingkungan sehat.
3. Secondary prevention (pencegahan tingkat ke dua)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan diagnosis
sedini mungkin.Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan ibu untuk mengatasi
anaknya yang menderita ISPA adalah :
I. Mengatasi panas (demam)
 Untuk orang dewasa, diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol.
 Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, demam diatasi dengan memberikan
parasetamol dan dengan kompres.
 Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya,
tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan.
 Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air
biasa (tidak perlu air es).
 Bayi di bawah 2 bulan dengan demam sebaiknya segera dibawa ke pusat
pelayanan kesehatan.
II. Mengatasi batuk
 Dianjurkan memberi obat batuk yang aman, yaitu ramuan tradisional berupa
jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh ,
diberikan tiga kali sehari.
 Dapat digunakan obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan
seperti kodein, dekstrometorfan, dan antihistamin.
III. Pemberian makanan
 Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu
lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah.
 Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.
IV. Pemberian minuman
Kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. Usahakan
pemberian cairan (air putih, air buah, dan sebagainya) lebih banyak dari
biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak dan mencegah kekurangan
cairan.
V. Lain-lain
 Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan
rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam à menghambat keluarnya panas.
 Jika pilek, bersihkan hidung untuk mempercepat kesembuhan dan
menghindari komplikasi yang lebih parah.
 Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat, yaitu yang berventilasi
cukup, dengan pencahayaan yang memadai, dan tidak berasap.
 Apabila selama perawatan dirumah keadaan memburuk, maka dianjurkan
untuk membawa ke dokter.
 Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, obat yang diperoleh tersebut
harus diberikan dengan benar sampai habis.
 Dan untuk penderita yang tidak mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah
2 hari kembali ke dokter untuk pemeriksaan ulang
4. Tertiary prevention ( pencegahan tingkat ke tiga )
Tingkat Pencegahan ini ditujukan kepada balita yang buka pneumonia agar tidak
menjadi lebih parah (pneumonia)dan mengakibatkan kecacatan dan berakhir
kematian.Upaya yang dapat dilakukan pada pencegahan penyakit bukan
pneumonia pada bayi dan balita yaitu perhatikan apabila timbul gejala pneumonia
seperti nafas menjadi sesak,anak tidak mampu minum,dan sakit bertambah
menjadi parah,agar tidak menjadi parh bwalah anak kembali ke petugas kesehatan
dan melakukan perawatan spesifik dirumah dengan memberikan asupan gizi dan
lebih sering memberikan ASI.
Sebagai tindakan mencegah terjadinya penularan penyakit ISPA, maka :
a) Keadaan gizi dijaga agar tetap baik.
b) Imunisaai lengkap.
c) Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan terutama sanitasi rumah.
d) Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.I.
Kegiatan pemberantasan
Kegiatan pemberantasan dapat dilakukan dengan cara :
a) Penyuluhan kesehatan yang terutama ditujukan kepada para ibu
b) Imunisasi
Sanitasi Rumah
Pengertian sanitasi menurut WHO adalah suatu usaha untuk mengawasi
beberapafactor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia terutama terhadap
hal-halyang memberikan efek yang merusak perkembangan fisik kesehatan
dankelangsungan hidup ( Suparlan, 1994).
Sanitasi
menurut
Ethler dan
Steel
adalah
usaha-usaha
pengawasan
yang
ditujukanterhadap faktor lingkungan yang dapat menjadi mata rantai penularan
penyakit.Menurut Winslow Rumah adalah sebuah bangunan sebagai tempat
berlindung daripengaruh lingkungan. Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan
masyarakat yangmenitikberatkan pada pengawasan terhadap struktur fisik, dimana
orangmenggunakannya sebagai tempat berlindung yang mempengaruhi derajat
kesehatanmanusia.
Menurut Winslow sebuah rumah yang sehat harus memenuhi syarat-syaratfisiologis,
psikologis, harus dapat menghindarkan terjadinya kecelakaan, dan harusdapat
menghindarkan terjadinya penyakit. Agar dapat terhindar dari penularan penyakit
ISPA variabel-variabel sebuah rumah harus memenuhi persyaratankesehatan.
Variabel-variabel tersebut antara lain :
a) Ventilasi (Perhawaan)Hawa segar diperlukan dalam rumah untuk mengganti udara
ruangan yang sudahterpakai. Udara segar diperlukan untuk menjaga temperature dan
kelembabanudara dalam ruangan. Sebaiknya temperatur udara dalam ruangan harus
lebihrendah paling sedikit 40C dari temperature udara luar untuk daerah
tropis.Umumnya temperature kamar 220C-300C sudah cukup segar. Pergantian
udarabersih untuk orang dewasa adalah 33 m3 /orang/jam, kelembaban udara
berkisar60% optimum. Untuk memperoleh kenyamanan udara yang dimaksud
diatasdiperlukan adanya ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik dalam ruangan
harusmemenuhi syarat diantaranya :
1. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan. Sedangkanluas
lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luaslantai. Jumlah
keduanya menjadi 10% kali luas lantai ruangan.
2. Udara yang masuk harus udara bersih tidak dicemari oleh asap dari sampahatau dari
pabrik, dari knalpot kendaraan, debu dan lain-lain.
b) Penerangan alamiPencahayaan alam diperoleh dengan masuknya sinar matahari
kedalam ruanganmelalui jendela, celah-celah dan bagian-bagian bangunan yang
terbuka. Sinar inisebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun
tembok pagaryang tinggi. Cahaya matahari ini berguna selain untuk penerangan juga
dapatmengurangi kelembaban ruang, mengusir nyamuk, membunuh kumankumanpenyebab penyakit tertentu seperti TBC, ISPA, penyakit mata dan lainlain.Penentuan
kebutuhan-kebutuhan
cahaya
untuk
penerangan
alami
sangatditentukan oleh letak dan lebar jendela. Untuk memperoleh jumlah
cahayamatahari pada pagi hari secara optimal sebaiknya jendela kamar tidur
menghadapke timur. Luas jendela yang baik paling sedikit mempunyai luas 10-20%
dari luaslantai. Penerangan yang cukup baik siang maupun malam 100-200 lux.
c) Kepadatan hunianLuas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5-3 m2
untuk tiap orang. Kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan yaitu jika
luaskamar tidur ≥ 8 m2untuk 2 orang.
d) Suhu ruanganSuhu ruangan harus dijaga agar jangan banyak berubah. Sebaiknya tetap
berkisarantara 18-200C. Suhu ruangan ini tergantung pada suhu udara luar,
pergerakanudara, kelembaban udara, dan bebda-benda disekitarnya.
Hubungan rumah yang terlalu sempit dan kejadian penyakit.
a. Kebersihan udara
Karena rumah terlalu sempit (terlalu banyak penghuninya), maka ruangan-ruangan
akan kekurangan oksigen sehingga akan menyebabkan menurunnya dayatahan tubuh sehingga
memudahkan terjadinya penyakit. Penularan penyakit-penyakit saluran pernapasan
misalnya TBC dan ISPA akan mudah terjadidiantara penghuni rumah.
b) Memudahkan terjadinya penyakitKarena rumah terlalu sempit maka perpindahan
(penularan) bibit penyakit darimanusia yang satu ke manusia yang lainnya akan lebih
mudah terjadi. Misalnya,penyakit-penyakit kulit dan penyakit-penyakit saluran
pernapasan
DAFTAR PUSTAKA
1. ml.scribd.com/doc/64229562
2. herman-mamank.blogspot.com/2013/01/penyakit-ispa_9564.html
3. ueu6976.blog.esaunggul.ac.id/2013/02/28/materi-ol..
4. nurulwandasari.weblog.esaunggul.ac.id/2013/10/20/riwayat.
Download