BAB II LANDASAN TEORI

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Mengenal Bisnis Waralaba
Waralaba adalah terjemahaan bebas dari kata franchise di mana menurut
Peraturan Pemerintah RI No. 16 Tahun 1977 tanggal 18 Juni 1997, pengertian
waralaba adalah suatu bentuk kerja sama di mana pemberi waralaba (franchisor)
memberikan izin kepada penerima waralaba (franchisee) untuk menggunakan hak
intelektualnya, seperti nama, merek dagang produk dan jasa, dan sistem operasi
usahanya. Sebagai timbal baliknya, penerima waralaba membayar suatu jumlah yang
seperti franchise dan royalty fee atau lainnya.
Dari pengertian tersebut, secara sederhana dapat dipahami bahwa dalam suatu
perjanjian waralaba, ada dua pihak yang terlibat, yaitu pemberi waralaba (franchisor)
dan penerima waralaba (franchisor). Demikian juga, ada dua hal yang saling
‘diperdagangkan’, yaitu hak intelektual usaha dari si franchisor dan franchisee dan
royalty fee dari si franchisee. Sebelum masuk ke pembahasan lebih lanjut, ada
baiknya jika mengetahui terlebih dahulu pengertian dari beberapa istilah yang akan
sering digunakan di GFP ini.
7
8
Beberapa istilah tersebut antara lain :
1.
Pemberi waralaba (franchisor)
Franchisor adalah badan usaha atau perseorangan yang memberikan hak
kepada pihak lain (franchisee) untuk memanfaatkan segala ciri khas usaha dan
segala kekayaan intelektual, seperti nama, merek dagang dan sistem usaha,
yang dimilikinya.
2.
Penerima waralaba (franchisee)
Franchisee adalah badan usaha atau perseorangan yang diberikan atau
menerima hak untuk memanfaatkan dan menggunakan hak atas kekayaan
intelektual atau ciri khas usaha yang dimiliki oleh franchisor.
3.
Master franchisee
Master franchisee adalah franchisee yang diberi hak oleh franchisor untuk
memberikan hak lanjutan kepada para pihak ketiga untuk membuka gerai
waralaba pada suatu area tertentu.
4.
Franchisee fee
Franchisee fee atau biaya waralaba adalah kontribusi biaya dari franchisee
kepada franchisor, sebagai imbalan atas pemberian hak pemanfaatan dan
penggunaan hak intelektual yang dimiliki oleh franchisor dalam kurun waktu
tertentu. Sering kali, franchisee fee ini disebut juga sebagai one time/initial fee
karena hanya dibayarkan untuk satu kali.
5.
Royalty fee
Royalty fee adalah kontribusi biaya dari operasional usaha franchisee yang
dibayarkan kepada franchisor secara periodik (biasanya secara bulanan).
9
Lazimnya, royalty fee berupa persentase tertentu dari besarnya omset
penjualan franchisee.
6. Retrofranchising
Retrofranchising adalah lokasi yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh
franchisor dan tidak akan dijual (di-franchise-kan)
7. Refranchising
Refranchising adalah suatu lokasi yang pada awalnya dimiliki oleh franchisee
tetapi akhirnya gerai tersebut dimiliki (dibeli kembali) dan dikelola oleh
franchisor.
2.2
Manfaat Mewaralabakan Usaha
2.2.1 Bagi Franchisor
Mengembangkan usaha dengan cara waralaba memberikan keuntungan yang
cukup banyak bagi franchisor maupun franchisee. Berikut adalah keuntungan yang
diperoleh franchisor :
1.
Pengembangan usaha dengan biaya relatif murah
Dengan sistem waralaba, memungkinkan untuk dapat mengembangkan usaha
tanpa perlu mengeluarkan biaya yang sama seperti memulai pertama kalinya,
karena franchisee yang akan menanggung sebagian besar biayanya.
10
2.
Potensi passive income yang besar
Yang dimaksud dengan passive income adalah pendapatan yang terus
mengalir meskipun franchisor tidak lagi mengurus bisnis tersebut. Dalam
konsep waralaba terdapat komponen passive income ini, yaitu pada royalty fee
yang dibayarkan franchisee kepada franchisor. Royalty fee ini akan terus
dibayarkan selama franchisee masih memegang hak waralaba tersebut sebagai
imbalan hak intelektual berupa nama, merek, sistem dan lain sebagainya yang
diberikan franchisor.
3.
Efek bola salju dalam hal brand awareness dan brand equity
Model waralaba sangat berpotensi mengakselerasi perkembangan dan
kemajuan usaha dan seiring dengan perkembangan usaha, nama atau merek
(brand)
akan
semakin
dikenal
oleh
masyarakat.
Banyaknya
gerai
menunjukkan bahwa nama mereka adalah jaminan sukses, karena terbukti
diterima dimana-mana. Hal ini tentu saja terjadi karena banyak orang yang
menjadi franchisee dari merek-merek tersebut. Semakin banyak orang yang
menjadi franchisee, semakin banyak gerai waralaba, semakin dikenal pula
brand perusahaan. Efek seperti ini akan terus berlanjut seperti bola salju yang
semakin lama mengelinding akan semakin besar. Semakin nama merek
perusahaan dikenal orang, semakin banyak pula yang akan mengajukan
permohonan untuk menjadi franchisee. Disini dapat dilihat bahwa ada efek
bola salju dalam kaitannya dengan brand awareness dan brand equity merek.
Artinya, semakin tinggi kesadaran masyarakat pada merek (brand awareness)
11
akan membuat harga merek (brand equity) semakin tinggi, sehingga orang
berlomba-lomba untuk menjadi franchisee. Pada gilirannya, semakin banyak
franchisee juga semakin mengukuhkan brand awareness. Hubungan
ketiganya seperti pada gambar 2.1.
Gambar 2.1. Skema Efek Bola Salju
(Sumber: Pietra Sarosa, RFA, Mewaralabakan Usaha Anda, 2004, p.16)
2.2.2 Bagi Franchisee
Berikut adalah keuntungan yang diperoleh franchisee :
1.
Memperkecil resiko kegagalan usaha
Resiko kegagalan usaha yang biasa dihadapi oleh para pengusaha yang
mencoba membangun bisnis dengan sistem sendiri adalah resiko kegagalan
sistem itu sendiri. Sudah menjadi hal yang umum diketahui bahwa tidaklah
12
mudah untuk menciptakan suatu sistem yang mantap dan berhasil guna.
Sistem yang dimaksud adalah suatu sistem yang komprehensif dengan subsistemnya, seperti sub-sistem pemasaran, sub-sistem produksi, sub-sistem
keuangan dan administrasi, hingga sub-sistem sumber daya manusianya.
Dengan membeli hak waralaba yang sudah ada di pasaran, bisa dikatakan
bahwa tidak perlu menciptakan sistem sendiri karena tinggal mengaplikasikan
sistem yang sudah ada dan sudah terbukti berhasil. Berangkat dari kenyataan
ini maka sering kali dikatakan bahwa dengan membeli waralaba yang sudah
ada berarti juga memperkecil resiko kegagalan yang disebabkan oleh
kegagalan sistem.
Anang Sukandar, ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) pernah
mengungkapkan bahwa memulai bisnis dengan cara membeli waralaba
ibaratnya seperti memulai bisnis bukan dari nol, melainkan dari angka 60. Di
Amerika, pernyataan ini diperkuat dengan data yang diungkap oleh Amir
Karamoy, seorang pengamat waralaba, bahwa usaha membeli waralaba
mempunyai tingkat keberhasilan 93% dibandingkan dengan usaha umumnya
(membuat sistem sendiri) yang hanya 34%.
2.
Menghemat waktu, tenaga dan dana untuk proses trial & error
Jika seandainya pengusaha berhasil membangun usaha dengan sistem
miliknya sendiri, pasti diperlukan proses trial & error yang mungkin bisa
tidak terhitung banyaknya. Selain memakan banyak tenaga dan dana, proses
trial & error ini juga memakan cukup banyak waktu sebelum akhirnya bisa
mencapai tahap kemapanan dan keberhasilan sistem sesuai hasil yang
13
diinginkan. Dengan mengadopsi sistem yang dimiliki franchisor, otomatis
franchisee sudah menghemat banyak waktu, tenaga dan dana yang seharusnya
dikeluarkan untuk melakukan proses trial & error ini, karena franchisor yang
telah melakukan proses itu sebelum akhirnya yakin bahwa sistemnya telah
berhasil dan layak diwaralabakan.
3.
Memberi kemudahan dalam operasional usaha
Manfaat lain dari membeli waralaba yang sudah ada adalah adanya banyak
kemudahan dalam operasional usaha karena biasanya pihak franchisor akan
membantu semaksimal mungkin. Misalkan dalam hal pelatihan karyawan,
biasanya akan dibantu pelaksanaannya oleh franchisor. Pengadaan pasokan
bahan baku atau persediaan biasanya juga akan ada bantuan, termasuk
standarisasi dari pihak franchisor. Kemudahan operasional usaha yang bisa
diberikan oleh franchisor seperti halnya pelatihan berkala, bantuan untuk
masalah legal, kemudahan untuk promosi bersama dan lain sebagainya.
4.
Penggunaan nama merek yang sudah lebih dikenal masyarakat
Satu lagi masalah yang sering dihadapi oleh pengusaha yang baru mendirikan
usaha sendiri adalah belum dikenalnya nama atau merek usahanya tersebut
oleh masyarakat.Kesulitan ini dapat diatasi dengan sistem membeli waralaba
yang mana biasanya nama merek waralaba yang ditawarkan sudah lebih
dikenal masyarakat. Dengan demikian, franchisee pun juga tidak perlu repotrepot membentuk nama baru dan memperkenalkannya kepada masyarakat
karena nama waralaba yang dibeli haknya tersebut sudah lebih dikenal
masyarakat. Mengingat banyaknya keuntungan yang bisa diambil dengan
14
membeli hak waralaba yang sudah ada, tak heran jika saat ini banyak
kalangan yang mempunyai dana diam cukup besar dan bingung bagaimana
cara memutar uangnya kemudian memutuskan menempuh ’jalur cepat’
menjadi pengusaha dengan cara membeli hak waralaba. Membeli hak
waralaba memang menguntungkan dan memberi banyak kemudahan bagi para
pengusaha baru. Namun, satu hal yang perlu diingat adalah untuk
mendapatkan segala kemudahaan ini, ada harga yang harus dibayar yaitu
seharga investasi dan franchisee serta royalty fee yang biasanya bernilai
nominal cukup besar.
2.3
Tiga Fase Mewaralabakan Usaha
Proses pewaralabaan suatu usaha bisa dikelompokkan menjadi tiga fase besar.
Setiap fase akan terdiri atas beberapa aktivitas yang mempunyai suatu fokus tujuan
tertentu. Ketiga fase tersebut secara berurutan adalah :
1.
Fase penyusunan sistem waralaba yang solid
2.
Fase pemasaran waralaba
3.
Fase pemeliharaan (maintenance) waralaba
Untuk lebih jelas mengetahui hubungan antar ketiganya, maka ketiga fase
tersebut dapat digambarkan dalam suatu model seperti pada gambar 2.2.
15
Gambar 2.2. Tiga Fase Mewaralabakan Usaha
(Sumber: Pietra Sarosa, RFA, Mewaralabakan Usaha Anda, 2004, p.32)
Ketiga fase inilah yang akan dijabarkan ke dalam unsur-unsur dan aktivitasaktivitas yang membentuk fase-fase tersebut.
2.3.1 Fase Pertama : Membangun Sistem Waralaba yang Solid
Langkah pertama dalam mewaralabakan suatu usaha adalah menyusun
sebuah sistem waralaba yang solid. Inilah perbedaan mendasar dari suatu
sistem waralaba dengan suatu sistem usaha sendiri (stand-alone). Dalam suatu
sistem waralaba, tantangannya adalah bagaimana menciptakan sistem yang
ampuh dibandingkan pesaing dan tidak hanya teruji untuk satu cabang usaha,
namun juga terjaga kesederhanaannya, sehingga dapat diduplikasikan dengan
mudah untuk masing-masing franchisee. Tantangan lainnya adalah membuat
16
keseluruhan sistem tadi dikenal orang hanya dengan sebuah nama merek
(brand) yang bisa mewakili seluruh image yang ingin ditampilkan. Untuk
menjawab semua tantangan tadi, ada tiga unsur yang berperan besar dalam
keberhasilan fase penyusunan sistem waralaba ini, yaitu :
1.
Menciptakan entitas usaha yang solid dan menguntungkan
Gambar 2.3. Skema Entitas Usaha
(Sumber: Pietra Sarosa, RFA, Mewaralabakan Usaha Anda, 2004, p.36)
Bagan di atas menggambarkan suatu proses bagaimana sebuah entitas
bisa mencapai sesuatu yang diharapkan oleh semua bentuk usaha yaitu profit.
Menguntungkan adalah syarat pertama bagi usaha Anda untuk dapat
diwaralabakan. Franchisee tidak mungkin menanamkan uangnya dengan
membeli waralaba Anda apabila tidak menguntungkan. Namun demikian,
menguntungkan saja tidaklah cukup tapi juga harus ”tampil beda”
dibandingkan pesaing lain. Untuk dapat mewujudkan suatu usaha yang
17
menguntungkan dan mampu ”tampil beda”, terdapat komponen yang terlibat
di dalamnya, yaitu:
a. Produk yang unik, berkualitas dan marketable
Produk yang dimaksudkan disini adalah barang maupun jasa yang
ditawarkan. Produk merupakan senjata utama waralaba untuk
menarik konsumen maupun calon franchisee. Untuk dapat menjadi
produk andalan dari sebuah waralaba, setidaknya produk tersebut
harus bisa memenuhi berbagai kriteria berikut ini :
ƒ
Unik
ƒ
Berkualitas
ƒ
Marketable
b. Adanya Standard Operating Procedures (SOP) yang baku
SOP adalah sebuah aturan-aturan yang digunakan dalam
menjalankan usaha. Dengan adanya SOP ini, semua proses dalam
aktivitas usaha dapat terkontrol. Selain itu SOP merupakan
langkah awal untuk menciptakan keseragaman antar setiap gerai
waralaba yang ada. Biasanya SOP ini akan divisualisasikan dalam
bentuk aturan yang dibukukan yang harus dilaksanakan secara
ketat oleh manajemen, karyawan dan franchisee.
c. Manajemen keuangan dan akutansi yang baik
Untuk membentuk suatu entitas yang nantinya akan menghasilkan
profit, adanya manajemen keuangan dan akutansi yang baik adalah
18
hal penting. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
manajemen keuangan waralaba, yaitu :
-
Penganggaran (budgeting) yang tepat. Penganggaran berguna
untuk memproyeksikan berapa perkiraan jumlah pemasukan
dan pengeluaran. Penganggaran juga berfungsi sebagai alat
kontrol untuk melihat apakah terjadi penyimpangan antara
pemasukan dan pengeluaran aktual sehari-hari dengan yang
telah dianggarkan.
-
Tingkat keuntungan, kalkulasi pengembalian modal, dan
penghitungan jangka waktu balik modal (BEP - Break Even
Point). Hal ini penting bagi para franchisee supaya mereka
yakin bahwa mereka akan diuntungkan dengan menanamkan
uangnya untuk membeli usaha waralaba.
-
Sistem akuntansi yang sesuai dengan standard akuntansi yang
berlaku umum.
d. Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlatih
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan masalah
SDM, yaitu:
─
Sistem rekrutmen SDM untuk mendapatkan SDM yang
berkualitas.
─
Pelatihan sangat diperlukan untuk memberikan orientasi
mengenai visi, misi dan operasional sehari-hari sekaligus
19
memberikan
keahlian
yang
akan
digunakan
dalam
menjalankan tugas sehari-hari.
─
Kepastian kompensasi bagi SDM akan memberikan rasa
tenang dalam bekerja sehingga dapat memberikan kinerja
yang terbaik. Kepastian kompensasi ini menyangkut
jumlah gaji, tunjangan maupun kompensasi lainnya.
─
Suasana kerja yang kondusif bagi SDM. Kepuasan
karyawan yang berhubungan dengan kinerja mereka, tidak
hanya dipicu oleh kompensasi materi semata, tetapi juga
dengan adanya suasana atau iklim kerja yang nyaman.
e. Strategi pemasaran yang jitu
Sebaik apapun produk atau sistem yang dimiliki tidaklah berguna
apabila tidak mengkomunikasikan keunggulannya kepada orang
lain. Oleh karena itu, diperlukan adanya serangkaian strategi
pemasaran yang jitu. Strategi pemasaran adalah kumpulan dari
beberapa aktivitas pemasaran yang dapat menarik perhatian
konsumen maupun para calon franchisee. Setidaknya ada tiga hal
yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemasaran kepada calon
franchisee, yaitu :
─
Keuntungan yang diberikan
─
Bagaimana bentuk proposal dan kontrak waralaba yang
ditawarkan
─
Bagaimana aktivitas pemasaran produk
20
f. Perlindungan hukum yang memadai
Dunia usaha tidak akan bisa terlepas dari urusan legal atau hukum.
Dari awal mendirikan usahapun, sudah berurusan dengan hukum.
Dengan mematuhi hukum, berarti berhak untuk mendapat
perlindungan hukum atas usaha tersebut. Dengan adanya
perlindungan hukum yang memadai, maka dapat menjalankan
usaha dengan tenang.
g. Pengalaman yang mencerminkan kompetensi usaha
Amir Karamoy, seorang konsultan waralaba, pernah mengatakan
bahwa jika seseorang hendak mewaralabakan usahanya setidaknya
perngusaha yang bersangkutan harus sudah mengeluti bisnis ini
selama tiga tahun. (Sumber: Pietra Sarosa, RFA, Mewaralabakan
Usaha Anda, 2004, p.48)
Lamanya pengalaman berusaha pada umumnya mencerminkan
kompetensi usaha, meskipun lamanya berusaha juga bukan
merupakan jaminan sukses. Setidaknya, semakin lama pengusaha
mengeluti bidang tersebut, mereka pasti akan semakin mengenal
karakter dan seluk beluk bidang usaha yang digelutinya. Para calon
franchisee pun tentu akan secara psikologis lebih tenang dalam
berinvestasi
dengan
berpengalaman.
seorang
pengusaha
yang
sudah
21
2.
Menciptakan Keseragaman dengan Standarisasi
Standarisasi diperlukan dalam bisnis waralaba karena bisnis waralaba
adalah bisnis jaringan yang terdiri atas gerai-gerai milik franchisee dan cara
mengembangkannya adalah dengan menduplikasikan sistem ke dalam gerai
franchisee, dimana cara penduplikasian tersebut adalah melalui acuan
standard yang telah dibuat. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk
menyusun dan melakukan standarisasi pada sistem waralaba yaitu :
a.
Menyusun suatu panduan standarisasi yang dibakukan
Semua kententuan yang telah dibakukan ke dalam suatu buku panduan
atau yang biasa disebut SOP. SOP inilah yang nantinya akan menjadi
acuan baku terhadap langkah-langkah yang diambil dalam melakukan
praktek standarisasi sistem waralaba di lapangan nantinya. SOP ini
nantinya akan mengikat dan bersifat wajib dilaksanakan oleh siapapun
yang berada dibawah payung sistem waralaba, terutama para franchisee.
Mereka wajib melaksanakan semua hal mengenai standarisasi yang telah
digariskan dalam SOP. Supaya mereka dapat melaksanakan semua
ketentuan dalam SOP, sebaiknya SOP tersebut memiliki sifat-sifat
berikut :
─
Sederhana sehingga mudah dipahami
─
Mudah diimplementasikan
─
Dapat berlaku secara umum
22
Menurut Mandelsohn dalam bukunya ”Franchising:Petunjuk Praktis
bagi Franchisor dan Franchisee” disebutkan bahwa SOP yang baik
hendaknya dapat:
ƒ
Melenyapkan sejauh mungkin, risiko yang biasanya melekat
pada bisnis yang baru dibuka.
ƒ
Memungkinkan
sesorang
yang
belum
pernah
memiliki
pengalaman atau mengelola bisnis secara langsung mampu untuk
membuka bisnis dengan usahanya sendiri.
ƒ
Menunjukkan dengan jelas dan rinci bagaimana bisnis yang
diwaralabakan tersebut harus dijalankan.
b. Uji SOP tersebut pada ”laboratorium sistem waralaba”
c. Monitor dan evaluasi apakah SOP tersebut sudah lulus uji
d. Implementasikan SOP tersebut pada gerai-gerai milik franchisee
e. Beri dukungan sepenuhnya untuk mengimplementasikan SOP dalam
bentuk asistensi
Aspek-aspek dasar dalam sistem waralaba yang memerlukan
standarisasi adalah :
a.
Aspek operasional gerai, terdiri atas :
1. Proses operasi harian gerai
2. Bahan baku / sumber daya yang digunakan
3. Lokasi dan tampilan fisik gerai
4. Penggunaan nama merek, logo, dan atribut waralaba lainnya
23
b.
Aspek manajerial franchisee, terdiri atas :
1. Manajemen seleksi bagi calon franchisee
2. Manajemen pemasaran
3. Manajemen sumber daya manusia
4. Manjemen keuangan dana
5. Fee yang harus dibayarkan ke franchisor
3.
Membangun Merek yang Kuat
Merek adalah sebuah kesatuan nama, simbol, dan atribut lain yang
diharapkan bisa menjadi identitas dari sebuah produk atau usaha. Identitas
inilah yang nantinya diharapkan dapat mewakili produk atau usaha tersebut
secara keseluruhan dari mulai kualitas, harga, kinerja sampai image yang
ingin ditanamkan oleh produk atau usaha tersebut ke dalam benak masyarakat
luas.
2.3.2 Fase Kedua : Pemasaran Waralaba
1.
Memberikan keuntungan kepada Franchisee
Pada umumnya sebagai investor, pasti menginginkan keuntungan-
keuntungan, baik keuntungan umum yang akan didapat jika menanamkan
modal pada suatu bentuk investasi maupun keuntungan khusus yang hanya
didapat jika calon investor menanamkan modalnya dalam sistem waralaba.
24
Secara global, keuntungan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian
besar yaitu :
a. Keuntungan secara logika – perhitungan finansial
Ada beberapa hal yang biasa menjadi daya tarik bagi investor
dalam
hal
pemberian
keuntungan
secara
logis
yang
menguntungkan investor secara finansial. Oleh karena menjadi
daya tarik maka sangat dianjurkan untuk bisa menciptakan hal-hal
ini dalam sistem waralaba yaitu :
─
Hasil investasi yang menarik
─
Jangka waktu pengembalian modal yang pendek
─
Tingkat risiko yang lebih rendah
b. Keuntungan secara emosional
Selain keuntungan yang sifatnya logis, biasanya investor juga
menginginkan keuntungan secara emosional dimana keuntungan
yang bersifat emosional ini kadarnya bisa berbeda-beda untuk
setiap investor. Beberapa contoh keuntungan emosional yang
dicari para investor antara lain :
─
Rasa aman
─
Gengsi
─
Kepuasan menjadi seorang pengusaha
25
2. Menyusun Perjanjian Waralaba yang Menarik
Untuk dapat mengkomunikasikan keuntungan yang akan diperoleh
calon investor, franchisor harus menyusun sebuah proposal dan perjanjian
yang menarik bagi calon franchisee. Perjanjian tersebut juga harus
mematuhi ketentuan-ketentuan hukum dan diakui legalitasnya oleh
pemerintah. Untuk menyusun suatu proposal dan perjanjian waralaba yang
menarik sekaligus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, setidaknya
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
─
Garis bawahi keuntungan untuk franchisee
Proposal yang dibuat harus dapat menyakinkan calon franchisee
bahwa manfaat yang ditawarkan oleh waralaba sebanding atau bahkan
lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan. Jadi, sangat dianjurkan
untuk menggarisbawahi manfaat yang ditawarkan terutama manfaat
secara finansial berupa keuntungan usaha bagi franchisee.
─
Hak dan kewajiban franchisor dan franchisee
Dalam melakukan kerja sama apapun, hak dan kewajiban masingmasing pihak yang terlibat haruslah dijabarkan secara transparan dan
mendetail pada awal perjanjian dan dituliskan dalam sebuah perjanjian
tertulis. Hal ini penting untuk menghindari masalah-masalah yang
tidak diinginkan di kemudian hari, berkaitan dengan merasa
dilanggarnya hak satu pihak. Sebagai bahan pertimbangan mengenai
hak dan kewajiban franchisor dan franchisee, penulis mengutip
26
Keputusan
Menteri
Perindustrian
dan
Perdagangan
259/MPP/Kep/1997 pasal 7 seperti yang tertulis berikut ini.
Gambar 2.4. Hak dan Kewajiban Franchisor dan Franchisee
(Sumber: Pietra Sarosa, RFA, Mewaralabakan Usaha Anda, 2004, p.120-123)
No.
27
─
Siapkan klausul untuk mengantisipasi force majeur dan kejadian tidak
terduga yang belum diantisipasi dalam perjanjian
Force majeur adalah suatu keadaan yang sama sekali diluar kendali
kedua belah pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian, oleh
karena itu sering kali akibatnya juga tidak bisa diprediksikan sehingga
sulit sekali dituangkan dalam pasal-pasal baku didalam perjanjian
waralaba. Contoh force majeur antara lain adalah bencana alam dan
perang atau huru hara atau kerusuhan besar. Force majeur biasanya
berdampak pada terganggunya operasi usaha franchisor atau
franchisee, atau malah keduanya. Untuk dapat mengantisipasi
bilamana terjadi kondisi force majeur, perlu diberikan klausul yang
berisi antara lain mengenai penyelesaian masalah antara kedua belah
pihak jika terjadi kondisi ini.
─
Selain force majeur, perlu juga dipertimbangkan untuk memasukkan
klausul untuk mengantisipasi hal-hal tidak terduga lainnya yang sulit
diantisipasi oleh pasal-pasal baku dalam perjanjian. Hal-hal yang tidak
terduga ini juga dapat mengakibatkan terganggunya operasi usaha
waralaba ini, seperti misalnya meninggalnya orang kunci franchisor
atau franchisee.
─
Pelajari contoh proposal dan perjanjian waralaba yang sudah ada. dan
ambil aspek-aspek yang baik untuk diterapkan, namun jangan
menjiplak karena setiap waralaba memiliki karakteristik yang berbeda.
28
3.
Strategi Pemasaran Waralaba
Strategi pemasaran merupakan kunci dari keberhasilan suatu produk.
Berikut ini adalah beberapa cara pemasaran waralaba yang bisa digunakan
dalam memasarkan waralaba :
1.
Sediakan sebuah gerai sebagai contoh
Gerai ini biasanya berupa gerai sendiri (fully owned), namun yang
harus diperhatikan adalah gerai tersebut harus benar-benar menjadi
prototipe dari keseluruhan gerai yang akan menjadi milik franchisee,
sehingga dengan melihat gerai tersebut, calon franchisee bisa
mendapat gambaran jelas mengenai gerai yang akan mereka miliki.
2.
Lakukan pendekatan personal
Strategi yang paling efektif pada masa-masa awal pemasaran waralaba
adalah pendekatan personal kepada calon investor potensial. Hal ini
dikarenakan sistem waralaba biasanya belum dikenal orang pada masa
awal pemasaran, setidaknya orang belum mengetahui bahwa
perusahaan tersebut dikembangkan dengan waralaba. Oleh karena itu,
lebih baik dilakukan pendekatan personal kepada rekan atau relasi
dalam jaringan yang dimiliki.
3.
Lakukan publikasi di media
Setelah mempunyai beberapa franchisee, lengkap dengan gerai-gerai
milik mereka yang telah dibuka, sekarang saatnya untuk berpromosi
melalui media. Dalam hal ini, berpromosi melalui media berarti bahwa
29
harus mengusahakan agar waralaba tersebut dapat dan siap untuk
diekspos atau diliput media (biasanya media cetak).
4.
Mengikuti pameran franchisee dan UKM
Jika ingin mempromosikan waralaba, sangat disarankan untuk
mengikuti ajang pameran ini. Dengan mengikuti pameran, ada
beberapa manfaat yang bisa didapatkan, antara lain :
ƒ
Kesempatan bertemu dengan para calon franchisee potensial
ƒ
Waralaba bisa dikenal luas oleh masyarakat yang mengunjungi
pameran
ƒ
Adanya publikasi atau ekspos dari media sekaligus kesempatan
untk menjalin hubungan dengan media
ƒ
Terkadang dalam pameran ada ajang penghargaan waralaba
terbaik. Jika dapat memenangkan penghargaan tersebut, nama
waralaba tersebuit akan semakin terangkat.
5.
Aktifkan pemasaran dari mulut ke mulut
Kecenderungan
orang
untuk
lebih
percaya
pada
apa
yang
direkomendasikan teman daripada iklan adalah inti dari pemasaran
mulut ke mulut. Namun promosi ini bisa memiliki dua sisi yaitu bisa
menguntungkan ataupun merugikan. Jika bagus maka franchisee Anda
akan puas dan merekalah yang akan mempromosikan, namun jika
tidak bagus, mereka pula yang bisa menghancurkan. Karena itulah,
persiapkan semuanya dengan baik sebelum memulai usaha dengan
sistem waralaba.
30
2.3.3
Fase Ketiga : Pemeliharaan (Maintenance) Waralaba
1.
Menyeleksi Calon Franchisee
Seleksi ketat pada awal kerja sama waralaba memberikan peluang
sukses yang lebih besar karena jika seleksi awal kurang ketat, besar
kemungkinan akan lebih banyak franchisee yang terjaring namun tidak
semuanya mempunyai kompetensi yang tinggi. Artinya, pada awal usaha,
akan mempunyai banyak gerai franchisee yang dibuka namun dengan seiring
dengan berjalannya waktu, maka akan banyak juga gerai yang terpaksa
ditutup karena kurangnya kompetensi franchisee. Dalam bisnis waralaba,
semakin banyak gerai waralaba yang ditutup, publik akan melihat bahwa
kualitas sistem waralaba tersebut buruk. Padahal, belum tentu penutupan itu
disebabkan oleh sistem yang buruk, mungkin saja karena kompetensi
franchisee yang rendah. Hal ini tentu saja dapat dihindari dengan menerapkan
seleksi calon franchisee yang ketat sehingga hanya mereka yang memiliki
kompetensi yang tinggi yang akan berhasil lolos seleksi dan menjadi
franchisee.
Skema umum proses penyeleksian calon franchisee yang biasa
digunakan dapat dilihat pada gambar 2.5.
31
Gambar 2.5. Skema Umum Proses Penyeleksian Franchisee
(Sumber: Pietra Sarosa, RFA, Mewaralabakan Usaha Anda, 2004, p.154)
Tidak setiap bagian dalam bagan tersebut sama persis digunakan oleh
setiap franchisor, karena tentunya masing-masing memiliki keunikan
tersendiri dalam keseluruhan proses seleksi ini. Namun, diharapkan bahwa
skema ini dapat mewakili proses yang umumnya digunakan para franchisor.
Ada beberapa hal pokok yang sebaiknya diperhatikan dalam menyeleksi calon
franchisee, yaitu :
32
a.
Karakter pribadi calon franchisee
Pengenalan karakter ini sangat penting karena dalam membuka usaha,
faktor yang paling menentukan kesuksesan adalah faktor pribadi calon
franchisee. Apakah memang calon franchisee tersebut cocok untuk
bekerja sama dalam mengembangkan jaringan waralaba.
b.
Visi dan misi usaha calon franchisee
Kesamaan visi dan misi usaha akan memperjelas gerak langkah
perusahaan. Perbedaan visi dan misi akan membuat usaha menjadi
sulit berkembang, karena ibarat kapal yang mempunyai dua nahkoda,
apapun yang dikerjakan tidak akan mencapai hasil yang optimal.
Dalam sistem waralaba, adanya persamaan visi dan misi akan
membuat franchisee lebih mudah menerima sistem waralaba dan
mengimplementasikan dengan sepenuhnya sehingga lebih mudah
dalam melakukan orientasi dan menanamkan nilai-nilai yang ingin
wujudkan dalam setiap gerai yang ada dalam sistem waralaba.
c.
Track record usaha calon franchisee
Semakin bagus dan sempurna sistem waralaba yang diciptakan,
seharusnya akan semakin banyak orang yang bisa menjadi franchisee
tanpa melihat apakah mereka mempunyai pengalaman yang sesuai
dengan bisnis waralaba tersebut. Namun, proses penyempurnaan ini
tentu saja akan memakan waktu yang lama dan biasanya juga
dilakukan sembari usaha waralaba ini dijalankan. Untuk itu, ada
baiknya tetap memperhatikan track record usaha dari calon
33
franchisee. Akan lebih baik jika calon franchisee adalah seorang
pengusaha juga karena itu berarti sedikit banyak mereka telah
memahami nilai-nilai dasar seorang entrepreneur. Namun, itu saja
tidak menjamin. Franchisor juga harus melihat apakah usaha yang
dikelolanya sekarang atau pada masa lalu bisa berkembang dengan
baik dan meneliti penyebabnya. Jika penyebabnya adalah ketiadaan
kompetensi dari pengusaha, maka harus berhati-hati agar hal tersebut
jangan terjadi pada gerai waralaba yang akan dikelolanya. Jika
ternyata calon franchisee bukan datang dari kalangan pengusaha, bisa
melihat track record kariernya. Anda dapat menilai profesionalisme
dan komitmennya terhadap bidang yang digelutinya. Semakin
profesional dan mempunyai komitmen tinggi, semakin banyak nilai
plus yang akan membuatnya lolos sebagai calon franchisee. Intinya,
apapun latar belakang calon franchisee, track record yang baik
darinya akan sangat dibutuhkan.
d.
Komitmen franchisee dalam mengelola usaha waralabanya.
Membeli hak waralaba bukan hanya sekedar membeli sebuah hak
usaha, namun juga berarti membuka dan menjalankan usaha milik
sendiri. Dalam membuka usaha, komitmen dan kesungguhan mutlak
diperlukan. Demikian juga dalam proses penyeleksian calon
franchisee ini, komitmen dan kesungguhannya dalam membuka dan
menjalankan bisnisnya sendiri dalam naungan payung waralaba harus
sangat diperhatikan.
34
e.
Rencana bisnis calon franchisee
Salah satu persyaratan pertama dan utama yang harus dimiliki calon
franchisee
adalah
adanya
rencana
bisnis
yang
matang
dan
menyakinkan dari franchisee. Rencana bisnis ini umumnya dituangkan
dalam bentuk sebuah proposal bisnis yang biasanya diajukan
bersamaan dengan surat permohonan untuk menjadi franchisee.
Penyeleksian rencana bisnis ini biasanya dilakukan pada tahap-tahap
awal, sehingga hanya mereka yang berhasil mengajukan sebuah
rencana bisnis yang dianggap memadailah yang boleh melangkah ke
tahap seleksi berikutnya.
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menyeleksi rencana bisnis
yang diajukan oleh calon franchisee, yaitu:
1.
Kondisi keuangan franchisee
Seseorang yang ingin membuka dan menjalankan usaha sendiri
haruslah mempunyai modal usaha yang diperlukan untuk
mendirikan dan menjalankan bisnis tersebut. Oleh karena itu,
seleksi finansial sangat diperlukan. Tentu kurang baik
dampaknya jika seorang franchisee ditengah jalan terpaksa
menutup usahanya karena kurang modal. Bisnis franchisee
memang identik dengan kebutuhan dana yang cukup besar,
tidak saja pada awal pendirian gerai tetapi juga untuk
membiayai usaha waralaba yang sedang berjalan. Oleh karena
35
itu, kesiapan finansial franchisee sangat diperlukan. Beberapa
hal yang nantinya akan menyedot dana franchisee, antara lain :
ƒ
Sewa lahan dilokasi yang strategis
ƒ
Biaya pembangunan gerai
ƒ
Franchisee fee
ƒ
Kontribusi biaya pemasaran ke franchisor
ƒ
Modal kerja (termasuk bahan baku dan penyisihan
penyusutan)
ƒ
Biaya operasional gerai yang mencakup gaji SDM,
listrik-air-telepon, transportasi, dll
Hal-hal ini dapat menjadi patokan dalam menguji kemampuan
finansial para calon franchisee.
2.
Lokasi yang ditawarkan
Salah satu faktor kunci dalam kesuksesan waralaba adalah
lokasi yang strategis. Semakin strategis lokasi gerai milik
franchisee tersebut, makin besar kemungkinan gerai tersebut
akan berhasil. Untuk itu, franchiosr harus bisa memberikan
syarat-syarat lokasi yang strategis ini kepada calon franchisee.
2.
Memberikan asistensi bagi franchisee
Sering kali pihak franchisor berpikir tidak mengganggap penting
untuk memberikan asistensi kepada franchisee karena seringkali
franchisee juga memakan biaya yang tidak sedikit, yang ujung-
36
ujungnya menyebabkan fee yang harus dibayar ke franchisor menjadi
lebih tinggi dan otomatis semakin mempersempit jumlah calon
franchisee yang potensial. Pihak franchisee juga berpikir bahwa
adanya asistensi akan menyebabkan biaya lebih tinggi dan hanya akan
menambah pekerjaan dan kewajiban bagi franchisee. Sesungguhnya
hal tersebut tidaklah tepat, karena asistensi yang tepat akan membuat
bisnis waralaba yang dijalankan nantinya akan semakin solid.
Secara spesifik, tujuan asistensi dapat dijabarkan ke dalam hal-hal
berikut:
1.
Membantu memberikan kemudahan bagi franchisee dalam
menjalankan bisnisnya sehingga dapat lebih cepat menghasilkan
keuntungan.
2.
Menjaga keseragaman yang menjadi ciri sistem waralaba.
3.
Memudahkan dalam memonitor franchisee sehingga otomatis
memudahkan pengambilan solusi jika terjadi masalah.
Adapun asistensi yang bisa diberikan kepada franchisee adalah
sebagai berikut :
1.
Asistensi pada tahap preopening gerai milik franchisee
a.
Asistensi untuk mendapatkan pembiayaan dari lembaga
keuangan. Hal yang harus diperhatikan adalah :
ƒ
Kredibilitas, kompetensi dan prospek dari
franchisee
37
ƒ
Akses atau jaringan franchisor kepada pihak
bank atau lembaga keuangan
ƒ
b.
Nama besar waralaba
Asistensi saran dan ketentuan mengenai lokasi gerai, ada
dua macam kondisi :
ƒ
Lokasi telah ditentukan dan disediakan oleh
franchisor
ƒ
2.
Asistensi pada tahap awal dan selama masa operasional
a.
3.
Lokasi ditentukan sendiri oleh franchisee
Asistensi operasional, mencakup :
ƒ
Asistensi dalam mendapatkan bahan baku
ƒ
Asistensi dalam kegiatan sehari-hari
b.
Asistensi pemasaran
c.
Asistensi pengelolaan SDM
d.
Asistensi dibidang administrasi keuangan dan akuntansi
Mengatasi masalah dengan franchisee
Sebagai franchisor yang baik, dituntut untuk bersikap bijaksana dalam
menyikapi setiap permasalahan yang muncul dengan para franchisee.
Sikap yang arogan dan sewenang-wenang terhadap franchisee tidak
akan efektif dalam mengatasi masalah yang terjadi, demikian pula
sikap
”takut”
terhadap franchisee
tidak akan
menyelesaikan
permasalahan. Jika kita membicarakan mengenai bagaimana cara
38
mengatasi masalah, kita tentu harus tahu apa saja hal-hal yang
berpotensi menimbulkan masalah dan mengidentifikasikan apa saja
hal-hal yang bisa berpotensi menjadi sumber masalah antara
franchisor dan franchisee. Potensi masalah yang bisa terjadi akan
sangat banyak dan beragam sesuai dengan kondisi waralaba yang
diciptakan. Berikut adalah beberapa contoh potensi permasalahan yang
perlu diwaspadai, antara lain :
1.
Adanya franchisee yang tidak mematuhi ketentuan dalam SOP
2.
Adanya konflik mengenai fee waralaba
3.
Adanya ”diskriminasi” terhadap franchisee
4.
Franchisor tidak memberikan asistensi dan kewajiban lain
seperti yang dijanjikan
5.
Gerai milik franchisee tidak mencapai hasil seperti yang
diharapkan
6.
Tidak adanya itikad baik dari salah satu ataupun kedua belah
pihak
Metode-metode
dalam
menyelesaikan
masalah
dengan
franchisee :
1.
Metode pencegahan masalah (preventif)
a. Seleksi yang ketat untuk para calon franchisee,
terutama
cermat
dalam
memilih
mempunyai itikad baik dalam berbisnis.
mereka
yang
39
b. Buat kontrak yang mudah dipahami dan tidak
mengundang penafsiran ganda.
c. Minimalkan peluang adanya loophole dalam kontrak
yang dapat dimanfaatkan oleh franchisee yang tidak
mempunyai itikad baik.
d. Terapkan mekanisme kontrol yang ketat.
2.
Metode penyelesaian masalah (kuratif)
a. Cari akar penyebab masalah yang sebenarnya.
b. Selesaikan masalah dengan semangat win-win solution
c. Utamakan
penyelesaian
masalah
dengan
jalan
damai/mediasi.
2.4
Tipe / Model Waralaba
Dalam menjalankan waralaba, franchisor dapat menerapkan beberapa
tipe/model yang paling sesuai. Berikut tipe/model waralaba yang banyak
digunakan menurut buku Franchising for Dummies, p.25 – 31 :
1.
Single unit atau direct unit
adalah model waralaba di mana franchisor memberikan hak
kepada seorang franchisee untuk menjalankan sebuah gerai.
Model ini merupakan model klasik yang paling banyak
digunakan
40
2.
Multi unit
adalah model waralaba di mana franchisor memberikan hak
kepada franchisee untuk menjalankan beberapa gerai.
Model ini terdiri dari beberapa macam yaitu :
a. Multiple single unit
adalah model waralaba dimana franchisee membeli hak dari
franchisor untuk menjalankan sebuah gerai di suatu lokasi.
Di waktu mendatang, franchisee tersebut dapat membeli hak
waralaba untuk membuka gerai di lokasi lain. Jadi franchisee
dapat membeli hak waralaba dari franchisor secara bertahap.
b. Area development
adalah model waralaba dimana franchisor memberikan hak
eksklusif kepada franchisee untuk menjalankan sejumlah
gerai di suatu lokasi tertentu pada suatu kurun waktu tertentu.
Selama periode waktu tersebut, franchisor tidak akan
memberikan hak kepada franchisee lain untuk menjalankan
gerai di area yang telah dipilih oleh franchisee pertama.
c. Master franchise
adalah model waralaba dimana franchisor memberikan hak
kepada suatu institusi / perorangan untuk menjadi master
franchise. Master franchise tersebut diberikan hak oleh
franchisor untuk menjual waralaba kepada pihak ketiga
(subfranchise) maupun untuk menjalankan gerai miliknya
41
sendiri sendiri. Jadi master franchise adalah perpanjangan
tangan dari franchisor.
Download