Analisa Kritis Terhadap “Pengadilan HAM

advertisement
Analisa Kritis Terhadap “Pengadilan HAM” Internasional 1
Agung Yudhawiranata, S.IP., LL.M.2
Pengantar
Statuta dan praktek pengadilan Tokyo, Nuremberg, ICTY, ICTR, dan Statuta Roma adalah
sumber hukum internasional terpenting yang memberikan sumbangan definitif terhadap apa yang
disebut sebagai “international crimes” saat ini.
Statuta Pengadilan Nuremberg dan Tokyo tahun 1945 lah yang pertama kali menguraikan
kejahatan-kejahatan yang hingga saat ini dianggap sebagai tindak kejahatan internasional, yaitu
kejahatan terhadap perdamaian (crimes against peace), kejahatan perang (war crimes), dan
kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity).3 Selain itu, dalam pengadilan
Nuremberg dan Tokyo inilah pertama kali dikenal konsep individual criminal responsibility.
Berawal dari preseden yang disumbangkan oleh kedua pengadilan internasional itulah, pada
tanggal 21 November 1947, pasca perang dunia kedua, PBB membentuk Komisi Hukum
Internasional (International Law Commission) melalui Resolusi Majelis Umum PBB no.174(II).
Komisi ini bertugas untuk menyusun sebuah standar hukum internasional yang menjadi
pegangan setiap negara anggota PBB. Pada sessi pertemuan yang ke 48, yang berlangsung bulan
Mei sampai Juli 1996, Komisi Hukum Internasional ini berhasil menyepakati untuk mengadopsi
serangkaian norma-norma atau prinsip-prinsip hukum internasional yang terangkum dalam 20
pasal “Draft Code of Crimes Against Peace and Security of Mankind”.4 Dalam draft kodifikasi
tersebut dinyatakan bahwa yang termasuk di dalam tindak “kejahatan terhadap perdamaian dan
keamanan umat manusia” adalah kejahatan agresi (pasal 16) –yang memberikan dasar bagi
penjabaran lebih lanjut definisi command responsibility5, kejahatan genosida (pasal 17),
kejahatan terhadap kemanusiaan (pasal 18), kejahatan terhadap PBB dan personel-personelnya
(pasal 19), serta kejahatan perang (pasal 20).
Pengadilan internasional berikutnya yang memberikan sumbangan sangat penting dalam proses
pendefinisian tindak pidana yang termasuk “kejahatan internasional” adalah Pengadilan Pidana
Internasional untuk Negara Bekas Yugoslavia (ICTY). Statuta ICTY memberikan sumbangan
besar terhadap pengembangan konsep individual criminal responsibility dan command
1
Draft paper dipersiapkan untuk materi Training Hukum HAM untuk Dosen Pengajar Hukum HAM di Fakultas
Hukum Negeri dan Swasta di Indonesia, diselenggarakan oleh PUSHAM UII dan Norwegian Center for Human
Rights (NCHR) Di Yogyakarta, 22-24 September 2005.
2
Peneliti di Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Jakarta.
3
Harris, D.J., Cases and Materials on International Law, Street and Maxwell, London, 1973, Appendix I hal 541.
4
Lihat Human Rights Law Journal, vol.18 no.1-4, hal 96-98
5
dalam Draft Code ini, mereka yang bertanggung jawab untuk kejahatan agresi tidak harus kepala negara atau
aparatnya, melainkan siapa saja yang menjadi pemimpin (leader) atau penyelenggara (organizer), yang secara aktif
berperan dalam, atau memerintahkan perencanaan, persiapan, inisiasi, atau memicu terjadinya sebuah agresi oleh
sebuah negara.
1
responsibility, dimana mereka yang dianggap bertanggung jawab pidana secara individu tidak
hanya orang yang melakukan tapi juga yang memerintahkan melakukan tindak kejahatan6 ICTY
pula yang memperkenalkan praktek penerapan command responsibility dalam pengadilan pidana.
Pengadilan internasional lainnya, yaitu Pengadilan Internasional untuk Rwanda (International
Criminal Tribunal for Rwanda, ICTR) yang dibentuk melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB
no. S/RES/955 tahun 1994, dalam statutanya7 menyatakan bahwa lingkup kewenangan
pengadilan tersebut adalah mengadili mereka yang bertanggung tindak kejahatan internasional
yang masuk dalam yurisdiksi ICTR ini adalah: genosida (pasal 2); kejahatan terhadap
kemanusiaan (pasal 3)8; dan pelanggaran pasal 3 seluruh Konvensi-konvensi Geneva 1949
beserta Protokol tambahan II tahun 1977 (pasal 4).
Berikutnya pada tahun 1994, Draft Statute for an International Criminal Court,9 yang menjadi
cikal bakal Statuta Roma, yang juga merupakan hasil kerja International Law Commission,
menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tindak kejahatan internasional dan akan berada
dalam yurisdiksi pengadilan pidana internasional adalah kejahatan Genosida, Kejahatan agresi,
pelanggaran serius terhadap hukum dan kebiasaan yang berlaku saat pertikaian bersenjata,
kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan yang dilakukan berkaitan dengan perjanjian10
yang merupakan tindak kejahatan yang sangat serius yang bersifat internasional.
Ketika Statute for an International Criminal Court (Statuta Mahkamah Pidana Internasional)
yang kemudian lebih dikenal sebagai Statuta Roma akhirnya disepakati dalam International
Diplomatic Conference di Roma pada tanggal 17 Juli 1998 disebutkan tindak-tindak kejahatan
6
Lihat pasal 2, 3, 4, dan 5 dari Satuta ICTY
7
lihat bagian Preambule Statuta ICTR
8
pasal 3 Statuta ICTR, di bawah judul “kejahatan terhadap kemanusiaan” menyatakan kewenangan ICTR untuk
mengadili mereka yang melakukan pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, deportasi, penahanan, penyiksaan,
perkosaan, persekusi dengan alasan politik, rasial dan keagamaan, serta tindakan tidak manusiawi lainnya, apabila
dilakukan sebagai bagian dari sebuah serangan yang meluas atau sistematis.
9
International Law Commission, Draft Statute for an International Criminal Court, UN doc A/49/10 (1994), vol II,
bagian kedua, pasal 20.
10
Lihat ibid, pada bagian lampiran. Yang dimaksud dengan “kejahatan yang dilakukan berkaitan dengan perjanjian”
di sini adalah pelanggaran serius terhadap keempat Konvensi Geneva 1949, Protokol tambahan Konvensi Geneva
12 Agustus 1949, dan Protokol I Konvensi Geneva tertanggal 8 Juni 1977; pembajakan pesawat sesuai dengan
definisi dalam pasal 1 Convention for the Supression of Unlawful Seizure of Aircraft 16 Desember 1970; kejahatan
yang didefinisikan dalam pasal 1 Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil
Aviation 23 September 1971; kejahatan apartheid dan kejahatan terkait lainnya sebagaimana didefinisikan pada
pasal 2 International Convention on the Suppression and Punishment of the Crime of Apartheid 30 November 1973;
kejahatan sebagaimana didefinisikan dalam pasal 2 Convention on the Prevention and Punishment of Crimes
Against Internationally Protected Persons 14 Desember 1973; penyanderaan atau tindak kejahatan terkait lainnya
sesuai dengan definisi dalam pasal 1 International Convention against the Taking of Hostages 17 Desember 1979;
penyiksaan sebagaimana didefinisikan dalam pasal 4 Konvensi Menentang Penyiksaan (CAT); kejahatan
sebagaimana didefinisikan dalam pasal 3 Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of
Maritime Navigation dan pasal 2 Protocol for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Fixed
Platforms Located on the Continental Shelf, keduanya tertanggal 10 Maret 1988; serta kejahatan yang melibatkan
perdagangan gelap narkotika dan psikotropika sebagaimana dinyatakan dalam pasal 3 paragraf 1 the UN Convention
against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances, 20 Desember 1988.
2
internasional adalah “kejahatan paling serius yang menyangkut masyarakat internasional secara
keseluruhan” yaitu: genocide, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan
agresi.
Sumbangan penting lain dari Statuta Roma ini adalah pencantuman secara eksplisit bahwa
kejahatan yang berupa serangan seksual sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan
perang. Beberapa tindakan yang dapat dimasukkan dalam dua kategori ini adalah: perkosaan,
perbudakan seksual, prostitusi yang dipaksakan, kehamilan yang dipaksakan, sterilisasi yang
dipaksakan, atau bentuk lain dari kekerasan seksual yang memiliki bobot yang setara (equal
gravity) (pasal 7 ayat 1.b)(pasal 8 ayat 2.b.xxii)(pasal 8 ayat 2.e.vi). Pencantuman secara detail
dan eksplisit tindakan kejahatan seksual ini dalam yurisdiksi Mahkamah, merupakan sebuah
penguatan yang kritis bahwa perkosaan dan bentuk serangan seksual lainnya dalam situasi
tertentu merupakan tindak kejahatan paling serius yang menjadi perhatian internasional.11
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Pengadilan Militer Internasional di Nuremberg
(Nuremberg War Crimes Trials), Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh (Tokyo
Tribunal) dan tinjauan instrumen atas Pengadilan HAM di Indonesia.
Pengadilan Militer Internasional, Nuremberg 1945
-
pengadilan atas pelaku kejahatan perang Nazi diselenggarakan oleh empat negara sekutu
utama Perang Dunia II (Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet, dan Prancis)
12 persidangan diselenggarakan di bawah yurisdiksi Control Council Law No.10
Selain persidangan-persidangan tersebut, juga diselenggarakan banyak persidangan lainnya
yang dilakukan oleh pengadilan militer di berbagai negara lainnya Æ Howard S Levie, “War
Crimes Programs: Europe”, Chapter III in Howard S Levie, Terrorism in War: The Law of
War Crimes (Dobbs Ferry, NY: Oceana Publications, 1993) p 135-139 (bagian statistik)
Kejahatan yang masuk dalam yurisdiksi pengadilan Æ pasal 6:
- kejahatan terhadap perdamaian (crimes against peace)
- kejahatan perang (war crimes)
- kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity)
Individual responsibility Æ pasal 6
By ommission: keikutsertaan dalam suatu konspirasi atau rencana bersama untuk melakukan
kejahatan yang tersebut di atas Æ pasal 6
Tidak ada kekebalan (immunity) untuk tindak kejahatan yang dilakukan dengan alasan
melaksanakan tugas negara, atau sebagai aparat negara Æ pasal 7
11
selengkapnya lihat Jerry Fowler, “Statuta Roma Tentang Mahkamah Pidana Internasional: Sebuah Kerangka
Kerja Bagi Generasi Mendatang”, pengantar dalam Statuta Roma, ELSAM 2001.
3
alasan menjalankan perintah atasan (defense of superior orders) tidak dapat diterima kecuali
sebagai unsur pertimbangan peringanan hukuman (mitigation) Æ pasal 7
criminal organizations Æ pasal 9
konsekuensi dinyatakannya sebuah organisasi sebagai organisasi kriminal Æ pasal 10 dan 11
pengadilan in absentia diperbolehkan Æ pasal 12
pemberkasan dakwaan di Pengadilan Nuremberg:
1. menyusun rencana bersama atau melakukan konspirasi untuk menyelenggarakan
kejahatan terhadap perdamaian, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
2. pelaku kejahatan terhadap perdamaian: perencanaan, persiapan, pencetusan perang
sebagai bentuk tindak agresi yang juga merupakan perang yang dilarang berdasarkan
perjanjian-perjanjian internasional.
3. pelaku kejahatan perang dari tanggal 1 september 1939 sampai 8 Mei 1945 di Jerman
serta seluruh wilayah negara dan teritori yang dikuasai tentara Jerman sejak 1 September
1939, dan di Austria, Cekoslowakia, dan Italia, dan wilayah laut di sekitarnya.
4. pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan sebelum 8 Mei 1945 di Jerman serta seluruh
wilayah negara dan teritori yang dikuasai tentara Jerman sejak 1 September 1939, dan di
Austria, Cekoslowakia, dan Italia, dan wilayah laut di sekitarnya.
Pertanggung jawaban atas tindak kejahatan perang adalah atas: (a) tindakan secara langsung
yang merupakan pelanggaran atas hukum dan kebiasaan perang; dan (b) tindakan yang
merupakan kejahatan perang yang dilakukan oleh seseorang dimana atasannya juga dianggap
bertanggung jawab, baik karena si atasan memerintahkan seseorang tersebut untuk melakukan
tindakan yang termasuk sebagai kejahatan perang, atau karena si atasan telah gagal mencegah
atau menyelidiki atau menghukum bawahannya atas tindakan tersebut. Æ Tanggung Jawab
Komando
Catatan: tindakan yang termasuk dalam kategori kejahatan perang adalah yang dilakukan
terhadap belligerents, atau penduduk sipil di wilayah yang diduduki; dan tidak berlaku atas
tindakan yang dilakukan atas warga negara Jerman di Jerman oleh aparat negara Jerman. Yang
terakhir masuk dalam wilayah kejahatan terhadap kemanusiaan.
Berdasarkan pasal 6(c) Statuta Pengadilan Nuremberg, kejahatan terhadap kemanusiaan
mempunyai beberapa elemen. Yaitu:
- dilakukannya salah satu atau lebih tindak kejahatan spesifik sebagaimana tercantum
dalam pasal (pembunuhan, dll sebelum dan selama masa perang; atau persecution)
- terhadap populasi sipil DI MANAPUN (berarti termasuk warga negara pelaku dan juga
penduduk di wilayah yang dikuasai)
- sebagai bagian dari atau dilakukan sehubungan dengan bentuk kejahatan lainnya yang
masuk dalam yurisdiksi pengadilan (i.e. kejahatan perang dan kejahatan terhadap
perdamaian)
- tanpa memperdulikan apakah tindakan tersebut merupakan kejahatan menurut hukum
domestik negara dimana tindakan tersebut dilakukan.
4
Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh (Tokyo Tribunal) 1946
Berdasarkan pasal 5 statuta (yurisdiksi atas pelaku dan tindak kejahatan):
Pengadilan mempunyai wewenang untuk mengadili dan menghukum para penjahat perang di
Timur Jauh sebagai individu maupun sebagai anggota dari organisasi Æ jika seseorang didakwa
dalam posisinya sebagai anggota organisasi tertentu maka yang dikenakan atasnya adalah
dakwaan/tuntutan atas tindakan yang termasuk dalam kejahatan terhadap perdamaian
Kejahatan yang masuk dalam yurisdiksi pengadilan: Æ pasal 5
- kejahatan terhadap perdamaian: perencanaan, persiapan, pencetusan, dan pelaksanaan
perang sebagai tindakan agresi baik yang dideklarasikan maupun tidak; atau perang yang
melanggar hukum atau perjanjian internasional; atau ikutserta dalam suatu rencana
bersama atau konspirasi demi terlaksananya salah satu bentuk kejahatan di atas.
- Kejahatan perang konvensional: pelanggaran atas hukum dan kebiasaan perang.
- Kejahatan terhadap kemanusiaan: pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, deportasi, dan
tindakan tidak manusiawi lainnya yang dilakukan terhadap populasi sipil manapun,
sebelum dan selama masa perang, atau persecution berdasar politik atau ras, sebagai
bagian atau dilakukan sehubungan dengan bentuk kejahatan lainnya yang masuk dalam
yurisdiksi pengadilan, baik tindakan tersebut dianggap sebagai kejahatan atau tidak
menurut hukum domestik dimana tindakan tersebut dilakukan.
Konsep tanggung jawab komando:
Pemimpin, penyelenggara, pencetus, dan pembantu yang ikut ambil bagian dalam perencanaan
atau pelaksanaan dari sebuah rencana bersama atau konspirasi untuk melakukan kejahatan yang
mana saja yang masuk dalam yurisdiksi pengadilan bertanggung jawab atas SEGALA tindakan
yang dilakukan oleh SIAPAPUN dalam pelaksanaan rencana atau konspirasi tersebut.
Pemberkasan dakwaan di Pengadilan Tokyo:
1. Berkas 1-36: konspirasi dalam perencanaan (preparation), memulai (commencement) ,
dan pemajuan (furtherance) berbagai kejahatan perang.
2. berkas 37-52: pembunuhan, terutama pembunuhan dalam perang yang melanggar hukum
dan dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan dalam hukum dan kebiasaan perang.
3. berkas 53-55: tindakan kejahatan perang konvensional lainnya dan kejahatan terhadap
kemanusiaan.
Pengadilan hanya berhasil membuktikan tindak kejahatan yang termasuk dalam berkas 1, 27, 29,
31, 32, 33, 35, 36, 54, dan 55
Pengadilan HAM di Indonesia: Tinjauan Instrumen
Pelanggaran HAM Berat dalam UU no.26 tahun 2000 sebagaimana tercantum dalam pasal 7
hanya meliputi dua macam kejahatan yaitu genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.12
12
Pasal 7 UU no.26 tahun 2000
5
Implikasinya, secara teoretis, para pelanggar HAM yang bisa diadili menjadi semakin “sedikit”
karena kejahatan yang dapat diadili oleh Pengadilan ini hanya meliputi dua jenis kejahatan itu
saja, delik kejahatan Internasional (delicta juris gentium) diluar dua jenis kejahatan tersebut
seperti misalnya kejahatan agresi dan kejahatan perang serta pelanggaran terhadap Konvensi
Geneva tidak ter-cover di dalam Undang-Undang ini. Oleh karena itu Pengadilan HAM ini
dikhawatirkan oleh banyak pihak tidak akan dapat memberikan efective remedy bagi korban
pelanggaran HAM. Padahal penjelasan Undang-Undang ini secara eksplisit menyatakan bahwa
UU ini mengacu pada Statuta Roma. Jika memang demikian, mengapa tidak juga dimasukkan
Kejahatan Perang dan Kejahatan Agresi ke dalam yurisdiksi pengadilan HAM dalam UU
no.26/2000? Selain itu, ternyata ada ketidaksesuaian yang sangat signifikan antara bentuk-bentuk
pelanggaran berat hak asasi manusia sebagaimana yang dicantumkan dalam UU no.26/2000
dengan definisi tindak kejahatan serupa menurut hukum internasional.
a. Tentang Konsep Kejahatan Terhadap Kemanusiaan
Sementara, dalam bagian mengenai definisi konsep-konsep tentang kejahatan terhadap
kemanusiaan, dan tentang tanggung jawab komando UU No.26/2000 mengadopsi pengertian
yang terdapat dalam Statuta Roma. Sayangnya adopsi tersebut dilakukan dengan beberapa
distorsi yang pada akhirnya melemahkan konsep kejahatan terhadap kemanusian itu sendiri.13
Pengertian “kejahatan terhadap kemanusiaan” dalam pasal 9 UU no.26/2000 juga sumir karena
tidak ada parameter yang tegas untuk mendefinisikan unsur “meluas”, “sistematik” dan “intensi”
yang menjadi unsur utama bentuk kejahatan ini. Ketidakjelasan defenisi menyangkut ketiga
elemen tersebut mengakibatkan (pembuktian) pemidanaan terhadap kejahatan-kejahatan yang
dimaksud akan menjadi sulit.
Kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity) yang rumusannya terdapat dalam
pasal 9 UU No 26 tahun 2000 berbunyi sebagai berikut:
“Kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b adalah
salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau
sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap
penduduk sipil, …”
Rumusan di atas memiliki kelemahan mendasar yaitu: pertama, tidak jelasnya defenisi
kejahatan terhadap kemanusiaan dari tiga elemen penting yaitu: elemen meluas (widespread),
sistematik (systematic) dan diketahui (intension). Ketidakjelasan defenisi ketiga elemen itu
membuka bermacam interpretasi di pengadilan. (Sebagai perbandingan lihat pengertian dalam
Statuta Roma dimana “intension” didefinisikan dengan tegas.14) Akibatnya pembuktian dan
13
sebagai gambaran awal ketidaksinkronan UU no.26 tahun 2000 dengan Statuta Roma, lihat Penjelasan Pasal Demi
Pasal (bagian II), pasal 7 UU no.26 tahun 2000, dinyatakan “kejahatan genosida dan kejahatan terhadap
kemanusiaan dalam ketentuan ini sesuai dengan Rome Statute of the International Criminal Court (pasal 6 dan pasal
7)”. Namun dalam penjelasan untuk pasal 9 huruf a dinyatakan “yang dimaksud dengan pembunuhan adalah
sebagaimana tercantum dalam pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana”.
14
Lihat Pasal 30 ayat 2 & 3, Statuta Roma, yang mengatur mengenai mental element: “For the purposes of ths
article, a person has intent where: (2) (a) In relation to conduct, that person means to engage in the conduct; (b) In
6
pemidanaan terhadap pelaku kejahatan-kejahatan yang dimaksud dalam pasal yang sama15
menjadi sulit sehingga dakwaan menjadi sumir.
Dalam praktek hukum yang menangani kejahatan terhadap kemanusiaan seperti misalnya di
pengadilan Nuremberg, ICTR, dan ICTY, para hakim melakukan interpretasi terhadap unsur
meluas dengan menekankan pada luasan geografis dan massivitas jumlah korban; sementara
terhadap unsur sistematik implementasi kebijakan diindikasikan melalui adanya pola yang sama
dan berulang-ulang dan metodik.16 Mengingat bahwa tidak ada aturan yang secara eksplisit
mengharuskan pengadilan untuk mengadopsi praktek-praktek hukum internasional, maka tidak
ada kepastian apakah interpretasi semacam ini juga akan digunakan dalam pengadilan HAM di
Indonesia. Kondisi yang sama juga berlaku terhadap elemen “diketahui”.
Kedua, adanya problematika yang timbul dari penerjemahan yang keliru dalam pasal ini oleh
undang-undang yaitu kata: directed against any civilian population (bahasa Inggris, pengertian
ini berasal Statuta Roma pasal 7) yang seharusnya diartikan: ditujukan kepada populasi sipil,
oleh undang-undang ini diartikan: ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil. Kata
“langsung” ini bisa berimplikasi bahwa seolah-olah hanya para pelaku langsung di lapangan
sajalah yang dapat dikenakan pasal ini sedangkan pelaku diatasnya yang membuat kebijakan
tidak akan tercakup oleh pasal ini. Penggunaan kata “penduduk” dan bukannya “populasi”
sendiri telah menyempitkan subyek hukum dengan menggunakan batasan-batasan wilayah, dan
hal ini secara signifikan juga menyempitkan target-target potensial korban kejahatan terhadap
kemanusiaan hanya pada warga negara di mana kejahatan tersebut berlangsung.
Majelis hakim pada ICTY dan ICTR mengadopsi pengertian yang luas mengenai “populasi
sipil”. Untuk melindungi mereka yang potensial menjadi korban kejahatan terhadap
kemanusiaan, pengertian populasi sipil diartikan juga sebagai siapa saja yang dalam batasan
waktu tertentu secara aktif terlibat dalam kejadian dimana ia berada dalam posisi
mempertahankan diri dalam kondisi tertentu dapat dianggap sebagai korban kejahatan terhadap
kemanusiaan. Termasuk didalamnya anggota “gerakan perlawanan” yang telah menyerah dan
tidak bersenjata.17 Adopsi definisi yang seperti ini sulit diharapkan terjadi dalam Pengadilan
HAM mengingat anggota gerakan perlawanan di Indonesia cenderung dianggap sebagai
“pemberontak” dan tidak dianggap sebagai “penduduk sipil”.
relation to a consequence that person means to cause that consequence or is aware that it will occur ordinary course
of events. (3) For the purposes of this article,”knowledge” means awareness that a circumstance exists or
consequence will occur in thw ondinary course of events. “Know” and “knowingly” shall be construed accordingly.”
15
Pasal 9 UU no.26/2000
16
Lihat antara lain keputusan hakim dalam kasus Akayesu, ICTR (Case no.ICTR-96-4-T), 2 September 1998,
paragraf 580; kasus Tihomir Blaskic, ICTY (Case no. IT-95-14-T), 3 Maret 2000, paragraf 203 dan 206. Lihat juga
penegasan pengertian serupa dalam Draft Code of Crimes Against the Peace and Security of Mankind, Laporan
International Law Commission dalam sidang sessi ke 48, (UN Doc. A/51/10) paragraf 94-95 (Commentary on
Article18 part 4): “…committed in a systematic manner meaning pursuant to a preconceived plan or policy. The
implementation of this plan or policy could result in the repeated or continuous commission of inhumane acts…
committed on a large scale meaning that the acts are directed against a multiplicity of victims.”
17
Lihat “Opinion and Judgment” dalam kasus Milenko Tadic (ICTY). Masih dalam ICTY, lihat juga Keputusan
Peninjauan Kembali Dakwaan berkaitan dengan aturan nomor 61 dalam Rules of Procedures and Evidence, ICTY
Case no. IT-95-13-R61 (Kasus Vukovar), 3 April 1996, Bab I paragraf 29. Secara subsekuen, ICTR dalam kasus
Akayesu juga mengadopsi definisi yang secara substansial serupa.
7
Selain itu juga distorsi penerjemahan konsep dalam klasifikasi perbuatan di bawah definisi
kejahatan terhadap kemanusiaan, khususnya yang berkaitan dengan penerjemahan “persecution”
menjadi “penganiayaan” dalam UU No 26 tahun 2000 juga merupakan tantangan pembuktian
yang tak mudah bagi jaksa. Karena tidak ada penjelasan definitif yang detail, maka acuan
definisi dirujuk kepada definisi “penganiayaan” dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana
Indonesia (KUHP). Padahal, persecution memiliki arti yang lebih luas merujuk pada perlakuan
diskriminatif yang menghasilkan kerugian mental maupun fisik ataupun ekonomis. Artinya tidak
mensyaratkan perbuatan yang langsung secara ditujukan pada fisik seseorang.18 Dengan
digunakannya kata “penganiayaan” maka tindakan teror dan intimidasi yang sifatnya non-fisik
atas seseorang atau kelompok sipil tertentu atas dasar kepercayaan politik menjadi tidak
termasuk dalam kategori tersebut, dan Jaksa harus membuktikan adanya tindakan fisik yang
terjadi dan bukan hanya akibat yang ditimbulkan.
Dalam Statuta roma, unsur meluas atau sistematik juga dapat ditelusuri melalui unsur tindak
pidana (element of crime) yang dilakukan pada korban sipil, artinya, meluas dapat tidak hanya
mengacu pada massivitas korban atau luasan wilayah kejadian, melainkan juga bisa diacu pada
intensivitas bentuk kejahatan yang dilakukan. Prinsip ini terpapar dengan jelas dalam rumusan
pasal 7 ayat 2 mengenai penjelasan definitif atas “extermination” (pemusnahan): “… includes
the intentional infliction of conditions of life, inter alia the deprivation of access to food and
medicine, calculated to bring about the destruction of part of a population.” Dalam rumusan
pasal 9 UU no.26/2000 terma “calculated” tidak disertakan. Dengan tidak adanya
“pertimbangan” ini maka bisa dibilang secara otomatis membatasi pembuktian unsur meluas
semata-mata pada jumlah korban dan luasan geografis.
Selain itu dalam UU No.26/2000 tidak terdapat pencantuman secara detail dan eksplisit
mengenai jenis tindakan kejahatan seksual yang masuk dalam yuisdiksi Pengadilan HAM.
Dalam pasal 9g tidak menyertakan penjelasan definitif mengenai “bentuk-bentuk kekerasan
seksual lainnya yang setara” Ini berimplikasi pada bisa diinterpretasikannya kejahatan seksual
lain sebagai bentuknya yang setara, padahal di Statuta Roma yang setara adalah bobot
kekerasan/kejahatannya (equal gravity).
b. Konsep Tanggung Jawab Komando
Ketentuan pidana dalam UU no.26/2000 juga melingkupi tanggung jawab komando (command
responsibility). Namun pasal 42 ayat 1 Undang-Undang ini mempunyai beberapa kelemahan
dengan konsekuensi hukum yang besar. Pengertian tanggung jawab komando dalam pasal ini
dijabarkan sebagai berikut:
“komando militer atau seseorang yang secara efektif bertindak sebagai komando militer dapat
dipertanggungjawabkan terhadap tindak pidana yang berada dalam yurisdiksi pengadilan
18
Bandingkan pengertian “persecution” dalam ICC atau ICTY Statute dengan pengertian “penganiayaan” dalam UU
No 26/2000 pasal 9(h). Penganiayaan sebagaimana pengertian dalam KUHP dalam bahasa Inggris setara (bukan
sama secara definitif) dengan pengertian “assault” yang menunjuk pada penyerangan secara langsung terhadap fisik
seseorang. Lihat juga M Cherif Bassiouni, Crimes Against Humanity in the International Law, Kluwer Law
International , 1999, hal 247.
8
HAM, yang dilakukan oleh pasukan yang berada dibawah komando dan pengendaliannya yang
efektif, …”
Pengertian di atas, yang menggunakan kata “dapat” (could) dan bukannya “akan” (shall) atau
“harus” (should), secara implisit menegaskan bahwa tanggung jawab komando dalam kasus
pelanggaran berat hak asasi manusia yang diatur melalui UU ini bukanlah sebuah hal yang
bersifat otomatis dan wajib. Pasal ini secara tegas menguatkan pengertian kejahatan terhadap
kemanusiaan dalam pasal 9 yang cenderung ditujukan pada pelaku langsung di lapangan.
Dengan demikian Jaksa Penuntut Umum harus dapat menunjukkan dan membuktikan adanya
“keperluan” (urgensi) untuk mengadili para penanggung jawab komando, dan bukan hanya
pelaku lapangan saja.
Lebih lanjut, pasal 42 ayat 1 (a) mensyaratkan penanggung jawab komando untuk “seharusnya
mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran
hak asasi manusia yang berat.” Padahal, sumber dari pasal spesifik tersebut, yaitu pasal 28 ayat
1 (a) Statuta Roma secara tegas menyatakan bahwa komandan militer seharusnya “mengetahui
bahwa pasukan tersebut melakukan atau hendak melakukan kejahatan…”19
Distorsi ini berarti mengabaikan adanya kewajiban dari pemegang tanggung jawab komando
untuk mencegah terjadinya kejahatan. Meskipun dalam pasal 42 ayat 1 (b) pengabaian ini
dikoreksi dengan kalimat “komando militer tersebut tidak melakukan tindakan yang layak dan
diperlukan dalam ruang lingkup kekuasaannya untuk mencegah dan menghentikan perbuatan
tersebut, …” namun tidak ada definisi dan batasan yang tegas tentang apa yang “layak” dan
“perlu” dilakukan oleh penanggung jawab komando.20
Selain itu, pasal ini berimplikasi pada pengadilan terpaksa menekankan fokus perhatiannya pada
proses, yaitu apakah tindakan yang dilakukan sudah layak atau tidak, apakah perlu atau tidak
(obligation of conduct), dan secara otomatis mengabaikan pada kenyataan apakah tindakan yang
diambil oleh penanggung jawab komando berhasil mencegah dan menghentikan kejahatan atau
tidak (obligation of result). Padahal, selain harus bertanggung jawab jika menjadi pelaku
langsung, penganjur, atau penyerta, seorang atasan seharusnya juga bertanggung jawab secara
pidana atas kelalaian melaksanakan tugas (dereliction of duty) dan kealpaan (negligence).
Standar hukum kebiasaan internasional untuk “kealpaan” dan “kelalaian” dalam arti yang luas
menyatakan bahwa seorang atasan bertanggung jawab secara pidana jika: (1) ia seharusnya
mengetahui (should have had knowledge) bahwa pelanggaran hukum telah dan atau sedang
terjadi, atau akan terjadi dan dilakukan oleh bawahannya; (2) ia mempunyai kesempatan untuk
mengambil tindakan; dan (3) ia gagal mengambil tindakan korektif yang seharusnya dilakukan
sesuai keadaan yang ada atau terjadi saat itu.21 Tentang apakah seseorang tersebut “seharusnya
19
Pasal 28 ayat 1 (a) Statuta Roma: “That military commander or person either knew or, owing to the
circumstances at the time, should have known that the forces were committing or about to commit such crimes;”
(garis bawah dari penulis)
20
Batasan definitif tanggung jawab komando yang kabur ini juga diulangi pada pasal 42 ayat 2 yang mengatur
tentang tanggung jawab atasan (polisi dan pejabat sipil).
21
Lihat artikel Jordan J. Paust “Superior Orders and Command Responsibility” dalam M Cherif Bassiouni (ed.),
International Criminal Law, Volume I, Kluwer International, 1999, hal 236-237; Lihat juga artikel Anthony
D’Amato, Superior Orders vs Command Responsibility, American Journal of International Law, edisi 80 (1986),
9
mengetahui” harus diuji sesuai keadaan yang terjadi dan dengan melihat juga orang/pejabat lain
yang setara dengan tertuduh.
Pasal 7(3) Statuta ICTY juga secara interpretatif mencerminkan standar kebiasaan internasional
tersebut. Pasal tersebut mengakui adanya pertanggungjawaban pidana jika seseorang
“mengetahui atau mempunyai alasan untuk tahu” (knew or had reason to know) kelakuan
bawahannya. Kalimat ini berkaitan dengan adanya kegagalan untuk mencegah suatu kejahatan
atau menghalangi tindakan yang melanggar hukum yang dilakukan oleh bawahannya atau
menghukum mereka yang telah melakukan tindak pidana. Meskipun pasal ini memfokuskan
pada keadaan dimana seorang bawahan akan melakukan suatu tindak pidana atau telah
melakukannya, tidak ada indikasi bahwa tanggung jawab pidana tersebut akan dihilangkan jika
ada tindakan yang telah dilakukan oleh si atasan namun pelanggaran / kejahatan oleh bawahan
tetap terjadi.22
Penutup: Rekomendasi Bahan Bacaan
Yves Beigbeder, Judging War Criminals: The Politics of International Justice (New York: St
Martin’s Press, 1999)
Benjamin D Ferencz, An International Criminal Court: A Step Toward World Peace: A
Documentary History and Analysis (London: Oceana Publications, 1980)
Arnold C Brackman, The Other Nuremberg: The Untold Story of the Tokyo War Crimes Trials
(New York: Quill, 1989)
Richard H Minear, Victor’s Justice: The Tokyo War Crimes Trial (Princeton, NJ: Princeton
University Press, 1971)
B V A Röling & C F Rüter (eds), The Tokyo Judgment (amsterdam: APA University Press,
1977) 2 vols. Æ berisi full text dari keputusan pengadilan Tokyo lengkap beserta lampiran dan
dissenting opinion.
International Military Tribunal for the Far East, The Tokyo Major War Crimes Trial: the Records
of the International Military Tribunal for the Far East: with an authoritative commentary and
comprehensive guide, annotated, compiled, & edited by R. John Pritchard (Lewiston, NY
published for the Robert MW Kempner Collegium by Edwin Mellen Press, 1998)
hal. 604, 607-608; Penjelasan yang lebih panjang lebar dapat dilihat pada tulisan William Eckhardt, Command
Criminal Responsibility: A Plea for a Workable Standard, Military Law Review, edisi 97 (1982).
22
Seperti yang ditegaskan kembali dalam Laporan Sekjen PBB tentang Resolusi Konflik Keamanan 808, UN Doc.
S/25704 (1993) paragraf 56.
10
Download