BAB I - RP2U Unsyiah

advertisement
BAB I
KRIMINOLOGI DAN PERKEMBANGANNYA
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan
mahasiswa
mampu
memahami:
Kriminologi
dan
perkembangannya.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu:
1. Kriminologi dan Perkembangannya
2. Hubungan Kriminologi dan Hukum Pidana
3. Tujuan Mempelajari Kriminologi
A. Kriminologi dan Perkembangannya
Istilah kriminologi pertama kali dipergunakan oleh Topinard,
seorang antropolog Prancis pada tahun 1879. Asal mula
perkembangan kriminologi berasal dari penyelidikan C. Lombroso
(1876). Penemuan yang tanpa disengajanya akan merupakan suatu
karya agung di lapangan kriminologi dikemudian hari,
sebagaimana dikutip oleh John Hagan dalam Romli Atmasasmita1,
Lombroso developed these ideas (the concept of atavism and the
principles of evolution) during the course of his work as a prison
physician. One particular offender, a famous inmate by the name of
Vilela, attracted Lombroso's special interest. Lombroso conducted
a postmortem examination of Vilela and discoverred a depression
in the interior back part of his skull that he called the "median
occipital fossa". Lombroso recognized this feature as a
characteristic found in inferior animals and excitedly concluded
the following ....". Bahkan Lombroso dipandang sebagai salah satu
1
Romli Atmasamita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika
Aditama, Bandung, 2005. hal. 16.
1
2
tokoh revolusi dalam sejarah hukum pidana, di samping Cesare
Beccaria (1764).2
Cesare Beccaria dikenal sebagai tokoh yang paling menonjol
dalam upaya menentang kesewenang-wenangan lembaga peradilan
pada masanya, Bangsawan Italia ini bukanlah seorang ahli hukum,
tetapi seorang ahli matematik dan ekonomi yang menaruh
perhatian besar pada kondisi hukum. Dalam bukunya Dei Delitti e
delle pene, terdapat pemikirannya tentang keberatan-keberatannya
terhadap hukum pidana, hukum acara pidana, dan sistem pidana
yang ada pada masa itu.
Seperti diketahui, hukum pidana pada abad ke 16 hingga abad
ke 18 semata-mata dijalankan untuk menakut-nakuti dengan jalan
menjatuhkan hukuman yang sangat berat, dan dengan cara yang
sangat mengerikan terhadap pelaku kejahatan dengan tujuan
suapaya masyarakat pada umumnya dapat terlindungi dari
kejahatan. Begitupun dalam hukum acara pidana yang dilukiskan
oleh Bonger sebagaimana dikutip oleh Topo Santoso dan Eva
Achjani Zulfa, dimana terdakwa diperlakukan seperti barang untuk
diperiksa.pemeriksaan dilakukan secara rahasia dan pembuktian
digantungkan kepada kemauan sipemeriksa.3
Beccaria mengajukan delapan prinsip yang menjadi landasan
untuk menjalankan hukum pidana, hukum acara pidana dan proses
penghukuman. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Perlu dibentuk suatu masyarakat berdasarkan prinsip kontrak
sosial (social contract).
2. Sumber hukum adalah undang-undang dan bukan hakim.
Penjatuhan hukuman oleh hakim harus didasarkan sematamata karena undang-undang.
2
Ibid, hal. 9.
Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, RajaGrafindo Persada,
Jakarta, 2001, hal. 1.
3
3
3. Tugas hakim hanyalah menentukan kesalahan seseorang.
4. Menghukum adalah merupakan hak negara, dan hak itu
diperlukan untuk melindungi masyarakat dari keserakahan
individu.
5. Harus dibuat suatu skala perbandingan antara kejahatan dan
penghukuman.
6. Motif manusia pada dasarnya didasarkan pada keuntungan dan
kerugian, artinya manusia dalam melakukan perbuatan akan
selalu menimbang kesenangan atau kesengsaraan yang akan
didapatnya (prinsip hedonisme).
7. Dalam menentukan besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh
suatu kejahatan maka yang menjadi dasar penentuan hukuman
adalah perbuatannya dan niatnya.
8. Prinsip dari hukum pidana adalah ada pada sanksi positif
Prinsip-prinsip dari Beccaria ini selanjutnya diadopsi dalam
undang-undang Napoleon (Code Civil Napoleon) yang lebih
dikenal dalam bentuk asas-asas hukum yaitu:
a. Kepastian hukum, yang bermakna hukum harus dibuat dalam
bentuk tertulis. Beccaria bahkan melarang hakim
menginterpretasikan undang-undang karena ia bukan lembaga
legislatif.
b. Persamaan di depan hukum, yang berarti menentang
keberpihakan di depan hukum. Untuk itulah maka dilakukan
penuntutan untuk menyamakan derajat setiap orang di depan
hukum.
c. Keseimbangan antara kejahatan dengan hukuman, yang
bermakna spirit of the law yang ada pada hakim melalui
kekuasaannya dalam menginterpretasikan suatu undangundang tidak boleh dengan sewenang-wenang.4
4
Ibid, hal. 4.
4
Pendapat lain mengemukakan bahwa penyelidikan secara
ilmiah tentang kejahatan justru bukan dari Lombroso melainkan
dari Adolphe Quetelet (1874), seorang Belgia yang memiliki
keahlian dalam bidang matematika. Quetelet mengemukakan
statistik moral kejahatan (moral statistics of crime) ketika ia
menerapkan keahliannya dalam bidang matematika terhadap
bidang sosiologi. Ia percaya bahwa hukum-hukum dalam ilmu
pengetahuan hanya dapat diselidiki berdasarkan pelbagai
kemungkinan tertentu sebagai hasil dari dan tecermin dalam
sejumlah besar observasi dibandingkan melalui kejadian-kejadian
yang bersifat individual.
Di bidang sosiologi termasuk dalam studi kejahatan, Quetelet
menerapkan “hukum” ilmu pengetahuan dan dapat dibuktikan
adanya “regularities” dalam perkembangan kejahatan. Dari
“regularities” yang ia temukan dari statistik moral dimaksud,
Quetelet percaya telah menemukan “hukum kriminologi” (sebagai
suatu ilmu pengetahuan) yaitu bahwa kejahatan tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat, dan setiap kejadian kejahatan
tertentu selalu berulang sama, yaitu memiliki modus operandi dan
mempergunakan alat-alat yang sama.
Bagi perkembangan kriminologi, penemuan Quetelet tersebut
justru mengandung makna yang sangat mendalam, yaitu bahwa
penyebab timbulnya kejahatan tidak lagi karena faktor pewarisan,
tetapi juga karena faktor lingkungan (sosial dan fisik). “Statistik
moral” atau sekarang dikenal dengan “statistik kriminil” kini
dipergunakan terutama oleh pihak kepolisian di semua negara
dalam memberikan deskripsi tentang perkembangan kejahatan di
negaranya.
B. Hubungan Kriminologi Dan Hukum Pidana
Kriminologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan hukum
pidana dalam arti luas, demikian pendapat P.A.F Lamintang
5
pada saat menjelaskan Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana
dalam buku Dasar-Dasar Hukum Pidana.5 Dengan mengutip
pendapat Bonger, kriminologi terdiri dari dua bahagian yaitu
theoretische atau zuiver criminologie (mempelajari gejalagejala kriminalitas sebagai keseluruhan) dan practische atau
toegepaste criminologie (berusaha mengamati dengan sebaik
mungkin berbagai tindak pidana, untuk kemudian dengan
mempergunakan
metoda-metoda
tertentu
berusaha
6
menyelidiki sebab-sebab dari gejalanya).
Kriminologi itu merupakan suatu nama kumpulan dari
sejumlah ilmu pengetahuan yang terdiri dari:
1. Antropologi kriminal yakni ilmu pengetahuan yang
mempelajari pribadi si penjahat. Ia berusaha menjawab
pertanyaan
pertanyaan
seperti
ciri-ciri
jasmani
bagaimanakah yangdimiliki olehseorang penjahat itu?
Atau adakah hubungan antara suku bangsa dengan sifat
jahat seseorang dan sebagainya.Ilmu pengetahuan ini
merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam;
2. Sosiologi kriminal yakni ilmu pengetahuan yang
mempelajari kriminalitas sebagai gejala kemasyarakatan.
Pada dasarnya ia berusaha menjawab pertanyaan tentang
sampai berapa jauh sebab-sebab dari kejahatan itu
terdapat dalam masyarakat;
3. Psikilogi kriminal, yakni ilmu pengetahuan yang
mempelajari gejala-gejala kejiwaan di dalam kejahatan;
4. Psiko-neuro patologi kriminal, yakni ilmu pengetahuan
yang mempelajari penjahat yang menderita penyakit jiwa
atau penyakit syaraf;
5
Lamintang P.A.F, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Sinar
Baru, Bandung, 1984. hal. 23.
6
Ibid.
6
5. Penologi, yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari
timbul dan berkembangnya hukuman-hukuman serta arti
dan kegunaan hukuman-hukuman tersebut;
6. Kriminologi terapan, yakni criminele hygiene dan
criminile politiek;
7. Kriminalistik, yakni suatu ilmu pengetahuan terapan
yang mempelajari teknik-teknik kejahatan atau yang
juga disebut modus operandi dan teknik-teknik
penyelidikan. Ia merupakan suatu kombinasi antara
psikologi mengenai kejahatan, psikologi mengenai si
penjahat, ilmu kimia, fisika, grafologi dan lain-lain.
Bonger seperti dikutip Lamintang, mengkategorikan lima
macam ilmu pengetahuan secara bersama-sama disebut
sebagai kriminologi yang bersifat teoritis atau yang bersifat
murni (Antropologi kriminal, Sosiologi kriminal, Psikologi
kriminal, Psiko-neuro patologi kriminal, Penologi).
Adapun kriminalistik (police scientifique atau ilmu
kepolisian), sebagai salah satu ilmu pengetahuan di dalam
kriminologi, yang di dalam pengertiannya yang luas juga
termasuk ke dalam ilmu pengetahuan hukum pidana, masih
sangat kurang mendapat perhatian dari para ahli hukum,
sesungguhnya kriminalistik dapat memberi sumbangan yang
sangat besar untuk memecahkan berbagai permasalahan yang
seakan-akan tidak pernah dapat dipecahkan baik di dalam
dunia pendidikan maupun di dalam praktek.7
Menurut Moeljatno, di samping ilmu hukum pidana,
yang sesungguhnya dapat juga dinamakan ilmu tentang
hukumnya kejahatan, ada juga ilmu tentang kejahatannya
sendiri yang dinamakan kriminologi. Kecuali obyeknya
berlainan, tujuannya pun berbeda. Obyek ilmu hukum pidana
7
Ibid, hal. 24.
7
adalah aturan-aturan hukum mengenai kejahatan atau
bertalian dengan pidana (hukum pidana positif), tujuannya
agar dapat dimengerti dan digunakan dengan sebaik-baiknya
serta seadil-adilnya. Sedangkan obyek kriminologi adalah
orang yang melakukan kejahatan (penjahat) itu sendiri, dan
tujuannya, agar menjadi mengerti apa sebabnya sampai
berbuat jahat itu. Apakah memang karena bakatnya adalah
jahat, ataukah didorong oleh keadaan masyarakat sekitarnya
(milieu) baik keadaan sosiologis maupun keadaan ekonomis.
Ataukah ada sebab-sebab lain lagi. Jika sebab-sebab itu
sudah diketahui, maka di samping pemidanaan, dapat
diadakan tindakan-tindakan yang tepat, agar orang tadi tidak
lagi berbuat demikian, atau agar orang-orang lain tidak akan
melakukan hal yang serupa.8
Keberadaan kriminologi di samping ilmu hukum pidana,
akan memperluas pengetahuan tentang kejahatan, sehingga
orang lebih memahami tentang penggunaan hukumnya
terhadap kejahatan maupun pengertiannya mengenai
timbulnya kejahatan dan cara-cara pemberantasannya,
sehingga memudahkan penentuan adanya kejahatan dan
bagaimana menghadapinya untuk kebaikan masyarakat dan
penjahat itu sendiri.
Untuk menilai keterkaitan antara hukum pidana dan
kriminologi kiranya patut disimak uraian Romli Atmasasmita
yang menyatakan bahwa banyak ahli berpendapat kedua
disiplin ini memiliki perbedaan mendasar yaitu:
1. Hukum pidana merupakan disiplin ilmu normatif dan
kriminologi disiplin ilmu sosial;
8
Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2008,
hal. 14.
8
2. Hukum pidana bersendikan hukum kemungkinankemungkinan (probabilities) untuk menemukan
hubungan sebab akibat terjadi kejahatan dalam
masyarakat;
3. Hukum pidana mengkaji kejahatan dari sudut hukum,
sedangkan kriminologi mengkaji kejahatan dari sudut
ilmu sosial atau sering disebut sebagai “nonnormative discipline”;
4. Hukum pidana oleh Van Bemmelen disebut sebagai
“normative-strafrechtwissenschaft”, dan kriminologi
sebagai “Faktuele strafrechtwissenschaft”.
Dilihat dari perbedaan tersebut tampak seakan tidak ada
keterkaitan antara keduanya. Namun demikian secara teoritik
kedua disiplin ilmu tersebut dapat dikaitkan akan tetapi
secara praktik sangat terbatas sekali keterkaitan dan
pengaruhnya. Hukum pidana memusatkan perhatiannya
terhadap pembuktian suatu kejahatan sedangkan kriminologi
memusatkan perhatian pada faktor-faktor penyebab
terjadinya kejahatan. Kriminologi telah ditunjukkan untuk
mengungkapkan motif pelaku kejahatan sedangkan hukum
pidana kepada hubungan antara perbuatan dan akibat (hukum
sebab-akibat). Faktor motif dapat ditelusuri dengan buktibukti yang memperkuat adanya niat melakukan kejahatan.
Dari uraian ini jelas keterkaitan antara kedua disiplin
ilmu ini sangat dekat karena secara praktis, hasil analisis
kriminologi dengan demikian banyak manfaatnya dalam
kerangka proses penyidikan atas terjadinya suatu kejahatan.
Namun Romli Atmasasmita lebih jauh mengingatkan uraian
ini dapat diterima dalam kerangka analisa kejahatan yang
bersifat individual dan tidak sepenuhnya dapat diberlakukan
9
untuk mengungkapkan kejahatan yang bersifat terorganisir
(organized crime).9
Ilmu hukum pidana dan kriminologi merupakan
pasangan (dwitunggal). Yang satu melengkapi yang lain.
Kedua ilmu ini di Jerman dicakup dengan nama Die
gesammte strafrechts wissenschaft, dan dalam negeri-negeri
anglosaxon dengan nama Criminal science. 10
Di negara-negara Anglo Saxon, kriminologi biasanya
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Criminal biology, yang menyelidiki dalam diri orang itu
sendiri akan sebab-sebab dari perbuatannya, baik dalam
jasmani maupun rohaninya;
2. Criminal sosiology, yang mencoba mencari sebab-sebab
itu dalam lingkungan masyarakat dimana penjahat itu
berada;
3. Criminal Policy, yaitu tindakan-tindakan apa yang
sekiranya harus dijalankan supaya orang (orang lain)
tidak berbuat jahat.
Menurut Marc Ancel, Modern Criminal Science terdiri
dari tiga komponen yaitu: Criminology, Criminal Law dan
Penal Policy. Adapun Penal policy (politik hukum pidana)
menurut Barda Nawawi Arief seperti dikutip Hamdan, adalah
suatu ilmu sekaligus seni yang pada akhirnya memberi tujuan
praktis untuk memungkinkan peraturan hukum positif
dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberi pedoman,
tidak hanya kepada pembuat undang-undang, tetapi juga
kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang dan
9
Romli Atmasamita, Op. cit. hal. 5.
Moeljatno, Op. Cit, hal. 16.
10
10
juga kepada penyelenggara atau pelaksana putusan
pengadilan.11
Terkait dengan politik kriminal sebagai bagian dari studi
kriminologi, Hermann Mannheim berpendapat bahwa
kriminologi harus bersifat “non-policy-making discipline,
piece-meal social engineering which regards the ends as
beyond its provincie”.12 Sahetapy, sependapat dengan
Mannheim mengenai hal itu, namun menurutnya hal itu tidak
berarti para sarjana kriminologi tidak dapat mengusulkan
tindakan hukum atau perbaikan dalam sistem pemidanaan,
meskipun kata akhir tetap dalam tangan badan-badan yang
berwenang.13
Dalam kedudukannya sebagai suatu ilmu pengetahuan,
sering pula dipertanyakan apakah kriminologi merupakan
ilmu yang membantu hukum pidana ataukah merupakan ilmu
yang berdiri sendiri?. Thorten Sellin mengemukakan bahwa
kriminologi adalah “kings without a country”14, pendapat
Sellin yang demikian terkait dengan para ahli kriminologi/
kriminolog yang sebenarnya berasal dari disiplin lain seperti,
sosiolog, psikiater, sarjana hukum, insinyur dan sebagainya.
Bantahan terhadap pernyataan itu datang dari van Bemmelen
yang menurutnya tidak ada suatu ilmu pengetahuan pun yang
tidak bergantung dari ilmu pengetahuan yang lain,
ditegaskannya bahwa kriminologi sebagai “a true king”.15
11
Hamdan, Politik Hukum Pidana, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1997, hal.
12
J.E. Sahetapy, Kapita Selekta Kriminologi, Alumni, Bandung, 1979, hal.
20.
22
13
Ibid, hal. 22.
Ibid, hal 15.
15
Ibid.
14
11
Ditinjau dari segi perkembangan kriminologi, pada
waktu lampau kriminologi dianggap sebagai bagian dari
hukum
pidana.
Dalam
perkembangan
selanjutnya,
kriminologi ditempatkan sebagai ilmu pembantu hukum
pidana. Pada masa sekarang pandangan yang demikian tidak
dapat dipertahankan lagi. Kriminologi lebih tepat dikatakan
sebagai “meta science” seperti dinyatakan oleh Bianchi,
yaitu suatu ilmu yang memiliki ruang lingkup yang lebih luas
dimana
pengertiannya
dapat
dipergunakan
untuk
memperjelas konsepsi-konsepsi dan masalah-masalah yang
terdapat dalam hukum pidana.16
C. Tujuan Mempelajari Kriminologi
Berawal dari studi kriminologi yaitu mempelajari kejahatan dari
berbagai aspek sehingga diperoleh pemahaman tentang fenomena
kejahatan dengan lebih baik, maka rekomendasi pada Konferensi
tentang Pencegahan kejahatan dan Tindakan terhadap Delinkuen 17
Desember 1952 di Jenewa dapat digunakan sebagai dasar bagi
pengajaran kriminologi untuk mahasiswa fakultas hukum.
Konferensi tersebut antara lain merekomendasikan agar
kriminologi diajarkan di universitas yang lulusannya akan bekerja
dalam bidang penegakan hukum seperti polisi, jaksa, hakim,
petugas lembaga pemasyarakatan dan pengacara.
Dengan perkembangan kriminologi yang cukup pesat setelah
tahun 1960-an terutama dalam bidang sosiologi hukum (pidana)
semakin penting bagi penstudi hukum untuk memperoleh
pemahaman yang lebih baik mengenai masalah kejahatan, yang
sekaligus akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik pula
mengenai hukum pada umumnya.
16
hal. 9.
Made Darma Weda, Kriminologi, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1996,
12
Berbagai paradigma studi kejahatan yang lahir pada tahun
1970-an dalam kaitannya dengan perspektif hukum dan organisasi
sosial mengandung arti kriminologi telah terkait dan tidak dapat
dipisahkan dari perkembangan struktur masyarakat. Secara singkat,
dapat dikatakan bahwa kejahatan yang menjadi fokus setiap
pembahasan teori kriminologi tidak lagi bersifat bebas nilai, dalam
arti bahwa kejahatan akan selalu merupakan hasil dari pengaruh
dan interaksi pelbagai faktor seperti sosial, budaya, ekonomi,
politik.
Pengaruh faktor-faktor tersebut dikemukakan oleh Hagan
sebagaimana dikutip Romli Atmasasmita, telah terbukti dengan
munculnya kejadian-kejadian di Amerika Serikat dan lnggris.
Kejadian yang paling terkenal adalah apa yang disebut dengan
“Berkeley's riot” yang terjadi pada musim semi tahun 1972. Sejak
pendirian The School of Criminology di Universitas Berkeley pada
tahun 1949, aliran kriminologi yang dianut adalah aliran garis
keras, yaitu bahwa kriminologi diharapkan dapat mempengaruhi
kebijakan pemerintah dengan cara mempengaruhi masyarakat yang
mau melaksanakan misi dimaksud.
Setelah lembaga ini mendapat kritik yang tajam dari pihak
universitas (1961), maka lembaga ini menitikberatkan pada
pendekatan sosial, ilmiah, dan hukum dalam mempelajari
kejahatan. Menjelang akhir dari perjalanannya, lembaga ini
kemudian kembali menganut garis keras dengan tujuan mengambil
inisiatif, mengorganisasi dan berpartisipasi dalam gerakan-gerakan
militan dalam isu-isu rasisme dan seksisme di Amerika Serikat.
Melihat keadaan demikian, sebagai tindak lanjut terhadap apa
yang dikenal sebagai “Berkeley Riots”, lembaga ini ditutup
pemerintah. lnggris pun mengalami hal yang sama tetapi tidak
sekeras yang terjadi di Berkeley. Pergolakan terjadi di Lembaga
Kriminologi Universitas Cambridge pada tahun 1970. Usaha-usaha
13
untuk mengadakan gerakan-gerakan militan telah dipelopori oleh
Ian Tylor, Paul Walton, dan Jock Young dengan tujuan
membebaskan masyarakat dari kejahatan didasarkan pada
pembentukan masyarakat sosialis.17
Di abad ke-20 ini, kejahatan dapat dikatakan sebagai hasil dari
suatu proses rekayasa masyarakat baik di bidang sosial, budaya,
ekonomi, dan politik. Sebagai konsekuensi dari proses dimaksud,
tujuan kriminologi tidak lagi bersifat science for science tetapi
science for the welf are of society atau bahkan dapat dikatakan
sebagai science for the interest of the power elite.
Menurut Romli Atmasasmita, kriminologi abad ke-20, sejalan
dengan pendapat Marc Ancel (la defense sociale), harus merupakan
suatu kontrol sosial terhadap kebijakan dalam pelaksanaan hukum
pidana. Dengan kata lain, kriminologi harus memiliki peran yang
antisipatif dan reaktif terhadap semua kebijakan di lapangan hukum
pidana sehingga dengan demikian dapat dicegah kemungkinan
timbulnya akibat-akibat yang merugikan, baik bagi si pelaku,
korban, maupun masyarakat secara keseluruhan.18
RANGKUMAN
1. Asal mula perkembangan kriminologi berasal dari
penyelidikan C. Lombroso (1876), namun ada pendapat lain
bahwa penyelidikan secara ilmiah tentang kejahatan dari
Adolphe Quetelet (1874), seorang Belgia yang memiliki
keahlian dalam bidang matematika.
2. Ilmu hukum pidana kriminologi seperti merupakan
pasangan (dwitunggal) saling melengkapi, Kedua ilmu
ini di Jerman dicakup dengan nama Die gesammte
17
18
Romli Atmasamita, 2005, Op.Cit. hal. 20.
Ibid, hal. 17.
14
strafrechts wissenschaft, dan dalam negeri-negeri
anglosaxon dengan nama Criminal science
3. Kriminologi memiliki peran yang antisipatif dan reaktif
terhadap semua kebijakan di lapangan hukum pidana dengan
demikian dapat dicegah kemungkinan timbulnya akibat-akibat
yang merugikan, baik bagi si pelaku, korban, maupun
masyarakat secara keseluruhan.
4. Kriminologi sebagai “meta science” yaitu suatu ilmu
yang memiliki ruang lingkup yang lebih luas dimana
pengertiannya dapat dipergunakan untuk memperjelas
konsepsi-konsepsi dan masalah-masalah yang terdapat
dalam hukum pidana.
LATIHAN
1. Jelaskan awal mula perkembangan kriminologi?
2. Jelaskan hubungan antara kriminologi dan hukum
pidana?
3. Jelaskan tujuan mempelajari kriminologi?
4. Bagaimanakah eksistensi kriminologi dewasa ini?
GLOSSARIUM
1. Hedonisme artinya suatu prinsip dimana dalam melakukan
perbuatan manusia akan selalu menimbang antara kesenangan
atau kesengsaraan yang akan didapatnya dari atau akibat
perbuatan tertentu.
2. Theoretische atau zuiver criminologie mempelajari
gejala-gejala kriminalitas sebagai keseluruhan.
3. Practische atau toegepaste criminologie berusaha
mengamati dengan sebaik mungkin berbagai tindak
pidana, untuk kemudian dengan mempergunakan
15
metoda-metoda tertentu berusaha menyelidiki sebabsebab dari gejalanya.
4. Organized crime adalah kejahatan yang bersifat
terorganisir.
5. Meta science yaitu suatu ilmu yang memiliki ruang
lingkup yang lebih luas dimana pengertiannya dapat
dipergunakan untuk memperjelas konsepsi-konsepsi dan
masalah-masalah yang terdapat dalam hukum pidana.
6. Kings without a country adalah pendapat Thorten Sellin
tentang kriminologi dimana para kriminolog berasal dari
disiplin lain seperti, sosiolog, psikiater, sarjana hukum,
insinyur dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdan, 1997, Politik Hukum Pidana, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
J.E. Sahetapy, 1979, Kapita Selekta Kriminologi, Alumni, Bandung.
Lamintang P.A.F, 1984, Dasar-Dasar
Indonesia, Sinar Baru, Bandung.
Hukum
Pidana
Made Darma Weda, 1996, Kriminologi, RajaGrafindo Persada,
Jakarta.
Moeljatno, 2008, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta,
Jakarta.
Topo
Romli
Santoso dan Eva Achjani Zulfa,
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
2001,
Kriminologi,
Atmasamita, 2005, Teori dan Kapita
Kriminologi, Refika Aditama, Bandung.
Selekta
16
BAB II
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
KRIMINOLOGI
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan
mahasiswa mampu memahami tentang: Pengertian dan
Ruang Lingkup Kriminologi, serta Aliran-aliran/mazhabmazhab kriminologi.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan
mahasiswa mahasiswa mampu:
1. Mengemukakan beberapa pengertian kriminologi.
2. Menjelaskan ruang lingkup kriminologi.
3. Membedakan aliran-aliran/mazhab-mazhab kriminologi.
A. Pengertian Kriminologi
Kriminologi, secara harfiah, berasal dari kata “crimen” yang
berarti kejahatan dan “logos” yang berarti ilmu pengetahuan.
Jadi kriminologi diartikan sebagai pengetahuan tentang
kejahatan.
Pengertian secara harfiah semata dapat mempersempit
persepsi orang tentang kajian dari kriminologi, seolah-olah
hanya kejahatan saja yang dibahas oleh ilmu pengetahuan ini.
Padahal menurut Romli Atmasasmita, kriminologi dapat
ditinjau dari dua segi, yaitu kriminologi dalam arti sempit
yang hanya mempelajari kejahatan saja, dan kriminologi
dalam arti luas, yang mempelajari teknologi dan metodemetode yang berkaitan dengan kejahatan dan masalah
17
prevensi kejahatan dengan tindakan-tindakan yang bersifat
punitif.19
Bahkan sebelumnya Sutherland dan Cressey telah
menyebutkan bahwa “criminology is the body of knowledge
regarding crime as sosial phenomenon” yang bermakna pula
dalam pengertian kriminologi adalah proses pembentukan
hukum, pelanggaran hukum, dan reaksi terhadap pelanggar
hukum.20
Untuk memperoleh pengertian yang dapat mencakup
ruang lingkup dan studinya berikut akan dipaparkan beberapa
pengertian menurut beberapa pakar kriminologi lainnya.
1. W. A. Bonger
Kriminologi menyelidiki gejala kejahatan seluasluasnya.Bersifat
teoritis
murni
yang
mencoba
memaparkan sebab-sebab kejahatan menurut berbagai
aliran dan melihat berbagai gejala sosial seperti penyakit
masyarakat
yang
dinilai
berpengaruh
terhadap
perkembangan kejahatan.
2. W.H Nagel
Kriminologi pasca PD II semakin luas, tidaksemata-mata
etiologis,karena sejak tahun 1950-an telah berkembang
viktimologi
(mempelajari
hubungan
antara
pelakukejahatan dan korbannya).Perkembangan sosiologi
hukum semakin memperluas lingkup kriminologi.
3. Martin L.Haskell and Lewis Yablonsky
Kriminologi mencakup analisa-analisa tentang:
a. Sifat dan luas kejahatan;
19
Romli Atmasasmita, Bunga Rampai Kriminologi, Rajawali, Jakarta, 1984,
hal. 2.
20
Made Darma Weda, Op. Cit, hal. 2.
18
b. Sebab-sebab kejahatan;
c. Perkembangan hukumpidana dan pelaksanaannya;
d. Ciri-ciri (tipologi) pelaku kejahatan (kriminal)
e. Pola-pola kriminalitas dan perubahan sosial
4. Edwin H. Sutherland dan Donald R. Cressey:
Kriminologi adalah ilmu dari berbagai ilmu pengetahuan
yang mempelajari kejahatan sebagai fenomena sosial dan
meliputi:
a. Sosiologi hukum sebagai analisa ilmiah atas kondisikondisi perkembangan hukum pidana;
b. Etiologi kriminal yang mencoba melakukan analisa
ilmiah mengenai-sebab-sebab kejahatan;
c. Penologi yang menaruh perhatian atas perbaikan
narapidana
Dari berbagai pengertian di atas pada umumnya acuan
yang sering digunakan untuk definisi dan ruang lingkup
kriminologi adalah rumusan E.H.Suhtherland dan Katherine
S. Willliaam yaitu: “criminology is the body of knowledge,
regarding crime as a social phenomenon; includes the study
of: the characteristics of the criminal law, the extent of
crime, the effects of crime on victimsond on society, methods
of crime prevention,the attributes of criminals and the
characteristics and workings of criminal justice system.
Dengan pengertian demikian, maka kriminologi adalah
ilmu dari berbagai pengetahuan yang mempelajari kejahatan
sebagai fenomena sosial yang meliputi:
a. Karakteristik hukum pidana;
b. Keberadaan kriminalitas;
c. Pengaruh kejahatan terhadap korbannya dan terhadap
masyarakat;
d. Metoda penanggulangan kejahatan;
19
e. Atribut penjahat;
f. Karakteristik dan bekerjanya sistem peradilan pidana.
Perlu dicatat dalam rumusan ini adalah:
a. Yang dimaksud dengan studi kejahatan dalam
kriminologi dewasa ini adalah hubungan antara pelaku
kejahatan dan korbannya
b. Karakteristik hukum pidana dan bekerjanya sistem
peradilan pidana, tidak terlepas dari kriminologi dalam
hubungannya dengan politik atau kebijakan kriminal
dan kebijakan sosial yaitu pembangunan nasional
c. The body of knowledge, yaitu kriminologi dalam
hubungan dengan berbagai ilmu pengetahuan.21
B. Ruang Lingkup Studi Kriminologi
Menurut Sutherland, kriminologi terdiri dari tiga bagian utama,
yaitu:
1. Etiologi kriminal, yaitu usaha secara ilmiah untuk mencari
sebab-sebab kejahatan;
2. Penologi,- yaitu pengetahuan yang mempelajari tentang
sejarah lahirnya hukuman, perkembangannya serta arti dan
faedahnya;
3. Sosiologi hukum (pidana), yaitu analisis ilmiah terhadap
kondisi-kondisi yang mempengaruhi perkembangan hukum
pidana.
Secara garis besarnya dapat dikatakan kriminologi mempelajari
tentang :
21
Soedjono Dirdjosisworo, Sinopsis Kriminologi Indonesia, Mandar Maju,
Bandung, 1994, hal. 13
20
1. Kejahatan.
Apakah yang dimaksud dengan kejahatan ? Dalam hal ini
yang dipelajari terutama adalah perundang-undangan pidana,
yaitu norma-norma yang termuat di dalam peraturan pidana.
Meskipun kriminologi terutama mempelajari perbuatanperbuatan yang oleh undang-undang dinyatakan sebagai tindak
pidana, namun perkembangan kriminologi setelah tahun 1960an khususnya studi sosiologis terhadap perundang-undangan
pidana telah menyadarkan bahwa dijadikannya perbuatan
tertentu sebagai kejahatan (tindak pidana) tidak semata-mata
dipengaruhi oleh besar kecilnya kerugian yang diti
mbulkannya atau karena bersifat amoral, melainkan lebih
dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan (politik).
Sebagai akibatnya kriminologi memperluas studinya
terhadap perbuatan-perbuatan yang dipandang sangat
merugikan masyarakat luas. baik kerugian materi maupun
kerugian/bahaya terhadap jiwa dan kesehatan manusia,
walaupun tidak diatur dalam undang undang pidana. Sejalan
dengan itu, Konggres ke- 5 tentang “Pencegahan Kejahatan
dan Pembinaan Pelanggar Hukum" yang diselenggarakan oleh
badan P.B.B. pada bulan September 1975 di Jenewa
memberikan rekomendasi dengan memperluas pengertian
kejahatan terhadap tindakan “penyalahgunaan kekuasaan
ekonomi secara melawan hukum” (illegal abuses of economic
power) seperti pelanggaran terhadap peraturan perburuhan,
penipuan konsumen, pelanggaran terhadap peraturan
lingkungan, penyelewengan dalam bidang pemasaran dan
perdagangan oleh perusahaan-perusahaan transnasional,
pelanggaran terhadap peraturan pajak, dan terhadap “penyalahgunaan kekuasaan umum secara melawan hukum” (illegal
abuses of public power) seperti pelanggaran terhadap hak-hak
21
asasi manusia, penyalahgunaan wewenang oleh alat penguasa,
misalnya penangkapan dan penahanan yang melanggar hukum.
2. Pelaku.
Pelaku yaitu orang yang melakukan kejahatan, atau
sering disebut “penjahat”. Studi terhadap pelaku ini terutama
dilakukan oleh kriminologi positivis dengan tujuan untuk
mencari sebab-sebab orang melakukan kejahatan. Dalam
mencari sebab-sebab kejahatan, secara tradisional orang
mencarinya dari aspek biologis, psikis dan sosial-ekonomi.
Biasanya studi ini dilakukan terhadap orang-orang yang
dipenjara atau bekas terpidana. Cara studi yang demikian ini
mengandung beberapa kelemahan, yaitu:
1) Sebagai sampel dianggap kurang valid, sebab mereka tidak
mewakili populasi penjahat yang ada di masyarakat secara
representatif.
2) Terdapat pelaku kejahatan-kejahatan tertentu yang berasal
dari kelompok atau lapisan sosial tertentu yang cukup besar
jumlahnya akan tetapi hampir tidak pernah dipenjara. Hal
ini misalnya ditunjukkan oleh Sutherland dalam
penelitiannya terhadap kejahatan white-collar, dimana
kurang dari 10% kasus kejahatan white-collar yang diproses
melalui peradilan pidana
3) Undang-undang pidana yang bersifat berat sebelah.
Di dalam perkembangannya, studi terhadap pelaku ini
diperluas dengan studi tentang korban kejahatan. Hal ini karena
pengaruh tulisan Hans von Hentig dan B. Mendelsohn. Dalam
bukunya The Criminal and his Victim (1949) von Hentig
menunjukan bahwa dalam kejahatan tertentu korban mempunyai
peranan yang sangat penting daam terjadinya kejahatan.
Studi tentang korban ini kemudian berkembang cukup
pesat dan muncullah Viktimologi yaitu pengetahuan yang
membahas masalah korban dengan segala aspeknya. Pada
22
permulaannya beberapa sarjana antara lain B. Mendelsohn
menghendaki viktimologi terlepas dari kriminologi, akan tetapi
dengan berkembangnya kriminologi setelah tahun 1960-an yaitu
lahirnya “kriminologi hubungan-hubungan” adalah kurang
beralasan untuk melepaskan viktimologi dari kriminologi.
3. Reaksi masyarakat terhadap kejahatan dan pelaku
Studi mengenai reaksi masyarakat terhadap kejahatan
bertujuan untuk mempelajari pandangan serta tanggapan
masyarakat terhadap perbuatan-perbuatan atau gejala yang
timbul di masyarakat yang dipandang sebagai merugikan atau
membahayakan masyarakat luas, akan tetapi undang-undang
belum mengaturnya. Berdasarkan studi ini bisa dihasilkan apa
yang disebut sebagai kriminalisasi, dekriminalisasi atau
depenalisasi.
Kriminalisasi adalah proses penetapan satu perbuatan yang
dilakukan oleh penguasa (melalui Undang-Undang) sebagai
perbuatan yang dilarang dan dapat dikenai ancaman pidana
tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut.
Sedangkan dekriminalisasi atau depenalisasi bermakna
sebaliknya yaitu suatu proses di mana suatu perilaku yang
dikualifikasikan sebagai tindak pidana dan dikenakan sanksi,
kemudian dihapuskan kualifikasi pidananya dan sanksinya.
Menyangkut dengan masalah kriminalisasi dan
dekriminalisasi ini menurut Sudarto haruslah diperhatikan halhal yang pada intinya sebagai berikut:22
a. Penggunaan hukum pidana harus memperhatikan tujuan
pembangunan nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil
makmur yang merata materil dan spirituil berdasarkan
Pancasila; sehubungan dengan ini maka (penggunaan) hukum
pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan dan
22
Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1977, hal 44.
23
mengadakan pengugeran terhadap tindakan penanggulangan
itu sendiri, demi kesejahteraan dan pengayoman masyarakat;
b. Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi
dengan hukum pidana harus merupakan “perbuatan yang
tidak dikehendaki”, yaitu perbuatan yang mendatangkan
kerugian (materiil dan spirituil) atas warga masyarakat.
c. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhitungkan
prinsip “biaya dan hasil” (cost-benefit principle).Untuk itu
perlu diperhitungkan antara besarnya biaya yang dikeluarkan
dengan hasil yang diharapkan akan dicapai.
d. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan
kapasitas atau kemampuan daya kerja dari badan-badan
penegak hukum, yaitu jangan sampai ada kelampauan beban
tugas (overblasting).
Mengenai kriteria kriminalisasi dan dekriminalisasi dalam
laporan Simposium Pembaharuan Hukum Pidana Nasional pada
bulan Agustus 1980 di Semarang antara lain menyatakan bahwa
untuk menetapkan suatu perbuatan itu sebagai kriminal, perlu
memperhatikan kriteria umum sebagai berikut:
1) Apakah perbuatan itu tidak disukai atau dibenci oleh
masyarakat karena merugikan, atau dapat merugikan,
mendatangkan korban atau dapat mendatangkan korban.
2) Apakah biaya mengkriminalisasi seimbang dengan hasil yang
akan dicapai, artinya cost pembuatan undang-undang,
pengawasan dan penegakan hukum, serta beban yang
dipikuloleh korban pelaku dan pelaku kejahatan itu sendiri
harus seimbang dengan situasi tertib hukum yang akan
dicapai.
3) Apakah akan makin menambah beban aparat penegak hukum
yang tidak seimbang atau nyata-nyata tidak dapat diemban
oleh kemampuan yang dimilikinya.
24
4) Apakah perbuatan-perbuatan itu menghambat atau
menghalangi cita-cita bangsa Indonesia, yaitu terciptanya
masyarakat adil dan makmur, sehingga merupakan bahaya
bagi keseluruhan masyarakat.
Kriteria umum di atas perlu pula diperhatikan di samping
sikap dan pandangan masyarakat mengenai patut tercelanya
suatu perbuatan tertentu, dengan melakukan penelitian,
khususnya yang berhubungan dengan kemajuan teknologi dan
perubahan sosial.23
Demikian pula menurut Bassiouni, keputusan untuk
melakukan kriminalisasi dan kriminalisasi harus didasarkan
pada faktor-faktor kebijakan tertentu yang mempertimbangkan
bermacam faktor termasuk:24
1) Keseimbangan sarana-sarana yang digunakan dalam
hubungannya dengan hasil yang dicari atau yang ingin
dicapai (the proporsionality of the means used in relationship
to the outcome obtained).
2) Analisis biaya terhadap hasil-hasil yang diperoleh dalam
hubungannya dengan tujuan-tujuan yang dicari (the cost
analysis ot the outcome in relationship to the objectives
sought).
3) Penilaian atau penaksiran tujuan-tujuan yang dicari itu dalam
kaitannya dengan prioritas-prioritas lainnya dalam
pengalokasian sumber-sumber tenaga manusia (the appraisal
of the objectives sought in relationship to other priorities in
the allocation of resources of human power).
4) Pengarus sosial dari kriminalisasi dan dekriminalisasi yang
berkenaan dengan(dipandang dari segi) pengaruh23
Hamdan, Op.cit. hal. 32.
Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana,
Alumni, Bandung, 1998, hal. 162.
24
25
pengaruhnya yang sekunder (the social impact of
criminalization and decriminalization in terms of its
secocndary effects).
Studi mengenai reaksi masyarakat terhadap kejahatan ini
bagi masyarakat kita sangat penting antara lain karena KUHP
kita rnerupakan peninggalan pemerintah kolonial. masyarakat
kita yang terdiri dari berbagai suku dengan nilai-nilai sosialnya
yang berbeda-beda, adanya wilayah yang sangai luas dengan
tingkat kemajuan yang berbeda-beda, serta pengaruh
industrialisasi dan perdagangan pada dasawarsa terakhir ini telah
memunculkan fenomena/kejahatan yang baru.
Studi mengenai reaksi masyarakat terhadap pelaku,
(penjahat) bertujuan untuk mempelajari pandangan-pandangan
tindakan-tindakan masyarakat terhadap pelaku kejahatan.
Bidang ini khususnya dipelajari oleh penologi.
Dengan perkembangan kriminologi setelah tahun 1960-an,
yaitu sebagai pengaruh berkembangnya perspektif labeling dan
kriminologi kritis, studi mengenai reaksi masyarakat ini
terutama diarahkan untuk mempelajari proses bekerjanya (dan
pembuatan) hukum, khususnya bekerjanya aparat penegak
hukum.
C. Aliran/Mazhab Dalam Kriminologi
Usaha menerangkan penyebab (kausa) kejahatan oleh para sarjana
terus berkembang dan disebut sebagai aliran kriminologi (school
of criminology) atau sering disebut juga dengan mazhab-mazhab
kriminologi.
Terdapat berbagai model di kalangan ahli kriminolog dalam
menjelaskan
tentang
aliran/mazhab
tersebut:
Pertama,
berdasarkan kategori kriminologi klasik, Kriminologi positif, dan
kriminologi kritis, Kedua, berdasarkan mazhab klasik, mazhab
26
kartographik, mazhab sosialis, mazhab tipologis, dan pendekatan
multi faktor. Kedua model tersebut akan diuraikan satu persatu
sebagai berikut.
Dalam kriminologi modern dikenal tiga aliran pemikiran
untuk menjelaskan fenomena kejahatan, yaitu kriminologi klasik,
positivis, dan kritis.
1. Kriminologi Klasik
Pemikiran klasik pada umumnya menyatakanan bahwa
intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri-ciri fundamental
manusia dan menjadi dasar untuk memberikan penjelasan
perilaku manusia, baik yang bersifat perorangan maupun
kelompok, maka masyarakat dibentuk sebagaimana adanya
sesuai dengan pola yang dikehendakinya. Ini berarti bahwa
manusia mengontrol nasibnya sendiri, baik sebagai individu
maupun masyarakat.
Begitu pula kejahatan dan penjahat pada umumnya
dipandang dari sudut hukum, artinya kejahatan adalah
perbuatan yang dilarang oleh undang-undang pidana,
sedangkan penjahat adalah orang yang melakukan kejahatan.
Kejahatan dipandang sebagai pilihan bebas dari individu yang
menilai untung ruginya melakukan kejahatan. Tanggapan
rasional yang diberikan oleh masyarakat adalah agar individu
tidak melakukan pilihan dengan berbuat kejahatan yaitu
dengan cara meningkatkan kerugian yang harus dibayar, dan
sebaliknya dengan menurunkan keuntungan yang dapat
diperoleh dari melakukan kejahatan.
Dalam hubungan ini, maka tugas kriminologi adalah
membuat pola dan menguji sistem hukuman yang akan
meminimalkan tindakan kejahatan.
27
2. Kriminologi Positivis
Aliran pemikiran ini bertolak pada pandangan bahwa
perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar
kontrolnya, baik yang berupa faktor biologis maupun kultural.
Ini berarti bahwa manusia bukan makhluk yang bebas untuk
berbuat menuruti dorongan kehendaknya dan intelegensinya,
akan tetapi makhluk yang dibatasi atau ditentukan oleh situasi
biologis atau kulturalnya.
Aliran pemikiran in telah menghasilkan dua pandangan
yang berbeda yaitu “determinisme biologis” dan
“determinisme kultural”. Aliran positivis dalam kriminologi
mengarahkan pada usaha untuk menganalisis sebab-sebab
perilaku kejahatan melalui studi ilmiah ciri-ciri penjahat dari
aspek fisik, sosial dan kultural. Oleh karena kriminologi
positivis ini dalam hal-hal tertentu menghadapi kesulitan untuk
menggunakan batasan undang-undang, akibatnya mereka
cenderung untuk memberikan batasan kejahatan secara
“alamiah”, yaitu lebih mengarahkan pada batasan terhadap
ciri-ciri perilaku itu sendiri daripada perlaku yang
didefinisikan oleh undang-undang.
3. Kriminologi Kritis
Aliran pemikiran ini mulai berkembang pada beberapa
dasawarsa terakhir ini, khususnya setelah tahun 1960-an, yaitu
sebagai pengaruh dari semakin populernya persfektif labeling.
Aliran pemikiran ini tidak berusaha untuk menjawab
persoalan-persoalan apakah perilaku manusia itu “bebas”
ataukah “ditentukan”, akan tetapi lebih mengarahkan pada
proses-proses yang dilakukan oleh manusia dalam membangun
dunuianya dimana dia hidup. Dengan demikian akan
mempelajari proses-proses dan kondisi-kondisi yang
mempengaruhi pemberian batasan kejahatan kepada orang-
28
orang dan tindakan-tindakan tertentu pada waktu dan tempat
tertentu. Pendekatan dalam aliran pemikiran ini dapat
dibedakan antara pendekatan interaksionis dan pendekatan
konflik.
Sebelum uraian tentang mazhab-mazhab kriminologi perlu
diketahui bahwa usaha menerangkan kausa kejahatan sudah ada
sebelum abad ke 18. Pada waktu itu, seseorang yang melakukan
kejahatan dianggap sebagai orang yang dirasuk setan. Orang
berpendapat bahwa tanpa dirasuk setan seseorang tidak akan
melakukan kejahatan. Pendapat ini sudah ditinggalkan dengan
munculnya studi ilmiah tentang kejahatan dari berbagai mazhab
berikut:
1. Mazhab Klasik
Aliran ini timbul di Inggris pada pertengahan abad ke 19
dan tersebar di Eropa dan Amerika. Mazhab ini didasarkan atas
psikologi hedonistik. Menurut psikologi hedonistik, setiap
perbuatan manusia didasarkan atas pertimbangan rasa senang
dan rasa tidak senang. Setiap manusia berhak memilih mana
yang baik dan mana yang buruk; perbuatan mana yang
mendatangkan kesenangan dan mana yang tidak.
Dengan demikian setiap perbuatan yang sudah dilakukan
sudah lebih banyak mendatangkan kesenangan dan mana yang
tidak. Dengan demikian setiap perbuatan yang dilakukan sudah
tentu lebih banyak mendatangkan kesenangan. Apakah ada
orang yang melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan
dirinya sendiri? Jadi menurut teori ini orang melakukan
kejahatan karena perbuatan tersebut lebih banyak
mendatangkan kesenangan bagi dirinya sendiri.
29
Beccaria (1764) menerapkan prinsip ini sebagai doktrin
dalam penologi sebagaimana dikutip Darma Weda dari
pendapat Sutherland dan Cressey.25
Menurut Beccaria, setiap orang yang melanggar hukum
telah memperhitungkan kesenangan dan rasa sakit yang
diperoleh dari perbuatan tersebut. “That the act which I do is
the act which I think will give me most pleasure” demikian
Bentham.26 Dengan demikian pidana yang berat sekalipun
telah diperhitungkan sebagai “kesenangan” yang akan
diperoleh.
2. Mazhab Kartographik
Mazhab yang kedua ini disebut sebagai mazhab
kartographik. Para tokoh aliran ini memperhatikan penyebaran
kejahatan pada wilayah tertentu berdasarkan faktor geografik
dan sosial. Menurut aliran ini, kejahatan merupakan
perwujudan dari kondisi-kondisi sosial yang ada.
Quetelet dan A.M.Guerry adalah pelopor aliran ini di
Prancis dan banyak mempunyai pengikut di Inggris dan
Jerman.27 Aliran ini mulai berkembang pada tahun 1830sampai
tahun 1880.
3. Mazhab Sosialis
Mazhab sosialis mulai berkembang pada tahun 1850.Para
tokoh mazhab ini banyak dipengaruhi oleh tulisan-tulisan dari
Marx dan Angels, dan lebih menekankan pada determinisme
ekonomi.28
25
26
27
28
Made Darma Weda, Op. Cit, hal. 15.
Ibid.
Ibid.
Ibid.
30
Menurut para tokoh mazhab ini,kejahatan timbul
disebabkan adanya tekanan ekonomi.
Oleh karena itu untuk melawan kejahatan maka harus diadakan
peningkatan ekonomi. Dengan kata lain kemakmuran akan
mengurangi terjadinya kejahatan. Apakah benar demikian?
Apakah orang yang mempunyai kedudukan sosial ekonomi
tinggi tidak akan melakukan kejahatan?.
4. Mazhab Tipologik
Ada tiga aliran yang termasuk dalam typological atau
bio-typological. Ketiga aliran tersebut, yaitu Lombrosian,
Mental tester, dan psychiatric mempunyai kesamaan
pemikiran dan metodologi.29 Mereka mempunyai asumsi
bahwa terdapat perbedaan antara orang yang jahat dengan
orang yang tidak jahat. Untuk lebih jelasnya ketiga aliran
tersebut akan diuraikan di bawah ini.
a. Aliran Lombroso
Aliran ini dipelopori oleh lombroso, dan dikenal
sebagai mazhab Italia. Menurut Lombroso, kejahatan
merupakan bakat manusia yang dibawa sejak lahir.Oleh
karena itu dikatakan oleh Lombroso “Criminal is born, not
made”.30 Untuk memperkuat pernyataan tersebut, Lombroso
mengadakan penelitian di Inggris. Sebanyak 30.000
narapidana dijadikan sampel penelitiannya. Dari hasil
penelitian tersebut Lombroso berkesimpulan bahwa penjahat
mempunyai bentuk fisik tertentu, yang berbeda dengan orang
yang tidak jahat.
29
30
Ibid. hal. 16.
Ibid.
31
Ada beberapa proposisi yang dikemukakan oleh
Lombroso.31 yaitu:
1. Penjahat dilahirkan dan mempunyai tipe yang berbeda-beda
2. Tipe ini bisa dikenal dari beberapa ciri tertentu seperti
tengkorak yang asimetris, rahang bawah yang panjang,
hidung yang pesek, rambut janggut yang jarang, dan tahan
terhadap rasa sakit. Tipe penjahat digambarkan dengan
kelima ciri tersebut.Jika terdapat tiga sampai lima tanda,
maka orang tersebut dianggap meragukan sebagai penjahat.
Sedangkan bila terdapat tanda-tanda yang berjumlah kurang
dari tiga maka orang tersebut bukan merupakan penjahat.
3. Tanda-tanda lahiriah ini bukan merupakan penyebab
kejahatan tetapi merupakan tanda pengenal kepribadian
yang cenderung mempunyai perilaku kriminal. Ciri-ciri ini
merupakan pembawaan sejak lahir.
4. Karena adanya kepribadian ini, mereka tidak dapat terhindar
dari melakukan kejahatan kecuali bila lingkungan dan
kesempatan tidak memungkinkan.
5. Penganut aliran ini mengemukakan bahwa penjahatpenjahat seperti pencuri, pembunuh, pelanggarseks dapat
dibedakan oleh ciri-ciri tertentu.
Aliran Lombroso ini bertujuan untuk membantah aliran
klasik dalam persoalan determinisme melawan kebebasan
kemauan. Adalah Charles Goring yang membuat penelitian
perbandingan terhadap penelitian Lombroso.32 Goring meneliti
3000 narapidana yang berbeda di Inggris. Dari hasil penelitian
tersebut, Goring menarik suatu kesimpulan bahwa tidak ada
tanda-tanda jasmaniah untuk disebut sebagai tipe penjahat,
31
32
Ibid.
Ibid. hal. 17.
32
demikian pula tidak ada tanda-tanda rohaniah yang
menyatakan penjahat itu memiliki suatu tipe. Hasil penelitian
Goring inilah kemudian dikenal sebagai penelitian yang
mengalahkan mazhab Lombroso.
Perlu diketahui bahwa teori Lombroso mengalami
perubahan dalam perkembangan selanjutnya. Para murid
Lombroso, Garofalo, dan Ferry mengadakan modifikasi teori
Lombroso. Dengan demikian ajaran Lombroso tidak lagi
menekankan pada faktor fisiologis, tetapi juga mengakui
adanya faktor psikologis sebagai kausa kejahatan. Hal ini
berarti suatu pengakuan terhadap faktor luar yang
mempengaruhi manusia.33
Kembali pada penelitian Goring, bagaimanakah
pendapat Goring terhadap kausa kejahatan?. Untuk menjawab
pertanyaan tersebut ternyata Goring berpendapat bahwa setiap
manusia mempunyai kelemahan/cacat yang dibawa sejak lahir.
Kelemahan atau cacat inilah yang menyebabkan orang tersebut
melakukan kejahatan. Dengan demikian Goring dalam mencari
kausa kejahatan kembali pada faktor fisiologis.34 Sedangkan
faktor lingkungan sangat kecil pengaruhnya terhadap
seseorang.
b. Mental Tester
Setelah runtuhnya aliran Lombroso, maka muncullah
aliran yang disebut “mental tester”. Aliran ini dalam
metodologinya menggunakan tes mental. Menurut Goddard,
setiap penjahat adalah orang yang “feeblemindedness”/orang
yang otaknya lemah.35 Orang yang otaknya lemah tidak dapat
33
34
35
Ibid. hal. 18.
Ibid.
Ibid.
33
menilai perbuatannya dan dengan demikian tidak dapat pula
menilai akibat dari perbuatannya tersebut.
Menurut aliran ini, kelemahan otak merupakan
pembawaan sejak lahir dan merupakan penyebab orang
melakukan kejahatan.36 Tes mental yang dilakukan Goddard
menunjukkan
hampir
semua
penjahat
mengalami
“feeblemindedness” dan hampir semua orang yang
“feeblemindedness” melakukan kejahatan.
c. Aliran Psikiatrik
Aliran ketiga ini merupakan aliran tipologis, yang lebih
menekankan pada unsur psikologis. Hal ini tidak berarti
bahwa aliran ini meninggalkan ciri-ciri morphologis yang
dimiliki setiap orang. Sebagaimana dengan aliran Lombroso,
aliran ini juga menekankan pada psikosis,epilepsi dan “moral
insanity” tetapi lebih menekankan pada gangguan emosional.
Menurut aliran ini gangguan emosional diperoleh
dalam interaksi sosial. Oleh karena itu tesis sentral dari aliran
ini adalah “a certain organization of the personality,
developed entirely apart from criminal culture, will result in
criminal behavior regardless of social situation”. 37
Aliran psikiatrik lebih banyak dipengaruhi oleh teori
dari Sigmund Freud, tentang struktur kepribadian. Menurut
Freud, kepribadian terdiri dari tiga, yaitu: das es, das ich, dan
das uber ich. Atau dikenal pula sebagai id, ego, dan super
ego.
Das es atau id merupakan alamtak sadar yang dimiliki
setiap makhluk hidup, manusia dan hewan. Segala nafsu atau
36
37
Ibid.
Ibid.hal. 19
34
keinginan, begitu pula naluri, berada di alam tak sadar.
Misalnya nafsu makan dan sebagainya. Das es atau id ini
kemudian mendesak das ich atau alam sadar untuk memenuhi
kebutuhannya. Berdasarkan desakan tersebut maka das ich
melaksanakan hal-hal yang diperlukan bagi pemenuhan das es
atau id. Misalnya ingin makan, minum, tidur dan sebagainya.
Berbeda dengan das es dan das ich, dan uber ich atau
super ego merupakan bagian yang sangat penting. Super ego
ini merupakan aspek moral. Hal ini berarti norma-norma
dalam masyarakat yang pernah dialami akan mempengaruhi
super ego. Dengan demikian super ego inilah yang akan
menilai keinginan dari ego. Sebagai contoh rasa lapar dan
haus yang dirasakan setiap orang, harus dipenuhi yaitu makan
dan minum.
Keinginan untuk makan dan minum tentunya tidak
dipenuhi begitu saja. Karena lapar,melihat makanan di bawa
langsung dimakan; tidak demikian. Super ego inilah yang
menilai/menentukan
cara
memenuhi
keinginan
ego,berdasarkan norma-norma atau aturan-aturan yang
diketahui. Dengan kata lain, super ego menentukan perbuatanperbuatan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh
dilakukan.
d. Aliran Sosiologis
Dalam mencari kausa kejahatan aliran sosiologis
merupakan aliran yang sangat bervariasi. Aliran sosiologis
banyak dipengaruhi aliran kartographik. Aliran ini
berpendapat bahwa: “crime as a function of social
environment”.38 Tesis sentral dari aliran ini adalah that
criminal behavior results from the same processes as other
38
Ibid.hal. 20.
35
social behavior.39 Dengan demikian menurut aliran ini, proses
terjadinya tingkah laku jahat tidak berbeda dengan tingkah
laku lainnya, termasuk tingkah laku baik.
Tarde seorang ahli psikologi sosial,menolak ajaran
Lombroso dan menyatakan pentingnya “imitation” sebagai
penyebab kejahatan. Menurut Tarde, orang yang melakukan
kejahatan adalah orang yang meniru.Oleh karena itu “…if a
man steals or murders he is merely imitating someone else”.40
Aliran sosiologis ini mengalami perkembangan yang pesat
pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat.
Dari uraian terdahulu dapat diketahui bahwa mazhab-mazhab
yang mencari kausa kejahatan pada prinsipnya dapat
dikelompokkan menjadi tiga yaitu:mazhab yang mencari kausa
kejahatan dari dalam diri sipelaku, mazhab yang mencari kausa
kejahatan dari luar diri si pelaku (lingkungan), dan mazhab yang
mencari kausa kejahatan dari diri sipelaku serta lingkungan yang
dapat mempengaruhi.
Adanya perbedaan antara mazhab-mazhab tersebut
menunjukkan bahwa penentuan kausa kejahatan merupakan suatu
hal yang sulit. Kesulitan tersebut terletak pada penentuan faktor
yang dianggap sebagai kausa kejahatan. Antara mazhab yang satu
dengan lainnya terdapat perbedaan dalam menentukan faktor yang
dianggap sebagai kausa kejahatan. Perbedaan tersebut mempunyai
konsekuensi bahwa menurut suatu mazhab faktor tersebut menjadi
kausa, sebagai contoh; “broken home” yang dianggap sebagai
penyebab kejahatan oleh suatu mazhab, tetapi oleh mazhab yang
lain “broken home” dianggap bukan sebagai kausa.
39
40
Ibid.
Ibid.hal. 21
36
Para ahli menyadari bahwa penyebab kejahatan tidak
ditentukan oleh satu/dua faktor tetapi oleh banyak faktor yang
menjadi penyebab kejahatan. Hal ini dikatakan sebagai pendekatan
multifaktor.
Menurut Albert K. Cohen, literatur mengenai disorganisasi
sosial merupakan suatu contoh yang representatif dari pemikiran
multifaktor.41 Pemikiran pendekatan multi faktor digambarkan
sebagai berikut.42
Eleborate investigations of delinquents give us conclusive
evidence that there is no single pre-disposing factor leading
inevitably to delinquent behavior. On the other hand, the
delinquent child is generally a child handicapped not by one
or two, but ussually by seven or eight counts. We are save
concluding that almost any child can overcome one or two
handicaps, such as death of parentor poverty and poor
health. However, if the child has a drunken unemployed
father and an immoral mother, is mentally deficient, is taken
out of school at an early age and put to work in factory, and
lives in a crowded home in a bad neigbourhood,nearly every
factor in his environtment my seem to militate against him.
Pendekatan multi faktor, untuk pertama kali dipergunakan oleh
William Healy dalam bukunya yang berjudul “The individual
delinquent”.43Munculnya pendekatan multi faktor didasarkan pada
keyakinan para ahli bahwa crime is a product of largenumber and
great variety of factors and that these factors can not know and
perhaps can not ever be organized into general proposition which
41
42
43
Ibid.hal. 22
Ibid.
Ibid.hal. 23
37
have no exceptions.44 Berdasarkan hal tersebut para ahli
berpendapat bahwa no scientific theory of criminal behavior is
possible.45
Albert K.Cohen, dalam tulisannya yang berjudul multiple
factor approach, mengemukakan tiga hal penting yang perlu
diperhatikan.46 yaitu:
Pertama jangan dijumbuhkan antara penjelasan single factor
dengan single theory. Single theory tidak menjelaskan kejahatan.
Single theory mengandung banyak variabel dan menerangkan
hubungan antara variabel. Oleh karena itu Cohen juga
mengingatkan agar tidak dijumbuhkan antara kompleksitas faktor
dengan kompleksitas variabel. Variabel adalah a logical universal;
it is a charachteristic or aspect with respect to which an object or
even my vary, such as velocity or size of income.47
Disamping itu juga terdapat apa yang dikatakan sebagai
“values of variable”, yaitu are logical particulars; there are the
logically possible different concrete circumtances which meet the
criterion defining the variable, such as 30 miles per hours or
5.000.48 Sebagai contoh keterangan tersebut misalnya, angka
kejahatan lebih tinggi diantara orang-orang yang mempunyai
penghasilan kurang dari Rp. 50.000 per bulan. “Penghasilan”
merupakan variabel sedangkan Rp. 50.000 merupakan “values of
variable”.
Berdasarkan uraian tersebut di atas,maka faktor bukan
merupakan variabel.Faktor adalah keterangan khusus mengenai
44
Ibid.
Ibid.
46
Ibid.
47
Ibid.
45
48
Ibid.
38
keadaan yang nyata. Dengan demikian pendekatan multi faktor
bukan merupakan teori.
Kedua, faktor jangan dijumbuhkan dengan kausa. Setiap
faktor mengandung kekuatan untukmelahirkan kejahatan, tetapi
satu faktor tidak cukup untuk menimbulkan kejahatan. It takes
many cats of pitc to paint a thing throughly black.49 Sedangkan
yang ketiga, Cohen menyebut sebagai “evil-causes-evil fallacy”
yang merupakan ciri khas dari studi multifaktor. Yang dimaksud
dengan “evil-causes-evil fallacy” adalah merupakan suatu
pemikiran yang keliru bila kejahatan dianggap sebagai hasil dari
keadaan yang buruk (seperti broken home dan sebagainya) dan
merupakan suatu kesalahan pula bila keadaan yang buruk dianggap
hanya dapat menghasilkan kejahatan. Dalam kaitannya dengan ini
Cohen menulis this unconcious assumption that “evil”
consequences have “evil” precedents,that “evil” precedents can
have only “evil” consequences.50
RANGKUMAN
1. Kriminologi dalam arti sempit hanya mempelajari
kejahatan saja, dan kriminologi dalam arti luas,
mempelajari teknologi dan metode-metode yang
berkaitan dengan kejahatan dan masalah prevensi
kejahatan dengan tindakan-tindakan yang bersifat punitif.
Sutherland dan Cressey pengertian kriminologi adalah
proses pembentukan hukum, pelanggaran hukum, dan
reaksi terhadap pelanggar hukum.
49
50
Ibid. hal. 24
Ibid.
39
2. Kriminologi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: Etiologi
kriminal, Penologi, dan Sosiologi hukum (pidana). Secara
umum mempelajari tentang kejahatan, pelaku (penjahat), dan
reaksi masyarakat terhadap kejahatan dan pelaku.
3. Kriminologi klasik mendefinisikan kejahatan dari sudut
hukum, artinya perbuatan yang dilarang oleh undang-undang
pidana. Kejahatan sebagai pilihan bebas dari individu yang
menilai untung ruginya melakukan kejahatan. Agar tidak
berbuat kejahatan dilakukan dengan cara meningkatkan
kerugian yang harus dibayar.
4. Kriminologi Positivis dua pandangan “determinisme biologis”
dan “determinisme kultural”. Aliran positivis dalam
kriminologi mengarahkan pada usaha untuk menganalisis
sebab-sebab perilaku kejahatan melalui studi ilmiah ciri-ciri
penjahat dari aspek fisik, sosial dan kultural. Cenderung
memberikan batasan kejahatan secara “alamiah”, yaitu lebih
mengarahkan pada batasan terhadap ciri-ciri perilaku itu
sendiri daripada perlaku yang didefinisikan oleh undangundang.
5. Kriminologi kritis, lebih mengarahkan pada proses-proses
yang dilakukan oleh manusia dalam membangun dunianya
dimana dia hidup, mempelajari proses-proses dan kondisikondisi yang mempengaruhi pemberian batasan kejahatan
kepada orang-orang dan tindakan-tindakan tertentu pada waktu
dan tempat tertentu.
LATIHAN
1. Kemukakan beberapa pengertian kriminologi?
2. Apa saja yang termasuk ruang lingkup studi kriminologi?
3. Apakah pertimbangan dalam proses kriminalisasi dan
dekriminalsisasi?.
40
4. Apakah
syarat
yang
harus
dipenuhi
kriminalisasi/dekriminalisasi?
5. Kemukakan
perbedaan
pandangan
utama
aliran/kriminologi klasik, positif, dan kritis.
untuk
dari
GLOSSARIUM
1. Feeblemindedness berarti orang yang otaknya lemah yang
tidak dapat menilai perbuatannya dan dengan demikian tidak
dapat pula menilai akibat dari perbuatannya tersebut.
2. Kriminalisasi adalah proses penetapan satu perbuatan yang
dilakukan oleh penguasa (melalui Undang-Undang) sebagai
perbuatan yang dilarang dan dapat dikenai ancaman pidana
tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut.
3. Dekriminalisasi atau depenalisasi bermakna yaitu suatu proses
di mana suatu perilaku yang dikualifikasikan sebagai tindak
pidana dan dikenakan sanksi, kemudian dihapuskan kualifikasi
pidananya dan sanksinya.
4. Pendekatan multifaktor berarti penyebab kejahatan tidak
ditentukan oleh satu/dua faktor tetapi oleh banyak faktor.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdan, 1997, Politik Hukum Pidana, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Lamintang P.A.F, 1984, Dasar-Dasar
Indonesia, Sinar Baru, Bandung.
Hukum
Pidana
Made Darma Weda, 1996, Kriminologi, RajaGrafindo Persada,
Jakarta.
Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1998, Teori-Teori dan Kebijakan
Pidana, Alumni, Bandung.
41
Romli Atmasasmita, 1984, Bunga Rampai Kriminologi, Rajawali,
Jakarta.
Soedjono Dirdjosisworo, 1994, Sinopsis Kriminologi Indonesia,
Mandar Maju, Bandung.
Sudarto, 1977, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung.
42
BAB III
KEJAHATAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN
NORMA
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan
mahasiswa mampu memahami mengenai: Pengertian
tentang Kejahatan dan Hubungan Kejahatan dengan Norma.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan Pengertian dan Sejarah penanganan
kejahatan.
2. Menjelaskan Pendekatan dalam mempelajari kejahatan
3. Menjelaskan Hubungan Kejahatan dengan norma
A. Pengertian dan Sejarah Penanganan Kejahatan
Kejahatan merupakan problem manusia, di mana manusia di sana
pasti ada kejahatan. Frank Tannembaum menyatakan “crime is
eternal as society”.51
Berbagai sarjana telah berusaha memberikan pengertian
kejahatan secara tepat, namun usaha mereka mengalami kegagalan.
Hal yang sama pernah pula dilakukan oleh para ahli hukum dalam
merumuskan pengertian tentang hukum sebagaimana dikemukakan
oleh Imanuel Kant “noch suchen die yuristen eine definition zu ih
ihrem begriffe von recht”.52
51
J.E. Sahetapy, Kausa Kejahatan dan Beberapa Analisa Kriminologik,
Alumni, Bandung, 1981, hal. 1.
52
L.J. Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta,
1981, hal. 13.
43
Secara umum kejahatan dapat diberi batasan sebagai perilaku
manusia yang melanggar norma (hukum Pidana), merugikan,
menjengkelkan, menimbulkan korban-korban, sehingga tidak dapat
dibiarkan.
Berikut akan dikemukakan rumusan para ahli kriminologi
tentang Kejahatan:
1. Paul Tappan: Perbuatan pelanggaran terhadap norma hukum
dan dijatuhi pidana baik sebagai felony maupun mis demenor.
2. Hasskel dan Yablonsky:
a. Yang tercatat dalam statistik
b. Tak ada kesepakatantentang prilaku anti sosial
c. Sifat kejahatan dalam hukum pidana
d. Hukum menyediakan perlindungan bagi seorang dari
stigmatisasi yang tidak adil
3. Sutherland: Prilaku yang dilarang negara karena merugikan.
Terhadapnya negara bereaksi dengan hukuman sebagai upaya
untukmencegah dan memberantasnya.
4. Hermann Mannheim: Perumusan hukum tentang kejahatan
yang dapat dipidana. Ia merupakan bahasan teknis.Bila
terbukti kejahatan alternatif sanksi tergantung pada
pertimbangan perkasus
5. Sellin: Untuk mempelajari kejahatan secara ilmiah perlu
diperhatikan belenggu-belenggu yang diciptakan hukum
pidana
6. Austin Turk: Sebagian besar orang yang melakukan perbuatan
yang secara hukum dirumuskan sebagai kejahatan, maka data
kejahatan yang didasarkan pada penahanan atau penghukuman
tidak relevan untuk menjelaskan kejahatan karena hanya
merupakan cap atau label “penjahat” semata.
7. Howard Backer: Perilaku menyimpang bukanlah suatu kualitas
tindakan melainkan akibat penerapan cap atau label terhadap
44
perilaku tersebut. Perilaku menyimpang adalah seseorang
terhadapnya cap “jahat” telah berhasil diterapkan
8. Richard Quinney: Kejahatan adalah suatu rumusan tentan
perlaku manusia yang diciptakan oleh orang yang berwenang
dalam suatu masyarakat yang secara politis terorganisasi.
Kejahatan merupakan suatu hasil rumusan perilaku
yangdiberikan terhadap sejumlah orang oleh orang-orang lain:
dengan begitu kejahatan adalah sesuatu yang diciptakan.
9. Herman dan Julia Schwendinger: Adanya kontroversi
sepanjang 3 dasawarsa tentang rumusan positivis, reformis,
tradisionalis dan kompromi legistik antara tradisionalis dan
ilmiah untuk menilai rumusan kejahatan serta aspek-aspek
ideologis dari kontroversi itu. Mereka mengajukan alternatif
humanistik modern yang menganjurkan kriminolog
mendefinisikan kejahatan
10. G. Peter Hoefnagels: Kejahatan adalah perilaku yang
dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.
Pengertian kejahatan yang dikemukakan di atas ada yang
diberikan secara yuridis dan sosiologis, dan ada pula yang
menyatakan kejahatan sebagai pemberian (cap) atau label oleh
masyarakat.
Sutherland dan Cressey mengemukakan 7 syarat untuk
perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan, yaitu:
1. sebelum suatu perbuatan disebut sebagai kejahatan harus
terdapat akibat-akibat tertentu yang nyata yang berupa
kerugian;
2. kerugian yang ditimbulkan harus merupakan kerugian yang
dilarang oleh undang-undang dan secara jelas tercantum dalam
hukum pidana;
45
3. harus ada perbuatan yang membiarkan terjadinya perbuatan
yang menimbulkan kerugian tersebut;
4. dalam melakukan perbuatan tersebut harus terdapat maksud
jahat atau “mens rea”.
5. harus ada hubungan antara perilaku dan “mens rea”.
6. harus ada hubungan kausal antara kerugian yang dilarang
undang-undang dengan perbuatan yang dilakukan atas
kehendak sendiri (tanpa adanya unsur paksaan);
7. harus ada pidana terhadap perbuatan tersebut yang ditetapkan
oleh undang-undang.
Dari kategori di atas nampak jelas bahwa yang dimaksud
dengan kejahatan, menurut Sutherland dan Cressey, merupakan
pengertian kejahatan dalam arti yuridis. Vouin-Leaute juga
mengartikan kejahatan berdasarkan pengertian yuridis yaitu semua
perbuatan yang anti sosial adalah dilarang oleh undang-undang dan
dirumuskan sebagai kejahatan dalam undang-undang. Oleh karena
itu prinsip-prinsip “deminimis non curat praetor” harus diterima
oleh para kriminolog.53
Pendapat Vouin-Leaute ini, menurut Herman Mannheim
kurang dapat dibenarkan.54 karena dua hal:
1. Perbedaan pendapat yang terjadi tidak berkaitan dengan
perbuatan yang berhubungan dengan alat-alat perlengkapan
negara tetapiberkaitan dengan perbuatan yang bersifat anti
sosial, yang tidak dirumuskan dalam hukum pidana.
2. Pengaturan semua bentuk tingkah laku dalam hukum pidana
merupakan suatu asumsi yang tidak dapat dibuktikan
kebnarannya.Oleh karena itu kriminolog harus mengadakan
penelitian tentang bentuk-bentuk perbuatan yang menjadi obyek
53
54
J.E. Sahetapy, 1979, Op. Cit. hal. 23.
Made Darma Weda, Op.Cit. hal. 7.
46
pertentangan. Hal ini berarti para kriminolog tidak terikat pada
asas “nullum crimen sine lege” dan harus mengemukakan faktafakta yang diperlukan oleh pembentuk undang-undang dalam
rangka pembaharuan hukum (pidana).
Perbedaan dalam memahami kejahatan antara lain
disebabkan oleh kejahatan itu sendiri yang bersifat relatif,
bergantung kepada ruang, waktu, dan siapa yang menamakan
sesuatu itu kejahatan. Menurut G. Peter Hoefnagels “misdaad is
benoming” (tingkah laku didefinisikan sebagai jahat oleh manusiamanusia yang tidak mengkualifikasikan dirinya sebagai penjahat.55
Hoefnagels menyatakan ”we have seen that the concept of
crimeis highly relativein commen parlance. The use of term
“crime” in respect of the same bahavior differs from moment to
moment (time), from group to group (place) and from context
(situation)”.56
Jadi, dapat dikatakan bahwa kejahatan adalah suatu konsepsi
yang bersifat abstrak, hanya dapat dirasakan akibatnya saja.
Selanjutnya R. Mc Iver tentang relatifnya kejahatan
menyatakan “what is crime in one country is no crime in another;
what is a crime at one time is no crime in another; what is a crime
at one time is no crime at another”. Dengan demikian jelas bahwa
kejahatan dalam suatu masyarakat tidak sama dengan masyarakat
lainnya.
Meskipun kejahatan bersifat relatif, ada pula perbedaan
antara “mala in se” dengan “mala prohibita”. Mala in se adalah
suatu perbuatan yang tanpa dirumuskan sebagai kejahatan sudah
merupakan kejahatan. Sedangkan mala prohibita adalah suatu
55
56
J.E. Sahetapy, 1979, Op. Cit. hal. 67.
Made Darma Weda, Op. Cit. hal. 13.
47
perbuatan manusia yang diklasifikasikan sebagai kejahatan apabila
telah dirumuskan sebagai kejahatan dalam perundang-undangan.
Menurut asalnya tidak ada pembatasan secara resmi dan juga
tidak ada campur tangan penguasa terhadap kejahatan, melainkan
kejahatan semata-mata dipandang sebagai persoalan pribadi atau
keluarga. Individu yang merasa dirinya menjadi korban perbuatan
orang lain, akan mencari balas terhadap pelakunya atau
keluarganya.
Konsep peradilan personal ini dapat ditemui pada perundangundangan lama seperti Code Hammurabi (1900 SM), Perundangundangan Romawi Kuno (450 SM), dan pada masyarakat Yunani
Kuno seperti “Curi Sapi Bayar Sapi”. Konsep pembalasan ini juga
terdapat pada Bible “Eye for Eye”.
Kemudian konsep kejahatan ini berkembang, yaitu untuk
perbuatan-perbuatan yang ditujukan kepada raja seperti
pengkhianatan, sedangkan terhadap perbuatan-perbuatan yang
ditujukan kepada individu masih menjadi urusan pribadi. Dalam
perjalanan waktu maka kemudian kejahatan menjadi urusan raja
(negara) yaitu dengan mulai berkembangnya apa yang disebut
sebagai “Parens Patriae”. Konsekuensi selanjutnya dengan
diopernya tugas ini oleh negara maka “main hakim sendiri”
dilarang.
Pada abad ke 18 muncullah para penulis yang kemudian
disebut sebagai mazhab klasik, sebagai reaksi atas ketidakpastian
hukum dan ketidakadilan serta kesewenang-wenangan penguasa
pada waktu “ancien regime”.
Mazhab klasik ini mengartikan kejahatan sebagai perbuatan
yang melanggar undang-undang. Ajarannya yang terpenting adalah
doktrin “Nullum Crimen Sine Lege” yang berarti tidak ada
kejahatan apabila undang-undang tidak menyatakan perbuatan
tersebut sebagai perbuatan yang dilarang. Takut terhadap timbulnya
48
ketidakpastian dan kesewenang-wenangan dari penguasa (hakim),
maka mazhab ini berpendapat, hakim hanyalah sebagai
mulut/corong undang-undang saja. Lama kelamaan timbul ketidakpuasan terhadap ajaran dari mazhab ini dan pada akhir abad ke 19
muncullah pandangan baru yang lebih menitikberatkan pada
pelakunya dalam studi terhadap kejahatan.
Mazhab ini muncul diantara penstudi kejahatan di Italia yang
kemudian disebut dengan mazhab positif. Mazhab ini dipelopori
oleh C. Lombroso seorang dokter ahli ilmu kedokteran kehakiman,
yang ini berusaha untuk mengatasi relativitet dari hukum pidana
dengan mengajukan konsep kejahatan yang non hukum serta
mengartikan kejahatan sebagai perbuatan yang melanggar hukum
alam (natural law).
Dalam perkembangan selanjutnya, konsep kejahatan yang
non hukum ini banyak menguasai para sarjana kriminologi di
Amerika terutama sampai pertengahan abad 20. Beberapa kritik
yang diajukan terhadap mazhab Amerika ini antara lain oleh Ray
Jeffery yang menyatakan bahwa dalam mempelajari kejahatan
harus dipelajari dalam kerangka hukum pidana, sebab dari hukum
pidana kita dapat mengetahui dengan pasti dalam kondisi yang
bagaimanakah suatu tingkah laku diapandang sebagai kejahatan
dan bagaimana perundang-undangan berinteraksi dengan sistem
norma yang lain.
George C. Vold mengatakan bahwa dalam mempelajari
kejahatan terdapat persoalan rangkap, artinya bahwa kejahatan
selalu menunjuk kepada perbuatan manusia dan juga batasanbatasan atau pandangan masyarakat tentang apa yang dibolehkan
dan dilarang, apa yang baik dan buruk, yang semuanya itu terdapat
dalam undang-undang, kebiasaan dan adat istiadat.
E. Durkheim, seorang pakar sosiologi menyatakan bahwa
kejahatan bukan saja normal, dalam arti tidak ada masyarakat tanpa
49
kejahatan, bahkan dia menambahkan bahwa kejahatan merupakan
sesuatu yang diperlukan, sebab ciri setiap masyarakat adalah
“dinamis”, dan perbuatan yang telah menggerakkan masyarakat
tersebut pada mulanya seringkali disebut sebagai kejahatan,
misalnya dengan dijatuhkannya hukuman mati terhadap Socrates
dan Galilei-Galilea atas buah pikirannya.57
B. Cara-Cara Pendekatan Dalam Mempelajari Kejahatan
Menurut Sahetapy apabila kita berpangkal tolak (untuk sementara)
pada makna dan batas pengertian kejahatan dalam ruanglingkup
hukum (pidana) sebagai suatu tingkah laku yang (dapat) dipidana,
maka berdasarkan sistematik dan uraian Hermann Mannheim, studi
tentang tingkah laku (jahat) dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pendekatan Deskriptif
Kriminologi diartikan disini sebagai observasi dan
koleksi data (fakta) tentang kejahatan dan penjahat yang dapat
juga
disebut
sebagai
“phenomenology”
atau
58
“symptomatology”.
Cara pendekatan ini dimaksudkan untuk dapat
memberikan gambaran tentang kejahatan dan pelakunya dengan
melalui pengamatan (observasi) dan pengumpulan fakta-fakta
kejahatan dan pelakunya, frekuensinya, jenis kelamin, umur
serta ciri-ciri lainnya serta perkembangan mengenai karier
penjahat.
Adapun pengamatan (observasi) dan koleksi data
haruslah dengan mempergunakan metode penelitian. Sahetapy
menegaskan bahwa pengertian deskripsi jangan diartikan secara
sempit. Yang beramakna data atau fakta sebagai hasil
57
58
I.S.Susanto, Op. cit. hal. 4.
J.E. Sahetapy, 1979, Op.Cit. hal. 20.
50
pengamatan masih memerlukan penafsiran/interpretasi. Karena
itu pula tugas seorang kriminolog tidak cukup dengan hanya
mendeskrpsikan suatu data atau fakta, tetapi harus memberikan
pemahaman dan penjelasan secara objektif terhadap data atau
fakta-fakta tersebut.59
2. Pendekatan Kausal
Pendekatan ini berupa suatu interpretasi terhadap fakta
yang dapat dipergunakan untuk mencari sebab-musabab
kejahatan, baik secara umum maupun dalam kasus-kasus
individual. Ini disebut etiologi kriminal.
Pada masa yang lalu, etiologi kriminal dianggap sebagai
fungsi utama kriminologi.Akan tetapi dewasa ini menjadi suatu
persoalan yang kontroversial. Penelitian kausal dalam
kriminologi berbeda dengan tugas seorang sarjana hukum
pidana dalam mencari hubungan kausal antara perbuatan
seseorang dengan tindak pidana (kejahatan) tertentu. (Dalam
hukum pidana dikenal adanya teori kausalitas seperti teori
conditio sine quanon, teori adequat) Seorang sarjana hukum
pidana mencari dan hendak membuktikan adanya causal nexus
antara actus reus dengan mens rea.
Bagi kriminolog yang berasal dari aliran positivis,
pertanyaannya adalah “Mengapa orang-orang melakukan
kejahatan? Sedangkan bagi penganut aliran kritis, pertanyaan
yang dapat diajukan adalah “Mengapa orang dengan ciri
tertentu –baik ciri sosial maupun psikologis- lebih sering
muncul dalam statistik kriminal resmi? Atau mengapa
sekelompok orang dianggap memiliki identitas penjahat.
59
Ibid.
51
Apakah yang dimaksud dengan “kausal”?. Pertanyaan
yang sering diajukan adalah apakah kriminolog dan ahli-ahli
ilmu sosial pada umumnya dapat memakai konsep kausal
dalam ilmu alam? Menururt Betrand Russel rupannya kausal
tidak dipergunakan dalam ilmu pengetahuan yang sudah maju.
Sedangkan untuk Max Planck, hukum kausalitas masih
merupakan suatu hipotesa yang fundamental.
Popper menekankan perbedaan antara penjelasan
kausal dari kejadian individu/tunggal yang spesifik dengan apa
yang disebut sebagai keteraturan atau hukum, diamana dalam
hal yang pertama maka dibutuhkan beberapa hukum yang
universal (universal laws), telah diuji dengan baik dan
dibenarkan. Dalam hal ini dia mengikuti John Stuart Mill yang
mengartikan kausal baik sebagai hukum yang universal
maupun kejadian tunggal. Menurut Popper, kalau ilmu
pengetahuan teori (baik ilmu sosial maupun ilmu alam)
terutama memperhatikan kepada penemuan dan pengujian
“universal laws”, maka ilmu sejarah hanya menaruh perhatian
kepada kejadian-kejadian tunggal, pada pertanyaan
“Bagaimana dan Mengapa”. Sedangkan sosiologi dan
kriminologi menaruh perhatian kepada baik “universal laws”
maupun kejadian-kejadian tunggal, dengan kata lain sosiologi
dan kriminologi merupakan disiplin nomotetik dan idiografik.
John Stuart Mill membedakan antara “sufficient” dan
“necessary” causes.
Perlu diketahui bahwa pada umumnya di dalam
kriminologi tidak ada sebab-sebab kejahatan baik “sufficient”
maupun “necessary”. Yang ada hanyalah “faktor-faktor” yang
mungkin “necessary” untuk menghasilkan kejahatan dalam
hubungannya dengan faktor lain. Khususnya pada
perkembangan ilmu sosial pada beberapa dasawarsa terakhir
52
ini yaitu dengan munculnya symbolic interactionism,
phenomenology dan ethnomethodology, maka pengertian
“sebab” telah semakin diperkaya dan semakin kompleks.
3. Pendekatan Normatif
Telah disebutkan bahwa kriminologi merupakan
disiplin idiografik yang mempelajari fakta-fakta, sebabmusabab serta kemungkinan-kemungkinan di dalam kasus
individual, serta disiplin nomotetik yang bertujuan untuk
menemukan kecendrungan-kecendrungan (trends) atau hukumhukum umum yang secara ilmiah sah.
Penjelasan bahwa kriminologi merupakan disiplin
nomotetik membawa persoalan apakah ada hukum-hukum atau
kecendrungan yang bersifat kriminologis. Persoalan yang lain
adalah apakah perbedaan antara “hukum” (laws) dengan
kecendrungan (trends), dan antara keduanya dengan “legal”
atau „juridical laws”. Sehingga apakah kriminologi merupakan
ilmu pengetahuan yang normatif.
Tanpa bermaksud memasuki pembahasan lebih lanjut
tentang “normentheorie” dari Binding dan “normative kraft
des faktischen” dari G. Jellinek, pandangan yang dianut para
ahli pada waktu kini adalah bahwa kriminologi bukanlah suatu
disiplin normatif tetapi suatu disiplin faktual.
Tanpa mengurangi arti usaha-usaha yang dilakukan
untuk mencari sebab-sebab kejahatan, menurut saya dengan
memperhatikan kelemahan kelemahan statistik kriminal, usaha
untuk mencari sebab-sebab kejahatan menghadapi persoalan
metodologis yang tidak mudah dipecahkan.
53
C. Hubungan Kejahatan dengan Norma
Hubungan kejahatan dengan norma-norma masih saja menarik
perhatian orang dan merupakan hal yang problematik. Berikut ini
akan dicoba untuk membicarakan mengenai hubungan antara
kejahatan dengan berbagai norma.
Secara teknis yuridis istilah kejahatan hanya digunakan
untuk menunjuk perbuatan-perbuatan yang oleh undang-undang
dinyatakan sebagai tindak pidana, akan tetapi bagi kriminologi
harus ada kebebasan untuk memperluas studinya di luar batas-batas
pengertian yuridis, paling tidak untuk dapat digunakan sebagai
petunjuk dalam menelusuri apa yang dipandang sebagai kejahatan.
Hal ini dimungkinkan khususnya apabila kita memandang
hukum tidak lain sebagai salah satu sistem norma diantara sistem
norma yang lain yang mengatur tingkah laku manusia atau dalam
bahasa psiko analisa hanya sebagai suatu tabu diantara tabu-tabu
yang lain yaitu norma agama, kebiasaan dan moral.
1. Hubungan Kejahatan Dengan Hukum (Undang-Undang)
Bagaimanapun juga kejahatan terutama merupakan
pengertian hukum, yaitu perbuatan manusia yang dapat dipidana
oleh hukum pidana. Tetapi kejahatan bukan semata-mata
merupakan batasan undang-undang, artinya ada perbuatanperbuatan tertentu yang oleh masyarakat dipandang sebagai
“jahat” tetapi undang-undang tidak menyatakan sebagai
kejahatan (tidak dinyatakan sebagai tindak pidana ), begitu pula
sebalaiknya.
Dalam hukum pidana orang seringkali membedakan
antara “delik hukum” (rechtsdelicten atau mala in se) khususnya
tindak pidana yang disebut “kejahatan” (buku II KUHP) dan
“delik undang-undang” (wetsdelicten atau mala prohibita) yang
merupakan “pelanggaran” (buku III KUHP).
54
Mengenai perbedaan antara mala in se dan mala prohibita
dewasa ini banyak dipertanyakan orang, yaitu apakah semua
tindak pidana itu sebanarnya adalah merupakan mala prohibita,
artinya bahwa perbuatan-perbuatan tertentu merupakan
kejahatan oleh karena perbuatan tersebut oleh undang-undang
ditunjuk atau dijadikan sebagai kejahatan (tindak pidana).
Oleh karena pandangan orang mengenai hubungan antara
undang-undang dengan organisasi sosial mempunyai pengaruh
yang penting dalam penyelidikan kriminologi selanjutnya, maka
perlu diketahui pandangan-pandangan yang ada mengenai
hubungan antara keduanya
Secara umum terdapat tiga pandangan mengenai
pembentukan undang-undang yang dapat dipakai untuk
menjelaskan hubungan antara hukum (undang-undang) dengan
masyarakat, yaitu model konsensus, pluralis dan konflik.
masing-masing model tersebut mencerminkan perbedaan
pandangan mengenai asal pembuatan aturan dan nilai sosialnya,
dan untuk selanjutnya perbedaaan pandangan tersebut akan
mempengaruhi perbedaaan dalam arah studi tentang kejahatan.
a. Model konsensus. Secara singkat, model konsensus
mendasarkan pada anggapan atau asumsi bahwa undangundang merupakan pencerminan dari nilai-nilai dasar
kehidupan sosial, dengan demikian penerapan undangunadang dipandang sebagai pembenaran hukum yang
mencerminkan keinginan kolektif.
b. Model pluralis. Apabila model konsensus menganggap
adanya persetujuan umum atas kepentingan dan nilai-nilai
dasar manusia, sebaliknya model pluralis menyadari adanya
keanekaragaman
kelompok-kelompok
sosial
yang
mempunyai perbedaan dan persaingan atas kepentingan dan
nilai-nilai.
55
c. Model konflik. Menyadari kebutuhan akan adanya
mekanisme penyelesaian konflik, orang-orang sepakat
terhadap suatu struktur hukum yang dapat menyelesaikan
konflik-konflik tersebut tanpa membahayakan kesejahteraan
masyarakat. Menurut persfektif ini, konflik timbul karena
adanya ketidaksetujuan dalam substansinya, akan tetapi
mereka setuju mengenai asal dan bekerjanya hukum.
Sebagai model untuk mempelajari hukum dan
masyarakat, persfektif konflik menekankan pada adanya
paksaaan dan tekanan yang berasal dari sistem hukum.
Sistem hukum tidak dipandang sebagai alat yang netral untuk
menyelesaikan perselisihan, tetapi sebagai mekanisme yang
diciptakan oleh kelompok politik yang paling berkuasa untuk
mencaoai kepentingan-kepetintangannya sendiri. Hukum
bukan saja untuk melayani pencapaian kepentingankepentingan tertentu bagi kelompok yang berkuasan akan
tetapi
juga
kepentingan
umum
mereka
untuk
mempertahankan kekuasaaannya.
2. Hubungan Kejahatan Dengan Agama
Persoalannya adalah apakah kita dapat menemukan di
dalam norma-norma agama sebagai petunjuk untuk mencari apa
yang dianggap sebagai kejahatan? Artinya apakah kejahatan
sama dengan perbuatan yang dilarang oleh agama, sehingga
apakah kejahatan sama dengan dosa dan karenanya hukum
pidana tidak lain hanyalah merupakan daftar dari perbuatan
dosa?
Pada abad 19 muncul teori (maine) bahwa agama
merupakan sumber dari hukum dan doktrin bahwa kejahatan
merupakan polusi bagi masyarakat. Akan tetapi ajaran tersebut
oleh para penulis modern tidak diterima. Ada berbagai
kenyataan yang menunjukkan bahwa perbuatan atau gejala
56
sosial yang dilarang oleh agama seperti homoseks, fornication,
inseminasi buatan, keluarga berencana, aborsi, bunuh diri di
beberapa negara tidak dijadikan tindak pidana.
3. Hubungan Kejahatan Dengan Kebiasaan
Sering dikatakan bahwa kebiasaan merupakan sumber dari
hukum dan juga seringkali kebiasaan kemudian ditarik menjadi
perbuatan yang dilarang oleh hukum. H. Kontorowicz
memberikan daftar kebiasaan tetapi bukan merupakan hukum
yaitu: etiket, kebiasaan saling memberi hadiah pada kesempatan
tertentu, tata cara pemberian selamat, topik-topik pembicaraan,
bentuk-bentuk surat, etika profesi, tingkat kebebasan dalam
hubungan sosial antar seks dan sebagainya.
Kebiasaan untuk memberi hadiah misalnya dalam keadaan
tertentu maka, kadang-kadang dianggap sebagai tindak pidana
(misalnya korupsi). Perbedaan antara kebiasaan dengan hukum
adalahbahwa kebiasaan terikat pada lapisan sosial, kelompok,
daerah dan sukumbangsa, sedangkan hukum sifatnya nasional.
4. Hubungan Kejahatan Dengan Moral
Hubungan kejahatan dengan moral telah banyak
dibicarakan orang sejak dulu dan hingga kini masih saja menarik
untuk dibicarakan.
G.P. Hoefnagels menyatakan bahwa hubungan antara
kejahatan (dalam pengertian yuridis) dengan moral dapat
digambarkan sebagai dua buah lingkaran dengan berbagai
bentuk sebagai berikut:
a. Pandangan ini menganggap bahwa semua tindak pidana
merupakan perbuatan yang melanggar moral. Pada kelompok
pandangan ini termasuk mereka yang menganggap kejahatan
sebagai dosa dan mereka yang percaya bahwa pemerintah
57
adalah pemberian tuhan. Pandangan ini disebut sebagai
model Bonger.
b. Pada pandangan ini mereka berpendapat hampir semua tindak
pidana meruapakan perbuatan yang melanggar moral, hanya
sebagian kecil saja yang tidak melanggar moral. Pandangan
ini melihat moral sebagai pengertian absolut yaitu sematamata sebagai generalisasi dari kode moral mereka.
c. Pandangan ini menganggap bahwa hanya kejahatan yang
sangat berat meruapakan perbuatan yang bertentangan
dengan moral, sedangkan sebagian besar tindak pidana tidak
bertentangan dengan moral. Pandangan ini mendasarkan pada
kenyataan bahwa dalam masyarakat terdapat berbagai
kelompok masyarakat yang seringkali memiliki pandangan
moral yang berbeda-beda.
d. Pandangan ini memisahkan antara moral pribadi dengan
kelompok dan dengan hukum pidana.Hal ini karena mereka
tidak melihat norma mereka tercermin dalam perarundangundangan pidana karena alasan yang sama sekali berbeda
misalnya mereka beranggapan bahwa hukum pidana sematamata hanya sebagai alat teknis untuk membuat masyarakat
berfungsi, dan merasa bahwa setiap individu/kelompok akan
mengikuti norma norma dan nilai-nilainya sendiri, sama
sekali terlepas dari hukum pidana yang memiliki tujuannya
sendiri.
Menurut H. Mannheim, hubungan antara kejahatan dengan
moral dapat digambarkan sebagai dua buah lingkaran yang
saling tumpang tindih seperti gambar berikut.
a. Sejumlah perbuatan yang dipandang amoral akan tetapi
tidak illegal.
b. Sejumlah perbuatan yang dipandang amoral dan juga
illegal.
58
c.
Sejumlah perbuatan yang dipandang illegal akan tetapi tidak
amoral.
59
Gambaran di atas menunjukkan adanya sejumlah tingkah
laku yang melanggar hukum pidana akan tetapi tidak
bertentangan dengan norma moral, begitu pula sebaliknya
terdapat sejumlah tingkah laku yang melanggar moral akan
tetapi tidak melanggar hukum pidana.
Ketidaksesuaian antara kejahatan (dalam pengertian
yuridis) dengan norma moral antara lain karena adanya
perbedaan yang hakiki antara hukum dan moral. Bahwa hukum
lebih menekankan segi luarnya, sedangkan moral lebih
menekankan pada segi internal dari tingkah laku manusia,
artinya hukum lebih menekankan agar orang tidak melakukan
perbuatan yang dilarang daripada untuk berbuat yang positif,
sedangkan moral sebaliknya, lebih mengharapkan agar orang
bukan saja menahan diri (untuk tidak melakukan larangan) akan
tetapi juga untuk berbuat sesuatu yang positif.
Di samping itu, adanya perbedaan pandangan moral dan
kepentingan berbagai kelompok yang ada di masyarakat akan
menghasilkan perbedaan pilihan tentang perbuatan-perbuatan
mana yang akan dijadikan tindak pidana dan yang mana yang
tidak. Ini berarti terdapatnya pandangan moral tertentu (dan/atau
dari kelompok tertentu) yang mendapat dukungan hukum,
sedangkan pandangan moral yang lain (dan/atau dari kelompok
yang lain) tidak.60
RANGKUMAN
1. Perbedaan dalam memahami kejahatan disebabkan oleh
kejahatan yang bersifat relatif, bergantung kepada ruang,
waktu, dan siapa yang menamakan sesuatu itu kejahatan.
60
I.S.Susanto, Op.cit. hal. 4.
60
Tingkah laku didefinisikan sebagai jahat oleh manusiamanusia yang tidak mengkualifikasikan dirinya sebagai
penjahat.
2. Pendekatan yang sering digunakan dalam memahami
kejahatan terdiri dari pendekatan deskriptif, pendekatan sebabakibat, dan pendekatan secara normatif.
3. Kejahatan dalam (definisi yuridis) memiliki hubungan dengan
norma hukum(undang-undang), agama, kebiasaan, dan moral
(kesusilaan).
LATIHAN
1. Apa yang dimaksud dengan kejahatan bersifat relatif
2. Sebutkan perbedaan penanganan kejahatan berdasarkan
konsep peradilan personal dengan penaganan kejahatan
dewasa ini di Indonesia melalui sistem peradilan pidana
3. Bandingkan ke tiga pendekatan yang digunakan dalam
mempelajari kejahatan (pendekatan deskriptif, sebab
akibat dan normatif).
4. Bagaimanakah penjelasan Mannheim terkait dengan
hubungan kejahatan dengan moral (kesusilaan)
GLOSSARIUM
1. Mala in se adalah suatu perbuatan yang tanpa dirumuskan
sebagai kejahatan sudah merupakan kejahatan.
2. Mala prohibita adalah suatu perbuatan manusia yang
diklasifikasikan sebagai kejahatan apabila telah dirumuskan
sebagai kejahatan dalam perundang-undangan.
61
3. Nullum crimen sine lege” artinya tidak ada kejahatan
(penghukuman) sebelum ada aturan (undang-undang) yang
melarang perbuatan jahat.
4. Misdaad is benoming artinya tingkah laku didefinisikan
sebagai
jahat
oleh
manusia-manusia
yang
tidak
mengkualifikasikan dirinya sebagai penjahat.
DAFTAR PUSTAKA
I.S.Susanto, 1991, Diktat Kriminologi, Fakultas Hukum Universitas
Diponegoro, Semarang.
J.E. Sahetapy, 1979, Kapita Selekta Kriminologi, Alumni, Bandung.
J.E. Sahetapy, 1981, Kausa Kejahatan dan Beberapa Analisa
Kriminologik, Alumni, Bandung.
L.J. Van Apeldoorn, 1981, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya
Paramita, Jakarta.
Made Darma Weda, 1996, Kriminologi, RajaGrafindo Persada,
Jakarta.
62
BAB IV
PENELITIAN DAN METODE KRIMINOLOGI
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan
mampu memahami tentang penelitian dan metode kriminologi.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan
mampu:
1. Menjelaskan tentang riset kriminologi dan kegunaannya
2. Menjelaskan metode-metode dalam kriminologi
3. Menjelaskan Statistik kriminal.
A. Riset kriminologi dan kegunaannya
Riset dapat didefinisikan sebagai penggunaan prosedur
baku/sistematik dalam mencari pengetahuan. Riset kriminologi
mempunyai kegunaan:
1. Kegunaan teoritis: dapat memberikan sumbangan dalam
pembentukan, perbaikan dan penggantian terhadap teori-teori
kriminologi serta metode dalam penelitian kriminologi.
2. Kegunaan praktis: khususnya untuk membantu perbaikanperbaikan dalam bidang pembinaan dan pebegakan hukum
pada umumnya.61
Disamping kegunaan seperti di atas, riset kriminologi
mempunyai arti penting sedikitnya mencakup hal-hal sebagai
berikut:
61
I.S.Susanto, Op. Cit. hal. 18.
63
1. Akan menghilangkan atau paling sedikit mengurangi
kepercayaan yang salah. Terutama yang menyangkut sebabmusabab kejahatan serta efisiensi pelbagai cara pembinaan
narapidana disamping konsepsi prevensi yang efektif.
2. Dalam sisi positifnya suatu penelitian dapat bermanfaat untuk
meningkatkan pembinaan pelanggar hukum dan lebih jauh
menggantikan cara yang usang dalam pembinaan pelanggar
hukum,berupa manfaat individual yang mampu menghapuskan
perilaku yang semakin menghayati hakekat kejahatan.
3. Hasil penelitian kriminologi lambat laun memberikan manfaat
melalui penelitian kelompok kontrol dan penelitian ekologis
yang dapat menyediakan bahan keterangan yang sebelumnya
tidak tersedia mengenai non delinkuen dan mengenai ciri-ciri
pelbagai wilayah tempat tinggaldalam hubungannya dengan
kejahatan,berarti mencakupunsur penting bagi pendekatan
subyektif dan obyektif.62
Dengan demikian penelitian kriminologi dengan berbagai
metodenya, menempati posisi penting untuk perkembangan ilmu
dan
untukpenanggulangan
kriminalitas
dalam
rangka
mengsukseskan pembangunan nasional.
B. Metode Kriminologi
Sebagai disiplin idiografik dan nomotetik, serta sebagai pengaruh
penerimaan filsafat positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, maka
kriminologi dalam melakukan studinya, khususnya dalam usaha
mencari sebab-sebab kejahatan, menggunakan metode baik yang
digunakan oleh ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu alam.
Menurut H. Mannheim, metode yang digunakan dalam
penelitian kriminologi63 adalah:
1. Metode primer:
62
63
Soedjono Dirdjosisworo, Op. Cit. hal 73.
Loc. Cit.
64
a. Statistik kriminal yaitu angka-angka yang menunjukkan
jumlah kriminalitas yang tercatat di suatu tempat dan waktu
tertentu.
b. Tipologi: mempelajari kejahatan dan penjahat dengan
melihat-ciri-ciri dan fenomena tersebut.
c. Studi kasus atau individual: mempelajari kejahatan dengan
melalui penyelidikan terhadap kasus-kasus individual
dengan secara mendalam seperti tentang sejarah
kejahatannya (karier) dan sejarah kehidupan lainnya yang
dipandang relevan. Ini dapat dilakukan dengan cara
wawancara, kuesioner, otobiografi, biografi dan sebagainya.
2. Metode Sekunder:
Penggunaan metode ini biasanya bersama-sama dengan
salah satu atau lebih metode primer. Yang termasuk metode
sekunder adalah:
a. Metode Sosiologis. Mempelajari lembaga, kelompok,
daerah yang dipandang mempeunyai relevansi dengan
kejahatan.
b. Metode Eksperimental. Metode ini biasanya dipakai dalam
ilmu alam dan psikologi. Di dalam kriminologi, metode ini
terutama dipakai untuk studi tentang pemidanaan dan
etiologi kriminil.
c. Metode Prediksi. Metode ini misalnya dipakai oleh usamiisteri Glueck dalam studinya terhadap anak-anak
delinkuensi dalam usahanya untuk meramalkan perlaku
masa depannya.
d. Metode Operasional (action research). Metode ini terutama
digunakan untuk usaha-usaha pencegahan kejahatan atau
perbaikan dalam tindakan terhadap pelaku kejahatan.
65
Metode-metode
yang
pernah
diterapkan
sejak
perkembangan kriminologi awal abad ke 19 hingga
perkembangan mutakhir yang telah berkembang kemanfaatannya
ke arah studi kriminologi pembangunan, menurut Soedjono
Dirdjosisworo64 adalah:
1. Metode pengobatan.
2. Metode statistik.
3. Metode hubungan antara kejahatan dan kondisi-kondisi
menurut statistik.
4. Metode kasus perkara.
5. Metode riwayat hidup.
6. Metode penelitian partisipan.
7. Metode jangka panjang
Dari berbagai metode di atas, statistik kriminal dipandang
sebagai metode yang mempunyai kedudukan utama dalam
kriminologi, karenanya akan dibicarakan secara khusus.
Arti statistik kriminal bagi kriminologi sangat penting,
bukan saja sebagai metode dan data kejahatan, akan tetapi
statistik kriminal juga mempunyai peranan yang sangat penting
dalam membentuk gambaran orang mengenai realitas kejahatan
atau sebagai kontruksi sosial tentang kejahatan.
Dalam membicarakan statistik kriminal, perlu dicatat
nama Adolphe Quetelet (1776-1874), seorang Belgia ahli statistik
dan guru besar astronomi di Brussels telah berhasil menjadikan
statistik suatu mode ilmu pengetahuan serta menciptakan dasardsar statistik praktis. Dialah yang dengan menggunakan data
statistik kriminal di Prancis untuk pertamakali membuktikan
bahwa kejahatan, seperti halnya dengan banyak kejadian-kejadian
sosial lainnya seperti perkawinan, kelahiran dan kematian, maka
juga kejahatan merupakan lebih daripada sekedar kejadian yang
64
Soedjono Dirdjosisworo, Op. Cit. hal 81.
66
bersifat perseorangan, melainkan sebagai fenomena yang bersifat
massal, sehingga statistik kriminal karenanya menjadi metode
yang lebih baik daripada metode yang lain untuk mempelajari
kejhatan yang bersifat massal tersebut, yaitu dalam menemukan
keteraturan, kecendrungan atau bahkan hukum-hukum sosial.
Pengamatannya yang sangat terkenal adalah bahwa jumlah
dan jenis kejahatan di negara tertentu setiap tahun cenderung
sama dan juga cara melakukannya adalah sama.
Statistik kriminal adalah angka-angka yang menunjukkan
jumlah kriminalitas tercatat pada suatu waktu dan tempat tertentu.
Statistik kriminal ini disusun berdasarkan kriminalitas yang
tercatat, baik secara resmi (kepolisian, kejaksaan, Pengadilan dan
sebagainya) maupun yang dicatat sendiri oleh para peneliti
sendiri.
Kriminalitas yang tercatat ini hanya merupakan sampel
dari seluruh kriminalitas yang terjadi. Sedangkan jumlah
kriminalitas yang terjadi tidak pernah diketahui. Bagian
kriminalitas yang tidak diketahui ini dinamakan “angka gelap”
(hidden criminality atau dark numbers/dark figures).65
Oleh karena itu salah satu kelemahan dari statistik
kriminal adalah tidak lengkap. Dan memang statistik kriminal
tidak pernah dapat mencatat seluruh kriminalitas yang ada. Jika
statistik itu digunakan untuk penyelidikan etiologi kriminal maka
tidak dibutuhkan lengkapnya bahan-bahan akan tetapi asal bahanbahan tersebut cukup representatif, artinya apakah perbandingan
antara yang diketahui dapat dikatakan tetap (pars pro toto).
Adapun tujuan dibuatnya statistik kriminal oleh
pemerintah adalah untuk memperoleh gambaran/data tentang
65
J.E. Sahetapy, dan B. Mardjono Reksodiputro, Parados dalam
Kriminologi, Rajawali, Jakarta, 1982. hal. 28.
67
kriminalitas yang ada di masyarakat, sepertijumlahnya,
frekuensinya serta penyebaran pelakunya dan kejahatannya.
Berdasarkan data tersebut kemudian oleh pemerintah
(khususnya penegak hukum) dipakai untuk menyususn
kebijaksanaan penanggulangan kejahatan, sebab dengan data
kejahatan tersebut pemerintah (penegak hukum) dapat
mengukur naik turunnya kejahatan pada suatu periode tertentu
di duatu daerah atau negara.
Pengukuran ini tentunya hanya dapat dilakukan
dengan asusmsi bahwa hubungan antara kriminalitas yang
dilaporkan dengan yang tidak dilaporkan adalah tetap
(konstan). Asumsi ini tidah pernah terbukti karena beberapa
hal, terutama karena tiga hal:
a. Sifat dari kejahatan,
b. Peranan korban dan masyarakat
c. Aktivitas dari aparat penegak hukum khususya polisi.66
Mengingat tidak semua kejahatan dirasakan sama beratnya
bagi masyarakat, maka dalam usaha menggunakan statistik
kriminal sebagai alat pengukur kejahatan, disusun suatu “indeks
kejahatan” (crime index), yaitu bentuk-bentuk kejahatan tertentu
yang digunakan untuk mengukur naik turunnya kejahatan.
Untuk Polda Jawa tengah misalnya, pada waktu itu
ditentukan delapan jenis kejahatan yang dilasukkan dalam indeks
kejahatan, yaitu: pembakaran, kebakaran, kejahatan terhadap mata
uang, pembunuhan, penganiayaan berat, pencurian dengan
pemberatan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan
bermotor, dan penyalahgunaan narkotika.67
Berdasarkan gambaran kejahatan yang terdapat dalam
indeks
kejahatan,
kemudian
disusun
kebijaksanaan
66
67
Ibid, hal. 29
I.S.Susanto, Op. Cit. hal. 21.
68
penanggulangan kejahatan untuk suatu daerah tertentu. Untuk
dapat mengukur perkembangan kriminalitas di daerah tertentu
dengan baik, maka angka mutlak yang terdapat dalam statistik
kriminal dihubungkan dengan perkembangan jumlah penduduk
sertaciri-ciri penduduk lainnya (seperti jenis kelamin, usia), yaitu
dengan menghitung angka perimbangan (rate) antara jumlah
kejahatan dengan jumlah penduduk, biasanya dihitung per
100.000 penduduk.
Usaha mendayagunakan statistik kriminal antara lain
dilakukan dengan mengungkap angka gelap dengan melakukan
survai terhadap korban (victim survey) dan penelitian tentang
laporan pribadi (self report study).
Disamping untuk penggunaan praktis, khususnya bagi
tujuan pemerintahan, statistik kriminal juga dipakai oleh para
ilmuwan, khususnya kriminologi, sebagai data kejahatan untuk
menjelaskan fenomena kejahatan atau menyususn teori.
Terhadap cara-cara penggunaan statistik kriminal oleh
pemerintah (polisi) dan kriminologi yang menganggap statistik
kriminal sebagai mencerminkan kejahatan yang ada di
masyarakat, dalam arti diterima sebagai sampel yang sah,
mengandung beberapa kelemahan.68
1) Statistik kriminal adalah hasil pencatatatan kejahatan yang
dilakukan oleh aparat penegak hukum (khususnya polisi)
berdasarkan laporan korban dan anggota masyarakat pada
umumnya. (Berdasarkan berbagai studi, sekitar 80-90%
pencatatan tersebut berasal dari laporan masyarakat). Ini
berarti bahwa hasil pencatatan terutama dipengaruhi oleh
kemauan korban untuk melaporkan. Dari berbagai penelitian
dapat ditunjukkan bahwa kecendrungan korban untuk
melaporkan dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti jenis-jenis
68
Soedjono Dirdjosisworo, Op.Cit, hal. 90.
69
kejahatan, nilai kerugian, pandangannya terhadap kemampuan
polisi, hubungannya dengan pelaku kejahatan, serta berbagai
kepentingan praktis lainnya.
2) Apa yang disebut sebagai kejahatan, dalam perwujudannya
akan menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk prilaku dan
seringkali tidak jelas, samar-samar sehingga memerlukan
penafsiran. Menafsirkan suatu kejadian atau fakta tertentu
sebagai kejahatan dipengaruhi oleh pengetahuan dan
persepsinya tentang apa yang disebut sebagai kejahatan.
3) Dari berbagai studi dapat ditunjukkan bahwa persepsi korban
(dan masyarakat) terhadap kejahatan bersifat berat sebelah
(bias) yaitu terutama mengenai kejahatan konvensional dan
sangat langka dengan kejahatan white collar. Akibatnya
kejahatan yang dilaporkan juga bersifat berat sebelah yaitu
terutama berupa kejahatan konvensional dan sangat langka
dengan kejahatan white coollar.
4) Persepsi polisi juga berat sebelah. Dari Jenis-jenis kejahatan
yang dijadikan indeks kejahatan, yang berarti akan
mendapatkan prioritas dalam penanggulangannya- terutama
juga berupa kejahatan konvensional. Akibatnya kejahatan yang
mendapat perhatian polisi, yang pada akhirnya masuk dalam
statistik
kriminal-terutama
juga
berupa
kejahatan
konvensional.
Dengan melihat beberapa kelemahan tersebut dapat
disimpulkan bahwa statistik kriminal bukan merupakan
pencerminan kejahatan yang ada dalam masyarakat, akan tetapi
hanyalah merupakan gambaran tentang aktivitas penegakan
hukum.
70
RANGKUMAN
1. Kegunaan riset kriminologi secara teoritis yaitu dapat
memberikan sumbangan dalam pembentukan, perbaikan dan
penggantian terhadap teori-teori kriminologi serta metode
dalam penelitian kriminologi. Sementara kegunaan praktis,
khususnya untuk membantu perbaikan-perbaikan dalam
bidang pembinaan dan pebegakan hukum pada umumnya.
3. Metode kriminologi terdiri dari metode primer yaitu: Statistik
kriminal, Tipologi, dan studi kasus. Metode Sekunder
meliputi: metode sosiologis, metode eksperimental, metode
prediksi, dan metode operasional (action research).
Penggunaan metode sekunder biasanya bersama-sama dengan
salah satu atau lebih metode primer.
4. Statistik kriminal adalah angka-angka yang menunjukkan
jumlah kriminalitas tercatat pada suatu waktu dan tempat
tertentu. Adapun tujuan dibuatnya statistik kriminal oleh
pemerintah adalah untuk memperoleh gambaran/data tentang
kriminalitas yang ada di masyarakat, seperti jumlahnya,
frekuensinya serta penyebaran pelakunya dan kejahatannya.
guna menyusun kebijaksanaan penanggulangan kejahatan,
sebab.
Disamping riset dan metode dikenal pula dengan sarana-sarana
untuk penggalian data yang sekaligus merupakan sumber-sumber
berharga sebagai pegangan bagi yang berminat mempelajari
kriminologi secara lebih terarah. Sarana-sarana itu adalah:
1. Statistik kriminal;
2. Kriminografi;
3. Angket mengenai biodata Narapidana
4. Autobiografi dan Biografi kriminal;
5. Novel (roman) sosial;
6. Pengamatan pribadi dan berita surat kabar.
71
LATIHAN
1. Jelaskan jenis-jenis metode ilmiah yang digunakan
kriminologi, bagaimanakah cara penggunaan metode tersebut?
2. Kemukakan pengertian statistik kriminal dan tujuan
pembuatannya
3. Apakah kekurangan-kekurangan metode statistik kriminal
tersebut.
GLOSSARIUM
1. Statistik kriminal adalah angka-angka yang menunjukkan
jumlah kriminalitas tercatat pada suatu waktu dan tempat
tertentu.
2. Crime index yaitu bentuk-bentuk kejahatan tertentu yang
digunakan untuk mengukur naik turunnya kejahatan
3. Hidden criminality atau dark numbers/dark figures yaitu
jumlah kriminalitas yang terjadi tidak pernah diketahui.
DAFTAR PUSTAKA
J.E. Sahetapy, dan B. Mardjono Reksodiputro, 1982, Parodos dalam
Kriminologi, Rajawali, Jakarta.
I.S.Susanto, 1991, Diktat Kriminologi, Fakultas Hukum Universitas
Diponegoro, Semarang.
Soedjono Dirdjosisworo, 1994, Sinopsis Kriminologi Indonesia,
Mandar Maju, Bandung.
72
BAB V
TEORI SEBAGAI PENUNTUN DALAM
PENELITIAN KRIMINOLOGI
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan mahasiswa mampu
memahami: Pentingnya teori sebagai penuntun dalam penelitian
kriminologi.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu:
1. Mengungkapkan pentingnya teori dalam penelitian kriminologi.
2. Mengungkapkan perkembangan teori dan penelitan terhadap
kriminologi.
A. Teori dan Penelitian
Para kriminolog yang saat ini mengkonsentrasikan perhatiannya
pada pengembangan teori, mencari jalan untuk mengukuhkan
generalisasi mereka dengan mengambil referensi tulisan-tulisan
yang bernada tajam dari Parsons dan Merton. Kebanyakan ahli teori
kriminologi terikat secara bertahap atau sekaligus oleh penelitianpenelitian empiris, kuantitatif atau statistik yang lebih diarahkan
pada teori para penulis dengan karyanya yang paling baru dan
penting dibandingkan yang hanya melakukan koleksi data belaka.
Dalam menunjukkan teori fungsional struktural, Parson
menguji pendekatan “faktor” dengan mengatakan “ Not the least
delecterious effect of the “Factor” type of theorizing....is the
division of the field into waring school of thought”. Atas dasar ini
setiap mazhab mempunyai justifikasi empiris yang kukuh tapi
masing-masing secara sama sebagai hasil dari kebutuhan akan
liputan sistem itu, mengaitkan konflik-konflik dan kesukaran-
73
kesukaran yang tak dapat diatasi dengan intepretasi lain dari
fenomena yang sama.
Dalam keadaan demikian tidaklah mengejutkan bahwa teori
semacam ini seharusnya tidak dipercaya dan banyak dari pendapatpendapat yang bijaksana dan obsesif dikecewakan dan menjadi
penganut paham empiris yang dogmatis, menolak sebagai prinsip
yang dapat dilakukan oleh teori ilmu. Mereka merasakan hanya
sebagai hal yang spekulatif. Jadi kemajuan ilmu hanya dapat berisi
dalam akumulsi penemuan fakta yang abstrak yang tidak saling
berhungungan dan tidak terarah.
Suatu pengkonsepan () yang luas yang disebut “sociological
imagination” ciptaan Hills, oleh para ahli teori secara implisit
dipandang superiors dari pada yang dilakukan pengumpulan data
secara serampangan yang didasarkan atas teori faktor ganda yang
didasarkan pada pengalaman yang sering dipaparkan dalam artikel
tentang teori kriminologi.
Para pengumpul data berpendapat bahwa para ahli teori
sedang terlibat di dalam penelitian “fundamental” yang hanya akan
terganmtung padanya, dimana teori kriminologi dapat bersandar,
kecuali bila data yang dikumpulan dan diarahkan cukup dengan
cara metodologis yang tepat tak akan timbul teori-teori penting dan
tahan lama . Teori dengan skala makroskopis yang luas mungkin
lebih diinginkan (differential association, culture conflict, subcultures), tetapi teori sejenis ini isinya harus merupakan hasil
penelitian dalam tingkat “inquiry” (pemeriksan) yang lebih
sederhana, dan tidak dibuat-buat. Argumen ini lebih merupakan
seruan untuk mempergunakan teori pendekatan “middle range” dari
Merton, karena ajuan Merton mengenai reduksi abstraksionisme
pada dimensi-dimensi yang dapat dicapai, masih dibutuhkan
investigator “the middle range” yang harus berfungsi di dalam
74
kerangka atau frame work pelaksanaan menuju rangcangan yang
luas, paradigma atau sistem teoritis.69
Menurut anjuran Merton, formasi hipotesis adalah suatu
fungsi dari teori yang dewasa ini berasal dari penelaahan, seperti
yang dikerjakan oleh Short dan lainnya dengan mencari ukuran
intensitas, frekuensi, daya tahan dan lain-lain secara sosiometri dan
tehnik-tehnik lain serta teori “differential association” dari
Sutherland atau Yeye Wardene yang mencoba melengkapi indeks
dari konflik norma-norma yang digambarkan oleh Sellin, agar
masuk kedalam range ini.
Walaupun pengumpul data dalam teori faktor ganda
mendapatkan penelitian semacam ini tetapi tak begitu merugikan
karena pada akhirnya, data yang sedang dikumpulkam tidak
mencerminkan kesetiaan pada pendekatan yang berdasarkan
pengalaman. Sebaliknya pengajar multiple faktor merasa gelisah
tentang fakta bahwa penelitian jensi ini adalah terbatas di dalam
ruang lingkupnya dan dibatasi atau dilindungi oleh penahanan
perspektif teoritis yang tidak benar-benar secara bebas
mengabaikan fakta-fakta penting di luar range teori dan mempunyai
kesempatan yang sama dengan ditimbang, dikumpulkan dan
dihitung berdasarkan asumsi-asumsi apriori yang dapat dicakupnya,
yang membatasi dan menentukan terlebih dahulu intepretasi a
posteriori pengaruh dan frekuensi data menjadi hanya kekayaan
dalam “quantifying” suatu posisi teoritis yang akan ditentukan
kelak.70
Apabila teori dapat ditulis tanpa data, maka data yang
dikumpulkan untuk menguji hipotesis yang diturunkan dari teori
tersebut adalah adalah data yang dipilih secara sangat sempit, dan
69
SoerdjonoDirdjosisworo, 1994, Sinopsis Kriminologi Indonesia, Mandar
Maju, Bandung, hal. 39.
70
Ibid, hal. 41.
75
bila beberapa hari hipotesis ini ditolak, teori tersebut tetap tak
berubah. Akibatnya tidak dapat dihindari bahwa hipotesis yang
ditunjang dan dikukuhkan menjadi himpunan untuk menyangga
teori atau penbaian besarnjya moralitas yang tumbuh dari teori itu.
Teori tanpa data mendasarkan hipotesis yang “testable” dipanudang
premature karena meletakkan “blinder” bagi investigatornya dan
tidak memasukkan atau mengecilkan arti fakta-fakta yang tidak
sesuai prakonsepsi teori itu. Observasi-observasi tetap tinggal
“thin” (tidak meyakinkan) dan atau “skeletal” (bagian luar atau
rangkainya saja).
Ciri yang serupa telah ditunjukkan di dalam beberapa teori
seperti Cohen,71 Block dan Niererchafer Miller, Cloward dan
Ohlin, Dsb. Apa yang telah ditekankan oleh Cohen telah
didiskusikan dalam hubungannya dengan struktur kelas, perubahanperubahan cultural (cultural changer dan role playing) dia melihat
perkembangan delinquen sub-culture sebagai suatu proses yang
membangun, mempertahankan dan memperkuat kode tingkah laku
yang sesungguhnya merupakan suatu inverse dari nilai-nilai yang
dominan (middle class), delinquen sub-culture dipegang untuk
dikembangkan dan dipelihara sebagai solusi problem-problem yang
dihadapi oleh para remaja “lower class” yang berhubungan dengan
statusnya.
Cohen menyatakan “middle class” male delinquensi sebagai
akibat dari kegelisahan para pemuda yang menanjak dewasa
berhubung dengan peran kejahatannya. Posisi Cohen telah ditinjau,
diperbesar, diperluas dan sedikit direvisi oleh Cloward dan Ohlin.
71
Albert Cohen adalah murid Robert K. Merton dan Edwin H. Sutherland.
Bersama Richard Cloward dan LIoyd Ohlin dia mengembangkan teori sub-culture,
yang merupakan perpanjangan dari strain theory, social disorganization theory dan
differential association theory (teory yang ungkapkan oleh Edwin H. Sutherland).
Lihat Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, 2001, Kriminologi,PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta, hal. 80.
76
Soal yang hangat mengikuti pokok-pokok pandangan teoritis dari
ketiga pengarang tersebut adalah deskripsi delinquen sub culture
yang muncul dari pembagian berdasar struktur sosial (social
structured division) antara aspirasi-aspirasi pada pemuda lower
class dan the means (kesempatan) yang tersedia bagi mereka untuk
menyadari aspirasi itu.
Sosialisasi lower class tidaklah mempersiapkan para remaja
untuk melaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan harapan suatu
intitusi middle class seperti sekolah dan akibatnya para pemuda
lower class ini menderita apa yang disebut “status deprivation” dan
harga diri yang rendah (law estimated of self). Interaksi sejumlah
pemuda semacam ini di kota atau urban area menimbulkan
pendirian bebarapa nilai-nilai kelompok ini memungkinkan mereka
mendapat kesempatan untuk “sembuh” dari harga diri yang hilang
dan menetralkan diri terhadap akibat lebih lanjut dari “hukuman
status”. Oleh karena itu “ststus deprivation” menyebabkan motivasi
timbulnya lower delinquen sub culture yang sama pentingnya
adalah “status punishment” yang dipusatkan diantara kelompok
lower class yang apada saat bersamaan juga terhimpun di bagian
daerah tertentu dalam masyarakat yang besar, satu kali delinquensi
sub
culture
terbentuk,
bisa
terjadi
individu-individu
menggabungkan diri hanya untuk sebab-sebab yang mempunyai
hubungan sedikit saja dengan motivasi asal.72
Teori lain yang agak berbeda dan bahkan sebagian
berlawanan dengan pandangan-pandangan Cloward, Ohlin
diperkenalkan oleh Bloch dan Nierder Haver. Pandangan ini
menekankan unsur-unsur umur dan jalan masuk yang berbeda-beda
(diferential acces), akibat umur juga sampai ketujuan macammacam materi dan pengaruh lingkungan masyarakat. Gang-gang
72
Ibid, hal. 42....... untuk lengkapnya baca juga David J. Bordua, sociological
theories and their implications for juvenile delinquensi.
77
remaja muncul dalam usaha untuk menciptakan dan
mempertahankan sekumpulan lambang status yang akan dapat
membantu para remaja untuk memperoleh hak-hak dan hak-hak
khusus dari kaum dewasa.
Dengan demikian terhadap struktur sosial antara chillhood
dan adulthood direduksi sebagian. “Pelantikan” oleh gang kepada
anggotanya dalam bentuk bermacam-macam lambang, termasuk
tato yang seragam, nama kelompok, mempunyai fungsi ritual yang
sama seperti: “rites the passage” yang biasa ditemukan dibanyak
masyarakat primitiv. Walter B. Muller dalam suatu arti berjudul
lower class culture as a generating milleu of gang delinqunsi
membenarkan bahwa norma-norma kejahatan yang ditemukan
dalam beberapa bagian dari kota-kota modern pada umumnya
adalah versi “lower class culture” pada remaja.
Sistem kultur ini meletakkan dasar dalam dirinya nilai-nilai
yang tinggi pada anggapan kelompok mereka sendiri yang antara
lain berupa sikap perilaku yang kontras dan kata-kata sandi yang
dimengerti oleh kelompok itu, dan beberapa ciri tingkah laku yang
umunya didapatkan dalam kehidupan gang.
Pendirian Miller melawan paham bahwa “the street gang”
atau “delinquent sub-culture” muncul dari reaksi terhadap tuntutantuntutan middle culture. Dia menekankan pandangan bahwa the
lower class culture adalah suatu keseluruhan yang sistematis dari
kepercayaan, nilai vocal concerned
yang ada di dalam
kebenarannya sendiri dan telah berjalan selama beberapa
genererasi. Dari perspektif ini, the lower class culture yang
bertentangan dengan middle clas culture yang dominan tidak
dipandang sebagai reaksi terhadap kepercayaan, norma-norma dan
nilai-nilai dari middle class yang berkembang disekitar lingkungan
variasi sosial berdasarkan umur, seks, kelas, dsb.
78
Kultur ini mempunyai ciri sekumpulan nilai yang distinctive
dan oleh “ female based family” sebagai bentuk kerumah tanggaan
“household home”. anak-anaknya tidak sah tetapi yang paling kritis
adalah fakta bahwa sistem rumah tangga tak memerlukan bantuan
ekonomi yang regular dari kaum pria agar hidupnya berlangsung
terus. Kaum wanitanya secara bergantian merawat anak-anak
mereka yang sedang bekerja dan pembayaran kesejahteraan umum,
penghasilan yang rutin, cross-sex tidak membatasi umur dan sek
per grup, demikian dikatakan Miller terjadi untuk memenuhi
fungsi-fungsi yang genting sepanjang hidup. Namun demikian ada
problem psikologis khusus bagi laki-laki muda di dalam sistem
sosial seperti ini sejak lahir sehingga menginjak masa dewasa, anak
laki-laki dipelihara di dalam lingkungan perempuan yang pre
dominan dan model-model identifikasi peran yang berbeda pada
umum hampir tidak ada. Keinginan untuk membuktikan kejantanan
seseorang ditambah dengan keinginan untuk menjadi anggota lakilaki dewasa yang sukses di dalam lower class culture
membutuhkan latihan keremajaan dengan minuman keras, keuletan
dan respon yang cepat dan agresif terhadap ransangan khusus yang
merupakan karakteristik kaum laki-laki dewasa lower class.
Latihan semacam ini menyangkut kegiatan yang tidak perlu
melanggar hukum tetapi sering menyangkut partisipasi dalam
tingkah laku yang dipandang melanggar hukum oleh wakil-wakil
penguasa dari middle class culture dengan begitu menurut
pandangan Miller, lower class culture mempunyai sistem nilainya
sendiri, preskripsi tingkah laku yang mempromosi di dalam rangka
kerja dari seorang delinquen dari pada ketiadaan beberapa nilai
lainnya. Daerah yang digambarkan oleh Miller muncul sebagai
slums (daerah tempat tinggal orang miskin) “lower working class”
tertentu di Inggris, dimana pelanggaran hukum merupakan hal-hal
yang umum dari kaum remaja bahkan diantara anak-anak muda
79
yang secara regular sering mengunjungi rumah-rumah yang dihuni
sebagaimana dilaporkan oleh John Baron Mays di dalam bukunya
Growing Up In the City.73
Pelanggaran hukum yang dianggap umum oleh kaum remaja
merupakan suatu contoh dari bentuk teori sub-culture. Dalam
budaya kelompok, kelompok-kelompok yang relatif kecil ini
mempunyai pandangan sendiri mengenai nilai sosial dan perilaku
sosial, sehingga perbuatannya yang oleh masyarakat dianggap
devian-behaviour atau perilaku menyimpang, menurut kelompok
yang berbuat dianggapnya perbuatannya wajar dan benar sesuai
ukuran sub budaya kelompoknya.
B. Perkembangan Yang Sedang Berlangsung Dalam Teori dan
Penelitian.
Antara tahun 1960-1965, telah pula muncul pernyataanpernyataan baru dalam teori kriminologi dan penelitian baru yang
berbungan dengan garis-garis besar teori ini dan revisi-revisi yang
datangnya dari hasil penelitian serta merupakan refleksi dari
problem-problem dan persoalan-persoalan dasar. Cressy di dalam
delinquensi, crime and differential association telah menghiasi dan
memperluas teori differential association Sutherland dan dangan
begitu menambah kejelasan dan keyakinan mengenai cara
pendekatan yang ia pegang.
Penjelasan seksama dan dapat memberikan kesempatan baru
mengadakan penelitian untuk menguji teori tersebut dan diterapkan
ke dalam situasi klinis termasuk prefensi dan terapi. Tidaklah tepat
untuk menggambarkan dan mengkritik teori penelitian dalam
73
Marvin E. Wolfgang & Franco Ferracuti, 1967, The Subculture of Violence:
Toward and Integrated Theory in Criminology, Tavistoct Publications, London,
New York, Sydney, Toronto, Wellington, hal. 45-49.
80
ulasan sekarang ini, tetapi dapat diduga bahwa pernyataanpernyataan baru Cressy mengenai differential association akan
membawa kepada diskusi dan penerapan lebih anjur secara hidup.
Perlu dicatat bahwa Cressy juga mempunyai sub pandangan
dalam karyanya yang baru berjudul Some Obstacles to
Generalizing in Criminology, yang pada umumnya sesuai dengan
pemikiran tentang the multiple faktor approach yang kontras
dengan teori building. Lebih-lebih penjelasan teori Cressy pada
umumnya akan lebih baik dari pada Cross empiricism yang dikenal
sebagai kejahatan yang disertai dengan penjelasannya.
Tentang penggunaan differential association model yang
dilaksankan di Chicago, baru-baru ini A.C. Reis dan A. L. Rhodes
membuat tes empiris dari teori ini untuk menentukan apakah anakanak muda di dalam kelompok pergaulan yang erat mempunyai
pola yang spesifik sama dalam tingkah laku berbuat kejahatan.
Datanya tidak merupakan indikasi melainkan penjelasan yang
layak, namun demikian mereka benar-benar mendukung teori sub
culture dari Cohen dan Walter Miller sebagaimana pendapat Reiss
dan Rhodes “delinquensi para remaja middle class, khususnya
untuk pelanggaran yang lebih serius tidak tergantung pada
pemilihan teman karena diantara para remaja lower class
kemunkinan melakukan pelanggaran hukum atau berbuat kejahatan
tidak selalu dihubungkan dengan aktivitas kejahatan teman
dekatnya”.
Pada umumnya, penelaahan studi ini menekankan kesulitan
penarikan kesimpulan dari pengujian teori differential association
dan kebutuhan untuk menguji hipotesi-hipotesinya dalam pergaulan
dan hubungan-hubungan lainnya.
Dalam suatu studi multiplace dari anomie dan nilai-nilai kelas
dalam kehidupan Amerika, Muzruchi secara sistematis menilai dan
menggunakan teori struktur sosial Durkheim dan Merton.
81
Di dalam success dan opportunity, penelitian empiris dan
konseptualisasi membawanya kearah analisa culture goals
alienation (pemindahan hak) dan arti sukses. Sebagai alternatif
Merton menambahkan tipologinya mengenai “stuctutarlsrain” atau
ketegangan dalam struktur untuk menjelaskan penyelewengan dan
menganjurkan bahwa kekurangan di dalam identifikasi social class
tidaklah bertanggung jawa terhadap working class apathy, tetapi itu
adalah kualitas spesifik dari “impian” orang Amerika. Peneliannya
dilakukan tidak didasarkan agar tesis Cohen atau Cloward, Ohlin,
tetapi langsung berasal dari Durkheim dan Merton.
Di antara penelaahan-penelaahannya pada penilaian
(assessment) dari ketidak seimbangan (disparity) antara aspirasi
uccupational dahulu dan apa yang dicapai dewasa ini. ditambahkan
pula, ia memisahkan 4 sumber dari “structured strain” di dalam
social class system:74
a. Batas-batas luar (external limits) yang dikenakan kepada
lower classes oleh middle classes yang menghalanghalangi “pencapaian tujuan kultur yang telah direncanakan;
b. Disparitas antara ideoliogi yang berhasil dan kondisikondisi objektif dari kehidupan Amerika membatasi
pencapaian masing- masing level dari struktur;
c. Disparitas antara sistem nilai lower class dan kebutuhan
untuk mencapai keberhasilan dalam masayarakt Amerika;
dan
d. Perbedaan-perbedaan antara “achievement” (pencapaian )
dan “success” (keberhasilan).
Langsung berdasarkan pendekatan Cloward dan Ohlin
adalah penelitian Spergel, Racketville, Slumtown dan Haulburg
dengan judul: An Exploratory Study of Deliqunnt Subcultures”.
74
Soerdjono Dirdjosisworo, 1994, Op.cit, hal. 46-47.
82
Dalam pembanding neighbourhood yang berbeda-beda dan
berpola-pola karekteristik tingkah laku yang delinquent (cenderung
melanggar hukum). Spergel menganalisa aspek-aspek fisik dari
bidang tersebut, komposisi ethnis, kehidupan keluarga dan interaksi
antara anak-anak dan orang tua, kedudukan dan penghasilan serta
variasi pola aspirasi dan harapan (expectation) sesuai dengan
rencana itu semakin menjadi tegas (typical) dari banyak analisa
dewasa ini, aspek-aspek kritis dan struktural legitimate-illegetimale
dan impact-nya merupakan bagian “subject matter-nya”. Spergel
memberikan argumentasi bahwa kedua “delinquent” dan
“concentinal individuals” diperintah oleh motivasi yang diinduksi
secara cultural untuk memperoleh “social status”, kondisi-kondisi
untuk memenuhi aspirasi-aspirasi bagaimanapun juga secara equal
dapat termasuk (accessible) setiap orang.
Sampai butir ini, Spergel tidak menambah hal baru pada
formulasi terdahu. Ia membuat modifikasi berdasarkan asumsiasumsi Cloward dan Ohlin dalam Unitary Criminal Subcultural,
dengan membagi subculture ini menjadi “racket” dan “theft” subcultures.
Tetapi mungkin kontribusi terbesar dari karya ini terletak
dalam contact subculture itu, yang dibangun dengan bermacammacam cara, termasuk juga intervie formal. Lebih dari itu berisikan
pula “index of disfunction” berdasar pada level (tingkatan) aspirasi
kerja (job aspirations) dan harapan kerja (job expectation) dan
suatu bagian yang secara eksplisit dirancang untuk
memngemukakan “proposal” untuk mengemukakan progamprogam aksi sosial.75
Proses perkembangan ini sedang berlangsung pesat sekali,
terutama dengan pengaruh perspektif. Krisis yang objek studi
penelitiannya lebih banyak tertuju pada kejahatan-kejahatan non
75
Ibid, hal, 49-51.
83
konvensional seperti pada White Collar Crime, Corporate Crime,
Environment Crime, Business Crime dll, sehingga hasil-hasil
penelitian akan member manfaat bagi upaya pengamanan
pembangunan.
RANGKUMAN
1. Para pengumpul data berpendapat bahwa para ahli teori sedang
terlibat di dalam penelitian “fundamental” yang hanya akan
terganmtung padanya, dimana teori kriminologi dapat
bersandar, kecuali bila data yang dikumpulan dan diarahkan
cukup dengan cara metodologis yang tepat tak akan timbul
teori-teori penting dan tahan lama.
2. Antara tahun 1960-1965, telah pula muncul pernyataanpernyataan baru dalam teori kriminologi dan penelitian baru
yang berbungan dengan garis-garis besar teori ini dan revisirevisi yang datangnya dari hasil penelitian serta merupakan
refleksi dari problem-problem dan persoalan-persoalan dasar.
Cressy di dalam delinquensi, crime and differential association
telah menghiasi dan memperluas teori differential association
Sutherland dan dangan begitu menambah kejelasan dan
keyakinan mengenai cara pendekatan yang ia pegang.
3. Terdapat 4 sumber dari “structured strain” di dalam social
class system:
a. Batas-batas luar (external limits) yang dikenakan kepada
lower classes oleh middle classes yang menghalang-halangi
“pencapaian tujuan kultur yang telah direncanakan;
b. Disparitas antara ideoliogi yang berhasil dan kondisikondisi objektif dari kehidupan Amerika membatasi
pencapaian masing- masing level dari struktur;
84
c. Disparitas antara sistem nilai lower class dan kebutuhan
untuk mencapai keberhasilan dalam masayarakt Amerika;
dan
d. Perbedaan-perbedaan antara “achievement” (pencapaian )
dan “success” (keberhasilan).
LATIHAN
1. Jelaskan mengapa teori begitu penting dalam penelitian
kriminologi?
2. Jelaskan perkembangan yang sedang berlangsung dalam teori
dan penelitian kriminologi saat ini?
3. Sebutkan 4 sumber dari ketegangan struktur di dalam sistem
kelas sosial?
GLOSSARIUM
1. Differential association adalah sebuah teori yang diungkapkan
oleh seorang kriminolog Edwin H. Sutherland, teori ini dibangun
dari pemikiran bahwa proses belajar perilakukriminal dilakukan
melalui interaksi sosial.
2. Sub-culture suatu cabang di dalam budaya dominan yang memiliki
norma-norma keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai sendiri.
3. Delinquent : Seseorang yang memepunyai perilaku yang
buruk/atau cendenrung untuk melakukan suatu tindakan kriminal.
4. Middle class : kelompok-kelompok masyarakat kelas menengah
atas.
5. Lower class: kelompok-kelompok masyarakat kelas bawah.
6. White Collar Crime: Kejahatan kerah putih atau kejahatan yang
dilakukan oleh orang-orang kelas pekerja (kelompok masyarakat
kelas atas).
85
7. Corporate Crime: Kejahatan yang dilakukan oleh korporasi.
8. Environment Crime: Kejahatan dalam bidang-bidang lingkungan.
9. Business Crime: Kejahatan dalam bidang-bidang usaha
DAFTAR PUSTAKA
Soerdjono Dirdjosisworo, 1994, Sinopsis Kriminologi Indonesia,
Mandar Maju, Bandung.
Marvin E. Wolfgang & Franco Ferracuti, 1967, The Subculture of
Violence: Toward and Integrated Theory in Criminology,
Tavistoct Publications, London, New York, Sydney, Toronto,
Wellington.
Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, 2001, Kriminologi, PT Raja
Grafindo, Persada, Jakarta.
86
BAB VI
PERKEMBANGAN ALIRAN-ALIRAN DALAM
KRIMINOLOGI
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan mahasiswa mampu
memahami: Perkembangan aliran-aliran dalam kriminologi.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan perkembangan teori asosiasi diferensial.
2. Menjelaskan perkembangan strain theory.
3. Menjelaskan perkembangan teori kontrol sosial.
4. Menjelaskan perkembangan teori label.
5. Menjelaskan perkembangan teori sendiri.
6. Menjelaskan perkembangan psiko analitik.
7. Menjelaskan perkembangan ransangan psikologis.
8. Menjelaskan perkembangan pilihan rasional.
9. Menjelaskan pengertian teori juvenile delnquensi.
Kriminologi lahir dan kemudian berkembang menduduki posisi yang
sangat penting sebagai salah satu ilmu pengetahuan yanginterdisiplin
dan semakin menarik, bergerak dalam dua “roda besar” yang teruus
berputar dalam perubahan pola-pola kriminalitas senbagai fenomena
sosial yang senantiasa dipengaruhi oleh kecepatan perubahan sosial
dan teknologi.
Roda-roda yang bergerak itu adalah penelitian kriminologi dan
teori kriminologi. Ada 8 (delapan) teori kriminologi yang masih
relevan untuk dipelajari, yakni:
87
A. Teori asosiasi diferensial (Defferential Assosoation Theory).
Seorang sarjana Perancis Gabriel Tarde (1912) adalah pertama
yang mengusulkan bahwa pola-pola delinquensi dan kejahatan
dipelajari dengan hal serupa seperti setiap jabatan atau okupasi,
terutama sekali melalui jalan peniruan (imitate) dan asosiasi
dengan yang lain. Yang berarti bahwa kejahatan yang dilakukan
seseorang adalah hasil dari peniruan terhadap perbuatan
kejahatan yang ada dalam masyarakat.
Edwin H. Sutherland mengambil ide dasar ini kemudian
dikembangakan menjadi teori “perilaku kriminal” Sutherland
menghipotesakan bahwa perilaku kriminal itu dipelajari melalui
asosiasi yang dilakukan dengan mereka yang melanggar normanorma masyarakat termasuk norma hukum. Proses mempelajari
tadi meliputi tidak hanya tehnik kejahatan sesungguhnya,
namun juga motif, dorongan, sikap dan resonalisasi yang
nyaman atau memuaskan bagi dilakukannya perbauatanperbuatan anti sosial.76
Pengaruh terbesar terhadap Sutherland dalam menyusun
teori ini berasal dari W.I Thomas, seorang anggota aliran
Chicago. Pengaruh aliran symbolic interactionism dari George
Mead, Park dan Burges, srta aliran ekologi yang dikembangkan
oleh Shaqw dan McKay serta hubungannya dengan Thorsten
Sellin telah memberikan sumbangsih yang sangat berguna bagi
Sutherland dalam mengembangkan teori asosiasi diferensial.
Penyusunan teori asosiasi diferensial bertitik tolak dari tiga
76
Soerdjono Dirdjosisworo, 1994, Op.cit, hal. 107.
88
teori, yaitu ecological and cultural transmission theory,
symbolic interactionism, dan cultural conflic theory. 77
Sutherland memperkenalkan differential association
theory dalam buku teksnya Principles of Criminology pada
tahun 1939. Sejak saat itu para sarjana telah membaca, menguji,
melakukan pengujian ulang, dan terkadang mengkritik teori ini,
yang diklaim dapat menjelaskan perkembangan semua tingkah
laku kriminal.78
Teori asosiasi diferensial Sutherland mengenai kejahatan
menegaskan bahwa:79
1. Criminal behavior is learned (perilaku kriminal dipelajari;
2. Criminal behavior is learned in interaction with other
person in a process of communication (tingkah laku kriminal
dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam proses
komunikasi). Seseorang tidak begitu saja menjadi kriminal
hanya karena hidup dalam satu lingkungan yang kriminal.
Kejahatan dipelajari dengan partisipasi bersama orang lain
baik dalam komunikasi verbal maupun non-verbal;
3. The principal part of learning of criminal behavior occurs
within intimate personal groups (bagian terpenting dari
mempelajari tingkah laku kriminal itu terjadi di dalam
kelompok-kelompok yang intim/dekat). Keluarga dan
kawan-kawan dekat mempunyai pengaruh yang paling besar
dalam mempelajari tingkah laku menyimpang. Komunikasi-
77
Romli Atmasamita, 2005, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika
Aditama, Bandung, hal. 23....Lihat juga Romli Atmasamita, 1992, Teori dan Kapita
Selekta Kriminologi, PT Eresco, Bandung, hal. 13.
78
Topo Santoso, Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, 2008, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta, Hal 75.
79
Soedjono Dirdjosisworo, 1994, Op.cit, hal. 107-112..... Lihat juga; Edwin H.
Sutherland, Criminology. Edisi Kesepuluh, 1978, J. B. Lippincot Company, hal 8082.
89
komunikasi mereka jauh lebih bayak dari pada media massa,
seperti film, televise dan surat kabar;
4. When criminal behavior is learned, the learning includes: 1)
techniques of commiting the crime, which are sometimes
very complicated, sometime very simple, and 2) the specific
direction of motives, drives, rationalization, and attitudes
(Saat perilaku kriminal dipelajari pembelajaran itu termasuk
teknik-teknik melakukan kejahatan yang kadang sangat sulit
dan kadang sangat mudah dan arah khusus dari motif-motif,
dorongan-dorongan, rasionalisasi-rasionalisasi, dan sikapsikap).
Delinquent muda bukan saja mempelajari
bagaimana mencuri di toko, membongkar kotak,
membuka kunci dan sebagainya, tetapi juga belajar
bagaimana merasionalisasi dan membela tindakantindakan mereka. Seorang pencuri akan ditemani oleh
pencuri lain selama waktu tertentu sebelum dia
melakukannya sendiri. Dengan kata lain, para penjahat
juga belajar ketrampilan dan memperoleh pengalaman.
5. The specific direction of motives and drives is learned from
definitions of the legal codes as favorable or un favorable
(arah khusus dari motif-motif dan dorongan-dorongan itu
dipelajari dari definisi-definisi dari aturan-aturan hukum
apakah ia menguntungkan atau tidak). Di beberapa
masyarakat seorang individu dikelilingi oleh orang-orang
yang tanpa kecuali mendefinisikan aturan hukum sebagai
aturan yang harus dijalankan, sementara ditempat lain dia
dikelilingi oleh orang-orang yang definisi-definisinya
menguntungkan untuk melanggar aturan-aturan hukum.
Tidak semua orang dalam masyarakat kita yang setuju
90
bahwa hukum itu harus ditaati. Sebagian orang menganggap
bahwa aturan hukum itu sebagai hal yang tidak penting.
6. A person becomes delinquent because of an excess of
definitions favorable to violation of law over definition un
favorable to violation of law (seseorang menjadi delinquen
karena definisi-definisi menguntungkan untuk melanggar
hukum lebih dari definisi yang tidak menguntungkan untuk
melanggar hukum). Ini merupakan prinsip kunci (key
principle) dari differential association, arah utama dari teori
ini. Dengan kata lain mempelajari tingkah laku kriminal
bukanlah mata-mata karena pertemanan yang buruk. Tetapi
mempelajari tingkah kriminal tergantung pada berapa
banyak definisi yang kita pelajari yang menguntungkan
untuk pelanggaran hukum sebaai lawan dari definisi yang
tidak menguntungkan untuk pelanggaran hukum.
7. Differential association may vary in frequency, duration,
priority, and intencity (asosiasi diferential itu mungkin
bermacam-macam dalam frekuensi/kekerapannya, lamanya
prioritasnya, dan intensitasnya). Tingkat dari asosiasiasosiasi/definisi-definisi
seseorang
yang
akan
mengakibatkan kriminalitas berkaitan dengan kekerapan
kontak, berapa lamanya dan arti dari asosiasi/definisi pada
si individu.
8. Process learning criminal behavior by asosiation with
criminal and anticriminal patern involves allof any
mechanisism that are involved in any other learning (Proses
mempelajari tingkah laku kriminal asosiasi dengan polapola kriminal dan anti kriminal melibatkan semua
mekanisme yang ada disetiap pembelajaran lain.
Mempelajari pola-pola tingkah laku kriminal adalah mirip
sekali dengan mempelajari pola-pola tingkah laku
91
konvensional dan tidak sekedar mempelajari persoalan
pengamatan dan peniruan.
9. While criminal behavior is an expression of general need
and values, it is not explained and values, since non
criminal behavior is an expression of the same need and
values (walapun tingkah laku kriminal merupakan ungkapan
dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum, tingkah
laku kriminal itu tidak dijelaskan oleh kebutuhankebutuhan dan nilai-nilai umum tersebut, karena tingkah
laku non kriminal juga merupakan ungkapan dari
kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai yang sama. Pencuri,
mencuri untuk dapat apa yang mereka inginkan. Orangorang lain bekerja untuk memperoleh apa yang mereka
inginkan. Motif-motif-frustasi, nafsu mengumpulkan harta
serta status sosial, konsep dari yang rendah dan
semacamnya, menjelaskan baik tingkah laku kriminal
maupun non kriminal.
Semenjak publikasi awal teori asosiasi diferensial
ditahun 1939, Sutherland telah mengambil pendekatan
mempelajari mengenai masalah kejahatan, kendatipun
kontribusi Aker nampaknya membuat teori ini bahkan lebih
sesuai dan harmonis dengan formulasi belajar prilaku dalam
kehidupan sosial. Dalam studi permulaannya mengenai teori
asosiasi diferensial, James F. Short (1957) menemukan hasil
yang pada umumnya mendukung teori tersebut. Ia memang
mencatat bahwa, betapapun delikuensi lebih kuat terkait dengan
intensitas, daripada dengan frekuensi, lama atau prioritas
asosiasi tersebut. Dalam studi jawabannya kemudian, Harwin
Voss (1964) menemukan adanya hubungan atau kaitan yang
mirip sekali.
92
Individu yang berasosiasi dengan kawan-kawan
delinquen, cenderung untuk lebih melibatkan diri dengan
perilaku delinkuen yang lebih menonjol dibandingkan dengan
individu-individu yang berhubungan secara minimal dengan
delinkuen yang sebayanya. Enyon dan Reckless (1961) juga
mengamati bahwa kesetia kawanan dengan kawan sebaya yang
anti sosial sering mendahului perbuatan kriminal yang yang
dilaporkan sendiri maupun delinkuensi yang tercatat resmi.
Reiss and Rhodes (1964) menyelidiki teori asosiasi
deferensial dengan menggunakan 37.812 sampel yang
bertingkat-tingkat dari anak laki-laki muda usia hingga 16 tahun
yang didaftarkan pada sekolah-sekolah pemerintah, swasta dan
gereja atau paroki di Davidson Country, Tennesse pemudapemuda tadi dikelompokkan 3 serangkai, masing-masing
kelompok berisi suatu subjek bersama dua teman akrabnya.
Untuk mendukung teori Sutherland tentang asosiasi diferensial
Reiss dan Rhodes melaporkan bahwa pemuda-pemuda tadi
dalam contohnya telah memiliki kawan-kawan yang sama
delinqkuen dan kepatuhan pada hukumnya. Namun, penemuanpenemuan ini berbeda dengan golongan sosial, karena pemuda
kelas pekerja memperlihatkan pengaruh asosiasi diferensial
yang jelas bagi tindak pidana berat maupun kurang berat,
sedangkan pemuda kelas menengah memperlihatkan pengaruh
asosiasi diferensial bagi kejahatan yang tidak begitu berat tetapi
tidak untuk kejahatan yang lebih serius.
Untuk mendukung penjelasan yang sebelumnya mengenai
pembatasan-pembatasan teori asosiasi diferensial yang relatif
bagi isu-isu spesialisasi kejahatan. Reiss dan Rhodes tidak
berhasil menguji tentang teori Sutherland bahwa delinkusensi
itu belajar “teknik-teknik” kriminal spesifi dalam hubangan
antara kawan dan sebayanya. Pengujain dan pengkajian
93
mengenai perilaku dengan acuan teori asosiasi diferensial
memang sulit, karena betapapun individu memiliki kebebasan
memilih.
Riset akhir-akhir ini dilakuakan atas teori asosiasi
diferensial adalah sekedar mengenai hal yang sama
memebenarkan seperti halnya banyak penyelidikan yang lebih
dini dilakukan. Robins, West dan Herjanik (1975) menemukan
bahrwa delinkuensi sangat kuat asosiasi dengan delinkuensi
saudara sekandung, dan Johnson (1979) melaporkan bahwa
pemuda-pemuda yang dekat dengan teman-teman delinkuen
lebih cenderung untuk melibatkan diri dalam kriminalitas dari
pada dengan pemuda yang tidak punya kawan sepergaulan yang
delinkuen.
Dengan menggunakan corak prospektif, West dan
Farrington (1977) mendemontrasikan bahwa kegiatan anti
sosial dan rekan meramalkan perilaku delinkuen dipihak
kelompok orang-orang muda London.
Dalam pemeriksaan ulangan nasional mengenai kejahatan
dinegara-negara yang sedang berkembang, Clinard dan Abbot
(1973) mengungkapkan hasil-hasil yang sangat serupa dengan
pendapat Sutherland tentang asosiasi diferensial. Selain itu
pula, sementara Gary Jensen (1972) menemukan teori asosiasi
difensial kurang efektif dibandingkan dengan teori sosial
kontrol Hirschi, dalam mengklasifikasikan hasil-hasilnya dari
proyek Richmond Youth, Rossmatsueda (1982) menentukan
bahwa teori asosiasi diferensial sesungguhnya lebih unggul
dibandingkan teori kontrol sosial dalam menganalisa kembali
data ini dengan menggunakan langkah operasional yang lebih
baik mengenai pola perilaku yang dipelajari: “nyaman atau
tidak nyaman bagi pelanggaran hukum”. D. A. Andrews (1980)
dari Cariton University di Ottawa, Kanada, membahas hasil
94
serangkaian studi yang dilakukan oleh ia sendiri dan rekanrekannya dengan menggunakan model intervensi kelompok
masyarakat.
Kelompok-kelompok masyarakat ini terdari dari 4 hingga
7 para sukarelawan masyarakat yang pada umumnya para
mahasiswa dan 4 hingga 7 orang tahana penjara, dan bertemu
sekali dalam seminggu selama jangka waktu 8 minggu.
Para
anggota
tahanan
yang
berpartisiapasi
mendemonstrasikan toleransi yang menurun untuk melanggar
peraturan dan identifikasi yang merosot pula menegan unsur
kriminal sedangkan sukarelawan masyarakat memperlihatkan
adanya pergeseran yang berlawanan dalam sikap kearah
identifikasi yang meningkat terhadap nilai-nilai kriminal.
Analisa selanjutnya mengungkapkan bahwa hasil yang
diobservasi mustahil sebagai akibat perhatian yang lebih
digeneralisasikan memerlukan pengaruh dan akibat tadi.
Sungguh disayangkan, Sutherland kurang jelas dalam
menegaskan mekanisme yang mendasari asosiasi diferensial
oleh karenanya, campuran sebagai model telah diusulkan dalam
usaha menjelaskan secara tepat bagaimana gerangan proses
asosiasi diferensial itu beroprasi.
Charles R. Title, Mary Jean Burke dan Ellen F. Jackson
(1986) tidak hanya mengungkapkan dukungan bagi gagasan
teoritis mengenai asosiasi diferensial namun mereka juga
menemukan bahwa prosses tersebut memberikan pengaruhnya
pada perilaku secara tidak langsung dengan jalan konteks
stimbolis yang dipelajari yaitu motivasi untuk melibatkan diri
dalam kriminalitas, dan tidak langsung melalui imitasi atau
model. Dalam penyelidikan kedua yang dilakukan oleh
kelompok pakar riset yang sama ini (Jackson, Title dan Burk
1986), telah ditentukan bahwa sementara Sutherland bisa
95
dibenarkan dalam minta perhatian atas pentingnya asosiasi
antar sebaya. Asosiasi-asosiasi ini bersifat kriminogenik hanya
sejauh itu meningkatkan motivasi kriminal dan bukan karena
mengajarkan dan rasionalisasi yang konsisten karena
penyimpangan.
Pengujian terhadap teori Differential Association:80
a. James Short menguji sample 126 anak laki-laki 50 anak
perempuan dan menemukan hubungan yang konsisten
antara tingkah laku delinquent dengan seringnya, lamanya,
prioritas serta intesitas dengan teman-teman bermain yang
delinquent.
b. Albert Reiss dan A. Lewis menemukan bahwa kesempatan
melakukan perbuatan delinquent tergantung apakah temantemannya melakukan perbuatan yang sama.
c. Travis Hirschi menunjukkan bagaimana anak-anak laki-laki
dengan teman-teman delinquent lebih mungkin menjadi
delinquent.
d. Charles Tittle Melakukan penelitian terhadap orang-orang
dewasa dan menemukan bahwa differential association
berhubungan secara signifikan dengan beberapa kejahatan
sepertimperjudian illegal, kecurangan pajak pendapatan dan
pencurian.
B. Strain Theory (Teori Tegang)
Sosiolog terkenal Perancis Emilie Durkheim (1938)
membuat teori bahwa di bawah kondisi sosial tertentu, normanorma sosial tradisional dan berbagai peraturan kehilangan
otoritasnya atas perilaku.
80
Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, 2001, Op.cit, hal. 78.
96
Seperti halnya Durkheim Robert K. Merton mengaitkan
masalah kejahatan dengan anomie, tetapi konsep anomi dari
Merton berbeda dengan konsep anomi yang kembangkan oleh
Dirkheim. Masalah sesungguhnya menurut Merton tidak
diciptakan oleh sudden social change (perubahan sosial yang
cepat) tetapi oleh social structure (struktur sosial).81 Menurut
Merton, suatu masyarakat menanamkan pada anggotaanggotanya suatu hasrat untuk mencapai cita-cita tertentu dan
kemudian menggariskan cara-cara yang sah melalui mana citacita tadi dapat dicapai. Itu beralasan, apabila seseorang dihalanghalangi dalam uasahanya baik itu pria ataupun wanita untuk
mencapai cita-cita ini secara sah, ia akan berusaha mencapainya
melalui berbagi macam manuver atau cara yang tidak legal.
Individu-individu dari kelas sosial rendah menjadi frustasi
dengan ketidak mampuannya untuk berpartisipasi dalam anugrah
ekonomi masyarakat yang lebih luas, akan mengarahkan
kembali energi mereka ke dalam kegiatan kriminal sebagai suatu
cara untuk memperoleh anugerah ini. 82
Teori tegang ini beranggapan bahwa manusia pada dasarnya
merupakan makhluk yang selalu memperkosa hukum atau
melanggar hukum, norma-norma dan peraturan-peraturan setelah
terputusnya antara tujuan dan cara mencapainya menjadi
demikian besar sehingga baginya satu-satunya cara untuk
mencapai tujan ini adalah melalui saluran yang tidak legal.
Akibatnya teori tegang memandang manusia dengan sinar atau
cahaya yang optimis dengan perkataan lain manusia itu pada
dasarnya baik, karena kondisi sosiallah yang menciptakan
tekanan atau stress, ketegangan dan akhirnya kejahatan.
81
82
Ibid, hal. 61.
Sorjono Dirdjosisworo, 1994, Op.cit, hal.113.
97
Teori tegang ini banyak mendapatkan kecaman dari para
peneliti kriminologi karena teori ini dianggap terlampau umum
dan tidak cermat serta dianggap gagal dalam memeprhatikan
krimnalitas orang-orang yang dibesarkan keluarga kelas
menengah (Elliot dan Voss, 1975), dan meremehkan perbedaan
penting individu dalam perilaku. Selain itu sangat tidak berhasil
dalam memberikan penjelasan mengapa sebagian besar pemuda
kelas pekerja tidak pernah mengambil jalan atau terlibat
kejahatan atau mengapa banyak delinquent meninggallkan cara
hidup kriminal pada saat mereka menginjak usian dewasa.83
Kekurangan atau kelemahan bahwa berlawanan dengan
ramalan teori tegang, aspirasi tinggi dikalangan kaum muda
kelas pekerja cenderung untuk berkorelasi secara kebalikannya
dengan delinquensi demikian (Elliot dan Voss, 1974).
Operasionalitas dan upaya-upaya penghematan merupakan
bidang-bidang lain yang memerlukan perhatian tambahan
apabila teori tegang harus banyak kegunaannya dalam
memeperdalam pengertian kita dalam kejahatan dan para
kriminal. Akhirnya, sementara kita jumpai adanya dukungan
bagi pendirian Merton bahwa sebagian besar masyarakat
Amerika mempunyai tujuan kelas menengah (lihat Erlanger,
1980), ada riset lainnya yang mempertentangkan dasar pikiran
tentang teori tegang (Kitsuse dan Dutrick, 1959; Lemer 1972)
sebagai respon atas banyak kecaman yang dilontarkan pada teori
ini, para penyelidik telah berusaha mengintegrasikannya dengan
model-model pelaku kriminal lain Cloward dan Ohlin 1960
misalnya berusaha untuk mengeintegrasikan teori strain dengan
pendekatan asosiasi
diferensisasi Sutherland, dengan
mengargumentasikan bahwa pengaruh teori tegang tidak akan
beroperasi kecuali apabila orang juga memiliki peluang untuk
83
Ibid, hal. 116-117.
98
belajar dari kawan-kawan delinquent sebayanya. Betapapun,
dalam tes empiris atas teori ini Elliot dan Voss 1974
memperoleh konfirmasi bagi komponen model asosiasi
diferensiasi namun akhirnya tidak memperoleh dukungan bagi
komponen tegang dan anomi. Akhir-akhir ini Elliot, Ageton dan
Canter 1979 berusaha meningkatkan relevansi antara teori
tegang melalui mensintesakan engan teori kontrol sosial Hirschi
1969.
Sementara integrasi Elliot dan rekan nampak mengemukakan
banyak pendapat yang diremehkan oleh teori Strain, namun
bagaimanapun masih harus dievaluasi dengan cermat dari segi
pandangan empiris. Akibatnya, hal tersebut masih merupakan
kemungkinan yang menarik serta menunggu analisa selanjutnya.
Dari riset yang ditinjau kembali akan Nampak bahwa teori
tegang hanya sedikit sekali bagi kita yang tertarik untuk
mengungkapkan misteri kejahatan. dari segi kemampuannya
untuk menjelaskan gaya hidup seorang kriminal mungkin bisa
dibenarkan. Betapapun, teori strain dapat terbukti lebih berguna
dalam menguraikan aspek kejahatan dalam masyarakat secara
keseluruhan.
Keributan di daerah Overtown Miami, Florida suatu
lingkungan utama kelas rendah orang kulit hitam dalam bulan
Januari 1989 merupakan kasus pokok. Kendatipun
dimungkinkan bahwa beberapa darapa individu yang
berpartisipasi dalam kericuhan gangguan keamanan ini
merupakan para kriminal yang gaya hidupnya, sebagian besar
terdiri dari warga yang frustasi dan murka bertahun-tahun karena
ketidak samaan ekonomi dan persepsi yang tumbuh bahwa
mereka merasa diberikan kesempatan-kesempatan berdasarkan
hukum untuk mencapai kemajuan. Begitu kericuhan tadi selesai,
bagaimanapun juga sebagian besar individu-individu ini kembali
99
kepada keluarga mereka, teman maupun pekerjaan dan bukannya
meneruskan perbuatan tidak legal mereka, ini memberikan
kenyataan bahwa sementara teori strain mungkin bermanfaat
dalam memberikan penjelasan secara menyeluruh tentang
tingkat kejahatan, itu hanya berbuat sedikit sepanjang yang
menyangkur data tingkat (level), kendatipun wajar sekali bagi
Merton, teori tegang ini sama sekali tidak pernah ditiujukan bagi
prediksi tingkat individu (Bernard 1987).
Teori tegang Merton berbeda dengan asosiasi diferensial
pada karir personal apabila Sutherland berusaha merumuskan
proses perkembangan seseorang menjadi kriminal melalui
belajar ditengah asosiasi yang ber aneka ragam, maka Merton
dalam teori tegang lebih menekankan pada terjadinya peristiwa
situasional dimana seseorang karena “ketegangan yang terlalu
berpengaruh menjadi tanpa kendali dan berbuat kejahatan.
Dalam peristiwa kekacauan massal maka peran individual
yang didorong masa lebih bersifat temporer dan tidak membekas
menjadi kriminal karir. Oleh karena itu tida menghemat bahwa
sementara pakar dan peneliti mengkombinsikan teori tegang ini
dengan teori-teori lain seperti teori kontrol sosial, teori asosiasi
diferensial, dll. Pendekatan teori yang lebih bersifat psikologis
betapapun dapat menjawa mengapa “A terlibat kejahatan disuatu
waktu dan tempat tertentu”. Sebenarnya tekanan lebih terletak
pada peristiwa insidentil yang cukup menggetarkan.
C. Teori Kontrol Sosial
Pengertian “teori kontrol” atau “control theory”, menunjuk pada
setiap perspektif yang membahas ikhwal pengendalian tingkah
laku manusia. Sedangkan pengertian “teori kontrol sosial” atau
“social control theory” menunjuk pada pembahasan delinquensi
dan kejahatan dikaitkan dengan variable-variabel yang bersifat
100
sosiologis, antara lain struktur keluarga, pendidikan, kelompok
dominan. Dengan demikian pendekatan teori kontrol sosial ini
berbeda dengan teori kontrol lainnya.
Pemunculan teori kontrol sosial ini diakibatkan oleh tiga
perkembangan ragam dalam kriminologi, yaitu:84 Pertama,
adanya reaksi terhadap orientasi labeling dan konflik dan
kembali kepada penyelidikan tentang tingkah laku kriminal.
Kriminologi konservativ (sebagaimana teori ini berpijak) kurang
menyukai “kriminologi baru” (new criminology) dan hendak
kembali kepada subjek semula, yaitu: penjahat. Kedua, muncul
studi tentang “criminal justice” sebagai ilmu baru telah
membawa pengaruh terhadap kriminologi menjadi lebih
pragmatis dan orientasi pada sistem. Ketiga, teori kontrol sosial
telah diakitkan dengan suatu teknik riset baru khususnya bagi
tingkah laku anak/remaja, yakni “selfreport survey”.
Sebenarnya dapat ditemukan adanya banyak teori kontrol
sosial yang dirumuskan sekitar berpuluh tahun, namun tidak
satupun yang benyak memberikan pengaruh pada cara berpikir
kriminologi kontemporer atau pada zamannya seperti yang
berasal dari Travis Hirschi 1969 yang kini menjabat sebagai
guru besar tetap sosiologi di University of Arizona pendapat
Hirschi adalah perilaku kriminal merupakan kegagalan
kelompok-kelompok sosial konvensional seperti keluarga,
sekolah, kawan sebaya untuk mengikat atau terikat dengan
individu.
Tidak sama halnya seperti teori tegang, argumentasi kontrol
sosial tidak melihat individu sebagai orang yang secara intrisik
patuh pada hukum, namun menganut segi pandangan anti tesis
dimana orang harus belajar untuk tidak melakukan tindak
84
Romli Atmasamita, 1992, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, PT
Eresco, Bandung, hal. 31.
101
pidana. mengingat bahwa kita semua dilahirkan dengan
kecenderungan alami untuk melanggar peraturan-peraturan di
dalam masyarakat, delinquent dipandang oleh para teoretisi
kontrol sosial sebagai konsekuensi logis kegagalan seseorang
untuk mengembangkan larangan-larangan ke dalam terhadap
perilaku melanggar hukum.
Dengan demikian, teori Hirschi lebih terfokus kepada
konformitas-konformitas dari pada delinquent sementara Hirschi
tidak mempertentangkan pentingnya sumber kontrol sosial
langsung atau keluar, ia menambahkan bahwa kontrol ke dalam
bahkan lebih kuat dalam mengarahkan perilaku manusia.
Terdapat empat unsur kunci dalam teori sosial mengenai
perilaku kriminal Hirschi (1969): kasih sayang, komitmen,
keterlibatan dan kepercayaan. Kasih sayang ini meliputi
kekuatan suatu ikatan yang ada antara individu dan saluran
primer sosialisasi, seperti orang tua, guru dan para pemimpin
masyarakat. Akibatnya, itu merupakan ukuran tingkat terhadap
mana orang-orang yang patuh pada hukum bertindak sebagai
sumber kekuatan positif bagi individu. Sehubungan dengan
komitment ini, kita melihat investasi dalam suasana
konvensional dan pertimbangan bagi tujuan-tujuan untuk hari
depan yang bertentangan dengan gaya hidup delinquensi.
Keterlibatan, yang merupakan ukuran gaya kecenderungan
seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan
konvensional mengarahkan individu kepada keberhasilan yang
dihargai masyarakat. Hirschi menegaskan bahwa lebih banyak
orang
menggunakan
waktu
untuk
kegiatan-kegiatan
konvensional, peluang orang untuk melibatkan diri dalam
perilaku kriminal akan lebih kurang. Akhirnya kepercayaan
memerlukan diterimanya keabsahan moral norma-norma sosial
serta mencerminkan kekuatan sikap konvensional seseorang.
102
Kendatipun Hirschi gagal untuk menilai secara empiris
bagaimana keempat unsur ini beriteraksi, ia menghipotesakan
adanya kaitan antara kasih sayang dengan komitmen, kasih
sayang dengan kepercayaan, serta komitmen dengan
keterlibatan. Hirschi (1969) mengukur validitas dan keabsahan
teori konrol sosial mengenai kriminalitas dengan jalan
menggunakan pertanyaan kepa suatu kelompok sebesar 4000
siswa sekolah atas. Tidak hanya terdapat hubungan yang berarti
antara delinquensi yang dilaporkan sendiri dengan kurang kasih
sayang pada orang tua seseorang, seperti teori kontrol sosial
meramalkannya, namun juga terdapat dukungan bagi keabsahan
masing-masing dari keempat unsur kunci yaitu kasih sayang,
komitment, keterlibatan dan kepercayaan.85
Berlawanan dengan pengesahan penyelidikan asal Hirschi,
Michael Hindelang (1973) mengamati adanya korelasi negatif
antara delinkuensi dengan masing-masing dari unsur kunci
Hirschi.
Perbedaan satu-satunya yang perlu diperhatikan mengenai
hasil dua penyelidikan tadi adalah bahwa Hirschi mengamati
adanya hubungan negatif antara kasih sayang teman sebaya dan
delinkuensi, Hindelang mempertentangkan bahwa teori Hirschi
memerlukan perluasan lebih jauh dari segi kasih sayang teman
sebaya, karena hasil yang berbeda akan timbul dari kasih sayang
pada teman sebaya konvensional lawan teman-teman sebaya non
konvensional.
Riset berikutnya cenderung menentukan keabsahan banya
aspek dan ciri teori kontrol sosial Hirschi mengenai keterlibatan
kriminal (Lihat Austin 1977), Bahr (1979), Johnson dan EVE
(1976), Jonhson (1979), Poole dan Regoli, Rankin (1977).
Pembatasan yang dimungkinkan bagi teori ini adalah bahwa
85
Sorjono Dirdjosisworo, 1994, Op.cit, hal. 120.
103
hampir semua riset yang dilakukan, menggunakan sampel
pelaku remaja di dalam tindak pidana.
Orang dapat bertanya secara sah apakah teori Hirschi dapat
banyak diterapkan pada bentuk kriminalitas usia dewasa.
Dengan menyelidiki perilaku suatu kelompok yang menjalani
hukuman percobaan atau probasi melanggar hukum, Linguist,
Smusz, dan Doemer (1985) menyelidiki 3 dari unsur kunci
Hirschi yaitu kasih sayang, komitmen, dan keterlibatan dengan
maksud menilai kegunaannya untuk meramalkan keberhasilan
hukuman percobaan atau probasi. Hasil penyelidikan ini telah
mengungkapkan bahwa komitmen kuat korelasinya. Keterlibatan
moderat korelasi dan kasih sayang sangat tidak berkorelasi
dengan variable yang tergantung pada keberhasilan probasi.86
Kinquist dan rekan-rekan menarik kesimpulan bahwa hasil
hal ini tidak mendukung penuh teori kontrol sosial mereka
benar-benar menyatakan secara tidak langsung bahwa model
Hirschi memiliki tingkat utilitas untuk diterapkan pada pelaku
tindak pidana dewasa. Para penulis mengakui bahwa ketidak
mampuan mereka untukkas menungkapkan adanya hubungan
antara kasih sayang dengan keberhasilan pada masa pembebasan
bersayarat atau parole dapat mencerminkan problem mengenain
langkah-langkah yang diambil dari teori itu.
Wiatrowski, Griswold dan Roberts (1981) merintis analisa
dengan berbagai cara mengenai data longitudinal yang dihimpun
atas 2.213 para siswa SMA Michigan. Setelah mengawasi
kemampuan, kelas sosial dan performansi sekolah atau prestasi
belajar, Wiatrowski dan rekan menemukan dukungan umum
bagi pendirian ajaran “teori kontrol sosial”. Kendatipun unsurunsur kunci kontrol sosial serba berbeda dari maksud semula
Hirischi. Sedangkan kasih sayang pada orang tua, keterlibatan
86
Ibid, hal. 120-121.
104
dalam kegiatan-kegiatan konvensional, dan kepercayaan dalam
validitas moral mengenai struktur sosial yang ada, kesemuanya
merupakan bagian dari pemecahan dengan berbagai variasi,
komitment untuk meninggalkan analisa atau kemungkinan
karena kelebijhan atau kurang diandalkan dan beberapa faktor
yang diremehkan oleh Hirischi misalnya berkencan atau
pacaran, kasih sayang pada sekolah mengakibatkan penyamaan.
Penemuan-penemuan seperti ini menyarankan bahwa
sementara model kontrol sosial menerima dukungan empiris
umum, teori dibelakang data mungkin memerlukan perbaikan
(Lihat juga Bernard, 1987), dengan memanfaatkan data sendiri
dari Seatle Youth Study (Hindelang, Hirischi dan Weis, 1981,
1981); Jill Leslie Rosenbaum (1987), menyelenggarakan studi
dimana subjek-subjek dikelompokkan melalui penggolongan
tindak pidana, seperti kejahatan terhadap harta benda,
menyalahgunakan obat, dan lain-lain. 87
Dalam menganalisa data ini, Rosenbaun mencatat bahwa
teori kontrol sosial secara berhasil menerangkan dan
mempertanggungjawabkan tindak pidana penyalahgunaan
narkotika.
Namun
tidak
begitu
banyak
mengenai
pertanggungjawaban kejahatan atas harta benda dan pekerjaan
yang kurang baik yang dapat menjurus kepada perilaku
melanggar hukum. Tidak terdapatnya kaitan antara perilaku
melanggar dan indeks kontrol sosial tidak harus merupakan
tanda bagi teori Hirschi, betapapun karena perilaku melanggar
tidak merupakan indikator delinquensi atau kecenderungan
kriminal dikalangan kaum remaja.
Sangat menarik kiranya, bahwa Rosenbaum menemukan
hipotesa yang tumbuh oleh teori kontrol sosial, lebih
meramalkan wanita, dibandingkan dengan delinkuensi pria.
87
Ibid, hal. 121-122.
105
Dapat diterapkannya teori kontrol sosial terhadap bentuk-bentuk
delinkuensi wanita telah didokumentasikan juga dalam belbagai
study sebelumnya (yaitu Hindelang, 1973): Jensen dan Eve
1976: Warren 1983 dan meningkatkan kemungkinan generalisasi
bagi teori khusus mengenai keterlibatan kriminal ini. Sementara
dapat diterapkannya asas-asas teori kontrol sosial terhadap kaum
dewasa wanita, dan orang-orang dengan pelbagai status sosial
(Brennan dan Huizinga 1975, Wiatrowski dan rekan, 1981)
sudah barang tentu berkesan, kekuatan empiris sebenarnya suatu
teori dapat sering didemonstrasikan dengan baik dengan
perbandingan-perbandingan yang menggunakan pelbagai
model.88
Pembaca harus mengetahui bahwa teori kontrol sosial
berjalan dengan baik sekali dalam hal ini. Namun, beberapa
studi riset akhir-akhir ini menunjukkan bahwa putus dari sekolah
biasanya disertai tingkat kriminalitas, selanjutnya yang lebih
meningkat bukan menurun (Bachman dan O Malley, 1978: Polk,
Adler, Bazemore, Blake, Cordray, Coventry, Galvin dan
Temple, 1981: Shavit dan Ratnner, 1988; Thornberry dan rekan
1985), suatu hubungan yang lebih jatuh lebih sejajar dengan
teori kontrol sosial daripada model teori tegang.
Suatu perbandingan teori nasional ulangan mengenai
tingkat kejahatan di Amerika Serikat dan Swedia oleh Stack
(1982) juga mengungkapkan dukungan bagi teori kontrol sosial
relatif terhadap perumusan atau formulasi “teori tegang” Stephen
Cernrovich (1978), sebaliknya menemukan dukungan bagi baik
teori tegang maupun model model kontrol sosial dalam
melaporkan sendiri atas 412 siswa pria sekolah menengah atas
dan mencatat bahwa pengaruh kombinasi kedua teori ini lebih
mempertanggungjawabkan variasi daripada yang dilakukan oleh
88
Ibid, hal. 122.
106
masing-masing model. Dalam analisa data dari Richmond
Toouth Project, Garry F. Jensen (1972) mengumpulkan bahwa
teori kontrol sosial mendapat dukungan di atas asosiasi
diferensial untuk menjelaskan pola-pola delinkuen perilaku,
kendatipun suatu analisa kembali atas data ini oleh Matsueda
(1982) mengungkapkan hasil yang berlawanan.89
Walaupun Thompson, Mitchel dan Dodder (1984)
melaporkan bahwa penemuan-penemuan mereka mengenai kasih
sayang pada keluarga, asosiasi temen sebaya, dan delinkuensi
lebih kongruen atau cocok satu sama lain dengan asosiasi
diferensiasi daripada dengan konseptualisasi kontrol sosial.
Amdur (1989) mencari kesalahan bagaimana variable-variabel
dalam studi ini diukur. Dalam suatu penyelidikan yang
dirancang serba lebih baik, John R. Hepbum (1976) memperoleh
dukungan besar bagi teori kontrol sosial daripada perspektif
asosiasi diferensial Sutherland dalam semua sampel terdiri dari
139 pria usia 14-17 di Mid. Western.
Dengan menggunakan serangkaian korelasi sebagian untuk
menguji kedua teori ini Hepburn menentukan bahwa definisidefinisi delinkuen, misalnya tingkat pengekangan perorangan
dan hasrat untuk melibatkan diri dalam perilaku melanggar
hukum, mendahului asosiasi delinquen. Poole dan Regoli (1979)
juga menegaskan dukungan bagi formulasi kontrol sosial atas
pengaruh teman sebaya dan kejahatan. Kaum remaja dengan
dukungan lemah orang tua lebih mudah pengaruh negatif kaum
sebaya, sedangkan mereka dengan dukungan kuat orang tua
dapat mengisilasi remaja dari pengaruh-pengaruh kawan sebaya
yang anti sosial, kendatipun kuat dalam hampir semua test
empiris teori kontrol sosial tidak lepas dari celaan-celaan.
89
Ibid, hal. 124.
107
Sudah sering diargumentasikan bahwa ikatan-ikatan yang
lemah itu tidak mungkin dapat dipertanggungjawabkan bagi
semua kategori perilaku delinquen dan kriminal. Karena
proprorsi yang kuat orang-orang dengan ikatan lemah tidak
mengembangkan pola-pola penyesuaian pada delinkuen (Elliot
dan rekan, 1970), Hirschi telah juga dikecam karena tidak
memperinci bagaimana ikatan-ikatan itu dipelhara, pecah atau
gagal membentuknya semula (Colvin dan Pauly, 1983). Selain
itu, Colvin dan Pauly membawa Hirschi bertugas untuk
menganut pendekatan yang sangat bercabang dua. Yaitu kuat
lemah terhadap pendapat atau ikatan yang Nampak berbeda
dalam berbagai dimensi, kualitatif maupun kuantitatif dan untuk
mengurangi hingga seminim mungkin penonjolan cara
sosialisasi dalam proses ikatan sesungguhnya. Akhirnya, tidak
sama halnya seperti banyak sosiolog, Hirschi nampak
meampertimbangkan pengaruh perbedaan-perbedaan individu,
kecerdasan, temperamen dan watak, kendatipun ia mengusulkan
efek tidak langsung. 90
Sedangkan
Wilson
dan
Hernstein
(1985)
mempertentangkan bahwa beberapa dari perbedaan-perbedaan
individu ini memberikan pengaruh langsung pada kejahatan dan
delinkuensi. Teori kontrol sosial menyajikan suatu paradoks
mengenai macam-macam. Walaupun dapat digeneralisasikan
secara luas, sangat subur dan bermanfaat dan sangat wajar sekali
didukung dari segi empiris, itu masih kurang dari segi
kecermatan dan operasionalitasnya (lihat tabel), seperti yang
ditunjukkan oleh Bernard (1987), Hirschi gagal untuk
mendefinisikan dengan banyak dari istilah-istilahnya yang
bahkan lebih membingungkan sekitar aspek-aspek tertentu
tentang teorinya.
90
Ibid, hal. 124.
108
Versi Hirschi mengenai kontrol sosial juga kurang
memiliki definisi yang tegas mengenai penyimpangan di
samping juga gagal untuk membedakan secara memadai antara
delinquensi dengan penyimpangan atau legalitas dan
konformitas (Bernard 1987). Karena kekurangjelasan ini, teori
tersebut juga cenderung untuk lebih tidak menghemat daripada
seharusnya. Ringkasnya, hingga struktur teori dan presisi atau
kecermatan teori Hirschi mengenai teori kontrol sosial perihal
delinquensi belum bisa mengejar catatan mengesankan tentang
model mengenai dukungan empiris, maka teori ini akan terus
merosot potensinya.
Sekalipun demikian teori kontrol sosial merupakan salah
satu teori kotemporer yang memiliki daya tarik kuat dalam hal
mendorong penelitian-penelitian yang cukup berarti.
D. Teori Label (Labeling Thery).
Teori label diartikan dari segi pandangan pemberian nama,
yaitu bahwa sebab utama kejahatan dapat dijumpai dalam
pemberian nama atau pemberian label oleh masyarakat untuk
mengidentifikasi anggota-anggota tertentu pada masyarakatnya
(Gibbs dan Erickson, 1975); Plummer 1979; Schur 1971).
Berdasarkan perspektif ini, pelanggar hukum tidak bisa
dibedakan dari mereka yang tidak melanggar hukum, terkecuali
bagi adanya pemberian nama atau label terhadap mereka yang
ditentukan demikian. Oleh sebab itu, maka kriminal dipandang
oleh teoretisi pemberi nama sebagai korban lingkungannya dan
kebiasaan pemberian nama oleh masyarakat konvensional.91
Para teoretisi pemberi nama lebih lanjut memperdebatkan
bahwa terkecuali apabila diadakan perubahan bagaimana
91
Ibid, hal. 125
109
penyimpangan itu ditangani oleh bangsa-bangsa seperti Amerika
Serikat maka pengaruh-pengaruh yang merusak dari proses
negatif ini akan berkepanjangan dan mengakibatkan
meningkatnya tingkat kejahatan secara cepat sekali. Suatu
perkembangan teori atribusi dan interaksionalisme simbolis,
teori labeling ini membuat hipotesa bahwa hubungan-hubungan
ditentukan oleh arti yang diberikan masyarakat pada umumnya
dan karakteristik-karakteristik yang oleh individu-individu
diatribusikan satu kepada yang lain. Begitu orang telah di cap,
yang khas terjadi apabila seseorang sedang diproses melalui
sistem peradilan pidana, maka suatu rantai peristiwa-peristiwa
mulai bergerak.
Tidak hanya terjadi perubahan-perubahan dalam konsep
sendiri atau individu, tetapi di situ juga terdapat penyusutan
yang sesuai dan bersamaan bagi jalan masuk kepada
kesempatan-kesempatan yang sah. Sebaliknya dari proses
membentuk ikatan-ikatan dengan masyarakat konvensional
maka individu ini tertarik pada penyelewengan-penyelewengan
tercap lainnya dan lalu membentuk pasangan baru norma-norma
perilaku bagi dirinya, baik itu pria maupun wanita.
Pendekatan teori labeling dapat dibedakan dalam dua bagian,
yaitu:
1. Persoalan bagaimana dan mengapa seseorang memperoleh
cap atau label!
2. Efek labeling tehadap penyipangan tingkah laku berikutnya.
Persoalan labeling ini, memeprlakukan labeling sebagai
dependet variable atau variable tidak bebas dan keberadaannya
memerlukan kejelasan. Labeling dalam arti ini adalah labeling
sebagai akibat dari reaksi masyarakat. Howard S. Becker (1963)
berpendapat:
110
“Social group create deviance by making the rules whose
infraction constitue deviance........
The devian is one to whom that label has successfully been
applied: devian behavior is behavior that people so label”.92
Terdapat banyak cara di mana pemberian label itu dapat
menentukan batas bersama dengan perilaku kriminal telah
dijadikan teori, misalnya:
1. Bahwa pemberian label memberikan pengaruhnya melalui
perkembangan imajinasi sendiri yang negatif. Lemert (1951)
menjawab dengan pedas bahwa dengan memberikan label
kriminal pada seorang remaja dapat akhirnya menyesatkan
individu tersebut hingga mulai memperlakukan dirinya
sendiri seperti itu.
2. Adalah bahwa pemberian label dapat mengekang seseorang
untuk memasuki kesempatan-kesempatan yang sah atau
legitimasi dan membuat kesempatan yang tidak legal atau
tidak sah Nampak lebih menarik baginya. 93
3. Pemberian label dapat menciptakan pancaran cahaya yang
membuat individu tadi kurang tertarik pada teman-teman
sebaya yang anti sosial (Wilkins, 1965). Seperti yang dapat
diantisipasi teori member label ini telah menimbulkan
perdebatan, reaksi dan penyelidikan. Menurut teori label ini
maka cap/merk yang dilekatkan oleh penguasa sosial
terhadap warga masyarakat tertentu lewat aturan dan
undang-undang sebenarnya berakibat panjang yaitu yang
92
Romli Atmasasmita, 2005, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika
Aditama, Bandung, hal. 50.
93
Teori labeling, banyak dihubungkan oleh para pakar kriminologi dengan buku
Frank Tannenbaum (1938) Crime and the Community. Menurut Tannenbaum,
kejahatan tidaklah sepenuhnya merupakan hasil konflik antara kelompok dengan
masyarakat yang lebih luas, dimana terdapat dua definisi yang bertentangan tentang
tingkah laku yang layak.
111
dicap tersebut akan berperilaku seperti cap yang melekat itu.
jadi sikap mencap orang dengan predikat jahat adalah
kriminogen. 94
Martin Gold dan Jay Williams (1969) memperbandingkan
35 remaja yang tidak ditahan disesuaikan dengan usia, ras,
kelamin dan kriminalitas sebelumnya. Hasil dari studi ini
Nampak/cenderung mendukung prinsip dasar teori pemberian
label dari segi subjek yang ditahan tadi yang ternyata telah
melakukan tindak pidana lebih banyak daripada subjek-subjek
yang tidak ditahan, kendatipun penulis tidak berhasil mengawasi
beratnya tindak pidana yang dilaporkan.
Terence Thombury (1971) menetapkan bahwa disposisi
oleh pengadilan remaja nakal yang lebih berat ada kaitannya
dengan meningkatnya volume, namun bukan beratnya
kriminalitas berikutnya dalam sampel besar kaum remaja
Philadelphia. Akhirnya, walaupun sebagian besar remaja yang
tidak merasakan penampilan di pengadilan sangat menyolok
(Foster, Dinitz dan Reckless, 1972), terdapat bukti bahwa para
guru (Balch, 1972), para karyawan (Buikhuisen dan Dijksterhuss
1971), dan beberapa anggota keluarga (Snyder, 1971) pada
hakekatnya dapat beraksi kurang menguntungkan pada anak
remaja yang pernah muncul dihadapan persidangan untuk anak
remaja (Juvenille Court).
Setelah meninjau kembali literature secara wajar
merupakan prognosa atau ramalan mengenai perilaku di
kemudian hari. Bahr (1979) juga menemukan bahwa
memprosesnya secara resmi melalui sistem peradilan pidana
dapat meningkatkan kemungkinan dilakukannya penyimpangan
di kemudian hari. Ia cepat dapat memberikan anotasi betapapun
bahwa pengaruh pemberian label bukan merupakan suatu yang
94
Soerjono Dirdjosisworo, 1994, Op.cit, 126
112
begitu merembes seperti yang pernah dipikirkan, itu lebih
menyolok bagi para pelaku tindak pidana untuk pertama kalinya,
dan dapat memberikan pengaruhnya dengan cara lain daripada
mencela "konsep sendiri” individu yang memperoleh label tadi.
Beberapa peneliti juga telah menemukan pengaruh
diferensial untuk pemberian label yang didasarkan pada ciri-ciri
atau watak individu yang bersangkutan, oleh sebab itu pengaruh
pemberian label secara negatif adalah yang terbesar bagi remaja
kelas menengah dan terlemah bagi individu-individu yang lebih
cenderung untuk diproses melalui sistem peradilan pidana.
Ageton, Elliot dan Canter, sebaliknya mengkonsepsikan
pemberian label secara negatif sebagai suatu proses menipiskan
yang berpengaruh, berat pada para remaja belum dewasa yang
sebelumnya telah melakukan tindak pidana terhadap ketertiban
umum. Juga terdapat kemungkinan bahwa pemberian label dapat
berfungsi sebagai suatu penghindaran atau penjeraan dalam
keadaan-keadaan tertentu.
Kemungkinan kecaman yang paling berat terhadap teori
tersebut gagal untuk menjelaskan pola-pola penyimpangan
perilaku yang telah terjadi sebelum diberikannya label tadi.
Beberapa teoretisi label ini seperti halnya memperdebatkan
bahwa ketidakmampuan teori tersebut untuk menjelaskan
“penyimpangan primer” dikompensasikan oleh kemampuannya,
untuk meneliti dibentuknya stigmatisasi dan dianut peranan
penyimpangan yang berkaitan dengan adanya pemberian label
tadi.
Betapapun, gagasan tentang penyimpangan sekunder itu
sendiri masih dipertanyakan oleh beberapa sarjana. Dalam suatu
peninjauan kembali riset label di tahun 70-an, Anne Mahoney
(1974) melihat dengan tajam adanya hanya sedikit dukungan
bagi hipotesa “pemberian label penyimpangan sekunder”.
113
Dengan demikian sementara teori pemberian label itu
bukan sama sekali tanpa kekuatannya, karena dapat
menunjukkan kekeliruan untuk menganggap bahwa individu itu
merupakan tempat seluruh patologi serta mendorong untuk
menggunakan simbol interaksionalisme dalam mengkaitkan
perilaku dengan konteks situasional atau kondisionalnya (Colvin
dan Pauli, 1983), kecenderungan a-historis dan a-strukturalnya
yang membatasi dapat diterapkan pada pelbagai bentuk periku
dan perilaku kriminal (Danis, 1972). Dalam menyelidiki ciri-ciri
formal teori pemberian label dapat diperhatikan bahwa itu
mengandalkan pada hanya beberapa postulat dan asumsi.
Betapapun, seperti yang disebut terdahulu, teori ini sangat
terbatas
dalam
ruang
lingkupnya
dan
mengalami
ketidakcermatan serta operasionalitas yang menurun. Istilah
seperti penyimpangan primer dan sekunder perlu pendefinisian
yang lebih jelas dan asumsi-asumsi sekitar perkembangannya
diperluas dan diteliti lebih jauh.
Meskipun demikian, teori pemberian label ini telah
merangsang secara luas perdebatan di kalangan sarjana dan
penyelidikan riset selama decade yang lalu, teori tersebut telah
menerima dukungan empiris cukup tinggi, kendatipun ruang
lingkup hipotesa yang diuji dalam konteks teori ini sifatnya lebih
terbatas.
Argumentasi bahwa gambaran sendiri atau imaji sendiri
sangat berpengaruh dalam mengembangkan kriminalitas
selanjutnya merupakan suatu posisi yang juga dianjurkan oleh
teori sendiri atau the self theories mengenai perilaku kriminal
posisi teoretis berikutnya yang harus diselidiki.
Teori label menekankan pada tindak dan kebijakan politik
kriminal yang kurang hati-hati merupakan salah satu faktor
kriminologi. Oleh karena itu teori ini merupakan bahan masukan
114
agar menjadi peringatan dalam menentukan upaya
penanggulangan kejahatan tidak berakibat sebaliknya malahan
menjadi penyebab kejahatan.
Lombroso yang namanya telah mengisi lembaran sejarah
kriminal dengan ilmu pengetahuannya telah membentuk teori
dan hipotesa yang mencap orang dengan ciri-ciri fisik lahiriah
sebagai manusia jahat yang ditulisnya dalam buku yang berjudul
“Homo Delinquinto Nato”. Teori-teorinya ini tidak hanya saja
tenar malahan membawa pengaruh yang cukup fatal dalam dunia
peradilan pidana yang pada gilirannya juga bersifat kriminogen
pada mereka yang dicap kriminal. Teori atau Hipotesa yang
pertama dinamakan atavisme yang mengkontruksi mereka yang
memiliki tipologi kriminal mendapatkan sifat jahat dari nenek
moyang manusia yang telah lama pudar. Lambroso
memanfaatkan teori evolusi Charles Darwin yang intinya
kesempurnaan adalah hasil perkembangan dari yang tidak
sempurna. 95
Demikian pula dengan sifat manusia yang digambarkannya
bahwa manusia prasejarah kasar dan jahat. Maka dalam proses
peradaban manusia masih terdapat mereka yang lahir dengan
kewarisan sifat “jahat”.
Setelah teori Atavisme96 gugur Lombroso pindah pada
Hipotesa Pathologis yang berarti sifat kriminal karena yang
95
96
Ibid, hal. 129.
Teori atau hipotesa atavisme dilontarkan oleh Dokter di Italia, Cesare Lombroso
yang merupakan seorang guru besar dalam ilmu Kedokteran Kehakiman dan juga
Ilmu Penyakit Jiwa. Lombroso yang merupakan Darwinisme menungkapkan
bahwa berdasarkan hukum evolusi Darwin sesuatu berkembang kearah
“sempurna” dari yang tidak sempurna. Baik tumbuh-tumbuhan, hewan maupun
manusia. Dikatakan manusia pada awal kehidupannya memiliki watak “jahat”,
namun melalui proses evolusi berkembang dalam pembudayaan dan peradaban
menjadi baik seperti keadaan sekarang, kata Lombroso saat itu. Tetapi sifat jahat
nenek moyang manusia yang sudah lama pudar dapat mewarisi kembali pada
115
bersangkutan menderita sakit (psikologis-psikiatris). Teori
inipun tidak dapat bertahan dan beralih ke teori degenerasi yang
menggambarkan sifat jahat disebabkan oleh karena kemerosotan
sifat-sifat manusiawi ke sifat moyang manusia pra-sejarah.
Hipotesa Lombroso yang telah digugurkan baik dari segi
antropologi dan sosiologi tidak begitu saja pudar, malahan dari
segi amalan medis dalam studi kriminologi telah melahirkan
Neo-Lombroso yang tetap menganggap kejahatan adalah produk
kelemahan dan kelainan yang terletak pada diri individu atau
bakatlah sebagai sebab kejahatan.
Teori dan hipotesa Lombroso menjadi cukup terkenal saat
berkembang dan berpengaruhnya aliran positivism yang
menyuburkan pendekatan etiologis yang untuk waktu yang
cukup lama sempat mewarnai kriminologi sebagai ilmu yang
menitikberatkan penggalian sebab musabab kejahatan sebagai
missi utamanya. Namun setelah tahun 1960-an kriminologi telah
meninggalkan perspektif positivism dan memasuki cakrawala
baru dalam kriminologi.
Dalam horizon baru kriminologi teori label tetap masih
menarik karena sifatnya yang kontemporer dan perspektifnya
menyesuaikan dengan perkembangan perspektif pada zamannya.
Untuk Indonesia penelitian-penelitian seperti yang
dilakukan di Negara-negara maju belum dilakukan, namun
proses pelabelan terjadi sebagaimana ditemukan di berbagai
Negara khususnya dalam peradilan pidana.
Teori pemberian label yang tumbuh berpengaruh lewat
teori-teori ala Lombroso dan tokoh-tokoh neo-Lombroso,
manusia dalam kehidupan dewasa ini dan “mereka” yang memperoleh kewarisan
sifat nenek moyangnya yang jahat lahir sebagai “orang jahat” dan memiliki
tipologi tertentu yang oleh Lombroso dinamakan “tipe kriminal” yang dapat
tercermin dari fisik jasmaninya.
116
kemudian lewat penguasa yang memformulasikan dalam hukum
pidana telah menimbulkan kontroversi dalam praktek peradilan
yang cukup menimbulkan berbagai reaksi terutama di kalangan
para pakar hukum.
Sebagai misal dalam praktek penerapan hukum pidana
khususnya dalam hal tindak pidana keamanan Negara dan
ketertiban umum dalam kaitan tanggung jawab pers. Mereka
yang dicap atau diberi label penjahat yang mengancam
keamanan Negara dan ketertiban umum karena memberitakan
peristiwa tertentu, “bertanya-tanya” benarkah pernyataanya
mengancam keselamatan dan keamanan Negara?
Oleh karena itu teori label sekali lagi cukup relevan dalam
memberi peringatan bagi pelaksanaan undang-undang pidana
yang pavourabel akomodatif akan aspirasi masyarakat dan
antisipasi terhadap gejala dan masalah sosial yang senantiasa
berubah.
E. Teori-teori Sendiri (The Self-Theories).
Dengan mengambil isyarat dari teori organism personalitas yang
dirintis Carl Ronger (1951), teori-teori sendiri tentang kejahatan
menitikberatkan pada penafsiran atau interpretasi individu yang
bersangkutan. Dengan menjajaki pendapat tentang bayangan
sendiri dan penyimpangan, L. Edward Wells (1978) berspekulasi
bahwa perilaku adalah suatu usaha oleh seorang individu untuk
mengkontruksi, menguji, mengesahkan dan menyatakan apa
tentang dirinya. Wells memandang banyak bentuk kesulitan
emosional dan penyimpangan perilaku sebagai suatu yang
muncul dari ketidaklayakan yang dihipotesakan agar terjadi di
117
antara bayangan sendiri dan berbagai permintaan atau keinginan
pribadi seperti aspirasi dan harapan-harapan.97
Dalam keadaan seperti itu, pertimbangan sendiri/perasaan
subjektif tentang diri sendiri, cenderung akan negatif dan
individu lebih akan condong ke arah bentuk-bentuk
penyimpangan sebagai jalan untuk membentuk bayangan
sendiri. Pemberian label sendiri, sudah barang tentu juga dilihat
oleh banyak teoretisi sebagai hal yang berkaitan yang kuat dalam
mengembangkan gaya hidup menyimpang (Warren, 1974).
Perilaku dan bayangan sendiri berkaitan paling sedikitnya dalam
dua cara:98
Pertama; perilaku dapat berupa ekspresi konsep diri
sendiri (Cohen, 1983). Oleh sebab itu, apabila seseorang
memiliki opini rendah tentang dirinya biasanya direfleksikan
atau dicerminkan ke dalam susunan luas perilaku negatif
termasuk juga depresi ke dalamnya, penyalahgunaan alkohol dan
kriminalitas.
Perilaku dapat juga mendukung atau menahan konsep diri
sendiri dengan mengarahkan seseorang pada kegiatan-kegiatan
yang sebagian besar konsisten dengan konsep sendiri atau self
concept. Oleh karenanya, seseorang yang menyembunyikan
kepentingan mengenai ketajaman intelektualnya
akan
cenderung membatasi kegiatan-kegiatannya hingga pada tugastugas yang lebih diorientasikan secara fisik, yang sebaliknya
memperkuat image atau bayangan yang dimiliki orang seperti
itu, bagi dirinya bagaikan: “ Seluruhnya hanya kekuatan dan
tanpa otak” atau all brawn and no brains. Ciri-ciri yang
ekspresif dan bersifat mendukung dari hubungan perilaku sendiri
97
98
Ibid, hal. 130-131
Ibid, hal. 131
118
juga nampak beroperasi ketika seseorang memilih kejahatan
tergantung pada bagaimana itu cocok dengan bayangan sendiri.
Sarjana Wells mengidentifikasikan tiga kecenderungan
dalam teori-teori sendiri tentang perilaku kriminal: Interaksional
structural; pemberian label dan kontrol sosialisasi Walter C.
Reckless
dan
rekan-rekannya
mengembangkan
teori
kriminalitas, model penahanan atau pengurungan, yang sangat
mengandalkan pada pandangan kontrol sosialisasi mengenai
perilaku manusia.
Dengan berfokus pada faktor-faktor “dorong dan tarik”
atau push and pull factors serta penahanan ke dalam dan ke luar,
para penulis ini berpendapat bahwa seorang anak laki yang
dibesarkan di daerah dengan tingkat delinquensi tinggi dan
kebanggaan perorangan dapat melindungi seseorang dari
episode-episode
masa
mendatang mengenai
perilaku
menyimpang. Penyelidikan sebagai tindak lanjut selanjutnya
tentang sampel asli subjek-subjek yang digunakan dalam
mengembangkan teori penahanan atau pengurungan memberikan
dukungan berkualifikasi bagi gagasan bahwa rasa harga diri
membentuk
semacam
isolasi
penyekatan
terhadap
penyimpangan kemudian.
Di Luar riset yang diselenggarakan oleh Reckless dan
rekan-rekannya terdapat kekurangan dari penyelidikan empiris
mengenai hubungan-hubungan antara diri sendiri dan kejahatan.
Satu kekecualian bagi peraturan umum ini adalah karya perintis
Gresham Sykts dan David Matza. Setelah menganalisa pola
berpikir kelompok tindak pidana remaja Sykts dan Matza
menarik kesimpulan bahwa:” banyak delinkuen didasarkan pada
apa yang secara esensial tidak dikenal mengenai ketahanan
terhadap kejahatan dalam bentuk pembenaran penyimpangan
yang terlihat sebagai hal yang absah oleh delinkuen akan tetapi
119
tidak oleh sistem hukum maupun masyarakat luas. Para penulis
ini melanjutkan uraiannya yang mereka sebut sebagai proses
netralisasi, dengan mana si pelaku membenarkan perbuatan
illegalnya dalam usaha mempertahankan pandangan positif
mengenai dirinya dan perbuatannya. 99
Dengan membatasi hingga minimal pentinganya perilaku
melanggar
peraturan,
menyalahkan
para
korban,
mempertanyakan motif-motif, mengutuk pihak yang berwajib
dan menunjukkan bagaimana kriminal tadi dipaksakan
memasuki kehidupan kejahatan oleh pelbagai faktor ekternal
sang
kriminal
tadi,
berusaha
untuk
menyebarkan
pertanggungjawaban bagi tindak tanduk kriminalnya dan
melindungi bayangan sendirinya yang sudah rapuh. Walaupun
pendapat Sykes dan Matza membangkitkan minat dan jelas
dapat diterima dan dipertanggungjawabkan bagi penyelidikan
masih tidak terdapat riset yang menyolok sekali mengenai topic
ini. Untuk dapat menjadi model perilaku manusia yang benar
dapat aktif terus, teori-teori sendiri harus lebih banyak
memberikan perhatian lebih besar kepada sejumlah besar
pendapat teoritis dan metodologis. Reverensi-reverensi yang
samar-samar dan tidak membentuk mengenai “diri sendiri” perlu
digantikan oleh definisi-definisi yang tepat, cermat, tegas, dan
operasional.
Kaplan (1976) dengan langkah sikap sendirinya
merupakan contoh yang baik mengenai konsep sendiri atau self
concept yang lebih teliti. Para pakar riset juga perlu memberikan
penjelasan tentang kaitan-kaitan teoritis yang dipikirkan bakal
ada antara konsep sendiri, penyimpangan dan struktur sosial
sebelum bidang riset ini dapat berbuat sesuai dengan titik
permulaan yang memberikan harapan. Akhirnya, daripada harus
99
Ibid, hal 132.
120
bertanggung jawab bagi uraian yang tidak pernah mengenai
prasangka hubungan antara konsep sendiri dan penyimpangan,
Wells (1978) minta adanya lebih perhatikan pada
interaksionalisme struktural dan hubungan timbal balik antara
konsep sendiri dan penyimpangan.
Teori-teori sendiri tentang perilaku kriminal terbuka bagi
sejumlah kecaman pedas. Seperti halnya teori organism Roger
mengenai personalitas, teori-teori sendiri tentang kriminalitas
cenderung menjadi tidak cermat dan kurang penuh operasional.
Mengambil studi dan penyelidikan Reckless sebagai pokok
kasus, kita jumpai bahwa angka tentang skala “California
Personality Scale” tunggal berlaku sebagai ukuran criteria
tentang rasa harga diri. Bukan saja prakrek definisi-definisi
seperti itu tidak kokoh baik dalam hakekatnya maupun sendiri
juga cenderung mengurangi nilai perangsang dan empiris suatu
teori. Oleh sebab itulah dapat dimengerti mengapa kita tidak
boleh meremehkan potensial besar yang mewujudkan teori-teori
sendiri mengenai kejahatan.
Kenyataan bahwa para pakar riset telah mampu mencapai
tingkat tertentu kekakuan metodologis dalam menyelidiki teori
Roger tentang personalitas harus berlaku sebagai dorongan besar
bagi para teoritis sendiri yang sedang menyelidiki perkembangan
perilaku kriminal. Pada masa kini, betapapun teori-teori sendiri
mengenai keterlibatan pidana merupakan ide yang baik
sementara menunggu spesifikasi, penjelasan dan membuktikan
secara empiris.
Karakteristik teori ini yang terletak pada persepsi individu
yang memang variatif kerap kali menjadi ajang perdebatan yang
controversial. Apabila diingat kembali hukum variasi individu
Adolfquetelet diakhir abad 19, maka orang akan memahami
bahwa terdapat keadaan umum yang relatif mewakili persepsi
121
objektif dan ada kekecualian subjektif yang secara perorangan
menunjukkan fakta yang cukup kuat buktinya oleh karena itu
yang ke-2 dianggap sebagai eksepsional. Dalam studi
kriminalitas yang subjektif adalah masalah medic individual.
F. Teori Psiko Analitik (Psyko Analitik Theory)
Sigmund Frued, penemu psikoanalisa, hanya sedikit berbicara
tentang orang-orang kriminal. Ini dikarenakan perhatian Frued
hanya tertuju pada neurosis dan faktor-faktor di luar kesadaran
yang tergolong kedalam struktur yang lebih umum mengenai
tipe-tipe ketidak beresan atau penyakit seperti ini. Pada satusatunya paper yang pernah diterbitkan dengan referensi spesifik
bagi kriminalitas, Frued (1957) berefleksi pada bagaimana sikap
kita terhadap para kriminal pada umumnya nampak
mencerminkan sikap yang kita miliki terhadap kriminal dalam
diri sendiri. Seperti yang dinyatakan oleh Alexander dan Staub
(1931), kriminalitas merupakan bagian sifat manusia. Dengan
demikian, dari segi pandangan psiko analitik, perbedaan primer
antara kriminal dan bukan kriminal adalah bahwa non-kriminal
ini telah belajar mengontrol dan menghaluskan dorongandorongan dan perasaan anti sosialnya.
Augus Aichhom (1935) adalah salah seorang analis
pertama yang mengusulkan teori psiko analitik tentang
perkembangan deliquensi. Ia membuat hipotesa bahwa seorang
anak dilahirkan a sosial karena dia memerlukan pemenuhan
kebutuhan langsung bagi kebutuhan primer, dorongan dan
naluri. Pada titik ini dalam kehidupan muda, perhatian primer
sang anak adalah untuk memperoleh kepuasan bagi kebutuhankebutuhan mendalaminya yang menjadi dasar. Apabila susunan
birahi atau libido sang anak terganggu oleh pengalaman-
122
pengalaman negatif, konflik-konflik dipus atau “mencintai”
orang lawan sejenisnya dini khususnya, maka ia akan tetap
egosentris dan a sosial dan akan menghadapi masa yang sulit
unuk menyesuaikan diri dengan kebuthuhan, hukumperaturan
dan masyarakat.100
Aichhom lebih jauh memperdebatkan bahwa keadaan
yang baru terjadi ini mengenai delinquensi laten dapat menjurus
pada perilaku deliquen sesungguhnya apabila dihasut dan
dibangkitkan oleh peristiwa keadaan lingkungan. Aichhomlah
yang benar-benar meyakini bahwa tujuan utama penanggulangan
adalah membuat sadar kembali faktor-faktor tidak sadar yang
bertanggung jawab bagi perilaku antin sosial individu.
Dalam berbagi tulisannya, Frued mendalami bahwa tipe
kejahatan dimotivasikan oleh keinginan tak disadari untuk
menjatuhi hukuman, kendatipun ia tidak pernah memperdalam
tema ini dalam penjelasannya yang mengenai pendekatan
psikoanalatik terhadap kejahatan, Edward Glover (1960)
mencatat bahwa kejahatan adalah proyeksi tentang kesalahan
yang tidak disadari yang dengan sendirinya ditranformasikan
kedalam hasrat untuk dihukum. 101
Dengan meneruskan argumentasi ini lebih jauh
selangkah, teoretisi yang berorientasi psikoanalitik akan
berpendapat bahwa karena kejahatan secara esensial merupakan
gejala konflik intrakpsikis yang mendasar, tehnik-tehnik yang
dirancang untuk memperbaiki perilaku, tetapi bukan struktur
personalitas yang mendasi, mengakibatkan kegagalan total
semenjak awal. Pada hakekatnya, telah terpikirkan bahwa
penanggulangan yang dangkal seperti itu hanya akan
berkesudahan dengan penampilan kembali gejala tersebut secara
100
101
Ibid, hal. 134-135
Ibid
123
lain, dan kemungkinan bahkan lebih buruk lagi atau lebih serius
lagi oleh para psiko analisis, betapapun, karena tidak adanya
dukungan empris yang kuat bagi terjadinya gejala subtitusi
dalam hasil penganggulangan yang berorientasikan perilaku.
Wollersheim, 1970. Bagaimanapun tidak mencegah para
sarjana psiko analitik seperti Karl Meninger 1968 dari
penegasannya bahwa hukuman yang bersangsi sosial
sesunggunya dapat memperburuk lagi kecederungan kriminal
para pelaku kejahatan dengan memberikan kepadanya hukuman
yang mereka rindukannya secara tidak sadar. Dalam sebuah
penghimpunan kembali beberapa ide Freud tentang kejahatan
dan kriminalitas. David J. Dixon 1968 menemukan dan
kecenderungan etiologis dalam perkembangan perilaku kriminal
yang serius. Jalan yang paling umum meliputi kesalahan yang
belum mendapatkan penyelesaian sebagai akibat pemecahan
keadaan rasa kasih sayang pada lawan sejenis relatif pada ibu
dan ayah individu. Seorang ayah yang terlalu lunak atau lemah
sikap atau terlalu kasar dan ringan tangan dianggap sangat
penting sekali dalam perkembangan tipe pelemahan ego yang
diasosiasi dengan keinginan yang tidak disadari akan hukuman.
Jalan merefleksikan keadaan umum kecintaan pada diri sendiri
disertai dengan tingkat menimal kesalahan dan penyesalan yang
dalam karena perbuatan anti sosial seseorang. Orang-orang
seperti itu dikatakan memiliki super ego yang lemah atau super
ego yang mengalami gangguan funsi di bidang-bidang tertentu.
akibatnya, individu-individu ini secara khas tidak disusahkan
oleh kesdaran ketika merka melanggar peraturan masyarakat.102
Super ego seharusnya kuat, sehingga mampu berperan
sebagai stabilisator personalitas dalam utusan ego individu
tertentu. Jalan menuju kehidupan kejahatan ini dikatakan
102
Ibid
124
berkembang dari masa kanak-kanak yang terisolasi dan
kesepian, suatu perkiraan yang mendapatkan dukungan dalam
karya Jonh Bowmby (1946,1969) mengenai nrasa kasih sayang
dan delinquensi. Franz Alexander dan Edward Glover adalah
dua dari penulis yang banyak berhasil mengenai psiko analisa
mengenai perilaku kriminal dalam publikasi-publikasi yang
terpisah, kedua penulis ini telah berusaha untuk merancang
postulat kunci atau dalih pokok teori psiko analitik mengenai
keterlibatan dalam kriminalitas (Alexander dan Staub, Glover
mengungkapkan kembali dalam kata-kata hingga titik tertentu,
dalil kunci tentang teori psiko analitik mengenai keterlibatan
dalam kejahatn dapat diikhtisarkan sebagai berikut;103
Pertama hubungan-hubungan keluarga yang masih dini
dipandang oleh para teoretisi psiko analitik sebagai suatu yang
menonjol dalam perkembangan tindakan anti sosial selanjutnya.
Kedua teori psiko dinamik memandang fakta-fakta
intropsikis bahwa sadar sebagai faktor utama dalam asal muasal
perilaku keiminal dan delinquensi.
Ketiga, karena faktor-faktor bawah sadar dipandang
sebagai yang utama dalam evolusi gaya kehidupan kriminal,
banyak neo-freudians percaya bahwa terdapat banyak sekali arti
simbolik dalam pelanggaran kejahatan dari rata-rata pelaku
tindak pidana tadi. Akhirnya, para psikoanalis yakin bahwa
sebahagian besar pelanggar hukum menginginkan hukuman
sebagai jalan untuk meredakan kesalahan bawah sadar yang
mereka alami. Teori psiko analitik telah merangsang sedikit
sekali penyelidikan empiris atas pendapat yang menarik
sebagian besar ilmuan pidana, dari penyelidikan-penyelidikan
yang telah dilakukan sebagian besar telah menggunakan
pendekatan studi kasus klinis.
103
Ibid, hal. 136-137.
125
Paul Hoffer 1988, misalnya mengamati banyak tema
dinamik dalam interaksi terapiknya dengan kelompok-kelompok
terpilih para tahanan penetensier. Dalam membahas berbagai ciri
hubungan psiko analitik ia menyelinap ke dalam para pelaku
tindak pidana ini, ia mencatat bahwa hubungan-hubungan
dengan ibu, amarah yang besar terhadap ayah, dan terlampau
sekali mengandalkan pada mekanisme pertahanan perpecahan,
merupakan keseluruhan ciri-ciri dunia intrapsikis para tahanan
ini. Seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, dalam
pembahasan mengenai karya Aichhorn (1935) bersama
delinquen, tujuan utama psikoterapi yang diarahkan secara
psikoanalitik terhadap para delinquen, begitu juga yang sudah
dewasa, adalah untuk membawa kembali determinan atau faktor
penentu bahwa sadar mengenai peilaku kriminal kepada
kepercayaan yang sadar. Kendatipun tulisan-tulisan Freud itu
penuh semangat dan deskriptif.104
Sukar kiranya untuk membayangkan seseorang yang
melakukan penyelidikan riset tanpa menarik manfaat dari ukuran
kriteria spesifik, kendatipun ini adalah tepat dengan apa yang
dipertanyakan mengenai studi empiris, mengenai teori
psikoanalitis. Hal ini dapat membentu member penjelasan
mengapa begitu sedikit riset telah dilaksanakan terhadap teori
psikoanalitik mengenai perilaku kriminal. Lebih lanjut lagi,
perspektif psikoanalitik nampak mengabaikan prospek pilihan
individu dan pertanggung jawaban perorangan meskipun
terdapat penemuan-penemuan riset yang memberikan indikasi
bahwa anak-anak memberikan sama banyak pengaruk pada
lingkungannya seperti halnya lingkungan memberikan pengaruh
kepadanya. tanpa adanya kecermatan atau presisi kehematan dan
hipotesa yang dan dapat diuji kebenarannya, bisa ditarik
104
Ibid
126
kesimpulan bahwa pendekatan secara psikoanalitik ini hanya
seidikit dapat memberikan suatu ilmu pengetahuan tentang
perilaku kriminal pada titik ini dalam perkembangannya.
G. Teori Rancangan Pathologis (Pathological Simulation
Seeking).
Herbert C. Quay (1965) mengemukakan teori kriminalitas yang
didasarkan pada observasi bahwa banyak kejahatan yang nampak
memberikan seseorang perasaan gempar dan getaran hati atau
sensasi. Menurut Quay, kriminalitas merupakan manifestasi
“banyak sekali kebutuhan bagi peningkatan-peningkatan atau
perubahan-perubahan dalam pola stimulasi si pelaku”.
Abnormalitas primer oleh karenannya dianggap sebagai
sesuatu yang terletak dalam respon phisiologis seseorang pada
masukan indera. Berarti perilaku kriminal merupakan salah satu
respon psikologis seseorang pada masukan indera. Berarti
perilaku kriminal merupakan salah satu respon psikologis
sebagai salah satu alternatif perbuatan yang harus ditempuh.
Lebih spesifik lagi telah dihipotesakan bahwa para kriminal
memiliki sistem urat syarat yang hiporeaktif atau kurang reaktif
atau di bawah responsiv terhadap rangsangan. 105
Quay mengemukakan bahwa kriminal memandang lebih
tinggi daripada angka normal rangsangan indera seoptimal
mungkin, dan dengan demikian mengikuti tingkat tinggi
kegiatan semacam itu sebagai cara kompensasi bagi getaran otak
yang secara intrinsik rendah. Kecenderungan ini akhirnya
dikonversikan atau dirubah ke dalam perilaku yang dirancang
untuk menciptakan kehebohan dan meredakan rasa bosan.
Menyolok sekali bahwa tidak sama halnya seperti banyak teoriteori yang didasarkan pada sosiologi mengenai perilaku
105
Ibid, hal. 138.
127
krimianal, model Quay memandang perbedaan-perbedaan
individu itu penting.
Di tahun 1977, Quay memperbaiki teorinya dengan serba
memasukkan faktor-faktor lingkungan. Seperti halnya dengan
teori semula diusulkan analisa bahwa kriminal dilakukan dengan
sistem urat syarat yang hiporeaktif. Betapapun, dibahas lebih
lanjut bahwa otak yang kurang memberikan respon ini tidak
ditemukan adanya hubungan antara mencari rangsangan dan
delinkuensi atau kriminalitas pada anak-anak, kaum wanita, dan
“putih” maupun “bukan putih”, serta remaja.106
Dengan mengiktisarkan literatur riset tentang rancangan
kejahatan dan psikopati dalam berbagai abnormalitas, psikolog
Dennis Doren (1987) menemukan hubungan yang sederhana
antara kriminalitas dan mencari rangsangan dalam studi yang
menggunakan skala SSS, namun terdapat ikatan yang jauh lebih
kuat apabila pelbagai langkah-langkah perilaku dan indeks atau
angka mencari sensasi diperhatikan. David Lykken (1957)
dengan penyelidikannya mengenai kondisi penghindaran dalam
psikopati mengungkapkan bahwa sebagai kelompok, individuindividu ini memperlihatkan sensitivitas yang rendah terhadap
rangsangan berbahaya dan pemulihan yang lebih cepat terhadap
respon kulit galvanis dasar (Galvanis Skin Respon: GSR),
setelah adanya serangan rangsangan tadi. Penemuan ini
menyarankan bahwa reaktivitas dasar yang tingkatannya
menurun, demikian juga tingkat pembiasaan diri yang
meningkat, kedua-duanya dapat melibatkan timbulnya perilaku
psikopatik dan kriminal. 107
Fairweather (1953) memanfaatkan paradigma mempelajari
silabus, hasil-hasil yang diungkapkan yang mendukung uraian
106
107
Ibid, hal. 138-139.
Ibid, hal.139.
128
mengenai sensitivitas dan penyesuaian yang menurun, mengapa
para kriminal cenderung untuk mencari rangsangan lingkungan
dengan tingkat yang lebih tinggi daripada tingkat normal. Dalam
menyelidiki pendapat atau isu ini, Quay (1965) mengarahkan
perhatian kita kepada hasil penyelidikan oleh Fox dan Lippert
(1963) di mana suatu kelompok pelaku psikopati
memperlihatkan kegiatan GSR spontan yang lebih rendah relatif
bagi kelompok para pelaku yang non-psikopat. Quay
menggunakan hasil-hasil ini untuk mengargumentasikan bahwa
itu dimungkinkan adanya adaptasi lebih cepat yang terdapat di
belakang kecenderungan-kecenderungan mencari rangsangan
oleh psikopati dan kriminal. Setelah meninjau kembali riset yang
dilakukan semenjak Quay mempublikasikan thesis aslinya
tentang mencari rangsangan patologis dan psikopati di tahun
1965. Robert Blackburn (1978) menarik kesimpulan bahwa
hanya terdapat sedikit bukti yang menguntungkan atau memihak
hipotesa pembiasaan diri menurut Quay. Mendukung
argumentasi dengan datanya sendiri, demikian juga data lain.
Blackburn mengamati tingkat lebih tinggi mengenai fliktuasi
atau turun naik mengenai langkah-langkah pshisiologis seperti
itu, seperti halnya kapasitas kulit di kalangan psikopati primer
dan kriminal dibandingkan dengan kelompok-kelompok
psikopati sekunder dan kontrol non kriminal. Penemuan seperti
itu jelas tidak konsisten dengan hipotesa “membiasakan diri”
menurut Quay.108
Siapapun tak bisa beranggapan bahwa justru karena
hipotesa pembiasaan sendiri tidak berhasil memperoleh
dukungan dalam penyelidikan ini maka harus secara positif
memberikan reflek pada hipotesa hiporeaktif, karena yang
disebut belakangan ini juga serba kekurangan dalam pembenaran
108
Ibid
129
secara empiris. Dalam edisi 1977 mengenai teori ini, Quay
menunjukkan dengan jelas adanya perhatian benar dalam faktorfaktor lingkungan sebagaimana diuraikan dalam versi teorinya
terdahulu. Faktor lingkungan ditekankan secara sungguhsungguh dalam revisi Quay (1977) mengenai teori mencari
rangsangan pathologis adalah keluarga inti atau Nuclear family.
Dalam
mempertimbangkan
perkembangan
delinkuensi,
kejahatan dan perilaku anti sosial, Quay mengususulkan dua
model utama mengenai interaksi orang versus keadaan atau
person versus situation.
Pertama, telah dihipotesiskan bahwa respon parental yang
negatif dan tidak konsisten terhadap perilaku mencari
rangsangan atau stimuli sang anak, merupakan daya etiologis
dalam
perkembangan
kecenderungan-kecenderungan
kriminalitas selanjutnya. Hipotesa umum yang ke-2 adalah
bahwa abnormalitas psikologis sang anak akan menyulitkan
baginya baik pria maupun wanita untuk mengantisipasi
konsekuensi menyakitkan perbuatannya.
Kedua, faktor tadi dilihat sebagai kontribusi kepada siklus
yang ganas dalam transaksi orang tua terhadap anak yang negatif
yang akhirnya berkulminasi pada pola kriminalitas berat.
Sementara kedua postulat tersebut masih harus menikmati
konfirmasi empiris, namun sudah menerima dukungan tidak
langsung yang luas dalam pelbagai tinjauan literature misalnya
Mc Cord 1959; Wilson dan Hernstein 1985. Apabila disimak
kembali mengenai mashab-mashab dalam perkembangan
kriminologi, teringat pendapat Enrico Ferry mengenai mashab
bio-sosiologi yang pada intinya berpendapat bahwa kejahatan
disebabkan oleh faktor biologis dan sosiologis tentunya aspek-
130
aspek psikologis sangat berperan, ditambah oleh faktor-faktor
lingkungan. Maka saat-saat itu ada semacam dalil bahwa:109
K= B + L
Yaitu kejahatan disebabkan faktor gabungan antara bakat
dan lingkungan. Kritik terhadap Quay menyalahkannya
membuat teori yang tidak lengkap dan sukar dibuktikan, oleh
karenanya, sementara teorinya telah merangsang sekali
penyelidikan para sarjana dan memperoleh dukungan empiris
yang cukup lumayan, kita masih tidak mengetahui mengapa para
kriminal dan psikopati pada umumnya memandang secara
abnormal tingkatan stimulasi atau rangsanagn sebagai optimal.
Itu merupakan pembiasaan yang cepat, reaktifitas dasar atau
sebagian variable ketiga yang bertanggung jawab bagi hasrat
nyata seorang kriminal bagi tingkat kehebohan dan stimulasi
atau rangsangan yang meningkat? Lebih-lebih lagi, seperti yang
ditunjukkan oleh Smith secara hati-hati, teori ini mengalami
kekurangjelasan karena variasi yang luas mengenai rangsangan
yang berbeda-beda atau divergen, yang disajikan kepada
sejumlah besar posisi indera yang berbeda, telah dipergunakan
untuk menguji teori sementara praktek ini meningkat sehingga
dapat digeneralisasikannya teori, demi presisi. Oleh karena
itulah, apabila teori Quay harus memainkan peranan yang
konsekwen dalam penyelidikan masa datang atas gaya hidup
kriminal, itu harus dilakukan dengan cara yang tepat atau cermat
dan dapat dibuktikan. Seperti halnya kritik terhadap Quay maka
mazhab bio-sosiologis pada zamanya mendapat sanggahan
dengan mengetengahkan hukum variasi individu dari Adolf
Quetelet (ahli statistic dan sosiolog Belgia).
Variasi individu dalm hubungan dengan kehidupan
pergaulan membuktikan bahwa sang terbesar atau terbanyak
109
Ibid, hal. 140-141.
131
adalah yang umum atau yang rata-rata sedang yang ekstrim
termasuk perilaku kriminil yang berkait dengan bio-psikis
jumlahnya relatif kecil sehingga merupakan kekecualian atau
eksepsional.
Teori rangsangan pathologis banyak member kontribusi
pada studi psikologi kriminal yang cukup menarik perhatian.
Beberapa butir bahasan di atas perlu mendapat perhatian:110
a. Kriminal dilakukan dengan sistem urat syarat yang hiporeaktif
dan otak yang kurang member respon, keadaan demikian
tidak terjadi dalam vakum melainkan berinteraksi dengan
lingkungan tempat tinggal tertentu di mana individu hidup
dalam pergaulan.
b. Anak-anak pra delinquen cenderung membiasakan diri
terhadap hukuman yang diterimanya dan rangsang ini
dengan mudah menambah frustasi dikalangan orang tua.
Pola ini kemudian bergerak dalam lingkaran interaksi negatif
“orang tua anak” yang pada gilirannya membentuk remaja
dan orang dewasa yang bersifat bermusuhan, memenddam
rasa benci dan rasa anti sosial. Kecenderungan mencari
rangsangan pathologis ini merupakan bagian dari gambaran
kriminal.
c. Interaksi orang X keadaan meliputi Hipotesa:
a. Bahwa respon parental yang negatif dan tidak konsisten
terhadap perilaku mencari rangsangan atau stimuli sang
anak, merupakan daya etiologis dalam perkenbangan
kecenderungan - kecenderungan kriminalitas selanjutnya.
b. Bahwa abnormalitas psikologis sang anak akan
menyulitkan baginya mengantisipasi konsekwensi yang
menyakitkan atas perbuatannya.
110
Ibid, hal. 142.
132
Kedua faktor di atas merupakan faktor yang
memberi kontribusi kepada siklus yang merugikan dalam
interaksi orang tua anak yang bersifat negatif yang pada
gilirannya berkulminasi pada pola kriminalitas berat.
Christopher Mehew dalam penelitiannya mengenai
kriminal dan psikologis menemukan adanya pengaruh
kejiwaan terhadap perilaku jahat yang disimpulkan
sebagai tingkat kedewasaan yang terhambat (emosionalimmaturity) dan ternyata kondisi ini dipengaruhi oleh
maslah-masalah keluarga yaitu disharmoni home dan
broken home. Apakah emosional immaturity berdampak
hiporeaktif, masih memerlukan penelitian seksama.
Betapapun teori-teori mencari rangsang pathologis yang
menjawab mengenai delinkuensi dan kriminal cukup menarik
minat untuk penelitian lapangan. Oleh karena itu ia bersifat
kontemporer.
H. Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory).
Berkembang dari teori pencegahan atau penjeraan terhadap
kemungkinan timbulnya kejahatan, perspektik pemilihan
rasional meminjam atau memanfaatkan teori ekonomi
kontemporer dan menerapkan banyak dari konsep-konsep ini
bagi perilaku kriminal. Apabila teori penjeraan menyoroti
pengaruh hukuman bagi perilaku selanjutnya prevensi khusus
untuk mencegah perilaku kriminal ulangan yaitu perbaikan dan
pembinaan narapidana, teori pilihan rational menitikberatkan
pada utilitas atau pemanfaatan yang diantisipasi mengenai taat
pada hukum lawan perilaku melawan hukum, pendukung semula
teori pilihan rasional. Gary Becker (1968) menegaskan bahwa
akibat pidana merupakan fungsi, pilihan-pilihan langsung serta
133
keputusan-keputusan yang dibuat relatif oleh para pelaku tindak
pidana bagi peluang-peluang yang terdapat baginya.111
Pilihan rasional berarti pertimbangan-pertimbangan yang
rasional dalam menentukan pilihan perilaku yang kriminal atau
non-kriminal, dengan kesadaran bahwa ada ancaman pidana
apabila perbuatannya yang kriminal diketahui dan dirinya
diproses melalui peradilan pidana. Apabila demikian maka
seolah-olah semua perilaku kriminal adalah keputusan rasional.
hal ini mengingatkan teori pada kriminologi klasik, Hedonisme
misalnya.
Dengan berdasarkan pendapatnya pada Neuman
Morgensterm daengan pola dan paradigma utilitas yang
diharapkan, Becker mengusulkan bahwa individu yang
memepertimbangkan opsi atau pilihan-pilihan kriminal akan
bertindak berdasarkan pemikiran ini , hanya apabila hasil yang
diantisipasi yang diharapkan untuk melakukan tindak pidana
tadi melebihi manfaat yang diharapkan apabila tidak melibatkan
diri dalam tindak pidana tertentu tadi. Dengan kata lain teori
bertindak rasional berpendapat bahwa individu menimbang
berbagai kemungkinan dan kemudian memilih pemecahan
optimal. Nampaknya Becker tidak begitu melihat cetusancetusan emosional dan spontan dalam menerapkan pola
kriminal. Dengan menilai penawaran dan permintaan mengenai
interaksi manusia dapat sungguh merupakan tugas iyang
banyak diminta.
Seperti halnya yan ditunjukkan oleh Cook 1980 kita
temukan banyak variasi mengenai faktor-faktor perorangan
yang memberikan kontribusi kepada kerimitan atau
kompleksitas proses pengambilan putusan oleh manusia. Oleh
karenannya berakibat bahwa proses ini lebih sedikit
111
Ibid, hal. 146.
134
mekanistiknya dibandingkan dengan para teoretisi pilihan
rasional iyang minta mempercayainy hasil studi yang diarahkan
oleh Jonh Carol 1978 menggambarkan kompleksitas dalam
proses pengambilan putusan oleh manusia, dan menunjukkan
bahwa keputusan-keputusan yang diambil terkadang tidak lagi
irasional dan bersifat non ekonomis. Juga telah ditentukan
bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dioertimbangkan oleh
pengambilan keputusan manusia itu bersifat subjektif.
Subyektifitas dan kebebasan memilih perlu ditambah
dengan faktor pengendaliaan emosi yang kadang-kadang
terabaikan aplikasi teori ini, dan aspek mengenai scenario
pengambilan putusan pidana tadi misalkan kerugian dan
keuntungannya lebih dipertimbangkan secara individual dari
pada secara multiplikatif atau perkalian atau pergandaan seperti
yang diharapkan oleh presdiksi teori utilitas (Cimler dan Beach
1981) penemuan-penemuan semacam ini sulit untuk
mengabaikan kesimpulan Carol 1978 yang menyatakan bahwa
pertimbangan dan keputusan yang diambil manusia dicapai
dengan cara yang mengurangi penggunaan optimal berbagai
kemungkinan dan peluang.112
Teori ekonomi mementingkan kemapuan untuk
memperoleh dan distrisi sumber-sumber. Oleh karenanya,
meningkatkan pendapatan atau peluang ekonomi yang lebih
meluas harus berkurang, bukan saja sebagai insentif bagi
ilegalitas, namun juga bagi perilaku kriminal yang sebenarnya
atau sesungguhnya, menurut perspektif pilihan rasional. Begitu
pula resesi ekonomi atau menurunnya peluang ekonomi akan
menjurus kepada meningkatnya tingkat kriminalitas dengan
112
Ibid, hal. 144.
135
megurangi peluang-peluang yang sah menurut hukum bagi
kemajuan.113
Betapapun riset terhadap indicator ekonomi seperti
pengangguran dan kriminalitas bercampur dengan beberapa
study yang menyoroti adanya asosiasi pengagguran dan
kejahatan, namun masih banyak lagi studi yang tidak berhasil
menemukan mata rantai antara kedua variable ini. Penelitian W.
A Bonger setelah PD-II melaporkan mengenai adanya
hubungan antara kondisi ekonomi dan kejahatan yanh
berpangkal pada adanya pengangguran yang menyebabkan
ketidakmampuan untuk mengatasi kesulitan ekonomi,
sementara harga pangan terus naik. 114
Adapun kemiskinan dan pengangguran disebabkan oleh
perang dengan segala efek sampingnya seperti alkoholisme,
demoralisasi seksual dan kurang atau menurunnya
pengembangan budaya. Harus kita catat lebih jauh bahwa
sekalipun harus terdapat hubungan antara pengangguran dan
perilaku kriminal, ciri klinis yang menonjol mengenai
hubungan ini dipertanyakan akibat hasil penyelidikan oleh
Freeman (1983), yang mengestimasikan bahwa reduksi sebesar
50% dalam pengagguran dalam tingkat kriminalitas secara
keseluruhan.
Kembali menurut Bonger yang merevisi teori Von Mayr
kejahatan berhubungan dengan objectiv Nahrung Ershewrung
“yaitu harga gandum yang baik turun diikuti secara spontan
oleh naik turunnya kriminalitas”, menjadi subjective Nahrung
Ershewrung yang mana individu penganggur sebagai mediator
yang karena ketidakmampuannya tidak sanggup mengikuti
kenaikan harga pokok pangan dan berbuat kejahatan.
113
114
Ibid.
Ibid, hal. 146
136
Sebagian besar riset atas “teori pilihan” telah
dilaksanakan dengan menggunakan data dalam keseluruhannya
bersama-sama. Betapapun, riset atau subjek-subjek secara
individual nampaknya akan merupakan model paradigma
eksperimental yang lebih tepat mengingat bahwa fokus utama
mengenai model pilihan rasional adalah untuk kejahatan dan
peristiwa-peristiwa kriminal dan bukan semata-mata pada
kriminalitas maupun keterlibatan dalam kejahatan. Oleh sebab
itulah sementara tingkat himpunan data penyelidikan nampak
sangat mendukung sekali hipotesa pilihan rasional,
penyelidikan-penyelidikan tingkat individu jauh lebih kurang
nampaknya.115
Apabila diamati pola-pola kriminalitas modern
economical crimes umpamanya memang teori ini memiliki
manfaat yang cukup berarti karena pelaku kejahatan non
konvensial ini adalah para intelektual yang justru rasional,
individual dan pengamat situasi yang jeli.
Studi atau penyelidikan level individu yang dipimpin
oleh Ann White (1980) memberikan dukungan tertentu bagi
perspektif ekonomi atas kejahatan dalam arti bahwa baik
kepastian yang diharapkan maupun beratnya hukuman yang
dijatuhkan, memperlihatkan pengaruh “jera” atau “kapok” yang
relatif lemah, namun walau bagaimanapun juga terdapat
hubungan dengan perilaku kriminal selanjutnya. Tetapi dalam
semua teori “pilihan rasional” jarang mengadakan penilaian
melalui data tingkat/level individe.
Sepanjang tidak dilakukan usaha untuk memperluas
“teori-teori ekonomi” dan “pilihan rasional” mengenai perilaku
kriminal terhadap individu, maka akan tetap merupakan seperti
yang ditegaskan oleh Rutter dan Giller (1984) sebagai
115
Ibid
137
penjelasan parsial mengenai: perilaku anti sosial dalam keadaan
yang paling baik. Selain dari sempit, dan terbatas serta lebih
tertarik pada hubungan-hubungan yang bersifat sepele, “teori
pilihan rasional” menghadapi kesulitan besar dalam
menjelaskan sejumlah fenomena yang pernah diobservasi dalam
aneka ragam penyelidikan mengenai “manusia dalam
mengambil keputusan”.
Fenomena ini meliputi, walau tidak terbatas pada “efeks
konteks” dengan memproses seleksi pilihan yang awet dan
memberikan semangat untuk melakukan penyelidikan
selanjutnya, seperti halnya kritik atas “teori pilihan rasional”
itu ditujukan pada model kegunaan atau utilitas yang
diharapkan, juga telah dikemukakan modifikasi perbaikan oleh
para teoretisi di lapangan.
Beberapa diantara modifikasi yang lebih populer
mengenai teoti utilitas yang juga diharapkan meliputi model
kegunaan yang diharapkan yang bersifat subjektif (Edward’s,
1955), pendekatan rata-rata produk yang ditimbang secara
diferensial dan teori prospek. “Lattimore dan Witte (1985)
menentukan bahwa model kegunaan yang diharapkan dan teori
prospek menjurus pada prediksi yang sangat berbeda apabila
diminta untuk menilai bagaimana perbahan-perubahan dalam
kebijaksanaan peradilan pidana akan memberikan dampak pada
kecenderungan-kecenderungan membuat keputusan mengenai
para pelaku tindak pidana.
Betapapun kita masih harus menentukan apakah teori
prospek memberikan sesuatu yang lebih baik daripada “model
kegunaan” atau utility model, yang diharapkan apabila data
tingkat individual dihubungkan dengan penyamaan atau ekuasi
tadi.
138
Dalam aplikasi teori ini terutama pada penanganan
economical crimes, maka perlu dikaji sebagai masukan
mengenai fungsi undang-undang pidana dalam tindak pidana
yang ekspresif atau instrumental yang pernah dikemukakan
William Chamblis, seperti apa yang terjadi sekarang, teori
pilihan rasional memberikan penjelasan yang berguna bagi
kriminalitas, namun tidak lengkap.
Kekuatannya terletak pada presisi, operasionalitas dan
kemampuannya untuk menjelaskan peristiwa kriminal spesifik,
sedangkan kelemahannya telah terungkapkan dalam sifat
keterbatasan mengenai hubungan-hubungan yang diamatinya,
kurangnya memberikan penjelasan tentang berbagai fenomena
empiris
dan
ketidakmampuannya
untuk
mempertanggungjawabkan tentang perilaku kriminal untuk
waktu lama. Riset dimasa mendatang perlu kirannya untuk
memperhatikan pokok-pokok yang beraneka ragam apabila
diinginkan agar teori pilihan rasional dapat memperoleh tempat
dalam usaha riset ilmu pengetahuan tentang kejahatan. Kembali
bahwa sasaran pengujian dan pengkajian teori pilihan rasional
adalah kejahatan non konvensional atau yang kontemporer yang
pelakunya dikalangan intelektual yang memiliki wibawa di
bidang bisnis dan politis.
Beberapa catatan penting mengenai teori pilihan rasional
adalah:116
a. Teori pilihan rasional menitikbertkan pada pemnafaatan
yang diantisipasi mengenai taat pada hukum lawan
perilaku melawan hukum.
b. Akibat pidana yang dialami seseorang merupakan fungsi,
pilihan-pilihan langsung serta keputusan-keputusan yang
116
Ibid, hal. 147-149
139
c.
d.
e.
f.
dibuat relatif oleh para pelaku tindak pidana bagi peluangpeluang yang ada padanya.
Teori pilihan rasional dengan demikian berpendapat bahwa
individu menimbang dari berbagai kemungkinan,
kemudian memilih pemecahan yang optimal yang dapat
dilakukan.
Terdapat kompleksitas dalam proses pengambilan
keputusan oleh manusian yang menunjukkan bahwa
keputusan-keputusan yang diambil terkadang tidak lagi
rasional dan bersifat non-ekonomis serta bersifat subjektif.
Meningkatnya pendapatan atau peluang yang lebih meluas
harus berkurang, tidak saja sebagai insentif bagi ilegalitas
dan perilaku menyimpang, melainkan pula bagi perilaku
kriminal yang sebenarnya seperti pada berbagai pola
kejahatan konvensional, menurut perspektif pilihan
rasional. Patut diperhatikan bahwa resesi ekonomi
menjurus pada meningkatkan tingkat kriminalitas (crime
rate). Karena saingan semakin tajam dan demi survifal,
ilegalitas akan menjadi alternatif yang menarik.
Teori pilihan rasional member penjelasan yang bermanfaat
dalam mempelajari kriminalitas:
1) Kekuatan teori terletak pada presisi, operasionalitas
dan kemampuannya untuk menjelaskan peristiwaperistiwa kejahatan yang khas, terutama yang nonkonvensional.
2) Kekurangan teori ini adalah dalam sifat keterbatasan
mengenai hubungan-hubungan yang diamatinya dan
kurang memberikan penjelasan tentang berbagai
fenomena.
140
g. Teori
pilihan
rasional
kurang
mampu
mempertanggungjawabkan mengenai perilaku kriminal
untuk waktu yang relatif lama.
Betapapun teori ini akan mampu mengisi acuan teori baru
yang sebelumnya menjadi kendala dalam mengamati dan
menganalisa kejahatan modern:117
a. Proses dan akibat yang menyangkut masalah kriminalisasi dan
deskriminalisasi.
b. Reaksi terhadap penjahat dan kejahatan.
c. Mekanisme-mekanisme dalam bekerjanya sistem peradilan
pidana.
d. Enkulturasi petugas mengenai tugas-tugasnya.
e. Gambaran sikap serta pembentukan peranan diantara pejabatpejabat serta alat-alat penegak hukum.
f. Penghukuman sebagai sosio legal serta psikolegal dan
penology.
g. Metode-metode penanganan penjahat.
Hal-hal yang berhubungan dengan kejahatan sebagai
fenomena sosial itu adalah segi hukum pidana tentang kejahatan
dan pelaku kejahatan (criminal) “criminal jurism” yang menurut
para ahli kriminologi merupakan sasaran study kriminologi seperti
diantaranya dikemukakan oleh Katherine S. Williams:
“Criminologi includes the study of; the characteristics of the
criminal law; the extent of crime; the effects of crime on society;
methods of crime prevention, the attributes of criminals, and the
characteristics and woekings of the criminal justice system”.
Berarti kriminologi mempelajari:
117
Ibid, hal. 148-149.
141
a. Karakteristik hukum pidana;
b. Keberadaan kriminalitas;
c. Pengaruh kejahatan terhadap korban dan masyarakat pada
umumnya;
d. Metode penaggulangan kejahatan;
e. Atribut penjahat;
f. Karakteristik dan bekerjanya sistem peradilan pidana.
Enam butir yang menjadi perhatian utama kriminologi
menghadapkan kejahatan dengan hukum pidana dan peradilan
pidan, sehingga kalau dihadapkan dapat digambarkan sebagi
berikut:118
Kejahatan
1. Keberadaan kejahatan.
2. Pengaruh/akibat
kejahatan.
3. Atribut kriminal.
4. Penanggulangan
kejahatan.
Hukum dan Peradilan
Pidana
1. Karakteristik Hukum Pidana.
2. Karakteristik dan bekerjanya sistem
peradilan pidana.
Oleh karena itu Kathrine S. Williams menegaskan bahwa:
“Criminologi is concerned with crime; to understand the materials
every criminologist should thus have a good grounding in the
criminal law.”
Jelaslah bahwa berbicara tentang kejahatan, maka pola
penaggulangannya bersifat penal dan non penal atau lewat bekerjanya
hukum pidana dan kebijakan di luar hukum pidana.
118
Ibid
142
Bila penanggulangan kejahatan melalui penal approach, maka
sistem sebagai cara untuk menyelesaikan peristiwa pidana dan
menaggulanginya kejahatan di sini hukum pidana berperan sebagai
upaya prevensi khusus yang melalui Lembaga Pemasyarakatan untuk
mencegah residivis.
Melalui pemahaman materi studi yang dengan jelas dikemukakan
oleh Katherine S. Williams maka relasi antara kriminologi dan sistem
perdilan pidana telah dapat terjabarkan sesuai proporsinya.
I. Teori Juvenille Delinquensi
Teori ini memepelajari tentang sebab-sebab timbulnya kenakalan anak
atau faktor-faktor yang mendorong anak melakukan kenakalan atau
dapat juga dikatakan latar belakang dilakukannya perbauatan itu.
Dengan perkataan lain, perlu diketahui motivasinya.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1995) bahwa yang
dikatakan motivasi itu adalah dorongan yang timbul pada diri
seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu
perbuatan dengan tujuan tertentu. Motivasi sering juga diartikan
sebagai usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok
tertentu tergerak untuk melakukan suatu perbuatan karena ingin
mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan
perbuatannya.
Bentuk dari motivasi itu ada 2 (dua) macam, yaitu motivasi
intrinsik dan ekstrinsik. Yang dimaksud dengan motivasi intrinsic
adalah dorongan atau keinginan pada diri seseorang yang tidak perlu
disertai perangsang dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah
doronganyang datang dari luar diri seseorang.
Berikut ini Romli mengemukakan pendapatnya mengenai
motivasi intrinsik dan ekstrinsik dari kenakalan anak:119
119
Romli Atmasasmita, 1983, Problem Kenakalan Anak-anak Remaja,
Armico, Bandung, hal. 46.
143
1. Yang termasuk motivasi intrinsik pada kenakalan anak-anak
adalah:
a. Faktor intelegensia;
b. Faktor usia;
c. Faktor kelamin;
d. Faktor kedudukan anak dalam keluarga.
2. Yang termasuk motivasi ekstrinsik adalah:
a. Faktor rumah tangga;
b. Faktor pendidikan dan sekolah;
c. Faktor pergaulan anak;dan
d. Faktor mass media.
Intelegensia adalah kecerdasan seseorang, menurut Wundt dan
120
Eisler
adalah kesanggupan seseorang untuk menimbang dan
memberi keputusan. Anak-anak delinquen ini pada umumnya
mempunyai intelegensia verbal lebih rendah dan ketinggalan dalam
pencapaian hasil-hasil skolastik (prestasi sekolah rendah). Dengan
kecerdasan yang rendah dan wawasan sosial yang kurang tajam,
mereka mudah sekali terseret oleh ajakan buruk untuk menjadi
delinquen jahat.
Usia adalah faktor yang paling penting dalam sebab-musabab
timbulnya kejahatan. Apabila pendapat tersebut diikuti secara
konsekuen, maka dapat pula dikatakan bahwa usia seseorang adalah
faktor yang penting dalam sebab-musabab timbulnya kejahatan.121
Di dalam penyelidikannya Paul W. Tappan122 mengemukakan
pendapatnya bahwa kenakalan anak dapat dilakukan oleh anak laki-laki
amaupun oleh anak perempuan, sekalipun dalam prakteknya jumlah
anak laki-laki yang melakukan kenakalan jauh lebih banyak daripada
anak perempuan pada batas usia tertentu. Adaniya perbedaan jenis
120
Ibid, hal. 46.
Ibid, hal. 48.
122
Ibid, hal. 49.
121
144
kelamin, mengakibatkan pula timbulnya perbedaan, tidak hanya dari
segi kuantitas kenakalan semata-mata akan tetapi juga segi kualitas
kenakalannya.
Faktor kedudukan anak dalam keluarga, adalah kedudukan
seorang anak dala keluarga menurut urutan kelahirannya, misalnya
anak pertama, kedua dan seterusnya. Namun hasil penyelidikan yang
dilakukan oleh Noach terhadap delinquensi dan kriminalitas di
Indonesia telah mengemukakan pendapatnya bahwa kebanyakan
deliquensi dan kejahatan dilakukan oleh anak pertama dan atau anak
tunggal atau oleh anak wanita atau dia satu-satunya diantara sekian
saudara-saudaranya (kakak atau adik-adiknya).
Sebagaimana diketahui terdapat berbagai macam definisi yang
dikemukakan oleh para ilmuwan tentang juvenile delinquency ini,
seperti diuraikan di bawah ini.
Paul Moedikno memberikan perumusan, mengenai pengertian
Juvenile Delinquency, yaitu sebagai berikut:
1. Semua perbuatan yang dari orang-orang dewasa merupakan
suatu kejahatan, bagi anak-anak merupakan deliquency. ladi
semua tindakan yang dilarang oleh hukum pidana, seperti
mencuri, menganiaya, membunuh dan sebagainya.
2. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok
tertentu yang menimbulkan keonaran dalam masyarakat,
misalnya memakai celana jangki tidak sopan, mode you can
see dan sebagainya
3. Semua perbuatan yang menunjukan kebutuhan perlindungan
bagi sosial, termasuk gelandangan, pengemis dan lain-lain.123
Menurut Kartini Kartono yang dikatakan Juvenile Delinquency
adalah : Perilaku jahat dursila, atau kejahatan/kenakalan anak-anak
muda, merupakan gejala sakit (patologi) secara sosial pada anak-anak
dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial
123
Wagiati Soetodjo, Hukum Pidana Anak, Refika Aditama, Bandung, 2006, hal. 9.
145
sehingga mereka itu mengembangkan bentuk pengabaian tingkah laku
yang menyimpang.
Menurut Fuad Hassan yang dikatakan Juvenile Delinquency
adalah perbuatan anti sosial yang dilakukan oleh remaja, yang apabila
dilakukan oleh orang dewasa maka dikualifikasikan sebagai kejahatan.
Paul M. Tappan memberikan suatu perumusan tentang pengertian
JuveniIe Delinquency, yaitu sebagai berikut: The juvenile delinquent
is a person has been aiudicated as such by a court of proper
jurisdiction though he may be no different up until the time of court
contact and ajudication at any rate, from masses of children who are
not delinquent.
Maud A. Merril merumuskan Juvenile Delinquency sebagai
berikut: A child is classified as a delinquent when his anti
socialtendencies appear to be so grave that he become or ought
to.become the subject of off icial action. (Seorang anak digolongkan
anak delinkuent apabila tampak adanya kecenderungankecenderungan anti sosial yang demikian memuncaknya sehingga
yang berwajib terpaksa atau hendaknya mengambil tindakan
terhadapnya, dalam arti menahannya atau mengasingkannya.)124
R. Kusumanto Setyonegoro dalam hal ini mengemukakan
pendapatnya antara lain sebagai berikut: Tingkah laku individu yang
bertentangan dengan syarat-syarat dan pendapat umum yang dianggap
sebagai akseptabel dan baik, oleh suatu lingkungan masyarakat atau
hukum yang berlaku di suatu masyarakat yang berkebudayaan
tertentu. Apabila individu itu masih anak-anak, maka sering tingkah
laku serupa itu disebut dengan istilah tingkah laku yang sukar atau
nakal. Jika ia berusaha adolescent atau preadolescent, maka tingkah
laku itu sering disebut delinkuen; dan jika ia dewasa maka tingkah
124
Ibid, hal. 10.
146
laku ia seringkali disebut psikopatik dan jika terang-terangan melawan
hukum disebut kriminal.125
Tim proyek Juvenile delinquency Fakultas Hukum Universitas
Padjadjaran Desember 1967 memberikan perumusan mengenai
JuveniIe Delinquency sebagai berikut : Suatu tindakan atau perbuatan
yang dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan
ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di suatu negara dan yang
oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsirkan sebagai
perbuatan yang tercela.
Romli Atmasasmita memberikan pula perumusan Juvenile
Delinquency, yaitu sebagai berikut: Setiap perbuatan atau tingkah laku
seseorang anak di bawah umur 18 tahun dan belum kawin yang
merupakan pelanggaran terhadap norma-norma hukum yang berlaku
serta dapat membahayakan perkembangan pribadi si anak yang
bersangkutan.126
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Juvenile
Delinquency adalah suatu tindakan atau perbuatan pelanggaran norma,
baik norma hukum maupun norma sosial yang dilakukan oleh anakanak usia muda. Hal tersebut cenderung untuk dikatakan sebagai
kenakalan anak dari pada kejahatan anak, terlalu ekstrim rasanya
seorang anak yang melakukan tindak pidana dikatakan sebagai
penjahat, sementara kejadiannya adalah proses alami yang tidak boleh
tidak setiap manusia harus mengalami kegoncangan semasa
menjelang kedewasaannya.
Dalam KUHPidana di lndonesia, jelas terkandung makna
bahwa suatu perbuatan pidana (kejahatan) harus mengandung unsurunsur:
a. Adanya perbuatan manusia;
b. Perbuatan tersebut harus sesuai dengan ketentuan Hukum;
125
126
Ibid
Romli Atmasasmita, 1983, Op.cit, 49
147
c. Adanya kesalahan;
d. Orang yang berbuat harus dapat dipertanggungjawabkan.
Tetapi anak dalam hal ini adalah anak yang di Amerika Serikat
dikenal dengan istilah Juvenile Delinquent, memiliki kejiwaan yang
labil, proses kemantapan psikis yang sedang berlangsung
menghasilkan sikap kritis, agresif dan menunjukan kebengalan yang
cenderung bertindak mengganggu ketertiban umum. Hal ini tidak bisa
dikatakan sebagai kejahatan, melainkan kenakalan karena tindakannya
lahir dari kondisi psikologis yang tidak seimbang, di samping itu
pelakunya pun tidak sadar akan apa yang seharusnya ia lakukan.
Tindakannya merupakan menifestasi dari kepuberan remaja tanpa ada
maksud merugikan orang lain sebagai apa yang diisyaratkan dalam
suatu perbuatan kejahatan (KUHPidana), yaitu menyadari akibat dari
perbuatannya dan pelakunya mampu bertanggungjawab.
Hal demikian pun terjadi di Amerika Serikat, di mana
dibedakan antara perbuatan yang dilakukan anak dengan orang
dewasa. Suatu tindakan anti sosial, yang melanggar norma hukum
pidana, kesusilaan, ketertiban umum, yang apabila itu dilakukan oleh
seseorang di atas usia 21 tahun, maka perbuatannya dinamakan
kejahatan (crime). Jika dilakukan oleh seseorang yang usianya di
bawah 21 tahun disebut kenakalan (Delinquency) .
Tingkah laku yang menjurus kepada masalah Juvenile Delinquency ini
menurut Adler adalah:127
1. Kebut-kebutan dijalanan yang mengganggu keamanan lalu
lintas dan membahayakan jiwa sendiri dan orang lain;
2. Perilaku ugal-ugalan, berandal, urakan yang mengacaukan
ketentraman lingkungan sekitarnya. Tingkah ini bersumber
pada kelebihan energi dan dorongan primitif yang tidak
terkendali serta kesukaan menteror lingkungan;
127
Wageati Soetodjo, Op.cit, hal. 13-14.
148
3. Perkelahian antar geng, antar kelompok, antar sekolah, antar
suku (tawuran), sehingga kadang-kadang membawa korban
jiwa;
4. Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan atau
bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan
eksperimen bermacam-macam kedurjanaan dan tindakan asusila;
5. Kriminalitas anak, remaja dan adolesens antara lain berupa
perbuatan mengancam, intimidasi, memeras, mencuri,
mencopet, merampas, menjambret, menyerang, merampok,
mengganggu, menggarong, melakukan pembunuhan dengan
jalan menyembelih korbannya, mencekik, meracun, tindak
kekerasan dan pelanggaran lainnya;
6. Berpesta-pora sambil mabuk-mabukan, melakukan hubungan
seks bebas, atau orgi (mabuk-mabukan yang menimbulkan
keadaan kacau balau) yang mengganggu sekitarnya;
7. Perkosaan, agresivitas seksual, dan pembunuhan dengan motif
sosial, atau didorong oleh reaksi-reaksi kompensatoris dari
perasaan inferior, menuntut pengakuan diri, depresi, rasa
kesunyian, emosi balas dendam, kekecewaan ditolak cintanya
oleh seorang wanita dan lain-lain;
8. Kecanduan dan ketagihan narkoba (obat bius, drug, opium,
ganja) yang erat berkaitan dengan tindak kejahatan;
9. Tindakan-tindakan imoral seksual secara terang-terangan tanpa
tedeng aling-aling, tanpa malu dengan cara kasar. Ada seks
dan cinta bebas tanpa kendali (promiscuity) yang didorong
oleh hiperseksualitas, dorongan menuntut hak, dan usahausaha kompensasi lainnya yang kriminal sifatnya;
10. Homoseksualitas, erotisme anak dan oral serta gangguan
seksualitas lainnya pada anak remaja disertai dengan rindakantindakan sadis;
149
11. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lain dengan taruhan
sehingga menimbulkan akses kriminalitas;
12. Komersialisasi seks, pengguguran janin oleh gadis-gadis
delinkuen dan pembunuhan bayi-bayi oleh ibu-ibu yang tidak
kawin;
13. Tindakan radikal dan ekstrim dengan jalan kekerasan,
penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak
remaja;
14. Perbuatan a-sosial yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan
pada anak-anak dan remaja psikopatik, neurotik dan menderita
gangguan jiwa lainnya;
15. Tindak kejahatan disebabkan oleh penyakit tidur
(encephaletics Lethargoical) dan ledakan maningitis serta
posten cephalitics, juga luka di kepala dengan kerusakan pada
otak ada kalanya membuahkan kerusakan mental, sehingga
orang yang bersangkutan tidak mampu melakukan kontrol diri;
16. Penyimpangan tingkah laku disebabkan oleh kerusakan pada
karakter anak yang menuntut kompensasi, disebabkan adanya
organ-organ yang inferior.
RANGKUMAN
1. Teori asosiasi diferensial (Defferential Assosoation Theory).
Edwin H. Sutherland mengambil ide dasar ini kemudian
dikembangakan menjadi teori “perilaku kriminal” Sutherland
menghipotesakan bahwa perilaku kriminal itu dipelajari melalui
asosiasi yang dilakukan dengan mereka yang melanggar normanorma masyarakat termasuk norma hukum. Proses mempelajari
tadi meliputi tidak hanya tehnik kejahatan sesungguhnya, namun
juga motif, dorongan, sikap dan resonalisasi yang nyaman atau
memuaskan bagi dilakukannya perbauatan-perbuatan anti sosial.
2. Strain Theory (Teori Tegang) Masalah sesungguhnya menurut
Merton tidak diciptakan oleh sudden social change (perubahan
150
sosial yang cepat) tetapi oleh social structure (struktur sosial).
Menurut Merton, suatu masyarakat menanamkan pada anggotaanggotanya suatu hasrat untuk mencapai cita-cita tertentu dan
kemudian menggariskan cara-cara yang sah melalui mana cita-cita
tadi dapat dicapai.
3. Teori Kontrol Sosial (social control theory) Travis Hirshi
berpendapat bahwa perilaku kriminal merupakan kegagalan
kelompok-kelompok sosial konvensional seperti keluarga,
sekolah, kawan sebaya untuk mengikat atau terikat dengan
individu. Menunjuk pada pembahasan delinquensi dan kejahatan
dikaitkan dengan variable-variabel yang bersifat sosiologis, antara
lain struktur keluarga, pendidikan, kelompok dominan.
4. Teori label diartikan dari segi pandangan pemberian nama, yaitu
bahwa sebab utama kejahatan dapat dijumpai dalam pemberian
nama atau pemberian label oleh masyarakat untuk
mengidentifikasi anggota-anggota tertentu pada masyarakatnya.
Berdasarkan persepsi ini pelanggar hukum tidak bisa dibedakan
dari mereka yang tidak melanggar hukum, terkecuali bagi adanya
pemberian nama atau label terhadap mereka yang ditentukan
demikian.
5. Teori-teori Sendiri (The Self-Theories) tentang kejahatan
menitikberatkan pada penafsiran atau interpretasi individu yang
bersangkutan. Dengan menjajaki pendapat tentang bayangan
sendiri dan penyimpangan, L. Edward Wells berspekulasi bahwa
perilaku adalah suatu usaha oleh seorang individu untuk
mengkontruksi, menguji, mengesahkan dan menyatakan apa
tentang dirinya. teori-teori sendiri tentang kejahatan
menitikberatkan pada penafsiran atau interpretasi individu yang
bersangkutan. Dengan menjajaki pendapat tentang bayangan
sendiri dan penyimpangan, L. Edward Wells berspekulasi bahwa
perilaku adalah suatu usaha oleh seorang individu untuk
mengkontruksi, menguji, mengesahkan dan menyatakan apa
tentang dirinya.
151
6. Teori Psiko Analitik (Psyko Analitik Theory) Sigmund Frued
berefleksi pada bagaimana sikap kita terhadap para kriminal pada
umumnya nampak mencerminkan sikap yang kita miliki terhadap
kriminal dalam diri sendiri.
7. Teori Rancangan Pathologis (Pathological Simulation Seeking)
Herbert C. Quay mengemukakan teori kriminalitas yang
didasarkan pada observasi bahwa banyak kejahatan yang nampak
memberikan seseorang perasaan gempar dan getaran hati atau
sensasi. Menurut Quay, kriminalitas merupakan manifestasi
banyak sekali kebutuhan bagi peningkatan-peningkatan atau
perubahan-perubahan dalam pola stimulasi si pelaku.
8. Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory). Gary Becker
menegaskan bahwa akibat pidana merupakan fungsi, pilihanpilihan langsung serta keputusan-keputusan yang dibuat relatif
oleh para pelaku tindak pidana bagi peluang-peluang yang terdapat
baginya. Pilihan rasional berarti pertimbangan-pertimbangan yang
rasional dalam menentukan pilihan perilaku yang kriminal atau
non-kriminal, dengan kesadaran bahwa ada ancaman pidana
apabila perbuatannya yang kriminal diketahui dan dirinya diproses
melalui peradilan pidana.
9. Juvenile Delinquency adalah suatu tindakan atau perbuatan
pelanggaran norma, baik norma hukum maupun norma sosial yang
dilakukan oleh anak-anak usia muda. Hal tersebut cenderung
untuk dikatakan sebagai kenakalan anak dari pada kejahatan anak,
terlalu ekstrim rasanya seorang anak yang melakukan tindak
pidana dikatakan sebagai penjahat, sementara kejadiannya adalah
proses alami yang tidak boleh tidak setiap manusia harus
mengalami kegoncangan semasa menjelang kedewasaannya.
LATIHAN
1. Kemukakan perkembangan teori asosiasi diferensial?
2. Kemukakan perkembangan strain theory?
3. Kemukakan teori kontrol sosial?
4. Kemukakan perkembangan teori label?
152
5. Kemukakan perkembangan teori sendiri?
6. Kemukakan perkembangan teori psiko analitik?
7. Kemukakan perkembangan teori ransangan psikologis?
8. Kemukakan perkembangan teori pilihan rasional?
9. Kemukakan yang dimaksud dengan juvenile delinquensi?
10. Kemukan apa yang menyebabkan kenakalan yang dilakuakan oleh
remaja?
GLOSSARIUM
1. Asosiasi : Orang-orang yang saling terhubung yang membentuk
kelompok dalam masayarakat.
2. Anomi : keadaan tanpa norma (chaos).
3. criminal justice: Peradilan pidana.
4. kriminogen: Suatu situasi yang memungkinkan/mendorong
munculnya tindakan kriminal.
5. Juvenille Court: Persidangan untuk anak remaja.
6. Abnormalitas: Suatu keadaan yang dianggap tidak normal atau
tidak wajar.
7. Juvenile
delinquensi:
Perilaku
jahat
dursila,
atau
kejahatan/kenakalan anak-anak muda.
DAFTAR PUSTAKA
Romli Atmasamita, 1983, Problem Kenakalan Anak-anak Remaja,
Armico, Bandung.
---------------------., 1992, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, PT
Eresco, Bandung.
153
---------------------., 2005, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi,
Refika Aditama, Bandung.
Sorjono Dirdjosisworo, 1994, Sinopsis Kriminologi Indonesia,
Mandar Maju, Bandung.
Topo Santoso, Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, 2008, PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Wagiati Soetodjo, 2006, Hukum Pidana Anak, Refika Aditama,
Bandung.
154
BAB VII
PENGERTIAN, PERKEMBANGAN DAN
RUANG LINGKUP VIKTIMOLOGI
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan
mahasiswa mampu memahami: Pengertian, Perkembangan
dan Ruang Lingkup Viktimologi
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan pengertian viktimologi dan menyebutkan
objek pengkajiannya.
2. Menjelaskan 3 (tiga) fase perkembangan viktimologi.
3. Mengungkapkan persoalan korban mengapa dilupakan.
4. Menjelaskan peranan korban terhadap timbulnya
kejahatan menurut para sarjana.
5. Menyebutkan ruang lingkup kajian viktimologi.
A. Pengertian Viktimologi
Masalah korban kejahatan merupakan elemen yang penting
dalam keadaan-keadaan tertentu dapat menjadi pemicu
munculnya kejahatan, disamping penanggulangan kejahatan yang
selama ini hanya terfokus pada berbagai hal berkaitan dengan
penyebab timbulnya kejahatan atau metode yang efektif
dipergunakan dalam penanggulangan kejahatan.
Pada saat berbicara tentang korban kejahatan, cara
pandang kita tidak dapat dilepaskan dari viktimologi. Melalui
viktimologi dapat diketahui berbagai aspek yang berkaitan dengan
korban, seperti: faktor penyebab munculnya kejahatan, bagaimana
155
seseorang dapat menjadi korban, upaya mengurangi terjadinya
korban kejahatan, hak dan kewajiban korban kejahatan.
Viktimologi dapat dikatakan sebagai cabang ilmu yang
relatif baru jika dibandingkan dengan cabang ilmu lain, seperti
sosiologi dan kriminologi. Sekalipun usianya relatif muda,
namun peran viktimologi tidak lebih rendah dibandingkan dengan
cabang-cabang ilmu yang lain, dalam kaitan pembahasan
mengenai fenomena sosial.
Viktimologi, berasal dari bahasa latin victima yang
berarti korban dan logos yang berarti ilmu. Secara terminologi,
viktimologi berarti suatu studi yang mempelajari tentang korban,
penyebab timbulnya korban dan akibat-akibat penimbulan korban
yang merupakan masalah manusia sebagai suatu kenyataan sosial.
Korban dalam lingkup victimologi memiliki arti yang luas karena
tidak hanya terbatas pada individu yang secara nyata menderita
kerugian, tetapi juga kelompok, korporasi, swasta maupun
pemerintah, sedangkan yang dimaksud dengan akibat penimbulan
korban adalah sikap atau tindakan terhadap korban dan/atau pihak
pelaku serta mereka yang secara langsung atau tidak terlibat
dalam terjadinya suatu kejahatan.
Pentingnya korban memperoleh perhatian utama dalam
membahas kejahatan disebabkan korban sering kali memiliki
peran yang sangat penting bagi terjadinya suatu kejahatan.
Diperolehnya pemahaman yang luas dan mendalam tentang
korban kejahatan, diharapkan dapat memudahkan dalam
menemukan upaya penanggulangan kejahatan yang pada akhirnya
akan bermuara pada menurunya kuantitas dan kualitas kejahatan.
Sejalan dengan semakin berkembangnya viktimologi,
sebagai cabang ilmu baru, berkembang pula berbagai rumusan
tentang viktimologi. Kondisi ini hendaknya tidak dipandang
sebagai pertanda tidak adanya pemahaman yang seragam
156
mengenai ruang lingkup viktimologi, tetapi harus dipandang
sebagai bukti bahwa viktimologi akan selalu berkembang sejalan
dengan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.
Viktimologi merupakan suatu pengetahuan ilmiah/studi
yang mempelajari suatu viktimisasi (kriminal) sebagai suatu
permasalahan manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial.
Perumusan ini membawa akibat perlunya suatu pemahaman,
yaitu:
1. Sebagai suatu permasalahan manusia menurut proporsi yang
sebenarnya secara dimensional;
2. Sebagai suatu hasil interaksi akibat adanya suatu interrelasi
antara fenomena yang ada dan saling mempengaruhi;
3. Sebagai tindakan seseorang (individu) yang dipengaruhi oleh
unsur struktur sosial tertentu suatu masyarakat tertentu.128
Pada dasarnya, perkembangan ilmu pengetahuan tentang
korban kejahatan (viktimologi), tidak dapat dipisahkan dari
lahirnya pemikiran-pemikiran brilian dari Hans von Hentig,
seorang ahli kriminologi pada tahun 1941 serta Mendelsohn, pada
tahun 1947. Pemikiran kedua ahli ini sangat mempengaruhi
setiap fase perkembangan viktimologi.
Perkembangan viktimologi hingga pada keadaan seperti
sekarang tentunya tidak terjadi dengan sendirinya, namun telah
mengalami berbagai perkembangan yang dapat dibagi dalam tiga
fase.
Pada tahap pertama, viktimologi hanya mempelajari
korban kejahatan saja, pada fase ini dikatakan sebagai “penal or
special victimology.” Sementara itu, pada fase kedua, viktimologi
tidak hanya mengkaji masalah korban kejahatan, tetapi juga
meliputi korban kecelakaan. Pada fase ini disebut sebagai
128
Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan, Akademika Pressindo, Jakarta
1993, hlm. 40.
157
“general victimology.”
Fase ketiga, viktimologi sudah
berkembang lebih luas lagi, yaitu mengkaji permasalahan korban
karena penyalahgunaan kekuasaan dan hak-hak asasi manusia.
Fase ini dikatakan sebagai “new victimology.”129
Dari pengertian di atas, tampak jelas bahwa yang menjadi
objek pengkajian dari viktimologi, di antaranya: pihak-pihak
mana saja yang terlibat/memengaruhi terjadinya suatu viktimisasi
(kriminal), bagaimanakah respons terhadap suatu viktimisasi
kriminal, faktor penyebab terjadinya viktimisasi kriminal,
bagaimanakah upaya penanggulangannya, dan sebagainya.
B. Perkembangan Viktimologi
Sejak awal mula lahirnya hukum pidana, fokus subjek yang
paling banyak disoroti adalah si pelaku. Padahal dari suatu
kejahatan, kerugian yang paling besar diderita adalah oleh si
korban kejahatan tersebut. Akan tetapi, sedikit sekali hukum
ataupun peraturan perundang-undangan yang dapat kita temui
yang mengatur mengenai korban serta perlindungan terhadapnya.
Hukum pidana memperlakukan korban seperti hendak
mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk melindungi korban
adalah dengan memastikan bahwa si pelaku mendapatkan balasan
yang setimpal. Hal yang juga disebutkan oleh Reif: “The problem
of crime, always get reduced to what can be done about criminal.
Nobody asks what can be done abaout victim? Everyone assumes
the best way to help the victim is to catch criminal as thought the
offender is the only source of the victims trouble.”
Apabila hendak mengamati masalah kejahatan secara
komprehensif, maka tidak boleh mengabaikan peranan korban
dalam terjadinya kejahatan. Bahkan, apabila memerhatikan pada
129
Made Darma Weda, Beberapa Catatan tentang Korban Kejahatan
Korporasi, dalam Bunga Rampai Viktimisasi, Eresco, Bandung, 1995, hlm. 200.
158
aspek pencarian kebenaran materiil sebagai tujuan yang akan
dicapai dalam pemeriksaan suatu kejahatan, peranan korban pun
sangat strategis. Dengan demikian, sedikit banyak menentukan
dapat tidaknya pelaku kejahatan memperoleh hukuman yang
setimpal dengan perbuatan yang dilakukannya.
Tidak berlebihan apabila selama ini berkembang
pendapat yang menyebutkan bahwa korban merupakan asset yang
penting dalam upaya menghukum pelaku kejahatan.
Pada sebagian besar kasus-kasus kejahatan, korban
sekaligus merupakan saksi penting yang dimiliki untuk
menghukum pelaku kejahatan. Sayangnya, dalam kerangka
pemeriksaan suatu perkara di mana korban merupakan saksi bagi
pengungkapan suatu kejahatan.
Korban hanya diposisikan
sebagai instrument dalam rangka membantu aparat penegak
hukum untuk menghukum si pelaku, dan tidak pernah berlanjut
pada apa yang dapat Negara serta aparat penegak hukum lakukan
untuk si korban, sehingga penderitaan (kerugian) yang diderita
korban dapat dipulihkan seperti keadaan sebelum terjadinya
kejahatan yang menimpa dirinya.
Persoalan korban tersebut dilupakan disebabkan antara
lain karena:
1. Masalah kejahatan tidak dilihat, dipahami menurut proporsi
yang sebenarnya secara multi dimensional;
2. Kebijakan penanggulangan kejahatan (criminal policy) yang
tidak didasarkan pada konsep yang integral dengan etiologi
kriminal;
3. Kurangnya pemahanan bahwa masalah kejahatan merupakan
masalah kemanusiaan, demikian pula masalah korban.130
130
Suryono Ekotama, ST. Harum Pudjianto, RS., G. Widiartama, Abortus
Provocatus Bagi Korban Perkosaan Perspektif Viktimologi , Kriminologi dan
Hukum Pidana, Universitas Atmajaya,Yogyakarta, 2000, hlm. 173.
159
Perhatian kalangan ilmuwan terhadap persoalan korban
dimulai pada saat Hans von Hentig pada tahun 1941 menulis
sebuah makalah yang berjudul “Remark on the interaction of
perpetrator and victim.”
Tujuh tahun kemudian beliau
menerbitkan buku yang berjudul The criminal and his victim yang
menyatakan bahwa korban mempunyai peranan yang menentukan
dalam timbulnya kejahatan,131 mempelajari hubungan antara
pelaku dan korban (victim-offender relationship) dari aspek
penderitaan korban dan aspek korban sebagai pemicu dan
mengakibatkan kejahatan.132
Dalam bukunya yang berjudul The criminal and his
victim tersebut, von Hentig membagi enam katagori korban
dilihat dari keadaan psikologis masing-masing, yaitu:
1. The dpressed, who are weak and submissive;
2. The acquisitive, who succumb to confidence games and
racketeers;
3. The wanton, who seek escapimin forbidden vices;
4. The lonesome and heartbroken, who are susceptible to theft
and fraud;
5. The tormentors, who provoke violence, and;
6. The blocked and fightings, who are unable to take normal
defensive measures.133
Pada tahun 1947 atau setahun sebelum buku von Hentig
terbit, Mendelsohn menulis sebuah makalah dengan judul “New
bio-psycho-sosial horizons: Victimology.” Pada saat inilah
131
Arif Gosita, Masalah Perlindungan Anak, CV Akademika Pressindo,
Jakarta, 1989, Edisi Pertama-Cetakan Kedua, hlm. 78.
132
Chaerudin dan Syarif Fadillah, Korban Kejahatan dalam Perspektif
Viktimologi dan Hukum Pidana Islam (Jakarta: Ghalia Press, Juli 2004), Cetakan
Pertama, hlm. 21.
133
Prassel, Frank R., Criminal Law, Justice, and Society (Santa Monica
California: Goodyear Publishing Company Inc., 1979), hlm. 66
160
Benjamin Mendelsohn, seorang pengacara di Jerusalem dianggap
orang yang pertama kali mempergunakan istilah victimology
dalam bukunya yang berjudul “ Revue Internationale de
Criminologie et de Police Technique.”
Pembahasan mengenai Korban oleh von Hentig dan
Mendelsohn kemudian diikuti oleh sarjana-sarjana lain
diantaranya seperti Ellenberger (1945), yang melakukan suatu
studi tentang hubungan psikologis antara penjahat dengan korban,
bersama dengan H. Mainheim (1965), Schafer (1968), dan Fiseler
(1978).”
Kemudian, pada tahun 1949 W.H. Nagel juga melakukan
berbagai pengamatan mengenai subjek ini dalam tulisannya
berjudul “de Criminaliteit van Oss, Groningen.” Dan sepuluh
tahun kemudian dapat dikatakan viktimologi menjadi isu yang
menarik dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada tahun 1959 P. Cornil dalam penelitiannya
menyimpulkan bahwa si korban patut mendapatkan perhatian
yang lebih besar dari kriminologi dan viktimologi harus
diperhatikan dalam membuat kebijakan kriminal dan juga dalam
pembinaan para pelaku kejahatan. Baik Cornil maupun Nagel
memperluas wilayah bahasan kriminologi sampai masalah
korban.
Perhatian terhadap korban kejahatan akhirnya diwujudkan
dalam suatu simposium internasional di Jerusalem pada tanggal 56 September 1973.
Dalam simposium di Jerusalem ini berhasil dirumuskan
beberapa kesimpulan, yaitu: viktimologi dapat dirumuskan
sebagai studi ilmiah mengenai para korban, dan kriminologi telah
diperkaya dengan suatu orientasi viktimologi.
Simposium kedua diadakan di Boston, pada tanggal 5-9
September 1976. Viktimologi dianggap penting karena dapat
161
membantu menambah kecerahan dalam menghadapi penjahat dan
korbannya. Studi lebih lanjut tentang viktimologi juga telah
dilakukan dalam bentuk Postgraduate Course on the Victim of
Crime in The Criminal Justice Sistem dan telah dua kali dilakukan
di Dubrovnick, Yugoslavia.
Setelah mengalami berbagai
kesulitan pada saat diselenggarakannya simposium yang kedua di
Boston, maka pada tahun 1977 didirikanlah World Society of
Victimology. World Society of Victimology (WSV) dipelopori oleh
Schneider dan Drapkin. Perjalanan panjang untuk menghasilkan
suatu prinsip-prinsip dasar tentang perlindungan korban memang
sangat terasa. Sekalipun demikian, cita-cita tersebut akhirnya
dapat terwujud pada saat diadakan kongres di Milan, Italia pada
tanggal 26 Agustus sampai dengan September 1985 dengan nama
Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of
Offenders, yang menghasilkan beberapa prinsip dasar tentang
korban kejahatan dan penyalahgunaan kekuasaan yang
selanjutnya diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada
tanggal 11 Desember 1985 dalam suatu deklarasi yang dinamakan
Declaration of Basic Principle of Justice for Victims of Crime and
Abuse of Power.”
Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa
viktimologi yang pada mulanya berwawasan sempit sebagaimana
dikemukakan oleh von Hentig dan Mendelsohn, kemudian
dikembangkan oleh Mendelsohn. Selanjutnya viktimologi yang
berinklusif wawasan hak-hak asasi manusia (juga disebut the new
victimology) dikembangkan oleh Elias, kemudian diperluas lagi
sehingga mencakup penderitaan mausian (kemanusian) oleh
Separovic.134
New Victimology ini bertujuan untuk:
134
J.E. Sahetapi, Kata Pengantar dalam Bunga Rampai Viktimisasi
(Bandung: Eresco, 1995), hlm. V.
162
1. Menganalisis pelbagai aspek yang berkaitan dengan korban;
2. Berusaha untuk memberikan penjelasan sebab musabab
terjadinya viktimisasi; dan
3. Mengembangkan sistem tindakan guna mengurangi
penderitaan manusia.135
Sejak dimulainya studi tentang kepribadian korban yang
dilakukan oleh Benyamin Mendelsohn pada tahun 1937,
viktimologi sebagai applied science bagi hukum pidana dan
kriminologi terus berkembang. Bahkan sampai saat ini telah
dilakukan lima kali simposium internasional tentang Viktimologi
dan terakhir di Zagreb, Yugoslavia pada tahun 1985, di samping
pertemuan-pertemuan ilmiah lain yang diselenggarakan di
pelbagai Negara.136
Memang harus diakui bahwa kajian mengenai viktimologi
relatif kurang diminati di kalangan praktisi hukum sehingga dari
waktu ke waktu perkembangannya jauh tertinggal dibandingkan
dengan kajian lainnya seperti kriminologi, penetensier, dan
sebagainya. Terbukti bidang viktimologi miskin dengan literatur
serta kajian-kajian ilmiah lainnya. Hal ini terjadi karena dalam
penanganan perkara pidana perhatian yang diberikan kepada
pelaku lebih banyak daripada korban sebagaimana Prassell
berpendapat:
“ Victim was a forgotten figure in the study of crime. Victims
of assaults, robbery, theft, and other offenceses were ignored
while police, courts, and academicians on known violators.”
Sekalipun demikian, tidak berarti bahwa viktimologi
merupakan bidang yang tidak memerlukan perhatian yang serius
135
Muladi, disampaikan pada seminar viktimologi di Universitas Airlangga
Surabaya, tanggal 28-29 Oktober 1988 dari Prof. Muladi, S.H., Dr. Barda Nawawi
Arief, S.H., Bunga Rampai Hukum Pidana (Bandung: Alumni, 1992), hlm. 76.
136
Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana (Semarang: Badan
Penerbit universitas Dipenogoro, 2002), hlm. 65.
163
dibandingkan dengan bidang kajian lainnya karena melalui
viktimologi akan dapat diperoleh masukan dalam menghadapi
dan menanggulangi masalah kejahatan yang semakin hari
semakin meningkat.
C. Perkembangan Konsep Kajian Viktimologi
Kebanyakan orang melihat keberadaan sistem peradilan
pidana sebagai mana adanya dalam proses pemidanaan.
Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa metode penanganan
pelaku kejahatan bukanlah merupakan norma yang secara
intrinsik terjadi dalam perkembangan serjarah. Praktek sistem
peradilan pidana dalam proses pemidanaan masih berpegang pada
pokok bahasan yang terarah pada pertanggungjawaban pidana
pelaku kejahatan terfokus pada korban dan keluarga korban. Di
sana tak dijumpai adanya “otoritas” untuk mengubah citra untuk
mengupayakan bagaimanakah menolong korban dalam proses
penegakan hukum pidana, korban diharapkan membentengi
dirinya sendiri dan masyarakat ikut serta dalam persepakatan itu.
Pernyataan tentang perlunya korban membentengi dirinya
sendiri tersebut tidak didesain dan diformulasikan dalam setiap
perangkat hukum pidana atau kitab hukum pidana. Masyarakat
hanya mengenal kejahatan berat dan pelakunya sebagai “mala In
se” (perilaku yang secara menyeluruh tidak dikehendaki terjadi di
masyarakat karena sifat jahatnya).
Fokus terarah pada upaya
bagaimana tindakan harus dilakukan terhadap pelaku, hanya
sayangnya korban yang sebetulnya harus diberikan peran dalam
164
menentukan tindakan apa yang ditimpakan pada pelaku belum
memperoleh tempat yang memadai dalam sistem peradilan yang
terkerangkakan dan terfomulasikan dalam perangkat hukum
pidana atau pun kitab hukum pidana. Korban harus memnbetengi
dan mengatasi masalahnya sendiri menurut caranya sendiri.
Masyarakat
mengenal
sistem
“retribution”
dan
“restitution” sebagai dasar tujuan pemidanaan terhadap pelaku
kejahatan.
“Retribution”
adalah
pelaku
kejahatan
akan
mengalami penderitaan sebanding dengan tingkat kerugian yang
diakibatkan oleh perbuatannya. Sering terjadi “retribution” ini
menjadikan dirinya sebaga “restitution”.
“Restitution” adalah
pembayaran sejumlah uang dalam rangka untuk memberikan
bantuan kepada korban oleh si pelaku, dan apabila pelaku tidak
dapat
membayarnya,
maka
keluarganya
dipaksa
untuk
mempertanggungjawabkan perbuatan pelaku tersebut pada pihak
korban.
Sistem pertanggungjawaban tersebut berlandaskan pada
prinsip yang disebut “lex talionis” – an eye for an eye, a tooth for
a tooth. Pidana disesuaikan dengan penderitaan korban. Di sini
tampak bahwa seolah-olah korban menjadi pertimbangan utama
penderitaan apa yang seharusnya ditimpakan pada pelaku
kejahatan.
model ini sebetulnya telah menggambarkan suatu
“sistem” yang disebut “sistem peradilan korban” atau victim
justice system”. Sistem penanganan perilaku kejahatan semacam
ini telah terdapat dalam hukum kuno yang terkodifikasikan –
165
hukum Musa, Kitab Hamurabbi (2200 SM) dan Hukum Romawi.
Kesemuanya menekankan unsure pertanggungjawaban individual
atas perilaku-perilaku yang menderitakan orang lain. Restitusi
dan retribusi merupakan ketentuan khusus yang bersumber dari
kitab-kitab hukum kuno itu.
Bagian terbesar dari maksud
ketentuan tersebut adalah pencegahan terjadinya kejahatan di
masa datang – “deterrent effects”.
Tujuan utama dari “deterrence” ini adalah pencegahan
terjadinya kejatan di masa mendatang.
Apa yang terkandung
dalam pemikiran itu ialah bahwa besarnya resiko dari setiap niat
untuk melakukan kejahatan akan menjadikan orang untuk tidak
tertarik melakukan kejahatan. Retribusi dan restritusi mencoba
untuk menegakkan kembali “status quo” yang telah sebelum
perilaku kejahatan terjadi. Pemindahan ke bentuk finansial akan
memunculkan petimbangan bahwa melakukan kejahatan tidak ada
untungnya sama sekali.
Sistem dasar penanganan perilaku kejahatan di atas masih
dapat ditemukan hingga abad pertengahan.
Walaupun sering
ketentuan secara perlahan-lahan mulai ditinggalkan dalam
perkembangannya. Dua faktor yang menandai berakhirnya sistem
peradilan korban ini.
Pertama, timbulnya gerakan kaum
bangsawan feudal (barons) untuk memindahkan tuntutan setiap
pembayaran ganti rugi pelaku kejahatan pada korban. Penguasapenguasa itu (kaum bangsawan- Barons) melihat uang ganti rugi
itu merupakan cara lukratif untuk meningkatkan ke kayaan
166
mereka sendiri.
Kaum Barons itu mengarahkan tujuan
pembayaran dari individu itu lewat pendefinisian kembali
perilaku kejahatan sebagai bentuk pelanggaran pada negara
(bukannya pada korban – pengertian korban dipindahkan dari
individu atau kelompok menjadi negara).
Strategi itu
menempatkan negara (yang tidak lain adalah para Barons itu
sendiri sebagai penguasa negara) sebagai pihak yang menderita
akibat terjadinya kejahatan.
ketentuan
perangkat
Korban disingkirkan dalam
hukumnya
dan
dirumuskan
bahwa
kedudukan korban adalah sebagai saksi bagi negara- saksi untuk
membuktikan
terjadinya
kejahatan
pada
negara
dan
pertanggungjawaban pelaku pada negara (bukan pada korban).
Dengan perangkat peraturan hukum yang demikian, maka negara
(dalam hal ini adalah Kaum Barons) dapat akses dalam kasuskasus kejahatan dan meraup keuntungan dari prinsip restitutif
model baru ini.
Ke dua, terjadinya perubahan sosial yang cepat.
Kehidupan masyarakat diwarnai suasana pedesaan yang agraris,
orang hidup dalam suasana yang kecil dan sederhana, menjalani
kehidupan di bidang pertanian, disibukkan dengan upaya untuk
memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Orang sebagian besar ada
yang berusaha memenuhi hidupnya sendiri, ada sebagian yang
lain hidup menggantungkan bantuan dari sanak keluarganya.
Kejahatan yang terjadi bukan saja menimpa korban individual
tetapi juga menimpa keluarga korban secara keseluruhan.
167
Masyarakat selanjutnya mengalami perkembangan, terutama
dengan terjadinya revolusi industri.
Kehidupan masyarakat
industrial memunculkan pola kehidupan masyarakat perkotaan,
luas dan meninggalkan kehidupan pendesaan dan pindah ke kotakota besar.
Mereka tinggal di lingkungan yang lebih ramai,
dilingkup orang-orang “asing”.
Para tetangganya tidak lagi
mengetahui kehidupan orang-orang disebelahnya.
Sebegitu
kehidupan menjadi kompleks, hubungan antar mereka pun lalu
mengarah pada sifat yang “depersonalized”. Ikatan internasional
yang mengikat dalam kehidupan kekerabatan pun menjadi sirna.
Dengan model masyarakat yang disebutkan belakangan,
praktek-praktek sistem peradilan korban (victim justice system)
pun lalu makin tidak popular lagi.
mengancam
masyarakat
Kejahatanpun mulai
“kepabrik-pabrikan”
yang
kini
menghubungkan orang-orang satu sama lain. Pada waktu yang
bersamaan
terjadi
pula
pergeseran
posisi
korban
secara
keseluruhan menuju pemusatan perhatian pada pelaku kejahatan
semata-mata.
Secara perlahan namun pasti sistem peradilan
Koran pun meredup hilang dan digantikan dengan sistem
peradilan pidana.
Kini, korban kejahatan menempati posisi sekedar sebagai
saksi dalam penanganan kejahatan oleh negera. Korban tidak lagi
menangani
masalahnya
dengan
caranya
sendiri
dalam
memberikan “retributif” dan “restitutif” dari pelaku kejahatan.
Korban harus minta masyarakat untuk berbuat perkembangan
168
penegakkan hukum formal, sistem peradilan pidana dan penjara di
masa
abad-abad
yang
lalu
telah
mencerminkan
adanya
kepentingan untuk melindungi Negara. Pada sebagian besarnya
sistem peradilan pidana telah melupakan korban dan kepentingan
terbaik korban.
Reemergensi Korban Kejahatan
Sistem peradilan pidana menghabiskan sebagian besar
waktu dan energinya untuk mengontrol terjadinya kejahatan.
Antisipasi terhadap kejahatan dilakukan dengan cara-cara
memahami perilaku kejahatan dan identifikasi sebab-sebab
terjadinya kejahatan dan kemudian “terungkap”
kedudukan
korban sebagai salah satu penyebab terjadinya kejahatan.
terjadi sekitar tahun 1940 an.
Ini
Korban dilihat bukan sebagai
hakikat individu yang memerlukan simpati dan perhatian,
melainkan sebagai pihak penyumbang bagi kematiannya sendiri.
Para pemerhati masalah perilaku kejahatan mulai memperhatikan
keterkaitan hubungan antara korban dan pelaku kejahatan dengan
harapan adanya pemahaman yang lebih baik agar permasalahan
terjadinya kejahatan.
Sebegitu kepentingan terhadap perlindungan korban mulai
merebak dan menarik perhatian kebanyakan para pakar, para
penulis mulai menggapainya lewat persoalan-persoalan yang
mendasar – viktimologi. Apakah viktimologi itu ? beberapa
pakar yakin bahwa viktimologi merupakan bidang khusus yang
berada dalam ranah kriminologi. Setelah itu, setiap kejahatan
169
secara definitif di dalamnya tercermin adanya pelaku dan korban.
Sementara pihak lain lebih melihat bahwa viktimologi merupakan
pokok bahasan yang lebih luas dan menyeluruh sehingga perlu
kajian tersendiri, terpisah dari kriminologi.
Diramalkan pada
saatnya nanti catalog keilmuan akan merumuskan daftar kajian
viktimologi sebagai pokok bahasan tersendiri, yang akan
mempelajari korban dari aspek atau ilmu biologi, psikologi,
matematik, politik dan subyek lain.
Para pemikir awal, bekerja dalam bidang viktimologi
cenderung memfokuskan perhatiannya pada upaya perumusan
tipologi korban.
Tipologi korban adalah satu kegiatan yang
berupaya untuk mengkategorisasikan pengamatan-pengamatan ke
dalam satu pengelompokan yang logis untuk memperoleh
pemahaman yang lebih baik dalam ranah dunia kemasyarakatan.
Hans von Hentig : Penjahat dan Korbannya
Pioner pertama di bindang viktimologi adalah seorang
pemikir Jerman bernama Hans von Hentig. Pemikir kriminologi
ini menghabiskan waktunya untuk mengungkap apa yang
menjadikan seorang sebagai penjahat.
Sebegitu ia mulai
memfokuskan perhatiannya pada korban kejahatan. Hentig mulai
merasa heran apa yang menjadikan seorang korban kejahatan.
Kuncinya menurutnya adalah hubungan timbal balik antara
penjatah dan korbannya.
Di dalam publikasinya yang pertama Hentig (1941)
mengklaim bahwa korban sering menyumbang terjadinya
170
kejahatan. Pesan Hentig sangat jelas. Pengujian sederhana hasil
dari suatu kejahatan kadang muncul, “image” yang terdistorsikan
akan siapa korban yang sesungguhnya dan siapa pelaku kejahatan
yang sesungguhnya.
Pengamatan lebih dekat atas dinamika
situasi yang melatarbelakangi, menunjukkan bahwa korban
seringkali menyumbang terjadinya proses viktimisasi atas dirinya.
Hentig
memperluas
pengertian
tentang
korban,
dinyatakannya bahwa korban adalah agen provokator terjadinya
kejahatan. Konstatasi ini dapat ditemukan dalam bukunya yang
berjudul “Penjahat dan Korbannya”.
Ia menjelaskan bahwa
“perhatian harus ditingkatkan pada fungsi provokator dari korban,
yang meliputi pengetahuan yang menyeluruh dan interrelasi
antara penjahat dan yang dijahati, melalui cara ini akan diperoleh
pemahaman dan pendekatan baru terhadap fenomena tersebut.
Hentig tidak menutup mata untuk meyakini bahwa dalam
hal tertentu sumbangan korban dalam terjadinya kejahatan selalu
bersifat
aktif.
Banyak
terjadinya
sumbangan
korban
memunculkan cirinya atau kedudukan sosial di luar control
individu bersangkutan.
Hasilnya, hentig mengklasifikasikan
adanya 13 kategori korban berdasarkan atas kecendrungankecendrungan/propensitas viktimisasinya.
Tipologi hentig tentang korban mencerminkan kondisi
ketidakberdayaan seseorang/kelompok tertentu untuk menghadapi
pelaku kejahatan karena ketidak beruntungan kondisi fisik, sosial
kejiwaan seseorang.
171
Tipologi hentig mengarah bukan pada konstatasi bahwa
korban selalu akan menyumbang terjadinya kejahatan, tetapi
terarah pada karakteristik korban yang secara potensial dapat
menyumbang terjadinya viktimisasi. Menurut hentig (1948) kita
harus menyadari bahwa “korban merupakan salah satu determinan
dan di situ saling keterkaitan kekejaman sering terkandung antara
kejahatan dan yang dijahati”.
TABEL 1
TIPOLOGI KORBAN (Hentig)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
TIPE
Generasi Muda
Kelompok Wanita
Kelompok Lansia
Kelompok Lemah
Mental
Kaum Imigran
Minoritas
Orang Terbelakang
Pikiran
Kelompok Orang
Tertekan
Kelompok Orang
Serakah
Kelompok Ceroboh
(Grusa-grusu)
Kelompok Kesepian &
Patah Hati
Penyiksa (tormentor)
Kelompok
Terblokir/marginal
BENTUK KONKRIT
Anak dan Bayi
Semua Perempuan
Orang Lanjut Usia
Penderita sakit jiwa, Pecandu Obat Bius,
Alkoholiks
Orang Asing hidup dalm Budaya
Setempat
Orang yang menderita karena rasnya
Orang feeble minded
Orang sakit kejiwaan
Orang licik yang ingin memperoleh
keuntungan dengan cepat
Orang dengan siapa saja mau
Janda, duda berkabung
Orang tua yang kejam
Korban pmerasan, pengasingan
speculator
172
Benyamin Mendelsohn : Refleksi Lanjutan
Beberapa pengamatan menyatakan bahwa Benyamin
Mendelsohn, seorang pengacara praktek, dipandang sebagai
“Bapak” viktimologi. Mendelsohn, seperti halnya Hentig, tertarik
pada dinamika yang terjadi antara korban dan pelaku kejahatan.
Sebelum mempersiapkan kasus perkaranya, ia bertanya pada
korban, saksi dan yang mewakili dalam suatu situasi untuk
mengisi daftar pertanyaan yang rinci dan mendalam.
Tabel 2 memperlihatkan daftar istilah umum yang
digunakan oleh para viktimologi.
TABEL 2
VOCABULARY VICTIMOLOGY (MENDELSOHN)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
ISTILAH
Victimhood
Victimizable
Victimization
Victimize
Victimizer
victimless
MAKNA
Keadaan sebagai korban
Memungkinkan untuk jadi korban
Mendudukan seseorang sebagai korban/fakta
dijadikan korban
Menjadikan korban menderita
terabaikan/termaginalisasikan
Seorang yang mengorbankan pihak lain.
Ketiadaan indentitas korban secara jelas
daripada pelakunya, misalnya situasi sebagai
pelacur, drug abuser.
Stephen Schaffer : Korban dan Penjahatnya
Ketertarikan para ahli pada korban dan peranan yang
mereka mainkan yang berkembang di sekitar tahun 1950-1960 an,
Stephen Schaffer memutarbalikkan karya Hentig, merevisinya
173
kearah peran korban dalam terjadinya kejahatan dan dimuat
dalam bukunya yang berjudul “The Victim and his Criminal”.
Konsep kunci pemikiran Schaffer seperti diistilahkan olehnya –
“pertanggungjawaban
fungsional”.
Sekali
lagi
muncul
kecendrungan studi yang menyangkut hubungan korban dan
pelaku kejahatan.
Seperti terlihat dalam Tabel 3 Schaffer melengkapinya
dengan tipologi yang dibangun atas dasar pertanggungjawaban
korban atas terjadinya kejahatan. Dalam hal ini, pengelompokan
Schaffer merupakan variasi dari katergorisasi Hentig (1948).
Perbedaanya terutama terletak pada culpabilitas korban. Hentig
mengidentifikasikannya berdasarkan atas berbagai faktor resiko.
Schaffer
secara
eksplisit
menyusunya
pertanggungjawaban dari berbagai korban.
atas
dasar
174
TABEL 3
TIPOLOGI PRECIPITASI KORBAN (SCHAFFER)
TIPE KORBAN
1. Unrelated Victim
2. Provocative
Victim
3. Precipitate Victim
4. Biologically Weak
Victim
5. Sosially Weak
Victim
6. Self – Victimizing
7. Political Victim
KETERANGAN
Korban sebagai sasaran pelaku kejahatan
Pelaku bereaksi terhadap gerakan atau
perilaku korban
Korban yang menempatkan dirinya untuk
terjadinya viktimisasi dirinya dalam situasi
berbahaya
Kelompok umur tertentu, anak muda yang
kondisi fisiknya memungkinkan dirinya
menjadi sasaran pelaku kejahatan.
Imigran,
minoritas,
yang
tak
terintegrasikan ke dalam masyarakat,
berposisi sebagai sasaran empuk pelaku
kejahatan.
Seseorang yang terlibat dalam kejahatan
tertentu, seperti drug abuser, pelacuran,
penjudi, dimana hubungan korban dan
pelaku kejahatan tak jelas.
Seseorang yang dikorbankan karena
dirinya berseberangan dengan kelompok
berkuasa
Studi Empiris Korban Presipitatif
Victim Precipitation, mempersoalkan tingkatan pada mana
korban bertanggungjawab atas viktimisasi dirinya. Keterlibatan
bisa bersifat pasif (seperti tipologi Hentig) atau aktif (klasifikasi
Mendelsohn).
Setiap tipologi dikemukakan dalam bagian ini
mengimplikasikan kontribusi korban sebagai faktor penyebab
175
terjadinya kejahatan. Upaya yang pantas memperoleh perhatian
dalam kaitan dengan studi empiris ini adalah karya Marvin E.
Wolfgang.
Wolfgang mengkaji data-data catatan polisi atas
kasus-kasus pembunuhan. Beberapa tahun kemudian salah satu
mahasiswa
Wolfgang
bernama
Menachem
Amir,
mengaplikasikan kerangka kerja gurunya untuk menganalisis
kasus-kasus perkosaan dengan kekerasan.
Martin E. Wolfgang : Pola Pelaku Pembunuhan
Dengan
menggunakan
data
pembunuhan
di
kota
Philadelphia, Wolfgang melaporkan bahwa 26% dari kasus
pembunhan yang terjadi dari tahun 1948-1952 merupakan akibat
dari precipitasi korban.
Wolfgang merumuskan korban
presipatatif kasus-kasus pembunuhan adalah mereka pada mana
korban adalah pihak yang pertama, dalam drama pembunuhan
yang menggunakan kekuatan fisik menyerang pembunuh korban.
Kasus-kasus presipitatif korban adalah mereka-mereka dimana
korban adalah yang pertama memperlihatkan dan menggunakan
senjata yang mematikan, mengarahkan pukulan dalam satu
pergulatan, singkatnya korbanlah yang pertama memulai
interplay yang akhirnya berbuntut kekerasan fisik itu.
Wolfgang, mengidentifikasikan beberapa faktor tipikal
presipitatif korban dalam kasus pembunuhan. Pertama, korban
dan pelaku biasanya telah menjalin hubungan interpersonal
sebelumnya. Tipe hubungan di sini, dapat berupa pasangan anak
laki-laki dengan pacarnya. Anggota keluarga dan teman-teman
176
dekat atau persahabatan.
Dengan kata lain, korban hampir
tewas/berada di tangan seseorang yang mereka telah kenal
sebelumnya daripada mereka yang asing terhadap korbannya.
Ke dua, pembunuhan sering merupakan hasil dari
ketidaksepakatan kecil yang meningkat hingga pada situasi lepas
kontrol dari masing-masing pihak. Perubahan itu dalam tingkatan
itu bisa terjadi dalam waktu singkat atau merupakan hasil dari
konfrontasi yang sudah berlangsung lama, misalnya seorang
suami telah memukul isterinya dalam berbagai peristiwa. Pada
situasi berikut, si isteri mengira bahwa suaminya akan
membawanya ke rumah sakit. Suami menolak dan perdebatan
ramai pun terjadi, selama berlangsungnya tamparan-tamparan
suami atas isterinya, si isteri lalu menghujamkan pisau dapur ke
tubuh suaminya.
Ke tiga, pecandu alkohol oleh korban, lazimnya
bersumber dari precipitasi korban pembunuhan.
Berbagai
kemungkinan dapat terjadi di dalam hal ini. Mungkin terjadi pada
seseorang yang termabukkan dan kehilangan daya tahannya,
mereka mengubar suara tentang apa yang ia rasakan.
Sering
pihak-pihak yang terlibat tak tahan dengan suara-suara itu dan
pada akhirnya berbuntut pada persengketaan yang membawa
kematian.
Wolfgang menegaskan bahwa “konota si korban
sebagai pihak yang lemah dan pasif, yang mencoba lari dari
situasi penyerangan dan pelaku adalah seseorang yang brutal, kuat
177
serta sangat agresif yang mencari korbanya, ternyata hal itu tidak
selalu benar”.
Menachim Amir : Pola Perkosaan dengan Kekerasan
Beberapa tahun kemudian, Menachem Amir mengkaji apa
yang kemudian menjadi analisis empiris kasus-kasus perkosaan
yang sangat kontroversial. Amir memperoleh data dari laporanlaporan polisi atas kasus-kasus perkosaan yang terjadi di
Philadelphia antara tahun 1958-1960 an. Berdasarkan atas rincian
data yang terdapat dalam laporan polisi itu ia menunjukkan bahwa
19% perkosaan dengan kekerasan terjadi karena precipitasi
korban.
Menurut Amir precipitasi korban dalam kasus-kasus
perkosaan menunjukkan situasi di mana:
Korban sesungguhnya atau dianggap menyetujui hubungan
seksual tetapi menarik diri sebelum kejadian senyatanya
terjadi atau bereaksi namun tidak begitu kuat ketika godaan
datang dari si pelaku, istilah menerapkan juga pada kasuskasus dalam situasi perkawinan yang riskan dalam kaitan
dengan seksualitas, khususnya ketika ia menggunakan
sesuatu yang dapat ditafsirkan sebagai ketidaksenonohan
dalam percakapan atau bahasa tubuh, atau difahami sebagai
ajakan untuk melakukan hubungan seksual.
Amir menyusun daftar berbagai faktor yang dapat
membantu precipitasi perilaku kejahatan.
Seperti juga halnya
temuan Wolfgang dalam kasus pembunuhan, penggunaan alkohol
khsusunya oleh korban.
Merupakan faktor utama dalam
178
precipitate rape. Resiko viktimisasi seksual meningkat ketika dua
pihak sama-sama kebanyakan minum.
Faktor penting lain, termasuk perbuatan menggoda oleh
korban, mengenakan pakaian menantang, bercakap-cakap dengan
bahasa merangsang, memiliki reputasi jelek, dan berbeda dalam
tempat dan waktu yang tak tepat.
Menurut Amir, perilaku-
perilaku tersebut dapat menggiurkan pelaku kejahatan hingga
pada tingkatan tertentu ia secara sembarangan menafsirkan
“jelek” gerakan korban, memiliki kebutuhan samar-samar
pengontrolan seksualitas hingga terjadi perkosaan atas dirinya.
Dalam penegasan kesimpulannya erat dengan masalah
“precipitation” ini Amir memberikan komentar berikut ini:
Akibat-akibat dari fakta bahwa pelaku tidak harus
dilihat sebagai penyebab tunggal, dan alasan atas perilaku
kejahatan, dan bahwa korban “virtuous” tidak selalu pihak
yang tak bersalah, atau pasif. Dengan demikian peran yang
dimainkan oleh korban dan sumbanganya pada perilaku
sipembuat menjadi satu kepentingan utama yang harus
menjadi bahan kajian disiplin viktimologi.
Kesimpulan analisis Amir ini ternyata mengundang
kritikan tajam dari berbagai pihak, misalnya dari Weis, Borges
dan Franklin. Yang disebut terakhir tampaknya menunjukkan
berbagai kelemahan substansi yang terkandung dalam kesimpulan
analisis Amir.
Pendekatan Baru : Viktimologi Umum
Ketertarikan pada masalah precipitasi korban dengan
segala
perpecahannya
dan
fragmentasinya,
mengancam
179
terhentinya perluasan wilayah perhatian terhadap masalah korban.
Tidak hanya kemajuan teoritikal menimbulkan kekhawatirankekhawatiran apakah viktimologi harus turun tahta dari
kedudukannya sebagai kajian akademik.
Meskipun demikian,
antidote muncul dari diskusi-diskusi yang berlangsung ketika
diselenggarakannya Seminar Internasional di Bellagio, musim
panas, tahun 1975. Disana lahirlah istilah “viktimologi umum”
atau “general victimology”.
TABEL 4
TINGKATAN PRECIPITASI DALAM PEMBERIAN
KERANGKA PERTANGGUNGJAWABAN RELATIF
KORBAN DAN PELAKU
TINGKATAN NIAT
PELAKU
Pertimbangan
mendalam
Niat besar
Niat kecil/tak ada
niat
TINGKATAN KETERLIBANTAN KORBAN
PROVOKASI
TERLIBAT
BANYAK
SEDIKIT
Sama besar
Pelaku lebih
Tanggungjawab
banyak
pada pelaku
terlibat
Lebih besar
Lebih besar pada
pada korban
Sama besar
pelaku
Murni
precipitasi
korban
Lebih besar
pada korban
Sama besar
Pembenahan yang diusulkan oleh Benyamin Mendelsohn
adalah dengan mengeluarkan viktimologi dari kriminologi dan
menjadikannya sebagai disiplin tersendiri.
Seperti telah
dikemukakan di muka, banyak terjadi perdebatan di kalangan para
ahli, apakah viktimologi harus berdiri sendiri atau tetap berada
180
dibawah bayang-bayang kriminologi.
Mendelsohn berusaha
meyakinkan bahwa viktimologi dapat lepas dari kriminologi
dengan sebutan “General Victimology”.
Menurut Mendelsohn, para viktimolog harus melakukan
penyidikan sebab-sebab terjadinya viktimisasi untuk menemukan
cara mengatasi yang efektif. Sejauh manusia dideritakan oleh
berbagai faktor penyebab, pemfokusan viktimisasi penjahat akan
menjadi perspektif kajian yang sangat sempit. Istilah yang lebih
mengglobal, seperti halnya viktimologi sangat dibutuhkan untuk
mengungkap kebenaran makna bidang viktimologi.
Menurut Mendelsohn, General Victimology merumuskan
lima (5) tipe korban, yaitu:
a. Korban dari penjahat
b. Korban dari diri sendiri
c. Korban dari lingkungan sosial
d. Korban dari teknologi
e. Korban dari lingkungan alam
Kategori pertama, telah menerangkan dalam istilahnya
sendiri. Katergori ini telah menjadi perbincangan para viktimolog
dalam studinya.
“Selt-victimization” termasuk di dalam
pengertian ini bunuh diri, dan penderitaan-penderitaan lain yang
dialami korban karena dirinya sendiri.
Istilah korban dari
lingkungan sosial mengarah pada penderitaan seseorang atau
kelompok tertentu di masyarakat. Beberapa contoh di sini adalah
diskriminasi rasial, kasta, genocide dan korban perang. Korban
181
teknologi adalah mereka yang jatuh dari kehidupan masyarakat
karena banyaknya temuan-temuan baru.
Kecelakaan nuklir
misalnya, pengujian acak terhadap obat-obatan, pencemaran
industrial, dan sebagainya.
Akhirnya korban dari lingkungan
alam, adalah mereka yang terderitakan karena bencana banjir,
gempa bumi, letusan gunung api, dan sebagainya.
Senada dengan rumusan Mendelsohn adalah rumusan dari
Smith dan Weis yang mengusulkan cara pandang luas dari
wilayah kajian “General Victimology” seperti terpampang dalam
Tabel V yang menggambarkan adanya empat (4) pokok bahasan
utama. Disitu termasuk antaranya kreasi batasan dari korban,
pengaplikasian batasan korban itu, reaksi Korban setelah
terjadinya viktimisasi atas dirinya dan reaksi sosial terhadap
korban.
Apabila diamati, pandangan-pandangan dalam konteks
“general victimology” tampak dalam kajiannya menjadi luas dan
implikasinya pun sangat menyebar tak fokus.
Sebagaimana
dikatakan oleh Mendelsohn berikut ini:
Seperti juga halnya obat mengobati, semua pasien dan semua
perawat demikian juga halnya dengan kriminologi yang
tertarik pada semua pelaku kejahatan dan semua bentuk
kejahatan, maka viktimologi pun harus mengarahkan
perhatiannya pada semua korban dan semua aspek viktimitas
di mana masyarakat menaruh perhatian padanya.
182
TABEL 5
MODEL UMUM WILAYAH PENELITIAN DAN APLIKASI VIKTIMOLOGI
Situasi umum, kejadian dan proses yang
dapat memungkinkan munculnya situasi
viktimisasi
A. STUDI TENTANG
Kreasi pendefinisian korban
dalam:
a. Proses hukum
b. Proses keseharian
c. Proses keilmuan
C. STUDI TENTANG
Tanggapan masyarakat:
sistem penanganan korban
a. Intervensi krisis
b. Pelayanan sosial
c. Polisi
d. Pencegahan
e. Medis
f. Pengadilan perdata
B. STUDI TENTANG
Aplikasi pendefinisian oleh
a. Agen kontrol
b. Significant others
c. Masyarakat
d. Psikolog & sosiolog
e. Korban sendiri
f.
D. STUDI TENTANG
Reaksi korban: perilaku postvictimization
a. Mencari pertolongan
b. Mengadu (complaint)
c. Reaksi terhadap
tanggapan pihak lain
Oleh : Smith and Weis : 4 bahasan General Victimology
183
Viktimologi Kritis
Satu kecendrungan terakhir dalam viktimologi adalah
pergeseran fokus perhatian viktimologi dari hal-hal yang bersifat
umum menuju kearah apa yang disebut sebagai Viktimologi
Kritis (Critical Victimology). Alasan yang mendorong pemikiran
ini menegaskan bahwa karena kegagalan viktimologi untuk
mengajukan pertanyaan dasar yang menyangkut tentang apa yang
dimaksudkan sebagai kejahatan, melupakan pertanyaan dasar
mengapa perilaku tertentu dijatuhi sanksi dan akibatnya. Itu
semua
pada
akhirnya
viktimologi salah arah.
telah
mengarahkan
perkembangan
Mawby dan Walkiate, merumuskan
viktimologi kritis sebagai:
Viktimologi yang mencoba menguki konteks sosial yang
lebih luas dimana berbagai versi viktimologi telah menjadi
begitu dominan dari pada bidang lain dan juga untuk
memahami bagaimana versi-versi viktimologi tersebut
terjalin dengan pertanyaan yang menyangkut tanggapan
yang bersifat kebijakan dan pelayanan yang diberikan
kepada korban kejahatan.
Titik sentral perhatian viktimologi, kemudian daripada itu,
ialah permasalahan tentang bagaimana dan mengapa perilaku
tertentu didefinisikan sebagai penjahat dan akibatnya, bagaimana
keseluruhan bidang viktimologi menjadi terfokuskan pada satu set
aksi nyata. Pemikiran ini tidaklah jauh berbeda dari kategorisasi
Mendelsohn yaitu “korban dan lingkungan sosial” Mawby dan
Walklate, menandaskan bahwa kebanyakan kejahatan diperbuat
oleh kekuatan dominan dalam masyarakat yang lazimnya tidak
184
terlingkupi oleh hukum pidana. Akibatnya korban dan kejahatan
mereka
itupun tidak
termasuk ke dalam
diskusi-diskusi
viktimologi.
Melalui viktimologi kritis, kebanyakan dari orientasi
korban cenderung mengarah pada keberadaan definisi kejahatan
yang cenderung melupakan pertanyaan dasar menyangkut faktor
sosial
yang
menjadi
sebab
meningkatnya
aksi-aksi
dan
tanggapan-tanggapan. Alasan kegagalan itu bersifat multificent.
Faktor penyumbang salah satunya ialah ketergantungan pada
definisi resmi dan data dari berbagai analisis permasalah korban.
Kecendrungan-kecendrungan
itu
menjadikan
terlupakannya
pertanyaan dasar yang menyangkut sosial setting daripada
timbulnya korban kejahatan.
Faktor lain adalah kemampuan
agensi-agensi yang ada untuk kooptasi dan mendukung terhadap
gerakan-gerakan baru di masyarakat (seperti hak-hak anak, hakhak perempuan dan sebagainya) ke dalam sistem kontrol sosial
yang sudah ada. Argumentasi radikal ialah bahwa pengawasan
dari peradilan pidana dan viktimologi berada di tangan kekuatan
dominan dalam masyarakat yang melihat pendekatan-pendekatan
kritis sebagai ancaman atas posisi status quo kelompok dominan
tersebut.
Sementara itu viktimologi kritis menawarkan berbagai
pokok-pokok bahasan yang menarik dan mengangkat secara
potensial viktimologi, perdebatan-perdebatan yang mengusulkan
pokok-pokok bahasan di luar itupun masih tetap terjadi. Berbagai
185
pokok bahasan pada keseluruhan teks ini akan meningkatkan isu
permasalahan yang sangat relevan pada pendekatan kritis itu.
Sebagai contoh, diskusi-diskusi socio-kultural tentang mengapa
kekerasan terjadi dan penyidikan terhadap tantangan programprogram terhadap korban.
Gerakan-gerakan
yang
menyangkut
korban
dan
perlindungannya tampak antara lain dari “The Women’s
Movement” sekitar pertengahan tahun 1960 an memfokuskan
kegiatannya pada perlindungan wanita korban perkosaan dan
pelecehan seksual (Children‟s Right), tahun yang sama,
memfokuskan diri pada anak-anak korban penyalahgunaan anak
oleh orang dewasa, (Victim Compensation) yang terarah pada
penyusunan metode pemberian ganti rugi pada kerugian yang
diderita korban, dan (Legal Reform) berupa untuk menempatkan
posisi korban baik lewat pemberian peran korban, pemberian
ganti rugi pada korban, pemberian pertolongan pada korban
kejahatan dan sebagainya.
D. Ruang Lingkup Viktimologi
Viktimologi meneliti topik-topik tentang korban, seperti: peranan
korban pada terjadinya tindak pidana, hubungan antara pelaku
dengan korban, rentannya posisi korban dan peranan korban
dalam sistem peradilan pidana. Selain itu, menurut Muladi
viktimologi merupakan suatu studi yang bertujuan untuk:
1. Menganalisis pelbagai aspek yang berkaitan dengan korban;
2. Berusaha untuk memberikan penjelasan sebab musabab
terjadinya viktimasi;
186
3. Mengembangkan sistem tindakan guna mengurangi
penderitaan manusia.
Menurut J.E Sahetapy, ruang lingkup viktimologi meliputi
bagaimana seseorang (dapat) menjadi korban yang ditentukan
oleh suatu victimity yang tidak selalu berhubungan dengan
masalah kejahatan, termasuk pula korban kecelakaan, dan
bencana alam selain dari korban kejahatan dan penyalahgunaan
kekuasaan. Namun, dalam perkembangannya di tahun 1985,
Separovic mempelopori pemikiran agar viktimologi khusus
mengkaji korban karena adanya kejahatan dan penyalahgunaan
kekuasaan dan tidak mengkaji korban karena musibah atau
bencana alam karena korban bencana alam di luar kemauan
manusia (out of man‟s will).
Kejahatan yang mengakibatkan korban sebagai objek
kajian viktimologi semakin luas setelah Kongres PBB Kelima di
Geneva tahun 1975, Kongres Keenam Tahun 1980 di Caracas,
yang meminta perhatian bahwa korban kejahatan konvensional
seperti pemerasan, pencurian, penganiayaan, dan lainnya, tetapi
juga kejahatan inkonvensional, seperti terorisme, pembajakan dan
kejahatan kerah putih.
Dalam Kongres PBB Kelima di Geneva tahun 1975
dihasilkan kesepakatan untuk memerhatikan kejahatan yang
disebut sebagai crime as business, yaitu kejahatan yang bertujuan
mendapatkan keuntungan materiil melalui kegiatan dalam bisnis
atau industri yang pada umumnya dilakukan secara terorganisasi
dan dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan
terpandang dalam masyarakat, seperti pencemaran lingkungan,
perlindungan konsumen, perbankan dan kejahatan-kejahatan lain
yang biasa dikenal sebagai organized crime, white collar crime,
dan korupsi.
187
Dalam Kongres PBB Keenam tahun 1980 di Caracas
dinyatakan
bahwa
kejahatan-kejahatan
yang
sangat
membahayakan dan merugikan bukan hanya kejahatan-kejahatan
terhadap nyawa, orang, dan harta benda, tetapi juga
penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), sedangkan dalam
Kongres PBB Ketujuh tahun 1985, menghasilkan kesepakatan
untuk memerhatikan kejahatan-kejahatan tertentu yang dianggap
atau dipandang membahayakan seperti economic crime,
environmental offences, illegal trafficking in drugs, terrorism,
apartheid, dan industrial crime.
RANGKUMAN
1. Secara terminologi, viktimologi berarti suatu studi yang
mempelajari tentang korban, penyebab timbulnya korban dan
akibat-akibat penimbulan korban yang merupakan masalah
manusia sebagai suatu kenyataan sosial. Jadi viktimologi
merupakan suatu pengetahuan ilmiah/studi yang mempelajari suatu
viktimisasi (kriminal) sebagai suatu permasalahan manusia yang
merupakan suatu kenyataan sosial.
2. Perkembangan viktimologi dibagi dalam tiga fase. Pada tahap
pertama, viktimologi hanya mempelajari korban kejahatan (penal
or special victimology). Fase kedua, viktimologi tidak hanya
mengkaji masalah korban kejahatan, tetapi juga meliputi korban
kecelakaa (general victimology). Fase ketiga, viktimologi sudah
berkembang lebih luas lagi, yaitu mengkaji permasalahan korban
karena penyalahgunaan kekuasaan dan hak-hak asasi manusia (new
victimology).
3. Viktimologi yang pada mulanya berwawasan sempit sebagaimana
dikemukakan oleh von Hentig dan Mendelsohn, kemudian
dikembangkan oleh Mendelsohn. Selanjutnya viktimologi yang
berinklusif wawasan hak-hak asasi manusia (juga disebut the new
188
victimology) dikembangkan oleh Elias, kemudian diperluas lagi
sehingga mencakup penderitaan manusia (kemanusian) oleh
Separovic. New Victimology ini bertujuan untuk menganalisis
pelbagai aspek yang berkaitan dengan korban, berusaha untuk
memberikan penjelasan sebab musabab terjadinya viktimisasi; dan
mengembangkan sistem tindakan guna mengurangi penderitaan
manusia.
4. Ruang lingkup viktimologi meneliti topik-topik tentang korban,
seperti: peranan korban pada terjadinya tindak pidana, hubungan
antara pelaku dengan korban, rentannya posisi korban dan peranan
korban dalam sistem peradilan pidana.
LATIHAN
1. Jelaskan pengertian viktimologi dan menyebutkan objek
pengkajiannya?
2. Sebutkan dan uraikan 3 (tiga) fase perkembangan
viktimologi?
3. Mengapa persoalan korban dilupakan?
4. Jelaskan bagaimana peranan korban terhadap timbulnya
kejahatan menurut para sarjana?
5. Jelaskan ruang lingkup kajian viktimologi menurut Prof.
Muladi?
GLOSSARIUM
1. Viktimisasi kriminal adalah suatu proses timbulnya korban
kejahatan.
2. Penal or special victimology adalah viktimologi hanya
mempelajari korban kejahatan saja.
3. General victimology adalah viktimologi tidak hanya mengkaji
masalah korban kejahatan, tetapi juga meliputi korban kecelakaan.
189
4. New victimology dimana viktimologi sudah berkembang lebih
luas lagi, yaitu mengkaji permasalahan korban karena
penyalahgunaan kekuasaan dan hak-hak asasi manusia.
5. Crime as business yaitu kejahatan yang bertujuan mendapatkan
keuntungan materiil melalui kegiatan dalam bisnis atau industri
yang pada umumnya dilakukan secara terorganisasi dan dilakukan
oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan terpandang dalam
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Gosita, 1993, Masalah Korban Kejahatan, Akademika Pressindo,
Jakarta.
Chaerudin dan Syarif Fadillah, 2004, Korban Kejahatan dalam
Perspektif Viktimologi dan Hukum Pidana Islam, Cetakan
Pertama, Ghalia Press, Jakarta.
Made Darma Weda, 1995, Beberapa Catatan tentang Korban
Kejahatan Korporasi, dalam Bunga Rampai Viktimisasi,
Eresco, Bandung.
Muladi, disampaikan pada seminar viktimologi di Universitas
Airlangga Surabaya, tanggal 28-29 Oktober 1988 dari Prof.
Muladi, S.H., Dr. Barda Nawawi Arief, S.H., 1992, Bunga
Rampai Hukum Pidana, Alumni, Bandung.
---------------, 2002, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Badan
Penerbit universitas Dipenogoro, Semarang.
Prassel, Frank R., 1979, Criminal Law, Justice, and Society, Goodyear
Publishing Company Inc., Santa Monica California.
190
Suryono Ekotama, ST. Harum Pudjianto, RS., G. Widiartama, 2000,
Abortus Provocatus Bagi Korban Perkosaan Perspektif
Viktimologi , Kriminologi dan Hukum Pidana, Universitas
Atmajaya,Yogyakarta.
191
BAB VIII
KORBAN DAN KEJAHATAN
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan
mahasiswa mampu memahami Pengertian Korban, Tipologi
Korban, Manfaat Viktimologi, dan Hubungan Korban dan
Kejahatan.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan pengertian korban dan tipologi korban.
2. Menyebutkan Hak dan Kewajiban Korban.
3. Menjelaskan manfaat viktimologi.
4. Menjelaskan
hubungan
viktimologi
dengan
kriminologi.
5. Menjelaskan hubungan viktimologi dengan ilmu
hukum.
A. Korban
Proses pemidanaan melalui sistem peradilan pidana, korban
sering diabaikan, tak diberikan peran yang memadai. Padahal
seperti telah sering terdengar dalam perkembangan perbincangan
tentang pelakuan kejahatan, korban merupakan bagian yang tak
terpisahkan , korban adalah bagian integral dalam kaitan dengan
kejadiannya perilaku kejahatan, pelaku dan korban. Baru pada
tahun-tahun belakangan ini, terjadi peningkatan ketertarikan di
kalangan para penstudi untuk lebih memahami peranan korban
kejahatan (bukan saja sebagai bagian dari upaya untuk
menunjukan kesalahan pelaku kejahatan) melainkan ditempatkan
192
secara lebih proporsional dan bahkan diintegritasikan sebagai
bagian dari sistem peradilan pidana.
Pentingnya
pengertian
korban
diberikan
dalam
pembahasan ini adalah untuk sekadar membantu dalam
menentukan secara jelas batas-batas yang dimaksud oleh
pengertian tersebut sehingga diperoleh kesamaan cara pandang.
Korban suatu kejahatan tidaklah selalu harus berupa
individu atau orang perorangan, tetapi bisa juga berupa kelompok
orang, masyarakat, atau juga badan hukum. Bahkan pada
kejahatan tertentu, korbannya bisa juga berasal dari bentuk
kehidupan lainnya seperti tumbuhan, hewan ataupun ekosistem.
Korban semacam ini lazimnya kita temui dalam kejahatan
terhadap lingkungan. Namun, dalam pembahasan ini, korban
sebagaimana dimaksud terakhir tidak termasuk di dalamnya.
Berbagai pengertian korban banyak dikemukakan baik
oleh para ahli maupun bersumber dari konvensi-konvensi
internasional yang membahas mengenai korban kejahatan,
sebagian di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Arief Gosita
Menurutnya, korban adalah mereka yang menderika jasmaniah
dan rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari
pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang
bertentangan dengan kepentingan hak asasi pihak yang
dirugikan.137
b. Ralph de Sola
Korban (victim) adalah “…person who has injured mental or
physical suffering, loss of property or death resulting from an
137
Arief Gosita, Masalah Korban Kejahatan, op.cit., hlm. 63
193
c.
d.
e.
f.
actual or attempted criminal offense committed by
another…”138
Cohen
Korban (victim) adalah “…whose pain and suffering have been
neglected by the state while it spends immense resources to
hunt down and punish the offender who responsible for that
pain and suffering.”139
Z.P. Separovic
Korban (victim) adalah “…the person who are threatened,
injured or destroyed by an actor or omission of another (mean,
structure, organization, or institution) and consequently; a
victim would be anyone who has suffered from or been
threatened by a punishable act (not anly criminal act but also
other punishable acts as misdemeanors, economic offences,
non fulfillment of work duties) or an accidents. Suffering may
be caused by another man or another structure, where people
are also involved”.
Muladi
Korban (victim) adalah orang-orang yang baik secara
individual maupun kolektif telah menderita kerugian, termasuk
kerugian fisik atau mental, emosional, ekonomi, atau gangguan
substansial terhadap hak-haknya yang dundamental, melalui
perbuatan atau komisi yang melanggar hukum pidana di
masing-masing Negara, termasuk penyalahgunaan kekuasaan.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan dalam Rumah Tangga
138
Ralph de Sola, Crime Distionary, Facts on File Publication, New York
1998), hlm. 188.
139
Cohen dan Romli Atmasasmita, Masalah Santunan Korban Kejahatan,
BPHN, Jakarta, tanpa tahun, hlm. 9.
194
Korban adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau
ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga.
g. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2004 tentang Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi
Korban adalah orang perorangan atau kelompok orang yang
mengalami penderitaan, baik fisik, mental, maupun emosional,
kerugian ekonomi, atau mengalami pengabaian, pengurangan,
atau perampasan hak-hak dasarnya, sebagai akibat pelanggaran
hak asasi manusia yang berat, termasuk korban adalah ahli
warisnya.
h. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara
Perlindungan terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran
Hak Asasi Manusia yang berat.
Korban adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang
mengalami penderitaan sebagai akibat pelanggaran hak asasi
manusia yang berat yang memerlukan perlindungan fisik dan
mental dari ancaman, gangguan, terror, dan kekerasan pihak
mana pun.
i. Deklarasi PBB dalam The Declaration of Basic Principle of
Justice for Victims of Crime and Abuse of Power 1985
Korban (victims) means persons who, individually or
collectively, have suffered harm, including phydical or mental
injury, emotional suffering, economic loss or substantial
impairment of their fundamental rights, through acts or
omission of criminal laws operative within Member State,
including those laws proscribing criminal abuse of
power”…through acts or omissions that do not yet constitute
violations of national criminal laws but of nternationally
recognized norms relating to human rights.
Dengan mengacu pada pengertian-pengertian korban di
atas, dapat dilihat bahwa korban pada dasarnya tidak hanya orang
195
perorangan atau kelompok yang secara langsung menderita akibat
dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerugian/penderitaan
bagi diri/kelompok, bahkan, lebih luas lagi termasuk di dalamnya
keluarga dekat atau tanggungan langsung dari korban dan orangorang yang mengalami kerugian ketika membantu korban
mengatasi penderitaannya atau untuk mencegah viktimisasi.
Mengenai kerugian korban, Separovic mengatakan bahwa
kerugian korban yang harus diperhitungkan tidak harus selalu
berasal dari kerugian karena menjadi korban kejahatan, tetapi
kerugian atas terjadinya pelanggaran atau kerugian yang
ditimbulkan karena tidak dilakukannya suatu pekerjaan. Walaupun
yang disebut terakhir lebih banyak merupakan persoalan perdata,
pihak yang dirugikan tetap saja termasuk dalam kategori korban
karena ia mengalami kerugian baik secara materiil maupun secara
mental.
B. Tipologi Korban
Perkembangan ilmu viktimologi selain mengajak
masyarakat untuk lebih memerhatikan posisi korban juga memilihmilih jenis korban hingga kemudian muncullah berbagai jenis
korban, yaitu sebagai berikut:
a. Nonparticipating victims, yaitu mereka yang tidak peduli
terhadap upaya penanggulangan kejahatan
b. Latent victims, yaitu mereka yang mempunyai sifat karakter
tertentu sehingga cenderung menjadi korban
c. Procative victims, yaitu mereka yang menimbulkan ransangan
terjadinya kejahatan.
d. Participating victims, yaitu merka yang dengan perilakunya
memudahkan dirinya menjadi korban
e. False victimis, yaitu mereka yang menjadi korban karena
perbuatan yang dibuatnya sendiri.
196
Tipologi korban sebagaimana dikemukakan di atas,
memiliki kemiripan dengan tipologi korban yang diidentifikasi
menurut keadaan dan status korban, yaitu sebagai berikut:
a. Unrelated victims, yaitu korban yang tidak ada hubungannya
sama sekali dengan pelaku, misalnya pada kasus kecelakaan
pesawat. Dalam kasus ini tanggung jawab sepenuhnya terletak
pada pelaku.
b. Provocative victims, yaitu seseorang yang secara aktif
mendorong dirinya menjadi korban, misalnya pada kasus
selingkug, di mana korban juga sebagai pelaku.
c. Participating victims, yaitu seseorang yang tidak berbuat akan
tetapi dengan sikapnya justru mendorong dirinya menjadi
korban.
d. Biologically weak victims, yaitu mereka yang secara fisik
memiliki kelemahan yang menyebabkan ia menjadi korban.
e. Sosially weak victims, yaitu mereka yang memiliki kedudukan
sosial yang lemah yang menyebabkan ia menjadi korban.
f. Self victimizing victims, yaitu mereka yang menjadi korban
karena kejahatan yang dilakukannya sendiri, misalnya korban
obat bius, judi, aborsi, prostitusi.140
Pengelompokan korban menurut Sellin dan Wolfgang,
yaitu sebagai berikut:
a. Primary victimization, yaitu korban berupa individu atau
perorangan (bukan kelompok)
b. Secondary victimization,yaitu korban kelompok, misalnya
badan hukum
c. Tertiary victimization, yaitu korban masyarakat luas
140
Schafer dan Separovic sebagaimana dikutip dari Chaerudin dan Syarif
Fadillah, op.cit., hlm. 42, Suryono Ekotama, ST. Harum Pudjianto. RS., dan G.
Wiratama, op.cit., hlm. 176-177
197
d. No victimization, yaitu korban yang tidak dapat diketahui,
misalnya konsumen yang tertipu dalam menggunakan suatu
produk
Dilihat dari peranan korban dalam terjadinya tindak
pidana, Stephen Schafer mengatakan pada prinsipnya terdapat
empat tipe korban, yaitu sebagai berikut:
a. Orang yang tidak mempunyai kesalahan apa-apa, tetapi tetap
menjadi korban
b. Korban secara sadar atau tidak sadar telah melakukan sesuatu
yang merangsang orang lain untuk melakukan kejahatan untuk
tipe ini, korban dinyatakan turut mempunyai andil dalam
terjadinya kejahatan sehingga kesalahan terletak pada pelaku
dan korban.
c. Mereka yang secara biologis dan sosial potensial menjadi
korban anak-anak, orang tua, orang yang cacat fisik atau
mental, orang miskin, golongan minoritas dan sebagainya
merupakan orang-orang yang mudah menjadi korban. Korban
dalam hal ini tidak dapat disalahkan, tetapi masyarakatlah
yang harus bertanggung jawab.
d. Korban karena ia sendiri merupakan pelaku inilah yang
dikatakan sebagai kejahatan tanpa korban.
Pelacuran,
perjudian, zina, merupakan beberapa kejahatan yang tergolong
kejahatan tanpa korban. Pihak yang bersalah adalah korban
karena ia juga sebagai pelaku.
C. Hak-Hak Korban
Setiap hari masyarakat banyak memperoleh informasi
tentang berbagai peristiwa kejahatan, baik yang diperoleh dari
berbagai media massa cetak maupun elektronik. Peristiwaperistiwa kejahatan tersebut tidak sedikit menimbulkan
berbagai penderitaan/kerugian bagi korban dan juga
keluarganya.
198
Guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi
masyarakat dalam beraktifitas, tentunya kejahatan-kejahatan
ini perlu ditanggulangi baik melalui pendekatan yang sifatnya
preemptif, preventif maupun represif, dan semuanya harus
ditangani secara professional serta oleh suatu lembaga yang
berkompeten.
Berkaitan dengan korban kejahatan, perlu dibentuk
suatu lembaga yang khusus menanganinya. Namun, pertamatama perlu disampaikan terlebih dahulu suatu informasi yang
memadai mengenai hak-hak apa saja yang dimiliki oleh korban
dan keluarganya, apabila dikemudian hari mengalami kerugian
tau penderitaan sebagai akibat dari kejahatan yang menimpa
dirinya.
Hak merupakan suatu yang bersifat pilihan (optional),
artinya bisa diterima oleh pelaku bisa juga tidak, tergantung
kondisi yang memengaruhi korban baik yang sifatnya internal
maupun eksternal.
Tidak jarang ditemukan seseorang yang mengalami
penderitaan (fisik, mental atau materiil) akibat suatu tindak
pidana yang menimpa dirinya, tidak mempergunakan hak-hak
yang seharusnya dia terima karena sebagai alasan, misalnya
perasaan takut dikemudian hari masyarakat menjadi tahu
kejadian yang menimpa dirinya (karena kejadian ini
merupakan aib bagi dirinya maupun keluarganya) sehingga
lebih baik korban menyembunyikannya, atau korban menolak
untuk mengajukan ganti kerugian karena dikhawatirkan
prosesnya akan menjadi semakin panjang dan berlarut-larut
yang dapat berakibat pada timbulnya penderitaan yang
berkepanjangan.
Sekalipun demikian, tidak sedikit korban atau
keluarganya mempergunakan hak-hak yang telah disediakan.
199
Ada beberapa hak umum yang disediakan bagi korban atau
keluarga korban kejahatan, yang meliputi:
a. Hak untuk memperoleh ganti kerugian atas penderitaan
yang dialaminya. Pemberian ganti kerugian ini dapat
diberikan oleh pelaku atau pihak lainnya, seperti Negara
atau lembaga khusus yang dibentuk untuk menangani
masalah ganti kerugian korban kejahatan.
b. Hak untuk memperoleh pembinaan dan rehabilitasi
c. Hak untuk memperoleh perlindungan dari ancaman pelaku
d. Hak utnuk memperoleh bantuan hukum
e. Hak untuk memperoleh kembali hak (harta) miliknya
f. Hak untuk memperoleh akses atas pelayanan medis
g. Hak untuk diberitahu bila pelaku kejahatan akan
dikeluarkan dari tahanan sementara, atau bila pelaku buron
dari tahanan
h. Hak untuk memperoleh informasi tentang penyidikan polisi
berkaitan dengan kejahatan yang menimpa korban
i. Hak atas kebebasan pribadi/kerahasiaan pribadi, seperti
merahasiakan nomor telepon atau identitas korban lainnya.
Berdasarkan Pasal 10 dari Undang-udang No. 23 Tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
(KDRT), korban berhak mendapatkan:
a. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan,
pengadilan, advocate, lembaga sosial, atau lainnya baik
sementara maupun berdasarkan penetapan perintah
perlindungan dari pengadilan;
b. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis;
c. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan
korban;
200
d. Pendapingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada
setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan
e. Pelayanan bimbingan rohani.
Deklarasi
Perserikatan
Bangsa-Bangsa
Nomor
40/A/Res/34 Tahun 1985 juga telah menetapkan bebarapa hak
korban (saksi) agar lebih mudah memperoleh akses keadilan,
khususnya dalam proses peradilan, yaitu:
a. Compassion, respect and recognition
b. Receive information and explanation about the progress of
the case
c. Provide information
d. Providing proper assistance
e. Protection of privacy and physical safety
f. Restitution and compensation
g. To access to the mechanism of justice sistem.
D. Kewajiban Korban
Sekalipun hak-hak korban kejahatan telah tersedia
secara memadai, mulai dari hak atas bantuan keuangan
(financial) hingga hak atas pelayanan medis dan bantuan
hukum, tidak berarti kewajiban dari korban kejahatan
diabaikan eksistensinya karena melalui peran korban dan
keluarganya diharapkan penanggulangan kejahatan dapat
dicapai secara signifikan.
Untuk itu, ada beberapa kewajiban umum dari korban
kejahatan, antara lain:
a. Kewajiban untuk tidak melakukan upaya main hakim
sendiri/balas
dendam
terhadap
pelaku
(tindakan
pembalasan)
201
b. Kewajiban untuk mengupayakan pencegahan dari
kemungkinan terulangnya tindak pidana
c. Kewajiban untuk memberikan informasi yang memadai
mengenai terjadinya kejahatan kepada pihak yang
berwenang
d. Kewajiban untuk tidak mengajukan tuntutan yang terlalu
berlebihan kepada pelaku
e. Kewajiban untuk menjadi saksi atas suatu kejahatan yang
menimpa dirinya, sepanjang tidak membahayakan bagi
korban dan keluarganya
f. Kewajiban untuk membantu berbagai pihak yang
berkepentingan dalam upaya penanggulangan kejahatan.
g. Kewajiban untuk bersedia dibina atau membina diri sendiri
untuk tidak menjadi korban lagi.
E. Kejahatan
Pengertian kejahatan (crime) sangatlah beragam, tidak
ada definisi baku yang di dalamnya mencakup semua aspek
kejahatan secara komprehensif.
Ada yang memberikan
pengertian kejahatan dilihat dari aspek yuridis, sosiologis,
maupun kriminologis.
Munculnya perbedaan dalam mengartikan kejahatan
dikarenakan perspektif orang dalam memandang kejahatan
sangat beragam, di samping tentunya perumusan kejahatan
akan sangat dipengaruhi oleh jenis kejahatan yang akan
dirumuskan. Sebagai contoh pengertian kejahatan korporasi
(corporate crime), jenis kejahatan ini acapkali digunakan
dalam pelbagai konteks dan penamaan.
Tidaklah
mengherankan kalau di Amerika Serikat, di mana setiap
Negara bagian menyusun perundang-undangannya, terdapat
202
lebih kurang 20 perumusan yang bertalian dengan kejahatan
korporasi.
Secara etimologi kejahatan adalah bentuk tingkah laku
yang bertentangan dengan moral kemanusian. Kejahatan
merupakan suatu perbuatan atau tingkah laku yang sangat
ditentang oleh masyarakat dan palng tidak disukai oleh rakyat.
Black menyatakan bahwa crime is a sosial harm that
the law makers punishable; the breach of a legal duty treated
as the subject matter of a criminal proceeding, sedangkan
Huge D. Barlow, sebagaimana dikutif oleh Topo Santoso dan
Eva A. Zulfa, menyebutkan kejahatan adalah a human act that
violate the crimal law.
Van Bemmelen merumuskan kejahatan adalah tiap
kelakuan yang tidak bersifat susila dan merugikan, yang
menimbulkan begitu banyak ketidaktenangan dalam suatu
masyarakat tertentu sehingga masyarakat itu berhak untuk
mencelanya dan menyatakan penolakannya atas kelakuan itu
dalam bentuk nestapa dengan sengaja diberikan karena
kelakuan tersebut.
Jika dikaitkan dengan kejahatan-kejahatan yang
terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,
perumusan kejahatan menurut Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana adalah semua bentuk perbuatan yang memenuhi
perumusan ketentuan-ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana.
Sekalipun perumusan kejahatan sangat beragam namun
pada intinya memiliki kesamaan unsure, dengan mangacu pada
pendapat Kimball, unsur-unsur (elemen) kejahatan itu adalah:
a. An actor
b. With a guilty mind (mens rea)
c. Who causes
203
d. Harm
e. In particular way or setting, and
f. A lawmaker who has decreed that these circumstances
expose the actor to imposition of fine, imprisonment, or
death as a penalty. 141
Pada awalnya, kejahatan hanyalah merupakan “cap”
yang diberikan masyarakat pada perbuatan-perbuatan yang
dianggap tidak layak atau bertentangan dengan norma-norma
atau kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat. Dengan
demikian, ukuran untuk menentukan apakah suatu perbuatan
merupakan kejahatan atau bukan adalah “apakah masyarakat
secara umum akan menderita kerugian secara ekonomis serta
perbuatan tersebut secara psikologis merugikan sehingga di
masyarakat muncul rasa tidak aman dan melukai perasaan.
Karena ukuran pertama dalam menentukan apakah suatu
perbuatan merupakan kejahatan atau bukan adalah normanorma yang hidup dan dianut oleh masyarakat setempat,
tentunya sukar untuk menggolongkan jenis-jenis perbuatan
yang dapat disebut dengan kejahatan. Kesukaran ini muncul
sebagai dampak dari adanya keberagaman suku dan budaya.
Bagi suatu daerah suatu perbuatan mungkin merupakan sebuah
kejahatan, tetapi di daerah lain perbuatan tersebut bisa saja
tidak dianggap sebagai kejahatan. Contoh dalam budaya
Madura, membunuh orang sebagai bentuk balas dendam yang
lazim dikenal dengan sebutan carok, tentunya lebih merupakan
sebuah upaya membela harkat dan martabat keluarga daripada
disebut sebagai upaya pembunuhan sehingga ketika carok
141
Kimball, Edward L., “Crime: Definition of Crime,” dalam: Sanford H.
Kadish (ed), Encyclopedia of Crime and Justice (New York: The Free Press: A
Division of Macmillan Inc., 1983), Volume 1, hlm. 302.
204
dilakukan oleh seseorang, pihak keluarga pelaku menganggap
tindakan tersebut sebagai sebuah sikap “pahlawan.”
Namun, kita tidak boleh digiring kearah pendikotomian
antara budaya dan kejahatan. Kejahatan tetaplah kejahatan,
tidak boleh dilegalkan dengan mengatasnamakan adat dan
budaya karena kejahatan tetap saja merupakan suatu perbuatan
yang dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
Besarnya dampak yang ditimbulkan oleh aksi kejahatan
yang selalu menimbulkan korban, baik secara finansial atau
materiil, secara fisik maupun psikis, tampak jelas digambarkan
oleh Von Hentig dalam bukunya Crime, Causes, and
Conditions (1947), dikatakan bahwa pada tahun 1941 saja,
kerugian secara materiil diderita oleh 28.500.000 penduduk
dari 231 kota di Amerika Serikat bisa mencapai $ US
13.000.000. Kerugian ini pun hanya merupakan angka dari
tiga jenis kejahatan saja, yaitu perampokan, pencurian dengan
kekerasan, serta pencurian biasa. Angka ini belum lagi
ditambah dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk
membiayai tugas kepolisian, kejaksaan serta kehakiman
berserta aparatur lainnya yang berhubungan.142
Sebagai perbandingan, di Indonesia akibat dari
terjadinya kasus peledakan bom di Legian Bali pada 12
Oktober Tahun 2002 (Bom Bali I), kerugian yang diderita
adalah korban jiwa lebih kurang 192 orang, korban luka-luka
sebanyak kurang lebih 161 orang, menghancurkan bangunan
Sari Club dan Paddy’s Pub, dan merusakkan bangunan lainnya
berjumlah kurang lebih 422 unit, serta merusak fasilitas publik
atau fasilitas umum berupa kerusakan jaringan telepon, listrik
142
W.A. Bonger dan G.h. Th. Kempe, diterjemahkan oleh R.A. Koesnoen,
Pengantar Tentang Kriminologi (Jakarta: PT Pembangunan, 1995), Cetakan
ketujuh, hlm. 23.
205
dan saluran air PDAM.143 Kerugian ini belum termasuk
pembatalan paket-paket wisata asing dan domestik yang akan
berkunjung ke Bali dan ke daerah-daerah Indonesia lainnya
serta perekonomian nasional yang mengalami penurunan
secara drastis.
Di samping pengertian kejahatan sebagaimana
diuraikan di atas, dalam kriminologi dikenal pula apa yang
disebut dengan kejahatan tanpa korban (victimless crime).
Menurut Black, victimless crime adalah:
“A criem is
considered to have no direct victim. Because only consenting
adults are involved. Examples are possession of drugs,
deviant sexual intercourse between consenting adults, and
prostitution.
Victimless crime tidak menimbulkan keluhan di
masyarakat kecuali pihak penegak hukum seperti polisi,
sebagaimana dikatakan Frase:
“The practical arguments against Victimless crime
appear to derive from there attributes of these offenses:
a. Most involve no complaining parties other than police
officers.
b. Many involve the exchange of prohibited goods or services
that are strongly desired by the participants
c. All seek to prevent individual or sosial harms that are
widely believed to be less serious than the harms involved
in crimes with victims.144
Kejahatan tanpa korban (victimless crime) biasanya
terjadi pada tindak pidana narkotika, perjudian, prostitusi,
143
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum pada kasus peledakan bom di Legian
Bali dengan terdakwa Ali Ghufron alias Muklas alias Sofwan.
144
Richard Frase, “Victimless Crime,” dalam: Sanford H. Kadish (ed.),
Encyclopedia of Crime and Justice (New York: The Free Press: A Division of
Macmillan Inc., 1983), Volume 4, hlm. 1608.
206
pornografi, di mana hubungan antara pelaku dan korban tidak
kelihatan akibatnya. Tidak ada korban sebab semua pihak
adalah terlibat dalam kejahatan tersebut. Namun demikian,
jika dikaji secara mendalam, istilah kejahatan tanpa
korban(victimless crime) ini sebetulnya tidak tepat karena
semua perbuatan yang masuk ruang lingkup kejahatan pasti
mempunyai korban atau dampak baik secara langsung maupun
tidak langsung, atau dalam bahasa agamanya perbuatanperbuatan yang dilakukan ini lebih banyak mudharatnya
daripada manfaatnya.145
F. Hubungan Korban Kejahatan dan Pelaku Kejahatan
Korban mempunyai peranan yang fungsional dalam
terjadinya suatu kejahatan.
Perbuatan pelaku dapat
mengakibatkan orang lain menjadi korban, sebagaimana
dikemukakan oleh Samuel Walker bahwa hubungan antara korban
dan pelaku, adalah hubungan sebab akibat. Akibat perbuatan
korban, yaitu suatu kejahatan dan korban yang menjadi objek
sasaran perbuatan pelaku menyebabkan korban harus menderita
karena kejahatan.146
Kerugian yang dialami oleh korban akibat terjadinya suatu
kejahatan tidak selalu berupa kerugian materiil, atau penderitaan
fisik saja, tetapi yang paling bersar pengaruhnya adalah kerugian
atau dampak psikologis. Korban kejahatan bisa terus merasa
dibayang-bayangi oleh kejahatan yang telah menimpanya yang
dapat menghalanginya untuk beraktivitas dalam kehidupannya
sehari-hari.
145
Tutty Alawiyah, A.S, kata sambutan dalam buku Tindak Pidana
Narkotika dari Moh Taufik Makarao, et.al (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hlm.
Vii.
146
Samuel Walker, Sense and Nonsense about Crime, A Policy Guide,
Monterey-California: Brooks/Cole Publishing Company, 1985m hkm. 145.
207
Secara sosiologis dapat dikatakan bahwa dalam kehidupan
masyarakat, semua warga Negara berpartisipasi penuh atas
terjadinya kejahatan sebab masyarakat dipandang sebagai sebuah
sistem kepercayaan yang melembaga (system of institutionalized
trust). Tanpa kepercayaa ini, kehidupan sosial tidak mungkin
berjalan dengan baik sebab tidak ada patokan yang pasti dalam
bertingkah laku. Kepercayaan terpadu melalui norma-norma
yang diekspresikan di dalam struktur organisasional.
Bagi korban kejahatan, dengan terjadinya kejahatan yang
menimpa dirinya tentu akan menghancurkan sistem kepercayaan
tersebut. Dengan kata lain, dapat merupakan suatu bentuk trauma
kehilangan kepercayaan terhadap masyarakat dan ketertiban
umum, yang berwujud menculnya gejala-gejala rasa takut,
gelisah, rasa curiga, sisnisme, depresi, kesepian, dan berbagai
perilaku penghindaran yang lain.
Contoh wanita korban
kekerasan dalam rumah tangga, khususnya yang mengalami
kekerasan dalam hubungan intim. Rasa takut adalah perasaan
yang paling mendominasi korban.
Rasa takut tersebut
mengendalikan perilakunya, dan mewarnai segala tindaktanduknya. Bahkan, ketakutan dapat mengganggu pola tidurnya,
memunculkan insomnia dan mimpi-mimpi buruk. Gangguan
tidur dapat memunculkan kebergantungan kepada obat-obat tidur
dan obat penenang. Pasangannya dapat mengancam keselamatan
dirinya. Bahkan, akan mengancam jiwanya, kalau sampai ia
berusaha membuka mulut, atau bila ia berusaha meninggalkan
lelaki itu.
Kadang kala, hubungan antara korban dan pelaku
kejahatan sering kali bersifat personal. Hal ini dapat ditemui
dalam berbagai jenis kejahatan yang melibatkan keluarga atau
yang terjadi dalam rumah tangga. Pada jenis kejahatan semacam
ini, seringnya terjadi kontak dengan pelaku akan semakin
208
menambah ketakutan dari si korban untuk mengambil tindakan.
Apabila korban mengambil tindakan dengan cara melaporkan
kepada pihak lain tentunya akan mengundang kemarahan tidak
hanya kemarahan si pelaku, tetapi juga dari pihak lainnya.
Oleh karena itulah, perlindungan terhadap korban sangat
diperlukan, tidak hanya dari si pelaku itu sendiri, melainka juga
dari pihak-pihak yang cenderung tidak menyukai korban maupun
perbuatan si korban dengan melaporkan si pelaku.
Menurut E. Kristi Poerwandari, dalam kekerasan terhadap
perempuan hubungan antara pelaku dengan korban sangat
beragam pelaku, dapat berupa:
a. Orang asing/tidak saling kenal; suami; pasangan hubungan
intim lain (pacar, tunangan, bekas suami, dan lain-lain);
kenalan/teman; anggota keluarga inti dan/atau luas; teman
kerja;
b. Orang dengan posisi otoritas; atasan kerja/majikan;
guru/dosen/pengajar; pemberi jasa tertentu (konselor, dokter,
pekerja sosial, dan lain-lain);
c. Negara dan/atau wakilnya polisi/anggota militer, dan pejabat
(individu dalam kedudukan sebagai pejabat)
Untuk kejahatan-kejahatan di luar kekerasan dalam rumah
tangga hubungan pelaku dengan korban sangat beragam, tetapi
pada umumnya antara pelaku dan korban tidak memiliki relasi
secara langsung atau tidak saling mengenal.
G. Manfaat Viktimologi
Manfaat yang diperoleh dengan mempelajari ilmu
pengetahuan merupakan faktor yang paling penting dalam
kerangka pengembangan ilmu itu sendiri. Dengan demikian,
apabila suatu ilmu pengetahuan dalam pengembangannya tidak
memberikan manfaat, baik yang sifatnya praktis maupun teoritis,
209
sia-sialah ilmu pengetahuan itu untuk dipelajari dan dikembangkan.
Hal yang sama akan dirasakan pula pada saat mempelajari
viktimologi. Dengan dipelajarinya viktimologi, diharapkan akan
banyak manfaat yang diperoleh.
Arif Gosita menguraikan beberapa manfaat yang diperoleh
dengan mempelajari viktimologi, yaitu sebagai berikut:
1. Viktimologi mempelajari hakikat siapa itu korban dan yang
menimbulkan korban, apa artinya viktimisasi dan proses
viktimisasi bagi mereka yang terlibat dalam proses viktimisasi.
Akibat pemahaman itu, akan diciptakan pengertian-pengertian,
etiologi kriminal, dan konsepsi-konsepsi mengenai usaha-usaha
yang preventif, represif, dan tindak lanjut dalam menghadapi
dan menanggulangi permasalahan viktimisasi criminal di
berbagai bidang kehidupan dan penghidupan.
2. Viktimologi memberikan sumbangan dalam mengerti lebih baik
tentang korban akibat tindakan manusia yang menimbulkan
penderitaan mental, fisik, dan sosial. Tujuannya tidaklah untuk
menyanjung (eulogize) korban, tetapi hanya untuk memberikan
beberapa penjelasan mengenai kedudukan dan peran korban
serta hubungannya dengan pihak pelaku serta pihak lain.
Kejelasan ini sangat penting dalam upaya pencegahan terhadap
berbagai macam viktimisasi demi menegakkan keadilan dan
meningkatkan kesejahteraan mereka yang terlihat langsung atau
tidak langsung dalam eksistensi suatu viktimisasi.
3. Viktimologi memberikan keyakinan bahwa setiap individu
mempunyai hak dan kewajiban untuk mengetahui mengenai
bahaya yang dihadapinya berkaitan dengan kehidupan dan
pembinaan untuk tidak menjadi korban struktural atau
nonstruktural. Tujuannya adalah bukan untuk menakut-nakuti,
tetapi untuk memberikan pengertian yang baik dan agar
waspada. Mengusahakan keamanan atau hidup aman seseorang
210
meliputi pengetahuan yang seluas-luasnya mengenai bagaimana
menghadapi bahaya dan juga bagaimana menghindarinya.
4. Viktimologi juga memerhatikan permasalahan viktimisasi yang
tidak langsung, misalnya: efek politik pada penduduk “dunia
ketiga” akibat penyuapan oleh suatu korporasi internasional,
akibat-akibat sosial pada setiap orang akibat polusi indurstri,
terjadinya viktimisasi ekonomi, politik dan sosial setiap kali
seorang pejabat menyalahgunakan jabatan dalam pemerintahan
untuk keuntungan sendiri. Dengan demikian, dimungkinkan
menentukan asal mula viktimisasi, mencari sarana menghadapi
suatu kasus, mengetahui terlebih dahulu kasus-kasus
(antisipasi), mengatasi akibat-akibat merusak, dan mencegah
pelanggaran kejahatan lebih lanjut (diagnosis viktimologis)
5. Viktimologi memberikan dasar pemikiran untuk masalah
penyelesaian
viktimisasi
kriminal,
pendapat-pendapat
viktimologi dipergunakan dalam keputusan-keputusan peradilan
kriminal dan reaksi pengadilan terhadap pelaku kriminal.
Mempelajari korban dalam proses peradilan kriminal,
merupakan juga studi mengenai hak dan kewajiban asasi
manusia.
Manfaat viktimologi ini pada dasarnya berkenaan dengan
tiga hal utama dalam mempelajari manfaat studi korban yaitu:
1. Manfaat yang berkenaan dengan usaha membela hak-hak
korban dan perlindungan hokum.
2. Manfaat yang berkenaan dengan penjelasan peran korban
dalam suatu tindak pidana.
3. Manfaat yang berkenaan dengan usaha pencegahan terjadinya
korban.147
147
Rena Yulia, Viktimologi Perlindungan Hukum Terhadap Korban
Kejahatan, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010, hlm. 39.
211
Manfaat viktimologi ini dapat memahami kedudukan
korban sebab dasar terjadinya kriminalitas dan mencari kebenaran.
Dalam usaha mencari kebenaran dalam usaha mengerti akan
permasalahan kejahatan, delikuensi dan deviasi sebagai satu
proporsi yang sebenarnya secara dimensional.
Viktimologi juga berperan dalam hal penghormatan hakhak asasi korban sebagai manusia, anggota masyarakat, dan sebagai
warga Negara yang mempunyai hak dan kewajiban asasi yang
sama dan seimbang kedudukannya dalam hukum dan
pemerintahan.
Viktimologi bermanfaat bagi kinerja aparatur penegak
hukum, seperti aparat kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman.
Bagi aparat kepolisian, viktimologi sangat membantu dalam
upaya penanggulangan kejahatan. Melalui viktimologi akan mudah
diketahui latar belakang yang mendorong terjadinya kejahatan,
seberapa besar peranan korban pada terjadinya kejahatan,
bagaimana modus operansi yang biasanya dilakukan oleh pelaku
dalam menjalankan aksinya, serta aspek-aspek lainnya yang terkait.
Bagi kejaksaan, khususnya dalam proses penuntutan
perkara pidana di pengadilan, viktimologi dapat dipergunakan
sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan berat ringannya
tuntutan yang akan diajukan kepada terdakwa, mengingat dalam
praktiknya sering dijumpai korban kejahatan turut menjadi pemicu
terjadinya kejahatan.
Bagi kehakiman, dalam hal ini hakim sebagai organ
pengadilan yang dianggap memahami hukum yang menjalankan
tugas luhurnya, yaitu menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan
Pancasila demi terselenggarakannya Negara Hukum Republik
Indonesia, dengan adanya viktimologi, hakim tidak hanya
menepatkan korban sebagai saksi dalam persidangan suatu perkara
pidana, tetapi juga turut memahami kepentingan dan penderitaan
212
korban akibat dari sebuah kejahatan atau tindakan pidana sehingga
apa yang menjadi harapan dari korban terhadap pelaku sedikit
banyak dapat terkonkretisasi dalam putusan hakim. Hakim dapat
mempertimbangkan berat ringan hukuman yang akan dijatuhkan
pada terdakwa dengan melihat pada seberapat bersar penderitaan
yang dialami oleh korban pada terjadinya kejahatan, misalnya
hakim akan mempertimbangkan hukuman yang akan dijatuhkan
pada terdakwa dengan melihat pada penderitaan yang dialami oleh
korban akibat perbuatan terdakwa. Misalnya korban menderita
cacat seumur hidup, korban kehilangan penghasilan, korban
kehilangan orang yang salami ini menjadi tumpuan ekonomi
keluarga. Seperti dikemukakan oleh Soerjono Koesoemo bahwa
hakim yang besar adalah yang putusannya merupakan pancaran
hati nuraninya, yang dapat dipertanggunjawabkan menurut hukum
dan ilmu hukum, serta dapat dipahami dan diterima para pencari
keadilan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.148
Akhirnya, viktimilogi dapat dipergunakan sebagai pedoman
dalam upaya memperbaiki berbagai kebijakan/perundang-undangan
yang selama ini terkesan kurang memerhatikan aspek perlindungan
korban.
H. Viktimologi dan Kriminologi
Secara etimologis, kriminologi berasal dari kata crimen
yang berarti kejahatan dan logos yang berarti pengetahuan atau
ilmu pengetahuan. Kriminologi diartikan sebagai ilmu yang
membahas mengenai kejahatan.
Jika diperhatikan secara lebih luas, dapat kita ambil contoh
pengertian kriminologi yang dikemukakan oleh Sutherland dan
148
Soerjono Koesoemo, Beberapa Pemikiran tentang Filsafat Hukum:
Indonesia Menunggu Kelahiran (Kembali) “Hakim yang Besar,” Fakultas Hukum
UNDIP, Semarang, 1991.
213
Cressey yang menyebutkan bahwa kriminologi adalah “ the body
of knowledfe regarding crime as a sosial phenomenon.” Termasuk
dalam pengertian kriminologi tersebut adalah proses perbuatan
undang-undang, pelanggaran hukum, dan reaksi terhadap
pelanggaran hukum tersebut.
Secara umum, kriminologi bertujuan untuk mempelajari
kejahatan dari berbagai aspek sehingga diharapkan dapat diperoleh
pemahaman tentang fenomena kejahatan yang lebih baik.
Menurut antropolog Prancis P. Topinard (1839-1911),
kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang bertujuan
menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya (kriminologi
teoritis/murni). Kriminologi teoritis adalah ilmu pengetahuan yang
berdasarkan pengalaman seperti ilmu pengetahuan lainnya yang
sejenis, memerhatikan gejala-gejala dan mencoba menyelidiki
sebab-sebab dari gejala-gejala tersebut (aetiologi) dengan cara-cara
yang ada padanya.
Jadi pada pokoknya, kriminologi merupakan ilmu yang
menyelidiki kejahatan, serta aspek-aspek yang menyertai kejahatan
tersebut, yakni selain mengenai pokok-pokok kejahatan yang
dilakukan, juga orang-orang yang melakukan kejahatan tersebut.
Akan tetapi, kriminologi tidak menyelidiki kejahatan dari segi
yuridisnya ataupun perumusan jenis-jenis kejahatan tersebut.
Bahasan yang terakhir disebutkan merupakan bahasan dari bidang
hukum pidana.
Kriminologi merupakan salah satu ilmu pengentahuan yang
usianya relatif muda. Kriminologi baru muncul pada abad ke-19,
bersamaan dengan lahirnya sosiologi. Hal ini disebabkan karena
perhatian khusus mengenai kejahatan hanyalah disinggung sepintas
lalu dalam buku-buku karangan para sarjana terdahulu, seperti pada
buku karangan Van Kan “Les Causes Economiques de la
Criminalite” (1903), yang mengemukakan pendapatnya tentang
214
sebab-musabab ekonomis kejahatan. Kemudian Havelock Ellis
dalam bukunya The Criminal (1889), Maro dalam bukunya I
Caratteri dei Delinquenti (1887), dan G. Antonini dalam bukunya I
Precuri di lambroso (1909) yang mencari pendapat tentang
kejahatan menurut antropologi, tetapi hasilnya sangat kecil. Begitu
pula halnya dengan hasil karya Plato dan Aristoteles yang
membahas mengenai kejahatan dalam hubungannya dengan
kehidupan suatu Negara.
Lahirnya kriminologi ditandai dengan munculnya gerakangerakan menentang pemerintahan yang dianggap sewenangwenang dalam menerapkan hukum pidana serta hukum acara
pidananya, di mana pada waktu itu hukum pidana diterapkan
dengan tujuan untuk menakut-nakuti masyarakatnya dengan
menerapkan hukuman penganiayaan yang mengerikan.
Proses pemeriksaan orang yang disangka melakukan
kejahatan pun sama tidak berperikemanusiaan. Pemeriksaan
tersebut hanya bersifat formalitas saja. Tata cara pemeriksaannya
pun tergantung bagaimana keinginan si pemeriksa serta dilakukan
secara rahasia. Ketika itu, pengakuan dari si tertuduh dipandang
sebagai syarat pembuktian yang utama.
Gerakan penentangan semacam ini muncul menjelang
revolusi Prancis yang pada saat itu kekuasaan raja sangat absolut.
Pada masa itu, orang-orang yang ditengarai melakukan
penentangan terhadap kekuasaan raja langsung dijebloskan ke
dalam penjara Bastille. Penentangan-penentangan semacam ini
dikeluarkan oleh tokoh-tokoh Prancis seperti Montesquieu,
Rosseau, dan Voltaire. Ketiganya menyatakan penentangan kepada
tindakan sewenang-wenang, hukuman yang kejam serta banyaknya
hukuman yang dijatuhkan.
Selain ketiga tokoh tersebut, mulai bermunculan pula
pemikiran-pemikiran tokoh yang menyuarakan penentangan
215
terhadap hukuman yang berlaku pada saat itu, yang berlaku kejam
terhadap penjahat.
Pada tahun 1777 oleh “Oeconomische
Gisellschaft” di Bern diadakan sayembara untuk merencanakan
suatu hukum pidana yang baik. Persertanya di antaranya adalah
J.P. Marat (1774-1793) dengan karangannya Plan de Legislation
des lois Crimineles ( 1780), J.P. Bnrissot de Warville (1745-1793)
Theorie des lois Crimineles (1781), dan juga C. Beccaria (17381794) dengan karangannya Del Delitti e Delle Pene (1764).
Hasil perjuangan para tokoh tersebut kemudian melahirkan
hasil yang baik. Pada tahun 1780 di Prancis penganiayaan
dihapuskan, setelah sebelumnya pada tahun 1740, Frederik Agung
sudah menghapuskannya lebih dahulu. Namun, jasa yang sangat
besar dari John Howard (1726-1790) dalam bukunya The State of
The Prisons (1777), terutama mengenai rumah penjara di Inggris
dan dalam Cetakan yang belakangan mengenai kepenjaraan di
Negara lain, menunjukkan keadaan yang menyedihkan baik dari
segi kesehatan maupun kesusilaan.
Sekitar tahun 1880 di Amerika karena pengaruh golongan
Quaker, didirikan perkumpulan-perkumpulan yang memerhatikan
masalah kepenjaraan dengan tujuan memberantas akibat-akibat
yang sangat mendesak yang timbul dari adanya penutupan bersama
dalam rumah penjara. Penutupan tersendiri yang akan memberik
kesempatan pada penjahat untuk memeriksa diri sendiri (dan
karenanya menyesal), akan menggantikan penutupan bersama.
Pada tahun 1786 hukuman mati di Pennsylvania dihapuskan.
Setelah berakhirnya masa penentangan terhadap hukum
pidana dan juga hukum acara pidana, barulah fokus terhadap
kejahatan serta pelakunya dapat terealisasi. Mulailah para ahli
meneliti mengenai kejahatan serta pelaku-pelakunya, hingga
lahirnya banyak pemikiran mengenai kejahatan.
216
Dalam ilmu kriminologi modern dikenal tiga aliran
permikiran untuk menjelaskan gejala kejahatan, yaitu sebagai
berikut:
1. Kriminologi Klasik
Dalam hal ini, gambaran tentang kejahatan dan penjahat pada
umunya dipandang dari sudut hukum, kejahatan diartikan
sebagai perbuatan yang dilarang oleh undang-undang pidana dan
penjahat adalah orang yang melakukan kejahatan. Orang
melakukan kejahatan sebagai pilihan bebas masing-masing
individu dengan menilai untung ruginya. Untuk mencegah agar
orang tidak melakukan kejahatan, kerugian atau risiko yang
harus ditanggung oleh pelaku harus ditingkatkan (misalnya
dengan ancaman sanksi yang berat atau tinggi). Dengan
demikian, perimbangan antara kerugian atu risiko dengan
keuntungan atau kenikmatan yang akan diperoleh dari kejahatan
akan lebih besar pada risikonya. Dalam kaitan ini, tugas
kriminologi adalah membuat pola dan menguji sistem
hukumnya akan meminimalkan kejahatan.
2. Kriminologi Positivis
Aliran pemikiran ini betolak dari pandangan bahwa perilaku
manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar kontrolnya, baik
berupa faktor biologis maupun kultural. Dengan demikian,
manusia tidak bebas untuk menentukan perbuatannya karena
dibatasi dan ditentukan oleh situasi biologis atau kulturalnya.
Aliran positivis ini mengarahkan fokusnya pada usaha untuk
menganalisis sebab-sebab terjadinya kejahatannya melalui studi
ilmiah terhadap cirri-ciri pelaku dari aspek fisik, sosial dan
kulturan.
3. Kriminologi Kritis
Aliran pemikiran ini mulai berkembanga setelah tahun 1960an
sebagai pengaruh dari semakin populernya perspektif labeling.
217
Aliran ini tidak mempersoalkan apakah perilaku manusia itu
bebas atau dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, tetapi lebih
mengarahkan pada proses-proses yang terjadi.
Dengan
demikian, aliran ini mempelajari proses-proses dan kondisi yang
memengaruhi pemberian batasan atau pendefinisian kejahatan
pada perbuatan-perbuatan tertentu, orang-orang tertentu, pada
waktu dan tempat tertentu. Pendekatan dalam aliran pemikiran
ini dapat dibedakan antara pendekatan interaksionis dan
pendekatan konflik.
Jika ditelaah lebih dalam, tidak berlebihan apabila
dikatakan bahwa viktimologi merupakan bagian yang hilang dari
kriminologi atau dengan kalimat lain, viktimologi atau dengan
kalimat lain, viktimologi akan membahas bagian-bagian yang tidak
tercakup dalam kajian kriminologi. Banyak dikatakan bahwa
viktimologi lahir karena munculnya desakan perlunya masalah
korban dibahas secara tersendiri.
Akan tetapi, mengenai pentingnya dibentuk ilmu
viktimologi secara terpisah dari ilmu kriminologi mengundang
beberapa pendapat, yaitu sebagai berikut:
1. Mereka yang berpendapat bahwa viktimologi tidak terpisahkan
dari kriminologi, di antaranya adalah von Hentig, H. Mannheim
dan Paul Cornil. Mereka mengatakan bahwa kriminologi
merupakan ilmu pengetahuan yang menganalisis tentang
kejahatan dengan segala aspkenya, termasuk korban. Dengan
demikian, melalui penelitiannya, kriminologi akan dapat
membantu menjelaskan peranan korban dalam kejahatan dan
berbagai persoalan yang melingkupnya.
2. Mereka yang menginginkan viktimologi terpisah dari
kriminologi, di antaranya adalah Mendelsohn. Ia mengatakan
bahwa viktimologi merupakan suatu cabang ilmu yang
mempunyai teori dalam kriminologi, tetapi dalam membahas
218
persoalan korban, viktimologi juga tidak dapat hanya terfokus
pada korban itu sendiri.
Khususnya mengenai hubungan antara kriminologi dan
hukum pidana dikatakan bahwa keduanya merupakan pasangan
atau dwi tunggal yang saling melengkapi karena orang akan
mengerti dengan baik tentang penggunaan hukum terhadap
penjahat maupun tentang pengertian mengenai timbulnya kejahatan
maupun mengenai timbulnya kejahatan dan cara-cara
pemberantasannya sehingga memudahkan penentuan adanya
kejahatan dan bagaimana menghadapinya untuk kebaikan
masyarakat dan pelaku kejahatannya.149 Hukum pidana hanya
mempelajari delik sebagai suatu pelanggaran hukum, sedangkan
untuk mempelajari bahwa delik merupakan perbuatan manusia
sebagai suatu gejala sosial adalah kriminologi.150
Menurut pendekatan kriminologi, ada beberapa alasan
perlunya korban kejahatan mendapatkan perhatian, yaitu sebagai
berikut:151
1. Sistem peradilan pidana dianggap terlalu banyak memberikan
perhatian kepada permasalahan dan peranan pelaku kejahatan
(offender-centered). Bukti konkret padangan ini adalah hanya
beberapa pasal di dalam KUHAP yang mencerminkan
perlindungan terhadap korban. Pasal-pasal tersebut, antara lain
sebagai berikut:
a. Pasal 80 KUHAP
Permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu
penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh
149
Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana (Jakarta:Rineka Cipta, Mei 1993),
150
Utrecht, E., Hukum Pidana I (Surabaya: Pustaka Tinta Mas, 1958), hlm.
hlm. 15
136.
151
Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana, Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme (Bandung: Putra A. Bardin, 1996), hlm. 17
219
2.
3.
penyidik atau Jaksa Penuntut Umum, atau pihak ketiga yang
berkepentingan kepada Ketua Pengadilan Negeri dengan
menyebutkan alasannya.
b. Pasal 108 ayat (1)
Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan,
dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak
pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan
kepada penyidik atau penyidik, baik lisan maupun tulisan.
c. Pasal 133 ayat (1)
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani korban baik luka, keracunan, ataupun mati yang
diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada
ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya.
d. Pasal 134 ayat (1)
Dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan
bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib
memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban
e. Pasal 160 ayat (1b)
Yang pertama-tama didengar keterangannya adalah
korban yang menjadi saksi.
Terdapat potensi informasi dari korban kejahatan untuk
memperjelas dan melengkapi penafsiran atas statistik kriminal
(terutama statistik yang terdapat pada kepolisian yang dilakukan
melalui survei tentang korban kejahatan).
Masyarakat yang berkembang akan semakin menyadari bahwa
di samping korban kejahatan konvensional (kejahatan
jalanan/street crime) tidak kurang pentingnya untuk
memberikan
perhatian
kepada
korban
kejahatan
nonkonvensional maupun korban dari penyalahgunaan
kekuasaan.
220
Dewasa ini, terdapat kecendrungan bahwa masalah korban
dibahas secara tersendiri dan terperinci dalam ilmu viktimologi dan
bukan merupakan cabang ilmu kriminologi, padahal antara
viktimologi dan kriminologi, akan selalu terdapat hubungan yang
berkesinambungan dan saling memengaruhi.
Menurut von Hentig. H. Mannheim dan Paul Cornil
kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang menganalisis
tentang kejahatan dengan segala aspeknya, termasuk korban.
Selain itu, viktimologi tidak hanya terfokus kepada korban itu
sendiri, tetapi juga melihat kedudukan kejahatan sebagai penyebab
timbulnya korban, dan kejahatan hanya ada dalam kajian
kriminologi.
Dengan demikian, antara viktimologi dan kriminologi
terdapat hubungan erat sebagaimana dihasilkan dalam Simposium
Internasional tahun 1973 di Jerusalem yang merumuskan
kesimpulan mengenai hubungan antara viktimologi dan
kriminologi, adalah:
1. Bahwa viktimologi dapat dirumuskan sebagai suatu studi
ilmiah mengenai para korban
2. Bahwa kriminologi telah diperkaya dengan suatu orientasi
viktimologi.152
Dengan menolak adanya viktimologi dan hanya
memusatkan perhatian kepada pelaku kejahatan dengan
kejahatannya merupakan penolakann terhadap viktimologi, sebab
antara pelaku dan korban adalah suatu kesatuan akan terjadinya
sebuah kejahatan.
I. Viktimologi dan Ilmu Hukum
Secara terminologi menurut Hugo Reading, viktimologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang korban, penyebab
152
Arif Gosita, Masalah Perlindungan Anak, hlm. 80.
221
timbulnya korban dan akibat-akibat penimbulan korban yang
merupakan masalah manusia sebagai suatu kenyataan sosial.
Ilmu hukum adalah ilmu tentang hukum yang berlaku di
suatu Negara atau masyarakat tertentu, dan hukum dalam hal ini
adalah hukum positif (ius constitutum).153 Hukum yang menjadi
kajian dari ilmu hukum adalah hukum yang bertalian dengan
kehidupan manusia dalam masyarakat. Kehidupan masyarakat
dalam hal ini adalah proses sosial, tempat terjadinya pengaruh
timbal balik antarberbagai segi kehidupan (politik, ekonomi,
agama, dan sebagainya) sebagai sebuah interaksi yang dapat
berlangsung dalam bentuk komunikasi, konflik, kompetisi,
akomodasi, asimilasi, dan kooperasi.154 Aspek kehidupan yang
digunakan dalam hal hubungan antara ilmu hukum dan
viktimologi adalah “konflik,” di mana terdapat konflik, terjadi
pertentangan, dan dalam pertentangan pasti terdapat sebuah
viktimasi kriminal, yang berlaku menyeimbangkan dan
mempertahankan perdamaian.155 Sementara itu, bagi viktimologi,
dalam masyarakat terdapat hal yang dapat menyebabkan
timbulnya korban serta akibat-akibat korban yang merupakan
kenyataan sosial.
153
Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Shidarta, Pengantar Ilmu
Hukum: Suatu Pengenalan Pertama Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum
(Bandung: Alumni, 2000): Edisi Pertama: Buku I, hlm 1.
154
Zen Zanibar M.Z. “Wilayah Kajian Ilmu Hukum,” dalam : Lex
Jurnalica, Transformasi Ide dan Objektivitas, Jakarta: Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Indonesia Esa Tunggal, No. 1/2004,
hlm. 44.
155
Apeldoorn, L.J. van, Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta: PT Pradnya
Paramita, 1996), Cetakan Keduapuluhenam, Terjemahan: Mr. Oetarid Sadino, hlm.
11.
222
RANGKUMAN
1. Korban (victim) adalah orang-orang yang baik secara individual
maupun kolektif telah menderita kerugian, termasuk kerugian
fisik atau mental, emosional, ekonomi, atau gangguan substansial
terhadap hak-haknya yang dundamental, melalui perbuatan atau
komisi yang melanggar hukum pidana di masing-masing Negara,
termasuk penyalahgunaan kekuasaan.
2. Pada prinsipnya terdapat empat tipe korban, yaitu sebagai berikut:
a. Orang yang tidak mempunyai kesalahan apa-apa, tetapi tetap
menjadi korban
b. Korban secara sadar atau tidak sadar telah melakukan sesuatu
yang merangsang orang lain untuk melakukan kejahatan.
c. Mereka yang secara biologis dan sosial potensial menjadi
korban anak-anak, orang tua, orang yang cacat fisik atau
mental, orang miskin, golongan minoritas dan sebagainya
merupakan orang-orang yang mudah menjadi korban.
d. Korban karena ia sendiri merupakan pelaku inilah yang
dikatakan sebagai kejahatan tanpa korban.
3. Hubungan antara viktimologi dan kriminologi adalah bahwa
viktimologi dapat dirumuskan sebagai suatu studi ilmiah
mengenai para korban dan kriminologi telah diperkaya dengan
suatu orientasi viktimologi.
LATIHAN
1. Jelaskan bagaimana pengertian korban dan sebutkan
tipologi korban.
2. Sebutkan Hak dan Kewajiban Korban.
3. Jelaskan manfaat mempelajari viktimologi.
4. Jelaskan bagaimanakah hubungan viktimologi dengan
kriminologi.
223
5. Jelaskan bagaimana hubungan viktimologi dengan ilmu
hukum.
GLOSSARIUM
1.
Nonparticipating victims, yaitu mereka yang
tidak peduli terhadap upaya penanggulangan kejahatan.
2.
Latent victims, yaitu mereka yang mempunyai
sifat karakter tertentu sehingga cenderung menjadi korban.
3.
Procative
victims,
yaitu
mereka
yang
menimbulkan ransangan terjadinya kejahatan.
4.
Participating victims, yaitu merka yang dengan
perilakunya memudahkan dirinya menjadi korban.
5.
False victimis, yaitu mereka yang menjadi korban
karena perbuatan yang dibuatnya sendiri.
6.
Unrelated victims, yaitu korban yang tidak ada
hubungannya sama sekali dengan pelaku.
7.
Provocative victims, yaitu seseorang yang secara
aktif mendorong dirinya menjadi korban.
8.
Participating victims, yaitu seseorang yang tidak
berbuat akan tetapi dengan sikapnya justru mendorong dirinya
menjadi korban.
9.
Biologically weak victims, yaitu mereka yang
secara fisik memiliki kelemahan yang menyebabkan ia menjadi
korban.
10.
Sosially weak victims, yaitu mereka yang
memiliki kedudukan sosial yang lemah yang menyebabkan ia
menjadi korban.
11.
Self victimizing victims, yaitu mereka yang
menjadi korban karena kejahatan yang dilakukannya sendiri.
12.
Crime (kejahatan) adalah bentuk tingkah laku
yang bertentangan dengan moral kemanusian.
Kejahatan
224
merupakan suatu perbuatan atau tingkah laku yang sangat
ditentang oleh masyarakat dan paling tidak disukai oleh rakyat.
DAFTAR PUSTAKA
Apeldoorn, L.J. van, 1996, Pengantar Ilmu Hukum, Cetakan
Keduapuluhenam, Terjemahan: Mr. Oetarid Sadino. PT
Pradnya Paramita, Jakarta
Arif Gosita, 1993, Masalah Korban Kejahatan, Akademika Pressindo,
Jakarta.
Chaerudin dan Syarif Fadillah, 2004, Korban Kejahatan dalam
Perspektif Viktimologi dan Hukum Pidana Islam, Cetakan
Pertama, Ghalia Press, Jakarta.
Cohen dan Romli Atmasasmita, tanpa tahun, Masalah Santunan
Korban Kejahatan, BPHN, Jakarta.
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum pada kasus peledakan bom di Legian
Bali dengan terdakwa Ali Ghufron alias Muklas alias Sofwan.
Kimball, Edward L., 1983, “Crime: Definition of Crime,” dalam:
Sanford H. Kadish (ed), Encyclopedia of Crime and Justice:
The Free Press: A Division of Macmillan Inc., Volume 1. New
York.
Made Darma Weda, 1995, Beberapa Catatan tentang Korban
Kejahatan Korporasi, dalam Bunga Rampai Viktimisasi,
Eresco, Bandung.
Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Shidarta, 2000, Pengantar Ilmu
Hukum: Suatu Pengenalan Pertama Ruang Lingkup
Berlakunya Ilmu Hukum, Edisi Pertama: Buku I, Alumni,
Bandung.
225
Moeljatno, 1993, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.
Muladi, disampaikan pada seminar viktimologi di Universitas
Airlangga Surabaya, tanggal 28-29 Oktober 1988 dari Prof.
Muladi, S.H., Dr. Barda Nawawi Arief, S.H., 1992, Bunga
Rampai Hukum Pidana, Alumni, Bandung.
Ralph de Sola, 1998, Crime Distionary, Facts on File Publication,
New York.
Rena Yulia, 2010, Viktimologi Perlindungan Hukum Terhadap
Korban Kejahatan, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Richard Frase, “Victimless Crime,” dalam: Sanford H. Kadish (ed.),
1983, Encyclopedia of Crime and Justice: The Free Press: A
Division of Macmillan Inc., Volume 4. New York.
Romli Atmasasmita, 1996, Sistem Peradilan Pidana, Perspektif
Eksistensialisme dan Abolisionisme, Putra A. Bardin,
Bandung.
Samuel Walker, 1985, Sense and Nonsense about Crime, A Policy
Guide, Brooks/Cole Publishing Company, MontereyCalifornia
Soerjono Koesoemo, 1991, Beberapa Pemikiran tentang Filsafat
Hukum: Indonesia Menunggu Kelahiran (Kembali) “Hakim
yang Besar,” Fakultas Hukum UNDIP, Semarang.
Tutty Alawiyah, A.S, 2003, Kata Sambutan dalam Buku Tindak
Pidana Narkotika dari Moh Taufik Makarao, et.al: Ghalia
Indonesia, Jakarta.
Utrecht, E., 1958, Hukum Pidana I, Pustaka Tinta Mas, Surabaya.
226
W.A. Bonger dan G.h. Th. Kempe, diterjemahkan oleh R.A.
Koesnoen, 1995, Pengantar Tentang Kriminologi, Cetakan
ketujuh, PT Pembangunan, Jakarta.
Zen Zanibar M.Z. 2004, “Wilayah Kajian Ilmu Hukum,” dalam : Lex
Jurnalica, Transformasi Ide dan Objektivitas, Jakarta:
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Indonesia, Esa Tunggal, Jakarta.
227
BAB IX
KEDUDUKAN KORBAN DALAM SISTEM
PERADILAN PIDANA
Tujuan Umum Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan
mahasiswa mampu memahami kedudukan korban dalam
sistem peradilan pidana.
Tujuan Khusus Pembelajaran
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan kedudukan korban dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
2. Menjelaskan kedudukan korban dalam UndangUndang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan
Saksi dan Korban.
3. Menjelaskan kedudukan korban dalam UndangUndang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan dalam Rumah Tangga.
4. Menjelaskan kedudukan Korban dalam Declaration of
Basic Principles of Justice for Victimis of Crime and Abuse
of Power
5. Menjelaskan kedudukan korban dalam sistem
peradilan pidana Islam.
A. Kedudukan Korban dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana
228
Dalam penegakan hukum kelemahan mendasar adalah
terabaikannya hak korban kejahatan dalam proses penanganan
perkara pidana maupun akibat yang harus ditanggung oleh korban
kejahatan karena perlindungan hukum terhadap korban kejahatan
tidak mendapat pengaturan yang memadai.156
Hal ini dapat dilihat dalam KUHAP, sedikit sekali pasalpasal yang membahas tentang korban, pembahasannyapun tidak
fokus terhadap eksistensi korban tindak pidana melainkan hanya
sebagai warga Negara biasa yang mempunyai hak yang sama
dengan warga Negara lain.
Terlihat dengan bermacammacamnya istilah yang digunakan dalam menunjuk seorang
korban. Sebagai contoh, dalam pasal 160 ayat (1)b Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana disebutkan bahwa “yang pertama
didengar keterangannya adalah korban yang menjadi saksi”.
Dengan demikian posisi korban tindak pidana di sini hanyalah
sebagai saksi dari suatu perkara pidana yang semata-mata untuk
membuktikan kesalahan tersangka/terdakwa.
Korban kejahatan yang pada dasarnya merupakan pihak
yang paling menderita dalam suatu tindak pidana, justru tidak
memperoleh perlindungan sebanyak yang diberikan oleh undangundang kepada pelaku kejahatan. Akibatnya, pada saat pelaku
kejahatan telah dijatuhkan sanksi pidana oleh pengadilan, kondisi
korban kejahatan seperti tidak dipedulikan sama sekali. Padahal
masalah keadilan dan penghormatan hak asasi manusia tidak
hanya berlaku terhadap pelaku kejahatan tetapi juga korban
kejahatan.157
156
Sidik Sunaryo, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, UMM Press,
Malang, hlm. 2.
157
Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Urgensi Perlindungan
Korban Kejahatan antara Norma dan Realita, P.T. RajaGrafindo Persada, Jakarta,
2007, hlm. 24.
229
Dalam penyelesaian perkara pidana, sering kali hukum
terlalu mengedepankan hak-hak tersangka/terdakwa, sementara
hak-hak korban diabaikan. Banyak ditemukan korban kejahatan
kurang memperoleh perlindungan hukum yang memadai, baik
perlindungan yang sifatnya immateriil maupun materiil. Korban
kejahatan ditempatkan sebagai alat bukti yang memberi
keterangan yaitu hanya sebagai saksi sehingga kemungkinan bagi
korban untuk memperoleh keleluasaan dalam memperjuangkan
haknya adalah kecil.
Asas-asas hukum Acara Pidana yang dianut KUHAP pun
hampir semua mengedepankan hak-hak tersangka. Paling tidak
terdapat sepuluh asas yang dianut oleh KUHAP dengan maksud
untuk melindungi hak warganegara dalam proses hukum yang
adil, yaitu:
1. Perlakuan yang sama di muka hukum tanpa diskriminasi
apapun
2. Praduga tidak bersalah
3. Pelanggaran atas hak-hak individu warganegara (yaitu dalam
hal penangkapan, penahanan, penggledahan dan penyitaan
harus didasarkan pada undang-undang dan dilakukan dengan
surat perintah;
4. Seorang tersangka hendak diberitahu tentang persangkaan dan
pendakwaan terhadapnya;
5. Seorang tersangka dan terdakwa berhak mendapat bantuan
penasehat hukum;
6. Seorang terdakwa berhak hadir di muka pengadilan
7. Adanya peradilan yang bebas dan dilakukan dengan cepat serta
sederhana;
8. Peradilan harus terbuka untuk umum;
9. Tersangka maupun terdakwa berhak memperoleh kompensasi
(ganti rugi) dan rehabilitasi, serta
230
10. Adalah kewajiban pengadilan untuk mengendalikan
pelaksanaan putusan-putusannya. 158
Melihat sepuluh asas di atas, secara normatif KUHAP
hanya memperhatikan hak-hak pelaku kejahatan, tanpa memberi
ruang kepada korban untuk memperjuangkan hak-haknya.
Sebagaimana dikemukakan pada bab-bab terdahulu, korban dalam
KUHAP hanya diatur dalam beberapa pasal saja yaitu Pasal 98101.
Bunyi pasal dimaksud secara lengkap seperti di bawah ini:
Pasal 98 ayat (1) KUHAP menyebutkan : Jika suatu perbuatan
yang menjadi dasar dakwaan di dalam suatu pemeriksaan perkara
pidana oleh pengadilan negeri menimbulkan kerugian bagi orang
lain, maka hakim ketua siding atas permintaan orang itu dapat
menetapkan untuk menggabungkan perkara gugatan ganti
kerugian kepada perkara pidana itu.
Pasal 99 ayat (1) KUHAP menyebutkan: Apabila pihak yang
dirugikan minta penggabungan perkara gugatannya pada perkara
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98, maka pengadilan
negeri menimbang tentang kewenangannya untuk mengadili
gugatan tersebut, tentang kebernaran dasar gugatan dan tentang
hukum penggantian biaya yang dirugikan tersebut.
Ayat (2) :
Kecuali dalam hal pengadilan negeri menyatakan tidak
berwenang mengadili gugatan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) atau gugatan dinyatakan tidak dapat diterima, putusan
hakim hanya memuat tentang penetapan hukuman penggantian
biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan.
Ayat (3):
158
Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana (Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme, Binacipta, Bandung, 1996, hlm. 86.
231
Putusan mengenai ganti kerugian dengan sendirinya
mendapat kekuatan tetap apabila putusan pidannya juga
mendapat kekuatan hukum tetap.
Pasal 100 ayat (1):
Apabila terjadi penggabungan antara perkara perdata
dan perkara pidana maka penggabungan itu dengan sendirinya
berlangsung dalam pemeriksaan tingkat banding.
Ayat (2):
Apabila terhadap suatu perkara pidana tidak diajukan
permintaan banding, maka permintaan banding mengenai
putusan ganti rugi tidak diperkenankan.
Pasal 101:
Ketentuan dari aturan hukum acara perdata berlaku
bagi gugatan ganti kerugian sepanjang dalam undang-undang
ini tidak diatur lain.
Pasal 98-101 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981
tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana di atas
adalah pasal-pasal yang berkaitan dengan hak korban dalam
menuntut ganti kerugian. Mekanisme yang ditempuh adalah
penggabungan perkara gugatan ganti kerugian pada perkara
pidana. Penggabungan perkara ganti kerugian merupakan
acara yang khas dan karakteristik, yang ada di dalam isi
ketentuan dari KUHAP.
Asas penggabungan perkara ganti kerugian pada
perkara pidana dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Merupakan praktik penegakan hukum berdasarkan ciptaan
KUHAP sendiri bagi proses beracara (pidana dengan
perdata) untuk peradilan di Indonesia. KUHAP memberi
prosedur hukum bagi seorang korban (atau beberapa
korban) tindak pidana, untuk menggugat ganti rugi yang
232
bercorak perdata terhadap terdakwa bersamaan dengan
pemeriksaan perkara pidana yang sedang berlangsung;
2. Penggabungan pemeriksaan dan putusan gugatan ganti
kerugian pada perkara pidana sekaligus adalah sesuai
dengan asas keseimbangan yang dimaksud KUHAP.159
Maksud dari penggabungan perkara gugatan ganti
kerugian adalah: pertama, supaya perkara gugatan tersebut
pada suatu ketika yang sama diperiksa serta diputus sekaligus
dengan perkara pidana yang bersangkutan.
Kedua, hal
penggabungan sesuai dengan asas beracara dengan cepat,
sederhana dan biaya ringan. Ketiga, orang lain termasuk
korban, dapat sesegera mungkin memperoleh ganti ruginya
tanpa harus melalui prosedur perkara perdata biasa yang dapat
memakan waktu yang lama.160
Adapun tujuan dari penggabungan perkara gugatan
pada perkara pidana adalah, bahwa tujuan yang sebenarnya
terkandung dalam lembaga penggabungan yaitu, agar orang
lain atau saksi korban dalam tindak pidana sesegera mungkin
mendapatkan ganti kerugian, serta tidak lagi dibebani melalui
prosedur dan proses perdata yang terpisah dan memakan waktu
lama.161
Namun
demikian,
untuk
dapat
mengajukan
penggabungan perkara gugatan ganti kerugian harus
memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Haruslah berupa dan merupakan kerugian yang dialami
oleh orang lain termasuk korban (saksi korban) sebagai
akibat langsung dari tindak pidana yang dilakukan
terdakwa.
159
R. Soeparmono, Praperadilan dan Penggabungan Perkara Gugatan
Ganti Kerugian dalam KUHAP, Mandar Maju, Bandung, 2003. hlm. 86.
160
Loc.cit.
161
R. Soeparmono, Ibid, hlm 87.
233
2.
Jumlah besarnya ganti kerugian yang dapat diminta hanya
terbatas sebesar jumlah kerugian materiil yang diderita
orang lain, termasuk korban tersebut.
3. Bahwa sasaran subjek hukumnya pihak-pihak adalah
terdakwa.
4. Penuntutan ganti kerugian yang digabungkan pada perkara
pidananya tersebut hanya dapat diajukan selambatlambatnya sebelum penuntut umum mengajukan tuntutan
pidana (requisitor).
5. Dalam hal penuntutan umum tidak hadir, tuntutan
diajukan selambat-lambatnya sebelum hakim menjatuhkan
putusan.
6. Perkara pidananya tersebut menimbulkan kerugian bagi
orang lain. Kerugian bagi orang lain termasuk kerugian
pada korban.
7. Penuntutan gugatan ganti kerugian yang digabungkan
pada perkara pidana tersebut tidak perlu diajukan melalui
paitera pengadilan negeri, melainkan dapat langsung
diajukan dalam sidang pengadilan melalui majelis
hakim/hakim.
8. Gugatan ganti kerugian Pasal 98 ayat (1) KUHAP adalah,
harus sebagai akibat kerugian yang timbul karena
perbuatan terdakwa dan tidak mengenai kerugian-kerugian
lainnya.162
Dari uraian di atas, maka dapat diketahui, yang dapat
diajukan dalam penggabungan perkara gugatan ganti kerugian
hanya terbatas pada tuntutan ganti kerugian yang secara nyatanyata (riil) dikeluarkan atau dengan kata lain ganti kerugian
materiil.163
Pembatasan ini dimaksudkan didasarkan pada:
a. Proses penggabungan perkara gugatan ganti kerugian
tersebut harus berjalan cepat, tidak memakan waktu yang
162
Rusli Muhammad, Hukum Acara Pidana Kontemporer, Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2007.
163
Rusli Muhammad, Ibid, hlm. 115.
234
lama dan seketika dan sesegera mungkin dapat
direalisasikan, serta adanya prinsip pemeriksaan peradilan
yang cepat dan sederhana. Misalnya, hanya membuktikan
bukti-bukti surat dan kwitansi, biaya pengobatan, biaya
perawatan, biaya memperbaiki kendaraan, dan lain-lain.
b. Kerugian materiil yang berupa kerugian yang secara nyata
(riil) tersebut mudah pembuktiannya
c. Karena hanyalah kerugian yang immateriil tidak dapat
diterima untuk penggabungan perkara gugatan ganti
kerugian.
d. Karena itulah, imbalan ganti kerugian immateriil harus
dipisahkan, dengan maksud agar diajukan tersendiri pada
gugatan perdata biasa, karena dipandang tidak sederhana
dan tidak mudah.
e. Karena pemeriksaan dan pembuktiannya sulit serta
memakan waktu, pula menghambat pemeriksaan pidananya,
sehingga bertentangan dengan asas peradilan yang
sederhana, cepat dan biaya ringan.164
Dengan adanya pembatasan di atas, muncul
kelemahan-kelemahan dari praktik penggabungan gugatan
ganti kerugian yang ada dalam KUHAP, diantaranya:
a. Sistem penggabungan tersebut dirasakan belum mendekati
hakikat tujuan ganti kerugian itu sendiri.
b. Tuntutan ganti kerugian oleh orang lain yang menderita
langsung kerugian atau pihak korban untuk memperoleh
jumlah besarnya ganti kerugian dibatasai hanya pada
kerugian materiil yang nyata-nyata dikeluarkan oleh orang
yang dirugikan langsung tersebut. Jadi KUHAP dalam
ketentuan-ketentuannya membatasi hak.
c. Untuk kerugian non materiil, yaitu kerugian immaterial
terpaksa harus mengajukan lagi dengan gugatan perdata
biasa tersendiri, yang mungkin dapat memakan waktu lama.
d. Kondisi seperti ini berarti mengaburkan maksud semula dari
penggabungan itu sendiri, yang bertujuan untuk
menyederhanakan proses.
164
Rusli Muhammad, Op.cit, hlm. 88-89.
235
e. Adanya kendala dalam pelaksanaan masalah pembayaran
ganti kerugian tersebut.
f. Apabila pihak korban tetap menuntut ganti kerugian yang
bersifat immateriil juga, hasilnya akan nihil, karena putusan
selalu menyatakan: gugatan ganti kerugian immateriil
tersebut dinyatakan tidak dapat diterima, karena tidak
berdasarkan hukum.
g. Majelis hakim/hakim harus cermat, sebab selalu harus
memisahkan antara kerugian materiil dengan kerugian
immateriil, sehingga tidak efisien.
h. Karena gugatan ganti kerugian pada perkara pidana hanya
bersifat assesor.
i. Pada setiap putusan perdatanya, pihak korban/penggugat
dalam penggabungan perkara gugatan ganti kerugian
tersebut selalu menggantungkan pihak terdakwa atau jaksa
penuntut umum jika mau banding, sehingga melenyapkan
hak bandingnya sebagai upaya hukum.165
Kelemahan-kelemahan di atas semakin mempersempit
ruang korban tindak pidana untuk mengajukan hak-haknya,
penggabungan gugatan ganti kerugian hanya memberikan
peluang untuk kerugian materiil saja, sedangkan untuk
pemulihan kerugian immateriil masih harus diajukan secara
terpisah melalui gugatan perdata yang pada prakteknya tidak
sederhana.
B. Kedudukan Korban dalam Undang-undang Perlindungan
Saksi dan Korban
Lahirnya undang-undang yang secara khusus mengatur
mengenai perlindungan saksi dan korban pada tanggal 11 Agustus
2006 dengan undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Perlindungan Saksi dan Korban, disahkan dan diberlakukan.
165
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan
KUHAP, Mandar Maju, Bandung, 2003, hlm. 81.
236
Sekalipun beberapa materi dalam undang-undang ini masih
harus dilengkapi dengan peraturan pelaksanaan. Berlakunya
undang-undang ini cukup memberikan angin segar bagi upaya
perlindungan korban kejahatan.
Dasar pertimbangan perlunya diatur undang-undang
mengenai perlindungan korban (dan saksi) kejahatan dapat dilihat
pada bagian pertimbangan undang-undang ini, antara lain
menyebutkan dalam proses peradilan pidana sering mengalami
kesukaran dalam mencara dan menemukan kejelasan tentang tindak
pidana yang dilakukan oleh pelaku. Hal ini terjadi karena tidak
hadirnya saksi di persidangan yang disebabkan adanya ancaman,
baik fisik maupun psikis dari pihak tertentu. Padahal diketahui
bahwa peran saksi (korban) dalam suatu proses peradilan pidana
menempati posisi kunci dalam upaya mencari dan menemukan
kejelasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku.
Korban dan/atau saksi diakui keberadaannya dalam proses
peradilan pidana.166
Dalam suatu proses peradilan pidana, saksi (korban)
memegang peranan kunci dalam upaya mengungkap suatu
kebenaran materiil. Maka, tidak berlebihan apabila dalam Pasal
184 ayat (1) KUHAP, keterangan saksi ditepatkan pada urutan
pertama di atas alat bukti lain yaitu keterangan ahli, surat, petunjuk
dan keterangan terdakwa.
Pada saat saksi (korban) akam memberikan keterangan
tentunya harus disertai jaminan bahwa yang bersangkutan terbebas
dari rasa takut sebelum, pada saat, dan setelah memberikan
kesaksian. Jaminan ini penting untuk diberikan guna memastikan
bahwa keterangan yang akan diberikan benar-benar murni bukan
hasil rekayasa apabila hasil dari tekanan pihak-pihak tertentu.
166
Dikdik M. Arief dan Elisatris Gultom, opcit, hlm. 152.
237
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006
menganut
pengertian korban dalam arti luas, yaitu seseorang yang mengalami
penderitaan, tidak hanya secara fisik atau mental atau ekonomi
tetapi bisa juga kombinasi di antara ketiganya. Hal ini terdapat
pada Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 yang
menyebutkan korban adalah seseorang yang mengalami
penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang
diakibatkan oleh suatu tindak pidana.
Pada Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun
2006, dapat dilihat tentang hak yang diberikan kepada saksi dan
korban, yang meliputi:
a. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan
harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan
dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
b. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk
perlindungan dan dukungan keamanan
c. Memberikan keterangan tanpa tekanan
d. Mendapat penerjemah
e. Bebas dari pertanyaan yang menjerat
f. Mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus
g. Mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan
h. Mengetahi dalam hal terpidana dibebaskan
i. Mendapatkan identitas baru
j. Mendapatkan tempat kediaman baru
k. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan
kebutuhan
l. Mendapatkan nasihat hukum
m. Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai waktu
perlindungan berakhir.
Secara umum hak-hak di atas cenderung memberikan porsi
lebih besar terhadap kedudukan saksi daripada kedudukan korban
238
dalam sistem peradilan pidana. Korban tidak mendapat porsi
jaminan yang sama dengan saksi.
Kedudukan korban tidak hanya sekedar dapat ikut serta
dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan
dukungan keamanan atau dapat memperoleh informasi mengenai
putusan pengadilan atau pun korban dapat mengetahui dalam hal
terpidana dibebaskan. Namun, sebagai pihak yang dirugikan
korban pun berhak untuk memperoleh ganti rugi dari apa-apa yang
diderita.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Perlindungan Saksi dan Korban di dalam Pasal 7 menyebutkan
bahwa korban dapat mengajukan hak atas kompensasi (dalam kasus
pelanggaran HAM berat) dan hak atas restitusi atau ganti kerugian
yang menjadi tanggung jawab pelaku tindak pidana.
Namun, pengajuan hak atas kompensasi, restitusi atau pun
ganti kerugian di atas harus diajukan ke pengadilan melalui
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Pada
praktiknya mekanisme seperti ini tentu tidak lah sederhana.
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa korban yang
telah menjadi objek kekerasan dan penindasan oleh para pelaku
dari dulu hingga saat ini menjadi pihak yang dilalaikan.
C. Kedudukan Korban dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
Keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia,
aman, tentram, dan damai merupakan dambaan setiap orang dalam
rumah tangga. Untuk mewujudkan keutuhan dan kerukunan
tersebut, sangat tergantung pada setiap orang dalam lingkup rumah
tangga, terutama kadar kualitas perilaku dan pengendalian diri
setiap orang dalam lingkup rumah tangga.
239
Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dapat tergantung
jika kualitas dan pengendalian diri tidak dapat dikontrol, yang pada
akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam rumah tangga sehingga
timbul tidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang berada
dalam lingkup rumah tangga tersebut.
Setiap orang berhak untuk memiliki rasa man, berhak atas
perlakuan hukum yang adil tanpa diskriminasi. Kekerasan dalam
rumah tangga adalah pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan
terhadap martabat kemanusian serta bentuk diskriminasi.
Kasus kekerasan dalam rumah tangga semakin hari semakin
meningkat, untuk mencegah dan menanggulangi kekerasan dalam
rumah tangga tersebut diperlukan suatu perangkat hukum yang
lebih terakomodir, hal ini ditanggapi oleh pemerintah dengan
mengeluarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga yang disahkan pada
tanggal 14 September 2004.
Dengan adanya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga diharapkan
dapat menjadikan solusi untuk mencegah dan menanggulangi
tindak kekerasan dalam rumah tangga dalam upaya penegakan
hukum. Sesuai dengan asas yang diatur dalam Pasal 3, yaitu:
a. Penghormatan hak asasi manusia
b. Keadilan dan kesetaraan gender
c. Nondiskriminasi
d. Perlindungan korban
Mengenai korban kekerasan dalam rumah tangga dapat
berasal dari berbagai latar belakang usia, pendidikan, tingkat sosial
ekonomi, agama dan suku bangsa. Yang dimaksud dengan korban
menurut UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT
adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman
kekerasan dalam lingkup rumah tangga.
240
Arif Gosita memberikan pengertian tentang korban yaitu
mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat
tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri
sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan
hak asasi yang menderita.167
UU Penghapusan KDRT ini diatur mengenai hak-hak
korban, sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 10:
Korban berhak mendapatkan:
a. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan,
pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik
sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan
dari pengadilan.
b. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis
c. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban
d. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada
setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan ,dan
e. Pelayanan bimbingan rohani
Dengan adanya pasal yang memuat tentang hak-hak korban
ini maka diharapkan korban kekerasan dalam rumah tangga akan
mendapat perlindungan dari Negara dan/atau masyarakat sehingga
tidak mengakibatkan dampak traumatis yang berkepanjangan.
Sesuai dengan konsideran UU Penghapusan KDRT, korban
kekerasan dalam rumah tangga, yang kebanyakan perempuan harus
mendapat perlindungan dari Negara dan/atau masyarakat agar
terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasa,
167
Arif Gosita, 1993, Masalah Korban Kejahatan, CV. Akademika
Pressindo, Jakarta, hlm. 63.
241
penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat
kemanusian.168
Selain mengatur tentang hak-hak korban, UU Penghapusan
KDRT ini pun mengatur tentang pelayanan yang diberikan
terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga, pelayanan tersebut
diberikan oleh kepolisian dengan menyediakan ruang pelayanan
khusus (RPK) bekrjasama dengan tenaga kesehatan, pekerja sosial,
relawan pendamping, dan/atau pembimbing rohani untuk
mendampingi pasal (Pasal 17).
Korban kekerasan dalam rumah tangga dapat melaporkan
secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian
baik di tempat korban berada maupun di tempat kejadian perkara
atau dapat juga memberikan kuasa kepada keluarga atau orang lain
untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya.
Sebuah kemajuan lain dalam UU PKDRT adalah korban
dapat mengajukan permohonan surat perintah
penetapan
perlindungan kepada pengadilan. Dengan demikian selama dalam
proses korban berada dalam kondisi yang aman dan dilindungi.
Permohonan untuk memperoleh surat perintah penetapan
perlindungan dapat diajukan oleh korban atau keluarga korban,
teman korban, kepolisian, relawan pendamping, atau pembimbing
rohani.
Permohonan perlindungan tersebut dapat diajukan baik
secara lisan maupun tulisan (Pasal 30). Ketua pengadilan dalam
tenggang waktu 7 penetapan yang berisi perintah perlindungan bagi
korban dan anggota keluarga lain, kecuali ada alasan yang patut.
Perintah perlindungan yang dikeluarkan oleh ketua Pengadilan
168
Rena Yulia, Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kekerasan dalam
Rumah Tangga dalam Penegakan Hukum, Mimbar, LPPM-UNISBA, Bandung, hlm.
322.
242
Negeri dapat diberikan dalam waktu paling lama 1 (satu) tahun dan
dapat diperpanjang atas penetapan pengadilan.
Dengan demikian menyangkut perlindungan terhadap
korban KDRT, secara normatif sudah memenuhi, tetapi perlu
pelaksanaan lebih lanjut dari ketentuan tersebut baik berupa
kebijakan maupun tindakan.
Hal ini berkenaan dengan pengaturan bentuk-bentuk
kekerasan yang termasuk ke dalam delik aduan dan delik biasa.
Perbuatan yang termasuk dalam delik aduan (Pasal 51-53)
merupakan prebuatan kekerasan yang terjadi antara suami dan istri
yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan perkerjaan, jabatan atau mata pencaharian atau
kegiatan sehari-hari. Ini dimaksudkan agar wilayah privasi suami
dan istri dalam rumah tangga tetap terjaga, untuk itu diperlukan
kerjasama dari korban kekerasan berupa pengaduan sehingga lebih
mudah dalam penanggulangannya.
UU Penghapusan KDRT ini mengatur pula mengenai sanksi
pidana bagi pelaku kekerasan dalam rumah tangga, berbeda dengan
KUHAP yang hanya mengatur tentang sanksi berupa pidana
berupa:
a. Pembatasan gerak pelaku baik yang bertujuan untuk
menjauhkan pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu,
maupun pembatasan hak-hak tertentu dari pelaku
b. Penetapan pelaku mengikuti program konseling di bawah
pengawasan lembaga tertentu.
Akan tetapi dalam UU Penghapusan KDRT ini dirumuskan
sistem sanksi secara alternative, pelaku KDRT dapat dikenakan
pidana penjara atau pidana denda. Dengan demikian dalam
pelaksanaannya akan memberikan ketidakadilan bagi korban
KDRT itu sendiri, dengan adanya sanksi alternative pelaku KDRT
243
dapat memilih untuk membayar denda daripada melaksanakan
pidana penjara.
Selanjutnya dalam hal pembuktian di pengadilan, Pasal 183
KUHAP mensyaratkan sekurang-kurangnya ada dua alat bukti
yang sah sehingga ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak
pidana telah terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya, kemudian hakim menjatuhkan putusan.
Mengenai pembuktian perkara di pengadilan, UU PKDRT
mengatur sebagaimana yang termuat dalam Pasal 55, bahwa
sebagai salah satu alat bukti yang sah keterangan seorang saksi
korban saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa
bersalah, apabila disertai dengan alat bukti yang sah lainnya. Hal
ini mengandung pengertian bahwa keterangan saksi korban
ditambah dengan alat bukti lainya sudah cukup membuktikan
terdakwa bersalah.
Ini bisa saja mengandung arti bahwa
keterangan saksi korban dianggap sebagai salah satu alat bukti dan
jika ditambah satu alat bukti lainnya maka sudah cukup bagi hakim
untuk menjatuhkan pidana kepada pelaku.
UU PKDRT merupakan suatu aturan yang memberi solusi
untuk mencegah dan menanggulangi tindak pidana kekerasan
dalam rumah tangga sebagai upaya penegakan hukum. Namun
tetap diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah dengan
masyarakat serta korban kekerasan itu sendiri.
D. Kedudukan Korban dalam Decalaration of Basic Principles of
Justice for Victimis of Crime and Abuse of Power
Korban dalam Declaration Of Basic Principles Of Justice For
Victims Of Crime And Abuse Of Power meliputi dua hal, yaitu
korban kejahatan dan korban penyalahgunaan kekuasaan.
244
Pengertian korban kejahatan dalam declaration of basic
principles of justice for victims of crime and abuse of power
adalah:
“Victimis” means persons who, individually or
collectively, have suffered harm, including physical or mental
injury, emotional suffering, economic loss or substantial
impairment of their fundamental rights, through acts or omissions
that are in violation of criminal laws operative within Member
States, including those laws proscribing criminal abuse of power.
Istilah korban juga termasuk, keluarga atau orang yang
bergantung kepada orang lain yang menjadi korban. Dengan
demikian korban yang dimaksud bukan hanya korban yang
mengalami penderitaan secara langsung, melainkan keluarga atau
orang-orang yang mengalami penderitaan akibat dari
menderitanya si korban tadi.
Dalam declaration of basic principles of justice for
victims of crime and abuse of power terdapat beberapa hak yang
fundamental bagi korban, yaitu:
1. Access to justice and fair treatment
Korban harus diperlakukan dengan rasa kasihan dan
rasa hormat. Mereka berhak atas akses kepada mekanismemekanisme dari keadilan dan untuk mengganti kerugian.
Mekanisme-mekanisme administratif dan hal tentang
pengadilan harus dibentuk/mapan dan diperkuat di mana perlu
memungkinkan korban-korban untuk memperoleh mengganti
kerugian melalui prosedur-prosedur formal atau informal yang
bersifat cepat dan efisien, adil, dapat diakses dan yang murah,
korban-korban harus diberitahukan tentang hak-hak mereka di
dalam mencari-cari mengganti kerugian melalui mekanismemekanisme seperti itu.
245
Kemampuan reaksi dari proses-proses administratif dan
hal tentang pengadilan sesuai dengan kebutuhan korban harus
dimudahkan oleh:
Kebutuhan korban yang berkaitan dengan proses
pengadilan diantaranya:
(a) Member tahu korban-korban dari peran mereka dan
lingkup, pemilihan waktu dan kemajuan dari cara bekerja
dan disposisi kasus-kasus mereka, terutama kejahatankejahatan yang serius dilibatkan dan mereka sudah
meminta informasi.
(b) Korban didengar keinginannya untuk dipertimbangkan
(c) Bantuan yang tepat kepada korban-korban sepanjang
proses yang hukum
(d) Memperlakukan korban dengan baik dan menjamin
keselamatan keluarga korban dan saksi dari ancaman dan
intimidasi.
(e) Menghindari penundaan dalam mengabulkan putusan
korban-korban
2. Restitution
Pelaku kejahatan atau pihak ketiga bertanggung jawab
untuk mengganti kerugian kepada korban-korban, keluargakeluarga atau orang yang bergantung kepada korban.
Penggantian kerugian seperti itu termasuk kembalinya harta
atau pembayaran utnuk kerugian yang diderita dan pemulihan
hak-hak.
Pemerintah perlu meninjau ulang pelaksanaan dari
peraturan
undang-undang
untuk
mempertimbangkan
penggantian kerugian dalam perkara pidana. Termasuk dalam
kasus kejahatan lingkungan. Lebih baik dilakukan pemuliah
lingkungan atau ganti kerugian.
246
3. Compensation
Kompensasi diberikan kepada korban oleh pelaku. Akan
tetapi pada saat pelaku tidak sanggup untuk membayar maka
kompensasi itu harus dibayar oleh Negara.
Korban yang mendapat kompensasi yaitu:
(a) Korban yang menderita luka fisik maupun psikis akibat dari
kejahatan yang berbahaya
(b) Keluarga korban
4. Assitance/bantuan
Korban perlu menerima bantuan baik medis, sosial dan
psikologis. Bantuan ini disalurkan melalui bidang pemerintahan
atau masyarakat. Korban harus dijamin kesehatannya.
Para aparat terkait harus mempunyai pengetahuan yang
cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan korban. Sehingga
bantuan yang diberikan optimal dan professional. Bantuan yang
diberikan harus tepat sasaran.
E. Kedudukan Korban dalam Sistem Peradilan Pidana Islam
Persoalan kejahatan sudah ada sejak manusia ada
sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab suci agama, oleh karena
itu secara substantive pencegahan dan penanggulangan kejahatan
sudah merupakan perhatian dari para Nabi yang implementasinya
bisa dilihat dalam bab jinayat yang memberikan hukuman bagi
pelaku dan melibatkan partisipasi korban dalam menyelesaikan
akibat dari suatu kejahatan.
Hukuman dalam hukum pidana Islam terdiri dari 3 jenis,
yaitu hudud, qishosh diyat dan ta’zir. Dari ketiga jenis hukuman
tersebut, yang bersinggungan dengan konsep restorative justice
adalah pidana qishash diyat.
Pada hakikatnya pidana qishash diyat itu merupakan
bentuk pidana yang bersifat melindungi korban. Dilihat dari cara
247
dan wewenang menuntut dan melaksanakan pidana qishash diyat
itu dibatasi dan diatur dalam Al-quran dan Hadist, maka
ketentuan mengenai kedua bentuk pidana ini juga, sebenarnya
melindungi dan meringankan beban terpidana.169
Hakikat yang terkandung dalam konsep pidana diyat
adalah adanya prinsip pembalasan terhadap kejahatan, prinsip
perlindungan terhadap korban atau keluarganya, dan prinsip
perdamaian dan pemaafan yang sangat ditekankan antara
terpidana dan keluarga korban.
Pada dasarnya, hukuman kisas dan diyat bertujuan untuk
menjaga kemaslahatan masyarakat dengan mengabaikan keadaan
pelaku tindak pidana. Dengan kata lain, hukum Islam tidak
memperhatikan pribadi dan kondisi pelaku kecuali jika korban
atau wilayah memberikan ampunan.
Demikianlah,
tindak
pidana
pembunuhan
dan
penganiayaan menyentuh eksistensi masyarakat.
Walaupun
demikian, tindak pidana ini lebih menyentuh korban dari pada
menyentuh masyarakat, tindak pidana ini bahkan tidak menyentuh
masyarakat kecuali terlebih dahulu menyentuh korban. Apabila
korban atau walinya telah mengampuni pelaku, maka tidak ada
jalan lain selain melakukan penegakan hukum supaya keadilan
dirasakan oleh masyarakat umum. Ini karena pengaruh pidana
berat itu telah hilang oleh pemaafan korban sehingga pidana itu
menjadi tidak berbahaya dan tidak mempengaruhi eksistensi
masyarakat.170
Pada realitasnya, si korban atau walinya tidak akan
mengampuni pelaku kecuali ia telah benar-benar memaafkan
169
H.C. Najmuddin HS, Tujuan Pemidanaan dalam Hukum Pidana Islam,
Tesis, Universitas Islam Bandung, Bandung, 2001, hlm. 96.
170
Abdul Qadir Audah, 2007, At-Tasyri al-jina I al-Islamiy Muqaranan bil
Qanunil Wad‟iy, Edisi Indonesia, Penerjemah Tim Tsalisah, Ensiklopedi Hukum
Pidana Islam, PT. Kharisma Ilmu, Jakarta.
248
pelaku atau melihat adanya manfaat material pada diyat. Artinya,
alasan pengampunan si korban/walinya dapat berupa dua hal:
pemaafan dan manfaat material yang berupa diyat untuk
korban/walinya. Kedua alasan ini disyariatkan dan dihalalkan
oleh hukum Islam.
Alasannya, pemaafan bermakna
menghilangkan pertikaian dan kedengkian, sedangkan sikap
mengutamakan pembayaran diyat daripada menjatuhkan hukuman
bermakna sikap toleransi, memaafkan, dan melemahkan rasa
permusuhan. Tidak diragukan lagi bahwa hak korban atau
walinya adalah agar mereka menjadi pihak pertama yang
mendapat manfaat atas tindak pidana yang menimpa mereka
setelah mereka menanggung penderitaan yang tidak ditanggung
oleh orang lain.171
Korban atau walinya diberi wewenang untuk mengampuni
hukumam kisas. Apabila ia memaafkannya, gugurlah hukuman
kisas tersebut. Pemberian ampunan terkadang bisa dengan cumacuma atau dengan membayar diayat kepada korban/walinya.
Meskipun demikian, pengampunan tersebut tidak menghalangi
penguasa untuk menjatuhkan hukuman takzir yang sesuai
terhadap pelaku.172
Pada dasarnya, korban atau walinya tidak mempunyai
wewenang untuk memberikan pengampunan dalam perkara
pidana umum, tetapi dalam pidana kisas diyat, mereka diberi hak
untuk memberikan pengampunan terhadap pelaku sebagai
pengecualian karena tindak pidana ini sangat erat hubungannya
dengan pribadi korban, juga karena tindak pidana ini lebih banyak
menyentuh pribadi korban daripada keamanan masyarakat dan
sistemnya.173
171
Ibid, hlm. 23-24.
Ibid, hlm. 69.
173
Loc.cit.
172
249
Hukum Islam memberikan hak pengampunan kepada
korban atau walinya berdasarkan pertimbangan yang logis dan
praktis karena pada dasarnya, hukuman ditetapkan untuk
memberantas tindak pidana, tetapi pada banyak keadaan hukuman
tidak selalu dapat mencegah terjadinya tindak pidana, sedangkan
pengampunan seringkali dapat mencegah terjadinya tindak
pidana. Ini karena pengampunan baru akan terjadi setelah adanya
perdamaian dan kebersihan hati antara kedua belah pihak dari
unsur-unsur yang mendorong terjadinya tindak pidana.174
Jadi dalam hal ini, pengampunan dapat melakukan tugas
hukuman dan mewujudkan hasil yang tidak dapat dilaksanakan
oleh hukuman itu sendiri. Inilah sisi praktis pemberian hak
pengampunan.
Adapun dari sisi logika, tindak pidana
pembunuhan dan pelukaan bersifat perseorangan yang berasal
dari motif perseorangan. Tindak pidana ini lebih banyak
menyentuh kehidupan dan fisik korban daripada menyentuh
masyarakat. Karena itu, selama suatu tindak pidana memiliki
keterkaitan dengan perseorangan korban, penjatuhan hukumannya
menjadi hak korban.175
Hukum Islam mengakui sistem pengampunan (hak korban
dalam memberikan pengampunan), prinsip ini diakui oleh hukum
modern pada masa kini sehingga hukum Islam tetap lebih unggul
daripada hukum konvensional karena memilih logika penerapan
pengampunan tersebut dengan baik. Alasannya, penetapan hak
pengampunan bagi tindak pidana pembunuhan bagi tindak pidana
pembunuhan dan penganiayaan akan menghasilkan perdamaian
dan kerukunan serta menghilangkan kedengkian dan rasa dendam.
Konsep seperti ini implementasinya diberikan langsung
kepada masing-masing Negara yang menerapkan hukum pidana
174
175
Loc.cit.
Ibid, hlm. 70.
250
Islam, tetapi secara prinsip, konsep restorative justice embrionya
sudah ada dalam stelsel pemindanaan yang dianut dalam hukum
pidana Islam.
Melihat konsep-konsep yang telah dikemukakan di atas,
restorative justice maupun prinsip-prinsip hukum pidana Islam
(konsep pemaafan), persaudaraan, konsep tersebut bisa
diberlakukan dengan atau tanpa melalui sistem peradilan pidana.
RANGKUMAN
1. Kedudukan korban dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana (Pasal 98-101) adalah hak korban dalam menuntut ganti
kerugian. Mekanisme yang ditempuh adalah penggabungan
perkara gugatan ganti kerugian pada perkara pidana.
Penggabungan perkara ganti kerugian merupakan acara yang khas
dan karakteristik, yang ada di dalam isi ketentuan dari KUHAP.
2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan
Saksi dan Korban kedudukan korban tidak hanya sekedar dapat
ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk
perlindungan dan dukungan keamanan atau dapat memperoleh
informasi mengenai putusan pengadilan atau pun korban dapat
mengetahui dalam hal terpidana dibebaskan. Namun, sebagai
pihak yang dirugikan korban pun berhak untuk memperoleh ganti
rugi dari apa-apa yang diderita.
3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan
Saksi dan Korban di dalam Pasal 7 menyebutkan bahwa korban
dapat mengajukan hak atas kompensasi (dalam kasus pelanggaran
HAM berat) dan hak atas restitusi atau ganti kerugian yang
menjadi tanggung jawab pelaku tindak pidana.
4. Pasal 10 UU Penghapusan KDRT korban berhak mendapatkan
Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan,
251
5.
6.
pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik
sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan
dari pengadilan, pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
medis, penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan
korban, pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum
pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan ,dan pelayanan bimbingan rohani.
Dalam declaration of basic principles of justice for victims of
crime and abuse of power terdapat beberapa hak yang
fundamental bagi korban, yaitu: Access to justice and fair
treatment, Restitution, Assistance/bantuan, Compensation.
Korban yang mendapat kompensasi yaitu korban yang menderita
luka fisik maupun psikis akibat dari kejahatan yang berbahaya
dan keluarga korban.
Hukum Islam mengakui sistem pengampunan (hak korban dalam
memberikan pengampunan), prinsip ini diakui oleh hukum
modern pada masa kini sehingga hukum Islam tetap lebih unggul
daripada hukum konvensional karena memilih logika penerapan
pengampunan tersebut dengan baik. Alasannya, penetapan hak
pengampunan bagi tindak pidana pembunuhan bagi tindak pidana
pembunuhan dan penganiayaan akan menghasilkan perdamaian
dan kerukunan serta menghilangkan kedengkian dan rasa dendam.
LATIHAN
1. Jelaskan kedudukan korban dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana.
2. Jelaskan kedudukan korban dalam Undang-Undang Nomor
13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
3. Jelaskan kedudukan korban dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah
Tangga.
252
4.
Sebutkan dan jelaskan hak-hak dasar korban dalam Declaration
of Basic Principles of Justice for Victimis of Crime and Abuse of
Power
5. Jelaskan kedudukan korban dalam sistem peradilan pidana
Islam.
GLOSSARIUM
1. Access to justice and fair treatment artinya korban harus
diperlakukan dengan rasa kasihan dan rasa hormat. Mereka
berhak atas akses kepada mekanisme-mekanisme dari keadilan
dan untuk mengganti kerugian.
2. Restitution artinya pelaku kejahatan atau pihak ketiga
bertanggung jawab untuk mengganti kerugian kepada korbankorban, keluarga-keluarga atau orang yang bergantung kepada
korban.
3. Compensation adalah pembayaran sejumlah uang kepada
korban oleh pelaku. Akan tetapi pada saat pelaku tidak
sanggup untuk membayar maka kompensasi itu harus dibayar
oleh Negara.
4. Assitance adalah bantuan kepada korban berupa medis, sosial
dan psikologis.
Bantuan ini disalurkan melalui bidang
pemerintahan atau masyarakat.
Korban harus dijamin
kesehatannya.
5. Restorative justice adalah sebuah konsep pemaafan yang
diberikan oleh korban kepada sipelaku.
6. Qishas adalah suatu bentuk jarimah (tindak pidana) yang
diancam dengan hukuman qishas (sama dengan yang
dilakukan oleh pelaku mis. membunuh dibunuh, mata dengan
mata, telinga dengan telinga, tangan dengan tangan dan
sebagainya) dan dapat diganti dengan diyat.
253
7. Diyat adalah hukuman pengganti qishas dimana korban atau
walinya mengampuni pelaku yang berupa ganti kerugian dan
sebagainya.
8. Takzir adalah hukuman yang datangnya dari penguasa atau
hakim.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Qadir Audah, 2007, At-Tasyri al-jina I al-Islamiy Muqaranan
bil Qanunil Wad‟iy, Edisi Indonesia, Penerjemah Tim Tsalisah,
Ensiklopedi Hukum Pidana Islam, PT. Kharisma Ilmu, Jakarta.
Arif
Gosita, 1993, Masalah Korban Kejahatan
Karangan), Akademika Pressindo, Jakarta.
Dikdik
(Kumpulan
M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, 2007, Urgensi
Perlindungan Korban Kejahatan antara Norma dan Realita,
P.T. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
H.C. Najmuddin HS, 2001, Tujuan Pemidanaan dalam Hukum Pidana
Islam, Tesis, Universitas Islam Bandung, Bandung.
M. Yahya Harahap, 2003, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan
KUHAP, Mandar Maju, Bandung,.
R. Soeparmono, 2003, Praperadilan dan Penggabungan Perkara
Gugatan Ganti Kerugian dalam KUHAP, Mandar Maju,
Bandung.
Rena Yulia, Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kekerasan
dalam Rumah Tangga dalam Penegakan Hukum, Mimbar,
LPPM-UNISBA, Bandung.
Romli Atmasasmita, 1996, Sistem Peradilan Pidana (Perspektif
Eksisten-sialisme dan Abolisionisme, Binacipta, Bandung,.
254
Rusli Muhammad, 2007, Hukum Acara Pidana Kontemporer, Citra
Aditya Bakti, Bandung,.
Sidik Sunaryo, 2005, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, UMM
Press, Malang.
255
INDEKS
A
a true king,10.
abuse power,187.
accessible, 82.
achievement, 81.
action research, 64, 70.
adulthood, 77.
anomie, 80, 96.
applied science, 162.
assessment, 81.
B
behavior, 79.
Berkeley's riot, 12.
Biologically weak victims 196, 243.
bio-typological, 30.
blinder, 75.
broken home, 35, 38, 132.
Business Crime, 83, 85.
C
carok,203
Children’s Right,185.
chillhood, 77.
Code Civil Napoleon, 3.
concentinal individuals, 82.
contact subculture, 82.
Corporate Crime, 83, 85.
Crime as business, 189.
crime index, 67.
crimen, 46, 61, 212.
Criminal biology, 9.
Criminal Law, 9.
Criminal Policy, 9.
Criminal science, 9, 14.
Criminal sosiology, 9.
criminele hygiene, 6.
criminile politiek, 6.
Criminology, 9, 12, 80, 85, 88.
Critical Victimology, 183.
Cross empiricism, 80.
cultural changer, 75.
culture conflict, 73.
D
dark figures, 66, 72.
dark numbers, 66, 72.
das es, 33, 34.
das ich, 33, 34.
das uber ich, 3, 34.
delinquensi,
delinquent,
delinquent sub-culture,
depersonalized,
determinisme biologis,
determinisme kultural,
deterrence,
deterrent effects,
devian,
diagnosis viktimologis,
Die gesammte strafrechts,
wissenschaft,
diferential acces,
differential association,
disparity,
E
economic crime,
ego,
emosiuonal-immaturity,
Environment Crime,
environmental offences,
eulogize,
expectation,
external limits,
F
False victimis,
feeblemindedness,
felony,
female based family,
financial,
G
general victimology,
H
hedonisme,
hidden criminality ,
household home,
I
id,
256
INDEKS
illegal abuses of economic power,
illegal trafficking in drugs,
image,
imitate,
imitation,
index of disfunction,
industrial crime,
inquiry,
ius constitutum,
J
job aspirations,
job expectation,
K
kings without a country,
konota,
L
la defense sociale,
Latent victims,
Legal Reform,
lex talionis,
logos,
Lombrosian,
lower classes,
M
mala In se,
mala in se,
mala prohibita,
Mental tester,
meta science,
middle classes,
middle range,
milieu,
mis demenor,
moral insanity,
moral insanity,
moral statistics of crime,
multiplace,
N
necessary,
new victimology,
No victimization,
Nonparticipating victims,
O
Oeconomische Gisellschaft,
opportunity,
optional,
organized crime,
out of man’s will,
P
Parens Patriae,
pars pro toto,
Participating victims,
penal or special victimology,
Penal policy,
phenomenology,
police scientifique ,
precipitasi,
Primary victimization,
Procative victims,
Provocative victims,
psychiatric,
Q
quantifying,
R
racket,
rechtsdelicten,
regularities,
restitution,
restorative justice,
retribution,
rites the passage,
role playing,
S
science for science,
science for the interest of the power,
elite,
science for the welf are of society,
Secondary victimization,
self report study,
Self victimizing victims,
Selt-victimization,
single factor,
single theory,
skeletal,
257
INDEKS
slums,
social class,
social class system,
social contract,
social status,
sociological imagination,
Sosially weak victims,
spirit of the law,
status deprivation,
status quo,
street crime,
structured strain,
stuctutarlsrain,
sub-cultures,
subject matter,
success,
sudden social change,
sufficient,
super ego,
symptomatology,
system of institutionalized trust,
terrorism,
T
Tertiary victimization,
testable,
the lower class culture,
the street gang,
theft,
thin,
toegepaste criminologie ,
typical,
typological,
U
uccupational,
Unrelated victims,
V
values of variable,
Victim Compensation,
victim justice system,
victim survey,
victima,
victimity,
victimless crime,
victim-offender relationship,
W
wetsdelicten,
white collar crime,
White Collar Crime,
working class,
working class apathy,
World Society of Victimology,
Z
zuiver criminologi,
Download