dinamika peer group dalam proses interaksi komunitas, jurusan

advertisement
DINAMIKA PEER GROUP DALAM PROSES INTERAKSI
KOMUNITAS, JURUSAN DESAIN, PROGRAM STUDI DESAIN
KOMUNIKASI VISUAL, FAKULTAS SENI RUPA, INSTITUT SENI
INDONESIA YOGYAKARTA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran
Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Strata Satu Sosiologi Agama (S.Sos)
Disusun Oleh :
Masri Muhamad
NIM. 08540013
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
HALAMAN MOTTO
“Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil;
kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan
baik”
-
Evelyn Underhill
“Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai
melakukannya. Karena semua impian Kita dapat menjadi
nyata, saat Kita memiliki keberanian untuk mengejarnya.
Keep Moving Forward...!!!”
-
v
Walt Disney
HALAMAN PERSEMBAHAN
Ayahanda dan Ibunda tercinta yang senantiasa mencintai dan menyayangi dengan
segenap hati seraya selalu mendoakan dalam sujudnya. Perhatiannya yang tidak
ada habisnya yang terselimuti dengan kasih sayang.
Kakak-kakak kandungku yang tanpa henti memperbarui semangat dan selalu
memompa dengan kekuatan impian yang tidak ada hentinya, sehingga perjalanan
Tugas Akhir ini berjalan dengan lancar dan sukses.
“Saya bisa saja lupa, karena saya manusia. Tapi saya tidak akan mematikan
pikiran saya dalam mengingat Ibu, Ayah, Kakak, dan Kawan-Kawan
Seperjuanganku terutama Mereka yang tak nampak dimata tapi dekat di doa”
Terima Kasih
vi
DINAMIKA PEER GROUP DALAM PROSES INTERAKSI KOMUNITAS
JURUSAN DESAIN, PROGRAM STUDI DESAIN KOMUNIKASI
VISUAL, FAKULTAS SENI RUPA, INSTITUT SENI INDONESIA
YOGYAKARTA
Abstrak:
Mahasiswa sebagai bagian dari generasi pembentuk gerbang intelektualitas telah
memberikan ruang terhadap masa depan suatu bangsa yang cerah. Pembangunan
intelektualitas ini memberikan ruh yang besar terhadap generasi muda untuk
bergerak didunia akademik lebih semangat lagi. Hal ini terjadi juga pada kaum
muda yang berdedikasi dibidang seni diantaranya Insitut Seni Indonesia
Yogyakarta, terkhusus lagi Program Studi Desain Komuniaksi Visual atau
disingkat DKV.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang menggunakan metode
kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif berupa perkataan dari seseorang baik
tertulis maupun yang diucapkan, selain juga menggunakan metode observasi,
wawancara, dan studi dokumentasi dalam mengumpulkan data di Program Studi
Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia
Yogyakarta. Subyek dari penelitian ini adalah mahasiswa-mahasiswa komunitas
yang mengemban misi dan visi sebagai generasi tunas bangsa dalam bidang seni
di program studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.
Hasil penelitian ini adalah para mahasiswa komunitas di Program Studi Desain
Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta yang menjalankan
kegiatan-kegiatan studi di wilayah kampus. Dalam hal ini para mahasiswa
menjalankan kegiatan-kegiatan studinya sebagai makhluk sosial (social people).
Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi interaksi sosial antar sesama mahasiswa,
mahasiswa dengan kelompok (community) yang tidak luput dari adanya teman
sebaya (peergroup), dan kelompok dengan kelompok. Dalam hal interaksi sosial
yang terjadi ini tentu akan sangat banyak kepentingan atau interest (kepentingan)
baik yang bersifat individu maupun kelompok.
Kata kunci: dkv, peer group, interaksi sosial, komunitas
vii
KATA PENGANTAR
ِ‫ِبسْنِ اهللِ الّرَحْويِ الّرَحِيْن‬
ُ ‫ال‬
َ َ‫ل‬
َ ‫ وَال‬. ِ‫سىْ ُ اهلل‬
ُ ‫هلل وََاشْهَدُ اَىَ هُحَوَدا َس‬
ِ ‫ َاشْهَدُ اَىْ الَ إِلهَ إِالَ ا‬. ِ‫سالَم‬
ْ ‫إل‬
ِ ْ‫ى وَا‬
ِ ‫اَلْحَوْد هللِ الَذِي اًَْعَوٌََا بٌِِعْوَةِ اْإلِيْوَا‬
. ُ‫ أَهَا بَعْد‬. َ‫ي سَيِّدًَِا هُحَوَ ٍد وَعَلًَ ألِهِ وَصَحْبِهِ أَجْوَعِيْي‬
َ ْ‫سالَمُ عَلًَ َاشّْرَفِ اْألًَْبِيَا ِء وَاْلوُ ّْرسَلِي‬
َ ‫وَال‬
Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa penyusun haturkan ke
hadirat Allah Azza Wa Jalla atas limpahan rahmat, inayah serta hidayah-Nya.
Sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lulus.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabiyullah Muhammad
SAW yang telah membimbing umatnya dengan cahaya keimanan di dalam hati
melalui ajaran kasih yang dibawanya, Islam Nur Kariim.
Meskipun penulisan ini baru dalam tahap awal dari sebuah perjalanan
panjang akademis, namun penyusun berharap semoga karya ilmiah ini
memberikan nilai kemanfaatan yang besar dan luas bagi perkembangan peradaban
ilmu pengetahuan.
Penyusun menyadari bahwa keseluruhan proses penyusunan skripsi ini
telah melibatkan banyak pihak, baik itu saat bimbingan ataupun disaat
memberikan semangat motivasi. Oleh karena itu, melalui pengantar ini penyusun
hendak menghaturkan ucapan terima kasih yang sangat besar kepada:
1.
Bapak Prof. Drs. H. Akh Minhaji, MA. Ph.D selaku Rekor Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
viii
2.
Bapak Dr. Alim Ruswantoro, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan
Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3.
Terutama kepada beliau Bapak Dr. Munawar Ahmad, S.S, M.Si. selaku
pembimbing skripsi yang dengan kebijaksanaan dan kesabarannya membaca,
mengoreksi, dan memberikan bimbingan berupa masukan yang sangat berarti
buat penyusun sehingga mampu terselesaikan penulisan skripsi ini.
4.
Ibu Adib Sofia, S.S, M.Hum, MA selaku Ketua Program Studi Sosiologi
Agama.
5.
Bapak Dr. Muhammad Damami, M.Ag. selaku dosen pembimbing akademik
yang dengan keluhuran pemikiran dan kewibawahannya memberikan
semangat dalam proses penyelesaian skripsi ini.
6.
Bapak Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah, MA. selaku dosen pembimbing
akademik
pengganti
Bapak
Muhammad
Damami
yang
senantiasa
memberikan arah pencerahan bagi penyelesaian tugas akhir ini. Dengan
memberikan “the key of knowledge” semakin memudahkan dan memberikan
nilai motivasi yang luar biasa bagi pergerakan keilmuan kedepan.
7.
Segenap Dosen dan karyawan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, khususnya dosen
Program Studi Sosiologi Agama yang dengan semangat mengajar
memberikan ilmu segenap motivasi membangun kepada penyusun selama
mengikuti perkuliahan di Program Studi Sosiologi Agama ini.
ix
8.
Bapak Drs. Hartono Karnadi, M.Sn selaku Ketua Program Studi DKV atas
izin yang diberikan dalam proses penelitian selama di lingkup Program Studi
DKV, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta.
9.
Bapak Drs. Muhammad Umar Hadi, MS. selaku Pembantu Dekan I Fakultas
Seni Rupa atas pengajaran singkatnya tentang Metodologi Desain dan situasi
keagamaan dilingkup sosial Program Studi DKV, Fakultas Seni Rupa, ISI
Yogyakarta.
10. Terpenting dan terutama bagi dosen-dosen Institut Seni Indonesia
Yogyakarta (ISI) seperti bapak FX. Widyatmoko, M.Sn., Albertus Charles
Tanama, M.Sn., semakin menyemarakkan proses berkesenian saya untuk
masa depan.
11. Rekan-rekan di Jurusan Desain, Program Studi Desain Komunikasi Visual
dan Desain Interior maupun Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa, ISI
Yogyakarta.
12. Bapak dan ibu tercinta, beserta kedua kakak Alif Lam Haris dan Prasetya
Wisuda S.Sos terkasih serta segenap keluarga yang telah memberikan
dukungan baik moril maupun materil kepada penyusun di saat proses
penyelesaian skripsi ini.
13. Para sahabat-sahabat seperjuangan Muhammad Alfiano S.Sos alumnus
Program Studi Sosiologi Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Beserta Fachrizal Athiena S.Sn sarjana strata satu bidang Seni Rupa Murni
dan Daris Muhamad S.Sn sarjana jurusan Desain Interior ISI Yogyakarta.
Teman semasa SMA yang menemani saya sampai ke kampus seni ini,
x
Nugroho Daru Cahyono mahasiswa bidang DKV ISI Yogyakarta. Tidak lupa
juga untuk teman-teman dari komunitas Night Vision Club (NVC), Kawasaki
Athlete Community Yogyakarta (KACY), dan Jogja Expedition Squadron
(JES).
14. Terkhusus bagi mereka yang tidak mau disebutkan namanya dalam diam,
semoga Allah memberkahi dan membalas doa beliau.
15. Semua pihak yang telah ikut berjasa dalam penyusuan skripsi ini yang tidak
mungkin penyusun sebutkan satu persatu
Kepada semua pihak tersebut diatas semoga amal baik yang telah
diberikan di terima di sisi Allah Azza Wa Jalla, dan mendapatkan limpahan
rahmat dan kasih sayang dari-Nya. Semoga penelitian ini bisa memberikan
kemanfaatan yang besar kepada peradaban ilmu pengetahuan manusia di masa
kini maupun yang akan datang. Ada kurang dan lebihnya mohon dimaafkan dan
apabila terdapat kesalahan data, kutipan, maupun beberapa hal teknis harap
dimaklumi. Demikian atas perhatiannya penyusun mengucapkan terima kasih.
Yogyakarta,
30 Agustus 2015
Penyusun,
Masri Muhamad
NIM. 08540013
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .........................................................................................
i
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN …………………………………...
ii
HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ..........................................................
iii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................
iv
HALAMAN MOTTO ........................................................................................
v
HALAMAN PERSEMBAHAN .........................................................................
vi
ABSTRAKSI …………………………………………………………………..
vii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... viii
DAFTAR ISI ......................................................................................................
xii
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................
xv
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .....................................................................
1
B. Rumusan Masalah ................................................................
6
C. Tujuan & Kegunaan Penelitian ............................................
7
D. Tinjauan Pustaka ..................................................................
8
E. Kerangka Teoritik ................................................................
14
F. Metode Penelitian ................................................................
23
G. Sistematika Pembahasan ......................................................
26
GAMBARAN UMUM INSTITUT SENI INDONESIA
YOGYAKARTA
A. Ruang Lingkup Institut Seni Indonesia Yogyakarta ............
29
1. Sejarah dan Perkembangan Insitut Seni Indonesia
Yogyakarta ……………………………..……………..
29
2. Visi dan Misi Institut Seni Indonesia Yogyakarta …….
31
3. Lambang Insitut Seni Indonesia Yogyakarta …….…...
32
xii
B. Ruang Lingkup Fakultas Seni Rupa, Insitut Seni Indonesia
Yogyakarta ...........................................................................
35
1. Sejarah dan Perkembangan ASRI, Akademi Seni Rupa
Indonesia ………………………………………………
35
2. ASRI Menjadi STSRI “ASRI” ………………………..
38
3. Dari STSRI “ASRI” ke Fakultas Seni Rupa, Institut Seni
Indonesia Yogyakarta …………………………………
39
4. Visi dan Misi Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia
Yogyakarta ……………………………………………
40
C. Profil Program Studi Desain Komunikasi Visual …………
41
1. Prospek Lulusan Program Studi Desain Komunikasi
Visual…………………………………………………...
42
2. Visi dan Misi Program Sudi Desain Komunikasi Visual
42
D. Profil Komunitas Desain Komunikasi Visual Institut Seni
Indonesia Yogyakarta ...........................................................
44
E. Perkembangan Komunitas Desain Komunikasi Visual Institut
Seni Indonesia Yogyakarta ...................................................
63
F. Kepengurusan Komunitas Desain Komunikasi Visual Institut
Seni Indonesia Yogyakarta ...................................................
BAB III
70
KEHIDUPAN KOMUNITAS DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA
A. Mengenal Interaksi Peer Group Komunitas Desain Komunikasi
Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta ............................. 78
1. Ragam Interaksi Komunitas Desain Komunikasi Visual
Institut Seni Indonesia Yogyakarta ................................
BAB IV
79
DINAMIKA DAN PROSES INTERAKSI PEER GROUP
KOMUNITAS DESAIN KOMUNIKASI VISUAL INSITUT
SENI INDONESIA YOGYAKARTA
xiii
A. Proses Interaksi Sosial Komunitas Desain Komunikasi Visual
Institut Seni Indonesia Yogyakarta ..............................……
92
1. Interaksi Sosial Dalam Interaksionisme Simbolik …… 164
2. Komitmen, Afiliasi, dan Dominasi Pada Komunitas Desain
Komunikasi Visual Insitut Seni Indonesia Yogyakarta
102
3. Dinamika Kelompok dan Pengaruh Sosial Komunitas
Desain
Komunikasi
Visual
Institut
Seni
Indonesia
Yogyakarta ..................................................................... 104
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................... 108
B. Saran-saran .......................................................................... 111
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Lambang ISI Yogyakarta ............................................................ 32
Gambar 3.1
Lambang Komunitas Comiclub ................................................. 46
Gambar 3.2
Lambang Komunitas Titik Api ................................................. 53
Gambar 3.3
Lambang Komunitas Diskom Drawing Foundation ................. 57
Gambar 3.4
Lambang Komunitas Bingo ....................................................... 59
Gambar 3.5
Lambang Komuntas Diskomotion ............................................ 60
Gambar 3.6
Lambang Komunitas Studio Diskom ........................................ 61
Gambar 3.7
Foto Aktivitas Peer Group Komunitas Comiclub ……………... 83
Gambar 3.8
Foto Aktivitas Peer Group Komunitas Titik Api ……………… 85
Gambar 3.9
Foto Aktivitas Peer Group Komunitas DDF ………………….. 89
xv
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembahasan akan difokuskan pada ruang interaksi sosial mahasiswa
prodi DKV dalam wadah bernama komunitas. Tentu pemilihan awal tentang peer
group (teman sebaya) juga menarik untuk dikaji lebih dalam. Lagi-lagi peneliti
lebih tertarik pada ruang komunitas sebagai kajian studi kasusnya disamping
membahas mengenai proses interaksi sosial mahasiswa jurusan desain ini. Perlu
diketahui juga berdirinya komunitas di prodi DKV juga tidak lepas dari hadirnya
peer group yang bersosialisasi. Sehingga kajian peer group tetap akan menjadi
salah satu bagian yang akan dikaji pada pembahasan kedepannya.
Pada saat itu peneliti melihat ada beragam komunitas yang hidup di
sekitaran lingkup sosial prodi DKV. Walaupun pergerakan itu terkesan formal,
tetapi pada kenyataannya dalam menjalankan aktifitas kekomunitasannya tidak
begitu mempertimbangkan aturan semacam itu. Itulah fakta awal yang ada dan
tergambarkan dengan sangat jelas pada pergerakan komunitas di prodi DKV, ISI
Yogyakarta.
Komunitas menjadi bagian tidak terpisahkan dari keberadaan prodi DKV
ISI Yogyakarta sampai saat ini. Berbagai komunitas sempat naik turun untuk
menyemarakkan ruang sosial ke-dekave-an ini. Komunitas memang berbeda
2
dengan peer group atau teman sebaya. Community (komunitas) lebih kepada
kelompok orang yang memiliki kepentingan bersama dengan visi misinya yang
jelas kedepan.1 Sedangkan peer group (teman sebaya) lebih kepada satu atau
sekumpulan teman sebaya yang berinteraksi tanpa adanya aturan yang formal
dan mengikat atau suatu kelompok yang para anggotanya „setara‟.2
Walaupun pergerakan sebuah komunitas tidak harus formal, tetapi
pergerakan dasar dari komunitas tersebut sudah disepakati terlebih dahulu
sesama anggota misalnya komunitas tersebut bergerak dibidang/minat apa.
Sehingga dapat diperoleh kejelasan visi dan misi untuk kedepannya sekalipun
tidak begitu melibatkan sisi formalitas. Dan disamping itu keanggotaan juga
merupakan syarat terpenting dari berdirinya komunitas untuk sebagai penggerak
wadah ini. Ibaratnya komunitas itu kendaraan dan anggotanya sebagai
pengemudi sehingga bisa berjalan sebagaimana yang diinginkan bersama.
Dalam menjalankan pergerakan komunitas ini tentu mahasiswa yang
menjadi anggota memiliki sebuah aturan (rule) yang disepakati bersama. Aturan
itu biasanya disebut dengan budaya organisasi yaitu perangkat sistem nilai-nilai
(values), keyakinan-keyakinan (beliefs), asumsi-asumsi (assumtions), atau
norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati, dan diikuti oleh para anggota
suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah-masalah
1
Paul B. Horton, Chester L. Hunt (alih bahasa: Aminuddin Ram), Sosiologi, (Jakarta:
Erlangga, 1992), hlm. 248.
2
Paul B. Horton, Chester L. Hunt (alih bahasa: Aminuddin Ram), Sosiologi, (Jakarta:
Erlangga, 1992), hlm. 254.
3
organisasinya.3 Dalam budaya organisasi terjadi sosialisasi nilai-nilai dan
menginternalisasi dalam diri para anggota, menjiwai orang per-orang di dalam
organisasi. Dengan demikian, maka budaya organisasi merupakan jiwa
organisasi dan jiwa para anggota organisasi.
Selain adanya budaya organisasi, terkadang dalam sebuah kelompok
seperti organisasi atau komunitas harus memiliki komitmen. Faktor berupa
komitmen ini sebagai suatu sikap, Luthans yang menyatakan komitmen
organisasi merupakan: (1) keinginan yang kuat untuk menjadi anggota dalam
suatu kelompok, (2) kemauan usaha yang tinggi untuk organisasi, (3) suatu
keyakinan tertentu dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan-tujuan
organisasi. Komitmen juga berarti keinginan yang abadi untuk memelihara
hubungan yang bernilai.4
Bahkan dalam tubuh organisasi atau komunitas pun kerap sekali terlihat
dari kualitas kekaryaannya yang dihasilkan. Kualitas kekaryaan ini memiliki
pengertian perpaduan antara potensi dalam diri individu dengan faktor-faktor di
lingkungan kerja individu. Lingkungan kerja tersebut adalah lingkungan
langsung di mana seseorang tersebut bekerja, maupun lingkungan masyarakat.
Lingkungan tersebut bisa bersifat fasilitatif (menunjang dan memberi peluang)
ataupun menghambat aktualisasi dan potensi yang ada pada diri individu. Dengan
3
4
Edy Sutrisno, Budaya Organisasi, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 2.
Edy Sutrisno, Budaya Organisasi, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 292.
4
demikian, kualitas kekaryaan tersebut tentunya akan merupakan perpaduan tiga
komponen yang terlibat di sana, yaitu: (1) individu, (2) lingkungan kerja, dan (3)
masyarakat.5
Mahasiswa merupakan komponen utama di dalam sebuah lembaga
pendidikan tinggi, termasuk diantaranya Jurusan Desain, Program Studi DKV,
Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Adanya ratusan mahasiswa dari tiap
angkatan menjadi penilaian tersendiri terhadap pola pembelajaran yang
akan/sudah diajarkan dan imbas yang diberikan di lingkup sosial kampus
kedepannya.
Kehidupan sosial mahasiswa dapat terlihat dari proses interaksi yang
dijalaninya sehari-hari. Proses interaksi setidaknya akan sangat menarik untuk
disimak, mengingat nuansa lingkup sosial di ISI Yogyakarta khususnya memiliki
ciri khas tersendiri yang tidak ditemukan di lingkungan sosial perguruan tinggi
lainnya.
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial manusia,
sebab tanpa berinteraksi tidak akan ada kehidupan bersama. Proses interaksi
sosial sangat menarik perhatian peneliti, sebab orang-orang yang berinteraksi
sedikit banyak mempunyai pengaruh satu terhadap yang lainnya. Pemahaman
terhadap makna interaksi sosial dapat dipahami sebagai suatu proses di mana
5
Edy Sutrisno, Budaya Organisasi, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 317-318.
5
individu memperhatikan dan berespon terhadap individu lain, sehingga dibalas
dengan tingkah laku tertentu.6
Interaksi sosial yang terjadi di lingkungan sosial perguruan tinggi ISI
Yogyakarta setidaknya memperlihatkan nuansa unik dan berbeda. Ditambah
dengan kehadiran komunitas ditengah-tengah kehidupan sosial akan semakin
memberikan nuansa yang lebih beragam. Di dalam komunitas individu
merasakan adanya kesamaan satu dengan lainnya seperti di bidang usia,
kebutuhan, dan tujuan yang dapat memperkuat kelompok itu. Sehingga
kebersamaan yang terbentuk antar individu jauh lebih akrab, ketimbang dengan
keluarganya sekalipun. Begitupula yang terjadi di lingkup sosial Jurusan Desain,
Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta.
Adanya proses interaksi sosial yang terjalin antar individu, individu
dengan kelompok, maupun sesama kelompok sosial. Sedikit banyak membuat
suasana keberlangsungan kehidupan sosial di prodi perguruan tinggi seni tersebut
menjadi unik untuk lebih didalami, di samping memiliki daya tarik tersendiri
terhadap objek utama penelitian peneliti.
Pada kenyataannya dalam interaksi sosial yang terjalin kadang
menciptakan sebuah gaya atau mode yang bisa terlihat dalam kehidupan seharihari dilingkungan kampus. Gaya (fad) sendiri memiliki pengertian sebagai ragam
(variasi) tutur, dekorasi atau perilaku yang tidak penting dan berjangka waktu
pendek.
6
Gaya
sendiri
lahir
dari
keinginan
untuk
memperoleh
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 1992), hlm. 67.
dan
6
mempertahankan status sebagai seseorang yang lain atau status sebagai
pemimpin. Gaya itu hilang dengan sendirinya bila tidak lagi dipandang sebagai
sesuatu yang baru. Begitupula mode (fashion) sama dengan gaya, tetapi
mengalami perubahan lebih lambat dan bersifat tidak terlalu sepele, serta
kemunculannya cenderung bersiklus (cyclical).7
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penelitian dilakukan secara
lebih mendalam untuk mengetahui sekaligus memberikan pemahaman yang baik
tentang dinamika sosial komunitas Jurusan Desain, Program Studi Desain
Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta.
Dengan demikian dipilihlah judul penelitian tentang “Dinamika Peer
Group Dalam Proses Interaksi Komunitas, Jurusan Desain, Program Studi
Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia
Yogyakarta.”
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana Peer Group membentuk Komunitas Jurusan Desain, Program
Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia
Yogyakarta?
7
Paul B. Horton, Chester L. Hunt (alih bahasa: Aminuddin Ram), Sosiologi (Jakarta:
Erlangga, 1992), hlm. 185-186.
7
2. Bagaimana proses interaksi sosial pada Komunitas, Jurusan Desain, Program
Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia
Yogyakarta mempengaruhi sense of art mereka?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang akan dicapai dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui proses interaksi sosial mahasiswa yang terbentuk kedalam ruang
pergerakan Komunitas, Jurusan Desain, Program Studi Desain Komunikasi
Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
2. Mengetahui sejauh mana peer group mempengaruhi proses interaksi sosial
Komunitas, Jurusan Desain, Program Studi Desain Komunikasi Visual,
Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
3. Mengetahui kehidupan Komunitas Mahasiswa, Jurusan Desain, Program Studi
Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia
Yogyakarta.
4. Mengetahui lebih dalam sense of art mahasiswa sebagai bagian dari
penggerak utama Komunitas Jurusan Desain, Desain Komunikasi Visual,
Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Sedangkan hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat memberikan
sumbangan yang berarti, baik itu bagi peneliti sendiri maupun bagi pembaca.
Adapun kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
8
1. Sebagai media dalam bertukar pemikiran, terutama berkaitan dengan kajian
keilmuan seni dan sosial.
2. Sebagai media pencerahan bagi kalangan masyarakat umum (non-seni)
terhadap kehidupan sejati masyarakat seni.
3. Terkhusus ditujukan untuk prodi Sosiologi Agama yang menjadi tempat
berawal peneliti. Diharapkan penelitian dengan tema seni dan agama ini
dapat menjadi penambah kekayaan intelektual cendekiawan di prodi, selain
untuk menumbuhkan benih-benih pemikiran bagi kalangan sendiri khususnya
dalam kajian tentang Sosiologi Seni.
4. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pustaka bagi pembaca
dalam penelitian lainnya.
D. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka dapat diartikan sebagai cara untuk menggali informasi
tentang penelitian-penelitian yang sudah ada. Berkaitan dengan topik-topik yang
relevan tentang tema penelitian yang akan diteliti sehingga terdapat originalitas
dari penelitian yang akan dilaksanakan.
Karya-karya ilmiah dengan tema interaksi sosial, berikut kajian khusus
yang membahas seputar peer group (teman sebaya) dan komunitas seni memang
belum sepenuhnya tersedia. Oleh karena itu demi memberikan nilai plus dari
keberadaan kaum terdidik di kalangan sendiri, yaitu keilmuan Sosiologi Agama.
Penelitian dilakukan sebagai wujud apresiasi terhadap keilmuan sosial. Adapun
9
tulisan/karya ilmiah yang dijadikan acuan dari penelitian peneliti saat ini
diantaranya sebagai berikut:
Karya ilmiah skripsi yang di susun oleh saudari Evi Nurhayati mahasiswi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin dan
Pemikiran Islam, Program Studi Sosiologi Agama yang mengangkat judul
penelitian “Peran Peer Group dalam Membentuk Perilaku Konsumtif Remaja
(Studi Terhadap Remaja Putri SMK Wasis Klaten).”8 Melakukan penelitian
tentang fenomena konsumtif siswi remaja putri di SMK Wasis Klaten. Sebuah
kenyataan yang dapat terlihat tentang keberadaan kelompok sebaya yang eksis
sebagai imbas dari kesamaan visi dan misi.
Karya ilmiah skripsi yang disusun oleh Karina Aisyah mahasiswi
Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi
Jepang yang menulis tema penelitian “Rasa Memiliki Dalam Komunitas
Cosplay.”9 Penelitian yang menjelaskan tentang ikatan yang sangat mendalam
antara fans (fandom) sesama pencinta jepang-jepangan. Arah kecintaan ini bisa
meluas dari halnya budaya populer yang terdapat dijepang sana mulai dari anime
(animasi jepang), manga (komik jepang), dan cosplay (penggemar/fans yang
memakai kostum dalam anime/manga).
8
Evi Nurhayati, “Peran Peer Group dalam Membentuk Perilaku Konsumtif Remaja”, Studi
Terhadap Remaja Putri SMK Wasis Klaten. Skripsi Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Tahun 2008.
9
Karina Aisyah, “Rasa Memiliki Dalam Komunitas Cosplay”. Skripsi Program Studi Jepang,
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Tahun 2012.
10
Karya ilmiah skripsi yang disusun oleh saudara Fahroni mahasiswa
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin dan
Pemikiran Islam, Program Studi Sosiologi Agama yang mengangkat judul
penelitian “Interaksi Sosial Mahasiswa Asing (Studi Tentang Mahasiswa Patani
dalam Berinteraksi dengan Warga Sekitarnya di Dusun Karang Bendo,
Banguntapan, Bantul ).”10 Penelitiannya berisi tentang keberadaan mahasiswa
patani sebagai kelompok minoritas komunitas masyarakat di suatu tempat
mereka tinggal dan menetap. Permasalahan utama bermuara dari cara pembauran
mahasiswa patani di lingkungan sosial masyarakat. Dalam proses berbaur
mahasiswa patani acap kali tidak berjalan dengan baik dan seringkali diikuti
dengan ketegangan-ketegangan. Misalnya adanya upaya penonjolan etnis (suku)
masing-masing. Sikap seperti ini disebut juga sebagai etnosentrik, yaitu sikap
menganggap bahwa kebudayaan kelompoknya sendiri adalah yang paling baik
daripada kebudayaan lain dan diluar itu dikategorikan sebagai kebudayaan yang
bernilai rendah atau buruk.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Agus mahasiswa Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
dengan judul penelitian “Interaksi Sosial Masyarakat Syi’ah-Sunni di Tengah
Pluralitas Keberagamaan (Studi Kasus Terhadap Interaksi Sosial Syi'ah-Sunni
10
Fahroni, “Interaksi Sosial Mahasiswa Asing”, Studi Tentang Mahasiswa Patani dalam
Berinteraksi dengan Warga Sekitarnya di Dusun Karang Bendo, Banguntapan, Bantul. Skripsi
Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta, Tahun 2008.
11
di Kabupaten Sleman).”11 Penelitiannya menggambarkan tentang keberadaan
kelompok Syi‟ah dan Sunni di Kabupaten Sleman. Proses interaksi sosial yang
dilakukan kedua kelompok keagamaan tersebut terdapat ketimpangan dan
disfungsi. Hal ini dapat terjadi karena adanya dua faktor yang mempengaruhinya
yaitu pertama, bentuk pengalienasian diri yang dilakukan oleh kelompok Syi‟ah
terhadap kelompok Sunni. Akibatnya timbul ketertutupan diri dan identitas oleh
kelompok Syi‟ah. Kedua, adanya bentuk apatis yang muncul dari kelompok
Sunni kepada kelompok Syi‟ah. Konflik yang terjadi antara kedua kelompok
keagamaan tersebut bukanlah konflik terbuka dan bersifat konfrontasi. Walaupun
timbul konflik yang “hidup” di sisi lain kedua belah kelompok mampu
menunjukkan kedewasaan hubungan sosial yang harmonis dengan menyepakati
bersama nilai-nilai positif tanpa terjebak kedalam ekstrimis keyakinan kelompok
masing-masing.
Dilengkapi penelitian lain yang dilakukan oleh Dessy Purwaningtyas
mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Program Studi Sosiologi Agama berjudul
“Spirit Agama dalam Integrasi Sosial Antara Warga Pendatang dengan
Masyarakat Lokal (Studi Terhadap Pola Integrasi Sosial Warga di Kompleks
Perumahan Saka Permai dengan Masyarakat di Dusun Karangjenjem,
11
Agus, “Interaksi Sosial Masyarakat Syi’ah-Sunni di Tengah Pluralitas Keberagaman”,
Studi Kasus Terhadap Interaksi Sosial Syi’ah-Sunni di Kabupaten Sleman. Skripsi Program Studi
Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta, Tahun 2008.
12
Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta).”12
Memaparkan tentang kehidupan sosial masyarakat multi-etnis yang bermukim di
kawasan perumahan dan hidup berseberangan dengan warga masyarakat desa
sekitar. Adanya keberagaman kebudayaan acapkali menimbulkan konflik yang
disebabkan karena belum saling mengenal satu dengan lainnya. Walaupun
demikian konflik yang terjadi bukanlah konflik besar tanpa ada pemecahan
masalahnya. Melainkan sebatas pengalaman positif sebagai bagian dari ciri
keberagaman masyarakat sosial. Terciptanya integrasi sosial kehidupan
masyarakat tersebut dipengaruhi juga dengan hadirnya semangat-semangat
keagamaan (spirit agama).
Dari kalangan seniman Sigit Haryadi mahasiswa Jurusan Seni Rupa
Murni, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta berjudul “Parodi
Pertemanan.”13 Penelitian yang membahas tentang pergesekan antar indvidu
seringkali
menjadikan
permasalah-permasalahan
yang
serius
di
dalam
pertemanan baik secara individu ataupun kelompok. Seringkali hal tersebut
timbul dari adanya pendapat yang dipaksakan merasa benar sendiri, kerasnya
sikap, bahkan sampai pada ruang privasi seperti masalah finansial atau keuangan.
12
Dessy Purwaningtyas, “Spirit Agama dalam Integrasi Sosial Antara Warga Pendatang
Dengan Masyarakat Lokal”, Studi Terhadap Pola Integrasi Sosial Warga di Kompleks Perumahan
Saka Permai dengan Masyarakat di Dusun Karangjenjem Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman
Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan
Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Tahun 2007.
13
Sigit Haryadi, “Parodi Pertemanan”. Skripsi Jurusan Seni Rupa Murni, Fakultas Seni
Murni, Institut Seni Indonesia, Tahun 2006.
13
Tidak hanya itu saja, hal-hal remeh dan ringan yang tidak masuk akal pun
terkadang menimbulkan masalah-masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi
sampai-sampai menimbulkan kesenjangan antara sesama teman dan tak jarang
berujung pada permusuhan.
Kesenjangan dalam hubungan pertemanan sebagai akibat adanya
perselisihan antar individu yang bisa terlihat dari seringnya intensitas pertemuan
yang terlalu sering. Dari itu semua masing-masing mampu untuk mengenal lebih
dalam tentang karakter, watak, sikap, sikap maupun bisa saja saling menularkan
pengaruh baik/buruk dalam lingkup pertemanan yang terjalin.
Menurut pendapat N. Drijarkara :
“Bahwa manusia itu selalu hidup dan mengubah dirinya dalam arus
situasi yang konkrit. Dia tidak hanya berubah dari dalam, tetapi juga diubah
oleh situasi itu. Namun dalam berubah-ubah ini, dia tetap sendiri. Manusia
selalu terlibat dalam situasi itu, berubah dan mengubah manusia.”14
Dalam dunia pertemanan sering kita mengenal dengan pendapat yang
mengatakan bahwa ikatan itu bisa lebih dekat dari saudara sedarah sekalipun. Hal
ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi yang musti ditutup-tutupi. Adanya
ruang kedekatan yang di sebut keakraban menjadi poin penting dari terciptanya
hubungan seperti itu. Bahkan untuk hal-hal yang sifatnya privasi (pribadi) sudah
tidak terlihat dinding pembatas di dalam ruang pertemanan. Tidak hanya itu pula,
adanya perseteruan juga menjadi cikal bakal permusuhan antar teman. Memang
14
N. Drijarkara, Filsafat Manusia, (Kanisius: Yogyakarta, 1969), hlm. 7.
14
layaknya kucing dan anjing hal-hal semacam ini akan terus ada sampai kapanpun
selama ruang pertemanan dalam kehidupan sosial masih terjalin.
Dengan demikian telaah pustaka yang termuat dalam karya dan buku
ilmiah di atas dapat dijadikan dasar penelitian peneliti saat ini sekalipun dengan
tema-tema penelitian yang tidak sama persis.
E. Kerangka Teori
Teori pada dasarnya merupakan suatu alat untuk membedah sekaligus
menganalisis persoalan tema penelitian, sehingga bisa lebih jelas objek dan ruang
lingkup kajiannya.15 Persoalan sosial yang akan dijadikan kajian utama dalam
penelitian ini adalah tentang proses interaksi sosial Komunitas, Program Studi
Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Yogyakarta.
Pada ruang komunitas juga dikenal dengan adanya teman sebaya. Oleh
karena itu tidak ada salahnya sedikit di bahas tentang apa itu peer group. Peer
group dapat diartikan sebagai pertemanan dengan teman sebaya. Menurut
penjelasan Jean Piaget, hubungan di antara teman sebaya lebih demokratis di
banding hubungan antara anak dan orang tua. Hubungan antar teman sebaya lebih
diwarnai oleh semangat kerja sama dan saling memberi dan menerima di antara
anggota kelompok. Lanjutnya, dalam lingkungan sosial keluarga orang tua dapat
memaksakan berlakunya aturan tertentu. Sedangkan kelompok teman sebaya
15
Zainuddin Maliki, Rekontruksi Teori Sosial Modern, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University, 2013), hlm. 139.
15
aturan perilaku di cari dan diuji kemanfaatannya secara bersama-sama. Ketika
anak tumbuh semakin dewasa, peran keluarga dalam perkembangan sosial
semakin berkurang dan digantikan oleh kelompok teman sebaya.
Ditengah interaksi sosial yang terus berjalan peer group memberikan
ruang yang lebih eksklusif ditengah keanekaragaman sifat individu maupun
komunitas di lingkungan masyarakat sosial. Dalam peer group yang terbentuk
tidak dipentingkan adanya struktur organisasi maupun aturan yang menjerat untuk
ditaati, melainkan antara anggota kelompok merasakan adanya tanggung jawab
atas keberhasilan dan kegagalan yang terjadi dengan kelompoknya. Dalam peer
group individu-individu merasa menemukan jati diri yang sebenarnya serta dapat
mengembangkan rasa sosialnya sejalan dengan perkembangan kepribadiannya.16
Kajian peer group lebih mendalam dijelaskan kedalam ruang bernama
komunitas. Mengingat arti antara peer group dan komunitas jelas berbeda. Akan
sangat bijak jika arah dalam paragraf ini juga menjelaskan arti dari komunitas
secara lebih lengkap dan terarah.
Kata community menurut Syahyuti adalah berasal dari bahasa Latin, yaitu
“Cum” yang mengandung arti together (kebersamaan) dan “Munus”, yang
bermakna the gift (memberi) antara satu sama lain. Maka dapat diartikan bahwa
komunitas adalah sekelompok orang yang saling berbagi dan mendukung antara
satu sama lain. Komunitas memiliki banyak makna. Komunitas dapat dimaknai
16
http://himcyoo.wordpress.com/2011/05/29/kelompok-sebaya-peer-group/diakses
tanggal 26 Agustus 2013.
pada
16
sebagai sebuah kelompok dari suatu masyarakat atau sebagai sekelompok orang
yang hidup di suatu area khusus yang memiliki karakteristik budaya yang sama.
Apapun definisinya, komunitas harus memiliki sifat interaksi. Interaksi yang
ditekankan lebih kepada interaksi informal dan spontan daripada interaksi formal,
serta memiliki orientasi yang jelas. Ciri utama sebuah komunitas adalah adanya
keharmonisan, egalitarian serta sikap saling berbagi nilai dan kehidupan.
Menurut Etienne Wenger, komunitas mempunyai berbagai macam bentuk
dan karakteristik, diantaranya:
1. Besar atau Kecil
Keanggotaan di beberapa komunitas ada yang hanya terdiri dari
beberapa anggota saja dan ada yang mencapai 1000 anggota. Besar atau
kecilnya anggota di suatu komunitas tidak menjadi masalah, meskipun
demikian komunitas yang memiliki banyak anggota biasanya dibagi menjadi
sub divisi berdasarkan wilayah sub tertentu.
2. Terpusat atau Tersebar
Sebagian besar suatu komunitas berawal dari sekelompok orang yang
bekerja ditempat yang sama atau memiliki tempat tinggal yang berdekatan.
Sesama anggota komunitas saling berinteraksi secara tepat serta ada beberapa
komunitas yang tersebar di berbagai wilayah.
3. Berumur panjang atau berumur pendek
Terkadang sebuah komunitas dalam perkembangannya, memerlukan
waktu yang cukup lama, sedangkan jangka waktu keberadaan sebuah
17
komunitas sangat beragam. Beberapa komunitas dapat bertahan dalam jangka
tahunan, tetapi ada pula komunitas yang berumur pendek.
4. Internal atau Eksternal
Sebuah komunitas dapat bertahan sepenuhnya dalam unit bisnis atau
bekerjasama dengan organisasi yang berbeda.
5. Homogen atau Heterogen
Sebagian komunitas berasal dari latar belakang yang sama serta ada
yang terdiri dari latar belakang yang berbeda. Pada umumnya jika sebuah
komunitas berasal dari latar belakang yang sama komunikasi akan lebih
mudah terjalin, sebaliknya jika komunitas terdiri dari berbagai macam latar
belakang diperlukan rasa saling menghargai dan rasa toleransi yang cukup
besar satu sama lain.
6. Spontan atau Disengaja
Beberapa komunitas ada yang berdiri tanpa adanya intervensi atau
usaha pengembangan dari suatu organisasi. Anggota secara spontan
bergabung karena kebutuhan berbagi informasi dan memiliki minat yang
sama. Pada beberapa kasus, terdapat komunitas yang secara sengaja didirikan
secara spontan atau disengaja tidak menentukan formal atau tidaknya sebuah
komunitas.
7. Tidak Dikenal atau Dibawah sebuah institusi
18
Sebuah komunitas memiliki berbagai macam hubungan dengan
organisasi, baik itu komunitas yang tidak dikenali, maupun komunitas yang
berdiri dibawah sebuah institusi.
Komunitas merupakan kombinasi dari 3 unsur utama, yaitu:
1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup merupakan dasar yang mengindentifikasikan sebuah
komunitas. Selain itu ruang lingkup mengilhami anggota untuk berbagai
pengetahuan, bagaimana mengemukan ide mereka dan menentukan
tindakan. Tanpa ruang lingkup maka sebuah komunitas hanya merupakan
sekumpulan orang.
2. Anggota
Jika sebuah komunitas memiliki anggota yang kuat maka dapat
membantu meningkatkan interaksi dan hubungan yang didasari oleh
saling menghormati dan kepercayaan. Anggota merupaka sekumpulan
orang yang berinteraksi untuk belajar, membangun sebuah hubungan,
kebersamaan, dan tanggung jawab. Setiap individu mempunyai karakter
yang berbeda, sehingga menciptakan keanekaragaman dalam suatu
komunitas. Keberhasilan sebuah komunitas bergantung pada kekuatan
anggota tersebut.
3. Praktis
Merupakan sekumpulan kerangka, ide, alat, informasi, gaya bahasa,
sejarah, dan dokumen yang dibagi sesama anggota komunitas. Jika ruang
19
lingkup merupakan yang menjadi fokus sebuah komunitas maka praktis
merupakan pengetahuan spesifik yang dikembangkan, disebarkan, dan
dipertahankan. Keberhasilan praktis bergantung dari keseimbangan antara
gabungan aktivitas dan hasil dari aktivitas tersebut seperti dokumen atau
alat.
Dalam kajian keilmuan Sosiologi ada banyak sekali tokoh-tokoh ahli yang
menggagas teori interaksi sosial, misalnya Soerjono Soekamto, Mark L. Knapp,
Erving Goffman, Tamotsu Shibutani, George Herbert Mead & Herbert Blumer
(penggagas teori interaksionisme simbolik), Kimbal Young, Raymond W. Mack
sampai pada Gillin dan Gillin. Selain itu pembahasan juga akan terfokus pada
persoalan utama lainnya tentang nilai-nilai religiusitas. Tokoh-tokoh tersebut
diantaranya Rokeach & Bank, Jalaluddin Rahmat, Kate Ludeman dan Stark &
Glock.
Dalam membedah dan menganalisis persoalan sosial tersebut peneliti akan
menggunakan teori Interaksionisme Simbolik yang digagas secara langsung oleh
Herbert Blumer. Beliau adalah mahaguru Universitas California di Berkeley yang
telah berhasil memadukan konsep-konsep George Herbert Mead ke dalam suatu
teori Sosiologi yang sekarang dikenal dengan nama Interaksionisme Simbolik.
Dalam karangannya Sociological Implications of the thought of George Herbert
20
Mead dan kemudian dalam bukunya Symbolic Interactionism: Perspective and
Method, Blumer menyambung pada gagasan-gagasan Mead.17
Teori Interaksionisme Simbolik menggambarkan masyarakat bukanlah
dengan memakai konsep-konsep seperti sistem, struktur sosial, posisi status,
peranan sosial, pelapisan sosial, struktur institusional, pola budaya, norma-norma
dan nilai-nilai sosial. Melainkan dengan memakai istilah “aksi”.18
Perspektif
ini
sebenarnya
berada
di
bawah
payung
perspektif
fenomenologi dan termasuk dalam paradigma definisi sosial. Perspektif
fenomenologis adalah mewakili semua pandangan ilmu sosial yang mengganggap
kesadaran atau jiwa manusia dan makna subyektif sebagai fokus untuk
memahami tindakan sosial atau perspektif interpretif. Interaction Symbolic adalah
interaksi antara pribadi-pribadi yang didasarkan pada penafsiran terhadap perilaku
masing-masing.19
Sebenarnya teori Interaksionisme Simbolik termasuk teori pendatang baru
dalam studi ilmu Komunikasi, yaitu sekitar awal abad ke-19. Walaupun sekarang
teori Interaksionisme Simbolik sudah menjadi bagian dari cabang keilmuan
Sosiologi, tepatnya diruang perspektif interaksional. Interaksionisme Simbolik
menurut perspektif interaksional merupakan salah satu perspektif yang ada dalam
17
K.J. Veeger, Realitas Sosial: Refleksi Filsafat Sosial Atas Hubungan Individu-Masyarakat
dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi, (Jakarta: PT. Gramedia, 1985), hlm, 224.
18
K.J. Veegar, Realistis Sosial: Refleksi Filsafat Sosial Atas Hubungan Individu-Masyarakat
dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi, (Jakarta: PT. Gramedia, 1985), hlm, 228.
19
Rusdi, Konflik Sosial: Dalam Proses Ganti Rugi Lahan Dan Bangunan Korban Lumpur
Lapindo, (Yogyakarta: STPN Press, 2012), hlm. 42.
21
studi Komunikasi yang barangkali paling bersifat “humanis”. Sebenarnya,
perspektif ini sangat menonjolkan keagungan dan maha karya nilai individu diatas
pengaruh nilai-nilai yang ada selama ini. Perspektif ini menganggap setiap
individu didalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, berinteraksi di tengah
sosial masyarakatnya dan menghasilkan makna “buah pikiran” yang disepakati
secara kolektif. Akhirnya dapat dikatakan bahwa setiap bentuk interaksi sosial
yang dilakukan oleh setiap individu akan mempertimbangkan sisi individu
tersebut. Inilah salah satu ciri dari perspektif interaksional yang beraliran
Interaksionisme Simbolik.
Teori Interaksionisme Simbolik menekankan pada hubungan antara
simbol dan interaksi, serta inti dari pandangan pendekatan ini adalah individu.
Interaksionisme Simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna
yang berasal dari pikiran (mind) mengenai diri (self) dan hubungannya di tengah
interaksi sosial. Serta bertujuan akhir untuk memediasi dengan menginterpretasi
makna di tengah masyarakat (society) di mana individu tersebut menetap.20
Sebelum masuk pada pembahasan Sense of Art di rasa sangat perlu untuk
lebih dalam memahami Seni itu sendiri. Sebagaimana keilmuan-keilmuan
lainnya, Seni merupakan cabang ilmu yang pengistilahannya memiliki multi
tafsir. Hal ini terlihat dari banyaknya pengertian Seni menurut para ahli yang
mendefinisikan Seni dari beragam sudut pandang. Penerjemahan tentang istilah
20
Rusdi, Konflik Sosial: Dalam Proses Ganti Rugi Lahan Dan Bangunan Korban Lumpur
Lapindo, (Yogyakarta: STPN Press, 2012), hlm. 44.
22
Seni disesuaikan dengan latar belakang keilmuan para ahli. Karena begitu luas
pengertian seni dan bidang yang mencakupinya.
Ada beberapa pengertian Seni menurut para ahli yang sering dijadikan
rujukan pada pegiat seni. Pengertian seni menurut Prof. Drs Suwaji Bastomi
adalah seni dipandang sebagai sebuah aktivitas batiniah yang didasari adanya
pengalaman keindahan (estetis) yang terwujud dalam bentuk yang indah.
Sehingga dari perwujudan tersebut mampu menimbulkan rasa kagum serta
keharuan bagi mereka yang menikmatinya. Sedangkan menurut Drs. Sudarmadji,
Seni merupakan kumpulan perwujudan batiniah serta pengalaman estetik yang
diwujudkan melalui bidang, garis, warna tekstur, volume serta adanya komposisi
gelap terang.21
Sense of Art jauh lebih dalam pemaknaannya dari seni itu sendiri,
sebagaimana Religiusitas dengan agama (religi). Sense of Art atau dalam bahasa
Indonesia diartikan sebagai “Jiwa Seni” adalah ruh atau kadar kedalaman
seseorang dalam berkesenian, sehingga mampu menciptakan sebuah karya yang
indah dan mampu dinikmati penikmat seni.22
Dari begitu banyak pembahasan terhadap hal-hal utama penelitian.
Peneliti merasa yakin bahwa teori Interaksionisme Simbolik tepat untuk
dijadikan sebagai alat meneliti terhadap permasalahan utama penelitian.
21
http://www.anneahira.com/pengertian-seni-menurut-para-ahli.htm/
Agustus 2013.
22
diakses
tanggal
11
http://www.pirawa.web.id/2009/12/sense-of-art.html/ diakses pada tanggal 12 Agustus 2013.
23
Sebagaimana
penjelasan
diatas,
teori
Interaksionisme
Simbolik
lebih
menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi, serta inti dari
pandangan pendekatannya adalah individu.
F. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah suatu cara atau prosedur yang dipergunakan
untuk melakukan penelitian sehingga mampu menjawab rumusan masalah dan
tujuan penelitian. Dengan demikian metode penelitian merupakan prosedur atau
proses mulai dari awal yang menjelaskan tentang kerangka hingga menghasilkan
kesimpulan penelitian.23
1. Jenis Penelitian
Dalam hal ini jenis penelitian yang dilakukan peneliti adalah penelitian
lapangan (field research) dengan menggunakan metode kualitatif. Dengan
prosedur penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata dari informan yang berbentuk ucapan ataupun perilaku yang dapat
diamati peneliti.
Pengamatan data penelitian ini dilakukan secara langsung di
Kabupaten Bantul dengan titik fokus lokasi berada di Jurusan Desain,
Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa Institut Seni
Indonesia Yogyakarta.
23
Aji Suraji dalam presentasi dengan judul Metode Penelitian, merupakan Dosen Teknik Sipil,
Universitas Widyagama Malang.
24
Karena sasaran objek penelitian adalah sesama mahasiswa program
studi. Maka adanya keberagaman jenjang usia dan jenis kelamin tidak menjadi
dasar utama penelitian ini. Sehingga proses penelitian yang dilakukan selama
di lapangan akan mempermudah peneliti dalam mencari data.
Pemilihan lokasi penelitian lebih kepada faktor internal peneliti.
Adanya ketertarikan peneliti terhadap dunia seni menjadi dasar utama
penelitian di kampus para akademisi kesenian ini. Selain tentu saja
kemudahan yang didapatkan seperti lokasi yang bisa terjangkau dengan
mudah, biaya penelitian yang tidak besar karena lokasi penelitian berada di
kota sendiri.
2. Metode Pengumpulan Data
Peneliti dalam penelitian yang dilakukan menggunakan metode
penelitian data kualitatif, sehingga pengumpulan data yang digunakan
meliputi observasi partisipatif (partisipan observation), wawancara mendalam
(deep interview), kemudian daftar pertanyaan (interview guide).
a) Observasi
Partisipatif
(Partisipan
Observation),
yaitu
metode
pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati objek penelitian,
baik secara langsung maupun tidak langsung, serta mengadakan
pencatatan hasil pengamatan.24 Peneliti akan melakukan pengamatan
terhadap proses interaksi sosial mahasiswa komunitas saat berada
24
Dudung Abdurrahman, Pengantar Metode Penelitian dan Penyusunan Karya Ilmiah,
(Yogyakarta: Ikfa Press. 1998), hlm. 26.
25
dilingkungan Jurusan Desain, Program Studi Desain Komunikasi Visual,
Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta Angkatan 2011.
b) Wawancara Mendalam (Deep Interview), yaitu
wawancara untuk
mengetahui atau memperoleh gambaran secara lebih tepat mengenai
sikap, pandangan, persepsi dan orientasi para pelaku peristiwa dari
obyek.25 Peneliti untuk mendapatkan data penelitiannya akan melakukan
wawancara secara langsung terhadap beberapa mahasiswa komunitas
yang dipilih secara acak di Jurusan Desain, Program Studi Desain
Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta Angkatan 2011.
c) Daftar Pertanyaan (Interview Guide), yaitu teknik pengumpulan data yang
didalamnya tersusun atas ide-ide berupa pertanyaan yang telah
dipersiapkan
sebelumnya
oleh
peneliti.
Sehingga
saat
terjadi
pengumpulan data yang dimaksud, sasaran penelitian bisa tepat sasaran
dan efektif.
3. Metode Analisa Data
Analisa data adalah metode mengolah dan menganalisa data kualitatif.
Untuk itu perlu diketahui apa itu data kualitatif. Data kualitatif adalah semua
25
Koentjaraningrat. Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,
1991), hlm. 162.
26
bahan, keterangan dan fakta-fakta yang tidak dapat diukur dan dihitung secara
sistematis karena wujudnya adalah keterangan verbal (kalimat dan data).26
Analisis data kualitatif adalah suatu proses analisis yang terdiri dari
tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian
data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.27
a) Proses reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data
kasar yang muncul dari catatan-catatan dilapangan.
b) Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan
dengan melihat penyajian-penyajian yang akan kita dapatkan untuk
memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan.
c) Menarik kesimpulan maksudnya adalah memulai dengan mencari arti
benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang
mungkin, alur sebab akibat dan proposisi.
G. Sistematika Pembahasan
Dalam rangka memberikan gambaran yang dapat dipahami dengan baik,
benar dan objektif. Peneliti perlu untuk memberikan garis-garis besar mengenai
26
http://wajburni.wordpress.com/2013/01/16/teknik-analisa-data-kualitatif/
tanggal 30 Juli 2013.
27
diakses
Nasution, Metode Research Penelitian Ilmiah, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 126.
pada
27
gambaran penelitian yang dilakukan. Garis-garis besar penelitian tersebut terdiri
atas lima bab. Adapun sistematika pembahasannya adalah sebagai berikut:
Bab I merupakan pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang
masalah dari penelitian yang dilakukan peneliti. Dilanjutkan dengan menyusun
daftar pertanyaan dalam rumusan masalah. Dan dilengkapi dengan adanya tujuan
dan kegunaan penelitian yang menjadi maksud akhir dari penelitian yang
dilakukan. Kemudian telaah pustaka yang berisi tentang beberapa penelitian yang
pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya dengan kesamaan pembahasan
masalah yang dibahas peneliti sekarang. Selain itu buku-buku ilmiah yang
cakupan bahasan masalahnya serupa maupun yang berbeda baik dalam hal
metodologi penelitian, perspektif sampai pada sistematika pembahasannya.
Bab II akan membahas tentang gambaran umum ISI Yogyakarta beserta
profil komunitas, Jurusan Desain, Program Studi Desain Komunikasi Visual,
Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Bab III membahas interaksi sosial yang dikaji meliputi hubungan antar
mahasiswa dengan mahasiswa lainnya, mahasiswa dengan komunitas yang ada
dan komunitas dengan sesama komunitas DKV maupun dengan komunitas lain
satu institut yang hidup didalam lingkungan kampus Institut Seni Indonesia
Yogyakarta.
Bab IV menganalisa tentang interaksi sosial peer group komunitas
mahasiswa Jurusan Desain, Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut
Seni Indonesia Yogyakarta.
28
Bab V Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran.
108
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Komunitas Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta berdiri atas dasar
berdikari ditengah-tengah kesibukan mahasiswa DKV belajar di kelas guna
menyelesaikan studi Sarjana Strata Pertama (S1). Munculnya ide-ide untuk
membangun komunitas desain ini berasal dari obrolan ringan antar mahasiswa
DKV sebagai bentuk sisi sosial yang tumbuh subur di institut kesenian negeri
ini. Dari situlah keberadaan komunitas DKV mula satu persatu berdiri sesuai
dengan minatnya masing-masing. Di antara komunitas yang pertama kali
berdiri adalah komunitas Disko Komik (Comiclub) yang lahir pada tahun
2004 pada Pekan Komik Indonesia (PKAN) di Bandung. Komunitas komik
ini didirikan dengan bertujuan sebagai wahana untuk sharing ide dan gagasan
tentang dunia perkomikan. Kemudian, Titik Api yang berdiri pada tahun 2009
di Prodi DKV ISI Yogyakarta. Komunitas ini muncul untuk media interaksi
bagi peminat dunia fotografi di ruang diskom. Selanjutnya, Diskom Drawing
Foundation (DDF) yang juga lahir pada tahun yang sama 2009 dirikan
bertepatan dengan event DDF Exhibition di prodi diskom. Tujuan dirikan
komunitas ini adalah sebagai sarana bagi penikmat manual art, walaupun
109
pada aplikasinya tetap menggunakan digital painting bahkan membuat komik
dan melukis. Selain keberadaan ketiga komunitas tersebut ada pergerakan
lainnya yang statusnya hidup segan mati tak mau seperti Bingo (advertising),
Diskomotion (motion digital art), dll. Ketiga komunitas diatas adalah
komunitas DKV yang tetap hidup walaupun mengalami dinamika sosial. Pada
saat ini terbukti ketiga komunitas desain tadi menjadi mercusuar bagi
pergerakan kesenian disamping adanya nuansa sosial yang tetap terus hidup di
Prodi DKV ISI Yogyakarta.
2. Ruang interaksi yang hidup dan berjalan di lingkup sosial prodi DKV sebagai
habitat tempat bermukim komunitas DKV terlihat sangat ramai dan beragam.
Di isi dengan para mahasiswa yang ragam latar belakangnya sangat majemuk
telah menciptakan suasana lingkungan yang berwarna. Ragam latar belakang
mahasiswa yang tergabung secara “formal” meliputi Akademik, Sosial
Budaya, Ekonomi, dan Agama. Sisi kemajemukan juga bisa digunakan dalam
mengetahui watak dasar atau visi misi mereka sebagai individu. Selain
sebagai tolak ukur keberadaan mereka di lingkup komunitas DKV ISI
Yogyakarta.
3. Sisi lain dari komunitas DKV yang sangat menarik untuk dilihat adalah soal
kepengurusan, keanggotaan, dan kepemimpinannya. Kepengurusan berarti
berkaitan tentang menejemen keorganisasian komunitas selama ini. Sistem
kepengurusan yang berjalan dari ketiga komunitas DKV sangat beragam.
Ragam tersebut sebagai ciri khas di samping bentuk identitas tersendiri bagi
110
komunitas masing-masing. Adanya yang formal yang meliputi sistem
organisasi dari ketua, wakil, ketua, sekretaris, bendahara sampai pada seksiseksi yang siap membantu. Walaupun dari yang nampak di lapangan
keberadaan sistem keorganisasian tersebut hanya sekedar formalitas semata.
Kemudian keanggotaan yang menjadi sorotan tajam dari masing-masing
komunitas seni desain ini. Menurut perkembangannya keanggotaan menjadi
masalah paling serius dari tiap-tiap komunitas. Dalam teori komunikasi ada
istilah afiliasi tinggi dan rendah. Bagi afiliasi tinggi berarti memiliki minat
yang besar untuk menjadi dominan selain adanya komitmen sebagai nilai
positif. Tetapi bagi afiliasi rendah menjadi masalah tersendiri karena biasanya
anggota yaitu mahasiswa dalam kategori ini sangat lemah dalam
bersosialisasi. Kemudian juga bab kepemimpinan yang sudah menjadi ciri
khas dari gerakan komunitas DKV. Dinamis menjadi faktor utama pendukung
langgengnya ruang sosial pada komunitas ini sampai saat ini.
4. Interaksi sosial yang tercipta sangat dinamis dan fleksibel. Komunitas DKV
telah berhasil menjaga sisi positif dari warisan yang ditinggalkan para
pendahulunya. Selain sisi „formalitas‟ dari keorganisasiannya, komunitas
DKV memiliki ruang dinamis di lingkup sosial sehari-hari. Adanya peer
group diindikasikan sebagai faktor pendukung terus tumbuhnya nilai-nilai
baik ini. Peer group atau teman sebaya memiliki porsi yang utama dari
keberadaan anggota komunitas selain sebagai mahasiswa. Interaksi sosial
yang tercipta antar teman sebaya ini bagi penggerak komunitas DKV menjadi
111
pencipta utama kedinamisan dan keluwesan dalam kehidupan bersosial baik
antar individu, komunitas maupun alam.
5. Peer Group bukan saja hanya sekedar fenomena antar individu yang setara.
Pada komunitas DKV ISI Yogyakarta pengaruh peer group banyak
memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi perkembangan komunitas
sampai saat ini. Peer Group menjadi promotor utama dalam pergerakan
komunitas DKV selain sebagai fenomena sosial di lingkungan seni desain ini.
6. Fenomena konflik antar teman sebaya (peer group) baik yang bersosial secara
umum maupun yang tergabung kedalam wadah bernama komunitas tidak
pernah terjadi. Peneliti katakan sekali lagi dari keragaman latar belakang
komunitas DKV. Sekalipun tidak pernah ada konflik yang mencederai arti
pertemanan sebaya maupun berkelompok (group) mereka dilingkungan
kampus ISI Yogyakarta.
B. Saran
1. Mahasiswa Prodi DKV ISI Yogyakarta adalah salah satu sumber energi dari
hidupnya ruang sosial di kampus seniman ini. Bentuk energi tersebut meliputi
semangat, dedikasi, maupun komitmen dalam hal apapun terutama berkarya
dan berkomunitas. Tetapi satu hal yang sangat perlu untuk ditambahi agar
menjadi lebih luar biasa lagi adalah belajar luas bukan hanya dari seni saja.
Pandangan yang meluas bak samudera akan memberikan kedewasaan dalam
berpikir. Bentuk belajar secara luas itu peneliti artikan sebagai pembelajaran
112
lintas jurusan. Sosiologi Agama adalah satu dari sekian banyaknya prodi yang
sangat berpotensi guna memberi hal positif lebih banyak kepada ruang seni
rupa. Bukankah salah satu aktor dan pemikir dari kalangan kalian pernah
mengatakan kalau demokratisasi desain itu menjadi polemik bagi kalangan
seniman maupun desainer. Untuk itu mari gunakan kesempatan lahirnya lintas
ilmu yang akan memberikan kebaikan bagi peradaban manusia kedepannya
sebagaimana ‘Art for Humanizing Civilization’ dalam FKI ke-8 ISI
Yogyakarta.
2. Alangkah baiknya jika keseriusan dalam menggerakkan komunitas DKV baik
bagi kedepan lebih ditingkatkan. Adanya masa-masa terpuruk dari keberadaan
komunitas DKV kebelakang menjadi pekerjaan rumah bagi kalangan kalian
sendiri. Peneliti mengira hal lain sudah sangat sempurna meliputi komitmen,
semangat, dan dedikasi. Tetapi ternyata itu semua akhirnya tidak dapat
menyelamatkan eksistensi komunitas DKV di masa sebelumnya. Oleh karena
itu pada masa sekarang belajarlah dari masa lampau agar kedepan bisa lebih
baik secara keseluruhan.
3. Dari individu antar individu belajarlah arti menepati janji dan bertanggung
jawab. Jangan hanya saat di ruang komunitas saja hal semacam itu menjadi
diutamakan. Peneliti merasa perlu adanya revolusi mental bagi beberapa
anggota yang tergabung pada komunitas DKV ISI Yogyakarta.
4. Peneliti menyarankan kedepannya bagi kalangan sendiri ada yang meneliti
bab ruang sosial atau apapun itu di jurusan seni rupa murni. Karena pada
113
ruang tersebut sebenarnya seni bisa diartikan dengan maksimal dan
sesungguhnya. Adanya sense of art yang lebih dominan dalam berkarya
menjadi keutamaan yang bisa menarik banyak peneliti ke medan seni rupa
tersebut.
5. Peneliti merasa penelitian ini jauh dari kata sempurna, wajar adanya bagi
peneliti ini adalah sarana belajar mencari kedewasaan dalam olah pikir selain
olah rasa dan jiwa. Kedepan semoga ada banyak peminat dari mahasiswa
Sosiologi Agama untuk meneliti medan seni secara penuh. Karena sampai
saat ini hanya dua mahasiswa Sosiologi Agama yang memberanikan diri
bersosialisasi secara formal dengan kalangan seniman di Institut Seni
Indonesia Yogyakarta.
114
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Abdurrahman, Dudung, Pengantar Metode Penelitian dan Penyusunan Karya
Ilmiah, Yogyakarta: Ikfa Press. 1998.
Aji Suraji dalam Presentasi dengan judul Metode Penelitian, merupakan
Dosen Teknik Sipil, Universitas Widyagama Malang.
Endraswara, Suwardi, Metodologi Penelitian Kebudayaan, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 2006.
Hunt, Chester L. & Paul B. Horton (alih bahasa: Aminuddin Ram), Sosiologi,
Jakarta: Erlangga, 1993.
Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama: Meredam Konflik Berwajah Agama,
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000.
Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama. 1991.
Maharsi Indria, Komik Dunia Kreatif Tanpa Batas, Yogyakarta: Kota Buku,
2011.
Maliki, Zainuddin, Rekontruksi Teori Sosial Modern, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 2013.
Moss, Sylvia & Stewart L. Tubbs, Human Communication: Konteks-Konteks
Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
N, Drijarkara, Filsafat Manusia, Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 1969.
Nasution, Metode Research Penelitian Ilmiah, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Rahmat, Jalaluddin, Penelitian Agama, dalam Taufiq Abdullah dan Rusli
Karim (ed), Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara
Wacana, 1989.
115
Read, Herbert, The Meaning Of Art, London: Penguin Book, 1954.
Rusdi, Konflik Sosial: Dalam Proses Ganti Rugi Lahan Dan Bangunan
Kornan Lumpur Lapindo, Yogyakarta: STPN Press, 2012.
Santoso, Budhi, Bekerja Sebagai Fotografer, Jakarta: Esensi, 2010.
Setia, Elly M. Dkk, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Jakarta: Prenadamedia, 2012.
Soedarsono, R.M, Pengantar Apresiasi Seni, Jakarta: Balai Pustaka, 1992.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press,
1992.
Studio, A.R, Drawing Magic: Panduan Menggambar Dengan Pensil, Jakarta
Selatan: Mediakita, 2013.
Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, Bandung: CV. Alfabeta. 2009.
Sutrisno, Edy, Budaya Organisasi, Jakarta: Kencana, 2010.
Thoha, Chabib, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1996.
Warren, Neil C., Empirical Studies in the Psychology of Religion “An
Assesment of Period 1960-1970”, dalam H. Newton Malony (ed),
Current Perspektives in the Psychology of Religion, Eerns: Grand
Rapid, 1977.
Widiyanti, Ninik & Y.W. Sunindhia, Kepemimpinan Dalam Masyarakat
Modern, Jakarta: PT. Bina Aksara, 1988.
Veeger, K.J, Realitas Sosial: Refleksi Filsafat Sosial Atas Hubungan IndividuMasyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi, Jakarta: PT.
Gramedia. 1985.
Yuliastanti, Ana, Bekerja Sebagai Desainer Grafis, Jakarta: Esensi, 2008.
Agus, Interaksi Sosial Masyarakat Syiah-Sunni di Tengah Pluralitas
Keberagaman (Studi Kasus Terhadap Interaksi Sosial Syiah-Sunni di
Kabupaten Sleman). Skripsi Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas
Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Tahun 2008.
116
Dessy Purwaningtyas, Spirit Agama dalam Integrasi Sosial Antara Warga
Pendatang dengan Masyarakat Loka (Studi Terhadap Pola Integrasi
Sosial Warga di Kompleks Perumahan Saka Permai dengan
Masyarakat di Dusun Karangjenjem Kecamatan Ngaglik Kabupaten
Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta). Skripsi Program Studi
Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran
Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Tahun
2007.
Evi Nurhayati, Peran Peer Group dalam Membentuk Perilaku Konsumtif
Remaja”, (Studi Terhadap Remaja Putri SMK Wasis Klaten). Skripsi
Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama,
dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta, Tahun 2008.
Fahroni, Interaksi Sosial Mahasiswa Asing (Studi Tentang Mahasiswa Patani
dalam Berinteraksi dengan Warga Sekitarnya di Dusun Karang
Bendo, Banguntapan, Bantul). Skripsi Program Studi Sosiologi
Agama, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Tahun 2008.
Karina Aisyah, Rasa Memiliki Dalam Komunitas Cosplay. Skripsi Program
Studi Jepang, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas
Indonesia, Tahun 2012.
Sigit Haryadi, Parodi Pertemanan. Skripsi Jurusan Seni Rupa Murni, Fakultas
Seni Rupa, Institut Seni Indonesia, Tahun 2006.
Website:
http://himcyoo.wordpress.com/2011/05/29/kelompok-sebaya-peergroup/diakses pada tanggal 26 Agustus 2012 pukul 20:30.
http://isi.ac.id/profil/sejarah/ diakses pada tanggal 5 Agustus 2012 pukul
14:17.
http://mrpams212.wordpress.com/2009/12/19/faktor-yang-mempengaruhiinteraksi-sosial-3/ diakses pada tanggal 5 Agustus 2012 pukul 13:21.
117
http://wajburni.wordpress.com/2012/01/16/teknik-analisa-data-kualitatif/
diakses pada tanggal 30 Juli 2012 pukul 08:14.
http://www.anneahira.com/pengertian-seni-menurut-para-ahli.htm/
pada tanggal 3 Agustus 2012 pukul 12:20.
diakses
http://www.anneahira.com/pengertian-seni-menurut-para-ahli.htm/
tanggal 11 Agustus 2012 pukul 16:23.
diakses
http://jalurilmu.blogspot.com/2011/10/religiusitas.html/ diakses pada tanggal
11 Agustus 2012 pukul 17:45.
http://www.pirawa.web.id/2009/12/sense-of-art.html/ diakses pada tanggal 12
Agustus 2012 pukul 19:55.
http://isi.ac.id/profil/visi-misi/ diakses pada tanggal 17 Desember 2014 pukul
20:19.
http://smkn4malang.sch.id/animasi/, diakses pada tanggal 4 Desember 2014
pukul 00:30.
http://www.debritto.sch.id/ekstrakurikuler.php, diakses pada tanggal 04
Desember 2014 pukul 01:12.
http://www.smkbhaktianindya.com/index.php?option=com_content&view=art
icle&id=77&Itemid=108, diakses pada tanggal 10 Desember 2014
pukul 02:02.
LAMPIRAN I
DAFTAR INFORMAN ANGGOTA KOMUNITAS COMICLUB ISI
YOGYAKARTA
NO.
NAMA MAHASISWA
JURUSAN/
ANGKATAN
KOMUNITAS
1
Alzein Putra Merdeka
DKV/2011
Comiclub
2
Bintang Suhadiyono
DKV/2011
Comiclub
3
Surya Prasetya P.
DKV/2011
Comiclub
4
Hernila Dwi Anisa
DKV/2011
Comiclub
5
Andronikus
DKV/2011
Comiclub
6
Irfan Annas
DKV/2011
Comiclub
7
Ilham Lutfi Mutafaq
DKV/2011
Comiclub
8
Achdandhy Hatta
DKV/2011
Comiclub
DAFTAR INFORMAN ANGGOTA KOMUNITAS TITIK API ISI
YOGYAKARTA
NO
NAMA MAHASISWA
JURUSAN/
ANGKATAN
KOMUNITAS
1
Muhammad Yusuf Habibi
DKV/2011
Titik Api
2
Susila Hendri
DKV/2011
Titik Api
3
Ea Setiawan
DKV/2011
Titik Api
4
Rizki Alfarizi Ramadhana
DKV/2012
Titik Api
5
Dellana Arievta
DKV/2012
Titik Api
6
Gladys Mega Romanica
DKV/2012
Titik Api
7
Dyah Kinanti Ningtyas
DKV/2012
Titik Api
8
Aurora Nirmalarasati
DKV/2012
Titik Api
9
Dwinny Nurul Astari
DKV/2012
Titik Api
10
Pandu Agung Prabowo
DKV/2013
Titik Api
11
Gilang Nirmaga
DKV/2013
Titik Api
DAFTAR INFORMAN ANGGOTA KOMUNITAS DISKOM DRAWING
FOUNDATION ISI YOGYAKARTA
NO
NAMA
MAHASISWA
JURUSAN/
ANGKATAN
KOMUNITAS
1
Rian Hidaya
DKV/2011
DDF
2
Maqbul Khoir
DKV/2011
DDF
3
Abdul Kirno
Seni Rupa Murni/2011
DDF
4
Guntur Susiyo
DKV/2011
DDF
5
Eli Sugiarto
DKV/2011
DDF
6
Galang Hernanda
DKV/2012
DDF
7
Viki Bella
DKV/2013
DDF
8
Firda Amalia
DKV/2013
DDF
9
Nindya Kartika
DKV/2013
DDF
10
Ives
DKV/2013
DDF
11
Arkan
DKV/2013
DDF
12
Adit
DKV/2013
DDF
LAMPIRAN II
Pedoman Wawancara Komunitas Desain Komunikasi Visual Insitut Seni
Indonesia Yogyakarta
1. Apakah latar belakang anda mengikuti komunitas DKV ini?
2. Apa latar belakang dan tujuan komunitas DKV ini didirikan?
3. Apa proses membentuk komunitas DKV dipengaruhi peer group (teman
sebaya)?
4. Bagaimana ruang peer group dalam komunitas DKV ini?
5. Apakah setelah anda bergabung dengan komunitas DKV mempengaruhi
kehidupan sosial maupun individu?
6. Dinamika sosial apa yang kerap terjadi dilingkungan komunitas DKV?
7. Bagamana komunitas DKV memahami sense of art?
8. Apa pengaruh peer group dengan sense of art dalam komunitas DKV?
9. Apa pengaruh komunitas dengan sense of art dalam komunitas DKV?
10. Apakah pernah terjadi tindakan yang mengancam keberadaan komunitas
DKV?
LAMPIRAN III
CONTOH FOTO INTERAKSI DALAM KOMUNITAS DESAIN
KOMUNIKASI VISUAL INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA
CURRICULUM VITAE
A. IDENTITAS DIRI
Nama Lengkap
: Masri Muhamad
Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 20 September 1989
Jenis Kelamin
: Laki-Laki
Kewarganeragaan
: Indonesia
Agama
: Islam
Status
: Belum Menikah
Telp/ HP
: 081903751314
Email
: [email protected]
B. NAMA ORANG TUA
Ibu
: Suminah
Bapak
: Drs. H. Abdul Choliq
Alamat
: Perumahan Griya Taman Asri Blok C. 303 Sleman
C. RIWAYAT PENDIDIKAN
SDN Bhayangkara II - SDN Pendowoharjo IV
: 1996-1999/ 1999 - 2002
SMP N 5 Sleman
: 2002-2005
MAN Yogyakarta III
: 2005-2008
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
: 2008-2015
Demikian riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Yogyakarta, 24 Agustus 2015
Masri Muhamad
Download