hubungan kadar haemoglobin ibu hamil pada trimester iii dengan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Kehamilan
Kehamilan adalah masa yang mengagumkan dan menggembirakan. Kehidupan
baru yang anda kandung merupakan sumber kebahagiaan bagi anda, pasangan, dan
keluarga (Curtis, 2000).
Kehamilan ialah masa dimulainya dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung hari pertama haid
terakhir (Saifuddin, 2002 dalam Rukiyah, dkk, 2009).
Kehamilan Trimester III di mulai pada bulan ke enam sampai bulan ke sepuluh
kehamilan. Pada bulan ke enam pertumbuhan janin sudah mencapai 32 cm dan beratnya
650 gram, kulitnya tidak lagi terlalu merah dan diselubungi oleh lanugo dan berkeriput
karena tidak mengandung lemak. Sejak bulan ini lemak akan terkumpul di dalam
kulitnya. Kelopak mata mulai terpisah, tetapi membran yang menutupi pupil masih
cukup besar. Pada bulan ke tujuh janin sudah mencapai 43 cm dan beratnya sekitar 1800
gram, kulit masih kemerahan, agak keriput, tapi sejumlah lemak terkumpul, tulang
kepala lembut dan fleksibel, paru-paru berkembang. Pada bulan ke delapan sekarang
rahim sudah mencapai daerah tulang rusuk dan ibu mungkin merasa tidak nyaman,
khususnya jika makan dalam jumlah yang banyak, panjang janin 46 cm, berat 2500
gram. Pada bulan kesembilan kehamilan sudah mencapai kehamilan penuh, panjang bayi
50 cm, dan berat bayi sekitar 3300 gram, dan bayi laki-laki sekitar 100 gram lebih berat
dari bayi perempuan dan bayi sudah dapat mampu hidup di luar kandungan (Llewellyn,
2005).
B. Anemia Dalam Kehamilan
Anemia merupakan suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin,
hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal. Pada penderit anemia, lebih sering
disebut kurang darah, kadar sel darah merah (Hemoglobin/Hb) dibawah nilai normal.
Penyebabnya bisa karena kurangnya zat gizi untuk pembentukan darah, misalnya zat
besi, asam folat dan vitamin B12, tetapi yang sering terjadi adalah anemia karena
kekurangan zat besi (Rukiyah, 2010).
Anemia bisa dibawa sebelum kehamilan atau timbul setelah kehamilan
berlangsung. Jika sebelum kehamilan sudah anemia, selagi hamil akan bertambah berat.
Anemia defisiensi zat besi paling sering dialami ibu hamil. Bisa akibat minimnya
pemasukan unsur besi dari makanan ke tubuh entah lantaran makanan tersebut memang
kurang unsur besinya atau karena adanya gangguan pencernaan sehingga unsur zat besi
tak bisa di serap tubuh, bisa juga diakibatkan terlalu banyak zat besi yang keluar dari
badan semisal karena perdarahan, seperti penyakit wasi yang kronis (Solihah, 2010).
Anemia sebenarnya adalah tanda suatu penyakit, bukan penyakit itu sendiri.
Dalam
menentukan
etiologi
anemia,
akan
sangat
membantu
jika
kita
mempertimbangkan berbagai tes laboratorium yang hasilnya dapat digunakan
mengkategori kemungkinan penyebab anemia, dilanjutkan dengan melakukan diagnosis
banding, kemudian menegakkan diagnosis banding. Pemeriksaan laboratorium awal
dilakukan untuk menentukan ukuran sel darah merah, mikrositik, normositik, atau
makrositik. Pemeriksaan laboratoriumlanjutan yang perlu dilakukan adalah menentukan
anemia tertentu dalam suatu kategori (misal, kekurangan asam folat atau B12 pada
anemia makrositik). Berikut ini adalah pengkategorian etiologi anemia berdasarkan
ukuran sel darah merah:
1. Anemia Mikrositik (Penurunan Ukuran Sel Darah Merah)
a. Kekurangan zat besi
b. Talasemia
c. Gangguan hemoglobin E (jenis hemoglobin genetik yang banyak
ditemukan di Asia Tenggara)
d. Keracunan timah
e. Penyakit kronis (infeksi, tumor)
2. Anemia Normositik (Ukuran Sel Darah Merah Normal)
a. Sel darah merah yang hilang atau rusak menigkat
1) Kehilangan sel darah merah akut
b. Gangguan hemolisis darah
1) Penyakit sel sabit hemoglobin (sickle cell disease)
2) Gangguan C hemoglobin
3) Sferocitosis (banyak ditemukan di Eropa Utara)
4) Kekurangan G6PD (Glucose-6-phosphate dehydrogenase)
5) Anemia hemolitik (efek samping obat)
6) Anemia hemolisis autoimun
7) Penurunan produksi sel darah merah
8) Anemia aplastik (gagal sumsum tulang belakang yang
mengancam jiwa)
9) Penyakit kronis (penyakit hati, gagal ginjal, infeksi, tumor)
c. Ekspansi-berlebihan volume plasma pada kehamilan dan hidrasiberlebihan
3. Anemia Makrositik
a. Kekurangan vitamin B12
b. Kekurangan asam folat
c. Hipotiroid
d. Kecanduan alkohol
e. Penyakit hati dan ginjal kronis
4. Gejala Klinis Anemia Defisiensi Besi Pada Kehamilan
Manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bevariasi, bisa
hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit desarnya yang menonjol, ataupun
bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan penyakit dasarnya.
Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang,
perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neuromuskular, lesu, lemah, lelah,
disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Bila kadar Hb < 7gr/dl maka gejala-gejala dan
tanda-tanda anemia akan jelas (Rukiyah, 2010).
Gejalanya juga dapat berupa keletihan, mengantuk, kelemahan, pusing,
sakit kepala, malase, pica, nafsu makan kurang, perubahan dalam kesukaan makanan,
perubahan mood, perubahan kebiasaan tidur (Varney, dkk, 2007).
Juga berupa gampang lelah, lesu, dan sesak napas saat beraktivitas atau
berolah raga berat, permukaan kulit dan wajah pucat, mudah pusing, dan gampang
pingsan. Kerja jantung meningkat sehingga denyutnya jadi cepat, bahkan dapat
berakibat gagal jantung jika kondisi jantung memang buruk (Solihah, 2010).
B. Haemoglobin
Kusumah (2009, dalam Amri, 2009) mengatakan bahwa Haemoglobin ialah
protein globular yang mengandung besi. Terbentuk dari 4 rantai polipeptida (rantai asam
amino), terdiri dari 2 rantai alfa dan 2 rantai beta. Masing-masing rantai tersebut terbuat
sadri 141-146 asam amino. Struktur setiap rantai polipeptida yang tiga dimensi dibentuk
dari delapan heliks bergantian dengan tujuh segmen non heliks. Setiap rantai
mengandung grup prostetik yang dikenal sebagai heme, yang bertanggug jawab pada
warna merah pada darah. Molekul heme mengandung cincin porphirin. Pada tengahnya,
atom besi bivalen dikoordinasikan. Molekul heme ini dapat secara reversible
dikombinasikan dengan satu molekul oksigen atau karbon dioksida.
Destuty (2009, dalam Murray, dkk, 2003) mengatakan bahwa hemoglobin
mengikat empat molekul oksigen per tetramer (satu per subunit heme), dan kurva
saturasi oksigen memiliki bentuk sigmoid. Sarana yang menyebabkan oksigen terikat
pada hemoglobin adalah jika juga sudah terdapat molekul oksigen lain pada tetramer
yang sama. Jika oksigen sudah ada, pengikatan oksigen berikutnya akan berlangsung
lebih mudah. Dengan demikian, hemoglobin memperlihatkan kinetika pengikatan
komparatif, suatu sifat yang memungkinkan hemoglobin mengikat oksigen dalam
jumlah semaksimal mungkin pada organrespirasi dan memberikan oksigen dalam jumlah
semaksimal mungkin pada partial oksigen jaringan perifer. Struktur tetramer
hemoglobin yang umum dijumpai adalah sebagai berikut: HbA (hemoglobin dewasa
normal) = α2β2, HbF (hemoglobin janin) = α2γ2, HbS (hemoglobin sel sabit) = α2S2
dan HbA2 (hemoglobin dewasa minor) = α2δ2.
Disamping mengangkut oksigen dari paru ke jaringan perifer, hemoglobin
memperlancar pengangkutan karbon dioksida(CO2) dari jaringan ke dalam paru untuk
dihembuskan ke luar. hemoglobin dapat langsung mengikat CO2 jika oksigen dilepaskan
dan sekitar 15% CO2 yang dibawa di dalam darah diangkut langsung pada molekul
hemoglobin. C02 bereaksi dengan gugus α-amino terminal amino dari hemoglobin,
membentuk karbamat dan melepas proton yang turut menimbulkan efek Bohr (Murray, dkk,
2003).
Hemoglobin mengikat 2 proton untuk setiap kehilangan 4 molekul oksigen dan dengan
demikian turut memberikan pengaruh yang berarti pada kemampuan pendaparan darah.
Dalam paru, proses tersebut berlangsung terbalik yaitu seiring oksigen berikatan dengan
hemoglobin yang berada dalam keadaan tanpa oksigen (deoksigenasi), proton dilepas dan
bergabung dengan bikarbonat sehingga terbentuk asam karbonat. dengan bantuan enzim
karbonik anhidrase, asam karbonat membentuk gas CO2 yang kemudian dihembuskan
keluar (Murray, dkk, 2003).
Kadar Hemoglobin (Hb) ibu sangat mempengaruhi berat bayi yang akan
dilahirkan. Ibu hamil yang anemia karena Hbnya rendah bukan hanya membahayakan
jiwa ibu tetapi juga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan serta membahayakan
jiwa janin. Hal ini disebabkan karena kurangnya suplai nutrisi dan oksigen pada
placenta yang akan berpengaruh pada fungsi placenta terhadap janin.
Anemia pada ibu hamil akan menambah risiko mendapatkan Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR), risiko perdarahan sebelum dan pada saat persalinan, bahkan dapat
menyebabkan kematian ibu dan bayinya, jika ibu hamil tersebut menderita anemia berat
(Depkes RI, 2008). Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami anemia atau tidak
maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin. Salah satu cara cara yang dapat
digunakan adalah pemeriksaan hemoglobin metode Sahli, metode ini masih banyak
digunakan di laboratorium dan paling sederhana.
Menurut Depkes RI (2008), batasan anemia adalah:
1. Laki-laki Dewasa > 13 gram %
2. Wanita Dewasa > 12 gram %
3. Anak-anak > 11 gram %
4. Ibu Hamil > 11 gram %
1. Batas Kadar Hemoglobin Pada Wanita Hamil
Wanita hamil dikatakan anemia apabila kadar hemoglobin (Hb) atau darah
merahnya kurang dari kadar normal. Kadar hemoglobin wanita hamil dapat di
kategorikan sebagai berikut: (1) Hb >11 gr/dl, Normal. (2) Hb 8-10 gr/dl, anemia ringan.
(3) Hb < 7 gr/dl, anemia berat (Huliana, 2008).
2. Manfaat Pemeriksaan Hemoglobin Sewaktu Hamil
Menurut Wasindar (2007), manfaat dilakukan pemeriksaan hemoglobin pada ibu
hamil yaitu: (1) mencegah terjadinya anemia dalam kehamilan, (2) mencegah terjadinya
berat bayi lahir rendah (BBLR), (3) memenuhi cadangan zat besi yang kurang.
3. Akibat Kurangnya Kadar Hemoglobin Pada Ibu Hamil
Menurut Solihah (2010), Abortus, Persalinan yang lama, Perdarahan Pasca
Melahirkan, Kelahiran Prematur di bawah 37 minggu, BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah)
kematian mudah (terjadi saat kehamilan muda), serta kemungkinan lahir dengan cacat
bawaan.
Menurut Rukiyah (2010), Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan
jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Anemia juga
meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian
maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian
perinatal meningkat, perdarahan post partum lebih sering dijumpai pada wanita yang
anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir
kehilangan darah.
B. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya
pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). Bertahun-tahun
lamanya bayi baru lahir berat badannya kurang atau sama dengan 2500 gram disebut
bayi prematur. Pembagian menurut berat badan ini sangat mudah tetapi tidak
memuaskan. Lama-kelamaan ternyata bahwa morbiditas dan mortalitas neonatus tidak
hanya bergantung kepada berat badannya, tetapi juga pada maturitas bayi itu (FKUI,
1985).
Masa gestasi juga merupakan indikasi kesejahteraan bayi baru lahir karena
semakin cukup masa gestasi semakin baik kesejahteraan bayi. Konsep berat bayi lahir
rendah tidak sama dengan prematuritas karena tidak semua berat bayi lahir rendah lahir
dengan kurang bulan.
Klasifikasi bayi menurut masa gestasi dan umur kehamilan adalah bayi kurang
bulan, bayi cukup bulan dan bayi lebih bulan. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang
dalam jangka waktu 1 jam pertama setelah lahir. Klasifikasi menurut berat lahir adalah Bayi
Berat Lahir Rendah (BBLR) yaitu berat lahir < 2500 gram, bayi berat lahir normal dengan
berat lahir 2500-4000 gram dan bayi berat lahir lebih dengan berat badan > 4000 gram.
Klasifikasi bayi menurut umur kehamilan dibagi dalam 3 kelompok yaitu bayi
kurang bulan adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari),
bayi cukup bulan adalah bayi dengan masa kehamilan dari 37 minggu sampai dengan 42
minggu (259 -293 hari), dan bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai
42 minggu atau lebih (Sylviati, 2008).
Dari pengertian di atas maka bayi dengan BBLR dapat dibagi menjadi 2
golongan, yaitu Prematur murni dan Dismaturitas. (1) Prematur murni adalah neonatus
dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai
dengan berat badan untuk masa kehamilan, atau biasa disebut neonatus kurang bulan
sesuai masa kehamilan. Penyebabnya berasal dari berbagai faktor ibu, faktor janin
maupun faktor lingkungan. (2) Dismaturitas atau kecil untuk masa kehamilan adalah
bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan sesungguhnya untuk masa
kehamilan. Hal ini karena janin mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan
dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilan (KMK).
Bayi berat lahir rendah merupakan masalah penting dalam pengelolaannya karena
mempunyai kecenderungan ke arah peningkatan terjadinya infeksi, kesukaran mengatur
nafas tubuh sehingga mudah untuk menderita hipotermia. Selain itu bayi dengan Berat Bayi
Lahir Rendah (BBLR) mudah terserang komplikasi tertentu seperti ikterus, hipoglikemia
yang dapat menyebabkan kematian. Kelompok bayi berat lahir rendah yang dapat di
istilahkan dengan kelompok resiko tinggi, karena pada bayi berat lahir rendah menunjukan
angka kematian dan kesehatan yang lebih tinggi dengan berat bayi lahir cukup (FKUI,
1985).
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat bayi lahir
Berat badan lahir merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor melalui suatu
proses yang berlangsung selama berada dalam kandungan. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi berat bayi lahir adalah sebagai berikut :
a. Faktor Lingkungan Internal yaitu meliputi umur ibu, jarak kelahiran, paritas, kadar
hemoglobin, status gizi ibu hamil, pemeriksaan kehamilan, dan penyakit pada saat
kehamilan.
b. Faktor Lingkungan Eksternal yaitu meliputi kondisi lingkungan, asupan zat gizi
dan tingkat sosial ekonomi ibu hamil.
c. Faktor penggunaan sarana kesehatan yang berhubungan frekuensi pemeriksaan
kehamilan atau antenatal care (ANC).
Faktor yang secara langsung atau internal mempengaruhi berat bayi lahir antara lain
sebagai berikut :
1). Usia Ibu hamil
Umur ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Kehamilan dibawah umur 16
tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di bandingkan dengan
kehamilan pada wanita yang cukup umur. Pada umur yang masih muda, perkembangan
organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum optimal. Selain itu emosi dan
kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum
dapat menanggapi kehamilannya secara sempurna dan sering terjadi komplikasi. Selain
itu semakin muda usia ibu hamil, maka akan terjadi bahaya bayi lahir kurang bulan,
perdarahan dan bayi lahir ringan (Poedji Rochjati, 2003).
2). Jarak Kehamilan/Kelahiran
Menurut anjuran yang dikeluarkan oleh badan koordinasi keluarga berencana
(BKKBN) jarak kelahiran yang ideal adalah 2 tahun atau lebih, kerena jarak kelahiran
yang pendek akan menyebabkan seorang ibu belum cukup untuk memulihkan kondisi
tubuhnya setelah melahirkan sebelumnya.
3). Paritas
Paritas secara luas mencakup gravida/jumlah kehamilan, prematur/jumlah
kelahiran, dan abortus/jumlah keguguran. Sedang dalam arti khusus yaitu jumlah atau
banyaknya anak yang dilahirkan. Paritas dikatakan tinggi bila seorang ibu/wanita
melahirkan anak ke empat atau lebih. Seorang wanita yang sudah mempunyai tiga anak
dan terjadi kehamilan lagi keadaan kesehatannya akan mulai menurun, sering
mengalami kurang darah (anemia), terjadi perdarahan lewat jalan lahir dan letak bayi
sungsang ataupun melintang.
4). Kadar Hemoglobin (Hb)
Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil sangat mempengaruhi berat bayi yang
dilahirkan. Menurut Sarwono (2007), seorang ibu hamil dikatakan menderita anemia
bila kadar hemoglobinnya dibawah 12 gr/dl. Data Depkes RI (2008) diketahui bahwa
24,5% ibu hamil menderita anemia. Anemia pada ibu hamil akan menambah risiko
mendapatkan bayi berat lahir rendah (BBLR), risiko perdarahan sebelum dan pada saat
persalinan, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu dan bayinya, jika ibu hamil
tersebut menderita anemia berat (Depkes RI, 2008). Hal ini disebabkan karena
kurangnya suplai darah nutrisi akan oksigen pada plasenta yang akan berpengaruh pada
fungsi plasenta terhadap janin.
5). Status Gizi
Status gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan
penyerapan zat gizi dan penggunan zat-zat gizi tersebut, atau keadaan fisiologik akibat
dari tersedianya zat gizi dalam selular tubuh (Supariasa, 2002).
6). Pemeriksaan Kehamilan
Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi masalah
yang timbul selama kehamilan, sehingga kesehatan selama ibu hamil dapat terpelihara
dan yang terpenting ibu dan bayi dalam kandungan akan baik dan sehat sampai saat
persalinan. Pemeriksaan kehamilan dilakukan agar kita dapat segera mengetahui apabila
terjadi gangguan / kelainan pada ibu hamil dan bayi yang dikandung, sehingga dapat
segera ditolong tenaga kesehatan (Depkes RI, 2008).
Menurut Sarwono (2007) pemeriksaan kehamilan dilakukan setelah terlambat
haid sekurang-kurangnya 1 bulan, dan setelah kehamilan harus dilakukan pemeriksaan
secara berkala, yaitu :
a). Setiap 4 minggu sekali selama kehamilan 28 minggu
b). Setiap 2 minggu sekali selama kehamilan 28 – 36 minggu
c). Setiap minggu atau satu kali seminggu selama kehamilan 36 minggu sampai masa
melahirkan.
Selain dari waktu yang telah ditentukan di atas ibu harus memeriksakan diri
apabila terdapat keluhan lain yang merupakan kelainan yang ditemukan.
Download