ISSN . 2085·0905 - RP2U Unsyiah

advertisement
ISSN . 2085·0905
Penanggung Jawab
Ketua Jurusan Teknik Arsitektur
Universitas Syiah Kuala
Dewan Editor
Prof. Johan Silas
Dr. Ir. I. Gusti Ngurah Antaryama
Ir. Mirza Irwansyah, MBA, MLA, ·Ph.D
Ir. Izziah, M.Se, Ph.D
Dr. Safwan, ST, M.Eng
Ir. Elysa Wulandari, MT
Sylvia Agustina, ST,MUp
,
Raut adalah wacana bagi mahasiswa, staf
Pengajar dan segenap masyarakat arsitektur
untuk bertukar pandangan tentang Arsitektur
dan Iingkungan, perkotaan dan Permukiman dan
hal lain yang berkaitan dengannya.
Raut akan mempertimbangkan untuk memuat
naskah, yang merupakan tulisan yang
terorganisisasi dangan baik, jelas terbaca,
menarik, koheren, mempunyai nilai argumentasi
intelektual dan memiliki cirri yang akurat, yang
akan diterbitkan pada bulan Maret, Juli dan
November
Redakal Pelaksana
Husnus Sawab, ST, MT
Masdar Djamaluddin, ST
Erna Mutia, ST, MT
Hilda Mufiati, ST, M.Benv
Cut Dewi, ST,MT, MSc
Zulfikar Taqiuddin, S.Sn
Alamat Redakai
Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala
JI. Tgk Syeh Abdurrauf NO.7
Darussalam-Banda Aceh
Email: [email protected]
Disain Kreatif; Masdar-Zulfikar
Naskah diserahkan dalam bentuk hasil cetakan
(print out) dan CD (file), dengan ketentuan
penulisan sebagai berikut :
• Nask~h harus asli yang berupa hasil penelitian atau
studi Iiteratur yang belum pernah dipublikasikan
sebelumnya.
• Naskah bisa ditulis dalam bahasa Indonesia atau
Inggris dengan dilengkapi Abstrak dalam bahasa
Indonesia atau Inggrl5 termasuk kata kuncl
dengan jumlah halaman berkisar antara 8 sid 10
halaman pada kertas A4.
• Mencantumkan sumber dari sernua gambar, tabel,
skema atau pemikiran yang bukan merupakan hasil
karya penulis.
• Kutipan pada naskah, baik dalam tulisan, tabel atau
gambar ditulis : .... (5antosa, 1997)
• Daftar pustaka ditulis dan diurutkan berdasarkan
abjad dari nama pengarang dengan contoh sebagai
berikut:
Ruang
Budiharjo, Eko.(1997).
Perlrotaan. Bandung:Alumni.
Hall, Edward T. (1966). Hidden
Dimension. New York:Doubleday
• Kata-kata atau istilah asing ditulis dengan
rata
Raut Jurnal Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Syiah Kuala
Volume 1 NO.1 Januari 2012
Copyright to Raut all individual authors
Terbit tiga kali setahun
ISSN 2085-0905
hUruf miring.
,
RaUT Edisi I,
-
Vol. I, Januari - April 2012
Jurnal Arsitektur
Edisi 1, Vol. 1, [anuari - April 2012
Diterbitkan oleh Lab. Desain dan Model Arsitektur
Jurusan Arsitektur FT Unsyiah Darussalam - Banda Aceh
1
Ra UT Edisi I, Vol. I, Januari - April
2012
RaUT
Jurnal
Raut edisi perdana di tahun 2012 kembali terbit dengan beberapa artikel yang
berasal d'l,{i berbagai metode penelitian. Tidak dapat dipungkiri memang bahwa
penulis kali ini berasal dari institusi yang sarna yaitu Jurusan Arsitektur fakultas
Teknik Universitas Syiah Kuala.
Hal ini bukan berarti menutup kemungkinan bagi penulis dari luar untuk
menulis karya ilmiah di jumal ini. Oleh karena itu dengan harapan yang besar, kami
harapkan untuk terbitan selanjutnya ada penulis dari instansi lain yang bersedia
mengirim artike1 penelitiannya maupun pemikiran di bidang arsitektur.
Bagi penulis yang terlibat pada terbitan ini, redaksi mengucapkan terimakasih
dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
REDaKSi
•
RClUT
Edisil, VO!.I, Januari-April2012
RaUT
Jurnal
,
DatTaR lSi
Redaksi
Dari Redaksi
Daftar lsi
EVALUASI DESAIN PEMBAY ANGAN DALAM MENGURANGI
RADIASI PANAS MATAHARI KE DALAM RUANG
Husnus Sawab
PEDOMAN PENATAAN REKLAME PADA BANGUNAN
Studi Kasus Koridor Kertajaya Surabaya
Halis Agussaini
PERAN DESAIN VENTILASI DALAM
MEMODIFIKASI KEBERADAAN ANGIN
1- 9
10 - 20
21 - 29
Nizarli
REVITALISAT10N AND REBUILDING PLACE:
A Preliminary Study Of Langsa City - Aceh Indonesia
Evalina Z
PERANAN MATEMATIKA
TERHADAP PERKEMBANGAN DESAIN ARSITEKTUR
Burhan Nasution
SADAR LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN BANGUNAN
(SEBUAH TINJAUAN TEMA)
Muftiadi
AKSESIBILITAS
(Kajian Mengenai Syarat dan Penerapan Standar)
Zainuddin dan Teuku Ivan
.30 - 38
39 - 44
,45 - 51
52 - 63
HUSllUS
Sawab -
E":'lLUA5)'!DE,)~LJlN
PEiHBAYANGAN DALAM ...
EVALUASI DESAIN PEMBAYANGAN DALAM MENGURANGI
RADIASI PANAS MATAHARI KE DALAM RUANG
Husnus Sawab
[email protected]
Staf Pengajar Jurusan Arsitektur FT Unsyiah
,
ABSTRAK
Arsitektur tropis mempunyai ciri yang beragam dalam beradaptasi pada iklim. Salah satunya
adalah permainan gelap terang yang menghasilkan pembayangan pada bangunan.
Penggunaan kanopi pada elemen bukaan juga termasuk ke dalam hal tersebut di atas. Oleh
karena itu penelitian ini melihat peran desain pembayangan pada sebuah bukaan dalam
mengantisipasi radiasi panas matahari ke dalam ruang sebuah hun ian. Metode yang
dilakukan mengamati kondisi termaI ruang yang sarna dengan dan tanpa menggunakan
pembayangan selama 7 hari pada 3 waktu, yaitu pagi, siang dan sore hari. Data kondisi
termal bukaan tanpa pembayangan merupakan data yang diambil pada penelitian terdahulu
dan sudah pernah dipubl ikasikan tahun 20 II. Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan
pembayangan bukaan pada objek kaji tidak mempunyai pengaruh dalam menurunkan
kondisi termal kedalam keadaan yang lebih nyaman dan cenderung semakin meningkatkan
kondisi T in. Hasil pengukuran temperatur rata-rata Tout 26,3 °C, T in tanpa
pembayangan 27,9 °C, sedangkan T in Pembayangan adalah sebesar 28°C.
Kata Kunci: pembayangan, temperatur, radiasi matahari
PENDAHULUAN
Lingkungan fisik merupakan lingkungan yang spesifik menandai suatu
wilayahgeografis. Hal ini adalah iklim yang berinteraksi dengan bentukan yang ada
dipennukaan bumi.
Lingkungan tropis ditandai dengan keterkaitan antara elemen
iklim yang sangat unik, khususnya suhu udara, kelernbaban relatif dan kecepatan
angin yang ada (Santosa, 2003).
Hayati (2006), menambahkan bahwa iklim tropis
lembab seperti Indonesia merupakan suatu kondisi iklim yang sulit untuk menerapkan
ventilasi alami sebagai pemberi kenyamanan termal bagi penghuni. Hal ini disebabkan
temperatur dan kelernbaban serta radiasi matahari yang tinggi, sedangkan keberadaan angin
tidak cukup, menyebabkan rasa gerah yang sangat mengganggu penghuni sebuah bangunan.
Bangunan sebagai filter bagi penghuninya harus didesain sedemikian rupa untuk
menghadapi kondisi lingkungan seperti yang tersebut di atas. Arsitektur tradisonal yang ada
di Indonesia contohnya.
Bangunan (arsitektur) ini sudah teruji dalam menghadapi
kondisi lingkungan, seperti radiasi panas yang tinggi; membuat atap yang tebal dan
Raul Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
HWinUJ
Sawab - EVALUASf DESAJiVPEMBAYANGAN DALAAI...
besar (yang lebih dikenal dengan sebutan arsitektur atap), mengatur posisi bangunan
terhadap orientasi matahari. Dalam menghadapi kelembaban; salah satunya adalah
bangunan dibuat berbentuk panggung dan bercelah pada dinding dan lantai, sehingga
dengan kondisi ini pergantian angin selalu terjadi dan sinar matahari dapat mencapai
lebih jauh ke dalam ruangan.
Penjelasan secara rinci dapat dilihat pada gambar
berikut ini.
,
'<';~r
~
v-,
4. :jrr,,",)p'
,-~,{"
Gambar I: Prinsip Dasar Bangunan di Daerah Tropis Lembab
Sumber: Santosa (1988)
Sehubungan
dengan
perkembangan
budaya
dan
cara
mengedepankan efisiensi, arsitektur tradisional mulai ditinggalkan.
dengan munculnya beragam desain pada hunian modem.
hidup
yang
Dapat dilihat
Sebagaian besar masih
mengadopsi ciri dan pemecahan masalah kondisi iklim, seperti arsitektur tradisional
yang menerapkan pembayangan dalam mengantisipasi sinarl radiasi panas matahari.
Hal yang sarna juga dilakukan pada objek teliti penelitian kali
desain awal tidak menggunakan pembayangan pada bukaan (jendela).
im,
Pada
Sehingga
radiasi panas matahari sangat mengganggu yang menyebabkan kondisi termal ruang
ini tidak nyaman untuk didiami (Sawab, 2011).
Berdasarkan hal tersebut, maka muncullah ide penelitian ini untuk menjawab
permasalahan penggunaan pembayangan, dengan membandingkan dua desain
bukaan yang menggunakan dan tidak menggunakan pembayangan.
2
Raul Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
•
Humus Sawab -EVALUASJ DE,\~'llN PE'MBAL1NGAN DALAM ...
KAJIAN PUSTAKA
Pembayangan
Shading device (selanjutnya disebut pembayangan) adalah pengontrol efek
panas dengan cara pematahan laju panas ke dalam bangunan. Koenigberger (1973),
menyebutkan bahwa pembayangan adalah sebuah usaha untuk menghindari
masuknya cahaya matahari dari luar yang menyilaukan yang masuk melalui sebuah
bukaan.
Evan
(1980)
menyebutkan
bahwa
pembayangan
ada
3
bentuk
yaitu.horizohtal, vertikal dan penggabungan keduanya (egg - crate), dengan catatan
pemilihan macam bentuk pembayangan tergantung kepada karakteristik cahaya
matahari dan posisi bukaan.
Qadri (2007) menyebutkan bahwa umumnya pembayangan arah horizontal
merupakan sistem pembayangan yang sesuai untuk daerah dengan posisi matahari
yang selalu tinggi, terutama untuk sisi timur dan barat.
Untuk mengurangi sudut
matahari, pembayangan harus memenuhi syarat pandangan keluar. Sedangkan pada
sisi utara dan selatan, penggunaan pembayangan arah horizontal dapat dikurangi,
selanjutnya dapat ditambahkan dengan pembayangan arah vertikal atau model egg ­
crate. Orientasi dan bentuk jendela menentukan desain detail dari pembayangan dan
dapat membayangi secara menyeluruh dari bujur vertikal dan horizontal pada
proporsi yang berbeda.
Bukaan tanpa pembayangan objek kasus
Gambar 2: Desain bukaan tanpa menggunakan pembayangan
Sumber: Sawab (2011)
Raut Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
3
Husnus Sawab - EVALlJASl DESAIN PEA1BAYANGANDALAM....
Objek kasus adalah ruang tidur yang ada pada sebuah hunian.
Ruang ini
diapit oleh ruang tamu dan ruang kerja, dengan orientasi menghadap ke atah Barat
(mengenai langsung radiasi panas pada pukul 12 siang hingga sore menjelang
malam). Material bangunan untuk dinding adalah bata plesteran di kedua sisinya.
Bagian Barat terdapat dua buah jendela dan 3 jendela kecil di atasnya. Bagian Timur
(sisi dalam) terdapat 1 pintu dan 3 jendela monyet (saling berhadapan). Lingkungan
luar sisi Barat terdapat halaman dengan lebar 7 meter yang dilanjuti dengan jalan
...
aspal selebar 6 meter. Sedangkan sisi Timur dibatasi dengan ruang keluarga.
Secara rinci dapat dilihat pada gambar di atas dan berikut ini.
Gambar 3: Posisi Bukaan terhadap Ruang Luar
Sumber: Sawab (20 I I)
Desain pembayangan objek kasus
Gambar 4: Desain Bukaan Setelah Penambahan Pembayangan Vertikal dan Horizontal
4
Raul Edisi I Vol. l, Januari - April 2012
HU.WlusSawab-EJ,ALUAS! DESAIN PEMBAYANGAN DALAM ...
Pada gambar 4 di atas, memperlihatkan desain pembayangan yang
mengelilingi bukaan dengan lebar 0,50 meter dan semakin keeil pada sisi bawah
dengan ukuran 0,20 m. Sisi samping mengikuti ukuran atas dan bawah. Jarak dari
kusen bukaan adalah 0,10 em.
Sedangkan gambar di bawah ini memperlihatkan
kondisi setelah pembangunan yang merinei posisi bukaan yang terbayangi terhadap
ruang luar.
-
Gambar 5: Posisi Bukaan terhadap ruang Luar
Metodologi Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian yang berjudul
Ventilation Designs in the Presense of Wind and the Impact of Dwellwer 's Thermal
Perception dan sudah dipublikasikan pada prosiding ICRP tahun 2011.
Tujuan
penelitian lanjutan ini adalah melihat dampak desain pembayangan pada bukaan
terhadap kondisi termal ruang. Pada penelitian lanjutan yang dilaksanakan kali ini,
sebagian data kondisi terrnal ruang menggunakan data awal dan selanjutnya
membandingkan dengan kondisi termal terbaru (hasil amatan saat ini).
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengukur kondisi termal ruang
hunian yang tidak menggunakan pembayangan dan (setelah menunggu beberapa
waktu pembuatan pembayangan dilakukan pada objek bukaan yang sarna selesai
dikerjakan) yang menggunakan pembayangan.
Pengukuran kedua jenis objek
tersebut dilakukan selama 7 (tujuh) hari pada; pagi, siang dan sore hari, dengan
Raul Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
5
•
Husnus Sawab - EVALUASI DES'AIN PEMlJAYANGAN DALAM....
menggunakan Digital Instrument.
Hasil kedua kondisi tennal terse but akan
dibandingkan untuk mengetahui apakah desain pembayangan yang dilakukan
berpengaruh terhadap penurunan kondisi tennal ruang hunian atau malah sebaliknya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Termal Ruang
Hasil pengukuran seperti terlihat pada gambar berikut ini, menunjukkan
seperti pada umumnya, kondisi termal indoor (f in) lebih tinggi dari outdoor (T out)
yang disebabkan berbagai hal, salah satunya adalah penggunaan material bangunan.
Bangunan menggunakan material batamerah yang diplester pada kedua sisinya.
Seperti diketahui bahwa material ini mempunyai daya serap dan rambatan panas
yang lama,
Posisi ruang yang dijadikan objek kaji berhadapan langsung dengan orientasi
(garis edar matahari, Timur - Barat), tanpa ada penghalang yang bisa mereduksi
radiasi panas matahari. Pagi hari ruang ini menerima radiasi panas dari pukul 12
siang hari sampai pukul 18 sore hari.
Waktu-waktu ini merupakan kondisi yang
tidak nyaman, karena radiasi matahari sangat tinggi setiap harinya. Adapun hasil
pengukuran dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel J: Hasil Pengamatan Kondisi Temperatur
(T out dan T in pada Ventilasi Tanpa dan Memakai Pembayanagan)
P AG I
No. Data
Tout
24
24
2 ..... ..... 23,2
............ .......
., ..................
?~!~......
23,9
24
3 ............ .................
23
........................ .. ...................
24
24
............. ...4 ............ ... 23,4
24
22 .... :..............................
23
5
"
22 .........
6 ............. ................
.... ................
19,5
7
Rata-rata
6
22,3
G
S 0 RE
T in
Tanpa I Pembygn
Pembygn
23
24
............ :.................
1
S IA N
T in
T out
T in
Tanpa
Pembygn
Pembygn
29
32
31,4
28,8
31
31
29
31
31
29
30,7
31
Tout
27,5
27
................
!
Tanpa
Pembygn
Pembygn,
29
29
29,1
29
29,3
31
32,1
23,4
23,8
30
32
32
28,9
28 .................................
29
. ...... ................
28,5
27
28
...... :.............................
26,9
29
J?8,7
26
28,8
29
22
23
30,1
32,3
32
28,6
29
29
23,5
23,8
29,3
31,4
31,5
27,3
28,9
28,8
:
Raut Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
:'
Hu.H1US
Sawab - EHLUASI D/:'SA1N PEJII13A J'ANGAN DALAM ...
Tabel di atas memperlihatkan hasil pengukuran T out dan T in yang
dilakukan selama 7 (tujuh) hari dalam 3 waktu pengambilan data setiap harinya
Rentang waktu pengambilan data antara ventilasi yang tidak menggunakan
pembayangan dan yang menggunakan pembayangan adalah 8 (delapan) hari
(menunggu selesai pembuatan pembayangan dari bahan beton).
Seperti pada umumnya dalam kondisi termal tropis lembab, tempertur ruang
luar selalu lebih rendah dari temperatur dalam ruang. Demikian juga halnya dengan
hasil pengamatsn pada objek teliti. Kondisi rata-rata tempertur ruang luar pada pagi
hari adalah 22,3
°c siang
hari sebesar 29,3
°c dan
pada sore hari menjelang matahari terbenam.
mulai menurun hingga 27,3
°c
Kelembaban relatif pada saat
pengukuran dilakukan berkisar antara 66 - 83 % dengan kecepatan angin yang
sangat rendah yaitu sebesar 0,4 m/det. Sedangkan perbedaan rata-rata kondisi
temperatur ruang yang tidak dengan yang menggunakan pembayangan adalah 0,3 K
pada pagi hari dan 0,1 K pada siang hari serta sore hari.
Untuk lebih rincinya, hasil pengukuran dapat dilihat pada gambar 4 berikut
in!.
-_._-~
33
32
T
E
M
I'
E
R
.\
T
I
R
SIA N G Tout
___ SiA N G Tin Tanps Pembayangal
- > - S! AN G
31
30
29
28
Tin Pelnbayan.gar,
SO R. E Tout
SO R E' Tin Tarpa Pembavansan
SO R. E Tin Pemba,'angan
27
26
25
24
23
22
,,
21
20
--·-·PAGI Tout
,
'
..
- I I I - P A G I Tin Tanpa Pembavangan
_.0- P A G I T in Pembayangan
19
1
2
3
4
5
6
7
Gambar 6: Kondisi Temperatur (T out dan Tin) Ruang
yang diukur selama 7 hari dalam 3 waktu
Raut Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 20/2
7
Husnus Sawab - EVALUASI DESAIN PEMBAYANGAIV DALAM. ...
Garnbar grafik tersebut memperlihatkan, pada pagi hari profil kondisi
ternperatur yang terjadi rnernperlihatkan T out dan T in tidak dalarn kondisi yang
saling bersinggungan. Tout selalu dalarn kondisi di bawah T in tapi rnasih dalarn
bentuk yang sarna, dengan rata-rata perbedaan 1,2 K. Sedangkan kondisi T in
ventilasi tanpa dan dengan pernbayangan pada awal-awalnya rnernpunyai profil yang
sarna tapi lama kelarnaan kondisi T in tanpa pernbayangan
jauh lebih baik.
Perbedaan keseluruhan kondisi ternperatur dipagi hari adalah 0,5 K.
Siang hari yang rnerupakan kondisi puncak setiap harinya, kondisi tertinggi
terjadi pada hari terakhir pengukuran yaitu sebesar 30,1
"c.
Darnpak dari tingginya
kondisi ternperatur luar (T out) tersebut berpengaruh kepada Tin, akibat rarnbatan
radiasi panas yang diterirna oleh dinding ruang. Keberadaan angin yang dibutuhkan
untuk rnenhapus rarnbatan radiasi panas tersebut tidak bisa diharapkan karen a
kecepatan angin yang ada hanya 0,1 rn/det, dibutuhkan kecepatan angin yang lebih
besar untuk dapat terjadinya evaporasi radiasi panas sehingga berpengaruh terhadap
kondisi Tin.
Profil ternperatur T in tanpa dan pernbayangan di siang hari adalah pada
awalnya kondisi T in pernbayangan lebih baik dengan perbedaan 0,6 K, selanjutnya
kedua kondisi T in terlihat sarna tapi rnendekati akhir pengukuran kondisi T in
pernbayangan secara urnurn jadi lebih baik. Adapun perbedaan T in yang terjadi
adalah sebesar 0,1 K.
Ketika sore hari rnenjelang rnatahari terbenarn, kondisi Tout rnulai rnerarnbat
turun rnencapai 28,6
°c dengan rata-rata pengukuran 27,3 0c.
Dernikianjuga dengan
T in ke 2 jenis bukaan, bukaan tanpa pernbayangan sedikitrnendorninasi sebesar 0,1
K. Profil kondisi T in pada awal dan akhir terlihat cenderung sarna, hanya pada
pengarnatan ke 4 terjadi penurunan yang signifikan pada T in pernbayangan. Salah
satunya disebabkan rneningkatnya kecepatan angin pada hari pengukuran rata-rata
sebesar 1,4 m/det.
8
Raul Edisi 1 Vol. I, Januari - April 2012
~
Husnus Sawab -
E~ALUASI
DE)'A1N PEMBA L4NGAN DALAM ...
KESIMPULAN
Dampak desain pembayangan bukaan pada objek kaji ternyata mempunyai
pengaruh yang sangat kecil, apalagi kalau dirata-ratakan desain pembayangan
bukaan tersebut tidak mempunyai arti sarna sekali, malah semakin meningkatkan T
in ruang sebesar 0, I K, dengan keberadaan angin yang diharapkan untuk dapat
mengevaporasi radiasi panas di kulit bangunan tidak terjadi, yaitu hanya sebesar 0,1
m/det.
Hasil pengukuran temperatur
rata-rata Tout 26,3 DC, T in tanpa
pembayangan 27,9 DC, sedangkan T in Pembayangan adalah sebesar 28 DC.
Oleh
karena itu diperlukan redesain pembayangan pada bukaan objek kaji ataupun
alternatif desain pada elemen dinding sehingga bisa menahan radiasi panas yang
berdampak meningkatkan kondisi termal ruang.
DAFTAR PUSTAKA
Evans, Martin (1980), Housing, Climate and Comfort, The Architectural, Press,
London.
Hayati, Arina (2006), Increasing The Effectiveness Of Jalousie Window In
Promoting Natural Ventilation In Tropical Houses, Journal of Architecture &
Environment, Department of Architecture ITS, Surabaya.
Koenigsberger O.H., Ingersoll T.G., Mayhew, Alan. Szokolay S.V (1973), Manual of
Tropical Housing and Building, Longman, London.
Qadri, Laila, et. al (2007), Laporan Penelitian; Pembayangan dengan Teritisan
dalam Perannya Mengurangi Efek Panas Masuk ke Bangunan (Kasus
Bangunan Pertokoan di Banda Aceh), Lemlit Unsyiah, Darussalam Banda
Aceh.
Santosa, Mas (2003), Totalitas Arsitektur Tropis, Tradisi, Modernitas dan teknologi,
Pidato Pengukuhan untuk Jabatan Guru Besar dalam Sains Arsitektur, FTSP
ITS Surabaya.
Santosa, Mas, dkk (1988), Aspek Kepadatan Dan Bentuk Lingkungan Permukiman
Pada Penggunaan Energi Alami, Laboratorium Sains Bangunan Jurusan
Arsitektur FTSP ITS Surabaya.
Sawab, Husnus (2011), Ventilation Designs in the Presense of Wind and the Impact
of Dwellwer 's Thermal Perception, Prosiding ICRP 2011; Theme: From
Culture to Art and Architecture, Lab. Desain dan Model Struktur,
Architecture Depart. Unsyiah Darussalam - Banda Aceh.
Raut Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
9
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME...
PEDOMAN PENATAAN REKLAME PADA BANGUNAN
STUDI KASUS KORIDOR KERT AlAYA SURABAYA
Halis Agussaini
[email protected]
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala
ABSTRAK
Di jalan dan ruang terbuka kota sering dijumpai konflik dari berbagai pesan visual, lampu
Jalu Jintas terbaur oleh kerJipan lampu tempat hiburan, pengarah jalan dikacaukan oleh
petunjuk lokasi toko, bentuk dan fasade bangunan tertutup oleh bidang reklame. Akibatnya,
informasi menjadi sulit dimengerti karena saling tumpang tindih. Ukuran dan kualitas
rancangan dari reklame tersebut harus diatur untuk menciptakan kesesuaian, mengurangi
pengaruh negatif secara visual dan mengurangi kompetisi antara privat sign untuk
kepentingan tertentu dengan public sign untuk kepentingan umum. Aspek pengendalian
rekJame meliputi: letak dan ukuran reklame, jarak dan sudut pandang, desain dan kualitas
reklame, pemakaian iluminasi dan lokasi pemasangan.
Kala kunci: Reklame pada Bangunan, Aspek pengendalian.
PENDAHULUAN
Pesatnya perkembangan suatu kawasan, khususnya kawasan perdagangan
mendorong semakin meningkatnya penggunaan reklame sebagai alat informasi dan
promosi. Reklame seringkali merupakan elemen visual yang cukup dominan pada
kawasan tersebut. Dari sisi perancangan kota (urban design), ukuran dan kualitas
rancangan dari reklame tersebut harus diatur untuk menciptakan kesesuaian,
mengurangi pengaruh negatif secara visual dan yang penting adalah mengurangi
kompetisi antara privat sign untuk kepentingan tertentu (pemasang iklan) dengan
public sign untuk kepentingan umum (rambu lalu lintas, tanda bagi urnurn lainnya).
Dari sisi bisnis, reklame memang sangat penting, tetapi suatu kualitas lingkungan
fisik yang baik merupakan tanggung jawab bersama. Karena perancangan reklame
yang
baik
akan
menambah
karakter fasade
bangunan
bersamaan dengan
memeriahkan bentang jalan me1alui informasi mengenai barang dan jasa dari usaha
(bisnis).
Jalan Kertajaya yang saat ini sedang tumbuh cepat menjadi kawasan
perdagangan yang berada pada jalur penghubung utama kawasan pusat kota dengan
10
Raul Edisi J Vol. 1, Januari - April 2012
Balis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME. ..
kawasan timur kota meminjukan kecenderungan perkembangan yang tidak teratur,
tak terkoordinir, yang ditandai dengan penempatan/pemasangan reklame menurut
selera
masing-masing
tanpa
menghiraukan
ketertiban
dan
keharmonisan
lingkungannya.
TINJAUAN LITERATUR
Kata reklame berasal dari bahasa Perancis, yaitu re-clamare yang artinya
"meneriakan berulang-ulang". Sundiana dalam Handayani (1992) menjelaskan
bahwa reklame adalah salah satu bentuk komunikas] yang terdiri atas informasi dan
gagasan tentang suatu produk yang ditunjukan kepada khalayak secara serempak
agar memperoleh sambutan baik. Reklame mengandung usaha untuk memberikan
informasi, membujuk dan meyakinkan.
Koridor menurut Spreiregen (1965) adalah ruang untuk pergerakan linear.
Jalan adalah linear ruang kota (urban space). Jika tertutup pada kedua sisinya atau
mempunyai beberapa elemen dengan karakter yang mempersatukan, seperti pohon­
pohon atau bangunan-bangunan yang serupa. Pengertian yang sama juga diberikan
oleh Tange (1971 ), dan Ching (1979).
Fungsi koridor dalam kaitannya dengan perancangan kota diungkapkan oleh
Lynch (1960) dalam buku The Image Of The City, bahwa path yang istimewa akan
menjadi ciri-ciri yang penting dalam serangkaian jalan. Kosentrasi dari suatu
penggunaan dan aktivitas yang spesial di sepanjang jalan, akan memberikan kesan
tertentu dalam benak pengamat.
Aspek Pengendalian Reklame
Aspek pengendalian reklame meliputi letak dan ukuran reklame, jarak dan
sudut pandang, disain dan kualitas reklame (jenis dan besar huruf, wama dan lain­
lain), pemakaian iluminasi serta integrasi dengan bangunan dan lingkungan adalah
sebagai berikut :
A. Letak dan ukuran reklame yang baik menurut Handayani (1992).
1) Menempel pada bangunan.
Raul Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
11
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME. ..
a) Sejajar bangunan, reklame ini ditujukan bagi pengamat di depan
bangunan, prosentase bidang reklame yang dipasang disesuaikan dengan
ukuran dan tampak bangunan ( tidak lebih dari 30% luas bidang tampak).
b) Tegak lurus banguan, reklame ini ditujukan bagi pejalan kaki dan
pengendara bermotor. Reklame yang dipasang tegak lurus tidak menutupi
bidang fasade bila diamati dari arah depan serta tidak mengganggu
kosentrasi pengendara bermotor.
2) Diatas bangunan,
Reklame ini ditujukan untuk petunjuk m~genali lokasi, ukuran reklame
hams disesuaikan dengan bangunan dibawahnya, dan harus didukung oleh
struktur atap bangunan yang kuat untuk menahan
beban struktur tempat
bidang reklame.
3) Pada ruang terbuka,
Pemasangan reklame ruang terbuka kota berkaitan sekali dengan perijinan
yang berlaku pada suatu negara atau kota, karena tergantung kebijaksanaan
masing-masing negara atau kota. Reklame ruang terbuka ini tidak termasuk
elemen yang akan diteliti dalam penelitian ini.
B. Jarak dan sudut pandang.
Segala sesuatu yang terlihat oleh pengamat tergantung pada seberapa jauh jarak
pandang tersebut ke bangunan yang diamati, dengan sudut pandang sebagai
berikut (Spreiregen, 1975) :
1) Sudut 45°, jarak pandang sama dengan tinggi bangunan, ketajaman objek
fasade dapat diamati detail.
2) Sudut 30°, perbandingan bidang terlihat dengan jarak pandang seperdua (1:
2), keseluruhan fasade dan detailnya dapat diamati bersamaan.
3) Sudut 18°, perbandingan bidang terlihat dengan jarak pandang sepertiga (1:
3),
objek
yang
diamati
mempunyai
hubungan
dengan
benda-benda
sekelilingnya.
4) Sudut 14°, perbandingan bidang terlihat dengan jarak pandang seperempat (1:
4), objek cenderung untuk dilihat sebagai tepi (edge) depan dalam
pemandangan keseluruhan.
12
Rout Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME...
C. Bentuk dan kualitas desain.
Meliputi pemilihan variasi berbagai tipologi huruf, ukuran, wama dan
konstruksi huruf serta ilustrasi tersebut ke bidang dasamya, jumlah reklame yang
dipasang pada bangunan. Ukuran reklame adalah perbandingan luas bidang reklame
(tinggi dan lebar) terhadap bidang fasade tempat reklame tersebut dipasang. Bidang
fasade adalahperrnukaan bangunan yang menghadap ke jalan dari lantai dasar
hingga atapnya.
D. Iluminasi.
\
Reklame yang Juga dirancang untuk malam hari dapat dilengkapi dengan
iluminasi, khususnya untuk restairan dan tempat-tempat hiburan.
ANALISIS KAWASAN PENELITIAN
Kecenderungan Perkembangan
Pengalihan fungsi dari perumahan menjadi kegiatan perdagangan di koridor
Kertajaya mendorong para pemilik kaveling untuk meningkatkan nilai ekonomis
bangunannya dengan meJakukan berbagai jenis pengembangan fisik bangunan.
Pengembangan yang dilakukan lebih mengutamakan kepentingan dan seleranya
sendiri-sendiri, tanpa atau kurang memperhatikan keteraturan dan keharrnonisan
antar bangunan satu dengan lainnya (Heru Purwadio, 1994).
Kondisi ini makin diperparah dengan pembuatan/pemasangan reklame yang
semrawut dan "overcrowding" baik yang melekat pada struktur bangunan ataupu
pada struktur lainnya. Disamping itu juga banyak reklame-reklame yang menggangu
vista dan kurang mempertimbangkan hal kecepatan dan jarak reaksi.
Karakter Arsitektural
Secara umum karakter arsitektural yang dijumpai di koridor Kertajaya adalah
arsitektur "modem".
Istilah "modem" dipakai pada bangunan-bangunan dengan
bentuk geometris, yang merupakan gaya Bauhaus yang diperkenalkan sekitar tahun
1920-an (awal bentuk arsitektur yang menampilkan karakter kubus, sudut siku-siku,
artikulasi fasade yang rasional dan bersih).
Raut Edisi 1 Vol. I, Januari - Apri/2012
13
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME. ..
Teknik-teknik
versi
baru
diperkenalkan,
yang
sebetulnya
hanya
meyempurnakan prinsip-prinsip yang sudah ada sebelumnya. Dengan penemuan baru
pada bahan bangunan juga dapat dilakukan perubahan-perubahan pada bangunan
lama. Fungsi bangunan yang awalnya rumah tinggal berganti menjadi rumah toko
(ruko), toko, showroom, kant or dan lain-lain.
Jenis dan Letak Reklame
Berdasarkan pengamatan di kawasan studi, dari bermacam jenis reklame
yang dipasang pada bangunan jenis reklame yang dominan antara lain:
1) Reklame yang menempel sejajar bidang bangu~an (reklame tempel),
2) Reklame yang menempel tegak lurus bidang bangunan (reklame moncol),
3) Reklame neon sign (reklame lampu),
4) Reklame tiang di atas bangunan, dan
5) Reklame tiang di halaman persil bangunan.
Reklame yang menempel sejajar bidang bangunan (reklame tempel) hanya
dapat dilihat oleh pengamat yang berdiri di seberang bangunan tersebut. Reklame
jenis ini terdapat pada semua semua bangunan di Koridor Kertajaya, baik berukuran
kecil maupun besar. Berukuran besar banyak dijumpai pada showroom mobil, toko­
toko e1ektronik, toko kamera dan film, yang besarnya hampir menutupi seluruh
bidang fasade bangunan.
Pemasangan reklame moncol ditujukan bagi pengamat yang bergerak
menyusuri bangunan, baik berjalan kaki maupun berkendaraan. Reklame moncol ini
banyak dijumpai berukuran besar dan melewati batas trotoar jalan, hal ini dapat
mengganggu konsentrasi pengendara kendaraan bermotor.
Reklame tiang yang dipasang diatas bangunan cukup signifikan, walaupun
tidak sedominan reklame tempe1 atau reklame moncol, tetapi karena ukurannya yang
cukup besar menyebabkan kontras dengan lingkungan. Reklame ini dapat terlihat
dari jauh dan dapat dikenali dalam suatu bentang kota (urbanscape). Disamping itu
penggunaan reklame ini harus didukung oleh struktur atap yang kuat untuk menahan
beban struktur tempat bidang reklame, bahkan beberapa literatur (Carr, Cullen,
Spreiregen dan Appleyard) menyarankan bahwa reklame berskala besar tidak
14
Raul Edisi I Vol. 1. Januari - April 2012
------
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME. ..
dipasang di atas bangunan karena dikhawatirkan mengganggu konsentrasi dan
keselamatan pengemudi.
Selain reklame tiang yang dipasang di atas bangunan, pada wilayah studi juga
terdapat reklame tiang yang dipasang pada halaman persil bangunan, terutama
bangunan yang mundur terhadap garis sempadan bangunan (GSB). Reklame jenis ini
dianjurkan tidak melewati batas halaman persil karena dapat menggangu utilitas
kota, seperti kabel tiang listrik atau kabel tiang telpon dan tidak boleh lebih tinggi
dari bangunan disampingnya agar tidak tertutupi oleh bidang reklame tersebut.
Reklame neon sign (reklame lampu), umumnya digunakan oleh bangunan
yang juga berfungsi pada malam hari (seperti : restaurait, toko-toko elektonik, apotik,
ATM Bank). Pemasangan reklame jenis ini menambah semaraknya malam hari,
tetapi perlu juga diperhatikan ukurannya yang jangan terlalu besar dan lampu yang
berkedip karena dapat mengganggu konsentrasi pengemudi kendaraan bermotor.
Prosentasi ketertutupan fasade bangunan oleh reklame kategori sedang (31 %
- 60 %) cukup banyak, khusunya pada bangunan showroom mobil, toko-toko
elektronik, toko kamera dan film). Ketertutupan fasade bangunan oleh
reklame
kategori baik (0 % - 30 %) umumnya pada bangunan bank dan perkantooran. Ukuran
reklame ini harus diatur agar karakter bangunan dan lingkungan tidak tenggelam oleh
bidang reklame dan integrasi dengan arsitektur bangunan tercapai.
Jarak dan Sudut Pandang
Jarak dan sudut pandang dimaksudkan agar tercipta sekuential (serial vision).
Serial vision dengan elemen reklame sebagai isi dari alur perjalanan tersebut
diarahkan pada pemberian tekanan pada klimak perjalanan dan menciptakan vista
pada setiap alur perjalanan yang sesuai dengan karakter lingkungan tersebut
(memperkuat citra).
Pemasangan rek~ame di kawasan studi umumnya belum memperhatikan jarak
dan sudut pandang, sehingga banyak ukuran reklame yang terlalu besar atau terlalu
kecil, akibatnya selain mengganggu pemakai jalan karena terlalu kontras atau juga
tidak jelas terbaca karena huruf terlalu kecil, disamping itu serial vision yang
diharapkan tidak tercipta tetapi malah menimbulkan kesan semraut.
Raut Edisi I Vol. I, Januari - April 2012
15
---,
•
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME. ..
Bentuk dan Kualitas Desain Reklame
Suatu desain reklame yang integratif dengan baik dalam desain fasade jarang
ditemui di kawasan studi, umumnya desain reklame dibuat setelah bangunan dihuni,
kemudian penghuni yang memasangnya disesuaikan dengan kebutuhan. Pemasangan
papan reklame tersebut umumnya berdasarkan selera pemasangnya saja. Cara
pemasangan di bangunan tidak diatur secara khusus oleh pengelola kota dalam
kaitannya dengan informasi yang perlu diketahui oleh warga kota.
Ada kalanya penggabungan (integrasi) reklame dengan bangunan "baik",
artinya ukurannya disesuaikan dengan ukuran dan &'sade bangunan. Lokasi dan
posisi reklamepun disesuaikan dengan kemungkinan arah, sudut dan jarak pandang
pengamat. Desain reklame yang "baik", yang dirancang menjadi satu kesatuan
dengan desain fasade sering dijumpai pada bangunan tunggal, misalnya Holland
Bakery dan beberapa bangunan yang sejak awal perancangan sudah diketahui tujuan
pemakainanya, atau
bangunan lama yang direnovasi
sesuai dengan tujuan
pemakaiannya, misalnya beberapa bangunan bank.
Disamping itu terdapat pula integrasi reklame dengan bangunan "kurang",
karena reklame berdiri sendiri tanpa mengindahkan bangunan sebagai bidang
dasarnya, bahkan juga dijumpai beberapa reklame yang tidak mempunyai keterkaitan
dengan fungsi bangunannya. Misal toko-toko yang menjual alat-alat elektonik dan
mobil.
Pedoman penataan
Dari hasil analisis sebelumnya agar keberadaan reklame-reklame terse but
fungsional, tidak membahayakan orang yang lalu lalang disekitarnya, berintegrasi
dengan
bangunan dan
dapat
dinikmati oleh
pemakai jalan (estetis) serta
mengakomodasi kepentingan semua pihak perlu diberikan suatu pedoman (panduan)
penataan reklame pada .bangunan di koridor Kertajaya.
Luas Bidang Reklame
Dalam kaitannya dengan fungsional (tujuan yang ingin dicapai) dan
berintegrasi dengan bangunan, bentuk dan luas bidang reklame reklame hams
16
Rout Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME. ..
memperhatikan proporsi, yaitu perbandingan tinggi dan lebar reklame dengan tinggi
dan lebar bangunan.
Prosentase luas bidang reklame yang dipasang sejajar bidang fasade
bangunan (reklame tempel) antara 0 % - 30 % luas bidang fasade dapat menjadi
pedoman agar komunikasi arsitektural yang menampilkan gaya atau karakter tertentu
dapat tetap tampil baik. Reklame tegak lurus bidang fasade bangunan tidak menutupi
bidang fasade bila diamati dari arah depan.
Penempatan Reklame
Berbagai
kemungkinan
perletakan
reklame
pada
bangunan
tetap
mengutamakan kejelasan copy (huruf atau angka dalam desain) bila dibaca pada
jarak tertentu. Layout copy dalam arah horisontal (reklame tempeI) ditujukan bagi
pengamat yang berda di depan atau di seberang bangunan, sedangkan layout copy
dalam arah vertikal atau tegak lurus (reklame moncol) ditujukan bagi pejalan kaki
dan pengandara kendaraan. Reklame di atas bangunan harus dibatasi penempatannya
karena dapat membahayakan keselamatan berlalu lintas.
Ruang reklame bagi reklame moncol atau reklame tempel dipertahankan
tingginya sampai dengan lantai dua. Dengan demikian garis tampak dapat
dipertahankan
kontunuitasnya
melalui
POSlSl
reklame
walaupun
bangunan
mengalami perubahan permanen pada arah vertikal (dari lantai dua ke lantai banyak).
Dengan membatasi sampai lantai dua, pengemudi tetap dapat melihat dari jarak jauh
dan pada jarak dekat dengan tidak perlu mendongak. Reklame bagi pejalan kaki jika
digantung di langit-langit atau di atas pintu akan memudahkan pejalan kaki
mengenali bangunan.
Desain Reklame
Selain
memperh~tikan
aspek keindahan (estetis), desain reklame juga harus
memberikan rasa aman dari segi struktumya. Struktur khusus diperlukan bagi
reklame permanen, agar dapat terpasang pada bangunan dan juga harus kuat, tidak
mudah copot, patah/rubuh, yang dapat membahayakan orang disekitarnya.
Bahan yang dipakai sebailnya dari bahan anti karat (galvanized atau stainless
steel) dan bidang dasar reklame di pakai lembaran baja (stell deck). Selain itu bentuk
Raul Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
17
•
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME. ..
reklame dapat pula dibuat huruf-huruf timbul langsung pada bidang bangunan dan
atau pada bidang dasar reklame.
Khusus untuk reklame lampu (neon sign) yang diperuntukan pada malam
hari, desain reklame tidak boleh dipasang yang dapat menimbulkan kesilauan (glare)
atau berkedip-kedip yang dapat mengggangu kosentrasi pemakai jalan.
KESIMPULAN
Pertandaan
(signages)
dalam
lingkungan 'perkotaan
merupakan
alat
komunikasi visual yang cukup penting. Dari sisi perancangan kota (urban design),
ukuran dan kualitas rancangan dari pertandaan tersebut harus diatur untuk
menciptakan
kesesuaian, mengurangi pengaruh negatif secara visual dan yang
penting adalah mengurangi kompetisi antara privat sign untuk kepentingan tertentu
(pemasang iklan) dengan public sign untuk kepentingan umum (rambu-rambu lalu
lintas, tanda bagi umum lainnya). Perancangan reklame yang baik akan menambah
karakter fasade bangunan bersamaari dengan memeriahkan bentang jalan melalui
informasi mengenai barang dan j asa dari tiap-tiap usaha (bisnis).
Aspek pengendalian pertandaan rneliputi letak dan ukuran reklame, jarak dan
sudut pandang, disain dan, kualitas reklame (jenis dan besar huruf, wama dan lain­
lain), pernakaian iluminasi.
A. Letak dan ukuran reklame
1) Menempel pada bangunan.
a) Sejajar bangunan, reklame ini ditujukan bagi pengamat di depan
bangunan, prosentase bidang reklame yang dipasang disesuaikan dengan
ukuran dan tampak bangunan ( tidak lebih dari 30% luas bidang tampak).
b) Tegak lurus banguan, reklame ini ditujukan bagi pejalan kaki dan
pengendara bermotor. Reklame yang dipasang tegak lurus tidak menutupi
bidang fasade bila diamati dari arah depan serta tidak mengganggu
kosentrasi pengendara bermotor.
18
Raut Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME...
2). Diatas bangunan,
Reklame ini ditujukan untuk petunjuk mengenali lokasi, ukuran reklame
harus disesuaikan dengan bangunan dibawahnya, dan harus didukung oleh
struktur atap bangunan yang kuat untuk menahan
beban struktur tempat
bidang reklame.
B. Sudut Pandang
Segala sesuatu yang terlihat oleh pengamat tergantung pada seberapa jauh jarak
pandang tersebut ke bangunan yang diamati. Susdiit ideal bagi seorang pengamat
adalah sudut 30° dimana perbandingan bidang terlihat dengan jarak pandang
seperdua (l: 2), keseluruhan fasade dan detailnya dapat diamati bersamaan.
C. Bentuk dan kualitas desain
Pemilihan variasi berbagai tipologi huruf, ukuran, wama dan konstruksi huruf
serta ilustrasi tersebut ke bidang dasamya. Jumlah reklame yang dipasang pada
bangunan antara satu hingga lima jenis.
D. Bahan dan Konstruksi
Bahan yang dipakai sebailnya dari bahan anti karat (galvanized atau stainless
steel) dan bidang dasar reklame di pakai lembaran baja (stell deck). Struktur
khusus diperlukan bagi reklame permanen, agar dapat terpasang pada bangunan
dan juga harus kuat, tidak mudah copot, patah, yang dapat membahayakan orang
disekitamya.
E. Iluminasi
Khusus untuk reklame lampu (neon sign) yang diperuntukan pada malam hari,
desain reklame tidak boleh dipasang yang dapat menimbulkan kesilauan (glare)
atau berkedip-kedip yang dapat mengggangu kosentrasi pemakai jalan.
Raul Edisi I Vol. 1. Januari -Apri/2012
19
Halis Agussaini: PEDOMAN PENATAAN REKLAME. ..
DAFTAR PUSTAKA
Ching, Francis D. K (1979), Architecture: Form, Space and Order, Van Nostrand
Reinhold Company, New York.
Handayani, Tri W (1992), Integrasi Reklame Dalam Komunikasi Arsitektural Di
Pusat Kota Bandung, Tesis Pasca Sarjana Arsitektur, Program Sarjana ITB,
Bandung.
Lynch, Kevin (1960), The Image a/City, The Mit Press, London.
McCluskey, Jim (1979), Road Form and Townscape, The Architectural Press,
London.
Peraturan Daerah (Perda) Kotamadya Tingkat II Surabaya No. 15 Tahun 1989.
Purwadio, Hem (1994), Studi Penataan Bangunan Ditinjau Dari Perancangan Kota,
Studi Kasus Jalan Kertajaya Sura baya, Laporan Penelitian, Lemlit ITS,
Surabaya.
Shirvani, Hamid (1985), The Urban Design Process, Van Nostrand Reinhold
Company, New York.
Spreiregen, Paul D (1965), Urban Design: The Architecture of Towns and Cities,
Me Graw Hill Bookk Company, New York.
SK Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya No. 1163 jonto 2231 Tahun
1986.
Tange, Kenzo (1971), Toward and Urban Design, Architectural Record.
20
Raut Edisi J Vol. 1, Januari - April 2012
Nizarli: PERAN DESAIN VENTILASI DALAM ...
PERAN DESAIN VENTILASI DALAM MEMODIFlKASI
KEBERADAAN ANGIN
Nizarli
Nizar73@yahoo. com
Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
ABSTRAK
Ketidaknyamanan terrnal pada daerah beriklim tropis lembab salah satunya disebabkan oleh
tidak tersedianya angin sebagai penghapus keringat ditubuh. Oleh karena itu diperlukan
teknik tersendiri dalam menyiasati keberadaan angin dala~ sebuah hunian sehingga proses
evaporasi keringat dapat terjadi. Penelitian ini akan melihat peran ventilasi pada sebuah
hunian dengan kondisi iklim kota Banda Aceh. Hasil pengukuran memperlihatkan profil
kecepatan angin lebih baik jika pintu dan jendela dibuka, terlihat dari meningkatnya
kecepatan angin khususnya pada lantai 2, sehingga dibutuhkan volume ventilasi yang lebih
besar dari yang sudah ada, dengan posisi yang disesuaikan dengan bukaan (pintu dan
jendela) dan arah angin dominan tiap tahunnya.
Kata kunci: angin, ventilasi, nyaman termal
PENDAHULUAN
Konsep
perancangan hemat
energi sudah
sangat dikenal
dikalangan
masyarakat, dari penggunaan material bangunan hingga pengaruh kehadiran
bangunan itu sendiri ke dalam lingkungannya. Secara sederhana konsep ini sudah
lama dipraktekkan masyarakat, khususnya dalam penggunaan energi penerangan di
malam hari, sehingga pengeluaran (ekonomi) dapat diperkecil.
Pemahaman ini
sebenarnya tidak salah, sedikit banyak masyarakat sudah melaksanakan dan
mempraktekkan dalam kehidupan sehari dan kalau dilaksanakan secara bersama­
sarna dan dalam waktu yang lama tentu saja berdampak kepada penghematan energi
listrik secara global.
Seiring
berkembangnya ilmu
pengetahuan yang
berpengaruh kepada
perkembangan teknologi, konsep hemat energi ini mulai berkembang. Hal ini dapat
dilihat pada pemikiran dalam menghadirkan bangunan, yang pada umumnya merujuk
kepada kondisi iklim lingkungan. Lingkungan tropis lembab misalnya, masyarakat
pada iklim ini mempunyai cara tersendiri dalam menghemat energi. Dapat dilihat
pada bangunan tradisional rumoh Aceh. Agar terhindar dari temperatur yang tinggi,
bangunan dibuat dengan bentuk atap yang besar dan lebar sehingga berkesan
Raut Edisi 1 Vol. 1. Januari <April 2012
21
Nizarli: PERAN DESA/N VENT/LAS/ DALAM ...
temaungi.
Bahan atap yang digunakan juga mempunyai kemampuan menahan
radiasi panas sehingga kondisi termal indoor bangunan masuk dalam kategori
nyaman termal (Nursaniah (2007), Qadri (2004) dan Sawab (2007)). Akan tetapi ada
faktor lain yang berpengaruh dalam memberikan kontribusi nyaman huni yaitu
adanya aliran angin yang melewati celah-celah yang terdapat pada elemen lantai,
dinding dan tolak angin (berupa ukiran tembus) sehingga:
• meningkatkan kecepatan angin ke indoor bangunan yang menyebabkan
penghuni tidaki perlu menggunakan altematif energi lain;
• juga meningkatkan kecerlangan ruang akicat cahaya terang langit yang
masuk melalui celah tersebut (meminimalkan pemborosan energi untuk
penerangan indoor bangunan).
Dari pengalaman yang terjadi pada rumoh Aceh dapat diambil suatu
pembelajaran bahwa ventilasi merupakan salah satu altematif dalam memberikan
kenyamanan melalui keberadaan angin tanpa melakukan pemborosan energi, paling
tidak meminimalkan pemborosan energi.
Oleh karen a itu penilitian ini akan melihat pengaruh desain ventilasi pada
sebuah hunian dalam menyiasati pemborosan energi sehingga kenyamanan termal
dapat dicapai melalui keberadaan angin.
STUDIKEPUSTAKAAN
Kajian hemat energi melalui pemanfaatan kondisi
lingkungan sudah
seharusnya ditingkatkan terus dari waktu kewaktu. Seperti kita ketahui bahwa iklim
tropis lembab yang kita alami selama ini mempunyai kelebihan dan kekurangan
dalam kontribusinya terhadap kenyamanan termal. Suhu tinggi, keberadaan angin
kurang, dilanjuti dengan meningkatnya kelembaban yang berpengaruh kepada rasa
gerah akibat keringat yang melekat ditubuh. Ditambah lagi dengan kondisi udara
pada iklim ini yang tidak bersih, dipenuhi partikel debu.
Jadi bisa dibayangkan
perasaan yang tidak nyaman akan muncul jika debu tersebut menempel dikulit yang
berkeringat.
22
Raut Edisi J Vol. J, Januari - April20J2
•
Nizarli: PERAN DESAIN VENTILASI DALAM ...
Kondisi ini jika ditinjau pada sebuah bangunan, seperti yang disebutkan
Nursaniah (2007), pada iklim tropis lembab matahari bersinar hampir merata
sepanjang tahun dan radiasinya masuk ke dalam bangunan menjadi energi panas
yang akan menimbulkan stressing bagi penghuni. Untuk itu diperlukan keberadaan
angin yang diperlukan untuk menghapus panas di ruang sebuah hunian.
Fenomena tersebut lanjut Nursaniah (2007), menunjukkan bahwa diperlukan
perlakuan khusus dalam desain sebuah bangunan sehingga energi panas yang diserap
oleh material bangunan dapat diminimalkan dan angin dapat masuk seoptimal
mungkin sehingga suhu di dalam ruang menjadi relatif lebih nyaman bagi penghuni,
dengan kata lain penangkapan dan pendistribusian angin dizlalam bangunan sesuai
dengan keperluannya.
Oleh karena itu dalam memecahkan masalah ini diperlukan cara untuk
menghadirkan angin ke dalam bangunan yang dapat dicapai dengan mendesain
sedemikian rupa sebuah bukaan pada elemen dinding bangunan. Szokolay (1987)
menyebutkan bahwa terdapat dua sistem ventilasi dalam menghadirkan angin ke
dalam bangunan, yaitu:
• Memanfaatkan angin
hanya sebagai pendinginan fisiologis semata
dengan membuat ventilasi hanya sebatas terjadi pergerakan keluar
masuk udara
• Memanfaatkan pergerakan angin selain untuk terjadinya keluar masuk
udara sehingga angin yang masuk bisa lebih besar volume dan
kecepatannya.
Sawab et al (2008) melanjutkan bahwa salah satu cara untuk menghasilkan
penghawaan untuk kenyamanan termal dapat dicapai dengan menggunakan stack
effect (selanjutnya akan di Indonesiakan menjadi stek efek).
Stek efek adalah
fenomena fisik yang terjadi akibat adanya perbedaan ketinggian antara lubang masuk
(inlet) dan lubang keluar (outlet) angin melalui ventilasi sebuah bangunan.
Berikut ini pada gambar di bawah dapat dilihat secara rinci proses terjadinya
stek efek. Gambar tersebut menjelaskan bahwa fenomena pergerakan angin akan
terjadi jika perbedaan kondisi termperatur luar dan dalam bangunan.
Hal ini
disebabkan oleh karena terjadi ketidak seimbangan tekanan gradien dari internal
Raul Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
23
Nizarli: PERAN DESAIN VENTILASI DALAM ...
ekstemal massa udara yang dihasilkan dalam perbedaan tekanan vertikal. Pada saat
temperatur udara di dalam ruang lebih tinggi, maka udara akan masuk melalui
bukaan yang lebih rendah dan keluar melalui bukaan yang lebih tinggi. Demikian
sebaliknya jika tekanan udara di dalam ruang lebih rendah dari luar bangunan
(Santosa, 1999).
Gambar I: Proses Terjadinya Stek Efek
Sum ber: Santosa (1999)
Metode penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 7 hari dengan mengambil data temperatur dan
kecepatan angin di lantai 1 dan 2 objek kasus. Terdapat 2 jenis pengamatan yang
dilakukan, yaitu kondisi termal pada saat pintu jendela tertutup dan pengamatan
kedua dilakukan dengan membuka pintu dan jendela. Tujuan penilitian ini adalah
untuk melihat apakah terjadi stek efek di dalam hunian ini, dan untuk melihat
keberadaan angin yang terjadi di dalam hunian akibat ventilasi yang ada. Data yang
diperoleh selanjutnya akan ditabelkan sehingga akan mudah untuk dibaca dianalisa
dan dibandingkan.
Pengukuran
kondisi
suhu
dan
kecepatan
angin
dilakukan
dengan
menggunakan digital instrument yang dilakukan dengan cara manual pada setiap
jam. Posisi pengukuran dilakukan di tengah ruang hunian objek teliti.
24
Raul Edisi 1 Vol. 1. Januari - April 2012
Nizarli: PERAN DESAIN VENTILASI DALAM ...
HASIL DAN DISKUSI
Pada pengukuran dengan kondisi pintu dan jendela semuanya tertutup yang
dilakukan pada bulan Januari 2011 selama 7 hari dengan menggunakan digital
instrument, diperoleh data temperatur dan
kecepat~n
angin luar dan dalam bangunan
seperti yang terlihat pada tabel berikut ini.
Tabel I: Hasil Pengukuran Suhu dan Kecepatan Angin Outdoor dan Indoor
denzan Kondisi Pintu Jendela ditutup
Outdoor
No
:
Suhu
(oC)
- - - - - - -- - - - - -;- - - - - - - - -­
29,6
Kec. Angin
Indoor
Suhu
Kec. Angin A
( m/det)
(oC)
( m/det)
- - - - .. -- - - - - - - ­
- - - - - - - - - --
0,88
29,9
-. - - - - - - - - - - - - - - - 0.00....
Kec. Angin B
( m/det)
- - -
- - -
- - - - - - - - - - - -<
0,00
2
30,2
0,98
30,0
0,00
0,02
3
30,2
1,0
32,0
0,40
0.50
4
28,9
0,80
29,1
0,00
0,10
5
30,0
0,97
31, I
0,10
0,13
6
29,3
0,88
32.0
I
7
32
1,24
33,2
0,55
Rata-rata
30,02
0,96
31,4
0,20
0,11
Dari tabel di atas yang merupakan hasil pengukuran dengan kondisi pintu dan
jendela tertutup dapat kita lihat bahwa pada umumnya keberadaan angin yang
diharapkan akan memberi efek evaporasi dalam pelepasan perasaan gerah di tubuh
tidak terjadi. Kecenderungan keberadaan angin pada lantai 1 lebih besar 0,09 m/det
dibanding lantai 2. Seperti yang disyaratkan oleh Nursaniah (2007) bahwa kecepatan
angin yang dibutuhkan untuk memberikan kesan sensasi nyaman bagi penghuni
adalah 0,92 m/det. Dapat diambil kesimpulan bahwa pada kondisi seperti ini peran
ventilasi pada hunian objek kasus sebagai sarana pengaliran udara dari luar ke dalam
tidak terjadi, sehingga perlu dilakukan redesain ventilasi yang sesuai minimal
mendekati fungsinya sebagai pengarah dan pengalir udara ke dalam hunian sehingga
dapat berperan maksimal jika pintu dan jendela ditutup, yang umum dilakukan pada
malam hari di Banda Aceh.
Pada pengamatan kedua yang dilakukan dengan kondisi pintu dan jendela
pada lantai 2 dibuka, terlihat kondisi keberadaan angin cenderung lebih baik.
Raul Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
. 25
Nizarli: PERAN DESA1N VENT1LAS1 DALAM ...
Adapun hasil pengamatan dan prediksi aliran angin tersebut dapat dilihat pada
gam bar dan tabel berikut ini.
I
I
fC. C:>Ar:
R.TAMv'
I
I
\
rJ
P TIPUF-.\
I
I
I
T
/
I
I
i\
~IO/
T
'/
/~
,/ I '
/'
Gambar 2: Arah Angin Ketika Pintu dan Jendela dibuka.
.~
I
-
-
- =­ - - - - - ,
-- -
-~
I
-
Gambar 3: Potongan objek kaji yang memperlihatkan pergerakan angin
pada saat pintu dan jendela dibuka
26
Raul Edisi 1 Vol. I, Januari - April 2012
Nizarli: PERAN DESAIN VENT/LASI DALAM ...
Gambar tersebut memperlihatkan arah angin yang melewati pintu dan jendela
pada lantai 1 (ventilasi A), yang selanjutnya bergerak perlahan menuju ventilasi
belakang dan juga terdorong menuju lantai 2 melalui void (lihat gambar 3 di bawah)
akibat adanya desakanltarikan dari angin yang masuk melalui pintu dan jendela yang
ada di lantai 2.
Tabel2: Hasil Pengukuran Suhu dan Kecepatan Angin Outdoor dan Indoor
denzan Kondisi Pintu Jendela dibuka
Outdoor
No
Suhu
(oC)
------1- ------:- --2-9:6 --
Indoor
Kec. Angin
( m/det)
- -- ----- --- - - --
0,88
Suhu
Kec. Angin A
(oC)
( m/det)
-- - - - - - - - - - ­ - - - - - - - - - - - - - - - - 29,9
0.56
Kec. Angin B
( m/det)
--------------+-­
0,81
2
30,2
0,98
30,0
3
30,2
1,0
32,0
0,75
0.81
4
28,9
0,80
29,1
0,60
0,67
5
30,0
0,97
31, I
0,80
0,93
6
29,3
0,88
32.0
0,50
0,91
7
32
1,24
33,2
0,98
1
Rata-rata
30,02
0,96
31,4
0,71
0,86
0,92
Untuk lebih jelas kondisi suhu dan kecepatan angin dapat dilihat pada gam bar
berikut ini. Gambar tersebut memperlihatkan profil suhu dan kecepatan angin indoor
dan outdoor. Pada kondisi suhu, profil grafik yang dihasilkan mempunyai karakter
yang berbeda.
Terlihat suhu indoor lebih tinggi dibandingkan outdoor.
Profil
outdoor mempunyai kecenderungan stabil sedangkan rindoor cenderung lebih
abstraktif yang pada akhimya naik secara perlahan hingga akhir pengukuran.
Profil kecepatan angin mempunyai kecenderungan yang sama, dimana
kondisi angin outdoor lebih baik dibandindingkan dengan kedua profil lainnya.
Pengaruh kondisi pintu dan jendela yang dibuka pada saat pengukuran dilakukan
terlihat, karena mampu membuat kecepatan angin indoor meningkat, apalagi dengan
kecepatan angin pada lantai 2.
Jika melihat rujukan dari Nursaniah (2007) kondisi
kecepatan angin yang terjadi pada saat pintu dan jendela dibuka hampir mendekati
Raul Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
27
Nizarli: PERAN DESAIN VENTILASI DALAM ...
dari standar yang dibutuhkan (0,92 m/det) untuk bisa memberikan kenyamanan
termal secara psikis.
Hal yang sarna terjadi pada kedua pengukuran, sepertinya diperlukan redesain
ventilasi agar pergerakan angin tidak terharnbat, dari pengematan kedua dapat
diambil satu pembelajaran bahwa ventilasi yang dibutuhkan harus lebih besar
volumenya, karena mengharapkan pintu yang selalu terbuka untuk menghadirkan
angin ke dalarn ruang sepertinya tidak mungkin dilakukan karena beberapa alasan
seperti kearnanan danprivasi.
34
33
S
u
32
H
31
u
30
--+-Suhu Indoor
""-'-Suhu Outdoor
29
3
K
E
C.
2
1
A
N
G
I
N
-.-Kec Angin
Outdoor
-....&- KecAngin Indoor B
.
kec Angin Indoor A
0,98
1
o
1
2
4
5
6
7
Gambar 5: Perbedaan Grafik Suhu dan Kecepatan Angin Indoor dengan Outdoor
Pada Kondisi Pintu dan Jendela Terbuka
28
Raut Edisi 1 Vol. 1, Januari - Apri/2012
Nizarli: PERAN DESAIN VENT/LASI DALAM ...
KESIMPULAN
• Hasil pengukuran memperlihatkan profil kecepatan angin lebih baik jika
pintu dan jendela dibuka, terlihat pada meningkatnya kecepatan angin
khususnya pada lantai 2, sehingga dengan kondisi demikian tentu saja
berdampak pada terjadinya stek efek, sehingga kecepatan angin dapat
ditingkatkan dan proses evaporasi keringat tubuh dapat terjadi.
• Dibutuhkan volume ventilasi yang lebih besar dari yang sudah ada, dengan
posisi yang disesuaikan dengan bukaan (pintu dan jendela) dan arah angin
dominan tiap tahunnya.
DAFTAR PUST AKA
Nursaniah, Cut (2007), Studi Penghawaan Alami Sebagai Strategi desain Pendingin
Pasif Pada Perancangan Rumoh Atjeh: Kasus Rumah Tradisional Aceh di
Kabupaten Aceh Besar, Jurnal Teknologi Rekayasa Teknorona ISSN 1410 ­
2560, No.1, Vol. 6/2007, Fakultas Teknik Unsyiah, Banda Aceh.
Qadri (2003), Sistem Penahanan Panas Pada Bangunan Tradisional Aceh, Tesis
Program Pascasarjana Alur Lingkungan, FTSP ITS Surabaya
Sawab, Husnus dan Nizarli (2008), Stack Effect, Jurnal Teknologi Rekayasa
Teknorona ISSN 1410 - 2560, No.1, Vol. 7/2008, Fakultas Teknik Unsyiah,
Banda Aceh.
Santosa, M dan NE. Nastiti, Sri (1999), Konsep Insulation Thermal pada Hunian
Daerah Berkepadatan Tinggi, sebuah Kajian Untuk Perbaikan Peraturan
Pembangunan, Pusat Penelitian ITS, Surabaya.
Szokolay (1987), Thermal Design of Buiding, RAIA Education Division, Australia.
Raut Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
29
Evalina Z: REVITALISATION AND REBUILDING...
REVITALISATION AND REBUILDING PLACE:
A PRELIMINARY STUDY OF LANGSA CITY- ACEH INDONESIA
Evalina Z.
[email protected]. id
Architecture Department, University of Syiah Kuala, Indonesia
ABSTRAK
Revitalisasi adalah sebuah upaya untuk menghidupkan kembali kawasan yang mati, yang pemah
hidup di masa siJam, melalui intervensi fisik dan non fisiko Tulisan ini merupakan studi awaJ tentang
revitalisasi perkotaan di Kota Langsa, Aceh-Indonesia. Fokus studi adalah melihat tebih dalam
pendekatan apa yang sesuai dalam membangun kembali Kota Langsa agar lebih hidup secara
ekonomi, sosial, dan lingkungan untuk tempat tinggal masyarakat. Metode yang digunakan dalam
studi ini adalah kajian pustaka dan observasi lapangan. Temuan awal memperlihatkan bahwa sisa-sisa
peninggalan fisik kota yang bemilai sejarah serta kegiatan ekonomi 'yang ada di pusat kota serta
komitment pemerintah dalam usaha pengembangan pusat kota merupakan bentuk potensi yang dapat
digunakan dalam usaha melakukan revitalisasi pada kota ini.
Kata Kunci: Revitalisation, Rebuilding Place, Langsa City
INTRODUCTION
Many cities in Indonesia own old and inner-city areas of considerable historic
and cultural value. Most of them served as centres of trade for decades. They enclose
historic urban centre that initially functioned as the core of commerce. In majority of
these cities, buildings, artefacts, and other features of historical and cultural value fell
into neglect and often unintended because of rapid urbanization. These old cities are
not only valuable as old assets but also have prospective to be revitalised for
economic development and national cultural identity through rebuilding place.
In the urban context, the term of revitalisation has the identical meaning to
urban redevelopment, urban regeneration or urban renewal. The definition of urban
revitalisation itself could be referred to reinvestment in the social, economic,
cultural, and physical infrastructure of urbanized areas (couch, 1990). Holcomb and
Beauregard (1981) add growth and process to define urban revitalisation. They
describe urban revitalization involving growth, progress, and infusion of new
30
Raul Edisi I, Vol. 1, Januari - April 2012
•
Evalina Z: REVITALISATlON AND REBUILDING...
economic activities into stagnant or declining cities that are no longer attractive to
investors or middle-class households.
Langsa City in Aceh province Indonesia has the same characteristic as cities
,
explained above. It has an old inner-city area that has functioned as trade centre
which is now look horrifying. The unpleasant appearance of the physical
environment and the lost of cultural identity of the community are occurred in this
city.
Through reviewing some literatures and conducting field survey to observe
the study area, this paper investigates the concept of revitalisation and place-making
as an approach in rebuilding Langsa city to be more vital economically, socially, and
environmentally for people to live in. This paper divided into three parts. First, it
describes the concept of revitalisation and place making. Then, it illustrates the
existing condition of study area in the second part. The paper ends with point up
some potential features of study area that could be exploited for revitalisation effort.
Revitalisation and Place-making
Revitalisation Concept and Principles
There are many definitions in regard to revitalisation suggested. However,
Thomas (1995) argued that there is no generally agreed-upon definition exists for
urban revitalisation. The issue is larger than economic and physical rebuilding. But,
as defined in the introduction part, revitalisation in general could also be said as an
effort to bring back the vitality of city life that has been depredated, through physical
and non physical intervention including, economic rehabilitation, socio-economic,
and institutional development. Etzioni in Thomas (1995) adds the promotion of
"spirit of community" for strong families, positive 'core' social value, and citizen
involvement in the life of the community. Moreover, for inner city area that have lost
people and commerce, Thomas (1995) suggests that revitalisation might create the
city that have a healthier mix of people, commerce, industry, and viable community
life.
Raul Edisi I Vol. I. Januari
-i
April 2012
31
•
Evalina Z: REVITALISATION AND REBUILDING...
The scale of revitalisation effort itself could be done at level of city micro
such as street or building, and also at larger vicinity of the city. The goal is only to
make new productive life that brings positive contribution for the socio-economic of
the city. The approach should recognise and make use of the resource potential such
as history, value, location uniqueness, and locale images (Purnawansani, 2008).
In analysing the suitable approach for revitalisation effort, Thomas (1995)
suggests three basic principles which are holistic, participatory, and consciously
equitable strategies. The use of holistic strategies is suggested by Thomas (1995) as
the most important principle in this view. He saw that various facets of urban distress
are interconnected, and must be recognised, acknowledged, and addressed with
comprehensive strategies. Involving local residents and institutions as partners is a
second basic principle of urban revitalisation effort. This principle claims by CED
(Committee for Economic Development), an independent research and policy
organization, as the key principle for revitalizing urban areas. Many successful cases
of their observation are because of the involving 'community building'. And the
important facet of the community building itself is resident partnership in problem
solving and the involvement of local institutions. The final principle is the
improvement of social justice. It means that the rebuilding place must be to open
choices to all citizen especially to those who have few or low income. So, the urban
revitalisation agenda must take into account the goal of equity in every single step of
its effort.
Rebuilding Place through Place-making
Beyond those principles, there is an approach called Place-making that can be
used together in order to rebuild place that has lost their vitality. This approach is a
comprehensive approach to the planning, design and management of spaces that
provides communities' with the mechanism such as guidelines, that helps them to
integrate diverse opinions into a vision, then translate that vision into a plan and
program of uses, and finally see that the plan is properly implemented (PPS, 2011). It
involves looking at, listening to, and asking questions of the people who live, work
and play in a particular space, to discover their needs and aspirations.
32
Raut Edisi
L Vol. 1, Januari - April 2012
Evalina Z: REVITALISATION AND REBUILDING...
A 'Place-making' concept also strikes a balance between the physical, the
social and even the spiritual qualities of a place. The concepts behind Place-making
originated in the 1960s, when visionaries like Jane Jacobs and William "Holly"
Whyte offered groundbreaking ideas about designing cities that catered to people,
not just to cars and shopping centres. Moreover, Metropolitan Planning Council of
Chicago (2011) stated that 'Place-making' is both an overarching idea and an applied
tool for improving a neighbourhood, city or region. It has the potential to be one of
the most transformative ideas of this century'.
PPS (2011) identified some basic principles to create vibrant community
places that would help citizens bring massive changes to their communities including
parks, plazas, public squares, streets, sidewalks or outdoor and indoor spaces. These
principles are: Community-driven, Visionary, Function· before form, Adaptable,
Inclusive, Focused 'on creating destinations, Flexible, Culturally aware, ever
changing,
Multi-disciplinary,
Transformative,
Context-sensitive,
Inspiring,
Collaborative, and Sociable.
CASE STUDY AREA
,
Langsa City Profile
Langsa is a city that is located approximately 400km from Banda Aceh City,
the capital city of Aceh province. This city also has a strategic location
geographically, economically, and social culture. It has a lot of potency in term of
industry, trade, and agriculture. According to census data from Langsa City Bureau
of Statistical (Badan Pus at Statistik Kota Langsa), the population of Langsa City in
2009 is 145.351 persons who live within 5 (five) district area (figurel). The densest
populations live in the inner city called Langsa Kota that is approx. 4.903 persons/
krrr',
Langsa City is amixed society which has a variety of ethnic group including
Aceh, Gayo, Jawa, Minang, dan Melayu. Although there are many ethnics live mix
together in this place, there is no fundamental clash in their daily life. People in this
city still could respect each other to maintain peacefulness in their neighborhood.
Raut Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
33
Evalina Z: REVITALISATION AND REBUILDING...
In history, the inner city of Langsa which is located in Langsa Kota district
has some places that have historical value. The first site is in the Lapangan Merdeka
quarter. This quarter was an administrative center of colonial regime in Langsa city.
In this quarter, there are some buildings that have colonial style which used to
function as military workplace, post office, school, administration offices, train
station, and a major house (figure 2).
Llll'lll~.a
ro,,,.
-;~~~..~:
'~--'''''''''''''''" ""'•• '.>, ..~'"
",",'::;;'"
~",'
""
"::;..
, ....
••••••
~_II-...'
"'.~i:::-
"'t"
:,.,
.'
"
"
:JCAMATAN\.ANGSA B.A"tO::
'. '
"''''4
...•... ....
~
Figure 1. Langsa City map
Source: Bappeda Kota Langsa (20 I0)
Figure 2. Colonial heritage buildings
Source: Survey (2010)
Figure 3. Pecinan shop-houses in Kota Langsa (left).
Pecinan shop-houses in Peunayoung-Banda Aceh (right)
Source: teukukemalfasya. wordpress.com (20 I2)
34
Raut Edisi 1, Vol. 1, Januari - April 2012
Evalina Z: REVITALISATION AND REBUILDING...
The second site is at Jalan Teuku Umar district that is a commercial center
that agglomerates all economic activities especially business activity and services.
This commercial center is an area that has historic character as an old trade center.
Based on observation done on this site, there are two corridors of shops that built
with Pecinan style that has same appearance with other Pecinan shops in other cities
such as Peunayoung in Banda Aceh (figure 3).
Those sites were vital in its era. According to the interviewees that own the
shops at the study area, those site had a fundamental function as a central of
economic and administrative service for the community in this county. However, the
current situation is quite different regarding the vitality of those places. Based on
field observation, it can be said that there is a decline on the visual quality on the site
built environment manifest by horrific building condition, vague environmental
aesthetic, air pollution, lack of vegetation, and traffic issue. In addition, there some
other commercial center emerges in other places formless that create problems such
as unpleasant appearance of the physical environment and missing of cultural
identity of the community.
In Jalan Teuku Umar quarter, appalling condition is noticed along the street.
Physically, there is a quality degradation of commercial building construction and
facade. Some of the shop-houses are vacant and unmaintained because of abandoned
by the owner. Moreover, the infrastructure facilities no longer support the built
environment in this area. There are holes along the walkways which is unsafe for
pedestrians. The drainage also unmaintained with bulk of rubbish that frequently
caused flooding in rainy season. In addition, the transformat.ion of building's facade
of each shop-house inharmoniously creates unattractiveness of the urban facade.
Economically, there is a decline on economic activities in this area. The
growth of economic centre in other locations which are more attractive and more
viable is the main causes of this problem. Jalan Teuku Umar becomes abandoned
commercial place. As a historic commercial centre, this site is neglected because of
poor in visual provision. People just disregard the street and pass the street to go to
other commercial centre. This condition effects on the declining income of traders.
Raut Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
35
Evalina Z: REVITALISATION AND REBUILDING...
In Lapangan Merdeka quarter, some of colonial buildings are currently replaced by
shop-houses with commercial function. Military residential buildings along Jalan
Ahmad Yani that has colonial architecture style are replaced by shop-houses building
with modem-minimalist architecture style. Urban heritage in this site manifest by
many colonial buildings that should become the city asset are overlooked. Lapangan
Merdeka, a green open space, placed in front of the mayor house is a city landmark
that has historical and architectural value now lost its identity because of the
refunction as public space that filled by community recreation activities including
playground, temporary kiosk, and temporary food court (figure 4). These refunction
is not supported by good supervision, thus the condition now looks unpleasant and
destroy the historic value of the place.
Figure 5. Lapangan Merdeka Park in the morning (left).
Lapangan Merdeka Park in the afternoon (right)
Source: survey (201 1)
Rebuilding place of Langsa City
After reviewing the concept of revitalisation and place making and observing
the existing condition of the study area, there some limitations for rebuilding the city.
First, the low capacity of local stakeholder to manage the population growth that
requires places that support their economic activities. If the growth is not supported
by good governance and provision, it will create social equity problems. Second, the
capacity of community knowledge is low to understand how maintaining their built
environment. Next, revitalization effort involves enormous budget especially
regarding to physical revival. A mechanism such as Public Private Partnership (PPS)
36
Raut Edisi 1, Vol. 1, Januari - April 2012
Evalina Z: REVITALISATION AND REBUILDING...
mechanism is needed to sort out this issue. Last, the land acquisition is the most
crucial issue. In the inner city, there is a variety of land ownership including, the
property of PT.PJKA (Perusahaan Jasa Kereta Api), TNI AD (army), and private
occupancy.
This variety of land tenure generates conflict of interest in the land
acquisition scheme.
However, the study also identifies some potential features of the city which
can be explored to recover the inner city vitality. In term of economic recovery, some
attributes can be used to develop the inner city center. The variety of business
activities are the positive feature to attract people to come to this city. Additionally,
the high density population in the inner city could support the economic activity in
this area. The strategic location of the city center makes it easy to access by road and
public transport mode.
In term of physical environment, there some elements that can be improved in
this city center. There some public facilities available including traditional market,
social and cultural facilities such as 'Mesjid' and Klenteng' that can be used as a
driven factor for inner city revival. As well, the infrastructure facilities are actually
available on the site such as, basic drainage system and road albeit it needs to be
improved to support the economic activity. In addition, historic buildings as artifacts
from colonial era that still placed on the inner city center are potential features that
can be used to create city image. Some buildings that have acknowledged as heritage
buildings including 'Klenteng Cina' and Pecinan Shop-houses can be preserved as
urban heritage that can increase the value of the area as an old city center.
In term of social and institutional aspect, there has been a commitment from
local government to develop this area as a central business district (CBD) by
considering the sustainability concept in the development planning. It is stated on the
Regional Spatial Planning of Langsa City 2027 (Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Langsa 2027). Besides, in 2011 there has a program from the national
government of Indonesia through Public Work Department to make a revitalisation
plan for Langsa City entitled Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan
Kota Langsa.
Raut Edisi I Vol. 1, Januari <April 2012
37
Evalina Z: REVITALISATION AND REBUILDING...
CONCLUSION
There are some approaches that can be used to revitalise Langsa City. The
physical improvement including preserving Pecinan shop-houses in Jalan Teuku
Umar and colonial heritage buildings in Lapangan Merdeka square is the first step to
carry out in this effort. Besides, the economic enhancement in conjunction with the
physical step up will recover intentionally. Also, the involvement of all groups of
society both public and private sectors, and the local and national government
commitment are needed to support this attempt.
Langsa city is an old city that has dilapidated historic inner city. Limitations
face the revitalisation process in this city. Low capacity of community to understand
the revitalisation thoughtful, land acquisition, and budgeting are among the key
issues. Recommendation to form an institution that would manage the revitalisation
process in order to overcome such limitations is necessary. The member of the
institution should represent all groups of communities in designated area including
land vendors, economic players, and key stake holders.
REFERENCES
Bappeda Kota Langsa (2011), Draft Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota
Langsa Tahun 2027.
Couch C. (1990), Urban Renewal: Theory and Practice, London Macmillan.
Holcomb, H. B., & R. A. Beauregard. (1981), Revitalizing Cities, Pennsylvania,
Commercial Printing, Inc.
Badan Pusat Statistik Kota Langsa (2008), Langsa Dalam Angka Tahun 2008.
PPS (2011), Eleven principles for creating great community places, accessed on 23
Sept 2011. <http://www.pps.org/articles/11 steps/>
PPS (2011), What is Placemaking? accessed on 23 Sept 2011.
<http://www.pps.org/articles/what is placemaking/>
Purnawansani A. (2008), Revitalisasi Kawasan Kota, accessed on 15 Sept 2011.
<http://ardypurnawansani.com/2008/06/ 15/revitalisasi-kawasan-kota/>
Steinberg F. (2008), Revitalization ofhistoric inner-city areas in Asia: The potential
for urban renewal in Ha Noi, Jakarta, and Manila, Mandaluyong City­
Philipine, Asian Development Bank.
Thomas J. (1995), Rebuilding inner cities: Basic principles, Review ofblack political
economy, vo1.24, pg.67.
Teukukemalfasya.wordpress.com (2012), China Peunayong, accessed on 23 October
2012. <http://teukukemalfasya.wordpress.com/page/3/ >.
38
Raut Edisi 1, Vo!. 1, Januari - April 2012
Burhan Nasution:PERANAN A'!ATEi\4ATlKA ...
PERANAN MATEMATIKA
TERHADAP PERKEMBANGAN DESAIN ARSITEKTUR
Burhan Nasution
[email protected]
Dosen Jurusan Arsitektur FT Unsyiah Banda Aceh
ABSTRAK
Matematika merupakan matakuliah yang menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswa
arsitektur dan mahasiswa beranggapan bahwa matematika tidak penting untuk mereka.
Sedangkan jika dikaji dari awal munculnya arsitektur, mulai dari era kJasik hingga post
modem keberadaan matematika memegang peranan penting dalam perkembangan desain
arsitektur. Desain arsitektur pada masa kini yang menuntut suatu karya desain arsitektur
dengan bentuk geometri yang komplek, yang tidak dapat lagi diturunkan dari bentuk-bentuk
dua dimensi. Perancangan didesain langsung menggunakan bentuk tiga demensi dengan
menggunakan metode desain generatif yang mengandalkan parameter-parameter matematik
untuk menghasilkan bentuk geometri yang diinginkan.
Kata Kunci: Matematika, desain, arsitektur
PENDAHULUAN
Dari pengalaman selama beberapa tahun mengajarkan matematika teknik
pada jurusan Arsitektur Unsyiah, terlihat bahwa banyak mahasiswa arsitektur yang
tidak menyukai maternatika, matematika rnenjadi momok yang menakutkan, dan
mereka beranggapan bahwa matematika tidak penting untuk mereka. Hal ini terlihat
dari tingkat keseriusan mereka mengikuti perkuliahan matematika. Sedangkan jika
dikaji dari awal munculnya arsitektur, mulai dari era klasik hingga post modem
keberadaan matematika memegang peranan penting dalam perkembangan arsitektur.
Arsitektur selalu saja berkaitan dengan perihal 'indah' dan 'tidak indah, dan tanpa
disadari perihal inilah yang berkaitan dengan geometri, tidak ada arsitektur tanpa
geometri. Geometri adalah bahasa arsitektur.
Matematika dan arsitektur selalu dekat, bukan hanya karena arsitektur
tergantung pada perkembangan dalam maternatika, tetapi juga pencarian bersama
mereka untuk ketertiban dan keindahan, dimulai dari bentuk-bentuk yang bersumber
dari alam hingga dalam konstruksi.
Raut Edisi 1 Vol. l.Januari <April 2012
39
Burhan Nasution:PE"RANAN ivl4T[:"M4T1J<..A ...
Matematika sangat diperlukan untuk memahami konsep-konsep struktural
dan perhitungan. Hal ini juga digunakan sebagai elemen memesan visual atau
sebagai sarana untuk mencapai keselarasan dengan alam semesta.
SEJARAH MATEMATIKA
Kata "matematika" berasal dari kata
~aerH1.a(mathema)
dalam bahasa Yunani
yang diartikan sebagai "sains, ilmu pengetahuan, atau belajar" juga
~aell~attl(6~
(mathematik6s) yang diartikan sebagai "suka belajar".
Disiplin utama dalam matematika didasarkan pada kebutuhan perhitungan
dalam perdagangan, pengukuran tanah dan memprediksi peristiwa dalam astronomi.
Ketiga kebutuhan ini secara umum berkaitan dengan ketiga pembagian umum bidang
matematika: studi tentang struktur, ruang dan perubahan.
Ilmu tentang ruang berawal dari geometri, yaitu geometri Euclid dan
trigonometri dari ruang tiga dimensi (yang juga dapat diterapkan ke dimensi
lainnya); kemudian belakangan juga digeneralisasi ke geometri Non-euclid yang
memainkan peran sentral dalam teori relativitas umum.
Leonardo da Vinci adalah matematikawan pertama yang menemukan
perbandingan geometri yang digunakan oleh bangunan-bangunan yang indah seperti
contohnya Parthenon. Perbandingan ini disebut rasio emas, Rasio emas berdasarkan
pada bilangan Fibonacci, dimana setiap bilangan dalam barisan (setelah suku kedua)
adalahjumlah 2 bilangan sebelumnya: 1, 1,2,3,5,8, 13,21, ...
Dalam arsitektur Yunani,
rasio emas menjadi
senjata utama untuk
perencanaan semua desain arsitektur. Masih banyak hal menarik dalam matematika
yang berhubungan dengan keindahan. Fraktal misalnya, merupakan desain geometri
berdimensi pecahan yang sering dipakai dalam grafik komputer. Cangkang Nautilus
dan bentuk galaksi yang melibatkan pangkat dan trigonometri. Citra Lissajous yang
melibatkan bentuk trigonometri dan diferensial. Kaligrafi Arab dan Metal yang
menerapkan prinsip simetri. Dan lain sebagainya.
Hubungan Matematika dengan Arsitektur
Pengertian Geometri (dari bahasa Yunani
YE())~Etpia;
geo= bumi, metria=
pengukuran) secara harafiah berarti pengukuran tentang bumi, adalah cabang dari
matematika yang mempelajari hubungan di dalam mango Dari pengalaman, atau
40
Raul Edisi 1, Vol.I, Januari --April20IJ
•
Burhan Nasut;on:PERANANMATf'M4T1KA ...
mungkin seeara intuitif, orang dapat mengetahui ruang dari em dasarnya, yang
diistilahkan sebagai aksioma dalam geometri.
Cabang ilmu ini pun berkembang sesuai dengan perkembangan arsitektur
yang pada dasarnya memiliki keterkaitan satu sama lain. Satu hal yang menjadi
pemikiran
dalam
arsitektur
adalah
bahwa
seorang
peraneang
tidak
bisa
lepas/terpisahkan dari geometri. Dalam dunia arsitektur tidak ada batasan dalam
geometri. Tidak ada suatu titik dimana kita tidak perlu lagi memikirkan geometri dari
sebuah raneangan. Seluruhnya mempunyai aturan geometri. Mungkin memang
bukan aturan geometri mendasar seperti yang dikemukakan oleh Euclid, tetapi lebih
luas lagi pengertian geometri meneakup kenyataan bahwa selalu saja ada aturan,
selalu saja ada alasan atau argumentasi mengapa sebuah bentuk itu memiliki bentuk
yang demikian.
Sejak
manusia mulai
membangun,
arsitektur selalu
bertumpu pada
matematika untuk mendapatkan keserasian visual, integritas struktur, dan logika
konstruksi. Pada sebagian besar bangunan bersejarah, arsitek telah menerapkan
prinsip-prinsip geometri Euclid seperti pendeskripsian titik, garis, bidang, sesuai
dengan tiga sumbu ruang.
Proses Perancangan yang 'Irreversible'
Saat ini, arsitektur telah berkembang pesat, bentuk geometri tidaklah se-kaku
masa arsitektur klasik, bentuk-bentuk geometri telah berkembang bebas. Metode
peraneangan baru memuneulkan Bentuk -bentuk yang in-konvensional, sebuah
bentuk geometri baru. Terbukti bahwa definisi geometri sejak masa klasik hingga
saat ini telah berubah dan mungkin saja kedepannya akan ditemukan bentuk atau
definisi geometri baru, semuanya bersifat relatif. Arsitek yang memiliki pemahaman
ruang yang luas dan mampu mengeksploitasi bentuk akan menghasilkan karya
arsitektur yang kaya, bebas dan tidak kaku.
Dengan berkembangnya alat-alat peraneangan digital dan kemampuan
komputer yang meningkat, bersamaan dengan meningkatnya peminatan dalam fisika
dan matematika murni, telah memberikan arsitek sebuah sarana untuk menjelaskan
dan membangun konstruksi spasial yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Rant Edisi I Vol. I.Januari - April 2012
41
Burhan Nasution:PE'RAI'v'Af\l MATE'M4TIAA ...
Perancangan Parametrik
Seperti kita ketahui, para arsitek selalu berusaha untuk melakukan inovasi
dan mengeksplorasi bentuk geometri untuk dapat diaplikasikan dalam desain
arsitektur yang dirancangnya. Gubahan-gubahan geometri yang kompleks, seperti
yang terlihat pada alam, suiit dilakukan secara manual. Untuk mencapai gubahan
geometri yang kompleks tentunya perlu mempergunakan alat bantu, dalam hal ini
CAD,
yang
dapat
membantu
arsitek
untuk "melahirkan", mengeksplorasi,
menyimulasikan, menganalisa dan mengontrol elemen-elemen/komponen-komponen
gubahan geometrik yang kompleks terse but secara proporsional untuk diterapkan
pada disain arsitektur 3D. Metoda Generative Algorithm dalam piranti CAD dapat
menjadi salah satu metoda yang mengakomodir kebutuhan tersebut.
Metoda Generative Algorithm memberikan kemudahan bagi arsitek dalam
membangun geometri dari desain arsitektumya melalui parameter yang dijadikan
input ke dalam applikasi CAD. Sehingga bentuk geometri dapat diubah tanpa harus
mengulang proses pembuatannya, melainkan dengan hanya memberikan input yang
berbeda kepada parameter dasar yang membangun geometri tersebut.
Perancangan parametrik dikembangkan lebih lanjut untuk membantu para
arsitek dalam mengembangkan/mencapai eksplorasi dan aplikasi dari bentuk-bentuk
geometri yang kompleks. Salah satu proses desain yang muncul dari aplikasi CAD
parametrik ini di antaranya, metoda generative design.
Generative Design
Desain generatif adalah metode desain di mana output - gambar, suara, model
arsitektur, animasi - yang dihasilkan oleh seperangkat aturan atau suatu Algoritma,
biasanya dengan menggunakan program komputer.
Desain yang paling generatif didasarkan pada pemodelan parametrik. Ini
adalah metode cepat mengeksplorasi kemungkinan desain yang digunakan dalam
bidang desain Arsitektur, desain generatif memiliki:
Sebuah skema desain
Sebuah sarana untuk menciptakan variasi
Sebuah cara memilih hasil yang diinginkan
42
Raul Edis i I, Vol. f. Jauuari .- April ]0 f 2
Burhan Namt;on:PE'RANAN lvlATEMATIKA ...
Beberapa
skema
generatif
menggunakan
algoritma
genetika
untuk
menciptakan variasi. Desain generatif telah terinspirasi oleh desain proses alami,
dimana desain yang dikembangkan sebagai variasi genetik melalui mutasi dan
crossover. Desain generatif dalam arsitektur (juga sering disebut sebagai desain
komputasi) terutama diterapkan untuk bentuk-temuan proses dan untuk simulasi
struktur arsitektur.
Menurut
Khabazi
(2009),
pada
Generative
algorithm,
selain
menggambar/membuat objek 3d digital, desainer dituntut untuk memahami aspek­
aspek dasar geometri (umumnya matematika geometri) yang akan ditranslasikan ke
dalam bentuk parameter angka atau persamaan matematik . Angka dan persamaan
matematik tersebut menjadi langkah-Iangkah atau satu set aturan (algorithm) untuk
membuat objek dalam ruang virtual. Satu objek yang terbentuk dari algorithm ini
selanjutnya akan menjadi input dasar atau bahkan bentuk dasar yang dikenakan
algorithm tersebut untuk menghasilkan bentuk selanjutnya. Proses ini dikenal
sebagai proses "algorithmic". Sehingga setiap komponen/bentuk yang ter-generate
dari proses ini akan saling terhubung satu sarna lain dan parameter yang menjadi
generatornya (Dani Hermawan (.......)).
kuhl oangunan
bklang transparan
ran9ka truss
Sumber gambar : http://www.iaijabar.org /ruang-publikasi/l237-teknologi-digital-disain­
arsitektur.html
Raut Edisi 1 Vol. l.Januari - April 2012
43
•
Burhan Nasul;on:PERANAN M4TE,\L4TlKA ...
Dengan metode ini kita dapat membuat banyak alternatif desain arsitektur, dan pada
akhirnya akan diperoleh suatu desain yang terbaik.
KESIMPULAN
Perkeinbangan
desain
arsitektur sejalan dengan perkembangan
ilmu
matematika, pada era kalsik ilmu matematika yang ada pada masa itu masih sangat
sederhana, demikian juga dengan bentuk desain arsitektur yang dihasilkan memiliki
bentuk geometri yang sederhana. Tidak demikian halnya dengam masa kini dimana
perkembangan matematika telah melahirkan era digital yang menggunakan rumus­
rumus matematika tingkat tinggi, telah menghasilkan program-program komputer
pengolah gambar yang sangat handal yang dapat membantu arsitek untuk merancang
objek tiga dimensi yang lebih kompleks.
DAFTAR PUSTAKA
Ufi Luthfiyah Saeruroh (16/06/2010), Sejarah Matematika, Wikipedia.com.
Jane Burry and Mark Burry (2010), The New Mathematics Of Architecture, First
published in the United Kingdom, Thames & Hudson Ltd, 181 a High
Holborn, London we Iv 7qx, ISBN 978-0-500-34264-0.
......(2003), FRACTAL GEOMETRY: Mathematical Foundations and Applications
Fractal, Second Edition Kenneth Falconer, John Wiley & Sons, Ltd ISBNs:
0-470-84861-8 (HB); 0-470-84862-6 (PB)
Glenn
Wilcox (
), Generative Design Computing, http://www.
generativedesigncomputing.net/20 11 /1O/origami-rhinoscript python .html
Dani Hermawan (
), Peranan dan Penggunaan Teknologi Digital dalam
Proses Disain Arsitektur, http://www.iaijabar.org lruang-publikasi/1237­
teknologi-digital-disain-arsitektur.html
44
Raut Edisi 1, Vol.I, Januari-rApril lilll
Muftiadi: SADAR LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN ...
SADAR LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN BANGUNAN
(SEBUAH TINJAUAN TEMA)
Muftiadi
[email protected]
Dosen Jurusan Arsitektur FT Unsyiah Banda Aceh
Dampak pemanasan global muncul akibat mulai rusaknya lingkungan hidup manusia.
Walau demikian patut kita syukuri bahwa mulai terlihat usaha-usaha perbaikan kondisi
lingkungan tersebut oleh sebagian kecil masyarakat, salah satu dari sekian banyak usaha
tersebut adalah munculnya slogan sebuah konsep kehidupan "go green". Konsep ini
diterapkan mulai dari perilaku/kegiatan kecil sehari-hari (seperti membuang sampai
memproses sampah) hingga kegiatan yang lebih besar (seperti mengeksploitasi lingkungan
alami menjadi sebuah lingkungan binaan).
Makalah ini berupa hasil pemikiran yang
dikutip dan dikembangkan dari beberapa peneliti terdahulu, sehingga dapat diambil suatu
kesimpulan sederhana yang akan membuka wawasan kita semua dalam beradaptasi dan
menghargai lingkungan yang sedikit banyak akan berdampak kearah perbaikan dan
kelestarian lingkungan.
Kata kunci: lingkungan, go green, perilaku manusia
PENDAHULUAN
Manusia merupakan bagian dari lingkungan.
Dari waktu
kewaktu
populasinya terus bertambah sehingga ruang gerak beraktifitas mulai berkurang.
Oleh karena itu manusia mulai berfikir cara untuk membuka ruang baru sehingga
kebutuhan ruang untuk beraktifitas lebih lapang dan lega, dengan membuka
lingkungan kecil dalam sebuah lingkungan yang lebih besar dan alami.
Jika
demikian pasti akan timbul pertanyaan bagaimana dengan lingkungan itu sendiri
akibat populasi dan aktifitas manusia tersebut?
Berbicara mengenai rusaknya sebuah lingkungan, tentu tidak terlepas dari
perilaku manusia itu sendiri terhadap lingkungannya.
Disadari atau tidak setiap
langkah yang kita pijak dan ambil akan berpengaruh kepada lingkungan. Hal yang
sangat dasar untuk menghindari kerusakan lingkungan adalah memanfaatkan
seminimal mungkin sumber daya lingkungan dan segera memperbaikinya.
Seiring
bertambahnya
populasi
manusia
yang
berpengaruh
kepada
perkembangan disegala bidang seperti pendidikan dan lain sebagainya, muncullah
berbagai profesi dari kesehatan hingga desainer (arsitek). Yang terakhir tersebutkan
Raut Edisi / Vol. 1, Januari - April 2012
45
Muftiadi: SADAR LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN ...
ini oleh sebagian yang lain menyebutnya sebagai yang paling bertanggung jawab
terhadap lingkungan hidup, dengan karyanya yaitu lingkungan terbangun.
Tetapi
tidak dapat dipungkiri juga banyak arsitek yang berfikir sebaliknya untuk kebaikan
lingkungan dan menyumbang berbagai ide sehingga sangat berarti bagi lingkungan
itu sendiri. Diantara dari sekian banyak pemerhati lingkungan adalah Brown, GZ
(1990), Crosbie (1994), Yeang (1999), Brenda (1991) dan banyak lagi yang muncul
dengan ide dan pemikiran yang lebih modem.
Beberapa ide dan pemikiran mengenai green tersebut diantaranya adalah:
• Hemat energi : meminimalkan kebutuhan bahan bakar organik (energi
yang tidak dapat diperbaharui) baik dalam menghasilkan material baru
hingga dalam penggunaannya dan dampak kepada lingkungan;
• Beradaptasi dengan lingkungan: dalam menghadirkan lingkungan
harus memperhatikan kondisi iklim dan sumber daya alam setempat,
seperti pemanfaatan cahaya matahari dan angin sebagai unsure
penting dan utama dalam bangunan;
• Meminimalkan penggunaan sumber daya baru: pemikiran dan
perencanaan yang matang akan menghasilkan desain yang berkualitas
dengan meminimalkan penggunaan dalam
pemakaian material
bangunan, semakin sedikit (tidak boros) penggunaan material baru
akan mengurangi biaya produksi dan energi dalam menghasilkan
material tersebut.
Dengan
kata lainakan lebaih baik jika
menggunakan bahan/ material bekas yang masih layak pakai untuk
pembangunan.
Dari simpulan .mengenai perencanaan sadar lingkungan yang dijelaskan
mereka, pada umumnya konsep green lebih ditekankan kepada hemat energi
(meminimalkan penggunaan sumber daya lingkungan, memanfaatkan kekurangan
yang ada di alam lingkungan menjadi kelebihan dalam sebuah lingkungan binaan).
46
Raul Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
Muftiadi: SADAR LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN ...
Oleh karena itu makalah ini selanjutnya akan banyak membicarakan masalah "hemat
energi" dengan memanfaatkan kelebihan dan kekurangan yang ada di lingkungan.
BEMAT ENERGI
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa perancangan yang mengusung
tema
sadar lingkungan lebih ditekankan pada
penghematan
energi
dalam
penghadiran sebuah arsitektur dan meminimalkan dampak negatif kehadirannya pada
lingkungan. Vale (1991) menjelaskan bahwa secara urnurn penerapan hemat energi
dapat dilakukan dengan cara: membatasi penggunaan sum bel' energi
barn,
memperhatikan penghuni dan memperhatikan kondisi lahan.
•
Membatasi penggunaan sUl1!ber energi baru:
Ariatsyah (2004) menyebutkan bahwa sumber energi terbagi 2 jenis,
yang pertarna adalah sumber energi yang dapat diperbahurui (air, angin, cahaya
matahari, kondisi tanah); dan yang kedua adalah sumbel' energi yang tidak
dapat diperbahurui (minyak bumi, batu bara, gas alarn dan lain sebaginya).
Oleh karena itu sangat diperlukan
kecermatan dan kepintaran dalam
menggunakan sumber-sumber energi tersebut.
•
Mernperhatikan lahan:
Dalam penghadirannya arsitektur memerlukan lahan untuk berdiri
dengan gagah dan kokoh, sehingga perannya sangat penting dalarn memulai
perancangan.
Hal ataupun prinsip yang sangat penting dalam konteks ini
adalah kondisi lahan harus sarna ketika pembangunan arsitektur selesai
dikerjakan dengan kata lain arsitektur hadir dengan menyentuh bumi dengan
sehalus mungkin.
•
Memperhatikan penghuni;
Selain .memperhatikan lahan, arsitektur perlu juga memperhatikan aspek
humanis.
Hal ini dapat dilakukan dengan carameletakkan peran manusia
sebagai subyek dan obyek karena memiliki peran yang saling terikat satu sarna
lain.
Arsitektur harus bisa memanusiakan manusia, yang mempengaruhi
tingkah laku serta memberlakukan standar-standar yang manusiawi dalam
Raul Edisi I Vol. J. Januari -Apri120J2
47
Muftiadi: SADAR LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN '"
sebuah fungsi arsitektur, seperti keamanan dan kenyamanan termal dan lain
sebaginya.
Ariatsyah (2004) menambahkan bahwa selain fungsi arsitektur
yang diperhatikan dalam penghadirannya, fungsi psikis penghuni juga harus
diperhatikan.
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan variasi dalam
pengolahan massa serta permainan elemen shading yang nantinya akan
menghasilkan dan terciptanya suasana ruang (eksterior dan interior) yang
berbeda-beda pula.
Kondisi seperti ini aakan berdampak kepada penghuni,
seperti timbulnya perasaan nyaman, aman dan lain sebagainya.
Untuk lebih jelas prinsip hemat energi yang lebih sering ditekankan pada
sebuah arsitektur hunian akan dijelaskan pada poin berikut ini.
• Mengusahakan terjadinya pertukaran udara alami:
Seperti yang disebutkan beberapa penelitian terdahulu menyebutkan
bahwa kondisi termal indoor selalu lebih tinggi dari outdoor, yang
disebabkan berbagai faktor diantaranya adalah keberadaan angin yang tidak
bisa memberikan kesegaran tubuh akibat terjadi proses evaporasi keringat.
Oleh karena itu diperlukan perancangan yang matang dalam mengantisipasi
masalah kekurangan angin, sehingga tidak perlu menggunakan energi buatan
lain untuk memberikan kenyamanan termal.
Perencanaan dapat dilakukan dengan pemilihan dan penempatan
ventilasi sehingga memungkinkan terjadinya pergantian udara (penggunaan
stack effect); penzoningan ruang dengan menempatkan ruang yang paling
lama ditempati pada arah aliran angin dominan dan memperhatikan orientasi
matahari.
Holcim, sebuah produsen material bangunan (2012) menambahkan
bahwa prinsip ventilasi alami adalah menciptakan sirkulasi udara dengan
memasukkan udara dingin ke dalam ruangan dan mengalirkan udara panas
keluar melalui bukaan-bukaan yang diposisikan secara strategis. Posisi
bukaan yang baik untuk menciptakan sirkulasi udara adalah bukaan atas dan
bukaan bawah.
48
Raul Edisil Vol. 1, Januari -April2012
Muftiadi: SADAR LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN ...
Yeang (1995) menyebutkan bahwa fungsi arsitektur yang tanggap
terhadap alam (iklim) adalah membuat variasi pengurangan (substraction),
seperti yang dilakukan pa da rancangannya (menara Mesiniaga (IBM
Tower)). Bentuk menara tersebut (lihat gambar di bawah ini) akibat adanya
bagian-bagian yang dikurangi sehingga membentuk permainan gelap terang.
Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi sekaligus menangkap aliran angin,
sehingga evek evaporasi beban panas e1emen bangunan dapat dikurangi.
Gambar J: Sketsa menara Mesiniaga (IBM Tower)
Sumber: Ariatsyah (2004)
•
Pencahayaan alami
Daerah tropis lembab dikenal dengan daerah yang mempunyai curah
sinar matahari .yang banyak, sehingga berdampak kepada ketidaknyamanan
terrnal. Kekurangan ini disatu sisi malah menguntungkan disisi yang lain,
karena
sinar
matahari
selain
membawa
radiasi
panas
yang
tidak
menyenangkan, juga membawa cahaya terang (daylight) yang berlimpah.
Cahaya terang tersebut jika dimanfaatkan secara optimal akan memberi nilai
positif disisi penghematan energi lain.
Raut Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
Dengan desain yang tepat, arah
49
Muftiadi: SADAR LlNGKUNGAN DALAM PERENCANAAN ...
bukaan dan material yang digunakan serta olahan desain lingkungan ruang
luar akan memberi kontribusi kecerlangan di dalam ruang.
Selain membawa terang seperti yang disebutkan di atas, cahaya terang
juga bisa memberikan fenomena tersendiri, seperti yang disebutkan Muftiadi
(2009),
cahaya terang
yang
memunculkan
fenomena
tertentu
akan
menimbulkan perasaan nyaman dan betah dan dengan pengaturan yang tepat
akan memberikan perasaan kondusif dan rasa sosialisasi dengan sesama akan
meningkat. Munir (--) menambahkan bahwa tujuan dari pencahayaan alami
adalah untuk mendapatkan kuantitas cahaya yang cukup dan menyenangkan
sehingga
tugas
visual
dapat .mudah
diselcsaikan.
Holcim
(2012),
menambahkan bahwa untuk menghadirkan sebuah bangunan sebaiknya
ukuran lebar ruangan 2 kali ukuran tinggi bukaan, hal ini bertujuan agar
cahaya matahari dapat masuk dan menerangi ruangan secara maksimal,
•
Menghindari pemborosan produk yang tidak perlu
Dalam mendesain kita harus memperhatikan perlindungan dan
pelestarian material misalnya menggunakan bahan-bahan yang tidak merusak
alam dan lain sebagainya. Imelda et.al (2007), menyebutkan bahwa kegiatan
konstruksi merupakan penyumbang kerusakan lingkungan terbesar, akibat:
pengambilan material, proses pengolahan material dan pendistribusian dari
sumber ke pemakai, Oleh karena itu sudah sepatutnya kita menyadari dan
segera mengambil sikap bahwa dalam setiap melakukan perancangan hingga
fisik bangunan akan selalu memperhatikan hal ters.ebut. Banyak hal yang
dilakukan salah satunya adalah merancang dengan memperhatikan modul
material dan pemanfaatan barang atau material yang masih layak pakai.
Hasil yang didapat dari pemikiran ini adalah berkurangnya potongan atau
sisa-sisa material yang terbuang sia-sia, sehingga tentu saja berdampak
kepada alam, seperti yang disebutkan Imelda et. al (2007) di atas.
50
Raul Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
1
Muftiadi: SADAR LlNGKUNGAN DALAM PERENCANAAN...
KESIMPULAN
Pada dasamya perancangan sadar lingkungan yang ditekankan pada
pemikiran hemat energi adalah:
•
meminimalisir dampak hasil rancangan (arsitektur) tersebut pada sebuah
lingkungan dengan memanfaatkan segala sesuatu yang ada dilingkungan, yaitu
sinar matahari yang berlimpah, keberadaan angin yang kurang, kondisi kontur,
air, vegetasi dan lain sebagainya;
•
mengurangi pemakaian energi yang tidak bisa diperbaharui sehingga lingkungan
akan selalu terjaga kelestariannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ariatsyah, Ardian (2004), Green Architecture "Rental Office Building" sebuah royek
2 desain berkelanjutan, Alur Lingkungan, FTSP ITS Surabaya.
Brown, GZ (1990), Matahari, Angin dan Cahaya - Strategi Perancangan Arsitektur,
alih bahasa: Ir. Aris K. Onggodiputro, Intermatra, Bandung;
Crosbie Michael J (1994), Green Architecture - A Guide to Sustainable Design,
Rockport Publisher Inc. Massachusetts.
Evans, Martin (1980), Housing. Climate and Comfort, The Architectural Press ­
London, Halsted Press Division, John Wiley & Sons, New York;
Imelda et. al (2007), Sustainable Construction, Apa Saja Penyumbang Kerusakan
Lingkungan?, Seri Rumah Ide, Edisi Spesial, Gramedia, Jakarta.
Munir, AM et al (....), Sains Arsitektur, Progdi Teknik Arsitektur FTSP Universitas
Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur.
Muftiadi (2009), Fenomena Daylight pada sebuah Blue Cross/Blue shield of
Connecticut, Jurnal Raut, Edisi September -Desember 2009, Jurusan
Arsitektur FT Unsyiah, Darussalam Banda Aceh.
Vale, Brenda and Robert (1991), Green Architecture - Design for Sustainable
Future, Thames and Hudson Ltd, London.
Yeang, Ken (1995), Designing With Nature - The Ecological Basic for Architectural
Design, McGraw-Hill, New York.
HoIcim <I> Membangun Bersama
<http://www.membangunbersama.com/registrations/>Friday 13th of Jan 2012
11:54:16AM
Raut Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
51
•
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBILITAS (SEBUAH KAJIAN. ..
AKSESIBILIT AS
(Kajian Mengenai Syarat dan Penerapan Standar)
Zainuddin dan Teuku Ivan
Zainuddin4673@gmail. com dan [email protected]
Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
ABSTRAK
Aksesibilitas adalah bebas, aman dan mandiri untuk bergerak bagi semua
orang pada sebuah lingkungan terbangun.
Setiap orang berhak untuk dapat
menikmati lingkungan tanpa mengganggu hak orang lain, apalagi dalam menghadapi
orang yang difabel. Data kajian persyaratan yang diperkenalkan pada tulisan ini
diambil dari laporan kegiatan kerja praktek Keumala (2009). Tujuan tulisan ini
adalah untuk memperkenalkan standar dan syarat yang diperlukan bagi para difabel
untuk beraktifitas, sehingga dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan dan desainer
dalam merancang bangunan yang nantinya bisa digunakan bagi semua orang tanpa
mengenal dan menghargai "ketidakmampuan' orang lain sebagai suatu kelebihan.
Kata kunci: aksesibilitas, difabel.
PENDAHULUAN
Lingkungan dengan segala kelebihan dan
kekurangannya merupakan
anugerah bagi manusia, dan sudah seharusnya manusia harus bisa dan pandai untuk
beradaptasi dengannya. Seperti kondisi iklim misalnya, setiap manusia yang hidup
dengan kondisi lingkungan beriklim dingin tentu berbeda cara hidup dan beradaptasi
dengan mereka yang hidup dibelahan bumi lain yang beriklim panas. Terlihat dari
pakaian yang dikenakan, rumah yang didiami menggunakan bahan dan bentuk yang
berbeda. Demikian juga kalau kita lihat dibidang lain seperti kondisi tanah, tentu
bagi mereka yang hidup di lahan yang gersang akan berbeda dengan mereka yang
hidup dengan lahan yang subur dalam menaman bahan makanan dan yang mereka
makan.
Lingkungan
terbangun adalah
bagian dari
merupakan salah satu hasil karya manusia.
sebuah
lingkungan,
yang
Lingkungan ini adalah sebuah wadah
bagi manusia untuk beraktifitas dan harus bisa memberikan kesempatan bagi setiap
orang tanpa memberi batasan tertentu asalkan tidak menggangu/membahayakan
dirinya sendiri dan orang lain.
52
Raut Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBILITAS (SEBUAH KAJIAN...
Setiap orang tidak berencana dan tidak ingin lahir dalam keadaan tidak
sempuma serta ingin selalu dalam keadaan sehat (tidak pemah tua).
Semua itu
bertujuan untuk dapat selalu beraktifitas yang menyenangkan dalam lingkungannya.
Bagi yang sehat tentu tidak masalah untuk melakukan aktifitas dan mempunyai akses
ke lingkungannya, bagaimana dengan mereka yang tidak sehat (difabel) untuk
beraktifitas di sebuah lingkungan?
Apakah mereka harus dikucilkan akibat
kedifabelan mereka?
Jika kemudian muncul pertanyaan mengapa perlu adanya tindakan untuk
membuat akses bagi semua orang? Evalina, et al (2010) menyebutkan bahwa:
• aksesibilitas merupakan bagian dari hukum internasional (konvensi PBB
tanggal 13 Desember 2006, artikel 9);
• sebuah
lingkungan
yang
dapat
diakses
merupakan
faktor
utama
keikutsertaan dan sosialisasi para difabel dalam masyarakat, peningkatan
partisipasi dan pergerakan mereka. Hal ini merupakan syarat awal untuk
penciptaan masyarakat inklusif;
• masalah terbesar bagi para difabel adalah hambatan yang ada di
lingkungan mereka, bukan karena kedifabelan mereka.
Berdasarkan permasalahan yang tersirat di atas, maka diperlukan suatu
standar dan syarat yang dibutuhkan untuk menghargai kehadiran mereka dalam
lingkungan terbangun
agar kesetaraan dan
kesejahteraan dalam menikmati
lingkungan binaan dapat dicapai.
AKSESIBILIT AS
Aksesibilitas adalah suatu kesempatan, jalan, cara, dimana setiap orang
mempunyai akses yang sarna untuk menciptakan lingkungan tanpa diskriminasi yang
didasarkan pada tingkat kemampuan seseorang.
Seperti kita ketahui bahwa
ketidakmampuan seseorang itu berbeda-beda, seperti umur, jenis kelamin, kesehatan
(kecacatan) hingga ketidakmampuan sementara (hamil, memiliki bayi, kegemukan,
penderita penyakit jantung, dll).
Evalina et al (2009) menjelaskan bahwa aksesibiltas juga adalah bebas, aman
dan mandiri untuk bergerak bagi semua orang pada sebuah lingkungan terbangun.
Raul Edisi I Vol. 1, Januari «April 2012
53
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBILlTAS (SEBUAH KAJIAN ..
Setiap orang mempunyai akses yang sarna tanpa melihat umur, jenis kelamin dan
kondisi fisiknya, dalam sebuah lingkungan tanpa diskriminasi yang didasarkan pada
tingkat kemampuan seseorang.
Handicap International (2005) menyebutkan bahwa aksesibilitas merupakan
sebuah konsep praktis untuk para difable termasuk para penyandang cacat agar
mereka mendapatkan ruang gerak dan dapat beraktifitas dengan nyaman dalam
sebuah lingkungan. Evalina et. al (2010), menambahkan bahwa tujuan dari konsep
praktis tersebut adalah agar para difabel termasuk penyandang cacat ini dapat
meningkat rasa percaya diri dan semangat hidupnya karena merasa dihormati dan
dihargai keberadaannya.
Persyaratan aksesibilitas
Berikut mengenai ini akan dibicarakan mengenai persyaratan fasilitas yang
minimal harus ada pada sebuah lingkungan binaan agar dapat dinyatakan sebagai
lingkungan binaan yang beraksesibilitas. Adapun fasilitis minimal tersebut adalah:
1. Besaran Ruang
A. Ukuran Dasar Ruang: adalah dimensi sebuah ruang yang mewadahi manusia
dan peralatan yang digunakan.
Gambar 1: Ruang Gerak yang dibutuhkan bagi Pemakai Kruk
Sumber: Keumala (2009)
Gambar di atas memperlihatkan besaran yang dibutuhkan seseorang saat
menggunakan kruk (tongkat bantu untuk berjalan).
Posisi depan ruang yang
dibutuhkan adalah minimal sebesar 0,95 m sedangkan posisi samping minimal
sebesar 1,20 m, sehingga minimal total ruang yang dibutuhkan untuk pergerakan
mereka adalah 1,14 m2•
54
Raul Edisi 1 Vol. I, Januari - April 2012
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBlLITAS (SEBUAH KAJIAN. ..
Bagi penyandang tunanetra, mereka membutuhkan ruang untuk berjalan jika
tanpa menggunakan tongkat membutuhkan lebar ruang yang minimal sebesar 0,63 m
dan ruang bebas untuk menggerakkan tangan sebesar 0,6 m dengan ketinggian 0,75
m bila tidak menggerakkan tangan. Secara rinci ruang yang mereka butuhkan unutk
beraktifitas dapat dilihat pada gam bar 2 berikut ini .
••
..
....~_9Jl._ ... ~
Gambar 2: Ruang Gerak para Tuna Netra
Sumber Keumala (2009)
Dari gambar di atas dapat dicatat bahwa mereka lebih membutuhkan ruang
yang luas dari pengguna kruk, oleh karena kita harus menyediakan ruang untuk
jangkauan tingi yang luas agar bebas untuk menghindari tabrakan dengan barang
minimal berkisar antara 1,5 m hingga 2, 10m.
Pada gambar di atas juga dapat dilihat bahwa pengguna tongkat mempunyai
bidang ruang yang lebih kecil, yaitu bidang lebar sebesar 0,90 m dan panjang 0,95 m,
karena mereka tidak memerlukan lagi jangkauan yang luas dan hanya menjangkau
seadanya menggunakan tongkat.
Bagi pengguna kursi roda ruang yang dibutuhkan dapat dilihat pada gambar 3
berikut ini, dengan catatan tinjauan kursi roda biasa dan kursi roda rumah sakit.
110an
•L
Gambar 3: Dimensi Kursi Roda
Sumber: Keumala (2009)
Raul Edisi 1 Vol. I, Januari -Apri/2012
55
•
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBILITAS (SEBUAH KAJIAN. ..
Seperti pada umumnya kursi roda biasa mempunyai ukuran dimensi yang
lebih kecil dibandingkan dengan kursi roda rumah sakit. Kursi roda biasa hanya
membutuhkan besaran ruang dengan panjang 1,10 m dan 0,75 m lebar. Sedangkan
kursi roda rumah sakit mempunyai besaran ruang yang lebih luas karen a menampung
dan menahan kaki pasien yang terbentang serta membutuhkan pergerakannya yang
lebih fleksibel. Adapun panjang yang dibutuhkan adalah berkisar antara 1,50 - 1,60
m dan lebar sebesar 0,80 m.
Gambar 4: Dimensi Kursi Roda Rumah Sakit yang mepunyai ukuran panjang yang lebih
dari kursi roda biasa, karena dirancang untuk sewaktu-waktu harus menumpu kaki pasien
Sumber: Keumala (2009)
JlI'llIcbMIl
30em
......... ]Li
Gambar 5: Ruang yang dibutuhkan untuk bermanuver seorang diri dan jika bersisian.
Sumber: Keumala (2009)
Gambar gambar 5 di atas, memperlihatkan pergerakan (sirkulasi) kursi roda.
Pada gambar memperlihatkan ruang yang tercipta harus mampu memberikan
kemudahan bagi pengguna untuk leluasa bergerak dengan memperhatikan dimensi
56
Raul Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
Zainuddln dan Teuku Ivan: AKSESIBILITAS (SEBUAH KAlIAN. ..
dan kemampuan manuver maksima1 sebuah kursi roda serta tidak saling bertabrakan
jika bersisian.
Untuk berrnanuver 180° seorang diri jika menggunakan kursi roda
ruang yang dibutuhkan ada1ah minimal sebesar 1,80 m dan mempunyai jarak bebas
minimal 0,30 m pada saat membuka pintu. Se1anjutnya jika melakukan manuver
untuk berbelok 90° dibutuhkan ruang minimall, 10m, dengan keterangan minimal
0,85 untuk ruang/ukuran kursi roda sisanya digunakan untuk ruang gerak tangan kiri
dan kanan dengan besar minimal 0,125 m untuk tiap sisinya.
Untuk kegiatan gerak berputar jika menggunakan kursi roda membutuhkan
ruang minimal sebesar 1,80 m, dengan anggapan besaran ini digunakan untuk 2
buah kursi roda yang bersisian (2 arah).
Sedangkan jika pengguna kursi roda
me1akukan kegiatan menjangkau harus diperhitungkan batas jangkauan (kemampuan
untuk menjangkau) sebesar 1,30 m.
B. Jalur Pemandu: adalah inforrnasi fisik yang bertujuan memberi penunjuk arah
maupun peringatan yang diletakkan pada e1emen 1antai eksterior dan interior
bangunan berupa guiding bloks (ubin). Adapun syarat inforrnasi fisik ini ada1ah:
• ubin yang bertekstur garis-garis menunjukkan arah, tekstur berbentuk bulat
memberi peringatan terhadap adanya perubahan situasi di sekitar;
• ubin bertekstur ini di1etakkan pada tempat tertentu seperti: di depan jalur
la1u lintas kenderaan, di depan pintu masuk/ke1uar, tangga, perbedaan level
1antai, dan banyak lagi tempat yang 1ainnya.
..
1
,.
3J e...
1111
;,:1';'
-J:-L~.
~
~
)~
em
Ir
1
'I'
3: c'n
00000
00000
0000
0000
00000
0000
F
v
~
~
~, ~
.
Ir
.1
...F
~
...E-~
i"'"
~
(.:
;;
)]
y
~.,
1
or
llll~
~
~ .~
Gambar 6: Contoh tipe guiding bloks, yang bergaris lurus digunakan
untukjalan lurus, sedangkan yang bulat untukjalan berbelok.
Sumber: Keumala (2009)
Raul Edisi I Vol. 1, Januari - April 2012
57
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBILITAS (SEBUAH KAJIAN ..
C. Area Pintu
Dalam arsitektur pintu adalah penghubung antara ruang dalam dan luar
bangunan, tempat keluar masuk dari suatu lingkungan (outdoor) ke lingkungan lain
(indoor), demikian sebaliknya yang dilengkapi dengan penutup (daun pintu). Jika
digunakan pada sebuah bangunan danagar dapat diakses oleh setiap orang dengan
segala keterbatasan, sudah barang tentu pintu mempunyai stan dar dan syarat yang
harus dipenuhi. Berikut ini standar dan syarat tersebut, selain dapat membuka dan
menutup dengan sempurna:
• Mudah dibuka dan ditutup serta digunakan oleh semua orang dalam setiap
keterbatasan dengan lebar minimum 0,90 m dan memperhatikan arah buka
keluar;
• Jika menggunakan pintu otomatis, sudah seharusnya memikirkan kepekaan
terhadap kebakaran dan dapat membuka serta menutup dengan sempurna;
• Sedapat mungkin menghindari ram dan beda level ketinggian lantai;
D. Ram
Adalah salah satu jalur sirkulasi yang mempunyai sudut kemiringan tertentu
yang berfungsi sebagai pengganti tangga. Samahalnya dengan item lain bahwa ram
ini juga memiliki syarat tertentu dalam penggunaannya pada sebuah lingkungan,
beberapa diantaranya adalah:
•
Jika ram dibuat di luar bangunan sudut kemiringan tidak lebih dari 6°,
sedangkan kalau di dalam bangunan harus lebih kecil (tidak lebih dari 7°)
dan dengan kemiringan ini panjang maksimal 9 m. Jika lebih rendah dari
kemiringan ini, ram dapat lebih panjang;
•
Untuk ukuran lebar, jika menggunakan pengaman tepi minimal 1,20 m
sedangkan jika tidak menggunakan pengaman tepi ukuran lebar minimal
adalah 0,95 m.
•
Penerangan untuk
ram
harus
diperhatikan,
dengan
menyediakan
pencahayaan pada bagian tertentu seperti pada bagian ram yang memiliki
ketinggian terhadap muka tanah dan bagian lain yang membahayakan.
58
Raul Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBILITAS (SEBUAH KAJIAN...
Berikut ini salah satu gambar ram yang direkomendasikan.
mempunyai kemiringan 1 : 10 dengan lebar 1,20 m.
Ram ini
Pada gambar tersebut
memperlihatkan pada titik tertentu mempunyai area istirahat (sarna seperti tangga
yang mempunyai bordes) pada awal, belokan dan akhiran ram.
Gambar 7: Bentuk ram yang memiliki area tertentu yang berfungsi sebagai rest area
Sumber: Keumala (2009)
E. Toilet
Adalah sebuah fasilitas sanitasi yang digunakan untuk keperluan pribadi
sehari-hari manusia, seperti mandi, buang air besar dan kecil. Toilet saat ini terus
berkembang fungsinya sehingga menjadi fasilitas merias diri (merapikan diri). Oleh
karena aktifitas dan fasilitas yang terus berkembang dan sifatnya pribadi, toilet sudah
selayaknya mampu diakses oleh semua orang dengan segala keterbatasan.
Untuk bisa diakses toilet harus mempunyai syarat tertentu jika dihadirkan
pada sebuah arsitektur yang saat ini sudah mulai menanamkan prinsip-prinsip
aksesisibilitas. Berikut ini beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya adalah:
• Mempunyai tampilan yang mudah dipahami oleh setiap orang dan
dilengkapi dengan rambu serta simbul tertentu serta dan berbahan
lantai yang tidak licin. Alangkah baiknya jika simbul tersebut dicetak
timbul agar memudahkan bagi penyandang cacat;
Raut Edisi I Vol. 1. Januari - April 2012
59
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBILITAS (SEBUAH KAJIAN...
•
Ukuran pintu dan toilet mempunyai ukuran minimal untuk manuver
yang nantinya memudahkan bagi pengguna kursi roda dan dilengkapi
dengan pegangan yang berketinggian sesuai dengan pengguna kursi
roda;
• Aksesoris toilet
harus
dipasang
sedemikian
rupa
sehingga
memudahkan dijangkau oleh setiap orang;
• Pada tempat tertentu seperti pintu sebaiknya mempunyai penanda
darurat (emergency sound button) yang akan dibunyikan jika terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan.
Berikut ini adalah gambar yang akan merinci ukuran dan detail toilet yang
aksesibilitas.
Pegangan
Rambat
~.
Gambar 8: Ruang gerak dan tinggi peletakan aksesoris sebuah toilet
Sumber: Keumala (2009)
II. RAMBU DAN MARKA
Seperti umumnya lalu lintas, rambu dan marka juga sangat dibutuhkan dan
merupakan bagian dari aksesibilitas. Fungsi dari rambu dan marka adalah sebagai
penunjuk arah dan alat untuk berkomunikasi serta pemberi inforrnasi. Rambu dan
marka umumnya digunakan pada nama fasilitas dan tempat; arah dan tujuan
pedestrian; KM/WC dan telepon umum; tempat parkir bagi para penyandang cacat
(difabel).
Walaupun demikian ada beberapa persyaratan yang harus ada dalam
penggunaan ram bu dan marka ini.
60
Raul Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSES1B1LITAS (SEBUAH KAJ1AN. ..
Berikut ini adalah beberapa syarat yang harus ada tersebut:
• Jika dalam penggunaannya menggunakan huruf ataupun angka, maka
harus menggunakan huruf dan angka timbul atau huruf Braille,
sehingga dapat
dibaca juga oleh
penyandang tunanetra dan
memudahkan dalam menafsirkan artinya bagi para difabel dan orang
lain;
• Rambu dan marka ini ini harus menggunakan tanda ataupun simbol
yang sudah dikenal oleh masyarakat luas dan intemasional dan
menerapkan metode khusus, seperti wama, permainan karakter gelap
terang dan lain-lain;
• Harus mempunyai proporsi lebar dan tinggi antara 3:5 hingga 1:I
dengan ketebalan 1:10 hingga 1:5;
• Penempatan rambu dan marka ini harus sesuai dengan jarak/sudut
pandang dan bebas penghalang serta mempunyai pencahayaan yang
cukup.
Berikut ini adalah beberapa contoh rambu dan marka yang lazim digunakan
pada bangunan yang beraksesibilitas.
Simhol tunarungu
simbol tunadaksa
simbol tunanetra
Gambar 9: Simbol yang digunakan untuklpemberitahuan
tentang keberadaan para difabel
Sumber: Keumala (2009)
Raul Edisi 1 Vol. I, Januari -April 2012
61
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBILITAS (SEBUAH KAJIAN...
Symbol telepon
Symbol ramp
penyandang
cacat
penyandang
cacat
Symbol ramp
dua arah
Symbol telepon
untuk tunarungu
Gambar 10: Simbol fasilitas bagi para difabel
Sumber: Keumala (2009)
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebuah lingkungan
binaanlterbangun untuk dapat dikatakan mempunyai aksesibilitas jika mampu
memberikan kesempatan bagi orang yang berkemampuan sehat dan yang tidak
(difabel) untuk dapat menikmati dan menggunakan segal a fasilitas yang ada pada
lingkungan tersebut.
Sebuah lingkungan tersebut kalau ditinjau pada bangunan,
dimulai dari sikuen main enterance, lobi, ruang yang dituju (lantai per lantai), hingga
keluar dari bangunan ini. Hal ini dapat dicapai penyediaan sarana seperti besaran
ruang, jalur pemandu, areal pintu, ram dan rambu/ marka seperti yang telah
disebutkan di atas.
62
Raut Edisi 1 Vol. 1, Januari - April 2012
Zainuddin dan Teuku Ivan: AKSESIBlLITAS (SEBUAH KAJIAN. ..
DAFTAR PUSTAKA
Evalina, at. al (2010), Sosialisasi Aksesibilitas Kepada Masyarakat: sebuah laporan
kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Fakultas Teknik Universitas Syiah
Kuala, Banda Aceh.
Keumala, Cut RN (2009), Pembangunan Aksesibilitasn Kota Banda Aceh dan Aceh
Besar Provinsi Aceh: laporan praktek profesi, Jurusan Arsitektur FT Unsyiah,
Darussalam Banda Aceh.
Bibliografi
Harber at al (1991), The Accesible Housing, Design File. John Wiley & Sons, Inc,
New York.
Lidwell, at al (2003), Universal Principles Of Design, Rockport Publisher, Beverly
Masachusetts.
Lawlor (2008), Residential Design for Aging in Place, John Wiley & Sons Inc, New
York.
Raut Edisi I Vol. 1, Januari -Apri/2012
63
Download