1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi semasa hamil merupakan keadaan
dimana tekanan darah wanita hamil meningkat melebihi kadar normal. Tekanan darah
tinggi semasa hamil dikalangan wanita hamil, dengan menjalani pemeriksaan
antenatal secara teratur, maka dapat mengetahui secara dini. Hal ini akan berbahaya
jika tidak diperiksa dan dirawat. Namun jika diketahui lebih awal, keadaan ini dapat
diawasi dan diberi perawatan sehingga dapat menghindari komplikasi pada kehamilan
(Laila, 2011).
Beberapa komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi pada kehamilan
antara lain: kekurangan cairan plasma akibat gangguan pembuluh darah, gangguan
ginjal, gangguan hematologis, gangguan kardiovaskular, gangguan hati, gangguan
pernafasan, sindrom hemolysis, elevated liver enzymes, low platelet count (HELLP),
serta gangguan pada janin seperti pertumbuhan terhambat, prematuritas hingga
kematian dalam rahim (Yudasmara, 2010).
Menurut data world health organization (WHO), penyakit hipertensi dalam
kehamilan ditemukan pada 146.320 wanita hamil di Negara india atau 3,7% diantara
semua kehamilan yang berakhir dengan kelahiran hidup. Hampir 18% diantara 1450
kematian di Amerika Serikat terjadi akibat penyulit hipertensi dalam kehamilan. Di
Brazil dilaporkan bahwa ibu hamil yang mengalami hipertensi dalam kehamilan yaitu
1
2
sebanyak 778 (13,9%) dari 5602 ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya
(Yudasmara, 2010).
Di Indonesia dari 440 kabupaten dan 33 provinsi di Indonesia yang diambil
secara probability proportional to size (PPS). Sampel adalah ibu hamil yang berusia
antara 15-54 tahun. Jumlah responden sebanyak 8341 orang. Ditemukan ibu hamil
dengan hipertensi 12,7% (1062 orang). Dari jumlah kasus ini diperoleh paling banyak
di Provinsi Sumatera Selatan (18,0%). Persentase hipertensi pada kelompok umur <
18 dan > 35 tahun sebesar 24,3%. Dapat disimpulkan bahwa prevalensi hipertensi
pada ibu hamil sebesar 12,7%. Terdapat hubungan antara kelompok umur terhadap
kejadian hipertensi dalam kehamilan (Riskesdas 2007). Dari Sumatera Utara
berdasarkan data dari R.S Santa Elisabet Medan pada tahun 2009, ditemukan jumlah
proporsi hipertensi 25,2% dalam kehamilan.
Hipertensi terjadi pada kurang lebih 5% dari semua kehamilan dan 10% pada
kehamilan anak pertama. Faktor resiko ibu untuk terjadinya hipertensi antara lain
kehamilan pertama, usia kurang dari 18 tahun atau lebih dari 35 tahun, riwayat pada
kehamilan sebelumnya, riwayat keluarga, obesitas atau kegemukan dan jarak antara
kehamilan kurang dari 2 tahun atau lebih dari 10 tahun (Anna Maria, 2009).
Penyebab hipertensi dalam kehamilan dipengaruhi oleh riwayat keturunan,
rasa atau golongan etnik, obesitas dan tingkah laku, umur ibu dan jumlah anak yang
dilahirkan oleh ibu. Penyakit hipertensi dalam kehamilan dengan mortalitas tertinggi
adalah penyakit utama pada primigravida dan kehamilan > 4 kali. Pada primigavida
3
atau ibu yang pertama kali hamil dan > 4 kali hamil sering mengalami stress dalam
mengalami persalinan sehingga dapat terjadi hipertensi dalam kehamilan.
Kira-kira 85% hipertensi terjadi pada kehamilan pertama. Paritas 2-3
merupakan paritas paling aman ditinjau dari kejadian hipertensi
dan resiko
meningkat lagi pada grandemultigravida. Selain itu primitua, lama perkawinan ≥ 4
tahun juga dapat beresiko tinggi timbul hipertensi. Dari kejadian delapan puluh
persen semua kasus hipertensi pada kehamilan, 3-8% pasien terutama pada
primigravida, pada kehamilan trimester kedua. Catatan statistik menunjukkan dari
seluruh incidence dunia, dari 5-8% hipertensi dari semua kehamilan terdapat 12%
lebih dikarenakan oleh primigravida.
Faktor yang mempengaruhi hipertensi, frekuensi primigravida lebih tinggi bila
dibandingkan dengan multigravida, terutama primigravida muda. Primigravida
mempunyai resiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika
dibandingkan dengan multigravida (Sarwono, 2010). Kejadian hipertensi dalam
kehamilan karena segi paritas disimpulkan bahwa primigravida tua resiko paling
tinggi pada kejadian hipertensi dalam kehamilan (Lilis Lisnawati, 2012).
Hipertensi mulai terjadi seiring bertambahnya umur, dianjurkan agar ibu yang
hamil pada umur 35 tahun atau lebih harus lebih rajin kehamilannya ke petugas
kesehatan, karena pada umumnya usia 35 tahun atau lebih fungsi organ reproduksi
sudah mulai menurunkan (Dalimartha, 2008).
Berdasarkan usia insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada
primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali
4
lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten
(Lilis Lisnawati, 2012).
Dengan bertambahnya umur atau usia, maka seseorang juga semakin besar
menderita hipertensi. Berbagai penelitian telah menemukan hubungan antara berbagai
faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi dalam kehamilan. Berdasarkan penelitian
yang telah dilakukan, ternyata prevalensi (angka kejadian) hipertensi meningkat
dengan bertambahnya usia dalam kehamilan. Usia tua dalam kehamilan pertama
merupakan faktor terjadinya hipertensi kehamilan (Sutanto, 2010).
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati Artikasari (2010) di
RSUD DR. Moewardi Surakarta, didapatkan insidensi hipertensi pada primigravida
dan kehamilan > 4 kali sebanyak 29,2%. Dan ibu hamil primigravida dan > 4 kali
kehamilan memiliki faktor resiko 1,458 kali lebih besar untuk terkena hipertensi
dibanding ibu hamil multigravida.
Adanya hubungan antara umur dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan
tersebut di dukung oleh penelitian Oni Khoma di rumah sakit ibu dan anak (RSIA)
Tambak Jakarta, kejadian hipertensi meningkat tiga kali lipat sering pada wanita yang
berumur di atas 35 tahun di bandingkan dengan usia 20-35 tahun (Admin, 2009).
Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan di klinik Ina Gurky Medan
terdapat sebanyak 50 orang ibu hamil. Dengan survei awal pada ibu hamil yang
mengalami hipertensi dalam kehamilan berkisar 18 0rang (36%) yang tidak
mengalami hipertensi sebanyak 32 orang (64%). Keadaan hipertensi dalam kehamilan
yang terjadi pada ibu hamil terkait dengan jumlah anak yang dimiliki ibu dan umur.
5
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian di klinik Ina Gurky Medan dengan judul “Hubungan Paritas
dan Umur Ibu dengan Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan di Klinik Ina Gurky
Medan”.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini apakah ada hubungan paritas dan umur
ibu dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan di Klinik Ina Gurky Medan.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan paritas dan umur ibu dengan kejadian hipertensi
di Klinik Ina Gurky Medan.
1.3.2. Tujuan Khusus.
1.
Apakah ada hubungan paritas dengan kejadian hipertensi di Klinik Ina Gurky
Medan.
2.
Apakah ada hubungan umur dengan kejadian hipertensi di Klinik Ina Gurky
Medan.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1.Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi (perpustakaan)
khususnya bagi mahasiswa Akademi Kebidanan Audi Husada Medan.
6
1.4.2. Bagi Petugas Klinik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan
agar lebih produktif dalam mendeteksi kelainan pada ibu hamil, khususnya di
Klinik Ina Gurky Medan.
1.4.3.Bagi Peneliti
Pengalaman melaksanakan penelitian di bidang kesehatan dengan menerapkan
metode penelitian survei analitik.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kehamilan
2.1.1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa
dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat
fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40
minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan
terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu,
trimester kedua 15 minggu (minggu ke 13 hingga ke 27) dan trimester ketiga 13
minggu (minggu ke 28 hingga ke 40).
Proses terjadinya Kehamilan terjadi jika ada pertemuan dan persenyawaan
antara sel telur atau ovum dan sel mani atau spermatozoa. Dalam air main terdapat
spermatozoa sebanyak 100-12 juta tiap cc, karena memiliki ekor yang dapat bergerak,
maka dalam satu jam saja spermatozoa dapat melalui kanalis servikalis dalam kavum
uteri kemudian berada dalam tuba falopi. Apabila pada saat bersamaan terjadi ovulasi
maka vertilisasi mungkin dapat terjadi. Apabila fertilisasi terjadi maka sel telur akan
disebut zygote dan zygote inilah yang akan berkembang menjadi janin atau fetus
(Sarwono, 2010).
7
8
2.2. Hipertensi dalam Kehamilan
2.2.1. Pengertian Hipertensi dalam Kehamilan
Hipertensi berasal dari bahasa latin yaitu hiper dan tension. Hiper artinya
tekanan yang berlebihan dan tension artinya tensi. Hipertensi atau tekanan darah
tinggi adalah suatu kondisi medis dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan
darah secara kronis (dalam waktu yang lama) yang mengakibatkan angka kesakitan
dan angka kematian seseorang dikatakan menderita tekanan darah tinggi atau
hipertensi yaitu apabila tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan
diastoliknya lebih besar dari 120 mmHg (Chandranita Manuaba, 2008).
Hipertensi pada kehamilan merupakan salah satu penyebab utama
peningkatan angka kematian, baik itu untuk ibu maupun untuk janin yang dikandung.
Hal ini tidak hanya terjadi pada Negara yang sedang berkembang saja, tetapi juga
bagi Negara maju. Perempuan hamil dengan hipertensi mempunyai resiko tinggi
untuk komplikasi yang berat seperti penyakit jantung, penyakit pembuluh darah otak
ataupun gagal organ hingga kematian terhadap janin, hipertensi mengakibatkan resiko
perkembangan janin dalam rahim yang terhambat, kelahiran sebelum waktunya dan
kematian janin dalam rahim dan umumnya hipertensi jika pada pemeriksaan tekanan
darah diatas 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik yang biasa ditulis 140/90
mmHg (Rukiyah, 2010).
9
2.2.2. Etiologi Hipertensi dalam Kehamilan
Sampai dengan saat ini etiologi pasti dari hipertensi, preeklampsia/eklampsi
masih belum diketahui.
Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut di
atas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori
teori tersebut antara lain:
1.
Peran Prostasiklin dan Tromboksan
2.
Peran Faktor Imunologis
3.
Peran Faktor Genetik/Familial
4.
Faktor nutrisi
5.
Faktor predisposisi
a.
Ibu primigravida terutama yang berusia < 19 atau > 40 tahun
b.
Primipaternitas (kehamilan pertama pada pasangan)
c.
> 4 tahun dari kelahiran terakhir
d.
Ada riwayat sebelumnya
e.
Ada riwayat dari keluarga
f.
Kehamilan ganda (Sarwono, 2010).
2.2.3. Patofisiologi
Adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume
plasma darah, vasodilatasi, penururnan resistensi vaskuler sistematik, peningkatan
curah jantung dan penururnan tekanan osmotic koloid. Peningkatan kecepatan denyut
10
jantung, peningkatan volume sekuncup/curah jantung yang bermasalah lama,
peningkatan tekanan perifer (TPR) yang berlangsung lama (Ai Yeyeh, 2010).
2.2.4. Manifestasi klinis
Gejala yang biasanya muncul pada ibu yang mengalami hipertensi pada
kehamilan harus diwaspadai jika ibu mengeluh: nyeri kepala saat terjaga, kadang
kadang disertai mual dan muntah akibat peningkatan tekanan intrakranium,
penglihatan kabur, ayunan langkah yang tidak mantap, nokturia, oedema dependen
dan pembengkakan (Lia Yulianti, 2010).
2.2.5. Klasifikasi Hipertensi dalam Kehamilan
Untuk mempermudah pemahaman, gangguan hipertensi pada kehamilan
diuraikan berdasarkan klasifikasi berikut:
2.2.5.1. Hipertensi Esensial
Sekitar 5% ibu hamil terdiagnosis mengalami hipertensi pada kunjungan
pertama mereka di klinik antenatal (Soydemirs & Kenny, 2008). Hipertensi dapat
merupakan kondisi yang telah terdiagnosis sebelumnya atau merupakan kondisi yang
pertama kali teridentifikasi. Hipertensi pre-existing di kenal dengan hipertensi kronis
atau esensial. Selain pada kehamilan, hipertensi esensial lebih umum terjadi pada
lansia, ibu multipara dan dapat terjadi sekunder terhadap penyakit ginjal atau proses
penyakit lainnya, seperti lupus eritematosus sistemik. Penggunaan obat antihipertensi
secara umum tidak diketahui dapat menjadi teragenik, namun beberapa obat tersebut
sebaiknya dilanjutkan pada awal kehamilan hanya jika manfaat yang diharapkan lebih
besar dari potensi resikonya (Magee, 2010).
11
1. Tanda dan gejala
a. Tekanan diastolik > 90 mmHg pada kehamilan < 20 minggu
b. Nyeri kepala berulang-ulang
c. Perdarahan hidung
2. Diagnosis
Hipertensi esensial dapat sulit didiagnosis pada awal kehamilan karena terjadi
perubahan hipotensi normal pada awal kehamilan. Akan tetapi, tekanan darah
umumnya mencapai 140/90 mmHg atau lebih, tetapi biasanya tidak disertai edema
atau proteinuria. Hipertensi esensial biasanya tidak berhubungan dengan angka
kematian yang buruk kecuali jika kondisi tersebut menyebabkan insufisiensi
plasenta, solusio plasenta atau superimposed PIH atau pre-eklamsia (Linda Wylie,
2010).
3. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hipertensi esensial bergantung pada tingkat keparahan hipertensi.
Tujuan adalah mempertahankan tekanan darah < 150/100 mmHg. Penelitian dapat
dilakukan mengenai kerusakan organ lainnya yang berhubungan dengan
hipertensi, seperti retinopati, penyakit jantung atau penyakit ginjal. Antihipertensi
dapat diindikasikan untuk mengendalikan hipertensi. Akan tetapi, karena tekanan
darah diperlukan untuk menyuplai cukup darah ke jaringan dan organ tubuh.
Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah menyarankan istirahat dan diet
seimbang dibarengi pengendalian penambahan berat badan. Pemantauan
12
pertumbuhan janin perlu dilakukan untuk induksi dini jika janin dianggap dapat
mengalami gangguan serius (Linda Wylie, 2010).
2.2.5.2.
Hipertensi Esensial
Hypertension
Disertai
Superimposed
Pregnancy-Induced
Superimposed pregnancy-induced atau pre-eklamsi dapat terjadi. Komplikasi
serius dari hipertensi esensial tersebut diindikasikan oleh ketidakmampuan tubuh
untuk
secara
adekuat
mengompensasi
patologi
penyebab
hipertensi
yang
menghambat darah menyuplai gas dan nutrient kejaringan dan organ tubuh. Prognosis
kondisi tersebut cenderung buruk. Bahasan ini akan diperdalam di bagian berikutnya.
Komplikasi lain yang mungkin timbul adalah gagal ginjal, serangan vascular serebral
(stroke), atau esefalopati, meski jarang terjadi (Linda Wylie, 2010).
Tanda dan gejala
a.
Tekanan diastolik 90-110 mmHg pada kehamilan, 20 minggu
b.
Protein < ++
2.2.5.3. Hipertensi Diinduksi Kehamilan
Hipertensi diinduksi kehamilan pregnancy-induced hypertension (PIH) adalah
kondisi peningkatan tekanan darah setelah minggu ke 20 kehamilan. Proteinuria tidak
ditemukan. Peningkatan tekanan darah sebelum minggu ke 20 kehamilan
diindikasikan sebagai hipertensi esensial, seperti yang telah dibahas sebelumnya.
1. Penyebab
Penyebab PIH belum diketahui. Akan tetapi, penyebab telah dihubungkan dengan
kasus pembesaran plasenta, seperti molahidatidosa atau kehamilan ganda, atau
13
pada kasus gangguan sirkulasi plasenta seperti pada diabetes. Akan tetapi, pada
kebanyakan kasus, penyebab hipertensi tersebut tidak diketahui pasti. Insidens
hipertensi tersebut beragam menurut ras dan wilayahnya dan lebih sering terjadi
seiring bertambahnya usia. Karena tekanan darah meningkat tanpa menjadi
indikasi bahwa tubuh tidak lagi mampu mengompensasi patologi sirkulasi yang
berhubungan dengan hipertensi esensial dengan vaskularisasi tambahan ke
plasenta dan janin.
2. Tanda dan gejala
a. Tekanan diastolik 90-110 mmHg (2 kali Pengukuran berjarak 4 jam) pada
kehamilan > 20 minggu
b. Protein
3. Diagnosis
Bila tekanan darah diastolik > 110 mmHg pada setiap pemeriksaan atau > 90
mmHg pada dua kali atau lebih pemeriksaan, atau selang 4 jam, diagnosis dapat
ditegakkan. Tidak ditemukan adanya proteinuria.
4. Penatalaksanaan
Ibu yang mengalami PIH memerlukan pengawasan yang cermat. Pengkajian awal
dapat menentukan apakah telah terjadi komplikasi, termasuk memeriksa kondisi
ibu dan janin.
a.
Kondisi Ibu
Pemeriksaan fisik lengkap dapat dilakukan untuk menentukan penyebab
peningkatan tekanan darah yang tidak berhubungan dengan kehamilan.
14
Pengukuran tekanan darah serial dilakukan berkali-kali untuk memperoleh
indikasi keparahan hipertensi. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk
menentukan adanya kehamilan molar. Sampel darah dapat diambil untuk
hitung darah lengkap, asam urat dan urea dan elektrolit dalam serum.
Urinalisis mengidentifikasikan komplikasi seperti trombositopenia, kerusakan
hati dan ginjal.
b.
Kondisi Janin
Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk menentukan pertumbuhan janin.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat juga memberikan informasi mengenai hal
tersebut. Kardiotokografi dilakukan untuk mengkaji kesehatan janin dan
mengidentifikasi dengan baik gerakan janin. Bila tidak dapat indikasi
komplikasi ibu dan janin, ibu dapat secara regular dikaji kembali selama
minggu-minggu kehamilan yang tersisa.
Penatalaksanaan masalah pada ibu dan janin akan dibahas nanti dengan lebih
memfokuskan pada kondisi ibu dan janin disbanding penyebab kondisi
tersebut (Linda Wylie, 2010).
2.2.5.4. Pre-Eklamsia
Pre-eklamsia dan komplikasinya adalah kondisi paling serius yang
memengaruhi ibu hamil dan bayi dan penyebab kematian tiga sampai lima ibu sekitar
500 dan 600 bayi di Inggris setiap tahun menurut Confidental Enquiries into
Maternal and Child Health.
15
Tanda dan gejala
a. Tekanan diastolic 90-110 mmHg pada kehamilan > 20 minggu
b. Protein sampai ++
c. Nyeri kepala
d. Penglihatan kabur
e. Oliguria
f. Nyeri abdomen
g. Odema Paru (Ai Yeyeh, 2010)
2.2.5.5. Eklamsia
Eklamsia adalah kondisi mirip konvulsi epilepsi grandmal dialami ibu, baik
tanpa atau disertai diagnosis satu gangguan hipertensi. Eklamsia dapat terjadi pada 1
dari 2000-3000 kelahiran di Negara berkembang (Mattar & sibai).
Tanda dan gejala
a. Kejang
b. Tekanan diastolik > 90 mmHg pada kehamilan 20 minggu
c. Protein > ++
d. Koma (Ai Yeyeh, 2010).
2.2.6. Pengobatan dan Penatalaksanaan
Jika seseorang dicurigai hipertensi, maka dilakukan beberapa pemeriksaan
yaitu wawancara (anamnesa) adalah dalam keluarga yang menderita hipertenasi.
Dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pengobatan nonfarmakologi,
mengurangi berat badan bila terdapat kelebihan (indexs masa tubuh > 27), membatasi
16
alkohol dan menghentikan rokok serta mengurangi makanan berkolesterol/lemak
jenuh, menghentikan konsumsi kopi yang berlebihan, berolahraga ringan (jalan-jalan,
joging pagi), mengurangi asupan natrium (400mmd Na/2,4 gram Na/64 NaCL/hari).
Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium adekuat, perbanyak kalium (buahbuahan), tidak banyak pikiran, istrahat yang cukup.
Pengobatan farmasi dianjurkan minum obat yang tidak banyak efek samping
tekanan sederhana, tidak berpengaruh metabolik negatif dan minum obat yang
berfungsi ganda, obat yang berfungsi ganda adalah obat yang menormalisasikan
tekanan darah pada pembuluh darah, jantung, ginjal, otak dan mata. Berikan obat
hipertensi apabila tekanan darah ibu sudah turun atau sudah tidak 140/90 mmHg.
Berikan obat luminal sesudah makan 30 gram peroral 3x sehari dalam jangka waktu 8
jam dari pemberian sebelumnya (Sumber; Buku panduan praktis pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal).
2.2.7. Faktor Resiko terhadap Hipertensi pada Kehamilan
1.
Usia
Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada
wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat,
pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.
2.
Paritas
a.
Angka kejadian tinggi pada primigravida, muda maupun tua.
b.
Primigravida tua resiko lebih tinggi untuk preeklamsia berat.
17
3.
Ras/golongan etnik
Biasa (mungkin ada perbedaan perlakuan/ akses terhadap berbagai etnik di
banyak negara).
4.
Faktor keturunan
Jika ada riwayat hipertensi pre-eklampsia/eklampsia pada ibu/nenek penderita,
faktor Resiko meningkat sampai +25%.
5.
Faktor gen
Diduga adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang ditentukan genotip ibu
dan janin.
6.
Diet/gizi
Tidak ada hubungan bermakna antara menu/ pola diet tertentu (WHO). Penelitian
lain : kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi.
Angka kejadian juga lebih tinggi pada ibu hamil yang overweight.
7.
Iklim/musim
Di daerah tropis insidens lebih tinggi
8.
Tingkah laku/sosioekonomi
Kebiasaan merokok : insidens pada ibu perokok lebih rendah, namun merokok
selama hamil memiliki resiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat
yang jauh lebih tinggi.
Aktifitas fisik selama hamil : istirahat baring yang cukup selama hamil
mengurangi kemungkinan/ insidens hipertensi dalam kehamilan.
18
9.
Hiperplasentosis
Proteinuria dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan kembar,
dizigotik lebih tinggi dari pada monozigotik.
2.8. Faktor- faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi dalam Kehamilan
2.8.1. Paritas
Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI), paritas adalah keadaan
kelahiran (partus) atau jumlah anak yang dilahirkan baik lahir hidup, lahir
mati,maupun abortus sampai saat hamil terakhir. Paritas adalah jumlah berapa kali
seorang wanita mengalami kehamilan (Pusdiknakes WHO JHPIEGO, 2007).
Pembagian paritas: primipara: jumlah anak satu orang, multipara: jumlah anak
2-3 orang, grandemultipara: jumlah anak 4 orang atau lebih (Surwono, 2010). Jumlah
anak yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan
mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak. Lebihlebih kalau jarak anak terlalu dekat. Sedangkan pada keluarga dengan keadaan sosial
ekonomi yang kurang, jumlah anak yang banyak akan mengakibatkan selain
kurangnya kasih sayang dan perhatian pada anak, juga kebutuhan primer seperti
makanan, sandang dan perumahan pun tidak terpenuhi. Oleh karena itu Keluarga
Berencana tetap diperlukan (Soetjiningsih, 2009).
Kira-kira 85% hipertensi terjadi pada kehamilan pertama. Paritas 2-3
merupakan paritas paling aman ditinjau dari kejadian hipertensi
dan resiko
19
meningkat lagi pada grandemultigravida (Bobak, 2005). Selain itu primitusa, lama
perkawinan ≥ 4 tahun juga dapat beresiko tinggi timbul hipertensi (Rochjati, 2010 ).
Dari kejadian delapan puluh persen semua kasus hipertensi pada kehamilan,
3-8% pasien terutama pada primigravida, pada kehamilan trimester kedua. Catatan
statistik menunjukkan dari seluruh insiden dunia, dari 5-8% hipertensi dari semua
kehamilan, terdapat 12% lebih dikarenakan oleh primigravida. Faktor yang
mempengaruhi hipertensi frekuensi primigravida lebih tinggi bila dibandingkan
dengan multigravida, terutama primigravida muda.
Persalinan yang berulang-ulang akan mempunyai banyak resiko terhadap
kehamilan, telah terbukti bahwa persalinan kedua dan ketiga adalah persalinan yang
paling aman. Pada The New England Journal of Medicine tercatat bahwa pada
kehamilan pertama resiko terjadi hipertensi 3,9%, kehamilan kedua 1,7% dan
kehamilan ketiga 1,8%. (Cuningham dan Leveno, 2010).
Primigravida mempunyai resiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam
kehamilan jika dibandingkan dengan multigravida (Surwono, 2010).
2.8.2. Umur
Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat
berulang tahun. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
akan lebih, matang dalam berfikir dan bekerja. Umur merupakan periode terhadap
pola pola kehidupan baru dan harapan harapan baru. Semakin bertambahnya umur
seseorang maka semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang dimiliki.
20
Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih
matang dalam berfikir dan bekerja. Dari kepercayaan masyarakat seseorang lebih
dewasa akan lebih dipercaya dari yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini
sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa.
Umur berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan
tindakan yang dilakukan. Macam-macam usia menurut kamus besar bahasa indonesia
(KBBI) diklasifikasi sebagai berikut:
1.
Usia menikah adalah usia yang dianggap cocok secara fisik dan mental untuk
menikah (kira-kira diatas 20 tahun).
2.
Usia produktif adalah usia ketika seorang atau masih mampu bekerja
menghasilkan sesuatu.
3.
Usia reproduktif adalah masa diantara pubertas dan menopause yang
pembuahannya sering kali jadi positif.
a.
Usia sekolah adalah usia dianggap cocok bagi anak secara fisik dan
mental untuk masuk sekolah.
b.
Usia lanjut adalah tahap masa tua (usia 60 tahun ke atas)
c.
Usia senja adalah usia 50 tahun ke atas.
Umur ibu merupakan faktor lingkungan biologis yang mempengaruhi
tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor Postnatal). Bayi baru lahir harus berhasil
melewati masa transisi, dari suatu sistem yang teratur yang sebagian besar tergantung
pada organ ibunya ke suatu system yang tergantung pada kemampuan genetik dan
mekanisme homeostatik bayi itu sendiri (Marimbi, 2010).
21
Usia menurut kamus besar bahasa indonesia adalah lama waktu hidup atau
ada (sejak dilahirkan atau diadakan). Berdasarkan pengertian di atas usia ibu dalam
penelitian ini adalah lama seorang ibu hidup sampai melahirkan. Jika dilihat dari sisi
biologis manusia 20-35 merupakan tahun yang terbaik wanita untuk hamil karena
selain diusia ini kematangan organ reproduksi dan hormon telah bekerja denga baik
juga belum ada penyakit- penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes serta daya
tubuh masih kuat.
Usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 23-35 tahun. Kematian
maternal pada wanita hamil dan bersalin pada usia dibawah 25 tahun dan setelah usia
35 tahun meningkat, karena wanita yang memiliki usia kurang dari 25 tahun dan lebih
dari 35 tahun di anggap lebih rentan terhadap terjadinya hipertensi (Cunningham,
2009).
Selain itu ibu hamil yang berusia ≥ 35 tahun telah terjadi perubahan pada
jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi sehingga lebih berisiko
untuk terjadi hipertensi (Rochjati, 2010).
Usia 25-30 tahun adalah periode paling aman untuk hamil/melahirkan, akan
tetapi di negara berkembang sekitar 10-20% bayi dilahirkan dari ibu remaja yang
sedikit lebih besar dari anak anak. Padahal daru suatu penelitian ditemukan bahwa
dua tahun setelah menstruasi yang pertama, seorang wanita masih mungkin mencapai
pertumbuhan panggul antara 2-7% dan tinggi badan 1%. Dampak dari usia yang
kurang, dari hasil penelitian di Nigeria, wanita usia 15 tahun mempunyai angka
kematian ibu 7 kali lebih besar dari wanita berusia 25-35 tahun.
22
Faktor usia berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi, pre-eklamsia dan
eklampsia. Usia wanita remaja pada kehamilan pertama atau nulipara umur belasan
tahun (usia muda kurang dari 20 tahun). Studi di RS Neutra di Colombia,
Porapakkhan di Bangkok, Efiong di Lagos dan Wadhawan dan lainnya di Zambia,
cenderung terlihat insiden
cukup tinggi. Hubungan peningkatan usia terhadap
hipertensi, pre eklamsia dan eklampsia adalah sama dan meningkat lagi pada wanita
hamil yang berusia diatas 35 tahun. Usia 25-35 tahun adalah periode paling aman
untuk melahirkan, akan tetapi di negara berkembang sekitar 10% sampai 20% bayi
dilahirkan dari ibu remaja yang sedikit lebih besar dari anak-anak.
Padahal dari suatu penelitian ditemukan bahwa dua tahun setelah mestruasi
yang pertama, seorang anak wanita masih mungkin mencapai pertumbuhan panggul
antara 2-7% dan tinggi badan 1%. Hipertensi karena kehamilan paling sering
mengenai wanita. Wanita yang lebih tua, yang dengan bertambahnya usia akan
menunjukkan peningkatan insiden hipertensi kronis, menghadapi resiko yang lebih
besar untuk menderita hipertensi karena kehamilan atau superimposed pre-eclampsia.
Jadi wanita yang berada pada awal atau akhir usia reproduksi, dahulu dianggap rentan
(Duenhoelter dkk, 2010).
Pada wanita diatas usia 40 tahun, insiden hipertensi kerena kehamilan
meningkat tiga kali lipat (9,6 lawan 2,7% ) dibandingkan dengan wanita kontrol yang
berusia 25-35 tahun. Hansen meninjau beberapa penelitian dan melaporkan
peningkatan insiden hipertensi sebesar 2-3 kali lipat (Spellacy dkk, 2010).
23
2.9. Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini
adalah:
Variabel Independen (terikat)
Variabel Dependen (bebas)
Paritas Ibu
Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan
Umur Ibu
2.10. Hipotesis Penelitian
1.
Ada hubungan paritas ibu dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan di klinik
Ina Gurky Medan.
2.
Ada hubungan umur ibu dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan di klinik
Ina Gurky Medan.
24
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat survei analitik dengan pendekatan cross sectional,
yaitu untuk menganalisis hubungan paritas dan umur ibu dengan kejadian hipertensi
dalam kehamilan di kilinik Ina Gurky Medan.
3.2. Waktu dan Lokasi penelitian
3.2.1. Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian adalah pada bulan Januari 2014-Juni 2014.
3.2.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Klinik Ina Gurky Medan adapun alasan
pengambilan lokasi penelitian karena belum pernah dilakukan penelitian yang sama
ditempat tersebut dan masih banyak terdapat kejadian hipertensi dalam kehamilan
sebesar 36,0%.
3.3. Populasi Dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Notoadmojo, 2010). Dimana
yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang hamil yang
memeriksakan kehamilannya diklinik Ina Gurky Medan dari bulan Januarai 2014
sampai juni 2014 sebanyak 50 ibu yang sedang hamil.
24
25
3.3.2. Sampel
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 50 orang. Dengan
menggunakan metode total sampling peneliti mengambil keseluruhan populasi untuk
dijadikan sebagai sampel.
3.4. Metode Pengumpulan Data
3.4.1. Data Primer
Data primer dikumpulkan dengan instrument penelitian yaitu, kuesioner
digunakan untuk mendapatkan data tentang hubungan paritas dan umur ibu dengan
kejadian hipertensi dalam kehamilan.
3.4.2. Data Sekunder
Data yang didapatkan dari pihak klinik Ina Gurky Medan.
3.5. Defenisi Operasional
3.5.1. Variabel terikat
1.
Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang ada pada keluarga baik lahir hidup, lahir mati.
Alat ukur : Kuesioner
Hasil ukur : 0 kehamilan 1 dan > 4 kali
1 kehamilan 2-4 kali
Skala Ukur : Ordinal
26
2.
Umur Ibu
Umur adalah usia ibu sejak lahir sampai ulang tahun ibu terakhir dibulatkan
(Amuriddin, 2009).
Alat ukur : Kuesioner
Hasil ukur : 0. < 25 dan > 35 tahun
1. 25-35 tahun
Skala ukur : Ordinal
3.5.2. Variabel bebas
Hipertensi dalam kehamilan
Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah selama kehamilan > 140 mmHg sistolik
atau 90 mmHg sistolik. (Surwono, 2010).
Alat ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : 0 Hipertensi
1 Tidak hipertensi
Skala ukur : Ordinal
3.6. Pengolahan data dan analisis data
3.6.1. Pengolahan Data
Setelah data berhasil dikumpulkan, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan
adalah pengolahan data:
27
1. Editing
Merupakan kegiatan untuk pengecekan dan memperbaiki isikan formulir atau
koesioner.
2. Coding
Merupakan mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau
bilangan.
3. Tabulating
Kegiatan memasuki data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data
base computer, kemudian membuat distribusi sederhana atau dengan membuat
tabel kontigensi.s
4. Cleaning
Cleaning merupakan kegiatan pengecekan kembali dan kemungkinan adanya
kesalahan-kesalahan
kode,
ketidaklengkapan,
dan
sebagainya,
kemudian
pembetulan atau koreksi.
3.6.2. Analisa Data
1. Analisa Univariat.
Analisis data secara univariat dilakukan untuk mendapatkan distribusi frekuensi
responden. Analisa data untuk memperoleh gambaran masing-masing variabel
independen.
28
2. Analisa Bivariat.
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan paritas dan
umur ibu hamil dengan kejadian hipertensi di klinik Ina Gurky Medan. Lakukan
uji statistik chi-square kemudian hasilnya narasikan.
29
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Rumah bersalin Klinik Ina Gurky Medan beralamat di jalan lapangan golf
Pancur Batu. Klinik Ina Gurky memiliki dua ruangan inap dan ruangan pemeriksaan
umum. Kilinik Ina Gurky ditangani oleh bidan Ina Gurky AM.Keb beserta
pegawainya Pretty Sihombing AM.Keb.
4.2. Analisa Univariat
4.2.1. Hipertensi dalam Kehamilan
Untuk melihat hipertensi dalam kehamilan di Klinik Ina Gurky Medan dapat
dilihat pada Tabel 4.1:
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Hipertensi dalam Kehamilan di Klinik Ina
Gurky Medan
No
1
2
Hipertensi
Hipertensi
Tidak hipertensi
Jumlah
F
18
32
50
%
36,0
64,0
100,0
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa hipertensi pada ibu hamil lebih
banyak yang tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan sebanyak 32 responden
(64,0%) dan lebih sedikit yang mengalami hipertensi sebanyak 18 responden
(36,0%).
29
30
4.2.2. Paritas
Untuk melihat paritas pada ibu hamil di Klinik Ina Gurky Medan dapat dlihat
pad Tabel 4.2:
Tabel 4.2. Distribusi Paritas Ibu Hamil di Klinik Ina Gurky Medan
No
1
2
Paritas
1 dan > 4 kali
2-4 kali
Jumlah
f
22
28
50
%
44,0
56,0
100,0
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa paritas responden lebih banyak
pada kehamilan 2-4 kali 28 responden (56,0%) dan lebih sedikit yang hamil 1 dan >
4 kali 22 responden (44,0%).
4.2.3. Umur
Untuk melihat umur ibu yang hamil di Klinik Ina Gurky Medan berdasarkan
umur dapat dilihat pada Tabel 4.3:
Tabel 4.3. Distribusi umur ibu hamil di Klinik Ina Gurky Medan
N0
1
2
Umur Ibu
< 25 dan > 35 tahun
25-35 tahun
Jumlah
f
23
27
50
%
46,0
54,0
100,0
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa responden umur ibu adalah umur
< 25 dan > 35 tahun sebanyak 23 responden (46,0%) dan terdapat umur 25-35 tahun
sebanyak 27 responden (54,0%).
31
4.3. Analisa Bivariat
Analisa Bivariat untuk menguji apakah hubungan paritas dan umur ibu hamil
dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan yang dipakai dengan uji statistik, dan
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
4.3.1. Hubungan Paritas dengan Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan
Untuk mengetahui hubungan paritas dengan kejadian hipertensi dalam
kehamilan dapat dilihat pada tabel 4.4:
Tabel 4.4. Hubungan Paritas Ibu Hamil dengan Kejadian Hipertensi di Klinik
Ina Gurky Medan
Paritas Ibu
No
1
2
1 dan > 4 kali
2-4 kali
Hipertensi Pada Ibu Hamil
Hipertensi Tidak Hipertensi
n
%
n
%
16
73,0
6
27,0
2
7,0
26
93,0
Total
N
%
22
100
28
100
Prob
0,000
Dari tabel diatas dilihat bahwa dari 22 responden yang paritasnya 1 dan > 4
kali kehamilan yang mengalami hipertensi dalam kehamilan sebanyak 16 orang
(73,0%) dan lebih sedikit yang tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan
sebanyak 6 orang (27,0%). Kemudian dari 28 responden yang paritasnya 2-4 kali
yang tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan sebanyak 26 orang (93,0%) dan
lebih sedikit yang mengalami hipertensi dalam kehamilan sebanyak 2 orang (7,0%).
Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square menunjukkan bahwa
probalbiliti (0,0000) α (0,05) berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa
hipertensi dalam kehamilan berhubungan dengan paritas dan umur ibu.
32
4.3.2. Hubungan Umur dengan Kejadian Hipertensi dalam kehamilan
Untuk mengetahui hubungan umur dengan kejadian hipertensi dalam
kehamilan dapat dilihat dari Tabel 4.4:
Tabel 4.4 Hubungan Umur Ibu Hamil dengan Kejadian Hipertensi dalam
Kehamilan di Klinik Ina Gurky Medan
Umur Ibu
No
1
2
25-35 tahun
< 25 dan > 35
tahun
Hipertensi Pada Ibu Hamil
Hipertensi Tidak Hipertensi
n
%
n
%
5
19,0
22
81,0
13
57,0
10
43,0
Total
N
%
27 100
23 100
Prob
0,005
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari 27 orang responden yang umurnya
25-35 tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan sebanyak 22 orang (81,0%) dan
lebih sedikit yang mengalami hupertensi sebanyak 5 orang (19,0%) , sedangkan dari
23 responden yang berumur, < 25 dan > 35 tahun yang mengalami hipertensi dalam
kehamilan sebanyak 13 orang (57,0%) dan lebih sedikit yang tidak hipertensi dalam
kehamilan sebanyak 10 orang (43,0%).
Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square menunjukkan bahwa prob
(0,005) < (0,05) berarti Ho ditolak. Maka hal ini menunjukkan bahwa hipertensi
berhubungan dengan umur dan paritas ibu hamil.
33
BAB V
PEMBAHASAN
5.1. Hubungan Paritas Ibu dengan Hipertensi dalam Kehamilan
Dari hasil penelitian di Klinik Ina Gurky Medan menunjukkan bahwa ibu
dengan paritas 1 dan > 4 kali kehamilan sebanyak 16 orang (73,0%) dan terdapat ibu
yang 2-4 kali kehamilan 2 orang (7,0%). Hal ini memicu bahwa ada hubungan
paritas ibu dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan yang berarti ibu yang
primigravida cenderung mengalami hipertensi dalam kehamilan atau peningkatan
tekanan darah dari normal dikarenakan oleh rasa takut dan cemas dan juga
kebingungan dan kurang pengalaman dan semakin rendah angka kejadian hipertensi
dalam kehamilan pada ibu yang multigravida. Penelitian ini menunjukkan ada
hubungan antara paritas dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan di klinik Ina
Gurky Medan sehingga hipotesis pada penelitian ini diterima.
Hasil penelitian ini di dukung oleh adanya catatan statistik kira-kira 85%
hipertensi terjadi pada kehamilan pertama. Paritas 2-4 merupakan paritas paling aman
ditinjau dari kejadian hipertensi dan resiko meningkat lagi pada grandemultigravida.
Selain itu primitua, lama perkawinan ≥ 4 tahun juga dapat beresiko tinggi timbul
hipertensi. Dari kejadian delapan puluh persen semua kasus hipertensi pada
kehamilan, 3-8% pasien terutama pada 1 dan > 4 kali kehamilan, pada kehamilan
trimester kedua. Catatan statistik menunjukkan dari seluruh insiden dunia, dari 5%-
33
34
8% hipertensi dari semua kehamilan, terdapat 12% lebih dikarenakan oleh 1 dan > 4
kali kehamilan.
Frekuensi hipertensi pada 1 dan > 4 kali kehamilan lebih tinggi bila
dibandingkan dengan multigravida, terutama primigravida muda. Apabila 1 dan > 4
kali kehamilan mempunyai resiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan
jika dibandingkan dengan 2-4 kali kehamilan (Surwono, 2010). Kejadian hipertensi
dalam kehamilan karena segi paritas disimpulkan bahwa primigravida tua resiko
paling tinggi pada kejadian hipertensi dalam kehamilan (Lilis Lisnawati, 2012).
5.2. Hubungan Umur Ibu dengan Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan
Dari hasil penelitian di klinik Ina Gurky Medan menunjukkan bahwa umur
ibu adalah umur 25-35 tahun sebanyak 5 orang (19,0%) dan terdapat umur < 25 dan
> 35 tahun sebanyak 13 orang (57,0%). Hal ini memicu bahwa ada hubungan umur
ibu dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan yang berarti usia ibu dibawah 25
tahun dan diatas 35 tahun akan cenderung mengalami hipertensi dalam kehamilan
yang diakibatkan karna usia yang terlalu muda dan terlalu tua pada kehamilan dan
akan semakin rendah pada usia yang 25-35 tahun dikarena usia yang sehat dan
normal pada ibu hamil yaitu usia antara 25-35 tahun. Penelitian ini menunjukkan ada
hubungan antara umur ibu dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan pada ibu
hamil di klinik Ina Gurky Medan sehingga hipotesis pada penelitian ini diterima.
Hasil penelitian ini di dukung oleh penelitian Oni Khoma di rumah sakit ibu
dan anak (RSIA) Tambak Jakarta, kejadian hipertensi meningkat tiga kali lipat sering
35
pada wanita yang berumur di atas 35 tahun di bandingkan dengan usia 25-35 tahun
(Admin, 2009). Hipertensi mulai terjadi seiring bertambahnya umur, dianjurkan agar
ibu yang hamil pada umur 35 tahun atau lebih harus lebih rajin kehamilannya
kepetugas kesehatan, karena pada umumnya usia 35 tahun atau lebih fungsi organ
reproduksi sudah mulai menurunkan.
Berdasarkan usia insiden tinggi pada primigravida muda, meningkat pada
primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali
lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun,dapat terjadi hipertensi laten
(Lilis Lisnawati, 2012).
Dengan bertambahnya umur atau usia, maka seseorang juga semakin besar
menderita hipertensi. Berbagai penelitian telah menemukan hubungan antara berbagai
faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi dalam kehamilan. Berdasarkan penelitian
yang telah dilakukan, ternyata prevalensi (angka kejadian) hipertensi meningkat
dengan bertambahnya usia dalam kehamilan. Usia tua dalam kehamilan pertama
merupakan faktor terjadinya hipertensi kehamilan (Sutanto, 2010).
Menurut asumsi peneliti bahwa umur beruhubungan dengan kejadian
hipertensi, jika umur < 25 tahun akan memicu terjadinya hipertensi dan juga > 35
tahun juga memicu hipertensi. Oleh karena itu usia paling aman untuk ibu hamil
adalah pada usia 25-35 tahun.
36
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1.Kesimpulan
1.
Ada hubungan Paritas ibu dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan di klinik
Ina Gurky Medan.
2.
Ada hubungan umur ibu dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan di klinik
Ina Gurky Medan.
6.2. Saran
1.
Diharapkan pada pengelola program kesehatan khususnya program kesehatan ibu
dan anak perlu strategi lain dalam merencanakan program penyuluhan kesehatan
pada umumnya, khususnya mengenai hipertensi dalam kehamilan agar ibu-ibu
hamil dapat mewaspadai hal tersebut.
2.
Agar ibu-ibu hamil sering memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan
secara teratur untuk medeteksi secara dini kesehatan ibu.
3.
Agar ibu-ibu menghindari program kehamilan pada usia > 35 tahun.
4.
Dihimbau supaya ibu-ibu melakukan program kehamilan di usia 25-35 tahun.
36
37
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, 2012, Penelitian Hubungan Primigravida dengan Hipertensi, FKM
Muhammadyah, Makassar.
Ai Yeyeh, 2010, Asuhan Kebidanan patologi IV, Jakarta : Trans info media.
Anna Maria,2009,Prevalensi Hipertensi dalam Kehamilan di Indonesia,Jakarta.
Chamberlain, 2013, Asuhan Antenatal, Jakarta: ECG.
Chandranita Manuaba, 2008, Gawat Darurat Obstetri Ginekologi, Jakarta: ECG.
Erna Setiyaningrum, 2013, Asuhan Kebidanan Patologi, Jakarta: In Media.
F.Samuel Gardner . Panduan Sehat Mengatasi Tekanan Darah Tinggi . Jakarta: Prima,
2007.
Lilis Lisnawati, 2013, Asuhan Kebidanan Terkini, Jakarta: Trans info media.
Linda, 2010, Manajemen kebidanan, Jakarta: ECG.
Pusdiknaskes WHO JHPIEGO, 2007, Asuhan Kebidanan Persalinan & Kelahiran ,
Buku Kedokteran, Jakarta: ECG.
Repostrory, 2011, USU, Medan.
Riskesdes, 2009 Hipertesi Kehamilan, Jakarta.
Sarwono, 2010, Ilmu Kebidanan, Jakarta: Bina pustaka.
Soekidjo Notoatmodjo, 2010, Metode penelititan Kesehatan, Jakarta: Rineka cipta.
Sri Ramadhany, 2012, Penelitian Hubungan Primigravida pada Hipertensi, FKM
Hasanuddin, Makassar.
Sutanto, 2010, Penyakit modern hipertensi, Yogyakarta: Andi.
Sylvia, 2009, Patofisiologi Penyakit dalam Kehamilan,Jakarta: ECG.
Yohana, 2010, Kehamilan dan Persalinan, Jakarta: Garda Media.
38
Yudasmara, 2011, Komplikasi Hipertensi, Jakarta.
Yuni Kusmiyati, 2010, Asuhan kehamilan, Yogyakarta: Fitramaya.
39
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Kepada :
Yth. Ibu……….
Di Klinik Ina Gurky
Dengan hormat,
Sebagai persyaratan tugas akhir Mahasiswa Kebidanan Akademi Audi Husada
Medan, saya akan melakukan penelitian tentang Hubungan Paritas dan Umur ibu
dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan di Klinik Ina Gurky , untuk keperluan
tersebut saya mohon (Bersedia/tidak bersedia) ibu- ibu untuk mengisi kuesioner yang
saya sediakan dengan kejujuran dan apa adanya. Jawaban ibu- ibu di jamin
kerahasiannya.
Demikian,lembar persetujuan ini saya buat, atas bantuan dan partisipasinya,
saya ucapkan terimakasih.
Responden
(
Medan,April 2014
)
( Monita)
40
KUESIONER PENDATAAN
HUBUNGAN PARITAS DAN UMUR IBU DENGAN KEJADIAN
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN
DI KLINIK INA GURKY MEDAN
Petunjuk Pengisian :
BAGIAN A
Jawablah pertayaan dibawah ini sesuai dengan pertayaan dan pilihan ibu
DATA UMUM IBU
1. Nomor Ibu
:
2. Nama Ibu
:
3. Umur Ibu
:
4. Alamat
:
BAGIAN B
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan member tanda silang ( X ) pada kolom
jawaban sesuai dengan pilihan ibu
1. PARITAS
1. Pada saat ini kehamilan yang keberapa….
a. Kehamilan yang pertama
b. Kehamilan yang kedua atau lebih
2. Apakah ibu pernah mengalami keguguran……
a. Ya
b. Tidak
41
3. Apakah ibu pernah mengalami anak lahir mati
a. Ya
b. Tidak
Download

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi atau tekanan