BAB IV ASAS-ASAS UMUM PERADILAN AGAMA A

advertisement
BAB IV
ASAS-ASAS UMUM PERADILAN AGAMA
A. Deskripsi Singkat
Di dalam UU Nomor 7 Tahun 1989 terdapat beberapa asas umum pada
lingkungan Peradilan Agama. Asas-asas umum itu merupakan fundamen dan
pedoman umum dalam melaksanakan penerapan seluruh jiwa dan semangat undangundang tersebut. Ia dapat dikatakan sebagai karakter yang melekat pada keseluruhan
rumusan pasal-pasal dalam undang-undang tersebut.
Tujuan Instruksional Khusus (TIK) pada pertemuan ini adalah mahasiswa akan
dapat menerangkan asas-asas umum Peradilan Agama.
B. Asas-asas Umum Peradilan Agama
1. Asas Personalitas keislaman.
Maksudnya yang tunduk dan dapat ditundukkan kepada kekuasaan pengadilan
dalam lingkungan Peradilan Agama, hanya mereka yang dirinya mengaku
beragama Islam. Sedangkan pemeluk agama lain (non muslim) tidak tunduk
kepada kekuasaan badan peradilan tersebut. Dari beberapa bagian UU Nomor 7
Tahun 1989, terdapat beberapa penegasan yang melekat dalam asas tersebut,
yaitu:
a. Pihak-pihak yang bersengketa harus sama-sama pemeluk agama Islam;
b. Perkara perdata yang dipersengketakan di bidang perkawainan, kewarisan,
wasiat, hibah, wakaf dan shadaqah.
c. Hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu itu berdasarkan hukum
Islam. Oleh karena itu, acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam.
2. Asas Kebebasan
Asas kebebasan melekat pada hakim dan badan peradilan yang melaksanakan
kekuasaan kehakiman. Hakim adalah pejabat yang melaksanakan kekuasaan
kehakiman yang bebas dari campur tangan kekuasaan negara lain, dalam hal ini
pemerintah. Ia dituntut memiliki integritas pribadi yang kuat untuk menggunakan
kebebasannya sebagai pejabat pelaksana kekuasaan kehakiman.
3. Asas wajib mendamaikan
Merupakan asas umum dalam perkara perdata dan sejalan dengan tuntutan
ajaran Islam, yang dikenal dengan konsep ishlah. Asas ini semakin penting oleh
karena peradilan agama identik dengan peradilan keluarga. Peradilan agama
sebagai peradilan keluarga memiliki dua fungsi. Ia tidak hanya sebagai
pelaksana kekuasaan kehakiman atau lembaga hukum (court of law), yang
menerapkan hukum keluarga secara tegar dan kaku (impersonal), tetapi lebih
diarahkan pada usaha penyelesaian sengketa-sengketa keluarga untuk
memperkecil kerusakan rohani dan keretakan sosial di kalangan pencari keadi
Ian.
4. Asas sederhana, cepat dan biaya ringan
Asas sederhana, cepat dan biaya ringan meliputi tiga aspek. Sederhana,
berhubungan dengan prosedur penerimaan sampai dengan penyelesaian suatu
perkara. Cepat, berhubungan dengan alokasi waktu yang tersedia dalam proses
peradilan. Biaya ringan, berhubungan dengan keterjangkauan biaya perkara
oleh para pencari keadilan. Asas ini tercantum dalam ketentuan Pasal 4 ayat
(2): "Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan".
5. Asas persidangan terbuka untuk umum
Asas
ini
mengandung
pengertian
bahwa
setiap
pemeriksaan
yang
berlangsung dalam sidang pengadilan memperkenankan kepada siapa saja
yang berkeinginan untuk menghadiri, mendengarkan dan menyaksikan
jalannya persidangan. Asas ini mencerminkan sifat dan suasana keterbukaan,
memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menghadiri persidangan
sesuai dengan daya tampung yang tersedia. Hal ini memungkinkan jalannya
persidangan pemeriksaan perkara dapat dilakukan secara jujur (fair trial).
Namun demikian, tidak semua sidang pemeriksaan perkara terbuka untuk
umum
6. Asas legalitas
Maksudnya semua tindakan yang dilakukan berdasarkan hukum. Ia memiliki
makna yang sama dengan bertindak menurut aturan-aturan hukum (rule of law).
Asas ini menunjukkan tentang pengakuan terhadap otoritas dan supremasi
hukum karena Indonsia merupakan negara yang berdasarkan hukum
(rechsstaat). Berkenaan dengan hal itu, maka kekuasaan kehakiman berfungsi
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya negara hukum Republik
Indonesia.
7. Asas aktif memberi bantuan
Maksudnya pengadilan dalam hal ini hakim yang memimpin persidangan bersifat
aktif dan bertindak sebagai fasilitator. Di dalam ketentuan Pasal 58 ayat (2) UU
Nomor 7 Tahun 1989 dinyatakan : "Pengadilan membantu para pencari keadilan
dan berusaha sekeras-kerasnya mengatasi hambatan dan rintangan untuk
tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan". Hal ini
menunjukan bahwa hakim bersifat aktif, pengambil inisiatif, dan menjadi
fasilitator dalam persidangan. Rincian masalah formal yang tercakup dalam
pemberian bantuan itu adalah sebagai berikut:
a.
Membuat gugatan bagi yang buta huruf;
b.
Memberi pengarahan tata cara izin prodeo;
c.
Menyarankan penyempurnaan surat kuasa;
d.
Menganjurkan perbaikan surat gugatan;
e.
Memberi penjelasan tentang alat bukti yang sah;
f.
Memberi penjelasan cara mengajukan bantahan dan jawaban;
g.
Bantuan memanggil saksi secara resmi;
h.
Memberi bantuan upaya hukum;
i.
Memberi penjelasan tata cara verzet dan rekonvensi;
j.
Mengarahkan dan membantu merumuskan perdamaian.
C. Rangkuman
Di dalam UU Nomor 7 Tahun 1989 terdapat asas-asas umum peradilan yang
meliputi asas personalitas keislaman, asas kebebasan, asas wajib mendamaikan, asas
sederhana, cepat dan biaya ringan, asas persidangan terbuka untuk umum, asas
legalitas, dan asas aktif memberi bantuan. Implementasi dan penerapan asas-asas itu
akan sangat tergantung kepada hakim yang menjadi ujung tombak dalam penegakan
hukum dan keadilan.
D. Pendalaman
Baca referensi A2 Bab VI, B2 Bab III.
Download