Kunjungan Kerja ke Malaysia dlm rangka RUU Perdagangan

advertisement
LAPORAN KUNJUNGAN KERJA KOMISI VI DPR RI
KE NEGARA MALAYSIA DALAM RANGKA PEMBAHASAN
RUU TENTANG PERUBAHAN ATAS UU NO. 32 TAHUN 1997 TENTANG
PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI
TANGGAL 26 – 30 APRIL 2011
I.
PENDAHULUAN
Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI ke Negara Malaysia dalam Rangka
Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Atas UU
No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi dilaksanakan
berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia
Nomor:
104/PIMP/IV/2010-2011
tentang
Penugasan
Delegasi
Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam Rangka
Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Atas UU
No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi Untuk lakukan
Kunjungan Luar Negeri ke Malaysia Dari Tanggal 26 April 2011 Sampai Dengan
Tanggal 30 April 2011.
Delegasi Komisi VI DPR RI dalam rangka kunjungan kerja ini dipimpin
oleh Bapak Aria Bima, dengan susunan delegasi sebagai berikut:
1
NO.
NO.
N A M A
ANGG
FRAKSI
1
A-362
ARIA BIMA
PIMP TIM / F.PDIP
2
A-445
IR. ATTE SUGANDI, MM
F.PD
3
A-417
IR.H. MUHAMMAD AZHARI, SH,M.H
F.PD
4
A-462
FERARRI ROEMAWI, MBA
F.PD
5
A-240
HAYANI ISMAN
F.PG
6
A-243
IR.H. EDDY KUNTADI
F.PG
7
A-346
DANIEL LUMBAN TOBING
F.PDIP
8
A-395
NYOMAN DHAMANTRA
F.PDIP
9
A-68
ECKY AWAL MUCHARRAM, SE
F.PKS
10
A-117
IR. CHANDRA TIRTA WIJAYA
F.PAN
11
A-309
H. ISKANDAR DZULKARNAIN SJAICHU, SE
F.PPP
12
A-147
LUKMAN EDY, M.Si
F.PKB
13
A-7
ERIK SATRYA WARDHANA,SE
F. HANURA
14
--
RATU METY MULYANI SARI,SE
SEKRETARIAT
15
--
AKHMAD AULAWI, SH,MH
PERANCANG
UNDANG-UNDANG
II.
MAKSUD DAN TUJUAN
Kunjungan kerja luar negeri ini dilakukan dengan maksud untuk
mendapatkan masukan tentang berbagai hal untuk meningkatkan kinerja DPRRI dalam melaksanakan
menerima
tugas-tugas konstitusinya dengan cara melihat dan
penjelasan secara langsung
dari Parlemen dan Institusi yang
dikunjungi sesuai dengan ruang lingkup substansi
yang akan diatur dalam
undang-undang tentang perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997
tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.
Tujuan diadakan kunjungan kerja luar negeri ini untuk berdiskusi dengan
Pemerintah, Parlemen, dan para pelaku usaha di bidang perdagangan
berjangka komoditi di Negara Malaysia mengenai substansi yang menjadi
pembahasan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UndangUndang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.
2
Kunjungan kerja luar negeri ke Negara Malaysia
menambah
ini diharapkan akan
wawasan anggota Komisi VI DPR-RI, bagaimana satu negara
mengimplementasikan konsep pembangunan perekonomian terutama dalam
pelaksanaan undang-undang di bidang perdagangan komoditi dan penyediaan
suatu sistem yang kompatible dengan kepentingan produsen dan konsumen
komoditi tertentu terutama untuk saat ini adalah Komoditi pertanian dan mineral
tambang.
III. PROFIL NEGARA
A. Umum
Nama Negara
Ibu kota
:
:
Penduduk Negara
:
Luas wilayah
Kota-kota besar
:
:
Bahasa resmi
Agama
Hari Nasional
Lagu Kebangsaan
Bendera
:
:
:
:
:
Lambang Negara
:
Mata uang
PDB
:
:
Iklim
Peta
:
Malaysia
Kuala Lumpur
Putrajaya (pusat administratif)
27.730.000 (2008)
dengan kepadatan 845/km2
329,847 km2
Kuala Lumpur
Johor Bahru
Shah Alam
Subang Jaya
Alor Setar
Bahasa melayu
Islam
31 Agustus 1957
Negaraku
Ringgit
Total $ 384,119 miliar (2008)
Perkapita $ 14.071 (2008)
Tropis dengan suhu 24–35° Celsius
3
B. HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA - MALAYSIA1
1. Politik
Indonesia dan Malaysia merupakan Negara yang memiliki hubungan erat
tidak hanya kedekatan secara geografis, tetapi juga kedekatan historis,
kesamaan budaya dan rasa persaudaraan (garis keturunan). Hal ini yang
menjadi landasan yang kuat hubungan Indonesia dan Malaysia selama ini,
gejolak politik yang terjadi sejak masa konfrontasi hingga saat ini lebih
dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok maupun politis
tertentu yang berkeinginan mengganggu serta merusak hubungan Indonesia
dengan Malaysia. Sejauh ini hubungan politik kedua negara merupakan pilar
penting dalam memajukan organisasi ASEAN yang telah berkembang secara
pesat dalam empat dekade terakhir, baik di tingkat regional maupun
Internasional. Hubungan kedua Negara juga telah menjadi perhatian dan role
model bagi Negara-Negara Asia Tenggara lainnya maupun di dunia
Internasional. Oleh karena itu kedua pemerintah Indonesia dan Malaysia
selalu
mengutamakan
menyelesaikan
1
setiap
jalur
diplomasi
persoalan
atau
Situs KBRI di Malaysia: http://www.kbrikualalumpur.org.
4
serta
konflik,
bersikap
khususnya
bijak
dalam
bagaimana
menempatkan hubungan bilateral kedua Negara secara seimbang baik
secara substantif maupun dari sudut pandang publik masing-masing Negara.
Kunjungan Presiden Republik Indonesia ke Kuala Lumpur pada tanggal 18-19
Mei 2010 telah menghidupkan dan merevitalisasi kembali forum Joint
Commission Meeting (JCM) yang terakhir diselenggarakan pada tahun 2004
dengan membentuk working group (WG) dan sub-working group (SWG) untuk
membahas isu-isu tertentu dibawah kerangka Joint Commission Meeting
(JCM).
Annual Consultation
Konsultasi Tahunan (Annual Consultations) ke-7 antara Presiden Republik
Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Malaysia, Najib
Tun Razak pada tanggal 18-19 Mei 2010 mencerminkan besarnya perhatian
kedua Negara dalam meningkatkan dan menjaga hubungan bilateral serta
menunjukkan luasnya cakupan isu-isu yang dihadapi oleh masing-masing
negara. Kedua belah pihak merasa perlu menindaklanjuti pending matters
yang tertuang dalam Joint Statement konsultasi tahunan, khususnya dalam
hal
penyelesaian
MoU
di
bidang
kerjasama
hubungan
udara,
ketenagakerjaan, pemberantasan ilegal logging, perikanan, visa pelajar,
pariwisata, pendidikan dan pembentukan Joint Committee on Agriculture.
Terkait dalam upaya memberantas terorisme, militansi dan ekstrimis, instansiinstansi
pemerintah
kedua
negara
menganggap
perlu
pembentukan
mekanisme pertukaran informasi financial intelligence dan pemberantasan
pencucian uang antar negara. Sebagai negara pendiri/pembentuk ASEAN,
Indonesia dan Malaysia menekankan arti penting keberadaan Asean dan
Asean Regional Forum dalam menciptakan dan memelihara stabilitas dan
kesejateraan di kawasan. Kedua negara berkomitmen bersama untuk
menciptakan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 dan meningkatkan
kerjasama di forum-forum multilateral seperti APEC, OKI dan GNB.
Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC)
Pada pertemuan Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) yang
merupakan pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri di Kota Kinabalu, Sabah
5
pada tanggal 6 September 2010 Indonesia diwakili oleh Menlu Marty
Natalegawa dan Malaysia diwakili oleh Menlu Anifah Aman, kedua negara
sepakat untuk lebih mengutamakan jalur diplomasi dan perundingan dalam
mengatasi setiap permasalahan, khususnya dalam hal perbatasan darat dan
laut. Untuk menghidari terulangnya kembali insiden pada tanggal 13 Agustus
2010 yang berbuntut pada penahanan tiga petugas Patroli Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) oleh Polis Marin Diraja Malaysia dan
penahanan tujuh nelayan Malaysia oleh pihak berwenang Indonesia, kedua
Negara sepakat perlunya ditetapkan suatu Standard Operating Procedures
(SOP) dan Rules of Engagement (ROE) bagi pegawai atau pekerja yang
terkait di lapangan. Kedua Menteri Luar Negeri masing-masing Negara
sepakat
bahwa
root
cause
dari
insiden
tersebut
karena
belum
terselesaikannya masalah delimitasi perbatasan maritim kedua Negara.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia menyetujui untuk menangani persoalan
ini dengan mengintensifkan serta mempercepat jadwal proses perundingan
delimitasi batas maritim sebanyak empat kali pertemuan sepanjang sisa akhir
tahun 2010. Proses perundingan akan mencakup seluruh segmen perbatasan
maritim Indonesia dan Malaysia yaitu segmen Selat Malaka, segmen Selat
Malaka Selatan, segmen Selat Singapura, segmen Laut Cina selatan dan
segmen Laut Sulawesi.
Roundtable Discussion ‘Optimalisasi Hubungan Bilateral IndonesiaMalaysia’
Dalam rangka mencari dan menghimpun masukan-masukan mengenai
peningkatan hubungan Indonesia–Malaysia, Kedutaan Besar Republik
Indonesia di Kuala Lumpur melakukan inisiatif menyelenggarakan sebuah
Roundtable Discussion dengan tema “Optimalisasi Hubungan Bilateral
Indonesia–Malaysia” pada tanggal 6-7 Oktober 2010 di Jakarta. Acara ini
dihadiri oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, pejabat-pejabat dari Kementerian
Luar Negeri Indonesia, Kemenko Polhukam, Kemenko Kesra, mantan Dubes
RI yang tegabung dalam Forum Dubes, wakil-wakil dari LSM, media serta
akademisi. Pertemuan ini dimaksudkan dapat menghasilkan pandangan-
6
pandangan serta pemikiran-pemikiran yang lebih utuh dan jernih dalam
mencermati hubungan bilateral Indonesia-Malaysia. Dalam acara tersebut
banyak masukan dan pandangan mengenai hubungan bilateral IndonesiaMalaysia, khususnya perbedaan sistem pemerintahan, tingkat perekonomian
dan kemakmuran serta tingkat kepatuhan masyarakat terhadap penegakan
hukum. Dalam agenda pembahasan Roundtable Dicussion ini tersusun
sesuai dengan tingkat sensitivitas hubungan kedua negara yang perlu
diupayakan solusinya seperti:
1. Keberadaan media kedua negara dalam liputan pers baik cetak
ataupun elektronik yang dapat membentuk opini publik secara tidak
proporsional bahkan dapat menyulut kemarahan publik.
2. Secara historis, walaupun Indonesia dan Malaysia memiliki sejarah
asal-usul/keturunan yang sama, namun generasi muda kedua negara
mengalami degradasi pemahaman akan kedekatan sejarah tersebut.
3. Persoalan TKI, perbedaan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah
Indonesia dan Malaysia menyebabkan banyaknya TKI yang masuk ke
Malaysia melalui agensi tidak resmi dan akhirnya bekerja di Malaysia
secara ilegal dan sulit untuk dipantau keberadaannya.
4. Konteks perbatasan kedua negara telah mendikte Indonesia dan
Malaysia untuk menjabarkan lebih rinci berbagai elemen dari
keamanan negara masing-masing sehingga menjaga dan memelihara
batas negara menjadi tantangan dalam pengelolaan wilayah-wilayah
perbatasan diantara kedua negara.
Oleh sebab itu perlu adanya pemahaman kedua Negara khususnya di bidang
media untuk menerapkan inward looking editorial policy agar lebih bijaksana
dalam menyelesaikan setiap persoalan dengan melihat kedalam diri sendiri
terlebih
dahulu.
Menahami
dan
mempelajari
best
practices
serta
pengalaman–pengalaman rekonsiliasi dari Negara-Negara belahan dunia lain
yang memiliki masalah-masalah perbatasan dengan Negara tetangganya.
Terkait persoalan masalah perbatasan, penting kiranya kedua Negara
mengusahakan dan mengupayakan pemeliharaan garis-garis batas secara
bersama. Perlunya pemerintah mendorong pengelolaan secara efektif setiap
7
wilayah perbatasan khususnya peningkatan pertahanan di wilayah teritorial
maritim Indonesia. Sangat disadari bahwa penyelesaian batas maritim
tidaklah mudah karena melibatkan begitu banyak instansi yang menyebabkan
memakan waktu cukup panjang. Untuk itu perlu adanya kepedulian dan
pengetahuan aspek legal di wilayah perbatasan masih perlu ditingkatkan
khususnya yang terkait hak-hak berdaulat/kedaulatan di perbatasan negara.
Pertemuan tingkat teknis ke-16 penetapan batas maritim RI - Malaysia
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur yang diwakili
oleh Minister Counsellor Politik dan Atase Pertahanan telah memfasilitasi
anggota Delegasi Republik Indonesia pada “the 16th Technical Meeting on
Maritime Boundaries Delimitation between Malaysia and the Republik of
Indonesia” di Kuantan, Malaysia, pada tanggal 13-14 Oktober 2010.
Pertemuan ini membahas dua agenda utama yaitu: (i) pembahasan delimitasi
batas maritim di Laut Sulawesi, dan (ii) pembahasan area yang relevan untuk
delimitasi batas maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura. Kedua belah
pihak memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pembahasan yang
lebih intensif guna mempercepat penyelesaian masalah penetapan batas
maritim. Ketua delegasi RI, Plt. Direktur Jenderal Hubungan Perjanjian
Internasional, Linggawaty Hakim menanggapi pentingnya pertemuan kedua
pihak
yang
(breakthrough)
diharapkan
dalam
dapat
menghasilkan
menyelesaikan
langkah
terobosan
permasalahan-permasalah
yang
mengalami jalan buntu (deadlock) selama ini. Sementara itu ketua delegasi
Malaysia yang diwakili oleh Direktur Jenderal Research, Trities and
International Law, Kementerian Luar Negeri Malaysia, Dato’ Noor Farida
Ariffin, memandang penting pertemuan tingkat teknis ke-16 ini untuk
mencapai kemajuan signifikan mengingat pentingnya penyelesaian masalah
penetapan batas bagi hubungan kerjasama kedua Negara. Tingginya
expectations dan tekanan di dalam negeri masing-masing, baik dari political
leaders’ maupun masyarakat diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan
yang lebih konkrit untuk kepentingan kedua belah negara.
8
2. Ekonomi
Neraca Perdagangan Bilateral Malaysia - Indonesia
Pada tahun 2009, impor Malaysia dari Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan
dengan ekspornya ke Indonesia. Tingginya impor tersebut menyebabkan
terjadinya surplus bagi Indonesia sebesar USD 1,63 milyar pada neraca
perdagangannya dengan Malaysia. Jika dibandingkan dengan tahun 2008,
surplus pada neraca perdagangan tersebut naik sebesar 57,30%, dimana
surplus tahun 2008 hanya berjumlah USD 1,03 milyar. Dalam periode 5 tahun
terakhir yaitu dari tahun 2005 hingga 2009 Indonesia selalu mengalami
surplus, surplus terendah terjadi pada tahun 2006 dimana nilainya hanya
sebesar USD 885,94 juta, sedangkan yang terbesar terjadi pada tahun 2009
(Tabel 7).
Total Nilai Perdagangan Bilateral Malaysia - Indonesia
Peningkatan hubungan dagang antara Malaysia dan Indonesia dapat dilihat
dari trend total perdagangannya pada periode 2005 - 2009 yang nilainya
relatif cukup besar yaitu meningkat rata-rata sebesar 12,69% per tahun. Jika
pada tahun 2005 total nilai perdagangan kedua negara hanya berjumlah USD
7,70 milyar, pada tahun 2008 nilai tersebut menjadi USD 13,48 milyar, tetapi
disebabkan krisis pada 2009 nilai tersebut kembali menurun menjadi USD
11,44 milyar.
Pada 2009, total nilai perdagangan bilateral antara Indonesia – Malaysia
mencatat jumlah USD 11,44 milyar, turun sebesar 15,11%% berbanding
periode yang sama tahun 2008. Berdasarkan total nilai perdagangan dari
negara yang menjadi mitra dagang Malaysia, maka Indonesia berada di
peringkat ke tujuh di bawah China, Singapura, Amerika Serikat, Jepang,
Thailand dan Korea Selatan. Menurunnya total nilai perdagangan bilateral
antara Indonesia dan Malaysia disebabkan oleh menurunnya aktifitas usaha
antara kedua negara sebagai dampak krisis ekonomi.
9
Ekspor Malaysia ke Indonesia
Ekspor Malaysia ke Indonesia sejak tahun 2005 – 2009 terus meningkat
setiap tahunnya, jika pada tahun 2005 nilainya hanya sebesar USD 3,32
milyar, pada tahun 2009 nilai ekspor tersebut menjadi USD 4,91 milyar.
Berdasarkan data statistik, pada periode 5 tahun tersebut, trend ekspor
Malaysia ke Indonesia meningkat rata-rata sebesar 12,81% per tahun.
Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, ekspor Malaysia ke
Indonesia menurun dari USD 6,22 milyar pada 2008 menjadi USD 4,91 milyar
pada tahun 2009 atau turun sebesar 21,13%. Nilai kelompok mata dagangan
ekspor terbesar ke Indonesia pada 2009 yaitu kelompok SITC 4 (mineral
fuels, lubricants, etc) dengan, nilai ekspornya sebesar USD 1,25, diikuti oleh
kelompok machinery & transport equipment sebesar USD 1,19 milyar.
Impor Malaysia Dari Indonesia
Pada tahun 2009, Malaysia mengimpor berbagai jenis produk komoditi dari
Indonesia senilai USD 6,53 milyar, terjadi penurunan sebesar 9,94% jika
dibandingkan dengan impor pada tahun 2008 yang berjumlah USD 7,25
milyar. Rata-rata pertumbuhan (trend) impor Malaysia dari Indonesia pada
periode tahun 2005 – 2009 yaitu sebesar 12,58% per tahun.
Berdasarkan statistik tahun 2009, kelompok mata dagangan yang paling
banyak di impor oleh Malaysia dari Indonesia yaitu manufactured goods;
mineral fuels, lubricants, etc dan animal & vegetables oils & fats dengan nilai
masing-masing sebesar USD 1,50 milyar; USD 1,26 milyar dan USD 1,13
milyar.
10
Investasi
Dari sejumlah sumber di Malaysia maupun dari pertanyaan yang diajukan
oleh
sejumlah
pengusaha
kepada
KBRI,
nampak
bahwa
Malaysia
menunjukkan minat yang sangat besar untuk meningkatkan investasinya di
Indonesia di sejumlah sektor. Hal ini tercermin dengan melonjaknya nilai
investasi pada beberapa tahun terakhir terutama di sektor perbankan,
perkebunan dan telekomunikasi. Pada tahun 2009 terdapat sejumlah 8 izin
usaha tetap yang dikeluarkan bagi perusahaan Malaysia dengan nilai
realisasi investasi mencapai USD 7,1 juta. Dengan nilai realisasi investasi
yang demikian, pada periode hingga Februari 2009, Malaysia menempati
peringkat ke-11 dalam realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) per
negara. Sementara itu data dari Pemerintah Malaysia menunjukkan hingga
kuartal ke-3 nilai investasi Indonesia di Malaysia adalah USD 87,436 juta (RM
315 juta) dan investasi Malaysia di Indonesia mencapai USD 328,651 juta
(RM 1,184 miliar).
3. Perdagangan
Total Perdagangan bilateral Indonesia-Malaysia tahun 2008 mencapai nilai
US$ 14,03 milyar, atau meningkat 28,29% dibandingkan dengan tahun 2007
yaitu sebesar US$ 11,5 milyar. Nilai perdagangan bilateral ini telah
menempatkan Indonesia sebagai mitra dagang Malaysia terbesar ke-7
setelah Singapura, Jepang, Amerika Serikat, China, Thailand dan Korea
Selatan. Trend selama 5 tahun (2003-2008) tercatat positif 17,88%. Pada
kuartal ke dua tahun 2009 (Januari-Juni 2009) total perdagangan IndonesiaMalaysia mencatat jumlah US$ 5,13 milyar, atau turun 15,60% dibandingkan
dengan periode yang sama tahun 2008 (US$ 6,08 milyar). Hal ini merupakan
dampak dari krisis ekonomi global yang menyebabkan jatuhnya ekspor dan
impor Malaysia dari seluruh dunia termasuk dari Indonesia.
Ekspor Indonesia ke Malaysia pada tahun 2008 tercatat sebesar US$ 7,55
milyar, meningkat 25,86% dibandingkan dengan tahun 2007 (US$ 6,28
milyar). Trend selama 5 tahun (2003-2008) positif 15,74%. Pada periode
Januari - Juni 2009 ekspor Indonesia ke Malaysia mencapai jumlah US$ 2,90
11
milyar, atau turun 11,13% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun
2008 sebesar US$ 3,27 milyar. Penurunan ekspor ini terlihat pada produk
minyak sawit, karet alam, parts and components, makanan laut, kertas, serta
tekstil dan produk tekstil.
Impor Indonesia dari Malaysia pada tahun 2008 berjumlah sebesar US$ 6,48
milyar, meningkat 31,25% jika dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar US$
5,22 milyar. Trend selama 5 tahun (2003-2008) positif 20,65%. Pada periode
Januari - Juni 2009 impor Indonesia dari Malaysia membukukan angka US$
2,22 milyar, atau menurun 20,81% jika dibandingkan dengan periode yang
sama tahun 2008 sebesar US$ 2,81 milyar. Penurunan impor ini tercatat pada
refined petroleum products, Electronics&Electrical products, crude petroleum,
manufactures of metal dan chemicals and chemical products.
Neraca Perdagangan Indonesia - Malaysia pada tahun 2008 menunjukkan
posisi defisit untuk Malaysia sebesar US$ 1,07 milyar, atau meningkat
dibandingkan dengan defisit tahun 2007 (US$ 1,06 milyar). Selama 5 tahun
terakhir (2003-2008), neraca perdagangan menunjukkan posisi surplus bagi
Indonesia. Pada periode Januari - Juni 2009, neraca perdagangan
menunjukkan posisi défisit bagi Malaysia sebesar US$ 679,14 juta. Defisit ini
meningkat 48,42% dibandingkan defisit Malaysia pada periode yang sama
tahun 2008 sebesar US$ 457,59 juta.
Sepuluh Besar Komoditi Ekspor Indonesia ke Malaysia adalah: mineral fuel
(nilai US$ 1,4 milyar), fats and oils (US$ 1,0 milyar), cocoa (US$ 789,7 juta),
electrical machinery (US$ 471,8 juta), copper (US$ 460,4 juta), paper,
paperboard (US$ 274,9 juta), machinery (US$ 263,0 juta), vehicles (US$
243,2 juta), organic chemicals (US$ 211,0 juta) dan plastic (US$ 136,0 juta).
Sepuluh Besar Komoditi Impor Indonesia dari Malaysia adalah: mineral fuel
(US$ 1,6 milyar), machinery (US$ 534,2 juta), organic chemicals (US$ 480,5
juta), electrical machinery (US$ 471,4 juta), plastic (US$ 395,9 juta), iron and
steel (US$ 278,5 juta), vehicles (US$ 143,4 juta), fertilizers (US$ 139,0 juta),
iron/steel products (US$ 129,9 juta), dan baking related (US$ 119,9 juta).
12
Permasalahan di bidang perdagangan. Krisis ekonomi global telah mampu
menurunkan kinerja perdagangan bilateral kuartal kedua tahun 2009 dengan
turunnya ekspor dan impor di kisaran angka 20%. Gambaran ini akan
semakin suram apabila kondisi bisnis dikeruhkan oleh situasi non-ekonomis
(politik, keamanan, sosial dan budaya) yang terjadi belakangan ini antara ke
dua negara. Kalangan pelaku usaha pada umumnya masih merasakan
ketidakpastian sehingga masih menunggu perkembangan (bersikap “wait and
see”) dalam melakukan kerjasama di bidang perdagangan.
IV. HASIL PERTEMUAN
A. DI KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA (KBRI) DI MALAYSIA
Delegasi diterima oleh Duta Besar RI untuk Malaysia Bapak Tan Sri, Prof.
Drs. Da’i Bachtiar, SH, AO.
Dalam pertemuan mengemuka beberapa pertanyaan dan pendapat dari
anggota delegasi terkait beberapa hal:
a. Langkah strategis yang perlu diambil oleh Indonesia terkait dengan
Pasar ASEA bersatu tahun 2015.
b. Langkah yang perlu disiapkan oleh Indonesia untuk meningkatkan
daya saing Indonesia-Malaysia.
c.
Ingin memahami lebih jauh pelaksanaan perdagangan berjangka di
Malaysia khususnya pelaksanaan dan sanksi yang dikenakan.
d. Ingin memahami lebih jauh pihak yang menetapkan terhadap
kehalalan produk derivatif syariah dalam perdagangan berjangka
komoditi di Malaysia.
B. DI DEWAN RAKYAT (PARLEMEN) MALAYSIA
Delegasi diterima oleh Wakil Ketua Dewan Rakyat Malaysia, dan
beberapa anggota Dewan Rakyat Malaysia.
Berdasarkan hasil pemaparan Wakil Ketua Dewan Rakyat dan beberapa
anggota Dewan Rakyat Malaysia, dapat digarisbawahi beberapa hal
13
terkait dengan pelaksanaan perdagangan berjangka komoditi di Malaysia
sebagai berikut:
a. Tidak ada komisi atau alat kelengkapan Parlemen Malaysia yang
menangani secara khusus bidang perdagangan.
b. Perdagangan berjangka komoditi di Malaysia didasari oleh Trade Act
1885.
c.
Perkembangan perdagangan berjangka komoditi di Malaysia diawali
oleh
sistem
konvensional,
sedangkan
sistem
syariah
baru
dikembangkan 3 tahun belakangan ini.
d. Dalam
perdagangan
Commision
berjangka
memegang
peranan
komoditidi
penting
Malaysia,
untuk
Security
mengawasi
perdagangan berjangka komoditi dan perdagangan bursa saham
(equity exchange).
e. Dalam sistem keuangan Islam di Malaysia terdapat lembaga yang
menjadi tempat rujukan bagi pelaksanaan sistem keuangan Islam
yaitu MIFC (Malaysia International Islamic Finance Center).
C. DI BURSA MALAYSIA
Pertemuan Delegasi Komisi VI DPR RI berlangsung di Gedung Bursa
Malaysia berhad, yang diterima oleh Dato’ Tajuddin Atan, Chief Executive
Officer Of Bursa Malaysia Bhd., dan juga beberapa pejabat di Security
Commision Malaysia, Bursa Derivatives Malaysia, dan Islamic Market
Malaysia. Adapun beberapa hasil pertemuan di Bursa Malaysia sebagai
berikut:
Bursa Malaysia dibentuk berdasarkan Pasal 15 Capital Markets and
Services Act 2007.
Bursa
Malaysia
beroperasi
secara
terintegrasi
baik
dalam
hal
perdagangan, kliring, penyelesaian, dan penyimpanan.
Kegiatan utama dari Bursa Malaysia meliputi:
a. Provisi, pelaksanaan dan pemeliharaan efek, produk derivatif, dan opsi;
b. Meregister secara elektronik untuk pasar obligasi sekunder;
c. Kliring;
14
d. Pusat penyimpanan; dan
e. Mengumumkan harga dan informasi penting lainnya tekait efek dan
jasa nomine untuk kustodian.
Secara umum kelembagaan Pasar Modal/Bursa Malaysia sebagai berikut:
Pemaparan Ruang Lingkup Security Commision
Security Commision (SC) merupakan lembaga pengawas kegiatan bursa di
Malaysia (oversight regulator)
Fungsi SC meliputi tiga hal:
a. Melakukan supervisi terhadap bursa sebagai FLR dan operator pasar;
b. Melakukan analisis dan review terhadap peraturan dan kebijakan yang
dikeluarkan oleh Bursa;
c. Mengawasi proyek pengembangan bursa.
Fungsi pengawasan lain dari SC adalah
15
a. Memberikan rekomendasi atas suatu produk derivatif sebelum disetujui
oleh Menteri Keuangan;
b. Memberikan persetujuan atas penunjukan Dewan Direksi Bursa dan
Senior Management oleh Menteri Keuangan;
c. Memberikan notifikasi terhadap pengurangan,penghilangan atau akuisisi
asset;
d. Memberikan petunjuk dalam hal penyelesaian konflik; dan
e. Dapat menghentikan, menunda transaksi perdagangan, memodifikasi
peraturan bursa, mensyaratkan penetapan margin atau penambahan
margin dalam perdagangan berjangka komoditi.
Pendekatan pengawasan Pasar yang dilakukan oleh SC mencakup 3 hal:
1. Pengawasan terhadap Bursa Market, mencakup:
a. Memonitor posisi pembukaan bursa;
b. Memonitor layar online;
c. Memonitor Aramis Alert.
2. Pengawasan terhadap Inter-Market, mencakup:
a. Memonitor pergerakan harga dan korelasinya antara underlying cash
dengan kontrak derivatif;
b. Memonitor harga lain yang mempengaruhi pasar tunai dihubungkan
dengan informasi terkait, seperti data ekspor, produksi dan tingkat
cadangan palm oil;
c. Mengamati angka pengiriman CPO
3. Pengawasan terhadap Cross-Market, mencakup:
a. Mengamati pergerakan harga di pasar bursa lain;
b. Mencari data terkait bursa dari publik, seperti dari Internet, Bloomberg
dan Reuters.
Supervisi yang dilakukan oleh SC terhadap Bursa sebagai pembuat regulator
berupa:
a. Audit terhadap peraturan tahunan yang berlaku internal, mencakup:
1) Investigasi dan pengawasan perusahaan;
2) Penegakan peraturan;
3) Perdagangan, kliring, penyelesaian dan penyimpanan;
4) Penangangan konflik; dan
16
5) Sumber daya yang tersedia
b. Pengawasan eksternal, mencakup:
1) Proses dan rekomendasi tambahan dari persetujuan bursa;
2) Memeriksa setiap bulan terhadap penegakan hukum yang dilakukan
oleh Bursa terhadap Para pelaku bursa yang melanggar;
3) Memeriksa setiap catur wulan terhadap perubahan peraturan yang
dibuat oleh Bursa;
4) Memeriksa laporan para pejabat terhadap lembaga peserta Bursa;
5) M emeriksa laporan adanya konflik kepentingan;
6) Mengembangkan
sistem
infrastruktur
IT
dan
stabilitas
untuk
operasionalisasi Bursa.
Tujuan pengawasan SC terhadap perdagangan berjangka komoditi di
Malaysia untuk:
a. Mempromosikan pasar yang wajar dan teratur;
b. Meningkatkan integritas pasar;
c. Mengurangi situasi pasar yang merugikan
Pengawasan SC terhadap bursa berjangka komoditi mencakup:
a. Pengawasan paralel, bertujuan untuk mengawasi secara keseluruhan
kegiatan di Bursa Derivatif.
b. Pengawasan oversight.
Pengawasan SC terhadap supervisi Bursa Derivatif atas para peserta bursa
meliputi:
a. Memonitor efektivitas Peraturan Kegiatan Perantara Bursa mencakup
Perdagangan dan Kliring yang dilakukan oleh para peserta;
b. Memonitor Penegakan Peraturan bursa terkait dengan Peraturan bursa
dan UU Sekuritas secara umum;
c. Memeriksa kesiapan atau ketersediaan sumber data bursa terkait dengan
pelaksanaan fungsi bursa; dan
d. Memonitor supervisi kegiatan perantara bursa.
Pengawasan SC terhadap review peraturan dan kebijakan operasional Bursa,
mencakup:
a. Memformulasikan pedoman dan kebijakan operasional;
b. Mereview perubahan atas peraturan bisnis;
17
c. Mereview kebijakan terkait bidang industri;
d. Melakukan studi komparasi dengan negara yang melakukan penerapan
bursa yang sama;
e. Menyediakan/menyiapkan
pendapat hukum terkait dengan kegiatan
operasional bursa.
SC mengadopsi pendekatan tiga cabang untuk memastikan pasar modal baik
diatur, meliputi:
a. Disiplin
diri
(Self
Dicipline),
meliputi:
keterbukaan,
transparansi,
manajemen resiko, mematuhi tata tertib dan budaya lembaga perantara
dan perusahaan.
b. Disiplin Pasar (Market-Dicipline), meliputi: disiplin atas aktivitas Pasar dan
Pemegang Saham.
c. Disiplin atas peraturan (Regulatory Dicipline), meliputi: kerangka hukum
yang kuat, pengawasan yang kuat, penegakan hukum yang efektif, serta
pendidikan dan kepedulian.
Pemaparan Atas Pasar Modal Islam di Malaysia
Pada prinsipnya aturan Pasar Modal Islam merupakan bagian dari Peraturan
Pasar Modal pada umumnya.
Bisnis dan transaksi Pasar Modal Islam sama dengan transaksi dan bisanis
yang dilakukan di pasar modal konvensional.
Pendekatan pengaturan umum untuk mengatur produk Pasar Modal Islam
sama dengan kewajiban atas bagian dari perantara.
Keterbukaan, transparansi, dan tata kelola sama antara Pasar Modal Islam
dengan Pasar Modal Konvensional.
Dalam pengembangan Pasar Modal Islam di Malaysia, Undang-Undang
Pasar Modal dan Jasa 2007 (CMSA) memfasilitasi pengembangan Pasar
Modal Islam.
Ciri umum untuk pengembangan Pasar Modal Islam, meliputi beberapa hal
diantaranya:
a. Produk keuangan Islam harus menarik dan menjadi bagian dari seluruh
sistem keuangan global;
18
b. Pembuat peraturan Pasar Modal Islam harus memastikan kesesuaian
dengan peraturan keuangan internasional;
c. Pembuat peraturan harus meningkatkan kepedulian dan pemahaman atas
produk Keuangan Islam;
d. Mengurangi/meminimalisasi peluang terjadinya arbitrase; dan
e. Pengembangan sumber daya manusia adalah kunci terpenting.
Perkembangan evolusi Keuangan Islam di Malaysia di awali pada tahun 1963
dengan berdirinya Badan Pendanaan Haji, selanjutnya Tahun 1983 berdiri
Perbankan Islam yang pertama dengan diberlakukan pula Undang-Undang
Perbankan Islam di Malaysia. Satu tahun kemudian, pada tahun 1984 berdiri
asuransi Islam di Malaysia dengan nama Takaful Company yang dibentuk
berdasarkan
Takaful
Commision
Act,
Act
yang
1984.
Tahun
memberikan
1993,
mandat
diberlakukan
kepada
Security
SC
untuk
mengembangkan Pasar Modal di Malaysia. Lalu pada tahun 2007 berlaku
Undang-Undang Jasa Pasar Modal 2007.
Pasar Modal Islam mengacu pada pasar dimana transaksi pasar modal,
operasi dan kegiatan dilakukan dengan cara yang sesuai dengan prinsip
Syariah Islam.
Pelaksanaan berdasarkan prinsip Syariah Islam tersebut mengandung makna
bahwa:
a. dilarang melakukan pembayaran atau penerimaan bunga, atau riba;
b. larangan kontrak dengan unsur-unsur gharar (ambiguitas)
c. larangan melakukan praktek perjudian; dan
d. Larangan produksi dan penjualan barang dan jasa yang dilarang dalam
Islam
Dalam transaksi kontrak di Pasar Modal Islam didasari atas kontrak yang
Islami meliputi:
a. Kontrak pertukaran, terdiri atas Bai bithaman ajil, Murabahah, Istisna’,
Ijarah, dan Salam;
b. Kontrak penyertaan, terdiri atas musyarakah dan mudharabah; dan
c. Kontrak keagenan, terdiri atas wakalah.
Produk dan Jasa dari Pasar Modal Islam di Malaysia yang ditawarkan dengan
berdasarkan prinsip syariah sebagai berikut:
19
a. Produk Pasar Modal Islam Malaysia: saham sesuai syariah, Islamic unit
trusts, dana investasi realestat islam, sukuk, produk derivatif islam dan
sebagainya..
b. Jasa Pasar Modal Islam Malaysia:perantara perdagangan efek Islam,
pengelola dana Islam, indeks harga saham Islam, dan sebagainya.
Perkembangan Pasar Modal Islam di Malaysia sangat bekembang pesat
tercatat bahwa Pasar Modal Islam Malaysia memberi kontribusi 51% dari
keuntungan Pasar Modal Malaysia secara keseluruhan yang mencapai 2.04
trilyun RM. (per Januari 2011).
Bursa Berjangka Komoditi Islam di Malaysia
Pada tahun 2006, Malaysia Internasional Islamic Financial Center (MIFC)
berinisiatif mempromosikan Malaysia sebagai penghubung keuangan Islam
Internasional dan memperkuat peranan negara
sebagai pusat intelektual
keuangan Islam.
Insitiatif MIFC ini membandingkan komunitas jaringan keuangan, lembaga
pengatur bursa, badan dan kementerian Pemerintah, lembaga keuangan,
lembaga peningkatan modal, dan perusahaan jasa profesional yang turut
serta dalam kegiatan keuangan Islam.
Malaysia sebagai penghubung keuangan Islam memfokuskan pada bidang:
a. Organisasi sukuk;
b. Islamic Fund and Welth Management
c. Perbankan Islam Internasional;
d. Takaful Internasional; dan
e. Human Capital Development
Dalam rangka meningkatkan penawaran produk terhadap para investor, dan
dalam merespon kepentingan MIFC, Bursa Malaysia telah mendirikan Divisi
Bursa Islam, untuk melaksanakan penerapan prinsip syariah dalam Produk
Bursa Saham dan Produk Bursa Berjangka.
Produk Bursa Malaysia dalam Divisi Bursa Islam untuk Perdagangan
Berjangka Komoditi adalah Bursa Suq Al Sila.
Bursa Suq Al Sila merupakan bentuk penerapan syariah terhadap produk
perdagangan berjangka untuk memfasilitasi keuangan Islam.
20
Bursa Suq Al Sila merupakan produk yang dimiliki secara penuh oleh Bursa
Malaysia yang dilaksanakan oleh Bursa Malaysia Islamic Services Sdn Bhd.
Para pelaku bisnis dalam Bursa Suq Al Sila adalah para institusi/lembaga
Keuangan Islam, para lembaga keuangan konvensional yang menawarkan
jasa-jasa keuangan Islam, serta para suplier perdagangan berjangka.
Prinsip dalam Bursa Suq Al Sila menggunakan prinsip penerapan kontrak
Murabahah dan Tawarruq.
Kontrak transaksi Murabahah adalah kontrak jual beli terhadap suatu barang
dimana harga, biaya-biaya lain dan margin keuntungan ditetapkan secara
jelas pada saat perjanjian jual beli antara 2 belah pihak.
Kontrak transaksi Tawarruq adalah ...
Dalam Bursa Suq Al Sila harus ada penyerahan fisik barang yang menjadi
obyek barang komoditi berjangka.
Dalam Bursa Suq Al Sila diperdagangkan Produk Multi Komoditi dan Produk
Multi Currency dengan didukung oleh prinsip Murabahah.
Produk multi komoditi yang ditawarkan dalam Bursa Suq Al Sila diantaranya
meliputi:
a. CPO;
b. Crude Oil;
c. Cotton;
d. Alumunium;
e. Nikel
f. Bensin;
g. Metanol;
h. Kopi;
i.
Pelumas bahan bakar;
j.
Coklat; dan
k. Solar.
Pembelian dan penjualan produk komoditi di Bursa Suq Al Sila dilakukan
secara elektronik, 15 jam dan 6 hari perminggu.
21
Pandangan SC terhadap Perdagangan Berjangka Komoditi di Malaysia
Khususnya Perdagangan Komoditas Crude Palm Oil (CPO)
SC memutuskan bahwa kontrak berjangka CPO DIIZINKAN karena
sesuai dengan prinsip Syariah.
Bahwa ada yang beranggapan perdagangan tersebut tidak nyata, dijawab
bahwa ontrak berjangka terhadap CPO tersebut dapat diselesaikan secara
tunai sebelum tanggal jatuh tempo atau penyelesaian melalui pengiriman
pada tanggal jatuh tempo (Pendirian rumah kliring juga memastikan
pengiriman dan penyelesaian transaksi).
Selanjutnya ada yang berpendapat bahwa kontrak berjangka tersebut
mengandung unsur spekulasi, dijawab oleh SC bahwa spekulasi ada dalam
segala bentuk
usaha dan tidak terbatas pada transaksi berjangka. Yang
menjadi perhatian adalah apakah keadaan spekulasi itu berlebihan atau di
bawah normal.
Selanjutnya ada yang beranggapan bahwa transaksi ini tidak ada pertukaran
barang, SC menjawab bahwa walaupun dalam kontrak ini ada pembelian /
penjualan barang dalam arti yang sebenarnya mungkin terjadi, Kontrak
berjangka CPO meningkat nilai untuk pelaku pasar dengan memberikan
kepastian kepada manajemen operasi.
V. PENUTUP
Demikian Laporan Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI ke Negara Malaysia dalam
Rangka Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Atas
UU No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, untuk
selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam pembahasan
Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Atas UU No. 32 Tahun 1997
tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Kunjungan tersebut diharapkan dapat
membangun dan mempererat hubungan dua parlemen pada khususnya, dan
hubungan bilateral dua negara Indonesia – Malaysia pada umumnya.
22
Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kelancaran kunjungan
dimaksud.
KOMISI VI DPR-RI
LAMPIRAN
DOKUMENTASI DELEGASI KOMISI VI DPR RI KE MALAYSIA
24 – 30 APRIL 2011
KEDUTAAN BESAR RI DI MALAYSIA
23
Delegasi Komisi VI DPR RI Sedang Mendengarkan Pemaparan Dari Duta Besar Republik Indonesia
Untuk Malaysia, Bapak Da’i Bachtiar di Ruang Rapat Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia
Ketua Delegasi Komisi VI DPR RI, Bapak Aria Bima, sedang memberikan pemaparan maksud dan
Tujuan Delegasi ke Negara Malaysia, sekaligus memperkenalkan Delegasi yang datang Malaysia
Dalam rangka kunjungan kerja ini.
Delegasi Anggota Komisi VI DPR RI yang berkunjung ke KBRI Malaysia
24
Cenderamata berupa plakat kenang-kenangan yang diberikan oleh Dubes RI di Malaysia
kepada Delegasi Komisi VI DPR RI.
PARLEMEN MALAYSIA
25
Delegasi Komisi VI DPR RI melakukan kunjungan ke Parlemen Malaysia. Delegasi diterima
oleh Wakil Ketua Parlemen Malaysia yang didampingi oleh para Anggota Parlemen Malaysia
Ketua Delegasi Komisi VI DPR RI sedang memaparkan maksud dan tujuan Delegasi dalam
Kunjungan ke Parlemen Malaysia, yang pada intinya meminta masukan sejauh mana Parlemen
Malaysia melakukan regulasi terhadap pelaksanaan perdagangan berjangka komoditi di Malaysia.
26
Cenderamata yang diberikan oleh Parlemen Malaysia kepada Delegasi Komisi VI DPR RI.
Cenderamata yang diberikan oleh Delegasi Komisi VI DPR RI kepada Parlemen Malaysia.
BURSA MALAYSIA
27
Delegasi Komisi VI DPR RI diterima dan disambut oleh Dato’ Tajuddin Atan, Chief Executive
Officer Of Bursa Malaysia Bhd.
Delegasi Komisi VI DPR RI sedang mendengarkan pemaparan mengenai Bursa Derivative
Malaysia, Bursa Islam Malaysia dan Security Comission di Gedung Bursa Malaysia.
28
Pemaparan mengenai ruang lingkup tugas dan fungsi Bursa Derivative Malaysia oleh
Mr. Chong Kim Seng, CEO Bursa Derivatives Malaysia berhad.
Penjelasan Mengenai Tugas dan Fungsi Security Commision dalam Bursa Berjangka Komoditi
Di Malaysia, oleh Ms. Sjamsul Bahriah Shamsudin.
29
Penjelasan Mengenai Sistem Keuangan Islam dan Bursa Islam di Malaysia oleh Mr. Wan
Rizaidy W. MamatSaufi, Head of Product Development Islamic Market Malaysia.
Penjelasan Mengenai Kerangka Hukum dan Perkembangan Pasar Modal Islam di Malaysia.
30
Cenderamata Disampaikan oleh Dato’ Tajuddin Atan, Chief Executive Officer Of Bursa Malaysia
Bhd. Kepada Bapak Aria Bima, Pimpinan Delegasi Komisi VI DPR RI yang Berkunjung ke Bursa
Malaysia 28 April 2011.
31
32
Download