Doktrin Itu Bernama Kitab Suci

advertisement
Doktrin Itu Bernama Kitab Suci
Abdul Afif
Ada suatu keengganan ketika akan menuliskan hal ini. Bagaimana tidak? Ketika membahas
tentang Kitab Suci dengan landasan mempertanyakannya dan mengkritisi, maka hal yang
pertama timbul dalam benak orang yang mengaku relijius adalah kata kafir, munafik,
idiot,dan masih banyak kata yang senada. Dengan inti bahwa individu yang mempertanyakan
dan mengkritisi hal tersebut adalah mereka-mereka yang memiliki "sesuatu yang salah"
dalam otak mereka.
Padahal, bila kita lihat dalil-dalil dalam Kitab Suci, maka akan kita dapati bahwa Ibrahim
sendiri mulai mempercayai Tuhan dengan sebuah pertanyaan tentang penciptaan. Yah, tapi
kisah tersebut pun sebuah asumsi andai Kitab Suci benar adanya. Kita hanya dituntut untuk
mempercayai. Karena sampai sekarang belum ada bukti yang mengatakannya, kan?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, doktrin didefinisikan sebagai pendirian segolongan
ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, ketatanegaraan, secara bersistem, khususnya dalam
penyusunan kebijakan negara. Yang menurut bahasa saya, ini diartikan sebagai cara agar
pemahaman masyarakat sesuai dengan keinginan kelompok atau golongan tertentu. Dalam
hal ini, Kitab Suci disusun sedemikian rupa agar sesuai dengan kehendak golongan tadi.
Darimana banyaknya larangan tentang hal-hal yang kini dianggap benar dan salah oleh
masyarakat? Kitab Suci. Individu yang mempertanyakan suatu hal karena mempunyai
penafsiran tersendiri, akan dicap sebagai pembangkang. Masyarakat akan menganggap
bahwa apabila suatu hal dikaitkan dengan Kitab Suci, maka hal tersebut menjadi seolah-olah
suatu hal yang absolut. Sehingga, ketika muncul pertanyaan-pertanyaan seperti, "Mengapa
harus beribadah?", "Mengapa harus menutup aurat?", "Mengapa minuman keras dilarang",
"Mengapa pernikahan sejenis dilarang", dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menyangkut
perintah dan larangan seperti hal-hal tersebut, jawabannya selalu sama "Karena Kitab Suci
mengaturnya demikian".
Efeknya, banyak individu sudah tidak mau lagi membahas esensi Kitab Suci, karena sumpah
serapah pengagung Kitab Suci pasti keluar. Mereka mengambil jalan aman, yaitu dengan
meragukan atau dalam kasus ekstrem bahkan sampai tidak mempercayai apa-apa yang
tercantum dalam Kitab Suci. Karena toh, dalam doktrin Kitab Suci pun, keyakinan tidak bisa
dipaksakan. Siapa yang patut disalahkan ketika individu muak dengan dalil-dalil yang
dilontarkan, yang diambil dari Kitab Suci?
Contoh lain, dalam ajaran Kitab Suci, pernikahan sejenis sangat dilarang, sehingga rasa suka
antar sesama jenis tidak boleh dipersatukan dalam perkawinan. Ketika ditanya mengapa,
kembali dijawab tercantum dalam Kitab Suci. Tuhan menciptakan Adam dan Eve, bukan
Adam dan Steve. Ini jawaban yang sangat absurd. Tidak ada penjelasan yang ilmiah di
dalamnya. Di satu sisi, doktrin Kitab Suci adalah tidak boleh memaksakan keyakinan, di sisi
lain mereka berusaha menghilangkan keyakinan individu lain. Bukankah rasa suka itu
abstrak? Rasa suka itu anugerah, mengapa lantas dihalangi?
Kasus lain, misalkan tentang cara berbusana bagi perempuan. Mayoritas Kitab Suci
memperlihatkan bahwa cara berbusana terbaik adalah seperti para Ustadzah atau Biarawati
atau sebutan untuk pemuka-pemuka agama lainnya. Yang secara garis besar harus tertutup
rapat, tidak boleh terbuka. Perempuan hanya bertugas di dalam rumah demi menjaga
kehormatan keluarga. Ini adalah doktrin lainnya. Perempuan seolah dijegal untuk tidak boleh
membuat dirinya dikagumi individu lain. Dibuat agar perempuan tidak ikut andil besar dalam
pembangunan dan perkembangan. Bahwa aktif dalam kehidupan masyarakat hanyalah tugas
laki-laki. Dalilnya kembali, Kitab Suci mengatakan demikian. Kitab Suci umat yang mana?
Ini menimbulkan kontradiksi antar Kitab Suci umat beragama.
Campur Aduk Kitab Suci dengan Kurikulum Pendidikan
Doktrin-doktrin tersebut kini akan dimasukan dalam kurikulum 2013. Keterkaitan Tuhan
(yang tidak boleh diperdebatkan) dengan ilmu pengetahuan membuat ilmu pengetahuan
menjadi sesuatu yang "Memang begitu adanya".
Dalam kurikulum Kimia kelas X, misalnya. Di sana tertulis "Menyadari keteraturan dan
kompleksitas konfigurasi elektron dalam atom sebagai wujud kebesaran Tuhan YME". Hal
ini jelas-jelas sangat aneh, seolah-olah konfigurasi elektron dalam atom memang begitu
adanya. Tidak terbantahkan. Padahal, seperti kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan terus
berkembang? Lantas apakah bila didapati bahwa ada elektron yang tidak teratur tetapi
sederhana, dinyatakan sebagai sesuatu yang bukan bentuk kebesaran Tuhan? Ataukah,
memang sudah dirancang agar muncul doktrin seperti itu, yang men-tabu-kan pertanyaanpertanyaan.
"Bila dicampuradukkan dengan Tuhan, naskah kurikulum seolah tidak bisa didebat karena
nilainya menjadi Suci" kata Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB, Rabu 13/3/2013 di
Balai Pertemuan Ilmiah, ITB. Pernyataan lain muncul, "Tidak ada yang menyebut tentang
pentingnya kemampuan untuk menemukan atau inovasi, kemampuan mencipta, berpikir
sinergis, maupun kemampuan melihat peluang" ujar Imam Buchori Zainuddin, Guru Besar
ITB.
Doktrin Kitab Suci sudah benar-benar merusak kekritisan berpikir manusia. Merusak hal-hal
kreatif yang bisa dilakukan manusia. Hanya dengan pernyataan, menurut Kitab Suci hal
tersebut salah. Kitab suci, seharusnya bukanlah dijadikan sebuah doktrin. Tetapi menjadi
suatu inspirasi moral-etik yang mendorong kemanusiaan dan universalitas hak asasi manusia.
Dengan ini kita bisa mendorong kemajuan dan dunia yang lebih baik.
Download